Selasa, 06 Oktober 2009

neraka 6

Jilid 11

“Hanya dua orang bocah cilikpun memiliki ilmu silat yang tidak lemah, hal ini menunjukkan kalau

Hian-beng-kau memang benar-benar penuh dengan jago lihay”

Terdengar Yau Tiong-in berkata dengan hambar, “Aku belum lelah, kalian boleh pergi dulu

karena kami ingin berhenti sebentar disini.”

Bocah yang ada disebelah kanan itu berkata, “Kalau memang begitu biar hamba menunggu

perintah disini!”

“Aku tidak menghendaki pelayan orang, lebih baik kalian segera berlalu dari sini!”

Dua orang bocah berbaju hijau itu segera berpaling ke arah Tam Si-bin, kemudian serunya

berbareng, Loya-cu………….!”

Sambil mengelus jenggotnya Tam Si-bin tertawa, katanya, “Lohu adalah tulang orang miskin,

tidak terbiasa mendapat pelayanan orang lain, jadi kalian lebih baik pergi saja dari sini!”

Tapi setiap enghiong yang turut serta dalam pertemuan besar ini……..

“Orang lain adalah orang lain, kami adalah kami, hayo cepat pergi!” bentaknya.

Kedua orang bocah berbaju hijau itu segera menunjukkan wajah serba salah, mereka saling

berpandangan sekejap, namun tetap berdiri ditempat semula.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

218

“Kenapa?” teriak Yau Tiong-in lagi semakin gusar, “jadi kalian hendak mengawasi gerak-gerik

kami?”

“Persoalan apa sih yang telah menimbulkan rasa tak senang dihati Yau Ciangbun?”

Mendengar seruan tersebut, Tam Si-bin dan Yau Tiong-in segera berpaling, tapi dengan cepat

mereka tercengang dengan wajah tertegun.

Ternyata dihadapan mereka telah berdiri seorang gadis cantik jelita berbaju putih, kecantikan

gadis itu jarang sekali dijumpai dikolong langit, tapi bukan hal itu yang membuat mereka berdua

terkejut, melainkan wajah gadis itu persis sekali dengan wajah ke dua orang putri Pek Siau-thian,

bekas ketua dari Sin-ki-pang dimasa lalu.

Dengan cepat Tam Si-bin menjura kepada gadis itu, kemudian sapanya, “Nona memakai marga

Bong? Ataukah marga Pek?”

Gadis cantik itu tertawa cekikikan.

“Hei, apa yang terjadi? Heran benar, setiap kali bertemu orang, selalu pertanyaan itu yang

diajukan kepadaku!”

Setelah berhenti sebentar, katanya, “Aku bernama Kok Gi -pek!”

Baik Tam Si-bin maupun Yau Tiong-in menjadi tertegun, dalam hati pikirnya, Heran, jika dilihat

dari raut wajahnya, ia mirip sekali dengan wajah Pek si hujin, kenapa bisa bukan putri dari Bong

Pay dan Pek Soh-gi??

Walaupun heran, Tam Si-bin berkata juga, “Kalau begitu nona adalah!………..

Tidak menunggu ia menyelesaikan kata-katanya, dengan cepat Kok Gi-pek menukas.

“Hian-beng-kaucu adalah guruku!”

Diam-diam Tang Si bin dan Yau Tiong-in merasa sayang dihati, gadis secantik bidadari ternyata

adalah murid si gembong iblis, yaa……ibaratnya sekuntum bunga tumbuh diatas kotoran kerbau.

Dalam pada itu Kok Gi-pek telah berpaling ke arah dua orang bocah berbaju hijau itu, kemudian

tegurnya dengan dingin, “Apakah kalian yang telah menggusarkan Yau tayhiap?”

Bocah berbaju hijau yang ada disebelah kiri itu menjadi gelagapan, serunya tergagap,

“Adalah…….adalah Yau tayhiap sendiri.”

“Hmm! Setiap enghiong yang menghadiri pertemuan ini adalah manusia-manusia yang berjiwa

besar” tukas Kok Gi-pek ketus, bila bukan kalian yang tak tahu sopan, masa dapat memancing

ketidaksenangan Yau tayhiap? Kenapa tidak cepat mengaku salah?”

Sungguh tak terlukiskan perasaan Yau Tiong-in setelah mendengar perkataan itu, ia tertawa

serak, lalu katanya, “Nona telah salah menegur, persoalan ini sama sekali tiada hubungannya

dengan mereka berdua”

Kok Gi-pek mengerling sekejap dengan sepasang biji matanya yang jeli, kemudian sambil

tersenyum ia berkata, “Aaah, kenapa Yau tayhiap berkata demikian? Kalau begini jadinya malah

kami yang merasa tak enak sendiri!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

219

Lalu sambil menarik muka, katanya kepada dua orang bocah tersebut, “Kaucu toh telah berpesan

jangan menyalahi tamu agung yang menghadiri pertemuan ini? Sekarang kalian telah melakukan

kesalahan, hayo sana menghadap toa kongcu untuk menerima hukuman”

Sekujur tubuh bocah-bocah berbaju hijau itu gemetar keras, agaknya mereka merasa ketakutan

setengah mati, namun tidak berani pula banyak bicara maka setelah memberi hormat, sahutnya,

“Terima perintah!”

Ketika memutar tubuhnya hendak pergi, tak tahan lagi titik air mata jatuh berlinang membasahi

pipinya.

Yau Tiong-in yang menyaksikan kejadian itu menjadi tak tega, segera bentaknya, “Tunggu

sebentar.”

Dua orang bocah berbaju hijau itu segera berhenti, kemudian berpaling kearah Kok Gi-pek.

Kalau memang Yau tayhiap ada perintah, tetua saja kalian harus berhenti” ujar Kok Gi-pek.

Lalu sambil berpaling kearah Yau Tiong-in, ujarnya sambil tertawa, “Apakah Yau tayhiap merasa

cara tersebut kurang dapat melampiaskan rasa gusarmu, sehingga ingin menghukum sendiri

mereka berdua?”

“Tolong tanya, apakah kedua orang saudara cilik ini harus melaksanakan hukumannya?” tanya

Yau Tiong-in dengan suara dalam.

Kok Gi-pek segera tertawa hambar.

“Aneh benar pertanyaan dari Yau tayhiap, memangnya perintah dari perkumpulan Hian-beng-kau

kami hanya permainan belaka?”

Merah padam selembar wajah Yau Tiong-in karena jengah, kembali ia bertanya, “Entah hukuman

apakah yang hendak dilaksanakannya?”

“Jika masuk ke ruang hukuman, berarti mereka harus mampus tapi jika mendapat pengampunan

maka keputusan berada ditangan suheng kami, itupun paling enteng harus potong lengan”

Bergidik hati Tam Si-bin dan Yau Tiong-in setelah mendengar perkataan itu, kekejaman serta

keketatan peraturan Hian-beng-kau boleh dibilang jarang ditemui didunia ini, sebab hanya

dibilang melakukan kesalahan kecil pun hukumannya potong lengan, malah Kok Gi-pek

mengucapkannya dengan begitu santai seolah-olah hukuman tersebut sudah merupakan suatu

kejadian yang umum, hal mana cukup menggetarkan hati siapapun yang mendengar.

Yau Tiong-in segera memberi hormat, lalu katanya, “Aku orang she Yau ingin memohonkan

pengampunan bagi mereka!”

“Waaah, jika Yau tayhiap berkata demikian, hal ini malah justru akan menyusahkan kami!” kata

Kok Gi-pek sambil mengerutkan dahinya.

Sebagai seorang jagoan dari golongan kaum pendekar, sudah barang tentu Yau Tiong-in merasa

tak tega mengorbankan jiwa dua orang bocah cilik yang tak berdosa karena persoalannya,

karena terpaksa maka diapun berkata, “Nona Kok dalam persoalan ini akulah yang sebetulnya

tidak benar karena hatiku sedang gundah dan murung maka semua kemarahan telah

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

220

kulampiaskan pada dua orang saudara cilik ini, sesungguhnya mereka tak bersalah, tentu saja

tak pantas dijatuhi hukuman, bila ingin menyalahkan seharusnya akulah yang pantas disalahkan”

Kok Gi-pek berseru tertahan, lalu sambil pura-pura tercengang, serunya kembali, “Aaah, hal ini

sama sekali tak masuk diakal” masa ada jago dari golongan lurus yang melampiaskan hawa

amarahnya kepada orang lain”

Merah padam wajah Yau Tiong-in karena malu, diam-diam sumpahnya dalam hati, “Budak sialan,

tajam benar lidahmu!”

Dalam pada itu Kok Gi-pek telah ulapkan tangannya sambil berkata, “Kalau memang kalian

menjemukan dan bodoh sekali sehingga tidak berkenan dihati Yau tayhiap, kenapa tidak cepat

pergi dari sini? Berdiri melulu disitu hanya membikin jemu orang saja”

Bocah berbaju hijau itu segera memberi hormat seperti memperoleh pengampunan, buru-buru

mereka kabur meninggalkan tempat itu.

Kok Gi-pek mengerling sekejap ke arah dua orang tamunya, lalu berkata kembali, “Para bocah

pelayan itu memang bodoh dan tak tahu aturan, tentu saja sulit buat mereka untuk melayani

orang pintar entah bagaimana kalau aku saja yang mengantar saudara berdua kembali ke tempat

istirahat para tamu agung?”

Mana berani merepotkan nona?” seru Tam Si-bin.

“Ah, tidak menjadi soal”

Tidak banyak berbicara lagi ia putar badan dan berlalu lebih dulu dari situ.

Terpaksa Tam Si-bin dan Yau Tiong-in mengikuti pula di belakangnya.

Kok Gi-pek membawa dua orang itu berjalan melewati sisi lapangan dan berbelok ke sebuah

jalan tembus.

Dalam perjalanan, tiba-tiba Kok Gi-pek berkata sambil tertawa, “Yau tayhiap, apakah kau anggap

perkumpulan kami terlampau miskin sehingga tak mampu menjamu tamu banyak?”

Pertanyaan tersebut segera membuat Yau Tiong-in menjadi tertegun, katanya, “Maaf aku tidak

paham dengan apa yang nona maksudkan?”

Kok Gi-pek tertawa cekikikan.

“Aaah, masa Yau tayhiap tidak mengerti?”

Tam Si-bin ikut tertawa tergelak, timbrungnya, “Lebih baik nona jangan bermain teka-teki,

apalah salahnya jika berbicara saja terus terang!”

Kok Gi-pek tersenyum manis, katanya kemudian, “Yan tayhiap, susiokmu Tiang cong siang kiam,

masa yang satu tinggal diruang kedua, yang lain tinggal di ruang ketiga, sementara suheng dan

murid-muridmu malah menempati ruangan ke empat sampai ruang sembilan bukan saja tidak

memakai nama asli, pun tidak menye-butkan asal perguruan asal mana, sungguh menyulitkan

perkumpulan kami ataukah Yau tayhiap merasa malu karena membawa anggota perguruan yang

terlalu besar jumlahnya, sehingga daripada ditolak masuk maka kalian gunakan taktik tersebut?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

221

Setelah berhenti sejenak, sambil tertawa ia melanjutkan, “Harap Yau ciangbun legakan hati

sekalipun dari perguruan kalian ada seribu orang yang datang, perkumpulan kami masih sanggup

untuk menjamunya apalagi cuma lima puluh orang”

Ucapan tersebut kontan saja membuat paras muka Yau Tiong-in berubah menjadi pucat sebentar

merah sebentar, sungguh tak terlukiskan rasa kaget dan terkesiapnya.

Ternyata partai Tiam cong memang telah mengatur rencana untuk membalas dendam dengan

mempergunakan kesempatan itu, maka segenap ke kuuatan mereka telah dikerahkan datang.

Akan tetapi karena kuatir kekuatan tersebut ketahuan Hian-beng-kau, maka kecuali Yau Tiong-in

seorang, yang lain segera menyaru dan menyusup masuk dengan cara menyebarkan diri,

rencana mereka bila upacara peresmian nanti diselenggarakan, maka mereka akan lancarkan

serangan secara mendadak….

Siapa tahu jejak mereka justru telah diketahui oleh pihak Hian-beng-kau, malahan jumlahnya tak

kurang seorangpun, ucapan dari Kok Gi-pek tersebut semakin menunjukkan bahwa gerak-gerik

mereka memang selalu diawasi.

Tam Si-bin yang menyaksikan kejadian itu segera kuatir kalau ia tak tahan diri, buru-buru

menarik ujung bajunya lalu tertawa terbahak bahak.

“Haaahn…..haaah h…haaahhh…………berita yang kalian peroleh sungguh amat tajam, sungguh

mengagumkan!”

Kok Gi-pek mengerdipkan biji matanya yang jeli, lalu katanya, “Tan cianpwe terlalu memuji partai

kami……

Sambil tertawa Tam Si-bin segera menukas, Tiga orang suteku dan delapan orang keponakan

muridku datang kemari secara berombongan, mungkin merekapun tidak menyebutkan nama

yang sebenarnya, harap kalian suka memaafkan.

Mendengar perkataan itu, diam-diam Kok Gi-pek berpikir, Jago kawakan memang biasanya lebih

cerdik dan cekatan………

Maka ujarnya sambil tersenyum, Ah, ucapan Tam cianpwe terlalu serius. Para jago dengan tidak

mengecilkan partai kami sebagai partai sesat telah sudi berkunjung kemari, hal ini sudah amat

mengharukan hati kami, orang lain sedang berbuat bagaimana lantas bagaimana, tentu

perkumpulan kami tak berani banyak bicara, pertama jangan kuatir kalau pelayanan kami kurang

baik, kedua kuatir jika ada kawanan manusia rendah yang memanfaatkan kesempatan ini untuk

memancing diair keruh maka mau tak mau terpaksa kami harus bersiap lebih waspada”

Meskipun perkataan itu mengandung sindiran, namun kedua orang jago tersebut tak mampu

menanggapi walaupun hanya sepatah kata pun.

Sementara itu Kok Gik pek telah berkata lagi setelah berhenti sejenak, “Seandainya kali ini Jin

tianglo dan Tiangsun tianglo dari perkumpulan kami tidak berhasil mengenali jago-jago lihay dari

partai kalian berdua jika hal ini sampai tersiar dalam dunia persilatan, bukankah orang lain akan

mentertawakan kami orang orang Hian-beng-kau sebagai manusia yang punya mata tak berbiji”

Tam Si-bin segera tertawa terbahak bahak.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

222

Haahh……haahh…..haaahh……aku pikir Jin tianglo serta Tiangsun tianglo kalian pastilah jagojago

lihay dari dunia pesilatan.

“Tiangsun tianglo sudah lama mengasingkan diri dari keramaian dunia” kata Kok Gi-pek hambar,

“dia merupakan keturunan langsung dari seng jiu lu pan (Lu Pan bertangan malaikat) yang telah

membangun istana Kiu ci kiong dari coucu kami tempo hari, kali ini keturunannya kembali

berkerjasama dengan perkumpulan kami untuk membangun istana kedua………”

“Apakah dia adalah Tiangsun Poh?” tanya Tam Si-bin dengan perasaan bergetar keras.

“Betul!” Kok Gi-pek manggut-manggut.

Setelah berhenti sejenak, ia berkata lebih jauh, “Sedangkan Jin tianglo, dia lebih termashur lagi,

tentunya kalian berdua belum lupa bukan dengan Cong tausu dari perkumpulan Hong im hwee

yang tersohor pada dua puluh tahun berselang?”

“Jin Hian maksudmu?” seru Yau Tiong-in kaget.

Kok Gi-pek tertawa hambar.

“Yaa, itulah Jin tianglo”

Sementara pembicaraan berlangsung sampai disitu, mereka bertiga telah tiba disebuah

bangunan rumah yang dikelilingi pagar tembok tinggi.

Bangunan rumah disana bersusun-susun dengan serambi yang saling berhubungan, ada pohon

yang rindang, kolam air yang jernih, gunung-gunungan yang indah dan taman bunga dengan

aneka tumbuhan yang berbau harum, sungguh tempat itu merupakan sebuah pemandangan

yang sangat indah…….

Sepanjang serambi ruangan kecuali para jago dari empat penjuru yang datang menghadiri

upacara, terlihat pula banyak gadis cantik yang berjalan hilir mudik.

Sambil menghentikan langkahnya Kok Gi-pek lantas bertanya, “Kalian berdua ingin tinggal

bersama orang-orang separtai, ataukah ingin tinggal secara terpisah?”

Tam Si-bin dan Yau Tiong-in saling berpandangan sekejap lalu diam-diam tertawa getir.

Baru saja mereka masuk ke wilayah Ui gou peng, sekalipun tahu kalau rekan-rekan

seperguruannya telah masuk kedalam lembah tapi hingga kini belum mengadakan kontak,

merekapun enggan menanyakan persoalan ini kepada pihak Hian-beng-kau, maka untuk sesaat

menjadi bingung tidak memberi jawaban.

Kok Gi-pek segera tertawa cekikian, tiba-tiba ia bertepuk tangan pelan, segera muncul dua orang

gadis cantik menghampirinya, setelah memberi hormat tanyanya, “Ada urusan apa nona?”

Sambil menuding kedua orang itu, Kok Gi-pek berkata, “Persiapkan segera baik-baik tempat

menginap dua orang tayhiap ini, jangan tertindak kurang sopan!”

Dua orang pelayan cantik itu segera mengiakan, setibanya dihadapan Tam Si-bin dan Yau Tiongin

mereka memberi hormat kemudian ujarnya bersama, “Menjumpai ya koan berdua!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

223

Sambil menuding dua orang pelayan cantik itu Kok Gi-pek kembali berkata, “Yang disebelah kiri

bernama Kim Kwi khusus melayani Tam loy cu, Sedangkan yang di kanan Cui Huan anggap saja

untuk Yau tayhiap”

Setelah berhenti sebentar ia melanjutkan, “Mulai sekarang, dua orang pelayan ini menjadi milik

kalian berdua kecuali makan, hidup kalian berdua, mati hidup kedua orang pelayan inipun berada

ditangan kalian, perkumpulan kami tidak akan berhak untuk menanyakan lagi, jika kalian

memang setuju, selesai upacara nanti kedua orang pelayan itu boleh kalian bawa pergi”

Kontan saja Yau Tiong-in mencaci maki, “Hmm! Tidak bermaksud baik, rupanya kau hendak

menjebak orang”

Kok Gi-pek tertawa cekikikan.

“Arak itu tidak memabukkan adalah orang yang mabuk dengan sendirinya, emas tulen tak kuatir

dibakar dengan api, hanya jago-jago tulen yang tidak kuatir perpengaruh oleh arak, perempuan,

har ta dan kedudukan. Apakah Yau tayhiap kuatir imannya kurang tebal dan tidak tahan

godaan……

Sepasang alis mata Yau Tiong-in langsung berkenyit, serunya dengan angkuh, “Ako orang she

Yau mana takut…..”

Tiba-tiba Tam Si-bin mendeham pelan, kemudian dengan kening berkerut katanya, “Lohu adalah

orang dari gunung yang terbiasa hidup bebas, jika dilayani orang malah rasanya kurang leluasa,

nona Kok, biarlah maksud baikmu itu kuterima dalam hati saja”

Ketika mendengar perkataan itu, paras muka dua orang pelayan cantik itu segera berubah hebat.

Kok Gi-pek tersenyum, katanya, “Tam cianpwe, kau harus tahu, seandainya suhengku atau para

thamcu yang melayani kedatangan kalian sekarang, maka dua orang pelayan ini mungkin sudah

tergeletak tak bernyawa lagi!”

Yau Tiong-in mendengus marah, serunya.

“Aku orang she Yau merasa kagum sekali dengan ketatnya peraturan Hian-beng-kau,

cuma…….hmm, apakah kalian tidak merasa kebangatan dengan tindakan semacam itu?”

“Yaa, kalau tidak begini, mana mungkin perkumpulan kami bisa menegakan disiplin dan

memperketat peraturan?”

Tam Si-bin benar benar tak dapat mengendalikan perasaannya lagi. dengan dingin ia berseru.

“Perbuatan perkumpulan kalian memang luar biasa sekali, waah, dengan cara kalian yang kejam

dan tidak kenal perasaan begini rasanya memang tidak sulit bila ingin menguasahi seluruh jagad.

Kok Gi-pek tidak membantah atau mendebat perkataan itu, pelan- pelan dia berjalan kehadapan

dua orang pelayan itu, lalu setelah menghela nafas sedih ujarnya, “Kalian baik-baiklah bertugas,

seperti yang diketahui, peraturan dari perkumpulan kita sangat ketat, jika sampai melanggar

peraturan tersebut, bahkan akupun tak akan sanggup menyelamatkan jiwa kalian.”

Agak merah sepasang mata dua orang pelayan itu, mereka tundukkan kepalanya rendah-rendah.

Dengan suara lirih Cui Huan lanias berkata, “Terima kasih banyak atas kebaikan nona.”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

224

Kok Gi-pek menghela nafas panjang, dia berpaling kearah lain dan berkata lagi dengan dingin,

“Soal penyambut tamu agung sesungguhnya bukan urusanku, aku sampai berbuat demikian tak

lebih karena ingin mengurangi jumlah kematian yang tak berguna, toh aku hanya bisa berbicara

disini saja, untuk selanjutnya terserah pada kalian sendiri!”

Sambil putar badan ia bersiap meninggalkan tempat itu, tapi tiba-tiba ia berhenti.

Tam Si-bin dan Yau Tiong-in yang menyaksikan kejadian tersebut ikut berpaling.

Tampaklah dari tikungan jalan sebelah depan sana muncul tiga orang manusia, paling depan

adalah seorang kakek berjenggot putih berwajah merah sedang dibelakangnya mengikuti

seorang laki dan seorang perempuan yang jalan bersanding.

Kedua orang itu mirip suami istri, yang pria beralis tebal bermata besar dan bertubuh tegap, ia

tampak gagah perkasa sedang yang perempuan berwajah cantik dan bersikap anggun, keduaduanya

ti dak membawa senjata.

Dalam sekilas pandangan saja Kok Gi-pek telah mengetahui siapakah kedua orang itu, ditatapnya

perempuan cantik setengah umur itu sekejap, lalu pikirnya, “Yaa, tak salah lagi aku memang

mirip sekali dengannya……”

Entah mengapa tiba-tiba muncul suatu perasaan aneh dalam hatinya, kalau bisa ia ingin sekali

menubruk kedalam pangkuan perempuan cantik setengah umur itu.

Ketika sepasang suami istri itu berjumpa dengan Kok Gi-pek, merekapun kelihatan agak

tertegun, empat buah mata sama-sama menatap wajahnya tanpa berkedip.

Setelah tertegun beberapa saat lamanya, tiba-tiba perempuan cantik berusia setengah umur itu

berjalan menghampiri Kok Gi-pek kemudian sapanya, “Nona, bolehkah aku tahu siapa namamu?”

Keangkuhan Kok Gi-pek sama sekali lenyap tak berbekas, dengan amat sopan ia memberi

hormat, lalu sahutnya.

“Boanpwe Kok Gi-pek!”

Mendengar perkataan itu, sang nyonya cantik itu tertawa kepada laki-laki kekar itu, ujarnya,

“Toako, sudah kau dengar? Aku tebak yang di maksudkan pastilah moay moay”

Laki-laki kekar mendengus rendah, sikap sinis menghiasi wajahnya.

“Nona berasal darimana?” kembali nyonya cantik itu bertanya lagi.

Kok Gi-pek tidak menjawab, sebaliknya mala bertanya, “Apakah cianpwa adalah Cu sim siancu

(Dewi berhati bajik)?”

Nyonya cantik setengah umur itu tersenyum.

“Aaah, itu cuma sanjungan dari sahabat-sahabat persilatan, Pek Soh-gi mana pantas menerima

julukan tersebut?”

Ternyata sepasang suami istri ini bukan lain adalah Bong Pay serta Pek Soh-gi.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

225

Walaupun Pek Soh-gi adalah putri Pek Siau-thian, tapi sejak kecil dia ikut dengan ibunya Koa

Hong bwe meninggalkan perkumpulan Sin-ki-pang dan tinggal dibukit Hoan keng san.

Sepanjang tahun dia makan makanan berpantang seperti ibunya dan tak pernah meninggalkan

rumah barang selangkah pun, oleh sebab itu bukan saja tidak ternoda oleh kebiasaan orangorang

persilatan, kelembutan dan kehalusan budinya masih suci bersih, hingga siapapun yang

berjumpa dengannya tentu menaruh simpati kepadanya.

Kemudian setelah menikah dengan Pek lek kun (pukulan geledek) Bong Pay, untuk menebus

dosa ayahnya dan lebih-lebih atas dorongan suaminya untuk banyak beramal, kelembutan dan

kebaikan hatinya merebut simpati banyak orang, sekalipun ada musuh yang berniat ja hat, hawa

sesatnya segera terpunahkan setelah berjumpa dengannya, sebab itulah orang persilatan

menghadiahkan julukan “Cu sim Siancu kepada-nya,

Bong Pay adalah murid Pek sian (Dewa geledek) dari Bu lim siang sian (sepasang dewa dari

dunia persilatan) didalam pertemuan Pak beng-bwe, Pek lek sian menemui ajalnya dengan

menanggung dendam, waktu itu ia masih muda dan hidup gelandangan dalam dunia persilatan,

tapi untung dengan ketekunannya berlatih dan memperoleh bimbingan dari supeknya Siau yau

sian (dewa yang suka keluyuran) Cu Thong serta Hoa Thian-hong, akhirnya ia berhasil juga

mengangkat dirinya menjadi seorang pendekar besar yang menggemparkan dunia persilatan.

Semenjak kawin dengan Pek Soh-gi yang lemah lembut, ia banyak sekali berbudi sosial dan

menolong orang apa lagi didampingi istrinya yang lemah lembut, hal mana membuat kewelasan

hatinya bukan aja bertambah tebal, bahkan sifat berangasannya dimasa lalupun sudah banyak

berubah.

Coba kalau bukan demikian, setelah mendengar perkataan dari Pek Soh-gi tadi, niscaya ia sudah

memaki Kok See-piau dengan beberapa patah kata yang tajam.

Sejak ia masuk kedalam keluarga Pek, sebenarnya kursi kebesaran sebagai seorang pangcu dari

perkumpulan besar itu menjadi miliknya, tapi ia adalah seorang yang tak suka kebesaran dan

kedudukan, malah perjuangannya terhitung paling besar ketika membubarkan Sin-ki-pang, atas

perbuatannya itu banyak jago dari kalangan lurus yang kagum dan memuji dirinya.

Dengan pandangan kagum Kok Gi-pek memperhatikan wajah Pek Soh-gi lekat-lekat, meski

usianya telah mencapai empat puluh tahunan, ternyata kelembutan dan kecantikannya masih

tertera jelas.

Makin dilihat, gadis itu merasa semakin simpati, sehingga akhirnya ia berkata, “Aaah mana

kecantikan cianpwe bagaikan bidadari, kelembutan hatinya bagaikan Buddha julukan Cu sim

Siancu memang paling pantas untuk diri cianpwe”

“Soal itu tak usah dibicarakan lagi nona, apakah kau bersedia memberi tahukan kepadaku

berasal dari mana?”

“Boanpwe berasal dari Cing-ciu!”

“Aaah……!” Pek Soh-gi berseru tertahan,

wajahnya segera diliputi oleh rasa kecewa yang mendalam sekali.

“Soh-gi, belum tentu dalam dunia ini terdapat kejadian yang begini kebetulan, sudahlah, lupakan

saja!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

226

Tapi Pek Soh-gi segera gelengkan kepalanya berulang kali.

“Aku tidak terlalu percaya!” katanya.

Tiba-tiba satu ingatan menggerakkan hati Kok Gi-pek, diam-diam pikirnya, “Kalau diresapi

maksud dari ucapannya itu, apa dia telah menganggapku sebagai putrinya…”

Sementara ia masih melamun, Pek Soh-gi telah bertanya lagi, “Nona, apakah ayah ibumu masih

sehat semua?”

Kok Gi-pek menggerakkan bibirnya hendak menjawab, tapi sebelum mengucapkan sesuatu,

kakek berwajah merah berambut putih yang bukan lain adalah Toan bok Seeliang, Tamcu dari

markas besar Hian-beng-kau telah manyela sambil mendehem ringan.

“Bong hujin, orang tua nona Kok tentu saja masih sehat wal’afiaat……”

Sebenarnya Bong Pay terhitung masuk anggota keluarga Pek, tapi berhubung Pek Soh-gi amat

menghargai suaminya, dalam setiap persoalan Bong Pay yang mengatasi dan untuk meneruskan

tali keturunan keluarga Bong, maka keturunannya semua memakai nama marga Bong, dan

persoalan ini telah dirunding sebelumnya secara baik baik.

Pek Soh-gi sama sekali tidak memperdulikan jawaban kakek itu, kembali ia mengulangi

pertanyaannya, “Apakah ayah ibumu masih hidup?”

Kok Gi-pek manggut manggut

“Terima kasih atas perhatian cianpwe hingga kini orang tuaku masih segar bugar”

Pek Soh-gi amat kecewa, pikirnya, Betul-betul aneh sekali, masa kolong langit bisa terdapat

seorang anak yang bukan keturunannya tapi mempunyai type wajah yang begitu mirip? Hal ini

betul-betul mustahil!”

Dengan perasaan tergerak, ia bertanya lagi, “Bolehkah kami suami isteri berdua bertemu dengan

orang tuamu?”

Tiba-tiba Toan See liang menyela kembali, “Bong hujin, ada pepatah mengatakan, jika tidak

sepaham maka tak akan sekomplot, buat apa kalian musti berjumpa muka?”

Pek Soh-gi kembali pura-pura tidak mendengar.

“Aku pikir she Kok tersebut bukan nama warga nona yang sebetulnya, bolehkah aku tahu nona

sebenarnya she apa? Kenapa mengikuti she gurumu?

Percayalah bahwa aku bermaksud baik, maka akupun minta agar kau jangan berbohong”

Bong hujin!” tegur Toan bok See liang dengan kening berkerut, “cara menyelidiki urusan pribadi

nona Kok dari perkumpulan kami sudah merupakan perbuatan yang melanggar pantangan besar”

Sehabis berkata ia lantas melangkah pergi dari situ.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

227

Bong Pay mengernyitkan alis matanya yang tebal, tiba-tiba ia rentangkan tangannya untuk

menghadang jalan pergi kakek itu kemudian sambil tertawa ujarnya, “Toan bok thamcu,

terimalah salam hormat dari Bong Pay!”

Rentangan tangan itu memang kelihatan-nya sederhana dan tiada sesuatu yang aneh, padahal

justru mengandung suatu kekuatan besar yang setiap saat siap dilontarkan bilamana Toan bok

See liang nekad untuk menyerbu ke depan, maka serangan yang dahsyat dan mematikan itu

segera akan meluncur keluar.

Sebagai seorang jago kawakan tentu saja Toan bok See liang cukup mengetahui kelihaiyan dari

serangan tersebut, dengan wajah berubah ia segera berhenti, katanya dengan gusar, “Bong

tayhiap, kalian suami istri berdua datang kemari sebagai tamu, kenapa sikap kalian begitu

kelewat batas?”

“Istriku toh cuma mengajukan beberapa buah pertanyaan saja kepada nona ini, apakah

perbuatan semacam ini termasuk kebangetan”

Paras muka Toan bok See liang segera berubah menjadi hijau membesi, katanya kemudian,

“Baik, baik, apakah Bong tayhiap bermaksud untuk bertarung sekarang juga?”

“Oh, aku orang she Bong sebagai tamu pasti akan mengiringi keinginan tuan ramah!”

Kok Gi-pek yang melihat gelagat tak enak, dengan alis berkenyit segera menegur, “Empek Toan

bok, kenapa sih kau ini”

Toan bok See liang berkerut kening, tiba-tiba sambil tertawa tergelak katanya, “Ternyata Bong

tayhiap suami istri sangat memperhatikan murid sinkun perkumpulan kami, peristiwa ini betulbetul

merupakan ke jadian yang baik, lohu merasa amat gembira”

Pek Soh-gi tersenyum ia bertanya lagi, “Bagaimana pendapat nona?”

Pek Soh ikut tertawa.

“Cianpwe suami istri adalah jago-jago kenamaan dalam dunia persilatan, bila ada waktu, dengan

senang hati orang tua kami pasti bersedia untuk bertemu dengan kalian”

Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan, “Aku mengikuti nama marga dari guruku, ini

dikarenakan guruku telah mendapat persetujuan dari ayahku, semenjak kecil sudah demikian”

Dengan kecewa Pek Soh-gi menghela napas panjang, setelah fakta berbicara demikian terpaksa

ia harus urungkan niatnya sampai disitu.

Dengan penuh kasih sayang Bong Pay membelai bahu istrinya dan menghibur dengan kata-kata

yang manis.

Tapi Pek Soh-gi gelengkan kepalanya berulang kali, dengan mata berkaca- kaca, tiba-tiba ia

berseru, “Ooh toako jika dia adalah putri kami, betapa senangnya aku!”

Kok Gi-pek merasakan hatinya bergetar keras, kalau bisa dia ingin menubruk ke dalam pangkuan

Pek Soh-gi dan menghibur hatinya,

Perasaan semacam itu memang aneh sekali, bahkan ia sendiripun agak tercengang oleh

perasaan demikian, sambil mengendalikan diri iapun berpiir, “Kalau diingat kembali, sebetulnya

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

228

mereka dengan aku masih terhitung musuh besar tapi heran, kenapa kau bisa mempunyai

perasaan semacam itu.

Berpikir sampai disitu, ia lantas bungkukkan badan memberi hormat seraya ujarnya, “Boanpwe

ingin mohon diri lebih dulu, semoga saja dikemudian hari bisa banyak peroleh petunjuk dari

cianpwe berdua”

Diam-diam Toan bok See liang menghembuskan napas panjang, cepat ia berkata pula sambil

tertawa.

“Saat upacara peresmian sudah makin dekat, tamu yang datang makin banyak, maaf jika lohu

muski mohon diri lebih dulu karena masih banyak tugas yang harus ku selesaikan”

Setelah memberi hormat kepada Bong Pay suami istri, menyusul dibelakang Kok Gi-pek diapun

berlalu dari situ.

Bong Pay segera menjura, Pek Soh-gi membalas hormat pula dengan memaksakan diri katanya.

“Nona Kok, semoga saja dalam waktu singkat kita bisa berjumpa kembali……”

“Semoga saja demikian, Boanpwe pun berharap bisa bertemu lagi”

Ketika sampai diujung jalan saja, gadis itu tak tahan telah berpaling kembali ketika dilihatnya

Bong Pay suami istri menghantar kepergiannya, tiba-tiba iapun merasa agak berat hati untuk

berpisah dengan mereka, setelah tertegun sejenak akhirnya ia baru beranjak dan pergi dari situ.

Menanti bayangan tubuh gadis itu sudah lenyap tak berbekas, Pek Sob gi baru berkata dengan

sedih.

“Toako, bila Siau yu masih hidup, saat ini dia pun sudah dewasa seperti dia!”

Bong Pay menghela napas panjang.

“Aaai…..tapi ia punya orang tua, sedang jenasah Siau yu pun hingga kini telah….”

Tapi melihat kesedian yang melimuti wajab istrinya, tiba-tiba ia berganti pembicaraan, katanya

dengan lembut.

“Dalam dunia yang begini lebar, segala kemukjijatan bisa terjadi dimana-mana, wajah yang mirip

bukannya suatu hal yang tak mungkin terjadi tapi bila Kok See-piau sengaja mencarinya, diapun

belum tentu bisa menemukan”

Kiranya sejak kawin dengan Bang pay, Pek Soh-gi telah melahirkan dua orang putra dan seorang

putri.

Putra sulungnya Cong beng tahun ini telah berusia dua puluh tahun, ia merupakan anak yang

dipersiapkan untuk meneruskan generasi keluarga pek.

Putra bungsunya Giok heng, tahun ini berusia lima belas tahun, ia adalah anak yang dipersiapkan

untuk meneruskan generasi keluarga Bong.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

229

Hanya seorang anak perempuannya yang paling dimanja dengan nama kecil Siau yu, ketika

belum genap berusia setahun, ketika dibopong pelayan bermain-main di bukit Tay pa san, keduaduanya

ternyata terjerumus ke dalam jurang dan mati.

Keesokan harinya Bong Pay suami istri telah melakukan pencarian diseluruh lembah, akhirnya

tidak berhasil menemukan jenasah pelayan dan putrinya, hal mana tentu saja amat menyedihkan

hati Pek Soh-gi, hampir setengah tahun lamanya ia bermuram durja dan murung sepanjang hari.

Kemudian lambat laun pun pikirannya terbuka kembali, ia merasa ayahnya memang banyak

melakukan kejahatan dimasa lalu sehingga karmanya sekarang terkena pada cucu

perempuannya.

Untuk mengatasi kesedihan tersebut, sepa sang suami istri ini pun mempergiat usaha sosialnya

menolong orang orang lain.

Untuk menghilangkan kenangan tersebut peristiwa ini sama sekali tidak mereka wartakan kepada

Hoa Thian-hong suami istri, sebab itu Hoa In-liong pun tak tahu kalau ia sebenarnya mempunyai

seorang adik misan yang telah mati sebelum genap berusia satu tahun.

Demikianlah, setelah peristiwanya berlangsung demikian, tak tahan lagi Tam Si-bin dan Yau

Tiong-in maju ke depan menghampiri suami istri berdua.

“Bong tayhiap, masih ingatkah kau dengan si tua bangka dari bukit Thian tay?”

Bong Pay memutar badannya dan berpikir sebentar, kemudian sambil menjura ia berkata, “Oh,

kiranya adalah Tam cianpwe, dalam pertemuan Pak beng hwee….”

“Dalam pertemuan Pak beng hwee, beruntung sekali lohu berhasil menyelamatkan diri, sejak itu

aku mengasingkan diri dari keramaian dunia untuk mendalami ilmu kui goan sinkang dari partai

kami, siapa tahu begitu berlatih puluhan tahun telah lewat, coba kalau suteku tidak minta

kembali kitab pelajaran itu, entah sampai kapan aku baru munculkan diri, yaa…..sampai-sampai

dalam pertemuan Kian Ciau tay-hwee pun aku tak sempat menyumbangkan tenaga, tindakan ini

pasti telah mengecewakan banyak sobat lama.

Bong Pay tersenyum, kemudian berpaling ke arah Yau Tiong-in.

Buru-buru Yau Tiong-in menjura sambil berkata.

“Yau Tiong-in dari partai Thiam cong merasa beruntung sekali bisa berjumpa dengan Bong

tayhiap suami istri”

Bong Pay merangkap tangannya membalas hormat, Pek Soh-gi sendiri meski hatinya agak

tergetar, toh ia membalas hormat juga dengan sopan.

“Bong hujin!” Tam Si-bin berkata lagi sambil tertawa, “jika Kok Gi-pek berdiri bersanding

denganmu, maka siapa pun akan menduga kalian berdua sebagai ibu dan anak”

Pek Soh-gi gelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya.

“Tam cianpwe, bagaimana tanggapanmu mengenai watak nona Kok tersebut?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

230

Diam-diam Tam Si-bin berpikir dalam hati, “Kalau dilihat dari sikapnya yang begitu

memperhatikan Kok Gi-pek, memang mirip sekali hubungan mereka seperti hubungan antara ibu

dengan anaknya”

Dalam hati berbicara demikian, diluar ujarnya, Menurut pendapat lohu, meskipun nona itu

tumbuh jadi dewasa dalam kalangan sesat tapi watak nya termasuk baik, cuma sayang rada

angkuh dan mulutnya terlalu tajam”

“Aku lihat ia begitu lembut, halus dan menawan hati” ujar Pek Soh-gi cepat dangan kening

berkerut.

Itu kan terhadap hujin” sela Yau Tiong-in, “sikapnya kepada orang lain justru tidak demikian,

terus terang ku beritahu kepada Bong hujin, sewaktu datang tadi aku orang she You telah

merasakan sindirannya yang panas itu”

Ketika berbicara sampai disini, keempat orang itu segera merasakan hatinya agak bergerak,

semua orang teringat dengan ucapan yang berbunyi, antara ibu dan anak mempunyai ikatan

batin yang mendalam, hanya saja hal itu tak sampai diutarakan keluar.

Tiba-tiba Kim Kui, Cui Huan dan dua orang pelayan lainnya berjalan mendekat, lalu dipimpin oleh

Kim Kui, kata mereka, “Waktu magrib telah menjelang tiba, santapan malam tayhiap sekalian

telah disiapkan dalam pagoda air, apakah sekarang juga akan bersantap?”

Keempat orang itu saling berpandangan sekejap lalu tanpa banyak berbicara lagi mereka berjalan

menuju ke pagoda air dengan mengikuti dibelakan pelayan-pelayan tersebut.

Jika Tam Si-bin dan Yau Tiong-in, yang satu adalah jago silat yang sudah lama mengasingkan

diri, yang lain jarang bergaul dengan masyarakat, tidak banyak kenalan yang mereka punyai.

Berbeda dengan Bong Pay suami istri yang hampir mendekati dua puluh tahun lamanya dikenal

orang sebagai jago silat yang termashur, sekalipun banyak yang tidak mereka kenal, tapi tak

sedikit yang menyapa dan memberi salam kepada mereka.

Sebab itulah meski jaraknya dekat, perjalanan ini memakan waktu yang cukup lama.

Selang beberapa saat kemudian, tibalah mereka disebuah pagoda air yang empat penjuru

berjendela lebar, angin malam berhembus lewat membawa kesejukan, membuat ruangan yang

terang benderang oleh sinar lampu itu terasa bertambah segar.

Dalam pagoda tiada orang lain, agaknya khusus disiapkan untuk mereka berempat, begitu

keempat orang tersebut duduk, pelayan pun datang menghidangkan arak.

“Lebih baik kalian mengundurkan diri saja dari sini” tiba-tiba Bong Pay berkata.

Sementara para pelayan itu masih tertegun, sambil tersenyum Pek Soh-gi telah berkata, “Kami

lebih suka makan minum sendiri secara bebas, nona sekalian boleh pergi beristirahat”

Cui Huan menjadi sangsi, bisiknya agak gelagapan.

“Terima perintah, cuma……..”

“Bukankah nona sekalian ditugaskan kembali untuk melaksanakan perintah kami?” tukas Pek

Soh-gi cepat, “inilah perintah kami!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

231

Pelayan-pelayan itu masih kelihatan agak sangsi tapi akhirnya mereka letakkan poci arak ke meja

dan mengundurkan diri dari pagoda tersebut, sebelum keluar mereka sempat merapatkan pula

pintu pagoda itu……….”

Pek Soh-gi melirik sekejap kearah suami nya, Bong Pay segera mengangguk, maka diapun

bangkit dan berjalan ketepi jendela lalu balik kembali kemeja sekalian memadamkan api lentera.

Dengan padamnya lampu maka suasana dalam pagoda itu hanya diterangi sinar rembulan yang

memancar masuk lewat jendela pagoda, sekalipun agak lamat-lamat namun bukan halangan bagi

beberapa orang jago tangguh tersebut.

Sambil mengangkat poci arak, Pek Soh-gi berkata sambil tertawa, “Malam ini bulan bersinar

purnama, minum arak dalam pagoda air dalam suasana begini memang cukup romantis, marilah

ku penuhi cawan arak kalian berdua sebagai tanda mohon maaf”

Sekalipun Tam Si-bin dan Yau Tiong-in merasa agak kesal, namun mereka pun tahu bahwa

perbuatan mereka pasti mengandung maksud tertentu, oleh karena orang tidak berkata, tentu

saja merekapun enggan bertanya.

Sambil bangkit berdiri, buru-buru serunya, “Aaah, mana berani menurunkan derajat hujin!”

Sambil tersenyum Pek Soh-gi memenuhi cawan arak, ternyata ada lima cawan yang dipenuhi

olehnya, hal mana dengan cepat menyadarkan Tam Si-bin berdua bahwa mereka sedang

menunggu kehadiran orang dan tanda rahasia baru saja dilepaskan.

Tiba-tiba Bong Pay berseru sambil tertawa, “Paman Ho, bahkan cawan arak bagimu pun sudah

dipenuhi oleh Toa moay cu, hayo masuklah!”

Desingan angin berhembus lewat, dan tahu-tahu dalam pagoda telah bertambah besar, orang itu

bukan lain adalah Boan thian jiu (si tangan sakti pembalik langit) Ho Kee-sian adanya.

Sambil tertawa terbahak bahak ia berkata, “Koh-ya, tenaga dalammu makin lama makin

mengejutkan, lohu masih berada pada jarak lima kaki, jejakku sudah kau ketahui!

Dengan langkah lebar ia menghampiri meja perjamuan dan duduk.

“Paman Ho, jangan buru-buru minum arak dulu, masih ada dua orang lain yang belum kau

jumpai” kata Pek Soh-gi.

“Tidak usah!” sahut Ho Kee-sian sambil tertawa, “dua orang ini, yang satu pernah beradu

pukulan denganku sewaktu ada dalam pertemuan Pak beng hwee tempo hari, sedang yang lain

datang bersama seluruh anggota partainya, tapi kurang rapat dalam merahasiakan jejaknya,

Hian-beng-kau saja sudah tahu, tentu saja akupun tahu”

Merah padam selembar wajah Yau Tiong-in karena jengah.

Sedangkan Tam Si-bin sambil tertawa terbahak-bahak segera berseru, “Saudara Ho, kapan aku

baru ada kesempatan untuk mencoba pukulan sakti pembalik langitmu?”

“Aah, apa susahnya, aku si Ho tua……..

Tapi sebelum ucapan tersebut selesai diucapkan, Pek Soh-gi telah menyela lebih dulu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

232

“Paman Ho, bagaimana dengan persiapan kita? Apakah diketahui pihak Hian-beng-kau?”

“Masa masih ada persoalan?” jawab Ho Kee-sian sambil tertawa angkuh, “dari rekan-rekan lama

siapakah yang tidak memiliki ilmu yang tinggi dan pengalaman yang luas? Sampai waktunya,

mungkin Kok See-piau si anjing keparat itu masih ada dalam impian”

Diam-diam Tam Si-bin dan Yau Tiong-in merasa malu dengan sendirinya setelah mendengar

perkataan itu.

Mereka tak menyangka kalau kedatangan Bong Pay suami istri kesitu telah disertai dengan suatu

rencana yang matang, tidak seperti mereka berdua baru saja masuk kedalam lembah, rahasianya

su dah diketahui oleh orang lain, Bong Pay rupanya tidak setuju dengan kata-kata Ho Kee-sian,

segera ujarnya, “Paman Ho, kau tak boleh terlalu gegabah, Kok See-piau yang sekarang bukan

Kok See-piau yang dulu lagi, kelicikkan dan kehebatannya tak bisa disamakan dengan pretasinya

dimasa lalu”

“Sekalipun demikian, toh ia pun tidak punya sesuatu yaag patut dibanggakan”

Bong Pay mengernyitkan sepasang alis matanya yang tebal, kemudian pelan-pelan berkata.

Tidak sedikit jumlah tokoh sakti yang bergabung dengan pihak Hian-beng-kau, yang telah

menampakkan diri sampai sekarangpun rata-rata berilmu tinggi, apa lagi yang masih belum

muncul hingga seka-rang, entah sampai dimana taraf kepandaian yang dimilikinya…..”

Tiba-tiba Yau Tiong-in menimbrung.

Bong tayhiap, taukah kau kalau Jin Hian serta Tiangsun Poh yang merencanakan penggalian atas

harta pusaka dalam istana Kiu ci kiong telah menggabungkan diri dengan pihak Hian-beng-kau?”

Paras muka Bong Pay agak berubah, serunya dengan cepat, “Haah masa terjadi peristiwa

semacam ini? Dari mana saudara Yau mendapat tahu?”

“Nona yang bernama Kok Gi-pek itulah yang memberitahukan hal ini kepada kami, sahut Tam Sibin.

Aaaah, tidak mungkin!” kata Pek Soh-gi dengan kening berkerut, walaupun ada lima enam tahun

paman Tiang-sun tak pernah berkunjung kebukit Tay pa-san, tapi dia adalah seorang laki-laki

yang berjiwa lurus dan ksatria, mana ia sudi bertekuk lutut oleh ancaman?”

“Jin Hian adalah pentolannya Hong-im hwee dimasa lalu” kata Ho Kee-sian pula, “meski

perkumpulan Hong im hwee nya sekarang sudah bubar, dan ia dipaksa untuk mengasingkan diri

hingga mati hidupnya tak ketahuan, tapi dengan kedudukannya sebagal seorang jago kawakan

dari dunia persilatan yang pernah menguasahi sepertiga dari dunia persilatan, aku rasa tak

mungkin ia rela diperintah oleh seorang angkatan muda macam Kok See-piau”

Untuk sesaat suasana menjadi hening, mereka sama-sama merenungkan kembali ada berapa

bagian kemungkinan yang memungkinkan Ji Hian dan Tiangsun poh diserap pihak Hian-bengkau.

Dalam keheningan tersebut, tiba-tiba Ho Kee-sian berkata, Menurut dugaanku, ada delapan

bagian Kok See-piau merasakan lemahnya kekuatan sendiri, maka sengaja ia tiupkan berita

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

233

sensasi agar mengacaukan pikiran para jago, bahkan Jin Huan sendiri siapa tahu kalau justru

berada pada posisi bermusuhan dengan mereka?”

“Perkataan dari saudara Ho ini memang ada betulnya juga maka lebih baik jika kita selalu

waspada sehingga tak sampai termakan oleh siasat busuk dari Kok See-piau”

“Tapi aku tidak percaya kalau paman Tiangsun bersedia membantu kaum durjana melakukan

kejahatan” kata Pek Soh-gi.

“Tiangsun cianpwe pribadi mungkin saja ksatria dan seorang laki laki sejati” ucap Yau Tiong-in

“tapi seandainya Kok See-piau menyandera istrinya atau anaknya, bukankah mau tak mau ia

musti tunduk juga dibawah ancamannya?”

Ketika Pek Soh-gi merasa hal ini ada kemungkinannya juga, ia menghela nafas panjang.

“Sayang dalam perjalanan menuju kemari aku tidak mampir dulu kebukit Bu-gi, untuk menengok

keadaan paman Tiangsun, kalau tidak niscaya kecurigaan dan keraguan ini dapat teratasi”

Tiba-tiba Bong Pay tertawa, ujarnya, “Besok adalah saat dilangsungkannya upacara peresmian,

sampai dimana kekuatan sesungguhnya dari Hian-beng-kau, dengan sendirinya akan kita ketahui

juga pada waktunya, buat apa kita musti main tebak secara ngawur dan membuang tenaga

dengan percuma?”

Yau Tiong-in manggut-manggut.

Perkataan saudara Bong memang betul, lebih baik kita jangan gubris lagi persoalan itu.

Sampai disini, Bong Pay pun tersenyum, lalu sambil mengalihkan pokok pembicaraan, serunya

kepada Ho Kee-sian, Sekarang Liong-ji berada dimana?

Ho Kee-sian tertegun, lalu pikirnya, “Kalau aku bicara terus terang dengan mengatakan kalau dia

dan Thian Ik-cu setelah kebukit Ho san tiada kabar beritanya, mereka pasti akan amat gelisah,

lebih baik jangan kusinggung dulu untuk sementara waktu.”

Sementara ia masih termenung, Pek Soh-gi telah bertanya lagi dengan gelisah, “paman Ho,

apakah keselamatan Liong ji terancam?”

Buru-buru Ho Kee-sian tertawa.

“Memangnya nona tidak kenal dengan tabiat Liong sauya?” ucapnya, “kepergiannya begitu tibatiba,

sampai lohu sendiripun tidak begitu jelas kemana ia telah pergi”

Hmm, bocah ini memang terlalu binal, masa menghadapi masalah besarpun sikapnya masih acuh

tak acuh…..

“Sifat binalnya memang belum hilang, tapi mungkin juga ada sedikit persoalan yang hendak

diselesaikannyaa sendiri, siapa tahu kalau ia menang bermaksud membuat surprise?” kata Pek

Soh-gi lagi sambil tersenyum.

Tam Si-bin cepat menyambung pula sambil tertawa.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

234

Hoa jin kongcu terkenal karena kecerdikan serta keberaniannya, tindakan yang ia lakukan pasti

mengandung maksud tertentu, cuma ia memang gemar tertawa haha hihi dalam mengerjakan

tiap persoalan, sikapnya yang santai tersebut memang cukup dikenal oleh setiap orang”

Bong Pay tersenyum.

Tam locianpwe terlalu menyanjung keponakanku itu, ia masih muda, pengalamannya masih

cetek, mana sanggup menanggung tanggung jawab sebesar ini?”

“Lohu bukannya memuji dan menyanjung dia lantaran dia adalah putra Thian cu kiam, tidak! Aku

berbicara demikian karena setiap umat persilatan merasa berpendapat demikian” kata Tam Si-bin

dengan wajah bersungguh-sungguh.

Hubungan Bong Pay dengan Hoa Thian-hong boleh dibilang melebihi saudara sendiri, Pek Soh-gi

pun kakak dari Pek Kun gi, ibu Hoa In-liong, jadi hubungannya dengan keluarga Hoa boleh

dibilang erat sekali.

Dengan eratnya hubungan ini, maka boleh dibilang mereka seringkali berkunjung ke

perkampungan Liok soat san cong, sementara angkatan muda dari keluarga Hoa pun setiap

waktu berkunjung ke tempat mereka, sebab itu pula dalam soal hubungan keluarga maupun

dalam hal pelajaran silat, kedua keluarga ini berkaitan satu sama lain dengan eratnya, itulah

sebabnya empat jurus terakhir dari ilmu Ci yu jit Ciat dapat berpindah pula ke dalam keluarga

Hoa.

Jadi dalam anggapan Bong Pay suami istri, Hoa In-liong sama pula dengan anak kandung

mereka sendiri.

Justru lantaran itu Bong Pay suami istri berdua amat risau menyaksikan watak Hoa In Hong yang

suka bermain perempuan disana sini dengan tabiatnya yang binal sukar diurus, tapi ketika

mengeta hui kalau diapun dipuji serta dikagumi umat persilatan, hatinya kembali terasa lega dan

nyaman.

“Orang yang terlalu pintar dan suka bersikap acuh biasanya kurang baik dalam melakukan

pekerjaan!” kata Pek Soh-gi tertawa.

Tiba-tiba dari kejauhan sana lamat-lamat kedengaran suara pertarungan yang tampaknya sedang

berlangsung amat seru.

Dengan wajah tercengang Yau Tiong-in lantas berseru, “Heran, siapa yang telah membuatr

keonaran di dalam markas besar Hian-beng-kau?”

Ia bangkit berdiri dan berjalan menuju ke tepi jendela, beberapa orang lain pun ikut pula

berpaling.

Sekeliling pagoda air itu merupakan jendela besar, jadi tanpa meninggalkan tempat duduk pun

bisa melihat ke tempat kejauhan.”

Terlihatlah pada sudut barat daya dari lembah itu berkobar cahaya merah yang membumbung

tinggi keangkasa, suara pertarungan tersebut berlangsung dari tempat itu.

Dari balik bangunan bangunan lainpun segera bermunculan bayangan manusia yang pada

menengok keluar jendela, tapi mereka hanya terbatas menengok belaka tanpa mendatangi

tempat kejadian tersebut, hal ini pertama untuk menghindari kecurigaan orang, kedua suasana

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

235

disekitar tempat kebakaran itu pasti kalut, salah-salah mereka bisa menerima serangan lawan

malah……….

Pek Soh-gi segera berpaling kearah Ho Kee-sian, kemudian tanyanya, Paman Ho, mungkinkah

ulah dari rekan-rekan bekas seperkumpulanmu?

Pasti bukan rekan-rekan kami, sudah lohu pesankan kepada mereka agar menyembunyikan diri

diempat penjuru, sebelum melihat tanda rahasia, mereka tak akan bertindak sewenang-wenang.

Pek Soh-gi termenung sejenak, lalu katanya.

“Walaupun tiga perkumpulan besar telah berserikat, namun sesungguhnya mereka tidak akur

satu sama lainnya walaupun begitu aku pikir kedua belah pihak lainnya tak mungkin akan

menimbulkan kesulitan bagi Hian-beng-kau sebelum berlangsungnya upacara peresmian esok

pagi”

Itu berarti dari pihak kaum luruslah yang bermaksud hendak melenyapkan kaum besar dari muka

bumi” sambung Bong Pay, kita sebagai seorang manusia yang hidup didunia ini hanya akan

bertindak secara terus terang dan terbuka, tak mungkin kaum hiap khek bersedia membakar

rumah atau menimbulkan kekalutan dengan cara demikian.

Pek Soh-gi berpikir sebentar, lalu ujarnya lagi, “Jangan-jangan perbuatan dari Ngote atau anak

Liong?”

Bong Pay kembali berpikir.

“Yaa, Hoa Ngo dan Liong ji memang memiliki sifat suka mengaco orang, lagipula wataknya

memang binal, kemungkinan sekali mereka memang ada niat untuk membuat malu Hian-bengkau

dihadapan para jago dari seluruh kolong langit.

Ketika makin dipikir ia merasa makin benar, sambil melompat bangun segera serunya, “Biar

kutengok sebentar keadaan disana!”

Bagaikan seekor burung rajawali, secepat anak panah yang terlepas dari busurnya ia meluncur

ke luar jendela, kemudian dengan meminjam daun teratai sebagai tempat berpijak, dalam dua

tiga lompatan saja tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.

Pek Soh-gi mau menghalangi kepergian suaminya, tapi tak sempat, maka iapun cuma berdiam

diri saja.

Menyusul kepergian Bong Pay, dari balik pagoda-pagoda air lainnya segera bermunculan pula

bayangan-bayangan hitam lainnya, dalam waktu singkat ada dua tiga puluh orang yang telah

pergi.

Tiba-tiba terdengar Yau Tiong-in bergumam.

“Aaah, bukankah itu adalah Suto susiok serta Ong dan Ko sute berdua……..”

Buru-buru ia terpaling sambil berseru, “Akupun akan ikut kesitu!”

Sekali berkelebat ia telah menyusul kawanan jago lainnya yang sedang memburu tempat

kejadian itu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

236

Menyaksikan kesemuanya itu. Tam Si-bin tertawa terbahak-bahak, “Haaahh….. haaahh……….

haahh………betul betul sangat ramai, begini banyak orang telah menyusul kesana, suasana pasti

bertambah kalut, tak bisa disangkal lagi kepergian mereka tentu akan membantu si pelepas api

tersebut”

“Apakah locianpwe juga ingin menonton keramaian?” tanya Pek Soh-gi sambil tersenyum.

Tam Si-bin segera tertawa terbahak-bahak.

Haaahh………Haahh……haaahh……kenapa musti kesana untuk menonton keramaian?

Menyaksikan dari tempat inipun tak mengurangi kegembiraan hatiku”

Pek Soh-gi tersenyum ia lantas berkata ke pada Ho Kee-sian, “Setelah terjadinya peristiwa ini,

pihak Hian-beng-kau pasti akan memperketat penjagaannya, orang-orang yang kita atur dalam

lembah tampaknya sukar dipertahankan lebih jauh”

Ho Kee-sian berpikir sebentar, lalu kata nya, “Persoalan ini memang cakup merisaukan cuma

mereka semua rata-rata adalah jago kawakan yang sudah berpengalaman selama puluhan tahun

semestinya merekapun tahu gelagat, siapa tahu kalau telah mengundurkan diri keluar lembah…..

Sementara itu, kobaran api yang membumbung ke udara tadi sudah padam dengan cepat, suara

pertarungan yang sedang berlangsungpun kini sudah tak kedengaran lagi.

Melihat itu, sambil tertawa Tam Si-bin berkata, “Kepandaian si orang yang melepaskan api

memang luar biasa sekali, dalam waktu singkat ia dapat menimbulkan kebakaran sebesar ini,

mungkin yang digunakan adalah apotas dan belerang sehingga begitu kena api lantas meledak.

Cara Hian-beng-kau memadamkan api pun tak kalah cepatnya, entah si pelepas api itu berhasil

ditangkap atau berhasil meloloskan diri?”

“Diatas bukit disebelah kiri lembah ini terdapat sebuah telaga besar kata Ho Kee-sian, “asal air

itu dialirkan ke bawah maka tidak sulit untuk memadamkan api yang berkobar, anggap saja nasib

mereka masih mujur…….”

Mendadak tampak sesosok bayangan manusia secepat kilat bergerak menuju ke gedung

penerima tamu, Pek Soh-gi yang bermata tajam segera mengenali siapa gerangan orang itu,

serunya tiba-tiba, “Ngo te!”

Sebenarnya bayangan manusia itu hendak bergerak menuju kesamping pagoda, tapi setelah

mendengar panggilan itu, tanpa ragu-ragu lagi ia berubah arah dan menyusup masuk kedalam.

Tampaklah orang itu berkulit hitam pekat dengan rambut yang kusut dan pakaian yang tak rapi,

sepintas lalu usianya tampak baru tiga puluh tahunan, ia menggendong seorang pemuda

berpakaian ringkas yang berwajah pucat dan memejamkan matanya rapat-rapat, noda darah

mengotori ujung bibirnya, bila dilihat dari keadaannya jelas isi perutnya telah menderita luka

yang cukup parah.

Napasnya tersongkal-songkal jelas suatu pertempuran sengit baru saja berlangsung, begitu

masuk kedalam pagoda meskipun melihat ada Ho Kee-sian dan Tam Si-bin berada disitu, diapun

tidak menyapa.

Dengan langkah tergesa-gesa ia baringkan pemuda itu disebuah pembaringan bambu didekat

jendela sana, lalu serunya, “Enso, cepat kau periksa keadaan, apakah luka yang diderita pemuda

ini masih bisa ditolong?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

237

Pek Soh-gi sangat tenang, pelan-pelan ia berjalan mendekati pembaringan dan memeriksa

denyutan nadinya, lalu kepada laki-laki itu katanya, “Kau masih saja bertingkah seperti dulu saja,

hayo cepat beristirahat dulu, minumlah secawam dua cawan arak untuk menghilangkano rasa

kaget, serahkan pemuda ini kepadaku!”

Tiba-tiba Tam Si-bin berjalan mendekat seraya berkata, “Pemuda ini bernama Yu Siau lam, dia

adalah keponakan muridku, entah kenapa bisa menderita luka disini, mari biar lohu saja yang

memeriksa keadaan lukanya?”

Dengan mata mendelik laki-laki setengah umur itu segera berseru.

“Sekalipun kau adalah supeknya, aku Hoa Ngo tidak percaya kalau ilmu pertabibanmu jauh lebih

hebat dari kepandaian ensoku, sudahlah tak usah banyak urusan! Jangan karena sopan santun

mengakibatkan nyawa orang melayang!”

Waktu itu Pek Soh-gi sedang memeriksa denyutan nadi pemuda tersebut, ketika mendengar

ucapan itu, ia lantas menengadah sambil menegur, “Ngo te, jangan kurang ajar, dia adalah Tam

Si-bin locianpwe dari bukit Thian tay!”

“Kalau memang dari Thian tay lantas kenapa? Aku hanya membicarakan tentang persoalan

bukan soal manusianya, aku rasa ia memang sedikit tak tahu keadaan”

Pek Soh-gi tidak menyangka kalau makin bicara ia makin tak karuan, dengan menarik wajahnya,

ia berseru, “Ngo te, kau terlalu kasar, apakah kau memang tidak memandang sebelah matapun

kepada enso-mu?”

“Siau te mana berani!” jawab Hoa Ngo cepat-cepat dengan wajah agak takut.

“Kalau memang tidak berani, buat apa kau musti berdiri terus disitu…?”

Hoa Ngo ragu-ragu sejenak, akhirnya ia menjura kepada Tam Si-bin, bibirnya bergetar seperti

hendak mengucapkan sesuatu, agaknya ia hendak minta maaf tapi tak tahu bagaimana musti

berbicara.

Seperti diketahui sebenarnya dia adalah seorang anak yatim piatu yang hidup gelandangan

dalam kota Lok-yang, sejak kecil ia sudah hidup sengsara dan sering kali merasa kelaparan dan

kedinginan.

Suatu kali ia berjumpa dengan Hoa Thian-hong serta kedua orang hujinnya, karena merasa

kasihan maka bocah itupun mereka bawa pulang keperkampungan liok soat san ceng.

Betul, sejak itu dia dididik membaca, menulis dan belajar silat, tapi wataknya yang binal sukar

dikendalikan.

Hanya Pek Soh-gi seorang yang seringkali bersikap tegas dan keras kepadanya, sebab itulah Hoa

Ngo tidak begitu takut kepada Bun Tay-kun sebaliknya malah takut dengan Pek Soh-gi yang

halus dan lembut, kalau di bicarakan kembali, hal ini memang lucu sekali.

Diam-diam Pek Soh-gi berpikir, “Dengan tabiat Ngo te, untuk memberi hormat saja sudah

sulitnya bukan kepalang apalagi disuruh mengucapkan kata-kata minta maaf, tak heran kalau ia

tak sanggup memberi jawaban”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

238

Harap Tam cianpwe suka memaafkan kesalahan ngote ku ini, maklum dia memang agak

berangasan dan kasar.

Untung imam Tam Si-bin cukup tebal, sekalipun merasa agak susah juga, terpaksa iapun harus

bersikap terbuka.

Maka sambil tertawa terbahak-bahak dan mengelus jenggotnya ia berkata, Hoa ngo hiap

memang jujur dan bersikap terbuka, tak heran kalau semua yang ingin diucapkan segera

diutarakan, memang ucapannya tak salah, ilmu bertabiban Bong hujin memang tiada

tandingannya didunia ini”

Pek Soh-gi tersenyum.

Sedikit ilmu pertabiban yang tak seberapa hebat ini berhasil kupelajari dari enci Chin, tentu saja

dalam pandangan orang lain kepandaianku ini masih jauh ketinggalan bila dibandingkan dengan

enci Wan hong”

Sebagaimana diketahui, Pek Soh-gi amat gemar menolong orang, ia merasa kebanyakan orang

miskin didunia ini menderita akibat terserang oleh aneka macam penyakit yang parah sebab itu

ia merasa sangat tidak leluasa jika tidak mengerti tentang ilmu pertabiban.

Untuk mewujudkan cita citanya untuk mengobati orang itulah, maka ia belajar ilmu pertabiban

dan ilmu tusuk jarum dari Chin si hujin.

Dengan otaknya yang pintar, kemauannya yang besar ditambah lagi ilmu pertabiban dari Chin si

hujin memang nomer satu didunia, tak heran kalau ilmu pertabiban yang berhasil dipelajarinya

terhitung hebat pula dalam dunia persilatan dewasa ini.

Berhubung Pek Soh-gi suami istri sepanjang tahun berkelana dan menolong orang, lambat laun

namanya menjadi jauh lebih tersohor daripada nama besar Chin si hujin, rata-rata para jago

memuji kehebatan ilmu pertabibannya, sekalipun dalam kenyataan memang masih kalah dengan

Chin wan hong, toh selisihnya tidak seberapa lagi.

Demikianlah, sambil berbicara ia lanjutkan pemeriksaannya atas nadi pemuda itu, ketika hasilnya

telah diketahui, diam-diam iapun berkerut kening.

Tam Si-bin yang menyaksikan kejadian tersebut menjadi amat cemas katanya, “Bong hujin,

apakah keponakan muridku masih bisa ditolong?”

“Bisa ditolong sih bisa” sahut Pek Soh-gi sambil tertawa, “cuma kalau ditinjau dari keadaan

lukanya, jelas memperlihatkan bahwa ia sudah lama menyimpan rasa pedih, hati dan paru

parunya mengalami luka parah, ditambah lagi dalam adu tenaga tadi, Tay yang hui keng dan Cui

im sim pau kengnya tadi, masih mendingan kalau ia muntahkan darahnya, justru sikapnya

menahan muntahan darah tersebut semakin menambah parahnya luka yang diderita”

Kemudian sambil berpaling kearah Hoa Ngo, ujarnya lagi, “Ngo te, ketika kau menolong dirinya

tadi apakah kau telah menotok jalan darah im bun dan tiang hu niatnya untuk mencegah

penjalaran luka yang dideritanya?”

Jilid 12

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

239

Hoa Ngo tertegun, lalu sahutnya, “Benar! Apakah keliru? Kan to so yang mengajarkan aku

berbuat demikian…..?”

Sebenarnya tidak salah, cuma tenaga dalam yang dimiliki musuh agaknya jauh lebih lihay

darinya, pihak lawan tampaknya tidak bermaksud merenggut jiwanya tapi cuma melukai isi

perutnya belaka, mengakibatkan peredaran darahnya mengalir balik dengan menyumbat Sau ha

pit dan Say yang sam-ciau ji kengnya, coba kalau waktu itu kau paksa darah itu muntah keluar,

kemudian menotok jalan darah Han bun dan Thian cwan guna menantikan pengobatan, banyak

kesulitan yang tak diinginkan bisa dielakan.

Tam Si-bin yang mendengarkan penjelasan itu, diam-diam berpikir, “Kalau didengar dari

penuturannya barusan, ilmu pertabiban yang dimilikinya memang sangat hebat.”

Sementara itu Pek Soh-gi telah mengeluarkan sebuah botol porselen dan mengambil tiga biji pil

berwarna merah yang harum semerbak, tapi pil itu tidak dimakankan ke Yu Siau lam, sebaliknya

sambil mengeluarkan segenggam jarum emas, katanya, “Ngo te, bimbinglah ia bangun,

bebaskan jalan darahnya dan tembusi peredaran darah yang menembusi Sau-im-sim-keng dan

Cui-im-sim-pao-keng yang ada ditangan kanan-nya, kemudian nantikan perintahku selanjutnya”

Hoa Ngo menurut dan segera membebaskan jalan darah im-bun dan tiong-hu niat ditubuh Yu

Siau lam, lalu menggenggam tangan kanannya dan diam-diam menyalurkan hawa murninya

ketubuh pemuda itu.

Pek Soh-gi mengayunkan tangannya berulang kali, belasan batang jarum emas itu segera

menancap didalam jalan darah pada dada dan lambung Yu Siau lam, kemudian tanpa berpaling

ia berkata, “Bukankah Tam locianpwe telah berhasil menguasahi ilmu Kui goan sinkang dari

partai anda?”

Sambil tertawa Tam Si-bin gelengkan kepalanya berulang kali.

Yaa, sedikit ilmu simpananku ini tampaknya memang tak bisa dirahasiakan lagi, pepatah bilang:

Siapa yang tampaknya hebat dia belum tentu hebat, harap hujin memberi perintah saja.

“Hei, Kui goan sinkang itu termasuk ilmu sakti macam apaan?” tiba tiba Ho Kee-sian berseru

sambil tertawa, “wah, agaknya ilmu silat yang dimiliki Tam loji jauh diatas ke pandaian lohu!”

Rasa ingin menangnya masih tertera jelas dibalik ucapannya itu.

Terdengar Pek Soh-gi berkata, “Locianpwe, harap kau gunakan hawa murnimu untuk melindungi

nadi Yu sauhiap!”

“Ngo te, gunakan tenaga sebesar tiga bagian untuk memukul jalan darah Tiong tay Liatnya, hatihati,

kurang sedikit saja bisa mengakibatkan hilangnya nyawa Yu sauhiap”

Koa Ngo menurut dan menepukkan telapak tangannya diatas jalan darah Tiong tay hi-at…….

Yu Siau lam yang sadarkan diri, tiba-tiba muntahkan segumpal darah kental berwarna merah

kehitam-hitaman.

Dengan tanpa menggubris rasa kotor lagi, Pek Soh-gi menjejalkan obat yang telah dipersiapkan

itu ke dalam mulutnya, kemudian sambil menghembuskan napas lega katanya, “Setelah darah

kental yang menyumbat peredaran darah ini bisa dimuntahkan keluar, keadaan sudah tidak

berbahaya lagi, sekarang kalian berdua boleh menarik kembali telapak tangan masing-masing”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

240

Kemudian ia sendiripun mencabuti jarum-jarum emasnya.

Tiba-tiba terdengar Yu Siau lam merintih lalu gumamnya dengan suara yang masih kabur,

“Ayah…… ibu……….”

Pek Soh-gi merasa hatinya bergetar! pelan-pelan ia menotok jalan darah tidurnya, maka

terlelaplah Yu Siau lam dalam tidur yang amat nyenyak.

Selesai melakukan pengobatan, mereka bertiga membiarkan Yu Siau lam tetap terbaring diatas

pembaringan, sementara mereka sendiri kembali kemeja perjamuan. Tiba-tiba Hoa Ngo berseru,

“Toa so, ujung bajumu!”

Ketika Pek Soh-gi mengangkat ujung bajunya, maka terlihatlah pada ujung bajunya yang putih

bersih telah ternoda oleh darah, saking memusatkan segenap perhatiannya untuk memberi

pengobatan, ternyata ia sampai tidak merasakan akan hal itu.

Maka sambil tersenyum ia merobek bajunya itu sambil berkata, “Sekarang kita sebagai tamu

orang, yaa, terpaksa hanya bisa berbuat demikian saja” Diam-diam Tam Si-bin merasa kagum,

katanya sambil tertawa, “Sebagai sesama rekan sealiran, rasanya lohu pun tak usah berterima

kasih lagi kepadamu!”

“Seharusnya memang demikian” kata Pek Soh-gi tertawa, kemudian sambil berpaling ke arah

Hoa Ngo katanya lebih jauh, Ngo te aku tebak kaulah yang melepaskan api, ternyata dugaanku

tak keliru”

“Aaah…….masa enso masih menganggapku sebagai seorang bocah cilik yang nakal?” ujar Hoa

Ngo sambil tertawa.

“Kalau begitu anak Liong?”

Kembali Hoa Ngo gelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya sambil tertawa terbahak-bahak.

“Aku sama sekali tak tahu kemana perginya anak Liong. Enso kau melihat aku pulang dengan

membawa seorang yang setengah mati, kenapa tidak kau duga kalau perbuatan ini adalah hasil

karyanya?”

Tam Si-bin menghela napas panjang, “Ayah ibu Yu sudah kena culik oleh Hian-beng-kau”

ujarnya, “aku pikir ia pasti berusaha menolongnya dengan menggunakan kesempatan ini, maka

ia lepas api untuk membakar rumah, aaai…….nyali bocah ini memang terlampau besar”

Hoa Ngo manggut-manggut ujarnya, “Ia beserta beberapa orang anak muda lain yang

menamakan dirinya sebagai Kim leng ngo kongcu, dengan membawa beberapa orang pemuda

lagi yang bernama Kongsua Peng, Oh Keng bun, sekalian beberapa orang, ternyata dengan amat

berani menerbitkan keonaran dalam markas besar perkumpulan Hian-beng-kau, coba kalau

bukan pihak Hian-beng-kau ingin menangkap mereka hidup-hidup, sebelum aku dan Ko toako

tiba, niscaya mereka sudah tewas semenjak tadi. Mengingat dia adalah seorang anak yang

berbakti maka ketika melihat dia terluka aku berusaha untuk menolongnya….”

Kemana perginya pemuda pemuda yang lain?” tukas Pek Soh-gi.

Hoa Ngo menghela napas panjang, sahutnya, “Setelah menahan serangan mereka sejenak aku

dan Ko toako lantas memisahkan diri, ditengah jalan aku bertemu dengan Bong toako yang

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

241

menyuruh aku membopongnya datang kemari untuk minta pengobatan dari toaso, jadi

bagaimana kah nasib yang lain, terpaksa harus menunggu sampai Bong toako kembali nanti”

Selesai berkata ia mengangkat cawan dan menegak isinya sampai habis, wajahnya murung dan

kesal agaknya seperti lagi menyesali ketidak becusan dirinya.

Dengan wajah sedih, Pek Soh-gi berbisik pula, “Kalau dilihat perjuangan mereka untuk membela

teman, jelas pemuda-pemuda itu adalah kawanan pemuda berjiwa ksatria, semoga saja mereka

jangan sampai tertimpa musibah”

Setelah berjumpa dengan Hoa Ngo dan menitahkannya berangkat keruang penerima tamu untuk

mencari istrinya dan menolong jiwa Yu Siau lam, Bong Pay melanjutkan perjalanannya menuju

ketempat kejadian.

Ketika makin mendekati tempat peristiwa, dibawah sinar api yang terang benderang tampaklah

para anggota Hian-beng-kau berbaris sepuluh orang satu regu sedang berusaha keras

menanggulangi kebakaran yang sedang terjadi.

Yang menyimpan air menyiram, yang membongkar reruntuhan membongkar, semuanya

dilakukan secara tertib dan teratur, sedikitpun tidak tampak kalut atau bingung. Melihat hal

mana, kembali ia berpikir, “Hian-beng-kau memang suatu kelompok manusia yang terorganisir,

agaknya jika kelompok ini tidak teratasi sebaik-baiknya, dikemudian hari pasti akan merupakan

bibit bencana yang besar bagi umat persilatan”

Disekeliling tempat kebakaran itu terjadi, bayangan manusia bagaikan lautan, meteka terdiri dari

orang-prang Hian-beng-kau, Mokau, kui im kau serta para jago persilatan yang datang

memenuhi undangan, suasana hiruk pikuk dan gaduh sekali.

Tindakan yang dilakukan pihak Hian-beng-kau sungguh amat cepat, apalagi sebagian besar

terdiri dari jago-jago lihay, pekerjaan yang mereka lakukan, puluhan kali lebih hebat daripada

orang lain.

Ternyata kebakaran itu terjadi diseleretan gudang barang, dengan begitu korban manusia bisa

dihindari. Dalam suatu kerja sama yang erat, dalam waktu singkat kebakaran bisa diatasi dan

rumah yang belum terbakar pun bisa diselamatkan.

Ditepi tempat kebakaran itu berlangsung berdiri seorang Imam tua berjubah panjang yang

memelihara jenggot, disisinya berdiri Toan bok See liang serta sekawanan jago dari Hian-bengkau,

rupanya ia seba gai pemimpin rombongan disitu.

Setelah berpikir sejenak, Bong Pay segera mengenali orang itu sebagai wakil kaucu dari Hianbeng-

kau yang bernama Go Tang cuan.

Tampaklah disampingnya menggeletak tiga orang pemuda, rupanya jalan darah mereka sudah

tertotok, Bong Pay lantas berpikir.

“Mereka sudah pasti adalah satu komplotan dengan Yu Siau lam, sebetulnya aku harus menolong

mereka, tapi sekarang kawanan jago lihay dari Hian-beng-kau perkumpulan semua disini, lebih

baik jangan dilakukan tindakan ceroboh yang bisa mengakibatkan melukis harimau tidak jadi

malah munculnya anjing.

Bila peristiwa ini berlangsung dimasa lampau, dengan waktunya itu niscaya ia sudah menerjang

kemuka kendatipun tahu kalau perbuatan tersebut bisa mengakibatkan kematian, tapi sekarang

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

242

setelah termenung sebentar, ja bertekad untuk mencari bantuan lebih dulu, kemudian baru

memaksa pihak Hian-beng-kau untuk melepaskan orang, bila mana perlu pertarungan sengit pun

boleh jadi akan dilangsungkan.

Setelah berpikir sampai disitu, sebenarnya ia siap meninggalkan tempat tersebut, pada saat

itulah tiba-tiba muncul seorang pemuda tinggi besar yang bermata gede dari balik hutan.

Begitu munculkan diri, dengan suara lantang segera teriaknya, “Hei manusia she Go, hayo kita

langsungkan pertarungan lagi!”

Go Tang cuan berpaling, lalu mendengus dingin, jengeknya sinis, “Bocah keparat, dengan susah

payah kau berhasil melarikan diri, mau apa datang kemari lagi? Cari mati?”

Toan bok See liang yang berada disampingnya, cepat-cepat berbisik, “Hu kaucu, bocah keparat

ini datang kemari pasti dikarenakan ada yang mem “baking” dirinya…..

Go Tang cuan manggut-manggut. “Ehmm, memang bisa jadi demikian” Sementara itu kawanan

jago Hian-beng-kau tak ada yang turun tangan karena belum mendapat perintah dari Hu

kaucunya.

Dengan langkah lebar, pemuda itu lansung menuju kehadapan Go Tang cuan dan berhenti lima

kaki dihadapannya, setelah berhenti, katanya, “Orang she Go, Coa kongcu mu datang kemari

khusus mencari kau, berani tidak berduel denganku?”

Go Tang cuan tidak menggubris tantangan tersebut, dengan sorot mata tajam ia menyapu

sekejap kesekeliling tempat itu, ketika menjumpai kehadiran Bong Pay, ia tertawa dingin.

Tiba-tiba muncul seorang pemuda berpakaian ringkas warna hijau dari kerumunan para jago,

kemudian bentaknya keras-keras.

“Coa Cong gi, rupanya kau sudah bosan hidup!”

Sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan ke depan.

Coa Conggi maju ke depan menyongsong datangnya ancaman tersebut, katanya, “Bagus sekali!

Membunuh kau Ciu Hoa lo sam lebih dulupun sama saja!”

Telapak tangannya berputar kencang, dalam waktu singkat kedua orang itu sudah bertarung

puluhan jurus banyaknya.

Tiba-tiba Coa Cong gi membentak keras, kepalanya langsung meninju ke depan.

Sodokan tinju yang menyambar ke depan secara tiba-tiba ini, boleh dibilang merupakan suatu

serangan yang indah dan luar biasa sekali, karena tak sempat menghindarkan diri, terpaksa Ciu

Hoa losam harus menerima serangan tersebut dengan keras lawan keras.

Coa Cong gi membentak keras, secara beruntun ia lepaskan lima buah pukulan, bahkan pukulan

yang satu lebih hebat daripada pukulan yang lain.

Begitu kehilangan posisi baiknya, terpaksa Ciu Hoa losam harus menyambut semua pukulan itu

dengan keras lawan keras.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

243

“Blang, blang, blang, Blang!” ditengah benturan-benturan keras yang memekikkan telinga, Ciu

Hoa losam terdesak mundur berulang kali, peluh sebesar kacang membasahi jidatnya, ia makin

kepayahan untuk menghadapi ancaman tersebut.

Sekeliling gelanggang penuh dengan anggota Hian-beng-kau, tentu saja mereka tak senang

melihat Coa Cong gi menunjukkan kehebatannya, maka ketika dilihatnya Ciu Hoa losam terdesak

hebat dan sebentar lagi bakal kalah, seorang jago lihay dari Hian-beng-kau segera terjun ke

arena sementara beberapa jago-jagonya mengadakan pengepungan.

Coa Cong gi sedikitpun tidak jeri, sambil melangsungkan terus pertarungannya, ia mengejek

sambil tertawa, Rupanya pihak Hian-beng-kau mau mencari kemenangan dengan mengandalkan

jumlah banyak?

Waktu itu Bong Pay merasa jejaknya sudah konangan, maka dia tampil ke depan secara terangterangan,

Sewaktu dilihatnya Coa Cong gi memiliki watak yang mencocoki seleranya, tak lama

lagi segera serunya dengan lantang, Saudara cilik, hantam terus!”

Dalam menghadapi pertarungan sengit semacam itu, Coa Cong gi tak sempat untuk menengok

ke samping, maka ia bertanya, “Cianpwe, siapakah kau?”

“Bong Pay dari Hwi im!”

Go Tang cuan mendegus dingin, pelan-pelan ia maju ke depan, lalu sambil ulapkan tangannya ia

membentak, “Semuanya mundur!”

Seluruh anggota perkumpulan Hian-beng-kau berikut mereka yang sedang bertempur, bersamasama

mengundurkan diri kebelakang.

“Hu kaucu, apakah kau hendak turun tangan sendiri? Bagus sekali bentak Coa Cong gi dengan

suara lantang.

Go Tang cuan tertawa dingin, ia menyapu sekejap sekeliling gelanggang, kemudian katanya,

“Kau adalah manuusia rendah yang melepaskan api, manusia pengecut seperti kau kenapa musti

membicarakan lagi tentang soal peraturan dunia persiltan?”

Ucapan sebut jelas ditunjukkan untuk didengar oleh semua umat persilatan yang ada disekitar

sana, setelah berhenti sejenak, katanya kembali.

Hari ini lohu pasti akan membuat kau merasa puas, dalam tiga puluh gebrakan aku akan

menangkapmu hidup-hidup, jika kau bisa melewatkan ketiga puluh gebrakan ini, kuanggap

nasibmu masih mujur dan kau boleh pergi dari sini.

Hmm! Apa kau bilang?” seru Coa Cong gi sambil melotot besar, sebelum kau lepaskan empek Yu

dan sahabat-sahabatku, sekalipun diusir, aku juga tak akan pergi!”

Go Tang cioa tertawa seram.

Hmm…. apa sulitnya jika kau mengingginkan itu, cuma kau musti menyambut dulu tiga puluh

jurus seranganku”

“Baik, kita terpaksa dengan sepatah kata ini!” teriak Coa Cong gi dengan lantang.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

244

Bong Pay merasa kagum sekali dengan sang pemuda yang ibaratnya anakan harimau yang tak

punya rasa takut ini, tapi iapun cukup mengetahui manusia macam apakah lawannya, maka

sambil melangkah ke depan dan terbahak bahak, ia berkata,

“Haaahhh….haaahhh……haaahhh……masa Hu kaucu dari Hian-beng-kau yang punya nama besar

beraninya cuma menganiaya seorang boanpwe dari angkatan muda!”

Go Tong cuan segera tertawa dingin.

“Heehhh…..heehhh….heehhh….. jadi Bong tayhiap juga ingin melibatkan diri didalam air keruh

ini…..”

“Anak Gi, besar amat nyalimu, hayo cepat mundur!” tiba-tiba seorang perempuan menegur.

Ketika mendengar suara itu, tanpa terasa semua orang berpaling ke arah mana berasalnya suara

tersebut.

Dari balik hutan pohon siong, pelan-pelan muncul seorang perempuan cantik setengah umur,

wajahnya ayu dan sikapnya anggun, membuat siapapun tak berani sembarangan memandang

kearahnya.

Selintas lalu nyonya setengah umur itu kelihatan seperti lagi berjalan dengan pelan, tapi jarak

antara hutan sampai ke arena yang dua puluh kaki lebih itu ternyata hanya dilewati dalam

beberapa langkah saja.

Tahu-tahu ia sudah tiba dihadapan Go Tang cuan dengan santai, padahal dengan jelas semua

orang melihat perempuan itu melangkah dengan amat lambatnya.

Demonstrasi ilmu meringankan tubuh yang sangat lihay itu, kontan saja menggetarkan hati

setiap orang yang ada dalam arena, suara gaduh seketika sirap dan semua orang sama-sama

mengawasi perempuan cantik itu sambil menduga asal usulnya.

Terdengar Coa Cong gi berteriak dengan penuh kegirangan, “Ibu, kenapa sampai sekarang kau

baru tiba?”

Nyonya cantik itu hanya tersenyum, lalu memberi hormat kepada Bong Pay, ia tidak berbicara

pun tidak menjawab, hanya sepasang matanya yang tajam menatap lekat-lekat wajah Go Tang

cuan.

Diam-diam terkesiap juga Go tang cuon setelah bertemu dengan nyonya cantik itu, segera

pikirnya, Ternyata dia adalah ibunya Coa Cong gi, keluarga Coa ternyata memang musuh

tangguh dari perkumpulan kami, cuma…. Hmm! Sekalipun tenaga dalammu lebih hebatpun,

pihak kami tetap punya cara untuk membunuh kalian semua ditempat ini…”

Sementara dalam hati ia berpikir demikian, di luar ujarnya, Oooh…. kiranya Coa hujin yang telah

datang, dengan kemunculan dari keturunan Bu seng dalam dunia persilatan, agaknya ada

sesuatu karya besar yang hendak dilakukan”

Bersama dengan berkumandangnya ucapan tersebut, suara bisik-bisik segera meramaikan

suasana dalam arena, kian lama suara bisik-bisik itu kian bertambah keras sehingga akhirnya

berubah menjadi suara pembicaraan yang gaduh.

Dengan suara hambar Coa hujin atau Swan Bun sian segera berkata, Menurut peraturan

keluarga, sebenarnya keluarga kami sudah lama mengundurkan diri dari dunia persilatan, kali ini

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

245

terpaksa kami muncul kembali dalam dunia persilatan, tak lain hanya ingin mencari jejak suami

ku yang sudah lama hilang, jadi berbicara sebenarnya, aku tidak bermaksud untuk melakukan

apa-apa”

Setelah berhenti sejenak, katanya kembali, “Dengan memberanikan diri Swan Bun sian ingin

mengajukan sebuah permohonan kepadamu, entah bersediakah kau untuk mengabulkannya?”

Go Tang cuan melirik sekejap ke arah tiga orang pemuda yang bergeletak ditanah itu, kemudian

sahutnya, “Apakah persoalan yang menyangkut beberapa orang pelepas api ini……?”

Sengaka ia mengucapkan kata “si pelepas api” itu dengan suara lantang, jelas ini bermaksud

hendak menyindir.

Coa Hujin sama sekali tidak memberikan reaksi apa-apa terhadap sindiran tersebut, hanya

katanya, “Maaf kalau Swan Bun sian hendak memberi keterangan, bahwasanya mereka sampai

berbuat demikian, sesungguhnya disebabkan karena keadaan yang terpaksa….”

Go Tang cuan tidak memberi kesempatan kepada perempuan itu untuk menyinggung masalah

diculiknya Yu Siang tek suami istri oleh perkumpulannya, dengan cepat ia menukas, “Baiklah,

memandang diatas wajah Coa hujin, dosa mereka dalam membakar gedung kita, tak akan lohu

tuntut lebih jauh”

Coa hujin segera membungkukkan badan-nya memberi hormat..

“Kalau begitu, Swan bun sian mengucapkan banyak banyak terima kasih lebih dahulu”

Kemudian sambil berpaling, serunya, “Anak Ci, maju ke depan dan bebaskan jalan darah dari tiga

orang engkoh cilik itu”

Tiba-tiba Go Tang cuan berseru, “Tunggu sebentar hujin, perkataan lohu belum selesai” Dengan

kening berkerut, Coa hujin ulapkan tangannya mencegah Coa Cong gi maju ke depan, kemudian

tanyanya, “Hu kaucu masih ada petunjuk apa lagi?”

“Tolong tanya hujin, apakah gedung-gedung kami ini harus dibakar dengan begitu saja tanpa

ada pertanggungan jawab dari mereka?” seru Go Tang cuan dengan ketus.

Tiba-tiba terdengar seseorang tertawa dingin sambil menyindir, “Hemmm……main tipu berotak

licik, Hu kaucu macam apaan itu……?”

Go Tang cuan segera berpaling ke arah mana berasalnya suara itu, terlihatlah dua orang kakek

berjubah abu-abu yang berjenggot panjang dan menyoren pedang dipunggungnya, berdiri

angker ditepi arena, orang yang berbicara adalah kakek disebelah kanan.

Para anggota Hian-beng-kau melotot gusar kearahnya, sedang Go Tang cuan berkata sambil

tertawa, “Ciang Pek jin, kalian tak usah terburu napsu, dalam upacara tengah hari esok,

perkumpulan kami pasti akan memberi kesempatan terhadap partai Thian cong untuk

mewujudkan keinginanya”

Dua orang kakek berjenggot perak ini adalah Tiam cong siang kiam (sepasang pedang dari Ti-am

cong) yang sulung bernama Lau Gi tiong dan yang terakhir bernama Ciang Pek jin, meskipun

bukan saudara sekandung, hubungan mereka melebihi saudara sendiri, selama berkelana dalam

dunia persilatan, mereka belum pernah berpisah dengan sepasang pedang bajanya selama tiga

puluh tahun, mereka menjaga wilayah Thian lam.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

246

Kami berdua akan menanti datangnya kesempatan itu!” seru Cian Pek jin sinis.

Go Tang cuan tertawa dingin, ia tidak menggubris kedua orang itu lagi, sepasang matanya

kembali dialihkan kewajah Coa hujin.

Dengan serius Coa hujin menjawab. Itu mah soal gampang, biar kami keluarga Coa yang

membayar kerugian ini.

Walaupun Coa hujin berasal dari keluarga persilatan, tapi keluarga persilatan Kim leng, sejak dari

Cing Tong ti sampai anak cucu keturunannya tak ada yang melakukan perjalanan dalam dunia

persilatan, merekapun jarang sekali melangkah keluar dari rumah, oleh sebab itu tak heran kalau

caranya untuk menghadapi persoalan yang berbau dunia persilatan ini terasa menjadi kaku dan

lucu.

Sekalipun kata-kata yang diucapkan itu sesungguhnya merupakan pantangan bagi umat

persilatan kenyataannya tak seorangpun berani memandang rendah dirinya, malahan semua

orang merasa bahwa keputusannya itu memang tepat sekali.

Untuk sesaat Go Tang cuan menjadi tertegun tapi sebentar kemudian ia telah berkata,

“Walaupun perkumpulan kami miskin tapi kerugian sekecil ini masih belum sampai kami pikirkan,

kalau sampai Coa hujin musti bayar ganti rugi, apakah perbuatan ini tak akan ditertawakan oleh

kawan-kawan persilatan?”

Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan”

“Begini saja! Sudah lama lohu mengagumi akan kehebatan ilmu silat dari Bu seng, sayang aku

dilahirkan terlalu lambat sehingga tidak berjodoh untuk berjumpa dengar mereka, bagaimana

kalau hujin unjukkan kepandaianmu sebagai ganti rugi atas dilepaskannya ketiga orang pemuda

ini…?”

Baik mereka dari golongan lurus maupun yang berasal dari golongan sesat, sama-sama ingin

menyaksikan kehebatan dari ilmu silat peninggalan Bu seng, oleh sebab itu perkataan dari Go

Tang cuan segera disambut dergan tempik sorak dari segenap jago, beratus-ratus pasang

matapun bersama sama dialihkan ke wajah Coa hujin.

Waktu itu api yang membakar gedung su dah berhasil dipadamkan, para jaga dari Hian-beng-kau

pun telah berhenti mengambil air untuk memadamkan api. suasana disekitar tempat itu, jadi

terasa lebih tenang dan hening……

Coa hujin memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, ia tahu bila tidak memperlihatkan sedikit

kepandaiannya, jelas hal ini tak mungkin.

Sebab itu setelah berpikir sebentar, tiba-tiba ujung bajunya dikebaskan ke arah kanan seraya

ujarnya, “Baiklah, kuperlihatkan sedikit kejelekanku!”

Sementara semua orang masih terkejut bercampur keheranan tiba-tiba tiga orang pemuda yang

tertotok jalan darahnya itu menghembuskan napas panjang lalu melompat bangun.

Kiranya ia telah mendemonstrasikan ilmu membebaskan jalan darah dengan udara kosong.

Kontan saja tempik sorak berkumandang memecahkan keheningan disekeliling tempat itu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

247

“Suatu kepandaian yang sangat hebat!” pekik Hong Pay didalam hati.

Haruslah diketahui, walaupun kebasan tersebut kelihatannya amat sederhana, sesungguhnya

merupakan suatu serangan yang sulit dilakukan, sang korban bukan cuma berselisih jarak antara

tiga kaki lebih, tidak di ketahui juga jalan darah manakah yang tertotok, sebab itu kebasan yang

berhasil membebaskan totokan ketiga orang itu sungguh di luar dugaan…..

Go Tang cuan paling terkejut dibandingkan dengan yang lain, sebab totokan atas ketiga orang

tersebut dilakukan dengan suatu ilmu totokan tunggal, siapa tahu mereka berhasil ditolong oleh

Coa hujin dengan gerakan yang demikian entengnya.

Setelah melompat bangun tiga orang pemuda yang berpakaian ringkas itu melirik sekejap ke

arah Coa hujin dan Coa Cong gi, lalu dengan langkah lebar menuju ke arah mereka.

Saudara Siong-peng, saudara Keng bu, saudara Kiat kian, kalian tidak terluka bukan?” seru Coa

Cong gi dengan suara lantang.

Tiga orang pemuda itu tertawa dan bersama-sama gelengkan kepalanya, kemudian masingmasing

orang memberi hormat kepada Coa hujin.

Cepat Coa hujin ulapkan tangannya menyuruh mereka jangan banyak adat, setelah itu katanya,

“Jika tak ada urusan lagi, Swan si ingin mohon diri lebih dahulu!”

Go Tang cuan segera menjura.

“Sampai jumpa lagi dalam pertemuan besok!”

Coa hujin tersenyum, lalu ujarnya kepada Bong Pay, “Anakku tak tahu diri, untung memperoleh

bantuan saudara…..”

Sungguh menyesal Bong Pay tidak mengeluarkan tenaga barang sedikitpun juga” tukas Bong

Pay, justru hujin lah yang sudah menolong mereka dengan ilmu yang maha dahsyat itu…..”

Setelah berhenti sejenak, ia berkata lagi, “Bila hujin tiada urusan penting, kenapa tidak

menjumpai dulu rekan-rekan sealiran yang lain?”

Sementara Coa hujin masih termenung, Coa Cong gi sudah berseru dengan tak sabar, “ibu……!”

Coa hujin termenung sejenak, ia merasa setelah dirinya tampil didalam dunia persilatan, memang

tidak seharusnya menjauhi kawanan jago lainnya, apalagi antara dia dengan kedua orang hujin

dari keluarga Hoa sudah ada persetujuan secara diam-diam untuk banyak membujuk rekanrekan

persilatan lainnya,

Ditambah lagi diapun tak tega menampik keinginan Coa Cong gi yang kelihatan antusias sekali

itu, maka setelah menghela napas dihati, diapun manggut manggut.

“Kalau begitu, tolong bawalah kami kesitu!

Ia memutar badannya, lalu bersama Bong Pay berlalu dari situ.

Go Tang cuan yang menyaksikan kejadian itu, diam-diam berkerut kening, kemudian pikirnya,

“Kalau dilihat dari keadaan ini, tampaknya kedua orang musuh tangguh tersebut memang sudah

bekerja sama secara diam-diam” Tiba-tiba serentetan suara bisikan yang lirih seperti suara

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

248

nyamuk berkumandang disisi telinganya, “Tang cuan, bubarkan anak buahmu dengan cepat,

tunggu kedatanganku dipuncak bukit lembah sebelah timur”

Sekalipun ucapan itu diutarakan dengan ilmu menyampaikan suara, tapi begitu mendengar suara

tadi, Go Tang cuan segera tahu siapakah dia. Sebab dalam kolong langit de wasa ini, kecuali istri

ke sayangannya tak ada orang lain yang menyebut dirinya secara demikian.

Kontan saja hatinya bergolak keras.

Tak tahan lagi ia celingukan kesana-kemari, tampaklah kawanan jago persilatan itu telah buyar

semua dari situ, tapi bayangan tubuh dari Thian Siok-bi tidak kelihatan juga.

Tentu saja Toan bok See liang menjadi keheranan ketika dilihatnya Hu kaucu yang dihari-hari

biasa selalu kelihatan tenang itu, secara tiba-tiba celingukan dengan wajah kebingungan.

Hu kaucu…..! segara panggilnya dengan suara heran.

Go Tang cuan segera ulapkan tangannya sambil menukas.

Toan bok thamcu, harap kau perhatikan lembah kita baik-baik, semua jago lihay kita dikerahkan

untuk melakukan penjagaan terutama ditempat-tempat yang sepi, kewaspadaan perlu

ditingkatkan, aku harap kejadian seperti ini jangan sampai terulang kali, nah aku pergi sebentar!”

Selesai memberi pesan, tidak menunggu jawaban dari Toan bok See liang lagi buru-buru dia

kerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan berlalu dari situ.

Disebelah timur lembah merupakan sebuah telaga seluas beberapa li, pada bagian depan lembah

terbuka sebuah mulut dan dari situlah air mengalir turun sebagai sebuah air terjun yang amat

besar.

Dengan menelusuri jalan rahasia yang dibuat Hian-beng-kau, Goa Tang cuan bergerak naik ke

puncak bukit, sepanjang jalan tiada hentinya ia celingukan kesana-kemari meneliti pepohonan

Pak yang dijumpainya di tempat tersebut.

Tak lama kemudian, ia saksikan sesosok bayangan lain sedang bergerak naik ke atas puncak.

Dengan ketajaman matanya, dalam sekilas pandangan ia telah melihat bahwa bayangan manusia

itu adalah seorang tokoh berusia setengah umur yang berjubah pendeta dan membawaj hud tim.

Siapa lagi tokoh setengah umur itu kalau bukan istrinya yang telah berpisah hampir sepuluh

tahun lamanya? Kecuali ia telah mengenakan jubah pendeta, dandanan serta raut wajahnya

masih tetap seperti sediakala.

Kontan saja ia merasakan hatinya bergolak keras, teriaknya tanpa terasa, “Siok-bi….-”

Cepat-cepat dia memburu ke depan.

Thia Siok-bi segera mengebaskan hud tim-nya seraya membentak, “Berhenti!”

Bagaikan diguyur dengan air dingin, Go Tang cuan segera menghentikan langkahnya lalu dengan

wajah tertegun ia berseru.

“Kau………”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

249

“Lebih baik kita bicarakan dulu secara baik, kalau tidak cocok……”

“Bagaimana kalau tidak cocok?” tukas Go Tang cuan tidak sabar lagi.

“Lebih baik kita putus hubungan sampai disini!” jawab Thia Siok-bi dengan tegas.

Go Tang cuan mengerutkan dahinya, lalu berkata, “Kalau begitu katakanlah!”

Thia Siok-bi menggerakkan bibirnya ingin berbicara, tapi niat tersebut kemudian dibatalkan,

selang sesaat kemudian, sambil menghela napas katanya, “Apa yang hendak kukatakan, aku pikir

kau tentu sudah menduganya, kenapa mesti kukatakan lagi?”

Go Tang cuan tertawa hambar.

Memang, apa yang ingin kau katakan sudah Ih heng tebak delapan sampai sembilan bagian, tapi

Ih heng pun ada beberapa patah kata yang ingin kugunakan kesempatan ini untuk

membicarakannya secara baik-baik”

Kalau begitu kau saja yang berkata!” Go Tang cuan tersenyum.

Pertama lama Ih heng hendak memberi tahukan kepadamu bahwa sejak esok pagi, seluruh

dunia akan menjadi milik Hian-beng-kau!”

“Heeeehh…heeehhh…..heeehh…. apakah bukan siburang pungguk yang merindukan rembulan?”

Senyuman masih menghiasi ujung bibir Go Tang cuan, kembali ia berkata, Aku tahu kalau kau

tak akan percaya tapi kau pun musti tahu, jika perkumpulan kami tidak bersuara keadaan tetap

tenang tapi begitu bersuara, dunia akan menjadi gempar, tunggu saja sampai esok pagi dunia

akan tahu sampai dimanakah kemampuan sesunguhnya yang dimiliki perkumpulan Hian-bengkau

kami!”

Thia Siok-bi segera mendasis dingin.

“Hmm! Jangan dibilang kepandaian silat yang dimiliki Hoa tayhiap tiada tandingannya dikolong

langit, apa yang hendak kau lakukan untuk menghadapi keturunan dari Bu seng? Apalagi kalau

berbicara dari segitu banyak jago persilatan yang hadir, sekarang kauanggap Hian-beng-kau

sanggup untuk menghadapi mereka semua?”

Mendengar ucapan tersebut, Go Tang cuan segera tertawa terbahak-bahak, sampai lama sekali,

ia baru berkata dengan lantang, “Haaahh…..haaahh……haaah…..Siok-bi, jangan dikata kawan

jago yang menghadiri pertemuan sekarang cuma sebangsa manusia kurcaci yang sekali

hantaman lantas hancur, sekalipun Hoa Thian-hong yang kau anggap manusia nomer satu dalam

dunia persilatanpun, perkumpulan kami sudah mempunyai orang yang sanggup untuk

menghadapinya”

Diam-diam Thia Siok-bi mengamati wajah orang itu, ketika diketahui kalau ucapan tersebut

bukan cuma bohong belaka hatinya menjadi tercekat, namun ketika dipikir kembali, diapun tak

merasa percaya. Maka akhirnya diam-diam dia berpikir.

“Ketika masih muda dulu, Hoa Thian-hong sudah sanggup mengalahkan Tang Kwik-siu sekalian,

selama dua puluh tahun terakhir ini entah sampai dimana pula kemajuan yang berhasil

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

250

dicapainya dalam kepandaian silat, siapakah dalam dunia dewasa ini yang sanggup

menandinginya?”

Berpikir sampai disitu, tak tahan lagi dengan suara menyelidik ia bertanya, “Siapakah orang itu?

Apakah dia adalah Sinkun kalian itu?” Go Tang cuan tersenyum.

“Sebenarnya tak jadi soal kalau cuma kuberikan kepadamu, tapi kau pasti akan membocorkan

rahasia ini kepada pihak keluarga Hoa, jika sampai kabur, bukankah usaha Sinkun untuk

membalas dendam bakal menjumpai banyak kesulitan lagi?”

Thia Siok-bi segera tertawa dingin, “Heeehhh……..heeehhh………heeehh……..aku lihat kau tak

sanggup mengalahkan orang tersebut dalam waktu singkat, makanya sengaja mengarang

sekenanya saja”

Go Tang cuan hanya tersenyum tidak menjawab.

Melihat ia tidak menyahut juga, diam-diam Thia Siok-bi merasa semakin terperanjat, tapi diluar

wajahnya ia masih tetap tertawa-tawa.

“Kalau kudengar dari nada ucapanmu, tampaknya kau memang tak sudi berpaling kembali”

katanya, “Berpaling kenapa?”

“Kau sudah terlanjur terjerumus dalam kesesatan, hawa jahat sudah merongrong pikiran dan

perasaanmu, maka sulit untuk diajak kembali lagi ke jalan yang benar” teriak Thia Siok-bi marah.

Sesungguhnya, tiada perbedaan antara yang lurus dan yang sesat dalam dunia persilatan” kata

Go Tang cuan dengan suara hambar, “kalau toh sekarang ada, hal itu hanya buatan dari manusia

dunia itu sendiri, bayangkan saja, kalau toh kira berhasil mempelajari serangkaian ilmu yang

hebat, apakah kita suka berkumpul jadi satu dengan kawanan manusia kurcaci yang tak

berkemampuan apa-apa?”

“Bagaimana pun juga, bersikap ksatria, berjiwa pendekar dan menolong sesama toh lebih baik

dari pada merugikan orang lain?”

kata Ih Siok-bi lagi dengan kening berkerut.

“Aaai……..berbicara pulang pergi kau tetap tidak paham dengan urusan dunia persilatan, Siok-bi!

Kau adalah seorang pendekar dari kaum wanita, tentu saja kau mempunyai pandangan yang

berbeda”

Thia Siok-bi merasa gusar sekali, sambil mendengus ia putar badan dan siap berlalu lari situ, tapi

secara tiba-tiba ia berhenti lagi seraya bertanya.

“Engkau sudah tahu tertang peristiwa yang menimpa anak Giok?”

Mula-mula Go Tang cuan agak tertegun, menyusul kemudian jawabnya, “Pihak Mokau telah

minta maaf kepada ku, Giok ji pun………….”

Thia Shiok bi segera tertawa dingin, tukasnya, “Kau tahu Giok ji sebenarnya she apa?”

Go Tang cuan bisa menjabat sebagai wakil ketua dari Hian-beng-kau, tentu saja baik dalam soal

ilmu silat maupun dalam hal kecerdasan melebihi orang lain, ketika mendengar kalau dibalik

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

251

ucapannya masih ada ucapan lain, diam-diam pikirnya, “Wan Hong giok tentu saja she Wan, apa

maksudnya……..”

Mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya, dengan wajah berubah hebat dan suara

gemetar ia lantas berseru, Maksudmu…….”

“Giok ji adalah putrimu!”

Seperti disambar geledek disiang hari bolong, kontan saja paras muka Go Tang cuan berubah

menjadi pucat pias seperti mayat.

Bagaikan seseorang yang baru sembuh dari sakit parah, dengan lemas ia bersandar diatas pohon

siong sambil menghembuskan napas panjang, katanya kembali, “Giok-ji tidak She Go, pun tidak

she Thia…….. dapatkah kau terangkan lebih jelas lagi?”

Jawab Thia Siok-bi sambil tertawa dingin, “Giok ji mengikuti she dari neneknya, maksudku

memang agar kau tidak akan tahu tentang dirinya”

“Kau…… kau betul betul berhati kejam!” bisik Go Tang cuan sambil menuding Thia Siok-bi

dengan tangan gemetar.

Padahal Thia Siok-bi sendiripun merasakan hatinya sakit seperti diiris-iris, tapi sekuat tenaga ia

berusaha mengendalikan diri, kembali katanya, “Yaa, aku memang kejam, tapi ketika aku sedang

mengandung, kau telah pergi meninggalkan rumah tanpa memperdulikan nasehatku, apa kau

tidak terbilang kejam?”

Go Tang cuan tak sanggup menjawab lagi, dia hanya bisa memandang ke langit dengan air mata

bercucuran.

“Oooh…anak Giok, ayah telah berbuat salah kepadamu, dengan dosa ayah, memang pantas

mati…..” guman-nya.

kemudian ia mendongakkan kepalanya dan tertawa seram, suaranya lebih tak sedap didengar

daripada suara tangisannya, setelah berhenti tertawa ia menggertak gigi seraya serunya.

“Tang Kwik-siu, kalau orang she Go tidak membiarkan kalian orang orang Seng sot pay musnah

sebelum ucapan ini lewat, didunia ini tak akan ada manusia yang bernama Go Tang cuan lagi!”

“Anak orang lain kau anggap begitu tawar Go Tang cuan, dimanakah Liang sim-mu?”

Tiba-tiba Go Tang cuan berdiri tegak, kemudian dengan sinar mata yang penuh diliputi hawa

membunuh katanya, “Siapa yang telah memperkosa Giok ji?”

“Orang itu telah kubunuh!” sahut Thia Siok-bi, setelah berhenti sejenak ia berkata lebih jauh,

“Sekalipun kau bunuh habis seluruh anggoto Mokau juga percuma, bagaimana mungkin kau bisa

membayar kerugian ini untuk Giok ji?”

“Apapun yang Giok ji minta, sekalipun menginginkan bintang dilangit aku akan pertaruhkan

nyawa tua ku ini untuk memenuhi Keinginannya!

Jika Giok ji menginginkan kau mengasingkan diri, apakah kau pun mewajudkan-nya?” ujar Thia

Siok-bi dingin.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

252

Go Tang cuan tertegun, lalu sahutnya dengan sangsi, “Selewatnya ucapan besok…..”

Tidak nanti ia menyelesaikan kata-katanya, dengan jengkel Thia Siok-bi segera menukas, “Aku

sudah tahu kalau kau tak bisa ditolong lagi, coba kalau tidak memandang diatas wajah Giok ji,

pada hakekatnya aku enggan untuk bertemu denganmu lagi, tampaknya aku memang harus

beradu jiwa denganmu”

Selesai mengucapkan kata- kata tersebut mendadak ia putar badan dan berlalu dari situ, dalam

sekejap mata bayangan tubuhnya lenyap diatas puncak sana.

Go Tang cuan menggerakkan bibirnya seperti mau memanggil, tapi niat itu tak pernah

diwujudkan, dengan termangu-mangu ia berdiri kaku disitu dengan sinar mata sayu, keadaan

tersebut tak ubahnya seperti seonggokan kayu kering.

Angin malam berhembus lewat, tiba-tiba ia merasakan tubuhnya kedinginan, baru pertama kau

ini ia merasakan hatinya goncang, iapun merasa ragu apakah ambisinya bisa terwujud atau

tidak?

Malam mulai luntur, sinar sang surya pun mulai muncul diufuk timur, saat itulah ia baru tersadar

kembali dari lamunannya, sambil menghela napas, pelan-pelan ia menuruni bukit tersebut. Ia

merasa meski waktu hanya terpaut beberapa jam, tapi usianya sekarang dirasakan jauh lebih tua

sepuluh tahun.

000O000 000O000 000O000

Tengah hari belum lewat, istana Kiu Ci piat kiong yang luas dengan barak-barak lebar yang

didirikan dikedua belah sampingnya telah penuh dengan kawanan jago dari kolong langit.

Barak sebelah timur dipenuhi oleh para jago dari Kiu-im-kau dan Seng-sut-pay, masing-masing

menempati separuh barak dengan bagian tengahnya dibiarkan kosong selembar satu kaki,

dengan begitu kedua golongan tersebut terpisahkan secara jelas.

Dibagian sebelah kiri ditempati pihak pihak Kiu-im-kau, Bwe Su-yok dengan tongkat

kebesarannya duduk ditengah barak dengan dikedua belah sisinya diapit oleh Sik Ban-cian serta

dua orang kakek berambut putih yang telah berusia seratus tahun lebih dan tidak diketahui

namanya, setelah itu baru duduk Kek Thian tok, Lei Kiu-it dan sekalian Tiamcu serta tiga orang

tongcu nya.

Sedangkan dipihak Seng-sut-pay dipimpin oleh Seng Tocu, tapi tidak kelihatan Tang Kwik-siu

hadir disitu, selanjutnya hadir dua bersaudara Lenghou, Hu-yan Kiong, Hong Liong dan lainlainnya.

Jumlah anggota perkumpulan yang hadir dari dua kelompok tersebut di taksir berjumlah dua

ratus orang lebih, mereka semua rata-rata bermata tajam, berlangkah tegap dan bertenaga

dalam sempurna, jelas bukan manusia manusia sembarangan.

Pada barak disebelah barat, sebagian besar di tempati oleh para jago dari golongan pandekar,

mereka dipimpin oleh Bong Pay serta Coa hujin, di tambah dengan jago-jago dari Thian cong

serta Thian tay, jumlahnya pun mencapai ratusan orang.

Suasana dibarak bagian tengah yang paling gaduh dan ramai, tidak seperti barak-barak timur

maupun barat yang hening, sebagian besar jago yang berada dibarak tengah adalah kawanan

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

253

jago persilatan biasa, jumlah mereka paling banyak, ditaksir ada dua tiga ribu orang lebih

meskipun barak itu cukup besar tapi hampir saja tidak cukup untuk menampung mereka……

Kawanan jago persilatan tersebut sering kali menuding kearah barak timur maupun barak

sebelah barat lalu berbisik-bisik seperti membicarakan sesuatu.

Pada bagian utama dari arena, berdiri panggung upacara, waktu itu kain selubung yang

menutupi meja upacara telah dibuka sehingga tampaklah ditengah meja terdapat dua tempat

abu yang masing-masing tertuliskan, “Tempat abu dari Bu liang san couso Li Bu-liang”

Sedang disebelah kanan bertuliskan, “Tempat abu Kiu ci kiong cousu Seng Beng cit”

Selain alat sembahyangan, barang sesaji pun sudah komplet tersedia disana.

Padahal tak seorangpun umat persilatan yang mengetahui nama sebenarnya dari Kiu ci sinkun,

maka setelah membaca tempat abu itu mereka baru tahu nama aslinya.

Karena waktu itu adalah hari Toan yang, dari pihak Hian-beng-kau menyediakan pula pelbagai

jenis bakeang dan buah-buahan untuk para tamunya tapi kecuali mereka yang berada dibarak

tengah boleh dibilang siapapun tidak boleh mencicipinya.

Mendekati lohor, tiba-tiba muncul kembali tiga orang jago yang dipimpin oleh seorang touto

berambut panjang dan berjubah pendeta dengan bersenjata sekop.

Dua orang rekannya adalah laki-laki berusia setengah umur, yang satu berkulit tubuh hitam

dengan wajah lebar dan bahu lebar, sedang yang lain adalah seorang laki-laki berwajah bersih

dan berjubah putih.

Menyaksikan kedatangan mereka, serentak kawanan jago bangkit berdiri sambil menyapa,

ternyata mereka adalah Cu Im taysu, Ko Tay dan Haputule…..

Cu Im taysu menyapu sekejap ke arah barak, ketika tidak menjumpai Tiang beng Tokoh hadir

disitu, sepasang alis matanya segera berkenyit.

Sambil menjura Bong Pay segera berkata, “Dalam keadaan dan saat seperti ini, taysu terhitung

orang yang paling terhormat, sudah sepatas-nya kalau taysu menjadi pemimpin dikelompok kita

ini”

Cu Im taysu segera tersenyum.

“Kedatangan pinceng hanya untuk menyelesaikan suatu masalah pembunuhan, tidak

sepantasnya kalau tanggung jawab berat ini kalian berikan kepadaku!”

Lalu sambil berpaling ke arah Coa Hujin, kembali ia berkata, “Putrimu pergi bersama Giok teng

hujin, apakah sampai sekarang belum tiba disini?”

Coa hujin menjadi tertegun setelah mendengar ucapan tersebut, bukannya menjawab, ia malah

balik bertanya, “Lho, anak Wi kok bisa berada bersamanya? Hoa tayhiap suami istri sedang

mencari-cari hujin itu!”

Cu Im taysu menghela napas panjang.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

254

“Aaai…..! Kalau ia tak datang, itu berarti sudah mengasingkan diri dari keramaian dunia. Padahal

jagad begini luas, kemanakah kita harus menemukan jejaknya?”

Kalau kejadian ini berlangsung dimasa lalu, sudah pasti Coa Hujin hanya akan melongo saja

sebab ia tak memahami keadaan dunia persilatan, tapi semenjak kepergiannya ke perkampungan

Liok soat san ceng, bukan saja ia mendapat tahu banyak masalah besar dalam dunia persilatan,

bahkan soal kejadian-kejadian ia mapun banyak pula diketahui olehnya.

Setelah mendengar perkataan itu, dengan cemas ia berseru, “Musuh-musuh Giok teng hujin

dimasa lalu amat banyak, semoga saja jangan sampai berjumpa, entah bagaimana dengan anak

Wi?”

“Aduh celaka, jangan-jangan Kiu-im-kau yang telah turun tangan lebih duluan?” kata Cu Im taysu

sambil berpaling ke arah barak seberang.

Haputule yang menjumpai kedua orang itu yang satu menguatirkan keselamatan putrinya yang

lain mencemaskan keselamatan Giok teng hujin, dari tadi sampai sekarang ribut terus tiada

hentinya, sambil tertawa segera ia tersenyum, “Taysu tak perlu kuatir, kalau aku tidak melihat

kecerdikan nona Coa luar biasa sehingga berhasil menasehati Giok teng hujin untuk berubah

pikiran, mana mungkin kubiarkan pergi dengan hati yang lega?” Cu Im taysu manggut manggut.

“Yaa, memang pinceng terlalu gelisah dan tidak sabaran” katanya kemudian, Haputule

tersenyum, kepada Coa hujin katanya kemudian, “Dengan ilmu silat yang dimiliki Coa serta Giok

teng hujin, rasanya mereka masih sanggup untuk menghadapi pertarungan macam apapun,

sekalipun tak bisa memang, untuk mengundurkan diri rasanya masih bukan menjadi persoalan,

harap hujin jangan kuatir!”

Sementara Coa Hujin ingin bertanya lebih jauh, tiba-tiba terdengar bunyi tambur dan lonceng

berkumandang bersama, rupanya tengah hari tepat menjelang tiba.

Dengan berkumandangnya bunyi tambur dan lonceng, suasana seketika berubah menjadi hening

dan serius, semua perhatian ber sama-sama ditujukan ke tengah arena.

Bunyi lonceng dan tambur berkumandang amat memekikkan telinga, lama sekali suara itu baru

sirap.

Pelan-pelan pintu istana Kiu ci piat kiong yang indah dan megah itu terbuka lebar lalu mumcul

dua baris bocah berbaju putih, ditangan masing-masing bocah itu membawa sebuah dupa emas

yang menyiarkan bau harum semerbak.

Mereka berjalan dari pintu istana menuju ke bawah mimbar, melewati beranda depan istana dan

menuruni anak tangga batu panjangnya mencapai satu dua kaki lebih.

Setelah semua barisan bocah itu muncul dari pintu istana, mereka bersama-sama berhenti lalu

putar badan dan berdiri dikedua belah sisi permadani merah.

Setiap satu kaki berdiri seorang bocah pembawa dupa, padahal jumlah mereka mencapai dua

tiga ratus orang lebih, bisa dibayangkan betapa meriahnya suasana ketika itu.

Asap dupa menyebar keempat penjuru terhembus angin, dalam waktu singkat seluruh tempat itu

sudah diliputi selapis asap dupa yang tipis.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

255

Bunyi tambur dan lonceng kembali berkumandang, dari dalam istana muncul kembali sekelompok

laki-laki kekar berbaju hitam yang berbaris keluar secara teratur, sehabis barissn laki-laki berbaju

hitam, menyusul laki-laki berbaju hijau, kemudian disusul laki-laki berbaju putih dan akhirnya

laki-laki berbaju ungu, diantara kelompok terakhir ini lebih banyak kakek yang tua-tua daripada

kaum mudanya.

Setibanya didepan mimbar upacara, merekapun memisahkan diri kedua belah samping dan

bersama sama menghadap kearah mimbar.

Dengan penyusunan kelompok demi kelompok ini, maka yang berada pada lapisan yang paling

dalam adalah kelompok baju ungu, menyusul kemudian baju biru, baju putih, baju hijau dan

akhirnya baju hitam, jumlah mereka mencapai tujuh delapan ratus orang lebih, hal mana

sungguh menggetarkan hati siapapun yang melihatnya.

Dengan kening berkerut Ko Tay segera berbisik, “Golongan Liok lim merupakan golongan

manusia yang paling susah diatur apalagi dihimpun ke dalam suatu organisasi dengan disiplin

yang tinggi, aku rasa kecuali perkumpulan Sin-ki-pang dimasa lalu, belum pernah ada kelompok

lain yang sanggup menandinginya”

Cu Im taysu menghela napas panjang.

“Aaaai…….sungguh tak disangka, dalam kehidupan pinceng ternyata berkesempatan untuk

mengikuti pertarungan antara kaum lurus dengan kaum sesat untuk ketiga kalinya”

Dari perkataan itu dapat ditarik kesimpulan bahwa ia sedang mengeluh atas napsu angkara

murka manusia yang suka berebut dan bertarung itu.

“Para anggota perkumpulan dari kelompok baju putih ke bawah masih belum merupakan

ancaman serius” ucap Bong Pay, “tapi kelompok baju ungu rasanya tak boleh di anggap enteng,

sungguh tak disangka sementara Hian-beng-kau menghimpun kekuatan secara diam-diam, kita

semua masih terbuai dalam impian”

Dengan dingin Haputule segera berseru, “Yang penting sekarang adalah membangkitkan

semangat untuk membunuh beberapa orang manusia busuk lebih banyak, kata-kata keluhan

semacam itu lebih baik jangan disinggung kembali!”

Tiba-tiba bunyi lonceng kembali bergema lalu irama musik merdu pun mengalun di udara, dari

balik pintu istana muncul dua baris muda mudi berpakaian warna warni.

Disebelah kiri adalah kelompok pemuda berbaju kuning yang membawa pedang mustika, sedang

disebelah kanan adalah kelompok pemudi berdandan keraton yang rata-rata berwajah cantik,

mereka membawa sebuah Pek giok ji gi yang ditempelkan didepan dada.

“Sialan!” sumpah Hoa Ngo, “kaum iblis sesatpun banyak juga lagak tengiknya…….”

“Memang tidak sedikit jumlah manusia didunia yang gemar segala keindahan!” sambung Tam Sibin

sambil tertawa.

Hoa Ngo mendengus dingin, tapi sebelum ia sempat mengucapkan sesuatu tiba-tiba bunyi irama

musik mengalun kembali, kemudian pelan-pelan muncul kembali sekelompok manusia.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

256

Orang dipaling depan mengenakan jubah lebar berwarna merah dengan wajah yang putih dan

memelihara jenggot bercambang tiga, itulah Hian-beng-kaucu yang telah menggetarkan dunia

persilatan selama ini dan kini telah merubah dirinya sebagai Kia ci sin kun Kok See-piau.

Sesudah tampil ke depan, Kok See-piau sedikit mendongakkan kepalanya lalu melanjutkan

langkahnya ke depan.

Dibelakang Kok See-piau, secara tertib menyusul wakil ketuanya, Go Tang cuan, Lau san in siu,

Ui Shia ling, Ci Soat cu, Im san siang koay, thamcu markas pusat dan ketiga orang thamcu

bagian luarnya serta beberapa orang kakek berwajah aneh yang seluruhnya berjumlah dua puluh

lebih.

Tiba-tiba Cu Im taysu menghela napas, lalu mengeluh, “Sungguh tak kusangka, beberapa orang

gembong iblis itu belum mati, agaknya dunia persilatan bakal terancam kembali oleh suatu badai

pembunuhan yang mengerikan”

Ketika didengarnya perkataan tersebut diucapkan dengan wajah serius, Bong Pay buru-buru

bertanya

“Siapa yang taysu maksudkan?”

“Sudah kau lihat orang kedua Serta kelima sampai ketujuh dibelakang Kok See-piau itu?”

Bong Pay segera berpaling, dilihatnya orang dimaksudkan Cu Im taysu adalah kakek kakek

bertampang jelek semua, bahkan ada pula diantara mereka yang cacad. Terdengar Cu Im taysu

menerangkan. “Orang kedua itu bernama Leng lam it khi, wataknya berada sesat dan lurus, tapi

mempunyai hubungan persahabatan yang kental dengan Bu liang sinkun, konon hubungan

perahabatan itu dijalin setelah ter jadinya pertarungan diantara merela berdua, mereka berdua

bertempur sengit sehari semalam dipuncak Bu liang san sebelum akhirnya Leng-lam it khi (si

aneh dari Teng lam) ini kena dikalahkan dengan sebuah totokan”

“Kalau bisa bertarung selama sehari semalam melawan Bu liang sinkun, berarti orang itu luar

biasa sekali” pikir Bong Pay.

Dalam hati ia berpikir demikian, diluar tanyanya kembali, “Lantas siapa pula ketiga orang itu?”

“Lantaran ketiga orang itu dilahirkan sudah cacad lagipula mereka memang kejam dan berhati

busuk, maka orang menyebutnya sebagai Po cu sam jian (tiga cacad dari Po cu), menurut

urutannya mereka adalah Phoa Siu, Pi Ci liang dan Kao Kiat”

Dengan penuh perhatian Bong Pay mengawasi orang-orang itu, dilihatnya orang kelima cacad

pada sepasang kakinya, ia berjalan berkat tongkatnya, orang keenam tidak berlengan kanan,

sedangkan orang ketujuh tidak kelihatan cacad apa-apa, cuma muka tanpa kumis atau jenggot

sehingga tampak agak lucu.

Terdengar Cu Im taysu berkata kembali, “Kao Kiat adalah seorang laki laki, alat kelaminnya tidak

bisa berfungsi sama sekali, dari tiga orang tersebut ia terhitung paling buas dan jahat.

Sementara beberapa orang lainnya tidak kuingat kembali, tapi aku rasa orang-orang itupun tak

akan selisih jauh lebih dibandingkan dengan ketiga orang itu”

Tiba-tiba terdengar Tiang Ji-san berkata, “Seingat lohu, ketiga orang dan keempat adalah adik

seperguruannya Li Bu liang?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

257

“Belum pernah kudengar kalau Li Bu liang punya kakak seperguruan atau adik seperguruan” kata

Ho Kee-sian sambil berkerut kening.

“Sudah lama mereka saling tak akur, kedua orang sutenya ini selalu bergerak disekitar

perbatasan, tentu saja jarang diketahui oleh umat persilatan”

“Sungguh tak disangka gembong-gembong iblis yang dikabarkan sudah mati lama kini bisa

muncul semua ditempat ini” kata Tam Si-bin sambil mengernyitkan pula alis matanya,

“sedangkan dari pihak keluarga Hoa, tak seorangpun yang datang malah Hoa ji-kongcu pun

entah mengapa hingga kini belum juga muncul disini”

Sambil tersenyum Coa hujin segera menukas, “Dengan kecerdasan Hoa tayhiap, sudah pasti ia

telah menyusun semua persiapan yang diperlukan, buat apa kalian musti merisaukan dirinya…..?”

Bong Pay merasa murung sekali, pikirnya, “Tak heran kalau Kok See-piau begitu berambisi dan

angkuhnya bukan kepalang, ternyata ia berbasil menghimpun kembali semua gembong-gembong

iblis lama untuk berpihak semua kepadanya, Tiba-tiba terdengar Pek Soh-gi menghembuskan

napas panjang sambil berkata lirih, “Diantara mereka tidak terlihat paman Tiangsun ataupun Jin

Hian……

Sementara mereka sedang bercakap-cakap, diiringi irama musik yang merdu dan dibimbing oleh

kelompok muda mudi, Kok See-piau sekalian telah menelusuri permadani merah, melangkah

turun ke serambi istana dan pelan-pelan menuju ke mimbar upacara.

Para pemuda pembawa pedang dan pemudi pembawa Ji-gi kemala ikut pula naik ke panggung

mimbar dan berhenti kedua belah sisi panggung tersebut.

Pada setiap tingkat berdirilah dua belas orang muda mudi, dengan tiga tingkatan pada

panggung, itu berarti ada tiga puluh enam orang yang berdiri disana, agaknya lamat-tamat hal

itu diartikan sebagai kedudukan Thian kang.

Menanti Kok See-piau sekalian sudah tiba diatas panggung upacara, irama musik segera terhenti

dan suasana ditengah lapangan yang luas itu pun segera tercekam dalam suatu keheningan yang

luar biasa.

“Menjumpai sinkun!” tiba- tiba anggota Hian-beng-kau yang berada dibawah panggung mimbar

bersama-sama memberi hormat sambil berseru.

Sebagaimana diketahui jumlah anggota Hian-beng-kau yang hadir saat itu mencapai tujuh

delapan ratus orang lebih, padahal tak sedikit diantara mereka yang berilmu tinggi, maka seruan

bersama yang gegap gempita itu segera menggeletar di udara dan memekikkan telinga siapapun

juga.

Berdiri diatas mimbar Kok See-piau memandang sekejap sekeliling gelanggang dengan sepasang

matanya yang tajam.

Walaupun orang-orang ditiga bagian barak berada jauh sekali dari mimbar itu, tak urung tercekat

juga oleh ketajaman mata orang itu.

Pelan-pelan Kok See-piau mengulapkan tangan-nya, dan pembawa acara pun berseru, “Para

murid perkumpulan Hian-beng-kau tak usah banyak adat”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

258

Serentak semua jago dari Hian-beng-kau mengiyakan dan berdiri kembali, semua gerakan

dilakukan bersama-sama sehingga meski beratus orang banyaknya, seolah-olah seperti gerakan

dari satu orang saja.

Dalam pada itu, Kok See-piau telah maju ke depan, kemudian setelah memandang sekejap

sekeliling tempat itu, katanya, “Kami Hian-beng-kau merasa berterima kasih sekali atas kesudian

para enghiong dan orang gagah dari segala penjuru dunia yang sudi datang kemari serta

menghadiri upacara peresmian dari perumpulan kam”

Tiba-tiba Bwe Su-yok dari barak timur bangkit dan menjawab, “Diresmikannya perkumpalan

Hian-beng-kau dalam dunia persilatan merupakan suatu peristiwa yang luar biasa, seluruh

anggota perkumpalan kami menyampaikan selamat dan semoga sejahtera selalu”

Kok See-piau segera memberi hormat sambil berseru, “Terima kasih kaucu!”

Menyusul kemudian, Seng Tocu dari Seng sit pay pun berseru, “Partai kami mengucapkan

selamat atas diresmikannya perkumpulan anda….!”

Kembali Kok See-piau menjura tanpa banyak bicara, sinar matanya dialihkan ke barak barat

dimana para pendekar golongan putih berkumpul….

Bong Pay melirik sekejap kesemua orang, sambil tertawa, Coa hujin segera berkata, “Sudah lama

Swan si mengasingkan diri dalam dunia persilatan, aku tidak tahu menahu tentang segala tata

cara dunia persilatan, semua keputusan lebih baik kalian saja yang ambil”

Cu Im taysu segera menyambung pula, Betul, kalau memang dari pihak keluarga Hoa tak ada

orang, dengan nama dan kepandaian yang kau miliki, memang sudah sepantasnya kalau kau

yang tampilkan diri, buat apa musti sungkan-sungkan lagi?”

Pelan-pelan Bong Pay muncul keluar barak, lalu sambil menjura kearah Kok See-piau katanya,

“Perayaan semacam ini memang patut dihadiri oleh Bong Pay sekeluarga, sayang sekali kami

tidak membawa sesuatu benda sebagai tanda mata, maka ingin sekali kugunakan ujar-ujar

sebagai persembahan kami untuk kenang-kenangan kalian semua”

“Aku orang she Kok siap mendengarkannya!”

Kok See-piau segera menjura untuk membalas hormat.

“Sudah lama dunia persilatan berada dalam ketenangan, buat apa umat persilatan musti mencari

sengsara lagi dengan saling gontok-gontokan?”

“Aku tahu kekuatan perkumpulan anda sangat tangguh, lagipula baru saja didirikan, jika mau

berbakti untuk kepentingan umat banyak, hal itu pasti akan disambut oleh segenap masyarakat

persilatan dengan riang gembira, pertikaian yang tak berartipun pasti akan tersingkirkan dengan

sendirinya”

Ucapan itu diutarakan dengan wajah serius dan nada yang bersungguh- sungguh, banyak orang

yang berkenan oleh sikapnya itu, diam-diam banyak diantaranya yang merasa gembira, sebab

tidak sia-sia Pek lek sian bisa memiliki seorang murid seperti dia, sukmanya dialam baka pun

pasti akun tersenyum setelan melihat hal ini.

Kok See-piau tersenyum.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

259

“Maksud baik Bong tayhiap tentu mengagumkan segenap umat persilatan, sayangnya keluarga

Hoa dari Im tiong-san sudah terlam pau lama merajai dunia persilatan, hal mana sungguh tak

menyenangkan hati kami”

Jelas sekali kalau perkataan itu merupakan suatu tantangan untuk bertarung.

“Kalau memang demikian, Bong Pay pun tiada perkataan lain yang bisa diucapkan lagi” ujar Bong

Pay kemudian dengan serius.

Sambil menjura ia lantas balik kembali ke tempat duduknya.

Tiba-tiba terdengar suara yang amat nyaring berkumandang memecahkan keheningan.

“Anak baik, tepat sekali perkataanmu itu. Bagus sekali ucapan itu…….”

Dengan tercengang semua orang mengalihkan sinar matanya kearah mana berasalnya perkataan

itu, mereka heran siapa yang menyebut Bong Pay sebagai seorang anak, pada hal usia pendekar

itu sudah empat puluh tahun lebih.

Kiranya diatas barak ketika itu berdirilah orang kakek gemuk pendek berkepala botak yang

memiliki wajah merah dan bibir yang lebar, ia mengenakan baju pendek dengan membawa

sebuah kipas berbentuk bulat.

Begitu mendengar suaranya Bong Pay segera mengetahui siapa orangnya, dengan perasaan

terharu ia berseru, “Cu supek! Baik-baikkah kau orang tua selama ini?”

Kok See-piau yang menyaksikan kejadian tersebut, diam-diam iapun berpikir, “Tak nyana kalau

setan-setan tua inipun masih hidup semua, kalau sampai terjadi pertarungan nanti, sudah barang

tentu sulit pula untuk merobohkan mereka”

Dalam pada itu Si dewa yang suka berpelancongan Cu Thong telah tertawa terbahak-bahak

seraya menjawab.

“Haaahh…..haaahh…..haaahh…..masih untung saja aku belum mampus!”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar