Senin, 05 Oktober 2009

3 maha 5

Jin Hian yang mendengar perkataan itu, diam-diam berpikir dalam hati kecilnya, “Hmmm, untung

empat orang tua bangka bersama-sama terjerumus dalam barisan ini, kalau cuma seorang diri….

entah apa yang terjadi?”

Pek Siau-thian pun sedang berpikir didalam hatinya, “Jangan dikata daya serangan belum

mencapai sebagaimana mestinya, sekalipun engkau hendak tukar kitab kiam keng dengan

keenam orang bocah itupun dengan sukarela akan kulayani….”

Belum habis ingatan tersebut berkelebat dalam benaknya, mendadak telinganya berhasil

menangkap serentetan suara yang amat lembut dan sukar dibedakan dengan suara lainnya.

Sura itu begitu lembut dau halus seakan-akan ada dan seakan-akan tidak, hal ini membuat Pek

Siau-thian sendiri tak dapat membedakan apakah suara itu berasal dari telinganya atau muncul

dari dalam hati.

Ia adalah seorang jago tua yang sangat teliti, setelah menemukan tanda yang mencurigakan,

sudah tentu ia tak sudi melepaskannya dengan begitu saja, ia segera pusatkan s luruh

perhatiannya untuk mencari sumbar dari suara itu.

Tiba-tiba terdengarlah pemuda yang memimpin barisan itu membentak keras, dalam sekejap

mata barisan itu berputar dengan cepatnya, cahaya perak menyilaukan mata, hawa desiran

tajam memekikan telinga, hal ini memaksa Thong-thian Kaucu sekalian terpaksa harus

memperketat serangan mereka untuk membela diri.

Dalam waktu singkat, pertarungan yang berlangsung ditengah gelanggang telah mencapai pada

puncaknya, enam orang pemuda itu putar pedangnya sambil melancarkan serangan bertubi-tubi,

keadaan makin seru….

Semua kejadian ini berlangsung dalam sekejap mata, Pek Siau-thian yang harus meayani

serangan musuh dengan tangan kanan memegang kotak emas dengan tangan kiri terpaksa

harus pusatkan kembali perhatiannya untuk bertempur, dengan begitu sumber dari munculnya

suara aneh itupun makin sulit ditemukan.

Tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam benak ketua perkumpulan Sin-kie-pang ini, pikirnya,

“Keadaan yang kuhadapi pada hari ini sungguh aneh, andaikata tujuan kedatangan dari Siang

Tang Lay untuk membalas dendam, maka ia tak akan menyerahkan kitab pusaka Kiam keng

kepada musuhnya dengan begitu saja, bagaimanapun aku toh sudah pernah membaca isi

catatan pedang Kiam keng bu kui secara lengkap, kendatipun kitab Kiam keng ini harus musnah

juga tak apa yang penting jiwaku harus selamat…. aku harus bertindak dengan lebih berhati-hati.

Ketika berpikir sampai disitu, pemuda yang memimpin barisan kebetulan sedang berputar

kehadapan mukanya, Pek Siau-thian segera membentak keras, ia gunakan kotak emas itu

sebagai senjata rahasia dan segera disambit ke arah depan sementara tubuhnya ikut menerjang

kemuka sambil melepaskan sebuah pukulan.

Pemuda itu merasa terkesiap, buru-buru pedang peraknya diputar untuk menangkis sambitan

tadi.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

179

“Traaang….!” benturan nyaring yang menimbulkan percikan bunga api muncul di angkasa

termakan oleh tangkisan pedang sang pemuda, kotak emas tadi segera mencelat kembali ke

arah Ciu It-bong.

“Mundur….!” tiba-tiba terdengar Siang Tang Lay membentak dengan suara keras.

Sejak keempat anggota badannya lumpuh dan tak dapat dipergunakan lagi, tenaga dalam yang

dimiliki Siang Tang Lay mengalami kemero-sotan yang hebat, bentakan yang muncul dari pusar

ini berkumandang di angkasa dan jauh menembusi awan, begitu dahsyat dan kerasnya membuat

semua orang rasakan telinganya mendengung keras.

Bentakan tadi menggunakan sejenis ilmu sesat yang disebut hua hiat hoo pekikan pembawa

maut, ilmu sesat itu merupakan suatu ilmu rahasia dari perguruan Seng sut hay yang tidak

pernah diturunkan kepada siapapun, setelah Siang Tang Lay menderita kalah didaratan

Tionggoan dan kembali ke wilayah See ih, dengan sebuah kaus kutang berserat emas yang tahan

api dan tahan bacokan serta sebuah senjata kaitan kumala yang amat berharga ia mengajak iblis

tua ketua perguruan Seng sut hay untuk melakukan barter dengan ilmu tadi.

Iblis tua dari perguruan Seng sut hay adalah seorang manusia yang rakus, melihat mustika,

kedua kalinya ia tahu bahwa Siang Tang Lay adalah orang wilayah See ih yang memusuhi umat

persilatan didaratan Tionggoan, hal ini sesuai dengan kehendak hatinya, karena itu barter

tersebut disetujui dan ilmu pekikan pembawa maut pun diturunkan kepadanya.

Ilmu pekikan membawa maut merupakan kepandaian sakti yang setaraf dengan Ilmu Sam cing

hoa it lie dari kalangan agama Too atau ilmu pekikan singa dari kalangan Buddha hanya saja

kepandaian ini lebih keji dan telengas.

Siang Tang Lay menghimpun tenaga dalamnya dan membentak dengan ilmu sesat pekikan

pembawa maut itu tujuannya ialah untuk menyerang empat orang musuh bebuyutan yang

sedang bertempur ditengah gelanggang.

Thong-thian Kaucu d»n Pek Siau-thian sekalian yang sedang bertempur seketika itu juga

merasakan gendang telinganya jadi amat sakit dalam waktu singkat isi perutnya terbalik ia

merasa amat mual dan darah panas seperti mau keluar.

Keempat orang itu adalah jago-jago kawakan yang memiliki pengalaman sangat luas, setelah

berpikir sebentar mereka segera mengetahui bahwa isi perut sudah terluka terserang oleh

pekikan lawan, dalam waktu singkat keempat orang itu menunjukkan reaksi yang berbeda-beda.

Pek Siau-thian dan Jin Hian bersama-sama meluncur ke arah mulut lembah dengan harapan bisa

menjebolkan lingkaran pengepungan, sedangkan Thong-thian Kaucu dan Ciu It-bong bersamasama

loncat ketengah udara dengan harapan bisa melewati batok kepala beberapa orang

pemuda itu dan kabur keluar barisan.

Pada saat yang bersamaan, ketika enam orang pemuda itu mendengar gurunya mengeluarkan

pekikan pembawa maut, bukannya menubruk kedalam arena untuk melukai lawan, sebaliknya

mereka malah mengundurkan diri kesamping arena, pedang perak ditanaan mereka berputar

kencang melindungi bagian-bagian penting diseluruh tubuhnya.

Semua kejadian itu berlangsung pada saat yang hampir bersamaan, keempat orang gembong

iblis ini sama-sama cekatannya, begitu merasa isi perutnya sudah terluka mereka segera

berusaha menorobos keluar dari kepungan, sementara itu kotak emas yang terpental keudara

oleh tangkisan pedang perak pemuda itu baru saja meluncur jatuh kebawah.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

180

Ciu It-bong yang kebetulan berada disampingnya, sewaktu menyaksikan kotak emas itu berada

kurang lebih empat lima depa disisinya,dengan sebat menyambarnya dan dicekal dalam

genggaman, meskipun tangannya bergerak menyambar kotak namun gerakan tubuhnya yang

sedang meluncur kedepan meskipun tidak terganggu.

Siapa tahu baru saja kotak emas itu terjatuh kedalam genggaman Ciu It-bong tiba-tiba terjadilah

suatu ledakan yang maha dahsyat….

“Blaamm….!” percikan cahaya api menyebar keempat penjuru, asap hitam yang tebal

membumbung tinggi keangkasa, diiringi pecahan logam, daerah sekeliling tempat itu semuanya

terbungkus oleh jilatan api.

Jeritan ngeri yang menyayatkan hati bergema memecahkan kesunyian, hancuran daging dan

percikan darah berceceran diatas tanah membuat pemandangan disekitar sana sampak

mengerikan sekali.

Peristiwa yang berlangsung ditempat itu benar-benar mengejutkan hati, pemandangannya

menyeramkan membuat bulu kuduk pada bangun berdiri, Ciu It-bong yang membawa kotak

emas itu mati dengan tubuh hancur berantakan, mayatnya tersayat-sayat dan tidak dapat

ditemukan lagi.

Thong-thian Kaucu yang berada disampingnya kehilangan kaki kirinya sebatas paha, kaki

kanannya sebatas lutut, sepasang kaki imam tua ini hancur tak tertolong lagi.

Sedang Jin Hian kehilangan lengan kanannya sebatas bahu, yang paling beruntung adalah Pek

Siau-thian ia hanya menderita luka pada punggung dan tengkuknya sementara keempat anggota

badannya masih utuh dan jiwanya sama sekali tidak terancam.

Semua kejadian itu berlangsung dalam sekejap mata, sejak Siang Tang Lay mengeluarkan

pekikan pembawa mautnya, kemudian empat jago lihay yang sedang bertempur melarikan diri

terbirit-birit, para jago yang berada didalam barak sudah dibikin terperanjat dan sama-sama

bangkit berdiri, menanti kotak emas itu meledak dan terjadilah peristiwa yang lebih tragis semua

orang semakin tertegun karena kagetnya.

Suasana hening untuk sesaat lamanya, menanti Thong-thian Kaucu , Pek Siau-thian dan Jin Hian

roboh terkapar diatas tanah, suasana jadi kalut. Pek Soh-gieper-tama-tama yang menangkis

sambil menerjang ketengah gelanggang disusul para jago dari pelbagai golonganpun menerjang

kedalam gelanggang, jeritan dan teriakan bercampur baur membuat suasana amat riuh.

Hoa Hujin yang menyaksikaa peristiwa itu merasa amat terperanjat ia segera ulapkan tangannya

dan menerjang masuk kedalam gelanggang lebih dahulu. Ciu Thian-hau, It sim hweesio, Cu im

taysu, Suma Tiang-cing dan sekalian jago dan golongan lurus dengan cepat membuntuti dari

belakang dan melindungi keselamatan Siang Tang Lay beserta anak muridnya.

Pada waktu yang bersamaan Hing Leng cu, Pia Leng-cu serta Cing Leng cu dari perkumpulan

Thong-thian-kauw dengan tubuh yang cepat bagaikan sambaran kilat telah menerjang pula

kedalam gelanggang rupanya mereka hendak membereskan dulu jiwa Siang Tang Lay beserta

anak muridnya tetapi setelah menyaksikan Hoa Hujin sekalian ber gerak pula kesitu dengan

cepat mereka batalkan niatnya itu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

181

Kutungan lengan, kutungan kaki dan hancuran daging berceceran diatas tanah, darah segar

mengalir bagaikan sungai, sekali memandang keadaan ditengah gelanggang benar-benar

mengerikan sekali membuat bu lu kuduk semua orang pada bangun berdiri.

Tiga orang imam tua dari perkumpulan Thong-thian-kauw tiba dulu ditempat kejadian, Cing Leng

cu segera membopong tubuh Thong-thian Kaucu , Pia Leng-cu menotok seluruh jalan darah

penting disekeliling kakinya yang kutung hingga darah seketika berhenti mengalir.

Hoa Hujin yang menyaksikan ketepatan dan kehebatan imam tua itu dalam melepaskan totokan,

benar-benar sudah mencapai puncak kesempurnaan, diam-diam ia merasa kagum, so-rot

matanya segera dialihkan ke arah Siang Tang Lay.

Paras muka jago lihay dari wilayah See ih ini berubah jadi hijau membesi, sepasang matanya

terpejam rapat dan ketika itu dia sedang mengatur pernapasan.

Melihat keadaan tersebut, dalam hati kecilnya perempuan itu lantas berpikir, “Ternyata

penggunaan ilmu pekikan pembawa mautnya persis seperti tenaga pukulan sewaktu

dipergunakan pula selembar jiwa sendiri!”

Dalam pada itu, terdengarlah Thong-thian Kaucu berbisik dengan suara terbata-bata, “Susiok

bertiga luka pada sepasang kaki ku tidak menjadi soal tecu sudah terkena pekikan pembawa

maut dari iblis tua Seng sut hay”

“Aku mengerti” jawab Hiang Leng cu dengan suara berat.

Ia tempelkan telapak tangannya diatas punggung Thong-thian Kaucu kemudian sambil berpaling

hardiknya, “Semua anggota perkumpulan Thong-thian-kauw segera mengundurkan diri kedalam

barak, jaga tata tertib dan jangan kalut!”

Mendengar teriakan itu para anggota perkumpulan Thong-thian-kauw secara tertib segera

mengundurkan diri kedalam barak, Cing Leng cu sambil membopong Thong-thian Kaucu pun

ikut mengundurkan diri kedalam barak.

Dipihak lain, orang-orang dari perkumpulan Sin-kie-pang serta Hong-im-hwie masing-masing

telah menolong pemimpin mereka meskipun Jin Hiang kehilangan lengan kanannya dan

punggung Pek Siau-thian penuh luka yang merekah namun keadaan mereka berdua tidak jauh

berbeda dengan keadan dari Thong-thian Kaucu meskipun luka luar yang diderita cukup parah

namun tidak sampai mempengaruhi keselamatan jiwa justru luka dalam yang ditimbulkan akibat

pekikan pembawa maut itulah yang mengancam keselamatan mereka.

Kelompok tiga maha besar dalam dunia persilatan ini adalah perkumpulan-perkumpulan yang

mempunyai tata tertib serta organisasi yang sangat ketat meskipun pemimpin mereka sudah

mendalami musibah yang diluar dugaan, setelah suasana kacau sebentar keadaanpun menjadi

tenang kembali.

Pek Siau-thian seria Jin Hian yang secara beruntun telah sadar dari pingsannya segera

menurunkan perintah untuk menarik semua anggotanya kembali kedalam barak serta melakukan

perundingan lebih jauh.

Kendatipun begitu, semua anak buah dari Thong-thian-kauw, Hong-im-hwie maupun Sin-kiepang

telah menaruh rasa benci yang bukan kepalang terhadap diri Siang Tang Lay, mereka

semua merasa gusar dan benci, siapa pun bermaksud membunuh jago dari wilayah See ih itu

untuk melampiskan rasa dendam tersebut.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

182

Dipihak para jago dari kalangan lurus meskipun mereka merasa gembira dan lega karena

pertarungan babak pertama mereka berhasil rebut kemenangan tapi semua orang pun tahu

bahwa peristiwa itu hanya merupakan suatu permulaan belaka, pertarungan berdarah yang

sesungguhnya masih berada di belakaang.

Maausia-manusia sebangsa Tio Sam-koh sekalian yang berwatak polos dan terbuka kelihatan

gembira dan riang sekali mereka tertawa terbahak-bahak dengan kerasnya, ada yang

mengatakan sayang karena Pek Siau-thian tidak sampai mampus, ada yang memaki Ciu It-bong

karena serakah hingga harus menemui ajalnya dalam keadaan mengenaskan pokoknya suasana

amat cerah dan gembira.

Peristiwa besar yang terjadi ditengah gelanggang boleh dibilang telah menggoncangkan seluruh

lembah Cu bo koh tapi ada sekelompok manusia lain yang tetap tenang dan bersikap acuh tak

acuh, mereka bukan lain adalah gerombolan makhluk aneh yang menyerupai sukma-sukma

gentayangan itu, yang berdiri tetap berdiri, yang duduk tetap duduk mereka semua tak ada yang

berkutik dari tempat semula, terhadap kejadian yang berlangsung didepan mata tak seorangpun

yang ambil perduli.

Yang lebih hebat lagi adalah bayi yang berada dalam pelukan setan perempuan itu, sambil

menghisap puting susu perempuan setan itu sang bayi masih tidur dengan nyenyaknya seolaholah

sama sekali tidak terganggu oleh suara-suaradiluar barak,

Tiba-tiba dari balik barak sebelah timur muncul seorang pria bermuka putih berjenggot hijau dan

berlengan tunggal.

Para jago di empat penjuru sebagian besar kenal dengan pria berlengan tunggal ini sebagai

manusia nomor tiga dalam perkumpulan Hong-im-hwie yaitu Pat pit siu lo atau malaikat

berlengan delapan Cia Kim.

Semua orang mulai bertanya apa gerangan maksudnya munculkan diri ditengah arena seorang

diri? apa yang hendak ia lakukan?

Sementara itu Malaikat berlengan delapan Cia Kim sudah tiba dihadapan barak yang dihuni para

jago dari kalangan lurus, dengan alis berkernyit ia berseru ketus, “Bagaimana? apakah harus

menunggu sampai diundang oleh aku orang she Cia?”

Dari dalam barak para jago dengan cepat melayang keluar sesosok bayangan manusia, dia

berlengan tunggal menyoren pedang dan berwajah penuh cambang, orang itu bukan lain adalah

musuh bebuyutan dari Cia Kim yakni Ciong Lian-khek.

***

MALAIKAT berlengan delapan Cia Kim tertawa dingin tiada hentinya, dengan suara

menyeramkan, ia berkata, “Ciong Lian-khek dendam permusuhan di antara kita sudah mencapai

tingkat sedalam lautan aku rasa tak usah banyak bicara lagi tentang soal ini.

“Mati hidup antara golongan hitam dan putihpun bakal ditentukan pada hari ini juga karena itu

ada baiknya kalau kita tentukan da hulu siapakah yang berhak untuk hidup lebih lanjut diantara

kita berdua”

Ciong Lian-khek lintangkan pedangnya didepan dada, dengan serius ia menjawab.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

183

“Hmm….! engkau masih terhitung seorang lelaki sejati!”

Manusia bercambang ini memang paling segan banyak bicara, namun setiap patah kata yang

diutarakan keluar mempunyai bobot yang sangat berat.

Haruslah diketahui selama puluhan tahun belakangan ini, hampir boleh dibilang peraturan dalam

dunia persilatan sudah lenyap tak berbekas, setiap kali terjadi pertempuran maka seringkali

orang mengandalkan jumlah yang lebih besar untuk rebut kemenangan bahkan seringkali

menggunakan cara yang memalukan untuk rebut kemenangan.

Cia Kim sebagai seorang jago yang menduduki kursi nomor tiga dalam perkumpulan Hong-imhwie

ternyata bersedia melakukan duel satu lawan satu, tindakannya ini terhitung suatu hal yang

boleh dibanggakan oleh setiap orang, maka dari itu pujian dari Ciong Lian-khek tadi

menunjukkan bahwa diapun mengagumi akan sifat lawannya yang jantan.

Terdengar Cia Kim mendengus dingin, sambil menubruk maju kedepan ia lancarkan sebuah

pukulan.

Nama besar Malaikat berlengan delapan betul-betul bukan nama kosong belaka, setelah

telapaknya berkelebat kemuka maka seketika itu juga lengannya itu berubah jadi tujuh delapan

buah, tujuh delapan buah telapak itu menyerang secara bersama-sama, masing-masing

mengancam tiga bagian jalan darah penting ditubuh Ciong Lian-khek.

Menyaksikan datangnya ancaman itu, Ciong Lian-khek segera berpikir dalam hatinya, “Keparat

sialan, meskipun sudah kehilangan sebuah lengan ternyata ilmu silat yang dimilikinya malah

memperoleh kemajuan yang lebih pesat…. ia memang hebat!”

Bayangan telapak berkelebat bagai kabut mana yang sungguhan mana yang kosong sukar

dibedakan lagi, jika ia ambil tindakan untuk menangkis dan punahkan serangan itu lebih dahulu

maka posisinya masih akan terdesak.

Dalam keadaan begini Ciong Lian-khek segera putar pedangnya menyongsong datangnya

ancaman itu dengan gunakan jurus Siau Ci lam thian atau sambil tertawa menunjuk langit

selatan, pedangnya langsung menusuk pelipis Cia Kim.

Jurus serangan ini merupakan suatu gerakan menyerang sambil bertahan, dan penuh

mengandung keuntungan bagi permainan pedangnya, kendatipun pukulan telapak dari Cia Kim

sangat dahsyat namun karena kalah panjang maka diapun jadi terdesar malahan.

Melihat serangannya digagalkan secara mudah, diam-diam Malaikat berlengan delapan Cia Kim

merasa amat gusar, tubuhnya berkelebat kedepan dan berbalik mengancam rusuk kiri Ciong

Lian-khek, mengikuti gerakan telapak tadi badannya ikut menerjang kemuka, dengan keras

lawan keras ia berusaha mematahkan pertahanan musuh.

Ciong Lian-khek bukan orang bodoh, ia segera putar pedang balas menyerang titik kelemahan

lawan, jurus demi jurus dilepaskan secara berantai, serangan dibalas dengan serangan, semua

babatan pedangnya ganas dan keji, sedikitpun tidak memberi peluang bagi lawannya untuk

menguasai keadaan.

Sejak bertemu muka, dua orang yang saling bermusuhan ini sudah dipengaruhi oleh rasa

dendam kesumat, mata mereka sudah merah membara, karena itu begitu bertempur maka

kedua belah pihak sama-sama mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya, bukan saja

bertempur mengenai ilmu silat merekapun mengadu semangat.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

184

Kedua belah pihak sama-sama merupakan orang yang cemerlang dan punya nama besar dalam

dunia persilatan, karena saling bersumpah untuk tidak hidup berdampingan membuat

pertarungan itu berlangsung jauh lebih seru.

Dalam pada itu, jalan dibelakang barak telah dipenuhi oleh berkelebatnya bayangan manusia,

kurir dari kelompok tiga besar saling berhubungan satu sama lainnya, rupanya mereka sedang

merundingkan suatu masalah yang besar dan gawat.

Dalam barak yang dihuni para pendekar dari kalangan luruspun sedang berlangsung perundingan

untuk menentukan siasat dalam menghadapi pertempuran terakhir, meskipun pertempuran diluar

gelanggang berlangsung sengit dan tegang namun situasi dalam pe-rundingan itu jauh lebih

tegang dan serius.

Tiba-tiba terdengar Ciong Lian-khek membenak keras, dalam sekejap mata desiran pedang

menderu-deru, cahaya tajam berkilauan di angkasa, bayangan senjata berlapis-lapis dan

mengurung Malaikat berlengan delapan Ciu Kim semakin ketat.

Terdengar angin pukulan menderu-deru, tenaga pukulan yang terpancar keluar dari telapak

Malaikat berlengan delapan Ciu Kim pun segera tiba makin menghebat, pukulan demi pukulan

yang gencar berusaha menembusi kepungan lapisan pedang yang berlapis hingga menyiarkan

suara tajam yang memekikkan telinga.

Ilmu silat memang sukar diukur dengan kata-kata, sepanjang hidupnya Ciong Lian-khek selalu

meyakinkan permainan pedangnya, sewak tu menemani Hoa Thian-hong berlatih pedang, secara

tidak sadar ia telah melatih pula kepandaian sendiri secara tekun dan rajin membuat permainan

ilmu pedang Seng too tui hun kiam hoatnya mencapai puncak kesempurnaan yang tiada taranya,

sedang tenaga dalam yang dimilikipun mendapat kemajuan yang pesat, hal ini membuat daya

serangan yang terpancar dalam permainan pedangnya betul-betul mengerikan.

Dipihak lain, Malaikat berlengan delapan Cia Kim pun sepanjang hidupnya selalu tekun

mendalami ilmu telapak Siu lo ciang hoat nya. Inti sari dari ilmu pukulan itu sudah dikuasai

penuh, ditambah pula tenaga dalamnya yang sudah dilatih selama dua puluh tahun membuat

pukulan-pukulannya sangat terlatih dan sempurna.

Oleh karena itulah, kendatipun serangan pedang Seng lo tui hun kiam hoat dari Ciong Lian-khek

amat keji dan telengas namun selalu gagal untuk menembusi perlahanannya.

Tidak terasi setengah jam sudah lewat. Jua orang itu sudah bertempur banyak tiga iratus

gebrakan lebih.

Pertarungan ini merupakan suatu pertarungan yang amat sengit, dendam yang telah

berlangsung lama, rasa benci yang sedalam lautan memaksa kedua belah pihak merasa tak puas

sebelum berhasil membinasakan lawannya, oleh sebab itulah pertarungan berlangsung semakin

lama, keadaan makin seru dan ramai hingga akhirnya kedua bilah pihak sama-sama

mempertaruhkan keselamatan jiwanya untuk berusaha merubuhkan lawannya.

Suana dalam barak tiba-tiba berubah jada sunyi senyap tak kedengaran sedikit suara pun, semua

orang telah mengetahui bahwa salah satu diantara dua orang yang sedang berempur sengit itu

pasti ada yang bakal mati.

Malaikat berlengan delapan Cia Kim yang terkurung dalam lapisan cahaya pedang Ciong Liankhek,

kelihatan terdesak hebat dan berada dibawah angin, karena itu orang-orang dari

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

185

perkumpulan Hong-im-hwie merasa jauh lebih tegang dan serius daripada pihak lain.

Jin Hian yang kehilangan sebuah lenganya baru saja mendapat perawatan dan menyelesaikan

semedinya, setelah meninjau sebentar situasi dalam gelanggang, dengan dahi berkerut ia

berpaling ke arah Cu Goan Kek yang berada dibelakananya sambil berkata, “Ji te, engkau segera

menantang perang! berpura-puralah seperti akan menggantikan kedudukan dari Sim te, jika

pihak lawan ada yang berani menghalangi maka kita akan utus orang uutuk menghadapi

pertarungan itu, seandainya pihak Thong-thian-kauw memberi tanggapan atas kejadian itu maka

kita korban perang massal dan bergerak sesuai dengan rencana yang telah dipersiapkan”

“Siaute terima perintah!” jawab Cu Goan Kek sambil bangkit berdiri, ia keluar dari barak dan

menerjang kedalam gelanggang.

Hoa Hujin yang membayang-bayangi keadaan gelanggang dari tempat kejauhan, segera berseru

dengan suara berat setelah menyaksikan keadaan tersebut, “Sam te, turun kegelanggang dan

hadang orang itu!”

Sejak tadi Suma Tiang-cing sudah mengharapkan datangnya perintah, tanpa banyak bicara ia

segera terjun kegelanggang dan menghadang jalan pergi dari Cu Goan Kek.

Ketika Cu Goan Kek melihat orang yang muncul untuk menghadapi dirinya adalah pedang

sembilan nyawa Suma Tian Cing hatinya terjelos. Tapi rupanya perkuuipilan Hong-im-hwie sudah

punya rencana, baru saja pemuda Suma terjunkan diri dengan cepat Yan-san It-koay pun terjun

pula kedalam gelanggang.

Tio Sam-koh yang menyaksikan tindakan musuh jadi naik pitam ia ketukan tongkat besinya

keatas tanah dan siap terjun kedalam gelanggang, Hoa Hujin segera menarik lengan bajunya

sambil berbisik, “Pihak lawan berjumlah sangat banyak sedangkan kekuatan kita sedikit sekali

bilamana keadaan tidak terlalu memaksa lebih baik menghemat tenaga”

Sementara pembicaraan itu masih berlangsung, Suma Tiang-cing telah meloloskan pedangnya

dan menyenril senjata itu dengan sentilan jari, cahaya hijau berkilauan diiringi suara dentingan

yang memekikkan telinga terhadap kehadiran musuh dari arah depan ia sama sekali tidak

memandang barang sekejappun.

Dafri pergelanggan tangannya, Yan-san It-koay melepaskan pula gelangnya yang bercahaya

hitam, dengan tangan dikepalkan dan menyilang didepan dada ia melirik sekejap ke arah Cu

Goan Kek.

Orang kedua dari perkumpulan Hong-im-hwie itu mengerti apa yang dimaksudkan sahabatnya, ia

segera membentak keras, tubuhnya menerkam kedepan sambil melepaskan satu pukulan yang

maha dahsyat.

Paras muka Suma Tiang-cing menunjukkan sikap menghina dan pandang rendah musuhnya,

sepasang matanya yang memancarkan cahaya kesombongan menyapu sekejap ke arah Yan-san

It-koay dan Cu Goan Kek dengan ketus, walaupun ia tahu serangan yang dilancarkan orang she

Ciu itu sudah hampir mengenai ditubuhnya, akan tetapi si anak muda itu masih tetap berdiri tak

berkutik.

Jilid 10

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

186

SERANGAN yang dilancarkan Cu Goan Kek itu sebenarnya adalah suatu serangan kosong,

menanti Suma Tiang-cing menggerakkan tubuhnya maka Yan-san It-koay akan segera

menyergap kedepan sedang ia sendiri bisa melewati hadangan pemuda Suma itu dan membantu

Malaikat berlengan delapan Cm Kiai yang terancam bahaya.

Tapi Setelah melihat sikap yang angkuh dan jumawa dari Suma Tiang-cing, seakan-akan ia tak

dipandang sebelah matapun oleh la wannya, hawa arsiran segera berkobar dalam benaknya, dari

jurus itupun ia rubah jadi serangan sunguhan dan langsung dihantam kemuka.

Suma Tiang-cing tertawa dingin, ia geserkan badannya kesamping dan berkelit sejauh beberapa

depa dari tempat semula.

Cahaya hitam berkelebat lewat, Yan san koay dengan gelang hitamnya yang berada dalam

genggaman laksana sambaran petir ditonjokkan ke arah batok kepala lawan.

Tenaga dalam yang dimiliki gembong iblis ini jauh lebih sempurna jika dibandingkan dengan

tenaga lweekang dari Cu Goan Kek, karenanya walaupun serangan itu dilepaskan jauh lebih

lambat namun tiba pada sasaran hampir dalam waktu yang bersamaan.

Gerakan Suma Tiang-cing yang berkelit ke arah samping justru bagaikan perahu yang mendekat

ketepian, dengan tepat menyongsong datangnya ancaman tersebut.

Terdengar Suma Tiang-cing mendengus dingin, pedang mustikanya dibalik dan langsung

membabat pergelangan lawan.

Cara pemuda ini mainkan pedang menyerupai cara menggunakan golok, daya tekanannya berat

bertenaga tapi enteng dan lincah sekali membuat musuh sulit untuk menduga sasarannya.

Ia tersohor sebagai jago pedang bernyawa Sembilan yang merupakan manusia paling sadis

dikalangan golongan putih, kalau tidak bertempur wataknya baik, tapi setelah turun tangan pasti

ada jiwa yang melayang, karena kelihayan dan kekejiannya banyak gembong iblis yang jeli dan

mengalah tiga bagian kepadanya.

Sementara itu jurus serangan yang dipergunakan Yan-san It-koay sudah hampir mencapai pada

akhir gerakan, melihat seranganan itu jika dilanjutkan niscaya akan kurung ditangan lawan ia jadi

terkejut bercampur marah, sumpahnya, “Keparat! anjing sialan!”

Sambil putar badan satu lingkaran, dia buyarkan pukulan itu secara paksa….

“Cuuih!” Suma Tiang-cing meludah dan disemburkan keatas wajah Yan-san It-koay, pedang

mustikanya berputar dan langsung membacok tubuh Cu Goan Kek.

Orang kedua dari perkumpulan Hong-im-hwie ini rada nafsu untuk menghadapi pemuda tersebut

karena itu setelah serangannya mengenai sasaran yang kosong ia segera enjotkan badan dan

menyelinap kedepan.

Tiba-tiba desiran angin tajam meluncur dibelakang batok kepalanya, sewaktu ia berpaling

belakang tampaklah sambaran pedang Suma Tiang-cing sudah tiba didepan mata, ia amat

terperanjat dan tubuhnya buru-buru jatuh bergelinding keatas tanah untuk mencari selamat.

Mulai pertama Suma Tiang-cing menahan serangan dari Yan jan It koay lebih dahulu kemudian

menyergap Cu Gom Kek meskipun ia melepaskan dua serangan namun dalam kenyataan hanya

satu jurus serangan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

187

Mimpipun Cu Goan Kek tidak menyangka kalau Yan-san It-koay begitu goblok dan dan tak

becusnya sehingga serangan dari Suma Tiang-cing pun tidak mampu dibendung, dalam

gugupnya ia berusaha sekuat tenaga untuk meloloskan diri dari arcaman.

Cahaya barkelebat lewat pakaian bagian punggung Cu Goan Kek tersambar robek, sebuah jalur

sepanjang dua depa, darah mengalir keluar dari mulut luka dan membasai tubuhnya namun Cu

Goan Kek masih belum merasakan hal itu.

Yan-san It-koay merasa malu bercampur gusar, ia menyergap maju kedepan sepasang

kepalannya disodok kemuka menghajar pinggang Suma Tiang-cing memaksa si anak muda itu

harus putar pedangnya untuk menyelamatkan diri.

Setelah secara nyaris berhasil lolos dari bacokan lawan, Cu Goan Kek merasa gusar sekali, paras

mukanya jadi hijau kepucat-pucatan namun sebagai seorang jago kawakan yang berotak dingin

dan berhati licik, ia segera menggigit bibir menelan rasa mendongkolnya itu didalam hati, sang

badan masih melanjutkan terjangannya menubruk ke arah Ciong Lian-khek.

Kembali Suma Tiang-cing mendengus dingin, pedangnya berkelebat menyergap tubuh bagian

belakang dari Cu Goan Kek, memaksa jago kedua dari perkumpulan Hong-im-hwie ini buru-buru

harus berkelit ke arah samping.

Yan-san It-koay adalah seorang jago lihay yang tersohor karena kebengisan dan keganasanya,

berada dihadapan umum ia kena dipaksa oleh lawannya hingga selalu berada dibawah angin, hal

itu membuat kemarahannya menjadikan ia kalap, sepasang tinju di lontarkan secara berrantai

krdepan, ia lepaskan pukulan secara membabi buta.

Serangan berantai yang amat gencar ini telah menggunakan seluruh kekuatan yang dimiliki Yansan

It-koay, kendatipun Suma Tiang-cing gagah perkasa dan pemberani tak urung musti

menghadapi dengan sepenuh tenaga juga.

Dengan terjadinya peristiwa ini maka Cu Goan Kek pun berhasil melepaskar diri dari kurungan

lawan, tanpa mengucapkan sepatah katapun ia kirim satu pukulan dahysat menyergap badan

Ciong Lian-khek.

“Sreeet,!!” Ciong Lian-khek putar badan melepaskan satu babatan pedang, serunya dengan

ketus, “Cia Kim, ini hari adalah saatnya kita berdua untuk menentukan siapa hidup siapa mati

apakah engkau hendak andalkan kekuatan orang untuk mewujudkan harapanmu?”

Malaikat berlengan delapan Cia Kim tertegun, ia teringat kembali atasn kata-katanya sebelum

terjadi pertarungan itu, ia pernah ber kata bahwa pada saat itu menang kalah di antara mereka

hendak dilakukan tanpa campur tangan orang lain.

Dangan wajah menyesal bercampur malu, segera bentaknya dengan keras.

“Ji ko harap segera undurkan diri, setelah rasa akhirat menentukan kematian pada kentongan

ketiga, siapakah yang berani mena han dirinya sampai kentongan kelima?”

Cu Goan Kek tertawa seram.

“Heeh…. heehh…. heehh…. Ji ko justru tak percaya dengan segala ketahayulan, akan ku

bereskan cecunguk ini sekarang juga”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

188

Ciong Lian-khek tertawa sinis.

“Huuh! baiklah, aku akan suruh engkau percaya dengan segala Ketahayulan!!”

Sreet! sreet! dua serangan berantai di lepaskan dengan gencar menukas perkataan Cu Goan Kek

yang belum sempat diselesaikan.

Malaikat berlengan delapan Cia Kim semakin bertambah malu dan tiba-tiba ia berteriak keras, “Ji

ko kalau engkau tak segera mengundurkan diri, siaute akan bunuh diri lebih dulu di hadapanmu!”

Cu Goan Kek merasa amat terperanjat, ia segera urungkan serangannya dan mundur ke

belakang dengan hati tercekat.

“Cia Kim” teriak Ciong Lian-khek kemudian dengan suara lantang, “engkau memang seorang

lelaki perkasa yang hebat, aku Ciong Lian-khek kagum atas kegagahanmu itu!”

Pedangnya dikembangkan dan segera melancarkan satu tusukan.

Malaikat berlengan delapan Cia Kim mendengus dingin, ia melangkahkan kakinya sambil

berputar, sebuah pukulan balasan segera dilepaskan dengan dahsyat.

Cu Goan Kek yang dipaksa mengundurkan diri dari arena pertarungan hanya bisa berdiri melongo

disisi gelanggang sambil menyaksiksn dua orang itu melanjutkan kembali pertarungannya, dalam

hati ia segera berpikir, “Baiklah aku berdiri disini sambil membayanggi pertarungan yang sedang

berlangsung, bila keadaan membahayakan aku baru akan turun tangan untuk menolong jiwanya,

dalam keadaan begitu aku rasa Ciong Lian-khek tidak akan….”

Belum babis ingatan tersebut berkelebat dalam benaknya, tiba-tiba terdengar Yan-san It-koay

berteriak keras, “Hati-hati dengan sergapan dari belakang….!”

Terperanjat hati Cu Goan Kek mendengar teriakan tersebut, ia segera berpaling kebelakang dan

tampaklah seorang kakek tua berwajah merah, berbadan pendek dan gemuk, sambil

menggoyangkan kipasnya sedang menyelinap kebelakang tubuhnya tanpa menimbulkan sedikit

suarapun.

Ketika menyaksikan lawannya berpaling, kakek gemuk pendek berwajah merah padam itu tibatiba

tertawa, kipasnya diayun kedepan dan mengipasi punggung Cu Goan Kek.

Pakaian bagian punggung dari Cu Goan Kek itu sudah tersambar robek oleh babatan pedang

Suma Tiang-cing tadi tanpa terasakan olehnya, setelah dikipasi oleh kakak gemuk itu,

pakaiannya segera tersingkap hingga kelihatan kulitnya yang berdarah.

Cu Goan Kek jadi sangat terperanjat, buru-buru ia loncat keudara dan menyingkir sejauh

beberapa tombak dari tempat semula.

Ditengah gelanggang, terdengarlah Ciong Lian-khek membentak keras, Cia Kim mari kita

tentukan siapakah yang lebih berhak melanjutkan hidup di kolong langit.

Sambil berseru badannya meluncur keangkasa hingga mencapai ketinggian dua tombak lebih.

Malaikat berlengan delapan Cia Kim tertawa angkuh, kakinya melayang kepintu Cu bu dan

kepalannya disilangkan didepan dada, kepalanya menengadah keudara sikapnya angkuh sekali.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

189

Ciong Lian-khek mendengus dingin, badannya meluncur kebawah, pedangnya berputar kencang

bagaikan roda, cahaya tajam menyelimuti daerah seluas satu tombak lebih, dan mengurung

batok kepala Cia Kim.

Terdengar bentakan keras bergeletar di angkasa, dengusan gusar yang seram mengiringinya lalu

terjadilah suatu benturan yang dahsyat.

“Bluum! dengan jurus Lu wang kay hun atau jaring langit membekuk sukma, bacokan pedang

dari Ciong Lian-khek berhasil menghajar separuh tubuh bagian atas dari Cia Kim sehingga terluka

parah dan darah segar berhamburan di angkasa.

Pada saat yang bersamaan pula, sebuah pukulan maut yang dilepaskan malaikat berlengan

delapan Cia Kim berhasil pula menghajar telak bahu kiri lawannya, membuat tulang bahu Ciong

Lian-khek hancur berantakan, tubuhnya yang ada ditengah udarapun berpusing kencang.

Sejak menyaksikan Cia Kim bermaksud adu jiwa, Cu Goan Kek sudah menyadari bahwa gelagat

tidak menguntungkan rekannya, ia hendak maju menolong tapi usahanya selalu ditinggalkan oleh

kebebasan kipas dari dewa yang suka pelancongan Cu Thong, hal ini membuat dia panik sekali.

Demikianlah, setelah terjadinya bentrokan yang sama-sama berakibatkan terlukanya kedua orang

itu, para jago dari perkumpulan Hong-im-hwie sama-sama membentak keras dan serentak

menyerbu masuk kedalam gelanggang pertarungan.

Terdengar Ciong Lian-khek membentak keras, pedangnya berputar laksana kitiran petir, sekilas

cahaya tajam yang menyilaukan mata meluncur kemuka, dengan gerakan Thay san ya teng atau

tertindih oleh bukit Thay san, pedangnya membacok kebawah.

Jeritan ngeri yang menyayatkan hati bergema memecahkan kesunyian, batok kepala Malaikat

berlengan delapan Cia Kim terbacok hingga hancur lebur dan terpisah dari tubuhnya.

Dalam pada itu, dewa yang suka pelancongan Cu Thong ketika melihat para jago dari

perkumpulan Hong-im-hwie bagaikan gulungan air bah menyerbu masuk kedalam gelanggang

pertarungan, ia segera meayadari bahwa pertempuran massal tak bisa dihindari lagi, kipasnya

dengan cepat disimpan dan telapaknya laksana kilat melepaskan satu pukulan maut.

Pukulan itu menggunakan gerakan menyerang sampai mati, salah satu serangan ampuh dalam

catatan Ci yu ju ciat, tujuan Cu Thong menggunakan iimu maut itu bukan lain adalah hendak

membunuh lawannya secepat mungkin.

Dada Cu Goan Kek termakan telak oleh pukulan maut itu, ia menjerit kesakitan, darah segar

menyembar keluar dari mulutnya dan binasalah jago nomor dua dari perkumpulan Hong-im-hwie

ini.

Pertempuran itu benar-benar berlangsung amat seru dan mengerikan, belum cepat mayat Cia

Kim dan Cu Goan Kek roboh terkapar diatas tanah, pertarungan massal yang amat serupun

sudah berlangsung.

Delapan puluh orang jago lihay dari perkumpulan Hong im Hwae bersama-sama terjun kedalam

geianggang pertarungan, yang masih tinggal dalam barak hanya Jin Hian yang baru saja

kehilangan lengan kiri nya serta nenek buta yang belum sembuh dari luka dalamnya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

190

Sebaliknya dari pihak pendekar kalangan lurus, mulai dari Hoa Hujin hingga kebawah sebagian

besar ikut terjun dalam pertarungan massal itu, kini yang masih berpeluk tangan hanya Siang

Tang Lay yang cacad dan menderita luka parah, keempat orang muridnya yang melindungi

keselamatan sang guru, Biau-nia Sam-sian setia Chin Wan-hong.

Dilam sekejap mata, jeritan-jeritan ngeri berkumandang silih berganti, meskipun dari pihak

kalangan lurus hanya berjumlah dua puluh dua orang tapi sebagian besar merupakan jago-jago

lihay yang berhasil lolos dalam pertempuran berdarah dipertemuan Pak beng hwee, lagi pula

mereka semua telah bersepakat untuk membunuh pihak lawan dengan serangan kilat, oleh

karena itu begitu terjadi pertempuran seru, perkumpulan Hong-im-hwie yang merupakan

kelompok paling lemah diantara Tiga maha besar dalam dunia persilatan segera mengalami

gempuran hebat yang mengakibatkan rontoknya kekuatan tersebut.

Jin Hian yang menyaksikan anak buahnya banyak yang roboh bergelimpangan diatas tanah jadi

tercekat dan sedih sekali, ia segera menjerit kalap, “Thian Ik-cu! Pek Siau-thian! aku orang she

Jin….”

Belum habis ia berkata, dari barak sebelah kiri berkumdanglah suara bentakan keras dari Hian

Leng cu, “Pek pangcu, sekarang sudah tiba saatnya bagi kita untuk turun tangan”

Dia ayun pedang mustikanya dan terjun kedalam gelanggang lebih dahulu.

Dalam sekejap mata, hawa pedang membumbung tinggi keangkasa, ratusan orang, anggota

perkumpulan Thong-thian-kauw mengikuti dibelakang Hian Leng cu, Pia Leng-cu dan Cing Leng

cu terjun kedalam gelanggang pertarungan massal.

Luka yang diderita Pek Siau-thian paling ringan, luka itu sudah selesai dibalut. Saat itu sambil

memegang tanda perintah Hong-lui-leng yang memancarkan cahaya keemasan ia berdiri diatas

sebuah meja, matanya yang jeli mengamati situasi dalam gelanggang, namun ia tetap tidak buka

suara untuk mengirim kekuatannya.

Terdengar malaikat pertama Sim Kiam d ri Liong-bun Siang-sat membentak dengan suara keras,

“Saudara-saudara dari perkumpulan Hong-im-hwie, cepat menghindar kesayap kanan!”

“Hmmm! mau menghindar kemanapun tidak mungkin bisa!” sahut Cu Thong dewa yang suka

pelancongan dengan suara dingin.

Weeeess….! ia lepaskan pukulan dahsyat ke depan.

Tatkala menyaksikan datangnya pukulan telapak yang merah membara bagaikan baja yang

membara, Malaikat pertama Sim Kian merasa amat teperanjat, ujarnya, “Ilmu sesat apakah yang

dilatih oleh kakek tua bermuka merah ini? nampaknya mengerikan sekali”

Setelah berhasil lolos dari ancaman musuh, ilmu lay in sin jiau nya segera dikerahkan menembusi

angkasa dan menyergap kemuka.

Tiba-tiba terdengar Hoa Hujin membentak dengan suara dalam.

“Giok Liong! Bong Pay! segera belok kesayap kanan dan sambut kedatangan para jago dari

perkumpulan Hong-im-hwie!”

Para jago dan perkumpulan Hong-im-hwie pada waktu itu sudah berbelok kesayap kanan, para

imam dan sekte agama Thong-thian-kauw bagaikan air bah segera menerjang masuk

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

191

kegelanggang, ratusan bilah pedang berkilauan di angkasa membuat suasana bertambah

mengerikan.

Chin Giok-liong serta Bong Pay sekalian menyadari bahwa kekuatan mereka masih belum mampu

untuk membendung serangan tersebut, mendengar perintah dari Hoa Hujin dengan cepat

mereka menyingkir kesayap kanan dan menghadapi orang-orang dari perkumpulan Hong-imhwie.

Tiba-tiba dengusan dingin bergema diudara, seorang pria berbadan bagaikan beruk melayang

masuk kedalam gelanggang, sekilas cahaya hitam kontan meluncur kedepan.

Hian Leng cu mengerutkan dahinya, ia segera membentak, “Yang datang apakah Ciu Thian-hau

dari gunung Huan san?”

Pedangnya berkilat, sebuah serangan balasan segera dilepaskan.

“Traaanng….! Traaang….! Traang….! beberapa kali benturan nyaring mengakibatkan percikan

bunga api berterbangan di angkasa, begitu bertemu muka kedua orang itu sudah terlibat dalam

suatu pertarungan yang amat seru.

Ciu Thian-hau dari gunung Huan San mendengus dingin, golok tipisnya yang berkilauan tajam

secara beruntun melepaskan belasan jurus serangan berantai, namun kesemuanya berhasil

dipunahkan oleh Hian Leng cu, dari pihak golongan pendekar, ilmu silat yang dimiliki Ciu Thianhau

hanya sedikit dibawah Hoa Hujin, sebaliknya Hian Leng-cu adalah jago yang berilmu paling

tinggi dari pihak lawan, karena iti meskipun orang she Ciu itu sudah menyerang dengan segala

kemampuannya namun tetap gagal untuk merebut posisi yang lebih menguntungkan.

Dalam pada itu, It sim hweesio Ti Kiam Hui telah memutar senjata sian cang nya untuk

bergebrak melawan Pia Leng-cu, sedangkan Hoa Hujin menghadapi Ceng Leng cu, enam orang

terbagi dalam tiga kelompok bertempur dengan serunya.

Karena keenam orang itu merupakan jago-jago yang berkepandaian paling lihay, maka sekalipun

terjadi pertempuran massal namun tak seorang manusiapun yang mampu terjun dalam

pertarungan diantara enam orang tadi,

Hian Leng cu, Pia Leng-cu dan Cing Leng cu dari pihak Thong-thian-kauw telah membendung

kekuatan dan pihak pendekar yang berilmu paling tinggi, dengan terjadinya pertarungan tersebut

maka daya tekanan terhadap pihak perkumpulan Hong-im-hwie pun jauh berkurang.

Pada waktu itu, malaikat pertama Sim Kian dari Liong-bun Siang-sat bettempur seru melawan

dewa yang suka pelancongan Cu Thong, malaikat kedua Sim Ciu melawan Cu Im taysu, Yan-san

It-koay bertempur melawan jago pedang bernyawa sembilan Suma Tiang-cing, sedangkan Thian

Seng cu dan Cing Si cu dari perkumpulau Thong-thian-kauw bertempur melawan Tio Sam-koh,

sisanya terlibat dalam pertempuran massal.

Bentakan keras bergeletar bagaikan guntur, kedua belah pihak saling bertempur dengan serunya,

tapi disebabkan jumlah anak murid dari perkumpulan Thong-thian-kauw sangat banyak, dari

pihak Hong-im-hwie masih terdapat belasan orang jago, ditambah pula tiga puluh orang

pengawal pribadi golok emas, maka kendatipun dalam pertempu ran seru itu pihak pendekar

berhasil membunuh banyak musuh, namun keadaan mereka kemungkinan terancam maut.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

192

Sepanjang pertarungan itu berlangsung, kelompok makhluk aneh yang menyerupai sukmasukma

gentayangan itu masih tetap duduk tenang dalam barak, kehadiran mereka

mendatangkan firasat yang jelek bagi setiap orang disana.

Siang Tang Lay yang selama ini mengikuti terus jalannya pertarungan itu, mendadak berbisik

kepada seorang muridnya yang bera da disamping.

“Kalian berputarlah ke arah tenggara dan serbu kedalam gelang-gang, sergap jalan mundur

pihak Hong-im-hwie dan usahakan untuk membasmi mereka semua dan muka bumi!”

Keenam orang pemuda itu menunjukkan sikap keberatan, mereka segera memberi hormat

s?ambil berseru, “Suhu….!”

Siapa yans berani membangkang perintah ku? bintaik Siang Tang Lay dengan mata melotot.

Enam orang pemuda iiu tak berani banyak bicara lagi, mereka segera memberi hormat dan

terjun kedalam gelanggang.

Meskipun usia beberapa orang itu masih muda namun ilmu silat mereka sudah mendapat warisan

langsung dari Siang Tang Lay, tenaga dalam yang mereka milikipun sudah mencapai

kesempurnaan, karena itu setelah mereka berenam terjun kegelanggang lewat arah tenggara

dan menyergap jalan mundur dari tiga puluh orang pengawal pribadi golok emas, dalam waktu

singkat para jago dari perkumpulan Hong-im-hwie sudah keteler hebat dan mendekati ambang

kehancuran.

Pengawal pribadi golek emas mempunyai keahlian dalam bertempur secara bersamaan

sebaliknya keenam orang murid dari Siang Tang Lay ini paham dengan ilmu barisan Lak liong si

thian kian tin, begitu terjadi bentrokan langsung, dalam sekejap mata ada delapan sembi lan

orang pengawal pribadi golok emas roboh binasa ditangan mereka.

Jin Hian yang menyaksikan jalannya pertarungan itu dari dalam barak jadi panik sekali, ia tahu

jika pertarungan ini dilanjutkan lebih jauh, massa pihak pendekar pasti akan berhasil merebut

posisi yang menguntungkan, sedang perkumpulan Hong-im-hwie akan hancur berantakan dan

tergeser namanya dari dunia persilatan.

Ia jadi marah bercampur dendam, tiba-tiba sorot matanya dialihkan ke arah Pek Siau-thian yang

berada dalam barak diseberang, dengan suara menguntur teriaknya, “Tua bangka she Pek,

lihatlah apakah ini?”

“Apa?” bentak Pek Siau-thian sambil berpaling.

Jin Hian angkat tangannya, sebilah pedang kecil yang memancarkan cahaya keemasan segera

muncul didepan mata.

Pek Siau-thian merasakan jantungnya bergentar keras, teriaknya tanpa Sadar, “Aaaah! pedang

emas”

“Heehh…. heeh…. heehh…. sedikitpun tidak salah, inilah pedang emas,” jawab Jin Hian sambil

tertawa dingin.

Ia sambit pedang itu kedepan, sekilas cahaya emas berkelebat ketengah udara, setelah

membentuk satu lingkaran busur, pedang emas itu langsung ketengah gelanggang dimana

pertempuran massal sedang berlangsung.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

193

“Haahhh…. haahhh…. haahhh…. bagus sekali tua bangka she Jin rupanya engkau sengaja

menciptakan berita yang mengatakan pedang emas itu dicuri orang, rupanya engkaui sedang

berbohong!”

Tampaklah pedang emas yang berbentuk kecil itu berputar diudara lalu rontok kebawah dan

tepat berada dialas kepala Cu Im taysu.

Siang Tang Lay yang berada dibawah barak buru-buru membentak keras, “Taysu, cepat rampas

pedang emas itu!”

Cu Im taysu tersenyum, pikirnya, “Dalam keadaan situasi semacam ini, apa gunanya benda yang

tak berfaedah itu?”

Ssmentata ia masih sangsi, tiba-tiba sesosok bayangan manusia berkelebat menembusi angKasa

dan menyambar pedang emas itu.

Cu Im taysu dapat melihat bahwa orang yang menyambar pedang emas itu bukan lain adalah

Thian Sengcu dari perkumpulan Thong-thian-kauw, senjata sekop peraknya segera ditusuk ke

arah tubuhnya.

Thian Sengcu tertawa tergelak, badannya melentak dan bergeser dua depa ke arah samping,

setelah lolos dan tusukan sekop lawan, pedangnya segera diayun kemuka menotok ujung senjata

sekop, sementara tangan kirinya melanjutkan gerakan untuk merampas pedang emas itu.

Malaikat kedua Sim Ciu yang sedang bertempur melawan Cu Im taysu ketika menyaksikan

senjata sekop lawan berputar menyerang Thian Seng cu, ia tak mau membuang kesempatan

yang sangat baik itu dengan begitu saa tetapi sebelum serangan dilepaskan tiba-tiba dilihatnya

pedang emas itu sudah hampir didapatkan oleh Thian Seng cu.

Sebagai seorang yang tamak akan harta, dengan cepat dia urungkan serangannya untuk

menghajar Cu Im taysu, diam-diam ilmu Tay in tin jiau nya dikerahkan dan menghantam

lambung Thian Seng cu secara diam-diam.

Thian Seng cu yang menutulkan pedangnya pada ujung sekop Cu Im taysu sebenarnya berhasil

meminjam tenaga pantulan itu untuk merebut pedang emas dan melayang keluar dari

gelanggang, siapa tahu baru saja ujung pedangnya berhasil menutul diujung sekop mendadak

lambungnya terasa sakit bagaikan tertusuk, hawa murninya buyar dan tubuhnya toboh keatas

tanah.

Sekalipun begitu, imam tua tadi bukanlah seorang manusia tolol setelah menyadari bahwa ia

terbokong lawan, pedangnya segera diayunkan menghantam pedang emas tadi sambil berseru.

“Susiok, sambutlah pedang itu!”

Cu Im taysu hanya pusatkan perhatiannya untuk membunuh musuh, ia sama sekali tak pikirkan

pedang emas itu didalam hati, karena kuatir malaikat kedua Sim Ciu menyergap dirinya, dengan

cepat sekop peraknya di babat keatas tubuh Thian Seng cu yang baru saja rontok dari udara.

Serangan sekop perak itu dilepaskan dengan kecepatan bagaikan sambaran petir, dahsyatnya

luar biasa.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

194

“Ploook….!” dengan telak bacokan itu bersarang diatas pinggang Thian Seng cu membuat imam

tua itu menjerit ngeri, mutah d rah segar dan binasa seketika itu juga.

Malaikat kedua Sim cu yang menyaksikan usahanya sia-sia belaka jadi gusar melihat mayat dari

Thian Sang cu meluncur dihadapan mukanya, ia segera lancarkan satu tendangan kilat yang

membuat mayat tadi mencelat kembali ke arah Cu Im taysu, bersamaan itu pula badannya maju

kedepan meneruskan sergapannya.

Pedang emas yang dipukul oleh Thian seng cu dengan pertaruhan nyawa itu segera mencelat

kembali diudara dan meluncur ke arah Cing Leng cu.

Pada waktu itu Cing Leng cu yang sedang bertempur melawan Hoa Hujin sedang kebat kebit

hatinya karena kejut bercampur keder, dalam keadaan begitu tak sempat baginya untuk

pecahkan perhatian mengurusi soal pedang emas tersebut.

Ketika dilihatnya pedang emas itu meluncur datang, ia putar badan sambil bergeser kesamping

kemudian melayang ke arah depan meneruskan pertarungan lebih jauh.

Hoa Hujin, Ciu Thian-hau, It Sim hweesio, Hiang Leng cu sekalian berada disekitar tempat itu,

Hoa Hujin sekalian yang berniat untuk membalas dendam sama sekali tak mau pecahkan

perhatian karena soal pedang emas itu.

Hian Leng cu dan Pia Leng-cu sendiri juga merupakan siluman-siluman tua yang berpengalaman,

mereka tahu bahwa soal pedang emas masih merupakan suatu tanda tanya yang belum

terjawab, merebutnya dalam keadaan dan saat seperti ini sama sekali tak ada gunanya, bahkan

malahan akan mendatangkan pembunuhan bagi diri mereka, karena itulah meskipun pedang

emas tadi menyambar lewat dari sisi beberapa orang berkepandaian tinggi itu, namun tak ada

seorang manusiapun yang mau mempedulikan, mereka tetap mengerahkan kepandaian masingmasing

untuk bertempur sengit melawan musuhnya.

Pedang emas itu setelah meluncur sejauh beberapa tombak, daya luncurnya makin lemah dan

akhirnya roboh keatas tanah, Chin Pek-cuan yang kebetulan berada disampingnya dengan cepat

menyambar senjata tadi dan dicekalnya dalam tangan.

Dari Ciu Thian-hau ia sempat mempelajari suatu ilmu langkah yang luar biasa sekali hebatnya

dalam sekali bergerak tahu-tahu tubuhnya sudah terlepas dan kurungan senjata lawan dan

berhasil merampas pedang emas itu.

Suara hentikan nyaring berkumandaog dari empat penjuru, ber puluh-puluh orang musuh

serentak menyerang ke arahnya.

Semua peristiwa itu berlangsung dalam sekejap mata, Pek Siau-thian yang berdiri diatas meja

ketika menyaksikan pedang emas itu sudah terjatuh ketansan Chin Pek-cuan, ia segera

membisikan sesuatu kesisi telinga Cukat racun Yau sut, panji Hong lui kie dikibarkan dan

bentaknya, “Pelindung hukum panji kuning mengikuti Kunsu untuk turun menuju

kegelanggang!!”

Cukat racun Yau Sut menyingkap badannya dan cabut keluar sebilah pedang pendek, eriaknya,

“Pelindung hukum panji kuning, ikutilah aku!”

Suara sahutan bersema gegap gempita, seratus orang pelindung hukum panji kuring dengan

mengikuti dibelakang Yau Sut, bagaikan gulungan air bah segera terjun kedalam gelanggang.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

195

Dengan dipimpin oleh Cukat racun Yau Sut, sepasukan jago lihay itu bergerak menuju ke arah

tenggara, kelompok pelindung hukum panji kuning ini merupakan jago pilihan yang berkepandian

silat amat tangguh, terjangan mereka kedalam gelanggarg kali ini benar-benar dahsyat dan

mengerikan sekali.

Malaikat pertama Sim Kian selain bertempur melawan dewa yang suka pelancongan Cu Thong,

itupun bertugas mengatur anak buahnya serta memberi petunjuk kepada anggota perkumpulan

Hong-im-hwie untuk melakukan perbuatan, ketika menyaksikan para anggota perkumpulan Sinkie-

pang menyerang lewat arah belakang, ia jadi gusar sekali se-hingga hampir saja hendak

mrunkan perintah untuk beradu kekuatan dingan pihak perkumpulan Sin-kie-pang.

Tapi ia tahu Hao Goan Siu mati ditangan mereka berdua, perselishan dan dendam kesumat yang

terjadi antara pihak Hong-im-hwie dengan kaum pendekar sudah terlalu dalam hingga sukar

diselesaikan maka sambil menahan rasa dongkol dihati ia membentak keras, “Saudara-saudara

dari perkumpulan Hong-im-hwie semuanya bergeser kesamping kiri!”

Mendapat perintah tersebut, semua jago dari perkumpulan Hong-im-hwie siap bergeser

kesamping kiri dan memberikan musuh yang ada disayap kanan kepada pihak perkumpulan Sinkie-

pang.

Siapa tahu dari pihak perkumpulan Sin-kie-pang sudah mempunyai rencana sendiri, mereka

bermaksud menggunakan kesempatan hari ini untuk melenyapkan kekuatan dari perkumpulan

Hong-im-hwie.

Tampaklah Cukat racun Yau Sut kembali ulapkan tangannya, ratusan orang jago dari kelompok

panji kuning tiba-tiba menyebarkan diri dan menerobos kebelakang barisan pihak Hong-im-hwie,

hal ini membuat pasukan dan pihak Hong-im-hwie segera terjepit ditengah kepungan, meskipun

mereka ayun senjata sambil berteriak keras namun tak seorangpun diantara mereka yang secara

langsung kontak senjata dengan pihak pendekar.

Diantara perkumpulan Sin-kie-pang, Hong-im-hwie dan Thong-thian-kauw bila membicarakan

tentang soal ilmu silat maka ilmu silat Hian Leng ki, Pia Leng-cu serta Cing Leng cu dari

perkumpulan Thong-thian-kauw lah yang paling tinggi, berbicara tentang banyaknya anggota

dan pergalamannya panglima perang maka perkumpulan Sin-kie-pang yang nomor satu.

Dalam pertempuran yang terjadi pada saat ini, tiga orang imam tua dari perkumpulan Thongthian-

kauw telah berhadapan dengan para pendekar berilmu tinggi sedangkan Hong-im-hwie

bertanggung jawab dalam serbuan pertama maka bila dibicarakan sesungguhnya, maka posisi

pihak Sin-kie-pang lah yang paling menguntungkan.

Jin Hian yang menyaksikan peristiwa tersebut dengan cepat memahami siasat keji dari Pek Siauthian,

ia jadi mendendam dan bencinya luar biasa namun jago tersebut hanya bisa menggertak

gigi belaka tanpa mampu berbuat apa-apa lagi, sebab seluruh kekuatan perkumpulan Hong-imhwie

telah terjun sedalam arena dan ia tidak memiliki kekuatan lagi

Ketika ia berpaling ke arah pihak perkumpulan Sin-kie-pang, tampaklah para Tong cu nya, para

Hiangcu, serta pelindung hukum yang berjumlah hampir melebihi tiga ratus orang masih utuh

berkumpul dibelakang Pek Siau-thian, kekuatan sebesar itu masih mencerminkan suatu kekuatan

yang maha besar.

Tiba-tiba Bong Pay membentak keras, sepasang telapaknya didorong kemuka secara berbareng,

Seng Sam Hau itu hweesio yang gemar makan daging dan minum arak dari perkumpulan Hongim-

hwie segera terhajar telak dadanya oleh pukulan itu, ia muntah darah segar dan mundur

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

196

kebelakang dengan sempoyongan, akhirnya sepasang kakinya jadi lemas dan roboh tercengang

keatas tanah.

Dalam perkumpulan Hong-im-hwie, Seng Sam Hau menduduki kursi nomor lima, dia adalah

seorang hweesio yang gemar minum arak, main perempuan dan suka membunuh orang, hal ini

Bong Pay sebagai seorang pemuda yang masih cetek pengalamannya ternyata mampu

membinasakan hweesio tadi.

Hal ini mencerminkan bahwa para jago dari perkumpulan Hong-im-hwie rata-rata sudah pecah

nyali dan patah semangat.

Terdengar dua kali bentakan gusar berkumandang datang, dua orang pengawal pribadi golok

emas menyerbu kedepan menggunakan kesempatan tersebut, Bong Pay yang baru saja

melepaskan serangan belum sempat berdiri tegak ketika bacokan golok dari pria yang ada

disamping kiri telah menyambar tiba.

Tak bisa dihindari lagi, bahu kiri Bong Pay termakan oleh bacokan itu sehingga darah segar

memancarkan keluar dengan deras nya, hampir saja badannya roboh keatas tanah.

Chin Giok-liong yang kebutalan berada disekitar sana, dengan cepat menerjang maju, pedangnya

dibacok kemuka berulang kali memaksa dua orang pengawal pribadi golok emas itu buru-buru

mengundurkan diri.

Terdengar dewa yang suka pelancongan Cu Thong berteriak keras, “Anak Pay dan Giok Liong

segera mundur kekiri dan mendekat dengan paman Yap!”

Dari ayahnya Chin Giok-liong berhasil mempelajari pula ilmu langkah Lian Ngo heng mi sian poh

hoat atau ilmu langkah dewa pemabok yang diperoleh dari Ciu Thian-hau, dalam pertempuran

massal tersebut ternyata ilmu langkah itu mendatangkan faedah yang amat besar bagi dirinya, ia

bisa berkelebat kekanan atau menerobos kekiri dengan leluasa.

Ketika mendengar perintah dari Cu Thong, ia segera putar pedang mendesak mundur musuh

yang ada didepan mata serta melindungi Bong Pay bergeser kekiri. Tiba-tiba terdengar Hoa Hujin

berseru dengan suara berat, “Tiong Liau, bertempurlah dengan mantap dan sabar, jangan terlalu

rakus dengan pahala.

Sementara itu suasana dalam gelanggang pertempuran kalut sekali, suara betrokan senjata dan

bentakan gusar amat memekikan telinga, namun seruan dari Hoa Hujin yang disertai dengan

tenaga dalam amat sempurna itu ternyata berhasil didengar oleh setiap orang dengan amat

nyaring, hal ini mengakibatkan semua orang terperanjat dan kesadaran otak merekapun pulih

kembali.

Tiga harimau dari keluarga Tiong sejak mendapat pelajaran dari Hoa Thian-hong, mereka bertiga

selalu melatih dasar tenaga dalam aliran perkampungan Liok Soat Sanceng, ilmu telapak yang

mereka pelajari adalah ilmu pukulan Kun-siu-ci-tauw dari Ciu It-bong, kemudian atas warisan dari

Lun tok sian ci merekapun berhasil mempelajari barisan Sam seng bu kek tin, ilmu kerja sama

yang luar biasa ini sangat hapal sekali mereka gunakan.

Pada saat ini suami istri dan anak tiga orang yang harus bekerja sama menghadapi serbuan para

jago dari perkumpulan Thong-thian-kauw segera menarik keuntungan yang sangat besar, hanya

sayang watak mereka bertiga amat benci pada kejahatan dan tidak takut mati, setelah terjadi

pertarungan pasti ada diantara mereka yang berusaha merncari pahala dengan pertaruhan jiwa,

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

197

karena itu seringkali mereka harus menghadapi banyak mara bahaya yang mengancam

keselamatan mereka.

Dan kini kembali Tiong Liau berusaha hendak menerjang maju seorang diri, ketika mendengar

teguran dari Hoa Hujin buru-buru ia mundur kembali kebelakang.

Pertarungan massal yang berlangsung kali ini merupakan suatu pertarungan massal paling besar

yang terjadi dalam dunia persilatan setelah diadakannya pertemuan Pak beng hwee, dan

merupakan satu-satunya pertarungan sengit yang pernah terjadi setelah dunia persilatan menjadi

tenang selama belasan tahun.

Para jago yang terlibat dalam pertmpuran itu, baik dari pihak Sin-kie-pang, Hong-im-hwie,

Thong-thian-kauw serta golongan pen dekar mencapai jumlah hampir tiga ratus orang

banyaknya meskipun keempat belah pihak sama-sama mempunyai pemimpin, tapi berhubung

ilmu silat yang jauh berbeda maka, tak lama setelah terjadi pertempuran itu sua sana berubah

jadi sangat kalut, orang yang memiiki ilmu silat agak rendah semuanya terdesak dalam keadaan

yang sangat berbabaya dan setiap saat jiwa mereka terancam

Pasukan perkumpulan Sin-kie-pang dibawah pimpinan Cukat racun Yau sut yang bertahan

dilingkaran luar selalu melancarkan serangan bila ada kesempatan, meski pun tidak

memperlihatkan kekuatan sepenuhnya namun dibawah perlawanan pihak Hong-im-hwie yang

semakin kalap dan makin nekad karena posisi mereka makin terjepit, pihak pendekar merasakan

daya tekanan yang menekan mereka kian lama kian bertambah besar hingga hampir saja tak

mampu mempertahankan diri.

Hoa Hujin yang diam-diam memperhatikan situasi dalam gelanggang mulai merasa amat gelisah,

ia menyadari bahwa kekuatan pihaknya amat sedikit sedang jumlah musuh besar sekali, jika

pertarungan dengan sistim prajurit lawan prajurit, panglima lawan panglima semacam ini

dibiarkan berlangsung lebih lanjut maka akhirnya seluruh pasukan akan musnah ditempat itu.

Perempuan itupun tahu, untuk menolong keadaan seperti ini, maka satu-satunya jalan yang bisa

ditempuh adalah menggunakan kekuaatan yang paling hebat dipihaknya untuk menyerang

kekuatan menengah pihak lawan dengan kekuatan menengah pihaknya menyerang kekuatan

paling bawah pihak musuh, meskipun akhirnya kedua belah pihak akan sama-sama musnah

namun jumlah musuh yang bisa mereka lenyapkan akan jauh lebih banyak.

Setelah berpikir sampai disitu, ia segera menggertak gigi dan memperketat serangannya

menghajar Cing Leng cu.

Setelah Hoa Hujin ambil keputusan untuk membinasakan musuhnya, Cing Leng cu tak mampu

mempertahankan diri lagi, dalam waktu singkat pedang mustikanya berputar dengan kencang

dan menghindar terus tiada hentinya, sementara mulutnya membentak penuh kemarahan,

keadaan dari imam tua tersebut bagaikan seekor binatang yang masuk perangkap.

Hian Leng cu yang menyaksikan peristiwa itu jadi amat terperanjat, dengan cepat ia lancarkan

beberapa buah serangan berantai kemudian berusaha untuk menerjang ke arah Leng cu.

Terdengar Ciu Thian-hau membentak keras, golok tipisnya melancarkan serangan ampuh secara

bertubi-tubi dengan jurus yu hun hoan im atau sukma gentayangan irama pembetot, kiu ci coan

lay atau sembilan irama menusuk hati serta Cu thian kui im atau malaikat langit bayangan setan

ia gencet Hian Leng cu untuk tetap bertahan diposisi semula.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

198

Angin pukulan berhawa dingin yang menusuk tulang, segulung demi segulung memancar keluar

mengikuti putiran telapak kirinya.

Ciu Thian-hau segera memutar pula telapak kirinya untuk memunahkan pukulan-pukulan beracun

dari lawannya.

Tapi berhubung tenaga dalamnya masih rendah, hawa dingin itu sempat pula menerobos masuk

kedalam tubuhnya membuat ia kedinginan dan sukar bertahan.

Terdengar Siang Tang Lay berteriak keras, “Hoa Hujin, jangan terlalu terburu nafsu!”

Baru saja perkataan itu diutarakan, nafsu membunuh telah menyelimuti seluruh wajah Hoa Hujin,

ia maju kedepan sambil melepaskan satu pukulan yang maha dahsyat ke arah tubuh Cing Leng

cu.

Pukulan yang dilepaskan dengan kecepatan bagaikan sambaran kitat ini tak sempatditangkis oleh

Cing Leng cu dengan pedang nya, dalam keadaan apa boleh buat terpaksa imam tua itu ayun

pula telapak kirinya untuk menerima datangnya arcaman tersebut dengan keras lawan keras.

“Blaaamm….!” suatu bentrokan yang memekikan telinga terjadi ditengah gelanggang, tubuh Cing

Leng cu mencelat kebelakang dan roboh terkapar keatas tanah, darah segar memancar keluar

dari mulutnya setinggi empat lima depa, sebelum tubuhnya mencium tanah selembar jiwanya

telah melayang tinggalkan raganya.

Paras muka Hoa Hujin berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, dengan tubuh sempoyongan ia

menerjang ke arah Hian Leng cu.

Melihat datangnya terjangan itu, Hian Leng cu jadi amat terperanjat, pedang mustikanya diputar

kencang melindungi seluruh badan, sementara kakinya selangkah demi selangkah tanpa sadar

mundur ke arah belakang,

“Ciu heng!” bentak Hoa Hujin dengan suara keras,” serahkan imam tua ini kepadaku!”

Ciu Thong Haud ari gunung Huansan menyadari bahwa dia masih bukan tandingan dari Hian

Leng cu, mendengar seruan tersebut sambil mengepos tenaga ia segera tekan hawa racun dalam

tubuhnya keluar tubuh, sementara tubuhnya berputar kesamping dan menyerbu ke arah kiri.

***

MESKIPUN Ciu Thian-hau bukan tandingan dari Hian Ling cu, namun jika dibandingkan dengan

jago-jago lainnya maka keadaan jago tersebut ibaratnya harimau di tengah kawanan kambing, di

mana golok tipisnya berkelebat jeritan ngeri bergema memecahkan kesunyian, dalam sekejap

mata Siang Kiat dari perkumpulan Hong-im-hwie serta lima orang pengawal golok emas telah

menemui ajalnya diujung golok jago ini.

Tiba-tiba terdengar Pia Leng-cu membentak keras, pedangnya diangkat keatas dan menusuk ke

arah dada It sim hweesio.

Menghadapi tusukan tersebut, buru-buru It sim hweesio mengundurkan diri kebelakang dan

berusaha melepaskan diri dari kejaran senjata lawan….

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

199

Kendatipun begitu pedang lawan masih sempat bersarang diatas dadanya sedalam empat cun

dan melukai paru-parunya meskipun tidak sempat mencabut selembar jiwanya namun cukup

memberikan luka yang berarti.

Pada saat yang bersamaan sekelompok para pendekar kembali ada seorang mati ditangan

musuh, Chin Giok-liong yang termakan oleh babatan pedang Ngo Ing toojin dari perkumpulan

Thong-thian-kauw hampir saja mengorbankan lengan kanannya.

Pertarungan yang sedang berlangsung pada saat ini benar-benar suatu penarungan yang sengit

dan mendebarkan hati, seluruh bumi bergoncang dan mayat bergelimpangan dimana-mana.

Sekelompok makhluk aneh dalam barak yang selama ini membungkam terus hingga detik itu

belum menunjukkan sikap apapun, Thian Ik-cu dari perkumpulan Thong-thian-kauw yang baru

saja kehilangan kakinya kendatipun seandainya pertarungan itu mendapat kemenangan total

iapun tak akan bisa bergembira.

Jin Hian paling sedih diantara beberapa orang itu, ia saksikan anggota perkumpulannya yang

bertempur kian lama kian sedikit banyak diantaranya sudah terluka dan menemui ajalnya hal ini

membuat ia ja di putus asa dan semangat tempurnya lenyap tak berbekas, ia hanya bisa

menyaksikan pertarungan berakhir dengan kematihan bagi pihak perkumpulannya.

Diantara kelompok-kelompok besar, Pek Siau-thian lah yang paling bangga memiliki kekuatan

yang paling besar, rencana yang paling sempurna serta tata susunan ketentaraan paling terbaik

hingga saat itu meskipun pelbagai pihak sudah banyak yang mampus dan terluka parah, hanya

perkumpulan Sin-kie-pang yang belum menderita kerugian barang sedikitpun, secara diam-diam

ia sudah dapat merasakan jika selesai berperang maka kemungkinan besar seluruh kolong langit

akan jatuh ketangan perkumpulan Sin-kie-pang.

Dalam barak para pendekar yang masih ketinggalan hanya Siang Tang Lay, Biau-nia Sam-sian

serta Chin Wan-hong, lima orang berhubung ilmu silat yang dimiliki Chin Wan-hong terlalu cetek,

Hoa Hujin tidak memperkenankan gadis itu turun serta dalam pertempuran itu sedangkan Kiu-tok

Sianci dengan umat persilatan didataran Tionggoan belum pernah terikat perselisihan apapun

apa bila keadaannya tidak terlalu memaksa, Hoa Hujin merasa segan untuk menarik Biau-nia

Sam-sian terjun dalam kancah pertempuran itu, maka untuk sementara waktu ia perintahkan tiga

dewi dari wilayah Biau itu untuk tetap tinggal dibarak.

Siang Tang Lay ada maksud untuk terjun kedalam gelanggang tapi sayang keadaan tidak

mengijinkan dia untuk berbuat demikian.

Chin Wan-hong yang berotak cerdik dan seksama menghadapi setiap masalah sewaktu

menyaksikan Hoa Hujin berhasil membinasakan musuh namun Siang Tang Lay bukan saja tidak

menunjukkan watak gembira sebaliknya malah murung dan sedih, diam-diam dalam hati kecilnya

timbul kecurigaan, setelah bersabar beberapa saat akhirnya ia bertanya, “Siang loocianpwee ilmu

pukulan yang dimiliki Hoa Hujin begitu lihay dan hebatnya mengapa ia tak mau melukai

beberapa orang musuh lagi?”

Siang Tang Lay menghela napas panjang.

“Aaai….! ilmu pukulan yang dilatih hujin adalah sejenis ilmu pukulan Thian lui ciang yang keras

dengan sejenis ilmu pukulan Hek sat ciang yang sangat beracun, dua jenis ilmu pukulan itu jika

digabungkan menj di satu maka keadaannya menyerupai air dalam guci, bila digunakan setetes

berarti akan berkurang setetes, jika seluruh tenaganya habis dipergunakan maka keadaannya

bagaikan lentera kehabisan minyak dan akbatnya jiwa sendiripun tak dapat dipertahankan”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

200

Mendengar penjelasan itu Chin Wan-hong merasa amat terperanjat kembali ia bertanya lebih

jauh.

“Berapa lama tenaga pukuian itu baru akan habis digunakan?”

“Tentang soal ini sulit untuk dikatakan, tapi tenaga pukulannya sebesar apa yang telah

digunakan untuk menghadapi Cing Leng imam busuk itu mungkin tinggal sekali dua kali lagi,

setelah itu tenaga dalamnya akan musnah sama sekali”

Baik Chin Wan-hong maupun Biau-nia Sam-sian yang mendengar keterangan itu sama-sama

merasa amat terperanjat.

Setelah duduk termangu-mangu untuk beberapa waktu lamanya, tiba-tiba Chin Wan-hong

berpaling ke arah Lan-hoa Siancu sambil berkata, “Toa Suci, jangan biarkan tenaga dalamnya

punah sama sekali”

“Aku sendiripun ingin mewakili hujin untuk menghadapi lawan-lawannya” sahut Lin hoa siancu

dengan dahi berkerut, “tapi ilmu si lat yang dimiliki dua orang imam tua itu terlalu tinggi, kami

tak mampu untuk mendekati tubuhnya”

Tiba-tiba terdengar Chin Pek-cuan membentak, dengan penuh kegusaran, begitu keras suaranya

sehingga memotong percakapan mereka.

Dengan cepat mereka alihkan sorot mata nya ketengah gelanggang, ternyata secara tiba-tiba

Cukat racun Yau Sut telah terjun pula kedalam gelanggang pertarungan dan menghadang jalan

pergi Chin Pek-cuan.

Dalam pertarungan itu tentu saja Chin Pek-cuan bukan tandingannya, ditambah pula anak murid

perkumpulan Thong-thian-kauw menyerang dari empat penjuru, hal ini membuat ia jadi kalang

kabut dan terjerumus dalam keadaan yang sangat berbahaya.

Cbin Wan Hong amat menguatirkan keselamatan ayahnya, melihat kejadian itu dengan gelisah ia

berteriak, “Oooh….! toa suci….”

Lan hoi siancu ulapkan tangannya, kemudian berseru, “Li hoa, Ci wi, ikutilah aku!”

Tubuhnya dengan cepat bergerak menuju ketengah gelanggang.

Li-hoa Siancu dan Ci-wi Siancu membuntuti dari belakang, ketiga orang itu langsung menyerbu

ke arah garis belakang perkumpulan Sin-kie-pang.

Meskipur tiga dewi dari wilayah Biau seringkali berkelana dalam dunia persilatan namun mereka

belum pernah menjumpai pertarungan sehebat ini menghadapi medan pertempuran yang luas

sedikit banyak hati mereka merasa gugup juga dan tak tahu apa yang musti dilakukan.

Terdengar Pek Siau-thian berteriak dari kejauhan, “Hati-hati perempuan suku Biau itu

melepaskan racun!!”

“Ehmm! benar juga perkataannya itu” pikir Lan-hoa Siancu dalam hati, ia segera membentak

nyaring, “Yang takut mati harap menyingkir, yang berani silahkan maju kedepan!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

201

Sepasang telapaknya diayun berulang kali, selapis senjata rahasia bubuk pemabok yang tak

berwujud dan berbau segera tersebar ke luar.

Sejak menyaksikan munculnya tiga orang gadis suku Biau itu, para jago dari perkumpulan Sio Kie

pang sudah menunjukkan perasaan waspada, buru-buru mereka tutup pernafasan dan

melancarkan pukulan kedepan.

Angin pukulan yang maha dahsyat bergabung jadi satu menyambut datangnya sarangan dari

Biau-nia Sam-sian hal ini memaksa ketiga orang gadis itu terpaksa harus mengundurkan diri dari

arena.

Chin Pek-cuan yang menghadapi serangan dan empat penjuru mala tak kuat mempertahankan

diri, hatinya amat gusar, dengan cepat pedang emas itu disambitkan ke arah Ngo ing Cinjin dari

perkumpulan Thong-thian-kauw sambil membentak keras, “Nih!! kuhadiahkan kepadamu!!”

Cukat racun Yau Sut tersenyum, ia jangkau lengannya mencengkeram pedang emas itu.

Dengan gerakan tubuhnya yang cekatan dan lincah, dalam sekali berkelebat gagang pedang itu

berhasil ditangkap olehnya.

Ngo ing Cinjin yang menyaksikan pedang emas yang sedang melayang ke arahnya tiba-tiba

dirampas oleh Cukat racun Yau Sut ditengah jalan, hawa amarahnya segera berkobar, pedang

berbentuk aneh dalam genggamannya segera disapu keluar membacok tubuh pedang emas itu.

Cukat racun Yau Sut mendengus dingin, pikirnya didalam hati.

“Hmm kalau aku tidak memberi sedikit pelajaran kepada kamu semua, kalian hidung kerbau

sialan pasti tak akan tahu sampai dimanakah kelihayan dari Yau ya mu ini….”

Ingatan tersebut dengan cepat berkelebat dalam benaknya, menanti pedang berbentuk aneh dari

Ngo ing Cinjin sudah hampir membacok diatas padang emas tersebut, kelima jarinya baru

berputar kencang dan menyongsong datangnya bacokan tadi dengan ujung pedang emas yang

tajam.

Criiiing….! ditengah benturan nyaring senjata berbentuk aneh dari Ngo ing toojin yang

membentuk pedang emas itu seketika kutung jadi dua bagian.

Ngo in toojin bertambah marah, dengan putungan pedangnya ia menerjang maju makin kedepan

diiringi dengusan nyaring ia lancarkan sebuah tusukan kedepan.

“Bangsat! rupanya sudah bosan hidup!” bentak Cu kat racun Yau Sut dengan gusar.

Pedang emas diputar kebawah….

Criiing! kutungan pedang berbentuk aneh dari Ngo ing toojin itu kembali tersayat hingga tinggal

lima enam cun saja panjangnya….

Kegusaran Ngo ing toojin mendekati kalap, ia sambit kutungan pedang itu ke arah wajah Yau Sut

sementara tubuhnya ikut menerjang kedepan pukulan berantai dilepaskan sicara bertubi-tubi

mengurung seluruh tubuh lawan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

202

Para anggota perkumpulan Thong-thian-kauw yang berada disekitar tempat itu ketika

menyaksikan Ngo ing toojin bertempur melawan Yau Sut merekapun ikut-ikutan berganti haluan

dan arahkan serangan gencar mereka ke arah pasukan dari perkumpulan Sin-kie-pang.

Cukat racun Yau Sut tertawa dingin, badannya berputar kencang, dengan jurus hang sau cian

kim atau menyapu rata selaksa prajurit, pedang emasnya diayun kemuka menyambut datangnya

serbuan tersebut,

“Triiing! triiing!” benturan-benturan nyaring berkumandang memenuhi angkasa, senjata-senjata

yang dimiliki para anggota perkumpulan Thong-thian-kauw sama-sama tertebas kutung jadi

beberapa bagian oleh ketajiman pedanj e-mas itu.

Sementara dalam hati kecilnya, Cukat beracun ini berpikir, “Meskipun pedang kecil ini sangat

tajam namun tak lebih hanya merupakan sebilah senjata mustika, kalau dipergunakan tetap

terasa ngotot dan menggunakan banyak tenaga, sedikitpun tak mirip apa yang tersiar dalam

dunia persilatan apalagi cahaya yang terpancar keluar sama sekali tidak menyolok, aneh benar!

kenapa bisa begitu?”

Tiba-tiba terasa desiran angin tajam yang memekikan telinga, diiringi daya tekanan yang maha

berat menyergap datang dari belakang tubuhnya.

Ketika ia berpaling kebelakang, tampaklah Chin Pek-cuan tanpa menimbulkan sedikit suarapun

telah menyusup kebelakang tubuhnya sambil melepaskan satu pukulan dahsyat.

Jelas anak murid perkumpulan Thong-thian-kauw tidak ada menghalangi usaha Cing Pek Cuan

untuk melancarkan serangan maut kea rah Cukat racun Yau Sut.

Diam-diam orang she Yau ini menyumpah dalam hati kecilnya, “Tua bangka sialan? engkau

benar-benar tak tahu diri….”

Pedang emasnya dikebas ke arah depan, dan diapun segera melancarkan sebuah serangan

balasan.

Diantara sekelompok mmusia yana sedang bertarung ini, ilmu silat yang dimiliki Cukat racun Yau

Sut jauh lebih tinggi daripada yang lain, sekarang sambil putar pedang emasnya untuk

menghadapi serangan gencar dan pihak lawan, secara diam-diam iapun mengawasi keadaan

disekeliling tempat itu.

Mendadak ia temukan kurang lebih satu tombak disebelah kanannya, terlihatlah seorang kakek

tua baju hitam sedang bertempur sengit melawan orang-orang dari perkumpulan Hong-im-hwie,

senjata yang dipergunakan adalah sebilah pedang mustika.

Terhadap pedang emas yang berada dalam cekatannya ini ia sudah timbul perasaan curiga,

dalam benaknya segera timbul ingatan untuk mencoba ketajaman senjata tersebut, maka ia

menggeserkan tubuhnya mendekati kakek tua baju hitam itu.

“Traang! tiba-tiba terdengar bentrokan nyaring ditengah arena senjata sian ciang dari It sim

hweesio saling membentur dengan senjata pusaka dari Pia Leng-cu sehingga kutung jadi dua

bagian.

Menggunakan kesempatan yang sangat baik ini, Pia Leng-cu menerjang lebih kedepan, pedang

mustikanya membentuk berjuta-juta ti tik bintang dan secara beruntun menyerang tubuh It sim

hweesio.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

203

Dalam sekejap mati padri itu terkena lima tusukan kilat mengakibatkan darah segar mengucur

keluar dari mulut-mulut lukanya.

Ditengah kancah pertempuran massal ini, semua orang bertempur dengan saling berdesakan,

tiada banyak tempat ruang yang dapat dipergunakan untuk menghindarkan diri, setelah

menderita luka parah dan senjatanya kutung, maka It sim hweesio sudah tiada kekuatan untuk

melepaskan serangan balasan lagi, kelihatannya ia bakal mampus diujung pedang Pia Leng-cu.

Chin Thian Hau dari gunung Hang San yang kebetulan berada didekatnya, ketika menyaksikan

kejadian itu segera membentak keras, sebuah pukulan dahsyat dilepaskan menghantam tubuh

seorang imam berusia penengahan yang berada dihadapannya, isi perut imam tersebut kontan

terpukul hancur dan mayatnya mencelat ke arah tubuh Pia Leng-cu.

Tangan kiri Pia Leng-cu sepera ditebas kemuka menyingkirkan mayat imam berusia pertengahan

yang menerjang ke arahnya itu, kemudian pedangnya disapu kedepan membabat pinggang It

sim hweesio.

“Lihat golok” bentak Ciu Thian-hau.

Cahaya tajam berkilauan di angkasa, sambaran goiok itu dengan cepatnya telah meluncur tiba.

Buru-buru Pia Leng-cu putar pedang menangkis datangnya ancaman tersebut, It sim hweesio

segera merebut pedang seorang imam dan ikut menyerang dari arah samping, dengan begitu Pia

Leng-cu harus menghadapi serangan gabungan dari Ciu Chian Hau serta It sim hweesio.

Tiba-tiba terdengar suara bentakan keras yang diiringi suara dentingan nyaring berkumandang

memecahkan kesunyian.

Rupanya Suara Tiang Cing yang selama ini tak mampu merebut kemenangan lama kelamaan jadi

mendongkol juga, hingga menimbulkan sifat kejinya sebagai seorang pendekar pedang berjiwa

sembilan, pedangnya segera diputar bagaikan hembusan angin puyuh, telapak kirinya

melepaskan pukulan-pukulan maut yang memaksa Yan-san It-koay terpaksa harus menyambut

setiap pukulan dengan pukulan dan sedang bacokan pedang dengan tangkisan gelang.

Setelah melakukan bentrokan-bentrokan kekerasan sebanyak dua puluh jurusan, sekujur tubuh

dari dua orang itu sudah berubah jadi lemas dan kehabisan tenaga, napasnya terengah-engah

bagaikan kerbau, namun Suma Tiang-cing sama sekali tak ada minat untuk hentikan

pertarungan. babatan pedang ditangan kanan, pukulan dahsyat ditangan kiri masih saja

dilepaskan terus tanpa berhenti.

Yan-san It-koay yang tak mampu menyelesaikan pertarungan itu terpaksa harus memutar tangan

kirinya untuk menyambut tusukan pedang dengan gelang hitam, sementara lengan kanannya

melepasken satu pukulan ke arah dada Suma Tiang-cing.

Maksudnya jika Scma Tiang Cing memunahkan pukulannya itu, maka ia bisa menggunakan

kesempatan tersebut untnk ganti jurus dan melepaskan diri dari kurungan manusia ganas ini,

siapa tahu pertarungan dengan cara beradu jiwa ini justru sangat penuju dengan maksud hati

Suma Tiang-cing bahkan boleh dibilang ibaratnya Pucuk dicinta ulam tiba.

Gelang dan pedang saling beradu keras, tubuh kedua orang ini sama-sama bergetar seras

sehingga melejit samping, gerakan pukulan yang dilepaskan tiba-tiba makin cepat meluncur

kedepan dan Blaaam! pukulan dari Suma Tiang-cing dengan telak bersarang di atas dada YanGrafity,

http://mygrafity.wordpress.com

204

san It-koay, sebaliknya pukulan yang dilepaskan Yan-san It-koay bersarang dibawah ketiak Suma

Tiang-cing.

Isi perut kedua orang itu sama-sama menderita luka parah, mereka memuntahkan darah segar

dan roboh terjengkang kebelakang, Suma Tiang-cing yang terkena pukulan persis dibawah

ketiaknya mengakibatkan lima batang tulang rusuknya patah, jika dibandingkan luka yang dia

derita jauh lebih berat dan parah.

Yan-san It-koay yang roboh kebalakang hampir saja menumbuk diatas tubuh dewa yang suka

pelancongan Cu Thong, namun kakek gemuk pendek itu tidak ambil perduli, sepasang kakinya

berputar dan tubuhnya segera berkelebat kesampmg menyongsong kedatangan malaikat

pertama Sim Kian.

Ilmu silat yang dimiliki Malaikat pertama Sim Kian seimbang dengan kepandaian dari Cu Thong,

dua orang itu telah bertempur sebanyak tiga ratus jurus lebih tanpa seorangpun berhasil

merebut kemenangan.

Sewaktu malaikat pertama Sim Kian melihat tubuh Yan-san It-koay tiba-tiba roboh terjengkang

kebelakang, tanpa berpikir panjang lagi ujung bajunya segera dikebas kedepan dan menanan

punggungnya sehingga rekannya itu tidak sampai mencium tanah.

Cu Thong yang melihat kejadian itu tak mau sia-siakan kesempatan bagus itu dengan begitu

saja, pukulun gencar dan serangan jari bagaikan hembusan angin puyuh dilepaskan secara

berantai.

Dalam pada itu, Suma Tiang-cing yang terjengkang kebelakang segera menumbuk tubuh

seorang pengawal golok emas sehingga membuat orang itu ikut roboh dan persis jatuh dikaki

seorang murid dari Siang Tang Lay.

Murid dari Siang Tang Lay itu membentak keras, pedangnya berkelebat secepat kilat, percikan

darah segar berhamburan di angkaka dan batok kepala pengawal golok emas yang naas itu

segera berpisah dengan tubuhnya.

Setelah sempoyongan mundur dua langkah kebelakang, Suma Tiang-cing berhasil

mempertahankan tubuhnya, ia merasakan bawah kakinya sakit sekali hingga tak tahan ia muntah

darah kembali.

Tapi dengan wataknya ysng keras kepala dan berangasan, ia tak sudi menyudahi pertarungan

tersebut sampai disitu saja, setelah mengatur napas sebentar, ia seseri membentak keras dan

sekali lagi menerjang ke arah Yan-san It-koay.

Meskipun luka dalam yang diderita Yan-san It-koay lebih ringan, namun ia sudah patah

semangat, ketika menyaksikan datangnya terjang maut dari Sama Tiang Cing yang berwajah

menyeringai seram, hatinya bergidik dan pecah nyali, terbirit-birit ia menyingkir kesamping.

“Bajingan keparat, engkau akan kabur ke mana?” bentak Sama Tiang Cing dengan gusar.

Pedang mustikanya dikebas kedepan, selapis cahaya tajam yang amat menyilaukan mata dengan

cepatnya mengurung seluruh batok kepalanya.

Terdengarlah jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memenuhi angkasa, ketika

Suma ang Cing mengebaskan pedang mustikanya ke arah depan, terbanglah semangat Yan-san

It-koay untuk menghada pinya hingga paras mukanya berubah jadi pucat pias bagaikan mayat,

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

205

tak ampun lagi lengan kirinya sebatas sebatas sikut terputus hilang, darah dan hancuran daging

bercampur jadi satu membuat keadaan betul-betul mengerikan sekali.

Sepasang mata Suma Tiang-cing telah berubah jadi merah darah, tiba-tiba ia membentak keras

dengan suara yang dahsyat bagaikan guntur, pedang mustikanya kembali berkelebat kedepan

membacok batok kepalanya.

Sskujur badan Yan-san It-koay bergetar keras ketika mendengar suara bentakan yang kerad

bagaikan guntur membelah bumi itu, kesadaran otaknya berangsur menurun, terasa cahaya

tajam berkelebat lewat dan tahu-tahu batok kepalanya sudah terbelah jadi dua.

Pertempuran itu benar-benar merupakan suatu pertempuran berdarah yang sangat mendebarkan

hati, seluruh orang yang berada di sekitar tempat jtu merasakan hatinya bergetar keras, sisa

laskar perkumpulan Thong-thian-kauw dan Hong-im-hwie yang menyaksikan kejadian itu

merasakan nyalinya pecah dan bulu kuduknya bangun berdiri, mereka mulai mengamati keadaan

disekelilingnya dan berusaha menjauhi Suma Tiang-cing yang dianggapnya sebagai malaikat

elmaut.

Dengan semakin menipisnya kekuatan dari pihak Thong-thian-kauw dan Hong-im-hwie, kekuatan

dan daya pengaruh pihak Sin-kie-pang kelihatan semakin besar dan mengerikan.

Tatkala para pendekar saling bentrok deng an laskar perkumpulan Sin-kie-pang, mereka

merasakan daya tekanan yang menggempur mereka begitu besarnya hingga sukar ditahan, dari

dua puluh dua orang laskar kaum pendekar yang terjun kedalam gelanggang ada empat orang

diantaranya telah menemui ajalnya dan lima orang menderita luka pa rah.

Pada waktu itu Hoa Hujin berduel melawan Hian leng cu, Ciu Thian-hong dan It sim hweesio

yang menderita luka bersama-sama menghadapi Pia Leng-cu, Cu Thong bertempur sengit

melawan malaikat kedua Sim Ciu sedangkan sisanya bertempur melawan sisa laskar dari

golongan Thong-thian-kauw serta Hong-im-hwie.

Keadaan mereka semua nampak sangat berbahaya dan gawat sekali, seandainya keenam orang

murid Siang Tang Lay tidak memberikan pertolongan yang besar, mungkin sedari tadi mereka

semua sudah musnah di tangan musuh.

Biau-nia Sam-sian masih tetap bertahan di luar garis pertahanan oleh pukulan gabungan para

jago lihay dari perkumpulan Sin-kie-pang, kendatipun mereka telah berusaha dengan sepenuh

tenaga tapi usaha itu selalu mengalami kegagalan.

Barisan pelindung hukum panji kuning dari perkumpulan Sin-kie-pang ini bukan saja berjumlah

sangat banyak, berilmu tinggi dan sangat teratur bahkan mereka mempunyai sistim bertahan dan

menyerang yang disiplin, serbuan mereka dikala pasukan pendekar telah lelah dan kehabisan

tenaga ini ibaratnya gulungan ombak ditengah samudra yang menghempit sampan kecil.

Pek Siau-thian yang selama ini berdiam diatas meja sambil mengawasi medan pertempuran

sudah mengetahui bahwa waktunya sudah tiba, dalam hati segera pikirnya, “Sekarang kekuatan

laskar perkumpulan Hong-im-hwie sudah mengalami kehancuran dan kemusnahan, pihak Thongthian-

kauw bukan merupakan suatu ancaman yang serius lagi sedangkan sekelompok manusia

setan itu kendatipun mencurigakan sekali rasanya kehebatan mereka juga tak akan berkelebihan,

dunia persilatan sejak kini akan menjadi daerah kekuasaan perkumpulanku….

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

206

Berpikir sampai disini, paras mukanya segera berubah dan dihiasi senyuman penuh ke-banggaan

dan kesadisan, ia melirik sekejap sekeliling tempat itu kemudian angkat tinggi tanda perintah

Hong Im leng tersebut.

Delapan orang pria baju hitam yang berada dikedua belah sisinya segera membunyikan teronpet

secara berbareng.

Begitu bunyi terompet berkumandang di angkasa, ditengah gelanggang segera berkumandanglah

suara bentakan yang gegap gempita, ratusan orang pasukan panji kuning dari perkumpilan Sinkie-

pang bagaikan kesurupan serentak menyerbu kedalam gelanggang dan menyapu setiap

orang yang dihadapinya.

Dipihak lain, Poan thian jiu atau Tangan sakti pembalik langit Ho Ke Sian beserta keenam orang

Tongcu lainnya dengan memimpin masing-masing laskar menyumbat seluruh mulut lembah

sehingga siapapun jangan harap bisa keluar masuk dengan leluasa, rupanya sebelum mendapat

persetujuan dari Pek Siau-thian, setiap orang tak mungkin dapat meninggalkan lembah Cu-bukok.

Dalam pada itu, pertempuran yang berlangsung dalam gelanggang berlangsung makin sengit,

rupanya laskar kaum pendekar terancam kemusnahan dalam serbuan tersebut.

Lan-hoa Siancu merasa panik dan gelisah sekali, pikirnya dihati, “Meskipun kami datang kemari

untuk melindungi keselamatan sumoay, tapi setelah berada disini sudah sepantasnya kalau

memberi bantuan kepada mereka semua, toh kami tak dapat menyaksikan semua orang

menemui ajalnya tanpa ditolong….”

Berpikir sampai disitu, ia segera membentak keras, “Li hoa, Ci Wi, ikutilah aku!”

Sepasang kakinya menjejak tanah dan membungbung tinggi keangkasa, kemudian meluncur ke

arah tengah gelanggang.

Li-hoa Siancu dan Ci-wi Siancu yang menyaksikan tindakan kakak seperguruan mereka dengan

cepar enjotkan badan pula menerobos ketengah gelanggang dengan melewati atas kepala

musuh-musuhnya.

Jilid 11

BILA berbicara tentang ilmu silat, diantara laskar panji kuning dari perkumpulan Sin-kie-pang itu

banyak diantaranya yang memiliki ilmu silat jauh diatas tiga dewi dari wilayah Biau, tentang hal

ini Biau-nia Sam-sian sendiripun mengetahui, jika mereka menerobos masuk kedalam arena

berarti mereka harus menempuh mara bahaya.

Tetapi kepandaian racun dari wilayah Biau sudah amat tersohor di kolong langit, sedikit banyak

para jago dari perkumpulan Sin kie nang sudah menaruh rasa segan terhadap ketiga orang gadis

itu, karenanya ketika tiga orang gadis itu berkelebat lewat, semua ang gota perkumpulan Sin-kiepang

sama-sama menutup pernapasan sambil bergeser kesamping, pukukan gencar dilepaskan

keudara kosong.

Setelah Lan-hoa Siancu melayang diudara, ia lihat dibawahnya penuh dengan manusia dari

perkumpulan Sin-kie-pang hingga sukar untuk mencari tempat untuk berpijak, dalam keadaan

apa boleh buat terpaksa ia membentak keras, “Kalau kalian masih ingin hidup, ayoh cepat

menyingkir dari situ….!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

207

Ilmu melepaskan racun dari Kiu-tok Sianci memang luar biasa sekali, Biau-nia Sam-sian telah

mendapat warisan langsung dari gurunya, kemampuan mereka untuk membunuh orang benarbenar

luar biasa sekali.

Baru saja tiga orang itu melayang turun ke atas permukaan, tujuh delapan orang telah roboh tak

sadarkan diri diatas tanah, dalam sekejap mata para korban mengeluarkan buih putih dari

mulutnya, ada pula yang mukanya berubah jadi hitam, ada yang merintih sambil berguling, ada

pula yang berkelejit seperti sekarat, hal ini membuat para jago dari perkumpulan Sin kie Pong

jadi ketakutan dan sama-sama menghindarkan diri.

Tetapi setelah orang-orang itu mengundurkan diri sejauh beberapa tombak, mereka segera

lancarkan pukulan kembali ke arah lawannya, angin pukulan yang maha dahsyat menggulung

tiba dari empat penjuru, hal ini memaksa tiga dewi dari wilayah Biau tak mampu berdiri terlalu

lama dan terpaksa melayang kembali ketengah udara.

Pertempuran berdarah ini berlangsung dari malam sampai pagi dan dari pagi sampai malam,

banyak korban telah berjatuhan darah berceceran diseluruh permukaan tanah.

Sisa laskar dari perkumpulan Hong-im-hwie yang masih hidup bisa dihitung dengan jari, laskar

dari perkumpulan Thong-thian-kauw pun makin surut dan lemah hingga akhirnya tinggal

beberapa gelintir.

Han Leng cu serta Liong-bun Siang-sat sekalian kehilangan semangat bertempur, namun

dibawah desakan dan teteran Hoa Hujin sekalian, terpaksa mereka harus melakukan perlawanan

dengan sepenuh tenaga.

Lembah Cu-bu-kok telah berubah jadi kuburan massal, mayat yang bergelimpangan diatas

permukaan hancur tak menjadi rupa apalagi setelah di injak-injak oleh para laskar yang masih

saling baku hantam, keringat bercampur darah membasahi pakaian para jago yang masih

bertempur, keadaan mereka mengenaskan sekali….

Situasi dalam gelanggang pertarungan kembali mengalami perubahan, dari kelompok pendekar

yang masih tetap bertahan tinggal Hoa Hujin, Tio Sam-koh, Cu Im taysu, Chin Pek Lian, Ciu

Thian-hau dari gunung Huang-san serta dewa yang suka melancong Cu Thong, enam orang

selain itu masih ada lagi Biau-nia Sam-sian serta sisa tiga orang murid Siang Tang Lay yang

masih hidup.

Sedang yang lain kebanyakan sudah roboh terkapir diatas genangan darah, ada yang luka parah

dan ada pula yang telah menemui ajalnya

Ditengah sengitnya pertempuran suara terompet kembali bergema di angkasa, mendengar tanda

rahasia, Cukat racun Yau Sut sekalian segera membentak keras dan menggerakkan senjata

mereka tidak ambil perduli apakah lawannya dari pihak Thong-thian-kauw, Hong-im-hwie atau

kaum pendekar, setiap orang diserang dan dibunuh secara kalap.

Perubahan yang berlangsung secara mendadak dan sama sekali diluar dugaan ini sangat

mengejutkan dan menggusarkan hati para laskar dari perkumpulan Thong-thian-kauw serta Ho

Im Hwee, mereka jadi kelabakan, gelagapan dan tak tahu apa yang musti dilakukan.

Thian Ik-cu naik pitam, ditengah kobarnya api amarah dan perasaan dendam, ia segera

menurunkan perintah kepada seluruh anggota perkumpulannya yang masih tersisa diluar

gelanggang untuk menyerbu kedalam arena pertarungan, tapi imam-imam muda yang sama

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

208

sekali tak berpengalaman itu bukan tandingan diri pasukan panji kuning, tidak selang beberapa

saat semua pasukan, berhasil ditumpas habis.

Jin Hian pun merasa sangat mendongkol, dia memaki dan menyumpah, saking marahnya hawa

murninya sampai menyumbat tenggorokan membuat ia tak mampu mengucapkan sepatah

katapun.

Nenek dewa bermata buta yang terluka parah hanya dapat duduk termanggu diatas tempat

duduknya tanpa berkutik, setelah mengetahui bahwa perkumpulan Hong-im-hwie berhasil

ditumpas habis, ia jadi kecewa dan putus asa hingga selama ini mulutnya membungkam terus.

Darah mengucur keluar derasnya dari mulut luka lengan kiri Jin Hian yang kutung, ia tidak

memiliki kemampuan untuk bertempur lagi, hawa murninya saat itu berjalan terbalik,

keadaannya bagaikan orang menderita jalan api menuju neraka namun tak seorangpun yang

menggubris atau memberi pertolongan kepadanya.

Dalam kancah pertarungan yang kalut itulah Hoa Hujin dengan menghimpun sisa tenaganya

berbasil menghajar Hian Leng cu hingga isi perutnya hancur dan menemui ajalnya.

Pada saat yang bersamaan sebuah pukulan danysat dari Cukat racun Yau Sut berhasil mampir

punggung malaikat pertama Sim Kian hingga gembong iblis itu maju sempoyongan.

Menggunakan kesempatan itulah Cu Im taysu segera putar senjata sekopnya dan menusuk dada

Sim Kian hingga tembus.

Tiba-tiba dari atas tebing sebelah kanan berkumandang datang suara seorang perempuan

dengan suara yang amat nyaring, “Sau Tha turutkan perintah dan hentikan pertempuran!”

Mendengar seruan itu sekujur badan Pek Siau-thian gemetar keras, ia masih ingat Sau Tha

adalah nama kecilnya yang jarang diketahui orang, di kolong langit dewasa ini hanya satu orang

yang menyebut dirinya dengan nama itu, dan dia bukan lain adalah istrinya yang selama ini

dirindukan namun hidup berpisah dengan dirinya.

Terdengar Pek Soh-gie berteriak sambil menangis, “Ibu….!”

Pek Siau-thian pun tak mampu menahan golakan perasaan hatinya, ia ikut memanggil, “Hong

Bwee!”

Dari tengah udara melayang turun seorang tokoh berbadan ramping berwajah cantik, ditangan

kanan Too koh itu menegang sebuah Hud tim sedangkan tangan kirinya mencengkam seorang

gadis cantik, dia bukan lain adalah putri bungsu Pek Siau-thian yaitu Pek Kun Gei.

Dengan rasa kejut bercampur girang, Pek Soh-gie segera lari kedepan dan memeluk Pek Kun-gie

erat-erat, teriaknya, “Moay-moay, kami mengira engkau telah mati!”

Paras muka Pek Kun-gie yang cantik kelihatan kurus dan layu, butiran air mata mengembang

dalam kelopak matanya, bibir yang kecil mungil kelihatan berkemak kemik, namun tak sepatah

katapun yang me-luncur keluar.

Tokoh cantik itu bukan lain adalah istri Pek Siau-thian yang telah hidup berpisah selama banyak

tahun, Kho Hong-bwee adanya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

209

Sudah belasan tahun lamanya Pek Siau-thian tak pernah berjumpa dengan istrinya ini, sekarang

setelah berhadapan muka dengan istrinya yang tetap cantik itu, ia tak dapat menguasai

pergolakan emosi didalam hatinya, hampir saja ia menubruk kedalam arena memeluk istrinya

dan menangis sepuas puasnya.

Terdengar Kho Hong-bwee berkata dengan serius.

“Sau Tha! cepar turunkan perintah dan tarik kembali pasukanmu, aku ada persoalan yang

hendak dirundingkan denganmu!”

Pek Siau-thian terperangah.

“Ada urusan apa….!”

Ia merasakan pikirannya kalut tekali, bicara sampai disitu ia segera membungkam dan segera

angkat tinggi-tinggi tanda perintah Hong-lui-leng-nya sambil membentak, “Hentikan penarungan

dan tarik semua pasukan!”

Suara terompet berbunyi nyarirg, ratusan orang pasukan panji Kuning yang sedang bertempur

segera menarik kembali serangannya dan mengundurkan diri diri gelanggang pertarungan.

Waktu datang cepat bagaikan ombak, waktu surutpun cepat tak terkirakan, memenandakan

betapa tertib dan disipliannya organisasi perkumpulan Sin-kie-pang.

Dalam Sekejap mata, dalam lembah Cu bu koh hanya tersisa pandangan yang mengenaskan,

sehabis pertempuran massal, hawa pem bunuhan telah lenyap dan seluruh gelanggang diliputi

keheningan dan kesepian yang mengerikan dan memilukan hati.

Ditengah darah yang berceceran diseluruh permukaan tanah, mayat bergelimpangan dimanamana,

kutungan badan berserakan disana-sini, di malam yang sunyi dan cahaya bintang yang

redup, kuntungan senjata yang memenuhi permukaan memantulkan cahaya yang menyilaukan

mata.

Angin malam berhembus sepoi-sepoi, bau amis darah tersebar mengikuti tiupan angin, diantara

mayat yang bergemlimpaugan bergema, serentetan suara rintihan yang lemah dan lirih, rintihan

tersebut sahut bersahutan dan memperdengarkan nada penderitaan dan siksaan.

Bayangan manusia bergerak ditengah kegelapan, membalikan mayat-mayat dalam gelanggang

dan berusaha mencari rekan-rekan yang terluka parah dan belum putus nyawa.

Dalam keadaan begitu, Hoa Hujin kelihatan lemah sekali, seakan-akan seseorang yang baru

sembuh dari suatu penyakit yang berat, tenaga dalam yang dimilikinya sudah semakin lemah

ibaratnya lampu lentera yang kehabisan minyak, ia berdiri sempoyongan ditengah ceceran darah.

Chin Wan-hong segera memburu kesisinya, memayang tubuh perempuan itu dan perlahan-lahan

diajak mundur kedalam barak.

Chin Pek-cuan pertama-tama mencari putranya lebih dahulu, ia temukan Chin Giok-liong

menggeletak ditengah genangan darah tanpa berkutik, meskipun tubuhnya termakan oleh lima

bacokan golok dan sebuah tusukan pedang, ternyata jiwanya belum melayang.

Air mata bercucuran membasahi wajib Chin Pek-cuan yang tua berkeriput, ia terharu dan

wajahnya menunjukkan rasaa gembira dan bangga.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

210

Ditengah mayat-mayat yang bergelimpangan, Tiga dewi dari wilayah Biau berhasil temukan Tiga

harimau dari keluarga Tong. Harimau pelarian Tiong Liu masih hidup, sedangkan istrinya yakni

Harimau ompong Tiong loo Poo cu serta putra Harimau bisu Tiong Long karena lukanya yang

terlampau parah ternyata sudah lama mati.

Cu Im laysu temukan jenasah dari It sim hweesio, sedang Cui Thian Hau menemukan tubuh Su

Tiang Cing, jago pedang bernyawa sembilan ini benar-benar bernyawa rangkap, meskipun tulang

rusuknya ada lima biji yang patah dan isi perutnya hampir remuk namun jiwanya belum

melayang, lapi Ciu Thian-hau yang membopong tubuhnya baru saja berjalan beberapa langkah,

tiba-tiba mereka roboh terjengkang keatas tanah, ternyata jago lihay dari gunung Huang-san ini

pun tak kuat menahan lukanya.

Dewa yang suka pelancongan Cu Thong menemukan tubuh Bong Pay, pemuda yang berjiwa

besar ini bertempur sampai titik darah penghabisan, terakhir kalinya ia kena di hantam oleh

Cukat racun Yau Sut sehingga roboh terjengkang keatas tanah.

Dalam pertarungan massal, pukulan yang dilepaskan Yau Sut rupanya tidak sepenuh tenaga,

sekalipun begitu Bong Pay tak sanggup menahan diri dan keaadaannya pada saat itu kelihatan

kritis sekali.

Ciong Lian-khek, tiga orang murid Siang Tang Lay beserta jago pedang rambut hijau Yap Su Ciat,

beberapa orang jago mati dalam pertarungan tersebut, hanya Tio Sam-koh seorang yang sama

sekali tidak ciderfa.

Secara beruntun setelah bertempur melawan Thian Seng cu, Sing Siu cu, Ngi Ing tojin serta dua

orang sutenya Thian Seng cu yakni Thian Keng toojin dan Thian Ing toojin dari perkumpulan

Thong-thian-kauw, sepanjang pertarungan berlangsung sudah amat banyak musuh yang

terbunuh kecuali badan terasa lelah dan tanaga terhisap habis, pperempuan lihay itu sama sekali

tidak luka atau cidera.

Dengan begitu dia adalah satu-satunya jago dari golongan pendekar yang paling pemberani dan

paling beruntung,

Semua orang bekerja keras menolong mereka yang luka dan menying-kirkan mereka yang telah

mati, semua jago bekerja dengan mulut membungkam, hal ini membuat suasana jadi hening dan

sepi, kendatipun bayangan manusia bergerak kesana kemari tiada hentinya.

Dari pihak perkumpulan Thong-thian-kauw kecuali ketuanya sendiri yaitu Thian Ik-cu yang masih

hidup, tinggal Pia Leng-cu dan enam belas orang imam cilik.

Keenam belas orang imam cilik itu bekerja keras menggotong yang luka menyingkirkan yang

telah mati, pulang pergi hampir puluhan kali banyaknya namun pekerjaan itu belum iuga selesai,

sementara napas mereka sudah tersengkal-sengal dan keringat membasahi seluruh badan.

Sebagian besar anak murid perkumpulan Thong-thian-kauw ini menemui ajalnya dalam serangan

kilat yang dilancarkan oleh jago-jago dari perkumpulan Sin-kie-pang yang dahsyat ibarat angin

musim gugur yang merontokkan daun.

Dari pihak perkumpulan Hong-im-hwie kecuali nenek dewa bermata buta serta Jin Hian yang

tidak ikut terjun kedalam gelanggang, hanya malaikat kedua Sim Ciu seorang yang selamat.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

211

Jin Hian dan Sim Ciu segera bekerja keras mencari rekan-rekannya yang terluka, setelah

bersusah payah akhirnya kedua orang itu berhasil menemukan sembilan orang yang belum putus

nyawa, dan cepat kesembilan orang itu digotong kedalam barak dan diberi pertolongan.

Memandang sisa mayat yang bergelimpangan ditengah gelanggang sebagian besar terdiri dari

anggota perkumpulan mereka, dua orang jago lihay itu jadi putus asa dan segan untuk

mengurusinya lebih jauh.

Diantara para korban yang terluka maupun mati binasa ternyata tidak terdapat seorangpun

anggota perkumpulan Sin-kie-pang, dalam pertumpahan darah yang benar-benar mengerikan itu,

perkumpulan Thong-thian-kauw serta Hong-im-hwie yang menggetarkan sungai telaga

tertumpas sama sekali dan sejak detik itu sudah lenyap dari percaturan dunia persilatan.

Posisi segi tiga yang dipertahankan selama puluhan tahunpun sudah hancur berantakan,

sekarang tinggal perkumpulan Sin-kie-pang yang merajai kolong langit, mulai detik itu rupanya

hanya orang-orang dan perkumpulan Sin-kie-pang yang akan malang melintang menguasaku

seluruh jaigad, kendatipun masih ada sisa perlawanan dari golongan pendekar, tetapi kekuatan

mereka jika dibandingkan maka kaum pendekar boleh dibilang sudah ketinggalan jauh, keadaan

mereka ibaratnya telur beradu dengan batu.

“Pasang lentera!” tiba-tiba Pek Siau-thian membentak keras.

Suaranya keras dan lantang hingga menggema diseluruh lembah, suara itu penuh wibawa dan

mengerikan sekali, seakan-akan diucapkan oleh malaikat sakti yang baru turun dari kahyangan.

Suara langkah kaki manusia bergema diseluruh tempat, dalam waktu singkat semua lembah

sudah bermandikan cahaya Lampu lentera.

Selain beratus-ratus buah lentera, para anggota perkumpulan Sin-kie-pang memasang pula

beratus-ratus buah obor besar, cahaya api yang berkilauan membuat lembah Cu-bu-kok

bagaikan ditengah hari bolong, semua suasana ngeri dan menyeramkan yang semula

menyelimuti lembah itu segera tersapu lenyap, tinggal suasana gembira dan penuh keagunggan

yang menyala-nyala.

Beratus-ratus orang angota perkumpulan Sin-kie-pang berbaris rapi disepanjang mulut lembah,

mereka berdiri dengan tegap gagah dan penuh disiplin, sementara sisa laskar perkumpulan

Thong-thian-kauw, Hong-im-hwie dan para pendekar ditambah dengan kelompok manusia aneh

menyerupai setan masih tetap berdiam diri didalam barak masing-masing.

Seluruh lembah Cu-bu-kok diliputi keheningan dan kesunyian yang mencekam, begitu sepinya

sehingga jarum yang jatuhpun kedengaran. sorot mata semua orsng sama-sama ditunjukan

keatas tubuh Pek Siau-thian, mereka ingin lihat tindakan apakah yang hendak dilakukan olehnya

untuk menyelesaikan persoalan ini.

Angin malam berhembus sepoi-sepoi menyiarkan bau amis darah yang sangat memuakkan, obor

yang menyala besar memancarkan suara peletak yang membisingkan telinga, mengacaukan

ketegangan dan keheningan yang mencekam seluruh lembah.

Pek Siau-thian berdiri tegak diatas meja dengan muka merah bercahaya, tangan kanannya

mengelus jenggot sementara tangan kiri nya mercekal tanda perintah Hong-lui-leng yang

memancarkan cahaya keemasan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

212

sepasang matanya yang memancarkan cahaya tajam perlahan-lahan bergeser kekiri dan

kekanans.

Setelah memandang sekejap ke arah sisa laskar perkumpulan Hong-im-hwie, ia mengawasi pula

kelompok manusia aneh yang berbadan seperti setan itu, pikirnya didalam hati, “Mungkin

kelompok manusia ini terdiri dari manusia-manusia yang telah lama mengasingkan diri dan baru

saja terjun kembali kedalam dunia persilatan, dipandang dari ketenangannya yang menyerupai

bukit karang, seakan-akan tak pandang sebelah matapun terhadap pertumpahan darah yang

sudah terjadi, bisa dibayangkan kalau pemimpin mereka pas tilah merupakan seorang jago yang

benar-benar luar biasa sekali.

Setelah berhenti sebentar, ia berpikir lebih jauh.

“Kesempurnaan dalam hal ilmu silat yang diutarakan adalah bukti kenyataan, tak mungkin ilmu

itu langsung datang dari langit, meskipun jumlah kelompok manusia aneh itu ada seratus orang

lebih, jika dianggap sepatuhnya merupakan jago lihay dan separuhnya lagi jago berkepandaia

biasa, itupun jumlahnya baru beberapa puluh orang belaka, apalagi manusia super sakti dalam

seratus tahun paling banyak satu dua orang belaka dan itupun kalau aneh dari sini bisa kutarik

kesimpulan bahwa sekalipun kedatangan mereka agak mendadak toh tak mungkin bisa

membendung serbuan kilat dari jago-jago perkumpulan Sin-kie-pang yang kuhimpun selama

hampir dua puluh ta nun lamanya….”

Setelah berpikir pulang pergi beberapa saat lamanya, ia merasa bahwa kehadiran kelompok

manusia aneh tersebut bukan merupakan suatu ancaman yang serius.

Sorot matanya segera dialihkan ke arah kelompok para pendekar.

Selama dua hari ini secara beruntun Hoa Hujin telah membinasakan Bu Liang Sinkun, Hian Leng

cu dan Cing Leng cu tliga orang.

Ketiga orang jago lihay itu rata-rata memiliki tenaga dalam sebesar enam puluh tahun hasil

latihan, kehebatan ilmu silat mereka pun masing-masing memiliki keistimewaannya masingmasing

dan kematangannya telah mencapai p da taraf tiada kelemahan lagi.

Jika Hoa Hujin ingin mencari kemenangan dengan andalkan jurus serangan, maka walaupun

bertempur selama tiga hari tiga malam jangan harap bisa robohkan tiga orang itu sekaligus.

Perempuan sakti itu berhasil membinasakan tiga orang lawan tangguhnya, kesemuanya itu

mengandalkan tenaga kekerasan yang disebut siasat satu tenaga menundukkan sepuluh

kumpulan, dengan hawa murni yang sargat kuat, sangat beracun dan sangat bebat hingga tiada

tandingan ia cabut nyawa ketiga orang itu dengan kekerasan.

Tapi setelah tiga orang itu mati, seluruh tenaga dalam yang dilatih Hoa Hujin dengan susah

payah dalam gua kunopun ludas tak berbekas, kini ia tinggal bawah dasar yang tak berguna,

bukan saja ilmu silatnya punah bahkan luka dalam yang ia deritapun kambuh lagi, tubuhnya jauh

lebih lemah dari orang lain dan tentu saja tak mungkin bisa bergebrak lagi melawan orang lain.

Kecuali Hoa Hujin seorang, tak ada manusia lain yang ditakuti oleh Pek Siau-thian lagi, sorot

matanya segera dialihkan kesisi kiri.

Tiba-tiba ia ingat bahwa istrinya yang cantik dan kini sudah menjadi pendeta masih berdiri serius

dihadapannya, kehadiran perempuan itu telah menghalangi daya pandangannya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

213

Pek Siau-thian segera mendehem ringan, setelah menenangkan hatinya, ia memberi hormat dan

berkata sambil tersenyum, “Hujin harap beristirahatlah kesamping, setelah kuselesaikan semua

masalah di sini segera kutemani engkau untuk bercakap-cakap”

Kho Hong-bwee mendengus, lalu berkata dengan nada tawar, “Ini hari engkau berhasil rebut

kemenangan total, seharusnya hatimu sudah merasa sangat puas bukan? masih ada persoalan

apa lagi yang hendak kau selesaikan sendiri?”

Walaupun perempuan itu sudah berusia setengah baya, tapi berhubung tenaga dalam yang

dilatih olehnya mempunyai daya untuk awet muda, maka walaupun sekarang sudah lanjut usia

dan mengenakan pakaian pendeta yang longgar, akan tetapi sama sekali tidak mengurangi

kecantikan wajahnya sebagai perempuan yang paling cantik sekolong langit dimasa silam.

Sementara itu Pek Siau-thian terperangah, kemudian sambil memberi hormat, katanya, “Hujin,

engkau sudah lama meninggalkan kedamaian dunia, aku rasa pekerjaan yang kulakukan ini pasti

akan menjemukan hati mu, menurut penglihatanku alangkah baiknya kalau hujin jangan turut

campur dalam urusan dunia persilatan.”

Kho Hong-bwee mengernyiikan sepasang alisnya, dengan sorot mata yang tajam ia melirik

sekejap ke arah suaminya, kemudian menjawab dengan suara dingin, “Sudah belasan tahun

lamanya kita tak pernah berjumpa muka, dalam pertemuan kali ini ternyata engkau lebih

memberatkan segala tata cara yang tetek bengek, aku rasa tindakanmu ini disebabkan karena

kau berada dihadapan anak buahmu sehingga berharap agar aku suka memberi muka kepada

mu daripada mengurangi wibawa dan gengsimu, bukan begitu maksudmu?”

Paras muka Pek Siau-thian berubah hebat tapi hanya sebentar saja ia telah jadi tenang kembali

seperti sedia kala, sambil tersenyum ia berkata, “Meskipun Sau Tha adalah manusia persilatan

yang kasar sedang hujin adalah seorang manusia terpelajar yang menguasai segala bentuk tata

kesopanan tapi sejak kita menikah sekalipun pernah terjadi sedikit kesalah pahaman namun

selama ini kita saling hormat menghormati sejak kapan Sau tha bersikap kurang hormat

kepadamu?”

Sau tha adalah nama kecil dari Pek Siau-thian yang cuma diketahui oleh Kho Hong-bwee

seorang.

Terdengar perempuan cantik itu berseru, “Kalau memang begitu aku ingin menanyakan beberapa

persoalan kepadamu!”

“Apa yang ingin hujin tanyakan? asal Sau tha mengerti pasti akan kuterangkan hingga jelas!”

“Siapakah yang mendirikan perkumpulan Sin-kie-pang ini?”

Pek Siau-thian tertawa.

“Kita suami istri yang bekerja sama untuk mendirikan perkumpulan ini”

“Jadi kalau begitu dalam masalah besar yang menyangkut persoalan perkumpulan, aku punya

hak untuk ikut membicarakannya bukan?”

Pek Siau-thian agak tersipu-sipu dengan paras merah padam ia tertawa dan mengangguk.

“Tentu saja kita sudah bersumpah untuk sehidup semati, ada rejeki dinikmati bersama ada

bencana ditanggulangi berbareng”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

214

Kho Hong-bwee segera ulapkan tamannya mencegah pria itu berbicara lebih jauh, selanya,

“Pembicaraan diatas pembaringan lebih baik tak usah diungkap lagi dalam saat seperti ini aku

hanya ingin tahu bagaimana caramu untuk menyelesaikaa persoalan yang terjadi pada saat ini?”

Pek Siau-thian tersenyum.

“Usaha dan perjuangan kita setengah abad lamanya bukan cuma bertujuan untuk menangkan

pertarungan yang terjadi pada saat ini kita mempunyai tujuan jauh lebih kedepan….”

Sesudah berhenti sebentar, ia melanjutkan, “Apakah engkau masih ingat? ketika kita mendirikan

perkumpulan Sin-kie-pang, kita telah berjanji untuk merajai seluruh kolong langit, menggalang

babak baru dalam dunia persilatan, membuat suatu karya yang besar serta melaksanakan

kebaikan dan kebajikan bagi seluruh umat manusia….?”

Sekali lagi Kho Hong-bwee ulapkan tangannya, dia menukas, “Waktu itu kita masih muda dan tak

tahu urusan ucapan yang takabur dan tak tahu diri seperti itu tak pantas diutarakan keluar buat

apa engkau selalu ingat dihati?”

***

RASA gusar terlintas diatas wajah Pek Siau-thian, serunya dengan nada marah. Kesemuanya itu

adalah harapan kita, cita-cita yang kita susun sejak dahulu dan kini beruntung sekali semua

harapan kita menjadi kenyataan, dalam pertemuan ini dunia persilatan telah memasuki babak

baru, bukankah itu berarti bahwa perjuangan dan usaha kita selama ini telah mencapai pada

hasilnya?

“Darimana engkau bisa berkata begitu?” sela Kho Hong-bwee.

Pek Siau-thian berhenti sebentar, kemudian berkata lebih jauh, “Mulai saat ini, barang siapa

menyoren pedang maka itu berarti bahwa dia adalah anggota perkumpulan Sin-kie-pang,

bukankah itu berarti bahwa dunia persilatan telah bersatu dibawah perintah kita.”

“Bagaimana dengan orang-orang itu?” tanya Kho Hong-bwee sambil menuding ke arah orangorang

yang berada didalam barak, “apakah mereka juga merupakan anak buah dari perkumpulan

Sin-kie-pang?”

“Semut merupakan binatang terkecilpun ingin hidup apalagi minusia-manusia yang baru lolos dari

kematian, aku rasa mereka akan jadi seorang manusia yang tahu diri”

Kho Hong-bwee tertawa terkekeh.

“Jadi maksudmu, andaikata mereka tak mau takluk kepada perkumpulan Sin-kie-pang, maka itu

berarti hanya ada satu jalan kematian saja bagi mereka?”

“Benar! kecuali ditumpas sama sekali, aku rasa tiada jalan lain yang bisa dilakukan!”

Kho Hong-bwee kembali tertawa.

“Andaikata semua orang telah menjadi anggota perkumpulan Sin-kie-pang, bukankah itu berarti

perkumpulan Sin-kie-pang sudah tiada tandingannya lagi?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

215

Perempuan itu betul-betul cantik sekali, meskipun hanya tertawa namun sudah cukup

memancarkan daya tarik dan daya pesona yang luar biasa, membuat siapapun serasa terpikat

hatinya.

Pek Siau-thian sudan lama tak menyaksikan senyuman dari istri-nya, sekarang ia merasa

tertegun dan berdiri melongo, dalam keadaan demikian tentu saja ia tak dapat menangkap arti

yang sebenarnya dari perkataan itu.

Terdengar Kho Hong-bwee berkata lebih jauh, “Inilah hasil pengetahuan yang berhasil

kutemukan selama belasan tahun menyucikan diri ditempat terpencil, engkau adalah seorang

manusia yang berambisi besar dan gemar cari pahala, sekalipun pelaja ran semacam ini

dimengerti olehmu, namun engkau tak dapat menerimanya dengan begitu saja”

“Kita toh suami istri yang saling cinta mencintai” tukas Pek Siau-thian dengan cepat, ada

persoalan apapun bisa kita bicarakan secara perlahan-lahan, meskipun Sau Tha bodoh dan tidak

cerdas, namun aku bersedia menuruti keinginan hatimu.

Kho Hong-bwee tersenyum simpul.

“Kita adalah orang tua yang sudah mempunyai anak dewasa, ucapan yang manis serta cumbu

rayu yang tak berguna lebih baik tak usah dibicarakan lagi”

Pek Siau-thian terperangah.

“Sebenarnya apa maksudmu?” ia bertanya.

Kho Hong putar biji matanya yang jeli dan memandang sekejap ratusan anggota perkumpulan

Sin-kie-pang yang berjajar dihadapannya kemudian dengan santai berkata, “Perkumpulan Sinkie-

pang didirikan bersama oleh kita berdua, sudah lama aku mengasingkan diri dan keramaian

dunia sedang engkau sudah menguasai perkumpulan ini selama belasan tahun lamanya

sepantasnya kalau sekarang engkau memberi kesempatan kepadaku untuk memegang

kekuasaan dalam perkumpulan ini dan memimpinnya secara muttak selama beberapa lama”

Mula-mula Pek Siau-thian terperangah kemudian menyadari apa yang dimaksudkan, ia tahu

istrinya datang dengan membawa tujuan tertentu walaupun diluar bicara amat santai» dalam

tujuannya benar-benar serius.

Jago tua ini dibikin serba salah tak tahu apa yang musti dilakukan olehnya, ia takut wibawa dan

gengsinya berkurang di hadapan ratusan orang anggota perkumpulannya, setelah berpikir

sebentar akhirnya ia memberi hormat dan berkata dengan serius.

Hong Bwee, bagaimanapun juga kita pernah jadi suami istri, meskipun aku tak becus tapi belum

pernah ada niat melukai hatimu, ini hari adalah saat yang paling penting bagi kita untuk

menentukan kemenangan atau kekalahan, janganlah disebabkan urusan rumah tangga

mengakibatkan urusan perkumpulan jadi terbengkalai hingga menghancurkan masa depan

sendiri.

Kho Hong-bwee gelengkan kepalanya, dengan tegas ia berseru, “Perkumpulan Sin-kie-pang

didirikan oleh kita berdua, urusan perkumpulan maupun urusan rumah tangga boleh dijadikan

satu!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

216

Paras muka Pek Sian Thian yang berwarna merah seketika berubah jadi hijau membesi, serunya,

“Hong Bwee, perbuatanmu ini apakah tidak kelewat batas? dengan tinadakanmu semacam itu,

engkau letakkan diriku pada posisi yang bagaimana?”

“Ikutilah perbuatan yang telah kulakukan selama ini, serahkan tanda perintah Hong-lui-leng

kepadaku, lepaskan tanggung jawab mu atas perkumpulan ini dan pilihlah tempat yang kecil dan

tenang untuk belajar agama ataupun falsafah, terserah apa kemauanmu dan apa kegemaranmu,

pokoknya yang penting adalah umuk mempelajari ilmu un tuk menguasai diri dan merenungkan

kembali semua perbuatan yang telah dilakukan selama ini, lima belas tahun kemudian engkau

boleh muncul kembali dan perkumpulan Sin-kie-pang akan kuserahkan kembali kepadamu.

Mendengar perkataan itu, dalam hati kecilnya Pek Siau-thian segera berpikir, “Susunan katakatanya

begitu teratur dan lancar, perkataan itiupun diutarakan secara rapi, jelas ia sudah lama

memikirkan masalah ini dan merercanakan sebaik-baiknya….”

Selama suami istri itu ribut sendiri, beratus-ratus orang yang hadir disitu hanya membungkam

sambil mengikuti dengan seksama, lembah Cu-bu-kok yang begitu luas jadi sepi dan tak

kedengaran sedikit suarapun.

Haruslah diketahui pada waktu itu kekuatan dari perkumpulan Thong-thian-kauw, Hong-im-hwie

maupun golongan pendekar boleh dibilang sudah hancur berantakan sama sekali, dalam keadaan

begitu mereka tak memiliki kekuatan lagi untuk membendung ataupun melawan kekuatan

perkumpulan Sin-kie-pang yang kuat dan dahsyat, andaikata Pek Siau-thian turunkan perintah

untnk membantai semua orang yang masih tersisa dalam lembah itu, maka orang-orang itu tak

akan memiliki kemungkinan untuk hidup lebih jauh.

Oleh sebab itulah perselisihan paham antara suami istri itu bukan saja mempengaruhi

kelangsungan hidup perkumpulan Sin-kie-pang pribadi, bahkan sangat mempengaruhi juga nasib

dan kesempatan hidup bagi umat persilatan lainnya.

Posisi Pek Siau-thian pada saat itu benar-benar terdesak dan dibuat apa boleh buat, hawa

amarah yang memuncak membakar hatinya, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa, sebab tindakan

yang terlalu berangasan dan tanpa perhitungan yang masak akan mengakibatkan lelucon yang

bakal di tertawakan orang.

Otaknya segera berputar kencang untuk mencari akal bagus guna mengatasi masalah itu,

sementara diluaran ia berkata, “Perkumpulan Sin-kie-pang dirikan bersama oleh kita berdua,

semua anggota goan loo mengetahui akan persoalan ini, sebenarnya memang tak jadi soal kalau

pucuk pimpinan perkumpulan ini kuserahkan kepadamu, tapi engkau toh seorang perempuan,

andaikata engkau yang menjadi pimpinan, aku kuatir para anggota perkumpulan ada yang tak

mau tunduk kepadamu”

Kho Hong hwee berdiam diri sebentar, sedang dalam hati kecilnya ia berpikir, “Andaikata pada

saat ini aku tak mampu untuk merebut kekuasaan tertinggi itu maka satu-satunya jalan yang

harus kutempuh adalah memancing perpecahan dalam tubuh perkumpulan tersebut hingga

terjadinya penghianatan diantara para anggota, bagaimanapun juga aku harus berhasil

membubarkan perkumpulan ini, darimana kejahatan mereka sudah mengakar daging dan

mendatangkan banyak bencana serta malapetakan bagi umat persilatan….”

Berpikir sampai disint, dengan suara dingin ia lantas berkata, “Kun Gie pernah berkata kepadaku,

setelah engkau mati maka kekuasaan tertinggi dari perkumpulan Sin-kie-pang akan diserahkan

kepadanya, benarkah ucapan itu?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

217

Pek Siau-thian mengerutkan dahinya rapat-rapat.

“Tentang soal ini sulit sekali untuk dilakukan”

“Seandainya bukan putrimu yang meneruskan kedudukan tersebut lalu apa gunanya engkau

mendirikan dan membangun perkumpulan itu hingga begini besar dan megahnya.

“Andaikata Kun Gie punyai kemampuan untuk memimpin dan dihormati oleh setiap anggota

perkumpulannya tentu saja kedudukan ini akan kuserahkan kepadanya kalau tidak maka

terpaksa aku mencari ahli waris yang lain.”

Tidak menunggu ia menyelesaikan kata-katanya, Kho Hong-bwee segera menukas dengan cepat,

“Kalau memang begitu tak usah dibicarakan lagi, kalau memang Kun Gie dapat menduduki kursi

kebesaran tersebut untuk memimpin perkumpulan apa bedanya antara pria dan wanita? setelah

ia diangkat sebagai ketua siapa yang berani membangkang perintahnya lagi? dan lagi toh kita

punya hubungan suami istri siapa tak tunduk kepadaku, berarti tidak setia kepadamu, aku rasa

lebih baik serahkan saja kekuasaanmu itu dengan lega hati.”

Hawa amarah membakar dalam dada Pek Siau-thian, ia tahu jika perselisihan ini di lanjutkan

maka akhirnya yang rugi dia sendiri, maka dengan muka masam serunya, “Hong Bwee, engkau

bukanlah seorang perempuan yang bodoh, sepantasnya kalau engkau lebih mementingkan

kepentingan umum!”

“Andaikata aku tidak mementingkan kepentingan umum dan mengingat bahwa masalah ini

adalah masalah besar, akupun segan untuk berjumpa lagi dengan dirimu.”

Pek Siau-thian jadi amat gusar, nafsu membunuh menyelimuti wajahnya, dengan gemas ia

berkata, “Apabila aku tak sudi menyerahkan kekuasaan ini kepadamu engkau mau apa?”

“Kalau aku tetap bersikeras akan merebut kursi pimpinan tersebut, engkau mau apa?” balas Kho

Hong-bwee dengan ketus

Pek Siau-thian makin mendongkol, ia tertawa dingin tiada hentinya.

“Heehh…. heehh…. heehh….! apabila engkau benar-benar tak tahu diri, terpaksa aku akan

putuskan semua hubungan diantara kita dan mencabut selembar jiwamu”

Kho Hong-bwee balas tertawa dingin.

“Heeehhh…. heeeehh…. heeehh…. aku ingin bertanya kepadamu diantara anak buah

perkumpulan Sin-kie-pang apakah ada yang bersedia mewakili dirimu untuk turun tangan

tergebrak melawan aku?”

Mendengar perkataan itu Pek Siau-thian terperangah tanpa sadar ia berpaling dan memandang

sekejap ke arah anggota perkumpulannya kemudian pikirnya didalam hati, “Andaikata aku Pek

Siau-thian memerintahkan anak buahku untuk membunuh istri, perbuatanku ini pasti akan

tercemoh orang dan dibuat sebagai suatu lelucon. Heeehhhh…. heeehh…. heeehhh…. keadaanku

betul-betul payah sekali”

Ia mengaggap dirinya sebagai seorang pendekar sejati dengan sendirinya sebagai seorang

pendekar tidak pantas kalau ia suruh anak buahnya untuk nembunuh istri sendiri.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

218

Tapi pikiran lain segera berkecambuk pula dalam benaknya, ilmu silat yang dimiliki Kho Hongbwee

seimbang dengan dirinya walaupun selama belasan tahun terakhir ia terlatih tekun

sehingga ilmu silatnya memperoleh kemajuan yang pesat, namun Kho Hong-bwee yang telah jadi

pendeta tak mungkin mengesampingkan soal kepanodaiannya, itu berarti walaupun ada selisih,

itu kecil sekail.

Dalam hati ia berpikir kembali.

Aku pernah bertanya kepada Kun Gie kakak beradik, mereka berdua samai tak pernah melihat

ibunya berlatih silat, kalau di tinjau dari kemampuan Soh-gie yang begitu tak becus, rasanya ilmu

silat yang dimiliki ibunya tak akan mencapai kehebatan yang luar biasa….

Berpikir sampai disitu, hawa amarah yang berkobar dalam dadanya mereda separuh bagian,

mukanya segara berubah jadi membesi dengan memperlihatkan kewibawaannya sebagai seorang

suami, serunya kepada Kho Hong-bwee dengan suara dingin, “Hong Bwee, aku telah mengambil

keputusan yang tegas, meskipun kita suami istri berdua telah lama saling mencintai tapi aku tak

akan mengesampingkan soal umum karena masalah pribadi, aku rasa lebih baik beristirahat

dahulu kesamping nanti aku akan meminta maaf padamu,” ia berpaling kesamping dan segera

membentak, “Soh-gie, Kun Gie bawalah ibumu untuk beristirahat dahulu didalam barak”

Pek Soh-gie maupun Pek Kun-gie yang mendengar perkataan itu sama-sama alihkan sorot

matanya ke arah ibu mereka namun kedua orang itu tetap berdiri tegak ditempat semula tanpa

mengucapkan sepatah katapun.

Kho Hong-bwee tertawa dingin, tiba-tiba ia serahkan senjata Hud tim didalam gengga-mannya

kepada Kun Gie lalu kepada Pek Siau-thian bentaknya dengan suara dalam.

“Dalam peristiwa yang terjadi pada saat ini, aku rasa tak mungkin bisa diselesaikan dengan

bersilat lidah belaka, lebih baik kita tentukan siapa kuat siapa lemah dalam adu kepandaian,

siapa lebih unggul dialah yang berhak menduduki kursi pimpinan!”

Pek Siau-thian merasa amat gusar.

“Engkau benar-benar akan bertempur melawan diriku?” bentaknya.

“Hmmm! kalau engkau tak mau undirkan diri, terpaksa aku harus menyelesaikan masalah ini

lewat adu kepandaian!”

“Pertarungan yang diakhiri setelah saling menutul ataukah bertarung sampai salah seorang

diantaranya mampus?” teriak Pek Siau-thian gemas.

“Aku belum akan berakhir jika kemenangan belum sampai jatuh ketanganku, engkau toh seorang

pria sejati, kalah satu jurus atau setengah gerakan sudah pantas untuk mengaku kalah sedang

aku sebelum mati aku tak akan mengaku kalah”

“Jadi engkau bersikeras untuk mencari kematian?” seru Pek Siau-thian dengan menggigit bibir.

“Susah untuk dikatakan, andaikata beruntung aku bisa menangkan setengah jurus atau satu

gerakan darimu bukankah kita dapat hidup lebih jauh?”

Pek Siau-thian menggigit bibirnya hingga berbunyi gemerutuk, setelah keadaan berubah jadi

begini maka pertarungan antara suami istripun tak bisa dihindari lagi.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

219

Kalau Kho Hong-bwee lebih mengutamakan kenyataan yakni asal dapat menutulkan pukulannya

berarti menang, maka Pek Siau-thian harus merobohkan perempuan itu hingga tak mampu

bertempur lagi baru bisa di anggap menang, kejadian itu kalau dipikir kembali sebenarnya

memang tidak adil.

Tapi Pek Siau-thian adalah seorang jago persilatan yang memimpin kolong langit, berada

dibawah pandangan banyak orang tentu saja ia merasa segan untuk menawar syarat yang

diajukkan istrinya, sebaliknya asal ia kena di menangkan setengah gebrakan saja itu berati jerih

payahnya selama ini serta masa depannya akan hancur dengan begitu saja.

Jadi kalau dibicarakan sesungguhnya maka pertarungan ini mempanyai sangkut paut yang amat

sakit dan perih sekali.

Teringat kembali olehnya, sewaktu suami istri tak akur dan Kho Hong-bwee pergi dengan hati

mendoogkol, kesemuanya itu dikarenakan perempuan tersebut merasa sangat tak puas dengan

tindak tanduknya yang kejam dan telengas.

Kecuali itu, Kho Hong-bwee sama sekali tak ada tindakan yang dikatakan kelewat batas, ia amat

mencintai istrinya yang cantik, dalam pandangannya asal suatu hari ia berbasil menduduki kursi

pimpinan tertinggi di kolong langit dan semua orang yang belajar silat tunduk pada komandonya,

maka pada saat itu istrinya yang ia cintai pasti akan berubah pikiran dan kembali kedalam

pangkuannrya.

Haruslah diketahui, pada waktu itu Pek Siau-thian baru setengah umur dan cinta asmaranya

belum paham, sedang Khbo Hong Bwee baru berusia tiga puluh tahunan, kecantikannya belum

luntur dan cintanya belum padam, Pek Siau-thian belum pernah dapat melupakan cinta kasihnya

dengan perempuan itu dan sifatnya itu memang jamak sebagai seorang pria yang normal.

Tetapi, berada dalam keadaan seperti ini, Pek Siau-thian merasa tak rela untuk mengundurkan

diri dengan begitu saja, kalau ia tidak ingin roboh maka satu-satunya jalan adalah berusaha

merobohkan istrinya dengan ilmu sebangsa totokan, agar perempuan itu tak dapat bertempur

lagi, atau jika cara ini tak bisa digunakan, terpaksa harus membinasakan jiwanya.

Pek Siau-thian putar otak habis-habisan berusaha untuk menemukan jalan yang paling baik,

akhirnya dia menghela nafas panjang dan bergerak kehadapan Pek Soh-gie, katanya, “Peganglah

tanda perintah Hong-lui-leng ini, setelah benda itu berada ditanganmu berarti pula engkaulah

yang memegang tampuk pimpinan dalam perkumpulan Sin-kie-pang!”

Dengan lembut Pek Soh Gi mengangguk, ia sambut panji terbuat dari benang emas itu dengan

sepasang tangannya, kemudian dipegang dalam pelukannya.

Gadis ini berwatak lembut dan baik hati ia tak kenal kejelekan orang dalam kolong langit, dalam

perselisihan yang terjadi antara ayah dan ibunya, iapun tak tahu siapa yang salah siapa yang

benar, gadis itu hanya bisa melelehkan air mata belaka.

Pek Siau-thian melirik sekejap ke arah putri sulungnya, kemudian berpikir dalam hati, “Andaikata

aku kalah, tentu saja aku harus angkat kaki dan jauh meninggalkan tempat ini, selamanya tak

bisa berjumpa muka lagi dengan mereka semua, sebaliknya kalau aku binasakan ibunya,

sekalipun gadis ini berhati luhur, tak urung diapun akan membenci diriku sepanjang masa….”

Sorot matanya melirik kembali ke arah putri bungsunya, lalu berpikir lebih jauh, “Tak nyana

budak itu berhasil lolos dari kematian, mungkin sewaktu tubuhnya jatuh kedalam jurang

kebetulan berhasil disambut oleh ibunya….

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

220

Heeh…. heeh…. heeehh…. budak itu mampunyai perasaan hati yang tak berbeda dengan diriku,

ia pasti tak akan memperdulikan mati hidupku….”

Berpikir sampai disitu, ia segbera menyingkap pakaiannya dan mengencangkan tali pinggang,

lalu selangkah demi selangkah berjalan menuju ketengah gelanggang.

Orang-orang perkumpulan Sin-kie-pang yang menyaksikan ketuanya akan bertarung melawan

istrinya dengan cepat daerah sekitar sana dibersihkan dari mayat.

Pek Siau-thian dan Kho Hong-bwee segera terjun kedalam gelanggang dan berdiri saling

berhadapan, masig-masing pihak memasang kuda-kuda dan siap bertempur.

Pertarungan yang bakal berlangsung pada saat ini jauh berbeda dengan pertempuran pada

umumnya, kedua belah pibak tidak saling menerjang dengan kekasaran, mereka bersikap

waspada dan tetap saling menanti.

Seluruh perhatian dipusatkan jadi satu, tenaga dalam dihimpun kedalam telapak dan tubuh

merekapun mulai bergeser ke arah samping.

Suami istri ini sama-sama merupakan jago lihay, pergeseran tubuh mereka kian lama kian

bertambah cepat, sampai akhirnya bayangan tubuh mereka sudah lenyap tak berbekas yang

tersisa di gelanggang hanya bekas-bekas telapak kaki yang samar.

Ujung kaki kedua orang itu sama-sama menuntul diatas permukaan tanah yang penuh genangan

darah, namun tak kedengaran sedikit suarapun, darah yang kena terinjak sama sekali tak

berkutik, seakan-akan tak pernah ada orang yang lewat situ.

Lembah Cu-bu-kok yang luas dan lebar seakan-akan jadi sebuah lembah yang mati, tak

kedengaran sedikit suarapua, beratus-ratus pa sang mata sama-sama ditujukan ketengah

gelanggang tanpa berkedip barang sedikitpun juga.

Walaupun sudah berlarian beberapa saat lamanya, kedua belah pihak tak ada yang berani turun

tangan, mereka takut kehilangan posisi yang menguntungkan sehingga mengakibatkan

kekalahan fatal.

Sambil berlarian mengelilingi arena, diam-diam Pek Siau-thian berpikir dalam hatinya, “Nama

besarku sudah menggegarkan seluruh kolong langit, jika aku harus tunjukkan kelemahan

dihadapan istri sendiri, bukankah tin-dakanku ini akan ditertawakan orang….?”

Ingatan tersebut laksana kilat berkelebat dalam benaknya, dengan cepat ia mengambil

keputusan, telapak kirinya berputar melindungi badan sedangkan kedua jari tengahn dan

telunjuk tangan kanannya tiba-tiba melepaskan serangan tajam.

Terdengar Kho Hong-bwee membentak nyaring, tangan kirinya ditebas kebawah membabat

pergelangan musuh, tangan kanannya menyapu kedepan dan laksana kilat melancarkan satu

pukulan balasan.

Buru-buru Pek Siau-thian merubah gerakan, tangan kanan menahan serangan lawan dengan

gerakan Siang ji bu pit atau bersatu padu melindungi dinding, sedang tangan kanan melancarkan

serangan dengan Jurus ciong ing po loh atau burung elang menyambar kelinci, kakinya menyapu

keatas dan menyerang lutut Kho Hong-bwee secara tiba-tiba.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

221

Ketiga jurus serangan itu dilancarkan berbareng dengan kecepatan yang sukar dilukiskan dengan

kata-kata, jikalau seseorang tak memiliki ilmu silat yang tinggi serta tenaga dalam sebesar

puluhan tahun hasil latihan tak mungkin serangan itu dapat dibendung.

Tapi Kho Hong-bwee berhasil merebut posisi yang lebih menguntungkan, jurus serangannya

segera berubah dan memunahkan ke tiga jurus serangan dari Pek Siau-thian itu hingga lenyap

tak berbekas, telapak dan jari menyerang berbareng secepat kilat ia lancarkan serangan balasan.

Dalam waktu singkat Kho Hong-bwee telah melancarkan dua tiga puluh jurus serangan, kedua

tiga puluh serangan itu dilancarkan bagaikan hembusan angin puyuh dan hujan badai, Pek Siauthian

yang kehilangan posisi dengan cepat mengerahkan segenap kekuatannya untuk

mempertahankan diri, namun ia selalu gagal untuk merebut kembali posisi yang lebih

menguntungkan.

Inilah siasat musuh tak bergerak aku tak bergerak, musuh bergerak aku bergerak lebih dahulu.

Pek Siau-thian adalah seorang pria yang berpandangan luas, ia tahu sekalipun sekarang dirinya

diserang habis-habisan, tapi suatu ketika ia akan mendapat kesempatan baik untuk rebut

kemenangan.

Beberapa saat kemudian, kedua orang itu sudah saling bergebrak hingga mencapai lima enam

puluh gebrakan lebih, kedua belah pihak sama-sama mengerahkan segenap kemampuannya

untuk merobohkan lawan, setiap jurus pertama belum selesai jurus berikutnya segera

menyambung lebih jauh, pukulan berantai dilepaskan berkesambungan hingga sukar ditemukan

mana kepala mana ekornya….

Para penonton jalannya pertarungan itu sama-sama merasa terkejut bercampur kagum,

serangan berantai dari Kho Hong-bwee susul menyusul bagaikan hujan badai yang melanda

permukaan bumi, tiada lubang kelemahan yang ditinggalkan, sedangkan Pek Siau-thian sendiri

meskipun kehilangan posisi yang menguntungkan namun dengan sepenuh tenaganya ia mampu

membendung datangnya lima enam puluh serangan tanpa ada tanda-tanda bakal menderita

kalah.

Jurus serangan yang dimiliki kedua orang itu sama-sama ampuh dan cepatnya perubahan yang

dilakukan boleh dibilang teah mencapai taraf yang sukar diungkapkan dengan kata-kata.

Para penonton yang ada disamping arena mulai merasakan pandanngannya jadi kabur dan setiap

gerakan sukar diikuti dengan seksama sebagian besar jago persilatan yang mengikuti jalannya

pertarungan itu hanya merasakan seakan-akan menyaksikan sesosok bayangan manusia yang

saling berputar dengan kecepatan bagaikan kilat, lengan mereka berdua saling menyambar

kesana kemari dan sama sekali tidak menemukan keindahan ataupun keampuan dari masingmasing

gerakan.

Sebaliknya mereka yang memiliki kepandaian yang agak tinggi, walaupun mengikuti separuh

bagian yang atas namun separuh bagian yang bawah tertinggal jauh, setelah lama mengikuti

jalannya pertarungan mulai merasakan pandangannya kabur, kepalanya pening dan pandangan

dihadapannya sama sekali jadi samar.

Diantara beberapa ratus orang jago itu hanya ada beberapa orang saja yang dapat mengikuti

semua jalannya pertarungan dengan seksama, tapi berhubung jarak yang terlampau jauh,

penglihatan merekapun terhitung payah sekali.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

222

Anggota perkumpulan Sin-kie-pang sebagian besat hanya tahu kalau ilmu silat yang dimiliki

pangcunya lihay sekali, tapi mereka tak tahu sampat dimana taraf kelihayan ilmu silat dari Pek

Siau-thian, terutama sekali kelihayan dari Kho Hong-bwee, kebanyakan orang merasa banwa

peristwa ini benar-benar ada diluar dugaan.

Beberapa saat kemudian, kedua orang itu sudah saling bergebrak hingga mencapai ratusan jurus

banyaknya, Kho Hong-bwee selalu memimpin pertarungan itu dan sedikit pun tidak nampak

terdesak.

Dalam pada itu, Pek Siau-thian sudah kehabisan tenaga dan mandi keringat, luka ledakan yang

dideiitanya akibat pecahan kotak emas milik Siang Tang Lay merekah kembali dan terasa amat

sakit, kendatipun luka yang diderita olehnya cuma luka terbakar belaka dan sudah dibungkus

dengan bubuk obat.

Dalam pertarungan yang adu cepat dan adu kegesitan ini sedikit banyak luka-luka yang perih

sakit dan panas merupakan gangguan yang paling besar lama kelamaan perasaan sakit itu

berubah jadi suatu pukulan batin yang sangat berat.

Pek Siau-thian merasa amat terperanjat, segenap tenaga murni yang dimilikinya disalurkan lewat

permainan jurus serangan tersebut kian lama serangannya kian semangat ia berusaha

menyelesaikan pertarungan adu cepat ini sesingkat mungkin.

Menghadapi pertarungan semacam ini, seseorang membutuhkan konsentrasi yang baik dan tak

boleh ada pikiran lain jika pikiran nya sedikit bercabang saja maka segera akan mengakibatkan

kekalahan total.

Pek Siau-thian berpengalaman luas tentu saja mengerti akan bahaya tersebut kecuali

mengerahkan segenap kekuatan untuk melakukan perlawanan otaknya berputar keras untuk

mencari akal guaa memecahkan persoalan itu.

Dalam pada itu, para jago persilatan ysng menonton jalannya pertarungan mulai merasa tegang

dan tercekat perasaan hatinya, mereka tahu bahwa pertarungan itu akan segera berakhir dan

siapa menang siapa kalah akan segera diketahui, masing-masing orang membelalakkan matanya

lebar-lebar, mereka menatap gerak-gerik dua orang itu tanpa berkedip.

Tiba-tiba…. terdengar Kho Hong-bwee membentak nyaring, sepasang telapaknya berputar

kencang melancarkan serangan berantai, ibaratnya panah yang berhamburan bagaikan hujan

gerimis, jubah pendetanya terungkap lebar, kakinya yang ramping melepaskan tendangan demi

tendangan dengan kepandaian Kun It tui atau tendangan dibalik gaun.

Tubuhnya yang kecil ramping beterbangan diudara, kakinya melayang dan meluncur tiada

hentinya, tendangan-tendangan berantai Kun It tui meluncur keluar bagaikan jebolnya

bendungan sungai.

Serangan berantai seperti itu berlangsung hampir lima puluh gebrakan lebih, tubuh Kho Hongbwee

sama sekali tidak menempel diatas permukaan tanah, seakan-akan beratus-ratus buah

tendangan berantai itu dilancarkan dalam satu hembusan napas.

Dibawah gencetan serangan berantai yang lihay dan bertubi-tubi itu, Pek Siau-thian dipaksa

hingga terdesak hebat dan kerepotan, untuk melindungi diri badannya mundur kebelakang

berulang kali sementara sambaran telapaknya memancarkan angin pukulan menderu yang

sangat memekikkan telinga.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

223

Tiba-tiba Pek Siau-thian membentak keras ditengah bentakan badannya meluncur kedepan dan

tinggalkan permukaan tanah setinggi dua tiga depa dengan cepat ia melesat beberapa tombak

melewati lingkaran.

Para penonton dibikin makin tegang perhatiannya ditujukan ketengah gelanggang dan jeritan

kaget tiba-tiba bergema memecahkan kesunyian.

Setelah berhasil berdiri tegak, Pek Siau-thian menatap wajah istrinya dengan paras hijau

membesi, kegusaran yang membakar hatinya benar-benar sudah mencapai puncaknya.

Pertarungan yang barusan berlangsung merupakan pertarungan sengit yang jarang ditemui

dalam masa hidupnya walaupun ia masih mampu untuk mempertahankan diri, namun hasil dari

pertarungan itu membuat ia bergidik bercampur ngeri, dan selamanya perasaan tersebut sukar

dilupakan dari benaknya.

Kho Hong-bwee sendiri berdiri kurang lebih delapan sembilan depa dari sisi arena, dadanya naik

turun bergelombang, napasnya tersengkal-sengkal dan keringat membasahi tubuhnya, didalam

pertarungan yang berlangsung barusan ia telah kerahkan segenap kekuatan yang ia miliki, tapi

sayang usahanya menemui kegagalan dan akhirnya toh Pek Siau-thian tak berhasil dirobohkan

olehnya.

Kedua orang itu segera atur pernapasan untuk menekan pergolakan darah dalam dada masingmasing.

perselisihan pendapat membuat sepasang suami istri ini terpaksa harus melupakan cinta

kasih antara mereka, membuat perasaan hati mereka campur aduk tak karuan.

Tapi kedua orang itu mengerti bahwa perpisahan mereka selama belasan tahun sama sekai tidak

mengendurkan semangat mereka untuk berlatih ilmu, bahkan kepandaian silat masing-masing

pihak berhasil mendapat kemajuan yang cukup pesat, jika pertarungan ini dilanjutkan lebih jauh

maka siapapun tak akan merebut kemenangan.

Setelah sunyi beberapa saat, dengan suara dingin Kho Hong-bwee berkata lagi, “Sau tha hunus

senjata tajammu!”

Pek Siau Thiag mengerutkan dahinya, paras muka yang telah tenang terlintas kembali hawa

kegusaran yang amat tebal, tegurnya, “Dendam permusuhan apakah yang terikat kita berdua?”

“Tidak ada urusan dendam atau permusuhan, yang ada cuma pengaruh iblis yang tebal, Pek

Siau-thian semakin gusar.

“Aku adalah manusia kasar dari dunia sedangkan engkau adalah dewi dari sorga, maaf aku tak

bisa menangkap perkataanmu yang mengandung arti dalam”

Kho Hong-bwee tertawa getir.

“Teringat ketika diraasa lampau kita punya cita-cita dan tujuan yang sama”

“Benar,” tukas Pek Siau-thian, “kalau ada permulaan buat apa ada ini hari?”

Kho Hong-bwee menghela napas panjang dengan sedihnya.

“Pada waktu itu kita masih muda dan tak banyak pengalaman, jalan pemikiran kita pada waktu

itu benar-benar keliru besar”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

224

“Hmmm!” dengus Pek Siau-thian penuh kegusaran, “meskipun perkumpulan Sin-kie-pang

memiliki anggota yang berpuluh-puluh ribu banyaknya, tapi peraturan perkumpuaan sangat ketat

dan tujuan kita amat jelas, bukan saja tak pernah membunuh pembesar untuk memberontak,

kami pun tidak….”

Kho Hong-bwee ulapkan tangannya memotong ucapan suaminya yang belum habis, katanya,

“Aku ingin bertanya kepadamu, anggota perkumpulan Sin-kie-pang yang berjumlah ratusan ribu

orang tak pernah menggerakan badan mereka untuk bekerja, tak pernah menancam padi atau

gandum, kecuali bunuh orang, bakar rumah, menindas kaum rakjat jelata tiada perbuatan lain

yang lebih mulia, darimana datangnya makanan, minuman serta pakaian bagi orang-orang itu?”

Pek Siau-thian mendengus dingin.

“Thian menciptakan manusia, ia pasti memberi kehidupan bagi ciptaannya, engkau toh sudah

belajar agama selama beberapa lama, kenapa cuma urusan itupun tak tahu? padahal setiap umat

persilatan mengetahui akan soal ini, aku adalah seorang ahli silat kasar dari dnnia persilatan,

sedang engkau adalah istriku, lebih baik kita tak usah membicarakan persoalan itu lagi.”

“Kalau memang begitu, cabut senjatamu dan mari kita lanjutkan pertarungan ini!”

“Sebenarnya apa maksudmu?” bentak Pek Siau-thian amat gusar, “apakah engkau bersumpah

tak akan hidup berdampingan dengan diriku lagi….?”

“Oooh! itu sih tidak, aku hanya menginginkan kau serahkan panji Hong-lui-leng kepadaku dan

segera mengasingkan diri dari dunia persilatan….!”

Setelah berhenti sebentar sambungnya lebih jauh, “Cuma, kalau kau masih mempunyai rasa

sayang terhadap istri, asal kau bubarkan perkumpulan Sin-kie-pang dan menyatakan mundur dari

dunia persilatan, aku akan menemui engkau untuk berpesiar keempat penjuru mencari dewa

belajar ilmu dan mencari kehidupan yang bahagia serta panjang usia.”

Mula-mula Pek Siau-thian terperangah kemudian satu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia

bertpikir lebih jauh, “Meskipun usulnya sangat bagus dan menyenangkan tapi aku Pek Siau-thian

masih muda dan memimpin dunia persilatan adalah suatu jabatan yang mulia serta patut di

banggakan, kenapa aku harus melepaskan kesempatan yang sangat baik untuk menguasai

seluruh jagad ini untuk mencari pelajaran dewa yang masih semu itu? bukankah semacam ini

merupakan suatu tindakan yang terlalu bodoh?”

Meskipun paras suaminya berubah tenang, sadarlah Kho Hong-bwee ia mengalami masalah yang

pelik dan sukar ambil keputusan, segera ujarnya kembali.

“Rembulan setelah bulat akan menjadi lonjong, air setelah penuh akan meluber nasib buruk yang

menimpa perkumpulan Hong Im bwee serta Thong-thian-kauw merupakan contoh yang paling

bagus, perkumpulan Sin-kie-pang beruntung bisa utuh dan seluruh kejadian ini boleh dibilang

merupakan satu keuntungan yang luar biasa, jika engkau mundur dalam keberhasilan maka

nama harummu akan dikenang sepanjang masa, dan tindakan ini merupakan suatu tindakan

yang cerdas!”

Terdengar Pek Kun-gie berseru pula dengan sedih.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar