Selasa, 06 Oktober 2009

rahasia 18

“Masih ada beberapa persoalan penting lagi yang hendak kusampaikan kepada rekan-rekan

sekalian, harap rekan semua bersedia untuk memperhatikan!”

Sebenarnya semua orang hendak mengajukan pertanyaan sekitar pembunuhan atas diri

SumaTiang cing, akan tetapi karena didahulu pemuda tersebut, maka terpaksa mereka pasang

telinga baik-baik dan mendengarkan dengan seksama.

Dengan suara dalam Hoa In-liong berkata, “Kiu im kaucu yang sekarang adalah murid dari kaucu

generasi lalu, dia seorang perempuan yang bernama Bwe Su-yok, meskipun usianya masih muda

tapi ilmu silatnya sangat tinggi, aku harap rekan semua mau memperhatikan hal ini. Kemudian

dari pihak Mo kau yang menyerbu kedaratan Tionggoan secara besar-besaran, terdapat seorang

yang bernama Seng To cu adalah kakak seperguruan Tang kwik Siu, tenaga dalamnya jauh

diatas Tang kwik Siu sendiri, orang ini merupakan orang kedua yang harus rekan semua

perhatikan. Sedang mengenai perkumpulan Hian-beng-kauw, oleh karena struktur organisasi

tersebut sangat rahasia, sampai sekarang belum kuketahui siapa kaucu nya tapi yang pasti jagojago

mereka sangat banyak dan rata-rata berilmu tinggi, diantaranya seperti Thamcu markas

besar mereka adalah Beng Wi cian serta murid-muridnya yang bernama Ciu Hoa, Dari nama

tersebut sudab dapat diduga kalau cita-cita mereka adalah musuhi keluarga Hoa kami. Markas

besarnya berada dibukit Gi hong-san!”

Berbicara sampai disitu, dia menyapu sekejap sekeliling tempat itu. lalu bertanya lagi, “Apakah

ada pertanyaan diantara rekan sekalian? Jika kurang terang, silahkan ditanyakan!”

Seorang pemuda berpakaian ringkas warna hitam segera bangkit, tanyanya dengan lantang,

“Bagaimanakah ilmu silat Bwe Su-yok jika dibandingkan dengan Hoa kongcu….?”

Hoa In-liong, membatin, “Kalau dibandingkan sekarang tentu saja tenaga dalamku jauh melebihi

dirinya!”

Tapi diluar dia menyahut, “Siaute pernah beradu kekuatan dengan perempuan ini ketika berada

dikota Kim-leng, rasanya ilmu silat kami seimbang!”

Tiba-tiba Tu Cing san bertanya pula, “Hoa kongcu, Seng To cu yang dikatakan sebagai kakak

seperguruannya Tang kwik Siu itu macam apa orangnya? Sampai dimana taraf ilmu silat yang

dimiliki? Dan kenapa sewaktu mencari harta di Kiu ci san tempo dulu, orang ini tidak kelihatan?”

“Orang itu raempuuyai ilmu silat yang luar biasa lihaynya, jika rekan sekalian bertemu dengan

orang ini, lebih baik menyingkir saja….!”

Setelah berhenti sebentar, dia berkata lagi, “Menurut dugaanku ketidak munculannya dalam

penggalian harta di bukit Kiu ci san tempo dulu, mungkin disebabkan waktu itu Seng To cu

sedang menutup diri”

Banyak orang yang merasa tidak puas dengan perkataan itu, malah ada diantara mereka yang

bermaksud mencari Seng To cu untuk diajak beradu kepandaian, mereka semua adalah jagojago

persilatan, apa yang dipikirkan sebera terlihat pula diatas wajahnya, melihat itu Hoa In-liong

mengeluh dan tidak berkata apa-apa lagi.

Tiba-tiba terdengar Cia Yu cong berkata, “Hoa kongcu, bersediakah engkau untuk melukiskan

tampang dari Seng To cu itu, agar kawan-kawan persilatan dapat menghindarinya jika secara

kebetulan mereka sampai bertemu!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

714

“Orang yang usianya sndah lanjut memang jauh lebih dapat menggunakan otak daripada orang

muda” pikir Hoa In-liong.

Dia lantas tersenyum, jawabnya, “Gampang sekali untuk mengenali Seng To cu, asal saudara

sekalian bertemu dengan seorang kakek yang memakai ikat pinggang naga perak bermuka kaku

menyeramkan seperti mayat yang baru bangkit dari liang kuburnya, itulah orangnya!”

Tiba-tiba Kongsun Peng menimbrung kembali.

“Menurut pembicaraan Hoa kongcu, semua murid Hian-beng-kauw diberi nama Ciu Hoa

(Mendendam kepada keluarga Hoa), boleh aku tahu sebetulnya dendam sakit hati apakah yang

sudah terjadi antara Hian-beng Kaucu itu dengan keluarga Hoa?”

Hoa In-liong tidak langsung menjawab, kembali dia berpikir, “Meskipun Thia Lo cianpwe

menerangkan bahwa Hian-beng Kaucu mempunyai dendam sakit hati dengan pihak kami

lantaran gurunya dibunuh ayah, tapi aku sendiripun kurang jelas tentang soal ini, rasanya

mereka juga tak akan dapat menduganya”

Ia merasa ada baiknya kalau persoalan itu jangan dibicarakan dulu, maka katanya, “Tentang soal

ini, terpaksa kita harus menanyakan secara langsung setelah bertemu dengan Hian-beng Kaucu

dilain waktu!”

“Hoa kongcu!” Cia Yu-Cong kembali berkata, “hawa siluman telah muncul kembali menyelimuti

seluruh dunia persilatan, kekuatan mereka tak boleh dianggap enteng, tolong tanya kapan

ayahmu baru akan munculkan diri antuk menyapu hawa siluman tersebut?”

Kembali Hoa In-liong berpikir, “Nenek dan ayah telah melimpahkan tanggung jawab yang sangat

berat ini ke atas pundakku, itu berarti mereka tak akan terjun kembali kedalam dunia persilatan,

jika ucapan terlalu jujur, orang orang ini pasti akan kecewa karena memandang usiaku yang

muda, kepandaianku yang terbatas dan pengetahuanku yang cetek mereka pasti berpendapat

bahwa aku tak akan mampu….”

Karena berpendapat demikian, pelan-pelan dia berkata, “Bagaimanakah rencana ayah, sebagai

putranya aku tak berani menduga secara sembarangan, tapi saudara sekalian tak usah kuatir,

sebagai bagian dari masyarakat dunia persilatan, keluarga Hoa kami pasti tak akan berpeluk

tangan belaka, dalam usaha melenyapkan kaum iblis dan durjana dari muka bumi, kami pasti

akan menyumbangkan pula tenaga kami!”

Perkataan ini mengambang sifatnya dan tidak menentu, banyak orang tidak puas, tapi tak

seorangpun yang berani membuka suara untuk bertanya lagi….

Tiba-tiba seorang kakek kekar yang duduk dimeja utama bangkit berdiri seraya berkata, “Hoa

kongcu, dilihat dari keberanian kongcu untuk menantang tiga perkumpulan tersebut, mungkinkah

kongcu sudah mengetahui jelas kekuatan mereka sebenarnya? Dan mungkinkah kongcu sudah

menyusun suatu rencana yang masak untuk menghadapi mereka?”

Hoa In-liong menarik kembali sorot matanya, semua orang yang duduk dimeja utama dikenalnya

dengan jelas diapun mengenali kakek tersebut sebagai Huan Tong, seorang jago yang merajai

wilayah Lam-cong dengan ilmu Poh ka sinkun (ilmu pukulan sakti pemecah perisai)nya.

Dia lantas tersenyum, katanya, “Mempunyai rencana yang masak sih tidak, cuma berbicara

menurut situasi sekarang ini, dengan mundurnya Kiu im kaucu dan kedudukannya digantikan

oleh Bwe Su-yok yang masih muda, kendatipun dia mempunyai bakat yang bagus dan

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

715

kecerdasan otak yang luar biasa, tak mungkin kehebatannya bisa melampaui iblis tua itu, ini

berarti Kiu im kau merupakan perkumpulan terlemah diantara tiga perkumkulau yang ada.

Sedang pihak Mo kau mempunyai Tang kwik Siu dan kakek seperguruannya untuk bersama

menghadapi musuh, kekuatan mereka cukup tangguh. Sementara Hian-beng-kauw tak diketahui

kekuatan yang sebenarnya, menurut pendapatku, mungkin kekuatan mereka jauh diatas

kemampuan Mo kau”

“Jadi kalau begitu seandainya terjadi bentrokan kekerasan, maka kita akan membasmi Kiu im kau

lebih dulu?” tanya Huan Thong.

“Tidak!” dengan cepat Hoa In-liong menggeleng, “tiga perkumpulan telah membentuk

perserikatan, jika seujung rambut mereka diganggu seluruh badan perserikatan akan maju

bersama, tak mungkin mereka akan membiarkan kita untuk menghancurkan mereka satu demi

satu”

Setelah berhenti sebentar, kembali katanya, “Apalagi yang lemah belum tentu lemah, yang

tangguh belum tentu tangguh, siapa tahu kalau sampai akhirnya Kiu im kau lah merupakan

perkumpulan yang paling tangguh?”

“Perkataan dari Hoa kongcu memang benar” sahut Huan Thong sambil mengangguk, “sudah

menjadi kebiasaan bagi kaum durjana, sebelum sam pai akhirnya siapapun tak mau

mengerahkan segenap kemampuannya”

Tiba-tiba Cia Yu cong menimbrung, “Tentang mundurnya Kiu im kaucu secara tiba-tiba, menurut

Hoa kongcu hal itu pertanda baik atau jelek buat kita?”

“Hoa In-liong termenung sebentar, kemudian jawabnya, “Kiu im kaucu adalah seorang manusia

yang licik, lihay dan banyak tipu muslihatnya, aku rasa tindakannya itu pasti mengandung

maksud-maksud tertentu. Berbicara dari segi baiknya, mungkin saja dia mengandung maksud

untuk merubah keadaan permusuhan menjadi persahabatan. Berbicara dari segi jeleknya dia

hendak mengundurkan diri kebelakang layar dan dari sana menyusun rencana jahat untuk

menghancurkan kita. Pokoknya baik itu bermaksud baik atau jelek, akhirnya pasti akan

berkembang dan diketahui umum, dan aku rasa tak ada manfaatnya untuk kita duga mulai

sekarang”

Dalam perjamuan yang diselenggarakan kali ini, semua orang jarang menggerakkan sumpitnya

untuk mengambil sayur, kebanyakan mereka cuma memegang cawan sambil mendengarkan

pembicaraan yang sedang berlangsung, meski Hoa In-liong tidak mempersilahkan mereka

minum, para jago persilatan itupun tidak terlalu menaruh perhatian.

Perjamuan itu berlangsung hampir dua jam lamanya, sampai lohor perjamuan baru bubar, tentu

saja Hoa In-liong tak dapat menghantar semua tamunya, banyak terhadap belasan orang

tamunya yang berada dimeja utama, dia tak berani berayal dan menghantarnya sampai didepan

pintu.

Sebelum pergi, Huan Thong sempat berkata dengan suara lantang, “Hoa kongcu bila teringat

kembali pada peristiwa penggalian harta mustika di bukit Kiu ci san, seandainya tak ada ayahmu,

belum tentu kitab pusaka keluarga kami dapat didapatkan kembali. Aku tahu ilmu silat ayahmu

sangat lihay, tak mungkin dia akan mengharapkan balas budiku, maka setelah berjumpa sendiri

dengan kegagahan Hoa-kongcu hari ini, aku jadi terbayang kembali akan kegagahan ayahmu

dimasa lalu. Mulai saat ini, bila kongcu membutuhkan bantuanku, katakan saja berterus terang,

tak usah sungkan-sungkan, lohu pasti akan menyumbangkan tenagaku”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

716

“Locianpwe ini gagah dan memahami perasaan orang, dia memang seorang sahabat yang dapat

di percaya” pikir Hoa In-liong.

Dengan perasaan berterima kasih dia lantas tertawa nyaring, katanya, “Dalam pencarian harta

dibukit Kiu ci san tempo hari, ayahku berbuat demi kepentingan umum, cianpwe mengambil

barang milik cianpwe sendiri, darimana bisa dikatakan sebagai suatu hutang budi?”

Lalu dengan wajah serius dia berkata lebih lanjut, “Kalau toh cianpwe sudah berkata demikian,

boanpwe pun tak akan bertedeng aling-aling lagi, bila berbicara soal balas budi, sama artinya

dengan cianpwe memandang keluarga Hoa kami sebagai sekawanan manusia rendah”

Mula-mula Huan Thong agak tertegun, menyusul kemudian tertawa terbahak-bahak, diapun tidak

banyak berbicara lagi, setelah berpamitan lalu mohon diri.

Cia Yu cong pun merasa kagum atas tindak-tanduk Hoa In-liong yang cekatan serta penuh rasa

percaya pada diri sendiri itu, sambil mengelus jenggotnya dia tertawa.

“Sebagai tuan tanah disini, lohu memang tak becus dibidang lain, namun soal anak buah sih

masih punya beberapa orang, untuk mencari berita, sebagai pesuruh, mereka masih dapat

melakukannya. Maka bila Hoa kongcu membutuhkan mereka, harap kau tak usah sungkansungkan

untuk mengutarakannya keluar”

Hoa In-liong tidak sungkan-sungkan lagi, sambil menjura dia lantas berkata, “Kesediaan Cia lo

enghiong untuk menyumbangkan tenaga sangat mengharukan hatiku, aku tidak memohon apaapa,

hanya seandainya dikota Si ciu telah kedatangan manusia yang berwajah atau berbadan

aneh, tolonglah memberi kabar kepadaku”

“Aaah…. kalau cuma urusan sekecil itu sih tak menjadi soal, Hoa kongcu tak usah kuatir” kata Cia

Yu cong sambil tertawa, maka diapun berpamitan.

Sesudah perjamuan bubar dan semua tamu telah mengundurKan diri, rumah makan Kwang koan

lo yang luas terasa menjadi hening, lenggang dan sepi.

Hoa In-liong tidak berdiam lama disitu, setelah berpesan sepatah dua patah kata dengan pemilik

rumah makan, diapun ikut meninggalkan tempat itu dan lenyap di perapatan jalan sana.

Lama setelah keheningan mencekam sekeliling tempat itu, tiba tiba dari depan rumah makan itu

melompat turun seorang perempuan berbaju putih yang menyoren pedang di punggungnya.

Dia naik keloteng Kwang koan lo dan memeriksa sekejap, disana kecuali beberapa orang pelayan

yang sedang membereskan sisa sayur, tak seorang jago persilatanpun yang masih tertinggal

disana.

Berdiri diruangan yang lenggang, peremouan itu bergumam seorang diri dengan suara yang lirih.

“Hmm….! Sekembalinya ke markas besar, empek Beng, Empek-Toan bok dan suheng sekalian

telah mengatakan putranya Hoa Thian-hong begini begitu….Huuuh, padahal sepersenpun tak ada

harganya, buktinya dia toh tak bisa berbuat apa-apa terhadapku?”

Sambil tertawa ringan dia lantas melompat turun dari atas loteng dan bergerak menuju ke luar

kota, dalam ruangan hanya tertinggal bau harum badannya yang semerbak.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

717

Ketika kawanan pelayan yang sedang mengumpulkan sisa sayur itu mendengar suara tertawa,

serta merta mereka menengok ke sekeliling situ, namun karena tak sesosok bayangan

manusiapun yang tampak mereka jadi merinding karena ngeri.

Sementara itu, nona tadi sudah tiba diluar kota tiba-tiba suara bentakan memecahkan

keheningan, “Harap berhenti nona!”

Perempuan itu tertegun, sebelum ia sempat berbuat sesuatu, angin berhembus lewat dan tahutahu

kain cadar penutup mukanya sudah dibuka orang….

Ia kaget dan cepat mundur, seorang pemuda tampan yang gagah perkasa tahu-tahu sudah

berdiri dihadapannya, anak muda itu menggoyangkan kipasnya dengan tangan kiri, sedang

ditangan kanan nya menenteng sebilah pedang mustika dan jari tangannya menjepit selembar

kain cadar, dia berdiri dergan senyuman dikulum.

Orang itu bukan lain adalah Hoa In-liong….

Sementara itu Hoa In-liong masih berdiri dengan senyuman dikulum, setelah berhasil membuka

kain cadar yang menutupi wajah nona itu, ia dapat menjumpai seraut wajah yang cantik jelita

bak bidadari dari kahyangan.

Tapi anehnya, gadis itu mempunyai raut waajah yang tujuh puluh persen mirip dengan wajah

ibunya yaitu Pek Kun gie.

Dengan perasaan tercengang dia lantas berpikir, “Seandainya aku tidak mengetahui lebih dulu

kalau paman Bong hanya mempunyai seorang putra saja, dan usianya sebaya dengan adik Wi,

mungkin aku bisa mengira perempuan ini sebagai familiku sendiri”

Nona berbaju putih itu tampak tertegun pula, tiba-tiba dia merasa pedang yang ditangan Hoa Inliong

sangat dikenal, tangannya segera meraba kebelakang bahu, ternyata entah sedari kapan

pedang nya sudah lenyap tak berbekas.

Dalam malu bercampur gusar, dia lantas berteriak keras, “Hayo cepat kembalikan kepadaku!”

“Haaahhh…. haaahhh…. haaahhh….baik, aku akan menurut perintah nona.

Sambil terbahak-bahak Hoa In-liong masukkan kipasnya kedalam saku, lalu pedang yang berada

ditangan kanannya itu diangsurkan ke hadapan sang nona.

Rupanya nona berbaju putih itu tak menyangka dia berani berbuat demikian, sebab dengan

ujung pedang tertuju pada dada sendiri sedang gagang pedang diberikan kepada musuhnya,

tindakan ini merupakan suatu tindakan yang berbahaya sekali, seandainya musuh berhasil

memegang gagang pedang itu lalu mendorongnya ke depan, maka walaupun seseorang memiliki

ilmu silat yang tinggi, belum tentu dia dapat meloloskan diri dari ancaman dengan mudah.

Rupanya nona itu menyangka Hoa In-liong hendak menipunya, untuk sesaat dia tak berani

menerima angsuran pedangnya itu.

Tunggu punya tunggu ketika dilihatnya nona itu tidak berani untuk menerima pedangnya juga,

Hoa In-liong segera menggelengkan kepalanya, samhil menghela napas, “Aaaai….benar-benar

tak kusangka kalau nona adalah seorang manusia bernyali tikus!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

718

Nona berbaju putih itu tak tahan mendengar hasutan, ia tertawa dingin, lalu dengan cepat

merebut kembali pedangnya, ternyata senjata tersebut dapat di ambil kembali dengan sangat

mudah.

Mula-mula ia rada tertegun, kemudian sambil menggetarkan pedangnya ia melancarkan sebuah

tusukan ke dada Hoa In-liong.

Sejak semula Hoa In-liong memang telah bersiap sedia, sambil tertawa terbahak-bahak dia

menyentil dengan jari tangan kirinya.

Secara tiba-tiba saja jalan darah Ci ti hiat di lengan kanan nona berbaju putih itu menjadi kaku,

pedangnya tak mampu dicekal lagi dan segera terjatuh ke tanah.

Dengan suatu kecepatan luar biasa, Hoa In-liong menggerakkan lengan kanannya, tahu-tahu

pedang itu kembali sudah berpindah tangan.

Kejut dan ngeri si nona baju putih itu menghadapi kejadian didepan mata, untuk sesaat dia tak

tahu apa yang musti dilakukan.

“Kalau berhati busuk dan jahat kedengaran Hoa In-liong membentak dengan marah, “orang

semacam kau tak bisa dibiarkan hidup terus!”

Cahaya putih berkelebat lewat, tahu-tahu pedang itu sudah menyambar dihadapannya.

Keadaan si nona baju putih itu boleh di bilang tersudut, dia tak mampu melakukan perlawanan

lagi, menghadapi kejadian semacam itu, dia hanya bisa pasrah, memejamkan matanya dan

menunggu saat kematian merenggut nyawanya.

Tapi…. ternyata tunggu punya tunggu tiada rasa sakit yang dirasakan, cepat dia membuka

matanya kembali, tampak Hoa In-liong berdiri dihadapannya dengan senyuman dikulum,

kipasnya sudah berada ditangannya kembali bahkan digoyangkan dengan santai, sementara

pedang mustika itu sendiri sudah lenyap tak berbekas, entah kemana larinya?

Sekali lagi dia meraba kepunggungnya, ternyata pedang tersebut sudah tersoien kembali di

dalam sarungnya.

Rupanya Hoa In-liong cuma ingin menakut-nakuti lawannya dengan gertakan sambal, padahal

maksud sebenarnya hanya ingin mengembalikan pedang itu ke dalam sarungnya.

Sekarang, si nona baju putih itu baru keder, dia merasa bulu kuduknya pada berdiri semua.

Kendatipun pedangnya berhasil direbut kembali, akan tetapi ia tak berani sembarangan bergerak,

ditatap nya Hoa In-liong dengan sinar mata ketakutan, jelas kelihatan kalau dia gugup, panik dan

sedikit gelagapan.

Padahal, berbicara yang sesungguhnya, ilmu silat yang dimiliki gadis itu terhitung kelas satu,

seandainya Hoa In-liong tidak mempersiapkan diri lebih dulu, sekalipun dia tak becus, juga tak

akan sampai menderita kekalahan sedemikian rupa.

Hoa In-liong mendekatkan kain cadar yang berhasil dirampasnya itu ketepi hidung, lantas dibau

nya sebentar, lalu dia mengeluarkan kertas dari sakunya dan dibau pula, akhirnya dia bergumam,

“Yaaa, tak salah lagi, baunya memang serupa!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

719

Nona berbaju putih itu dapat mengenali kertas tadi sebagai surat yang ia tinggalkan dalam kamar

penginapan, rasa malu dan marah segera bercampur aduk dalam perasaannya.

“Tak kusangka keturunan keluarga Hoa adalah manusia rendah yang tak tahu malu!” teriaknya.

Hoa In-liong tersenyum, pikirnya, “Rasain sekarang, baru tahu kalau aku orang she Hoa bukan

manusia yang bisa dipermainkan seenaknya sendiri….”

Kertas dan kain cadar itu dimasukkan kembali ke sakunya, lalu sambil memberi hormat kepada si

nona berbaju putih itu katanya, “Harap nona jangan marah, secara tiba-tiba saja aku teringat

dengan seorang sahabat karibku, maka bila ada perbuatanku yang kurang hormat, harap nona

bersedia memaafkan!”

Meskipun si nona baju putih itu tahu kalau lawannya hendak main setan dihadapannya, toh tak

tahan dia bertanya juga, “Sahabat karibmu itu bernama siapa? Macam apakah orangnya?”

“Aku sendiripun kurang begitu tahu tentang nama sahabat karibku itu” jawab Hoa In-liong

dengan wajah serius, “tapi….”

“Aaah…. kalau namanya saja tidak tahu, dari mana bisa dikatakan sebagai sahabat karib?” tukas

nona berbaju putih itu dingin.

“Yaa, aku memang tak tahu siapa namanya, tapi aku hanya tahu kalau dia adalah seorang nona

yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan!”

Merah padam selembar wajah si nona berbaju putih itu saking jengahnya, dengan marah dia

membentak, “Tutup mulut!”

Hoa In-liong pura-pura tertegun, lantas bertanya, “Eeeh…. aneh benar nona ini, apa yang

menyebabkan kau menjadi marah marah besar?”

Nona berbaju putih itu merenung sejenak, lalu katanya dengan dingin dan kaku, Eeeh…. mau

bunuh mau cincang silahkan kau lakukan dengan segera atas diriku, tapi kalau Cuma

mengumbar kata-kata yang tidak senonoh…. hmm! Tidak takutkah kau kalau perbuatan ini akan

menurunkan martabat dari keluarga Hoa sendiri?”

“Pintar betul perempuan ini bersilat lidah” pikir Hoa In-liong, “dia memang seorang musuh yang

tangguh!”

Maka sambil tertawa tergelak dia lantas menjura, ujarnya, “Teguran nona memang betul sekali,

bolehkah aku tahu siapa nama nona….?”

Nona berbaju putih itu termenung sebentar, kemudian jawabnya dengan dingin, “Dengarkan

baik-baik, aku bernama Gie Pek (rindu dengan Pek)!”

Terperanjat Hoa In-liong setelah mendengar nama itu, segera dia berpikir kembali, “Menurut

Gwakong, Hian-beng Kaucu kenal dengan mama, ooh…. jadi rupanya begitu! Sayang ayah tak

pernah menceritakan soal tersebut kepadaku, coha kalau tidak, mungkin dari kejadian-kejadian

masa lalu aku bisa meraba siapa gerangan Hian-beng Kaucu itu!”

Dalam hati dia berpikir demikian, diluar katanya lagi, “Lantas kau mengikuti nama marga yang

mana?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

720

“Nama margaku sama dengan nama guruku!” jawab nona itu ketus.

Hoa In-liong tertawa.

“Tolong tanya apakah gurumu berasal dari marga Cia?” desaknya.

Nona berbaju putih itu menggigit bibirnya kencang-kencang, dia membungkam dalam seribu

bahasa, Karena nora itu enggan menjawab, Hoa In-liong tidak mendesak lebih jauh, diapun

berkata, “Nona tempat seliar ini bukan tempat yang serasi untuk bercakap cakap, bagaimana

kalau kita kembali kerumah penginapan dan melanjutkan pembicaraan disana?”

“Dari sini menuju kerumah penginapan tersebut terlampau jauh, aku rasa tak usah?”

Hoa In-liong tersenyum.

“Tuan rumah yang baik akan berusaha memenuhi keinginan tamunya, baiklah, terserah kemauan

nona”

Kontan saja nona berbaju putih itu tertawa dingin.

“Heeehhh…. heeehhh…. heeehhh…. kalau kau ingin menjadi tuan rumah yang baik serta

berusaha memenuhi keinginan tamunya, biarkan siau li meninggalkan tempat ini”

Selesai berkata dia putar badan dan siap berlalu dari sana.

Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak, sekali lagi dia menghadang dihadapan nona itu.

“Tunggu sebentar nona!” serunya.

Nona berbaju putih itu memang sudah menduga kalau Hoa In-liong tak akan membiarkan dia

pergi dengan begitu saja, sambil menggigit bibir, tiba-tiba ia melancarkan serangan kilat untuk

menotok jalan darah Thian tee ditubuh anak muda itu.

“Haaahhh…. haaahhh…. haaahh…. nona memang kelewat kejam” ujar Hoa In-liong sambil

tertawa tergelak, “masa setiap serangan yang dilancarkan, tentu mengarah jiwa manusia!”

Dengan cekatan lengan kanannya diputar kebawah. Nona berbaju putih itu segera merasa

pergelangan tangannya mengencang dan tahu tahu sudah berada dalam cengkeraman Hoa Inliong.

Dia berusaha untuk melepaskan diri dari cengkeraman tersebut, sayang makin dia meronta

cengkeraman tersebut semakin mengencang hingga akhirnya ibarat jepitan besi, bagaimanapun

dia meronta, toh tak berhasil untuk melepaskan diri.

Merah padam selembar wajahnya karena jengah, dia lantas membentak dengan marah, “Lepas

tangan!”

Hoa In-liong terbahak-bahak, serunya, “Nona, engkau terlampau liar, kalau tak dikasih sedikit

pelajaran, bisa membahayakan jiwaku. Yaa, apa boleh buat, terpaksa aku harus menyiksa

sebentar diri nona,

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

721

Saking gemasnya, kalau bisa nona berbaju putih itu hendak menghadiahkan sebuah tendangan

ke tubuh lawan, tapi dia kuatir bila sampai berbuat demikian maka Hoa In-liong akan semakin

membuat dia malu….

Terbayang kembali semua kejadian yang dialaminya, nona itu mulai menyesal, dia menyesal

kenapa tak mau menuruti nasehat gurunya, coba dia mau menuruti perkataan gurunya dan tidak

bersikeras datang kemari untuk mencoba kekuatan Hoa In-liong, tak mungkin dirinya akan

dipermalukan oleh anak muda tersebut.

Tiba-tiba Hoa In-liong melepaskan tangannya, lalu berkata, “Nona, bagaimana kalau kita

membicarakan persoalan ini secara baik-baik saja tanpa menggunakan kekerasan?”

“Huuuh….siapa yang kesudian disebut kita bersama manusia macam kau?” protes nona itu

marah.

Hoa In-liong tertawa tergelak .

“Haaahhh…. haaahhh…. haaahhh…. baik, baiklah, bagaimana kalau kau dan aku berbicara secara

baik-baik?”

Nona berbaju putih itu mendengus, sambil meraba pergelangannya yang bekas dicengkeram itu

dia ambil sikap acuh tak acuh.

Diam diam Hoa In-liong tertawa geli, dari sakunya dia mengeluarkan selembar saputangan, lalu

ditebarkan diatas sebuah batu yang bidang, sesudah itu sambil menggerakkan tangannya

membuat gerakan mempersilahkan dia berkata, “Silahkan duduk nona manis!”

Setelah berulang kali menemui kegagalan, hilang sudah kepercayaan nona itu terhadap

kemampuan sendiri, dia tahu kaburpun tak ada gunanya, maka tanpa membantah dia duduk

diatas batu tersebut.

Hoi In liong sendiri juga mencari sebuah batu dan duduk seadanya.

Menyaksikan sikap sianak muda tersebut, walaupun dihati kecilnya nona itu tertawa dingin, toh

hatinya tergerak juga.

Dalam pada itu, Hoa In-liong telah berkata kembali setelah berpikir sebentar, “Ketika berada di

kota Lam-yang tempo hari aku pernah berjumpa dengan seorang nona yang usianya hambir

sebaya dengan nona, dia mengenakan baju warna ungu dan membawa sebilah pedang pendek,

kemauapun dia pergi, pelayannya yang bernama Si Nio selalu mendampinginya….”

“Oooh…. kau maksudkan Siau Leng jin si budak ingusan itu?” tukas si nona tak sabaran.

Sungguh gembira hati Hoa In-liong setelah tanpa sengaja mendapat tahu nama dari nona baju

ungu itu, dia tertawa.

“Mungkin memang dia orangnya, apakah nona kenal baik dengan dia?” kembali dia mendesak

Rupanya si nona berbaju putih menyadari kalau ia salah berbicara, cepat serunya dengan ketus,

“Maaf, aku tak dapat memberitahukan kepadamu!”

“Wah, kalau didengar dari nadanya, jangan-jangan diantara mereka mempunyai permusuhan?”

pikir Hoa In-liong.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

722

Tentu saja ingatan tersebut tidak diutarakan keluar, sambil tertawa katanya kemudian, “Kalau

dugaanku tidak keliru, suhu nona pastilah Hian-beng Kaucu si ketua dari perguruan neraka itu,

boleh aku tahu siapa nama gurumu?”

“Tidak boleh!” jawaban nona itu lebih ketus.

Keketusan yang berulang kali tidak merubah sikap Hoa In-liong yang ramah, sekulum senyuman

tetap menghiasi bibirnya.

“Konon perkumpulan Hian-beng-kauw mempunyai jago silat yang tak terhitung jumlahnya,

apakah kau bersedia menyebutkan satu dua orang di antaranya sehingga menambah

pengetahuanku?” kembali pintanya.

“Hmm! Jangan mimpi!” tukas si nona sambil mencibirkan bibir.

“Boleh aku tahu permusuhan apa yang terikat antara suhumu dengan keluarga Hoa kami?”

Ketika mendengar pertanyaan tersebut, tiba-tiba hawa napsu membunuh memancar keluar dari

mata nona baju putih itu cuma mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.

“Waaah….celaka ini!” lagi-lagi Hoa In-liong berpikir, “dilihat dari cemberutnya, jelas rasa benci

mereka sudah merasuk sampai ke tulang sumsum, cuma herannya dendam apakah itu? Kenapa

mereka bisa mengikat dendam sedalam lautan dengan keluarga Hoa?”

Berpikir sampai disitu, maka dia mengalihkan kembali pokok pembicaraan….

“Nona, beberapa orang Ciu Hoa yang berkeliaran dalam dunia persilatan apakah merupakan

kakak seperguruanmu?” ia bertanya.

Si nona baju putih tertawa dingin.

“Heeehhh…. heeehh…. heeehhh…. sayang kau tak sampai mampus dibunuh mereka!”

Jilid 36

“HAAAHHH….HAAHHH….HAAHHH…. aku lihat ilmu silat yang dimiliki suheng-suhengmu masih

terpaut jauh bila dibandingkan ke pandaian nona, nona saja sudah berbelas kasihan kepadaku,

apalagi subeng-suhengmu itu….Huuh, memangnya mereka bisa apakan diriku”

“Hei, siapa yang berbelas kasihan kepadamu?” teriak si nona dengan marah, merah jengah

selembar pipinya.

“Haaahhh….haaahhh….haaahhh….betul-betul memang bukan berbelas kasihan, tapi nona kan

sudah mengalah kepadaku bukan?”

Si nona baju putih itu tertunduk ketus, dia membungkam dalam seribu bahasa.

Diam diam Hoa In-liong coba putar otak serta menganalisa semua keadaan yang dihadapinya, ia

merasa peristiwa pembunuhan atas diri Suma Tiang-cing dan asal usul ketua Hian-beng-kauw

hanya bisa diketahui dari mulut sinona berbaju putih ini, sudah barang tentu ia tak sudi

melepaskan mangsanya dengan begitu saja.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

723

Sekalipun ia pingin cepat-cepat mengetahui keadaan sebenarnya, Hoa In-liong pantang memaksa

dengan kekerasan, ia tak tega berbuat begini terhadap seorang nona cantik seperti gadis berbaju

putih ini.

Tentu saja diapun sadar bahwa gadis itu terlampau keras kepala, biasanya orarg yang keras

kepala pantang diajak bekerja sama, namun Hoa In-liong tidak putus asa, dia adalah seorang

pemuda yang cerdik dan cekatan, tiada persoalan di dunia ini yang bisa menyulitkan dirinya.

Hanya sebentar saja dia termenung, sebuah akal bagus telah didapatkan, bibirnya lantas

bergetar hendak melaksanakan siasatnya itu.

Namun sebelum rencananya itu terlaksana, mendadak dari tempat kejauhan terdengar seseorang

berteriak keras, “Hei….anak liong!”

Hoa In-liong tertegun, pikirnya, “Heran, siapa yang lagi memanggilku?”

Lantaran keheranan maka diapun berpaling.

Sang surya sudah tenggelam di langit barat, pelangi yang indah menghiasi cakrawala dunia,

pemandangan ketika itu sangat indah dan mempesona.

Diantara pantulan sinar kelabu ditengah senja tampaklah beberapa sosok bayangan manusia

berlarian datang dari tempat kejauhan.

Tenaga dalam yang dimiliki Hoa In-liong sekarang cukup sempurna, meskipun suasana telah

berubah menjadi remang-remang, namun cukup dalam sekilas pandangan ia telah melihat bahwa

orang-orang tersebut adalah tiga orang gadis berdandan suku Biau.

Ketika itu, si nona baju putih ikut pula menengadah, tapi ia tidak melihat dengan jelas siapa

pendatang tersebut.

Tiba-tiba ia menyaksikan Hoa In-liong melonjak kegirangan, kemudian kedengaran pemuda itu

bersorak sorai, “Hei Toa kokoh, ji kokoh, sam kokoh kenapa kalian muncul semua di daratan

Tionggoan?”

Ketika mendengar teriakan tersebut bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya, ketiga

orang itu bergerak menghampiri ke arahnya.

Ketika sianak muda itu berdiri membelakangi, diam-diam sinona baju putih berpikir, “Bila

kumanfaatkan kesempatan yang baik ini dengan melancarkan serangan maut, aku yakin jurus

Teng liong kui ci (naga sakti sembilan menukik) cukup membuat dia koit, hmmm….konon kungfu

yang dimiliki Hoa In-liong lihay sekali, aku tak boleh sembarangan bergerak, bisa bisa malah aku

sendiri yang kena terhajar….”

Lantaran berpendapat demikian, maka rencana yang telah dipersiapkan segera dibatalkan

kembali.

Dalam pada itu, beberapa sosok bayangan manusia tadi sudah makin mendekat, sekarang nona

itu dapat menyaksikan dandanan mereka dengan amat jelasnya.

Ternyata pendatang tersebut adalah perempuan-perempuan suku Biau yang cantik jelita, mereka

bertubuh setengeah telanjang, kaki dan tangannya yang putih mulus tertera nyata sekali,

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

724

terutama bagian payudaranya yang setengah menongol keluar bikin hati orang bergairah saja

rasaaya….

Sementara si nona masih melamun, Hoa In-liong telah memberi bisikan kepadanya dengan ilmu

Coan im mi (Ilmu Menyampaikan Suara).

“Nona, ketahuilah bahwa ketiga orang bibiku berasal dari wilayah Biau, mereka paling

mendendam terhadap segala kejahatan dan manusia manusia kaum sesat, bila ia sampai tahu

kalau kau adalah anggota Hian-beng-kauw, bisa jadi nyawamu akan direnggut. Maka demi

keselamatan jiwamu, bagaimana kalau untuk sementara waktu kau kuakui sebagai putri paman

Bong!”

Si nona berbaju putih yang berwatak tinggi hati dan keras kepala, sudah tentu tak sudi

menunjukkan kelemahannya didepan orang, ia tertawa dingin dan siap menolak kebaikan orang.

Tapi sebelum ia sempat mengucapkan sesuatu, Hoa In-liong telah berkata lagi, “Bagaimanapun

toh aku tidak menyuruh kau mengakui sendiri, biar aku yang berbicara bagimu!”

SESUNGGUHNYA masih banyak perkataan yang hendak diucapkan Hoa In-liong, akan tetapi

lantaran ketiga orang nyonya muda dari wilayah Biau itu sudah muncul di depan mata, mau tak

mau Hoa In Iiong musti membatalkan niatnya itu.

Sambil tertawa dia maju memberi hormat dan menegur, “Toa kokoh, kenapa kalian muncul di

daratan Tionggoan? Sesungguhnya kedatangan kalian karena apa7”

Jawab salah satu seorang nyonya berwajah cantik itu sambil tertawa, “Aku dengar kau terkena

racun ular keji yang amat jahat, sengaja kami datang kemari untuk menengok mu, baru masuk

daratan Tionggoan, kami sempat pula mendengar pergolakan yang telah terjadi dalam dunia

persilatan terutama perbuatan gilamu dikota Si ciu yang menantang tiga partai besar untuk

beradu tenaga, sebab itu kami menyusul kemari….!”

Nyonya suku Biau yang ada disebelah kiri tiba-tiba menarik nona baju putih itu sekejap,

kemudian bertanya, “Long-ji, siapakah dia?”

“Oooh….diakan putrinya paman Boag, bernama Bong Gi pek! Masa kokoh sekalian lupa?” jawab

Hoa In-liong cepat-cepat sambil tertawa menyengir kuda.

Lalu sambil menggape kepada sinona itu, katanya lagi, “Adik misanku Gi pek! Marilah

kuperkenalkan kalian, tiga orang ini adalah kokohku yang dikenal orang persilatan sebagai Biau

nia-sam sian (tiga dewi dari bukit Biau), menurut urutannya mereka adalah Lan hoa Siancu (dewi

bunga anggrek), Li hoa Siancu (dewi bunga lily) dan Ci wi Siancu (dewi bunga mawar),

kepandaian mereka adalah menggunakan racun tiada tandingannya didunia ini, jangan lewatkan

kesempatan ini untuk berkenalan dengan mereka”

“Eammm…. betul juga perkataannya, kenapa aku musti menelan kerugian yang ada didepan

mata?” pikir sinona baju putih itu dalam hati kecilnya.

Dengan lemah gemulai ia maju ke depan dan memberi hormat, lalu sapanya dengan suara yang

lembut, “Siancu cianpwe!”

Diam diam Hoa In-liong menghembuskan napas lega, ia tak mengira kalau akhirnya sinona mau

juga meuuiuti perkataannya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

725

Hakekatnya raut muka nona ini ada enam tujuh bagian mirip dengan wajah Pek Soh gie, isteri

Bong Pay, sebab itu Bian nia sam sian tak ada yang menaruh curiga terhadap keasliannya,

apalagi melihat kelembutan dan kesopanan sinona, mereka bertambah girang dibuatnya.

Dengan watak terbuka mereka yang tak pernah terikat oleh segala macam adat serta peraturan,

langsung saja Lan hoa siancu memeluk nona berbaju putih itu sambil tertawa.

“Waaah…. Kau memang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, persis sekali dengan potongan

muka ibumu, eeei….nona manis, berapa usiamu tahun ini?”

“Sudah ketemu jodoh belum?” seru Li hoa siancu pula sambil menarik tangan dan cekikikan.

Ci wi Siancu tak kalah, ujarnya cepat sambil tertawa, “Kalau belum punya jodoh, bagaimana

kalau kita bantu untuk mencarikan pasangan yang pantas? Cuma entah pemuda dari mana yang

punya rejeki untuk mempersunting gadis seperti kau?”

Begitulah, untuk sementara waktu Biau nia sam sian hanya merubung si nona baju putih sambil

cuat cuit berKicau tiada habisnya, ini membuat Hoa In-liong terisolir dan harus berdiri sendian di

samping.

Betapa jengah dan rikunya nona berbaju putih itu menghadapi peristiwa semacam itu, apa yang

mereka bicarakan adalah putri orang lain, bahkan menyinggung pula soa1 mencarikan jodoh,

sekalipun serba salah nona itu dibuatnya, tapi justru karena persoalan ini rasa dendam kesumat

yang tertanam dalam hatinya berubah menjadi lebih tawar dan menipis.

Ia tertunduk rendah-rendah dan malunya bukan main, bagaimana mungkin ia dapat menjawab

pertanyaan-pertanyaan tersebut?

Ketika matanya coba untuk melirik ke samping dan menyaksikan Hoa In-liong berdiri disitu

sambil tersenyum-senyum penuh kebanggaan, hatinya menjadi mangkel dan dongkolnya bukan

main, kontan saja ia perseni sebuah delikan mata kepadanya.

Hoa In-liong yang masih belum hilang sifat kekanak-kanakannya, menjadi sangat gembira ketika

dilihatnya nona tersebut melotot ke arahnya dengan wajah mendongkol, cepat diapun

mengerdipkan pula matanya.

Tentu saja Biau nia sam sian tidak mengetahui duduk perkara yang sebenarnya, dia masih

mengira muda-mudi itu sedang berlirik-lirikan mata tanda cinta.

Lan hoa Siancu segera berpikir, “Kalau dilihat dari hubungan mereka berdua tampaknya sudah

ada kecocokan diantara mereka, “hmmm…. ! Bong Gi pek memang seorang nona yang cantik

jelita, bak bidadari dari kahyangan, dia sangat cocok bila dijodohkan anak Liong….’.

Betul, Liong-ji adalah seorang bocah yang romantis dan banyak menyebarkan bibit cinta kemana

saja, penyakit jeleknya tentu sedikit banyak akan terobati bila di rumah sudah ada istri!”

Berpikir sampai disitu, timbullah niatnya untuk menjodohkan muda mudi itu.

Orang Biau adalah manusia manusia berjiwa hangat, biasanya apa yang dipikirkan segera

dilakukan, begitu pula dengan diri Lan hoa siancu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

726

Setelah mengambil keputusan, ia lantas mengerling sekejap kearah Li -hoa Siancu dan Ci wi

Siancu, lalu sambil lepas tangan katanya, “Kalian berbincang-bincanglah, aku hendak berbicara

sebentar dengan Liong ji”

Biau nia sam sian memang mempunyai hubungan batin yang erat, apalagi Li hoa siancu dan Ci

wi siancu memang mengandung maksud yang sama setelah bertemu deegan nona berbaju putih

itu, maka sambil tersenyum mereka menarik sinona kesamping dan diajak berbincang-bincang.

Untungnya mereka sudah lama dan terbiasa bergaul dengan orang orang Tionggoan, mereka

tahu gadis-gadis bangsa Han paling pemalu terutama dalam soal jodoh, hingga maksud hati

mereka tak sampai dikemukan secara terus terang.

Waktu itu Lan hoa siancu telah menarik Hou In liong untuk menyingkir dari sana, lalu dengan

wajah bersungguh-sungguh katanya, “Anak Liong!”

“Ada urusan apa toa kokoh?” jawab Hoa In-liong sambil tertawa, dia tak tahu permainan setan

apa yang sedang dipersiapkan para bibinya yang datang dari wilayah Biau ini.

Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benaknya, cepat dia membatin, “Waduh celaka! Janganjangan

kedatangan mereka untuk menyampaikan perintah dari nenek atau ayah yang

menitahkan aku segera pulang? Kalau sampai begini keadaannya, bisa rusak nama baikku!

Sekarang sandiwara baru saja dimulai, tapi kalau sampai terhenti ditengah jalan, semua orang

sudah pasti akan mencaci maki diriku habis-habisan!”

Sekalipun rasa kuatir hampir mencekam seluruh perasaannya, toh ia sempat bertanya juga.

“Apakah ada berita dari nenek atau ayah?” Lan hoa Siancu dapat merasakan ketenangan anak

muda itu, ia segera tertawa.

“Hei, tampaknya kalau begitu takut terhadap nenek dan ayahmu?”

Dari ucapan tersebut Hoa In-liong dapat menarik kesimpulan bahwa kedatangan bibi-bibinya

bukan untuk menyampaikan perintah nenek ataupun ayahnya, kenyataan ini menjadikan hatinya

lega sekali.

“Aaaai….kalau Liong-ji sih bukan takut sama nenek dan ayah saja, dengan bibi bertigapun aku

juga takut!” sahutnya sambil tertawa.

Kontan saja Lan hoa Siancu tertawa lebar.

“Hmmm….! Dasar bocah binal, dasar telur busuk kecil!”

“Toa kokoh, kenapa kau maki diriku?” keluh Hoa In-liong sambil gelengkan kepalanya dan

tertawa.

“Oooh….jadi kalau merasa tidak puas?” Lan hoa Siancu mendelik lebar-lebar, “Hmm….!Kau

memang sibinal kecil, sitelur busuk kecil! Sedangkan bapakmu adalah sibinal gede, sitelur busuk

gede, siapa yang tidak puas dengan julukan ini?”

Yaa, pada hakekatnya hanya orang orang dari wilayah Biau saja yang berani mergucapkan katakata

semacan itu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

727

Banyak memang sahabat-sahabat karib Hoa Thian-hong, seakrabnya mereka bergaul toh

diantara masing-masing pihak selalu berusaha menjaga gengsi serta martabat masing-masing,

lagipula jelek-jelek begitu Hoa Thian-hong adalah seorang tokoh yang mempunyai kedudukan

tinggi dalam dunia persilatan, bersikap agak berayal saja tak berani apalagi mencaci maki

dirinya….?

Diantara sekian banyak orang di dunia ini, hanya kawanan murid dari Kiu tok sian ci yang

mempunyai pergaulan sangat akrab dengan Hoa Thian-hong, soal goda-menggoda, caci-mencaci

dan cemooh mencemooh sudah merupakan kebiasaan diantara mereka, kedua belah pihak

sama-sama tak mempunyai pantangan, sebab itu apapun juga tiga orang perempuan suka Biau

ini berani mengutarakannya.

Hoa In-liong gelengkan kepalanya sambil tertawa.

“Baik, baik, aku takluk!” Aku takluk! Kalau Toa kokoh ada perkataan, katakanlah dengan cepat”

katanya.

“Kalau sudah takluk! kenapa masih juga menggelengkan kepala?” seru Lan hoa siancu.

Sebab bila toa kokoh tidak ada persoalan lain koponakan masih harus membereskan persoalan

pribadiku!”

Agaknya Lan hoa siancu memang rada kewalahan menghadapi keponakannya ini, ia sedikit tobat

menghadapi tingkah lakunya yang binal, maka ujar nya kemudian, “Mau menuruti perkataan toa

kokoh tidak?”

“Mau! Mau! Tentu saja mau!” jawab Hoa In-liong sambil manggut-manggut cepat.

Lan hoa siancu ikut manggut-manggut.

“Bagus sekali kalau kau bersedia….”

Setelah berhenti sebentar, katanya lagi dengan wajah serius, “Maksud toa kokoh, usiamu tahun

ini sudah tidak kecil, kalau setiap hari kerjamu hanya seperti kuda liar yang lari kesana lari

kemari….”

Sebelum ucapan tersebut selesai diutarakan, Hoa In-liong telah menebak apa tujuan bibirnya ini,

cepat dia goyangkan tangannya berulang kali.

“Usia keponakan masih terlampau muda, lebih baik soal itu dibicarakan beberapa tahun lagi!”

tukasnya sambil tertawa, “Eeeh….kurangajar, kau berani membangkang perintahku? Minta

digebuki pantatmu?” teriak Lan hoa Siancu marah-marah.

“Kalau toa kokoh ingin menggebuk pantatku, silahkan saja digebuk, tapi yang pasti keponakan

tak dapat menuruti perintahmu”

Lan hoa Siancu memutar biji matanya dan berpikir sebentar, lalu katanya lagi, “Kalau kau berani

berterus terang dihadapannya dan berkata kalau kau tidak tertarik kepadanya, tentu saja toa

kokoh tidak akan banyak bicara lagi, karena banyak berkatapun tak ada gunanya, sebaliknya

kalau tidak berani maka kau harus menuruti perkataanku, bagaimana? Berani tidak….?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

728

Melihat itu, Hoa In-liong segera berpikir dalam hatinya, “Kalau dilihat dari sikapnya yang begitu

kukuh rupanya keinginannya untuk menjadi mak comblang sudah amat berkobar, yaaa….aku

musti mencari akal bagus untuk melenyapkan niatnya itu”

Terbayang sampai kesitu, tiba-tiba saja bayangan tubuh dari Coa-Wi-wi melintas kembali dalam

benaknya.

Sementara dia masih melamun, Lan hoa Siancu telah berseru sambil mencibirkan bibirnya,

“Huuuh….coba libat tak nyana kalau nyalimu sekecil ini, untuk mengakui urusan sekecil inipun

tak berani”

Hoa In-liong tidak langsung menjawab, ia termenung dan berpikir sebentar, lalu setelah

mengambil keputusan baru katanya, “Baiklah toa kokoh coba kau sebutkan siapa orangnya?”

“Waaah….kalau kulihat dari kekukuhanmu, rupanya hubungan cinta kalian berdua sudah terikat

semenjak dulu-dulu….atau mungkin maksud toa kokoh menjadi mak comblang hanya suatu

perbuatan yang berlebihan saja….?” kata Lan hoa Siancu sambil tertawa.

Tentu saja Hoa In-liong tidak mengerti siapa yang dimaksudkan, ia merasa kebingungan dan

tidak habis mengerti.

“Tapi yang jelas dia bukan maksudkan adik Wi!” demikian pikirnya.

Maka diapun bertanya dengan keheranan, “Hei toa kokoh! Sebetulnya siapa yang kau

maksudkan?”

“Ciiisss….! Tak usah berlagak bodoh, aku percaya dengan kecerdasanmu bisa kau tebak siapa

gerangan orang yang kumaksudkan?”

“Toa kokoh artikan….”

“Tentu saja dia yang kumaksudkan!” sambil manggut-manggut Lan-hoa Siancu menuding kearah

sinona baju putih yang sedang berdiri bersama-sama kedua orang adik seperguruannya itu.

Hoa In-liong tertegun lalu menyengir kuda, ia benar-benar dibuat menangis tak bisa tertawapun

sungkan, pikirnya, “Sialan, kau anggap siapakah nona itu? Dia adalah muridnya Hian-beng-kauw,

murid musuh besar keluarga kita! Jangan toh perkenalan baru berlangsung selama dua jam,

sampat sekarangpun belum kuketahui siapa namanya, Huuh….! Kalian memang terlalu

membayangkan hal-hal yang terlalu muluk”

Begitulah kalau kesalahan paham telah terjadi, Hoa In-liong tahu kalau nona baju putih itu

sebagai muridnya ketua Hian-beng-kauw, tentu saja ia pun menyadari bahwa perjodohan

diantara mereka tak bakal sampai terjadi….

Sebaliknya Biau nia sam sian mengira nona baju putih itu sebagai putrinya Bong Pay, dari sikap

sinona dengan Hoa In-liong mereka menganggapnya sebagai sepasang sejoli yang sudah bergaul

intim, maka timbullah riat mereka untuk memperjodohkan kedua orang itu.

“Hei telur busuk kecil” bentak Lan hoa Siancu tiba-tiba, “bagaimana pendapatmu?”

Hoa In-liong tidak langsung menjawab, diam-diam pikirnya, “Kalau kubiarkan kau berterus terang

kepadanya, dalam gusar dan malunya tentu ia akan mengemukakan asal usulnya yang

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

729

sebenarnya, haaahh….haaa….haaahh….waktu itulah pasti akan muncul adegan yang menarik

hati”

Bibirnya sudah bergetar siap mengemukakan maksud hatinya itu, tiba-tiba ingatan lain melintas

dalam benaknya, cepat ia berpikir lebih lanjut, “Tidak, tidak boleh! Kalau dia sampai

menyebutkan asal usulnya yang sebetulnya, soal lainnya masih mendingan, kalau sampai ketiga

orang bibiku mengumbar watak jeleknya dan mencoba untuk membereskan jiwanya….waah, bisa

berabe jadinya”

Timbul kesalahpahaman dihati Lan hoa Siancu setelah menyaksikan pemuda itu mengurungkan

niatnya untuk berbicara, ia mengartikan pemuda itu takut malu.

Maka sambil tertawa tergelak serunya, “Haaahh….haaahhh….haaahhh….rupanya kau-pun

mengerti malu? Kalau begitu biar toa kokoh yang mengutarakannya mewakilimu, setuju bukan?”

Habis berkata dia lantas putar badan dan menghampiri si nona berbaju putih itu.

“Eeeeh….eeeeehh….tunggu sebentar!” teriak Hoa In-liong sambil narik lengannya, “Ada apa

lagi?”

“Untuk menyelamatkan selembar jiwanya, terpaksa aku harus berbuat demikian” pikir Hoa Inliong,

Meski geli rasanya, ucapnya juga dengan wajah bersungguh sungguh, “Sayang tindakan

dari toa kokoh terlalu lambat”

“Apa maksudmu?” seru Lan hoa Siancu

Setelah memperhatikan pemuda itu sekejap, ujarnya lagi.

“Air mukamu segar, sirna sekali tidak mirip orang yang terkena racun ular keji, lagipula sewaktu

ayahmu terkena Racun teratai empedu api tempo hari, meski digembar-gemborkan kalau tak

bisa beristri dan punya anak, belum pernah kudengar kalau orang yang terkena racun ular keji

juga tak dapat beristri dan punya anak”

Hoa In-liong tersenyum.

“Kalau memang sudah tahu begini, apakah aku harus menerangkan lagi secara terperinci?”

Lan hoa Siancu tertawa lebar,

“Haahhh….haaahhh….haaahhh….kalau begitu aku harus mengucapkan selamat dulu kepadamu.

Selesai berkata ia putar badan dan siap berlalu dari situ.

“Eeeeh….tunggu sebentar!” teriak Hoa In-liong gelisah.

Dihampirinya Lan hoa Siancu, lalu bisiknya dengan lirih, “Jelek-jelek kau adalah toa suci nya

ibuku, apakah kau tidak takut dengan sifat pemalu dari gadis perawan bangsa Han?”

Lan hoa Siancu berpikir sebentar, lalu tertawa.

“Yaaaa….begitulah kalau suatu bangsa terlalu banyak mempunyai peraturan-peraturan yang

aneh padahal apa perlunya mesti malu-malu kucing? Toh akhirnya juga kawin? Baiklah daripada

mencari penyakit buat diri sendiri, lebih baik aku tidak akan melakukan pekerjaan ini lagi”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

730

Tiba-tiba dari depan sana kedengaran Li hoa Siancu berteriak keras, “Toa suci, sudah selesai

belum pembicaraannya?”

“Sudah, dan rupanya kita tak perlu repot-repot lagi” jawab Lan-hoa Siancu sambil berpaling.

Kebetulan Ci wi Siancu sedang bercakap-cakap dengan kepala tertunduk, ketika mendengar

perkataan itu ia lantas menengadah dan bertanya dengan keheranan, “Hei, apa maksudmu?”

Si nona berbaju putih itu ikut dibuat kebingungan, dengan wajah tercengang ia menengadah.

Hoa In-liong kuatir Lan hoa siancu tak dapat pegang rahasia hingga salah bicara, cepat cepat

timbrungnya, “Ji kokoh, sam kokoh, kalau masih belum jelas maka ingatlah akan ibuku kalian

tentu akan mengerti dengan sendirinya”

Mula-mula Li hoa Siancu dan Ci wi Siancu tertegun, tapi menyusul kemudian biji mata mereka

berputar putar, tampaknya mereka sudah menjadi paham dengan duduknya persoalan.

Kemudian Hoa In-liong berkata dengan gelisah, “Bukankah kalian tahu bahwa ibuku halus lembut

dan kalem?”

Si nona baju putih itu tercengang dan tidak habis mengerti, ia tak tahu kenapa pemuda tersebut

berulang kali menyinggung tentang ibunya.

Terdengar Li hoa siancu berkata sambil tertawa, “Yaa….yaa….kami sudah tahu kalau kalian

bangsa Han mempunyai pelbagai adat istiadat yang aneh dan tak masuk diakal, kami tak akan

berbuat tolol, kau tak asah kuatir”

Sudah barang tentu gadis berbaju putih itu makin kebingungan dibuatnya, sebentar ia

mengawasi wajah Hoa In-liong, sebentar lagi mengawasi Biau nai sam sian, hakekatnya ia tidak

mempunyai dendam secara langsung dengan ketiga orang dewi dari suku Biau itu. Apalagi

hakekatnya kemesrahan mereka telah mengharukan hatinya yang sedang kesepian.

Kesemuanya ini membuat sikapnya terhadap Biau nia sam sian cukup ramah, malahan sedikit

kelihatan hangat dan mesrah, dia sendiripun tidak ingin membongkar rahasia dengan

mengatakan bahwa dia bukan putrinya Bong Pay.

Diam-diam Hoa In-liong tertawa geii menyaksikan sikap bibi bibinya itu, pikirnya, “Siapa bilang

kalian tidak goblok? Justru saking tololnya kalian sudah keblinger….”

Sepanjang hidupnya belum pernah ia lakukan perbuatan selucu hari ini, makin dibayangkan

pemuda itu merasa makin geli sehingga hampir saja ia tergelak gelak, meski suara tertawanya

berhasil diken-dalikan, toh wajahnya tampak berseri.

Tiba tiba ia mendengar Ci wi Siancu berseru sambil tertawa, “Bong Gi pek, kiong bie yaa

untukmu!”

Si nona baju putih itu tertegun, ia melongo dan tak tahu apa yang musti diucapkan.

Mengetahui kalau rencananya nyaris mengalami kegagalan total, Hoa In-liong gelisah sekali,

segera teriaknya keras keras, “Sam kokoh….!”

“Aah, kau tak usah kecewa!” tukas Ci wi Siancu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

731

Cepat ia berpaling kearah si nona baju putih itu dan bertanya sambil tertawa, “Beritabu

kepadaku, kapan baru diadakan?”

Si nona baju putih itu bukan seorang gadis bodoh, ia terhitung seseorang yang berotak cerdas

dengan cepat dapat tertebak olehnya apa gerangan yang sedang terjadi, kontan saja pipinya

bersemu merah karena jengah, tiba-tiba ia melengos dan memandang kearah lain.

Betapa leganya Hoa In-liong karena gadis itu tidak marah, pikirnya, “Waahh…. kalau dilihat

situasinya sekarang, jelas aku tak bisa mendesaknya untuk menanyakan asal asul Hian-bengkauwcu

serta peristiwa terbunuhnya Suma Siok ya”

Ketika gadis itu melengos kearah lain dan Hoa In-liong memandang wajahnya dari samping,

mendadak pemura itu merasa wajahnya seperti pernah ditemuinya dulu, cepat otaknya berputar.

Setelah pikir punya pikir akhirnya pemuda itu baru teringat, rupanya gadis itu bukan lain adalah

penunggang kuda yang pernah ditemuinya bersama Thia Siok bi tempo hari sewaktu mereka

bersantap dalam sebuah warung makan ditengah hutan.

“Kalau begitu, gurunya Wan Hong giok pasti mempunyai hubungan yang akrab dengan Hianbeng-

kauw, soal ini harus kuselidiki sampai jelas” pikirnya kemudian.

Sementara itu si nona baju putih juga sedang berpirir, “Kalau tidak pergi sekarang, sampai kapan

baru akan angkat kaki?”

Tiba-tiba ia memberi hormat kepada Biau nia sam sian, katanya, “Cianpwe bertiga….”

“Panggil kami Siancu, jangan sebut cianpwe….” teriak Ci wi Siancu dengan cepat.

Nona berbaju putih itu tersenyum.

“Siancu cianpwe….”

“Bosan!” omel Li hoa Siancu dengan dahi berkerut, “kenapa kata cianpwe selalu tergantung di

ujung bibirmu?” Memangnya kami sudah tua sekali sehingga bertampang cianpwe?”

Nona baju putih itu tertawa geli, pikirnya, “Kalau dilihat dari sikap kalian yang haha hihi melulu,

sudah tentu tidak mencerminkan sikap seorang cianpwe”

Tanpa terasa ia berpaling ke arah Biau Nia sam sian dan mengamati wajah mereka dengan

seksama, ia merasa ketiga orang perempuan itu masih tampak segar dan cantik lagi, sama sekali

tidak menujukkan tanda-tanda ketuaannya.

Kembali Lan hoa Siancu tertawa.

“Tidak kau sangka bukan?” katanya, “sudah hampir tiga puluh tahun lamanya nama kami

tersohor dalam dunia persilatan, coba tebak berapa umurku tahun ini?”

“Mana aku tahu? Mau ditebak juga susah rasanya” pikir nona berbaju putih itu.

Karenanya dia lantas menggelengkan kepalanya berulang kali.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

732

Li hoa Siancu menggenggam tangannya erat-erat, lalu katanya sambil tertawa, “Si nenek Lan

hoa Siancu sudah berusaha lima puluh tujuh tahun, pingin belajar tidak dasar tenaga dalam suku

Biau kami? Kalau mau, segera akan kuajarkan kepadamu, hitung-hitung anggap saja sebagai

tanda mata dalam pertemuan kita kali ini”

Selesai berkata ia lantas menutup mulutnya dan tertawa.

“Yaa…. cuma sayang Hong-ji keberatan untuk melepaskan siau-long” tiba-tiba Ci wi Siancu

menambahkan.

Nona berbaju putih itu tak tahu apa yang dia maksudkan, sepasang matanya dibelalakkan besar

kemudian dialihkan keatas wajah Ci wi Siancu.

“Masa kau tidak tahu? Hong-ji kan ibunya” kata Ci wi Siancu sambil tertawa. “Dan ibunya adalah

murid paling buncit dari guruku, dia adalah sumoay kami terkecil. Aaai…. Hong-ji memang

berhati lembek, kalau tidak tahu mungkin ibunya anak Liong bisa kawin dengan bapaknya

sekarang, dan jika perkawinan itu tidak terlaksana, otomatis didunia ini tak nanti akan bertambah

dengan seorang Hun si Mo-ong raja iblis pengacau jagad semacam dia itu”

Seraya berkata ia mengerling sekejap kearah Hoa In-liong dan tertawa lebar.

“Aaai….! Kalian ini memangnya telah menganggap dia sebagai siapa….?” pikir Hoa In-liong.

Tiba-tiba ia merasa bahwa guraunya terlalu berlebihan, andaikata rahasia ini sampai terbongkar

mungkin saja Biau nia sam sian tak akan mengampuninya dengan begitu saja.

Si nona berbaju putih itu dibuat setengah mengerti setengah tidak, tapi yang pasti perasaannya

waktu itu benar-benar terharu, maka sesudah tertegup sejenak bisiknya dengan nada lirih,

“Boanpwe….boanpwe ingin….mohon diri….”

“Apa kau bilang? Mau mohon diri?” seru Lan hoa Siancu tertegun.

Cepat ia berpaling ke arah Hoa In-liong dan memandangnya dengan keheranan.

Keinginan gadis tersebut justru merupakan pucuk dicinta ulam tiba bagi Hoa In-liong, sebab

keadaannya pada saat ini sangat tidak menguntungkan, ia tak ingin rahasia gadis itu ketahuan,

tentu saja satu-satu jalan untuk menghindari kesemuanya itu adalah berharap agar nona baju

putih itu secepatnya meainggalkan tempat tersebut.

“Sekalipun aku sangat membutuhkan kabar berita dari mulutnya, toh tak usah dilakukan pada

saat ini juga” demikian pikirnya. Maka dengan suara lantang diapun berseru, “Adik misanku Gi

pek, bila kau hendak menyelesaikan urusanmu, pergilah sekarang juga tinggalkan tempat ini”

Biau nia sam sian kembali salah mengertikan ucapan itu, mereka mengira kedua orang itu

merasa terganggu karena kehadiran mereka disana, maka dengan mengucapkan kata-kata itu

justru sedang menjanjikan tempat pertemuan ditempat lain.

Karenanya mereka cuma bertukar pandangan sekejap dan tidak menahan lebih lanjut, malah

sambil tersenyum mereka mengucapkan kata kata perpisahan….

Sampai disitu, Hoa In-liong pun harus berbisik kepada si nona berbaju putih itu dengan ilmu

menyampaikan suara, “Kau jangan terlalu bangga, ketahuilah lain kali tidak akan seenak apa

yang kau alami sekarang”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

733

Nona berbaju putih itu belum cukup sempurna untuk berbicara menggunakan ilmu

menyampaikan suara, ia tidak bisa berbuat lain kecuali tertawa dingin tiada hentinya, cepat dia

putar badan dan berlalu dari sana.

Dalam waktu singkat, bayangan tubuhnya yang ramping semampai sudah lenyap dibalik

kegelapan sana.

“Hei, apanya yang menggelikan?” tiba-tiba Lao hoa Siancu menegur dengan suara lantang.

Rupanya setelah bayangan tubuh si nona baju putih itu lenyap dari pandangan mata, Hoa Inliong

tak dapat menahan rasa gelinya lagi, kontan saja ia menengadah sambil tertawa terbahakbahak.

Sebesarnya ia bermaksud membongkar rahasia itu sesuai ter tawanya, tapi ingatan lain dengan

cepat melintas dalam benaknya, pikirnya, “Daripada membongkar rahasia, lebih baik

kurahasiakan dulu untuk sementara waktu”

Sambil tersenyum dia berkata, “Bibi bertiga, bagaimana kalau kita duduk-duduk dalam

penginapan yang keponakan sewa itu?”

“Rumah penginapan toh bukan rumahmu, buat apa kita musti berkunjung kesitu?” tukas Li hoa-

Siancu.

Dengan wajah serius Ci wi Siancu berkata pula, “Aku dengar kau sudah terkena racun keji ular

sakti, bagaimana perubahannya? Atau mungkin sudah kau punahkan sama sekali?”

“Ooooh….belum, belum sampai punah sama sekali” sahut Hoa In-liong tawar, “seorang cianpwe

berhasil mendesak sari racun itu ke dalam jalan darah Liong gan hiat dengan mengandalkan

tenaga dalamnya yang sempurna….!”

Lan hoa Siancu menangkap pergelangan tangan kirinya, lalu meminjam cahaya bintang ia periksa

ibu jarinya, benar juga di ujung jari tangan anak muda itu masih kelihatan sebuah benjolan putih

sebesar biji beras.

Menyaksikan hal itu, Lan hoa Siancu berkata dengan dahi berkerut, “Kalau begitu, cianpwe yang

menolongmu itu cuma sok baik saja, sebab dia menolong orang cuma menolong sampai tengah

jalan, coba kalau ia lakukan pengobatan beberapa jam lagi, niscaya seluruh sari racun itu

berhasil didesak keluar….ketahuilah nak, menyimpan bibit penyakit tersebut dalam tubuh benarbenar

merupakan suatu tindakan yang amat besar resikonya.”

“Li hoa Siancu serta Ci wi Siancu semuanya menguatirkan keselamatan pemuda itu, cepat

mereka berkerumun ke muka.

Hoa In-liong kuatir kalau ketiga orang bibinya mengeluarkan kata-kata yang merugikan nama

baik Goan cing taysu, karena itu sebelum mereka sempat berbuat sesuatu, ia telah mendahului

sambil tersenyum, “Aku pikir, aku ingin memunahkan sendiri sari racun tersebut, sekalian untuk

melatih pula tenaga dalamku”

Seraya berkata ia menarik kembali pergelangan tangannya.

“Hmmm….! dasar bocah binal….” keluh Li hoa Siancu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

734

Hoa In-liong tersenyum.

“Kokoh bertiga, bagaimana keadaan Sian nio orang tua? Baik-baiklah beliau? Dan bagaimana

pula dengan bibi lainnya?”

Lan hoa Siancu ikut tertawa.

“Keadaan dia orang tua masih juga seperti sedia kala, cuma berapa macam tugas dalam gua

telah diarahkan kepada kami beberapa orang bersaudara….”

Setelah berhenti sebentar, ujarnya lagi sambil tertawa, “Beberapa orang bibimu sebetulnya ingin

ikut kami menengok ibumu di perkampungan Liok soat san ceng, oh betapa gemasnya mereka

kepadaku setelah aku tidak menyetujui keinginan mereka itu.

“Sekarang bibi sekalian tinggal dimina? Kalau tiada urusan lain, bagaimana kalau tinggal saja

beberapa hari di kota Si ciu ini sekalian membantu keponakan untuk meramaikan suasana”

“Hmm….! Kau sudah menyebarkan issu dan kabar bohong di kota Si ciu hingga banyak orang

kebingungan dan kelabakan, dan sekarang, kau mau mencoba menyeret kami mencebur

kedalam air keruh?” seru Ci-wi Siancu.

“Betul, apalagi kita masih ada urusan lain” sambung Li hoa Siancu, “biarlah kami mohon diri lebih

dulu, bebarapa hari lagi pasti akan kami tengok kembali dirimu”

Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak, cepat dia memberi hormat sebagai tanda perpisahan.

Hakekatnya, tujuan terutama dari kedatangan Biau nia sam sian di kota Si ciu adalah memeriksa

keadaan Hoa In-liong setelah mereka tahu jika keponakannya terkena racun ular sakti penggigit

hati dari pihak Seng sut pay.

Tapi setelah mereka tahu bahwa keadaan Hoa In-liong tak ada halangan, tentu saja mereka

bermaksud untuk mohon diri, sekalipun yang dimaksudkan urusan oleh mereka tak lehih adalah

mencari balas dengan pihak Mo kau serta berkunjung ke bukit Im tiong san uniuk berbincang

bincang dengan Chin si hujin dan Hoa Thian-hong.

Begitulah, sepeninggal Biau nia sam sian, Hoa Inliong kembali kerumah penginapan Thian hok,

ketika masuk diruang tengah tiba-tiba ia jumpai Kongsun Peng serta beberapa orang pemuda

duduk diruang tengah, hal ini membuat hatinya agak tertegun.

Setelah dia masuk kedalam ruangan, para jago segera bangkit seraya memberi hormat, lalu

dipimpin oleh Kongsun Peng katanya, “Sesungguhnya tidak pantas kami datang mengganggu

ketenangan Hoa kongcu, apalagi dalam suasana yang serba sibuk dan banyak urusan lain”

“Kalian tak perlu sungkan sungkan” jawab Hoa In Hong sambil tersenyum dan balas memberi

hormat, “boleh aku tahu, ada urusan apa Kongsun heng datang kemari?”

Matanya pelan pelan menyapu sekejap sekeliling ruangan, ia lihat berikut Kongsun Peng

seluruhnya berjumlah empat orang, dua diantaranya menggembol pedang, sedang orang ketiga

adalah seorang pemuda berpakaian ringkas warna hitam yang pernah ikut buka suara sewaktu

diadakan perjamuan tadi.

Sementara itu Kongsun Peng telah menuding kearah pemuda baju hitam itu sambil

memperkenalkan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

735

“Dia adalah Tan Kiat kan!”

Kemudian sambil menuding dua pemuda yang menggembol pedang, katanya kembali, “Sedang

mereka adalah Oh Keng bun dua bersaudara!”

Tiga orang pemuda itu bersama-sama memberi hormat sambil berucap, “Selamat berjumpa!”

“Selamat berjumpa!” jawab Hoa In-liong sambil balas memberi hormat.

Dari sikap maupun cara berbicara dua bersaudara Oh yang mantap dan penuh bertenaga, anak

muda itu mengerti bahwa tenaga dalam mereka jauh lebih sempurna bila dibandingkan Kongsun

Peng maupun Tan Kiat kan.

Terdengar Kongsun Peng berkata lagi, “Kami mengerti kalau ilmu silat yang dimiliki terlampau

rendah, tak mungkin bisa menyumbangkan tenaga kami untuk melakukan pekerjaan besar,

maklumlah kongcu, adapun kedatangan kami tak lain hanya ingin membantu kongcu dalam soalsoal

kecil, rasanya untuk memukul gembrengan menggoncangkan panji sambil berteriak, kami

masih mampu untuk melakukannya”

Mendengar itu, Hoa In-liong lantas berpikir, “Kehangatan mereka harus kusambut dengan

sewajarnya, sebab bila tawaran mereka sampai kutolak mentah-mentah, niscaya semangat

mereka akan merjadi kendor….”

Karena itu dia menjura sambil tertawa, katanya

“Kasih sayang saudara sekalian amat mengharukan hatiku, siaute tahu bila kebaikan saudara

kutolak dengan begitu saja, kalian tentu akan menuduh bahwa aku adalah orang yang tak tahu

diri….”

“Kalau memang begitu kebetulan sekali” seru Kongsun Peng kegirangan, “kami telah

menghubungi pula sekawanan jago-jago persilatan, mereka semua bersedia menyauabangkan

tenaga bagi Hoa-kongcu. kapan Hoa kongcu ingin berjumpa dengan mereka?”

“Yang dimaksudkan sebagai sahabat-sahabat karibnya tentulah sekawanan orang muda” pikis

Hoa In litong.

Sambil tersenyum ia berkata, “Buat siuate tentu saja makin cepat makin baik, entah sobat sobat

kalian itu sampai kapan baru ada waktu?”

Kemudian setelah berhenti sebentar katanya lebih jauh;

“Tujuan kita adalah menumpas kaum sesat dan kaum iblis bersama-sama, dalam usaha ini tiada

perintah merintah, kedudukan kita semua adalah sama, maka aku minta kata berbakti harap

jangan dipergunakan lagi….mengerti?”

Tiba-tiba Oh Keng bun berkata, “Hoa-kongcu, aku Oh Keng bun mempunyai beberapa patah

yang rasanya menganjal dalam tenggorokan bila tidak diutarakan keluar, bolehkah aku

mengucapkan sesuatu?”

“Katakanlah saudara Oh” sahut Hoa In-liong sambil menjura.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

736

“Menurut pendapatku, pepatah kuno pernah berkata: Ular tanpa kepala tak dapat berjalan,

begitu pula dengan kita jago-jago dari golongan putih, aku rasa dalam melaksanakan

pembasmian terhadap kaum sesat ini, kita harus mencari seseorang yang pantas untuk kita

angkat sebagai pemimpin rombongan, semua orang harus tunduk dibawah perintah orang itu,

sebab kalau tidak maka ibaratnya sebaskom pasir, mana mungkin kita bisa bersatu, dan apabila

tak dapat bersatu da-rimana mungkin kita bisa melakukan suatu pekerjaan besar, Maka kalau

berbicara orang yang berbudi, orang yang berilmu tinggi, orang yang luas pengetahuannya, tak

bisa lain kalau orang yang paling cocok adalah Hoa tayhiap, ayah kongcu. Walaupun demikian

bila kita tinjau dari kembali tindak tanduk Hoa kongcu selama ini dan ternyata dari pihak Liok

soat san ceng tidak memberikan reaksi apa-apa, semua orang bisa mengambil kesimpulan kalau

Hoa tayhiap telah mengundur-kan diri dan tak ingin mencampuri urusan dunia persilatan lagi!”

Mendengar sampai disitu, diam-diam Hoa In-liong berpikir, “Sekalipun mereka tidak tahu kalau

ayah mempunyai kesulitan sendiri, tapi semua orang memang bisa melihat dan merasakan kalau

ayah segan mencampuri urusan dunia persilatan lagi, entah bagaimana dengan hubungan antara

ayah dan bibi Ku….”

Sementara dia masih melamun, dirasakan sorot mata keempat orang itu tertuju semua

kearahnya dengan perasaan ingin tahu.

Ia tertawa, dengan nada minta maaf katanya, “Maaf saudara semua, sebagai seorang anak,

siaute tak berani menduga secara sembarangan atas perbuatan dari ayahku”

Oh Keng-bun manggut-manggut, lanjutnya.

“Justru karena itu menurut pendapat siaute, kursi pimpinan ini paling cocok kalau ditempati Hoa

kongcu”

Hoa In-liong tersenyum.

Siaute merasa amat bsrterima kasih atas kebaikan saudara Oh, cuma sayang didunia ini bukan

aku seorang yang pandai, beribu-ribu bahkan berjuta-juta orang pintar tersebar disegala pelosok

dunia….”

“Yaa, kami memang tahu bahwa orang pintar yang ada didunia ini tak terhitung banyaknya”

tukas Oh Keng bun, “hanya kami anggap Hoa kongcu lah orang yang paling cocok untuk

menduduki kursi kebesaran tersebut”

Sesudah berhenti sebentar, katanya lagi dengan nada bersungguh sungguh, “Jangan kau anggap

kami mengharapkan kedudukan yang mulia dengan usul ini, kami sama sekali tidak

mengharapkan kedudukan mulia, kami berbuat demikian atas dasar maksud baik yang

sesungguhnya, andaikata ada hal-hal yang dirasakan kurang sopan, tolong Hoa kongcu bersedia

memaafkan….”

Hoa In-liong mengerutkan dahinya sambil berpikir, Tadinya kukira mereka berbuat demikian

hanya terdorong oleh luapan emosi, rupanya mereka memang sudah merencanakan dengan

bersungguh0sungguh….”

Maka katanya dengan wajah serius, “Terima kasih banyak atas nasehat emas dari saudara Oh,

dengan perkataanmu itu, semua kebingungan dan kemurungan yang mencekam perasaanku

justru bisa tersapu lenyap. Hanya saja, mengenai persoalan itu lebih baik kita rundingkan

kembali secara terperinci”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

737

“Hoa kongcu” tiba tiba Tak Kiat-kan berkata pula sambil tertawa, “aku orang she Tan minta

kedudukan membawa bendera memegang payung tersebut, tentunya tak ada orang lain bukan

yang akan berebutan dengan diriku….?”

“Siapa bilang tak ada? Aku yang akan ikut berebut” teriak Oh Keng bun dengan cepat.

Kembali Hoa In-liong berpikir, “Berhadapan dengan pemuda-pemuda berdarah panas macam

mereka, aku memang tak boleh berlagak sok malu sok menolak tentu mereka akan menganggap

diriku orang munafik”

Sambil tersenyum ia berkata, “Eeeh….buat apa kalian berebut menjadi pemegang bendera? Kan

lebih enak jadi kusir kereta atau penuntun kuda?”

“Haaahhh….haaahh….haaahh….betul! Kau! Kalau begitu siaute pesan dulu kedudukan tersebut!”

seru Oh Keng bun sambil terbahak-bahak.

“Eeeh…. bagaimana kau ini? Aku….akukan sudah pesan dulu kedudukan itu….?” seru Tan Kiatkan.

Maka semua orangpun tertawa berderai-derai karena geli.

Sekalipun tenaga dalam Kongsun Peng, Tan Kiat kat dan dua bersaudara Oh masih ketinggalan

bila dibandingkan Hoa In-liong, namun mereka terhitung pula jago-jago muda yang tak lemah

tenaga dalamnya, seketika itu juga gelak tertawa mereka menggetarkan seluruh ruangan,

membuat pemilik penginapan, para pelayan dan tamu-tamu lainnya harus menutupi telinga

masing-masing.

Setelah suara tertawa mereda, Kongsun Peng memanggil pelayan untuk memesan santapan

malam, sebab dia tahu Hoa In-liong belum makan karena baru saja pulang.

Hoa In-liong merasa kurang leluasa untuk bersantap ditempat umum, apalagi dia menyewa

sebuah halaman tersendiri yang mempunyai ruang tamu dan kamar tidur yang luas, maka dia

mengundang keempat orang tamunya untuk bersantap diruangan yang disewanya itu.

Tak lama kemudian sayur dan arak yang dipesan telah dihidangkan pelayan, sambil bersantap

mereka mulai berunding, semuanya dapat berjalan lancar dan penuh riang gembira karena

mereka berdiri dari orang-orang muda yang sejalan dan seperasaan.

Sampai tengah malam, dua bersaudara Oh, Kong sun Peng dan Tan kiat kan baru berpamitan

untuk pulang.

Keesokan harinya, ketika Hoa In-liong sedang berjalan-jalan dalam halaman depan, muncul

seorang pelayan yang melaporkan atas kedatangan seorang kakek.

Ketika menanyakan potongan badan dan raut wajahnya, Hoa In-liong merasa asing dan tak

kenal, cepat-cepat ia munculkan diri untuk menyambut kedatangannya.

Ternyata dia adalah seorang kakek bermuka lebar, bermata besar, berjenggot putih sepanjang

dada dan bermata tajam seperti mata elang, jelas tenaga dalam yang dimilikinya amat

sempurna.

“Heran rasa rasanya kakek yang keren dan berwibawa ini pernah kutemui, tapi dimana yaa….”

pikirnya keheranan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

738

Sementara ia masih termenung sambil mengamat-amati tamunya, kakek itu sudah berkata

sambil tertawa lantang, “Liong sauya, sudah lupa dengan aku Ho Kee sian?”

Kata “Liong sauya” hanya khusus digunakan oleh orang orang dari pihak ibunya, sebagian besar

anggota Sin ki pang (Perkumpulan Panji Sakti) adalah kawanan enghiong yang tidak pernah

mengenal arti sopan santun, mereka lebih mengutamakan perasaan dan persaudaraan daripada

soal cengli atau kebenaran.

Oleh sebab Hoa In-liong adalah putranya Pek Kun gie, maka hubungannya dengan bocah ini jauh

lebih mesrah dan akrab daripada lain lainnya, sedang terhadap toako dari Hoa In-liong yakni Hoa

See atau sam te Hoa Wi, mereka selalu membahasai dengan panggilan toa-kongcu, sam kongcu

belaka tanpa embel-embel lain.

Dengan begitu Hoa In-liong dapat segera teringat kembali kalau kakek ini adalah bekas anak

buah gwakong nya dulu.

Kakek tersebut merupakan salah satu jago yang paling tangguh dalam perkumpulan Sin ki pang

dahulu, dia menjabat sebagai Tongcu ruang Thiao leng tong dengan julukan Boan thian jiu

(telapak sakti pembalik langit).

Hoa In-liong lantas mengira kalau kedatangannya karena membawa perintah dari gwakongnya,

sambil memburu kedepan serunya.

“Empek Ho….Ho locianpwe….”

Mencorong sinar tajam dari mata Ho Kee siau, tukasnya.

“Liong sauya, dahulu apa panggilanmu kepada ku?”

Hoa In-liong tertawa lebar.

“Tentu saja empek Ho!”

Setelah berhenti sebentar, katanya lagi sambil tertawa, “Tahukah kau, ketika aku berjumpa

denganmu tempo dulu, kalau tak salah waktu itu aku berumur lima tahun, aku dicaci maki oleh

ayah karena memanggilmu empek Ho, sebab katanya sewaktu ibuku masih muda dulupun

menghormati kau sebagai paman….”

Ho Kee sian tertawa terbahak-bahak.

“Haaabhh….haaahhh….haaahhh….Aku merasa bangga sekali dapat berkenalan dan bersahabat

dengan ji kohya, yang lain tak usah disinggung, cukup dengan sikap sungkan nona Kun gie,

rasanya aku sudah takluk dibuatnya”

Perlu diterangkan disini, orang-orang Sin ki pang masih memanggil Pek si hujin dengan sebutan

lamanya, yakni nona Kun gie.

Setelah berhenti sejenak, kembali katanya, “Tapi kau tak usah gubris teguran mereka, sebab aku

merasa sebutan ini jauh lebih mesrah dan hangat, tentu saja jika Liong sauya tidak menganggap

diriku sebagai seorang tua bangka yang celaka, sebutan apa saja yang kau gunakan akan

kuterima dengan senang hati”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

739

Hoa In-liong tertawa.

“Aku sendiri juga merasa kalau panggilan empek Ho jauh lebih baik, cuma kuatirnya kalau di

maki ayah”

Yaa, terhadap bekas anak buah gwakongnya ini, tak pernah Hoa In-liong memandang rendah

atau memandang hina, setiap kali bertemu ia tentu memanggil mereka dengan sebutan empek.

Terdengar Ho Kee sian sedang berkata lagi, “Jika ji-kohya menegurmu, katakan suja kalau lohu

senang dipanggil empek, aku rasa sebagai orang yang berpikiran luas dan pandai mendalami

perasaan orang, tak mungkin ji kohya akan menegur dirimu lagi”

Dari perkataan itu secara lapat-lapat Hoa In-liong dapat menangkap rasa tidak puasnya terhadap

ayahnya, dia lantas berpikir, “Mereka selalu beranggapan akibat ulah ayahkulah yang

menyebabkan perkumpulan Sin ki pang dibubarkan, merekapun merasa hidup mengasingkan diri

hanya akan menyia-nyiakan kepandaian silat mereka serta semangat mereka yang tinggi, tak

aneh kalau mereka merasa kurang senang dengan ayahku….”

Berpikir sampai disitu diapun tersenyum.

“Empek Ho sudah bertemu dengan gwakongku?” tanyanya kemudian.

“Haaahhh….haaahhh….haaahhh….akulah yang pertama menerima lencana Hong lui leng yang

diturunkan lo pangcu, aaai….! Pangcu sendiri juga sudah tua, ia sudah kehilangan kegagahan

nya seperti tempo dulu….”

Sampai akhir perkataan tersebut, ia menghela napas tiada hentinya.

Cepat-cepat Hoa In-liong mengalihkan pokok pembicaraan, tanyanya sambil tertawa, “Selama

banyak tahun apa yang dikerjakan empek Ho?”

“Aaai….kerjakan apa?” Ho Kee sian menghela napas, “tentu saja mencari sesuap nasi dengan

mengandalkan ilmu silat yang kumiliki”

Nadanya berat dan penuh kekesalan.

Untuk menghilangkan suasana murung yang mencekam sekeliling tempat itu, cepat Hoa In-liong

tertawa terbahak-bahak, “Haaahhh….haaahhh….haaahhh….kalau begitu si tangan sakti pembalik

langit bukankah sudah berubah menjadi tangan sakti pembalik tanah? Yaa….lumayan memang!”

Ho Kee sian ikut tertawa nyaring, tapi sejenak kemudian sudah menghela napas berat.

Hoa In-liong segera berpikir.

“Wajarlah kalau enghiong yang sudah tua akan mengeluh, ibaratnya perempuan tua yang

memurungkan kecantikan wajahnya, setiap orang pasti mengalami keadaan seperti ini, aku harus

mengobarkan kembali semangatnya….”

Berpikir demikian ia lantas bertanya.

“Apa pesan Gwakong?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

740

“Lo pangcu minta kepadaku untuk membantu Liong sauya, kecuali itu tiada pesan penting

lainnya yang barus kusampaikan kepadamu”

“Kecuali empek Ho, masih ada berapa orang lagi yang termasuk jago-jago tempo dulu?”

“Tidak terlalu banyak” jawab Ho Kee sian sambil tertawa, “paling banter cuma lima puluh orang

lebib, meski sedikit mereka semua adalah jago-jago tangguh, kini mereka sudah berkumpul

disekitar kota Si ciu dan setiap saat siap dikumpulkan”

Lima puluh orang jago tangguh dikatakan tak banyak, kekuasaan Sin ki pang dimasa lalu tentu

hebat dan luar biasa, yang dikuatirkan justru kalau mereka sampai mengganggu ketenangan

rakyat” pikir Hoa In-liong dengan perasaan cemas.

Maka iapun berkata, “Begitu banyak orang, mereka diam-diam saja?”

Sebagai orang yang berpengalaman tentu saja Ho Kee sian tahu apa yang dirisaukan, sambil

menggoyangkan tangannya ia tertawa.

“Liong sauya tak usah kuatir, mereka tidak akan menambah kesulitan dan kemurungan bagi

Liong sauya” katanya, “bukan saja mereka berpencar diempat penjuru kota, sedapat mungkin

asal usulnya juga dirahasiakan, sebab dengan begini selain bisa merahasiakan asal usul sendiri,

dapat pula menyelidiki keadaan musuh”

“Aaah….kau memang keterlaluan” pikir Hoa In-liong lagi, “mereka toh jago kawanan yang sudah

terlalu banyak makan asam garam, buat apa aku musti meuguatirkan diri mereka?”

Setelah termenung dan berpikir sebentar, katanya kemudian, “Cia Yu cong berjanji akan

memberi bantuan, konon ia mempunyai beberapa ratus orang saudara….

“Aah…. kamu anggap Ci Yu cong jagoan macam apa? Sekalipun banyak anak buahnya juga

orang-orang yang tak ada gunanya” kata Ho Kee sian sambil tertawa, “waktu aku masih

berkelana dalam dunia persilatan dulu, dia cuma manusia tak bernama, percayalah orang

orangku tak seorangpun mempunyai ilmu silat dibawahnya, buat apa Liong sauya berhubungan

dengan manusia-manusia seperti itu?”

Tentu saja Hoa In-liong tahu kalau ucapannya merupakan kenyataan, meski begitu dia cuma

tertawa.

“Aaah…. belum tentu orang lain jelek-jelek juga seorang pentolan diwilayah Wi lam, bisa menjadi

pentolan sudah tentu harus mempunyai ilmu sejati, apalagi sebagai seorang ternama, terlalu

latah tanpa dasar ilmu yang kuat sama artinya dengan mencari penyakit kuat diri

sendiri….bukankah begitu?

“Benar juga perkataannya, pikir Ho Kee sian, “Liong sauya memang membutuhkan kawanan

manusia seperti itu untuk mendukung serta memberi suara kepadanya”

Ia lantas tertawa terbahak-bahak, sahutnya, “Betul! Betul….haaahhh….haaahh….haaahhh….

perkataan Liong sauya memang betul”

Hoa In-liong tersenyum.

“Kalau toh mereka berpencaran disetiap sudut kota, bagaimana caranya untuk mengumpulkan

mereka?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

741

“Aku telah menyiapkan bom udara dari perkumpulan kami tempo dulu, asal bom udara itu

kuledakkan maka dalam setengah perminum teh kemudian sebagian besar jago dapat berkumpul

disini”

“Tiba-tiba ia tertawa tergelak dengan nyaring lalu sambil memancarkan sinar tajam dari balik

matanya ia berkata lebih jauh, “Liong sauya masih muda dan gagah perkasa, lagipula

mempunyai kepandaian daa kecerdasan yang luar biasa, suatu saat pasti akan sukses dengan

usahanya dan melanjutkan karier Ji kohya untuk menjagoi kolong langit dan tersohor di manamana.

Liong sauya! Inilah kesempatan bagimu untuk menjagoi seluruh kolong langit”

Hoa In-liong tidak segera menjawab, pikirnya, “Sekalipun mereka bermaksud baik dan ingin

membantu aku untuk menjagoi kolong langit, sayang mereka telah salah mengartikan maksudku,

aku memang berharap bala bantuan dari para jago tapi soal ini adalah demi kepentingan umum,

bila maksud pribadipun ikut kuserukan, bukankah akhlakku akan lebih rendah dari seekor

anjing?”

Berpikir sampai disitu, ia merasa bagaimanapun jua, maksud hatinya harus diterangkan lebih

dahulu, dengan wajah serius ujarnya;

“Empek Ho, masih ingatkah kau akan keadaan disaat perkumpulan Sin ki pang dibubarkan?”

Ho Kee sian tertegun setelah mendengar perkataan itu.

“Tentu saja masih ingat, hari itu pangcu mengumpulkan semua Tongcu dan Hu hoat dalam

ruangan Siang liong teng, lalu secara tiba-tiba mengumumkan akan membubarkan partai serta

memunahkan ilmu silat semua orang….”

“Yaa, ketika gwakong menceritakan kejadian ini kepadaku, aku selalu beranggapan bahwa

tindakannya ini tidak cepat” tukas Hoa In-liong secara tiba-tiba, “dia orang tua adalah pentolan

kalian, karena itu jika ilmu silat semua orang hendak dimusnahkan, pertama tama dia harus

musnahkan dulu ilmu silat yang dimilikinya”

Ho Kee sian tertawa lebar.

“Dan aku rasa cuma Liong sauya seorang berani mengucapkan kata-kata seperti itu” sambung

nya.

Mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya, segera pikirnya, “Tanpa sebab tak mungkin

Liong sauya mengucapkan kata-kata tersebut, yaa….dia pasti mempunyai tujuan tertentu”

Bila ditinjau dari kedudukannya sebagai Tongcu ruang Thian- leng tong dalam perkumpulan Siu

ki pang tempo dulu, dapat diketahui kalau orang ini memiliki kecerdasan yang melebihi siapapun,

hanya sejenak dia berpikir, maka semua isi hati Hoa Im liong berhasil ditebaknya secara jitu.

Setelah termenung sebentar, tiba-tiba ia berkata dengan nada mendongkol, “Liong sauya, buat

apa kau kerja demi kepentingan orang lain?”

Hoa Inliong tertawa.

“Dalam hal ini tak bisa dikatakan sebagai bekerja demi kepentingan orang lain, aku hanya

berjuang demi ketenteramanku sendiri”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

742

Ho Kee sian termenung sebentar, tiba-tiba katanya lagi, “Padahal kepentingan pribadipun tak

akan mengganggu kepentingan umum. selain kita basmi kekuatan Hian-beng-kauw, Mo kau dan

Kiu im kau bukankah kitapun bisa berjuang untuk menaklukkan semua orang serta menjagoi

seluruh kolong langit?”

“Siapa yang mempunyai niat tersebut, dia akan tercelaka oleh niat itu pula, siapa tidak

mempertimbangkan untung ruginya sebelum melakukan sesuatu pekerjaan, dia tentu akan

mengalami kegagalan total” tukas Hoa In-liong dengan cepat’

“Oooh….! Tak kusangka Liong sauya yang dihari biasa selalu tertawa haha-hihi, ternyata

memandang serius persoalan ini”

Hoa In-liong tertawa lebar.

“Siapa suruh empek Ho mengucapkan kata-kata yang tak teratur dan bertolak belakang dengan

kenyataan?”

Setelah berhenti sebentar, sambil tertawa terbabak-bahak ka tanya lagi, “Empek Ho aku tidak

bermaksud memaksa dirimu, bila kau tak sanggup bawa saja orang orangmu tinggalkan tempat

ini, gwakong sama biar aku yang atasi….”

“Liong sauya, bukankah perkataanmu itu sama artinya dengan memaki diriku habis-habisan?”

keluh Ho Kee sian sambil tertawa getir.

Tapi Hoa In-liong pura-pura tidak merasa, katanya lebih lanjut.

“Atau jika kau tak ingin langsung pulang, boleh saja berbepesiar dulu ketempat tempat yang

indah, bila dari kota Si ciu menuju ke utara, kau bisa berkunjung ke bukit Thay san, atau bila

keselatan akan sampai dibukit Kiu hoa san dan Hong san, atau juga langsung ke samudra luas

dengan berpesiar di pulau Bu Tosan, waah….pasti suatu darmawisata yang asyik sekali”

Jangan dilihat ucapan tersebut diutarakan begitu enteng dan sekenanya, padahal Ho Kee sian di

bikin menangis tak bisa tertawapun sungkan, sesudah termenung sesaat tiba-tiba ia

menengadah dan tertawa nyaring.

“Haaahhh….haahhh….haaahh…. baik, baiklah, kalau toh Liong sauya telah berkata begini, apa

yang perlu disayangkan lagi atas sisa bidup aku orang she Ho? Akan kusumbangkan selembar

jiwaku ini untuk memerangi kaum sesat didunia, anggap saja sebagai suatu penebus atas dosadosa

kami orang Sin ki pang dimasa lalu”

“Terima kasih banyak atas kesediaan empek Ho” Hoa In-liong tertawa nyaring, “padahal siapa sih

yang tidak mengharapkan nama dan pahala? Siapa tahu kalau dikemudian hari nama itu akan

kudapatkan tanpa sengaja? Kalau tanpa saatnya, tentu saja mau ditampikkan juga tak bisa”

Ho Kee sian hanya tertawa getir belaka.

Melihat itu, Hoa In-liong lantas berpikir, “Meskipun ia berbicara dengan gagah dan terbuka,

sudah pasti hatitya gundah sekali, aku harus menghiburnya dengan beberapa patah kata….”

Baru saja ia hendak menghiburnya dengan beberapa patah kata, tiba-tiba muncul seorang

pelayan yang memimpin belasan orang imam berusia setengah umur, rata-rata mereka

menggembol pedang dipunggungnya, dan orang yang berada dipaling depan tak lain adalah Bu

jian Toojin yang dulunya bergelar Cing lian.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

743

Betapa girangnya Hoa In-liong menyaksikan kehadiran imam tersebut, segera teriaknya dengan

lantang, “Hei, Bu jian toojin! Rupanya kau juga datang?”

Berjumpa dengan pemuda itu, cepat-cepat Bu jian Toojin memburu ke depan, katanya sambil

memberi hormat, “Oleh karena pinto mendengar bahwa Hoa kongcu hendak melakukan

pertarungan terbuka dikota Si ciu, buru-buru kami datang membantu”

Hoa In-liong tertawa lebar, ia memandang sekejap ketiga belas orang imam dibelakangnya, lalu

berkata, “Toatiang sekalian….”

“Mereka semua adalah suheng pinto” cepar Bu jian Tootiang menerangkan, “Cuma lantaran

sudah terlalu lama hidup mengasingkan diri, mereka kurang begitu gemar bersuara, harap Hoa

kongcu bersedia memaafkan”

Sementara itu ketiga belas orang imam tadi sudah memberi hormat kepada Hoa In-liong, cepatcepat

anak muda itu balas memberi hormat.

“Bila ditinjau dari sikap dingin dan ketus mereka, rupanya Bu-jian toojin sudah mereka sepakati

sebagai juru bicaranya” dia berpikir.

Dalam pada itu, Bu jian toojin telah memberi hormat kepada Ho-Kee sian sambil menyapa, “Ho

Lo si cu, terimalah hormat dari siau to (imam yang rendah)!”

Dengan tercengang Ho Kee sian berseru, “Siapakah engkau imam cilik? Kenapa aku tidak kenal

denganmu?”

Hoa In-liong merasa kurang begitu senang atas sikap Ho Kee sian yang sok berlagak tua itu,

pikirnya, “Orang lain tak mungkin akan melayani sikapmu itu….”

Perlu diterangkan disini, sikap Ho Kee sian terhadap Hoa In-liong boleh dibilang sangat istimewa,

ia mau mengalah dan dimana mana berusaha merendahkan diri, tapi berbeda sekali sikapnya

dengan orang lain, sebagai seorang jago yang tinggi hati, tak sudi ia tunjukkan kelemahannya

dihadapan orang.

Ternyata Bu jian Toojin tidak merasa tersinggung, malah ujarnya, “Masih ingatkah Ho lo sicu

dengan Cing lian?”

MENDENGAR nama tersebut, Ho Kee sian segera tertawa terbahak-babak.

“Haaahh….haaah….haaahh….rupanya engkau, hei, kemana larinya tua bangka hidung kerbaumu

itu? Kenapa sudah banyak tahun tak kelihatan batang hidungnya lagi?”

Hawa kegusaran seketika menyelimuti wajah belasan orang imam tersebut, bibir mereka

bergetar seperti akan mengucapkan sesuatu, tapi niat tersebut akhirnya diurungkan. Melihat itu,

Hoa In-liong kembali berpikir, “Anak murid Thian Ik cu menang cukup tangguh dan tak boleh

dianggap main-main”

Bu jian toojin sendiri masih tenang seperti sedia kala, ujarnya dengan lembut, “Suhu

mengasingkan diri disuatu tempat yang terpencil, beliau telah menitahkan kepada muridmuridnya

agar jangan membocorkan tempat pengasingannya, sebab itu maafkanlah siau te bila

harus membungkam”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

744

“Anak muridnya saja sehebat itu, aku pikir Thian ki lo to pasti jauh lebih tangguh daripada

keadaan tempo dulu”

Ia menyapu sekejap kawanan imam tersebut lalu ujarnya lagi, “Apakah kedatangan kalian untuk

membantu Liong sauya kami?”

Gepat cepat Hoa In-liong menimbrung dari samping, “Kedatangan tootiang sekalian tentu ingin

melenyapkan kaum iblis dari Mo kau, aku bersedia membantu usaha kalian”

“Kedatangan pinto adalah untuk menerima perintah, lain tidak!” ujar Bu jian Tootiang dengan

wajah bersunguh snngguh.

Kontan saja Ho Kee sian menengadah sambil tertawa terbahak bahak.

“Haaahhh….haaahhh…. haaahhh…. itu baru bagus namanya! Apalagi dalam pencarian harta di

bukit Kiu ci san tempo dulu, baik Thong-thian-kauw maupun Hong im hwe sudah menerima

banyak kebaikan dari Ji-kohya, tapi sewaktu pergi mengucapkan terima kasihpun tidak, tentu

saja memang sewajarnya kalau sekarang menjual nyawa buat Liong saunya”

Apa yang dipikirkan, dikatakan semuanya demi kepentingan Hoa sauyanya, otomatis

perkataannya juga penuju untuk kepentingan Hoa In-liong seorang, ini membuat si anak muda

itu gelengkan kepalanya berulang kali.

“Apakah gurumu tiada bermaksud untuk turun gunung?” tanyanya kemudian sambil tersenyum.

Bu jian toojin tertawa getir.

“Kecuali pinto gugur dalam pertempuran, kemungkinan besar guruku eoggan untuk turun

gunung lagi”

Melihat itu Hoa In-liong kembali berpikir, “Tampaknya ia berniat mengorbankan jiwanya untuk

memancing kembali kemunculan gurunya, hal ini harus kujaga dan kuhindari….”

Sambil tersenyum ia berkata, Tahukah tootiang, bila akupun mati dalam medan pertempuran,

bagaimanapun jua ayahku pasti akan muncul kembali dalam dunia persilatan”

Mula-mula Bu jian Too tiang agak tertegun, kemudian katanya sambil tertawa, “Ji kongcu adalah

tubuh emas yang amat tinggi nilainya, mana boleh disamakan dengan pinto?”

“Aaah…. siapa bilang kalau manusia itu mempunyai tingkatan? Apakah tootiang tidak merasa

bahwa perkataanmu keliru besar?” kata anak muda itu dengan dahi berkerut.

Bu jin toojin menggetarkan bibirnya seperti mau membantah, tapi Hoa In-liong sebera

menggoyangkan tangannya berulang kali.

“Jangan berbicara dulu tootiang” katanya, “apakah aku boleh bertanya, menurut anggapan

tootiang, keluarga Hoa kami adalah manusia macam apa….?”

Jilid 37

BU JIAN TOOTIANG tertegun.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

745

“Tentu saja keluarga Hoa adalah keluarga yang bijaksana dan mengutamakan ditegakkannya

keadilan dan kebenaran, siapapun didunia ini tahu, masa aku tak tahu?”

Tanpa tedeng aling-aling Hoa In-liong mendesak lebih jauh, “Kalau toh kalian sudah

menganggap keluarga Hoa bukan mendapat nama dengan menyusup atau mencuri, apakah

tootiang tidak merasa bahwa keputusan tootiang untuk mengorbankan jiwa demi memancing

kemunculan kembali gurumu adalah suatu perbuatan yang menyinggung perasaan kami? Hendak

kau taruh kemana wajah keluarga Hoa kami?”

“Maksud ji-kongcu….”

“Aku hendak mengueapkan sepatah kata yang kurang sedap lagi” tukas Hoa In-liong kembali,

“jelek-jelek perguruan kalian sudah mempunyai sejarah selama ratusan tahun, dengan susah

payah akhirnya berbentuklah suatu perkumpulan besar apakah kalian berharap perguruan yang

dibangun dengan susah payah oleh sucoumu akan runtuh akibat kehilangan banyak kekuatan

intinya?”

Bu jian tootiang termenung sebentar, kemudian menjawab dengan wajah serius, “Nasehat jikongcu

memang benar dan pinto mengakui kesalahan kami ini, kini pinto sekalian berdiam di kuil

Sam goan koan di selatan kota, bila kongcu ada urusan penting, berilah kabar kepada kami”

Hoa In-liong tahu kalau mereka sudah terlampau lama hidup mengasingkan diri, kehidupan

keduniawian membuat mereka tak betah, karenanya ia tidak menahan lebih jauh, rombongan itu

dihantar sampai diluar penginapan dengan senyuman dikulum.

Sekembalinya kedalam halaman, ia saksikan Ho Kee sian sedang berdiri bergendong tangan

sambil menyaksikan gunung-gunungan serta bebungahan yang rusak oleh pedang Hoa In-liong.

Ketika menjumpai anak muda itu telah kembali, ujarnya dengan dahi berkerut, “Ilmu pedang dari

Liong sauya masih belum dapat mengejar kehebatan ji kohya tempo dulu.”

“Ilmu silat ayah memang libay sekali” jawab Hoa-In liong sambil tertawa, “selama hidup aku

memang tak sanggup melampaui kehebatannya”

Setelah termenung sejenak, katanya kembali, “Empek Ho, bagaimana kalau kau berdiam disini

saja? Ruangan yang kusewa besar sekali, belasan orang menginap disinipun tak akan menjadi

soal” Ho Kee sian memang ingin selalu berada disamping Hoa In-liong, tentu saja ia

menyanggupi tawaran tersebut dengan cepat.

“Baik!” katanya sambil mengangguk.

“Kalau begitu menginaplah disini mulai hari ini!”

“Liong sauya” ujar Ho Kee sian setelah berpikir sejenak, “kalau ruangan ini bisa muat belasan

orang, bagaimana kalau kita panggil tiga empat orang lagi untuk melayanimu?”

“Memangnya kau anggap aku adalah bocah cilik?” seru Hoa In-liong sambil tertawa geli.

Ho Kee sian tersenyum dan tidak menjawab dia ulapkan tangannya lalu keluar dari rumah

penginapan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

746

Hoa In-liong tidak menghantar kakek itu sampai dipintu, ia menitahkan orang untuk memperbaiki

kebun dan bunga yang penuh bacokan pedang itu, dua tiga jam kemudian pekerjaannya telah

beres.

Tengah hari itu, Kongsun Peng mengajak sekawanan pemuda mengunjungi Hoa In-liong di

penginapan, mereka berbincang-bincang hampir tiga jam lamanya sebelum mohon diri.

Malamnya Ho Kee sian muncul kembali diiringi empat orang jago bekas anggota Sin ki pang,

rata-rata mereka berusia enam puluh tahun.

Hoa In-liong segera menitahkan pelayan untuk menambah pembaringan, suasana meujadi ribut,

akhirnya begitu urusan beres semua orangpun naik tempat tidur untuk beristirahat.

Keesokan haranya, ketika Hoa In-liong sedang berjalan-jalan dalam halaman, tiba-tiba ia

menyaksikan pelayan muncul sambil mengajak lima enam orang, sebelumnya memang sudah

berpesan bila ada orang datang berkunjung, tamunya boleh langsung dibawah masuk.

Betapa gembiranya Hoa In-liong setelah menjumpai tamunya itu, sebab empat orang pemuda

gagah yang berjalan dipaling depan tak lain adalah Coa Cong-gi, Yu Siau lam, Li Poh seng dan Ko

Siong peng, sedang dipaling belakang adalah seorang kakek gagah berusia lima puluh tahunan,

dia tak lain adalah Kok Hong seng, pengurus rumahnya keluarga Coa.

Meski gembira, diam-diam diapun curiga, pikir nya, “Aneh kenapa Kok Hong seng ikut datang?

Kenapa tidak nampak adik Wi? Juga saudara Ek bong, kemana perginya….”

Kelima orang itupun merasa gembira sekali dapat berjumpa dengan Hoa In-liong, Coa Cong-gi

yang paling berangasan tak bisa menahan diri lagi, ia memburu kedepan dan menarik sepasang

tangan pemuda itu.

“Saudara In liong!” serunya sambil tertawa, “aku telah aku mengetahui kalau kau sedang

memanggil angin menurunkan hujan di kota Si ciu….”

Kontan saja Hoa In-liong tertawa tergelak.

“Haaahhh….haaahhh…. haaahhh…. perkataan saudara Cong gi tidak cocok, kau musti tahu

hanya bangsa dewa atau siluman yang bisa memanggil angin menurunkan hujan. Siaute toh

bukan dewa ataupun siluman, nama mungkin bisa mengundang angin memanggil hujan?”

“Hmm….! Memangnya kau anggap perbuatanmu itu bukan mengundang angin memanggil

hujan?” seru Coa Cong-gi dengan mata melotot, se tiap orang persilatan yang ada didunia telah

bertumplek di kota Si-ciu, kalau bukan mengundang angin memanggil hujan lantas apa

namanya?”

Sementara pembicaraan masih berlangsung, keempat orang itu sudah berkerumun kedepan, Hoa

In-liong tak sempat bergojek terus, dia buru buru menjura sambil tertawa.

“Saudara-saudara sekalian, Kok congkoan, baik-baikkah kalian selama ini….?”

Ko Siong peng tertawa.

“Adik In liong, kau musti tahu, sepanjang perjalanan kami menuju kemari, yang kami dengar

hanya kata-kata sanjungan orang terhadap kehebatanmu, semua orang merasa kagum oleh

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

747

keberanian Hoa ji kongcu, yaa, tindakanmu inii boleh dibilang telah menggetarkan seluruh kolong

langit, tentu saja namamu juga ikut tersohor sampai dimana-mana”

Dengan kening berkerut Hoa In-liong menggeleng.

“Pohon yang terlalu besar hanya akan menimbulkan angin, nama yang terlalu terkenal cuma

mendatangkan bencana, kalau bukan keadaan yang memaksa tak mungkin siaute melakukan

semua perbuatan ini di kota Si ciu”

“Lantas apa yang memaksa kau berbuat demikian?” tanya Yu Siau lam dengan perasaan ingin

tahu.

“Biar aku saja yang menebak” sela Li Poh seng, “bila dugaanku tidak keliru, tentunya adik In

liong sedang mamancing perhatian umat persilatan terhadap gerak-gerik ketiga buah

perkumpulan besar itu bukan? Tentunya kau kuatir mereka disergap atau ditunggangi oleh

unsur-unsur jahat tersebut sehingga kena dilenyapkan dari muka bumi, bukan demikian?”

Hoa In-liong tersenyum.

“Aaah…. aku berbuat demikian tak lain untuk memperbaiki posisi pihak kita yang sudah kian

terdesak saja, asal kita terjaga jaga di kota Si ciu, maka andaikata pihak Hian-beng-kauw, Kiu im

kau dan Mo kau sungguh-sungguh berani datang menyerang, bukan saja kita dapat

menghajarnya sampai kepala pusing, selain itu kitapun dapat memperbaiki posisi kita menjadi

jauh lebih menguntungkan”

“Tepat sekali!” seru Coa Cong-gi sambil tertawa, “kita dapat menghajar mereka sampai terbiritbirit

dan seorangpun jangan dikasih tetap tinggal hidup”

Hoa In-liong tersenyum, tiba-tiba ia melihat seorang pelayan sedang menguber seorang

pengemis kecil yang mengenakan baju compang camping, melihat itu dia lantas berteriak,

“Berhenti!”

“Hei mau apa kamu?” seru Coa Cong-gi keheranan, “masa seorang pengemis kecilpun ikut

membasmi iblis?”

Hoa In-liong telah menduga kalau pengemis kecil itu disuruh Cia Yu cong untuk menyampaikan

kabar, ia lantas menggape seraya berseru”

“Saudara cilik, kemarilah!”

Pengemis kecil itu lari kedepan, pelayan tersebut ingin menghalangi tapi gagal, terpaksa ia

berteriak.

“Siau gau ji, tunggu sebentar, apa hakmu memasuki tempat seperti ini….?”

Sambil memburu kedepan ia berusaha menangkap bahu pengemis kecil itu, tapi dengan cekatan

pengemis tersebut berkelit kesamping, lalu sambil membelalakkan matanya ia berseru, “Kau

jangan terlalu memandang rendah diriku, apa tidak kau lihat kalau orang lain menganggap aku

sebagai tamu terhormat ? Kalau tidak begitu mana aku berani masuk?”

Hoa In-liong tertawa lebar, sambil mengulapkan tangannya kepada sang pelayan serunya,

“Saudara cilik itu adalah seorang tamu kehormatan, biarlah dia kemari!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

748

Pelayan itu agak tertegun, tapi akhirnya ia berlalu juga meski sembari menggerutu.

Betapa bangganya pengemis cilik itu, kepada pelayan tadi teriaknya dengan lantang, “Hei, coba

lihat! Bagaimana?”

Sementara itu Hoa In-liong telah mengamati wajah pengemis cilik itu, kemudian sapanya dengan

ramah, “Saudara cilik, apakah kau bernama Siau gou ji? Apakah seorang loya she Cia yang

menyuruh kau datang?”

Pengemis cilik itu agak tertegun, lalu menggelengkan kepalanya.

“Bukan! Aku disuruh orang Tan toaya menyampaikan sepucuk surat!” sahutnya.

Setelah berhenti sebsntar, ia menambahkan, “Yaa, benar! Akulah Siau gou ji”

Sewaktu mengucapkan nama tersebut, lagaknya luar biasa, seakan-akan dia adalah seorang

yang tersohor namanya dikolong langit.

“Masakah dugaanku keliru?” pikir Hoa In-liong,

Dalam pada itu Coa Cong-gi telah tertawa terbahak-bahak.

“Haaahhh….haaah….haaahhh….Siau gau ji? Kenapa belum pernah kudengar nama ini?” godanya.

Dengan gemas Siau gau ji melotot beberapa kejap kearah Coa Cong-gi, lalu balas ejeknya,

“Memangnya namamu pernah kudengar?”

“Kau toh belum tahu siapa namaku, darimana kau tahu kalau namaku belum pernah kau

dengar?”

“Aaaa…. pokoknya aku tahu kau toh bukan Ji-kongcu dari keluarga Hoa? Jelas namamu belum

pernah kudengar”

Yu Siau lam tersenyum.

“Dari mana kau tahu kalau dia bukan ji-kongcu? Kau tahu siapakah diantara kami yang

merupakan ji-kongcu?” katanya.

“Huuuh….masa Hoa ji-kongcu macam dia, nyentrik, jelek dan seperti orang bloon?” sambil

menuding kearah Hoa In-liong ia berkata lebih jauh, “sudah rasti dialah Jiya dari keluarga Hoa,

hmm….hmm…. coba lihat Jiya dari keluarga Hoa ini, yaa ganteng, yaa sopan, yaa pintar….”

Tiba-tiba ia terbungkam, rupanya pengemis itu kehabisan bahan untuk mengampak.

“Hei bocah busuk, pandai betul kau mengampak!” ejek Coa Cong-gi sambil tertawa tergelak.

Hoa In-liong pun mengetahui kalau Siau gou ji adalah seorang bocah yang cerdik, terutama

sepasang biji matanya yang mengerling lincah, segera pikirnya;

“Tempo dulu paman Ngo siok juga begini keadaannya, tapi sekarang dia adalah seorang jagoan

yang hebat”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

749

Tiba-tiba timbul perasaan simpatiknya terhadap bocah itu, katanya kemudian sambil tertawa,

“Saudara cilik, ada kabar apa?”

Pengemis cilik itu merogoh sakunya yang berlubang dan mencari setengah harian lamanya,

ketika dicabut kembali ternyata tangan itu hampa, ia lantas menggaruk-garuk kepalanya yang

tak gatal sembari mengomel, “Aduuuh celaka! Jangan-jangan hilang….”

“Hilang?” jerit Coa Cong-gi terkejut.

Sebaliknya Hoa In-liong segera terbahak-bahak.

“Haaahhh….haaah….haaahh….lepaskan sepatumu!” perintahnya, Siau gou ji kelihatan kaget,

cepat cepat serunya, “Aaah…. betul! Betul! Kenapa aku tidak berpi kir sampai kesitu?”

Kok Hong-seng, Yu Siau lam dari Li Poh seng ikut memperhatikan sepatu Siau gou ji, betul juga

sepatu itu masih baru, tak mungkin dikenakan oleh manusia semacam itu, tanpa terasa mereka

tersenyum penuh arti.

Siau gou ji berjongkok dan membuka sepatu barunya, betul juga disana terdapat selembar

lipatan kertas, dengan sepasang tangannya kertas itu diangsurkan kehapadan Hoa In-liong,

katanya dengan wajah murung sekali, “Hoa jiya….”

“Mau apa kau?” tegur Hoa In-liong sambil tertawa cekikikan.

“Tan toaya bilang, bila berita ini sudah disampaikan, Hoa kongcu tentu akan memberi hadiah

kepadaku”

“Kalau cuma itu, kenapa tidak kau keluarkan surat itu sejak tadi?” seru Ko Siong peng sambil

tertawa.

Merah padam selembar wajah Siau gou ji, saking jengahnya dia sampai gelagapan dan tak

mampu mengucapkan sepatah katapun.

“Kau masih belum cukup pintar” kata Hoa In-liong sambil tertawa, “dengan kemampuan seperti

itu masa hendak mengadu kepandaian denganku? Angkat dulu diriku sebagai gurumu, dan

belajar sepuluh tahun lagi….”

“Lalu sambil berpaling ke arah Kok Hong seng lanjutnya, “Kok Koankeh, dapatkah kau melayani

sejenak keperluan saudara cilik ini?”

Kok Hong seng telah menganggap pemuda ini sebagai calon Kohya dari keluarga Coa,

mendengar perkataan itu ia lantas tertawa.

“Apa perintah ji kongcu, harap utarakan saja” katanya.

Semenjak rahasianya dibongkar Hoa In-liong, Siau gou ji dibuat tak tenang hatinya, waktu itu ia

sudau siap-siap mengambil langkah seribu.

Tiba-tiba Hoa In-liong memanggilnya lagi, bahkan sambil membelai rambutnya yang kusut dan

kotor ujarnya, “Saudara cilik, bila kau suka, bagaimana kalau tinggal saja bersama-sama kami?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

750

Termenung sebentar Siau gou ji sesudah mendengar perkataan itu, tiba-tiba matanya menjadi

merah, bibirnya terbuka seperti hendak mengucapkan sesuatu, namun suaranya seperti

tersumbat dalam tenggorokan, tak sepotong perkataanpun yang sanggup diucapkan.

Tapi akhirnya ia toh manggut-manggut juga, meski sejenak kemudian kembali menggeleng.

“Mei, monyet kecil! Tahukah kau bahwa tawaran ini merupakan suatu rejeki besar bagimu?”

pekik Coa Cong-gi dengan wajah tercengang.

Siau gou ji tertunduk sedih, katanya sambil menahan sesenggukan, “Aku tak pantas menerima

kebaikan ini, mana kotor mana goblok lagi, aku hanya membuat orang menjadi jemu saja”

“Aaaah…. tak usah terlampau rendah diri” hibur Hoa In-liong dengan lembut, “dulu akupun

begini juga keadaannya, tak menjadi soal”

Dia lantas mengulapkan tangannya kepada Kok Hong seng dan menitahkannya untuk membantu

pengemis itu berganti pakaian, membersihkan badan dan mengisi perut.

Li Pon seng yang menjumpai hal itu diam-diam mengerutkan dahinya, lalu berkata, “Pertarungan

terbuka sudah menjelang didepan mata, mau apa kau menyeret seorang bocah yang tak pandai

bersilat untuk turun serta dalam pertikaian ini? Tidak pantas rasanya….”

Hoa In-liong tertawa.

“Siau gou ji adalah seorang anak yang pintar, terlalu sayang kalau bocah seperti ini dipendam

bakatnya, karena itu aku ingin menghadiahkan kepada paman Ngo siok sebagai muridnya”

Kemudian kertas itu diambil dan dibawa isinya, terlihat surat itu berbunyi demikian, “Semalam,

seorang gadis cantik jelita yang membawa tongkat kepala setan dengan memimpin banyak orang

menginap di perkampungan keluarga Cho di barat laut kota, pagi ini Tang kwik Siu memimpin

belasan orang menginap di kebun keluarga Chan yang sudah tak terpakai diluar kota, sedang

dirumah penginapan keluarga Ong diutara kota agaknya dihuni pula seorang gadis baju hitam

serta pelayannya”

Dibawah surat itu tertera nama “Cia Yucong”

“Rupanya dia yang memberi kabar” pikir Hoa In-liong kemudian, “kalau diingat kembali bahwa

pertama dia adalah orang yang punya nama, kedua jasanya terlalu banyak, tak mungkin dia akan

berhubungan langsung dengan seorang pengemis cilik, ehmm….! Cara kerja orang ini boleh juga,

mana teliii mana hati-hati lagi….tak malu dinamakan orang yang berpengalaman”

“Eeeh….coba aku lihat, apa yang ditulis itu? Siapa yang menulis?” seru Coa Cong-gi tiba-tiba

dengan tak sabar.

Hoa In-liong menyerahkan surat itu kepada Coa Cong-gi, lalu katanya dengan tertawa, “Orang

yang menulis surat ini adalah seorang jagoan tersohor di wilayah utara, dia bilang Bwe Su yok

maupun Tang kwik Siu telah berdatangan semua, entah Seng To cu berada dimana sekarang?”

“Haaahhh….haaahhh….haaahhh….bagus sekali!” Coa Cong-gi terbahak-bahak, “Kalau semua

keramaian sudah berda-tangan, maka kita boleh bekerja dengan sepuas-puasnya, ganyang saja

mereka semua sampai bertobat-tobat….”

“Hei, jangan kau anggap semua urusan bisa diselesaikan secara gampang….”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

751

“Lantas apakah adik In liong sudah mempnnyai rencana yang bagus untuk menghadapi musuh?”

tanya Li poh seng.

“Rencana apa? Paling-paling cuma menghadapi perubahan situasi dengan segala kemampuan

yang dimiliki”

Setelah berhenti sebentar, sambil tertawa getir lanjutnya, “Yang paling penting, walaupun jumlah

sahabatku terlalu banyak tapi tak seorangpun yang sanggup menghadapi kelihayan Tang kwik

siu, bila kita main kerubut, sekalipun musuh bisa kita bereskan, kerugihan dipihak kita pasti amat

besar apalagi….”

“Aaah….jangan terlalu mengunggulkan kehebatan orang lain” teriak Coa Cong-gi penasaran,

“kata kongkong, kau pasti sanggup mengalahkan setan tua itu”

Dengan cepat Hoa In-liong menggelengkan kepalanya berulang kali.

“Lain kali mungkin saja bisa, tapi sekarang masih ketinggalan jauh sekali”

Kembali Coa Cong-gi menggetarkan bibirnya seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi Hoa Inliong

sudah terlanjur berpaling ke arah Yu Siau lam sambil bertanya, “Apakah empek dan bibi

sudah ada kabarnya?”

Yu Siau lam menjadi sedih, tapi sikapnya masih tenang.

“Belakangan ini aku belum mendapat kabar apa-apa” sahutnya, “jadi aku tak tahu bagaimana

kah perlakuan orang-orang Hian-beng-kauw terhadap mereka berdua”

Terdengar Coa Cong-gi berseru, “Sebetulnya aku sudah mengusulkan, lebih baik kita satroni saja

bukit Gi bong san, semua orang mendukung usulku ini, anehnya justru dia yang tidak

setuju….coba kau pikir, mengherankan tidak?”

Hoa In-liong membatin, “Saudara Siau lam berbuat demikian tentu dimaksudkan untuk

melindungi keselamatan semua orang, ketenangan semacam ini tak mungkin bisa dilakukan

orang lain, aai….bisa dibayangkan betapa pedih perasaannya”

Sambil menghela napas katanya kemudian, “Orang baik selalu dilindungi Thian, semasa hidupnya

empek dan bibi selalu beramal bagi kesejahteraan manusia, Thian pasti akan melindungi

keselamatannya, tak usah kuatir saudara Siau lam”

Yu Siau lam manggut-manggut, katanya dengan suara dalam, “Kau tak usah mencabangkan

pikiran untuk memikirkan persoalan itu, pusatkan saja semua perhatianmu untuk bertempur

melawan tiga perkumpulan besar”

Diam-diam Hoa In-liong menghela napas.

“Kemana perginya saudara Ek hong….”ia berbisik kemudian.

Li Poh seng ikut bersedih hati, jawabnya.

“Sampai kini saudara Ek hong masih belum diketahui jejaknya, hal ini memang cukup membuat

orang merasa gelisah”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

752

Hoa In-liong termenun tidak menjawab, meskipun timbul kecurigaan dalam hatinya karena

peristiwa antara Wan Ek hong dengan Coa Wi-wi, namun ia merasa kurang baik untuk

mengutarakan persoalan itu secara terbuka, hanya secara diam-diam ia berpikir, mungkinkah

Wan Ek hong tak mau munculkan diri karena tak senang hati lantaran perkataan dari Coa Wi wi

itu?

Tiba-tiba Coa Cong-gi bertanya, “Tahukah kau kenapa adikku tidak datang?”

Hoa In-liong memang ingin menanyakan persoalan itu, karenanya cepat-cepat ia mengangguk.

“Adikku telah pergi ikut kongkong, kata kongkong dia hendak bersemedi disuatu tempat yang

terpencil untuk memulihkan kembali tenaga dalamnya, selain adikku, Cia In juga ikut….”

“Bagaimana keadaan kongkong?” jerit Hoa In-liong dengan wajah berubah hebat.

Coa Cong-gi mengerutkan dahinya.

“Kau tak perlu kaget dan tercenung, kongkong bilang keadaannya tidak apa-apa”

Hoa In-liong kembali berpikir sesudah mendengar perkataan itu, “Dengan kelapangan dada

kongkong, sekalipun didunia ini terjadi peristiwa besar, ia selalu memandangnya secara tawar,

tentu saja keadaannya tidak seenteng apa yang dikatakan….”

Tentu saja apa yang menjadi beban pikirannya tak sampai diucapkan keluar, ia coba berpaling,

dilihatnya Yu Siau lam, Li Poh-seng maupun Ko Siong peng sedang berdiri me1ongo, agaknya

mereka masih belum mengetahui tentang tindakan Goan cing taysu yang membantu

menyempurnakan tenaga dalamnya dengan ilmu Wan kong-koan teng tersebut.

Ia termenung sebentar, akhirnya ia merasa ada baiknya jangan membicarakan persoalan itu.

Tiba-tiba Coa Gong gi berkata lagi.

“Oya, kongkong menitahkan kepadaku untuk menyampaikan sepatah kata kepadamu!”

“Apa kata kongkong?”

“Kongkong bilang, hati yang bijaksana adalab hati Buddha, dengan dasar hati yang bijaksana,

kau boleh melakukan apapun juga, cuma meski kecerdikanmu cukup namun kebesaran jiwa dan

kelembutan hatimu masih ketinggalan jauh, maka kongkong menasehati kepadamu agar lebih

banyak melatih diri”

Hoa In-liong mengangguk.

“Nasehat dari dia orang tua akan selalu terukir dalam hatiku” sahutnya.

Mendadak Coa Cong-gi tertawa tergelak, katanya.

“Haaahhh….haaahhh….haahhh….padahal aku selalu berangggapan kalau kebajikan dan

kelembutan hatinya terlampau berlebihan, watak semacam itu tidak cocok dengan perasaanku.

Aaai….! Coba kalau menurut watakku, mau pukul segera pukul, mau berkelahi segera berkelahi,

buat apa membicarakan soal kelembutan hati segala?”

“Kontan saja semua orang tertawa tergelak mengiringi ucapannya yang cukup kocak itu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

753

Tiba-tiba seseorang mneanggapi sambil tertawa lantang, “Tepat sekali perkataan itu, memang

sudah seharusnya begitu! Memang sepantasnya begitu!”

“Dari balik pintu ruang samping muncul Ho Kee sian yang berjalan menghampiri sambil tertawa

tergelak.

“Siapa kau?” seru Coa Cong-gi cepat.

“Dia adalah empek Ho dan beraama Kee sian” Hoa In-liong mem perkenalkan simbil tertawa

“dulu ia lebih dikenal orang sebagai Tangan sakti pembalik….”

“Cukup, cukup” tukas Ho Kee sian tertawa, “apa gunanya Liong sauya menyinggung kembali soal

julukan perampokku dimasa lalu?”

Hoa In-liong tersenyum, ia lantas perkenalkan kedua belah pihak, kemudian beberapa orang itu

masuk ke ruang tengah dan duduk tanpa urutan siapa tuan rumah siapa tamu, dan

pembicaraanpun segera berlangsung.

Hoa In-liong coba menanyakan tempat pengasingan Goan cing taysu dan Coa Wi wi serta berapa

lama waktunya, siapa tahu Coa Cong-gi sendiripun tidak tahu, ini menyebabkan soal tersebut

sementara waktu harus ditunda lebih dulu, kendatipun hatinya amat kangen.

Malam itu, Coa Cong-gi sekalian menginap di sana, untung halaman yang disewa In liong sangat

luas, bukan saja ada ruang tamunya, ada kamar tidurnya ada pula kamar bacanya, disitulah Kok

Hong seng dan Siau gou ji menginap malam itu”

Tengah malam seorang diri Hoa In-liong melayang keluar dari penginapannya menuju

penginapan Ong keh di utara kota.

Rumah penginapan itu jauh lebih kecil bentuknya daripada rumah penginapan “Thian-hok”,

disana tak ada halaman tersendiri yang disewakan kamar kelas satupun cuma terdiri dari lima

bilik, suasana gelap gulita tiada cahaya.

Dalam suratnya Cia Yu cong tidak menerangkan Si Leng jin dan pelayannya menginap dikamar

yang mana, tapi Hoa In-liong menduga mereka tentu memilih ruangan yang terpencil.

Maka sesudah termenung sebentar, timbul ingatan dalam benak anak muda itu untuk

menimbulkan suara, ia beranggapan andaikata berbuat demikian dua orang itu tentu akan

segera munculkan diri.

Tapi sebelum rencananya dilaksanakan, dari balik sebuah kamar tiba-tiba berkumandang suara

helaan napas panjang serta suara langkah kaki yang berisik, disusul kemudian ia saksikan

sesosok bayangan ramping muncul dari balik jendela secara lamat-lamat.

Satu ingatan melintas dalam benaknya, dengan suatu gerakan secepat sambaran kilat ia

menerobos masuk lewat jendela.

Kamar itu memang gelap, tapi tidak menjadi batangan bagi Hoa In-liong yang mempunyai

ketajaman mata bagaikan kilat, ia sudah menyaksikan seorang gadis berbaju hitam yang

berhidung mancung, berbibir mungil dan menyoren sebilah pedang pendek di-pinggangnya

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

754

berdiri dalam ruangan itu, gadis itu bukan lain adalah gadis baju hitam yang pernah dijumpai

baik dalam gedung keluarga Suma maupun dibukit Ciong san.

Ketika mendengar suara berisik berasal dari jendela, dengan terkejut gadis baju hitam itu

memutar badannya, cahaya tajam berkilauan dan tahu-tahu pedang pendeknya sudah diloloskan.

Hoa In-liong terbahak-bahak, sambil maju kemuka memberi hormat katanya, “Bila kedatangan

telah mengganggu ketenangan nona, harap sudilah dimaafkan”

Nona berbaju hitam itu tidak nampak terkejut meski bertemu dengannya, malah sekilas perasaan

girang menghiasi wajahnya, sambil masukkan pedangnya kedalam sarung tegurnya dengan

dingin, “Tengah malam buta begini, mau apa kau datang kemari?”

“Aaah….! Kalau dilihat dari caranya bersikap mungkin ia sudah menduga akan kedatanganku”

pikir Hoa In-liong.

Sambil tertawa ringan diapun berkata, “Sehari tidak bertemu bagaikan berpisah tiga tahun,

terutama setengah tahun belakangan ini, hatiku benar-benar merasa gundah dan tidak tenang,

karenanya bila dalam tindakanku kurang hormat harap nona suka memaafkan”

Merah padam selembar wajah nona baju hitam itu, bibirnya mencibir seperti hendak

mengucapkan sesuatu, namun jengah untuk diutarakan keluar.

Mendadak dari arah pintu kedengaran suara manusia berkumandang, disusul suara Si Nio

menegur, “Nona, siapa yang datang?”

“Kau tak usah turut campur, sana, pergi tidur!”

“Apakah bocah buyung she Hoa yarg telah datang?” Si Nio kembali bertanya.

Hoa In-liong terbahak-bahak mendengar perkataan itu.

“Haaahhh….haaahh….haaahhh….pujian saudara hanya membuat aku menjadi malu saja”

“Bagus kekali perbuatanmu….” si nona baju hitam menjerit.

“Kraaaaakkk….! tiba-tiba pintu kamar terbuka dan Si Nio yang berwajah penuh codet dan bekas

bacokan itu sudah muncul sambil melototi Hoa In-liong dengan mata tajam.

“Mundur dari sini!” bentak nona baju hitam itu dengan perasaan tak senang hati.

“Tapi, dia….” dengan perasaan ragu-ragu Si Nio menuding kearah Hoa In-liong.

Paras muka si nona baju hitam itu makin mengerikan, dengan gusar teriaknya lagi, “Masa

perkataanku pun tak mau kau turuti? Memangnya kau sudah tidak menganggap diriku sebagai

majikanmu lagi?”

Si Nio tercenung sesaat lamanya, kemudian setelah melotot sekejap Hoa In-liong dengan gemas,

selangkah demi selangkah ia mengundurkan diri dari situ.

Dengan lemah gemulai nona baju hitam itu maju kemuka dan menutup kembali pintu kamar.

Hoa In-liong tersenyum, katanya kemudian, “Jika dilihat dari sikapnya yang begitu garang, waah

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

755

rupanya dia hendak menelanku hidup-hidup bila aku berbuat kurang menguntungkan atas diri

nona”

“Berbicara dari ilmu silat yang dimiliki kongcu, bukankah tindakan itu sama artinya dengan

mencari kematian buat diri sendiri?”

“Haahh….haahhh….haaahhh…. nona Si….”

Hoa In-liong tertawa tergelak, tiba-tiba ia meralat panggilannya, “mungkin nona merasa heran

bukan darimana aku bisa tahu nama nona?”

Nona baju hitam itu mencibirkan bibirnya, “Huuuh…. apanya yang aneh, paling-paling kau bisa

menebaknya karena Si Nio juga berasal dari keluarga Si”

“Tapi aku mengetahui juga kalau nona bernama Leng jin, apakah nona tidak tercengang?” kata

Hoa In-liong lagi sambil tertawa.

“Betul juga, nona berbaju hitam itu menunjukkan perasaan tercengang, tapi sesaat kemudian

dengan suara hambar ia berseru, “Jadi kau sudah berjumpa dengan budak itu?”

“Rupanya antara dia dengan nona baju putih itu mempunyai hubungan permusuhan yang dalam”

batin Hoa In-liong.

Sementara itu Si Leng jin, si nona baju hitam itu sudah mendekati meja lalu mengeluarkan korek

api dan bermaksud menyulut lampu lentera yang ada dihadapannya.

Sebelum lentera itu disulut, Hoa In-liong telah merampas korek api tadi dan memadamkannya

kembali.

“Hei apa maksudmu?” teriak Si Leng jin dengan gusarnya.

“Coba nona terka” Hoa In-liong masih tersenyum.

Si Leng jin tidak langsung menjawab, diam-diam pikirnya, “Hoa In-liong adalah orang yang tidak

jujur, jangan biarkan dia melakukan perbuatan yang kurangajar….”

Tiba-tiba perasaannya bergetar keras, tanpa sadar ia meraba gagang pedangnya dan pelanpelan

mengundurkan diri ke belakang.

Dari sakunya Hoa In-liong mengeluarkan sebuah kipas bergagang emas, lalu sambil

menggoyangkannya ia berkata, “Nona tak usah kuatir, aku hanya merasa bahwa cahaya bintang

dan rembulan sudah cukup menerangi seluruh jagad, buat apa kita musti memasang lampu? Tak

usah kuatir, aku tidak bermaksud apa-apa”

“Tapi ruangan ini gelap gulita” teriak Si Leng jin gusar,” tidakkah kau merasa bahwa

perbuatanmu ini….”

Sebenarnya ia hendak berkata bahwa laki dan perempuan yang tak ada ikatan tak pantas berada

dalam satu ruangan, tiba-tiba gadis itu merasa malu untuk mengucapkannya, tentu saja

perkataanpun terhenti ditengah jalan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

756

Hoa In-liong masih tetap tenang, seakan-akan tak pernah terjadi suatu kejadian apapun, ia coba

memperhatikan suasana dalam ruangan, ternyata kecuali sebuah pembaringan, sebuah meja dan

dua buah kursi tak ada barang lainnya.

Setelah duduk, ia menuding kursi yang lain dengan kipasnya sambil berkata, “Nona silahkan

duduk pula!”

“Lebih baik aku berdiri saja, kau tak usah banyak urusan” tukas Si Leng jin ketus, bahkan berdiri

makin menjauh.

Hoa In-liong tidak berbicara lagi, dia menggoyangkan kipasnya dan berkata lagi, “Begitu nona

tahu kalau aku mengetahui nama nona, kau segera mengatakan kalau muridnya Hian-bengkauwcu

yang memberitahukan ke padaku, itu berarti orang yang mengetahui nama nona pasti

teramat sedikit sekali….”

“Tentu saja jauh ketinggalan bila dibandingkan kepopuleran Hoa ji-kongcu yang tersohor

dimana-mana” tukas Si Leng jin.

“Anehnya, kenapa kau tidak mengatakan kalau aku telah bertemu sendiri dengan Hian-bengkauwcu?

Aku rasa kaucu itu pasti mengenal diri nona bukan….?”

Ketika menyinggung soal Hian-beng-kauwcu, tiba-tiba dari balik mata Si Leng jin yang bening

memancar keluar rasa benci yang tebal, katanya lantang, “Kalau eugkau bertemu dengannya

memang dianggap sekarang kau bisa duduk dengan tenang di sini?”

“Itu berarti dia mempunyai dendam kesumat dengan Hian-beng-kauwcu” pikir Hoa In-liong.

Sementara diluaran katanya, “Ooo….benarkah Hian-beng-kauwcu adalah manusia yang demikian

lihaynya?”

“Hmmm….! Sampai waktunya bila kau bertemu dengannya, maka kau akan mengetahui dengan

sendirinya”

Tiba-tiba Hoa In-liong menyimpan kembali kipasnya, kemudian dengan wajah serius berkata,

“Nona, aku yakin apa yang kau ketahui tentu banyak sekali, bila kau bersedia memberi petunjuk,

aku pasti akan membalas budi kebaikanmu itu….”

“Kalau aku enggan menjawab?” tanya Si Leng jin sambil mencibirkan bibirnya.

“Aku tahu nona pasti mempunyai kisah pengalaman yang menyedihkan hati, sedang perbuatan

inipun hanya akan mendatangkan keuntungan bagi kedua belah pihak, masa nona tidak bersedia

melakukannya dengan senang hati….?”

“Yaa, betul! Justru aku memang tak senang hati”

Hoa In-liong mengerutkan dahinya serta menunjukkan perasaan tak senang hati, ia berpikir,

“Dengan maksud baik aku memohon bantuanmu, tapi kau malah menolak dengan cara yang

begini kasar, tidakkah kau merasa bahwa perbuatan ini sangat keterlaluan?”

Sementara itu Si Leng jin telah berkata lagi, “Walaupun aku berdua memiliki ilmu silat yang

rendah, meskipun kami cuma dua orang yang tak berguna, tapi selamanya tak pernah tunduk

oleh pengaruh kekuatan”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

757

“Oooh….rupanya dia adalah seorang nona yang tinggi hati dan tak suka menerima bantuan

orang” pikir Hoa In-liong.

Berpikir sampai disitu, ia lantas tersenyum dan berkata lagi, “Kalau begitu, bagaimana kalau

anggap saja aku yang memohon kepada nona?”

Si Leng jin tertegun, bibirnya bergetar keras namun tak sepatah katapun yang terlontar keluar.

“Nona….” kembali Hoa In-liong berkata dengan suara berat.

“Kraaaakk….!” tiba-tiba pintu kamar terbuka dan Si Nio muncul kembali dalam ruangan tersebut.

Ia langsung menghampiri Si Leng jin, kemudian serunya dengan cemas, “Nona, kabulkanlah

permintaannya!”

Si Leng jin menunduk dan memandang permukaan lantai dengan termangu, sahutnya, “Dulu

engkau yang ngotot menolak hal ini, sekarang engkau juga yang menyetujuinya, tidak, tidak

bisa!”

Si Nio tertegun.

“Tapi….tapi….aku berbuat demikian kan demi kebaikan nona….” serunya tergagap.

“Tidak!” tukas Si Leng jin ketus.

Tiba-tiba ia memutar badannya menghadap kearah dinding, bahunya bergetar keras menahan

isak tangisnya.

Si Nio menjadi gelagapan dibuatnya, ia memandang majikannya seperti orang kebingungan.

“Nona Si masih belum puas?” Hoa In-liong berkerut kening.

“Kau cengar-cengir sedikitpun tidak menunjukkan keseriusan, siapa yang mau menyanggupi

tawaranmu?” jawab Si Leng jin tanpa berpaling.

Begitu ucapan tersebut diutarakan, tak tahan lagi meledaklah isak tangisnya yang memedihkan

hati.

“Keras kepala amat nona ini….bocah yang terlampau tinggi hati beginilah keadaannya” pikir anak

muda itu, diapun tersenyum.

“Menurut nona, lantas apa yang musti kita laku kan….?”tanyanya kemudian.

Sambil menghadap terus ke dinding kata Si Leng jin, “Bila aku tak mau menjawab, sudah tentu

Hoa kongcu pun tak mau perjalananmu sia-sia belaka, bukankah kaupun akan menahan marah

terus?”

Kerena perkataan itu diucapkan sambil sesenggukan, maka meskipun hanya dua tiga patah kata

saja, namun membutuhkan waktu setengah harian lamanya.

Tergelaklah Hoa In-liong karena geli.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

758

“Aaah…. rupanya nona telah melukiskan diriku sebagai seorang iblis sesat saja, baiklah! Kalau

kau beranggapan demikian, apa boleh buat? Terpaksa aku harus mengundurkan diri dengan

perasaan hati yang sangat kecewa”

Si Leng jin termenung beberapa saat lamanya, ia seperti lagi berpikir, tiba-tiba ujarnya, “Kalau

memang begitu, kau harus bersumpah dulu sebelum aku menceritakan keadaan yang

sesungguhnya”

Sambil berkata pelan-pelan ia memutar kembali tubuhnya.

Air mata masih membasahi pipinya, nona itu kelihatan amat bersedih hati dan bikin hati orang

iba saja hatinya, cukup mengge-tarkan perasaan siapapun jua.

Sekalipun sedang marah, lembek juga perasaan Hoa In-liong setelah menyaksikan keadaan itu,

ia berpikir, “Aaaai….walaupun kekuatan dua orang ini terlalu minim, namun kesombongan serta

keras kepala mereka luar biasa sekali, bagaimanapun juga sudah sepantasnya kalau kubantu

usaha mereka”

Berpikir sampai disitu, dia lantas tertawa getir dan berkata, “Nona, buat apa kau terlalu memaksa

orang lain? Ketahuilah, aku bersedia membantumu karena timbul dari sanubariku, buat apa kau

memaksa aku untuk bersumpah pula?”

Tiba-tiba Si Nio mengundurkan diri dari situ, kemudian merapatkan kembali pintu ruangan.

“Baiklah” kata Si Leng jin kemudian, “akan kuceritakan apa yang kuketahui, cuma tidak terlalu

banyak yang bisa kuterangkan, mungkin saja kau akan kecewa, tapi hakekatnya aku tidak akan

menyembunyikan atau merahasiakan sesuatu, percayalah!”

“Untuk berterima kasihpun sudah tak sempat, mana aku berani mencurigai nona?” cepat cepat

Hoa In-liong memberi hormat.

“Mari kita bercakap-cakap diluar kota saja!” ajak si nona kemudian sambil membesut air mata.

Ia menjejakkan sepasang kakinya siap menerobos keluar lewat daun jendela.

Tentu saja Hoa In-liong tahu, ia berbuat demikian karena kuatir dibalik dinding ada telinganya,

sambil tersenyum ia menghalangi, katanya, “Aku rasa tempat inipun cukup baik, buat apa kita

musti berpayah payah makan angin malam di luar kota?”

Dia membuat api dan menyulut lampu lentera yang ada dimeja.

“Ditempat ini juga?” kata Si Leng jin sambil memutar badan.

“Yaa!” Hoa In-liong tertawa, “buat apa nona musti banyak menaruh curiga?”

Kontan saja Si Leng jin tertawa dingin.

“Heeehhh….heeehhh….heeehhh…. Hoa kongcu, kau anggap kepandaian silatmu sudau mencapai

tingkatan yang tinggi sehingga setiap musuh yang mendekati tempat ini dapat kau temukan?”

“Hmmm….yang lain tak usah dibicarakan, cukup berbicara soal jago-jago dalam Hian-beng-kauw,

jago lihay yang lebih hebat dari kongcu mungkin puluhan orang banyaknya, kau anggap

kepandaianmu sanggup mengalahkan mereka?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

759

Sekalipun mengomel terus, toh nona itu duduk juga.

“Oooh…. begitu banyakkah jago lihay dari Hian-beng-kauw?” kata Hoa In-liong kemudian dengan

dahi berkerut.

“Jadi Hoa kongcu menganggap siau li sengaja mengibul untuk menakut-nakuti dirimu?”

“Tentu saja tidak!” anak muda itu tertawa.

Betapa mendongkolnya Si Leng jin menyaksikan pemuda itu masih belum percaya juga, sambil

tertawa dingin ia mengalihkan pokok pembicaraan kesoal lain, katanya, “Kalau Hoa kongcu ingin

cepat-cepat mengetahui latar belakang perkumpulan Hian-beng-kauw, siau li….”

“Yang ingin kuketahui secepatnya adalah asal usul serta pengalaman hidup nona pribadi” tukas

Hoa In-liong tiba-tiba.

Jawaban ini membuat Si Leng jin tertegun.

“Setiap lelaki sejati selalu beranggapan bahwa persoalan yang menyangkut keadaan umum jauh

lebih penting, apalagi pengalaman hidup maupun asal usul siau li sangat biasa, lebih baik tak

usah dibicarakan”

Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak, ia mengambil kembali kipasnya lalu….

“Sreeeeetr….” dibentangkan lebar-lebar.

“Orang lelaki didunia ini mungkin saja akan berbuat demikian” begitu katanya, “tapi aku adalah

orang yang lain daripada yang lain, semenjak kecil aku sudah memiliki cara berpandangan yang

lain, aku lebih mengutamakan perempuan cantik….”

Panas rasanya pipi Si Leng jin karena jengah, dia melengos ke samping lain dan tak berani

menatap pemuda itu lagi.

Terdengar Hoa In-liong berkata lebih lanjut, “Apalagi menghadapi nona yang begitu cantik dan

menawan hati, apakah aku tega membiarkan kau ketimpa musibah tanpa memberi bantuan apa

apa juga? Mana hatiku bisa tenteram membiarkan kau sengsara dan tersiksa batinnya?”

Ucapan itu setengahnya benar dan setengahnya bohong, tapi sudah cukup menggetarkan

perasaan Si Leng jin.

Ia termenung sesaat lamanya, kemudian berkata, “Asal usulku mempunyai hubungan yang erat

sekali dengan Hian-beng-kauw, mau membicarakan yang lama lebih dulu adalah sama saja.

karena itu lebih baik kita membicarakan soal Hian-beng-kauw saja lebih dulu”

“Terserah kemauan nona” cepat-cepat Hoa In-liong menjura.

Pelan pelan Si Leng jin berpaling, kemudian ujarnya, “Siau li sudah beberapa kali bertemu

dengan Hian-beng-kauwcu….”

“Siapakah namanya?”

“Entahlah!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

760

Tapi sesudah termenung sebentar, ia berkata lagi, “Tapi aku percaya nama yang ia sebutkan

pasti nama palsu”

Hoa In-liong gelengkan kepalanya berulang kali, “Belum tentu” ia menyabut, “aku tahu Hianbeng-

kauwcu adalah seorang manusia yang tinggi hati dan latah, mungkin saja ia tak mau

berubah namanya dengan nama lain”

“Pernah kau dengar seorang jago persilatan yang bernama Si Piau?” tanya Si Leng jin sambil

tersenyum.

Hoa In-liong berpikir sebentar lalu tertawa getir.

“Mungkin seorang gembong iblis yang belum pernah terjun dalam dunia persilatan!” katanya

kemudian.

Diluar ia berkata demikian, diam-diam pikirnya, “Hian-beng-kauwcu mempunyai ikatan dendam

dengan ayah ibuku, itu berarti dahulu orang itu pernah melakukan pula perjalanan dalam dunia

persilatan, cuma….”

Walaupun ia cerdas, namun menghadapi persoalan yang aneh dan tak masuk diakai ini,

melengkong juga anak muda itu dibuatnya.

Kedengaran Si Leng jin berkata lagi, “Iblis itu masih kuat dan gagah, mukanya tidak termasuk

kategori wajah bengis, yang paling menyolok ia mengenakan sebuah jubah panjang berwarna

merah, orang perkumpulan menyebutnya kaucu, sedang ia sendiri membahasai diri sebagai

Sinkun….”

“Apakah Kiu-ci Sinkun?” tiba-tiba Hoa In-liong menyela.

“Darimana kau bisa tahu?” Si Leng jin membelalakkan sepasang matanya lebar-lebar, “Tidak

aneh kalau aku merasa ilmu silat yang tercantum dalam batas buku kemala hijau itu kenapa bisa

mirip dengan ilmu silat yang digunakan beberapa orang Ciu Hoa” pikir Hoa In-liong, “ternyata

dugaanku tidak meleset, tapi….mungkinkah Kiu-ci Sinkun masih mempunyai ahli waris yang

lain….?”

Berpikir sampai disitu, diapun berkata, “Aku dapat berkata demikian, sebab aku pernah

menyaksikan ilmu silat yang digunakan Ciu Hoa mirip sekali dengan ilmu silat aliran istana Kiu ci

kiong”

“Tapi ilmu silat yang dimiliki Kiu-ci Sinkun belum pernah tersiar dalam dunia persilatan, darimana

Hoa kongcu bisa tahu?” Si Leng jin nampak sangat tercengang.

“Secara kebetulan aku pernah mendapatkan suatu benda yang memuat ilmu silat aliran Kiu-ci

Sinkun sebab itulah aku mengetahui hal ini dengan jelas”

Si Leng jin menggerakkan bibirnya seperti hendak mengucapkan sesuatu, namun akhirnya ia

tutup mulut kembali dan membatalkan maksud sebenarnya.

Tentu saja Hoa In-liong mengetahui apa yang dipikirkan, dia tersenyum lalu dari sakunya

mengambil keluar batas buku yang terbuat dari kemala hijau itu.

“Silahkan periksa nona!” katanya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

761

Si Leng jin tertegun, pikirnya, “Begitu percaya ia serahkan benda tersebut kepadaku, tampaknya

ia benar-benar telah menganggapku sebagai sahabatnya….!”

Meski begitu diapun kuatir seandainya Hoa In-liong melancarkan sergapan secara tiba-tiba, maka

sambil menengadah, ia mengawasi wajah pemuda itu dengan sepasang biji matanya yang jeli.

“Hoa kongcu” ujarnya kemudian, “aku dengan Hian-beng-kauw mempunyai ikatan dendam yang

lebih dalam dari samudra, kalau toh engkau mempunyai benda tersebut, bersediakah kau penuhi

keinginanku?”

“Benda ini tiada kegunaan yang terlampau besar bagiku, bila nona sangit membutuhkannya,

terimalah saja benda ini”

Si Leng jin tidak sungkan-sungkan, Ia menerima batas buku kemala hijau dan dimasukkan

kedalam saku.

Lalu setelah termenung sebentar, tiba-tiba katanya, “Hoa kongcu, aku merasa sedikit kurang

percaya dengan perkataanmu itu….”

Sikap maupun nada suaranya jauh lebih lembut dan lunak daripada keadaan sebelumnya.

Hoa In-liong agak tertegun, kemudian sambil tertawa ia bertanya, “Bagian manakah yang

menurut nona sangat meragukan?”

“Saat ini Hoa kongcu sedang bermusuhan dengan Hian-beng-kauw, seandainya kau ingin

menguasahi juga ilmu silat yang dimiliki Hian-beng-kauwcu, hal tersebut dapat kau pelajari dari

benda tersebut, kenapa kau mengatakan tak ada kegunaan yang besar?”

“Ooooh….rupanya nona maksudkan hal itu”

“Apakah aku salah menyangka?”

“Bukannya aku sengaja mengibul atau terlampau membanggakan diri, begitu untuk mengalahkan

orang-orang bawahan Hian-beng-kauwcu semu dah membalikkan telapak tangan sendiri,

sebaliknya untuk menghadapi Hian-beng-kauwcu tak mungkin aku bisa mengatasinya dengan

cara mempelajari pula ilmu sealiran dengannya, sebab ilmu silat iblis itu tentu sudah dilatih

sedemikian sempurna sehingga sukar ditemukan titik kelemahannya, itu berarti bukan pekerjaan

yang mudah bagiku untuk mengatasi kepandaiannya dengan kepandaian yang sealiran

dengannya”

Setelah berhenti sebentar, ia menambahkan, “Tentu saja secara otomatis benda tersebut tak ada

gunanya bagiku, betul tidak?”

Si Leng jin menghela napas panjang.

“Aaaaaai….kenyataan memang begitu, dan aku pun musti menerima kebaikanmu dalam hati

saja”

Tiba-tiba ia mengeluarkan kembali batas buku kemala hijau itu lalu diangsurkan kehadapan Hoa

In-liong.

“Harap Hoa kongcu menerima kembali benda ini!” katanya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

762

Hoa In-liong termenung sebentar, lalu sambil tertawa berkata, “Waaaah….kalau begitu, aku kan

menjadi orang yang plin plan? Sudah diberikan orang lain sekarang diterima kembali?”

Sambil gelengkan kepalanya ia menerima kembali batas buku kemala hijau tersebut.

“Kau toh memang orang plin plan, apanya yang musti diherankan?” kedengaran Si Leng jin

berkata sambil tertawa.

Sebenarnya kapan saja dan dimana saja nona ini selalu diliputi kemurungan dan kesedihan,

seakan-akan tak pernah ia ketahui tingginya langit dan tebalnya bumi, dan seolah-olah pula tak

tahu kalau didunia ini penuh kegembiraan.

Sekalipun jauh berbeda bila dibandingkan dengan sikap dingin dari Bwee-Su yok, namun toh

sama-sama menimbulkan kesan bagi siapapun bahwa mereka adalah orang-orang yang tak bisa

diajak bergaul.

Tapi setelah tersenyum sekarang, ibaratnya matahari yang tiba tiba muncul dimusim salju yang

dingin, seketika melumerkan perasaan beku siapa-pun dan mendatangkan perasaan hangat.

Senyumannya begitu bebas, begitu lebar dan muncul dari sanubari yang dalam, hal ini membuat

gadis itu tampak lebih cantik, lebih menawan dan mempersonakan hati siapapua juga.

Hoa In-liong ikut berseri oleh kegirangan, segera ia berpikir, “Entah persoalan apa yang

membuat ia murung kesal dan selalu bersedih hati? Padahal dia lebih cocok merupakan seorang

gadis periang yang selalu gembira, kemurungan dan kesedihan cuma menimbulkan kesan aneh

bagi siapa pun yang memandangnya….”

Hoa In-liong merasa kemurungan dan kesedihan yang sepanjang tahun menyelimuti gadis itu

hanya merupakan siksaan yang paling kejam, ia ingin menanggulangi hal itu bagi si nona.

00000O00000

39

NONA, bolehkah aku mengetahui riwayat hidupmu….?” katanya kemudian dengan nada lirih.

“Soal itu tak usah disinggung!” tukas Si Leng jin dengan cepat.

Sesudah berhenti sebentar, katanya kembali dengan suara sedih, “Sebetulnya aku tidak ingin

mengatakannya kepadamu, tapi sekarang, aku sudah berubuh pikiran.

“Memang lebih baik kau katakan kepadaku, sebab dengan begitu akan mengurangi pula siksaan

batinmu” ujar Hoa In-liong lembut.

Si Leng jin mengangguk lirih, tiba-tiba ia tertawa.

“Ada baiknya kuceritakan dulu secara ringkas soal organisasi dalam perkumpulan Hian-bengkauw”

katanya.

Setelah berpikir sebentar, ia berkata lagi, “Dibawah kekuasaan Hian-beng-kauwcu, agaknya

masih terdapat seorang Hu kaucu….”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

763

Satu ingatan dengan cepat melintas dalam benak Hoa In-liong, tiba-tiba selanya, “Siapakah

nama Hu kaucu tersebut?”

“Aku hanya mendengar orang memanggilnya sebagai Go hu kaucu, siapakah nama yang

sebenarnya aku kurang bsgitu tahu”

“Oooh….rupanya suami Thia siok bi adalah Hu kaucu perkumpulan Hian-beng-kauw saat ini” pikir

Hoa In-liong, “tak aneh kalau ia seperti segan untuk membicarakan masalah itu, akan tetapi

Hong giok….”

Kedengaran Si Leng jin melanjutkan kembali kata-katanya, “Lebih ke bawah lagi adalah

Pemimpin Markas besar, thamcu ruang langit, thamcu ruang bumi dan thamcu ruang manusia,

tiap ruang terbagi pula dalam sektor sektor bagian luar dan bagian dalam, setiap bagian

mempunyai kantor-kantor cabang disetiap wilayah, rata-rata mereka adalah kawanan jago yang

memiliki ilmu tinggi. Yang paling luar biasa adalah sekawanan manusia aneh yang dipelihara

dalam istana Ban yu tian, setiap jago yang ada disitu semuanya merupakan jago-jago lihay yang

berilmu tinggi….”

Mendengar keterangan terssbut, Hoa In-liong segera berpikir didalam hati, “Konon dalam istana

Kiu ci kiong tempo dulu juga terdapat istana Ban yu tian, jikalau iblis itu mengangkat dirinya

sebagai Kiu ci-sinkun, tentu saja istana yang dibangunpun akan mirip pula dengan istana Kiu ci

kiong tempo dulu….”

Setelah berpikir sampai disitu, ia lantas bertanya, “Selihay-lihaynya ilmu silat yang dimiliki

kawanan manusia aneh tersebut, rasanya kepandaian mereka tentu berada dibawah kepandaian

Hian-beng-kauwcu sendiri bukan?”

Si Leng jin tertegun kemudian sahutnya, “Yaa….sudah tentu kepandaian silat mereka berada

dibawah kepandaian Hian-beng-kauwcu sendiri”

Tiba-tiba Hoa In-liong menengadah dan tertawa terbahak-bahak.

“Haaahhh….haaahh….haaahh….kalau toh kawanan manusia itu tidak lebih hanya budak-budak

peliharaan Hian-beng-kauwcu, pantaskah mereka disebut sebagai sekawanan manusia aneh?”

Baru saja Si Leng jin tertegun dibuatnya, mendadak….” Sreceeett!” serentetan desingan angin

tajam menyambar masuk kedalam ruangan dan langsung menyergap tubuh Hoa In-liong.

Jelek-jelek Hoa In-liong terhitung seorang jago yang sangat tanagguh, sudah barang tentu ia

tidak membiarkan badannya termasuk oleh sambitan tersebut, kepalanya segera dimiringkan ke

samping, dengan sedikitpun tidak panik atau gugup ia membiarkan serangan tadi lewat dari

sisinya.

“Plaaaakk….!” batu itu melesat lewat dan menghantam dinding pintu ruangan.

Gelak tertawa nyaring segera berkumandang memecahkan kesunyian, seseorang berseru dari

luar jendela, “Bocah muda, kau berani sembarangan berbicara, caramu itu sudah sepantasnya

kalau diberi pelajaran yang setimpal”

Secepat sambaran kilat Hoa In-liong melompat keluar lewat jendela, lalu bertanya, “Hei

bukankah kau hendak memberi pelajaran kepadaku? Kenapa kabur dari sini?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

764

Bentakan tersebut diutarakan bagaikan guntur yang membelah angkasa, seluruh penginapan

dibuat menjadi gaduh dan tamu-tamu yang menginap disitupun tersentak bangun.

Meski demikian tak seorangpun yang berisik atau bersuara, sebab mereka tahu pertikaian antara

kawanan manusia dari dunia persilatan tak boleh dicampuri, karenanya suasana masih tetap

hening dan sepi.

Hoa In-liong sudah melompat keatas atap rumah, dari kejauhan sana ia menyaksikan sesosok

bayangan sedang meluncur kearah timur laut, satu ingatan cepat melintas dalam benaknya,

pengejaran segera dilakukan.

“Hoa kongcu….” tiba-tiba kedengaran Si Leng jin berteriak memanggil.

Hoa In-liong segera menghentikan langkah kakinya, seraya berpaling ia berkata, “Nona Si, orang

itu harus dilenyapkan dari muka bumi, kembalilah ke kamarmu dan tunggu aku disitu.”

Sementara pembicaraan sedang berlangsung, bayangan manusia itu sudah berkelebat diatas

dinding kota sana lalu lenyap.

Pemuda itu sangat gelisah, sekuat tenaga ia melakukan pengejaran.

Tiba-tiba di atas dinding kota, bayangan manusia itu kelihatan sedang berlarian puluhan tombak

jauhnya didepan sana, ia segera mengerahkan segenap tenaganya untuk mengejar.

Ia tak mau kehilangan jejak orang itu, sebab kalau didengar dari nada perkataannya jelas orang

itu anggota Hian-beng-kauw, berbahaya sekali keselamatan Si Leng jin berdua bila orang ini

dibiarkan kabur.

Pengejaran dilakukan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, dalam waktu singkat kota Si

ciu sudah jauh ketinggalan.

Pengejaran kembali dilakukan sekian waktu, mendadak Hoa In-liong menyaksikan bayangan

manusia didepan sana berhenti.

“Berbicara dari ilmu meringankan tubuh yang dimiliki orang itu. jelas ia adalah seorang jago yang

sangat tangguh” pikir anak muda itu kemudian. “Bukan pekerjaan yang ringan bagiku bila ingin

merebut kemenangan darinya….”

Sementara otaknya masih berputar, ia sudah berada dihadapan orang itu, ternyata dia adalah

seorang kakek berbaju hijau yang bermuka merah seperti apel masak.

Kedengaran kakek berjubah hijau itu tertawa terbahak-bahak.

“Haaahh….haaahh….haaahh….bocah muda, mau apa kau susul diriku?”

Hoa In-liong segera menghentikan langkahnya.

“Tak ada gunanya banyak membicarakan soal yang tak berguna, aku hanya ingin bertanya

kepadamu, mau kusekap sementara waktu ataukah hendak terkubur selamanya disini?”

Ucapan tersebut diucapkan amat santai dan enteng, seakan-akan ia tidak memandang sebelah

matapun terhadap musuhnya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

765

Berkobar hawa amarah kakek itu, dengan suara keras bentaknya, “Bocah keparat, kau terlalu

latah, aku….”

Mendadak ia seperti menyadari sesuatu, sambil tertawa terbahak bahak katanya kemudian, “Licik

betul kau si bocah muda, jelek-jelek begini asam garam yang pernah kumakan jauh lebih banyak

darimu, memangnya kau anggap perahuku bakal terjungkir dalam selokan?”

Hoa In-liong memang bermaksud memanasi hatinya sehingga kesadarannya agak terganggu,

apabila hal ini sampai terjadi maka kemenangan tentu lebih mudah diraih untuk pihaknya.

Namun dia harus mengakui juga kepintaran kakek tersebut, ia memuji atas ketelitiannya

disamping memperingati diri sendiri agar jangan terlampau memandang enteng lawan.

Pedang antiknya segera dicabut keluar, lalu katanya, “Akupun bicara yang sesungguhnya, mau

dituruti atau tidak terserah kepadamu!”

Kakek berjubah hitam itu memandang pedang antik itu sekejap, lalu katanya, “Apakah sudah

bersiap sedia untuk melakukan duel satu lawan satu denganku?”

“Kalau kau sudah tahu, itu lebih bagus”

Pedangnya segera diputar sambil melancarkan bacokan ke depan.

Kakek itu tidak melirik barang sekejappun terhadap lawannya, sikapnya begitu santai seakanakan

tak pernah terjadi suatu apapun, kemudian sambil menengadah tertawa terbahak-bahak.

“Sayang….sungguh amat sayang!”

Sekalipun Hoa In-liong orangnya aneh dan binal, jiwanya tetap gagah dan perkasa, karena kakek

berjubah hijau itu tidak menangkis maupun berkelit dari serangannya.

“Apa yang patut disayangkan?” tegurnya.

“Kau anggap siapakah lohu ini?” tanya Kakek berjubah hijau sambil menarik kembali gelak

tertawanya.

“Mungkin kau adalah salah seorang diantara kawanan manusia yang dipelihara Hian-bengkauwcu

dalam istana Ban yu tian”

“Sayang….sayang…. lohu merasa sayang bagimu, sebelum duduknya persoalan diketahui dengan

jelas, ternyata kau sudah melakukan perbuatan seenaknya sendiri, padahal kau harus tahu,

dalam situasi yang amat berbahaya ini, yang paling kau utamakan adalah ketelitian….”

Diam-diam Hoa In-liong tertawa dingin, lalu ejeknya, “Waah….lagaknya saja seperti seorang

cianpwe yang sedang menasehati anak muda…. Hmm, sebutkan dulu siapa namamu!”

“Kita kan tidak akan melakukan hubungan? Buat apa musti melaporkan nama segala?”

Hoa In-liong mengerutkan dahinya, lalu menjawab, “Sayang keadaan tidak mengijinkan kau

menuruti kehendak sendiri, bagaimanapun juga malam ini aku hendak menjajal kepandaianmu!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

766

Bagaimana selanjutnya? Dan siapakah kakek berjubah hijau itu? Benarkah dia adalah salah satu

diantara kawanan manusia aneh yang dipelihara Hian-beng-kauwcu dalam istana Ban yu tian

nya?

Siapa pula Hian-beng-kauwcu yang mempunyai dendam lebih dalam dari samudra dengan

keluarga Hoa itu?

Untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya, silahkan mengikuti lanjutan dari cerita ini dalam

judul barunya, “NERAKA HITAM”

TAMAT.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar