Selasa, 06 Oktober 2009

rahasia 11

Yaa, pada hakekatnya Wan Hong-giok memang telah berubah. Ia telah berubah menjadi

manusia lain yang belum dijumpai sebelumnya.

Kalau dulu Wan Hong giok memiliki badan yang montok, padat berisi dengin muka yang cantik

bak bidadari. Dengan gerak-gerik yang lincah, hangat seperti api, yang mana seakan-akan

siapapun yang mendekatinya akan menjadi leleh karena kepanasan, maka keadaannya sekarang

justru merupakan kebalikan dari kesemuanya itu.

Kobaran api kehangatannya yang menyala sekarang telah padam, tubuhnya yang montok, padat

berisi kini tinggal kulit pembungkus tulang. Ibaratnya sekuntum bunga mawar yang baru mekar,

tiba-tiba terendam didalam gudang salju, seketika itu juga jadi layu dan kaku.

Padahal, sebagaimana kita ketahui Hoa In-liong adalah seorang pemuda yang romantis dan

gampang terpikat oleh kecantikan perempuan. Tentu saja ia menjadi beriba hati, menjadi

kasihan setelah menyaksikan keadaan Hong-giok sekarang ini. Sekalipun rasa kasihan itu bukan

lantaran kecewa tapi betul-betul timbul dari hati kecilnya.

Ditatapnya gadis itu dengan wajah termangu, tiba-tiba hatinya jadi kecut. Pemuda ini betul-betul

tak dapat mengendalikan emosinya lagi. “Nona Wan, bagaimanakah perasaanmu sekarang?”

tanyanya dengan penuh perhatian, “Apakah lukamu telah sembuh kembali?”

Kalau “Hong keng” dianggap sebagai “Be Liang” maka begitulah keadaannya. Semakin kuatir dan

penuh perhatian nada pertanyaan si anak muda itu, semakin pedih perasaan Wan Hong-giok

dibuatnya, Dia mengira rasa cinta Hoa In-liong terhadapnya sudah amat mendalam sekali,

hingga peristiwa tersebut membuat gadis ini bertambah kecewa, bertaubat, menyesal dan tentu

saja kesedihan yang tak terkendalikah.

Terhadap perhatian orang, sering kali perhatian yang bersifat persahabatan disalah taksirkan

sebagai perhatian yang bersifat cinta. Ini terbukti dari kejadian yang dialami Wan Hong-giok

dengan Hoa In-liong.

Perlu diterangkan disini, meski kurang baik nama Wan Hong-giok dalam dunia persilatan, tapi

sewaktu dia bertemu dengan Hoa In-liong di kota Lok-yang tempo hari, gadis itu masih berstatus

sebagai gadis perawan.

Sejak berpisah di Lok-yang, Wan Hong-giok selalu terkenang akan pemuda itu atau dengan

perkataan lain ia telah jatuh cinta. Sayang nasibnya kurang mujur, selaput daranya harus

direnggut di tangan iblis dari Mo-kauw yang mengakibatkan kesuciannya ternoda.

Setelah terjadi peristiwa tersebut, beberapa kali ia sudah berniat untuk menghabisi nyawa

sendiri. Tapi ketika ia tahu bahwa orang-orang Mo-kauw mempunyai rencana busuk yang

mempengaruhi keselamatan umat persilatan pada umumnya dan keselamatan keluarga Hoa Inliong

pada khususnya, gadis ini pun jadi nekad. Ia berusaha tetap mempertahankan hidupnya

untuk menolong sang kekasih dari ancaman maut, maka dibuatnya perjanjian dibukit Yan-san.

Yaaa, demikianlah kalau orang salah tafsir. Siapa tahu Hoa In-liong yang sudah dihalangi niatnya

oleh banyak orang, akhirnya terkena juga perangkap orang-orang Mo-kauw yang mengakibatkan

ia keracunan Sin-hui atau racun ular sakti.

Kesemuanya itu sudah membuat hatinya cukup kecewa, apalagi mendapat perhatian lagi dari

Hoa In-liong. Akibatnya perasaan “simpatik” disalah tafsirkan sebagai perasaan “cinta”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

423

Sebetulnya dua persoalan tersebut merupakan persoalan yang berbeda. Tapi kalau kita suruh

Wan Hong-giok yang sudah terlanjur jatuh cinta menyadari akan perbedaan itu, boleh dibilang

ibaratnya orang ingin terbang ke langit, bukan sukar saja malah sama sekali tak mungkin.

Kalau tidak sulit, tak nanti gadis itu sampai mengeluh akan dirinya yang cacad dan bermaksud

menghabisi nyawa sendiri.

Waktu itu ia duduk dengan badan gemetar, air matanya seperti hujan gerimis, mengucur keluar

tiada habisnya. Bibir gemetar seperti mau bicara, tapi sepotong kata pun tak mampu diutarakan.

Akhirnya setelah menghela napas sedih, ia menutupi wajah sendiri dengan kedua belah tangan,

kemudian menangis tersedu-sedu.

Hoa In-liong yang romantis memang suka main perempuan, sayang ia tak tahu bagaimanakah

perasaan Wan Hong-giok saat ini. Ketika dilihatnya gadis itu menangis, pemuda kita lantas

mengira kalau si nona jadi sedih lantaran lukanya yang parah atau mungkin terkenang kembali

akan musibah yang menimpa dirinya. Timbullah keinginan hatinya untuk menghibur si rona itu

dengan beberapa patah kata.

“Jite, jangan kau ganggu diri nona Wan lagi” tiba tiba Hoa Si menegur dengan kurang sabaran

“Kau sendiri juga perlu istirahat, ayoh baik-baik atur pernapasanmu, jangan sampai racun ular itu

kambuh semakin parah!”

“Jangan kuatir Toako, aku masih tahu diri” sahut Hoa In-liong sambil manggut-manggut.

“Tahu diri apa!” gerutu Coa Wi-wi, “Kemarin alasannya tidak tenang, sekarang toh enci Wan

sudah tidak apa-apa, kenapa tidak kau gunakan kesempatan ini untuk menjajal sim-hoat

istimewamu untuk mengusir racun jahat dari tubuhmu? Mumpung Toako berada disini, ayoh

cepat dicoba!”

Wan Hong-giok yang membungkam tiba-tiba ikut mendongak, dengan wajah yang basah oleh air

mata katanya pula, “Hoa kongcu, aku yang rendah tak berani merisaukan hatimu dan tak pantas

membuat hatimu risau. Bila kongcu tidak tenang hatinya lantaran aku atau kongcu menunda

waktu sedemikian untuk mengusir sisa racun lantaran aku, aku yang rendah betul-betul merasa

tak terkirakan besarnya dosaku”

“Tidak…. tidak…. kau jangan berkata begitu” cepat Hoa In-liong gelengkan kepalanya berulang

kali, “Demi keselamatan dunia persilatan, demi kepentingan keluarga Hoa kami, kau telah

menjadi korban ditangan musuh. Jangan toh baru menunda waktu sedemikian, sekalipun Hoa Inliong

harus mengorbankan jiwa demi dirimupun aku juga rela!”

“Betul!” sambung Coa Wi-wi, “Apakah kau masih dapat mempertahankan diri. Enci Wan? Kalau

tidak ada halangan apa-apa, harap terangkanlah rencana busuk apakah yang telah dipersiapkan

orang-orang Mo-kauw dari Seng sut pay itu. Sebelum kau terangkan kesemuanya itu, mungkin

Jiko tak dapat menenangkan hatinya”

Pada hakekatnya, dengan ucapan tersebut gadis itu sudah memberi penjelasan yang cukup

alasan “simpatik” Hoa In-liong. Yaa sayang Wan Hong-giok sudah terlalu terpengaruh oleh

kobaran cintanya, bukan saja tidak menjadi sadar, ia malah terperosok lebih dalam.

“Hoa kongcu” katanya kemudian sesudah merenung sebentar, “Yang penting racun dalam

tubuhmu harus disingkirkan dulu, tapi kalau kau ingin cepat tahu, yaa, baiklah aku katakan

secara ringkasnya saja”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

424

Setelah berhenti sebentar, dia berpaling kearah Hoa Si dan bertanya kembali, “Toa kongcu

dalamkah ikatan dendam ayahmu dengan kaucu dari Mo-kauw?”

Hoa Si mengangguk, “Yaa, aku rasa begitu, sebab sewaktu mencari harta karun dibukit kiu-cisan,

Mo-kauw kaucu memang dibikin keok oleh ayahku”

Pelan-pelan Wan Hong-giok alihkan pandangan matanya ke wajah Hoa In-liong. “Bila ditinjau

dari pembicaraan mereka, tampaknya mereka juga punya dendam dengan ibumu?”

“Aku kurang begitu tahu” Hoa In-liong gelengkan kepalanya, “Cuma gwakong (engkong luar) ku

adalah ketua Sin Ki-pang dimasa itu. Beliau ikut pula dalam peristiwa penggalian harta karun

dibukit Kiu-ci-san. Jadi bila dikatakan ada dendam, maka besar kemungkinan kalau dendam itu

dibuat pada masa tersebut”

“Aaaai…. Berbicara soal rencana busuk mereka, pada hakekatnya semua siasat mereka tertuju

untuk memusuhi ayah ibumu. Rupanya rasa benci Mo-kauw kaucu terhadap ayah ibumu sudah

merasuk sampai ketulang sumsum. Tapi lantaran mereka sadar bahwa kepandaian yang mereka

miliki masih bukan tandingan kedua orang tuamu, maka diambilnya keputusan untuk

melaksanakan operasi pembalasan dendamnya secara diam-diam. Selain menghimpun kekuatan

dan melatih anak buahnya untuk lebih tekun berlatih ilmu, mereka juga memelihara pelbagai

jenis binatang beracun untuk mempersenjatai diri. Selain itu merekapun berusaha menangkapi

sandera-sandera yang akan mereka bunuh sebanyak-banyaknya. Aku rasa kekuatan seperti ini

cukup mengerikan hati”

“Enci Wan, soal semacam itu tak perlu dibicarakan, tolong bicara saja tentang rencana busuk

mereka!”

Wan Hong-giok mengangguk lirih. “Secara garis besarnya, rencana busuk mereka dapat dibagi

menjadi rencana secara terang-terangan dan rencana secara tersembunyi. Selain itu dapat dibagi

pula menjadi setengah terang dan setengah sembunyi. Yang termasuk rencana secara

tersembunyi, boleh dibilang sudah dilaksanakan semenjak sepuluh tahun berselang”

“Sepuluh tahun berselang….?” Hoa In-liong terkesiap, “Lalu bagaimana dengan rencana mereka

yang terang terangan?”

“Rencana mereka yang termasuk terang-terangan berpengaruh besar atas keselamatan seluruh

dunia persilatan di daratan Tionggoan. Rencana tersebut baru dilaksanakan setelah soal

“pembalasan dendam” terlaksana. Mereka hendak menguasai seluruh daratan Tionggoan dan

melakukan pembantaian serta pengejaran secara besar-besaran terhadap musuh mereka”

“Hmmm….! Besar amat ambis mereka!” jengek Coa Wi-wi sambil mendengus dingin, “Sayang

mereka terlampau tak tahu kekuatan sendiri!”

“Aaaai…. Tak bisa dikatakan begitu” Wan Hong-giok menghela nafas sedih, “Konon mereka

berhasil mengendalikan sekelompok Bu-lim cianpwe yang berilmu tinggi untuk dijadikan

penyerang-penyerang depan mereka. Jika benar-benar akan terjadi hari demikian. Payah….

payah…. hancurlah seluruh dunia persilatan kita”

“Waaah…. Masa sampai terjadi begitu?” Hoa In-liong rada berubah wajahnya, “Tahukah nona

Wan, manusia-manusia macam apa saja yang berhasil mereka kuasai?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

425

Wan-Hong-giok menggeleng. “Soal ini bersifat sangat rahasia, jangan toh aku, Hong mereka

sendiripun kurang jelas”

“Aaah…. Omongan kosong! Gurauan mungkin….!” gumam Coa Wi-wi sambil gelengkan

kepalanya berulang kali, rupanya ia tidak percaya.

Wan Hong-giok berpaling ke arah Coa Wi-wi. Bibirnya bergetar seperti hendak menerangkan

sesuatu, tapi niat tersebut kemudian dibatalkan dengan begitu saja.

“Nona Wan, tolong terangkan lebih lanjut, apa yang dimaksudkan dengan rencana setengah

terang setengah gelap mereka? “sela Hoa Si dengan perasaan ingin tahu.

Wan Hong-giok berpaling. “Rencana yang sedang mereka laksanakan saat ini adalah rencana

setengah terang setengah sembunyi. Diantaranya yang termasuk setengah terang adalah

manusia-manusia macam Hong Seng sekalian yang membentuk grup-grup secara terpisah

dengan kelompok yang terdiri dari tiga sampai lima orang anggota Mo-kauw didampingi seorang

sampah masyarakat dari bangsa Han. Mereka semua menyusup kedaratan Tionggoan dengan

maksud pertama, menyelidiki sampai dimanakah kekuatan yang sesungguhnya dari umat

persilatan di daratan Tionggoan ini. Kedua. Merekapun berusaha mencari kesempatan untuk

menawan kalian bersaudara, agar dikemudian hari mereka dapat menggunakan kalian sebagai

sandera, apabila terbukti bahwa kepandaian mereka masih tak mampu menandingi orang tua

kalian. Aku dengan grup-grup semacam itu mencapai jumlah sebaryak tiga sampai empat puluh

grup”

Hoa Si cuma mangut-manggut saja ketika mendengar keterangan tersebut, dia membungkam

dan tidak memberi komentar.

Tiba-tiba Wan Hong-giok menghela napas setelah berbicara sampai disitu. Sesudah berhenti

sebentar, ia baru berkata lebih jauh, “Kalau dibicarakan sesungguhnya, maka yang paling

menakutkan justru adalah rencana setengah gelap mereka. Secara diam-diam mereka telah

berhasil menangkapi banyak jago persilatan yang tak mau tunduk kepada mereka. Dengan jiwa

mereka memaksa anak murid atau putra putri tawanan mereka untuk melakukan pembalasan

dendam terhadap anggota keluarga Hoa kalian. Dan ketahui dengan pasti ada sebagian kekuatan

yang berhasil mereka himpun dengan cara seperti ini, sekarang kelompok kekuatan tersebut

sudah mulai melaksanakan operasinya. Aaai…. Coba bayangkan sendiri, keadaan kita berada di

tempat terang sedang musuh ada di tempat gelap, apakah teror semacam ini tidak kita

kuatirkan?”

“Oooh….jadi Si-Nio dan majikanmu juga kena dipaksa oleh pihak Mo-kauw untuk membalas

dendam kepadaku” pikir Hoa In-liong dengan cepat, “Jadi kalau begitu, keputusanku untuk

membantu mereka berdua merupakan suatu tindakan yang bersifat demi kepentingan umum

maupun demi keuntungan pribadi,”

Dihati ia berpikir demikian, diluaran segera jawabnya, “Ehmmm…. ditinjau dari rencana Mo-kauw

kaucu yang begitu sempurna dan tersusun rapi, dapat kita ketahui betapa licik, buas dan

busuknya manusia tersebut. Aku Hoa Yang pasti akan mencari kesempatan untuk berkelahi

dengannya. Nona Wan apalagi yang sempat kau dengar?”

Betapa cemas dan gelisahnya Wan Hong-giok ketika dilihatnya pemuda itu sama tak acuh

terhadap ancaman yang datang. Meski begitu si nona juga rikuh untuk memperlihatkan

kegelisahannya, maka sesudah merenung sebentar sahutnya dengan sedih. “Kentongan pertama

kemarin dulu malam seorang laki-laki berkerudung datang menjumpai Hong Seng. Orang itu

mengakui dirinya sebagai anak buah Hian-beng kau. Setelah ia pergi, Hong Seng lantas

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

426

menurunkan perintah untuk membekuk diriku dan menyiksanya dengan penyiksaan paling keji.

Bila kubayangkan kembali semua kejadian tersebut, pastilah sudah bahwa antara dua

perkumpulan itu tentu sudah bersekongkol”

“Macam apakah laki-laki itu?” tanya Hoa In-liong sambil megerdipkan matanya, “Dan siapa pula

namanya? Apakah nona pernah menyaksikan pula orang-orang Kiu-Im kau berhubungan dengan

mereka?”

“Orang itu berperawakan sedang, langkah tubuhnya tegap dan gagap, tampaknya ia belum

terlampau tua. Aku tak tahu siapa namanya. Mengenai orang-orang Kiu-im kau, sampai detik

terakhir aku tak pernah menjumpainya….”

Tiba-tiba Hoa Si menjura dan memberi hormat. “Terima kasih banyak nona atas keteranganmu”

serunya kemudian, “Aku harus buru-buru turun gunung hingga tak bisa menemani engkau lebih

lama lagi. Jika kau membutuhkan bantuan kami, silahkan dirundingkan dengan adikku, aku pasti

akan berusaha dengan sepenuh tenaga”

Lalu ia berpaling kepada Hoa In-liong dan berpesan lebih jauh, “Jite, temanilah rona Wan

bercakap-cakap. Cuma ilmu silat yang dimiliki nona Wan sudah punah, badannya jadi sangat

lemah dan tak kuat berbicara terlalu lama. Kau sendiri juga tak boleh terlalu keras kepala, bila

betul-betul kau miliki simhoat tenaga dalam yang istimewa, cepatlah coba di praktekkan”

Sejak dipengaruhi racun ular sakti, ketajaman mata Hoa In-liong sangat berkurang. Dia tak tahu

kalau ilmu silat yang dimiliki Wan Hong-giok telah punah. Maka ketika mendengar hahwa ilmu

silat yang dimiliki Wan Hong-giok sudah musnah, ia jadi kaget dan setengah percaya setengah

tidak. Cepat ia berpaling dan diamatinya wajah si nona dengan seksama.

Lantaran begitu, ia jadi tidak mendengar apa yang selanjutnya diucapkan Hoa Si.

Coa Wi-wi yang secara tiba-tiba melihat Hoa Si berlalu dengan terburu-buru justru dia yang jadi

curiga, maka sebelum pemuda itu menyelesaikan kata-katanya, dengan gelisah ia lantas berseru,

“Toako, ada urusan apa yang membuat kau terburu-buru?. Kenapa kau tergesa- gesa turun

gunung?”

Hoa Si memeriksa dulu keadaan cuaca, kemudian sambil alihkan pandangan matanya ia

menjawab, “Gi-heng sudah mengadakan janji dengan Kiu-im kaucu di kota Ci-tin. Padahal

sekarang sudah mendekati tengah hari. Bila tidak segera berangkat, aku kuatir kalau sampai

mengingkari janji. Adik Wi, setelah aku pergi nanti, tolong aturlah perlindungan atas Jite dan

nona Wan”

Begitu mendengar disinggungnya soal “Kiu-im Kaucu” Hoa In-liong merasakan sekujur tubuhnya

bergetar keras ia berpaling dengan wajah tercengang. “Apa?” demikian teriaknya dengan gelisah,

“Toako ada janji dengan Kiu-im kaucu? Ia menunggu dikota Ci-tin?”

“Yaa benar” Hoa Si mengangguk tanda membenarkan, “Sebelum fajar tadi, Kiu-im kaucu dan

seorang manusia berkerudung telah munculkan diri disini, Ia berpesan agar aku ajak kau

bertemu muka di kota Ci-tin”

“Ka…. kalau begitu, aku harus ikut” seru Hoa In-liong sambil meronta dan berusaha bangun.

“Tidak, kau tak boleh pergi “cepat Coa Wi-wi membimbingnya sambil berseru dengan cemas,

“Sebelum racun ular yang bersarang ditubuhmu berhasil dipunahkan, apa gunanya engkau

pergi?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

427

“Kau tak tahu, perempuan itu terlalu sombong, dingin dan kukoay” teriak Hoa In-liong cemas,

“Padahal Toako terlalu jujur dan polos….”

“Jite, aku toh baru saja menyuruh engkau jangan terlalu mencari menangnya sendiri, apa kau

sudah lupa? “tukas Hoa Si dengan wajah yang amat serius.

“Tentang soal ini…. “ Hoa In-liong tergagap dan berusaha memberi penjelasan.

Tapi sebelum kata-kata tersebut berkelanjutan, Hoa Si telah menukasnya kembali seraya

berkata, “Tak perlu kau katakan lagi, sekalipun Kiu-im kaucu itu dingin, sombong dan kukoay,

aku yakin masih sanggup untuk menghadapinya. Bila kau masih belum melupakan nasehat

keluarga, lebih baik beristirahatlah disini dergan hati yang tenang, tunggu sampai aku kembali”

“Nasehat keluarga “dua patah kata itu sangat berbobot. Seketika itu juga Hoa In-liong berdiri

terbelalak dan untuk sesaat lamanya tak mampu berkata-kata lagi.

Dalam pada itu, selesai mengucapkan kata-katanya, Hoa Si pun berseru kepada Wan Hong-giok,

“Baik-baiklah jaga dirimu nona!”

Lalu kepada Coa Wi-wi dia berkata pula, “Merepotkan nona untuk melindungi mereka!”

Kemudian dengan langkah lebar dia tinggalkan kuil bobrok tersebut dan turun gunung dengan

cepatnya.

Sepeninggal Hoa Si, Hoa In-liong masih tetap duduk tak berkutik bagaikan sebuah patung arca.

Untuk memecahkan kesunyian yang mencekam, Coa Wi-wi segera memerintahkan Ki-ji untuk

mengambil rangsum kering dan dibagikan kepada beberapa orang itu.

Selesai bersantap, untuk mencari bahan pembicaraan, maka berkatalah Coa Wi-wi, “Enci Wan,

kesemuanya ini adalah gara-gara ketidak becusan siau-moay sehingga mengakibatkan kau

kehilangan ilmu silatmu, tentunya kau tak menyalahkan aku bukan?”

Hoa In-liong yang mendengar ucapan tersebut jadi tertegun, dia lantas berpaling dan

memandang kearahnya dengan termangu.

Tapi dara itu pura-pura tidak tahu, dengan matanya yang jeli dia menatap wajah Wan Hong-giok

menyahut, “Bila hian-moay berkata demikian, itu sama artinya dengan sengaja menyindir aku.

Berkat bantuan kalian majikan pembantu dua oranglah nyawaku berhasil diselamatkan. Untuk

itupun aku belum mengucapkan terima kasihku. Budi kebaikan tersebut sudah terukir dalamdalam

dilubuk hatiku dan sepanjang masa tak akan lupakan kembali. Bila diam-diam aku

menyalahkan diri hian-moay lantaran ilmu silat musnah, bukankah aku ini lebih rendah dari

seekor binatang!”

Maksud Coa Wi-wi bukan begitu, tapi ia pura-pura berseri, katanya lagi sambil tertawa, “Kalau

memang begitu, siau-moay pun berlega

hati. Enci Wan, badanmu sangat lemah….”

Tapi sebelum ia sempat melanjutkan kata-katanya, mendadak Hoa In-liong menuding kearahnya

sambil berseru, “Aaah…. Sekarang aku sudah ingat, bukankah kau adalah….”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

428

Suara “Aaah!” itu diucapkan sangat keras, baik Coa Wi-wi maupun Wan Hong-giok sampai

tertegun dibuatnya.

Coa Wi-wi angkat kepalanya, tapi ketika dilihatnya Hoa In-liong sedang menuding kearahnya, ia

lantas berseru dengan suara dalam, “Kau…. Kau apa? Aku mengira selamanya kau tak dapat

buka suara lagi!”

Hoa In-liong sama sekali tidak menggubris atas sikap marah-marah dari gadis itu, serunya lebih

jauh, “Rupanya kau adalah adik perempuan dari saudara Cong-gi. Haa…. haa…. haa…. Mirip

betul penyamaranmu!”

Sambil berkata ia lantas menyambar ikat kepala yang dikenakan oleh Coa Wi-wi.

Begitu ikat kepalanya terlepas, rambut yang hitam dan panjangpun terurai kebawah.

Mula-mula Coa Wi-wi rada tertegun, tapi kemudian mukanya berubah jadi merah padam. Ia jadi

malu bercampur gelisah, tangannya mencakar sana sini, sedang badannya segera dijatuhkan

kedalam pelukan Hoa In-liong. “Kau…. Kau….”serunya manja.

Hoa In-liong terbahak-bahak, sepasang tangannya segera direntangkan untuk menangkap

sepasang lengannya.

Pemuda ini adalah seorang yang berpikiran moderen dan tidak terlampau terikat olah peraturan.

Penemuan tersebut sangat menggirangkan hatinya. Seluruh awan mendung yang menyelimuti

benaknya juga tersapu tanpa bekas. Ia sudah bersiap-siap untuk menggoda Coa Wi-wi habishabisan

agar suasana jadi riang.

Siapa tahu selama racun ular sakti masih mengeram dalam tubuhnya, tenaga yang ia miliki jauh

dibawah garis normal. Ketika Coa Wi-wi menubruk ke dalam tubuhnya, ia tak kuat menahan

berat badan gadis itu, diiringi teriakan kesakitan robohnya pemuda itu ke atas tanah.

Teriakan tersebut sangat mengejutkan Coa Wi-wi. Cepat ia meronta dan bangkit berdiri.

Dalam gugupnya ia tak mengira kalau sewaktu jatuh badannya dalam posisi miring. Maka begitu

dia meronta dan berusaha bangun, bukan saja gadis itu gagal untuk bangkit berdiri, malahan

tubuh Hoa In-liong tertindih dibawah tubuhnya.

“Adik Wi!” Wan Hong giok segera berseru dengan cemas, “Racun ular sakti yang mengeram di

tubuh Hoa kongcu belum punah. Kau tak boleh sembarangan bergerak, hati-hati kalau sampai

melukai dirinya”

Masih mendingan kalau ia tidak berteriak. Mendengar teriakan tersebut, Coa Wi-wi semakin malu

dibuatnya. Kalau bisa sekali depak dia ingin mendepak perempuan itu hingga terlempar dari

hadapannya.

Ki-ji cepat bertindak dengan membangunkan Hoa In-liong dari atas tanah, sementara Coa Wi-wi

sendiripun cepat-cepat menekan permukaan tanah dengan tangannya dan melompat bangun.

“Kau…. kau…. kau telah menganiaya diriku” serunya sambil membenahi rambutnya yang kusut.

Tiba tiba ia putar badan, lalu menutup mukanya dengan kedua belah tangan dan menangis

tersedu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

429

“Aku…. aku…. masa…. masa…. aku….” Hoa In-liong gelagapan setengah mati.

“Apa lagi yang hendak kau katakan? Kalau bukan kau aniaya diriku, lalu apa namanya?” dengan

gemas Coa Wi-wi mendepak-depakkan kakinya keatas tanah.

“Aku…. aku…. betul-betul tidak kuat menahan badanmu…. hian….hian…. moay”

Tiba-tiba Coa Wi-wi berhenti menangis dan putar badannya menghadap kearah pemuda itu.

“Baik! Sekarang katakanlah, kau harus memberi suatu keadilan….”

Belum habis perkataan itu diucapkan, tiba-tiba matanya terbelalak lebar, mulutnya yang melongo

tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Rupanya setelah mengalami perontaan tadi, Hoa In-liong kehabisan tenaga. Waktu itu ia berada

dalam keadaan yang mengenaskan.

Sepasang alis matanya bekernyit, bibirnya gemetar, otot-otot hijau pada jidatnya pada menongol

keluar, kulit wajahnya mengejang. Jelas racun ular sakti yang mengeram dalam tubuhnya telah

kambuh dan sekarang ia sedang merasakan suatu siksaan yang luar biasa.

Wan Hong-giok mesti tak dapat menyaksikan perubahan wajahnya, tapi menyaksikan sikap Coa

Wi-wi yang tertegun lantaran kaget, hatinya kontan saja jadi kecut.

Jilid 22

SEDIKIT banyak usia Wan Hong-giok jauh lebih besar dibandingkan Coa Wi-wi. Apalagi dia

adalah seorang perempuan yang sudah berpengalaman dalam pelbagai peristiwa besar. Maka

walaupun dihati ia gugup dan terkejut, perasaan tersebut masih dapat ia kendalikan secara baik.

Pelan-pelan ia bangkit berdiri, lalu maju ke muka. Dihampirinya Coa Wi-wi dan dibelainya bahu

dara itu. “Adik Wi tak boleh terlalu sedih” hiburnya dengan muka serius, “Caramu begini bukan

saja tak ada manfaatnya bagi keadaan Hoa kongcu, justru amat merugikan kesehatan badanmu

sendiri. Ayoh bangun, mari kita rundingkan, siapa tahu kalau kita bisa temukan cara yang baik

untuk mengatasi keadaan tersebut”

“Tapi…. Tapi dia tak mau turuti perkataan kita!” keluh Coa Wi-wi sambil angkat kepalanya, air

mata masih berlinang membasahi seluruh wajahnya.

Wan Hong-giok mengangguk lirih. “Maksud adik Wi, Hoa kongcu enggan mengerahkan

tenaganya untuk mengusir sari racun dari tubuhnya?”

Coa Wi-wi sesenggukan menahan isak tangisnya yang kian menjadi. “Ia sendiri yang bilang,

katanya racun tersebut mungkin bisa didesak keluar dengan menggunakan suatu jenis sim-hoat

tenaga dalam yang istimewa, tapi…. tapi….”

Belum selasai perkataan itu, tiba-tiba Hoa In-liong berbisik dengan suara yang sangat lemah,

“Bi….biarlah aku….akan…. mencobanya….”

Mendengar ucapan itu, dua orang dara tersebut sama-sama jadi tertegun dan melongo.

Selang sesaat kemudian, Coa Wi-wi telah tersenyum kembali, dia lantas menggerutu, “Aaah….

kamu ini, setan binal!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

430

Seraya menggerutu dia lantas ulapkan tangannya, memberi tanda kepada Ki-ji untuk

mengundurkan diri sedang dia sendiri segera melompat bangun dengan enteng. Lalu setelah

membisikkan sesuatu disisi telinga Wan Hong-giok, diapun mundur dan menyingkir kesamping.

Jelas ia telah memikul tanggung jawab sebagai pelindung dari Hoa In-liong selama pemuda itu

melakukan semedinya.

Walaupun demikian, sepasang matanya yang jeli menatap wajah Hoa In-liong lekat lekat,

rupanya ia sedang mengawasi perubahan wajah sang pemuda dan berusaha memberikan

penilaiannya.

Waktu Coa Wi-wi dan Wan Hong-giok berdiri beriring Coa Wi-wi di depan dan Wan Hong-giok di

belakang. Dengan begitu Wan Hong-giok tak dapat menyaksikan perubahan wajah dari nona

tersebut, tapi ia dapat mendengar detak jantungnya yang amat keras.

Selang sesaat kemudian, detak jantung Coa Wi-wi makin lama kedengaran makin nyaring.

Nafasnya juga makin lama semakin memburu hingga akhirnya mendekati tersengkal.

Keadaan tersebut jelas menunjukkan bahwa keadaannya luar biasa. Wang Hong-giok terkesiap,

cepat-cepat ia beranjak dan berusaha menengok keadaan dari Hoa In-liong.

Seluruh ilmu silat yang dimiliki gadis itu baru saja punah, ketajaman matanya secara otomatis

juga jauh berkurang. Mula-mula dia mengira keadaan Hoa In-liong bertambah kritis. Tapi setelah

diamatinya dengan seksama, ternyata ia tidak menemukan suatu gejala yang kurang beres pada

air muka anak muda itu, maka sinar matanya lantas dialirkan ke atas wajah Coa Wi-wi.

Paras muka Coa Wi-wi juga tidak menunjukkan perubahan apa-apa, cuma bibirnya gemetar

seperti mau mengucapkan sesuatu. Dadanya bergelombang matanya memancarkan cahaya

tajam, ia sedang mergawasi Hoa In-liong tanpa berkedip.

oooOOOOooo

DITINJAU dari semua gejala tersebut, maka dapat kita tarik kesimpulan bahwa bergelombangnya

dada nona itu serta memberatnya dengusan napas adalah dikarenakan tekanan jiwa yang

teramat sangat.

Setelah melihat jelas keadaan dari dua orang tersebut, Wan Hong-giok mengerutkan dahinya lalu

diam-diam menghembuskan napas panjang. “Aaaai…. Dasar bocah, apa gunanya bersikap

tegang seperti itu….?” demikian ia berpikir.

Belum habis ingatan tersebut melintas, satu ingatan tiba-tiba berkelebat dalam benaknya.

Kenangannya ketika berjumpa dengan Hoa In-liong di kota Lok yang kembali terbayang kembali

dalam benaknya.

Itulah suatu tanah berbukit diluar kota Lok-yang, ketika itu fajar baru menyingsing. Si-nio-pun

baru saja kabur terbirit-birit. Di atas bukit hanya tinggal dia dan Hoa In-liong dua orang.

Memandang kegagahan dan ketampanan wajah Hoa In-liong, ia merasa begitu terpikat, begitu

terpesona, sehingga jantungnya berdebar keras, sehingga napasnya memburu dan hampir saja

tak mampu bernapas lagi.

Sejsk itulah batinnya seakan-akan sudah terbelenggu disisi Hoa In-liong. Setiap waktu, setiap

saat ia selalu mengenang diri Hoa In-liong.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

431

Terbayang kembali kenangan masa lalu, tiba-tiba saja Wan Hong-giok merasa bahwa

keadaannya ketika itu ternyata tidak jauh berada dengan keadaan Coa Wi-wi sekarang ini.

Terbayang sampai disana, tanpa sadar iapun berpaling kearah Coa Wi-wi

Kali ini ia telah merasakan, merasa bahwa Coa Wi-wi sudah bukan seorang bocah lagi.

Dalam pandangan Wan Hong-giok, seolah-olah secara tiba-tiba Coa Wi-wi telah tumbuh jadi

dewasa. Tumbuh jadi seorang gadis cantik rupawan

yang memiliki daya pikat yang hebat. Yang bisa meruntuhkan hati setiap laki-laki manapun….

Suatu keanehan segera dirasakan kembali, tiba-tiba Wan Hong-giok merasa bahwa kehadiran

gadis yang cantik jelita itu seolah-olah merupakan suatu daya kekuatan yang menekan diatas

tubuhnya. Kekuatan itu mencapai ribuan kati beratnya. Ini membuat Wan Hong-giok merasakan

kakinya jadi lemas, badannya jadi sempoyongan dan hampir saja tak sanggup berdiri tegap….,

Yaa…. maklumlah, ia sampai ternoda, sampai menderita, bahkan ilmu silatnya sampai musnah

kesemuanya itu lantaran apa?

Atau tenaganya saja, ia sampai merasa rendah diri, sampai tak pantas untuk mendampingi Hoa

In-liong. Dari sini dapat kita ketahui betapa mendalamnya perasaan cinta gadis itu terhadap sang

pemuda sehingga boleh dibilang sudah mencapai puncaknya.

Dan secara tiba-tiba menyaksikan bagaimanakah sikap Coa Wi-wi terhadap Hoa In-liong, betapa

cintanya gadis itu terhadap pujaan hatinya. Tentu saja pukulan tersebut dirasakan semakin berat

lagi, terutama dalam keadaan seperti ini.

Setelah termangu-mangu beberapa waktu lamanya, ia merasa sepasang kakinya bertambah

lemas, badannya jadi semboyongan. Hampir saja ia jatuh terjerembab.

Siau-ki buru-buru menghampiri dan membimbing tubuhnya, kemudian bisiknya dengan lirih,

“Nona Wan, kenapa kau? Apakah masih bisa bertahan? Apakah badanmu merasa kurang enak?’

“Hey, jangan berisik!” tiba-tiba Coa Wi-wi menegur sambil ulapkan tangannya.

Meskipun mulutnya berbicara dengan nada tajam, sinar matanya sama sekali tidak beralih dari

tempat semula.

Kenyatan tersebut semakin melemaskan tubuh Wan Hong-giok.

Paras mukanya semakin pucat, kelompok matanya jadi berat. Dengan lemas tak bertenaga

sedikitpun ia bersadar ditubuh Ki-ji dan menghela napas berulang kali.

Yaa, berbicara sesungguhnya semua gerak gerik, semua tingkah laku Coa Wi-wi dengan jelas

menunjukan bahwa dalam hatinya, dalam pikirannya hanya ada Hoa In-liong seorang.

Sikap semacam itu adalah suatu sikap penaruh perhatian yang mendalam, suatu sikap kuatir

yang amat sangat.

Wan Hong-giok adalah seorang perempuan yang berpengalaman, sudah tentu keadaan semacam

itu cukup dipahami olehnya. Hanya saja Coa Wi-wi lebih muda dari padanya. Lebih cantik darinya

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

432

dan lagi diapun berhutang budi atas pertolongan yaug telah menyelamatkan jiwanya. Bukan saja

ia tak boleh menjadi musuh cintanya, iapun tak boleh berebut cinta dengannya….

Yaaa, padi hakekatnya keadaan dara ini terlalu mengenaskan. Ia betul-betul berada dalam

keadaan terjepit, bayangkan saja, bagaimana caranya kesulitan ini harus diatasi?

Ki-ji tidak paham akan perasaan si nona. Dianggapnya nona itu kurang sehat badan, maka

sambil membimbingnya duduk kesamping dia bertanya, “Wan siocia, bagian manakah badanmu

yang kurang sahat? Biar Ki-ji memijatkan, mau kan?”

“Aku…. aku….”pelan-pelan Wan Hong-giok membuka kembali matanya.

Tapi pandangan matanya kemudian dialihkan kearah Coa Wi-wi dan memandang bayangan

punggungnya dengan terpesona.

Ki-ji tidak memahami perasaan orang, dengan dahi yang berkerut dia berseru, “Nona-Wan! Yang

paling penting adalah urusi dulu badanmu!. Serahkan saja soal Ji-kongcu kepada nonaku, kau tak

usah mengurusinya. Nona seorang rasanya masih cukup uituk mengatasi segala kesulitan!”

Wan Hong-giok tidak menjawab. Pada hakekatnya ia tidak mendengar apa yang dikatakan

dayang itu, dihati kecilnya ia sedang berpikir, “Aaaia…. Aku hanya sekuntum bunga yang mulai

layu dan rontok. Dapatkah aku dibandingkan dengan sekuntum bunga yang masih segar….?

Aku…. aku…. harus….”

Sekilas keteguhan hati yang tebal melintas di atas wajahnya, mendadak ia bangkit berdiri.

“Eeeeeh…. Kau…. Kau mau apa?” Ki-ji segera menegur dengan kaget.

Sambil berusaha mengendalikan perasaannya yang kalut, Wan Hong giok tertawa getir. “Nona

Ki- ji, banyak terima kasih atas usahamu yang beberapa kali menyelamatkan jiwaku. Meski saat

ini Wan-Hong-giok tak sanggup membalas budi kebaikan itu, namun budi tersebut akan selalu

terukir dalam hati sanubariku”

Tentu saja Ki-ji membuat pusiug tujuh keliling dan tak habis mengerti oleh ucapan-ucapan

semacan itu. Dia malah melongo dan berdiri tercengang dibuatnya.

“Aneh betul kau nona Wan. Tiada hujan tiada angin kenapa kau singgung urusan tersebut? Toh

urusan semacam itu pada dasarnya tiada harganya untuk disinggung! “demikian ia berseru.

“Yaaa, apa boleh buat, terpaksa aku harus tinggalkan tempat ini” bisik Wan Hong-giok dengan

mata yang menjadi merah, “Setelah aku pergi nanti, tolong sampaikan salamku kepadanya,

katakan saja bahwa aku….”

“Enci Wan! Cepat lihat, dia….” teriak kegirangan dari Coh Wi-wi mendadak memotong

perkataannya yang belum diucapkan hingga selesai itu….

Tapi ketika Goa Wi-wi tidak menemukan teman berbicaranya ada disisinya, kontan saja nona itu

menghentikan kata-katanya.

Wan Hong-giok tertegun, tanpa sadar ia berpaling ke arah mana berasalnya suara itu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

433

Dikala empat mata saling beradu, badan Coa Wi-wi yang separuh berputarpun terhenti ditengah

jalan. Dengan wajah tercengang dan tidak habis mengerti ia berpaling serta menatap tajamtajam

wajahnya.

“Siocia, dia mau pergi katanya!” Ki-ji berteriak dengan suara penuh kegelisahan.

“Kenapa? Kenapa kau hendak pergi?” dengan langkah terburu-buru, Coa wi-wi lari

menghampirinya, “Enci Wan, kenapa kau? Hendak kenapa kau?”

“Aaaai…. Selama manusia masih diberi kesempatan untuk melanjutkan hidupnya, aku tak dapat

mengatakan kemana kuakan pergi. Aku hanya

tahu sampai dimana aku pergi, sampai disitu pula kehidupanku” jawab Wan Hong-giok diiringi

helaan napas sedih.

“Aaaai…. Tidak boleh, kau tidak boleh pergi!’ teriak Coa Wi-wi sambil berkerut kening, “Apalagi

badanmu begitu….”

Tiba-tiba ia meresa dibalik perkataan gadis itu terselip suatu nada kesedihan yang luar biasa. Ini

menyebabkan ia jadi bingung dan tidak habis mengerti, maka sampai ditengah jalan katakatanya

terhenti, ditatapnya dara itu dengan wajah termangu.

Noda air mata masih membasahi pipi Wan Hong-giok, hal ini semakin mencengangkan Coa wi-wi,

ia sampai berdiri melongo. “Enci Wan, kau menangis? “tanyanya agak tercengang.

Mendengar itu, cepat Wan Hong-giok menyeka air matanya. “Aku…. Aku…. Merasa sangat

berhutang budi kepada adik Wi, aku merasa tak mampu untuk membalas budi itu….”

“Oooh…. Maka Enci Wan lantas mau pergi?” tukas Coa Wi-wi setelah berseru perlahan.

Setelah berhenti sebentar, ditatapnya gadis itu dengan tajam, kemudian ia mengomel, “Enci Wan

ini juga keterlaluan, pertolongan macam begitu itu terhitung budi macam apa? Buat apa mesti

bikin hatimu jadi risau dan ingin pergi secara diam-diam?”

Wan Hong-giok tertawa getir dihati. Mesti ada persoalan tersebut sulit rasanya untuk diutarakan

keluar, terpaksa sahutnya dengan cepat, “Perkataan adik Wi-wi terlampau serius. Aku tidak ingin

kabur tanpa pamit, aku cuma tak ingin mengganggu konsentrasimu….”

“Aku tak ambil perduli, pokoknya kau tak boleh pergi dari sini!” sekali lagi Coa Wi-wi menukas

dengan bibir yang dicibirkan, boleh dibilang ia agak enggan untuk mendengarkan perdebatan itu.

Ketika mengucapkan kata-kata tersebut seratus persen gayanya masih merupakan gaya seorang

gadis remaja.

Wan Hong-giok merasa dalam hatinya muncul sebuah bisul besar, ia enggan untuk mengumbar

hawa amarahnya maka sambil tertawa gaeir, dia berusaha untuk menahan emosi hatinya.

“Dengarkan dulu perkataanku adik Wi” kata-nya kemudian, “Kini aku hanya seorang perempuan

cacad. Aku hanya akan menjadi beban selama Mengikuti kalian. Akupun mengerti bahwa tugas

kalian berat, banyak urusan penting yang harus dikerjakan. Terutama tugas kalian untuk

menyapu hawa iblis dari muka bumi dan menegakkan keadilan serta kebenaran dalam dunia

persilatan. Aku tak mau menjadi beban kalian, akupun tak ingin menjadi perintang dari cita-cita

kalian sebab baik dalam urusan pribadi maupun demi kepentingan umum, kehadiranku hanya

menambah beban kalian!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

434

Sebenarnya perkataan tersebut bertolak belakang dengan apa yang menjadi beban pikirannya,

tapi pada hakekatnya kata-kata itu mengandung kebenaran yang tak bisa dibantah oleh

siapapun.

Sayang jalan pikiran Coa Wi-wi berbeda. Ia tidak menggubris perkataan itu, sebaliknya sambil

angkat kepala dan mengernyitkan dahi ujarnya kembali, “Apa itu beban, apa itu perempuan

cacad? Kalau berkata bahwa cita-cita kita adalah menyapu hawa siluman. Kalau dibilang tugas

kita berat, sekali pun engkau betul-betul cacad juga sepantasnya ikut memikirkan keselamatan

dunia persilatan. Lebih-lebih lagi kami, sudah sepatutnya kalau melindungi keselamatanmu.

Tahukah engkau tanggung jawab bukanlah tugas. Sudahlah, pokoknya apapun yang kau

katakan, aku tetap tidak porkenankan engkau pergi”

Kalau perkataannya tadi masuk diakal, maka perkataan ini lebih masuk diakal. Dalam katakatanya

itu meski ada nada jengkel, namun dibalik kejengkelan ada nada hangat. Untuk sesaat

Wan Hong-giok malah dibikin tertegun setelah mendengar perkataan itu.

Pelbagai ingatan segera berkecamuk dalam benaknya, sesudah merenung sebentar, ujarnya

kembali, “Adik Wi, aku tidak bertindak karena turuti emosi, ketahuilah bencana besar telah

menyelimuti dunia persilatan. Setiap waktu setiap saat kemungkinan besar kita dapat bertemu

dengan kaum iblis dan siluman setan. Bila aku ikut hadir pada waktu itu, sudah pasti perhatian

kalian aku bercabang. Bila sampai dimanfaatkan kesempatan itu oleh musuh, bukankah lebih

berabe?”

“Sudah….sudah ah…. Kau tak usah banyak berbicara lagi”, potong Coa Wi-wi rada mangkel, “Apa

nya yang perlu dikuatirkan? Pokoknya aku tak akan biarkan aku pergi, bicara seratus kalipun juga

sia-sia belaka”

“Adik….” sambil tertawa getir Wan Hong-giok gelengkan kepalanya berulang kali.

Tampaknya Coa Wi-wi mulai tak sabar, dengan kening berkerut dan nada mangkel dia menukas,

“Cerewet amat kau enci Wan, kenapa kau hanya memikirkan dirimu sendiri? Pikirkan dulu

keadaan orang sebelum memikirkan dirimu pribadi! Jika kau pergi dengan begitu saja bukankah

sama artinya dengan tidak setiap kawan terhadap Jiko? Bagaimana pula tanggung jawabku

terhadap Jiko nanti? Terus terang kukatakan kepadamu, aku sudah mempunyai susunan rencana

yang matang. Asal Jiko telah pulih kembali kesehatannya, kita akan berkunjung ke bukit Im

Tiong-san lebih dulu. Konon tempo haripun Lo-tay-kun dari keluarga Hoa pernah kehilangan ilmu

silatnya, tapi kemudian ilmu silatnya berhasil dipulihkan kembali. Dengan pengalaman serta

kemampuan yang dimiliki dia orang tua, aku percaya beliau pasti akan banyak membantu untuk

dirimu. Makanya kalau ingin pergi, kau harus tunggu sampai berjumpa dulu dejgan dia orang

tua”

Perkataan itu ada benarnya juga. Dalam peristiwa tersebut banyak orang yang memuji akan

ketangguhan Hoa lo-hujin, terutama kemampuannya untuk memulihkan kembali kepandaiannya

yang telah punah. Hampir setiap umat persilatan memujinya. Semua orang menganggap

kejadian itu merupakan peristiwa paling aneh dalam sejarah ilmu silat.

Sebelum terjun kedalam dunia persilatan, Wan Hong-giok sudah pernah mendengar tentang

kisah cerita itu. Maka ketika persoalan tersebut disinggung kembali oleh Coa Wi-wi, hatinya jadi

rada bergerak, timbullah sebercak harapan dalam hatinya.

Tapi ketika sinar matanya terbentur kembali dengan raut wajah Coa Wi-wi yang cantik jelita, ia

jadi terbungkam dalam seribu basa, bahkan hatipun ikut tergetar keras.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

435

Menyaksikan nona itu tertegun, tiba-tiba Coa Wi-wi tertawa cerah, dicekalnya lengan Hong-giok

dan dibisiknya dengan lembut. “Sungguh, enci Wan! Kita dapat memohon kepada Lo taykun dari

keluarga Hoa untuk memulihkan kembali ilmu silatmu yang hilang. Kalau tidak Jiko tentu akan

selalu murung dan kaupun selalu kesal oleh kejadian ini. Oh Enci ku yang baik! Turutilah

perkataanku, jangan pergi dari sini….mau kan?”

Ketika, dimohon dengan suara lembut, Wan-Hong giok jadi kelabakan, akhirnya dia menghela

napas. “Aaai…. Adik Wi, kau tidak akan mengerti!” katanya.

“Aku mengerti!” Coa Wi-wi angkat mukanya, “Aku tahu enci Wan, kau sangat baik terhadap Jiko”

“Aaaai…. Apa yang kau mengertikan?” batin Wan Hong giok setengah mengeluh, “Disisi

pembaringan, apakah kau ijinkan kehadiran perempuan lain? Sekalipun Wan Hong-giok amat

mencintai dirinya, aku toh bukan tandinganmu”

Mendadak ia merasa bahwa perkataan itu diucapkan dengan nada bersungguh-sungguh, maka

dia pun jadi tertegun.

Maka sesudah merenung sejenak, kembali pikirnya, “Yaaa. Benar bocah ini masih setengah

mengerti setengah tidak. Sekalipun dia cintai Hoa kongcu, namun tidak mengerti untuk cemburu

kepadaku, Aku…. Aku….aai…. hati itu merah. Aku lebih-lebih tak boleh merintangi hubungan

mereka”

Berpikir sampai disitu, niatnya untuk meninggalkan, tempat itu semakin mantap, kembali dia

angkat muka dan tertawa. “Adik Wi”, demikian katanya, “Jika semua orang didunia ini dapat

mempunyai perasaan yang suci dan tak ternoda seperti kau, alangkah ramainya dunia kita ini”

“Kau…. apa kau bilang?” Coa Wi-wi tertegun dan tidak habis mengerti arti dari perkataan itu.

Sambil tersenyum Wan Hong-giok menepuk bahunya. “Maksudku”, katanya, “Jika semua orang

didunia ini berpikiran polos dan jujur seperti kau niscaya banyak perselisihan dan pertikaian yang

tak berguna dapat dihindari!”

“Aaaai…. masih jauh!” Coa Wi-wi tertunduk dengan kemalu-maluan, “Enci Wan, bila kau tidak

terlalu jemu dengan kebinalanku, harap jangan pergi tinggalkan kami. Sungguh bila ilmu silatmu

dapat pulih kembali, langsung kita menggrebeg bareng bajingan-bajingan itu di Seng-sut-hay.

Kita ganyang semua orang Mo-kau sampai ludas, biar mereka merasa kapok dan tahu diri”

Lincah, manja, polos dan hangat, begitulah nada ucapan nona tersebut, bikin hati orang yang

lebih keras dari bajapun akan menjadi lumer dibuatnya.

Menghadapi keadaan seperti ini, disamping rasa gembira, Wan Hong giok merasakan pula

kegetiran dan kepedihan. “Adik Wan tahukah kau bahwa engkau cantik?” tiba-tiba ia bertanya

setelah berpikir sebentar.

Coa Wi-wi terbelalak dengan wajah tercengang, “Eeeeeh…. Apa yang telah terjadi? Enci Wan,

masa bicara pulang pergi pokok pembicaraan ditimpakan pada diriku lagi. Bukankah makin

berbicara kau menarik pokok pembicaraan semakin jauh?”

Agaknya Wan Hong-giok mempunyai rencana yang cukup matang dengan pembicaraannya,

pelan pelan katanya kembali, “Adik Wi, aku hendak mengucapkan sepatah dua patah gurauan

kepadamu. Dulu lantaran aku sedang bersedih hati, wajah dan gerak gerikmu tidak terlalu

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

436

kuperhatikan. Tapi setelah kuperhatikan sekarang, aku benar-benar sedikit merasa terkejut.

Sungguh, kecantikan dari seorang gadis cantik adalah paling memikat hati, aku sebagai seorang

perempuan-pun ikut terpikat rasanya oleh kecantikanmu”

Coa Wi-wi menggerakkan bibirnya seperti hendak mengatakan sesuatu, tapi sejenak kemudian

tiba-tiba ia tertawa cekikikan. “Jadi kau iri hati?” godanya dengan nakal.

“Yaa, aku iri hati” Wan Hong-giok mengakuinya, “kau memiliki mata yang jeli bagaikan bintang

timur, mempunyai bibir yang mungil bagaikan delima merekah. Apalagi kulit badanmu yang putih

bersih, potongan badan yang ramping tapi padat berisi, terutama tindak tanduknya yang lincah,

hatimu yang polos dan manja serta kelakuanmu yang halus berbudi. Coba bayangkan, siapa

yang tidak merasa iri?”

“Nah, kalau memang demikian, tidak seharusnya kau merusak makhluk alam!” jawab Coa Wi-wi

sambil mengerling manja.

Menyaksikan “kerlingan yarg memikat itu, tanpa terasa Wan Hong-giok ikut tertawa. “Coba lihat

tampangmu, ternyata berani mengomeli orang!”

“Sesungguhnya, apa yang kau ucapkan barusan justru merupakan kelebihan yang kau miliki”

kata Coa Wi-wi dengan wajah serius, “Cuma, dewasa ini kau rada kurusan sedikit. Bila tubuhmu

sudah sehat kembali dan pulih seperti sedia kala, tentu kau akan lebih cantik, jauh lebih cantik

dari pada aku….”

“Aaah…. cukup, tak usah kita bicarakan soal semacam itu lagi” tukas Wan Hong-giok sambil

tersenyum, “Mari kita bicarakan tentang soal-soal yang lain saja”

“Kalau begitu kau sudah setuju bukan kalau tidak akan pergi?” Coa Wi-wi menatapnya dengan

pandangan mengharap.

Wan Hong-giok tetap menggelengkan kepalanya. “Aku harus pergi, bagaimanapun juga aku

harus pergi dari sini” sahutnya tegas.

“Waaah….setengah harian sudah kita buang tenaga untuk berbicara, tapi akhirnya kau toh

ngotot ingin pergi juga. Buat apa kita berbicara lebih lanjut?” dengan agak mendongkol Coa Wiwi

mencibirkan bibirnya yang mungil.

Dengan cepat dia memutar badannya dan tidak menggubris gadis itu lagi….

Cepat Wan Hong-giok menangkap bahunya dan memutar badannya dengan paksa, pintanya,

“Adik Wi dengarkan dulu perkataanku….”

“Ogah…. ogah…. aku tak mau dengarkan perkataanmu….” teriak Coa Wi-wi sambil menutup

telinga dengan kedua belah tangannya.

Wan-Hong-giok tidak menggubris teriakan itu malah sambil tersenyum ia bertanya, “Aku ingin

bertanya kepadamu, apakah kau amat menyukai dirinya?”

Mula-mula Coa Wi-wi agak tertegun, menyusul kemudian tanyanya agak tercengang, “Siapa yang

kau maksudkan?”

“Hoa kongcu!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

437

Mula-mulaCoa Wi-wi agak tertegun, menyusul kemudian sahutnya tergagap, “Aku…. Aku….”

Warna merah dengan cepat menjalar diatas wajahnya. Tanpa sadar ia tertunduk dengan wajah

malu. Untuk sesaat gadis itu merasa gelagapan dan tak sanggup meneruskan kata-katanya.

Dipegangnya dagu nona itu dengan tangan kanan, lalu diangkatnya wajah Coa Wi-wi hingga

bertatapan muka dengannya, kemudian berkatalah Wan Hong-giok, “Tak usah malu-malu adik

Wi. Laki-laki mencintai kaum wanita kaum wanita mencintai laki-laki kejadian tersebut sudah

lumrah. Kau menyukainya?”

Semakin jengah Coa Wi-wi dibuatnya dengan muka merah ia meronta dari cekalan tangannya

kemudian tundukkan kepalanya rendah-rendah. “Aku…. Aku…. Bukankah kau juga

menyukainya?” tiba-tiba ia balik bertanya.

Wan Hong-giok tersenyum. “Yaa, aku memang menyukainya, karena itu aku harus

membicarakan persoalan ini denganmu”

“Apa lagi yang musti kita bicarakan?” dengan perasaan heran, tidak habis mengerti Coa Wi-wi

menengadah.

“Engkau menyukainya, aku juga menyukainya, apakah tidak cemburu kepadaku?”

“Cemburu kepadamu?” Coa Wi-wi mengerdipkan matanya dengan keheranan “Kenapa aku musti

cemburu kepadamu?”

“Itulah persoalan yang hendak kubicarakan denganmu. Selain daripada itu….”

“Aaaah…. Masalah apalagi yang perlu kita bicarakan!” sela Coa Wi-wi dengan hati berkerut, “Aku

tahu bahwa kau berkenalan lebih dulu dengan Jiko. Kalian adalah teman, apalagi kau baik sekali

kepada Jiko, selalu berusaha untuk membantunya. Setelah kuketahui kesemuanya itu, hatiku

semakin berterima kasih kepadamu”

“Bukankah kau berterima kasih kepadaku lantaran itu maka kau melarang aku pergi dari sini?”

desak Wan Hong-giok sambil menggut-manggut.

Coa Wi-wi mengangguk tanda membenarkan. “Yaa, kalau toh aku menyukai Jiko maka semua

sahabat Jiko adalah sahabatku juga. Semua musuh Jiko adalah musuhku juga. Kau baik sekali

kepada Jiko lantaran Jiko hingga musti mengalami musibah seberat ini. Tentu saja aku tak boleh

membiarkan kau pergi. Sebab kalau tidak demikian, berarti aku tidak menyukai Jiko. Sebaliknya,

bila aku harus cemburu kepada orang yang memperhatikan Jiko, bukankah hal ini membuat aku

jadi terlalu egois, terlalu mementing diri sendiri? Manusia macam begitu berhargakah untuk

dicintai Jiko?”

Kata-kata itu terlalu polos, tarlalu bersifat kekanak-kanakan tapi sedap didengar.

Bila Hoa In-liong berprinsip bahwa cinta itu harus dimiliki untuk semua orang, maka cocoklah

kalau pandangan itu ditrapkan dengan jalan pemikiran Coa Wi-wi. Entahlah bagaimana reaksi

Hoa In-liong seandainya ia mendengar kata-katanya itu.

Hal ini berbeda pula dengan reaksi dari Wan Hong-giok. Ketika mendengar perkataan itu, dia

gelengkan kepalanya berulang kali sambil menghela napas panjang. “Aaaai…. Adik Wi, kau

terlalu polos, terlalu berpandangan kekanak-kanakan. Cinta antara muda dan mudi tak bisa

ditinjau dari keadaan pada umumnya!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

438

“Tapi…. Aku rasa semua orang juga berpandangan demikian! Bukankah bersahabat adalah salah

satu kewajiban utama sebagai manusia?”

Tertawa geli Wan Hong-giok mendengar ucapan itu.

“Dasar bocah….!” serunya, “Mana ada hubungan antara laki dan perempuan yang dilakukan

seperti kau? Aaah…. kamu ini setengah mengerti setengah tidak. Bila kau campur baurkan antara

hubungan laki perempuan dengan hubungan persahabatan, siapapun yang mendengar

perkataanmu tentu akan ikut tergelak sampai gigipun menjadi copot”

“Kenapa?” Coa Wi-wi tertegun dengan wajah tidak mengerti, “Masa dibalik hubungan tersebut

masih ada hal-hal yang istimewa?”

“Banyak sekali kalau menyinggung soal hal-hal yang istimewa, misalnya saja, bila kurebut Jiko

mu, Apakah kau tidak membenci kepadaku? Masa kau tidak cemburu kepadaku?”

“Tentang soal ini….” Coa Wi-wi tertegun dan mengerdipkan matanya berulang kali.

Wan Hong-giok tersenyum, lanjutnya, “Tentunya kau akan cemburu bukan? Tentunya? kau akan

membenci aku kan? Jika engkau tidak merasakan gejala tersebut berarti kau tidak menyukai Jiko

mu dengan sungguh hati. Nah, disinilah letak persahabatan, sudah mengerti bukan?”

Coa Wi-wi bukan seorang gadis yang bodoh. Setelah dijelaskan Wan Hong-giok secara terperinci,

apalagi ditanyai dengan cermat, tentu saja ia jadi paham.

Bukan saja ia paham. Bahkan selapis lebih dalam kepahamannya itu. Sorot matanya dengan

tajam dialihkan keatas wajah Wan Hong giok. Setelah ditatapnya beberapa kejap, sekulum

senyuman segera terlintas dan menghiasi bibirnya. “Ooooh…. Sekarang aku baru mengerti”

teriaknya setengah menjerit, “Rupanya kau…. kau sedang cemburu kepadaku!”

Jeritannya yang lengking itu seketika mengejutkan hati Ki-ji yang berada disisinya. Dengan agak

gelagapan karena terkejut ia pun berseru lirih, “Ssst…. Siocia, bagaimana sih kamu ini? Kok jeritjerit

seperti anak kecil, bagaimana coba kalau sampai mengejutkan Ji kongcu?”

Teguran tersebut membuat Coa Wi-wi terkesiap dengan cepat dia berpaling dan memandang

kearah Hoa In-liong.

Wan Hong giok ikut terkejut, tanpa terasa dia ikut berpaling kearah si anak muda itu. Tapi ketika

dilihatnya Hoa In-liong tidak apa-apa, hatinya jadi lega dan tatapan matanya segera ditarik

kembali.

Sementara itu Coa Wi-wi telah menjulurkan lidahnya memperlihatkan muka setan, lalu berbisik,

“Sialan, aku sampai kaget setengah mati. “Eeh…. Enci Wan! Ayoh ngaku terus terang, bukankah

kau lagi cemburu kepadaku?”

Wajah Wan Hong giok yang semula pucat pias seketika itu jua berubah jadi semu merah. “Yaa,

memang kuakui, semula aku memang rada cemburu kepadamu!” jawabnya kemudian setengah

berbisik.

Dasar Coa Wi-wi yang polos dan masih kekanak-kanakan, kontan saja ia tertawa cekikikan.

“Hiiik…. hiik…. hiikk…. Enci Wan ini lucu amat, kalau cemburu yaa cemburu, masa cuma sedikit?

Masa semula cemburu sekarang tidak?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

439

Wan Hong-giok betul-betul menjadi tobat menghadapi kebinalan si nona cantik itu, akhirnya

dengan gemas ditudingnya ujung hidung dara itu sambil tertawa geli. “Aaaah…. Kamu ini….adaada

saja….”

Coa Wi-wi- semakin cekikikan. “Kenapa aku? Aku toh tak pernah cemburu kepadamu, kaulah

yang dalam hati ada setannya.”

Sesudah berhenti sebentar, tiba-tiba dengan wajah serius ujarnya lebih lanjut, “Aku ingin

bertanya kepadamu, enci Wan! Sekarang kau harus bicara yang sesungguhnya, tentunya kau tak

akan pergi lagi bukan?”

Sambil berkata dia angkat muka dan menantikan jawaban dari Wan Hong-giok dengan penuh

pengharapan.

“Tidak! Aku harus pergi” Wan Hong-giok berseru kemudian sambil gelengkan kepalanya berulang

kali.

Coa Wi-wi jadi tak senang hati. Sepasang alis matanya berkenyit, matanya melotot besar,

tampaknya dia hendak mengumbar hawa amarahnya.

Melihat gelagat kurang baik, buru-buru Wan Hong-giok berseru, “Dengarkan dulu perkataanku

adik Wi. Aku bersikeras ingin pergi dari sini bukan lantaran cemburu kepadamu, tapi dikarenakan

oleh alasan-alasan lain”

Coa Wi-wi mendengus dingin. “Hmmmm! Kamu ini selamanya sudah diajak bicara kalau memang

ada alasan lain cepatlah katakan, aku segan untuk banyak cingcong lagi dengan dirimu”

Wan Hong-giok sama sekali tidak tersinggung oleh perkataan itu, dia malahan tersenyum. “Baik,

aku akan berbicara. Tolong tanya sudah berapa lama adik Wi berkenalan dengan Hoa kongcu?”

“Eeeh…. Sebetulnya akal setan apalagi yang sedang berputar dalam benakmu itu? “tegur Coa

Wi-wi dengan wajah tercengang, “Kenapa yang kau tanyakan selalu persoalan persoilan yang tak

penting?”

Wan Hong-giok tersenyum. “Harap jangan kau tanyakan dulu persoalan itu. Sekarang

beritahukan saja kepadaku, sudah berapa lama engkau berkenalan dengan Jiko mu itu….”

Sebetulnya Coa Wi-wi tak mau menjawab tapi ketika dilihatnya pertanyaan itu diajukan dengan

wajah serius, ia jadi tak tega untuk mendiamkan terus.

Akhirnya setelah merenung sebentar, dia menjawab singkat, “Sejak kemarin!”

“Sejak kemarin….?”

Wan Hong-giok keheranan, bahkan hampir tak mempercayainya, “Masa kalian baru sehari

lamanya berkenalan?”

“Kalau kenalnya sih sudah lama, cuma sejak kemarin baru mengadakan pembicaraan secara

resmi”

“Oooh…. Jadi kalau begitu, kalian boleh dibilang jatuh cinta pada pandangan yang pertama”.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

440

“Siapa bilang begitu?” Coa Wi-wi mengerutkan dahinya dengan sengit, “Ketika berjumpa untuk

pertama kalinya tempo hari, aku malah ingin sekali memberi hajaran kepadanya”

“Aaaah…. Masa iya?” tanya Wan Hong-giok agak tertegun.

“‘Buat apa kau kubohongi?” Coa Wi-wi berkerut kening, “Waktu itu engkohku memuji-muji dia.

Kongkong-ku juga memuji-muji dia, seakan-akan dia itu manusia super yang tiada taranya di

bumi dan tiada keduanya dikolong langit. Huuh….! Aku jadi gemas rasanya, maka pingin kuberi

pelajaran yang setimpal kepadanya agar dia tahu rasa!”

“Oooh…. Jadi begitu ceritanya” pelan-pelan Wan Hong-giok mengangguk, “Jadi rasa simpatikmu

kepada Jiko dan rasa senangmu kepadanya baru tumbuh dengan pelan-pelan setelah

berlangsungnya pembicaraan kemarin?”

“Aku sendiri juga kurang jelas” jawab Coa Wi-wi sambil putar otak tiada hentinya, “Ketika

kutemui dirinya kemarin, sebenarnya ingin sekali kuhajar adat kepadanya, cuma kemudian….

kemudian….”

“Kemudian kau terpikat oleh kegagahannya dan membatalkan niatmu itu?” sambung Wan Honggiok

sambil tertawa.

“Aaah…. bukan begitu!” seperti baru sadar dari kenangan, Coa Wi-wi mengerdipkan matanya

beberapa kali.

Lalu setelah berpikir sebentar, tiba-tiba ia tertawa dan berkata, “Sekarang aku teringat sudah,

semuanya itu adalah lantaran kau, selain tentu saja terpengaruh oleh Toako”

“Lantaran aku? ” Wan Hong-giok tertegun, ia merasa tercengang dan tidak habis mengerti.

Coa Wi-wi mengangguk tanda membenarkan. “Yaa! Empat hari berselang, aku berjumpa dengan

Hoa Si Toako. Waktu itu Toako mendapat tugas menuju kota Kim-leng, maka akupun menemani

Toako berangkat ketimur. Tujuanku hanya satu yakin ingin mengajar Jiko. Sepanjang jalan

lantaran tak ada urusan maka aku banyak menanyakan urusan tentang diri Jiko. Toako yang

jujur dan baik bati selalu menjawab setiap pertanyaan yang kuajukan. Ia membicarakan

kelebihan-kelebihan dari Jiko tapi menyinggung juga kekurangan- kekurangannya. Maka jika

kupikirkan kembali, kesanku atas diri Jiko mungkin didapatkan semenjak itu dan untungnya

kesan tersebut adalah kesan yang semakin baik”

Setelah berhenti sebentar, diapun berkata lebih jauh, “Dua bari berselang, kami telah berjumpa

dengan rombongan kakakku di kota Si-sian. Dari mereka kamipun tahu kalau engkau ada janji

dengan Jiko. Kebetulan Toako mendapat perintah dari empek Hoa untuk memperingatkan Jiko

agar lebih waspada dan kalau bisa jangan bentrok dulu dengan orang-orang Mo-kau. Sedang

dikota Kim-leng pun kebetulan terjadi peristiwa yang membutuhkan bantuan orang. Toako jadi

kelabakan dan gelisah sekali, sebab seorang diri tak mungkin baginya untuk mengatasi dan

kejadian ditempat yang berbeda. Maka ketika kulihat ada kesempatan segera kuajukan diri untuk

memikul tugas tersebut dan memburu kebukit Sian-san, maksudku hendak menghalangi Jiko

untuk datang memenuhi janji….”

Menyinggung soal janji dibukit Sian-san, Wan Hong-giok merasa murung bercampur kesal. Ia

menghela napas sedih. “Kesemuanya ini…. Akulah yang bersalah” keluhnya, “Hanya satu hal

yang kuherankan, secara bagaimana rahasia tersebut dapat diketahui musuh? Aku tak dapat

menebak teka-teki ini”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

441

“Urusan toh sudah lewat buat apa kau pikirkan lagi” hibur Coa Wi-wi cepat.

Wan Hong-giok mengangguk, “Yaa…. Perkataan adik Wan memang ada benarnya. Ayo, ketika

kau memburu kebukit Sian-san, ingatan untuk menghajar Hoa kongcu tentu masih terbayang

terus dalam benakmu bukan?”

“Siapa bilang tidak! Ketika kujumpai dirinya disebuah warung teh dikota Ci-tin, dengan segala

tipu daya aku berusaha untuk menjengkelkan hatinya. Siapa tahu ia cukup supel dan gagah

perkasa. Setiap hari menghadapi dampratan-dampratanku yang tajam, ia selalu melayaninya

dengan ramah tamah. Pembicaraan yang kurang enak dihati segera dibelokkan dengan

manisnya….”

“Karena itu maka kau berubah rencana? “desak Wan Hong-giok sedikit kurang sabar.

“Aku sendiri juga tak tahu kenapa bisa berubah pikiran. Pokoknya setelah kutak berhasil mencari

gara-gara akhirnya maksud hatipun kuutarakan secara terus terang, malah sengaja kutuduh

dirinya terpikat oleh kecantikan perempuan, tak sudi menuruti nasehat saudara. Diapun tahu dia

memang keras kepala, bicara baik-baik atau bicara kasar, ia tetap kukuh dengan pendiriannya.

Aku dibikin kehabisan akal terpaksa akupun memohonnya dengan kata-kata yang lembut dan

halus. Aaaai…. Kalau dibicarakan betul-betul menjengkelkan hati, tahukah kau apa yang dia

katakan waktu itu?”

“Dia bilang bagaimana?”

“Dia bilang begini, ‘Saudaraku, dengarkan dulu kata-kataku, cinta adalah cinta, setia kawan

adalah setia kawan, kukabulkan permintaanmu karena cinta, kupenuhi janjiku dibukit Sian-san

karena setia kawan. Sebagai manusia yang hidup didunia, kita harus dapat membedakan apakah

itu cinta dan apakah itu setia kawan. Sekarang aka ingin bertanya kepadamu, apakah kau masih

memaksa aku untuk membatalkan janjiku dibukit Sian-san? Padahal waktu itu aku sudah

menyebutnya sebagai Jiko.’ Sungguh tak kusangka kalau orang ini tidak doyan kekerasan juga

tak doyan cara lembut, malahan akulah yang betul-betul ketanggor batunya”

Tersenyum Wan Hong-giok mendengar perkataan itu. “Sepintas lalu orang itu tampaknya

setengah sungguh-sungguh setengah berpura pura. Padahal dia adalah seorang laki-laki sejati

yang mengutamakan kebajikan serta kesetia kawanan, kadangkala bahkan rada keras kepala….”

“Yaaa…. Kemudian akupun berpikir sampai ke situ” ujar Coa Wi-wi sambil mengangguk, “Justru

lantaran aku berpikir sampai ke situ, maka….maka….”

Tiba-tiba ia jadi gelagapan dan tak mampu melanjutkan kembali kata katanya, pipi yang semu

merah pun bertambah memerah, ia tertunduk dengan wajah jengah.

“Maka dari itu kau jadi menyukainya dan menaruh perhatian kepadanya, bukankah demikian?”

sambung Wan Hong giok sambil tersenyum.

Coa Wi wi menundukkan kepalanya semakin rendah, ia makin tersipu sipu di buatnya.

“Aku….Aku….aku merasa bahwa dia adalah seorang laki laki yang pegang janji. Manusia

semacam ini biasanya tak pernah menyia-nyiakan perhatian orang”

Wan Hong-giok yang sudah memperhatikan mimik wajahnya semenjak tadi, segera berpikir

didalam hati, “Benih cinta dalam hati bocah ini baru saja tumbuh. Sungguh tak nyana begitu

cepat ia sudah ada niat untuk menyerahkan dirinya untuk diperistri….”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

442

Berpikir sampai disitu, diapun membelai rambutnya yang mulus dengan tangan kanannya,

kemudian berkata, “Adik Wi, tak usah malu. Aku juga perempuan. Hanya perempuanlah yang

dapat menyelami perasaan kaum perempuan. Yaa, Hoa-kongcu memang gagah dan tampan.

Bukan begitu saja dia pun punya nyali, punya daya pikat, memandang tinggi soal hubungan

dengan seseorang dan manusia macam begini biasanya tak bermain licik, bertanggung jawab

dan memang seorang pemuda yang dapat dipercaya”

Setelah berhenti sebentar, diapun melanjutkan kembali kata katanya, “Adik Wi, sekarang aku

paham, rupanya cinta kasihmu kepada Hoa-kongcu tumbuh dari rasa penasaran dan mendongkol

yang meluap-luap. Itu berarti datangnya cinta telah mengalami pelbagai liku liku percobaan.

Bukan saja halus, lembut bahkan jauh lebih berkesan. Jauh bedanya kalau dibandingkan dengan

aku yang jatuh cinta pandangan pertama. Yaa…. dari sini dapatlah kita analisa bahwa cintamu

jauh lebih mendalam bila dibandingkan dengan cintaku. Cintamu lebih berakar lebih berbobot

dan lebih berarti”

Merah jengah Coa Wi-wi dibuatnya, tapi ia angkat juga mukanya dan memandang ke arah gadis

itu dengan muka tertegun.

“Enci Wan lagi menggoda aku? Apa itu dalam cetek? pula berbobot atau tidak. sebenarnya apa

yang ingin kau bicarakan. Kenapa kau katakan secara ringkasnya saja? Putar sana putar kemari

hanya bikin aku jadi pusing saja”

Wan Hong-giok tertawa ringan. “Nah…. Naah…. Keadaanmu semacam itulah yang dinamakan

orang jatuh cinta sampai lupa diri! Kau begitu polos, begitu sederhana, yang dipikirkan hanyalah

berusaha berdiri segaris dengan Hoa kongcu. Sebentar ingin tidak menyalahi aku, sebentar ingin

menahan diriku. Apakah kau tidak tahu bahwa tetap tinggalnya aku disini adalah suatu tindakan

yang hanya mendatangkan kerugian belaka bagi Hoa kongcu? Kalau toh engkau cinta

kepadanya, kenapa tidak berusaha mencari suatu tempat yang nyaman dan berpikirlah sedikit

demi Hoa kongcu?”

“Mencari tempat yang nyaman….?”

Coa Wi-wi tertegun dengan dahi berkerut, “Masa…. Masakan aku salah?”.

“Pada hakekatnya engkau juga tidak terhitung salah, cuma kau telah mengetrapkan pikiran

sendiri menjadi pendapat orang. Aku sudah mengalami sendiri betapa parah dan menderitanya

orang yang terluka. Aku dapat memegang teguh pendapat yang mengatakan bahwa, “Jika badan

tak utuh, bulupun tak akan tumbuh. Kini dunia persilatan sedang terancam oleh bahaya maut,

padahal Hoa kongcu adalah panglima membuka jalan. Pelbagai persoalan yang serius dan

menyulitkan perlu diatasi semuanya olehnya. Bila engkau harus bertambah seorang semacam

aku ini, bukankah sama halnya dengan menambah kerepotan dirinya?”

Meskipun alasan itu tidak berbobot akan tetapi memiliki alasan-alasan yang kuat untuk

dipercayainya. Apalagi ketika Wan Hong-giok mengucapkan kata-kata tersebut, ia sama sekali

tidak mengutarakan kata-kata yang kurang sedap didengar, seketika itu juga Coa Wi-wi dibuat

amat terperanjat.

“Yaa, benar…. Kenapa aku tidak berpikir sampai kesitu?” kemudian ia membatin, “Dewasa ini

situasi amat kritis, banyak urusan harus diselesaikan. Padahal Jiko bukan seorang manusia yang

melupakan teman. Kendatipun ia secara langsung menuju bukit Im Tiong-san, sedikit banyak

kaum bajingan yang membayanginya pasti akan coba melakukan penghadangan. Bukankah itu

berarti banyak kesulitan yang harus dihadapi, tapi…. tapi…. walaupun begitu, ilmu silat enci Wan

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

443

toh sudah punah, kalau membiarkan ia melakukan perjalanan sendiri pasti akan sangat

berbahaya!”

Untuk sesaat lamanya ia jadi serba salah, dia tak tahu bagaimana musti mengatasi kesulitan

tersebut.

Wan Hong-giok menghela napas lirih, kembali ia berkata, “Aaaai…. Sekalipun cara kita

berpandangan berbeda, tapi berbicara soal kasih sayang kita terhadap Hoa kongcu boleh dibilang

tak jauh berbeda. Adik Wi, bila kau mencintainya, kau harus berpikir demi dirinya pula. Apakah

masih tetap menahan diriku untuk tetap tinggal ditempat ini….?”

Waktu itu Coa Wi-wi sedang dibuat serba salah, setelah didesak terus menerus maka diapun

bertanya, “Lantas bagaimana dengan kau? Apa yang hendak kau lakukan?”

“Tak usah merisaukan diriku” Wan-Hong-giok tertawa sedih, “Bila adik Wi sudah dapat

memahami, itu lebih bagus lagi”

“Tidak bisa, tidak bisa!” teriak Coa Wi-wi dengan gelisah, “Sebetulnya apa rencanamu

selanjutnya? Sedikit banyak harus kau terangkan dulu kepadaku!”

Wan Hong-giok pejamkan matanya berpikir sebentar, kemudian menyahut dengan lirih, “Aku

ingin melakukan perjalanan menuju keluar perbatasan. Disitu aku hendak mencari guruku!”

“Siapakah gurumu?” Coa Wi-wi masih juga merasa kuatir, “Apakah dia dapat membantu dirimu

untuk memulihkan kembali ilmu silatmu yang telah punah itu?”

Wan Hong-giok bertujuan menghindari yang berat dan mencari yang enteng, menghadapi

pertanyaan tersebut iapun menyahut dengan hambar, “Asal alirannya sama aku pikir masih ada

harapannya!”

Tampaknya ia sudah bulatkan tekad untuk pergi dan situ, maka diapun enggan untuk banyak

berbicara lagi, pokok pembicaraan segera dialihkan ke soal lain, tiba tiba ujarnya, “Adik Wi, Hoa

kongcu kuserahkan perawatannya kepadamu. Bila lain hari masih berjodoh, kita pasti akan

berkumpul kembali!”

Berbicara sampai disitu hatinya jadi kecut dan amat sedih, tak bisa dicegah lagi titik air mata

jatuh berlinang membasahi pipinya.

Coa Wi-wi juga tak dapat membendung rasa sedih, dia ikut mengucurkan air matanya sambil

sesenggukan.

“Kau…. kau…. apakah kau…. bersikeras ingin pergi juga dari tempat ini ?” bisiknya.

Wan Hong- giok tertawa terpaksa, cepat ia menyeka air mata yang membasahi pipinya.

“Omongan anak kecil,” katanya, “kalau tidak pergi mana bisa? Terus terang saja kukatakan,

seandainya bukan memikirkan kepentingan Hoa kongcu, memangnya aku tega untuk berpisah

kembali setelah berkumpul? Tak usah terlalu kekanak-kanakan. Pergilah! Coba tengok bagaimana

keadaan Hoa-kongcu sekarang ini”

Sambil berkata pelan-pelan dia memutar badan Coa Wi-wi dan mendorongnya maju ke muka.

Terdorongnya oleh tenaga si nona tak kuasa Coa Wi-wi maju beberapa langkah, tapi ia memutar

kembali badannya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

444

“Eaci Wan, katakan kepadaku siapakah gurumu itu?” pintanya, “Bila ada kesempatan, aku tentu

akan berangkat ke perbatasan untuk mencari dirimu….”

“Tidak usah!. Suatu ketika datang mencari sendiri” tampik Wan Hong-giok cepat.

Sampai disitu, dengan cepat dia mengerling sekejap ke arah Hoa In-liong kemudian putar badan

dan cepat-cepat berlalu dari pintu gerbang kuil bobrok itu.

Coa Wi-wi memburu beberapa langkah seperti hendak mengucapkan sesuatu, Tiba-tiba satu

ingatan melintas dalam benaknya. Ia merasa tak ada gunanya banyak berbicara, maka sambil

keraskan hati ia hentikan langkah kakinya dan membiarkan Wan Hong-giok keluar dari pintu

gerbang menuruni bukit dan lenyap dibawah cahaya matahari.

Pada ketika yang terakhir ini. bati kecilnya seakan-akan kelihatan sesuatu, tapi seakan-akan

kekurangan juga sesuatu, padahal benaknya terasa kosong. Sekalipun ada perasaan, diapun tak

bisa merasakan perasaan apakah itu.

Sementara dia masih tertegun, tiba-tiba Ki-ji berbisik memecahkan keheningan disekeliling

tempat itu. “Wan siocia sudah pergi jauh”

“Aaah….” sekarang Coa Wi-wi baru sadar kembali dari lamunannya, ditatapnya wajah Ki-ji

berulang kali, tiba tiba ia berseru, “Cepat…. cepat…. kau susul dirinya.

“Kenapa musti disusul? “tanya Ki-ji seperti tertegun dengan ucapan tersebut.

“Hantar dia sampai diperbatasan” tukas Coa Wi-wi sambil ulapkan tangannya berulang kali.

“Cepat…. cepat…. ayoh cepat pergi?”

“Dihantar sampai perbatasan? “ulang Ki-ji terperanjat.

Kontan saja Coa Wi-wi melotot besar. “Masa hanya sepatah katapun kurang jelas? Kalau tidak

pergi lagi, bila Wan siocia sampai terjadi sesuatu, engkaulah yang harus bertanggung jawab.”

Ki-ji makin terperanjat lagi. “Lantas kau…. kau…. siapa yang akan meladeni kau?”

“Aaah…. kamu ini cerewet amat, siapa yang suruh engkau meladeni aku? Ayoh cepat berangkat!”

Setelah didesak berulangkali, terpaksa Ki-ji hanya bisa mencibirkan bibirnya. “Pergi yaa pergi.

Cuma ilmu silatku cetek sekali. Bila sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, aku tak mau

tanggung jawab”

Ki-ji adalah dayang kepercayaan dari Coa Wi-wi. Sejak kecil ia dibesarkan disisi Coa Wi-wi maka

kalau dia disuruh meninggalkan nonanya tentu saja sangat keberatan. Sebab itulah meski

dimulut ia menjawab, tubuhnya sama sekali tidak beranjak.

Coa Wi-wi sendiripun sebetulnya tak tega membiarkan dayangnya pergi jauh. Apa mau dikata di

situ tiada orang lain yang bisa disuruh dan lagi diapun amat menguatirkan keselamatan Wan

Hong-giok yang harus pergi jauh. Sebab itulah keputusan tersebut dibikin pada saat yang

terakhir dan kini perkataan yang sudah disiapkan ibaratnya anak panah diatas busur, mau tak

mau harus dilepaskan juga.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

445

Maka dengan wajah berubah serius dan pura-pura marah dia berkata lebih jauh, “Betul-betul

mengherankan, kau lagi ngambek yaa? Terus terang kukatakan kepadamu, bagaimanapun jua

kau harus menghantar nona Wan sampai di perbatasan, sepanjang jalan kau harus layani nona

Wan secara baik-baik tak boleh berayal. Meski dia tak mau dihantar, kau juga mesti mengintilnya

secara diam-diam hantar sampai di tempat tujuan, mengerti?”

“Mengerti!” Ki-ji mencibirkan bibirnya makin tinggi.

Meskipun mulutnya menjawab, badan masin belum juga berajak dari tempat semula.

Tidak tega rasanya Coa Wi-wi mengurusi dayangnya itu, namun dalam keadaan apa boleh buat

tertaksa dia harus pura-pura melotot marah. “Kalau sudah mengerti keadaan tidak cepat lari?

Memangnya ingin digebuk….?” bentaknya sambil berkata dia ayun tangannya pura-pura hendak

menghantam dayang tersebut.

Mula-mula Ki-ji agar tertegun, kemudian serunya “Yaaa…. aku pergi! Aku pergi!”

Dengan gemas dia mendepak-depakkan kakinya kebawah, lalu putar badan dan tinggalkan

tempat itu. Sekejap kemudian tubuhnya sudah lenyap di bawah bukit sana.

Memandang bayangan punggungnya yang lenyap dari pandangan, Coa Wi-wi menghela napas

berulang kali, gumamnya, “Semoga Ki-ji menuruti perkataan. Semoga enci Wan tidak

mengalammi kejadian apapun jua”

Sambil bergumam pelan-pelan ia putar badannya, lalu dengan penuh rasa kuatir menghampiri

diri Hoa In-liong.

Sementara itu keadaan dari Hoa In-liong sudah jauh membaik. Kulit badannya ketika itu sudah

bertambah bersih, napasnya mulai panjang-panjang. Tampangnya yang keren, serius

menunjukkan bahwa ia sudah berada dalam keadaan lupa akan segala-galanya dalam semedinya

itu, atau dengan perkataan lain, kendatipun racun ular sakti yang diidapnya belum punah sama

sekali, namun sim-hoat tenaga dalam yang dikatakan “istimewa” itu telah memberikan

kemanjuran yang mengagumkan.

Pada dasarnya Coa Wi-wi memang seorang dara yang lincah dan periang. Dia adalah seorang

nona yang tak pernah merasa risau. Tentu saja perasaannya jadi lega dan nyaman setelah

menyaksikan keadaan Hoa In-liong ketika itu. Sekulum senyuman segera tersungging diujung

bibirnya.

Diamatinya air muka Hoa In-liong beberapa kejap, kemudian bibirnya bergetar entah apa yang

dibisikkan. Setelah itu sambil tersenyum ia berjongkok dan duduk dihadapan Hoa In-liong.

Matahari telah tenggelam dilangit barat, akhirnya Hoa In-liong mendusin dari semedinya, pelanpelan

ia menghembuskan napas panjang, lalu membuka matanya dan bangkit berdiri.

Melihat itu. buru-buru Coa Wi-wi ikut bangkit berdiri, teriaknya dengan penuh kegirangan,

“Sudah sembuhkah engkau Jiko? Sungguh tak kusangka kalau engkau telah bertemu dengan

kongkong”

Ternyata ilmu semedi yang dilukiskan sebagai “istimewa” itu bukan lain adalah ilmu Bu-kek-tengheng-

sim-hoat ajaran Goan-cing taysu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

446

Sim-hoat tenaga dalam ini merupakan salah satu dari ilmu silat keluarga Coa Wi-wi. Sebagai

orang yang berbakat lagipula pernah mendengarnya, hanya sekali pandangan saja ia sudah

memahaminya.

Tampaklah Hoa In-liong memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian sahutnya, “Racun

ular sakti itu terlampau ganas. Meski sudah kucoba untuk mendesaknya keluar, toh hanya bisa

mendesak racun itu untuk mengumpul di satu sudut belaka”

“Kau desak racun itu dimana? Tidak apa-apa bukan?” seru Coa Wi-wi dengan hati bergetar keras.

Hoa In-liong alihkan sorot matanya dan mengawasi wajahnya beberapa kejap, tiba-tiba ia

tertawa. “Rupanya adalah Wi…. Oh, seharusnya kupanggil dirimu dengan sebutan apa? Adik Wi?”

“Aaah…. kamu ini jadi orang tidak serius” Coa Wi-wi mengomel dengan dahi berkerut, “aku kan

lagi bertanya, racun ular itu kau kumpulkan dimana? berbahaya tidak? Bukannya menjawab,

malah melantur kemana-mana….”

Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak, dicekalnya tangan gadis itu kemudian ditariknya mendekat.

“Racunnya sudah kukumpulkan dijalan darah Gi-li dan Gi-bi-hiat, tidak berbahaya lagi. Hayo beri

tahu kepadaku sekarang, aku harus memanggil apa kepadamu?”

Coa Wi-wi berusaha meronta, tapi tak berhasil melepaskan diri dari cekalan pemuda itu, maka

dengan muka semu merah karena malu omelnya, “Cepat lepas tangan, kau mau menganiaya aku

lagi?”

Mendengar tuduhan tersebut. Hoa In-liong terkesiap, cepat-cepat ia mengendorkan cekatannya.

“Aku memang keterlaluan, aku memang keterlaluan, kembali aku lupa diri…. “

Rada lega juga Coa Wi-wi melihat kepanikan orang. “Aku bernama Wi-wi” katanya kemudian,

“Toako menyebutnya sebagai adik Wi….”

“Kalau begitu, akupun akan meninggikan kedudukanku sendiri dengan menyebut dirimu sebagai

adik Wi” kata Hoa In-liong cepat, lega juga hatinya ketika didapatkan gadis itu tidak marah.

Selesai berbicara, sekali lagi dia celingukan kesana-kemari, seakan akan urusan yang sudah

lewat, asal sudah menyesalpun urusan jadi bsres.

Ketika gadis itu menyaksikan si anak muda tersebut celingukan, ia lantas bertanya, “Engkau

sedang mencari enci Wan?”

“Yaa!” Hoa In-liong mengangguk, “Kenapa nona Wan tidak kelihatan?. Oya, dimana Toako? Apa

Toako belum kembali?”

“Enci Wan katanya hendak mencari gurunya, sedang Toako juga sehat dan tenang, aku pikir tak

mungkin bakal terjadi hal-hal yang diluar dugaan”

Meskipun dimulut ia berkata demikian, namui hatinya mulai kalut dan gugup juga setelah Hoa Si

yang ditunggunya selama ini belum kembali juga.

“Nona Wan sudah pergi!” Hoa In-liong berseru dengan nada terkejut, “Kemana dia akan mencari

gurunya? Dia….”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

447

Dari nada ucapannya maupun sikapnya yang begitu gelisah, dapat diketahui bahwa pemuda itu

sangat mencemaskan keselamatan gadis tersebut.

Untunglah Coa Wi-wi sudah menduga sampai kesitu, maka dengan kalem dan sedikitpun tidak

gugup ia menyahut, “Katanya dia hendak pergi ke perbatasan untuk mencari gurunya. Siapa

nama gurunya ia tak mau menerangkan. Cuma aku telah mengutus Ki-ji untuk menghantarnya

sampai ke tempat tujuan. Jangan dilihat Ki-ji masih kecil tapi otaknya cukup cerdas. Aku rasa tak

mungkin meraka sampai menemui musibah”

Hoa In-liong agak tertegun sehabis mendengar perkataan itu. Dengan tatapan mata yang tajam

diawasinya wajah Coa Wi-wi beberapa kejap, kemudian diapun tersenyum. “Kukira kenapa Ki-ji

kok hilang, tak tahunya dia lagi menghantar nona Wan. Haa…. haa…. haa….Adik Wi pandai sekali

mengatasi pelbagai persoalan, akupun jadi lega rasanya”

Diam-diam Coa Wi-wi mengerutkan dahinya dan berpikir dihati, “Tampaknya perkataan enci Wan

ada benarnya juga, ia tidak terlalu menaruh perhatian terhadap kepergian enci Wan….”

Sementara dia masih melamun, Hoa In-liong telah maju kedepan dan menggandeng lengan

kanannya sambil berkata, “Adik Wi, bagaimana kalau kita pun turun gunung?”

“Kau hendak menyusul Toako?” seru Coa Wi-wi dengan wajah tercengang dan mata yang

dikerdipkanr berulang kali.,

Hoa -In-liong mengangguk. “Yaa, Toako sudah pergi lama sekali, namun sampai sekarang belum

kembali juga. Kita harus pergi menengoknya”

Maka ditariknya tangan Coa Wi-wi yang lembut dan diajaknya berlalu dari ruang kuil bobrok

tersebut.

Jalan tersanding disisinya, tiba-tiba Coa Wi-Wi berpaling dan ujarnya dengan lembut,

“Sebelumnya kau musti berjanji dulu. Andaikata Toako menjumpai halangan apa-apa, maka

selama racun ular masih bersarang dalam tubuhmu, kau tak boleh bertindak menuruti hawa

napsu. Segala sesuatunya kau musti diam, berjanji?”

“Aaah….selama kau ada disisiku, apalagi yang musti kukuatirkan? “seru Hoa In-liong tersenyum.

Tiba-tiba Coa Wi-wi menghentikan langkah kakinya lalu menarik pula lengan Hoa In-liong hingga

berhenti, katanya dengan serius, “Kau musti berjanji dulu, sampai waktunya kau tak boleh

sembarangan turun tangan. Segala sesu-atunya serahkan saja padaku. Janji?”

Mula-mula Hoa In-liong agak tertegun, menyusul kemudian ia tertawa terbahak-bahak. “Haa….

haa…. haa…. baik, terserah padamu, terserah padamu…. Kiu-im Kaucu orangnya sombong,

dingin dan kejam, jika kita tak segera berangkat dan seandainnya Toako benar-benar

menghadapi musibah. Bila Kiu-im Kaucu juga angkat langkah seribu, akan kulihat kau bisa

berbuat apa lagi?”

Terperanjat Coa Wi-wi mendengar ucapan tersebut, segera teriaknya dengan gelisah, “Kalau

begitu….ayoh kita segera berangkat!”

Di tangkapnya lengan Hoa In-liong, kemudian mereka berdua segera melompat kedepan dan

melayang turun dari bukit tersebut.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

448

Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Coa Wi wi betul-betul sudah mencapai pada puncak

kesempurnaan. Sepanjang perjalanan ia bergerak secepat sambaran petir. Sekali loncat tiga lima

kaki sudah dilampaui, seakan-akan semua gerakan tersebut dilakukan tanpa membuang tenaga

barang sedikitpun juga.

Hoa In-liong yang berjalan mengiringi di sisinya hanya merasakan desingan angin tajam

menderu-deru disisi telinganya. Pemandangan disekitar tempat itu hampir boleh dibilang tak

sempat dilihat jelas. Akhirnya dia menarik kembali segenap hawa murninya dan membiarkan

tubuhnya bergerak karena diseret gadis itu.

Nyatanya Coa Wi-wi tidak merasa kepayahan karena musti menarik sebuah beban berat.

Kecepatan geraknya bukan saja tidak bertambah lambat, sebaliknya justru malah bertambah

cepat.

Tak ada pemuda yang tidak ingin tahu. Hoa In-liong pernah menyaksikan kelincahan Coa Wi-Wi

ketika berada di bukit Ciong-san. Waktu itu nona tersebut melayang turun dari langit bagaikan

bidadari turun dari kahyangan, rasa herannya ketika itu sudah amat besar.

Maka setelah menyaksikan kejadian tersebut, rasa ingin tahunya makin lama makin bertambah

besar.

oooOOOOooo

AKHIRNYA si anak muda itu tak dapat mengendalikan rasa ingin tahunya itu, maka dia pun

bertanya, “Eeeeh….adik Wi, siapakah yang mengajarkan ilmu meringankan tubuhmu? Apakah

ibumu?”

“Ehmmmm….!” jawab Coa Wi-wi tak acuh.

Selang sesaat kemudian tiba-tiba ia berbaling sambil bertanya pula, “Oya….dimanakah kau telah

berjumpa dengan kongkongku?”

“Kongkong mu?” Hoa In-liong tertegun dan bertanya dengan wajah tercengang.

“Iya…. Ilmu Bu-kek-teng-heng-sim-hoat tersebut bukankah ajaran dari kongkong ku?”

“Bu-kek-teng-heng-sim-hoat….?” Hoa In-liong makin tercengang, “Oh…. maksud adik Wi, ilmu

sim-hoat tenaga dalam yang kugunakan untuk mendesak keluar racun dari tubuhku tadi bernama

Bu-kek-teng-heng-sim-hoat?”

“Aneh betul!” Coa Wi-wi merasa keheranan juga, “Sim-hoat tunggal dari keluarga kami itu tak

pernah diwariskan kepada orang lain, juga tak pernah diwariskan kepada seseorang secara

rahasia. Kalau didengar dari ucapannya tadi tampaknya kau belum pernah berjumpa dengan

kongkong. Apa yang sebenarnya telah terjadi? Masa didunia ini masih terdapat ilmu sim-hoat lain

yang serupa dengan kepandaian tersebut?”

“Aku tidak tahu, ilmu itu diwariskan seorang tokoh sakti kepadaku, waktu itu….”

Coa Wi-wi ingin buru-buru membuka tabir rahasia tersebut, ia tak sabar untuk mendengarkan

obrolan orang, segera tukasnya, “Coba kau baca isi pelajaran sim-hoat itu kepadaku!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

449

Hoa In-liong merasa bahwa cara itu ada benarnya juga. maka diapun lantas menghapalkan isi

pelajaran tersebut diluar kepala, “Badan ini bukan utuh, hati ini bukan utuh. Dunia jagad sejak

dulu, berbaur dan mengumpul

tiada hentinya….”

Pelajaran sim-hoat itu bukan lain adalah ajaran dari Goan-cing Taysu. Coa Wi-wi tentu saja hapal

sekali, maka hanya mendengar beberapa patah kata saja ia sudah tersenyum senyum seraya

menukas, “Bergerak dan tengan mengikuti tay-kek, aliran terbalik mendatangkan tenaga….

cukup…. cukup! Itulah pelajaran sim-hoat tenaga dalam dari keluarga kami. Berarti kongkong lah

yang mengajakan pelajaran itu kepadamu, tak usah kau baca lagi”

Mendengar perkataan itu, Hoa In-liong juga merana sangat gembira, ia jadi tertarik sekali, maka

serunya kemudian, “Bagus! Mari kita membicarakan soal ilmu silat dari aliran keluargamu….”

“Jangan membicarakan soal semacam itu disaat seperti ini” tukas Coa Wi-wi serius, “Kita harus

cepat pergi, soal lain kita bicarakan setelah bertemu dengan Toako nanti”

Ia benar-benar menambah tenaga dalamnya beberapa bagian, sekejap mata kemudian ia sudah

berada puluhan kali jauhnya dari tempat semula….

Sebenarrya Hoa In-liong masih mempunyai banyak persoalan yang ingin ditanyakan kepada

gadis itu, seperti misalnya siapa nama Goan-cing Taysu. Asal-usul ilmu silat dari keluarga Coa,

juga tentang ilmu silat Coa Cong-gi yang cetek padahal Coa Wi- wi berilmu sangat tinggi. Apa

yang sebenarnya terjadi di balik kesemuanya itu?

Tapi oleh Coa Wi-wi berbicara serius, lagi pula yang dikuatirkan adalah Toakonya juga, maka ia

harus bersabar untuk menyimpan kembali semua pertanyaan itu didalam hati.

Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh keluarganya, dia pun bergerak menuruni bukit

dengan mengintil disisi Coa Wi-wi.

Setelah kedua orang itu sama-sama mengerahkan tenaga dalam, kecepatan gerak merekapun

berlipat ganda. Dalam sekejap mata mereka sudah tiba di kaki bukit.

Selang sesaat kemudian mereka sudah berada dekat dengan kota Ci-tin, tiba-tiba Hoa In-liong

memperlambat langkahnya lalu berkata, “Adik Wi lepaskan jubah panjangmu itu!”

“Kenapa?” tanya Coa Wi-wi dengan wajah tertegun, cepat ia menghentikan langkah kakinya.

Hoa In-liong juga ikut berhenti. “Kita tidak tahu Toako mengadakan janji dimana. Itu perlu kita

tanyakan setibanya dikota nanti. Tapi kalau jubah itu tidak kau copot, pada hal ikat kepalamu

sudah tertinggal dipuncak bukit, modalmu yang laki tidak laki perempuan tidak perempuan itu

tentu akan ditertawakan orang”

Kiranya sejak ikat kepala yaug dikenakan Coa Wi-wi terlepas, menyusul kemudian terjadinya

keributan, Hoa In-liong mengerahkan tenaganya untuk mengusir racun, Wan Hong-giok ribut

mau pergi dan Hoa In-liong akhirnya selesai dengan semedinya, Coa Wi-wi telah melupakan

sama sekali akan kejadian tersebut.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

450

Jilid 23

MAKA setelah ditegur, gadis itupun berseru tertahan dan buru buru melepaskan ikat

pinggangnya. Tapi baru melepas sampai tengah jalan, mendadak paras mukanya berubah jadi

merah, sambil mendorong pemuda itu kemuka teriaknya marah. “Sana, menghadap kesitu, awas

jangan mengintip yaa!”

“Baiklah, aku akan berjalan pelan-pelan, tapi kau harus cepatan sedikit….”‘

Selesai berkata, ia benar benar putar badan dan pelan-pelan maju kemuka.

Waktu itu senja telah lewat, malam yang gelap mencekam seluruh jagad, dari kejauhan tampak

cahaya lampu yang lapat-lapat memancar dari arah kota Ci-tin, kadangkala terdengar juga suara

tertawa orang, suasana amat tenang dan nyaman.

Sambil berjalan Hoa In-liong kembali berpikir sudah berapa ratus langkah ia lanjutkan

perjalanannya tapi Coa Wi-wi belum menyusul juga. “Perempuan memang paling merepotkan”

pikirnya kemudian, “Untuk melepaskan sebuah jubah luarnya makan waktu selama ini”

Sementara dia masih berpikir, mendadak Coa Wi-wi sedang membentak keras, “Siapa itu? Hayo

cepat berhenti!”.

Hoa In-Hong merasa terkesiap tak ssmpat berpikir panjang lagi, buru-buru ia menjejakkan

kakinya ke tanah dan melayang kembali ke tempat semula.

Tampaklah sesosok bayangan abu-abu sedang kabur menuju kearah timur, agaknya Coa Wi-wi

termangu sesaat sebelum akhirnya melakukan pengejaran yang ketat.

Gerakan tubuh orang itu amat cepat, meski permukaan tanah tidak rata namun dalam beberapa

kali lompatan saja sudah hampir lenyap di balik pepohonan yang luas.

Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Coa Wi-wi memang amat sempurna, tapi lantaran ia agak

terlambat sewaktu melakukan pengejaran, maka tak berhasil disusulnya.

Hoi In-liong sangat gelisah, cepat-cepat sepasang kakinya menggunting lalu menerobos masuk

ke dalam hutan, hardiknya, “Sahabat, ayoh hentikan langkahmu!”.

Pemuda itu berada lebih jauh lagi jaraknya dengan orang itu apalagi bergerak jauh lebih lambat.

Untuk menyusul orang tersebut sudah, jelas lebih-lebih tak mungkin lagi.

Siapa sangka ketika bayangan abu-abu itu tiba ditepi hutan yang lebat itu, mendadak ia berhenti

dan malahan memutar badannya seraya menegur, “Apakah yang datang adalah adik In-liong?”

Didengar dari nada suaranya jslas orang itu sangat dikenal olehnya dan tak bisa diragukan lagi

orang itupun menghentikan gerakan tubuhnya setelah mengenali suara teguran dari Hoa Inliong.

Hoa In-liong juga agak tertegun sesudah mendengar seruan tersebut, tanpa menghentikan

gerakan tubuhnya dia menyahut, “Yaa, aku adalah Hoa loji, siapakah saudara?”

“Aaaai….Payah sekali aku mencari dirimu” teriak bayangan abu-abu itu dengan nada kegirangan.

Cepat dia melompat kedepan dan menyongsong kedatangan anak muda itu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

451

Hoa In-liong yang bermata jeli segera dapat mengenali pula siapa gerangan bayangan abu-abu

itu, diapun tampak amat kegirangan. “Oooh…. Kiranya Saudara Ek-hong, haa…. haa…. haa….

Ibaratnya air bah menggenangi kuil raja naga, orang keluarga sendiripun tidak dikenali”

Seraya berkata ia buru-buru maju ke muka dan menyongsong pula kedatangan orang itu.

“Tunggu sebentar!” tiba-tiba Coa Wi-wi membentak dengan suara yang dingin.

“Kenapa?”dengan wajah tercengang dan setengah tertegun Hoa In-liong berpaling, “Masa kalian

tidak saling mengenal? Dia kan saudara Wan Ek-hong?

“Tentu saja kenal” sahut Coa Wi-wi tetap berdiri kurang lebih satu kali dihadapan pemuda itu.

“Aku hanya ingin bertanya kepadamu, mengapa kau main sembunyi dengan cara yang sangat

mencurigakan, menegurpun tidak apalagi bersuara?”

“Oooh…. Rupanya adik dari keluarga Coa?” seperti baru tahu Wan Ek-hong segera menyapa,

“Aku kira…. aku kira…. aiaai! Kalau begitu akulah yang telah salah melihat orang”

Coa Wi-wi mendengus dingin, tampaknya rasa dongkol dan marahnya belum mereda. Bibirnya

kembali gemetar seperti hendak mengucapkan sesuatu, namun tak sepatah katapun yang

sampai meluncur keluar.

Hoa In-liong dapat merasa keadaan yang kurang harmonis, buru-buru serunya sambil tertawa,

“Adik Wi, malam sudah kelam apalagi suasana diliputi gelap gulita, salah melihat orang itu

lumrah, aku rasa kaupun tak usah….”

“Kamu tak usah turut campur” belum habis pemuda itu berbicara, Coa Wi-wi sudah menukas

dengan mata melotot, “Sedari dulu waktunya memang sudah begitu. Dia paling suka

mempermainkan aku. Hmmm! Ini hari aku tidak akan menyudahi urusan sampai disitu saja.

Bagaimanapun jua dia musti memberi penjelasan yang seterang-terangnya kepadaku”

Berbicara sampai disitu dia lantas berbaling dan ditanya Wan Ek-hong dengan mata melotot.

“Hayo jawab!” kembali bentaknya, “Mengapa kau bersembunyi dibelakang batu tanpa bersuara?

Mau mempermainkan aku yaa?”

Wan Ek-hong dibuat jadi serba kikuk dan serba jengah. Mukanya jadi merah seperti kepiting

rebus, senyum yang menghiasi bibirpun senyuman yang teramat getir.

“Hian-moay, janganlah menuduh aku dengan tuduhan yang bukan-bukan” pintanya, “Jangan

bikin aku jadi penasaran. Aku betul-betul tidak tahu kalau engkau yang berada disitu!”

“Huuuh….! Setan baru percaya dengan obrolanmu” Coa Wi-wi mencibirkan bibirnya, “Kami sudah

bercakap-cakap, sedang kau bersembunyi dibelakang batu hanya tiga kaki jauhnya dari tempat

kami berbicara, masa suara kamipun tidak kedengaran?. Apalagi diantara Kim-leng ngo-kongcu

engkaulah yang paling lihay dalam hal ilmu silat. Sekalipun tidak dapat mengenali suara kami

rasanya juga tak usah kabur. Hmmm! Kau tak berlagak pilon, mau tipu orang mesti lihat dulu

siapa yang hendak kau tipu. Hendak membohongi aku? Huuuh! jangan mimpi disiang hari

bolongi”

Hoa In-liong yang menyaksikan percekcokan itu diam-diam tertawa geli, pikirannya dalam hati,

“Adik Wi betul-betul tidak pakai aturan. Itu namanya orang yang tidak salah dituduh berbuat

salah. Berbicara sampai tiga hari tiga malampun tak akan ada habisnya. Yaa, mungkin kedua

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

452

orang itu memang sudah tidak cocok sedari dulu, atau mungkin gurauan saudara Ek-hong

dimana dulu sedikit keterlaluan, maka akibatnya adik Wi sampai sekarang masih merasa

mendongkol”

Sementara dia masih terpikir, Wan Ek-hong telah tertawa serak untuk menutupi perasaan

jengahnya. “Aaaaai….! Kalau dibicarakan sungguh bikin hati menjadi menyesal. Aku benar-benar

tidak tahu kalau engkau yang berada disana. Terus terang saja kuakui, andaikata pada dari yang

terakhir kukenali suara teguran tersebut sebagai suara diri adik In-liong, mungkin semenjak tadi

aku sudah kabur ke dalam hutan dan melenyapkan jejakku disana”

“Hee….hee…. hee…. Mungkinkah kau bisa lolos dari cengkeraman?” ejek Coa Wi-wi sambil

tertawa dingin, mukanya tampak sinis sekali.

Agak tertegun Wan Ek-hong ketika menghadapi pertanyaan tersebut. “Bisa kabur atau tidak, itu

urusan lain. Pada hakekatnya andaikata aku sudah tahu bahwa orang yang ada disitu adalah

engkau buat apa aku musti melarikan diri? Bukan begitu adik In-liong?”

“Tidak boleh bertanya kepadanya” Coa Wi-wi sangat marah, “Kau juga tak boleh menghindari

yang sedang berkecamuk didalam benakmu?”

Nada tegurannya kian lama kian bertambah keras dan nyaring, seakan-akan gadis itu tak mau

menyadari persoalan tersebut sebelum urusan menjadi jelas keseluruhnya.

Lama-lama Hoa In-liong merasa tak tega, cepat selanya dari samping, “Adik Wi, jangan

keterlaluan! Kita semua toh mempunyai hubungan persaudaraan yang erat. Masa saudara Ekhong

bakal mempunyai ingatan jahat terhadap dirimu….”

“Aaaah….! Kamu ini tahu apa?” kembali Coa Wi-wi menukas, “Tampangnya saja seperti orang

yang tahu sopan santun dan halus budinya. Padahal. Huuuuh! otaknya busuk, pikirannya jahat

dan semua akal busuknya hanya bertujuan untuk perbuatan yang terkutuk….”

“Sudah….sudah….cukup, jangan seperti anak anak lagi” Hoa In-liong segera menukas pula

sambil tersenyum, “Saudara Ek-hong adalah saudara angkat dari kakakmu Cong-gi. Dia

memandang engkau sebagai adik sendiri juga. Kalau cuma bergurau atau menggoda dirimu itu

lumrah dan tak bisa dihindari. Buat api kau musti pikirkan di dalam hati, apalagi menggunakan

kata-kata yang kurang didengar untuk mencari maki dirinya, itu kurang baik”

Berbicara sampai disitu diapun lantas berpaling ke arah Wan Ek-hong seraya bertanya, “Saudara

Ek-hong, karena urusan apa engkau datang kemari? Apakah kau sedang mencari diri siau-te?”

Tentu saja tujuannya mengalihkan pokok pembicaraan adalah untuk menghilangkan suasana

kaku yang mencekam suasana disitu.

Siapa tahu sebelum Wan Ek-hong sempat menjawab pertanyaan tersebut, Coa Wi-wi sudah

menerjang kemuka sambil berteriak lagi, “Tunggu sebentar, biar dia menjawab dulu

pertanyaanku. Sebenarnya apa maksud dan tujuannya engkau bersembunyi dibelakang batu

disana?”

Hoa In-liong tertegun. “Apa sebenarnya yang telah terjadi?” demikian

pikirnya, “Kenapa kali ini adik Wi demikian keras kepala? Meskipun saudara Ek-hong berbuat

salah, sepantasnya kalau ia memberi sedikit muka kepadanya, agar dia tak sampai benar-benar

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

453

kehilangan muka. Mungkinkah…. Mungkinkah kepribadian dan akhlak saudara Ek-hong memang

benar-benar ada penyakitnya? Tapi….”

Berpikir sampai disitu, tanpa sadar sinar matanya ikut dialihkan pula keatas wajah Wan Ek-hong.

Diperhatikan orang dengan cara begini, Wan Ek-hong semakin kikuk dan serba salah. Ia tertawa

getir, lalu ujarnya dengan perasaan apa boleh buat, “Baiklah! Kalau toh hian-moay memaksa aku

untuk mengakuinya, akupun tak akan melindungi nama baikku lagi untuk mengaku terus terang.

Yaa, pada hakekatnya aku sedang dikejar kejar oleh beberapa orang perempuan hingga

kehilangan jalan. Dengan susah payah aku baru saja berhasil lolos dari kejaran mereka. Aku

merasa lelah dan kehabisan tenaga, ibaratnya burung yang ketakutan oleh bidikan. Baru saja aku

bersemedi mengatur tenaga dibelakang batu itu. Ketika kalian da-tang maka akupun tak berani

berbisik. Aku kuatir kalian adalah orang-orang yang mengejar diriku itu. Hian-moay, aku sudah

mengakui kelemahanku yang amat memalukan ini, ibaratnya kulit mukaku sudah kau sayat,

puaskah kau?”

Begitu pengakuan diberikan, Hoa In-liong jadi tertegun bercampur kaget, ia segera bertanya

dengan nada terkejut, “Beberapa orang perempuan? Apakah mereka adalah anak buah dari Kiuim

kau?”

“Huuuh….! Siapa yang tahu kalau cerita itu sungguhan atau bohong” Coa Wi-wi kembali

mengejek. “Aku tidak percaya kalau dengan andalkan beberapa orang perempuan, dia bisa

dibikin kalang kabut ketakutan selengah mati!”

“Tapi apa yang kuceritakan adalah kenyataan” seru Wan Ek-hong agak penasaran, “Jika kau

tidak percaya, silahkan ke belakang batu sana dan periksa sendiri. Disitu ada sebuah kain putih,

bila bukan lantaran desingan dari baju, mungkin aku belum sadar dari samadiku!”

“Tak usah dilihatpun aku juga tahu” kata Coa Wi-wi dengan alis mata berkenyit, “Kain itu adalah

baju luarku. Hanya sebuah jubah luar sana sudah bikin kau ketakutan sampai kabur terbirit-birit.

Hmmm! siapa yang akan percaya dengan obrolanmu?”

“Aku adalah ibaratnya burung yang baru kena dibidik” keluh Wan Ek-hong dengan muka yang

mengenaskan, “Apalagi aku dibikin samar ditengah kegelapan….”

“Huuuh….! hanya bertemu dengan seorang perempuan saja sudah dibikin ketakutan setengah

mati?” ejek Coa Wi-wi sambil mencibirkan bibirnya. “Hmmm, sayang seribu kali sayang, bila ingin

suruh aku percaya lebih baik karanglah alasan lain yang lebih tepat lagi”

Wan Ek-hong tertegun, dia alihkan pandangan matanya ke sekeliling tempat tersebut, kemudian

sesudah berpikir sebentar ujarnya, ‘”Aaaai….! berkata begini tidak percaya, berkata begitu tidak

percaya, tampaknya aku harus mohon diri saja dari tempat ini”.

Coa Wi-wi mendengus dingin. “Hmmm! Mau pergi kek, mau tidak pergi kek, siapa yang sudi

mengurusi dirimu?”

Hoa In-liong makin tercengang lagi sudah menyaksikan kejadian itu, dahinya berkerut,

“Sebenarnya apa yang terjidi?” demikian pikirnya, “Dengan susah payah ia memaksa orang untuk

menjawab, seakan-akan sebelum urusan dibuat terang ia tak mau menyudahi urusan dengan

begitu saja. Tapi setelah orang mau pergi, dia tidak menahannya, aneh benar kejadian ini”

Sementara itu Wan Ek-hong telah menghela napas panjang. “Aaaaai! Baiklah kalau toh demikian.

Baiknya aku mohon diri saja dari sini!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

454

“Eeeeh…. Jangan pergi…. Jangan pergi” dengan terkejut Hoa In-liong berusaha menghalangi

kepergiannya, “Adik Wi masih terlampau muda, harap saudara Ek hong jangan….”

Tapi sebelum ia sempat menyelesaikan kata-katanya, Coa Wi-wi kembali sudah menukas, “Kalau

dia mau pergi, kenapa kau musti menahan dirinya lebih lanjut….?”

Hoa In-liong tertegun, sambil berpaling teriaknya, “Adik Wi….”

Sekilas rasa benci dan gemas melintas diatlas wajah Wan Ek-hong, segera sambungnya, “Adik

Liong tak usah banyak berbicara lagi, aku sudah mengenali watak adik Wi. Sekalipun kau paksa

untuk menahan diriku juga percuma, paling-paling hanya membuat dia semakin marah saja.

Untuk sementara waktu biar aku menyingkir saja lebih dulu”

Coa Wi-wi mendengus dingin, ia melengos ke arah lain dan tidak menggubris lagi.

Hoa In-liong kuatir dia benar-benar akan pergi, segera ujarnya pula, “Aiaai, perkataan apa itu,

adik Wi tak ada alasan untuk marah. Harap saudara Ek-hong juga tak usah tersinggung. Hayo

berangkat,kita bercakap-cakap dalam kota saja”

Wan Ek-hong menggerakkan tubuhnya menyingkir ke samping, cepat tampiknya sambil

tersenyum, “Tak usah, melihat kau berada dalam keadaan segar bugar, hatiku juga ikut lega,

urusan lain kita bicarakan lain waktu saja!”

Selesai berkata ia lantas memberi hormat, kemudian putar badan dan berlalu dari situ.

Hoa In-liong betul-betul amat gelisah melihat kepergian pemuda itu, sebab masih banyak urusan

yang bendak dia tanyakan. “Eeeh…. tunggu sebentar!”‘ teriaknya kemudian, “Kau hendak pergi

kemana?”.

Cepat kakinya menjejak tanah dan siap mengejar kemuka, tapi sebelum ia sempat bergerak,

tangannya sudah terlanjur ditangkap Coa Wi-wi.

“Aku tak bisa menunggu lebih lama lagi” terdengar Wan Ek-hong sambil lari sambil berteriak

“Saudara Siau-lam sudah berangkat ke barat, aku harus menyusulnya dengan segera”

“Saudara Siau-lam mau apa berangkat ke barat?” Hoa In-liong semakin gelisah, sehingga ia

mendepak-depakkan kakinya berulang kali keatas tanah.

Makin lari Wan Ek-hong berlalu semakin cepat. Dari kejauhan sempat terdengar suaranya

mengalun tiba, “Konon empek Yu ditangkap orang orang Mokau,

mati hidupnya belum ketahuan”

Meski orangnya sudah sangat juah, tapi suaranya lapat-lapat masih kedengaran, tapi sampai

akhirnya suara itu tak terdengar lagi.

Hoa In-liong tak berani menggunakan tenaga terlampau besar, maka ketika ia gagal untuk

melepaskan diri dari cengkeraman Coa Wi-wi, kakinya didepak-depakkan keatas tanah dengan

gelisah. “Lepaskan tanganku adik Wi. Persoalan ini bukan permainan anak-anak, kita musti

menyusul saudara Ek-hong dengan cepat!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

455

Tapi Coa Wi-wi tetap memegang tangannya erat-erat, malahan sambil menatap wajah pemuda

itu dia berseru, “Kau amat percaya dengan perkataannya?”

Hoa In-liong menghela napas panjang. “Aaai…. Kau terlalu nakal. Urusan ini menyangkut mati

hidup empek Yu, masa bisa kabar bo-hong belaka?”

“Lantas, kau tidak akan mengurusi urusan Toako lagi? “Tiba-tiba Coa Wi-wi menegur.

Hoa In-liong tertegun, ia jadi serba salah, malahan untuk menjawabpun bingung.

Tiba-tiba Coa Wi-wi bertanya lagi, “Tahukah kau, orang she-Wan itu pergi kemana?”

Kembali Hoa In-liong tertegun. “Bukankah dia bilang mau menyusul saudara Siau-lam?” pemuda

itu balik bertanya.

“Berarti dia seharusnya ke barat bukan? Sayang dia mengatakan mau ke barat padahal sekarang

mungkin ada di timur. Kalau tidak percaya, silahkan kau susul dirinya”

Tangannya direntangkan menunjukkan sikap terserah, lalu pelan-pelan dia berangkat ke kota Citin.

Hoa In-iong makin serba salah dibuatnya, jangan toh dia niscaya tak tega meninggalkan urusan

Hoa Si, sekalipun sekarang disusul juga bayangan tubuh dari Wan Ek-hong sudah lenyap tak

berbekas. Apa lagi dibalik ucapan Coa Wi-wi terkandung arti yang amat mendalam.

Sebagai seorang pemuda yang pandai membawa diri, setelah berpikir sebentar dan mengetahui

bahwa disusulpun tak ada gunanya, dia memutuskan untuk menyelesaikan dulu masalah yang

menyangkut Toakonya Hoa Si.

Karena itulah dia percepat langkah kakinya dan menyusul diri Coa Wi-wi….

Ketika dilihatnya pemuda itu menyusul datang Coa Wi-wi segera tertawa cekikikan, seraya

berpaling tegurnya, “Kenapa tidak kau susul dirinya?”

“Lebih baik kita cari Toako lebih dulu!”

“Seharusnya memang begitu” Coa Wi-wi berkata dengan wajah berseri, “Orang she-Wan itu

adalah manusia paling busuk, semua perkataannya tidak dapat dipercaya”

Mendengar perkataan tersebut, Hoa In-liong segera mengerutkan alisnnya. “Adik Wi! Tampaknya

engkau menaruh prasangka jelek yang amat mendalam atas diri saudara Ek-hong?”

“Prasangka jelek?” Ejek Coa Wi-wi, sambil berkerut kening, “Hmmm…. Manusia macam begitu itu

lain dimulut lain dihati. Aku paling benci kepadanya. Andaikata saudaraku tidak mempunyai

hubungan baik dengannya, hee…. hee…. heee sejak dulu dulu aku sudah memberi pelajaran

yang setimpal kepadanya”

“Lain dimulut lain dihati?” ulang Hoa In-liong dengan wajah makin tercengang, “Aku lihat

saudara Ek-hong itu….”

“Aaaah…. Engkau tak usah menyebut saudara Ek-hong saudara Ek-hong melulu. kalau bisa aku

malah menganjurkan dirimu untuk putus hubungan dan tak usah berhubungan dengan dirinya

lagi” tukas Coa Wi-wi dengan nada jemu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

456

Hoa In-liong semakin berkerut kening, diapun berpikir, “Benar-benar suatu kejadian aneh.

Tampaknya rasa benci adik Wi terhadap dirinya bukan terbatas cuma benci saja, bahkan sudah

meningkat menjadi suatu dendam kesumat, yang seakan-akan sedang berhadapan dengan

musuh bebuyutan saja. Apa yang telah terjadi? Aku lihat saudara Ek-hong tampan, gagah dan

setia kawan. Dia tidak mirip seorang manusia yang busuk atau memuakkan”

Walaupun ia sudah putar otak dan memikirkan persoalan itu berulang kali, namun pikirannya tak

pernah dia bawa ke bagian yang jelek. Dia selalu beranggapan bahwa Coa Wi-wi masih muda,

berdarah panas, dan rasa sentimennya terhadap Wan Ek-hong hanya lantaran pandangannya

yang tidak cocok.

Karena itu meski dihati ia berpikir demikian, senyum manis masih tersungging diujung bibirnya.

“Adik Wi, engkau suruh aku putus hubungan dengannya, tentu anjuran ini disebabkan oleh

alasan yang kuat bukan? Nah, tolong ajukanlah suatu contoh yang membuktikan bahwa dia

adalah seorang manusia lain dimuka lain dihati. Jika ada dasar, buktimu itulah akan

kupertimbangkan haruskah hubunganku dengannya diputuskan atau tidak”.

Coa Wi-wi segera mencibirkan bibirnya. “Aku sudah tahu kalau kamu ini manusia yang susah

diberitahu. Baiklah! Akan kuberitahukan kepadamu. Orang itu luarannya saja yang gagah dan

tampan, seakan-akan dia itu manusia yang jujur. Manusia yang gagah perkasa, terutama

didepan kakakku sekalian waduh…. Lagaknya macam orang yang sok mulia, sok bijaksana dan

sok setia kawan…. Padalah hanya, huuh…. ! Dia adalah seorang busuk, manusia munafik,

manusia rendah tak tahu malu”

“Kau punya bukti?” tanya Hoa In-liong kemudian setelah tertegun dan melongo.

Coa Wi-wi manggut-manggut, “Tentu saja! Bukan saja kusaksikan dengan mata kepala sendiri,

bahkan mengalaminya juga sendiri. Oleh karena dia mempunyai hubungan yang sangat baik

dengan kakakku sekalian, dulu akupun memanggilnya sebagai “Wan-suko”. Siapa tahu dia selalu

saja menggoda aku. Waktu itu meski aku rada jemu dan sebal, itupun hanya terbatas pada rasa

sebal belaka. Hingga pada suatu ketika…. hingga…. hingga pada suatu ketika….”

Tiba-tiba ia jadi tergagap dan tak mampu menerusnya kembali kata-katanya.

“Kenapa? Apakah dia kurangajar kepadamu?”

Coa Wi-wi mendengus dingin. “Hmmm! Dia berani? Kalau dia berani kurang ajar kepadaku, sejak

dulu dulu aku sudah beri pelajaran yang paling pahit kepadanya”

Mendengar jawaban itu, Hoa In-liong merasa agak lega, dia menghembuskan napas lega. “Bagus

sekali, lanjutkan ceritamu!”

“Aaaah…. tak usaH diceritakan lagi,!” Coa Wi-wi gelengkan kepalanya beberapa kali,

“Dibayangkan saja keki, apalagi diceritakan!”

Hoa In-liong mengerdipkan matanya berulang kali, diam-diam ia mulai berpikir, “Agaknya

saudara Ek-hong adalah seorang laki-laki yang gemar main perempuan dan mata keranjang.

Mungkin ada sesuatu perbuatan jeleknya yang ketangkap basah oleh adik Wi. Karena malu maka

adik Wi segan untuk menceritakan kembali….”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

457

Walaupun masih banyak persoalan yang mencurigakan hatinya, namun persoalan persolan itu

tak sampai diutarakan keluar. Dia hanya melanjutkan perjalanannya dengan mulut

membungkam.

Melihat pemuda itu membungkam dalam seribu bahasa, tiba-tiba Coa Wi-wi berkata lagi,

“Apakah engkau masih belum percaya? Baiklah akan kuceritakan kepadamu. Dia telah

mempermainkan dayang dari Ko Samko, Ko Siong-peng. Dayang tersebut dia totok jalan

darahnya, tapi ketika hendak melucuti gaun dayang tersebut telah ketahuan aku. Sejak itulah

aku tak sudi menyebut Suko lagi kepadanya. Coba bayangkan, manusia macam begitu apa patut

disebut laki-laki sejati? Tampangnya saja gagah, padahal diam-diam melakukan perbuatan

terkutuk yang sangat memalukan. Tidak pantaskah kalau manusia seperti itu disebut manusia

munafik? Jika engkau tak mau putuskan hubungan dengannya, lain kali kau musti akan

merasakan pahit getir di tangannya”

Perkataan itu diucapkan dengan tegas dan sungguh-sungguh. Bahkan makin berbicara semakin

panas hatinya. Sekalipun orang lain yang mendengar, tidak percaya juga akhirnya jadi percaya.

Tapi lain halnya dengan Hoa In-liong. Dia tak mempercayai perkataan orang dengan begitu saja.

Sekalipun dia lebih percaya lagi beberapa bagian atas kisah tersebut, sekalipun ia merasa

terkejut dihati. Tapi lantaran kejadian itu tidak disaksikan sendiri, maka diapun tak ingin memberi

tanggapan atau komentar apapun jua.

Sesudah termenung sebentar, akhirnya iapun berkata, “Adik Wi, kita tak usah membicarakan

tentang dia lagi. Hayo kita percepat perjalanan kita”

Coa Wi-wi tertegun. “Kenapa kau masih tidak percaya juga? Kau masih akan berhubungan lagi

dengannya?”

Hoa In-liong tersenyum. “Asal aku lebih waspada kan beres” sahutnya, “Pepatah bilang: Siapa

yang tidak jujur berarti dia sedang bunuh diri. Andaikata dia benar-benar seorang manusia yang

jahat dan busuk, lain kali akulah yang pertama-tama tak akan lepaskan dia, tak usah kuatir”

Coa Wi-wi termenung sejenak, akhirnya diapun menghela napas. “Baiklah! Terserah kepadamu.

Kau mempunyai pandangan sendiri sedang aku tak bisa memaksakan pandanganku kedalam

pandanganmu. Cuma kalau bertemu lagi lain kali, kuharap engkau bersedia meningkatkan

kewaspadaanmu. Jangan sampai kau tertipu oleh akal muslihatnya”

Hoa In-liong hanya bisa manggut-manggut belaka. Maka kedua orang itupun melanjutkan

perjalanan sambil bergandengan tangan.

Selang sesaat kemudian mereka sudah tiba kembali d kota Ci-tin, tepatnya di loteng Cwan-senglo.

Waktu itu Coa Wi-wi mengenakan pakaian wanita, maka pelayan yang bernama Go Bei-ci sudah

tidak mengenalnya lagi. Berbeda dengan Hoa In-liong yang mengenakan pakaiah sama, hanya

mantelnya sekarang penuh debu. Maka hanya sekilas pandangan saja pelayan itu sudah

mengenalinya kembali.

Dengan wajah penuh senyuman pelayan itu buru-buru maju menyongsong kedatangannya.

“Kongcu-ya sudah kembali? “sapanya, “Kiong-hi, tidak sia-sia rasanya perjalananmu kali ini.

Haa…. haa…. haa…. silahkan…. silahkan naik ke oteng”

Jelas ia telah salah menganggap Coa Wi-wi sebagai Wan Hong-giok.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

458

Hoa In-liong sendiripun tidak memberi penjelasan lebih jauh. Sambil naiki tangga loteng dia

berkata sambil tersenyum, “Tak nyana engkau masih mengenali diriku. Tolong tanya apakah

selama dua hari belakangan ini ada orang yang menyolok mata berkunjung kemari?”

“Orang-orang yang menyolok? Oooh….” Pelayan yang menyusul dari belakang itu mendadak

berseru tertahan, lalu sambil merendahkan suaranya dia berbisik, “Ada beberapa orang, bahkan

sekarang masih berada di atas loteng!”

Mendengar kabar tersebut dengan kaget Hoa In-liong menghentikan langkah kakinya, kemudian

ikut berbisik, “Ada berapa orang? Bagaimana dandanan mereka?”

Pelayan itu mengerling sekejap ke atas loteng, lalu sambil pura-pura sok misterius sahutnya,

“Tiga orang nona cantik, potongan, badannya menggiurkan, parasnya juga menarik. Belum

pernah kota ini dikunjungi nona secantik itu, mereka mirip…. mirip….”

Dia ada maksud menggunakan Coa Wi-wi sebagai perumpamaan. Siapa tahu begitu sorot

matanya terbentur dengan wajah gadis tersebut, seketika itu juga ia merasakan bahwa

kecantikan Coa Wi-wi tiada tandingannya dikolong langit.

Maka pelayan itu hanya bisa menjulurkan lidahnya gelagapan dan tak mampu melanjutkan

kembali kata-kata.

Ketika Coa Wi-wi mendengar bahwa di atas loteng hanya beberapa orang bocah perempuan saja,

ia lantas membentak nyaring, kemudian melanjutkan langkahnya keatas loteng.

Hoa In-liong juga tertawa rawan, sambil ulapkan tangannya dia berkata kemudian, “Sediakan

saja beberapa sayur, selesai bersantap kira masih harus melanjutkan perjalanan. Siapkanlah buat

kami”

Habis berkata pemula itu memutar badannya dan pelan-pelan naik ke atas loteng.

Loteng itu hampir penuh oleh tamu yang sedang bersantap. Coa Wi-wi sedang berdiri didepan

tangga sambil celingukan kesana-kemari. Sementara tiga orang “bocah perempuan” yang

dimaksudkan pelayan duduk disudut barat dekat jendela. Bila ditinjau dari dandanan mereka,

memang wajahnya cakup ayu dan menarik hati.

Disuatu sudut timur dekat jendela ia mencari tempat duduk lalu menggandeng tangan Coa Wi-wi

untuk duduk. Menggunakan kesempatan tersebut matanya memandang sekejap sekeliling

tempat itu untuk memeriksa apakah disekitar sana ada orang persilatan yang menyolok

pandangan mata atau tidak.

Ternyata tamu yang bersantap disana sebagai besar adalah penduduk kota. Yang bisa disebut

sebagai “rnenyolok” memang tak lain hanya tiga orang “bocah perempuan itu”.

Nona nona tersebut tidak terlalu besar usianya. Yang paling tuapun baru berusia delapan

sembilan belas tahunan. Diantaranya satu mengenakan baju warna hijau pupus, satu

mengenakan baju warna merah menyala dan terakhir mengenakan baju warna kuning telur.

Mereka itu sama-sama memakai gaun panjang dengan celana ketat. Ikat pinggangnya memakai

warna yang sama. Pada sanggulnya memakai pita kupu-kupu dengan warna yang sama. Kecuali

berdandan sebagai gadis remaja, tiada tanda-tanda lain yang istimewa.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

459

Selang sesaat kemudian, pelayan muncul menghidangkan sayur dan arak, maka sekali lagi Hoa

In-liong berseru, “Eeeh…. pelayan, tolong tanya, tengah hari tadi apakah ada seorang kongcu

berbaju biru yang mampir dikedai ini?”

Pelayan itu termenung dan berpikir sebentar, kemudian balik bertanya, “Apakah dia manyoren

pedang dan usianya agak sedikit tua dari kongcu….?”

Diam-diam Hoa ln-liong merasa gembira. Cepat dia mengangguk berulang kali. “Yaaa, Betul.

Betul. Apakah kau tahu setelah berlalu dari warung ini dia telah pergi kemana?”

Pelayan itu segera menggeleng. “Kongcu itu bertampang keren dan penuh wibawa, berbeda

dengan engkau yang ramah dan suka bergaul. Hee…. hee…. hee…. karenanya hambapun tidak

berani banyak bertanya”

“Lantas dia pergi ke arah mana? Apakah kau masih ingat?” desak Hoa In-liong lebih jauh dengan

wajah sedih.

Pelayan itu segera tertawa serak. “Maaf, seribu kali maaf, hamba betul-betul tidak

memperhatikannya!”

Hoa In-liong merasa hatinya makin tercekam kemurungan, akhirnya ia ulapkan tangannya

dengan sedih. “Terima kasih atas pemberitahuanmu. Lanjutkanlah pekerjaanmu….” katanya

kemudian.

“Yaa…. yaa….” pelayan itu mengiakan berulang kali sambil membungkukkan badannya,

kemudian mengundurkan diri dari situ.

Setelah gagal untuk mencari tahu kabar berita tentang kakaknya, Hoa In-liong berpikir sebentar

sambil menatap wajah Coa Wi-wi katanya, “Mari kita bersantap dulu, kemudian kita putar

mengelilingi kota. Coba lihat adakah sesuatu tanda yang mencurigakan?”

Selesai berkata dia lantas mengambil sumpit dan mangkuk dan bersantap dengan lahapnya.

Terhadap sepoci arak yang disediakan, ia sama sekali tidak memandangnya.

Pada dasarnya Coa Wi-wi sendiripun tak pandai minum arak, sambil bersantap dlapun berbisik,

“Eeeeh…. Jiko, Aku lihat apa yang dikatakan Wan Ek-hong ada beberapa bagian yang bisa dipercayai”

Hoa In-liong tertegun, tapi ketika dilihatnya gadis itu bersikap sok misterius, maka tanpa terasa

diapun ikut berbisik, “Kenapa begitu? Bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa

perkataannya tak dapat dipercaya?”

Diam-diam Coa Wi-wi mencibirkan bibirnya ke arah barat, kemudian bisiknya lebih jauh, “Coba

kau lihat! Diam-diam saja kalau melirik, agaknya ilmu silat yang dimiliki tiga orang gadis itu

sangai tangguh. Mungkin benar juga kalau dia berkata bahwa ia sedang dikejar-kejar oleh

beberapa orang gadis hingga musti melarikan diri terbirit-birit”

Dengan suatu lirikan seperti tak sengaja Hoa In-liong menperhatikan sekejap gadis-gadis disudut

barat itu, lalu sahutnya, “Meskipun ketiga orang gadis itu adalah orang-orang persilatan, tapi

kalau dikatakan ilmu silat mereka lebih tangguh daripada Wan Ek-hong, bahkan dapat memaksa

Wan Ek-hong sampai melarikan diri terbirit-birit, aku rasa hal itu suatu hal yang tak masuk diakal.

Ayolah bersantapl Paling penting kita harus temukan Toako. Jangan sampai menimbulkan

kecurigaan orang hindari segala kerepotan dan perselisihan-perselisihan yang tak penting!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

460

Coa Wi-wi mengerling sekejap kearahnya, kemudian dengan wajah bersungguh-sungguh

katanya, “Engkau bisa mengatakan demikian lantaran kau tidak memperhatikannya secara

sungguh-sungguh. Coba periksa sekali lagi, lihat sinar mata mereka, bukankah cahaya matanya

berbeda jauh dibandingkan dengan orang lain?”

Ketika didengarnya bahwa perkataan itu diucapkan dengan wajah serius, tanpa sadar Hoa Inliong

berpaling lagi kearah barat.

Kali ini ia memperhatikan lebih seksama lagi. Betul juga, ia temukan sesuatu yang sebelumnya

tak ditemukan olehnya.

Ketiga orang gasis duduk dengan dua orang menghadap ke barat, seorang menghadap ke timur.

Dua orang yang duduk menghadap kearahnya dapat dilihat betapa tajamnya sinar mata mereka,

terutama kerlingan-kerlingan matanya yang tajam. Ini semua menunjukkan bahwa tenaga dalam

yang mereka miliki sudah mencapai pada puncak kesempurnaan.

Yang lebih aneh lagi, bukan saja ketiga orang gadis itu masih muda-muda dan memiliki paras

muka yang cantik jelita bahkan raut wajah mereka sangat dikenal olehnya, seakan-akan pernah

di jumpai disuatu tempat….

Sambil putar otak memikirkan soal itu ia berpikir lebih jauh, “Aneh benar aku seperti pernah

bertemu dengan mereka, tapi dimana? Sejak turun gunung memang tak sedikit perempuan yang

pernah kujumpai, tapi belum pernah rasanya berjumpa dengan beberapa orang ini. Janganjangan….

jangan- jangan…. Aaaah benar! mereka adalah anak muridnya Pui Che-giok. Ya pasti!

Mereka pasti anak muridnya Pui Che-giok. Tak salah lagi!”

Akhirnya ia teringat anak Pui Che-giok, teringat akan sekawanan perempuan geait yang pernah

dijumpainya di rumah pelacuran Gi-sim-wan di kota Kim-leng. Ia teringat juga akan perkumpulan

Cha-li-kau yang oleh Pui Che-giok katanya segera akan diresmikan, maka dari itu sinar matanya

segera ditarik kembali dan diapun manggut-manggut ke arah Coa Wi-wi.

“Sudah melihat jelas?” bisik Coa Wi-wi kemudian, “Bukankah sinar mata mereka sedikit agak

istimewa?”

Sambil tundukkan kepalanya bersantap, Hoa In-liong segera menyahut dengan lirih, “Ehmmm.

Mereka semua adalah anak murid dari perkumpulan Cha-li-kau!”

“Perkumpulan Cha-li-kau?” diam-diam Coa Wi-wi merasa amat terkejut. Bukankah suatu

perkumpulan kaum sesat? Darimana kau bisa tahu tentaag perkumpulan tersebut?”

“Aku sudah pernah berjumpa dengan kaucu mereka. Meskipun nama dari perkumpulan itu

kurang begitu sedap didengar, pada hakekatnya mereka tidak merugikan bagi kita”

“Benarkah itu? “tanya Coa Wi-wi dengan dahi berkerut. Ia tidak percaya dengan perkataan

tersebut.

Hoa In-liong tersenyum. “Tentu saja benar, buat apa kubohongi dirimu? Hayo cepat bersantap,

jangan membuang waktu dengan percuma”

Tiba-tiba Coa Wi-wi tertawa. “Yaa, sekarang aku baru mengerti, tentu Wan Ek-hong mencari

gara-gara dengan mereka, akibatnya ia kena batunya dan musti melarikan diri terbirit-birit!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

461

Pada mulanya dia yang menganggap Wan Ek-hong itu orang yang tidak jujur, seorang laki-laki

yang halus diluar tapi busuk didalam. Menjadi agak kaget dan rada curiga ketika mendengar

nama “Cha-li kau” tersebut.

Tapi setelah mendapat tahu bahwa perkumpulan “Cha-li-kau” hanya tak sedap dalam nama

sebutan tapi nyatanya merupakan suatu perkumpulan yang lurus dan kebetulan cocok dengan

jalan pikirannya, maka dengan hati yang lega diapun mengucapkan beberapa patah kata itu.

Menyinggung kembali tentang diri Wan Ek-hong tiba-tiba Hoa In-liong merasa hatinya agak

tergerak, segera pikirnya, “Yaaa, kenapa saudara Ek-hong mengganggu mereka? Siapa tahu

kalau merekalah yang mengganggu saudara Ek-hong? Kedua belah pihak sama sama tidak

mengenali asal-usul masing-masing. Siapa yang mengganggu siapa rasanya semua ada

kemungkinannya. Jika merekalah yang mencari gara gara dengan saudara Ek-hong, lalu terjadi

perselisihan dan saudara Ek-hong kabur lantaran tak sanggup menandingi kepandaian mereka,

ini toh kemungkinan bisa terjadi juga. Andaikata demikianlah kejadiannya, bukankah berarti

bahwa perkataan dari saudara Ek-hong dapat dipercayai?”

Perlu diketahui, Hoa In-liong adalah seorang pemuda yang selalu ingat akan persahabatan lama.

Dalam benaknya ia selalu tak berharap kalau Wan Ek-hong itu seorang manusia cabul yang sesat.

Kalau tidak demikian. andaikata menuruti wataknya yang amat membenci akan segala

bentuk kejahatan, mungkin anak muda itu sudah dilabraknya semenjak semula.

Tapi, seandainya Wan Ek-hong itu seorang manusia yang dapat dipercaya, bagaimana pula

penjelasannya atas sikap Coa Wi-wi yang bicara tegas-tegas?

Pelbagai persoalan yang saling bertentangan ini seketika itu juga membuat anak muda itu

kebingungan sendiri. Mana yang benar mana yang salah untuk sesaat sulit baginya untuk

membedakan.

Tentu saja Coa Wi-wi tak dapat merasakan betapa kalutnya pikiran si anak muda itu, dia

malahan diam-diam merasa gembira karena pendapatnya benar.

Karenanya sewaktu ia saksikan Hoa In-liong hanya termangu-mangu belaka, sambil tersenyum

segera ujarnya, “Jiko, hayo cepat bersantap! Selesai bersantap kita harus segera berangkat.

Jangan sampai urusan penting jadi tertunda!”

Tuguran itu seketika itu juga menyadarkan Hoa In-liong dari lamunan. Ketika dirasakan bahwa ia

sudah berbuat sifat, cepat kepalanya ditundukkan untuk melanjutkan santapannya.

Selesai membayar rekening dan keluar dari rumah makan Cwan-seng-lo, kedua orang itu

berunding sebentar sebelum melanjutkan perjalanannya menuju kearah timur.

Dalam perundingan tersebut mereka telah memutuskan untuk melakukan pemeriksaan yang teliti

dari timur kearah barat lalu dari barat ke arah timur dengan melingkari selatan menuju utara.

Bila pencarian itu tidak mendapatkan hasil, maka mereka akan melakukan pencarian lagi dengan

menelusuri sungai hingga ke kota Kim-leng untuk melihat keadaan dari pesanggrahan

pertabiban, setelah itu rencana baru di susun kembali.

Sedang mengenai kejadian apakah yang dialami Hoa Si, lantaran waktu amat mendesak maka

terpaksa mereka harus mencari kabar dengan sebisanya.

Waktu malam sudah menjelang tiba, rembulan belum muncul diangkasa. Suasana amat gelap

gulita, untunglah kedua orang itu memiliki ketajaman mata yang melebihi orang lain. Meski

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

462

demikian pencarian yang sudah dilakukan hampir makan waktu setengah jam lamanya itu sama

sekali tidak mendatangkan hasil apa-apa.

Makin lama kedua orang itu semakin mendekati tempat yang dijanjikan Kiu-im Kaucu sebagai

tempat pertemuannya dengan Hoa Si.

Tempat itu adalah sebuah hutan yang tidak terlampau luas. Ditengah hutan terdapat sebidang

tanah lapangan yang berumput. Di atas rumput tertera dengan jelasnya bekas-bekas telapak kaki

yang masih baru, cuma anehnya disana tak terlihat sesosok bayangan manusiapun.

Coa Wi-wi tak dapai menahan sabar, dia celingukan sebentar kesana kemari, kemudian bisiknya,

“Mereka telah pergi?”

Hoa In-liong mengangguk. “Yaa, sudah pergi, agaknya belum sampai terjadi bentrokan

kekerasan….!”

“Darimana kau bisa tahu?”

Hoa In-liong menuding bekas-bekas telapak kaki diatas tanah. “Coba kau lihat bekas-bekas

telapak kaki itu, jumlah seluruhnya hanya belasan saja. Bahkan bekas tongkat baja kepala setan

dari Kiu-im Kaucu pun tertera amat jelas. Bekas-bekas telapak kaki itu bersih, teratur dan sama

sekali tidak kalut. Ini menandakan bahwa disini belum sampai terjadi suatu pertarungan”

“Lantas dimanakah Toako?” tanya Coa Wi-wi lebih jauh dengan perasaan tidak mengerti,

“Kenapa Toako tidak langsung balik keatas puncak bukit?”

“Aku sendiripun tidak jelas dengan masalah tersebut” sahut Hoa In-liong sambil celingukan

kesana kemari, “Semestinya Toako adalah seorang laki-laki yang tak pernah merubah katakatanya.

Diapun laki laki yang pegang janji. Anehnya ternyata ia tidak balik lagi ke atas puncak

bukit.”

Coa Wi-wi murung sekali, pikirannya ikut menjadi kusut. “Jangan-jangan Kiu-im-kaucu turun

tangan secara tiba-tiba dengan menotok jalan darah dari Toako, kemudian menculik Toako pergi

dari sini?”

“Tidak mungkin!” Hoa In-liong gelengkan kepalanya berulang kali, “Toako berbeda dengan aku.

Kalau aku kadang kala memang bisa berpikiran cabang hingga kena dikecundangi orang, sedang

Toako orangnya serius dan selalu waspada….”

Berbicara sampai disitu, tiba-tiba ia tertawa tergelak. “Haa…. haa…. haa…. Sahabat darimanakah

yang telah berkunjung kemari? Jika tidak keluar lagi dari tempat persembunyianmu, jangan

salahkan kalau aku Hoa loji terpaksa harus mengundangnya dengan cara kekerasan!”.

Baru saja Coa Wi-wi merasa terperanjat, dari dalam hutan disebelah kanan sana berkumandang

serentetan suara yang merdu dan nyaring bagaikan suara genta, “Ilmu silat yang dimiliki jikongcu

memang benar-benar luar biasa. Kami mengira tempat persembunyian kami ini cukup

rapat dan rahasia. Tak tahunya masih tidak berhasil juga untuk melolos diri dari pengawasanmu”

Ditengah pembicaraan tersebut, bayangan manusia berkelebat berulang kali, secara beruntun

munculah tiga orang dari dalam hutan.

Ketiga orang gadis itu bukan lain adalah gadis-gadis yang telah dijumpainya dirumah makan

Cwan-seng-lo.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar