Senin, 05 Oktober 2009

3 maha 6

“Ayah, perkataan dari ibu tak salah, marilah kita bersama-sama mengundurkan diri dari urusan

dunia persilatan, cici dan aku akan berbakti kepada ayah serta melayani dirimu hingga akhir tua

nanti”

“Semuda ini sudah harus pergi menunggu ajal, apakah tindakan ini tidak terlalu awal?” bentak

Pek Siau-thian penuh kegusaran.

“Usia manusia sampai berapa ratus tahun? darimana engkau bisa pastikan terlalu awal atau

tidak?” kata Kho Hong-bwee.

“Bagaimana dengan perkumpulan Sin-kie-pang?”

“Bagaimanapun toh mereka bukan anak cucumu, lebih baik dibubarkan mulai sekarang saja!”

Pek Siau-thian tertawa dingin.

“Heehh…. heehh…. heehh…. apa kau anggap d ngan dibubarkanya orang-orang itu dari ikatan

perkumpulan, maka perbuatan tersebut akan mendatangkan keberuntungan bagi umat manusia?”

Dalam hati Kho Hong-bwee segera berpikir, “Perkataan ini benar juga, manusia-manusia itu

bukanlah termasuk manusia yang baik, kalau dilepaskan kedalam dunia persilatan mereka pasti

akan membuat banyak keonaran, tapi…. jika perkumpulan Sin-kie-pang dibiarkan tetap merajai

kolong langit dan perbuatan mereka semena-mena maka lama kelamaan gejala ini akan

mengakibatkan rusaknya masyarakat, pihak pendekar akan terbasmi dan selamanya tak bisa

bangkit kembali, bencana ini bukan saja amat besar bahkan terlalu dalam, lebih baik aku

usahakan sampai perkumpulan ini buyar….”

Setelah mempertimbangkan untung ruginya, perempuan itu segera mengambil keputusan,

kepada Pek Siau-thian ia berkata, “Hukum karma selamanya berlaku dalam dunia, barang siapa

berani melakukan kejahatan dia pasti akan terima binasa, perkumpulan Sin-kie-pang kita dirikan

bersama, kita pula yang bubarkan bukankah begitu sudah layak? biarkan mereka ambil langkah

sendiri dalam menentukan garis hidupnya, biarlah mereka mampus jika berani melakukan

kejahatan, setelah orang-orang itu lepas dari pengawasan kita, toh berarti sudah bukan termasuk

tanggung jawab kita lagi….”

“Jadi kasarnya engkau suruh aku bubarkan hasil karya yang kuperjuangkan dan ku usahakan

mati-matian selama dua puluh tahun ini dengan begitu saja?” seru Pek Siau-thian ketus.

“Yaa…. bicara pulang pergi toh akhirnya engkau lebih beratkan nama dan kedudukan daripada

kemuliaan akhlak, kalau memang begitu biar kita selesaikan saja masalah ini dalam pertarungan

adu jiwa!”

Perempuan itu tak banyak pikir lagi, ia loloskan sebilah pedang lemas yang tipis dan ramping dari

pinggangnya, kemudian membentak keras, “Persoalan yang kita hadapi pada saat ini tak

mungkin dapat diselesaikan secara damai, itu berarti hubungan suami istri kita berduapun

ibaratnya pedang ini”

Criing! ditengah dentingan nyaring, Kho Hong-bwee getarkan pedang lemasnya sehingga ujung

pedang seketika putus beberaoa cun dan meluncur ke arah Pek Siau-thian dengan kilatan cahaya

perak.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

226

Pek Siau-thian bukan orang lemah, ia ayun telapaknya kedepan dan menjepit ujung pedang yang

menyambar ke arahnya dengan kedua jari tangannya, sementara paras mukanya berubah jadi

pucat kehijau-hijauan dan tak sedap dipandang.

Para jago yang mengikuti jalannya peristiwa itu dari tepi arena pun segera mengetahui bahwa

suami istri dua orang itu sudah ambil keputusan untuk menempuh jalan hidup yang berbeda,

dalam keadaan begini tak mungkin mereka bisa diakurkan lagi, dan satu-satunya peristiwa yang

bakal terjadi hanyalah pertarungan sengit yang akan menentukan siapa menang siapa kalah,

siapa hidup siapa mati.

Setelah berhenti beberapa saat lamanya, Pek Siau-thian masukkan kuntungan pedang dalam

jepitan jarinya itu kedalam saku, kemudian ia menyikap jubah dan loloskan pula sebuah senjata

tajam.

Senjata andalannya berupa sebuah tali panjang yang terbuat dari otot naga, panjangnya satu

tombak dua depa, pada ujung sebelah kiri terkait sembilan lembar pisau tajam berbentuk bulan

sabit, sedang pada ujung lainnya terpasang sembilan batang duri segi tiga yang amat beracun.

Delapan belas pisau tajam duri segi tiga itu tersebar disepanjang tali otot tersebut, ada yang

berselisih jarak beberapa cun, ada pula yang berjarak delapan sampai sembilan cun, nampak nya

sangat tak beraturan dan tak tahu apa kegunaannya.

Pek Siau-thian memegang sebilah pisau tajam diantaranya, tanpa mengucapkan sepatah katapun

ia tebas kedua belah ujung senjatanya itu hingga putus beberapa depa, dengan begitu senjata

tersebut panjangnya makin menyusut hingga tidak sampai satu tombak, pisau bulan sabit dan

duri segi tiga yang tergantung pada senjata itupun tinggal dua belas batang.

Perbuatan ini dilakukan tentu saja dikarenakan Kho Hong-bwee telah mematahkan pula ujung

pedangnya sehingga senjata itu cacad, ia tak sudi mencari keuntungan dari utuhnya senjata,

karena itu senjata tajam miliknyapun dibikin Cacad sendiri.

Para pendekar dari golongan lurus yang menyaksikan kejadian itu diam-diam merasa kagum

juga, kendatipun perbuatannya tidak dapat dibenarkan.

Terdengar Kho Hong-bwee berkata dengan ketus.

Dalam pertarungan ini kita harus saling merobohkan lawan hingga benar-benar tak berkutik,

tiada pengecualian dan tiada keistimewaan bagi kedua belah pihak, pertarungan akan berjalan

secara adil dan tidak berat sebelah, engkau boleh kerahkan segenap kekuatan yang kau miliki,

sedang pedangku juga tak akan kenal apa artinya belas kasihan.

“Maksudmu setelah merobohkan harus segera bangkit untuk lanjutkan pertarungan.

Kho Hong-bwee gelengkan kepalanya.

“Kalau engkau sudah roboh, mungkin untuk selamanya tak akan bisa bangkit kembali!”

Jilid 12

Pek Siau-thian mendendam sambil menggertak gigi, bentaknya keras-keras, “Ayoh serang…. aku

akan mengalah sejurus bagimu, dan mulai sekarang hubungan kita sebadai suami istripun putus

sampai di sini saja!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

227

Kho Hong-bwee tertawa, tiba-tiba ia menerjang kedepan sambil melepaskan serangan, cahaya

berkilauan memancar dari tubuh pedang lemas itu, desingan tajam memekikkan telinga.

Pek Siau-thian putar senjata ototnya dengan disertai desiran tajam, pisau bulan sabit dan duri

segi tiga diatas tali otot itu di liputi cahaya putih dan baru laksana kilat melancarkan serangan

balasan.

Kho Hong-bwee menggoyangkan pedang lemasnya.

Sreeet! tiba-tiba ia menebas lengan kanan Pek Siau-thian.

Senjata tajam yang dipergunakan suami istri berdua itu sama-sama tidak lengkap, ketika

dilancarkan sama-sama merasa kurang leluasa, namun jurus serangan yang dipergunakan samasama

ganas dan keji, tanpa terasa pertarungan itupun berlangsung jauh lebih bengis dan

mengerikan sekali….

***

KEDUA orang itu sama-sama bertempur dengan andalkan kecepatan melawan kecepatan, dalam

sekejap, mata dua puluh gebrakan sudah lewst, kedua belah pihak sama-sama berusaha untuk

merebutkan kedudukan yang lebih menguntungkan.

Dalam pada itu, dari pihak perkumpulan Hong-im-hwie, hanya malaikat kedua Sim Ciu seorang

yang masih sanggup melakukan pertarungan, dari pihak perkumpulan Thong-thian-kauw hanya

Pia Leng-cu seorang, sedangkan dari pihak golongan pendekar, tenaga dalam yang dimiliki Hoa

Hujin sudah menyusut hingga tak mungkin bisa melakukan pertarungan lagi, sedang Ciu Thianhau

dari gunung Huan San, Suma Tiang-cing jago pedang bernyawa sembilan, Chin Giok-liong,

Bong Pay serta harimau pelarian Tiong Liau telah menderita luka yang parah, kecuali mereka

yang telah binasa dalam pertarungan, hanya Cu Im taysu, Cu Thong dewa yang suka

pelancongan, Tio Sam-koh, Chin Pek-cuan, Biau-nia Sam-sian serta Chin Wan-hong delapan

orang saja yang masih sanggup melanjutkan pertarungan.

Tapi kekuatan beberapa orang itu jika di bandingkan dengan kekuatan perkumpulan Sin-kie-pang

yang begitu besar dan dahsyat ten tu saja ibaratnya telor melawan batu.

Selain itu rombongan manusia aneh yang menyerupai setan itu masih ada seratus orang lebih,

andaikata rombongan manusia-manusia itu ada minat uniuk bertempur melawan pihak

perkumpulan Sin-kie-pang secara dipaksa mereka masih mampu melakukan perlawanan tapi

kalau berbicara mengenahi kekuatannya sudah tentu pihak mereka masih tertinggal jauh sekali.

Sekarang dalam tubuh perkumpulan Sin-kie-pang sendiri terjadi perselisihan, sisa laskar yang

kalah perang sama-sama mengharapkan kemenangan dari Kho Hong-bwee sebab jika

perempuan itu yang menang maka sisa laskar yang kalah perang itu masih ada kemungkinan

untuk melanjutkan hidup, sebaliknya kalau Pek Siau-thian yang menang maka dia pasti akan

menggunakan tindakan keji untuk membunuh mereka semua.

Kendatipun semua orang berharap agar Kho Hong-bwee yang menang namun ditinjau dati

sisuasi yang terbentang dabm gelanggang saat itu harapan menang bagi perempuan itu

kelihatan tipis sekali sementara anggota perkumpulan Sin-kie-pang telah berbaris rapi didepan

mulut lembah dan menyambut jalan keluar mereka.

Dalam keadaan seperti ini kecuali berdiam diri sambil menantikan perubahan situasi selanjutnya

tiada kemungkinan bagi sisa laskar yang kalah perang itu melarikan diri.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

228

Tiba-tiba terdengar Pek Siau-thian membentak keras, senjata ruyung emasnya disertai desiran

angin tajam melancarkan serangan yang berkali lipat lebih dahsyat.

Keseriusan dan ketegangan menyelimuti paras Kho Hong-bwee yang cantik jelita, pedang

lemasnya terbentang kian kemari jurus demi jurus dilancarkan tiada hentinya, terhadap serangan

gencar yang dilepaskan oleh Pek Siau-thian ia sama sekali tak ambil gubris bahkan melihatpun

tidak.

Sistim bertempur yang lebih mengutamakan menyerang daripada pertahanan dan selalu mencari

kesempatan untuk beradu jiwa ini sudah berada dalam dugaan Pek Siau-thian sebagai seorang

ketua perkum pulan besar yang berambisi tentu saja ia tak sudi beradu jiwa dengan istrinya

sendiri tetapi kepandaian silat mereka berada dalam keadaan seimbang lama kelamaan ia mulai

kepayahan untuk menghadapi cara bertempur istrinya yang nekad itu, ia mulai keteter bebat.

Dalam sekejap mata kedua oiang itu sudah melangsungkan kembali pertarungan sengit sebanyak

dua puluh gebrakan namun siapapan gagal untuk merebut kemenangan.

Pek Siau-thian sendiri walaupan tidak ingin mengadu jiwa dengan istrinya, dalam hati keclnya

diapun tak ingin membinasakan istrinya yang cantik jelita itu ia mulai sadar jika pertarungan itu

dilanjutkan lebih jauh maka akhirnya akan terjadi tragedi yang menyedihkan bati

Kecemasan dan kejelisahan membuat hatinya jadi mendongkol sekali.

Meskipun begitu toh dia adalah seorang pemimpin yang cekatan, hatinya yang kalut tidak sampai

mengacaukan permainan jurus serangannya, setelah bertempur beberapa jurus lagi ia

membentak keras, “Tunggu sebentar!”

Tubuhnya loncat kebelakaug dan menyingkir sejauh dua tombak dari tempat semula.

Kho Hong-bwee menjengek dingin, katanya, “Kalau engkau bersedia mengaku kalah, ayoh cepat

serahkan tanda perintah Hong-lui-leng tersebut kepadaku!!”

“Heeeh, heeehh heeeh, sekali menjadi suami istri selamanya tetap saling mencintai, siapa

menang siapa kalah toh sama saja?”

“Kalau begitu ayoh cepat serahkaa tanda perintah Hong-lui-leng itu kepadaku!” bentak Kho

Hong-bwee dengan gusar.

Pek Siau-thian tersenyum.

“Suami istri asalnya tetap satu, serahkan tanda perintah Hong-lui-leng kepadamu bukanlah suatu

perbuatan yang memalukan!”

Ia lantas berpaling sambil membentak, “Soh-gie, serahkan Hong lui-leng itu kepadaku!”

Pek Soh-gie terperangah, ia maju kedepan dan segera persembahkan tanda perintah Hong-luileng

tersebut kepada ayahnya.

Semua orang melongo dan tak tahu apa maksud serta tujuan dari Pek Siau-thian, melihat

wajahnya berseri-seri dan sikapnya yang santai, mereka tahu bahwa ketua dari perkumpulan Sinkie-

pang ini sedang menjalankan siasat.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

229

Setelah mencekal tanda perintah itu, Pek Siau-thian membentak keras, “Pelindung hukum bagian

depan, harap terima perintah!”

Dari balik barisan pelindung hukum panji kuning berkelebat keluar delapan orang kakek tua

sambil memberi hormat mereka berseru, “Hamba siap menunggu perintah!!”

“Jaga hujin baik-baik, kalian tak boleh menang tak boleh kalah, dan tak boleh melukai hujin

barang seujung rambutpun, siapa berani melanggar akan kupenggal kepalanya.”

Mendengar seruan tersebut Kho Hong-bwee jadi amat gusar dan bentaknya keras-keras, “Pek

Siau-thian, engkau berani perintahkan anak buahmu untuk mengeroyok aku?”

Pek Siau-thian tersenyum

“Engkau masih bersikap kekanak-kanakan, apa boleh buat? hari ini terpaksa aku harus

menyusahkan dirimu!”

“Kurang ajar!” bentak Kho Hong-bwee dengan gusar, tubuhnya menerjang kedepan dan

pedangnya langsung membabat ke tubuh lawan.

Pek Siau-thian mengegos kesamping dan melayang beberapa tombak kebelakang sementara

kedelapan orang kakek tua itu segera maju kedepan dan menghadang jalan pergi Kho Hongbwee.

Perempuan setengah umur itu jadi amat gusar, dengan sorot mata yang tajam ia sapu sekejap

wajah dari kedelapan orang kakek itu, lalu bentaknya keras-keras, “Kurang ajar, jadi kalian

benar-benar berani untuk bertempur melawan aku?”

“Hujin harap jangan marah!” kata kedelapan orang kakek tua itu sambil memberi hormat,

“hamba terpaksa harus berbuat demikian, harap engkau sudi memberi maaf!”

Dalam pada itu, Pek Siau-thian dengan suara lantang berseru, “Mulai detik ini perkumpulan

Hong-im-hwie telah bubar, enam propinsi di wilayah Kang-pak akan masuk menjadi wilayah

kekuasaan perkumpulan Sin-kie-pang, ketua Jin! apa yang hendak kau utarakan lagi?”

Jin Hian, Sim Cu dan nenek dewa bermata buta berunding sebentar dengan suara lirih, kemudian

baru berseru, “Mulai sekarang perkumpulan Hong-im-hwie memang telah bubar, wilayah Kangpak

mau jadi kekuasaan siapa bukan urusan kami, kami segan untuk mengurusinya….”

Sejak lengannya kutung, masa depannya pun ikut hancur berantakan apalagi setelah

perkumpulannya ditumpas lawan, hatinya benar-benar putus asa dan tak punya semangat lagi,

dalam pembicaraan bukan saja suaranya lemah bahkan nadanya lirih dan membuat hati orang

ikut beriba.

Pek Siau-thian berusaha menekan rasa bangga dan gembiranya didalam hati, ia segera berpaling

kesamping lain dan berteriak pula, “Perkumpulan Thong-thian-kauw telah bubar, semua kuil akan

dibongkar dan wilayah Kanglam akan dikuasai oleh perkumpulan Sin-kie-pang, kaucu! apakah

engkau ada usul lain?”

Sejak tadi Thong-thian Kaucu telah berunding dengan paman gurunya Pia Leng-cu, mendengar

pertanyaan tersebut ia segera menjawab dengan suara hambar.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

230

“Perkumpulan Thong-thian-kauw akan tinggalkan wilayah Kanglam pangcu mau menduduki

wilayah tersebut atau tidak terserah pada kemauanmu sendiri.

Sepasang kakinya yang dihancurkan oleh ledakan kotak emas milik Siang Tang Lay membuat

imam tua itu menderita jauh lebih parah dari pada keadaan Jin Hian meskipun anak murid

perkumpulannya masih ada beberapa orang namun ilmu silat mereka rata-rata lemah sekali,

meskipun ada Pia Leng-cu tapi kekuatan pihak perkumpulan Sin-kie-pang terlalu besar dan tak

mungkin bisa dilawan lagi, oleh sebab itulah kecuali ngaku kalah tiada jalan lain lagi baginya.

Pek Siau-thian gembira sekali sorot matanya yang tajam segera dialihkan ke arah barak yang di

huni para pendekar.

Sebelum ia sempat buka suara Ciu Thian-hau dari gunung Huang-san telah tertawa terbahakbahak,

teriaknya dengan cepat, “Golongan pendekar telah ditumpas rata dengan tanah, dunia

persilatan akan dimiliki oleh Pek Siau-thian seorang, benar-benar mengagumkan…. benar-benar

mengagumkan….”

Ucapannya bernada tajam dan penuh mengandung sindiran.

Pek Siau-thian mendengus dingin, diam-diam pikirnya, “Kelompok manusia-manusia itu binal dan

tak takut mati sukar untuk mendidik mereka jadi penurut, kalau rumput liar tidak dibasmi sampai

akar-akarnya bila angin musim semi berhembus maka bibit rumput akan tumbuh kembali, lebih

baik kubasmi saja mereka semua hingga tak berbekas.

Setelah mengambil keputusan di hati, ia lantas berkata, “Bulan sembilan tanggal sembilan nanti

perkumpulan Sin-kie-pang akan merayakan hari jadinya yang kedua puluh dikota Kay hong,

semua jago yang ada di kolong langit harus menghadiri perayaan tersebut apa bila ada yang tak

mau pergi harap menyatakan pendapatnya mulai sekarang.

Ucapan itu bernada perintah dan memaksa orang harus menuruti kemauan hatinya.

Terdengar Ik cu berkata dengan cepat, “Perayaan sebesar itu sudah sepantasnya untuk dihadiri,

sampai waktunya pinto pasti akan membawa orang untuk menyampaikan selamat kepadamu….”

Jin Hian dalam baraknya ikut berseru pula, “Mulai detik ini aku orang she Jin sudah menjadi

burung yang terlepas, tentu saja dengan senang hati aku akan menghadiri perayaan besar itu.”

‘Terima kasih aras kesediaan kalian!” seru Pek Siau-thian dengan angkuh.

Tiba-tiba terdengar Tio Sam-koh tertawa dingin dan berkata, Pek Siau-thian, engkau tak usah

sombong, jangan harap kami bersedia untuk tunduk dibawah perintahmu, mau bacok, mau

cincang ayoh silahkan.

Pek Siau-thian memang ada niat untuk membasmi semua kelompok pendekat, mendengar

ucapan dari Thio Sam-koh tersebut, ia segera pergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya.

Dengan muka membesi bentaknya keras-keras, “Pelindung panji kuning, ayoh maju dan tekuk

mereka semua!!”

Suara sahutan yang gegap gempita bergema memecahkan kesunyian, Cukat racun Yau Sut

dengan memimpin hampir seratus orang pelindung hukum panji kuning bagaikan air bah yang

menjebolkan tanggul langsung menerjang ke arah kelompok pendekar.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

231

Kho Hong-bwee yang menyaksikan kejadian itu jadi amat gusar, pedangnya diputar kencang dan

membabat seorang kakek tua di hada pannya, kemudian ia terjang kemuka.

Criing! dengungan nyaring berkumandang memecahkan kesunyian, seorang kakek tua yang

berada disisi kiri menyentilkan ujung jarinya yang tepat bersarang diujung pedang Kho Hongbwee,

membuat serangan tersebut segera menceng kesamping.

Kegusaran yang berkobar dalam dada Kho Hong-bwee memuncak, ia putar pedang emasnya

dan…. Sreeet! sekali lagi ia lancarkan sebuah bacokan maut.

Pek Kun-gie yang selama ini membungkam terus dalam seribu bahasa, tiba-tiba menyerang dari

arah samping.

Kedelapan orang kakek tua itu merupakan jago-jago kelas satu dalam perkumpulan Sin-kie-pang,

mereka disebut sebagai pelindung hukum bagian depan, tugas mereka adalah melindungi

keselamatan pangcu dan merupakan orang kepercayaan dari Pek Siau-thian.

Walaupun kedelapan orang itu adalah orang-orang lihay yang hanya bertahan belaka, namun

serbuan Kho Hong-bwee dan anaknya sama sekali tak mampu untuk menjebolkan kurungan

tersebut.

Dipihak lain, Cukat racun Yau Sut dengan memimpin hampr seratus orang jago lihay, ibarat

gulungan ombak ditengah samudra segera menerjang ke arah barak yang di huni oleh para

pendekar golongan putih.

Para jago dari golongan pendekar yang masih sanggup berdiri segera munculkan diri untuk

menyambut datangnya serangan tersebut, tapi jumlah mereka tak lebih dari tiga belas orang,

untuk menghadapi serangan sedahsyat itu keadaan benar-benar bagaikan telur melawan batu.

Tiba-tiba Lan-hoa Siancu berteriak keras, “Li hoa, Ci wi, kalau kita tidak mengadu jiwa lagi, maka

kita akan berbuat kesalahan besar terhadap Siau long!”

“Benar, bagaimanapun juga kita harus melayani serbuan mereka dengan sepenuh tenaga!” sahut

Li-hoa Siancu.

Sambil berbicara, ketiga orang kakak beradik seperguruan itu segera menyerbu ke depan lebih

dahulu dan masing-masing orang menyebarkan diri untuk membendung serbuan lawan yang

dahsyat bagaikan gulungan ombak samudra itu.

Terdengar Cukut racun Yau Sut membentak keras.

“Ayoh lancarkan serangan!”

Begitu perintah dilepaskan para jago yang berada di barisan paling depan sama-sama

mengayunkan telapaknya dan melepaskan satu pu kulan yang maha dahsyat.

Kawanan pelindung hukum yang tergabung dibawah panji kuning ini merupakan sekawanan jago

yang memiliki ilmu silat yang amat lihay, tenaga pukulan mereka yang bergabung jadi satu

benar-benar amat dahsyat bagaikan gulungan ombak menghancurkan dermaga, desiran tajam

memekikkan telinga kekuatan serta daya penghancurnya amat mendebarkan hati orang.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

232

Biau-nia Sam-sian yang berada di paling depan dengan cepat tertumbuk oleh gulungan angin

pukulan yang dahsyat bagaikan angin puyuh itu, badan mereka tak mampu berdiri tegak dan

dengan langkah sempoyongan mundur beberapa langkah ke belakang.

Tio Sam-koh serta Cu Thong sekalian yang menyusul dibelakangnya tak mampu berdiri pula

semua jago terdorong mundur beberapa langkah dari posisi semula.

Walaupun begitu kepandaian melepaskan racun dari wilayah Biau memang mempunyai ciri-ciri

khas serta keistimewaan yang luar biasa, tatkala Lan-hoa Siancu bertiga menerjang maju

kedepan tadi, bubuk racun yang dapat merobohkan orang lain telah dilepaskan secara ber tubitubi.

Kendatipun Cukat racun Yau Sut dapat menyaksikan tingkah laku mereka dengan seksama dan

sudah melepaskan pukulan dari tempat kejauhan namun ada empat orang anak buahnya yang

tetap keracunan serta roboh tak berkutik lagi diatas tanah.

Menyaksikan kelihayan ilmu racun musuh, Cukat racun Yau Sat merasa amat terperanjat, rasa

waspada yang timbul dalam hati kecilnya makin dipertingkat sambil menahan napas, perlahanlahan

tubuhnya bergerak kedepan, pukulan demi pukulan dilancarkan secara bertubi-tubi.

Kekuatan angin pukulan yang maha dahsyat itu bergabung jadi satu membentuk gelombang

serangan yang luar biasa dahsyatnya, pukulan itu langsung menerjang para jago dari kalangan

lurus, membuat Cu Im taysu serta Cu Thong yang berkepandaian tinggipun kena didesak mundur

kebelakang hingga tak sanggup mempertahankan kuda-kudanya.

Setelah mundur berulang kali, para jago telah mengundurkan diri kembali kedalam barak, angin

pukulan dahsyat segera menerbangkan meja dan kursi membuat keadaan pada saat itu ibaratnya

suatu daerah yang ketimpa angin topan.

Dalam barak terdapat beberapa orang jago yang sedang menderita luka, melihat musuh tangguh

menyerbu masuk kesana, anak murid dari Siang Tang Lay segera melindungi guru mereka dan

menyingkir kesamping, Chin Pek-cuan membopong putranya Giok Liong, Cu Thong membopong

Bong Pay dan Chin Wan-hong memayang Hoa Hujin mengundurkan diri dari tempat itu.

Untuk beberapa saat lamanya suasana jadi kalut dan kacau balau, agaknya para jago segera

akan musnah dibantai orang-orang perkumpulan Sin-kie-pang.

Pada saat itulah, tiba-tiba dari atas atap barak berkumandang suara bentakan seorang

perempuan yang sangat nyaring, “Pek Siau-thian! kabut yang telah kusebarkan adalah kabut Kiu

tok ciang dari wilayah Biau, kalau engkau belum juga tahu diri maka pelindung hukummu itu

akan memperoleh ganjaran yang setimpal.”

Ucapan itu bernada datar dan tawar tapi setiap patah kata bergema amat tajam dan nyaring

didengar, Cukat racun Yau Sut sekalian beserta Pek Siau-thian yang berdiri ditempat kejauhan

kontan dibuat terkesiap hatinya mendengar perkataan itu, sadarlah mereka bahwa ditempat itu

sudah hadir seorang jago persilatan yang berilmu silat amat tinggi.

Sorot mata mereka segera dialihkan ke arah mana berasalnya suara itu, diatas atap barak

duduklah seorang perempuan muda berdandan suku Biau yang telanjang kaki, lengannya dan

dadanya kelihatan separuh, perempuan itu berwajah cantik jelita, berkulit putih bersih dan

bersikap amat santai.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

233

Tiba tiba jeritan kaget bergema saling susul menyusul, dalam waktu singkat separuh bagian

pelindung hukum dari panji kuning perkumpulan Sin-kie-pang yang hadir disitu roboh terkapar

keatas tanah dan tak berkutik lagi.

Pek Siau-thian amat terperanjat sekali, panji Hong-lui-leng digoyangkan berulang kali, bentaknya

keras, “Mundur! mundur…. mundur….!”

Pada waktu itu Cukat racun Yau Sut sekalian sudah dibikin ketakutan hingga sukma serasa

melayang tinggalkan raganya, mendengar tanda perinlah itu bagaikan gulungan angin topan

mereka segera saling berebut untuk mengundurkan diri dari situ, seakan-akan mereka sedang

mengalirkan diri dari pintu neraka.

Dalam sekejap mata, disamping empat orang yang roboh terkapar lebih dahulu, diatas tanah

telah bertambah dengan dua puluh tujuh sosok tubuh manusia yang semuanya terdiri dari jagojago

lihay kelas satu dalam dunia persilatan.

Dalam pertarungan dengan andalkan ilmu silat, untuk merobohkan seorang musuh merupakan

suatu pekerjaan yang sulit, tapi sekarang dalam waktu singkat ada dua puluh orang lebih yang

roboh tak berkutik lagi, dari sini bisa terbukti bahwa ilmu racun dari wilayah Biau memang benarbenar

mengerikan sekali.

Saking gusar dan mendongkolnya, sekujur badan Pek Siau-thian gemetar keras, sambil menatap

perempuan muda berdandan suku Biau itu dengan sorot mata tajam tegurnya dengan suara

menyeramkan, “Apakah engkau adalah pemilik lembah Hu liong kok dari wilayah Biau??”

Perempuan cantik suku Biau itu tertawa.

“Tebakanmu sedikitpun tak salah, aku adalah Kiu-tok Sianci”

Sementara itu Biau-nia Sam-sian serta Chin Wan-hong secara beruntun telah melayang keluar

dari dalam barak, sambil berlarian mereka sama-sama berseru lantang.

“Suhu….!”

Dengan sorot mata berkilat, Kiu-tok Sianci menyapu sekejap ke arah keempat orang itu,

kemudian dengan muka membesi, ujarnya dingin, “Hmm! kalian sudah menurunkan pamor kalian

sendiri, apakah kamu semua masih punya muka untuk berjumpa dengan aku?”

Telapaknya dikebas kedepan, segulung angin pukulan yang tajam seketika merobohkan keempat

orang itu dari atas barak.

Pek Siau-thian tertawa dingin tiada hentinya.

“Heehh…. heehb…. heehh…. antara perkumpulan Sin-kie-pang dengan pihak lembah Hu-liangkok

pernah mengikat janji bahwasanya kedua belah pihak tidak akan saling mengganggu

maupun saling menyerang, dalam kenyataan engkau telah meracuni anak buahku sebanyak dua

puluh orang lebih, jadi maksudmu tersebut hendak kau batalkan?”

“Tentu saja batal!” jawab Kiu-tok Sianci hambar, “tapi perjanjian ini batal ditangan orang-orang

perkumpulaa Sin-kie-pang, engkau tak usah salahkan kami orang-orang dari lembah Hu-liangkok”

“Apa maksudmu?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

234

Kiu-tok Sianci mendengus dingin.

“Hmm! selama ini pihak lembah Hu-liang-kok kami selalu menutup diri pergaulan dunia luar,

kami tak mencampuri urusan dari siapapun tapi kalian orang-orang dan pihak perkumpulan Sinkie-

pang telah meracuni Hoa Thian-hong dengan racun keji kemudian menghantar masuk

kedalam lembah Hu-liang-kok kami, memaksa aku harus menerima Chin Wan-hong sebagai

muridku. Kalau perjanjian ini hendak dibatalkan maka kalian perkumpulan Sin-kie-pang yang

harus bertanggung jawab dalam soal ini.”

Mendengar perkataan itu Pek Siau-thian terperangah dibuatnya, meskipun alasan yang

dikemukakan sedikit terlalu memaksa namun kenyataan memang demikian, untuk beberapa saat

ia tak mampu mengucapkan sepatah katapun tanpa sadar lagi ia melotot sekejap ke arah Pek

Kun-gie dengan pandangan gemas.

Setelah suasana hening beberapa saat lamanya, Pek Siau-thian memerintahkan Yau Sut untuk

mengirim orang mengangkut kembali kedua puluh sosok pelindung hukum panji kuning yang

terkapar di tanah.

Cukat racun Yau Sut segera memerintahkan sepasukan pria kekar berbaju hitam untuk

melaksanakan tugas tersebut.

Sepasukan pria kekar berbaju hitam ini merupakan anak buah dari tiga ruang bagian luar,

diantara para jago yang hadir dalam lembah Cu-bu-kok dewasa ini mereka terhitung manusia

yang berkepandaian rendah dalam pikiran Yau Sut dengan kedudukan Kiu-tok Sianci yang begitu

tinggi dan terhormat tak mungkin sampai dia melepaskan racun keji terhadap kawanan manusia

itu.

Terdengar Kiu-tok Sianci dengan suara dingin berseru, “Dalam lingkaran tiga tombak disekitar

barak ini tak mungkin dilalui siapapun, jangan dikata manusia, burungpun tak mungkin bisa

melewati tempat ini, aku harap kalian semua menghentikan langkah kakimu itu!”

Sebenarnya kawanan manusia baju hitam itu sudah merasa amat kuatir sekali atas keselamatan

jiwa mereka apa lagi setelah mendengar ancaman dari Kiu-tok Sianci itu, kontan jantungnya

merasa berdebar keras tapi berhubung peraturan perkumpulan yang begitu ketat, siapapun tak

berani membangkang perintah tersebut.

Begitulah, sekalipun mereka sudah tahu bahwa sebentar lagi mereka semua akan melangkah

masuk kedalam lingkaran tiga tombak dari sisi barak, namun dengan langkah lebar orang-orang

itu masih tetap melanjutkan perjalanannya.

Bluuk! bluuk! bluuk! sebelum kawatan manusia baju hitam itu sempat mencapai hadapan para

pelindung hukum yang terkapar diatas tanah, secara beruntun orang-orang itu roboh

terjengkang keatas tanah dan sama sekali tak berkutik lagi.

Kiu-tok Sianci yang duduk diatas atap barak masih tetap seperti sedia kala, semua orang tak ada

yang melihat bagaimana caranya orang itu melepaskan racun kejinya, dari sini semakin dapat

dibuktikan betapa dahsyat dan luar biasanya kepandaian melepaskan racun yang dimiliki

perempuan suku Biau ini.

Pek Siau-thian merasa terkejut bercampur gusar, pikirnya didalam hati.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

235

“Kabut kiu tok ciang yang ditebarkan disekitar tempat ini pastilah merupakan sebangsa racun

yang tak berwarna maupun berbau yang melayang diudara sehingga membuat setiap orang yang

tersentuh seketika keracunan dan tak bisa berkutik lagi, dengan cara apakah aku harus menahan

serangan racun itu?”

Otaknya berputar keras, segala kecerdikannya diserahkan untuk memecahkan persoalan itu,

namun akhirnya toh usaha itu mengalami jalan buntu.

Karena gelisah bercampur cemas, hawa amarahnya segera berkobar membakar hatinya, paras

mukapun dari merah padam berubah jadi hijau membesi.

Tiba-tiba terdengar Kho Hong-bwee berkata dengan suara dingin, “Bukankah sudah kukatakan

sejak tadi, rembulan yang bulat akhirnya akan lonjong, air yang penuh pasti akan meluber,

sekarang engkau harus mempercayai kebenaran dari ucapanku itu, ikutilah nasehatku dan

serahkan tanda perintah Hong-lui-leng tersebut kepadaku, biarlah aku yang bereskan masalah

selanjutnya!”

“Hmmm! aku orang she Pek tak rela mengaku kalah dengan begitu saja!” teriak Pek Siau-thian

penuh kegusaran.

Dengan tanda perintah Hong-lui-leng ki nya dia tuding kemuka, kemudian bentaknya keraskeras,

“Yau Sut pimpin barisan pelindung panji kuning menyerang dari sayap kiri, Ho Kee-sian

pimpin anak buah tiga ruang dalam menyerang langsung dari bawah mimbar, sisanya siapkan

anak panah dan menunggu perintah!”

Ratusan orang anggota perkumpulan Sin-kie-pang sama-sama menyabut, suaranya keras

bagaikan guntur yang membelah bumi di siang hari bolong.

Cukat racun Yau Sut serta telapak pembalik langit Ho Kee-sian segera tampil ke depan dan

membentak, “Ikuti aku!”

Dalam sekejap mata Cukat racun Yau Sut dengan memimpin enam tujuh puluh orang pelindung

hukum panji kuning menerobos dari bawah barak, mengitari belakang rombongan manusiamanusia

aneh dan menerjang masuk ke arah barak yang dihuni para jago.

Telapak pembalik langit Ho Kee-sian dengan memimpin semua pelindung hukum dan Tiang Cu

dari tiga ruang dalam yang berjumlah hampir dua ratus orang dengan melingkari mimbar

menerjang masuk ke arah barak yang dihuni para pendekar dari sayap kanan.

Kesempurnaan barisan dari orang-orang perkumpulan Sin-kie-pang serta kedisiplinan mereka

melaksanakan perintah, benar-benar tak dapat dibandingkan dengan kelompok manusia-manusia

lain di kolong langit, serbuan yang dilaksanakan secara serentak oleh dua tiga ratus orang ini

betul-betul dahsyat ibarat gulungan ombak ditengah samudra, walaupun serentak namun sama

sekali tidak kacau, kecepatan gerakan mereka serta kecepatan mereka mengepung sasarannya

begitu dahsyat, membuat siapapun yang melihat jadi terperanjat dan berkobar keras.

Kiu-tok Sianci sendiri diam-diam dibuat serba salah setelah menyaksikan serbuan te sebut, ia

sadar bahwa kemampuan yang dimilikinya masih belum mampu untuk mengatasi keadaan

tersebut.

Dalam keadaan tergesa-gesa ia segera melayang turun dari atas barak dan langsung

menghadang serbuan yang dipimpin oleh Yau Sut, bentaknya dengan suara lantang, “Lan hoa, Li

hoa! hadang sebelah kanan sebentar lagi Siau Long akan datang kemari”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

236

“Siau Long ada dimana?” teriak Lan-hoa Siancu.

Sementara pembicaraan sedang berlangsung, telapak pembalik langit Ho Kee-sian dengan

memimpin para jago lihay dari tiga ruang dalam telah menyerbu masuk ke dalam barak.

Ketika para pendekar mendengar bahwa Hoa Thian-hong sebentar lagi akan tiba di sana, semua

orang merasakan suatu perasaan gembira yang sangat aneh, mereka semua segera terjun

kedalam gelanggang dan masing-masing orang dengan penuh semangat menyambut datangnya

serangan dari pihak lawan.

Pek Kun-gie sendiri, ketika mendengar dari mulut Kiu-tok Sianci bahwasanya sebentar lagi Hoa

Thian-hong akan muncul disana, dalam hati kecilnya segera berpikir, “Sekarang orang-orang

perkumpulan Sin-kie-pang sedang mengerubuti ibu dan sahabat-sahabatnya jika dia sampai

melihat kejadian ini mungkin sampai akupun akan dibenci olehnya….”

Ingatan tersebut belum sempat berkelebat dalam benaknya hingga selesai dengan cepat, gadis

itu sudah merampas sebilah pedang dan langsung lari ke arah mimbar.

Pek Siau-thian jadi amat gusar setelah menyaksikan tingkah laku putrinya ia membentak keras,

“Budak ingusan….”

Badannya menerjang maju kedepan dan menyambar tubuh gadis itu.

Dengan suara dingin Kho Hong-bwee segera berseru.

“Jangan urusi orang lain kita pun harus bertempur hingga salah satu diantaranya mampus!”

Sreet….! Sreeet….! dua bacokan pedang memaksa Pek Siau-thian terpaksa harus mundur dua

langkah kebelakang.

Kegusaran yang berkobar dalam benak Pek Siau-thian tak terkendalikan lagi.

Senjata pecut lemasnya segera dikibaskan ke luar dan melancarkan sebuah serangan balasan.

Suasana pada waktu itu kalut sekali, Pek Siau-thian terlibat kembali dalam suatu pertempuran

yang sengit melawan istrinya sendiri. Kiu-tok Sianci sendiri menahan serbuan dari Yau Sut

beserta anak buahnya berjumlah tujuh puluh orang lebih.

Berbicara dalam hal ilmu silat, sudah tentu Kiu-tok Sianci tak mungkin berhasil menghela serbuan

jago-jago sebanyak itu tapi karena pertama ruang gerak disekitar barak itu amat sempit dan

kecil, kedua, semua orang jeri akan nama besar Kiu-tok Sianci maka sewaktu melihat perempuan

itu menerjang datang semua orang sama-sama menyingkir kebelakang.

Setelah berhasil mendesak mundur para jago, Kiu-tok Sianci secepat kilat melayang di angkasa

dan berputar satu lingkaran mengitari Hoa Hujin serta Siang Tang Lay sekalian yang terluka dan

tak dapat maju bertempur kemudian tanpa memperdulikan musuh-musuhnya lagi ia langsung

menerjang ke arah Ho Kee-sian beserta para jagonya.

Yau Sut agak terperangah sewaktu dilihatnya Kiu-tok Sianci meninggalkan mereka semua dan

malahan berpindah ke pihak lain, sebagai seorang jago yang gampang curiga satu ingatan

berkelebat dalam benaknya membuat ia segera menghentikan gerakan tubuhnya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

237

Lain halnya dengan para jago lain yang kurang cermat, orang-orang yang berada dikedua belah

sisinya dengan cepat menerjang ke muka dengan maksud membinasakan Hoa Hujin sekalian

yang sedang terluka.

Siapa tahu baru saja menerjang sejauh beberapa depa ke arah depan tanpa sempat mendengus

berat enam orang jago sudah roboh tak berkutik lagi diatas tanah.

Diam-diam Cukat racun Yau Sut merasa terkesiap, buru-buru ia perintahkan anak buahnya untuk

hentikan gerakan mereka.

Sementara itu Hoa Hujin sekalian tepat berada dihadapan mereka dan jaraknya hanya dua tiga

tombak belaka, mereka tahu, andaikata orang-orang itu bisa ditangkap maka tanpa bertempur

lebih jauh kemenangan telah berada ditangan mereka.

Tapi tempat dimana Kiu-tok Sianci berputar tadi telah membentuk sebuah dinding pemisah yang

tak berwujud, siapapun tak punya keberanian untuk melewati dinding pemisah tersebut.

Telapak pembalik langit Ho Kee-sian adalah ketua dari ruang Thian leng tong pada saat itu

dengan pemimpin dua ratus orang jago dari huan han telah menerjang masuk ke dalam barak

lewat sayap sebelah kanan dengan pukulan-pukulan yang berat dan dahsyat mereka paksa Biu

nia Sam sian sekalian terdesak mundur beberapa langkah kebelakang, menggunakan peluang

yang sangat baik itulah pasukan segera dipecah menjadi dua bagian dan mengepung

gerombolan para pendekar itu dari sisi kiri maupun kana, dalam waktu singkat suasana jadi

makin kritis bagi pihak kaum lurus dan nampaknya sebentar lagi mereka akau berhasil menyerbu

masuk kedalam barak.

Pada saat yang gawat itulah Kiu-tok Sianci berhasil mencapai tempat kejadian, semua orang

yang sudah tahu akan kelihayan ilmu ra cun dari perempuan itu, sama-sama mengundurkan diri

kebelakang setelah melihat kehadirannya.

Apa lacur Pek Kun-gie dengan babatan pedangnya yang kalap pada waktu itu sudah tiba disitu

dan memutuskan jalan mundur mereka, suasana jadi kalut dan barisanpun jadi kacau, semua

orang berusaha menghindarkan diri dari babatan-babatan maut gadis itu.

Himpit menghimpit terjadi diantara sesama anggota perkumpulan Sin-kie-pang, banyak orang

yang tergelincir roboh keatas tanah, membuat suasana yang kacau bertambah kalut rasanya.

Dalam pada saat itulah, dari mulut lembah Cu-bu-kok tiba-tiba bergema suara bentakan

seseorang, “Pek Siau-thian!”

Bentakan tersebut begitu keras ibarat guntur yang membelah bumi disiang hari bolong, semua

orang merasakan telinganya bergetar keras dan amat sakit rasanya.

Pek Siau-thian merasa amat terperanjat, andaikata serangan Kho Hong-bwee secara mendadak

tidak mengendor, mungkin lengan kanannya sudah tertebas kutung.

Pada waktu ilu masih ada seratus dua rasus orang anggota perkumpulan Sin-kie-pang yang

menyumbat mulut lembah, dengan demikian orang yang berada dalam lembah dapat untuk

melihat pemandangan diluar lembah.

Terdengarlah seseorang dengan nada gemetar berseru keras, “Lapor pangcu, Hoa Thian-hong

telah muncul kembali!!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

238

Dari suara pelapor yang gemetar dan tersendat-sendat dapat diketahui bahwa hati orang itu

sudah keder dibuatnya.

Pek Siau-thian semakin naik pitam, ia segera membentak keras, “Kembali yaa kembali, apa yang

musti di takuti?? lepaskan dia masuk kedalam lembah!”

Bagaikan embok laut yang membelah ke samping, para jago perkumpulan Sin-kie-pang yang

menyumbat mulut lembah sama-sama menyingkir kesamping hingga terbukalah sebuah jalan

lewat.

Hoa Thian-hong dengan mencekal pedang bajanya melangkah masuk kedalam lembah, pelayan

tua nya Hoa In mengikuti dibelakang pemuda itu.

Pada dasarnya Hoa Thian-hong memiliki badan yang kekar dan wajah yang berwibawa, kini ia

nampak jauh lebih bersemangat dan agung sekali, seakan-akan seorang manusia yang baru saja

muncul dari penggodokan dalam tungku pat kwa, begitu agung dan berwibawanya membuat

setiap orang dalam lembah itu diam-diam mengaguminya.

Dengan sorot mata yang tajam bagaikan kilat, Pek Siau-thian menatap wajah Hoa Thian-hong

tanpa berkedip, ketika dilihatnya selangkah demi selangkah si anak muda itu menghampiri

kehadapannya, entah apa sebabnya tiba-tiba muncul suatu perasaan dengki yang aneh sekali

dalam hati kecilnya”

Suasana dalam lembah Cu-bu-kok diliputi keheningan yang luar biasa, sorot mata setiap orang

ditujukan keatas wajah Hoa Thian-hong, orang-orang dari pihak kaum pendekar termasuk juga

Siang Tang Lay dan Kiu-tok Sianci sama-sama melelehkan air matia karena kegirangan, paras

muka mereka semua menampilkan perasaan lega dan gembira.

Diam-diam Pek Siau-thian menyumpah dalam hati kecilnya, “Sialan! kenapa aku musti jeri

kepadanya?”

Semua perhatiannya segera dipusatkan jadi satu, sambil menekan pergolakan hatinya, ia berkata

dengan ketus, “Bukankah engkau sudah pilih jalan untuk kabur sejauh-jauhnya dari tempat ini?

mau apa engkau datang lagi kemari, mungkin sudah bosan hidup?”

Hoa Thian-hong menjura dan memberi hormat kemudian sahutnya, dengan wajah serius, “Aku

sama sekali tidak pergi jauh, ambisi pangcu yang begitu besar sungguh membuat hatiku merasa

sangat kagum”

Bicara sampai disitu, ia merogoh sakunya dan ambil keluar sebuah kotak kecil terbuat dari

kumala sambil diserahkan ketangan Hoa In, perintahnya, “Serahkan batang Leng-ci ini untuk

ibuku, Hoa In menyambut kotak itu dengan tangannya dan segera lari menuju ke arah barak, Ciwi

Siancu buru-buru nampakkan diri dari balik garis yang diselimuti kabut kiu tok ciang dan

menerima kotak kumala tadi, sementara itu Kiu-tok Sianci telah ambil kembali botol kumala putih

dari sakunya dan berbisik kepada Lan-hoa Siancu dengan suara lirih, “Cepat kita tarik kembali

semua kabut kiu tok cian ini, masalah yang sedang kita hadapi pada taat ini hanya bisa selesai

dengan menyerahkan semua persoalan tersebut ketangan siau liong!”

Lan-hoa Siancu menerima botol kumala itu dan segera berlarian keempat penjuru untuk menarik

kembali kabut racun yang telah tersebar luas ditengah udara.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

239

Dipihak lain, Pek Siau-thian telah memandang sekejap ke arah Hoa Thian-hong dengan

pandangan dingin, kemudian dengan alis mata berkenyit ujarnya, “Seringkali ada pepatah kuno

yang mengatakan, bila dalam suatu negara muncul seorang yang berbakat, maka keharuman

namanya akan mencapai beberapa ratus lamanya, engkau berbakat bagus, berkemauan besar,

punya keberanian dan rejeki bagus, aku merasa sangat kagum pada dirimu!”

“Aku hanya seorang pemuda yang belum tamat belajar, untuk memimpin dunia persilatan selama

puluhan tahun mendatang masih belum pantas untuk tiba gilirannya pada diriku!”

“Hmm! hal ini sudah tentu!” sela Pek Siau-thian dengan suara dingin.

“Tapi juga tidak pada giliran pangcu!, sambung Hoa Thian-hong lebih jauh dengan cepat.

“Kurang ajar, aku tidak percaya!” bentak Pek Siau-thian penuh kegusaran.

Hoa Thian-hong menengadah keatas dan tertawa nyaring.

“Haahh…. haahh…. haahh…. kenyataan memang begitu, sekalipun engkau tidak percaya juga

harus mempercayai!”

Sambil menuding ke arah rombongan manusia-manusia aneh berbentuk setan itu, ia

melanjutkan, “Coba pangcu lihat, danrimana asal mula datangnya rombongan manusia aneh

itu?”

Pek Siau-thian melirik sekejap ke arah rombongan manusia aneh bagaikan setan itu, kemudian

jawabnya dengan suara tawa, “Huuh….! generasi muda dari perkumpulan Kiu-im-kauw, engkau

anggap aku adalah manusia macam apa? kau anggap dalam mataku telah kemasukan pasir?”

Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, paras muka semua orang yang hadir dalam lembah

Cu-bu-kok itu sama-sama berubah hebat, sampai-sampai manusia aneh yang selama ini hanya

membungkam terus dan sama sekali tak pernah mengucapkan sepatah katapun ikut berubah

wajah.

Hoa Thian-hong mengangguk tanda membenarkan, setelah itu tanyanya lagi, “Apakah pangcu

tahu, siapakah kaucu dari perkumpulan Kiu-im-kauw pada generasi yang lalu?”

“Siapa?” bentak Pek Siau-thian.

Hoa Thian-hong tertawa santai.

“Aku sendiripun tak tahu siapakah orang itu, tapi aku pernah melihat sendiri bahwa orang itu

adalah seorang perempuan, setelah, memberi perintah kepada orang-orang aneh ini, dia masuk

kedalam tandu warna-warni itu dan digotong masuk kedalam lembah ini, sayang pada itu semua

pikiranku tertuju untuk mendalami kelemahan-kelemahan dalam permainan pedangku, sehingga

duduk persoalan yang lebih jelas tak sempat kudengar”

“Huuh! kalau cuma seorang perempuan saja, aku rasa sekali lihay maka kelihayannya tak akan

melampaui kehebatanku dan tak akan melampaui kehebatanmu juga orang she Hoa….!”

Hoa Thian-hong menggeleng dan tertawa.

“Engkau kelitu besar jika mempunyai pikiran begitu, kesabaran orang ini luar biasa sekali, dan

aku merasa tak mampu untuk menangkan dirinya”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

240

Pek Siau-thian segera mendengus dingin.

“Hmm! kesabaran yang luar biasa? aku rasa orang yang lain belum tentu mempunyai kesabaran

yang luar biasa, aku telah mengambil keputusan, bila hutang piutang diantara kita sudah dibikin

beres maka segera akan kuundang kemunculannya.

“Ternyata ia sudah punya perhitungan sendiri dalam hati kecilnya….” pikir Hoa Thian-hong dalam

bati, “kemampuannya menguasai dunia peralatan benar-benar bukan diperoleh dari hasil untunguntungan….!”

Berpikir sampai disini, dengan muka serius ia lantas berkata, “Jadi pangcu sudah ambil

keputusan untuk membereskan kelompok kami lebih dahulu?”

“Tentu saja!”

Paras muka Hoa Thian-hong berubah jadi serius sekali, ia berseru, “Aku minta agar pangcu

menarik kembali semua anak buahmu sebab untuk berduel satu lawan satu engkau masih bukan

tandinganku!”

Mendengar perkataan itu, Pek Siau-thian merasa amat gusar sekali tapi sesaat kemudian

pelbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya, ia teringat kembali akan beberapa kali

pengalamannya dalam menghadapi serangan maut Hoa Thian-hong, hal itu membuat

semangatnya jadi kendor.

“Bangsat cilik ia sudah pasti telah berhasil menyelami arti kata yang tercantum dalam catatan

kiam keng” pikirnya dalam hati, andaikata dugaanku tidak keliru mungkin kepandaian silatku

benar-benar sudah bukan tandingannya lagi”

Berpikir sampai disini, dia segera menggertak gigi dan mengibarkan panji Hong-lui-leng nya.

“Kalian semua mundur kebelakang!” bentaknya keras-keras.

Cukat racun Yau Sut serta Telapak pembalik langit Ho Kee-sian yang mendapat perintah itu

segera memimpin anak buahnya masing-masing untuk mengundurkan diri kebelakang, dua tiga

ratus orang jago perkumpulan Sin-kie-pang segera mengepung sekitar lembah itu dengan

rapatnya.

Kho Hong-bwee yang menjumpai keadaan tersebut jadi gusar sekali, ia segera membentak

keras, “Pek Siau-thian, engkau masih punya muka atau tidak?”

Pek Siau-thian mendengus dingin.

“Hmm! memelihara tentara seribu hari apakah persoalannya hanya punya muka atau tidak?”

“Haaah haaahh haaah perkataan pangcu memang tepat sekali” sela Hoa Thian-hong sambil

tertawa, “memelihara tentara seribu hari, yang penting adalah dipergunakan disaat yang perlu,

ini hari silahkan eng kau gunakan segenap tenaga yang kau miliki”

Kemudian sambil berpaling kebelakang dia membentak, “Hoa In>, mundur dari situ!”

Hoa In terperangah.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

241

“Bukankah lebih baik hamba berada disini saja?” serunya kemudian dengan suara terbata-bata.

“Cepat mundur dari sini! dari pada kehadiranmu merepotkan aku saja”

Hoa In melongo dan termangu-mangu, akhirnya perlahan-laha ia mengundurkan diri dari

gelanggang dan berjaga-jaga diluar arena.

Sepeninggalnya Hoa In, Hoa Thian-hong alihkan sorot matanya mengawasi Wajah Pek Siau-thian

kemudian dengan suara dingin katanya, “Dengan pedang baja ini berada ditangan sekalipun

berada diantara seriba prajurit sepuluh ribu kuda untuk menebas batok kepa la pancu bagiku

adalah suatu pekerjaan yang sangat gampang ibaratnya mengambil barang dalam saku sendiri

aku lihat lebih baik pangcu segera mengundurkan diri dari tempat ini”

Pek Siau-thian benar-benar merasa amat gusar sekali pecut lemasnya seketika dikebaskan

kedepan melepaskan serangan-serangan gencar yang mematikan.

Sejak menyaksikan keadaan ibunya dan saudara seperjuangan lainnya banyak yang mati atau

terluka, hawa amarah sudah berkobar dalam dada Hoa Thian-hong hingga mencapai keadaan

yang tak terkendalikan lagi, sekarang pemuda itu betul-betul tak mampu menahan kesabarannya

lagi.

Pemuda itu punya tujuan untuk mengalahkan Pek Siau Than, karenanya ia tunggu hingga

senjata pecut lemas pihak lawannya hampir bersarang diatas tubuhnya dan jurus serangan yang

digunakan Pek Siau-thian sudah mendekati pada akhirnya, secara tiba-tiba ia baru gerakan

pedang bajanya melepaskan serangan balasan.

Serangan yang dilancarkan kedua orang itu sama cepatnya dan hanya berlangsung dalam

sekejap mata, orang lain belum sempat mengikuti jalannya pertarungan itu, tahu-tahu cahaya

hitam berkelebat lewat dan pedang baja itu secepat kilat sudah menghantam diatas pisau

berbentuk bulan sabit yang terikal diatas pecut lemas tersebut.

“Cniing….! benturan nyaring berkumandang memecahkan kesunyian, pecut lemas yang kena

dihantam oleh pedang baja itu tiba-tiba terpental dan balik menyerang ke arah kepala Pek Siauthian

sendiri.

Sementara itu pisau berbentuk bulan sabit serta duri beracun yang terikat diatas pecut lemas

tadi, setelah termakan getaran keras dari pedang baja itu seketika patah semua jadi beberapa

bagian ibarat hujan gerimis, semua patahan dan hancuran senjata itu langsung menyambar ke

arah sekujur badan Pek Siau-thian….

Menghadapi kejadian yang sama sekali tak terduga itu, ketua perkumpulan Sin-kie-pang ini jadi

amat terperanjat sekali hingga sukmanya terasa melayang tinggalkan raganya, dalam keadaan

kritis dan berbahaya ia tidak memperdulikan soal kedudukan ataupun gengsi lagi buru-buru

badannya dijatuhkan ke arah belakang dengan gerakan jembatan gantung ia menghindari

serangan lawan lalu tubuhnya menggelinding ke samping dan meloloskan diri dengan tergopohgopoh.

Melesat menghantam tubuh Pek Siau-thian, hancuran pisau bulatan sabit serta duri beracun itu

meluncur terus kebelakang dan menyambar para jago yang berada disekeliling gelanggang.

Untung para jago yang berada disekitar gelanggang adalah jago-jago lihay berkepandaian tinggi,

kalau tidak niscaya diantara mereka ada yang roboh karena tersambar oleh senjata hancuran itu

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

242

Hoa Thian-hong merasa gusar sekali, dia tak sudi melepaskan lawannya dengan begitu saja,

melihat musuhnya berhasil lolos dari serangan yang pertama ia segera enjotkan badan dan

berkelebat kehadapan Pek Siau-thian, pedangnya berkelebat ke arah depan langsung membabat

pinggang lawan.

Serangan ini dilancarkan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, tapi enteng seakan-akan

tiada sesuatu benda apapun, sedikit pun tidak membawa suara desiran barang sedikitpun jua.

Belum sempat Pek Siau-thian bangkit berdiri, sambaran pedang itu sudah meluncur datang

menghajar pinggangnya, dalam keadaan terkesiap bercampur kaget jago tua dari perkumpulan

Sin-kie-pang ini menjerit kaget.

Dua buah serangan yang dilancarkan Hoa Thian-hong ini terlalu cepat sekali begitu cepatnya

membuat dua tiga ratus orang anggota perkumpulan Sin kis pang yang mengepung Hoa Thianhong

disekitar arenapun belum sempat melakukan sesuatu gerakan apapun.

Jikalau pemuda ini ada maksud membinasakan Pek Siau-thian, maka asal pedangnya dilanjutkan

babatannya kedepan, niscaya jago tua itu akan kehilangan jiwanya.

Mendadak, dalam benaknya terlintas bayangan tubuh dari Pek Kun-gie, pemuda itu jadi sangsi

dan ia jadi tak tega untuk melanjutkan babatannya itu.

Meskipun tak tega membinasakan lawannya, namun rasa benci dan mendendam masih

berkecamuk dalam benak si anak muda ini, pedang bajanya segera dibelokan keluar menyambar

para pelindung hukum panji kuring yang berjajar disebelah kanan, sementara kakinya

melancarkan sebuah tendangan kilat yang membuat Pek Sian Thian mendengus berat, tubuhnya

mencelat ketengah udara dan terkapar diluar gelanggang.

Traang….! Traang….! bentrokan nyaring bergema saling susul menyusul, dimana pedang bajanya

berkelebat disitulah empat lima ba tang senjata tersambar putus.

Pada waktu itulah bentakan keras bergema, orang-orang yang berkerumun diluar gelanggang

mulai mengepang dan menyerang kedepan.

Menyaksikan serangan yang dilancarkan para jago lihay itu, Hoa Thian-hong merasa gusar sekali,

pikirnya, “Kawanan manusia laknat ini sudah lama melakukan perbuatan jahat, entah berapa

orang baik dan manusia budiman yang menemui ajalnya ditangan mereka? ini hari kalau aku

tidak membantai beberapa orang diantaranya aku rasa tindakanku ini kurang adil….”

Setelah ambil keputusan dalam hati kecilnya, nafsu membunuh yang sangat tebal seketika

memancar keluar dari balik matanya sedang baja dibabat kedepan dan langsung menerjang ke

arah Cukat racun Yau Sut yang berada dihadapannya.

Menyaksikan terjangan si anak muda itu Cukat racun Yau Sut amat terkesiap sehingga keringat

dingin mengucur keluar membasai seluruh tubuhnya untung ia pandai melihat gelagat, ketika

dilihatnya paras muka Hoa Thian-hong berubah jadi menyeramkan sekali dan langsung

menerjang ke arahnya, buru-buru ia berkelebat kebelakang dan segera mengundurkan diri

kedalam gerombolan orang banyak.

Hoa Thian-hong yang amat gusar jadi tertawa keras, pedang bajanya menyambar kesana kemari

bagaikan gulungan badai salju, ia terus menerus mengejar Cukat racun Yau Sut kemanapun dia

pergi, daya serangan yang terpancar keluar dari ujung pedangnya amat dahyat dan berat

membuat siapapun tak sanggup mempertahan diri.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

243

***

Pek Siau-thian yang tulang pantatnya kena ditendang sehingga hampir saja beberapa tulangnya

patah, dengan susah payah melayang turun ditepi gelanggang dengan sepasang kaki masih

menempel diatas tanah.

Setelah berhasil merguasahi diri dan menekan rasa sakit diatas pantatnya, jago tua dari

perkumpulan Sin-kie-pang ini segera a-lihkan sorot matanya ke arah gelangang.

Ia saksikan juru pikirnya atau Kunsu dari perkumpulannya, Cukat racun Yau Sut sedang

melarikan diri terbirit-birit kesana kemari dengan penuh ketakutan, sedangkan Hoa Thian-hong

mengejar terus dari belakangnya, pedang baja yang berat menyambar kian kemari tiada

tandingan, setiap jago yang berpapasan dengannya segera mengun durkan diri atau berusaha

menghindarkan diri, bagi mereka yang agak mundur kebelakang, setiap kali senjatanya terbentur

dengan pedang baja lawan kontan patah jadi beberapa bagian dan terlepas dari cekalan,

keadaan pada saat itu boleh dibilang luar biasa sekali

Peristiwa yang berlangsung pada saat ini terjadi dalam waktu yang amat singkat semua jago

dibuat terkesiap menghadapi peristiwa tersebut, bagi mereka yang ada dibawah barak dan tak

dapat melihat jelas keadaan gelanggang sama-sama memanjat keatas meja, suara bisikan dan

pembicaraan berkecambuk jadi satu membuat suasana jadi gaduh.

Chin Pek-cuan nampak amat girang sekali, sambil mengelus jenggotnya ia memuji tiada

hentinya.

Biau-nia Sam-sian menuding kesana kemari sambil berkaok-kaok mereka paling banyak bicara

dan paling banyak tertawa.

Tio Sam-kohb tersenyum simpul dengan wajah berseri-seri mendadak ia saksikan Hoa Hujin

tetap duduk tak berkutik ditempat semula dengan nada gusar segera bentaknya, “Hong ji ayoh

cepat bimbing hujin bangun!”

Chin Wan-hong amat terperanjat, buru-buru dia bangunkan Hoa Hujin dan memayangnya agar

bisa melihat jelas keadaan ditengah gelanggang.

Ciu Thian-hau dari gunung Huang-san walaupun sedang menderita luka parah, pada saat ini ia

berdiri diatas sebuah meja, makin memandang makin emosi hingga akhirnya tak sabar lagi ia

berteriak keras, “Seng ji! bunuh saja bangsat itu sampai mampus!”

Hoa Thian-hong sendiri setelah mengejar lama sekali namun tidak berhasil menyusul Cukat racun

Yau Sut, hatinya sudah amat panas sekali apa lagi sekarang setelah mendengar teriakan

tersebut, hawa amarahnya langsung berkobar dan nafsu membunuhpun menyelimuti seluruh

wajahnya, ia tidak kenal belas kasihan lagi dalam serangan-serangan berikutnya.

Dalam sekejap mata, jeritan ngeri berkumandang tiada hentinya ibarat harimau diantara domba

tak seorangpun yang dapat membendung ataupun menahan serangan serta terjangannya.

Setelah pemuda itu melakukan pembantaian, para jago menghindarkan diri dibuatnya, dimana

pedang bajanya meyambar lewat semua orang pada menghindarkan diri dengan tergopohgopoh.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

244

Kegusaran yang berkobar dalam benak Pek Siau-thian tak sanggup dikendalikan lagi, ia tak

menyangka perkumpulan Sin kie pa?ng yang didirikan dengan susah payah dan menguasai dunia

persilatan tanpa tandingan, kini tak mampu menahan serangan seorang pemuda dengan sebilah

pedang bajanya, dalam keadaan sedih bercampur penasaran timbullah niatnya untuk berbuat

nekad dan mempertahankan hasil karya nya ini dengan pertaruhan jiwa sendiri.

Dengan cepat ia menyingkap baju dan meloloskan sepasang pedang pendek yang me-mancarkan

cahaya sangat tajam, sambil mencekalnya ditangan, jago tua itu langsung menerjang ke arah

Hoa Thian-hong.

Sementara itu posisi Cukat racan Yau Sut kian lama kian terdesak hebat dan hadangan serta

tameng yang dia andalkan pun kian menipis, tatkala dilihatnya Hoa Thian-hong mengejar terus

tiada hentinya seakan-akan pemuda itu sudah ambil keputusan untuk menghabisi jiwanya, ia

makin ketakutan dibuatnya, sampai-sampai sukmanya serasa melayang tinggalkan raganya.

Dengan cepat ia putar badan dan menerobos sedalam gerombolan manusia yang ada diluar

gelanggang.

Diam-diam Hoa Thian-hong mendengus dingin, pikirnya, “Sekalipun engkau naik kelangit atau

masuk kebumi, ini hari aku bersumpah akan binasakan dirimu!”

Pedang bajanya diayun kedepan menciptakan sebuah jalan lewat dan pemuda itu mengjar lebih

jauh.

Tiba-tiba Pek Siau-thian menerjang datang dari sisinya, sambil membentak keras jago tua itu

melepaskan satu serangan kilat ke arahnya.

Menghadapi sergapan tersebut, Hoa Thian-hong merasa amat gusar ia segera membentak,

“Kurang ajar akan kutebas dulu sebuah lehermu!”

Pedang baja digetarkan keras-keras, dengan jurus Hong ku cay thian atau burung besar terbang

di angkasa, ia balas melancarkan serangan kilat….

Tenaga dalam yang disalurkan Hoa Thian-hong dalam pedang bajanya pada saat ini dalam

kenyataan tak mungkin bisa ditandingi oleh Pek Siau-thian.

Terlihatlah pedang baja itu berkelebat lewat dengan kecepatan yang sukar dilukiskan dengan

kata-kata, meskipun dilepaskan bela kangan namun tiba disasaran lebih duluan, langsung ujung

pedangnya membabat lengan jago tua itu.

“Thian-hong….!” tiba-tiba terdengar Pek Kun-gie menjerit lengking dengan nada yang sangat

terperanjat.

Diam-diam Hoa Thian-hong menghela nafas panjang, pedang bajanya dicukil keatas berulang

kali, bukan lengan yang diarah kini, dia menghajar sepasang pedang pendek dari Pek Siauthian….

“Criing! Criing!” dua bilah pedang pendek itu tergetar keras dan segera mencelat keangkasa.

Paras muka Pek Siau-thian pucat keabu-abuan, ia berdiri terperangah ditempat semula tanpa

sanggup mengucapkan sepatah kata-pun, tubuhnya kaku bagaikan patung.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

245

Ujung baju lengan kaitannya tersambar robek dan meninggalkan sebuah bekas darah yang amat

dalam.

Sementara itu Cukat racun Yau Sut yang melarikan diri kedalam kerumunan orang banyak benarbenar

sudah pecah nyalinya, paras muka orang itu sudah berubah jadi pucat pias bagaikan

mayat, ketika ia berpaling kebelakang maka tampaklah Hoa Thian-hong telah menyusul datang

dibelakang tubuhnya.

Ia benar-benar terdesak hebat dan tak tahu ke mana ia harus pergi, dengan sangat ketakutan

sorot matanya berkeliaran kesana kemari berusaha mencari jalan keluar.

Dengan cepat Hoa Thian-hong berkelebat kedepan dan menghadang jalan pergi orang she Yau

itu, sambil tertawa dingin katanya, “Sehari engkau tak mati, berarti sehari pula ada umat

manusia di kolong langit yang mati ditanganmu!”

Pedangnya segera berkelebat kedepan dan melancarkan sebuah bacokan maut.

Cukat racun Yau Sut benar-benar sudah pecah nyali karena ketakutan, buru-buru ia gunakan

gerakan keledai malas bergelinding ditanah, dengan menggelinding bercampur merangkak ia

menyingkir sejauh satu dua tombak keluar gelanggang.

Dalam perkiraan Hoa Thian-hong, Cukat racun Yau Sut pasti tak akan berhasil lolos dan bacokan

pedangnya itu, maka dalam serangan tersebut ia tidak menggunakan seluruh tenaga yang

dimilikinya, tak nyana ternyata orang itu begitu sudi menggunakan gerakan yang paling rendah

dan memalukan itu untuk menghindarkan diri.

Si anak muda itu jadi penasaran sekali, dengan cepat badannya berkelebat kedepan dan sekali

lagi melancarkan serangan yang mematikan.

Keadaan dari Cukat racun Yau Sat pada waktu itu betul-betul amat runyam, sukmanya terasa

melayang tinggalkan raga karena ta kutnya, dalam keadaan kritis dan jiwanya terancam bahaya

ia lupa akan segala-galanya, yang dipikirkan saat ini hanyalah bagaimana caranya selamatkan

selembair jiwanya dari ancaman tersebut.

Mendadak ia putar badan dan kabur ke arah barak dimana kelompok manusia-manusia aneh

bermuka setan berkumpul, sambil lari mendekati kelompok manusia aneh itu jeritnya berulang

kali.

“Kaucu…. tolonglah aku! kaucu…. tolonglah aku!”

Terperangah Hoa Thian-hong mendengar jeritan tersebut, ia segera menghentikan gerakan

tubuhnya dan lupa untuk mengejar lebih jauh.

Keadaan itu benar-benar sangat aneh bampir saja membuat para jago yang hadir dilembah Cubu-

kok itu jadi tertegun dibuatnya, semua orang tahu bahwa Cukat racun Yau Sut adalah kunsu

atau juru pikir dari perkumpulan Sin-kie-pang, berada dihadapan umum bukannya ia minta

tolong kepada pangcu perkumpulannya, malahan minta tolong kepada orang lain.

Hal ini dengan cepat memberi keterangan kepada semua orang, bahwasanya Cukat racun Yiu Sit

bukan lain adalah mata-mata yang dikirim kelompok manusia aneh itu untuk menyelinap

kedalam tubuh perkumpulan Sin-kie-pang….

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

246

Sementara itu tampaklah Cukat racun Yau Sut telah kabur kedalam barak tersebut, tiba-tiba ia

jatuhkan diri dan berlutut dihadapan kelompok manusia aneh itu sambil beteriak keras, “Kaucu….

tolonglah aku! kaucu….”

“Bangsat! manusia laknat!” maki Pek Siau-thian dengan penuh kegusaran.

Bersamaan dengan diutarakannya bentakan itu, bagaikan anak panah yang terlepas dari

busurnya ia menerjang maju kedepan, segenap tenaga dalam yang dimililiknya dihimpunnya

kedalam telapak lalu dihantam keatas balok kepala Cukat racun Yau Sut dengan sepenuh

tenaga….

“Praakk….!” diiringi suara benturan nyaring, batok kepala Cukat racun Yau Sut terhajar sampai

hancur berantakan, isi benak nya tercecer di mana-mana mengotori seluruh badan Pek Siauthian.

Pada waktu itulah seorang manusia aneh berbadan bagaikan prajurit setan tampil ke depan,

ditangannya ia membawa gembrengan dan sebuah alat pukulan dan alat tersebut dibunyikan

bertalu-talu.

Suara gemblengan yang berat dan mantap bergema diselurub lembah, membuat suasana kacau

yang semula menyelimuti lembah Cu-bu-kok per lahan-lahan pulih kembali dalam keheningan.

“Breeenng-….! Breenng….! Breeenng….” bunyi gembrengan bergema tiada hentinya, suara yang

keras memancar seluruh lembah Cu-bu-kok dan mendengung ditelinga setiap orang, begitu keras

suaranya hingga terasa amat memekikkan telinga.

Ketika suara gembrengan itu berbunyi untuk ketiga kalinya dari antara rombongan pelindung

panji kuning perkumpulan Sin-kie-pang tiba-tiba melangkah keluar tiga orang jago dengan

tindakan yang lebar mereka tinggalkan barisan dan langsung menggabungkan diri dengan

rombongan para jago dari perkumpulan Kiu-im-kauw tersebut.

Ketika Pek Siau-thian mengamati ketiga orang yang keluar barisan itu ternyata mereka adalah

Che It Hun, Lim Kui serta Ke Teng Pok.

Ketiga orang itu disebut orang sebagai Kui im sam kui atau tiga setan dari per kumpulan Kiu-imkauw,

dahulu memang merupakan anak buah dari perkumpulan Kiu-im-kauw.

Sewaktu mereka menggabungkan diri dengan perkumpulan Sin-kie-pang, secara terus terang

ketiga orang itu sudah menjelaskan asal usul mereka dan Pek Siau-thian pun telah mengetahui

siapa yang sedang dihadapi.

Sekarang, meskipun dalam hati merasa gusar sekali karena ketiga orang jago itu berlalu tanpa

pamit, namun hawa amarahnya masih dapat dikendalikan.

Siapa tahu setelah ketiga orang itu keluar barisan, tindakan itu diikuti pala oleh dua orang lain,

melanjutnya disusul pula oleh delapan orang. Dibelakang delapan orang itu mengikuti satu

orang, setelah satu orang mengikuti pula dua orang….

Jilid 13

PERISTIWA itu berlangsung amat mendadak dan sama sekali diluar dugaan siapapun, belum

pernah Pek Siau-thian mengalami pukulan batin seberat ini, ia saksikan dari barisan pelindung

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

247

hukum panji kuning secara beruntun sudah empat puluh orang yang keluar barisan dari barisan

tiga ruangan luar dalam pun ada tiga puluh orang lebih yang tinggalkan barisan.

Orang-orang itu bagaikan dicabut sukmanya oleh raja akhirat seonang demi seorang keluar

barisan dengan sangat teratur dan mengikuti irama gembrengan yang bergema di angkasa,

pandangan mereka lurus kedepan dan tak pernah celingukan kemana-mana, setelah tiba

dihadapan Tiam cu istana neraka para jago itu berdiri tegak dengan muka serius dan penuh rasa

hormat.

Sekarang Pek Siau-thian dapat memahami apa yang telah terjadi, urutan orang-orang itu

tinggalkan barisan ternyata persis mengikuti urutan mereka bergabung kedalam perkumpulan

Sin-kie-pang, mereka yang masuk perkumpulan Sin-kie-pang lebih dahulu sekarang tinggalkan

barisan lebih dahulu, dan mereka yang akhir masuk perkumpulan seka rang tinggalkan pula

perkumpulan pada urutan yang terakhir, semuanya disiplin dan sedikitpun tidak nampak kacau.

Menanti suara gembrengan itu sudah dibunyikan untuk kelima belas kalinya, watku itulah baru

tak nampak ada manusia yang tinggalkan barisan, namun diantara jago-jago lihay yang masih

tersisa dalam barisan pelindung hukum panji kuning perkumpulan Sin-kie-pang hanya tinggal dua

puluh orang saja, bila berbicara tentang ilmu silat mereka, maka orang-orang itu hanya dapat

dikatakan sebagai kelas dua belaka.

Rasa gusar, penasaran dan mendongkol yang berkecambuk dalam dada Pek Siau-thian sukar

dilukiskan dengan kata-kata, dalam keadaan sedih bercampur malu mendadak ia rampas sebilah

golok dari tangan seorang jago yang berada disisinya kemudian langsung digorokkan ke arah

leher sendiri.

Kebetulan sekali Kho Hong-bwee berada d dekat suaminya, menyaksikan perbuatannya yang

nekad itu, dia jadi amat terperanjat untuk menyelamatkan jiwanya terang sudah tidak sempat

lagi perempuan itu segera menjerit keras, “Sau Tha!!!”

Tiba-tiba Hoa Thian-hong tertawa tergelak.

“Haaah…. haaah…. haaah…. Sau Tha artinya masih muda tapi segalanya sudah tahu. Nah!

akhirnya toh engkau harus menelan kekalahan yang begitu pahit!”

Laksana kilat ia menerjang maju kedepan dan telapaknya langsung berkelebat merampas golok

itu.

Rasa malu dan gusar berkecamuk dalam dada Pek Siau-thian, sepasang matanya tiba-tiba

melotot besar dan dua titik darah kental mengalir keluar membasahi pipinya, dengan penuh

kemarahan, ia mendelik ke arah Hoa Thian-hong dari sikapnya yang ganas seakan-akan ia

hendak melancarkan terjangan.

Tiba-tiba Kho Hong-bwee membentak nyaring.

“Hoa Thian-hong engkau benar-benarr terlalu keji.

Merah padam selembar wajah Hoa Thian-hong, ia teringat kembali akan peristiwa dimana Pek

Kun-gie secara nekad terjunkan diri kedalam jurang tak terasa lagi hatinya jadi lunak dan

pemuda itu jatuhkan diri berlutut dihadapan Pek Siau-thian dan menjalankan satu kali

penghormatan besar.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

248

Meskipun bibirnya berkemak kemik namun tak sepatah katapun yang dapat diutarakan pemuda

ini.

Pek Siau-thian menggertak giginya kencang-kencang perasaan hatinya sangat kalut dan serba

salah, dalam keadaan seperti itu ia segera melengos ke arah lain.

Tiba-tiba satu jeritan yang lengking dan keras amat memekikkan telinga bergema diseluruh

angkasa.

“Kaucu muncul dalam mimbar!”

Bersamaan dengan berkumandangnya seruan itu, semua anggota perkumpulan Kiu-im-kauw

sama-sama bangkit berdiri dan menyingkir keke dua belah samping, sementara bocah

perempuan berbaju warna-warni dan berkuncir panjang dibelakang tandu segera tampil ke

depan dan menggulung horden dimuka tandu itu.

Dalam waktu singkat suasana dalam lembah diliputi kesunyian serta kebeningan yang

mencekam, beribu-ribu mata sama-sama dialih kan ke arah tandu megah tersebut, setiap orang

merasakan suatu perasaan tegang yang sangat aneh.

Tiba-tiba dari balik tandu melangkah keluar seseorang, dia adalah seorang perempuan

berperawakan tinggi besar dan bermuka bulat bagaikan bulan purnama.

Rambut perempuan itu masih berwarna hitam pekat dan terurai sepanjang bahu. Ia mengenakan

seperangkat jubah lebar berwarna hitam pekat, tangannya memegang sebuah tongkat hitam

yrng berat dan berukirkan sembilan buah kepala setan perempuan pada bonggol atasnya, setiap

ukiran kepala setan perempuan itu berambut panjang, bergigi taring dan kelihatan seram sekali,

sedang kepala setan yang berada dipaling atas melukiskan raut wajah yang hampir mirip dengan

wajah Kiu-im Kaucu tersebut, hanya saja Kiu-im Kaucu itu kecuali berwajah pucat pias dan

bermata menyeramkan mukanya kelihatan menggidikan hati siapapun yang memandang.

Ketika perempuan baju hitam itu keluar dari tandunya thamcu istana neraka beserta seluruh jago

lainnya termasuk Che It Hun sekalian yang baru saja menggabungkan diri segera jatuhkan diri

berlutut sambil berseru lantang.

“Hamba sekalian menunjuk hormat untuk kaucu!”

Dengan sorot mata yang tajam bagaikan kilat, Kiu-im Kaucu menyapu sekejap ke arah semua

anak buahnya yang berlutut diatas tanah kemudian sambil mengetuk tongkat kepala setannya ia

berjalan menuju kekursi kebesarannya.

Dari sikapnya yang agung dan seram serta langkahnya yang berat dan mantap, Hoa Thian-hong

menyadari bahwa ilmu silat yang dimiliki ketua perkumpulan Kiu-im-kauw ini sangat lihay dan

otakpun licin sekali, dia merupakan seorang musuh yang sulit dihadapi.

Menggunakan kesempatan dikala Kiu-im Kaucu sedang berjalan menuju kekursi kebesarannya,

pemuda itu segera kembali kedalam barak dimana para pendekar berkumpul

Sementara itu Hoa Hujin dan Kiu-tok Sianci sekalian duduk bersanding pada barisan terdepan

sedangkan Biau-nia Sam-sian sekalian kaum angkatan muda duduk dibelakangnya.

Hoa Thian-hong langsung masuk kedalam barak dan memberi hormat kepada para angkatan tua

yang duduk didepan, sebelum ia sempat mengucapkan sesuatu mendadak Siang Tang Lay

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

249

berbisik dengan suara lirih, “Anakku tahukah engkau pedang emas tersebut kini terjatuh

ditangan siapa?”

“Aku sama sekali tak tahu!”

“Bukankah dalam saku Yau Sut terdapat sebilah pedang emas” sela Tio Sam-koh dari samping.

“Oooh! pedang emas itu palsu” tukas Siang Tang Lay dengan cepat.

Sesudah berhenti sebentar, kepada Hoa Thian-hong ujarnya dengan wajah serius.

“Engkau harus ingat baik-baik, Kitab kiam keng peninggalan malaikat pedang Gi Ko tersimpan

didalam pedang bajamu itu, pedang baja murni ini sangat kuat dan keras sekali, tapi pedang

emas itu merupakan senjata tertajam di kolong langit, hanya pedang emas itu saja yang mampu

mematahkan pedang bajamu serta mengambil Kitab Kiam keng yang tersimpan didalamnya”

Hoa Thian-hong merasa amat terperanjat, dia angkat pedang bajanya dan diamat-amati dengan

seksama.

Tiba-tiba terdengar bocah perempuan berkuncir panjang yang berdiri disamping Kiu-im Kaucu

berseru kembali dengan suara lantang, “Ku Ing-ing, harap menerima perintah!”

Serentetan suara sahutan yang merdu bergema dari arah mimbar, disusul munculnya Giok Teng

Hujin serta Pui Che-giok dua orang.

Semua orang terperangah dibuatnya dan diam-diam mengeluh atas kebodohan sendiri, walaupun

pertarungan sudah berlangsung beberapa hari, ternyata tak seorang manusiapun yang masih

ingat dengan perempuan misterius itu.

Kiu-tok Sianci mengerutkan dahinya, kemudian berkata, “Lan hoa, coba sadarkan orang-orang

yang menggeletak ditanah, coba lihat diantara mereka masih terdapat mata-mata dari

perkumpulan Kiu-im-kauw?”

Lan-hoa Siancu terima perintah dan langsung keluar dari barak, dia ambil sebuah botol dan

menciumkan obat pemunah itu di ujung hidung setiap orang yang terkapar di situ.

Pengaruh kabut racun Kiu tok ciang datang amat cepat, dalam waktu singkat semua orang sudah

sadar dan sama-sama menggabungkan diri ke arah Pek Siau-thian.

Diantara orang-orang itu ada lima orang pelindung hukum panji kuning yang tiba-tiba berhenti

berlari setelah menjumpai kehadiran Kiu-im Kaucu disitu, mereka segera putar badan dan kabur

menuju kebarak orang-orang Kiu-im-kauw.

Dalam pada itu Giok Teng Hujin dengan tangan kiri membopong Soat-ji makhluk aneh

kesayangannya, tangan kanan memegang sumbu obat peledak, perlahan-lahan ia berjalan

kehadapan Kiu-im Kaucu kemudian jatuhkan diri berlutut.

“Tecu Ku Ing-ing dengan membawa serta budak tecu yang bernama Che Giok mengunjuk

hormatt buat kaucu”

Kiu-im Kaucu tertawa dingin tiada hentinya.

“Heeeh…. heeeh…. heeeh…. engkau bagus, engkau bagus, engkau tidak bagus!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

250

Paras muka Giok Teng Hujin berubah hebat, sambil tundukkan kepalanya ia berkata, “Thian Ik-cu

telah mengatur siasat busuk dalam lembab Cu-bu-kok ini, dia sudah menanam obat peledak di

mana-mana dan siap diledakan apabila situasi pertarungan tak menguntungkan pihaknya hingga

semua orang yang hadir dalam lembah ini mati konyol semua, tecu telah berhasil menggagalkan

siasat busuknya itu”

“Oleh karena itulah aku mengatakan engkau bagus” sahut Kiu-im Kaucu dengan suara hambar.

Pek Siau-thian yang mendengar perkataan itu perasaan hatinya kembali berubah ia tak

menyangka pertemuan besar Kian ciau tayhwee yang penuh dengan persoalan dan peristiwa

diluar dugaan ternyata masih tersembunyi suatu hawa nafsu membunuh yang membahayakan

jiwa setiap orang, diam-diam ia merasa sudah beruntung dapat hldup sampai waktu itu, kalau

masih mempunyai pikiran dan ambisi yang besar untuk menguasai jagad sebetulnya pikiran itu

terlalu kelewat batas.

Tiba-tiba terdengar Thian Ik-cu berseru dengan suara keras, “Ku Ing-ing! hubungan diantara kita

toh erat sekali, kapan sih aku pernah menyia-nyiakan dirimu?”

Giok Teng Hujin yang masih berlutut dihadapan Kiu-im Kaucu berubah air mukanya jadi merah

padam setelah mendengar sindiran tersebut, tapi berhubung ia jeri terhadap pengaruh kaucu nya

maka perempuan itu hanya membungkam terus dalam seribu bahasa.

Tiba-tiba dari sorot mata Kiu-im Kaucu keluar cahaya nafsu membunuh yang amat tajam, sambil

menatap Thian Ik-cu dari kejauhan, serunya, “Cara kami orang-orang perkumpulan Kiu-im-kauw

membunuh orang, sama sekali berbeda dengan apa yang kau bayangkan, andaikata engkau tak

ingin merasakan penderitaan yang lebih hebat, lebih baik tutuplah mulutmu dan jangan banyak

bicara!”

Dari nada ucapan itu dengan jelas mengartikan bahwa pihaknya telah ambil keputusan untuk

mencabut nyawa Thian Ik-cu.

Panglima perang yang baru saja menderita kalah, seringkali memang nyalinya jauh lebih kecil,

ketika Thian Ik-cu dipelototi oleh Kiu-im Kaucu dari tempat kejauhan, dia merasakan sorot mata

lawan begitu tajam bagaikan anak panah yang menembusi ulu hatinya, tanpa sadar sekujur

badannya gemetar keras dan bulu kuduknya pada bangun berdiri, ia segera membungkam dalam

seribu bahasa.

Giok Teng Hujin merasa makin ngeri dan takut tatkala dilihat Kiu um kaucu tidak memerintahkan

dirinya untuk bangkit berdiri, dalam gelisah dan cemasnya ia segera berseru, “Tecu yang

mengemukakan siasat dengan budak tecu, Che Giok menyaru sebagai Kun Gie untuk membunuh

putra Jin Hian serta mencari pedang emas, dan karena siasat itu pula tiga kekuatan besar terjadi

perpecahan….”

Tiba-tiba terdengar Jin Hian menengadah dan tertawa seram, suaranya begitu seram penuh

kesedihan dan rasa dendam, begitu kerasnya suara tertawa itu membuat lembah Cu-bu-kok

bergetar keras suasana tegang dan sedih menyelimuti seluruh angkasa.

Jin Hian makin tertawa makin keras, kutungan lengan kirinya yang telah dibalut kini merekah

kembali hingga darah segar m ngucur tiada hentinya, mendadak ia muntah darah segar….

Dipihak lain secara diam-diam Thian Ik-cu telah melepaskan pedang mustika Poan liong kiam nya

dan diserahkan ketangan Pia Leng-cu sambil berbisik penuh kegelisahan, “Pedang emas itu

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

251

tersimpan dalam pedang mustika ini, harap susiok segera melarikan diri, selewatnya hari ini baik

atau buruknya kita harus berusaha untuk membinasakan Ku Ing-ing perempuan sialan itu!”

Terdengar Jin Hian yang sedang tertawa seram, tiba-tiba berhenti tertawa kemudian membentak

keras, “Ku Ing-ing semoga aku diberkahi umur panjang, akan kulihat bagaimanakah akhir

hidupmu?”

“Hmm! mati hidup anak murid perkumpulan kami berada dalam genggamanku!” seru Kiu-im

Kaucu dengan nada menyeramkan, raja akhiratpun tak kuasa menguasai kematian mereka,

apalagi engkau….

Bicara sampai disini, tiba-tiba ia saksikan Pia Leng-cu yang berada dalam barak seberang sedang

mengenakan pedang mustika dengan sikap yang tergesa-gesa, kecurigaannya segera timbul dan

ia membentak keras, “Ku lng Ing! dimanakah pedang emas itu?”

“Dalam pedang mustika Poan liong kiam milik Thian Ik-cu!”

Baru saja ucapan itu diutarakan, Pia Leng-cu dengan membawa serta pedang mustika Poan liong

poo kiam telah meluncur kedepan serentetan suara suitan nyaring bergema di angkasa, imam

tua itu langsung kabur keluar lembah.

Kiu-im Kaucu amat gusar sekali menyaksikan perbuatan imam tua tadi, sambil mengetukkan

tongkat kepala setannya keatas tanah ia membentak keras kemudian secepat kilat mengadakan

pengejaran dari belakang.

Dua orang itu satu didepan yang lain di belakang, bagaikan anak panah yang terlepas dari

busurnya langsung menerjang ke arah mulut lembah, dalam sekejap mata bayangan tubuh

mereka sudah lenyap dari pandangan mata.

Siang Tang Lay buru-buru berseru kepada Hoa Thian-hong dengan nada cemas, “Seng ji, cepat

kejar! bagaimanapun juga engkau harus merampas kembali pedang emas itu!”

Hoa Thian-hong dengan cepat melirik sekejap ke arah ibunya, lalu berpikir didalam hati, “Luka

dalam yang diderita ibu parah sekali, mungkin keselamatan jiwanya sukar dijamin, aku mana

tega untuk tinggalkan dia orang tua lagi….?”

Berpikir sampai disitu, ia segera gelengkan kepalanya dan membungkam dalam seribu bahasa.

Mendadak…. terjadi kegaduhan yang amat ramai diempat penjuru.

Rupanya Pek Siau-thian telah menyadari bahwa gelagat tak menguntungkan bagi pihaknya,

menggunakan kesempatan Kiu-im Kaucu belum kembali dari pengejarannya atas diri Pia Leng-cu,

tiba-tiba ia pimpin sisa laskar yang tergabung dalam perkumpulan Sin-kie-pang dan cepat-cepat

mengundurkan diri dari Lembah tersebut.

Jin Hian dari perkumpulan Hong-im-hwie serta malaikat kedua Sim Ciu dan nenek dewa bermata

buta, masing-masing dengan membopong seorang rekannya yang terluka, ikut kabur tinggalkan

mulut lembah tersebut.

Thian Ik-cu pun tak mau membuang kesempatan itu dengan begitu saja, ia segera perintahkan

seorang murid untuk membopong tubuhnya dan kabur keluar dari lembah Cu-bu-kok.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

252

Begitulah dalam keadaan serba kalut dan Kiu-im Kaucu belum kembali dari pengejarannya atas

Pia Leng-cu, beberapa orang pen tolan dunia persilatan yang sudah terdesak posisinya pada

melarikan diri dari sana.

Hoa Hujin sendiri diam-diam berpikir dalam hati kecilnya, “Pengaruh dan kekuatan pihak Kiu-imkauw

terlalu besar untuk dilawan, Seng ji sendiripun belum tentu bisa menandingi kepandaian

ilmu silat dari kaucu mereka, apalagi semua orang sedang terluka dan kami hanya

menggantungkan Seng ji seorang, bagaimanapun juga posisi serta situasi semacam ini sangat

menguntungkan bagi kita”

Perempuan ini cermat dalam pemikiran tegas dalam keputusan setelah ambil keputusan ia segera

berseru, “Seng ji bersiap sedia untuk buka jalan, mari kita undurkan diri lebih dahulu dari sini!”

Hoa Thian-hong paling menguatirkan keadaan luka yang diderita ibuaya, mendengar ibunya

memerintahkan mundur ia amat gembira sebab keputusan tersebut sesuai dengan maksud

hatinya.

Pemuda itu segera berlutut dan membopong ibunya diatas punggung kemudian sambil

memegang pedang bajanya ia berjalan dulu didepan barisan.

Dalam waktn singkat Chin Pek-cuan telah membopong putranya Giok Liang, Dewa yang suka

pelancongan Cu Thong membopong Bong Pay, Hoa In membopong Suma Tiang-cing, tiga orang

murid Siang Tang lay membopong tubuh suhunya keatas tandu dan mengusung tandu tersebut,

sedang Cu Im taysu menggandeng Ciu Thian-hau.

Sementara itu, sisanya masing-masing membopong dua sosok jenasah dan mengikuti dibelakang

Hoa Thian-hong segera kabur keluar dari lembah Cu-bu-kok tersebut,

Para jago itu merupakan orang-orang cekatan, setelah mereka ambil keputusan untuk pergi

maka gerakan tubuh mereka cepat sekali, tidak sampai seperminum teh kemudian, semua orang

telah meloloskan diri dari lembah itu.

Dipihak para pendekar kaum lurus, Hoa Thian-hong bergerak dipaling depan membuka jalan

sedang Kiu-tok Sianci mengikuti dibarisan paling belakang, tentu saja orang-orang perkumpulan

Kiu-im-kauw lebih-lebih tak berani menghadang jalan pergi mereka.

Sesudah keluar dari lembah, buru-buru Hoa Thian-hong bertanya, “Ibu, kita akan pergi kemana?”

“Bergerak dulu ke kota Cho ciu!”

“Aaaah benar, kita memang harus kembali keperkampuan Liok Soat Sanceng yang sudah lama

ditinggalkan” pikir Hoa Thian-hong didalam hati.

Ia segera perkencang larinya dan meluncur ke arah depan tanpa lengah barang sedikitpun.

Tiba-tiba terdengar Chin Pek-cuan membentak keras, “Seng ji, lambat sedikit larinya!”

Buru-buru Hoa Thian-hong mengiakan ia segera perlambat larinya dari keadaan semula.

Meskipun pemuda itu sudah memperlambat gerakan larinya, namun buat Chin Pek-cuan serta

Biau-nia Sam-sian sekalian masih tetap tak sanggup untuk menyusul.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

253

Diantara mereka, Li-hoa Siancu yang paling payah, dengan nafas tersengkal-sengkal ia segera

percepat larinya melampaui Hoa Thian-hong dan menghadang dihadapan si anak muda itu,

sehingga terpaksa pemuda itu harus mengurangi gerak cepatnya.

Pada saat itu tengah hari baru saja lewat, sang surya memancarkan sinarnya dengan amat

panas, setelah berlari-larian beberapa waktu lamanya tubuh mereka semua telah basah kuyup

oleh air keringat.

Tiba-tiba Lan-hoa Siancu merasakan perutnya gemerutuk tiada hentinya, ia segera teringat satu

urusan, dengan cepat tegurnya, “Siau long, hari ini tanggal berapa?”

“Entah, aku sendiripun tak tahu?”

Kiu-tok Sianci yang berada didekatnya segera menyambung, “Ini hari tanggal delapan belas, ada

apa sih?”

“Yaaa ampun! aku sudah tiga hari tiga malam tak makan sesuatu apapun” seru Lan boa siancu

setengah berteriak.

Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, semua orang segera merasakan perutnya sangat

lapar, begitu haus dan laparnya sehingga hampir saja tak tertahankan.

Tiba-tiba Cu Im taysu mengheta nafas panjang dan berkata, “Aaai….! pertamuan besar Kian ciau

tayhwee telah berlangsung selama tiga hari tiga malam lamanya, kalau diingat kembali

pertarungan ini mungkin merupakan suatu pertarungan yang paling panjang”

“Aaai….! ucapanmu memang benar” sambung Ciu Thian-hau dengan suara berat, andaikata tidak

murcul manusia-manusia setan dari perkumpulan Kiu-im-kauw, mungkin dalam sekali gebrakan

Seng ji dapat menumpas habis sisa-sisa kekuatan dari perkumpulan Sin-kie-pang dan dunia

persilatanpun akan menjadi tenang kembali.

“Walaupun kita gagal mengusir kaum penjahat dari muka bumi, sedikit banyak perkumpulan

Hong-im-hwie dan Thong-thian-kauw berhasil ditumpas, hasil yang kita peroleh itu sudah cukup

memuaskan hati pin ceng,” sambung Cu Im taysu.

“Hmm!” Tio Sam-koh mendengus penuh kegusaran, “seorang manusia laknat telah lenyap,

muncul manusia laknat lain, apa yang engkau puaskan….?”

Tiba-tiba ia membentak keras, “Seng ji kurang ajar….!! engkau memang telur busuk”

Hoa Thian-hong jadi melongo ketika secara mendadak ia dicaci maki nenek tua itu, dengan

keheranan ia lantas bertanya, “Nenek Sam poo, kenapa sih engkau mencaci maki diriku?”

Tio Sam-koh makin gusar, teriaknya, “Tadi bedebah Pek Siau-thian hendak bunnuh diri, kenapa

engkau musti menghalangi perbuatannya itu?”

Li-hoa Siancu yang berada dibelakang, sambil mencibirkan bibirnya dia segera menyambung,

“Huuuh….! kenapa lagi? tentu saja ia memandang diatas muka Pek Kun-gie”

Merah padam selembar wajah Hoa Thian-hong mendengar perkataan itu, buru-buru selanya,

“Engkau keliru besar, aku berbuat demikian karena memandang diatas wajah istrinya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

254

“Huuh, engkau anggap aku tak tahu siapakah istrinya itu? bukankah dia calon mertuamu?” sindir

Li-hoa Siancu lebih jauh sambil tertawa dingin.

Dewa yang suka pelancongan Cu Tong tertawa terbahak-bahak.

“Haaah…. haaah…. haaah…. setia kawan yang diperlihatkan Kho Hong-bwee patut dipuji, kita

harus menghormati kepribadiannya yang luhur”

Hoa Hujin yang selama ini membungkam terus, tiba-tiba berkata, “Jikalau orang-orang pihak Kiuim-

kauw melakukan pengejaran satu-satunya jalan yang bisa kita lakukan adalah melawan

dengan sepenuh tenaga, bagaimanapun juga kita bukan lagi melarikan diri, lebih baik cari dulu

sebuah dusun setelah makan kenyang baru kita lanjutkan kembali perjalanan kita.”

Lan-hoa Siancu segera berseru, “Ucapan hujin tepat sekali, Siau long dimanakah ada dusun?”

“Siaute tidak tahu!”

“Haaah! engkau ini segala apapun tidak tahu, yang engkau ketahui cuma bagaimana caranya

melindungi Pek Kun-gie.”

Hoa In tak tega majikan mudanya dibuat bulan-bulanan oleh sekawanan gadis Biau itu, dengan

cepat ia maju kedepan sambil berkata, “Hamba tahu, disebelah depan sana ada sebuah kota

kecil!”

Ketika semua orang teringat akan makan dan minum tanpa sadar perjalanan dilakukan jauh lebih

cepat, kurang lebih setengah jam kemudian sampailah mereka disebuan kota kecil.

Meskipun kota kecil tapi disitu terdapat sebuah rumah makan, setelah Hoa In membawa semua

orang kerumah makan itu ia pergi seorang diri untuk membeli peti mati.

Setelah peti mati tersedia beberapa orang itu segera mengebumikan jenasab dari It sim hweesio

sekalian beberapa orang, menghadapi rekan-rekan mereka yang telah gugur dalam keadaan

mengenaskan semua orang merasa amat bersedih hati terutama Harimau pelarian Tiong Liau

yang hampir pada saat yang bersamaan kehilangan istri dan putranya yang tercinta, kesedihan

hatinya benar-benar sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Untung semua orang adalah pendekar-pendekar sejati yang berhati lapang dalam menghadapi

pertarungan tersebut pada dasarnya semua orang telah membawa tekad untuk berjuang hingga

titik darah penghabisan serta membasmi perkumpulan Hong Im twee, Sin-kie-pang serta Thongthian-

kauw, yang hidup merasa bersukur karena masih dapat melanjutkan hidup sebaiknya yang

gugurpun berkorban dengan terpuji setelah bersedih hati beberapa waktu lamanya, perasaan

hati merekapun menjadi lapang kembali seperti sedia kala.

Daun Leng-ci mustika yang masih tersisa tinggal selembar daun belaka, tapi Suma Tiang-cing,

Chin Giok-liong dan Bong Pay tiga orang sama-sama menderita luka dalam yang amat parah,

karena itu selembar daun mustika itu dibagikan kepada mereka bertiga untuk dimakan, hingga

saat itu masih tertidur nyenyak dan tak pernah sadar barang sebentarpun jua.

Siang Tang Lay dan Ciu Thian-hau sendiri walaupun isi perutnya terluka sangat parah, tapi

dengan dasar tenaga dalam mereka berdua yang amat sempurna, asal bersemedi beberapa hari

saja niscaya luka itu dapat di sembuhkan dengan sendirinya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

255

Justru diantara mereka keadaan Hoa Hujin yang termasuk paling payah, segenap tenaga

dalamnya telah ludas, ilmu silatnya punah dan luka racun yang didcitanya dahulu mulai kambuh

kembali, keadaannya paling serius dan gawat diantara yang lainnya.

Kiu-tok Sianci kecuali ahli dalam bidang obat-obatan beracun, iapun menguasai dalam ilmu

pengobatan, setelah mengisi perut dia segera memeriksa keadaan luka yang diderita Hoa Hujin

serta mengobati penyakitnya itu.

Setelah ribut sampai sore hari, akhirnya semua persoalan dapat diatasi dan para jago pun

bersama-sama kumpul dalam ruangan untuk merundingkan gerakan mereka selanjutnya.

Hoa Hujin memandang sekejap ke arah Kin tok sian ci, kemudian sambil tertawa ujarnya, “Putra

ku pernah berhutang budi kepada Sian ci dan ini hari berkat pertolonganmu semua orang

berhasil lolos dari bencara tersebut, bukan saja kami ibu dan anak merasa amat berterima kasih

sekali atas penolonganmu itu, aku rasa semua orang yang hadir disinipun mempunyai perasaan

yang sama”

Mendengar perkataan itu, Kiun tok sian ci tertawa.

“Aaah! hujin terlalu sungkan-sungkan, kita toh mempunyai pandangan dan cita-cita yang sama,

tak apa kalau kita saling bantu membantu”

Hoa Hujin tersenyum.

“Aku tahu kalau sian ci paling tak suka mencampuri urusan keduniawian, aku lihat lebih baik

engkau segera pulang ke wilayah Biau saja karena urusan disini sudah selesai dan aman bila lain

waktu ada kesempatan aku orang she Bun pasti akan berkunjung kesitu.

“Ibu! bagaimana dengan luka racunmu?” tukas Hoa Thian-hong darin samping, “sian nio paling

sayang kepada ananda….”

“Sian ci telah tinggakan resep obat kepadaku, asal kita belikan obat itu bukankah lukaku akan

sembuh?” sela Hoa Hujin sambil tertawa.

Sesudah berhenti sebentar ia melanjutkan.

“Sekarang engkaupun telah lerhitung seorang pendekar kenamaan dalam dunia persilatan, lain

kali kalau ingin menyelesaikan sesuatu masalah maka engkau harus mengutamakan soal cengli

lebih dulu janganlah urusan pribadi maka engkau merampas cengli dengan emosimu itu!”

“Ananda akan ingat selalu nasehat dari ibu” sahut Hoa Thian-hong sambil tertawa riku.

Sementara itu Kiu-tok Sianci telah tertawa santai lalu berkata, “Chin loo enghiong, putri

kesayanganku itu akan kau ajak pulang ke kota Keng ciil ataukah ikut aku pulang ke wilayah

Biau?”

“Haahh…. haahh…. haahh….” Chin Pek-cuan tertawa terbahak-bahak, “selamanya perempuan

mondong keluar, sejak dari permulaan aku telah berikan putriku ini kepada orang lain”

Kiu-tok Sianci kembali tersenyum, “Hong ji, inginkah engkau pulang ke wilayah Biau dan belajar

warisan ilmu kepandaianku?”

“Ingin!” sahut Chin Wan-hong lirih, kepalanya ditundukkan rendah-rendah.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

256

Jawaban tersebut diutarakan dengan suara yang lirih dan lembut bagaikan bisikan nyamuk,

semua orang tahu gadis itu sebenarnya ingin tapi tidak ingin, tidak ingin tapi sebenarnya ingin.

Tiba-siang Siang Tang Lay berkata, “Hujin, aku adalah orang yang berasal dari luar perbatasan,

bila ada perkataan yang menyumbat tenggorokanku, rasanya tak leluasa kalau tidak diutarakan

keluar”

Kita toh sesama rekan seperjuangan, bila Siang heng ingin mengucapkan sesuatu silahkan saja

diutarakan secara terus terang.

Aku tak habis mengerti, apa sebabnya hujin tak mau menganggap Hong ji sebagai menantumu?

apakah engkau benar-benar penuju dengan Pek Kun….

Buru-buru Hoa Hujin goyangkan tangannya berulang kali, sambil tertawa ia menukas.

“Aku orang she Bun amat penuju sekali dengan Hong ji, sebenarnya aku sudah ingin

menimangnya sejak dulu, tapi berhubung Hong ji masih punya harapan untuk mewarisi segenap

kepandaian dari sian ci maka aku kuatir karena soal perkawinannya ini sehingga menghilangkan

kesempatan baik tersebut baginya”

Mendengar perkataan itu, Kiu-tok Sianci segera tertawa.

“Soal itu sih tak perlu kau risaukan, anak murid wilayah Biau bisa menjadi menantu keluarga

Hoa, sekalipun tiap tahun aku harus berkunjung sekali kedaratan Tionggoan aku juga rela….”

Berbicara sampai disini, tiba-tiba paras mukanya berubah jadi amat serius serunya, “Siau long!”

Merah padam selembar wajah Hoa Thian-hong, dengan terbata-bata ia mengiakan.

Dengan nada serius Kiu-tok Sianci berkata lebih jauh, “Ibumu adalah seorang pendekar sejati

diantara kaum wanita, selamanya bertindak ia lebih mengutamakan kepentingan umum daripada

kepentingan diri pribadi, sedang aku adalah suku Biau aku mempunyai jalan pikiran yang lain

mengenai kehidupan seorang manusia, mengertikah apa yang kumaksudkan?”

Hoa Thian Hoag agak terperangah.

“Meskipun aku yang muda tidak mempunyai banyak kesempatan untuk berkumpul dengan sian

nio, tapi dalam pikiranku. Sian nio tak ada ubahnya dengan ibu kandungku sendiri”

Kiu-tok Sianci mengangguk, “Baik, akan kujelaskan kepadamu sifat suku Biau kami, bagi orang

Biau mereka lebih mengutamakan soal cinta kasih daripada kepentingan umum, kalau engkau

tak bersedia mengawini Hong jin, maka katakanlah sekarang juga, aku tak mungkin akan

membenci atau mendendam kepadamu, tapi seandainya engkau telah mengawini Hong jin

kemudian melakukan perbuatan yang mengakibatkan ia merasa sakit hati, jikalau kami orang

Biau sudah membalas dendam, maka cara dan tindakan yang kami lakukan tak akan kepalang

tanggung, kami akan gunakan berbagai cara yang terkeji untuk lenyapkan dirimu dari muka

bumi”

Selesai mendengar keterangan tersebut. Hoa Thian-hong berdiri termangu-mangu, lama sekali ia

baru berseru dengan terbata-bata, “Empek Chin adalah tuan penolong keluarga Hoa kami….”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

257

“Sekarang kita tidak membicarakan soal budi atau setia kawan, yang dibicarakan hanya soal cinta

asmara, cintakah engkau kepada Hong ji….?”

Hoa Thian-hong melirik sekejap ke arah Chin Wan-hong, lalu tanpa disadari ia mengangguk.

Li-hoa Siancu yang selama ini membungkam, tiba-tiba menimbrung dari samping, “Siau long,

cintakah engkau kepada Pek Kun-gie?”

Mendengar pertanyaan ttu, Hoa Thiao Hong berdiri tertegun dan gelabakan setengah mati,

bibirnya bergerak seperti mau mengucapkan sesuatu namun tak sepatah katapun yang meluncur

keluar.

Li-hoa Siancu jadi mendongkol sekali, segera hardiknya, “Ayoh jawab engkau cinta padanya atau

tidak?”

“Siaute!…. siaute sendiripun tak tahu apakah aku cinta padanya atau tidak!”

“Hmm! kalau tidak tahu itu tandanya engkau cinta pada budak ingusan tersebut! bukan begitu?”

seru Li hoa siansu makin naik pitam.

Lan-hoa Siancu yang berada disisinya segera ikut nimbrung dari samping.

“Kalau memang begitu urusan makin gampang untuk diselesaikan, sebentar kita berangkat dan

cari Pek Kun-gie sampai ketemu setelah gadis ingusan itu kita bunuh bukankah urusan akan

beres?”

Hoa Thian-hong kaget sekali mendengar ancaman tersebut segera pikirnya didalam hati.

“Ketiga orang budak ini sangat binal dan tak tahu aturan apa yang diucapkan dapat sungguhsungguh

dilaksanakan, waah…. kalau sampai terjadi peristiwa itu urusannya jadi runyam”

Berpikir sampai disini buru-buru ia berpaling ke arah Kiu-tok Sianci dan berseru.

“Sebagai seorang lelaki sejati aku berani menerima resiko macam apapun juga tapi aku mohon

agar sian ci jangan membinasakan diri Pek Kun-gie”

Kiu-tok Sianci menghela napas panjang.

“Aaiai…. Hujin lebih baik engkau yang selesaikan urusan ini, aku sendiripun tak tahu apa yang

harus kulakukan!”

***

“Sian Ci tak usah kuatir” sahut Hoa Hujin dengan wajah serius, “setelah putraku mengawini Hong

ji jika tindak tanduknya tidak genah dan cintanya tidak setia maka akan kuhantar sendiri batok

kepalanya ke wilayah Biau untuk diperiksa oleh sianci!”

“Kalau memang begitu akupun tak akan mengatakan apa-apa lagi!”

Hoa Hujin segera berpaling dan tegurnya, “Chin heng entah bagaimana pendapatmu?”

Chin Pek-cuan segera menengadah dan tertawa terbahak-bahak.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

258

“Haaahhh…. haaahh…. haahh…. apa yang harus kukatakan lagi?”

Sampai disitu maka urusan perjodohanpun sudah ditetapkan, Dewa yang suka pelancongan Cu

Thong sekalian segera memberi selamat kepada keluarga pihak lelaki, keluarga pihak perempuan

serta Kiu-tok Sianci, sedangkan Biau-nia Sam-sian menggoda adik seperguruannya hingga

membuat Chin Wan-hong jadi tersipu-sipu.

Setelah ribut beberapa waktu, merekapun membicarakan soal waktu perkawinan, Chin Pek-cuan

tidak memberi komentar apapun dan menurut semua pendapat yang diutarakan.

Sebaliknya Hoa Hujin yang teringat letak perkampungan Liok Soat Sanceng jauh di wilayah San

see, kalau perkawian itu diseleng garakan setelah tiba dirumah, maka hal ini pasti akan

memperlambat waktu pulang Kiu-tok Sianci ke wilayah Biau, selain itu diantara rekan-rekan

seperjuangan pun masih banyak yang terluka, pengaruh perkumpulan Kiu-im-kauw makin

mengganas sedang masa depan dunia persilatan tetap diselubungi kabut bencana, belum tentu

semua orang berminat untuk ikut menghadiri perayaan tersebut, karenanya ia ambil keputusan

daripada musti gelisah lebih baik upacara perkawinan dilakukan secepatnya.

Kiu-tok Sianci adalah seorang suku Biau, ia tidak punya pantangan atau kesulitan apa-apa kecuali

urusan Pek Kun-gie yang masih mengganjal dalam hatinya, menurut pemikirannya asal sang

murid segera melangsungkan perkawinannya dan merekapun telah menjadi suami istri maka

keadaan tersebut akan jauh lebih mantap.

Setelah berunding beberapa waktu lamanya, terakhir tiga orang itu memutuskan untuk

menyelenggarakan upacara perkawinan pada saat itu juga dalam rumah penginapan kecil jauh

diluar kota tersebut.

Dalam sekejap mata suasana dalam kedai itupun jadi ribut dan ramai, Hoa In segera pergi ke

pasar untuk siapkan lilin dan hiasan, Lan-hoa Siancu dan Tio Sam-koh menyiapkan pakaian serta

perhiasan, Li-hoa Siancu dan Ci-wi Siancu mengatur kamar pengantin, Dewa yang suka

pelancongan Cu Thong menyiapkan meja perjamuan.

Karena jumlah pembantu yang sangat kurang, Cui Im taysu seorang yang pergi membereskan

soal peti mati dan lelayon rekan-rekannya untuk dipindahkan dari depan kedai ke arah belakang,

bekerja pulang pergi dengan repotnya membuat beberapa orang itu basah kuyup oleh air

keringat….

Setelah repot seharian penuh, tatkala malam hari menjelang tiba semua persiapan pun telah

beres.

Pada malam itu juga, ruang tengah kedai bermandikan cahaya terang, Hoa Thian-hong

mengenakan jubah panjang warna merah, sedangkan Chin Wan-hong mengenakan gaun yang

gemerlapan, kecuali tidak memakai penutup kepala, dandanan mereka persis seperti pengantin

pada umumnya.

Sesudah upacara dimeja sembahyang pay ciu maka sepasang pengantin baru itupun dihantar

masuk kekamar pengantin.

Keesokan harinya, sepasang pengantin baru itu mengucapkan banyak terima kasih kepada para

cianpwee dan rekan lainnya yang ikut memeriahkan upacara itu.

Sejak pertempuran sengit dalam pertemuan besar Kian ciau tayhwee, dalam hati kecil setiap

orang sama-sama timbul suatu perasaan yang sangat aneh, seolah-olah dalam beberapa hari

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

259

yang singkat, umur mereka semua telah bertambah tua dua tiga puluh tahun kegagahan dan

semangat berkobar-kobar yang mereka perhatikan dimasa silam secara tiba-tiba lenyap tak

berbekas, setiap orang merasakan badannya lesu dan penat bahkan Ciu Thian-hau serta Tio

Sam-koh sekalian yang merupakan orang-orang gagah yang suka berterus terangpun sama-sama

berharap agar dunia persilatan dapat menjadi tenang untuk beberapa saat lamanya sehingga

memberi kesempatan buat mereka untuk mengundurkan diri dan mengasingkan diri dari urusan

dunia.

Selesai bersantap pagi, Kiu-tok Sianci memanggil sepasang pengantin baru itu dihadapannya dan

berkata, “Siau long ini hari juga aku akan pulang ke wilayah Bitu, Hong ji adalah seorang bocah

yang jujur dan setia engkau harus hati-hati merawat dirinya”

Hoa Thian-hong anggukkan kepalanya berulang kali.

“Aku yang muda tak berani menyia-nyiakan dirinya!”

“Hmm! aku tanggung engkau tak berani, sela Lan hoa sian cu dari samping.

Hoa Thian-hong dan Chin Wan-hong saling berpandangan sekejap lalu tertawa, setelah

perkawinan paras muka mereka berdua meman-carkan cahaya berkilauan, cinta kasih yang

begitu hangat dan mesrah terkandung semua dibalik senyuman tersebut membuat Biau-nia Samsian

yang menjumpai keadaan tersebut sama-sama terperangah dibuatnya.

Tiba-tiba Li-hoa Siancu berteriak keras, “Bagus sekali! setelah Hong ji punya suami, ia tak mau

suhunya serta para sunci nya lagi”

“Benar akupun merasakan juga akan hal ini” sambung Ci-wi Siancu dari samping secara tiba-tiba,

“aku merasa hubungan siau sumoay dengan diriku jadi terpaut sekali”

Chin Wan-hong jadi sangat gelisah, ia berusaha hendak membantah tapi mulutnya tergagap dan

tak sepatah katapun yang sanggup di utarakan keluar.

Melihat keadaan muridnya yang terkecil ini, Kiu-tok Sianci segera tertawa dan menghentikan

suara ribut-ribut semua orang, dari sakunya diambil keluar sejilid kitab lalu berkata, “Isi kitab isi

merupakan kepandaian ilmu tusuk jarum guna mengobati luka akibat keracunan, ambillah dan

pelajari sendiri dengan seksama, setengah tahun kemudian aku akan berkunjung lagi

keperkumpulan Liok Soat Sanceng guna mewariskan kepandaian yang lain”

Ching Wan Hong menerima kitab tersebut dan mengucapkan banyak terima kasih kepada

suhunya, Kiu-tok Sianci pun menggunakan kesempatan itu mohon diri kepada semua orang.

Tiba-tiba Siang Tang Lay berseru, “Seng ji, bagaimanakah ilmu silat yang dimiliki Kiu-im Kaucu

menurut pendapatmu?!”

Hoa Thian-hong termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian menjawab, “Aku

yang muda tak dapat menerkanya!”

Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan.

“Tongkat kepala setan yang menjadi senjata andalannya itu entah terbuat dari bahan apa? kalau

didengar dari pantulan suara ketika tongkat itu menyentuh tanah, mungkin beratnya melebihi

lima ratus kati….”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

260

“Aaah! omong kosong, pandai benar engkau ngaco belo tak karuan!” maki Lan-hoa Siancu.

Hoa Thian-hong tersenyum.

“Betul! tongkat itu berat sekali, mungkin enci tidak perhatikan dengan seksama….”

“Aaaah! ngawur, omong kosong, aku lihat tongkat itu dibawa olehnya dengan enteng sekali kami

yang ada didekatnyapun tak dengar sentuhan tongkat dengan tanah maka engkau yang ada

ditempat kejauhan malah mendengar dengan jelas?”

“Suhu kau dengar atau tidak?” tanya Ci-wi Siancu.

Aku sih tidak mendengar jawab Kiu-tok Sianci sambil tertawa, tapi aku percaya tongkat kepala

setan itu bukan benda sembarangan tongkat itu pasti berat sekali.

Kalau senjata itu benar-benar lima ratus kati beratnya tapi ia bisa membawa dengan begitu

enteng seolah-olah barang kecil, dari sini dapat diketahui kalau ilmu silatnya pasti luar biasa

sekali!” teriak Lan-hoa Siancu.

Siang Tang Lay mengangguk.

Menurut pandanganku, Kiu-im Kaucu pastilah seorang jago persilatan yang berkepandaian silat

luar biasa, bukan saja akalnya banyak dan cerdas diapun merupakan seorang manusia yang licik

dan kejam, manusia semacam ini sukar dihadapi.

“Perkataan dari lociqnpwee tidak salah, Hoa Thian-hong menanggapi, setelah orang ini

munculkan diri dalam dunia persilaan pelbagai perbuatan yang mengoncangkan dunia persilatan

pasti dilakukan olehnya, dalam keadaan demikian rasanya tak mungkin bagi kita untuk tetap

santai dan menganggur”

Emmm! orang kuno mengatakan: Setelah Thian memberikan kecerdasan kepada kita umat

manusia, maka setelah kita hidup di kolong langit kenapa musti menganggur atau bermalasmalasan!

cuma….”

Dia menyapu sekejap kawan-kawannya yang hadir disana, lalu melanjutkan, “Aku adalah seorang

manusia yang bertubuh cacad, ketika pinjam ilmu iblis pekikkan maut Hong hiat mo kang aku

telah berjanji hanya akan menggunakan satu kali saja, mulai sekarang aku tak dapat menggu

nakan kepandaian itu lagi, seandainya terjadi persoalan maka aku tak dapat memberi bantuan

apa-apa lagi”

Hoa Hujin tersenyum.

“Jadi kalau begitu, sepantasnya kalau namaku pun ikut terhapus dari dunia persilatan”

Terdengar Siang Tang Lay melanjutkan kata-katanya lebih jauh, “Kalau kita gunakan racun untuk

melukai seorang atau dua orang, maka kejadian ini merupakan suatu peristiwa yang umum dan

tak aneh tapi kalau mengandalkan benda racun untuk membirasakan segenap musuh-musuh

kita, maka kejadian itu merupakan suatu peristiwa yang melanggar hukum Thian serta

memperkosa asas perikemanusiaan, sekali pun meracuni sekelompok binatang buas hingga mati

juga merupakan tindakan kelewat kejam, oleh sebab itulah kita tak boleh terlalu

menggantungkan kemampuan Sian ci….”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

261

Kiu-tok Sianci tertawa dan segera berkata, “Persoalannya terletak pada kemampuan ilmu racun

yang kadangkala tak bisa digunakan sebagaimana mestinya kita berbicara menurut keadaan

yang kita alami kemarin, pada waktu itu kabut Kiu tok ciang milikku sudah kusebarkan pada

tingkat yang paling hebat, seandainya berada ditanah lapang yang luas atau ditempat yang

berhembus oleh angin kuat maka benda racun itu tidak akan banyak mendatangkan manfaat,

meskipun aku mempunyai ilmu racun lainnya, akan tetapi kepandaian tersebut tak dapat di

gunakan untuk mengbahapi jumlah orang yang terlalu banyak.”

Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan, “Kabut racun itu paling anti dengan api, sebab kalau

bertemu api segera akan berkobar dan musnah tak berbekas, hawa racun akan kalut dan buyar

bahkan kemungkinan besar malahan akan melukai orang-orang dari pihaknya sendiri, terus

terang saja ilmu racun itu banyak sekali penyakit dan kelem hannya, seandainya pihak lawan

mengetahui keadaan itu dengan jelas, maka sulitlah bagi kita untuk pancing mereka hingga

masuk perangkap”

“Yaa…. kalau ditinjau dari sini, bicara pulang pergi akhirnya toh untuk menghadapi perbuatan

dunia persilatan, kita masih menggantungkan diri dengan soal ilmu silat, kalau ilmu silat trak

dapat menandingi maka cepat atau lambat akibatnya akan menuju jalan kematian”

“Aku yang muda akan berlatih tekun siang maupun malam, aku harap Cianpwee sekalian

bersedia untuk menyumbangkan pula tenaga untuk bersama-sama menghadapi situasi yang

gawat dan serba susah ini” pinta Hoa Thian-hong serius.

Siang Tang Lay menghela napas panjang.

“Aaai…. yang tua dan berpengalaman telah mengundurkan diri, orang-orang yang masih hidup

sekarang tinggal beberapa gelintir saja, kami beberapa orang ini sudah tak akan memberikan

manfaat apa-apa lagi bagi dirimu”

Mendengar sampai disitu, Ci-wi Siancu baru paham dengan apa yang dimaksudkan oleh jago tua

itu, dengan alis mata berkenyit serunya tercengang, “Kenapa sih? maksud Siang locianpwee,

untuk menghadapi semua urusan dalam dunia persilatan dikemudian hari, maka sian long harus

menanggulanginya seorang diri?”

“Kalau tidak begitu lantas apa yang harus kita lakukan?”

Ciwi siancu merasa sangat tidak puas, serunya, “Kita semua….?”

Tetapi ketika ia saksikan kecuali dirinya guru dan murid serta Siang Tang Lay, para jago yang

hadir disinipun cuma beberapa orang belaka yang mungkin merupakan segenap anggota

persilatan dari golongan lurus, ia jadi terbungkam dan tak sanggup meneruskan kembali katakatanya.

Terdengar Siang Tang Lay dengan suara lantang berkata lagi, “Seng ji, seribu patah kata lebih

baik kuringkas jadi sepatah kata saja, cepat-cepatlah rampas kembali pedang emas itu dan

ambillah kitab Kiam keng dari pedang baja tersebut, menanti ilmu silatmu telah berhasil dilatih

hingga mencapai tingkatan yang tiada tandingannya lagi di kolong langit, pada saat itulah apa

yang ingin kau kerjakan dapat di laksanakan dengan leluasa”

“Terima kasih atas petunjuk dari locianpwee, aku telah memahami arti dari kata-katamu itu”

sahut Hoa Thian-hong serius.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

262

Siang Tang Lay tertawa ringan, kembali katanya, “Dan disinilah letak kunci rahasia mengapa Kiuim

Kaucu tidak terburu nafsu untuk membinasakan kita sebaliknya malah ribut untuk merampas

pedang emas itu”

“Mungkin dia kuatir kalau di kolong langit terdapat jago lihay yang memiliki ilmu silat yang lebih

tinggi dan lihay diri pada dirinya?” ujar Ci-wi Siancu.

“Tentu saja dari pada menggantungkan kekuatan anak buah lebih baik menggantungkan

kekuatan sendiri, musibah yang menimpa diri Pek Siau-thian merupakan suatu contoh yang amat

jelas sekali”

Kiu-tok Sianci tiba-tiba tersenyum sesudah memandang sekejap ke arah sepasang pengantin

baru itu, ia bangkit berdiri dan mohon diri, Siang Tang Laypun segera mohon diri pula, kepada

semua orang dan berangkat kembali ke wilayah See ih.

Hoa Hujin berusaha untuk menahan mereka, tapi setelah usahanya gagal terpaksa ia

menghantar keberangkatan mereka.

Siang Tang Lay adalah rekan seperjuangan para jago, gerak-geriknya sudah terbiasa pergi

datang tak menentu, kepergian jago tua itu tidak begitu memberatkan hati semua orang.

Lain keadaannya dengan Kiu-tok Sianci, bukan saja ia merupakan gurunya Chin Wan-hong,

dengan diri Hoa Thian-hong pun mempunyai ikatan bubungan yang sangat erat.

Biau-nia Sam-sian amat menyayangi siau sumoynya ini, sejak permulaan memandang Hoa Thianhong

sebagai saudara sendiri pula, beberapa orang yang selalu berkumpul dengan riang gembira

ini, setelah harus berpisah mereka sama-sama merasa berat hati dan segan untuk berpisah satu

dengan lainnya.

Setelah menghantar sampai keluar pintu rumah penginapan, Siang Tang Lay beserta anak

muridnya berangkat ke arah barat, sedangkan Kiu-tok Sianci beserta Biau-nia Sam-sian

berangkat ke arah barat daya, Hoa Thian-hong dan Chin Wan-hong menghantar guru dan kakak

sepergu ruan mereka hingga sepuluh li jauhnya, disitulah dengan air mata bercucuran mereka

saling berpisah.

Sesaat setelah berangkat, Lan-hoa Siancu diam-diam berpikir dalam hati kecilnya, “Pek Kun-gie

cantik jelita bagaikan bidadari sebaliknya Hong ji segan untuk mencampuri urusan itu, keadaan

semacam ini benar-benar amat membahayakan posisinya.”

Berpikir sampai disitu, ia lantas berseru, “Siau long!”

“Enci ada persoalan apa?” tanya Hoa Thian-hong dengan air mata berlinang.

Lan-hoa Siancu menarik anak muda itu ke samping lalu dengan muka serius bisiknya, “Aku

hendak memperingatkan dirimu lebih dahulu, jika engkau berani kasak kusuk mengadakan cinta

dengan Pek Kun-gie maka aku bersumpah pasti akan bunuh budak ingusan she Pek itu sampai

mampus mengerti?”

“Siaute tidak berani!”

“Aku tak mau tahu engkau berani atau tidak” tukas Lan hoa sianco cepat, “asal aku dengar

engkau adakan hubungan gelap dengan perempuan itu, maka aku akan segera bunuh Pek Kungie

secara keji, engkau pasti tahu bukan ilmu racun dari suku Biau kami tersohor karena

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

263

kelihayannya dan membuat orang yang diserang sama sekali tak bisa menghindar ataupun

bersiap sedia!”

Hoa Thian-hong termangu beberapa saat lamanya, kemudian sahutnya.

“Akan siaute ingat selalu!”

Lan boa siancu mendengus dingin, setelah dipikir sebentar agaknya ia masih merasa tidak lega

hati maka kembali Chin Wan-hong ditarik kesamping dan secara diam-diam memesan sepatah

dua patah kata kepadanya, lalu memberikan sebuah benda kedalam gengamannya, kemudian

mereka guru dan murid empat orang baru berangkat melakukan perjalanan.

Menanti bayangan punggung keempat orang itu sudah lenyap dari pandangan, Hoa Thian-hong

suami istri baru kembali kerumah penginapan sambil bergandengan tangan, pada waktu itu Hoa

Hujin sekalian sudah menunggu diluar pintu siap untuk berangkat keutara.

Dari tempat itu menuju keutara, perjalanan dilakukan dengan sangat lambat, Hoa Hujin naik

tandu, Suma Tian Cing sekalian yang terluka parah naik kereta sedangkan sisanya ada yang

menunggang kuda ada pula yang jalan kali, sedang empat buah kereta besar penuh berisikan

peti mati dengan layon dari rekan-rekan mereka yang gugur.

Suasana dalam dunia persilatan pada saat itu sangat tenang dan sepi sekali, perkumpulan

Thong-thian-kauw serta Hong-im-hwie yang baru saja terbasmi dan musnah, lebih-lebih tak ada

suara lagi sampai para anak buahnya yang berada dipelbagai daerah pun ikut lenyap tak

berbekas.

Bagi kalangan hitam, suasana semacam ini dinamakan musim meng-hindari angin ibaratnya

pohon tumbang monyet pada berlarian, tak seorang anggota komplotan dari dua buah

perkumpulan itu yang berani munculkan diri secara terus terang.

Setiap orang sama-sama menguatirkan suasana yang tenang tapi menegangkan itu orang-orang

dari perkumpulan Kiu-im-kauw belum ada yang munculkan diri secara resmi, sedang pihak Pek

Siau-thian setelah mengalami pukulan batin yang amat berat itu, pengaruh pihak Sin-kie-pang

pun kian hari kian bertambah merosot.

Sepanjang perjalanan menuju keutara, para jago tak pernah berjumpa seorang manusiapun yang

menggembol golok atau pedang hingga akhirrya pada suatu hari mendadak terjadilah suatu

peristiwa yang sangat aneh.

Kiranya kisah pertarungan dan akibat dari pertemuan besar Kian ciau Tay bwee telah tersiar

secara luas dikalangan rakyat jelata, para penduduk pada mengetahui kalau pihak pendekar

telah berhasil melenyapkan perkumpulan Thong-thian-kauw dan Hoa Im hwee dari muka bumi,

hanya saja berita yang tersiar kian lama kian menjauhi garis kenyataan yang sebenarnya, bahkan

sampai-sampai tersiar berita yang mengatakan secara bagaimana pihak pendekar bertempur

sengit selama tiga hari tiga malam sebelum akhirnya berhasil melenyapkan Thong-thian-kauw

dan Hong-im-hwie dari muka bumi.

Bagaimana pihak Sin-kie-pang tinggalkankan medan dan melarikan diri terbirit—birit, bagaimana

ada beberapa orang manusia tanpa nama yang menyaru sebagai setan dengan mengaku orangorang

dari perkumpulan Kiu-im-kauw tapi sandiwara mereka ketahuan dan ketuanya melarikan

diri terbirit-birit, sampai ada yang menyiarkan berita yang mengatakan dunia telah aman

tenteram dan bebas dan kelaliman serta kejahatan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

264

Berdasarkan berita yang tersiar itulah setiap rumah penduduk yang dilalui para pendekar ratarata

menyiapkan meja sembahyang di luar pintu rumahnya segenap keluarga menyiapkan sayur

dan arak untuk menjamu pahlawan-pahlawan, mereka keluarga kaya dan kaum bangsawan

memimpin rakyatnya menyambut kedatangan jago-jago lihay itu, nama besar Hoa Hujin sampai

Hoa In dan Harimau pelarian Tiong Liu tersohor di mana-mana dan dihormati bagaikan malaikat,

Dua wilayah yang mereka lewati semuanya menunjukkan keadaan yang sama, dengan susah

payah akhirnya toh para jago berhasil melanjutkan kembali perjalanannya namun banyak waktu

telah terbuang dengan percuma.

Dalam keadaan demikian, semua orang merasa malu dan jengah dengan sendirinya, untuk

menghindari semua keadaan seperti itu terpaksa mereka menghindari kota besar dan melewati

jalan gunung, setelah tengah malam tiba, mereka baru berani cari tempat penginapan untuk

beristirahat.

Suatu ketika sewaktu rombongan para jago masih berada beberapa li dari sebuah kota, mereka

saksikan cahaya lampa lentera menyinari sekeliling pintu gerbang kota, beratus-ratus orang

penduduk berkumpul dikaki pintu kota menantikan kedatangan mereka, hal ini segera

menyusahkan hati Hoa Hujin dan buru-buru memerintahkan semua rombongan untuk

menghentikan perjalanan.

Tiba-tiba Ciu Thian-hau loncat turun dari atas kereta, kemudian berseru, “Hujin, lo koko sekalian,

aku ingin buru-buru pulang kerumah, lebih baik kita berpisah sampai disini saja”

Setelah memberi hormat ia segera meneruskan perjalanan kabur menuju ketempat yang sepi

dan kegelapan.

Semua orang terperangah menyaksikan kejadian itu sebelum mereka sempat mengucapkan

sesuatu bayangan tubuh Ciu Thian-hau sudah lenyap dari pandangan.

Dewa yang suka pelancongan Cu Thong berpikir sebentar ketika merasakan bahwa cara itu

sangat bagus maka sambil tertawa terbahak-bahak ia segera bopoag tubuh Bong Pay sambil

berkata, “Sampai jumpa lain kesempatan, akupun ingin berangkat selangkah lebih dulu”

“Cu toako kapan kita dapat bertemu lagi?” seru Hoa Hujin dengan gelisah.

Dewa yang suka pelancongan Cu Thong tertawa.

“Kalau aku masih bernasib panjang permulaan tahun mendatang aku pasti akan datang untuk

menyampaikan tahun baru kepada hujin”

“Cu toako engau akan berdiam dimana?”

Dewa yang suka pelancongan Cu Thong segera tertawa terbahak-bahak.

Haahhh…. haahhh…. haahh…. empat penjuru samudra adalah rumahku, kalau bercokol disuatu

tempat tertentu maka bukanlah Dewa yang suka pelancongan”

Bicara sampai disitu, ia putar badan dan segera berlalu dari sana dengan cepatnya.

Hoa Thian-hong dengan cemas segera berseru, “Bong toako!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

265

Terdengar Bong Pay mengiakan tapi dalam sekejap mata bayangan tubuh Cu Thong sudah

lenyap dibalik kegelapan.

Tiba-tiba Hoa Hujin menyaksikan Suma Tiang-cing ngeloyot turun dari atas kereta, dengan muka

berubah jadi amat serius ia segera menegur, “Engkau harus ikut kami untuk kembali

keperkampungan Liok Soat Sanceng, setelah lukamu sembuh barulah boleh pergi tinggalkan

tempat ini”

“Paman!” ujar Hoa Thian-hong pula dari samping, “engkau toh sebatang kara dan tak ada urusan

apa-apa, berdiamlah selama setengah tahun dalam perkampungan kami agar keponakan dapat

memperoleh banyak manfaat darimu”

“Bukan saja kalian harus membawa sanak keluarga bahkan harus membawa pula orang-orang

yang sudah mati, perjalanan bukan saja lambat bahkan banyak urusan tetek bengek, lebih baik

aku berangkat lebih dahulu….!” seru Suma Tiang-cing tegas.

Cui Im taysu tersenyum dan segera ikut menimbrung, “Aku memangnya seorang padri yang tak

punya kuil, baiklah akan kutemani Suma loo te untuk berkelana keempat penjuru samudra!”

“Hey hweesio tua, mau ajak dia pesiar sih boleh, tapi jangan kau bujuki dirinya untuk cukur

rambut jadi pendeta lho! goda Tio Sam-koh.

“Aaah…. tentu saja, tentu saja, haahh…. haah…. haah engkau tak usah kuatir” jawab Cu Im

taysu sambil tertawa.

Suma Tiang-cing paling tidak terbiasa kalau terikat dan tak bisa bebas, ia kuatir dihadang oleh

Hoa Hujin lagi, maka dengan cepat dirampasnya kuda tunggangan dari Hoa In, lalu sekali

cemplak melari kan kuda itu cepat-cepat meninggalkan tempat itu.

Cui Im taysu yang menyaksikan kejadian tersebut, buru-buru menggerakkan senjata sekopnya

dan menyusul dari belakang.

Setelah beberapa orang itu berlalu, kini yang tersisa tinggal keluarga Hoa, Chin dan Tio Sam-koh.

Meskipun usia Chiu Pek Cuan sudah melewati setengah abad, tapi ia masih punya ibu yang masih

hidup, sebenarnya ia ada maksud untuk pulang dan merawat ibunya yang sudah tua, tapi karena

berat hati untuk tinggalkan menantu kesayangannya ini, maka ia ambil keputusan untuk

menghantar mereka hingga tiba diperkampungan Liok Soat Sanceng lebih dulu sebelum

berangkat pulang.

Tapi sekarang setelah melihat para jago berlalu sendiri-sendiri, timbul kembali keinginannya

uniuk pulang rumah, maka akhirnya ia pun mohon diri terhadap Hoa Hujin.

Dalam keadaan apa boleh buat, terpaksa Hoa Hujin mengijinkan permintaannya itu.

Menanti semua orang sudah berangkat, ia baru berpaling ke arah Tio Sam-koh sambil menyindir,

“Apakah engkau juga akan berangkat?”

Tio Sam-koh termenung dan berpikir sebentar, kemudian jawabnya, “Baiklah, aku adalah sesosok

sukma gentayangan yang tak punya sanak tak punya keluarga, akan kutemani engkau sampai

akhir hidupku nanti….!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

266

Hoa Hujin tersenyum, kepada Hoa In ia segera berkata, “Hantarlah layon dari Lie, Ma, Kwik tiga

orang jago kerumah keluarga masing-masing dan serahkan kepada anak mereka, apabila dian

tara ketiga keluarga itu sedang menjumpai kesulitan, bantu mereka hingga semuanya beres!”

Hoa In mengiakan dan segera melaksanakan perintah tersebut.

Harimau pelarian Tiong Liau yang kini hidup sebatang kara segera ambil keputusan pula untuk

selama hidup mengabdi kepada Hoa Thian-hong, kini dia sudah termasuk menjadi anggota

keluarga Hoa, maka Hoa Hujin pun memerintah dia untuk membawa ketiga layon lainnya

keperkumpungan Liok Soat Sanceng dan dikebumikan disitu.

Dua orang itu terima perintah, dan berangkatlah mereka menuju ke arah kota dengan membawa

kereta yang penuh berisikan peti mati itu.

Chin Giok Liok yang terluka parah masih belum sembuh dari lukanya itu, ia berbaring diatas

sebuah kereta besar, Chin Pek-cuan dengan menunggang seekor kuda jempolan segara

berpamitan kepada besannya, putrinya, menantunya dan rekan-rekan yang lain, setelah

menjanjikan saat pertemuan, berangkatlah kereta dan kuda itu menuju ke arah barat.

Kini yang tersisa tinggalkan Hoa Hujin, Hoa Thian-hong, Chin Wan Hoag serta Tio Sam-koh

empat orang dan sebuah kereta yang besar.

Hoa Hujin segera tinggilkan tandunya, bersama Tio Sam-koh dan Chia Wan Hong mereka naik

kedalam ruangan kereta, sedang Hoa Thian-hong duduk disisi sang kusir kereta. Demikianlah

beberapa orang itupun meneruskan kembali perjalanan mereka dengan mengitari kota tersebut.

Beberapa hari kemudian, suatu senja kereta besar itu masuk kedalam kota Cho ciu.

Di depan pintu gerbang kota tiba-tiba muncul seorang kakek tua yang menghadang jalan pergi

kereta tersebut sambil berseru, “Hoa ya, masih ingatkah engkau dengan hamba?”

“Tentu saja masih ingat” jawab Hoa Thian-hong sambil tersenyum manis, “apakah engkau adalah

pemilik rumah penginapan Teng hwat?”

Pemilik rumah penginapan itu jadi terkejut bercampur girang, buru-buru serunya, “Hamba Tio

Tiang Hwat, betul-betul pemilik rumah penginapan Teng Hwat, aaah….! sungguh tak nyana kalau

Hoa ya masih ingat dengan diri hamba….”

“Majukah usahamu?” tegur Hoa Thian-hong sambil tersenyum.

Dengan muka berseri-seri, pemilik rumah penginapan itu menjawab, “Berkat berkah dari Hoa ya,

usaha hamba masih berlangsung seperti sediakala, Hoa ya! penginapan kami telah dibangun dan

di kapuri hingga baru, apakah Hoa ya hendak menginap di rumah penginapan hamba?”

“Tentu saja rumah penginapanmu bagus sekali”

Mendengar persetujuan itu, pemilik rumah penginapan tadi jadi sangat kegirangan, dia segera

berseru, “Hey kusir, ayoh belok kekiri dan percepat lari kudamu!”

Sang kusir kereta itu, sejak permulaan sudah tahu pemuda yang duduk disampingnya adalah

seorang jago lihay yang paling tersohor di kolong langit dewasa ini, sepanjang perjalanan sudah

banyak penghormatan yang diterimanya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

267

Sekarang mendengar pemilik rumah penginapan itu menyebut dirinya dengan panggilan kurang

sedap paras mukanya jadi ketus, serunya dingin, “Didalam kereta masih terdapat lo hujin dan Tio

loo tay, kalau kularikan kereta ini cepat-cepat sehingga menggoncangkan isi kereta ini, siapa

yang akan bertanggung jawab?”

Pemilik rumah penginapan itu jadi amat terperanjat, lalu serunya, “Aaah benar, kalau begitu

biarlah aku yang membawa jalan, loo hen mari ikutilah aku”

Jilid 14

SAMBIL menyingsing jubahnya, selangkah demi selangkah berjalan pemilik rumah penginapan itu

didepan kereta untuk membawa jalan.

Sang kusirpun menyetak kudanya untuk berjalan amat lambat sambil busungkan dada dan

celingukan kesana kemari, gaya sang kusir itu seakan-akan membawa seorang sarjana yang baru

lulus ujian untuk berpawai keliling kota.

Hoa Thian-hong dibikin menangis tak bisa tertawapun tak dapat untung sepanjang jalan ia sudah

banyak pengalaman menghadapi kejadian semacam ini maka pemuda itu masih dapat menahan

sabar.

Setelah berjalan beberapa waktu lamanya kereta itupun berhenti didepan pinta gerbang rumah

penginapan Teng hwat. Hoa Thian-hong segera loncat turun dari atas kereta membuka pintu

ruangan dan mempersilahkan ibunya untuk turun.

Rupanya pemilik rumah pengiuapan telah menyiarkan berita tentang kedatangan Hoa Thian-hong

yang pernah tersohor dikota Cho ciu karena Lari racun nya dan baru-baru ini namanya makin

tersohor setelah pertarungan dilembah Co bu kok, ketika rombongan tiba dirumah penginapan

Teng hwat, tetangga disekitar tempat itu, beberapa tamu yeng berdiam dirumah penginapan

tersebut telah penuh berdesakan disamping ruangan untuk bersama-sama menonton kehadiran

sang pahlawan yang amat tersohor itu.

Begitu penuh sesak orang yang berjejal disana membuat pintu masuk rumah penginapan

tersumbat dan Hoa Thian-hong tak dapat masuk kedalam.

Terpaksa pemilik rumah penginapan harus menjura memberi hormat dan berteriak-teriak minta

jalan kepada para penonton, setelah bersusah payah akhirnya ia baru berhasil menghantar

keempat orang tamu terhormatnya ini masuk kamar

Setelah berada dalam kamar, Hoa Hujin menghembuskan napas panjang dan berkata, “Seng jil

mulai besok engkau bopong aku untuk melanjutkan perjalanan, kita harus cepat-cepat tiba

kembali dirumah”

“Aku takut teriknya matahari akan merusak badan ibu yang masih lemah….”

Tiba-tiba terdengar serentetan suara langkah manusia yang tergesa-gesa berkumandang datang,

disusul suara pemilik rumah penginapan itu bergema, “Hoa ya baru saja tiba dan masuk

kamar beliau ada dikamar sana”

Belum babis ucapan itu berkumandang pintu sudah terbuka lebar dan muncullah seorang

pemuda berpakaian ringkas langsung berlutut dihadapan Hoa Thian-hong sambil berseru terbatabata,

“Hujin, Tio loo tay, Hoa toako, enci Hoa”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

268

Sekilas memandang Hoa Thian-hong segera kenali kembali pemuda itu sebagai murid termuda

dan terkecil dari Siang Tang Lay, ia berasal dari siku Fibulo dan bernama Haputule bukan saja

keenam orang murid Siang Tang Lay dia berusia paling kecil, ilmu silat yang dimilikipun paling

lihay.

Pada waktu itu dengan air mata bercucuran, keringat membasahi seluruh tubuhnya dan muka

penuh kegelisahan berlutut diatas tanah tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Menyaksikan keadaan tersebut, Hoa Hujin jadi amat terperanjat, ia segera berkata, “Nak! ayoh

bangun dan bicaralah perlahan-lahan, apakah gurumu menjumpai mara bahaya?”

Haputule mengangguk tiada hentinya, sambil menangis dia menjawab, “Guruku telah dirampas

orang!”

“Baga’mana caranya bisa dirampas? dan siapa yang merampas dirinya?” tanya Hoa Hujin

keheranan.

“Seorang hweesio, seorang hweesio yang belum pernah kami jumpai sebelumnya….”

Dia ingin berbicara dengan lebih jelas lagi, tapi karena kurang lancar bicara dalam bahasa Han

dan lagi kalimat yang diketahui pun sangat terbatas maka meskipun hatinya gelisah bercampur

cemas, namun tak ada perkataan lain yang dapat diutarakan lagi.

Hoa Thian-hong maju kedepan dan membimbing bangun pemuda suku Fibulo tersebut,

kemudian dengan halus katanya, “Saudaraku, duduklah dengann tenang! pusatkan perhatianmu

dan ceritakan duduknya persoalan dari permulaan hingga akhir dengan jelas, jangan ada yang

kelewatan”

Buru-buru Haputule duduk diatas kursi, Chin Wan-hong menghidangkan air teh, setelah meneguk

secawan dan mengusap air mata pemuda itu berkata kembali.

“Dua hari berselang, ketika malam telah menjelang tiba kami telah sampai dikota ok yang dan

menginap disebuah rumah penginapan, ketika selesai bersantap….”

Bicara sampai disitu mendadak ia tergagap dan tak sanggup melanjutkan kembali kata-katanya.

Dengan hati iba Hoa Hujin berkata, “Jadi dalam sehari semalam engkau telah berangkat dari kota

Lok yang menuju kemari? Aaah…. engkau benar-benar amat menderita”

Air mata jatuh berlinang membasahi seluruh wajah Haputule, setelah berhenti sebentar ia

melanjutkan, “Setiap kali selesai bersantap guru pasti minum air teh dan biasahya daun teh itu

kami yang sediakan, begitu selesai bersantap akupun minta seteko air mendidih pada pelayan

rumah penginapan itu, setelah membuat air teh maka aku hidangkan kepada suhu, siapa tahu

baru saja suhu minum seteguk tiba-tiba ia muntahkan kembali air teh itu sambil berteriak,

“Dalam air teh ada setannya, hati-hati sergapan pihak musuh!”

Mendengar sampai disitu, Hoa Hujin mengerutkan dahinya dan menyela, “Bagaimana

selanjutnya?”

“Baru saja suhu selesai berteriak, dari depan pintu menerjang masuk sedrang hweesio,

sementara badan suhu mulai sempoyongan seperti mau roboh tak sadarkan diri, sekali sambar

hweesio itu segera menghempit suhu dibawah ketiaknya, kami suheng te bertiga dengan kalap

menerjang kedepan, tapi hweesio itu dengan menggunakan sebuah jurus serangan yang mirip

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

269

dengan gerakan Raja setan mengebaskan kipas, dalam sekali gebrakan saja telah berhasil pukul

roboh dua orang suhengku, diapun melarikan diri dari sana, aku akan mengejar keluar tapi

hweesio itu naik keatas atap rumah dan dalam sekejap mata lenyap tak berbekas”

Mendengar sampai disitu, Hoa Hujin, Hoa Thian-hong serta Tio Sam-koh saling berpandangan

muka tanpa mengucapkan sepatah katapun, didalam kisah tersebut terlalu banyak hal-hal yang

mencurigakan membuat timbulnya kecurigaan dalam hati mereka bertiga.

Setelah termenung beberapa saat lamanya, Hoa Thian-hong segera bertanya, “Saudaraku, coba

pikirlah kembali dengan seksama, pernahkah engkau bertemu dengan hweesio itu hari

sebelumnya?”

“Engkau harus membayangkan mulai dari orang-orang Kiu-im-kauw” sambung Hoa Hujin,

“bayangkan saja paras mukanya, jangan kau perdulikan dia adalah seorang hweesio atau

bukan!”

Mendengar perkataan itu Haputule segera membayangkan kembali setiap raut wajah para

anggota perkumpulan Kiu-im-kauw yang pernah dijumpainya, tapi dengan cepat ia gelengkan

kepalanya berulang kali.

“Bukan, dia sudah pasti bukan orang-orang dari perkumpulan Kiu-im-kauw!”

“Kalau begitu coba bayangkan orang-orang dari perkumpulan Sin-kie-pang!” sela Tio Sam-koh.

“Dari pihak perkumpulan Sin-kie-pang hanya Pek Siau-thian seorang dengan dipaksakan dapat

merampas orang dengan tangan kiri dan memukul luka dua diantara tiga orang anak muridnya

dengan satu jurus pukulan tangan kanannya” kata Hoa Hujin, “namun aku rasa hal itu terlalu

dipaksakan sekali, kalau bukan sangat kebetulan sekali tak mungkin ia bisa berhasil”

“Hweesio itu sudah pasti bukan penyaruan dari Pek Siau-thian!” seru Haputule menegaskan.

Bagaimana dari pihak perkumpulan Thong-thian-kauw? mungkinkah Pia Leng-cu? sebab dengan

ilmu kepandaian yang dimilikinya ia dapat melakukan perbuatan seperti itu!”

Kembali Haputule gelengkan kepalanya berulang kali.

“Bukan, sudah pasti orang itu bukan Pia Leng-cu, Hweesio itu bermuka runcing sedang Pia Lengcu

bermuka persegi, dan berhidung pesek, sebaliknya hweesio itu bermuka besar, Pia Leng-cu

bermata sopit, hweesio itu pendek gemuk sebaliknya Pia Leng-cu jauh lebih tinggi perawakan

tubuhnya”

Mendengar penjelasan itu, diam-diam Hoa Hujin kembali berpikir, “Bocah ini benar-benar amat

cerdik hingga melebihi orang lain, daya ingatnya pun sangat baik, kalau ditinjau dari

penjelasannya mengenai ciri-ciri Pia Leng-cu, ternyata apa yang diuraikan sama sekali tidak

keliru, kalau begitu apa yang dia uraikan atas ciri-ciri hweesio tersebut mungkin tak salah lagi,

atau berbeda pun terlalu jauh….”

Mendadak terdengar Haputule berkata lagi dengan cemas, “Selama sehari semalam ini aku telah

memikirkan persoalan ini beberapa ratus kali banyaknya, aku merasa yakin bahwa hweesio yang

sangat asing itu bukan saja tidak mirip orang-orang dari perkumpulan Kiu-im-kauw juga tidak

mirip Pek Siau-thian, tidak mirip Pia Leng-cu pun tidak mirip malaikat kedua Sim Ciu atau mirip

siapapun juga po tongan tidak mirip, paras muka tidak mirip ilmu silatpun sama sekali tidak

mirip”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar