Senin, 05 Oktober 2009

3 maha 11

“Kho Hong-bwee!” bentak Kiu-im Kaucu dengan gusar, “engkau mengerti akan peraturan Bu lim

atau tidak?”

“Peraturan Bu lim apaan?” tanya Kho Hong-bwee pura-pura berlaga pilon.

Sedari tadi Kho Hong-bwee sudah merasa kurang enak untuk mencampuri pertempuan yang

sedang berlangsung antara Cu Thong melawan Kek Thian-tok, apalagi di tegur secara terangterangan

oleh Kiu-im Kaucu, merah padam selembar wajahnya karena jengah.

Ia menghentikan gerak tubuhnya ditengah-tengah jalan dan ragu-ragu untuk dilanjutkan

kembali.

Sementara itu Kek Thian-tok sudah merasakan gawatnya situasi, dia tahu asal Kho Hong-bwee

terjun kedalam gelanggang maka kemenangan yang sudah pasti bakal diraih akan tersapu

lenyap.

Dalam keadaan begini dia ambil keputusan untuk bertindak cepat, telapak tangannya segera

ditekan kebawah melepaskan sebuah pukulan yang mematikan.

Kek Thian-tok memang bertindak cukup cerdas, ketika ia berputar mengikuti dibelakang

punggung Cu Thong, serangan tersebut dilan-carkan tepat menunggu dikala lawannya terpaksa

harus menangkis dengan tangan kirinya, dalam keadaan begini tenaga yang terpancar keluar

dengan sendirinya akan lemah sekali.

Bila pukulan itu sampai bersarang dipunggung Cu Thong, niscaya isi perut jago tua itu akan

hancur dan remuk.

Berbicara sesungguhnya, Dewa yang suka pelancongan hanya kalah dalam hal ilmu meringankan

tubuh, sedang dalam kepandaian lain boleh dakata mereka seimbang.

Ketika merasakan datangnya desiran angin tajam dari belakang, ia segera menyadari kalau

serangan tersebut tak mungkin bisa dihindari lagi, dalam bahaya ia menggertak gigi sambil putar

badan, setelah melepaskan diri dari ancaman yang membahayakan jiwanya, ia sambut pukulan

itu dengan keras lawan keras.

“Pleeetak….!” pukulan dahsyat dari Kek Thian-tok itu bersarang telat diatas bahu kiri Cu Thong,

membuat tulang bahunya itu hancur berkeping-keping, dengan sempoyongan ia mundur enam

langkah kebe-lakang sebelum akhirnya dapat berdiri tegak.

Cepat Haputule memburu kemuka dan memayang tubuh jago tua itu, Dewa yang suka

pelancongan hanya tersenyum sambil gelengkan kepalanya, diam-diam dia menggepos tenaga

untuk menekan golakan hawa darah dirongga dadanya, kemudian sambil melotot ke arah

lawannya dia berseru, “Tua bangka she Kek, kekalahan yang ku derita tidak terlalu penasaran,

lain hari aku pasti akan mohon pentunjuk lagi darimu!”

“Setiap saat akan kulayaki keinginanmu” sahut Kek Thian-tok sambil tertawa angkuh.

Sewaklu terjadi pertarungan sengit selama beberapa hari dalam pertemuan Kian ciau tay hwe

tempo hari, banyak musnah di tangan Cu Thong sementara dia sendiri sama sekali tidak

menderita luka barang sedikitpun.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

458

Tapi ini hari hanya bertarung melawan Kek Thian-tok seorangpun, bahu kirinya kena dihajar

sampai remuk hingga lengannya sudah pasti akan menjadi cacad, tak heran kalau Kek Thian-tok

merasa amat bangga dengan keberhasilannya itu.

Walaupun begitu kejujuran serta sikap terbuka dari Cu Thong yang berani mengaku tentang

kekalahannya jarang pula ditemui dalam dunia persilatan puluhan tahun terakhir, sedikit banyak

mereka merasa kagum juga akan kebesaran jiwanya ini.

Terdengar Kek Thian-tok tertawa terbahak-bahak, serunya dengan suara lantang, “Pek hujin,

bukankah engkau akan memberi petunjuk kepadaku? Aku yang tak becus siap menantikan

pelajaran darimu!”

Waktu itu Kho Hong-bwee sudah terlanjur maju, tentu saja ia tak dapat menolak tantangan

musuhnya, ia lantas melirik sekejap ke arah kaki kanan Kek Thian-tok seraya berkata dengan

hambar, “Silahkan engkau gunakan senjata!”

“Hujin, ketajaman mata mu sungguh hebat!” puji Kek Thian-tok sambil tertawa.

Dia lantas menyingkap kaos kakinya dan cabut keluar sebuah senjata penotok jalan darah yang

berwarna kuning emas, Pek Kun-gie segera berpikir dihati, “Ilmu langkah yang dimiliki orang ini

sangat lihay dan sukar diikuti, kalau ibu terjun sendiri kegelanggaag hingga jatuh kecun-dang,

waah…. suatu pengorbanan yang sama sekali tak ada harganya.”

Berpikir sampai disitu ia segera cabut keluar pedang lemasnya dan melayang kedepan tapi diamdiam

dia telah mencawil tubuh Hoa Thian-hong….

Melihat putrinya telah maju, Kho Hong-bwee mengerutkan dahinya rapat-rapat, dia segera

menegur, “Kun Gie, bayo mundur! ilmu silat yang dimiliki Kek tongcu sangat lihay, engkau bukan

tandingannya!”

Sambil menghadang dihadapan ibunya, Pek Kun-gie menjawab, “Ibu, betapa tinggi dan

terhormatnya kedudukanmu, untuk melayani seorang tongcu jelek macam begitu, kenapa

engkau musti turun tangan sendiri? Tak ada harganya untuk menodai tanganmu!”

Kemudian sambil berpaling ke arah Kek Thian-tok ujarnya dengan ketus.

“Ilmu langkahmu memang lumayan, aku akan ajak engkau untuk bertarung beberapa gebrakan!”

Pedang lemasnya langsung ditebas kedepan melepaskan sebuah babatan dahsyat.

Dalam hati Kek Thian-tok kegirangan setengah mati, segera pikirnya dalam hati, “Aaah….

rupanya Thian memang memberi suatu kesempatan yang baik bagiku untuk membekuk Pek Kungie,

asal bocah perempuan ini dapat kubekuk maka dengan sendirinya Hoa Thian-hong akan

serahkan pedang emas itu sebagai barang tukaran…. aku harus baik-baik manfaatkan peluang

baik ini!”

Ketika dilihatnya Kho Hong-bwee tidak mundur, malahan cabut pedang pusakanya sambil berdiri

ditepi gelanggang, ia lantas tahu maksud perempuan itu, tentunya dia bersiap sedia memberikan

bantuannya jika Pek Kun-gie menemui bahaya.

Pelbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya, dia sadar bila serangannya gagal maka tiada

kesempatan yang kedua untuk mengulangi kembali perbuatannya itu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

459

Maka dengan cepat dia mengegos kesamping untuk menghindari tebasan pedang lawan,

bukannya melancarkan serangan balasan, dia malah menelikung tangan kanan sendiri yang

mencekal senjata kebelakang punggung, sementara untuk melayani serangan musuh dia cuma

memakai tangan kirinya belaka.

Dengan tindakannya itu maka Kho Hong-bwee jadi merasa tak enak hati kalau tetap bersiaga

disitu, serta-merta dia ikut mundur kebelakang.

Pek Kun-gie mendongkol sekali menyaksikan perbuatan lawannya, dengan suara dingin ia

berseru, “Aku tidak percaya kalau engkau mampu menangkan pedang lemasku hanya

mengandalkan tangan kiri!”

Kek Thian-tok segera menengadah dan tertawa terbahak-bahak….

“Haahh…. haahh…. haahh…. sekalipun hanya mengandalkan tangan kiri, aku masih punya

kemampuan yang lebih untuk merobohkan engkau, jika dalam tiga puluh gebrakan aku tak

mampu menangkan dirimu, tangan kiri ini akan segera kutebas kutung!”

Bukannya mundur, sang badan malah menerjang maju kedepan, cepat tangan kirinya berkelebat

kemuka mencekeram pergelangan tangan kanan Pek Kun-gie.

Gadis itu mendengus dingin, cepat dia putar pergelangan tangan kanannya dan secara beruntun

melatcarkan tiga buah serangan berantai.

Ketiga jurus serangan tersebut kesemuanya merupakan jurus-jurus serangan paling top yang

pernah dimilikinya, Kek Thian-tok ada has rat untuk menyelinap kebelakang punggungnya, akan

tetapi setelah menyaksikan permainan pedang gadis itu ibaratnya burung merak yang

memenangkan sayapnya, hingga jalan pergi dikedua belah sampingnya terkunci, dalam keadaan

apa boleh buat terpaksa dia mundur kebelakang.

Secara beruntun dia mundur tiga langkah kebelakang, walaupun terdiri dari tiga langkah namun

dalam kenyataan dilakukan hampir bersamaan waktunya, bahkan tidak terlalu jauh atau terlalu

dekat, dia mundur tepat menghindari jangkauan dari ketiga buah bacokan berantai itu.

Walau begitu tubuhnya masih tetap berada dihadapan Pek Kue Gie, bukan saja sikapnya amat

santai malahan sekulum senyuman terhias diujung bibirnya.

Setelah menghindari serangan terantai dari dara itu, tiba-tiba Kek Thian-tok tertawa tergelak,

tangannya diputar dan diayun kemuka melancarkan sebuah pukulan gencar.

Serangan itu sepintas lalu kelihatan enteng dan sama sekali tiada sesuatu yang istimewa, dalam

kenyataan terselip rangkaian perubahan yang sukar diraba sebelumnya, Kek Thian-tok yakin

kalau Pek Kun-gie pasti akan terjerumus kedalam kepungannya, maka begitu pukulan dilepaskan

tak kuasa lagi dia tertawa bangga.

Pek Kun-gie benar-benar tak dapat melihat keampunan dari serangan lawan, pedang le-masnya

cepat berputar keatas, kemudian secepat kilat membabat perggelangan tangan musuh.

Kek Thian-tok jadi angkuh dan jumawa, ia menoleh kekiri kanan dengan santai, sementara

sikutnya ditekuk, kemudian dengan dua jari tangannya ia menyodok kemuka menotok urat nadi

pada pergelangan tangan Pek Kun-gie….

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

460

Cepat dan ganas perubahan serangan ini, bagaikan kena dipagut ular berbisa, cepat Pek Kun-gie

menarik kembali tangannya dengan ketakutan.

“Kun Gie, hayo mundur!” bentak Kho Hong-bwee dengan cepat, ia sadar bila pertarungan

dibiarkan berlangsung terus, niscaya putrinya akan menderita kekalahan.

Rupanya Hoa Thian-hong sendiri pun sudah tahu kalau Kek Thian-tok mengandung maksud tak

baik, menyaksikan keadaan itu cepat ia melangkah maju kemuka.

“Heehh…. heehhh…. heehhh…. mau apa boleh mulai!” tegur Kiu-im Kaucu sambil tertawa seram,

ia ikut melangkah setindak kedepan, “kalau engkau merasa tanganmu sudah gatal, mari, akan

kulayani keinginanmu itu….”

Pada hakekatnya semua kejadian itu berlangsung hampir bersamaan waktunya, belum habis

serangan yang pertama Kek Thian-tok telah menyusulkan serangan berikutnya.

Terlihatlah ia putar perggelangan tangan, dari suatu gerak totokan mendadak berubah jadi

kebasan, walaupun arah yang diancam masih tetap urat nadi dipergelangan tangan kanan Pek

Kun-gie, akan tetapi kecepatannya lebih hebat dan serangan itupun kian ganas.

Betapa tercekatnya hati Pek Kun-gie menghadapi ancaman tersebut, cepat sepasang kakinya

menjejak permukaan tanah dan melompat mundur kebelakang, maksudnya hendak menghindari

ancaman maut tadi.

Siapa sangka Kek Thian-tok yang lihay sudah memperhitungkan sampai kasitu, walaupun tangan

kanannya masih ditelikung ke belakang, tapi secara diam-diam ia selalu waspada dan

mempersiapkan diri untuk menghadapi sergapan Kho Hong-bwee, sedangkan tangan kiri nya

seperti ular lincah yang sedang menari, menyergap, menyerang tiada hentinya, dengan

mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya yang sempurna, bagaikan bayangan saja ia

membuntuti terus kemana Pek Kun-gie pergi

Tiba-tiba Haputule menyergap kedepan, setibanya dibelakang punggung Kek Thian-tok, ia putar

pedang pendeknya dan langsung menusuk punggung jago lihay itu.

“Kek tongcu, hati-hati dengan sergapan!” cepat Kiu-im Kaucu memperingatkan dengan hati

kaget.

Sudah sedari tadi Haputule mengincar musuhnya, sergapan yang dilancarkan secara mendadak

ini boleh dibilang amat dahsyat ibaratnya gulungan ombak yang menghantam batu karang.

Betapa terperanjatnya Kek Thian-tok setelah mendengar peringatan dari kaucunya, ingatan

kedua belum sempat terlintas, tahu-tahu segulung desingan angin pedang yang tajam telah

menyergap punggungnya.

Uatung dia lihay dan berpengalaman luas, walaupun kaget dan gugup menghadapi sergapan

maut tersebut, sempat juga ia keluarkan ilmu langkah Loan ngo heng mi sian tun hoatnya yang

hebat itu, secepat petir ia mengegos ke samping.

“Traaang….!” Ditengah suatu dentingan nyaring, senjata penotok jalan darah emas milik Kek

Thian-tok serta pedang pendek milik Haputule berbareng terjatuh keatas tanah.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

461

Cara menghindar yang dilakukan Kek Thian-tok boleh dibilang cepatnya bukan kepalang, akan

tetapi Haputule sendiripun bukan seorang manusia biasa, terutama permainan pedang

pendeknya boleh di kata memiliki suatu keistimewaan yang khusus.

Ketika ia merasa tusukan pedangnya meleset dan mengenai sasaran yang kosong, cepat telapak

tangannya disodok kemuka, pedang pendeknya segera dilontarkan kemuka….

Kendatipun sambitan itu belum sanggup menembusi punggung Kek Thian-tok, akan tetapi

sempat juga melukai pergelanaan tangan kirinya, sebuah mulut luka sedalam satu cun segera

membekas pada pergelangan tangannya itu, untung tak sampai memutuskan urat nadinya.

Sekalipun begitu Kek Thian-tok jadi naik darah, sambil memegangi pergelaagan tangan kanannya

yang terluka, ia melesat dua kaki jauhnya dari tempat semula lalu sambil menggertak gigi

menahan emosi, teriaknya, “Anjing cilik! Bila aku tak mampu membereskan selembar jiwa

anjingmu, aku bersumpah tak akan hidup sebagai manusia!”

Sebagai seorang keturunan suka Fibulo, meskipun kecil usianya keberanian Haputule boleh

dibilang melebihi siapapun, bukan jengah setelah mendengar ancaman itu, dia malahan maju

untuk pungut kembali pedang pendeknya kemudian sekali ayun kakinya ia menyepak senjata

milik Kek Thian-tok itu sampai mencelat jauh kedepan sana.

Dipihak lain, Hoa Thian-hong telah mengalihkan sorot matanya keatas wajah Kiu-im Kaucu,

kemudian ujarnya, “Kaucu, apakah engkau ada minat untuk melangsungkan suatu pertarungan

sungguh-sungguh yang akan menentukan mati hidup kita berdua?”

“Heeeh…. heeeh…. heehh…. ku memang berhasrat untuk melangsungkan pertarungan semacam

itu, cuma aku punya satu syarat!”

“Apa syaratmu itu?” tanya Hoa Thian-hong sambil tersenyum.

“Engkau benar-benar tak paham atau sudah tahu pura-pura bertanya lagi?” tegur Kiu-im Kaucu

agak mendongkol.

Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan.

“Kalau toh engkau merasa tak paham baiklah! Akan kujelaskan kepadamu, jika aku yang menang

maka engkau harus serahkan pedang emas itu kepadaku, aku rasa syatar ini tidak terlalu

memberatkan engkau bukan?”

“Bagaimana kalau kami yang menang?” sambang Pek Kun-gie secara tiba-tiba dengan nada

mengejek.

Kiu-im Kaucu tertawa dingin, ia tidak menggubris anak dara itu, sebaliknya kepada Hoa Thianhong

ujarnya lagi, “Bila engkau yang menang, maka akan kubuka sangkar untuk melepaskan

burung gereja yang tersekap didalamnya, persoalan tentang Ku Ing-ing yang berkhianat tidak

akan ku teruskan lebih lanjut!”

“Wah…. tidak bisa, tidak bisa, syarat macam begitu cuma menguntungkan pihakmu saja!” teriak

Pek Kun-gie dengan penasaran, “memangnya apa sangkut paut antara mati hidup Ku Ing-ing

dengan kami?”

“Budak ingusan, hayo tutup mulutmu!” bentak Kho Hong-bwee dengan marah, “urusan ini adalah

urusan pribadi Hoa kongcu lebih baik kau tak usah turut campur!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

462

Sambil meleletkan lidahnya, Pek Kun-gie segera tutup mulut dan tak berani komentar lagi.

Sementara itu, Hoa Thian-hong sedang berpikir dihatinya, “Kiu-im Kaucu pasti tak akan percaya

kalau kuterangkan bahwa pedang emas itu belum kutemukan, padahal Pia Leng-cu sudah

mampus…. waah! Kalau pedang emas itu tak berada dalam loteng kecil itu, akulah yang bakalan

menjadi sasaran!”

Berpikir sampai disitu, dia lantas mengangkat pedang baja yang berada ditangannya seraya

berkata dengan serius, “Baiklah, bila kaucu yang menang maka pedang baja ini segera

kuserahkan kepadamu sebaliknya kalau beruntang aku yang menang aku harap kaucu aegera

membebaskan Ku Ing-ing dari segala tuduhan.”

“Waah tidak adil!” teriak Pek Kun-gie lagi.

“Sekalipun tidak adil, apa daya kita?” sahut Hoa Thian-hong sambil tersenyum.

“Lhoo apa maksudmu?”

Hoa Thian-hong tertawa.

“Jika aku sampai kalah, jangan toh senjata ini tak mampu kulindungi, bahkan nyawa pun ikut

melayang, sebaliknya kalau aku yang beruntung menang, kecuali memohon kebebasan buat Ku

Ing-ing, apalagi yang bisa kita mintakan?”

“Kalau kita yang menang, kenapa tidak suruh kecoak tua itu gorok leber untuk bunuh diri?” seru

Pek Kun-gie sambil menuding ke arah Kiu-im Kaucu yang langsung melotot gusar sehabis

mendengar perkataan itu.

Hoa Thian-hong tertawa geli.

“Aaah, kamu masih muda dan tidak akan mengerti urusan, kalau cuma syarat-syarat kecil saja

yang kua ajukan, mungkin kaucu yang terhormat ini sanggup untuk mengabulkan, tapi kalau kita

pertaruhkan selembar jiwanya…. waah, paling banter toh cuma omong kosong belaka, akhirnya

juga tak mungkin terwujud!”

Sepasang alis mata Kiu-im Kaucu kontan berkernyit, dengan marah ia berteriak, “Hey, bocah

keparat! Berdasarkan apa engkau berani mengatakan begitu dihadapan ku?”

Hoa Thian-hong tersenyum.

“Sebatang Leng-ci betusia seribu tahun yang jelas milik pribadi Ku Ing-ing, ternyata kaucu sudisudinya

menipu kami dengan mengatakan benda itu milik kaucu…. Huuh. Cukup ditinjau dari

perbuatanmu ini, dapat kutarik kesimpulan sampai dimanakah karakter dan akhlak dari kaucu?”

Kontan Kiu-im Kaucu tertawa dingin tiada hentinya.

“Bocah keparat, engkau jangan omong sembarangan yaa! Engkau tahu, setiap nyawa dari

anggota Kiu-im-kauw telah menjadi milikku pribadi, apalagi barang-barang milik mereka! Hmm….

peraturan macam begini bukan dimulai sejak aku memegang tampuk pimpinan, sekarang hayo

kita buktikan, pengetahuan siapa yang picik dan jalan pikiran siapa yang benar?!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

463

“Penjelasan macam begitu rasanya terlelu dipaksakan, tapi untuk diakal juga….!” pikir pemuda

itu dihati.

Dengan paras muka serius dia lantas berkata, “Baiklah, kita tak usah ribut-ribut terus, akan

kuturuti syarat yang kau ajukan itu. Nah, sekarang harap kaucu suka memilih seorang saksi yang

akan bertindak sebagai juri dalam pertarungan ini!”

Pek Kun-gie penasaran karena dianggapnya pertaruhan semacam itu sangat tidak adil, disamping

itu diapun tahu bahwa Hoa Thian-hong tidak mempunyai keyakinan untuk menangkan

pertarungan itu, berbicara sesungguhnya ia tidak mengharapkan terjadinya pertarungan macam

ttu.

Tapi dara itupun merasa tak berdaya untuk menghalangi niat si anak muda tersebut, dalam

bingungnya tiba-tiba ia mendengar perkataan tadi, dengan wajah berseri dia lantas tampil

kedepan seraya berseru, “Hitunglah aku sebagai salah semang jurinya!”

Kiu-im Kaucu mengerling sekejap ke arah Pek Kun-gie, sebelum mengucapkan sesuatu,

mendadak ia berpaling ke arah lain seraya menghardik, “Siapa yang berada disitu? Hayo pada

keluar….!”

Rupanya dibalik dinding rumah telah bersembunyi beberapa orang, cuma orang-orang itu berilmu

tinggi maka selain Hoa Thian-hong dan Kiu-im Kaucu, tak ada yang mengetahuinya.

Setelah Kiu-im Kaucu menegur, barulah semua orang alihkan pandangan matanya ke arah mana,

empat orang jago silat perlahan-lahan munculkan diri dari balik sebuah loteng sempit disisi kiri

mereka.

Keempat orang itu mengenakan jubah panjang berwarna kuning dengan rambut digulung

menjadi satu seperti potongan kaum tosu, ujung bajunya mencapai pergelangan tangan hingga

sekilas pandangan mirip dengan jubah kaum pendeta, hanya badannya bagian dada mereka

dibiarkan terbakar sehingga tampaklah dadanya yang bidang dan berotot….

Sepatu mereka terbuat dari kain dengan kaus putih setinggi lutut, pada pinggang masing-masing

terikat sesuatu tali pinggang yang cukup lebar dan menyolok.

Dandanan dari keempat orang itu persis satu sama lainnya, satu-satunya yang berbeda hanyalah

warna ikat pinggangnya belaka.

Orang pertama yang berjalan dipaling depan adalah seorang kakek bermuka merah padam, ikat

pinggang yang dikenakan berbentuk seekor naga yang terbuat dari emas, naga emas tersebut

panjangnya sembilan depa dengan bentuk kepala selebar cawan arak, badannya kecil tipis sejari

kelingking dengan sisik emas yang amat hidup, walaupun tubuhnya panjang seperti tali tapi

cakar, sisik maupun jarinya terukir sangat hidup, sekilas pandangan orang akan mengira benda

itu sebagai seekor naga yang betul-betul hidup.

Kalau tiga orang yang berjalan didepan berpotongan jelek dengan hidung yang mekar seperti

sapi, bibir tebal dan bertampang kriminil, maka orang keempat yang ada dibelakang masih

sangat muda dengan bibir yang merah, gigi yang putih dan wajah yang tampan, cuma sayang

matanya memancarkan hawa nafsu membunuh yang tebal sehingga membuat tak sedap orang

yang memandang.

Dengan langkah yang tebar keempat orang itu keluar dari tempat persembunyiannya dan

menuju ke tengah gelanggang.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

464

Kakek tua yang berjalan dipaling depan bertangan kosong, orang kedua membawa sebuah hiolo

yang memancarkan sinar merah darah, asap tipis masih mengepul keluar dari balik hiolo tadi,

walaupun sedang berjalan namun asap tipis itu tetap mengepul lurus ke angkasa, membuat

siapapun yang memandang jadi tercengang dan keheranan.

Bukan begitu saja, bahkan dari balik hiolo itu terdengarlah serentetan suara yang aneh, seakanakan

terdapat berpuluh-puluh ekor makhluk berbisa sedang merangkak.

Ketika empat orang itu berjalan menuju ketengah gelanggang, mula-mula sepasang mata Pek

Kun-gie memandang sebuah sabuk naga emas yang dikenakan kakek paling depan dengan

pandangan tertegun, kemudian ketika sinar matanya beralih kewajah pemuda berwajah tampan

yang ada dipaling belakang, tak tahan lagi ia menjerit kaget.

Hoa Thian-hong tertegun dan alihkan pula sorot matanya kedepan, dengan cepat dia kenali

pemuda itu sebagai Kok See-piauw, murid Bu-liang Sinkun yang pernah dikenalnya sedari dulu.

Sementara itu, semua orang telah menduga bahwa kawanan jago berjubah kuning ini adalah

orang-orang Mo-kauw dari Seng sut hay, cuma mereka sama-sama tercengang ketika dilihatnya

Kok See-piauw berada satu rombongan dengan orang-orang itu, sebab sepengetahuannya

pemuda itu bukanlah anak murid dari Mo-kauw.

Setibanya ditengah gelanggang, dengan jelalatan kakek tua itu menyapu sekejap paras muka

setiap orang yang hadir disitu, kemudian tertawa terkekeh kekeh.

“Haaah…. haaah…. haahh…. bukankah ada orang hendak adu kepan-daian silat? Biarlah aku

yang menjadi saksi, tanggung aku bertindak dengan seadil-adilnyanya dan tidak sampai berat

sebelah”

Sementara pembicaraan masih berlangsung, orang yang membawa hiolo merah darah itu sudah

tiba di tengah gelanggang, dia letakkan hiolo tersebut persis di tengah-tengah yang memisahkan

Kiu-im Kaucu serta Hoa Thian-hong sesudah itu ia berlutut sambil berkemak kemik seperti

sedang mendoakan sesuatu, Kok See-piauw maupun laki-laki setengah baya yang lain ikut

berlutut, sikap maupun mimik wajah mereka amat serius dan bersungguh-sungguh….

Menyaksikan tingkah laku mereka, Hoa Thian-hong lantas berpikir dalam hatinya, “Sudah lama

aku dengar pihak Seng Sut pay memiliki tokoh-tokoh silat yang ampuh dan berilmu tinggi, aku

rasa kedatangan mereka pasti tidak membawa maksud baik, aku harus waspada sehingga tidak

sampai jatuh kecundang ditangan lawan….!”

Sementara masih termenung, mendadak ia saksikan Kiu-im Kaucu sedang mengawasi hiolo

merah darah itu dengan paras muka takut bercampur waspada, tanpa terasa diapun pertinggi

kewaspadaannya sendiri.

Kepada kakek bermuka merah itu ujarnya, “Bolehkah aku mengetahui siapa namamu? Dan apa

tujuanmu datang kemari?”

“Pinto bernama Tang Kwik-siu, bila kedatanganku akan ceroboh dan tak tahu diri harap kongcu

jangan mentertawakan!” habis berkata kakek baju kuning itu terbahak-bahak.

Haputule yang berada disisi Hoa Thian-hong segera berbisik dengan suara lirih, “Dia adalah

ciangbunjin dari perguruan Seng sut pay, locou dari Mo-kauw yang tersohor itu.”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

465

Perguruan Seng sut pay bermarkas besar di wilayah Seng sut hay, ilmu silat mereka sangat aneh

dan berdiri sendiri, anak murid yang diterima mereka secara resmi tidak terlalu banyak, akan

tetapi berhubung setiap murid menerima murid lagi dan tiap cucu murid menerima murid pula,

maka pengaruh perguruan itu meluas sampai meliputi wilayah Ceng hay, luar perbatasan,

Mongolia, Tibet serta See ih, malah pengaruhnya amat besar dikalangan rakyat sekitar sana.

Oleh sebab dandanan mereka tosu bukan tosu, padri bukan padri itulah maka perkumpulan itu

disebut orang sebagai Mo-kauw, dengan begitu maka ciangbun cousu dari perguruan Seng sut

pay sama juga dengan cikal bakal dari Mo-kauw.

Setelah disergap satu kali dikala berada dirumah penginapan tempo hari sebetulnya Hoa Thianhong

segan untuk berpura-pura memakai segala tata cara, tapi terpikir olehnya bagaimanapun

juga orang itu adalah cikal bakal suatu perkumpulan besar, maka ia menjura sambil berkata,

“Oh, kiranya Tang Kwu kaucu, bila ti ak mengenal dirimu harap suka di maafkan!”

Tang Kwik-siu menengadah dan tertawa terbahak-bahak.

“Haehh…. haahh…. haahh…. ketika aku berangkat menuju ketimur, sering kudengar orang

berkata bahwa jago silat yang ada didatatan Tionggoan banyaknya luar biasa, tapi diantara

sekian banyak jago hanya Hoa kongcu dan Kiu-im Kaucu saja yang terhitung lihay.”

Kiu-im Kaucu tak senang hati ketika mendengar namanya disebut belakangan daripada Hoa

Thian-hong, sebelum ia sempat menyelesaikan kata-katanya, sambil tertawa dingin katanya,

“Obrolan mulut orang lain tak bisa dipandang sebagai ucapan yang benar, bila engkau tidak puas

bagaimana kalau too yu terhitung salah satu peserta dalam pertarungan ini?”

“Bagus…. bagus sekali, memang lebih pantas kalau kalian dua orang kaucu bertarung lebih dulu”

teriak Pek Kun-gie sambil bertepuk tangan kegirangan, “hayo cepat kalau ingin adu jotos, mari

kita buktikan kaucu mana adalah kaucu asli dan kaucu yang mana lagi adalah kaucu gadungan!”

Tang Kwik-siu tertawa lebar.

“Nona, bila kupandang parasmu yang cantik jelita bagaikan bidadari dari khayangan maka kurasa

engkau pastilah Gadis paling can tik didaratan Tionegoan, Pek Kun-gie adanya bukankah

begitu??”

Merah padam selembar wajah Pek Kun-gie karena jengah, dalam hati dia lantas berpikir,

“Tampangnya memang jelek dan mengerikan, tapi ucapannya sedap didengar, Emmm sungguh,

tak kusangka manusia sebuas itu pandai mengambil hati orang….”

Diam-diam ia lantas menjawil ujung baju Hoa Thian-hong seraya berbisik lirih, “Aku lihat orang

ini tidak terlalu jahat bila sampai bertempur nanti, ampunilah selembar jiwanya!”

“Tak usah banyak komentar, hayo mundur ke sisi bibi sana? kata Hoa Thian-hong sambil

tertawa.

Pek Kun-gie tertawa cekikikan, bukannya bersembunyi disamping ibunya, dia malahan lari

kebelakang punggung Hoa Thian-hong.

Kok See-piauw sendiri, sejak datang kesana, ia sudah mulai tak tenteram hatinya, sepasang

matanya yang bulat senantiasa melotot dan memperhatikan wajah Pek Kun-gie.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

466

Jauh sebelum Hoa Thian-hong terjun ke dalam dunia persilatan, Kok See-piauw sudah tergila-gila

oleh kecantikan wajah Pek Kun-gie, dengan segala daya upaya ia berusaha merebut hatinya,

sekalipun harus mengorbankan segala-galanya

Sejak Hoa Thian-hong muncul diantara mereka berdua, iapun tahu bahwa Pek Kun-gie penuju

oleh ketampanan Hoa Thian-hong, tapi karena hubungan kedua orang itu terhalang oleh

pelbagai kesulitan dan persoalan, maka sekalipun cemburu dia masih mampu mengendalikan diri,

sedikit banyak hal ini disebabkan ia masih mempunyai harapan untuk maju dan menangkan

perlombaan cinta ini.

Tapi sekarang, setelah dilihatnya kedua orang itu bermesrahan dengan intimnya, ia mulai sadar

bahwa perhitungannya tempo hari meleset malahan mungkin hubungan itu bisa diteruskan

kejenjang perkawinan, dalam kecewa dan putus asanya, api cemburu yang semula masih dapat

dikendalikan kontan saja meledak, ia merasa tiada kebencian yang lebih hebat daripada

kebencian yang dideritanya saat ini.

Paras mukanya berubah jadi pucat pasi seperti mayat, sepasang matanya melotot bengis,

dengan penuh kemarahan ia melotot sekejap ke arah Hoa Thian-hong, kemudian tanpa

mengucapkan sepatah katapun dengan langkah lebar ia menghampiri hiolo merah darah itu,

setelah duduk bersila disisinya, tiba-tiba sepasang telapak tangannya ditusukkan kedalam hiolo

tersebut….

Sementara itu hujan lebat baru berhenti, permukaan air yang menggenangi jalan itu setinggi

beberapa senti, akan tetapi Kok See-piauw tidak menggubris ia duduk bersila diatas genangan air

itu.

Begitu sepasang telapak tangannya ditusuk kedalam hiolo merah darah itu terdengarlah suara

gemerisikan keras tadi menggema semakin santar, rupanya terdapat berribu-ribu ekor makhluk

beracun yang sedang memperebutkan hidangan nikmat.

Kok See-piauw menggigit bibir menahan sakit, kulit wajahnya berkerut kencang hingga tampak

mengerikan sekali, sekalipun harus menahan siksaan dan penderitaan yang hebat namua ia tidak

mengeluh ataupun memerintih.

Menyaksikan tingkah laku yang aneh dari anak muda itu, semua orang tertegun dan berdiri

terbelalak, siapapun tak tahu permainan setan apakah yang sedang dilakukan orang-orang itu.

Sementara semua orang masih tercengang, Tang Kwik-siu telah tertawa tergelak seraya berkata,

“Muridku yang paling kecil Kok See-piauw belum lama terjun kedalam perguruanku, tapi ia ingin

cepat-cepat menguatkan ilmu silat nya, maka apabila ada sesuatu perbuatannya yang lucu harap

kalian semua jangan mentertawakan!”

Suara gemerisik yang timbul dari dalam hiolo merah darah itu cukup menggetarkan hati Pek Kungie

sehingga bulu kuduknya pada berdiri, mula-mula ia masih tahan, tapi lama kelamaan sambil

bersembunyi dibelakang Hoa Thian-hong bentaknya dengan gusar, “Kok See-piauw! Kalau ingin

melatih ilmu silatmu, lebih baik enyahlah jauh-jauh dari sini, jangan bikin muak hati orang saja!”

Kok See-piauw melotot penuh kegusaaan, setelah melirik sekejap ke arah Hoa Thian-hong

dengan padangan dingin, ia pejamkan kembali matanya dan duduk bersila sambil atur

pernapasan.

Tang Kwik-siu kelihatan sangat gembira bercampur bangga, setelah memandang sekejap ke arah

Hoa Thian-hong dan Kiu-im Kaucu, kembali ujarnya dengan suara nyaring.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

467

Kalau memang kamu berdua ada niat untuk melangsungkan duel, apa salahnya kalau sekarang

juga pertarungan itu dilangsungkan, ingin kusaksikan sampai dimanakah kelihayan ilmu silat

yang kalian berdua miliki…. haah…. haah…. haah…. tidak keberatan bukan.

Baik Hoa Thian-hong maupun Kiu-im Kaucu sama-sama bukan orang bodoh, tentu saja mereka

tahu bahwa orang ini bermaksud jahat dan ia mengharapkan pertarungan antara mereka berdua

berkobar hingga dialah yang akan menarik keuntungan sebagai nelayan yang mujur.

Sekalipun begitu, mereka berdua segan untuk membongkar rahasia kelicikannya ini.

Lama sekali Kiu-im Kaucu termenung sambil putar otak, akhirnya kepada Hoa Thian-hong ia

berkata, Ikan akan berlompatan disamudra yang luas, burung burung akan terbang leluasa di

angkasa yang lebar, sampai dimanakah luasnya ilmu silat tak seorang pun yang bisa mengukur,

aku rasa hanya manusia-manusia terbelakang yang tak becus saja yang bergairah untuk

mendapatkan peninggalan orang kuno, contohnya pedang emas itu, benda inilah yang

merupakan bibit penyakit dan sumber bencana, banyak orang yang tak becus ilmu silatnya

berharap mendapatkan kepandaian itu agar bisa meninggikan derajatnya, Kalau engkau bersedia

menuruti perkataanku dan menghancurkan benda tadi dihadapan umum, aku pikir persoalanpun

bisa diselesaikan secara baik baik!”

***

JELAS sekali tujuan dari perkataan Kiu-im Kaucu, asal Hoa Thian-hong bersedia melenyapkan

pedang emas itu dihadapan umum, maka pertarungan serta perselisihan antar kedua belah pihak

dapat dibikin habis sampai disini saja dan diapun bersedia mengalah kepada pemuda ini untuk

mengundurkan diri dari sana.

Mendengar penawaran tadi, Hoa Thian-hong berpikir didalam hatinya, “Kiu-im Kaucu jelas

merupakan seorang musuh yang amat tangguh, kalau ditambahi Tang Kwik-siu dan Kok Seepiauw

maka posisiku akan terjepit, jelas untuk menggebah mereka pergi bukanlah suatu

pekerjaan yang gampang, tapi…. pedang emas itu belum terjatuh ketanganku, bagaimana

caranya aku bisa musnahkan benda itu?”

Pek Kun-gie segera tampil kedepan setelah dilihatnya anak muda itu membungkam dengan dahi

berkerut, ia tahu banyak persoalan yang berkecamuk dalam benaknya.

“Pedang emas itu belum berhasil kami temukan!” katanya dengan suara lantang, “bila engkau

tidak percaya yaa sudahlah, sebab dalam kenyataan benda itu memang belum terjatuh ketangan

kami, jika engkau kurang puas dan ingin mencari gara-gara, silahkan turun tangan dengan

segera, akan kulayani semua kehendak hatimu!”

Kho Hong-bwee mengerutkan dahinya setelah menyaksikan tingkah pola putrinya, dengan suara

keras ia menegur.

“Budak ingusan, engkau jangan sinting sampai lupa dengan hari kelahiran sendiri, memangnya

engkau tidak tahu kalau ilmu silat yang dimiliki kedua orang kaucu itu sangat tinggi, engkau

masih belum punya tempat untuk ikut campur dalam urusan ini!”

Pek Kun-gie melirik sekejap ke arah Kiu-im Kaucu, tatkala dilihatnya perempuan itu sedang

melotot ke arahnya dengan penuh ke gusaran, dengan hati tak senang ia mundur kesamping.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

468

Sambil tersenyum segera Hoa Thian-hong berkata, “Kaucu, bicara yang sejujurnya, pedang emas

itu belum berhasil kami temukan, sekalipun kuulangi sampai berpuluh-puluh kali rasanya engkau

tetap tidak akan percaya, bukan begitu?”

“Benar, aku memang tidak percaya!”

“Kalau tidak percaya tanya sama Pia Leng-cu, tanya sendiri pedang emas itu ia sembunyikan

dimana?” teriak Pek Kun-gie dengan penuh kegusaran.

Padahal Pia Leng-cu sudah mati ditusuk Haputule, jelas maksud dari Pek Kun-gie menyuruh Kiuim

Kaucu bertanya kepada orang yang sudah mati adalah bersifat ejekan saja, karena orang Kiuim-

kauw memang gemar menyaru sebagai malaikat elmaut, iblis, sukma gentayangan dan

sebangsanya.

Kalau ucapan itu bisa menghilangkan kecurigaan lawan masih rada mendingan, justru dengan

bantahan dari Pek Kun-gie ini, maka Kiu-im Kaucu maupun Tang Kwik-siu semakin yakin dan

percaya kalau pedang emas itu betul-betul sudah terjatuh ke tangan Hoa Thian-hong.

Tiba-tiba Tang Kwik-siu tetawa lebar, setelah memandang sekejap sekitar tempat itu katanya.

“Aku rasa benda yang sedang kalian pertaruhkan toh pedang baja itu, kenapa musti mengungkitungkit

soal pedang emas lagi? kan persoalan itu sama sekali tak ada sangkut pautnya!”

“Tua bangka bangkotan, tua-tua keladi makin tua makin menjadi, senang ya kalau dunia jadi

kacau balau?” maki Pek Kun-gie dengan gusar,”hmmm….! Kalau engkau berani memanaskan

suasana lagi, jangan salahkan kalau kuberi pelajaran yang setimpal kepadamu!”

“Budak ingusan, kenapa engkau selalu bicara tak karuan, tidak takut ditertawakan orang?!”

hardik Kho Hong-bwee lagi.

Kiu-im Kaucu segera menengadah dan terbahak-bahak.

“Haahh…. haahh…. haahh…. Tang Kwik-siu, engkau cerdik, licik dan banyak tipu muslihatnya,

gayamu persis seperti orang daratan Tionggoan, mungkin orang tak akan percaya kalau engkau

berasal dari tempat gersang jauh diluar perbatasan situ, sayangnya kecerdasanmu itu sama

sekali tidak bermanfaat bagi pandangan kami, tipu muslihat pasaran mu itu seolah olah

permainan seorang anak kecil dalam pandangan kami. Bila engkau bersedia menuruti anjuranku,

lebih baik janganlah pakai tipu-tipuan, langsungkan saja masalah ini dengan kekerasan, daripada

engkau mendapat malu dan ditertawakan orang banyak.”

“Heeeh…. heeeh…. heeeh…. benar juga perkataanmu itu, pinto merasa terterima kasih atas

nasehatmu itu” ujar Tang Kwik-siu sambil tertawa aneh.

Sesudah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh.

“Hoo Tok telah meminjam ilmu pekikkan darah dari perguruan Seng sut pay kami.”

“Siapakah Hoo tok itu?” sela Kiu-im Kaucu.

“Nama mendiang guruku!” jawab Haputule dengan dingin, “nama Siang Tang Lay di peroleh

sesudah ia mendapat nama didaratan Tionggoan”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

469

“Hoo tok pernah membicarakan pula soal pedang emas dengan diriku” lanjut Tang Kwik-siu lebih

jauh, “apa toh yang kalian perebutkan? kau tidak lebih cuma sejilid kitab ilmu pedang? Huuhh,

bagi orang-orang Seng sut pay kami, benda macam itu sih belum sampai dipandang sebelah

matapun, ketahuilah maksud kedatangan pinto ke wilayah timur kali ini adalah disebabkan

maksud tujuan lain.

“Apakah tujuanmu?” tanya Pek Kun-gie ingin tahu.

Dengan pandangan aneh Tang Kwik-siu melirik sekejap ke arah dara itu, kemudian sambil

menunjuk Kok See-piauw yang duduk bersila didepan hiolo merah darah, sahutnya, “Dia telah

kuterima sebagai muridku, telah kujanjikan kepadanya untuk bantu membuat perhitungan

terhadap musuh-musuhnya, selain itu akupun telah berjanji akan membantu dia hingga

menduduki tahta sebagai Bengcu dari dunia persilatan!”

“Haaah…. haaah…. haaah…. sungguh menggelikan, sungguh lucu…. hampir saja gigiku pada

copot saking gelinya!” ejek Pek Kun-gie sambil terbahak-bahak.

“Kun gie, jangan ribut!” bentak Hoa Thian-hong dengan suara rendah.

Pek Kun-gie menjulurkan lidahnya sambil menunjukkan muka setan, kembali ejeknya dengan

lirih, “Eeeeh, kamu bawa cermin tidak? Aku harap engkau bisa melihat dulu tampangmu diatas

cermin!”

Sementara itu Kiu-im Kaucu telah berkata sambil tertawa seram, “Waah, kalau sampai terwujud

keinginan mu itu, bukankah daratan Tionggoan akan jatuh dibawah pemerintahan orang-orang

Seng sut pay? Haahh…. haahh…. haah…. meskipun latah, rupanya ada orang yang jauh lebih

latah dari aku!”

Tangkwik Siu tertawa.

“Bagaimana jadinya nanti, masih sukar diramalkan mulai sekarang, dari pihak kami memang

mengharapkan begitu, tapi berhasil atau tidak tergantung pada kemampuan Kok See-piauw

sendiri!”

Berbicara sampai disitu, dia lantas mengayunkan jari tangannya dan melancarkan sebuah

tabokan keatas kepala Kok See-piauw dari tempat kejauhan.

Pukulan udara kosong yang dilepaskan dari kejauhan ini sama sekali tidak menimbulkan sedikit

suarapun, ini membuat Hoa Thian-hong maupun Kiu-im Kaucu jadi tertegun, mereka tak pernah

menyangka kalau ilmu pukulan yang dimiliki pihak Seng sut pay begitu halus dan lembutnya

hingga sekilas pandangan seakan-akan suatu pukulan yang pura-pura.

Kok See-piauw bergidik dan sekujur badannya gemetar keras, lalu sepasang matanya

dipentangkan lebar-lebar, sorot mata yang tajam segera memancar keluar, sepasang tangannya

waktu diangkat keluar dari balik hiolo, maka terlibatlah pada setiap jari tangannya masih

menempel berbagai macam makhluk beracun antara lain ular berbisa, kalajengking, kelabang,

laba-laba, tokek serta pelbagai jenis binatang lain yang aneh bentuknya dan tak diketahui

namanya, tubuh yang berwarna-warni cukup membuat hati orang jadi bergidik rasanya.

Hanya sekejap memandang makhluk-makhluk berbisa itu, Pek Kun-gie kontan menjerit kaget lalu

buru-buru menyingkir kesamping, disitu gadis cantik itu muntah-muntah karena mual.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

470

Makhluk beracun sebangsa itu seringkali dijumpai orang, tapi perlu diketahui makhluk yang

dipelihara dalam hiolo itu justru jauh berbeda bentuknya dengan makhluk biasa, bukan saja

warnanya jauh berubah malahan bentuknya ikut-ikutan pula berubah jadi kukoay.

Jangan orang lain, bahkan Kiu-im Kaucu sendiripun merasa perutnya mual dan hampir saja dia

muntah, cepat jago lihay ini melengos ke arah lain.

Ketika belasan ekor makhluk aneh itu terangkat dari hiolo, tubuh mereka berliuk-liuk tiada

hentinya dengan kencang, rupa-rupanya bi natang itu tak ingin meninggalkan hiolo tersebut

namun merekapun tak sudi lepaskan hidangan lezat yang telah tergigit, maka meskipun masih

tetap memagut mangsanya, tubuh merekapun ikut bergerak ingin turun kedalam hiolo.

Kulit muka Kok See-piauw berkerut kencang! tiba-tiba ia kebaskan tangannya keras-keras,

seetika itu juga kawanan makhluk beracun yang masih menggigit ujung jarinya pada rontok

kembali kedalam hiolo.

Laki-laki baju kuning yang berada disampingnya segera maju kemuka dan menyebarkan bubuk

obat kedalam hiolo tadi, Kemudian cepat membopongnya mundur kebelakang.

Sesudah terpagut aneka ragam makhluk beracun, sepasang telapak tangan Kok See-piauw

berubah jadi merah membekak, tapi ia getarkan tangannya berulang kali sehingga warna di

tanggannya itu perlahan lahan pulih kembali jadi putih seperti sedia kala, dari situ bisa ditarik

kesimpulan bahwa sari racun yang telah terhisap masuk ke dalam tubuhnya telah tersalur ke

dalam peredaran darahnya.

Diam-diam tercekat hati Hoa Thian-hong setelah menyaksikan kesemuanya itu, pikirnya dihati,

“Ilmu pukulan Kiu pit sin ciang miliknya sudah termasuk sejenis pukulan yang sangat beracun,

apalagi kalau dibantu dengan sari racun dari makhluk-makhluk sebanyak itu, sudah pasti

siapapun yang terkena pukulan itu niscaya jiwanya melayang tinggalkan raganya!”

Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya, Kok See-piauw sudah loncat bangun dan

berjalan menghampiri ke arahnya.

Menyaksikan kejadian itu, pucat pias selembar wajah Pek Kun-gie, segera bentaknya, “Hey,

orang She Kok, apa yang hendak engkau lakukan?”

Kok See-piauw sama sekali tidak menggubris bentakan itu, dia tepuk tangan satu kali dan

membentak dengan wajah menyeringai seram.

“Hoa Thian-hong, aku orang she Kok ingin minta petunjuk beberapa jurus pukulanmu, beranikah

engkau menerima tantanganku ini?”

Hoa Thian-hong kerutkan dahinya, lalu sambil tertawa menjawab.

“Biasanya engkau pengecut dan kecil nyalinya, sekarang berani juga menantang orang berduel,

haaah…. haaah…. haaah…. kalau dugaanku tidak keliru, tentunya engkau punya kekuatan yang

bisa diandalkan bukan? Baiklah, akan kujajal sampai dimanakah kelihayanmu itu!”

“Eeeh engkau pakai pedang saja!” teriak Pek Kun-gie dengan gelisah, terbayang kembali akan

makhluk-makhluk beracun yang berada dalam hiolo itu, tak kuasa lagi bulu kuduknya pada

bangun berdiri.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

471

Hoa Thian-hong segera tertawa, “Kalau aku gunakan pedangmk, dia pasti bukan tandinganku!”

katanya.

“Kalau kau segan memakai pedang, biar aku saja yang menghadapi kurcaci ini!” teriak Pek Kungie

dengan gemas, pedang lemas nya segera diayun dan dia menerjang kedepan.

Sekali sambar Hoa Thian-hong menarik kembali gadis itu kesisi tubuhnya, ujarnya sambil

tertawa, Jangan gugup dulu, aku rasa kalaupun angin pukulannya beracun, belum tentu pukulan

itu berhasil menghantam ke atas badanku, aku rasa dibalik kesemuanya itu pasti tersimpan halhal

yang tidak beres, biar aku saja yang mencoba kehebatannya itu!”

Dewa yang suka pelancongan Cu Thong tiba-tiba menimbrung dari samping dengan suara dingin.

“Apa gunaya ribut-ribut dengan manusia durjana yang bejat moralnya itu, sekali tusuk habisi saja

nyawa anjingnya!”

Hoa Thian-hong agak tertegun, sebagai seorang pemuda yang selalu taat pada perkataan orang

tua, ia merasa segan untuk menolak perintahnya, maka setelah Cu Thong berkata demikian

iapun tak banyak bicara lagi.

Sambil meloloskan pedang bajanya, kepada Tan kwik Siu ia berkata sambil tertawa.

“Aku hendak menggunakan senjata untuk mencoba kepandaian kalian, kuharap kalian guru dan

murid bersedia untuk maju bersama-sama”

Tergelak Tang Kwik-siu setelah mendengar tantangan itu.

“Haahh…. haahh…. haaah…. tidaklah aneh kalau ada orang mengincar pedang milikmu, rupanya

semua ilmu silat yang kau miliki hanya terletak di atas sebilah pedang tersebut!”

Pek Kun-gie yang berada disamping anak muda itu tiba-tiba menimbrung dari samping, “Hey,

aku libat tata bahasamu sempurna dan caramu berbicara halus, aku rasa tentunya engkau

sangat memahami bukan tentang segala kebudayaan yang berlaku dalam daratan Tionggoan?”

Tang Kwik-siu agak tertegun, tapi sejenak kemudian sahutnya, “Semasa masih muda, seringkali

pinto melakukan perjalanan kedaratan Tionggoan, wilayah seluas Kwan liok boleh dibilang merupakan

tempat-tempat pesiar yang seringkali aku kujungi”

“Baik, kalau engkau sering bersiar kemana-mana, maka aku ingin tanya tempat bers earah apa

saja yang terdapat disekitar kota Lok yang ini….?”

Semua orang tercengang dan tidak habis mengerti ketika secara tiba-tiba gadis itu mengajukan

pertanyaan yang berhubungan dengan tempat kenamaan disekitar kota Lok yang.

Tang Kwik-siu kelihatan bangga sekali, ujarnya dengan diiringi gelak tertawa yang nyaring,

Menurut apa yang pinto ketahui, disekitar kota Lok yang terdapat tempat tinggal dan gedung di

mana Locu serta Khong hucu pernah memberikan ajaran kepada murid-muridnya, selain itu ada

jembatan Thi an kim kiau, An lok oh, Pit bui si, kuil Pek bi si, istana sang cing kiong, Cing swan te

leng, bukit bong san, pintu naga serta hutan Kwan lim, coba katakan nona, selain tempat-tempat

itu apakah masih ada tempat lain yang kiranya lebih indah?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

472

“Oooh….! Rupanya dikota Lok yang terdapat begitu banyak tempat-tempat kenamaan, sayang

badanku sudah lelah dan tak punya tenaga lagi, kalau tidak harus kukunjungi tempat-tempat

itu!” pikir Hoa Thian-hong dihatinya.

Sementara itu, Pek Kun-gie sudah tertawa terkekeh, katanya, “Tak kusangka engkau memang

hafal dengan daerah dalam wilayah Tionggoan, memang tak salah sekitar kota Lok yang

memang tiada tempat lain kecuali tempat-tempat tadi.”

Betapa bangganya Tang Kwik-siu, sambil mengelus jenggotnya ia tertawa tergelak.

“Haaah…. haaah…. haaah membaca selaksa jilid buku, melakukan perjalanan sejauh selaksa li,

serta mempelajari delapan macam ilmu senjata adalah tiga kegemaranku sejak dilahirkan didunia

ini!” katanya.

Ketika menyinggung soal delapan belas macam ilmu senjata, dia sengaja memperkeras suaranya

sehingga semua orang kedengaran jelas.

Tampaklah ia memang sengaja sedang mengejek dan mentertawakan Hoa Thian-hong yang

pandai dalam ilmu pedang saja, kecuali itu kepandaian lain tak mampu dilakukan.

Pek Kun-gie segera mendengus dingin.

“Hmm Aku ingin bertanya kepadamu, hutan Kwan lim itu letaknya ada dimana?”

Tang Kwik-siu tertawa.

Hutan Kwan lim disebut pula kuburan raja, disitulah Kwan Kong dikebumikan, walaupun sewaktu

menemui ajalnya Kwan Kong berada di Keng lam, tapi sejak orang-orang dari kerajaan Go takluk

kepada pihak Goei, dengan segala kebesaran dan upacara yang meriah, Co Cho telah memindah

jenasahnya kemari, sudah dua kali aku berkunjung kesi tu, disekitar baugunan tumbuh banyak

pohon siong, tempat itu terasa nyaman dan rindang, benar-benar suatu tempat rekreasi yang

indah.

Belum pernah Tang Kwik-siu diajak bercakap-cakap dengan seorang gadis yang cantik jelita

seperti Pek Kun-gie, tidaklah heran kalau makin berbicara ia semakin bersemangat, hingga

akhirnya tak terbendung lagi iapun membicarakan apa saja yang ingin di bicarakan.

Rupanya Pek Kun-gie muak mendengarkan perkataannya itu, cepat dia goyangkan tangannya

sambil menukas, “Sudah, sudah cukup! Anggap saja engkau memang sudah dua kali berkunjung

kesana. Aku cuma ingin tahu, siapakah Kwan Kong itu?”

Tang Kwik-siu tertegun sesaat, kemudian katanya, “Kwan Kong atau Kwan Yu bernama juga

Kwan Ing tiang, dia adalah seorang panglima perang yang tersohor pada jaman Siok han, bukan

saja hapal dengan buku pelajaran Cun ciu, wataknya jujur, gagah dan bijaksaaa, senjata yang

diandalkan adalah sebilah golok twan to berukir naga hijau yang beratnya mencapai tujuh puluh

dua kati, setelah meninggal semua orang menyembah dirinya sebagai Bu Seng (malaikat ilmu

silat), dengan Lau Pi….”

“Cukup, cukup!” tukas Pek Kun-gie sambil goyangkan tangannya berulang kali “itu berarti semua

malaikat ilmu silat kita kebanyakan mengandalkan sebilah golok bukan, lalu apa bedanya golok

dengan pedang? toh sama-sama pisaunya!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

473

Sekarang semua orang baru tahu, rupanya gadis itu sengaja berputar kayun membicarakan ini

itu, tujuannya tak lebih hanya untuk membela Hoa Thian-hong.

Kok See-piauw makin cemburu, api benci dan dendam berkecamuk dalam benaknya, sambil

menjerit marah dia langsung menubruk kedepan dan menghantam tubuh anak muda itu.

Hoa Thian-hong menarik muka, pedang bajanya diputar kencang lalu batas membacok kedepan.

Dahsyat dan tajam serangan pedangnya ini, neskipun dalam keadaan gusar, Kok See-piauw tak

berani menyambut dengan keras lawan keras, sambil merendahkan tubuhnya cepat ia bergeser

kesamping, lalu dari situ dia melancarkan satu serangan lagi.

Hmm! Sekalipun ilmu pukulan dan tenaga dalamnya telah mendapat kemajuan yang pesat,

paling-paling toh cuma begitu saja” pikir Hoa Thian tong dalam hati, asal ku hadapi dirinya

dengan pedang baja, bukan suatu pekerjaan yang sulit jika ingin kucabut jiwanya, cuma kalau ia

kubunuh dengan begitu saja orang lain tentu akan mentertawakan aku!”

Sementara otaknya berputar sebuah tusukan pedang kembali di lancarkan kedepan.

Kok See-piauw menang nekad dan ada maksud adu nyawa, apa lacur ilmu pedang yang dimiliki

Hoa Thian-hong terlalu lihay, hal ini memaksa ia tak sanggup mendekati tubuhnya, dalam

keadaan terpaksa ia harus menyingkir ke samping kemudian melepaskan serangan lagi dari

samping.

Apabila Hoa Thian-hong ingin bereskan nyawanya, dengan gampang hal itu akan terlaksana,

akan tetapi ia segan untuk membereskan nyawanya, dia cukup berharap agar Kok See-piauw lah

yang tahu diri dan mundur dengan teratur.

Tang Kwik-siu memang pernah mendengar orang berkata bahwa Hoa Thian-hong terhitung

jagoan kelas satu di dunia ini, cuma mimpipun ia tak mengira kalau permainan pedang baja si

anak muda itu demikian dahsyatnya hingga sukar diatasi.

Setelah memperhatikan sekejap permainan pedang lawan, dengan paras muka berubah hebat

teriaknya, “See piau, hayo mundurl”

Kok See-piauw bukanlah seorang yang goblok, meskipun ia tahu bahwa kepandaian silatnya

bukan tandingan lawan, akan tetapi ia tetap menerjang dan mundur bagaikan seekor harimau

edan.

Ketika mendengar panggilan tadi, cepat ia mundur kebelakang dengan hati mengumpat.

Tiba-tiba dilihatnya Pek Kun-gie berada tak jauh dari sisinya, cspat ia putar badan dan ganti

menerjang si anak dara itu.

Betapa gusarnya Hoa Thian-hong menyaksikan kejadian itu, ia meluncur kemuka dan

menghadang dihadapan Pek Kun-gie, sambil tertawa dingin pedangnya langsung disodok

kedepan dan menusuk dada lawan.

Walaupun berada dalam keadaan gusar, Hoa Thian-hong masih belum berminat untuk melukai

musuhnya, bukan saja tusukan pedang itu tidak ditujukan pada bagian tubuh yang mematikan,

bahkan sewaktu mencapai punggung musuh, dari suatu seragan tusukan, tiba-tiba berubah jadi

serangan tabokan, dengan tenaga sebesar tiga bagian ia gebuk punggung Kok See-piauw keraskeras.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

474

Kalau dilihat kekuatannya memang amat kecil, namun cukup telak bagi Kok See-piauw, ia

menjerit keras dan roboh terjengkang ke atas tanah, tulangnya amat sakit bagaikan retak, untuk

beberapa saat lamanya ia tak sanggup bangkit kembali.

Hijau membesi raut wajah Tang Kwik-siu, saking mendongkolnya selangkah demi selangkah dia

maju ke depan lalu ujarnya.

“Ilmu silat yang dimiliki Hoa kongcu memang terbukti kehebatannya, sudah jelas anak muridku

ini bukan tandinganmu, biarlah untuk meriahkan suasana ijinkan pinto untuk minta petunjuk

barang satu dua jurus dari diri Hoa kongcu!”

Seraya berkata dia lantas melepaskan tali ikat pinggangnya yang berwarna emas itu.

Hoa Thian-hong tertawa dingin, tiba-tiba ia simpan kembali pedang bajanya sembari menjawab,

“Kalau Tang kwik kaucu ingin bertarung, baiklah akan kusambut permainan pukulan dari kaucu

itu!”

“Hey, apa yang ingin kau lakukan?” omel Pek Kun-gie dengan suara terperanjat.

Hoa Thian-hong tersenyum.

“Kedua orang kaucu ini sama-sama tertarik pada pedang bajaku ini, maka aku ingin mencoba

bagaimana kalau kulayani tanpa menggunakansenjata tajam!”

Kemudian ia menjura kepada Tang Kwik-siu dan melanjutkan, “Silahkan kaucu!”

Tang Kwik-siu tertawa, ujarnya.

“Bila dalam dua ratus gebrakan pinto menderita kalah, seketika itu juga aku akan pulang ke Seng

sut hay dan semenjak itu tak akan menginjak daratan Tionggoan barang selangkahpun!”

“Ikat pinggangmu harus ditinggal pula di sini!” teriak Pek Kun-gie menambahkan.

Jilid 24

TANG KWIK-SIU tertawa tergelak, sambil menerjang kemuka ia melepaskan sebuah pukulan

dahsyat, serunya, “Maaf, aku main kasar!”

Sekilas pandangan Hoa Thian-hong tahu kalau serangan yang dilancarkan orang itu amat kuat

dan hebat, sekalipun mukanya jelek tapi ilmu silat yang dimiliki bukanlah omong kosong.

Tentu saja ia tak berani sembarangan bertindak, apalagi bertindak secara gegabah, sepasang

tangannya secepat petir dirangkap menjadi satu, kemudian berbareng dilontarkan kedepan.

“Bagus!” seru Tang Kwik-siu, kesepuluh jarinya direntangkan lebar-lebar seperti jepitan baja,

dengan telapak tangan menghadap udara, dia kirim satu pukulan udara kosong dengan

hebatnya.

Meskipun ilmu pukulan udara kosong merupakan satu jenis ilmu pukulan, akan tetapi jarang bisa

ditemui dalam dunia persilatan, bahkan Hoa Thian-hong baru pertama kali ini menjumpainya,

Untuk sesaat ia tak tahu dimanakah letak keampuhan dan kesaktian ilmu pukulan yang

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

475

tampaknya luar biasa itu, dengan jurus Kun siu ci-tau, ia hadapi serangan keras itu dengan

pukulan keras juga.

Rupanya Tang Kwik-siu telah mencari tahu sampai jelas tentang seluk beluk Hoa Thian-hong,

begitu ia lihat anak muda itu menyerang dengan telapak kirinya, sadarlah jago tua itu bahwa

musuhnya telah keluarkan ilmu simpanannya.

Sambil tertawa tergelak ia rubah pukulan kepalanya menjadi suatu pukulan telapak, disambutnya

serangan tersebut dengan keras lawan keras.

“Blaang! ditengah benturan nyaune, sepasang telapak tangan telah saling beradu satu sama

lainnya, tubuh mereka berdua segera bergetar keras.

Namun kedua belah pihak sama-sama tak mau buang kesempatan baik itu dengan begitu saja,

secepat kilat mereka berputar satu ling karan lalu secepat kilat saling melancarkan beberapa

jurus pukulan.

Sebagai jaro yang sama-sama lihaynya, cukup dalam sekali bentrokan mereka telah mengetahui

sampai dimanakah kemampuan yang dimiliki musuhnya.

Mereka mengerti dalam hal tenaga dalam jelas kekuatan mereka seimbang, siapapun tak bisa

menangkan lawannya, untuk merebut kemenangan,j elas harus mengandalkan kesempurnaan

jurus silat serta pengalaman dalam menghadapi musuh.

Tidak sampai dua gebrakan, Tang Kwik-siu telah berhasil memaksa Hoa Thian-hong untuk

keluarkan ilmu simpanannya, begitu musuh sudah menggunakan ilmu andalannya maka diapun

ikut merubah gerak sera ngannya.

Mendadak tangan kirinya sebentar menyerang, sebentar mencekeram, kadangkala menotok dan

kadang pula membacok, sebaliknya tangan kanannya mainkan pukulan Lei sim toh si ciang hoat

dari aliran Sing sut pay untuk meneter lawannya habis-habisan.

Dalam waktu singkat mereka telah saling bergebrak sebanyak dua puluh jurus lebih.

Serentetan serangan bertubi-tubi itu dilancarkan secepat samba-ran petir, jangankan mereka

yang sedang bertempur, bahkan para penonton yang berada disekitar gelanggang ikut

merasakan napasnya jadi sesak.

Tapi Hoa Thian-hong masih tetap melayani serangan musuhnya dengan jurus Kun-siu-ci-tauw

tersebut.

Untungnya dalam hal ilmu meringankan tubuh ia cukup tangguh dan punya simpanan, dalam

waktu singkat ia sudah keluarkan ilmu I heng huan wi (geser badan tukar tempat), Sut te tun sin

(mengerutkan badan menyusup bumi) serta Gong tiong toa I na (berjumpalitan ditengah udara)

untuk meloloskan diri dari bahaya maut.

Kendatipun posisinya masih terdesak dibawah angin, namun ia berhasil mempertahakan diri

sehingga tak sampai menderita ke kalahan.

Tang Kwik-siu yang secara beruntun sudah melancarkan pelbagai serangan dengan jurus-jurus

yang ampuh tanpa berhasil mengalahkan Hoa Thian-hong, lama kelamaan timbul juga niatnya

untuk merebut kemenangan, tiba-tiba ia membentak keras, tangan kiri menggunakan jurus sian

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

476

ki ci lek sedang tangan kanan memakai ilmu pukulan thian mo ciang, Hua kut Sinkun serta Toa

jin eng dari kalangan Buddha untuk meneter lawannya habis-habisan

Jurus-jurus serangan yang dipergunakan rata-rata merupakan serangan ampuh dengan perubahan

yang terhitung banyaknya, dalam waktu singkat Hoa Thian-hong sudah keteter hebat

sehingga mundur terus kebelakang.

Betapa gelisahnya Pek Kun-gie menyaksikan kejadian itu, sambil putar pedang lemasnya ia

menjerit lengking.

“Kawan-kawan semua, hayo kita serbu bersama, mari kita jagal seluruh manusia siluman dari

Mo-kauw ini!”

Sambil menjejak permukaan tanah, ia langsung menerjang lebih dahulu kedepan.

Siapa tahu belum sempat tubuhnya meluncur kedepan, tiba-tiba ia merasa lengan tangannya jadi

kencang dan tahu-tahu sudah kena dicengkeram oleh ibunya sendiri.

Paras Kho Hong-bwee amat murung dan serius, mulutnya membungkam dalam seribu bahasa,

sementara sorot matanya yang tajam mengawasi jalannya pertarungan itu tanpa berkedip.

Pek Kun-gie seketika itu juga merasakan lengannya seolah-olah di jepit oleh suatu jepitan baja

yang sangat kuat, ia menjerit kesakitan sampai peluh membasahi seluruh tubuhnya, akan tetapi

Kho Hong-bwee tidak merasa dan jepitan itupun lama sekali tidak mengendor.

Tang Kwik-siu memang seorang jago yang lihay dengan ilmu silat yang beraneka ragam,

sekalipun pertarungan baru berlangsung enam tujuh puluh gebrakan, secara berutan ia telah

menggunakan belasan jenis ilmu pukulan yang rata-rata merupakan ilmu tangguh yang sudah

lama lenyap dari peredaran Bu Lim.

Jangan toh berpuluh-puluh macam, apabila orang biasa berhasil mempelajari satu saja

diantaranya, ilmu silat itu sudah cukup diandalkan untuk menjago dunia kangou, bisa

dibayangkan sampai dimanakah kelihayan dari Tang Kwik-siu tersebut.

Sesudah mengikuti jalannya pertarungan itu, bukan saja Kho Hong-bwee dan Cu Thong merasa

terkejut dan berdebar hatinya, malahan Kiu-im Kaucu sendiripus merasa tercekat sehingga paras

mukanya berubah jadi hijau membesi.

Jago lihay sebangsa Tang Kwik-siu boleh dibilang sukar dijumpai dalam kolong langit, seorang

menguasai berpuluh jenis ilmu pukulan sakti yang beraneka ragam, bukan saja semua jago

merasa tak mampu untuk melampaui kelihayannya, bahkan Kiu-im Kaucu sendiripun yakin bahwa

dia sendiripun belum temu sanggup mengalahkan jago dari Mo-kauw ini.

Dalam waktu singkat, Hoa Thian-hong sudah terdesak hebat hingga keringat dingin membasahi

seluruh tubuhnya, ditengah hembusan angin pukulan yang menderu-deru, secara lapat-lapat

kedengaran pula dengusan napasnya yang memburu.

Untung saja ilmu pukulan Kun-siu-ci-tauw yang berhasil dikuasainya itu memang suatu jurus

pukulan yang tangguh, semakin berbahaya situasi yang dihadapinya semakin dahsyat pula daya

pengaruh yang terpancar keluar dari ilmu pukulan itu, makin hebat teteran musuh yang menekan

datang semakin besar pula daya tolakan yang dihasilkan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

477

Berulang kali Tang Kwik-siu melepaskan pukulan-pukulan dengan jurus tangguh, namun

senantiasa ia gagal untuk mendepak musuhnya hingga terpojok, karena itu meskipun

pertarungan berjalan sengit dan gembong iblis dari Mo-kauw ini berbasil menduduki posisi atas

angin, namun menentukan untuk menang atau kalah masih merupakan suatu pekerjaan yang

amat sulit….

Lama kelamaan Kho Hong-bwee merasa gelisah bercampur cemas, apalagi setelah menyaksikan

keadaan putrinya yang setiap saat berusaha untuk terjunkan diri kegelanggang pertarungan.

Ia tahu dalam keadaan demikian, kekuatan yang dimilikinya terlalu lemah dan tak mungkin bisa

menguaiahi keadaan, apa boleh buat lagi terpaksa ia berpaling ke arah Kiu-im Kaucu dan berkata

dengan suara hambar, “Ilmu silat yang dimiliki Tang kwik kaucu sangat lihay dan aneka ragam

kepandaian yang dikuasainya sukar ditandingi oleh siapapun, tampaknya kursi pimpinan dunia

persilatan dalam daratan Tionggoan harus terpindah tangan kepihak Seng sut pay. Aaai,

mungkinkah inilah masanya bagi perkumpulan Sin-kie-pang kami untuk membubarkan diri?”

Beberapa patah kata yang diucapkan Kho Hong-bwee itu kedengaranya amat sederhana dan

tiada sesuatu yang hebat, tapi pada hakekatnya kata-kata itu justru tersimpan segulung

kekuatan yang luar biasa.

Sekujur badan Kiu-im Kaucu bergetar keras sehabis mendengar perkitaan itu, cepat pikirnya

dihati.

“Andaikata Hoa Thian-hong yang berhasil merajai dunia persilatan, orang lain pasti masih ada

kesempatan untuk hidup, seba liknya kalau setan tua she Tang ini yang berhasil malang

melintang didaratan Tionggoan tanpa tandingan, sudah pasti perkumpulan Kiu-im-kauw yang

kudirikan akan ikut tertumpas pula….Hmmm! Untuk menghindari segala kemungkinan yang tidak

diinginkan, terpaksa aku musti singkirkan dahulu iblis tua itu….”

Sekalipun Kiu-im Kaucu dapat memahami keadaan tersebut dalam sekilas pandangan, akan

tetapi ia tak sudi membantu Hoa Thian-hong, sebab rasa iri dan sifat mementingkan diri sendiri

yang dimilikinya terlalu tebal, ia lebih suka menghadapi kesulitan dibelakang hari dari pada

sekarang harus membantu musuhnya.

Tang Kwik-siu sendiri walaupun berada di tengah pertarungan, akan tetapi semua perkataan

yang di ucapkan Kho Hong-bwee dapat di dengar olehnya dengan sangat jelas, diam-diam ia

merasa terperanjat.

Jago tua dari Seng Sut hay ini jadi terbayang kembali akan nasib Siang Tang Lay yang pernah

malang melintang didaratan Tionggoan tanpa tandingan, tapi akhirnya toh mati setelah

dikerubuti oleh ketua Sin-kie-pang, ketua Hong-im-hwiee, ketua Thong-thian-kauw ditambah Bu

liang sinkun dan Ciu It Bong.

Sebagai seorang cikal bakal dari suatu perkumpulan besar, Tang Kwik-siu terhitung seorang jago

lihay yang berotak cerdik, setelah memahami dimanakah letak kelihayan dan bahaya yang

mengancam posisinya, segera ia mengambil keputussn untuk melakukan serangkaian

serangkaian kilat untuk merobohkan Hoa Thian-hong lebih dahulu, kemudian sepenuh tenaga

menghadapi pula Kiu-im Kaucu, asal dua kelompok kekuatan terbesar dalam dunia persilatan

dewasa ini berhasil dipatahkan, maka untuk menguasai jasad dikemudian hari tidaklah

mengalami banyak rintangan.

Begitu keputusan diambil, gerak serangan pun ikut berubah, tangan kirinya dengan lima jari yang

dipentangkan bagaikan cakar setan senantiasa mengancam hiat to penting ditubuh Hoa ThianGrafity,

http://mygrafity.wordpress.com

478

hong, dimana jari tanggannya menyambar lewat disitulah tersembur lima gulung hawa hitam

yang disertai bunyi desingan tajam.

Sebaliknya lengan kanannya dengan disertai suara gemerusukan yang nyaring tiba-tiba

memanjang empat cun dari keadaan semula pukulan-pukulan yang kemudian dilancarkan

semuanya ditujukkan pada dada si anak muda itu.

Memang dahsyat dua macam ilmu serangan itu, dalam sekejap mata Hoa Thian-hong semakin

keteter hebat, sehingga setiap saat ia terancam oleh bahaya maut.

Haputule yang berada disamping gelanggang, tiba-tiba menjerit keras dengan nada amat

terkejut, Haah bukankah ilmu cengkeraman itu adalah Ngo kui in tong jiu (cakar lima setan angin

dingin) dan ilmu pukulan Tong pit mo ciang (pukulan iblis berlengan panjang).

Mendengar seruan tersebut Kiu-im Kaucu segera berpikir pula dalam hatinya.

“Aaih…. kalau begitu, sekalipun ilmu silat yang dimiliki tua bangka itu terdiri dari aneka ragam

ilmu yang tangguh, toh yang pa ling diandalkan adalah ilmu-ilmu semacam ini

Selama ini lengan tangan Pek Kun-gie masih dicengkeram terus oleh ibunya setelah Hoa Thianhong

keteter hebat dan jiwanya terancam mara bahaya, malahan paling banter ia cuma bisa

bertahan dua puluh gerakan lagi, dalam cemasnya Kho Hong-bwee segera melemparkan tubuh

putrinya kebelakang seraya berseru, “Mundur jauh-kauh dari sini….!”

Berbareng iiu pula. ia cabul keluar pedangnya yang tersoren di atas punggung.

“Bibi….” seru Kok See-piauw dengan sepasang alis matanya berkenyit.

Ada apa? hardik Kho Hong-bwee dengan gusar, sekalipun aku tidak kenal aturan dunia

persilatan, aku lebih-lebih tak kenal dengan sampah masyarakat macam dirimu!”

Kendatipun usia Kho Hong-bwee sudah mendekati setengah abad, namun kecantikan wajahnya

belum hilang, sekalipan memakai jubah to koh yang kedodoran, kecantikannya masih amat

menonjol.

Sayangnya dia adalah seorang perempuan yang halus diluar kasar didalam, kalau tidak begitu

tentunya hubungan suami istri mereka tak akan putus sejak belasan tabun yang lampau.

Apa lagi sekarang, setelah hawa nafsu membunuh yang tebal menyelimuti seluruh wajahnya,

kontan Kok See-piauw jadi bergidik dan tak berani banyak bicara lagi.

Dengan demikian, situasi dalam gelanggang pertarungan berubah semakin tegang, Kiu im kuicu

segera ambil keputusan dihati kecilnya, asal Hoa Thian-hong sudah terluka dan mengalami

kekalahan, dia akan turun tangan secepat kilat.

Asal ia bertindak tepat pada saatnya, Hoa Thian-hong pasti tak akan mati dan selama pemuda itu

masih hidup berarti Tang Kwik-siu akan bertambah lagi seorang musuh yang tangguh, dan

selama pemuda itu terluka, diapun bisa manfaatkan kesempatan yang sangat baik ini untuk

merebut kursi pertama dalam dunia persilatan.

Sementara itu Kho Hong-bwee dan Cu Thong yang masih menderita luka parah telah loncat

kedepan bersiap sedia, mereka tidak langsung terjun kedalam gelanggang sebab pertarungan

Hoa Thian-hong melawan Tang Kwik-siu baru berlangsung delapan sembilan puluh gebrakan,

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

479

mereka berharap agar pemuda itu bisa bertahan beberapa saat lagi sehingga nama baik pemuda

itu tidak sampai merosot karena kejadian ini.

Di pihak lain, Kok See-piauw serta dua orang murid Tang Kwik-siu yang lain telah menghimpun

tenaga murninya pula untuk bersiap sedia asal situasi telah tegang dan serius, mereka akan

turun gelanggang untuk menghalangi setiap bahaya yang mungkin akan diberikan kepada anak

muda itu.

Di tengah penarungan sengit yang masih berlangsung, tiba-tiba terdengar Tang Kwik-siu tertawa

tergelak, lalu berseru, “Hoa Thian-hong, berhati-hatilah, dalam sepuluh jurus mendatang aku

akan berusaha merobohkan dirimu!”

Berbareng dengan selesainya ucapan tersebut, tiba-tiba ia merebut posisi Tiong kiong dengan

langkah Ling ting poh (ilmu langkah menyendiri), segera pukulan dahsyat langsung dilontarkan

ke depan.

Waktu itn Hoa Thian-hong sudah kehabisan tenaga dan tersengkal-sengkal napasnya, tatkala

merasakan betapa dahsyatnya ancaman yang meluncur datang, dan merasa tak mampu untuk

mematahkan ancaman tadi, buru-buru ia menggeserkan badannya ke samping, kemudian balas

melancarkan serangan dengan ilmu Menyerang sampai mati.

Tang Kwik-siu tertawa terbahak-bahak, tangan kirinya dibabat kemuka, desingan angin jari yang

tajam segera meluncur kemuka menotok sikut anak muda itu, sementara telapak tangan

kanannya merendah kebawah dan langsung menjotos ke arah pusarnya.

Rupanya jago tua dari Seng sut hay ini telah memperhitungkan masak-masak, asal ia menyerang

maka Hoa Thian-hong bakal menang kis dengan tangan kanannya, maka berbareng itu pula

serangan berikutnya yang disusulkan, boleh dibilang telah disertai dengan hawa pukulan yang

maha dahsyat.

Setelah menyadari kelihayan musuhnya, Hoa Thian-hong tak berani melayani secara gegabah,

sadari tadi seluruh tenaga dan perhatiannya telah dipusatkan menjadi satu.

Begitu merasa tak mampu menghadapi serangan lawan, sepasang kakinya segera menjejak

permukaan tanah dan mundur setengah depa kebelakang, dengan begitu loloslah si anak muda

itu dari kurungan musuhnya.

“Hebat amat ilmu ginkang yang dimiliki bocah ini!” pikir Tang-kwik Siu dihati, “bila aku gagal

membinasakan bocah ini sekarang juga, entah bagaimana jadinya beberapa waktu mendatang?

Kepandaian silatnya pasti akan bertambah lihay!”

Berpikir sampai disitu, telapak tangannya segera dihimpun ke depan dan mengejar kemana pergi

si anak muda itu.

Kecepatan gerak tubuh Hoa Thian-hong boleh dibilang sudah mendekati jalan pikiranya, akan

tetapi perubahan jurus yang di lancarkan Tang Kwik-siu boleh dibilang bagaikan sukma

gentayangan, jurus pertama belum habis dilancarkan, jurus berikutnya telah menyusul tiba, ini

memaksa Hoa Thian-hong keteter hebat dan tiada kesempatan untuk bertukar napas lagi.

Sementara situasi berubah jadi kritis dan Hoa Thian-hong sudah didesak hingga tak sanggup

mempertahankan diri lagi, tiba-tiba dari kejauhan terdengar seorang perempuan berseru dengan

suara yang dingin tapi penuh kewibawaan, “Jangan gugup, gunakan Siau ci lam thian (sambil

tersenyum menuding langit selatan)….!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

480

Kecuali Hoa Thian-hong, semua orang tertegun setelah mendengar seruan itu, sebab ucapan tadi

bukan saja sangat mendadak tibanya bahkan nyaring dan amat menusuk pendengaran.

Lain halnya bagi si anak muda itu, seruan tadi sudah amat dikenal olehnya bahkan boleh dibilang

telah bersatu dengan perasaan hatinya, begitu mendengar seruan tadi, spontan lengannya

disodok kedepan dan menggunakan jari tangannya, ia menotok jalan darah tay yang hiat

sepasang jidat Tang Kwik-siu.

Ketika pukulan yang dilancarkan Tang Kwik-siu mengancam dada Hoa Thian-hong, serta-merta

anak muda itu menyingkir kesamping sambil menyodok kemuka.

Kejadian tersebut bukan berarti dapat membebaskan diri dari ancaman telapak tangan Tang

Kwik-siu, asal jago tua itu membalikkan telapak tangannya niscaya sudah mampu menghatam

dada anak muda itu dengan telak.

Sekalipun begitu, asal Tang Kwik-siu berani melanjutkan ancamannya, kendatipun ia berhasil

menghantam dada pemuda itu, jari tangan Hoa Thian-hong sendiripun akan menyodok pula jalan

darah tay yang hiat diatas jidatnya.

Siapapun tahu bahwa jurus siau ci thian lam ini hanya suatu jurus serangan yang sederhana dan

gampang, bahkan setiap orang mampu untuk menggunakannya tapi yang hebat justru jurus

yang sederhana itu merupakan tandingan yang paling jitu untuk mematahkan ancaman lawan.

Siapapun lebih suka dadanya kena dihantam dari pada jalan darah tay yang niatnya tersodok.

Bisa di bayangkan betapa gusarnya Tang Kwik-siu menghadapi kejadian tersebut, serta-merta ia

lantas berkelit kesamping.

Berhasil dengan serangannya, semangat Hoa Thian-hong makin berkobar, ia membentak keras

telapak tangan kirinya diayun kemuka dan segera mengirim lagi sebuah pukulan gencar.

Setelah sekian lama melakukan pertarungan, baru kali ini Hoa Thian-hong melancarkan pukulan

yang benar-benar tangguh.

Weeess….!” sebuah angin pukulan yang dahsyat bagaikan gulungan ombak di tengah hembusan

angin puyuh langsung menggulung kedepan dan menghantam tubuh jago tua itu.

Belum habis rasa kaget yang menyelimuti dada Tang Kwik-siu, angin pukulan yang maha dahsyat

itu telah menggulung tiba, dalam posisi begini ia tak berani mererima ancaman tersebut dengan

keras lawan keras.

Dalam paniknya ia putar badan sambil merendahkan tubuh, berhasil menghindari serangan

musuh, telapak tangannya segera disodok ke depan menghajar iga lawan.

Pertarungan berlangsung makin cepat, dalam sekejap mata dua jurus telah di lewatkan.

Namun kawanan jago sudah tidak berniat untuk menyaksikan jalannya pertarungan lagi, semua

orang sama-sama alihkan sorot matanya ke arah mana berasalnya suara itu.

Tampaklah Hoa Hujin dengan wajah yang agung sedang berjalan mendekat, langkah kakcinya

amat cepat melebihi sambaran petir, hanya sekejap mata ia sudah tiba ditengah gelanggang.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

481

Tio Sam-koh dengan toya bajanya yang besar, Chin Wan-hong sambil menggandeng tangan Siau

Ngo-ji mengikuti dibelakangnya dengan langkah lebar.

Menyaksikan kesemuanya itu, Kiu-im Kaucu sangat terperanjat, dalam hati ia lantas berpikir,

“Menurut berita yang tersiar, katanya Bun Siau-ih sudah kehilangan tenaga untuk bertempur,

bahkan badannya jadi lemah dan menjagal ayampun tak mampu, kenapa secara tiba-tiba ilmu

silatnya bisa pulih kembali jadi begini lihay? atau mungkin apa yang tersiar dalam dunia

persilatan hanyalah berita kosong belaka?”

Jangankan dia, orang lainpun sama-sama kaget bercampur tercengang sesadah menyaksikan

kejadian itu, sebab berita tentang punahnya ilmu silat yang dimiliki Hoa Hujin telah tersebar luas

ke mana-mana, justru karena tiadanya tandingan yang tangguh maka Kiu-im Kaucu sekalian

berani malang melintang dengan pongahnya.

Sebagai jago lihay yang berpengalaman, hanya cukup dalam sekilas pandangan saja, Kiu-im

Kaucu sekalian telah mengetahui bahwa kekuatan tubuh yang dimiliki perempuan sakti ini telah

pulih kembali seperti sedia kala, ini terbukti dari kecepatan gerak tubuhnya.

Apabila bukan disaksikan dengan mata kepala sendiri, siapapun tak akan menyangka kalau hal ini

benar-benar terjadi, untuk sementara waktu semua orang berdiri terbelalak dengan mulut

melongo, kaget dan herannya bukan kepalang.

Tang Kwik-siu sebagai jago dari luar daratan sama sekali tidak kenal dengan Hoa Hujin, ditengah

pertarungan dia tak sempat menengok kekiri kanan, dia cuma merasa bahwa suasana disekitar

tempat itu anehnya bukan kepalang.

Dalam herannya terrpaksa dia menegur, “Jago lihay darimanakah yang telah datang?”

“Bun Siau-ih?” jawab Hoa Hujin dengan dingin.

Tiba-tiba dengan dahi berkerut ia membentak, Pertahankan diri, gunakan Boan thian hu tee

(membongkar langit membalik bumi), Siang cu soay siau (siang cu membanting seruling)

Untuk sukses dalam pemberian petunjuk atas jurus silat yang akan dipergunakan orang,

seseorang harus benar-benar menguasai ilmu silat yang amat luas, pengalaman dalam

menghadapi musuh yang tinggi serta kecerdasan otak yang luar biasa.

Perlu diketahui, ilmu silat yang dimiliki Tang Kwik-siu bukan berasal dari daratan Tionggon, selain

itu selama hidupnya Hoa Hujin sendiripun tak pernah menggunakan senjata tajam, dengan

begitu ilmu silat yang dimiliki perempuan itu belum bisa dikatakan lebih hebat dari Tang Kwik-siu.

Cuma untungnya perempuan itu ada disisi gelanggang, dengan kedudukannya sebagai penonton

pandangannya justru jauh lebih meluas daripada mereka yang langsung terlibat dalam

pertarungan itu, maka setiap kali ia berhasil memberi petunjuk kepada Hoa Thian-hong untuk

mendahului musuhnya dan merebut posisi yang jauh lebih mengun tungkan.

Sekalipun jurus serangan berikutnya dari Tang Kwik-siu sama sekali tak terduga olehnya, dengan

hubungan batin yang amat erat antara ibu dan anak berdua, asal Hoa Thian-hong mendengar

suara ibunya, segera ia gunakan jurus serangan itu, maka pemuda ini berhasil memperbaiki

kedudukannya yang terdesak.

Jurus Boan thian hu tee hanya suatu pukulan biasa, sebaliknya siang cu soay siau adalah jurus

serangan dari ilmu delapan dewa mabok sempoyongan, jurus silat dasar yang sering dilatih Hoa

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

482

Thian-hong semenjak kecil, bila pemuda itu diharuskan mengunakan sendiri jurus itu, tentu dia

tak berani melakukannya, tapi karena ia percaya dengan ibunya maka jurus-jurus serangan itu

segera digunakan.

Diluar dugaan, jurus yang sederhana itu ternyata justru berhasil digunakan untuk menghindari

serangan dahsyat yang dilancarkan oleh Tang Kwik-siu.

Semangat Hoa Thian-hong semakin berkobar, ia sudah tidak jeri lagi untuk menghadapi ilmu

pukulan Tang Kwik-siu yang lihay, serangan demi serangan dilancarkan secara tetap dan

mantap, setiap kesempatan yang ada segera dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk meneter lawan.

Dengan begita maka pertarungan yang berlangsungpun makin ganas dan hebat, Tang Kwik-siu

yang sudah lama mendengar akan nama besar Hoa Hujin, sedikit banyak merasa waspada juga

sesudah kehadiran ja go itu, ia tak berani lanjutkan niatnya untuk membunuh si anak muda itu,

ia cuma berharap agar Hoa Thian-hong hentikan dulu serangan itu dan diapun akan mengakhiri

pertarungan ini sampai di sini saja.

Sebagai seorang tokoh silat yang punya nama besar, tentu saja Tang Kwik-siu tak tudi

menghentikan dulu serangan tersebut.

Tiba-tiba terdengar Hoa Hujin berseru dengan suara berat, “Poo….”

Begitu mendengar ucapan ‘poo’, Hoa Thian-hong langsung membentak keras, dengan hawa

murni yang melimpah ruah dia lepaskan sebuah pukulan dahsyat ke arah musuhnya.

Jurus serangan itu bernama Po hau peng ho (harimau ganas menyeberangi sungai), suatu jurus

serangan dikala menghadapi bahaya, mekipun sederhana gerakannya tapi hebat pukulannya,

sebagai seorang ketua perkumpulan besar tentu saja Tang Kwik-siu malu untuk menghindarkan

diri, dia melepaskan pula sebuah pukulan dahsyat untuk menyambut datangnya ancaman

tersebut.

“Blaaram….!” ketika sepasang telapak tangan saling beradu satu sama lainnya terdengarlah

suara ledakan yang memekikkan telinga.

Kedua orang itu sama-sama bergetar keras, lengannya jadi linu dan hampir saja tak sanggup

digunakan lagi.

Kalau orang lain tentu akan segera mengakhiri pertempuran itu, berbeda dengan Hoa Thianhong,

ternyata makin bertempur ia semakin gagah, telapak tangan kirinya segera dilontarkan

kemuka melepaskan satu pukulan dahsyat.

Dalam keadaan begitu, tentu saja Tang Kwik-siu tak bisa menyudahi pertarungan itu secara

sepihak, terpaksa dia harus melayani kembali pertarungan itu lebih jauh.

Pada saat itulah Yu beng tiamcu dari Kiu-im-kauw tiba-tiba melayang masuk kedalam gelanggang

dan membisikkan sesuatu kesisi telinga ketuanya, Kiu-im Kaucu segera memutar biji matanya

berulang kali, tiba-tiba dia ulapkan tangannya dan mengundurkan diri dari situ.

Tiamcu istana neraka dan Kek Thian-tok diam-diam menyusul dari belakang, dalam waktu

sekejap mata tiga sosok bayangan manusia itu sudah lenyap dibalik kegelapan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

483

Betapa tercekatnya Kho Hong-bwee yang diam-diam mengikuti gerak-gerik mereka, dalam hati

segera pikirnya, “Sampai sekarang Soh-gie dan Bong pay sekalian belum sampai disini, janganjangan

mereka telah menjumpai hadangan?”

Berpikir sampai disitu, dia jadi amat gelisah, tentu saja tak mungkin baginya untuk berlalu dari

situ sebelum pertarungan selesai, maka dengan suara lantang dia berteriak keras, “Dua ratus

gebrakan sudah penuh!”

Mendengar seruan itu, Tang Kwik-siu segera melayang mundur kebelakang, sambil tertawa

tergelak Katanya, “Hoa kongcu, kegagahan dan keberanian mu sungguh pinto merasa amat

kagum!”

Maksud perkataan itu jelas berganda, yang dia maksudkan adalah keberanian saja yang dimiliki

pemuda itu, padahal ilmu silatnya toh cuma begitu saja.

Hoa Thian-hong merasa tak senang hati apa lagi setelah menyaksikan mimik wajahnya yang

amat bangga dan bernada mengejek, ia segera menjura dan menunjukkan sikap seolah-olah

menghantar tamu untuk pergi, sementara mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Tang Kwik-siu tertawa pongah, dengan sorot mata tajam ia perhatikan sekejap wajah Hoa Hujin,

lalu pikirnya dihati, “Perempuan ini paling-paling bau berusia empat puluh tahunan, tak disangka

dulunya sudah menjadi seorang pimpinan dari kaum pendekar didaratan Tionggoan. benar-benar

aneh….!”

Berpikir sampai disitu, bibirnya lantas bergetar seperti mau mengucapkan sesuatu, tapi ketika

dilihatnya paras muka Hoa Hujin amat serius dan hawa nafsu membunuh menyelimuti seluruh

wajahnya, ia batalkan maksudnya untuk bercakap-cakap, setelah tertawa dingin ia lantas

membawa ketiga orang muridnya untuk berlalu dari situ.

Setelah empat jagoan dari Seng sut hay itu berlalu, Hoa Hujin baru bergerak maju kedepan dan

saling menegur dengan Dewa suka pelancongan Cu Thong.

Kemudian kepada Kho Hong-bwee, katanya sambil tertawa, “Hian Moay, selamat berjumpa

kembali! Aku dengar engkau sudah belasantahun lamanya mengasingkan diri dan bertapa,

mengapa sekarang muncul kembali dalam dunia persilatan?”

Kho Hong-bwee tertawa getir dan gelengkan kepalanya.

“Yaa…. apa boleh buat lagi? Demi anak terpaksa aku harus berbuat begini”

Sementara itu Pek Kun-gie merasa sedih dan susah sekali sejak Chin Wan-hong munculkan diri

ditengah mereka, pada mulanya dia masih dapat menguasai diri, akan tetapi setelah mendengar

perkataan dari ibunya, ia merasa perih hatinya dan sedih sekali, tak tahan titik air mata jatuh

berlinang membasahi wajahnya, cepat ia putar badan membelakangi semua orang sehingga

siapapun tak melihat kalau dia sedang meneteskan air mata.

Hoa Hujin melirik sekejap bayangan punggung Pek Kun-gie yang ramping dan halus, setelah

menghela napas panjang, bisiknya kepada diri Kho Hong-bwee dengan lirih, “Bocah itu terlalu

romantis dan besar cintanya, enci yang bodoh sih memang amat suka kepadanya”

Mendengar perkataan itu, satu ingatan cepat melintas dalam benaknya, segera ia berpikir,

“Jangan-jangan ia maksudkan bahwa karena sesuatu halangan maka ia tak bisa menerima

putriku?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

484

Sementara masih termenung, sorot mata nya tanpa sadar dialihkan keatas wajah Chin Wanhong.

“Hong ji cepat kemari dan temui bibi dari keluarga Pek!” buru-buru Hoa Hujin berseru.

Dengan langkah yang lemah gemulai Chin Wan-hong maju kedepan, sambil memanggil Bibi ia

memberi hormat.

Sambil tersenyum Kho Hong-bwee memperhatikan semua tingkah laku Chin Wan-hong terasa

olehnya gadis itu amat supel, lemah lembut, halus dan agung, gayanya memang gaya seorang

perempuan dari keluarga yang terhormat, hal ini membuat hatinya jadi sedih dan menghela

nanas panjang, pikirnya, “Aah sudahlah, Chin Wan-hong memang pantas jadi menantunya

keluarga Hoa, siapa yang berani mengatakan ia tak pantas?”

Berpikir sampai disitu, dengan perasaan putus asa ia tertawa paksa dan katanya lagi kepada Hoa

Hujin, “Putranya gagah, menantunya pintar dan halus, enci Bun! Engkau memang hok-ki dan

sangat bahagia….!”

Hoa Hujin tersenyum, ia seperti mau mengucapkan sesuatu tapi niatnya itu kemudian dibatalkan.

Perlu diketahui, dulunya Hoa Hujin dan Kho Hong-bwee disebut sepasang perempuan tercantik

dalam dunia persilatan, itu berarti sejak dahulu mereka adalah sahabat lama.

Akan tetapi dikarenakan jalan yang di tempuh Hoa Goan-siu dan Pek Siau-thian berbeda maka

hubungan antara Hoa Hujin dengan Kho Hong-bwee juga tanpa sadar terhalang oleh selapis

selaput tipis, dengan adanya halangan ini dengan sendirinya bubungan mereka berduapun

semakin lama semakin jauh.

Apalagi sekarang setelah terjadinya affair cinta antara Hoa Thian-hong dengan Pek Kun-gie,

kedua belah pihak merasa semakin serba salah untuk menanggulanginya.

Keluarga Hoa adalah keluarga besar dunia persilatan dengan jumlah keluarga yang amat minim,

berbicara menurut hati pribadi Hoa hujjin sendiri, ia tidak menampik jikalau putranya beristri

muda lagi selain istrinya yang pertama.

Akan tetapi ia tak berani bertindak secara gegabah dengan menyetujui perkara itu dengan begitu

saja, sebab dengan kecantikan dan keangkuhan Pek Kun-gie belum tentu dia bersedia berada

dibawah tingkatan orang lain.

Yang paling dikuatirkan Hoa Hujin adalah pertengkaran yang bakal terjadi setelah ia dan Chin

Wan-hong bersuamikan satu orang.

Jangankan Kiu-tok Sianci pasti menentang sekalipun Hoa Hujin yang cerdik dan bijaksanapun

merasa tak tega hati.

Sebaliknya kalau ditolak, ia juga tak tega, pertama karena ia terharu sekali dengan penampilan

Kho Hong-bwee dalam pertemuan Kian ciau tay hwee untuk menegakkan keadilan, kedua, iapun

merata terharu oleh sikap Pek Kun-gie yang begitu tergila-gila kepada putranya.

Bilamana ia tidak kuatirkan sikap Kiu-tok Sianci yang terlalu keras dengan pendirian sudah pasti

sedari dulu-dulu dia telah memberikan persetujuannya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

485

***

KHO HONG-BWEE termasuk seorang perempuan bertinggi hati, setelah merasakan betapa

kakunya suasana di tempat itu, timbullah pikiran untuk membawa putrinya berlalu dari situ.

Siapa tahu sebelum ia melaksanakan niatnya itu, tiba-tiba Chin Wan-hong menghampiri Pek Kungie

dan menggandeng tangannya, kemudian kedua orang itu terlibat dalam suatu pembicaraan

yang mengasyikkan.

Menyaksikan itu dia tertegun, tapi segera dirasakan olehnya bahwa gelagat semacam ini sangat

menguntungkan putrinya, maka niatnya untuk berlalu juga segera dibatalkan.

Kepada Hoa Hujin segera ujarnya sambil tersenyum.

“Menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan, katanya tenaga dalam yang dimiliki enci Bun

telah buyar dan musnah rupanya berita itu cuma berita sensasi belaka, kenyataannya engkau

tetap tangguh dan hebat, kejadian ini sungguh patut digirangkan!”

Hoa Hujin tertawa geli mendengar perkataan itu, sahutnya.

“Engkau ikut tertipu, pada hakekatnya tenaga dalam yang enci miliki benar-benar telah buyar

dan sekarangpun aku sedang berlatih kembali dari permulaan, untungnya ilmu meringankan

tubuh yang ku miliki dengan cepat telah pulih kembali satu dua bagian maka ketika kugertak

Tang Kwik-siu tadi sengaja kuhimpun segenap kemampuan yang kumiliki untuk melayang dari

situ kemari dengan kecepatan semaksimal mungkin, padahal kakiku sekarang terasa jadi lemas

dan tak bertenaga hampir saja roboh keatas tanah!”

“Ooh, sungguh tak kusangka enci memiliki hati yang gagah sampai setaraf itu, sungguh bikin

Siau moay merasa sangat kagum!” seru Kho Hong-bwee sambil tertawa.

“Aaai….! Keadaanku ibaratnya menunggang dipungung harimau, apa daya kalau tidak terpaksa

berbuat begitu?” sahut Hoa Hujin sambil menggeleng dan tertawa getir.

Begitulah, makin berbicara kedua orang itu semakin asyik sehingga melupakan segala-galanya.

Dipihak lain Chin Wan-hong masih tetap menggandeng tangan Pek Kue Gie dan berbisik

dengannya, tapi karena suaranya lirih dan siapa pun tidak mendengar apa yang sedang

dibicarakan maka tak seorangpun yang tahu mereka sedang membicarakan tentang soal apa.

Semua orang hanya melihat bagaimana Chin Wan-hong berbisik lirih, sedang Pek Kun-gie berdiri

tertegun dengan kadangkala menggeleng kadangkala pula mengangguk,

Hoa Thian-hong paling gembira diantara beberapa orang itu, ia sengaja melibatkan diri dalam

pembicaraan yang asyik dengan Tio Sam-koh dan Cu Thong.

Tio Sam-koh kelihatan penasaran sekali sekalipun sedang ber cakap-cakap sepasang matanya

mengawasi terus ke arah Chin Wan-hong tanpa berkedip, kalau bukan Kho Hong-bwee hadir pula

di situ, niscaya ia sudah mendamprat gadis itu habis-habisan.

Yang paling gelisah adalah Siau Ngo-ji, sedari tadi ia sudah bermaksud untuk memata-matai

pembicaraan dari kedua orang dara itu apa lacur Hoa Thian-hong memegangi terus tangannya

sehingga ia tak bisa meronta, dalam keadaan begini bocah cilik yang brilian ini jadi mati kutu

nya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

486

Tiba-tiba dari bawah wuwungan rumah sebelah utara situ muncul seorang pengemis cilik, sekilas

pandangan Siau Ngo-ji segera kenal rekannya itu, teriaknya keras-keras.

“Hey, si bisul, siapa yang lagi kau cari?”

Pengemis cilik itu segera memburu datang sambil menyodorkan secarik kertas, sahutnya, “Ko

toako suruh aku menyampaikan ini kepadamu!”

Siau Ngo-ji menerima kertas itu, lalu coba dibacanya dengan suara lantang, “Ing telah ditangkap

Kiu-im-kauw….”

“Apa itu Kiu-im-kauw?” tukas Hoa Hujin sambil berpaling”

Dengan setengah meringis Siau Ngo-ji menjawab, “Oooh…. aku…. sisa tulisan itu aku tak

mengerti….”

Hoa Thian-hong menyambar kertas itu dan dibacanya sekejap, paras mukanya kontan berubah

jadi pucat pias, ia maju menghampiri ibunya seraya berkata, “Ibu, surat ini berasal dari saudara

Ko Thay, katanya Ku Ing-ing telah ditangkap oleh orang-orang dari Kiu-im-kauw….!”

Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan, “Ketika terjadi pertarungan diatas perahu tempo hari

secara terang-terangan ia telah mengkhianati Kiu-im Kaucu, dan kini sesudah tertangkap

kembali, aku kuatir kalau siksaan yang dideritanya….”

“Hidup sebagai umat manusia, kita tak boleh melupakan budi” ujar Hoa Hujin dengan wajah

murung, “andaikata Ku Ing-ing belum mati, maka kita harus pertaruhkan nyawa untuk

menolongnya lolos dari mara bahaya, sebaliknya kalau ia keburu telah dibunuh, kitapun harus

balaskan dendam bagi kematiannya”

Sampai disitu, dia lantas menggape pengemis cilik itu sambil serunya, “Hey, engkoh cilik, hayo

kemarilah!”

Pengemis cilik itu maju mendekati dengan sikap yang berbungkuk l karena kelewat menghormat

sahutnya tergagap, “Haa…. haamba…. be…. berr…. bernama…. sii…. si Bisul!”

Hoa Hujin tersenyum.

“Saat ini Ko toako mu itu berada di mana?”

Pengemis cilik itu menunjuk fceudara dan menyahut.

“Ddd…. dia…. ma…. masih ada urusan, sekarang belum bisa menyambangi hujin!”

Kembali Hoa Hujin termenung beberapa saat lamanya, lalu sambil berpaling ke arah Hoa Thianhong

katanya.

“Seng ji, pergilah mengikuti engkoh cilik ini, disamping menyambangi saudara dari keluarga Ko

sekalian tanyakan masalah tertangkapnya Ku Ing-ing serta arah perginya orang-orang Kiu-imkauw!”

“Baik ibu!” sahut Hoa Thian-hong dengan lurus kebawah, lalu kepada pengemis cilik itu

lanjutnya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

487

“Saudara cilik, hayo kita berangkat!”

Pengemis cilik itu segera melangkah pergi dari situ.

Betapa gelisahnya Siau Ngo-ji, cepat-cepat ia lari ke sisi Chin Wan-hong seraya berbisik.

“Enso, hayo kita pergi bersama toako!”

Chin Wan-hong agak tertegun, ia lantas berpaling ke arah mertuanya seraya berseru.

“Ibu, Siau Ngo-ji rindu dengan Ko toako nya, apakah dia boleh ikut serta bersama engkoh

Hong?”

“Suruh dia ikut pergi, sekalian berpamitan dengan Ko toakonya itu!”

Siau Ngo-ji agak tertegun sesudah mendengar ucapan tersebut, tapi sesaat kemudian ia sudah

menarik Chin Wan-hong kesamping sambil bisiknya lirih, “Enso, engkau jujur dan terlalu welas

kasih, jangan biarkan ada orang lain ikut naik keatas pembaringanmu, apalagi Pek….”

Pucat pias wajah Chin Wan-hong karena terperanjat, dia kuatir ibu dan anak dari keluarga Pek

ikut mendengar ucapan tersebut, buru-buru tukasnya.

“Anak kecil tahu apa? Hayo tutup mulut dan jangan sembarangan berbicara, sana! Ikut dengan

toako mu”

Stan ngo ji masih penasaran, sebelum berlalu mengikuti disamping Hoa Thian-hong, dia masih

sempat melemparkan sebuah kerlingan yang sangat dingin ke arah Pek Kun-gie.

Belum jauh tiga orang itu berlalu, tiba-tiba pintu samping sebuah warung kelontong ditepi jalan

terbentang lebar, menynsul seorang pemuda berkulit hitam, berwajah persegi dengan dada yang

bidang dan tubuh penuh berotot munculkan diri didepan mata.

Begitu melihat kemunculan pemuda itu, dengan kejut bercampur girang Siau Ngo-ji segera

berteriak keras.

“Ko toako!”

Begitu mengetahui kalau pemuda itu adalah Ko Thay, dengan langkah cepat Hoa Thian-hong

maju kedepan seraya menjura.

“Saudara Ko!” katanya, “telah lama ku kagumi nama besarmu, sungguh beruntung hari ini kita

dapat saling berjumpa!”

Ko Thay tertawa, ia balas memberi hormat sambil sahutnya.

Siaute merasa malu untuk berjumpa dengan Hoa toako….

“Aah, janganlah saudara memandang asing terhadap kami, mari, kuperkenalkan saudara dengan

ibuku!” kata Hoa Thian-hong.

Ia tarik lengannya yang kekar dan berotot itu untuk diajak maju ke arah depan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

488

Setibanya dihadapan Hoa Hujin, Ko Thay melepaskan diri dari cekalan dan segera jatuhkan diri

berlutut keatas tanah, serunya.

“Hamba Ko Thay menjumpai hujin!”

Hoa Hujin ada maksud untuk menghalangi tapi tak sempat, betapa terharunya perempuan ini,

cepat serunya, “Nak, tak usah banyak adat, Bun si tidak memiliki kebaikan budi apapun, tak

berani kuterima penghormatan sebesar ini!”

Sambil berkata ia lantas bangunkan Ko Thay dari atas tanah.

Sementara itu, dari terapat kejuhan tiba-tiba melayang datang sesosok bayangan manusia,

dalam sekilas pandangan Kho Hong-bwee segera kenali orang itu sebagai pelayannya, ia lantas

berderu lantang.

“Oh Sam, dimana para pelindung hukum yang lain?”

“Lapor Cubo!” seru Oh Sam sambil memberi hormat, “para pelindung hukum telah mengejar

orang-orang dari Kiu-im-kauw ke arah selatan, mungkin pada saat ini mereka sudah berada

seratus li lebih dari tempat ini!”

“Karena urusan apa mereka mengejar orang-orang Kiu-im-kauw? dan dimanakah Soh-gie?” tanya

Kho Hong-bwee dengan alis mata berkenyit.

“Toa siocia berada bersama-sama para pelindung hukum!” jawab Oh Sam.

Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan kembali penuturannya.

“Senja tadi, rombongan kami telah berjumpa dengan orang-orang Kiu-im-kauw, kami lihat

mereka telah berhasil menawan Giok Teng Hujin yang berkhianat, menyaksikan kejadian itu

Bong sauhiap yang pernah berhutang budi dari perempuan itu segera maju untuk memberikan

pertolongannya, toa siocia kami ikut pula memberikan pertolongan maka kami semua terlibat

dalam suatu pertarungan yang sengit, Bong sauhiap yang begitu bernafsu untuk menolong

orang, berulang kali melakukan tubrukan secara ganas dan gencar, tapi toh akhirnya bukan saja

gagal menolong orang, dia sendiri harus menderita luka….”

“Bagaimana keadaan lukanya?!” tanya Cu Thong dengan gelisah.

“Cukup parah lukanya, tapi semuanya adalah luka luar sehingga tidak sampai membahayakan

jiwanya!”

Bagaimana selanjutnya?! sela Cu Thong kemudian.

“Jumlah kekuatan dari Kiu-im-kauw jauh lebih banyak daripada kami, karena itu walaupun

pertarungan berlangsung cukup sengit kami tetap gagal untuk memberikan pertolongannya.

Pihak Kiu-im-kauw sendi ripun tiada bernafsu untuk melangsungkan pertarungan lama, setelah

berhasil meloloskan diri, mereka segera kabur mennju ke arah selatan, karena Bong sauhiap

mengejar terns, terpaksa kami semua harus mengikuti juga kemana ia pergi….!”

Tidak menunggu Oh Sam menyelesaikan kata-katanya, Co Thong telah terseru kepada Kho

Hong-bwee, “Terima kasih atas bantuan perkumpulanmu, kuucapkan banyak-banyak terima

kasih lebih dahulu!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

489

Sebelum Kho Hong-bwee sempat menyelesaikan kata-katanya, ia telah berseru pula kepada Hoa

Hujin, “Sampai jumpa lain kesempatan!” Sekali menjejak tanah, ia telah kabur dari situ

“Cu teng….!” cepat Hoa Hujin berteriak, “lengan kirimu toh masih terluka….”

Belum habis perkataan itu diutarakan, Cu Thong sudah berada dimulut jalan sebelah depan sana

dan lenyap dari pandangan mata.

Sesudah perginya Cu Thong, suasana untuk sesaat jadi hening dan sepi, semua orang

membungkam dalam pikirannya masing-masing.

Selang sesaat, Kho Hong-bwee baru buka suara dan berkata setelah termenung beberapa saat

lamanya.

Enci Bun, apakah engkau tahu kebaikan apa toh yang pernah didapatkan Bong sauhiap dari diri

Giok Teng Hujin?”

Hoa Hujin menghela nafas panjang.

“Asai! Beginilah kisahnya” kata perempuan itu kemudian, “nona itu pernah menghadiahkan

sebatang Lengci berusia seribu tahun kepada putraku, dengan obat mujarab itulah racun teratai

yang terkandung didalam tubuhnya berhasil dipunahkan, sedang sisanya yang separuh telah

digunakan untuk menolong nyawa tiga orang yang menderita luka parah dikala sedang

berlangsungnya pertemuan besar Kian ciau tay hwe. Nah, Bong pay adalah seorang penerima

budi tersebut!”

“Ooh jadi Bong sauhiap masih ingat dengan sumber datangnya budi pertolongan itu? Kalau

demikian, dia tentunya seorang yang gagah dan bijaksana!”

Hoa Hujin tersenyum.

Aku pernah memberi pelajaran ilmu silat kepadanya, bocah itu terlalu mengerti akan perasaan

orang lain dan lagi jujur serta bersifat terbuka, memang anak semacam itu terhitung sebagai

seorang murid yang bagus dan menyenangkan!”

Berbicara sampai disini, mereka berdua saling berpandangan sambil tertawa, tawanya penuh arti

yang mendalam.

Maka Kho Hong-bwee pun minta diri, katanya, “Aku harus buru-buru berangkat, sebab Kiu-im

Kaucu sudah berangkat keselatan, sedang budakku berada pula ditengah perjalanan, kalau

sampat saling bertemu…. waah, bisa berabe!”

Hoa Hujin termenung sebentar, kemudian dengan nada yang membawa arti mendalam ia

menyabut, “Aku sendiripun harus segera berangkat keutara, hian moay! Bila engkau tidak

menampik, silahkan mampir dalam perkampungan Liok soat-san ceng, marilah kita berbicara

lebih serius selama beberapa hari!”

Diam-diam Kho Hong-bwe merasa bergirang hati, betapa tidak? Dengan diutarakannya perkataan

itu berarti pula kalau janda dari Hoa tayhiap ini telah memberi perlambang kepadanya bahwa ia

bersedia merundingkan soal bubungan anak-anak mereka dengan lebih serius.

Sudah tentu tawaran seperti ini tidak di tampik dengan begitu saja, begitulah dengan wajah

berseri ia lantas berlalu dengan membawa serta Pek Kun-gie dan Oh Sam.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

490

Pek Kun-gie sama sekali tidak membantah sebab dalam hati kecilnya ia bisa menduga bahwa

Hoa Thian-hong tentu akan berangkat untuk menolong Giok Teng Hujin dan bagaimanapun juga

ia tak mungkin bisa tetap tinggal disana, maka gadis itupun ambil keputusan untuk menanti

ditengah jalan.

Dalam waktu sekejap ketiga orang itupun sudah berlalu dari sana dan lenyap dari pandangan.

Sepeninggalnya Kho Hong-bwee bertiga, Hoa Hujin baru menatap sekejap sisa jago yang masih

ada disitu, tiba-tiba serunya kepada Ha putule, “Eaah…. engkoh cilik, bukankah dendam sakit

hati perguruanmu telah kau tuntut balas? Kalau tidak terburu-buru kembali ke See ih, bagaimana

kalau bermain dulu selama tiga tahun dalam perkampungan Lik soat san ceng kami? Setelah itu

baru berangkat pulang ke desa!”

“Bibi tak usah kuatir, aku bisa palang seorang diri, aku tak takut menghadapi mara bahaya

macam apapun sepanjang perjalanan!”

“Aku tidak bermaksud begitu, kata Hoa Hujin sambil tersenyum, setelah berhenti sebentar,

lanjutnya lebih jauh.

“Sudah lama kudengar orang berkata bahwa pengaruh dari Mo-kauw sudah meluas sampai ke

tepi perbatasan, perbuatannya sewenang-wenang dan tidak mengenal arti perikemanusiaan, oleh

sebab itu aku pikir apa bila engkau bersedia untuk mengikuti aku selama tiga tahun, maka akan

kugunakan waktu yang sebaik-baiknya untuk mewariskan segenap kepandaian silat yang kumiliki

kepadamu, dengan harapan suatu ketika engkau bisa kembali ketempat asalmu dan

memberantas pengaruh Mo-kauw dari sekitar tempat itu”

“Saudaraku” ujar Hoa Thian-hong pula, perguruanmu telah mengalami kehancuran, dan

sekarang tinggal kau seorang yang masih tetap hidup, bila kau bisa bangkitkan semangatmu dan

mengangkat kembali nama besar perguruanmu, aku yakin arwah Siang locianpwe yang berada di

alam baka pasti akan bergiring hati menyaksikan kesukses anmu itu”

Merahlah sepasang mata Haputule sesudah mendengar perkataan itu, katanya, “Berbahagialah

aku setelah ada kesediaan bibi untuk wariskan ilmu silatnya kepadaku akan tetapi pedang emas

itu adalah….”

Tiba-tiba ia berhenti berbicara dan mengalihkan pokok pembica-raan kesoal lain, katanya,

“Asalkan pedang emas itu terjatuh ketangan Hoa toako, aku rela menyerahkannya kepadamu!”

“Tidak!” tampik Hoa Thian-hong dengan tegas, “belajarlah ilmu silat lebih dahulu dengan ibuku,

sedang aku akan berusana keras untuk menemukan kembali pedang emas itu, asal kutemukan

pastilah akan kuserahkan kepadamu!”

Haputule berpikir sebentar, lalu menjawab.

“Aku sendiri cuma menginginkan pedang emas itu, sementara kitab Kiam keng itu sendiri sama

sekali tiada hubungannya dengan perguruan pedang pendek kami, sekalipun engkau hadiahkan

kepadaku, aku belum tentu mau menerimanya!”

Hoa Thian-hong tersenyum, “Kalau toh ibuku bersedia mewariskan ilmu silatnya kepadamu, itu

berarti hubungan kita ibaratnya antara sesama saudaru seperguruan, andaikata kitab kiam keng

benar-benar terjatuh ketanganku, perduli menjadi siapa toh sama saja!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

491

“Macam apa toh pedang emas itu?” tiba-tiba Ko Thay menyela dari samping gelanggang.

Dari sakunya Haputule mencabut keluar pedang peraknya, kemudian menjawab, “Menurut

keterangan guruku, pedang emas itn dibentuk dari sari emas yang kuat, beratnya dua puluh satu

kali lebih mantap daripada bobot emas biasa, dibandingkan besi tujuh belas kali lipat lebih berat

dan dibandingkan dengan baja beratnya empat belas kali lipat, bukan saja pedang emas itu

tajamnya luar biasa melebihi pedang mustika apapun juga, bentuknya minim dan cuma beberapa

senti meter, pokoknya persis sekali bentuknya dengan pedang perak ini”

Dengan seksama Ko Thay memperhatikan pedang perak itu dia lihat bentuknya kecil dan

panjangnya berikut gagang pedang cuma enam cun, gagang maupun pedangnya melebur

menjadi satu bahkan jauh lebih pendek dari pada pisau belati biasa, sepintas lalu orang akan

mengira pedang itu sebagai pedang mainan.

Melihat akan hal itu, tak kuasa lagi pemuda kekar ini menge-rutkan dahinya, tiba-tiba ia

berpaling dan mengamati jenasah Pia Leng-cu dengan seksama.

Menyaksikan gerak-gerik orang, Hoa Thian-hong berkata, “Le Kiu dari Kiu-im-kauw telah

menggeledah sekujur badan Pia Leng-cu dengan seksama, dia adalah seorang jago yang

berpengalaman luas, andaikata pedang emas itu benar-benar berada di badan Pia Leng-cu, aku

pikir senjata itu tentulah sudah didapatkan olehnya!”

“Aku rasa Pia Leng-cu adalah seorang manusia licik yang mempunyai banyak tipu muslihat, tak

mungkin ia tega dan lega hati meletakkan pedang mustika yang disayangi itu di tempat lain, aku

cukup mengenal watak manusia semacam ini, agar enak makan dan nyenyak tidur senjata

tersebut pasti digembol terus dalam sakunya apalagi kalau ia sudah tahu bahwa pedang mustika

itu setiap saat bakal lenyap pastilah dia akan membawanya terus menerus dengan ha rapan bila

dia mati maka senjata itu akan dibawanya pula masuk keliang kubur”

“Benar juga pandanganmu ini, puji Hoa Hujin, kalau pedang emas itu tidak berada ditubuh Pia

Leng-cu, maka ia tak bisa di hitung sebagai seorang manusia yang besar sekali rasa curiganya!”

Berbicara sampai disitu, tiba-tiba ia seperti merasakan sesuatu, cepat sorot matanya di alihkan ke

arah Pia Leng-cu.

“Boanpwe sendiripun hanya berpikir seandainya saja, benar atau keliru sama sekali tidak

mempunyai keyakinan, harap kalian bersedia untuk memakluminya!” ujar Ko Thay tenang.

Selangkah demi selangkah ia menghampiri jenasah Pia Leng-cu dan mulai periksa sepatu yang

dikenakan olehnya.

Dengan perasaan ingin tahu semua orang merubung kedepan, tampaklah Ko Thay mencabut

keluar sebilah pisau belati, kemudian dengan sekuat tenaga ia merobek sepatu yang digunakan

Pia Leng-cu itu sehingga robek menjadi dua bagian, tapi disitu ia tak berhasil menemukan

sesuatu apapun,

Ko Thay segera mencabut kembali pisau belatinya setelah itu melirik sekejap ke arah kaki kiri Pia

Leng-cu yang cacad, ia keliha tan agak sangsi sehingga untuk beberapa saat lamanya tidak

berani turun tangan secara gegabah.

Hoa Hujin tersenyum sesudah menyaksikan kejadian itu, ia berkata, “Siapapun tak dapat

menduga kejadian dengan tepat, apa salahnya kalau kita coba saja untuk memeriksanya, siapa

tahu kalau tebakan kita tidak meleset?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

492

Ko Thay tidak ragu-ragu lagi, pisau belatinya segera ditekan kebawah dan merobeknya keraskeras

pada sepatu kiri yang dikenakan Pia Leng-cu, belum terlalu dalam ia memotong, mendadak

tangannya jadi enteng dan tahu-tahu ujung pisau belatinya sudah kutung bebera pa bagian.

“Hoore…. kita berbasil temukan pedang itu!” seru Siau Ngo-ji kegirangan.

Lega juga perasaan hati Ko Thay, setelah memperhitungkan arahnya dengan tepat, sekali lagi ia

menyobek sepatu kiri Pia Leng-cu, dalam waktu singkat tampaklah cahaya emas memancar

keempat penjuru, dari dasar alas sepatu itu tampaklah terselip sebilah pedang pendek.

Pedang emas itu dibungkus oleh selapis kulit ular sehingga hanya gagang pedangnya saja yang

kelihaian dari luar, akan tetapi gagang pedang itu berwarna emas dan memancarkan cahaya

yang tajam, sehingga siapapun merasa silau sesudah memandangnya.

Ko Thay cabut keluar pedang itu, habis dibersihkan kotoran yang menempel pada pedang itu

dengan bajunya, ia lantas menyerahkan ketangan Hoa Hujin dengan sikap yang hormat.

Hoi hujin menerima pedang itu, setelah meloloskan sarung kulit ularnya, ia angkat pedang yang

sudah menggetarkan sungai telaga selama puluhan tahun dan mengakibatkan pertumpahan

darah yang mengerikan itu keudara.

Meskipun para jago yang mengerubungi disekitarnya tiada bernafsu serakah ataupun ingin

mendapatkannya, tak urung tergetar juga perasaan hati mereka.

Setelah semua orang mengamatinya beberapa saat, tiba-tiba Hoa Hujin menghela napas

panjang, lalu kepada Hoa Thian-hong katanya, “Demi pedang kecil ini, Ciu It bong sudah hidup

menderita selama banyak tahun, di mana akhirnya jiwapun ikut melayang tinggalkan raganya,

sebagai orang yang berhutang budi kepadanya engkau jangan melupakan kebaikan yang pernah

kau terima itu, ketahuilah keber-hasilanmu bertarung melawan Tang Kwik-siu sebanyak dua

ratus ge brakan sebagian benar adalah berkat pemberiannya!”

“Perkataan itu memang besar” sahut Hoa Thian-hong, “ananda telah mempunyai rencana untuk

mencarikan seorang pewaris baginya, sehingga ilmu pukulan Kun siu ci tan (pergulatan terakhir

binatang yang terjebak) hasil ciptaannya itu bisa terwaris hingga pada generasi yang akan

datang, dengan begitu akupun bisa pula membalas budi kebaikannya”

“Kalau engkau memang punya rencana itu, bagus sekali kata Hoa hnjin sambil mengangguk. Ciu

It bong adalah seorang jago yang gagah berani dan hidup luntang lantung seorang diri, ia

terhitung seorang laki-laki sejati, seorang enghiong hoohan, siapa pun akan berbangga hati

apabila bisa menjadi ahli warisnya”

Setelah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh, “Kuo siu ci tan kurang sedap didengar dalam

pendengaran, kita carikan saja nama lain yang lebih bagus!”

Hoa Thian-hong berpikir sebentar, kemudian sahutnya, “Sekalipun Ciu locianpwe suka hidup

luntang lantung seorang diri, ilmu pukulan hasil ciptaannya amat rumit dengan perubahan yang

tak terhitung jumlahnya dalam satu gebrakan mungkin tersimpan beratus-ratus jenis perubahan

lain, Ibu, bagaimana kalau kunamakan saja jurus pukulannya itu sebagai ilmu pukulan Hau in

ciang hoat?” Hoa Hujin mengangguk.

“Bagus, nama Hau in ciang hoat memang sangat tepat! Cuma, engkau harus ingat, bila engkau

hendak menerima murid maka pertama yang musti kau perhatikan adalah watak serta

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

493

perangainya, kedua dia musti berbakat baik, sedang yang lain boleh tidak terlampau

diperhatikan, ingat?”

Hoa Thian-hong mengangguk tiada hentinya tanda mengerti.

Tiba-tiba terdengar Tio Sam-koh berseru dari samping, “Eeeh, hayo cepat ambil keluar kitab

pedang Kiam keng itu, aku ingin lihat macam apakah bentuk kitab itu?”

Hoa Hujin tertawa, ia serahkan pedang emas itu ketangan Hoa Thian-hong lalu berkata,

“Ambillah keluar kitab Kiam keng itu, agar semua orang ikut menyaksikan bentuk kitab tersebut!”

“Tapi…. tapi…. ibu, pedang baja itu adalah barang peninggalan ayah, tidakkah terlalu sayang

kalau dirusak?” kata Hoa Thian-hong dengan hati sangsi.

Hoa Hujin menghela napas panjang.

“Aaai…. kitab kiam keng adalah benda pokok, sedang pedang baja itu hanya pelengkap yang

digunakan sebagai tempat penyimpanan belaka, sekalipun akhirnya harus rusak, yaa apa boleh

buat lagi?”

Hoa Thian-hong tak berani membantah perintah dari ibunya lagi, pedang bajanya segeta dicabut

keluar, sebelum melakukan penebasan, ia sempat berpaling ke arah Haputule seraya berkata,

“Saudaraku, jikalau pedang emas ini sampai rusak atau gumpil….”

“Toako tak usah sangsi ataupun ragu” tukas Haputule dengan cepat, “sekalipun rusak juga tidak

menjadi soal!”

Hoa Thian-hong tidak ragu lagi, ia pegang pedang bajanya dengan tangan kiri dan memegang

pedang emas dengan tangan kanan, ketika senjata itu ditebas kebawah….

“Criing….!” diiringi suara dentingan nyaring dan kilatan cahaya emas, patahlah pedang baja itu

menjadi dua bagian.

Memang tak salah, ruang kosong terdapat dalam pedang baja itu, dalam ruang kosong tadi

terseliplah satu gulungan kain warna kuning.

Menyaksikan gulungan kain itu, Hoa Thian-hong menghembuskan napas panjang, katanya,

“Aaii!….! Untung pedang baja ini tak terbuang dengan percuma ternyata memang benar-benar

ada isinya!”

Pedang emas itu diperiksa pula dengan seksama, ketika dilihatnya senjata itu utuh dan sama

sekali tidak cedera, cepat-cepat diserah kan kepada Haputule.

Kemudian gulungan kain kuning itu baru dicabut keluar dengan sangat hati-hati, lalu di serahkan

kepada ibunya.

Menerima gulungan kain kuning itu, serta-merta Hoa Hujin mem buka dan memeriksanya dengan

teliti, ia lihat kain itu terbuat dari bahan sebangsa nilon yang halus tapi sangat kuno, panjangnya

delapan cun dengan lebar enam tujuh depa, tulisan yang terukir diatas kain itu sangat rapat

dengan sebesar kepala lalat, diantaranya terselip juga tulisan yang dibuat dengan tinta merah

yang menyolok, selain itu dihiasi pala dengan seratus lebih gambaran manusia dengan bentuk

yang berbeda-beda.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

494

Sementara itu fajar baru saja menyingsing, di tengah-tengah remangnya cuaca tak mungkin bagi

Hoa Hujin yang tenaga dalamnya buyar untuk meneliti tulisan itu, karenanya walaupun gulungan

kain ada didepan mata, ia tak mampu untuk membaca isinya.

Kendatipun demikian, dari lukisan yang tertera disitu ia tahu bahwa isinya benar-benar adalah

kitab kiam keng.

“Tampaknya gulungin kain ini memang benarbenar berisikan jeri payah dari malaikat pedang Gi

Ko” pikirnya dalam hati.

Setelah diamatinya sekejap, gulungan kain itu lantas diserahkan kepada Tio Sam tokoh, katanya,

“Kurang jelas penglihatanku, biar Sam-koh saja yang periksa, apakah isinya benar-benar benda

mustika atau bukan!”

Tio Sam-koh menerimanya, kemudian tanpa dilihat segera dilipat dan diserahkan ke tangan Hoa

Thian-hong sembari berkata, “Aku malas untuk menelitinya lebih jauh bagaimanapun toh isinya

tetap berupa sejilid kitab kiam keng, Nah, bawa saja dalam sakumu dan pelajarilah secara

perlahan-lahan!”

Hoa Hujin yang ada disampingnya segera menambahkan pula dengan nada serius.

“Peninggalan orang kuno harus dipelihara dan dilindungi dengan sebaik-baiknya, jangan aampai

rusak atau hilang dirampas orang!”

“Ananda tak berani gegabah!” jawab Hoa Thian-hong bersungguh-sungguh.

Bicara sampai disini, dia lantas menyimpan baik-baik Kitab kiam keng itu dalam sakunya,

kemudian baru minta petunjuk akan tugas yang harus dilakukan diwaktu mendatang.

Hoa Hujin termenung dan berpikir sebentar, lalu katanya.

“Kami harus pulang kerumah, sedang engkau berangkatlah seorang diri menuju keselatan,

berusahalah keras untuk selamatkan Ku Ing-ing dari mara bahaya, aku tahu tugasmu kali ini

sangat berat dan sukar, dengan ilmu silat yang dimiliki Kiu-im Kaucu saja ia sudah mampu

menandingi dirimu, apalagi kalau anak buahnya memberi bantuan. Aku sendiri tiada ide atau

pendapat lain yang bisa kuberikan kepadamu, aku rasa lebih baik lakukanlah semua tugas itu

menuruti suara hatimu sendiri!”

“Ilmu silat yang dimiliki Tang Kwik-siu jauh diatasmu” sambung Tio Sam-koh pula, “sedangkan

Kok See-piauw bangsat cilik itu selalu bikin onar dari tengah, sudah pasti dia akan mencari garagara

lagi dengan dirimu, bila engkau hendak mengatasi kesulitan ini maka satu-satunya jalan

adalah pergiat latihan ilmu silatmu, bila mendapatkan kesempatan bereskan saja nyawa keparat

cilik she Kok itu!”

Hoa Thian-hong mengiakan berulang kali, selesai mendapatkan wejangan tersebut, dia baru

berpaling ke arah Ko Thay dan bertanya, “Saudara Ko, apakah engkau mempunyai rencana lain?”

Ko Thay tersenyum.

“Aah, siaute cuma seorang manusia biasa, buat manusia macam aku sih tak ada rencana apaapa,

semua kesulitan kuatasi setelah berada didepan mata!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

495

“Nak, ikut saja kami pulang keperkampungan Liok soat san ceng, dan berdiamlah selama

beberapa tahun disana!” tiba-tiba Hoa Hujin mengusulkan dari samping.

Untuk sesaat Ko Thay kelihatan agak tertegun, tapi ia segera menggeleng seraya menjawab.

“Aku merasa sangat berbangga hati apabila bisa mendapat didikan langsung dari bibi, cuma aku

tahu bibi repot dengan urusan bibi sendiri, dan lagi bakat boanpwe untuk belajar silat sangat

cetek, ingin belajar dari depan rasanya sudah terlambat karena usiaku sudah tua dan hasilnya

dikemudian haripun terbatas, karena itu aku lebih baik menolak saja penawaran bibi yang sangat

menggiurkan hati itu!”

Caranya menolak memang sangat halus tapi semua orang tahu bahwa hatinya amat sedih dan

pedih sehingga nada suaranya ikut kedengaran agak gemetar….

Sejak perjumpaannya untuk pertama kali ini, rupanya Tio Sam-koh menaruh kesan yang baik

terhadap diri Ko Thay, sesudah mendengar perkataan itu tiba-tiba ia menyela dari samping,

“Barusan, bukankah engkau mengatakan hendak carikan seorang ahli waris bagi Ciu It bong?

Menurut pendapatku, Ko Thay adalah calon ahli waris yang paling tepat untuk Ciu It bong!”

Tampaknya Hoa Thian-hong merasa bahwa cara itu memang berkenan di hatinya, cepat ia

menegur.

“Saudara Ko, apakah engkau bersedia!”

“Tentu saja siaute bersedia!” jawab Ko Thay sambil mengangguk.

Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan

“Aku tahu, saat ini Hoa toako sedang repot dan banyak urusan, maka siaute pikir alangkah

baiknya kalau kugunakan kesempatan ini untuk berkunjung dahulu kelembah Cu-bu-kok, akan

kucari jenasah dari Ciu locianpwe dan menguburnya ditempat yang lebih layak, setelah kuangkat

beliau sebagai guruku, rasanya waktu itulah baru tepat bagiku untuk belajar silat

peninggalannya!”

Hoa Hujin lantas berpikir dihati, “Bocah ini memang tahu diri, tebal sekali rasa setia kawan dan

penghormatannya terhadap golongan tua, aku gembira sekali bisa memperoleh seorang rekan

seperti dia!”

Dengan cepat katanya, “Baiklah, kalau memang begitu kita tetapkan saja persoalan ini sampai

disini, sekarang menolong orang lebih penting, cepatlah pergi Seng ji….!”

Hoa Thian-hong tak berani membantah perintah tbunya, terpaksa dia berpamitan dengan orangorang

itu dan segera melanjutkan perjalanannya menuju keselatan.

Sementara itu, Hoa Thian-hong telah tinggalkan kota Lok yang dan berangkat menuju ke selatan,

ia tahu bahwa Pek Kun-gie pasti akan menantikan dirinya ditengah jalan.

Siapa tahu, dugaan itu ternyata meleset, sekalipun sudah melakukan perjalanan selama seharian

suntuk, bayangan si gadis cantik itu belum juga ditemukan.

Dalam keadaan begitu, dia merasa amat murung dan sedih seolah-olah seperti telah kehilangan

sesuatu, untungnya pikiran itu segera terampas untuk memikirkan keselamatan orang lain, maka

untuk sementara waktu Pek Kun-gie dapat dilupakan olehnya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

496

Terbayang akan Ku Ing-ing yang tertawan, tanpa sadar ia memba-yangkan pula kegenitan

perempuan itu, cinta kasihnya yang mendalam serta tingkah laku yang romantis, dengan

perasaan kesal dan murung, ia meneruskan perjalannya dengan cepat.

Jilid 25

TENGAH hari itu tibalah si anak muda itu didalam sebuah dusun, karena merasa lapar dia ambil

keputusan untuk beristirahat dan mengisi perut lebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanannya

lagi.

Dari kejauhan ia lihat ada sebuah warung dengan panji tulisan “Arak” berkibar terhembus angin,

dengan langkah lebar ia lantas menghampiri warung itu, maksudnya ia hendak minum arak

untuk meng-hilangkan segala kemurungan yang mencekam dirinya selama dua hari ini.

Ramai sekali warung arak itu apalagi letaknya ditepi sebuah jalan raya, bukan saja bangunannya

lebar dengan dua puluh meja lebih, daganganpun ramai sekali.

Terutama disaat tengah hari, banyak orang bersantap dalam warung itu sambil melepaskan

dahaga, maka hampir saja delapan bagian sudah penuh berisikan tamu.

Baru saja Hoa Thian-hong duduk disebuah meja kosong, seorang pelayan yang basah oleh

keringat telah datang menghampiri sambil menyapa.

“Siangkong, engkan hendak pesan apa?”

“Siapkan sepoci arak dan beberapa macam sayur!” jawab pemuda itu seenaknya.

Pelayan itu segera mengiakan dan berlalu.

***

SELANG SESAAT, pelayan telah muncul menghidangkan sepoci arak dan sepiring daging sapi

yang tampak lezat.

Dasar anak dusun yang sudah banyak tahun hidup diatas bukit dan siang malam hanya

memikirkan soal belajar silat, kemudian setelah terjun kedalam dunia persilatan harus terlibat

dalam masalah yang pelik, menyaksikan hidangan yaog lezat, kontan si anak muda itu

menyikatnya densan lahap.

Memang sudah lama ia terjun kedalam dunia persialatan, selama luntang lantung kesana kemari

tanpa tempat tinggal yang tetap, entah sudah berapa ribu kali masuk kerumah makan untuk

bersantp, tapi mi num arak seorang diri baru dialaminya sekarang untuk pertama kali.

Ketika pelayan arak itu mendengar bahwa tamunya hanya memesan beberapa macam sayur

yang sederhana, dikiranya pemuda ini bukan seorang yang biasa makan minun, oleh sebab itu

arak yang dihidangkan juga arak biasa yang terhitung dari kwalitet rendah.

Baru satu tegukan ia mencicipi, terasa arak itu amat keras bagaikan tusukkan jarum, bukan saja

susah ditelan bahkan rasanya juga sangat tak enak.

Tanpa terasa ia menghela napas berat, dalam benaknya terlintas pula kenangan dimasa silam.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

497

Dia masih ingat ketika untuk pertama kalinya minum arak dikota Cho ciu, waktu itu senja baru

menjelang tiba dan ia menghadiri pertemuan yang diadakan Giok Teng Hujin didalam kuil It goan

koan dari Thong-thian-kauw, ketika itu Giok Teng Hujin dengan dandanan yang agung sambil

membopong Soat-ji makhluk aneh itu duduk di kursi utama, sementara disampingnya didampingi

Cing siu cu dan Ngo ing cin jin dari Kuil It goan koan.

Pui Che-giok dayang Giok Teng Hujin yang cantik jelita bertugas melayani Hoa Thian-hong,

sementara kawanan gadis cantik yang lain mengiringi diseputar ruang perjamuan.

Waktu itulah untuk pertama kalinya dia dihormati orang sebagai tamu terhormat, untuk pertama

kalinya disanjung dan dipandang oleh seorang jago kenamaan.

Menyusul kemudian perjamuan yang diadakan Giok Teng Hujin dalam pesanggrahan nya ditepi

pantai, rumah yang putih dengan ruangan yang serba indah.

Dan terakhir ketika berada dalam kota Lok yang, didalam sebuah ruang loteng yang kecil mungil,

dengan pembaringan yang putih beralaskan kain seprei warna merah jambu, lilin merah dengan

ukiran naga dan burung hong, serta arak dewa mabuk yang menggairahkan api asmara.

Aaai, dia hanya senantiasa melepaskan budi kepadaku, melepaskan kebaikan kepadaku belum

pernah mengucapkan kata-kata yang tak sedap didengar, tak pernah menuntut sesuatu balas

jasa atas pertolongan yang pernah dilakukannya, dia memang seorang perempuan yang cantik,

hebat dan luar biasa.

Berpikir sampai disitu, tak kuasa lagi air mata jatuh bercu-curan membasahi pipinya.

Haruslah diketahui, bibit cinta yang bersemi didalam hati Hoa Thian-hong maupua Giok Teng

Hujin bermula dari suatu persahabatan yang erat akrab dan hangat, rasa persahabatan yang

begitu tebal dan mendalam sedikit demi sedikit terlanjur masuk kedalam hati Hoa Thian-hong

hingga akhirnya menjurus kesoal citta.

Bibit persahabatan diantara mereka berdua memang tampaknya tidak terlalu hangat, tidak terlalu

membekas dihati sanubari malahan terasa agak cabul dan melanggar kesusilaan, malahan boleh

dibilang bagaikan permainan anak-anak.

Pada hakekatnya hal itu disebabkan Giok Teng Hujin merasa umurnya terlalu tua hingga tidak

pantas mendampingi si anak muda itu, oleh sebab ia kuatir bukan kebaikan yang diperoleh

sebaliknya justru cemoohan atau hinaan, maka cinta kasih yang bersemi dalam hatinya hanya

disampaikan secara gurauan, sementara dalam hati kecilnya ia merasa sedih dan menahan

tetesan air mata.

Pada hakekatnya di masa lampau, Hoa Thian-hong sama sekali tidak merasakan akan hal itu, ia

tetap belum dapat meresapi limpahan cinta yang ditujukan Giok Teng Hujin kepadanya, ia selalu

menganggap perempuan itu lincah berwajah riang, romantis dan tidak bersungguh-sungguh

dalam menghadapi soal semacam apapun jua.

Tapi sekarang, secara tiba-tiba ia jadi paham, ia merasa bahwa penghianatan Giok Teng Hujin

terhadap perkumpulannya adalah akibat dia, akibat ia hendak menghalangi dirinya jangan

sampai menyerahkan pedang baja itu kepada orang lain.

Dan sekarang kitab kiam keng sudah berada dalam sakunya, ia semakin dapat meresapi

kebaikan dari Gok teng hujin itu, apalagi selelah terbayang akan ancaman siksaan In hwe lian

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

498

bun (api dingin melelehkan sukma) serta Ngo kiam hua si (lima pedang menyincang badan),

pemuda itu semakin merasakan betapa pedih dan tersiksanya perasaan hatinya.

Ditengah helaan napas panjang dan pelbagai pikiran yang berkecamuk dalam benaknya, tanpa

terasa sepoci arak telah berpindah kedalam perutnya.

Cepat dia angkat poci kosongnya seraya berseru, “Hey, pelayan! Ambillah satu poci lagi!”

Seorang pelayan segera maju menghampiri sambil berkata.

“Harap yaya tunggu sebentar, hamba segera akan siapkan satu poci arak lagi!”

Selang sesaat dia telah muncul kembali sambil membawa sepoci arak, dalam keadaan murung

karena memikirkan banyak persoalan si anak muda itu sama sekali tidak memikirksn apa

sebabnya pelayan itu jadi lebih rajin dari pada tadi.

Melihat arak telah dihidangkan, diapun segera penuhi cawannya dan meneguk isinya, hanya tibatiba

saja ia merasa arak yang dimi num jauh lebih harum dan sedap agaknya arak pilihan yang

telah puluhan tahun lamanya disimpan dalam gudang.

Dalam heran dan tercengangnya, tiba-tiba ia merasa suasana disekitar ruangan itu menjadi

hening dan serius, hanya disudut kiri saja masih kedengaran ada orang sedang berbicara.

Cepat dia alihkan sorot matanya ke arah mana berasalnya suara pembicaraan itu, ternyata

mereka hanya sekelompok pedagang belaka, sementara dari sisi mejanya duduk pula seorang

pemuda berdandan busu sedang melotot penuh kegusaran ke arah kaum pedagang tadi,

rupanya ia hendak mencegah orang-orang itu buka suara.

Agak tertegun Hoa Thian-hong menghadapi kejadian tersebut, dia alihkan kembali sorot matanya

ke arah lain.

Tampaklah seorang kakek berusia lima puluh tahunan duduk dikursi utama, enam orang yang

masih muda dengan pakaian ringkas dan masing-masing membawa sebuah bantalan panjang

yang tampaknya adalah senjata tajam berada diseputarnya.

Ketika kakek itu menyaksikan Hoa Thian-hong berpaling ke arahnya, cepat ia bangkit berdiri

seraya memberi hormat, ujarnya sambil tersenyum.

“Kongcu ya, baik-baikkah engkau?”

Cepat Hoa Thian-hong bangkit berdiri dan balas memberi hormat.

“Baik-baikkah engkau lo enghiong?” sahutnya.

Sapa menyapa sudah lazim terjadi diantara kawanan jago persilatan yang bertemu di suatu

tempat, misalnya warung makan atau rumah penginapan karena menganggap pihak lawan lebih

tua maka Hoa Thian-hong merasa sepantasnya. Kalau ia baru duduk setelah lawannya duduk.

Siapa tahu rupanya kakek itupun sedang menunggu sampai anak muda itu duduk lebih dahulu ia

baru duduk, untuk sesaat kedua orang itu sama-sama berdiri tertegun tanpa mengucapkan

sepatah kata pun.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

499

Melihat itu, kawan-kawan lainnya yang ada di seputar meja ikut bangkit berdiri untuk

menunjukkan sikap hormatnya.

Setelah menyaksikan kesemuanya itu, Hoa Thian-hong lantas berpikir dalam hatinya, “Orangorang

itu terlalu sungkan terhadap diriku, aku jadi tak enak rasanya….”

Maka dia maju menghampiri orang-orang itu seraya tegurnya dengan sekulum senyuman

menghiasi bibirnya, “Cayhe adalah Hoa Thian-hong, boleh aku tahu siapa nama besar dari Lo

enghiong?!”

Buru-buru kakek tua itupun melangkah keluar dari tempat duduknya.

“Ooh…. aku adalah Tio Ceng tang, sungguh beruntung aku bisa bertemu dengan Hoa hongcu,

pertemuan ni sangat menggembirakan hidupku”

Dari sikap serta gerak-gerik Tio Ceng tang yang gagah dan perkasa, siapapun akan tahu bahwa

dia bukan seorang manusia sem barangan, akan tetapi sikapnya yang begitu menghormat

terhadap Hoa Thian-hong membuat si anak muda itu merasa jadi riku.

Dalam keadaan pusing oleh persoalan yang sedang dihadapi, Hoa Thian-hong sebenarnya tidak

berminat untuk mengadakan hubungan lebih jauh dengan orang ini, akan tetapi iapun tak mau

kurang hormat sehingga mendatangkan kesan kurang baik bagi orang lain, maka dengan sikap

yang tetap menghormat kembali ia berkata, “Ooh…. rupanya Tio lo enghiong, sayur dan arak

ditempat ini sangat lezat, bila lo enghiong tidak terburu-buru melakukan perjalanan, bagaimana

kalau kita minum dulu satu dua cawan?”

Bagaikan orang yang kaget karena tiba-tiba mendapat lotre tujuh puluh lima juta rupiah, Tio

Ceng tang berdiri melongo untuk beberapa saat lamanya, kemudian dengan gelisah sahutnya,

“Daripada menolak, baiklah kuterima penghormatan ini, kongcu, silahkan duduk, silahkan duduk”

Setelah kedua orang itu anbil tempat duduk, pelayan menambah cawan dan sumpit.

Terdengar Tio Ceng tang berseru dengan cepat.

“Eíeb, pelayan…. siapkan lagi beberapa macam sayur, apabila ada arak yang paling baik, harap

siapkan sepoci lagi!”

Pelayan itu mengiakan berulang kali kemudian buru-buru menuju kedalam dapur.

Sementara itu dari logat suara Tio Ceng tang, pemuda kita dapat menangkap bahwa suaranya

membawa logat wilayah San see yang barat, maka iapun menegur, “Tio lo enghtoog, aku boleh

tahu darimana asalmu?”

“Aku juga berasal dari In tiong san!” sahut Tio Ceng tang dengan sekulum senyum kebanggaan

tersungging diujung bibirnya.

“Oooh…. rupanya kita berasal dari desa yang sama, maap maap….” kata Hoa Thian-hong sambil

memberi hormat lagi.

“Kongcu tak usah banyak adat, beberapa hari berselang aku dengar cerita dari para sahabat,

katanya Hoa kongcu sedang berangkat pulang ke desa dan bermalam di Lok yang, mengapa….”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

500

“Boanpwee telah bertamu dengan suatu kejadian yang ada diluar dugaan, ujar Hoa Thian-hong

dengan wajah sedih, maka aku harus berangkat menuju keselatan, apakah locianpwe juga

hendak pulang kedesa?”

“Bulan berselang aku baru saja berangkat dari desa, sekarang kami hendak menuju ke kota Cho

ciu. Haahh…. haah…. haah…. kongcu, janganlah bersikap sungkan-sungkan, sebutan locianpwe

tak berani kuterima….!”

Selang sesaat kemudian, pelayan telah menghidangkan sayur dan arak baru, sambil minum arak

dan bersantap Hoa Thian-hong mengajak tamunya berbicara kesana kemari

Semula dia bermaksud antuk mencari tahu kabar tentang orang-orang Kiu-im-kauw, tapi setelah

tahu bahwa dia asal utara mau kesela tan, maka niatnya itupun dibatalkan.

Setelah pembicaraan berlangsung sekian lama, tiba-tiba Tio Ceng tang meletakan kembali cawan

araknya keatas meja, lalu ujarnya dengan muka serius, “Kami orang-orang dusun telah

mendapat kabar yang mengatakan bahwa lo hujin telah kehilangan tenaga dalamnya sewaktu

melakukan pertarungan untuk menumpas kaum sesat, semua orang sangat menguatirkan

kesehatannya, bolehkah aku tahu bagaimana keadaannya sekarang?”

“Terima kasih atas perhatian locianpwa semua, Ibuku telah sehat kembali dan tenaga dalamnya

telah pulih kembali seperti sedia kala.

Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan lebih jauh, “Apakah locianpwe sekeluarga berada

dalam keadaan sehat walafiat juga?”

Sambil menjura Tio Ceng tang tertawa, jawabnya, “Berbicara terus terang, semenjak kecil aku

sendiripun telah luntang lantung dalam dunia persilatan, untungnya nasibku agak mu jur

sehingga berhasil mendirikan sebuah perusahaan ekspedisi Toa tong piau kiok dikota Cho-Ciu,

berkat bantuan dari sahabat sa habatlah usahaku dapat berlangsung agak lumayan.”

“Oohh rupanya Tio lo piau tai!”

Tio Ceng tang tertawa lebar.

“Setelah perusahaan itu berjalan beberapa tahun, sekalipun hanya berupa usaha kecil-kecilan

namun boleh dibilang aku berhasil mendapatkan banyak kemajuan dari situ. Siapa tahu setelah

terjadinya pertarungan berdarah dalam pertemuan Pek-beng-hwie kaum lurus banyak yang

dibunuh dan kaum sesat malahan mendapatkan kemenangan, kejadian itupun segera merubah

pula nasib kehidupan dari kami orang-orang kecil dalam dunia persilatan….”

“Apakah usaha ekspedisimu tak boleh melewati wilayah kekuasaan, malahan harus membayar

pajak yang mencekik leher kepada pihak perkumpulan….?” tanya Hoa Thian-hong dengan

sepasang alis matanya berkenyit

“Aiah, kalau cuma begitu sih urusan kecil” sahut Tio Ceng tang sambil tertawa, “justru yang

payah mereka main rampok dan main rampas dengan begitu saja, sejak kaum iblis memperoleh

kemenangan maka perusahaan Toa tong piau kiok ikut disita pula oleh orang-orang Hong-imhwie,

aku tahu bahwa kekuatanku sangat minim, kalau main ribut jelas bukan tandingan sebab

ibaratnya telur melawan batu, terpaksa selama banyak tahun kupendam terus rasa mangkel dan

dongkolku ini”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

501

“Siapa yang telah mengangkangi perusahaan Poa tong piau kiok mu itu?” tanya Hoa Thian-hong

dengan cepat, menurut apa yang kuketahui orang-orang Hong im bwe Kebanyakan sudah

mampus atau terluka ketika berlangsungnya pertemuan Kian Ciau tay hwe….”

Tio ceng tang goyangkan tangannya berulang kali, ia bertanya sambil tertawa, “Kongcu tak usah

gelisah, orang yang mengangkangi perusahaan Toa totg piau kiok itu bernama Hek Kun lun, dia

masih belum berhak untuk menghadiri pertemuan Kian ciau tay hwe”

Sesudah tertawa terbahak-bahak, sambungnya lebih jauh.

“Sejak pertarungan di lembah Cu-bu-kok kekuatan Hong-im-hwie telah runtuh dan mengalami

kehancuran, dalam keadaan demikian aku rasa hanya bajingan-bajingan cilik macam Hek Kun lun

yang berdiam di daerah pastilah sudah kabur terbirit-birit sambil memboyong keluarganya dan

sekarang akupun sudth tiba waktunya untuk menerima kembali warisan ku yang sudah lama

terbengkelai setelah belasan tahun hidup sebagai pemburu!”

Mendengar perkataan itu, tanpa terasa Hoa Thian-hong terbayang kembali akan perkumpulan

Sin-kie-pang dibawah pimpinan Kho Hong-bwee, mungkinkah pendekar perempuan itu berhasil

merubah moral anak buahnya, soal ini masih merupakan suata tanda tanya besar, selain itu Kiuim-

kauw telah menyusupkan pula pengaruhnya kedalam dunia persilatan, kalau dikatakan dunia

sudah aman, sebenarnya boleh dibilang ucapan ini terlalu pagi.

Walau begitu Hoa Thian-hong merasa tidak tega untuk mengatakan keluar, dia kuatir

mengurangi kegembiraan Tio Ceng tang.

Sementara itu Tio Ceng tang telah mengangkat cawan araknya seraya berkata dengan serius,

Hoa kongcu, bukannya aku sengaja menyanjung atau menjilat pantat, tahukah engkau berapa

banyak sahabat persilatan dan rakyat kecil yang merasa berterima kasih kepadamu? tak usah

kita jauh-jauh mencari perumpamaan, cukup ambilah kedai ini sebagai contoh, kalau tempo dulu

yang berkunjung kemaii kebanyakan adalah orang-orang perkumpulan, buka mulut lantas

memaki, gerak tangan lantai memukul orang, habis makan kalau senang membayar, kalau tak

senang lantas pergi dengan begitu saja, maka sekarang keadaannya telah berubah, manusiamanusia

semacam itu sudah tergeser dari percaturan dunia persilatan, usaha rakyat kecilpun

berjalan lagi dengan tertib tahu kah kongcu bahwa ketertiban dan keamanan ini semuanya

adalah pemberianmu….”

Merah jengah selembar wajah Hoa Thrao Hong, dengan cepat dia menukas, Membasmi kaum

durjana menolong kaum lenah adalah kewajiban setiap umat persilatan didunia, kemampuan apa

yang kumiliki sebagai seorang manusia yang masih muda dan berilmu cetek? Kalian tak usah

memuji diriku, aku tak lebih hanya menyumbangkan sedikit tenaga untuk membantu kaum tua

belaka….”

Pemuda itu kuaitir kalau di sanjung-sanjung lebih lanjut, cepat dia alihkan pokok pembicaraan

kesoal lain.

“Selama satu dua hari belakangan ini, apakah Lo piau tau pernah melihat orang-orang dari Kiuim-

kauw?”

Agak tertegun Tio Ceng tang setelah mendengar perkataan itu, sahutnya setelah termanggu

sesaat.

Aku memang pernah mendengar kalau Kiu-im-kauw yang sudah bubar telah bangkit kembali,

tapi selama ini belum pernah kutemui orang- orang dari pihak Kiu-im-kauw”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

502

Setelah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh, “Cuma selang pagi tadi aku telah berjumpa

dengan sekawanan manusia berbaju kuning yang dandanannya tosu bukan tosu, pendeta bukan

pendeta, kalau dugaanku tak salah mestinya mereka adalah orang-orang Mo-kauw dari luar

perbatasan”

“Kalau begitu mereka pastilah Tang Kwik-siu dan muridnya! pikir Hoa Thian-hong di hati.

Cepat ia bertanya, “Berapa orana yang telah lo piau tau temui? Mereka telah pergi ke arah

sebelah manoa?”

Mereka semua berjumlah lima orang, empat pria dan seorang wanita, arahnya kalau bukan

menuju kota Cho Ciu, pastilah menuju ke ke Ou kwang….!”

“Empat pria seorang wanita!” ulang Hoa Thian-hong dengan dahi berkerut kencang, “kalau

bukan menuju ke kota Cho Ciu? Pastilah menuju ke Oa kwang….?!”

Sambil meletakkan kembali cawan araknya keatas meja, Tio Ceng tang berkata lagi dengan

wajah serius, “Putraku pernah berjumpa dengan kongcu sewaktu ada dikota Cho-ciu, maka

tatkala kongcu masuk sedalam warung tadi, ia telah menerangkan kepadaku, sebenarnya ketika

itu juga akan kusampaikan berita ini kepada diri kongcu, akan tetapi berhubung….”

Betapa gelisahnya Hoa Thian-hong tatkala dilihatnya orang itu tidak langsung membicarakan

urusan yang serius, cepat dia menukas dengan hati gelisah.

“Seorang sahabatku telah terjatuh ketangan musuh besarnya, karena memikirkan keselamatannya

aku jadi sangat murung, harap lo piau tau jangan mentertawakan kehilafanku itu!”

“Ooh tidak, tidak boleh aku tahu sahabat kongcu itu seorang laki-laki ataukah….”

“Dia adalah seorang nona, sahabat karib dari istriku, menurut berita yang kuterima katanya ia

kena ditangkap orang-orang dari pihak Kiu-im-kauw!”

“Aaah! Kalau begitu kejadian ini aneh sekali!”

Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak anak muda itu, segera dia bertanya.

“Dimana letak keanehan itu? Apakah aku boleh tahu perempuan yang lo pia tau temui itu berapa

besar usianya dan bagaimanakah dandanannya….?”

Tanpa berpikir panjang Tio Ceng tang segera menjawab, “Dia adalah seorang nona yang cantik

jelita bak bidadari yang turun dari kahyangan, usianya belum mencapai dua puluh tahunan,

pakaian maupun dandanannya tidak berbeda jauh dengan keempat pria tersebut, diapun

mengenakan jubah kuning dengan sepatu terbuat dari kain, ikat pinggangnya berwarna kuning

pula”

Sesudah berhenti sebentar, sambangnya lebih jauh, “Bukannya aku sengaja mengibul atau

omong kosong, kecantikan nona itu benar-benar luar biasa, hampir saja aku tidak percaya kalau

dldunia ini ternyata terdapat seorang perempuan yang memiliki kecantikan wajah yang begitu

hebatnya”

Betapa terperanjatnya Hoa Thian-hong seteleh mendengar perkataan itu, dalam hati dia lantas

berpikir, “Aduuh…. jangan-jangan dia adalah Kun Gie?”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar