Senin, 05 Oktober 2009

3 maha 8

Siau Ngo-ji berhenti sebentar, kemudian sambungnya lebih jauh, “Oleh karena itu kami letakkan

bubuk racun pemabok itu disebelah kanan, khusus lami tujukan untuk menghadapi Pia Leng-cu

atau Kiu-im Kaucu, sedangkan air dewaku diletakkan disebelah kiri untuk disuguhkan kepada

tamu-tamu dari pihak Mo-kauw…. Heehh…. heehh…. baru saja pekerjaan kami selesai, eeei….

yang ditunggu-tunggu telah datang!”

“Apakah waktu itu semua orang berada didalam kamar?”

“Benar, sebenarnya aku ingin mengintip keluar untuk melihat situasi, tapi karena ilmu silat yang

kumiliki terlalu dangkal, si apapun tidak setuju kalau aku keluar dari pintu!”

“Bagaimana kemudian?! tanya Hoa Thian-hong lagi sambil tertawa.

“Kemudian…. waah! suatu pertunjukkan baguspun berlangsung, tanpa mendergar sedikit

suarapun tiba-tiba palang pintu kamar putus dengan sendirinya dan pintupun segera terbentang

lebar, dari luar pintu menerjang masuk seorang marusia berbaju kening, siapa tahu baru saja

kakinya menginjak pintu kamar tiba-tiba ia roboh terkapar diatas lantai, sementara disisi pintu

telah bertambah dengan seorang makhluk tua berbaju kuning pula, sungguh cepat gerak-gerik

makhluk tua itu, entah bagaimana caranya tahu-tahu ia sudah menyambar kaki makhluk cilik dan

menyeretnya keluar dari kamar, tidak meleset dari dugaanku…. ooh…. bukan! bukan…. tidak

meleset dari dugaan bibi, ia memang benar-benar berbelok seperti yang diharapkan”

“Eeei…. bagaimana sih ceritanya?”

Bagaimana lagi? karena terperanjat makhluk tua baju kuning itu loncat mundur ke belakang dan

cepat mundur kebelakang tiang penglari yang sudah kami pasang alat jebakan, tak ampun lagi

air cuci kaki dari nenek Sam-popo segera tumpah kebawah dan hampir saja mengguyur kepala

makhluk tua tersebut, dengan cepat makhluk tua itu menengadah dan melancarkan sebuah

pukulan udara kosong dengan jurus mendorong jendela memandang rembulan, baskom berisi air

cuci kaki itu kontan mencelat entah kemana, diikuti suara gaduh yang sangat keras, pispot berisi

air kencing ikut tersambar sampai tumpah tak karuan, ia segera menjerit bagaikan babi

disembelih, tanpa buang waktu lagi segera melarikan diri terbirit-birit….”

“Hmm! rupanya engkau suka sekali mendengar kisah cerita dari orang-orang yang jual dongeng

dialun-alun?” goda Hoa Thian-hong sambil tertawa.

Siau Ngo-ji mengerutkan dahinya.

Mendengarkan orang jual dongeng? Hmm dikota Lok yang banyak dijumpai orang seperti itu,

dirumah minum teh yang tersohor pun ada lima orang tapi cerita Hong sin pang dari Sun ji macu

manusia topeng itu paling menarik, aku adalah tamu terhormatnya yang sudah menjadi

langganan tetap walaupun hujan badai aku tetap selalu hadir

“Huuuhh! tamu terhormat apa? paling-paling tamu di kolong meja!” ejek Tio Sam-koh sambil

mencibirkan bibirnya.

Siau ngoji kontan melotot, teriaknya, “Eeeei nenek sam popo! seorang pria sejati tak takut

berasal dari kalangan rendah kalau tak punya uang sih diatas meja atau di kolong meja juga

sama-sama mendengarkan!”

“Bocah busuk!” maki Tio Sam-koh dengan marah, “kenapa matamu melotot-melotot? pingin

minta hadiah ditempeleng yaa?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

320

Aku tidak takut ditempeleng, kalau ada alasan yang kuat dan benar, aku harus beri penjelasan

sampai terang.

Hoa Hujin tertawa geli, ia segera bangkit dan duduk dipembaringan, kemudian tegurnya, “Siau

Ngo-ji, jangan ribut-ribut lagi! mari aku beri pelajaran ilmu silat kepadamu, tapi kalau engkau

tidak tekun, jangan salahkan kalau nenek Sam popo benar-benar akan menghadiahkan sebuah

tempelengan kepadamu.”

Kletak…. keetak….! bunyi roda kereta kuda yang berputar dengan cepat diatas jalan berbatu,

ditengah sorot cahaya sang surya yang telah condong kesebelan barat, rombongan dari Hoa

Hujin memasuki kota Lok yang.

Ketika kereta masuk sedalam kereta, seorang pengemis cilik loncat naik keatas kereta dan

membisikkan sesuatu kesisi telinga Siau Ngo-ji.

Bocah yang duduk diatas kursi kusir segera mengangguk sambil berseru, “Aku sudah tahu!

“Apakah mendapat kabar dari Ko toako mu?” buru-buru Hoa Thian-hong bertanya.

Siau Ngo-ji gelengkan kepalanya.

“Kabar dari Haputule, dia bilang ada urusan yang harus segera dikerjakan, untuk sementara

waktu dia tak akan berjumpa dengan toako”

Kemudian kepada sang kusir kereta serunya pula, “Hey kusir, belok kekiri! “

Kusir kereta segera putar kemudi dan berbelok kesebelah kiri, beberapa saat kemudian

sampailah mereka didepan sebuah sebuah penginapan….

Setelah mendapat kamar, ketiga orang perempuan itu segera mandi dan tukar pakaian, sedang

Siau Ngo-ji tarik Hoa Thian-hong kesamping ruangan sambil berbisik, “Setelah makan malam

nanti, mari kita jalan-jalan ke kota dan mencari musuh, kalau bisa kita bekuk dulu gembonggembok

iblis itu agar pada gelagapan dan tahu kelihayan kita”

***

SIAPA yang kau maksudkan?! tanya Hoa Thian-hong.

Perduli amat siapakah orang itu, Kiu-im Kaucu juga boleh, imam tua juga boleh atau gembong

iblis dari Mo-kauw juga lumayan, asal mereka menginap didalam kota, aku pasti berhasil

menyelidikinya”

Hoa Thian-hong segera gelengkan kepalanya.

“Caramu itu tak bisa digunakan, kabut racun kiu tok ciang sudah kita gunakan, aku tak dapat

meninggalkan ibuku dengan begitu saja”

Siau Ngo-ji segera busungkan dada sambil berseru lirih, “Jangan kuatir, kota Lo yang adalah

daeah kekuasaanku, tanggung beres, tak mungkin bisa terjadi sesuatu yang ada diluar dugaan”

“Tidak mungkin!” kembali Hoa Thian-hong gelengkan kepalanya, “sepandai-pandainya tupai

melompat, akhirnya toh jatuh pula keatas tanah, lebih baik kita jangan lakukan tindikan yang

terlalu mengundang resiko besar”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

321

Tertegun Siau Ngo-ji mendengar jawaban tersebut, kembali ia barbisik lirih, “Sebelah timur kota

Lok yang merupakan pusat segala hiburan dan keramaian kota

“Pusat segala keramaian?”

“Benar! pusat dari segala keramaian dan hiburan kota!” seru Siau Ngo-ji dengan gelisah, “ditepi

jembatan Lok yang ada pasar malam, ramainya bukan kepalang, mau makan apapun aku bisa

mendapatkannya secara gratis!”

Mendengar perkataan itu, Hoa Thian-hong segera berpiir didalam hatinya, “Oooh…. rupanya dia

cuma ingin bermain-main belaka, hampir saja hatiku tertarik oleh obrolannya!”

Berpikir sampai disitu, dia segera gelengkan kepala berulang kali sambil berkata, “Aku tak akan

keluar dari pintu rumah, engkaupun tak boleh keluar tinggalkan tempat ini, kalau lain kali ada

kesempatan maka akan kubawa dirimu untuk pesiar segala penjuru dunia, kemana engkau suka

kesitu aku temani engkau untuk bermain”

Siau Ngo-ji segera mengerutkan dahinya erat-erat.

“Aku sama sekali tidak ingin bermain!” keluhnya, “Haputule itu bodoh dan tidak mengerti adat

istiadat dari orang Tionggoan, kalau sampai ketemu Pia Leng-cu, bisa-bisa jiwanya ikut

melayang!”

“Ooh…. serius amat persoalan ini!” seru Hoa Thian-hong dengan alis mata berkenyit.

“Oleh sebab itulah kita harus keluar rumah untuk mencarinya, dan lagi dia pasti mempuayai

alasan tertentu sehingga menyembunyikan diri dikegelapan, kita harus menanyakan persoalan ini

kepadanya!”

Tiba-tiba pitu kamar terbuka, dan Tio Sam-koh munculkan diri sambil berteriak, “Siau Ngo-ji,

tingkah lakumu sangat mencurigakan, apa lagi yang sedang kau bicarakan?”

Buru-buru Siau Ngo-ji loncat kedepan dan menyahut sambil tertawa, “Ooh…. tidak apa-apa,

toako sedang mambicarakan soal ilmu silat dengan aku, nenek Sam Popo engkau silahkan cuci

kaki, air bekas cuci kakimu jangan sampai tumpah lho! baunya…. huuh, sedap….”

Tio Sam-koh mendengus dingin, ia jewer telinga Siau Ngo-ji dan menyeretnya masuk kedalam

kamar.

Lewat beberapa saat kemudian, arak dan sayur telah dihidangkan, beberapa orang itu duduk

mengitari meja dan santap bersama-sama.

Hoa Thian-hong tidak minum arak dihadapan ibunya, lebih-lebih Chin Wan-hong sebagai seorang

perempuan yang menjaga gengsi, ia menghindari minuman keras seperti itu, hanya Siau Ngo-ji

seorang yang ribut minta arak walaupun begitu takaran minumannya terbatas sekali, cuma

secawun kecil.

Selesai bersantap, biji mata Siau Ngo-ji mengerling tiada hentinya memberi kode kepada Hoa

Thian-hong, tapi pemuda itu pura-pura tidak melihat dan sama sekali tidak menggubris kerlingan

itu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

322

Tiba-tiba Hoa Hujin tertawa dan menegur, “Siau Ngo-ji, engkau ingin keluar rumah untuk

bermain-main?”

“Tidak! aku tidak ingin! buru-buru Siau Ngo-ji gelengkan kepalanya berulang kali”, aku adalah

penduduk asli kota Lok yang, sudah bosan aku bermain disekitar tempat ini lagipula sudah tak

ada tempat lain yang menarik bagiku, buat apa musti lelah keliling kota?”

Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan, “Barusan ada orang mencari aku untuk diajak main,

tapi aku segera menolak ajakannya!”

“Siapa sih yang ajak engkau? kenapa aku tak melihat?” tanya Hoa Thian-hong keheranan.

Mereka bersembunyi ditempat kegelapan, kalau toako tidak memper-hatikan tentu saja tidak

melihat, meskipun kami adalah teman lama namun tidak pergi juga tidak menjadi soal.

“Kalau begitu jangan pergi” seru Chin Wan-hong, “daripada menggangu pelajaran silatmu!”

Siau Ngo-ji anggukkan kepalanya berulang kali

Perkataan enso memang benar!

Tiba-tiba dengan wajah merengek dia melanjutkan, “Mungkin sampai sekarang mereka masih

menunggu aku diluar, biar kusuruh mereka pulang dulu.”

Hoa Hujin tertawa geli menyaksikan tingkah lakunya yang kocak, ia segera berseru, “Sudahlah,

tak usah berpura-pura lagi….! pergilah bermain sebentar besok pagi engkau harus tinggalkan

kota Lok yang, sudah sepantasnya kalau minta diri lebih dahulu kepada sahabat-sahabat

lamamu!”

“Benar! kita semua adalah teman-teman sewaktu masih berkaki telanjang, sekarang aku sudah

bersepatu, kalau aku tidak temui mere ka mungkin orang lain akan mengatakan aku jadi

sombong dan lupa teman”

“Kami masih punya sedikit uang, berapa banyak sih teman-temanmu itu….? kita hadiahkan

sepasang sepatu baru buat setiap orang!”

Siau Ngo-ji goyangkan tangannya berulang kali.

“Bukan…. bukan begitu maksudku! bertelanjang kaki artinya masih miskin dan menganggur,

memakai sepatu artinya sudah punya kedudukan dan hidup lebih enak! kata-kata tersebut adalah

kata-kata kangouw untuk mengatakan sesuatu, bukan terus berarti kami benar-benar ingin

membeli sepatu baru!”

Hoa Hujin tersenyum.

“Baik! pergilah untuk menjamu sahabat-sahabat lamamu, tapi engkau musti hati-hati, kalou

seorang pria sejati, lelaki jantan punya keberanian untuk keluar rumah, maka dia musti cekatan

dan pandai melihat gelagat, kalau sampai tertangkap orang maka kejadian itu kurang cemerlang

bagi diri sendiri.

“Bibi tak perlu kuatir!” sahut Siau Ngo-ji dengan hati gelisah, “selama Hoa toako mendampingi

aku, semua malaikat atau iblis akan menghindarkan diri, siapa yang berani cari gara-gara dengan

diriku?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

323

“Aku segan untuk keluar rumah” potong Hoa Thian-hong sambil tertawa.

Siau Ngo-ji jadi tercengang.

“Bukankah toako harus mencari Haputule serta Ko toako?”

Hoa Thian-hong kembali tersenyum.

“Haputule telah menyembunyikan diri, itu berarti posisinya jauh lebih aman, aku memang ingin

sekali berjumpa dengan Ko toako mu itu!”

“Bagus sekali, kalau begitu mari kita segera berangkat, Ko toako juga ingin menyambangi toako,

ayoh kita segera berangkat!”

“Kenapa musti terburu nafsu? ini hari au akan jaga rumah, lain hari saja baru a ku kunjungi Ko

toako mu itu”

Melihat ajakannya ditampik, Siau Ngo-ji menghela nafas panjang.

“Aaaaiii….! baiklah, kalau begitu terpaksa aku harus pergi seorang diri.”

“Bawalah uang disaku, cepat pergi dan cepat kembali!”’ ujan Chin Wan-hong, dari sakunya ambil

keluar sebuah kepingan uang perak dan dicerahkan kepada bocah itu.

Memandang uang perak yang diangsurkan kepadanya, Siau Ngo-ji tertawa.

“Heeeh…. heeeeh…. heeeehbh teman-temanku semua adalah sahabat yang miskin, memang tak

ada salahnya kalau membawa sedikit uang, lagi pula aku masih punya sedikit hutang-hutang

lama, setelah besok berangkat entah sampai kapan baru kembali lagi? kalau hutang terlalu lama

rasanya memang kurang enak, cuma uang itu terlalu banyak, satu dua tahil perak sudah lebih

dari cukup.”

“Bawa kemari!” seru Tio Sam-koh.

Setelah menerima uang perak itu, dengan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya ia

gunting uang perak tersebut, dalam waktu singkat uang perak yang beratnya mencapai sepuluh

tahil itu sudah terpotong-potong jadi sepuluh potongan kecil, bukan saja bentuknya sama bahkan

beratnya pun tak jauh berbeda.

Chin Wan-hong ambil dua kepingan kecil uang perak itu dan diserahkan kepada Siau Ngo-ji

sambil berpesan, “Ini hari engkau tak boleh minum arak lagi, jangan berkelahi dengan orang,

cepat-cepat pulang untuk berlatih ilmu silat!”

Siau Ngo-ji mengangguk, sambil melototi kepingan uang perak yang ada ditangannya, ia coba

untuk memencetnya dengan kedua belah jari tapi perak itu terasa keras sekali, tanpa sadar

sambil menjulurkan lidahnya ia berseru, “Cctt…. cctt…. cctt.! kepandaian apaan itu? tampaknya

benar-benar kalo lebih hebat dari pada ilmu Liong jiau kang!”

“Bawa ke toko dan timbangkan kepingan uang perak itu, sekeping satu tahil, kalau beratnya

tidak betul bawa kembali kemari!” seru Tio Sam-koh lagi dengan dingin.”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

324

Tertegun Sau ngo ji setelah mendengar ucapan itu, akhirnya sambil memberi hormat dia berkata,

“Hiiih…. hiihh…. Siau Ngo-ji punya mata tak kenal gunung Tay san, ini hari baru kutahu kelihayan

nenek Sam popo, pulangnya nanti aku pasti akan membawa oleh-oleh yang enak untukmu, dan

lain hari aku ingin belajar ilmu menggunting perakmu, yang hebat itu”

“Huhh….! cepat enyah….” hardik Tio Sam-koh ia pukul pantat Siau Ngo-ji dengan toyanya dan

melempar tubuh bocah itu keluar dari pintu.

Siau Ngo-ji menjerit kaget, setelah selamat mencapai tanah diam-diam ia baru menggerutu,

“Oooh! sungguh lihay”

Pantatnya diraba, untung tak sakit, buru-buru ia kabur dari rumah penginapan.

Setelah keluar dari pintu, ia bersuit ke arah tempat gelap, kemudian seraya ulapkan tangannya

dengan langkah lebar Siau Ngo-ji berjalan kejalan raya, dalam sekejap mata segerombol bocah

mengikuti dibelakangnya, yang paling tua berumur lima enam belas tahunan, yang terkecil

berumur lima enam tahun, semuanya adalah bocah-bocah gelandangan dari kota Lok yang.

Setelah menyeberangi beberapa jalan raya, sampailah mereka didepan kedai penjual bakmi,

seorang kakek tua sedang masak mie diluar, dari kejauhan Siau Ngo-ji telah berteriak keras,

“Hey lo thio, siapkan arak, sayur dan hidangan lezat! kami akan bayar kontan, sekalian lunasi

hutang-hutang lamaku!”

Bersamaan dengan ucapan tadi, sekawanan bocah gelandangan itu bagaikan hembusan angin

berebutan cari tempat duduk, kursi ditarik meja digeser, suasana hiruk pikuk dan ramai sekali.

Seorang perempuan tua menghampiri mereka, setelah mengamati Siau Ngo-ji tiba-tiba serunya

dengan kaget.

“Eee….! Siau Ngo-ji, kaya mendadak?”

“Oooh…. jangan kuatir!” jawab Siau Ngo-ji sambil rogoh sakunya dan ambil sekeping uang perak,

“Nih! simpan dulu uang itu dalam kas, setelah habis makan kita bikin perhitungan….”

Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan, “Tenggorokanku sakit, ini hari tak minum arak,

sediakan secawan air teh bagiku!”

Bocah yang berusia paling kecil itu membawa sebuah tabung bambu, sanbil mendekati Siau Ngoji

dan merangkak naik keatas kursi ujarnya, “Ngo ko, kenapa sih Hoa toako tak ikut keluar?”

“Dia tak bisa keluar karena masih ada urusan, bagaimana dengan Tiat Pak Ong?”

Bocah itu baru berusia lima enam tahunan dan bernami Siau Biau ji, dia merupakan sahabat

karib Siau Ngo-ji, sementara itu sambil angsurkan tabung kecil tadi, sahutnya, “Makan malam

sudah kuberikan, selama engkau tak ada dirumah, aku tak berani mengadunya dengan milik

orang lain.”

Siau Ngo-ji membuka tutup tabung, isinya ternyata seekor cengkerik berwarna hitam, Siau Ngo-ji

mengilik cengkeriknya seben tar, ketika dilibatrya binatang itu tetap segar, ia tutup kembali

tabung bambu itu sambil berkata, “Selama beberapa hari ini, ada orang yang menganiayai

engkau?”

Siau Ngo-ji menggeleng.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

325

“Tidak ada yang berani, kawan-kawan telah menerima kabar dan tahu kalau engkau sudah

angkat saudara dengan Hoa toako, mereka bersikap sangat baik kepadaku!”

“Engkoh Siau ngo” seru seorang bocah yang bernama Hek niu, “Hoa toako sudah wariskan ilmu

silatnya kepadamu?”

“Hmm! dari siapa Hoa toako belajar ilmu silat, dari situ pula aku belajar silat, soal ini tak usah

dibicarakan lagi, kapan Ko toako kembali kesini dan sekarang dia ada dimana?” tanya Siau Ngo-ji

dengan alis mata berkenyit.

“Sore tadi Ko toako sudah kembali ke kota, kami pada mencari dirinya tapi tak ke temu, entah

dia sudah pergi kemana lagi?”

“Loo kok aneh?! gumam Siau Ngo-ji.

Sementara itu sayur dan arak telah dihidangkan, semua orang segera angkat cawan untuk

menyatakan selamat kepada Siau Ngo-ji, sedang bocah itu angkat cawan air tehnya menerima

ucapan selamat itu.

Tiba-tiba bocah yang berumur agak tuaan berkata, “Siau Ngo-ji, kemarin bocah keparat dari

keluarga Lau datang lagi mencari gara-gara dengan kita, perselisihan ini harus segera di

bereskan, aku rasa lebih baik kita hajar saja orang-orang itu biar kapok!”

Siau Ngo-ji segera goyangkan tangannya berulang kali.

“Ilmu silat ynng sekarang kupelajari sudah mencapai tingkatan yang lain daripada yang lain,

bocah keparat itu bukan tandingan ku lagi, kalau sampai kehilangan nyawa buat aku sih bisa

kabur sambil cuci tangan, tapi bagaimana dengan kalian semua? kamu semua terpaksa harus

angkat kaki dari kota Lok yang!”

Setelah behenti sebentar, sambungnya lebih jauh, “Eei, selama dua hari belakangan ini apa

kalian melihat ada orang yang berdandan menyolok masuk kedalam kota? misalnya sebangsa

hweesio…. atau imam…. atau orang persilatan berjubah kuning, atau perempuan yang cantik!

pokoknya mereka-mereka yang punya mata bersih dan kening menonjol keluar?”

“Ooh ada” jawab siau biau ji cepat, “ada hweesio bau, imam hidung kerbau serta manusia jelek

berbaju kuning, mereka semua hebat-hebat nampaknya ada juga perempuan yang cantik sekali,

begitu cantiknya sampai aku ogah berkedip!”

Cahaya tajam memancar keluar dari balik mata Siau Ngo-ji.

“Ceritalah yang jelas dari awal sampai akhir, jangan ada yang kelewatan!”

“Betul, siau biau ji! kalau cerita musti yang jelas” tukas Hek niu dari samping, engkoh siau ngo

ayoh teguk secawan arak”

Siau Ngo-ji sedang memikirkan sesuatu, ia lantas menjawab.

Enso larang aku minum arak diluaran, siau biau ji….”

Tiba-tiba ia sadar kalau terlanjur bicara, dengan cepat tambahnya, “Ooh…. tenggorokanku

benar-benar lagi sakit!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

326

“Kenapa sih?” tanya siau biau ji, “apakah ensomu galak sesaki seperti anjing beranak?”

“Huuss! jangan sembarangan ngomong, ensoku adalah perempuan paling baik didalam jagad,

ilmu silatnya juga hebat apalagi ilmu racun dan obat-obatanya…. waah! tak bisa dilukiskan deh

hebatnya, sampai akupun cuma mendengarkan perkataaanya seorang…. ooh iya, bagaimana

ceriteranya? makhluk jelek berbaju kuning itu pernah kujumpai, bagaimana dengan dia?”

Sau biau ji membasahi bibirnya dengan ludah, lalu bercerita, “Selama beberapa hari belakangan

ini kami selalu berjaga-jaga dipintu kota selatan, pagi tadi muncul dua orang makhluk aneh

berbaju kuning, waktu kutengok mukanya…. hiiiii….! ngeri deh, jeleknya bukan kepalang….”

Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan, “Makhluk tua yang punya jenggot merah berjalan

didepan, yang rada muda dan punya hidung seperti samai mengikuti dibelakangnya, dia

memanggul sesosok tubuh manusia nampaknya kena penyakit gila atau ayan…. mukanya

bengkak seperti labuh, tangannya penuh tutul-tutul merah seperti cacar…. hiiihh! pokoknya ngeri

deh.”

“Ehmm! orang itu terkena racun jahat dari wilayah Biau” Siau Ngo-ji menjelaskan, bagaimana

selanjutnya?”

“Setelah cari kamar dirumah penginapan Kong goan, yang mudaan itu keluar rumah seorang diri,

rupanya dia pergi beli obat dikedai…. selanjutnya Ji hau yang membuntuti, biar dia saja yang

cerita!”

Sambil berseru bocah itu tuding seorang bocah dihadapannya.

Bocah hitam yang berada dihadapannya segera melanjutkan cerita itu, “Siau biau ji tetap jaga

dipintu kota, sedang aku buntuti beberapa orang baju kuning itu, aku menyusup masuk kedalam

rumah penginapan lewat pintu belakang, ku lihat mereka bertiga mendapat kamar di ruang

sebelah barat, aku lantas ingat dengan perkataan dari Ko toako, katanya orang yang berilmu silat

tinggi bisa menangkap ja tuhnya bunga dan daun pada jarak sepuluh tombak, aku tak berani

terlalu mendekat dan terpaksa mendorong pintu dikamar sebelahnya”

“Bukankah diatas dinding kamar ada lubang untuk mengintip?” tanya Siau Ngo-ji.

Ji hau angkat cawan araknya dan meneguk abis isinya, kemudian menjawab, “Benar, aku masih

ingat diatas dinding papan terdapat sebuah lubang kecil untuk mengintip kamar itu, seberangnya

persis pembaringan dikamar seberang, kita toh sering kali melihat siluman laki dan perempuan

saling bergumul dan saling menindih…. aduuh asyiiknya!”

“Jangan bicara yang tak penting, bagaimana seterusnya? aku harus segera pulang seru Siau

Ngo-ji dengan dahi berkerut.

Ji hau melengak sebentar, kemudian melanjutkan, “Ketika aku mendorong pintu kamar sebelah

aduuuh maknya! seorang kakek tua berjenggot putih sedang duduk bersila didalam kamar itu,

ketika aku melongok kedalam, sepasang mata kakek itu segera terbuka lebar, yaa mama!

sepasang biji matanya memancarkan sinar yang dingin dan tajam, aku jadi ketakutan sampai

kakiku jadi lemas, hampir saja aku jatuh semaput.”

Sambil menuding ke arah Ji hau, Siau bi ji tertawa geli dan mengejek, “Haaah…. haaahh….

haaahh engkoh siau ngo, karena ketakutan dia sampai terkencing-kencing hingga celananya

basah kuyup, sungguh memalukan”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

327

Merah padam selembar wajah Ji hau, serunya dengan penasaran, “Maknya! kalau bicara jangan

sembarangan, kalau engkau yang melihat sinar mata itu, mungkin sukmapun seraya melayang

meninggalkan raga….”

Bocah-bocah itu tergelak tertawa, sampai kakek penjual bakmi pun ikut tertawa terbahak-bahak.

Siau Ngo-ji gebrak meja menghentikan gelak tertawa itu, hardiknya dengan suara dalam,

“Jangan gaduh! Ji hau, teruskan ceriteramu”

Bocah-bocah itu berhenti tertawa, suasanapun pulih kembali dalam kesunyian.

Terdengar Ji hau melanjutkan kembali kata-katanya, “Dalam gugupnya, aku segera melarikan diri

terbirit-birit, untung kakek tua itu tidak berteriak sehingga aku kena digebuk oleh pelayan rumah

penginapan itu, aku kabur ketengah tumpukan barang dan menyembunyikan diri, beberapa saat

kemudian pelayan muncul sambil membawa sebuah gentong besar, isi gentong itu adalah air

bersih, lewat sebentar lagi orang baju kuning yang rada mudaan itu muncul sambil membopong

sebungkusan besar obat-obatan serta segentong cuka.”

Bocah itu berhenti sebentar, setelah makan sayur asin dan buru-buru menelannya kedalam

perut, sambungnya lebih jauh, “Aku sangat ingin mengintip kedalam dan pingin tahu permainan

setan apa yang sedang dilakukan, setelah maju mundur setengah harian, akhirnya aku besarkan

nyali dan ngeloyor masuk kedalam halaman kemudian merangkak kebawah jendela, siapa tahu

sebelum aku bangkit berdiri tiba-tiba aku dengar pintu kamar berbunyi dan makhluk tua itupun

berbicara!”

Apa yang dia bicarakan? Ji hau menghembuskan nafas panjang lalu menjawab, “Dia bertanya,

“Bagaimana dengan tempat yang dipilih?” lalu seorang lain menjawab, “Tempatnya sudah dipilih,

terletak di tengah tumbuhan ilalang ditepi seberang sungai!” kemudian makhluk tua itu bertanya

lagi, “bahan-bahan untuk hioloo darah sudah kau siapkan komplit?” orang yang satu menyahut,

“Oh sudah, sudah siap semua!” makhluk tua itu bertanya lagi, “makhluk-makhluk beracunnya

juga sudah siap?” orang yang lain menjawab, “sudah kusiapkan semua!”

Suasana hening untuk sesaat lalu orang itu menyambung kembali, “Suhu tak usah kuatir, asal

mereka menginjak kedaratan, tanggung akan terluka oleh ilmu Hiat teng koh hun to hoat kita!”

Mendengar sampai disitu, Siau Ngo-ji kerutkan dahinya rapat-rapat dan bergumam, “Ilmu sakti

hioloo darah pembetot sukma? ilmu sihir apaan itu….? mungkin ilmu jahat yang amat keji….”

“Aku sendiripun tidak tahu ilmu apaan itu, mereka mengatakan begitu maka akupun sampaikan

kepadamu tanpa mengurangi sepatah katapun!”

“Bagaimana selanjutnya? cepat katakan!” seru Siau Ngo-ji dengan gelisah.

Dengan muka mewek Ji hau melanjutkan, “Kemudian…. waah! menarik sekali, baru saja aku

mencuri dengar pembicaraan itu, tiba-tiba jendela dibuka dan seorang baju kuning yang mudaan

itu melongok keluar, tengkukku langsung dicengkeram seperti anak kucing kemudian

melemparkan ke tubuhku keluar dari halaman, kakiku belum sempat menginjak tanah terdengar

makhluk tua baju kuning itu sudah membentak keras, ‘tangkap kembali! mampusi bocah itu!’

waaduuh, aku semakin ketakutan, untung Lo Thian ya masih lindungi aku, kebetulan aku terjatuh

ketumpukan rumput kering diistal kuda, cepat-cepat aku menggelinding ketanah dan menerobos

keluar lewat lubang anjing disudut tembok, makhluk kecil itu goblok sekali ketika ia sampai

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

328

diluar, aku sudah ngeloyor kedalam rumah penggiling tahu disamping rumah penginapan itu dan

sembunyikan diri.”

“Macam apakah kakek tua yang duduk bersila dikamar sebelah makhluk tua itu?” tanya Siau

Ngo-ji kemudian dengan suara berat.

“Jenggotnya putih, rambutnya putih, bajunya putih dan raut wajahnya bersih rada gagah!”

Siau Ngo-ji alihkan pandangannya ke arah siau biau ji, dan tanyanya lagi, “Selain makhluk aneh

baju kuning, apakah masih ada orang-orang yang menyolok lagi masuk kedalam kota?”

“Kami lihat seorang perempuan berbaju hitam, berwajah putih dan berambut uban dengan

membawa sebuah tongkat hitam dengan kepala setan terukir digagangnya masuk ke dalam kota,

tampaknya mirip dengan Kiu-im Kaucu yang pernah kami dengar, aku suruh siau kwik

menguntilnya, siapa tahu baru ikuti beberapa jauh, mendadak perempu ao itu lenyap tak

berbekas dan sampai sekarang tidak ketemu lagi!”

“Selain itu?”

Seorang perempuan cantik yang membawa rase putih juga masuk kedalam kota, wajah nya mirip

Giok teng hujn tapi betul atau tidak entahlah, selain itu ada pula seorang perempuan muda yang

menunggang kuda, wajahnya cantik jelita dan boleh dibilang bagaikan bidadari yang baru turun

dari kahyangan!”

“Perempuan itu adalah Pek Kun-gie!” seru Siau Ngo-ji dengan amat gusarnya, “ia merecoki Hoa

toako terus menerus. Hmm! kalau sampai ketemu dengan aku, pasti akan ku maki habis-habisan,

perempuan yang tak tahu malu!”

“Kenapa sih musti dimaki?” tanya Siao biau ji keheranan, perempuan itu cantiknya bukan

kepalang, kalau aku sih tak tega un tuk mencaci maki dirinya…. kasihan!”

Siau Ngo-ji segera tertawa dingin.

“Heeh…. heehh…. heehh…. kau anggap enso ku jelek? kecantikan wajahnya mungkin sepuluh

kali lipat lebih hebat daripada perempuan yang bernama Pek Kun-gie itu.

Ia bangkit berdiri dan ambil keluar sekeping perak, sambil diserahkan kepada kakek penjual

bakmi, pesannya, “Uang itu aku titipkan disini, kalau siau biau ji tak punya uang uutuk makan,

biar dia makan mie ditempatmu, tiga tahun kemudian aku akan bayar kekurangannya, berapa

saja kekurangan itu pasti akan kubayar….”

Jilid 17

“BAGAIMANA kalau orang lain yang makan?” tanya kakek penjual bakmi sambil menerima uang

itu.

“Kecuali ini hari aku yang menjamu, selanjutnya tak ada hubungan apa-apa dengan nonaku!”

Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan.

“Kalau engkau berani menganiaya Siau biau ji Hmm! warung bakmi ini akan kuobrak abrik

sampai rata dengan tanah, jenggotmu akan kucabuti semua hingga tak mampu hidup di sini

lagi.”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

329

Kepada rekan-rekan lainnya dia melanjutkan, “Kalau kehidupan kalian alami kesulitan pergilah

cari Ko toako! Siau biau ji paling kecil diantara kalian, pengalamannya paling dangkal, kalian

jangan mengganggu dirinya!”

Bocah-bocah itu sama-sama mengiakan, sedang Siau biau ji sambil menangis sesenggukan

katanya, “Engkoh Ngo ko, kemana engkau pergi aku mau ikut terus jangan tinggalkan aku

seorang diri!”

“Tidak mungkin, setelah tiba diperkampungan Liok Soat Sanceng nanti aku akan mintakan ijin

kepada enso agar utus orang datang kemari untuk menyambut dirimu.”

“Kenapa musti tunggu tiga tahun?” seru siau biau ji dengan air mata bercucuran.

Siau Ngo-ji termenung sebentar, kemudian jawabnya, “Paling lama tiga tahun, mungkin juga

kurang dari itu…. Nah! pergilah bermain-main, aku harus segera kembali.”

“Ngoko, cengkerikmu!” seru siau biau ji sambil berikan tabung bambu itu kepada kakaknya.

“Aku tak mau bermain itu lagi, buat kau!”

Siau hiau ji mengangguk.

“Ngo ko, ajarin aku ilmu silat agar kalau berkelahi aku bisa lebih tangguh “

“Sekarang tak ada waktu, lain kali saja,” setelah memberi salam kepada rekan-rekannya ia

menambahkan, “Nah, sampai jumpa lain waktu, aku pergi dulu!”

Sambil mengingat-ingat terus persoalan tentang ilmu hioloo darah pembetot sukma, bocah itu

dengan cepat kembali ke rumah penginapan.

Beberapa jalan raya sudah diseberangi, ketika ia tiba satu tombak dari pintu penginapan, tibatiba

bayangan manusia munculkan diri dari bawah wuwungan rumah, sambil menampakkan diri

ia meregur lirih, “Saudara cilik, tunggu sebentar!”

Siau Ngo-ji terperanjat dan mundur dua langkah, ketika mengang-kat kepalanya bocah itu

kontan merasa terperanjat.

Seorang gadis yang cantik jelita bagaikan bidadari berdiri dibawah lampu jalan yang remangremang,

meskipun suasana agak gelap namun kecantikan wajah dara itu sangat mengikat hati,

sampai Siau Ngo-ji yang masih kecilpun diam-diam mengagumi.

Gadis itu menengok sekejap sekeliling tempat itu, kemudian mengundurkan diri ke bawah

wuwungan rumah, seraya menggape bisiknya, “Saudara cilik, kemarilah! aku punya urusan

penting hendak disampaikan ke padamu!”

“Engkau adalah Pek Kun-gie!” tegur Siau Ngo-ji tanpa bergerak.

Gadis cantik itu tersenyum dan mengangguk.

“Engkau kenal aku? Ohh! Thian-hong yang beritahu kepadamu?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

330

Siau Ngo-ji berdiri melongo, pikirnya, “Aduh mak, betul-betul cantik! apalagi kalau tertawa,

waduh bikin hati orang syuur-syuuran…. Hoa toako bisa menampik cintanya, itu menandakan

kalau toako betul-betul seorang lelaki yang hebat!”

Sementara itu Pek Kun-gie sudah menggape lagi sambil berseru, “Kemarilah! jangan berdiri

ditenhah jalan, aku punya kabar penting hendak disampaikan kepadamu”

Siau Ngo-ji melangkah maju tapi sekilas bayangan terlintas dalam benaknya, tiba-tiba ia teringat

akan Chin Wan-hong, bocah itu segera merasakan hatinya hangat dan segar seolah-olah tersorot

oleh cahaya sang surya.

Pada mulanya bocah ini adalah seorang anak yatim piatu yang tak punya sanak tak punya

keluarga, sedari kecil hidup gelandangan dikota Lok yang, ia kenyang disiksa, hidup menderita

dan tak kenal apa artinya kasih sayang.

Meskipun Hoa Hujin, Hoa Thian-hong dan Tio Sam-koh sangat baik terhadap dirinya, kasih

sayang itu adalah kasih yang umum dan sama sekali tidak merangsang daya rasanya yang hebat,

lain halnya dengan Chiu Wan Hong.

Dara ini bukan saja harus melayani mertuanya dan suaminya, diapun sangat kasih dan menaruh

perhatian terhadap Siau Ngo-ji, terutama sekali wataknya yang halus berbudi dan sifat

kewanitaan yang tegitu tebal ditambah ketulusan dan kehangatan kasih seorang ibu tercermin

begitu tebalnya, membuat setiap ucapan dan gerak-geriknya mengandung kasih sayang dan

perhatian yang tak terhingga bagi Siau Ngo-ji.

Walaupun kasih sayang dan perhatian itu ditampilkan secara sederhana dan wajar, namun

kesemuanya timbul dari dasar sanu bari yang suci dan sama sekali tiada suatu paksaan atau

pura-pura, karena itulah Siau Ngo-ji merasakau daya rangsangan yang besar atas kebaikan yang

pernah diterimanya selama ini.

Teringat akan ensonya, timbullah rata permusuhan yang tebal terhadap Pek Kun-gie yang cantik

jelita, bocah itu tak berkutik dari tempat semula dan tegurnya ketus.

“Darimana kau kenal diriku?”

Agak terperangah Pek Kun-gie menyuksikan perubahan sikap bocah itu, jawabnya kemudian,

“Aku lihat setiap hari kau bergaul dengan Thian-hong, kalian sering bercakap dan bergurau

dengan mesrahnya, tentu saja kuk nali dirimu!”

“Hmm! Hoa toako adalah suami dari enso ku, tentu saja mesrah dengannya, berita penting apa

yang hendak kau katakan? sampaikan saja kepadaku, kalau ingin ketemu Hoa toako…. Huuh!

jangan mimpi”

Ucapan tersebut sangat menusuk hati Pek Kun-gie, parasnya berubah hebat, lama sekali ia baru

pulih kembali seperti sedia kala.

“Engkau adalah sanak dari keluarga Hoa? ataukah sanak dari keluarga Chin Wan-hong?”

tanyanya kemudian.

“Hmm! enso adalah nyonya muda dari keluarga Hoa, maka aku boleh dianggap sanak dari

keluarga Hoa juga sanak dari keluarga Chin”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

331

Pek Kun-gie mengerutkan dahinya, dengan muka murung ia berbisik, “Usiamu masih muda dan

tak tahu urusan, memandang diatas wajah Thian-hong aku tak mau ribut dengan kau….”

Siau Ngo-ji segera tertawa dingin, tukasnya, “Kau tak mau ribut, justru aku ingin ribut, ayoh

jawab apa mau mu menguntit terus perjalananku?”

Hawa nafsu membunuh yang tebal melintas diatas wajah Pek Kun-gie, dia maju dan siap

melancarkan serangan maut.

Sebagai putri ketua perkumpulan Sin-kie-pang yang dibesarkan dibawah asuhan ayahnya yang

berkekuasaan besar, ia sudah terbiasa bersikap angkuh dan tinggi hati, kalau bukan mencintai

Hoa Thian-hong tak mungkin dia sudi hidup menderita, namun sifat tersebut hanya berlaku

khusus buat Hoa Thian-hong seorang, bagi orang lain watak angkuh dan kejamnya masih

berlaku seperti sedia kala.

Kadangkala kekuatan yang terpancar akibat cinta memang sangat besar, ketika ia maju kedepan

tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam benaknya.

Kalau bocah ini aku lukai, Thia Hong pasti akan gusar kepadaku, aku tak boleh sembrono.

Cepat ia tahan tubuhnya dan berseru, “Beritahu kepada Thian-hong, katakan ada orang hendak

gunakan siasat busuk untuk mencelakai jiwa lo hujin dan dirinya, aku akan menunggu disini,

cepat suruh dia keluar!”

Stan ngo ji kerutkan dahinya dan tertawa dingin.

“Heeeh…. heeeh…. heeehh aku saja tidak gelisah, kenapa kau musti ribut? bukankah orang Mokauw

hendak celakai mereka dengan ilmu hioloo darah pembetot sukmanya?”

Tertegun Pek Kun-gie mendengar ucapan tersebut, serunya keheranan, “Ilmu hioloo darah

pembetot sukma? ilmu apaan itu? bukan itu yang kumaksudkan, cepat panggil Thian-hong!”

“Huuhh! kalau ingin adakan pertemuan dengan Hoa toako katakan saja terus terang, pakai akalakalan

segala. Huuhh! tak tahu malu,” batin Siau Ngo-ji, “dianggap dengan perkataan seperti itu,

aku lantas ketakutan?”

Berpikir begitu, dengan acuh tak acuh dia pun berkata lagi, “Tidak sukar kalau suruh aku

panggilkan Thian-hong, tapi kabar ini musti aku laporkan kepada enso dulu, kemudian suruh

enso yang beritahu toako, setuju tidak?”

Secara lapat-lapat Pek Kun-gie merasakan hatinya sakit seperti diiris, pikirnya, “Aaai…. keadaan

sekarang ibarat harimau turun gunung yang dianiaya kawanan anjing, ooh Thian-hong kenapa

kau tidak keluar? apakah kau tidak tahu semalam aku menunggu dirimu ditluar?”

“Bagaimana? setuju tidak?” terdengar Siau Ngo-ji menegur dengan uara ketus, “kalau beritahu

saja kepadaku biar aku yang sampaikan, kalau urusan benar serius maka diam-diam akan

kusampaikan kepada toako cuma, engkau tetap tak bisa bertemu dengan toako!”

Pek Kun-gie menghela napas panjang.

“Baiklah akan kuceritakan garis besarnya saja, sampaikanlah kepada toako!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

332

“Bicara pulang pergi kau hanya ingin bertemu dengan toako…. Huuh baiklah ceritakan garis

besarnya kepadaku dan nanti akan kuper-timbangkan lagi”

“Sebetulnya….”

Tiba-tiba terdengar dengusan dingin yang menyeramkan memecahkan kesunyian, bagaikan

sambaran kilat sesosok bayangan manusia menubruk ke arah Pek Kun-gie.

Merasakan datangnya ancaman, Pek Kun-gie terperanjat dan loncat kebelakang, teriaknya keraskeras,

“Cepat lari pulang”

Belum habis kata-kata itu diutarakan, bayangan tadi kembali menerjang untuk kedua kalinya ke

arah Pek Kun-gie dengan kecepatan bagaikan sambaran petir.

Pek Kun-gie putar telapak dan cabut pedangnya, cahaya tajam berkilauan dan ia balas

menyerang dengan pedang lemasnya.

Menyaksikan kejadiau itu, Siau Ngo-ji jadi panik, pikirnya, “Aduuh celaka, kalau Pek Kun-gie

mampus, maka berita itu tak bisa disampaikan kepada toako.”

Sebagai bocah yang cerdik, dia segera bertindak cepat, sambil kabur kepenginapan ia berteriak

keras, “Hoa toako, cepat keluar Kiu-im Kaucu, Pia Leng-cu….”

***

BELUM habis ia berseru, dari atap penginapan menggema bentakan gusar dari Hoa Thian-hong.

“Kiu-im Kaucu, aku orang she Hoa sudah menanti disini!”

Ternyata bayangan marusia yang menyergap Pek Kun-gie bukan lain adalah Kiu-im Kaucu, dia

bermaksud membekuk gadis itu dalam satu gebrakan, diluar dugaan sambutan pedang dari gadis

itu cukup tangguh membuat tubuhnya meleset dari sasaran, tangan kanannya segera menyodok

lewati jaring pedang dan menotok tubuh dara itu.

Kembali Hoa Thian-hong membentak, “Libat pedang!”

Cahaya hitam secepat kilat meluncur kedepan dan menusuk punggung Kiu-im Kaucu.

Walaupun selisih jarak ada dua tombak, namun pancaran hawa ki kang dari ujung pedang telah

mengancam jalan darah Leng tay hiat dipunggung Kiu-im Kaucu, memaksa jago tua itu cepatcepat

harus melindungi diri.

Dengan hati terperanjat Kiu-im Kaucu mundur kebelakang dan melayang beberapa tombak

kesamping.

Cahaya hitam lenyap dari udara Hoa Thian-hong berdiri di tengah jalan dengan gagah, mulutnya

membungkam dalam seribu bahasa.

Lega hati Pek Kun-gie setelah lolos dari ancaman, sambil tuding Kiu-im Kaucu ujarnya, “Thianhong,

ia telah menyusun rencana keji, besok pagi….”

“Budak cilik, rupanya kau sudah bosan hidup!” seru Kiu-im Kaucu dengan nada seram.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

333

Peras muka Hoa Thian-hong berubah, ia menghadang didepan Pek Kun-gie sambil berseru

dengan suara dalam, “Kun Gie, mundurlah agak jauh!”

Pedang bajanya diayun dan segera mengebas keudara kosong.

Pek Kun-gie tertegun, ketika ia angkat kepala tampaklah diujung pedang baja milik Hoa Thianhong

telah menempel tiga batang duri racun yang panjangnya beberapa cun serta berwarna

hitam tak mengkilap.

Ketiga batang duri racun itu meluncur tanpa menimbulkan suara ataupun kerlipan cahaya,

sementara tangan kiri Kiu-im Kaucu memegang tongkat kepala setan, tangan kanan tertutup

dibalik baju yang lebar dan sama sekali tidak nampak sesuatu gerak apa pun, sergapan macam

itu boleh dibilang sangat lihay sekali.

Istri Hoa Thian-hong adalah seorang ahli racun yang lihay, sedikit banyak pemuda itupun kenal

dengan kepandaian tersebut, dari warna duri racun itu ia tahu bahwa bahan racun yang

digunakan pada ujung senjata tersebut merupakan racun yang amat jahat, tanpa terasa peluh

dingin membasahi tubuhnya, iapun semakin waspada menghadapi Kiu-im-kauwcu yang kejam.

Ssraeotara itu telah terperangah sebentar” Pek Kun-gie segera berseru lantang, “Thian-hong,

orang itu mempunyai maksud jahat kepadamu, jangan kau ampuni ampuni jiwanya?….

“Aku tahu, turunlah ke bawah wuwungan rumah!”

Tiba-tiba Siau Ngo-ji berseru, “Toako, apa yang kau lihat? kalau benda yang beracun, simpanlah

dan nanti tunjukkan kepada enso!”

“Cepat pulang, dan jangan tetap berada diluaran!” bentak Hoa Thian-hong dengan gusar.

“Enso suruh aku menjaga disini, sekalian awasi sekitar gelanggang kalau ada orang yang hendak

menyergap dirimu!”

Setiap perkataannya tak lupa mengucap kan kata enso dan rupanya sengaja di tujukan kepada

Pek Kun-gie.

Dara itu berubah wajahnya, ia merasakan hatinya seperti di tusuk-yusuk oleh pisau yang tajam,

Hoa Thian-hong sendiri tentu saja mengerti pula maksud tujuan bocah itu, pikirnya dihati,

“Kurangajar, rupanya dia memang sengaja sedang menyakiti hati Kun Gie….”

Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa ia robek bajunya untuk bungkus duri beracun tadi dan

segera dilempar kebelakang, hardiknya, “Ayoh cepat kembali kerumah penginapan!”

Siau Ngo-ji pungut bungkusan itu dan berpikir.

“Toako sudah kehilangan muka, kalau aku teruskan olok-olok ini niscaya dia akan gusar….”

Berpikir sampai disitu, segera teriaknya, “Toako tak usah gugup, aku akan undang kedatangan

enso!” sambil berseru dia kabur kedalam penginapan.

Hoa Thian-hong segera berpikir dalam hati.

“Setan cilik ini pilih kasih dan terlalu condong kepadi enci Hong, kalau ia betul-betul undang

ensonya, waah…. Kun Gie pasti akau dibuat serba salah….”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

334

Berpikir sampai disitu, ia berpaling ke arah Pek Kun-gie dan berkata, “Cepatlah pulang kerumah,

jangan berdiam diluaran, kalau aku bisa keluar rumah pasti akan….”

Sebetulnya pemuda itu hendat bilang, kalau dia bisa keluar rumah pasti akan berkunjung kebukit

Toa pa san untuk menjenguk dirimu, tapi ingatan lain segera berkelebat dalam benaknya, ia

teringat kalau dia sudah punya istri sedang dara itu masih perawan maka kata yang hampir

meluncur segera di telan kembali.

Senyum kemurungan tersungging diujung bibir Pek Kun-gie, katanya, “Engkau tak usah

menguatirkan aku, Kiu-im Kaucu kejam dan punya rencana busuk dia hendak….”

Sambil tertawa seram Kiu-im Kaucu segera menukas, “Pek Kun-gie, meskipun dari dulu kaum

pria tidak setia pada janji, dan kaum wanita gampang jatuh cinta, namun keadaanmu benarbenar

menggelikan hati.”

Merah jengah selembar wajah Pek Kun-gie, teriaknya dengan gusar, “Lebih baik jangan kau

campuri urusan kami!”

“Hmm! dia tak boleh mencampuri, aku nenek tua justru akan mencampuri kau mau apa?” tibatiba

suara Tii Sam-koh menggelegar ditengah udara.

Bersama dengan kehadirannya, toya baja tersebut mengiringi deruan angin tajam langsung

menghajar batok kepala gadis itu.

Hoa Thian-hong jadi gegetun, serunya dengan gelisah, “Eee…. nenek Sam popo….”

Dengan suatu gerakan yang manis, Pek Kun-gie mengegos kesamping, setelah lolos dari

ancaman tersebut dengan gusar ia membentak pedangnya menyambar kemuka melepaskan

serangan balasan.

Hoa Thian-hong semakin gelisah, dengan nada setengah merengek serunya, “Nenek Sam popo,

berhenti! jangan main serang…. ada persoalan kita selesaikan secara baik-baik!”

Tio Sam-koh sama sekali tidak menggubris, serangan toyanya makin gencar dan jurus maut

dilepaskan secara bertubi-tubi membuat Pek Kun-gie tak sanggup menahan diri dan terjerumus

dalam keadaan yang sangat berbahaya.

Hoa Thian-hong semakin gelisah hingga mendepak kakinya berulang kali, sebagai keturunan

seorang terhormat pemuda itu tak berani turun tangan terhadap Tio Sam-koh, maka ia cuma

bisa gelisah tanpa sanggup melakukan sesuatu apapun.

Kiu im kaicu yang menyaksikan kejadian itu, dalam hatipun segera berpikir, “Agaknya budak itu

mengetahui rencana besarku, ia berusaha membaiki bocah keparat she Hoa, sedang keparat dari

keluarga Hoa masih cinta kepada budak itu dan tak tega melihat gadis itu mampus ditangan

orang…. inilah suatu pertunjukkan yang menarik hati!”

Kemudian pikiran lain berkelebat pula dalam benaknya, “Ilmu silat yang dimiliki Pek Siau-thian

sangat lihay, diapun berhasil mempelajari isi catatan ilmu pedang Kim keng bu kui, kemajuan

yang diraih pasti luar biasa, kekuatannya mungkin jauh lebih ampuh dari keadaan tempo hari,

selama Pek Kun-gie masih hidup keluarga Hoa dan keluarga Pek tak mungkin bentrok satu sama

lain, itu berarti Kiu-im Kaucu harus menghadapi musuh dari dua arah, sebaliknya kalau nenek itu

membunuh Pek Kun-gie, maka dendam kesumat pasti terjalin antara dua keluarga, sedang KiuGrafity,

http://mygrafity.wordpress.com

335

im Kaucu akan mencari untung dari situasi ini, aku harus manfantkan peluang ini sebaikbaiknya….!”

Berpikir sampai disitu, dia tertawa seram dan berseru, “Pek Kun-gie, cepat kabur dari sini,

engkau cantik dan menarik, cepat atau lambat Hoa Thian-hong pasti tunduk dibawah gaunmu,

kalau nyawamu keburu mampus, ooooh sayang sekali!”

Tio Sam-koh segera membatin, “Betul juga perkataannya, siluman rase ini cantik bagaikan

bidadari yang turun dari kahyangan, Hong ji jauh bukan tandingannya. Setiap pria sudah pasti

akan terpikat oleh kecantikannya itu, kalau siluman rase ini di biarkan hidup, akhirnya Seng ji

pasti terjatuh kedalam pelukannya lebih baik cepat dibunuh, daripada memelihara harimau di

kandang domba.”

Berpikir sampai disini, permainan toyanya dipergencar, serangan maut dilepaskan bertubi-tubi

memaksa Pek Kun-gie kerepotan dan kian lama kian terdesak hebat.

Hoa Thian-hong merasakan hatinya panas bagaikan minyak mendidih, ia berputar disekitar

gelanggang sambil bersiap sedia bila Pek Kun-gie menjumpai mara babaya, ia siap memberi

pettolongan.

Tiba-tiba Kiu-im Kaucu berteriak lagi.

“Pek Kun-gie, cepat pergi! jangan engkau paksa Hoa Thian-hong berkelahi sendiri dengan Tio Lo

tay kalau sampai terjadi begitu, ooh! kasihan Hoa Thian-hong, dia akan dicemooh orang sebagai

manusia yang berani melawan tingkatan tua!”

Hoa Thian-hong gusar sekali, hardiknya, “Kalau engkau menghasut terus, jangan salahkan kalau

aku orang she Hoa bertindak kurangajar!”

“Binatang cilik, enyah dari sini!” bentak Tio Sam-koh dengan gesar.

Weeess! toyanya disapu kedepan dengan gerak mendatar.

Meskipun berilmu tinggi, Hoa Thian-hong tak berani melawan, ia segera mengegos kesamping.

Sapuan toya itu mengena disasaran kosong, menggunakan kesempatan yang baik ini, Pek Kungie

gigit bibir dan melepaskan satu serangan balasan yang hebat.

Hawa amarah yadg berkobar dalam dada Tio Sam-koh makin memuncak, permainan toyanya

segera berubah, ia kurung Pek Kun-gie dibawah bayangan toyanya yang berlapis lapis dan

mendesaknya habis-habisan.

Hoa Thian-hong makin gelisah hingga hampir saja mengucurkan air mata, ia lihat Pek Kun-gie

makin kepayahan dan terkurung kembali dalam lapisan toya Tio Sam-koh.

Tiba-tiba nenek tua itu membentak nyaring diiringi desiran angin tajam, toya baja itu

menghantam batok kepala Pek Kun-gie.

Serangan itu dilancarkan dengan kecepatan luar biasa, tak sempat bagi Pek Kun-gie untuk

menghindar, dalam gugupnya dia angkat pedang lemasnya untuk menangkis.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

336

Hoa Thian-hong amat terperanjat, ia tahu sambaran toya itu luar biasa dahsyatnya kalau

ditangkis dengan pedang niscaya gadis itu akan mati konyol, dalam gelisahnya tanpa berpikir

panjang ia segera menubruk kemuka dan melindungi Pek Kun-gie dengan tubub sendiri

Tio Sam-koh makin gusar menyaksikan kejadian itu namun dia pun tak bisa lanjutkan

serangannya untuk menghajar Hoa Thian-hong, dengan mendongkol terpaksa ia miringkan

toyanya kesamping dan menyambar disamping pemudi itu.

Hoa Thian-hong segera menggulung tubuh Pek Kun-gie dengan lengan kirinya kemudian mundur

dengan cepat, menanti Tio Sam-koh memburu kedepan, dua orang muda mudi itu sudah jauh

mundur kebelakang.

Diam-diam Kiu-im Kaucu merasa gegetun, pikirnya, “Sayang…. oooh. sungguh sayang…. kalau

sambaran toya itu dilanjutkan niscaya dua orang muda mudi itu sudah mampus!”

Setelah melangsungkan pertarungan sengit, seluruh tenaga Pek Kun-gie sudah terkuras habis,

rambutnya jadi kusut dan bajunya basah oleh keringat, mukanya yang cantik berubah merah

padam, napasnya tersengkal dan hampir saja tak mampu berdiri tegak.

Hoa Thian-hong merasa amat kasihan, sebagai pemuda yang berjiwa kesatria ia iba dan terharu

melihat Pek Kun-gie menderita karena dia, rasa cintanya atas gadis itu makin menebal.

Terdengar Tio Sam-koh membentak dengan gusar, “Binatang cilik! engkau berani melindungi

perempuan rendah itu? kau sudah lupa dengan peringatan dari Kiu-tok Sianci?”

Hoa Thian-hong menghela napas panjang, wajahnya amat sedih, pikirnya dihati, “Masalah ini

ibarat simpul tali mati kalau aku sudah mampus urusan ini baru selesai….!”

Dengan ilmu menyampaikan suara bisik-nya kepada dara itu.

Gie!, bersediakah engkau turuti omonganku?”

Beberapa patah kata yang singkat dan sederhana mendatangkan perasaan mesrah yang sukar

dilukiskan dengan kata-kata, bagi Pek Kun-gie, perasaannya jadi hangat dan dua titik air mata

jatuh berlinang, ia mengangguk lirih.

Hoa Thian-hong tertawa sedih.

“Aku minta cepatlah pulang kerumah dan temani ibumu engkau bersedia….?”

Tio Sam toh naik pitam, bentaknya dengan penuh kegusaran.

“Aku larang kalian berbicira dengan ilmu menyampaikan suara!”

Pek Kun-gie tertegun beberapa saat, lalu dengan air mata bercacaran dia mengangguk.

“Aku bersedia, tapi…. kapan kau datang menjenguk aku?”

Sekali lagi Tio Sam-koh hentakkan toya-nya keatas tanah, dengan langkah lebar ia maju

kedepan, kembali teriaknya, “Bagus! bagus sekali! binatang cilik perempuan rendah…. berani

benar kalian mengikat janji…. rupanya kalian punya hubungan gelap….”

Tiba-tiba Kiu-im Kaucu tertawa, dia menyindir lagi.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

337

Pek Kun-gie, kalau engkau tidak sadar terus, rumah tangga orang yang bahagia segera akan

berantakan.

Tio Sam-koh terkesiap, pikirnya, “Benar juga perkataan itu! kecantikan perempuan rendah itu

luar biasa, ia mati-matian memikat Seng ji, sedang bocah keparat itu rupanya sudah terpikat oleh

kecantikannya, sekarang masih bisa dicegah hubungan itu karena Siau Ih masih hidup, tapi

setelah Siau Ih mati dan binatang ini tak ada yang urus, dengan ilmu silatnya yang ampuh siapa

lagi yang bisa menghalangi hubungan cintanya? Hong ji jujur dan berhati lemah tak mungkin ia

bisa kendalikan tingkah pola suaminya, sekalipun Kiu-tok Sianci munculkan diri belum tentu ia

mampu kalahkan binatang itu…. bukankah rumah tangga yang ba hagia benar-benar akan jadi

berantakan?”

Sementara itn Pek Kun-gie sedang berbisik dengan sedih.

“Katakanlah! sepuluh? delapan tahun? sekalipun sepanjang masa aku hanya menanti

jawabanmu, aku segera menantikan kedatangan mu dirumah.”

Air mata bercucuran membasahi wajah Hoa Thian-hong, sahutnya, “Gi! engkau harus tahu

keadaanku, aku”

“Bagus bagus sekali!” pikir Tio Sam-koh dihati, “binatang binatang terkutuk! rupanya engkaupun

menaruh hati kepadanya, perasa an tersebut tak berani kau perlihatkan karena desakan

keadaan. Hmm kalau suatu hari keadaan telah berubah, apa saja yang dapat kau lakukan??”

Dengan sorot mata berapi-api dan penuh pancaran cahaya nafsu membunuh, nenek tua itu putar

toya dan menerjang kembali.

Hoa Thian-hong terkesiap, dia maju dan menghadang didepan Pek Kun-gie, serunya sambil

tertawa paksa, “Sam popo….!”

“Tutup mulut! aku tahu kalau Pek Kun-gie kubunuh maka selamanya engkau akan membenci

diriku.”

“Seng ji tak berani membenci Sam po po” bisik Hoa Thian-hong dengan air mata bercucuran.

Tidak sempat pemuda itu selesaikan perkataannya, Tio Sam-koh telah menukas, “Kalau mau

membenci silaukan membenci, aku adalah sahabat ibumu, dengan mata kepala sendiri aku lihat

Hong ji kawin dengan kau. Hmm! seorang lelaki ingin kawin dua kali? Kemana larinya tanggung

jawab mu? Untuk selamatkan keluarga Hoa, kehidupan Hong ji dan nama baik kita semua, ini

hari aku bersumpah akan bunuh Pek Kun-gie sampai mampus, sekalipun kau akan membenci

aku, aku tak ambil perduli…. pokoknya Pek Kun-gie tak bakal hidup tinggalkan tempat ini!”

Hoa Thian-hong amat terperanjat, peluh dingin membasahi tubuhnya, sekarang ia telah paham

apa sebabnya Tio Sam-koh berkeras akan membunuh Pek Kun-gie, rupanya tidak lain tidak

bukan dia ingin melindungi nama baik keluarga Hoa.

Dalam pada itu, Tio Sam-koh telah putar toya sambil menubruk maju, dengan muka

menyeringgai, bentaknya, “Ayoh cepat enyah dari sini atau segera putar pedang layani

seranganku, kalau tidak….”

Hoa Thian-hong tercekat hatinya, sambil menghadang didepan Pek Kun-gie, ia berteriak, “Kun

Gie cepat lari….”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

338

Pek Kun-gie dapat merasakan gawatnya situasi, kalau ia tidak pergi maka Hoa Thian-hong pasti

akan melindungi dirinya dan pemuda itu bakal mampus termakan sapuan toya Tio Sam-koh,

dengan hati perih dan menangis tersedu-sedu dara itu segera putar badan dan tinggalkan tempat

itu.

Tio Sam-koh adalah seorang nenek tua yang benci segala kejahatan, sejak lama dia sudah

mendendam pada anggota perkumpulan Sin-kie-pang, setelah nafsu membunuhnya berkobar

sukarlah untuk dicegah kembali, melihat Pek Kun-gie kabur dia segera membentak dan mengejar

dari belakang.

Hoa Thian-hong amat terperanjat, cepat-cepat ia mengejar pula dari belakang.

Kiu-im Kaucu tertawa seram, tiba-tiba ia berseru, “Hoa Thian-hong, mau lari kemana? sambutlah

sebuah seranganku.”

Weeesss! sebuah sapuan dahsytat segera di lontarkan.

Hoa Thian Hoag sangat membenci akan ketajaman lidah Kiu-im Kaucu yang selalu menghasut

perpecahan diantara mereka, justru karena hasutannya membuat Tio Sam kob bersikeras akan

bunuh Pek Kun-gie, ia kuatir dara itu bakal mati termakan hasutan dari Kiu-im Kaucu, sebab

watak dari Tio Sam-koh sudah sangat dikenal olehnya.

Makin dipikir ia semakin gusar, sambil tertawa seram pedangnya dibacok kedepan.

“Criing….!” benturan keras terjadi, pedang dan toya saling membentur satu sama lain nya,

letupan bunga api bermuncratan keem pat penjuru, dengan tubuh gemetar keras mereka samasama

tergetar mundur satu langkah

Sejak dilahirkan belum pernah Hoa Tniao Hong mengalami kegusaran seperti hari ini, darah

panas dalam dadanya terasa bergolak keras, dengan penuh kemarahan ia menerjang kemuka

dan bentaknya nyaring, “Sambutlah bacokanku ini!”

Dengan gerakan membacok rata bukit Hoa san, suatu jurus yang sederhana tapi cepat bagaikan

sambaran kilat, pemuda itu lancarkan sebuah bacokan dahsyat ke arah musuhnya.

Kiu-im Kaucu tak ingin adu tenaga lebih jauh, sebab ia tahu tenaga dalam pemuda itu tidak

berada dibawahnya, tapi dalam keadaan begitu mau tak mau terpaksa ia harus menyambut

datangnya bacokan dengan jurus menyeberangi samudra dengan jembatan emas.

“Criing….!” sekali lagi terjadi benturan keras, pedang baja membacok keras diatas toya kepala

setan membuat batu hijau yang diinjak Kiu-im Kaucu hancur berkeping-keping, sepasang kakinya

terbenam sedalam dua tiga tun.

Dengan kalap Hoa Thian-hong membentak kembali, “Makanlah bacokanku ini!, makan bacokan

ini! makan bacokan….”

Criiing! Criiing! Criing! benturan nyaring berpadu dengan bentakan kalap menciptkan suara tajam

yang memecahkan kesunyian ditengah malam itu, begitu nyaring suaranya sampai separuh kota

Lok yang jadi gempar dibuatnya.

Sesaat kemudian pintu penginapan terbentang, Chin Wan-hong sambil memayang mertuanya lari

ke arah jalan raya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

339

Tampaklah sepasang kaki Kiu-im Kaucu sudah terbenam ditanah sebatas lutut, rambutnya terurai

lucu, mukanya menyeringai seram sementara Hoa Thian-hong sambil putar pedang bajanya

membacok tubuh Kiu-im Kaucu dengan kalap, bentakan-bentakan dahsyat menggelegar tiada

hentinya membuat pemuda itu ibaratnya iblis yang sudah gila.

Pemandangan yang terbentang didepan mata pada waktu itu benar-benar mendebarkan hati,

dua orang jago lihay dengan putar dua macam senjata yang berbeda saling membacok dengan

dahsyatnya.

Hoa Hujin amat terperanjat, ia tak habis mengerti apa sebab terjadinya pertarungan itu,

meskipun ilmu silatnya sudah punah, pengalaman dan pengetahuannya bertambah luas.

Dalam sekilas pandangan ia telah mengetahui bahwa posisi Kiu-im Kaucu masin kuat dan belum

kalah, kendatipun keadaannya sangat mengenaskan, sedang putranya walaupun berada dipihak

penyerang namun sama sekali tidak meraih keuntungan apa-apa, bila pertarungan seperti ini

dilanjutkan maka akhirnya lebih baik korban jiwa daripada merebut kemenangan.

Chin Wan-hong dengan air mata bercucuran segera berseru, “Ibu, apa yang telah terjadi?”

Hoa Hujin angkat bahu, tiba-tiba ia membentak keras, “Seng ji, serang tubuh bagian bawah!”

Sejak kecil Hoa Thian-hong sudah biasa menuruti perkataan ibunya, meskipun sekarang

pikirannya sudah kabur terpengaruh hawa amarah namun pendengarannya masih tajam.

Mendengar seruan terebut, tanpa berpikir panjang lagi pedangnya segera berputar menyapu

tubuh bagian bawah dari Kiu-im Kaucu.

Ketua dari perkumpulan Kiu-im Kaucu ini membentak nyaring, tiba-tiba toyanya disilang

kebawah…. Traaang! sekali lagi terjadi ben trokan nyaring, nenek tua segera loncat naik keudara

dan menggunakan daya pantul tersebut badannya meleset sejauh empat tombak dari tempat

semula.

Hoa Thian-hong melotot besar, dengan sinar berapi-api ia memburu kedepan dengan langkah

lebar.

“Engkoh Hong, jangan dikejar! jerit Chin Wan-hong sambil menangis.

Kiu-im Kaucu sendiri tanpa mengucapkan sepatah katapun segera berlalu dari sana sambil

menyeret toya kepala setannya, suara gemerincingan yang nyaring mengiringi langkahnya yang

sempoyongan.

Meskipun langkahnya lambat, Hoa Thian-hong jauh lebih lambat lagi, ternyata pemuda itu tak

mampu menyusul lawannya.

Pada saat itulah Tio Sam-koh muncul dari seberang jalan, ketika mereka berpapasan nenek she

Tio itu dengan muka hijau membesi dan amat tak sedap dipandang segera melancarkan satu

serangan keatas kepala Kiu-im Kaucu.

Atas datangnya ancaman itu Kiu-im Kaucu sana sekali tak berkutik, menanti toya baja hampir

mengenai kepalanya dia baru tarik senjatanya untuk menangkis.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

340

Traaang….! benturan nyaring memekikkan telinga, Tio Sam-koh merasa telapak tangannya jadi

pecah, toya baja mencelat keudara dan jatuh diatas atap rumah.

Tio Sam-koh tertegun, ketika Kiu-im Kaucu lewat disisinya dengan sempoyongan ia tak tahu

musti mengejar atau menghindar.

Hoa Hujin dengan alis berkernyit segera berseru kepada menantunya, “Luka dalam yang diderita

Seng ji amat parah, cepat bimbing dia pulang kepenginapan!”

Buru-buru Chin Wan-hong menyusul kedepan, sambil memayang suaminya ia berbisik lembut,

“Engkoh Hong, ibu suruh kau kembali, tak usah dikejar lagi!”

Hoa Thian-hong terperangah, ia lirik sekejap ke arah Tio Sam-koh lalu putar badan dan kembali

kepenginapan.

Demikianlah, dibawah bimbingan istrinya, Hoa Thian-hong kembali kedalam kamar, Hoa Hujin

dan Tio Sam-koh mengikuti dibelakangnya, lewat sesaat Siau Ngo-ji muncul pula sambil memikul

toya nenek Sam popo nya, semua orang membungkam dan suasana amat sunyi.

Chin Wan-hong Sangat menguatirkan keselamatan suaminya, lama kelamaan habislah sabarnya,

ia segera berbisik lembut kepada suaminya, “Engkoh Hong, cepatlah semedi dan atur

pernapasan, luka dalammu sangat parah, kalau tidak diobati maka luka itu akan semakin parah!”

Hoa Thian-hong mengangguk, tapi ia tetap tak berkutik dari tempat semula.

Chin Wan-hong memelelehkan air matanya, ia berpaling ke arah mertuanya dan berharap Hoa

Hujin yang suruh pemuda itu duduk bersemedi.

Hoa Hujin kerutkan dahinya rapat-rapat, setelah hening sebentar akhirnya sambil tertawa ia

berkata, “Sam-koh, menang kalah adalah kejadian yang umum bagi kita orang persilatan,

ceritakanlah apa yang telah terjadi?”

“Pek Kun-gie telah mampus diujung toya ku!” teriak Tio Sam-koh dengan penuh kegusaran.

Paras muka Hoa Hujin dan Chin Wan-hong berubah hebat, lebih-lebih gadis she Chin, sambil

menjerit kaget tubuhnya gemetar keras.

Tiba-tiba Hoa Thian-hong berseru tertahan, ia muntah darah segar hingga seluruh tubuhnya

basah oleh darah….

Chin Wan-hong semakin ketakutan, ia segera menggunakan secarik kain untuk menyeka noda

darah diujung bibir suaminya, bibir bergetar seperti mau mengucapkan sesuatu namnn tak

sepatah katapun yang sanggup di utarakan keluar.

Rupanya ketika Siau Ngo-ji belum kembali juga, semua orang merasa kuatir dan segera

menyuruh Hoa Thian-hong mengamati dari atas atap rumah sekalian meronda disekitar sana

untuk mencegah ada musuh menyusup masuk.

Baru saja pemuda itu meronda, tiba-tiba dia saksikan Kiu-im Kaucu menyergap Pek Kue Gie, ia

segera menburu ketempat kejadian un tuk memberi pertolongan.

Siau Ngo-ji sendiri setelah lari kembali kepenginapan, segera menceritakan kejadian itu kepada

semua orang, Tio Sam-koh ingin melihat keadaan dan ikut keluar rumah, siapa tahu malah

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

341

terjadi kejadian seperti diatas, karena itu Hoa Hujin berdua yang tinggal dikamar sama sekali tak

tahu apa yang sudah terjadi.

Sekarang ketika Hoa Hujin mendengar laporan yang mengatakan bahwa Tio Sam-koh telah

membunuh Pek Kun-gie dan dari sikap dan gerak-geriknya yang gusar sama sekali tak

menunjukkan kebohongannya, segera mengira apa yang dikatakan benar-benar telah terjadi,

sambil berusaha tetap tenang diapun berkata, “Kalau toh sudah dibunuh yaaa sudahlah, dua

puluh tahun terakhir memang ada delapan sembilan puluh persen jago dari golongan lurus dan

sesat yang telah mampus, mereka yang takdir harus mampus akhirnya tetap mampus, yang

harus hidup tetap akan hidup, mereka yang sudah mati tak akan bangkit kembali, buat apa kita

pusing memikirkan persoalan ini?”

“Siapa yang bilang aku pusing?” teriak Tio Sam-koh penuh kemarahan.

“Sam popo, sudahlah jangan bicara lagi!” pinta Chin Wan-hong dengan sedih.

“Hnm aku senang bicara, siapa yang berani melarang aku?”

Hoa Hujin tertawa paksa.

“Nenek tua, toh tak ada orang yang bilang perkataanmu salah, buat apa musti berteriak-teriak?”

Kepada putranya ia melanjutkan, “Aku tahu Pek Kun-gie mencintaimu, kalau dibicarakan dia

memang patut dikasihani apalagi kedatangannya pada malam ini adalah untuk memberi kabar

buruk untukmu pergilah untuk urusi layonnya dan simpan dalam kuil, aku rasa orang-orang dari

Sin-kie-pang pasti akan mengangkutnya kembali ke bukit Toa pa san.”

“Ibu….!” pinta Chin Wan-hong dengan alis mata bercucuran, “bagaimana kalau kita angkut

kembali ke perkampungan Liok Soat Sanceng dan dikubur dalam kuburan keluarga kita?”

“Tak mungkin, pertama tak cocok dengan adat istiadat dan kedua Pek Siau-thian belum tentu

setuju!”

Perlahan-lahan Hoa Thian-hong bangkit berdiri, bisiknya dengan suara kaku, “Ananda segera

pergi!”

Ia putar badan dan melangkah ke pintu.

“Gelinding kembali!” tiba-tiba Tio Sam-koh membentak nyaring.

Hoa Thian-hong kembali kehadapan nenek tua itu sambil bertanya, “Sam popo masih ada pesan

apa?”

Dari sikapnya yang kaku dan suaranya yang kosong dan hampa, Chin Wan-hong tahu bahwa

suaminya amat sedih hingga kelewat batas, ia jadi murung sekali, kepada Hoa Hujin pintanya,

“Ibu, bolehkah aku menemani engkoh Hong?”

Hoi hujin berpikir sebentar, lalu mengangguk, “Baiklah, hati-hatilah dijalan dan hadapi semua

urusan dengan seksama!”

Tiba-tiba Tio Sam-koh tertawa dingin, katanya, “Pek Kun-gie belum mampus! ketika aku

mengejar dan beri sebuah babatan, sayang babatan itu tidak mengena disasaran…. Haaah….

haaah sayang! sayang! haaah…. haah…. itulah balasannya!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

342

Sekujur badan Hoa Thian-hong bergetar keras, matanya melotot bulat dan menatap Tio Sam-koh

tanpa berkedip.

***

“SAM POPO!” rengek Chin Wan-hong dengan sedih, “aku tahu engkau paling sayang Hong ji, tapi

bagaimana keadaan Pek Kun-gie? apa yang musti disayangkan? apa pula yang kau artikan

sebagai balasannya, Sam popo, berilah keterangan yang jelas!”

Tio Sam-koh tertawa dingin.

“Heeeh…. heeeh…. heeeehh…. pukulan toyaku meleset dari sasaran, apakah aku tak patut

merasa sayang? soal balasan…. haaah…. haaah…. lebih baik tak usah dibicarakan lagi.”

“Hey nenek tua, kau ikut jadi edan?” tegur Hoa Hujin.

“Hmm! jadi kalian ingin tahu?”

“Benar! persoalan ini menyangkut masalah besar, tentu saja kami ingin tahu.”

Tio Sam-koh tertawa seram.

“Heeh…. heeh…. heeeh…. baiklah, aku akan beritahukan kepada kalian, Pek Kun-gie telah lolos

dari ayunan toyaku dan dia ditawan orang lain”

“Ditawan siapa?” tanya Hoa Hujin keheranan.

“Pia Leng-cu!”

Paras muka Hoa Hujin berubah hebat, hatinya jauh lebih bergetar daripada mendengar berita

kematian Pek Kun-gie.

Tiba-tiba Hoa Thian-hong sempoyongan, sekali lagi ia muntah darah segar.

Chin Wan-hong merasakan hatinya sakit bagaikan di iris-iris, cepat ia bimbing suaminya dan

merengek, “Engkoh Hong, engkau harus jaga diri, memandang diatas wajah ibu, kau harus jaga

diri!”

Setelah berhenti sebentar, lanjutnya, “Ibu perkumpulan Thong-thian-kauw boleh dikata hancur

ditangan Pek Siau-thian, apalagi Pia Leng-cu berhasil tangkap Pek Kun-gie, dara itu pasti akan

dibunuh….”

“Kalau dibunuh sih tak perlu dikuatirkan!” kata Hoa Hujin sambil menghela napas panjang, “yang

kutakuti justru….”

“Lalu bagaimana sekarang?” seru Chin Wan-hong pula dengan murung, tiba-tiba ia sadar apa

yang dimaksudkan sebagai kejadian yang menakutkan itu, anggota badannya jadi dingin dan

tubuhnya gemetar keras.

“Aaai!” Hoa Hujin menghela napas panjang, “dendam kesumat antara kedua belah pihak amat

dalam, kecantikan Pek Kun-gie kelewat batas, sebagai siluman dari Thong-thian-kauw yang

merupakan kawanan manusia cabul, aku takut kalau Pia Leng-cu….”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

343

“Ibu” tiba-tiba Chin Wan-hong berlutut dengan air mata bercucuran.

Hoa Hujin kembali menghela napas panjang.

“Katakanlah, kalau ingin bicara asal tidak melanggar kebiasaan umum dan bertentangan dengan

perbuatan seorang kesatria, aku pasti akan ijinkan!”

Tio Sam-koh melotot bulat, dengan gusar selanya, “Siau Ih! apa maksud perkataanmu itu?

engkau bilang perbuatanku telah melanggar kebiasaan umum dan bertentangan dengan

perbuatan seorang kesatria?”

“Sam-koh, jangan ribut dahulu,” sahut Hoa Hujin sambil tertawa, “sekarang dihadapan anakanak

akan kukatakan sesuatu hal untuk menghilangkan rasa curiga yang mencekam hatimu”

“Katakan!” seru Tio Sam-koh sambil tertawa dingin.

Air muka Hoa Hujin berubah jadi amat serius, katanya, “Kecantikan Pek Kun-gie ibaratnya

bidadari yang turun dari kayangan, dia merupakan incaran dari setiap pria dan pemuda di dunia,

Hong ji berbakti dan jujur, dia adalah contoh menantu yang paling baik, sedang aku Bun Siau-ih

belum tua….”

“Maksudmu aku Tio Sam-koh sudah tua reyot dan tak berguna lagi?! tukas nenek itu marah.

Hoa Hujin tersenyum, dengan serius lanjutnya, “Nenek tua, ringkasnya saja aku katakan,

keluarga Hoa dapat memperoleh Hong ji sebagai menantu, kejadian ini merupakan sesuatu yang

beruntung bagi keluarga kami dan aku Bun Siau-ih sudah merasa amat puas serta tidak

mengharapkan apa-apa lagi, kau anggap aku bisa sia-siakan dirinya?”

Semua orang membungkam dalam seribu bahasa, sebab perkataan itu bukan saja tegas bahkan

meyakinkan.

Walaupun ilmu silat yang dimiliki Hoa Hujin sudah punah, tapi kegagahan serta jiwa kesatrianya

masih merupakan lambang kebenaran bagi kaum lurus didunia persilatan, ia tak akan bicara

sembarangan. mencemooh orang dengan seenaknya atau memuji seseorang tanpa dasar yang

kuat, kejujuran serta keterbukaannya ini sangat dikagumi dan dihormati umat persilatan dan apa

yang dikatakan tegar bagaikan emas.

Oleh sebab itulah walaupun Tio Sam-koh seorang jago yang berwatak keras, akan tetapi hatinya

takluk dan kagum sekali terhadap jago wanita itu.

Chin Wan-hong terharu sekali hingga air mata bercucuran, sapanya lirih, “Ibu….”

“Bangunlah, mari kita bicarakan lebih jauh!” ujar Hoa Hujin lembut.

Tio Sam-koh segera berpaling dan melotot gemas ke arah Hoa Thian-hong, katanya ketus, “Hey,

mengertikah engkau dengan kata yang berbunyi, Ibu bijaksana istri setia? keluarga Hoa bukan

keluarga kecil yang kampungan, engkau harus sadar akan hal ini.”

“Selamanya Seng ji selalu cinta dan hormat kepada enci Hong” sahut Hoa Thian-hong.

“Kalau memang begitu, kularang engkau mencintai orang lain!” hardik Tio Sam-koh.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

344

Melihat suaminya dibuat tersipu-sipu, Chin Wan-hong segera menukas, “Meskipun Pek Kun-gie

berasal dari keturunan gerombolan persilatan, tapi dia pribadi adalah seorang gadis yang suci

bersih….”

“Jangan memuji musuh! kembali Tio Sam-koh memotong dengan nada geram.

Chin Wan-hong tertegun, ketika dilihatnya paras muka mertuanya tetap wajar, ia memberanikan

diri dan berkata lagi kepada diri Tio Sam-koh, “Sam popo, walaupun Pek Kun-gie berasal dari

lumpur namun ia sendiri sama sekali tidak ternoda, dia benar-benar seorang nona yang luar

biasa, andaikata orang lain yang menggantikan kedudukannya, mungkin sedari dulu-dulu mereka

sudah terjerumus kedalam lembah kenistaan!”

“Goblok! engkau lupa, ketika untuk pertama kalinya dia menyiksa dan menganiaya Seng ji?

Hmmm! sampai matipun aku tak akan melupakan kejadian ini”

“Siksaan terjadi karena cinta, dia hanya ingin paksa engkoh Hong untuk tunduk kepadanya dan

sama sekali tiada maksud mencelakainya, seorang manusia sejati tak akan mengingat dendam

lama, seorang kesatria tak akan mengingat masalah yang sepele, buat apa kita ingat kejadian

yang sudah lampau?”

Sorot matanya dialihkan keatas wajah Hoa Hujin, kemudian melanjutkan, “Ibu, keluarga kita

terkenal karena dasar hidup kita adalah kebajikan dan kebenaran, karena itu engkoh Hong

disegani dan dihor mati rekan-rekan persilatan, kalau kita biarkan Pek Kun-gie terjatuh ke tangan

Pia Leng-cu tanpa berusaha ditolong, umat persilatan pasti akan mentertawakan kita.”

“Bodoh amat budak ini!” pikir Tio Sam-koh dihati, “dia hanya tahu mencari muka di hadapan

suaminya, apa tak terpikir olehnya bagaimana akibat dari perbuatannya itu?”

Dalam keadaan terdesak, tiba-tiba dia lihat Siau Ngo-ji duduk terpekur disudut ruangan dengan

wajah melongo, dengan gusar dan gemas ia segera mengerling sekejap ke arahnya.

Melihat kerlingan itu, Siau Ngo-ji putar biji matanya dan diam-diam melirik sekejap ke arah Hoa

Hujin.

Dengan ilmu menyampaikan suara, buru-buru Tio Sam-koh berbisik, “Jangan kuatir, kalau punya

akal setan utarakan keluar, kalau ada apa-apa akulah yang akan bertanggung jawab!”

Mendengar bisikan itu, Siau Ngo-ji segera berteriak keras, “Aduuh…. enso!…. aduh….”

“Ada apa?! tanya Chin Wan-hong tercengang.

Dengan muka panik dan penuh kegelisahan Siau Ngo-ji berseru, “Isi perut toako mengalami luka

yang sangat parah, kenapa tidak kau buatkan obat agar bisa dia minum?”

“Tiada obat yang lebih baik….”

“Ah, luka yang kuderita cuma luka kecil! tukas Hoa Thian-hong dengan cepat” asal beristirahat

sebentar tentu akan sembuh dengan sendirinya, tak usah minum obat lagi!”

Selesai berkata, ia lantas duduk di kursi dan mulai mengatur pernapasan untuk menyembuhkan

luka tersebut.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

345

Sebaliknya Siau Ngo-ji masih tetap ngotot dengan pendiriannya, dengan muka serius dia berkata

lagi, “Duduk bersemedi sambil atur pernapasan memang penting tapi minum obatpun merupakan

hal yang penting juga”

“Betul!” Sambung Tio Sam-koh dengan cepat, “itu namanya pengobatan luar dalam, dengan

begitu pastilah luka yang diderita akan sembuh dengan lebih cepat lagi”

“Dewasa ini musuh tangguh sedang mengitari kita dan toako adalah jenderal perang kita, “Enso!

lebih baik cepat-cepatlah buatkan obat agar kesehatan toako segera pulih kembali seperti sedia

kala”

“Baik, baik aku segera akan membuatkan obat baginya” jawab Chin Wan-hong dengan gugup.

Buru-buru ia lari ke tepi pembaringan, membuka buntalannya dan membuat obat mujarab.

Sebenarnya gadis ini sudah mempersiapkan serangkaian penjelasan, permohonan serta cenglicengli

yang menerangkan bahwa Hoa Thian-hong harus segera berangkat untuk menolong Pek

Kun-gie tetapi setelah dipotong oleh Siau Ngo-ji dengan teriakan-teriakannya maka persoalanpun

untuk sementara waktu jadi tertunda.

Hoa Hujin sendiri pun bukan manusia sembarangan, dalam hati diapun sudah mempunyai

perhitungan sendiri mengenai kejadian tersebut, akan tetapi berhubung jejak Pia Leng-cu sukar

ditemukan dan diapun menyadari betapa sulitnya pekerjaan menolong orang ini maka apa yang

dipikir hanya disimpan dalam hati dan tak sampai diutarakan keluar.

Dalam pada itu, Chin Wan-hong telah mengambil sebutir obat ditambah lagi dengan beberapa

macam rumput obat setelah ditumbuk semua jadi bubuk maka hancuran bubuk tersebut digilas

menjadi serbuk halus.

Siau Ngo-ji yang nakal diam-diam menyelinap ke samping ensonya kemudian berbisik lirih, “Enso,

banyak bicara pasti akan ketahuan boroknya inilah penyakitku yang paling parah”

“Kenapa?” tanya Chin Wan-hong keheranan.

“Engkau adalah menantu yang belum lama mengalami malam pengantin, selama berada didepan

mertua lebih baik banyak kerja kurangi bicara, meskipun tidak mengharapkan jasa, paling sedikit

tidak pula merugikan diri sendiri, terutama dalam masalah Pek Kun-gie, alangkah baiknya kalau

engkau berdiam diri, jangan kau urusi apa yang akan toako lakukan, daripada mencari penyakit

bagi diri sendiri dikemudian hari.

“Tapi Pek Kun-gie adalah seorang nona yang sangat baik” bisik Chin Wan-hong.

“Ssstt jangan keras-keras!” desis Siau Ngo-ji sambil tempelkan jari tangannya di bibir, “di kolong

langit memang banyak nona yang baik, tapi enso baik kepada toako belum tentu baik kepadamu”

“Ah masa iya, kalau baik pada toako tentu baik pula kepadaku!”

“Aduuh enso, janganlah berlagak bodoh!” seru Siau Ngo-ji dengan cepat, “kalau ada sebiji kue,

alangkah baiknya kalau dinikmati sendiri, kenapa mesti kau bagikan untuk orang lain?”

Diam-diam Chin Wan-hong tertawa geli, dia tidak menggubris obrolan bocah itu lagi, sambil

membawa cawan air teh dan obat yang baru dibuat ia menghampiri suaminya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

346

Siau Ngo-ji yang konyol segera berseru keras, “Toako, ketahuilah langit biar besar bumi biar

lebar, yang penting umur kita biar paling panjang, usia bibi paling panjang, usia mu nomor dua

dan cepat-cepatlah minum obat lantas naik pembaringan dan tidur….”

Hoa Thian-hong tidak berbicara apa-apa, ia terima obat itu dan sekali teguk menghabiskan

isinya, kepada istrinya diam-diam ia lempar sebuah kerlingan penuh rasa terima kasih.

Chin Wan-hong balas mengerling sekejap ke arah suaminya, dibalik sorot matanya yang lembut

penuh berisikan pengertian yang mendalam.

Sepasang suami istri ini saling berpandangan menggantikan ucapan, apa yang dibicarakan pun

persoalan yang menyangkut diri Pek Kun-gie, walaupun Siau Ngo-ji cerdik dan banyak akal tentu

saja sebagai bocah tentu saja ia tak akan menduga sampat ke situ.

Setelah menerima mangkuk obat yang kosong, Chin Wan-hong kembali ke tepi pembaringan,

kepada Hoa Hujin bisiknya lirih.

Ibu, menolong orang ibarat menolong kebakaran, persoalan ini tak dapat ditunda-tunda lagi.

Mendengar bisikan itu, Tio Sam-koh semakin panik, dengan mendongkol ia lantas melotot ke

arah Siau Ngo-ji.

“Bocah setan! Ide setan apa lagi yang telah kau usulkan?”

“Aku tidak mengemukakan ide apa-apa!” jawab Siau Ngo-ji dengan gugup.

Tio Sam-koh semakin gusar.

“Huh! Aku lihat kau berkemak-kemik disisi telinga Hong ji, kemudian Hong ji berkemak-kemik

pula disamping telinga ibunya kalau bukan engkau yang keluarkan usul, lantas siapa lagi?”

Dengan gemas ia ayun telapak tangannya siap menggaplok.

Siau Ngo-ji jadi ketakutan, dia lari kedepan dan bersembunyi dibelakang Chin Wan-hong.

“Urusan ini tak ada sangkut pautnya dengan aku” serunya dengan gelisah.

Pada saat itulah dari luar pintu terdengarlah suara langkah kaki orang, disusul pelayan mengetuk

pintu.

“Sam po po, ada urusan penting!” Siau Ngo-ji segera berseru.

Ia lari keluar dan membuka pintu, kemudian bocah itu muncul kembali sambil membawa secarik

kertas, sambil diangsurkan kedepan Tio Sam-koh ujarnya lirih, “Surat ini ditulis Ko toako, silahkan

Sam po po membaca lebih dulu.”

Tio Sam-koh mendengus dingin, dia sambar kertas tadi dan dibaca isinya,

“Kiu-im Kaucu telah mengundurkan diri keluar kota, sekarang ia bercokol diatas sebuah perahu

pembesar, anak buahnya dalam perahu itu banyak sekali, belum jelas apa rencana selanjutnya.

tertanda: Ko Tiay.”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

347

Selesai membaca isi surat itu, Hoa Hujin lantas tertawa dan berkata, “Wah, kalau pihak lawan

mau turun tan an disungai, keadaan jadi makin serius!”

“Toako, bagaimana dengan ilmu berenangmu?” tanya Siau Ngo-ji.

“Kalau dipaksakan sih masih mampu! Aku sendiripun kalau dipaksakan masih mampu, tapi

bagaimana dengan Sam po po?”

Tio Sam-koh tertawa dingin.

“Heeeh…. heehh…. heehh…. aku nenek tua tak dapat dibandingkan dirimu, aku adalah ayam

daratan, sekali tercebur kedalam air lantas tenggelam!”

“Aku juga begitu!” seru Siau Ngo-ji lagi, terapung cuma sebentar lalu tenggelam kedalam air,

bagaimana dengan enso?”

“Aku sama sekali tak mampu” jawab Chin Wan-hong dengan wajah murung bercampur kesal.

Setelah berhenti sebentar, sambungnya kembali, “Arus di sungai huang-ho amat deras, celaka

kalau pihak musuh melubangi dasar perahu setelah kita berada ditengah sungai, dalam keadaan

begitu perahu kita pasti tenggelam, sekalipun Hoa toako punya kepandaian yang lihay belum

tentu dia mampu melindungi kita semua”

Kalau kita tak berani menyeberangi sungai, memangnya kita harus bercokol terus di sini?” sela

Tio Sam-koh dengan berangnya.

“Kawanan manusia itu terlalu menghina orang!” seru Hoa Thian-hong pula dengan marah, aku

ingin sekali memberi….”

Tiba-tiba ia menengok ke arah ibunya dan membungkam.

“Pihak musuh jauh lebih kuat daripada kita, menurut pendapatku alangkah baiknya kalau

sementara waktu kita hindari pertarungan dengan kekerasan” ujar Hoa Hujin.

Sesudah berpikir sebentar, ia melanjutkan, “Bagaimana dengan lukamu?”

“Luka ananda tak berapa, ibu tak usah menguatirkan!”

“Dengan daya diriku sebagai beban, memaksakan diri untuk menyeberangi sungai adalah suatu

tindikan yang terlalu menempuh bahaya, kalau kita pindah kedermaga lain, rasanya keadaanpun

tak akan jauh berbeda, satu-satunya jalan yang bisa kita tempuh seka rang adalah berdiam dulu

disini untuk beberapa saat, kemudian baru mencari akal lain”

“Tapi kita musti berdiam disini sampai kapan?” seru Tio Sam-koh dengan cepat.

Hoa Thian-hong tertawa.

“Bagaimanapun toh kita tak ada urusan, apa salahnya kalau kita ajak pihak musuh untuk beradu

kepandaian sampai pada akhirnya?”

Kepada Hoa Thian-hong ujarnya pula, “Untuk sementara waktu kita tak usah menentukan jadwal

pemberangkan, sekarang pergi sambangi dulu engkoh cilik she Ko itu kemudian baru selidiki lagi

kekuatan pihak lawan, setelah mendapat pelajaran tadi aku pikir Kiu-im Kaucu serta orang-orang

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

348

dari Mo-kauw tak akan berani datang lagi, selidikilah jejak musuh dengan secermat mungkin,

engkau tak usah terburu-buru pulang kesini”

Siau Ngo-ji yang cerdik segera tergerak hatinya sesudah mendengar perkataan itu, pikirnya,

“Aaah, tidak benar, dibalik ucapan tersebut rupanya mengandung maksud lain, bukankah

terangkan hujin suruh toako selidiki jejak dari Pia Leng-cu serta menyelamatkan Pek Kun-gie?”

Berpikir sampai disitu, dia lantas menimbrung dari samping, “Kalau toako hendak menyambangi

Ko toako, ajaklah aku! akan kutunjukkan tempat tinggalnya”

“Siau Ngo-ji tak usah ikut, lebih baik kau berdiam saja dirumah penginapan!” seru Hoa Hujin

kembali, “mulai besok kau harus belajar membaca dan menulis, siang hari waktu senggang boleh

membicarakan soal ilmu silat, jangan kau pedulikan urusan lain lagi, baik situasi gawat atau

aman, tugasmu hanya belajar membaca dan menulis!”

Agak tertegun Siau Ngo-ji setelah mendengar perkataan itu, kemudian dengan alis berkenyit dan

muka masam serunya, “Oooh bibiku yang baik, bagi seorang ahli silat asal kenal tulisan toh

sudah lebih dari cukup!”

“Bagi seorang lelaki sejati, kalau tak bersekolah mana mungkin bisa mengatasi masalah besar,

Sengji! kau boleh berangkat” kata Hoa Hujin dengan serius.

Hoa Thian-hong segera mengiakan, setelah memberi hormat kepada ibunya dan Tio Sam-koh,

berangkatlah pemuda itu tinggalkan ruang penginapan.

Siau Ngo-ji adalah seorang bocah gelandangan yang sejak kecil sudah hidup terlunta-lunta

ditengah jalan raya, karena penghidu pannya itu maka perkembangan jiwapun terpengaruh oleh

lingkungannya, ia hanya tahu apa artinya budi dan setia kawan, tapi tak tahu arti kasih sayang,

ia menyayangi Chin Wan-hong karena gadis itu memperha tikan dirinya, karena itu dia kuatir

kalau Hoa Thian-hong menggunakan kesempatan itu pergi menolong Pek Kun-gie.

Hanya saja karena berani dihadapan Hoa Hujin, maka ia tak berani bertindak semaunya sendiri.

Ketika dilihatnya Hoa Thian-hong sudah berlalu, buru-buru ia mengerling ke arah Tio Sam-koh

dan mengharapkan bantuan dari nenek itu untuk menghalangi kepergian toakonya.

Siapa tahu Tio Sam-koh adalah seorang jago perempuan yang bersifat blak-blakan, sudah tentu

ia tak mengerti apa maksudnya kerlingan tersebut, setelah tertegun sebentar akhirnya aengan

gusar dia menegur, “Eh setan cilik, mau apa kau kerling sana melirik kesini? Mau main setan

dengan aku?!”

Siau Ngo-ji dibikin serba salah jadinya, dalam keadaan begini mau tertawa susah mau

menangispun tak dapat, kembali ia putar biji matanya kemudian berseru, “Oh iya, aku lupa

mengatakan sesuatu kepada toako”

Sambil berseru ia lantas lari keluar kepintu.

“Siau Ngo-ji, apa yang hendak kau katakan kepada toakomu?!” tegur Hoa Hujin.

“Aku mau beritahu kepada toako, dimana Ko toako sekarang berada!” sahut bocah itu sambil

berpaling.

“Coba katakan dulu, dia ada dimana?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

349

“Di See su….”

“Kau keliru!” jawab Hoa Hujin sambil tertawa, “saat ini ini pasti ada ditepi sunngai, ayoh cepat

naik pembaringan dan tidur!”

Siau Ngo-ji garuk-garuk kepalanya yang tak gatal lalu menjawab, “Ooh iyaayaa…. semestinya dia

ada ditepi sungai, maklum! pikiranku lagi kalut sehingga tak sempat berpikir panjang”

Dalam pada itu, Hoa Thian-hong sendiri sepeninggalnya dari rumah penginapan segera melayang

naik keatas atap rumah dan bergerak menuju kepintu kota sebelah utara, sepanjang perjalanan

tiada hentinya ia berpikir.

“Ibu adalah seorang pendekar wanita yang berjiwa besar, memandang diatas wajah Pek hujin

sudah pasti ia setuju kalau kutolong Pek Kun-gie dari ancaman maut, yang paling mengagumkan

adalah enci Hong, ia berjiwa besar dan berhati welas, bukan saja melupakan sekali pengalaman

pahitnya dimasa lampau, malahan ia bantu bicara untuk kebaikan Kun Gie.”

Menyusul diapun berpikir lagi, “Bagai manapun juga aku harus memburu kesana dan memolong

Kun Gie hingga lolos dari mara bahaya, bagaimanapun juga tujuanku hanya menolong orang,

asal dia bisa diselamatkan dan kuantar kembali kegunung, awan hitam yang menyelimuti

angkasapun akan buyar dengan sedirinya.”

Berpikir sampai disitu, diapun sudah tiba dipintu kota sebelah utara, ditengah kesunyian yang

mencekam, tiba-tiba pemuda itu mendengar ada suara panggilan yang merdu berkumandang

datang, “Thian-hong!”

Hoa Thian-hong terperanjat dan segera menghentikan langkah kakinya, cepat ia berpaling ke

arah mana berasalnya suara panggilan itu.

Disebelah barat adalah sebuah bangunan loteng yang tinggi, jendela yang mungil perlahan-lahan

terbentang lebar, dibawah cahaya lampu tampaklah seraut wajah cantik munculkan diri didepan

mata.

Dengan ketajaman mata Hoa Thian-hong, hanya sekilas memandang ia segera kenali perempuan

itu sebagai Giok Teng Hujin, hatinya berdetak keras dan untuk sesaat ia agak gelagapan.

Sementara itu Giok Teng Hujin telah menggape ke arahnya sambil berbisik lirih, “Ayoh kemarilah,

masa kau bisa kutelan?”

Terpaksa Hoa Thian-hong harus keraskan hati dan meloncat keatas loteng, katanya, “Cici, mau

apa disitu? Saat ini siaute masihb ada urusan penting yang harus segera diselesaikan….”

“Periksa dulu sekitar tempat ini, kalau tak ada orang cepat masuk kemari, kita berbicara didalam

saja!” pinta Giok Teng Hujin.

Hadiah Leng-ci dari perempuan ini bukan saja telah memunahkan racun teratai Tan hwe tok lian

yang bersarang ditubuh Hoa Thian-hong, bahkan selama berlangsungnya pertarungan sengit

dilembab Cu-bu-kok, sisa Leng-ci mujarab itu sudah menyelamatkan pula jiwa Suma Tiang-cing,

Bong Pay serta Chin Giok-liong, itu berarti pemuda tersebut sangat berhutang budi terhadap

dirinya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

350

Sebaliknya perempuan itu menaruh rasa cinta yang membara terhadap si anak muda itu, rasa

cintanya yang begitu besar membuat perempuan tersebut rela berbuat apa saja dengan pemuda

kekasihnya ini.

Hoa Thian-hong yang sadar bahwa ia berhutang budi kepadanya, tak berani menampik atau

menegur tingkah laku perempuan ini, oleh sebab itulah di hari-hari biasa dia takut sekali kalau

berjumpa dengan gadis ini.

Dan sekarang jalan perginya sudah terhadang, dalam keadaan demikian sulitnya bagi Hoa Thianhong

untuk meloloskan diri.

Dengan muka berseri Giok Teng Hujin melirik sekejap ke arah pemuja itu, kemudian omelnya,

“Eeh…. kenapa berdiri melongo terus disitu? ayoh cepat menggelinding masuk kemari”

Hoa Thian-hong angkat bahunya, dengan perasaan apa boleh buat, terpaksa ia menerobos

masuk kedalam jendela.

Giok Teng Hujin tersenyum manis, setelah pemuda itu masuk maka jendelapun ditutup rapatrapat.

Tempat itu adalah sebuah kamar tidur dari kaum gadis, pembaringan terbuat dari gading dengan

kelambu warna putih, sepreinya merah jambu dan bantalnya bersulamkan sepasang burung

belibis, sepasang lilin yang berukirkan naga dan burung hong memancarkan sinarnya dengan

terang benderang membuat suasana dalam kamar itu jadi terang dan bergairah.

Ditepi pembaringan sudah tersedia sebuah meja perjamuan, diatas meja tersedia sepasang

sumpit, sepasang cawan, seteko arak wangi dan sebuah cawan kecil yang terbuat dari kaca,

isinya adalah cairan warna putih.

Pui Che-giok dayang pribadi Giok Teng Hujin dengan wajah penuh senyuman berdiri di samping

meja sedang Soat-ji rase berbulu salju itu mendekam diatas permadani tepat dibawah jendela.

Jilid 18

DENGAN langkah yang lemah gemulai, Giok Teng Hujin berjalan mendekati meja perjamuan,

setelah duduk ia tuding ke arah sepasang lilin tesebut dan berkata seraya tertawa, “Malam ini

aku menikah untuk pertama kalinya, kau kawin untuk kedua kalinya, biar Che giok jadi mak

comblang, Soat-ji jadi saksi, kita mengikat diri jadi suami istri”

“Aah…. cici, janganlah bergurau terus!” seru Hoa Thian-hong sambil duduk pula didepan meja

perjamuan, “saat ini kepandaian silat ibuku telah punah, beliau berada dalam keadaan bahaya”

“Tak usah kuatir! tukas Giok Teng Hujin dengan cepat, selama ada toa nio cu yang melindungi,

tanggung keselamatannya terjamin!”

Hoa Thiao Hong tertawa getir.

“Pekerjaan yang merepotkan terlalu banyak, baiklah siaute akan temani cici untuk minum

beberapa cawan arak sebelum pergi, besok aku pasti akan datang menyambangi diri cici lagi, cici

tak usah kuatir, aku pasti tidak akan bohong!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

351

Giok teng bujin tertawa, menanti Pui Che-giok sudah menuangkan arak bagi mereka, ia baru

tunjuk cawan kaca kecil itu dan berkata, “Cawan itu adalah arak pengikat perkawinan nanti saja

baru kita minum.”

Hoa Thian-hong tertawa tergelak, ia lirik sekejap arak yang ada dihadapannya, setelah yakin

kalau tiada campuran apapun didalamnya, ia lantas angkat cawan tersebut sambil berkata,

“Kalau begitu, biarlah siaute yang menghormati cici dengan secawan arak!”

“Aduuh…. sungkan-sungkan segala, emangnya sama tamu agung?” omel Giok Teng Hujin dengan

alis berkenyit.

Hoa Thian-hong dibikin serba salah, untuk menutupi kejengahan sendiri ia teguk habis isi cawan

tersebut, kemudian serunya, “Che giok, penuhi cawanku dengan arak baru!”

“Tidak takut arak itu kucampuri racun?” seru Giok Teng Hujin lagi.

Hoa Thian-hong tertawa.

“Aku percaya penuh pada cici!”

Giok Teng Hujin melirik genit ke arah pemuda itu, tiba-tiba ia letakkan cawan kaca kecil itu

dihadapan Hoa Thian-hong, kemudian ujarnya, “Istrimu adalah seorang ahli menggunakan racun,

rupanya sudah banyak kepandaian khususnya yang kau pelajari yaa? Sekarang coba periksa

dulu, bagaimana dengan arak ini?”

Hoa Thian-hong melirik sekejap ke arah arak dalam cawan kaca kecil itu, ia lihat cairan tersebut

berwarna putih bersih seperti susu, baunya amat merangsang dan wangi sekali, sukar untuk

diketahui mengandung racun atau tidak.

“Bagaimana? ada racunnya tidak?” seru Giok Teng Hujin lagi.

“Tidak ada!” sahut Hoa Thian-hong sambil tertawa pula.

Giok teng bujin tertawa cekikikan, sambil menuding wajah pemuda itu katanya, “Anggaplah

engkau memang sisetan cilik yang pintar, kalau ada racunnya masa digunakan sebagai arak

pengikat perkawinan?”

Sesudah berhenti sebentar, sambungnya lagi.

Berani diminum tidak?

“Tidak berani!” kembali Hoa Thian-hong menggeleng sambil tertawa tergelak.

Dengan gemas Giok Teng Hujin melotot sekejap ke arah pemuda itu.

Terus terang kukatakan kepadamu, isi cawan itu juga arak namanya Seng sian mi atau madu

pembuat dewa jadi mendusin, sekalipun dewa atau malaikat yang minum mereka juga akan

dibikin mabuk selama tiga hari tiga malam.

Mendengar perkataan itu, Hoa Thian-hong mengbela napas panjang, ujarnya dengan gegetun,

“Siaute pun bersedia untuk mabuk selama tiga hari tiga malam, sayang ibuku cacad dan tak ada

yang melindungi, sebagai seorang putra aku tak bisa melepaskan tanggung jawab ini, kalau tidak

aku ingin benar minum secawan arak itu agar bisa tidur nyenyak selama tiga hari.”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

352

Giok Teng Hujin tertawa merdu.

“Bagus sekali! kalau toh engkau hendak jadi seorang anak yang berbakti maka aku ingin tanya,

diantara tiga hal yang tidak berbakti, bakti apakah yang terbesar?!”

“Tentu saja tidak punya keturunan adalah kejadian yang paling tidak berbakti!” sahut Hoa Thianhong

sambil tertawa.

“Nah itulah dia! sewaktu kau masih mengidap racun teratai empedu api, tubuhmu tak dapat

digunakan untuk mendekati perempuan, andaikata tiada Leng-ci hadiah dariku, bukankah

keluarga Hoa kalian akan putus keturunan?”

Merah padam selembar wajah Hoa Thian-hong karena jengah.

“Budi kebaikan dari cici tak akan kulupakan untuk selamanya!”

“Tak usah kau ungkap tentang soal budi lagi, aku cuma ingin bertanya, adakah Leng-ci kedua di

kolong langit ini?”

Hoa Thian-hong segera menggeleng.

“Benda langka yang amat mujarab itu belum tentu bisa ditemui dalam seratus tahun, rasanya

sukar untuk temukan lengci kedua di kolong langit dewasa ini”

“Baik! Nah sekalipun binimu pandai dalam ramuan obat, tapi andaikata tiada Leng-ci dari enci,

dapatkah ia punahkan racun te ratai empedu api yang bersarang dalam tubuhmu?”

Hoa Thian-hong gelengkan kepalanya.

“Ia pernah mengatakan kepadaku, menurut hasil penyelidikannya selama ini, teratai racun

empadu api adalah racun paling dahsyat yang tiada keduanya di kolong langit, kecuali Leng-ci

berusia seribu tahun, tiada obat lain yang bisa digunakan untuk memusnahkan racun tersebut”

Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan, “Dia adalah orang yang paling berterima kasih

kepada cici, seringkali dia membicarakan tentang kebaikan cici ini”

Tentu saja begitu! ujar Giok Teng Hujin sambil tertawa, sebab dia pula yang merasakan manfaat

dari kebaikanku itu, andaikata tiada Leng-ci mustikaku itu, kendatipnn dia sudah kawin dengan

dirimu, paling banter cuma hidup menjanda sepanjang masa, kalau tidak berterima kasih

kepadaku lantas musti berterima kasih kepada siapa lagi?”

Pui Che-giok yang mendengarkan pembicaraan tersebut tak dapat menahan rasa geli lagi, ia

segera tertawa cekikikan.

Hoa Thian-hong jadi amat jengah, selembar wajahnya berubah jadi merah padam, akhirnya

sambil tundukkan kepala dan tertawa ia gelengkan kepalanya berulang kali.

Giok Teng Hujin sendiripun tak dapat menahan gelinya, ia ikut tertawa cekikikan kemudian

sambil berpaling hardiknya ke arah Pui Che-giok, “Enyah dari sini dan menyingkir jauh-jauh!”

Pui Che-giok menutupi bibirnya dengan ujung baju, kemudian ia keluar dari ruangan dan sekalian

merapatkan pintu itu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

353

Sesudah dayang itu berlalu, Giok Teng Hujin baru angkat cawan arak dan bertanya dengan lirih,

“Apakah binimu sudah mengandung?”

“Aah! mana bisa secepat itu? toh aku baru kawin sebulan kurang sedikit.”

“Aku masih ingat dengan tepat, lengci itu kau makan sebelum pertemuan besar Kiao ciau

tayhwee diselenggarakan, masa sudah selama itu benihmu belum jadi juga?”

“Huss…. cici pandai bergurau!” seru Hoa Thian-hong tertawa, “sebelum diresmikan mana aku

berani main pukul sembarangan?”

Giok teng hujio mengangguk tiada hentinya, ia berkata dengan wajah serius, “Sebelum menikah

engkau memang tak boleh sembarangan berbuat, dan kini jejakmu sudah hilang, tentunya

urusanpun tak usah dianggap terlalu serius bukan?”

Mendengar perkataan itu tak tahan lagi Hoa Thian-hong segera bangkit berdiri, sambil

goyangkan tangannya berulangkali ia berseru, “Cici engkau terlalu romantis, siaute tak sanggup

menghadapinya, biarlah aku mohon diri saja!”

“Engkau berani kabur?!” ancam Giok Teng Hujin pura-pura marah, “kalau kau lari dari sini, aku

akan segera mengejar kerumah penginap anmu dan minta orang kepada ibumu serta Chin Wanhong!”

Melihat jendela yang ada disampingnya, untuk beberapa saat Hoa Thian-hong tak tahu apa yaeg

musti dilakukan, dengan ilmu meringankan tubuhnya yang sempurna, untuk berlalu dari situ

bukanlah suatu urusan yang sulit dan Giok Teng Hujin tak akan mampu menangkap dirinya.

Akan tetapi ia berhutang budi kepada perempuan agung ini, kedua antara mereka berdua

sebetulnya memang sudah tumbuh benih cinta, tentu saja si anak muda itu tak tega

meninggalkan sang gadis dengan begitu saja….

Rupanya Giok Teng Hujin sendiripun sudah ambil keputusan untuk menyerahkan kesucian

tubuhnya kepada si anak muda itu, dengan langkah yang lembut gemulai ia bangkit dari tempat

duduknya dan pindah kesamping si anak muda itu.

Seketika itu juga Hoa Thian-hong merasakan berdebar keras, sambil memandang keluar jendela

bisiknya, “Enci, fajar sudah hampir menyingsing!”

Giok Teng Hujin tertawa manis.

“Kentongan kelima ayam mulai berkokok, itulah tandanya fajar hampir menyingsing, ayoh

berlutut dan menyembah dulu kepada cici!”

“Siaute tidak mengerti!”

“Kau tidak mengerti, biar kuajarkan kepadamu!”

Dia ambil cawan kecil yang terbuat dari kaca itu dan meneguk sedikit arak Cui sian mi tersebut,

kemudian sambil di angsurkan ketepi bibir Hoa Thian-hong, ujarnya, “Aku akan menegukkan, lalu

engkaupun minum setegukan, perlahan-lahan rasanya akan nikmat!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

354

Hoa Thian-hong adalah seorang pria yang sudah menikah, boleh dibilang ia sudah

berpengalaman dalam bermain cinta, cukup mendengar rayuan manis yang merangsang itu

sudah membuat hatinya tak tahan, apalagi tubuh mereka saling menempel dan bau harum

semerbak berhembus lewat tiada hentinya, lama kelamaan pemuda itu mulai tak sanggup

menahan diri, jantungnya berdebar makin keras.

Dalam keadaan demikian, terpaksa ia minta ampun, “Ooh…. ciciku yang baik, ketika kentongan

ketiga hampir lewat tadi baru saja aku bertempur melawan kaucu mu, isi perutku terluka parah

dan kini….”

Giok Teng Hujin mengerling genit ke arahnya, lalu sambil tertawa merdu menukas, “Telur busuk

cilik, bukankah engkau tidak mengerti, lalu apa artinya perkataanmu itu?”

“Sekarang siaute sudah mengerti!” jawab sang pemuda tertawa.

Giok Teng Hujin tertawa cekikikan, bisiknya, “Tak usah kuatir, masa cici tega untuk mencelakai

dirimu? Arak ini mendatangkan banyak manfaat bagimu, minumlah dulu setegukan, nanti akan

cici ajarkan cara intuk menyembuhkan luka itu.”

Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Hoa Thian-hong minum seteguk arak Cui sian mi itu.

“Bagaimana caranya untuk mengobati luka ku itu?”

Kepandaian tersebut disebut resep melatih diri untuk menghindari kematian, minumlah

setegukan lagi, akan kuterangkan dengan lebih jelas lagi.

Dia angkat cawan arak Cui sian mi itu, setelah diteguk satu tegukan barulah dia angsurkan

kepada Hoa Thian-hong, sambungnya, “Orang kuno mengatakan, kalau ada Im tentu ada Yang,

ada dingin pasti ada panas, ada laki tentu ada perempuan, kalau kedua unsur digabungkan akan

mendatangkan kebaikan, kalau dipisahkan membedakin jenis kelamin, mengenai ajaran ini kau

tentu sudah mengerti bukan?”

“Emmmm, mengerti!”

“Baik, menurut resep dewa dikatakan, segala macam penyakit bagaimana parahpun hanya ada

dua obat yang bisa menyembuhkan, yakni sari hawa panas ditubuh pria dan sari hawa dingin

ditubuh wanita, kalau kedua unsur tersebut digabungkan menjadi satu, maka semuanya akan

sembuh dan lenyap!”

“Aaah…. ecci ngaco belo, aku ogah untuk mendengarkan, aah!” omel Hoa Thian-hong sambil

tertawa.

“Siapa bilang aku ngaco belo tak karuan?!” seru Giok Teng Hujin manja, “inilah resep yang paling

jitu dari ilmu penggabungan antara unsur panas dan unsur dingin, jika kepandaian ini bisa dilatih

dengan baik, bukan saja semua luka akan sembuh, bahkan hidup manusiapun bisa langgeng dan

tak akan tua”

Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan.

“Kalau sejenis disatukan akan membentuk pedang pengusir setan, kalau dua jenis disatukan

jadilah tangga untuk naik kesorga, pernah kau baca syair dari Hu-yu Tee-kuo ini?”

“Aaah pelajaran sesat dari kaum kiri, aku tak pernah membaca syair seperti itu.”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

355

“Telur busuk! Kau berani memaki cici sebagai orang sesat dan golongan kiri? Kau musti

dihukum!”

Dia angkat cawan berisi arak Cai sian mi tersebut, setelah meneguk setegukan kemudian ia tekan

kepala Hoa Thian-hong kebela kang dan melolobi pemuda itu dengan dua tegukan arak.

Hoa Thian-hong terengahengah dengan nafas memburu, serunya sambil tertawa getir, “Enciku

yang baik, siaute tak kuat minum arak…. aku mabuk nanti.”

“Tak usah kuatir, setelah kita habiskan arak pengikat perkawinan ini maka semua budi dan

dendam yang kita tanam selama ini akan terhapus sama sekali.”

“Aaai….! ucapan cici terlalu serius.”

Giok Teng Hujin mendengus dingin.

“Serius biarlah serius, aku sudah tak ambil peduli!”

“Aaai….! Cici…. aah!”

Belum sempat pemuda itu mengucapkan sesuatu, tiba-tiba kepalanya ditekan kembali

kebelakang oleh Giok Teng Hujin, sisa setengah cawan arak Cui sian mi yang masih ada dicawan

setelah dilolobkan semua kedalam mulutnya.

Hoa Thian-hong menggeliat lemas, bisiknya dengan napas terengah-engah seperti kerbau, “Aduh

cici…. kepalaku…. kepalaku pusing….”

Giok Teng Hujin yang berbaring dalam pelukan pemuda itu tertawa terkekeh-kekeh, saking

gelinya sampai air matapun bercucuran.

Paras muka Hoa Thian-hong berubah jadi merah padam bagaikan buah tho, kelopak matanya tak

mampu dibentang kembali, dengan suara tak jelas kembali ia bergumam, “Ooh…. cici, kepalaku

pusing…. aduh pusing sekali….!”

“Aaah masa iya? Aku kok tidak pusing? Oh iya, aku lupa, rupanya aku sudah mirum obat

penawar lebih dulu”

Hoa Thian-hong sudah tak tahan lagi, ia mendebrak meja dan mengomel lagi, “Aku tak kuat

duduk lagi, aku mau berbaring, aku….”

Giok Teng Hujin tertawa makin melengking.

“Eii, telur busuk cilik, engkau sendiri yang minta berbaring lho! Nanti jangan salahkan cici lagi,

bukan cici yang memaksa dirimu untuk tidur diranjang”

Sambil merangkul pinggangnya, gadis itu bantu Hoa Thian-hong untut berbaring diatas

pembaringan.

***

DENGAN mata berkedip-kedip karena mabuk hebat, Hoa Thiau Hong mengomel terus.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

356

“Ooh…. cici yang baik, biarlah aku pergi, aku benar-benar masih ada urusan!”

“Hiih…. hiih…. hiih…. jangan ribut terus ah, bukankah cici juga sedang bekerja?”

Sambil berkata ia lantas melepaskan pedang baja yang tergantung dipinggangnya.

Dengan cepat Hoa Thian-hong putar badan dan menindihi pedang baja itu dengan tubuhnya.

“Jangan kau sentuh benda itu!”

“Aku senang menyentuh senjata itu….!” seru Giok Teng Hujin sambil tertawa cekikikan.

Dengan sepasang tangannya ia tarik bahu orang kemudian memutar balik kembali tubuh Hoa

Thian-hong sehingga tidur terlentang, ia lihat sepasang pipi pemuda itu sudah berubah jadi

merah padam selembar kepiting rebus, tak tahan lagi gadis itu merangkul tubuh kekasihnya dan

mencium dengan mesrah.

Tiba-tiba Hoa Thian-hong merasa pipinya jadi basah, dengan memaksakan diri ia membuka

kembali kelopak matanya yang terasa berat, lalu bertanya, “Enci yang manis, kenapa kau

menangis?”

Meskipun air mata bercucuran membasahi pipinya, namun senyum manis masih tersungging

diujung bibir gadis itu.

“Ini hari adalah hari baik buat kita, enci merasa sangat gembira makanya air mataku jatuh

bercucuran.”

“Tidak, enci punya rahasia dihati, siaute dapat merasakan akan hal itu.”

Giok Teng Hujin tertawa manis.

“Apa yang cici pikirkan adalah masalah mengenai dirimu, aku takut engkau tak sudi menuruti

perkataanku, marilah…. enci akan lepaskan pakaian luarmu.”

Sembari berkata ia lantas ulurkan tangannya bermaksud untuk melepaskan pedang baja itu.

Dengan cepat Hoa Thian-hong menggelinding kesamping dan sekali lagi menindihi pedang baja

itu dengan tubuhnya, dengan suara tak jelas ia berkata, “Jangan kau sentuh, diatas pedang itu

telah dipolesi racun ganas!”

Giok Teng Hujin tertawa cekikikan.

“Kalau ada racunnya aku semakin gembira, kau tak perlu kuatir!”

Sekali lagi ia membalik tubuh pemuda itu sehingga tidur terlentang.

“Enci, daripada tidur bersama lebih baik biarkanlah aku tidur seorang diri!” gumam sang pemuda

dengan kelopak mata hampir terkatup rapat.

“Omong kosong, seorang pria tak boleh kehilangan wanita, seorang wanita tak boleh kekurangan

pria, kalau tiada wanita maka pikiran akan melayang, kalau pikiran melayang maka syaraf

gampang jadi lelah, kalau syaraf sudah lelah maka akan mengurangi usia, kalau engkau tidur

seorang diri, maka umurmu akan berkurang banyak”.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

357

“Kalau tenagaku lipat ganda memang paling baik tidur dengan wanita, kalau tenaga ku loyo dan

lemas seperti ini, tidur dengan wanita sama artinya mendekati jalan kes orga…. siaute….”

Kembali pemuda itu mengguling kebelakang dan sekali lagi menindihi pedang bajanya itu.

Giok Teng Hujin selalu berusaha untuk melepaskan pedang bajanya, sedangkan Hoa Thian-hong

meskipun sudah mabuk sehingga perkataannya tak jelas, tapi jurstru setiap gerak-geriknya selalu

melindungi pedang baja itu dari jangkauan orang.

Demikianlah, kedua orang itupun saling dorong mendorong, tarik menarik tiada hentinya,

walaupun sudah berlangsung lama namun apa yang dituju Giok teng bujin tak pernah tercapai.

Lama kelamaan perempuan itu jadi mendongkol bercampur penasaran, dengan suara manja dia

lantas mengomel, “Kekasihku yang tolol, sebenarnya kau sudah mabuk belum?”

“Dalam hati aku masih dapat memahami, tapi sekujur badanku tak bertenaga lagi!”

Mendengar jawaban ini, dalam hati kecilnya Giok Teng Hujin segera berpikir, “Aaai….! tenaga

dalam yang dimiliki kekasihku ini memang amat sempurna, walaupun secawan arak Coi sian mi

telah dihabiskan namun tak sampai membuat dirinya mabuk….”

Dalam hati ia berpikir, diluaran ujarnya sambil tertawa merdu, “Kalau engkau tak punya tenaga

lagi, biarlah cici yang melayani dirimu, akan kubuat tenagamu sama sekali tak terbuang!”

Seraya berkata dia lantas jatuhkan diri ke atas pembaringan dan berbaring disisi pemuda itu,

sambil menuding jidatnya ia melan jutkan, “Kalau engkau tak mau menurut lagi, jangan salahkan

kalau kutokok jalan darah mu”

“Jangan cici. jangan sekali-kali kau totok jalan darahku!”

“Aah, betul juga! Kalau jalan darahmu itu tertotok, tentunya hilanglah kegembiraanku”

“Aku tidak maksudkan begitu, ketahuilah pada saat ini Kiu-im Kaucu, Pia Leng-cu serta

sekelompok jago lihay lainnya yang tergabung dalam Mo-kauw sedang mengincar nyawaku,

andaikata enci totok jalan darahku dan kesempatan baik ini digunakan orang lain untuk celakai

jiwaku, bukankah sama artinya enci yang menjerumuskan diriku kedalam lembah kebinasaan?”

Agak tertegun Giok Teng Hujin setelah mendengar perkataan itu, lama sekali ia termenung

akbarnya titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.

“Cici, kenapa menangis? Apakah ucapan ku keliru?” buru-buru Hoa Thian-hong bertanya dengan

hati gelisah.

Giok Teng Hujin gelengkan kepalanya.

“Tahukah kau, apa sebabnya orang-orang itu bendak mencelakai jiwaku?” ia bertanya.

“Mereka hendak merampas pedang bajaku ini!”

Air mata jatuh berlinang membasahi pipi Giok Teng Hujin, ia semakin sedih, katanya lagi,

“Tahukah engkau, encipun akan merampas pedang baja milikmu itu? Kau anggap tujuanku bikin

kau mabuk benar-benar adalah untuk mewujudkan tali perkawinan diantara kita berdua?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

358

Ia berhenti sebentar, kemudian melanjutkan, “Tentu saja, kalau engkau masih mencintai aku,

berilah pelampiasan bagi cicimu, agar rasa cinta cici terhadap dirimu tidaklah sia-sia belaka.”

“Aaai….! Cici, cintamu terlalu bodoh”

“Begitulah cinta kasih seorang gadis terhadap kekasihnya, aku memang dungu dalam bercinta,

tapi apakah kau tidak merasa bahwa hatimu terlalu kejam??”

“Enci, kenapa engkau juga ingin merampas pedang bajaku? apakah Kiu-im Kaucu yang paksa

engkau berbuat demikian?, dengan cepat Hoa Thian-hong alihkan pembicaraan kesoal lain.

Giok Teng Hujin segera menggeleng.

“Bukan, ide ini timbul dari benakku sendiri, aku merampas pedang baja bukan karena terdorong

maksud lain, aku berbuat demikian karena aku cinta padamu.”

“Tak dapat kutangkap maksud ucapanmu itu!”

Giok Teng Hujin menunduk dan mencium mesrah pemuda itu, lama sekali dia baru berkata

dengan sedih, “Tahukah engkau bahwa kitab pusaka Kiam keng hasil karya dari malaikat pedang

Gi Ko tersimpan dalam pedang bajamu itu? Semua orang berpendapat demikian, masa engkau

tak tahu?!”

“Aku tahu, selain itu akupun percaya akan hal ini, tapi yang ku maksudkan adalah dalam hal

lain!”

“Kepandaian silatmu sudah mencapai tingkat yang amat tinggi, jika kau latih isi kitab Kiam keng,

maka tiada orang yang sanggup menandingi dirimu lagi, engkau dapat mengangkat dirimu

sebagai raja tanpa tandingan, pernahkah kau berpikir sampai kesitu?!”

Hoa Thian-hong tertawa.

“Aku sih tak ingin menjadi raja tanpa tandingan di kolong langit, aku cuma berharap agar orang

budiman bermunculan kembali didunia kangau, sedang orang jahat yang banyak berbuat onar

musnah dari muka bumi, hanya inilah harapanku!”

“Engkau bersedia, apakah orang lain juga bersedia?”

“Kalau memang begitu biarlah kita bertarung sampai titik akhir, aku percaya Thian akan

membantu kaum budiman serta menumpa mereka yang suka berbuat kejahatan”

“Dengan dasar apa engkau percaya kalau Thian selalu melindungi orang budiman?!” bisik Giok

Teng Hujin dengan murung, “apakah Lo Thian-ya berkata sendiri kepadamu? Tidakkah kau

pernah lihat, banyak orang budiman yang harus menemui ajalnya ditangan orang jahat?”

“Yaah…. kita harus bertempur dengan andalkan kekuatan masing-masing, siapa berumur pendek

dialah yang musti gugur, bagaimanapun juga kita toh tak sudi menyerah kalah dengan begitu

saja dan membiarkan musuh berbuat sehendak hatinya terhadap diri sendiri tanpa melawan?”

Rupanya Giok Teng Hujin merasa murung sekali, dengan gusar ia berteriak, “Orang mati! kau

tidak takut mati, justru akulah yang takut kau mati….! kau….”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

359

Walaupun kata-katanya singkat, namun dalam kenyataan mengandung pancaran rasa cinta yang

amat mendalam, Hoa Thian-hong merasa terharu sekali, tanpa sadar air mata jatuh bercucuran

membasahi pipinya.

“Aku merasa amat berterima kasih sekali atas cinta kasih yang cici limpahkan kepada ku,

sepanjang masa akan kuingat selalu cinta cici yang begitu membara!”

Gick teng hujin tertawa getir.

Kalau memang begitu janganlah banyak tingkah, ikuti saja semua perbuatan yang cici lakukan

atas dirimu, bagaimanapun juga cici sama sekali tak bermaksud untuk mencelakai dirimu.

“Tak mungkin, hal ini tak mungkin terjadi” dengan cepat Hoa Thian-hong gelengkan kepalanya,

“pedang baja ini diwariskan mendiang ayahku kepada siaute dan untuk memanfaatkan pedang

ini beliau telah menciptakan enam belas jurus pedang untukku, diatas pedang inilah mengalir

semua pikiran dan keringat mendiang ayahku, jangan dibi lang didalam pedang ini tersimpan

kitab pusaka Kiam keng, sekalipun tak adapun tak sudi kubiarkan senjata ini jatuh ketangan

musuh”

Dengan gemas Giok Teng Hujin menghela napas panjang.

“Aaai….! Pedang baja ini adalah bibit bencana, setelah kudapatkan pedang akan kuserahkan

kepada kaucu kami, sekalipun pedang ini berada ditangannya juga sama sekali tak ada

manfaatnya bagi dia. Pia Leng-cu maupun orang-orang Mo-kauw pasti akan alihkan sasarannya

untuk merecoki dia, tak seorangpun yang akan datang menyusah kan dirimu lagi, apakah engkau

tak akan paham dengan siasatku ini?”

“Aku tak mau ambil perduli siasat apapun, pokoknya selama hayat masih dikandung badan aku

akan kerahkan segenap kemampuan yang kumiliki untuk mempertahankan pedang baja ini”

Giok Teng Hujin semakin gelisah.

“Aaai.! engkau harus tahu, sekalipun kitab pusska kiaam keng muncul kembali didunia dan jatuh

ketangan orang, engkaupun tak usah kesal karena tak bisa menangkan dia, pokoknya semua

orang telah tahu, jika engkau berhasil mendapatkan kitab pusaka kiam keng maka di kolong

langit tak ada orang yang mampu menandingi dirimu lagi, dan semua orang pasti tak akan

menyetujui tindakanmu itu, semua orang pasti akan menghimpun segenap kemampuan yang

dimilikinya untuk menghalangi dirimu, bahkan menggunakan pelbagai cara yang teren-dah untuk

mencelakai dirimu, buat apa engkau musti menyusahkan diri sendiri?”

Antara kaum sesat dan kaum lurus selamanya tak dapat hidup berdampingan, apa boleh buat?

Terpaksa aku harus mempertahankan diri demi tegaknya keadilan dan kebenaran. Cici! Kau tak

usah kuatirkan diri ku lagi.

Setelah berhenti sebentar, sambil tertawa lanjutnya, “Bertarirglah disini cici, mari kita

bermesraan lagi!”

“Giok Teng Hujin merasa gemas sekali.

“Telur busuk kecil! Kau anggap aku benar-benar tak tega untuk turun tangan terhadap dirimu?

Hmm! Keputusan sudah bulat engkau tak dapat kukuh dengan pendirianmu lagi.

Seraya berkata, tangannya diayun dan menotok sebuah jalan darah dipinggang pemuda itu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

360

Hoa Thian-hong jadi amat terperanjat, buru-buru ia tangkap pergelangan tangan Giok Teng

Hujin dengan sepasang tangannya, serunya dengan gelisah, “Cici, jangan berbuat demikian!”

Rupanya ia sudah mabuk terpengaruh oleh arak, sehingga seluruh tubuhnya lemas tak

bertenaga, kepandaian silat yang dimiliki pun tak ada yang bisa digunakan lagi.

Dengan yang menyambar kesana kemari tanpa beraturan, dia berusaha untuk menangkap

pergelangan tangan dara itu, tapi bagai manapun juga usahanya ini selalu gagal.

Giok Teng Hujin tertawa cekikikan, tiba-tiba pergelangan tangannya berputar dan menyerang

kembali jalan darah Siau ci hiat di pinggang pemuda itu, sedang tangan kirinya dengan suatu

jurus serangan yang aneh menotok jalan darah diiga kirinya.

Sebenarnya kedua orang itu sedang bergumul jadi satu, ditambah pula ilmu silat yang dimiliki

Giok Teng Hujin bukan kepandaian sembarangan, serangan yang dilancarkan secara serentak

dari arah yang terang dan gelap ini amatlah sukar untuk dihindari atau ditangkis.

Walaupun begitu ilmu silat yang dimiliki Hoa Thian-hong pun bukan kepandaian silat biasa, dalam

gugupnya dengan cepat ia menggelinding kesamping dan menjatuhkan diri kebawah

pembaringan, dengan begitu dua buah serangan tersebutpun bisa dihindari dengan manis.

Giok Teng Hujin tertawa cekikikan, telapak tangan kirinya langsung diayun kedepan.

“Ploook!” dengan nyaring ia hantam paha pemuda itu, sementara tangan kanannya berkelebat

kemuka merampas pedang baja.

“Cici….! Hoa Thian-hong menjerit kaget.

Belum hatbis dia berteriak, tiba-tiba pintu jendela ditumbuk orang hingga terbuka, sesosok

bayangan manusia dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat menyusup ketepi peramringan,

sepuluh jari tangannya dipetangkan lebar-lebar dan langsung menerjang tubuh Hoa Thian-hong.

Betapa terperanjatnya Giok Teng Hujin sewaktu menyaksikan kehadiran orang lain di dalam

kamarnya, begitu kagetnya sehingga sukma serasa melayang tinggalkan raganya, cepat-cepat

dia menghardik, “Siapa kau?”

Dengan sepasang tangannya menggenggam pedang dia lancarkan sebuah bacokan kedepan.

Bayangan manusia itu sama sekali tidak bersuara, tangan kirinya bergerak kedepan langsung

mencengkeram pedang baja itu, serta-merta tangan kanannya laksana sambaran petir

mencengkeram perut bagian bawah dari Hoa Thian-hong.

Jelas orang itu sudah memahami sampai dimanakah kelihayan dari Hoa Thian-hong, oleh sebab

itu walaupun ia tahu kalau Hoa Thian-hong sudah dibikin mabok oleh arak Cui sian mi namun

serangannya yang dilancarkan ke arah pemuda itu sama sekali tak berkurang kehebatannya.

Hoa Thian-hong mendengus dingin, telapak tangan kirinya berputar lalu diayun ke depan sedang

lengan kanannya segera diangkat keatas, dengan jurus sakti Kun siuci tau dia sambut datangnya

ancaman tersebut dengan keras lawan keras, sementara tangan kanannya dengan suatu gerakan

yang aneh menggetar pergi sepasang tangan Giok Teng Hujin, dan tahu-tahu gagang pedang

baja itu sudah dicekal kembali dalam genggamanannya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

361

Seketika itu juga Giok Teng Hujin merasakan sepasang tangannya tergetar keras, tak kuasa lagi

badannya berguling kesudut pem baringan.

Sementara itu orang yang melancarka sergapan tadipun tak kalah kejutnya, baru saja ia

mendengar si anak muda itu mendengus dingin, tahu-tahu segulung angin pukulan yang maha

dahsyat telah menerjang masuk lewat telapak tangannya.

Selama peristiwa itu berlangsung hampir bersamaan waktunya, sejak jendela dipentang orang

sampai waktu itu hanya makan waktu sekejap mata, tapi ketiga belah pihak melancarkan

serangan mereka dengan kecepatan bagaikan kilat.

Agaknya orang yang melakukan sergapan itu telah menyadari kalau Hoa Thian-hong tidak benarbenar

mabuk, menyadari kalau dirinya tertipu, saking kagetnya peluh dingin membasahi

tubuhnya, dia kendorkan tangan kirinya melepaskan cekalan pada pedang baja tersebut,

sedangkan serangan pada tangan kananpun dibuyarkan, sekali enjot badan tubuhnya meluncur

keluar lewat jendela.

Sejak pertarungan sengit diselat Cu-bu-kok serta pertarungan serunya melawan Kiu-im Kaucu,

sebagian besar jago persilatan yang ada di kolong langit pada menaruh rasa jeri terhadap diri

Hoa Thian-hong, demikian pula dengan penyergapan gelap itu.

Setelah menyadari kalau dirinya tertipu, cepat-cepat ia mengundurkan diri dari situ, kecepatan

dan kecekatannya menghadapi perubahan situasi benar-benar sangat mengagumkan.

Tampaklah Hoa Thian-hong melejit bangun dari atas tanah, kemudian ia pentang mulutnya

dan…. Cuuh! Serentetan pancaran arak berwarna putih langsung menyambar keatas wajah

penyergap tadi….

Kiranya meskipun Hoa Thian-hong telah meneguk separuh cawan lebih arak wangi Cui sian mi,

namun secara diam-diam dia telah simpan arak tadi kedalam lambungnya dengan menggunakan

sejenis ilmu khusus dari wilayah Biau yang biasanya digunakan untuk menghadapi minuman atau

makanan beracun.

Dan kini setelah menghadapi serangan musuh, ia lantas kerahkan bawa murninya untuk

memaksa sisa arak yang tertampung itu tumpah keluar semua, bahkan memanfaatkannya

sebagai senjata rahasia untuk melukai lawan.

Serangan ini benar-benar sangat aneh dan luar biasa, dengan hati terperanjat penyergap itu

berpaling kebelakang, dan tak dapat di hindari lagi pancaran senjata arak itu bersarang telak

diatas wajah bagian kanannya, bersamaan waktunya pula kaki kanan orang itu merasa amat

sakit hingga merasuk ketulang sumsum, rupanya Soat-ji rase berbulu salju itu telah manfaatkan

kesempatan baik tadi untuk menggigit kaki tamu tak diundang ini.

Rupanya Soat-ji rase berbulu salju yang selama ini mendekam dibawah jendela telah menyusup

keluar tatkala penyergap tadi menyerang masuk kedalam ruangan, tapi berhubung gerak tubuh

penyer gap itu sangat cepat sekali, maka walaupun gerak tubuh Soat-ji cepat toh dia masih kalah

setindak daripada musuhnya.

Andaikata orang itu tidak dibuat ketakutan setengah mati oleh serangan balasan yang

dilancarkan Hoa Thian-hong, niscaya Soat-ji pun tetap gagal untak melukai lawannya.

Kendatipun begitu, ilmu silat yang dimiliki penyergap itu sangat mengejutkan pula, dalam

keadaan pipi kanan terluka oleh semburan arak, kaki kanan terpincang karena gigitan Soat-ji, ia

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

362

masih mampu menahan rasa sakit yang luar biasa itu untuk kabur keluar jendela, dalam waktu

singkat tubuhnya sudah jauh diujung jalan sebelah sana.

Hoa Thian-hong telah memburu pula ke tepi jendela, dalam sekejap mata separuh badannya

sudah keluar dari ruangan itu….

“Thian-hong! racun….” tiba-tiba Giok Teng Hujin berteriak keras.

Hoa Thian-hong terkesiap, dengan cepat ia teringat kembali kalau diatas pedang bajanya telah

dipolesi racun yang keji, teringat pula ketika penyergap tersebut menyerang dirinya. Giok Teng

Hujin jadi begitu panik sehingga mengucurkan air mata, pemuda itu jadi tak tega.

Buru-buru ia kembali kesampingnya, sambil mengeluarkan obat pemunah dari dalam saku ia

berkata, “Makanlah obat ini maka racun itu akan punah dengan sendirinya, aku harus segera

mengejar penyergap itu!”

Begitu pemuda tersebut menyelesaikan kata-katanya, sambil menangis Giok Teng Hujin telah

berteriak, “Sepasang tanganku telah berubah jadi kaku semua!”

Kreet….! pintu kamar dibuka orang, Pui Che-giok dengan langkah cepat telah masuk kedalam.

Hoa Thian-hong segera berseru dengan cepat, “Che giok, tolong berikanlah obat pemunah ini

kepadanya, aku….”

Sementara itu Giok Teng Hujin sendiripun sedang berpikir….

“Setelah perpisahannya pada hari ini, entah sampai kapan kita baru bisa berjumpa lagi?”

Dalam gelisahnya, dia segera tundukkan kepala dan menggigit lengan pemuda itu keras-keras.

Hoa Thian-hong kesakitan dan menjerit tertahan.

“Aduuh…. cepat lepaskan gigitanmu…. orang yang menyergap diriku tadi adalah Pia Leng-cu, Pek

Kun-gie telah terjatuh ketangan…. aduuh!”

Ketika Giok Teng Hujin mengetahui kalau Hoa Hoa Thian-hong mengejar Pia Leng-cu adalah

dikarenakan hendak menolong Pek Kun-gie, gadis ini jadi gemas sekali sehingga gigitanpun

diperkeras dengan sendirinya pemuda itu sangat kesakitan.

Walaupun begitu Hoa Thjan Hong tak dapat berbuat apa-apa kecuali menahan rasa sakit hingga

air matapun bercucuran, ia tak berani mengerahkan hawa murninya untuk melawan, sebab

kuatir menggetarkan gigi dara itu, dalam keadaan apa boleh buat terpaksa ia berbicara, “Cepatcepatlah

kendorkan gigitanmu, aku tak akan pergi, aku akan menyuapi obat untuk mu….

ayohlah, cepat lepaskan gigitanmu!”

Giok Teng Hujin sama sekali tidak menggubris permohonannya itu, bahkan gigitannya malah

semakin diperkeras.

Pui Che-giok yang menyaksikan kejadian itu diam-diam tertawa geli, ia segera maju kedepan dan

menutup kembali jendela yang terpentang, kemudian membersihkan noda darah dan arak yang

menodai pemukaan tanah, setelah selesai pintu ditutup kembali dan diapun berlalu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

363

Sementara itu Hoa Thian-hong telah melihat sepasang tangan Giok Teng Hujin yang putih bersih

kini telah berubah jadi hitam gelap, sedang gigitan pada tangannya sama sekali tak mau dilepas,

dalam keadaan seperti ini pemuda kita menghela napas, seperti lagi membujuki anak kecil saja

katanya, “Baiklah, cepat lepaskan gigitanmu, perkataan seorang pria sejati berat laksana bukit,

setelah aku berjanji tak akan pergi-pastilah aku tak akan pergi!”

Racun keji dari wilayah Biau terkenal karena keganasannya, sejak keracunan, Giok Teng Hujin

hanya memikirkan tentang kekasihnya dan sama sekali tak mengerahkan tenaga untuk lawan

racun, hal ini membuat sepasang tangannya sama sekali jadi kaku, kesadaranpun agak kabur.

Menanti Hoa Thian-hong mengucapkan kata-kata tadi, ia baru lepaskan giginya.

Hoa Thian-hong segera membuka penutup botol dan menyuapi obat tersebut kedalam mulutnya,

setelah itu telapak tangannya di tempelkan diatas punggungnya dan salurkan hawa murni untuk

membantu daya kerja obat tadi dalam memunahkan racun yang bersarang di tubuhnya.

Lewat beberapa saat kemudian, racun yang bersarang didalam tubuh perempuan itu telah

punah. Giok Teng Hujin dapat menggerakkan kembali lengannya dengan leluasa, diapun angkat

kedua buah tangannya dan memeluk tubuh Hoa Thian-hong erat-erat, si anak muda itu tertawa

getir, bisiknya dengan lembut, “Pek Kun-gie….”

Senyum manis tersungging diujung bibir Giok Teng Hujin, ia gelengkan kepalanya berulang kali,

namun pelukannya sama sekali tidak mengendur dan mulutpun membungkam dalam seribu

bahasa.

Hoa Thian-hong jadi kebingungan dibuatnya, dengan perasaan tak mengerti ia menegur, “Eeeh!

kenapa sih wajahmu kelihatan sangat gembira? Ayoh, dibalik kegembiraanmu itu pasti ada halhal

yang tak beres!”

Giok Teng Hujin tertawa manis, dengan muka berseri-seri ujarnya.

Lepaskan dulu benda yang ada racunnya itu dan letakkan dibalik pembaringan, kemudian

berbaringlah dulu maka akan kubicarakan banyak hal dengan dirimu, kalau engkau bisa

menangkan perdebatan ini maka mulai detik ini aku, Ku Ing-ing tak akan merecoki dirimu lagi,

dan kau boleh anggap aku sebagai perempuan yang paling rendah di kolong langit dewasa ini.

Perkataan tersebut diucapkan dengan nada serius, mau tak mau terpaksa Hoa Thian-hong harus

melaksanakan seperti apa yang dikatakan olehnya, sesudah melepaskan pedang bajanya dan

diletakkan dibawah kasur iapun berbaring diatas pembaringan.

“Nah, apa yang hendak kau perdebatkan sekarang boleh kau katakan secara blak-blakan!”

Agaknya Giok teng bnjin merasa sangat gembira, ia lemparkan satu senyuman yang amat

mesrah kepada pemuda itu, lalu katanya, “Cinta kasih yang diperlihatkan Pek Kun-gie kepadamu

telah diketahui oleh khalayak umum, sedangkan rasa cinta dan sayang dari aku, Ku Ing-ing

kepadamupun rasanya tak perlu dijelaskan lagi bukan??”

Hoa Thian-hong menghela napas panjang, dengan mulut membungkam dia mengangguk.

Giok Teng Hujin tersenyum, ujarnya lebih jauh, “Dia yang mencintai dirimu lebih dulu? ataukah

aku lebih dulu yang mencintai dirimu?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

364

Merah jengah selembar wajah Hoa Thian-hong, sahutnya dengan suara amat lirih, “Susah untuk

menentukan siapa yang lebih duluan, tapi aku rasa persoalan ini toh tidak terlalu penting”

Setelah berhenti sebentar, sambungnya kembali, “Cinta kasih yang enci berikan kepadaku

disertai dengan pelepasan budi kebaikan yang berlipat ganda, kalau dibicarakan sesungguhnya

tentu saja Pek Kun-gie tak dapat dibandingkan dengan dirimu!”

Giok Teng Hujin tertawa.

“Perkawinanmu dengan Chin Wan-hong, perduli atas usul dari siapa, kejadian ini adalah suatu

peristiwa yang sangat adil dan jamak, sebaliknya kalau engkau tinggalkan Chin Wan-hong untuk

menikah dengan Pek Kun-gie, bukan saja semua orang gagah yang ada di kolong langit akan

memandang hina dirimu, merekapun akan memandang rendah pula ibumu, semua orang gagah

di kolong langit tentu akan pada membicarakan ketidakbecusan ibumu serta ketidak

bijaksanaannya dalam mengambil keputusan”

Mendengar perkataan itu, tiba-tiba Hoa Thian-hong merasa peluh dingin mengucur keluar

membasahi seluruh tubuhnya, dengan gugup ia menimbrung dari samping, “Sampai detik ini, aku

dan ibuku belum pernah memikirkan hal-hal seperti apa yang cici katakan barusan!”

Giok Teng Hujin tersenyum, kembali ia menyela, “Benarkah begitu? Kalau rumah tangga sendiri

tak dapat mengatur, mana mungkin mengatur suatu negara? Engkau dan ibumu adalah tulang

punggung para jago dari golongan lurus, kalau toh urusan rumah tanggapun tak becus untuk

mengatur, dengan dasar apakah kalian bisa menegakan keadilan serta kebenaran bagi umat

persilatan??”

Sesudah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh, “Dalam kenyataan, meskipun pendapat

seperti ini tak pernah kalian pikirkan, dalam hatipun secara lapat-lapat telah merasakan, cuma

saja berhubung kata-kata semacam itu diucapkan keluar oleh seorang perempuan jahat seperti

aku sekarang ini, maka engkau meneri manya dengan suatu perasaan istimewa pula”

“Selamanya siaute tak pernah memandang enci sebagai orang jabat, dan ibuku juga tak pernah

mempunyai pandangan begitu….”

Kembali Giok teng hnjin tertawa.

“Perduli bagaimanapun juga, yang jelas aku berdiri dipihak orang-orang jahat, mungkin engkau

sendiripun tak pernah memikirkan bukan, orang baik bukan saja harus dipuji dan disanjung oleh

orang baik, selain itu orang jahatpun harus ikut memuji dan menyanjungnya pula, dengan

demikian ia baru bisa dianggap seorang yang benar-benar baik sejati!”

“Aaah! Mana mungkin ada orang jahat bersedia memuji dan menyanjung orang baik. Kalau

sampai begitu dimanakah letak kebu sukan dari orang jahat itu?”

“Bukan begitu, engkau memandang watak manusia terlalu kasar dan gamblang, baik dia seorang

kuncu ataupun seorang manusia jahat, bila mereka semua menaruh rasa kagum dan

menyanjung, maka penghormatan tersebut barulah dapat dianggap sebagai suatu penghormatan

yang sungguh-sungguh dan dari situ pula lahirlah kata-kata yang menyatakan: Sesat selamanya

tak bisa menangkan lurus, dan oleh karena pendapat ini pula semakin banyak yang diderita

orang baik, semangat dan ambisinya semakin teguh, sebaliknya oOrang jahat yang terkena

pukulan batin, jiwanya langsung jadi kerdil dan keberanianpun hancur berantakan…. tentu saja

walaupun dalam hati kecil seorang manusia jahat merasa hormat terhadap seorang baik, ia selalu

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

365

berusaha untuk menghindari pikiran sampai kesitu, apalagi mengumumkan perasaannya itu

dihadapan umum”

Hoa Thian-hong berpikir sejenak, kemudian dengan muka serius sahutnya, “Terima kasih atas

petunjuk dari cici, mulai hari ini siaute pasti akan berusaha untuk menjadi seorang manusia yang

benar-benar baik, sehingga membuat pihak musuhpun mau tak mau terpaksa mesti mengagumi

diriku”

Giok Teng Hujin tertawa cekikikan.

“Apa yang sedang kubicarakan hanyalah masalah besar dalam dunia persilatan, masalah tentang

muda mudi sih boleh bertindak lebih bebas dan leluasa, tak perlu musti pakai aturan segala”

Hoa Thian-hong tertawa terbahak-bahak, ia merasa dada dan pikirannya jadi lapang sekali.

Sebenarnya pembicaraan tentang masa lah baik dan busuk itu hanyalah perkataan melantur dari

Giok Teng Hujin, perempuan itu sendiripun tak pernah memikirkannya dihati, tapi bagi

pendengaran Hoa Thian-hong telah mendatangkan manfaat yang amat besar.

Sebelum kejadian tersebut, Hoa Thian-hong masih merupakan seorang pemuda yang keras

kepala dan berdarah panas tapi mulai detik itu juga segala watak serta perangainya telah

mengalami perombakan besar dan jadilah dia seorang lelaki sejati yaog berjiwa ksatria, setiap

perkataan maupun perbuatannya tak malu disebut seorang pemimpin dari golongan kaum lurus.

Sudah tentu Giok Teng Hujin sendiripun tak pernah menduga kalau ucapan isengnya telah

mendatangkan perubahan besar bagi kekasih hatinya ini.

Sementara itu dipthak lain, Pek Kun-gie yang kemarin malam baru saja lolos dari pengejaran Tio

Sam-koh, ketika baru saja ia tiba didepan mulut sebuah gang, tiba-tiba dari balik kegelapan

menyusup keluar seorang kakek tua berjenggot putih, begitu munculkan diri dia segera lancarkan

sebuah totokan yaog merobohkan gadis itu kemudian mengempitnya di bawah ketiak dan kabur

dari situ.

Dari gerakan tubuh kakek tua itulah, Tio Sam-koh segera kenali orang itu sebagai Pia Leng-cu

dari perkumpulan Thong-thian-kauw dan karena itu pula dia tidak melanjutkan pengejarannya.

Kakek berbaju putih itu sama sekali tidak berlalu dengan begitu saja, sesudah membawa Pek

Kun-gie berputar satu lingkaran akhirnya ia kembali lagi disekitar rumah penginapan tersebut dan

menyembunyikan diri ditempat kegelapan sambil menyaksikan pertarungan sengit antara Hoa

Thian-hong melawan Kiu-im Kaucu, menanti kedua belah pihak telah buyar barulah dia

mengempit tubuh Pek Kun-gie dan menyusup keatas loteng sebuah rumah obat diseberang

penginapan tersebut dan bersembunyi disudut gudang obat tadi.

Orang itu memang tak lain dan tak bukan Pia Leng-cu, dengan pedang emas berada dalam

sakunya, sambil melarikan diri dari pengejaran Kiu-im Kaucu, dia pun berusaha untuk merampas

pedang baja milik Hoa Thian-hong serta mendapatkan kitab kiam keng yang maha dahsyat

tersebut.

Apabila orang-orang dari pihak Mo-kauw tidak masuk bilangan, maka dewasa ini ilmu silat yang

dimiliki Hoa Thian Hoag serta Kiu-im Kaucu boleh dibilang nomor satu di kolong langit, meskipun

kepandaian silat dari Pia Leng-cu sendiripun sudah mencapai puncak kesempurnaan, akan tetapi

kalau dibandingkan dengan kedua orang jago ini, dia masih tetap kalah setingkat,oleh sebab

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

366

itulah untuk menghadapi kedua orang jago lihay ini menantang secara berhadapan, maka

diputuskan untuk bermain gerilya ditempat kegelapan.

Sejak perkumpulan Thong-thian-kauw musnah dari muka bumi, imam tua ini selalu berusaha

untuk membalas dendam, dan satu-satunya harapan yang dijagakan dirinya adalah memperoleh

kitab Kiam keng tersebut kemudian mempelajari isinya.

Selama ini semua anggota perkumpulan Thong-thian-kauw mempelajari ilmu pedang, dengan

dasar ilmu silat serta tenaga dalam yang dimilikinya sekarang, apabila bisa memperoleh

kemajuan yang amat pesat, dan asalkan ia sanggup menandingi kepandaian silat dari Hoa Thianhong

serta Kiu-im Kaucu, maka dunia persilatan akan berada dibawah injakan kakinya, dalam

keadaan begitu tak sulit untuk membangun kembali perkumpulan Thong-thian-kauw yang telah

runtuh.

***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar