Senin, 05 Oktober 2009

bara 3

“Pikirkanlah sendiri membunuh Pek Koen Cie lebih penting ataukah menyelamatkan jiwamu lebih

penting? nah setelah itu tentukan pilihanmu, aku sih hanya menantikan keputusanmu yang

terakhir”

Si kakek telaga dingin mendongak dan menatap wajah si anak muda itu tajam-tajam? mendadak

dengan wajah berubah jadi marah serunya, “Bocah cilik! loohu telah mengambil keputusan untuk

mewariskan perubahan jurus yang terakhir ini kepadamu. Seandainya Pek Loo jie tidak ada

maksud mencari keuntungan dengan jalan ini masih mendingan, kalau ia mau cari keuntungan

dengan memikirkan gerakan pemecahan lebih dahulu sebelum bergerak melawan loohu.

Hmmm…. hmmm…. hmmm…. Pek Loo-jie…. Pek Loo-jie……”

“Kenapa?” tanya Hong-po Seng tercengang. “Kenapa? sekalipun loohu bakal mati ke laparan,

paling sedikit akan kusuruh orang she Pek itu berbaring selama setahun tanpa bisa berkutik!. .”

“Aaaah, dia tentu masih mempunyai jurus ampuh yang sengaja dirahasiakan…..” pikir Hong-po

Seng, “Kemudian mengatur siasat dan sengaja suruh aku membocorkan lebih dahulu gerakan

terbaru tadi agar Pek Siauw Thian yang tak tahu diri terjebak ke dalam perangkapnya.”

Sebelum ia sempat mengucapkan sesuatu, terdengar si kakek telaga Dingin telah berkata lagi

sambil tertawa panjang.

“Hmmm! andaikata aku tidak menggunakan sedikit akal dan kecerdikan, hidupku mana bisa

diperpanjang sampai sepuluh tahun lamanya? kalau kau pun tidak ingin mati konyol, lebih baik

gunakanlah otakmu untuk berpikir dan berusaha.

Walaupun Hong-po Seng tahu kalau tenaganya hendak dipergunakan oleh pihak lawan, dan mati

hidupnya sama sekali tidak diperdulikan olehnya, namun ia tetap menjura memberi hormat serta

mengucapkan terima kasih atas petunjuk yang telah diberikan kepadanya.

Hari itu si Kakek Telaga Dingin telah mewariskan jurus perubahan yang terakhir itu kepada Hongpo

Seng dan keesokan harinya mereka saling bergebrak seharian penuh.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

92

Ketika fajar menyingsing pada hari yang ketiga, tiba-tiba si Kakek Telaga Dingin berkata, “Hongpo

Seng, sekarang aku akan menggunakan jurus-jurus silat dari Pek Loo-jie untuk menyerang

dirimu, kalau kau bertarung sampai pada posisi yang tidak tahan, pergunakanlah perubahan

gerakan yang terakhir itu. Budak sialan anak jadah itu belum pernah menjumpai perubahan

gerakanku yang terbaru, dalam keadaan begitu ia pasti akan meloncat mundur ke belakang

untuk menghindar, gunakanlah kesempatan itu untuk mengatur kembali posisimu yang terdesak

dan lanjutkan pertarungan”

“Apa? kau bisa menggunakan jurus-jurus serangan dari Pek Siauw Thian?….” tanya Hong-po

Seng tercengang.

“Heeeeh …….. heeeeh ……. kami sudah saling bergebrak selama sepuluh tahun lamanya, Pek Loo

jie bisa hapal dengan gerakan pukulan milik loohu, kenapa loohu tidak dapat menghapalkan

jurus-jurus serangan miliknya? sekalipun gertakan itu kupelajari sesara kasar dan garis besarnya

saja, namun rasanya masih cukup ampuh dan bisa digunakan setiap waktu.”

Sembari berkata telapaknya didorong ke depan melancarkan satu babatan dahsyat. Hong-po

Seng segera putar telapaknya menangkis dan kedua orang itupun saling bertarung lagi dengan

serunya.

Kendati Si Kakek Telaga Dingin hanya memiliki sebuah lengan kiri belaka, tetapi serangannya

yang sebentar ke atas sebentar ke bawah, sebentar ke kiri sebentar ke kanan cukup ampuh dan

dahsyat, seringkali telapaknya mengirim babatan gencar tapi sekejap mata berubah jadi

serangan totokan dengan beribu-ribu macam perubahannya, kadangkala ia menyerang tubuh

bagian bawah lalu secara tiba-tiba mengirim sapuan-sapuan yang menyerupai serangan

tendangan, saking cepat hebatnya desakan-desakan tadi membuat orang yang menonton

jalannya pertarungan itu akan mengira ada beribu-ribu buah lengan sedang menyerang secara

berbareng.

Ketika pertarungan berlangsung mencapai pada puncaknya, Hong-po Seng tidak tahan dan

segera menggunakan jurus perubahan yang terakhir.

Sedikitpun tidak salah, karena gerakannya itu Si Kakek Telaga Dingin tak berani merangsek lebih

lanjut dan segera tarik kembali serangannya sambil meloncat mundur ke belakang.

Jurus serangan Koen “Sioe Ci Tauw” ini merupakan gerakan yang diciptakan si Kakek Telaga

Dingin khusus untuk menghadapi serangan ilmu silat milik Pek Siauw Thian, bukan saja maju dan

mundur sangat beraturan bahkan ancaman-ancamanpun semuanya ditujukan ke arah titik

kelemahan pihak lawan maka walau kemanapun gerakan tersebut datang menyerang selalu

berhasil dibendung dan dipunahkan tanpa bekas.

Begitulah setelah mundur ke belakang si Kakek Telaga Dingin menerjang maju lagi dan

pertarunganpun berlangsung kembali dengan serunya.

Puluhan jurus kemudian sekali lagi Hong-po Seng menggunakan gerakan yang terakhir untuk

paksa si Kakek Telaga Dingin terdesak mundur kebelakang, menanti posisinya berhasil diperbaiki

ia lanjutkan pula serangan-serangan berikutnya.

Makin bertarung kedua orang itu bergerak semakin cepat, beberapa gebrakan kemudian Hong-po

Seng terpaksa harus mengeluarkan pula gerakan terakhir untuk menolong diri.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

93

Tapi gerakannya kali ini ketika mencapai di tengah jalan, mendadak ia berhenti dan mundur ke

belakang.

Melihat tindakan si anak muda itu si Kakek Telaga Dingin melengak dan segera menegur.

“Eeei, bocah cilik, apa kau sudah lelah? Baiklah, istirahatlah dulu beberapa saat kemudian kita

bergebrak kembali”

Hong-po Seng berdiri termenung tanpa mengucapkan sepatah katapun, sesudah termangumangu

beberapa saat lamanya mendadak ia berkata, “Tadi dada kirimu memperlihatkan sebuah

titik kelemahan, babatan yang menggunakan gerakan berputar apakah tak bisa diubah menjadi

sodokan kilat yang dibarengi dengan gerakan majunya sang badan”

Mendengar perkataan itu air muka si Kakek Telaga Dingin berubah hebat, ia tertawa paksa dan

jawabnya, “Bocah cilik kau benar-benar amat cerdik itulah siasat yang loohu siapkan untukmu

guna membinasakan Pek Koen Gie, dapatkah kau laksanakan tindakan tersebut mengikuti siasat

itu?”

Hong-po Seng tidak langsung menjawab, kembali ia termenung beberapa saat lamanya dan

menggeleng.

“Tidak bisa! berada dalam posisi yang demikian, kecuali memutar telapaknya menyodok dari

samping, rasanya kalau menggunakan gerakan lain maka kita tak bisa menggunakan tenaga

mencapai pada apa yang kita harapkan ………”

“Aaai…! bocah cilik, kalau kau suka mengangkat loohu menjadi gurumu, maka sekali pun loohu

harus matipun aku mati dengan mata meram”

Hong-po Seng tertawa hambar.

“Cinta kasih dari loocianpwee membuat boanpwee merasa amat berterima kasih, sayang tiap

manusia mempunyai cita-cita serta pendapat yang berbeda….”

“Tak usah dibicarakan lagi” tukas kakek telaga dingin seraya ulapkan targannya. “Ayoh kita

bertarung kembali, bila mencapai pada posisi seperti tadi gunakanlah kesempatan yang baik itu

untuk mengubah gerakan berputar menjadi sodokan langsung disertai dengan gerakan majunya

sang badan….”

Hong-po Seng menurut dan segera mulai menyerang lagi dan pertarunganpun berlangsung

dengan serunya, ketika serangan-serangan mencapai pada posisi yang dimaksudkan si anak

muda itu segera merangsek maju ke depan sambil menyodokkan tangannya ke dada lawan.

Tapi sayang gerakan itu sudah melanggar pada posisi yang diharapkan seseorang untuk

memukul telak, walaupun secara dipaksakan pukulan itu mengenai ditubuh musuh tetapi

tenaganya lemah dan sama sekali tak berarti.

Gerakan itu diulangi kembali sampai beberapa kali, tetapi keadaan masih tetap setali tiga uang,

akhirnya dengan napas terengah-engah Hong-po Seng berkata, “Marilah kita saling bertukar

posisi, loocianpwee boleh menggunakan gerakan itu untuk diperlihatkan dulu kepada boanpwee”

Si Kakek Telaga Dingin tertawa kering.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

94

“Loohu sendiripun belum berhasil menguasai penuh gerakan tadi” katanya, setelah merandek

sejenak ia menyambung lebih jauh. “Asal tenaga lweekang seseorang bisa dilatih hingga

mencapai kesempurnaan, bagai sebuah tongkat besi yang diasah menjadi jarum kecil ukuran

gerakan itu pasti mantap hasilnya. Sedikitlah berusaha yang lebib tekun, ayoh kita ulangi

kembali”

Hong-po Seng mengangguk, telapaknya diputar dan melancarkan serangan kembali, dalam

sekejap mata bayangan telapak, desiran angin tajam menderu-deru memenuhi angkasa.

Begitulah percobaan dilakukan hingga tiga hari lamanya, suatu senja mendadak dari atas telaga

dilemparkan seekor babi kering yang wangi dan harum baunya, baru saja si kakek telaga dingin

menyambutnya ditangan tiba-tiba dari tengah udara berkumandang kembali suara desiran angin

yang aneh.

Cepat-cepat ia menggape ke arah Hong-po Seng untuk menyambut datangnya benda itu.

Pemuda Hong-po maju selangkah ke depan ketika dilihatnya sesosok bayangan hitam meluncur

datang dengan kecepatan tinggi ia segera menyambutnya dengan gerakan manis.

Ternyata benda itu bukan lain adalah seguci arak wangi tanpa sadar ia tersenyum dan berkata,

“Loociampwe, rupanya sudah tiba saatnya bagi kita untuk saling berpisah”

“Haah …….. haaah, benar di dalam jagad tiada pertemuan yang tidak bubar, berangkatlah lebih

dahulu bertindak dan bunuhlah budak sialan anak jadah itu, Pek Loo jie pun tak akan

membiarkan loohu hidup lebib jauh, kita berjumpa lagi diperjalanan menuju ke akhirat nanti”

Hong-po Seng tertawa kecil, duduklah pemuda itu dihadapannya, membuka mulut guci dan

kedua orang itu mulai menikmati harumnya arak dengan penuh keramahan.

Pergaulan selama beberapa hari telah melenyapkan rasa permusuhan di antara mereka berdua,

dalam pembicaraan serta guraupun tanpa sadar hubungan mereka berdua, semakin rapat

seakan-akan dua orang sahabat karib saja, seguci arak wangi ini mempunyai kadar alkohol yang

sangat tinggi, Hong-po Seng sebagai seorang pemuda yang jarang minum arak, serta si Kakek

Telaga Dingin yang walaupun punya kekuatan minum yang bebat, tapi setelah hampir sepuluh

tahun lamanya tidak minum arak, baru saja menghabiskan separuh guci, mereka berdua delapan

bagian telah dipengaruhi oleb air kata-kata.

Mendadak terdengar Hong-po Seng berkata, “Loocianpwee, berbicara menurut suara isi hati yang

sebetulnya, Pek Koen Gie tidak lebih hanya seorang gadis muda, kalau aku Hong-po Seng harus

beradu jiwa dengan dirinya setelah dipikir-pikir rasanya terlalu tidak berharga.”

“Kau tidak membunuh dirinya maka ia akan membunuh dirimu, peristiwa ini adalah suatu

kejadian yang apa boleh buat”

Hong-po Seng menghela napas panjang.

“Aaai…! sayang Pek Siauw Thian tidak turun ke dasar telaga kalau tidak dengan tenaga

gabungan kita berdua mungkin saja masih sanggup untuk mencabut selembar jiwanya.”

“Kau tak usah kecewa atau menyesal” hibur kakek telaga dingin sambil tertawa. “Asalkan budak

sialan anak jadah itu modar, Pek Loo jie tentu akan memotong-motong jenasahmu jadi beberapa

bagian dan ibumu pasti akan muncul untuk membalaskan dendam sakit hatimu. Kendati

perkumpulan Sie-Kee Pang punya kuku garuda yang tersebar luas di mana-mana, rasanya Pek

Loo jie tak akan berhasil meloloskan diri dari ujung telapak ibumu!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

95

“Orang ini selalu sombong dan pandang rendah setiap orang” pikir si anak muda itu dalam hati.

“Tetapi setiap kali mengungkap nama ibuku, sikapnya tentu sangat menghormat serta

menunjukkan rasa malu serta menyesal yang mendalam. Aaaaai..! dia mana tahu Kalau Hoa

Hujien yang tempo dulu malang-melintang dalam dunia persilatan tanpa tandingan kini ilmu

silatnya telah punah sama sekali!”

Berpikir sampai di situ, iapun teringat kembali akan “Tan-Hwie Tok Lian” Teratai Racun Empedu

Api.

,Hong-po Seng, apa yang sedang kau pikirkan?…” tiba-tiba terdengar si Kakek Tejaga Dingin

menegur.

Hong-po Seng segera tarik kembali lamunannya dan menjawab, “Aku sedang memikirkan siasat

keji berantaimu itu. Hmm J meminjam pisau membunuh orang, betul-betul lihay cara kerjamu!”

Mendengar tuduhan itu Kakek Telaga Dingin melototkan matanya bulat-bulat.

“Apa salahnya?”

“Hmm, jago lihay yang dihimpun perkumpulan Sin-Kee-Pang banyak bagaikan awan di angkasa,

sekalipun ibuku berhasil membinasakan Pek Siauw Thian, apakah dia orang tua sendiri dapat

lolos dalam keadaan selamat tanpa cidera?”

“Haah… haah… haah… itu sih bukan satu urusan yang terlalu parah, semua orang toh sudah

mati dan loohu pun sama saja akan mengorbankan pula selembar jiwaku.”

Pengaruh alkobol dalam perut Hong-po Seng semakin tebal kerjanya, ia mendengus dingin,

“Hmm, kalau kau modar lalu bagaimana dengan pedang emas itu? siapa yang bakal beruntung?”

Si Kakek tetaga Dingin melengak, mendadak ia pejamkan matanya dan berkata lirih, “Bocah

keparat mengakulah terus terang! kau loncat turun ke dasar telaga ini adalah atas desakan dari

Pek Koen Gie ataukah mendapat tugas dari ibumu?”

“Huuh?!! kau anggap kami orang-orang dari keluarga Hoa adalah manusia macam apa?”

sekalipun benda mustika yang tak ternilai harganya di kolong langit tak nanti akan membuat

mata kami jadi silau.

Kembali si Kakek Telaga Dingin termenung beberapa saat lamanya, ketika matanya terbuka

kembali pengaruh arak yang mempengaruhi benaknya telah tersapu bersih sama sekali.

“Bocah cilik! kau benar-benar tidak tahu duduk aya perkara mengenai pedang emas itu?”

tegurnya.

Hong-po Seng segera menggeleng, “Menurut Pek Koen Gie, pedang emas ini mempunyai

hubungan serta pengaruh yang besar atas kehidupan mereka ayah dan anak, lainnya aku sama

sekali tidak tahu.”

“Cissss! manusia tidak tahu malu!” jengek kakek itu dengan bibir mengejek, mendadak dengan

wajah serius terusnya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

96

“Loohu akan memberitahukan dahulu satu persoalan kepadamu, masalah mengenai pedang

emas itu sejak jaman kuno hingga kini hanya merupakan satu khayalan yang kosong”

Mendengar perkataan itu Hong-po Seng tertegun, iapun tersadar kembali dari pengaruh arak.

“Cianpwee, maafkanlah atas kebodohan boanpwee, aku tak dapat menangkap maksud yang

sebenarnya dari perkataan itu.”

Si Kakek Telaga Dingin tertawa getir.

“Berbicara yang gampangnya saja, antara sebelas dua betas tahun berselang dalam dunia

persilatan secara tiba-tiba muncul seseorang, usianya tidak begitu besar dan berdandan sebagai

seorang sastrawan, ia mengaku bernama “It Kiam Kay-Tionggoan” atau Pedang Sakti Menyapu

Tionggoan Siang Tang Lay………”

“Huuh! julukan itu terlalu latah dan jumawa, rupanya nama orang itu hanya samaran belaka,”

timbrung Hong-po Seng dari samping.

Kakek Telaga Dingin mengangguk.

Kemungkinan besar orang itu berasal dari wilayah See-Ih, yang dimaksudkan pedang sakti

adalah sebilah pedang pendek berwarna emas yang panjangnya hanya mencapai lima coen,

begitu muncul dalam dunia persilatan maka ia segera mencari satroni dengan tiga orang kakekkakek

peyot dari It-kang, It-Hoei serta It-Kauw….”

“It Pang, It Hoei, It Kauw?” gumam Hong-po Seng dengan nada tercengang.

“Kenapa? masa terhadap perkumpulan Sin Kee-Pang, Hong Im Hoei serta Thong-Thian-Kauw

pun kau tidak tahu? kalau cuma soal ini saja tak mengerti apa gunanya kau berkelana dalam

dunia persilatan?”

Hong-po Seng terseryum.

“Baiklah. boanpwee tak akan menimbrung lagi, silahkan loocianpwee lanjutkan keteranganmu.”

Kakek Telaga Dingin meneguk dahulu setegukan arak kemudian melanjutkan kata-katanya, “Ilmu

silat yang dimiliki Siang Tang Lay betul-betul hebat dan mengejutkan hati, pedang kecilnya yang

sepanjang lima coen itu ketika dipergunakan seolah-olah pedang yang mencapai tiga depa.

Pertama-tama dari pihak perkumpulan Sin Kee Panglah yang turun tangan lebih dahulu, Pek Loo

jie telah b rtarung selama hampir setengah harian lamanya dengan dia, akhirnya ia tidak tahan

dan keok. Jien Loo jie dari perkumpulan Hong Im Hoei serta siluman tua dari perkumpulan

agama Thong Thian Kauw yang mendapat kabar ini buru-buru melakukan perjalanan jauh dan

menghindarkan diri dari perjumpaan dengan orang tadi.

Ooooh, rupanya kedua orang itu mengerti akan kekuatan sendiri!” sela Hong-po Seng tertawa.

Kakek Telaga Dingin pura-pura tidak mendengar ia melanjutkan, “Karena maksud hatinya tidak

terpenuhi akhirnya Siang Tang Lay berdiam di kota Cho Chiu di situ ia siarkan berita yang

mengatakan hendak menemui seluruh kaum enghiong hoohan dari daratan Tionggoan, kebetulan

Lie Boe Liang serta loohu pun berada di situ, dalam pertarungan yang berlangsung selanjutnya

kami berdua sama-sama dipukul roboh oleh dia dan mundur dengan menderita kekalahan”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

97

“Yang kau maksudkan sebagai Lie Boe Liang tentulah Boe Liang Sin Koen itu bukan?” kembali

pemuda itu menimbrung.

“Sedikitpun tidak salah, memang Boe Lie Liang loo jie” ia mendongak memandang keangkasa,

seakan-akan sedang mengenang kembali kejadian di masa lampau beberapa saat kemudian

terusnya, “Setelah apa yang dicita-citakan terkabulkan, Siang Tang Lay segera menantang

ayahmu untuk berduel, lewat beberapa bulan kemudian ayah dan ibumu betul-betul berangkat

menuju ke kota Cho Chiu tapi sayang kedatangan mereka agak terlambat, kabar berita Siang

Tang Lay bagaikan batu yang tenggelam di tengah samudra, bayangan tubuhnya sudah lenyap

tak berbekas….”

“Apakah dia sudah pulang ke wilayah See Ih”

“Hmmm! pulang ke wilayah See Ih? kita beberapa orang kerabat tua telah merencanakan satu

siasat bagus dan berhasil membekuk si jago latah dari ruas perbatasan ini”

Hong-po Seng mengerutkan dahinya mendengar perkataan itu.

“Menang atau kalah adalah suatu kejadian yang umum, kalau ilmu silat yang dimiliki tak bisa

menangkar orang semestinya pulang ke gunung dan berlatih dengan lebib tekun, menggunakan

siasat busuk mencelakai orang, apakah kalian tidak takut ditertawakan orang?”

“Hmmn! pendapat bocah cilik, tujuan kami menangkap si manusia latah itu bukan lain adalah

bermaksud menyelidiki sumber dari ilmu silat yang dimilikinya, siapa tahu walaupun diancam

maut ia tetap tak mau mengaku, terpaksa kami gunakan alat penyiksaan yang hebat untuk

memaksa dia mengaku, dikala manusia latah itu mulai tak tahan dan siap mengaku itulah

mendadak ayah dan ibumu datang.

“Peristiwa itu luar biasa sekali, kenapa kalian membiarkan ayah ibuku berhasil menemukan

tempat tersebut?” tanya Hong-po Seng tercengang.

“Kenapa kalau berhasil ditemukan ayah ibumu? dengan adanya kami lima orang kerabat tua

yang berkumpul menjadi satu, sekalipun raja akhirat datang sendiripun, hanya bisa berdiri

dengan mata terbelalak”

Ia merandek sejenak untuk tukar napas, lalu tambahnya, “Persoalan ini justru hancur di tangan

seorang perajurit tak bernama dari dunia persilatan, bangsat itu bernama Chin Pek Cuan, dialah

yang pertama-tama mengetahui akan persoalan ini, kecuali memberitahukan kepada ayah ibumu,

diapun menyampaikan persoalan ini kepada dua orang loosu hidung kerbau yang mendapat

kabar dan sedang berada di kota Chi Cbin itu hingga mereka itu datang, persoalan itu masih

terhitung masalah kecil”

Berbicara sampai di sini mendadak ia membungkam dan menuding ke atas angkasa.

Heng po Seng segera mendongak ke atas, kecuali cahaya bintang ia tidak menemukan suatu di

mulut telaga tersebut, maka tanyanya lirih, “Apakah Pek Siaw Thian?”

Si kakek Telaga Dingin sendiri hanya mendengar sedikit suara lirih belaka, ia tak bisa meyakinkan

suara apakah itu. Matanya lantas di dongakkan ke atas dan menatapnya tanpa berkedip,

kemudian tertawa terbahak-bahak dan berkata, “Bocah keparat, bagus amat arak ini, ayoh

minumlah!”

“Baik, boanpwee akan minum dan silahkan loocianpwee melanjutkan ceritamu!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

98

Kakek Telaga Dingin mendehem ringan lalu melanjutkan, “Kalau dibicarakan panjang sekali

ceritanya, pokoknya terakhir Siang Tang Lay berhasil diselamatkan oleh Hoa Goan Sioe,

sedangkan 1oohu mendapatkan pedang emas milik bangsat she Siang itu, siapa sangka sebelum

meninggalkan tempat itu bangsat she Siang tadi, telah meninggalkan sepatah kata, justru karena

perkataannya itulah loohu jadi mengenaskan sekali keadaannya.”

“Siang Tang Lay hendak merampas kembali pedang emas itu, sudah tentu ia tak mau

melepaskan loocianpwee dengan begitu saja,” sambung Hong-po Seng cepat.

“Huuh! kau anggap kami beberapa orang kerabat tua manusia macan apa? selamanya pekerjaan

yang kami kerjakan selalu dilakukan dengan sempurna dan tak sudi meninggalkan bibit bencana

bagi diri sendiri dikemudian hari, walaupun Slang Tang Lay berhasi1 ditolong oleh ayahmu tapi

keadaannya tidak jauh berbeda bagaikan sesosok mayat, ia tak bakal bisa hidup lebih jauh.

“Aaah! sebetulnya apa yang telah dia ucapkan? dan sampai dimanakah mengenaskannya

keadaan loociampwee?”

“Bangsat itu berkata, barang siapa yang berhasil mendapatkan pedang emasnya, dialah yang

bakal punya harapan untuk memperoleh kepeadaian silat yang dimiliki itu, kunci yang paling

pokok untuk mendapatkan ilmu silat maha sakti itu dapat dilihat di atas pedang tersebut. Coba

bayangkanlah setelah mendengar perkataan itu, beberapa orang kerabat tua yang sama-sama

bukan manusia baik apakah rela membiarkan pedang emas itu berada di tangan loohu? dan

loohu sendiri apakah dapat hidup dalam hari-hari yang tenang serta damai?”

Hong-po Seng tertawa hambar.

“Asalkan loocianpwee serahkan pedang emas itu kepada mereka, bukankah persoalan jadi beres

dan kau bisa hidup dalam kedamaian serta ketenangan?” serunya.

“Kentut busuk!” teriak Kakek Telaga Dingin dengan mata melotot besar-besar, “Bini sih masih

dapat dipakai bersama, kalau ilmu silat dimiliki bersama lalu apa gunanya memiliki kepandaian

silat tersebut?”

“Bukankah ilmu silat yang dimiliki Siang Tang Lay cukup lihay? sekalipun ia berhasil melatih

ilmunya mencapai taraf demikian hebat, tapi apa hasilnya? toh akhirnya dia sendiripun mendapat

akibat yang tidak menguntungkan?”

“Tidak cocok! tidak cocok!” tukas Kakek Telaga Dingin dengan cepat. “Orang sue-Siang itu masih

muda, tidak berpengalaman dan otaknya kurang cerdas, andaikata loohu yang memiliki ilmu silat

selihay dia, dalam pertempuran besar Pak-Beng-Hwie tidak nanti kakiku bakal kutung jadi begini,

dan sekarang akupun tak akan menderita siksaan seperti ini”

Hong-po Seng mengangguk.

“Loocianpwee sendiri bukankah berhasil memperoleh pedang emas itu? Kenapa ilmu silat yang

kau miliki masih tetap seperti sedia kala?”

“Ketika loohu merasa keadaanku berada dalam mara bahaya, saat itu juga timbul pikiran dalam

benakku untuk ngeloyor pergi sambil membawa pedang emas tadi. Hmmm! Pek loo-jie paling

tidak tahu malu, dialah yang pertama-tama bentrok dengan aku serta turun tangan merampas

pedang tersebut, diikuti Lie Boe Liang pun ikut ribut, siluman tua deri Thong Shian Kauw ikut

menimbrung dari samping membuat suasana berubah semakin panas.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

99

Loohu jadi pusat sasaran, semua orang, rupanya kalau aku tidak serahkan pedang emas itu bakal

dikerubut orang banyak. Di saat yang kritis itulah Jien loo jie dan perkumpulan Hong Im Hwie

berkata….”

“Apa yang dia katakan?”

Dengan hati benci kakek telaga dingin mendengus.

“Jien loo-jie bilang, kalian semua menggelikan sekali, orang she-Siang itu adalah manusia licik,

seandainya kalian betul-betul saling bergebrak karena persoalan ini, sekalipun manusia she Jien

itu mati karena lukanya, diapun akan tertawa terbahak-bahak di dalam baka! mendengar ucapan

itu loo-hu buru-buru menyambung: betul! sekali pun pedang kecil ini adalah sebilah pedang

mustika, tapi mana mungkin ada sangkut pautnya dengan ilmu silat? sudah terang ini lah siasat

licik yang sengaja diatur oleh bangsat she Siang itu untuk memancing pertikaian serta

perpecahan diantara kita, agar kita saling bunuh-membunuh semuanya, Jien loo jie pun segera

menyambung kembali: bagaimanapun juga kita toh sahabat-sahabat yang sudah berhubungan

selama banyak tahun, janganlah kita saling bertengkar hingga membiarkan Hoa Goin Sioe

merasa senang dan bangga. Melihat ada orang yang membantu loohu berbicara dalam hati aku

lantas berpikir: kalau tidak pergi sekarang mau tunggu sampai kapan lagi? maka aku segera

berpamitan dengan semua orang dan segera ngeloyor pergi”

Diam-diam Hong-po Seng merasa geli mendengar cerita itu, jengeknya, “Waaaah, rupanya

manusia she Jien dan perkumpulan Hong Im Hwie itu punya hubungan yang tidak jelek dengan

loocianpwee?”

“Hmmm! justru bajingan tua itulah merupakan manusia berhati srigala …..!” teriak kakek telaga

dingin sambil menggertak gigi menahan rasa benci yang meluap-luap. “Belum sampai satu bulan

ia telah memimpin jago-jago lihay anak buahnya untuk mengurung loohu serta memaki loohu

untuk menyerahkan pedang emas itu kepadanya.”

Hong-po Seng gelengkan kepalanya dan menghela napas panjang.

“Aaaai…. merampas benda milik orang dengan akal yang licik, betul-betul suatu perbuatan yang

memalukan”

Ia berpikir sejenak lalu tertawa.

“Setelah loocianpwee kehilangan pedang emas itu, Pek Siauw Thian bukannya pergi mencari

manusia she Jien itu untuk merampas pedang tersebut sebaliknya malah mengurung

loocianpwee, apa pula sebabnya?”

“Huuuh! tak nyana otakmu terlalu sederhana sekali. Coba pikirlah sendiri. Seandainya loohu

mengatakan bahwa pedang emas itu sudah dirampas oleh Jien loo-jie sedang Jieu Lo-jie tidak

mau mengaku, menurut pendapatmu Pek Loo-jie bakal mempercayai perkataannya atau percaya

kepadaku….?”

“Bukankah manusia she Jien itu adalah seorang pemimpin dari suatu perkumpulan besar,

perbuatan yang sudab dilakukan sendiri apakah tidak berani untuk diaku?”

8

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

100

“HMMM! kau mengerti apa?” seru Kakek Telaga Dingin. “Dalam pertemuan besar Pak-Beog-Hwie,

dihadapan para eng-hiong hoohan dari seluruh kolong langit loohu telah menuntut kembali

pedang emas itu dari tangan jien Loo-jie, tapi sampai matipun Jien Loo-jie tetap ngotot tidak

mau mengaku, ditinjau dari tersohornya pedang itu dalam dunia persilatan, ditambah pula ilmu

silat yang loohu miliki tidak berada di bawah kepandaian bajingan tua itu, kalau kukatakan

pedang itu berhasil dirampas olehnya semua orang bukan saja tidak percaya malahan mengira

loohu sengaja mengatur siasat itu guna mengacaukan serta membingungkan hati para jago di

kolong langit”

“Kalan didengar dari pembicaraan itu,” kata Hong-po Seng kemudian dengan alis berkerut

“Walaupun loocianpwee ada maksud menyerahkan pedang emas itupun tak ada benda yang

sanggup diserahkan, terkurung di tempat seperti ini bukankah berarti tiada harapan untuk

munculkan dia lagi dalam dunia kang-ouw?”

“Mau apa munculkan diri?” jengek kakek itu ketus.

“Justru loohu akan suruh Pek Siauw Thian menanti dengan sia-sia. Haah… haab… haah… entah

bajingan tua she Jien itu telah berhasil memecahkan rahasia dari pedang emas itu atau belum,

dan entah a pula dengan latihan ilmu silatnya?”

Berbicara sampai di situ mendadak ia mendongak dan memandang ke sana ke mari dengan

pandangan tajam, tampaklah dinding di sekeliling tempat itu gelap gulita, tiada benda yang

terlihat dan meski di angkasa ada cahaya bintang namun cahaya itu hanya sebagian yang

berhasil menembusi dasar telaga itu.

Suasana hening untuk beberapa saat lamanya, mendadak Kakek Telaga Dingin mendongak dan

berkata, “Bocah keparat! loohu telah mewariskan i1mu pukulan itu kepadamu, seandainya kau

berhasil melarikan diri dari sini maka kau harus lakukan satu pekerjaan buat loohu.”

“Perintah apa yang hendak loocianpwee berikan kepadaku?”

“Kau harus berusaha mencuri pedang emas itu dan menyusup kembali kemari, dengan adanya

pedang kecil itu loohu dapat memutuskan tali liur naga yang membelenggu lengan loohu, dengan

sendirinya loohu pun punya harapan untuk melarikan diri”

Ucapan ini disampaikan dengan nada dingin bagaikan es.

“Boanpwee pasti akan berusaha dengan sekuat tenaga, tapi aku tak berani berjanji seratus

persen pasti berhasil”

“Tentu saja. Markas besar perkumpulan Sin-Kee-Pang adalah telaga naga, markas besar

perkumpulan Hong Im Hwie adalah gua harimau, tempat-tempat semacam itu bukanlah daerah

yang bisa dimasuki dan ditinggalkan dengan leluasa.”

Ia termenung sebentar, kemudian katanya lagi, “Jien Loo-jie si bangsat tua itu mempunyai

seorang putra, kalau kau berhasil membinasakan keparat cilik itu, berarti pula hutang- piutang di

antara kita sudah impas, siapapun tidak berhutang budi kepada pihak yang lain”

“Hiiih….orang in betul-betul berhati kejam!” batin Hong-po Seng, ia mendongak memandang

sekejap tangan kanannya yang dibelenggu di atas dinding lalu berkata, “Apakah tali serat liur

naga ini hanya bisa dipatahkan dengan pedang emas itu saja?.

Kakek Telaga Dingin mengangguk.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

101

“Benar, hati Pek loo jie memang amat kejam bagaikan kala, bilamana liur naga itu mengering

maka golok mustika atau pedang mustika biasa tak akan berhasil mematahkannya, tetapi

ketajaman dari pedang kecil berwarna emas itu melampaui ketajaman dari pedang-pedang emas

lain, apabila loohu ingin meloloskan diri maka aku harus menggunakan pedang emas itu untuk

mematahkan serat liur naga ini. Dan di sinilah letak kekejian dari siasat Pek Loo jie”

Diam-diam Hong-po Seng menghela napas panjang, mendadak satu ingatan berkelebat dalam

benaknya dan segera ujarnya, “Loocianpwee, menurut ucapanmu tadi persoalan mengenai

pedang emas itu sejak dahulu kala hanya suatu cerita kosong belaka, apa maksudmu yang

sebetulnya?”

Kakek telaga dingin memutar biji matanya melirik sekejap ke atas telaga, kemudian jawab,

“Kapan loohu sudah mengatakan demikian? Hmmm! pedang emas itu sudah berada di tangan

loohu selama sebulan lamanya tapi loohu tidak berhasil memecahkan rahasia ilmu silat seperti

apa yang dimaksudkan, kalau bukan cerita kosong lalu apa artinya?”

Berbicara sampai di situ ia lantas pejamkan matanya dan duduk bersila mengatur pernapasan,

kakek itu tidak berbicara apa-apa lagi.

Hong-po Seng sendiri setelah melangsungkan pertarungan seharian penuh juga mulai merasa

lelah, maka diapun mengundurkan diri ke samping untuk mengatur pernapasan, tanpa sadar

akhirnya ia tertidur lelap.

Bintang bergeser dari angkasa, tanpa terasa semalampun sudah lewat, mendadak terdengar si

Kakek Telaga Dingin tertawa terbahak-bahak sambil berseru, “Hong-po Seng, saatmu untuk

munculkan diri telah tiba.”

Hong-po Seng segera membuka matanya, di bawah sorot cahaya matahari pagi tampaklah

seutas tali diturunkan dari atas telaga, darah panas dalam rongga dadanya kontan bergolak,

buru-buru ia meloncat bangun.

“Kini aku akau melihat dirimu!” seru kekek telaga dingin sambil menuding tali tersebut.

Sesudah bergaul beberapa saat lamanya, sedikit banyak Hong-po Seng telah dapat menilai

perubahan wajah kakek itu, mendengar di antara ucapannya terkandung rasa sedih tanpa terasa

ia tertawa getir, ia maju ke depan lalu menjura.

“Dengan ini boanpwee mohon diri terlebih dahulu….” ucapan selanjutnya tak sanggup ia

teruskan.

Dengan wajah penuh nada mengejek Kakek Telaga Dingin mencibirkan bibirnya dan nyahut,

“Kau tak usah banyak adat, kita masing-masing pihak saling mempergunakan.”

Tangan kirinya mendadak menyambar ke depan mencabut ke luar pedang baja milik si anak

muda itu, kemudian sekali ayun pedang tadi menancap di atas tanah hingga tinggal gagangnya

belaka.

“Loocianpwee, apa yang kau lakukan?” tegur Hong-po Seng dengan wajah tercengang.

“Haah…haah…. memandang benda bagaikan memandang orang, baiklah loohu ambil pedang

baja itu sebagai tanda mata.”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

102

“Tapi…. pedang itu adalah senjata boanpwee untuk menjaga diri…..”

“Tidak usah pakai senjata!” tukas kakek telaga dingin seraya ulapkan tanannya. “Satu jurus ilmu

pukulan yang telah loohu wariskan kepadamu jauh lebih ampuh daripada pedang bajamu itu.”

Hong-po Seng semakin gelisah, kembali serunya, “Pedang baja itu adalah hadiah dari ayahku

almarhum kepada boanpwee, ketika menyerahkan pedang tersebut kepada boanpwee beliau

telah berpesan: pedang utuh manusia tetap hidup, pedang hancur manusia ikut binasa….

cianpwee…….”

Kakek Telaga Dingin tertawa temakin keras lama sekali ia baru tarik kembali gelak tertawanya

seraya berkata, “Kalau memang demikian malah lebih bagus lagi, berusahalah mencuri pedang

emas milik loohu kalau kau telah serahkan kembali pedang tadi kepadaku maka loohu pun akan

mengembalikan senjata ini kepadamu di samping memberi pula kebaikan-kebaikan lain

kepadamu.”

Mendengar perkataan ini Hoag-po Seng jadi naik pitam, teriaknya, “Kiranya apa yang kemarin

kau ucapkan adalah kejadian yang sebenarnya…”

“Yang benar lebih banyak dari pada yang bohong” tukas kakek telaga dingin. “Loohu pun tidak

berani memastikan apakah Pek Loo jie telah datang kemari atau tidak, pergilah adu untung,

kalau kau benar-benar bakal modar, membawa serta pedang baja ini pun tiada gunanya.”

Hong-po Seng merasa amat gusar tapi dia sadar bicara banyakpun tak ada gunanya karena itu

dengan perasaan apa boleh buat ia menjejakan kakinya loncat ke atas, mencekal tali tadi dan

memanjat keluar.

Hampir satu bulan lamanya ia terkurung di dasar telaga, kerjanya tiap hari hanya berlatih ilmu

silat dengan tekun hal ini membuat luka dalamnya bukan saja telah sembuh, ilmu silatnyapun

sudah memperoleh kemajuan yang sangat pesat, saat ini memanjat naik ke atas cepat dan gesit

bagaikan monyet, dalam sekejap mata ia sudah keluar dari telaga itu.

Sepasang matanya segera berputar cepat menyapu sekejap sekeliling tempat itu tampaklah

seoiang kakek berjubah warna ungu berdiri kaku di sisi telaga sambil mencekal ujung tali.

Kakek itu memelihara jenggot yang panjang, wajahnya tampan tapi dingin dan hambar, sama

sekali tidak menunjukkan sikap mesra, membuat orang yang memandang segera merasa

bergidik dan tidak berani mendekat.

Sekali memandang orang itu, Hong-po Seng segera menduga kakek itu sebagai Pek Siauw Thian,

pangcu dari perkumpulan Sin-Kee Pang, bibirnya bergerak mau mengucapkan sesuatu, tapi

setelah menyaksikan sikapnya yang dingin dan hambar ia segera batalkan kembali maksudnya

untuk berbicara, karena dia takut bicarapun tak ada gunanya sebab orang itu belum tentu mau

memperdulikan dirinya.

Kakek berjubah warna ungu itupun hanya memandang sekejap ke arah Hong-po Seng, ke

mudian menyimpan kembali tali yang dipegang dan putar badan berlalu.

Si anak muda itu tertegun, tapi dengan cepat ia menyusul dari belakang.

Dengan mulut membungkam kedua orang itu berjalan melampaui batas wilayah yang dipagar

dengan panji berwarna kuning lalu putar ke samping masuk ke dalam sebuah jalan kecil. Di situ

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

103

ia jumpai Pek Koen Gie diiringi seorang siucay berusia pertengahan yang bermata tajam

bagaikan panah serta Siuw Leng dan seorang bocah lelaki berbaju hijau berdiri di sisi jalan.

Beberapa orang itu berdiri tenang di samping jalan dengan wajah serius, menanti kakek berjubah

ungu serta Hong-po Seng sudah lewat mereka baru menyusul dari belakang.

Sekarang si anak muda itu sudah merasa makin yakin bahwasanya kakek berbaju ungu ini bukan

lain adalah ketua dari perkumpulan Sin-Kee Pang yang sangat berkuasa dewasa itu, tanpa terasa

semangatnya berkobar. Dengan kepala diangkat dan dada dibusungkaa ia meneruskan

langkabnya ke depan, selama hidup belum pernah ia merasa segagah hari ini.

Beberapa saat kemudian mereka sudah memasuki hutan pobon Song yang lebat, setelah

melewati sebuah selokan kecil sampailah beberapa orang itu di depan sebuah ruangan kecil yang

mungil dan indah.

Setelah masuk ke dalam ruangan, kakek berjubah ungu itu mengambil tempat duduk di sebuah

kursi yang ada di tengah ruangan sedang siucay berusia pertengahan serta Pek Koen Gie duduk

dikedua belah sampingnya.

Hong-po Seng yang berdiri di tengah ruangan diam-diam berpikir dalam hati kecilnya, “Tiga

orang iblis lihay masing-masing duduk dikursi utama sedang aku disuruh beidiri di tengah

ruangan persis seperti tawanan yang sedang diadili. Hmm! seandainya ibu tidak selalu berpesan

kepadaku agar jangan bertindak menuruti emosi dan darah panas, ingin sekali kumaki mereka

habis-habisan kemudi-an mempertaruhkan selembar jiwaku untuk beradu jiwa dengan mereka!”

“Hong-po Seng!” mendadak terdengar kakek berjubah ungu itu menegur dengan suara ketus,

“Kau pingin mati atau pingin hjdup?”

Hong-po Seng tertegun, diam-diam pikirnya lagi, “Ucapan dan orang ini kaku dan aneh,

membuat orang susah untuk menangkap maksud yang sebenarnya.”

Dalam hati ia berpikir begitu, diluar dengan tenang jawabnya, “Seandainya cayhe pingin mati,

sedari dulu-dulu sudah mati diujung telapak putrimu.”

Dengan sorot mata yang tajam bagaikan kilat kakek berjubah ungu itu menyapu sekejap wajah

Hong-po Seng dari atas hingga ke bawah kemudian mendengus dingin, “Hmm, terus terang

kuberitabukan kepadamu, putriku serta Kok See Piauw sama sekali tidak memandang sebelah

matapun kepada dirimu.”

Ia merandek sejenak dan kembali memperhatikan sekejap wajah Hong-po Seng kemudian

melanjutkan

“Mereka hanya mengerti tentang keadaan sendiri dan kurang pengetahuan untuk menilai orang

lain, hal ini tak bisa salahkan mereka.”

Hong-po Seng alihkan sinar matanya ke samping, dia lihat wajah Pek Keen Gie telah berubah jadi

merah padam dan tertunduk dengan rasa amat jengah, segera pikirannya, “Pek Siaow Thian

kalau berbicara terlalu belak-belakan dan sama sekali tidak pikirkan orang lain, ditinjau dari hal

ini bisa diduga bagaimana tak berbudinya orang ini dalam setiap tindakan segera wataknya

………”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

104

Berpikir begitu ia lantas menjura dari berkata dengan nada hambar, “Terima kasih atas cinta

kasih dari Loo pang cu, manusia hidup memang demikian keadaannya tidak terkecuali dan cayhe

sendiri”

Kakek berjubah ungu itu tertawa hambar senyuman dalam sekejap telah lenyap kembali tanpa

berbekas terdengar ia berkata lambat-lambat, “Hanya anak yang berbakti yang dapat menjadi

pembantu setia, dalam kolong langit anak yang betul-betul berbakti tidak banyak jumlahnya,

apalagi pembantu yang benar-benar setia lebib sedikit jumlahnya. Aku dengar kau adalah

seorang anak yang berbakti, dikala keselamatan jiwa sendiri terancam babaya masih dapat

memahami ma sud hati ayah dan ibumu, kaiena itu aku punya maksud untuk menarik dirimu

sebagai pembantu dan bantu diriku. Tapi sebelum itu aku ingin kau suka berbicara yang

sejujurnya lebih dahulu, apakah kau benar-benar suka masuk menjadi anggota perkumpulanku

serta berbakti dan setia kepadaku?”

“Sedari dulu caybe sudah masuk menjadi anggota perkumpulan Sin-Kee-Pang…!” jawab Hong-po

Seng.

Namun kakek berjubah ungu itu segera gelengkan kepalanya.

“Putriku bertindak menuruti emosi dan jalan pikirannya sendiri, hal itu tidak terhitung sungguhsungguh”

Ia merandek sejeuak dan kembali menatap wajah Hong-po Seng tajam-tajam, katanya lebib

jauh, “Akupun tidak ingin membohongi dirimu kalau kau tidak mau berbakti kepadaku dengan

sungguh hati, untuk menghindari bibit bencana di kemudian hari terpaksa aku tak akan

membiarkan kau hidup lebih lanjut”

“Apa yang harus kalakukan sehingga bisa terhitung benar-benar setia dan berbakti? serta

bagaimana pula aku harus lakukan sehingga bisa mendapat kepercayaan dari loo pangcu?”

“Gampang sekali, ceritakanlah asal-usulmu yang sebenarnya dan bawalah batok kepala Chin Pek

Cuan untukku, maka aku segera akan mempercayai dirimu!”

Mendengar perkataan ini air muka Hong-po Seng segera berubah jadi amat sedih, katanya,

“Cayhe mengerti loo pangcu tidak akan membiarkan cayhe hidup lebih lanjut” ia menjura kepada

kakek itu dan menambahkan dengan wajah serius. “Semoga loo pangcu suka memberikan

sebuah pukulan berat kepada cayhe, daripada cayhe harus terjun ke air membawa lumpur serta

tak dapat mempertanggungjawabkan diri dihadapan leluburku.”

“Hong-po Seag” tiba-tiba Pek Koen Gie membentak dengan gusar. “Siapakah sebenarnya ayah

ibumu? sampai di manakah kehebatan mereka, sehingga kau pandang setinggi langit? kalau kau

rela mengaku terus terang asal usulmu, mungkin jiwamu bisa diselamatkan dari kematian”

Hong-po Seng alihkan sinar matanya ke arah gadis itu, lalu menjura dan menjawab, “Nona tak

usah banyak bertanya, cayhe bukanlah manusia pengecut yang takut menghadapi kematian, bisa

mati dalam markas besar perkumpulan Sin-Kee-Pong juga terhitung-hitung sebagai balas budi

atas pertolongan nona dalam menyembuhkan lukaku.”

“Kurang ajar!” Pek Koen Gie semakin gusar. “Untuk menyembuhkan lukamu itu aku harus

membuang dua butir pil mujarab, kalau kau bikin mendongkol hatiku…. Hmm! tidak nanti

kubiarkan kau mendapat kematian dengan enteng ….”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

105

“Banyak bicara tiada gunanya!” tukas kakek berjubah ungu itu secara tiba-tiba sambil

mengulapkan tangannya berpaling ke arah Hong-po Seng ia menambahkan, “Memandang

kematian bagaikan pulang ke rumah adalah suatu perbuatan yang terhina dalam pandangan

loohu, terang-terangan kau takut mati tapi tidak ingin hidup terhina itu baru perbuatan yang

patut loohu hargai serta kagumi, ambillah keputusan untuk membereskan diri sendiri daripada

loohu harus repot-repot turun tangan sendiri”

Hawa amarah yang berkobaran dalam dada Pek Keen Gie benar-benar telah mencapai pada

puncaknya, dengan cepat is meloncat bangun sambil berteriak, “Bajingan cilik yang tak tahu diri,

kau anggap ayahku adalah menusia apa? untuk mencabut jiwa anjingmu, tidak perlu dia orang

tua harus turun tangan sendiri”

Melihat gadis itu tambil ke depan Hong-po Seng malah jadi senang karena dia memang berharap

begitu, segera katanya dengan nada hambar, “Dari si kakek telaga dingin cayhe telab meminjam

sebuah jurus ilmu pukulan, kalau nona punya kegembiraan tiada halangannya untuk mewakili

ayahmu turun tangan”

“Gie jie, ayoh duduk!” kakek berjubah ungu itu berseru. “Dalam bilik kecil pendengar salju ini

tidak akan memperkenankan kalian utuk turun tangan.”

Bicara sampai di situ ia berpaling ke arah siucay berusia pertengahan yang duduk di sisinya dan

ia menambahkan, “Koen su, aku minta tolong kepadamu untuk sekali tabok mencabuit nyawa

Hong-po Seng” Siucay berusia pertengahan itu tersenyum ia bangkit dari tempat duduknya dan

berjalan mendekati si anak muda itu, langkahnya tenang dan mantap seolah-olah tak pernah

terjadi sesuatu apapun, dalam anggapnya dalam sekali tabok Hoa po Seng pasti akan menemui

ajalnya.

Menyaksikan siucay berusia pertengahan itu berjalan mendekati ke arahnya, jago kita segera

ayunkan telapak kirinya melakukan peristiwa untuk menghadapi serangan lawan.

Sebelum pertarungan berlangsung, mendadak terdengar Pek Koen Gie berteriak, “Ayah orang

yang Gie jie bawa pulang harus kubunuh dengan tanganku sendiri!”

Mendengar ucapan itu Pek Siauw Thian mengerutkan alisnya, sedangkan siucay berusia

pertengahan yang dicebut Koen su atau penasehat itu mendadak berpaling dan tersenyum,

katanya, “Sebelah selatan dari sungai Hoang ho merupakan daerah kekuasaan dari perkumpulan

Sin Kee Pang, setelab Koen Gie berhasil melatih serangkaian ilmu silat, tiada kesempatan untuk

mengujukkan kekuatan, rasanya sebagai seorang remaja yang ingin mencari menang pasti

merasa tidak puas. Pangcu! apa salahnya kalau kau ijinkan Koen Gie untuk bertindak menuruti

suara batinya sehingga ia jadi tidak kecewa ataupun merasa menyesal”

Pek Siauw Thian termenung sebentar akhirnya ia bangkit dan berjalan keluar.

Air muka Pek Koen Gie segera berubah jadi girang, bisiknya kepada siucay berusia pertengahan

itu, “Bantuan dari paman Coe-kat, tit-li merasa amat berterima kasih sekali!”

Siucay berusia pertengahan itu tersenyum tanpa mengucapkan sepatah katapun ia berjalan

keluar dari ruangan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

106

JILID 6

HONG-PO SENG sendiri sesudah mengetahui bahwa kematian berada diambang pintu, sikapnya

malahan berubah jadi semakin tenang, dengan mulut membungkam ia lantas mengikuti

dibelakang semua orang berjalan meninggalkan ruangan tersebut.

Siauw Leng yang berjalan didepan Hong-po Seng tiba-tiba berpaling, mengerling sekejap ke

arahnya, rupanya ia menasehati si anak muda itu agar jangan menghantarkan nyawa dengan

percuma.

Hong-po Seng tertawa sedih, ia segera gelengkan kepalanya berulang kali.

Sekeluarnya dari bilik kecil yang indah tadi. Pek Siauw Thian serta siucay berusia pertengahan itu

berdiri menanti disisi lapangan, sedangkan Pek Koen Gie sambil bertolak pinggang berdiri kaku

ditengah lapangan, ujarnya ketus sambil memandang ke arah pemuda itu, “Menyeranglah

dengan segenap tenaga yang kau miliki, asal kau bisa menangkap aku orang Pek Koen Gie satu

jurus atau setengah gerakan, kami akan menganggap nasibmu baik dan umurmu panjang,

jiwamu akan kami ampuni untuk kali ini.”

“Terima kasih atas nasihatmu,” sahut Hong-po Seng dengan wajah serius. ”Sejak kecil cayhe

sudah dapat didikan keras dari keluargaku untuk melakukan segala pekerjaan dengan segenap

tenaga, akupun berharap agar nona lebih berhati hati.”

Napsu membunuh melintasi diatas wajah Pek Koen Gie, ia mendengus gusar kemudian

menerjang maju kedepan, sebuah pukulan kilat dengan cepat dilepaskan.

Tampak Hong-po Seng menarik mundur kaki kirinya setengah langkah kebelakang, telapak

kirinya dikepal kencang lalu membentuk gerakan setengah lingkaran depan dada…Duus! satu

pukulan kilat telah dilepaskan kedepan.

Sedari tadi baik Pek Siauw Thian maupun Pek Koen Gie telah mengetahui kalau pemuda ini telah

mempelajari jurus pukulan tersebut, tetapi setelah menyaksikan kedahsyatan serta kemantapan

dari serangan yang dilepaskan, diam-diam merasa kaget juga.

Gerakan telapak yang amat sederhana dari Hong-po Seng barusan dengan gampang sekali

berhasil mematahkan serangan telapak musuh melihat pukulannya digagalkan Pek Koen Gie

mengerutkan dahi, ia tertawa dingin dan jurus serangannya segera berubah.

Telapaknya langsung menabok ke arah pinggang sementara jari tangan kirinya mendadak

meletik dan diam-diam membokong punggungnya.

Serangan telapak serta jari yang dilancarkan dalam tempo yang bcrsamaan ini kecepatan yang

luar biasa, Hong-po Seng terkesiap, dengan tetap menggumakau jurus ‘Koen-sioe Ci-tauw’ ia

balas mengancam bahu gadis itu, kecepatan serta kedahsyatannya tidak kalah dengan pihak

lawan, memaksa Pek Koen Gie harus membuyarkan ancamannya sambil berkelit kesamping

untuk menghindarkan diri.

“Gie-jie, bertarunglah dengan hati mantap dan Jenyapkan godaan emosi dari benakmu!

“terdengar Pek Siauw Thian memperingatkan.

“Aku sudah tahu!“ sahut gadis itu, badannya meluncur kembali kedepan sambil melepaskan

pukulan-pukulan maut.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

107

Dengan langkah yang mantap tapi tepat Hong-po Seng selalu berputar kian kemari dalam

ruangan seluas tiga depa, telapak kirinya membabat terus dengan gagah dan berat, walaupun

perobahannya sangat banyak namun tetap hanya memakai jurus ‘Koen-sioe Ci-tauw’.

Sekalipun begitu perlahan-lahan tapi tetap Pek Koen Gie berhasil dipaksa mundur hingga sudut

yang terjepit.

Setelah lewat belasan jurus kembali, mendadak Hong-po Seng mengerutkan alisnya.

Sreet….! sebuah pukulan gencar yang dilepaskan kembali memaksa Pek Koen Gie untuk mundur

satu langkah lebar kesamping.

Hong-po Seng tidak rela menyerah dengan begitu saja, tapi diapun tahu meskipun berhasil

merebut kemenangan juga sulit baginya untuk lolos dari situ dalam keadaan hidup, maka

pertarungan ini dilangsungkan dengan tenaga, mantap dan sama sekali tidak gugup. Tanpa

sadar perbuatannya ini justru membawa dia mencapat puncak yang tertinggi dari ilmu silat,

dengan sendirinya daya tekanan yang dihasilkan oleh pukulan-pukulannya jauh lebih ampuh tiga

bagian.

Pek Koen Gie sendiri walaupun dua kali berturut-turut kena didesak mundur oleh pukulan Hongpo

Seng, namun hatinya pun semakin tenang, sepasang bahunya diangkat dan sekali lagi ia

menerjang kemuka sambil mengirim serangan-serangan mematikan.

Ilmu silat yang dimiliki gadis ini berasal dari warisan langsung ayahnya Pek Siauw Thian, sebagai

musuh tangguh Kakek Telaga Dingin selama sepuluh tahun, setelah melakukan penyelidikan

yang seksama selama lima tahun akhirnya ketua dari perkumpulan Sin Kee Pang itu berhasil

menciptakan ilmu silat yang kbusus untuk memunahkan serangan ‘Koen-sioe Ci-tauw’.

Pek Koen Gie yang setiap hari belajar silat beserta ayahnya tentu saja merasa paham sekali

gerakan-gerakan aneh dari ilmu pukulan itu, kendati ia tak mengerti intisari yang sebenarnya dari

kepandaian lawan, tapi ia menyadari perubaban-perubahan yang rumit dari jurus tersebut.

Dalam sekejap mata kedua orang itu sudah saling bertempur mencapai lima puluh jurus lebih.

Angin pukulan menderu-deru, ujung baju berkibar kencang tertiup angin, pohon siong yang

tumbuh diempat penjuru bergoyang tiada hentinya tetapi tak sepatah katapun suara manusia

berbicara yang terdengar berkumandang disitu.

Dengan wajah berat dan serius Pek Siauw Thian serta siucay berusia pertengahan itu berdiri

disisi kalangan sambil menyaksikan jalannya pertarungan antara kedua orang itu, suasana

disekeliling tempat itu yang semula memang sunyi kini diliputi oleh napsu membunuh yang amat

tebal, membuat keadaan terasa bertambah mengerikan.

Mendadak …. dari balik sorot mata Pek Koen Gle memancar keluar sinar napsu membunuh, ia

tertawa dingin, tiba-tiba gerakan telapaknya berubah semakin cepat, mengitari di sekeliling tubuh

Hong-po Seng, ia menyerang semakin gencar hingga boleh dikata tiada hentinya.

Serangan gencar yang dilancarkan ini boleh dibilang bagaikan hujan deras ditengah badai,

kecepatan gerakan tubuh Pek Koen Gie laksana sesosok bayangan yang tipis, sebaliknya ba

yangan telapak yaag memenuhi angkasa membentuk jadi selapis tembok yang mengurung tubuh

Hong-po Seng ditengah kalangan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

108

Dalam sekejap mata dengusan napas berat anak muda itu sudah mulai kedengaran, terkurung

ditengah deruan angin pukulan yang menyapu kian kemari, keringat sebesar kacang kedelai

mengucur keluar tiada hentinya.

Kakek telaga Dingin hanya memiliki lengan kiri yang bisa bergerak, karena itu Hong-po Seng pun

mempelajari telapak kiri, karena Han-Than-Sioe terkurung ditermpat terpencil ia namakan ilmu

pukulannya ‘Koen-sioe Ci-tauw’ atau Pergulatan binatang binatang terkurung dan kini Hong-po

Seng sedang bergulat menjelang kematian yang mengancam dirinya, keadaan yang dihadapi

saat ini persis seperti binatang buruan yang melakukan pergulatan terakhir dalam perangkap.

Pertarungan antara jago liehay berlangsung cepat bagaikan kilat, ditengah berlangsungnya

serangan gencar itu ratusan jurus telah dilampai, dengan sekuat tenaga Hong-po Seng berusaha

mententeramkan diri sendiri kemudian memancing jalannya pertarungan itu menuju ke arah

jalan yang pernah digambarkan Kakek Telaga Dingin beberapa hari berselang.

Pek Siauw Thian bukanlah jago kemarin sore, sekali pandang ia segera berhasil menangkap

keadaan dari Hong-po Seng meskipun dia keteter dan berada didalam posisi terdesak tapi si anak

muda itu masih bertahan keras seakan masih menantikan sesuatu dan masih ada sebuah

serangan mematikan yang belum dipergunakan, maka ia lantas berseru, “Gie jie, hati hati,

bertarunglah yang mantap dan kalem!”

Siucay berusia pertengahan itu sendiri rupanya dapat menangkap pula tersernbunyinya napsu

membunuh dibalik kenakalan si anak muda itu, ia sadar asal ilmu simpanan tersebut digunakan

maka akibatnya tentu sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Maka ia maju dua langkah kedepan dan bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan,

andaikata Pek Koen Gie menjumpai marabahaya ia segera akan turun tangan melakukan

pertolongan.

Pertarungan ini betul betul suatu pertarungan yang sengit, Koen Gie sebagai seorang gadis

berpandangan pendek jadi makin gusar hatinya menyaksikan serangannya tidak mempan, makin

gagal ia semakin bernapsu untuk membinasakan Hong-po Seng dibawah telapaknya, dengan

begitu pertarunganpun berjalan semakin sengit dan seru.

“Dengan susah payah ibu mendidik serta memelihara aku selama belasan tahun, maksudnya

tidak lain adalash agar bisa meneruskan cita-cita ayah yang luhur serta melakukan suatu

perbuatan besar untuk menyelamatkan umat Bu lim dari penindasan kaum durjana. Ternyata

sebelum cita-cita terwujud aku harus mati konyol dalam keadaan begini, kematianku ini betulbetul

sangat tidak berharga apa lagi mati diujung tangan seorang gadis muda…. tetapi

seandainya beruntung dan aku menang, Pek Koen Gie tentu bakal terluka atau binasa

ditanganku, dalam keadaan begini aku semakin tak ada harapan untuk hidup Aaaai…. kebaikan

serta jerih payah ibu selama inipun sama sekali tak ada harganya….”

Walaupun persoalan yang dipikirkan dalam hatinya amat banyak tetapi gerakan tangannya sama

sekali tidak menjadi kendor. Mendadak darah panas bergolak dalam dadanya, ia membentak

keras, “Nona Pek! Walaupun cayhe akan mati, tapi aku tak sudi menemui ajalnya ditanganmu.”

“Hmm! Bakal mati diujung telapak siapa, kau tidak berhak untuk menentukannya sendiri!” sahut

Pek Koen Gie ketus, serangan-serangan kilat yang maha hebatpun dilancarkan dengan

menggunakan kesempatan itu.

Hong-po Seng merasasedih barcampur dengan marah ia membentak keras, perubahan gerakan

terakhir yang berhasil ia pelajaripun segera dikeluarkan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

109

Gulungan angin puyuh meluncur keluar dari telapaknya, diiringi desiran angin tajam yang

memekikkan telinga menggulung dan menyapu keluar dengan hebatnya.

Pek Koen Gie yang berhasil duduk diatas angin tentu saja tak sudi beradu kekerasan dengan

lawannya, menyakstkan betapa keji dan hebatnya ancaman tersebut ia segera mengenjotkan

badannya melayang mundur kebelakang.

Siapa sangka justru kesaktian serta keampuhan dari jurus ‘Koen-sioe Ci-tauw’ ini terletak pada

bagian belakang, ketika serangan Hong-po Seng mencapai ditengah jalan mendadak gerakannya

berubah sama sekali.

Pek Koen Gie segera merasakan perubahan yang aneh dalam serangan musuh, melihat ujung

telapak sudah mengancam didepan mata, dalam keadaan gugup buru-buru ia tangkis serangan

tersebut dengan keras lawan keras.

Serangan Hong-po Seng laksana kilat meluncur datang…. Plokkk! dengan telak bersarang diatas

telapak gadis she Pek itu.

Air muka Pek Koen Gie berubah jadi pucat pias, ia loncat mundur beberapa tombak kebelakang

dan berdiri dengan mata napsu membunuh.

“Gie jie. tenangkan hatimu bertarunglah dengan perlahan dan mantap…. jangan terburu napsu!“

seru Pek Siauw Thian dengan nada dingin.

Pek Koen Gie mendengus dingin, tanpa mengucapkan sepatah katapun ia menerjang maju

kedepan, sekejap mata mereka berdua saling bergebrak lagi dengan serunya.

Pek Siauw Thian adalah seorang lihay dalam dunia persilatan, dalam bentrokan barusan ia dapat

melihat bahwasanya Pek Koen Gie sama sekali tidak terluka, sementara itu matanya dengan

tajam mengawasi terus gerakan dari pukulan Hong-po Seng sambil menantikan perubahan jurus

yang terakhir itu.

Bagi Hong-po Seng pribadi sekalipun jurus seranganya memperoleh kemajan yang pesat namun

tenaga lweekangnya lambat sekai kemajuannya, bertarung sampai disini a sudah mulai merasa

lelah dan tak betenaga, tapi dengan andalkan kekerasan hatinya itulah pertempuran dipaksakan

juga untuk berlangsung lebih jauh.

Belum lama pertarungan berlangsung posisi Hong-po Seng sudah semakin terjepit dan

keadaannya berada dalam keadaan sangat berbahaya, sekali lagi ia keluarkan perubahan

gerakan terakhir untuk mendesak mundur musuhnya.

Tapi kali ini Pek Koen Gie sudah mengadakan persiapan, sulit bagi si anak muda itu untuk

memaksakan suatu pertarungan keras lawan keras.

Setelah mundur dengan cepat Pek Koen Gie menerjang maju lagi kedepan, jengeknya dengan

nada dingin, “Hong-po Seng, tentunya kau sudah kehabisan bahan untuk bertarung lagi bukan?”

Hong-po Seng menggertak giginya keras-keras dan barpikir dalam hati, “Urusan sudah jadi

begini, terpaksa aku harus beradu jiwa dengan dirinya!”

Setelah mengambit keputusan didalam hati ia lantas membentak keras sekuat tenaga

diserangnya gadis itu habis-habisan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

110

Dalam sekejap mata dari posisi bertahan ia berubah jadi posisi menyerang, secara beruntun tiga

belas buah pukulan dilancarkan secara berantai, sedikitpuu tidak salah ia benar-benar berhasil

memancing dada kiri Pek Koen Gie memperlihatkan titik kelemahan.

Semua yang terjadi sudah terlingkup didalam rencana pertarungan yang disusun secara cermat

oleb Kakek Telaga Dingin, sudah tentu baik Pek Siauw Thian maupun Pek Koen Gie sama sekali

tidak menduganya sama sekali Hong-po Seng yang sudah sangat hapal dengari jalannya

pertarungan ketika menyaksikan kesempatan yang di nanti-nanti telah tiba, tanpa berpikir

panjang lagi segera menyodorkan telapaknya kedepan.

Serangan ini muncul dengan posisi yang sangat aneh dan sama sekali tak terduga oleh siapapun,

andaikata Pek Koen Gie tidak hapal dengan gerakar jurus ‘Koen-sioe Ci-tauw’ ini mungkin disaat

terakhir masih sanggup menyelamatkan diri, tapi ia punya pendapat lain disaat tersebut,

walaupun melihat datangnya ancaman namun badannya tetap berdiri tegak ditempat semula

untuk menantikan perubahan berikutnya.

Menanti gadis itu merasakan keadaan tidak beres, untuk berkelit sudah tak sempat lagi.

Semua perubahan ini terjadi dalam waktu tersingkat, terdengar Pek Siauw Thian serta siucay

berusia pertengahan itu membentak berbareng, mereka berdua bersama-sama menubruk

kedepan.

Siapa tahu disaat menjelang detik yang terakhir itulah kembali terjadi perubahan diluar dugaan,

tampak Pek Koen Gie menekan pergelangan tangannya kebawah… Blaam! sebuah pukulan

dahsyat dengan telak bersarang diatas ulu hati Hong-po Seng.

Si anak muda itu mendengus kesakitan, secara beruntun tubuhnya mundur tiga langkah

kebelakang, kakinya jadi lemas dan jatuh terduduk diatas lantai, darah segar mengucur keluar

dari mulutnya membasahi seluruh baju serta badannya.

Suasana ditengah kalangan berubah jadi sunyi senyap, Pek Siauw Thian, Pek Koen Gie serta

siucay berusia pertengahan itu berdiri kaku ditengah kalangan tanpa mengucapkan sepatah

katapun, wajah mereka menunjukkan perubahan yang sangat aneh.

Kiranya serangan telapak yang dilancarkan Homg-po Seng tampaknya segera akan

membinasakan gadis tersebut, siapa tahu pada saat itulah sinar matanya menemukan bahwa

sasaran yang dituju telapaknya bukan lain adalah buah dada Pek Koen Gie, sebagai seorang

lelaki sejati yang sedari kecil mendapat didikan keras, ia merasa perbuatan itu adalah tindakan

yang sangat bejat sekali, maka disaat yang terakhir itulah tangannya bagaikan dipagut kala

beracun segera ditarik kebelakang cepat-cepat.

Karena perbuatannya inilah serangan yang kemudian dilancarkan Pek Koen Gie segera bersarang

telak diatas ulu hatinya.

Suasana hening untuk beberapa saat lamanya, tiba-tiba Pek Siauw Thian alihkan sinar matanya

ke arah siucay berusia pertengahan dan berkedip sekejap.

Siucay berusia pertengahan itu mengangguk dia segera melangkah maju kedepan, telapaknya

diayun siap menabok batok kepala Hong-po Seng.

“Paman Yauw!”mendadak terdengar Pak Koen Gie membentak keras.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

111

Jeritan ini penuh mengandung rasa kaget dan kuatir membuat hati siucay berusia pertengahan

itu terkesiap, cepat ia tarik kembali tagannya dan berpaling ke arah gadis itu.

Dalam pada itu Hong-po Seng yang duduk diatas lantai dengan isi perut yang tergoncang keras

telah mejamkan matanya menantikan kematian, mendadak mendengar jeritan Pek Koen Gie

membuat ia jadi tertegu, sinar matanya segera dialihkan pula keatas wajahnya.

Sekilas rasa dingin dan ketus yang amat sangat terlintas di wajahnya yang cantik, kemudian

ujarnya kaku, “Ayah, sebenarnya tiada halangan bagi kita u ntuk membinasakan orang ini, tapi

seandainya kita berbuat demikian maka putrimu merasa tidak punya muka lagi untuk berkelana

didalam dunia persilatan, kalau kau orang tua suka melindungi nama baik putrimu, aku berharap

agar ayah mau berjiwa besar dan melepaskan satu jalan hidup bagi Hong-po Seng!”

Perkataan ini diucapkan dengan tegas dan tajam suaranya dingin kaku seakan akan bukan

pembicaraaa antara seorang putri terhadap ayahnya.

Mendengar perkataan itu Pek Siauw Thian berdiri tertegun, air mukanya segera berubah jadi

pucat kehijau hijauan, jelas ia sudah dibikin kikuk bercampur gusar oleh ucapan putrinya.

Siucay berusia pertengahan yang selama ini berdiri disisi kalangan, ketika menyaksikan ayah dan

anak segera akan bentrok sendiri, dalam hati lantas berpikir

“Budak cilik ini punya rasa dendam yang amat tebal, ia bisa saja lupa hubungan dan tertindak

keji. Kalau dalam persoalan ini hari aku tidak ikut buka suara, niscaya dikemudian hari bakal

dibenci olehnya, serangan bokongannya sulit dijaga alangkah baiknya kalau aku bersikap lebih

hati hati.”

Siucay berusia pertengahan ini she Yauw bernama Soet dengan julukan “Tok Coe-kat” atau si

Coe-kat beracun, ia baru munculkan diri sewaktu diadakan pertemuan besar Pak Beng-Hwie,

dimana akhirnya diterima Pek Siauw Thian menjadi anggota perkumpulannya dan diangkat

sebagai penasehat yang paling dipercaya, setiap ucapannya didengarkan seratus persen.

Perkumpulan Sin-Kee Pang bisa jaya seperti hari ini sebagian besar adalah berkat jasanya.

Orang ini berakal panjang, berotak cerdas dan berhati kejam, siapapun yang mengenal dirinya

pada gelengkan kepala. Oleh sebab itu diatas julukan “Coe kat” telah ditambahi de ngan kata

“Tok” atau beracun.

Demikianlah dengan mempertimbangkan kepentingan sendiri, Yauw Soet segera putar biji

matanya dan berkata kepada Pek Siauw Thian dengan ilmu menyampaikan suara, “Si mahkluk

tua itu sudah mewariskan ilmu silat andalannya kepada pemuda ini, jelas ia sudah tumpukkan

semua harapannya ke tangan orang ini, menurut dugaan aku Yauw Soet, sembilan belas persen

ia sudah merencanakan siasat bagi lolosnya ini. Aku pikir persoalan ini tentu ada hubungannya

dengan pedang emas, seandainya kita bunuh dirinya dengan begitu saja berarti kita bakal

kehilangan satu pembantu yang baik, maka lebih baik lepaskan saja dirinya.”

Mendengar ucapan itu Pek Siauw Thian mengangguk, dengan ilmu menyampaikan suara pula ia

lantas menyahut, “Pendapat Koensu sedikitpun tidak salah, tapi seandainya “Pedang emas” itu

benar-benar berada ditangan Jie Hian, dengan kepandaian silat yang dimiliki Hong-po Seng

belum tentu berhasil mendapatkannya. daripada kita gantungkan urusan ini kepadanya kenapa

kita tidak berusaha sendiri saja?”

“Sin Kee-Pang, Hong-Im Hwie serta Thong Thian Kauw merupakan tiga besar didalam dunia

persilatan, andaikata terjadi bentrokan langsung dapat dibayangkan bagaimana ngerinya akibat

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

112

tersebut, sebelum kita bersiap sedia melakukan bentrokan secara langsung apa salahnya kalau

membiarkan Hong-po Seng bergerak lebih duluan? Bagaimanapun juga melepaskan bocah ini tak

akan mendatangkan kejelekan bagi kita.”

Pek Siauw Thian lantas mengangguk, senyum an yang belum pernah diperlihatkan pun segera

tersungging diujung bibirnya.

“Apa yang Koen su ucapkan sangat beralasan sekali, tetapi bagaimapapun juga aku tetap merasa

kendati usia Hong-po Seng masih muda, tapi dia punya kegagahan serta keangkeran yang luar

biasa, bila kita sia-siakan kesempatan baik ini untuk menyingkirkan dirinya, kemungkinan besar

dikemudian hari ia bakal menjadi bibit bencana bagi dunia persilatan, kalau memang tak bisa

dipergunakan tenaganya lebih baik cepat-cepat dilenyapkan saja.”

Coe kat beracun Yauw Soet segera tertawa.

“Walaupun orang ini merupakan keturunan dari orang kenamaan, tapi beberapa orang seteru

kita yang paling berat sudah mati semua, yang tersisapun hanya satu dua orang belaka, ilmu

silat yang mereka milikipun jauh dibawah kita. Mungkin saja Hong-po Seng bisa menjadi besar

dan terkenal, tapi urusan ini mungkin baru bisa terwujud dua tiga tahun mendatang. Kalau

pangcu memang kuatir rasanya tiada halangan bagimu untuk menancapkan beberapa batang

jarum ”Soh Hoen Sin Ciam” atau Jarum sakti Pengunci sukma diatas tubuhnya, setelah itu kita

tak usah murung dia dapat terbang ke langit. Andaikata kita dapat memancing pula kemunculan

beberapa orang musuh kita yang berhasil lolos, sekali tepuk membasmi mereka semuapun

rasanya merupakan suatu tindakan yang lumayan.”

Mendengar sampai disini Pak Siauw Thian segera mendongak dan tertawa terbahak-bahak

“Pendapat Koen-su yang hebat betul-betul memuaskan hatiku, dua tiga tahun kemudian jagojago

perkumpulan Sin-Kee Pang yang jauh hebat ilmu sitatnya daripadanya pun paling sedikit

masih ada dua puluh orang lebih, kenapa kita musti jeri terhadap seorang bocah cilik?”

Pembicaraan mereka berdua mula-mula dilakukan dengan ilmu menyampaikan suara, ketika

secara tiba-tiba Pek Siauw Thian berseru sambil tertawa terbahak-bahak, Hong-po Seng, serta

Pek Koen Gie yang tidak mengerti maksud sebenarnya dari ucapan itu jadi melengak dan berdiri

termangu-mangu.

Tampaklah Pek Siauw Thian segera merogoh ke dalam sakunya mengambil keluar sebuah kotak

kecil, dari dalam kotak mengambil keluar tiga batang jarum beracun sepanjang dua coen yang

memancarkan cahaya kebiru-biruan, lalu berkata, “Hong-po Seng, ketiga batang jarum sakti

pengunci sukma ini akan katancapkan diatas tubuhmu, racun tersebut baru akan bekerja

setahun kemudian dimana sebelum menelan obat pemunah maka nyawamu bakal melayang. Kau

harus ingat bahwa obat penawar hanya berada disakuku, sampai waktunya datanglah kembali ke

markas perkumpulan Sin Kee Pang dan jumpailah diriku…..“ selesai berkata selangkah ia

mendekati si anak muda itu.

Meskipun dalam hati kecil Hong-po Seng merasa amat gusar, tapi ia tahu banyak bicarapun tak

ada gunanya, karena itu sambil menggertak gigi kencang kencang ia bungkam seribu bahasa.

Setibanya di belakang tubuh pemuda itu Pek Siauw Thian segera rentangkan telapak tangannya,

tiga batang jarum beracun yang memancarkan cabaya kebiru biruan itu segera ditancapkan ke

dalam tulang punggungnya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

113

Hong-po Seng merasakan badannya gemetar keras, bibirnya menjadi kaku dan bersin beberapa

kali, setelah itu keadaan menjadi tenang kembali.

Pek Koen Gie yang berdiri disisi kalangan menggerakkan bibirnya seperti mau mengucapkan

sesuatu, tapi akhirya ia batalkan maksud tadi dan segera melengos ke arah lain.

Diam-diam Hong-po Seng menghela napas panjang, ia meronta untuk bangkit berdiri, menyapu

sekejap orang-orang dihadapannya dengan mata melotot dan berkata, “Andaikata cuwi sekalian

tidak maksud untuk menahan diriku lebih lanjut, cayhe akan mohon diri terlebih dahulu.”

Selesai menjura pemuda itu segera melangkah keluar dari tempat itu.

Air muka Pek Siauw Thian seketika berubah jadi hijau membesi, air muka si Coe kat beracun

Yauw Soet serta Pek Koen Gie pun berubah hebat, mereka tahu bahwa Hong-po Seng tak akan

lolos dari jaring perkumpulan Sin Kee pang, tapi mereka sama-sama merasa mendapat pukulan

batin yang hebat seakan akan baru saja mereka menderita kekalahan.

Suasana hening untuk beberapa saat lamanya, mendadak Yauw Soet si Coe kat beracun tertawa

terbahak bahak.

“Haasaah…. haaah…. haaaah, Siauw Leng han, antarlah dia keluar, sampaikan berita untuk

membuka jalan bagi dirinya!”

Siauw Leng segera mengiakan dan buru bunu mengejar dari belakang pemuda she Hong-po.

Pek Siauw Thian berdiri termangu-mangu, akhirnya ia bergumam seorang diri .

“Enghiong hoohan tidak terpikat oleh kecantikan wajah tidak kemaruk oleh harta benda, tidak

kesemsem oleh kedudukan serta pangkat dan tidak tertarik pada nama besar, entah bocah ini

apakah manusia diluar pengecualian…..”

Dalam pada itu Hong-po Seng dengan langkah lambat berjalan ke depan, ditengah perjalanan ia

rasakan kepalanya pusing tujuh keliling, sepasang kakinya lemas sekali dan ulu hatinya teramat

sakit.

Semenjak terjun ke dalam dunia persilatan, secara beruntun ia telah dua kali menderita luka

parah, kejadian ini membuat hatinya teramat sedih hingga sukar dilukiskan dengan kata-kata,

tetapi ia tidak menggerutu atau menyesal, hanya secara lapat-lapat hatinya merasa kosong dan

kesal.

Pikirnya didalam hati, “Aku tak usah memikirkan persoalan-persoalan itu lagi, yang penting

hanyalah “Tan Hwie Tok Lian” Teratai racun empedu api benda yang dibutuhkan oleh ibuku,

bagaimana pun juga aku harus berusaha untuk mendapatkannya.”

Saat itulah tiba-tiba Siauw-Leng menyusul datang sambil berseru, “Hong-po Seng, marilah ikuti

diriku, aku akan menunjukkan jalan untukmu!”

Mendengar ucapan itu Hong-po-Seng memperhatikan sekejap sekeliling tubuhnya, ternyata ia

sudah tersesat jaIan ditengah tumbuhan pohon bamhu itu, segera ia menyahut dan mengikuti

dibelakang dayang tersebut.

Sekeluarnya dari belakang benteng terdengar suara derap kaki kuda berkumandang datang, Oh

Sam dengan menunggang kereta milik Pek Koen Gie telah meluncur datang dari balik benteng.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

114

Kereta itu berhenti tepat dihadapannya, Oh Sam sambil melayang turun ketanah segera

mengangsurkan sebutir pil kehadapan si anak muda itu sambil ujarnya, “Cayhe mendapat

perintah untuk menghantar Hong-po Seng kongcu keluar dari wilayah kekuasaan perkumpulan

Sin Kee Pang, Kongcu hendak pergi kemana silahkan kau utarakan kepada cayhe.”

Hong-po Seng mendongak dan memandang sekejap ke arah kereta itu. ia lihat sebuah panji

kuning tertancap diujung kereta dan benda itu belum pernah dilibat sebelumnya, maka setelah

berpikir sejenak ia berkata, “Aku mau berangkat ke utara, kekota Yan Im!”

Oh Sam mengangguk tanda mengerti lalu melangkah kedepan membukakan pintu kereta,

Melihat sikapnya mendadak berubah sama sekali terhadap dirinya walau dalam hati merasa

curiga tapi si anak muda itu ogah untuk berpikir lebih jauh, setelah mengangguk kepada Siauw-

Leng ia lantas melangkah masuk ke dalam kereta.

Ledakan pecut menggeletar ditengah angkasa, roda kereta bergulung menggilas jalan, dengan

cepat kereta itu berangkat menuju ke arah utara.

Selama beberapa hari berikutnya Hong-po Seng hidup dalam kemewahan dan keagungan panji

“Hong-Loei-Leng” yang teatancap di atas kereta kuda walaupun kecil bentuknya tapi mempunyai

kekuasaan sangat besar dimana kereta itu lewat para jago Bu-lim baik dari golongan Pek to

maupun Hek to sama sama menyingkir kesamping, dimana mereka menginap karnar yang

disediakan tentu bersih clan mewah, makanan yang dihidangkanpun lezat serta mewah,

dimanapun Hong-po Seng berada suasana selalu dipelihara dalam keheningan.

Belum sampai beberapa hari, dalam kereta mereka sudah dipenuhi oleh tumpukan uang mas dan

perak.

00oo0O

9

Sejak menelan pil pemberian Oh Sam, sepanjang hari Hong-po Seng bersemedi terus untuk

menyembuhkan luka dalamnya. Tidak sampai sepuluh hari luka yang dideritanya sudah mulai

menunjukkan tanda-tanda sembuh.

Suatu hari ketika ia sedang duduk dalam kereta dengan hati kesal, tiba-tiba telinganya

menangkap suara pertempuran yang sedang berlangsung dari arah depan, ia segera melongok

keluar lewat jendela, dimana terlihatlah disisi sebuah jalan segerombol manusia sedang

melangsungkan pertempuran sengit.

Sebuah gerobak dorong diparkir dipinggir jalan, diatas kereta terlapis selembar selimut dekil,

seorang kakek tua berbaju compang-camping meringkuk diatas gerobak dorong itu, noda darah

berpelepotan diatas kain dekil tadi sedangkan matanya ditujukan ketengah kalangan dimana

pertempuran sedang berlangsung.

Sementara dttengah kalangan seorang nenek tua berambut putih serta seorang lelaki berbadan

kekar dengan punggung menempel punggung sedang bertarung menghadapi musuh-musuhnya,

empat buah telapak dengan perkasa menghadapi sembilan orang lelaki bersenjata tajam yang

mengelilingi di sekitarnya,

Nenek serta lelaki kekar itu telah terluka tubuhnya, darah segar membasahi hampir seluruh

pakaian yang dekil.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

115

Disamping itu terdapat pula seorang lelaki berbaju perlente dengan tangan yang luar biasa

panjangnya berdiri disisi kalangan sambil bertolak pinggang, matanya dengan tajam sedang

mengawasi pula jalannya pertarungan itu

Sebelum Hong-po Seng sempat melihat jelas datangnya pertempuran si pria berbaju perlente

yang sedang mengawasi jalannya pertempuran itu telah mengenal sang kusir dari kereta

tersebut. menyaksikan pula panji “Hong Loei Leng” yang menancap diujung kereta wajahnya

menunjukkan rasa yang amat terperanjat, buru-buru ia ulapkan tangannya sambil membentak,

“Mundur! Mundur! Mundur!”

Secara beruntun ia mengulangi teriakannya itu sampai tiga kali, mendapat perintah kilat yang

dilontarkan lelaki berbaju perlente itu, sembilan orang jagoan yang sedang mengerubuti nenek

serta lelaki kekar tadi segera meloncat mundur kebelakang dan mengundurkan diri dari kalangan.

Hong-po Seng pun menyaksikan pula dengan jelas keadaan ketiga orang itu, melihat keadaan

yang sangat mengenaskan hawa amarahnya kontan berkobar, ia segera mengetuk lantai kereta

dan memerintahkan untuk berhenti.

Dalam melakukan perjalanannya kali ini Oh Sam membawa tugas rahasia yang diperintahkan

atasannya terhadap ,Hong-po Seng sikapnya selalu para pura menghormat.

Tapi sesudah melakukan perjalanan beberapa kali, sikap gagah dan agung yang diperlihatkan

pemuda itu sedikit demi sedikit mulai menembusi hati kecilnya sehingga membuat kusir ini dari

berpura-pura akhirnya menjadi sungguh-sungguh menghormat.

Kereta kuda segera berhenti, Hong-po Seng membuka pintu kereta dan melangkah turun.

Oh Sam segera memperkenalkan pemuda itu kepada pria berpakaian perlente yang sedang

berdiri disisi kalangan dengan wajah penuh rasa terkejut itu, “Inilah Hong-po Seng kongcu, Tong

Hoen Tongcu silahkan menemuinya!”

Pria berbaju perlente itu melirik sekejap “Hong Loei Leng” yang berkibar diujung kereta.

kemudian buru-buru menjura sambil berkata, “Cayhe Tong Ceng, menghunjuk hormat untuk

Hong-po kongcu.”

Dalam pada itu kesembilan orang tadi telah menyimpan kembali senjata tajamnya. melihat

pemimpinnya memberi hormat mereka pun bersama sama memberi hormat pula.

Diam-diam Hong-po Seng berpikir didalam hati, “Luka dalam yang kuderita belum sembuh, tak

munkin bagiku untuk bertempur, rasanya mengatasi persoalan ini aku harus pura-pura menjadi

srigala.”

Berpikir demikian ia lantas ulapkan tangan dan menyahut dengan nada ketus.

“Tong hoen Tongcu tak usah banyak adat!” seraya menuding tua muda tiga orang itu tegurnya

lebih jauh. “Siapakah ketiga orang itu?”

“Kalek tua yang berada diatas kereta bernama “Bong Beng Hauw” atau si Harimau Pelarian

Tiong Liauw, Si nenek bernama Bee Ya Hauw atau si Harimau Ompong, sedangkan si lelaki itu

adalah putra mereka berdua bernama “Poet Siauw Hauw” atau si harimau bisu Tiong Long orang

orang kangouw menyebut ketiga orang ini sebagai Tiong Sam Hauw atau tiga ekor harimau dari

keluarga Tiong.”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

116

“Ehemm kesalahan apa yang telah mereka lakukan?” tanya Hong-po Seng lagi dengan alis

berkerut.

Si Harimau pelarian Tiong Liauw yang ada digerobak dorong itu segera mendengus dingin dan

berteriak, “Aku telah membunuh bapak tuamu!” kemudian dengan lengan sebagai bantal

berbaring kembali diatas kereta gerobak dorongnya.

Tong Ceng serta sembilan orang pria dibelakangnya menjadi naik pitam setelah mendengar

teriakan itu, mereka bersama sama menoleh ke arah kakek itu kemudian melototinya dengan

hati mendongkol.

Buru-buru Hong-po Seng ulapkan tangannya.

“Tong Hoen tongcu, katakanlah duduk perkara yang sebenarnya, aku punya cara untuk

membereskan mereka.”

Mendapat teguran Tong Ceng berpaling kembali dan segera menjawab, “Tiga ekor harimau dari

keluarga Tiong ini bengis dan suka berkelahi, mereka bernyali besar dan tak takut mati,

seringkali tanpa sebab menerbitkan keonaran dan berkelahi dengan orang. Bulan berselang

mereka telah menyelesaikan jiwa dua orang saudara dari perkumpulan kita, dari pihak markas

pusat segera turunkan perintah untuk memberi tanda mata diatas tubuh ketiga orang ini di

manapun ia tiba, tapi jiwa mereka harus tetap dipertahankan. Karena itu sewaktu mereka

memasuki wilayah kekuasaan kantor cabang kami, cayhe mendapat tugas untuk melaksanakan

perintah tersebut.”

Darah panas dalam rongga dada Hogg po Seng kontan bergerak keras, ia menjadi teramat gusar

sekali, pikirnya, “Kawanan bajingan kalau tidak cepat-cepat dibasmi dari muka bumi, umat Bu lim

yang ada dikolong langit mana bisa hidup dengan aman dan sentausa?”

Ketika Tog Ceng menyaksikan wajah Hong-po Seng menunjukkan kegusaran, ia mengira pemuda

ini benci terhadap ketiga ekor harimau dari keluarga Tiong, buru-buru ia maju memberi hormat

seraya ujarnya, “Harap kongcu jangan gusar, cayhe segera turun tangan untuk meninggalkan

tanda mata ditubuh mereka setelah itu baru kutemui kongcu untuk beristirahat di kantor

cabang.”

Tangan berkelebat kebelakang, tahu-tahu dalam genggamannya telah bertambah dengan sebilah

golok, kemudian dengan langkah lebar segera menghampiri ketiga ekor harimau dari keluarga

Tiong itu.

Dengan cepat pikiran Hong-po Seng berputar, ia merasa tidak ada untungnya untuk bentrok

dengan mereka dalam keadaan begini maka teriaknya keras-keras, “Tong hoen Tongcu, harap

tunggu sebentar!”

Tong Ceng berhenti dan menjura.

“Kongcu masih ada pesan apa?”

“Aku membutuhkan jiwa ketiga orang ini sebagai kado, kebetulan sekali ketiga ekor harimau dari

keluarga Tiong cocok dengan seleraku……”

Ia menoleh ke arah Oh Sam diatas kereta dan menambahkan, “Tangkap ketiga orang itu dan

lemparkan ke dalam kereta!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

117

Oh Sam yang mendapat perintah ini diam-diam merasa gelisah, tapi keadaan memaksa dia harus

berbuat begini, maka tanpa membantah ia segera melayang turun dari tempat duduknya dan

mendekati ketiga orang itu.

Si harimau Ompong Tiong Lo Popo kontan menuding Hong-po Seng sambil meraung gusar,

“Bajingan cilik anjing betina, kenapa kau tidak turun tangan sendiri?”

Hong-po Seng pura-pura tidak mendengar, dengan wajah membesi ia masuk kembali ke dalam

kereta.

Secara lapat-lapat Oh Sam dapat merasakan maksud hati si anak muda itu, melihat ia kena

dimaki diam-diam hatinya merasa geli. Sebagai seorang jago berkepandaian lihay tentu saja

ketiga orang itu bukan tandingannya, dalam waktu singkat ketiga ekor harimau itu sudah ditotok

jalan darahnya dan dilemparkau ke dalam kereta.

Kepada Tong Ceng yang berada diluar kereta, Hong-po Seng segera ulapkan tangan sambil

berkata, “Sakarang aku sedang ada urusan penting yang harus segera diselesaikan, waktu

kembali nanti saja akan kusinggah ke kantor”

Jangan dikata tanda perinteh ”Hong Loei Leng” berada didepan mata. Cukup kereta kuda milik

Pek Koen Gie serta kusirnya Oh Sam telah menggetarkan hati para pemimpin kantor cabang,

tentu saja Tong Ceng tidak berani banyak bicara lagi, bersama sama anak buahnya mereka

segera memberi hormat dan menghantar keberangkatan si anak muda itu.

Kereta kudapun melanjutkan perjalanannya menuju kedepan, Hong-po Seng yang berada

didalam ruang kereta segera bangkit berdiri dan membebaskan jalan darah Si Harimau pelarian

Tiong Liauw yang tertotok.

Setelah jalan darahnya tertotok tadi keempat anggota badan si harimau pelarian Tiong Liauw

sama sekali tak bisa berkutik, tapi riak kental yang berada dimulutnya dapat diludahkan

sekehendak hatinya, melihat Hong-po Seng datang mendekat ia kegirangan, menggunakan

kesempatan dikala pihak lawan tidak bersiap siaga itulah mendadak ia pentang mulutnya dan

meludah.

Cuuuh….! riak kental tadi segera disembur ke arah wajah si anak muda itu.

Hong-po Seng mimpipun tidak menyangka kalau ia bakal diludahi, belum sempat ia bertindak

pipinya segera terasa amat sakit, riak kental itupun sudah mengotori seluruh wajahnya

mendatangkan rasa yang sangat tidak enak dibadan.

Pemuda ini baru berusia enam tujuh belas tahunan, wataknya keras hati dan masih berdarah

panas. mendapat penghinaan yang sama sekali tak terduga ini kontan membangkitkan hawa

amarah dalam hatinya, telapak kiri segera diayun menggaplok kedepan.

Tapi ketika serangannya tiba ditengah jalan, hatinya jadi lemah, sambil menarik kembali

serangannya ia menghela napas dan berkata, “Aaai ..! aku tak akan mengumbar hawa amarah

dengan kalian!”

Dengan ujung bajunya ia menyeka noda riak kental yang menempel diatas wajahnya, kemudian

berpaling ke arah Tiong Loo-po dengan maksud membebaskan jalan darahnya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

118

Si Harimau ompong Tiong Lo Poo cu merasa amat girang dan sewaktu dilihatnya sang suami

berhasil mendaratkan riaknya diatas wajah orang diam-diam diapun mempersiapkan riaknya

didalam mulut, asal Hong-po Seng berani mendekat maka dengan cara yang sama dia akan

melukai pemuda itu.

Dari perubahan air muka si nenek tua itu Hong-po Seng menyadari bahwa orang inipun

mengandung maksud jelek terhadap dirinya, maka dia lantas mengambil keputusan untuk tetap

membiarkan ketiga orang itu berbaring dilantai, sedang ia sendiri kembali kekursinya sambil

berpikir didalam hati, “Ketiga orang ini berjiwa gagah, berhati keras kepala dan tanpa

memperdulikan keselamatan sendiri berani memusuhi manusia manusia laknat itu, manusia

semacam itu boleh dibilang termasuk patriot sejati. Aaai! cuma sayang kepandaian silat yang

mereka miliki terlalu cetek.”

Mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya hingga tanpa terasa ia bergumam seorang

diri, “Dunia persilatan penuh diliputi kelicikan serta kekejian, setiap langkah penuh dengan

jebakan mara bahaya, diatas tubuh Pek Siauw Thian telah menghujamkan ketiga batang paku

beracun pengunci sukmanya yang membuat badanku jadi tersiksa, walaupun racun diujung

senjata itu baru akan bekerja setahun mendatang, siapa tahu kau sebelum batas waktunya aku

bakal kehilangan nyawa terlebih dahulu?”

Berpikir demikian didalam hati diapun segera mengambil keputusan, serunya, “Siapa bilang ilmu

silat hanya boleh dimiliki pribadi? Alangkah baiknya kalau kusebar luaskan kepandaian tersebut

keseluruh dunia persilatan, suatu hari pasti akan muncul seorang pendekar sejati yang memiliki

ilmu silat lihay, waktu itu dengan suatu kerja sama yang keras rasanya tidak sulit untuk

membasmi kaum durjana dari muka bumi.”

Mendadak terdengar si Harimau pelarian Tiong Liauw menegur sambil tertawa, “Bajingan cilik,

rupanya kau sedang mimpi disiang hari bolong?”

Dengan cepat Hong-po Seng menenteramkan hatinya, lalu dengan wajah sungguh-sungguh

ujarnya, “Aku minta kalian perhatikan dengan seksama, aku bernama Hong-po Seng dengan

pihak perkumpulan Sin Kee Pang terikat dendam yang amat mendalam, setiap saat jiwaku

terancam oleh bahaya maut…“

“Bajingan cilik, semestinya sedari dulu kau harus modar!” jengek Tiong Liauw sinis.

Hong-po Seng menghela napas panjang.

“Dalam hatiku sebenarnya terdapat banyak persoalan yang hendak dibicarakan dengan

kalian…..”

Si harimau ompong Tiong Loo Boo cu yang selama ini berbaring di sudut kereta mendadak

menyela, “Anjing bajingan cilik, kalau mau melepaskan kentut busuk cepat kau lepaskan!”

Sikap serta tingkah laku beberapa orang ini benar-benar membuat Hong-po Seng jadi serba

salah, mau menangis tak bisa mau tertawapun sungkan, tapi disambungnya juga katanya,

“Walaupun aku ada pesan terakhir yang hendak disampaikan kepada kalian, sayang kalian

termasuk manusia manusia patriot yang terlalu emosi, manusia macam kalian sulit untuk

memikul tanggung jawab berat, akupun tidak tega untuk memasrahkan pesanku ini kepada

kalian.”

Bicara sampai disini nadanya tiba-tiba berubah jadi amat sedih, sambungnya, “Aku mempunyai

serangkaian sim hoat tenaga dalam serta satu jurus ilmu pukulan yang maha dahsyat, kini akan

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

119

kupersembahkan kepada kalian semua, setelah kalian berhasil mempelajari kepandaian tersebut

carilah suatu tempat terpencil serta terasing dari pergaulan masyarakat untuk berlatih

kepandaian tersebut dengan tekun, bilamana ilmu si1at itu berhasil kalian kuasahi saat itulah

kalian baru boleh muncul kembali didalam dunia persilatan, bantulah kaum lemah dan hadapilah

kaum laknat, jadilah pendekar yang sejati pembela rakyat jelata.”

Mendengar perkataan itu Si Harimau pelarian Tiong Liauw mengerutkan alisnya, setelah

memperhatikan wajah Hong-po Seng beberapa kejap, ujarnya dengan nada dingin, “Bajingan

cilik, sungguh tak nyana kau adalah seorang manusia yang berhati bajik, waaah…. maaf kalau

loohu bersikap kurang hormat terhadap dirimu, kau punya sim hoat serta ilmu pukulan apa?

cepat dikeluarkan agar kami bisa menyaksikan kelihayanmu.”

Hong-po Seng mengerti bahwa dirinya sedang disindir tapi dia tidak menggubris sindiran orang,

ujarnya hambar.

“Tak usah banyak bicara lagi, baik-baiklah perhatikan keterangan serta pelajaran yang akan

kuutarakan “.

Selesai berkata tanpa memperdulikan apakah ketiga orang itu suka mendengarkan atau tidak

segera mulai menerangkan rahasia dari jurus serangan ,Koen Sioe Ci Tauw “ tersebut .

Petangya kereta berjalan masuk ke dalam kota, Hong-po Seng segera menggedor dinding kereta

sambil berteriak keras .

“Siapkan rangsum kering dan lanjutkan perjalanan menuju ke utara, malam ini kita menginap

didalam hutan saja.”

Oh Sam menghentikan keretanya dan segera meloncat bangun, sambil menghampiri jendela

kereta serunya, “Kongcu-ya, buat apa kau mencari penderitaan yang tak berguna?”

“Sudah, tak usah banyak bicara lagi, apa yang aku lakukan sama sekali tidak dirahasiakan

terhadap dirimu, kalau kau merasa senang dengan caraku bekerja lakukanlah apa yang

kuucapkan, sebaiknya kalau kau tidak senang hati, silahkan membawa tanda perintah Hong Loei

Leng tersebut dan kembali kemarkasmu!”

Oh Sam rada tertegun, tapi ia segera tertawa.

“Cayhe mendapat perintah untuk menghantar kongcu keluar dari perbatasan, sebelum juga

dilaksanakan hingga selesai aku tidak berani pulang ke markas untuk memberi laporan.”

Habis berkata ia kembali keatas keretanya dan meneruskan kembali perjalanannya menuju

kedepan.

Dalam pada itu si harimau pelarian Tiong Liauw setelah mendengarkan uraian dari Hong-po Seng

mengenai sim hoat tenaga dalam serta ilmu pukulan dan merasa bahwa kepandaian tersebut

benar-benar merupakan kepandaian maha sakti yang sangat berharga serta belum pernah

didengar sebelumnya dalam hati merasa terkejut bercampur curiga, nada pembicaraannya pun

sudah jauh berobah lebih lunak.

Terdengarlah ia berkata dengan nada serius, “Kongcu ya sebenarnya siapakah kau? Kau berbuat

demikian sebetulnya disebabkan karena apa?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

120

“Aku berbuat demikian karena setiap saat ada kemungkinan bagiku untuk menemui ajalnya,

kalian sekeluarga tiga orang adalah manusia-manusia kosen yang berjiwa besar dan

bersemangat patriot, hanya manusia-manusia semacam kalianlah yang pantas untuk mendapat

pelajaran ilmu silat seperti ini.”

Sambil berkata ia maju kedepan dan membebaskan jalan darah yang tertotok ditubuh ketiga

orang itu.

Si Harimau ompong Tiong Loo Boo cu dengan pandangan yang tajam mengawati wajah pemuda

itu beberapa saat, kemudian dengan mata melotot tanyanya, “Antara kau dengan pentolan

perkumpulan Sin Kee Pang sabetulnya terikat dendam sakit hati? Ataukah masih ada ikatan

sanak serta keluarga.?”

“Waktu yang kita miliki sangat terbatas, lebih baik tak usah kita bicarakan persoalan yang tak

berguna itu,” tukas Hong-po Seng cepat, ia segera meneruskan keterangannya membicarakan

soal rahasia ilmu pukulan tersebut.

Sejak itulah setiap hari baik siang maupun malam Hong-po Seng selalu bekerja keras mewariskan

ilmu pukulan yang amat lihay itu kepada tiga ekor harimau dari keluarga Tiong ini, tetapi

berhubung dilihatnya bakat yang dimiliki mereka bertiga hanya biasa biasa saja, sewaktu

mempelajari kepandaian tersebut terlalu lamban dan payah, maka akhirnya ia membagi ketiga

orang itu menjadi rombongan dan mempelajari kepandaian tersebut secara bergilir.

Tiap orang mempelajari perubahan jurus serangan yang berbeda, dengan demikian maka setiap

orang harus menghapalkan tiga puluh gerakan lebih, dengan cara begini bukan saja beban yang

diterima mereka rada enteng, bahkan merekapun bisa beristirahat secara bergilir dan

pelajaranpun dapat diingat lebih mendalam.

Dua tiga puluh hari kemudian sampailah mereka di tepi sungai Hoang hoo, dan dengan susah

payah pula ketiga orang itu berhasil mempelajari satu jurus ilmu pukulan itu.

Waktu itu Hong-po Seng telah mewariskan sim hoat tenaga dalam keluarganya kepada mereka

bertiga, melihat kereta mendadak berhenti ia segera loncat keluar dari ruang kereta dan menjura

ke arah Ong Sam, ujarnya, “Ong heng, walaupun perkenalan kita tidak terhitung pendek tapi

berhubung diantara kita masih terikat permusuhan, maka lebih baik kita berpisah sampai disini

saja, bila ada jodoh dikemudian hari kita saling berjumpa kembali!”

“Kongcu ya, apakah kau hendak menyeberangi sungai?” tanya Oh Sam sambil loncat turun dari

keretanya dan tertawa.

Hong-po Seng mengangguk membenarkan.

“Aku masih ada urusan penting yang harus segera diselesaikan, banyak bicara tak ada gunanya,

lebih baik kita berpisah sampai disini saja.”

Bicara sampai disitu diapun lantas berjalan menuju ke tepi pantai.

Oh Sam meloncat masuk ke dalam kereta untuk mengambil beberapa keping uang emas,

kemudian sambil menyusul pemuda itu serunya, “Tak ada uang sulit untuk melanjutkan

perjalanan, uang ini adalah sumbangan dari tiap tiap kantor cabang kepada diri kongcu. lebih

baik kongcu bawa saja sebagai persediaan.”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

121

Sambil tertawa Hong-po Seng menyambut uang itu, melihat tiga ekor harimau dari keluarga

Tiong mengikuti disisinya, ia segera mengambil satu keping uang emag untuk diri sendiri dan

menyerahkan sisanya ketangan Harimau ompong Tiong Loo Poo cu.

Tiong Loo Poo cu menyambutnya dan tanpa mengucapkan sepatah katapun segera dimasukkan

ke dalam saku.

Mereka bertigapun segera naik perahu untuk menyebrangi sungai Huang hoo, setibanya diatas

daratan Hong-po Seng putar badan dan ujarnya kepada ketiga orang itu, “Sebelah utara sungai

Huang hoo sudah bukan termasuk wilayah kekuatan perkumpulan Sin Kee Pang, lebih baik kalian

bertiga untuk sementara waktu berdiam di wilayah utara saja, tiga lima tahun kemudian rasanya

belum terlambat untuk kembali kedesa kelahiran kalian”

Mendengar perkataan itu si harimau pelarian Tiong Liauw segera berdiri dan tertegun serunya,

“Eeee.. .. kenapa? Apakah Kongcu-ya mengusir kita pergi?”

Hong-po Seng sendiripun dibikin tertegun oleh pertanyaan tersebut, ia segera menyahut, “Secara

kebetulan kita bisa saling bertemu satu sama lainnya, persahabatan pun telah kita jalin, apakah

kalian selamanya hendak mengikuti diriku terus?”

Mendadak terdengar si harimau ompong, nenek tua she Tiong berteriak keras, “Tiga lembar jiwa

dan tiga ekor harimau dari keluarga Tiong kau yang menyelamatkan, sedang kami tiada rumah

tempat bertinggal lagi, kalau tidak ikut kongcu lalu kita musti pergi kemana?”

“Aaaah, hal ini mana boleh jadi?” sahut Hong-po Seng dengan wajah melengak.

“Aku masih ada banyak urusan yang harus diselesaikan, lagi pula perjalananku selanjutnya

penuh dihalangi oleh kesulitan serta mara bahaya, aku tidak ingin menyusahkan kalian bertiga!”

Pada dasarnya pemuda ini baru saja sembuh dari luka dalam yang parah ditambah pula selama

hampir sebulan lamanya siang malam ia bekerja keras untuk mewariskan ilmu silatnya kepada

Tiong Si Sam Hauw, hal ini membuat kesehatan badannya lama kelamaan jadi semakin lemah,

bukan saja luka dalamnya kambuh kembali, matanya jadi cekung, wajahnya kunyal dan lesu

hingga untuk mengucapkan beberapa patah kata itupun harus menggunakan banyak tenaga.

Tiong Si Sam Hauw semuanya merupakan manusia manusia yang berjiwa keras, semula mereka

tidak berpikir lebih mendalam akar, maksud perbuatan si anak muda itu. Kini setelah mengetahui

bahwa Hong-po Seng benar-benar tiada permintaan yang diajukan kepada mereka bahkan justru

mereka malah yang berhutang budi kepadanya, jadi tertegun dan berdiri termangu-mangu,

tanpa sadar air mata jatuh bercucuran membasahi wajah ketiga orang itu.

Hong-po Seng tidak ingin melihat keadaan seperti itu berlarut larut, ia segera keraskan hati dan

menjura kepada mereka bertiga.

“Harap kalian bertiga suka baik-baik menjaga diri kita berpisah dahulu ditempat ini!”

“Kongcu-ya!” mendadak si harimau pelarian Tiong Liauw berseru dengan suara gagah. “Kamni

Tiong si Sam Houw bukan lantaran hendak membalas budi lantas hendak mengutarakan katakata

ini, tapi berhubung kami kami kagum atas kegagahan serta kebesaran jiwa kongcu ya maka

bila kongcu menampik, kami sekeluarga tiga orang rela mengikuti diri kongcu untuk berbuat apa

saja, walaupun harus mengorbankan jiwa kamipun kami bertiga rela.”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

122

Hong-po Seng dibuat amat terharu oleh ketulusan hati ketiga orang itu, tanpa terasa air mata

jatuh berlinang membasahi pipinya.

“Terima kasih kuucapkan atas maksud dari cuwi bertiga.” katanya lirih. “Aku menyadari bahwa

jiwaku selalu terancam bahaya maut, aku tidak ingin menyusahkan pula kalian bertiga. Untuk

sementara waktu kalian berdiamlah diwilayah utara, tekunilah pelajaran ilmu silat kalian,

bilamana suatu waktu aku membutuhkan bantuan pasti akan kucari kalian bertiga untuk

menyumbangkan tenaganya.”

“Kongcu ya, dewasa ini kau hendak pergi kemana?”

Sebelum Hong-po Seng sempat menjawab terdengarlah si harimau ompong Tiong Loo Poo cu

talah membentak dengan nada gusar, “Hey tua bangka, kenapa kau musti banyak bicara yang

tak berguna, kita ikuti saja dibelakangnya.”

Mendengar perkataan itu si harimau pelarian Tiong Liauw benar-benar tidak berbicara lagi.

Sebaliknya Hong-po Seng diam-diam segera berpikir, “Sekeluarga ini berjiwa besar dan berhati

jujur, setiap melaksanakan pekerjaan hanya didasari oleh emosi serta perasaan, andaikata aku

tidak menerangkan yang jelas, mereka tentu akan mengikuti diriku terus menerus, seandainya

sampai terjadi begini bukankah urusan besarku bakal runyam dibuatnya?”

Karena berpikir demikian baru buru serunya kepada Tiong Liauw dengan wajah serius, “Lootiang,

harap kau berpikir dengan seksama, sebenarnya apa sih maksud tujuanku dengan susah

payah menurunkan ilmu silat yang kumiliki kepada kalian bertiga?”

Mendengar pertanyaan itu si Harimau Pelarian Tiong Liauw berpikir sejenak, kemudian jawabnya,

“Aaah betul! pastilah kongcu memandang ilmu silat yang kami miliki terlalu cetek, maka bilamana

mengikuti disisimu sebaliknya malah mengganggu serta merepotkan.”

Walaupun perkataan tersebut tidak mengena dengan jitu atas apa yang dipikirkan di dalam hati,

tetapi Hong-po Seng tidak membantah, sambil mengangguk katanya, “Perkataanmu ini ada

benarnya juga, kalian musti tahu kepergianku kali ini kalau bisa alangkah baiknya kalau

menyembunyikan diri terhadap pengawasan orang lain, bilamana kita harus melakukan

perjalanan secara bergerombol, hal itu malah justru menyulitkan untuk menyelesaikan pekerjaan

itu.”

Mendengar sampai disini, si Harimau pelarian Tiong Liauw tidak berbicara lagi, setelah berdiri

termangu mangu beberapa saat lamanya mendadak ia jatuhkan diri berlutut diatas tanah diikuti

oleh Si nenek tua she-Tiong serta si Harimau Bisu Tiong Long.

Hong-po Seng jadi terkesiap, buru-buru ia ikut berlutut diatas tanah setelah itu putar badan dan

cepat berlalu.

Semenjak kecilnya si anak muda ini sama sekali belum pernah meninggalkan rumahnya seorang

diri, boleh dia dia buta seratus persen terhadap jalanan disekitar tempat itu, setelah melepaskan

diri dari Tiong Si Sam-Hauw pemuda itu segera mancari tahu jalan menuju ke utara dari para

penduduk disekitar situ, kemudian langsung berangkat menuju kegunung Im-Tiong san.

Setelah melakukan perjalanan belasan hari, suatu petang sampailah si anak muda itu didalam

wilayah pegunungan Im-Tiong san.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

123

Setelah masuk gurung, daya ingatnya terhadap perkampungan Liok-Soat sanceng kian lama kian

bertambah jelas. Waktu itu sambil melakukan perjalanan dibawah sinar bulan purnama diamdiam

doanya didalam hati, “Sukma ayah yang ada dilangit, moga moga kau suka melindungi

teratai racun empedu api itu tetap berada ditempat semula, agar ananda berhasil mendapatkan

teratai racun itu untuk mengobati luka ibu yang parah sehingga tenaga dalam yang dimiliki dia

orang tua bisa pulih kembali seperti sedia kala, dengan begitu ibu baru sanggup membalaskan

dendam sakit hati ayah….”

Tanpa terasa sampailah pemuda ini dimulut sebuah selat, setelah memperhatikan sekejap

suasana disekeliling tempat itu, keragu-raguan yang semula masih tersisa dalam hatinya seketika

tersapu lenyap, ia merasa yakin bahwa perkampungan Liok-Soat sanceng terletak di dalam selat

tersebut.

Dalam pada itu bulan purnama berada di awang-awang, cahaya yang terang menerangi seluruh

isi selat tersebut setelah melakukan perjalanan beberapa saat lamanya mendadak Hong-po Seng

merasakan sesuatu yang tidak beres, ia segera berpikir, “Pepohonan didalam selat ini diatur

dengan sangat teratur dan rapi, jalan gunung bersih bebas dari debu, bahkan batu kerikil serta

rumput ilalangpun tidak nampak, kalau ditinjau keadaan tersebut jangan-jangan

perkampunganku sudah diduduki orang lain?….”

Begitu ingatan tersebut berkelebat lewat di dalam benaknya, ia segera menyembunyikan diri

kebalik pepohonan dan meneruskan perjalanannya dari tempat kegelapan.

Ketika tubuhnya hampir tiba dipintu perkampungan, mendadak ia temukan kerlipan cahaya

lentera, hatinya semakin terkesiap, pikir nya lebih jauh, “Aaah! dugaanku ternyata tidak salah,

kampung halamanku benar-benar sudah diduduki orang lain. Kalau ditinjau dari cahaya lentera

yang dipasang begitu rapat, jelas keadaan didalam perkampungan jauh lebih terang benderang…

Ehmm! Wilayah Sam Say adalah daerah kekuasaan perkumpulan Hong Im Hwie, para jago dari

kalangan lurus tidak nanti akan menduduki kampung halamanku ini dengan manusia-manusia

dari kalangan hek to yang biasa jelas lebih-lebih tak punya nyali untuk menempati

perkampungan Liok Soat sanceng, manusia-manusia laknat yang telah mengangkangi rumah

kediamanku ini seratus persen pastilah tokoh-tokoh terpenting dari perkumpulan Hong Im Hwee.

Setelah mengetahui kelihayan orang, ia segera menyusup kesebelah kiri perkampungan

kemudian menyusup masuk ke dalam perkampungan dengan gerakan yang sangat berhati-hati.

Tampaklah gunung-gunung, pepohonan, kebun bunga, serambi, jalan berlapis batu-batu

semuanya masih tetap seperti apa yang pernah dilihatnya dikala dia masih kecil. Maka sambil

menghindari sorotan cahaya lampu ia meneruskan gerakannya menyusup kebelakang

perkampungan.

Ia masih ingat dengan jelas bahwa tempat tinggal ayah ibunya serta dia terletak dibelakang

perkampungan, Teratai Racun empedu Api itupun dipelihara dibelakang kamar tidur ayahnya,

diam-diam ia lantas berpikir, “Mengambil teratai adalah suatu pekerjaan yang besar, perduli

amat siapa yang telah mengangkangi perkampunganku ini, setelah berhasil mendapatkan teratai

racun empedu, tapi aku akan segera berlalu, sedangkan urusan yang lain dibicarakan dikemudian

hari saja, dari pada menimbulkan peristiwa yang tidak diinginkan sehingga masalah besar ibuku

terbengkalai……”

Di perkampungan sebelah depan seringkali ia jumpai ada manusia yang berlalu lalang,

pengamatannya yang cermat membuktikan bahwa orang-orang itu semuanya pandai bersilat

bahkan sebagian besar memiliki ilmu silat yang tidak lemah, mereka semua boleh dibilang

merupakan jago-jago kelas satu didalam dunia persilatan, hal ini seketika mempertinggi

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

124

kewaspadaannya selangkah demi selangkah ia bergerak lebih hati-hati sedikitpun tidak berani

bertindak gegabah.

Meskipun usianya masih kecil namun pemuda ini dapat meresapi betapa pentingnya masalah

besar, pada saat itu ia segera tinggalkan persoalan-persoalan kecil yang dianggapnya tak penting

dan pusatkan seluruh perhatiannya untuk mengambil teratai racun tersebut.

Dengan mengandalkan daya ingatan yang telah hapal dengan daerah sekitar situ, akhirnya

pemuda itu berhasil menyusup ketempat dimana teratai racun itu dipelihara, ia segera

bersembunyi ditempat kegelapan dan mengawasi dengan seksama, setelah diketahui bahwa

benda yang dicari masih tetap berada ditempat semula. Bisa dibayangkan betapa girangnya hati

pemuda itu hingga sukar terkendalikan.

Kiranya Teratai Racun Empedu Api itu masih tetap terpelihara ditempat semula, hitam dan

menyungging keatas persis seperti keadaan tempo dulu cuma dari balik jendela memancar keluar

sebilah cahaya lampu dan tepat menyinari permukaan kolam teratai tersebut.

Hong-po Seng segera alihkan sinar matanya ke arah jendela tersebut, terlihatlah didalam

ruangau duduk seorang pria berusia dua puluh tahunan, raut wajah orang itu tidak bengis dan

memakai jubah panjang putih bersulamkan kuntum bunga emas, waktu itu sambil mencekal

sebuah cawan air teh sedang duduk seorang diri menikmati minuman,

“Entah bagaimanakah ilmu silat yang dimiliki orang ini?” diam-diam Hong-po Seng

mempertimbangkan diri. ”Aku harus merampas teratai itu dengan menempuh mara bahaya?

Ataukah lebih baik menunggu sampai tertidur lebih dahulu kemudian baru perlahan-lahan turun

tangan?….”

Otaknya dengan cepat berputar keras, ia sadar apabila perbuatannya kali ini mengalami

kegagalan niscaya urusan yang kedua kalinya akan jauh lebih susah, mengingat betapa besarnya

masalah ini mempengaruhi keselamatan ibunya, pemuda itu akhirnya mengambil keputusan

untuk bertindak lebih hati hati.

Setelah mengambil keputusan maka diapun menyembunyikan diri kebelakang sebuah pohon Koei

dan menanti dengan hati sabar, ingatan untuk menempuh mara bahaya tersapu lenyap dari

dalam benaknya.

Lewat beberapa saat kemudian terlihatlah dua orang dara berbaju hijau masuk ke dalam ruangan

setelah menghidangkan sayur dan arak diatas meja, ujarnya kepada pria berbaju putih itu

dengan nada hormat, “Lapor kongcu, sayur dan arak telah disiapkan, apakah kau masih ada

pesan?”

“Peringatkan mereka, jangan memperbolehkan siapapun melangkah masuk ke dalam

perkampungan belakang, barang siapa yang melanggar, bunuh dia sampai mati” kata pria

berbaju putih itu “Kalianpun harus memperhatikan peringatanku ini sebelum memperoleh

panggilan tak usah kamu berdua mendekat tempat ini, siapa yang berani mengintip kucukil biji

matanya biar buta!”

Kedua orang dara berbaju hijau itu mengiakan berulang kali kemudian mengundurkan diri dari

ruangan tersebut.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

125

Hong-po Seng yang bersembunyi ditempat kegelapan jadi tercengang dan heran, pikirnya, “Apa

sih yang hendak dia lakukan? kenapa hanya mengintip saja biji matanya lantas mau dicongkel

keluar?”

Beberapa saat telah berlalu, pria berbaju putih itu mulai bergendong tangan berjalan bolak balik

didalam kamar dengan hati gelisah dan tidak tenang, seringkali ia menoleh keluar jendela dan

memperhatikan sekeliling tempat itu.

Hong-po Seng yang menyaksikan perbuatan pria itu segera dibikin sadar, sekarang ia mengerti

pastilah pria berbaju putih itu sedang menantikan kedatangan seseorang.

Mendadak…. terdengar suara sentilan jari berkumandang memecahkan kesunyian.

Pria berbaju putih itu segera meloncat kedepan jendela, dengan nada kaget bercampur girang

serunya, “Ooh Giok-moay, kalau kau tidak munculkan diri lagi, siauw-heng pasti bakal mati

saking gelisahnya!”

Hong-po Seng segera mendongak keatas, tapi seketika itu juga keringat dingin mengucur keluar

membasahi seluruh tubuhnya.

Ternyata ada sesosok bayangan manusia tepat berdiri diatas ranting diatas batok kepalanya,

ranting pohon itu sama sekali tidak bergerak atau bergoyang, Hong-po Seng yang bersembunyi

dibelakang pohon sedikitpun tidak merasa sedari kapan ada sesosok bayangan manusia telah

berada diatas pohon itu.

Ditinjau dari gerakan tubuh si dara berbaju putih yang meluncur ke arah jendela, pemuda ini

menyadari bahwa kepadaiannya masih jauh ketinggalan kalau dibandingkan dengan orang itu,

hatinya semakin terperanjat dibuatnya.

Mendadak terdengar suara tertawa merdu bergema diangkasa, angin berbau harum menyambar

lewat dan orang itu tanpa menimbulkan sedikit suarapun telah menerobos masuk ke dalam

ruangan.

“Hooooh sungguh lihay ilmu meringankan tubuhnya! diam-diam Hong-po Seng memuji.

Menanti ia berpaling kembali ke arah ruangan, tampaklah ditempat itu telah bertambah dengan

seorang gadis berbaju ungu.

Dara itu mengenakan kain kerudung berwarna ungu diatas wajahnya hingga tidak kelihatan raut

wajahnya, sementara Hong-po Seng sedang tercengang pria tadi telah melepaskan kain

kerudung tersebut sambil ujarnya tertawa, “Giok moay, legakanlah hatimu! aku telah

menurunkan perintah yang melarang siapapun mendekati tempat ini, meski dibelakang

perkampungan masih ada beberapa orang dayang, tetapi sebelum mendapat panggilanku tidak

nanti mereka berani datang mengintip.”

Sementara pembicaraan itu masih berlangsung, kain kerudung yang menutupi wajah dara tadi

telah terlepas, Hong-po Seng yang bersembunyi ditempat kejauhan segera merasakan

pandangannya jadi terang.

Tampaklah dara berbaju ungu itu baru berusia delapan sembilan belas tahunan, matanya jeli

dengan bibir yang mungil, kecantikan wajahnya boleh dibilang bagaikan bidadari turun dari

kahyangan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

126

Setelah melepaskan kain kerudung tersebut pria berbaju putih itu segera memeluk tubuh gadis

tadi, dan mereka berduapun melakukan suatu gerakan yang diliputi kemesrahan. Hong-po Seng

buru-buru memejamkan matanya.

Kedua orang itu berbisik bisik sesaat dengan suara lirih diikuti saling berpandangan sambil

tertawa, kemudian sembari bergandeng tangan mereka menuju ke arah meja perjamuan, ambil

tempat duduk dan mulai minum arak sambil berbicara.

Melihat sampai disini, Hong-po Seng lantas berpikir didaam hatinya, “Aaaii..! perbuatan pribadi

seorang pria dan wanita tidak sepantasnya kuintip, apalagi ikut mencuri dengar…”!

Sebagai seorang lelaki yang jujur dan tahu sopan santun, setelah mengambil keputusan untuk

tidak melihat dan mendengar, ia benar-benar pejamkan mata dan menutupi lubang telinganya

dengan jari tangan, dalam benaknya sama sekali tidak terlintas pikiran apa apa.

Lewat beberapa saat kemudian ia membuka matanya dan melirik ke dalam ruangan, tapi setelah

dilihatnya kedua orang itu masih bercakap-cakap sambil minum arak maka pemuda itu sekali lagi

pejamkam matanya.

Dengan sabar ditunggunya beberapa waktu dengan mata terpejam, setelah dirasakan kira-kira

dua orang itu telah selesai bersantap maka ia baru membuka matanya,

Tetapi kali ini wajahnya seketika berobah jadi merah jengah, ternyata dibawah pengaruh air

kata-kata sepasang muda mudi itu telah melanggar susila, gaun yang dikenakan dara berbaju

ungu tadi telah dicopot separuh hingga terlihatlah bagian terlarangnya di bawah sorot cahaya

lampu lentera.

Pemuda ini usianya masih muda lagi pula dibesarkan dalam gunung yang terpencil, terhadap

perbuatan seperti ini boleh dibilang belum mengenalnya sama sekali, tapi setelah menyaksikan

kejadian itu ia segera merasa sangat malu, buru-buru matanya dipejamkan kembali.

Lubang telinga yang ditutupi terlalu lama dirasakan sangat tak enak, tapi ketika jari tangannya

dikendorkan, rayuan-rayuan tengik seketika menggema masuk ke dalam telinganya, membuat ia

semakin muak, akhirnya sambil pejam mata dan menutupi telinganya ia menyumpah didalam

hati, “Sialan! sungguh tak tahu malu, mau melakukan perbuatan begitupun tidak menutup pintu

jendela terlebih dahulu!”

Lama…. lama sekali, akhirnya pemuda itu tak kuat menahan diri dan membuka matanya kali ini

dia hanya menjumpai pakaian luar dan pakaian dalam berserakan diatas lantai

sedangkan muda mudi itu tidak nampak batang hidungnya lagi.

Secara lapat-lapat dia mengetahui bahwa kedua orang itu pasti sudah naik keatas pembaringan,

hatinya semakin muak dibuatnya, kesabaran hatinya kontan hilang. Melihat dibalik jendela sudah

tak ada orang pemuda itu segera menjejakkan kakinya melayang ke tepi kolam teratai.

Bagi orang yang berlatih silat, ketajaman pendengarannya jauh lebih tajam dari orang biasa,

setelah tubuhnya berada semakin dekat dengan kolam teratai apalagi tangannya telah dilepaskan

dari lubang telinga tentu saja rayuan-rayuan maut, dengusan napas memburu serta rintihan

cabul kedengaran makin jelas lagi membuat jantung si anak muda ini berdebar debar keras.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

127

JILID 7

LUAS kolam teratai itu hanya delapan depa, Teratai Racun Empedu Api tumbuh di tengah kolam,

meskipun tak usah turun ke kolam, untuk menjangkau teratai tersebut dengan tangan dari tepi

kolam masih sanggup dilakukan.

Hong-po Seng segera miringkan tubuhnya ke samping dan menjulurkan lengan kirinya ke depan,

sepasang jarinya mengerahkan tenaga dan menggunting batang teratai itu, seketika itu juga

bunga Teratai Racun Empedu Api terjatuh ke dalam tangannya.

Sayang sekali pada waktu itu hatinya terpengaruh oleh emosi hawa murni yang berada di dalam

tubuhnya tak dapat tenang dan mantap seperti hari-hari biasa, di kala melakukan pemetikan

itulah tanpa sadar ia telah menimbulkan sedikit suara berisik.

Mendadak terdengar gadis yang berada di dalam ruangan membentak nyaring, “Siapa diluar?”

Hong-po Seng amat terperanjat, buru-buru is sambar teratai racun itu dan tutulkan ujung kirinya

meluncur keluar dari situ.

Terdengar desiran angin tajam menyambar datang dari arah belakang, sebuah pukulan yang

tajam dan berat telah mengancam punggungnya.

“Sungguh cepat gerakan tubuh orang tua,” batin Hong-po Seng di dalam hati.

Dengan cepat badannya berputar ke belakang, sebuah pukulan laksana kilat dilancarkan.

Terdengar suara pengejar berseru tertahan, jurus serangannya buru-buru dibuyarkan dan

berganti arah, ia melayang turun persis pada si anak muda itu dan tanpa membuang sedikit

waktu pun ia lanjutkan serangan berikutnya secara bertubi-tubi.

Suatu pertarungan sengitpun segera berkobar di tengah kalangan, angin pukulan menderu-deru

bayangan telapak memenuhi seluruh angkasa.

Hong-po Seng melemparkan beberapa kerlingan ke arah lawannya, segera tertampak olehnya

bahwa lawan yang sedang bertarung melawan dirinya sekarang bukan lain adalah pria berbaju

putih itu. Meski pada saat ini ia berada dalam keadaan telanjang bulat tetapi sepasang

telapaknya dimainkan sedemikian gencar, sehingga pukulan-pukulannya boleh dibilang

merupakan serangan-serangan mematikan.

Dalam keadaan demikian kedua orang itu sama-sama mempunyai tujuan yang sama yaitu cepatcepat

menyelesaikan pertarungan tersebut, di salah satu pihak ingin cepat-cepat

membungkamkan mulut lawannya, sedang di lain pihak cepat-cepat melepaskan diri dari

kepungan lawan dengan begitu pertempuranpun berlangsung dengan serunya. Siapapun tidak

ingin memberi kesempatan kepada lawannya untuk menguasai keadaan.

Mendadak terlihatlah dara ayu tadi munculkan diri diluar jendela, setelah terburu-buru

mengenakan pakaian, matanya segera menatap keluar jendela sambil serunya dengan suara

berat, “Engkoh Bong, jangan sekali-kali kau lepaskan orang itu dalam keadaan hidup!”

“Jangan kuatir adik Giok” sahut pria itu dengan suara lirih. “Kalau orang ini berhasil lolos, siauw

beng akan persembahkan batok kepalaku kepadamu”

“Engkoh Bong, dapatkah kau melakukan pertarungan dengan mempergunakan tenaga dalam?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

128

“Apa susahnya?” sahut sang pria.

Sepasang telapaknya segera bekerja keras dan secara beruntun melancarkan beberapa buah

serangan kilat. Menggunakan kesempatan di kala Hong-po Seng melakukan pembalasan itulah ia

sambut datangnya serangan itu dengan keras lawan keras.

Ploook..! sepasang telapak segera bertemu satu lama lainnya menimbulkan suara yang nyaring.

Ternyata orang ini mempunyai pengalaman yang sangat luas di dalam melakukan pertarungan,

setelah mengatakan hendak beradu tenaga dalam orang itu segera membuktikan kata-katanya.

Hong-po Seng yang pada dasarnya sudah kewalahan kini semakin keteter keadaannya.

Dalam pada itu sepasang telapak dari kedua orang itu saling menempel satu sama lainnya,

masing-masing pihak mengerahkan segenap tenaga lweekang yang dimilikinya ke atas telapak,

sebab mereka tahu menang kalah dalam pertempuran ini sangat mempengaruhi mati hidupnya

masing-masing pihak, karena itu siapapun tak berani bertindak gegabah.

Kurang lebih seperminum teh kemudian, di atas jidat Hong-po Seng telah muncul butiran air

keringat, sebaliknya sang pria berada dalam keadaan telanjang bulat itu tetap kokoh dan kuat

seperti sedia kala, sedikitpun tidak nampak gejala payah atau keteter.

Tiba-tiba terlihatlah dara berbaju ungu itu melayang keluar dari dalam ruangan, sambil berdiri di

sisi pria itu ujarnya tertawa, “Engkoh Bong, jangan takut! mari kubantu dirimu untuk

menyelesaikan bajingan ini!”

Seraya berkata telapak kirinya segera diayun ke depan melancarkan dua serangan dahsyat ke

arah Hong-po Seng.

“Mati aku kali ini!” jerit si anak muda itu diam-diam.

“Giok moay, menyingkirlah ke samping!” seru pria itu dengan suara berat, “Lihatlah siauw beng

akan membereskan orang ini seorang diri!”

Mendengar perkataan itu, mendadak dara berbaju ungu tadi tertawa cekikikan.

“Hiiih……. hiiih…… hiiih…. kalau kau tidak sudi menerima bantuanku, lebih baik aku membantu

dirinya saja!”

Begitu selesai berkata ujung bajunya segera bergetar dan tampaklah sekilat cahaya tajam

berkelebat lewat tahu-tahu sebilah pisau belati telah menembusi punggung pria itu.

Hong-po Seng yang berdiri saling berhadap-hadapan muka dengan pria telanjang itu tidak

sempat menyaksikan perubahan yang terjadi di belakang punggungnya, ketika mendadak

menyaksikan orang itu mendengar berat dan hawa murninya seketika buyar, ia tak dapat

menahan diri lagi, hawa pukulannya bagaikan gulungan ombak di tengah samudra segera

memancar keluar dengan bebatnya.

Terdengar pria itu mendengus berat, darah segar segera muncrat keluar dari bibirnya, tanpa

mengeluarkan suara jeritan badannya terjengkang ke atas tanah dan menemui ajalnya saat itu

juga.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

129

Perubahan ini terjadi sangat mendadak, baru saja Hong-po Seng berdiri tertegun mendadak

terasalah cahaya tajam yang menyilaukan mata menyambar lewat, sebilah pisau belati dengan

cepatnya mengancam ulu hatinya.

Hong-po Seng merasa amat terperanjat buru-buru sepasang kakinya menjejak tanah dan

meloncat mundur beberapa tombak jauhnya ke belakang, nyaris sekali ia tampak oleh tusukan

pisau belati tersebut.

-oooOooo-

MELIHAT serangannya tidak mengenai sasaran, biji mata dara berbaju ungu itu segera berputar,

lalu bentaknya dengan suara lirih, “Bajingan cilik, kenapa kau tidak coba melarikan diri? rupanya

kau benar-benar kepingin modar?”

Hong-po Seng alihkan sinar matanya melirik sekejap ke arah mayat telanjang yang membujur di

atas lantai, teringat akan peristiwa yang baru saja berlangsung di mana dalam pertarungannya

mengadu tenaga dalam. Ternyata dara berbaju ungu itu telah melakukan tusukan maut dari arah

belakang, hatinya jadi terperanjat bercampur curiga, ia jadi bergidik dan segera putar badan

melarikan diri.

Perkampungan bagian belakang adalah daerah yang tidak bermanusia, Hong-po Seng sambil

menghindari cahaya lampu lentera dalam beberapa kali loncatan telah berhasil keluar dari

perkampungan tersebut, tanpa berhenti ia segera lari menuju keluar selat.

Akhirnya dengan susah payah dia berhasil juga tiba di mulut selat, hatinya jadi lega dan sambil

menyeka keringat yang membasahi jidatnya diam-diam ia melirik ke arah belakang.

Sreeet….! mendadak segulung angin desiran tajam berkelebat lewat. Sebilah pisau belati yang

memancarkan cahaya berkilauan tahu-tahu sudah mengancam pinggangnya.

Hong-po Seng merasa terkejut bercampur gusar di saat yang amat kritis ia segera melemparkan

diri ke samping dan menggelinding beberapa tombak jauhnya dari tempat semula.

Kiranya selama ini si dara berbaju ungu itu menguntil terus dari belakangnya cuma karena ilmu

meringankan tubuh yang dimiliki dara tersebut sangat lihay, maka walaupun sudah diikuti

setengah harian lamanya Hong-po Seng sama sekali tidak merasakan akan hal itu.

Melihat serangannya kembali mengenai sasaran yang kosong, dara berbaju ungu itu segera

menarik pinggangnya sambil ayun pisau belatinya ke depan. Kembali ia melakukan pengejaran.

Sementara itu kain kerudung yang menutupi wajahnya telah dikenakan kembali hingga dari luar

hanya nampak sepasang biji matanya yang menonjol keluar. Di balik biji matanya yang bening

secara lapat-lapat terpancar keluar nafsu membunuh yang tebal, rupanya sebelum berhasil

membinasakan Hong-po Seng ia merasa tidak terima.

Hong-po Seng sendiri setelah melihat dirinya dibokong sebanyak dua kali, hawa amarahnya

kontan memuncak. Ia tunggu sampai senjata pisau belati orang hampir mendekati, tiba-tiba

badannya tergeser ke samping, telapak kirinya dengan sepuluh bagian tenaga dalam segera

dihantamkan ke depan.

Pukulan yang dilancarkan dalam keadaan gusar ini benar-benar amat dahsyat, diiringi desiran

angin tajam yang memekikkan telinga segera meluncur ke depan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

130

Air muka dara berbaju ungu itu berobah hebat, sepasang pundaknya segera bergerak dan

meloncat mundur beberapa tombak ke belakang.

Melihat serangannya mengenai di sasaran yang kosong, dalam hati Hong-po Seng lantas berpikir,

“Perempuan memang tersohor akan kekejaman hatinya yang seperti ular berbisa, setelah ia

membunuh kekasih gelapnya sekarang hendak melenyapkan pula diriku. Waaah…… jelas dalam

ilmu meringankan tubuh aku tidak dapat menangkan dirinya kalau aku sampai sambil langkah

seribu dia pasti akan berusaha untuk membokong diriku dari belakang, lebih baik aku melakukan

perlawanan saja sekuat tenaga………”

Setelah mengambil keputusan di dalam hatinya, sang badan dengan cepat menerjang maju ke

muka, sebuah pukulan dahsyat dilancarkan.

Criiing dari balik punggungnya dara berbaju ungu itu meloloskan sebilah pedang baja, dengan

jurus “Pat Hong Hong Yu” atau angin hujan dari delapan penjuru mengirim satu tusukan kilat ke

arah Hong-po Seng.

Sewaktu meninggalkan perkampungan Liok Soat Sanceng tadi, di atas tubuhnya hanya terdapat

sebilah pisau belati, entah sejak kapan pada punggungnya telah tersoren sebilah pedang

panjang. Saat itu gerakannya menghindar dari serangan, mencabut pedang serta melancarkan

serangan balasan dilakukan dengan kecepatan bagaikan kilat, bukan saja tusukan yang

dilepaskan amat keji bahkan luar biasa mengerikannya…………….

Baru saja Hong-po Seng merasakan serangannya mengenai sasaran yang kosong mendadak

pandangan matanya jadi silau. Cahaya tajam segera bermunculan dari empat penjuru, seluruh

angkasa dipenuhi oleh bayangan pedang yang membingungkan hati.

Dalam keadaan terkesiap sepasang kakinya segera menjejak tanah dan buru-buru melayang

mundur sejauh dua tombak lebih.

Dara berbaju ungu itu tidak mengeluarkan sedikit suarapun, sambil menempel permukaan tanah

ia meluncur maju ke depan, laksana kilat pedangnya dibabat keluar melakukan pengejaran.

Kegusaran Hong-po Seng sudah mencapai pada puncaknya, sang telapak kiri segera dibekukan

setelah membentuk gerakan setengah lingkaran busur ia membentak keras kemudian

melepaskan satu pukulan dahsyat ke depan.

Jurus pukulan “Koen Sioe Ci Taow” benar-benar luar biasa sekali, ditambah pula Hong-po Seng

melancarkan serangannya dengan segenap tenaga, ujung pedang si dara berbaju ungu itu baru

saja mencapai di tengah jalan segera terpental ke samping setelah termakan oleh getaran angin

pukulan yang maha dahsyat itu.

Dara berbaju ungu itu segera bergeser satu langkah ke samping, dengan cepat ia mengerling

sekejap ke belakang kemudian tegurnya sambil tertawa, “Siapakah namamu? kalau mau

berkelahi yaah berkelahi, kenapa musti berteriak-teriak dan gembar-gembor seperti setan

kepanasan?”

“Aku bernama Ong Khong!” sahut Hong-po Seng dengan nada ketus, telapak kirinya disilangkan

di depan dada siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan. “Setiap kali

melepaskan satu pukulan harus dibarengi dengan gemboran keras, eeei, siapa pula namamu?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

131

Sejak turun gunung walaupun ia selalu berada dalam suasana yang demikian krisisnya seperti

kali ini, kendati Kok See-piauw serta Pek Kun-gie sekalian hendak mencabut jiwanya tetapi ia

masih mempunyai alasan untuk mengadakan pembicaraan dengan mereka.

Sebaliknya keadaan dari dara berbaju ungu ini jauh berbeda dengan keadaan mereka, ia selalu

tenang tidak bergerak sepintas lalu bagaikan permukaan samudra yang tenang serta bebas dari

angin, tetapi setiap pukulan serta tusukan pedang yang dilancarkan semuanya merupakan jurus

maut yang mengancam jiwanya, sedikitpun tiada keraguan-raguan atau rasa kasihan.

Dalam keadaan begini asal sekali saja ia salah perhitungan, maka niscaya jiwanya bakal

melayang di tengah tusukan pedang yang masih membingungkan hatinya itu.

Tampak si dara berbaju ungu itu tersenyum biji matanya sekali lagi melirik sekejap ke sekeliling

tempat itu, kemudian tegurnya, “Aku bernama Che Giok, apakah kau adalah anak buah dari

perkumpulan Sin-kie-pang?”

Namaku Ong Khong adalah nama palsu, jelas Che Giok yang diakui sebagai namanya pun hanya

cuma samaran belaka,” pikir Hong-po Seng di dalam hati.

Karena berpikir begitu, dengan serius dia harus menjawab, “Aku berasal dari perkumpulan

agama Thong Thian Kauw, Bona Che Giok! Apakah kau adalah enghiong dari perkumpulan Sinkie-

pang?”

Dara berbaju ungu itu mengangguk.

“Lebib baik kita jangan membicarakan soal ini, aku lihat tindakanmu rada sedikit tolol……..”

Biji matanya berkilat dan kembali ia mengerling sekejap ke sekeliling tempat itu.

“Nona Che Giok, hatimu bimbang dan kacau apakah kau takut ada orang yang berhasil menyusul

dirimu?”

“Aku mengatakan kau tolol ternyata ucapan ini sedikitpun tidak salah, setelah kau bunuh Jien

Bong kalau tidak bermaksud lari sejauh-jauhnya ke ujung langit untuk menghindarkan diri dari

pengejaran, apakah kau ingin berlagak sok-sokan untuk berlagak pilon di tempat ini? Hmm,

setelah kejadian ini diketahui besok pagi, lima propinsi besar di wilayah utara pasti akan terjadi

kekacauan yang bebat, akan kulihat kau hendak menyembunyikan diri di mana?”

Diam-diam Hong-po Seng merasa terperanjat dengan ucapan itu, setelah berhasil

menenteramkan hatinya ia menyahut, “Siapakah Jien Bong itu? Bukankah sudah jelas sekali

nonalah yang diam-diam menusuknya hingga mati, apa sangkut pautnya peristiwa berdarah itu

dengan cayhe?”

“Huuuh sungguh suatu lelucon besar yang menggelikan hati!” seru si dara berbaju ungu itu

sambil mengangkat bahu, “Masa siapakah Jien Bong pun kau tidak tahu, mau apa kau menyusup

ke dalam perkampungan Liok Soat Sanceng?”

“Masalah mencuri terasi tak boleh kuutarakan kepadanya!” pikir Hong-po Seng dalam hati, ia

segera tertawa lantang.

“Secara tidak sengaja cayhe telah menyusup ke dalam perkampungan Liok Soat Sanceng,

mengenai siapakah manusia yang disebut Jien Bong itu, serta apa hubungannya dengan nona

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

132

aku tidak mau tahu, pokoknya aku hanya tahu bahwa nonalah yang melancarkan serangan

bokongan untuk menghabisi selembar jiwanya”

Merah padam selembar wajah dara berbaju ungu itu sehabis disindir oleh si anak muda ini,

untung wajahnya tertutup oleh kain kerudung sehingga Hong-po Seng tidak sempat melihat

perubahan wajahnya itu.

Setelah memutar biji matanya, gadis itu tertawa dan berkata kembali, “Jien Bong adalah putra

kesayangan dan ketua perkumpulan Hong-im-hwie, baik dia mati lantaran dibunuh olehmu atau

mati di tanganku pokoknya kalau malam ini kita tak berhasil melarikan diri, maka kita berdua

bakal mati konyol di tangan mereka”

“Waaah…….. rupanya kejadian ini luar biasa sekali,” pikir si anak muda itu di dalam hati dengan

gelisah. “Tetapi racun empedu api masih berada di dalam sakuku, dan benda itu merupakan

bukti yang kuat untuk menunjukkan kehadiranku dalam perkampungan Liok Soat Sanceng pada

malam peristiwa berdarah ini. Jika benda ini sampai ketahuan orang-orang dari perkumpulan

Hong-im-hwie…. waaaah bisa berabe. Sekalipun aku menceburkan diri ke dalam sungai Huanghoo

pun belum tentu bisa mencuci bersih segala tuduhan yang dilontarkan kepadaku”

Di dalam hati ia berpikir demikian, diluaran sambil tertawa lantang sahutnya, “Haaah……..

haah…….. haaa…….. kiranya Jien Bong adalah putra tunggal dan Jien Hian si ketua dari

perkumpulan Hong-im-hwie. Bagus!….. bagus!….. daerah di sebelah utara sungai Huang-hoo

merupakan wilayah kekuasaan orang-orang perkumpulan Hong-im-hwie, peristiwa ini pasti luar

biasa jadinya. Kenapa nona sendiri tidak berusaha untuk melarikan diri?”

Sebenarnya keadaan dari dara berbaju ungu itu tidak jauh berbeda dengan keadaan dari Hongpo

Seng, bukan saja hatinya merasa amat gelisah bahkan ia ingin cepat-cepat kabur dari situ.

Namun diluaran ia sengaja berlagak tenang. Mendengar perkataan itu diapun tertawa.

“Mau kabur aku masih sanggup untuk merat secepat-cepatnya justru yang paling kutakuti adalah

dirimu yang tak bisa lari cepat, jagoan-jagoan sebelum berbasil bersembunyi telah kedahuluan di

tangan orang-orang Hong-im-hwie!”

“Soal itu nona tak usah kuatir, sekalipun cayhe ketangkap tidak nanti akan kuseret orang lain

untuk ikut tercebur ke dalam air!”

“Sungguhkah ucapanmu itu? hiiih… hiiih… hiiih… jarang sekati aku bisa menjumpai manusia yang

berbaik hati seperti kau!”

Sambil berkata dengan senyum dikulum dan langkah yang genit setindak demi setindak ia maju

ke depan.

Hong-po Seng bukanlah seorang manusia yang bodoh, begitu otaknya berputar ia segera

menyadari bahwa situasi yang dihadapinya saat ini jauh lebih parah dari pada sewaktu dirinya

terjerumus ke dalam kekuasaan perkumpulan Sin-kie-pang.

Ia segera mendongak dan tertawa terbahak-bahak.

“Haaah….. haaaah…. haaaah kalau nona ada maksud melenyapkan diriku dari muka bumi, maka

perhitungan itu adalah salah besar….!” sembari membentak keras ia segera melancarkan

babatan yang maha dahsyat.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

133

Si dara berbaju ungu itu segera mengerutkan dahinya, melihat pemuda itu menyerang pulang

pergi selalu hanya menggunakan gerakan yang sama, tapi justru di tengah persamaan tadi

muncul perubahan aneh yang sulit dipatahkan olehnya, dalam keadaan apa boleh buat terpaksa

ia mundur selangkah untuk menghindar .

“Kau benar-benar kepingin mati?” jeritnya.

“Hmmmm marilah kita bersama-sama pergi menghadap Jien Hian, siapa salah siapa benar dia

pasti akan memberi keadilan buat kita!”

Dara berbaju ungu itu segera tertawa cekikikan.

“Hiiih…….. hiiih……..hiiiih…….. sungguh tidak becus!” setelah melirik lagi sekeliling tempat itu

serunya, “Ayoh cepat melarikan diri, persoalan yang lain lebih baik kita bicarakan nanti saja!”

Hong-po Seng diam-diam merasa bergidik juga setelah dia harus berhadapan dengan perempuan

yang menyembunyikan kekejiannya di balik senyumannya, ia segera mendengus dingin.

“Kau berangkatlah lebih dulu, aku segera menyusul di belakang….!”

“Eeei……! kenapa mesti begitu?”

“Hmm! hatimu terlalu licik, menyembunyikan golok di balik senyuman, membuat orang harus

berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan yang tidak diinginkan, cayhe tidak berani berjalan di

depanmu”

Dara berbaju ungu itu tertawa cekikikan, ia segera menyimpan kembali pedangnya ke dalam

sarung dan berangkat lebih dahulu.

Hong-po Seng tahu bahwa situasi yang dihadapinya saat ini sangat berbahaya, maka diapun tak

berani berayal segera mengikuti di belakang dara tersebut.

Kali ini perjalanan dilakukan dengan cepat dan terburu-buru, hingga fajar menyingsing mereka

baru berhenti berlari.

Sementara itu keadaan dari si dara berbaju ungu masih tetap seperti sedia kala, seakan-akan tak

pernah melakukan suatu apapun, sebaliknya keadaan Hong-po Seng payah sekali, bukan saja

keringat telah membasahi seluruh tubuhnya bahkan dengusan napas memburupun secara lapatlapat

kedengaran nyata sekali.

Mendadak terdengar dara berbaju ungu itu berkata, “Ong Khong! gertaklah gigimu raput-rapat,

kita harus melanjutkan perjalanan secepatnya, dengan begitu barulah kita bisa lolos dari daerah

bahaya”

“Perkataanmu memang tidak salah, tetapi bilamana cayhe harus menuruti perkataanmu sehingga

akhirnya kehabisan tenaga dan tak sanggup mempertahankan diri lagi, bukankah cayhe bakal

mati konyol bilamana menggunakan kesempatan itu nona melakukan serangan mematikan

kepadaku?”

Pada mulanya dia masih mengikuti di belakang tubuh si dara berbaju ungu itu, tapi setelah

berbicara napasnya semakin memburu dan dia pun ketinggalan sampai beberapa tombak

jauhnya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

134

Si dara berbaju ungu itu segera memperlambat larinya, berlari di samping si anak muda itu

ujarnya sambil tertawa, “Kau sangat sigap dan cerdik, di dalam perkumpulan agama Thong Thian

Kauw merupakan anak murid dan cin jien mana sih?”

Dalam keadaan demikian Hong-po Seng selalu waspada dan berjaga-jaga terhadap pembokong

dari nona tersebut, mendengar ia hendak mengorek keterangan dari mulutnya, segera dijawab

dengan sekenanya, “Persoalan yang menyangkut perkumpulan agama kami tidak ingin cayhe

bicarakan dengan orang lain nona Che Giok memiliki ilmu silat yang lihay, entah di dalam

perkumpulan Sin-kie-pang menduduki jabatan apa?”

Dara berbaju ungu itu tertawa riang.

“Aku bekerja di ruang Thian Kie Thong! dan kau? Murid dari jago lihay mana?”

“Tindak tanduk pertempuran ini sangat mencurigakan membuat hati orang sukar menduga,” pikir

Hong-po Seng di dalam hati, “Apa yang diucapkan jelas bukan ucapan sejujurnya, dia mengakui

sebagai anggota perkumpulan Sin-kie-pang, sudah jelas seratus persen bahwa dia bukanlah

anggota dari perkumpulan itu!”

Berpikir demikian iapun menyahut, “Suhuku adalah seorang awam biasa, dia she Lie, sedang

menanya aku yang menjadi muridnya tidak berani sembarangan menyebut, nona apakah shemu?”

Jawaban yang diutarakan sekenanya ini membuat dara berbaju ungu itu tertegun, lalu sambil

tertawa ia berkata.

“Aku she Poei!”

Pergelangannya bergerak, ia segera menyalurkan telapak tangannya yang halus dan empuk

bagaikan tak bertulang itu ke depan, sahutnya, “Mari aku ajak kau melakukan perjalanan,

dengan bergandeng tangan maka kau tak usah menguatirkan diriku akan melancarkan serangan

bokongan terhadap dirimu lagi”

Ilmu pukulan yang dilatih Hong-po Seng, adalah pukulan sebelah kiri, maka ia segera

menggeserkan badannya ke sebelah kiri dari gadis itu.

Poei Che Giok tersenyum, ia ganti mengulurkan tangan kirinya ke depan dan Hong-po Seng pun

menggenggam telapak tangannya dengan tangan kanan, dalam hati kecilnya pemuda ini sudah

mengambil keputusan, asal dara berbaju ungu itu melancarkan serangan bokongan maka ia

segera akan membalas dengan memakai jurus pukulan Koen Sioe Ci Tauw yang tersohor akan

kedahsyatannya itu.

Begitu telapak saling menggenggam, mendadak Hong-po Seng merasa agak rikuh, pertama,

karena antara perempuan dan lelaki ada batasnya, terutama sekali telapak Poei Che Giok yang

halus, licin dan empuk seperti tak bertulang itu mendatangkan perasaan yang tak enak dalam

genggaman Hong-po Seng. Kedua dirinya sebagai seorang lelaki sejati ternyata harus

membutuhkan tuntunan seorang gadis untuk melakukan perjalanan, ia merasa wajahnya

kehilangan cahaya, karena itu baru saja digenggam segera dilepaskan kembali.

Poei Che Giok mengencangkan kelima jarinya dan berbalik mencengkeram telapak tangannya,

sambil tertawa ia berseru, “Bicara sesungguhnya ilmu meringankan tubuh yang kau miliki sudah

termasuk lumayan, ilmu pukulan serta tenaga dalammu pun termasuk kukoay sekali, kalau

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

135

dibicarakan aku hanya dengan paksakan diri menang setingkat darimu dalam hal ilmu

meringankaa tubuh saja!”

“Heeeh…. heeeh…. heee . . seandainya dalam semua hal kau lebih unggul dariku, mungkin

sedari tadi aku sudah modar di ujung pedangmu!………” jengek Hong-po Seng sambil tertawa

dingin.

Poei Che Giok segera tertawa cekikikan.

“Kau anggap aku benar-benar tidak sanggup untuk membinasakan dirimu?……..”

Jari tangannya ditegangkan bagaikan tombak, kemudian laksana kilat disodorkan ke atas iga

pemuda itu.

Hong-po Seng yang telah bersiap sedia sedari tadi tentu saja tak akan membiarkan dirinya

tertotok, ia mendengus dingin, telapak kirinya diayunkan dan meluncurlah sebuah babatan

dahsyat.

Terdengar Poei Che Giok menjerit kaget, badannya buru-buru berputar satu lingkaran

memindahkan diri ke sisi yang lain dari pemuda itu, kemudian teriaknya gusar, “Kau benar-benar

kepingin berkelahi?”

“Nona! kau menyembunyikan jarum dibalik selimut, cayhe sekalipun bodoh dan kasar tapi

selamanya tak akan membiarkan orang lain menginjak injak kepalaku!”

Kedua orang itu saling bergenggaman tangan dan berpandangan pula tanpa bicara. kalau

dipandang sepintas lalu keadaan tersebut persis seperti sepasang muda-mudi yang berkasihkasihan.

Setelah termenung beberapa waktu, akhirnya Poei Che Giok menggigit bibir dan segera berlarian

ke depan.

Hong-po Seng membiarkan dirinya ditarik untuk berlarian ke arah depan sementara di dalam hati

pikirnya, “Perempuan ini mempunyai tingkah laku yang tidak benar, hatinya kejam dan

perbuatannya telengas, kalau aku harus melakukan perjalanan bersama-sama dirinya berarti

setiap saat jiwaku bakal terancam mara bahaya. Mulai sekarang aku harus mencari akal yang

bagus untuk berusaha menaklukkan dirinya, atau melarikan diri dari sisinya, ataupun

membinasakan dirinya hingga menghilangkan bibit bencana dikemudian hari, setelah itu akupun

harus cepat-cepat pulang ke gunung untuk menyembuhkan luka dari ibu agar tenaga dalamnya

cepat pulih kembali seperti sedia kala …”

Berpikir sampai di sini, diam-diam ia meraba teratai racun empedu api yang berada di dalam

sakunya, dalam hati pemuda ini merasa bergirang hati karena perjalanannya turun gunung kali

ini, kendati harus mengalami pelbagai siksaan batin, kenyang dihina dan kehilangan pedang baja

pemberian ayahnya, bahkan di atas punggungnya masih menggembol tiga batang jarum racun

pengunci sukma dari Pek Siauw-thian yang setiap saat dapat mencabut jiwanya, tetapi Teratai

Racun Empedu Api yang dibutuhkan berhasil didapatkan juga, itu berarti kesehatan ibunya ada

harapan untuk pulih kembali seperti sedia kala.

Dalam pada itu ketika Poei Che Giok menyaksikan pemuda itu membungkam diri dan lama sekali

tidak berbicara, mendadak memperlambat larinya. Sambil melepaskan kain kerudung yang

menutupi wajahnya ia berpaling dan tertawa.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

136

“Ong Khong! Apakah kau kenal dengan diriku?” tegurnya.

Mendengar ucapan tersebut Hong-po Seng tertegun dan segera berpaling ke samping, begitu

memperhatikan raut wajah itu dengan cermat jantungnya segera berdebar keras.

“Aaak.,! kenapa potongan wajahnya persis seperti raut wajah diri Pek Kun-gie?” pikirnya.

Kiranya kemarin malam sewaktu berada di perkampungan Liok Soat Sanceng meskipun ia

sempat melihat wajah gadis ini, tetapi disebabkan pertama, jaraknya terlalu jauh. Kedua sorot

cahaya lampu yang redup, dan ketiga karena ia tak suka mengintip rahasia pribadi orang, maka

dalam sekelebatan ia hanya merasa bahwa gadis itu hanya potongan wajah yang menarik,

kemudian ia tidak perhatikan lebih lanjut.

Kini setelah berdiri saling berhadapan dengan jarak hanya beberapa jengkal, sudah tentu

kendaannya jauh berbeda. Pemuda ini dapat memperhatikan setiap lekuk wajahnya dengan lebih

seksama.

Terdengar Poei Che Giok tertawa dan menegur kembali, “Kau benar-benar tidak kenal

denganku?”

Sekali lagi Hong-po Seng tertegun, diam-diam pikirnya, “Ia bertanya kepadaku apakah kenal

dengan dirinya sebanyak dua kali, di balik pertanyaan itu pasti terselip sebab-sebab tertentu

kalau dilihat panca inderanya yang rada mirip Pek Kun-gie, jelas tak mungkin dia adalah

budak sialan dari Sin-kie-pang………….”

Sementara dia masih termenung, Poei Che Giok telah memutar biji matanya dan tertawa

cekikikan.

“Hiiih…. hiiih … hiiih…. sekarang aku sudah mengerti!” serunya.

Mula mula Hong-po Seng rada melengak, tetapi dengan cepat iapun menyadari akan sesuatu,

sambil tertawa serunya pula, “Cayhe pun telah mengerti!”

“Apa yang kau pahami?”

“Dan nona sendiri apa yang telah kau pahami?”

Sepasang biji mata yang jeli dan penuh daya pengaruh yang kuat dengan tajam menyapu

sekejap wajah pemuda itu, lalu ujarnya sambil tertawa, “Sekarang aku sudah mengerti, kau

adalah anak buah dari perkumpulan Sin-kie-pang dan bukan anak murid dari perkumpulan

agama Thong Thian Kauw!”

“Cayhe sendiri pun sudah mengerti bahwa nona adalah jago lihay dari perkumpulan Thong Thian

Kauw, dan jelas bukan enghiong dari ruang Thian Kie Thong dalam perkumpulan Sin-kie-pang!”

“Darimana kau bisa tahu?”

“Buat apa musti banyak bicara? cayhe tidak kenal diri nona hal ini menyebabkan nona lantas

beranggapan babwa cayhe bukanlah anak murid dari perkumpulan Thong Thian Kauw, ditinjau

dari hal ini sudah jelas membuktikan bahwa nona di dalam perkumpulan Thong Thian Kauw

mempunyai nama yang gemilang serta kedudukannya yang tinggi”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

137

“Ooo, kau sangat cerdik!” seru Poei Che Giok sambil tertawa, setelah merandek sejenak

sambungnya. “Aku dengar Pek Siauw-thian mempunyai seorang putri yang bernama Pek Kun-gie

mempunyai potongan wajab persis seperti diriku, sungguhkah perkataan itu?”

Dengan tajam Hong-po Seng memperhatikan sekejap wajah nadis itu kemudian mengangguk.

“Memang enam tujuh bagian mirip dengan wajahnya, cuma dalam hati berbicara serta tingkah

lakunya jauh bertolak belakang”

“Bagaimana bertolak balakangnya?”

Hong-po Seng tersenyum.

“Pek Kun-gie sombong, jumawa dan tinggi hati, sikapnya dingin bagaikan es dan ketusnya luar

biasa, membuat orang yang memandang jadi benci dan anti pati!”

“Hiih…hiih…. hiih…… setan cilik, tentunya disebabkan wajahmu kurang ganteng sehingga tidak

mendapat perhatian dari Pek Kun-gie maka kau lantas mengucapkan kata yang tidak enak

didengar ini”

Sambil menaban gelinya ia menambahkan, “Bagaimana dengan aku? Apakah akupun

menimbulkan perasaan benci dan anti pati di dalam hatimu?”

“Cayhe merasa nona kalem dan mempunyai potongan yang agung serta menyenangkan hati,

tetapi itu hanya termasuk kebaikan pribadi dirimu, kalau tidak melihat perbuatanmu yang licik,

serta suka membokong orang di kala korbannya tidak berjaga aku tentu akan menganggap

dirimu bagus seratus persen”

Merah jengah selembar wajah Poei Cbe Giok saking malunya, mendadak sambil menggertak gigi

makinya, “Bajingan cilik, mati kau!”

Telapak tangannya diayun dan segera melancarkan sebuah pukulan dahsyat ke arah lawannya.

Pukulan ini bukan saja dilancarkan dengan kecepatan bagaikan kilat bahkan luar biasa hebatnya

Hong-po Seng jengah terperanjat, ia hendak menangkis datangnya serangan itu dengan keras

lawan keras tapi sudah tidak sempat lagi.

Dalam keadaan gugup dan terdesak telapak kanannya segera diangkat ke atas sambil

membentak keras ia mengirim satu serangan balasan ke arah depan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar