Selasa, 06 Oktober 2009

rahasia 9

Cepat Yu Siau-lam goyangkan tangannya berulang kail seraya menukas dengan lantang, “Harap

saudara Lo jangan berkata demikian. Meskipun aku sendiri terkejut oleh kejadian itu, pada

hakekatnya jiwaku tidak terancam bahaya maut. Justru aku merasa berterima kasih sekali karena

saudara sekalian begitu baik hati melakukan perjalanan jauh untuk mencari bala bantuan.

Perbuatan kalian sudah cukup menunjukkan kesetia-kawanan kamu semua kepadaku. Jika

saudara Lo berkata lebih jauh, bagaimana mungkin aku bisa mengatasi semua hal ini? Mari….

mari…. Kuperkenalkan kalian semua dengan saudaraku ini”

Setelah membaringkan tubuh Bu-jian tootiang ditanah, dia lantas perkenalkan mereka semua ke

pada dia Hoa In-liong.

Ternyata laki-laki berpakaian ringkas yang membawa senjata lengkap itu adalah orang-orang

yang pernah mendapat bantuan dari Yu Siau-lam dimasa lalunya.

Ada yang pernah mendapat bantuan berupa uang karena soal ekonomi yang macet, ada yang

mendapat pengobatan sewaktu menderita luka. Ada pula yang pernah tinggal dirumahnya

selama banyak waktu tanpa bekerja apa-apa.

Laki-laki setengah baya yang berwajah bersih itu bukan lain adalah saudara tertua dari Liat Ceng

poh dan Be Si-kiat. Dia she-Lo bernama Pek-sian. Dia juga yang menjadi komandan dalam

operasi pertolongan terhadap diri Yu Siau-lam di kota Hong-yang.

Hoa In-liong menjura berulang kali sebagai balasan rasa hormatnya, kemudian sambil berpaling

kearah Coa Cong-gi katanya, “Saudara Cong-gi, aku dengar engkau bertugas menjaga di kota

Kim-leng. Tapi sewaktu aku lepas dari bahaya dan mencari dirimu kemana-mana, ternyata

jejakmu tidak berhasil kutemukan, sebetulnya kau telah pergi kemana?”

oooOOOOooo

“WAAAH…. Waaah…. Apa lagi yang musti kukatakan? sahut Coa Cong-gi dengan cepat.

“Kalau kau mencari aku, memangnya aku tidak sedang mencari dirimu? Setelah berlatih kungfu

selama tiga hari, aku lantas berada disana lagi”

“Lho….! Bagaimana sih? Jadi kau tahu dimana aku telah disekap musuh?” tanya Hoa In-liong

tercengang.

Dari nada ucapannya itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa ia sedikit kurang percaya terhadap

pengakuan rekannya. Sebab ia tahu Coa Cong-gi adalah seorang pemuda yang berangasan. Lagi

pula ia saogat menitik beratkan dalam soal kesetiaan kawan tanpa mengindahkan resiko

terhadap diri sendiri.

Berdasarkan wataknya itu, maka seandainya ia sudah tahu dimana ia disekap musuh, maka

seharusnya kalau pemuda itu langsung turun tangan memberi pertolongan.

Ternyata keadaan berbicara lain, ia bersikap lebih cerdas dan berotak dingin. Setelah menyadari

bahwa kekuatannya seorang diri terlalu minim dan tak mungkin bisa menolong rekannya,

ternyata ia malah berlalu untuk melatih diri selama tiga hari.

Baik Yu Siau-lam maupun Li Poh-seng juga tak berani mempercayai pengakuannya itu. Sinar

mata mereka berdua sama-sama ditujukan ke atas wajahnya dengan pandangan tercengang.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

336

Coa Cong-gi masih belum menyadari akan sikap aneh rekan-rekannya, ia masih juga berkata

lebih jauh, “Tentu saja! Kalau kalau tidak begitu, darimana aku bisa segera kirim kabar untuk

mencari kembali saudara Poh-seng sekalian untuk berkumpul kembali?”

“Oooh…. Jadi kalau begitu, sewaktu kau utus orang untuk mengirim kabar, waktu itu kau

sendiripun belum tahu jiwa Hoa-heng sudah terlepas dari mara bahaya?” kata Li Poh-seng seperti

baru menyadari.

“Andaikata aku tidak berjumpa dengan saudara Ceng-poh dan Si-kiat, siapa tahu kalau dia sudah

terlepas dari mara bahaya?”

Hoa In-liong yang berada disampingnya segera menyambung. “Itulah kalau takdir berbicara lain.

Apa gunanya kita bicarakan lebih jauh? Yang paling penting adalah dimanakah saudara Ek-hong

dan Siong-peng pada saat ini?”

“Kalau toh saudara Cong-gi sudah utus orang untuk mengirim kabar, aku pikir mungkin mereka

sudah kembali semua di kota Kim-leng” Jawab Li Poh-seng.

Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba sambungnya lebih jauh, “Mari kita duduk sambil berbicara.

Kita bicarakan saja kisah tentang keadaan saudara Siau-lam sejak lolos dari bahaya!”

“Betul!” sambung Coa Cong-gi pula, “Apa yang sebenarnya terjadi dengan toocu itu? Kalian harus

berbicara sejelas-jelasnya”

Maka mereka semuapun duduk bergerombol di atas tanah sambil mendengarkan kisah cerita.

Tentang pengalaman Hoa In-liong sewaktu meloloskan diri dari bahaya, boleh dibilang

kejadiannya sederhana tanpa sesuatu yang aneh. Setelah disinggungpun berlalu dengan begitu

saja.

Lain halnya dengan kisah lolosnya Yu Siau-lam dari ancaman bahaya. Oleh karena peristiwa itu

menyangkut tentang diperkosanya Wan Hong-giok oleh Siau Khi-gi, disiksanya Yu Siau-lam

secara keji, dibakar dan dibantainya anggota kuil Cing-siu-koan serta bangkitnya kembali

perguruan Seng-sut-pay dari puing-puing kehancurannya. Maka bukan saja kisah ini sangat

menarik hati, bahkan membangkitkan bawa amarah dalam benak masing-masing orang.

Diantara sekian banyak orang yang hadir disana, Coa Cong-gi paling tak tahan mendengar kisah

kekejamaan dan kebuasan orang yang tak kenal peri kemanusiaan. Apalagi setelah mengetahui

bahwa sintingnya Bu-jian tootiang adalah lantaran dibantainya semua anggota kuil Cing-siu-koan

oleh gembong-gembong iblis, kemarahan yang berkobar dalam benaknya tak terbendung lagi.

Tiba-tiba ia memukul tanah keras-keras, kemudian berteriak dengan penuh kegusaran,

“Gembong iblis sialan! Aku Coa Cong-gi bersumpah tak akan hidup sebagai manusia bila tak

mampu mencingcang tubuh kalian hingga hancur berkeping-keping!”

Karena teriaknya yang menggeledek ini, penuturan kisah cinta itupun terputus untuk sementara

waktu. Li Poh-seng yang duduk disampingnya segera berkata dengan serius, “Kau jangan marahmarah

dulu. Bila kita tinjau dari situasi yang terbentang didepan mata sekarang, jelas hawa iblis

sudah menyelimuti seluruh jagad. Kita tak mungkin bisa menganggur terus. Asal dilain hari kita

jagal beberapa orang diantara mereka, bukankah sakit hati itu bisa segera dilampiaskan?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

337

Sewaktu mengucapkan kata-kata itu, suaranya tenang dan datar, sama sekali tidak dipengaruhi

emosi. Dari sini dapat diketahui bahwa pemuda itu berpandngan jauh dan lebih pandai

menguasai diri daripada rekan-rekannya.

Mula pertama Coa Cong-gi sudah busungkan dada sambil mengucapkan kata-kata yang bernada

panas, tapi setelah mendengar perkataan itu, biji matanya lantas berputar lalu manggutmanggut.

“Ehmm…. Betul juga perkataanmu, hawa iblis memang sudah menyelimuti seluruh

jagat, kemarin malam, aku telah menyaksikan sendiri orangorang

dari Hian-beng-kau berkasak-kusuk dengan Kiu-im kaucu”

Menyinggung soal Kiu-im kaucu, tanpa sadar Hoa In-liong merasa semangatnya berkobar

kembali, cepat selanya, “Dimanakah kau berhasil mendengarkan kasak-kusuk mereka….? Cepat

beritahu kepadaku!”

Dengan wajah berseri-seri karena bangga Coa Cong-gi tertawa ringan, lalu sahutnya,

“Tempatnya? Tak lain dalam ruang sebelah depan dimana kau disekap tempo hari, waaah….!

Banyak sekali yang berhasil kujumpai malam itu…. .!”

“Eeeh…. Sebenarnya apa saja yang berhasil kau jumpai?” tanya Hoa In-liong dengan dahi

berkerut, “Mengapa tidak kau terangkan sejelas-jelasnya?”

“Tentu saja akan kuterangkan. Coba jawablah dulu sebuah pertanyaanku, apakah kenal dengan

seorang cianpwe yang bernama Ko Thay?”

“Apalah kau maksudkan seorang laki-laki berperawakan tinggi kekar, berwajah tampan dam

berwibawa sekali?”

“Benar! Benar!” Coa Cong-gi mengangguk berulang kali. “Memang dialah yang kumaksudkan.

Usianya antara tiga puluh lima enam tahunan….”

“Tentu saja aku kenal. Dia adalah ahli waris dari Ciu-it-bong, Ciu-locianpwe. ilmu silatnya berasal

dari bimbingan nenekku dan ayahku, aku sebut dia sebagai paman. Kenapa? Apa kau, telah

berjumpa muka dengan dirinya?”

Paras muka Coa Cong-gi makin berseri setelah mendengar pertanyaan itu, jawabnya, “Bukan

saja telah berjumpa, bahkan kusaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana dia lancarkan

sebuah pukulan yang enteng untuk mengirim Kiu-im kaucu kabur pulang kesarangnya.

Ha….ha….ha…. Kegagahannya waktu itu sungguh mengagumkan”

Hoa In-liong berdiri tertegun dengan mata terbelalak lebar, diam-diam pikirnya, “Sebenarnya apa

yang telah terjadi? Kiu-im kaucu sudah mampus? Sejak kapan tenaga dalam yang dimiliki Paman

Ko mengalami kemajuan yang demikian pesatnya?”

Karena curiga dan tidak habis mengerti, ia lantas berseru, “Eeeh…. Kalau bicara sedikitlah lebih

jelas. Lebih baik kau terangkan dari awal sampai akhir. Daripada aku dibikin kebingungan oleh

ceritamu itu!”

“Apanya yang membuat kau kebingungan? Yaa begitu saja, sekali jotos dia lantas pulang ke

rumah neneknya!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

338

Seraya berkata Coa Cong-gi lantas mengayunkan telapak tangan kirinya membuat gerakan

seperti mau melancarkan satu jotosan. Li Poh-seng yang ada dihadapannya nyaris termakan

bogem mentahnya itu.

Cepat-cepat Li Poh-seng mundur dan mengigos dari ancaman tersebut, kemudian sambil

mencengkeram pergelangan tangan kirinya dia berkata lebih dulu, “Eeeh…. Kalau sedang bicara

jangan main tangan, hati-hati kalau sampai kena orang! Ayoh terangkan dulu, apakah Kiu-im

kaucu sudah mampus?”

Dengan tersipu-sipu Coa Cong-gi menarik kembali serangannya. “Dia belum mampus, cuma

pulang kerumahnya dengan terbirit-birit” Jawabnya.

“Ooooo…. Tahu aku sekarang!” sambung Yu Siau jam yang berada disampingnya sambil tertawa,

“Pukulan yang dilancarkan Ko tayhiap tentunya sudah membuat Kiu-im kaucu terluka berat

bukan, sehingga ia terpaksa harus pulang kesarangnya untuk merawat luka dalamnya yang

teramat parah itu?”

“Tebakanmu cuma betul separuh” Cepat Coa Cong-gi memberi penjelasan dengan wajah serius,

“Kabur pulang kesarangnya memang betul cuma ia sama sekali tidak terluka”

Semakin diterangkan semakin membikin orang jadi bingung dan tidak habis mengerti. Untuk

sesaat semua orang jadi tertegun dan tidak habis mengerti.

Kalau toh Kiu-im kaucu tidak terluka, sebagai seorang tokoh persilatan yang berambisi besar

mengapa ia rela meninggalkan musuhnya untuk ke bur kembali kesarangnya?

Hoa In-liong mengernyitkan alis matanya. “Aaaah…. Ceritamu itu cuma bikin orang makin

mendengarkan semakin tak habis mengerti.

Lebih baik kau ceritakan sejak awal saja! Misalnya saja apa yang dibicarakan Kiu-im-kaucu

dengan orang-orang dari Hian-beng kau? Secara bagaimana paman Ko-ku itu dapat berjumpa

muka dengan Kiu-im-kaucu? Apa sebabnya Kiu-im kaucu kabur pulang ke sarangnya setelah

terpukul oleh paman Ko ku itu? Dan waktu itu engkau

berada disana sehingga menyaksikan kesemuanya itu? Kalau mau bicara harus terangkan satu

persatu sehingga yang mendengarkan tak sampai bingung dibuatnya”

Mula-mula Coa-cong-gi tertegun, tapi lantaran sorot mata setiap orang sama-sama tertuju

kearahnya dengan mata melotot. Lagipula sorot mata mereka semua terselip perasaan bingung

dan tak habis mengerti maka dengan perasaan apa boleh buat dia manggut-manggut. “Baiklah!”

katanya kemudian, “Akan kuterangkan sejak awal sampai akhir dengan sejelas-jelasnya!”

Matanya segera dipejamkan untuk mengumpulkan kembali semua kenangan dan pikirannya, lalu

berkata, “Kemarin dulu malam, ketika aku baru pulang dari puncak bukit Ciong-san selesai

berlatih silat, waktu itu sudah menjelang tengah malam. Karena sudah tiga hari tidak kujumpai

dirimu, maka aku ingin menengok bagaimanakah keadaan waktu itu. Maka akupun tidak masuk

kota tapi menelusuri kaki bukit kearah barat dan menuju ke tempat dimana kau disekap”

Berbicara sampai disini, sinar matanya lantas dialihkan kewajah Hoa In-liong, kemudian

lanjutnya, “Tahukah kau, tiga hari berselang aku telah berkunjung pula kedalam gedung itu.

Waktu itu kau sedang digantung orang diatas dahan pohon dengan kepala dibawah”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

339

Tentu saja Hoa In-liong tidak akan tahu kalau rekannya pernah berkunjung kesitu, tapi diapun

tidak membantah atau membenarkan, sambil tersenyum ujarnya, “Lanjutkan ceritamu lebih jauh!

Hal yang bertele-tele tak perlu disinggung!”

Coa Cong-gi mengangguk, setelah tarik nafas panjang sambungnya lebih jauh, “Aku lari menuju

ke halaman yang berada di paling belakang, namun di atas pohon tidak kujumpai dirimu lagi.

Dalam gedung juga tak nampak sinar lampu. Waktu itu kukira kau sudah mendapat musibah

diluar dugaan. Dalam cemasnya ingin kutangkap seseorang untuk mendapat tahu keadaanmu

yang sebenarnya. Tapi oleh karena aku pernah merasakan betapa lihaynya ilmu silat yang

mereka miliki, maka akupun tahu bahwa ilmu silat yang mereka miliki rata-rata luar biasa sekali.

Untuk menghindari segala kemungkinan yang tak diinginkan, gerak-gerikku sengaja bertindak

sangat hati-hati dan tidak gegabah. Selangkah demi selangkah aku menyusup ke arah halaman

depan….”

Mendengar sampai disini, diam-diam Yu Siau-lam berpikir dalam hati, “Heran, jadi kaupun tahu

bagaimana harus berhati-hati dan tidak gegabah? Tumben amat nih!”

Meskipun geli dalam hati, diluaran ia berkata pula, “Ayoh cepatan sedikit kalau bicara, yang tidak

penting lebih baik jangan disinggung-singgung”

Coa Cong-gi melotot sekejap kearahnya, kemudian baru menyambung kembali kata-katanya,

“Ruangan didepan sana terang benderang bermandikan cahaya. Ketika kuintip dari balik jendela,

terlihatlah bayangan manusia berkumpul dalam ruangan itu, jumlahnya mencapai dua puluh

orang lebih. Waktu itu akupun berpikir: Mungkinkah

mereka sedang mengadili adik In-liong? Begitu ingatan tersebut melintas dalam benakku,

mendidihlah darah yang mengalir didalam badan. Aku lupa akan pantangan dan segera

menjejakkan kaki

siap menyerbu ke dalam ruang tengah”

“Aduuh mak….! Bukankah jejakmu akan segera ketahuan mereka….?” teriak Be Si-kiat sambil

berseru tertahan.

“Huuh…. Aku saja tidak gelisah waktu itu. Kenapa kau malahan yang gelisah? Jika jejakku

ketahuan, dari mana kejadian selanjutnya dapat kuketahui?”

Setelah berhenti sebentar, diapun menyambung lebih jauh, “Ada kalanya watakku memang

berangasan, tapi untunglah ketika itu pikiranku masih dingin. Tiba-tiba saja satu ingatan melintas

dalam bsaakku kembali aku berpikir: Aaah, tidak benar! Andaikata mereka betul-betul sedang

mengadili adik In-liong, bila kuserbu dengan begitu saja, mana mungkin adik In-liong bisa

kuselamatkan? Oleh karena itu dengan bersusah payah kutekan pergolakan perasaan dalam

hatiku. Diam-diam aku menyelinap kesana dan memanjat sebatang pohon besar dari situ aku

dapat mengintai keadaan dalam ruangan dengan amat jelas sekali”.

Li Poh-seng segera menganggukkan kepalanya berulang kali, katanya sambil tertawa, “Benar

juga kata pepatah kuno: Sekalipun kasar pasti ada kelembutan. Bila setiap saat kau bisa cekatan

dan bertindak waspada, kami semua pun dapat berlega hati”

Mendengar ucapan itu contoh Coa Cong-gi mendelik besar. “Sialan, kenapa kau menukas terus

pembicaraanku?” Teriaknya, “Kamu tahu, ceritaku sudah mencapai pada bagian-bagian yang

terpenting?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

340

Li Poh-seng mengernyitkan alis matanya, dia lantas membungkam dan tidak berbicara lagi.

Setelah suasana hening untuk beberapa saat lamanya, Coa Cong-gi melanjutkan kembali

kisahnya, “Ternyata dalam ruangan itu tersedia dua buah meja perjamuan. Diantara tamu yang

hadir aku lihat ada seorang kakek bermuka merah berambut putih duduk dikursi utama pada

meja tamu, sedangkan Kiu-im-kaucu mengeringinya dimeja lain. Sedang sisanya dipenuhi oleh

para jago dari Kiu-im kau dan Hian-beng kau. Dari sikap serta hubungan mereka kelihatan sekali

kalau hubungan kedua belah pihak sangat akrab. Hanya yang aneh tidak kujumpai bayangan

tubuh dari adik In-liong”

“Oooh…. Kalau begitu, kakek bermuka merah berambut putih itu adalah kaucu dari Hian-beng

kau?” tanya Hoa-In-liong.

“Bukan, dia cuma Thamcu dari markas besar perkumpulan Hian-beng-kau. Aku hanya tahu dia

she-Toan bok, sedang namanya kurang jelas”

“Lantas yang kau maksudkan kasak-kusuk adalah kejadian setelah perjamuan itu berakhir?”

“Tidak, kasak-kusuk berlangsung dalam perjamuan itu juga” Hoa In-liong tertawa geli.

“Kalau pembicaraan berlangsung dalam perjamuan itu juga, maka bukan kasak-kusuk lagi

namanya!”

“Aaaai…. Istilah kasak-kusuk adalah aku sendiri yang memberinya. Waktu itu bersembunyi di

atas sebuah pohon besar kurang lebih dua kaki dari ruangan karena terhalang oleh sebuah

jendela,

lagipula pembicaraan mereka berlangsung keras dan lirih tak menentu. Maka aku jadi kurang

begitu jelas menangkap isi pembicaraan mereka. Jadi dalam pandanganku, pembicaraan mereka

bukankah berubah fungsinya menjadi pembicaraan kasak-kusuk?”

Begitu ucapan itu selesai di utarakan ke luar, kontan semua orang terbahak-bahak dengan

kerasnya karena geli.

Coa Cong-gi mengerutkan dahinya melihat ia ditertawakan orang, segera bentaknya dengan

suara dalam, “Eeeeh…. Apa yang kalian tertawakan? Apa yang salah dengan pembicaraanku

barusan? Memangnya pembicaraan mereka untuk merundingkan bagaimana caranya mencuri

ayam menggaet kantong dan melakukan pembunuhan serta kejahatan tidak pantas dikatakan

sebagai kasak-kusuk yang berniat jahat?”

Sebenarnya semua orang ingin tertawa semakin keras, tapi lantaran mendengar kata-kata soal

pembantaian dan kejahatan, sadarlah semua orang bahwa urusan yang mereka hadapi adalah

serius. Mungkin juga pemuda itu memang berbasil menemukan suatu rahasia yang maha besar,

maka sekalipun merasa geli tak seorangpun berani tertawa lebih jauh.

Ketika Hoa In-liong merelakan dirinya dibelenggu dan digantung secara terbalik oleh Bwee Suyok,

tujuannya yang terutama adalah ingin menyelidiki latar belakang persekongkolan antara

perkumpulan Kiu-im kau dengan perkumpulan Hian-beng kau. Selain itu diapun ingin mencari

tabu bagaimana cara mereka hendak menghadapi keluarga Hoa beserta latar belakang

pembunuhan terhadap Suma Tiang-cing suami isteri.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

341

Sekarang, pembunuhan berdarah atas keluarga Suma sudah jelas dan tak perlu diselidiki lagi,

tapi latar belakang persekongkolan antara dua perkumpulan sesat ini masih belum diketahuinya

hingga kini.

Maka begitu mendengar pembicaraan dari Coa Cong-gi tersebut, hatinya jadi terkesiap, buruburu

serunya, “Sudah…. Sudahlah…. Tak usah mencari kebenarran diatas huruf tulisan.

Lanjutkan ceritamu apa saja yang berhasil kau dengar?”

“Benar-benar sialan” gerutu Coa-cong-gi sambil mengerutkan dahinya, “Ketika pembicaraan

berlangsung hingga mencapai pada bagian yang terpenting, tiba-tiba mereka merendahkan nada

suaranya, sehingga aku tak dapat mendengarkan dengan jelas”

“Kalau begitu, terangkan saja apa yang sempat kau dengar!”

“Jika digabungkan menjadi satu, maka persoalan tersebut mencakup dalam lima hal. Pertama

mereka sedang berdaya upaya untuk menghadapi ayahmu. Kedua mereka menyinggung pula

soal Giok teng hujin. Ketiga….”

“Apa yang hendak mereka lakukan terhadap diri Giok-teng hujin?” tukas Hoa In-liong lagi dengan

hati tercekat.

“Toan-bok thamcu yang mengusulkan persoalan ini. Dia berharap agar Kiu-im kaucu bisa

berusaha sedapat mungkin untuk menemukan Giok-teng Hujin. Mengenai tujuannya…. Sayang

aku tak sempat mendengarnya dengan jelas”

Diam diam Hoa In-liong menghela napas panjang. “Aaaai…. Kalau begitu, baiklah! Harap

lanjutkan ceritamu lebih jauh….” katanya kemudian.

“Ketika perkumpulan Hian-beng kau akan di buka secara resmi pada bulan enam tanggal enam

mereka bilang mengharapkan bantuan serta dukungan dari Kiu-im kau”

“Benar-benar sangut aneh” seru Hoa In-liong dengan dahi berkerut “Kalau toh kedua

perkumpulan itu telah bersekongkol satu sama lainnya, didirikannya perkumpulan Hian-beng kau

secara resmi, pasti sudah disetujui pula oleh pihak Kiu-im kau. Apalagi yang perlu dirundingkan

secara khusus? Aku rasa dibalik kesemuanya itu pasti terselip rencana busuk lainnya!”

“Benar ada rencana busuk atau tidak, aku sendiri juga tak tahu, apa yang kudengar hanya itu-itu

saja”

Hoa In-liong termenung, dia berpikir sejenak, lalu bertanya lagi, “Tahukah kau dimana letaknya

markas besar dari perkumpulan Hian-beng kau?”

Coa Cong-gi berpikir sebentar sebelum menjawab, “Aku rasa agaknya dibukit See-mong-sanshia!”

“Bukit See-mong-san-shia? Kok rasanya belum pernah kudengar nama perbukitan itu?”

Li Poh-seng yang berada disampingnya lantas menyela, “Kalau bukit See-mong-san-shia tidak

ada, mungkin yang dimaksudkan adalah tanah perbukitan Gi-mong-san-ci”

Coa Cong-gi mengerdipkan matanya, tiba-tiba ia berteriak, “Yaa…. Yaa…. Betul! Tanah

perbukitan Gi-mong, tempatnya dataran Ui-gou-peng ditanah perbukitan Gi-mong”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

342

Kembali Li Poh-seng tersenyum. “Aku rasa saudara Cong-gi kembali salah dengar. Aku pernah

berkunjung ke Thay-an, Lay-wa,

Sim-thay, Mong-in dan sekitarnya. Kemudian dari Thay-an berbelok ke tenggara melalui bukit

Lay-san sampai perbukitan Mong-san. Disekitar

kota Sin-thay memang terdapat sebuah dataran yang bernama Hong-goa-peng”

“Kau pernah berkunjung ke bukit Gi-san?”

“Belum pernah!” Li Poh-seng gelengkan kepalanya berulang kali.

“Nah, itulah dia. Kalau kau sendiripun belum pernah berkurjung ke situ, dari mana kau bisa tahu

kalau sama yang kusebutkan keliru? Kalau toh di bukit Gi Mong-san ada dataran Hong Gou-peng,

kenapa tak mungkin kalau dibukit Gi-san ada pula dataran Ui Gou-peng?”

Yu Siau-lam segera tertawa tergelak-gelak. “Ha…. haa…. haa…. Sudah! Sudahlah! Jangan ribut

lagi. Baik daratan Hong Gou-peng maupun daratan Ui Gou-peng, yang berbeda cuma satu huruf.

Asal kita sudah tiba di tanah perbukitan Gi Mong-an, rasanya tak sulit untuk menemukan letak

tempat itu. Adik Cong-gi, sekarang boleh kau sebutkan soal keempat”

Coa Cong-gi rada termangu-mangu lalu menjawab, “Aku bakal mati menggantikan siapa?”

Yu Siau lam kontan tertawa tergelak. “Haa…. haa…. haa…. Kembali keliru besar. Coba katakan

dalam soal keempat, siapa yang bakal mati menggantikan dirimu?”

Merah padam selembar wajah Coa Coag-gi, dengan wajah tersipu-sipu katanya, “Waah! Rupanya

aku memang kembali salah dengar!”

Hoa In-liong tanpa terasa tersenyum sendiri sambil ulapkan tangannya memberi tanda ia

berkata, “Tidak menjadi soal, harap kau lanjutkan penuturan itu, mungkin dari kisah selanjutnya

kita dapat menarik suatu kesimpulan!”

“Berbicara yang sesungguhnya, maka dalam masalah yang keempat ini, sasaran yang mereda

tuju sebetulnya adalah kau. Maka gerak gerikmu dikemudian hari harus lebih waspada dan

berhati-hati. Jangan sampai kena ditunggangi musuh!”

“Apa maksudmu?” seru Hoa In-liong dengan perasaan terperanjat.

“Ketika membicarakan tentang dirimu, mereka berbicara paling banyak dan paling lama.

Pokoknya mereka berusaha sekuat tenaga untuk menangkap dirimu hidup-hidup!”

“Apakah Bwee Su-yok yang mengusulkan ide tersebut?” tanya Hoa In-liong tanpa sadar.

“Bukan! Malam itu sikap gadis she Bwee itu sangat hambar dan dingin. Sepanjang perundingan

berlangsung, ia cuma membungkan terus dalam seribu bahasa”

“Lalu ide siapakah itu? Masa pendapat dari Kiu-im kaucu pribadi….” Seru Hoa In-liong

tercengang.

Coa Cong-gi menggelengkan kepalanya lagi. “Menurut pengakuan Toan-bok thamcu, katanya ide

ini adalah ide dari kaucunya dan ia minta Kiu-im kaucu bersedia menyumbangkan tenaganya

dalam kerja sama itu”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

343

Hoa In-liong semakin tercengang setelah mendengar kata-kata itu, serunya, “Apa alasan mereka

untuk berbuat demikian aku kan seorang diri Bu beng siau cut (prajurit tak bernama). Mengapa

Hian beng kaucu begitu memandang tinggi akan diriku?”

“Yaa, dewasa ini kau memang masih merupakan seorang Bu beng-siau-cut yang tak bernama.

Tapi akhirnya kita toh harus mengerjakan suatu perjuangan untuk menghasilkan suatu karya

yang gemilang. Sekalipun Kiu-im kaucu dan Hian-beng kaucu akan terbitkan keonaran dan

kekacauan dalam dunia persilatan, namun kita semuapun sudah bersiap sedia menerima

pimpinanmu untuk memberi pelajaran yang setimpal kepada mereka. Waktu itu tentunya kau

bukan seorang Bu-beng-siau-cut yang tidak terkenal lagi”

“Benar!” Sambung Yu Siau-lam pula, “Generasi kita ini harus mempunyai juga seorang pemimpin

yang pantas dan kaulah orang yang paling pantas untuk jabatan ini”

Li Poh-seng ikut berkata juga, “Jika markas besar dari perkumpulan Hian-beng kau betul-betul

berada diperbukitan Gi-mong-san, maka keadaan dari generasi kita sekarang tak akan berbeda

jauh dengan keadaan generasi yang lampau. Pada generasi yang lalu, Tong-thian-kau, Sin kipang

dan Hong-im-hwe merupakan tiga kekuatan yang menguasahi jagad. Sementara pihak

kaum pendekar dipimpin oleh ayahmu. Sekarang setelah tiba pada generasi kita, maka musuh

yang kita hadapi adalah kaum Mo-kauw dari Seng-sut-pay di barat, Kiu-im-kau diselatan dan

Hian-beng-kau ditanah perbukitan Gi-mong-san. Itu berarti ada tiga kekuatan juga yang

menguasahi jagad. Maka aku rasa dari generasi muda sekarang, engkaulah yang paling cocok

untuk mengisi jabatan pemimpin itu”

Ucapan yang saling susul menyusul dari ketiga orang itu sungguh membuat terharu hati Hoa Inliong.

Tapi diapun bukan seorang manusia yang takabur dan tinggi hati. Apa yang dia pikirkan

sekarang boleh dibilang jauh dari angan-angan untuk menjadi seorang pemimpin, maka dengan

tersipu-sipu ia berkata, “Aaah, saudara bertiga terlampau menyanjung diriku. Aku merasa bahwa

diriku hanya seorang manusia tak berguna. Tugas seberat ini tak berani kupikul dengan begitu

saja. Apalagi perloalan ini bukanlah persoalan yang kupikirkan. Kalau toh Hian-beng kaucu begitu

memandang tinggi diriku, tentu saja hal ini sama sekali tak ada hubungannya dengan

kepandaian silatku, kemampuanku serta kecerdasanku. Alasan dibalik kesemuanya ini masih

merupakan suatu tanda tanya besar bagiku. Lebih baik saudara bertiga jangan membicarakan

tentang yang lain lebih dahulu, tapi bantulah diriku untuk memikirkan persoalan ini”

“Sudahlah, tak usah kau pikirkan lagi” kata Coa Cong-gi, “Pokoknya persoalan ini ada sangkut

pautnya dengan ayah ibumu”

“Darimana kau bisa tahu?”

“Ayahmu adalah lambang kebenaran dari umat persilatan dari golongan lurus! Sedang ibumu

adalah nyonya dari Thian-cu-kiam! Padahal tujuan mereka merajai dunia persilatan adalah untuk

membuat buat keonaran dan kejahatan. Gembirakah dan legakah perasaan mereka selama ayah

ibumu mengganggu usaha mereka itu?”

“Betul juga perkataan ini” diam-diam Hoa In-Liong berpikir, “Tampaknya tujuan mereka

menangkap diriku adalah hendak dijadikan sandera untuk menggertak ayah ibuku”

Karena berpendapat demikian, maka diapun tidak mendebat lebih jauh, kembali katanya,

“Memangnya mereka anggap ayah ibuku gampang digertak orang sehingga mandah menyerah

begitu saja? Jika mereka berpendapat demikian, maka sia-sialah jalan pikiran tersebut. Yaa….

Sudahlah. Urusan ini tak usah dibicarakan lagi, cepat katakan soal yang kelima”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

344

Sembari putar otaknya untuk berpikir, Coa Cong-gi bergumam seorang diri, “Kelima…. Kelima….”

Tiba-tiba ia menengadah seraya berseru. “Sudah tidak ada lagi”

Jawaban ini membuat Hoa In-liong tertegun. Untuk sesaat dia tak mampn mengucapkan

sesuatu.

L i Poh-seng yang berada disampingnya segera menyela, “Bukankah kau katakan bahwa kalau

digabungkan semua maka jumlahnya meliputi dalam lima hal?”

“Yaa, tapi yang lain cuma tetek bengek yang tak ada artinya, tentu saja tak bisa hitung an”

“Apa yang kau artikan tetek bengek?” sela Yu Siau-lam pula, “Kenapa tidak kau katakan juga

agar bisa kita bahas dan analisa bersama-sama….?”

“Aku rasa tiada berharga bagi kita untuk membahas dan menganalisanya kembali” Tukas Cong-gi

cepat.

Hoa In-liong tersenyum. “Bukankah kau katakan bahwa mereka merundingkan persoalan yang

menyangkut tentang keamanan dunia persilatan serta rencana melakukan pembunuhan? Aneh,

mengapa sampai sekarang belum kudengar sesuatu hal yang menyangkut tentang kenyataan

tersebut? Apa sebabnya bisa demikian?”

Coa Cong gi mengerutkan dahinya. “Tapi memang begitu kenyataannya! Apa yang berhasil

kudengar telah kuucapkan semua, yang belum kusinggung juga melulu nama dari beberapa

orang, tak ada alasan lain yang dapat kukatakan lagi….”

“Nama-nama siapa yang mereka singgung?”

“Waaah banyak sekali ! Siapa itu Sim Cia? Siapa itu Jin Hian! Cu-im tauto! Thiaa-ek lo-to! Ciu

Thian-hau dari Hong-san! Pokoknya banyak sekali nama-nama orang yang mereka sebutkan.

Lagipula sewaktu menyebutnya tidak bersamaan tapi berputus-putus. Untuk sesaat aku rada

susah untuk mengingatnya semua secara bersama. Sekalipun masih ingat, namun tak berani

kupastikan apakah namanya itu benar atau tidak. Coba bayangkan sendiri, mana mungkin hal ini

bisa kugabungkan menjadi satu soal serta menerangkannya secara jelas?”

Dalam anggapannya hal ini sama sekali tak berguna, ia anggap persoalan itu hanya urusan tetek

bengek yang sama sekali tak ada artinya. Siapa tahu justru nama-nama yang disebutnya itu bagi

pendengaran Hoa In-liong merupakan geledek yang menyambar ditengah siang hari bolong,

seketika itu juga hatinya jadi tercekat.

“Waah…. Waah…. Itu namanya suatu komplotan yang berencana, nama-nama yang mereka

singgung itu sudah pasti bukan bertujuan untuk dihubungi untuk diajak berkomplot tapi

menyusun rencana untuk membinasakannya. Seperti juga ketika mereka mencelakai jiwa Suma

siok-ya dan isterinya. Kalau tidak ada gunanya mereka singgung-singgung kembali para tokoh

persilatan yang sudah banyak yang mengasingkan diri dan tak ketahuan jejaknya lagi itu?”

Namun mesti ia berpikir demikian dalam hatinya, perasaan kaget dan terkejutnya sama sekali

tidak diperlihatkan diatas wajah. Ia merasa lebih baik tak usah menyinggung lagi persoalan itu

karena tiada bukti nyata yang didapatkan, dikuatirkan pengungkapan persoalan itu justru malah

mengacaukan pikiran orang banyak.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

345

Maka sambil tersenyum lirih Hoa In-liong berkata, “Jadi kalau begitu, hanya sedemikian banyak

saja persoalan kasak kusuk yang kau maksudkan itu?”

“Akukan menyinggungnya secara garis besar. Padahal dalam kenyataannya mereka sambil

makan sambil berbicara, perjamuan itu berakhir setelah lewat tengah malam”

“Bagaimana kemudian setelah perjamuan selesai?’”

“Yaa bubaran tentunya!” jawab Coa Cong-gi polos.

Hoa In-liong tersenyum. “Aku tahu, mereka pasti bubaran, maksudku apakah setelah bubaran

orang-orang dari Hian-beng kau juga pada angkat kaki?”

“Lho…. Aneh benar! Dari mana kau bisa tahu….?” seru Coa Cong-gi tertegun.

Kembali Hoa In-liong tertawa, “Apanya yang susah untuk menduga sampai disitu? Mungkin tak

lama setelah kejadian itu paman Ko-ku itupun muncul disana. Seandainya orang-orang dari Hianbeng

kau masih hadir disana, suatu pertarungan yang amat serupun akan segera berlangsung

dan berada dalam keadaan seperti ini tak mungkin Kiu-im kaucu sampai angkat kaki kabur

pulang kesarangnya….”

Coa Cong-gi bertepuk tangan sambil bersorak memuji. “Betul…. Betul…. memang begitulah

keadaannya. Nah, dengarkan kisahku selanjutnya “

Timbul kembali kegembiraannya untuk berbicara. Sebelum Hoa In-liong buka suara, ia telah

berkata lebih dulu, “Selesai perjamuan, orang-orang dari Hian-beng kau pada pamit dan berlalu

dari sana. Kiu-im kaucu sendiri rupanya sedang dirunding banyak persoalan yang memusingkan

kepalanya. Setelah membuyarkan anak buahnya, seorang diri ia berjalan mondar-mandir dalam

halaman itu sambil bergendong tangan. Menggunakan kesempatan yang sangat baik itulah aku

berputar satu lingkaran disekitar gedung untuk mencari jejakmu. Menanti aku balik lagi ke

halaman depan, ternyata dihadapan Kiu-im kaucu telah tertambah dengan seseorang dan orang

itu tak lain adalah paman Ko mu itu. Cctt…. ctttt…. Paman Ko mu itu memang luar biasa,

badannya tinggi tegap, wajahnya keren, berwibawa dan berilmu tinggi juga. Waah! hebat sekali!”

Diam-diam Hoa In-liong tertawa geli, pikirnya, “Begitu saja sudah kagum, apalagi kalau sampai

berjumpa dengan ayahku….”

“Apa sebabnya paman Ko ku itu ditengah malam buta pergi mencari Kiu-im kaucu?”

“Dia mencari kau1″ Sahut Coa Cong-gi dengan dahi berkerut.

Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba sambungnya lebih jauh, “Kewibawaan Kiu-im kaucu memang

luar biasa sekali. Ketika aku tiba kembali ditempat semula, kusaksikan raut wajahnya dingin kaku

seperti es dan sedang membentak dengan suara ketus, “Siapa kau? Tengah malam buta begini

kenapa datang berkunjung ke rumah orang?” ternyata paman Ko mu itu juga amat gagah, dia

lantas menjawab dengan lantang:” Aku Ko Thay, khusus datang kemari untuk minta keringanan

tanganmu. Haa…. haa…. haa…. Jawaban ini memang tepat sekali. Mungkin sepanjang hidup aku

Coa Cong-gi tak dapat menirukannya dengan persis”

Hoa In-liong kuatir kalau ia membawa pokok pembicaraan itu kesoal lain, maka cepat-cepat,

timbrungnya, “Bagaimana selanjutnya? Bagaimana jawaban dari Kiu-im kaucu….?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

346

“Mula-mula Kiu-im kaucu tampak agak tertegun. Menyusul kemudian setelah mendengus dingin

ia menjawab, “Hmm, manusia yang tak punya namapun berani mintakan ampun bagi orang lain!

Betul-betul tak tahu diri!”. Paman Ko itu pun tidak tersinggung. Dia langsung menjawab lagi,

“Aku memang seorang manusia yang tak punya nama. Tapi nama besar dari Hoa Thian-hong

tentu tak asing bukan bagi pendengaran Kaucu? Nah, aku datang kemari untuk meminta kembali

kongcunya”. Setelah perkataannya itu diutarakan keluar, bukan saja Kiu-im kaucu dibuat

tertegun seketika itu juga, sekalipun aku juga ikut tertegun”

“Tak aneh kalau dia tertegun” kata Hoa In-liong kemudian, “Waktu itu aku sudah pergi. Tentu ia

tak tahu bagaimana musti menghadapi

persoalan ini. Tapi entah bagaimana jawabannya kemudian?”

“Ia tertegun untuk sesaat lamanya, kemudian katanya, “Suruh Hoa Thian-hong datang sendiri!”

Tapi tindakan paman Ko lebih cerdik, dia tidak menanggapi ucapan tersebut. Sebaliknya

mengangkat lengan kirinya dan langsung menyodok kemuka. Ketika itu aku dibuat terheran

heran oleh tindakan itu. Sedangkan Kiu-im-kaucu tiba-tiba berteriak dengan rasa terperanjat,

“Kun-siu-ci-tau! Apa hubunganmu dengan Hoa Thian-hong?”. Jawab paman Ko mu itu:” Yaa

benar, tempo dulu pukulan ini memang bernama Kun-siu-ci-tau, tapi sekarang bernama Hu-imsin-

ciang. Entah pukulan tersebut apakah pantas mewakili Hoa Thian-hong?” Baru saja

perkataannya selesai diutarakan tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang amat nyaring

berkumandang memecahkan kesunyian. Ternyata sebatang pohon besar yang tingginya lima kaki

disebelah kiri telah terhajar patah jadi dua bagian, dengan menimbulkan suara keras pohon itu

tumbang ketengah halaman”

Ia berhenti sebentar untuk tukar napas, kemudian lanjutrya lebih jauh, “Ternyata sikap Kiu-imkaucu

cukup gagah, segera ujarnya dengan suara dingin, “Perduli ilmu pukulan itu ilmu pukulan

sakti apa. Yang pasti ilmu silatmu berasal dari Hoa Thian-hong. Itu berarti kau memang

berkewajiban untuk datang minta kembali putranya. Tapi akupun ada sepatah dua patah kata

hendak dikatakan kepadamu. Cuma takutnya kau tidak mau percaya.” Paman Ko-pun menyahut,

“Kau adalah ketua dari suatu perkumpulan besar, tentu saja apa yang kau katakan akan

kupercayai sepenuhnya. “Kiu-im-kaucu kembali berkata, “Senja berselang, Hoa In-liong telah

pergi tanpa pamit, percayakah kau?” Bila di katakan pergi tanpa pamit, siapa yang mau percaya?

Waktu itu aku langsung mengumpat didalam hati, “Sialan, ngomong juga seenaknya sendiri!”

Siapa tahu setelah tertegun sejenak, paman Ko segera memberi hormat seraya berseru, “Maaf,

mengganggu!” diapun putar badan dan berlalu dari sana”

Yu Siau-lam lantas menyela dari samping. “Apakah lantaran Ko tayhiap berhasil mematahkan

sebatang pohon dengan pukulannya, maka Kiu im kaucu kabur pulang kesarangnya?”

“Tentu saja tidak sesederhana itu” jawab Coa Cong-gi, “Aku sangat kagum menyaksikan

kegagahan serta kewibawaan Ko tayhiap. Tampaknya Kiu-im kaucu dibuat jengkel oleh polah

musuhnya. Ketika Ko tayhiap hendak berlalu dari sana, ia lantas mendengus dingin sambil

menegur, “Hmm, mau datang lantas datang, mau pergi lantas pergi. Sikapmu itu betul-betul tak

pandang sebelah matapun terhadap diriku”. Mendengar teguran tadi, Ko tayhiap menghentikan

langkahnya seraya

menjawab, “Apakah kaucu tidak senang hati dan ingin memberi beberapa jurus petunjuk ilmu

silat kepadaku?”. Kiu-im kaucu berkata kasar, “Yaa benar, sebelum pergi dari sini, sambutlah

sebuah

pukulanku lebih dahulu”. Ko tayhiap dengan gagah menerima tantangan itu, “Aku sudah siap

menunggu pelajaran!”. Maka kedua orang itu saling bertarung”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

347

“Bagaimana akhirnya?” sela Yu Siau-lam dengan gelisah.

“Aku sih tak tahu bagaimana hasilnya. Hanya kulihat angin pukulan kedua orang itu saling

beradu keras, menyusul kemudian Ko tayhiap mundur setengah langkah, sebaliknya Kiu-im

kaucu sempoyongan setengah harian sebelum ia berdiri tegak. Menanti kuda-kudanya dapat

dikokohkan kembali Ko tayhiap sudah berlalu dari sana sambil berkata. “Selamat tinggal!”

“Jadi kalau begitu, Kiu-im kaucu belum menderita kalah?” tanya Yu Siau-lam kemudian.

“Aku sendiripun tidak tahu, tapi sepeninggalnya Ko tayhiap, tiba-tiba Kiu-im-kaucu bergumam

seorang diri:” Aaaai…. Sudah tua! Sudah tua! Aku memang sudah terlalu tua!” Kemudian ia

berjalan mondar mandir lagi dalam gedung sambil bergendongan tangan”

“Kalau cuma begitu saja, toh beilum pasti kalau Kiu-im kaucu telah pulang kesarangnya?” desak

Yu Siau-lam.

“Ucapan memang betul, tapi kisahnya masih ada. Dengarkan dulu penuturanku selanjutnya.”

Setelah berhenti sebentar, ia baru melanjutkan kisah ceritanya, “Demikianlah, sambil berjalan

maju mundur Kiu-im kaucu putar otaknya memikirkan masalah yang ia hadapi. Selang sesaat

kemudian tiba-tiba ia masuk keruang tengah dan mengumpulkan segenap tongcu dan anak

buahnya. Dihadapan anak buahnya itulah dia umumkan pengunduran dirinya dan menyerahkan

kedudukan kaucu itu kepada Yu beng tiamcu Bwee Su-yok dan hari itu juga ia bertolak menuju

keselatan. Mengenai kejadian yang lebih terperinci, akun rasa tak perlu diterangkan lagi”

Ketika Yu Siau-lam mendengar bahwa ia telah mengakhiri kisah cerita itu, segera ujarnya lagi,

“Woow…. Kalau cuma begitu saja, tak dapat dikatakan kalau dengan sebuah pukulan berhasil

mengusirnya pulang kekandang, Cuma….”

“Cuma kenapa lagi?” seru Coa Cong-gi sambil mengernyitkan alis matanya yang tebal.

Yu Siau-lam menengadah dan menjawab, “Aku rasa kejadian semacam ini belum pantas untuk

dikatakan sebagai bangkitnya hawa iblis yang menyelimuti jagad. Pada umumnya tenaga dalam

yang dimiliki si iblis tua lebih sempurna dan hatinya lebih buas dan keji. Jika si iblis kecil yang

melanjutkan kedudukannya, maka baik dalam hal tenaga dalan maupun dalam hal kekejaman,

dia tentu kalah satu tingkat jika dibandingkan dengan siiblis tua. Maka menurut pendapatku,

keadaan semacam ini mestinya merupakan suatu warta gembira bagi kita semua”

“Warta gembira?” Coa Cong-gi melotot besar. “Memangnya kau anggap Bwee Su-yok adalah

seorang gadis perawan yang lemah lembut dan berhati penuh welas kasih? Tanyakan sendiri

kepada saudara Hoa, betapa dingin dan kakunya perempuan itu? Betapa buas dan kejamnya dia?

Berbicara soal ilmu silat, mungkin Hoa lote sendiripun belum tentu merupakan tandingannya!”

Sekarang Yu Siau-lam baru terperanjat. Tanpa sadar matanya terbelalak lebar dengan mulut

melongo. Untuk sesaat ia tak mampu nengucapkan sepatah katapun.

Hoa In-liong pribadi, ketika didengarnya bahwa Bwee Su-yok telah menerima jabatan kaucu dari

Kiu-im-kau, pelbagai perasaan bercampur aduk dalam hatinya. Perasaan itu yaa getir, yaa manis

yaa kecut, yaa pedas. Pokoknya begitu bercampur aduknya perasaan hatinya, sampai-sampai dia

sendiripun tak dapat membedakan perasaan tersebut.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

348

Saking kesalnya, ia ambil keputusan untuk tidak memikirkannya lebih jauh. Maka dicarinya alasan

untuk mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain. “Saudara Cong-gi!” katanya kemudian,

“Urusan ini tak usah kita bicarakan lagi, apakah kau masih punya rangsum kering dan air?”

Coa Cong-gi merupakan seorang laki-laki yang polos dan jujur. Setiap kali ia merasa ada

perkataan yang tak betul, pemuda itu siap untuk mendebatnya. Meski demikian, wataknya cukup

baik. Dia memang cepat naik darah, tapi cepat pula marahnya jadi buyar, apalagi ditimbrung

urusan lain, maka persoalan yang pertamapun akan terlupakan sama sekali dengan cepatnya.

Terutama sekali terhadap Hoa In-liong, boleh dibilang perhatiannya sungguh sungguh. Begitu

mendengar kalau pemuda itu membutuhkan rangsum kering dan air, diapun lantas berteriak,

“Heei…. Siapa yang mempunyai air dan rangsum kering? Ayoh bagi dua bagian kemari!”

Be Si-kiat yang mendengar seruan tersebut, segera menghantar dua bagian air dan rangsum ke

depan.

Setelah menerima air dan rangsum kering, Hoa In-liong membagi satu bagian untuk Yu Siau-lam

dan mereka berduapun bersantap dengan mulut membungkam, sebab kedua belah pihak samasama

mempunyai perasaan yang amat berat.

Untuk sesaat suasana jadi hening dan amat sepi. Angin yang berhembus lewat menggoyangkan

daun pohon hingga menerbitkan bunyi gemerisik yang nyaring. Suara tersebut seakan-akan

bunyi anak panah yang menembusi awan. Begitu tajam dan keras membuat hati orang berdebar

dan merasa duduk tak tenang.

Beberapa saat sudah lewat, akhirnya Coa-Cong gi yang pertama tama tak tahan oleh keheningan

di tempat itu. Ia lantas bangkit berdiri dan berjalan mondar-mandir kesana-kemari.

Selang sejenak kemudian, tiba-tiba matanya tertumbuk dengan tubuh Bujian tootiang yang

tergeletak ditanah, ia segera berhenti ambil teriaknya, “Eeeh…. Jalan darah dari tootiang ini

apakah boleh dibekaskan sekarang?”

Selama ini, perhatian semua orang tertuju untuk mendengarkan cerita dari Coa Cong-gi tentang

persoalan Kiu-im kau. Sementara Bu-jian tootiang yang tergeletak di tanah, terlupakan untuk

sementara waktu. Maka begitu Coa Cong-gi berteriak, Hoa In-liong lah yang pertama-tama

menjadi sadar. “Oh-iya…. Biar aku yang membebaskan sendiri. Biar aku saja yang mengerjakan

sendiri!” serunya cepat.

Rangsum dan airnya dibuang ke tanah, kemudian bangkit dan menghampirinya.

Yu-Siau-lam pun menjadi teringat kembali akan imam itu, sambil menengadah tegurnya, “Apakah

perlu Siau-te bantu?”

“Harap kau bersiap siaga saja dengan waspada jika kesadaran otaknya belum pulih kembali

seperti sedia kala, tolong totoklah jalan darah tidur Hek tian hiatnya!”

Yu Siau lam mengangguk, maka Hoa In-liong pun menyalurkan tenaga dalamnya ke jari tangan.

Kemudian dalam sekali sentilan jari saja ia telah berhasil membebaskan jalan darahnya yang

tertotok.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

349

Jilid 18

BEGITU jalan darah Bu-jian tootiang tertotok bebas, sepasang biji matanya segera berputar

memandang sekeliling tempat itu, kemudian sambil melompat bangun, tanyanya dengan wajah

tercengang, “Aku…. Aku…. berada dimana?”

“Tenangkan dulu hatimu tootiang!” cepat Yu Siau-lam berseru, “Tempat ini adalah empat puluh li

dari kota Hong-yang yang disebut orang sebagai Ang-sim-poh!”

Kembali Bu-jian tootiang celingukan kesana kemari seperti orang kebingungan. ”Aku…. Aku….”

Tiba-tiba ia seperti teringat akan sesuatu, segera teriaknya, “Aaah…. Aku sudah teringat semua

kini, Ooh…. Thian! Kuilku….kuilku….”

“Yaa…. Kuil Cing-siu-koan telah musnah!” lanjut Hoa In-liong dengan sikap yang tenang,

“Tootiang, jelek-jelek engkau adalah seorang imam

yang beribadat, semestinya jalan pikiranmu jauh lebih terbuka dari pada orang lain”

Bu-jian tootiang segera meloncat bangun dari atas tanah, lalu serunya agak tergagap, “Tetapi….

Tetapi…. Dua puluh tujuh lembar nyawa manusia! Mereka semua adalah anak murid pinto!”

Menyinggung tentang kedua puluh tujuh lembar nyawa manusia itu, tak dapat dibendung lagi

titik-titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.

Semua orang sudah tahu kalau kuil Cing siu-koan telah terbakar habis tinggal puing-puing yang

berserakan. Tapi menyaksikan kesedihan yang mencekam perasaan Bu-jian tootiang ketika itu,

semua orang ikut merasa bersedih hati hingga nyaris air mata ikut meleleh keluar membasahi

pipinya.

Coa Cong-gi merupakan seorang laki-laki yang berhati sekeras baja dan bernyali besar, tapi ia

paling pantang menyaksikan orang lain mengucurkan air mata, maka segera serunya, “Jangan

menangis! Jangan menangis lagi! Siapa hutang uang dia harus bayar dengan uang, siapa hutang

nyawa harus dibayar pula dengan nyawa. Meskipun mereka sudah sudah bikin mati anak

muridmu, lain kali kau bisa comot keluar jantungnya. Mereka sudah bakar kuilmu, maka lain kali

kau bongkar juga sarang mereka. Kekerasan harus dibalas dengan kekerasan, kekejaman harus

dibayar pula dengan kekejaman. Sebagai seorang laki-laki sejati, sebagai kesatria yang gagah

perkasa, kau harus dapat mengendalikan perasaan. Kau anggap hanya menangis belaka, maka

urusan dapat diakhiri dengan gampang?”

Hoa In-liong yang berada disampingnya segera menambahkan pula dari samping, “Betul juga

perkataan itu. Bagaimanapun juga, toh kuil yang tootiang huni telah musnah. Yang paling

penting sekarang adalah menjaga kesehatan badan, selanjutnya adalah memanfaatkan keadaan

yang ada. Kesedihan yang mencekam menjadi suatu kekuatan untuk membalaskan dendam bagi

kematian anak muridmu. Sebaliknya jika kesedihan yang kau alami sekarang mengakibatkan

badanmu semakin rusak, coba bayangkan sendiri, siapa yang akan membalaskan dendam bagi

kematian anak muridmu? Kalau sakit hati ini sampai tidak terbalas, bukankah mereka akan mati

dengan mata tak meram?”

“Mati dengan mata tak meram…. Mati dengan mata tak meram….” kembali Bu-jian tootiang

bergumam seorang diri.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

350

Dari cara imam setengah baya itu mengulangi kembali kata-kata tersebut, Yu Siau-lam tahu

bahwa perasaan dan pikirannya sudah mulai bergerak, maka setelah berpikir sebentar, dia

berkata pula, “Tootiang, aku pernah berhutang budi kepadamu. Maka bila engkau berhasrat

untuk membalas kan dendam bagi kematian anak muridmu, sekalipun harus terjun ke lautan api,

aku pasti akan membantu dirimu pula. Entah bagaimanakah menurut pendapatmu?”

Meskipun butiran air mata yang mengembang dalam kelopak mata Bu-jian tootiang belum

mengerti akan tetapi dibalik matanya yang berkaca-kaca itu telah memancar keluar serentetan

cahaya tajam yang menggidikkan hati. Ini menunjukkan bahwa keputusan telah diambil dalam

hatinya dan makin lama keputusan tersebut semakin bulat.

Saat itulah Hoa In-liong menambahkan kembali kata-katanya dari samping, “Pertimbangkanlah

secara seksama. Tapi menurut pendapatku, anak murid dalam perguruan sama halnya dengan

anak kandung sendiri. Kematian mereka terlalu menyedihkan, apalagi dibunuh secara keji tanpa

sebab musabab. Kematian mereka adalah kematian yang penasaran, bagaimanapun jua dendam

ini harus dituntut balas. Bila engkau telah memutuskan untuk membalas dendam, maka semua

sahabatku dengan rela hati akan membantu usahamu itu”

Begitu kata-kata tersebut berkumandang keluar, sinar mata yang memancar keluar dari mata Bujian

tootiang makin bercahaya. Ia tampak termenung sejenak. Kemudian dengan ujung bajunya

menyeka air mata dalam kelopak mata, matanya tertunduk rendah. Sambil pejamkan mata ia

menjura dalam-dalam. Ia menjura tanpa diketahui siapa yang dituju, tapi setelah berdiri tegak

ujarnya kepada Hoa In-liong, “Terima kasih atas nasehatmu itu, pinto menerima semua kritik

yang membangun ini”

Setelah menyapu sekejap wajah para jago yang hadir disana, ia berkata lebih jauh, “Saudarasaudara

sekalian, walaupun aku sudah menjadi pendeta semenjak kecil tapi akupun merupakan

seorang manusia yang berdiri dari darah dan daging. Aku mempunyai perasaan juga. Maka atas

budi kebaikan yang telah kuterima hari ini, pinto tak berani menjanjikan sesuatu. Tapi yang pasti

aku akan berusaha untuk maju ke depan. Andaikata lain waktu masih berjodoh, kita pasti akan

bersua kembali….”

Selesai berkata, ia lantas beranjak dan menuju keluar hutan untuk berlalu dari sana.

Hoa In-liong bertindak cepat, tangannya segera berputar kedepan mencekal ujung bajunya.

“Tootiang, engkau akan kemana?” Tegurnya gelisah.

Karena ditarik ujung bajunya, terpaksa Bu-jian tootiang membatalkan niatnya. “Seng-sut-pay

telah membakar habis kuil pinto, maka pinto juga akan menghancurkan lumatkan Hay-sim-san

sarang mereka”

“Tapi…. Tapi…. Kau cuma sendirian, mana mungkin niatmu bisa terwujud? “seru Hoa In-liong

agak ragu-ragu.

“Hoa kongcu, apakah engkau anggap pinto benar-benar seorang imam tua yang tak berguna?”

tiba-tiba Bu-jian tootiang balik bertanya, suaranya sangat hambar.

“Aku tahu, tootiang adalah seorang tokoh persilatan yang selama ini menyembunyikan diri dalam

too-koan!”

Bu-jian tootiang tertawa ewa. “Kongcu keliru besar. Guru pinto yang sebenarnya tak lain adalah

Tong Thian-kaucu dimasa lalu, dia adalah seorang gembong iblis yang betul-betul pantas disebut

iblis”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

351

Setelah ucapan tersebut diutarakan keluar, semua orang yang berada dalam gelanggang jadi

terbelalak lebar. Tak seorangpun sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

Terdengar Bu-jian tootiang berkata lagi, “Saudara-saudara sekalian tak usah kuatir. Anak murid

dari Thian Ek-cu untuk selanjutnya tak ada yang menjadi iblis sesat lagi”

Hoa In-liong merasa serba salah. Iapun tak sanggup mengatakan apa-apa lagi. Maka apa yang

bisa ia lakukan hanya menarik tangan Bu-jian tootiang erat-erat tanpa dilepas kembali.

Bu-jian tootiang kembali berkata, “Tempo dulu pinto pernah berjumpa muka dengan ayahmu.

Watak kongcu persis seperti watak ayahmu, bunyak manfaat yang telah pinto tarik dan pelajaran

ini.”

Yang dia maksudkan adalah kebaikan serta kegagahan keluarga Hoa. Apa mau dikata Hoa Inliong

adalah seorang pemuda yang keras kepala, segera teriaknya, “Aku tak ambil peduli!

Sekalipun kau berbicara sampai lidahmu membusuk juga percuma. Pokoknya aku tak nanti akan

membiarkan engkau menempuh bahaya seorang diri.”

“Kalan memang begitu, pinto terpaksa harus menyalahi dirimu!”

Seraya berkata demikian, Bu-jian tootiang segera putar telapak tangannya dan menghantam

kepada Hoa In-liong.

Serangan tersebut tak dapat diketahui arah asalnya, tapi kecepatannya luar biasa sekali.

Padahal Hoa In-liong sama sekali tidak bersiap sedia terhadap datangnya ancaman tersebut,

tampaknya serangan itu segera akan bersarang telak di atas tubuhnya.

Berada dalam keadaan seperti ini, untuk memberi pertolongan jelas sudah tak mungkin lagi.

Semua orang jadi terperanjat, bahkan ada pula diantara mereka yang menjerit kaget.

Disaat yang amat kritis itulah, semua orang hanya merasa pandangan matanya jadi kabur dan

sesosok bayangan manusia tahu tahu sudah terlempar ketengah udara.

Menyusul kemudian, terdengar suara Hoa In-liong yang sedang minta maaf berkumandang,

“Maaf….! Maaf….! Aku…. Aku…. Sebenarnya tidak sengaja!”

Ketika semua orang memandang kearah gelanggang dengan lebih cermat, maka terlihatlah

orang yang terlempar dari gelanggang itu ternyata adalah Bu-jian tootiang.

Sementara itu Bu-jian tootiang tergeletak diatas tanah sambil meringis menahan sakit.

“Pinto….Pinto….Aaai!”

Ditengah helaan nafasnya, ia gelengkan kepalanya berulang kali. Agaknya bandingan itu cukup

keras sehingga mengakibatkan tubuhnya terasa amat sakit.

Dengan wajah penuh rasa menyesal dan permintaan maaf Hoa In-liong membimbingnya bangun

berdiri, katanya, “Tootiang, harap engkau suka memberi maaf atas kecerobohan serta

kekasaranku!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

352

Bu-jian tootiang tertawa getir. “Hal ini tak dapat menyalahkan diri kongcu. Kalau ingin

nenyalahkan maka harus salahkan diri pinto sendiri yang tak tahu diri serta menilai dirimu

terlampau rendah”

“Tidak! Tootiang terlalu baik hati dan ramah, lagipula engkaunpun tidak menggunakan tenaga

sepenuhnya. Andaikata tootiang menggunakan tenaga yang lebih besar lagi maka yang roboh

sudah pasti adalah diriku sendiri. Aku tahu, tujuan dari tootiang dengan serangan itu adalah

bermaksud untuk memaksa aku lepas tangan. Akulah yang salah karena tak dapat menguasahi

diri sehingga sungguh-sungguh membanting tootiang sampai terjungkal”

Setelah pembicaraan itu berlangsung, semua orang baru menyadari akan duduk persoalan yang

sebenarnya, semua orang lantas mengerumun maju ke depan.

Ternyata Bu-jian tootiang ingin terburu buru lepaskan diri dari cekalan orang, maka ia gunakan

telapak tangannya untuk pura-pura melancarkan serargan. Dalam anggapannya gertak sambal

itu pasti akan berhasil dengan cemerlang. Dalam keadaan tak terduga dan tergesa-gesa Hoa Inliong

pasti akan melepaskan cekalannya untuk mengundurkan diri kebelakang.

Asal cekalannya terlepas, maka dengan suatu gerakan yang sama sekali tak terduga ia dapat

kabur dari situ.

Siapa tahu Hoa In-liong memang berniat sungguh-sungguh untuk mencegah imam itu

menempuh bahaya seorang diri. Sewaktu menyaksikan datangnya serangan secara tiba-tiba,

tentu saja cekalannya tidak dilepaskan dengan begitu saja.

Lantaran dia sendiripun tidak bermaksud mundur ke belakang, maka bukannya mundur justru

pemuda itu maju ke muka, kaki kirinya maju selangkah. Sementara telapak tangannya dari

mencekal menjadi mencengkeram dan ditangkapnya lengan kiri Bu jian tootiang erat-erat.

Ketika badannya dilengkungkan seperti busur dan lengan kanannya digetarkan ke depan,

ternyata tubuh Bu-jian tootiang terangkat lewat punggungnya dan melayang ke depan.

Ternyata di saat yang terakhir ia baru tahu jika Bu-jian tootiang sama sekali tidak menggunakan

tenaga penuh, tak ampun lagi terpelantinglah si toosu setengah baya itu dengan kepala

menghadap ke atas.

oooOOOooo

SEMENTARA itu Bu-jian tootiang telah berkata dengan dahi berkerut kencang, “Tak usah

dibicarakan lagi tentang soal itu, harap kongcu bersedia lepas tangan!”

Dari nada ucapannya itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa keputusannya untuk berlalu dari situ

sudah bulat dan tak dapat diganggu gugat lagi.

Tapi Hoa-In-liong tetap menggelengkan kepalanya. “Padamkanlah amarahmu untuk sementara

waktu” Hiburnya. “Dendam sakit hati ini memang harus dituntut balas. Tapi adapun sebab

musabab hingga terjadinya dendam berdarah ini adalah gara-gara soal diriku. Sewajarnya kalau

aku tak boleh mengesampingkan diri dalam urusan pembalasan dendam ini. Kita harus

rundingkan siasat dengan sebaik-baiknya agar hasil yang tercapai pun memadai”

“Benar!” kata Yu Siau-lam juga, “Sebab musabab sampai terjadinya dendam berdarah ini adalah

karena soal diriku. Andaikata aku tidak tertawan, saudara In-liong tak mungkin akan menyusul ke

kota Hong-yang dan orang-orang dari Mo-kauw juga tak nanti akan menghancurkan tookoan mu

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

353

serta membinasakan anak muridmu. Sebab itu aku juga tak dapat mengesampingkan diri dalam

urusan ini. Tootiang, kenapa kau tidak tenangkan dulu hatimu dan marilah kita rundingkan

bersama-sama urusan ini untuk menyusun rencana bersama?”

Meskipun dari pembicaraan tersebut ia tahu akan maksud baik rekan-rekannya dan diapun tahu

bahwa mereka tetap menguatirkan keselamatan dirinya jika seorang diri menempuh bahaya,

maka semua tanggung jawab persoalan itu dibebankan di atas bahu sendiri. Namun rasa haru

dan terima kasihnya itu tak dapat membatalkan niat serta jalan pemikiran sendiri karenanya

setelah termenung sejenak, tiba-tiba ia bertanya, “Apakah kalian berdua tabu bahwa pinto

mempunyai sebuah gelar lain yang disebut Cing-liang?”

Baik Yu Siau lam maupun Hoa In-liong sama-sama tertegun, sebelumnya mereka sempat

mengucapkan sesuatu, Coa Cong-gi sudah tak dapat menahan rasa sabarnya, ia segera

menukas, “Aaah…. Kamu ini kok cerewet amat! Perduli amat Cing lian-si teratai hijau atau Peklian-

si teratai putih, apa sangkut pautnya soal itu dengan masalah pokok? Saudara Hoa berbuat

demikian adalah dikarenakan maksud baik, terserah engkau bersedia untuk mendengarkan atau

tidak….?”

Bu jian tootiang tertawa getir. “Memangnya pinto adalah seorang manusia yang tak tahu baik

buruknya orang lain?”

“Kalau sudah tahu kau urusannya beres, buat apa kau masih ribut dan cerewet terus? “tegur Coa

Cong-gi lebih jauh dengan alis matanya berkenyit.

“Pinto rasa, kalian semua pasti pernah mendengar tentang peristiwa berdarah dilembah Cu-bi-ok

bukan?” Kata Bu-jian tootiang dengan tenang. “Dalam pertarungan yang berlangsung di lembah

Cu-bu-kok dahulu, guruku pernah menitahkan seorang bocah imam berbaju merah yang

bernama Cing-lian untuk membacok kotak emas milik Siang Tang lay, Siang locianpwe….”

Diam-diam Coa Cong-gi mendesis dihati kecilnya. “Oooh…. Jadi engkau adalah si bocah imam

berbaju merah itu? Toh hal ini bukan suatu kejadian yang perlu dibanggakan? Kenapa musti kau

ungkap kembali?” tegurnya.

“Pinto tidak bermaksud pamer atau membanggakan diri. Maksud pinto sejak kecil guruku telah

menganjurkan kepada pinto agar berambisi besar untuk mencapai apa yang dicita-citakan. Tapi

sejak kembali dari operasi penggalian harta karun dibukit Kiu-ci-san, ambisinya banyak yang

telah padam. Beliau berpesan kepada pinto agar mengganti nama menjadi Bu-jian dan

mengasingkan diri ditempat sunyi serta tidak mencampuri urusan dunia persilatan lagi….”

Hoa In-liong agaknya dapat menangkap maksud sebenarnya dari perkataan lawan, ia segera

menukas, “Aaaah…. Sekarang aku sudah paham dengan maksud hatimu. Jadi tootiang

bermaksud hendak menghubungi kembali bekas rekan-rekan seperguruanmu dimasa lampau

untuk membantu usahamu guna membalaskan dendam bagi kematian anak muridmu ini?”

Dengan wajah yang amat sedih Bu jian tootiang manggut-manggut lirih. “Yaaa. Terpaksa aku

harus berbuat demikian. Sekalipun tindakanku ini berarti suatu pelanggaran terhadap perintah

guruku, tapi keadaan situasilah yang memaksa aku berbuat demikian. Karena itu pinto juga tidak

akan memikirkan bagaimanakah akibatnya nanti”

Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, semua orangpun sama-sama dibuat tertegun.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

354

Sementara semua orang masih termangu, terdengar Bu-jian tootiang melanjutkan kembali katakatanya

setelah menghela napas panjang, “Keadaan situasi yang terpapar di depan mata kita

sekarang dengan jelas telah membuktikan bahwa orang-orang dari Mo-kauw adalah iblis-iblis keji

yang sama sekali tidak berperi kemanusiaan. Cukup ditinjau dari sikap mereka yang begitu kejam

buas dan ganas untuk membakar sebuah tookoan serta merenggut dua puluh tujuh lembar

nyawa hanya dikarenakan untuk melampiaskan rasa marah dan mendongkol mereka dapatlah

kita ketahui bahwa kebusukan hati mereka luar biasa besarnya. Bahkan bila dibandingkan

dengan tingkat kekejaman yang pernah diperbuat orang-orang Sin Ki-pang, Hong Im-hwe dan

Tong Thian-kau, entah berapa kali lipat lebih dahsyat. Jika manusia-manusia berhati binatang

semacam merekapun dibiarkan hidup terus didunia ini, mana mungkin umat persilatan didunia ini

bisa peroleh ketenangan? Sampai kapankah dunia persilatan jadi aman dan sentausa? Apakah

kita hendak membiarkan hawa jahat hawa iblis menguasahi seluruh jagad?”

Coa Cong-gi yang berjiwa panas, segera menanggapi ucapan tersebut dengan teriakan

bersemangat, “Betul! Masuk diakal, sungguh tak kusangka meski rada cerewet tapi jalan

pikiranmu lumayan juga. Cuma…. Cuma…. Membangkang perintah gurumu, apakah tootiang

dapat mempertanggung jawabkan perbuatanmu ini kepada gurumu?”

Pemuda ini memang berwatak polos, jujur dan cepat berbicara. Baik buruk semuanya

diungkapkan perasaannya waktu itu. Maka ketika didengarnya perkataan dari Bu-jian tootiang

cengli dan cocok sekali dengan seleranya, bukan saja ia lantas memuji-muji, bahkan sedikit

menguatirkan keselamatan imam tersebut.

Bu-jian tootiang tertawa sedih. “Membangkang perintah guru memang merupakan suatu tindak

penghianatan yang merupakan perbuatan tidak berbakti. Tapi…. apakah pinto harus berdiam diri

saja menyaksikan anak muridku dibantai orang secara keji tanpa usahakan suatu pembalasan

dendam? Apakah hatiku bisa tenteram membiarkan mereka mati penasaran? Memang, apa yang

dikatakan Hoa kongcu tepat sekali, pinto harus mengubah kesedihan yang yang mencekam

dalam hatiku menjadi suatu kekuatan. Pinto pun sadar, kekuatan yang kumiliki sendiri amat

minim dan terbatas, maka aku harus mengundang rekan-rekan seperguruanku dimasa lampau,

untuk bersama-sama melakukan perang terhadap mereka”

Li Poh-seng yang selama ini hanya membungkam, tiba-tiba berkata pula setelah menghela nafas

panjang, “Aaaai…. Sungguh tak kusangka kalau tootiang bisa berpikir sampai ke situ. Padahal

membasmi kaum jahat dan sesat dari muka bumi adalah kewajiban dari kita semua. Apa

salahnya kalau kitapun membantu usahamu untuk membasmi hawa jahat dari muka bumi?

Tootiang, engkau sendiripun sudah cukup tak tenang hatinya karena soal ini, buat apa kau

undang pula rekan-rekan seperguruanmu untuk terjun pula ke dalam air keruh? Tidakkah

perbuatan ini malah mengganggu ketenangan hidup mereka?”

“Sekarang, jalan pemikiran pinto sudah jauh lebih terbuka. Selama hawa siluman belum

dilenyapkan, mana mungkin kita semua dapat hidup beribadah dengan hati yang tenang?”

“Tapi tootiang, orang persilatan paling menjunjung tinggi perintah dari seorang guru” Sambung

Yu Siau-lam cepat, “Apakah tootiang tidak merasa berdosa, bila kau langgar perintah dari

gurumu?”

Bu-jian tootiang tertawa getir. “Ya….sudah tentu hal itu tak bisa dihindari lagi” Sahutnya, “Tapi

aku yakin, guruku tak akan sampai menegur ataupun menyalahkan tindakanku ini”

“Kenapa bisa begitu?” tanya Coa Cong-gi dengan alis mata berkenyit rapat.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

355

“Ketika guruku mengumumkan akan mengundurkan diri dari keramaian dunia serta melarang

anak muridnya mencampuri urusan dunia persilatan lagi, dalam dasar hatinya sudah muncul

benih-benih penyesalan. Disamping itu, perkumpulan Tong Thian-kau tak dapat dibantah lagi

memang pernah melakukanbanyak kejahatan dan kekejaman dimasa lampau. Maka pinto

mengambil keputusan untuk mengundang kehadiran rekan-rekan seperguruan untuk bersamasama

melawan serta membendung kekuatan jahat dari pihak luar. Tindakanku ini pertama untuk

membalaskan dendam bagi kematian anak muridku. Kedua untuk menebuskan dosa-dosa yang

pernah dilakukan pihak Tong Thian-kau dimasa lalu. Maka pinto pikir, jika guruku dapat

mengetahui maksud hatiku ini, tak mungkin beliau akan menegur ataupun menyalahkan tindakan

pinto yang telah melanggar perintah-perintahnya ini”

Selama pembicaraan berlangsung, Hoa In-liong mencengkal terus lengan Bu jian tootiang tanpa

bermaksud untuk melepaskannya kembali. Tapi sesudah imam setengah baya itu mengutarakan

isi hatinya, cekalan tersebut segera dilepaskan.

“Baiklah! Kau tak usah berkata lagi. Tak kusangka kalau maksud hati tootiang secermat dan

sebagus ini. Kalau begitu akulah yang menguatirkan keselamatanmu terlalu berlebihan. Silahkan

tootiang! Semoga dilain waktu gurumu dapat memahami keadaan tersebut. Bila mana perlu

akupun bersedia menjadi saksi bagi tootiang untuk menghindari diri tootiang menjadi penasaran”

Persetujuan yang diberikan secara tiba-tiba oleh anak muda ini atas kepergian Bu-jian tootiang

tentu saja amat mencengangkan semua orang. Untuk sesaat semua yang hadir jadi tertegun dan

tak mampu mengucapkan sepatah katapin.

Bu-jian lootiang sendiripun tertegun, tapi hanya sebentar, cepat ia menjura memberi hormat.

“Terima kasih atas janji yang telah Hoa kongcu berikan. Pinto mohon diri lebih dahulu”

Selesai berkata, ia putar badan dan buru-buru berlalu dari sana dengan mengerahkan ilmu

meringankan tubuhnya.

Ketika tubuhnya sudah mencapai tiga kaki jauhnya, mendadak Hoa In-liong berteriak kembali,

“Tootiang!”

Bu-jian tootiang segera menghentikan langkah kakinya dan putar badan menghadap ke arah

pemuda tersebut.

Dengan senyuman dikulum Hoa In-liong berkata lebih jauh, “Kita adalah sepaham dan setujuan,

harap tootiang tinggalkan alamat buat kami. Dikemudian hari aku pasti akan berkunjung ke sana

untuk menyambangi dirimu”

“Kepergian pinto kali ini tanpa arah tujuan tertentu, lebih baik kita berjumpa saja dalam dunia

persilatan!”

Hoa In-liong termenung dan berpikir setentar kemudian ujarnya lagi, “Begini saja! Bila tootiang

menghadapi kesulitan dikemudian hari, kirim saja utusan ke perkampungan Liok-soat-san-ceng.

Kami orang-orang dari keluarga Hoa bersedia menjadi tulang punggung kalian”

“Terima kasih atas perhatian dari kongcu. Pinto akan mengingat terus pesan ini” sahut Bu jian

tootiang lantang.

Diapun memberi hormat dari kejauhan, kemudian baru berlalu dari situ. Sekejap kemudian

bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

356

Kepergian Bu-jian tootiang segera mengundang helaan napas sedih dari rekan-rekan persilatan

lainnya. Lama sekali Hoa In-liong baru berkata lagi, “Aku rasa kitapun harus segera berangkat!”

“Ya, kita harus berangkat! Sekarang juga kita harus berangkat!” sambung Coa Cong-gi setengah

berteriak.

Sambil ulapkan tangannya berjalan lebih dahulu keluar dari hutan lebat itu.

Para jago lainnya saling menyusul dari belakang dengan membungkam dalam seribu basa

mereka menelusuri jalan raya.

Ketika itu waktu sudah menunjukkan lewat tengah hari. Matahari bersinar terang dengan

teriknya ditengah angkasa. Panas sang surya yang menyengat badan menimbulkan rasa panik,

gelisah dan murung dihati setiap orang. Ini menyebabkan perasaan mereka makin kalut.

Kurang lebih sepertanak nasi kemudian, tiba-tiba Yu Siau-lam berkata memecahkan kesunyian,

“Saudara In-liong, tiba-tiba aku merasa jantungku berdebar keras, seakan-akan mendapat firasat

bahwa sesuatu bencana besar telah berada didepan mata. Tahukah kau apa maksud dari firasat

hatiku ini? Apakah kau dapat menerangkan?”

“Entahlah apa yang bakal terjadi” Sahut Hoa In-liong seraya berpaling, “Sebab akupun

mempunyai perasaan yang sama. mungkin dalam lubuk hati kita masiag-masing sedang

menguatirkan keselamatan dari Bu-jian tootiang, maka perasaan semacam itupun otomatis

muncul dengan sendirinya! “

“Benar!” Seru Coa Cong-gi pula setengah berteriak, “Toosu itu bukan saja dingin dan tawar.

Berbicarapun tak bisa blak-blakan dan lancar. Tak disangka manusia semacam itu sanggup

mengutarakan serangkaian perkataan yang masuk diakal. Jika menuruti adatku bagaimanapun

juga tak nanti akan kubiarkan dia pergi dari sini. Bukan saja tidak membawa senjata rahasia,

harus berkeliaran juga kesana-kemari tanpa tujuan tertentu. Kalau sampai ketemu lagi dengan

rombongan anak iblis itu, niscaya lebih banyak kegetiran yang diterima daripada kegembiraan”

Li Poh-seng tidak sependapat dengan perkataan itu, ia cepat membantah dari samping,

“Aaaah…. Aku rasa belum tentu demikian. Menurut penglihatanku Bu-jian tootiang tidak

termasuk seorang manusia sembarangan. Dia memiliki kekuatan, memiliki keberanian dan

merupakan seorang yang berotak cerdas. Sekalipun sampai menderita kerugian, tak akan besar

kerugian yang dideritanya. Aku rasa kita tak usah terlalu menguatirkan keselamatan jiwanya”

“Aaaah. Kamu ini kalau bicara tak ada ujung pangkalnya, bikin orang jadi bingung saja” Omel

Coa Cong-gi sambil mengernyitkan alis matanya yang tebal. “Perlu kuatir atau tidak ada urusan

yang tersendiri. Pada hakekatnya kita semua sedang kuatir, kalau tidak, tak mungkin hatiku

terasa gundah sekali!”

Li Poh-seng tersenyum. ”Akupun demikian, hatiku amat kalut dan tidak tenteram, begini saja!

Mari kita bicarakan langkah-langkah yang akan kita ambil dalam perjalanan menuju bukit Yansan.

Mungkin dengan cara begini, perasaan gelisah dan tidak tenteram itu dapat kita buang jauhjauh

dari dalam benak kita”

“Betul!” Yu Siau-lam menanggapi lebih dulu sambil manggut-manggut, “Perjalanan kita menuju

ke bukit Yan-san memang perlu dirundingkan lebih dahulu. Sebab langkah-langkah penting perlu

suatu perencanaan yang matang!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

357

Ia berpaling kearah Hoa In-liong, menyusul kemudian tanyanya, “Saudara In-liong, engkau

bermaksud kunjungi bukit Yan-san secara terang-terangan ataukah secara tersembunyi?”

“Tak bisa dikatakan suatu kunjungan secara terang-terangan atau secara tersembunyi. Sebab

tujuan kita adalah memenuhi undangan dari nona Wan untuk mengadakan pertemuan. Tentu

saja sasaran kita adalah berjumpa dengan nona Wan”

“Hal ini mana bisa jadi?” kata Yu Siau-lam dengan dahi berkerut, “Nona Wan selalu ada bersamasama

Hong Seng sekalian. Andaikata kita sampai bertemu dengan Hong Seng lantas bagaimana?

Sebelum hal-hal yang tak diinginkan terjadi, lebih baik kita mempersiapkannya lebih dahulu

dengan masak-masak!”

Hoa In-liong tersenyum. “Kalau sampai berjumpa, itu lebih baik lagi. Justru kita dapat langsung

menegur mereka tentang dibakarnya tookoan Cing-siu-koan secara biadab!”

“Aaaai…. Soal dibakarnya Cing-siu-koan, kenapa musti banyak ditanyakan lagi” Tukas Yu Siaulam

dengan dahi berkerut.

“Lantas menurut pendapatmu?”

“Menurut pendapatku. bila kunjungan kita ini bersifat terang-terangan maka kita langsung temui

Hong Seng dan sekaligus membasmi mereka dari muka bumi serta selamatkan nona Wan dari

cengkeraman mereka. Aku rasa siasat sekali tepuk tiga lalat ini paling bagus sekali bagi kita

dalam keadaan seperti ini”

“Tidak mungkin! Tidak mungkin! Cara semacam ini tak mungkin bisa dilaksanakan” kata Hoa Inliong

kemudian sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.

“Kenapa tidak mungkin?”

“Sekalipun kita berhasil melenyapkan Hong Seng sekalian dari muka bumi, tapi justru tindakan

tersebut merupakan suatu tindakan memukul rumput mengejutkan ular. Karena pembunuhan itu,

orang-orang Mo-kauw pasti akan mempertingkat kewaspadaan mereka terhadap kita. Malahan

mungkin mereka jadi semakin kalap dan menciptakan pembunuhan-pembunuhan keji yang lebih

banyak lagi”

Bergetar hati Yu Siau-lam setelah mendengar akibatnya, tapi ia bertanya juga dengan nada

tercengang, “Lantas apakah engkau mempunyai pendapat lain?”

“Malam kemarin dulu, paman Ngo ku pernah kisikan kepadaku bahwa disekitar kota Kim-leng

telah dijumpai sekelompok manusia dari suku-suku asing….”

“Apakah kelompok manusia suku-suku asing yang dilihat oleh paman Ngo mu juga berasal dari

satu aliran dengan Hong Seng?” tanya Yu Siau-lam dengan hati tercekat.

“Tak usah kita persoalkan apakah mereka berasal dari satu rombongan atau tidak kenyataan

telah berpapar dihadapan kita dan bukti menunjukkan bahwa Hong Seng sekalian masih mencari

jejakku dimana-mana dengan ketat. Namun mereka tak berani secara terang-terangan, hal ini

berarti pula bahwa kaucu dari Mo-kauw masih menaruh rasa segan dan takut terhadap ayahku.

Karena mereka masih mempunyai perasaan segan dan takut maka dapatlah kita ketahui bahwa

kedatangan Hong Seng sekalian ke daratan Tionggoan adalah bermaksud menyelidik dan

menjajaki kemampuan kita. Jelas yang mereka utus bukan hanya kelompok dari Hong Seng

belaka. Jika kita langsung membabat Hoag Seng sekalian tanpa melakukan penyelidikan lebih

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

358

dulu terhadap keadaan sebenarnya, bukankah tindakan tersebut sama artinya dengan memukul

rumput mengejutkan ular?”

Yu siau lam tidak langsung menjawab, ia berpikir sebentar, kemudian baru menjawab, “Baiklah!

Kalau begitu kita putuskan untuk berkunjung secara sembunyi-sembunyi”

“Bagaimana yang dimaksudkan berkunjung secara sembunyi-sembunyi?” tanya In-liong.

“Kita datang lebih pagian ke bukit Yan-san dan menunggu disana sebelum mereka datang!”

“Kenapa musti datang lebih pagian?”

“Aku rasa si sastrawan she Siau itu adalah seorang manusia licik yang banyak tipu muslihatnya.

Sejak terjadinya kebakaran besar di kuil Cing siu-koan dan terbunuhnya dua puluh tujuh orang

imam, aku selalu merasa kuatir. Aku takut gerak-gerik dari nona Wan telah membangkitkan rasa

curiga dalam hati kecilnya. Pokoknya lebih baik kau datang ke bukit Yan-san selangkah lebih

dulu, sedangkan kami akan bersiap siaga disekitar sana. Apabila Siau Khi-gi sudah menaruh

curiga terhadap nona Wan, dia pasti sudah mengatur segala persiapan untuk menghadapi dirimu.

Selain mengamati terus keadaanmu untuk menjaga segala kemungkinan yang tidak diinginkan,

dia pasti sudah mengatur pula bala bantuan bilamana keadaan benar-benar memerlukan”

“Baik! Kita tetapkan demikian saja” Seru Coa Cong-gi serentak, “Andaikata bangsat muda she-

Siau itu berani menyiapkan segala rencana dan siasat busuk, kita ganyang saja sampai habis!”

“Tidak, hal ini tak bisa dilakukan!” tukas Hoa In-liong tiba-tiba dengan tegas.

Mendengar jawaban tersebut, Coa Cong-gi tertegun. “Kenapa?” Tanyanya, “Seandainya cara ini

meleset, engkau juga tak akan menyetujuinya?”

“Seandainya kita hendak mengganyang mereka, apa bedanya kalau kita langsung pergi mencari

Hong Seng?”

“Lalu…. kau bersiap sedia hendak berbuat apa?” Coa Cong-gi agak tergagap oleh jawaban itu.

”Lebih baik biarkanlah aku pergi seorang diri!”

Begitu mendengar bahwa dia akan memenuhi undangan seorang diri, Coa Cong-gi segera

berteriak, “Waaah. Tidak boleh, tidak boleh. Tidak boleh. Kalau kau hendak pergi sendirian,

andaikata sampai….”

Hoa In-liong tersenyum, seraya tukasnya, “Aku harap engkau bersedia mendengarkan

penjelasanku lebih dahulu! Tujuan kepergianku memenuhi undangan adalah menjumpai nona

Wan serta ingin kuketahui sebetulnya nona Wan ingin menyampaikan rahasia apa kepadaku.

Pertemuan semacam ini tak mungkin bisa mengakibatkan terjadinya bentrokan kekerasan.

Malahan kalau terlalu banyak orang yang pergi jejak kita gampang ketahuan. Daripada konangan

musuh, kau lebih baik kupenuhi sendiri undangan dari nona Wan secara diam-diam?”

“Tidak! Tidak bisa! Sekali aku bilang tidak bisa tetap tidak bisa!”seru Coa Cong-gi tetap ngotot,

“Seandainya hal itu adalah suatu jebakan, seandainya sampai terjadi bentrokan kekerasan, apa

yang hendak kau lakukan waktu itu?”

“Seandainya sampai terjadi bentrokan, jika aku hanya seorang diri maka untuk meloloskan diri

jauh lebuh gampang daripada orang banyak. Mengenai suatu perangkap, aku rasa nona Wan

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

359

bukan sekomplotan dengan mereka. Jadi hal ini tak mungkin bisa terjadi. Harap saudara Cong-gi

bersedia melegakan hatimu….”

Coa Cong-gi kontan mendelik besar.

“Apanya yang kulegakan? Perempuan adalah racun dunia. Apalagi hati kaum wanita paling sukar

diukur dalamnya. Siapa tahu kalau ia bakal menghianati dirimu?”

Hoa In-liong tetap menggelengkan kepalanya berulangkali. Sebetulnya ia ingin memberi

penjelasan lagi.

Tapi Li Poh-seng sudah menyela dari samping, “Urusan itu lebih baik lain kali dibicarakan lagi!

Didepan sana adalah kota keresidenan Teng-wan. Mari kita mencari penginapan lebih dulu.

Sehabis beristirahat, perundingan baru dilangsungkan kembali!”

Mendengar perkataan itu, semua orang lantas menengadah dan memandang ke depan. Betul

juga, kurang lebih delapan-sembilan li lagi terpaparlah sebuah tembok kota yang tinggi besar.

Rupanya sambil berjalan sambil berbicara, tanpa terasa mereka sudah melakukan perjalanan

sejauh empat-lima puluh li.

Tiba-tiba sesosok bayangan tubuh yang cukup dikenal melintas dihadapan mata mereka semua.

Ini membuat semua orang sama-sama dibuat tercengang dan melongo.

Orang itu adalah seorang laki-laki kekar berbaju hijau, ia berbaring diatas punggung kuda yang

sedang berlari kencang menuju kearah rombongan itu berada.

Selang sesaat kemudian, orang itu sudah semakin dekat, tiba-tiba terdengar Yu Siau-lam

berteriak kaget, “Yu Bok kah disitu?”

Baru saja seruan itu berkumandang, Coa Gong-gi sudah menyusup kedepan menyongsong

kedatangan kuda itu, bentaknya, “Cepat berhenti! Yu Bok, kenapa kau….”

Kuda itu lari sangat cepat. Hanya sekejap mata sudah berada didepan mata. Dalam keadaan

begini Coa Cong-gi tak sempat membentak lagi, lengannya segera diayun kemuka

mencengkaram tali les kuda tersebut.

Diiringi suara ringkikan panjang, kuda itu berdiri dengan kaki depannya terangkat keatas.

Sentakan ini menyebabkan Yu Bok yang berada diatas pelana terlempar ketanah.

Untung Li Poh-seng cukup cekatan, tepat pada waktunya ia menerkam kedepan dan menyambut

tubuh Yu Bok yang terlempar itu.

Semua orang segera merubung kedepan, tampaklah Yu Boh berada dalan keadaan payah.

Sepasang matanya terpejam rapat-rapat, giginya saling beradu gemerutukan, pucat pias

wajahnya. Peluh membasahi sekujur badannya. Jelas ia melakukan perjalanan dengan membawa

luka.

Keadaannya ketika itu sangat kritis atau dengan perkataan lain keselamatan jiwanya lebih banyak

buruknya daripada baiknya.

Yu Bok adalah pelayan dari keluarga Kanglam Ji-gi (Tabib sosial dari Kanglam). Kenyataannya

sekarang, dengan membawa luka yang parah dan tidak mendapat perawatan yang baik pelayan

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

360

itu membedal kudanya kencang-kencang melalui jalan raya. Tanpa dijelaskan semua orang

sudah dapat membaca garis besar peristiwa yang telah terjadi.

Diantara sekian banyak orang. Yu Siau-lam paling kaget bercampur panik, dicekalnya lengan Yu

Boh sambil diguncang-guncangkan berulang kali. “Yu Boh! Yu Boh! Sadarlah sebentar, sadarlah

sebentar! Apa yang telah terjadi?”

Mendapat guncangan tersebut, dengan merasa kesakitan yang luar biasa Yu Boh membuka

kembali matanya.

Melihat pelayannya sudah sadar, Yu Siau-lam segera menegur lagi dengan cemas, “Apa yang

telah terjadi? Yu Boh, kau masih kenali aku. Yu Boh! Jawablah pertanyaanku!”

Dengan lemas Yu Boh mengangguk, bisiknya terbata-bata, “Kong…. Kongcu….cepat….”

Tapi sebelum maksud hatinya diutarakan keluar, pelayan itu kembali terkulai dengan mata

terpejam, jatuh tak sadarkan diri.

Yu Siau-lam semakin gelisah, dia hendak menggoncang-goncangkan kembali Yu Boh yang

pingsan, tapi Hoa In-liong bertindak cepat. Ia pegang lengan pemuda itu dan berkata, “Saudara

Siau-lam, tenangkan dulu hatimu! Luka dalam yang diderita palayanmu ini teramat parah. Sedikit

goncangan yang keras akan menyebabkan jiwanya melayang”

Kemudian sambil berpaling ke arah Li Poh-seng katanya lagi, “Cepat baringkan Yu Boh ke atas

tanah. Akan siaute periksa keadaan luka yang dideritanya”

Li poh seng tidak membantah, dia lantas membaringkan Yu Boh ke atas tanah. Hoa In-liong pun

bungkukkan badan memeriksa denyutan nadinya, sementara tangan yang laiu dengan cepat

membuka pakaian dada dari pelayan tersebut.

Setelah pakaian terbuka, belasan pasang matapun dengan sinar mata berkilat memandang ke

arah dada Yu Boh.

Apa yang terlibat? Sebuah bekas telapak tangan yang berwarna merah darah tertera nyata

didada sebelah kiri Yu Boh.

Bekas telapak tangan itu menonjol tiga bagian dari permukaan dada, merah darah dan sembab

mengerikan. Jelas pukulan itu dilancarkan seseorang dengan menggunakan punggung telapak

tangan yang kuat.

Diam-diam Hoa In-liong terkejut setelah menyaksikan bekas luka itu. Ia lantas berpikir, “Melukai

orang dengan punggung telapak tangan, ini menunjukkan bahwa serangan dilancarkan dengan

suatu ayunan yang kencang. Aaaai…. Luka Yu Boh tepat di dada kiri, jantungnya sudah tergetar

putus. Dari sini dapat ku ketahui betapa dahsyat dan kuatnya serangan tarsebut. Mungkinkah

bencana besar sudah menjelang tiba? Bagaimanapun juga aku harus berusaha dengan segala

kemampuan untuk mencegah peristiwa ini terjadi….”

Ternyata pemuda ini sudah mengetahui dari pemeriksaan denyut nadinya bahwa jantung Yu Boh

sudah pecah. Kendatipun ada obat dewapun nyawa pelayan tersebut tak bisa ditolong lagi.

Sekalipun demikian, hal ini tidak diungkapkan diatas wajahnya. Sembari diam-diam menyalurkan

hawa murninya untuk membantu pernapasan Yu Boh yang sudah sekarat diapun perhatikan

bekas telapak tangan itu dengan seksama. Ia berharap dari bekas telapak tangan yang berwarna

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

361

merah membara itu dapat menemukan titik terang, sehingga dalam usahanya melacak jejak

pembunuh itupun tidak mengalami banyak kesulitan.

Selang sesaat kemudian, Coa Cong-gi yang pertama-tama tak sabar, ia lantas menegur dengan

suara lirih, “Saudara Hoa, keadaan Yu Boh tidak menguatirkan bukan?”

Hoa In-liong gelengkan kepalanya berulang kali sambil berpaling ke arah arah Yu Siau-lam ia

berkata, “Saudara Siau lam, selembar nyawa Yu boh mungkin tak dapat diselamatkan lagi!”

Dalam beberapa waktu ini, perasaan Yu Siau lam paling tegang. Ia sudah mendapat firasat

bahwa dalam keluarganya telah tertimpa musibah besar, maka sedapat mungkin ia kendalikan

perasaannya yang bergolak dengan berdiri membungkan diri.

Ia berbuat demikian karena Hoa In-liong sendiripun bersikap tenang. Dalam sangkaannya, bila

anak muda itupun tenang, pastilah keadaan pelayannya tidak berbahaya.

Siapa tahu Hoa In-liong menyusulkan kata-kata tersebut, mendadak sontak ia jadi tertegun.

Hanya sebentar ia mematung, selanjutnya dengan suara memohon teriaknya berulang kali,

“Saudara Hoa, aku mohon tolonglah jiwanya! Saudara Hoa, tolonglah jiwanya sedapat mungkin!”

Pelan-pelan Hoa In-liong menggeleng. “Bila tak ada Leng-ci mustika, jiwanya tak mungkin bisa

diselamatkan lagi!”

Yu Siau-lam jadi kelabakan bercampur gugup. “Kaaa…. kalau memang begitu, berusahalah

sadarkan dirinya sejenak. Aku ingin bertanya kepadanya!”

“Baiklah!” Ucap Hoa In-liong, “Siau-te akan berusaha sekuat tenaga untuk menyadarkannya,

cuma….”

Ia berhenti sejenak, wajahnya berubah amat serius. “Saudara Siau-lam” Katanya selanjutnya,

“Bila dirumahmu telah terjadi bencana, aku harap engkau dapat menguasai diri!”

Perasaan Yu Siau-lam waktu itu sangat kalut. Apa yang diharapkan sekarang adalah

menyadarkan Yu Bok dari pingsannya, maka setelah mendengar perkataan itu, diapun

menggangguk. “Siau-te mengerti!”

Hoa In-liong masih kuatir meski rekannya telah mengangguk, ia memberi tanda kepada Li Poh

Seng dan Coa Cong-gi untuk berjaga-jaga didamping Yu Siau-lam. Sesudah itu baru mengulurkan

hawa murninya kedalam tubuh Yu Boh.

Terdesak oleh hawa murni yang mengalir kedalam tubuhnya dengan deras, Yu Boh

menghembuskan nafas panjang dan sadar kembali diri pingsannya….

Begitu Yu Boh sadar, cepat Yu Siau-lam berjongkok disampingnya sambil bertanya dengan

lembut, “Yu Boh….Yu Boh….! Bagaimanakah rasamu sekarang? Apakah masih dapat bertahan?”

Dengan lemah Yu Boh menggerakkan biji matanya mengawasi Yu Siau-lam, lama…. Lama sekali,

ia baru berbisik, “Koo…. Koongcu…. cee…. ceepat….puu….pulang….”

Yu Siau-lam makin tercekat. “Apa yang telah terjadi? Bagaimana dengan Lo-ya dan Hujin? Tidak

apa-apa toh?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

362

Dengan nada yang semakin lemah Yu Boh berbisik kembali. “Kee…. kemarin malam…. telah

datang see…. serombongan manusia yaa…. yang tak jelas asal usulnya…. mee….

mereka….meee….melepaskan api. da…. dan….membakar ruu….rumah kita….”

Tibi tiba nafasnya memburu, kata-katanya terputus setengah jalan, sebelum ucapan itu serapat

dilanjutkan kembali. Tubuhnya telah mengejang keras, kakinya tiba-tiba menjejak ketanah dan….

Yu Siau-lam makin gelisah, sekuat tenaga ia menggoncang-goncangkan bahunya sambil

berteriak, “Bagaimana dangan loya? Bagaimana dengan loya dan hujin?”

Waktu itu Yu Boh sulih hampir putus nyawa tapi terkena goncangan yang begitu keras, tiba-tiba

seperti mendapat tambahan tenaga yang entah datang dari mana, matanya membelalak kembali.

Kulit mukanya mengejang sangat keras, bibirnya gemetar, suaranya yang sempat meletup keluar

kedengaran sangat rilih, “Loo….looya…. dii…. dii”

Ucapan itu tak dilanjutkan untuk selamanya. Sebagai seorang manusia yang sudah, sekarat,

ibaratnya lentera yang kehabisan minyak. Meski cahaya lampu itu mencorong terang tapi hanya

sebentar saja sebelum padam untuk selamanya.

Demikian pula dengan Yu Boh. Karena, guncangan yang diterimanya, ia seolah-olah mendapat

kekuatan. Tapi itupun hanya berlangsung sedetik. Sebelum kata-kata itu sempat diselesaikan,

malaikat elmaut telah menjemput nyawanya. Ia mengejang makin keras, kali ini kakinya betulbetul

menjejak tanah, kepalanya terkulai dan Yu Boh menghembuskan nafas yang penghabiskan.

Bagaimana dengan Yu Siang-tek suami istri? Apa yang telah terjadi? Yu Boh tidak berhasil

menyelesakan tugasnya untuk menyampaikan berita itu kepada majikan mudanya rahasia

tersebut dibawanya sampai keliang kubur.

Tak terkirakan rasa sedih Yu Siau-lam menghadapi kejadian itu. Tak kuasa lagi ia memeluk

jenazah Yu Boh sambil mengucurkan air matanya dengan deras, “Yu Boh….Ooh Yu Boh….

Bangunlah kau. Kau tak boleh pergi! Kau tak boleh pergi!”

Hoa In-liong kuatir rekannya terlampau sedih hingga mengakibatkan kesehatan badannya

terganggu, cepat ia bopong jenazah Yu Boh seraya berkata, “Saudara Siau-lam, simpanlah

kesedihanmu itu. Sampai sekarang keadaan dari Pek-bu dan Pek-bo masih belum jelas. Hal

paling penting yang harus kita lakukan sekarang adalah kembali ke kota Kim-leng secepatnya.

Kita periksa sendiri apa gerangan yang telah terjadi disitu!”

Li Poh-seng dan Coa Cong-gi yang sedang memayang Siau-lam, segera menanggapi pula, “Betul!

Saudara Siau-lam tak boleh bersedih hati sehingga mengacaukan pikiranmu. Ketahuilah pikiran

yang kalut tidak akan memberi manfaat apa-apa terhadap persoalan yang sedang kita hadapi.

Perkataan dari saudara In-liong memang benar. Tindakan paling penting yang harus kita lakukan

sekarang adalah kembali dulu ke kota Kim-leng. Kemudian dari situ kita baru menyusun rencana

kembali”.

Air mata bercucuran bagaikan bendungan yang ambrol, Yu Siau-lam membungkam dalam seribu

bahasa, namun kesedihan yang menghiasi wajahnya teramat jelas.

Be Si-kiat maju menghampiri, katanya tiba-tiba, “Hoa kongcu, serahkan jenazah Yu Boh

kepadaku, biar aku saja yang bopong!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

363

Hoa In-liong berpikir sebentar, akhirnya dia serahkan jenazah itu kepada Be Si-kiat sambil

berkata, “Begitupun boleh juga! Nah, lebih baik kalian berangkat lebih duluan. Belikan sebuah

peti mati yang baik dikota Teng-wan, kemudian kebumikan jenazahnya dengan baik-baik. Kamu

sekalian tak perlu menunggu lebih lama lagi”

“Baiklah!”sahut Be Si-kiat, setelah menyambut jenazah itu diapun putar badan siap berlalu.

“Tunggu sebentar!” tiba-tiba Yu Siau-lam membentak dengan suara dalam, “Aku hendak melihat

dulu bekas luka di dadanya!”

“Tidak usah!” tolak Hoa In-liong cepat, “Bekas luka itu sudah kuamati dengan jelas dan masih

teringat dalam benakku. Biarkanlah mereka yang telah mati cepat masuk tanah. Mereka harus

berangkat lebih duluan dari kita”

Dalam beberapa saat belakangan ini, apa yang dipikirkan Yu Siau-lam hanyalah soal keselamatan

ayah ibunya. Dia selalu menganggap orang tuanya telah mendapat bencana, maka maksudnya

dia hendak mencari jejak pembunuh keji itu dari bekas luka di dada Yu Boh.

Siapa tahu Hoa In-liong lebih cerdik dan cekatan, ia sudah memperhatikan lebih dulu sampai ke

situ.

Setelah tertegun sejenak, Yu Siau-lam bertanya lagi sambil palingkan wajahnya, “Adakah sesuatu

yang istimewa dengan bekas luka itu?”

“Bekas luka itu terkena oleh pukulan pungung telapak tangan. Disekitar bekas ibu jari tampak

dua bulatan merah yang menonjol besar”

“Aku juga perhatikan sampai kesitu” Sambung Poh-seng, “Tonjolan merah itu sama besarnya

antara yang satu dengan yang lain. Entah terluka oleh benda apa?”

“Aku telah berpikir cermat sampai kesitu” Ujar Hoa In-liong lebih lanjut, “Tonjolan yang agak

kecil berada didepan, sedangkan tonjolan yang besar berada dekat dengan bekas luka disekitar

ibu jari”

“Bekas luka itu jadi lebih banyak sebuah? Maksudmu pukulan itu dilancarkan oleh enam buah jari

tangan?” Yu Siau-lam bertanya keheranan, air mata yang membasahi wajahnya cepat diseka.

Hoa In-liong mengangguk. “Aku rasa begitulah. Cuma tidak kuketahui itu bekas pukulan telapak

tangan kanan atau bekas pukulan telapak tangan kiri”

“Perduli amat bekas pukulan telapak tangan kanan atau kiri, yang paling penting sekarang adalah

kembali dulu ke kota Kim-leng” Tukas Coa Cong-gi tiba-tiba dengan lantang.

Hoa In-liong menengadah ke depan, ketika dilihatnya Be Si-kiat sekalian sudah pergi jauh, dia

pun mengangguk. “Betul juga perkataan itu. Sampai sekarang keadaan dari empek dan pek-bo

masih belum jelas. Apa gunanya kita bicarakan dulu soal bekas luka itu, ayoh kita segera

berangkat!”

“Kau tak usah ikut!” tiba-tiba Yu Siau-lam menyela.

“Apa kau bilang? Aku tak usah ikut?” Hoa In-liong tercengang sampai berdiri tertegun.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

364

“Ehmmm, yaa!” Jawab Yu Siau-lam dengan tenang. “Kau harus pergi ke bukit Yan san untuk

memenuhi janji. Bila harus ke kota Kim-leng dulu kemudian baru menuju bukit Yan-san, aku

kuatir kalau waktunya tidak sempat lagi”

Dalam detik-detik yang terakhir ini, hampir seluruh pikiran dan perhatian Hoa In-liong

dilimpahkan atas peristiwa yang sedang berlangsung di depan mata, hampir saja ia lupakan

sama sekali bila di bukit Yan-san dia masih punya janji.

Maka begitu diingatkan kembali oleh Yu Siau-lam, kontan saja pemuda itu merasa serba salah

karena tak tahu apa yang harus dilakukan. Matanya jadi terbelalak, mulutnya melongo dan untuk

sementara waktu dia cuma berdiri termangu-mangu seperti orang bodoh.

Melihat anak muda itu tertegun, cepat Yu Siau-lam berkata kembali dengan lembut, “Dengarkan

dulu perkataanku. Meski dirumahku telah terjadi peristiwa besar, toh musibah itu sudah terlanjur

terjadi. Sekalipun kita menyusul ke sana juga tak mungkin bisa mencegah berlangsungnya

peristiwa tersebut, paling banter kita hanya bisa berusaha melacaki jejak pembunuh keji itu. Lain

halnya dengan keadaaan nona Wan. Setiap hari ia berada diseputar orang jahat, posisinya

berbahaya dan lagi dia pun ada rahasia besar yang heudak disampaikan kepadamu. Jika kau

sampai datang terlambat, siapa tahu kalau jiwanya keburu melayang? pergilah memenuhi janji,

kami akan nantikan kedatanganmu di kota Kim-leng!”

Sewaktu mengucapkan kata- kata tersebut, sikapnya sangat tenang dan kalem. Sedikitpun tidak

memenunjukan luapan emosi atau golakan perasaan hatinya.

Padahal sebagaimana diketahui, sampai detik itu ia masih belum tahu musibah apakah yang

telah menimpa keluarganya. Diapun tak tahu bagaimanakah nasib ayah ibunya ketika itu. Maka

bila berbicara dari sikap tenangnya sewaktu mengucapkan kata-kata tersebut, dapat diketahui

bahwa rasa perhatiannya terhadap Hoa In-liong sudah mencapai tingkatan yang amat akrab.

Coa Cong-gi segera menanggapi pula ucapan tersebut. “Betul perkataan dari saudara Siau-lam

memang masuk diakal. Lebih baik kita memisahkan diri untuk melaksanakan tugas masingmasing.

Saudara Poh-seng boleh temani saudara Siau-lam pulang ke Kim-leng. Sedang aku

biarlah temani saudara Hoa menuju bukit Yan-san.

“Waah…. Tidak bisa, tidak bisa. Kalian tak usah ikut aku. Lebih baik semuanya pulang ke Kimleng

lebih dulu!” Tukas Hoa In-liong dengan cemas….

Kontan Coa Cong-gi mendelik besar. Tapi sebelum pemuda itu sempat menyembur kata-katanya,

Hoa In-liong telah malanjutkan kembali kata-katanya, “Saudara Cong-gi, keadaan dikota Kimleng

dewasa ini masih belum jelas. Jumlah kekuatan kitapun sangat minim, tidak sepantasnya

kalau engkau mengurangi kembali kekuatan yang sudah minim itu untuk menemani aku kebukit

Yan-san. Coba kalau keedaan tidak mendesak, mungkin akupun akan berangkat ke kota Kim-leng

untuk membantu saudara Siau-lam lebih dulu!”

Setelah alasan tersebut diutarakan keluar, Coa Cong-gi tidak mampu berkata-kata lagi. Meski

bibirnya bergetar hendak mengucapkan sesuatu, namun tak sepotong perkataanpun yang

sempat diutarakan keluar.

Sesungguhnya perkataan itu memang tepat sekali. Kedua belah pihak sama-sama adalah sahabat

karib, mana boleh ia pilih kasih dengan condong kesatu pihak? Kata-kata tersebut boleh dibilang

tepat mengena disasarannya dalam hati Cong-gi.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

365

Li Poh-seng berbicara pula, “Apa yang dikatakan saudara In-liong masuk diakal. Keadaan kota

Kim-leng masih kabur dan belum jelas. Keadaan tersebut butuh tenaga yang lebih banyak untuk

menyelidikinya. Adik Cong-gi ayoh kita segera berangkat!”

Coa Cong-gi masih rada sangsi, tapi akhirnya diapun mengangguk. “Baiklah! Akan kunantikan

kedatanganmu di kota Kim-leng. Jika di bukit Yan san tak ada kejadian lain, cepat cepatlah

menyusul kami!”

“Siau-te akan mengingatnya baik-baik!” jawab Hoa In-liong sambil mengangguk berulang kali.

Maka mereka berempatpun saling memberi hormat, kemudian buru-buru melanjutkan

perjalanannya masing-masing.

Memandang hingga bayangan punggung Yu Siau lam sekalian lenyap dari pandangan, Hoa Inliong

merasa sangat terharu.

“Yu Siau lam adalah pemuda yang tenang dan pandai membawa diri” Ia berpikir, “Li poh-seng

lembut tapi tangguh, sedang Coa Cong-gi, walaupun seringkali mengambil tindakan tanpa

berpikir panjang, toh dia adalah seorang laki-laki yang berjiwa besar dan mengutamakan

kesetiaan kawan. Aku bisa berkenalan dengan sobat sobat sepeti ini, boleh di bilang perjalananku

ke kanglam kali ini bukan suatu perjalanan yang sia-sia belaka. Tapi, siapakah yang melepaskan

api membakar Pesanggrahan tabib? Siapa pula yang melukai Yu Boh? Yu locianpwe termashur

sebagai dermawan yang paling besar dari kota Kim-leng, siapakah yang bagitu tega mencari

gara-gara terhadapnya? Jangan-jangan…. Jangan-jangan peristiwa ini terjadi karena mereka

memang sengaja hendak menyulitkan kedudukan aku si Hoa loji?”

Dia bukan seorang pemuda yang pemurung, lebih-lebih tidak berambisi besar atau mengidap

penyakit ragu-ragu serta sukar mengambil keputusan. walaupun ia sudah merasa bahwa

kejadian itu tak mungkin terjadi tanpa sebab-sebab tertentu, bahkan mungkin ada sangkut

pautnya dengan dia, namun itu hanya terbatas pada perasaan belaka, untuk selanjutnya

perasaan semacam itu tidak dipikirkan lebih mendalam.

Karena itu, setelah termenung sejenak lagi, kembali dia bergumam seorang diri, “Aaaah….

Perduli amat! Biarlah urusan satu demi satu datang menimpa, pokoknya asal Yu-locianpwe suami

isteri sampai cedera atau mendapat celaka, aku Hoa loji bersumpah akan mengobrak-abrik

bajingan-bajingan itu sampai musnah dari muka bumi!”

Ditengah gumaman tersebut, pemuda itu putar badan dan berangkat menuju bukit Yan-san

dengan mengitari kota Teng-wan.

Setelah keluar dari pintu kota selatan, pemuda itu mengambil arah jalan menuju kota Kim-leng,

kemudian berbelok pula menuju ke tenggara.

Dikota Teng wan itulah Hoa In-liong menginap semalam untuk melepaskan lelahnya, untuk

kemudian keesokan harinya sebelum fajar menyingsing ia sudah melanjutkan kembali

perjalanannya.

Bukit Yan-san itu ada dua tempat. Yang satu terletak propinsi Ou-pak keresidenan Siang-yang,

dekat bukit Long-tiong.

Oleh karena bukit Long-tiong-san adalah tempat tinggal dari Cu-kat Khong Beng pada jaman

Sam-kok, maka meski kecil bukitnya, besar sekali namanya dalam pendengaran orang.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

366

Sedang bukit Yan-san yang dituju Hoa In-liong kali ini letaknya di propinsi An-hui diseputar

pegunungan Pak-shia-san. Tempat itu berada di selatan Cuan-siok, sebelah barat kota Wu-kangtin.

Meski bukitnya kecil tapi keadaan medannya berbahaya dan curam. Batu karang yang tajam

dan licin berserakan dimana-mana. Demikian sulitnya bukit itu didaki, sehingga membuat orang

yang berkunjung kesitu terpaksa harus balik ke bawah setibanya dipunggung bukit.

Hoa In-liong bergerak ke arah selatan. Sepanjang jalan ia tak lupa menyelidiki jejak dari Hong

Seng sekalian, maka karena itu perjalanan dilakukan tidak terlalu cepat. Ketika tengah hari ketiga

menjelang tiba, ia baru sampai di kota Ci-tin di utara bukit Yan-san.

Waktu itu dengan perasaan tercengang bercampur heran ia berpikir tiada hentinya, “Aneh….

betul-betul sangat aneh, Hong Seng sekalian adalah manusia-manusia suku asing yang berwajah

jelek. Dengan dandanan yang aneh, apa lagi membawa seorang gadis rupawan, semestinya

rombongan mereka sangat menarik perhatian orang banyak. Kenapa sepanjang perjalananku

kemari, tak seorangpun yang mengatakan pernah berjumpa dengan mereka….? Masa mereka

bisa terbang di langit atau berjalan di bawah tanah….? Heran!…. benar-benar mengherankan!”

Makin dipikir pemuda itu semakin curiga, tanpa terasa tibalah pemuda itu diujung jalan dimana

terdapat sebuah warung teh yang memakai merek Cwan-seng-lo. Satu ingatan tiba-tiba melintas

dalam benaknya. Pemuda itu segera percepat langkahnya masuk ke warung teh itu

Cwan-seng-lo merupakan sebuah rumah makan yang cukup termashur dikota Ci-tin usahanya

sangat maju, langganannya banyak. Meskipun saat bersantap sudah lewat, ternyata tamu yang

bersantapan disitu masih amat banyak.

Dengan dandanan Hoa In-liong yang berpakaian ketat, menyoren pedang tik dipinggang,

mengenakan mantel dipunggung serta berperawakan tinggi besar, kemunculannya dirumah

makan itu segera menarik perhatian orang banyak.

Dengan senyum dikulum ia memilih sebuah tempat dekat meja. Seorang pelayan muncul dengan

badan terbungkuk-bungkuk. “Kongcu maafkanlah pelayanan kami yang lamban” Katanya minta

maaf, “Maklum, jumlah pelayan di tempat kami terlalu sedikit untuk melayani tamu yang begitu

banyak”.

Hoa In-liong tersenyum, “Tak perlu sungkan-sungkan, sediakan saja sayur dan arak. Sediakan

pula sepeci air teh, nanti aku hendak menanyai pula dirimu tentang beberapa persoalan”.

Pelayan itu mengiakan berulang kali, dengan badan terbungkuk-bungkuk ia pun berlalu dari situ.

Sebentar saja suara berbisik-bisik bergema dari sana sini, “Woouw…. Sauya dari manakah itu?

Tampan amat!”

“Ehmm…. Gagah pula potongannya dia pasti keturunan hartawan yang kaya raya!”

“Coba lihat wibawanya yang besar, wajahnya yang tampan dan tubuhnya yang kekar, mungkin

dia adalah seorang pendekar muda!”

Maklum, Ci-tin hanya sebuah kota kecil. Belum pernah tempat itu dikunjungi seorang pemuda

tampan yang gagah perkasa macam Hoa In-liong. Tak heran kalau mereka lantas berbisik-bisik

memuji kegagahan pemuda itu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

367

Selang sesaat kemudian, pelayan muncul menghidangkan sayur dan arak, lalu menghidangkan

pula sepoci air teh.

Setelah memenuhi cawan Hoa In-liong dengan air teh, pelayan itu berkata, “Kongcu tentu lelah

dijalan selahkan minum!”

Hoa-In liong mengambil cawan dan menghirup setegukan. Ketika dilihatnya pelayan itu tidak

bermaksud mengundurkan diri dari situ, tahulah dia bahwa pelayan itu sedang menantikan

pertanyaannya.

“Tolong tanya berapa banyak rumah penginapan yang berada dalam kota ini?”

Sambil tersenyum yang dipaksakan, jawab pelayan itu, “Harap kongcu maklum, kota ini hanya

berpenduduk enam-tujuh ratus orang. Lagi pula merupakan dusun yang miskin, jarang dilewati

orang luar

daerah. Tentu saja tak ada penginapan disini. Cuma. Hee…. hee…. Bila kongcu ingin menginap,

hamba dapat usahakan tempat beristirahat bagi dirimu”

“Ramah amat pelayan ini” batin Hoa In-liong berpikir demikian, ia bertanya lebih jauh, “Tak usah

repot-repot, aku ingin mencari kabar pula tentang beberapa orang”

“Siapa yang hendak kongcu cari?” tanya pelayan itu setelah tertegun sejenak.

“Seorang gadis, seorang sastrawan muda serta dua orang laki-laki setengah baya berjubah

kuning”

“Orang asing?” Tanya pelayan itu lagi sambil mengerdipkan matanya yang sipit.

Hoa In-liong mengangguk. “Ehmm! Dua orang laki-laki setengah baya yang berjubah kuning itu

datang dari Seng-sut-hay, bukan bangsa Han. Sebaliknya gadis dan sastrawan itu orang

Tionggoan”

Dergan kening berkerut pelayan itu berpikir sebentar, kemudian ia gelengkan kepalanya. “Tidak

ada, tidak ada manusia macam itu disini! Setiap orang yang datang luar daerah kecuali punya

sanak keluarga disini, kebanyakan mereka menginap di rumah kami. Sekalipun tidak menginap

disini, hamba percaya mereka tak akan lolos dari pengamatanku”

Tiba-tiba ia tertawa cekikikan, lanjutnya lebih jauh, “Terus terang kukatakan kongcu, bahwa

hamba sebenarnya bernama Go Beci. Tapi ia lantaran semua urusan kuketahui maka orang

menyebut diri hamba sebagai “Bu-put-ci (tak ada yang tak tahu). Hee…. hee…. hee…. hal ini

lantaran….”

Tanpa terasa Hoa In- liong tersenyum, cepat tukasnya, “Cukup…. cukup…. Tolong tanya saja

disekitar sini apakah ada kuil atau sebangsa too koan?”

“Oooh…. tidak ada, tidak ada” Pelayan itu gelengkan kepalanya berulang kali, “Disekitar dua

puluh li dari dusun ini hanya ada sebuah kuil dewa tanah di sebelah barat kota!”

Menyaksikan sikapnya yang serius dan bersungguh-sungguh itu, Hoa In-liong kembali merasa

geli, ia tertawa tergelak. “Bagaimana dengan bukit Yan-san? Apakah di situ juga tidak ada kuil

atau too koan?” tanyanya kemudian selesai tertawa.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

368

“Bukit Yan-san?” Mula mula pelayan itu tertegun, untuk selanjutnya dia manggut-manggut,

“Kalau di bukit Yan-san memang terdapat sebuah too-koan dan too-koan itu berada dekat

dengan puncak bukit tersebut, besar sekali bangunannya!”

Diam-diam Hoa In-liong merasa gembira setelah mendengar perkataan itu, pikirnya, “Yaa betul,

mereka pasti menuju ke sana dengan mengitari tempat ini. Kalau begitu mereka pasti bercokol di

dalam too-koan tersebut untuk beristirahat….”

Tapi sebelum ingatan itu selesai berkelebat dalam benaknya, terdengar pelayan itu sudah

melanjutkan kembali kata katanya, “Cuma too-koan itu sudah roboh banyak tahun. Banyak

diantara bangunan tadi sudah menjadi puing-puing yang berserakan. Konon dahulunya tempat

itu adalah sebuah markas dari perkumpulan Thong Thian-kau. Kongcu tahu? Thong Thian-kau

adalah sebuah perkumpulan yang amat jahat dan ganas. Disana sini mereka melakukan banyak

kejahatan dan kebiadaban. Kemudian dari dunia persilatan telah muncul seorang pendekar besar

yang bernama Thian-cu-kiam Hoa thayhiap….”

Setelah tujuannya tercapai, Hoa In-liong tidak berminat untuk mendengarkan cerita dari pelayan

itu lagi, cepat dia ulapkan tangannya sambil menukas, “Cukup…. Cukup….sekarang kau boleh

berlalu. Atas jerih payahmu ini, akan kuperhitungkan nanti saja!”

Padahal ketika itu sang pelayan sedang berceritera dengan penuh semangat. Selaan dari Hoa Inliong

tersebut ibaratnya sebaskom air dingin yang diguyurkan diatas kepalanya. Seketika itu juga

ia berdiri bodoh dengan wajah termangu, untuk sesaat dia tak tahu apa yang musti dilakukan.

“Sudah cukupkah?” Tiba-tiba serentetan suara merdu menyambung dari samping, “Nah kalau

sudah cukup, sekarang tiba giliran untuk melayani kami”.

Suara itu lembut, merdu dan enak didengar bagaikan bunyi genta. Dengan perasaan terkejut

Hoa In-liong berpaling kesamping.

Disudut kiri dekat dinding ruangan, duduklah seorang pemuda sastrawan berbaju putih,

disampingnya duduk pula seorang kacung yang berusia empat lima belas tahunan. Waktu itu

dengan senyuman di kulum mereka sedang memandang ke arahnya.

Sastrawan itu tampan sekali, usianya antara enam tujuh belas tahunan, alis matanya bagaikan

semut beriring, matanya jeli bagaikan bintang kejora. Hidungnya mancung, bibirnya merah

seperti delima merekah. Giginya yang putih rata. Pipinya yang halus putih dengan sepasang

lesung pipinya menambah kebagusan paras mukanya.

Kulit tubuh sastrawan itu putih bersih. Sifat kekanak kanaknya masih tertera jelas dibawanya.

Diantara sifat kekanak kanaknya terselip pula sifat binal, nakal dan cerdiknya. Ini membuat

siapapun yang memandang segera timbul rasa senang dan simpantiknya. Siapapun ingin

berkenalan rasanya setelah berjumpa dengan orang ini.

Tapi, perasaan Hoa In-liong ketika itu jauh berbeda. Pertama lantaran kedatangan pemuda itu

sangat mendadak, suaranya menggetarkan telinga. Kedua meski berada dalam perhatian tetamu

yang begitu banyak, ternyata pemuda itu dapat bersikap tenang dan bebas, sedikitpun tak

nampak rikuh atau panik. Hal ini membuktikan bahwa dia bukan manusia sembarangan….

Padahal waktu itu suasana amat kalut. Banyak kejadian berlangsung berturutan dan yang paling

penting tempat itu adalah sebuah dusun miskin yang terpencil sebagai seorang pemuda yang

cermat dan tidak gegabah tentu saja ia jadi kaget dan waspada setelah berjumpa dengan

manusia seperti itu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

369

Dalam waktu singkat ia merasa suasana diloteng rumah makan itu seakan akan berubah jadi

beku. Begitu sunyi sepi sehingga jarum yang terjatuh ke tanahpun dapat kedengaran dengan

jelas.

Diamatinya pemuda sastrawan itu dengan cermat, tiba-tiba Hoa In-liong merasakan hatinya

tergerak ia merasa orang itu makin dilihat semakin dikenal rasanya. “Aneh, kenapa raut wajah

orang ini amat kukenal jumpai disuatu tempat. Tapi….siapakah dia? Aku pernah menjumpainya

dimana?”

oooOOOooo

PENEMUANNYA ini seketika itu juga membuat sepasang alis matanya berkenyit. Dengan sinar

mata setajam sembilu diamatinya orang itu dengan tajam, sementara otaknya berputar untuk

menduga-duga siapa gerangan pemuda tersebut.

Bayangan manusia melintas didepan matanya. Sambil menggoyangkan pantatnya pelayan itu

menghampiri pemuda sastrawan tersebut, lalu sambil tertawa yang dipaksakan sahutnya, “Maaf

kalau terlambat…. Maaf kalau terlambat…. Apa yang sauya inginkan? Harap diucapkan.”

Pemuda itu mengerling sekejap sambil moncongkan bibirnya. “Huuh!…. Pandai amat kau

memilihkan sebutan! Kau sebut dia kongcu dan sebut aku sauya. Memangnya lantaran dia

menyoren pedang dan pandai bersilat, sedang aku cuma seorang sastrawan yang lemah tak

punya kepandaian apa-apa, maka kau berani permainkan orang?”

Pelayan itu dibuat serba salah, menangis tak bisa tertawapun sungkan. Terpaksa sambil

bungkukkan badan minta maaf katanya lagi sambil tertawa, “Kongcu suka bergurau…. Kongcu

suka bergurau…. Harap engkau yang terhormat….”

Sebelum pelayan itu menyelesaikan kata-katanya, kembali pemuda itu tertawa merdu, kepada

kacung bukunya ia berkata, “Anak Leng! Tahun-tahun belakangan ini memang suasananya

sedikit ganas. Coba lihatlah begitu cepat ia mengikuti gelagat?”

Kacung buku itu menutupi bibirnya dengan ujung baju, lalu sambil menahan tertawanya ia

berkata, “Sio…. sauya, perkataanmu memang benar. Sebutan kongcu itu memang kedengaran

lebih segar!”

Hoa In-liong yang mengikuti semua pembicaraan tersebut dari samping, diam-diam tertawa geli,

pikirnya, “Entah siau-sauya darimanakah ini? Tampaknya dia lebih binal dan nakal daripada aku

Hoa loji. Haa…. haa…. haa…. Akan kulihat permainan busuk apa lagi yang bisa dia lakukan untuk

menggoda pelayan tersebut?”

Perlu diketahui, pada dasarnya Hoa In-liong adalah seorang pemuda yang binal, nakal dan suka

menggoda orang. Ketika dilihatnya pemuda tampan yang berapa dihadapannya memiliki tabiat

serta sifat yang persis seperti tabiat sendiri, betapa gembira dan senangnya dia.

Seketika itu juga, sifat binal dan ingin menggodanya menguasahi kembali seluruh benaknya.

Otomatis perasaan waswasnya tersapu lenyap dari dalam benaknya.

Jilid 19

SEMENTARA pemuda itu telah berkata kembali, “Kalau diingat kembali, maka perkataan ibuku

memang tak salah. Beliau berkata orang yang bekerja sebagai kusir, sebagai tukang perahu,

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

370

sebagai pelayan, sebagai kuli dan sebagai Hamba negara paling pandai putar kemudi mengikuti

hembusan angin manusia-manusia begini paling licik dan busuk. Ternyata bukti memang

begitulah, betul tidak anak Leng?”

“Yaa betul,” Kacung buku itu mengangguk sambil tertawa, “Pelayan ini memang licik sekali.

Mungkin dia memang termasuk type manusia pelayan seperti yang dimaksudkan hujin!”

Begitulah, kedua orang itu saling berbicara saling menanggapi. Mereka Berbicara dan tertawa,

membuat air muka pelayan itu berubah jadi merah membara, mau menangis tak bisa mau

tertawa tak dapat, mau gusar pun tak berani. Keadaannya benar-benar mengenaskan.

Akhirnya karena apa boleh buat, terpaksa dengan wajah yang memelaskan dia memohon,

“Oooh….kongcu ya! Seorang laki laki budiman tak akan mengingat ingat kesalahan seorang siaujin.

Hamba….”

“Memangnya kau anggap aku selalu mengingat dirimu?” pemuda tampan itu balik bertanya

dengan senyum dikulum.

Pelayan tersebut semakin membungkukkan badannya. “Yaa…. Yaa…. Hamba memang terlalu

gegabah, bekerja teledor sehingga terlalu lambat melayani kongcu. Harap engkau suka

memaafkan kesalahan hamba dan tidak menyusahkan diri hamba lagi…. Apa yang kongcu pesan

segera akan hamba kerjakan dengan baik….”

Pelayan itu memang berlidah tajam serta pandai menjilat pantat. Setiap perkataannya begitu

menarik hati membuat hati pemuda itu jadi lembek kembali. Akhirnya diapun mengangguk.

“Baiklah! Siapkan sayur dan arak yang paling lezat!”

Bagaimana mendapat pengampunan, cepat-cepat pelayan itu mengiakan lalu mengambil langkah

seribu.

Baru beberapa langkah pelayan itu kabur, ketika pemuda tampan itu berseru kembali, “Eee….

Pelayan! Tunggu sebentar!”

Dengan hati bergetar keras pelayan itu berhenti, meski ada engkau tapi ia balik juga kehadapan

tamunya.

“Engkau tahu sayur apa yang hendak kupesan?” Tanya pemuda tampan itu sambil tersenyum.

Pelayan itu sudah setengah dibikin mabok setelah dikocok habis habisan oleh tamunya, maka ia

pun tertegun setelah mendengar pertanyaan tersebut.

“Sayur apa yang hendak kongcu pesan?” akhirnya setelah sangsi sebentar ia balik bertanya.

Pemuda tampan itu langsung menuding kearah meja Hoa In-liong seraya menyahut, “Buatkan

persis seperti apa yang dia makan, tak boleh terlalu banyak juga jangan terlalu kurang. Bila

terlalu banyak atau terlalu sedikit, engkaulah yang musti tanggung jawab!”

Terkejut bercampur heran Hoa In-liong ketika mendengar ucapan itu, ia segera berpikir, “Nah….

Si pencari gara-gara sudah datang. Rupanya dia berbicara kesana kemari tujuannya adalah untuk

mencari gara-gara dengan aku….”

Tentu saja pemuda kita bukan seorang laki-laki yang takut urusan, malahan justru karena

adanya urusan, ia tampak semakin segar dan bersemangat.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

371

Sambil tertawa terbahak-bahak ia bangkit berdiri, lalu memberi hormat dari kejauhan. “Kita bisa

bertemu muka, itu tandanya kalau kita ada jodoh” Demikian ujarnya. “Tak kunyana kalau hengtay

memiliki selera yang persis seperti seleraku, sampai sekarang sayur dan arak yang kupesan

belum disentuh. Jika tidak keberatan bagaimana kalau anda berpindah kemari untuk saling

pererat hubungan?”

Walaupun di mulut ia berkata demikian, dalam hati kecilnya iapun menyusun perhitungan,

pikirnya, “Sampai dimanapun kebinalan dan kelicikanmu aku tidak percaya kalau Hoa loji tak

mampu mengalahkan dirimu. Hmm! Paling sedikit aku Hoa loji harus berusaha untuk menyelidiki

usulmu hingga jelas dan terang!”

Rupanya kedatangan pemuda tampan itu memang bertujuan kepadanya, tampak ia

mengerlingkan matanya kemudian menjawab, “Lama aku dengar orang berkata bahwa engkau

supel dan gagah. Setelah perjumpaan hari ini terbuktilah sudah bahwa kabar yang tersiar

diluaran memang bukan berita kosong belaka”

Ia lantas bangkit berdiri, kepada kacung bukunya dia menambahkan lebih jauh, “Leng-ji, mari

kita pindah dan mengganggunya sejenak!”

Dengan langkah yang tegap dia berjalan lebih dulu pindah kemeja Hoa In-liong.

Sementara itu Hoa In-liong sendiripun sudah menyusun perhitungan yang masak. Ia telah

memutuskan untuk menghadapi setiap perubahan dengan kepala dingin. Akan disaksikan

permainan busuk apakah yang hendak dilakukan mereka terhadapnya.

Karena itu sambil berpesan kepada pelayan untuk menambah sayur dan arak, ia mempersilahkan

tamunya mengambil tempat duduk.

Kali ini pelayan tersebut bertindak lebih cerdik, begitu mendapat pesanan, secepat terbang ia

berlalu.

Selang sesaat kemudian apa yang dipesan telah dihidangkan.

Kacung buku yang bernama “Leng-ji” itu segera mengangkat poci arak dan memenuhi cawan

mereka berdua.

Sebenarnya Hoa In-liong masih ingin mengucapkan kata-kata sopan santun. Siapa tahu sambit

meletakkan poci araknya kemeja, terdengar “Leng ji” Berkata dengan serius, “Eeeh…. Sio….

sauya kami tidak pandai minum arak, kau harus memaklumi keadaannya”

“Leng-ji!” bentak pemuda tampan itu tiba-tiba dengan wajah serius, “Kembali kau sudah

melupakan peraturanku, tahukah kau? Dia adalah ji-kongcu….!”

Leng-ji menjulurkan lidahnya sambil menunjukkan muka setan, kemudian ia baru memanggil, “Jikongcu!”

Setelah itu dengan mulut membungkam dia duduk kembali ditempat duduknya.

Hoa In-liong yang selama ini mengawasi terus mimik wajah orang dengan teliti, segera

menemukan bahwa sikap dari pemuda tampan itu bukan sikap yang sengaja dilakukan. Ini

membuat hatinya semakin keheranan, pikirnya, “Apa artinya kesemuanya ini sebentar berpurapura

sebentar sungguhan, sebenarnya apa maksud hatinya?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

372

Walaupun dihati berpikir demikian, hal tersebut tak sampai diutarakan keluar. Dia mengangkat

cawan arak lalu tersenyum. “Kalau memang begitu, aku tak berani terlalu memaksa” katanya.

“Akan kukeringkan secawan arak ini sebagai penghormatanku padamu. Selanjutnya bila heng-tay

tak keberatan, minum secawan arakpun bolehlah”

Habis berbicara, sekali teguk dia habiskan dulu isi cawan sendiri.

Pemuda tampan itu berdiri hanya mengangkat cawannya dan menempelkan saja dibibirnya

sebagai pertanda rasa hormatnya, kemudian sambil tertawa ia berkata, “Ji kongcu, engkau

memang sangat supel dan ramah, cuma aku menganggap dirimu sedikit keterlaluan”

Begitu buka suara, kata-katanya hanya melukai orang, mimpipun Hoa In-liong tidak menduga

sampai kesitu. Untuk sesaat dia tak bisa menanggapi kecuali duduk tertegun.

Melihat pemuda itu tertegun, tiba-tiba dengan suara yang lembut pemuda tampan itu berkata

lagi, “Betapa tidak bagaimanapun juga kita baru berkenalan untuk pertama kalinya. Padahal

kaupun tahu kalau kedatanganku mengandung maksud tertentu, tahukah engkau aku sehabat

atau musuh? Aku yakin kau belum bisa mengetahuinya dengan jelas? Tapi kenyataannya

sekarang, bukan saja engkau tidak menanyakan maksud kedatanganku, juga tidak menanyakan

siapa namaku. Begitu angkat cawan lantas meneguk habis isinya, padahal arak itu disuguhkan

oleh Leng-ji. Seandainya aku adalah musuhmu dan Leng-ji telah mencampuri arak itu dengan

racun, bukankah sekarang kau sudah keracunan hebat? Kau memang supel dan menarik, tapi

tidak seharusnya bertindak begitu ceroboh dan gegabah!”

Kalau dipikir dengan sungguh-sungguh, maka apa yang dikatakan pemuda itu memang masuk

diakal, lagipula bernada tajam, sedikitpun tidak memberi muka kepada lawannya….

Diam-diam Hoa In-liong mendengus, pikirnya, “Sialan! Toh engkau tahu kalau kita baru saja

berkenalan, memangnya kau anggap ucapan semacam itu tidak keterlaluan? Jika aku Hoa loji

takut dipecundangi olehmu, tak nanti kuundang dirimu datang kemari dan duduk semeja dengan

diriku”

Pikir tinggal pikir, mulut tak dapat membungkam terus menerus, maka diputuskan siasat tersebut

akan dibalas dengan siasat, tersenyumlah pemuda kita. “Nasehat saudara memang tepat dan

benar, bolehkah aku tahu siapa namamu?”

Tampaknya pemuda tampan itu puas dengan sikap lawannya yang sangat penurut, dengan

wajah berseri dia tertawa. Tapi begitu dia tertawa. Hoa In-liong maka terperangah hingga untuk

sesaat melongo-longo seperti orang bodoh.

Ternyata tertawanya itu begitu polos, begitu genit dan menawan hati, jelas merupakan

senyuman seorang gadis cantik.

Sementara anak muda itu masih melamun, pemuda tampan tersebut telah memperkenalkan

namanya, “Aku berasal dari marga Cwan, Cwan dari kata Cwan-poh (pengundang), Cwan-yang

(propaganda), Cwan-si (bersumpah), Cwan-cau (mengudang). She tersebut adalah she dari

ibuku karena aku mengikuti marga ibu dan namaku adalah Wi. Lengkapnya Cwan Wi. Sudah

jelas?”

Bagaimanapun jua dasar anak muda yang sudah bertele-tele, untuk menerangkan nama

sendiripun diperlukan waktu hampir setengah harian lamanya. Seakan akan dia takut kalau

pemuda itu tak sempat mendengar namanya dengan jelas.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

373

Diam diam Hoa In-liong mengerutkan dahinya tapi untuk sopan santun diapun mengangguk.

“Aku yang muda bernama Hoa yang, nama kecil In”.

“Yaa aku sudah tahu, kau punya nama kecil yang di sebut In-liong. Tak usah diterangkan lagi”

Tukas Cwan Wi tiba-tiba sebelum anak muda itu sempat menyelesaikan kata katanya.

Sesudah berhenti sebentar, tiba-tiba ujarnya lagi. “Kenapa tidak kau tanyakan kepadaku,

mengapa aku datang kemari mencarimu?”

Menyaksikan keanehan rekannya, Hoa In-liong tertawa geli, “Aku memang sedang siap-siap

bertanya!” Katanya kemudian.

“Aku mendapat perintah dari toako. Toako yang mengutus aku datang kemari!” jawab Cwan Wi

dengan nyaring.

“Toako?” ulang Hoa In-liong dengan wajah tertegun karena heran dan tidak habis mengerti.

Cwan Wi manggut manggut. “Ya, toako yang suruh aku kemari. Toako suruh aku menyampaikan

pesan kepadamu. Katanya kau jangan pergi ke bukit Yan-san untuk penuhi janji itu”

Hoa In-liong semakin terkejut, rasa tertegunnya makin menjadi-jadi, setelah melongo sesaat dia

baru bertanya, “Siapakah toakomu? Kenapa aku tak boleh memenuhi janji di bukit Yan-san….?”

“Toako siapa lagi?” Cwan Wi mengerdipkan matanya, “Tentu saja toakomu sendiri! Tentang

alasannya kenapa kau tak boleh pergi memenuhi janji, Waah…. Aku sendiripun tak tahu”

Hoa In-liong mengerutkan dahinya rapat-rapat, makin lama ia semakin melongo. “Toako ku?”

kembali gumamnya dengan keheranan, “Kau maksudkan toakoku Hoa Si?”

“Huuuh…. Tolol amat kamu ini! Semua orang mengatakan kau cerdik, kau pintar. Tapi nyatanya

kau adalah orang paling goblok yang pernah kujumpa. Kalau bukan toakomu Hoa Si, memangnya

kau punya berapa banyak toako lagi?”

Tanpa sadar Hoa In-liong menghembuskan nafas panjang. “Ooooh…. Rupanya kakakku yang

minta engkau datang kemari. Jadi kalau begitu kita bukan orang luar”

“Sekalipun bukan orang luar, aku juga bukan orang dari keluargamu” cepat Cwan Wi

menambahkan dengan serius.

Hoa In-liong tertawa tergelak karena geli. “Kau memang binal, nakal dan suka menggoda orang”

pikirnya dalam hati, “Kalau toh toako yang

minta kedatanganmu kesini, kenapa tidak kau sampaikan maksud kedatangannya sejak tadi tadi?

Lagakmu yang pura-pura bersikap serius, sok rahasia rupanya cuma bertujuan untuk bikin

tegangnya urat syaraf saja. Aaai…. Dasar bocah yang sering dimanja, dalam keadaan seperti

inipun masih bisa bisanya bergurau!”

Meskipun mengeluh dalam hati, tidak berarti ada perasaan tak senang di hati kecilnya. Setelah

termenung sebentar, dia angkat poci arak dan memenuhi cawan sendiri, lalu menambahkan pula

cawan Cwan Wi dengan setetes arak.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

374

Setelah itu sambil mengangkat cawannya, ia berkata sambil tersenyum ramah, “Pepatah kuno

bilang: Empat samudra adalah saudara sendiri. Asal pandangan hidup kita sama cita-cita kita

sama dan tujuan kita sama, walaupun bukan keluarga sendiri juga tidak menjadi soal. Kau sebut

kakakku sebagai “toako,” padahal akupun lebih tua beberapa tahun daripada dirimu, maaf bila

kuberanikan diri untuk memanggilmu sebagai saudara Cwan. Marilah saudara Cwan, siau-heng

hormati secawan arak untukmu sebagai rasa terima kasihku atas perjalanan yang kau tempuh

demi dirimu”

Cwan Wi memang polos dan lincah, sambil kerutkan kening dia berseru, “Barusan toh kau sudah

menghormati secawan arak kepadaku?”

Hoa In-liong tertawa tergelak. “Haa…. haa…. Itulah yang dikatakan adat yang banyak bikin orang

tidak aneh, kuteguk dulu isi cawan ini!”

Begitu selesai berkata, dia lantas teguk habis isi cawan sendiri.

Cwan Wi kehabisan kata-kata untuk berbicara terpaksa sambil kerutkan kening dia ikut mencicipi

setegukan arak.

“Baiklah!” kata Hoa In-liong kemudian, “Anggaplah kita telah bersahabat setelah meneguk

secawan arak tadi. Saudara Cwan, tolong tanya kau telah berjumpa dengan kakakku dimana?”

Cwan Wi sedang mengurut tenggorokannya untuk menelan arak dalam mulutnya ke dalam perut.

Mendengar pertanyaan tersebut diapun menyahut, “Di kota Im-ciu!”

“Aneh betul!” Seru Hoa In-liong kemudian dengan tercengang, “Im-ciu letaknya di sebelah barat

propinsi An-gui. Dari mana kakakku bisa tahu kalau aku mempunyai janji di bukit Yan-san?”

“Kami bertamu saudara Yu Siau-lam di kota Ciu-sin. Saudara Siau-lam lah yang memberitahukan

soal janji Yan-san itu kepada toako!”

Hoa In-liong termenung beberapa saat lamanya tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benaknyacepat

dia bertanya lagi, “Sudah berapa hari engkau melakukan perjalanan bersama-sama

kakakku….?

“Dua hari!”

“Dua hari?” Hoa In-liong makin tercekat, “Dalam dua hari kalian bila menempuh perjalanan dari

kota Im-ciu sampai kota Cin-sian?”

“Toako bilang ada urusan penting hendak mencari dirimu, tentu saja dalam dua hari jarak

tersebut dapat kami lampaui”

“Hanya kakakku seorang?” kembali Hoa In-liong bertanya setelah tertegun sejenak.

“Sebetulnya toako datang bersama empek Hoa”

Sebelum pemuda itu sempat menyelesaikan kata-katanya, dengan hati sangat terkejut In-liong

telah menukas, “Apa? Ayahku juga ikut datang?”

“Masih ada lagi seorang lo-koan-keh. Cuma saat ini mereka sudah pulang ke Im Tiong-san”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

375

Timbul kecurigaan dihati Hoa In-liong setelah penjelasan tersebut, cepat tanyanya lagi, “Kenapa

ayahku pulang ke rumah lagi setelah sampai ditengah jalan? Sebenarnya peristiwa basar apakah

yang telah terjadi selama ini….?”

“Ayahmu pulang kembali ke Im Tiong-san lantaran ditengah jalan telah bertemu dengan kami ibu

dan….ibu dan anak. Empek Hoa lama sekali bercakap cakap dengan ibuku. Kemudian beliau

bersama ibumu pulang kembali ke Im Tiong-san sedang apa yang sebenarnya telah terjadi, aku

tak sempat mengetahuinya”

Hoa In-liong berpikir kembali, ia merasa kehadiran ayahnya dalam dunia persilatan menunjukkan

semakin seriusnya peristiwa dalam dunia persilatan. Sebab bila dunia persilatan tidak mengalami

suatu perubahan besar tak nanti ayahnya akan munculkan diri dengan begitu saja.

Meski demikian, anak muda itu tak ingin banyak berbicara, maka setelah termenung sejenak ia

bertanya pula, “Lalu sekarang kemana perginya kakakku?”

“Toako pergi ke kota Kim-leng! Sebelum berpisah toako secara khusus menitip pesan kepadaku

agar disampaikan kepadamu. Katanya sekarang juga itu harus berangkat ke kota Kim-leng untuk

berkumpul dengannya, sebab ada urusan penting yang hendak dibicarakan”

Setelah pembicaraan berlangsung sampai disitu garis besar keadaan yang sebenarnya pun dapat

di pahami Hoa In-liong.

Ia tahu, jika toakonya begitu terburu-buru ingin berjumpa dengannya, itu berarti bahwa ada

urusan penting yang telah terjadi.

Tapi dia pun tak dapat ingkar janji, sehingga membiarkan Wan Hong giok menanti dengan

percuma.

Maka setelah mempertimbangkan enteng beratnya persoalan, akhirnya dia berkata, “Baiklah!

Kalau begitu besok pagi-pagi kita berangkat!”

Hoa In-liong mengambil keputusan demikian lantaran keadaanlah yang memaksa dia harus

berbuat begini. Betapapun juga dia sangat ingin berjumpa dengan Hoa Si secepat mungkin dan

mencari tahu peristiwa apa yang telah terjadi, hingga sampai ayahnya ikut terbawa-bawa masuk

kembali ke dalam dunia persilatan.

Namun Cwan Wi tak bisa memahami perasaannya waktu itu, tampak ia rada tertegun, kemudian

berseru nyaring, “Kenapa? Jadi kau masih ingat memenuhi janjimu di bukit Yan-san?”

“Selisih satu malam rasanya juga tak terlalu lambat. Asal perjalanan kita tempuh lebih cepat lagi,

waktu yang silang rasanya masih dapat disusul kembali”

“Selisih waktu semalam?” Teriak Cwan Wi dengan marah, “Engkau tahu meski hanya selisih

waktu semalam, peristiwa besar apalagi yang bakal terjadi?”

“Yaaa….Tapi apa boleh buat?” Kata Hoa In-liong dengan nada minta maaf, “Sebagai seorang

laki-laki sejati, kita tak boleh ingkar janji. Sekalipun ada urusan lain…. Ya…. Bagaimana lagi? Janji

tetap janji. Walaupun ada urusan yang lebih penting, janji tetap tak dapat diingkari dengan

begitu saja”.

Tampaknya Cwan Wi semakin naik darah, setelah merenung sebentar katanya lagi dengan ketus,

“Aku tahu orang she Wan itu adalah seorang cantik. Aku tahu gadis she Wan itu mencintai dirimu

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

376

dan kau keberatan untuk meninggalkan dirinya. Hmmm! Orang lain mengatakan kau bajul

buntung, kau romantis dan suka main perempuan, dulu aku masih belum percaya, tapi

sekarang…. sekarang aku….”

Sebelum pemuda tampan itu sempat menyelesaikan kata katanya Hoa In-liong sambil tertawa

getir telah menukas, “Saudara Cwan….”

Cwan Wi mendelik besar. Dengan penuh kemarahan ia menyemprot, “Siapa yang sudi menjidi

saudaramu? Panggilan dari saudara sendiri yang disampaikan dengan mengirim seorang utusan

ternyata kalah pentingnya dengan janji seorang perempuan lewat usang. Hmmm! Terhadap

manusia macam begini….aku jadi segan untuk banyak berbicara lagi!”

Hoa In-liong benar-benar dibikin serba salah, tertawa tak bisa menangispun sungkan. ia

gelengkan kepalanya berulang kali sambil mengeluh lirih, “Saudara Cwan, kau bikin orang

penasaran…. kau bikin orang jadi penasaran”

“Aku membuat kau menjadi penasaran?” Teriak Cwan Wi makin gusar, “Baik! Aku mohon diri

lebih dulu. Aku tak akan mengganggu engkau lebih jauh….”

Dia lantas bangkit berdiri dan siap pergi.

“Saudara Cwan….! Saudara Cwan….! Jangan pergi dulu. Jangan pergi dulu!” cegah Hoa In-liong

sedang gelisah, “Dengarkan dulu penjelasanku”

“Bukankah aku telah membuat engkau penasaran? “kata Cwan Wi dengan mendongkol, “Kalau

toh akan membuat kau jadi penasaran, kenapa tidak kau perbolehkan aku pergi saja dari sini?”

Hoa In-liong menghela napas panjang, ia termenung sebentar untuk berpikir, kemudian baru

ujarnya lagi dengan suara yang perlahan dan lembut, “Antara aku dengan Wan Hong-giok hanya

punya jodoh bertemu muka satu kali saja. Sekalipun ada benih-benih cinta yang tumbuh dihati

kita masing-masing, itupun masih terbatas pada cinta permulaan, tak nanti sudah mencapai taraf

yang kau ibaratnya tak bisa berpisah lagi. Yaaa…. Kenangan masa lampau ada baiknya tak usah

kita bicarakan lagi. Siau-heng akan perlihatkan surat dari nona Wan kepadamu. Selesai membaca

surat tersebut, engkau akan segera memahami alasan lain yang membuat siau-heng bersikap

demikian. Kau pasti akan mengerti bahwa siau-heng tidak gampang terpikat oleh seorang

perempuan”

Sambil berkata ia merogoh sakunya dan mengeluarkan secarik kertas butut yang segera

diserahkan kepada Cwan Wi.

“Aaaah….Ogah aku membaca surat cintamu” tampik Cwan Wi sambil palingkan kepalanya, “Kalau

ingin menerangkan, lebih baik terangkan saja dengan mulut!”

Sambil membungkukkan badannya setengah memohon Hoa In-liong membentangkan surat

kumal tersebut dihadapan mukanya, lalu berkata kembali, “Aku tak dapat menerangkan dengan

mulut, sebab dibalik surat ini masih terdapat suatu rahasia yang sangat besar. Rahasia ini tak

boleh sampai ketahuan orang lain, maka alangkah baiknya kalau saudara Cwan membaca

langsung dari kertas ini!”

Cwan Wi dapat menangkap keseriusan orang sewaktu mengucapkan kata-kata tersebut, tanpa

sadar ia berpaling memandang kearah Hoa In-liong.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

377

Dengan wajah setengah memohon Hoa In-liong segera mendesak kembali rekannya agar

membaca surat itu sendiri.

Rupanya Cwan Wi tak tega, akhirnya ia menundu kan kepalanya juga untuk membaca surat itu.

Selesai membaca surat tadi, ia baru menengadah sambil katanya dengan suara yang lebih

ramah, “Jadi kalau begitu, gadis-gadis she Wan itulah

yang terlalu romantis sehingga diam-diam ia mencintaimu tanpa kau sendiri menyadari akan hal

ini….”

“Tak bisa kau katakan demikian” sahut Hoa In-liong dengan wajah tersipu-sipu.

Cwan Wi berpaling dengan alis mata berkenyit. “Lalu…. Bagaimana yang betul?” dia balik

bertanya.

Sikap Hoa In-liong makin rikuh, dengan muka merah jengah katanya tergagap, “Aku…. aku

sendiripun tak dapat menerangkan dengan jelas”

Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba lanjutnya kembali dengan wajah serius, “Pokoknya peristiwa

ini mungkin menyangkut suatu masalah yang amat besar dan yang pasti ke adaan nona Wan

sesudah terjatuh ke tangan kaum iblis sesat pasti mengenaskan sekali. Sebagai umat persilatan

yang menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran, apabila setelah mengetahui jelas keadaan yang

sebenarnya, masa kita harus berpeluk tangan belaka membiarkan orang lain tersiksa? Saudara

Cwan, tentunya tidak demikian bukan?”

Mungkin apa yang diucapkan Hoa In-liong memang benar dan masuk diakal. Untuk sesaat

lamanya Cwan Wi tak mampu berkata maupun berbicara. Dengan mulut membungkam dia

angsurkan kembali kertas itu kepada rekannya.

Sambil menerima surat itu dan disusupkan kembali ke dalam sakunya, kembali Hoa In-liong

meminta, “Saudara Cwan, apakah engkau dapat memahami keadaanku? Bagaimana kalau kita

berangkat besok pagi saja?”

“Tentang soal ini…. tentang soal ini….” Demikian sangsinya Cwan Wi sampai dia tak mampu

melanjutkan kembali kata-katanya.

“Bagaimana kalau demikian saja?” sambung Hoa In-liong lagi, “Saudara Cwan berangkat duluan

dan Siau-heng akan segera berangkat selewatnya tengah malam nanti? Aku percaya kita bisa

berjumpa muka lagi setibanya di dermaga penyeberang Boh-ko. Dengan demikian bukankah kita

tak usah membuang waktu lagi dengan percuma?”

Tiba-tiba Cwan Wi menghela nafas panjang. “Aaaai…. Engkau telah salah mengartikan

maksudku. Sebenarnya akulah yang sengaja telah membohongi dirimu dalam keteranganku tadi”

“Bagaimana maksudmu?” tanya Hoa In-liong dengan wajah setengah tertegun.

“Latar belakang janji dibukit Yan-san telah ku ketahui semua dengan amat jelasnya. Saudara

Siau-lam lah yang menceritakan kesemuanya itu kepadaku. Barusan aku sengaja menuduh

engkau terpikat oleh perempuan, maksudku adalah untuk memanasi hatimu dengan tuduhan tadi

dan tujuanku berbuat demikian tak lain adalah berharap agar engkau tidak pergi memenuhi janji

tersebut”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

378

Mendengar keterangan tersebut, Hoa In-liong merasa marah bercampur mendongkol, dengan

kesal teriaknya, “Kau….kau…. Aaaai….! Apa gunanya engkau berbuat kesemuanya itu atas

diriku?”

Bagaimanapun juga, si anak muda ini segan menegur Cwan Wi, maka sambil menghela nafas

panjang dia hanya gelengkan kepalanya berulang kali sebagai tanda rasa kesalnya.

Cwan Wi sendiripun agak kikuk, tiba-tiba panggilnya dengan suara tergagap, “Ji…. Ji-ko….”

Mula-mula Hoa In-liong agak tertegun, menyusul kemudian ia bersorak gembira, “Betul! Kau

musti panggil jiko kepadaku, ayoh panggillah sekali lagi….!”

Sebagai seorang laki laki yang berjiwa besar dan berhati jujur, tak pernah suatu kesalahan atau

suatu kejengkelan disimpan terus dalam hati, maka dari itu setelah mendengar panggilan “jiko”

dari Cwan Wi yang diucapkan dengan nada takut-takut, semua kemurungan dan kekesalan yang

semula menyelimuti benaknya seketika tersapu lenyap dari dalam benaknya.

Entah apa sebabnya tiba-tiba paras muka Cwan Wi berubah jadi merah padam seperti kepiting

rebus. Bukan saja ia tidak melanjutkan panggilan tersebut, malah sebaliknya menundukkan

kepalanya rendah-rendah.

Hoa In-liong segera tertawa tergelak. “Haa…. haa…. Coba lihat tampangmu, apanya yang perlu

kau malui? Bukankah kau sebut toako kepada kakakku? Maka semestinya kau memang harus

sebut Jiko kepadaku! Terus terang kuberitahukan kepadamu, aku Jiko paling romantis dan paling

hangat dalam pergaulan. Asal aku sebut Jiko kepadaku, selama hidup aku tak bakalan menderita

kerugian”

Ketika selesai mendengar upacara tersebut paras muka Cwan Wi berubah semakin marah lagi

dan kepalanya juga tertunduk semakin rendah, hingga sekarang jelas terlihat betapa merahnya

semua tengkuk dan telinga gadis itu.

Rupanya Hoa In-liong agak terlena menyaksikan keadaan dari rekannya, dengan perasaan

apadaya dia gelengkan kepalanya berulang kali. “Yaa…. Bagaimanapun juga masih seorang

bocah” gumamnya dengan kening berkerut, “Takut mula, tak berani angkat kepala…. Yaa….

Bagaimana lagi? Pokoknya lain kali kau musti sebut Jiko terus kepadaku….”

Sesudah berhenti sebentar, tiba-tiba sambungnya kembali, “Mungkin engkau hendak

mengucapkan sesuatu kepadaku, bukankah begitu….? Cepat katakan!”

Cwan Wi manggut-manggut tanda membenarkan setelah merenung sejenak hingga warna merah

yang menghiasi wajahnya lenyap semua, dia baru menengadah seraya berkata, “Jiko, tentunya

kau tak akan memenuhi janjimu dibukit Yan-san bukan….?”

Hoa In-liong mengernyitkan alis matanya, diam diam ia berpikir didalam hati, “Barusan saja

pembicaraan berlangsung baik sekali, kenapa begitu cepat pikirannya berubah?”

Meski dalam hati berpikir demikian, diluaran dia pun bertanya dengan nada keheranan,

“Kenapa?”

“Tidak karena apa-apa. Anggaplah sebagai suatu permohonan dariku, tentunya engkau bersedia

mengabulkan permintaanku itu bukan?”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar