Senin, 05 Oktober 2009

bara 2

Buru-buru dayaitg cilik itu menepuk pula di atas jalan darah “Tiong-Khekhiat” sehingga jalan

darah yang tertotok itu segera tergetar bebas.

Diam-diam Hang Po Seng mengatur pernapasannya dan mengalirkan hawa murni ke seluruh

tubuhnya, ia bermaksud hendak melancarkan peredaran darah dalam badannya.

Siapa sangka tiba-tiba kepalanya pusing tujuh keliling, seluruh tubuhnya bergetar keras

kemudian roboh terjengkang ke atas lantai, seketika itu juga ia jatuh tak sadarkan diri.

Ucapan dan gadis itu sedikitpun tidak salah, ilmu pukulan Kioe Pit Sin Ciang yang muncul pada

saat ini jauh berbeda dengan sepuluh tahun berselang, kekejaman kesedihan, serta kehebatan

racunnya boleh dibilang mematikan setiap korban yang terkena oleh pukulan tersebut, hanya

saja selama sepuluh tabun Boe Liang Sinkoen tak pernah tinggalkan goa pertapaannya

sedangkan Kok See Piauw pun belum lama terjun ke dalam dunia persilatan, sampai di manakah

kehebatan dari ilmu pukulan tersebut hanya beberapa orang saja yang tabu.

Ketika menjumpai Hong-po Seng jatuh tak sadarkan diri di atas lantai, dayang cilik itu segera

berjongkok dan memeriksa tubuh pemuda tersebut, katanya kemudian, “Siocia, apakah kau

hendak menerima orang ini sebagai pembantu kita….?”

Dengan ujung jarinya yang dibasahi oleh air ludah ia gosok-gosok wajah Hong-po Seng yang

tajam pekat itu keras, ujarnya lebih jauh, “Andaikata wajah orang ini tidak dipoles dengan obat

penyaruan, aku pikir ia pasti tampan dan menarik!”

“Coba kau totok jalan darah “Jien Tiong”nya!” terdengar gadis cantik itu menitahkan.

Mendengar perintah dari majikannya dayang cilik itu segera melancarkan sebuah totokan di

bawah lekukan hidung pemuda tersebut, seluruh tubuh dan kulit badan Hong-po Seng tergetar

keras, dalam waktu singkat ia siuman kembali dari pingsannya.

“Heng po Seng, sedangkan baik?!” kata gadis cantik itu dengan wajah adem. Aku bernama Pek

Koen Gie Pek Loo, Pangcu ketua dari perkumpulan Sin Kee Pang adalah ayahku!”

Sejak semula Hong-po Seng telah menduga sampai di situ maka ia tidak sampai kaget setelah

mendengar pengakuan dari dara ayu tersebut, sepasang telapaknya segera menekan ke atas

lantai coba merangkak bangun.

Siapa sangka karena sedikit mengerahkan tenaga itulah. luka di atas bahu kakinya terasa amat

sakit hingga merasuk ke dalam isi perutnya, tubuh jadi lemas dan sekali lagi ia roboh terjengkang

di atas lantai.

Dayang cilik yang ada di sisinya segera memayang ia bangun, katanya, “Eeee, kau harus sedikit

tahu diri, jangan sampai menjengkelkan atau menggusarkan siocia kami!”

“Terima kasih atas perhatian diri nona cilik,” sahut Heng po Seng tertawa hambar. “Entah nona

Pek masih ada petunjuk apa lagi? Cayhe siap mendengarkan dengan seksama!”

Setelah jatuh pingsan dan siuman kembali, wajah pemuda itu dari hitam pekat kini berubah jadi

kuning pucat, sepasang matanya suram tak bersinar, suaranya untuk berbicara pun lemah tak

bertenaga, seakan-akan seseorang yang sedang menderita sakit parah.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

46

Pek Koen Gie sema sekali tidak terharu oleh keadaan orang, katanya perlahan-lahan, “Kemarin

malam di rumah keluarga Chin Pek Cuan telah terjadi peristiwa, kebetulan kaupun berada di kota

Keng-chiu, bahumu terluka oleh pukulan, pakaianmu terbakar sebagian oleh api, jelas tak bisa

dipungkiri lagi kau pasti sudah turut campur dalam peristiwa itu bukan begitu?”

Semangat Hong-po Seng segera berkobar setelah mendengar dara itu mengungkap kembali

peristiwa di keluarga Chin.

Nama besar Boe Liang Sinkoen telah menggetarkan seluruh Liok lim, ia mempunyai seorang

murid yang bernama Kok See Piauw, meski ilmu silat yang dimilikinya jauh lebih kuat dari aku

orang she Hong-po, menurut pendapat caybe, alangkah baiknya kalau pihak perkumpulan Sin

Kee Pang jangan ikut campur dalam persoalan keluarga Chin ini.”

Pek Koen Gie dapat menangkap arti lain dalam perkataan tersebut, jelas pemuda itu sedang

menyindir perkumpulan Sin Kee Pang yang sedang membaiki Kok See Piauw dengan harapan

bisa menggaet Boe Liang Sinkoen berpihak kepada mereka.

Diam-diam dia jadi naik pitam, “Pihak perkumpulan Sin Kee Pang kami telah kehilangan tiga

orang dan kematian seorang Hoe Hoat!” serunya sambil tertawa dingin. “Apakah hutang darah

ini harus kami catat atas namamu?”

“Hmmm, ketiga orang itu telah kubacok mati semua, mayat mereka telah kulempar ke dalam

kobaran api, saat ini mungkin abunya pun sudah musnah terhembus angin. Kalau memang kalian

mau mencari balas, catat saja keempat lembar jiwa itu atas namaku!”

Pek Kotn Gie mendengus dingin, dalam waktu singkat di atas wajahnya yang cantik jelita terlintas

hawa dingin yang menggidikkan hati.

“Hmmm kau tak usah menanggung dosanya Chin Pek Cuan, selama mereka ayah dan anak

masih hidup di kolong langit, cepat atau lambat pasti akan terjatuh ke dalam jaring perkumpulan

Sin-Kee-Pang!”

Hong-po Seng jadi sangat gelisah.

“Nora kau sengaja mengucapkan kata-kata seperti ini bukankah kasarnya ada maksud memaksa

diri cayhe? Entah kau ada perintah apa yang hendak diutarakan kepada cayhe, katakanlah asal

aku Hong-po Seng dapat kerjakan pasti akan kulakukan.”

Pek Koen Gie tertwa dingin.

“Rupanya kaupun terhitung seorang manusia cerdik!” ia merandek sejenak, “Anak buah

perkumpulan Sin-Kee-Pang bukanlah manusia yang boleh dibunuh oleh orang luar, andaikata kau

ingin melepaskan diri dari persoalan ini satu-satunya jalan hanya menyumbang tenaga bagi

perkumpulan kami. Mengingat usiamu masih muda, kepandaian silatmu tidak lemah dan

merupakan seorang manusia berbakat yang punya kemungkinan besar untuk maju, persoalan

yang telah lewat tak akan kubicarakan lagi, aku tanggung jika keluarga Chin tidak akan

mengalami ancaman bahaya apapun!”

Mula-mula Hong-po Seng tertegun, kemudian ia jadi paham dengan duduknya perkara.

“Oooh, ternyata hubungan antara nona dengan Boe-Liang san bukan hanya hubungan biasa,

kalau tidak tak nanti kau berani mengucapkan kata-kata sesumbar itu!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

47

“Hanya mendengar nada ucapanku saja ia bisa menebak maksudnya, kecerdikan orang ini benarbenar

sukar dicarikan tandingannya di kolong langit…..” diam-diam Pek Koen Gie berpikir.

Melihat ia sedang pejamkan mata seolah-olah lagi berpikir, iapun segera menanti dengan tenang

tanpa mengganggu.

Hong-po Seng diam-diam memikirkan kembali situasi yang dihadapi sekarang, dimulai dari

keselamatan keluarga Chin ibunya yang mengasingkan diri di atas bukit, serta nama ayahnya

almarhum yang cemerlang dalam Bu-lim….. akhirnya ia tertawa getir.

“Nona!” katanya kemudian, “Tidak sulit bagiku untuk menggabungkan diri menjadi anggota

perkumpulan Sin-Kie Pang, tapi kesulitan justru terletak pada ketidaktulusan hatiku, aku tak

dapat bersikap setia dengan sepenuh hati kepada kalian. Nora, bagaimana pandanganmu

mengenai hal ini???!”

“Persoalan itu tidak sulit untuk di atasi,” jengek Pek Koen Gie sambil tertawa dingin. “Kalau kau

berani mengkhianati perkumpulan, maka kau akan kuhukum menuruti peraturan, aku rasa hal ini

bukan merupakan satu kesulitan.”

Ia merandek sejenak, lalu tambahnya, “Menurut penglihatanku, kesulitan justru terletak pada

upacara untuk masuk-jadi anggota,

aku takut kau sulit untuk menuruti!”

“Upacara masuk jadi anggota bagaimana maksudmu?? Tolong nona suka menjelaskan!”

“Hmm, kalau dibicarakan semestinya sederhana dan gampang sekali, cukup asal kau suka

berlutut di hadapanku, mendengarkan nasehat serta teguranku kemudian mengijinkan aku

menancapkan tiga batang jarum beracun penempel tulang di atas tubuhmu maka secara resmi

kau telah kuterima sebagai anggota perkumpulan Sin Kee Pang. Bagaima? Apakah kau perlu

mempertimbangkan lagi?”

Merah padam selembar wajah Hong-po Seng begitu selesai mendengar perkataan itu, hawa

amarah yang bergelora dalam rongga dadanya sukar dikendalikan lagi.

Saking gusarnya luka di atas bahunya seketika kambuh kembali, pandangan jadi gelap dan sekali

lagi ia jatuh tak sadarkan diri……

“Siocia, kenapa kau ajukan peraturan seperti itu?” terdengar dayang cilik itu menegur dengan

wajah tertegun bercampur tercengang. Dahulu belum pernah kudengar ada peraturan semacam

ini!”

Pek Koen Gie tertawa dingin.

“Watak serta tabiat orang ini kukoay sekali, kalau dikatakan ia tidak takut mati ternyata ia sangat

takut menghadapi kematian, kalau dikatakan takut mati ternyata ia mempunyai sikap

memandang suatu kematian bagaikan pulang ke rumah, terhadap manusia semacam ini

siapapun bisa dibikin apa boleh buat, oleh karena itu aku perlu menghina dirinya habis-habisan,

bila ia berani mengkhianati diriku maka sekali hantam akan kubereskan selembar jiwanya.”

Dayang cilik itu seperti mengerti seperti pula tidak mengerti atas pembicaraan majikannya,

terdengar ia berkata, “Orang ini sangat cerdik, ilmu silatnya tentu bagus juga bukankah lebih

baik kalau siocia menerima menjadi pembantu yang setia??”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

48

Sambil berkata ia totok kembali jalan darah “Jien Tiong” di lekukan hidung Hong-po Seng,

pemuda itupun siuman kembali.

Perlahan-lahan si anak muda itu membuka matanya, mententeramkan hatinya dan berpikir,

“Sebelum persoalan-persoalan yang dibebankan ke pundakku kuselesaikan secara baik, aku tidak

boleh mati. sebab kalau tidak aku bakal menyia-nyiakan jerih payah ibuku sela na ini. Tetapi

kalau disuruh aku menerima penghinaan yang demikian besarnya, mungkin sukma ayah yang

berada di alam baka pun akan ikut merasa malu sehingga sepanjang masa beliau tak bisa

pejamkan mata. Aaaa….. sungguh bikin aku jadi serba salah, mana yang harus kulakukan???”

Semakin dipikir kepalanya makin pusing, hatinya makin putus asa……. mendadak ia mendongak,

sinar matanya terbentur dengan sorot mata gadis itu empat mata terbentur jadi satu

mengakibatkan sekujur tubuh Hong-po Seng bergetar keras saking kagetnya.

Sepasang alis Pek Koen Gie kontan berkerut, ujarnya dengan nada dingin, “Apakah kau telah

mengambil keputusan??”

Hong-po Seng menenteramkan kembali hatinya dan memandang lagi ke atas wajah gadis itu, ia

temukan di balik biji matanya yang jeli terkandung sifat kejam yang amat sangat, tanpa terasa

pikirnya dalam hati, “Gadis ini tentu mempunyai dendam sakit hati lain terhadap diriku, kalau

tidak mengapa ia begitu benci dan sakit hati terhadap diriku??….”

Mana ia tahu Pek Koen Gie sejak kecil sudah terbiasa dimanjakan. belum pernah ia mengalami

penghinaan ataupun pandangan rendah dari orang lain, sebagai orang yang halus di luar keras di

dalam sudah tentu hatinya tersinggung terlebih dahulu tatkala gadis itu mengetahui bahwa

Hong-po Seng sama sekali tidak

memandang sebelah matapun terhadap perkumpulan Sin Kee

Pang yang besar itu.

Ditarnbah pula kecantikan wajah Pek Koen Gie bagaikan bidadari, setiap berjumpa dengan

dirinya tentu tertarik dan terpesona oleh kecantikan wajahnya, siapa tahu Hong-po Seng bukan

saja tidak tertarik kepadanya, bahkan seakan-akan menganggap kecantikan wajahnya hanya

suatu kejadian yang lumrah dan tak usah dikejutkan, tentu saja gadis itu merasa amat

tersinggung, gengsinya terasa diturunkan oleh sikap pemuda itu.

Hal inilah yang menyebabkan timbulnya rasa sakit hati dan benci dalam hati gadis she Pek itu, ia

bersumpah hendak membalas dendam, ia berjanji hendak menghina pemuda itu habis-habisan.

Lama sekali Hong-po Seng termenung dan mempertimbangkan persoalan itu, tapi ia belum

berhasil juga melepaskan dari simpul mati tersebut, akhirnya sambil menghela napas pikirnya,

“Meskipun ini hari aku menyerah, belum tentu ia mau melepaskan diriku dengan begini saja,

penghinaan yang lebih besar tentu akan kualami di kemudian hari. Daripada menanggung derita

dan siksaan lebih baik kusudahi saja hidupku sampai di sini.

Setelah mengambil keputusan demikian, ia lantas mendongak dan berkata, “Nona, cayhe sudah

mengambil keputusan.”

Badannya lemah tentu saja hal ini mempengaruhi suaranya hingga kedengaran amat lirih,

mendadak Pek Koen Gie naik pitam, tanpa menantikan selesainya ucapan itu katanya, “Manusia

konyol, apa yang hendak kau katakan? Kalau bicara jangan lemah lembut seperti cacing

kepanasan, utarakanlah dengan sedikit bersemangat “

“Bagus! Bagi cayhe urusan mati hidup adalah suatu persoalan kecil, sebaliknya kehormatan dan

gengsi adalah masalah besar, aku telah mengambil keputusan untuk menempuh jalan mati saja!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

49

Pek Koen Gie semakin naik pitam setelah mendengar perkataan itu, dengan tangan kaki gemetar

serunya.

“Kalau sekarang juga kubereskan jiwamu. Hmm, terlalu enakan bagimu…….”

Berbicara sampai di situ ia lantas ulapkan tangannya ke arah Siauw Leng.

Melihat kode majikannya dayang cilik itu buru-buru mengetuk dinding kereta. Kereta kuda itu

segera berhenti, pintu di buka dan Oh Sam melongok ke dalam.

Siauw Leng segera memberi tanda, tanpa mengucapkan sepatah katapun Oh Sam

mencengkeram tubuh Hong-po Seng dan dibawa keluar dari ruang kereta.

Sejak semula Hong-po Seng sudah tiada tenaga untuk memberikan perlawanan, iapun menyadari

bila hawa amarahnya berkobar niscaya ia bakal jatuh tak sadarkan diri, oleh sebab itu sambil

menahan rasa mangkel dan sedih yang berkecamuk dalam hatinya, ia biarkan dirinya dibawa

keluar kereta , dan meneruskan perjalanan menuju ke Utara.

Ilmu pukulan Kioe Pit Sin Ciang benar-benar sangat lihay, hasil latihan Hong-po Seng yang susah

payah selama banyak tahun ternyata tidak sanggup menahan sebuah gebukan ringan ilmu

pukulan tersebut. Kini terhembus oleh angin dingin dan badai salju, ditambah pula rasa lapar

yang tak terhingga dalam waktu singkat ia jatuh pingsan kembali.

Oh Sam cuma melirik sekejap ke arahnya, sedikitpun orang ini tidak menunjukkan rasa kasihan,

simpatik ataupun maksud untuk menolong, sikapnya acuh tak acuh.

Di musim salju yang dingin siang jauh lebih pendek dan malam, ketika sore hari baru menjelang

tiba di udara sudah gelap gulita, sejak jatuh tak sadarkan diri tadi Hong-po Seng belum sadar

kembali, sementara Oh Sam pun melarikan kereta kudanya cepat-cepat menuju ke luar kota

Seng-Chiu.

Mendadak suara derap kaki kuda yang amat santar berkumandang datang dari arah depan

belasan ekor kuda jempolan dengan gagah dan cepatnya menerjang keluar dari balik pintu kota

menyongsong kedatangan mereka. Dari jauh memandang rombongan tersebut. Ob Sam segera

menghardik keras, “Siapa di situ???”

“Yang baru datang benarkah Oh San ya??” sahutan nyaring menggema tiba.

Sementara pembicaraan masih berlangsung ke dua belah pihak telah saling berdekatan,

terdengar suara ringkikan kuda menjulang ke angkasa, dua belas orang mendatang bersamasama

loncat turun dari atas kuda dan berdiri penuh rasa bormat di depan pintu kereta.

Gorden kereta tersingkap, Pek Koen Gie menengok sekejap keluar sambil bertanya, “Loe Hoen

Tongcu, kalian datang kemari dengan menggembol senjata tajam apakah telah terjadi suatu

peristiwa diluar dugaan??”

Pria kekar yang menggembol golok besar bergagang emas pada punggungnya itu segera maju

menjura, lalu menjawab, “Barusan hamba sekalian memperoleh laporan kilat yang mengatakan

di dusun sebelah timur telah kedatangan serombongan manusia yang sangat mencurigakan,

keadaan mereka seperti orang yang sedang mengungsi…..“

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

50

“Aku akan menantikan laporanmu di ruang kantor cabang!” tukas Pek Koen Gie tanpa

menantikan orang itu menyelesaikan kata-katanya. “Andaikata rombongan itu adalah keluarga

dari Chin Pek Cuan, segera tangkap semua dan gusur ke dalam kantor, jangan lepaskan barang

seorangpun diantara mereka dan jangan kalian celakai pula jiwa mereka!”

Habis berkata ia ulapkan tangannya.

Orang she Loei itu mengiakan dengan penuh rasa hormat, diikuti oleh anak buahnya masingmasing

meloncat naik ke atas kudanya.

Mendadak Oh Sam meloncat ke depan jendela katanya, “Chin Loo jie adalah seorang manusia

pemberani sudah tersohor akan kekerasan hatinya ia tak sudi menyerah kepada musuhnya dan

tidak

takut mati untuk menangkap beberapa orang itu hidup-hidup, hamba rasa beberapa orang

ini masih belum mampu untuk melakukannya.”

“Ehmm, kalau begitu kaupun ikut pergi!”

Seketika ada seseorang yang menyerahkan kuda tunggangannya untuk Oh Sam sedang ia sendiri

menggantikan kedudukan sebagai kusir kereta.

Dalam waktu singkat Oh Sam beserta orang-orang itu telah berlalu dari Kereta kuda masuk ke

dalam kota dan langsung menuju ke markas perkumpulan Sin Kee Pang cabang kota Seng Chiu,

Pek Koen Gie turun dari kereta mengangguk terhadap orang-orang yang menyambut

kedatangannya kemudian langsung menuju ke ruang dalam.

Siauw Leng dengan menjinjing sebuah kotak terbuat diri emas menyusul di belakangnya diikuti

orang yang bertindak sebagai kusir tadi membopong lubuh Hong-po Seng.

Orang itu membawa tubuh pemuda she Hong-po ini menuju ke sebuah ruang besar dan

menyandarkan dirinya di atas sebuah kursi besar, sementara meja perjamuan telah dipersiapkan

di tengah ruangan.

Selesai cuci muka dan garti pakaian Pek Koen Gie muncul dalam ruangan itu diiringi

serombongan wanita.

Pek Koen Gie duduk di kursi utama, dua orang wanita mengiringi dikedua belah sampingnya

sedang sisanya mengitari di depan meja, terdengar suara pembicaraan yang nyaring dan ramai

berkumandang memenuhi seluruh ruangan, semua orang bergembira ria kecuali Pek Koen Gie

seorang, wajahnya selalu murung dan kesal jarang sekali ia buka suara untuk bercakap-cakap

apalagi tertawa.

Di tengah perjamuan, seorang dayang muncul sambil membawa sebuah nampan, di atas

nampan terletak secawan air jahe serta sembilan buah mangkok kecil, dalam mangkok masingmasing

diisi dengan cuka, minyak kayu putih, arak kuning, air jeruk serta pelbagai macam obatobatan

lainnya dan segumpal kapas Siauw Leng tertawa cekikikan, dengan wajah berseri-seri ia

meudekati tubuh Hong-po Seng, mula-mula ia cekoki pemuda itu semangkok air jahe, kemudian

dengan menggunakan kapas yang dicelupkan ke dalam minyak kayu putih ia mulai menggosok

wajah Hong-po Seng yang berwama hitam pekat itu.

Sepertanak nasi telah lewat namun warna hitam di atas wajan Hong-po Seng sama sekali tak

luntur ataupun berubah, maka Siauw Leng mengambil lagi segumpal kapas yang direndam

dengan air cuka, namun obat perubah warna itu benar-benar sangat hebat, meski sudah digosok

berulang kali hasilnya tetap nihil, wajah

Hong-po Seng tetap hitam pekat seperti sedia kala.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

51

Siauw Leng jadi amat kecewa, melibat si anak muda itu mulai menyusun kembali ia sege ra

goyang-goyangkan tubuhnya sambil berteriak keras, “Hey Hong-po Seng, sebenarnya wajahmu

sudah kau polesi dengan obat apa?”

Pek Koen Gie sendiripun merasa ingin tahu bagaimana gerangan wajah sebenaroya dari pemuda

itu, ia berhenti minum dan alihkan sinar matanya ke arah sana, demikian pula dengan puluhan

pasang mata lainnya berbareng dialihkan ke atas wajah Hong-po Seng.

Pemuda she Hong-po yang baru saja mendusin dan pingsannya hanya memandang sekejap ke

arah sekelilingnya dengan wajah mendelong lama sekali ia baru bertanya, “Nona apa yang kau

tanyakan?”

“Eeei, wajahmu telah kau polesi dengan obat apa?” teriak Siauw Leng.

Hong-po Seng tahu kematian tak akan terbindar dari dirinya, ia jadi malas buka suara. tapi iapun

takut dayang cilik itu ribut tiada bentinya. maka ia menyahut, “Sejak aku berusia tujuh tahun,

setiap hari wajahku kugosok dengan air obat, tiga tahun kemudian wajahku telah berubah jadi

begini dan mungkin selama hidup Wajahku tak akan pulih kembali seperti sedia kala, nona cilik,

aku lihat lebih baik kau tak usah buang tenaga dengan percuma!”

“Hey, sampai di mana sih kelihayan dari musuh-musuh besarmu?? Hingga kau pandang

persoalan yang kecil jadi masalah besar??”

Mendadak terdengar pek koen gie mendengar dengan suara dingin.

Sorot mata Hong-po Seng berkilat, ia melirik sekejap ke arahnya seakan-akan hendak

mengucapkan sesuatu namun akhirnya ia batalkan maksud tersebut dan pejamkan kembali

matanya.

Siauw-Leng si dayang cilik jadi kheki, sambil mencibirkan bibirnya ia menyingkir dari situ.

Perempuan yang duduk di sebelah sisi Pek Koen Gie mendadak menimbrung dengan suara

lantang, “Hey bocah muda, perduli siapakah musuh besarmu asal kau mohonkan bantuan serta

perlindungan dari siocia kami, meski Thian Ong Loo-cu ataupun Giok-Hong-Thay Tie tak nanti

mereka berani mengganggu selembar jiwamu!”

Hong-po Seng tetap pejamkan matanya dengan mulut membungkam, terhadap ocehan

perempuan tersebut ia sama sekali tidak ambil gubris.

Diam-diam Pek Koen Gie jadi mendongkol, ia angkat cawan araknya dan sekali teguk

menghabiskan isinya, mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia berpikir, “Senang

hidup, takut mati adalah kebiasaan dari manusia, sekarang ia berlagak angkuh dan sombong

tidak lebih karena terdorong oleh emosi belaka, asal aku dapat memancing rahasia hatinya dan

berhasil mengetahui kelemahannya, maka ia akan takut menghadapi kematian, asal dalam

hatinya sudah timbul rasa takut menghadapi kematian, tidak terlalu sulit bagiku untuk

menaklukkan dirinya.”

Berpikir ia lantas tertawa dingin katanya, “Hong-po Seng, kematianmu telah berada di ambang

pintu, bila kau masih terdapat pekerjaan atau tugas yang belum sempat diselesaikan utarakan

saja kepadaku, mengingat kau mempunyai beberapa bagian semangat seorang ksatria, setelah

kau mati aku dapat perintahkan orang-orang untuk menyelesaikannya!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

52

“Antara kau dengan aku terpisah oleh paham yang berbeda, aku rasa tidak baik kalau kita

bekerja sama,” tampik Hong-po Seng dengan suara hambar, matanya melotot besar. “Maksud

baik dirimu lebih baik kuterima di dalam hati saja, aku tak berani merepotkan diri nona.”

Meski ia diluar bicara demikian, dalam hati terbayang kembali wajah ibunya yang penuh kasih

sayang, teringat kembali ucapan ibunya bahwa hanya teratai racun empedu api saja yang dapat

menyembuhkan sakitnya serta memulihkan kembali kepandaian silatnya, tanpa sadar titik air

mata jatuh berlinang membasahi pipinya.

Haruslah diketahui bagi orang ksatria lebih baik mati terbunuh daripada menerima penghinaan,

meskipun Hong-po Seng mempunyai keinginan untuk melanjutkan hidup namun andaikata ia

disuruh berlutut di hadapan Pek Koen Gie sambil mendengarkan nasehat serta tegurannya, hai

itu boleh dibilang merupakan suatu penghinaan yang maha besar bagi seorang manusia, juga

merupakan penghinaan terhadap keluarga kakek moyangnya. Oleh karena itu setelah dipikirkan

pulang pergi, ia merasa kematian adalah jalan yang terbaik baginya untuk ditempuh.

Kini terpancing oleh Pek Koen Gie, tanpa sadar air mata telah membasahi wajahnya.

Pek Koen Gie pribadi sebagai seorang putra pangcu yang paling berkuasa di kolong langit pada

hari-hari biasa selalu andalkan kekuasaan ayahnya untuk berbuat sewenang-wenang, mengikuti

adatnya setelah Hong-po Seng menyinggung perasaan halusnya sebagai seorang wanita, ia

bersumpah untuk membalas dendam sakit hati ini. Sekarang melihat si anak muda itu telah

mengucurkan air matanya, ia jadi girang, biji matanya mengerling sekejap ke arah Siauw Leng

memberi tanda.

Siauw Leng adalah seorang dayang yang masih muda, watak kekanak-kanakannya belum hilang,

ia takut sebelum sempat melihat wajah sebenarnya dari Hong-po Seng dia keburu mati, maka

menjumpai keringanan mata majikannya, ia segera mengambil semangkok nasi dan diberikan

kepada seorang dayang disisinya sambil berpesan, “Lengan toaya itu tidak leluasa untuk

bergerak, cepat kau suapin dirinya hingga kenyang!”

Hong-po Seng sudah seharian penuh tidak bersantap, perutnya sejak semula sudah terasa amat

lapar, dalam keadaan seperti ini diapun ogah untuk memperhatikan adat istiadat lagi, di bawah

suapan dayang tadi dalam waktu singkat ia telah menghabiskan dua mangkok nasi.

Suasana di dalam ruangan ini nyaman dan hangat, selesai bersantap merasa semangatnya pulih

kembali, keempat anggota badannyapun sudah mulai terasa segar, maka ia lantas pejamkan

matanya diam-diam mengatur napas.

Setelah menderita siksaan seharian penuh, semangat dan kekuatan Hong-po Seng mengalami

kerusakan yang sangat hebat, dalam semedinya ia temukan seluruh urat-urat penting di atas

bahu kirinya telah tersumbat, meski lengan kirinya mungkin jadi cacad namun jiwanya masih

dapat diselamatkan, maka dari itu ia tidak terlalu merasa kuatir.

Selesai berlatih beberapa saat lamanya ia merasa badannya jadi lelah, pandangannya berkunang

dan ia tertidur nyenyak.

Pek Koen Gie sendiri selesai bersantap berbicara sejenak dengan perempuan-perempuan itu,

karena hatinya murung ia segera berpamitan dan kembali ke kamarnya.

Siauw Leng mengikuti majikannya duduk tepekur di atas meja….. lama kelamaan ia sen diri

terlelap dalam tidurnya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

53

Kentongan ketiga…. kentongan keempat… kentongan kelima ayam mulai berkokok suara

ketukan Bek Hie dari kaum paderi berkumandang di tengah kesunyian.

Mendadak terdengar suara derap kaki kuda secara lapat-lapat berkumandang datang. Pek Koen

Gie tersentak bangun dari tidurnya, sepasang biji mata yang bening memancarkan cahaya tajam,

tanpa sadar ia melirik sekejap ke arah Hong-po Seng.

Siauw Leng pun tersentak bangun dari tidurnya, dengan mata masih mengantuk ia berseru,

“Siocia, apakah air tehnya sudah dingin?”

Hong-po Seng pun baru saja mendusin dari tidurnya, mendengar suara hiruk-pikuk di luar

ruangan yang bercampur dengan isak tangis kaum wanita dan bocah cilik mula-mula ia tertegun,

sementara suara gaduh tadi sudah semakin dekat dengan ruangan mereka.

Mendadak gorden tersingkap. Oh Sam masuk ke dalam lebih dahulu diikuti anak buah kantor

cabang kota Sang Chiu yang menggusur sembilan orang tawanan, dalam waktu singkat mereka

sudah berada dalam ruangan semua.

Diam-diam Hong-po Seng melirik sekejap ke arah orang-orang itu, ia temukan salah seorang

dara berbaju hijau yang ada di situ bukan lain adalah Chin Wan Hong puteri kesayangan dari

Chin Pek Cuan, dengan hati terperanjat ia loncat bangun, teriaknya, “Nona Chin, dimanakah

ayahmu?”

Waktu itu Chin Wan sedang memayang seorang nenek tua yang rambutnya telah beruban

semua, melihat kemunculan Hong-po Seng di tempat itu ia berdiri tertegun, lama sekali baru

sahutnya, “Ayah serta engkohku menguatirkan keselamatanmu maka kemarin malam mereka

memisahkan diri untuk mencari dirimu, sekarang entah mereka berada dimana???”

Dengan tajam ia perbatikan sekejap wajah pemuda itu lalu tanyanya berubah, “Kau terluka

parah???”

Hong-po Seng menggeleng.

“Tidak terlalu menguaitrkan!”

Sinar matanya merayap sekejap ke sekeliling ruangan, ia temukan diantara sembilan orang

lainnya ada enam orang adalah perempuan dan seorang adalah bayi yang masih kecil, di

samping itu terdapat seorang kakek berjubah hijau serta seorang pria berusia tiga puluh

tahunan, tubuh mereka berdua telah basah oleh lepotan darah segar, sepasang tangannya

dibelenggu di atas panggung.

Oh Sarn berjalan mendekati majikannya lalu membisikkan sesuatu kesisi telinganya, Pek Koen

Gie segera mengangguk tiada hentinya.

“Chin Wan Hong!” mendadak ia menegur dengan nada dingin. “Tiga orang manusia dari kantor

cabang kota Keng-Chiu apakah mati di tangan kalian ayah dan anak???”

Hong-po seng cepat berpaling, dengan wajah gusar timbrungnya dari samping, “Bukankah

cayhe sudah berkata berulang kali, ketiga orang itu modar di ujung pedang bajaku. mengapa

nona menuduh orang lain yang bukan-bukan??”

Pek Koen Gie tertawa seram.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

54

“Baiklah. siapa duluan siapa belakangan sama saja!” ia menoleh dan menambahkan “Loe Tongcu

perintahkan orang untuk siapkan alat siksaan!….”

Untuk menyiksa seseorang caranya berbeda jauh dengan cara membunuh orang, ketika

dilihatnya Hong-po Seng sama sekali tidak dibelenggu dan takut si anak muda itu memberikan

perlawanannya hingga anak buahnya tak sanggup melayani, mendengar perintah tersebut buruburu

Loe Hoen Tongcu menjura.

“Biarlah hamba turun tangan sendiri!”

Tangannya berkelebat mencabut keluar golok besar gagang emas dari atas punggungnya

kemudian dengan langkah lebar maju ke depan.

Hong-po Seng putar otaknya dengan cepat ia tahu percuma baginya untuk melawan, maka

sambil bulatkan tekad ia berdiri tak berkutik di tempat semula.

Selangkah demi selangkah Loe Hoen Tong berjalan semakin dekat, kaki-kakinya mendadak

ditekuk, tiga jari tangan kirinya menusuk kehadapan matanya sementara lengan menggapai

membacok-bacok kepala lawan.

Cahaya emas tampak berkelebat lewat, sebentar lagi batok kepala Hong Pe Seng bakal berpisah

dengan badannya.”

Mendadak Chin Wan Hong menjerit, keras dan membentak sambil menahan isak tangis, “Turggu

sebentar!”

Loe Hoen Tongcu terperanjat dia ingin menarik kembali serangannya namun tak sempat, di saat

yang kritis itulah mendadak pergelangan tangannya terasa bergetar keras, tahu-tahu golok

emasnya sudah terjepit oleh dua jari tangan Oh Sam.

Kendati begtu tak urung leher kiri Horg po Seng termakan juga oleh bacokan tersebut hingga

muncul sebuah bekas luka yang panjangnya mencapai dua coen, darah segar-segar mengalir

keluar dengan derasnya.

Bagaimanapun juga Oh Sam adalah pelayan lama keluarga Pek, dengan mata kepala sendiri ia

saksikan Pek Koen Gie menginjak dewasa, terhadap tabiat serta tingkah laku majikan mudanya

ini ia mengetahui sangat jelas, ia tahu andaikata majikannya ada niat membinasakan Hong-po

Seng, sejak semula pemuda itu telah dibunuhnya! jiwa si anak muda itu dapat selamat hingga

kini jelas menunjukkan kalau ia mempunyai tujuan lain karena itulah di saat yang kritis ia telah

menjepit gagang golok orang.

“Loe Hoen tongcu tunggu sebentar!” serunya. “Siocia sedang menyelidiki siapakah pembunuh

yang sebenarnya dari ketiga orang kita, coba kita dengar dulu apa yang hendak diucapkan

perempuan itu!”

Lolos dari lubang kematian Hong-po Seng merasakan hatinya jadi kosong. setelah termangumangu

beberapa saat lamanya ia baru berpaling ke arah Chin Wan Hong.

Tapaklah sepasang mata gadis itu telah basah oleh air mata, timbul rasa iba dan kasihan dalam

hati kecilnya segera ia berkata, “Nona Chin, sebetulnya aku tidak ingin memberitahukan

kepadamu, tapi setelah kejadian berubah jadi begini akupun terpaksa harus berbicara

sesungguhnya. Chin Wan Hong mengangguk.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

55

“Apa yang hendak kau katakan, utarakanlah keluar, bila tidak ingin dikatakan janganlah kau

ucapkan!”

Hong-po Seng tertawa ramah.

“Ayahmu telah melepaskan budi yang tak terhingga besarnya kepada keluarga Hong-po kami,

aku Hong-po Seng sengaja datang ke kota Keng Cbiu bukan lain adalah untuk membalas budi

kebaikan tersebut. Setelah terjadinya peristiwa seperti ini kendati aku Hong-po Seng harus

mengorbankan selembar jiwaku keselamatan seluruh keluarga Chin harus kupertahankan terlebih

dahulu, kalau tidak aku bakal malu pulang ke rumah, daripada tugasku tak terselesaikan lebih

baik aku mati di sini saja.”

Chin Wan Hong tertegun beberapa saat lamanya, mendadak ia berpaling ke arah Pek Koen Gie

seraya berkata, Keluarga paman Yap kami sama sekali tidak tersangkut dalam peristiwa ini,

nenekku dan ibuku juga bukan orang-orang dunia persilatan, andaikata kau suka melepaskan

mereka pergi, segera akan kuberitahukan siapakah pembunuh yang sebenarnya.”

“Heee..heee, pandai amat kau berbicara,” jengek Pek Koen Gie sambil tertawa dingin. “Baiklah,

coba kau katakan lebih dahulu siapakah

pembunuh yang sebenarnya?”

“Ketiga orang itu semuanya mati di ujung senjataku,” sahut Chin Wan Hong dengan air mata

bercucuran, “Mayat mereka telah kami buang ke dalam lorong rahasia keluarga kami, aku rela

mengorbankan jiwaku untuk menebus dosa tersebut.”

Meski perkataan itu diutarakan halus, luwes tanpa emosi namun sikapnya kukuh dan teguh,

rupanya dia hendak korbankan selembar jiwanya demi menyelamatkan seluruh jiwa keluarganya.

“Hemm, polos amat jalan pikiranmu!” jengek Pek Koen Gie sambil mendengus dingin, “Orangorang

dari perkumpulan Sin Kee Pang bukan manusia sebangsa gentong nasi yang bisa

dipermainkan seenaknya, dengan andalkan kepandaian silat yang kau miliki masa mampu untuk

mencabut selembar jiwanya Kwa-Jhay?”

“Heng-jie!” tiba-tiba nenek tua berambut putih itu buka suara, “Nenekmu telah berusia tujuh

puluh lima tahun, sudah masanya bagiku untuk mati kau mohonkan saja kepada nona itu untuk

melepaskan paman Yapmu sekeluarga, kita orang-orang dari keluarga Chin akan tetap tinggal di

sini.”

“Loo Tiay Koen!“ mendadak kakek berbaju hijau itu menyela sambil tertawa tergelak!’ Dewasa ini

seluruh penjuru kolong langit telah dijajah oleh kaum iblis serta manusia-manusia laknat yang

terkutuk, bagaimanapun juga aku Yap See Ciat pernah mempunyai nama besar dalam dunia

persilatan, kini keadaanku terdesak hingga harus bersembunyi di desa menjadi petani, bila aku

tidak korbankan selembar jiwaku demi keadilan, akan ditaruh kemanakah selembar wajahku ini?”

Hong-po Seng yang mendengar perkataan itu diam-diam menghela napas panjang pikirnya,

“Aaai, jaman apakah ini? Kenapa kaum kesatria dan patriot-patriot gagah hanya bisa main

bersembunyi belaka? Sekali unjukkan diri, kematian segera mengancam jiwa raganya.”

Tiba-tiba Pek Koen Gie betseru keras, “Bagus! Kalau memang kalian pingin mati semua, akan

kupenuhi harapanmu semua!” ia menoleh dan hardiknya, “Gusur mereka semua keluar dari sini

dan habiskan nyawa mereka!”

Dari perubahan wajah dara cantik itu Loe Hoen Tongcu mengerti bahwa majikan muda nya ini

benar-benar sudah naik pitam, keputusan yang diambilpun bukan gertak sambal lagi, dengan

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

56

golok tersoren ia segera melangkah ke depan siap memenggal batok kepala kakek berambut

hijau itu.

Hong-po Seng terperanjat menghadapi situasi semacam itu, cepat-cepat dia mendongak dan

tertawa keras.

Suaranya keras, tinggi dan melengking amat menusuk pendengaran, suaranya jauh lebih tak

enak didengar dari pada isak tangis yang menyedihkan, begitu panjang dan keras gelak

tertawanya sampai air muka semua orang berubah hebat, darah segar mulai mengucur dan

ujung bibirnya membasahi wajah dan dadanya.

Pek Koen Gie segera meloncat bangun, sambil mendepak meja hardiknya keras-keras, “Hong-po

Seng….. apa yang kau tertawakan???”

“Hm…. Hm…. betapa gagahnya perkumpulan Sin Kee Pang, ha….. ha….. betapa jantannya jagojago

perkumpulan panji sakti.”

Dengan langkah lebar ia maju ke muka, kemudian bertekuk lutut dan jatuhkan diri berlutut

dihadapan dara ayu itu.

Tindakan ini benar-benar luar biasa sekali, kecuali Siauw Leng si dayang cilik yang mengetahui

duduk perkara sebenarnya, baik para jago dari perkumpulan Sin Kee Pang maupun para anggota

keluarga dari Chin Wan Hong sama-sama, tertegun dan berdiri melongo, mata mereka terbelalak

lebar-lebar, tak seorangpun mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Pek Koen Oie sendiri walaupun dalam hatinya memang ada niat untuk menghina dan

mempermalukan si anak muda itu, namun setelah Hong-po Seng jatuhkan diri berlutut

dihapannya tak urung ia dibikin terkesiap juga sehingga untuk beberapa saat lawannya berdiri

termangu-mangu.

Lama sekali…… akhirnya ia tertawa seram.

“Hmm….. Hmm. Hong-po Seng, apa maksudmu berlutut di hadapanku??”

“Apalagi??” sahut Hong-po Seng sambil angkat kepalanya. ”Tentu saja masuk menjadi anggota

perkumpulan Sin Kee Pang! Kesusahan dan kesulitan hanya bisa dibebaskan deugan

kematian, ternyata kematianpun tidak mudah diperoleh”

Pek Koen Oie betul-betul naik pitam, telapak tangannya langsung diayun menggaplok pipi si anak

muda itu keras-keras.

Hong-po Seng mendengus berat, setelah isi perutnya terluka ia tak sanggup mengerahkan

tenaga dalamnya untuk melawan, termakan gaplokan tersebut dalam mulutnya segera terasa

ada sesuatu yang mengganjal, ketika disemburkan ke atas telapak, tampaklah benda itu bukan

lain adalah tiga biji gigi yang berlumurkan darah segar.

OoOoO

Bab 5

PADA dasarnya Chin Wan Hong adalah seorang nona yang balus lembut dan berhati penuh welas

kasih, setelah menyaksikan penderitaan serta penghinaan yang diterima Hong-po Seng, hatinya

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

57

jadi amat sedih seperti diiris-iris dengan pisau, ia meraung keras, “Manusia she Pek! nonamu

akan beradu jiwa

dengan dirimu!”

Bagaikan macan betina yang terluka ia menubruk ke arah lawannya dengan suatu tubrukan

ganas.

Tempo dulu semasa Yap Soe Cat masih berkelana di dalam dunia persilatan, dengan andalkan

ilmu telapak dan ilmu pedangnya ia berhasil memperoleh julukan sebagai “Ceng Lian Kiam Khek”

atau si Jago Pedang rambut hijau, andaikata pada malam ini tiada Oh Sam yang turun tangan

membantu, orang-orang dari perkumpulan Sin Kee Pang belum tentu bisa menangkap

pertarungan tersebut.

Sekarang. kendati sepasang telapaknya telah terbelenggu namun setelah menyaksikan Chin Wan

Hong turun tangan, iapun segera genjotkan badannya mengirim satu tendangan kilat ke arah Oh

Sam.

Sayang seribu kali sayang, walaupun kedua orang itu turun tangan hampir pada saat yang

bersamaan, apa daya kekuatan mereka masih belum sanggup menandingi kepandaian lawannya.

Melihat datangnya serangan, Ob Sam segera mengigos ke samping diikuti secara beruntun ia

melancarkan tiga buah serangan sekaligus… dalam satu kesempatan punggung Yap Soe Ciat

berhasil dihajar hingga membuat tubuhnya mencelat keluar dari ruangan, sedangkan Pek Koen

Gie dalam sekali ayunan tangan saja telah berhasil menotok jalan darah dari Chin Wan Hong.

Pria berusia tiga puluh tahunan yang ikut tertawan bukan lain adalah putra dari Yap Soe Ciat,

melihat ayahnya sudah turun tangan diapun segera melancarkan satu tendangan dahsyat

menghajar lambung Loe Hoen Tongcu

Situasi serba kacau ini mengejutkan bayi dalam pondongan salah satu keluarga Yap, tangisan

keras dengan cepat bergema memenuhi ruangan, suasana jadi kacau dan suara hiruk-pikuk

melanda di mana-mana.

Hong-po Seng jadi gelisah bercampur cemas dalam keadaan yang tertekan batinnya ia tak

sanggup mempertahankan diri, tidak ampun lagi si anak muda itu jatuh tak sadarkan diri.

Mendadak terdengar Pek Koen Gie membentak gusar, “Gusur keluar mereka semua siapkan

kereta

dan segera lanjutkan perjalanan.”

Begitu perintah tersebut diucapkan para anggota perkumpulan Sin-Kee-Pang segera menggusur

para tawanan keluar dari ruangan salah satu diantaranya mencengkeram tubuh Chin Wan Hong

yang menggeletak di atas tanah, sedang yang lain mencengkeram tubuh Hong-po Seng.

Siapa sangka mendadak Pek Koen Gie me lancarkan satu tendangan kilat menghajar tubuh orang

itu, membuat tubuhnya mencelat keluar dan ruangan dan untuk sesaat tak sanggup bangun.

Kemarahan gadis she Pek itu tidak sampai di sana saja, ia depakkan kakinya ke atas lantai

hingga beberapa ubin retak berserakan setelah itu baru berlalu dari sana. Suasana dalam

ruangan pulih kembali dalam kesunyian hanya Hong-po Seng seorang masih menggeletak

terlentang di atas tanah, suasana di luar ruangan hening dan sepi……. jelas anggota keluarga

Chin serta Yap telah digusur keluar semua dari tempat itu.

Kurang lebih sepenanak nasi kemudian Pek Koen Gie muncul kembali dari ruang dalam ia melirik

sekejap ke arah tubuh Hong-po Seng yang menggeletak di atas tanah kemudian meneruskan

langkahnya menuju ke ruang depan, Siauw Leng si dayang cilik itu mengikuti di belakangnya, ia

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

58

perintahkan dua orang dayang lainnya menggotong tubuh si anak muda itu berjalan keluar

mengikuti di belakangnya.

Kereta kuda telah siap menanti di beranda luar, para anggota perkumpulan Sin-Kee Pang cabang

kota Seng Chiu telah menanti semua di bawah undak-undakan untuk menghantar keberangkatan

majikan mudanya.

Setelah turun dari undak-undakan batu, mendadak dari sakunya Pek Koen Gie ambil keluar

sebuah panji kecil terbuat dari kain kuning sambil menyerahkan benda itu ke tangan Loe Hoen

Tongcu, pesannya,

“Perintah kepada para kantor cabang di tujuh propinsi, persengketaan antara perkumpulan Sin

Kee Pang dengan Chin Pek Cuan untuk sementara waktu ditangguhkan hingga waktu yang tak

terbatas, seandainya orang she Chin itu yang sengaja mencari gara-gara, diperkenankan

melawan dirinya dan bawa ke markas besar, tetapi dilarang mengganggu keselamatan jiwanya,

selesai menyampaikan perintah, Tanda perintah ‘Hong Loei Leng’ ini segera dikirim balik

kepadaku!”

Loe Hoen Tongcu mengatakan berulang kali, dengan tangan gemetar segera menerima angsuran

Tanda perintah tersebut.

Kiranya “Hong Loei Leng”’ adalah tanda perintah kelas utama di dalam perkumpulan Sin Kee

Pang, di dalam perkumpulan hanya Pek Koen Gie serta ayahnya saja yang masing-masing

memegang sebuah.

Organisasi perkumpulan Sin Kee Pang amat luas, peraturan amat ketat, berjumpa dengan tanda

peraturan itu sama halnya dengan bertemu dengan orangnya sendiri, dengan panji kecil itu di

tangan kemanapun kita pergi dan apapun yang kita minta segera akan terpenuhi, sampaipun

ingin mencabut jiwa seseorang nanti tak ada seorang manusiapun yang berani membangkang,

saking besarnya kekuasaan panji tersebut hingga boleh dibilang hampir sebanding dengan

kekuasaan seorang pangcu.

Meski Loe Hoen Toagcu sudah banyak tahun berbakti kepada perkumpulan Sin Kee-Pang, baru

kali ini ia melihat dan menerima panji kekuasaan tersebut.

Siauw-Leng perintahkan kedua orang dayang itu untuk menggotong tubuh Hong-po Seng naik ke

atas kereta, sementara Pek Koen Gie setelah memeriksa cuaca katanya, “Oh Sam kau boleh

istirahat sebentar, pilih orang lain untuk menggantikan sejenak kedudukanmu!”

Selesai berkata ia ulapkan tangannya dan masuk ke dalam ruang kereta diiringi salam perpisahan

dari anak buahnya.

Dalam pada itu udara gelap dan mendung, seorang lelaki berjubah hitam meloncat naik ke atas

kereta menggantikan Oh Sam sebagai kusir, di tengah ayunan cambuknya, kereta bergerak

menuju ke utara.

Dalam ruangan Hong-po Seng berbaring di atas kulit harimau, Siauw Leng mengganjalkan

selimutnya sebagai bantal pemuda itu. Di bawah sorot cahaya lampu tampak air mukanya pucat

pias bagaikan mayat, noda darah masih mengotori ujung bibirnya, keadaan pemuda itu kelihatan

mengerikan sekali.

Rupanya dayang cilik ini merasa rada takut, terdengar ia berseru, “Siocia, orang ini tak bisa

diganggu terus-terusan, aku lihat lebih baik kita lepaskan saja.”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

59

“Hmmm! Andaikata mau mengganggu dirinya terus kenapa?” jengek Pek Koen Gie sambil

mendengus dingin, ia merandek sejenak setelah memandang sekejap ke arah dada pemuda itu

katanya lagi, “Lepaskan jubah luarnya dan buang keluar. Hmmm sudah ternoda darah ditambah

bekas hangus terbakar…. Huh…. sungguh membuat hati orang jadi jemu!”

Siauw Leng melepaskan lebih dahulu ikat pinggang Hong-po Seng lalu melepaskan jubah

luarnya, dari dalam gentong air ia mengambil sedikit air bersih dan membersihkan noda darah di

atas wajahnya.

Melihat noda darah sudah bersih namun dayangnya masih saja menggosok wajah pemuda ini

tiada hentinya, kontan Pek Koen Gie mengerutkan alisnya.

“Eeei…. kenapa sih kau menggosok terus wajahnya??” ia menegur. Siauw-Leng tertawa

cekikikan.

“Aku ingin sekali melihat bagaimana sih wajahnya yang sebenarnya?…. Tampan atau jelek??”

“Cisss! Apanya yang menarik. Hmm? Coba rentangkan telapak kanannya,”

Siauw-leng mengiakan, dilihatnya tangan kanan pemuda itu mengepal kencang-kencang dari

celah-celah jarinya nampak noda darah, tapi sekalipun sudah dicoba berulang kali genggaman

tersebut belum berhasil juga direntangkan.

Melihat itu sambil tertawa dayang tadi lantas berseru, “Kencang amat genggamannya, mustika

apa sih yang sedang dia pegang?”

Sekuat tenaga ditariknya genggaman tangan pemuda itu, dalam sekali sentakan telapak Hong-po

Seng berhasil juga direntangkan. Ternyata benda yang dipegangnya itu bukan lain adalah tiga

biji gigi, saking kencangnya ia menggenggam sampai telapaknya terluka dan mengucurkan

darah.

Dayang itu jadi takut, jantungnya berdebar keras dan untuk beberapa saat lamanya ia tak berani

berkutik.

Mendadak terdengar Hong-po Seng merintih lirih, giginya yang tergerak membuat wajah nya

menunjukkan rasa sakit yang tak terhingga, diikuti badannya tak berkutik lagi.

Air muka Pek Koen Gie berubah hebat, tapi hanya sebentar saja ia telah berhasil menenangkan

kembali hatinya.

“Hey, ayoh cepatan sedikit, kenapa sih kau duduk termangu-mangu belaka..?” tegurnya.

Siauw Leng menjulurkan lidahnya, buru-buru ia membersihkan telapak tangan si anak muda itu

dari noda darah dan membungkus ketiga biji gigi tersebut dengan secarik kain.

Dari dalam sakunya Pek Koen Gie ambil ke luar sebuah bungkusan kain, dari dalam bungkusan

tadi mengambil keluar empat buah botol yang berisikan empat macam obat yang berbeda, ia

memilih dua biji di antaranya dan diserahkan ke tangan Siauw Leng.

Menerima dua biji obat itu dayang tersebut memandangnya sekejap, lalu sambil tertawa ia

bertanya, “Siocia! Bukankah obat ini adalah Jien Ci Wan obat untuk menyembuhkan luka

dalam?? lalu obat apa yang satunya lagi ini?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

60

“Obat pemunah untuk luka bekas pukulan Kioe Pit Sin Ciaog.”

“Hm! Cerewet amat kau si budak cilik!”

Habis berkata ia jatuhkan diri berbaring di atas kursi malasnya.

Siauw Leng menghancurkan lilin pembungkus pil tersebut lalu menjejalkan obat tadi ke dalam

mulut Hong-po Seng, setelah itu dicekokkan pula beberapa teguk air bersih.

Pek Koen Gie yang sedang berbaring, mendadak melemparkan selembar kain tersebut. Siauw

Leng segera menyelimuti tubuh Hong-po Seng.

Setelah minum obat si anak muda itu hanya mendusin sebentar untuk kemudian tertidur kembali

dengan nyenyaknya.

Suasana untuk beberapa saat lamanya diliputi keheningan yang mencengkam, mendadak

terdengar Siauw Leng bertanya sambil tertawa.

“Siocia, menurut dugaanmu benarkah dia she Hong-po?”

“Hmm! Perduli amat dia mau she apa?”

“Dia bilang pernah berhutang budi kebaikan yang tiada taranya atas diri Chin Pek Cuan, kenapa

Chin Wan Hong tidak mengetahui akan persoalan ini.”

“Kepandaian silat yang dimiliki Chin Pek Cuan meski tidak terlalu lihay, namun hubungan

persahabatannya amat luas, para jago-jago lihay pada masa yang silam kebanyakan mempunyai

hubungan yang erat dengan dirinya. Mengenai persoalan ini setibanya di atas gunung rasanya

tidak sulit untuk mengetahuinya.”

Siauw Leng mengangguk.

“Dalam gelisah dan cemasnya Chin Wan Hong siap mengadu jiwa dengan diri Siocia, aku lihat

hubungan mereka berdua belum tentu hubungan biasa saja,” katanya lagi sambil tertawa.

Pek Koen Gie tertawa dingin,

“Hmm, ngaco belo tidak keruan…. kau anggap segala persoalan hanya kau saja yang tabu?”

Siauw Leng terbungkam untuk beberapa saat lamanya ia membisu dalam seribu bahasa.

Sesaat kemudian ia berpaling memandang sekejap ke arah Hong-po Seng, lalu ujarnya lagi

sambil tertawa, “Bagaimanapun juga aku tetap merasa bahwa Hong-po Seng mempunyai sedikit

keistimewaan yang berbeda jauh deagan orang lain, hanya saja aku tidak tahu dimanakah letak

keistimewaannya itu!”

Pek Koen Gie mendongak dan memandang sekejap ke arah dayangnya dengan sorot mata

tajam, kemudian melirik kembali ke arah Hong-po Seng katanya ketus, “Kalau kau berani

membicarakan soal Hong-po Seng sekali lagi, lidahmu segera akan kupotong jadi dua bagian!”

Siauw-Leng tertawa cekikikan, setelah di ancam ia benar-benar tidak berani berbicara lagi.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

61

Angin masih berhembus kencang dan salju masih turun dengan derasnya, di tengah getaran

bunyi roda kereta sehari telah berlalu dengan cepatnya.”

Daerah sekitar King-Ouw hingga mencapai Propinsi Su-Cuan sebagian besar terdapat kantor

Cabaing perkumpulan Sin Kee Pang, malam itu mereka menginap di kota Tay Yong.

Ketika kereta berhenti berlari, mendadak Hong-po Seng tersentak bangun dari tidurnya, lubang

hidung segera mencium bau harum semerbak yang menyegarkan badan ketika ia membuka

matanya tampaknya ia sedang berbaring di dalam kereta, sementara ujung gaun Pek Koen Gie

persis sedang menggeser di sisi pipinya ketika dara itu sedang melangkah keluar dari dalam

kereta.

Siauw Leng segera berjongkok di sisi tubuhnya, terdengar ia menegur sambil tertawa,

“Bagaimana keadaan lukamu? Apakah sudah rada baikan?”

Hong-po Seng tidak. langsung menjawab, ia bayangkan kembali semua peristiwa yang barusan

dialami setelah itu balik tanyanya, “Semua anggota keluarga Chin dan Yap ki si berada dimana?”

Siauw Leng tertegun, ia merasa ucapan dari pemuda tersebut meski lama sekali tak berubah

namun nadanya kosong melompong seolah-olah datang dari tempat kejauhan dan bukan muncul

dari mulutnya sendiri, ia terbelalak dan untuk beberapa saat lamanya tak sanggup mengucapkan

sepatah katapun.

“Bagaimana? Apakah telah dibunuh semuanya?” terdengar Hong-po Seng menegur lagi dengan

cepasang alis berkerut.

Siauw Leng terperanjat buru-buru sahutnya, “Aaah! tidak, mereka telah dilepaskan semua!”

Diikuti iapun menceritakan secara bagaimana Pek Koen Gie telah turunkan perintahnya yang

ditujukan ke seluruh kantor cabang di tujuh propinsi untuk sementara waktu menunda

persengketaan mereka dengan Chin Pek Cuan. Di samping itu menceritakan pula secara

bagaimana majikannya telah menghadiahkan obat pemunah baginya.

“Bagaimana keadaan lukamu sekarang?” Diam-diam Hong-po Seng tarik napas panjang dan

mengatur hawa murninya, ia merasa seluruh sumbatan jalan darahnya telah lancar kembali, jelas

luka yang dideritanya telah sembuh seratus persen, maka ia lantas menyahut, “Luka yang

kuderita sudah hampir sembuh seperti sedia kala, terima kasih atas pemberian obat mujarab dari

siocia kalian”

Sekali lagi Siauw-Leng dibikin melengak oleh nada ucapannya yang kosong dan hambar.

“Eeei, bagaimana sih kau ini?” serunya sambil tertawa “Siociaku berarti pula siociamu, jangan

membangkitkan hawa amarahnya lagi!”

Hong-po Seng mengiakan, ia singkap selimut yang menutupi tubuhnya lalu bangkit berdiri dan

keluar dari kereta, Siauw-Leng segera memimpin jalan ke depannya.

Kedua orang itu berjalan menerobosi beberapa buah halaman lebar dan akhirnya menuju ke

sebuah beranda sempit, dari situ mereka menuju ke sebuah bangunan loteng yang amat luas.

Dalam ruangan telah disiapkan beberapa buah meja perjamuan Ob Sam duduk di meja utama

sedang sebagian besar orang yang hadir di sana adalah anggota-anggota perkumpulan Sin Kee

Pang.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

62

Hong-po Seng merandek sejenak di depan pintu, kemudian ia meneruskan langkahnya menuju

ke arah meja perjamuan.

Siauw-Leng yang menyaksikan keadaan itu buru-buru mengejar masuk ke dalam ruangan, tapi ia

sendiripun tak tahu bagaimana harus mengatur diri si anak muda ini, untuk sesaat dayang itu

hanya bisa berdiri di depan pintu sambil memandang bodoh ke arah pemuda tadi.

Ketika Hong-po Seng melangkah masuk ke dalam ruangan, semua anggota perkumpulan Sin Kee

Pang tampak tertegun, tidak terkecuali pula diri Oh Sam sendiri, namun sebagai seorang jago

yang sudah berpengalaman dalam dunia persilatan dengan cepat ia dapat mengatasi kericuhan

itu, sambil menuding kursi di sisinya, orang she Oh itu lantas berseru, “Hong-po Seng mari

duduk di sini!”

Hong-po Seng menurut dan duduk di sisinya ketika semua orang mendengar bahwasanya Ob

Sam membahasai si anak muda itu sebagai saudara, dengan cepat pula pandangan mereka jadi

berubah, tak seorangpun di antara mereka berani memandang rendah dirinya.

Menanti semua orang telah ambil tempat duduknya masing-masing Oh Sam baru berkata sambil

menuding ke arah si anak muda ini, “Saudara ini she Hong-po bernama Seng, berhubung suatu

kesalahpahaman ia telah membinasakan Tio Cien Loo Hoe-hoat kita, dan kini kesalahpahaman

tersebut telah diselesaikan, mulai kini la telah berbakti untuk perkumpulan kita.”

Dengan wajah adem dan tiada emosi, dengan sorot mata seram perlahan-lahan Hong-po Seng

bangkit berdiri, setelah menjura ke sekelilingnya ia duduk kembali di tempat semula, tak sepatah

katapun yang diucapkan keluar.

Tampak orang yang berada di hadapannya segera menjura dan berkata, “Siauw-te Tu Cu Siang,

atas kebijaksanaan serta cinta kasih Lo pangcu telah dianugerahi kedudukan sebagai Tongcu

cabang kota Tay-Yong, saudara Hong-po mohon banyak petunjuk darimu!”

Hong-po Seng memperhatikan sekejap wajah Tu Cu Siang, lalu sahutnya tawar, “Aku tak berani

menerima penghargaanmu!”

Meski ia telah masuk jago anggota perkumpulan dan belum diserahi jabatan, namun Tu Cu Siang

sebagai pemimpin satu daerah ternyata memandang hormat terhadap pemuda tersebut, sudah

tentu orang yang lain semakin tak perani bersikap kurangajar.

Tanpa orang yang berada di sini Tu Cu Siang segera memperkenalkan diri, “Cayhe bernama

Tong Keng, menjabat sebagai Piauw tauw perusahaan ekspedisi Tay Yong Piauw kiok!”

“Caybe Kho Tian Wie, menjabat ketua dari persekutuan dagang kota Tay-Yong!” sambung yang

lain.

Kata-kata “Cayhe menyambung” menyambung terus tiada hentinya satu demi satu orang-orang

itu memperkenalkan diri membuat Hong-po Seng makin mendengar merasa semakin

mendongkol.

Rupanya para pedagang kaum hartawan di kota tersebut seratus persen boleh di bilang sudah

tunduk di bawah kekuasaan perkumpulan Sin Kee Pang, mereka khusus mengundang anggota

perkumpulan itu untuk menjabat pucuk pimpinan dengan jaminan perdagangan mereka bisa

berjalan dengan lancar, bukan begitu saja perjudian, pelacuran serta pajak-pajak lainnya boleh

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

63

dibilang merupakan sumber pemasukan dan subur bagi perkumpulan tersebut, orang lain tidak

membicarakan tentu saja Hong-po Seng tak tahu sampai sedalam-dalamnya.

Setelah mengalami penghinaan dan rasa malu yang tak terhingga, dalam sedihnya perangai

Hong-po Seng telah berobah hebat, kini ia jarang bicara tersenyum ataupun tertawa, girang atau

marah tak pernah ditampilkan diatas

wajahnya, wajah yang murung, dingin dan kaku

menimbulkan rasa bergidik dalam pandangan orang, seakan- akan setiap saat nafsu

membunuhnya bisa berkobar.

Selesai memperkenalkan diri arakpun diteguk berulang kali, sikap Hong-po Seng tetap dingin

kaku dan jarang berbicara, untung Oh Sam pandai melihat gelagat, banyolan serta

pembicaraannya berhasil menyemarakkan suasana perjamuan tersebut.

JILID 4

Selesai bersantap, dengan alasan keesokan harinya masih akan melanjutkan perjalanan Oh Sam

dibawah antaran Tu Cu Siang kembali kekamarnya untuk beristirahat.

Hong-po Seng sendiri setelah menutup pintu, dan mengatur pernapasannya sejenak, segera

meniup padam lampu lilin dan naik keatas pembaringan untuk beristirahat.

Diam-diam pikirnya dalam hati,

“Setelah kematian gagal kuperoleh sedang penghinaan serta rasa malu teiah kualami satusatunya

jalan yang terbaik bagiku adalah meneruskan hidupku sambil mencari kesempatan untuk

membalas dendam sakit hati ini.”

Berpikir sampai disitu matanya jadi pedat dan tanpa sadar air mata telah mengucur keluar

membasahi wajahnya dengan penuh kebencian ia berbisik, “Aku harus membasmi perkumpulan

Sin Kee Pang sampai keakar akarnya, manusia manusia durjana, manusia laknat dan kaum iblis

harus dibasmi habis dari permukaan bumi, terutama sekali Pek Koen Gie, ia terlalu

mengandalkan kekuasaan ayahnya untuk berbuat sewenang wenangnya sendiri, orang pertama

yang harus kubasmi adalah perempuan keparat itu!

Mendadak ia teringat kembali akan ibunya, maka gumamnya jauh, “Ibu hidup sebatang kara

diatas puncak gunung, aku harus mendapatkan teratai racun empedu api itu agar cepat-cepat

bisa kuantar keatas gunung…..”

Berpikir sampai disitu ia menghela napas dan pejamkan matanya untuk tidur.

Ketika fajar baru menyingsing, Siauw Leng sambil membopong setumpuk pakaian telah

berjalalan masuk ke dalam kamar, ia segera memasang lampu lentera diatas meja hingga

suasana dalam ruangan itu jadi terang benderang.

Selama beberapa hari belakangan ini Hong-po Seng boleh dibilang lain hidup dalam penderitaan

dan siksaan, ditambah pula luka dalamnya baru saja sembuh: kendati sekarang ada orang yang

berjalan dalam kamarnya ternyata ia sama sekali tidak merasa, pemuda itu tetap tertidur dengan

pulasnya.

Siauw-Leng langsung mendekati kesisi pembaringannya, lampu lentera diangkat tinggi tinggi.

diam-diam ia memperhatikan raut wajah si anak muda itu dengan kesemsem.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

64

Tiba-tiba ia temukan disamping pembaringan basah oleh air mata, dayang ini segera tertawa

cekikikan: serunya, “Hey Hong-po Seng! ayoh cepat baagun, pakai baju baru, kenakan topi baru

dan ayoh merayakan Tahun Baru. haaah… haaah….”

Teriakan itu mengejutkan Hong-po Seng, ia segera tersentak bangun dari tidurnya. tampaklah

disisi pembaringan telah tertumpuk satu tumpukan pakaian baru, pedang baja miliknya terdapat

pula diantaranya bahkan telah diberi sarung kulit ular, disamping itu terdapat pula seutas tali

pinggang berwarna kuning.

Siauw-Leng meletakan lampu lentera itu ke atas meja, lalu sambil tertawa cekikikan katanya lagi.

“Ayoh cepatan dikit bersantap, sebentar lagi kita bakal melanjutkan perjalanan lagi. Aku harus

melayani siocia lebih dahulu!”

Selesai berkata dayang itu segera ngeloyor pergi.

Mernandang turnpukan pakaian baru dihadapannya Hong-po Seng duduk termangu-mangu

pikirnya, “Andaikata aku tidak mencuri makanan maka aku bakal mati kelaparan, rupanya apa

yang diinginkan manusla belum tentu bisa terpenuhi dengan memuaskan hati. Aaii..terpaksa aku

harus bersikap menuruti kaadaan yang kuhadapi.”

Berpikir demikian maksud hatinya untuk menjadi anggota perkumpuian Sin-Kee-Pang dan

bekerja sambil menanti kesempatan baik pun semakin teguh.

Sesaat kemudian dua orang dayang masuk ke dalam kamar sambil membawa alat untuk mencuci

muka, selesai berpakaian dan membersihkan muka buru-buru Hong-po Seng sarapan pagi,

kemudian setelah menggantungkan pedang bajanya dipinggang ia keluar dari kamar.

Kereta kuda telah disiapkan diluar, Tu Cu Siang sambil memimpin anak buahnya menanti disisi

kereta, ketika mellhat Hong-po Seng munculkan diri sambil menjura san muka penuh senyuman

sapanya, “Hong-po Seng selamat pagi!”

“Selamat pagi Tu heng, terima kasih atas perhatianmu yang berharga!”

Tu Cu Siang nampak melengak kemudian sambil tertawa buru-burut sahutnya, “Aaaah, cuma

barang yang tak berharga harap saudara tak usah sungkan-sungkan.”

Sementara pembicaraan masih berlangsung. terdengar suara dentingan nyaring berkumandang

datang, Pek Koen Gie diiringi oleh Siauw Leng telah turun dari atas undak undakan, Hong-po

Seng segera naik keatas kereta dan duduk disamping Oh Sam.

Ketika tiba duduk didepan kereta biji mata Pek Koen Gie yang bening melirik sekejap bayangan

Hong-po Seng kemudian masuk ke dalam kereta dan menurunkan horden.

Keretapun segera bergerak melanjutkan kembali perjalanannya menuju ke arah utara.

Demikianlah selama beberapa hari mereka melanjutkan perjalanan disiang hari dan beristirahat

dimalarn hari, suatu saat sampailah kereta mereka disebelah.utara Keng Ouw, dan memasukt

daerah pegunungan Tay Pa san pusat perkumpulan Sin Kee Pang.

Malam itu kereta mereka berhenti ditengah pegunungan dan beristirahat sebentar diudara

terbuka, Hong-po Seng pun duduk bersemedi diatas kereta menanti fajar telah menyingsing

mereka melanjutkan perjalanan meenuju kemarkas besar perkumpulan Sin Kee Pang.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

65

Duduk diatas kereta Hong-po Seng menyaksikan jalan raya disebelah depan bercabang jadi tiga

baglan, masing-masing cabang berhubungan dengan bukit ditiga penjuru, diatas bukit berdiri

sebuah benteng dan sekeliling benteng merupakan bangunan rumah yang rapat, diatas tiang

bendera masing- masing berkibar sebuah bendera berwarna hitam, terhembus oleh angin utara

panji-panji besar itu berkibar dengan megahnya.

Mendadak terdengar suara terompet berbunyi panjang diikuti anak panah bersuara berdesingan

diangkasa bunyi mercon bergeletar membelah bumi, dalam waktu yang singkat suara sorak sorai

yang gegap gempita bergema dari atas markas.

Pek Koen Gie melongok keluar dari jendela dan menggoyang-goyangkan tangannya ke arah

orang-orang diatas bukit, kurang lebih sepertanak nasi kemudian kereta mereka sudah

menembus dua bukit dan menuju katebing gunung.

Tengah hari kereta mereka sudah melewati Sam-Tong, tiga pos penjagaan terdepan dan

beristirahat sejenak, Tongcu dari “Sam Tong” diiringi para pelindung hukum, Hiang-cu serta anak

buahnya yang berjumlah hampir melebihi seratus orang banyaknya menyambut kedatangan putri

pangcu mereka dengan upacara yang megah.

Pek Koen Gie setelah berbicara singkat dengan anak buahnya dan kotak berisi makanan telah

diangkut naik keatas kereta, perjalanan pun dilanjutkan kembali.

Ditengah jalan terdengar suara Siauw-Leng berkumandang keluar dari balik ruangan yang

mengundang Oh Sam untuk bersantap. Hong-po Seng menerima tali les menggantikan

kedudukan sebagai kusir, menanti Oh Sam selesai bersantap si anak muda itupun disuruh masuk

ke dalam untuk menangsal perut.

Ketika Hong-po Seng melangkah masuk ke dalam kereta tampaklah Pek Koen Gte sedang duduk

sambil bertopang dagu, rupanya dara itu sedang memikirkan satu persoalan, diapun tidak ambil

perduli, duduk didepan meja kecil pemuda itu mulai bersantap setelah selesai buru-baru ia buka

pintu slap meloncat keluar.

“Hong-po Seng…” mendadak Pek Koen Gie menegur.

Si anak muda itu berhenti dan menoleh, “Siocia kau ada perintah apa?” tanyanya.

“Duduklah lebih dahulu, aku hendak berbicara denganmu!”

Hong-po Seng balik ke dalam ruang kereta lalu duduk bersila diatas lantai, sikapnya kaku dan

tanpa mengucapkan sepatah katapun ia menantikan gadis itu buka suara.

Dengan sorot mata tajam Pek Koen Gie menatap wajah pemuda itu tajam tajam, kemudian

tanyanya, “Bagaimana perasaaanmu setelah memasuki daerah penting dari perkumpulan Sin Kee

pang kami?”

Hong-po Seng tertegun untuk sesaat, rupanya ia tak menyangka kalau pertanyaan itulah yang

bakal diajukan kepadanya, setelah termenung dan berpikir sejenak jawabnya, “Jago lihay dari

perkumpulan Sin Kee Pang banyak bagaikan mega, dengan kepandaian yang cayhe miliki boleh

dibilang bagaikan kunang-kunang ditengah sorotan cahaya rembulan.”

Pek Koen Gie tertawa dingin.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

66

“Hmmm…. hmmm…. dalam ruang tengah dan bawah dari Sam Tong “Belum tentu terdapat jago

jago yang benar-benar memiliki ilmu silat lihay, tapi setelah kita melangkah lebih ke dalam maka

kepandaian mereka semua betul betul jauh lebih kosen dari pada dirimu coba kau berpikir yang

cermat lagi apa maksud dan tujuanku yang sebenarnya menahan dirimu masuk ke dalam

perkumpulan Sin Kee Pang?”

“Cayhe telah menyinggung perasaan siocia sedang Siocia merasa terlalu keenakan langsung

membinasakan diriku, oleh sebab itu aku sengaja diberi kesempatan untuk hidup lebih jauh agar

kau dapat mempermalukan dan sehingga dan sehingga diriku sepuas puasnya, cayhe bodoh

tolol, benarkah dugaanku ini?” kata Hong-po Seng dengan sepasang alis berkerut.

Pek Koen Gie tertawa hambar.

“Meskipun ucapanmu tidak salah namun belum tentu semuanya benar, aku bukanlah manusia

yang suka memelihara bibit penyakit dalam tubuh sendiri, andaikata aku tiada kegunaan lain

untuk menahan dirimu….. Hmmm, setelah kuhina dan kupermainkan sepuas puasnya sejak

semula jiwamu telah kubereskan.”

Perkataan yang begitu sadis diucapkan dengan nada tenang hal ini menunjukkan betapa

kejamnya hati dara ayu ini.

Hong-po Seng balas tertawa dingin jengeknya, “Cayhe bodoh dan tiada berpengetahuan,

kepandaian silat yang kumilikipun sangat cetek, entah apa gunanya siocia tetap

mempertahankan diriku?”

Mendadak Pek Koen Gie mendongak dan tertawa terbahak-bahak.

“Haaaaah….. haaaaah…haaaah…. tak nanti kau berhasil menebaknya….!”

Ia merandek sejenak lalu dengan air muka yang jauh lebih luwes katanya lagi sambil tertawa.

“Berbicara sedikit dengan nada kurang enak manusia semacam kau adalah sisa sisa dari

keturunan kaum ksatria gagah, manusia semacam dirimu sudah amat sulit didapatkan pada saat

seperti ini, apa lagi orang yang memiliki kepandaian silat semacam dirimu.”

“Pujian dari siocia membuat cayhe merasa bangga dan kepala besar!”

“Hmmm!” Pek Koen Gie mandengus dingin, wajahnya berubah menjadi adem kaku.

“Aku harap kau suka berpikir sekali lagi dengan serius, sebenarnya kau ingin mati atau ingin

hidup?”

“Tidak gampang ayah dan ibuku mamelihara aku hingga demikian besarnya, kenapa aku harus

mencari kematian buat diriku sendiri?”

“Siocia, bukankah dia pingin hidup? Biarlah dia hidup lebih jauh!” tiba-tiba Siauw Leng menyela

sambil tertawa. Aaaai…. sebelum obat keparat yang mempolesi wajahnya hilang dari situ,

sunggguh membuat aku jadi tak tenteram, makan tak enak tidurpan tak nyenyak!”

Kembali Pek Kun Gie mendengus berat.

“Hong-po Seng! terus terang kukatakan kepadamu, ayahku mempunyai seorang musuh

kebuyutan yang kini berhasil dikurung dalam perkumpulan Sin-Kee-Pang kami, dia mempunyai

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

67

sebilah pedang pendek berwarna emas yang panjangnya hanya lima coen, namun tajamnya luar

biasa. Pedang pendek itu mempengaruhi sekali kehidupan kami ayah dan anak bagaimana juga

kami harus mendapatkan pedang tersebut dari tangannya “.

“Siocia, apakah manusia aneh dibawah jeram yang kau maksudkan?” tiba-tiba Siauw-Leng

menyela dari samping.

“Tutup mulut! siapa suruh kau banyak cerewet.”

Siauw-Leng jadi ketakutan buru-buru ia tutup mulutnya rapat rapat dan tundukan kepalanya.

Terhadap dayang cilik ini Hong-po Seng mempunyai pandangan yang tidak jelek, melihat ia

ditegur segera timbrungnya, “Setelah orang itu berhasil dikurung, rasanya untuk

mempertahankan selembar jiwanya saja sudah tak mampu. apa susahnya mendapatkan pedang

pendek yang ia miliki?”

“Hmmm, pedang emas tidak berada disakunya, tempat penyimpanan senjata tersebutpun hanya

dia seorang tahu. andaikata tak mau mengaku terus terang sekalipun selembar jiwanya terancam

bahaya, bila kau jadi aku apa yang harus kau lakukan?”

“Andaikata cayhe yang menghadapi persoalan itu, segera kulepaskan orang tadi dari dalam

kurungan,“ jawab si anak muda itu tanpa berpikir panjang lagi.

Mendengar jawaban tersebut Siauw-Leng kontan tertawa cekikikan, buru-buru ia menutupi

mulutnya dengan tangan.

“Bagi kami lebih baik salah membunuh daripada salah membebaskan dirinya: Dan kini kau sudah

tetjatuh ditanganku. bila kau tak akan berbakti dengan sepenuh hati, akhirnya hanya jalan

kematian yang bakal kau dapatkan.

“Tentang soal ini cayhe bisa memahami.”

Sinar mata Pek Koen Gie berkilat, dengan tajam ia menatap wajahnya si anak muda itu lalu

katanya lagi, “Meskipun perkataan diutarakan demikian. kau masih mempunyai satu jalan hidup

yang bisa kau tempuh.”

“Maksud siocia. apakah kau hendak memerintahkan cayhe untuk pergi mencari pedang emas

itu?”

Pek Koen Gie mengangguk.

“Seandainya kau beruntung memperoteh pedang emas itu, perkumpulan Sin Kee Pang kami bisa

membuka sangkar melepaskan burung gereja, kemudian hari tak akan mencari gara gara dengan

dirimu lagi, seandainya kau masih belum dapat melupakan dendam sakit hati ini, setiap saat kau

boleh datang mencari aku untuk membalas dendam.”

“Maksud siocia bagus sekali, bila kau memang ada maksud mendapatkan pedang emas itu maka

pertama tama sang pemillk pedang emas itu harus dilepaskan lebih dahulu, biarlah cayhe

membuntuti dibelakangaya. Perduli tiga atau lima tahun aku pasti akan menguntilnya terus

hingga berhasil mendapatkan pedang pendek itu.”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

68

Siauw Leng tertawa cekikikan, seraya menu ding ke arah pemuda itu serunya, “Waaah….pinter

amat kau putar akal menyusun rencana…andaikata kami melepaskan orang itu, bukankah

kaupun mendapatkan kesempatan untuk kabur dari tangan kami? hebat benar otakmu….”

“Hmm! idemu ini bukannya tidak termasuk suatu tindakan yang amat sempurna…” terdengar Pek

Koen Gie berkata dengan suara dingin, ”cuma sayang sekali ilmu silat yang dimiliki orang itu

tidak berada dibawah kepandaian silat ayahku sendiri, melepaskan harimau dari kandang

merupakan suatu mara bahaya yang tak boleh dianggap main main, takutnya justru ia malah

balik menggigit orang.”

“Kalau kau tidak percaya dengan jalan pikiranku, pekerjaan ini jadi lebih sulit untuk dikerjakan,

membunuh orang itu berarti gagal mendapatkan pedang emas ttu, sebaliknya kalau

menyerahkan pedang emas tadi berarti jiwa sendiri terancam bahaya. andaikata aku jadi dia

maka lebih balk aku mencari jalan kematian saja.”

“Kalau dia adalah kau, sejak dulu dulu kau telah mengaku!” teriak Pek Koen Gie gusar.

“Hmmm! kau anggap cara kami orang orang dari perkumpulan Sin Kee Pang untuk menyiksa

orang bisa dianggap sebagai permainan biasa?”

“Waaah, kalau soal itu cayhe jadi semakin tidak mengerti!”

“Kalau dibicarakan sederhana sekali, ilmu silat yang dimiliki orang itu sangat lihay. tetapi

membiarkan dirinya hidup malah mendatangkan keunggulan bagi ayahku maka beliau tak sudi

melukai dirinya dengan jalan menyiksa.”

“Oooh, Kiranya begitu. waah….sangguh hebat juga cara orang orang dari perkumpulan Sin Kee

Pang menggunakan orang!”

Pek Koen Gie dapat menangkap nada sindiran dibalik ucapan tersebut, air mukanya segera

berubah jadi dingin kaku, sorot mata penuh napsu membunuh berkilat diatas wajahnya, namun

Hong-po Seng tetap berlagak pilon, dia pura-pura tidak merasakan akan hal itu.

Setelah suasana hening; untuk beberapa saat lamanya, air muka Pek Koen Gie berubah jadi lebih

tenang dan ramah katanya.

“Orang itu licik dan banyak akal, sulit bagi kita orang orang dari perkumpulan Sin Kee Pang untuk

mendekati dirinya, aku akan memberi kesempatan bagimu untuk menjumpal dirinya dan kau

boleh berusaha sendiri dengan akal cerdikmu andaikata kau berhasil menemukan kabar berita

mengenai pedang emas tersebut, maka akan kubuka sebuah jalan hidup bagi dirimu.”

“Eeei…. bukankah cayhe pun merupakan anggota dari perkumpulan Sin Kee Pang? Apa sebabnya

aku dapat mendekati dirinya?”

Pek Koen Gie mengerti dibalik ucapan itu pemuda tersebut menyatakan pula nada sindiran yang

tajam, terapi ia tetap tersenyum ewa, ujarnya lebih jauh, “Bukankah sudah kukatakan sejak

semula, kau adalah sisa sisa dari keturunan kaum ksatria, dengan terpancangnya merek emas

tersebut kendati sipemilik pedang emas itu membenci kita orang orang dari perkumpulan Sin Kee

Pang, tetapi belum tentu ia membenci hatimu, aku rasa otakmu tidak terlalu bebal, asal kau bisa

bermain setan beberapa saat hingga akhirnya memperoleh kepercayaan dari dirinya, aku rasa

harapan mu untuk sukses tidaklah terlalu sukar.”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

69

“Siocia memiliki otak yang tajam. akal yang banyak dan pikiran yang cerdik, apa salahnya kalau

kau terangkan lebih jauh agar kebingungan cayhe bisa sedikit terbuka!”

Pek Koen Gie tertawa dingin.

“Setelah terkurung selama banyak tahun dalam perkumpulan kami, tak urung akan timbul rasa

kesepian dalam hatinya, harapannya untuk melanjutkan hidup akan semakin menipis, mungkin

saja dalam keadaan seperti ini dia ada pesan pesan atau pekerjaan yang hendak dititipkan

kepadamu, melihat pula usiamu masih mida, pikiran dan hatimu tidak terlalu jahat, siapa tahu

kalau karena dorongan emosi maka dia lantas buka beberapa rahasia hatinya kepadamu?”

“Aaah, tidak aneh kalau orang orang dari perkumpulan Sin Kee Pang pada jeri terhadap dirinya “

batin Hong-po Seng didalam hati. “Rupanya ia bisa menilai sikap serta perasaan hati seseorang

ehmm. kepandaian semacam ini memang benar-benar sangat lihay!”

Berpikir sampai disitu tak tahan lagi hatinya jadi bergidik, sehingga bulu kuduknya pada bangun

berdiri.

Terdengar Pek Koen Gie berkata lebih jauh, “Sifat untung untungan tidak akan terlepas dari hati

manusia. seandainya orang itu sudah tertarik kepadamu siapa tahu kalau dia lantas menerima

dirimu sebagai muridnya atau memandang sebagai sahabat karib, dalam keadaan begini

lingkungan gerakmu bakal semakin leluasa!”

“Maksudmu aku lantas menggunakan akal melawan akal dan menanyakan tempat penyimpanan

pedang emas tersebut?”

“Eeeeei…. mana boleh bertindak secara begitu gegabah?” seru Siauw Leng cepat. “KaIau kau

bertanya secara terus terang, orang itu akan segera menyadari akan maksud tujuanmu.”

Sebaliknya Pek Koen Gie berkata sambil mendengus dingin, “Bencana atau rejeki tiada menentu,

hanya manusia yang mencari jalan menurut caranya sendiri sendiri, kau boleh bertindak

menuruti kehendak hatimu!”

Bicara sampai disini dia lantas ulapkan tangannya.

Hong-po Seng segera bangkit berdiri, membuka pintu kereta dan siap meloncat keluar.

“Hey Hong-po Seng!” tiba-tiba Siauw Leag berseru. “Tubuhmu berada dimarkas kerajaan Cho

hatimu berpikir ke arah kerajaan Han apakah kau sedang berpuri-pura takluk kepada

perkumpulan Sin Kee Pang?”

Rasa mendongkol si anak muda itu dasarnya memang tiada tempat untuk disalurkun, mendanger

seruan itu dengan nada penuh kebencian segera sahutnya.

“Benar, ucapanmu tepat sekali aku masih mengira lagakku tiada kelemahannya siapa sangka

manusia rendah dan tak tahu malu masih melihatnya juga.“

Pek Koen Gie naik pitam, dengan amat gusar ia ayunkan telapaknya siap mengirim satu pukulan

dahsyat, tetapi ketika dilihatnya Hong-po Seng telah loncat keluar dari kereta niat tersebut

akhirnya diurungkan.

Seraya menutup pintu Siauw Leng berkata kembali sambil tertawa, “Bocah keparat itu benarbenar

kurang ajar ia berani memaki kita sebagai manusia rendah!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

70

Dengan pandangan gusar Pek Koen Gie melirik sekejap ke arah dayangnya, kemudian jatuhkan

diri keatas kursi malas dan berbaring.

Ketika malam telah tiba kereta kuda tiba di Sam Tong, memandang, keempat penjuru tampaklah

lampu lentera memenuhi hampir seluruh bukit dihadapannya, kereta mereka menerjang masuk

ke dalam benteng dan berhenti di ruang dalam.

Ditengah dentuman mercon dari empat penjuru berkerumun lautan manusia, sebagian besar

mereka terdiri dari kaum wanita dan bocah, ketika Pek Koen Gie melangkah keluar dari dalam

kereta itu segera dikerumuni banyak orang.

Terdengar salah seorang diantara gerombolan perempuan perempuan itu berkata, “Koen Gie

cepat pergi keruang Siang-Liong Tim, sebenarnya para Hoe-hoat dan para Hiangcu akan keluar

menyambut kedatanganmu, Loo pangcu lah yang menghalangi kepergian mereka.”

Pek Koen Gie mengangguk lirih, keluar dari kerumunan banyak orang ia melangkah kedepan.

Tiba-tiba terdengar seorang gadis berseru dari samping, “Para enghiong hoohan dari pelbagai

daerah sedang memberi ucapan selamat tahun baru kepada loo pangcu, salah satu diantaranya

adalah tamu dari gunung Boe-Liang san, dia adalah seorang pemuda tampan”

“Sudah kutemui, bukankah dia she-KoK?” tukas dara ayu itu dengan nada ketus.

Hong-po Seng mengikuti dibelakang Siauw Leng, tampak cahaya lampu menyoroti seluruh

permukaan, setelah berjalan beberapa saat lamanya sampailah mereka didepan sebuah ruangan

besar yang megah dan mentereng beratus-ratus buah meja perjamuan telah di atur disitu,

sekilas memandang ruangan tersebut telah dipenuhi dengan manusia, suara pembicaraan dan

gelak tertawa berkumandang hingga ketempat kejauhan.

Ketika tiba diluar ruangan besar itu mendadak Pek Koen Gie menoleh kebelakang dan memberi

tanda kepada Siauw Leng, dayang itu mengiakan dan segera berkata kepada Hong-po Seng yang

menguntil dibelakangnya, “Ikutilah diriku, akan kuhidangkan makanan yang lezat untukmu…..“

Dasar Hong-po Seng memang tidak irgin memasuki ruangan besar itu, mendengar seruan dari

Siauw-Leng ia segera mengangguk dan berbelok kesamping kiri.

Setelah berjalan beberapa saat lamanya mereka membelok kesebuah jalan sempit yang di

kelilingi pohon bambu, cahaya lampu semakin suram dan suara manusia semakin jauh.

Setelah keluar dari jalan sempit ditengah pohon bambu kembali mereka berjalan lagi beberapa

saat lamanya.

Diam-diam Hong-po Seng memperhatikan keadaan disekeilingnya. ketika ia dilihatnya sekeliling

tempat itu tiada orang lain dalam hati segera pikirnya, “Saat ini andaikata aku berhasil

merobohkan Siauw-Leng maka detik int juga aku bakal bebas dari pengawasan mereka, tapi

kantor cabang perkumpulan mereka tersebar hampir di tujuh propinsi, jarak dart Sam tong

bagian atas dan bawah pun terpaut hampir seharian perjalanan kereta kuda, andaikata mereka

bisa mengirim kabar dengan cepat, belum jauh aku berlalu dari sini diriku pasti akan tertangkap

kembali, aaaai….. apa yang harus kulakukan?”

Belum habis ia berpikir, Siauw Leng telah berhenti berjalan, sambil menuding diatas tanah ia

letakan telunjuknya diatas bibir sabagai tanda jangan berisik.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

71

Hong-po Seng mendongak keatas dan memandang kedepan, dari tampak kejauhan terlihatlah

sebuah kolam yang amat dalam dengan luas puluhan tombak terbentang didepan mata, suasana

gelap gulita tak nampak gerakan air pada permukaan kolam tersebut.

Kurang lebih lima tombak disekeliling kolam tadi merupakan gundukan tanah yang menonjol

berjejerlah bendera bendera warna kuning yang mengitari kolam tadi, sepintas lalu terlihat amat

sepi dan sedap dipandang,

Mendadak Siauw Leng enjotkan kakinya melayang kesisi tubuh Hong-po Seng, lalu bisiknya lirih,

“Panji-panji berwarna kuning itu pangcu kami sendiri yang mcnancapkan disitu, barang siapa

yang berani melewat batas wilayah yang sudah ditetapkan itu hanya bisa masuk dalam keadaan

hidup dan keluar dalam keadaan sudah mati.”

“Kau tidak usah kuatir, toh aku datang kemari alas perintah dari siocia kalian”sahut si anak muda

itu hambar, selesai berkata ia segera meIangkah maju kedepan.

Siauw Leng segera menarik kembaii tubuh pemuda itu seraya bisiknya lirih, “Meskipun kekuasaan

perkumpulan kami sangat besar dan meluas, tapi nona kami sendiri pun tidak berani melanggar

peraturan yang telah ditetapkan oleh Pangcu kami itu, tak berani pergi sendiri kesitu sebaliknya

malah menyuruh kau. jelas nona kami bermaksud sengaja suruh kau menghantarkan kematian!”

Biji matanya berputar dan memperharikan beberapa saat lamanya sekeliling tempat kemudian

bisiknya kembali, “Dahulu ada seseorang mendapat tugas dari Pangcu untuk pergi kesitu

melakukan suatu pekerjaan, akhirnya orang itupun tidak dibiarkan keluar meninggalkan tempat

itu dalam keadaan hidup.”

Mendengar sampai disini, Hong-po Seng sudah mengerti akan maksud hati Pek Koen Gie yang

sebetulnya. diam-diam pikirnya, “Sungguh keji dan telengas hati perempuan itu.”

Tapi pikirannya segera berputar, ia merasa situasi yang mencekam dirinya dewasa ini sudah

amat mendesak, jalan hidup atau jalan mati adalah sama saja baginya.

Maka ia membelai rambut Siauw Leng yang halus dan tersenyum manis kepadanya kemudian

dengan langkah lebar meneruskan perjalanannya menuju kedepan.

Kali ini Siauw Leng tidak turun tangan menghalangi perjalanannya, memandang baya ngan

punggungnya yang mulai menjauh ia menjulurkan lidahnya dengan mata terbelalak sikapnya

bimbang, ragu dan gelagapan.

Selangkah demi selangkah akhirnya Hong-po Seng tiba juga ditepi kolam, ia melihat dasar kolam

itu amat dalam sekali hingga sukar di tembusi dengan pandangan mata, iapun tak dapat melihat

jelas apakah didasar telaga tersebut ada airnya atau tidak.

Setelah berdiri termangu-mangu beberapa saat lamanya, akhirnya ia berteriak keras, “Hey..

apakah dalam telaga ada manusia?”

“Eeei..! “seruan tertahan berkumandang keluar dari dasar telaga, diikuti suara yang halus, ramah

dan penuh nada kasih sayang menggema datang.

“Disini ada munusianya siapakah kau nak?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

72

Mendengar jawaban yang muncul begitu halus, ramah dan lunak, seketika si anak muda itu

merasa sedikit lega hati sahutnya, “Boanpwee adalah Hong-po Seng, bolehkah aku terjun

kebawah?”

“Bolehl Boleh! tentu saja boleh.. anak baik pergilah ke arah sebelah barat daya dan loncatlah tiga

tombak kedepan, Loohu akan menyambut tubuhmu dari dasar telaga!”

“Pepatah kuno mengatakan: Siapa yang mempunyai rasa permusuhan yang sama akan

berpandangan dengan sinar persahabatan “pikir Hong-po Seng dalam hati. “Kalau memang

orang tua itu adalah musuh bebuyutan dari perkumpulan Sin-Kee-Pang, baik atau jelek ada

baiknya kujumpai dahulu dirinya!”

0000oo0000000

6

KARENA mempunyai ingatan demikian maka ia lantas mengambil keputusan didalam hati.

Teriaknya, “Loocianpwee, boanpwee segera meloncat turun kebawah!”

ia mengepos hawa murninya dari pusar dan melayang ke arah barat-daya seperti yang diucapkan

kakek didasar telaga itu.

“Slapa sangka baru tubuhnya melayang turun beberapa tombak kebawah, terdengarlah gelak

tertawa seram menggema memecahkan kesunyian. disusul orang tadi menjengek dengan nada

mengerikan, “Bocah kecil yang tak tau diri, kematianmu sudah berada diambang pintu…. Hmmm

heeeh…heeeh…. kau bakal modar didasar telaga ini…..”

Hong-po Seng merasa terkejut bercampur gusar setelah mendengar seruan tadi, belum sempat

ingatan kedua berkelebat dalam benaknya, mendadak hawa murni dalam tubuhnya buyar tak

ada ujung pangkalnya disusul sang badan meluncur kebawah dengan kecepatan tinggi.

Tiba-tiba….segulung tenaga tekanan yang maha dahsyat dan luar biasa menerjang keluar dari

dasar telaga, begitu hebat gulungan tenaga tadi sehingga seketika menahan tubuh Hong-po

Seng yang nampaknya bakal terbanting hancur didasar telaga tersebut.

Bisa dibayangkan betapa terperanjat dan kagetnya hati si anak muda itu. dengan cepat ia

berjumpalitan untuk bangun, tapi pada saat yang bersamaan kembali terasa munculnya segulung

hawa tekanan yang sangat kuat menyendat tubuhnya.

Ploook ..! tidak ampun lagi badannya terjengkang dan jatuh tertelentang diatas permukaan salju.

Dasar telaga itu tiada air gelap gulita hingga susah melihat kelima jari tangan sendiri. Hong-po

Seng yang berbaring diatas permukaan salju yang dingin menusuk ketulang sumsum seketika

merasakan persendian tulang disekujur tubuhnya seolah olah terlepas semua sedikit bergerak

atau meronta saja seluruh badannya terasa amat sakit sukar ditahan.

Ditengah kegelapan terdengar suara tertawa seram yang mengerikan itu berkumandang kernbali.

begitu ngeri dan tajam suaranya sampai telinga terasa sakit seperti ditusuk tusuk dengan jarum.

Kendati Hong-po Seng bernyali besar tak urung bulu kuduk disekujur tubuhnya berdiri juga, ia

gemetar dan merinding.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

73

Lama… lama sekali suara tertawa aneh baru sirap, terdengar orang itu berkata, “Orang bilang

anjing yang sedang gelisah akan meloncati tembok, Hmmm…….ucapan ini sedikitpun tidak salah,

ucapan ini sedikitpun tidak salah…..”

Hong-po Seng dapat menangkap suara tadi sebagai suara ucapan manusia, tanpa terasa nyalinya

menjadi besar sekali, dengan cepat ia meronta, berusaha untuk bangun, apa daya tulang

belulang disekujur badannya terasa amat sakit, maka terpaksa ia menahan rasa dingin yang

menusuk ke dalam tulang dan berbaring diatas tanah tanpa berkutik, sementara hawa murninya

perlahan lahan berusaba dikumpulkan kembali.

Terdengar suara yang tajam menusuk pendengaran tadi berkumandang kembali,

“Karena pusaka loohu terkurung disini selama banyak tahun Hey! keparat cilik yang tahu diri,

apakah kau datang kemari menghantarkan selembar jiwamu juga disebabkan karena mestika

itu?Heeeh. .heeeh… “

“Ngomong orang ini ngawur dan tak ada aturannya,” pikir Hong-po Seng dalam hati. “Janganjangan

orangnya sudah sinting dan ingatannya sudah tidak waras berhubung sudah terkurung

terlalu lama disini!”

Perlahan lahan ia mendongak keatas, ditengah kegelapan yang mencekam seluruh jagad

tampaklah dua buah titik cahayanya tajam berkilauan tiada hentinya dari kejauhan warna biru

yang menggidikkan itu tidak mirip sebagai mata rnanusia.

Karena tulang berulang badannya sakit maka si anak muda itu beristirahat untuk beberapa saat

lamanya ditanah, baru beberapa saat kemudian ia mulai merangkak kesamping dan akhirnya

dengan punggung menempel diatas dinding baru ia bangun dan duduk.

Dalam pada itu angin berhembus amat kencang, salju turun dengan derasnya.

Luka pukulannya baru sembuh dan kini setelah terjatuh dari atas tebing pertahanan tubuhnya

semakin lemah lagi. Sambil mengeraskan diri pemuda itu mengatur pernapasan dalam tubuhnya,

menanti rasa dingin sudah terusir pergi ia mulai merasa lelah bercampur mengantuk dan

akhirnya tertidur dengan pulasnya.

Entah berapa saat lamanya telah lewat, mendadak ia merasakan badannya seolah-olah jadi

enteng dan terbang meninggalkan permukaan tanah, disusul tenggorokannya terasa amat sakit,

suara tertawa aneh yang tajam dan tinggi bagaikan jeritan setan ditengah pekuburan

berkumandang tiada hentinya dari sisi telinga.

Dengan hati terkesiap Hong-po Seng mendusin dari tidurnya, ia membentangkan matanya lebarlebar

tapi dengan segera matanya jadi terbelalak dan mulutnya melongo, sementara jantungnya

berdebar sangat keras.

Ternyata ketika itu fajar telah menyingsing dan seluruh permukaan telah terang benderang tetapi

telaga kering yang dalamnya mencapai tujuh puluh tombak ini masih tetap diliputi kegelapan

serta kelembaban yang amat tebal, kabut menutupi permukaan tanah dan hawa dingin menusuk

ke dalam tulang.

Ditengah lapat-lapatnya suasana itulah tampak seorang manusia aneh berbadan telanjang,

berkaki kutung sedang mementangkan kelima jari tangannya yang tajam bagaikan cakar

mencengkeram tenggorokannya, mulut yang lebar dan bau tersungging senyurnan aneh, gelak

tertawa seram menggema tiada hentinya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

74

Karena dicekik lehernya Hong-po Seng merasa pernapasannya jadi sesak dan ia tak sanggup

mengungkapkan sepatah katapun, keempat anggota badannya jadi lemas sedikitpun tak

bertenaga.

Lama….lama sekali manusia aneh itu tertawa seram, akhirnya dengan wajah menyeringai

tegurannya, “Hey, keparat cilik. rupanya kau barusan kematian bapak tuamu?”

Hong-po Seng membentangkan mulutnya lebar-Iebar tanda tak sanggup mengucapkan sepatah

katapun, rupanya manusia aneh itu merasa amat girang menyaksikan keadaan korbannya.

mendadak ia perkencang cekikannya membuat Hong-po Seng mendengus berat, kedua biji

matanya hampir saja melorot keluar dari dalam kelopak matanya.

Manusia aneh itu tertawa seram beberapa saat kemudian ia baru mengendorkan cekikannya

seraya menegur lagi, “Hey keparat cilik! apakah kau barusan kematian bapakmu?”

Jantung Hong-po Seng berdetak semakin keras, menanti kelima jarinya yang mencekik lehernya

rada mengendor mendadak ia memiringkan kepalanya kesamping lalu merangkak kedepan

menjauhi manusia aneh itu.

Gelak tertawa seram kembali menggema memecahkan kesunyian, ditunggunya sampai pemuda

itu merangkak sejauh beberapa tombak kemudian medadak ia bangun duduk, telapak kirinya

yang kurus bagaikan cakar setan diayun kedepan dan meraung diudara kosong.

Sungguh dahsyat cengkeraman diudara kosong itu, belum habis Hong-po Seng merasa terkesiap

bercampur kaget tiba-tiba badannya tak sanggup menguasahi diri. Sreett….! kepalanya

terpelanting kebelakang dan tersedot kembali ke arah manusia aneh itu.

Sekali membalik telapaknya orang aneh tadi menekan batok kepala Hong-po Seng keatas tanah,

dan serunya sambil tertawa seram, “Eeeei…. kamu sudah tuli yah? Ayoh jawab pertanyaan dari

loohu. Apakah kau si keparat cilik barusan kematian bapakmu?”

Hong-po Seng merasa teramat gusar, tapi karena rasa ngeri dan takut masih tersisa dalam

hatinya maka ia tak berani membentak dengan nada yang kasar dan bersikap menantang.

Sahutnya, “Ayahku sudah mati banyak tahun,”

“Kalau begitu kau tentu barusan kematian ibumu?” teriak manusia aneh itu lagi dengan nada

marah.

Mendengar orang itu menyumpai ibunya kontan Hong-po Seng naik pitam, ia lupa akan

keselamatan dirinya dan segera membentak dengan penuh kegusaran, “Kentut busuk,!”

Sekuat tenaga ia meronta dan berusaha untuk melepaskan diri dari tekanan orang, siapa tahbu

tenaga tekanan yang menekan batok kepalanya berat bagaikan tindihan sebuah bukit, kedati ia

meronta dengan segenap tenaga namun badannya sama sekali tak bergeming barang sedikitpun

jua.

Melihat tingkah laku pemuda itu, bukannya gusar manusia aneh malah tertawa,

“Haa…. haah… haaah…. haah….keparat cilik. rupanya kau adalah seorang anak yang berbakti

kepada orang tua.”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

75

Ia merandek sejenak, lalu mengangkat raut wajah si anak muda itu keatas untuk dipandang

sekejap dan tanyanya lebih jauh, “Wajah sedih dan murung, waktu tidur mengucurkan air mata,

aku mau tanya apa sebabnya?”

“Kenapa aku mesti mengucurkan air mata waktu tidur?” pikir pemuda she Hong-po ini.

Ia jadi mendongkol dan sahutnya gusar, “Dikolong langit kejahatan merajalela, manusia manusia

laknat pegang kekuasaan dan malang melintang kesana kemari. aku hidup sebatang kara dengan

kekuatan yang lemah, sebagai manusia tak bisa melenyapkan kajahatan bagi dunia persilatan tak

bisa menciptakan kebahagiaan bagi umat Bu lim kalau tidak tidur sambil melelehkan air mata

apakah suruh aku tertawa terbahak bahak?”

Mendengar ucapan itu manusia aneh tadi mendadak mendongak memandang angkasa lalu

tertawa terbahak bahak.

Sungguh hebat tenaga lwekang yang dimiliki orang aneh ini, begitu gelak tertawanya, bergema

diangkasa seketika itu juga bunga salju berguguran keseluruh angkasa, menggulung dan

berombak bagaikan gulungan air ditengah samudra luas.

Hong-po Seng merasakan cengkeraman orang itu kian mengendor, pemuda itu segera

merangkak bangun dari atas tanah dan duduk. tapi ia tak berani mundur kebelakang, sinar

matanya dialihkan ke arah orang tadi dan dipandangnya dalam dalam.

Tapi sebentar saja si anak muda itu sudah terperanjat dibuatnya.

Kiranya bukan saja sepasang kaki manusia aneh itu sudah dipotong kutung sebatas paha tangan

kanannya yang diayun keataspun sudah ditembusi oleh berpuluh puluh utas tali hitam yang tepat

menembusi jalan darah penting ditubuhnya. tali tali berwarna hitam tadi diikatkan pada dinding

batu sehingga praktis lengan tersebut tak bisa digunakan

Lengan kirinya bebas dapat berputar kesana kemari, rambutnya panjang terural sampai di batas

permukaan tanah, kulit tubuhnya putih pucat tak tampak warna darah dan diliputi oleh bulu bulu

lunak berwarna hitam. Raut wajahnya kecuali sepasang mata yang berwarna kebiru biruan hanya

mulutnya yang besar dan bersinar minyak itu saja yang nampak.

Keadaannya jelek, bengis dan mengerikan membuat orang yang melihat merasa ngeri dan

bergidik.

Dalam pada itu manusia aneh tadipun sedang memandang wajah Hong-po Seng dengan sorot

matanya yang tajam, mendadak ia tertawa seram. serunya, “Haah….haaah haaah sekarang

loohu telah paham, kau sibocah keparat tentulah manusia baik yang belum sempat dibasmi

sampai ludas!”

“Hmmm! tak nanti manusia baik bisa di basmi sampai ludas,“ batin Hong-po Seng sambil

mendengus dalam hati. “Cukup didengar dari ucapan barusan, aku telah mengetahui kalau kau

bukan manusia baik-baik!”

Walaupun dalam hati ia berpikir demikian namun tak berani diutarakan keluar, perasaan tidak

puas itu hanya disimpan dalam hatinya saja.

Dari perubahan air muka si anak muda itu, rupanya manusia aneh tadi dapat menebak isi

hatinya. Mendadak ia mencengkeram pemuda itu dengan tangan kirinya dan menegur, “Bocah

keparat rupanya kau tidak puas yaaah dengan ucapanku? Ayoh jawab!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

76

Hong-po Seng ada maksud menghindarkan diri dari cengkeraman lawan, siapa tahu gerakan

tangan orang betul betul laksana sambaran kilat, ia hanya merasakan pandangan matanya jadi

kabur dan tahu-tahu tenggorokannya sudah dicekik oleh jari-jari tangan musuh.

Merasa dirinya berulang kali dipermainkan orang, si anak muda itu naik pitam, otot-otot

berwarna hijau diwajah dan tubuhnya pada menonjol keluar, sedang dalam hati diam-diam ia

menyumpah, “Tua bangka sialan kau sampai mengalami nasib sejelek dan sesetan ini rasanya

pantas dan Thian punya mata, sayang manusia she Pek itu….”

Belum habis ia berpikir manusia aneh itu sudah melepaskan kembali cengkeramannya.

“Hey bocah keparat!” ia menghardik. “Ayo jawab secara terus terang, mau apa kau datang

kedasar telaga ini?”

“Hmm….. Pek Koen Gie ada maksud merampas pedang emasmu, aku ditangkap dan ditawan

olehnya, karena itu sengaja kudatangi tempat ini untuk mengadu nasib……“

Rupanya manusia aneh itu tidak menyangka kalau pihak lawan bisa berterus terang

dihadapannya, setelah tertegun beberapa saat lamanya ia berseru, “Apa? Pek Koen Gie? Apakah

budak liar anak jadah dari Pek Siauw Thian?”

Hong-po Seng sudah kenyang disiksa dan dihina oleh keluarga Pek, terhadap ayah dan anak she-

Pek itu maupun terhadap manusia aneh dihadapannya ia menaruh rasa benci dan antipati. Kini

mendengar pertanyaan tersebut ia lantas tertawa dingin.

“Heeh..heeh..Pek Koen Gie adalah putri dari pangcu perkumpulan Sin-Kee Pang, betulkah dia

anak jadah atau bukan. aku tak tahu dan tidak ingin tahu.”

Manusia aneh itu merasa amat gembira ketika didengarnya dari nada ucapan tersebut jelas

menunjukkan pandangan jelek dan rasa benci si anak muda itu terhadap Pek Koen Gie.

“Eeei…. bocah keparat!” ujarnya lagi. “Aku lihat kepandaian silatmu tidak jelek, kenapa kau bisa

ditangkap dan dipermainkan oleh budak rendah sialan itu ooh…. jangan-jangan kau sedang

membohongi diriku?….”

“Hmm bukankah ilmu silat yang kau miliki sangat lihay? kenapa pula kau mengalami nasib yang

demikian jeleknya sehingga harus hidup bagaikan seekor binatang?”

Bekas cengkeraman pada lehernya secara lapat lapat masih terasa amat sakit. hal ini

menggusarkan hati pemuda itu. maka sengaja ia sindir dan ejek manusia aneh tersebut dengan

kata-kata yang tajam dan tak enak di dengar.

Bisa dibayangkan betapa marah dan gusarnya manusia aneh itu, bagaikan binatang kalap ia

meraung sekeras kerasnya. sekali cengkeram ia tangkap rambut pemuda itu kemudian menekan

wajahnya keatas permukaan salju dan digosoknya berulang kali, teriaknya keras keras, “Keparat

sialan kau bilang apa?”

Setelah mengucapkan kata-kata penghinaan tadi, sebetulnya Hong-po Seng pun merasa agak

menyesal. Tapi menyesalpun tak ada gunanya karena semua sudah terlambat, Dalam keadaan

begini ia hanya dapat menggertak giginya rapat-rapat, dengan mulut membungkam merasakan

siksaan yang sedang dideritanya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

77

Dasar wataknya memang keras kepala, sejak petistiwa dikantor cabang kota Seng-Chu, di mana

karena desakan rasa setia kawan ia harus menerima penghinaan dari Pek Koen Gie dan

kehilangan tiga biji gigi karena digaplok oleh gadis itu, ia merasa dirinya sudah dihina habishabisan,

setiap kali teringat akan kejadein itu dia pasti merasakan dadanya jadi sesak dan

wajahnya jadi murung, suatu perasaan benci dan kecewa yang amat dalam menekan dadanya.

Tapi setelah disiksa dan dianiaya oleh manusia aneh tersebut pada saat ini, meski badan terasa

sakit, namun hatinya malah terasa jauh lebih nyaman.

Entah sudah berapa waktu lamanya manusia aneh itu menggosok raut wajah Hong-po Seng

diatas permukaan salju, tiba-tiba ia berhenti dan mendongakkan wajah korbannya.

Tampaklah kulit wajah si anak muda itu telah pecah dan lecet-lecet, darah segar, mengucur

keluar membasahi seluruh permukaan salju yang putih, wajah pemuda ini sudah tidak utuh lagi.

Ia mendongak dan segera tertawa keras, jengeknya, “Bocah keparat kalau kau berani

mengucapkan kata-kata yang tidak senonoh lagi, loohu segera akan putar tengkukmu sehingga

patah jadi dua bagian!”

Pada dasarnya manusia aneh ini memang bukan manusia baik-baik, ditambah pula ia sudah

terkurung selama banyak tahun, rasa mangkel, mendongkol dendam yang sudah terkumpul

selama banyak tahun segera dilampiaskan keluar semua.

Siapa tahu ejekan yang dilontarkan Hong-po Seng memang disertai dengan maksud-maksud

tertentu, ia ada maksud untuk menyiksa diri sendiri.

Maka setelah mendengar ancaman itu bukannya berhenti malah mengejek semakin menjadi,

serunya lantang, “Waaduuuh kau sungguh lihay sekali! setelah Pek Siauw Thian memotong

kuntung sepasang kakimu, kau……”

Belum habis kata-kata itu diutarakan, manusia aneh itu dengan mata melotot bulat sudah bersuit

nyaring, tangannya berkelebat mencengkeram kaki kanan Hong-po Seng dan ancamannya

dengan wajah menyeringai buas.

“Keparat busuk, loohu akan suruh kau merasakan keadaan yang sama dengan diriku!”

Sembari bicara ia siap mematahkan kaki kanan lawannya, tapi sewaktu dijumpainya wajah

pemuda itu tetap tenang dan sama sekali tidak menunjukkan rasa gentar atau sedih, dari gusar

ia malah jadi tertawa serunya

“Bocah, usiamu masih sangat muda…. sayang amat kalau kakimu harus dikutung orang!”

Ucapan ini diutarakan tidak lain hanya bermaksud memancing munculnya rasa gentar dan takut

dalam hati Hong-po Seng asal pemuda itu sudah merasa takut maka ia segera akan turun

tangan.

Siapa tahu Hong-po Seng bukannya gentar sebaliknya malah menunjukkan sikap semakin tawar

dan dingin, katanya ketus.

“Silahkan turun tangan sesuka hatimu, sedari dulu aku sudah pernah mati sekali. Hanya

harapanku semoga kalau kau berjumpa kembali dengan Pek Siauw Thian nanti, tunjukkanlah

kegagahan serta keangkeranmu seperti pada saat ini.”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

78

“Anak jadah! Sepasang kaki loohu kutung diujung pedang Hoa Goan Sioe….“ jerit manusia aneh

itu sambil menggertak giginya keras- keras.

Begitu mendengar disebutnya nama Hoa Goan Sioe sekujur tubuh Hong-po Seng gemetar. keras.

Rupanya firasat serta perasaan manusia aneh itu tajam sekali, baru saja tubuh si anak muda itu

bergetar keras, pergelangan tangannya sudah berputar mencengkeram baju korbannya sambil

diangkat ke depan mata sendiri, hardiknya dengan suara berat

“Ayoh jawab yang jujur, apa hubunganmu dengan Hoa Goan Sloe?”

Rupanya segara mendadak ia menjadi tenang kembali. suaranya rendah dan perlahan sama

sekali tidak disertai emosi.

Hong-po Seng yang sedari tadi sudah menyingkirkan jauh-jauh pikiran tentang ‘Mati’ dan ‘Hidup’,

saat ini berpikir didalam hatinya, “Kalau ditinjau sikapnya yang congkak dan tinggi hati beberapa

saat berselang, sungguh tak nyana begitu mengungkap nama ayahku ia segera menjadi tenang

dan halus!”

Terdengar manusia aneh itu berkata lagi dengan suara serak, “Loohu lah yang paling akhir

menghadiahkan sebuah pukulan ke tubuhnya sehingga nyawa Hoa Goan Sioe kuhantar pulang ke

akhirat, coba jawab, apa hubunganmu dengan Hoa Goan Sloe?”

“Bagus dia adalah ayahku almarhum!” jerit Hong-po Seng dengan suara melengking, ia termakan

oleh ucapan itu dan berkobarlah rasa dendam dalam hatinya, “Ayoh cepat turun tangan

membinasakan diriku, membiarkan aku hidup di kolong langit berarti menanam bibit bencana

bagi dirimu sendiri. cepat atau lambat aku pasti akan mencabut jiwamu!”

Manusia aneh itu tertegun, tiba-tiba ia melepaskan cengkeramannya dan berkata kembali,

“Hoooh.! Hoa Goan Sloe modar karena dikepung dan dikeroyok oleh sekelompok jago-jago lihay

dari kalangan Hek-to, Pek Siauw Thian ada!ah salah satu diantaranya. Sepasang kaki loohu

kutung lebih duluan dan tidak tahu duduk perkara yang sebetulnya, tapi kalau kamu ingin

menuntut balas atas kematian ayahmu, bunuh saja budak anak jadah dari Pek Siauw Thian!”

“Usia Pek Koen Gie masih sangat muda apa sangkut pautnya urusan ini dengan dirinya.”

“Setelah kau bunuh orang yang sama sekali tidak tersangkut dalam peristiwa itu, kenapa tidak

sekalian mencabut jiwa budak sialan anak jadah itu?” sahut orang aneh itu dengan mata melotot

bulat.

“Waaah…. rupanya kebencian orang ini terhadap Pek Siauw Thian telah merasuk ketulang

sumsum, sehingga dosanya ditimpakan pula pada anak keturunannya,” pikirnya Hong-po Seng.

Satu ingatan segera berkelebat dalam benaknya, sambil tertawa dingin ia mengejek, “Bukankah

sepasang kakimu kutung ditangan ayahku almarhum? kenapa kau tidak ingin menuntut balas

atas sakit hati itu diatas tubuhku?”

“Haaah….haaah….Hoa Goan Sioe sudah modar, loohu tidak sudi membinasakan dirimu.”

“Hmmm… Hmmm….orang yang paling loohu benci adalah Pek loo jie itu.”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

79

“Ehmm, rupanya ucapanmu yang terakhir adalah kata-kata yang jujur dan sebenarnya, kalau

memang kita punya musuh dan sakit hati yang sama, lebih baik bunuh dulu Pek Siauw Thian

kemudian baru menyelesaikan hutang piutang diantara kita berdua.”

Manusia aneh itu melototkan matanya bulat-bulat.

“Boen…..” mendadak ia merandek dan berganti sebutan. “Dimana ibumu? kenapa ia begitu tega

dan kuatir melepaskan kau berkelana seorang diri dalam dunia persilatan?”

“Dia orang tua masih sedih setiap mengenang kejadian dimasa lampau dan tidak ingin

munculkan diri lagi didalam dunia persilatan, aku keluar karena diam-diam melarikan diri.”

Manusia aneh itu mengangguk.

“Nah! begitu baru betul!”

Ia berpiktr sebentar dan lanjutnya, “Ayahmu punya potongan wajah yang cakap dan menarik,

sedang kau bukan saja hitam, kurusnya seperti monyet sedikitpun tidak mirip jadi putra

kandungnya.”

Dalam kenyataan sewaktu pertama kali anak muda ini turun gunung, kecuali wajahnya dan kulit

tubuhnya berwarna hitam pekat, perawakannya sehat dan kekar. Justru karena berulang kali

harus mendapat pukulan batin dan hatinya selalu dibikin kecewa, akhirnya bukan saja badan jadi

kurus, kering bahkan kelihatan tidak cantik dan layu.

“Hey keparat cilik she Hoa!” mendadak terdengar manusia aneh itu menegur lagi. “Kalau

memang Pek Koen Gie memaksa kau datang kemari untuk mencari pedang emas kenapa kau

malah justru mengaku terus terang di hadapan loohu?”

Walaupun ucapan orang ini kasar dan berangasan, ternyata otak serta pikirannya tajam serta

teliti” pikir Hong-po Seng, ia menjawab dengan suara ketus, “Dewasa ini aku bernama Hong-po

Seng.” Manusia aneh itu melengak tersenyum.

“Aaaah betul, kalau Pek loo-jie sampai mengetahui asal usulmu yang sebenarnya maka ia pasti

akan turun tangan membinasakan dirimu. Hmm…. hmmm…. loohu .dewasa ini pun bernama Han

Than Sioe si kakek telaga dingin”

“Apa? Han Than Sioe binatang telaga dingin? Hoo…… memang pantas, memang sesuai dengan

keadaan yang sebenarnya!”

Haruslah diketahui kata “Sioe” kakek dan “Sioe” binatang, meski suara ucapannya sama namun

dalam tulisannya sama sekali berbeda..

Manusia aneh itu tertegun beberapa saat lamanya, tapi dengan cepat ia menangkap maksud

yang sebenarnya dari perkataan itu, kontan sepasang matanya melotot bulat.

“Binatang cilik, kau benar-benar sudah bosan hidup dan pingin cari mati?”

“Hmmm! tak usah kau gertak diriku dengan persoalan mati atau hidup, walaupun kau tidak ingin

membunuh diriku, masih banyak orang lain yang ingin kematian diriku.”

Sinar matanya dialihkan memandang ke arah salju putih yang berhamburan dari angkasa,

setelah lama berdiri termangu mangu ia baru menunduk kembali sambil berkata dengan suara

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

80

hambar, “Kakek Telaga Dingin! sebelum salah satu diantara kita berdua ada yang mati lebih

dulu, lebih balk kau tak usah untuk taring pamer cakar dihadapanku, kau musti tahu kami

keturunan dari keluarga Hoa bukanlah manusia yang bisa dibikin gentar atau takluk oleh gertak

sambel..”

Han Thian Sloe si kakek telaga dingin tertawa aneh, mukanya pun secara tiba-tiba berubah jadi

lebih kendor dan rileks.

“Baiklah,” ia menyanggupi. “Mengingat Hoa Goan Sioe adalah seorang enghiong hoo han, lalu

akan bersikap sungkan terhadap darimu, tapi kaupun harus bisa menjaga diri dan terutama

sekali mengerem ucapan yang bisa menyinggung perasaan loohu, daripada hinaan serta sindiran

tersebut membangkitkan hawa amarah dalam hatiku!”

Hong-po Seng mengangguk.

“Baiklah, kita tetapkan begitu saja.”

Sinar matanya lantas dialihkan ke arah rambutnya yang panjang hingga terurai keatas tanah,

tanyanya, “Bukankah kau kehilangan sepasang kakimu dalam pertemuan Pek-Beng Hwe?

Bagaimana caranya hingga akhirnya kau terjerumus dalam jebakan Pek Siauw Thian?”

Dari balik mata Han Than Sioe memancar keluar sinar penuh kebencian, katanya, “Setelah

pertemuan besar Pek Beng Thay hwee, Pek Loo jie ada maksud merampas pedang emas milik

loohu, dia pura-pura berla gak baik hati dengan alasan hendak menghantar loohu pulang

gunung, padahal sedari semula Loohu sudah mengetahui akan ketajaman serta kekejian hatinya,

maka sengaja kupilih markas besar Sin Kee Pang ini untuk merawat lukaku. Hmm..hmm….

begitulah aku merawat luka selama sepuluh tahun lamanya.”

“Jadi kalau begitu, ia sama sekali tidak tahu dimanakah letak rumah tinggal?” tanya Hong-po

Seng dengan alis berkerut.

“Kalau dia tahu, mungkin sejak dulu-dulu loohu sudah mati kelaparan!”

Mendadak ia tertawa aneh menunjukkan betapa bangga hatinya, lalu ujarnya lebih jauh, “Ketika

sepasang kaki loohu baru kutung, aku masih bukan tandingannya maka ia pantas jebloskan

loohu ke dalam dasar telaga kering ini. setiap kali ada waktu luang ia lantas datang kemari

menyiksa aku dan mengepot aku agar loohu mau serahkan pedang emas itu sebagai penebus

bagi kebebasanku, Hmm! Hmm! mana mungkin loohu bisa tertipu? kalau pedang emas itu sudah

terjatuh ke tangannya, masa loohu bisa hidup sampai sekarang?”

“Berapa sih nilainya sebilah pedang emas? Apa gunanya kau..”

“Bagi manusia yang tidak tahu tentang duduknya perkara tentu saja pedang emas itu sama

sekali tak ada harganya,” tukas si kakek telaga dingin sambil menggoyangkan tangannya

berulang kali.”Tapi bagi orang yang mengerti, pedang emas tersebut merupakan banda pusaka

yang tak ternilai harganya, benda itu merupakan mustika yang diidam idamkan serta diimpiimpikan

oleh setiap manusia, panjang sekali kisahnya mengenai benda berharga itu.”

“Sebelum Pek Siauw Thian berhasil mendapatkan pedang emas itu, dia pun akan menggunakan

tindakan serta siksaan yang bagaimana kejampun untuk menyiksa badanmu serta membuat kau

menderita. apa kau sanggup menahan siksaan hidup yang demikian beratnya itu?”

“Haah…haah.. tak usah dibicarakan, hal itu sudah jelas sekali!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

81

la merandek sejenak, dengan wajah yang riang gembira sambungnya, “Pada waktu itu kolong

langit baru saja mau tenteram, Pek Loo-jie masih disibukkan untuk mengumpulkan komplotan

serta anak buah untuk memperkuat posisi serta pengaruhnya dalam dunia persilatan, ia dibikin

pusing tujuh keliling oleh masalah nama serta kedudukan sehingga melupakan sama sekali

keadaan diri loohu haaah..haah..mimpipun ia tak akan menyangka dikala ia repot menjadi

seorang pangcu,loohu pun sedang repot berlatih ilmu silat. Mendadak pada suatu hari ia datang

berkunjung, loohu segera mengangkat telapak dan….”

“Apakah pukulanmu bersarang telak di tubuhnya?” sela Hong-po Seng tak tahan lagi.

“Hmmm! bukan bersarang telak saja, serangan diatas tubuhnya, bahkan aku buat dirinya

menggeletak setengah mati untuk menyembuhkan luka parahnya itu ia harus berobat hampir

selama satu tahun lamanya!” jawah si kakek telaga dingin dengan nada sombong bercampur

bangga.

Hong-po Seng segera tertawa.

“Ia merasa berat hati kehilangan barang pusaka, berarti berat hati pula membinasakan dirimu,

aku tebak meskipun hukuman mati bisa terhindar kau pasti tak akan terhindar dari siksaan hidup,

bukankah begitu? sampai dimana siksaan yang kau derita sejak peristiwa itu?”

Sambil menggertak gigi si Kakek Telaga dingin bercerita lebih jauh, “Setahun itu loohu hanya

bersantap tiga hari sekali, hampir saja aku mati karena kelaparan. Semenjak peristiwa itulah Pek

Loo-jie melatih ilmu silat baru dan turun ke dasar telaga untuk bertanding melawan loohu,

setelah ia datang membawa persiapan Loohu tak sanggup melukai dirinya lagi, tetapi ilmu silat

yang loohu miliki selamanya berjalan di depannya dan selamanya ia tak mampu menangkan

diriku, disamping itu iapun merasa berat hati serta sayang untuk mencelakai jiwa loohu.”

“Waaah kalau begitu ia betul-betul termasuk manusia hebat….“ pikir Hong-po Seng dalam hati.

“Tangan kanannya entah terbelenggu oleh benda apa diatas dinding batu, dengan mengandalkan

lengan kiri saja ia sanggup menangkan Pek Siauw Thian, kelihayan ilmu silatnya mungkin sudah

cukup untuk malang melintang dikolong langit.”

Berpikir demikian ia lantas berkata, “Menurut Pek Koen Gie, ayahnya menahan dirinya karena

kau sangat berguna bagi mereka, aku pikir yang dimaksudkan pastilah dalam hal ini, kau telah

digunakan sebagai teman bertarung untuk melatih kepandaian silatnya.”

“Hmmm!”si kakek Telaga Dingin mendengus berat. “Dugaanmu sama sekali tidak salah,loohu

pun sama halnya dengan dia, menggunakan Pek Loo-jie sebagal teman untuk berlatih ilmu silat”

Ia merandek sebentar dan terusnya, “Kita sudah saling bergebrak selama hampir sepuluh tahun

lamanya, ilmu silat yang dimiliki kedua pihak sama-sama memperoleh kemajuan pesat hingga

sampai kini jurus-jurus lama sudah tak bisa digunakan lagi, kedua belah pihak sama-sama putar

otak memeras keringat untuk menciptakan gerakan serta jurus-jurus lain yang lebih ampuh

Haaah…. haaah..haaah….. selamanya loohu lebih unggul setingkat dari pada dirinya, walaupun

Pek Loo jie mempunyai kekuasaan serta pengaruh yang meluas sampai seantero jagad, siapa

tahu kalau ia tak pernah tidur dengan nyenyak, tak pernah makan dengan enak, setiap hari

pikirannya pusing memikirkan soal diriku!”

“Kalau ditinjau serta dibicarakan dari kedudukan dan nama besar dari Pek Siauw Thian dalam

dunia persilatan “pikir Hong-po Seng didalam hati “Seandainya ia tidak mengandalkan kekerasan

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

82

untuk merebut barang milik orang lain, rasanya tidak nanti ia mengalami keadaan seperti ini dan

aku pikir sama sekali tak berharga baginya untuk memperebutkan sebilah pedang.”

Tiba-tiba terdengar si kakek telaga Dingin tertawa licik, lalu berkata, “Hong-po Seng, andaikata

loohu menghadiahkan pedang emas itu kepadamu, maukah kau untuk menerimanya?”

Hong-po Seng segera gelengkan kepalanya berulang kali.

“Benda yang bukan menjadi milikku aku tak sudi untuk menerimanya, apa lagi setelah

mendapatkan pedang emas itupun aku tak bisa lolos dari cengkeraman maut Pek Siauw Thian,

apa gunanya aku mencarikan keuntungan bagi orang lain?”

“Haaah….haaah… bagaimana sekarang? Apa yang hendak kau lakukan untuk melepaskan diri

dari cengkeraman maut Pek Loo jie?”

Hong-po Seng menunduk dengan wajah sedih, “Aku akan berusaha dengan kemampuan yang

dimiliki, dan menurut pada takdir yang telah ditetapkan oleh Thian, apabila aku memang

ditakdirkan harus mati, rasanya bergulat dan memberontak tak ada gunanya!”

“Haaah….haaah….usiamu masih muda tapi bisa memandang lebih masak tentang mati dan

hidup, loohu sudah punya pengalaman, orang yang makin tidak takut mati seringkali usianya

malah semakin panjang, mungkin saja nasibmu memang begitu dan kau masih mempunyai

kesempatan untuk hidup selama beberapa tahun lagi. Hanya saja…..”

“Hanya saja kenapa?” tanya Hong-po Seng dengan mata melotot bulat-bulat.

Si Kakek Telaga Dingin tertawa.

“Hanya saja pada tahun-tahun belakangan ini, jarang sekali terjadi peristiwa aneh yang ada

diluar dugaan.”

“Apa maksud ucapanmu itu?”

“Seandainya kau terkurung didasar telaga ini pada sepuluh tahun berselang, kemungkinan besar

dari atas langit akan muncul seorang dewa yang datang menyelamatkan jiwamu, mewariskan

ilmu silat kepadamu dan membantu kau untuk menuntut balas. Tapi sekarang… Heeeh…

Heeeh…. kejadian yang demikian beruntungnya sudah tak mungkin lagi terjadi.”

“Yang dia maksudkan sebagai dewa pastilah jago jago lihay yang telah lama mengasingkan diri”

pikir pemuda Hong-po Seng dalam hati, ia lantas bertanya, “Kanapa?”

Kakek Telaga Dingin mendongak dan tertawa terbahak- bahak.

“Haah..haah..semua dewa sakti telah kembali ke akherat setelah pertemuan besar Pak Beng Tay

Hwie diadakan. Ehmmn! masih ketinggalan seorang yaitu ibumu sendiri, kecuali dia yang datang

menyelamatkan dirimu aku rasa hanya kematian yang bakal kau hadapi!”

Hong-po Seng yang mendengar ucapan itu diam-diam merasa sedih, tapi diluaran ia berkata,

“Ibuku dia orang tua pasti akan datang menyelamatkan jiwaku karena ia tentu mendongkol dan

marah kepadaku sebab aku tak mau menuruti ajarannya!”

Beberapa saat lamanya si kakek telaga dingin berdiri termangu-mangu tiba-tiba ujarnya, “Aku

rasa kaki tangan serta kuku garuda dari pihak perkumpulan Sin Kee Pang tentu tidak sedikit

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

83

jumlahnya, sekalipun ibumu datang sendiri kemari juga belum tentu bisa menyelamatkan

jiwamu.”

Hong-po Seng tiada perkataan yang bisa diucapkan, diam-diam ia menghela napas panjang dan

membungkam.

Si kakek telaga dingin sendiri sedang merasa gembira dan bangga iapun bermalas-malasan tidak

bicara lagi.

Dengan mulut membungkam kedua orang itu duduk saling berhadapan, lewat sesaat kemudian

dari atas telaga berkumandang suara desiran perlahan. si kakek telaga dingin segera mendongak

keatas sambil menggetarkan tangannya.

Sreeet….! diiringi desiran tajam, tahu-tahu diatas tangannya telah bertambah dengan sepuluh

buah paha kijang panggang yang harum baunya, diikuti ….Plaaaak! sebuah paha lagi

menggeletak diatas permukaan itu.

“Bocah keparat” seru kakek telaga Dingin segera sambil menggigit paha kijang panggang itu.

“Agaknya Pek Loo jie masih menginginkan kau hidup didasar telaga. coba lihat! dia sudah

mengirim makanan untukmu selama beberapa waktu kau tentulah dibiarkan mati kelaparan!`”

Hong-po Seng merangkak bangun dari tempatnya untuk mengambil paha kijang yang

menggeletak diatas permukaan salju, kemudian duduk ditempatnya dan mulai bersantap.

Cara makan si kakek Telaga Dingin betul-betul sadis dan mengerikan, dalam waktu singkat la

sudah menghabiskan separuh dari daging kijang tersebut. mendadak ia duduk tertegun beberapa

saat lamanya dan kemudian berkata, “Bocah keparat, harapanmu untuk hidup hingga saat ini

masih belum menentu, mungkin saja kau bisa hidup lebih jauh mungkin saja tidak. aku rasa kau

harus mulai mempersiapkan diri untuk melakukan pembalasan dendam “

“Silahkan kau utarakan pendapatmu.”

Sambil mulutnya tiada henti mengunyah daging kijang, si kakek telaga dingin berkata lebih jauh,

“Angkatlah lebih dahulu loohu sebagai gurumu, aku segera akan mewariskan kepandaian silatku

kepadamu, perduli kau bisa hidup atau mati, tanggung kau pasti berhasil membinasakan Pek

Koen Gie untuk menuntut balas atas sakit hatimu!”

“Tidak begitu bagus. tidak bagus!” dengan cepat Hong-po Seng menampik seraya tersenyum.

“Kalau kau berbuat demikian maka kau akan terjatuh ke dalam perhitungan Pek Koen Gie, sebab

sedari semula ia sudah menduga bahwa kau bakal berbuat demikian “

“Kenapa?” tanya kakek itu tercengang.

“Andaikata aku mengangkat dirimu menjadi guru maka asal kau menemui kesulitan atau bencana

yang mempengaruhi mati hidupku sebelum meninggal hatimu tentu akan jadi lembek dan

dengan sendirinya semua kepandaian silat serta rahasia dari pedang itu akan kau wariskan

kepadaku, sementara buluku belum tumbuh dengan subur dan sanggup terbang dengan mantap,

ayah dan anak dari keluarga Pek itu tentu akan menangkap diriku serta menyiksa diriku,

bukankah itu berarti harapan mereka bakal terpenuhi?”

“Anak jadah cilik!” sumpah kakek telaga dingin sambil menggerutu tiada hentinya. “Tidak mau ya

tidak mau, apa kau anggap loohu betul- betul senang menerima dirimu sebagai muridku?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

84

Mendadak dengan mata melotot bulat bentaknya, “Cepatan dikit kalau makan! loohu akan

mewariskan jurus serangan kepadamu, bunuh dulu budak sialan anak jadah itu agar rasa

mendongkol dalam hatiku bisa terlampiaskan!”

Melihat sikapnya yang galak waktu membentak tapi berbicara dengan halus dan ramah, Hong-po

Seng mengerti kalau ucapan tersebut bukan bermaksud hanya main-main saja,maka dengan

cepat ia menyikat habis daging kijang itu kemudian menelan beberapa genggam bunga salju dan

maju menghampiri kakek aneh tadi.

,Pek Koen Gie punya pandangan mata yang tajam, sifat yang keras kepala dan gerakan kaki

tangan yang mantap. aku rasa ilmu silat yang ia miliki jauh lebih hebat, beberapa kali lipat

daripada diriku, dalam satu dua jurus apa aku mampu untuk membinasakan dirinya,” kata

pemuda she Hong-po itu.

“Hmm! pendapat katak dalam sumur!”`

JILID 5

MENDENGAR perkataan itu tanpa sadar Hong-po Seng mendongak ke atas, ia lihat telaga kering

itu mirip sekali dengan sebuah sumur kering yang besar, dirinya memang betul-betul menjadi

katak dalam sumur, empat dinding merupakan tebing yang curam dan di manapun tiada tempat

untuk berpijak, andaikata dari atas telaga tak ada orang yang menurunkan tali sudah pasti ia

akan mati terkurung di dasar telaga tersebut.

Teringat betapa sengsaranya si kakek telaga dingin yang terkurung hampir sepuluh tahun

lamanya, rasa bergidik seketika muncul dari dasar hati kecilnya.

Mendadak terdengar kakek telaga dingin berseru dengan gusar, “Loohu hanya menciptakan satu

jurus serangan saja yaitu jurus “Koen Sioe Ci Tauw” atau Pergulatan binatang-binatang

terkurung. Dengan andalkan satu jurus inilah Pek loojie harus putar otak peras keringat selama

lima tahun untuk melawan diriku, sekali pun begitu hingga detik ini dia masih belum sanggup

menangkap diriku!”

Begitu keras ucapan ini digemborkan sampai Hong-po Seng merasakan telinganya lapat-lapat

terasa amat sakit, menunggu kakek itu menyelesaikan kata-katanya dengan cepat menyambung

dengan nada rikuh, “Aaah….! hanya satu jurus ilmu silat saja Pek Siauw Thian tak bisa

memecahkannya walau sudah putar otak selama lima tahun, tak usah dikatakan lagi bisa

dibayangkan betapa lihaynya pukulan tersebut. “Koea Sioe Ci Sauw” atau pergulatan binatangbinatang

terkurung memang tepat sekali untuk nama jurus serangan tersebut”

Si kakek telaga dingin mendengus congkak, ia mengangkat tangan kirinya yang bisa bergerak

bebas untuk melakukan gerakan setengah di depan dada kemudian sambil mendorong telapak

itu ke arah depan serunya lantang, “Badan terbelenggu tak bisa berkutik, segenap kepandaian

silat yang kumilikipun tak dapat digunakan, dalam posisi yang terdesak dan terancam oleh

bahaya maut akhirnya loohu berhasil menciptakan jurus serangan yang amat lihay ini.

Begitu ia selesai berbicara, dari tumpukan salju kurang lebih dua tombak di hadapannya

berkumandang suara gemerisik yang santar, diikuti menggulungnya pusaran angin tajam bunga

salju berpusing dan berputar dengan kencangnya, dalam waktu singkat terciptalah sebuah tiang

salju setinggi satu tombak dengan badan besar tujuh depa.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

85

Hong-po Seng merasa terkejut bercampur bergidik, pikirnya, “Tidak aneh kalau ia sombong dan

tinggi hati, ternyata kekuatan pukulannya betul-betul dahsyat hingga mencapai ke atap yang

demikian tingginya!”

“Bagaimana?” seru Si kakek telaga Dingin sambil tertawa keras, “Bagaimana kalau di bandingkan

dengan Pek loo jie?”

“Sin kang yang kau miliki betul-betul terhitung dahsyat dan luar biasa sekali aku pikir Pek Siauw

Thian tak nanti bisa menandingi dirimu.”

“Huuuh! kau betul-betul manusia yang punya mata yang tak berbiji” maki si kakek telaga Dingin

dengan mata melotot, “kehebatan dari jurus seranganku barusan bukan terletak pada

kesempurnaan tenaga lwekang yang dimiliki seseorang, tapi kehebatannya justru terletak pada

kesaktian serta keajaiban dari perubahan jurus tersebut!”

“Hmmm, apa gunanya kau sombong dan berbangga diri?” batin Hong-po Seng. “Sekalipun ilmu

silat yang kau miliki sangat lihay, kalau tak dapat menikmati kehidupan yang wajar apa gunanya?

Huh…! begitu masih bisanya berlagak sok!”

Walaupun dalam hati berpikir demikian, sudah tentu di luaran tidak berkata keras. cuma ujarnya

dengan hambar, “Kepandaian sakti itu adalah ilmu silat andalanmu, antara kita berdua tiada

ikatan sanak maupun keluarga, akupun tak bisa mengangkat dirimu sebagai guru, masa kau

telah mewariskan kepadaku dengan begitu saja?”

“Tentu saja bisa!” Si kakek telaga Dingin tertawa seram. “Cuma aku mempunyai syarat yang

barus kau kabulkan, asal kau merasa sanggup untuk menerima dua syaratku itu maka jurus

serangan “Koen Sioe Ci Tauw ini akan kupinjamkan kepadamu, di sampiug itu akan kuajarkan

pula satu siasat bagus untukmu, tanggung kau berhasil membinasakan Pek Koen Gie si budak

sialan itu. Asal dendammu sudah terbalas maka kau boleh kembalikan jurus ilmu pukulan itu

kepadaku!”

“Jurus ilmu pukulan mana bisa dipinjam dan bagaimana pula caranya mengembalikan

kepadamu?” pikir si anak muda itu. Ia melirik sekejap ke arah kakek tadi dan katanya, “Coba kau

terangkan lebih dahulu, apakah kedua syarat yang hendak kau ajukan itu?”

“Haah … haah ….. haah … kedua syarat tersebut?” kakek telaga dingin mendongak dan tertawa

terbahak-bahak. “Itu urusan kecil, justru yang paling penting adalah cara meminjam jurus

pukulan yang gampang tadi, cara pengembaliannya yang rada merepotkan itu.”

“Bagaimana repotnya?”

“Loohu melatih kepandaian sakti itu dengan telapak kiri, maka untuk mengembalikan ilmu

pukulan tadi kepadaku, terpaksa tangan kirimu harus kutebas dan kemudian serahkan kepada

loohu.”

“Sepasang kakinya kutung di ujung pedang ayahku,” pikir Hong-po Seng dalam hati. “Demdam

kesumat macam ini benar-benar besar dan dalam, sampai kini ia tak mau membunuh diriku

adalah karna aku masih berguna baginya, andaikata aku harus kutungkan sebuah lenganku

untuk dikembalikan kepadanya, kejadian ini betul-betul menarik dan aneh sekali”

ooooOoooo

7

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

86

BERPIKIR sampai disitu ia lantas berkata dengan suara hambar, “Yang selalu kau pikirkan dalam

hati hanyalah balas dendam …. balas dendam melulu, walaupun aku tahu bahwa maksud hatimu

tidak baik, tapi semangat serta cita-citanya tidak memalukan. Baiklah! ada meminjam pasti ada

mengembalikan, kusempurnakan keinginan hatimu itu.”

“Anjing cilik ….” maki si kakek telaga dingin dengan penuh kebencian setelah mendengar

perkataan itu, giginya saling bergemerutukan hingga berbunyi nyaring.

Hong-po Seng mendelik bulat-bulat, tegurnya ketus, “Aku minta kalau berbicara sedikitlah tahu

diri, asal jangan ngerocos keluar saja!”

Meski usia si anak muda ini masih kecil tapis dia mempunyai wajah yang gagah perkasa serta

semangat patriot yang hebat, baik Pek Koen Gie maupun si kakek telaga dingin yang berhadapan

dengan dirinya tentu merasa hatinya sangat tidak enak, hal itu bukan lain dikarenakan rasa

rendah diri serta rasa malu yang timbul dari dasar lubuk bati mereka, hanya saja kedua orang itu

sama-sama tidak memahami sampai kesitu.

Si kakek telaga dingin merandek sejenak, mendadak bentaknya keras, “Kau benar-benar tidak

menyesal mengucapkan kata-kata tersebut?”

“Hidup di dalam suasana yang kacau, nyawa masih bisa diselamatkan sudah merupakan satu

peruntungan, berapa besar nilainya sebuah lengan kiri….? cepat kau sebutkan syaratnya!”

Si kakek telaga dingin mendengus berat.

“Hmm… pertama, bunuh Pek Koen Gie dan kedua bunuh Pek Koen Gie!”

Mendengar perkataan itu Hong-po Seng melengak.

“Eeei… dua macam syarat yang kau ajukan barusan bukankah berarti pula banya satu syarat

belaka?”

“Heeeh … heeeh…. heeeh….”

Kakek Telaga Dingin tertawa dingin. “Sekalipun hanya satu syarat belum tentu kau bisa

laksanakan dengan sempurna. Hmmm! membiarkan Pek Loo-jie merasakan siksaan serta

penderitaan karena kematian putrinya jauh lebih menyenangkan dari pada membinasakan

dirinya!”

“Haaah… haaah… haaah… sungguh keji dan telengas siasat yang kau gunakan ini. setelah

kubunuh Pek Koen Gie kau kira Pek Siauw Thian dapat melepaskan aku dengan begitu saja?

siasatmu sekali timpuk mendapat dua ekor burung benar-benar lihai sekali!”

“Cissss! telaga kering ini merupakan daerah terlarang dari perkumpulan Sin-Kee Pang, kau

anggap bisa keluar dari sini dalam keadaan hidup-hidup?”

“Hmmm! tentang persoalan itu sudah kupikirkan sejak semulia,” pemuda itu merandek sejenak

dan termenung. “Terkurungnya kau di dasar telaga kering ini merupakan suatu rahasia besar,

seandainya ada orang yang berhasil meninggalkan tempat ini dalam keadaan hidup, rahasia ini

sudah pasti akan bocor dan tersiar di tempat luaran!”

“Betul!” kakek telaga dingin tertawa.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

87

Pada saat itu beberapa orang kerabat lamanya akan berdatang kemari dan sama-sama

berkumpul jadi satu. Pepatah mengatakan siapa yang melihat ikut mendapat bagian, kau

mendapat semangkok bubur dan aku mendapat semangkok bubur, sekalipun loohu serahkan

pedang emas itu belum tentu Pek Loo-jie bisa mengangkanginya seorang diri”

Mendadak ia tutip mulut dan memandang ke arah si anak muda iru dengan mata melotot bulat.

“Aku bukan seorang manusia yang jeri menghadapi kematian dan tidak ingin membunuh orang

tanpa sebab musabab,” kata Hong-po Seng seraya usapkan tangannya. “Coba berilah

kesempatan kepadaku untuk berpikir dengan lebih seksama, seandainya aku menganggap bahwa

Pek Koen Gie memang patut dijatuhi hukuman mati, kita baru mengadakan kerja sama saling

bertukar syarat?”

Rupanya si Kakek Telaga Dingin takut kalau pemuda itu secara tiba-tiba berubah pikiran, begitu

ia selesai berbicara segera sambungnya, “Walaupun kau tidak mau membunuh orang, orang lain

pun akan membinasakan dirimu, bagaimanapun juga akhirnya kau harus mati juga, kenapa tidak

menggunakan kesempatan ini untuk menarik balik sebagian dan modalmu? lagipula Pek Siauw

Thian banya punya satu keturunan, asal kau bunuh budak sialan itu maka setelah Pek Loo jie

modar, perkumpulan Sin-Kee-Pang tanpa kendali seorang pemimpin yang lihay pasti akan

menjadi buyar dengan sendirinya.”

Hong-po Seng tertawa hambar, pikirnya, “Apa yang diucapkan meski belum tentu seluruhnya

benar, tapi memang masuk di akal juga, dalam sebuah perkumpulan yang amat besar sudah

tentu bercampur baur manusia-manusia dan pelbagai lapisan, kalau tiada seorang pemimpin

yang tangguh dan kosen yang mengendalikan mereka, tentu saja sulit untuk menguasai

manusia-manusia itu.”

Berpikir begitu ia lantas berkata, “Baiklah, kita tetapkan dengan sepatah kata ini, aku akan

meminjam ilmu pukulan itu untuk membunuh Pek Koen Gie, seandainya beruntung aku bisa lolos

dari bahaya maut, tangan kiriku segera akan kutebas untuk dikembalikan kepadamu. Nah!

sekarang kau boleh terangkan siasat bagusmu itu, bagaimana caranya aku bisa mencabut

selembar jiwa Pek Koen Gie dengan mengandalkan jurus “Koen Sioe Ci Tauw” tersebut.

Si Kakek Telaga Dingin tertawa.

“Soal siasat bagus lebih baik kita bicarakan setelah ilmu pukulan itu kuwariskan kepadamu.

Haaaa …… haaaaaah inilah pekerjaan yang memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak,

Eei? pedang bajamu itu kukoay sekali bentuknya, coba mainkanlah beberapa jurus untuk

diperlihatkan kepadaku!”

“Orang ini terlalu serakah dan mementingkan diri sendiri,” batin Hong-po Seng dalam hati,

“Sedikitpun tiada perasaan kasihan atau iba kepada mereka senasibnya, aku tidak cocok untuk

bergaul dengan dirinya, lebih baik sedikit menyimpan diri saja.”

Maka ia lantas gelengkan kepalanya berulang kali serunya, “Ayahku almarhum terlalu cepat

meninggalkan dunia yang fana, sedangkan ilmu silat yang dimiliki ibuku tidak cocok bagi kaum

pria untuk melatihnya, maka dari itu meski sim hoat tenaga dalamku memperoleh warisan dari

ajaran keluarga, itupun harus digabungkan dengan ilmu pedang yang sederhana baru bisa

digunakan untuk melindungi keselamatan sendiri. Ilmu yang terlalu sederhana lebih baik tak usah

dipamerkan dihadapan orang lihay saja!”

Si Kakek Telaga Dingin merasa setengah percaya setengah tidak, ia mendengus gusar.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

88

“Hmm! omong kosong, masa ilmu silatpun sok dirahasiakan!”

Tapi ia tidak mendesak lebih jauh, tanpa menggubris apakah pemuda itu sudah mempersiapkan

diri atau tidak segera mulai menerangkan rahasia ilmu pukulannya.

Mula-mula ia terangkan dahulu di manakah letak dari himpunan tenaga yang mereka miliki serta

letak-letak tempat yang vital di tubuh manusia, kemudian membicarakan rahasia dari bagaimana

caranya mengerahkan tenaga yang baik.

Dengan penuh perhatian dan seksama Hong-po Seng pusatkan semua konsentrasinya untuk

mendengarkan keterangan-keterangan orang tua itu, tanpa sadar ia sudah terserap dan

terpesona oleh kesaktian serta keanehan dari kepandaian tersebut, masalah tangan kirinya yang

bakal dikutungi dikemudian hari sudah jauh-jauh terlupakan dari dalam benaknya.

Dengan menghimpun segenap semangat yang dimilikinya Hong-po Seng mendengarkan

penjelasan itu, ia hampir mabok dibuatnya.

Sebaliknya Si Kakek Telaga Dingin sendiri makin bicara ia merasa semakin bangga, hingga senja

hari menjadi tiba ia baru menyelesaikan keterangannya.

Hong-po Seng pun segera mengundurkan diri ke sisi dinding sambil mengulangi kembali rahasia

yang didapatkan, berusaha bila bertemu dengan hal-hal yang kurang jelas baginya ia segera

mohon petunjuk kepada orang tua itu.

Melihat betapa kesemsem dan terpesonanya si anak muda itu oleh kesaktian ilmu pukulan yang

dimilikinya, Si Kakek Telaga Dingin merasa bangga sekali.

Malam itu dilewatkan dengan kedua orang itu dalam suasana yang gelisah dan tidak sabar

mereka berharap pagi hari tepat menjelang datang. Akhirnya setelan dinantikan dengan susah

payah, fajarpun menyingsing di ufuk sebelah Timur, Si kakek Telaga Dingin segera menurunkan

gerakan jurus serangan itu kepada Hong-po Seng.

Jurus “Koen Sioe Ci Tauw” ini merupakan suatu gerakan memutar setengah lingkaran terdahulu

di depan dada kemudian disodok ke arah depan, walau begitu si Kakek Telaga Dingin

membutuhkan waktu selama hampir setengah jam lamanya untuk membuat si anak muda itu

memahaminya sungguh-sungguh, maka ia segera memerintahkannya untuk berlatih

dihadapannya.

Keampuhan daripada ilmu silat Hong-po Seng terletak di atas permainan pedangnya, tapi simhoat

tenaga dalam yang dimilikinya merupakan pelajaran tingkat atas, ditambah pula ia berwatak

keras hati, berjiwa besar, bercita-cita luhur serta mempunyai harapan untuk membasmi kaum

laknat serta menolong umat Bu-lim dari penindasan kaum iblis, maka sewaktu berlatih

kepandaian tersebut ia berlatih dengan tekun, giat dan rajin, dengan sendirinya kemajuan yang

diperolehpun semakin pesat.

Gerakan jurus pukulan itu sederhana sekali, tapi Hong-po Seng tidak memandangnya sebagai

pelajaran rendah, selesai berlatih satu kali ia berlatih lagi satu kali hingga akhirnya badan jadi

lelah dan tenaga babis, sementara malampun telah tiba.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Hong-po Seng sudah berlatih ilmu pukulan itu. Selesai

sarapan mendadak si Kakek Telaga Diugin menggapai ke arahnya sambil tertawa licik.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

89

“Hong-po Seng, gunakanlah segenap kekuatan yang kau miliki dan cobalah menghantam loohu

dengan jurus pukulan itu.”

Hong-po Seng sudah mengerti akan kelihayan tenaga lwekang yang dimiliki pihak lawan jelas

pukulan tersebut tak nanti bisa melukai dirinya, maka ia segera mengempos tenaga berkelebat

maju kedepan dan putar telapak mengirim satu pukulan gencar.

“Haaaa…… haaaa…..haaaa…… bocah keparat modar kau!” bentak kakek Dingin sambil tertawa

terbahak-bahak.

Tangannya berputar kencang, dengan menggunakan pula jurus pukulan “Koen Sioe Ci Tauw” ia

sodok telapaknya ke muka.

Plooook! dengan telak pukulan tadi bersarang di atas dada si anak muda itu.

Hong-po Seng berteriak keras badannya mencelat ke belakang dan meluncur sejauh lima enam

tombak, di mana badannya terbaring keras-keras mencium tanah.

Si Kakek telaga dingin segera tertawa terbahak-bahak.

“Haaaa ……… haaaaah ………… tempo dulu ketika Pek Loo jie termakan oleh pukulan loohu,

keadaannya pun tidak jauh berbeda dengan keadaanmu sekarang!”

Hong-po Seng segera meloncat bangun dari atas tanah, diam-diam ia mengempos tenaga ketika

dirasakan bahwa dirinya tidak terluka buru-buru ia maju ke depan dan menjura.

“Oooa! rupanya saudara masih menyembunyikan kepandaian kepadaku!” serunya sambil tertawa

“Sungguh tak nyana kalau dengan gerakan jurus Koen Sioe Ci Tauw tersebut masih terdapat

perubahan lain”

“Ehmm, sungguh tajam pandangan mata bocah keparat ini!” diam-diam si kakek telaga dingin

memuji ia segara tertawa tergelak.

“Haaah … haaah …. kau pandang Pek Loo jie sebagai manusia macam apa? kalau tiada

perubahan mana aku sanggup mencelakai dirinya?”

Sembari bicara ia ulangi kembali jurus pukulan itu dan diwariskan kepadanya.

Hong-po Seng melatih perubahan jurus tadi dengan sungguh-sungguh dan tekun, siapa tahu

setiap kali si Kakek Telaga Dingin selalu mempunyai perubahan baru.

Berhubung sepasang kakinya sudah cacad sedang tangan kanannya terikat di atas dinding maka

selamanya kakek itu harus melayani serangan-serangan lawan dengan mengandalkan tangan

kirinya belaka, dengan sendirinya gaya pembukaan dari serangannya pun tak berbeda.

Tapi setelah pukulan itu tiba di tengah jalan terdapatlah pelbagai perubahan yang tak terkirakan

banyaknya, jadi walaupun namanya saja hanya terdiri dari satu jurus, dalam kenyataan

gerakannya melebihi seratus buah.

Perubahan gerakan satu sama lain memang hanya terpaut sedikit sekali kendati begitu dalam

penggunaannya ternyata memiliki keampuhan yang sukar dilukiskan, kalau tidak dengan

kepandaian silat yang dimiliki Pek Siauw Thian mana bisa memaksa harus berpikir k ras dan

peras otak selama lima tahun untuk memecahkan gerakan itu tanpa berhasil.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

90

Begitulah pada hari itu ia mempelajari lima gerakan, keesokan harinya belajar tujuh buah

gerakan, hingga belasan hari kemudian jurus pukulan “Koen Sioe Ci Tauw” ini akhirnya berhasil

dikuasai semua.

Si Kakek Telaga Dingin merasa amat bangga, sedari pemuda itu menyelesaikan pelajarannya

setiap hari mereka berdua duduk saling berhadapan sambil menggerakkan telapak kirinya saling

serang menyerang dengan serunya.

Ketika untuk pertama kali diadakan pertarungan, karena Hong-po Seng belum begitu hapal

dengan gerakan pukulan itu, seringkali dia harus termakan oleh bogem mentah kakek telaga

dingin.

Tapi sesudah lewat tiga empat hari menanti Hong-po Seng telah hapal dengan gerakan ilmu

pukulan itu, kesempatan si kakek Telaga Dingin untuk menyarangkan bogem mentahnya di

tubuh pemuda itu semakin tipis, setiap kali bertarung mereka hanya bertahan dalam posisi yang

seimbang, dengan sendirinya pertarunganpun berlangsung makin seru.

Suatu pagi ketika kedua orang itu melangsungkan pertarungan lagi, mendadak si kakek Telaga

Dingin tertawa tergelak, telapak secara tiba-tiba menerobos masuk ke dalam pertahanan lawan

dan menghantam tubuh Hong-po Seng sampai mencelat sejauh beberapa tombak.

Pusing tujuh keliling pemuda itu merasakan sakit di atas kepalanya, dengan susah payah ia

merangkak bangun dari atas tanah kemudian menghampiri kakek itu. Ketika menyaksikan si

kakek telaga dingin masih tertawa tergelak dengan bangganya, ia segera menegur sambil

tertawa pula, “Ooooh, rupanya kau masih menyembunyikan satu jurus serangan, selain yang

diturunkan kepadaku!”

“Tidak, jurus pukulan ini adalah ciptaanku yang terakhir” sahut kakek Telaga Dingin sambil

menarik kembali tertawanya. Hingga detik ini Pek Loo jie masih belum pernah menjumpai

pukulanku ini”

“Kalau memang begitu aku tak mau mempelajari pukulan tadi, daripada sampai ketahuan lebih

dahulu oleh Pek Siauw Thian hingga ia sempat mempersiapkan diri untuk menghadapi dirimu.”

“Haaah….. haaah…… bocah keparat tak nyana kalau hatimu sesungguhnya jujur, baik dan

menyenangkan, tapi kalau kau tidak sekalian mempelajari ilmu pukulan mi, maka tidak nanti kau

akan berhasil mencabut jiwa budak sialan itu.”

“Pikirkanlah sendiri membunuh Pek Koen Cie lebih penting ataukah menyelamatkan jiwamu lebih

penting? nah setelah itu tentukan pilihanmu, aku sih hanya menantikan keputusanmu yang

terakhir”

Si kakek telaga dingin mendongak dan menatap wajah si anak muda itu tajam-tajam? mendadak

dengan wajah berubah jadi marah serunya, “Bocah cilik! loohu telah mengambil keputusan untuk

mewariskan perubahan jurus yang terakhir ini kepadamu. Seandainya Pek Loo jie tidak ada

maksud mencari keuntungan dengan jalan ini masih mendingan, kalau ia mau cari keuntungan

dengan memikirkan gerakan pemecahan lebih dahulu sebelum bergerak melawan loohu.

Hmmm…. hmmm…. hmmm…. Pek Loo-jie…. Pek Loo-jie……”

“Kenapa?” tanya Hong-po Seng tercengang. “Kenapa? sekalipun loohu bakal mati kelaparan,

paling sedikit akan kusuruh orang she Pek itu berbaring selama setahun tanpa bisa berkutik!. .”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

91

“Aaaah, dia tentu masih mempunyai jurus ampuh yang sengaja dirahasiakan….” pikir Hong-po

Seng, “Kemudian mengatur siasat dan sengaja suruh aku membocorkan lebih dahulu gerakan

terbaru tadi agar Pek Siauw Thian yang tak tahu diri terjebak ke dalam perangkapnya.”

Sebelum ia sempat mengucapkan sesuatu, terdengar si kakek telaga Dingin telah berkata lagi

sam bil tertawa panjang.

“Hmmm! andaikata aku tidak menggunakan sedikit akal dan kecerdikan, hidupku mana bisa

diperpanjang sampai sepuluh tahun lamanya? kalau kau pun tidak ingin mati konyol, lebih baik

gunakanlah otakmu untuk berpikir dan berusaha.

Walaupun Hong-po Seng tahu kalau tenaganya yang terakhir” sahut kakek telaga Dingin sambil

menarik kembali tertawanya. “Hingga detik ini Pek Loo jie masih belum pernah menjumpai

pukulanku ini”

“Kalau memang begitu aku tak mau mempelajari pukulan tadi, daripada sampai ketahuan lebih

dahulu oleh Pek Siauw Thian hingga ia sempat mempersiapkan diri untuk menghadapi dirimu.”

“Haaah…. haaah……bocah keparat tak nyana kalau hatimu sesungguhnya jujur, baik dan

menyenangkan, tapi kalau kau tidak sekalian mempelajari ilmu pukulan mi, maka tidak nanti kau

akan berhasil mencabut jiwa budak sialan itu.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar