Senin, 05 Oktober 2009

pedang abadi 3

Bai Yu-jing berdiri di atas tanah yang agak tinggi, berpikir dengan tenang. Tiba-tiba dia melompat
pergi.
Di lantai bawah bangunan itu ada empat buah kamar. Kamar ketiga adalah tempat di mana Miao
Shaotian tinggal. Sekarang kamar itu amat sepi, semua lampu telah dipadamkan.
Di kamar kedua terdapat lampu yang menyala.
Dalam sinar lampu yang suram, sosok tubuh seseorang tampak membayang di jendela. Melihat
bentuk tubuhnya, mungkin dia adalah perempuan tua bungkuk yang kemarin menangis tersedu-sedu
itu.
Dia jelas sedang berduka karena kematian anggota keluarganya. Mungkin itulah sebabnya sejak
malam tadi dia tidak bisa tidur. Mungkin dia bukan berkabung karena kematian orang lain, tapi
sedang sedih memikirkan nasibnya sendiri.
Bila orang sudah tua, dia tentu sangat sensitif dan amat takut pada kematian.
Bai Yu-jing berdiri di luar jendela, mengawasi perempuan tua itu dengan tenang. Tak terasa dia pun
menghela napas dengan lembut.
Anehnya, bila seseorang sedang berduka, perasaannya biasanya malah lebih tajam.
Dari dalam kamar segera ada orang yang bertanya, “Siapa itu?”
“Aku.”
“Siapa kau?”
Sebelum Bai Yu-jing menjawab, pintu sudah dibuka.
Perempuan tua ubanan itu, dengan tangan di pintu dan punggungnya yang bungkuk di belakangnya,
berdiri di ambang pintu. Dia tampak curiga dan sorot matanya membayangkan perasaan benci. Dia
bertanya: “Siapa kau? Apa yang kau inginkan?”
Bai Yu-jing bimbang sebentar, lalu dia berkata: “Tadi ada orang yang agaknya lari ke arah sini. Aku
tak tahu apakah dia telah mengejutkan nyonya atau yang lain-lainnya?”
Sorot mata benci di mata perempuan itu semakin terlihat jelas, “Ada orang ke sini? Ini kan sudah
sangat larut. Di mana orang itu, apa kau bukan sedang berkhayal?”
Bai Yu-jing tahu suasana hati perempuan ini sedang tidak baik, karena itu pula perasaan bencinya itu
timbul. Ia lalu tersenyum dan berkata: “Mungkin aku yang keliru, maaf.”
Dia pun tidak berkata apa-apa lagi. Ia menjura dan membalikkan badan untuk pergi ke halaman.
Detik itu terasa sangat lama, dia seolah-olah sudah merasa teramat letih.
Saat itulah dia mendengar bunyi “bruk!”.
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
57
Perempuan tua itu, karena lelahnya, wajahnya sudah menjadi pucat dan kehijauan karena terlalu
banyak berduka. Dia seperti sebuah kotak yang penuh berisi mesiu. Tiba-tiba kotak itu meledak dan
dia pun terjungkal roboh.
Bai Yu-jing melayang balik untuk memapahnya.
Nadinya masih berdenyut, dan dia pun masih bernapas. Cuma napasnya sudah amat lemah.
Bai Yu-jing menghembuskan napas karena lega. Dia segera memberikan pertolongan pertama.
Setelah sekian lama, wajahnya yang pucat mulai memerah. Denyut nadinya pun pelan-pelan kembali
normal.
Tapi mata dan mulutnya masih tertutup. Sudut mulutnya tidak henti-hentinya mengeluarkan air liur.
Bai Yu-jing berkata dengan lembut, “Nyonya, bangunlah.”
Perempuan tua itu tiba-tiba menghela napas panjang, matanya pun terbuka. Dia lalu menatap Bai Yujing,
tapi agaknya dia seperti tidak melihat apa-apa.
Bai Yu-jing berkata: “Tak apa-apa. Asal kau berbaring sejenak, segalanya akan baik-baik saja.”
Perempuan tua itu menarik napas dengan susah-payah. Dia berkata: “Kau pergilah. Kau tidak usah
memperdulikanku.”
Dalam keadaan seperti ini, bagaimana mungkin Bai Yu-jing meninggalkannya begitu saja?
Dia tidak bisa menghindar dari kesulitan dan segera membawanya ke dalam.
Mungkin inilah pertama kalinya dia membopong seorang wanita yang usianya lebih dari 30 tahun.
Peti mati itu berada di dalam kamar, meja persegi empat dipenuhi oleh uang kertas, dengan dua
batang lilin bundar dan tiga buah dupa harum.
Asap dupa mengepul di udara, sinar lilin tampak suram, seluruh kamar itu dipenuhi perasaan muram
yang tebal. Tubuh bocah tadi tampak meringkuk di atas meja, seperti sesosok mayat yang sedang
tidur.
Bila seorang bocah sedang beristirahat, walau langit runtuh pun dia akan sangat sulit untuk
terbangun.
Bai Yu-jing merasa ragu. Dia tidak tahu di mana dia harus membaringkan perempuan tua ini.
Tiba-tiba tubuh perempuan tua itu bergerak dalam pelukannya, dua buah tangannya yang kurus
seperti cakar telah menjepit tenggorokannya.
Gerakannya bukan cuma cepat, tapi juga penuh tenaga.
Napas Bai Yu-jing segera berhenti, bola matanya seperti akan melompat keluar dari kelopaknya.
Pedangnya tadi telah disisipkan di ikat pinggang. Saat ini, seandainya pun dia bisa memegang gagang
pedang itu, dia tidak punya tenaga untuk menghunusnya.
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
58
Wajah perempuan tua itu memperlihatkan seringai seperti iblis. Wajah tua yang sedih dan letih tadi
tiba-tiba berubah menjadi wajah serigala yang jahat. Jari-jarinya pelan-pelan menjepit semakin kuat.
Dia menyeringai seperti iblis sambil berkata: “Pedang Abadi, kau matilah!........”
Dia baru saja menyelesaikan ucapannya, ketika tiba-tiba dia merasakan sebuah benda yang dingin
seperti es menyentuh rusuknya. Itulah gagang sebuah pedang.
Dia kembali memandang wajah Bai Yu-jing. Di wajah itu sama sekali tak ada perasaan takut, tapi
malah tersungging sebuah senyuman. Tiba-tiba dia merasakan jepitannya seperti bukan sedang
mencekik leher orang, tapi kulit ular yang lunak. Lalu terasa sebuah perasaan sakit yang teramat
sangat, yang menyebabkan jepitan kesepuluh jarinya pelan-pelan mengendur.
Pedang itu telah berada di tangan Bai Yu-jing.
Ujung pedang menusuk rusuknya, darahnya pun merembes keluar, menodai pakaian yang baru saja
dia ganti.
Bai Yu-jing memandangnya, tersenyum dan berkata: “Aktingmu memang bagus. Sayangnya kau tidak
bisa menyembunyikan kebenaran dariku.”
Mata perempuan tua itu memperlihatkan perasaan takut. Dengan gemetar dia berkata, “Kau.... kau
sudah tahu?”
Bai Yu-jing berkata sambil tersenyum: “Seorang perempuan yang sudah tua, tentu tidak bisa
terbangun begitu cepatnya. Dia juga tidak mungkin begitu berat.”
Pedang yang berkilauan itu lalu menyingkap segumpal rambutnya.
Di bawah rambut ubanan itu, rambutnya ternyata masih hitam pekat dan halus seperti sutera.
Perempuan tua itu menarik napas dan berkata: “Bagaimana kau bisa tahu tentang seluk-beluk
seorang perempuan tua?”
Bai Yu-jing berkata: “Tentu saja aku tahu.”
Tentu saja dia tahu, sudah terlalu banyak perempuan yang pernah dipeluk olehnya. Ketika dia
membopong perempuan ini, dia segera tahu bahwa usia perempuan ini tidak akan lebih dari 35 tahun.
Otot-otot seorang perempuan tua tentu sudah lemah, tulang-tulangnya pun juga ringan.
Seorang perempuan berusia 35 tahun, jika ia merawat dirinya, tulang-tulang tubuhnya tentu akan
tetap elastis.
Perempuan tua itu berkata, “Sekarang apa yang kau inginkan?”
Bai Yu-jing berkata: “Harus kulihat dulu dirimu.”
Perempuan tua itu berkata, “Melihat diriku?”
Bai Yu-jing berkata: “Kulihat dulu apakah kau orang yang patuh.”
Perempuan tua itu berkata, “Aku selalu patuh.”
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
59
Sorot matanya tiba-tiba memperlihatkan ekspresi yang memikat dan mempesona. Dia menggosokgosokkan
tangan di wajahnya, dan semacam debu pun seperti rontok dari wajahnya.
Seraut wajah yang matang, cantik dan molek pun segera muncul.
Bai Yu-jing menghela napas dan berkata: “Kau memang masih belum tua.”
Perempuan itu tersenyum memikat dan berkata: “Siapa bilang aku sudah tua?”
Tangannya beralih ke kancing bajunya, sebelum dia pelan-pelan melepaskan bajunya.
Di balik pakaian itu terdapat tubuh yang padat, lunak, matang dan menarik. Bai Yu-jing menatap
dadanya. Dua buah puting di dada itu sudah sangat mengeras.
Wanita itu menggigit bibirnya dan berkata dengan suara yang lembut: “Sekarang kau bisa melihat,
aku orang yang selalu penurut.”
Bai Yu-jing hanya bisa mengakuinya.
Perempuan itu tersenyum menawan dan berkata: “Aku bisa melihat bahwa kau adalah orang yang
berpengalaman. Mengapa kau cuma berdiri di situ seperti anak kecil?”
Bai Yu-jing berkata: “Kau ingin melakukannya di sini?”
Perempuan itu tersenyum memikat dan berkata: “Apa kurangnya tempat ini? Hantu tua itu sudah
mati, bajingan kecil itu sudah tidur seperti mayat. Asal kau tutup pintu itu....”
Pintu masih terbuka.
Tatapan Bai Yu-jing masih tertuju ke wajah perempuan itu.
Tiba-tiba bocah yang tidur seperti mayat itu melompat bangkit. Dia bangkit dengan cepat dan
melemparkan sepuluh buah bintik bintang. Bocah itu bertindak tak terduga-duga dan juga begitu
cepat. Yang paling menakutkan, tentu saja tidak ada yang bisa menduga kalau seorang bocah akan
bertindak begitu keji, apalagi Bai Yu-jing sedang menghadapi seorang perempuan telanjang.
Di dunia ini tidak ada yang bisa menarik perhatian seorang laki-laki seperti seorang perempuan cantik
yang telanjang bulat!
Senjata rahasia yang disebarkan itu tentu saja sangat mematikan.
Tapi Bai Yu-jing agaknya sudah memperhitungkan hal ini. Dengan sebuah kibasan pedang, senjatasenjata
rahasia yang mematikan itu telah lenyap dari pandangan.
Perempuan itu mengertakkan giginya dan berkata dengan geram: “Anak yang baik, perempuan tua ini
akan membantumu.”
Bocah itu melompat dan secara tak diduga-duga mengeluarkan dua bilah pisau yang runcing dari balik
bantal. Yang satu dia lemparkan pada perempuan itu. Dua bilah pisau yang runcing segera melesat
seperti kilat ke arah Bai Yu-jing.
Saat itulah tutup peti tadi tiba-tiba terangkat, sebuah cambuk meliuk keluar seperti ular berbisa,
meluncur ke arah pinggang Bai Yu-jing.
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
60
Serangan cambuk ini benar-benar mematikan!
Pinggang Bai Yu-jing terancam oleh cambuk, sementara dua bilah pisau bergerak dengan cepat ke
arahnya.
Dia benar-benar tidak diberi kesempatan untuk menghindar!
Tapi dia tidak menghindar, dia malah menyambut pisau-pisau itu.
Orang di dalam peti mati itu membawa angin tenaga yang kuat luar biasa ketika dia bergerak.
Ternyata dia adalah 'mayat' yang menghilang tadi.
Perempuan tadi melihat kedua bilah pisau itu menusuk ke tubuh Bai Yu-jing, siapa tahu tiba-tiba
terjadi keajaiban. Pisau-pisau itu seperti berhasil menembus kulit dagingnya, tapi tiba-tiba terjatuh ke
lantai.
Dan mendadak mulut perempuan dan bocah itu sudah berlumuran darah.
Pedang Bai Yu-jing adalah keajaibannya.
Sinar pedang berkilauan, merontokkan dua bilah pisau yang dilemparkan kedua orang itu. Pada saat
yang bersamaan, pedang itu bergerak lagi untuk memotong cambuk panjang itu.
Mayat itu semula berusaha untuk menarik kembali cambuknya. Ketika cambuk putus, dia segera
kehilangan keseimbangannya. Dia pun terpental menabrak daun jendela.
Bocah dan perempuan itu berteriak dengan terkejut. Bai Yu-jing mengepalkan tinjunya dan pada saat
yang tepat berhasil memukul perut bocah itu. Dalam suasana gelap, si bocah merasa kesakitan dan
akhirnya jatuh pingsan.
Wajah perempuan itu penuh dengan rasa takut. Dia membalikkan badannya untuk melarikan diri.
Baru saja tubuhnya bergerak, gagang pedang Bai Yu-jing telah memukul kepalanya – dia pun jatuh
pingsan lebih cepat daripada si bocah.
'Mayat' tadi berdiri membelakangi jendela. Dia menatap Bai Yu-jing dengan sorot mata ketakutan.
Dia hampir tidak percaya kalau dia tidak melihat sendiri bahwa dia sedang berhadapan dengan
seseorang yang gerakannya begitu cepat.
Bai Yu-jing juga sedang memandangnya dengan dingin dan berkata: “Kenapa kau tidak lari?”
Mayat itu tiba-tiba menghela napas panjang dan berkata: “Aku tidak mengganggumu, kenapa aku
harus lari?”
Bai Yu-jing berkata: “Memang kau tidak menggangguku. Kau cuma menginginkan nyawaku.”
Mayat itu berkata: “Hal itu terjadi karena kau yang memaksa kami.”
Bai Yu-jing berkata: “Oh?”
Mayat itu berkata: “Yang kuinginkan cuma benda yang ditipu perempuan itu dariku.”
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
61
Bai Yu-jing mengerutkan kening dan berkata: “Benda apa yang ditipunya darimu?”
Mayat itu berkata: “Sebuah peta rahasia.”
Bai Yu-jing berkata: “Sebuah peta rahasia! Peta rahasia apa? Peta rahasia harta karun?”
Mayat itu berkata: “Bukan.”
Bai Yu-jing berkata: “Bukan?”
Mayat itu berkata: “Peta itu sendiri merupakan harta yang terkubur. Siapa pun yang mempunyai peta
ini, dia bukan cuma menjadi orang terkaya di dunia, tapi juga orang yang paling tangguh di dunia ini.”
Bai Yu-jing berkata: “Kenapa begitu?”
Mayat itu berkata: “Kau tidak perlu bertanya kenapa. Asal kau lepaskan aku, aku akan membantumu
untuk menemukan peta ini.”
Bai Yu-jing berkata: “Oh.”
Mayat itu berkata pula: “Aku hanya tahu peta itu ada padanya.”
Bai Yu-jing merasa bimbang. Tiba-tiba dia tersenyum dan berkata: “Karena peta itu ada padanya,
kenapa aku membutuhkan bantuanmu untuk menemukannya?”
Mayat itu berkata: “Karena dia tidak akan memberitahukan hal sebenarnya kepadamu, dia tidak akan
memberitahukannya pada siapa pun. Tapi aku bukan hanya tahu rahasianya, tapi juga tahu......”
Suaranya tiba-tiba berhenti dengan sekonyong-konyong.
Sepasang gaetan besi tiba-tiba masuk lewat jendela. Tenggorokannya tiba-tiba terjepit oleh gaetan itu
tanpa bisa berkata apa-apa lagi. Matanya melotot, darah pun mengalir dari sudut matanya yang
terbuka.
Lalu seluruh tubuhnya pun lunglai, seperti pohon yang melayu. Jika orang tidak melihat dengan mata
kepala sendiri, dia tentu tidak akan mengetahui betapa menakutkannya situasi seperti ini.
Sekali saja melihatnya, dia tidak akan pernah bisa melupakannya.
Bai Yu-jing merasakan perutnya seperti berontak. Dia harus menahan diri untuk tidak muntah.
Dia menatap Fang Long Xiang yang pelan-pelan memasuki kamar itu dalam pakaian sutera putih
seperti salju. Dia lalu mengusap darah dari gaetan besinya.
Bai Yu-jing berkata dengan tenang, “Seharusnya kau tidak membunuhnya.”
Fang Long Xiang tersenyum dan berkata: “Mengapa kau tidak melihat tangannya?”
Mayat itu sudah roboh ke lantai, tapi kedua tangannya tetap menggenggam sesuatu dengan erat.
Fang Long Xiang berkata dengan enteng, “Kau kira dia benar-benar sedang bicara denganmu? Jika
aku tidak membunuhnya, aku khawatir kau sudah berubah menjadi sarang lebah.”
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
62
Fang Long Xiang menggunakan gaetan besinya untuk membuka tangan itu. Tangan itu pun akhirnya
terbuka, penuh dengan senjata rahasia.
Di dalam genggaman tangan itu ada empat macam senjata rahasia yang berbeda.
Fang Long Xiang berkata: “Aku tahu Pedang Abadimu adalah musuh utama senjata rahasia. Tapi apa
kau tahu kenapa aku tetap merasa tidak aman?”
Bai Yu-jing berkata: “Kenapa?”
Fang Long Xiang berkata: “Karena aku juga tahu senjata rahasia orang ini amat jarang meleset dari
sasarannya.”
Bai Yu-jing berkata: “Siapa dia?”
Fang Long Xiang berkata: “Ahli senjata rahasia nomor satu dari sebelah selatan Sungai Yangtse,
Gongsun Jing.”
Bai Yu-jing berkata: “Gongsun Jing dari Perkumpulan Naga Hijau?”
Fang Long Xiang berkata: “Benar.”
Bai Yu-jing menghela napas dan berkata: “Tapi seharusnya kau tidak membunuhnya begitu cepat.”
Fang Long Xiang berkata: “Mengapa?”
Bai Yu-jing berkata: “Ada banyak pertanyaan yang hendak kuajukan padanya.”
Fang Long Xiang berkata: “Kau boleh bertanya padaku.”
Dia lalu melangkah masuk, memandang ke sekelilingnya untuk memeriksa keadaan. Dia melihat
perempuan itu dan menghela napas: “Aku tidak tahu kalau Gongsun Jing bukan hanya paham senjata
rahasia, tapi juga amat paham cara memilih perempuan.”
Bai Yu-jing berkata: “Ini adalah perempuan miliknya?”
Fang Long Xiang berkata: “Ini adalah isterinya.”
Bai Yu-jing berkata: “Bocah itu puteranya?”
Fang Long Xiang tersenyum dan berkata: “Bocah? ..... Kau benar-benar mengira dia masih bocah?”
Bai Yu-jing berkata: “Memangnya bukan?”
Fang Long Xiang berkata: “Usia bocah ini setidaknya sepuluh tahun lebih tua darimu.”
Dia menggunakan kakinya untuk menendang wajah 'bocah' itu dan semacam debu pun rontok dari
wajahnya. Tak disangka-sangka, ternyata muncul kerut-kerutan di wajah bocah itu.
Fang Long Xiang berkata: “Orang ini dijuluki si 'paku beracun'. Dia telah berlatih kungfu sejak lahir.
Dia juga pengikut setia Gongsun Jing.”
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
63
Tak terasa Bai Yu-jing pun menghela napas. Dia lalu berkata sambil tersenyum getir: “Orang mati
ternyata bukan orang mati, bocah bukan bocah, perempuan tua bukan perempuan tua – semua ini
benar-benar menakjubkan.”
Fang Long Xiang berkata dengan enteng, “Bila kau bertemu peristiwa menakjubkan seperti ini lagi,
kau akan mati.”
Bai Yu-jing berkata: “Pengaruh Perkumpulan Naga Hijau sudah tersebar ke seluruh dunia, mengapa
orang Perkumpulan Naga Hijau ini bertindak begitu rahasia?”
Fang Long Xiang berkata: “Karena yang berusaha mereka hindari justru adalah Perkumpulan Naga
Hijau.”
Bai Yu-jing berkata: “Kenapa begitu?”
Fang Long Xiang berkata: “Karena Gongsun Jing telah membuat malu Perkumpulan Naga Hijau.”
Bai Yu-jing berkata: “Urusan apa itu?”
Fang Long Xiang berkata: “Benda yang sangat penting itu diperdaya orang dari tangannya. Dia tentu
saja tahu bagaimana kebiasaan Perkumpulan Naga Hijau.”
Bai Yu-jing berkata: “Karena itu dia lalu menyaru bersama isteri dan pengikutnya ini. Mereka berusaha
mendapatkan kembali benda itu secara diam-diam?”
Fang Long Xiang berkata: “Benar.”
Bai Yu-jing berkata: “Bagaimana kau tahu tentang urusan ini?”
Fang Long Xiang tersenyum dan berkata: “Kau sudah lupa siapa aku?”
Bai Yu-jing berkata: “Benda itu benar-benar ada pada Yuan Zi-xia?”
Fang Long Xiang berkata: “Ini harus kau tanyakan sendiri padanya.”
Bai Yu-jing berkata: "Di mana dia?"
Bai Yu-jing segera pergi keluar, Fang Long Xiang mengikutinya dari belakang. Tiba-tiba sebuah gaetan
besi mengiris tangannya, Pedang Abadi pun jatuh berdenting. Setelah itu, gaetan besi itu seperti tinju
besi yang memukul jalan darah Bai Yu-jing di bawah pinggangnya.
Sinar lilin bergoyang-goyang, seluruh kamar itu seperti bergoyang-goyang.
Bai Yu-jing tidak membuka matanya, tapi dia merasakan sebuah gaetan besi sedingin es menggelitik
tenggorokannya.
Akhirnya dia bangun. Mungkin dia tidak ingin bangun kembali, karena dia benar-benar tidak mau
melihat muka Fang Long Xiang lagi.
Wajah yang amat luar biasa itu sekarang tampak sangat jelek.
Wajah itu sedang tersenyum padanya. Dia berkata: “Kau tentu tidak menduga!”
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
64
Bai Yu-jing berkata: “Aku memang tidak menduga, karena aku selalu memandang dirimu sebagai
sahabatku.”
Dia tetap berusaha memasang wajah yang tenang – karena dia sudah kalah, kenapa dia harus
bersikap kekanak-kanakan?
Fang Long Xiang tersenyum dan berkata: “Siapa bilang aku bukan sahabatmu: aku selalu menjadi
sahabatmu.”
Bai Yu-jing berkata: “Sekarang?”
Fang Long Xiang berkata: “Sekarang hal itu tergantung padamu.”
Bai Yu-jing berkata: “Jika aku tidak menurut?”
Fang Long Xiang berkata: “Kau bisa tunduk sedikit.”
Bai Yu-jing berkata: “Jika aku tetap tidak menurut?”
Fang Long Xiang tiba-tiba menghela napas panjang. Dia menatap gaetan besi di tangannya dan
pelan-pelan berkata: “Aku orang yang cacat, orang cacat biasanya sukar untuk terjun ke dunia Kangouw.
Jika aku tidak punya dukungan yang sangat kuat, walaupun aku tidak mau terima, aku tak akan
dapat hidup dengan nyaman.”
Bai Yu-jing berkata: “Siapa yang mendukungmu?”
Fang Long Xiang berkata: “Kau tidak bisa menebaknya?”
Bai Yu-jing akhirnya paham dan berkata sambil tersenyum pahit: “Jadi kau juga anggota Perkumpulan
Naga Hijau.”
Fang Long Xiang berkata: “Kepala cabang Perkumpulan Naga Hijau.”
Bai Yu-jing berkata: “Tempat ini juga merupakan cabang Perkumpulan Naga Hijau?”
Fang Long Xiang menghela napas: “Aku tahu lambat laun pikiranmu akan jernih. Kau adalah orang
yang cerdas.”
Bai Yu-jing merasa seperti menelan pil yang pahit tapi tidak bisa meludahkannya keluar.
Fang Long Xiang berkata: “Tiga tahun yang lalu, aku juga berada dalam posisi yang sama. Aku
tergeletak di sebuah tempat, dengan beberapa orang menodongkan pisau ke tenggorokanku.”
Bai Yu-jing berkata: “Karena itu kau lantas masuk Perkumpulan Naga Hijau? Kau tidak bisa
menghindarkannya?”
Fang Long Xiang berkata: “Orang itu memang tidak memaksaku masuk Perkumpulan Naga Hijau. Dia
memberiku dua macam pilihan.”
Bai Yu-jing berkata: “Dua pilihan seperti apa?”
Fang Long Xiang berkata: “Yang satu adalah masuk peti mati, yang lain adalah masuk Perkumpulan
Naga Hijau.”
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
65
Bai Yu-jing berkata: “Tentu saja kau memilih yang kedua.”
Fang Long Xiang tersenyum dan berkata: “Aku ingin banyak orang yang memilih dengan cara yang
sama sepertiku.”
Bai Yu-jing berkata: “Itu bagus. Tidak ada yang bilang kau salah memilih.”
Fang Long Xiang berkata: “Kita selalu bersahabat baik. Tentu saja aku memberimu setidaknya dua
macam pilihan!”
Bai Yu-jing berkata: “Terimakasih sudah mengatakannya, kau benar-benar teman yang baik!”
Fang Long Xiang berkata: “Yang pertama tidak jauh-jauh, di dekatmu ada peti mati.”
Bai Yu-jing berkata: “Peti mati ini terlalu tipis. Bagi orang yang begitu ternama seperti diriku,
seharusnya kau paling tidak memberiku peti mati yang jauh lebih baik.”
Fang Long Xiang berkata: “Tidak bisa. Kujamin kau bisa berbaring di dalamnya, tapi tidak bisa
membuat peti ini lebih tebal.” Gaetan besi di tangannya mulai bergerak. Sambil tersenyum dia
berkata: “Tapi, beristirahat di atas ranjang selalu lebih enak daripada beristirahat di dalam peti mati.
Kau pun boleh membawa perempuan itu ke atas ranjang.”
Bai Yu-jing mengangguk dan berkata: “Itu benar. Cuma, bila sedang beristirahat di atas ranjang, aku
tidak menginginkan perempuan.”
Fang Long Xiang berkata: “Oh!”
Bai Yu-jing berkata: “Jika di atas ranjang ada seekor sapi telanjang, aku lebih suka beristirahat di
dalam peti mati saja.”
Fang Long Xiang berkata: “Kau tentu tidak menganggap nona Yuan itu sebagai seekor sapi.”
Bai Yu-jing berkata: “Dia memang bukan sapi, dia seorang pelacur.”
Fang Long Xiang tersenyum dan berkata: “Menurut pendapatmu yang sejujurnya, katakanlah apa
yang dia bilang itu benar, siapa yang mengira kalau seekor rubah tua seperti Gongsun Jing pun akan
terperdaya oleh pelacur itu?”
Bai Yu-jing menghela napas dan berkata: “Menurut pendapatku yang sejujurnya, aku benar-benar
sedikit bersimpati kepadanya.”
Fang Long Xiang berkata: “Aku juga bersimpati kepadanya.”
Bai Yu-jing berkata: “Karena itu kau membunuhnya.”
Fang Long Xiang menghela napas: “Jika aku tidak membunuhnya, mungkin dia akan mati sepuluh kali
lebih mengerikan.”
Bai Yu-jing berkata: "Oh."
Fang Long Xiang berkata: “Perkumpulan Naga Hijau mempunyai seratus macam cara untuk
menghukum orang seperti dia, tiap cara akan membuatnya menyesali kenapa dia hidup di dunia ini.”
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
66
Bai Yu-jing berkata: “Sebenarnya urusan memalukan apa yang telah diperbuatnya?”
Fang Long Xiang bimbang sejenak sebelum berkata: “Pernahkah kau dengar tentang 'bulu merak'?”
Raut muka Bai Yu-jing segera berubah. Dia berkata: “Bulu merak dari Perkampungan Burung Merak?”
Fang Long Xiang berkata: “Ternyata kau pernah mendengarnya.”
Bai Yu-jing menghela napas: “Di dunia Kang-ouw, jika ada orang yang belum pernah mendengar
kedua patah kata itu, dia mungkin belum pernah mendengar juga tentang Pedang Abadi.”
Fang Long Xiang berkata sambil tersenyum: “Kau sangat rendah hati.”
Bai Yu-jing juga tersenyum dan berkata: “Rendah hati adalah salah satu sifat baikku yang paling
utama.”
Fang Long Xiang berkata: “Oh? Kau juga punya sifat baik lainnya?”
Bai Yu-jing berkata: “Aku tidak berjudi, tidak minum, tidak ambisius, aku cuma punya satu masalah.”
Fang Long Xiang berkata: “Masalah apa?”
Bai Yu-jing berkata: “Aku suka berdusta. Tapi cuma satu kali sehari.”
Fang Long Xiang berkata: “Hari ini kau belum berdusta sekali pun?”
Bai Yu-jing berkata: “Belum, karena itu aku harus cepat-cepat berdusta sekarang, agar nanti tidak
kehilangan kesempatan lagi.”
Dia tersenyum dan kemudian berkata: “Karena itu jika sekarang aku mengatakan sesuatu, sebaiknya
kau tidak mempercayainya.”
Fang Long Xiang berkata sambil tersenyum: “Terimakasih banyak karena sudah mengingatkanku,
tentu saja aku tidak akan mempercayaimu.”
Bai Yu-jing berkata: “Jika aku katakan bahwa Gongsun Jing yang tadi dibunuh olehmu telah hidup
kembali, kau tentu tidak akan percaya padaku.”
Bab 5: Pisau Kilat
Fang Long Xiang berkata: “Tentu saja!”
Bai Yu-jing tersenyum dan berkata: “Jika kukatakan isterinya telah datang dan akan menyerangmu,
kau percaya padaku?”
Fang Long Xiang berkata: “Aku tidak akan mempercayainya.”
Walaupun mulutnya mengatakan tidak percaya, tapi tak terasa ia pun memalingkan kepalanya.
Tangannya juga bergerak, gaetan besi itu menjauh dari tenggorokan Bai Yu-jing.
Di belakangnya, Bai Yu-jing tiba-tiba berputar ke kiri dan bangkit.
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
67
Pedang Abadi terjatuh di dekat mayat Gongsun Jing.
Ketika dia membalikkan badan, tangannya telah menggenggam gagang pedang itu.
Tapi saat itulah kekuatannya yang baru terkumpul tiba-tiba lenyap.
Ia baru saja melayang sejauh tiga kaki, tapi sedikit demi sedikit turun kembali.
Lalu didengarnya suara tawa Fang Long Xiang yang puas pada dirinya sendiri. Hatinya serasa karam.
Karena dia tahu bahwa ini adalah kesempatan terakhirnya. Sekarang kesempatan itu telah hilang dan
tak akan pernah datang lagi.
Dingin dan lembab.
Bai Yu-jing meringkuk di lantai, seluruh tubuhnya tidak mau bergerak lagi. Tapi gaetan besi itu telah
mengangkat pinggangnya dan membalikkan tubuhnya.
Fang Long Xiang sedang memandangnya sambil tersenyum. Tersenyum seperti seekor kucing yang
mencengkeramkan kukunya pada seekor tikus. Bila kucing menangkap seekor tikus, dia biasanya
memberikan kesempatan sebanyak 12 kali bagi tikus itu untuk minggat, karena dia tahu tikus itu
tentu saja tidak akan bisa melarikan diri.
Bai Yu-jing menghela napas dan berkata: “Aku tidak menyangka ilmu totokanmu telah banyak maju,
seharusnya kita merayakannya.”
Fang Long Xiang berkata: “Sebenarnya saat kau menipuku untuk memalingkan kepala, aku telah
memberimu kesempatan untuk mencoba.”
Bai Yu-ing berkata: “Oh.”
Fang Long Xiang berkata: “Kau kira tadi kau benar-benar berhasil menipuku?”
Bai Yu-jing berkata: “Jika aku menjadi kau, aku pun tak akan sanggup mencegah diriku untuk
berpaling.”
Fang Long Xiang berkata: “Tapi sebenarnya aku tidak perlu melakukannya.”
Bai Yu-jing berkata: “Oh.”
Fang Long Xiang tersenyum dengan gembira dan berkata: “Karena aku tahu bahwa isteri Gongsun
Jing telah mati.”
Bai Yu-jing berkata: “Kau.... kau tadi telah membunuhnya?”
Fang Long Xiang berkata: “Aku tidak suka membiarkan orang hidup di belakangku, karena itu
walaupun saat ini aku membutuhkan seorang perempuan, aku terpaksa harus mengorbankan dirinya
dengan berat hati.”
Bai Yu-jing menarik napas: “Seingatku, kau dulu seorang yang penuh kasih sayang.”
Fang Long Xiang memperlihatkan kebencian yang luar biasa di wajahnya dan berkata dengan dingin:
“Sebelumnya aku juga orang yang mempunyai dua tangan.”
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
68
Bai Yu-jing berkata: “Karena kau tidak lagi punya tangan, kau pun tidak percaya lagi pada
perempuan?”
Fang Long Xiang berkata: “Aku hanya percaya pada satu jenis perempuan, yaitu yang sudah mati.”
Tiba-tiba tersungging sebuah senyuman gembira di wajahnya, ia berkata: “Jadi sekarang kita bisa
melanjutkan pembicaraan kita?”
Bai Yu-jing berkata: “Pembicaraan soal apa? Bulu merak?”
Fang Long Xiang mengangguk dan berkata: “Menurut kabar, ada 360 macam senjata rahasia di dunia
ini, tapi bulu merak dapat dipastikan sebagai senjata yang paling berhasil dan paling menakutkan.”
Bai Yu-jing berkata: “Aku mengakui hal itu.”
Soal ini memang tidak bisa dibantah oleh siapa pun.
Menurut cerita, bila senjata rahasia ini dilontarkan, dia terlihat indah seperti seekor burung merak
yang mengembangkan ekornya. Bukan hanya tampak indah, tapi juga mempesona dan cemerlang.
Tentu saja tidak ada senjata lain di dunia ini yang bisa dibandingkan dengannya.
Tapi sekali bergerak, senjata ini akan membuatmu bingung dan segera mencabut nyawamu.
Fang Long Xiang berkata: “Yang paling menakutkan, selain keturunan langsung dari Perkampungan
Burung Merak, tidak ada orang lain di dunia ini yang tahu rahasia dari senjata rahasia ini. Tidak ada
yang tahu bagaimana cara senjata ini menyerangmu.”
Bai Yu-jing berkata: “Memang tidak ada yang tahu.”
Fang Long Xiang berkata: “Tapi sekarang seseorang sudah mendapatkan rahasia itu.”
Dengan mata berkilauan, dia berkata: “Peta rahasia Gongsun Jing yang diperdaya darinya adalah peta
cara pembuatan bulu merak itu, beserta cara menggunakannya.”
Raut wajah Bai Yu-jing segera berubah. Dia berkata: “Bagaimana peta ini bisa jatuh ke tangannya?”
Fang Long Xiang tersenyum dan berkata: “Jika Perkumpulan Naga Hijau ingin memperoleh sesuatu,
mereka biasanya punya banyak cara.”
Bai Yu-jing berkata: “Apakah peta itu dicuri dari Perkampungan Burung Merak?”
Fang Long Xiang berkata: “Mungkin.”
Dia tidak membiarkan Bai Yu-jing bertanya lagi tentang hal itu. Dia berkata lagi: “Karena
Perkampungan Burung Merak mempunyai senjata seperti itu, mereka telah menguasai dunia Kangouw
selama puluhan tahun. Tidak ada yang berani menentang mereka, bahkan Perkumpulan Naga
Hijau tidak mau mencari gara-gara dengan mereka.”
Bai Yu-jing berkata: “Aku tahu Perkumpulan Naga Hijau sudah lama merasa tidak puas dengan
Perkampungan Burung Merak.”
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
69
Fang Long Xiang berkata: “Tapi jika yang lain juga bisa membuat bulu merak itu, kekuasaan dan
pengaruh Perkampungan Burung Merak akan berkurang secara drastis. Selama bertahun-tahun ini
mereka telah banyak membuat permusuhan dengan orang lain.”
Bai Yu-jing merenungkan informasi itu. Lalu dia berkata: “Kuda Putih, Rambut Merah, Pisau Tajam,
Gedung Sejuta Emas, mereka semua mempunyai permusuhan yang amat mendalam dengan mereka.”
Fang Long Xiang berkata: “Karena itu mereka tidak ragu untuk mengorbankan segalanya dan
bergegas hendak membeli peta rahasia ini. Setidaknya, jika mereka berhasil membuat bulu merak,
mereka bisa membalas dendam dengan segera. Lebih dari itu, mereka juga akan mendapat nama
dengan sangat cepat.”
Bai Yu-jing berkata: “Benar. Amat penting bagi beberapa orang di dunia Kang-ouw untuk membeli
bulu merak, tidak perduli betapa pun tinggi harganya.”
Fang Long Xiang berkata sambil tersenyum: “Mungkin lebih banyak daripada orang-orang yang ingin
membeli Pedang Abadi-mu.”
Bai Yu-jing berkata: “Kenapa Perkumpulan Naga Hijau tidak membuat sendiri bulu merak itu? Kenapa
mereka harus menjualnya pada orang lain?”
Fang Long Xiang berkata: “Karena putera sulung Naga Hijau cuma tertarik pada satu hal.”
Bai Yu-jing berkata: "Emas."
Fang Long Xiang berkata: “Perak dan permata juga bagus.”
Dia tersenyum amat misterius dan berkata: “Perkumpulan Naga Hijau bisa memperoleh benda ini,
tentu saja telah menghabiskan banyak uang. Pengeluaran Perkumpulan Naga Hijau amat besar,
karena itu Naga Hijau tak sabar ingin melepaskan benda ini dengan harga yang pantas.”
Bai Yu-jing juga tersenyum dan berkata: “Apalagi benda ini adalah benda yang sangat panas, semakin
cepat kau melepaskannya, semakin cepat masalah akan berpindah kepada orang lain.”
Fang Long Xiang berkata: “Itu benar.”
Bai Yu-jing berkata: “Juga, ada banyak orang di dunia Kang-ouw yang telah mati di bawah bulu
merak. Jika kau membunuhnya dengan bulu merak, anggota keluarganya tentu juga ingin membalas
dendam terhadap bulu merak.”
Fang Long Xiang memperlihat penghargaannya atas analisa ini dan berkata: “Itu tentu saja tak bisa
dihindari.”
Bai Yu-jing berkata: “Urusan seperti ini akan menyebabkan huru-hara di dunia Kang-ouw. Bila Kangouw
semakin kacau, Perkumpulan Naga Hijau bisa mengail di air keruh untuk mendapat kesempatan
lebih besar.”
Dia menghela napas dan berkata: “Putera sulung Naga Hijau kalian benar-benar orang yang berbakat.
Semua orang tak punya pilihan kecuali harus mengaguminya, termasuk aku.”
Fang Long Xiang tertawa dan berkata: “Aku tidak menyangka kau juga akan mengakui hal ini, aku
juga mengagumimu.”
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
70
Bai Yu-jing berkata pula dengan enteng: “Jika aku punya benda seperti itu di tanganku, setidaknya
aku tak akan terperdaya oleh siapa pun.”
Fang Long Xiang berkata: “Gongsun Jing adalah orang yang cakap. Dia mempunyai pengalaman
menangani hal ini. Dia juga orang ternama di Perkumpulan Naga Hijau, jadi sayang sekali kalau
ternyata dia juga punya masalah yang sama denganmu.”
Bai Yu-jing berkata: “Dia juga suka berdusta?”
Fang Long Xiang tersenyum dan berkata: “Dia bernafsu besar, bahkan lebih bernafsu darimu. Dia juga
seperti dirimu, dia menyukai gadis Yuan itu.”
Dia menghela napas dan berkata: “Dia benar-benar perempuan yang tahu bagaimana cara menipu
laki-laki. Laki-laki yang bertemu dengannya, jika dia tidak menggantung diri sendiri, mungkin
sebaiknya dia terjun saja ke sungai.”
Wajah Bai Yu-jing memperlihatkan perasaan yang menderita. Dia tersenyum getir dan berkata:
“Untunglah aku tidak sampai menggantung diri, juga tidak terjun ke sungai, karena aku punya
seorang sahabat baik yang mau menjagaku.”
Wajah Fang Long Xiang tidak memerah. Dia tetap tersenyum dan berkata: “Karena itu aku selalu
berkata bahwa nasibmu memang bagus.”
Dia melanjutkan perkataannya, “Bagaimana gadis Yuan itu bisa mencuri benda itu, sampai sekarang
aku juga tidak jelas. Kecurigaanku adalah bahwa suatu waktu dia telah membuat Gongsun Jing
teramat letih, membuat cetakan kuncinya, lalu membuat kuncinya. Kemudian dia menyuap orang
yang menjaga lorong itu untuk mencurinya.”
Bai Yu-jing berkata: “Dugaanmu sangat beralasan.”
Fang Long Xiang berkata: “Setelah memperhitungkan segalanya dengan akurat, Gongsun Jing tentu
berhasil melacak jejaknya. Tapi dia telah diperdaya di bawah hidungnya sendiri. Dia sendiri tidak bisa
lolos dari kejahatan itu, tentu saja dia tidak bisa mengungkapkan urusan ini pada siapa pun.”
Dia menghela napas dan berkata: “Gadis Yuan ini agaknya telah mempertimbangkan segalanya.
Sayangnya dia telah melupakan satu hal.”
Bai Yu-jing berkata: “Oh!”
Fang Long Xiang berkata: “Dia lupa kalau Naga Hijau bisa membuat siapa pun bicara, asalkan orang
itu belum mati.”
Bai Yu-jing berkata: “Apakah penjaga itu telah mengatakan keberadaannya?”
Fang Long Xiang mengangguk dan berkata: “Dia telah menyuap dua orang penjaga. Saat pergantian
petugas jaga, dia menyelinap ke ruang rahasia bawah tanah dengan kunci duplikat itu, mencuri peta
bulu merak, dan kemudian pergi ketika mereka berganti petugas jaga lagi.”
Bai Yu-jing berkata, “Kenapa dia tidak membunuh kedua penjaga itu untuk menutup mulut mereka?”
Fang Long Xiang berkata: “Karena dia khawatir akan mengejutkan yang lainnya, karena ilmu
kungfunya tidak begitu tinggi, dan karena dia tidak punya waktu yang cukup banyak.”
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
71
Dia pun tersenyum dan berkata: “Karena itu, jika kau pikir hatinya tidak cukup keji, kau keliru.”
Bai Yu-jing berkata: “Aku melihat orangnya, dan seringkali salah menebak sifatnya. Kalau tidak,
bagaimana mungkin aku bisa menganggapmu sebagai seorang teman baikku?”
Fang Long Xiang tidak memperdulikannya dan berkata: “Naga Hijau mempunyai orang-orang yang
tersebar di seluruh dunia. Ketika mereka tahu tentang dia, mereka tentu akan dapat menemukan
keberadaannya.”
Bai Yu-jing berkata: “Tentu saja.”
Fang Long Xiang berkata: “Gongsun Jing tentu saja tidak mau begitu saja menyerah pada nasib. Dia
ingin mendapatkan kembali benda itu. Tapi dia juga amat paham tentang cara-cara Naga Hijau
menangani anggotanya yang bersalah.”
Bai Yu-jing berkata: “Karena itulah dia menyamar sebagai orang mati dan bersembunyi di dalam peti
mati.”
Fang Long Xiang berkata sambil menyeringai: “Dia mengira cara ini amat cerdik dan sangat aman.
Tapi dia tidak pernah menyangka, ketika dia membeli peti mati itu, toko tersebut juga milik
Perkumpulan Naga Hijau.”
Bai Yu-jing menghela napas dan berkata: “Perkumpulan Naga Hijau memang sangat memperhatikan
segala sesuatunya. Begitu kau memasuki Perkumpulan Naga Hijau, mereka telah mempersiapkan
segala hal yang harus dilakukan setelah kematianmu.”
Fang Long Xiang berkata dengan enteng, “Cara mati seperti itu setidaknya masih lebih baik daripada
dilemparkan sebagai makanan anjing.”
Bai Yu-jing berkata: “Kedua biksu itu? Mereka telah menjadi makanan anjing?”
Fang Long Xiang berkata: “Kedua biksu itu tentu saja kaki-tangannya juga. Mereka menyamar sebagai
biksu untuk sampai ke sini.”
Bai Yu-jing berkata: “Sayangnya kepala mereka terlalu ringan, pakaiannya terlalu baru, apalagi
tatapan mata mereka saat melihat gadis muda.”
Fang Long Xiang berkata: “Karena samaran mereka bisa terlihat orang dengan jelas, maka jarum
beracun lalu digunakan untuk melenyapkan saksi-saksi, tapi juga untuk melemparkan dosa kepada
Miao Shaotian.”
Bai Yu-jing berkata: “Siapa orangnya yang menggeledah kotak-kotak nona Yuan itu? Bukan kau?”
Fang Long Xiang berkata sambil tersenyum: “Mengapa aku melakukan hal seperti itu. Jika orang lain
tidak mendapatkan benda itu, aku pun akan tahu juga, bukan?”
Bai Yu-jing mengangguk dan berkata: “Jika bukan kau, tentu Zhang San atau Zhao Yi-dao. Saat itu
hanya mereka yang punya kesempatan.”
Fang Long Xiang berkata: “Sayangnya kau mengirimkan sayur-sayuran dan arak yang enak itu kepada
mereka.”
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
72
Bai Yu-jing berkata: “Walaupun Gongsun Jing tidak mau mengambil resiko, tapi dia juga khawatir
penundaan yang terlalu lama akan menimbulkan lebih banyak masalah lagi. Karena itu ketika kami
semua berada di dalam bangunan itu, dia pun mencari Yuan Zi-xia.”
Fang Long Xiang berkata sambil tersenyum: “Kukira, ketika dia muncul, mulanya dia cuma hendak
berdiskusi dengan Yuan Zi-xia. Siapa tahu perempuan muda itu ternyata keras kepala, mungkin
karena dia tahu asalkan dia berteriak, kau akan bertindak bagai pahlawan yang menyelamatkan
perempuan cantik.”
Bai Yu-jing berkata sambil tersenyum pahit: “Yang paling lucu, aku malah menyerahkan dia
kepadamu, karena aku ingin kau melindunginya.”
Fang Long Xiang berkata: “Mengabulkan permintaan orang adalah masalah kesetiaan. Aku tentu saja
bisa melindunginya dengan sangat baik.”
Bai Yu-jing berkata: “Sekarang tugas besarmu akhirnya selesai, apa lagi yang kau inginkan?”
Fang Long Xiang berkata: “Jasa yang besar ini belum mendapatkan keberhasilan, tapi hampir.”
Bai Yu-jing berkata: “Hampir bagaimana?”
Fang Long Xiang berkata: “Peta merak itu masih berada di tangan orang lain.”
Bai Yu-jing berkata: “Di tangan siapa?”
Fang Long Xiang berkata: “Kau.”
Bai Yu-jing berkata: “Di tanganku?”
Wajah Fang Long Xiang menjadi muram dan ia berkata: “Kau tidak mengakuinya?”
Bai Yu-jing menghela napas dan berkata: “Perempuan... Oh, dia jelas memintaku untuk mati sebelum
memberitahukan rahasia ini, siapa tahu dia malah mengungkapkannya terlebih dulu.”
Fang Long Xiang tampak tersenyum puas dan berkata: “Sudah kukatakan padamu, Perkumpulan
Naga Hijau bisa memaksa siapa pun untuk bicara, meskipun orang mati, apalagi cuma seorang
perempuan?”
Bai Yu-jing menarik napas: “Jika kau ingin seorang perempuan menyimpan rahasia, mungkin hal itu
sama dengan meminta orang mati untuk membuka mulutnya.”
Fang Long Xiang berkata dengan santai: “Sudah kukatakan, kau hanya punya dua pilihan, pilihan
kedua menjamin lebih banyak kebahagiaan daripada yang pertama.”
Bai Yu-jing berkata: “Apa pilihan kedua?”
Fang Long Xiang berkata: “Bawa peta merak itu ke Perkumpulan Naga Hijau, dan kau akan diberikan
posisi yang ditinggalkan Gongsun Jing di perkumpulan kami.”
Bai Yu-jing tiba-tiba tersenyum.
Fang Long Xiang berkata: “Kenapa kau tersenyum?”
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
73
Bai Yu-jing berkata: “Aku sedang menertawakan diriku sendiri.”
Fang Long Xiang berkata: “Menertawakan dirimu? Kenapa?”
Bai Yu-jing berkata: “Karena aku hampir mempercayai kata-katamu.”
Fang Long Xiang berkata: “Kau tidak mempercayainya?”
Bai Yu-jing berkata: “Kau jelas sudah tahu bahwa aku mempunyai peta merak itu. Karena kau punya
cara untuk memaksaku buka mulut, kenapa kau mengucapkan kata-kata yang menyenangkan ini
untuk menipuku agar merasa gembira?”
Fang Long Xiang berkata: “Karena kau orang yang berbakat, Perkumpulan Naga Hijau membutuhkan
semua orang yang berbakat di dunia ini.”
Bai Yu-jing bimbang dan berkata: "Tapi aku tidak percaya."
Fang Long Xiang berkata: “Lalu bagaimana caranya supaya kau bisa percaya?”
Bai Yu-jing berkata: “Bebaskan aku dulu, lalu akan menyerahkan peta merak itu. Aku tidak akan
menipumu.....”
Fang Long Xiang tersenyum. Dia berkata: “Untunglah tadi kau telah mengingatkanku. Kalau tidak aku
pun hampir mempercayaimu.”
Bai Yu-jing menghela napas: “Aku tahu kita tidak akan berhasil membicarakan transaksi ini. Tapi ada
suatu urusan yang juga ingin kukatakan padamu.”
Fang Long Xiang berkata: “Katakan saja.”
Bai Yu-jing berkata: “Jika aku tidak mau bicara, tidak ada orang di dunia ini yang bisa memaksaku
buka mulut. Jika aku tidak mengatakan di mana peta merak itu berada, maka tidak ada orang di dunia
ini yang bisa menemukannya.”
Mata Fang Long Xiang berkilauan. Dia lalu tersenyum dan berkata: “Malam ini, kau belum pergi ke
mana-mana. Jika aku menggeledah tempat ini dengan teliti, kenapa aku tidak bisa menemukannya?”
Wajahnya menjadi masam dan ia pun berkata: “Jika aku harus mencari, aku tentu akan mulai dari
tubuhmu.”
Bai Yu-jing berkata: “Silakan kalau begitu.”
Fang Long Xiang menatapnya, matanya seperti mata seekor rubah yang sedang memburu anjing.
Mata Bai Yu-jing melirik ke sekelilingnya, menghindari kontak dengan mata lawan. Seolah-olah dia
khawatir kalau matanya akan mengungkapkan rahasianya.
Di kamar itu terdapat banyak barang.
Dia memandang semuanya, pada lukisan yang tergantung di dinding, pada lilin putih di atas meja,
pada peti mati dan pada mayat di dalam peti.
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
74
Dia tidak memandang pedangnya.
Dia tidak memasukkan pedang itu dalam pengamatannya ke sekeliling tempat itu.
Mata Fang Long Xiang tiba-tiba bersinar-sinar. Mendadak dia berkata: “Jika aku menjadi kau, di mana
kuletakkan peta merak itu?”
Bai Yu-jing berkata: “Kau bukan aku.”
Fang Long Xiang berkata sambil tersenyum: “Itulah bagus, aku memang bukan kau. Tapi aku juga
tidak mempunyai Pedang Abadimu.”
Mimik muka Bai Yu-jing pun berubah seakan-akan darah telah berhenti mengalir di wajahnya.
Fang Long Xiang tertawa. Dengan lembut dan cepat, “tring!”, dia mengangkat Pedang Abadi itu
dengan gaetan besinya.
Sinar pedang itu gemerlap seperti perak, gagang pedang dililit oleh kain sutera berwarna hitam
keunguan.
Fang Long Xiang mengelus badan pedang dengan perlahan, sambil melirik Bai Yu-jing dengan sudut
matanya. Dia pun bergumam: “Pedang yang bagus. Benar-benar pedang yang bagus, tapi sayangnya
gagang pedang ini membuatnya tampak buruk.”
Bai Yu-jing berkata sambil tersenyum dipaksa: “Nanti bila aku punya kesempatan, aku tentu akan
menggantinya.”
Fang Long Xiang tiba-tiba berkata sambil tersenyum: “Bagus, aku akan menggantinya untukmu.”
Bai Yu-jing tersenyum dipaksa dan berkata: “Kau tidak usah repot-repot. Aku terpaksa menolak
maksud baikmu itu dengan rasa terima-kasih.”
Fang Long Xiang berkata: “Karena kita adalah teman baik, kenapa kau begitu sopan?”
Pelan-pelan dibalikkannya pedang itu dan diayunkan. Dia menggunakan kedua jarinya untuk
mengetuk-ngetuk dan mendengarkan. Lalu dia berkata: “Hei, kenapa bagian dalamnya seperti
kosong?”
Dia menggunakan lidahnya untuk menjilat bibirnya yang kering. Rasanya seperti ikan asin.
Fang Long Xiang pelan-pelan mengangguk dan berkata: “Mmm, sebenarnya tidak kosong, tapi
agaknya tersimpan segulung kertas di dalamnya.”
Bai Yu-jing menghela napas panjang dan menutup matanya.
Fang Long Xiang tertawa. Dia menepuk-nepuk gagang pedang itu dan memutarnya dengan ketiga
jarinya – gagang pedang itu benar-benar kosong karena bisa dibuka dengan putaran tersebut.
Cuma rahasia di dalam gagang pedang itu bukanlah segulung kertas, tapi puluhan batang jarum.
Jarum beracun Niu Mangpan.
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
75
Sambil berbunyi “sing!”, puluhan jarum beracun Niu Mangpan telah menancap di wajah dan mata
Fang Long Xiang. Dia segera menutup wajahnya dengan tangannya dan meraung-raung dengan keras
seperti orang gila. Dia lalu menubruk ke arah Bai Yu-jing, seolah-olah ingin mati bersama Bai Yu-jing.
Tapi begitu terjatuh, dia tidak bisa bergerak lagi.
Gaetan besi di tangannya telah merobek wajahnya sendiri dan merusak raut mukanya.
Hawa terasa dingin dan lembab. Tapi tampak seberkas cahaya yang menerobos lewat jendela. Malam
yang panjang akhirnya berlalu.
Bai Yu-jing tergeletak di dalam kamar, di mana dia bisa merasakan darah Fang Long Xiang yang
mengalir dari wajahnya.
Darah itu telah membasahi baju atas dan bawahnya. Di dalam hatinya timbul perasaan berduka.
Orang ini selalu menjadi sahabatnya. Jika ada pilihan lain, dia tidak akan melakukan apa yang barusan
telah terjadi. Tapi dia tahu tidak ada pilihan lainnya. Walaupun dia menyerahkan peta merak itu, Xiao
Feng tentu tidak akan melepaskannya. Apalagi, dia memang belum pernah melihat peta merak yang
ajaib itu.
Xiao Fang tentu saja tidak akan melepaskannya, karena mereka dulunya bersahabat.
Jika kau mengkhianati sahabatmu, kau tidak bakalan bisa melepaskannya karena kau tidak akan
punya muka untuk mengucapkan selamat tinggal padanya.
Jendela dan pintu semuanya masih tertutup, kokok ayam jantan sayup-sayup terdengar dari
kejauhan, sinar matahari pelan-pelan menerobos masuk lewat jendela.
Di luar pintu gerbang, mendadak terdengar bunyi langkah kaki orang banyak.
Bai Yu-jing menghela napas dalam hatinya: “Akhirnya mereka datang juga.”
Dia tahu bahwa jerit kesakitan Xiao Fang tadi tentu akan mengundang semua orang datang ke sini.
“Juragan, di mana kau?”
“Apa yang terjadi?”
“Kau yakin tadi mendengar suara juragan Fang?”
“Aku tidak mungkin keliru.”
“Tapi kamar ini adalah tempat tinggal perempuan tua itu.”
“Aku sudah curiga kalau perempuan tua itu punya sesuatu yang disembunyikan.”
Tuan Muda Zhu, Miao Shaotian, Zhao Yi-dao, Kuda Putih Zhang San dan ketiga anggota Perkumpulan
Naga Hijau telah datang.
Bai Yu-jing cuma bisa berharap agar mereka berdiri di luar dulu sambil berunding, agar jalan
darahnya bisa pulih sementara itu.
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
76
Tapi sekarang di jendela telah muncul sebuah cahaya. Dengan menggunakan retakan yang
disebabkan gaetan besi tadi, mata seseorang sedang mengamat-amati keadaan di dalam kamar –
mata yang seperti penuh dengan kobaran api yang menyala-nyala.
Kuda Putih Zhang San: “Siapa yang kau lihat?”
Miao Shaotian berkata: “Mayat, kamar yang penuh mayat.”
Dia baru saja bicara sampai di situ ketika pintu kamar telah didobrak orang. Ketiga anggota
Perkumpulan Naga Hijau sudah menghambur masuk. Tapi mereka cuma mengawasi keadaan di situ
sebentar sebelum mundur kembali.
Suasana di dalam kamar itu benar-benar terlalu menyedihkan, terlalu menyeramkan.
Setelah menunggu sekian lama, Zhao Yi-dao dan Kuda Putih Zhang San pelan-pelan melangkah
masuk.
Serempak kedua orang itu berteriak pelan.
Kuda Putih Zhang San: “Mereka benar-benar sudah mati.”
Zhao Yi-dao berkata: “Kenapa si juragan bilang dia ini tua.....” Dia mendapatkan bahwa perempuan
tua itu belumlah tua, dia tentu saja tak bisa melanjutkan kata-katanya.
Kuda Putih Zhang San pun berkata: “Siapa pula orang ini? ...... Gongsun Jing? Kenapa bisa Gongsun
Jing?”
Tiba-tiba Tuan Muda Zhu berkata sambil menyeringai: “Tidak ada yang melihat kalau ada seorang
yang hidup di sini.”
Zhao Yi-dao berkata: “Siapa?”
Tuan Muda Zhu berkata pula: “Tentu saja orang keras kepala yang pura-pura mati itu.”
Memang Bai Yu-jing semula bermaksud untuk pura-pura mati buat sementara waktu, tapi Tuan Muda
Zhu berjalan mendekatinya. Dia lalu duduk dan mengawasinya. Kemudian dia tersenyum dan berkata:
“Pendekar Bai sedang beristirahat?” Orang baju hitam itu masih merupakan bayangan yang tak
terpisahkan di belakangnya.
Kuda Putih Zhang San pun berseru: “Bai Yu-jing juga ada di sini! Dia benar-benar belum mati.”
Tuan Muda Zhu berkata dengan santai: “Kalian lupa kalau Pendekar Bai adalah dewa.”
Kuda Putih Zhang San menggunakan sudut matanya untuk melirik Zhao Yi-dao. Lalu dia berkata
dengan dingin: “Sebenarnya aku tidak tahu apakah sakit kepalanya tiba-tiba kambuh?”
Zhao Yi-dao berkata: “Kurasa memang kambuh. Mari kita sembuhkan.”
Bai Yu-jing membuka matanya. Dia melihat sebilah pisau baja yang berkilauan seperti salju menebas
ke arah tenggorokannya.
Pisau kilat yang bagus dan gemerlapan!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar