Selasa, 06 Oktober 2009

rahasia 3

Hoa In-liong telah memandang keterangan yang diberikan nona baju hitam itu sebagai suatu

peringatan, maka serta-merta diapun merasakan betapa seriusnya yang sedang dihadapi sebab

jelas musuh dibalik tirai yang sedang dihadapinya sekarang adalah musuh tangguh yang khusus

memusuhi keluarga Hoa.

Tercekat juga perasaan hatinya setelah menerapkan kesimpulan terakhir itu, pada mulanya dia

ada niat untuk kembali ke perkampungan Liok soat sanceng untuk melaporkan kejadian ini

kepada ayah dan neneknya, tapi ingatan lain segera melintas dalam benaknya:

“ Nenek dan ayah telah menyerahkan tugas ini kepadaku, aku mana boleh pulang ke rumah

sebelum berhasil menemukan jejak dari pembunuhnya. selama ini aku Hoa Yang dianggap

seorang pemuda bergajul dalam pandangan orang rumah, kenapa tidak kumanfaatkan

kesempatan yang sangat baik ini untuk membuktikan diri bahwa akupun bukan manusia tak

berguna, siapa tahu kalau usahaku berhasil dan namaku ikut tersohor pula dalam pandangan

orang lain?”

Memang demikianlah watak seorang pemuda yang masih berjiwa panas, setelah mengambil

ketetapan dihati, iapun tersenyum dan meneguk habis isi cawannya.

Selesai bersantap ia kenakan jubah sutera yang halus, membawa pedang menggoyangkan kipas

dan berjalan keluar dari kamarnya dengan langkah yang santai.

Dikatakan ia akan keluyuran sebenarnya tak cocok sebab pada saat ini ia berhasrat untuk keliling

kota sambil berharap dapat berjumpa dengan Kong-cu she-Ciu itu, dan lebih-lebih berharap

dapat bertemu sekali lagi dengan nona berbaju hitam itu.

Tapi Nona berbaju hitam itu tak ada tempat tinggal yang tetap tidak diketahui pula namanya,

sedang Ciu kongcu belum pernah ditemui, bagaimana tampangnya juga tak diketahui olehnya.

maka ingin berjumpa dengan mereka boleh diibaratkan mencari jarum di dasar samudra, bukan

suatu pekerjaan yang gampang.

Sang surya telah condong ke barat, malampun menjelang tiba, cahaya lampu telah menerangi

seluruh kota, tapi tiada suatu hasilpun yang berhasil ditemukan.

Ketika dalam perjalanan kembali ke rumah penginapan, kebetulan ia lewat dijalan raya sebelah

timur sewaktu lewat di depan pintu gerbang keluarga Suma mendadak satu ingatan terlintas

dalam benaknya, ia lantas berpikir, “Sudah beberapa hari Suma siok-ya terbunuh, namun

layonnya belum dikebumikan dan masih bersemayam dalam ruang tengah, keadaan ini bukan

saja dapat membuat tak tenangnya arwah siok-ya bahkan bisa pula digunakan pihak lawan untuk

menyiapkan jebakan dan memancing rekan-rekan sealiran masuk perangkap. Apa salahnya kalau

ku singkirkan dahulu jenasahnya mereka ke suatu tempat tertentu, kemudian baru kuundang

kedatangan Jin kokoh untuk menyelenggarakan upacara penguburan? Aaai, aku harus

mengambil keputusan cepat dan segera melaksanakannya.”

Seandainya Hoa se toakonya yang menghadapi kejadian semacam ini, bagimanapun juga ia tak

akan berani mengambil keputusan secara sembarangan, tapi Hoa Yang alias In-liong tak kenal

artinya adat istiadat, apa yang terpikir hanya soal cengli, dan apa yang telah melintas dalam

benaknya segera dilaksanakan tanpa berpikir panjang lagi.

Begitulah, setelah menengok ke kiri kanan dan yakin kalau di sekitar sana tak ada orang, ia

lantas menjejakkan kakinya ke atas tanah dan melompati pagar pekarangan langsung menerobos

masuk ke ruang tengah.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

84

Ia telah mempunyai rencana yang cukup masak malam itu juga akan dibawanya jenasah dari

Suma Tiang-cing suami istri ke rumah gubuk yang pernah dikunjunginya semalam.

Ia merasa tempat itu aman dan cukup tersembunyi, kendati sudah terbakar tapi dengan semak

belukar yang begitu tinggi mengitari sekelilingnya, tempat itu tak mudah menarik perhatian

orang, dan jenasah siok-yanya ditempatkan disana untuk sementara waktu, maka orang tak akan

menyangkanya.

Siapa tahu ketika Hoa In-liong tiba dalam ruangan itu dan menengok ke dalam, apa yang

ditemuinya hampir saja membuat pemuda itu menjerit keras matanya terbelalak karena

tercengang bercampur heran untuk sesaat ia berdiri tertegun.

Meskipun kain horden masih menghiasi ruangan seperti sedia kala, meja sembahyangan dengan

lentera dan lilin masih utuh, namun dua buah peti mati itu sendiri sudah lenyap tak berbekas.

Padahal ia tahu jelas bahwa satu-satunya keturunan dari Suma siok-yanya berada jauh di

perkampungan Liok-soat-san-cung yang berada di bukit Im tiong-san, bila dikatakan ia telah

mengebumikan jenasah kedua orang itu, boleh dibilang hal ini tak mungkin terjadi, tapi

kenyataannya peti mati itu benar-benar sudah lenyap tak berbekas. Selang sesaat kemudian,

Hoa In-liong mencibirkan bibirnya lalu mendengus dingin.

“Hmm…… Permainan busuk macam beginipun disuguhkan kepada aku Hoa-loji, sungguh

keterlaluan.”

Maksud musuh sudah jelas sekali, jelas mereka memang sengaja memindahkan peti mati itu agar

dia jadi bingung dan kelabakan untuk mencarinya kembali.

Hoa In-liong menjengek sinis, walaupun dia tahu bahwa musuh sedang memasang jaring untuk

menjebaknya, dilakukan juga pemeriksa yang seksama di sekitar gedung bangunan itu.

Tapi akhirnya anak muda itu merasa kecewa, orang-orang yang memasukkan peti mati itu telah

bekerja teliti, kecuali barang yang kacau terdapat di sekitar meja sembahyang dan kedua belah

sisi bekas tempat peti mati itu. boleh dibilang tiada tanda lain lagi yang berhasil ditemukan, hal

ini semakin mengejutkan hati Hoa In-liong.

Haruslah diketahui ruang jenazah menempati ruangan tengah yang panjang dan lebarnya

mencapai seluas lima kaki, karena sudah lama tak di kunjungi orang, debu yang menempel di

atas lantai tebal sekali, sebaliknya kedua peti mati itu hanya menempati tempat yang tak begitu

luas, beratnya juga luar biasa, untuk memindahkan benda seperti itu bukan saja sangat repot

bahkan tidak gampang.

Tapi kenyataannya sekarang, bukan saja mereka dapat memindahkan peti-peti mati itu, malahan

tidak meninggalkan bekas apa-apa, dari sini dapatlah diketahui bahwa orang-orang itu bukan

saja amat cermat dan teliti, kekuatan mereka serta kelihayan ilmu meringankan tubuh mereka

sudah mencapai tingkatan yang luar biasa. Tapi siapakah orang itu???

Dengan hati tercekat bercampur kaget, Hoa In-liong berpikir, “Seandainya peti mati itu masih

berada disini, memang gampang untuk menjebak orang masuk perangkap. tapi apa maksud

mereka membawa pergi peti-peti mati itu…”

Ia bukan seorang pemuda yang gegabah, juga bukan manusia pengecut yang bernyali kecil,

dalam tubuhnya mengalir sifat-sifat orang tuanya dan terdapat pula hasil didikan dari Bun TayGrafity,

http://mygrafity.wordpress.com

85

kun, meski romantis namun mempunyai semangat yang besar, mempunyai keberanian yang luar

biasa dan berani menyerempet bahaya.

Lama sekali si anak muda itu termenung, dan berusaha untuk memecahkan masalah yang

dihadapinya, ketika tanpa hasil, dengan dahi berkerut dan bibir dicibirkan ia berjalan menuju ke

pintu kecil dibalik horden dengan langkah lebar.

Mendadak dari arah belakang terdengar seseorang tertawa dingin, menyusul jengekan dingin

berkumandang memecahkan kesunyian, “Hoa loji, kau akan kabur kemana lagi?”

Hoa In-liong tidak kaget juga tidak gugup, malahan menjawabpun tidak. selangkah demi

selangkah ia lanjutkan perjalanannya menuju ke muka.

Tiba-tiba serentetan cahaya putih menyambar lewat, dengan disertai hawa pedang yang hebat

tanu-tahu sebilah pedang panjang telah menusuk punggungnya.

Secepat kilat Hoa In-liong memutar tabuhnya sambil mengebaskan kipasnya ke samping ujarnya

sambil tertawa, “Haaahhh haaahhh haaaahhh. dengan kepandaian macam beginipun berani

bertingkah dihadapanku? Huuh, masih ketinggalan jauh.”

“Traaang….!” dengan telak kipas itu menghajar ujung pedang lawan, sementara tulang bambu di

balik permukaan kertas menyabet pedang tersebut ke samping, walaupun pedang tadi bergeser

dua depa ke samping, ternyata kipasnya sendiri tetap utuh. Untung si penyergap itu segera

mengundurkan diri, kalau tidak pedangnya niscaya sudah terlepas dari genggaman.

Jilid 05

SANG penyergap itu tampak agak tertegun, agaknya dia merasa tidak puas, sejenak kemudian

sambil membentak. untuk kedua kalinya ia siap melancarkan serangan lagi.

“Mundur, jangan gegabah!” mendadak terdengar seseorang membentak dengan suara keras.

“Sreeet…!”

Hoa In-liong merentangkan kembali kipasnya dan digoyangkan beberapa kali, lalu ujarnya sambil

tertawa nyaring, “Sobat, aku lihat kelihayanmu juga tak seberapa gegabah atau tidak toh sama

juga hasilnya.”

Orang ini berkata lagi dengan suara keras, “Bersilat lidah bukan perbuatan seorang laki-laki

sejati, bila kau bisa lolos dari sini malam ini, kaulah seorang jago yang hebat.”

Sekarang Hoa In-liong baru tersenyum, perlahan-lahan ia memutar badannya seraya bertanya,

“Bila dugaan tidak keliru, tentunya engkau she Ciu bukan?”

Orang itu berdiri di balik pintu kecil di belakang ruangan di balik pintu kecil adalah sebuah lorong

karena cahaya suram maka raut wajah orang itu tak tertampak jelas, tapi jelas kelihatan ia agak

tertegun sebelum akhirnya tertawa seram.

“Haaahhh haaahh haaahhh keturunan keluarga Hoa rata-rata memang hebat sayang engkau

sudah masuk perangkap. jangan harap kau bisa hidup sampai fajar esok.”

Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba bentaknya lagi, “Pasang obor, biar ia bisa mampus dengan

hati yang jelas!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

86

Suara mengiakan mendengung, cahaya api segera memercik menembusi kegelapan, dalam

sekejap mata suasana dalam ruangan itu jadi terang benderang bagaikan di siang hari.

Hoa In-liong memandang sekejap sekeliling tempat itu, ia lihat delapan orang laki-laki berbaju

ungu berdiri mengitari sekeliling ruangan dalam dua kaki antara yang satu dengan lainnya,

mereka membawa obor di tangan kiri dan pedang di tangan kanan, sinar matanya rata-rata

tajam, tubuh kekar dan kuat, usianya tiga puluh tahunan, jelas orang-orang itu bukan manusia

sembarangan, atau paling sedikit memiliki dasar ilmu silat yang tangguh.

Ketika ia alihkan pandangannya ke arah orang yang berdiri dibalik pintu rahasia, maka terlihatlah

bahwa orang itu berusia dua puluh tahunan, bajunya pakaian ringkas berwarna hijau pupus,

mantelnya juga berwarna hijau, sebilah pedang kuno tersoreng dipinggangnya, dandanan

maupun potongan badannya persis seperti seorang busu.

Ia bermuka bengis, beralis tebal, bermuka lonjong dengan ujung bibir tersungging keatas,

tampaknya menggemaskan sekali dan seakan-akan sejak dilahirkan memang bertampang

kriminil, bila ia benar-benar she-Ciu (dendam) maka cocoklah nama dengan potongan badannya.

Hoa In-liong tak berani gegabah setelah menyaksikan keadaan itu, kipasnya lantas dilipat dan

memberi hormat katanya sambil tersenyum, “Ciu kongcu, dari mana kau bisa tahu kalau aku

bakal datang kemari? Tidakkah merasa kuatir bila jebakan yang kau atur bakal sia-sia belaka?”

“Datang atau tidak aku tak ambil peduli, tapi yang pasti detik ini kau berada dalam ruangan ini,”

sahut Ciu kongcu dengan ketus.

Hoa In-liong menganggukkan kepalanya berulang kali.

“Kongcu, aku tidak merasa pernah berkenalan dengan kau, tapi apa sebabnya kongcu baru puas

jika telah berhasil membinasakan diriku, di manakah letak alasannya? Bersediakah engkau

memberi penjelasan?”

“Hmm… sudah tahu pura-pura bertanya,” dengus Ciu kongcu dengan alis mata berkenyit.

“Oooh…jadi kalau begitu kongcu benar-benar adalah anggota perkumpulan Hian-beng-kau?”

Ciu kongcu tampak terkejut ia lantas berpikir dalam hati, “Bocah keparat ini benar-benar memiliki

kemampuan yang hebat, sampai asal usulku diketahui olehnya.”

Meski dalam hati berpikir demikian, dimulut sahutnya dengan dingin, “Tak lama kemudian,

perkumpulan kami akan muncul dalam dunia persilatan secara resmi, dan kemudian akan

menguasai seluruh jagad, rasanya tiada suatu kepentingan bagi kami untuk mengelabuhi hal ini

kepadamu….”

Sekarang Hoa In-liong yang gantian merasa kaget, meski diluaran ia tetap berlagak tenang….

“Jadi kalau begitu, aku harus menagih dendam berdarah atas tewasnya majikan gedung ini

kepada diri kongcu??”

“Benar,” jawab Ciu kongcu dengan angkuh, “akulah otak pembunuhan ini, jika ingin membalas

dendam, silahkan mencari aku.”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

87

“Bila aku hendak menuntut balas, tentu saja akan kuberi bagian untuk dirimu, justru aku kuatir

kalau kongcu bukanlah otak dan pembunuhan ini.”

“Kurang ajar!” teriak Ciu kongcu dengan marah, sinar matanya berkilat, “engkau berani

memandang hina diriku??”

Hoa In-liong tersenyum.

“Kenyataannya toh demikian, apa gunanya kongcu berlagak sebagai seorang pahlawan??”

Tampaknya ucapan tersebut benar-benar membuat Ciu kongcu jadi mendongkol, teriaknya

penasaran, “Coba terangkan kenyataannya menurut pandanganmu!”

“Bukankah kongcu hanya seorang anak buah dari perkumpulan Hian-beng-kau. Nah bila kuingin

cari otak pembunuhnya yang sebenarnya, lebih pantas kalau kucari ketuamu.”

Jawaban ini diluar dugaan Ciu kongcu ia jadi tertegun, tapi sejenak kemudian ujarnya lagi

dengan mendongkol, “Kongcu-ya mu adalah murid pertama dari kaucu, pembunuhan berdarah

yang terjadi disini akulah yang menyusun rencana serta pelaksanaannya kenapa kau cerewet

melulu dan bersikeras menuduh guruku yang melakukan pembunuhan ini, sebenarnya apa

maksudmu?”

Diam-diam Hoa In-liong merasa geli, pikirnya “Bukan saja orang ini mempunyai napsu ingin

menang yang amat besar, bahkan merupakan juga seorang laki-laki yang tak berakal panjang

inilah kesempatan bagiku untuk mengorek keterangan kenapa tidak kumanfaatkan sebaikbaiknya?”

Berpikir sampai disini, dia lantas menjura dan memberi hormat, kemudian tanyanya sambil

tertawa, “Bolehkah aku tahu siapa nama kongcu?”

“Ciu Hoa.”

“Ciu Hoa?” pikir Hoa In-liong dengan hati terperanjat, “bukankah Ciu Hoa artinya mendendam

keluarga Hoa? Kalau begitu mereka memang sengaja memusuhi keluarga Hoa kami.”

Cepat ia tertawa dan berkata lagi, “Selamat bertemu, selamat bertemu Bolehkah aku tahu siapa

gurumu….?”

“Guruku adalah….”

“Kongcu hati-hati kalau bicara!” mendadak terdengar seorang laki-laki berbaju ungu memberi

peringatan.

Agaknya Ciu Hoa segera mengetahui akan keteledorannya, cepat ia membungkam dan batal

untuk berbicara, matanya kontan mendelik besar dan melototi wajah lawannya tanpa berkedip.

Hoa In-liong tertawa, katanya dengan santai, “Kalau toh menyebut nama guru adalah suatu

pantangan, lebih baik tak usah kau katakan.”

Ciu Hoa menggetarkan bibirnya seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi niatnya itu kembali

dibatalkan, agaknya ia cukup memahami betapa seriusnya masalah yang dihadapinya, maka

nama gurunya tak berani diucapkan lagi.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

88

Melihat keadaannya itu, tahulah Hoa In-liong bahwa dibakar hatinyapun tak ada gunanya, maka

dia alihkan kembali pokok pembicaraannya ke soal lain.

“Kongcu, tolong tanya apakah engkau yang telah memindahkan jenasah dari Suma tayhiap dari

tempat ini??”

Sikap Ciu Hoa kali ini hambar sekali, malahan ia tertawa dingin.

“Heeeeh….heeeeh heeeeh kalau benar kenapa? Kalau tak benar lantas bagaimana??”

Jawaban ini mencengangkan hati Hoa In-liong sepasang alis matanya kontan berkenyit, pikirnya,

“Sungguh aneh, orang ini tak berakal panjang, kenapa begini aneh jawabannya? Mungkinkah

jenasah Suma siok-ya memang bukan dia yang memindahkan??”

Sementara ia masih keheranan dan tidak habis mengerti, Ciu Hoa telah melanjutkan kembali

kata-katanya, “Hampir saja kongcu-yamu terjebak oleh pancinganmu, mulai sekarang aku tak

akan menjawab pertanyaanmu lagi, kaupun tak usah putar biji mata sambil mencari akal busuk.

sekarang cabut keluar pedangmu, kongcu-yamu segera akan turun tangan.”

“Sreeet….” la cabut keluar pedang antiknya, lalu bergerak ke depan dan melancarkan tubrukan.

Hoa In-liong tetap berdiam diri, dari sikap musuhnya ia tahu bahwa banyak bertanya pun tak ada

gunanya.

Sebagai seorang pemuda yang sombong dan tinggi hati, ia bersedia merendahkan diri lantaran

ingin mencari tahu duduk persoalan yang sebenarnya, dan sekarang Ciu Hoa telah waspada dan

tak mungkin bisa dimintai keterangan lagi, tentu saja diapun tak sudi merendahkan diri terus

menerus, sambil tertawa tergelak segera ujarnya, “Bila kau hendak menyelesaikan persoalan ini

dengan suatu pertempuran kilat, silahkan saja turun tangan, kau tak usah menguatirkan untuk

keselamatan jiwaku.”

Sekilas pandangan, Ciu Hoa tampaknya kasar dan berangasan, tapi metelah bersiap siaga untuk

melancarkan serangan, ia dapat pusatkan perhatiannya dengan sempurna, dapat diketahui

bahwa gurunya tentu lihay dan ilmu silat yang dimiliki si anak muda inipun bukan ilmu silat

sembarangan.

Hoa In-liong tak berani gegabah, meski diluaran bicara seenaknya, hawa murninya diam-diam

disalurkan ke dalam telapak tangan, dengan tenang ia menantikan tibanya serangan.

Ciu Hoa sudah berada beberapa kaki saja di hadapan si anak muda itu, pedangnya telah

digetarkan siap melakukan pembacokan, kembali dia berseru, “Hati-hatilah, aku akan

melancarkan serangan!”

Jurus serangan itu sekilas pandangan tampaknya sederhana dan tiada sesuatu yang aneh, tapi

tempat yang dibacok ternyata luar biasa dan di luar dugaan, sebagai seorang ahli pedang sekilas

pandangan saja Hoa In-liong telah menyadari bahwa ia sudah bertemu dengan musuh tangguh.

Terkejut juga pemuda kita menghadapi kejadian seperti ini, ia tak berani gegabah, kipasnya

segera dikebaskan ke muka untuk menangkis ancaman, katanya, “Ciu kongcu, silahkan

menyerang dengan sepenuh tenaga, aku telah bersiap sedia menerima petunjukmu.”

Dasar wataknya yang binal, kendatipun sedang berhadapan dengan musuh tangguh, ternyata

wataknya itu tidak berubah, sambil maju ia totok pergelangan tangan Ciu Hoa, ketika serangan

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

89

nya mencapai tengah jalan, tiba-tiba ia merendah ke bawah, sambil menempel pada ujung

pedang orang itu badannya berputar setengah lingkaran, mendadak kaki kanannya dijulurkan ke

muka sementara sikut kirinya langsung menyodok iga kanan pemuda she-Ciu tersebut.

Keadaan ini bagaikan seorang bocah yang sedang bermain, tentu saja Ciu Hoa tidak menyangka

sampai kesitu, bila tidak begitu asal gerakan pedangnya sedikit dipercepat saja, niscaya Hoa Inliong

akan terpapas oleh pedangnya dan terluka parah.

Tapi Hoa In-liong telah mempraktekkan caranya yang binal itu, bahkan sapuan kaki kanan dan

sodokan sikut kirinya dilancarkan dengan menempelkan di badan lawan dan kecepatan luar

biasa.

Dalam keadaan demikian, Ciu Hoa tak mampu untuk berkelit lagi, dia terdesak hebat sehingga

harus meraung gusar dan berkelijit satu kaki ke-tengah udara.

Menyaksikan musuhnya berhasil didesak mundur, Hoa In-liong tertawa nyaring dan mengejek,

“Kongcu-ya, aku lihat ilmu silatmu tidak begitu tinggi.”

Dari malu Ciu Hoa jadi naik pitam, ia membentak keras lalu menerkam kedepan, pedang antiknya

dikebaskan berulang kali… Sreeeet sreeet!

Secara beruntun ia lepaskan tiga buah serangan berantai, yang mana seketika mengurung

semua jalan darah penting di dada Hoa In-liong.

Menghadapi serangan macam begini, Loji dari keluarga Hoa ini mengigos kesana berkelit kemari

dengan seenaknya, tiba-tiba merentangkan senjata kipasnya kemudian menotok ke balik lapisan

cahaya pedang yang berlapis-lapis itu, katanya sambil tertawa, “Lumayan juga ketiga buah

seranganmu barusan, tapi bila kau sanggup memaksa aku untuk lepas pedang itu baru terhitung

jago kelas satu dalam dunia persilatan.”

“Hmm Bila tidak kau lepas pedangmu itu berarti kau ingin mencari kematian buat diri sendiri

jangan salahkan kalau kongcu mu bertindak telengas!” bentak Ciu Hoa sambil mendengus dingin.

Tubuhnya bergerak ke samping, tiba-tiba permainan pedang nya berubah, tampaklah beratusratus

berkas cahaya yang menyilaukan mata sebentar menyambar ke kiri sebentar ke kanan,

semuanya bergerak dengan gerakan yang aneh lihay dan sukar diduga, pedang itu ibaratnya

naga yang bermain di angkasa, berliuk-liuk tak menentu.

Itu masih mendingan, yang lebih hebat lagi ternyata dibalik gerakan pedang yang aneh dan

sukar terduga itu terselip suatu hawa kebengisan yang mengerikan hati, membuat mereka yang

menjumpainya jadi bingung dan ketakutan dengan sendirinya.

Perlu diketahui, ilmu silat yang diandalkan oleh keluarga Hoa dari Im-tiong-san adalah ilmu

Pedang, terlepas ketika Hoa Goan-ciu yakni kakek Hoa In-liong masih hidup, sepeninggalnya ia

telah mewariskan enam belas jurus pedang dan sebilah pedang baja untuk putranya, dan

putranya yakni Hoa Thian-hong mengandalkan sebilah pedang baja malang melintang dalam

dunia persilatan, suatu ketika ia berhasil mendapatkan kitab kiam keng san berhasil pula

mempelajari inti sari pelajaran pedang kiam-keng-poh-khi, akhirnya terciptalah serangkaian ilmu

pedang yang sakti dan Iihaynya luar biasa.

Semenjak kecil Hoa In-liong sudah pintar, apalagi mendapat pendidikan langsung dari ayahnya,

bukan saja ilmu silat jenis lain memiliki dasar yang kuat, terutama dalam ilmu pedang kecuali

kalah tenaga dari ayahnya boleh, dibilang kelihayannya hampir seimbang.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

90

Tapi sekarang setelah Ciu Hoa merubah gaya serangannya, bukan saja ia tak berhasil menebak

asal mula dari ilmu pedang. tersebut, bahkan anak muda itu merasakan tubuhnya seolah-olah

terjerumus dalam samudra pedang yang tak bertepian, sekarang ia baru kaget.

Tak heran kalau Ciu Hoa dengan usia yang masih muda berani bersikap angkuh dan jumawa,

ternyata ilmu silat yang dimilikinya memang tak boleh dianggap enteng.

Lama kelamaan Hoa In-liong gelisah juga jadinya, tapi karena masih muda dan berdarah panas,

lagipula sudah terlanjur ngomong besar, ia tak sudi mencabut pedangnya untuk melakukan

perlawanan.

Terpaksa dengan mengandalkan gerak tubuhnya ia berkelit kesana kemari dengan seksama, bila

menemukan kesempatan ia lantas melepaskan serangan balasan dengan kipas

Pertarungan macam begini memang besar sekali resikonya, sebab sedikit kurang hati-hati maka

bisa mengakibatkan melayangnya selembar jiwa.

Lima puluh jurus sudah lewat, keadaannya kian lama kian bertambah gawat, sekarang Hoa Inliong

sudah terdesak hebat sehingga tiap saat jiwanya kemungkinan besar terancam.

Tampaklah cahaya pedang berkilauan, angin serangan menderu-deru, bayangan senjata berlapislapis

dan mengurung si anak muda itu dalam kepungan, Hoa In-liong telah berusaha untuk

menerjang ke kiri menyapu kekanan, toh gagal untuk melepaskan diri dari ancaman tersebut,

tampaknya selewat seratus gebrakan lagi dia akan terluka di ujung pedang Ciu Hoa.

Tiba-tiba terdengar suara sorak-sorai menggema memecahkan kesepian, seorang laki-laki

berbaju ungu bersorak keras.

“Kongcu perketat serangan, bacok sampai mampus bocah keparat itu..,..”

“Hoa loji, buang pedangmu dan menyerah saja!” teriak pula laki-laki yang lain, “kalau kau tidak

menyerah sekarang juga, tak akan kau temui lagi kesempatan di lain waktu.”

“Membuang pedang atau tidak toh sama saja!” ejek pula laki-laki yang lain, “sampai sekarangkan

kongcu kita masih belum melancarkan serangan-serangan mematikannya.”

Ciu Hoa sendiripun merasa bangga sekali setelah dilihatnya Hoa In-liong berhasil dipaksa

sehingga tak berkemampuan untuk melancarkan serangan balasan, ia berkata sambil tertawa

nyaring

“Hoa-loji, ingatlah baik-baik Antara kau dan aku memang tak terikat hubungan dendam atau

sakit hati, aku membunuh engkau lantaran membenci kau she Hoa, dan lantaran kau adalah

putranya Hoa-Thian hong.”

Sambil berkata, pedang antiknya digetarkan semakin kencang, dengan jurus Teng liong kiu ci

(naga membumbung bersalto sembilan kali) cahaya pedangnya membentuk sembilan titik

bianglala putih dan meluncur ke depan dengan kecepatan luar biasa, sekejap kemudian sekujur

badan Hoa In-liong sudah terkurung rapat.

Serangan ini benar-benar sangat lihay. bahwa pedang yang membentuk berbintik-bintik cahaya

bianglala putih yang seperti air tapi rapat seakan akan tak berlubang, sekalipun Hoa In liong

membawa pedang belum tentu bisa mengundurkan diri dengan selamat.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

91

Tapi Hoa In-liong pada saat ini sudah dibikin gusar juga oleh keadaan yang dihadapinya,

ditambah pula hatinya terbakar oleh ejekan lawan, serangan yang dilancarkan pun mendekati

setengah kalap.

Terdengar ia membentak keras, telapak tangan kirinya tiba-tiba dilontarkan ke muka dengan

jurus Kun-siu-ci-tau, sedangkan tangan kanannya berputar kencang, jari tengahnya ditegangkan

dan menotok dada Ciu Hoa deagm ilmu menyerang sampai mati, suatu kepandaian pentilan diri

ci-yu-ji-ciat.

Kedua buah serangan itu tak lain adalah senjata andalan ayahnya ketika masih berkelana dalam

dunia persilatan di masa mudanya, dalam gugup dan gelisahnya ia telah menyerang dengan

tenaga serangan yang amat dahsyat, kehebatannya sedikitpun tak kalah dengan kehebatan

ayahnya.

Dua buah serangan tersebut boleh dibilang merupakan jurus pertarungan untuk beradu jiwa,

bilamana Ciu Hoa tak mau buyarkan serangannya, maka kendati Hoa In-liong bakal terluka

diujung pedangnya, akan tetapi dia sendiripun akan terhajar oleh serangan lawan dan sedikit

banyak dada nya akan berlubang tertembus oleh ilmu jari lawan yang maha dahsyat itu.

Sudah tentu ia tak sudi terluka di ujung telapak tangan musuhnya, disaat terakhir tubuhnya

segera miring kesamping sana.

Pedangnya ditekan ke bawah dan tubuhnya berkelebat ke samping, dengan demikian diapun

lolos dari pukulan musuh.

Hoa In-liong sendiri, meski baru saja terlepas dari mara bahaya, namun paras mukanya masih

tetap tenang-tenang saja seakan-akan tak pernah terjadi suatu apapun, malahan sambil

terbahak-bahak katanya, “Haaahhh haaaahhh haaahhh, Ciu kongcu, apakah engkau masih

mempunyai ilmu simpanan yang lain? Kenapa tidak sekalian kau keluarkan agar aku orang she-

Hoa bisa merasakannya?”

Walaupun diluaran ia berkata seenaknya, tapi kali ini pedang mustikanya sudah diloloskan dari

sarungnya.

Ciu-Hoa sendiri, sewaktu dilihatnya pihak lawan telah mencabut keluar pedangnya, tak kuasa lagi

dia menengadah dan tertawa terbahak-bahak. suara tertawanya penuh mengandung nada

sindiran, dan memandang hina.

Tentu saja Hoa In-liong dapat merasakan pula gelak tertawa yang penuh dengan nada sindiran

itu, akan tetapi ia tidak memperhatikan, malahan berkata dengan lantang, “Ciu kongcu, aku telah

merasakan kelihayan ilmu pedangmu, ketahuilah bahwa aku Hoa loji bukan seorang manusia

yang takabur dan suka berlagak sok. aku cukup mengetahui kemampuanku, aku sadar bila tidak

kugunakan pedang untuk melawan dirimu lagi, sulitlah bagiku untuk menangkan engkau.”

“Huuuh sekalipun kau gunakan pedang, apa yang bisa kau lakukan terhadap diriku?” jengek Ciu

Hoa sinis.

Paras muka Hoa In-liong seketika berubah jadi membesi, dengan serius ia berkata, “Diantara kita

tak terikat hubungan dendam ataupun sakit hati, dan kata-kata itu muncul dari mulutmu, maka

akupun ingin memberi peringatan kepadamu, untuk menghadapi musuh yang tangguh janganlah

terlalu tekebur dan terlalu yakin dengan kepandaian yang dimiliki sendiri…”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

92

Mula-mula Ciu Hoa agak tertegun, menyusul kemudian tertawa terbahak-bahak.

“Haaahhh….haaahhh… haahh….nasehat macam apakah itu, Hoa loji lebih baik kau tak usah

banyak bacot lagi.”

“Aku tahu bahwa ilmu pedangmu ganas dan sadis, akan tetapi kurang mantap dan tak teguh,

bila ingin digunakan untuk mencabut jiwaku maka tenaganya masih jauh berkurang, bila

bertempur lagi nanti, aku harap kau bisa bertindak lebih berhati-hati lagi.”

Pemuda ini, sudah terbiasa bersikap binal dan tidak bersungguh-sungguh, seakan-akan

perkataan nya sama sekali tidak berbobot, akan tetapi setelah bersikap serius sekarang,

terlihatlah keagungan serta kewibawaannya yang amat besar.

Ciu Hoa tertegun dan seketika itu juga merasa kejumawaannya tersapu lenyap hingga tak

berbekas untuk sesaat anak muda itu hanya bisa berdiri terbelalak tanpa mengetahui bagaimana

harus menjawab perkataan dari musuhnya ini. Tiba-tiba terdengar seorang laki-laki berbaju ungu

berseru lantang, “Kongcu, buat apa kita musti bersilat lidah terus dengan orang itu, mari kita

atur barisan pedang saja, niscaya jiwanya tak akan lolos dari cengkeraman kita.”

Sekarang kejumawaan Ciu Hoa sudah padam, maka setelah termenung sebentar dia pun

mengangguk.

“Siapkan barisan” perintahnya sambil mengebaskan pedang antiknya.

Berbareng dengan diturunkannya perintah tersebut, bayangan manusia tampak berkelebat

memenuhi angkasa, delapan orang laki-laki berbaju ungu itu sama-sama mengayunkan tangan

kirinya dan menancapkan obor yang mereka bawa itu ke dinding ruangan, kemudian ujung

pedangnya disentakkan ke atas dan disilangkan didepan dada, kemudian selangkah demi

selangkah maju kedepan dan mengurung Hoa In-liong didalam kepungan-

Hoa In-liong tetap bersikap tenang, malahan sedikitpun tidak bergerak, dengan pandangan yang

tajam ia menyapu sekejap barisan yang baru dibentuk oleh musuh-musuhnya.

Ia lihat delapan orang laki-laki berbaju ungu itu berdiri diposisi yang beraneka ragam, sepintas

lalu posisi yang mereka duduki mirip dengan barisan pat-kwa, tapi bila ditinjau dari kehadiran Ciu

Hoa ditengah barisan yang tampaknya merupakan motor dari barisan tersebut, posisi barisannya

jadi lebih mirip dengan suatu barisan Klu-kiong-tin-

Hoa In-liong tidak begitu memahami soal ilmu barisan, maka dia hanya bisa mempertinggi

kewaspadaannya belaka, dan diam-diam pemuda itu mengambil keputusan untuk

menghadapinya dengan tenang.

Maka dengan dahi berkerut, bentaknya lantang, “Ciu kongcu, ketahuilah bahwa golok dan

pedang tak bermata, jika aku sampai melukai anak buahmu, jangan kau salahkan aku bersikap

kejam padamu…”

Ciu Hoa mendengus dingin, ia tidak menjawab lagi, sambil menerjang ke muka pedangnya

langsung melancarkan sebuah tusukan kilat, hebat sekali serangannya itu.

Hoa In-liong segera menggerakkan pedangnya ke atas untuk menangkis, kemudian dengan

mengincar datangnya sambaran pedang lawan, tiba-tiba ia mencukil ke atas.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

93

Dalam waktu singkat serangan musuh seolah-olah lenyap tak berbekas, diantara kilatan cahaya

yang menyilaukan mata tercipta berlapis-lapis hawa pedang yang datang dari empat arah

delapan penjuru.

Hoa In-liong terperanjat, buru-buru pedangnya ditegakkan sementara tubuhnya berputar

kencang dan maju selangkah kedepan, lalu pedangnya ditarik kembali, ujung pedangnya yang

tajam disembunyikan dibalik ketiaknya, menyusul kemudian dia lancarkan kembali sebuah

tusukan kilat ke arah belakang.

Pemuda itu mengambil keputusan untuk melakukan pertarungan yang tenang dan tidak

berangasan lantaran dalam anggapannya kendati barisan pedang macam apapun yang sedang

dihadapi maka motornya pastilah Ciu Hoa, asal Ciu Hoa berhasil diringkus niscaya barisan pedang

itu akan buyar sendiri tanpa diserang.

Oleh sebab itu tatapan matanya yang tajam selalu mengincar posisi dari Ciu Hoa, seperti pula

serangannya yang terakhir, arah yang di tuju tak lain adalah tenggorokan Ciu Hoa.

Pendapatnya ini sedikitpun tak salah tapi justru karena Ciu Hoa merupakan motor penggerak dari

barisan pedang itu, maka maju mundurnya delapan bilah pedangpun bergerak dengan Ciu Hoa

sebagai pusat penyergapan, satu sama lainnya mereka dapat bergerak bersahut-sahutan,

seakan-akan otaknya satu dan mereka merupakan satu tubuh yang sama, dalam keadaan

demikian tentu saja bukan pekerjaan yang gampang bagi si anak muda itu untuk membekuk Ciu

Hoa.

Ketika serangan yang kedua kembali mengenai sasaran yang kosong, sepasang mata Hoa Inliong

berkilat tajam ia saksikan betapa rapat dan ketatnya lapisan cahaya pedang yang

memancar datang dari empat penjuru, serangan tersebut ibaratnya cahaya yang menggulung

datang tiada habisnya, baik maju maupun mundur semuanya di lakukan dengan kecepatan ya

luar biasa.

Lapisan pedang yang berlapis-lapis itu bukan saja sukar untuk dipecahkan, bahkan tubuh Ciu

Hoa pun terkurung dengan sendirinya hingga lenyap tak membekas, dalam keadaan apa boleh

buat terpaksa anak muda itu lebih mementingkan diri sendiri, sepasang kakinya menjejak

permukaan tanah kemudian mengegos ke samping.

Belum sempat badannya berdiri tegak, mendadak ia merasakan tibanya beberapa gulung

desingan angin dingin yang menyergap jalan darah penting diatas punggungnya, cepat ia

menekuk pinggang sambil melepaskan pukulan, gerakan yang di pakai adalah jurus Kun-siu-citau

(perlawanan terakhir dari binatang yang terjebak), seketika itu juga desingan angin dingin itu

berhasil disingkirkan satu depa lebih kesamping.

Setelah nyaris termakan sergapan maut, Hoa In-liong mengigos kesamping dan mundur dengan

hati teperanjat, segera pikirnya dalam hati, “Benar-benar tak kusangka sebuah barisan pedang

sedemikian kecilpun ternyata memiliki daya kekuatan yang luar biasa besarnya, bila aku tak tega

untuk turun tangan keji, niscaya aku sendirilah yang bakal mendapat kerugian”

Belum habis dia berpikir, tiba-tiba Ciu Hoa telah munculkan dirinya kembali, buru-buru ia

menggerakkan pedangnya untuk membacok musuhnya itu.

Baru saja dia melepaskan bacokan, mendadak cahaya pedang berkilauan, dari sampingpun

muncul pula sebuah tusukan kilat yang tertuju ke atas tubuhnya, bila ia lanjutkan niatnya untuk

melukai Ciu Hoa, niscaya iga sendiripun akan berlubang tertusuk pedang musuh, dalam keadaan

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

94

begini terpaksa ia tekan pergelangan tangannya ke bawah, kemudian menangkis dengan

pedangnya.

Tak terkirakan sungguh dahsyat tenaga serangan musuh, ketika sepasang pedang saling

beradu…. “Traaang” diantara dentingan nyaring, Hoa In-liong terdesak mundur selangkah ke

belakang, sedangkan tusukan pedang tadi telah lenyap tak berbekas.

Ilmu silat yang dimiliki Hoa In-liong memang sudah mencapai pada puncaknya, setelah

bergebrak beberapa jurus, ia telah mengetahui bahwa kedelapan orang laki-laki berbaju ungu itu

rata-rata memiliki dasar ilmu pedang yang sangat kuat ilmu silat mereka lihay dan andaikata

bertempur seorang lawan seorangpun bukan sembarangan orang dapat menandinginya, apalagi

mereka bergabung menjadi satu dan membentuk sebuah barisan pedang tak heran kalau

kelihayannya berlipat ganda.

Sekarang ia tak berani bergerak secara sembarangan lagi, pedang mustika ditangan konannya

berusaha melakukan pertahanan, sementara tangan kirinya dengan disertai tenaga dalam yang

sempurna kerapkali melancarkan pukulan-pukulan gencar dengan jurus Kun-shi-ci-tau yang

maha sakti itu, dengan begini untuk sementara waktu keadaanpun bisa diimbangi sekalipun

dengan susah payah.

Dalam pertarungan tersebut, tiba-tiba delapan bilah pedang bersatu padu, cahaya pedang

seakan-akan tercipta menjadi satu gumpalan cahaya besar yang menyilaukan mata, makin lama

pertempuran itu berlangsung, getaran yang terpancar dari barisan pun bertambah cepat

perputarannya, kedahsyatan yang kemudian terpancar keluar sungguh di luar dugaan Hoa Inliong,

meski begitu ia tidak bingung atau kalut, pertahanannya masih tetap kokoh dan tangguh,

sementara matanya masih saja mengincar tubuh Ciu-Hoa, bilamana ada kesempatan dia akan

segera membekuk musuhnya itu.

Seperminum teh kemudian, peluh teh membasahi jidat Hoa-In-lloag, ini menunjukkan betapa

sengitnya pertarungan yang sedang berlangsung. Tiba-tiba terdengar Ciu Hoa berteriak keras,

“Hoa loji, bila kau bersedia melepaskan pedang dan menyerah kalah, kongcu mu bersedia pula

untuk memberi kematian yang utuh kepadamu.”

Hoa In liong mendengus dingin, ia tidak memberi tanggapan atas ucapan lawan.

Terdengar Ciu Hoa berkata lagi, “Ketahuilah wahai Hoa loji, barisan pedang ku ini bernama kiucoan-

liong-si (memutar lidah naga sembilan kali), kendati bapakmu sendiri belum tentu bisa

memecahkan, bila engkau tak tahu diri sekali “lidah naga” telah menggulung maka tubuhmu

niscaya akan hancur berkeping-keping.”

Belum habis ia berkata, mendadak sesosok bayangan manusia menerjang kedepan, pedangnya

ditegakkan ke atas dan langsung menusuk dada serta lambungnya.

Perlu diketahui, berhubung barisan pedang itu bergerak sangat cepat sekalipun Hoa In-liong

telah mengerahkan ketajaman mata untuk mengamati, gagal juga baginya untuk menembusi

ketajaman sinar pedang yang berkilauan itu, otomatis sukar juga baginya untuk menduga

dimanakah letak posisi Ciu Hoa dewasa ini, tapi begitu Ciu Hong buka suara, Hoa In-liong segera

mengetahui tempat kedudukannya dan serta-merta dia lantas mengejar kesitu.

Dalam keadaan yang tak terduga ini, Ciu Hoa tak sempat untuk menghindarkan diri lagi, terpaksa

dia harus menggerakkan pedangnya untuk menangkis datangnya ancaman itu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

95

“Traang….” suatu bentrokan nyaring menggema memecahkan kesunyian, Ciu Hoa segera

merasakan lengan kanannya jadi kesemutan dan kaku, pedang antiknya hampir saja terlepas dari

cekalan cepat ia mundur dua langkah ke belakang.

Tentu saja Hoa In-liong tak sudi melepaskan musuhnya dengan begitu saja, setelah berhenti

sebentar, ia maju lagi ke depan, pedangnya secepat kilat melancarkan pula serangan

mematikan-

Diluar dugaan, ternyata Ciu Hoa dibuat kelabakan dan kalang kabut dengan sendirinya, ia tak

berani menyambut serangan tersebut dengan kekerasan, malahan tergopoh-gopoh tubuhnya

lantas menyelinap ke samping.

Dengan susah payah Hoa In-liong berhasil melepaskan diri dari kurungan barisan pedang musuh

dan menemukan sasarannya, tentu saja ia tak ingin membiarkan Ciu Hoa menyelinap kembali ke

dalam barisannya, melihat dia hendak kabur, segera bentaknya, “Mau kabur kemana?”

Bagaikan bayangan menempel badan, secepat kilat dia mengejar ke arah depan.

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring berkumandang saling susul menyusul, delapan bilah

pedang diputar berbareng menghadang jalan perginya.

Hoa In-liong marah sekali, terutama ketika jalan perginya dihadang, ia meraung keras, “Bangsat

Kalian sudah bosan hidup semua rupanya.”

Hawa murninya segera disalurkan ke dalam tangan, pedangnya diputar dan dia lantas mainkan

ilmu pedang Ciong-kiam (pedang berat)

Sreet sreet sreet serangan dilancarkan tiada hentinya, dalam sekejap mata ia sudah meneter ke

delapan orang itu habis habisan.

Perlu diketahui, ke enam belas jurus ilmu pedang yang ditinggalkan Hoa Goan-siu ini tidak lihay

dalam jurus serangan, tidak lihay pula dalam kesempurnaan tenaga dalam, melainkan terletak

pada kegagahan serta kewibawaan sang pembawa serangan tersebut, jika seseorang dapat

mainkan jurus pedang itu dengan gagah dan berwibawa maka serta-merta terciptalah suatu

kekuatan lain daripada yang lain yang jauh lebih mengerikan daripada hal-hal lainnya.

Sejak Hoa Thian-hong berhasil mendapatkan kitab Kiam-keng dan Kiam-keng-kui-boh, ia telah

menyisipkan pula intisari ilmu pedang di balik jurus-jurus pedang peninggalan orang tuanya,

ketika diwariskan kembali kepada putra-putrinya, ilmu pedang itu sudah dirubah namanya

menjadi Hoa-si- ciong-kiam-cap-lak-sin-cau (enam belas jurus sakti ilmu pedang berat keluarga

Hoa), itu pun sudah berbeda dengan keadaan aslinya, kalau dahulu permainan pedang itu harus

menggunakan pedang baja yang berat, maka sekarang cukup menggunakan pedang kayu atau

pedang bambu tanpa mengurangi kelihayannya.

Setelah lama bertempur tanpa mendatangkan hasil, lama kelamaan Hoa In-liong jadi sadar,

apalagi setelah dilihatnya Ciu Hoa hampir menyelinap ke dalam barisan pedangnya lagi, dalam

mendongkol dan marahnya dia lantas menyerang dengan gencar, malahan Hoa-si-ciong-kiamcap-

lak-sin-cau yang maha dahsyat pun dikeluarkan, sekalipun kematangannya menggunakan

jurus-jurus sakti itu belum sempurna, tapi kedelapan orang laki-laki berbaju ungu itu sudah tak

sanggup mempertahankan diri

Dalam sekejap mata, serangan dan pertahanan saling bertautan, delapan orang laki-laki berbaju

ungu itu didesak sampai mundur berulang kali, tanpa bertindak lebih jauh barisan pedang itu

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

96

bobol dengan sendirinya, dari satu barisan pedang yang tangguh sekarang telah berubah jadi

suatu perlawanan bersama atas serangan musuh yang gencar.

Sementara itu Ciu Hoa telah menyingkir kesamping, ketika dilihatnya barisan pedang yang

diandalkan sudah tak berwujud lagi, sedangkan kegagahan dan kehebatan Hoa In-liong sukar

dibendung lagi, ia lantas berminat untuk ikut terjun pula ke dalam arena pertarungan serta

berusaha untuk memulihkan kembali keutuhan barisan pedangnya.

Tapi Hoa In-liong memang terlampau dahsyat, ia menyerang dan mengejar terus dengan

ketatnya, dimana serangannya tiba delapan orang laki-laki berbaju ungu itu harus mundur untuk

menyingkir, dalam posisi seperti ini sulitlah baginya untuk ikut terjun ke dalam gelanggang.

Hal ini sangat menggelisahkan hatinya, saking marah dan mendongkolnya ia sampai mendepakdepakkan

kakinya berulang kali ke atas tanah.

Dari sikap tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa Ciu Hoa adalah seorang laki-laki yang

berangasan, begitu melihat posisi rekan-rekannya terdesak dibawah angin, sedangkan ia tak

sanggup untuk memberikan bantuannya, timbullah niat jahat dalam hati kecilnya.

Mendadak ia membentak gusar, tangannya lantas diayun kedepan melemparkan sebuah benda

hitam ke atas batok kepala Hoa In-liong.

Sepanjang pertarungan berlangsung, Hoa In-liong selalu memasang telinga dan matanya tajamtajam,

begitu menangkap tibanya sambaran benda hitam yang disertai desingan angin tajam, ia

segera mengetahui bahwa ia sedang disergap oleh sejenis senjata rahasia.

Secepat kilat telapak tangan kanannya diayun kedepan. Ia menyampok senjata rahasia itu

dengan bacokan pedang, sementara lengan kirinya dibabat kedepan menghajar mundur seorang

laki-laki hingga terdesak sejauh tiga depa.

“Blaaang….” sebercak cahaya api berwarna biru mendadak memancar keempat penjuru dan

mengejar tubuhnya.

Menghadapi ancaman tersebut, Hoa In-liong sangat terperanjat, buru-buru ia menyusup ke

samping dengan menempel diatas permukaan tanah, maksudnya ia hendak meloloskan diri dari

gumpalan cahaya api itu.

Kendati reaksi yang diberikan cukup cepat, namun setitik cahaya api sempat juga menetes diatas

punggungnya, Hoa In-liong segera merasakan punggungnya jadi panas, jilatan api segera

merembet sampai diatas dan membakar pakaian yang dikenakan.

“Anak Liong! Jatuhkan diri dan bergelinding!” disaat paling kritis mendadak seseorang berseru

dengan suara yang serak tapi keras.

Bersamaan dengan munculnya suara peringatan itu, sesosok manusia menyambar masuk ke

dalam ruangan, seketika itu juga Ciu Hoa beserta delapan orang laki-laki berbaju ungunya

melepaskan senjatanya dan berdiri kaku seperti patung arca, agaknya jalan darah mereka telah

tertotok semua.

Dalam pada itu Hoa In-liong telah bergelinding di atas tanah dan memadamkan lobaran api yang

menjilat-jilat baju bagian punggungnya, tiba-tiba ia merasa kaki kanannya kaku dan susah

digerakkan ketika diperiksa ternyata bagian lututnya telah tertancap sebatang jarum perak yang

berwarna biru, jarum itu sudah menembusi kulitnya hingga tinggal ekornya saja masih tertinggal,

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

97

dari warna biru yang berkilauan dapat diketahui bahwa jarum itu mengandung racun yang jahat

sekali.

Ayahnya Hoa Thian-hong tidak mempan terhadap serangan pelbagai jenis racun ini disebabkan

karena ia pernah makan racun teratai empedu api, dan dia sebagai keturunan dari ayahnya

mengalir pula darah murni yang mengandung serum penolak racun tersebut, dengan

keistimewaan yang dimilikinya itu, tancapan sebatang jarum beracun tidak berpengaruh banyak

atas dirinya.

Meski demikian, Hoa In-liong naik pitam dan merasa dendam sekali, sebab Ciu Hoa telah berbuat

keji dan melepaskan senjata rahasia sangat beracun itu tanpa memberi peringatan apapun, ini

menunjukkan bahwa hatinya busuk sekali.

Demikianlah, setelah jarum beracun itu dicabut keluar, ia lantas bangkit berdiri, kemudian sambil

mendengus dingin katanya, “Manusia she-Ciu, kau keji dan berhati busuk Hoa loji tak dapat

mengampuni selembar jiwamu.”

Dengan mata merah membara dan muka meringis menyeramkan, selangkah demi selangkah ia

mendekati musuhnya itu.

Sekarang Hoa In-liong sudah dipengaruhi oleh hawa napsu membunuh yang amat tebal, melihat

keadaan lawannya itu Ciu Hoa jadi bergidik dan pecah nyalinya, apa daya jalan darahnya tertotok

mulut tak bisa berbicara badan tak mampu bergerak, dalam keadaan sepsrti ini terpaksa dia

hanya bisa pasrah dan menunggu saat ajalnya.

Mendadak sesosok bayangan manusia kembali berkelebat lewat, seorang kakek tua berjubah

ungu tahu-tahu sudah menghadang jalan perginya.

“Liong-ji,” kata orang itu dengan lantang, “apakah engkau hendak membunuh seseorang yang

telah kehilangan daya perlawanannya?”

Orang itu berperawakan tinggi besar dan kekar, rambut, jenggot maupun alis matanya telah

berwarna putih, usianya enam puluh tahunan, meski demikian ia tampak masih segar bugar dan

tak nampak tua.

Siapakah orang ini? Dia adalah Pek Siau-thian bekas ketua perkumpulan sin-kipang yang tersohor

di masa lampau, atau kakek dari Hoa In-liong sendiri

Tak heran kalau dalam sekali gebrakan sembilan orang jago tangguh tersebut dapat dirobohkan

semua olehnya, sebab Pek Siau-thian memang berilmu sangat lihay.

Setelah mengetahui kalau kakek tua itu tak lain adalah Gwa-kong (kakek luar) nya, mula-mula

Hoa In-liong agak tertegun, menyusul kemudian dengan wajah berseru dia jatuhkan diri berlutut,

serunya dengan penuh kegembiraan, “Liong-ji memberi salam buat Gwa-kong.”

“Bangun, cepat bangun!” seru Pek-siau-thian sambil ulapkan tangannya, “gwa-kong ingin

bertanya padamu, bagaimana caranya kau selesaikan beberapa orang ini?”

Sambil bangkit diri Hoa In-liong menjawab, “Mereka adalah anak buah perkumpulan Hian bengkau,

berhati busuk dan berniat keji,” Liong-ji pikir.

Tatkala sinar matanya menyapu sekejap ke arah Ciu-Hoa sekalian, ia baru tahu kalau jalan darah

mereka sudah tertotok semua, maka kata-kata selanjutnya tidak jadi dilanjutkan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

98

Pek-siau-thian memandang sekejap ke arah cucunya, kemudian berkata lagi, “Ketika ayahmu

berkelana dalam dunia persilatan tempo hari, ilmu silat yang dimilikinya tidak beberapa lihay, tapi

sampai-sampai Gwa-kong sendiripun tak berani memandang enteng dirinya, tahukah kau apa

sebabnya bisa begitu?”

Dihari-hari biasa, Pek-siau-thian amat sayang dan memanjakan cucu luarnya ini. tapi sekarang

agaknya ia berniat untuk memberi pendidikan terhadap cucunya ini, bukan saja keren wajahnya

bahkan nada pembicaraanpun tegas dan bersungguh-sungguh.

Hoa In-liong yang menengadah dan menyaksikan keadaan kakeknya ini, kontan merasa tercekat

hatinya, ia sendiripun merasa sedikit di luar dugaan.

Pek-siau-thian anggukkan kepalanya, dan melanjutkan kembali kata-katanya, “Ayahmu berjiwa

besar, berwatak sabar tapi bersikap tegas, masalah kecil tidak selalu dipikirkan dalam hati,

masalah besarpun bersikap luwes, sekalipun berhadapan dengan musuh besar pembunuh

ayahnya, diapun tidak bersikap angkuh, sepanjang hidup tak pernah melukai mereka yang sudah

tak mampu bergerak, apalagi membunuh mereka yang sudah kehilangan daya

perlawanannya,sebab itu kendatipun musuh bebuyutannya juga menaruh tiga bagian rasa

hormat kepadanya.”

Ketika mendengar sampai disana, Hoa In-liong telah mengetahui apa yang dimaksudkan Gwakongnya,

cepat ia memberi hormat seraya berkata, “Liong-ji tak tahu kalau beberapa orang ini

sudah tertotok jalan darahnya.”

Pek-siau-thian ulapkan tangannya mencegah anak muda itu bicara lebih lanjut, tukasnya, “Kau

tak usah bicara lebih jauh, untuk hidup sebagai seorang manusia engkau harus bertindak teliti,

sebab dikala perasaan hatimu mulai bergerak maka yang benar tetap akan benar, dan yang salah

tetap akan salah, benar atau tidaknya harus kau bedakan disaat itu. bila kau tidak meninjau dulu

keadaannya tapi bertindak menurut emosi, coba bayangkan saja seandainya gwa-kong tidak

datang tepat pada waktunya, bagaimanakah akibatnya sekarang…”

Hoa In-liong tak dapat berbicara lagi, dia hanya bisa mengiakan berulang kali. Terdengar Pek

Siau-thian berkata lebih lanjut, “Gwa-kong sedari tadi sudah tiba disini, dan apa yang terjadi

dapat kusaksikan semua dengan jelas, akupun menyaksikan bagaimanakah dengan menempuh

bahaya kau mencari kesempatan yang baik untuk mengorek keterangan dari mulut lawan,

sekalipun kegagahanmu lumayan juga namun masih selisih jauh bila dibandingkan dengan

ayahmu. Aaaai…… Aku benar-benar merasa tidak habis mengerti mengapa nenekmu begitu tega

untuk melepaskan kau berkelana seorang diri?”

Kendati maksud ucapannya adalah memberi pendidikan dan pelajaran yang keras untuk cucu

luarnya ini, tapi rasa sayang dan manjanya terhadap cucu lakinya ini kentara sekali diantara

pancaran wajah maupun nada pembicaraannya.

Sebagai bocah yang binal, begitu Hoi In-liong menangkap kalau nada suara gwa-kongnya

menjadi lunak kembali, ia lantas menengadah, dengan alis mata berkenyit katanya, “Gwa-kong

masa kau tidak tahu? Liong-ji bisa berkelana diluaran sekarang ini adalah atas perintah dari

nenek.”

“Tentang soal ini kita bicarakan nanti saja!” tukas Pek Siau-thian sambil ulapkan tangannya,

“sekarang kau harus putuskan dulu, dengan cara apa engkau hendak selesaikan beberapa orang

ini?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

99

“Lepaskan saja mereka semua!” sahut Hoa In-liong sekenanya.

Pek Siau-thian tersenyum.

“Bukankah engkau hendak menyelidiki latar belakang tentang perkumpulan Hian-beng-kau?”

“Liong-ji telah mengerti, bahwa pengetahuan dari seorang ketua regu sangatlah terbatas sekali.”

“Bukankah dia adalah murid tertua dari ketua perkumpulan Hian-beng-kau?”

“Murid tertua juga sama saja. sampai kini Hian-beng kaucu tetap menyembunyikan diri seperti

kura-kura, ia cuma mengutus anak buahnya melakukan keonaran dai penganiayaan, masakan

rahasia besar rencananya akan dibeberkan dihadapan mereka? Malahan yakin bahwa ia sudah

memperingatkan anak buahnya untuk menjaga rahasia dengan siksaan keji sebagai imbalannya

bila mereka telah membocorkan rahasia tersebut, maka aku pikir tak ada gunanya kita paksa

mereka untuk memberi keterangan, Liong-ji akan berusaha untuk mencari keterangan sendiri

dengan usaha yang kumiliki.”

Mendengar jawaban tersebut, Pek Siau-thian tertawa terbahak-bahak sambil mengelus

jenggotnya ia berkata.

“Haahh…… haaaahhh……. haaahhh….. sungguh tak kusangka engkau berotak cermat dan

mempunyai semangat yang menyala-nyala, baiklah Gwa-kong akan membantu dirimu untuk

melepaskan orang-orang ini.”

Dia lantas putar badannya, diantara sentilan jari tangannya, sembilan orang jago yang tertotok

jalan darahnya segera bebas dari pengaruh totokan tersebut.

“Sebera tinggalkan kota Lok-yang” hardiknya dengan lantang, “kalau berani mengulur waktu lagi,

Hmm Bila terjatuh ketangan lohu lagi, jangan harap kamu semua bisa dibebaskan seperti hari ini,

Hayo cepat pergi…”

Dari pembicaraan yang baru saja berlangsung Ciu Hoa sudah mengetahui akan asal usul kakek

berjubah ungu itu. tentu saja ia tak berani berdiam lebih lama lagi disana.

Begitu jalan darahnya bebas, mereka lantas memungut kembali senjatanya, kemudian setelah

melotot sekejap ke arah Hoa In-liong dengan penuh kebencian, mereka lari terbirit-birit

tinggalkan ruangan itu, dalam sekejap mata bayangan tubuh mereka sudah lenyap tak berbekas.

Setelah beberapa orang itu berlalu Hoa In-liong baru berpaling, ujarnya sambil tertawa cecikikan,

“Huhh..hiihh..hiihh..sekarang aku sudah paham”

“Apa yang kaupahami?” tanya Pek Siau-thian tercengang.

“Tentu Gwa-kong yang sudah memindahkan jenasah dari Suma siok-ya dari tempat ini.”

Pek Siau-thian tersenyum, ia membelai rambut cucunya dengan penuh kasih sayang, kemudian

sahutnya, “Bocah manis, kau memang cerdik, memang benar gwa-kong yang sudah

memindahkan jenasah dari Suma-tayhiap suami istri dari sini, sekarang jenasah mereka

bersemayam di kuil Pek-ma-si diluar kota sana, dan dirawat oleh Cu-hong-taysu.”

“Siapakah Cu-hong Taysu itu?” tanya Hoa In-liong keheranan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

100

“Tentunya kau kenal bukan siapakah Cu-in-taysu itu?”

“Kenal,” sahut si anak muda itu sambil mengangguk, “dia adalah sahabat karib ayahku.”

“Cu-hong taysu adalah kakak seperguruan Cu-in taysu, dia adalah sobat karib Gwakong.”

Kiranya sejak pertempuran di bukit Cu-bu-kok dimana perkumpulan Sin-kapang mengalami

kekalahan besar, kemudian dalam penggalian harta dibukit Kiu-ci-san iapun harus banyak

mengandalkan bantuan Hoa-Thian-hong, setelah itu putri sulungnya kawin dengan Bong-Pay,

putri keduanya kawin dengan Hoa-Thian-hong, dimana kedua orang menantunya adalah jagojago

dari golongan lurus, ditambah pula istrinya Kho-hong-bwe selalu menasehati suaminya agar

bertobat.

Dalam putus asa dan kecewanya Pek-siau-thian sering kali belajar agama Budha dari istri nya

sering pula berhubungan dengan orang-orang luar maka pada mulanya ia setelah dapat

melepaskan cita-citanya untuk menjagoi kolong langit, tapi akhirnya iapun sadar bahwa jalan

pikirannya itu keliru besar.

Maka akhirnya bukan saja ia sering berhubungan dengan Bun Tay-kun sekalian anak famili dari

golongan lurus, perangainya pun banyak berubah yang berbudi luhur, dengan Cu-hong, cu-in

taysu sekalian pun menjadi sahabat karib.

Kalau bukan lantaran perangainya sudah banyak berubah, dengan perbuatan dari Ciu Hoa

sekalian tadi, tak nanti ia akan lepaskan mereka dalam keadaan hidup.

Setelah mendengar asal usul Cu-hong taysu dari Gwa-kong nya, Hoa In-liong merasakan hati nya

jadi lega, diapun berkata, “Oooh.,.. kiranya dia adalah suhengnya Tau-to yaya, sepantarnya

kalau Liong ji pergi menyambanginya.“

“Sedari kapan kau pandai menjalankan adat kesopanan?” goda Pek Siau-thian sambil tersenyum.

Merah padam selembar wajah anak muda itu karena jengah, serunya manja, “Gwa-kong, masa

kau anggap Liong-ji selamanya tak dapat tumbuh jadi dewasa?”

“Haaahhh….haaahhh….haaahhh…..bagus. Bagus! Kau memang sudah dewasa, kau memang

sudah dewasa. Cuma…. Gwa-kong selalu berharap agar selamanya kau jangan dewasa……”

setelah berhenti sebentar, dia alihkan pokok pembicaraan kesoal lain, tanyanya lagi, “Menurut

pengamatanku, tampaknya kau datang dengan membawa tugas, tugas apakah kau diperintahkan

untuk menyelidiki kasus pembunuhan berdarah atas diri Suma tayhiap?”

“Benar dari mana Gwa-kong bisa tahu?” tanya Hoa In-liong tercengang, agaknya ia tak menduga

kalau kakeknya bisa menduga sampai kesitu.

Pek Siau-thian tertawa.

“Tentu saja Gwa-kong mengetahui kejadian ini secara kebetulan saja, dalam perjalanan melewati

kota Lok-yang, aku baru tiba disini menjelang senja, sebenarnya tujuanku adalah mengunjungi

sobat-sobat lama sambil kongkou, siapa tahu Suma siok-ya mu telah menjadi almarhum, ketika

kutemukan rumahnya terbengkalai, dalam peti mati tersiar bau obat beracun, dan diantara debu

yang melapisi permukaan lantai kutemukan juga bekas-bekas pertarungan setelah itu kutemukan

juga bekas gigitan diantara tenggorokan Suma-Tayhiap suami istri, aku lantas sadar bahwa

setelah mereka mati, pihak musuh telah menggunakan jenasah mereka sebagai jebakan untuk

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

101

memancing orang-orang yang melayat kemari masuk perangkap, untuk menghindari segala

kemungkinan yang tak diinginkan maka jenasah mereka aku pindahkan dari sini.”

Mendengar keterangan tersebut, tanpa terasa lagi Hoa In-liong lantas berpikir,

“Aaaai…..bagaimanapun juga pengetahuan serta pengalaman Gwa-kong jauh lebih hebat

daripadaku, sampai sekarang aku baru mencurigai sampai kesitu sebaliknya cukup dalam sekali

tatapan saja dia orang tua sudah menebak maksud busuk musuh dan segera melakukan segala

tindakan penanggulangan, dari sini menunjukkan bahwa aku masih belum bisa untuk berbuat

apa-apa.”

Sementara dia masih melamun, Pek Siau-thian telah bertanya lagi, “Liong-ji, sudah berapa lama

kau tiba di kota Lok-yang?”

“Kemarin baru sampai.”

“Berhasil menemukan sesuatu tanda terang yang patut dicurigai?”

“Sudah, dan titik terang itu adalah Ciu Hoa tadi.”

“Kalau begitu… bukankah titik terang itu kembali sudah terputus….?” kata Pek Siau-thian dengan

dahi berkerut.

“Aaaah, tak jadi soal, Liong-ji toh bisa mencarinya lagi,” sahut Hoa In-liong dengan santainya.

Sepintas lalu ucapan itu memang kedengarannya biasa dan tak ada sesuatu keistimewaannya,

bahkan malahan lebih mendekati jawaban yang seenaknya, tapi bagi pendengaran Pek Siauthian

justru berbeda jauh, dia malahan merasakan betapa gagah dan terbukanya pikiran cucunya

ini, bahkan dibalik kelembutan sebetulnya tersembunyi suatu kekuatan yang dapat membuat

orang jadi takluk dan kagum.. Tak terasa lagi ia tersenyum, sambil mengelus jenggotnya dia

berpikir, “Bocah ini betul-betul berhati sekeras baja, berjiwa besar, berotak cerdik dan pandai

menyelami perasaan orang, bila dididik secara betul dan terpimpin, niscaya dikemudian hari akan

menjadi seorang pemimpin dunia persilatan yang patut diandal kan

ooooooooooo

KARENA berpendapat begitu, Pek-siau-thian merasa hatinya jaun lebih lega katanya kemudian

dengan lantang, “Liong-ji hayo berangkat Ikut Gwa-kong ke- kuil Peks-ma-si.”

“Waaah, tidak bisa,” sahut Hoa In-liong setelah sangsi sebentar, “kuda dan bekalku masih ada di

rumah penginapan”

Pek Siau-thian berpikir sejenak. kemudian sambil ulapkan tangannya ia berkata lagi, “Baiklah,

kalau begitu mari kita berkumpul dirumah penginapan”

Hoa In liong tidak mengerti apa sebabnya Gwa-kong mendadak jadi gembira sekali, tapi

berhubung ia sudah lama berpisah dengan kakeknya dan lagi iapun sudah amat rindu dengan

engkongnya ini tanpa berpikir panjang lagi ia maju ke muka dan sambil menggandeng tangan si

kakek tua itu berlalu dari ruangan.

Sekembalinya dirumah penginapan, Hoa In-liong memerintahkan pelayan untuk siapkan sayur

dan arak. selesai membersihkan badan kakek dan cucu berduapun bersantap sambil bercerita.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

102

Tampaknya Pek Siau-thian memang mempunyai maksud tertentu, ia berniat untuk melatih Hoa

In liong sehingga lebih perkasa dan lebih luas pengetahuannya. Mula-mula ia menanyakan kisah

Hoa In-liong ketika mendapat perintah untuk meninggalkan rumah, kemudian menanyakan pula

semua kejadlan dan peristiwa yang dijumpainya selama berada di kota Lok-yang.

Dengan tak Jemu-jemunya Hoa In-liong segera menjawab semua pertanyaan kakeknya dengan

jelas. Pek Siau-thian sendiripun lantas mendengarkan penuturan dari cucunya sambil tersenyum.

selesai bercerita, Hoa In-liong mendadak membuka telapak tangan kirinya dan disodorkan kedepan,

kemudian katanya, “Gwa- kong, semua persoalan tidak Liong-ji pikirkan, tapi ada satu hal

yang tidak berkenan di hati Liong-ji, yakni ukiran huruf “benci” yang dibuat ibu ditanganku,

apakah Gwa-kong tahu apa maksudnya mengukir huruf tersebut?”

Pek Siau-thian melirik sekejap telapak tangan kirinya, kemudian ia balik bertanya, “Apakah

engkau merasa tidak senang hati, dengan kejadian itu?”

“Bukannya Lion-ji tak senang hati cuma Liong-ji merasa bahwa tindakan ini sebenar nya sama

sekali tak berarti….”

“Nenekmu adalah seorang pendekar wanita uang berjiwa besar dan berotak cerdas.” tukas Pek

Siau-thian dengan cepat, “jangankan orang lain, aku sendiripun amat mengaguminya, aku

percaya semua .perbuatan yang ia perintahkan pasti mempunyai arti dan maksud yang

mendalam, hanya engkau belum berhasil menangkap artinya.”

“Lalu apa maksudnya?” seru Hoa In-liong sambil menatap Gwa-kong nya tajam-tajam, “ibu dan

nenek semuanya bilang bahwa mereka tidak membenci aku, tapi aku tak dapat memecahkan

maksud dan arti di balik kesemuanya ini, kadangkala aku tak tahan dan memikirkan persoalan

ini, namun sekalipun aku sudah putar otak memeras keringat, toh akhirnya masih tetap

merupakan suatu persoalan simpul mati.”

Pek-siau-thian tersenyum setelah mendengar perkataan itu ujarnya, “Bila ingin menjadi seorang

yang besar dan terkenal, pikiran dan jiwamu harus lapang, persoalan sepele dan masalah kecil

jangan selalu dipikirkan di hati, bukan saja kejadian itu bisa menutupi kecerdasan otakmu

bahkan amat mengganggu kesehatan badan, bila tak berhasil dipecahkan lebih baik tak usah

dipikirkan-”

“Aaaai Gwa-kong, ucapanmu ini persis seperti perkataan nenek” gerutu sang pemuda dengan

wajah murung, “cobalah bayangkan, Liong-ji harus memikul tugas yang sangat berat ini,

masakah aku tak boleh menyelidiki tiap persoalan yang sedang kuhadapi? Sebelum berangkat,

ibu telah mengukir huruf “benci” itu di atas telapak tangan Liong-ji apakah liong-ji harus berdiam

diri belaka.”

Pek-siau thian mengelus jenggotnya dan tersenyum.

“Lalu bagaimana menurut jalan pikiranmu? Apakah tulisan itu ada hubungan yang erat dengan

peristiwa pembunuhan berdarah ini?”

“Tentu saja,” jawab pemuda itu cepat, “kalau tak ada sangkut pautnya dengan peristiwa

berdarah itu, mengapa sewaktu mengukir huruf tersebut nenek bersikap amat serius. Gwa-kong,

tahukah kau bahwa pada waktu itu ibu merasa tak tega, tapi nenek yang memaksa terus untuk

mengukir huruf itu ditangan Liong-ji.”

“Liong- ji, kau tak boleh bicara sembarangan!” mendadak Pek-siau-thian menukas dengan wajah

serius, “nenekmu adalah ksatria sejati diantara kaum perempuan, baik kecerdasan otak maupun

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

103

pengetahuannya jauh lebih hebat dari siapapun, kalau ia memaksa untuk berbuat demikian, itu

berarti ia mempunyai maksud tertentu ketahuilah menyalahkan angkatan yang lebih tua

adalah….”

Kata selanjutnya tak lain adalah kata-kata nasehat yang setumpuk bukit, dengan watak Hoa ln

liong yang binal, ia segan untuk mendengarkan “ nasehat” tersebut, tapi iapun mengerti betapa

sayangnya Pek Siau-thian terhadap dirinya, maka ia berkata kemudian, “Apa alasannya? Kalau

tidak diterangkan bukankah itu berarti bahwa Liong ji selalu harus memikirkan soal ‘Benci’, ‘Benci’

pada langit, ‘Benci’ pada bumi dan mungkin harus ‘benci’ terhadap setiap manusia yang ada di

kolong Langit?”

“Ngaco belo!” bentak Pek Siau-thian dengan keras.

Mendadak satu ingatan terlintas dalam benaknya, tanpa terasa kakek tua itu jadi tertegun dan

berdiri termangu-mangu.

Hoa In-liong sendiripun agak tertegun menyaksikan keadaan gwa-kongnya itu, dengan

tercengang ia lantas berseru, “Gwa-kong, kenapa kau? Apakah berhasil menemukan alasannya?”

“Jangan berisik dulu,” sela Pek-siau-thian sambil ulapkan tangannya, “biar kupikirkan persoalan

ini dengan seksama.”

Hoa In-liong mengerdipkan matanya, lalu berpikir, “Benar, Gwa-kong dimasa lalu adalah seorang

pemimpin dunia persilatan yang tersohor dan mempunyai kedudukan tinggi, ia pasti mengetahui

banyak tentang Giok-teng hujin, apa salahnya kalau kugunakan kesempatan ini untuk mencari

tahu tentang dirinya?”

Baru saja ingatan tersebut melintas dalam benaknya, Pek Siau-thian telah menatap tajam

cucunya sambil bertanya, “Liong-ji, pernah kau dengar tentang seorang jago lihay dimasa

lampau yang bernama Kiu-im kaucu?”

Hoa In-liong ingin cepat-cepat menjawab, sambil mengangguk segera sahutnya, “Menurut apa

yang Liong-ji dengar, Kiu-im kaucu adalah seorang perempuan berilmu tinggi, orang itu licik,

banyak akal busuknya dan kejam…”

“Ehmm” Pek Siau-thian mengangguk. “Suma Siok-cubomu dulunya adalah tiamcu dari istana

neraka, dengan Suma siok-ya mu….”

“Apa?” tukas Hoa In-liong tercengang “bukankah perkumpulan Kiu-im-kau adalah perkumpulan

kaum sesat?” Pek Siau-thian mengangguk.

“Perkumpulan Kiu-im-kau memang suatu perkumpulan kaum sesat, Tiancu istana neraka itu

pernah bertarung melawan Suma siok-ya mu, berhubung usia mereka sebaya dan ilmu silatnya

seimbang, sejak terjadinya pertarungan itu mereka selalu memikirkan pihak lawannya. Kemudian

saat Suma siok-ya mu sedang berpesiar, diatas bukit Lak-siau-san mereka berjumpa untuk kedua

kalinya, waktu itu mereka berpesiar selama beberapa hari mengunjungi tempat kenamaan, ketika

hubungan mereka kian lama terasa kian bertambah cocok. akhirnya Yu-beng tiamcu ini

melepaskan diri dari perkumpulan Kiu-im-kau dan menemani Suma siok-ya mu berkunjung

kedaratan Tionggoan dimana, akhirnya atas persetujuan dari nenekmu, merekapun menikah

menjadi suami istri.”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

104

“Aaah, kiranya siok cubo melepaskan diri secara diam-diam dari perkumpulan Kiu-im-kau,” pikir

Hoa In-liong dalam hati, “tak aneh kalau sepanjang tahun jarang keluar pintu gerbang, bahkan

berkunjung kerumahpun hampir tak pernah.”

Meski dalam hati berpikir demikian, di luaran ia berkata, “Jadi maksud gwa-kong, otak dari

pembunuhan berdarah atas diri Suma siok-ya dan siok cubo ini tak lain adalah Kiu-im kaucu?”

“Benar atau tidak kita harus melakukan penyelidikan lebih jauh, tapi bagaimanapun juga kita tak

boleh melepaskan titik terang dengan begitu saja.”

Hoa In-liong berpikir sebentar, lalu menyambung, “Aah aku rasa belum tentu begitu. Menurut

kisikan dari nenek. agaknya beliau menaruh curiga bahwa persoalan ini ada hubungannya

dengan Giok-teng Hujin, sebab tanda pengenal yang ditinggalkan pembunuh itu tak lain adalah

sebuah hiolo kecil berwarna ungu kemala.”

“Aku bisa menduga sampai kesitu justru karena secara tiba-tiba teringat akan diri Giok-teng hujin

ini.”

“Oooh… kiranya dugaan kalian ada kemiripannya antara yang itu dengan yang lain!” seru Hoa Inliong

seperti baru sadar, “Gwa-kong, cepatlah terangkan, bagaimana dengan Giok-teng hujin

itu?”

“Aku sendiripun mendengar cerita ini dari cu-in taysu. Katanya di masa lalu ayahmu, entio-mu,

dan Suma siok-ya mu pernah menerima budi kebaikan dari Giok-teng- hujin, kemudian sewaktu

Giok-teng hujin mendapat musibah, ayahmu dan Suma-siokya mu bersama-sama datang ke kota

Cho Ciu untuk memberi pertolongan, menurut keterangan Cu in taysu, pada waktu itu Giok-teng

hujin sedang menjalankan siksaan Im hwe lee hun (api dingin melelehkan sukma), siksaan itu

amat keji dan melanggar peri kemanusiaan, ketika menyaksikan keadaan tersebut ayahmu amat

sedih dan gusar sehingga mendekati kalap. apa yang dipikirkan olehnya waktu itu hanyalah

membunuh manusia sebanyak-banyaknya.”

(untuk jelasnya silahkan membaca: Bara Maharani oleh penyadur yang sama).

Ketika mendengar kisah tersebut, Hoa In-liong segera mengerutkan dahinya dan berpikir dihati.

“Siksaan api dingin melelehkan sukma memang merupakan suatu siksaan yang keji dikolong

langit, sekalipun aku yang temui kejadian juga akan naik darah, apalagi ayah pernah mendapat

budi dari Giok-teng hujin, tentu saja kemarahannya mendekati kekalapan setelah menjumpai

kejadian itu, tapi apa sangkut pautnya antara kejadian itu dengan kematian Suma siok-ya serta

ukiran huruf ‘benci’ diatas telapak tanganku ini?”

Pek Siau-thian sudah sering bergaul dengan cucunya ini semenjak masih bayi, sekilas

memandang tampang cucunya, ia lantas dapat menebak apa yang dipikirkannya, maka ujarnya

lagi, “Liong-ji, apakah engkau menganggap ayahmu ingin membunuh orang hanya disebabkan

oleh dorongan emosi dan kemarahan saja.?”

“Apakah dibalik kejadian ini masih terdapat sebab-sebab lain….?” Hoa In-liong balik bertanya

setelah tertegun sejenak.

“Tentu saja, Ayahmu sudah kenyang mengalami penderitaan, watak dan keteguhan imannya

jauh berbeda dengan manusia biasa, padahal dalam dunia persilatan banyak terdapat kejadiankejadian

yang gampang membuat orang naik darah bila setiap kali marah dia lantas ingin

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

105

membunuh orang, berapa banyak sudah manusia yang akan terbunuh oleh ayahmu? Dan

darimana mungkin ia bisa melakukan pekerjaan besar?”

“Lalu sebenarnya mengapa ia sampai berbuat demikian?” desak si anak muda itu cepat.

Pertanyaan ini diajukan dengan hati yang gelisah seakan-akan sudah tak sabar untuk menanti

lebih lama lagi, melihat keadaan cucunya ini Pek Siau-thian kembali berpikir, “Bun Tay-kun amat

ketat mendidik keturunannya sedang persoalan, ini menyangkut soal muda-mudi Seng-ji (Hoa

Thian-hong) dimasa mudanya, aku harus mengelabuhi beberapa bagian yang tak perlu

dihadapan Liong-ji, tapi bagaimana aku harus mulai dengan jawabanku….?”

Setelah termenung beberapa saat lamanya, Pek Siau-thian menghela napas panjang dan

menjawab.

“Dahulunya Giok-teng hujin juga merupakan anak buah dari Kiu-im-kau, ketika itu ia sangat

sayang terhadap ayahmu, hubungan mereka lebih akrab dari kakak beradik, sejak perkumpulan

Kiu-im-kau secara resmi munculkan diri lagi dalam selat Cu-bu-kok, ia selalu memusuhi ayahmu

dan berusaha merampas pedang baja ayahmu.”

Sebagai seorang pemuda yang cerdas, tentu saja Hoa In-liong dapat menangkap maksud lain

dibalik ucapan tersebut, ia lantas menyela..

“Tentang peristiwa perebutan pedang baja itu, Liong-ji sudah pernah tahu, pedang itu direbutkan

karena dalam pedang tersebut disimpan sejilid kitab Kiam-keng yang lihay. Jadi kalau begitu

tujuan Kiu-im kaucu melakukan penyiksaan Api dingin melelehkan sukma adalah untuk memaksa

ayah untuk menyerah?”

Pek Siau-thian mengangguk tanda membenarkan.

“Padahal pada waktu itu ayahmu sudah berhasil mendapatkan kitab Kiam-keng, sebagai seorang

pendekar yang mengutamakan budi, dalam perkiraan Kiu-im kaucu jika ia gunakan siksaan yang

keji untuk menyiksa Giok-teng hujin, maka bila ayahmu bertekuk lutut…”

“Aaaah, sekarang, aku sudah paham!” tiba-tiba Hoa In-liong berseru lantang, “tentunya ayahmu

tak sudi menyerahkan pedang baja itu, maka Giok-teng hujin mendendam persoalan itu dalam

hati kecilnya karena…”

Siapa tahu Pek Siau-thian gelengkan kepalanya sambil menukas, “Keliru, keliru besar? Giok-teng

hujin bukan perempuan biasa, cinta kasihnya terhadap ayahmu boleh diibaratkan tingginya langit

dan tebalnya bumi, ia rela menderita siksaan yang lebih hebat sepuluh kali lipat lagi daripada

menyaksikan ayah mu terhina dan tercela namanya.”

Hoa In-liong jadi tertegun.

“Aaah… kalau memang begitu, kebanyakan “otak” dari pembunuhan berdarah itu adalah Kiu-im

kaucu.”

Pek Siau-thian mengerutkan dahinya.

“Liong-ji, untuk menyelidiki siapakah otak dari pembunuhan berdarah ini, kau tak boleh

memecahkannya berdasarkan dugaan, dengarkan dahulu penjelasanku lebih jauh.”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

106

Sekali lagi Hoa In-liong tertegun, dengan wajah tercengang bercampur curiga dia amati

kakeknya.

Setelah menghela nafas panjang, Pek Siau-thian berkata lebih jauh, “Menurut keterangan dari

Cu-in Taysu, sebelum seseorang menjalankan siksaan api dingin melelehkan sukma, maka diulas

dada sang korban akan ditaburi dulu dengan sejenis racun yang dinamakan Miat-ciat-im-leng

(bubuk phospor pelenyap keturunan) , kemudian dengan menggunakan……..

Jilid 6

SEBUAH lentera Lian-hun-teng (lentera peleleh sukma) yang khusus terbuat dari hawa racun

katak paru, racun phospor itu akan dihisap sedetik demi sedetik, setelah menjalankan siksaan

terbakar perlahan-lahan selama tujuh hari tujuh malam, sang korban akan mati karena hawa

racun menyerang jantungnya. Liong-ji coba bayangkan, sebelum mati orang yang tersiksa akan

mengalami penderitaan yang amat hebat, betapa kejam dan ngerinya keadaan tersebut?”

Hoa In-liong membungkam dalam seribu bahasa, hawa gusar dan jengkel jelas tercermin diatas

wajahnya.

Sekali lagi Pek Siau-thian menghela napas panjang, ujarnya lebih jauh, “Siksaan tersebut betulbetul

amat keji dan tak berperikemanusiaan, tentu saja ayahmu amat gusar setelah menyaksikan

kejadian itu, tapi berulangkali Glok-teng hujin berpesan kepada ayahmu agar jangan mau tunduk

pada perintah orang, tak boleh mandah diperintah orang, kalau tidak maka sekalipun ia bisa

ditolong dalam keadaan hidup, tapi dia akan bunuh diri, Liong-ji, coba pikirlah betapa

bergolaknya perasaan ayahmu pada waktu itu.”

Mendengar ucapan tersebut, mencorong sepasang mata Hoa In-liong sinar mata itu setajam

sembilu dan mengerikan sekali, melihat hal itu Pek Siau-thian segera berseru, “Liong-ji,

dengarkan baik-baik, aku hendak membicarakan tentang soal yang pokok.”

Hoa In-liong tersentak kaget ia segera menyahut, “Katakanlah Gwa-kong, Liong-ji akan

mendengarkan dengan sungguh-sungguh….”

“Pada waktu itu ayahmu merasa hatinya remuk rendam, dalam gusar bercampur emosi, ia

berhasrat untuk membunuh habis semua anak buah perkumpulan Kiu-im-kau, kemudian akan

beradu jiwa dengan Kiu-im-kaucu. Cu-in taysu yang berhati welas jadi kasihan dan tak tega, ia

tak ingin menyaksikan anak buah perkumpulan Kiu im kau bergelimpangan menjadi mayat maka

cepat ia perintah ayahmu untuk memusatkan pikiran dan tenangkan hati padahal ayahmu sedang

emosi dan diliputi kemarahan, dia pun tak berani membangkang perintah angkatan yang lebih

tua, seperti harimau terluka ia lantas berteriak keras, “Taysu berwelas kasih, boanpwe

menanggung benci”

Sampai disini ia berhenti sebentar, ditatapnya Hoa In-liong lekat-lekat kemudian melanjutkan,

“Liong-ji, tahukah engkau kata ‘benci’ itu bagaimana mungkin bisa diucapkan keluar?”

Hoa In-liong memutar biji matanya lalu menjawab, “Tentu saja patut dibenci. Kiu-im kaucu

mengancam dengan menyandera orang, sedang ayah harus menolong orang terlepas dari

siksaan, namun ia tak dapat membalas cinta kasih Giok teng hujin, tak dapat pula menukar

sandera dengan kiam-keng, sekalipun membunuh orang mengadu jiwapun tak dapat menolong

keadaan tersebut, sebaliknya orangnya harus ditolong, dalam keadaan begini tentu saja ia

merasa benci sekali.”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

107

“Jadi kalau begitu, kau juga memiliki perasaan yang sama seperti ayahmu tempo dulu?” selidik

Pek Siau-thian.

Dengan terus terang dan blak-blakan Hoa In-liong menjawab, “Setelah menerima setitik budi

kebaikan dari orang, sepantasnya membayar budi itu dengan cara apapun, bila liong-ji yang

menghadapi peristiwa itu, mungkin rasa benci Liong-ji berlipat kali akan lebih hebat daripada

ayahku” Pek Siau-thian menghela napas panjang.

“Aaai….meski manusia mempunyai perasaan yang sama dan perasaan yang sama disadari oleh

alasan yang sama, tapi toh belum tentu diterima oleh masyarakat luas sebagai tindakan yang

benar.”

Tiba-tiba paras mukanya jadi serius, dengan keren sambungnya lebih lanjut, “Liong-ji, tentunya

pada saat ini kau sudah memahami bukan apa sebabnya ibumu mengukir huruf ‘benci’ diatas

telapak tanganmu?”

Hoa In-liong mengerutkan dahinya, lalu bertanya keheranan, “Kenapa? Masa huruf ‘benci’ itu

timbul lantaran ayah?”

Telapak tangan kirinya direntangkan lebar-lebar lalu diamatinya huruf ‘benci’ itu sekali demi

sekali, tapi makin dilihat ia merasa semakin bingung dan tidak mengerti, ia benar-benar tak

berbasil menemukan jawaban yang menunjukkan bahwa huruf ‘benci’ yang berwarna biru tua ini

mempunyai hubungan yang erat dengan perbuatan ayahnya dimasa lampau.

Ketika Pek-siau-thian melihat anak muda itu masih juga bingung dan tak habis mengerti, ia

lantas menghela napas panjang.

“Aaaa…. pada hakekatnya huruf ‘benci’ yang dialami ayahmu dimasa silam timbul lantaran cinta,

Andaikata Giok-teng hujin tidak menaruh rasa cinta, ia tak akan begitu sayang dan membantu

ayahmu, dan iapun tak akan bersedia menerima siksaan, daripada menyaksikan ayahmu harus

tunduk pada perintah orang dan mendapat penghinaan, sebaliknya ayahmu jika tidak menaruh

rasa cinta pada Giok-teng hujin, sekalipun demi keadilan dan kebenaran, kegusaran dan

kepedihan hatinya tak akan mencapai pada puncaknya, diapun tak akan mencari orang untuk

mengadu jiwa, dan ketika didesak sampai posisi apa boleh buat diapun tak akan mengucapkan

kata-kata “menanggung benci”, dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa cinta antara muda mudi,

kadang kala mudah mendatangkan kerepotan dan kesulitan bagi diri sendiri”

Hoa In-liong mengedip-ngedipkan matanya, dengan sikap setengah mengerti setengah tidak, ia

mengerutkan dahinya.

“Liong-ji apakah kau belum juga mengerti?” tiba-tiba Pek Siau-thian bertanya lagi dengan wajah

serius ” nenekmu memaksa ibumu untuk mengukir huruf ‘benci’ diatas telapak tanganmu,

lantaran dia tahu bahwa kau terlampau romantis, sejak kecil suka main perempuan dan bertukar

pacar maka dengan ukiran tersebut ia berharap agar engkau bisa mawas diri dan menjaga diri

baik-baik sehingga tidak ikut terjerumus seperti apa yang pernah dialami ayahmu dimasa lalu,

sebab kalau sampai terjerumus dalam kesulitan, saat itu mau menyesalpun sudah tak berguna”

Berhubung masalahnya menyangkut tentang kegemaran jeleknya, Hoa In-liong merasa pipinya

jadi merah padam karena jengah, serunya terbata-bata. “Tentang soal ini….tentang soal ini…”

“Tak usah ini itu lagi” tukas Pek Siau-thian sambil ulapkan tangannya, “nenekmu berwatak keras

dan sangat disiplin, ia tak ingin menyaksikan engkau mengalami kejadian seperti yang dialami

ayahmu namun merasa tidak leluasa untuk memberitahukan kejadian ayahmu dimasa lampau,

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

108

oleh sebab itu ia mengukir huruf ‘benci’ diatas telapak tanganmu itu, apa tujuannya sekalipun tak

usah diterangkan sudahlah jelas. Bila engkau tak dapat meresapi harapan dari orang tuamu

dengan merubah kebiasaan busukmu, maka sia-sialah engkau hidup sebagai putra manusia,

engkau akan dicap sebagai anak yang tidak berbakti”

“Gwa-kong, apakah engkau orang tua juga mempunyai pandangan yang sama seperti nenek?”

tanya Hoa In-liong ketakutan Pek Siau-thian tersenyum.

“Mengharapkan engkau jadi naga diantara manusia adalah harapan kita semua, tentu saja

Gwakong maupun nenekmu mempunyai pendapat serta pandangan yang sama”

Hoa In-liong membungkam dan tak bisa berbicara lagi, dengan dahi berkerut dia tundukkan

kepalanya rendah-rendah.

Bagi Pek Siau-thianpun, sebenarnya persoalan ini memang sangat mengena di hatinya. ketika ia

kurang akur dengan istrinya tempo dulu, sampai manakah rasa rindunya terhadap Kho-Hongbwe

boleh dibilang hanya dia seorang yang tahu, kemudian putri bungsunya Pek-Kun-gi

mencintai Hoa-Thian-hong. sebelum berhasil menjadi istrinya yang kedua, banyak penderitaan

dan siksaan yang harus dialaminya, meski hanya putrinya namun kejadian itu seakan-akan dia

sendiri yang mengalami, kemudian diapun pernah mendengar tentang kasih cinta Hoa-Thianhong

dengan Giok-teng hujin-

Ia beranggapan bahwa semua peristiwa itu bisa terjadi lantaran gara-gara soal ” cinta”, maka

setelah sekarang ia saksikan cucunya yang binal dan romantis ternyata membawa huruf ‘benci’

diatas telapak tangannya, otomatis diapun dapat menebak maksud hati Bun-Taykun, tentu saja

dia sendiripun berharap agar cucunya jadi naga diantara manusia, maka menumpang

kesempatan ini dia lantas memperingatkan pemuda itu agar merubah wataknya yang jelek

sehingga jangan sampai mengalami peristiwa pula yang menyangkut soal ” kebencian”.

Bagaimana dengan Hoa In-liong sendiri? Ia tundukkan kepalanya sambil termenung, sementara

dalam hati berpikir, “Benar demikian? Benahkah begitu artinya..”

Tatkala dilihatnya sianak muda itu termenung seperti menemui kesulitan, timbul kembali

perasaan sayang dihati Pek Siau-thian, kembali ia berkata, “Liong-ji, engkau tak usah banyak

berpikir lagi pokoknya baik gwa-kong, maupun ibumu dan nenekmu semuanya berharap agar

engkau selamat dari bencana, selamat dari penderitaan dan selalu aman sentausa, asal engkau

tahu bahwa ‘benci’ tumbuh karena “cinta” dan bersikap waspada serta mawas diri, itu sudah

lebih dari cukup.”

Tiba-tiba Hoa In-liong menengadah, lalu ujarnya dengan dahi berkerut, “Gwa-kong, aku lihat

belum tentu demikian maksudnya”

Pek Siau-thian agak terkejut, ia lantas berpikir, “Ada apa ini? Masakan ucapanku sepatah kata

pun tak dapat ditangkap olehnya?”

Mesti kaget ia bertanya juga, “Lalu bagaimana menurut pendapatmu?”

“Aku rasa huruf ‘benci’ ini, kemungkinan besar ada sangkut pautnya dengan peristiwa berdarah

ini” kata Hoa In-liong sambil mempertajam ujung bibirnya.

Ia membuka kembali telapak tangannya, lalu memperlihatkan huruf itu dihadapan Pek Siauthian,

kemudian ujarnya lebih jauh, “Tentu saja dibalik kesemuanya itu baik ibu maupun nenek

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

109

juga bermaksud agar Liong-ji selalu mawas diri dan merubah sedikit perangai yang jelek, tapi

setelah Liong-ji pikir lebih jauh Liong-ji rasa persoalannya belum tentu sesederhana itu”

“Oooh iya? Bagaimana tidak sederhana itu?” seru Pek Siau-thian tercengang, sepasang mata

yang tajam mencorong keluar dari balik matanya itu.

“Menurut dugaanku kemungkinan besar anak buah perkumpulan Kiu-im kau sebagian besar

adalah kaum perempuan?”

“Kalau perempuan lantas bagaimana?” Pek Siau-thian balik bertanya dengan dahi berkerut.

“Cukup banyak kejadian yang telah berlangsung misalnya saja kaburnya Yu-beng tiamcu secara

diam-diam untuk menikah dengan Suma siok-ya, kemudian rasa cinta kasih Giok-teng hujin

terhadap ayah yang dibelainya mati-matian…”

“Kurang ajar, tidak tahu aturan masa urusan orang yang lebih tuapun boleh kau bicarakan

seenaknya?” tukas Pek Siau-thian sambil membentak dengan wajah serius.

“Liong-ji bukan tidak menaruh hormat terhadap angkatan yang lebih tua, Liong-ji hanya

membahas menurut kejadian yang sebenarnya.” kata Hoa In-liong dengan alis mata berkenyit.

Melihat gerak gerik kebocahannya masih melekat ditubuh cucunya, Pek-siau-thian tak tega untuk

menegur lebih jauh, dalam keadaan apa boleh buat terpaksa dia ulapkan tangannya sambil

membentak, “Kalau begitu bicarakan secara singkatnya saja. tak usah diputar balikkan lebih jauh

lagi….”

“Yaa gwa-kong,” sahut Hoa In-liong, “kalau toh anak buah perkumpulan Kiu-im-kau lebih banyak

perempuannya, sedangkan Liong-ji bertanggung jawab untuk menyelidiki latar belakang

pembunuhan berdarah ini, pastilah nenek dan ibu kuatir kalau aku sampai terjerumus pula dalam

jaring cinta sehingga membuat persoalan antara “cinta” dan “dendam” tak bisa dipisah pisahan,

sedang merekapun. tak dapat menyelesaikan masalah ini sebagaimana mestinya, maka nenek

lantas mengukir sebuah huruf ‘benci’ pada telapak tangan Liong-ji dengan maksud agar Liong-ji

melalu mawas diri dan waspada” Ia tertawa sebentar lalu meneruskan.

“Padahal bicara yang sesungguhnya tindakan tersebut sebetulnya terlalu berlebihan meskipun

Liong-ji tak tega melukai hati perempuan, toh tak sampai keblinger tanpa membedakan mana

yang benar dan mana yang salahpun tak mampu”

Mendengar ucapan cucunya ini seketika Pek Siau-thian merasa murung, diapun merasa cukup

girang, karena Hoa In-liong disamping dia menerima peringatan dan nasehatnya, malahan

pengertiannya atas masalah yang pelik itu setingkat lebih mendalam daripada pemecahan

menurut jalan pikirannya, ini menunjukkan bahwa hatinya lebih halus pikirannya lebih teliti dan

sikapnya lebih waspada daripada diri sendiri, dengan bekal itu tak nanti ia akan menderita

kerugian selama melakukan perjalanan dalam dunia persilatan.

Sebaliknya dia murung karena dilihatnya Hoa In-liong tak dapat melepaskan kegemarannya

untuk bermain perempuan, dari sini dapat diketahui bahwa soal cinta ia sudah terlampau

mendalam dan entah sampai kapan baru bisa bertobat.

Sebab itu dengan wajah keren dan pura-pura, tak senang hati bekas ketua dari perkumpulan sinkipang

ini berkata, “Berapa besar toh usiamu sekarang? Berani benar mengatakan bahwa soal

cinta dan dendam bisa kau bedakan dengan jelas? HmmBila kau anggap sepi maksud hati dari

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

110

kaum angkatan tua bukankah itu berarti bahwa engkau telah menganggap perkataanku tadi

sebagai angin berlalu belaka?”

“Liong-ji tak berani berpikiran demikian, Liong ji masih cukup tahu diri,” sahut Hoa In-liong

cepat, “Gwa-kong, coba analisalah, benarkah perkumpulan Hian-beng-kau yang membuat

keonaran sekarang benar-benar adalah jelmaan dari perkumpulan Kiu-im kau dimasa lalu?”

Tak dapat diragukan lagi bahwa semua perhatian dan tenaganya telah dicurahkan untuk

memecahkan misteri terbunuhnya Suma Tiang-cing, tapi bagi pendengaran Pek Siau-thian, tak

lebih sama artinya bahwa pemuda itu sengaja mengalihkan pembicaraan kesoal lain sehingga

telinganya tak sampai ” dikoreki” lebih lanjut.

Dengan perasaan apa boleh buat dia gelengkan kepalanya berulang kali sambil menggerutu,

“Aaaaai..,. Kau bocah ini…”

“Gwa-kong tak usah kuatir” sela si anak muda itu dengan cepat, “perkataan kau orang tua akan

kuingat selalu dalam hati, tapi dewasa ini masalah yang terpenting adalah bagaimana

menemukan si pembunuh itu, bila kau orang tua tahu harap beritahukan kepada Liong-ji”

Jelas sekali ucapan tersebut, bahwa ia sudah tak sabar lagi untuk mendengarkan persoalan lain

yang tetek bengek.

Pek Siau-thian amat memanjakan cucunya, ia ada maksud memberi teguran tapi tak tega

akhirnya sambil menghela napas ia berpikir, “Bukit dan sungai gampang dirubah, tapi watak

manusia sukar dirubah, bocah ini terlampau acuh tak acuh, agaknya sebelum merasakan sedikit

penderitaan ia tak akan kapok”

Setelah mengetahui bahwa banyak bicara tak ada gunanya, diapun pasrah, katanya kemudian-

“Aku sendiripun, kurang begitu jelas, antara Kiu-im Hian-beng meski beda tulisannya namun

mempunyai arti yang tak jauh berbeda semestinya mempunyai hubungan yang erat”

“Liong-ji sendiripun berpendapat demikian” kata Hoa In-liong pula sambil menyahut. “Gwa kong

Apakah engkau tahu, di manakah Kiu-im kau mendirikan markas besarnya dimasa lalu?”

Pek Siau-thian berpikir sebentar, lalu menjawab, “Lima puluh tahun berselang, perkumpulan Kiuim

kau tak dapat menancapkan diri dalam dunia persilatan dan terdesak untuk mengasingkan

diri, mereka baru muncul kembali dalam dunia persilatan setelah terjadinya pertarungan sengit di

selat ou-bu-kok, anak buah mereka sangat banyak dan terutama menguasahi ilmu berperang

dalam perahu. Sejak pembagian harta karun di- bukit Kiu-ci-san, ayahmu mendapat sanjungan

dan dukungan dari segenap umat persilatan yang kemudian diangkat menjadi Bu-lim bengcu,

sejak itu pula Kiu-im kau jauh mengasingkan diri dari keramaian dan tak kedengaran kabar

beritanya lagi, jadi di manakah mereka mendirikan markas besarnya, boleh dibilang tak

seorangpun yang mengetahuinya.”

Hoa In-liong mengerutkan dahinya.

“Pandai sekali mengemudikan perahu dan berperang diatas air? Itu berarti mereka

mengasingkan diri disebelah selatan,” katanya.

“Benar! Benar,” sahut Pek Siau-thian cepat, “Suma siok-ya mu memang berjumpa dengan siokcubo

mu disebelah selatan, aku pikir tentu mereka mengasingkan diri pula disebelah selatan”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

111

Hoa In-liong menganggukkan kepalanya berulang kali, sesudah termenung sebentar tiba-tiba ia

bertanya lagi, “Gwa-kong, sepeninggal dari kota Lok-yang ini, engkau bermaksud akan pergi ke

mana?”

Pek Siau-thian tertegun, lalu menjawab, “Aku tak pernah terikat oleh pikiranku, kemana akan

pergi disitu aku tuju, sebetulnya aku ada keinginan untuk berkunjung ke bukit Im-tiong-san dan

menjenguk kalian semua. Ada apa? Apakah engkau suruh Gwa-kong menemani engkau

berkunjung kewilayah Kang-lam?”

Dengan cepat Hoa In-liong gelengkan kepalanya.

“Aku tak berani merepotkan gwa-kong” sahutnya, “lebih baik engkau menyambangi ibu saja

setelah berjumpa dengan ibu tolong gwa-kong mewakili Liong-ji untuk menyampaikan salam

kepadanya, bukanlah bahwa Liong-ji tahu akan mawas diri dan sekarang telah berkunjung ke

wilayah selatan…”

“Berkunjung kesitupun boleh-boleh saja, cuma benarkah engkau akan menuju ke selatan?” tanya

Pek Siau-thian, alis matanya yang memutih tampak berkenyit.

“Kalau toh Suma siok-cubo adalah Yu-beng Tiancu dari perkumpulan Kiu-im- kau yang kabur

secara diam-diam maka besar kemungkinan peristiwa berdarah ini ada sangkut pautnya dengan

Kiu-im kau cu, dan sama sekali tak ada hubungannya dengan Giok-teng hujin-Lagipula antara

kata Kiu-im dan Hian-beng toh mempunyai maksud yang sama? Liong-ji bertekal untuk

mengunjungi Kang lam dan baik atau buruk persoalan ini harus kuselidiki sampai jelas.”

Tahun ini Pek Siau-thian sudah berusia lanjut, kegagahan dan ambisi besarnya sudah hampir

boleh dibilang lenyap tak membekas, ia jadi kuatir sekali setelah mengetahui bahwa Hoa In-liong

akan berkunjung kewilayah Kang lam, tapi bagaimanapun juga dia adalah seorang bekas ketua

perkumpulan besar yang pernah menguasahi separuh jagad, walaupun tidak lega hatinya namun

diapun tidak mencegah niat anak muda itu.

Setelah berpikir sebentar diapun menjawab, “Baiklah, sesampainya dibukit Im-tiong-san, aku

akan suruh anak see datang membantu dirimu”

Mendengar perkataan itu, Hoa In-liong segera goyangkan tangannya berulang kali.

“Jangan…jangan…jangan sekali-kali gwa-kong suruh toako meninggalkan rumah.”

“Eeeh……. kamu ini kenapa tak tahu berat entengnya urusan?” omel Pek-siau-thian serius,

“menurut keteranganmu sendiri, katanya dunia persilatan sudah berada diambang pintu

kekacauan, hawa pembunuhan mengincar dari segala penjuru tempat dan kematian Suma-siokya

mu tak lebih cuma permulaan dari kekacauan ini, padahal engkau toh tahu bahwa tenaga

kekuatanmu seorang sangat terbatas, dari mana kau bisa memikul tugas seberat ini….”

“Gwa-kong, kau tak usah berbicara lagi” Hoa In-liong cepat menukas, “bayangkanlah bagaimana

keadaan gwa-kong dimasa lalu? Bagaimana pula dengan ayah? sekarang Liong-ji telah dewasa,

sepantasnya kalau dia kuhadapi sendiri masalah itu dengan segala kemampuan yang kumiliki.”

“Ngaco belo” bentak Pek siau-tian- “masa kau tidak tahu kalau gwa-kong mu mengalami

kekalahan total yang sangat mengenaskan? sekalipun ayahmu berjiwa keras dan gagah perkasa,

itupun karena ditunjang oleh nenekmu, sebaliknya kau masih muda tapi sikapmu terlalu sok

hebat dan jumawa.”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

112

Sebelum engkongnya menyelesaikan kata-kata itu, Hoa In-liong telah menukas kembali, “Gwakong,

mengapa kau bisa mengalami kekalahan total? Liong-ji adalah seorang laki-laki sejati, bila

ayah bisa melakukan segala sesuatunya itu dengan baik, mengapa Liong-ji tak dapat

melakukannya?”

Selama berada dirumah, baik terhadap nenek. Maupun terhadap ayahnya, hoa in-liong tak berani

membantah barang sekejappun, hanya terhadap Pek Siau-thian yang memanjakannya semenjak

kecil ia berani membantah tanpa meninggalkan batas-batas kesopanan, sebaliknya Pek Siauthian

yang amat menyayangi cucunya tak bisa berbuat lain kecuali meringis.

Demikianlah, ketika Hoa In-liong menyelesaikan kata-katanya, Pek Siau-thian benar-benar dibikin

mati kutunya, dia hanya bisa meringis sambil meneguk habis isi cawannya, kemudian mengomel,

“Kurang ajar? Betul-betul kurang ajar, makin hari kau si bocah nakal berkembang makin takkaruan,

baiklah Aku tak akan mengurusi dirimu-lagi, sesampainya dirumah pasti akan kuceritakan

semua yang kulihat dan kudengar kepada ayahmu” Meskipun geli dihati, diluaran anak muda itu

berkata pula, “Akupun tak mau ambil perduli, pokoknya aku tidak akan membiarkan gwa-kong

untuk berbicara”

“Kalau begitu kuberitahukan kepada nenekmu!” seru Pek Siau-thian sambil memukul meja,

“Kalau nenek lantas kena….”

Mendadak anak muda itu merasa bahwa perkataannya kurang, sopan, seketika itu juga ia

membungkam dan memandang kakeknya dengan- wajah termangu-mangu.

Pek Siau-thian sendiri, sewaktu dilihatnya bocah itu tertegun, ia mengira cucunya dibuat

ketakutan oleh karenanya sang nenek. dia jadi tak tega, setelah menghela nafas panjang,

dengan nada yang lebih halus ia berkata lagi, “Liong-ji, dengarkan perkataanku, kalau benar

bahwa dunia persilatan telah diselimuti oleh hawa pembunuhan yang tebal, lagipula mereka

khusus memusuhi keluarga Hoa kalian, lebih baik persoalan ini laporkan saja kepada ayah dan

nenekmu sebab bila sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, yang terkena celaka bukan

hanya keluarga Hoa saja melainkan segenap umat persilatan didunia ini, sekalipun engkau gagah

dan berjiwa ksatria, tidak seharusnya memandang enteng masalah yang menyangkut

keselamatan dan kepentingan orang banyak…”

Ketika Hoa In-liong mendengar bahwa nada suara gwa-kongnya sudah jauh lebih lunak, buruburu

diapun berkata, “Gwa-kong, dengarkan dulu penjelasanku, persoalan ini toh baru

merupakan berita sensasi yang Liong-ji dengar ditengah jalan, bagaimanakah kejadian yang

sesungguhnya sampai sekarang masih merupakan tanda tanya besar, yaa kalau kenyataannya

begitu, seandainya kemudian terjadi jauh menyimpang dari keadaan tersebut, padahal gwa-kong

sudah memberi tahukan kepada ayah dan nenek. bukan saja Liong-ji akan ditegur bahkan dicaci

maki, engkau orang tua pun akan di anggap orang sebagai manusia yang kurang teliti, bukankah

dosa Liong-ji akan semakin menumpuk-numpuk?”

Setelah mendengar penjelasan itu, sekarang Pek Siau-thian malahan yang dibuat termangu.

Kendati ia tahu bahwa alasan itu sengaja dibuat-buat oleh Hoa In-liong, tapi bila dipikirkan

kembali memang ada benarnya juga, sebab itu jago tua ini jadi terbungkam dan tak sanggup

membantah lagi. setelah berhenti sebentar, Hoa In-liong berkata lagi.

“Lagipula, sekalipun Liong-ji gegabah dan tak tahu keadaan, rasanya tak sampai kalau Liong-ji

menjadi seorang manusia yang tak tahu diri, sampai waktunya bila benar-benar terjadi peristiwa

seperti itu, tentu saja dengan segala daya upaya Liong-ji akan memohon bala bantuan, tak nanti

Liong-ji biarkan bibit itu berkembang jadi semakin besar sehingga merugikan umat persilatan

pada umumnya dan keluarga Hoa pada khususnya, Gwa-kong yang baik, turutilah kehendak

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

113

Liong-ji- mu Dapatkah Liong-ji menanggulangi masalah ini seorang diri, sudilah kiranya gwa kong

memberi kesempatan kepadaku agar Liong-ji dapat mencoba dan membuktikan kemampuanku”

Hoa In-liong memang pandai merayu, mula-mula ia memberikan penjelasan menurut suara

hatinya, menyusul kemudian memohon dengan setengah merengek-rengek seperti anak kecil,

tentu saja Pek-siau-thian tak dapat berkutik lagi, terpaksa dia berpikir, “Walaupun bocah ini

berambisi besar, tapi maklumlah kalau anak muda bercita-cita tinggi kalau tidak demikian tentu

dia akan tenggelam dan tak bisa bangkit lagi. Baiklah Lebih baik kuperingatkan saja dirinya

kemudian biarkan ia pergi, siapa tahu dengan andalkan kecerdikan serta kehebatannya, ia

malahan bisa mendapat nama dalam dunia persilatan?”

Berpikir sampai disini, akhirnya dengan pura-pura berlagak kehabisan akal diapun menyahut,

“Baiklah untuk sementara waktu boleh saja kalau tak ingin kulaparkan kepada nenek dan ayah

mu, tapi engkaupun harus menuruti beberapa patah kataku” Diam-diam Hoa In-liong merasa

amat girang, cepat sahutnya, “Tentu saja gwa-kong yang baik, pesan gwa-kong pasti akan

Liong-ji perhatikan baik-baik”

Serius air muka Pek Siau-thian, katanya dengan nada bersungguh-sungguh, “Pertama, engkau

harus menghilangkan kebiasaanmu yang suka mengunggulkan diri dan meninggikan derajat

sendiri Ketahuilah dalam dunia persilatan banyak terdapat jago-jago yang berilmu tinggi, dengan

kepandaian yang kau miliki sekarang sebetulnya belum terhitung seberapa bila dibandingkan

dengan mereka”

“Yaa gwa-kong Liong-ji pasti akan mengingat selalu peringatan ini, lain kali Liong-ji tentu tak

berani mengunggulkan diri lagi” sahut Hoa- In-liong sambil anggukkan kepalanya berulang kali.

Pek Siau-thian berkata lebih jauh, “Kedua, sebagai seorang manusia yang jujur, engkau harus

mengutamakan keberhasilan di kemudian hari, jangan berlagak sok pintar, apalagi menggunakan

akal dan tipu muslihat busuk untuk mencari keuntungan disaat itu. Tentang soal ini gwa-kong

dan ayahmu adalah contoh yang paling jelas engkau harus mengguruinya baik-baik”

“Yaa gwa-kong. “jawab Hoa In-liong dengan hormat, “Liong-ji pasti akan mengutamakan

kemantapan sebelum melakukan perubahan lain dalam menghadapi setiap persoalan”

Ketiga ibumu hanya melahirkan kau seorang, perduli dalam keadaan bahaya macam apapun

engkau harus mengingat selalu akan ibumu, jangan bertindak terlalu gegabah sehingga

mendatangkan kepedihan dan kemurungan bagi ibumu”

“Liong-ji akan mengingatnya selalu.”

“Bagus.” seru Pek Siau-thian, tiba-tiba ia bangkit berdiri, “aku rasa banyak bicara tak ada

gunanya asal ketiga hal itu bisa kau perhatikan dan laksanakan dengan sebaik-baiknya, aku rasa

itu sudah lebih dari cukup, Terutama dalam hal yang ke tiga, asal tiap perbuatanmu tak sampai

melupakan orang tua, berarti engkau berbakti kepada orang tuamu, dan ketahuilah menteri yang

jujur adalah anak yang berbakti, Nah, aku akan segera berangkat engkau harus baik-baik

menjaga diri.”

Hoa In-liong merasa terperanjat, sekarang ia baru merasakan bahwa melakukan perbuatan tanpa

melupakan orang tua meski gampang diucapkan namun susah untuk dilaksanakan, ketika

dilihatnya Pek Siau-thian sudah keluar pintu, tanpa berpikir panjang lagi ia menyusul dari

belakangnya seraya bertanya, “Malam sudah larut, Gwa-kong akan pergi ke mana?”

“Aku akan berkunjung kekuil Pek ma-si, setelah mengatur layon dari Suma Tiang-cing suami istri

aku akan langsung menuju bukit Im-tiong-san- Engkau pun segera berangkatlah Kalau toh sudah

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

114

mengambil keputusan untuk berangkat keselatan, lebih baik segera lanjutkan perjalanan, tak

usah membuang waktu lagi di kota Lok-yang ini.”

Berulang kali Hoa In-liong mengiakan, dia mengantar Pek Siau-thian sampai dipintu depan,

kemudian setelah berpisah baru kembali kekamarnya untuk beristirahat.

Keesokan harinya, selesai membereskan rekening berangkatlah Hoa In-liong menuju selatan

dengan melalui lam- yang dan menyeberangi wilayah Keng ou.

Sepanjang perjalanan tidak terjadi suatu kejadian penting, suatu senja akhirnya sampailah

pemuda itu di Keng-bun.

Tiba-tiba ia mendengar suara derap kaki kuda yang sangat ramai berkumandang dari belakang,

sewaktu ia berpaling tampaklah debu mengepul setinggi langit, delapan sembilan ekor kuda

dengan membawa penumpangnya berpakaian ringkas semua bergerak dengan cepatnya

mendekat ke arahnya, dalam waktu singkat mereka sudah tiba dibela kang tubuhnya.

Anak muda ini masih ingat dengan pesan ibunya, ia tak ingin menimbulkan banyak urusan, maka

tali les kudanya ditarik dan menjalankan kuda nya ketepi jalan.

Ketika rombongan itu sudah lewat dan Hoa In-liong berhasil menyaksikan warna pakaian yang di

kenakan orang-orang itu, mendadak hatinya terperanjat, ia lantas berpikir, “Sungguh aneh

Beberapa orang ini semuanya berbaju ungu, menyoreng pedang dari berusia sebaya, lagi pula

mengenakan mantel berwarna hijau pupus, jangan-jangan mereka berasal satu rombongan

dengan ciu Hoa?”

Berhubung debu beterbangan dengan tebalnya menyelimuti angkasa, dia tidak berhasil melihat

jelas tampang dari beberapa orang itu.

Sebagaimana telah diketahui, Ciu Hoa mengakui dirinya sebagai otak dari pembunuhan berdarah

atas keluarga Suma, lagipula diapun murid tertua- dari Hian-beng kaucu, setelah timbul

kecurigaannya, tentu saja anak muda itu tak sudi melepaskan sasarannya dengan begitu saja.

Kudanya lantas dicemplak dan menguntit di dibelakang beberapa kuda itu dari kejauhan,

sebentar kemudian mereka sudah memasuki pintu barat kota Keng-bun-

Setelah masuk pintu kota, beberapa orang itu masih juga menghentak kudanya dengan

kencang, mereka tak ambil perduli apakah jalan raya itu ramai dengan manusia yang berlalu

lalang atau tidak, sesaat kemudian tampaklah banyak penduduk yang kabur pontang panting

untuk menyelamatkan diri dari tubrukan-

Menyaksikan kesemuanya itu, timbul perasaan antipati dihati Hoa In-liong diam-diam ia

menyumpah dihati, “Sialan benar orang-orang itu, mereka bukan anak buah perkumpulan Hianbeng-

kiau, dengan perbuatan mereka yang semena-mena itu aku Hoa leji patut memberi

pendidikan kepadanya, kalau tidak begini, bukankah rakyat kecil akan sengsara sepanjang

tahun?”

Sementara ia masih menyumpah, rombongan itu sudah tiba didepan sebuah rumah yang megah

dan mentereng, orang yang bermantel hijau pupus tadi lantas melongok sekejap kedalam ruang

penginapan itu kemudian sambil melompat turun dari atas pelana teriaknya lantang, “Aaaah, dia

benar-benar ada disini.”

Dengan langkah lebar orang itu lantas berjalan masuk kedalam ruang penginapan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

115

Melihat pemimpinnya sudah masuk orang-orang yang lainpun segera turun dari kudanya dan

menyusul dari belakang.

Tatkala Hoa In-liong mengejar sampai didepan pintu, ia temukan sebuah kereta kuda yang

megah dan mewah diparkir dibalik pekarangan rumah penginapan itu, kereta tersebut berdinding

kuning mas kecil mungil tapi mentereng, sudah jelas merupakan kendaraan dari kaum wanita,

pada waktu itu orang pelayan sedang mengurusi kuda-kuda yang tertinggal di depan pintu,

sedangkan manusia bermantel hijau pupus beserta rombongannya sudah tak kelihatan lagi.

Sementara, sianak muda itu menjadi termangu- mangu, seorang pelayan munculkan diri dan

menyambut dan berkata, “Kongcu-ya mau menginap dalam rumah penginapan kami paling

bersih, paling megah dan pelayanan paling memuaskan dalam kota Keng-bun sukar untuk

menemukan keduanya” Hoa In-liong tidak segera menjawab, dalam hati-pikirnya, “Ditinjau dari

gerak gerik mereka tampaknya orang-orang itu tidak bermaksud baik, agaknya mereka sedang

mengincar pemilik kereta- kuda ini, lain cerita- kalau aku tidak menjumpainya, sekarang setelah

masalah ini kutemui, bagaimanapun juga tidak akan kubiarkan mereka untuk bertingkah

semaunya sendiri”

Karena berpendapat demikian, dia pun mengangguk dan melompat turun dari atas punggung

kudanya.

“Rawat kudaku ini baik-baik, besar ongkos nya dihitung dalam rekening besok” serunya berlagak

royal.

Dengan kebiasaannya dilayani banyak orang, pemuda ini memang memiliki potongan sebagai

keturunan orang besar atau bangsawan, gagah dan mentereng, ini membuat para pelayan

mengira kalau mereka telah kedatangan seorang ” cukong” kelas kakap. cepat mereka sambut

tali les kudanya, kemudian sambil munduk-munduk mengantar pemuda itu masuk ruang tengah,

katanya lagi dengan nada dibuat-buat, “Heeehh… heeehhh… Kongcu-ya suka tempat yang ramai

ataukah tempat yang agak sepi? Kalau suka tempat yang sepi, di ruang belakang sana ada

kamar-kamar yang bersih, sebalikya kalau suka tempat yang ramai di ruang tengah terdapat

kamar kelas satu, kamar termasuk air teh dan arak sudah tersedia komplit, kongcu-ya….”

Agak bosan Hoa In-liong mendengar ocehan propaganda dari pelayan itu, cepat dia ulapkan

tangan nya sambil menukas, “Beberapa orang laki-laki berbaju ringkas tadi tinggal disebelah

mana??” Pelayan itu agak tertegun, lalu menyahut, “Mereka berada dihalaman tengah, tapi

belum memutuskan mau menginap atau tidak, kongcu-ya…”

“Sedang pemilik kereta kuda yang parkir didepan pintu itu? Dia tinggal dimana?”

Pelayan itu seperti orang yang baru sadar, dia lantas berseru, “Ooooh.,..Jadi kongcu-ya satujalan

dengan nona itu, ia tinggal dihalaman tengah, hamba segera akan hantar kongcu-ya…”

“Kalau begitu aku akan tinggal diruang tengah persis disebelah kamar nona itu” Kembali pelayan

itu tertegun, pikirnya dihati, “Aneh benar kongcu-ya ini, kalau toh berasal dari satu rombongan,

kenapa musti menginap dikamar sebelah??”

Tiba-tiba terdengar seseorang menegur dengan suara yang merdu dan halus seperti suara

keleningan, “Siapa disana? siapa yang ingin menginap dikamar sebelahku??”

Kiranya ruang sebelah depan dari rumah penginapan itu adalah rumah makan, kedua belah sisi

ruangan merupakah ruangan-ruangan mungil yang ditutup dengan tirai horden, waktu itu

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

116

kebetulan Hoa In-liong sedang lewat di depan salah satu ruangan, dan suara teguran yang

merdu itu muncul dibalik ruangan tirai tersebut.

Hoa In-liong yang romantis dan suka main perempuan, kontan dibuat terkesima oleh suara

teguran yang merdu dan mengandung daya tarik yang hebat itu, ia merasa sekujur tulangnya

jadi kaku dan linu tak kuasa lagi dia berhenti seranya menyahut dengan girang.

“Aku yang berdiam dikamar sebelah, cayhe.. cayhe..”

Sebetulnya dia akan menyebutkan namanya, mendadak timbul rasa was-wasnya, maka ucapan

pun jadi gelagapan dan untuk sesaat tak sanggup dilanjutkan lebih jauh.

Menyaksikan sikapnya yang serba konyol itu sang pelayan cepat melengos sambil menahan rasa

gelinya, sedangkan nona di dalam ruanganpun ikut tertawa cekikikan seraya berkata, “Cayhe?

siapakah cayhe…. In-ji, coba kau tengok keluar, siapakah cayhe itu?”

Tirai disingkap orang menyusul seorang dayang cantik berusia empat lima belas tahunan

munculkan diri, setelah memandang wajah In-liong sekejap ia lantas menyahut dengan nyaring,

“Lapor siocia, dia adalah seorang kongcu yang masih muda”

“Oooh, seorang kongcu yang masih muda?” suara merdu itu berkumandang lagi sambil tertawa

cekikikan, “kalau begitu suruh dia tak usah memesan kamar lagi, ruangan depan yang kita pakai

toh kosong dan tak ada orangnya. In-ji, undang dia segera masuk kedalam!”

Keadaan yang terpapar didepan matanya sekarang membuat Hoa-In-liong jadi tercengang

dengan alis berkerut ia berpikir, “Siaucia dari manakah itu? Kenapa sikap dan perbuatannya

begitu-jalang?”

Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya, budak yang bernama- In-ji telah

berkata- lagi sambil tersenyum, “Kongcu, silahkan masuk Nona kami ada undangan-…,.”

Timbul perasaan ingin tahu di hati Hoa In-liong, diapun tidak ambil perduli kecengangan yang

tertera di wajah pelayan itu, setelah membereskan pakaiannya ia masuk ke dalam ruangan

seraya berkata, “Setelah diundang oleh siocia mu, tentu saja cayhe harus memenuhinya, nona

In-ji silahkan”

Setelah masuk kedalam ruangan Hoa In-liong merasa matanya jelalatan dan terasa lebih terang

bahkan untuk sesaat ia berdiri tertegun dengan mata terbelalak dan mulut melongo.

Cantik nian dara yang berada dalam ruangan itu nona itu mempunyai sepasang mata yang jeli,

hidung yang mancung dan bibir yang kecil mungil dari atas sampai ke bawah tidak nampak cacad

bahkan menyiarkan daya pesona yang amat tebal ketika itu dengan senyum manis dikulum

sedang memandang kearahnya tanpa berkedip, meski belum mencicipinya, Hoa In-liong sudah

merasa terpikat dan hampir mabok rasanya.

Nona cantik itu memandang sekejap kearah pemuda itu, lalu sambil tersenyum katanya,

“silahkan duduk”

Seperti baru sadar dari lamunannya, Hoa In-liong segera tertawa paksa sambil menyahut,

“Silahkan duduk, silahkan duduk.”

Ia menarik sebuah kursi dan segera duduk.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

117

Nona cantik itu mengerling kembali dengan genit, kemudian sambil menutupi bibirnya ia berbisik,

“Aku merasa amat beruntung dan berbangga hati bisa mendapat perhatian dan kasih sayang dari

kong-cu, terimalah penghormatanku ini”

Seraya berkata dia lantas bangkit memberi hormat.

Hoa In-liong ikut bangkit seraya menjura membalas hormat, sahutnya, “Kecantikan nona bak

bidadari dari khayangan cayhe bisa mendapat kesempatan untuk berkenalan dan minum arak

bersama, hal ini merupakan suatu keberuntungan pula bagiku”

Perempuan cantik itu tidak merendahkan diri-lagi, ia lantas berpaling kearah In-ji seraya

menegur, “Eeeh, In-ji, kenapa melongo saja? Hayo penuhi cawan kongcu dengan arak.”

Mendadak In-ji seperti sadar akan kesilafannya-sambil tertawa cekikikan, ia menyahut, “Kongcu

ini terlampau tampan, In-ji sampai kesemsem rasanya dibuat…”

Ia mengambil poci arak dari atas meja, memenuhi cawan dihadapan kedua orang itu, lalu melirik

sekejap lagi kearah wajah Hoa In-liong.

Terhadap tingkah laku maupun perbuatan In-ji yang genit, nona cantik itu sama sekali tidak

melarang, bahkan seakan-akan tidak pernah dilihatnya sambil angkat cawan araknya dan melirik

lagi ke-arah pemuda itu ia memperkenalkan diri, “Aku she Cia bernama In, terimalah

penghormatan secawan arak dari aku yang rendah.”

Sekali teguk dia lantas menghabiskan isi cawan tersebut.

Hoa-In-liong pun angkat cawan sendiri dan meneguknya sampai habis, kemudian berkata pula,

“Cayhe-she she Pek, Pek dari kata Hek pek (hitam putih) dan bernama Khi”

Meskipun ia sudah kesemsem, namun kewaspadaannya masih tetap ada dan nama yang

dilaparkan pun nama palsu.

Agaknya Cia-In mengira kalau pemuda itu jadi gugup lantaran baru pertama kali bertemu dengan

gadis, ia tidak memikirkannya dihati, sambil tertawa katanya pula, “Bila didengar dari logat

kongcu agaknya engkau bukan penduduk wilayah sini, apakah engkau sedang mengembara

sebagai seorang pendekar…?”

Hoa In-liong sangat terperanjat, terutama setelah mendengar kata-kata yang terakhir, kesadaran

yang sudah mulai terbuai oleh kecantikan wajah nona itu serta merta menjadi sadar kembali,

cepat sahutnya, “Cayhe berasal dari wilayah Cing-pak, kebetulan aku lewat di wilayah Kang-ouw

karena bermaksud untuk berpesiar ke wilayah Kang-lam, sungguh tak disangka telah berjumpa

dengan nona, inilah yang dinamakan apa mau dikata kalau sudah berjodoh, tak kenalpun

akhirnya harus bertemu”

Sekalipun jawabannya sudah lebih waspada dan hati-hati, toh sifat romantisnya tak ketinggalan

sehingga tanpa disadari terutarakan juga dibalik kata-kata itu.

Sekilas rasa kaget dan tercengang menghiasi wajah Cia-In setelah mendengar ucapan itu, tapihanya

sebentar saja sikap itu telah lenyap kembali, katanya kemudian sambil tertawa getir, “Aku

yang rendah numpang tinggal dikota Kim-leng, baru saja kami pulang diri sembahyang di bukit

Go-bi. Kongcu Bila kau bermaksud untuk berpesiar ke selatan, kita bisa melakukan perjalanan

bersama-sama, bila tidak menampik akupun bisa untuk menjadi petunjuk jalan bagi kongcu”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

118

Sementara itu Hoa In-liong sudah dapat menguasai diri, kewaspadaannya makin dipertingkat, tak

kuasa lagi iapun berpikir, “Entah nona ini perawan dari keluarga mana? Dan siapa dia yang

sebenarnya? Kalau toh naik ke bukit Go-bi untuk sembahyangan kenapa tak ada laki-laki yang

mengiringi? Ia bilang numpang tinggal dikota Kim-leng, lalu di manakah asal tempat tinggal yang

sebenarnya?”

Sebelum pelbagai persoalan itu dapat dipecahkan, In-ji si dayang itu sudah memenuhi cawannya

kembali dengan arak. kemudian berkata sambil tertawa, “Kongcu- ya, hayo minum arak Kalau

toh kita sudah berjodoh dan ditakdirkan bertemu apa salahnya kalau melanjutkan perjalanan

bersama-sama, siapa tahu jodoh ini makin lama semakin dalam? Kalau sikapmu masih sangsi

terus, bukankah itu berarti memandang asing diri kami? Hari-hari esok masih panjang…”

Setelah mendengar perkataan itu, meski rasa curiga mencekam perasaannya dan d iapun merasa

bahwa tingkah laku dia orang itu terlampau aneh, toh anak muda ini tak berhasrat untuk

memikirkan lebih jauh.

Dia lantas mengangkat cawan arak sendiri dan berkata sambil tertawa nyaring, “Benar

Ucapanmu memang benar Kalau masih sangsi dan bertindak tanduk kaku. itu namanya

memandang asing. Nona Cia, kuhormati engkau dengan secawan arak” sekali teguk. Ia

menghabiskan isi cawannya.

Pemuda ini memang berlapang dada, kebiasaannya yang romantispun serta merta diperlihatkan

dengan nyata, maka cawan demi cawan air kata-katapun mengalir masuk ke dalam perutnya,

pembicaraan berlangsung dari barat sampai ke timur bahkan ia mulai main mata dengan Cia In,

saling mengerling saling menggoda dengan bebasnya.

Yang lebih hebat lagi, akhirnya yang satu memanggil “engkoh Khi” sedang yang lain menyebut

“enci In”, seakan-akan mereka merasa kecewa mengapa tidak berjumpa sejak dulu kata, saking

terbuainya kedua orang itu sampai lupa waktu.

Entah sampai kapan senda gurau itu berlangsung, akhirnya Cia In tak kuat menahan

pengaruhnya alkohol, dengan sempoyongan ia bangkit berdiri seraya berkata, “Engkoh Khi,

besok pagi pagi aku harus melanjutkan perjalanan lagi, maafkanlah daku, aku tak dapat

menemani kau minum lagi”

Sepasang lengannya diluruskan ke depan dan tubuhnya roboh kemuka, persis jatuh dihadapan

tubuh Hoa In-liong.

Cepat sianak muda bertindak dengan merangkul pinggangnya erat-erat, serunya pula, “Benar

Benar Waktu dihari esok, masih banyak, kita memang harus pergi beristirahat.”

Begitulah sambil berpeluk pelukan dengan dipimpin dayang In-ji mereka kembali kedalam kamar

meski dengan langkah sempoyongan.

Waktu itu Cia In entah benar-benar sudah mabok atau hanya berlagak belaka, sekalipun sudah

berada dalam kamar, ia masih memeluk tubuh Hoa In-liong kencang-kencang.

Hoa In-Iiong sendiri walaupun belum mabok. dasar suka main perempuan tentu saja ia segan

untuk melepaskan rangkulannya dari tubuh sang nona yang lembut, halus harum baunya itu.

In-ji si dayang itu lebih hebat lagi, ternyata ia segera menutup pintu, memasang lentera dan

dengan senyum dikulum ia mengawasi atraksi yang hot dihadapannya itu dengan mata melotot

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

119

besar, seakan-akan ia sedang menikmati suatu pertunjukan indah yang amat mempersonakan

hatinya.

Selang sesaat kemudian, terdengar Cia In mengeluh lirih kemudian telapak tangannya pelahanlahan

bergeser ke bawah, mula-mula meraba lengan Hoa In-liong yang keras, lalu dadanya yang

bidang dan akhirnya turun kearah pinggangnya,……

Mendadak… telapak tangannya itu secepat kilat meraba punggungnya, dengan jari tangan yang

ditekuk seperti kaitan ia totok jalan darah Leng tay-hiat ditubuh anak muda itu.

Hoa In-liong masih belum merasa akan tibanya ancaman yang membahayakan jiwanya itu, bila

totokan tersebut bersarang telak, niscaya anak muda itu akan tewas atau paling sedikit terluka

parah. Untunglah disaat yang kritis, tiba-tiba pintu kamar, ditendang orang sampai lebar

“Blaaaaang……..!” menyusul munculnya seseorang berdiri didepan pintu sambil bertolak

pinggang.

“Bagus! Bagus!” teriak orang itu dengan marah “kiranya engkau si perempuan anjing pandai

berpura-pura suci, tak tahunya engkaupun suka bermain main dengan laki-laki. Hmm! Aku orang

she-Ciu ingin bertanya kepadamu, bagian yang manakah dari kongcu mu yang tak dapat

memadahi bocah keparat tersebut? “

Bentakan tersebut seketika mengejutkan dua orang muda-mudi yang sedang bermesraan itu

sehingga tersadar kembali.

Hoa In-liong memutar badannya menghadang di depan Cia In, kemudian bertanya dengan

tercengang, “Engkau she-Ciu?”

“Kongcumu bernama Ciu Hoa, jalan tidak berganti marga, duduk tidak berganti nama, bila

engkau tahu diri, cepat, menyingkir ke samping situ, kongcumu bukan datang untuk mencari

gara-gara dengan engkau!” teriak orang itu marah-marah.

Hoa In-liong semakin tertegun dan mengawasi orang itu tanpa berkedip, tapi makin dilihat

semakin tak percaya dengan telinga sendiri. makin dipandang ia semakin merasa bahwa orang

yang berada dihadapannya sekarang bukan Ciu Hoa.

Tapi….. mengapa ia mengaku dirinya sebagai Ciu Hoa? Kalau toh dia benar Ciu Hoa, mengapa

tampang wajahnya dapat berubah? Untuk sesaat ia jadi tertegun dan tak tahu apa yang mesti

dilakukan, pelbagai kecurigaan berkecamuk dalam benaknya.

Berbicara tentang dandanan, pakaian serta senjatanya, orang yang mengaku bernama “Ciu Hoa”

ini mempunyai kemiripan dengan Ciu Hoa yang dijumpainya dikota Lok-yang, bahkan usia

merekapun sebaya, hanya raut Wajahnya berbeda, watak dan tingkah lakunyapun tak sama,

jelas mereka bukan seorang manusia yang sama.

000000O000000

TANPA terasa Hoa In-liong lantas berpikir, “Orang ini beralis panjang bermata sipit, hidung lebar

dan mulut besar, tampangnya model kuda berwarna hijau menyeramkan, sinar matanya cabul,

kelopak matanya lebih banyak putih daripada hitamnya, jelas dia adalah seorang manusia yang

keji dan lagi cabul, jelas dia bukan Ciu Hoa yang kujumpainya dikota Lok-yang. Tapi…. sekali pun

nama bisa sama. masa dandanan, senjata sampai anak buah yang mengiringi pun mempunyai

corak yang tak berbeda? Sungguh aneh…”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

120

Sementara itu dengan langkah yang gemulai Cia In sudah maju kedepan, ia berdiri dekat sekali

dengan Hoa In-liong, setelah membereskan rambutnya yang terurai kebawah, sapanya sambil

tertawa genit.

“Kongcu, kita tak pernah bertemu yaa?”

Cia In adalah seorang nona yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, setiap tingkah laku

dan gerak geriknya gampang menimbulkan rangsangan bagi yang memandang, maka kendati

“Ciu Hoa” itu datang marah-marah, tetapi setelah menyaksikan senyum manisnya yang menawan

hati padamlah hawa amarahnya itu, semua rasa mendongkol dan khekinya mendadak seperti

tersumbat didalam dada, sukar untuk dilampiaskan keluar lagi….

Setelah tertegun sesaat, tiba-tiba ia berteriak lagi, “Tidak pernah bertemu? Hmmnn Kongcu mu

dari keresidenan Han-sian telah mengejar sampai kekota Keng-bun, hari yang manakah aku tak

pernah berjumpa denganmu?”

“Aduuh mak, kalau begitu bukankah kita suiah pernah berjumpa enam sampai tujuh kali?” seru

Cia In sambil melirik genit.

Kemudian sambil berpaling kearah In-ji,serunya pula, “Eeeh…. In-ji, pernahkah engkau berjumpa

dengan kongcu ini?”

In-ji cekikikan.

“Setiap hari sebelum kentongan keempat kita sudah berangkat, sebelum senja menjelang kita

sudah beristirahat kapan bertemu dengan kongcu ini

“Aaai……” Cia In menghela napas panjang, seperti lagi menggerutu, ia bergumam sendiri:

“Memang begitulah penyakit yang kuderita semenjak kecil, aaai, penyakit itu membuat aku jadi

sengsara, kalau tidak demikian, kami tak akan berani menimbulkan kemarahan dari Ciu kongcu”

Setelah terhenti sebentar, ia mengerling sekejap kearah “Ciu Hoa” itu dengan genit, lalu

melanjutkan kata-katanya, “Ciu kongcu, kau tidak tahu, aku mempunyai penyakit aneh yakni

penyakit takut melihat setan terutama sekali bila ditengah hari bolong tiba-tiba berjumpa dengan

setan jelek bermuka hijau bergigi taring…..Hiiiiih…!Niscaya selembar jiwaku akan kabur kembali

keakhirat. oleh karena itu…”

“Karena ita kalian berangkat setiap kentongan keempat, dan beristirahat sebelum, tiap hari selalu

berusaha untuk menghindari kongcu-ya mu……..?” sela Ciu Hoa dengan kemarahan yang masih

berkobar.

Sekalipun kemarahan masih membakar hatinya adapun merupakan teguran namun terdengar

jelas bahwa suaranya lebih lembut dan halus, ini menunjukkan bahwa gerak-gerik Ciu In yang

genit dan mempersonakan hari itu telah mendatangkan hasil yang mujur,

Tampaklah Ciu In mengedipkan matanya yang lentik, lalu mengirim sebuah kerlingan maut

kearah lawannya, satelah itu dengan sedih itu dengan sedih ia berkata, “Kongcu-ya, engkau

benar-benar menuduh orang hingga hatiku jadi penasaran. dengan keberanian apa-apa aku

berani menghindari diri kongcu? Aku hanya terbiasa berangkat pagi istirahat agak pagian saja,

dan kebiasaanku ini sedikit diluar dugaan kongcu, kalau toh selama ini kita tak pernah berjumpa,

hal ini bukanlah suatu kejadian yang disengaja….”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar