Senin, 05 Oktober 2009

bara 13

Liong bun siang sat sendiripun menduga bahwa Hoa Hujien masih bersembunyi di dalam gua,

tapi karena mereka tak tabu keadaan yang sebenarnya dari gua kuno itu, untuk beberapa waktu

kedua orang itu tak berani bertindak secara gegabah.

Setelah menunggu beberapa saat lamanya dan baik gua masih belum juga nampak adanya suatu

gejala, rasa was-was dalam hati dua bersaudara itu makin berkurang.

Malaikat kedua Sim Ciu segera membentak nyaring.

“Nenek bangkotan she Tio, kalau engkau menyembunyikan diri terus menerus seperti kura-kura

ketakutan, jangan salahkan kalau aku orang she Sim akan menyumpal delapan keturunanmu!”

Kedudukan serta nama besar Hoa Hujien di dalam dunia persilatan amat tinggi dan di hormati

semua orang, rupanya mereka segan untuk secara langsung mencari gara-gara dengan dirinya,

maka yang dicari adalah Tio Sam-koh.

Bisa dibayangkan betapa gusarnya Tio Sam-koh mendengar teriakan tersebut dengan cepat ia

gerakkan tubuhnya siap menerjang keluar dari gua itu, mendadak ia teringat bahwa Hoa Hujien

pada saat ini sedang mencapai keadaan yang paling kritis, ia takut jika keadaan bertambah seru

maka mereka terpaksa harus tinggalkan tempat itu, andai kata hawa murni sampai buyar, bukan

saja susah payahnya selama ini akan menemui kegagalan bahkan kemungkinan besar akan

mengalami jalan api menuju neraka.

Mengingat betapa besarnya akibat yang bakal ditimbulkan, terpaksa Tio Sam-koh menahan

amarahnya dan menghentikan gerakan tubuh yang sudah mencapai tepi gua itu.

Hoa Thian-hong mengetahui bahwa nenek itu berwatak berangasan, melihat ia berhasil

menguasai diri dalam hati kecilnya pemuda ini merasa amat berterima kasih, segera bisiknya,

“Sam po, bersabarlah sebentar! cepat atau lambat Seng ji pasti akan bereskan manusia-manusia

jahanam tersebut agar rasa dongkol sam po bisa terlampiaskan”

Bluuum….! tiba-tiba kabut warna hitam yang amat tebal itu seakan-akan terhantam oleh

segulung angin pukulan yang amat dahsyat dengan cepatnya menggulung ke dasar gua hingga

jaraknya dengan dasar gua dimana mereka berada dekat sekali.

Hoa In dengan cepat bertindak, dia lancarkan sebuah pukulan dengan ilmu Sau yang ceng ki

untuk memaksa kabut hitam itu meluncur kembali ke tempat semula.

Sementara itu Sim Ciu jadi semakin berani setelah dilihatnya angin pukulan yang dia lancarkan

sama sekali tidak menunjukkan perubahan apapun juga, katanya, “Mungkin saja mereka telah

berlalu dari tempat ini!”

Dengan langkah lebar ia berjalan maju ke depan hingga tiba di depan gumpalan asap warna

hitam itu, telapaknya diayun dan kembali dia lancarkan sebuah pukulan dahsyat kemuka.

Blaaam…. segulung angin pukulan yang amat dahsyat dengan cepatnya menerobos masuk

melewati kabut hitam dan langsung menerjang ke dalam gua.

Tapi dari balik gua sama sekali tidak memperlihatkan reaksi apapun juga, tanpa terasa Sim Ciu

mengerutkan dahinya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

541

“Loo toa!” ia berseru, “rupanya gua ini kosong tak berpenghuni, biar aku masuk ke dalam untuk

memeriksa keadaan disitu!”

“Tak usah diperiksa lagi,” tukas malaikat pertama Sim Kian dengan nada dingin, “sudah lama

kudengar bahwa kabut hitam itu segera akan terbakar bila terkena api, kita coba saja

melepaskan api kedalam”

Habis berkata dia mengempit tubuh Pek Soh Gi yang masih tertotok jalan darahnya dan

mengundurkan diri keluar gua.

Malaikat kedua Sim Ciu termenung sebentar, akhirnya dia mengundurkan diri sejauh dua tombak

lebih dari tempat semula lalu mengambil api untuk kemudian dilemparkan kedalam.

“Blamm…. ketika cahaya api bertemu dengan udara gas berwarna hitam itu terjadilah ledakan

keras yang disertai percikan cahaya api yang menerangi seluruh gua tersebut.

Hoa Thian-hong yang bersembunyi di dalam gua, segera merasakan sengatan hawa panas yang

luar biasa dahsyatnya, dalam keadaan demikian masing-masing orang segera melancarkan

sebuah pukulan ke arah depan.

Ilmu Sau yang ceng ki dari Hoa In merupakan kepandaian tenaga dalam yang sangat ampuh,

tenaga dalam Tio Sam-koh yang mencapai enam puluh tahun hasil latihan serta tenaga dalam

Hoa Thian-hong berkat kerja teratai racun empedu api bisa di bayangkan betapa mengerikannya

tenaga gabungan dari ketiga orang tokoh sakti terse but.

Baru saja cahaya api meletus di angkasa, angin pukulan yang amat dahsyat itu sudah menerjang

keluar membawa percikan api yang menyengat badan keluar dari mulut gua.

Malaikat kedua Sim Ciu amat terperanjat, dengan ketakutan ia loncat keluar dari gua tersebut.

Dalam waktu singkat cahaya api segera padam dan suasana disekeliling tempat itupun putih

kembali dalam kegelapan, bau gas yang amat tebal dan menusuk penciuman tersebar disekeliling

tempat itu.

Sepasang malaikat dari perguruan naga adalah gembong iblis yang berpengalaman luas, tentu

saja mereka pun tahu bahwa pancaran api yang muncul keluar gua adalah berkat hasil pukulan

dari Hoa Thian-hong sekalian yang bersembunyi dalam gua.

Sekarang dua orang bersaudara itu baru mengetahui bahwa di dalam gua masih terdapat sebuah

ruang lain yang aman, dan Tio Sam-koh sekalian menyembunyikan diri disitu.

Sepasang malaikat dari perguruan naga saling bertukar pandangan sekejap, sorot mata mereka

berdua sama-sama memancarkan sikap ke ragu-raguan.

Haruslah diketahui baik Tio Sam-koh mau pun Hoa In sama-sama merupakan jago lihay yang

berkepandaian tinggi, sekalipun sepasang malaikat dari perguruan naga merasa yakin dapat

menangkan mereka berdua, namun selisih kepandaian diantara mereka boleh dibilang tipis

sekali, kendatipun kemenangan masih berada dipihaknya, itupun harus diperjuangkan secara

mati-matian.

Andaikata Hoa Hujien benar-benar berada di dalam goa, dengan dua lawan tiga maka keadaan

mereka dua bersaudara akan runyam.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

542

Keadaan mereka pada saat ini boleh dibilang ibaratnya menunggang di atas punggung harimau,

mau turun tak berani mau tetap duduk disitupun sungkan…. sementara mereka masih berdiri

dengan wajah kebingungan, tiba-tiba dari jembatan seberang berkumandang datang suara

langkah manusia yang amat lirih.

Liong bun siang sat sama-sama tertegun dan segera berpaling ke belakang, tampaklah belasan

sosok bayangan manusia dengan kece patan bagaikan sambaran kilat sedang bergerak

mendekat.

Dalam waktu singkat seorang kekek berbadan tinggi kurus telah tiba lebih dahulu di tempat itu,

dia bukan lain adalah Jin Hian ketua dari perkumpulan Hong-im-hwie, di sampingnya mengikuti

seorang jago pula dan dia adalah salah seorang tulang punggung perkumpulan Hong-im-hwie

yang bukan lain adalah Yan-san It-koay.

Diam-diam Liong bun siang sat merasa kegirangan melihat kehadiran jago-jago lihay tersebut,

Sim Kian segera melemparkan tu buh Pek Soh Gi ke depan sambil serunya diiringi gelak tertawa

berat, “Sungguh kebetulan sekali kedatangan Cong Tang-kee di tempat ini, dialah putri sulung

dari Pek Siau-thian, coba periksalah benarkah dia adalah pembunuh yang telah membinasakan

Bong ji?”

Ketika tubuh gadis itu dilontarkan ke depan, jalan darahnya telah ditotok bebas, Jin Hian segera

menangkapnya dan membentak dengan wajah menyeringai seram, “Pasang obor!”

Dalam waktu sekejap, delapan orang pengawal golok emas yang dibawa serta oleh Jin Hian telah

memasang obor dan menggangkat tinggi-tinggi, suasana disekeliling gua kuno pun menjadi

terang benderangbagaikan berada disiang hari.

Dengan sorot mata yang tajam bagaikan sambaran kilat, Jin Hian menatap wajah Pek Soh-gie

tanpa berkedip, di dalam ketajaman matanya terpancar keluar cahaya seram yang menggidikan

hati, seakan-akan ia hendak menembusi isi hati gadis itu.

Pek Soh-gie tetap tenang dan air mukanya sedikitpun tidak beruba, mukanya yang cantik dengan

biji matanya yang bening dan jeli memandang wajah Jin Hian penuh kehalusan dan ketenangan,

begitu halus dan tenang keadaannya sehingga mengherankan semua orang yang hadir disitu.

Beberapa waktu kemudian, tangan Jin Hian yang mencengkeram bahu Pek Soh-gie nampak

gemetar keras, cahaya matanya yang bengis bagaikan iblis kian lama kian bertambah kalut dan

kacau tak karuan, mukanya berkerut kencang…. akhirnya dia menundukan kepala, menghela

napas dan berdiri termangu-mangu, lama sekali tak mengucapkan sepatah katapun jua.

Tiba-tiba terdengar Yan sat It koay berseru, “Pek Soh-gie masih gadis psrawan, sedang Bong ji

dengan pembunuh itu pernah melakukan hubungan badan…. aku rasa urusan ini agak sedikit

tidak beres….”

Walaupun Pek Soh-gie berwajah cantik jelita bagaikan bidadari yang baru turun dari kahyangan,

namun dandanannya sederhana dan biasa sekali, dari tubuhnya terpancar pula kehalusan budi

serta keramah tamahan yang begitu meyakinkan, membuat barang siapa pun yang melihat tentu

tak akan percaya kalau dia adalah seorang pembunuh.

Jin Hian berpengalaman luas dan berpandangan luas, tentu diapun mengetahui bahwa Pek Sohgie

masih perawan suci, atau dengan perkataan lain tak mungkin dia adalah pembunuh yang

membunuh putranya serta mencuri barang berharga.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

543

Dengan sepasang alis berkerut Sim kian segera berseru, “Aku lihat di dalam persoalan ini tentu

ada orang yang sengaja membolak balikkan duduk perkara….”

Tiba-tiba terdengar Pek Soh Gi berkata, “Apakah engkau adalah Jin locianpwee?”

Jin Hian melototkan matanya bulat-bulat, setelah menenangkan hatinya dia mengangguk.

“Sedikirpun tidak salah, akulah Jin Hian engkau ada perkataan apa yang hendak disampaikan?”

“Boanpwee belum pernah menyeberangi sungai Huang-ho menuju keutara, dan akupun belum

pernah membunuh orang….”

Jin Hian menggertak giginya kencang-kencang sehingga berbunyi gemerutukan, tiba-tiba ia

berpaling ke arah gua kuno itu sambil bentaknya keras-keras, “Hoa Thian-hong! Kalau engkau

tak menunjukkan diri lagi, janganlah salahkan kalau aku akan bertindak kasar kepadamu!”

Rupanya pikiran jago tua ini sedang kacau sekali, selesai mengucapkan kata-kata tersebut dia

segera ulapkan tangannya kepada seorang pengawal golok emas yang berada disisinya sambil

membentak.

“Lepaskan anak panah!”

Kiranya kawanan pengawal golok emas itu kecuali menyoren sebilah golok bergagang emas yang

besar, pada pinggang masing-masing menyandang pula gendewa serta anak panah yang

berujung bulat telur, sekilas memandang siapapun tahu kalau anak panah yang mereka siapkan

adalah panah-panah berapi.

Setelah mendapat perintah dari Jin Hian, buru-buru pengawal golok emas itu menyiapkan

gendewa dan mengambil anak panah, setelah membakar ujungnya panah tersebut segera

dibidikkan ke dalam gua, Sreeet….! Serentetan cahaya api dengan cepat meluncur masuk ke

dalam gua yang gelap itu.

Gelak tertawa berkumandang memecahkan kesunyian, sambil menjepit batang anak panah itu

dengan ketiga jari tangannya, perlahan-lahan Hoa Thian-hong munculkan diri dari dalam gua

diiringi Tio Sam-koh serta Hoa In dibelakangnya.

Pepatah mengatakan: Budha harus memakai emas dan manusia harus memakai pakaian,

kemarin baju yang dikenakan Hoa Thian-hong tidak komplit dan keadaannya mengenaskan

sekali, sebaliknya hari ini dengan pakaian yang baru serta pedang baja tersoren di atas

pinggang, keadaannya nampak begitu gagah dan mengagumkan.

Liong bun siang sat baru pertama kali ini bertemu dengan Hoa Thian-hong, menyaksikan

sikapnya yang gagah tanpa terasa mereka mendengus dingin.

Pek Soh Gi segera mementang matanya yang jeli ketika menyaksikan kemunculan Hoa Thianhong

dari dalam gua, dengan hati kejut bercampur girang serunya, “Oooh….! ternyata Hoa toako

benar-benar terlepas dari mara bahaya, ketika Ciu locianpwee mengatakan hal itu kepadaku, aku

masih tidak berani untuk mempercayainya!”

Hoa Thian-hong tertawa dengan wajah minta maaf, ujarnya, “Aku tak mampu menyelamatkan

jiwa nona, kalau diingat benar-benar menyesal sekali!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

544

“Hoa toako tak usah sungkan-sungkan”

Hoa Thian-hong segera memberi hormat kepada Jin Hian, lalu bertanya.

“Ketua Jin, kau memanggil diriku keluar entah ada urusan apa?”

Jin Hian tertawa seram.

“Heeeh…. heeeh…. heeeh…. harap Hoa Lo te suka menyampaikan kepada ibumu, katakanlah

kalau aku ada urusan hendak bertemu dengan dirinya”

“Ketua Jin sebagai pemimpin dari suatu perkumpulan besar, sudah sepantasnya kalau ibuku

menemui dirimu dengan segala kehormatan,” kata Hoa Thian-hong dengan wajah serius….

sayang sekali dia orang tua sedang berlatih suatu ilmu dan tak mungkin untuk keluar dari gua,

karena itu aku mohon ketua Jin bisa memakluminya dan boanpwee mewakili ibuku minta maaf

yang sebesar-besarnya”

Mendengar perkataan itu, Jin Hian segera berpikir di dalam hati, “Jadi kalau begitu, orang yang

bersembunyi di dalam gua benar-benar adalah bininya Hoa Goan Sin….!”

Berpikir sampai disini, sorot matanya segera menyapu sekejap ke arah Pek Soh Gi dan berkata

kembali, “Nasib aku orang she Jin memang benar-benar buruk, sudah begini tua harus

kehilangan satu-satunya putera tunggalku…. aaai! Sampai sekarangpun aku masih belum

mengetahui macam apakah pembunuhnya, apakah dia laki atau perempuan, cantik atau jelek….

kecuali Hoa loo te, tak ada orang lain yang, mengetahui lagi”

Hoa Thian-hong termenung dan membayangkan kembali keadaan pada saat terjadinya peristiwa

itu, kemudian ia menjawab, “Aku rasa pembunuh itu sudah mempunyai susunan rencana yang

amat masak, pergi datangnya bukan saja menutupi raut wajah dengan kain hitam bahkan diapun

minta kepada putramu untuk melarang semua orang melakukan pengintaian, dari sini memang

bisa ditarik kesimpulan bahwa cuma aku seorang yang pernah mengetahui raut wajah aslinya”

Ia berhenti sebentar, sesudah termenung, sambungnya lebih jauh, “Aaaai….! Meskipun aku

pernah bertemu dengan raut wajah sang pembunuh, tapi kalau dipikir lebih seksama maka aku

rasa belum tentu yang kusaksikan adalah raut wajahnya yang sebenarnya”

“Hmmm! apakah engkau punya mata tak berbiji?” sindir Sim Gui malaikat kedua dari Liong bun

siang sat dengan nada dingin.

Air muka Hoa Thian-hong berubah membesi, tegurnya, “Aku rasa engkau tentulah malaikat

kedua dari Liong-bun bukan? Huuh….! Sebagai seorang angkatan tua dari dunia persilatan, kalau

bicara mengapa tak tahu adat dan sopan santun? Munekinkah engkau tak pernah mendapat

pendidikan?”

“Hmmm! Kalau engkau menganggap aku tak tahu adat, panggil saja ibumu suruh dia yang

menuntut kepadaku….”

Hoa Thian-hong tertawa dingin.

“Engkau anggap aku tak mampu untuk menuntut dirimu?” ejeknya.

Baik Liong bun siang sat maupun Yan-san It-koay semuanya merupakan jago-jago lihay yang

mengerubuti Hoa Goan Sin ketika dilangsungkan pertemuan besar Pak beng Hwee, atau dengan

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

545

perkataan lain mereka adalah musuh besar pembunuh ayahnya dari Hoa Thian-hong.

Walaupun pemuda itu tetap memegang teguh pesan ibunya yang mengharuskan dia

mengesampingkan masalah pribadi lebih dahulu, akan tetapi setelah berjumpa dengan musuh

besarnya tak urung hawa kegusaran bergelora juga di dalam dadanya.

Malaikat kedua Sim Kian sebagai seorang jago yang amat lihay tentu saja tidak pandang sebelah

matapun terhadap diri Hoa Thian-hong, dengan sorot mata berkilat serunya sambil tertawa

seram.

“Bajingan cilik yang tak tahu diri, akan kutangkap dirimu lebih dahulu…. akan kulihat ibumu akan

unjukkan diri atau tidak?”

Sambil berkata ia menerjang maju ke depan, kelima jari tangannya bagaikan cakar garu dan

segera mencengkeram dadanya.

Hoa In yang berada dibelakang, pemuda ini segera mendengus dingin, sambil ayun telapaknya

melancarkan serangan ia segera menerjang maju ke depan.

“Hey, tua bangka! apakah engkau adalah Hoa In?” bentak Sim Ciu dengan alis berkerut.

Tubuhnya menerjang maju ke depan, dan diapun mengirim satu pukulan pula kemuka.

“Hmm! Kalau benar, ada apa?”

Sementara pembicaraan masih berlangsung kedua orang itu sudah saling membentur satu sama

lainnya untuk kemudian berpisah kembali, dalam benturan itu tubuh Sim Ciu terdesak mundur

kembali ke belakang, sedangkan Hoa In tetap menghadang dimulut gua, sepasang kakinya

terpantek di atas tanah dan sedikitpun tak bergeser.

Dalam pada itu, Jin Hian telah berpikir di dalam hati.

“Pek Soh Gi tidak mirip pembunuh yang melakukan pembunuhan berdarah tersebut, dan Bong ji

sudah pasti bukan mati ditangannya…. kalau tidak urusan tentu tak akan beres-beres….”

Berpikir sampai disini, kepada Yan-san It-koay serta Sim Kian segera ujarnya, “Aku harap lo koko

berdua suka membayangi diriku dari samping arena, aku hendak bertempur beberapa gebrakan

melawan Hoa loo-te tersebut”

“Cong Tang-kee, mengapa kau harus turun tangan sendiri?” seru Sim Kian dengan cepat….

biarlah aku orang she Sim yang mewakili dirimu!”

Habis berkata ia segera berjalan menuju kemulut gua.

Pada saat itu Hoa Thian-hong sekalian masih berdiri berjejer di depan mulut gua, meskipun

pertarungan antara Hoa In melawan Sim Ciu berlangsung dengan serunya, namun tak

seorangpun yang bersedia tinggalkan tempat kedudukan mereka, kalau ditinjau keadaan tersebut

jelas membuktikan bahwa beberapa orang itu hendak mempertahankan mulut gua itu matimatian

dan tidak memberi kesempatan pada musuhnya untuk masuk ke dalam gua.

Ketika menyaksikan Sim Kian berjalan menghampiri Hoa Thian-hong, tiba-tiba Tio Sam-koh

menyikut si anak muda itu sambil membentak keras, “Seng ji, mundur selangkah ke belakang!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

546

Luka yang diderita Hoa Thian-hong belum sembuh, ia tak berani secara gegabah menggunakan

tenaga murni, lagipula pemuda itupun menyadari bahwa kekuatannya masih belum mampu

menandingi Sim Kian, maka tanpa banyak bicara lagi ia mundur selangkah ke belakang dan

bersembunyi di belakang Hoa In serta Tio Sam-koh.

Sementara itu perempuan she Tio yang berangasan ini tidak menunggu Sim Kian turun tangan

lebih dahulu, ia segera putar sen jata toyanya dan disapu ke arah depan.

Permainan toyanya benar-benar dahsyat, ibarat harimau yang gila, desiran angin tajam

menderu-deru memenuhi angkasa, ujung toya de ngan cepatnya meluncur keuepan dan

menghantam dada Sim Kian.

Menyaksikan datangnya serangan yang begitu dahsyat, buru-buru orang she Sim itu meluncur ke

samping dengan ilmu Tay im sin jiau ia balas melancarkan sebuah serangan.

Dalam waktu singkat Liong bun siang sat, Tio Sam-koh serta Hoa In terlibat dalam dua

pertarungan yang amat seru, masing-masing pihak berusaha merebut posisi di atas angin dan

merobohkan musuhnya dengan cepat, angin pukulan menderu-deru bayangan telapak berlapislapis,

ilmu Tay im sin jiau dari Liong bun Siang sat menimbulkan desiran tajam yang memekikkan

telinga, masing-masing pihak mengeluarkan kepandaiannya yang terampuh untuk merobohkan

lawannya.

Hoa Thian-hong yang berdiri dimuka gua hanya terpaut tiga lima langkah dari keempat orang itu,

sementara pandangan matanya terasa kabur dan memusingkan kepala…. tiba-tiba terdengar

desiran angin tajam meluncur datang ke arahnya, tahu-tahu sebatang anak panah berapi telah

melurcur di depan mata….Anak panah berapi itu meluncur datang dengan kecepatan bagaikan

sambaran kilat, Hoa Thian-hong merasa amat terkejut dan buru-buru menyingkir setengah depa

ke samping, tangannya dengan cekatan berkelebat kemuka menangkap gagang panah tersebut.

Sreeet….! Sreeet….! desingan tajam kembali berkumandang memecahkan kesunyian, puluhan

batang anak panah berapi pada saat yang bersamaan meluncur datang, sekilas memandang

terlihatlah panah-panah itu bagaikan bintang api yang meletus di udara membuat sekeliling

tempat itu segera berubah jadi merah.

Hoa Thian-hong segera menggerakkan panah yang berada di dalam genggamannya untuk

memukul rontok anak panah berapi yang berhamburan bagaikan hujan gerimis itu.

Ketika ia menengok ke arah depan, tampaklah para pengawal golok emas telah menancapkan

obornya ke atas tanah, saat itu mereka semua sedang mementang gendewa dan membidikkan

anak panah ke arahnya.

Haruslah diketahui para pengawal golok emas itu adalah jago-jago lihay yang sempurna di dalam

hal tenaga dalam, dalam melepaskan bidikan anak panahnya itu mereka telah sertakan pula

hawa murni yang amat besar.

Hoa Thian-hong berjaga dimulut gua dan sama sekali tak berani bergeser dari tempat semula,

dengan sendirinya ia harus berusaha menyampok rontok setiap anak panah yang melurcur ke

arahnya, pekerjaan semacam ini boleh dikata payah dan banyak memakan tenaga.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

547

Jin Hian memberikan perintahnya dari samping, ketika menyaksikan semua panah yang dibidikan

ke arah gua berhasil dipukul rontok semua, tiba-tiba ia meminta gendewa itu dari seorang anak

buahnya dan langsung membidikkan sebatang anak panah ke arah si anak muda itu.

Sreeet….! cahaya api berkilat diiringi desiran angin tajam, kepala panah dengan cepat

menyambarnya lewat dari depan dada Hoa Thian-hong tidak lebih satu dua cun di atas

tubuhnya.

Si anak muda itu berseru kaget, panah di tangannya segera digetarkan kemuka dan sekuat

tenaga menangkis datangnya ancaman tersebut.

Kraaak….! di tengah benturan keras, dua batang anak panah itu segera tergetar patah jadi

puluhan bagian yang kecil dan berceceran di atas tanah.

Sreet! Sreet! di tengah berhamburannya hujan panah, Jin Hian kembali melepaskan pula dua

bidikan ke dalam gua.

Cukup didengar dari desiran angin yang jauh lebih tajam dari panah-panah lain, Hoa Thian-hong

mengetahui bahwa dua batang anak panah tersebut dibidikkan sendiri oleh Jin Hian, dalam

gugupnya ia segera menyambar dua batang panah musuh yang sedang meluncur datang dan

sekuat tenaga disambitkan ke arah panah-panah yang dilancarkan Jin Hian itu.

Traaang….! empat batang anak panah kembali patah jadi beberapa bagian yang kecil.

Tiba-tiba…. sreet! Sepasang panah berapi yang amat tajam meluncur datang melewati atas

kepala Hoa Thian-hong dan langsung meluncur masuk ke dalam gua….

Anak panah tersebut dibidik sendiri oleh Jin Hian, Hoa Thian-hong yang sedang ayun sepasang

telapaknya untuk menyampok datangnya hujan panah sama sekali tak mampu menghadang

datangnya desiian panah berapi yang sedang meluncur ke dalam gua itu.

“Blaaam….!” ledakan keras menggetarkan seluruh bumi, ketika hawa yang mengandung gas

racun itu bertemu dengan jilatan api, se ketika terciptalah serentetan cahaya api yang

menyelimuti seluruh angkasa.

Hoa Thian-hong terkejut bercampur gelisah, ketika ia sedang menguatirkan keselamatan dari

ibunya, tiba-tiba dari dalam gua berkumandang keluar suara dari Hoa Hujien yang dingin dan

berat, “Minggir semua!”

Hoa Hujien adalah orang yang paling dihormati oleh Tio Sam-koh, Hoa Thian-hong serta Hoa In

tentu saja tak usah dikatakan lagi, mendengar perkataan itu tanpa berpikir panjang lagi ketiga

orang itu segera tinggalkan musuh-musuhnya dan meloncat ke samping.

Blaaaam…. ledakan dahsyat bagaikan meletusnya gunung api menggeletar di angkasa,

hembusan udara panas yang bercampur dengan jilatan api segera meluncur keluar dari balik

gua.

Liong bun siang sat sendiri meskipun mendengar seruan dari Hoa Hujien, namun ia tak pernah

menyangka kalau dari balik gua bakal menyembur keluar cahaya api yang begitu panas dan

dahsyat, dalam kejutnya, sekuat tenaga ia loncat mundur ke belakang.

Untung kepandaian silat yang dimiliki kedua orang ini sangat lihay dan luar biasa sekali, hingga

badannya tidak sampai terjilat oleh hembusan api yang amat keras itu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

548

Dalam waktu singkat jilatan api yang berada di dalam gua itu sudah padam dan lenyap tak

berbekas, akan tetapi rumput serta ilalang yang tumbuh diluar gua segera terjilat api dan

terjadilah kebakaran besar.

Hoa Thian-hong serta Tio Sam-koh sekalian saling berpandangan dengan mulut melongo,

meskipun mereka tahu bahwa kebakaran yang terjadi di sekitar tempat itu akan mengakibatkan

kebakaran hutan yang hebat, tapi karena musuh tangguh ada di depan mata sementara angin

gunungpun berhembus kencang, maka sekalipun ada maksud memadamkan kebakaran itu sudah

tak bakal sempat lagi….

Liong bun siang sat sendiripun merasa terkejut bercampur curiga, dari pancaran api yang

memantul keluar gua diiringi desiran angin tajam, mereka tahu bahwa hal ini pastilah disebabkan

oleh dorongan tenaga pukulan seseorang yang amat keras, seandainya angin pukulan itu

dilancarkan oleh Hoa Hujien maka dapat dibayangkan sampai dimanakah kelihayan perempuan

itu, kendatipun Liong bun siang sat merasa yakin akan kemampuannya tak urung mereka merasa

bergidik juga.

Jin Hian jauh lebih terperanjat lagi, teringat akan keadaan nenek buta yang terhantam sampai

pingsan ketika nenek memasuki gua pagi tadi, diam-diam ia merasa bergidik dan rasa waswaspun

semakin dipertebal.

Tetapi bagaimanapun juga dia adalah seorang pemimpin dari suatu perkumpulan besar, sebelum

bertemu dengan Hoa Hujien dan mengetahui keadaan yang sebenarnya tentu saja ia tak mau

mundur dengan begitu saja.

Setelah berpikir sebentar, ia segera memberi hormat ke arah gua dan berkata dengan suara

lantang, “Jin Hian dari perkumpulan Hong-im-hwie sengaja datang berkunjung, Hoa Hujien….”

Hoa Thian-hong sendiripun merasa terkejut bercampur curiga, ia tak tahu dengan cara apakah

ibunya memaksa keluar jilatan api yang berkobar di dalam gua tersebut, dia ingin sekali masuk

ke dalam gua untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya, maka ketika Jin Hian mengucapkan

kata-kata itu, dia segera menukas, “Sekarang ibuku masih bertapa, jika ketua Jin Hian bertemu

harap tunggu sebentar, aku akan segera memberi laporan”

“Kalau begitu merepotkan,” ujar Jin Hian dingin.

Hoa Thian-hong segera masuk ke dalam gua, di tengah hembusan hawa gas yang menusuk

hidung buru-buru ia terjang masuk ke tempat ibunya bertapa.

Kabut hitam yang menyelimuti ruang gua membuat suasana bertambah gelap, sekalipun diluar

gua suasana terang benderang tapi keadaan digua tetap gelap gulita sehingga lima jari

sendiripun tak dapat dilihat.

Hoa Thian-hong segera jatuhkan diri berlutut disisi ibunya, lalu menegur dengan suara lirih.

“Ibu, bagaimana keadaanmu? tidak apa-apa bukan?”

Hoa Hujien geleng kepala.

“Aku sudah paksakan diri untuk menggunakan hawa murni, sekarang harus segera bersemedi

untuk memulihkan kembali tenagaku, kalau tidak maka aku akan mengalami jalan api menuju

neraka,” katanya serak.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

549

Setelah berhenti sebentar dia menengok sekejap keluar gua dan menyambung lebih jauh”

“Kebakaran telah melanda luar gua, hal itu akan memancing datangnya para jago dari

perkumpulan Sin-kie-pang serta Thong-thian-kauw, engkau berusahalah untuk mengulur waktu

beberapa jam lagi, aku rasa sampai tengah malam nanti keadaan ku akan tidak berbahaya lagi”

Hoa Thian HoDg mengiakan berulang kali, tiba-tiba ia temukan kabut putih mengepul keluar dari

atas ubun-ubun ibunya, keringat membasahi seluruh tubuhnya, cepat-cepat ia menyeka keringat

ibunya dengan ujung pakaian kemudian muncul kembali dari balik gua, Ketika dilihatnya Hoa

Thian-hong muncul kembali di mulut gua, dengan sepasang mata yang tajam Jin Hian menatap

wajahnya tanpa berkedip.

Secara tiba-tiba pemuda itu merasakan pandangan mata orang ini buas bagaikan srigala dan

sangat tak sedap dirasakan dalam hati, diapun segera menyadari bahwa Jin Hian adalah seorang

manusia yang sangat berbahaya dan licik sekali, ancaman terhadap dirinya sama sekali tidak

berada di bawah Thong-thian Kaucu .

Terdengar Jin Hian tertawa dan berkata.

“Hoa loo te, ibumu pasti masih mendendam kepada kami karena peristiwa di pertemuan Pak

Beng hwee tempo dulu, sehingga sekarang tidak bersedia menjumpai kami manusia-manusia

kasar dari dunia persilatan”

Dengan pandangan yang tajam Hoa Thian-hong melirik sekejap ke arah bukit karang di

sekelilingnya, ketika dilihatnya di bawah kobaran cahaya api tak nampak sesosok bayangan

manusiapun yang muncul disitu, dengan wajah serius segera ujarnya.

“Ketua Jin harap maklum, sebenarnya ibuku akan keluar dari gua untuk menyambut sendiri

kedatanganmu, tapi berhubung saat ini beliau sedang berlatih ilmu maka maafkanlah bila ibuku

tak bisa menemui kalian”

Bicara sampai disini ia segera memberi hormat dan melanjutkan, “Ibuku memerintahkan aku

untuk mewakili beliau menyambut kedatangan ketua Jin, harap ketua Jin suka masuk ke dalam

gua, tapi karena tempat kami terlalu sempit dan tak bisa menyambut pula saudara-saudara yang

lain, harap para enghiong lainnya suka memaafkan”

Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, Tio Sam-koh dan Hoa In segera berdiri tertegun.

Mereka tidak habis mengerti, sekarang Hoa Hujien toh sedang berlatih ilmu kenapa Jin Hian

dipersilahkan masuk kedalam? Karena kebingungan dan tak habis mengerti, maka sorot mata

yang tajam segera dialihkan ke arah si anak muda itu.

Hoa Thian-hong tetap berlagak pilon dan sama sekali tidak menggubris kedua orang rekannya,

malahan dengan tenang ia menantikan Jin Hian untuk masuk ke dalam gua, Kendatipun Jin Hian

adalah seorang jago kawakan yang banyak pengalaman, berada dalam keadaan begini diapun

jadi ragu-ragu dan tak tahu apa yang musti dilakukan.

Diam-diam ketua dari perkumpulan Hong-im-hwie ini segera berpikir.

“Perempuan itu tersohor karena kekerasan hatinya, ketegasan tindakannya serta tingkah lakunya

yang sukar diduga. Hmm! Hmm! ditinjau dari sikapnya siang hari tadi ketika dia memerintah

bangsat ini untuk membokong nenek buta, tindakan tersebut sudah melanggar semangat jantan

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

550

seorang pendekar ditambah pula ketika turun tangan membokong nenek buta yang merupakan

tindakan melanggar peraturan Bulim…. sekarang ia hendak gunakan akal licik untuk mencelakai

pula dirimu….Hmm….Hmm…. aku adalah manusia macam apa? tidak mungkin aku akan bersedia

masuk perangkapmu”

Berpikir sampai disini sirnalah niatnya untuk memasuki gua, tetapi karena dia sendirinya yang

bermaksud untuk menemui Hoa Hujien, bila tak berani masuk ke dalam gua tentu akan

dipandang remeh orang, maka dalam keadaan yang serba salah ia segera berpaling ke arah Yansan

It-koay serta Liong bun Siang sat.

Kedudukan ketiga orang itu dalam perkumpulan bagaikan seorang tiongloo dalam perguruan.

kedudukannya tinggi dan sangat terhormat melebihi jabatan Jin Hian sendiri.

Sekarang ketika dilihatnya Jin Hian berpaling ke arah mereka dengan maksud bertanya, sorot

mata dengan cepat saling bertukar pandangan cuma tiada sesuatu jalanpun yang berhasil

mereka dapatkan.

Malaikat kedua Sim Ciu adalah seorang yang jumawa dan bengis, melihat Jin Hian dibikin serba

salah dia jadi naik pitam dan kebuasannya menyelimuti seluruh wajah, dengan kepala diangkat

ke atas ia maju ke arah mulut gua dan serunya dengan dingin, “Sudah banyak manusia aneh dan

pendekar sakti yang kutemui, Hujien ini benar-benar tidak pandang sebetah matapun terhadap

kita semua”

Tio Sam-koh berjaga-jaga di depan Hoa In, melihat orang itu maju ke depan ia segera

mengetahui banwa pihak lawan ada maksud hendak masuk ke dalam gua, dengan gusar ia

lantas menatap wajah orang itu sementara suara tertawa dingin bergema tiada hentinya, bila

Sim Ciu berani berjalan makin dekat maka segera dia akan turun tangan.

Hoa Thian-hong sebenarnya sedang menjalankan siasat untuk menakut-nakuti musuhnya,

kendatipun Jin Hian berani menerima undangannya, dengan seorang diripun belum tentu ia

ijinkan musuhnya masuk kedalam, apa lagi setelah dilihatnya orang yang mendekati gua adalah

Sun Ciu, diam-diam hawa murninya dihimpun ke dalam telapak dan siap menghadapi segala

kemungkinan yang tidak diinginkan.

Siapa tahu Sim Ciu pun sedang berpikir di dalam hati, “Perempuan itu bersembunyi di dalam gua

entah permainan setan apakah yang sedang ia persiapkan? Nama besarku didapat dengan susah

payah dan harus berjuang selama setengah abad lamanya, buat apa aku musti menempuh mara

bahaya yang sama sekali tak ada gunanya itu? Bila bangsat cilik itu berhasil kutangkap,

bukankah tidak sukar untuk memaksa dia untuk mengaku….?”

Berpikir sampai disini, ia segera mendekati Hoa Thian-hong, tiba-tiba sambil tertawa seram

dengan ilmu Tay im sin jiau ia lancarkan sebuah cengkeraman kilat kemuka.

Hoa Thian-hong tertawa dingin, ia mengegos ke samping meloloskan diri dari cengkeraman Sim

Ciu, kemudian jari tangan kanannya dikeraskan bagaikan tombak dan balas menyerang ke

depan.

Inilah jurus ‘menyerang sampai mati’ dari ilmu tujuh kupasan dari Ci yu, bukan saja lihay dalam

serangan, hebat pula dalam tenaga.

Bagi kedua orang yang sama-sama mempunyai maksud tertentu, serangan yang dilancarkan

bagaikan guntur membelah bumi di siang hari bolong ini masih belum terasa seberapa lain

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

551

keadaannya dengan para penonton yang berada disisi arena, mereka jadi amat terperanjat

sehingga air mukanya berubah hebat.

Di tengah desingan suara tajam, Hoa Thian-hong serta Sim Ciu bersama-sama loncat mundur ke

belakang, kendatipun tidak sampai terluka, namun jantung mereka berdua sama-sama berdebar

keras karena emosi.

Dengan cepat Hoa In loncat ke depan Hoa Thian-hong sambil tegurnya dengan suara gelisah,

“Siau Koan-jin, kenapa kau?”

“Aku tidak apa-apa!”

Sambil berkata, empat buah mata bersama-sama melirik ke arah pinggangnya, di atas jubah

warna biru yane baru kini sudah bertambah dengan tiga buah bekas cakar tangan yang nyata.

Sedari tadi Hoa In sudah terkesiap sehingga keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh

tubuhnya, kini setelah rasa kagetnya agak berkurang dengan hawa amarahnya yang berkobar, ia

membentak keras, “Setan tua she Sim, kalau punya kepandaian ayoh adu kekuatan dengan

diriku akan kusuruh engkau rasakan sampai dimanakah kelihayan dari ilmu silat perkampungan

Liong soat Sanceng!”

“Huuuh….! engkau situa bangka bangkotan punya kepandaian apa?” ejek Sim Ciu dengan nada

menghina, berani benar engkau menantang diriku untuk bertarung, rupanya engkau sudah bosan

hidup?”

Hoa In mendengus dengan gusarnya, sepasang telapak diayun ke depan sementara tubuhnya

menerjang dengan hebatnya.

Diluaran Sim Ciu bicara dengan enteng dan seenaknya, padahal ia tak berani bertindak gegabah,

setelah mengenos dari serangan lawan tubuhnya berebut maju ke depan dan sekuat tenaga

mendahului musuhnya dengan satu sodokan maut, dalam waktu singkat terjadilah suatu

pertempuran yang amat seru, masing-masing pihak mengeluarkan segenap kemampuannya

untuk berusaha merobohkan lawannya secepat mungkin.

Setelah mengikuti jalannya pertarungan itu beberapa saat, Hoa In Hong mengetahui bahwa

pertarungan itu tak akan berakhir dalam satu dua ratus jurus, sinar matanya segera dialihkan ke

arah yang lain, ia lihat fajar telah menyingsing di ufuk sebelah Timur, segera pikirnya, “Ibu

memerintahkan aku untuk mengulur waktu, sekarang fajar sudah hampir menyingsing, semoga

saja dalam tiga jam terakhir jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan lagi”

Baru saja ingatan tersebut berkelebat lewat dalam benaknya, tiba-tiba dari tepi seberang muncul

kembali belasan sosok bayangan manusia yang mana dengan cepatnya berlari mendekat.

Dalam pada itu kobaran api telah membakar rumput ilalang yang lebat dan tingginya mencapai

sedada manusia, jilatan api yang amat besar menyebar keempat penjuru menimbulkan

kebakaran yang amat besar, sepanjang pandangan mata yang terlihat hanya tanah gersang yang

berwarna hitam karena hangus….

Dalam waktu singkat belaian orang yang munculkan diri itu sudah berada di depan mata,

ternyara mereka adalah para jago lihay perkumpulan Sin-kie-pang.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

552

Orang pertama yang memimpin rombongan para jago itu bukan lain adalah kunsu atau juru pikir

dari perkumpulan Sin-kie-pang yakni Cukat beracun yau sut, dibelakangnya mengikuti dua belas

orang jago yang semuanya terdiri dari para pelindung hukum perkumpulan.

Bsgitu tiba di tempat tujuan, dengan pandangan yang tajam Cukat beracun Yau Sut menyapu

sekejap suasana disekeliling arena tersebut, kemudian sorot matanya yang tajam dialihkan ke

atas tubuh Pek Soh-gie.

Begitu melihat hadirnya Yau Sut di tempat itu Hoa Thian-hong segera teringat kembali

pengalamannya sewaktu berada ditepi sungai Huang-ho tempo hari, orang inilah yang telah

menusuk tubuhnya dengan jarum pengunci sukma Soh hun sin ciam, dan ia pula yang memaksa

dirinya menelan teratai racun empedu api untuk melakukan bunuh diri. Tanpa terasa pikirnya di

dalam hati.

Keadaan dari manusia berhati racun ini masih juga seperti sediakala, sayang tubuhku masih

terluka…. kalau tidak aku ingin se kali memberi pelajaran kepadanya!”

Dalam pada itu, Cukat racun Sut telah memberi hormat dan menyapa sambil tertawa nyaring,

“Ketua Jin, baik-baik-baikah engkau? Sudah lama kita tak pernah berjumpa”

“Yau heng, selamat bertemu,” sahut Jin Hian sambil balas memberi hormat. Sinar mata Cukat

beracun Yau Sut menyapu sekejap wajah Yan-san It-koay serta Sim Kian, tapi ketika dilihatnya

kedua orang itu sama sekali tidak menggubris dirinya bahkan malah menonton jalannya

pertarungan antara Sim Ciu dengan Hoa In, maka diapun tidak menyapa kedua orang itu

sebaliknya alihkan kembali sorot matanya ke arah Hoa Thian-hong,

Sambil tertawa ia memberi hormat dan tegurnya.

“Hoa kongcu, sejak berpisah apakah engkau berada dalam keadaan baik-baik saja? Apakah

masih ingat dengan aku orang she Yau?”

“Aku tak berani melupakan dirimu!” jawab Hoa Thian-hong sambil tertawa hambar.

Air muka Cukat beracun Yau Sut segera berubah amat serius, tiba-tiba ujarnya, “Apakah nona ini

adalah nona Pek Soh Gi dari perkumpulan kami?”

“Sedikitpun tidak salah” sahut Pek Soh Gi sambil membentangkan biji matanya yang jeli,

“keponakan bukan lain adalah Pek Soh Gi, siapa paman? Apakah engkau adalah Cukat beracun?”

Melihat gadis itu mendadak membungkam, Cukat beracun Yau Sut segera tertawa nyaring.

“Benar, aku adalah Cukat beracun Yau Sut, sudah lama aku mengabdi pada pangcu dan nona Gi

dibesarkan oleh kami!”

“Oooh…. rupanya paman Yau, maaf kalau tit-li kurang hormat” sambil berkata Pek Soh Gi hendak

maju ke depan, tapi pergelangannya terasa mengencang ketika ia berpaling maka terlihatlah

orang yang mencekal pergelangannya bukan lain adalah Jin Hian.

Bentak-bentakan gusar berkumandang dari arah belakang, belasan orang jago yang berada di

belakang Yau Sut dengan amat gusarnya siap melakukan terjangan ke arah depan.

Cukat beracun Yau Sut sendiri tetap tenang, dia melintangkan tangannya menghadang anak

buahnya melakukan penyergapan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

553

Sejak ia tiba disitu situasi yang terbentang sudah terlihat olehnya, ia tahu Pek Soh Gi berada

tidak jauh dari Jin Hian, asal dirinya turun tangan maka pihak lawan pasti akan mendahului

dirinya, maka setelah menyaksikan pergelangan Pek Soh Gi sudah di cengkeram Jin Hian, ia

semakin tak berani turun tangan secara gegabah.

0000O0000

38

SETELAH termenung sebentar Yau Sut segera mengerling sekejap ke arah kakek baju hijau yang

berada disampingnya, kakek baju hijau itu mengangguk, dari sakunya dia ambil keluar sebuah

bom udara dan segera dilepaskan ke udara.

Sreet…. blaam! Serentetan cahaya merah membumbung tinggi ke angkasa dan meledak dengan

kerasnya, serentetan bintang berwarna emas dengan cepat memancar keluar dan membentuk

sebuah panji besar, perlahan kerlipan cahaya itu melayang ke bawah dan lama sekali baru

lenyap.

Dalam sekejap mata dari tempat kejauhan berdentuman pula beberapa puluh ledakan bunga api

yang berbentuk sama.

Sim Ciu yang sedang melakukan pertarungan tiba-tiba membentak keras, dia lancarkan dua

pukulan dahsyat menggetar mundur musuhnya, kemudian diapun meloncat mundur pula ke

belakang.

Hoa In tarik kembali serangannya dan segera menegur dengan suara dingin, “Setan tua she Sim,

menang kalah toh belum berhasil ditetapkan, kenapa kau mengundurkan diri di tengah jalan?”

Sim Ciu menyeringai seram, “Tua bangka bangkotan, hanya mengandalkan beberapa jurus silat

kasaranpun berani pentang bacot dihadapanku, suatu ketika akan suruh engkau merasakan

kelihaianku”

Sorot matanya dialihkan ke atas wajah Cukat beracun Yau Sut, kemudian menambahkan,

“Engkaukah juru pikir dari perkumpulan Sin-kie-pang yang disebut orang Cukat beracun Yau

Sut?”

Cukat beracun tersenyum.

“Mana nama…. aku memang bernama Yau Sut, kata beracun secara dipaksakan masih dapat

kupakai, kalau kata Cukat sih tak berani kugunakan”

Ketika Hoa Thian-hong melihat Sim Ciu melepaskan Hoa In dan mencari gara-gara dengan Yau

Sut, hatinya jidi amat girang, pikirnya, “Andaikata kedua kekuatan besar itu saling bentrok dan

bertempur sehingga waktu bisa terulur lebih lama lagi, ibu pasti akan berhasil melepaskan diri

dari mara bahaya”

Tiba-tiba terdengar suara Sim Ciu berseru sambil tertawa seram.

“Yau Sut, kami Liong bun siang sat akan bernama kosong jika tindakan kami kalah beracunnya

kalau dibandingkan dengan diri mu, aku ingin menjajal apakah engkau benar-benar beracun

tidak?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

554

Mendengar perkataan tersebut semua orang merasa tercengang, mereka tak tahu dengan cara

apakah Sim Ciu akau menjajal kepandaian Yau Sut, kecuali beberapa orang kepercayaan yang

merasa kuatir atas kejadian ini, semua orang diam-diam merasa girang sekali dengan terjadinya

peristiwa itu, sebab mereka ingin melihat Yau Sut dibikin malu.

Tapi Cukat beracun Yau Sut benar-benar lihay dan tidak malu menjabat kedudukan sebagai Kun

su, orang lain tak dapat menebak maksud hati Sim Ciu sebaliknya ia sudah dapat menduga apa

yang hendak dilakukan lawannya.

Tampak sepasang alisnya berkerut kencang dengan wajah murung serunya, “Engkaupun

merupakan seorang jago lihay yang amat tersohor di dalam dunia persilatan, kalau beraninya

hanya melukai angkatan muda apakah engkau tak takut akan ditertawakan oleh para enghiong

hoohan di kolong langit?”

Sim Ciu tertawa terbahak-bahak, dengan langkah lebar ia berjalan mendekati kesisi Pek Soh Gi,

kemudian sambil menempelkan telapaknya di atas punggung gadis itu, serunya sambil tertawa

seram.

“Yau Sut! aku perintahkan engkau untuk turun tangan membekuk batang leher bangsat cilik she

Hoa itu di dalam seratus jurus, andaikata perintah ini dapat kau penuhi maka aku akan bertukar

tawanan dengan dirimu, sebaliknya kalau engkau tak mampu, maka sekali bacok akan kubunuh

mati budak ini sehingga Pek loo ji akan bikin perhitungan dengan dirimu….”

“Sim Ciu!” bentak Hoa Thian-hong dengan alis berkerut, “aku orang she Hoa toh berada disini,

mengapa kau tak berani turun tangan sendiri?”

Tio Sam-koh takut suasana jadi bertambah kacau, mendengar ucapan tersebut dengan nada

dingin ia segera berseru, “Siapa yang akan turun tangan toh sama saja, apakah kalau Pek Siauthian

kematian putrinya maka engkau yang harus mengganti nyawanya?”

Hoa Thian-hong segera alihkan sorot matanya ke arah Pek Soh Gi, diam-diam ia menghela napas

dan berpikir, “Aaai…. nona itu berbudi luhur dan lemah lembut, tak tahunya bencana yang

menimpa dirinya ternyata beruntun…. ia benar-benar patut dikasihani….”

Walaupun berada dalam keadaan bahaya, sikap Pek Soh Gi masih tetap tenang sekali, air

matanya sama sekali tidak berubah, sesudah berpikir sebentar tiba-tiba ia bertanya, “Paman Yau,

sekarang ayahku berada dimana?”

Pada saat itu Cukat beracun Yau Sut sedang putar otak mencari akal untuk mengatasi persoalan

itu, mendengar pertanyaan tersebut segera menjawab, “Pangcu mendengar engkau sudah

terjerumus ke dalam kuil It-goan-koan, sekarang ia pergi mencari Thian Ik-cu untuk minta orang,

menurut Thian Ik-cu engkau sudah di culik oleh Ciu It-bong, maka setelah bertempur sebentar

kami berpisah untuk mencari diri mu….”

Karena kehabisan akal maka ia mengambil keputusan untuk mengulur waktu sambil menunggu

datangnya bala bantuan, maka setelah berhenti sebentar Cukat racun Yau Sut segera mendehem

ringan sambil berkata, “Untuk menghindari siasat licik dari Thian Ik-cu, sekarang pangcu sedang

melakukan pemeriksaan langsung ke dalam setiap too koan milik perkumpulan Thong-thiankauw,

sedangkan orang-orang dari pihak Thong-thian-kauw sedang mencari jejak dari Ciu Itbong,

sebenarnya Thian Ik-cu akan mengejar ke arah sini, tapi disebabkan mereka berhasil

menemukan jejak Ciu It-bong di tengah jalan, sekarang telah mengajar ke arah lain”

Mendengar perkataan itu Pek Soh-gie menghela napas panjang, gumamnya seorang diri.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

555

“Aaaai….! Untuk pertama kali keluar rumah, aku telah mendatang-kan banyak kerepotan bagi

semua orang sehingga membuat ayah jadi gelisah bercampur cemas, aku benar-benar seorang

anak yang tak berbakti!”

“Perubahan situasi dalam dunia persilatan bagaikan awan di tengah angkasa setiap perubahan

yang berlangsung sukar diramalkan sebelumnya, di dalam peristiwa ini engkau sama sekali tak

salah” sambung Cukat Racun dengan cepat.

Tiba-tiba terdengar malaikat kedua Sim Ciu menegur dengan suara dingin, “Yan Sut apakah

pembicaraan soal rumah tangga sudah selesai? Kalau engkau tidak turun tangan lagi, jangan

salahkan kalau tela pakku akan kudorong ke depan, waktu itu engkau tak usah menyesal yaa!”

“Kurang ajar orang ini, benar-benar memaksa aku untuk bertindak” pikir Yau Sut di dalam hati,

“dia anggap dari keluarga Hoa adalah seorang manusia yang gampang ditaklukkan? Hemm….

hemm…. kalau gampang sekali, akupun tidak nanti sudi menggunakan cara yang begini rendah

untuk mengulur waktu….”

Meskipun Cukat racun Yau Sut adalah seorang manusia cerdik dengan akal muslihat yang

banyak, namun saat itu dia dibikin kelabakan juga sehingga tak tahu apa yang musti dilakukan.

Dalam keadaan apa boleh buat terpaksa ia keluar dari barisan dan perlahan-lahan berjalan

menuju ke depan gua.

“Paman Yau!” tiba-tiba Pek Soh-gie berseru lantang, “jangan sekali-kali kau turun tangan secara

gegabah, ketahuilah Hoa toako adalah sahabat karib dari adik Kun-gie, keponakan bersedia

mengorbankan jiwaku dari pada musti menyusahkan Hoa toako!”

Jilid 28

HOA THIAN-HONG yang ikut mendengar perkataan tersebut dalam hati ia merasa geli atas

kepolosan dara muda itu di dalam berpikir, pertama belum tentu dia adalah sahabat karib dari

Pek Kun-gie dan kedua belum tentu Cukat racun Yau Sut mampu membekuk dirinya, ia

bermaksud untuk membantah ucapan tersebut akan tetapi ketika ucapannya hendak melontar

keluar dari bibirnya mendadak ia telah kembali.

Sementara itu Cukat racun Yau Sut telah berkata, “Keponakanku, engkau tak usah kuatir! Selama

paman masih berada disini, tak seoanng pun akan mampu membinasakan dirimu”

“Heeeeeh…. heeehh…. heeeehh…. Yau Sut, aku nasehati kepadamu lebih baik kurangilah

pembicaraan yang tak berguna,” sela malaikat kedua Sim Ciu sambil menyeringai seram,

“ketahuilah aku tak berputera ataupun berputri, selama hidup aku tak pernah menerima murid

dan lagi melakukan pekerjaan tak pernah memikirkan tentang akibatnya, jika engkau tidak turun

tangan lagi maka aku segera akan beradu kekuatan dengan dirimu, akan kulihat engkau lebih

‘beracun’ ataukah aku yang lebih ampuh?”

Cukat racun Yau Sut adalah seorang jago yang mempunyai kedudukan tinggi sekali dalam

perkumpulan Sin-kie-pang, kecuali pangcu sendiri dia adalah orang yang memegang kekuasaan

dalam perkumpulan itu, dihari-hari biasa, nama serta perkataannya disegani orang jangan

dibilang ia sudah menyadari bahwa untuk menangkap Hoa Thian-hong bukanlah suatu pekerjaan

yang gampang, berada dihadapan orang banyak diapun tak sudi dirinya diperintah oleh malaikat

kedua Sim Ciu sehingga di kemudian hari ditertawakan banyak orang.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

556

Akan tetapi keselamatan jiwa Pek Soh-gie telah berada di tangan lawan, semua kecerdikannya

telah diperas untuk mencari suatu jalan keluar yang paling baik untuk menolong puteri

pangcunya ini sayang usahanya selalu gagal, sebagai seorang Kun su dari perkumpulan Sin-kiepang

tentu saja ia tak dapat berpeluk tangan belaka, untuk beberapa saat lamanya ia jadi serba

salah dan tak tahu apa yang musti dilakukan pada saat ini.

Setelah termenung beberapa saat lamanya, bukan marah dia malah tertawa tergelak, tiba-tiba

ujarnya dengan suara tegas, “Sim Ciu, engkau berkelana di dalam dunia persilatan lebih dahulu

sedang aku orang she Yau punya nama belakangan, seandainya engkau masih mempunyai

kegagahan sebagai seorang pria, silahkan datang kemari dan bertanding secara jantan dengan

aku orang she Yau, tidak mungkin kutampik keinginanmu itu sekalian kita lihat umur siapa yang

lebih panjang diantara kita, bagaimana? Bersedia bukan?”

“Bagus sekali!” bentak Hoa Thian-hong pula sambil tertawa, “Cukat racun, memandang dalam

beberapa patah kata yang barusan kau ucapkan, perselisihan diantara kita dimasa lampau aku

sudahi sampai disini saja!”

Kemudian pemuda itu berpaling ke arah malaikat kedua Sim Cui dan sambungnya lebih jauh.

“Sim Ciu! asal engkau berhasil menangkap Cukat racun, meskipun aku punya luka dibadan tentu

akan kulayani dirimu untuk bergebrak sebanyak beberapa jurus, kalau engkau merasa punya

cukup kepandaian, silahkan sekalian tangkap aku orang she Hoa!”

Sebagai seorang pemuda yang jujur dan berwatak gagah, pemuda itu merasa muak sekali

menyaksikan perbuatan Sim Ciu yang rendah dan tak tahu malu itu sehingga karena pengaruh

emosi, meluncurlah kata-kata tersebut.

Bagi orang lain yang mendengar, ucapan itu tidak menimbulkan reaksi apa-apa, tetapi bagi Tío

Sam-koh serta Hoa In jadi kuatir se kali.

Perkataan seorang lelaki sejati berat laksana bukit, andaikata Sim Ciu benar-benar sanggup

mengalahkan Cukat Racun Yau Sut, maka dengan sendirinya Hoa Thian-hong harus tampil ke

depan untuk melayani tantangan dari Sim Cui, dengan dasar perjanjian yang dibuat lebih dahulu,

siapakah yang mampu untuk menghalang-halangi kejadian tersebut?

Malaikat kedua Sim Cui tak kuat menahan hasutan tersebut, ia segera bersiap-siap untuk

meloncat masuk ke dalam gelanggang serta melayani Cukat Racun, tetapi sebelum ia sempat

melangkah ke tengah gelanggang terdengarlah malaikat pertama Sim Kian dengan suara yang

dalam telah berseru, “Loo ji, julukan kita adalah sepasang malaikat, jangan kau layani hasutan

dari keparat cilik itu, lakukan saja apa yang kau ingin kaulakukan, jangan sekali-kali kau

termakan oleh jebakan bajingan itu.”

Mendengar teguran dari saudaranya, malaikat kedua Sim Cui segera berubah pendirian kembali,

ia tertawa aneh dan serunya kepada Cukat Racun Yau Sut.

“Cukat racun, ilmu silat kucing kaki tiga yang kau miliki itu sudah pernah kulihat ketika berada

dipertemuan besar Pak Reng hwe tempo hari, engkau tak usah kuatir! Setelah keparat cilik she

Hoa itu berhasil kau tangkap ataukah budak ingusan she Pek itu sudah keburu mampus, aku

pasti akan melayani dirimu untuk bergebrak sampai puas”

“Oooh….! rupanya ketika berada dalam pertemuan besar Pak Beng Hwee engkau sudah pernah

berjumpa dengan aku orang she Yau, aku masih mengira engkau benar-benar telah lupa,” ejek

Cukat racun dengan nada dingin.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

557

Berbicara sampai disini tiba-tiba ia berpaling dan ujarnya lagi, “Teng Loo huhoat, coba engkau

minta petunjuk beberapa jurus lebih dahulu dari Hoa kongcu!”

Semua orang tertegun mendengar perkataan itu, secara terang dan jelas malaikat kedua Sim Ciu

memerintahkan dia untuk bergebrak melawan Hoa Thian-hong, sebaliknya dia malah

memerintahkan seorang pelindung hukum untuk maju bertarung, bukankah tindakannya ini sama

sekali menyimpang dari maksud hati Sim Ciu yang sebenarnya?”

Terlihatlah seorang kakek berpakaian perlente meloncat maju ke tengah gelanggang, setelah

memberi hormat katanya, “Aku Teng Kong Li mohon petunjuk dari Hoa kongcu, harap kongcu

suka memenuhi harapanku ini!”

Sambil memegang toya bajanya Tio Sam-koh segera tampil keluar dari dalam gua, teriaknya

dengan gusar, “Engkau tak perlu berkaok-kaok, aku si nenek tua akan memberi petunjuk

kepadamu!”

Hawa amarah berkelebat dialas wajah Teng Kong Li namun tetap ia membungkam dalam seribu

bahasa, ketika serangan toya yang di lancarkan Tio Sam-koh telah menyapu datang, buru-buru

kakek tua itu meloncat mundur satu langkah ke belakang, dari balik bajunya dia ambil keluar

sebatang alat penotok jalan darah yang berwarna emas.

Setelah Tio Sam-koh melancarkan serangan gencarnya, terjadilah penarungan yang amat seru

antara dua orang jago lihay itu.

Mereka berdua yang menggunakan senjata berat dengan tenaga raksasa yang menimbulkan

deruan angin tajam, sedang pihak lain menggunakan senjata ringan khusus melancarkan totokan

dengan menggunakan peluang yang didapat, membuat suasana dalam pertarungan itu berubah

jadi tegang dan ramai sekali.

Tio Sam-koh adalah seorang jago lihay yang sudah tersohor dalam dunia persilatan sejak

puluhan tahun berselang, sebenarnya ia sama sekali tak pandang sebelah mata pun terhadap

seorang pelindung hukum yang tak bernama, dalam perkiraannya semula cukup beberapa

gebrakan saja dia akan berhasil memukul keok Teng Kong Li.

Siapa tahu pelindung hukum yang tak ternama dan kelihatannya lemah itu ternyata mempunyai

kepandaian silat yang ampuh, selama berlangsungnya pertempuran sengit ia dapat mengatur

pertahanan serta serangannya secara teratur serta jitu, sedikitpun tidak nampak bodoh.

Kebagusan jurus serangan serta kecepatan perubahan gerak yang dimiliki kedua orang ini samasama

dapat disebut sebagai ilmu silat luar biasa dalam dunia persilatan, belum lama pertarungan

berlangsung semua orang sudah tertarik untuk mengikuti jalannya pertarungan tersebut.

Tiba-tiba terdengar malaikat kedua Sim Ciu berseru kembali dengan suara lantang, “Manusia she

Yau, benarkah engkau tak akan menggubris perkataan yang kuucapkan?”

Cukat racun Yau Sut segera berpaling, kemudian jawabnya dengan nada dingin dan ketus,

“Engkau tak usah sombong, ini hari aku orang she Yau mengaku kalah di tanganmu….”

“Nah! begitulah sepantasnya,” tukas malaikat kedua Sim Ciu sambil tertawa bangga, “kalau

sudah mengaku kalah, maka sudah sepantasnya kalau engkau segera melaksanakan perintahku”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

558

“Oooh….! tentu saja akan kulaksanakan apa yang kau kehendaki itu,” jawab Cukat racun Yau Sut

sambil memperlihatkan satu senyuman aneh di atas wajahaya, “cuma Saja, kalau aku orang she

Yau membiarkan engkau hidup sampai melewati bulan tujuh tanggal limabelas dibukanya

pertemuan besar Kiani Ciau tay hwe, di kolong langit tak akan muncul seorang manusia yang

bernama Cukat racun lagi”

“Haaah…. haaah…. haaah…. tentu saja, tentu saja,” Malaikat kedua Sim Ciu tertawa seram,

“seandainya aku harus pulang ke alam baka, masa tidak kubawa serta dirimu?”

Cukat racan Yau Sut mendengus dingin, sinar matanya berputar dan segera memberi tanda

kepada seorang kakek bermuka kurus yang berada di samping tubuhnya.

Kakek bermuka kurus itu segera mencabut senjata kaitan racun berwarna kebiru-biruan yang

tersoren di atas punggungnya, kemudian sekali enjot badan ia menerjang ke arah Hoa In.

Menyaksikan datangnya terjangan itu, Hoa In teramat gusar, telapak tangan segera diayun ke

depan melancarkan sebuah pukulan dahsyat, sementara dimulut ia membentak, “Siau Koan-jin,

cepat mengundurkan diri kedalem gua!”

Rupanya Hoa Thian-hong sendiripun dapat merasakan gentingnya situasi yang sedang dihadapi

olehnya, ia tarik napas panjang lalu mengundurkan diri ke dalam gua, ketika ia berpaling kembali

maka tampaklah Hoa In serta kakek kurus bersenjata kaitan racun itu secepat kilat telah saling

bergebrak sebanyak dua jurus.

Setelah Tio Sam-koh serta Hoa In masing-masing menantang seorang lawan, meskipun kekuatan

mereka untuk menghadapi lawannya masih le bih dari cukup namun untuk meluangkan waktu

sudah tak mungkin lagi, sebab dua orang jago tua dari perkumpulan Sin-kie-pang bukan

termasuk manusia-manusia sembarangan, di dalam dua tiga gebrakan tak mungkin bagi Tio

Sam-koh berdua untuk merobohkannya.

Tercekatlah hati Hoa Thian-hong menyaksikan peristiwa tersebut, pikirnya di dalam hati, “Dalam

barisan jago-jago lihay kalangan lurus, Tio Sam-koh maupun Hoa In merupakan manusiamanusia

yang amat lihay dan disegani semua orang, tetapi dua orang pelindung hukum dari

perkumpulan Sin-kie-pang ternyata sudah mampu untuk membendung kekuatan mereka,

bukankah hal ini….”

Berpikir sampai disini ia tak berani melanjutkan kembali jalannya pikiran, sementara itu

bentakan-bentakan keras dari Tio Sam-koh serta Hoa In berkumandang tiada hentinya dari luar

gua, jelas kedua orang jago itu merasa malu untuk melakukan pertarungan selama ini tanpa

berhasil merobohkan lawannya.

Terlihatlah permainan toya dari Tio Sam-koh bagaikan gulungan ombak di tengah samudra,

permainan sepasang telapak Hoa In bagaikan angin puyuh dan hujan badai, dua orang itu

melancarkan serangan-serangan yang ampuh secara bertubi-tubi meneter musuhnya habishabisan.

Sebaliknya, permainan senjata petotok jalan darah dari Teng Kong Li serta kaitan racun dari

kakek kurus rupanya terdesak hebat sehingga harus diputar sedemikian lupa untuk

mengutamakan perlindungan atas keselamatan sendiri, dalam keadaan tersebut jelas dalam

umpat lima jurus pertarungan itu masih tetap belum bisa diakhiri.

Dalam kenyatan Hoa Thian-hong mana tahu kalau dua orang kakek tua yang sedang bertempur

saat ini adalah jago-jago lihay sisa dari pertemuan besar pak Beng hwee dimasa lampau, kedua

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

559

orang itu bukanlah manusia sembarangan yang tak bernama, cuma saja berhubung para jago

yang dikumpulkan perkumpulan Seng Kie Pang tak terhingga banyaknya maka nama-nama

mereka jadi tenggelam diantara para jago lainnya yang rata-rata lebih hebat ilmu silatnya dari

mereka berdua.

Tib-tiba terdengar Cukat racun Yau Sut berteriak lantang, “Hoa kongcu mumpung sekarang kita

tak ada urusan, bagaimana kalau kitapun beradu kepandaian untuk meluruskan otot?”

Mendengar tantangan terebut Hoa Thian-hong jadi terperanjat, dengan sorot matanya yang

tajam ia menyapu sekejap disekeliling tempat itu, rupanya kakek kurus yang bersenjata kaitan

racun itu berlaku cerdik, meskipun Tio Sam-koh serta Hoa In berada di depan gua, namun kakek

kurus itu mundur terus kebealkang memancingg Hoa In meninggalkan mulut gua, dengan begitu

terbukalah sebuah liang kosong.

Menggunakan kesempatan yang sangat baik ini, Cukat racun Yau Sut segera menerobos masuk

ke dalam gua dan berdiri saling berhadapan dengan Thian-hong, berada dalam keadaan begini

tentu saja tangannya tak dapat diabaikan dengan begitu saja.

“Bajingan yang tak tahu diri, lihat serangan!” bentak Tio Sam-koh dengan penuh kegusaran.

Weeess….! Sebuah serangan gencar dengan cepat dilancarkan ke arah juru pikir dari

perkumpulan Sin-kie-pang itu.

Sementara itu Hoa In pun takut Hoa Thian-hong melayani tantangan lawan, tubuhnya segera

berputar kembali ke belakang, tanpa mengucapkan sepatah kata pun sebuah pukulan keras

dilancarkan ke arah punggung Yau Sut.

Sejak Thian-hong terkena racun teratai yang tak dapat dipunahkan sehingga setiap hari harus

lari racun dan tak diketahui bagaimana akrabnya, Hoa In sudah amat membenci terhadap Cukat

racun yang dianggap sebagai biang keladi dalam peristiwa itu, serangan yang sepnitas lalu

kelihatannya enteng sekali dalam kenyataan telah diseratai dengan sepuluh bagian hawa murni

Sau yang Ceng ki, asal Yau Sut berani menangkis dengan jalan keras lawan keras maka tenaga

pukulan yang maha dahsyat itu bagaikan tanggul yang jebol segera akan menghantam tubuhnya

dengan luar biasa hebatnya.

Serangan telapak dan toya itu tiba pada sasaran hampir bersamaan waktunya, meskipun Cukat

racun Yau Sut sudah bikin persiapan sejak semula, tak urung hatinya di bikin terperanjat juga

oleh kedahsyatan mu-suhnya.

Sekuat tenaga ia enjotkan badannya meloncat mundur sejauh beberapa tombak dari tempat

semula, sementara Teng Kong Li serta kakek bermuka kurus itu tidak menanti sampai Tio Samkoh

serta Hoa In mengejar dari belakang, mereka segera menyerang kembali musuhmusuhnya

dengan gencar, Cukat racun Yau Sut menyadari apabila pertarungan ini diteruskan lebih jauh

maka dua orang anak buahnya pasti akan terluka di tangan musuh, diam-diam ia segera

mengulapkan tangannya ke belakang, dengan cepat muncul kembali dua orang jago lihay yang

segera menerjang ke arah Hoa In serta Tio Sam-koh.

Dalam sekejap mata Tio Sam-koh harus menghadapi dua orang musuh sekaligus, dengan cepat

pula situasi dalam gelanggang mengalami perubahan besar.

Terdengar Cukat racun Yau Sut telah berkata kembali, “Hoa kongcu, aku dengan ibumu telah

munculkan diri kembali dalam dunia persilatan, kenapa kau tidak undang keluar untuk berjumpa

dengan kami?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

560

Sambil berkata tubuhnya bergerak kembali mendekati mulut gua, hanya saja untuk menghindari

sergapan dari Tio Sam-koh atau Hoa In kali ini ia tak berani terlalu mendekati gua tersebut.

Hoa Thian-hong sepera tertawa dingin, pikirnya di dalam hati, “Dewasa ini jumlah lawan jauh

lebih banyak dari pada pihak kami, bila pertarungan dengan cara roda kereta ini dibiarkan

berlarut- larut, kendatipun Tio Sam po serta Hoa In tidak sampai menderita kalah, paling sedikit

mereka akan lelah dan kehabisan tenaga, selama ini Yan-san It-koay serta Liong bun siang kiat

tetap terdiam diri, dalam keadaan penat serta kehabisan tenaga darimana mungkin nenek Tio

serta Hoa In mampu untuk menghadapi serangan mereka?”

Berpikir sampai disini, ia tahu jika dirinya tidak segera tampil ke depan maka keadaannya akan

bertambah runyam, maka sambil melangkah maju ke depan, serunya dengan suara lantang,

“Aku harap saudara sekalian suka saling hentikan pertarungan, aku ada perkataan hendak

disampaikan kepada kalian semua”

“Pelindung hukum sekalian harap segera mengundurkan diri!” seru Yau Sut kemudian.

Empat orang jago dari perkumpulan Sin-kie-pang dengan cepat menghentikan pertarungannya

dan loncat mundur ke belakang, sedangkan Tio Sam-koh serta Hoa In pun terpaksa buyarkan

serangan dan berhenti bertarung.

Tio Sam-koh segera berpaling ke arah Hoa Thian-hong, dengan mata melotot nada gusar ia

menegur, “Perkataan apa yang hendak kau utarakan keluar?”

Hoa Thian-hong tersenyum.

“Ini hari jumlah musuh yang harus kita hadapi jauh lebin besar daripada kita, meskipun Sam poo

gagah dan hebat namun mampukah engkau hadapi musuh-musuh yang begitu banyaknya?

Boanpwee memang tak becus tapi aku tak tega untuk berpeluk tangan belaka, sebab cepat atau

lambat pertarungan tak bisa dihindarkan lagi, oleh karena itu ijinkanlah boanpwe untuk

bertempur pada babak pertama!”

Tio Sam-koh tertegun mendengar perkataan itu, lalu serunya, “Tapi…. badanmu menderita luka,

jika sampai kalah bukankah kekalahanmu itu sama sekali tak ada nilainya?”

“Aaah….! bagaimanapun toh pertarungan ini bukan adu kepandaian di atas panggung Lui thay,

ada orang mencari gara-gara masa aku tak boleh memberikan perlayanan sebagaimana

mestinya?” jawab Hoa Thian-hong sambil tertawa.

Habis berkata, dengan langkah lebar dia segera berjalan maju ke depan.

Hoa In tidak berusaha mencegah dengan menggunakan kata-kata, akan tetapi dengan ketat dia

mengikuti terus disisi majikan mu danya, kalau dilihat dari tampangnya, barang siapa berani

mengganggu Hoa Thian-hong maka pertama-tama harus berhadapan lebih dahulu dengan

dirinya.

Tiba-tiba si anak muda itu berpaling, dengan pura-pura gusar bentaknya keras-keras, “Ibu paling

benci kalau ada orang yang mengganggu dirinya, sana! berjagalah di depan gua dan tak usah

mencampuri urusan pribadiku lagi….”

Dengan amat jelas Hoa In mengetahui bahwa majikan mudanya masih bukan tandingan dari

Cukat racun Yau Sut, tentu saja ia tidak membiarkan si anak muda itu menghantar kematiannya,

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

561

sesudah tertegun beberapa saat lamanya, ia berseru, “Budak tua tak akan memperdulikan soal

apapun lagi, bagaimanapun juga….”

Ditinjau dari kesetiaannya, mungkin langit ambrukpun dia benar- benar tak mau mengurusinya

kecuali memperhatikan keselamatan dari majikan mudanya, akan tetapi ia tak berani membantah

ataupun memperingatkan dengan kata-kata, oleh sebab itulah ia segera mengambil keputusan

untuk berjaga-jaga di samping tubuh pemuda itu.

Sebenarnya susah bagi Hoa Thian-hong untuk menegur ataupun menyakiti hati pelayan tuanya

yang amat setia serta sangat mem perhatikan keselamatan jiwanya itu, tetapi dalam situasi

semacam itu tak mungkin baginya untuk bersikap ragu-ragu, sekalipun begitu setelah

mengucapkan kata-kata kasar tadi, timbul rasa tak tega dalam hati kecilnya.

Tiba-tiba dari dalam gua berkumandang keluar suara dari Hoa Hujien yang berat dan rendah,

“Hoa In segera mengundurkan diri, biarlah Seng ji beradu kekuatan dengan sahabat itu,

bilamana diapun benar-benar tak mampu mempertahankan diri lagi rasanya belum terlambat

bagimu untuk menolong dirinya!”

Meskipun ucapan tersebut diucapkan dengan suara dalam dan rendah, akan tetapi nyata, jelas

dia amat bertenaga. Bagi siapa pun yang pernah mengikuti pertemuan Pak Beng Hwee, suara itu

bukan nada yang terlalu asing bagi bagi mereka, dan bayangan atas seorang perempuan cantik

tegas dan keras dalam pendirianpun terlintas dalam be nak mereda.

Sorot mata semua orang yang hadir dalam arena dengan cepat dialihkan ke dalam gua yang

gelap gulita itu, air muka semua orang secara tiba-tiba saja berubah jadi amat serius.

Setelah hening beberapa saat lamanya, dari boalik gua tidak kedengaran suara pembicaraan lagi,

Hoa In tertegun akhirnya perlahan-lahan ia mundur beberapa langkah ke belakang.

“Hoa Hujien!” terdengar malaikat kedua Sim Ciu berteriak gusar dengan sepasang alis berkernyit,

“bagi setiap orang dalam dunia persilatan, siapa yang kuat di dalam pemimpin yang harus

dihormati setiap orang, kami bersaudara she Sim sudah hampir beberapa jam lamanya tiba di

tempat ini tapi Hujien tidak menegur ataupun menyapa, sedikitpun tidak mengindahkan tatacara

dalam dunia persilatan, apakah hal ini berarti bahwa ilmu silati yang dimiliki oleh dua bersaudara

she Sim masih belum mencapai taraf yang tinggi sehingga tidak pantas untuk berjumpa dengan

dirimu?”

“Hmm, yang kuat dialah pemimpin? pemimpin kentut anjing yang busuk….” maki Tio Sam-koh

dingin.

Tiba-tiba dari dalam gua berkumandang kembali suara dari Hoa Hujien, “Pendapat dari Sim kong

tak sejalan dengan pikiran aku Bun si, tetapi ada satu yang jelas yakin ilmu cakar Tay in sin jiau

yang kalian berdua miliki, sudah lama aku orang Bun si merasa sangat kagum”

Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan, “Sejak perpisahan di pertemuan besar Pek Beng

Hwe, dalam sekejap mata dua belas tahun sudah lewat, aku percaya ilmu silat yang kalian

berdua miliki sudah mendapat kemajuan yang amat pesat, jika engkau bermaksud untuk

memberi petunjuk, silahkan diperlihatkan dimulut gua, dari sini aku Bun si akan melayani!”

Malaikat kedua Sim Ciu mengerutkan dahinya, bibir bergetar seperti mau mengucapkan sesuatu,

tetapi malaikat pertama Sim Kian yang teringat kembali akan nasib nenek buta dimana baru saja

tubuhnya berada dimulut gua, segulung tenaga pukulan yang amat keras telah membanting

tubuhnya hingga jatuh tak sadarkan diri, buru-buru mengerdipkan matanya, lalu menjawab,

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

562

“Pertemuan besar Kian ciau Tay hwee yang akan diselenggarakan oleh pihak Thong-thian-kauw,

dalam waktu singkat segera akan berlangsung, pada waktu itu semua jago yang ada di kolong

langit boleh mendemonstrasikan keampuhannya disana. aku rasa kalau mau bertarung itulah

waktunya paling tepat karenanya pertarungan saat ini lebih baik diabaikan saja!”

Hoa Thian-hong tertawa, sambil memandang wajah Cukat racun Yau Sut dia pun berseru, “Kalau

semua pertarungan diabaikan, maka akupun akan gunakan kesempatan ini untuk

menyembunyikan kembali ilmu silatku”

Cukat racun Yau Sut tahu bahwa Hoa Thian-hong adalah kekasih hati dari Pek Kun-gie, sebelum

persoalan dibikin terang ia tak ingin turun tangan terhadap si anak muda itu, maka mendengar

ucapan tadi sorot matanya segera dialihkan kepada malaikat kedua Sim Ciu, ujarnya sambil

tertawa, “Sim kong, bagaimana dengan keputusan mengenai barter ini? dilanjutkan atau batal

sampai disini?”

Tiba-tiba terdengar Jin Hian tertawa dingin, lalu berseru, “Hoa loo te, membicarakan tentang asal

mulanya peristiwa maka persoalan ini kembali terjatuh di atas kepalamu”

“Aku bodoh dan tak dapat menangkap maksud dari ucapan Jien Tang-kee, apakah engkau

bersedia untuk menerangkan lebih lanjut?”

“Hmm! putraku mati di tangan Hoa loo te engkau tentu tahu bukan bahwa kematiannya tak akan

sia-sia belaka!” seru jin Hian dengan nada dingin menyeramkan.

“Ooo…. kiranya kau maksudkan tentang persoalan itu….” kata Hoa Thian-hong dengan alis mata

berkenyit.

Tidak menunggu pemuda itu menyelesaikan kata-katanya, kembali Jin Hian menukas, “Pada saat

peristiwa ini baru saja berlangsung, Hoa Loo te mengatakan bahwa raut wajah pembunuh itu

rada mirip dengan Pek Kun-gie dan sekarang setelah persoalan berlaut-larut samnai sekarang

ternyata Pek Kun-gie bukan pembunuhnya sedang Pek Soh-gie pun bukan pembunuh tersebut,

sekarang aku hendak menuntut kepada Hoa Loo te, apa alasanmu menuding menjangan

mengatakan kuda dan membolak balikkan duduknya persoalan sehingga menjadi tak karuan

seperti ini?”

“Pembunuh yang sebenarnya pasti Pui Che-giok” pikir Hoa Thian-hong di dalam hati, “sayang

sekali raut wajahnya tidak cocok dengan apa yang kukatakan, bagaimana aku bisa

menjawabnya?”

Tatkala dilihatnya pemuda itu membungkam dalam seribu buhasa, Jin Hian segera tertawa dingin

dan berkata kembali, “Hoa loo te, aku Jin Hian ingin mengajukan satu pertanyaan lagi

kepadamu, putraku pernah mengadukan hubungan kelamin dangan pembunuh tersebut, apakah

kesemuanya itu kau saksikan dengan mata kepala sen diri?”

Hoa Thian-hong sama sekali tak menduga kalau ia bakal diajukan pertanyaan seperti ini, uniuk

beberapa saat lamanya pemuda itu berdiri tertegun sementara dalam hati kecilnya ia berpikir,

“Oooh….! rupanya ia masih tetap menaruh curiga atas diri kakak beradik she Pek!”

Dalam hati ia berpikir demikian, diluaran ia menjawab, “Aku tidak sudi mengintip urusan pribadi

seseorang apalagi urusan yang mengenai permainan di atas ranjang, benarkah putera mu

pernah mengadakan hubungan badaniah dengan sang pembunuh, aku tidak menyaksikan

dengan kepala sendiri dan tak berani pula menegaskan secara meyakinkan, kalau Jien Tang-kee

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

563

ingin mengetahui keadaan yang sebenarnya, kenapa tidak kau tanyakan sendiri kepada pelayan

yang melayani puteramu itu? Aku rasa mereka jauh lebih tahu”

“Hmm! Hoa loote , bukankah engkau pernah berkata bahwa pembunuh itu telah memohon

kepada anakku untuk melarang semua orang bawahannya mengintip kedatangannya?” seru Jin

Hian dengan nada hambar.

Tio Sam-koh yang ikut mendengarkan pembicaraan itu jadi naik pitam, dengan cepat selanya,

“Sekalipun tak ada yang mengintip, diperiksa dari keadaan pembaringan masa tidak tahu?”

Jin Hian sama sekali tidak menggubris perkataan itu, kembali ia berkata dengan nada

menyeramkan, “Andaikata putraku tidak pernah melakukan hubungan badaniah dengan

pembunuhnya maka urusan ini akan lebih gampang untuk diselesaikan, Hoa Loo te, bagaimana

pendapatmu?”

Hoa Thian-hong tidak langsung menjawab, diam-diam ia berpikir kembali di dalam hati, “Kakak

beradik dari keluarga Pek adalah gadis-gadis perawan yang belum pernah dijamah kaum lelaki,

jelas dalam pembicaraannya itu dia hendak menimpakan semua dosa serta kesalahan ini kepada

dua orang gadis itu….”

Berpikir demikian, tanpa terasa ia menghela napas panjang dan berkata.

“Jien Tang-kee, harap engkau suka memakluminya. Tempo hari aku mengatakan bahwa raut

wajah sang pembunuh agak mirip dengan nona dari keluarga Pek, apa yang kukatakan sesuai

dengan apa yang kusaksikan tak sepatah katapun merupakan ucapan yang berbohong, dan

sekarang akupun berani bersumpah dihadapan Thian bahwasannya pembunuh yang

kumaksudkan itu bukanlah kakak beradik dari keluarga Pek….”

Tiba-tiba malaikat pertama Sim Kian berkata dengan nada yang menyeramkan, “Hmm! Kalau

mau menuduh seseorang tuduhlah orang itu, kalau tak mau menuduh orang lain tak usahlah kau

tuduh. Heeeh…. .heeehh…. heeehh…. menurut pendapatku, kemungkinan besar memang tiada

terdapat perempuan semacam itu, pembunuh yang sebenarnya bukan lain adalah kau Hoa

Thian-hong seorang!”

Sepasang mata Hoa Thian-hong kontan melotot bulat, dengan pandangan dingin ia melirik

sekejap ke arahnya, kemudian menjawab.

“Hmm! aku tahu bahwa persoalan yang paling menguatirkan hatimu tidak lain adalah Pedang

emas tersebut seandainya pembunuh tersebut adalah aku Hoa Thian-hong seorang, bukankah

engkau segera akan menun tut kembali pedang emas tersebut dari tanganku?”

“Haah…. haaah…. haaah….” malaikat pertama Sim Kian tertawa seram, “pada waktu itu aku

hendak menerima dirimu sebagai anak muridku….!”

“Aaai….! aku lihat persoalan ini harus ku ucapkan keluar secara jelas dan tanpa tedeng alingaling,

kalau tidak nona Pek Sok Gie pasti tak akan memperoleh ketenangan di dalam hidup

selanjutnya,” pikir Hoa Thian-hong di dalam hati.

Berpikir sampai disini, dengan wajah serius ia segera berkata kepada diri Jin Hian, “Terus terang

saja kukatakan bahwa pada saat itu dalam genggamanku telah berhasil menemukan penanda

yang cukup kuat, aku telah mengetahui siapakah pembunuh yang sebenarnya telah menghabisi

jiwa putramu, namun sayang sekali bukti yang kuat belum berhasil kudapatkan sehingga akupun

tidak ingin mengutarakannya keluar lebih dahulu. Jin longteee! aku harap engkau bersedia untuk

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

564

bersabar selama beberapa hari lagi, dalam pertemuau besar Kian ciau tay hwee aku pasti akan

berhasil membuktikan kepadamu siapakah pembunuh yang sebenarnya!”

Diam-diam Jin Hian mendengus dingin, batin-nya, “Keparat cilik, ergkeu anggap aku adalah

seorang manusia tolol? Berani benar engkau gunakan siasat kosong untuk mengulur waktu!”

“Hoa Thian-hong! terdengar malaikat kedua Sim Ciu menjerit dengan suaranya yang tinggi

melengking, benarkah engkau mengetahui siapakah sebenarnya pembunuh itu?”

“Kalau benar ada apa?” tanya Hoa Thian-hong dengan dahi berkerut dan alis mata berkenyit.

Malaikat kedua Sim Ciu tertawa.

“Kalau begitu engkau sudah mengetahui bukan pedang emas tersebut pada saat ini berada di

tangan siapa?” tanyanya

“Tentu saja aku tahu!”

“Coba kau katakan siapakah orang itu?”

“Sekalipun aku katakan keluar belum tentu kalian bersedia untuk mempercayainya,” jawab Hoa

Thian-hong dengan nada hambar, “pedang emas itu sekarang berada di tangan Thian Ik-cu,

percaya tidak?”

“Hmmm mengadu domba diantara sesama umat persilatan, engkau memang licik sekali”

“Hmmm bukan sejak tadi aku sudah berkata, kendatipun kuberitahukan kepadamu, belum tentu

engkau percaya. Nah seorang lihatlah bukankah ucapanku hanya sial belaka?”

Jin Hian tertawa seram, tiba-tiba ia berseru, “Kalau tidak sakit tidak gatal, siapa yang bersedia

mengaku secara terus terang?”

“Sedikitpun tidak salah” sambung malaikat kedua Sim Ciu, “Cukat racun, bagaimana kalau aku

mengajak engkau untuk membicarakan soal barter….? Kau tentu bersedia bukan?”

Sambil berkata, telapak tangannya kembali ditempelkan ke atas punggung Pek Soh-gie.

Cukat racun Yau Sut termasuk juga seorang jago kawakan yang punya banyak pengalaman di

dalam dunia persilatan, akan tetapi berada dihadapan siluman tua yang banyak akalnya ini dia

dihabiskan akal juga dibuatnya.

Andaikata Pek Soh-gie adalah putrinya sendiri, mungkin akan keraskan hati dengan tidak

memperdulikan perintahnya tetapi apa daya gadis tersebut adalah putri kesayangan dari

ketuanya, meskipun dalam hati kecilnya merasa tak senang hati, akan tetapi perasaan tak

senang itu tak berani diuta-rakan keluar.

Terdengar Pek Soh-gie berseru dengan suara lantang, “Paman Yau, tit-li mempunyai sepucuk

surat yang harus diserahkan kepada ayahku, apakah engkau bersedia menyampaikannya kepada

ayahku?”

“Tentu saja akan kusampaikan kepadanya,” jawab Cukat racun Yau Sut dengan cepat tetapi

engkau tak usah berpikir yang bukan-bukan lebih dahulu, putri dari ketua perkumpulan Sin-kiepang

tak akan begitu gampang menemui ajalnya!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

565

Sebenarnya Pek Soh-gie ada maksud untuk menyelesaikan kehidupan sendiri apabila keadaan

terlalu mendesak, sehingga tidak sampai mendatangkan banyak kesulitan dan kerepotan buat

orang lain, setelah rahasia hatinya ini berhasil ditebak secara jitu oleh Yau Sut tak dapat dicegah

lagi air mukanya berubah jadi merah padam saking jengahnya, untuk sesaat ia tak tahu apa yang

harus dilakukan olehnya.

Cukat racun Yau Sut sendiri rupa-rupanya juga telah menyadari bahwa pertarungannya pada hari

ini melawan Hoa Thian-hong tak dapat dihindari lagi, otaknya dengan cepat berputar dan ia

berhasil mendapatkan cara yang paling jitu untuk mengatasi masalah lersebut.

Perlahan-lahan ia berjalan maju ke depan, setelah memberi hormat ujarnya, “Hoa kongco,

pertarungan yang berlangsung pada hari ini sebenarnya terjadi karena keadaan yang

mendesak….”

“Engkau tak perlu sungkan-sungkan,” tukas Hoa Thian-hong sambil tertawa pula, “akupun tahu

bahwa keadaan yang memaksa kita harus bertempur!”

Sambil berkata pedang bajanya perlahan-lahan dicabut keluar dan dalam sarung, kemudian

bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan

“Silahkan!” seru Cukat racun Yau Sut dengan wajah serius.

Dalam sekejap mata suasana dalam arena berubah jadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit

suarapuo.

Pertarungan ini merupakan suatu pertarungan yang luar biasa, orang yang hendak bergebrak

yang satu merupakan jago Bulim yang sudah diketahui oleh setiap orang dalam dunia persilatan

sedangkan yang lain adalah seorang keturunan jago kenamaan yang belum lama terjun dalam

sungai telaga.

Para penonton yang berada disisi arena semua tahu bahwa Hoa Thian-hong masih bukan

tandingan dari Cukat racun Yau sut, tapi mereka tak tahu berapa banyak selisih kepandaian yang

mereka miliki, semua orang ingin lahu berapa gebrakan, yang sanggup diterima oleh Hoa Thianhong,

dan berapa jurus serangan yang dibutuhkan Yau Sut Cukat racun itu untuk merobohkan

lawannya.

Cukat racun Yau Sut tersohor karena kekejaman serta ketelengasannya yang melebihi ular

beracun atau binatang buas, dan semua orang dalam dunia persilatan mengetahui akan hal ini.

Sebaliknya Hoa Thian-hong merupakan tulang punggung dari kawanan pendekar golongan lurus,

pendekar muda yang disayang serta dikagumi olen kawan sealiran, golok tak bermata,

pertarungan tak mengenal belas kasihan, seandainya Hoa Thian-hong sampai musnah di tangan

Cukat racun Yau Sut niscaya peristiwa ini akan sangat menggemparkan seluruh kolong langit

terutama sekali dalam kalangan kaum lurus sendiri.

Sementara itu fajar telah menyingsing diufuk sebelah timur, sinar keemas-emasan memancar

keempat penjuru dan menyoroti mulut gua kuno tadi.

Kebakaran yang terjadi disekeliling gua tersebut belum padam, bahkan makin lama semakin

meluas keempat penjuru, sepintas memandang ke tempat kejauhan yang terlihat hanyalah tanah

hangus yang berwarna hitam, suasana benar-benar mengenaskan sekali.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

566

Tiba-tiba….”Weeess….!” desingan angin tajam menderu-deru di angkasa, dengan membawa

suara pekikan tajam pedang baja Hoa Thian-hong yang besar dan berat itu meluncur ke depan.

Menyaksikan betapa dahsyat datangnya bacokan itu, tentu saja Cukat racun Yau Sut tahu lihay,

dengan cepat badannya berkelit ke samping untuk meloloskan diri dari datangnya ancaman

tersebut, kemudian badannya laksana kilat menerjang maju ke depan, sebuah serangan balasan

ini dilancarkan dengan Kecepatan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata, tak sempat lagi bagi

Hoa Thian-hong merubah jurus ganti gerakan, tampaklah olehnya serangan itu meluncur seakanakan

kosong namun dalam kenyataan berisi serta terselip banyak perubahan yang tak terduga,

membuat seluruh jalan mundurnya sama sekali tersumbat.

Dalam keadaan terdesak dan gugup, Hoa Thian-hong segera menekan pergelangan tangannya

ke bawah, pedang baja disilangkan di depan dada sementara tubuhnya berputar kencang.

Dalam perkiraan Cukat racun Yau Sut semula, dalam satu jurus saja ia akan berhasil menguasai

keadaan, siapa tahu perbuatan Hoa Thian-hong sambil menyilangkan pedangnya itu

mengandung pertahanan yang sangat kuat, apabila ia tidak segera buyarkan serangan serta

menarik diri niscaya separuh bagian lengannya akan terbabat sampai kutung.

Dalam keadaan begini terpaksa ia rubah gerak telapaknya, sesudah berputar membentuk

gerakan setengah lingkaran ia ganti menyerang pinggang Hoa Thian-hong, sementara jari tangan

dan telunjuk tangan kirinya menotok jalan darah Jit kan hiat dibadan-nya.

Dua jurus serangan itu dilancarkan cepat, ganas dan lincah, membuat semua jago yang

menyaksikan jalannya pertarungan itu

diam-diam bersorak memuji, sorot mata Liong bun siang sat serta Yao San It koay pun

memancarkan cahaya tajam, setelah menyaksikan betapa sempurna dan ampunnya ilmu silat

yang dimiliki Yau Sut, perasaan memandang rendah lawannya seketika lenyap tak berbekas.

Hot Thian-hong segera angkat lengannya ke atas mengikuti gerakan tersebut, pedang bajanya

menyapu ke depan, hawa pedang memancar ke empat penjuru dan dalam sekejap mata telah

menyergap badan Yau Sut.

Diam-diam Cukat racun mengerutkan alis matanya melihat kemampuan musuhnya, terburu-buru

ia rubah jurus serangannya kembali, telapak dan jari melancarkan serangan secara berbarengan,

ia berusaha menyerobot posisi di atas angin.

Pertarungan ini benar-benar merupakan suatu pertempuran yang menarik hati, dalam sekejap

mata kedua orang jago itu sudah saling bertarung sebanyak dua puluh jurus lebih.

Setiap kali Hoa Thian-hong pasti berhasil meloloskan diri dari serangan lawan dengan suatu

gerakan pedang yang sederhana dan mudah, gerakannya menghindar dan balas menyerang

begitu leluasa permainan pedangnya itu memang khusus diciptakan untuk menahan jurus

serangan lawan, kejadian ini membuat para jaro disisi arena diam-diam merasa keheranan dan

tercengang.

Yan-san It-koay serta Liong bun Siang sat sekalian yang ilmu silatnya telah mencapai taraf

kesempurnaan, setelah menyaksikan jalannya pertarungan itu beberapa saat lamanya mereka

segera menemukan bahwa ilmu pedang yang dipergunakan pemuda itu sebetulnya cuma terdiri

dari enam belas jurus belaka, hal itu membuat hati mereka jauh lebih terperanjat dari pada

siapapun juga.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

567

Bapi Cukat racun Yan Sut baru pertama kali ini ia berjumpa dengan serangkaian ilmu pedang

sedemikian anehnya, semakin ber tempur hatinya merasa semakin terperanjat, makin bertarung

hatinya semakin berat, ia sama sebali tidak jeri terhadap keampuhan ilmu silat yang dimiliki Hoa

Thian-hong, tapi ia terperanjat oleh kesaktian serta kelihayan dari ilmu pedangnya itu.

Hoa Thian-hong sendiri diam-diampun merasa terkejut bercampur keheranan, enam belas jurus

ilmu pedang ini sudah dilatihnya selama sepuluh tahun lebih, sejak pedang bajanya ditahan oleh

Ciu It-bong, selama satu tahun lebih meskipun tiap hari dia menghapalkan kembali gerakan

pedang itu dalam benaknya namun tidak sekalipun pernah dipraktekkan.

Siapa tahu setelah dipergunakan olehnya pada saat itu, bukan saja gerakan pedangnya sama

sekali tidak kelihatan asing atau membingungkan, malahan sebaliknya bertambah hapal dan

matang keampuhan yang terpancar dari ujung pedang semakin mantap dari pada keadaan

dahulu.

Dahulu setiap kali ia mempergunakan ilmu pedang tersebut, sering kali terasa olehnya seakanakan

bahunya sedang memikul suatu beban yang amat berat sekali, tetapi sekarang sesudah

racun teratai empedu api membaur dengan tenaga dalamnya, bukan saja pedang yang berat

terasa enteng dalam penggunaan yang lebih aneh lagi ketika ia mainkan pedang itu dengan

enteng dan perlahan karena kuatir mulut luka di atas dadanya merekah kembali, ternyata hasil

yang diperoleh luar biasa sekali, makin enteng dan perlahan ia gunakan pedang tersebut, tenaga

murni yang terpancar keluar lewat ujung pedangnya semakin lancar dan luar biasa.

Dalam waktu singkat, kedua orang itu sudah bertarung sebanyak limapuluh jurus lebih, Hoa

Thian-hong semakin memahami rahasia serta inti dari gerakan ilmu pedangnya, makin bertempur

ia semakin bersema-ngat, semakin bergebrak ia semakin menghemat dalam penggunaan tenaga.

Akan tetapi Cukat racun Yau Sut juga bukan seorang manusia sembarangan, meskipun ilmu

pedang lawan sangat ampuh akan tetapi keyakinan dalam ilmu silatnya jauh lebih unggul

daripada si anak muda itu, sete-lah lima puluh jurus lewat diapun berhasil menguasai seluruh

keadaan.

Permainan ilmu telapaknya tiba-tiba berubah, ia mulai melancarkan serangan secara bertubi-tubi,

jurus satu dengan jurus berikutnya di lancarkan makin dahsyat, hal ini memaksa daya serangan

yang terpancar keluar dari ujung pedang Hoa Thian-hong seketika terdesak balik.

Pedang baja Hoa Thian-hong dilancarkan secara bertubi-tubi, sekuat tenaga ia berusaha untuk

memulihkan kembali posisinya yang terdesak, akan tetapi ilmu silat yang dimiliki Cukat racun Yau

Sut beberapa kali lipat jauh lebih tinggi beberapa kali lipat, setelah saling bertahan beberapa saat

lamanya, siapa yang tangguh dan siapa yang lemahpun segeia terlihat di depan mata.

Tiba-tiba terdengar Cukat racun Yau Sut membentak keras, sepasang telapaknya beterbangan di

angkasa, silih berganti ia lancarkan pukulan mematikan yang memaksa Hoa Thian-hong tak

mampu mempertahan-kan diri serta mundur ke belakang berulang kali.

Melihat dirinya didesak hebat, hawa amarah berkobar di dalam benak Hoa Thian-hong pikirnya

dalam hati, “Ibu sedang berlatih ilmu di dalam gua, sedangkan aku bertugas mempertahankan

pintu masuk ke dalam gua ini, berarti pula kesela matan jiwa ibuku berada ditanganku, kalau aku

begini tak becus, bagaimana tanggung jawabku terhadap ibu nantinya?”

Begitu ingatan tersebut berkelebat di dalam benaknya, semangat bertempur segera berkobar di

dalam benaknya, pedang baja diayunkan berulang kali, dalam waktu singkat tiga tusukan kilat

telah dilepaskan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

568

Meskipun tiga rangkaian serangan berantai itu dilancarkan dalam waktu yang amat singkat akan

tetapi daya serangannya amat hebat bagaikan tanggul yang jebol, buru-buru Cukat racun Yau

Sut ayunkan telapaknya berulang kali untuk memunahkah serangan tersebut, begitu berat daya

tekanan yang datang menggulung membuat dia seakan-akan baru saja melakukan perjalanan

jauh.

Sreeet….!sreeet….!sreeeet….! tiga buah serangan balasan dilancarkan dengan cepat telah

membendung pula serangan gencar dari Cukat racun Yau Sut.

Diam-diam juru pikir dari perkumpulan Sin-kie-pang ini merasa amat gusar, dia mendengus

dingin dan tubuhnya tiba-tiba menerjang maju ke depan, telapak kiri melancarkan serangan

dengan menyapu sedangkan telapak kanan menyerang dengan tonjokan, dengan jurus Thian

kang Pat to atau bintang langit cahaya diutara, ia menyerang kemuka.

jurus serangan tersebut merupakan suatu serangan yang aneh dan jarang ditemui di kolong

langit, menyaksikan datangnya serangan dari pihak lawan itu Hoa Thian-hong merasa gugup dan

terkesiap, ia merasa seakan-akan semua jalan mundurnya telah tersumbat oleh pukulan lawan.

Para jago yang menonton jalannya pertarungan dari sisi arenapun nampak berubah air mukanya

setelah melihat gerakan ilmu telapak itu, Tio Sam-koh serta Hoa In paling terperanjat diantara

beberapa orang itu, mereka bersama-sama menunjukkan gerakan hendak menerjang ke depan.

Hoa Thian-hong sebagai keturunan seorang jago kenamaan tentu saja tak mau menyerah

dengan begitu saja, tiba-tiba ia mengepos tenaga lalu membentak keras, sekuat tenaga ia

lancarkan sebuah bacokan ke arah tubuh lawan.

Daya serangan yang terpancar keluar dari bacokan itu amat dahsyat bagaikan meretaknya bumi

terkena gempa bumi, hawa pedang memancar keempat penjuru diantara berdesingnya pedang

baja menembusi angkasa terselip suara getaran lembut yang amat lirih, meskipun lirih namun

mengandung daya kekuatan yang menggetarkan hati.

Cukat racun Yau Sut merasa terkejut bercampur gusar, melihat sepasang telapaknya hampir

menghajar tubuh lawan akan tetapi pedang baja lawanpun akan segera melukai tubuhnya

terpaksa ia berganti jurus dan mencari jalan lain untuk menguasai musuhnya.

Kehebatan Hoa Thian-hong segera terpancar keluar keempat penjuru, secara beruntun ia

lancarkan empat buah babatan dahsyat, tiba-tiba mulut luka di atas dadanya terasa amat sakit

dan kedua kakinyapun ikut jadi kaku bercampur linu,

Sadarlah si anak muda itu bahwa mulut lukanya pecah kembali, diikuti diapun merasa darah

segar bagaikan air marcur mengalir ke luar dengan amat derasnya.

Teringat akan darah, tiba-tiba semangat pemuda itu berkobar kembali, dia membentak keras,

seluruh tenaga dalamnya disalurkan ke luar dan secara tiba-tiba sebuah bacokan pedang

dilepaskan ke arah depan.

Dari keganasan serta kehebatan datangnya bacokan lawan, Cukat racun Yau Sut merasa tak

mampu untuk menandinginya, dengan cepat badannya berputar kencang, sebuah totokan segera

dilepaskan menyergap belakang punggung Hoa Thian-hong.

Pertempuran itu benar-benar merupakan suatu pertarungan sengit yang menentukan antara mati

hidup, ilmu silat yang dimiliki Yau Sut beraneka ragam dengan jurus yang aneh sebaliknya Hoa

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

569

Thian-hong hanya mengerti enam belas jurns ilmu pedang yang biasa dan sederhana dalam

menggunakan, walaupun begitu pertarungan tetap berjalan seru dan di dalam sepuluh jurus,

menang kalah masih belum dapat ditentukan.

Sementara itu darah segar telah mengucur keluar membasahi seluruh pakaiannya, mulut luka

terasa panas, linu dan sakitnya bu kan kepalang, sambil menggertak gigi menahan rasa sakit Hoa

Thian-hong masih tetap berusaha mempertahankan diri, sekalipun begitu rasa sakit terpancar

juga dari atas wajahnya.

00000O00000

39

KEADAAN seperti ini tentu saja tak dapat mengelabuhi pandangan mata beberapa orang tokoh

persilatan yang sedang menonton jalannya pertarungan dari sisi arena, Hoa In paling gelisah dan

kuatir dan dialah yang pertama-tama menyadari keadaan majikan mudanya yang terdesak hebat

itu.

Teng Kong Li serta kakek bermuka kurus adalah komplotan yang setia dengan Cukat racun Yau

Sut, melihat Hoa In menerjang masuk ke dalam gelanggang kedua orang itu segera membentak

gusar dan terjun ke dalam kalangan untuk menghalang-halangi niat lawan.

“Blaaaam….!” sebuah pukulan yang amat dahsyat dari Hoa In menghajar tubuh Teng Kong Li

serta kakek bermuka kurus sehingga isi perutnya goncang dan kepalanya pusing tujuh keliling,

tubuh mereka tergetar mundur sampai beberapa tombak jauhnya dari tempat

semula….Sepasang mata Hoa In telah berubah jadi merah darah, sepasang telapaknya diayun

berulang kali, bagaikan seekor harimau gila dia menerkam ke arah tubuh Cukat racun Yau Sut.

Semua peristiwa itu berlangsung dalam sekejap mata, anak buah dari perkumpulan Sin-kie-pang

bersama-sama membentak keras dan terjun ke dalam gelanggang.

Tio Sam-koh segera putar toya bajanya menyongsong datangnya serbuan itu, dalam waktu

singkat suasana jadi kacau balau, pertarungan secara massalpun segera berlangsung.

Disaat-saat yang amat kritis itulah, tiba-tiba terdengar seseorang dengan suara yang nyaring

bercampur gelisah berkumandang datang, “Saudara-saudara sekalian, harap tahan!”

Bersamaan dengan munculnya suara bentakan itu, terlihatlah Pek Kun-gie, Oh Sam serta tujuh

delapan sosok bayangan manusia lainnya dalam waktu singkat telah menyeberangi jembatan

batu dan meluncur ke arah mulut gua tersebut.

Cukat racun Yau Sut berotak cerdas dan paling cepat reaksinya, begitu mendengar suara

bentakan dari Pek Kun-gie dia segera menyadari bahwa beban seberat ribuan kati yang terpikul

di atas bahunya kini sudah tersingkirkan, dengan cepat ia memerintahkan anak buahnya untuk

berhenti bertempur serta meloncat mundur ketepi kalang an.

Dalam waktu singkat Pek Kun-gie yang cantik jelita bagaikan bunga mawar itu sudah tiba lebih

dahulu di tengah kalangan.

Pek Soh-gie jadi kegirangan setengah mati, buru-buru teriaknya dengan suara nyaring, “Moay

Moay….!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

570

Dengan sorot mata yang tajam dan cepat Pek Kun-gie menyapu sekejap ke arah para jago yang

berada disekeliling tempat itu, ke mudian tegurnya, “Cici darimana engkau bisa tiba di tempat

ini?”

“Thian Ik-cu telah menangkap diriku kemudian Ciu It-bong membawa aku ke tempat ini dan

akhirnya para enghiong hoohan dari perkumpulan Hong-im-hwie menyandera diriku serta

memaksa paman Yau untuk bertempur melawan Hoa toako, katanya bilamana paman Yau tidak

berhasil menangkap Hoa toako maka akupun tak akan dilepaskan”

Pek Kun-gie dengan sorot mata yang tajam dengan cepat berpaling ke arah Hoa Thian-hong.

Dibalik sorot matanya itu terselip rasa cinta yang sukar dilukiskan dengan kata-kata, seakan-akan

rasa hangat di tengah hujan salju bagaikan pula hujan dimusim kemarau, meskipun hanya

pandangan dalam sekejap mata akan tetapi rasa cinta yang terpancar keluar dapat dirasakan

pula oleh setiap jago yang hadir dalam kalangan itu.

Hoa Thian-hong jadi tersipu-sipu dibuatnya oleh pandangan yang penuh dengan perasaan cinta

itu, ketika teringat kembali akan pesan ibunya yang mengharuskan dia untuk memutuskan

hubungan dengan gadis ini, buru-buru wajahnya dicemberutkan dan tak berani menampilkan

senyuman.

Pek Kun-gie segera alihkan sorot matanya dan menyapu ke arah para jago dari perkumpulan

Hong-im-hwie, di atas wajahnya terlintas rasa muak benci dan pandangan hina yang amat tebal.

Sedari kecil gadis ini sudah terbiasa dimanja dan selalu pandang tinggi diri sendiri, apabila ia

memandang hina terhadap seseorang maka di atas wajahnya segera tercerminlah rasa tak

senang hatinya itu. Dan terutama sekali pandangan sinisnya yang penuh penghinaan terasa jauh

lebih lihay dari pada tusukan golok, kendatipun seseorang mempunyai iman yang tebal ataupun

watak yang sabar, sesudah menyaksikan sikapnya yang penuh penghinaan itu tentu akan naik

pitam dan menjadi marah.

Malaikat kedua Sim Ciu yang pertama-tama tak kuat menahan diri, sorot mata tajam terpancar

keluar dari balik kelopak matanya, dengan penuh kegusaran dia membentak keras, “Budak

ingusan! engkaukah putri kedua dari Pek Siau-thian si tua bangka itu?”

Cukat racun Yau Sut takut gadis itu tak tahu lihay dan melakukan tindakan secara semberono,

buru-buru sambil menuding ke arah orang itu dia menerangkan, “Kedua orang ini adalah dua

bersaudara she Sim dari perkumpulan Hong-im-hwie, mereka berdua menetap di Liong bun dan

di sebut oleh setiap orang Bulim sebagai Liong bun Siang sat sepasang malaikat dari Liong bun!”

Dari sikap malaikat kedua Sim Ciu yang berjaga-jaga di samping tubuh sucinya, Pek Kun-gie

segera mengetahui apa maksud tujuan orang, tak tahan lagi ia tertawa dingin.

“Heeeh…. heeehh…. heeehh…. kalau kutinjau dari situasi yang terbentang pada saat ini, rupanya

perkumpulan Hong-im-hwie sudah mengambil keputusan untuk berselisih paham dengan

perkumpulan Sin-kie-pang kami?”

“Kita toh sama-sama merupakan perkumpulan besar dalam dunia persilatan, apa takutnya untuk

berselisih paham? engkau anggap kami jeri terhadap perkumpulanmu itu?” ejek malaikat kedua

Sim Ciu sambil tertawa seram.

Pek Kun-gie mendengus dingin.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

571

“Hmm! perkumpulan Hong-im-hwie bukan milikmu seorang, pendapatmu apakah dapat disetujui

oleh rekan-rekanmu yang lain?” serunya.

Mendengar ucapan itu malaikat kedua Sim Ciu tertegun, sesudah termenung beberapa saat

lamanya ia segera berpaling ke samping kiri kanannya dan berseru, “Kami dua bersaudara she

Sim adalah satu hati satu pendirian-entah bagaimana dengan pendapat kalian semua?”

Jin Hian yang sudah lama tidak buka suara ketika menyaksikan sorot mata Sim Ciu berhenti di

atas wajahnya, dengan cepat ia menyambung, “Tujuanku datang kemari adalah mencari tahu

siapakah pembunuh puteraku kemudian balaskan dendam bagi kematiannya, persoalan

mengenai perkumpulan silahkan kalian berdua untuk memutuskannya sendiri”

Setelah berhenti sebentar, sepasang matanya yang tajam menyapu tiada hentinya di atas wajah

kakak beradik she Pek itu lalu melanjutkan lebih jauh, “Selamanya pendapat dari Sim loe selalu

dikagumi oleh setiap saudara yang ada dalam perkumpulan, tentu saja tak usah kau rundingkan

lagi dengan diriku, kalian boleh bersikap sekehendak hatimu!”

Dengan sorot mata tajam malaikat kedua Sim Ciu berpaling ke arah rekannya Yan-san It-koay,

kemudian bertanya lebih jauh, “Makhluk tua, bagaimana menurut pendapatmu?”

“Buat apa musti bersilat lidah dengan kawanan manusia dari angkatan muda, mau berdua,

bagaimana kita lakukan saja menurut rencana, kita cepat selesaikan masalah ini agar bisa segera

berlalu pula dari tempat ini!”

Malaikat kedua Sim Ciu mengerutkan dahinya, tiba-tiba dengan ilmu menyampaikan suara ia

berseru, “Aku hendak berdaya upaya untuk memaksa perempuan itu keluar dari dalam gua, ingin

kulihat permainan setan apakah yang sedang ia persiapkan! bagaimana pandangan mu

mengenai rencanaku ini?”

Dengan ilmu menyampaikan suara Yan-san It-koay segera menjawab pula, “Ilmu ampuh apakah

yang telah berhasil kau yakinkan, berani benar mencari gara-gara, apakah engkau yakin mampu

menangkan pihak lawan? janganlah dikarenakan sebilah pedang emas yang tak ada harganya,

selembar jiwapun ikut lenyap”

“Makhluk tua, engkau tak usah lain dimulut lain dihati!” seru Sim Ciu dengan dingin, “kalau

engkau menginginkan pedang emas tersebut silahkan tangkap dahulu keparat cilik she hoa itu,

kami berdua akan berada di belakang untuk membendung datangnya para pengejar!”

“Hmmm! belum tentu ada gunanya kita tangkap keparat cilik itu, lebih batk nanti saja kita

bicarakan lagi persoalan ini!”

Kedua orang itu saling bercakap-cakap dengan bibir saja yang bergerak namun tak kedengaran

sedikit suarapun, setelah ditunggu beberapa saat namun pihak lawan belum juga buka suara,

dengan gusar Pek Kun-gie segera menegur, Bagaimana? Apakah engkau ada rahasia penting

yang tak dapat diketahui oleh orang lain?”

“Heeehh…. heeehh…. heeeh….!” malaikat ke dua Sim Ciu tertawa seram, “budak ingusan besar

amat nyalimu! orang sih tak akan kulepaskan engkau mau apa?”

Pek Kun-gie tertawa dingin.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

572

“Hmm! Semula aku mengira para enghiong hoohan dari perkumpulan Hong-im-hwie adalah

manusia-manusia yang luar biasa, tak tahunya keberanian kalian hanya berbuat begitu

saja….Hmm! Sungguh memuakkan….”

Habis berkata selangkah demi selangkah dia maju ke depan.

“Hiantitli, engkau mau berbuat apa? tegur Cukat racun Yau Sut sambil menghalangi jalan

perginya.

“Aku hendak mengajak jago lihay ini untuk membicarakan soal pertukaran ini”

“Bagus sekali, sambung Sim Ciu sambil tertawa, “bagaimana caranya pertukaran ini

dilangsungkan?”

“Kalau dibicarakan sesungguhnya gampang sekali, engkau boleh segera melepaskan ciciku,

sedangkan aku akan menggantikan dirinya sebagai sanderamu, bagaimana? ringan sekali

bukan?”

Pek Soh-gie jadi gelisah sekali mendengar perkataan itu, buru-buru teriaknya, “Adikku aku tidak

takut menghadapi segala sesuatu apapun, engkau tak usah memperdulikan diriku”

Pek Kun-gie pura-pura tidak mendengar ucapan tadi, sepasang sorot matanya yang tajam dan

dingin berputar di atas wajah Sim Ciu, kemudian serunya kembali, “Hanya urusan yang kecil

sekali, apa yang patut kau curigai lagi? takut dengan aku?”

Sebenarnya kakak beradik itu adalah saudara kembar yang dilahirkan bersamaan waktunya, akan

tetapi setelah keluarganya terjadi perpecahan mengakibatkan lingkungan hidup serta sistim

pendidikan yang mereka terima berbeda antara yang satu dengan yang lain.

Kalau Pek Soh-gie adalah seorang gadis yang lemah lembut dengan watak yang halus serta

ramah tamah, sebaliknya Pek Kun-gie adalah seorang gadis yang kasar dengan mempunyai

watak yang keras, sifat maupun gerak-geriknya tentu saja berbeda satu sama lainnya.

Terdengar malaikat kedua Sim Ciu menyeringai dan tertawa seram, serunya mengejek, “Pek Kungie!

Ketahuilah bila engkau sampai terjatuh ketanganku, maka siksaan badaniah yang akan kau

alami berat sekali, engkau harus pikirkan lebih dahulu sebelum bertindak”

“Hmmmm! banyak bicara tak ada gunanya….” dengan langkah lebar ia segera berjalan maju ke

depan.

“Kun-gie….” teriak Cukat racun Yau Sut dengan perasaan hati serba salah.

Berhubung Cukat racun Yau Sut telah bertempur melawan Hoa Thian-hong, terhadap juru pikir

dari perkumpulan ini Pek Kun-gie merasa amat tidak senang hati, tidak menanti ia menyelesaikan

kata-katanya, dengan cepat ia menukas, “Paman Yau tak usah menghalang-halangi rencanaku

lagi, dia adalah saudara kandungku, apakah titli musti berpeluk tangan belaka?”

“Adikku….” teriak Pek Soh-gie dengan amat gelisah, “engkau ataupun aku bukankah sama saja?

Kenapa engkau harus bersikeras dengan pendirianmu itu?”

Pek Kuo Gie sama sekali tak menggubris ucapan encinya itu, dengan langkah lebar ia segera

berjalan menuju kesisi tubuh malaikat kedua Sim Ciu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

573

“Berbuatlah yang cerdik!” seru Sim Ciu sambil menyeringai seram, “selama berada dalam

lingkaran daya seranganku, aku harap engkau jangan bertindak secara gegabah!”

Rupanya malaikat kedua dari Liong bun ini sudah cukup mengenali watak Pek Kun-gie yang tidak

sehalus serta sepenurut enci nya, maka begitu gadis muda itu berjalan mendekat, beberapa

totokan dengan cepat di lancarkan menotok jalan darah kaku dikedua belah tangannya, setelah

itu telapak tangannya yang lain didorong dan mengirim tubuh Pek Soh-gie kehadapan Cukat

racun Yau Sut.

Setelah berhasil meloloskan diri dari cengkeraman musuh, air mata jatuh berlinang membasahi

pipi Pek Soh-gie, dia putar badan dan berjalan kembali ke arah malaikat kedua Sim Ciu.

Dengan cepat Cukat racun Yau Sut menghalangi jalan perginya.

“Titli, engkau tak usah cemas atau gelisah” serunya, “sebentar lagi pangcu pasti akan tiba disini

dan sega1a persoalan dengan cepat dapat diselesaikan!”

Sementara pembicaraan masih berlangsung, kembali serombongan jago dari perkumpulan Sinkie-

pang telah tiba di tempat itu karena melihat tanda bahaya yang meledak di udara tadi.

Sekarang jumlah para jago dari perkumpulan Sin-kie-pang telah mencapai tiga puluh orang

banyaknya, diantaranya tentu saja terdapat para jago yang berkepandaian agak rendah,

meskipun kalau mereka disuruh bertarung satu lawan satu dengan Liong bun siang sat atau Yansan

It-koay masih belum mampu untuk mengatasinya, akan tetapi kalau sampai terjadi

pertarungan secara massal maka kemungkinan besar pihak perkumpulan Sin-kie-pang masih

mampu untuk merebut kemenangan.

Walaupun begitu berhubung Pek Kun-gie sudah terjatuh ke tangan lawan, dan dalam sebuah

gerakan yang gampang sekali malaikat kedua Sim Ciu sudah dapat membereskan nyawa gadis

tadi, maka Yau Sut serta anak buahnya tak berani bertindak secara gegabah.

Tiba-tiba terdengar Jin Hian berkata, “Hoa Thian-hong, bagaimanakah keadaan-nya sewaktu

putraku dibunuh orang apakah engkau dapat memberikan keterangan yang jelas dan terang?

Kalau tidak…. aku takut jiwamu akan segera berakhir pada hari ini juga”

Tertegun hati Hoa Thian-hong mendengar ucapan tersebut, sambil tertawa ia segera berkata,

“Jien Tang-kee, secara tiba-tiba engkau mencari gara-gara dengan diriku, entah apakah alasannya?”

“Hmm! ombak belakang mendorong ombak di depan, manusia baru akan menggantikan manusia

lama, jika ini hari aku orang she Jin tak mampu membinasakan dirimu, setelah lewat beberapa

hari lagi mungkin usahaku untuk menyingkirkan engkau akan tetap tinggal sebagai keinginan

belaka”

Haaahh…. haaahh…. haaahh…. kalau memang begitu, aku tak akan berbicara apa-apa lagi”

“Hmm! rupanya engkaupun mengalami kesulitan untuk menerangkan duduknya perkara

kepadaku, ketahuilah bagaimanapun juga engkau tetap tersangkut dalam peristiwa terbunuhnya

puteraku, pepatah kuno mengatakan, meskipun aku tidak membunuh Pak jin, akan tetapi Pak jin

mati lantaran aku, aku orang she Jin mempunyai alasan yang kuat untuk membereskan jiwamu”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

574

Makin berbicara nada suaranya berubah semakin dingin, secara tiba-tiba Hoa Thian-hong merasa

bahwa situasi yang dihadapi pada sa st ini jauh berbeda dengan keadaan dimasa lain.

Apa yang diucapkan Jin Hian sebenarnya merupakan ucapan yang sejujurnya, pertarungannya

melawan Yau Sut belum lama berselang meskipun tidak menimbulkan perasaan apa-apa bagi

dirinya, akan tetapi para penonton yang bersda di samping lapangan rata-rata telah mempunyai

satu pandangan yang sama.

Bisa dibayangkan dengan kepandaian silat yang dimiliki Yau Sut serta kedudukannya yang tinggi

sekali dalam dunia persilatan, ternyata walaupun sudah bertarung sebanyak lima enam puluh

jurus melawan Hoa Thian-hong ternyata memang kalah masih susah di tentukan, apabila mulut

lukanya tidak pecah entah sampai kapan pertarungan itu baru akan berakhir.

Jin Hian yang menyaksikan kelihayan ilmu silat pemuda itu, tentu saja tercekat hatinya dan

segera timbul niat jahat untuk secepatnya menyingkirkan pemuda itu mumpung ilmu silatnya

belum keburu bertambah lihay.

Terdengar Jin Hian dengan nada yang dingin menyeramkan berkata lebih jauh.

“Rencana atau rejeki datang tanpa pintu melainkan manusialah yang mancarinya, aku orang she

Jin pun dapat menyadari bahwa kematian dari puteraku adalah akibat terpengaruhnya oleh rasa

cinta asmara, akan tetapi dunia jagad begini luas, kemana aku harus pergi menemukan jejak dari

gadis pembunuh tersebut? Asal engkau dapat memberikan penjelasan atau keterangan yang bisa

dipertanggung jawabkan, aku orang she Jin pasti akan memberi satu jalan hidup bagimu”

Hoa Thian-hong tidak langsung menjawab, diam-diam ia berpikir kembali dalam hati kecil nya,

“Nama yang sebenarnya dari Giok Teng Hujin adalah Siang Hoa, dialah putri dari It kiam kay

tionggoan Siang Tang Lay, menurut pengakuannya Pedang emas terdiri dari pedang jantan dan

pedang betina, yang jantan berada di tangan Giok Teng Hujin sedang yang betina katanya

berada di dalam pedang mustika milik Thong-thian Kaucu , jelas semua rahasia ini ada sangkut

pautnya dengan kematian dari Jing Bon, dan kalau aku tinjau lebih jauh maka kematian dari Jin

Bong besar sekali kemungkinannya punya kaitan yang erat cengan Giok Teng Hujin, atau dengan

perkataan lain gadis yang diutus untuk melaksanakan pembunuhan ini tentulah anak buah dari

Giok Teng Hujin, bukankah Pui Che-giok adalah anak buahnya? Tapi…. haruskah kuungkapkan

rahasia tersebut dihadapan mereka?”

Untuk beberapa saat lamanya pemuda itu jadi bimbang dan tak tahu apa yang musti dilakukan

olehnya.

“Hoa Thian-hong!” bentak Jin Hian secara tibaTiba-tiba. “Apa yang hendak kau katakan?”

“Pada saat ini aku tiada perkataan lain yang bisa diutarakan keluar” jawab Hoa Thian liong

dengan alis berkernyit.

Dari balik mata Jin Hian tiba-tiba terpencar keluar nafsu membunuh yang amat tebal, ia melirikan

matanya sekejap ke arah Liong bun siang sat, Yan-san It-koay, kemudian ujarnya, “Persoalan

telah jadi begini, bagaimana menurut pendapat kalian bertiga….?”

“Jika Jien Tang-kee menurunkan perintah, kami semua siap menyerbu ke arah depan!” jawab

malaikat pertama Sim Kian.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

575

Sorot mata tajam memancar keluar dari balik mata Jin Hian, dia memandang sekejap ke arah

dalam gua, lalu sambil ulapkan tangannya ke arah pengawal pribadi golok emas yang berkumpul

di belakang tubuhnya ia membentak, “Serbu!”

Tidak menunggu yang lain, ia menerjang maju lebih dahulu ke depan.

Jilid 29

DALAM keadaan dicekam hawa amarah ketua dari perkumpulan Hong-im-hwie ini segera

memimpin para jago lihaynya untuk menyerbu masuk ke dalam gua dimana Hoa Hujien ibu dan

Hoa Thian-hong sedang berlatih ilmu silat.

Hoa Thian-hong jadi terkejut bercampur gusar menyaksikan datangnya serbuan tersebut, pedang

bajanya dengan cepat diayun ke muka mengirim satu bacokan ke arah tubuh lawan.

Tio Sam-koh yang berada disisinya, segera membentak pula dengan nada nyaring, “Seng ji,

cepat mundur ke belakang!”

Di tengah bentrokan nyaring dentingan tajam menggema memecahkan kesunyian, tahu-tahu

toya bajanya telah bentrok dengan beberapa batang golok besar berwarna emas yang

mengakibatkan timbulnya percikan bunga api memenuhi seluruh angkasa.

Dalam waktu singkat malaikat periama Sim Kian serta Yan-san lt koay telah turun tangan pula,

mereka berdua masing-masing menyerang Tio Sam-koh serta Hoa In.

Seketika itu pula pertempuran sengit yang menegangkan hati berkobar diluar mulut gua, Jin

Hian, Sim kian serta Yan-san It-koay tiga orang gembong iblis yang namanya pernah

menggemparkan sungai telaga di tambah belasan orang pengawal golok emas bersama-sama

mengerubuti Hoa Thian-hong bertiga.

Pertempuran ini berlangsungnya mendadak sekali datangnya ancamanpun cepat serta ganas

bagaikan air bah yang menyapu daratan, baru saja para jago dibikin kaget bencana telah berada

di depan pintu.

Dari pihak perkumpulan Hoa Im Hwee, hanya malaikat kedua Sim Ciu seorang yang tidak turun

tangan, siluman tua yang banyak pengalaman ini mencekal lengan Pek Kun-gie erat-erat,

sementara sorot matanya yang beringas dengan tajam menatap mulut gua tanpa berkedip.

Dalam pada itu para jago lihay dari perkumpulan Sin-kie-pang di bawah pimpinan Cukat racun

Yau Sut hanya berdiri sambil berpeluk tangan disisi arena, tak seorangpun diantara mereka

menunjukkan tanda tanda hendak turun tangan.

Pek Soh-gie yang berdiri di samping Yau Sut seketika merasakan badannya gemetar keras dan

air mukanya berobah jadi pucat pias bagaikan mayat, dengan air tnata jatuh bercucuran

pintunya,

“Paman Yau, Hoa toako pernah menyelamatkan jiwaku…. cepatlah turunkan perintah dan….”

“Persoalan ini menyangkut masalah yang amat besar” tukas Cukat racun Yau Sut dengan cepat,

“maafkanlah pamanmu kalau di dalam peristiwa ini tak dapat mengambil tindakan secara

gegabah”

“Oh Sam….!” tiba-tiba terdengar Pek Kun-gie membentak dengan nada yang menyeramkan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

576

Oh Sam terperanjat dan seketika merasakan sekujur tubuhnya gemetar keras, dan buru-buru ia

berseru, “Aku segera akan turun tangan!” tanpa banyak bicara ia menerjang ke samping tubuh

Hoa Thian-hong dan segera melancarkan sebuah pukulan dahsyat ke arah Jin Hian.

Dalam waktu singkat pertarungan yang berlangsung dengan seru dan tiba-tiba itu sudah

mencapai pada babak yang menegangkan hati, pedang baja di tangan Hoa Thian-hong bergetar

silih berganti keempat penjuru untuk membendung datangnya serangan-serangan gencar dari

pihak musuh.

Hoa In serta Tio Sam-koh tanpa memperdulikan keselamatan sendiri, berusaha mati-matian

melindungi si anak muda itu, setelah terjunkan Oh Sam ke dalam gelanggang situasi pun segera

berubah agak mendingan.

Kendatipun begitu, sayang sekali pihak lawan bukan saja terdiri dari tiga orang tokoh sakti

bahkan ditambah pula dengan delapan orang mengawal golok emas yang berilmu silat sangat

lihay, berada dalam keadaan yang sama sekali tak seimbang ini lama kelamaan Hoa Thian-hong

mulai tak kuat menahan diri.

Di tengah berlangsungnya pertarungan sengit, darah segar mengalir dengan derasnya dari mulut

luka di atas dada Hoa Thian-hong, tusukan pedang dari Ang Yap toojio ini meskipun tidak

berhasil membinasakan dirinya, tapi mulut luka yang ditinggalkan olehnya telah menyeret si anak

muda itu terjurumus ke dalam situasi yang amat berbahaya.

Diam-diam Hoa Thian-hong mengeluh, kepungan dari pihak lawan kian lama kian bertambah

ketat sementara pihaknya sudah mulai terancam dalam bahaya, namun tak ada sesuatu

usahapun yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan diri.

Dipihak lain, air muka Pek Kun-gie telah berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, hatinya hancur

luluh sementara pandangan matanya jadi berkunang-kunang, meskipun ia saksikan Hoa Thianhong

berjuang untuk mempertahankan hidupnya, akan tetapi ia sama sekali tak berdaya untuk

menyelamatkan jiwa kekasih hatinya.

Dalam waktu singkat rasa benci, mendongkol, gusar dan dendam bercampur aduk di dalam

benaknya, dia amat membenci orang-orang dari perkumpulan Hong-im-hwie, ia lebih-lebih benci

terhadap Cukat racun Yau Sut.

Malaikat kedua Sim Ciu yang selama ini menonton jalannya pertarungan dari sisi arena, tiba-tiba

seolah-olah telah memahami akan sesuatu, ia berseru tertahan.

Dengan cepat pikirnya di dalam hati, “Kenapa sampai sekarang perempuan di dalam gua itu

belum juga munculkan diri? ia bisa berbuat demikian tentu disebabkan oleh keadaan yang

terpaksa atau terluka atau sakit, kalau tidak ia tentu sudah mengalami jalan api menuju neraka

sehingga tak mampu bergerak lagi dari dalam gua tersebut….”

Begitu ingatan tadi berkelebat dalam benaknya, dengan wajah berseri-seri ia segera berteriak

keras.

“Loo toa, perketat seranganmu, aku lihat perempuan she Hoa itu pasti sudah menderita sesuatu

penyakit, boleh jadi ia sudah cacad sehingga sepasang kakinya tak dapat di pergunakan lagi”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

577

Sementara itu darah segar sudah banyak terbuang dari tubuh Hoa Thian-hong, badan-nya mulai

terasa lemas dan tak bertenaga, ketika mendengar suara teriakan tersebut, hatinya jadi

terperanjat sehingga tanpa terasa gerakan tangannya jadi agak terlambat.

Di dalam menghadapi pertarungan semacam ini, yang paling penting adalah pusatkan

perhatiannya untuk menghadapi lawan, ketika dilihatnya pemuda itu agak terlambat gerakannya,

malaikat pertama Sim Kian jadi kegirangan setengah mati, laksana kilat tangannya berkelebat ke

depan sambil melancarkan serangan.

“Roboh kau!” bentaknya.

Sebuah pukulan yang keras dengan telak bersarang di atas pinggang Hoa Thian-hong, terdengar

pemuda itu berseru tertahan dan tubuhnya bersama pedang segera mencelat kehadapan

malaikat kedua Sim Ciu, Bayangan manuiia berkelebat lewat, Cukat racun Yau Sut meloncat

beberapa tombak ke tengah udara, lima jari tangannya bagaikan cakar burung elang tiba-tiba

mencengkeram tubuh Hoa Thian-hong.

Malaikat kedua Sim Ciu yang menyaksikan kejadian itu jadi gusar sekali sehingga

memperdengarkan suitan nyaring, dengan ilmu cakar Tay im sin jiau yang maha dahsyat ia

lancarkan sebuah serangan maut ke arah juru pikir dari perkumpulan Sin-kie-pang itu.

Dengan sebuah tangan melancarkan serangan, tangan lain mencengkeram lengan Pek Kun-gie,

tampaklah dari balik kelima jari tangan kanannya memancar keluar kabut putih yang amat tebal.

Tercekat hati Cukat racun Yau Sut menyaksikan kelihayan musuhnya, buru-buru ia meloncat

mundur sejauh dua depa ke belakang, setelah berhasil meloloskan diri dari ancaman tersebut,

tiba-tiba tangan kanannya diayun ke depan mengirim satu pukulan pula ke arah Sim Ciu.

Jarak diantara kedua orang tokoh sakti itu hanya terpaut dua tiga depa belaka, malaikat kedua

Sim Ciu seketika merasakan datangnya sepulung angin pukulan yang sangat dingin menyerang

ke arah tubuhnya, ia tahu serangan tersebut hebat sekali, hatinya seketika terperanjat.

Setelah kedua orang itu sama-sama mengeluarkan ilmu simpanannya, kedua belab pihak samasama

merasa tercekat hatinya, Sim Ciu yang harus terburu-buru untuk menghindarkan diri dari

ancaman tersebut tidak sempat untuk mengurusi Hoa Thian-hong lagi.

Sejak pinggangnya terkena sebuah pukulan tadi, Hoa Thian-hong merasakan tulang

punggungnya jadi amat sakit seperti patah, isi perutnya goncang dan badannya segera roboh ke

atas tanah, menggunakan kesempatan yang sangat baik itulah dengan cepat ia menggelinding ke

arah samping.

Bentakan keras berkumandang memecahkan kesunyian, pada saat hampir yang bersamaan Hoa

In, Tio Sam-koh, Yan-san It-koay serta malaikat pertama Sim Kian bersama-sama menerjang

maju ke depan, tubuh masih berada di udara, pertarungan sengit telah berlangsung.

Sambil menahan rasa sakit yang merasuk ketulang sumsum, Hoa Thian-hong berusaha untuk

merangkak bangunan dari atas tanah, tetapi sebelum tubuhnya sempat bangkit berdiri, tiba-tiba

cahaya tajam yang menyilaukan mata telah meluncur datang di depan mata disusul munculnya

segulung desiran angin golok membacok ke atas batok kepalanya.

Hoa Thian-hong amat terperanjat, pedang bajanya segera diangkat ke atas untuk menangkis

datangnya ancaman tersebut.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

578

“Traaang….!” bentrokan nyaring menggema memecahkan kesunyian disusul percikan bunga api

menyebar keempat penjuru, empat orang pengawal golok emas yang menyergap dari belakang

segera terpukul pental ke arah belakang.

Pedang baja amat kuat dan tajam, sepasang golok emas milik lawan mampu dihajar sampai

patah di dalam bentrokan tadi, sayang Hoa Thian-hong sudah terlalu banyak kehilangan darah,

tenaga serangannya jadi makin merosot sehingga tak dapat digunakan sebagaimana mestinya,

ditambah pula pinggangnya baru saja termakan oleh sebuah pukulan dari Sim Kian, hal ini

membuat tangkisan pedang tidak memenuhi syarat.

Bentakan keras berkumandang memecahkan kesunyian, anak buah perkumpulan Sim Kie Pang

yang selama ini hanya berpeluk tangan belaka, setelah menyaksiken Cukat racun Yan Sut telah

turun tangan, merekapun bersama-sama turun tangan berbareng menerjang ke arah malaikat

kedua Sim Ciu.

Dalam waktu singkat cahaya senjata bayangan telapak beterbangan memenuhi seluruh angkasa,

jalannya pertarunganpun semakin seru.

Diam-diam tercekat hati Sim Ciu menjumpai datangnya kerubutan yang begitu banyak, dalam

gugupnya dia segera angkat tubuh Pek Kun-gie dan diputar ke depan untuk menangkis

datangnya ancaman senjata yang muncul dari empat arah delapan penjuru itu.

Anak buah perkumpulan Sim Kie Pang takut kalau senjata mereka melukai Pek Kun-gie, melihat

datangnya babatan itu dengan cepat mereka menarik diri sambil meloncat mundur ke belakang,

dengan kejadian itu para jago jadi semangkin gusar bercampur penasaran, setelah mundur untuk

kedua kalinya mereka maju lagi melancarkan serangan.

Hoa Thian-hong kegirangan setengah mati setelah menyaksikan situasi dalam kalangan

pertempuran telah berubah jadi tiga buah medan pertempuran, sambil menahan rasa sakit pada

pinggangnya dia mengempos napas dan segera menyerang kembali ke arah para pengawal golok

emas dari perkumpulan Hong-im-hwie.

Tiba-tiba punggungnya terasa dingin, menggunakan kesempatan dikala situasi berubah jadi amat

kalut dan tak karuan itu, secepat kilat Cukat racun Yau Sut menerjang ke belakang punggungnya

dan menempelkan telapak tangannya di atas tubuh.

Tio Sam-koh serta Hoa In yang selama ini masih terlibat dalam pertempuran sengit, walaupun

bertempur, sorot mata mereka tak pernah berpisah dari tubuh Hoa Thian-hong, sekarang telah

tahu bahwa pemuda tersebut terancam bahaya, mereka terkejut bercampur cemas, buru-buru

mereka tinggalkan lawannya dan berbalik menerjang ke arah Cukat racun Yau Sut.

Pantangan paling besar bagi para jago 1ihay yang sedang bertempur adalah pecah pikiran,

dengan mundurnya kedua orang itu, Yan-san It-koay, Sim Kian serta Jin Hian segera

mempergunakan kesempatan baik ini untut menerjang ke depan, telapak dan jari dilancarkan

secara berbareng menyergap punggung dua orang jago itu.

Tio Sam-koh amat gusar merasakan datangnya ancaman itu, dalam keadaan yang amal kritis

toya bajanya ditekan ke bawah lalu sekuat tenaga dibabat ke belakang, hal ini memaksa Yan-san

It-koay harus meloncat mundur ke belakang.

Hoa In lebih mementingkan keselamatan majikan mudanya dari pada keselamatan sendiri, ia

telah melupakan marabahaya yang bakal mengancam datang dari sekeliling tubuhnya, menanti

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

579

ujung jari Sim kian serta angin pukulan dan Jin Hian sudah hampir mengenai sasarannya dia

baru merasa.

Untuk menangkis atau menghindar sudah tak sempat lagi, dalam bahaya terpaksa ia meloncat

setengah depa ke samping, setelah berhasil menghindarkan diri dari serangan Tay im sin jiau

dari Sim Kian, bawa murni nya segera disalurkan ke atas punggung untuk menerima datangnya

serangan tersebut dengan keras lawan keras.

“Braaaak….! Serangan berat dari Jin Hian bersarang telak di atas punggung Hoa In, membuat

pelayan tua itu mendengus berat dan badannya terlempar sejauh beberapa tom bak dari tempat

semula.

Semua peristiwa itu berlangsung dalam sekejap mata, terdengar Cukat racun Yau Sut dengan

suara lantang berteriak, “Semua anggota perkumpulan Sin-kie-pang mundur….!”

Mendengar perintah mundur dari juru pikir perkumpulannya, semua jago dari perkumpulan Sinkie-

pang segera menarik diri dari gelanggang pertarungan dan segera mengundurkan diri

kesektor sebelah kanan dari jembatan baru itu, rupanya mereka berusaha menutup jalan mundur

dari para jago perkumpulan Hong-im-hwie.

Jin Hian sendiripun segera memerintahkan seluruh jagonya untuk berhenti bertarung.

Tio Sam-koh untuk kesekian kalinya siap menerkam ke arah Cukat racun, akan tetapi denpan

suara dingin Yau Sut segera mengancam, “Barang siapa berani bergerak secara sembarangan,

jangan salahkan kalau aku segera akan habisi dahulu nyawa Hoa Thian-hong.

Hoa In meloncat bangun dari atas tanah, dengan langkah lebar dia maju ke depan dan berhenti

kurang lebih delapan depa dihadapan Cukat racun, serunya dengan suara dalam, “Yau Sut!

andaikata engkau berani melukai Siau Koan-jin dari keluarga kami, sekali pun sudah mati aku

akan jadi setan untuk makan dagingmu serta menyeset kulitmu, agar engkau tiada tempat untuk

dikubur!”

Cukat rcicun Yau Sut menempelkan telapak kanannya di atas punggung Hoa Thian-hong, lalu

sambil tertawa dingin katanya, “Kita lihat saja bagaimana akhirnya nanti, jika keadaan, memang

memaksa…. apa boleh buat kalau terpaksa aku harus bertindak menuruti suara hatiku sendiri”

Perlahan-lahan Hoa Thian-hong angkat kepalanya, ia lihat Hoa In serta Thio Sam-koh berdiri

tidak jauh dihadapannya, rambut mereka telah beruban semua, di atas wajahnya yang penuh

keriput terlintas hawa gusar dan murung yang amat tebal, diam-diam ia menghela napas

panjang, pikirnya, “Sekarang sudah mendekati tengah hari, entah bagaimanakah keadaan dari

ibu? Kedua orang tua ini….”

Tiba-tiba terdengar Pek Soh-gie bertanya dengan suara gugup, “Paman Yau, apa yang hendak

kau lakukan terhadap Hoa toako….?”

Cukat racun Yau Sut tertawa terbahak-bahak.

“Haaah…. haaah…. paman sendiripun tidak dapat mengambil keputusan, akan kulihat

bagaimanakah keputusan dari keponakan Kun-gie….!” jawabnya.

Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar sinar mata semua orang sama-sama dialihkan ke atas

wajah Pek Kun-gie.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

580

Malaikat kedua Sim Ciu setelah menotok jalan darah kaku disepanjang lengan Pek Kun-gie,

sebelah tangannya ditekan di atas bahunya, pada saat itu sambil tertawa ujarnya, “Pek Kun-gie!

bagaimana pendapatmu kalau aku hendak menggunakan dirimu untuk ditukar dengan Hoa

Thian-hong?”

Pek Kun-gie pura-pura tidak mendengar, sepasang biji matanya yang bening bagaikan air

menatap tajam wajah Hoa Thian-hong tanpa berkedip, diam-diam pikirnya dalam hati,

“Sepanjang hidupnya tak mungkin dia akan mengawini diriku, aaai….! hal ini harus disalahkan

pada sikapku sendiri di masa yang lampau, andaikata sikapku kepadanya tidak jahat sekali, tak

mungkin dia akan menaruh kesan yang amat buruk kepadaku.”

Diluaran ia tetap bersikap angkuh dan keras hati, padahal hatinya merasa sedih sekali sehingga

terasa hancur lebur dan ingin mati saja.

“Kun-gie….” tiba-tiba Cukat racun Yau Sut berseru.

Pek Kun-gie melotot besar, dengan suara yang kasar dia menukas, “Aku dibesarkan dihadapan

paman, masa paman masih belum jelas dengan watakku?” Yau Su tertawa lebar.

“Seandainya paman tidak menolong engkau maka aku akan merasa bersalah terhadap pangcu,

sebaliknya kutolong dirimu bukan saja engkau berterima kasih sebaliknya malah mendendam

terhadap paman, aaai….! engkau benar-benar membuat paman susah hidup sebagai orang”

“Kalau paman hendak menyelamatkan diriku maka sudah sepantasnya kalau menempuh jalan

yang lain, siasat tukar kuda ganti panglima seperti ini lebih baik jangan kau usulkan lagi

kepadaku”

Maksud dari perkataan itu jelas sekali, ia lebih rela jatuh di tangan musuh dari pada ditukar oleh

Yau Sut dengan selembar nyawa Hoa Thian-hong.

Cukat racun Yau Sut tertawa, diluaran ia tetap bersikap tenang sementara dalam hati kecilnya ia

memaki.

“Hmmm! budak ingusan yang tak tahu diri, enak benar kalau bicara…. menggunakan cara lain?

dianggapnya Liong bun siang sat adalah manusia yang gampang dihadapi?”

Hoa Thian-hong dapat menyaksikan pula kekakuan yang terjadi diantara kedua orang itu, dalam

hati ia segera berpikir.

“Mati atau hidup telah ditentukan oleh takdir, rejeki atau bencana Thian lah yang berkuasa, lebih

baik aku tak akan menerima maksud baik dari Pek Kuu Gie”

Berpikir demikian, ia lantas berpaling dan serunya.

“Cukat racun, mau bunuh, mau cingcang cepatlah mengambil keputusan, kalau tidak sekali putar

badan kubacok tubuhmu….”

Yau Sut segera menekan telapaknya ke depan, seketika itu pula terasalah hawa dingin yang

amat menusuk tulang menembus urat nadi pentingnya, terdengar ia mengancam.

“Kalau engkau berani bergerak, maka sekali hajar akan kuhancur lumatkan isi perut mu!”

Hoa Thian-hong tertawa dingin.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

581

“Heeehh…. heeeehh…. heeeeh…. kalau aku orang she Hoa mati, maka engkau akan gunakan

apa untuk barter Sim Ciu, dan bagaimana pula pertanggungan jawabmu terhadap pangcu

kalian?”

Cukat Yau Sut tersenyum, tiba-tiba ia berbisik lirih, “Katakanlah kepadaku, siapa sebenarnya

yang telah membinasakan putranya Jin Hian?”

“Maksudmu, pedang emas tersebut kini terjatuh ke tangan siapa?” seru Hoa Thian-hong sengaja

mempertinggi suaranya.

Yau Sut tertawa kering.

“Terserah bagaimana jawabanmu, aku hanya ingin tahu siapakah pembunuh yang sebenarnya?”

“Hmm! bukankah sedari tadi sudah kukatakan bahwa pedang emas kini berada di tangan Thian

Ik-cu, siapakah pembunuh yang sebenarnya asal kau tanyakan kepada imam tua itu masa dia tak

akan memberikannya kepadamu….?”

“Yau Sut!” tiba-tiba malaikat kedua Sim Ciu berseru, “cepat bawa kemari keparat cilik itu, kalau

tidak aku akan suruh budak ingusan ini untuk merasakan sedikit siksaan lebih dahulu”

“Lepaskan dahulu tawananmu, setelah itu aku orang she Yau baru akan serahkan keparat cilik ini

ketanganmu”

“Kurangajar!” maki Sim Ciu dengan alis mata berkenyit, “masa engkau tidak percaya dengan

diriku?”

Sambil berkata telapaknya yang menekan di atas bahu Pek Kun-gie diperberat, gadis lersebut

dengan cepat merasakan bahunya jadi berat sekali bagaikan ditindih oleh bukit gunung yang

sangat berat, akan tetapi ia tak sudi menyerahkan diri, sambil menggertak gigi ia tetap

mempertahankan diri untuk berdiri tegak, dalam sekejap mata rasa sakit yang dirasakan olehnya

sudah tak tahan lagi, keringat sebesar kacang kedelai mengucur keluar membasahi seluruh

tubuhnya.

Semua jago dari perkumpulan Sin-kie-pang jadi amat gusar, mereka bersiap-siap untuk meloncat

maju ke depan, tetapi teringat bahwasanya kesalamatan jiwa gadis itu masih berada di tangan

lawan, maka tak seorangpun berani bertindak secara gegabah.

Jin Hian adalah seorang pemimpin dari suatu perkumpulan besar, tentu saja kedudukannya jauh

berbeda dari malaikat kedua Sim Ciu, tatkala dilihatnya suasana jadi tegang dan setiap saat

bentrokan secara ke-kerasan bakal terjadi, buru-buru ia maju ke depan dan berkata dengan

suara dalam, “Yau heng, serahkan saja keparat cilik itu kepadaku, aku tanggung nona Pek pasti

akan dilepaskan pula, engkau tak usah kuatir aku tak akan mengingkari janji”

Hoa Thian-hong selama ini bersikeras mengatakan bahwa pedang emas berada di tangan Thian

Ik-cu, namun siapapun tak berani mempercayai ucapan yang tiada ujung pangkalnya itu dengan

begitu saja, sebab urusan menyangkut pula kematian Jin Bong, tetapi justru karena itu pula Jin

Hian semangkin bernafsu untuk menangkap Hoa Thian-hong serta mencari keterangan dari

mulutnya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

582

Diam-diam Cukat racun Yau Sut berpikir di dalam hatinya, ia merasa lebih baik menyalahi yang

kecil dari pada menanggung resiko besar, bagaimanapun juga Pek Kun-gie sudah seharusnya

ditukar lebih dahulu.

Karenanya ia segera mendorong tubuh Hoa Thian-hong untuk bergerak maju ke depan.

Sejak semula Hoa Thian-hong sudah tidak memikirkan tentang keselamatan jiwanya lagi,

sekarang sambil menahan sakit dengan ga gahnya ia berjalan kehadapan Jin Hian, dia ingin tahu

apa yang hendak dilakukan oleh pemimpin perkumpulan Hong-im-hwie ini.

Terdengar Pek Kun-gie dengan penuh ke gusaran berteriak.

“Paman Yau, selamanya engkau selalu cantik dan tak pernah bertindak bodoh, mengapa

sekarang kau lakukan perbuatan yang sama sekali tidak pintar seperti ini?”

“Atas kebaikan serta kepercayaan dari ayahmu, aku berhasil menduduki posisi yang tinggi serta

memperoleh kehormatan yang besar dari semua orang, budi kebaikan yang kuterima sudah

terlalu banyak, sekarang melihat engkau terjatuh ke tangan musuh, apakah tidak pantas kalau

aku berusaha untuk menolong dirimu lebih dahulu? Aaaai….!”

Siapa tidak mengalami sendiri, dia tak akan tahu keadaan yang sebenarnya, dari mana engkau

bisa tahu kesulitan yang sedang paman hadapi saat ini?”

Pek Kun-gie tertawa dingin.

Heeeh…. heeeh…. heeeh…. sekalipun paman akan berbicara sampai langit ambruk dunia terbalik,

titli tak akan melupakan peristiwa yang terjadi pada saat ini”

Cukat racun Yau Sut tertawa, ketika, berjalan sampai dihadapan Tio Sam-koh serta Hoa In, dia

berhenti dan berkata, “Tenaga pukulanku belum berhasil kulatih hingga mencapai taraf yang bisa

mengendalikan tenaga serangan dan tenaga bertahan jika kalian berdua ada maksud menolong

orang sehingga memaksa aku terpaksa harus turun tangan, kalau sampai jiwa Hoa kongcu

terluka, janganlah menyalahkan diriku!”

Tio Sam-koh serta Hoa In memandang ke arah Cukat racun itu dengan sorot mata berapi-api dan

memancarkan cahaya penuh kegusaran, darah panas dalam dada mereka bergelora keras

setelah mendengar perkataan itu sehingga rambutnya yang telah beruban pada bergetar keras,

hal ini menunjukkan bahwa kegusaran yang berkobar dalam dada mereka sudah mencapai pada

taraf yang tak terkendalikan lagi.

Hoa Thian-hong merasa terharu bercampur berterima kasih, dia menghela napas panjang dan

berkata.

“Sam Poo, engkau tak usah gusar! andai kata boanpwee menemui nasib yang kurang mujur

harap engkau orang tua suka membalaskan dendam sakit hatiku ini”

“Engkau tak usah kuatir!” jawab Tio Sam-koh sambil mendepakkan tongkatnya ke atas tanah

dengan penuh kebencian, “sekalipun aku harus mempertaruhkan jiwa tuaku, dendam sakit hati

ini pasti akan kutuntut balas!”

Hoa Thian-hong tersenyum, sambil memandang ke arah Hoa In ujarnya kembali dengan suara

lantang.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

583

“Pergilah berjaga-jaga dimulut gua, jangan biarkan seorang manusiapun pergi mengganggu

Cubo!”

Hoa In tidak menjawab, kakinya perlahan-lahan bergeser dan mundur ke belakang, ditinjau dari

keadaannya pelayan tua itu merasa tak rela mengundurkan diri dengan begitu saja, bahkan

berusaha mencari kesempatan untuk menyergap lawannya.

Hoa Thian-hong menggerakkan bibirnya ingin mengucapkan sesuatu untuk memperingatkan

pelayan tuanya itu, tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia segera teringat kembali

akan peristiwa yang pernah dilihatnya dalam kuil It-goan-koan diluar kota Leng an, dimana Chin

Pek-cuan serta seorang pria berkerudung yang berpotongan badan seperti kunyuk pernah

menyampaikan surat rahasia dari Cukat racun Yau Sut.

Teringat akan peristiwa ini, dengan cepatnya ia berseru, “Hoa In, masih ingatkah engkau akan

peristiwa yang terjadi di dalam kuil It goan-koan diluar kota Leng an?”

Tertegun hati Hoa, ia mendengar ucapan itu, balik tanyanya, “Apa yang Siau Koan-jin

maksudkan?”

“Persoalan tentang dua orang manusia berkerudung yang menyampaikan surat rahasia!”

Hoa In segera teringat kembali akan peristiwa itu, dimana Thian Seng-cu telah menerima dua

orang manusia berkerudung yang menyampaikan surat rahasia dimalam buta, dengan nada

tercengang tanyanya lagi.

“Siau Koan-jin, apa maksudnya mengajukan kembali persoalan tersebut?”

Hoa Thitn Hong tertawa.

“Perbuatan bagus yang telah dilakukan Yau kun su, apa salahnya kalau kau beberkan keluar agar

semua orang bisa ikut mengetahuinya?”

Air muka Cukat racun Yau Sut agak berubah mendengar ucapan itu, dengan alis berkenyit ia

segera berseru, “Jadi orang tak pernah merugikan orang, ketukan di tengah malam buta tak

akan mengejutkan hati, kalau aku orang she Yau pernah melakukan sesuatu perbuatan baik, dari

mana kalian bisa mengetahuinya”

“Benar juga!” pikir Hoa In di dalam hati, “tempo hari gara-gara anjing keparat she Yau ini hampir

saja Siau Koan-jin menemui ajalnya, bahkan sampai sekarangpun racun teratai empedu api

masih bersarang dalam tubuhnya dan tak berhasil dipunahkan, ditambah pula ia berani mencari

masalah dengan Siau Koan-jin pada saat ini, kalau aku tidak mengungkapkan rahasia hatinya ini,

panas rasanya hatiku…. Hmmm! akan kulihat jabatan Kunsumu itu bisa dipertahankan sampai

kapan?”

Apa yang ditulis dalam surat rahasia yang disampaikan Chin Pek-cuan kepihak Thong-thian-kauw

sama sekali tak diketahui oleh Hoa In, akan tetapi berhubung rasa bencinya terhadap Cukat

racun Yau Sut sudah kelewat batas maka sesudah berpikir sebentar dia lantas berteriak keras.

“Orang-orang dari perkumpulan Sin-kie-pang dengarkanlah baik-baik, Cukat racun Yau Sut

mengkhianati ketuanya mencari pahala, secara diam-diam ia mengadakan hubungan dengan

pihak Thong-thian-kauw untuk berkomplot menggulingkan kekuasaan pangcu yang sekarang….”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

584

Teriakan yang diutarakan dengan sekenanya ini dengan cepat menggemparkan para jago dari

pihak perkumpulan Sin-kie-pang, puluhan pasang sorot mata bersama-sama dialihkan ke atas

wajah Yau Sut.

Cukat racun Yau Sut sebenarnya adalah seorang jago yang paling pandai membawa diri serta

tenang dalam menghadapi segala persoalan, akan tetapi setelah dilihatnya sorot mata semua

orang dialihkan ke arahnya membuat ia jadi kikuk dan tak dapat menyembunyikan diri dari

rahasia hatinya itu, dari malu dia jadi gusar, bentaknya, “Keledai tua, rupanya engkau sudah

bosan hidup!”

Tangan kirinya bagaikan senjata tombak laksana kilat berkelebat ke depan melancarkan

serangan maut.

Tiba-tiba Hoa Thian-hong membentak keras, sambil memutar badan pedangnya dengan dahsyat

dibacok ke arah bawah.

Kiranya menggunakah kesempatan dikala Cukat racun Yau Sut merasa terkejut bercampur gusar

dan pikirannya goncang karena rahasianya ketahuan, tiba-tiba ia melepaskan diri dari

cengkeraman lawan lalu melancarkan sebuah bacokan dengan kekuatan yang maha dahsyat.

Serangan tersebut ganas dan luar biasa dahsyatnya, diiringi hawa pedang seria pekikan tajam

yang menusuk pendengaran pedang baa itu menggeletar diaigkasa mengancam batok kepala

orang she Yau itu, begitu hebat serangannya membuat jago dalam arena sama-sama bergidik.

Keringat dingin segera membasahi seluruh tubuh Cukat racun Yau Sut, sepasang kakinya segera

menjejak tanah dan tubuhnya melompat lima depa jauh dari tempat semula, nyaris sekali ia

termakan oleh bacokan pedang yang sangat hebat itu.

Bentakan keras bergema memecahkan kesunyian, telapak kanan Hoa In diayun ke arah depan,

hawa pukulan Sau yang ceng khi yang sangat tajam dengan cepatnya menggulung ke arah

tubuh Yau Sut.

Cukat racun Yau Sut segeta menggerakkan telapak kanannya untuk menyambut datangnya

serangan dari Hoa In dengan keras lawan keras, di tengah bentrokan nyaring lengannya seketika

terasa menjadi kaku dan linu, tanpa dicegah tubuhnya tergetar mundur sejauh tiga langkah dari

tempat semula.

Tiba-tiba Tio Sam-koh membentak keras, “Bajingan bau dari perkumpulan Sin-kie-pang, kenapa

kalian belum juga turun tangan bersama untuk membekuk penghianat dari perkumpulan kalian

ini….?”

Toya bajanya diputar dan ia menerjang lebih dahulu ke arah Yau Sut.

Bayangan manusia berkelebat lewat, Teng Kong Li serta kakek bermuka kurus ditambah pula

seorang pria kurus baju hitam segera melompat masuk ke dalam gelanggang dan masing-masing

menyongsong kedatangan dati Tio Sam-koh, sementara sisanya yang lain tetap berdiri tegak di

tempat semula, rupanya setelah mendengar seruan dari Hoa In tadi, umbullah rasa curiga dalam

hati kecil mereka.

“Pada saat ini kepercayaan semua orang terhadap diriku sudah goyah,” pikir Cukat racun Yau Sut

di dalam hati, “pertarungan harus diselesaikan dengan cepat, sebelum terjadi pembangkangan

atas perintahku, ketiga orang bajingan itu harus berusaha di bekuk lebih dahulu!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

585

Berpikir demikian, dia segera mengeropos tenaga dalamnya dan membentak keras, “Pelindung

hukum panji kuning maju semua, dan tangkap tiga orang siluman yang berusaha memecah belah

persatuan dtantara kita ini!”

“Oooh….! rupanya dalam tingkat pelindung hukum pun terbagi bagi menjadi beberapa kelas….”

pikir Hoa Thian-hong di dalam hati.

Pedang bajanya disapu secara mendatar ke arah depan dan langsung mengancam pinggang

orang she Yau tersebut.

Bayangan manusia berkelebat lewat, dari kalangan perkumpulan Sin-kie-pang kembali loacat

keluar lima orang kakek tua yang mana secara terpisah segera menyerang Hoa Thian-hong

bertiga.

Darah segar yang mengalir keluar dari mulut luka di atas dada Hoa Thian-hong masih mengucur

keluar tiada hentinya, sepasang kakinya terasa lemas tak bertenaga ditambah pula pinggangnya

terkena sebuah pukulan dari malaikat pertama Sim Kian, setiap kali dibuat bergerak rasanya sakit

hingga merasuk ketulang sumsum, baru saja bergebrak beberapa jurus tubuhnya sudah gontai

dan tak dapat berdiri tegak, keadaannya sangat berbahaya dan setiap saat jiwanya terancam

oleh maut.

Pek Kun-gie yang menyaksikan Hoa Thian-hong harus bertempur sengit dengan

mempertaruhkan selembar jiwanya, dalam hati terasa sedih dan sakit bagaikan diiris-iris dengan

pisau tajam, dalam hati segera pikirnya, “Peristiwa tentang penghianatan dari Yau Sut entah

benar entah tidak…. Aaaai, demi Thian-hong aku tak dapat berpikir terlalu banyak lagi….”

Tiba-tiba terdengar Hoa Thian-hong membentak keras Sreei! Sreet! Secara beruntun dia

melepaskan dua buah babatan ke arah depan.

0000O0000

40

KAKEK bermuka kurus itu mendengus dingin, ia pura-pura mundur ke belakang kemudian

menerjang maju kemuka, senjata kaitan beracunnya berputar kencang dan tiba-tiba menyergap

dari belakang punggung Hoa Thian-hong, cahaya biru berkilauan memenuhi angkasa, desiran

tajam sangat menggidik hati setiap orang.

Pek Kun-gie merasa gelisah sekali, meski pun ia tahu delapan bagian adalah palsu, namun

teriaknya juga dengan suara lantang, “Yau Sut! ayahku bersikap baik terhadapmu, kenapa

engkau membalas air susu dengan air tuba? Kenapa engkau berkhianat dari ayahku dan

bersekongkol dengan musuh untuk mengincar kedudukan pangcu?”

Air muka Cukat racun Yau Sut berubah sangat hebat, segera bentaknya dengan penuh

kemarahan, “Kun-gie, engkau berani bersikap kurang ajar terhadap pamanmu? dengan

berdasarkan apa engkau menuduh paman dengan kata-kata seperti itu?”

“Hmmm! engkau telah melakukan perbuatan yang sangat memalukan sekali, hubungan antara

paman dan keponakan sudah putus sampai disini saja, kenapa aku musti mengurusi soal kurang

ajar atau tidak?”

Peristiwa tentang bersekongkolnya Yau Sut dengan pihak Thong-thian-kauw serta berkhianatnya

dia dari perkumpulan Sin-kie-pang, sebenarnya sangat mencurigakan hati para jago lainnya dari

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

586

perkumpulan itu, apa lagi ucapan tersebut muncul dari mulut Hoa In yang belum dapat

dipercayai seratus persen kata-katanya, akan tetapi sekarang setelah mendengar nona mereka

menuduh dengan begitu pasti, seakan akan dia sudah lama mengetahui akan rahasia ini, rasa

sangsi dalam tubuh para jagopun makin bertambah tebal dan hati mereka pun mulai goncang.

Lima orang pelindung hukum dari barisan panji kuning yang sedang bertempur di tengah arena,

sesudah mendengar perkataan itu, hati mereka pun segera goncang dan dengan sendirinya

permainan jurus serangan merekapun jadi lambat, hawa pukulan yang semula sudah menguasai

keadaan dalam waktu singkat lenyap tak berbekas.

Tio Sam-koh serta Hoa In bukan manusia yang bodoh, begitu daya tekanan yang mengurung

tubuh mereka lenyap tak berbekas, dengan cepat mereka merebut posisi baik, dari bertahan kini

menjadi pihak penyerang, dalam beberapa jurus saja kedua orang itu sudah berhasil

menggeserkan diri ke samping tubuh Hoa Thian-hong dan melindunginya dari samping kiri dan

kanan.

Air mata Cukat racun Yau Sut berubah jadi dingin menyeramkan, biji matanya berputar dan tibatiba

ia membisikan suatu kepada para jago yang berada di belakang tubuhnya.

Terlihatlah bayangan manusia berkelebat lewat, dari pihak perkumpulan Sin-kie-pang kembali

meloncat keluar tiga sosok bayangan yang langsung menyerang ke arah belakang tubuh Hoa

Thian-hong.

Gerakan tubuh yang dimiliki ketiga orang itu cepat bagaikan sambaran kilat dan enteng sekali,

beberapa orang jago lihay dari pihak perkumpulan Hong-im-hwie yang menyaksikan hal ini,

wajah mereka nampak agak bergerak.

“Thian-hong….!” jerit Pek Kun-gie dengan keras.

Baru saja gadis itu berteriak, seorang kakek baju hitam yang kurus kering dan berwajah

menyeramkan tahu-tahu sudah tiba di belakang punggung Hoa Thian-hong, telapaknya segera

berkelebat ke depan menghantam pinggang si anak muda itu.

Gerakan tubuh orang itu cepat bagaikan hembusan angin, sewaktu melancarkan serangan,

sedikitpun tidak menimbulkan suara menanti Thian-hong menyadari akan datangnya serangan

tersebut keadaan sudah terlambat membuat hatinya terkesiap, buru-buru dia bersiap diri untuk

meloncat ke arah depan.

Terdengar Tio Sam-koh dan Hoa In membentak bersama, kedua orang itu berputar setengah

lingkaran, serangan toya dan telapak hampir bersamaan waktunya dilancarkan secara bersamaan

ke depan.

Dalam waktu singkat Hoa Thian-hong bertiga terpaksa harus saling membelakangi satu sama

lainnya untuk membendung datangnya serangan dan pihak lawan.

Sementara itu dari perkumpulan pihak Sin-kie-pang sudah ada delapan orang yang menerjunkan

diri ke dalam pertarungan, terutama sekali tiga orang kakek tua yang muncul belakangan, ilmu

silat yang mereka miliki benar-benar luar biasa sekali, gerakan tubuh mereka ringan bagaikan

sukma gentayangan sedang jurus serangannya ampuh dan maha aneh, ditambah pula dengan

kekuatan dari Teng Kong Li sekalian lima orang pelindung hukum dari barisan panji kuning,

dalam waktu singkat siapa kuat siapa lemah tertera dengan jelasnya, memaksa Hoa Thian-hong

sekalian hanya mampu bertahan dan tak mampu melancarkan serangan kembali, posisi mereka

terdesak di bawah angin.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

587

Malaikat pertama Sim Kian yang selama ini mengikuti jalannya pertarungan dari sisi arena, tibatiba

dengan ilmu menyampaikan suara berbisik kepada Jin Hian, “Aku rasa ketiga orang tua

bangka itu sudah lama sekali mengasingkan diri dan baru saja muncul kembali dari dalam tanah,

bila perkumpulan Sin-kie-pang mendapat bantuan dari manusia-manusia macam ini, posisinya

pasti akan bertambah kuat”

Air muka Jin Hian berubah jadi menyeramkan, ujarnya lamat-lamat, “Sewaktu diadakannya

pertemuan besar Pak Beng Hwee, aku tak pernah menyaksikan kehadiran ketiga orang ini,

rasanya….”

Belum habis ia berbicara, tiba-tiba terdengar Pek Kun-gie ber teriak dengan suara lantang, “Chi

locianpwe, ayahku mengundang kalian berempat masuk menjadi anggota perkumpulan kami

apakah dimaksudkan agar kalian mendengarkan perintah dari penghianat serta jual tenaga untuk

dirinya?”

Kakek kurus berwajah menyeramkan itu selalu berkelebat disekeliling tubuh Hoa Thian-hong dan

setiap kali melancarkan serangan gencar ke arah tubuh si anak muda itu, ketika mendengar

teguran dari Pek Kun-gie dia segera menjawab, “Nona masih muda dan tak tahu urusan, engkau

masih belum memahami enteng beratnya masalah, tindakanku ini justru demi ke pentingan serta

keselamatan dari nona”

Walaupun sedang bertempur sengit akan tetapi ucapan yang diutarakan keluar sama sekali tidak

kacau dan jurus-jurus serangan yang dilancarkan pun tetap berjalan dengan lancar dan mantap,

dari sini bisa ditarik kesimpulan bahwa ilmu silat yang dimiliki orang ini benar-benar sudah

mencapai puncak kesempurnaan, tidak aneh kalau beberapa orang gembong dari perkumpulan

Hong-im-hwie sama-sama menaruh perhatian terhadap dirinya.

Sementara itu Pek Kun-gie telah berpikir kembali, “Nenek she Tio serta Hoa In sudah terlalu lama

bertempur, badan mereka tentu penat dan tenaganya sudah terkuras habis, jika pertem-puran ini

berlangsung lebih jauh maka cepat atau lambat mereka tentu akan menderita kerugian berat….

tapi kenapa ibunya sampai sekarang belum juga munculkan diri? jangan-jangan ia memang tak

mampu bergerak sehingga selama ini tetap membungkam diri?”

Makin dipikir dia merasa semakin gelisah bercampur cemas, tapi apa daya jalan darah tertotok

dan tak bisa berkutik, lagipula Sim Ciu setiap saat mengawasi gerak-gerik nya, membuat gadis

itu dalam keadaan apa boleh buat terpaksa berteriak kembali, “Chi loocianpwee, kalau engkau

menghormati ayahku maka pertama- tama Yau Sut harus ditangkap lebih dahulu untuk

menyelidiki dengan jelas dasar-dasar dari penghianatannya”

Cukat racun Yau Sut benar-benar merasa gusar sekali sehingga tak tahan lagi dia tertawa seram.

“Haaaahh…. haaaahhh…. haaaahh…. orang bilang anak perempuan selamanya lebih condong

keluar, engkau sibudak ingusan benar-benar gilanya sampai keterlaluan!”

Gerakan tubuh kakek she Chi itu cepat bagaikan hembusan angin, serangannya cepat bagaikan

sambaran kilat dan khusus hanya menyerang Hoa Thian-hong seorang, terdengar ia berkata

kembali dengan suara hambar, “Perkataan dari pihak musuh tak boleh dipercayai dengan begitu

saja, sesudah bertemu dengan pangcu nanti, duduknya perkara ini dengan cepat dapat dibikin

sejelas-jelasnya”

“Chi locianpwee, kalau engkau tidak membekuk Cukat racun lebih dahulu, maka ia akan

menggunakan siasat licik lainnya untuk membebaskan diri dari segala tuduhan ini.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

588

“Sebelum melakukan tindakan gerakan, pangcu telah menerangkan bahwa aku harus

mendengarkan perintah dari Yau kunsu, karena itu maafkanlah jika aku tak dapat memenuhi apa

yang nona harapkan”

Mendengar jawaban tersebut, diam-diam Pek Kun-gie segera berpikir di dalam hatinya, “Kalau

ditinjau dan situasi yang terbentang di depan mata pada saat ini, nampaknya ia bakal mati dalam

pertarungan ini. Aaaai! Sungguh tak nyana, perjuanganku selama ini hanya sia-sia belaka, “oh,

akhirnya dia menemui ajalnya pula di tangan orang-orang dari perkumpulan Sin-kie-pang….”

Berpikir sampai disini, dengan wajah murung bercampur sedih ia alihkan sorot matanya yang

memancarkan rasa cinta itu ke atas wajah Hoa Thian-hong pikirnya kembali, “Baiklah kalau

memang ia mengalami nasib yang kurang mujur, biarlah akupun akan mengorbankan jiwa untuk

mengiringi kematiannya, dengan kematianku ini maka sedikit banyak semua kesalahan yang

pernah kulakukan terhadap dirinya dimasa lalu bisa kutebus semua, jadi kalau sampai berjumpa

kembali dialam baka, diapun tidak akan membenci diriku lagi”

Dalam pada itu, Hoa Thian-hong yang bertempur sengit dengan membawa luka dibadan

keadaannya payah sekali, Pek Kun-gie yang menyaksikan keadaan kekasih hatinya jadi merasa

amat pedih dan sakit hati, batinnya tersiksa dan gadis itu merasa dirinya seolah-olah sedang

berjalan dalam neraka, ingin sekali dia bunuh diri untuk membebaskan diri dari penderitan

tersebut, tapi secara tiba-tiba ia teringat kembali bahwa Hoa Thian-hong adalah seorang kesatria

gagah yang lebih mementingkan perjuangannya untuk menegakkan keadilan serta kebenaran di

kolong langit dari pada urusan-urusan lain.

Gadis itupun berpikir kembali, “Suatu kematian ada yang ringan bagaikan bulu ada pula yang

berat bagaikan gunung Thay san usianya masih begitu muda dan cita-citanya belum tercapai,

seandainya dia harus mati dalam keadaan begini, tentu dia akan mati dengan mata tak meram!”

Berpikir sampai disini, dengan suara keras ia segera membentak dengan keras, “Paman Yau!

Kalau engkau tidak memerintahkan semua orang untuk berhenti bertempur, selama Kun-gie

masih hidup aku bersumpah tak akan berdiri bersama dengan dirimu!”

Pada saat itu Hoa Thian-hong sedang mengerahkan segenap kekuatan yang dimiliknya untuk

memutar pedang baja serta bertahan atas serangan yang dilancarkan oleh kakek tua she Chi,

ketika ia mendengar suara Pek Kun-gie bukan saja disertai nada yang amat gusar bahkan terselip

pula kepedihan yang tiada taranya, seakan-akan semua kesedihan telah berkumpul di atas

tubuhnya, hatinya langsung dibikin terharu, secaram tiba-tiba muncullah rasa iba dan kasihan

dalam hati kecilnya, pemuda itu ingin sekali mengucapkan beberapa patah kata untuk menghibur

hatinya.

Sementara itu Cukat racun telah berkata dengan nada dingin.

Budak ingusan, engkau jangan terlalu memburu nafsu lebih dahulu, Chi Lo huhoat tidak akan

mencelakai jiwa Hoa Thian-hong, dia hanya akan menangkap dirinya untuk ditukar dengan

dirimu, setelah itu perkumpulan Sin-kie-pang akan bikin perhitungan dengan perkumpulan Hongim-

hwie, paman tanggung Hoa Thian-hong pasti akan berhasil ditolong kembali”

Malaikat kedua Sim Ciu yang mendengar ucapan tersebut segera tertawa terbahak-bahak.

“Haaahh…. haaahh…. haaaahhh…. bagus sekali siasat dari Cukat racun selamanya memang jitu

dan tepat!” ejeknya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

589

“Hmmm! aku orang she Yau telah mendapat kepercayaan dari pangcu sehingga diberi tanggung

jawab yang begini beratnya, budi kebaikan itu membuat hatiku merasa amat berterima kasih

sekali, pada saat ini kaum kurcaci sudah malang melintang di kolong langit, apabila aku tidak

mampu untuk mencuci bersih semua penghinaan yang kuterima pada saat ini, aku orang she Yau

merasa malu untuk munculkan diri kembali di dalam dunia persilatan”

Pek Kun-gie segera tertawa dingin.

“Paman Yau, buat apa engkau melakukan tindakan ibaratnya mau curi genta menutupi telinga

sendiri, dan berusaha untuk membohongi orang lain? Aku pertama tak pernah bunuh orang

kedua tak pernah mencuri pedang sekalipun Jien Tang-kee bermaksud menangkap diriku, belum

tentu dia akan menghabiskan Jiwaku, persoalan ini gampang sekali dilihat, paman sebagai

seorang yang cerdik masa tidak mengetahui….”

Hoa Thian-hong yang sedang bertempur dengan membawa luka dibadan sebenarnya tiada

kesempatan untuk mengurusi persoalan lain, akan tetapi selelah mendergar perkataan itu secara

tiba-tiba dia merasakan pikiran-nya kalut sekali, akhirnya saking tak tahan ia segera membentak

dengan penuh kegusaran, “Kun-gie, jangin banyak bicara!”

Tertegun hati Pek Kun-gie mendengar bentakan itu, tiba-tiba ia merasakan suatu rasa manis dan

hangat yang sangat aneh muncul dari dalam hati kecilnya, sepasang matanya jadi merah dan tak

dapat ditahan, lagi air mata jatuh bercucuran.

Seorang diri ia beguman dengan lirih, “Dia tidak membenci diriku lagi, aku tahu dia….”

Sejak pertemuan di kota Cho ciu, watak serta perangainya sama sekali telah berubah, secara

diam-diam ia mencintai diri Hoa Thian-hong, akan tetapi walaupun ia bersikap selalu mesrah dan

manis namun sambutan dari Hoa Thian-hong sendiri selalu dingin, hambar sungkan dan

sedikitpun tidak mempunyai rasa mesra ataupun hangat.

Dahulu si anak muda itu menyebut dia sebagai nona, kemudian memanggil dia sebagai nona Pek

dan selamanya tak pernah menyebut namanya secara langsung, tetapi sungguh tak nyana di

tengah berlangsungnya pertempuran sengit yang mempengaruhi antara hidup dan mati secara

tiba-tiba ia memanggil samanya secara langsung, meskipun perubahan yang kecil ini sama sekali

tidak dirasakan oleh orang lain, namun bagi gadis yang sedang dimabuk oleh cinta ini perubahan

tersebut sangat mengena dihatinya.

Tatkala didengarnya Hoa Thian-hong menyebut namanya secara langsung, tahulah gadis itu

bahwa pikiran kekasih hatinya ini sudah terbuka, itu berarti besar peluangnya bagi dia untuk

mengembangkan rasa cinta selanjutnya dimasa mendatang.

Sementara dia sedang kegirangan dan kelopak matanya dibasahi oleh air mata, tiba-tiba Hoa

Thian-hong membabatkan pedangnya ke arah depan memaksa kakek she Chi itu mundur satu

langkah ke belakang, sedangkan si anak muda itu sendiri tiba-tiba tersungkur ke atas tanah.

Kebetulan sekali Teng Kong Li berada di samping kirinya, menyaksikan kesempatan yang sangat

baik itu dia jadi kegirangan se tengah mati, senjata penotok jalan darahnya laksana kilat segera

berkelebat kemuka melancarkan sebuah totokan.

“Bajingan busuk!” bentak Tio Sam-koh dengan gusar.

Tubuhnya sama sekali tidak bergerak, sedangkan toya bajanya diputar dan dikemplangkan ke

depan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

590

“Criiiing….!” benturan nyaring yang mengakibatkan percikan bunga api menyebar keempat

penjuru, jurus serangan yang dipergunakan perempuan itu mirip sekali dengan gerakan naga

sakti mengibaskan ekornya, dengan cepat toyanya berhasil menangkis totokan senjata dari Teng

Kong Li itu membuat lengannya terasa jadi kaku dan senjatanya terlepas dari genggaman

tangan.

Pantangan dari jago lihay yang sedang ber tempur adalah sikap ragu-ragu dan sangsi, pada saat

yang bersamaan kait racun dari kakek bermuka kurus telah berputar menyerang tubuh sebelah

kanan Hoa Thian-hong, sedangkan si kakek she Chi itu dengan gerakan yang cepat sekali

menerobos masuk kebalik pertahanan lawan, ujung jarinya yang keras bagaikan baja langsung

menotok jalan darah Sang ci hiat di tubuh pemuda tersebut.

Baik Hoa In maupun Tio Sam-koh walau pun harus bertempur sengit melawan musuh-musuh

yang 1ihay, pikiran mereka sama sekali tertuju pada diri Hoa Thian-hong, melihat ancaman

bahaya yang menyelimuti se keliling si anak muda itu, mereka segera mengerahkan segenap

kekuatan tubuh yang dimilikinya melancarkan Sebuah serangan dahsyat ke arah kakek bermuka

kurus serta kakek she Chi tadi.

Baru saja kakek bermuka kurus melancarkan serangan dengan senjata kaitannya, tiba-tiba

terasalah segulung angin pukulan yang maha dahsyat bagaikan menggulungnya ombak di tengah

samudera menghantam tiba, ia jadi terkesiap dan buru-buru menjejakan kakinya loncat mundur

ke belakang.

Kakek tua she Chi itu sendiripun mengerti sampai dimanakah kelihayan dari hawa pukulan Sau

yang ceng ki lawan, akan tetapi diapun segan membuang kesempatan baik untuk merebut

kemenangan ini dengan percuma, sementara tubuhnya menyingkir ke samping, jari tangannya

masih tetap menerobos kemuka menotok jalan darah Sang ci hiat di tubuh Hoa Thian-hong.

Kelihatan pemuda itu segera akan termakan oleh totokan kilat tersebut, pada saat yang amat

keritis itulah tiba-tiba pemuda she Hoa Itu tadi tertawa keras, tangan kirinya diangkat ke atas

dan segera mencengkeram ke arah pergelangan tangan kakek she Chi tersebut.

Cengkeraman ini sama sekali tidak pakai aturan, hanya saja daya serangannya tajam, liar dan

luar biasa dahsyatnya, kakek tua she Chi itu terkejut bercampur gusar, buru-buru ia tarik kembali

serangannya ke belakang.

“Breet….! diiringi suara robekan yang amat keras, ujung baju dari kakek tua she Chi itu tertarik

oleh sambaran Hoa Thian-hong sehingga robek mulai dari batas sikunya.

Berhasil dengan serangan pertamanya Hoa Thian-hong membentak keras, sambil maju ke depan

pedangnya langsung dibacok dari atas kepala.

Sungguh dahsyat daya serangan dari bacokan itu, angin serangan mendesir memekikkan telinga,

kakek tua she Chi itu kaget bercampur gusar, namun tak berani menyambut serangan itu dengan

kekerasan, terpaksa dengan hati mendongkol ia meloncat mundur pula ke belakang.

Malaikat pertama Sim Kian yang selama ini mengikuti jalannya pertarungan segera mengerutkan

dahinya menyaksikan kejadian itu, dengan suara rendah bisiknya, “Jangan-jangan keparat cilik ini

sudah sinting, kenapa secara tiba-tiba ia seperti menjadi kalap?”

Jin Hian menengadah memandang cuaca, lalu menjawab, “Tengah hari sudah tiba, racun teratai

empedu api yang bersarang di dalam tubuh bocah itu sudah mulai kambuh!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

591

Tiba-tiba dari tengah gelanggang berkumandang datang suara bentrokan senjata yang amat

nyaring, sebuah ayunan toya dari Tio Sam-koh berhasil menghajar senjata kaitan seorang

pelindung hukum dari barisan panji kuning sehingga patah jadi dua bagian, bagian yang patah

itu mencelat sampai di tengah udara.

Yan-san It-koay segera tertawa dan berkata, “Nenek tua itu benar-benar seorang panglima

perang yang gagah perkasa…. aku merasa kagum sekali oleh ketangguhannya!”

Jin Hian tertawa, tiba-tiba ia berseru, “Aaah….! Sekarang aku teringat sudah, tua bangka she Chi

itu bernama Chi It Hun, sedangkan dua orang yang sedang bertarung melawan Hoa In itu, yang

bercambang bernama Lim Kui sedang manusia yang bermuka hijau itu bernama Ko Teng Pok,

semuanya merupakan anak murid dari perkumpulan Kiu-im-kauw dimasa lalu, karena nama

mereka berbau setan maka orang persilatan memberi julukan Kiu im sam kui, tiga setan dari Kiuim-

kauw kepada mereka bertiga”

“Tapi perkumpulan Kiu-im-kauw sudah musnah sejak dua tiga puluh tahun berselang…. seru

malaikat peitarna Sim kian.

Dalam pada itu Hoa Thian-hong yang berada di tengah gelanggang tiba-tiba membentak keras,

“Enyah kau dari sini!”

Sreeet….! Sebuah babatan pedang yang amat dahsyat memaksa Chi It Hun harus menyingkir

satu langkah ke samping.

Chi It Hun mendengus berat, ia berkelebat ke samping dan secara tiba-tiba menyusup ke

belakang punggung Hoa Thian-hong, telapak tangannya bergerak ke depan dan tanpa

menimbulkan sedikit suarapun menghantam ke depan.

Siapa sangka pada saat itu Hoa Thian-hong sudah melangkah maju beberapa depa jauhnya dari

tempat semula sambil putar pedang melancarkan sebuah bacokan ke arah Cukat racun Yau Sut,

dengan sendirinya pukulan yang datang dari arah belakangpun berhasil dihindari olehnya.

Nafsu membunuh melintas di atas wajah Cukat racun Yau Sut, diam-diam pikirnya di dalam hati,

“Bajingan Cilik yang tak tahu tingginya langit tebalnya bumi, kau anggap aku Cukat racun adalah

lentera kekurangan minyak yang bisa dipermainkan dengan seenaknya”

Sambil miringkan badan tubuhnya menerjang ke depan, tangan kiri menangkap gagang pedang

dari Hoa Thian-hong sedangkan tangan kanannya dengan jurus Soat yong lan kwan atau salju

menggumpal kota membiru, ia lancarkan sebuah serangan balasan.

“Chi Lo hu hoat!” tiba-tiba Pek Kun-gie membentak dengan suara keras.

Pada waktu itu Chi It Hun dengan gerakan tubuh bagaikan sukma gentayangan sedang

menerjang ke depan, telapaknya menghantam tulang punggung si anak muda itu, ketika secara

tiba-tiba mendengar suara bentakan keras dari Pek Kun-gie yang mengandung nada kebencian

itu, hatinya terkesiap dan serangan telapaknya segera berubah jadi serangan totokan yang

menyodok kebadan lawan.

Hoa Thian-hong sudah amat lama bergebrak melawan Chi It Hun, terhadap gerak badannya

yang cepat dan aneh itu sudah lebih dari hapal, karenanya meskipun ia sedang menyerang Yau

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

592

Sut di depan dan serangan yang datang dari arah belakang sama sekali tidak menimbulkan

sedikit suarapun, namun ia tahu bahwa musuh sudah berada dibelakangnya.

Tanpa berpikir panjang lagi, kaki kanan-nya menjejak tanah dan tubuhnya segera melangkah

maju ke depan.

Terdengar Cukat racun Yau Sut tertawa keras, menggunakan kesempatan dikala pikiran Hoa

Thian-hong bercabang, tubuhnya segera bergerak maju ke depan, tangan kanan-nya laksana

kilat mencengkeram ke arah peddang baja di tangan Hoa Thian-hong.

Semua kejadian ini berlangsung dalam sekejap mata, Tio Sam-koh serta Hoa In yang melihat

Hoa Thian-hong secara tiba-tiba meninggalkan mereka dan bertarung melawan Cukat racun, hati

mereka berdua merasa gelisah sekali, sekuat tenaga kedua orang itu berusaha menyusul ke

depan, tetapi Lim Kui serta Ko Teng Pok dari tiga setan Kiu im serta lima orang pelindung hukum

dari barisan panji kuning mempunyai kepandaian silat yang tinggi serta pengalaman yang luas

meskipun Tio Sam-koh dan Hoa In menerjang terus secara dahsyat namun usaha mereka selalu

menemui kegagalan.

Hoa Thian-hong merasakan munculnya segulung tenaga betotan yang amat keras berusaha

merampas pedang baja itu dari tangan-nya, telapak tangan jadi kaku dan pedang baja tadi

hampir terlepas dari genggaman-nya.

Tetapi si anak muda itu tak mau menyerah dengan begitu saja, dalam gugupnya hawa murni

yang ada di tubuh segera dihimpun ke dalam telapak kanan, gagang pedangnya dicekal keras

dan sekuat tenaga dibetot ke belakang.

Dengan demikian kedua orang itu masing-masing memegang salah satu ujung dari pedang baja

itu, bagian depan berada di tangan Yau Sut sedang bagian belakang berada di tangan Hoa

Thian-hong, kaki mereka berdua terpantek di atas tanah, tubuhnya bergoyang maju mundur

tiada hentinya.

Hoa In berhasil melepaskan diri dari kepungan dan memburu ke depan, akan tetapi Chi It Hun

bertindak cepat dan segera mem bendung datangnya terjangan itu, laksana kilat kedua orang itu

saling bergebrak satu jurus, dan karena keterlambatnya ini Lim Kui serta Ko Teng Pok telah maju

kembali ke depan, dengan cepatnya Hoa In serta Tio Sam-koh terkepung lagi di tengah

kerubutan para jago.

Dalam keadaan seperti ini, yang paling gelisah adalah kakak beradik dari keluarga Pek,

sebenarnya Pek Soh-gie berdiri di samping tubuh Yau Sut, akan tetapi setelah menyaksikan

kedua orang itu saling memperebutkan pedang baja dan melakukan pertarungan jarak dekat,

saking cemas dan gelisahnya ia jadi gugup dan kelabakan setengah mati, akhirnya karena tak

tahu apa yang musti dilakukan air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.

Padang baja itu luasnya dua cun dan tebalnya dua mili, meskipun berbentuk pedang akan tetapi

tiada bagian yang tajam, Cukat racun Yau Sut yang mencengkeram ujung pedang itu namun tak

mampu untuk merampasnya, diam-diam merasa amat terperanjat, pikirnya, “Baik nenek tua she

Tio maupun Hoa In sudah kehabisan tenaga karena sejak tadi harus bertempur terus, sebaliknya

keparat cilik ini bukan saja tenaganya tidak semakin berkurang malahan kian lama kian

bertambah ganas dan kuat, rupanya maksudku mencelakai jiwanya dengan memaksa dia makan

Teratai racun empedu api, sebaliknya malah mendatangkan banyak manfaat bagi keparat ini”

Berpikir demikian segenap kekuatan tubuh yang dimiliki segera dihimpun jadi satu, bukannya

menarik ke belakang secara tiba-tiba ia dorong pedang itu ke arah depan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

593

Diam-diam Hoa Thian-hong merasa amat gusar, iapun menghimpun segenap tenaganya untuk

mendorong pula pedang bajanya ke depan.

Sreeet….Sreeet….! langkah kaki dua orang itu menghancurkan batuan gunung yang terpijak di

atas tanah, pada permukaan bumi segera munculan bekas telapak kaki yang dalam sekali hingga

mencapai beberapa cun lebih.

Pergulatan berlangsung beberapa saat lamanya dalam keadaan seimbang, air muka Cukat racun

Yau Sut berubah jadi hijau membesi, sambil menggertak gigi ia tetap mempertahankan diri.

Sebaliknya racun teratai dalam tubuh Hoa Thian-hong sedang kambuh, tenaga dahsyat yang

tersalur keluar dari dalam tubuhnya membuat sepasang mata si anak muda itu berubah jadi

merah darah, otot-otot hijau pada menonjol keluar semuanya, raut wajah pemuda itu kelihatan

bengis dan mengerikan….

Pada waktu itu sorot mata semua jago yang menonton jalannya pertarungan tersebut telah

dicurahkan ke atas pedang baja yang diperebutkan itu, Pek Kun-gie menguatirkan keselamatan

jiwa kekasihnya, ia merasa cemas dan gelisah sekali, sedangkan para jago dari pihak

perkumpulan Sin-kie-pang yang tidak bertempur merasakan pula hatinya amat tegang, hanya

para jago dari perkumpulan Hong-im-hwie tetap bersikap tenang saja sambil menonton jalannya

pertarungan itu.

Hoa In serta Tio Sam-koh berusaha memburu ke depan untuk menolong majikan muda mereka,

tapi pihak lawan selalu menghadang dan menghalang-halangi kepergiannya, membuat mereka

terlibat pula dalam suatu pertempuran yang amat seru.

Tiba-tiba terdengar Yan-san It-koay menghela napas panjang, lalu berkata dengan suara lirih,

“Aaaai….! pedang baja tersebut benar-benar sebilah pedang mustika yang jempolan, kendatipun

termakan oleh daya tekanan yang amat dahsyat, sama sekali tidak bengkok ataupun putus,

bahkan bentuknya sama sekali tak berubah…. benar-benar luar biasa sekali”

“Entah pedang ini dibuat oleh Hoa Goan-siu atau buatan orang lain….?” sela Jin Hian.

“Seandainya enam belas jurus ilmu pedang yang dimiliki bocah itu adalah hasil ciptaan dari Hoa

Goan-siu, aku rasa pedang baja itu tentu pula merupakan hasil buatannya sendiri,” jawab Sim

kian.

Sementara itu Cukat racun Yau Sut yang harus saling bertahan dengan Hoa Thian-hong tanpa

berhasil merobohkan lawannya lama- kelamaan jadi mendongkol juga, pikirnya, “Bangsatbangsat

tua itu berbisik-bisik entah apa yang sedang dibicarakan oleh mereka, Hmm! rupanya

mereka sama sekali tak pandang sebelah matapun terhadap aku orang she Yau, heeeh….

heeeh…. aku harus mendemonstrasikan sedikit kepandaian, agar bang sat-bangsat tua itu

terbuka matanya….”

Berpikir demikian ia segera bersiap-siap untuk adu tenaga dalam guna merebut kemenangan,

tiba-tiba ingatan lain berkelebat pula di dalam benaknya, ia membatin lebih jauh lagi.

“Pertempuran besar Kian ciau Tay hwee tidak lama kemudian akan diselenggarakan, pada waktu

itu para jago pada berkumpul semua untuk memperlihatkan keampuhannya masing-masing,

pada saat itulah merupakan saat yang paling tepat bagiku untuk mendemonstrasikan

kehebatanku serta mencari nama besar…. jika kubuang tenaga dalamku pada saat ini dengan

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

594

percuma sehingga bawa murniku rusak, kejadian ini benar-benar suatu kejadian yang sama

sekali tak ada harganya….”

Berpikir sampai disini, hawa murni yang disalurkan ke dalam telapak kanannya tiba-tiba ditarik

kembali, sementara tangan kirinya diayun ke depan melancarkan sebuah pukulan dahsyat.

Pada waktu itu Hoa Thian-hong sedang mengerahkan tenaganya untuk mendorong pedangnya

ke depan, ketika secara tiba-tiba pihak lawan menarik kembali tenaga dalamnya, tak dapat

dihindar lagi tubuhnya bersama pedang segera tertelungkup ke depan dan jatuh ke dalam

pelukan Cukat racun.

Ketika secara tiba-tiba dilihatnya serangan telapak lawan hampir menghajar tubuhnya, ia jadi

gugup dan kaget, dalam repotnya telapak kiri segera diayun ke depan menyongsong datangnya

serangan tersebut.

Sepasang telapak saling beradu satu sama lainnya menimbulkan suara benturan yang amat

keras, tubuh Hoa Thian-hong bergetar keras dan jatuh terbanting ke atas tanah, akan tetapi

tangan kanannya dengan kencang sekali masih tetap memegangi ujung pedang tersebut.

Cukat racun Yau Sut tertawa dingin dengan suara yang menyeramkan, pedang baja di tangan

kanannya disentak ke atas berusaha merebut senjata tersebut, sementara tangan kirinya

bagaikan ular racun keluar dari sarang, tiba-tiba membabat keluar.

Tiba-tiba….Cukat racun Yau Sut merasakan pandangan matanya jadi kabur.

Tampaklah sebuah lengan yang putih dan halus menyelinap masuk dan arah samping dan

mencengkeram badan tengah dari pedang baja itu, kemudian merampasnya dari cekalan kedua

orang jago itu.

Hoa Thian-hong segera merasakan pergelangan tangannya bergetar keras dan tahu-tahu pedang

baja itu sudah dirampas dari cekalannya.

“Aaaah….!” ia menjerit kaget tubuhnya segera beruntun mundur beberapa langkah ke belakang.

Cukat racun Yau Sat jauh lebih terperanjat lagi menghadapi kejadian yang sama sekali tak

terduga itu, bagaikan disambar guntur di tengah hari bolong tubuhnya bergetar keras, sekujur

badan menjadi panas dan dengan hati tercekat buru-buru ia loncat mundur sejauh lima depa ke

belakang.

Peristiwa ini benar-benar merupakan suatu kejadian yang amat mengejutkan hati setiap orang,

jago lihay di kolong langit yang mampu merampas sesuatu benda yang sedang diperebutkan

oleh Cukat racun Yau Sut dengan Hoa Thian-hong boleh dibilang jarang sekali.

Dalam waktu singkat suasana hening dan sepi menyelimuti seluruh bagian diluar gua tersebut,

pertempuran sengit yang sudah ber langsung selama setengah harianpun dalam waktu singkat

terhenti dengan sendirinya.

TAMAT

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

595

Bagaimanakah kisah selanjutnya pertempuran antara Cukat racun Yau Sut melawan Hoa Thianhong?

Siapakah yang merampas pedang baja pada waktu terjadi perebutan antara Cukat racun

melawan Hoa Thian-hong?

Peristiwa apa yang bakal terjadi dalam pertemuan besar Kiao Ciau Tay hwee?

Untuk mengetahui jawabannya, silahkan anda mengikuti lanjutan dari cerita ini dalam judul

barunya, “TIGA MAHA BESAR”!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar