Selasa, 06 Oktober 2009

rahasia 5

Mendengar ucapan tersebut, Yu Siau-lam merasa sangat gelisah. Dia menganggap waktu itu

belum tiba saatnya untuk mengutarakan maksud tujuan kedatangan mereka. Ia kuatir jika

suasana dibuat beku lebih dulu maka sampai saatnya nanti main kekerasan tak bisa, tentu

keadaan mereka malah akan jadi sulit sendiri.

Untunglah Cia In tidak memikirkan hal itu di dalam hati, dia tertawa cekikikan.

“Hiiii….. hiii…… hiii…. Coa-ya memang lucu benar orangnya, masa kau bandingkan aku sebagai si

penjagal dan membandingkan Hoa Kongcu sebagai babi. Hiiii….. hiiii….. perkataan Coa-ya kurang

tepat, kau musti di hukum dengan secawan arak”

Untuk mencari perumpamaan tersebut, dengan susah payah Coa Cong-gi harus memutar otak,

maksudnya dia akan membawa pembicaraan tersebut kepokok pembicaraan yang sebenarnya.

Siapa tahu perumpamaan itu telah digunakan lawannya untuk memukul diri sendiri. Untuk sesaat

dia jadi menjublak dan tak mampu berkata-kata lagi.

Yu Siau-lam sendiripun merasa agak lega setelah dilihat suasana tidak dibikin rusak oleh

persoalan itu. Cepat dia mengangkat cawan sendiri dan berkata sambil tertawa, “Nona Cia, coba

lihatlah benda apakah yang berada ditanganku ini?”

“Itukan secawan arak!” sahut Cia In rada tertegun.

“Benar, benda ini adalah secawan arak!” Yu Siau-lam membenarkan seraya mengangguk “Aku

lihat nona pun tidak berjiwa besar!”

“Eeeeh….. Apa sangkut pautnya antara cawan arak ini dengan kebesaran jiwaku?” kembali Cia

Jin disaat tertegun oleh perkataan dari si anak muda ini.

Yu Siau-lam tersenyum, ”Semula kuangkat cawan dengan maksud mengucapkan beberapa kata

yang enteng lalu baru menghormati nona dengan secawan arak. Siapa tahu nona tak pandai

mengambil kesempatan itu untuk bergurau, malah menegur aku berpandangan dan berjiwa

sempit. Adik Cong-gi segera menyambung pula dengan beberapa banyolan ternyata kau

menyindir pula. Coba lihatlah, bukankah yang pantas dihukum adalah nona sendiri? Hayo,

sekarang kau musti dihukum dengan secawan arak!”

“Aaaah….. kalian jahat, kalian jahat semua!” seru Cia In manja, “Aku tak mau kalau begitu, masa

tiga orang laki-laki gede bekerja sama untuk menganiaya seorang perempuan macam aku…..

kalian curang!”

“Haaa….. haaaa….. haa….. perkataan nona terlampau serius!”

Yu Siau-lam tertawa terbahak-bahak, “Baiklah, kalau begitu mulai sekarang kita kemukakan

larangan, barang siapa mulai dulu dengan kata-kata yang tak senonoh, maka dia harus didenda

tiga guci arak!”

“Aduuuh…. mak, aku tidak mau ikut!” Cia In menjerit keras, “Aku sudah terbiasa hidup menjual

tertawa menjual banyolan. Menyambut orang she-Thio menghantar tuan she-Li sudah menjadi

kebiasaanku sehari-hari. Dan lagi kedatangan yaya sekalian ke Gi-sim-wan toh untuk mencari

hiburan dan kesenangan. Sekalipun malam ini harus kulayani kalian sampai mabok, mencari

kegembiraan adalah soal paling penting. Jika Yu-ya betul-betul perlakukan larangan itu, akulah

yang akhirnya bakal kesal. Tidak….. tidak mau….. Aku tidak mau ikut”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

166

“Sudah….. Sudahlah! Gurauan kita stop sampai disini saja,” sela Hoa In-liong sambil tertawa,

“Minum arak barulah urusan kita yang paling penting.”

Menggunakan kesempatan itu Yu Siau-lam ikut memutar haluan mengikuti hembusan angin.

Cepat-cepat sambungnya, “Betul! Betul! minum arak barulah urusan kita yang paling penting! In

ji ayoh penuhi cawan arak. Aku akan menghormati nona kalian dengan secawan arak.”

Hakekatnya In-ji masih kecil. Ketika mendengar beberapa orang ini cekcok dan bersilat lidah, dia

hanya bisa mendengarkan dengan muka tertegun, tentu saja diapun lupa untuk menuang arak.

Sekarang setelah ditegur oleh Yu Siau-lam, dengan wajah merah jengah ia baru sadar kembali

dari lamunannya. Cepat-cepat dia mengangkat teko arak itu dan memenuhi cawan kosong dari

Cia In serta Hoa In-liong dengan wajah tersipu-sipu.

Maka barulah adegan lain yang tak kalah serunya, mereka sambil membujuk sambil saling

melotot, cawan tak pernah lepas tangan, ternyata beberapa orang itu mulai minum arak dengan

bersungguh-sungguh.

Keempat orang itu sama-sama mempunyai takaran minum arak yang besar sekali, setiap cawan

yang disodorkan kehadapannya segera diteguk hingga habis.

Cia In seperti akan mengucapkan sesuatu, tapi akhirnya maksud itu dibatalkan, dia tahu

kedatangan Hoa In-liong sekalian mempunyai maksud-maksud tertentu. Tapi tindak tanduk

mereka yang minum arak terus macam orang yang betul-betul datang untuk iseng, sangat

mencengangkan hatinya.

Entah beberapa puluh cawan sadah mereka minum, paras muka Cia In telah berubah jadi merah

seperti bunga tho. Makin merah makin merangsang tampaknya, bikin hati orang seperti dikilikkilik.

Hanya Coa Cong-gi seorang yang selalu memikirkan tujuan kedatangan mereka disana. Beberapa

kali dia ingin buka suara, tapi selalu kuatir kalau perkataannya kurang cocok sehingga

dicemooh orang, saking gelisahnya dia sampai garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

Beberapa kali dia mengerling ke arah Hoa In-liong dan Yu Siau-lam memberi tanda namun baik

Hoa In-liong maupun Yu Siau-lam seakan-akan sama sekali tidak melihat kerlingan itu, jangan

toh menanggapi, menggubrispun tidak.

Keadaan tersebut ternyata tak lepas dari pengamatan Cia In yang tajam. Sepasang alis matanya

segera berkenyit, tapi hanya sebentar saja dia sudah tersenyum kembali.

“Yu-ya sudah lama kita tak berjumpa!” katanya dengan manja.

“Yaa…! Kalau dihitung hitung dengan jari, sudah hampir tiga puluh hari lebih”

Cia In tersenyum manis. “Sepanjang perjalanan, ku selalu merasa kesepian dan tiada berkawan,

tahukah kau bahwa aku selalu memikirkan engkau?”

Yu Siau-lam mengerutkan dahinya, sesaat kemudian dia menjawab agak takabur, “Bila hati

sudah bertemu dengan hati, memang sepantasnya kalau nona Cia selalu teringat akan diriku.”

“Kalau memang begitu….. kau….. kau..… Bagaimana kalau kau tinggal disini saja!” bisik

perempuan itu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

167

Selesai berkata kepalanya ditundukkan rendah-rendah, sikapnya tersipu-sipu dan mukanya

merah padam seperti kepiting rebus.

Mendengar tawaran itu, Yu Siau-lam merasa amat terperanjat. Ia jadi terbelalak dan gelagapan

dibuatnya. “Soal ini….. Aku rasa soal ini……”

Yu Siau-lam memang seorang yang suka bermain cinta, apalagi kedatangannya kesitu adalah

menyaru sebagai laki-laki iseng yang mencari kesenangan akan tetapi ketika secara tiba-tiba ia

mendengar permintaan perempuan itu agar dia tinggal disana, sedikit banyak kejadian itu diluar

dugaannya. Ini membuat jago muda kita jadi gelagapan setengah mati.

Masih mendingan kalau ia datang tanpa tujuan. Kini maksud kedatangannya adalah untuk

menyelidiki asal-usul perempuan itu. Tidaklah heran kalau tawaran itu malahan bikin jantungnya

berdebar keras dan gelagapan dengan sendirinya.

Tiba-tiba terdengar Coa Cong-gi memukul meja keras sambil tertawa tergelak.

“Haaa….. haaa…… haaa….. Ada nona cantik yang bersedia menemani tidur. Oooh.…. Saudara

Siau-lam, aku lihat rejekimu betul-betul amat besar. Aku rasa itulah yang dinamakan orang kalau

lagi Hok-kie…”

Jilid 09

MERAH padam selembar wajah Yu Siau-lam karena jengah, dengan gelisah ia lantas membentak.

“Cong-gi te, kau jangan sembarangan berbicara”

”Siapa bilang aku sedang berbicara sembarangan…..?” Coa Cong-gi mengerutkan dahinya rapatrapat,

“haa… haa….. haa….. perpisahan yang terlampau lama kadangkala memang memberi

kemesraan bagaikan pengantin baru, aku lihat…. heee…. heee….. heee….. Saudara Siau-lam, kau

tak usah pura-pura berlagak pilon lagi”

Tampaknya jago muda yang berwatak berangasan ini sudah lama menyimpan rasa

mendongkolnya atas sikap Hoa In-liong serta Yu Siau-lam yang selalu membicarakan soal-soal

tetek bengek yang sama sekali tak ada gunanya, maka dia menggunakan kesempatan yang

sangat baik itu untuk menyindir rekan-rekannya.

Yu Siau-lam jadi mendongkol bercampur penasaran oleh perkataan itu. ia tuding rekannya sambil

berseru tergagap. “Kau… kau…..”

Tiba-tiba sinar matanya membentur wajah Hoa In-liong yang masih duduk dengan senyum

dikulum. Sontak saja satu ingatan melintas dalam benaknya, sekuat tenaga dia mengendalikan

rasa mangkel dalam hatinya, kemudian sambil berpaling kembali ke arah Cia In, katanya lagi

sambil tertawa lebar, “’Wah….. Nona Cia, aku lihat engkau memang suka sekali memutarbalikkan

perkataanmu”.

“Eeeh….. Yu-ya, Apa maksud perkataanmu itu?” Cia In pura-pura tertegun.

“Haaa….. haa….. haa….. Bukankah engkau telah berkata bahwa gua kuno sudah tertutup. Kalau

mau terpikat, pergilah terpikat sendiri”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

168

Ia terbahak-bahak, setelah berhenti sejenak sambungnya lebih jauh, “Haaa….. haa… haa… Aku

tahu kalau nona sudah mempunyai sahabat baru dan hatimu sudah ada yang punya. Asal aku

orang she-Yu masih kebagian sedikit saja cintamu, aku sudah merasa puas sekali!”

Hoa In-liong tertawa nyaring tiba-tiba menyela, “Eeeh…. Saudara Siau-lam, yang kau maksudkan

sehabat-sahabat baru itu apakah diri siaute?”

Yu Siau-lam ikut tertawa. “Saudara In-liong romantis dan gagah perkasa, sedang nona Cia

adalah seorang perempuan sakti yang luar biasa. Siapakah sahabat baru nona itu masakah musti

siaute terangkan lebih terperinci?”

“Haaa….. haaa… haa….” Hoa In-liong segera tertawa terbahak-bahak, “Saudara Siau-lam,

mempunyai roman muka yang gagah, mempunyai tindak tanduk yang supel, apalagi merupakan

tamu kehormatan dari nona Cia, haaa….. haa….. siaute tak berani dianggap sebagai sahabat

karibnya kuatir ada yang cemburu!”

Yu Siau-lam segera berpaling ke arah Cia In, sambil menuding perempuan itu katanya pula, “Kau

tidak percaya? Kenapa tidak tanyakan sendiri kepadanya? Sudah bertahun-tahun lamanya aku

berkenalan dengannya, tapi kapankah aku pernah dipersilahkan masuk pintu gerbangnya? Katakata

tamu terhormat sudah tidak cocok lagi untukku, eeeh….. Saudara In-liong, aku saja telah

bersedia mengalah, mengapa kau masih juga berusaha unjuk menampik kesempatan baik ini?”

Hoa In-liong sengaja menunjukkan sikap seperti monyet kepanasan. Sambil menggaruk-garuk

kepalanya yang tak gatal dia berpaling ke arah perempuan itu, ditatapnya wajah Cia In dengan

sinar mata berkedip, kemudian tanyanya sambil tertawa cengar-cengir, “Nona Cia sungguhkah

ini?”

Sebenarnya saat inilah merupakan kesempatan yang sangat baik bagi mereka untuk membawa

pembicaraan kepokok persoalan yang sebenarnya.

Asal Yu Siau lam segera menyambung pembicaraan itu dengan kata-kata- “Kalau tidak sungguh2

buat apa nona Cia harus bersusah payah menangkap dirimu ribuan li jauhnya datang ke kota

Kim-leng?” Niscaya Cia In akan terperangkap oleh pembicaraan tersebut dan terseret untuk

mengungkapkan alasan-alasan serta sebab musababnya yang sebetulnya.

Sayang Yu Siau-lam tidak berbuat demikian, terpaksa Hoa In-liong pun melanjutkan

sandiwaranya dengan mengedipkan matanya seperti monyet kepanasan.

Begitulah, dua orang pemuda ini saling memberi umpan untuk menjebak lawan. Sementara

diluaran mereka berbicara kesana kemari seakan-akan sudah melupakan sama sekali akan tujuan

kedatangan mereka yang sebenarnya ke sana.

Coa Cong-gi yang selalu tak mau berpikir dengan menggunakan otaknya jadi gusar dan

mendongkol sekali oleh tingkah laku kedua orang rekannya, tiba-tiba dia memukul meja keraskeras,

kemudian teriaknya marah-marah, “Sudah, kau tak usah banyak bertanya lagi, mau

tinggal disini kau boleh saja menginap dirumah ini. Hmmm……! Ternyata engkau adalah manusia

semacam ini, hitung-hitung anggap saja aku Coa Cong-gi mempunyai mata tak berbiji sehingga

tak dapat menilai kepribadianmu yang bobrok dan amoral itu!”

Sambil melampiaskan rasa dongkol dan marahnya, pemuda berangasan itu segera bangkit berdiri

dan berjalan menuju ke pintu depan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

169

Hoa In-liong masih tetap tenang dan sama sekali tak berkutik, sedangkan Yu Siau-lam jadi panik

sekali, dia segera membentak nyaring, “Kembali!”

Coa Cong-gi sama sekali tidak berhenti, dia hanya berkata lagi dengan dingin, “Mau apa kembali

kesitu? Hmmm, jika engkau pun terpikat oleh kecantikan wajahnya, silahkan tetap tinggal disini…

Dasar sama-sama cabulnya”.

Tiba-tiba terdengar Cia In menghela napas panjang.

“Aaaaaai….. Hoa kongcu, aku benar-benar merasa takluk kepadamu!” katanya.

Helaan napas yang datang tanpa dikemudian asal mulanya jauh diluar dugaan siapapun. Coa

Cong-gi segera merasa hatinya bergerak, tanpa sadar ia putar badannya sambil bertanya,

“Eeeh…. kenapa kau takluk kepadanya?”

“Yaaa…. takluk oleh ketenangannya serta kemampuannya untuk mengendalikan diri”.

“Ketenangan dan kemampuannya mengendalikan diri?” Coa Cong-gi mengerutkan alisnya rapatrapat.

“Benar, ketenangannya jauh melebihi ketenangan kalian berdua. Apalagi kemampuannya untuk

mengendalikan diri, kalian masih kalah jauh di bandingkan dengan dirinya. Silahkan engkau

kembali kedalam ruangan!” bisik Cia In dengan murung.

Coa Cong-gi mengedipkan matanya berulang kali. Tanpa sadar dengan wajah tercengang dan

tidak habis mengerti, selangkah demi selangkah, diapun masuk kembali kedalam ruangan.

Tiba-tiba dilihatnya Hoa In-liong juga bangkit, sambil menjura kepada nona itu, lalu sambil

tersenyum katanya, “Nona Cia… akupun merasa takluk kepadamu, takluk oleh kecerdasan

otakmu…..!”

Cia In tertawa getir, “Apa gunanya kecerdikan? Toh akhirnya aku tak dapat mengendalikan jaga

perasaanku sendiri” katanya lirih.

Sekali lagi Hoa In-liong tertawa. “Apa gunanya kita membicarakan persoalan tetek bengek yang

sama sekali tak ada gunanya itu? Diam-diam aku telah mengerahkan tenaga dalamku untuk

memeriksa daerah disekitar tempat ini. Aku tahu dalam wilayah seluas tiga puluh kaki tak ada

orang yang mencuri dengar pembicaraan kita. Nona Cia! Apabila engkau tidak menginginkan

pembicaraan tersebut dilangsungkan diatas pembaringan sambil berbisik-bisik lirih, silahkan kau

utarakan saja saat ini secara blak-blakan!”

Sampai detik ini Coa Cong-gi baru mengerti apa gerangan yang sebenarnya telah terjadi, dia

lantas berteriak keras, “Ooooh…… Sekarang aku mengerti sudah, rupanya kau….. haaa…. Haa….

Haa… ….Lote! Aku Coa Cong-gi ikut takluk benar-benar kepadamu!”

Diantara gelak tertawanya yang amat nyaring seperti suara geledek, dia masuk kembali kedalam

ruangan, dan langsung duduk kembali diatas kursinya semula.

Terdengar Cia In menghela napas lagi. “Aaaaaai…. Dia menginginkan aku berbicara sendiri

peristiwa itu tanpa paksaan. Dengan demikian maka bila usahanya yang pertama tidak berhasil,

lain kali dia masih bisa datang kemari untuk kedua kalinya. Yaaa….…. kalau kulihat dari sikap

kalian ini, tampaknya kamu semua sudah menaruh kecurigaan terhadap rumah pelacuran Gi-simwan

kami ini….!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

170

Hoa In-liong hanya tersenyum belaka, mulutnya tetap membungkam tanpa memberi komentar

apa-apa.

Setelah berhenti sejenak, tiba-tiba Cia In berkata lebih jauh, “Apa yang pernah diucapkan guruku

ternyata memang benar. Keturunan dari keluarga Hoa bukan manusia sembarangan. Mereka

pasti terdiri dari manusia-manusia hebat. Setelah aku berbuat secara gegabah kali ini, tampaknya

usaha yang telah kami bangun dengan susah payah selama ini, tak bisa dipertahankan lebih

lanjut”.

Hoa In-liong merasakan batinya bergetar keras, tak kuasa lagi dia bertanya, “Ooooh….. jadi

tempat ini adalah hasil dari usaha kalian selama bertahun-tahun. Siapakah gurumu?”

Cia In mengangguk tanda membenarkan. “Guruku she-Pui bernama Che-giok!” sahutnya.

“Pui Che-giok?” bisik Hoa In-liong dengan sepasang alis matanya berkenyit.

Sekali lagi Cia In mengangguk. “Benar, guruku bernama Pui Che-giok! Beliau adalah adik angkat

diri Giok Teng hujin. Ilmu silat yang dimilikinya adalah warisan dari Giok Teng hujin juga. Oleh

karena itu kalau dihitung-hitung maka akupun terhitung anak murid dari perguruan Giok Teng

hujin. Hoa kongcu tentunya engkau mengenal diri Giok Teng hujin bukan?”

Pucuk dicinta ulam tiba, begitulah keadaan Hoa In-liong pada saat itu. Kalau ingin dicari

susahnya sampai sepatu jadi bobrokpun belum ketemu juga, tapi kalau sudah ditemukan paling

paling yaa cuma begitu. Tak terkirakan rasa gembira anak muda itu setelah mendengar ucapan

tersebut. Hanya dia memang pandai membawa diri, sekalipun dihati rasa girangnya meluap-luap,

namun diluaran dia tetap bersikap wajar. “Ooooh, jadi nona Cia adalah anak murid dari Giok

Teng hujin! ” katanya tenang, “Lantas pada saat ini Giok Teng hujin sendiri berada dimana?”

“Aaaai…. aku dengar dia sudah berpulang ke alam baka!” jawab Cia In dengan sedih.

Didengar dan nada perkataan itu, dapat dilihat betapa sedih dan kesalnya perempuan tersebut.

Hoa In-liong pandai melihat perubahan wajah orang, ketika menyaksikan mimik wajahnya, diamdiam

dia berpikir, “Macam apakah manusia yang bernama Giok Teng hujin itu? Tampaknya Cia In

sendiripun kurang begitu kenal dengan perempuan tersebut. Tapi kenapa wajahnya kelihatan

begitu murung dan sedih sekali….?”.

Dalam hati dia berpikir demikian diluarim segera tanyanya kembali dengan lembut, “Sudah

berapa lama Giok Teng hujin kembali ke alam baka? Apakah kau pernah berjumpa dengannya?”

Cia In menggeleng dan menghela napas panjang, murung dan sedih sekali mukanya. “Dahulu

aku memang pernah berjumpa dengar Giok Teng hujin, tapi itu sudah berlangsung lima belas

tahun berselang. Kecantikan wajahnya luar biasa, lagi pula sikapnya lemah lembut, penuh daya

tarik dan simpatik sekali….”

“Ooooh…. lalu….. lalu…… dari siapa kau mendengar tentang meninggalnya Giok Teng hujin dia

orang tua?” tukas Hoa In-liong kemudian.

“Aku mendengar dari cerita guruku, jadi aku pikir hal ini tak mungkin palsu!”

“Sekarang, gurumu ada dimana? Apakah kau bisa undang dia orang tua datang kemari?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

171

Cia In gelengkan kepalanya berulang kali. “Semula guruku memang berdiam ditempat ini, tapi

dia sekarang telah pergi meninggalkan tempat ini” sahutnya.

“Sudah pergi? Kenapa dia meninggalkan tempat ini?” desak anak muda itu lebih jauh.

“Aaaaai….! Kesemuanya ini! adalah akibat aku telah salah melakukan pekerjaan. Tidak

sepantasnya kalau kubawa kongcu datang ke kota Kim Leng ini”.

“Ooooh….! Jadi maksudmu, gurumu segan atau tidak bersedia untuk bertemu dengan aku?”

“Salah satu penyebabnya memang guruku tak ingin berjumpa dengan dirimu…..” jawab Cia In

sedih, “Tapi yang terpenting adalah dia kuatir bila usaha yang berhasil kita bangun dengan susah

payah selama banyak tahun ini tak dapat dipertahankan lagi rahasianya, maka guruku akan pergi

ke tempat lain untuk membuat rencana berikutnya!”

“Nona Cia, selama ini kau selalu menyinggung tentang tak dapat dipertahankannya usaha kalian

selama banyak tahun, ada satu hal yang rasanya kurang enak bila tak kutanyakan kepadamu.

Tolong tanya nona, apakah gurumu telah mendirikan sebuah perkumpulan atau suatu organisasi

besar dalam dunia persilatan?” tiba-tiba Yu Siau-lam menimbrung dari samping dengan penuh

antusias.

Sementara itu Hoa In-liong sendiripun diam-diam sedang berpikir dengan perasaan tidak habis

mengerti. “Aneh… kejadian ini betul-betul sangat aneh. Padahal aku sama sekali tidak kenal

dengan gurunya itu, tapi kenapa gurunya tidak bersedia untuk berjumpa dengan aku?. Aaaah…..

benar! Dia tadi bilang kalau gurunya adalah saudara angkatnya Giok Teng hujin. Kalau Giok Teng

hujin telah meninggalkan dunia yang

fana ini, dus adalah tanda pengenal nyonya itu sudah terjatuh ke tangan gurunya. Haaa… haa…..

haa….. Jadi kalau urusan ini dihubungkan satu sama lainnya, delapan puluh persen terbunuhnya

Suma siok-ya berdua ada sangkut pautnya dengan perempuan she-Pui tersebut. Aku harus

mencari kesempatan yang baik menyelidiki latar belakang dari peristiwa tersebut….”

Dalam pada itu Cia In telah mengangguk tanda membenarkan pertanyaan dari Yu Siau-lam.

“Benar!” Demikian ia berkata, “Dengan hadirnya Hoa kongcu disini, rasanya akupun tak mungkin

akan merahasiakan persoalan ini lebih jauh. Yaaa memang, guruku telah mendirikan suatu

perkumpulan dan perkumpulan itu kami namakan perkumpulan Cha-li-kau (kumpulan nonanona),

cuma saja….…….”

Tiba-tiba dia membungkam.

Sementara itu Hoa In-liong sudah mempunyai rencana yang cukup matang untuk mengatasi

masalah pelik yang sedang dihadapi. Ketika mendengar perkataan itu dia lantas tertawa nyaring.

“Haa…… haa….. haa…… Perkumpulan Cha-li-kau maksudmu?” tukasnya, “Apakah perkumpulan

itu adalah sebuah perkumpulan sesat yang khusus memikat hati orang dengan kecantikan wajah

perempuan?”

“Eceeh….. Hoa kongcu, kau tidak boleh menuduh orang dengan kata yang bukan-bukan!” seru

Cia In dengan panik.

“Kenapa? Memangnya aku sudah salah berbiara atau mungkin ada soal lain dibalik kesemuanya

itu?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

172

Dengan sedih Cia In menjawab, “Sebenarnya guruku memang mempunyai tujuan tertentu, dia

ingin…… dia ingin……”

“Haaa….. haaa…… haa……. Dia ingin apa?” seru Hoa In-liong terbahak-bahak. “Eeeh, kenapa

tidak kau lanjutkan perkataanmu lebih jauh?”

Cia In menggerakkan bibirnya seperti mau mengatakan sesuatu, tapi sesaat kemudian dia telah

membatalkan niatnya itu.

Untuk sesaat suasana jadi hening, tiba-tiba ia berkata lagi dengan wajah serius. “Hoa kongcu,

maafkanlah aku. Hakekatnya apa yang kuketahui adalah sangat terbatas dan apa yang bisa

kukatakan juga hanya melulu sampai disini saja. Pokoknya sekalipun perkumpulan Cha-li-kau

mengandalkan kecantikan paras muka kaum dara, namun kami bukanlah perkumpulan sesat

seperti apa yang kau duga. Yang paling penting tujuan kami adalah membantu keluarga Hoa

kalian. Maka percaya atau tidak dengan perkataanku ini terserah padamu sendiri. Hanya aku

berharap untuk sementara waktu simpanlah rahasia ini baik-baik dan janganlah kau siarkan

tentang semua peristiwa ini ke dunia luar”

“Oooh…… tujuan perkumpulan kalian adalah membantu keluarga Hoa kami?” jengek Hoa In-liong

sinis. “Haa….. haaa….. haaa…… Andaikata keluarga Hoa kami harus minta bantuan dari kaum

perempuan…….”

Belum habis ia berkata Cia In sudah menatap wajah anak muda itu tajam-tajam, kemudian

tukasnya dengan suara dalam, “Hati-hatilah, kalau mau bicara! Hoa kongcu memangnya kau lupa

bahwa nenekmu adalah seorang perempuan? Memangnya kau lupa kalau kedua orang ibumu

juga pendekar perempuan? Apakah kau lupa andaikata dimasa lampau ayahmu tidak mendapat

bantuan dari Giok Teng hujin, maka dia tak akan mempunyai kesuksesan seperti yang dimilikinya

sekarang….? Hoa kong cu…..”

Perempuan itu seperti akan mengucapkan sesuatu lagi tiba-tiba suara In-ji telah menukas, “Suci,

kau……”

Seperti baru sadar bahwa dia telah salah berbicara, paras muka Cia In berubah hebat, sekujur

badannya ikut bergetar keras, cepat-cepat ia tundukkan kepalanya dengan sedih. “Hoa-kongcu,

maafkanlah kesilafanku, harap kau jangan marah atau tersinggung oleh kata-kata yang barusan

kuutarakan!”

Hoa In-liong bukan seorang pemuda yang bodoh, sudah tentu dia tahu bahwa keadaan yang

dihadapinya sekarang bukan suatu keadaan yang sederhana atau biasa saja.

Mendingan kalau begitu mengetahui latar belakang semua peristiwa yang pernah terjadi di masa

lampau. Saat ini boleh dibilang dia buta sama sekali atas peristiwa-peristiwa itu, maka setelah

mendengar pembicaraan itu, dia lantas menyusun rencana lebih jauh.

Maka ketika Cia In minta maaf diapun tidak banyak bicara atau menyinggung kembali urusan itu.

Ditatapnya perempuan tersebut tajam-tajam, kemudian ujarnya dengan dingin, “Kau silaf atau

tidak aku tak mau tahu. Baik bicaramu betul atau tidak akupun tak ambil pusing. Pokoknya hanya

ada satu keinginan dalam hatiku. Sekarang, aku ingin berjumpa dengan gurumu dan aku harap

nona bisa bantu aku mempersiapkan pertemuan itu!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

173

Cepat-cepat Cia In menggelengkan kepalanya, “Maafkanlah daku Hoa kongcu. Aku betul-betul

tak mempunyai kemampuan untuk memenuhi kehendak hatimu itu. Aku tak mungkin bisa

aturkan pertemuan bagimu dengan guruku!”

Hoa In-liong mendengus dingin. “Tidak bisa? Hmmm, bisa atau tidak aku tak akan ambil pusing.

Pokoknya bagaimanapun jaga pertemukan ini harus bisa terselenggara”

Melihat ketegasan si anak muda itu, tiba-tiba Cia In menghela napas panjang. “Aaaai…..

Tampaknya dugaan guruku memang

tidak meleset, tentunya kongcu menaruh curiga bukan bahwa pembunuh yang telah mencelakai

ji-wa Suma tayhiap adalah guruku?”

“Benar dia yang berbuat atau bukan, aku rasa gurumu jauh lebih jelas dari pada siapapun jua,

nona Cia tak usah pusing-pusing memikirkan persoalanmu. Tugasmu sekarang hanya

mengaturkan pertemuan antara diriku dengan gurumu dan itu sudah lebih dari cukup”

“Kongcu, kau keliru besar, keliru besar!” Cia In gelengkan kepalanya berulang kali, “Peristiwa

berdarah yang menimpa keluarga Suma, sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan guruku.

Percayalah Hoa kongcu, tak nanti kami akan membohongi dirimu!”

“Nona Cia!” Hoa In-liong segera menukas pula dengan suara dalam, “Terus terang pula

kukatakan kepadamu, si pembunuh yang berhati keji itu telah meninggalkan sebuah hiolo kecil

berwarna hijau kumala selesai melakukan pembunuhan brutal itu dan hiolo kecil yang terbuat

dari batu kemala hijau itu tak lain adalah tanda pengenal dari Giok Teng hujin. Kalau toh Giok

Teng hujin benar-benar telah meninggalkan dunia yang fana ini, maka itu berani gurumu yang

paling dicurigai. Siapa tahu kalau dia benar-benar terlibat dalam peristiwa berdarah itu? Coba

bayangkan sendiri, seandainya gurumu tiada sangkut pautnya dengan peristiwa berdarah itu,

mengapa ia berusaha untuk menghindarkan diri dari pertemuannya dengan aku? Nona Cia, aku

bukan seorang manusia kasar yang tidak memakai aturan, sekalipun demikian akupun tidak sudi

mendengar segala pembelaan yang bertujuan menyangkal tanggung jawab itu tanpa disertai

dengan alasan yang cukup kuat!”

“Hoa kongcu, aku tidak melakukan pembelaan ataupun melakukan sangkalan yang tanpa disertai

alasan yang tepat, tapi pada hakekatnya apa yang kuucapkan adalah kenyataan yang

sebenarnya!” bantah Cia In lagi dengan sengit.

“Kalau engkau mengatakan bahwa apa yang kau ucapkan adalah suatu kenyataan, tolong berilah

bukti yang kuat kepadaku, apakah nona dapat mencarikan suatu bukti yang cukup kuat yang

menunjukkan bahwa garumu benar-benar tidak terlibat dalam peristiwa berdarah itu? Bisa…..?

Bisa………? Ayoh jawab!” desak Hoa In-liong ketus.

Mendengar perkataan itu Cia In tertegun. Untuk sesaat ia tak sanggup mengucapkan sepatah

katapun.

Melihat gadis itu terbungkam tanpa berkata-kata, Hoa In-liong segera berkata lebih lanjut,

“Sudahlah nona kunasehati dirimu lebih baik tak usah bersilat lidah dengan percuma. Ingat kau

anggap karena aku ingin berjumpa dengan gurumu, maka aku lantas memvonis bahwa gurumu

itulah pembunuh gadis atau paling sedikit otak dari pembunuhan itu. Tidak! Aku tak akan

menuduh yang bukan-bukan tanpa disertai bukti yang nyata. Akupun tidak memastikan bahwa

gurumu itulah si pembunuh atau si otak yang mendalangi peristiwa berdarah itu. Aku hanya ingin

bertanya kepadanya, mengapa ia tak mau berjumpa dengan aku, bila dia mempunyai alasannya,

maka aku ingin mendengar apa alasannya itu!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

174

Cia In membuka bibirnya lebar-lebar seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi sesaat kemudian

ia batalkan niatnya itu, gadis itu termangu-mangu seperti orang bodoh.

Lama sekali…. Entah berapa lama sudah lewat akhirnya dia menghela nafas panjang, “Aaaai….

Hoa kongcu, terus terang kuberi tahu kepadamu, guruku telah meninggalkan kota Kim-leng.

Sekalipun kusanggupi permintaan kongcu untuk mengaturkan pertemuan dengan beliau, sayang

aku ada kemauan tak mempunyai tenaga, maafkanlah daku!”

Tiba-tiba Hoa In-liong jadi berang, matanya jadi merah melotot besar, mukanya menyeringai

seram, dengan suara keras dia membentak, “Nona Cia, tampaknya baik-baik kutawarkan arak

kehormatan kau tolak pemberianku itu, Hmm! Jika kau memang lebih suka mencari arak

hukuman heee…… hee…… heee… Baik….! Baik…..! Jangan salahkan kalau aku akan

menggunakan kekerasan untuk memaksa engkau!”

Pada saat ini sinar matanya yang memancar keluar benar-benar tajam dan mendatangkan rasa

bergidik bagi siapapun yang melihatnya. Ditambah lagi mukanya yang menyeringai dengan otot

otot hijau pada menongol keluar semua, siapapun akan tahu bahwa kemarahan yang berkobar

dalam dada si anak muda itu benar-benar sudah mencapai pada puncaknya.

Yu-Siau-lam selama ini banyak berdiam diri sambil mengikuti jalannya pembicaraan itu. Akhirnya

ketika ia mengetahui bahwa rekannya sungguh-sungguh telah naik darah, cepat ujarnya dengan

cemas dari samping, “Saudara Hoa, harap bersabar dulu? Tenangkanlah perasaanmu dan jangan

mengumbar emosi…. Tenang! Tenang….! Mungkin juga apa yang barusan dikatakan nona Cia

dapat kita percayai. Sabarlah dulu, urusan kan bisa dirundingkan secara baik-baik!”

Hoa In-liong berusaha mengendalikan hawa amarah yang berkobar dalam dadanya pelan-pelan

dialihkan sinar matanya, lalu dengan tak sabaran tanyanya, “Ooooh….. jadi kau percaya dengan

semua obrolan dan pembicaraannya tadi…..?”

Yu-Siau-lam segera mengangguk. “Aku rasa mungkin juga gurunya memang benar-benar telah

meninggalkan kota Kim-leng, apa salahnya kalau kita mempercayai pernyataannya ini?”

“Ooooh…..” Hoa In-liong tertegun untuk sesaat. Rupanya ia tidak habis mengerti dengan

perkataan rekannya itu, “Dengan alasan apa saudara Siau-lam bisa berkata demikian”

“Alasannya memang tak ada, cuma entah bagaimana siaute merasa bahwa ucapnya memang

benar!”

“Bagaimana perasaan saudara Siau-lam itu? Apakah dapat kau terangkan lebih terperinci?”

“Bila kutinjau dari pembicaraan yang selama ini berlangsung antara nona Cia dengan dirimu, aku

lihat sikap, tindak tanduk maupun caranya berbicara seakan-akan menaruh perhatian khusus

kepada Hoa-heng dan perhatian itu mirip sekali dengan suatu rasa kagum dan hormat yang amat

besar. Bahkan aku lihat apa yang dapat dia katakanpun semuanya telah dia utarakan keluar.

Misalkan saja soal perkumpulan Cha-li-kau yang didirikan oleh gurunya, bukankah hal ini

merupakan suatu rahasia besar bagi perkumpulan mereka? Tadi karena Hoa-heng hadir disini,

maka tanpa ledeng aling-aling diungkapnya juga persoalan itu. Maka bila kita tinjau dari keadaan

tersebut, dapat kita tarik kesimpulan bahwa gurunya memang benar-benar telah meninggalkan

kota Kim-leng. Cuma ada satu hal yang masih kuherankan, yaitu mengapa setiap kali

membicarakan persoalan yang selalu nona Cia bicara berbelit-belit atau tergagap, aku tidak

mengerti mengapa dia bisa begini, apakah kalian tahu?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

175

“Aaah….. Memang masuk di akal, sekarang aku dapat memahami duduknya persoalan ini!” tibatiba

Coa Cong-gi yang selama ini membungkam berteriak keras.

“Apa yang kau pahami?” Hoa In-liong berpaling dengan sepasang alis berkenyit.

Wajah Coa Cong-gi tampak berseri-seri, katanya dengan kalem, “Apa lagi yang kupahami? Tentu

saja tentang gurunya nona Cia ini! Aku tahu, gurunya menghindari dirimu bukan lantaran ia

terlihat dalam peristiwa berdarah atas diri Suma tayhiap!”

“Engkau punya bukti?” tanya Hoa In-liong dengan, jantung berdebar keras.

“Kenapa musti mencari bukti? Toh asal alasannya bisa diterima dengan akal itu lebih dari cukup?

Coba bayangkan sendiri, seandainya gurunya memang benar-benar terlibat dalam peristiwa

berdarah yang menimpa keluarga Suma, apa gunanya nona Cia mengakui asal usul

perguruannya? Jika mereka terlibat bukankah mengakui asal-usul perguruannya sama artinya

mencari kesulitan buat diri sendiri? Betul tidak? Karena itu jadi agak yakin kalau gurunya nona

Cia pada hakekatnya memang tidak terlibat dalam peristiwa berdarah itu!”

Memang kalau dipikir beberapa patah kata itu sederhana sekali kedengarannya, tapi justru

ucapan yang amat sederhana itu mempunyai alasan yang kuat sekali.

Hoa In-liong kontan terbungkam tak mampu melanjutkan kembali kata-katanya. Untuk sesaat dia

cuma bisa duduk tertegun sambil memutar biji matanya.

Cia In segera tertawa lebat, agak lega juga hatinya setelah mendengar perkataan itu. “Terima

kasih banyak Coa kongcu atas bantuanmu, kau telah bantu aku melepaskan diri dari kesulitan!”

serunya.

Coa Cong-gi terlampau jujur dan polos, ketika nona itu berterima kasih kepadanya, cepat dia goyangkan

tangannya berulang kali, “Jangan…. jangan….! Kau tak usah berterima kasih kepadaku,

terus terang saja persoalan yang tidak kupahami mungkin jauh lebih banyak daripada kalian

semua!”

Untuk sementara waktu suasana jadi hening. Hoa In-liong segera terjerumus dalam pemikiran

sendiri, tampaknya perkataan dari Yu Siau-lam dan Coa Cong-gi barusan telah memberi reaksi

dalam benaknya.

Sikap Cia In pada saat ini jauh lebih santai dan lega. Senyum dan suara tertawanya kedengaran

jauh lebih merdu dan enak didengar.

Ketika mendengar ucapan dari Coa Cong-gi tadi, serta merta dia berkata sambil bertanya, “Kau

masih ada beberapa persoalan yang merasa kurang jelas? Kenapa tidak kau tanyakan kepadaku?

Asal aku mengetahuinya, pasti akan kuberikan jawaban yang selengkap-lengkapnya., tanggung

tak akan membuat Coa kongcu jadi kecewa”

“Sungguhkah itu?” mencorong sinar tajam dari mata Coa Cong-gi, “Kalau begitu aku ingin

bertanya kepadamu, apa sebabnya kau culik Hoa lote dan membawanya ke kota Kim-leng?”

Sudah lama pertanyaan ini terpendam dalam hatinya, dan selama ini dia selalu berharap-harap

Yu Siau-lam atau Hoa In-liong lah yang mengajukan pertanyaan tersebut. Siapa tahu kedua

orang itu justru tak pernah mengajukan pertanyaan itu, seakan-akan kedua orang itu sudah lupa

dengan persoalan itu. Maka ketika ada kesempatan baginya serta-merta pertanyaan itulah yang

pertama-tama diajukan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

176

Sebagai seorang pemuda polos yang lebih suka berbicara blak-blakan, semua pertanyaan yang

ingin diajukan selalu diutarakan tanpa tedeng aling-aling. Ia merasa hanya berbicara secara

berterus teranglah dapat membuat pikiran maupun perasaannya jadi lega.

Sampai matipun Cia In tidak menyangka kalau pertanyaan itulah yang bakal diajukan kepadanya.

Untuk sesaat dia jadi tertegun, gelagapan dan tak mampu berkata-kata.

Menyaksikan sikap perempuan itu, Coa Cong-gi merasa tak senang hati. Sinar matanya berkilat

tajam, segera teriaknya dengan suara lantang, “Eeeh…. kenapa sih kamu jadi orang sukanya

berbicara mencla-mencle? Bukankah kau mengatakan akan menjawab semua pertanyaanku?

Tapi bagaimana buktinya sekarang? Baru saja kuajukan pertanyaanku yang pertama kau sudah

tak mampu menjawab. Huuuh… atau mungkin engkau memang sengaja sedang ajak aku

bergurau?”

Merah padam selembar wajah Cia In karena jengah. Dia semakin gelagapan, apalagi berhadapan

muka dengari pemuda polos yang lebih suka bicara blak-blakan, sindiran yang terasa amal pedas

itu menyinggung perasaan halusnya. “Aku……. aku……. aku…..”

Saking gugupnya, nona itu hanya bisa mengulangi kata “aku” sampai beberapa kali, kecuali itu

tiada perkataan lain yang diucapkan.

Tiba-tiba In-ji tertawa cekikikan. “Hiiih… hiih…… hiii….. Coa kongcu, suciku sangat menaruh

perhatian kepada Hoa kongcu dan perhatian itu rupanya telah berubah menjadi cinta. Kenapa sih

kau memaksanya terus untuk menjawab pertanyaanmu itu?”

Ketika perkataan tersehat diucapkan keluar, Cia In tundukkan kepalanya rendah-rendah sikapnya

tersipu-sipu seperti orang malu.

Sebaliknya Coa Cong-gi tertegun, dia termangu-mangu seperti orang bodoh dan tak mampu mengucapkan

sepatah katapun.

Suasana hening untuk sesaat tiba-tiba terdengar Hoa In-liong mendengus dingin. “Hmmm!

Budak cilik, pandai amat engkau mengucapkan kata-kata indah yang menyesatkan pikiran orang,

memangnya kau anggap aku orang she-Hoa percaya dongan omongan setanmu?”

“Eeeh…. eehhh…. siapa yang lagi ngomong setan?” In-ji kelihatan semakin gelisah, “Kalau

engkau tidak percaya, kenapa tidak kau tanyakan langsung kepada kakak seperguruanku?

Hmmmm! buka mulut lantas memaki orang…. aduuuuh mak, gayanya! Hebat benar….”

Merah padam selembar wajah Hoa In-liong. Perkataan itu sangat mengena dalam hatinya. Mesti

demikian mukanya tetap kaku dan dingin, katanya dengan ketus, “Aku mau bertanya kepadamu,

apa yang dimaksudkan dengan sebagai manusia haruslah banyak melakukan kewajiban?

Bukankah ucapan ini kau yang ucapkan?”

“Kalau memang aku yang bicara, lantas kenapa?” teriak In-ji dengan garang, tiba-tiba matanya

melotot besar, mukanya merah dan tangannya bertolak pinggang.

“In-ji, kurangilah mulut usilmu itu….” tiba-tiba Cia In menengadah dan berseru dengan hati

gelisah.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

177

In-ji mengenyitkan hidungnya, sekalipun sudah dihalangi oleh kakak seperguruannya namun

sikapnya masih tetap garang. “Huuuh… siapa suruh dia kasar sekali kalau bicara, sungguh

menjengkelkan!”

Cia In menghela napas sedih, “Aaaai….! Bagaimanapun juga suhu toh sudah menurunkan

larangannya bagi kita untuk melakukan hubungan lagi dengan orang-orang dari keluarga Hoa.

Sekalipun banyak bicara dan bersilat lidah sampai pagi juga tak ada gunanya, buat apa kau musti

mangkel dan meraba mendongkol karena soal sepele?”

Berbicara sampai disitu dia berhenti sebentar. Pelan-pelan sinar matanya dialihkan keatas wajah

Hoa In-liong, kemudian sambungnya lebih jauh dengan muka serius, “Hoa kongcu, janganlah kau

anggap aku adalah seorang perempuan rendah yang tak tahu malu. Setelah urusan berkembang

jadi begini, mau tak mau aku harus berbicara juga dengan terus terang, agar kaupun tak

menaruh curiga terus menerus terhadap kami. Coba bayangkanlah sendiri, dengan paras

mukamu yang tampan, dengan kedudukan keluarga Hoa kalian yang tersohor dan terhormat,

perempuan mana yang tak ingin berhasil menggaet hatimu? Yaaa, memang aku mempunyai

maksud-maksud pribadi sewaktu menculik kongcu datang ke kota Kim-leng ini. Untunglah

kejadian itu sudah lewat, jadi rasanya aku pun tak usah merahasiakan kejadian ini lagi

dihadapanmu”.

Sepasang matanya mulai berkaca-kaca, sejenak kemudian air mata meleleh keluar membasai

pipinya. Dengan suara yang lirih dan penuh perasaan iba katanya lebih lanjut, “Sedang mengenai

perkataan dari In-ji yang mengatakan orang banyak adalah besar manfaatnya, akupun tidak

ingin mengelabui dirimu lebih jauh. Selain itu akupun tak ingin memberikan penjelasan lebih

jauh. Pokoknya guruku ada niat mendirikan perkumpulan Cha-li-kau, tapi tentunya kau pun tahu

bukan pekerjaan yang mudah untuk mendirikan sebuah perkumpulan. Apalagi dengan

mengandalkan kekuatan dari beberapa orang perempuan, tak mungkin bisa melakukan usaha

besar. Maka setiap kali-kali jumpai orang yang berbakat bagus, bila mempunyai pandangan dan

cara berpikir yang sama, kami lantas menawarkan kepada mereka untuk masuk menjadi

anggota. Dari tujuanku menculik engkaupun hanya lantaran soal ini saja. Nah, hanya sampai

disini saja keterangan yang dapat kuucapkan kepadamu mau percaya atau tidak terserah pada

keputusan Hoa kongcu sendiri, sebab hakekatnya aku sudah tak dapat memberi keterangan yang

lain lagi!”

Sekalipun dalam keterangannya ini masih terdapat pula hal-hal yang dirahasiakan, toh

pengakuan yang sudah diucapkan terhitung blak-blakan, terutama sekali di balik kesemuanya itu

menyangkut juga soal hubungan cinta muda-mudi. Sebagai seorang pemuda yang menurut

aturan dan lagi hatinya juga tidak sekeras baja, tentu saja Hoa In-liong tak dapat berbuat apaapa

lagi, terutama setelah melihat dan mendengar sendiri semua yang terpampang dihadapan

matanya sekarang.

Tampaknya Cia-In juga mempunyai watak yang keras, meskipun matanya berkaca-kaca dan air

mata jatuh berlinang, akan tetapi ia berusaha keras mengendalikan sesenggukan dan isak

tangisnya.

Setelah hening sesaat, akhirnya dia menengadah kembali, kepada Coa Cong-gi tanyanya lagi,

“Coa-kongcu, apakah engkau masih ada persoalan lain yang hendak kau tanyakan kepadaku?”

Mula-mula Coa Cong-gi tertegun, tapi sejenak kemudian ia sudah gelengkan kepalanya berulang

kali. “Tidak ada… Sudah tidak ada lagi!” sahutnya.

Dia lantas berpaling ke arah lain dan tak ingin melihat keadaan Cia In yang mengenaskan hati

itu. “Kalau sudah tiada persoalan yang akan ditanyakan lagi, marilah kita minum arak!” ajaknya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

178

Diangkatnya cawan arak yang berada dihadapannya kalau meneguk isinya sampai habis,

menggunakan kesempatan itu dia membesut air mata yang membasahi pipinya.

Tindak-tanduknya yang sangat mengenaskan itu cukup menggetarkan hati orang. Yu Siau-lam

terbungkam dibuatnya dan duduk dengan termangu-mangu, sedang Hoa In-liong sendiri

merasakan tubuhnya bergetar keras karena emosi.

Pada saat itulah tiba-tiba dari ujung lorong sebelah depan sana berkumandang suara langkah

kaki manusia yang berat, makin lama suara itu makin dekat dan akhirnya berhenti diluar pintu

ruangan loteng tersebut….

Cia-In segera mengerutkan dahinya, dengan ragu-ragu tegurnya, “Tan-Ji kah yang berada

disitu?”

“Benar nona, hamba adalah Tan-Ji” jawab orang yang berada diluar pintu loteng diluar pintu

sebelah depan sana datang dua orang tamu, “Mereka bersikeras hendak berjumpa dengan nona,

apakah nona dapat menjumpai mereka”

Cia In mengerutkan dahinya rapat-rapat. “Apakah tidak kau tolak, permintaan orang itu? Katakan

saja kepada mereka, malam ini aku tak dapat melayani mereka sebab lagi ada tamu, suruh saja

datang lagi beberapa hari kemudian!”

“Hamba…. hamba telah berkata begitu” jawab Tan Ji dengan agak ketakutan, tapi kedua orang

tamu itu kasar dan tidak pakai aturan. Mereka bersikeras akan menjumpai nona, malahan

ancam-nya bila nona tak mau menemani mereka berdua maka seluruh rumah Gi-sim-wan kita ini

akan di obrak abrik!”

Sementara itu pikiran Coa Cong-gi sedang kusut dan dadanya seperti ditindih dengan batu

raksasa sebesar seribu kati. Dalam keadaan semacam ini orang lebih mudah dibuat gusar oleh

kejadian apa pun. Demikian pula keadaannya dengan jago muda kita yang berangasan ini.

Ketika didengarnya ada tamu tak tahu aturan yang bermain paksa sambil mengancam kontan dia

naik darah sambil melompat turun gembornya penuh kegusaran, “Kunyuk! Bangsat tak tahu diri

siapa yang berani membuat gara-gara ditempat ini? Hmm, beritahu kepada mereka agar sedikit

tahu diri, kalau tidak…… hee… hee.. heee….. Jangan salahkan kalau kuhajar sepasang kaki

anjing mereka sampai buntung!”

“Oooh… Coa kongcu, Kau harap jangan marah-marah” rengek Tan Ji seperti orang yang minta

dikasihani, “Kami adalah orang-orang yang mementingkan langganan, mana berani kami tolak

langganan? Coa kongcu harap maklumilah keadaan kami.

Coa Cong-gi jadi makin sengit, tiba-tiba dia meloncat bangun dan siap menerjang keluar dari

ruangan itu.

“Eeeh… Eeh… Coa kongcu, silahkan duduk, silahkan duduk lebih dulu” seru Cia In dengan gelisah

“Harap jangan kau umbar hawa amarahmu disini, biarlah kuselidiki sendiri persoalan ini agar

menjadi jelas”

Diapun bangkit berdiri dan berjalan keluar dari ruangan tersebut.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

179

Setibanya diluar pagar loteng, nona itu memandang pelayan rumah pelacuran itu, kemudian

tanya, “Tan-Ji, bagaimanakah tampang serta potongan badan kedua orang itu….? Mereka adalah

langganan lama ataukah tamu baru?”

Dengan wajah amat gelisah Tan Ji menyahut, “Mereka adalah tamu asing yang belum pernah

berkunjung kemari, yang seseorang berdandan sebagai pemuda perlente sedangkan yang lain

memakai baju ringkas berwarna biru, tampangnya jelek sekali. Kedua-duanya menyoren pedang

mustika hamba rasa kedua orang itu pastilah jago persilatan yang berilmu!”

Cia-In agak tertegun, untuk sesaat dia seperti memikirkan sesuatu, kemudian dengan alis mata

berkenyit bisiknya, “Orang persilatan? Sudah kau tanyakan siapakah nama mereka berdua… dan

berasal dari mana?

“Katanya mereka She-Ciu. yang seorang disebut Sam-ko sedang yang lain disebut Ngo-te, tidak

mereka jelaskan berasal dari mana”

Ketika secara tiba-tiba mendengar nama dari kedua orang tamu yang datang berkunjung kesitu.

Hoa In-liong sekalian segera merasakan hatinya tergerak tanpa sadar ketiga orang pemuda itu

bersama-sama bangkit berdiri lalu melangkah keluar dengan tindakan lebar.

Dalam pada itu Cia In sendiri pun merasakan sekujur badannya gemetar keras setelah

mendengar nama orang itu. Dengan suara yang gelisah sekali serunya, “Cepat…. cepat keluar

dan….ha… halangi mereka masuk katakan saja sebentar aku datang kesitu!”

“Baik nona!” sahut Tan Ji mengiakan, dia lantas putar badan dan lari keluar dari tempat itu.

Menanti Cia ln memutar badannya kembali ia saksikan Hoa In-liong sekalian sudah di ambang

pintu, “Apakah Ciu Hoa yang datang? Kebetulan sekali kedatangan orang itu, aku memang

sedang mencari jejaknya!” kata Hoa In-liong kemudian agak emosi.

“Tidak jangan!” seru Cia In sangat gelisah, “Engkau tak boleh bertemu dengan orang disini, kalau

hendak mencari dirinya kuharap carilah di tempat lain!”

Suara perempuan ini sudah bernada setengah merengek seakan-akan takut sekali kalau pemuda

ini tak mau menuruti perkataannnya.

“Kenapa musti begitu. Kan tak ada salahnya kalau kita berjumpa muka disini?” sahut si anak

muda itu dengan sinar mata berkilau, ”Bagaimanapun juga Gi-sim-wan kau boleh dikunjungi oleh

setiap orang secara bebas? Bertemu atau tidak, sama sekali tidak akan merugikan nona!”

“Oooh…. Hoa kongcu!” seru Cia In dengan wajah murung, “Tindakanku menculik engkau datang

ke kota Kim-leng ini sudah merupakan suatu kesalahan besar. Bagaimanapun juga aku tak ingin

lantaran kesalahan yang kulakukan itu mengakibatkan gagalnya usaha besar kami yang telah

diperjuangkan selama banyak tahun. Aku selalu berharap dapat mempertahankan usaha kami ini

hingga berhasil. Sebab itulah sengaja kusiapkan meja perjamuan dan siap sedia memberi

keterangan yang kalian minta. Hoa kongcu…..! Ketahuilah, apabila perkumpulan Cha-li-kau bisa

berdiri secepatnya maka perkumpulan kami itu hanya mendatang keuntungan tanpa kerugian

bagi keluarga Hoa kalian. Buat apa toh kau mendesak diriku hingga berdiri tersudut. Oooh…. Hoa

kongcu yang baik, janganlah menyusahkan aku, berilah kesempatan kepadaku untuk

mempertahankan usaha besar dari guruku ini. Janganlah membiarkan aku terjerumus kedalam

suatu keadaan yang serba runyam, sebab kalau sampai terjadi begini, bagaimanakah tanggung

jawabku terhadap suhu dia orang tua? Hoa kongcu, ikutilah perkataanku……”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

180

Hoa In-liong mengerutkan dahinya rapat-rapat. “Nona Cia, aku sama sekali tidak bermaksud

untuk menyusahkan dirimu apa lagi mendesak kau ke sudut, tapi engkaupun harus memaklumi

keadaanku juga. Ciu Hoa adalah salah seorang pembunuh yang telah mencelakai jiwa Suma siokya

ku. Sekalipun belum ada buktinya, tapi dia adalah manusia paling mencurigakan diantara

sekian banyak orang yang kujumpai”

Rupanya pikiran dan perasaan Cia In pada waktu itu kusut sekali. Dia tak ingin mendengar

pembicaraan itu lebih jauh, segera tukasnya dengan cepat, “Hoa koagcu, apabila engkau

menaruh rasa kasihan kapadaku dan dapat memaklumi keadaan pada saat ini, lebih baik

janganlah sampai berjumpa muka dengannya dalam Gi-sim-wan ini. Toh setelah dia keluar dari

tempat ini, engkau masih mempunyai banyak kesempatan untuk berjumpa dengan dirinya?”

Agaknya Yu Siau-lam simpatik juga atas keadaan Cia In yang mengenaskan, dia jadi tak tega,

timbrungnya dari samping, “Hoa-heng, dengarkanlah kata-kataku, belum tentu Ciu Hoa yang kau

jumpai sekarang adalah Ciu Hoa yang itu. Kemungkinan juga mereka sama sekali tak ada

sangkut pautnya dengan peristiwa berdarah dikeluarga Suma, kenapa tidak kita tunggu saja

setelah mereka keluar dari tempat ini baru kita sergap?”

“Ada sangkut pautnya atau tidak, terlampau pagi rasanya untuk dibicarakan pada saat ini.

Bukankah kau mendengar sendiri kedua orang itu mempunyai nama yang sama. Selain itu

akupun tahu bahwa mereka mempunyai potongan baju yang sama dengan jumlah yang banyak.

Masakah dibalik kesemuanya itu tidak terdapat hal-hal yang patut dicurigai?. Kesempatan baik

tidak gampang ditemui, kenapa siaute musti melepaskan kesempatan yang sangat baik ini

dengan begitu saja?”

Cia In benar-benar merasa sangat gelisah. “Hoa kongcu….. Apakah engkau hendak menjegal

kakimu sendiri?” tiba-tiba tegurnya!

Hoa In-liong amat terkejut. “Eeeh… apa maksud perkataanmu itu?” serunya.

“Terus terang kuberitahukan kepadamu, sejak dulu sampai sekarang aku dan guruku selalu

memperhatikan situasi dalam dunia persilatan. Sampai dewasa ini paling sedikit sudah ada dua

kelompok manusia yang mempunyai maksud jahat terhadap keluarga Hoa kalian. Jika engkau

bersikeras hendak berjumpa dengan Ciu Hoa dirumah Gi sim-wan ini, itu berarti engkau akan

merusak usaha besar kami dan itu berarti juga mendatangkan kerugian yang sangat besar bagi

pihakmu sendiri!”

Mendengar ucapan tersebut, Hoa-In liong merasakan hatinya bergetar keras. Sebelum ingatan

ke-dua sempat melintas dalam benaknya, terdengar Coa Cong-gi telah berteriak keras, “Ayoh…

ayolah, kita segera berlalu dari sini, ayoh berangkat! Siau In-ji, ambil kemari pedang mustika dan

buntalan baju itu!”

In-ji mengiakan, cepat-cepat dia lari masuk ke dalam ruangan dan sebentar kemudian sudah

muncul kembali dengan membawa pedang dan buntalan baju tadi…..

Cia In menerimanya dari tangan pelayan cilik itu, kemudian dengan lembut diserahkan ketangan

Hoa In-liong, katanya dengan penuh kehalusan dan kelembutan, “Hoa kongcu, legakanlah

hatimu, bagaimanapun juga aku dan guruku tidak akan melakukan perbuatan yang akan

merugikan keluarga Hoa dan pesan ini adalah pesan dari guruku yang suruh aku sampaikan

kepadamu. Ketahuilah selama engkau membantu diriku berarti pula sedang membantu dirimu

sendiri. Kumohon kepadamu sekali lagi, cepatlah berlalu dari tempat ini dan janganlah berjumpa

dengannya disini!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

181

Ditengah kelembutan terkandung nada gelisah dan panik, namun mencerminkan pula perasaan

kasih sayangnya. Ini membuat orang tak dapat menampik permohonannya lagi.

“Bagaimana dengan kau sendiri?” akhirnya Hoa In-liong bertanya.

Cia In tertawa, tertawa yang enteng dan segar, sambil memandang wajah anak muda itu dengan

lembut, sahutnya, “Aku tidak apa-apa, aku bisa jaga diriku sendiri, terima kasih banyak atas

perhatianmu!’”

“Kongcu bertiga, silahkan mengikuti di belakang In-ji!” saat itulah siau In-ji berkata lagi.

Maka dengan uring-uringan Hoa-In liong menerima buntalan baju dan pedang mustikanya, lalu

berjalan keluar dari ruangan itu mengikuti di belakang In-ji dengan pikiran kosong. Akhirnya

mereka tiba dihalaman depan setelah melewati sisi rumah pelacuran Gi-sim-wan dan pulang

kem-bali ke pesanggrahan tabib dengan naik kuda.

Suasana disekitar pesanggrahan tabib gelap gulita tidak tampak sedikit cahayapun. Suasana

hening, sepi dan tak kedengaran sedikit suarapun di pandang dari tempat kejauhan.

Pasanggrahan tersebut mirip sekali dengan sebuah perkampungan kosong.

Menyaksikan suasana yang mencekam rumahnya pertama-tama Yu-Siau-lam yang menjerit kaget

lebih dahulu. “Eeeh… apa yang terjadi dalam rumahku?” teriaknya dengan perasaan kalut.

“Benar!” sambung Coa Cong-gi pula, “Suasana disekitar tempat ini memang rasa-rasanya aneh

sekali. Sekarang baru. mendekati kentongan kedua, semestinya mereka belum tidur semua,

tapi… kok sepi amat suasana disini, apalagi gelap, jangan-jangan…..”

Sebelum ucapan tersebut diselesaikan, Hoa In-liong merasa hatinya tercekat. Diapun kuatir bila

di pesanggarahan tersebut telah terjadi sesuatu yang tak diinginkan.

Sebelum ingatan kedua melintas dalam benaknya, Yu Siau-lam telah mencemplak kudanya dan

dilarikan cepat-cepat menuju perkampungan itu.

Baru saja orang itu tiba didepan pintu perkampungan, tiba-tiba dari balik kegelapan melampai

keluar sesosok bayangan manusia.

Orang itu mempunyai gerakan tubuh yang enteng, cepat dan cekatan, dalam sekejap mata tahu

tahu sudah muncul didepan mata. “Saudara Siau-lam bertigakah disini?” orang itu menegur.

Ternyata orang itu tak lain adalah Ko Siong-peng, salah seorang diantara Kim-leng ngo-kong.

Yu Siau-lam makin tercengang lagi melihat kemunculan rekannya disana. “Eeeh… Saudara Siongpeng,

sebenarnya apa yang telah terjadi? Apakah ada sesuatu yang tak beres dirumahku?”

tanyanya kuatir.

“Haa … haa…. Haa….. Tidak ada, tidak ada. Suasana tetap tenang dan aman seperti sedia kala!”

sahut Ko Siong-peng sambil tertawa terbahak-bahak “Kesemuanya ini memang sengaja kami atur

untuk menjaga terjadinya segala sesuatu yang tidak diinginkan”

Berbicara sampai disini, dia lantas berpaling sambil bertepuk tangan tiga kali. Pintu halaman

depan lantas dibuka orang, menyusul kemudian cahaya lampu memancar keluar dari ruangan

tengah.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

182

Terdengar Ko Siong-peng berkata lebih jauh, “Aku mendapat tugas berjaga-jaga di halaman

depan, saudara Po-seng menjaga halaman belakang, saudara Ek-hong menemani Pek-bo duduk

diruang tengah sedang Pek-hu tugasnya meronda keempat penjuru dan siap membantu pihak

manapun, Haa… haa…. Haa…… Menunggu kelinci dibawah pohon, akhirnya cuma kalian

bertigalah yang berhasil kusergap secara jitu”.

Tiba-tiba si Tabib Sosial dari Kanglam muncul dibalik pintu ruang tengah, dengan nyaring dia

lantas menyela, “Eeeh… Siong-peng, ucapanmu itu kurang begitu tepat, darimana kau tahu kalau

tak ada orang yang telah berkunjung kemari?”

Makin nyaring gelak tertawa dari Ko Siong-peng. “Sudah hampir setengah malaman keponakan

menghirup angin barat-laut yang kencang dan dingin, aku kan cuma bergurau saja, masa

sungguhan?” sahutnya.

“Kalau cuma bergurau janganlah melukai orang kalau sampai melukai orang itu namanya

menyindir dan sindiran gampang mengakibatkan perselisihan. Aku rasa usul dari Ek-hong kan

tidak terlampau berlebihan malahan aku rasa tepat sekali” tegur Kanglam Ji-gi.

Mula-mula Ko Siong-peng agak tertegun, tapi menyusul kemudian sahutnya dengan sungguhsungguh,

“Yaaa, keponakan tahu salah!”

Melihat semua yang terpapar di depannya, diam-diam Hoa In-liong berpikir dalam hati,

“Locianpwe ini pandai mendidik orang menuju ke jalan yang benar, lagipula selalu mengajarkan

angkatan yang muda untuk tersopan santun dan menurut peraturan, bahkan caranya

mendidikpun ramah tamah membuat mereka yang mendapat teguran benar-benar takluk

dibuatnya. Yaa….. Manusia pendidik semacam inilah yang diharapkan setiap manusia. Asal Kimleng

ngo-kongcu dapat dibimbing terus oleh cianpwe ini, niscaya banyak kebaikan yang akan

mereka terima darinya. Itu berarti Kim-leng ngo-kongcu memang punya nasib baik…….”

Mereka bertiga telah melompat turun dari kudanya. si Tabib Sosial dari Kanglam kelihatan agak

tertegun sewaktu menyaksikan Hoa In-liong pulang dengan membawa pedang mustika serta

buntalan bajunya. “Aaaaah….. Ada apa? Liong koji tampaknya tidak sampai terjadi bentrokan

kekerasan bukan dalam perjalanan kalian barusan?” tanyanya dengan nada kuatir.

“Ooooh, terima kasih banyak atas kekuatiran cianpwe. sekalipun dalam perjalanan kami tidak

sampai mengakibatkan terjadinya bentrokan kekerasan, akan tetapi boanpwe masih di bikin

kebingungan setengah mati, sampai kini pun aku masih merasa kurang begitu paham”

“Oh yaa..? Sebenarnya apa yang telah terjadi?” Kanglam Ji-gi makin keheranan.

“Cia In semula kita anggap pasti kabur, ternyata masih bercokol ditempatnya semula” Timbrung

Yu Siau-lam, “Malahan ia siapkan meja perjamuan untuk menyambut kedatangan kami bertiga!”

Agaknya Coa Cong-gi mempunyai kesan yang cukup baik terhadap Cia In. Ketika mendengar

perkataan itu cepat-cepat selanya pula dari arah samping, “Sikap Cia In terhadap Hoa lote cukup

baik! Malahan setiap pertanyaan yang diajukan selalu dijawab dengan sejujurnya!”

“Waah…… kalau begitu kan urusan jadi lebih mengherankan” kata si Tabib sosial dengan muka

tertegun, “Jangan-jangan orang menyusup datang malam tadi memang tak ada sangkut pautnya

dengan perempuan she Cia itu?”

Ko Siong-peng segera membelalakkan matanya lebar-lebar, seperti amat kaget ia menjerit keras.

“Apa…? Jadi malam tadi sungguh-sungguh ada orang yang telah menyatroni kita?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

183

Dengan dahi berkerut Tabib Sosial dari Kanglam menganggukkan kepalairya tanda

membenarkan. “Yaaaa! Kurang lebih mendekati kentongan kedua tadi, ada sesosok bayangan

manusia melayang turun di halaman samping sebelah tenggara. Agaknya bayangan manusia

itupun menyadari bahwa pihak kita telah mengadakan persiapan, maka setelah berdiri sejenak

disana agak sangsi, akhirnya dia mengundurkan diri dengan cepatnya”

“Macam apakah manusia itu?” seru Coa Cong-gi dengan gelisah. “Pek-hu, kenapa tidak kau

hadang jalan perginya? Paling sedikit kita harus mengetahui siapakah orang itu!”

“Aaaai….. Gerakan tubuh orang itu cepatnya bukan kepalang, menanti aku tiba ditempat tujuan,

dia sudah kabur dari rumah kita. Tapi sekilas pandang aku rasa orang itu adalah seorang

perempuan” Tabib Sosial itu menerangkan.

Setelah berhenti sebentar dia alihkan kembali pokok pembicaraannya kesoal lain, ujarnya lebih

jauh, “Bagaimanapun juga aku tetap berkeyakinan bahwa duduknya persoalan ini tidak

sesederhana seperti apa yang kita bayangkan semula, mari ….kita masuk dulu kedalam ruangan!

Ek-hong dan Pek-bo mu sedang menanti di ruang tengah!”

Tanpa banyak bicara lagi, dia lantas putar badan dan masuk dulu kedalam ruangan dan langsung

menuju ke ruang tamu sebelah belakang gedung itu.

Hoa In-liong sekalian berdiri saling berpandangan, siapapun tidak bersuara atau mengucapkan

sepatah katapun. Sementara dalam hati kecil mereka hanya ada satu perkataan yang sama,

yakni siapakah orang itu? Benarkah dia seorang perempuan? Dan apa pula maksudnya datang

menyatroni kepasanggrahan tabib?

Ko Siong-peng juga menjulurkan lidahnya dengan hati kecut, seolah-olah sedang mentertawakan

ketidak becusan sendiri. Yaaa, hakekatnya dia tak merasa kalau ada orang telah menyatroni

tempat tersebut tanpa diketahui olehnya.

Setelah saling berpandangan sekejap, akhirnya empat orang pemuda itu baru melangkah masuk

kedalam ruangan dan menyusul si tabib sosial yang telah masuk lebih duluan itu.

Ketika mereka tiba diruang tengah, Li Po-seng juga sudah kembali dari halaman belakang. Wan

Ek-hong segera bangkit menyambut kedatangan mereka, sedang Yu lo-hujin manggut ke arah

Hoa In-liong dengan senyum di kulum. “Liong ko-ji, kau telah pulang?” sapanya dengan ramah,

“Bagaimana hasil perjalanan kalian barusan?”

“Tampaknya banyak keanehan dan kejadian yang diluar dugaan terselip dalam peristiwa ini?”

sela Tabib Sosial dengan cepat, “Mari kita bicarakan lagi persoalan itu dengan seksama, duduk!

Kalian duduklah lebih dahulu….”

Yu lo-hujin kelihatan tercengang. “Bagaimana anehnya?” ia bertanya.

Setelah semui orang mengambil tempat duduk. Tabib Sosial dari Kanglam baru berkata,

“Perempuan she-Cia itu bukan saja tidak melarikan diri dari Gi-sin-wan, malahan dia siapkan

meja perjamuan untuk menyambut kedatangan mereka. Kemudian di halaman sebelah tenggara

aku telah temukan juga seorang perempuan tak dikenal yang datang menyatroni kita. Tapi ketika

kukejar ke sana, ternyata ia sudah kabur pergi. Aku pikir dibalik semua kejadian ini tentu ada

hal-hal yang luar biasa”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

184

“Ooooh……! Jadi sudah terjadi peristiwa macam begini?” Yu Lo-hujin duduk dengan dahi

berkerut, “Siapakah perempuan tak dikenal yang datang menyatroni tempat kita? Kemudian

apakah dia tidak munculkan diri lagi…..?”

“Aku rasa perempuan tak dikenal yang berkunjung kemari itu sama sekali tidak bermaksud jahat,

sebab hanya sebentar dia berdiri disini kemudian pergi. Pada mulanya aku mencurigai kalau

perempuan itu ada sangkut pautnya dengan perempuan she Cia itu. Tapi setelah mendengar

cerita dari Liong koji sekalian, aku merasa pula bahwa kejadian tersebut kemungkinan jaga tiada

sangkut pautnya”

Ia berhenti sebentar untuk tukar napas, lalu sambil menatap Hoi In-liong lanjutnya, “Liong-koji,

lebih baik kau saja yang bercerita. Akupun ingin mendengar kisah kalian sejak awal sampai akhir”

Hoa In-liong mengangguk, sesudah tarik napas panjang, diapun berkata, “Ketika boan-pwe

sekalian tiba di rumah pelacuran Gi-sim-wan, si pelayan Tan-ji sudah menyongsong kedatangan

kami, maka setelah kami bertemu dengan Cia-In, sambil minum arak dan bergurau….”

Seorang pelayan masuk menghidangkan air teh, semua orang duduk dengan tenang

mendengarkan Hoa In-liong menuturkan pengalamannya.

Diantaranya yang hadir dalam ruangan tersebut, Li Po-seng dan Wan Ek-hong terhitung

manusia-manusia berotak cerdik yang sangat berbakat, sedangkan Li Siang-tek suami istri

termasuk juga angkatan tua yang berpengalaman luas. Kecerdasan otak mereka melebihi orang

lain setingkat. Sepanjang mereka mendengarkan kisah dari Hoa In-liong, sering kali alis mata

mereka berkenyit dan matanya melotot, namun sampai cerita itu selesai dituturkan pula seperti

keadaan Hoa In-liong, mereka tetap kebingungan dan merasa tak mengerti.

Untuk sesaat, suasana dalam ruangan jadi sepi, hening dan tak kedengaran suara.

Akhirnya Coa Cong-gi merasa suasana disana terlampau menyesakkan napas, tiba-tiba teriaknya,

“Eeeh… Sekarang kita mau apa lagi? Aku rasa Cia-In adalah seorang perempuan yang

berkepribadian menarik, sekaipun dia mempunyai kata-kata yang tak dapat dijelaskan secara

blak-blakan, itu berarti dia mempunyai kesulitan pribadi yang tak dapat diutarakan. Mau apa lagi

kita duduk terpekur disini sambil putar otak? memangnya ada sesuatu hasil yang dapat kita

peroleh dengan memutar otak melulu?”

Tabib Sosial dari Kanglam mengalihkan sinar matanya ke wajah pemuda itu, lalu tegurnya,

“Cong-gi, semenjak dulu sampai sekarang watak berangasanmu itu belum juga dapat diubah.

Aaaai….! Sekalipun Cia-In mempunyai kepribadian yang menawan hati, tidakkah kau merasa

bahwa tindak-tanduknya terlampau misterius?. Siapakah yang dapat menyakinkan kepada kita

bahwa perempuan yang datang menyatroni kita malam, tadi sama sekali tak ada hubungannya

dengan Cia-In? Yaaa… kau terlampau muda, belum kau ketahui betapa licik dan berbahayanya

dunia persilatan. Bila watak berangasanmu tetap kau pertahankan terus menerus dan tiap kali

menjumpai persoalan tak kau pikirkan dengan otak yang dingin, niscaya dalam sepuluh kali

peristiwa ada sembilan kali kau akan tertipu”.

Sebagaimana diketahui Coa Cong-gi adalah seorang pemuda polos yang berjiwa terbuka. Ia suka

berterus terang dan bicara blak-blakan daripada harus menghadapi tiap persoalan dengan

otaknya. Maka kalau suruh pemuda itu menggunakan otaknya sama saja dengan memaksa

kambing memanjat sebatang pohon.

Dengan alis mata barkenyit, langsung pemuda itu berteriak lagi, “Buat apa musti putar otak

buang energi dengan percuma! Biarpun dia mau gunakan akal yang bagaimana licikpun, akan

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

185

kuhadapi setiap perubahan dengan kemantapan hati. Coba lihat saja nanti siapa akhirnya yang

bakal menang!”

Setelah berhenti sebentar, ia menambahkan, “Hoa-lote sudah jatuh pingsan selama beberapa

hari, sekarang diapun musti bersusah payah setengah malaman lebih. Aku pikir lebih baik kita

tidur saja dulu! Kalau mau berpikir lagi, besokpun rasanya belum terlambat….”

Yu Lo-hujin yang pertama-tama bangkit lebih, katanya. “Loya cu!” ujarnya, “Apa yang dikatakan

Cong-ji memang beralasan. Bukan saja Liong koji baru sadar dari pingsannya, lagi pula barusan

sangat menegangkan hati. Aku rasa dipikirpun belum tentu bisa terpecahkan dalam semalaman

saja. Kini malam semakin kelam lebih baik beristirahat dulu untuk menghimpun tenaga lagi, ada

persoalan kita bicarakan lagi besok saja!”

Setelah istrinya ikut angkat bicara, tentu saja Tabib Sosial dari Kanglam tak leluasa untuk banyak

bicara lagi. Dia memandang sekejap anak-anak muda itu lalu bangkit berdiri, “Baiklah! Lebih baik

kita beristirahat dulu, toh bagaimanapun juga tak mungkin persoalan ini dapat diselesaikan

dalam semalaman!”

Dalam pesanggrahan tabib banyak terdapat kamar-kamar tidur. Ruang samping sebelah timur

dan barat adalah kamar tamu. Tabib Sosial suami istri menempati ruang belakang. Yu Siau-lam

berdiam di ruang tengah, sedangkan sahabat-sahabatnya seperti Wan Ek-hong, Li Po-seng

sekalian bila datang berkunjung kesana, mereka menempati pula ruang tengah.

Hoa In-liong dipersilahkan untuk beristirahat diruang tamu sebelah timur. Selesai membersihkan

badan, ia lantas naik keatas pembaringan untuk beristirahat.

Tapi mana mungkin ia dapat tidur nyenyak? Walaupun sudah membolak-balikkan badannya,

mata belum juga mau terpejam. Otaknya selalu bekerja memikirkan kejadian yang dialaminya di

rumah pelacuran Gi-sim-wan belum lama berselang.

Makin berpikir pemuda itu merasa makin kebingungan. Pembunuh gadis yang telah

membereskan nyawa Suma Tiang-cing suami istri hanya meninggalkan sebuah hiolo kecil terbuat

dari batu kemala hijau sebagai tanda pengenal. Padahal dia tahu hiolo kemala hijau itu adalah

tanda pengenal dari Giok Teng hujin. Kalau dibilang Giok Teng hujin telah meninggalkan dunia

yang fana ini, dus berarti tanda pengenalnya itu tentu akan diwariskan kepada orang lain.

Pemuda itu teringat pula akan surat pribadi dari Giok Teng hujin yang diserahkan neneknya

kepadanya dan surat tersebut kini dijahit dalam kaus kutang pelindung badan. Bukankah

tindakan dari neneknya ini sama artinya dengan memberi kisikan kepadanya kalau Giok Teng

hujin tersangkut dalam peristiwa berdarah itu?

Kalau kejadian berdarah itu memang benar-benar menyangkut Giok Teng hujin, itu berarti

gurunya Cia In….yakni Pui Che-giok tak dapat cuci tangan dengan begitu saja. Tapi…. Aneh,

kenapa Cia In mengaku terus terang tentang asal usulnya serta rahasia gurunya! Menurut

perkataan Coa Cong-gi, bukankah itu sama artinya sedang mencari kesulitan buat diri sendiri?

Dikolong langit tak nanti ada orang yang bersedia mencarikan kesulitan bagi diri sendiri, kecuali

kalau orang itu sudah goblok. Atau mungkin juga Cia In mengungkap kesemuanya itu lantaran

perempuan itu menaruh perasaan kagum yang istimewa terhadapnya? Tapi…. rasanya inipun

mungkin.

Dengan amat jelas Cia In telah berkata bahwa gurunya melarang mereka mengadakan hubungan

lagi dengan orang-orang keluarga Hoa, atau dengan perkataan lain, kejadian yang sudah lewat.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

186

Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa Cia In adalah seorang perempuan yang lebih

mementingkan perguruan dari pada kepentingan pribadi. Terhadap manusia macam begini,

mungkinkah dia menjual perguruannya demi mendapatkan cinta kasih?

Hoa In-liong membalikkan tubuhnya berulang kali untuk menghapus semua pikiran itu dari

benaknya akhirnya dia bergumam, “Lebih baik kita berangkat keselatan saja untuk melakukan

penyelidikan. Tampaknya Pui Che-giok memang tidak tersangkut dalam peristiwa berdarah

ini…..”

Gumamnya memang begitu tapi ingatannya masih berputar terus tiada hentinya.

Tindak tanduk Pui Che-giok benar-benar sukar diduga sepintas lalu kelihatannya ia mempunyai

rasa dendam yang amat tebal terhadap keluarga Woa, tapi tampaknya diapun sangat

menguatirkan keselamatan dari orang-orang keluarga Hoa, sebenarnya apa yang telah terjadi?

Kalau ditinjau dari perkumpulan Cha-li-kau, itu berarti perkumpulan mereka adalah suatu

perkumpulan sesat yang khusus mengandalkan kecantikan kaum wanita untuk membujuk kaum

pria menjadi anggota perkumpulan tersebut.

Padahal Cia In juga tahu bahwa keluarga Hoa adalah keluarga persilatan yang paling

menjungjung tinggi keadilan serta kesejahteraan dalam dunia persilatan. Apakah tidak mereka

pikirkan bahwa keluarga Hoa tak nanti akan membiarkan sebuah perkumpulan kaum sesat

muncul dalam dunia persilatan?

Tapi tanpa ragu-ragu atau merasa kuatir Cia In telah membeberkan segala sesuatunya

kepadanya, mungkinkah hal ini disebabkan karena mereka terlampau percaya pada kebenaran

dari tujuan perkumpulannya ataukah mungkin sudah mereka duga bahwa keluarga Hoa pasti tak

bisa mengapa-apakan perkumpulan mereka itu?.

Ditengah lamunannya, tiba-tiba anak muda ini seperti merasa terkejut. Sepasang matanya

melotot besar-besar, lalu gumamnya lagi, “Apa maksudnya ia berkata demikian? Dewasa ini

paling sedikit ada dua kelompok manusia yang bermaksud tidak menguntungkan bagi keluarga

Hoa. Siapakah dua kelompok manusia yang dimaksudkan itu…..?”

Ketika persoalan itu terlintas kembali dalam benaknya, pada mulanya pemuda itu menduga bila

Cia In memang sengaja hendak menggunakan kata-kata itu untuk menggertak dirinya agar

segera meninggalkan rumah pelacuran Gi-sim-wan dan tidak bertemu dengan Ciu Hoa disitu

sehingga menggagalkan rencana besar perkumpulan Cha-li-kau.

Tapi setelah dipikir lebih jauh bahwa jalan pikirannya tidak benar. Cia In pernah berkata padanya

bahwa mereka tak nanti akan melakukan perbuatan yang menyalahi keluarga Hoa. Meskipun

kata katanya itu sedikit mengandung nada sindiran, tapi jelas menumbangkan jalan pikirannya

tentang “gertakan” tadi. Tanpa sadar ucapan dari si nona baju hitam yang pernah dijumpainya

diluar kota Lok yang tempo hari berkumandang kembali disisi telinganya.

Dia masih ingat, perempuan baju hitam itu pernah berkata demikian kepadanya, “Dunia

persilatan pada saat ini sedang terjadi perubahan besar. Suma Tiang-cing hanyalah korban

pertama yang menanggung dosa-dosa orang lain….“.

Kemudian diapun berkata demikian lagi kepadanya, “Ayahmu memang merajai seluruh kolong

langit, nama besar dan kedudukannya amat terhormat ibaratnya sang surya ditengah angkasa.

Akan tetapi musuh besarnya banyak tersebar dalam dunia persilatan”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

187

Setelah pelbagai ingatan tersebut kian bertambah berat dalam benaknya, ia merasa semakin

yakin kalau dunia persilatan benar-benar sedang mengalami perubahan besar. Perasaannya kian

lama kian berat dan hal ini tentu saja semakin menyulitkan dia untuk tidur dengan tenang.

Pada hakekatnya Hoa In-liong adalah seorang pemuda yang tak pernah risau tak pernah murung

dan menghadapi setiap masalah dengan acuh tak acuh. Akan tetapi setelah diatas bahunya diberi

beban seberat ribuan kati, ia telah berubah jadi aeoraog pemuda yang pemurung dengan

pelbagai masalah yang menindih dalam hatinya. Dari sini dapat menunjukkan bahwa wataknya

meski tetap seperti sedia kala, namun rasa tanggung jawabnya jauh lebih berbobot.

Begitulah, setiap kali teringat akan satu persoalan, persoalan lainpun ikut melintas dalam

benaknya. Mulai dari nona Yu sampai ke kucing hitamnya, Si Nio yang bertampang jelek, Wan

Hong giok yang genit dan manja, Siau Ciu kakak seperguruan Wan Hong-giok yang jumawa

sampai beberapa Ciu Hoa yang pernah dijumpainya semuanya terpampang lagi didepan

matanya.

Jilid 10

AYAM jago mulai berkokok kentongan lima telah menjelang dan fajarpun hampir menyingsing,

akan tetapi dia masih berpikir dan berpikir terus menerus.

Ia berpikir pula tentang perempuan misterius yang datang ke pesanggrahan tabib, berpikir pula

tentang hubungannya dengan Cia In. Andaikata perempuan itu tiada sangkut pautnya dengan

Cia In, lantas siapakah dia? Apa tujuannya datang ke situ?

Walaupun pelbagai pikiran sudah berkecamuk dalam benaknya, akan tetapi pemuda itu masih

gagal untuk mendapatkan suatu jawaban yang memuaskan hatinya, akhirnya anak muda itu

kewalahan. Ia duduk bersila dan mengatur pernapasan, sesaat kemudian pikirannya jadi tenang

kembali dan berada dalam keadaan lupa diri.

Entah berapa lama sudah lewat tiba-tiba ia merasa ada orang masuk ke dalam kamarnya, cepat

dia membuka matanya. Tampaklah Coa Cong-gi sedang berjinjit-jinjit menutup kembali pintu

kamarnya.

Hoa In-liong jadi terkejut bercampur keheranan, segera serunya, “Saudara Cong-gi…..”

Secepat kilat Coa Cong-gi putar badannya dan menempelkan jari telunjuknya keatas bibir tanpa

jangan berbisik, setelah itu dengan suara lirih baru bisiknya, “Lote, ayoh ikut aku pergi dari sini! “

“Ada urusan apa?” Hoa In-liong makin kaget bercampur tercengang.

“Aaaah…… tak ada urusan apa-apa, sisirlah dulu rambutmu, tapi harus cepat dan jangan berisik

aku akan menanti dirimu!”

“Aneh benar saudara Cong-gi ini” demikian Hoa In-liong berpikir, “kalau toh tak ada kejadian

apa-apa, kenapa dia musti berlagak misterius, malahan aku musti cepat dan jangan berisik….?”

Sekalipun dalam hati berpikir demikian, diluaran dia berkerut kening, sambil bangun dan berpakaian

kembali tanyanya, “Apakah saudara Siau-lam sekalian sudah bangun?”

“Aaaah……….kau tak usah perduli mereka, kita harus diam-diam ngeloyor pergi dari sini!” bisik

Cong-gi lagi.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

188

“Ngeloyor pergi secara diam-diam? Kenapa?”

“Kenapa? Kita pergi bermain, akan kuajak engkau untuk berpesiar ke tempat-tempat yang

termasyhur disekitar kota ini”

“Tentang soal ini…..” Hoa In-liong kelihatan agak sangsi setelah mendengar perkataan itu.

Coa Cong-gi jadi sangat gelisah. “Ayoh cepatan sedikit” desaknya, “kalau kita tunggu sampai

mereka sudah bangun, tentu kita tak akan jadi pergi!”

Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba sambungnya lebih jauh, “Tentunya kau tidak tahu bukan,

disekitar kota Kim-leng banyak terdapat tempat-tempat indah yang tak terhitung jumlahnya,

seperti bukit Cing liang-san, bukit Si-cu-san. bukit Ciong-san, pagoda Pak-kek-kek, kuil Ki-bengsi,

puncak Yu-hoa-tay, pantai Yan-cu-ki…. bahkan masih ada lagi telaga Mo-ciu-ou dan telaga

Hian-bu-ou. Pokoknya komplit ada semua disini!”

“Kalau toh kita akan bermain, tidak sepantasnya kalau kita ngeloyor pergi tanpa pamit,

bagaimanapun juga…..”

“Bagaimanapun juga kenapa?” tukas Coa Cong-gi dengan cepat. “Jika kita minta ijin dulu kepada

Yu pek-hu, niscaya kita tak akan jadi berangkat, apalagi kalau menunggu sampai mereka bangun

semua, pastilah yang diributkan dan dipersoalkan hanya masalah Cia In belaka, bisa pusing

kepala dibuatnya. Saudara Hoa, lantaran aku merasa cocok denganmu, maka diam-diam kuajak

engkau bermain, tapi kalau engkau segan pergi yaa sudahlah, biar aku pergi sendirian!”

Pada dasarnya Hoa In-liong memang seorang pemuda yang gemar bermain, apalagi setelah Coa

Cong-gi menyebutkan tempat rekreasi yang begitu banyak dan menawan hati, semenjak tadi ia

sudah tertarik.

Maka ketika mendengar perkataan Coa Cong-gi yang terakhir ini, ia merasa kurang enak untuk

menampik kebaikan orang. Walaupun begitu, tentu saja ia tak dapat ngeloyor pergi seenaknya

sendiri, sementara orang lain ikut memikirkan persoalannya lagi pula pada saat ini dia menginap

di rumah keluarga Yu, untuk sesaat dia jadi gelagapan dan tak tahu apa yang musti dikatakan.

Coa Cong-gi bukan orang bodoh, dari sikap rekannya yang seperti mau berbicara namun tak

dapat mengucapkan sesuatu itu, dia lantas memahami kesulitannya, kembali ia berkata,

“Kesempatan baik tak boleh dibuang dengan percuma. Disiang hari kita pergi bermain, malam

nanti kutemani engkau lagi untuk berkunjung ke Gi-sim-wan dan mencari tahu jejak dari manusia

she-Ciu itu, maka saat bermain dapat kita manfaatkan untuk bermain, saat bekerja kita bekerja

dengan baik, bukankah itu sangat bagus sekali?”

Hoa In-liong merasa bahwa perkataan itu ada benarnya juga, maka setelah termenung sebentar

sahutnya kemudian, “Kalau…. kalau….. memang begitu, le…… lebih baik tinggalkan saja surat

disini”

Mendengar si anak muda itu mengabulkan ajakannya, air muka Coa Cong-gi segera berseri-seri,

dia ulapkan tangannya seraya berseru lagi, “Kalau begitu pergilah cuci muka dan berpakaian biar

aku yang menulis surat, ayoh cepatan dikit”

Dia berjalan menuju kemeja dan segera menulis surat.

Terbacalah tulisan itu barbunyi demikian, “Siaute mengajak In-liong pergi berpesiar, malam nanti

baru pulang”.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

189

Dan dibawah tulisan yang Sederhana itu dia di bubuhi pula dengan singkatan namanya yaitu “Gi”

Baru saja menulis surat tampaklah Hoa In-liong dengan senyum dikulum telah menanti

dibelakangnya.

Coa Cong-gi jadi tertegun, dengan mata melotot segera serunya, “Eeeh….. bagaimana sih kami

ini? Kenapa belum cuci muka……”

“Aku hanya membasuh mukaku dengan kain kering, dengan begitu tindak tanduk kita tak akan

mengganggu orang lain” jawab anak muda itu dengan tenangnya.

Mula-mula Coa Cong-gi agak tertegun, kemudian dia ingin tertawa tergelak, untunglah tiba-tiba

ia teringat akan keadaan mereka, maka sambil acungkan jempolnya dia memuji, “Kau memang

hebat! Itulah kalau dinamakan teman seia sekata, ayoh ikutilah aku!”

Ia lantas putar badan dan pelan-pelan membuka pintu lalu menyusup keluar.

Ketika itu fajar biru saja menyingsing. Beberapa orang pelayan keluarga Yu telah bangun

membersihkan lantai. Dengan sembunyi-sembunyi mereka menuju ke halaman samping. Setelah

memeriksa sekitar tempat itu dan yakin kalau di sekitarnya tak ada orang, kedua orang itu

segera melompat keluar lewat dinding pekarangan dan keluar.

Sekejap kemudian mereka sudah beradu dua tiga li jauhnya dari pasanggrahan tabib. Ketika

hampir tiba di kaki tembok kota, Hoa In-liong baru bertanya, “Saudara Cong-gi, apakah kita akan

masuk dulu ke dalam kota Kim-leng?”

“Ehmm, kita masuk kota, sebab bukit Cing-liang-san, kuil Ki-beng-si dan pagoda Pak-khek-kek

berada didalam kota semua!”

“Kalau begitu, kita akan berpesiar kemana dulu?”

“Bukit Cing-liang-san! Sebab kuil Ki-beng-si berada di atas bukit tersebut. Setelah mengisi perut

dikuil Ki-beng-si, baru kita menuju puncak Yu-hoa-tay untuk memungut batu kerikil!”

Hoa In-liong masih asing dengan keadaan disana, tentu saja dia tak mengerti apa yang dimaksudkan

“memungut batu kerikil di Yu-hoa-tay” dan tidak tahu juga kenapa musti mengisi perut di

kuil Ki-beng-si. Tapi ketika dilihatnya Coa Cong-gi berlarian dengan kencangnya maka diapun

segan untuk banyak bertanya. Dengan kencang diikutinya rekannya itu menuju ke dalam kota.

Setelah berada dalam kota Kim-leng, kedua orang itu langsung menuju ke kota sebelah barat.

Sesaat kemudian mereka sudah tiba ditempai tujuan.

Yang dimaksudkan bukit Cing-liang-san pada hakekatnya tak lain adalah sebuah tanah

perbukitan yang tak terlampau tinggi, luasnya kurang lebih dua puluh li dengan tinggi mencapai

ratusan kaki. Meskipun demikian pepohonan tumbuh dengan rimbunnya disekitar tanah

perbukitan tersebut.

Tiap kali musim panas menjelang tiba, bila ada angin yang berhembus lewat maka terdengarlah

suara serangga berbunyi sahut bersahutan, mendatangkan rasa sejuk bagi mereka yang

kepanasan disana, itulah sebabnya bukit itu dinamakan bukit kesegaran atau Cing-liang-san.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

190

Kuil Ki-beng-si terletak dipuncak bukit Cing-liang-san, gedung bangunannya tidak terlampau

besar tapi banyak sekali jemaah yang berkunjung kesana. Walau fajar baru menyingsing, namun

sudah banyak kaum jemaah yang telah tiba dibukit itu untuk pasang hio bersembahyang.

Tentu saja hal ini ada alasannya. Pertama tanah perbukitan itu sangat tenang, sejuk dan

udaranya segar. Penduduk kota selalu menggunakan kesempatan itu untuk mendaki bukit. Bukan

saja dapat pasang hio bersembahyang, mereka pun dapat berolahraga menyehatkan badan.

Sebab itulah orang-orang selalu saling berebut mendekati bukit itu.

Kedua dikuil Ki-beng-si telah tersedia bubur dan beberapa macam sayur yang sengaja dimasak

oleh kaum padri yang menghuni disana. Bukan saja hidangan itu lezat dan nikmat, yang penting

adalah gratis. Tidak heran kalau kebanyakan orang setelah naik bukit dan bersembahyangan,

mereka datang kekuil itu untuk mengisi perut.

Dan itulah sebabnya Coa Cong-gi mengajak rekannya untuk mengisi perut dikuil Ki-beng-si.

Setibanya dikaki bukit, dua orang itu segera memperlambat langkah kakinya dengan

mencampurkan diri diantara para jemaah yang lain, pelan-pelan mereka mendaki ke puncak

bukit tersebut.

Jalan yang mereka ambil sekarang adalah jalan setapak yang paling terpencil dan jarang dilalui

orang. Sepanjang perjalanan tidak banyak yang mereka jumpai, akan tetapi setelah mereka tiba

di pinggang bukit, dimana semua jemaah yang mendaki dari empat penjuru berkumpul jadi satu.

Jumlahnya jadi banyak sekali, kendati begitu diantara orang-orang itu tidak nampak ada orangorang

yang berdandan menyolok. Sekalipun ada, lantaran Hoa In-liong berdua tujuannya adalah

berpesiar, mungkin merekapun tidak terlampau menaruh perhatian.

Suara pembacaan doa pagi berkumandang diudara pagi yang bersih, itulah para pendeta sedang

menjalankan upacara sembahyangan mereka dipuncak bukit.

Suara ketukan bok-hi dan nyanyian liam-keng yang berpadu menjadi satu memberikan

ketenangan dalam hati Hoa In-liong. Dalam suasana setenang dan secerah ini, anak muda itu

hampir melupakan semua kemurungan dan kekesalan yang dialaminya kemarin malam. Tanpa

terasa ia mempercepat langkah kakinya menuju ke puncak bukit dimana ketukan bok-hi dan

nyanyiannya liam-keng berasal.

Dalam kuil Ki-beng-si hanya terdapat ruang tengah, sebuah ruang samping, sebuah ruang

belakang dan ruang bersantap. Ruang tengah sebagai ruang sembahyang, ruang makan letaknya

diruangan belakang, dibelakang ruang makan itu terdapat pula ruangan ruangan kecil disanalah

terletak gudang dan dapur.

Waktu itu ada dua tiga puluh orang hweesio berkumpul di ruang depan sambil bersembahyang,

semuanya memejamkan mata rapat-rapat dan pusatkan perhatiannya hanya untuk berdoa.

Agaknya Hoa In-liong sudah terpikat oleh suasana tenang disitu, dia langsung menuju ke ruang

tengah dan mendengar pembacaan doa itu dengan penuh seksama.

Beberapa saat lewat dengan begitu saja. Lama kelamaan Coa Cong-gi tercengang juga oleh sikap

rekannya itu, ia jadi habis kesabarannya, segera bisiknya, “Eeeh… lote, sebenarnya apa yang

terjadi?”

Hoa In-liong tertegun lalu tersadar kembali dari lamunannya. Dia sendiripun dibuat kebingungan

dan tak habis mengerti dengan kejadian yang baru saja berlangsung didepan matanya. Ia tak

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

191

tahu kenapa suara liam-keng dan kekuatan bok-hi itu begitu memikat hatinya sampai hampir

saja dia kehilangan kesadaran.

Dengan muka tersipu-sipu ia menggeleng, lalu sahutnya sambil tertawa jengah, “Oooh… Tidak

apa-apa, tidak apa-apa. Mari kita berkunjung ke tempat lain!”

Tanpa menantikan jawaban dari Coa Cong-gi lagi, dia putar badan dan pelan-pelan berjalan

menuju ke ruang samping.

Tindak tanduk rekannya yang termangu-mangu seperti orang kehilangan kesadaran ini tentu saja

sangat membingungkan Coa Cong-gi yang berada disampingnya. Ia benar-benar dibuat tak habis

mengerti oleh sikap rekannya, tapi ada seseorang yang berdiri dikejauhan menganggukkan

kepalanya berulang kali dengan senyum dikulum.

Orang itu adalah seorang hweesio kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang yang mukanya

sudah penuh berkeriput, matanya setengah terpejam dan memelihara jenggot sepanjang dada.

Potongan badan maupun roman muka hweesio itu sederhana sekali dan sedikitpun tidak menyolek.

Sebuah tasbeh bergantung didadanya, memakai jubah pendeta berwarna abu-abu yang

kasar dengan sepatu rumput yang sederhana sekali.

Walaupun sederhana dandanannya, tapi ia sudah menguntil terus dibelakang Hoa In-liong

semenjak pemuda itu mulai mendaki ke atas puncak bukit. Hanya tentu saja anak muda itu sama

sekali tidak merasa kalau secara diam-diam ada orang yang menguntil terus dibelakangnya.

Setelah berpesiar disekitar halaman kuil, Coa Cong-gi dan Hoa In-liong menuju ke puncak

sebelah tenggara, dari situ mereka nikmati keindahan kota Kim-leng.

Penduduk yang berdiam di kota Kim-leng sebelah tenggara benar-benar padat sekali, rumah

yang berjejer-jejer jauh memanjang sampai ke depan sana, ramai sekali suasananya.

Walaupun fajar baru saja menyingsing, namun sudah banyak orang yang berlalu lalang dijalan

raya.

Daerah kota sebelah barat laut meski tidak sedikit jumlah rumah yang ada disitu, namun

kebanyakan adalah gedung-gedung besar milik pembesar atau pedagang kaya. Suasana dijalan

lorong dan jalan raya sekitar tempat itu masih sepi dan jarang ada orang yang berlalu lalang.

Tiba-tiba Hoa In-liong tertegun, sinar matanya yang tajam bagaikan sembilu itu menatap ke arah

loteng tambur tanpa berkedip.

Kembali Coa Cong-gi dibikin tertegun oleh sikap rekannya itu. Dengan perasaan tidak habis

mengerti segera tegurnya, “Eeeeh…. kenapa kamu? Adakah sesuatu yang tidak beres?”

Hoa In-liong segera menuding ke arah mana yang dipandangnya itu, lalu katanya, “Coba kau

lihat, bukankah kereta kuda itu adalah kereta kuda milik Cia In?”

Mengikuti arah yang ditunjuk Coa Cong-gi segera memandang ke bawah. Benar juga, tampak

seekor kereta kuda sedang dilarikan kencang kencang menuju bagian kota yang ramai.

Sayang ketajaman matanya tak dapat menandingi ketajaman mata Hoa In-liong. Sekalipun ia

melihat adanya kereta yang sedang dilarikan kencang-kencang akan tetapi tak sempat dilihat

bagaimanakah bentuk kereta kuda itu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

192

“Aaaah….kamu ini!” Serunya kemudian. “Di kota Kim-leng ini banyak sekali kereta kuda macam

begitu! Darimana kau bisa tahu kalau kereta tersebut adalah keretanya Cia In?”

“Memang, di kota Kim-leng mungkin terdapat banyak sekali kereta kuda, tapi modelnya toh tak

mungkin sama antara yang satu dengan yang lain. Aku sangat hapal dengan model kereta milik

Cia In dan aku rasa dugaanku tak mungkin keliru” kata Hoa In-liong dengan nada yang

meyakinkan.

“Kalau memang kereta kuda itu adalah keretanya Cia In lantas kenapa? Eagkau ‘kan juga tahu

kalau dia adalah seorang pelacur? Malam diundang orang, pagi baru pulang sudah merupakan

suatu pekerjaan yang umum, apanya yang aneh?”

“Aaah………aku rasa tak mungkin begitu” Hoa In-liong tetap menggelengkan kepalanya berulang

kali.

“Masa kau lupa? Kemarin Ciu Hoa ‘kan pergi kesana untuk mencari gara-gara. Jelas kedatangannya

bukan untuk mengundangnya mencari kesenangan. Aku jadi ingin tahu bagaimana

caranya ia meloloskan diri dari cengkeraman orang she-Ciu itu?”

“Kalau tak dapat meloloskan diri lantas kenapa?” seru Coa Cong-gi lagi dengan muka tertegun,

“Eeeh… saudara Hoa sekalipun engkau merasa curiga dengan kejadian ini, aku rasa tak perlu kau

pikirkan pada saat ini. Malam nanti kita berkunjung saja ke kamarnya, tanggung semua

kecurigaanmu akan peroleh jawaban. Ayoh jalan kita pergi makan bubur.”

Tanpa menunggu jawaban lagi dia lantas menarik lengan Hoa In-liong dan diajak menuju ke

ruang makan.

Coa Cong-gi memang terlalu polos dan kasar, selamanya dia tak mau berpikir secara baik-baik

tiap kali merasa tak mampu untuk menjawab pertanyaan orang, maka digunakannya kekerasan.

Menghadapi manusia semacam ini terpaksa Hoa In-liong harus bersabar dan mengikuti kehendak

hatinya.

Setelah masuk ke ruang makan, tampaklah tamu yang bersantap disitu banyaknya bukan

kepalang. Dua puluh buah meja yang tersedia hampir boleh dibilang sudah penuh diisi manusia.

Dalam ruangan bersantap ini tidak tersedia orang yang melayaninya, jadi bila ada orang yang

hendak makan bubur, maka dia harus menyiapkan buat diri sendiri. Oleh sebab itu manusia yang

berlalu lalang disitu amat banyak dan sangat tidak beraturan.

Hoa In-liong mencampurkan diri dengan para jemaah yang berkumpul disitu, mengikuti di

belakang Coa Cong-gi mereka pergi mengambil bubur, lalu mencari tempat kosong dan duduk

sambil bersantap.

Sayur yang tersedia disitu ada empat macam. Sepiring sayur putih dimasak cah, sepiring ayam

masak kecap, sepiring tahu merah dan sepiring cah toge, empat macam sayur yang amat

sederhana dan umum, akan tetapi rasanya nikmat sekali, jauh lebih nikmat dari masakan

restoran.

Selesai makan bubur sampai kenyang, Coa Cong-gi baru berpaling ke arah temannya sambil

berta-nya, “Eeeeh….. Hoa lo-te, bagaimana rasanya sayur dan bubur yang dihidangkan disini?”

“Ehmmm…… lezat! lezat sekali” sahut Hoa In-liong sambil angkat kepalanya dan tertawa.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

193

Tiba-tiba dia membungkam, kata-kata selanjutnya tidak diteruskan bahkan senyuman yang

menghiasi ujung bibirnya seketika lenyap, sinar matanya memandang kesatu arah dengan

termangu.

Coa Cong-gi mengenyitkan sepasang alis matanya yang tebal, kemudian dengan perasaan tidak

habis mengerti tanyanya, “Hey Hoa lo-te, kenapa hari ini……”

Tiba-tiba ia merasa sinar mata yang terpancar dari kelopak mata Hoa In-liong aneh sekali, tanpa

sadar diapun menghentikan kata-katanya dam mengalihkan pula sinar matanya ke arah samping.

Ternyata di meja samping mereka duduklah seorang pemuda yang menyoren pedang dengan

disampingnya duduk seorang gadis berkerudung hitam yang sedang bermain dengan seekor

kucing hitam.

Memandang kucing hitam yang bermata merah menggidikkan hati itu, Coa Cong-gi kelihatan

tertegun. Untuk sesaat diapun, tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Dalam pada itu, pemuda tersebut telah meletakkan sumpit dan mangkuknya keatas meja lalu

menengadah. Kiranya orang itu tak lain adalah kakak seperguruannya Wan Hong-giok…. yaitu

Siau Ciu adanya.

Coa Cong-gi tidak kenal dengan Siau Ciu, tapi dari Hoa In-liong, dia pernah mendengar tentang

kisah si kucing hitam yang ganas.

Sementara itu Siau Ciu sendiripun tampak agak tertegun, menyusul kemudian ia bangkit dan

tertawa seram. “Hee….. hee….. hee….. Hoa loji, sudah lama kita tak bertemu muka!”

Mendengar teguran tadi, perempuan berkerudung hitam yang duduk disampingnya ikut

menengadah, akan tetapi setelah mengetahui siapakah pemuda yang berada dihadapannya,

kontan sekujur badannya menggigil keras.

Sekalipun perempuan itu mengenakan kain kerudung warna hitam yang menutupi wajahnya atau

mungkin tidak membawa serta kucing hitamnya, Hoa In-liong tetap dapat mengenali perempuan

itu sebagai nyonya Yu “gundik” Suma liang-cing yang pernah ditemuinya menjaga di sisi layon

siok-ya nya itu.

Tak heran Hoa In-liong segera tertegun, ketika secara tiba-tiba bertemu muka dengan

pembunuh yang paling dicurigainya itu ditempat tersebut itu…..

Tampak nyonya Yu menarik ujung baju Siau Ciu, kemudian bisiknya dengan suara lirih, “Jangan

mencari gara-gara disini mari kita pergi!”

“Heeh… heeeh… hee… mau pergi?” jengek Coa Cong-gi dengan suara dalam “Kalian mau

kemana? jangan mimpi di siang hari bolong….”

“Biarlah mereka pergi” kata Hoa In-liong tiba-tiba dengan suara halus dan tenang. “Tempat ini

adalah tempat beribadah yang sunyi, jangan sampai kita nodai tempai suci ini dengan bau

anyirnya darah manusia!”

“Kenapa?” seru Coa Cong-gi dengan alis mata berkenyit, “Apakah orang itu bukan…..”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

194

Sebelum pemuda itu menyelesaikan kata-katanya, Hoa In-liong telah mengangguk. “Benar,

dialah nyonya Yu dan aku rasa tak mungkin bakal salah lagi!”

“Hoa In-liong!” seru Siau Ciu kemudian setelah mendengus dingin, “Kongcumu akan menantikan

kedatanganmu di bukit Ciong san, beranikah engkau pergi ke sana?”

“Baik, kita tetapkan dengan perkataanmu itu, sebentar aku pasti akan tiba di tempat itu!” sabut

Hoa In-liong dengan sinar mata berkilat.

Setelah berhenti sebentar, ditatapnya nyonya Yu dengan pandangan tajam, kemudian lanjutnya,

“Perjanjian ini dengan hujin sebagai pokok persoalan, aku ada persoalan hendak dibicarakan

dengan hujin. Maka aku harap sampai waktunya hujin juga harus habis disitu”

“Aku…… aku….. aku turut perintah!” dengan terbata-bata nyonya Yu memberikan janjinya.

Hoa In-liong tersenyum, dia lantas bangkit berdiri. “Saudara Cong-gi, mari kiia pergi!” ajaknya.

Dengan langkah lebar dia berjalan lebih dahulu menuju ke pintu gerbang ruangan itu.

Dengan mulut membungkam Coa Cong-gi hanya mengekor dibelakang rekannya. Menanti

mereka tiba dipinggang bukit, pemuda itu kehabisan sabar, dia lantas bertanya, “Hoa lo-te,

benarkah kau percaya dengan ucapan nyonya Yu yang akan hadir dalam pertemuan itu?”

Hoa In-liong tersenyum, “Sekalipun dia merupakan satu-satunya titik petunjuk yang

menguntungkan bagiku, hakekatnya perempuan itu bukan manusia penting, jadi mau datang

atau tidak, sebenarnya tidaklah terlalu penting!”

“Kalau…… kalau memang begitu, kenapa kau undang pula kehadirannya dalam pertemuan itu?”

tanya Coa Cong-gi dengan wajah tercengang dan tidak habis mengerti.

Sekali lagi Hoa In-liong tersenyum. “Andaikata perempuan itu tidak pergi, ini membuktikan

bahwa dia sudah melakukan suatu perbuatan salah kepada pihak kami. Dus berarti pula dia

tersangkut dalam peristiwa berdarah yang menimpa Suma siok-ya ku itu. Bila suatu ketika aku

betul-betul menghadapi jalan buntu, maka semua tenaga dan pikiranku dapat dipusatkan untuk

mengejarnya dan akhirnya duduknya persoalan tentu akan ketahuan juga”

“Seandainya dia menghadiri pertemuan itu?” Cong-gi bertanya lebih lanjut.

“Bila kita tinjau keadaan yang terpapar dihadapan mataku sekarang, dengan posisi nyonya Yu

yang tersangkut dalam peristiwa berdarah itu maka menurut dugaanku jika dia berani datang

menghadiri pertemuan itu, tentu diapun akan membawa pula membantu pembantunya untuk

mengerubuti aku dan keadaan semacam inilah yang memang sedang kunanti-nantikan”

Mula-mula Coa Cong-gi agak tertegun setelah mendengar perkataan itu, tapi menyusul kemudian

ia sudah tertawa terbahak-bahak. “Haa… haa…. haa…. Aku mengerti, sekarang….. Aku

mengerti…. Sungguh tak kusangka kau….”

Hoa In-liong segera menepuk bahunya pelan. “Kalau banyak bicara tentu lebih banyak gagalnya

dari pada berhasil. Kalau sudah mengerti yaa sudahlah, mari percepat perjalanan kita”

Demikianlah, dua orang itu lantas bergandengan tangan dan buru-buru menuruni bukit Cingliang

san.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

195

Baru saja dua orang itu lenyap dari pandangan, nun jauh dibalik pepohonan yang rindang sana

pelan-pelan muncul seorang hweesio tua yang kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang.

Memandang bayangan punggung Hoa In-liong yang menjauh, dia gelengkan kepalanya berulang

kali, kemudian sambil memanggul kantungan kainnya pelan-pelan diapun menuruni bukit itu.

Bukit Ciong-san terletak kurang lebih lima puluh li disebelah timur kota Kim-leng.

Hoa In-liong dan Coa Cong-gi tidak langsung menuju ketempat tujuan. Mereka keluar kota lewat

pintu sui-see-bun, mula-mula bermain dulu di Yu-hoa-tay setelah itu mereka baru mengerahkan

ilmu meringankan tubuhnya menuju ke bukit Ciong-san.

Setibanya di kaki bukit, waktu menunjukkan antara pukul tujuh pagi. Angin berhembus sepoisepoi

menyejukkan badan. Gunung itu cukup tinggi dan angker, orang menyebutnya pula bukil

Ci-kim-san.

Memandang tanah perbukitan yang tinggi dan luas itu, Coa Cong-gi tampak agak tertegun,

kemudian sambil menghembuskan napas panjang katanya, “Aaah….. Coba lihatlah bukit Ciongsan

begini besar dan luasnya, kenapa tadi kita bisa lupa menanyakan tempat yang sebenarnya?

Coba sekarang kemana kita musti menunggu?”

Hoa In-liong berpikir sebentar, lalu sahutnya, “Untunglah waktu masih pagi. Mari kita mendaki

dulu kepuncak bukit itu. Dari situ kita akan menyaksikan dengan jelas setiap orang yang

mendatangi bukit ini”

Oleh karena hanya itulah satu-satunya jalan yang bisa ditempuh, tentu saja Coa Cong-gi tak

dapat berkata apa-apa lagi. Sekali lagi dua orang itu mengerahkan tenaga dalamnya untuk lari ke

atas puncak.

Sesaat kemudian, mereka sudah mendekati puncak bukit tersebut, tiba-tiba terdengar seorang

perempuan membentak dengan suara yang amat parau, “Berhenti! Kalau engkau berani maju

selangkah lagi, jangan salahkan kalau kutebas kutung sepasang kaki anjingmu!”

Mendengar ancaman tersebut, Hoa In-liong merasa terkesiap, segera pikirnya, “Lhoo…. itu kan Si

Nio? Kenapa dia bisa berada disini?.”

Baru saja pikiran itu melintas dalam benaknya, tiba-tiba terdengar suara pria lain menyahut

sambil tertawa dingin, “Lengan belalang mau menahan kereta. Haa…. Haa…. Haa…. Kau si nenek

jelek benar-benar manusia yang tak tahu diri, berani benar……”

Belum habis perkataan itu, tiba-tiba Hoa In-liong membentak dengan suara dalam, “Ayoh

cepatan sedikit! Orang itu adalah Ciu Hoa”

Begitu selesai berkata, tubuhnya lantas melambung ke udara. Dari situ dengan kecepatan

bagaikan sambaran kilat menerjang ke atas puncak bukit.

Dalam waktu singkat kedua orang itu sudah tiba diatas puncak bukit itu. Tampaklah tempat

tersebut adalah sebidang tanah berumput yang tidak rata, luasnya kurang lebih belasan kaki

persegi. Sebelah timur dan barat merupakan hutan yang rimbun, sebelah timur laut merupakan

sebuah jurang yang entah berapa dalamnya.

Pada waktu itu kecuali arah tebing dengan jurang yang dalam itu tanpa penjagaan, boleh

dibilang tiga arah disekitarnya sudah dikepung oleh enam belas orang laki-laki berbaju ringkas

warna merah.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

196

Ditengah tanah lapang berumput itu berdirilah seorang nona baju hitam yang berusia enam belas

tahunan dengan pedang pendek terhunus. Mukanya diliputi kegusaran dan matanya melotot

besar. Si Nio si perempuan bertampang jelek itu menghadang dihadapannya. Mukanya yang

jelek itu kelihatan menyeringai seram, sepasang matanya berapi-api. Kulit wajahnya mengejang

kencang, sepasang tangannya yang hitam pekat bagaikan arang tampaknya sudah disaluri

tenaga dalam yang sempurna, ini menunjukkan bahwa ia telah bersiap-siap hendak turun

tangan.

Dihadapan perempuan jelek itu berdirilah Ciu Hoa dengan sikap acuh tak acuh. Sinar matanya

memancarkan cahaya cabul, senyuman tengik tersungging di ujung bibirnya. Kendatipun pihak

lawan sudah bersiap sedia menerjang ke depan, akan tetapi dia sendiri tetap tenang-tenang saja,

malahan selangkah demi selangkah maju semakin ke depan.

Dibelakang Ciu Hoa berdirilah seorang pemuda berbaju perlente yang usianya antara dua puluh

tahunan. Kalau dilihat dari gerak geriknya, jelas dia berasal sealiran dengan Ciu Hoa.

Dari keadaan yang terpapar didepan mata sekarang, siapapun akan tahu bahwa pertarungan ini

bukan disebabkan soal dendam, sebaliknya karena Ciu Hoa yang cabul dan suka main

perempuan itu telah berhasrat untuk menangkap si nona baju hitam.

Coa Cong-gi adalah seorang pemuda yang berangasan, menyaksikan adegan tersebut, sontak

bawa amarahnya berkobar dada, tiba-tiba membentak keras, “Berhenti! Mengganggu kaum

perempuan yang lemah, Hmm! Terhitung manusia gagah macam apakah kau itu?”

Bentakan tersebut diucapkan dengan disertai tenaga dalam yang amat sempurna, begitu

nyaring-nya bentakan tadi membuat telinga orang terasa jadi sakit.

Cia-Hoa sangat terkejut, tanpa terasa dia menghentikan langkah kakinya dan berpaling.

Rupanya si nona baju hitampun telah mengetahui siapa yang datang, dengan kegirangan segera

teriaknya, “Hoa-kongcu!”

Ketika itu Ciu Hoa pun sudah melihat kedatangan Hoa-In liong. Dengan alis mata berkenyit

segera tegurnya dengan, seram, “Heeh… heee…. heee… rupanya kita memang berjodoh! Tempo

hari kau berdaya upaya menipu aku dengan, mengakui bernama Pek khi. Setelah itu melakukan

perbuatan licik pula atas diriku. Heee….. heee… heee…… Hoa-loji, apakah kau tidak takut

perbuatanmu melarikan perempuan pelacuran itu akan merusak nama baik keluarga Hoa-kalian?”

Mendengar perkataan itu, diam-diam Hoa In-liong merasa terkejut, segera pïkirnya, “Aaaah….

apa yang telah terjadi? Mungkinkah Cia In telah membongkar rahasiaku dihadapannya…..?”

Belum habis ingatan itu melintas dalam benaknya, terdengar nona baju hitam itu sudah menjerit

kaget, “Oooh Thian! Kau…..”

Jeritan itu penuh mengandung nada kecewa, sekalipun tak diketahui dengan alasan apàkan ia

menunjukan perasaan kecewanya itu.

Belum sempat Hoa In-liong berpikir lebih jauh, Si Nio si perempuan jelek itu sudah menukas lebih

dulu dengan suara dingin, “Nona, jangan lupa dengan tujuan kita yang sebenarnya. Biar dia mau

menculik nona darimanapun, kesemuanya itu sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan kita!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

197

Dalam beberapa waktu singkat ini memang telah terjadi banyak sekali kejadian aneh. Seruan

girang dari nona baju hitam itu disusul dengan jerit penuh kekecewaan, ditambah dengan

ucapan Si Nio dan sindiran Ciu Hoa, kesemuanya itu membuat Coa Cong-gi semakin kebingungan

di buatnya.

Tampak Hoa In-liong tarik napas panjang panjang, kemudian sambil menghampiri nona baju

hitam itu katanya, “Nona! Kau jangan bersedih hati, duduk persoalan yang sebenarnya sudah

berhasil kuselidiki sedikit demi sedikit dan terbukti sudah bahwa nona memang tidak tersangkut

didalamnya. Mengenai persoalan ayahmu, dikemudian hari pasti akan kuusahakan bantuan

sedapat mungkin, Nah, sekarang kau boleh tinggalkan tempat ini lebih dahulu…….”

Belum habis dia berkata, tiba-tiba terdengar Ciu Hoa tertawa terbahak-bahak, “Haa….. haa….

Haa… Orang she-Hoa, apakah engkau juga akan mencampuri urusan ini?” tegurnya.

Hoa In-liong sama sekali tidak menggubris perkataannya itu, dia berkata lebih jauh, “Nona,

perkataanku ini benar-benar muncul dari hati sanubariku. Keturunan keluarga Hoa selamanya

tidak akan menjilat kembali ludah yang lelah ditumpahkan. Percayalah dengan aku. Nah, ayolah

pergi dulu! Urusan disini akan kubereskan untuk nona!”

Si Nona baju hitam itu hanya menangis terisak dan sama sekali tidak menjawab, sedangkan Si

Nio berdiri dengan muka sedingin es. Diapun tidak menunjukkan tanda-tanda akan

mengundurkan diri diri tempat itu.

“Hmmm. kau akan menguruskan persoalan mereka itu?” tiba-tiba terdengar Ciu Hoa mengejek

sambil mendengus dingin. “Hmmm! Engkau benar-benar manusia tak tahu diri, makin lama

perbuatanmu semakin berani sehingga urusan orang lain pun baru kaucampuri!”

Sinar matanya lantas dialihkan ke arah pemuda perlente dibelakangnya, tambahnya, “Lo-ngo,

ayoh serbu. Mati atau hidup tak usah dipersoalkan, lagi… pokoknya sikat beres”

Sebuah pukulan kencang langsung disodok ke tubuh Hoa In-liong yang berada dihadapannya.

Dengan satu kecepatan bagaikan kiiat Hoa In-liong mengegos kesamping. Setelah lolos dari

pukulan dahsyat itu, bentaknya, “Eeeh…. tunggu sebentar! Aku masih ada perkataan yang

hendak kutanyakan kepadamu!”

“Criiiiiiing….!”

Pemuda berbaju perlente itu mencabut keluar pedangnya lalu menghadang jalan pergi pemuda

itu, sambil melancarkan sebuah bacokan ke arah pinggang serunya dengan ketus, “Dalam dunia

akhirat bukan hanya kau seorang yang jadi setan kebingungan, kau tak usah banyak bicara lagi!

Nih, rasakan sebuah bacokan mautku!”

Bukan saja perkataannya tajam, serangan pedang itupun cepatnya bagaikan sambaran kilat,

lihaynya bukan kepalang.

Menyaksikan serangan yang amat lihay itu, si nona baju hitam menjerit kaget, sepasang matanya

terbelalak lebar-lebar.

Hoa In-liong sama sekali tak keder menghadapi serangan maut itu. Tangan kirinya segera

disodok ke muka melepaskan sebuah pukulan dahsyat yang membentur ujung pedang itu,

bentaknya, “Siapa kau?. Kalau ingin bertempur, ayoh terangkan dulu namamu…. aku paling tak

sudi berkelahi dengan manusia tak bernama!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

198

Setelah serangan telapak tangannya mengenai sasaran yang kosong tadi, Ciu Hoa telah

meloloskan pedangnya. Dengan jurus Cian-li-yang huan (mengembangkan layar menempuh

seribu li) dia tusuk pergelangan tangan musuh.

“Dia bernama Ciu Hoa, sudah jelas?” sahutnya dengan lantang.

Ciu Hoa pemuda berbaju perlente inipun bernama Ciu Hoa? Ini berarti sudah ada tiga orang yang

mengaku bernama Ciu Hoa!

Hoa In-liong merasakan hatinya amat terperanjat, nyaris iga kirinya termakan oleh tusukan pedang

itu.

Melihat rekannya terancam bahaya, Coa Cong-gi sangat gelisah dia siap menerjang kedepan

untuk memberi bantuannya.

Tiba-tiba terdengar nona baju hitam itu berteriak lengking, “Hoa kongcu, sambutlah pedangku

ini”

Serentetan cahaya tajam menembusi udara, pedang pendek yang panjangnya hanya beberapa

depa itu secepat kilat meluncur ke arah punggung Ciu Hoa.

Merasakan datangnya maut dari belakang, Ciu Hoa tak berani melanjutkan serangannya, cepat

dia menarik kembali pedangnya sambil menyingkir kesamping.

Agak lega Coa Cong-gi menyaksikan kesemuanya itu. Diam-diam ia berpikir dihati, “Aku lihat

perempuan itu mempunyai satu ganjalan terhadap Hoa In-liong namun rupanya dia pun

menaruh rasa cinta, itulah yang dinamakan orang tidak cinta sebenarnya cinta!”

Sementara hatinya berpikir demikian, sepasang matanya dengan tajam mengikuti jalannya

pertarungan ditengah gelanggang.

Tampaklah pedang pendek itu dengan membawa desingan angin tajam masih meluncur terus ke

depan. Tampaknya Hoa In-liong tak dapat menyambut senjata tersebut. Dalam gugupnya lengan

kanannya cepat dijulurkan ke depan dan tahu-tahu entah dengan cara apa, pedang pendek yang

bersinar tajam itu sudah terjepit diantara jari tengah dan jari telunjuknya.

Setelah memegang pedang, maka keadaan Hoa In-liong ibaratnya harimau yang tumbuh sayap.

Tampaklah pedang pendek itu berkelebat kian ke mari dengan cepatnya. Dengan serangkaian

serangan berantai yang maha dahsyat dia serang dua orang Ciu Hoa itu habis-habisan sehingga

kedua orang itu terdesak mundur terus tiada hentinya.

Sementara melancarkan serangan berantainya, diam-diam Hoa In-liong berpikir pula didalam

hati, “Aneh benar dari mana munculnya begitu banyak Ciu Hoa dalam dunia persilatan. Pemuda

berbaju perlente itu disebut Lo-ngo, pria bermuka kuda dulu disebut Lo-sam… Entah ada berapa

orang Ciu Hoa lagi yang bakal kujumpai? Kenapa tidak kugunakan siasat untuk memancing

mareka? Asal jalannya ilmu silat mereka dapat kuraba, tentu untuk menebak asal usul mereka….’

Berpikir sampai disini, dia lantas menunjukkan sikap seakan-akan tenaga dalamnya sudah lemah,

sehingga permainan pedangnya ikut melambat pula….”

Pertarungan antara jago-jago lihay, seringkali menang kalah hanya tergantung dalam waktu

sedetik.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

199

Pada hakekatnya ilmu silat yang dimiliki dua orang Ciu Hoa itu sudah mencapai pada puncaknya.

Tapi oleh karena mereka menyerang secara gegabah, mengakibatkan posisi mereka selalu

berada di bawah angin.

Dan sekarang, ketika secara tiba-tiba dilihatnya serangan pedang dari Hoa In-liong melambat,

serta-merta mereka manfaatkan kesempatan baik yang sama sekali tak diduganya itu sebaik

mungkin.

Dengan wajah berseri-seri, kedua orang itu segera memperketat serangan pedang.

“Sreeet….! Sreeet…..! Sreeet!”

Secara beruntun mereka lancarkan tiga buah serangan berantai untuk memperbaiki kembali

posisi mereka.

Perlu diketahui, oleh karena kedudukan mereka berada dibawah angin, maka ilmu pedang

mereka tak bisa dikembangkan sebaik-baiknya dan sekarang setelah posisinya berhasil

diperbaiki, dua bilah pedang mereka bagaikan ikan yang bertemu air, segera melancarkan

serangan lagi dengan jauh lebih lincah dan ganas.

Ilmu pedang yang dimiliki kedua orang itu betul-betul ganas, lihay dan berbahaya, bukan saja

kerjasamanya sangat tapat, langkah dan permainan pedang kedua orang itupun jauh lebih

mantap dan berbobot. Lebih banyak jurus-jurus serangan aneh yang digunakan dari pada tipu

muslihat, bahkan kelihayannya tidak jauh berbeda dengan ilmu pedang yang dimainkan Ciu Hoa

ketika mereka bertarung di kota Lok-yang tempo hari.

Setelah mencoba dua puluh jurus lebih, Hoa In-liong mulai berpikir dalam hatinya, “Kalau ditinjau

dari gerakan jurus ilmu pedang mereka, tampak-tampaknya jurus pedang itu berasal dari satu

perguruan yang sama. Itu berarti pula bahwa mereka berasal dari satu perguruan yang sama

pula, entah berapa sebenarnya jumlah manusia yang memakai nama Ciu Hoa itu?. Aku perlu

menyelidikinya sampai jelas!”

Tiba-tiba pedangnya digetarkan kencang-kencang, lalu secepat kilat membacok tubuh Ciu Hoa

yang berbaju perlente itu, bentaknya dengan nyaring, “Ayoh bicara! Apakah kalian semua adalah

anak murid dari perkumpulan Hian-beng-kau?”

Serangan itu datangnya seperti bianglala dari angkasa, bukan saja sangat tajam bahkan disertai

tenaga desingan yang memekikkan telinga.

Ciu Hoa yang berbaju pelente itu amat terkejut. Ia tak berani menyambut ancaman tersebut

dengan kekerasan. Tanpa sadar kakinya melangkah mundur setindak kebelakang.

Ciu Hoa yang bermuka potongan kuda itu cepat menyergap maju ke depan. Ujung pedangnya

menciptakan selapis cahaya tajam yang menggidikkan hati, tanpa memperdulikan keselamatan

jiwanya. Secara beruntun dia totok tiga buah jalan darah penting dipunggung Hoa In-liong, tentu

saja tujuan dan serangannya ini adalah untuk menyelamatkan jiwa laki-laki berbaju perlente

yang bernama Ciu Hoa itu.

Serangan itu lihaynya memang lihay. Sayang Ciu Hoa bermuka kuda itu telah melupakan

sesuatu. Dia lupa bila seseorang akan menyerang dengan satu jurus mengadu jiwa, maka

pertahanan atas tubuhnya sendiri akan terbuka.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

200

Baru saja dia menerkam kemuka, dengan satu gerakan manis Hoa In-liong sudah putar

badannya sambil membabatkan pedang pendeknya ke depan. Seketika itu juga ia merasa

kepalanya jadi dingin dan sakit. Rasa kaget dan takutnya bukan alang kepalang.

Hoa In-liong tertawa, sambil mundur kebelakang tegurnya, “Coba aku mau bertanya, apabila

serangan pedangku tadi kulancarkan tiga inci lebih kebawah maka apa akibatnya?”

Apa akibatnya? Tentu saja tak usah ditanyapun orang akan mengetahui dengan sendirinya.

Berdiri semua bulu kuduk Ciu Hua bermuka potongan kuda itu, peluh dingin membasahi tubuhnya,

diam-diam ia menarik napas panjang dengan jantung berdebar keras.

Hoa In-liong tersenyum kembali ujarnya, “Tolong tanya, dalam perguruanmu ada berapa yang

menggunakan nama dan she sebagai Ciu Hoa?”

“Delapan orang!” jawab Ciu Hua bermuka potongan kuda itu seperti kena hipnotis.

“Delapan orang menggunakan nama yang sama bukankah itu berarti bahwa kalian memang

sengaja memusuhi keluarga Hoa kami!” bentak Hoa In-liong dengan muka sedingin es. “Hmmm!

Ayoh jawab permusuhan apakah yang sebenarnya terikat antara gurumu dengan keluarga Hoa

kami?”

Tiba-tiba Ciu Hoa bermuka potongan kuda itu tertegun. Ia baru sadar bahwa barusan dia telah

kesalahan berbicara, kontan paras mukanya berubah jadi pucat pias bagaikan mayat. Saking

kaget dan gugupnya dia jadi gelagapan dan tak tahu apa yang musti dilakukan.

Tiba-tiba Ciu Hoa yang berbaju pelente itu menimbrung dari samping arena, “Lo-sam sepatah

kata juga bicara, delapan sepuluh patah kata juga telah berbicara. Kalau toh sudah berbicara,

aku rasa apa yang telah kita ketahui katakan saja semuanya secara blak-blakan!”

Hoa In-liong mengerutkan alisnya rapat-rapat dalam hati diam-diam pikirnya, “Kakak beradik

seperguruan ini mempunyai usia yang hampir sebaya, mempunyai nama yang sama dan saling

memuji tapi mengindahkan mana yang lebih besar mana lebih kecil. Ditinjau dari sikap mereka,

tentulah guru mereka pun berwatak seperti itu.”

Berpikir demikian, ia lantas berkata, “Kukagumi engkau sebagai seorang laki-laki sobat. Nah!

Tolong tanya markas besar perkumpulan Hian-beng-kau kalian terletak dimana? Apakah aku

boleh mengetahuinya?”

“Perkumpulan kami belum dibuka secara resmi” jawab Ciu Hoa berbaju parlente itu dengan nyaring,

“Kau tak usah kuatir, disaat perkumpulan kami akan diresmikan nanti, kartu undangan pasti

akan kami bagi ke seluruh dunia persilatan, termasuk juga keluarga Hoa kalian! “

Hoa In-liong mengangguk tanda puas dengan jawabannya, “Benarkah Suma tayhiap suami istri

yang berdiam di kota Lok-yang terbunuh oleh orang-orang yang kalian utus?”

“Benar!” jawab Ciu Coa berbaju perlente.

“Bukan!” sanbung Ciu Hoa bermuka potongan kuda.

“Eeeh….. Kalau mau menjawab yang betul, sebetulnya ya atau tidak?” bentak Hoa In-liong

dengan sinar mata berkilat.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

201

“Kami berdua ‘kan sudah mengakuinya secara terus terang?” seru Ciu Hoa bermuka kuda dengan

ketus.

Hoa In-liong mengerutkan dahinya kencang-kencang. “Jadi sebetulnya ya atau tidak?” kembali

tegurnya.

“Ya juga tidak, semuanya benar! Apa susahnya mengartikan perkataan yang sangat sederhana

itu? Cerewet amat kamu ini”.

Hawa amarah sontak mencekam seluruh benak Hoa In-liong. Hampir saja amarahnya itu akan

dilampiaskan keluar, untunglah ia masih mampu mengendalikan perasaannya. “Hmm….. Baik….

Baik, rupanya sebelum kuberikan suatu demontrasi kekuatan, kalian tak akan mengakuinya

secara berterus-terang. Kalau memang begitu lihat saja kelihayanku ini!” ancamnya.

Ciu Hoa berbaju perlente itu melototkan sepasang matanya lebar-lebar, bibirnya bergerak seperti

hendak mengucapkan sesuatu. Tapi sebelum ia sempat berbicara, tiba-tiba terdengar suara seseorang

yang serak tua tapi lantang berkumandang memecahkan kesunyian, “Eeeh……..bocah cilik,

kalau engkau ingin tahu segala sesuatunya hingga jelas, tanyakan saja langsung kepadaku!”

Ucapan tersebut datangnya sangat mendadak dan sama sekali tak terduga. Hoa In-liong merasa

amat terperanjat, cepat-cepat dia berpaling kebelakang.

Entah sejak kapan, dari arah selatan telah muncul empat orang kakek yang telah berusia lanjut

didampingi nyonya Yu yang masih menggendong kucing hitamnya dan Siau Ciu yang berbaju

ringkas dengan sebilah pedang tersoren dipinggangnya.

Kedatangan beberapa orang itu sama sekali tidak berisik ataupun menimbulkan suara. Malahan

Siau Ciu dan nyonya Yu juga bisa muncul dengan entengnya, ini menunjukkan bahwa ilmu

meringankan tubah yang mereka miliki telah peroleh kemajuan yang pesat.

Memandang beberapa orang yang berdiri dihadapinya, Hoa In-liong merasa terkejut, tanpa

terasa pikirnya dalam hati, “Entah siapakah beberapa orang kakek itu? Kalau didengar dari nada

pembicaraannya mereka, rupanya orang-orang itu mengetahui jelas tentang peristiwa berdarah

yang menimpa keluarga Suma dan tampaknya pula mereka mempunyai rasa dendam dan sakit

hati yang amat mendalam dengan keluarga Hoa kami. Jangan-jangan…. jangan-jangan mereka

memang sengaja hendak memusuhi keluarga Hoa?”

OOOOOoooOOOOO

BELUM habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya, Coa Cong-gi yang berangasan telah

melompat kedepan kemudian dengan muka dingin serunya lantang, “Eeeh….. Kalian toh orangorang

yang sudah punya umur kenapa kalau berbicara begitu tak tahu sopan santun? Bocah…..

Bocah….. Siapa yang kau sebut bocah? Kalau kita panggil tua bangka kepada kalian, coba

bayangkan saja bagaimana perasaan kalian?. Hmmm! Betul-betul kurang ajar!”

Beberapa patah katanya itu diucapkan dengan suara yang tajam bagaikan pisau, seketika itu

juga empat orang kakek itu dibikin tertegun.

Salah seorang diantara empat kakek yang berbadan kurus jangkung segera tampil kemuka,

dengan wajah agak berubah bentaknya nyaring, “Bocah keparat, engkau benar-benar

menggemaskan hati, ayoh bicara. Siapa namamu?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

202

Coa Cong-gi sama sekali tidak jeri meskipuna harus berhadapan muka dengan kakek yang

berwajah bengis, jawabnya, “Aku bernama Coa Cong-gi, salah seorang dan Kim-leng ngokongcu,

ada apa?”

Sikapnya yang sombong dan jumawa itu semakin menggusarkan kakek jangkung yang kurus itu.

Sinar matanya berkilat tajam, agaknya dia akan mengumbar hawa amarahnya.

Saat itulah, kakek bermuka bengis yang berada ditengah-tengah menghalangi tindakan

rekannya. “Huan heng, harap tunggu sebentar!” katanya, “Buat apa kita musti ribut-ribut dengan

seorang bocah ingusan yang masih berbau tetek? Sudahlah jangan gubris bocah itu!”

Tiba-tiba entah apa sebabnya, Hoa In-liong merasa hatinya jadi tegang. Menurut pengamatannya

secara diam-diam, ia merasa bahwa beberapa orang kakek yang berada dihadapannya tak dapat

disangsikan lagi tersangkut dalam peristiwa berdarah yang menimpa keluarga Suma. Pemuda itu

merasa bila kesempatan yang sangat baik ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, maka

tak sulit baginya dikemudian hari untuk menyelidiki latar belakang dari peristiwa berdarah itu.

Tentu saja diapun tahu, kalau dapat bentrokan secara kekerasan harus dihindari, penyelidikan

baru mendatangkan hasil jika itu berlangsung dalam suasana yang tenang dan ramah-tamah.

Oleh sebab itulah, begitu sikakek bengis tadi menyelesaikan kata-katanya, cepat dia maju

kedepan dan menjura kepada kakek itu. “Aku adalah Hoa In-liong, boleh kuketahui siapakah

nama lotiang?”

Perkataannya ini tidak terlampau angkuh juga tidak terlalu merendahkan diri sendiri. Nadanya

besar dan tidak mirip bocah yang masih ingusan. Siapapun akan mengira bahwa pemuda ini

sudah lama berkelana dalam dunia persilatan.

Ketika mendengar perkataan tersebut, pada mulanya kakek bermuka bengis itu tampak tertegun,

menyusul kemudian dengan alis mata berkenyit sahutnya dengan dingin, “Pernahkah engkau

dengar tentang perkumpulan Kiu-im-kau dari mulut orang persilatan?”

Dalam hati Hoa In-liong merasa tercekat, akan tetapi diluarnya dia tetap tersenyum ewa. “Pernah

sih pernah!” sahutnya, “Aku dengar perkumpulan Kiu-im-kau berulang kali mengalami kekalahan,

malahan tempo dulu……”

“Tempo dulu kami sudah munculkan diri sebanyak dua kali di wilayah selatan” Tukas kakek

bermuka bengis itu sambil mendengus. “Dan sekarang kami munculkan diri untuk ketiga kalinya.

Dalam pemunculan kali ini kali ini kami khusus akan menyatroni keluarga Hoa kalian dan akan

kami tandingi siapa gerangan yang sebenarnya lebih pantas menguasai jagad”

Mendengar perkataan itu, Hoa In-liong merasa sangat terperanjat. Diam-diam ia berseru

tertahan. “Aaaah…. Tak salah lagi. Mereka memang khusus memusuhi keluarga Hoa kami

ternyata memang perbuatan biadab dari orang-orang perkumpulan Kiu-im-kau. Aaai….. Kakek ini

tidak berani bicara secara blak-blakan, itu berarti ada sesuatu yang dia takuti. Dus berarti issue

yang mengatakan bahwa dunia persilatan bakal terjadi perubahan besar, tampaknya bukan

berita isapan jempol belaka yang tak dapat dipertanggung jawabkan”

Sekalipun dihatinya merasa terkejut bercampur curiga, namun diluaran si pemuda itu tetap

tenang. Ia kalem seperti tak pernah terjadi sesuatu apapun, malahan dia tertawa hambar.

“Lotiang, perkataanmu terlalu berlebihan!” serunya. “Kami keluarga Hoa sedari sian-cou sampai

sekarang selalu mengekang diri dengan ketat dan bersikap seramah-ramahnya kepada orang

lain. Sampai sekarang keadaan tersebut telah berlangsung selama tiga generasi. Selama tiga

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

203

generasi ini kendatipun kami tak berani mengatakan telah melakukan kebajikan dan keadilan

bagi khalayak ramai, akan tetapi kami pun yakin selama ini tak pernah berhasrat untuk mencari

gara-gara atau berebut nama dan kedudukan dengan orang lain. Soal ini… yaaa, soal ini lebih

baik tak usah dibicarakan lebih jauh. Tolong tanya tujuan Lotiang datang kemari adalah…..”

Ditengah pembicaraan bukan saja secara tiba-tiba ia telah mengalihkan pokok pembicaraan ke

soal lain, bahkan tiba-tiba saja perkataan tersebut dipotong ditengah jalan. Dengan senyuman

dikulum ditatapnya wajah kakek itu dan menantikan jawaban lawan.

Kalau kita perhatikan perkataannya barusan, maka dapat kita dengar sekalipun nada pembicaraannya

lunak dan enak didengar, hakekatnya mengandung suatu ketegasan yang membuat

orang tak dapat mengganggu gugatnya kembali.

Mendengar ucapan tersebut, kakek bermuka bengis itu segera alihkan pandangan matanya ke

atas wajah Hoa In-liong, kemudian ditatapnya anak muka tajam-tajam. Selang sesaat kemudian

ia ba-ru tertawa terbahak-bahak dengan nyaringnya. “Haaa… haa….. haa….. Bagus! Bagus

sekali! Anak keturunan keluarga Hoa memang jauh berbeda dengan orang-orang yang

lain…..Bagus! Bagus!”

Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan kembali, “Aku she-Le bernama Kiu it, tiancu ruang

siksa dari perkumpulan Kiu-im-kau. Dua puluh tahun berselang aku pernah mendapat hadiah

sebuah pukulan dari ayahmu!”

“Bagus….. Bagus! rupanya kau sedang menagih hutang kepada Hoa lote yaaa? Rupanya kau kurang

terima hanya mendapat hadiah sebuah pukulan belaka?” tiba-tiba Coa Cong-gi berteriak

dengan suara lantang.

Hoa In-liong merasa gelisah sekali, cepat-cepat dia berpaling kesamping seraya tegurnya,

“Saudara Cong-gi, jangan berteriak sembarangan lebih dulu. Bagaimanapun juga kita tak boleh

lupa akan kata kesopanan!”

“Tata kesopanan?” Coa Cong-gi melotot bulat-bulat, “Kenapa kita musti membicarakan soal tata

kesopanan dengan mereka? Tahukah engkau, apa maksud dan tujuan mereka datang kemari?”

“Tentu saja. Siaute juga tahu apa maksud dan tujuan mereka datang kesini, cuma…..”

“Nah, kalau sudah tahu itu lebih baik lagi” tukas Cong-gi tidak memberi kesempatan bagi

rekannya untuk bicara lebih jauh. “Mari kita selesaikan persoalan ini dengan pertarungan kilat,

jangan beri peluang bagi mereka untuk mencari keuntungan di air keruh”

Hoa In-liong benar-benar dibikin serba salah oleh perkataan rekannya. Mau marah bagaimana,

tidak marah bagaimana. Akhirnya dia memutuskan untuk tidak memberi tanggapan terhadap

ucapan rekannya.

Pelan-pelan anak muda itu berpaling, ditatapnya Tiancu ruang siksa dengan sinar mata tajam,

ke-mudian katanya lagi, “Aku rasa apa yang barusan dikatakan Coa heng memang benar.

Tampaknya kedatangan Le Tiancu adalah untuk menuntut balas terhadap sebuah pukulan yang

pernah dihadiahkan ayahku padamu, serta menguasai dunia persilatan dibawah kekuasaanmu,

Hmmm. Kalau toh memang itu tujuan kalian, baik untuk kepentingan umum maupun untuk

kepentingan pribadi, cari saja langsung kepadaku pasti akan kuselesaikan semua persoalan

sebaik-baiknya dan aku rasa satu-satunya cara yang bisa digunakan adalah bertarung sampai

salah satu diantara kita menang.”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

204

Baru saja ia menyelesaikan kata-katanya, kakek kurus jangkung itu sudah tertawa seram dan

menimbrung dari samping. “Eeeh….. Anak muda, besar amat lagak bicaramu!. Untuk

kepentingan umum dan kepentingan pribadi?. Heeh…. hee…. hee….. Rupa-rupanya kau hendak

mengandalkan kekuatanmu seorang untuk menghalang-halangi usaha perkumpulan kami yaa?”

Hoa In-liong tidak memberi tanggapan, sinar matanya lantas dialihkan ke wajah kakek kurus itu

lalu tegurnya, “Tolong tanya siapa nama lotiang? Dan apa kedudukanmu dalam perkumpulan

Kiu-im-kau?”

“Aku bernama Huan Tong, menjabat sebagai Tongcu bagian propaganda dalam perkumpulan

Kiu-im-kau” sahut kakek itu angkuh.

Air muka Hoa In-liong segera berubah jadi serius. Dengan wajah bersungguh-sungguh katanya

lagi, “Bagus sekali, Huan-tongcu! Tolong tanya bagaimana dengan hutang ayahku?”

Kakek kurus yang bernama Huan Tong itu agak tertegun, menyusul kemudian sahutnya,

“Kenapa? Hutang sang ayah, anaklah yang musti bayar! Kenapa kau musti banyak bertanya

lagi?”

Hoa In-liong mengangguk. “Benar, ayah yang berhutang putranya yang wajib membayar. Letiancu

merasa pernah berhutang sebuah pukulan dari ayahku, maka aku Hoa loji sebagai putra

ayahku, apakah tidak berkewajiban untuk menerima pembayaran sebuah pukulan itu?”

Huan Tong tertegun, untuk sesaat ia tak mampu berkata-kata. Ia cuma bisa memandangi lawannya

dengan mulut melongo.

Hoa In-liong tidak berdiam sampai disitu saja, kembali ujarnya lebih jauh, “Huan tongcu, ada

satu persoalan hendak kuberitahukan pula kepadamu, yaitu setiap orang dari perkampungan

Liok-soat-san-ceng dibukit In-tiong san selalu menitik beratkan semua kekuatan dan

perhatiannya untuk menjaga keamanan serta kestabilan situasi dalam dunia persilatan. Perduli

siapapun jika berani menerbitkan keonaran atau ingin mendatangkan hujan badai dalam dunia

kangouw, maka anak cucu keluarga Hoa bersumpah akan memusuhinya sampai titik darah

penghabisan, tidak terkecuali pula terhadap perkumpulan Kiu-im-kau. Nah, Huan tongcu!

Percuma kau berlagak garang dihadapanku, sebab toh sikap garangmu itu tidak nanti akan

mempengaruhi sikap maupun pendirian dalam hatiku!”

Kiranya pemuda itu sengaja berbicara kesana kemari, tujuan yang sebenarnya tak lain hanya

hanya satu yakni mengutarakan pendirian dan sikapnya dalam persoalan tersebut.

Tak terkirakan rasa gusar dan mendongkol yang berkobar dalam dada Huan Tong sehabis

mendengar perkataan itu. Untuk sesaat ia berdiri tertegun kemudian sambil tertawa seram

serunya, “Haa…. haa…. haa…. Bocah keparat kau memang bernyali! Kau memang benar-benar

bernyali!”

Seraya berkata selangkah demi selangkah dia maju menghampiri lawannya. Ditinjau dari

sikapnya yang garang dan menyeramkan itu dapat diketahui bahwa ia sudah tak sabar lagi dan

kini bersiap-siap untuk melakukan serangan maut.

Coa Cong-gi yang menyaksikan kemarahan orang, bukannya jadi jeri, dia malahan semakin

gembira, sambil bertepuk tangan bersorak sorai serunya lantang, “Puas…. Puas! Sungguh

memuaskan! Lo-te, biar aku yang layani kakek ceking ini”

Dengan langkah lebar dia maju ke muka dan siap menyongsong kedatangan Huan Tong.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

205

Siapa tahu, baru selangkah dia maju, dengan kecepatan bagaikan kilat Hoa In-liong telah

menarik tangannya. “Saudara Cong-gi, tunggu sebentar…. Tunggu sebentar!” Serunya kemudian,

“Jangan terburu-buru turun tangan, sebab siaute masih ada persoalan yang hendak dibicarakan

dulu dengan orang ini”

Pelan-pelan Huan Tong maju menghampiri si anak muda itu, langkahnya sama sekali tidak

berhenti, serunya pula dengan suara yang dingin dan menggidikkan hati, “Kau tak usah banyak

berbicara lagi, ingin ber bicara maka lebih baik kita berbicara dalam gerakan tangan dan kaki

saja…. ayoh! siapkan dirimu untuk menyambut seranganku ini”

Hoa In-liong kualir Coa Cong-gi tak dapat menahan sabarnya, dia maju ke depan dan

menghadang dihadapannya, lalu dengan suara dalam serunya, “Huan tongcu, harap engkau

sedikit tahu diri. Aku sama sekali tidak takut untuk bertarung melawan engkau. Tapi sebelum itu

ada beberapa persoalan ingin kutanyakan lebih dulu, masa kau tak berani menjawabnya….?”

“Aku mengerti jelas sekali, bahkan terlampau jelas bagiku” sahut Huan Tong sambil mendengus

dingin, “Bila selesai kujajal dirimu, otomatis aku akan lebih jelas lagi…..”

Belum habis perkataan itu, ketika tiba-tiba seorang nyonya tua menanggapi perkataannya itu

dengan dingin, “Huan Tong, ayoh mundur, kau terlalu congkak terlalu jumawa sekali dalam

setiap pembicaraan!”

Huan Tong terperanjat, cepat-cepat dia berpaling, lalu tergopoh-gopoh memberi hormat. “Yaa

kaucu, Huan Tong menghunjuk hormat buat kaucu!”

Dalam waktu singkat seruan “menghunjuk hormat buat kaucu” berkumandang silih berganti, Le

Kiu-it sekalian bertiga memberi hormat dengan sikap yang bersungguh-sungguh lalu

mengundurkan diri kesamping. Sedangkan Siau Ciu dan nyonya Yu bertekuk lutut dan

menyembah ke atas tanah.

Hoa In-liong sangat terperanjat, cepat dia menengadah dan alihkan pandangan matanya

kedepan, tampaklah pada sudut sebelah selatan dari tanah berumput itu telah berdiri seorang

nyonya tua yang berwajah potongan rembulan didampingi seorang gadis cantik yang bertubuh

ramping, tinggi semampai dengan rambut sepanjang bahu.

Nyonya tua bermuka bulat rembulan itu mempunyai perawakan tubuh yang tinggi besar. Ia mengenakan

jubah lebar berwarna hitam. Rambutnya yang berwarna keperak-perakan berkibar

terurai di bahu. Tangan kanannya memegang sebuah toya baja berwarna hitam. Di ujung toya

baja itu terukirlah sebuah kepala setan perempuan sebanyak sembilan buah. Kesemuanya diukir

dengan muka bengis. Gigi taring mencuat keluar dan rambut panjang awut-awutan, mengerikan

sekali tampangnya.

Ketika kepala setan itu diamati lebih seksama, ternyata roman mukanya persis seperti tampang

nyonya tua itu. Hanya saja perempuan tua itu kecuali bermuka pucat seperti mayat dan sama

sekali tidak ada warna merahnya. Sepasang matanya bersinar tajam menggidikkan hati,

membuat siapa pun yang melihatnya merasa seram dan ketakutan.

“Dialah ketua dari perkumpulan Kiu-im-kau?” diam-diam Hoa In-liong berpikir, “Yaa, kalau dia

yang datang, itu lebih baik lagi, sebab dengan begitu akupun tak usah jauh-jauh pergi ke Lamhuang

untuk mencari jejaknya.”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

206

Berpikir sampai disini, sinar matanya lantas dialihkan kebelakang nenek itu dan menatap tajam

dara cantik berambut panjang yang berada di belakang Kiu-im-kaucu. Menyaksikan tampangnya

yang ayu dan menawan hati itu tiba-tiba saja anak muda itu tertegun.

Yaa, gadis itu memang cantik sekali. Kecantikan wajahnya melebihi bidadari dari kahyangan.

Rasanya sekalipun Siang-go atau Si-see lahir kembali pun kecantikan mereka juga begitu saja.

Usia nona itu masih muda sekali. Mukanya potongan kwaci dengan sepasang alis mata yang

lentik. Matanya jeli bagaikan bintang timur. Hidungnya mancung. Bibirnya kecil mungil bagaikan

delima merekah. Kulitnya halus dan putih, seputih susu. Pinggangnya ramping dan pinggul yang

padat berisi. Tertutup oleh gaun bajunya yang putih salju itu tampaklah perawakan badannya

yang ramping dan menawan hati. Rasa-rasanya didunia ini sukar untuk temukan perempuan

kedua yang memiliki kecantikan melebihi gadis tersebut.

Sebagaimana diketahui, Hoa In-liong adalah seorang pemuda romantis. Manusia macam dia paling

pantang bertemu dengan gadis-gadis cantik. Ketika memandang untuk kejapan yang

pertama tadi, anak muda itu masih merasakan keadaan yang wajar. Akan tetapi semakin dilihat

dia merasa semakin tertarik. Makin dipandang ia merasa keayuan dan kerampingan nona itu

semakin memi-kat hatinya dan akhirnya perasaan tersebut tak dapat dikuasahi lagi. Dari kagum

ia jadi tertarik dan karena tertarik timbullah hasratnya untuk memiliki gadis itu.

Tanpa sadar uatuk sesaat anak muda itu berdiri terbelalak dengan mulut melongo, nyaris dia

lupa berada dimanakah saat itu.

Untuk sesaat suasana diarena pertarungan itu jadi sunyi, sepi dan tak kedengaran sedikit suara

pun, Ciu Hoa berdua beserta para begundalnya telah berkumpul jadi satu. Si Nio yang jelek

berdiri bersama majikannya dibelakang Hoa In-liong. Hampir semua perhatian dan sinar mata

orang-orang yang hadir di sana tertuju kesatu arah, yakni wajah kaucu serta gadis cantik itu.

Selang sesaat kemudian, dengan sinar mata setajam sembilu Kiu-im-kaucu menyapu pandang

sekejap ke arah orang-orangnya yang berdiri disekeliling tempat itu, kemudian sambil

mengulapkan tangan kirinya dia menghardik keras, “Kalian semua tak perlu banyak adat!”

Empat orang kakek itu mengiakan, mereka lantas luruskan badan dan mundur kebelakang. Sementara

Siau Ciu dan nyonya Yu selesai menyembah tiga kali mengundurkan diri dari situ.

Hoa In-liong baru tersadar dari lamunannya sesudah mendengar bentakan itu, mukanya jadi

merah padam karena jengah, sorot matanya cepat-cepat dialihkan ke arah wajah Kiu-im-kaucu.

Ketua dari perkumpulan Kiu-im-kau itu sedang mengetuk tanah dengan tongkat kepala setannya,

lalu terdengar ia menegur, “Huan tongcu, apakah engkau tahu salah?”

“Hamba….. hamba…. hamba……” Huan Tong tergagap dan buru-buru membungkukkan

badannya.

Kembali Kiu-im-kaucu mendengus dingin. “Coba jawab! Bagaimanakah pesan dan perintahku

kepada kalian tadi? Terbayang kegagahan dan kebesaran Hoa Thian-hong, aku sendiripun menaruh

tiga bagian rasa kagum kepadanya. Apalagi kau Hmmm! Watakmu terlampau berangasan.

Apalagi mulutmu kurang tajam untuk bersilat lidah, sudah tahu kelemahan sendiri ternyata

berani juga bercekcok dengan keturunan keluarga Hoa…. Huuh…! Perbuatanmu itu benar-benar

bikin hatiku merasa sangat kecewa!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

207

“Lapor kaucu!” ujar Huan Tong dengan sikap yang sangat terhormat “Bocah cilik dari keluarga

Hoa ini takabur dan sombongnya bukan kepalang. Mulutnya terlampau tajam dan bicaranya tidak

kira-kira. Oleh karena dia bersumbar akan menentang perbuatan perkumpulan kita, maka

hamba…..”

“Sudah kau tak usah banyak bicara lagi!” tiba-tiba Kiu-im-kaucu menukas sambil mengulapkan

tangannya “Memang demikianlah pelajaran yang diwariskan keluarga Hoa mereka terhadap

setiap keturunannya!”

Tiba-tiba ia menghela napas panjang setelah berhenti sebentar sambungnya lagi, “Atau dengan

lebih tegasnya saja, dengan mengandalkan keberhasilan ilmu silat yang dimiliki keluarga Hoa,

mereka mempunyai hak untuk mengucapkan kata-kata semacam itu”

“Hamba tidak percaya” teriak Huan Tong dengan gelisah setelah mendengar perkataan itu.

Setajam sembilu sorot mata Kiu-im-kaucu tiba-tiba ditatapnya anak buahnya itu tanpa berkedip

lalu bentaknya dengan suara berat dan dalam. “Tutup mulutmu! Engkau tidak percaya dengan

kemampuan ilmu silat yang dimiliki keluarga Hoa ataukah engkau sudah tidak percaya lagi

dengan perkataanku?”

Dengan ketakutan cepat-cepat Huan Tong membungkukkan badannya memberi hormat. “Hamba

tidak berani! Hamba hanya mempunyai kesetiaan sampai mati dan sepanjang masa hanya

mendengarkan perintah serta perkataan kaucu seorang!”

Ditinjau dari sikapnya itu, dapat diketahui betapa takut dan jerihnya kakek itu terhadap

ketuanya. Hormatnya boleh dibilang sudah mendekati suatu penjilatan. Suatu sikap mundukmunduk

yang cuma terdapat dalam hubungan antara seorang majikan dengan budak beliannya.

Lama sekali Kiu-im-kaucu menatap anak buahnya itu, tiba-tiba ia menghela napas panjang.

“Aaaai….! Dalam kejadian ini, aku memang tak dapat menyalahkan engkau. Sudah sekian lama

kau menetap diluar perbatasan dan lagi jarang sekali bergerak di daratan Tionggoan, maklumlah

kau tak memahami seluk beluknya dunia persilatan dewasa ini. Yaa, berbeda tentunya keadaan

sekarang dengan keadaan pada lima belas tahun berselang. Waktu itu engkau merupakan

seorang anggota perkumpulan yang aktif dan selalu berada disampingku dalam menangani

setiap kejadian dalam dunia persilatan. Kini setelah lama mengasingkan diri, apalagi tidak

menyaksikan dengan mata kepala sendiri, tentu saja tak dapat disalahkan kalau kau tak akan

percaya dengan apa yang baru saja kukatakan”

Baru selesai ia berkata, Huan Tong telah bungkukkan badannya dan memberi hormat lagi. “Yaa

kaucu, semoga kaucu dapat memaklumi keadaan dari hamba.” bisiknya lirih.

Kiu-im-kaucu segera ulapkan tangannya lagi. “Kau tak usah merasa menyesal atau merasa

rendah diri, dikemudian hari aku masih banyak membutuhkan tenagamu untuk kejayaan

perkumpulan kami” ucapnya. “Atau tegasnya, selama berada dalam perkumpulanlah yang patut

dijunjung tinggi dan dinomor satukan daripada persoalan lain. Disamping itu, harus kita akui

bahwa Hoa Thian-hong betul-betul seorang pendekar besar yang berjiwa ksatria, berbudi luhur

dan mengutamakan kebaikan serta kesetiaan kawan. Kendatipun dia adalah musuh nomor satu

dari perkumpulan kita, tidak sepatutnya kalau kita pandang enteng atau memandang cemooh kepadanya,

aku harap soal ini dapat kau ingat selalu didalam hati”

Setelah keadaan berubah menjadi begini, kendatipun dihati kecilnya Huan Tong merasa sangat

tak puas dengan ucapan tersebut, toh terpaksa juga dia harus manggut-manggut sambil

mengiakan berulang kali.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar