Selasa, 06 Oktober 2009

rahasia 12

Maka begitu berjumpa muka, Coa Wi-wi berseru, “Oooh…. kiranya kalian!”

Dengan langkah yang lemah gemulai tiga orang gadis itu maju kedepan. Setelah berada

dihadapan kedua orang muda-muda itu serentak mereka memberi hormat. “Apakah ji-kongcu

mengetahui asal-usul kami?” Dara baju kuning diantara tiga orang gadis itu mennyapa.

Sambil balas memberi hormat jawaban Hoa In-liong, “Jika dugaanku tidak keliru, kalian bertiga

semestinya adalah anak murid dari perkumpulan Cha-li-kau”

“Keliru!” tiba-tiba dara baju kuning itu gelengkan kepalanya, “Kami adalah murid perkumpulan

Cian-li-kau!”

Jawaban tersebut membuat Hoa In-liong terbelalak dengan mulut melongo, ia benar-benar

dibuat tertegun.

Kembali dara berbaju kuning itu tertawa cekikikan, kemudian katanya lebih jauh, “Namun dugaan

ji-kongcu juga tidak keliru se-bab perkumpulan Cian-li-kau bukan lain adalah berkumpulan Cha-likau.

Hanya namanya saja mengalami perubahan beberapa saat berselang”

Selesai berbicara, bersama dua orang gadis lainnya mereka tertawa cekikikan dengan santainya,

sama sekali tidak tampak rikuh.

Menyaksikan keadaan mereka, diam-diam Coa Wi-wi mengerutkan dahinya dan berpikir, “Apakah

anggota dari perkumpulan Cian-li-kau adalah manusia-manusia yang tidak pakai aturan dan

bergaul bebas seperti itu?”

Lain halnya dengan Hoa In-liong yang sudah pernah menyaiksikan keanehan mereka, sambil

tersenyum ujarnya, “Menurut apa yang kuketahui, nama dari perkumpulan kaliau itu berasal

mula dari kitab pusaka Cha-li-cin-keng, kenapa nama yang sudah baik diganti lagi?”

“Bukankah kau pernah mengatakan bahwa perkumpulan Cha-li-kau adalah suatu perkumpulan

sesat yang memikat orang dengan mengandalkan kecantikan perempuan? “ujar dara berbaju

kuning itu.

Mendengar perkataan itu, Hoa In-liong segera tertawa terbahak-bahak karena geli. “Haa….

haa…. haa…. Perkataan itu kuucapkan ketika lagi jengkel. Sungguh tak nyana kalau kaucu kalian

menanggapinya dengan serius”

Dara berbaju kuning itu kembali tertawa cekikikan. “Hiih…. hiih…. hiih…. Sekali lagi kau keliru

besar. Apa yang kau katakan kendatipun merupakan salah satu dari alasan kami, tapi yang

paling penting hal ini adalah merupakan saran dari sucou kami. Dia orang tua suka segala yang

berbau ketenangan. Tak mau lantaran nama “Cha-li” hingga menyebabkan ketenangan dan

kesuciannya terganggu. Selain daripada itu kaucu kamipun bermaksud demikian, maka atas

dasar pelbagai alasan itulah maka nama perkumpulan kami mengalami penggantian”

Hoa In-liong benar-benar dibikin serba salah, mau tertawa tak bisa mau menangis juga sungkan.

“Lantas bagaimana pula dengan maksud hati kaucu kalian?” tanyanya kemudian.

“Maksud kaucu kami, lebih baik nama perkumpulan itu dirubah dengan nama yang sekarang ini.

Hal tersebut mengingatkan beliau akan kisah cerita yang berjudul Cian-li-lei-hun (gadis ayu

kehila-ngan sukma). Pernah baca ceritanya tidak?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

464

Hoa ln Hong sebagai seorang pemuda romantis yang suka berganti pacar, tentu saja pernah

membaca cerita Cian-li-lei-hun tersebut. Bahkan sudah pernah membacanya beberapa kali, tentu

saja ia tahu akan isi cerita tersebut.

Maka sambil tersenyum ia manggut berulang kali, bahkan sengaja berseru tertahan sambil

berkata, “Oooh….kiranya begitu. Jadi perkumpulan kalian sudah dibuka secara resmi? Lantas

dimanakah markas besar dari perkumpulan kalian itu? Bagaimana pula organisasi itu tersusun?

Apa pula jabatan dari nona bertiga? Apakah aku boleh tahu semuanya?”

“Tentang soal itu tak bisa kukatakan” tiba-tiba si nona baju kuning itu berkata dengan serius,

“Sebab urusan menyangkut tentang rahasia perkumpulan. Bila kukatakan, niscaya kami akan

dijatuhi hukuman yang sangat berat. Karenanya maafkanlah kami, terpaksa kami musti

membungkam dalam seribu bahasa”

Menyaksikan sikap serius dan bersungguh-sungguh yang ditunjukkan nona itu, hingga tampaklah

jelas raut wajah kegadisan mereka yang sebenarnya, Coa Wi-wi tak bisa menahan rasa gelinya

lagi, dia tertawa cekikikan.

Mendengar suara tertawa itu, si nona baju kuning pun berpaling, tiba-tiba ia menyapa,

“Bukankah cici ini adalah adik perempuan dari Coa Cong-gi, Coa kongcu….?”

Coa Wi-wi tertegun. “Yaa, benar! Aku bernama Coa Wi-wi, adik da-ri Coa Cong-gi tapi darimana

kalian bisa tahu?” tegurnya.

Nona baju kuning itu segera tersenyum. “Terus terang kukatakan kepadamu, setiap orang yang

mempunyai hubungan dengan Hoa kongcu tak pernah lepas dari pengawasan kami. Semuanya

dapat kami ketahui dengan jelasnya”

Berbicara sampai disini diapun melemparkan sebuah kerlingan maut ke arah Hoa In-liong.

Kerlingan tersebut betul betul memiliki daya pikat yang mempesonakan hati siapapun jua,

jangankan manusia yang terdiri dari darah daging, manusia dari bajapun akan melumer.

Kurang senang Coa Wi-wi menyaksikan tindak-tanduk lawannya, keningnya berkerut kencang,

sementara dalam hati kecilnya menggerutu terus, “Silahkan…. Silahkan…. entah perempuanperempuan

ini perempuan genah atau perempuan nakal?. Kalau dibilang perempuan baik-baik,

kerlingan matanya aduhai, kalau dihilang perempuan nakal, lagaknya tampak alim”

Berbeda dengan Hoa In-liong, terhadap kerlingan tersebut boleh dibilang ia tak ambil perduli,

melirikpun tidak. “Perhatian dan bantuan dari perkumpulan kalian sangat mengharukan hatiku”

demikian ujarnya, “Aku hanya dapat mengucapkan terima kasih yang tak terkirakan besarnya.

Cuma…. bolehkah aku tahu, ada urusan apa hingga nona-nona sekalian menyusul aku sampai

disini?”

Mendapat pertanyaan itu, si nona baju kuning segera merogoh kedalam sakunya dan

mengeluarkan selembar kertas, lalu sambil diangsurkan ke muka katanya, “Apa yang hendak

kukatakan sudah tercantum semua diatas kertas itu, silahkan periksa sendiri”

Ketika Hoa In-liong menerima surat itu dan siap untuk dibacanya, tiba-tiba nona baju kuning itu

putar badan seraya ulapkan tangannya. “Ngo-moay, kiu-moay, ayoh kita pergi!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

465

Kemudian bagaikan burung-burung walet yang terbang di angkasa, mereka melayang ke udara

dan meluncur ke dalam hutan. Cepat, gesit dan lincah sekali gerakan tubuh ketiga nona itu

sudah lenyap dari pandangan.

Tindakan yang diambil ketiga orang gadis itu sungguh diluar dugaan Hoa In-liong maupun Coa

Wi-wi. Mereka tak menyangka kalau gadis-gadis itu akan segera pergi begitu mereka

mengatakan akan pergi, bahkan sepatah kata pun tak diucapkan. Untuk sesaat lamanya mereka

berdua hanya bisa berdiri melongo dengan muka tercengang.

Selang sesaat kemudian, Coa Wi-wi baru serentak bangun dari lamunannya. Dengan nada

tertegun dan keheranan ia bergumam sambil gelengkan kepalanya berulang kali, “Manusia

aneh…. benar-benar manusia aneh….”

Ia berpaling, ketika dilihatnya Hoa In-liong masih berdiri termangu, maka diapun berteriak, “Eeeh

Jiko…. Orangnya sudah pergi jauh, kenapa masih melamun terus? Coba kita periksa dulu apa isi

surat tersebut? Siapa tahu kalau kita akan menemukan kabar berita tentang Toako!”

“Oya….benar…. benar…. Memang benar….kata-katamu itu” seperti baru sadar, Hoa In-liong

manggut-manggut, “Kemarilah, hayo kita…. baca bersama isi surat ini.”

Coa Wi-wi melompat ke muka, mereka berdua segera alihkan sinar matanya ke atas surat

tersebut.

Dan terbacalah surat itu berbunyi demikian…., “Sinar iblis memancar sampai di Kiu-ciu. Semak

berduri banyak di depan sana. Kembali dan lapor kepada Thian-cu kiam, waspada terhadap

orang di depan mata”

Itulah selembar kertas kecil yang mungil dan tulisan yang indah. Hanya isi surat tersebut tanpa

diberi pembukaan maupun surat penutup. Hanya diujung paling bawah terlukis sebuah lukisan

perempuan cantik yang menunggal. Lukisan tersebut hanya tunggal ibaratnya ayam emas yang

berdiri di satu kaki. Meski huruf tulisannya amat minim tapi lukisannya hidup dan mempersona

hati.

Begitu selesai membaca beberapa huruf tulisan itu, kontan saja Coa Wi-wi menyumpah, “Sialan,

setan kepala gede. Berani betul menulis yang bukan-bukan, biar kurobek saja kertas sialan ini!”

Seraya berkata dia lantas merampas kertas surat itu dan siap dirobek-robek jadi berkeping.

“Eeeeh…. Tunggu sebentar!” Hoa In-liong bertindak cepat, pergelangan tangan gadis itu segera

dicekal.

“Kenapa?” teriak Coa Wi-wi penasaran, “Isi surat itu bukankah bermaksud agar engkau selalu

waspada terhadap diriku? Apa kau mempercayai perkataan mereka?”.

Hoa Ia liong gelengkan kepala berulang kali. “Aaaah…. Engkau banyak curiga, Bukan demikian

yang dimaksudkan isi surat tersebut. Arti yang tercakup dalam surat itu amat luas lagi pula

belum tentu engkau yang mereka maksudkan. Toh sampai sekarang aku masih belum

mempercayainya?”

“Sungguh?” tanya Coa Wi-wi dengan wajah tertegun.

Hoa In-liong tersenyum, “Tentu saja sungguh, kalau tidak percaya coba periksa lagi isi surat itu

kemudian camkan benar-benar”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

466

Dia menundukkan kepalanya dan sekali lagi membaca isi surat itu kemudian menganalisa

maksud yang sebenarnya. Selang sesaat kemudian, ia sudah angkat muka kembali, kemudian

ujarnya dengan wajah serius, “Jiko! Aku rasa situasinya kok makin lama semakin serius, apakah

kau juga merasakannya?”

“Apakah yang dimaksudkan adalah situasi di dalam dunia persilatan?” tanya Hoa In-liong.

Coa Wi-wi mengangguk dengan wajah sungguh-sungguh.

oooOOOooo

“YAAA, memang begitulah” sahutnya, “Kalau toh perkumpulan Cian-li-kau bukan suatu

perkumpulan kaum sesat dan lagi agaknya kedatangan mereka memang khusus untuk

menghantar surat pemberitahuan ini, maka semestinya mereka membawa suatu peringatan yang

mempunyanyai sangkut paut yang amat serius dengan kepentingan kita. Kalau tidak, bukankah

maksud dari isi surat itu jadi serba kacau, tidak sesuai dengan kenyataan dan sedikttpun tak ada

harganya?”

“Hmmmm! Memang masuk diakal “sahut Hoa In-liong kemudian sambil tersenyum, “Yaa….

terutama kata-kata yang mengatakan: ‘Sinar iblis memancar sampai di Kiu-ciu, semak berduri

banyak di depan sana.’ Dua kalimat tersebut bukan saja mengandung nada peringatan, bahkan

situasi dalam dunia persilatan dewasa inipun sudah mereka terang dengan sejelas jelasnya”

“Betul” sambung Coa Wi-wi, “Kalau pada kalimat pertama mereka terangkan bahwa bencana dan

hawa iblis sudah timbul dari empat penjuru dan seluruh dunia persilatan mulai tercekam, maka

pada kalimat yang kedua mereka terangkan bahwa pelajaran selanjutnya banyak rintangan dan

kesulitan dimana saja mara bahaya bisa datang mengancam. Sedang kalimat berikutnya, mereka

menganjurkan kepadamu agar pulang dulu kerumah dan melaporkan keadaan situasi dunia

kepada empek. Aku rasa dalam kalimat ini mereka bukan bermaksud memberi peringatan saja,

bahkan menganjurkan kepadamu agar dalam menghadapi masalah besar, setiap tindakan mesti

dilakukan dengan hati hati cermat dan waspada. Jangan sekali-kali bertindak dengan sembrono

ataupun menempuh marah bahaya”

“Apakah engkau berpendapat begitu?” tanya Hoa In-liong sambil tersenyum. Sinar terang

mencorong keluar dari sepasang matanya.

“Tentu saja. Kalau tidak, buat apa orang-orang Cian-li-kau menghantar surat itu kepadamu?”

“Haa…. haa…. haa…. Bukankah tadi kau bilang bahwa mereka suruh aku waspada terhadap

dirimu?”goda Hoa In-liong sambil tergelak.

“Aaah…. Bagaimana sih kamu ini! “omel Coa Wi-wi sambil berkerut kening, “Aku kan lagi

berbicara serius, tapi kau selalu berusaha untuk mengorek borokku. Memangnya aku musti

ngaku salah dan minta maaf dulu kepadamu?”

Melihat gadis itu cemberut Hoa In-liong jadi senang, apalagi dalam keadaan demikian nona itu

tampak lebih cantik dan menawan hati, tak tahan lagi dirangkulnya gadis itu dan serunya sambil

tertawa, “Perduli amat! Setibanya di mulut jembatan, perahu akan lurus dengan sendirinya,

kenapa kita musti risau dulu sejak sekarang?”

Coa Wi-wi meronta dengan sepenuh tenaga. Setelah lepas dari rangkulannya dia lantas

mencibirkan bibirnya yang kecil. “Coba lihat tampangmu itu “omelnya, “Tidak serius, tidak genah

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

467

dan sok mata keranjang. Kalau berani main gila lagi, awas! Lihat saja nanti, kuhajar dirimu atau

tidak”

Dalam hati kecilnya Hoa In-liong merasa geli, tapi diluaran jawabnya berulang kali, “Baik! Baik!

Aku tidak main gila lagi, aku tak akan mata keranjang, Nah, sekarang bicaralah yang serius!”

Dengan muka yang lebih lembut. Coa Wi-wi pun bertanya, “Mereka menganjurkan kepadamu

agar pulang dan melaporkan situasi ini kepada empek, apakah kau mau pulang?”

“Tidak! Aku tidak akan pulang!”

Mendengar jawaban dari si anak muda ini singkat tapi jelas, Coa Wi-wi malahan tertegun

dibuatnya.

“Kenapa? “tanyanya kemudian.

“Ayah paling mementingkan soal tugas. Kalau aku musti pulang kerumah dan melaporkan semua

kejadian ini, ibaratnya baru melihat angin lantas menduga bakal hujan. Waaah…. Bukan pujian

yang didapat, bisa jadi aku bakal dicaci maki habis-habisan”

“Kalau hendak dimaki biar saja dimaki. Kan lebih baik dicaci maki ayah sendiri daripada

menempuh bahaya deagan percuma”

“Jadi kau berharap aku dicaci maki oleh ayahku? tiba tiba Hoa In-liong balik bertanya sambil

tersenyum

“Aaaah…. kamu ini, kalau bicara yang betul sedikit. Siapa yang mengharapkan kau di caci maki?’

omel Coa Wi-wi dengan kening berkerut “Aku bisa berkata demikian karena mengingat bahwa

perkumpulan Cian-li-kau adalah suatu organisasi yang memiliki anggota yang sangat banyak.

Mereka bisa menyampaikan peringatan kepadamu dan menganjutkan kepadamu agar pulang

dulu dan melaporkan kejadian ini kepada ayahmu. Tentu saja semua masalah telah mereka

bahas. Semua situasi telah mereka teliti sebelum akhirnya memutuskan demikian. Aku yakin

anjuran tersebut bukan mereka ajukan tanpa disertai oleh alasan yaig kuat!”

“Apa yang mereka bahas?. Apa yang mereka analisa?” kata Hoa In-liong sambil tertawa, “Apakah

lantaran usiaku masih muda? Lantaran ilmu silatku masih terbatas dan tak becus untuk memikul

tanggung jawab yang sangat berat ini?”

Coa Wi-wi lantas menuding ujung hidungnya sambil mengomel, “Aaaah! Kamu ini! Sudah benar

diberi tahu, kamu hanya tahunya pingin cari menangnya sendiri!”

Meuggunakan kesempatan itu Hoa In-liong segera menangkap jari-jari tangannya yang lembut

dan halus, lalu katanya dengan wajah bersungguh-sungguh, “Bicara sesungguhnya adik Wi, aku

bukan ingin cari menangnya sendiri, tapi hal ini menyangkut soal semangat. Seseorang tak boleh

tidak memiliki semangat, bukan demikian?”

“Semangat?” Coa Wi-wi sedikit tertegun ketika dilihatnya pemuda itu bicara serius, “Jadi engkau

hendak memikul tanggung jawab yang maha berat ini, menyapu hawa siluman dan menegakkan

keadilan serta kebenaran dalam dunia persilatan?”

Hoa In-liong tersenyum. “Kalau dikatakan aku hendak memikul tanggung jawab yang maha berat

ini, maka ucapan tersebut terlampau latah, terlampau sombong dan tak tahu diri. Jelek jelek

begini aku masih tahu bekas kemampuan yang kumiliki. Maksudku, sekalipun cahaya iblis sudah

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

468

bermunculan dimana-mana, toh keadaan yang sebenarnya masih belum kita ketahui dengan

jelas. Maka kita musti selidiki lebih dulu keadaan situasi yang sebenarnya sebelum mengambil

sesuatu tindakan sebagai pence-gahnya”

“Kalau toh demikian, apa salahnya jika kita laporkan dulu keadaan tersebut kepada empek?

“tanya Coa Wi-wi sambil berkerut kening.

“Itulah yang dinamakan semangat, mengerti kamu?” sahut Hoa In-liong, “Ketika ayah mulai

berkelana tempo dulu, usianya jauh lebih muda dibandingkan aku. Ilmu silat yang dimiliki juga

lebih rendah dari aku. Tapi bagaimana hasilnya, dia orang tua toh masih mampu untuk

menanggulangi semua kesulitan. Semua kejadian besar serta semua hadangan yang merintangi

kariernya, akhirnya dia juga berhasil dengan sukses. Justru keadaan semacam inilah merupakan

kesempatan yang paling baik bagi diriku untuk melatih diri. Ibaratnya pisau yang tumpul,

sekaranglah waktunya untuk diasah agar menjadi tajam. Bila aku serahkan kembali tugas ini

kepada ayahku, lalu sampai kapan aku baru dapat membasmi hawa sesat dari muka bumi?

Sampai kapan aku baru bisa menciptakan ketenangan dan keadilan didalam persilatan?”

Ketika pemuda itu berbicara sampai disitu, Coa Wi-wi telah menggerakkan bibirnya seperti

hendak mengatakan sesuatu.

Melihat itu, dengan cepat Hoa In-liong menukas, “Adik Wi tak usah berbicara lagi. Pokoknya

jelek-jelek begini, Jiko masih terhitung seorang laki-laki sejati, seorang pria jantan yang tak jeri

menghadapi segala rintangan dan mara bahaya. Seorang-laki-laki yang masih mempunyai ambisi

untuk menciptakan suatu keberhasilan dalam karier. Andaikata aku penakut, seorang pengecut

dan tak berani menghadapi kenyataan, jangankan orang lain, mungkin engkau pun tak akan

memandang sebelah mata kepadaku”.

Coa Wi-wi berpikir sebentar, akhirnya dengan sedih ia berkata, “Baiklah! terserah padamu.

Pokoknya aku tak akan meninggalkan dirimu lagi!”

Belum habis ia berkata, Hoa In-liong sudah memeluk pinggangnya dan berseru dengan penuh

kegembiraan, “Bagus…. Horee…. Asal kau membantu aku, sekalipun ada kejadian yang lebih

mengerikan Aku juga tak akan takut!”

Kali ini pelukan itu dilakukan dengan muka berhadapan dengan muka, dada dan perut masingmasing

saling menempel satu sama lainnya. Coa Wi-wi bukan saja tidak meronta, dia malah

balas memeluk anak muda itu, kemudian sambil mengangkat dagu Hoa In-liong keatas katanya

lembut, “Tapi kau musti menurut perkataanku! Aku tak akan mengijinkan engkau berbuat

gegabah, tidak acuh terhadap segala urusan. Misalnya saja sebelum racun ular sakti yang

mengeram dalam tubuhmu punah, kau dilarang bertarung dengan siapapun. Kemudian….

kemudian…. ucapan dari perkumpulan Cian-li-kau juga harus dituruti. Siapa tahu kalau diantara

sobat karibmu atau teman perempuanmu ada yang hendak mencelakai dirimu. Daripada terlanjur

kena dicelakai, kan lebih baik sedia payung sebelum hujan, bukan begitu?”

Waktu mengucapkan kata-kata tersebut, gadis itu berbicara dengan serius. Hoa In-liong hanya

merasakan biji matanya yang jeli berkedip penuh tantangan. Makin dilihat makin menawan hati,

akhirnya ia tak dapat mengendalikan perasaannya lagi, diciumnya pipi kanannya dengan mesra.

“Tentu saja, sekalipun tidak kau katakan, aku juga bisa bertindak lebih hati-hati” katanya.

Coa Wi-wi mencibirkan bibirnya yang kecil dan memukul bahu anak muda itu dengan gemas.

“Aaaah…. benci!” serunya manja, “Hayo turunkan aku, kita musti segera mencari Toako”

“Jangan keburu napsu, biar kucium lagi pipimu yang lain!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

469

Habis berkata betul juga, dia lantas mencium pula pipi kiri Coa Wi-wi dengan mesra.

Tentu saja Coa Wi-wi dibikin tersipu-sipu, ia memukuli bahu pemuda itu dengan manja, dan

serunya berulang kali, “Benci….! Benci….! Benci….!”

Hoa In-liong terbahak bahak, sambil turunkan Coa Wi-wi dari pelukannya ia berkata, “Adik Wi,

tahukah engkau bahwa kau itu cantik?”

Coa Wi-wi mengerling sekejap kearah dengan gemas, lalu sahutnya manja, “Masih ngoceh terus?

Kau ini paling tengik, tahunya cuma menggoda orang saja”

“Siapa yang menggoda kau? Aku berbicara yang sesungguhnya. Kau memang benar-benar

cantik, jauh lebih cantik dibandingkan dengan Kiu-im Kaucu”

“Berani bicara lagi? Sekali lagi berbicara, aku akan benar-benar menghajar dirimu!” ancam si

nona sambil ayun tangan kanannya.

Jilid 24

DITENGAH keheningan malam hanya cahaya bintang yang menerangi seluruh jagad,

pemandangan yang tertera disitu benar-benar merupakan suatu pemandangan yang sangat

indah.

Menyaksikan kesemuanya itu, Hoa In-liong bergirang dihati. Walaupun demikian ia tak mau

kehilangan martabatnya sebagai seorang laki-laki sopan. Ia tahu mana yang boleh dilakukan dan

mana yang tak boleh dilakukan.

Atau dengan perkataan lain, pada saat itu dia tidak mempunyai pikiran lain. Tindakannya

memeluk dan mencium mesra gadis itu dilakukan karena spontan dan tindakan spontan tersebut

tak jauh bedanya dengan kasih sayang seorang kakak yang lebih tua terhadap adik

perempuannya yang cantik dan menawan hati.

Sebab itulah sesudah mendengar perkataan ilu dengan wajah berseri sahutnya, “Baik…. Baiklah,

aku tidak akan berkata lagi…. aku tidak akan berkata lagi! Bicara sesungguhnya, kita memang

seharusnya mulai memikirkan kemana perginya Toako”

Caranya mengalihkan pokok pembicaraan benar benar amat sempurna, bukan saja lembut dan

wajar, malahan sama sekali tidak meninggalkan bekas apa-apa.

Coa Wi wi malah dibikin tertegun. “Memikirkannya….” ia bergumam.

“Yaa, kita harus mulai memikirkan” lanjut Hoa In-liong, “Coba lihatlah bekas bekas telapak kaki

ditanah semuanya menunjukkan bahwa ketiga orang nona dari Cian-li-kau sudah pernah

menampakkan diri disini dan mengetahui juga kalau Toako sudah berlalu agak lama dari sini.

Tapi mereka tak tahu bagaimana keselamatannya dan kemana ia telah pergi, sebab itulah kita

harus memikirkannya secara baik-baik”.

“Masa dengan kemunculan orang-orang Cian-li-kau disini sudah cukup membuktikan kalau Toako

betul-betul meninggalkan tempat ini?” Coa Wi-wi bertanya lagi dengan perasaan tak habis

mengerti.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

470

“Yaa, kaucu dari Cian-li-kau mempunyai hubungan yang sangat akrab dengan ayahku. Kalau toh

anak buahnya bisa mengejar Wan Ek-hong disekitar tempat ini, hal tersebut membuktikan kalau

mereka sudah agak lama tiba disini. Seandainya mereka telah bertemu dengan Toako atau Kiuim

kaucu, masa tadi tidak mereka singgung-singgung?”

“Aku kan hanya menduga saja kalau Wan Ek-hong telah dikejar-kejar oleh ketiga orang nona dari

Cian-li-kau, masa kau gunakannya sebagai suatu dasar untuk analisa?”

Hoa In-liong tersenyum, “Aku tahu, akupun hanya menduga saja. Cuma dugaanku ada dasardasarnya

yang kuat”

“Oya….? Lantas dasar apakah yang kau pakai” mencorong sinar tajam dari sepasang mata Coa

Wi-wi.

“Tujuan dari perkumpulan Cian-li-kau!”.

“Apakah tujuan mereka? “desak gadis itu lebih lanjut.

“Kalau dibicarakan kembali sebetulnya amat panjang, tapi kalau kau ingin tahu, maka biarlah aku

bercerita mulai depan saja”

“Yaa, kau musti bicara sejujurnya, sebab lain kali aku toh musti membantu kau, maka aku harus

mengetahui sedikit banyak tentang latar belakang perkumpulan Cian-li-kau”

Setelah pembicaraan dibuka, mau tak mau Hoa In-liong harus berbicara sejujurnya. Setelah

berpikir sebentar, maka diputuskan untuk mengatakan hal-hal yang penting saja.

Secara ringkas diapun menceritakan semua pembicaraan yang pernah berlangsung antara Pui-

Che-giok dengan murid-muridnya, serta pembicaraan Pui Che-giok dengan Giok-teng hujin.

Di balik kisah tersebut, sudah tentu dia harus menerangkan juga semua hubungan yang

diketahui olehnya. Diapun menyinggung juga tentang diri Giok-teng hujin yang sudah menjadi

seorang Tookoh dengan julukan Tiang-heng.

Coa Wi-wi mendengar penuturan tersebut dengan seksama, selesai itu dia menghembuskan

napas panjang, katanya dengan gegetun, “Sungguh tak kusangka….benar-benar tak kusangka….

kiranya kaucu ini diam-diam mencintai juga diri empek, maka dibentuknya perkumpulan Cian-likau

untuk mendukungnya. Aaaia…. cinta yang murni dan sedalam ini benar-benar jarang ditemui

didunia ini”

Hoa In-liong lebih tersentuh, dia menghela napas panjang. “Yang jarang ditemui ini justru Tiangheng

cianpwe itu” katanya, “Terhadap ayahku bukan saja ia menaruh rasa cinta yang mendalam,

bahkan ia sangat memahami watak serta tindak tanduk ayahku. Ia rela dirinya yang tersiksa, rela

dirinya menderita. Tapi ia tak rela membiarkan ayahku merasakan pahit getirnya. Lain kali…. Aku

pasti akan berusaha dengan segala kemampuan untuk memapak orang tua itu pulang Im Tiongsan”.

“Yaa benar” sambung Coa Wi-wi pula dengan bersemangat, “Kalau dibilang bercinta dapat

mempunyai rasul, maka Tiang-heng cianpwe lah yang paling cocok dengan kedudukan tersebut.

Jiko! lain kali kita harus mencarinya bersama-sama, mau bukan?”

Setelah pembicaraan berlangsung sampai disitu perasaan kedua orang itupun mengalami banyak

perubahan, sampai-sampai tujuan mereka yang semulapun terlupakan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

471

Padahal, membicarakan cita-cita dan tujuan perkumpulan Cian-li-kau dalam keadaan semacam

ini hanyalah suatu perbuatan yang tak ada gunanya.

Tiba-tiba ditengah keheningan yang mencekam kegelapan malam, dari sisi hutan itu

berkumandang suara helaan napas yang rendah dan lirih.

Demikian rendah dan lirihnya helaan napas tersebut hingga boleh dibilang sukar diketahui.

Namun dalam pendengaran Hoa In-liong serta Coa Wi-wi yang merupakan jago tangguh dalam

dunia persilatan, suara tersebut dapat didengar dengan amat jelasnya.

Tak heran kalau mereka berdua jadi tertegun sesudah mendengar suara helaan napas itu mereka

berusaha pasang telinga untuk mencari sumber suara itu, namun tiada suara apa-apa lagi yang

kedengaran.

Lama kelamaan Hoa In-liong tak dapat mengendalikan perasaannya lagi, dia lantas berseru

dengan lantang, “Jago silat dari manakah yang telah berkunjung kemari? Kenapa tidak

munculkan diri untuk bertemu?”

Tiada jawaban yang terdengar Hoa In-liong mengulangi kata katanya sekali lagi, nanum tiada

jawaban juga.

“Mari kita geledah sekitar tempat ini!” bisik Coa Wi-wi kemudian.

“Tak usah digeledah!” tiba-tiba dari balik hutan berkumandang suara jawaban yang cukup

nyaring, “Nak, sebetulnya aku tak ingin mengganggu

kalian, orang yang sedang kalian cari sekarang berada di….”

“Eeeh…. Bukankah engkau adalah Ku locianpwe?” sebelum ucapan itu selesai, Hoa In-liong telah

bersorak kegirangan, “Boanpwe ingin sekali bertemu dengan kau!”

“Aaaai…. Engkau si bocah cilik” kata orang itu sambil hela napas. “Sebetulnya pinto tak ingin

membuat kalian tahu akan kehadiranku. Sungguh tak nyana daya ingatanmu bagus sekali.

Yaah…. setelah tebakanmu jitu, akupun tak akau mengelabuhi engkau lagi. Pinto memang Tiangheng

adanya….!”

Begitu mengetahui kalau orang itu adalah Tiang-heng atau Giok-teng hujin, cepat-cepai Coa Wiwi

berseru, “Bagus sekali! Baru saja kami membicarakan tentang dirimu! Apakah kau orang tua

mengijinkan kami untuk menyambangi dirimu?”

“Tak usah!” tampik Tiang heng Tookoh “Ketahuilah nak, pinto adalah seorang pendeta yang

telah melepaskan diri dari urusan. Apa gunanya kita berjumpa? Lebih baik selesaikan urusan

kalian lebih dulu….!”

“Aku sudah berpikir sampai ke situ” ujar Coa Wi-wi manja, “Dan aku percaya urusan yang

sesungguhnya telah kau selesaikan untuk kami, maka aku tetap berharap untuk berjumpa

denganmu!”

Sewaktu mengucapkan kata-kata itu, bukan saja nada suaranya sangat menawan hati, rasa

kagum dan hormatnya tercermin amat jelas.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

472

Ini membuat Tiang-heng Tookoh memuji tiada hentinya. “Oooh…. Anak cerdik…. Anak pintar,

siapa namamu?”

“Aku bernama Coa Wi-wi, ibu memanggil aku Wi-ji, kau juga boleh panggil anak Wi kepadaku!”

buru-buru gadis itu menyahut.

“Pinto akau mengingatnya selalu lain waktu kita boleh berjumpa lagi!”

“Tidak! Tidak! Aku sangat ingin bertemu denganmu. Sekarang aku ingin sekali bertemu

denganmu” teriak Coa Wi-wi dengan gelisah, “Cianpwe, kenapa kau tidak ijinkan diriku untuk

menyambangimu?”

“Aaaai…. Pinto kan sudah berkata bahwa aku tak lebih cuma seorang Pendeta. Tak ada gunanya

kita saling bertemu muka. Apalagi pujianmu tadi juga keliru besar, pinto menjadi pendeta

lantaran harus menahan rasa benci. Mana cocok menjadi Cing-seng Rasul cinta seperti yang kau

maksudkan?”

Dalam waktu singkat Coa Wi-wi yang menguasai semua pembicaraan, sepatah demi sepatah ia

mendesak dan memohon terus kepada Tiang-heng Tookoh agar diijinkan untuk bertemu muka

dengannya.

Hoa In-liong yang tidak sempat ikut menimbrung, terpaksa hanya bisa pusatkan perhatiannya

untuk menangkap sumber dari suara tersebut.

Apa mau dikata rupanya Tiang-heng Tookoh tidak berharap untuk berjumpa muka dengan

mereka. Sumber suara itu terkandang muncul dari arah timur, sebentar beralih kebarat, seakanakan

orang yang berbicara itu berpindah-pindah tempat.

Maka setelah didengarnya sesaat ia berhasil juga menemukan asal suara yang sebenarnya.

Pemuda itupun berubah rencana, dia menukas dari samping, “Engkau pantas untuk mendapat

julukan itu locianpwe. Terus terang katakan bahwa apa yang engkau bicarakan dengan Pui Chegiok

cianpwe malam itu telah kudengar semua. Apa yang terjadi ketika itu juga kusaksikan

semua. Kalau toh di dunia ini ada Bun-seng (Rasul Sastra), ada Bu-seng (Rasul Silat) maka

engkau orang tua adalah Ciang-seng (Rasul Cinta). Sesungguhnya aku tidak mengetahui banyak

akan dirimu, tapi malam itu aku telah menangis karena terharu”

Tiang-heng Tookoh menghela napas sedih. “Aaaai….! Tampaknya engkau juga seorang pemuda

yang romantis, engkau bernama Hoa Yang nak?”

“Yaa benar, boanpwe Hoa Yang alias In-liong. Semua angkatan tua menyebutku sabagai Liong-ji”

sahut Hoa In-liong dengan hormat. “Berbicara sesungguhnya boanpwe pantas memanggil I-ih

(bibi) kepadamu. Locianpwe. Bolehkah kusebut kau dengan panggilan itu? Dan kau tentu

bersedia memanggil Liong-ji kepadaku bukan?”

Ketika mengucapkan kata-kata tersebut suaranya penuh bernada kasih sayang. Selain rasa

kagum dan hormat yang bersungguh-sungguh, membuat siapapun yang mendengar dapat ikut

merasakan bahwa ucapan tersebut benar-benar diucapkan dengan hati yang tulus.

Rupanya Tiang-heng Tookoh dibuat terharu oleh perkataan itu, ia menghela napas panjang,

“Pinto bukan seorang yang manja. Apabila delapan atau sepuluh tahun berselang kau sebut aku

dengan panggilan I-ih atau Kokoh, belum tentu pinto akan merasa puas! Tapi sekarang, pinto

hanya seorang pendeta, sebutan sebutan bagi orang awam itu sudah terlampau asing bagi

diriku”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

473

Mendengar sampai disitu, mendadak satu ingatan melintas dalam benak Coa Wi-wi, pikirnya,

“Yaaa benar! Kenapa tidak kumanfaatkan kesempatan yang sangat baik ini untuk menemukan

tempat persembunyiannya? Bila kuberhasil temukan tempat persembunyiannya, sekalipun dia tak

ingin berjumpa dengan akupun tak bisa. Hmmm…. suatu ide yang sangat bagus, aku harus

segera melaksanakannya”

Begitu ingatan tersebut melintas dalam benaknya, ia segera melaksanakannya tanpa

memberitahukan hal itu kepada Hoa In-liong lagi. Diam-diam ia menyelinap ke dalam hutan dan

lenyap di-balik kegelapan.

Hoa In-liong sendiripun segera mengimbangi tindakan dara itu, katanya kemudian, “Bibi Ku, apa

asingnya dalam soal panggilan? Sekalipun dia seorang Pendeta toh ia masih mempunyai sanak

keluarga? Bibi Ku, sudikah kau panggil aku dengan sebutan Liong-ji? Tahukah kau, semenjak

bertemu dengan kau malam itu, andaikata tiada kejadian diluar dugaan yang menghalangiku,

semenjak dulu Liong-ji sudah pergi mencarimu”

Panggilan itu adalah suatu panggilan yang tulus tentu saja Tiang-heng Tookoh dapat

menangkapnya, karena itu sesudah termenung sebentar ia menghela napas sedih. “Nak, sejak

dulu sampai sekarang banyak bercinta hanya meninggalkan kebencian, perasaanmu terlalu

sensitif….”

“Kelirukah aku? Bibi Ku, apakah Liong-ji tak pantas menaruh perasaan hormat dan sayang

kepadamu?”

“Pinto tak bisa mengatakan kalau pandanganmu keliru. Tapi akupun tidak setuju dengan caramu

berpikir. Ingatkah engkau dengan dua bait syair kono yang berbunyi demikian? Bila Thian punya

perasaan Thian akan ikut tua, Bila rembulan tiada rasa benci rembulan akan selalu purnama?

Nak, perasaanmu terlalu kaya dan sensitif, lain waktu banyak penderitaan yang bakal kau

rasakan….”

“Liong-ji tidak percaya” bantah Hoa In-liong, “Burung belibis selalu sepasang. Burung manyar

terbang berombongan. Burung dan binatangpun masih mempunyai perasaan apalagi manusia?

Bila manusia tak berperasaan bukankah sama halnya dengan makhluk berdarah dingin?”

“Aaaai…. Pengalaman hidupmu belum banyak, jalan pikiranmu terlampau polos. Ketahuilah

perubahan yang dialami manusia hidup itu tak terhitung banyaknya. Banyak kesulitan yang tak

bisa diatasi dengan kekuatan manusia, bahkan kadangkala sampai waktunya kasih sayang Thian

juga tak dapat mengatasi kebencian yang tertanam ditaati. Waktu itulah engkau baru akan tahu

bahwa manusia dan binatang tak dapat dibanding-bandingkan!”

“Apakah Bibi Ku maksudkan ayahku? “tanya Hoa In-liong.

“Ibumu juga sama saja, ketika ia jatuh cinta kepada ayahmu, mereka juga mengalami pelbagai

siksaan dan penderitaan, bahkan sampai nyawa sendiripun tidak….”

Sebelum kata-kata itu diucapkan sampai selesai Hoa-In-liong telah menyela dari samping, “Bibi

Ku keliru. Kedua orang tua Liong-ji saling cinta mencintai, saling hormat menghormati. Sekalipun

dimasa lalu harus mengalami banyak penderitaan, itu juga berharga!”

Begitulah mereka berdua segera terlibat dalam pembicaraan yang serius untuk memperdebatkan

perlukah seseorang berperasaan. Mereka tak ada yang tahu bahwa Coa Wi-wi sudah hilang.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

474

Hoa In-liong cerdik dan pandai berbicara, lagi pula reaksinya juga cekatan, makin berbicara ia

semakin berhasil membawa Tiang-heng Tookoh untuk masuk jebakan. Dalam gugupnya untuk

sesaat rahib perempuan itu tak mampu berkata-kata.

Ketika ditunggunya Tiang heng Tookoh belum juga bersuara, buru buru Hoa In-liong berkata

lagi, “Bibi Ku, engkau tak usah bersedih hati. Bicara sesungguhnya engkaupun tidak salah. Yang

salah adalah orang orang keluarga Hoa kami. Tidak seharusnya kami mengesampingkan bibi Ku

sehingga membuat engkau harus memendam cinta menahan benci dan menjadi seorang rahib.

Dulu Liong-ji tidak mengetahui akan hal ini, tapi sekarang setelah mengetahuinya Liong-ji tak

dapat berpeluk tangan belaka. Bibi Ku, bolehkah Liong-ji bertemu muka denganmu?”

Tiang-heng Tookoh menghela napas panjang. “Aaaai….kau sibocah cilik pandai benar bersilat

lidah, apakah engkau hendak menaklukan hati pinto?”

“Oooh…. tidak…. tidak demikian” buru-buru Hoa In-liong menyahut, “Bibi Ku, ibuku (Chin Wanhong

yang dimaksudkan) juga mengatakan bahwa

keluarga Hoa kami sangat berhutang budi kepadamu. Kalau tidak percaya, kau boleh tanyakan

soal ini kepada nenek. Bila Liong-ji mengucapkan sepatah kata bohong saja, kau boleh rangket

pantatku dengan sepuluh kali gebukan….!”

Mendengar perkataan itu, Tiang-heng Tookoh tertawa geli. “Aaah…. kamu si bocah cilik….

Aaaai…. pinto merasa tak mampu menangkan pembicaraanmu. Aku tak mau tertipu oleh siasat

busukmu lagi….”

Setelah berhenti sebentar dia alihkan pokok pembicaraan ke soal lain, ujarnya lagi dengan wajah

bersungguh-sungguh, “Dengarkanlah Liong-ji, kakakmu sudah ditotok jalan darahnya oleh

seorang manusia berkerundung. Sekarang oleh orang-orang dari Cian-li-kau mudah dikirimi ke

Kim-leng. Cara manusia berkerundung itu melancarkan totokannya istimewa sekali. Pinto tak

sanggup membebaskan totokan itu, maka ada baiknya cepat-cepatlah pergi kesana”

Begitu mendengar perkataan itu, Hoa In-liong merasa amat terkejut, lagi pula dari nada ucapan

tersebut ia tahu bahwa Tiang-heng Tookoh ada niat meninggalkan tempat itu.

Dalam begini salahnya, tanpa terasa lagi dia menukas, “Tunggu sebentar bibi Ku, Liong-ji ingin

bertemu denganmu!”

“Tidak bisa menunggu lagi, sebab kalau aku menunggu lebih lama lagi maka telinga pinto jadi

tidak berhasil lagi. Liong-ji harus penurut, segera berangkat ke Kim-leng dan bilamana perlu

hantarlah kakakmu ke perkampungan Liok-son-soat-ceng. Kau punya jodoh dengan diriku, lain

waktu kita pasti ada kesempatan untuk bertemu lagi, Nah, pinto berangkat lebih dulu….!”

Begitu kata-kata itu berakhir, terdengarlah suara ujung baju tersampok angin memecahkan

kesunyian.

Hoa In-liong merasa amat gelisah, segera teriaknya dengan suara lengking, “Bibi Ku! Bibi Ku!

Kau jangan pergi dulu, bagaimana keadaan yang sebenarnya? Kenapa tidak kau terangkan dulu

kepada Liong-ji hingga lebih jelas?”

Disaat yang kritis, akhirnya ia teringat kembali tentang kakaknya, bahkan dia hendak

menggunakan urusan Hoa Si untuk menahan Tiang-heng Tookoh beberapa saat lagi.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

475

Itulah hubungan persaudaraan yang amat erat juga merupakan kecerdikan dari Hoa In-liong.

Sayang Tiang-heng Tookoh tidak menjawab lagi, tampaknya ia sudah berlalu dari situ.

Dalam waktu yang amat singkat tadi, ia telah menggunakan segala daya upayanya untuk

berjumpa muka dengan Tiang-heng Tookoh. Bahkan ada niat untuk menaklukkan hati rahib

tersebut hingga apa yang diharapkan dapat tercapai. Siapa tahu Tiang-heng Tookoh dapat

menyelami perasaannya, bahkan begitu mengatakan akan pergi, saking cemasnya ia sampai

mendepak-depakkan kakinya ketanah. Meski tiada sesuatu apapun yang bisa dilakukan lagi.

Sementara ia sedang cemas sambil mendepakkan kakinya ketanah, tiba-tiba terdengar Coa Wi-wi

tertawa cekikikan. “Hiiiihh…. hiiihh…. hiiih…. Bibi Ku, sudah lama anak Wi menantikan dirimu.

Benarkah kau orang tua tidak sudi bertemu dengan kami….?”

Sementara Hoa In-liong tertegun, Tiang-heng Tookoh telah menjerit kaget lalu menghela napas

panjang. “Aaai….anak pintar. Otakmu memang luar biasa, bagaimana caramu menemukan

tempat persembunyianku?”

“Kepandaian cianpwe dalam merubah irama memancarkan suara memang luar biasa sekali” ucap

Coa Wi-wi dengan nakalnya, “Darimana anak Wi bisa menemukan tempat persembunyianmu?

Dewa lah yang mengatakan itu kepadaku. Bibi Ku, Jiko lagi gelisah, mari kita turun bersamasama!”

Setelah mendengar percakapan tersebut, Hoa In-liong baru sadar akan apa yang sebenarnya

telah terjadi. Dengan cepat dia menerjang ke arah hutan sebelah kiri, kemudian soraknya dengan

penuh kegembiraan, “Bibi Ku! Bibi Ku! Rupanya engkau masih belum meninggalkan tempat

ini….!”

Tiang-heng Tookoh memang belum pergi. Waktu itu dia masih bertengger diatas sebuah dahan

pohon diatas sebuah pohon yang tak jauh letaknya dalam hutan itu. Sementara Coa Wi-wi yang

berdiri ditengah hembusan angin berada tak jauh di belakang punggungnnya.

Jadi dua orang itu berada diatas sebuah dahan yang sana. Hanya Tiang-heng Tookoh sama

sekali tidak merasakan akan kehadiran si nona tersebut. Dari sini dapat diketahui bahwa ilmu

meringankan tubuh yang dimiliki Coa Wi-wi sudah mencapai pada puncak kesempurnaan.

Setelah Hoa In-liong tiba dibawah pohon Tiang-heng Tookoh pun sebentar memandang ke arah

Coa Wi-wi sebentar memandang pula kearah Hoa In-liong akhirnya dengan perasaan boleh buat

katanya, “Baik! Mari kita turun bersama. Setelah bertemu dengan dua orang bocah cerdik seperti

kalian, terpaksa pinto harus mengaku kalau…. Yaa, apa boleh buat?”

Berbicara simpai disitu, pelan pelan dia bangkit berdiri lalu melompat turun keatas tanah.

Coa Wi-wi ikut melompat pula kebawah, katanya dengan wajah berseri, “Anak Wi membohongi

dirimu. Bibi Ku, ilmu kepandaianmu memang betul-betul sangat lihay. Barusan andaikata engkau

tidak menjatuhkan selembar daun pohon karena kurang sengaja sehingga menimbulkan suara

yang mendesis, mungkin aku masih belum berhasil menemukan tempat persembunyianmu….”

Mendengar perkataan itu, tanpa terasa Tiang-heng Tookoh tersenyum, “Kau tak usah mengadaada

lagi, bagaimanapun juga toh persembunyian pinto sudah kalian temukan. Apa yang ingin

dibicarakan lebih baik katakan saja secara terus terang!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

476

Sementara itu Hoa In-liong sudah menyongsong kedepan, mendengar perkataan itu cepat

sembungnya, “Apa yang diucapkan bibi Ku memang benar. Silahkan duduk, mari kita bercakapcakap

disini saja”

Tiang-heng Tookoh memandang sekejap sekeliling tempat itu lalu mengangguk, maka diapun

mencari sebuah batu gunung didekat sana dan duduk.

Hoa In-liong serta Coa Wi-wi saling berpandangan sekejap lalu tertawa, mereka ikut mencari

batu dan duduk dihadapannya.

Waktu itu malam sudah semakin kelam, rembulan sudah menyinari jagad. Sinar yang kelabu

memancar masuk lewat celah-celah daun pohon yang rimbun, serta membiaskan beratus-ratus

titik perak yang membiaskan sinar redup.

Seorang Tookoh yang cantik dan bertubuh indah duduk bersila diatas sebuah batu cadas.

Dihadapannya duduk pula sepasang muda mudi yang tampan dan cantik jelita. Itulah suatu

pemandangan yang sangat indah, sangat menawan dan mempersonakan hati.

Mereka bertiga duduk saling bertatapan tanpa mengucapkan sepatah katapun. Selang sesaat

kemudian Tiang-heng Tookoh baru buka suara memecahkan keheningan yang mencekam

sekeliling tempat itu. “Anak bodoh buat apa kalian memaksa terus? Apakah cuma ingin

menyaksikan keadaan pinto ini?”

Hoa In-liong tidak menjawab, dia hanya menatap perempuan itu tak berkedip.

Sedangkan Coa-Wi-wi segera mengangguk seraya memuji, “Hmmm…. Cantik nian bibi Ku….”

Tiang-heng Tookoh tersenyum. “Pinto adalah seorang pendeta, dalam pandangan, orang yang

beribadat cantik atau jelek sama sekali tiada artinya”

“Aaaai….! Cantik atau jelek dapat saja dibandingkan!” bantah Coa-Wi-wi lagi dengan alis

berkeryit, “Sesungguhnya, kau memang benar-benar cantik jelita. Andaikata tidak mengenakan

jubah pendeta, Wi-ji percaya kecantikanmu tentu luar biasa. Bibi Ku, kenapa kau memilih jadi

seorang pendeta? Kenapa kau suka mangenakan jubah kependetaan yang longgar dan serba

kedodoran?”

Gadis itu adalah seorang yang belum dapat menyelami perasaan orang. Caranya berbicarapun

seenaknya sendiri dan tanpa dipikirkan dulu. Ia tak menyangka kalau pertanyaan yang diajukan

itu justru sudah menyentuh bagian yang paling menyedihkan bagi Tiang-heng Tookoh.

Sekejap kemudian, rahib perempuan itu merasakan hatinya jadi kecut, wajahpun ikut jadi

murung dan sedih.

Untunglah bagaimanapun juga dia adalah seorang perempuan yang berpengalaman dan pandai

menyusaikan diri dengan keadaan. Hanya sebentar ia merasa sedih kemudian pulih kembali

seperti sedia kala.

Ia menengadah lalu tersenyum. “Mungkin pinto akan membuat engkau merasa sangat kecewa!”

demikian katanya.

“Apakah bibi Ku tidak bersedia untuk mengucapkannnya keluar?” ia bertanya keheranan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

477

Tiang heng Tookoh segera tersenyum. “Pinto justru menjadi pendeta karena ingin menjadi

pendeta. Akupun mengenakan jubah pendeta ini karena senang memakainya. Nah, puas bukan

dengan jawaban ini?”

Mendengar jawaban tersebut, Coa Wi-wi tertegun dan berdiri terbelalak dengan mulut melongo.

Jawaban tersebut benar-benar berada diluar dugaannya.

Sayang jawaban yang ibaratnya menghindar yang berat memilih yang enteng ini tidak dapat

memuaskan Hoa In-liong yang cukup mengenal latar belakang penghidupan perempuan itu.

Dengan dahi berkerut Hoa In-liong yang cukup segera menukas, “Aaaah…. tidak benar!….”

Tiang-heng Tookoh berpaling lalu tertawa. “Kalau toh engkau sudah tahu tidak benar, buat apa

mesti banyak bertanya lagi?”katanya.

Mula-mula Hoa In-liong tertegun menyusul kemudian berkata, “Tapi…. Aku tahu bahwa perasaan

kau orang tua benar-benar amat tersiksa!”

Mendengar jawaban tersebut, diam-diam Tiang-heng Tookoh merasa terperanjat segera pikirnya,

“Dua orang ini sungguh amat cerdik. Mereka semua adalah manusia-manusia yang kaya akan

perasaan. Aku harus memangguhkan perasaan sendiri. Akupun harus mempergunakan akal

sehatku. Jangan lantaran godaan perasaan yang mereka lontarkan membuat aku bertepuk lutut.

Kalau sampai begitu habislah sudah karierku”

Setelah timbul kewaspadaan dalam hatinya, ia semakin hambar lagi dalam jawaban: ‘Bukankah

pinto banyak berbicara dan banyak tertawa? Malahan Wi-ji memuji pinto masih amat cantik!

Ketahuilah, pinto adalah seorang yang telah berusia empat puluh tahunan lebih, jauh lebih tua

daripada ibumu. Bila aku sangat menderita, bila batinku tersiksa, mana mungkin Wi-ji masih

memuji kecantikanku?”

“Yaa, tentu saja kau masih cantik karena kau sudah melatih ilmu Cha-li cinkeng yang bisa bikin

orang awet muda. Apa artinya seseorang yang baru berusia empat puluh, tahunan? Pada

dasarnya engkau memang seorang perempuan yang cantik jelita! Bibi Ku, buat apa kau

mengatakan kesemuanya itu? Tahukah kau bahwa engkau sendiri pun bersalah?”

Tiang-heng Tookoh tertawa. “Liong-ji, tak usah mengucapkan kata-kata yang sok mengagetkan

orang. Kau juga tak perlu berlagak sok pintar” tegurnya.

“Liong-ji sama sekali tidak sok pintar, apa yang Liong-ji katakan semuanya mempunyai dasar

fakta yang bna dipertanggung jawabku!” teriak Hoa In-liong agak emosi.

Dalam hati Tiang-heng Tookoh merasa terkejut, sementara diluar ia pura-pura tercengang.

“Ooooh…. Kalau begitu sungguh aneh sekali” katanya” katanya, “Benarkah batin pinto tersiksa?

Fakta apakah yang kau miliki?”

“Bibi Ku, apakah kau mengira bahwa apa yang kuketahui tidak banyak?” ujar Hoa In-liong sambil

berkerut dahi. “Ketahuilah gwa-kong pernah menceritakan kisah tentang kejadianmu dimasa

lampau kepadaku. Malam itu, semua perkataan dan semua tindak tanduk yang kau lakukan

dalam kuil ditengah hutan juga Liong-ji saksikan dengan mata kepala sendiri!”

Begitu perkataan tersebut diucapkan keluar, paras muka Tiang-heng Tookoh berubah hebat.

“Apa yang telah diucapkan gwa-kong mu?” serunya dengan gelisah.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

478

Perlu diketahui Pek-Siau-Thian engkong luar dari Hoa In-liong dulunya adalah seorang psmimpin

dunia persilatan yang disegani banyak orang. Bukan saja ia memiliki nama besar dan kedudukan,

wataknya agak aneh. Jalan pikirannya agak sempit dan ia paling suka membelai orang sendiri. Ia

termasuk seorang manusia yang mempunyai pandangan istimewa terhadap cinta dan benci.

Tiang-heng Tookoh tidak takut semua perkataan maupun gerak-geriknya dalam To koan

diketahui Hoa In-liong. Tapi ia sangat kuatir kalau Pek Siau-thian menambahi bumbu dalam

pembicaraannya, sehingga apa yarg dikatakan kepada Hoa In-liong sama sekali bertolak

belakang dengan kenyataan.

Padahal Pek Siau-thian yang sekarang berbeda jauh dengan Pek Siau-thian yang dulu. Jago tua

ini kini sudah menjadi seorang pendeta besar yang budiman dan baik hati, hanya perempuan itu

tidak mengetahuinya.

Tidak aneh kalau paras mukanya berubah dan hatinya jadi gelilah setelah mendengar ucapan itu.

Hoa In-liong tidak terlalu memperhatikan perubahan wajahnya, dia lantas menyahut. “Kejadian

dikota Cho-ci, kata gwa-kong waktu itu kau sedang menderita siksaan Im-hwe-lian-hun (Api

dingin melelehkan sukma). Ketika ayahku mengetahui kejadian ini beliau segera menyusul

kesana untuk menolongmu. Konon ayah di pancing kesana oleh Kiu-im-kau memang bertujuan

untuk memaksa ayahku menyerahkan pedang bajanya agar ditukar dengan jiwamu. Ayah tidak

menolak syarat tersebut, tapi kau malah selalu memikirkan bagi kepentingan ayah, kau malah

berpesan kepada ayah agar jangan mau tunduk kepada orang lain, jangan mau ditundukkan oleh

ancaman musuh….”

Menyinggung kembali kejadian mata lalu, Tiang-heng Tookoh merasa seakan-akan bayangan

tubuh dari Hoa Thian-hong yang berdiri dengan badan gemetar, mata merah membara dan sikap

mendekati seperti orang gila itu melintas kembali dalam benaknya. Ia merasa hatinya sakit

sekali, ia tak ingin mendengarkan lebih lanjut.

“Apakah gwakongmu hanya membicarakan tentang soal ini?” segera tukasnya.

“Tentu saja masih ada yang lain, Gwvakong berkata pula bahwa engkau orang tua bukan

perempuan sembarangan. Cinta kasihnya terhadap ayah benar-benar lebih dalam dari samudra,

budi yang dilimpahkan lebih tinggi dari langit. Ia mengatakan juga bahwa bahwa siksaan Imhwe-

lian-hun merupakan siksaan yang tidak berperi kemanusiaan, membuat siapapun yang

menyaksikan akan jadi marah dan sukar mengendalikan emosinya. Tapi kau orang tua lebih rela

disiksa oleh siksaan yang bukan kepalang kejinya itu daripada menyaksikan ayahku harus tunduk

dibawah tekanan orang lain. Bibi Ku, Liong-ji ingin bertanya kepadamu, dulu kau adalah sahabat

paling karib dari ayahku tapi sekarang kau menjadi pendeta karena menahaan rasa kebencian

lantaran putus asa dan sedih hati. Apakah tindakanmu ini bukan sama artinya bahwa kau merasa

tak suka dengan tindakan keluarga Hoa kami yang telah melupakan kau, sebaliknya kaupun tak

ingin menyalahi keluarga Hoa kami….”

Mendengar perkataan itu, Tiang-heng Tookoh merasakan pipinya jadi panas, tapi hatinya juga

lega. Setelah berpikir sebentar, maka pikirnya kembali, “Untunglah, apa yang dikisahkan Pek loji

adalah kejadian yang sesungguhnya. Tapi Liong-ji, bocah ini terlalu cerdik dan cermat. Iapun

pandai bersilat lidah. Kalau pembicaraan dilangsungkan terus, niscaya akhirnya aku yang tak

tahan dan kewalahan dibuatnya”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

479

Berpikir demukian, buru-buru katanya sambil tersenyum, “Anggap saja apa yang kau duga

memang tak salah. Tapi urusan kan sudah lewat, hutang lama pun sudah basi. Apalagi kedua

belah pihak tiada yang menderita rugi, bukankah hal ini bagus sekali?”

“Maka dari itu aku mengatakan bahwa engkau pun bersalah! “sambung Hoa In-liong dengan

sinar mata mencorong tajam.

“Salah juga boleh, tidak salah juga tak mengapa yang pasti urusan sudah lewat dan menjadi

basi, tak perlu kita singgung-singgung lagi” potong Tiang-heng Tookoh.

Berbicara sampai disitu, satu ingatan melintas kembali dalam benaknya, buru-buru ujarnya lebil

jauh. “Oya….! Pinto teringat sekarang, bukankah tadi kau menahan diriku lantaran ingin

menanyakan soal kakakmu dengan lebih jelas?”

“Yaa benar. Persoalan tentang diri kau orang tua, aku musti bertanya sampai jelas. Lebih-lebih

lagi persoalan tentang diri kau orang tua, aku musti bertanya sampai jelas pula” jawab Hoa Inliong

tanpa ragu-ragu lagi.

Tiang-heng Tookoh segera membenahi bajunya yang kusut seraya menjawab dengan lirih,

“Kalau begitu, bertanyalah cepat urusan tentang kakakmu!”

Ucapan ini mengandung dua arti rangkap, selain arti yang sebenarnya, iapun maksudkan bila

pemuda tersebut tidak menanyakan soal tentang Hoa Si maka dia akan segera pergi.

Tindakan tersebut memang lihay dan sangat jitu, Hoa ln-liong benar-benar dibuat serba susah.

Kalau bertanya? Selesai memberikan keterangannya Tiang-heng Tookoh tentu akan pergi,

sepeninggal rahib perempuan itu, kemana dia harus pergi untuk menemukan jejaknya kembali.

Sebaliknya kalau tidak bertanya? Saudara kandung sendiri sedang berada dalam keadaan

bahaya, bukankah itu sama artinya dengan tidak mengindahkan keselamatan saudara sendiri?

Apalagi ia sendiri memang selalu menguatirkan persoalan tersebut.

Ketahuinya, sebab musabab mengapa ia begitu berhasrat dan berusaha dengan sepenuh tenaga

untuk memancing Tiang-heng Tookoh masuk perangkapnya, ini dikarenakan ia bermaksud untuk

menaklukan perasaan si rahib perempuan tersebut. Ia selalu merasa bahwa membencinya Tiangheng

Tookoh terhadap kegagalan bercinta adalah merupakan suatu peristiwa yang patut

disesalkan.

Dalam hal ini, walaupun dikatakan lantaran perasaan serta emosinya yang membara serta

persesuaian didalam watak, tapi pada hakekatnya hal itu merupakan hasil dari didikan serta

peraturan rumah tangga keluarga Hoa yang turun temurun.

Keluarga Hoa mereka mengutamakan prinsip yang tak boleh melupakan kebaikan orang. Tapi

justru pada diri ayahnya telah terjadi peristiwa yang masih merupakan suatu ganjalan sampai

kini. Hoa In-liong sebagai putranya sudah tentu berusaha sedapat mungkin untuk melenyapkan

ganjalan itu, tidak aneh pula kalau dia jadi banyak urusan dan berusaha mencapai apa yang

diharapkan.

Akan tetapi, nyatanya apa yang diharapkan sukar tercapai, apa yang musti dia lakukan?”

Hoa In-liong memang cerdik dan mempunyai banyak akal muslihat, tapi tak urung ia dibikin

tertegun juga.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

480

Sementara dia masih termangu, tiba-tiba ia merasa sikut Coa Wi-wi menyentuh pinggangnya,

kemudian terdengar dara itu berseru, “Yaaa betul! Kau memang seharusnya menanyakan soal

tentang diri Toako….”

Ketika mendengar perkataan itu, sekali lagi Hoa In-liong tertegun. Tapi lantaran Coa Wi-wi

menyikut pinggangnya lebih dulu, dengan perasaannya yang tajam ia lantas tahu bahwa Coa Wiwi

telah mempunyai rencana tertentu.

Sayang ia tak tahu rencana apakah yang telah dipersiapkan dari itu dan lagi diapun tak dapat

menanyakan secara langsung. Maka setelah mengeriing sekejap kearahnya, dia pura-pura

berkata dengan suara tak senang hati, “Bertanyalah sendiri! Aku…. aku mau….”

Sambil pejamkan mata, sepasang tangannya bertopang dagu lalu pelan pelan membaringkan diri

di tanah.

“Aaah…. kamu ini!” omel Coa Wi-wi sambil menuding ujung hidung pemuda itu.

Setelah mendengus dingin, diapun membatalkan niatnya untuk berbicara lebih jauh.

Tiang-heng Tookoh yang menjumpai keadaan itu segera tersenyum. “Anak Wi, engkau saja yang

bertanya” ujarnya, “Dia lagi ngambek! Tak usah digubris lagi”

Sekali lagi Coa Wi-wi mendengus dingin, kemudian ia baru berpaling seraya berkata, “Baiklah!

Tolong tanya Bibi Ku, sebetulnya jalan darah yang manakah dari Hoa Si Toako yang tertotok?

Masa engkaupun tak mampu untuk membebaskannya?’

“Jalan darah Ki-tong-hiat!”

“Ki-tong-hiat? “Coa Wi-wi melongo dengan perasaan heran, “Itu kan jalan darah tertawa!?”

“Yaaa, justru disinilah letak keanehan tersebut” kata Tiang-heng Tookoh lebih jauh, “Ketika jalan

darah tertawa itu tertotok, bukan saja tidak tertawa, sang korban malahan jatuh tak sadarkan

diri. Pinto sudah periksa sekujur badan Hoa Si dan tidak menjumpai luka ditempat lain. Diapun

tidak tampak seperti keracunan”

“Oooooh….! Masa sampai terjadi begitu? “teriak Coa Wi-wi dengan nada tercengang, sepasang

matanya sampai terbelalak lebar.

“Yaa. memang demikianlah kenyataannya. Yang aneh justru terletak pada caranya menotok jalan

darah. Pada umumnya cara orang menotok jalan darah itu sama semua. Tapi kenyataan yang

pinto jumpai ternyata jauh berbeda dari keadaan pada umumnya. Bila Hoa Si tak dapat sadar

sendiri dari pingsangnya, maka didunia pada saat ini hanya ayahmu seorang yang dapat

membebaskan pengaruh totokan tersebut”

Meskipun tercengang dan merasa keheranan, jelas tujuan Coa Wi-wi bukan disitu. Maka ketika

mendengar sampai disana, diapun terhenti sebentar sebelum akhirnya bertanya lagi “Macam

apakah manusia berkerudung itu? Apakah bibi Ku pernah menjumpainya?”

“Dia adalah seorang laki-laki berperawakan sedang, berdada bidang dan berotot kekar. Paras

mukanya tidak kelihatan, tapi tampaknya dia masih muda”

“Mungkin orang itu adalah anak buah Kui-im-kau” Coa Wi-wi mengajukan dugaannya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

481

“Mereka sealiran, bukan anak buah. Ketika pinto menjumpai keadaan Hoa Si ketika itu, si orang

berkerudung tersebut justru sedang ribut-ribut dengan Kiu-im kaucu”

Berbicara sampai di sini, paras muka Tiang-heng Tookoh berubah jadi murung. Setelah

merenung sebentar ia baru berkata lebih jauh, “Kiu-im kaucu yang sekarang bernama Bwee Suyok.

Orangnya cantik dan berasal dari angkatan muda. Ketika itu Hoa Si berada didalam

dukungannya, si orang berkerudung mengatakan bahwa Hoa Si ditangkap olehnya, sepantasnya

kalau diserahkan kepadanya untuk dibawa pergi. Tapi Bwee Su-yok segera menjawab: ‘Apabila

kau tidak menyergap dikala orang tak siap, tak nanti engkau adalah tandingan dari anak

keturunan keluarga Hoa. Dihadapanku, aku tak akan mengijinkan kau melukai orang dengan cara

serendah itu’. Kebetulan tempo dulu pinto mempunyai hubungan dengan perkumpulan tersebut.

Hitung-hitung aku masih merupakan seorang cianpwe dihadapan Bwee Su-yok. Maka ketika pinto

munculkan diri, Bwee Su-yok menyebut cianpwe kepadaku. Sikapnya terhadap pinto juga sangat

menaruh hormat. Si manusia berkerudung yang tak tahu duduknya perkasa salah menganggap

diriku sebagai pembantu dari Bwee Su-yok, sambil mendengus buru-buru ia mengundurkan diri

dari sana”

Ketika berbicara sampai disini, tiba-tiba ia menghela napas lalu menghentikan ceritanya,

Apa arti dari helaan napas itu? Jangankan Coa Wi-wi, Hoa In-liong sendiripun merasa tercengang

dan tidak habis mengerti. Sampai-sampai dia harus bangun dan membuka matanya.

Tujuan Coa-Wi-wi tidak disana, iapun segan untuk bertanya lebih lanjut, maka ujarnya kembali,

“Kapan peristiwa itu terjadi? Dan dimanakah

peristiwa itu berlangsung….?”

Tiang-heng Tookoh berpikir, lalu menjawab, “Mungkin tengah hari kemarin kejadiannya disuatu

tempat kurang lebih lima puluh li disebelah timur dari sini”

“Jadi kalau bagitu bibi Ku datang dari Kim-leng? “tanya Coa Wi-wi kemudian.

Tiang-heng Tookoh mengangguk, sementara dia mau berkata lebih jauh, Coa Wi-wi telah

menyambung kembali kata-katanya, “Tahukah bibi Ku kemana perginya Kui-im kaucu serta

manusia berkerudung itu?”

Sebelum mendapat jawaban, tiba-tiba saja nona itu melanjutkan kembali dengan pertanyaannya,

kesemuanya itu segera menggerakkan hati Hoa In-liong. Ia seperti memahami akan sesuatu.

“Oooh…. Rupanya begitu” pikirnya.

Baru saja ingatan tersebut melintas didalam benaknya, terdengar Tiang-heng Tookoh telah

berkata lagi, “Manusia berkerudung itu menuju kearah timur laut. Bwee Su-yok sendiri sesudah

berpisah dengan pinto juga berangkat kearah timur laut. Dimanakah ia sekarang, pinto kurang

begitu tahu”

“Bibi Ku datang dari kota Kim-leng, apakah kau telah bertemu dengan seorang hwesio tua yang

tinggi dan kurus?”

Mendapat pertanyaan itu Tiang-heng Tookoh tampak tertegun. “Seorang hwesio tua? Pinto tidak

menjumpainya” ia menyahut.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

482

“Oooo, Wi-ji tidak menerangkan secara jelas, tak aneh kalau bibi Ku jadi heran” kata Coa Wi wi

lebih jauh, “Hwesio tua itu adalah kongkong ku. Jika bibi Ku tidak menjumpainya, tentu dia kalau

bukan pergi ke selatan sudah pasti telah ke lautan timur!”

Tiang-heng Tookoh tertawa geli. “Aaah…. kamu si bocah cilik, kenapa kalau bicara menclamencle

begitu? kalau ke selatan ya katakan saja ke selatan, kalau ke lautan timur katakan saja

kelautan timur, mana ada orang yang berbicara macam kamu itu? Tampaknya dalam hati

kecilmu ada urusan, bukan begitu?”

“Yaa, memang! Dihati Wi ji memang ada persoalan. Itulah disebabkan racun ular sakti yang

mengeram ditubuh Jiko. Kongkong ku pernah berkata, katanya di dalam beberapa hari ini jika ia

tidak berada di Kim-leng, berarti sudah barangkat ke laut timur. Bila tidak berada di laut timur

berarti sudah pergi keselatan. Maka….”

Hoa In-liong yang mendengar pembicaraan tersebut makin lama dibawa makin jauh dari pokok

pembicaraan, dihati kecilnya lantas menyumpah, “Silahkan…. omongan setan kok tiada habisnya.

Sampai kapan pembicaraan itu akan berlangsung?”

Sebaliknya Tiang-heng Tookoh jadi terperanjat tanpa sadar ia berpaling kearah Hoa In-liong dan

mengawasi wajahnya dengan seksama.

“Racun ular sakti? “serunya tercengang, “Apakah racun ular sakti itu? Kenapa diatas wajahnya

tidak tampak gejala apa apa?”

“Racun tersebut merupakan sejenis siksaan racun dari Mo-kau_yang bernama Sin-hui-si-sim (Ular

Sakti Menggigit Hati). Jiko kena dikecundangi oleh orang orang Mo-kau secara licik. Racun

tersebut sudah meresap didalam tubuhnya. Hanya kongkong ku seorang yang bisa membantu

dirinya untuk memunahkan racun tersebut”

“Ooooh…. jadi sudah berlangsung peristiwa seperti itu?” Tiang-heng Tookoh mengerutkan

keningnya.

“Yaa benar!” Coa Wi-wi mengeluh sedih, “Karenanya bila kali ini bibi Ku hendak pergi ke lautan

timur atau selatan, maka bila bertemu dengan kongkongku tolong sampaikanlah pesan dari Wi-ji,

katakan kalau Wi-ji nantikan kedatangannya di kota Kim-leng, mau bukan?”

Tiang-heng-Tookoh menengok sekejap ke arah Hoa In-liong, kemudian dengan nada minta maaf

katanya, “Pesan tersebut mungkin…. mungkin tak dapat pinto sampaikan…. sebab….sebab….”

Begitu ucapan tersebut diucapkan keluar, Coa Wi-wi tak dapat mengendalikan emosinya lagi.

Siapa tahu dalam gembiranya ia berbuat kurang hati-hati, suara tertawanya menyelinap keluar

dari bibirnya.

Menanti ia buru-buru tutup mulutnya dan sekali lagi berlagak sedih. Tiang heng Tookoh sudah

keburu berpaling dan menyaksikan kesemuanya itu dengan amat jelasnya.

Jelek jelek Tiang-heng Tookoh terhitung juga sebagai seorang prrempuan yang cerdik dan

berpengalaman. Tindak tanduk Coa Wi-wi yang diam-diam tertawa geli dan sikapnya yang takut

diketahui olehnya itu segera mengundang kecurigaan hatinya. Dari curiga diapun jadi memahami

akan duduk persoalan yang sebenarnya.

Kontan saja ia melotot besar, dengan lagak seperti marah tapi bukan marah bentaknya keraskeras,

“Bagus sekali setan cilik, rupanya kau sedang menjebak aku dengan siasat yang licik.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

483

Hmm, pinto peringatkan kepadamu, jika kau berani mengintil ke barat, lihat saja kutabok tidak

pantatmu!”.

Mula-mula Coa Wi-wi rada sedikit kikuk, tapi setelah Tiang beng Tookoh berkata begitu, ia

malahan mengerutkan dahinya seraya mencibirkan bibirnya yang mungil. “Kalau mau pukul aku

pukullah. Kan aku tidak bertanya, kau sendiri yang memberitahukan kepadakui” katanya.

Hoa In-liong sendiri, setelah menyaksikan keadaan tersebut tak dapat mengendalikan

perasaannya lagi, ia bangkit dan ikut tertawa terbahak-bahak.

Tiang-heng Tookoh tertegun, lalu berpikir, “Yaa, benar juga perkataannya. Sejak awal sampai

akhir si budak cilik ini toh tidak menanyakan kepadaku akan kemana? Aaai…. Sungguh tak nyana

karena kurang berhati-hati, bukan saja arah Kepergianku ketahuan, bahkan kata-kata ku malah

dibuat untuk menyerang diriku kembali”

Siapa tahu, belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya, tiba-tiba terdengar Coa Wiwi

berteriak lagi, “Hayo tertawa…. hayo tertawa terus. Bibi Ku marah kepadaku, kau malah

gembira, senang yaa melihat aku dimarahi?”

Sambil terbahak-bahak karena geli dan tersengkal napasnya karena kehabisan napas Hoa Inliong

menyahut! “Baik aku tidak tertawa lagi….Ooooh…. Ooooh…. lepaskan dulu tanganmu. Aku

tidak akan tertawa lagi Hii…. hii…. hi…. haa…. haa…. haa….”

Ketika Tiang-heng Tookoh berpaling, tampaklah Coa Wi-wi sedang mencibirkan bibirnya dengan

wajah cemberut, tangan kanannya mencekal pergelangan tangan Hoa In-liong. Sementara

targan kirinya menggelitik pinggang pemuda tersebut.

Kena dicekal kedua buah tangannya, apalagi pinggangnya digelitik terus menerus, pemuda itu

jadi kegelian. Ia melenggak-lenggok seperti lagi tari perut. Suara tertawanya yang tersendatsendat

pun makin terputus-putus. Bagaimanapun juga sudah tentu suara tertawanya tak dapat

berhenti.

Menyaksikan sdrgan itu, paras muka Tiang-heng Tookoh berubah jadi lembut kembali. Dia malah

ikut tertawa. “Sudah….Sudah cukup, kalian tak usah bersandiwara lagi” teriaknya, “Cukup banyak

permainan kalian yang kusaksikan. Lebih baik pinto sampai disini dulu, kalau ada persoalan

utarakan saja secara berterus terang….!”

Mendengar kata-kata itu, Coa Wi-wi benar-benar menghentikan perbuatannya, dengan mata

yang jeli ia berpaling kemudian serunya, “Sungguh? Perkataan yang telah diucapkan tak boleh

dipungkiri lagi lho!”

Tiang-heng Tookoh tersenyum. “Orang yang beribadah tak pernah bicara bohong. Kecuali kau

menanyakan tempat pemondokanku, persoalan apapun pasti akan kujawab, setuju bukan….?”.

oooOOOOooo

COA WI-WI mengerdipkan matanya, tiba-tiba ia berpaling ke arah Hoa In-liong, “Sudah,

sekarang giliranmu untuk bertanya!” katanya.

Hoa In-liong tersenyum, satelah mengucapkan terima kasih. Sorot matanya dialihkan kembali ke

wajah rahib tersebut, ujarnya dengan nada minta maaf, “Bibi Ku, maafkanlah daku. tidak

seharusnya kami bersikap demikian kepadamu….”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

484

“Tak usah kau bicirakan tentang permintaan maaf” tukas Tiang-heng Tookoh seraya ulapkan

tangan, “Kesemuanya ini adalah hasil keteledoran pinto sendiri. Coba kalau pinto tidak gegabah

dari bersikap lebih cermat, tak mungkin aku sampai terjerumus dalam perangkap kalian”

“Terima kasih atas kebesaran jiwa bibi Ku. Padahal sekalipun bibi Ku meninggalkan alamat,

belum tentu kami akan sering mengganggu ketenanganmu”

“Nah! Lagi-lagi soal ita, memangnya kau anggap pinto tak bisa membaca suara hatimu?” tegur

Tiang-heng Tookoh serius.

Merah dadu wajah Hoa In-liong karena jengah.

Terdengar Tiang-heng Tookoh melanjutkan kembali kata-katanya, “Liong-ji, kau musti tahu

segala kesukaran yang ada didunia ini hanya suara iblis dihati manusia yang paling sukar diatasi.

Sudah hanyak tahun pinto berjuang dengan susah payah dan mengalami banyak penderitaan

sebelum berhasil memandang rawan urusan keduniawian dan berhasil menenangkan hatiku. Kau

adalah seorang laki-laki yang kaya akan perasaan. Bila kau masih simpatik atas segala

penderitaan yang telah kualami selama ini, seandainya kau bersedia mengurangi kemurungan

dan kesukaran yang bakal dijumpai kedua orang tuamu, sepantasnya kalau niatmu ini kau

batalkan, padamkan saja cita-citamu itu”

Perkatan ini diucapkan cukup jelas dan cukup tegas. Sayangnya Hoa In-liong bukan seorang

manusia yang akan mundur setelah menjumpai kesulitan. Ia merasa tanggungjawabnya walau

berat namun keputusannya tak boleh dibaikan dengan begitu saja.

Setelah merenungkan sebentar, dia mengangguk. “Apa yang bibi Ku katakan memang sangat

beralasan. Kalau toh demikian Liong-ji juga tidak akan berbelok-belok lagi dalam pembicaraan.

Aku akan berkata pula dengan terus terang”.

“Memang seharusnya demikian!” jawab Tiang-heng Tookoh meski hatinya terasa menegang.

Dengan wajah serius Hoa In-liong menatap perempuan itu beberapa waktu lamanya, kemudian

berat, “Bibi Ku, tahukah kau bahwa pandanganmu, itu sebenarnya keliru besar….?”

Tiang-heng Tookoh tertegun. “Berkorban diri sendiri demi menyempurnakan kedua orang tuamu,

kelirukah pandangan pinto tersebut?”

“Paling sedikit demikianlah pandangan Liong-ji” sahut anak muda itu, “Tolong tanya bibi Ku, apa

yang diartikan oleh Siang Tiong-san dari An-leng setiap kali kudanya minum air disungai Wi-sui,

dia lantas melemparkan tiga biji mata uang kedalam sungai”.

“Siang Tiong-san adalah seorang manusia yang jujur dan bijiksana. Ia merasa air yang diminum

kudanya harus dibayar. Karena ia tak ingin merugikan orang lain dengan perbuatan kudanya

yang minum air disungai Wi-sui….!”

“Aku rasa sepanjang pesisir sungai Wi-sui jarang ditemui penduduk ynag berdiam disitu. Apakah

bibi Ku merasa cukup dengan penjelasan bahwa ia melemparkan uang kedalam sungai hanya,

disebabkan karena dia itu orang jujur dan tak ingin merugikan orang lain?”

Tiang-heng Tookoh tertegun. “Apakah engkau masih mempunyai penjelasan lain kecuali itu?” dia

balik bertanya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

485

“Yaa, Liong-ji masih ada sedikit tambahan. Liong-ji rasa perbuatan Siang Tiong-san melemparkan

mata uang kedalam sungai setiap kali kudanya selesai minun hanya dimaksusudkan untuk

mencari ketentraman bagi hatinya sendiri. Kalau tidak begitu maka dia boleh dianggap sebagai

manusia yang mencari nama dengan menipu dunia, tak pantas dinamakan seorang manusia yang

jujur dan bijaksana”

Tiang-heng Tookoh berpikir sebentar, ia merasa benar juga perkataan itu. maka diapun

manggut-manggut.

Hoa In-liong tersenyum, kembali ujarnya, “Bibi Ku, liong-ji ingin bertanya lagi kepadamu apa lagi

yang dimaksudkan dengan Membuka pintu mempersilahkan maling masuk?”

Begitu mendengar pertanyaan, tersebut kontan saja Tiang-heng Tookoh mengenyitkan alis

matanya. “Ada apa?” tegurnya, “Jadi kau anggap penderitaan tak lebih adalah lantaran mencari

penyakit bagi diri sendiri?”

Cepat-cepat Hoa In-liong menggeleng, “Bibi Ku telah salah menafsirkan maksudku. Lam-Si

pernah berkata begini, “Bila buka pintu mempersilahkan maling masuk, itu berarti buang rejeki

mencari kesialan. Kemudian Go-Ki pernah berkata pula, “Bila para penjahat mulai bersaing,

kejahatan akan merajarela. Saudara sendiri dirampok, peraturan diinjak-injak. Karenanya bila

buka pintu mempersilahkan maling masuk, keadilan dan kebenaran akan tumbang. Liong-ji tidak

begitu mengetahui tentang keadaan kau orang tua. Tapi aku percaya kau orang tua adalah

seorang yang sangat mementingkan kesetiaan kawan….!”

Sengaja ia berhenti sebentar, kemudian baru melanjutkan, “Walaupun begitu, Liong ji tetap

merasa bahwa caramu berpikir terlampau picik. Selain itu liong-ji juga rada sangsi, benarkah

yang dimaksudkan sebagai ‘memandang remeh soal keduniawian, hati akan jadi tenteram’ itu

benar-benar bisa dipercaya?”

Beberapa patah kata yang terakhir ini boleh dibilang sedikit menyudutkan posisi rahib perempuan

itu. Tiang-heng Tookoh jadi terdesak hebat, maka sambil melototkan matanya ia balik bertanya:

Jadi maksudmu, pinto sedang membohongi engkau?”

“Oooh…. Sudah tentu liong-ji tak berani sekurang ajar itu. Maksud Liong-ji. sekalipun kau orang

tua sudah hidup menyepi, belum tentu perasaanmu setenang air. Paling tidak kau hanya

berusaha dengan sekuat tenaga untuk mengendalikan diri, agar perasaan serta emosinya tidak

sampai meluap dan tak terbendungkan lagi”

“Tapi…. Aku rasa itu toh tidak keliru!” seru Tiang-heng Tookoh setelah tertegun.

“Kelirunya memang tidak, cuma terlampau berlebihan, Ketahuilah bahwa manusia hidup didunia

ini mempunyai kewajiban. Kewajiban tersebut bukan hanya buat diri sendiri, tapi juga demi

orang lain. Bukan hanya untuk sekelompok manusia kecil tapi untuk sekawanan manusia dalam

jumlah yang lebih banyak. Apa gunanya hidup mengasingkan diri? Sekalipun persoalan pribadi

juga belum tentu dapat diselesaikan”

Setelah berhenti sebentar, pemuda itu berkata lebih lanjut, “Mari kita ambil contoh dalam

persoalanmu dengan ayah. Menurut anggapan bibi Ku, asal hidup mengasingkan diri dalam biara

maka ketenangan yang didambakan pasti akan didapat. Kepusingan hidup pasti bisa teratasi.

Yaaa. memang datlam soal tata cara kau memang berhasil. Dalam soal cita-cita kaupun

terpenuhi sebab dengan demikian kau tidak mengalutkan perasaan ayahku lagi. Tapi

bagaimanalah dengan dirimu sendiri? Bibi Ku merasakan siksaan batin. Merasakan penderiraan.

Merasaka….”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

486

“Pinto tidak merasa menderita” tukas Tiang-heng Tookoh dengan lantang sebelum pemuda itu

sempat menyelesaikan kata-katanya, “Pinto tak merasa tersiksa batinnya. Pinto malah merasa

pandangan hidup serta jalan pikiranku makin terbuka”

“Liong-ji bukan bermaksud mengajak bibi Ku untuk berdebat. Liong-ji hanya ingin bertanya,

apakah kau orang tua masih kangen dan memikirkan ayahku?”.

“Pinto kan sudah berkata, jangan singgung-singgung lagi kenangan masa lampau. Aku telah

melupakan kesemuanya itu!”

Hoa In-liong berar-benar tidak membantah atau mendebat lagi ucapan tersebut. Ia tersenyum,

“Bibi Ku, tahukah engkau bahwa ayahku masih seringkali kangen dan memikirkan dirimu?”

katanya kemudian secara tiba tiba.

Sementara Tiang heng Tookoh masih tertegun, Hoa In-liong telah berkata lebih jauh, “Bibi Ku,

Liong-ji berani berbicara sesungguhnya, ayahku pasti selalu memikirkan dirimu baik siang

ataupun malam. Bukan ayahku saja, bahkan nenekku, ibuku (Chin Wan-hong) maupun mamaku

mereka juga selalu memikirkan engkau. Aku percaya apa latar belakang dari kejadian tersebut

kau orang tua pasti lebih memahami dari pada aku”

Tiang-heng Tookoh tidak menjawab, tapi ia mendengus dingin.

Ketika Hoa In-liong tidak mendapat jawaban darinya, ia tampak berpikir sebentar, tiba-tiba

ujarnya lagi, “Bibi Ku, pernahkah engkau memikirkan tentang ayahku?”

“Memikirkan apa?” Tiang-heng Tookoh bertanya dengan wajah tertegun dan tidak habis

mengerti.

“Tentu saja keadaan dari ayahku! Dirumah ia masih ada ibu. Dibawah ada istri dan anak. Bibi Ku

yang jadi pendeta tentu saja dapat membuang jauh-jauh semua pikiran dan urusan

keduniawiaan tapi bagaimanakah dengan ayahku? Tentu saja ayah tak dapat meninggalkan

ibunya, istri dan anaknya untuk menyusul jejakmu, mencukur rambut dan hidup menyepi sebagai

seorang pendeta?”

“Aaaai….! Memangnya teori tersebut tidak kupahami? buat apa mesti kau singgung lagi?” pikir

Tiang-heng Tookoh dengan perasaan masgul,

Tampaknya Hoa In-liong memang tidak terlalu mengharapkan jawabannya, ia berkata lebih

lanjut, “Wahai bibi Ku! Liong-ji hendak membahas semua persoalan yang ada didepan mata.

Sekarang juga dihadapanmu aku hendak mengeritik tentang dirimu!”

“Katakan saja! Pinto akan memperhatikannya” kata Tiang-heng Tookoh dengan dingin.

“Pepatah kuno mengatakan: Siapa yang telah berusaha dengan segenap kemampuan, dialah

yang setia….”

“Apa?” teriak Tiang-heng Tookoh dengan gusar. Matanya melotot besar, “kau menuduh aku tak

setia kepada ayahmku?”

“Ooooh…. Tentu saja bukan demikian! Liong-ji hanya membicaiakan persoalan, bukan

mempersoalkan manusianya. Dulu ada seorang bocah kecil jalan-jalan dengan ayahnya.

Setengah jalan mereka jumpai sebuah batu gunung yang besar sekali menghalangi perjalanan

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

487

mereka maka berkatalah sang ayah: ‘Nak, singkiikan batu dari tengah jalan!’ Bocah itu menurut

dan segera berusaha untuk menyingkirkan batu besar tersebut dari tengah jalan. Sayang

lantaran tenaganya terlampau kecil, meskipun sudah didorong kesara ditarik kembali, sampai

sekujur badan basah oleh karena capainya batu itu belum juga bergeser dari tempatnya semula”.

“Eeeeh…. Cerita apa yang lagi kau dongengkan? tukas Coa Wi-wi setengah berteriak karena

habis sabarnya, “Aku pikir ayah dalam ceritamu itu adalah seorang ayah telur busuk, maka

engkau juga seorang telur busuk kecil”

Kata-kata itu mempunyai arti rangkap maksud. Dalam keadaan seperti ini, bukannya

membicarakan urusan penting, sebaliknya malahan mendongeng apa gunanya?”

“Wi-ji, jangan menukas, biarkan saja ia bercerita!” sela Tiang-heng Tookoh cepat.

Hoa In-liong tersenyum, “Waktu itu si bocah sudah ngos-ngosan napasnya seperti kerbau”

kembali ia lanjutkan dongengnya, “Maka dalam lelahnya diapun merengek kepada sang ayah

sambil berkata: ‘Oh ayah, ananda tak mampu menggeserkan batu itu!’, maka sang ayahpun

menjawab: ‘Sudahkah kau gunakan segenap kekuatan yang kau miliki?’. ‘Sudah ayah!’ sahut si

bocah dengan wajah merengek ingin menangis, ‘sekujur badan ananda jadi lemas, sedikitpun tak

bertenaga lagi!’. Adik Wi, tahukah kau bagaimana jawaban dari sang ayah dari si bocah itu?”

“Apa lagi yang musti dia katakan? Sudah tentu membantu anaknya untuk menggeserkan batu

tersebut!” sahut Coa-Wi-wi dengan alis mata yang berkenyit kencang.

“Yaaa, benar, seharusnya ia memang musti membantu sang anak. Cuma itu adalah persoalan si

ayah dan bukan urusan si bocah!”

“Lantas….lantas apa jawaban dari si ayah?” tanya Coa Wi-wi setelah tertegun sejenak.

“Ia bilang begini: ‘Wahai anakku sayang! Dengarkanlah, kau sama sekali belum menggunakan

segenap kekuatan yang kau miliki. Atau paling sedikit kau toh masih dapat memohon bantuanku.

Masa buka mulut untuk mengajukan pertolongan saja kau tak mampu untuk melakukannya?’

Akhirnya ayah dan anakpun bergotong-royong, dengan mudahnya batu gunung itu berhasil

mereka singkirkan dari tengah jalan”

Berbicara sampai disitu, iapun berpaling ke arah Tiang-heng Tookoh sambil berkata, “Bibi Ku,

dulu engkau orang tua selalu melindungi dan membantu ayahku. Mengapa selama dua puluh

tahun belakangan belum pernah kau kunjungi perkumpulan Liok-soat-san-ceng kami? Apakah

cuma berkunjung saja kau tak mampu untuk melakukannya?”

Tiang-heng Tookoh merasakan hatinya bergetar keras, diam-diam pikir hatinya, “Yaa, benar juga

perkataan ini! Thian-hong sedang menghadapi kesulitan, kenapa tidak pergi mencarinya? Apakah

tindakanku ini merupakan suatu kesetiaan terhadap cinta, kesetiaan terhadap kasih sayang.

Kesetiaan terhadap Thian-hong?”

Meskipun ia berpikir demikian, lain pula dengan apa yang diucapkan. Katanya dengan dingin,

“Mengapa pula ayahmu tidak tadang mencari aku? Kenapa akulah yang harus mencarinya?”

“Oleh karena itulah ibu berkata kepadaku, bahwa kami keluarga Hoa telah berbuat salah

kepadamu!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

488

“Sekuat tenaga Tiang-heng Tookoh berusaha untuk mengendalikan pergolakan perasaan dalam

hatinya. Kembali ia berkata dengan suara yang amat dingin, “Dari tadi kasak kusuk melulu,

sebenarnya apa yang kau bicarakan….? Aku tidak mengerti!”

“Liong-ji cuma ingin bibi Ku menanggalkan pakaian pendetamu. Pulihkan wajahmu yang

sebenarnya dan berdiam dirumah keluarga Hoa kami!”

“Aaaah…. itu impian kosong. Itu hanya omong kosong belaka!’ teriak Tiang-heng Tookoh cepatcepat,

“Jika aku sampai berbuat demikian, bukankah sia-sia belaka pertapaanku selama delapan

tahun ini? Bukankah hasil yang kuperoleh selama ini akan hancur berantakan dan lenyap dengan

begitu saja?”

“Tenteramkan perasaan bibi Ku? Dengan mata kepala sendiri Liong-ji pernah mendengar kau

berkata begitu. ‘Akar cinta pinto sukar diputuskan, hingga tanpa sadar selalu muncul dalam

benakku sebercak harapan untuk berjumpa sekali lagi dengannya!’. Kalau toh demikian, kenapa

tidak secara terang-terangan saja kita berbicara dan buka kartu, lalu kita hidup bersama dengan

penuh kegembiraan dan kebahagiaan”

“Walaupun pinto pernah mengatakan demikian, namun pinto juga pernah berkata begini: ‘Usiaku

telah lanjut, daripada bertemu lebih baik tak usah bertemu lagi!’. Apakah kau tidak mendengar

kata kataku itu?”

“Tentu saja Liong-ji juga mendengar kata kata tersebut. Cuma Liong-ji masih sempat mendengar

bibi Ku berkata begini: ‘Che-giok, dirikanlah Cha-li-kau mu dan bantulah dirinya!’ Kemudian kau

juga pernah berkata: ‘Yang penting dalam bercinta adalah mencintai, jangan mengharapkan

akan berhasil atau tidak’. Lantas bagaimanakah penjelasannya dengan kata-kata tersebut?”

Tiang-heng Tookoh benar-benar merasa kehilangan muka, sinar matanya kontan mencorong

tajam, bentaknya dengan tajam, “Liong-ji, sebetulnya kau pakai aturan atau tidak?”

“Bibi Ku, apakah kau berharap rasa hormat Liong-ji kepadamu hanya tergantung dibibir belaka.

Kau tak akan perduli perasaan tersebut sesungguhnya atau pura-pura belaka?” kata Hoa In-liong

dengan wajah yang amat serius.

Mula-mula Tiang-heng Tookoh agak tertegun. Kemudian dengan suara yang lebih lembut dia

mengeluh, “Aaaaai…. Kau si bocah cilik…. memang kau anggap urusan didunia ini segampang

apa yang kau duga? Kuakui memang pandai berbicara dan bersilat lidah tapi jangan toh belum

tentu kan bisa menaklukan perasaan pinto. Sekalipun aku berhasil kau taklukan, bagaimana

kedua orang tuamu dan nenekmu? Bagaimana dengan jalan pikiran mereka? Ketahuilah “berbuat

salah kepada pinto” adalah

satu urusan. Melakukan sesungguhnya adalah urusan lain. Kau masih terlalu muda, jalan

pikiranmu terlalu polos, hanya mengandalkan kehangatan perasaan belaka….”

Yaa, setelah bertemu dengan manusia macam Hoa In-liong mau tak mau Tiang-heng Tookoh

harus bermain akal. Maka nada suaranya jauh di perlunak, ia berusaha membicarakan tentang

soal cengli dengannya.

Siapa tahu begitu Hoa-In-liong mendengar perkataan tersebut, ia lantas menukas kembali, “Bibi

Ku tak usah memikirkan tentang soal lain lagi. Soal ayah ibuku bahkan tentang nenekku

serahkan saja kepada Liong-ji. Liong-ji yang akan bertanggung jawab tentang soal ini”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

489

“Aaaah…. tanggung jawab apa yang bisa kau pikul?”, ejek Tiang-heng Tookoh. “Paling-paling

kalau tidak berhasil, kau lantas menggunakan kekerasan!”

“Jika kekerasan tidak berhasil, aku akan berbicara soal cengli. Aku yakin semua urusan didunia

ini tak dapat mengalahkan soal cengli” tegas anak muda itu.

Jilid 25

PERKATAAN tersebut segera mengundang rasa geli dari Tiang-heng Tookoh, “Cengli apa yang

hendak kau bicarakan?” katanya, “Apakah engkau hendak mengatakan pinto telah melakukan

bagaimana terhadap keluarga Hoa kalian?”

“Yaa, benar!” Hoa In-liong membenarkan, “Bila Cengli perlu dibicarakan, soal tersebut mau tak

mau harus dibicarakan pula. Cuma….soal itu lebih baik dibicarakan sampai pada waktunya saja!

Bagaimanapun juga Liong-ji lah yang akan bertanggung jawab. Asal bibi Ku setuju untuk

menanggalkan jubah pendeta dan berkumpulan dengan kami, Liong-ji jamin ayah sendirilah yang

akan menyambut kedatangan bibi di perkampungan kami”.

Namun Tiang-heng Tookoh gelengkan kepalanya berulang kali. Dia hanya tertawa tanpa

mengucapkan sepatah kata pun.

Hoa In-liong jadi tertegun.

“Kenapa?” teriaknya, “Apakah engkau tak percaya dengan Liong-ji?”

“Dalam soal ini bukan percaya atau tidak yang dipersoalkan. Sebaliknya adalah pinto yang tak

dapat menyanggupi permintaanmu itu. Pinto tak mungkin memenuhi harapanmu itu”.

Hoa In-liong semakin tertegun, semakin termangu. Setelah melongo beberapa waktu lamanya ia

baru berkata lagi, “Bibi Ku, kau tidak pakai aturan. Sekarang kau sedang melarikan diri dari

tanggung jawab. Kau sedang berusaha menghindari kenyataan. Kau berusaha mencuri hidup

diantara perasaan yang saling bertentangan dengan perasaan egoismu sendiri, tahukah engkau

akan hal ini?”

Tiang-heng Tookoh tersenyum. “Percuma Liong-ji. Kau tak usah menggunakan kata-kata

semacam itu untuk membakar perasaanku keputusan pinto sudah kuambil sejak delapan tahun

berselang. Membakar hatiku hanya pekerjaan yang sia-sia belaka, lebih baik berhematlah dengan

tenagamu!”

Hoa-In-liong benar benar kehabisan akal, alisnya mulai berkerut karena kesal.

“Bibi Ku, tampaknya kau memang seorang perempuan yang berhati sekeras baja” omelnya.

Tiang-heng Tookoh masih juga tersenyum seperti sedia kala. “Kau keliru anak liong. Hati pinto

sebenarnya lebih empuk daripada tahu. Sebab hati yang terbuat dari besi makin digarang makin

lembek. Sebaliknya hati yang seempuk tahu makin digarang, akan semakin mengeras, tahukah

engkau akan hal ini?”

Hoa In-liong bukan seorang manusia yang bodoh setelah menyaksikan keadaan tersebut, diamdiam

diapun berpikir, “Aaaai…. Jika ditinjau dari sikapnya yang amat santai dan acuh tak acuh,

tampaknya usahaku kali ini hanya akan sia-sia belaka. Aku…. aku…. Yaa benar! Aku harus

memanasi lagi hatinya. Coba dilihat dulu bagaimana reaksinya sebelum mengambil keputusan

lebih jauh!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

490

Setelah mengambil keputusan, diapun menatap tajam perempuan itu, kemudian ujarnya dengan

suara dalam, “Jadi kalau begitu, bibi Ku sudah mengambil keputusan untuk melakukan

pembalasan dendam?”

“Membalas dendam?” Tiang-heng Tookoh tertegun dan berdiri melongo, “Aku mau membalas

dendam….? Membalas dendam kepada siapa nak?”

“Tentu saja kepada ayahku!” sahut Hoa In-liong dengan dahi berkerut. Ia sudah mempunyai

rencana yang matang, maka ucapan itupun dikatakan dengan wajah bersungguh-sungguh,

“Bukankan kau hendak membalas dendam pula terhadap anak cucu dari keluarga Hoa kami?”.

Tiba-tiba perubahan wajah Tiang-heng Tookoh yang menegang berubah jadi lembut kembali, ia

tersenyum. “Jadi engkau berpendapat demikian?” ia bertanya.

“Yaa, dan aku rasa itulah kenyataannya!” jawab Hoa In-liong dengan nada marah, “Kami

keluarga Hoa telah bersalah kepadamu, membiarkan kau hidup bergelandangan seorang diri

diluar, bukankah hal ini….”

“Bukankah hal ini sama halnya dengan menjerumuskan ayahmu sebagai seorang manusia yang

tak setia kawan, membuat anak keturunan keluarga Hoa harus menanggung sesal sepanjang

hidup. Bukankah Demikian?” tukas Tiang-heng Tookoh, “Liong-ji kau telah memandang

duduknya persoalan terlampau serius. Apalagi pinto sendiripun tak pernah berpikir sampai kesitu,

bahkan selamanya tak nanti akan berpikir demikian”

Tiba-tiba Hoa In-liong jadi emosi, serunya, “Yaa, kau tak akan berpikir demikian, tapi aku berpikir

demikian! Ayahku mungkin tidak berpikir begitu, namun bagaimana dengan orang orang lainnya?

Mereka pasti akan berpendapat betul!. Kami orang-orang dari keluarga Hoa biar kepala harus

dipenggal, darah berceceran menggenangi tanah, semuanya tak sudi melakukan perbuatan yang

merugikan orang lain. Nama yang berhasil kami raih selama inipun diperoleh secara jujur dan

terbuka. Tapi hari ini ternyata masih ada satu kejadian yang tidak menyenangkan menyangkut

diri ayahku. Bukankah hal ini sama halnya dengan mempersulit kedudukan keluarga Hoa kami?

Bukankah kejadian ini akan lebih menyiksa diri kami daripada kami semua dibantai?. Bibi Ku,

melimpahkan bencana sampai anak cucunya, apakah kau tidak merasa bahwa caramu membalas

dendam sedikit kelewat kejam dan berlebihan?”

Beberapa patah kata yang terdapat memang merupakan suatu kenyataan. Tiang-heng Tookoh

cukup memahami akan keadaan tersebut, tapi berbicara soal pembalasan dendam, itulah suatu

tuduhan yang bikin orang jadi penasaran.

Tapi, Hoa In-liong memang bertujuan untuk membakar hati Tiang-heng Tookoh. Tentu saja ia

baru mamiliki kata-kata yang dapat membangkitkan amarah lahir tersebut dan buktinya rahib

perempuan itu memang tak tahu menghadapi sekarang kata-kata yang kesal didengar itu.

Paras mukanya berubah hebat, dengan nada yang kesal ia membentak keras-keras, “Tutup

mulutmu! Membalas dendam…. membalas dendam…. Kalau aku mau membalas dendam, lantas

kenapa? Apakah kalian….”

“Kami kenapa?” tukas Hoa In-liong dengan wajah mengejek, “Kami bukannya sengaja

bermaksud melupakan engkau. Hmm! Kalau sejak dulu kami tahu bahwa pikiranmu demikian

picik, dadamu demikian sempit. Bukan saja aku tidak akan banyak ribut dan cerewet hingga

mengesalkan hati orang mungkin ayahku sendiri juga tak sampai turun gunung!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

491

Ketika si anak muda itu mengucapkan kata-katanya dengan nada yang sinis, Tiang-heng Tookoh

dibuat terbelalak karena kaget. Selang sesaat kemudian, si Rahib perempuan itu baru berkata

lagi dengan suara dingin, “Kalau ayahmu turun gunung lantas kenapa? Siapa yang tidak tahu

bahwa ayahmu adalah seorang enghiong, seorang pendekar, seorang laki-laki yang lebih

mementingkan karier….”

Ketika secara diam-diam Hoa In-liong mengamati perubahan wajahnya, ia lantas berpikir,

“Bagus…. sudah hampir kena. Begitu kusinggung bahwa ayahku sudah turun gunung, ternyata

paras mukanya berubah juga”.

Meski berpikir demikian dihati, sikap diluaran tetap kaku dan sinis, malahan dengan suara yang

berubah sekali lagi dia menukas, “Bibi Ku, jadi kau tidak pandang sebelah mata kepadaku?”

Ucapan tersebut ibaratnya hembusan angin dari lubang gua, mendadak sekali munculnya

seketika itu juga membuat Tiang-heng Tookoh tertegun.

“Apa maksudmu?” serunya kemudian.

“Kau mengatakan ayahku seorang enghiong, seorang pendekar, seorang laki laki yang

mementingkan karier, bukankah hal ini sama artinya dengan tidak pandang sebelah mata

kepadaku?” seru Hoa In-liong dengan mata melotot besar.

“Eeeh…. Kalau bicara sedikitlah lebih jelas. Siapa yang tidak pandang sebelah mata kepadamu?”

Hoa in-liong mendengus dingin. “Hmmm….! Masih berpura pura? Terus terang kukatakan

kepadamu, ayanku turun gunung kali ini adalah sedang menjalankan tugas untuk mencari dirimu.

Sebaliknya tanggung jawab dalam menegakkan keadilan dan kebenaran serta menumpas hawa

iblis dari muka bumi oleh nenek telah diserahkan kepadaku. Dengan perkataanmu barusan,

bukankah sama artinya bahwa kau memandang enteng usiaku yang masih terlalu muda,

kepandaian silatku yang terbatas dan tak pantas memikul tanggung jawab tersebut?”

Jelas perkataannya itu adalah kata-kata bohong sekalipun ada beberapa hal yang merupakan

kenyataan, namun jauh sekali bila dibandingkan dengan kenyataan yang sesungguhnya.

Meski demikian, ketika ia utarakan kata-kata itu dengan nada marah, menunjukkan sikap tak

mau kalah dari seorang muda. Bukan saja orang yang mendengar seakan akan dibikin percaya.

Tiang-heng Tookoh yang semula masih ragu-ragu pun jadi percaya dibuatnya.

Betul juga, ketika Tiaig-heng Tookoh mendengar perkataan itu hatinya kontan bergetar keras,

paras mukanya ikut berubah hebat. “Sungguh…. sungguh ini?” ia bertanya dengan nada

gemetar.

Hoa In-liong mencibirkan bibirnya. “Sungguh atau tidak, aku dapat mengambil . Kenyataan

membuktikannya dihadapanmu, buat apa kau musti banyak bertanya?”

Ia pura pura seperti salah mengartikan maksud lawan, pura-pura seperti seorang laki-laki yang

merasa tersinggung karena kemampuannya diragukan orang.

Semakin ia bersikap begitu, Tiang-heng Tookoh semakin percaya bahwa kata kata anak muda itu

adalah kenyataan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

492

Maka baru saja Hoa In-liong menyelesaikan kata-katanya, dengan wajah gugup dan tegang ia

berseru kembali, “Liong-ji, aku sedang menanyakan tentang….”

Tak bisa diragukan lagi, kata kata selanjutnya tentulah “ayahmu atau orang tuamu bagaimana….

bagaimana….”

Namun, justru dengan pertanyaan ini, terlihatlah dengan jelas betapa bertentangannya jalan

pikiran si rahib perempuan itu, dan terbongkar pula bagaimanakah perasaan hati yang

sebenarnya.

Oleh sebab itu ia stop perkataannya sampai di tengah jalan, untuk sesaat dia jadi gelagapan dan

tak tahu harus maju atau mundur, tertegun dan berdiri melongo.

Perlu diketahui, Tiang-heng Tookoh sampai nekad mencukur rambut jadi pendeta dan

menggunakan “Tiang-heng” sebagai gelarnya, bahkan dewasa ini diapun tak mau menyanggupi

permohonan dari Hoa In-liong, hal ini bukan dikarenakan rasa cintanya sudah menipis, rasa

bancinya makin menebal. Juga bukan lantaran wataknya sudah berubah dan ia jadi orang yang

tak tahu adat. Sebaliknya kesemuanya itu justru karena perasaan hatinya yang saling

bertentangan.

Atau tegasnya, hal ini dikarenakan rasa rendah dirinya yang menebal menyebabkan perasaannya

jadi sensitif, gampang tersinggung dan akhirnya terciptalah sikap jaga gengsi yang berlebihan.

Seandainya ia dapat menghilangkan sikap jaga gengsinya, hilanglah rasa rendah dirinya, maka

semua kemurungan dan kebencian secara otomatis akan ikut lenyap pula dengan sendirinya

Teringat ketika peristiwa pencarian harta dibukit Kiu-ci-san tempo hari, Chin Wan-hong hujin

pernah mendapat perintah dari Bu lo-tay-kun untuk berangkat ke bukit Kiu-ci-san dan

membicarakan tentang hubungan antara Hoa Thian-hong dengan diri Tiang-heng Tookoh ketika

itu.

Dengan watak Chin Wan-hong hujin yang luwes dan halus, ia telah memberi banyak penjelasan

tentang budi, cinta, setia kawan dan cengli terhadap diri Tiang-heng Tookoh ketika itu. Bahkan

diapun telah menyampaikan pesan dari Bu lo-tay kun yang mengundang dirinya untuk berdiam di

perkampungan Liok-soat-san-ceng.

Ketika itu Giok-teng hujin (Tiang-heng Tookoh) pernah berkata demikian, “Kakak benar-benar

tak punya keberanian untuk melangkahkan kakiku memasuki gerbang keluarga Hoa!”

Diapun berkata pula demikian, “Bukannya aku tak mau. Pada hakekatnya aku merasa malu,

merasa rendah diri untuk berbuat demikian!”

Waktu itu, berada dihadapan Chin Wan-hong yang lembut dan luwes, boleh dibilang semua

perkataan yang diutarakan keluar. Muncul secara jujurnya dan benar-benar keluar dari sanubari

yang murni. Namun tak bisa dihindari pula rasa malu dan rendah dirinya makin terbuka pula

dalam kata-kata itu.

Sebab itulah ketika pencarian harta karun di bukit Kiu ci-san telah berakhir, bukan saja ia tidak

menerima tawaran dari Chin Wan-hong hujin untuk berdiam sementara waktu di pasanggrahan

keluarga Hoa yang ada dipulau Si-soat-to dilautan Tang-hay. Bahkan sebaliknya ia malah

bergelandangan kesana kemari dan berusaha sedapat mungkin menghindari pertemuannya

dengan setiap orang yang berhubungan dengan keluarga Hoa.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

493

Ia berbuat demikian pada mulanya bermaksud demi kebaikan Hoa Thian-hong, juga ingin

memutuskan rasa kangen Hoa Thian-hoeng terhadap dirinya. Siapa tahu sama kini dia berbuat

demikian rasa kangen dan cintanya kepada Hoa Thian-hong yang bertambah dalam.

Memang hatinya pernah tergerak untuk berdiam di pasanggrahan keluarga Hoa di pulau Si-soat

to namun ia selalu tak mempunyai keberanian untuk melangkah ke bukit Im Tiong-san.

Yaa, cinta yang terlampau ditekan lama kelamaan memang bisa menimbulkan akibat sampingan.

Akhirnya ia mulai berpikir bahwa jelek-jelek Hoa Thian-hong seharusnya turun gunung untuk

menengok dirinya. Tidak seharusnya kalau ia berdiam diri belaka seakan-akan telah melupakan

sama sekali terhadap seorang perempuan yang bernama Giok-teng hujin.

Akibatnya rasa kesal yang menumpuk menimbulkan kebencian. Dengan menahan rasa benci dan

dendam diapun memutuskan untuk cukur rambut jadi pendeta dengan gelar “Tiang-heng” (benci

yang berkepanjangan).

Tapi sekarang, Hoa Thian-hong datang mencarinya, bahkan datang dengan membawa tugas.

Jelas yang dimaksudkan dengan “membawa tugas” adalah tugas yang diberikan Bun Lo tay-kun

kepadanya, dengan demikian membuktikan pula bahwa orang-orang keluarga Hoa pada

hakekatnya tak pernah melupakan dirinya. Hal ini bukankah sama artinya dengan dia sendirilah

yang sebetulnya sudah salah sangka?

Untuk sesaat lamanya, Tiang-heng Tookoh betul betul merasakan pikirannya kalut dan murung.

Belum pernah pikirannya sekalut ini.

Berbeda dengan Hoa In-liong, diam diam ia gembira karena siasatnya sudah mendatmgkan hasil,

katanya kembali, “Bibi Ku, kau sedang menanyakan soal ayahku? Terus terang saja sebenarnya

aku tak ingin mengatakannya kepadamu. Daripada kau kira aku sedang membohongi dirimu, tapi

sekarang toh aku sudah terlanjur mengatakannya keluar, maka aku pun tak ingin mengelabuhi

dirimu lagi. Yaa benar bibi Ku, ayahku sedang mencarimu. Liong-ji ingin bertanya sekarang

seandainya kau telah bertemu dengan ayah, apakah bibi Ku masih tetap akan keras kepala

seperti ini?”

Ia memang bermaksud untuk membakar hati rahib itu, maka tak segan-segannya untuk bicara

bohong, berbicara menurut perasaannya. Tujuan kali ini pasti akan berhasil, siapa tahu cara lain

pun tak mempan, apalagi hanya mengandalkan sepatah dua patah kata saja?

Tiang-heng Tookoh termenung dan berpikir sebentar, kemudian pelan-pelan bangkit berdiri,

ujarnya dengan lembut, “Baiklah kalau begitu tolong sampaikan kepada ayahmu. Katakanlah Ku

Ing-ing yang dulu sudah mati banyak tahun. Yang masih hidup didunia sekarang ini tak lebih

hanyalah Tiang-heng Tookoh. Kenangan lama bagaikan asap di udara, harap dia tak usah

mencari diriku lagi”

Perkataan itu diurapkan dengan sikap yang serius, nada yang kalem dan sama sekali tak nampak

emosi.

Sikap seperti ini tentu saja mencengangkan Hoa In-liong. Ia tertegun dan ikut bangkit berdiri.

“Kenapa?” serunya, “kau…. kau….”

Tiang-heng Tookoh tertawa ewa, sambil ulapkan tangannya ia menjawab, “Selamat tinggal anak

liong. Kau sangat cerdik, semoga kau baik-baik menjaga diri dan jangan lupa dengan pesan

pinto!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

494

Kemudian kepada Coa Wi-wi diapun berseru, “Selamat tinggal!”

Kemudian sambil mengebaskan ujung jubahnya, ia putar badan dan berlalu dari situ.

Hoa In-liong jadi termangu. “Bibi Ku!” teriaknya, “Kau….”

Namuh Tiang-heng Tookoh tidak berpaling lagi, dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah

lenyap dari pandangan.

Hoa In-liong siap menerjang, tapi Coa Wi-wi segera menarik tangannya seraya berbisik,

“Percuma, tak mungkin dapat kau susul lagi. Jiko! Biarkan dia pergi….”

Hoa In-liong termenung sebentar akhirnya ia menghela nafas panjang, “Aaaai…. Akulah yang

terlalu bernafsu. Akulah yang tak dapat mengendalikan emosiku. Aaaai! Siapa tahu kalau ia akan

pergi sambil memutuskan hubungan. Begitu mengatakan mau pergi segera juga ia pergi!”

“Siapa bilang kalau dia pergi sambil memutuskan hubungan? Justru lantaran dia jadi bingung,

gelagapan dan tak tahu apa yang musti dilakukan, maka dia putuskan untuk pergi saja dari sini.

Tak usah kuatir Jiko! Pada hakekatnya ia sudah kau buat tergerak perasaan hatinya. Aku dapat

melihatnya. Bila kalian berjumpa lagi dikemudian hari, aku yakin kau pasti berhasil”

“Aaaai!…. Kalau musti menunggu sampai bertemu lagi dikemudian hari, siapa bilang kalau aku

akan berhasil dengan gampang?”

“Aaaah…. Kenapa kau jadi tolol begitu?” omel Coa Wi-wi dengan dahi berkerut, “Kemarikan

telingamu, akan kuberi tahu duduk persoalan yang sesungguhnya!”

Melihat perempuan itu sok rahasia, terpaksa Hoa In-liong tundukkan kepalanya dan

menempelkan telinganya disisi bibir gadis itu.

Coa Wi-wi meninggikan tumitnya dan membisikkan sesuatu disisi telinga pemuda itu. Entah apa

yang telah ia bisikkan.

Tapi yang jelas, setelah mendengar bisikan tersebut, Hoa In-liong mengangguk berulang kali.

“Yaa…. apa boleh buat, terpaksa memang harus begitu, semoga saja apa yang kau duga

memang tepat!”

“Pasti!” sahut Coa Wi-wi dengan wajah bersungguh-sungguh, “Bila kau tidak percaya, bagaimana

kalau kita bertaruh saja?”

Hoa In-liong tertawa geli. “Bertaruh apaan? Anggap sajalah aku percaya kepadamu, mari kita

berangkat!”

Maka kedua orang itupun tinggalkan hutan menuju ketepi sungai sambil bergandengan tangan.

Ketika fajar baru menyingsing, kedua orang itu sudah tiba di dermaga penyeberangan Wu-kang.

Selesai bersantap pagi, mereka mencari perahu dan berangkat menuju kota Kim-leng.

Inipun merupakan usul dari Coa Wi-wi. Ia bilang dengan menempuh perjalanan memakai perahu

maka mereka akan berhindar dari pengawasan orang serta mengurangi datangnya banyak

kesulitan yang tak perlu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

495

Selesai itu diapun beralasan lantaran racun keji yang mengeram ditubuh Hoa In-liong belum

lenyap, maka menggunakan kesempatan menumpang perahu ia dapat bersemedi untuk

memaksa keluarnya racun dari badan.

Padahal, setelah mereka berdua naik perahu, Coa Wi-wi malahan bertanya kesana bertanya

kemari tiada hentinya.

Pokoknya ia bagaikan seekor burung kecil yang manja, meskipun agak bawel dan bertanya terus,

cukup menggembirakan hati orang.

Hoa In-liong bukanlah seorang pemuda yang pemurung. Apa yang mereka rencanakan

semulapun segera dikesampingkan untuk sementara waktu. Di hadapan sigadis yang manja itu

dia bersikap penurut. Semua pertanyaan yang diajukan kepadanya segera dijawab sampai

memuaskan hatinya. Sementara persoalan yang menyangkut keselamatan Hoa Si pun untuk

sementara waktu dikesampingkan.

Perahu yang berjalan mengikuti arus ternyata bergerak lebih cepat dari psrjalanan di darat.

Ketika senja menjelang tiba, perahu sudah tiba di dermaga Hee-kwan.

Kedua orang itupun naik kedataran dan masuk kota. Menurut rencana Hoa In-liong, dia segera

akan kembali ke persoalan yang nyata. Tapi setelah merenung sebentar, akhirnya diapun berkata

begini, “Adik Wi, lebih baik kau pulang dulu, aku hendak menengok keadaan dirumah pelacuran

Gi-sim-wan”

“Tidak!” belum saja kata-katanya selesai, Coa Wi-wi sudah menukas dengan cepat, “Aku tak mau

pulang, lebih baik kita pergi bersama sama saja!”

“Tapi…. Tapi…. Masa kau mau ikut pergi ke tempat semacam itu? Kan tidak pantas?” sahut Hoa

In-liong sambil menunjukkan sikap keberatan.

“Aaaah…. Siapa yang bilang kalau aku tak pantas berkunjung kesana?” teriak Coa Wi-wi

cemberut, “Pokoknya aku tak mau tahu. Toh kau telah berjanji, kemanapun kau pergi aku akan

mengikuti terus. Kau jangan salah janji!”

Hoa In-liong mengerutkan dahinya, pusing, tapi setelah berpikir sebentar katanya kembali, “Adik

Wi sayang, mesti menurut. Banyak urusan yang musti kita kerjakan saat ini. Bagaimana pun juga

semua pekerjaan tersebut harus kita lakakan secara terpencar. Pulanglah dulu ke rumah, coba

tengok apakah kakakmu masih dirumah. Bila ada maka suruhlah dia tunggu sebentar, aku akan

segera menyusul ke sana”

“Percuma, tak usah ditengok!” Coa Wi-wi gelengkan kepalanya kembali, “Aku cukup memahami

wataknya itu. Apa yang katakan Wa Ek-hong pasti tak bakal salah lagi dia, pasti sudah pergi

menemani Yu toako”

“Tapi kakakmu adalah seorang laki-laki yang pegang janji. Ketika kami berpisah, ia telah berjanji

akan menunggu aku di kota Kim-leng. Padahal keadaan yang sebenarnya mengenai keluarga Yu

hanya diketahui oleh kakakmu seorang. Aku tidak kenal siapa-siapa disini, rasanya tidak

gampang bagiku untuk menemukan jejaknya….”

“Kau tidak kenal siapa-siapa aku toh kenal” kembali Coa Wi-wi menukas dengan cepat, “Aku bisa

membawa kau pergi mencarinya. Kalau tidak apa salahnya kalau kita langsung berkunjung ke

telaga Hian-bu-ou?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

496

“Bila kakakmu kita temukan, mati tak perlu berkunjung ke Hian-bu-ou. Ketahuilah adik Wi

menolong orang bagaikan menolong kebakaran, kita harus bekerja cepat”

“Walau begitu, toh tak ada gunanya musti bergelisah atau bercemas-cemas? urusan musti kita

selesaikan satu demi satu. Hayolah, kita cari dulu alamat dari markas Cian-li-kau. Setelah

keadaan Toako dapat kita ketahui maka kita baru pergi mencari kakakku dan menyelidiki

kejadian yang sebenarnya mengenai keluarga Yu. Asal dia ditemukan, bukankah kepergian Yu

toako juga bakal kita ketahui?”

“Baiki” kata Hoa In-liong dengan kening berkerut, “Kalau toh engkau sudah tahu bahwa tujuanku

adalah mencari markas Cian-li kau, itu berarti aku bukan pergi untuk mencari gara-gara apa lagi

yang kau kuatirkan?. Ketahuilah, rumah pelacuran Gi-sim-wan adalah tempat yang rendah dan

bejat. Sebagai seorang anak dara tidak pantas bagimu untuk mengunjunginya…. Mengerti?”

“Hmmm! Darimana kau bisa tahu kalau tak akan terjadi pertarungan?” seru Coa Wi-wi tak mau

kalah. Seandainya sampai terjadi bentrokan kekerasan, lantas bagaimana? Kau bilang anak dara

tak boleh berkunjung ke situ, bila ku saru sebagai orang pria kan urusan jadi beres? Aku tidak

percaya kalau didunia ini terdapat pula tempat-tempat yang tak boleh kukunjungi”

Hoa In-liong benar-benar mati kutunya, ia tak mampu memberikan alasan lagi kepada si nona

yang cerdik.

Yaa, memang rada pusing setelah bertemu dengan seorang nona setengah matang setengah ke

kanak-kanakan macam Coa Wi-wi. Bukan saja ia tak dapat menerangkan Gi sim-Wan itu tempat

yang bagaimana, diapun tak dapat menarik muka sambil memaksanya pulang dulu ke rumah.

Apalagi apa yang diucapkan Coa Wi-wi bukannya sama sekali tak beralasan. Sekalipun ia cerdik,

sekalipun ia banyak akal musliat, tapi sekarang anak muda itu benar-benar keok benar-benar

mati kutunya dan tak sanggup berkata-kata lagi.

Maka diapun meneruskan perjalanannya dengan membungkam, sedang Coa Wi-wi mengikutinya

pula di belakang dengan mulut membungkam juga. Begitulah…. dalam suasana bening dan tutup

mulut, kedua orang itu masuk ke dalam kota.

Tak lama setelah mereka masuk kota, dari depan sana tiba-tiba muncul seorang pengemis kecil

yang menghampirinya. Begitu sampai dihadapan Hoa In-liong sambil tertawa pengemis kecil itu

berseru, “Kongcu, apakah kau she-Pek?”.

“Ada urusan apa….?” tanya Hoa In-liong dengan wajah tertegun, ia heran.

Pengemis kecil itu segera tertawa cekikikan. “Hiih…. hiii…. Bila engkau benar-benar she Pek,

tolong hadiahkan setahil perak untukku!”

Ketika Coa Wi-wi mengetahui bahwa orang itu cuma seorang pengemis yang minta persen,

kontan saja matanya melotot besar, rupanya dia hendak mengumbar hawa amarahnya.

Berbeda dengan Hoa la-liong, setelah berpikir sebentar ia merasa urusan ini sedikit

mencurigakan. Maka diambilnya setail perak dan diberikan kepada pengemis itu.

“Nih, hadiah untukmu, kalau ada perkataan cepat disampaikan!” serunya.

Setelah menerima uang itu dan ditengoknya sebentar, pengemis cilik itu kembali tertawa

cekikikan. “Hii…. hii…. hiih…. Kalau begitu perempuan-perempuan itu tidak salah bicara. Kongcuya

tentulah orang she Pek yang dimaksudkan. Nih Untukmu….”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

497

Tangannya yang dekil segera merogoh ke dalam sakunya dan nenyusupkan segumpal kertas

ketangan Hoa In-liong setelah itu diapun putar badan dan berlalu dari sana dengan wajah

terseri-seri.

Mula mula Hoa In-liong agak tertegun, kemudian kertas itu dibentangkan dan isinya dibaca.

Coa Wi-wi ikut menyusul kedepan dan membaca pula isi surat tersebut….

Terbcalah surat itu berbunyi demikian, “Anak Si tidak apa apa, baik-baiklah jaga diri”

Dibawah kertas itu terdapat sebuah tanda pengenal, sebuah lingkaran bukit yang mempunyai

sebuah ekor.

Tentu saja Coa Wi-wi jadi tercengang menyaksikan tanda gambar itu. Sambil menuding tanda

tersebut serunya, “Gambar apa itu? Masa mirip kecebong?”

“Huusss! Itu bukan gambar kecebong!” seru Hoa In-liong, “Itu lukisan sebuah kipas bundar,

senjata andalan dari Cu-yaya”

Mendengar perkataan itu, Coa Wi-wi memperhatikan sekali lagi, betul juga, lukisan itu memang

mirip sebuah kipas, maka diapun tertawa. “Bisa menggunakan sebuah kipas sebagai senjata

andalan, ilmu silat yang dimiliki Cu-yaya itu pasti tinggi sekali!”

“Cu-yaya bergelar Siau-yau-sian (dewa yang suka kelayapan). Dia adalah supek dari enthio ku.

Tentu saja ilmu silat yang dimilikinya sangat lihay” sahut Hoa In-liong dengan suara ewa.

Ketika didengarnya suara pembicaraan si anak muda itu dingin dan ewa, Coa Wi-wi melongo.

“Eeeeh…. kenapa kamu?” serunya, “Masih marah yaa sama aku?”

“Siapa yang marah kepadamu?” sahut Hoa In-liong tertegun. Ia tampak agak tercengang.

“Aku memaksa kau, bersikeras ingin ikut dirimu pergi ke Gi-sim-wan, marah bukan kepadaku?”

Hoa In-liong berseru tertahan kemudian tertawa geli. “Nah, itulah dia kalau jadi orang banyak

curiga. Aku kan tahu bahwa kau bermaksud baik. Memangnya aku ini orang yang bodoh dan

suka marah-marah kepada orang yang baik kepadaku?”

“Kalau bukan lagi marah, kenapa kau berdiri melongo seperti orang kehilangan semangat?.

Sampai-sampai suara jawabanmu kedengaran begitu tawar dan ogah-ogahan?”

Sekarang Hoa In-liong baru sadar, “Oooh…. Rupanya begitu, aku lagi memikirkan urusan lain.

Aku tahu bahwa Cu-yaya itu orangnya suka bercanda. Tapi tulisan yang ia tinggalkan kali ini

begitu singkat dan terburu-buru, sebenarnya apa yang telah terjadi. Kejadian apakah yang sudah

membuat dia orang tua harus tinggalkan kebiasaannya dan terburu-buru?”.

Mendengar perkataan itu, sekali lagi Coa Wi-wi menengok keatas kertas surat. Betul juga, tulisan

itu miring kesana kemari dan ditulis amat terburu-buru. Tapi ia segera tertawa. “Aaaah…. engkau

ini juga keterlaluan, bukankah kau sendiri pernah berkata, bila perahu sampai diujung jembatan

dia akan lurus dengan sendirinya? Kalau tak bisa kau pecahkan yaa tak usah dipikirkan terus

menerus!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

498

Hoa In-liong berpikir sebentar, ia merasa perkataan itu ada benarnya juga, maka diapun

mengangguk. “Yaa, perkataan dari adik Wi memang benar. Aku lihat Gi-sim-wan juga tak usah

dikunjungi lagi. Hayo bawa jalan, kita lewati saja gang-gang yang sempil dan jarang dilewati

orang”.

Ketika itu magrib sudah menjelang tiba. Disaat-saat seperti ini jalan raya penuh dengan manusia

yang berlalu-lalang. Sebaliknya jalan yang sempit dan gang-gang yang sepi, jarang dilalui orang.

Dengan demikian mereka bisa berjalan lebih cepat lagi.

Sejak kecil Coa Wi-wi dibesarkan di kota Kim-leng, sudah tentu dia hapal sekali dengan jalanjalan

di kota tersebut. Maka ketika ia disuruh membawa jalan, dengan langkah lebar gadis itu

berjalan memasuki sebuah lorong yang sepi.

Setelah berjalan kesana kemari sekian lama, mereka mampir dulu di rumah penginapan “Banliong?”

untuk membayar rekening serta mengambil buntalan milik Hoa In-liong. Setelah itu baru

menuju ke jalan raya sebelah timur ke gedung keluarga Coa.

Congkoan dari gedung Coa bernama Kok Hong-sen. Dia adalah seorang kakek kekar yang

berusia lima puluh tahunan.

Setibanya di rumah, Coa Wi-wi memanggil Kok Hong-seng untuk menghadap. Dari si kakek inilah

mereka baru tahu kalau Yu Siau-lam memang benar-benar sudah menuju kebarat. Meski Coa

Cong-gi tidak ikut dalam perjalanan tersebut, akan tetapi sudah dua hari dia juga tak diketahui

kemana perginya.

Begitu Coa Wi-wi mendapat tahu kalau kakaknya masih dikota Kim-leng, ia segera

memerintahkan kepada Kong Hong-seng untuk mengutus orang mencarinya. Kemudian

memerintahkan pula pelayan untuk menyiapkan hidangan dan mempersilahkan Hoa In-liong

bersihkan badan serta berganti pakaian.

Pelayan yang bekerja di keluarga Coa banyak sekali jumlahnya. Gedung itupun sangat luas.

Selesai bersantap malam, mereka berduapun duduk di ruang tengah sambil bercakap-cakap dan

menunggu kembalinya Coa Cong-gi. Mereka ingin tahu apa yang telah terjadi dikeluarga Yu agar

bisa disusun rencana kerja selanjutnya.

Berbicara menurut keadaan Hoa In-liong dewasa ini, sebenarnya ia tidak berminat untuk banyak

bicara atau duduk tersantai-santai. Pertama oleh karena Coa Wi-wi yang manja menambah

gairahnya. Kedua setelah berada di kota Kim-leng ia merasa tak enak untuk tidak mencari tahu

keadaan keluarga Yu. Maka daripada kesal menunggu orang, ia memutuskan untuk bercakapcakap

sambil mengusir kekesalan dalam hatinya.

Lain halnya dengan Coa Wi-wi, dalam hati kecilnya saat itu cuma ada Hoa In-liong seorang. Soal

budi dendam dalam dunia persilatan, pergolakan dan pertumpahan darah diantara umat Bu-lim,

baginya merupakan persoalan nomer dua. Maka bicara punya bicara akhirnya merekapun

membicarakan tentang racun ular sakti yang mengeram di tubuh anak muda itu. Menyusul

kemudian membicarakan pula tentang Goan-cing Taysu beserta asal-usul keluarga Coa.

Asal usul keluarga Coa memang cukup tersohor dan punya nama besar. Tiga ratus tahun

berselang siapapun yang menyinggung tentang kebajikan serta kelihayan ilmu silat Bu-seng

(Rasul Ilmu Silat) Im Ceng, mereka pasti akan tunjukkan sikap menghormati dan acungkan ibu

jarinya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

499

Cuma, Hoa In-liong bukan seorang laki-laki yang suka menyanjun orang lain. Sekalipun dia

pernah mendapat warisan ilmu Bu kek-teng-eng- im-hoat dari Goan-cing Taysu, itu pun hanya

menimbulkan rasa terima kasih dalam hatinya saja.

Sebaliknya begitu dia tahu kalau ayah Coa Wi-wi, Coa Coan-hua telah lenyap sejak lima belas

tahun berselang, ia jadi terkejut bercampur terharu, bahkan luapan emosinya dihati hampir saja

sukar dikembalikan lagi.

Hal ini disebabkan karena pertama ia mempunyai hubungan persahabatan yang akrab dengan

keluarga Coa terutama Coa Cong-gi dan Coa Wi wi. Kedua dari mulut Wan Hong-giok diapun

pernah mendengar bahwa pihak Mo-kau dari Seog-sut-hay sedang “menguasai sejumlah Bu-lim

cian-pwe yang berilmu tinggi untuk dijadikan penyerang terdepan mereka. “Andaikata Coa Coanhua

tidak beruntung benar-benar terjatuh ke tangan orang Mo-kau, maka andaikata dua

bersaudara Coa diancam dengan ayah mereka sebagai sandera, bukankah kedua orang ini benar

benar akan tersiksa lahir batinnya hingga akhirnya mungkin akan mati karena kesal?”

Haruslah diketahui, Hoa In-liong yang sudah dididik sebagai seorang manusia terpelajar, pada

hakekatnya mempunyai rasa setia kawan yang amat tebal. Apalagi setelah dia menghadapi

tekanan demi tekanan yang diakibatkan oleh pelbagai peristiwa besar serta merta terciptalah

suatu ambisi, atau katakanlah suatu cita-cita untuk mengikuti jejak ayahnya yang membasmi

hawa siluman dari muka bumi dan menegakkan keadilan serta kebenaran dalam dunia persilatan.

Maka ketika secara tiba-tiba ia mengetahui bahwa ayah Coa Wi-wi yang berilmu telah lenyap

semenjak lima belas tahun berselang, rasa terperanjat dan golakan emosi yang timbul dalam

hatinya bukan dikarenakan kepentingan pribadi saja, melainkan juga demi keamanan umat

persilatan pada umumnya.

Ia merasa kejadian itu sangat gawat dan serius bagaimana jua persoalan diselidiki hingga

meujadi jelas.

Oleh karena itulah, dalam pembicaraan yang berlangsung lama, dalam hati kecilnya diam-diam ia

mengambil tiga keputusan,

Pertama. Teka-teki yang menyelubungi mati hidup Coa Goan-hua harus disingkap secepatnya.

Seandainya ia betul-betul sudah terjatuh ke tangan orang orang Mo-kau maka dia harus

berusaha dengan segala kemampuan untuk menyelamatkannya. Ini untuk menghindari

penyiksaan seterusnya serta penunggangan pihak Mo-kau kaucu yang memanfatkan

kemampuannya untuk memusuhi umat persilatan di daratan Tionggoan.

Kedua. Menurut apa yang diucapkan Coa Cong-gi tempo hari, tampaknya baik perkumpulan

Hiang-beng-kau mempunyai rencana yang matang untuk menghadapi para Bu lim cianpwe. Oleh

sebab itu dia harus berusaha untuk mengadakan suatu pertemuan dengan Pui Che-giok, ketua

Cian-li-kau untuk mengawasi gerak-gerik dari kedua partai serta menyelidiki tempat tinggal para

Bu lim cianpwe baik dari golongan lurus maupun dari golongan sesat agar bisa memberitahukan

kepada mereka untuk lebih waspada, jangan sampai kena dicelakai atau kena dibujuk oleh

mereka hingga kekuatannya dipergunakan mereka.

Ketiga. Ia merasa bahwa kekuasaan kaum sesat dewasa ini telah menyelimuti seluruh dunia,

bahkan masing-masing telah berkuasa disuatu wilayah yang cukup luas. Dia harus berusaha

mencari akal untuk menghadapi mereka serta membasmi mereka semua hingga keakar-akarnya.

Walaupun ketiga buah keputusan tersebut hanya merupakan garis besarnya belaka, namun

boleh di bilang sudah meliputi semua bagian yang penting. Atau tegasnya keputusannya yang

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

500

ketiga bukanlah terhitung suatu keputusan, melainkan suatu keharusan yang musti dilakukan

demi lancarnya keputusan-keputusan yang lain.

Tapi, keadaan situasi dewasa ini berbeda jauh dengan keadaan dalam dunia persilatan tempo

dulu dimana dunia ketiga musuh dikuasai oleh tiga kekuatan maha besar.

Sewaku Hoa Tiang-hong malang-melintang dalam dunia persilatan, kekuasaan serta kekuatan

tiga maha besar sudah cukup jelas. Sebaliknya situasi dewasa ini masih belum tetap. Walaupun

hawa iblis telah menyelimuti seluruh dunia, namun posisi mereka belumlah jelas.

Maka untuk menanggulangi bahaya tersebut, si anak muda itu selain harus mengadakan

penyelidikan, diapun musti berusaha membasminya. Maka bila ia tidak berusaha dengan cara

lain, niscaya semua usahanya akan mengalami kegagalan total.

Yaaa, pada hakekatnya Hoa In-liong terhitung seorang laki laki yang berotak cerdik dan cekatan.

Sebab bukan urusan yang gampang bagi seseorang untuk berpikir sampai disitu.

Demikianlah, kendatipun dalam hati kecilnya ia telah mengambil keputusan, hal mana tidak ia

utarakan keluar, lebih-lebih lagi tak pernah ia rundingkan dengan Coa Wi-wi.

Selang beberapa saat kemudian, para pegawai gedung keluarga Coa yang diutus untuk mencari

Coa Cong-gi secara beruntun telah kembali semua. Namun orang yang dicari belum juga

munculkan diri.

Lama kelamaan habis juga kesabaran Coa Wi-wi, dia lantas bertanya kepada Hoa In-liong.

“Bagaimana ini? Kita bicarakan besok pagi saja? Ataukah sekarang juga kita berkunjung ke

pasanggrahan pertabiban untuk melakukan penyelidikan….?”

Hoa In-liong termenung sebeatar, lalu menjawab, “Mari kita selidiki tempat itu!”

“Baik….”Coa Wi-wi mengangguk, “Berdandan sebagai pria lebih leluasa. Aku akan ganti pakaian

laki dulu, tunggu aku di ruang depan….!”

Tengah malam itu, dengan pakaian ringkas berangkatlah kedua orang itu menuju telaga Hian-buou.

Memandang dari kejauhan, tampak peaaangrahan pertabiban sudah musnah menjadi abu. Ketika

semakin dekat makin jelaslah sudah pemandangan yang tertera didepan mata.

Sebuah gedung perubahan yang megah dan kokoh, kini tinggal puing-puing yang berserakan,

mengenaskan sekali tampaknya.

Gedung itu merupakan tempat bermain Coa Wi-wi dimasa lalu. Hoa In-liong juga dua kali pernah

berkunjung ke situ, malahan pernah menginap semalam. Kini berhadapan dengan puing yang

berserakan, terutama bau angus yang terbawa hembusan angin, tak terasa lagi mereka

menggertak gigi sambil menahan rasa benci yang tak terkirakan.

Selang sesaat kemudian, Coa Wi wi mendengus dingin. “Benar-benar perbuatan terkutuk dari

manusia yang berhati bisa. Jiko! Empek Yu adalah seorang Tabib sosial, bukan saja banyak

orang yang telah ditolong jiwanya. Dihari-hari biasapun tak pernah membuat perselisihan dengan

siapapun. Tapi sekarang, bukan saja rumahnya dibakar sampai habis, dia orang tuapun ikut

diculik. Perbuatan semacan ini apakah masih bisa diampuni? Apakah manusia yang melakukan itu

sudah tidak berperi kemanusiaan lagi?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

501

Rasa benci yang berkecamuk dalam benak Hoa In-liong tak kalah dengan cara bencinya.

Mendengar perkataan itu dia ikut mendengus. “Hmmm….! Bila mereka masih merapunyai peri

kemanusiaan, tak nanti perbuatan gila yang terkutuk ini dilakukan. Kini banyak bicarapun tak ada

gunanya, lebih baik kira selidiki dulu puing-puing tersebut. Siapa tahu kalau ditempat itu kita bisa

mendapatkan sedikit titik terang?”

Berbicara sampai disini, dia lantas bergerak lebih dulu kedepan.

Coa Wi-wi juga tidak banyak berbicara, cepat ia menyusul pula dari belakang.

Begitulah, semua puing mereka bongkar, semua abu mereka singkap. Dari paling depan sampai

serambi samping. Ruang belakang mereka periksa dengan teliti, siapa tahu walaupun sudah

diperiksa sampai di halaman paling belakang pun mereka tak berhasil menemukan apa-apa.

Kenyataan tersebut membuktikan bahwa urusannya luar biasa. Diam-diam Hoa In-liong merasa

terkejut

“Otak yang memimpi pembakaran ini pastilah seorang manusia yang luar biasa” demikian ia

berpikir, “Masa begini besar gedung yang mereka bakar ternyata tak berhasil ditemukan sesuatu

nada apapun yang mencurigakan hati”

Berpikir demikian matanya lantas celingukan ke sana kemari untuk memperhatikan keadaan.

Mendadak dari bawah gunung-gunungan diujung timur sana terlihat seberkas cahaya lampu.

Cahaya itu tampaknya muncul secara tiba-tiba dan lagi berasal dari sudut yang tak gampang

ditemukan orang.

Begitu melihat cahaya tersebut, Hoa In-liong merasa terkejut bercampur gembira cepat-cepat ia

menarik tangan Coa Wi-wi berbisik dengan lirih, “Adik Wi, ikutlah aku. Tapi harus berhati-hati!”

Meskipun Coa Wi-wi adalah seorang gadis yang tak takut langit atau bumi, setelah mendengar

perkataan itu, ia tak berani gegabah. Cepat pedang pendeknya disembunyikan ke belakang

punggung, lalu dengan hati-hati sekali ia mengikuti di belakang Hoa In-liong mendekati gununggunungan

tersebut. Itulah sebuah gunung-gunungan yang terbentuk dari kumpulan batu cadas

sekelilingnya terdiri dari air kolam, disebelah timur dan barat masing-masing terdapat sebuah

jembatan batu yang menghubungkan tempat itu dengan daratan.

Luas kolam tidaklah sama, yang paling sempitpun mencapai satu tombak lebih lima enam kaki

hingga terbentuklah suatu permukaan telaga yang sempit tapi memanjang.

Disudut utara permukaan telaga terdapat lima-enam buah gundukan tanah baru. Rupanya

sebuah kuburan yang dipakai untuk mengubur orang-orang yang tewas belum lama berselang.

Di sebelah selatan merupakan sebidang tanah berumput yang memanjang. Lewat kesana adalah

sebuah kebun bunga. Diujung kebun adalah sebuah serambi panjang yang berhubungan dengan

gedung ruang belakang, dimana bisa berhubungan langsung dengan gedung utama.

Dua orang muda mudi itu berkeliling dulu diseputar itu, lalu setelah yakin kalau disana tak ada

orang, mereka baru menyeberangi permukaan air dari arah timur menuju keatas gununggunungan

tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar