Selasa, 06 Oktober 2009

neraka 10

“Bibi Ku, kau jangan mengelabuhi diriku, kau dan bibi Pui adalah orang yang punya tujuan,

apalagi selama banyak tahun belakangan ini melatih diri secara tekun, melatih anak murid secara

cepat, aku tahu kalau kalian sudah mempunyai rencara yang masak”

Pui Che-giok segera mengeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa.

“Bocah, kau betul-betul cerdik dan licin, rupanya dalam persoalan apapun kita tak sanggup untuk

mengelabuhi dirimu”

Dari kata-kata itu, Hoa In-liong tahu kalau Pui Che-giok bersedia membantunya, buru-buru ia

memberi hormat”

“Bibi Pui terlalu memuji!”

Sesudah berhenti sejenak, ketika dilihatnya Tiang heng Tokoh masih membungkam diri, terpaksa

sambungnya lebih jauh, “Kok See-piau secara terang-terangan membeberkan jejaknya,

memancing kita untuk melakukan pengejaran, sedang Bwe Su-yok menawan Si Leng jin dan

pelayannya memaksa aku menyusul ke situ….”

“Liong ji!” tiba-tiba Hoa Ngo menukas sambil tertawa, “yang diculik oleh Bwe Su-yok kan si

dayang tersebut, darimana ia bisa tahu kalau kita pasti akan memberi pertolongan? Bukankah

budak itu mempunyai hubungan yang erat sekali dengan Jin Hian?”

Hoa In-liong pura-pura tidak mendengar perkataan itu, lanjutnya.

“Jelaslah sudah bahwa tujuan mereka tak lain adalah ingin menghadang siautit ditengah jalan

serta membunuhnya”

Tidak menanti pemuda itu menyelesaikan kata-katanya, sambil tertawa Tiang beng Tokoh telah

menukas, “Aku rasa dayang itu tak akan tega untuk berbuat demikian!”

Merah padam selembar wajah Hoa In-liong karena jengah, tukasnya, “Cobalah bibi Ku berpikir,

dalam usaha mereka membunuh Jin Hian, tentunya semakin rahasia semakin baik, bila kulakukan

pengejaran, para cianpwe dan sahabat pasti tak akan berpeluk tangan belaka, mereka tentu

akan membantu diriku, padahal Kok See-piau dan Bwe Su-yok tahu bahwa mereka tak akan

berhasil meraih kemenangan dengan pertarungan diatas daratan, maka mereka bermaksud

memindahkan medan pertempuran ke tengah lautan, menurut dugaanku, bukan saja Bwe Su-yok

sanggup membereskan kami maupun Jin Hian, bahkan Kok See-piau pun sudah termasuk dalam

perhitungannya. Bukan Liong ji sombong, jika orang-orang dari ke tiga kelompok ini terbasmi,

sama artinya dengan hilangnya separuh kekuatan dunia persilatan, apabila jika berhasil

menawan kami, dia pasti akan memaksa ayahku untuk bertukar syarat, hal ini lebih mengerikan

sekali kalau dipikirkan, justru lantaran kau hadir disini, Liong ji tidak terlalu kuatir terhadap

mereka, jika kau tidak mau tahu dengan persoalan ini, bukankah Liong ji bakal kelabakan dan tak

tahu apa yang musti dilakukan?”

Sebenarnya perkataan itu cuma diucapkan secara ngawur saja, tapi semakin berbicara semakin

beralasan dan masuk diakal, membuat paras muka semua orangpun ikut berubah.

Pui Che-giok tertawa cekikikan setelah mendengar ucapan itu, dia lantas berpaling sambil

tertawa, “No……tootiang, coba lihatlah! Sungguh mengenaskan bocah ini, bagaimana kalau kita

membantunya?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

385

Bagaimana mungkin Tiang heng Tokoh tidak memahami maksud hati Hoa In-liong? Tapi ketika

dilihatnya Pui Che-giok ke bawah semuanya telah setuju, apalagi hal itupun demi kebaikan

keluarga Hoa, ia merasa terdesak dan tak dapat menghindarkan diri lagi dari kenyataan tersebut.

Karena itu, setelah termenung lama sekali, dengan kening berkerut dia mengangguk.

“Baiklah!”

Tak terlukiskan rasa girang Hoa In-liong mendengar hal itu, buru-buru ia memberi hormat.

“Terima kasih banyak Bibi Ku atas kesediaanmu!”

Cu Im taysu dan Hoa Ngo sekalian yang lebih rapat hubungannya dengan keluarga Hoa, merasa

amat berlaga hati setelah dilihatnya Hoa In-liong berhasil menahan Tiang heng Tokoh.

Tiba-tiba Coa Cong gi berkata dengan suara lantang, “Adik In liong, aku adalah seekor itik darat,

mana tak pandai berenang juga tak memiliki ilmu meringankan tubuh sebangsa Teng peng tok

sui, tapi justru ingin sekali mencicipi bagaimana rasanya naik perahu menentang ombak,

bagaimana baiknya menurut pendapatmu?”

“Aku sendiri juga tak tahu” jawab Hoa In-liong sambil berpaling dan tertawa.

Jilid 19

“Kau tidak tahu?” seru Coa Cong gi dengan mata melotot, “kalau begitu aku akan pergi juga,

walaupun bagaimanapun juga”

“Anak Gi, jangan ngaco belo! ” Coa hujin segera membentak dengan suara nyaring.

Dengan wajah serius Hoa In-liong segera menjura kepada Coa hujin, kemudian ujarnya, “Pek bo,

maaf siautit memberanikan diri untuk berbicara, ada baiknya kalau dengan membawa saudara

Cong gi dan adik Wi berangkat ke Lok yang untuk berjumpa dengan Pek hu.”

Padahal sedari tadi Coa hujin sudah ingin berangkat ke kota Lok yang untuk bertemu dengan

suaminya, cuma saja dia rikuh untuk mengu-taerakannya keluar, maka setelah mendengar

perkataan itu, dia lantas berpaling ke arah Goau cing taysu minta persetujuan.

Tampak Goan cing taysu termenung beberapa saat lamanya, kemudian berkata, “Liong ji,

mungkin kau telah melupakan suatu hal”

“Apa lagi Kong kong?” seru Hoa In-liong setelah tertegun beberapa

saat lamanya .

“Masalah Yu Siang tek suami istri!”

“Oooh……!.” Hoa In-liong berseru tertahan tanpa perdulikan sikapnya yang rada gugup, dia

lantas berpaling ke arah Yu Siau lam dan berkata sambil tertawa, “Saudara Siau lam, kau juga

harus berangkat ke kota Liok yang, urusan di Liau teng tak bisa kau ikuti”

“Kenapa?” tanya Yu Siau lam tertegun, bukankah membasmi iblis menegakkan kebenaran adalah

kewajiban setiap orang?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

386

Hoa In-liong segera tertawa terbahak-bahak.

“Haahhh…. haaahhh …haaahh. ..Pek hu dan Pek bo sekarang berada di Lok yang, kau sebagai

seorang putra yang berbakti sudah sewajarnya kalau berkumpul dengan mereka, apalagi ayah

ibumu baru lolos dari bahaya”

Yu Siau lam menjadi gembira sekali sesudah mendengar berita itu, belakangan ini dia selalu

menguatirkan keselamatan ayah ibunya, maka bisa dibayangkan betapa terharunya pemuda itu

setelah mendapat kabar tersebut, sehingga untuk beberapa saat lamanya ia tak mampu mengucapkan

sepatah katapun.

“Hoa kongcu, sungguhkah ini?” seru Tam Si bin pula dengan cemas.

Tapi setelah perkataan itu diutarakan tiba-tiba ia merasa ucapannya itu kurang tepat, maka buruburu

tambahnya, “Sebab lohu…..”

Sambil tersenyum Hoa Ia liong menukas.

“Berhubung pihak Mo kau hendak membuat phi tok liong wan, oleh pihak Hian-beng-kau Yu pek

hu dan pek bo telah diserahkan kepada orang-orang Mo kau, untunglah didalam pembuatan

obat-obatan tersebut Yu pek hu telah berbuat cerdik dengan melakukan sabotase secara diamdiam,

coba kalau bukan lantaran hal itu, tak akan segampang ini boanpwe berhasil

menyelamatkan para jago yang tertawan, malah besar kemungkinan boanpwe tak bisa ikut

menghadiri pertemuan besar yang diadakan oleh pihak Hian-beng-kau”

Tiba-tiba tanpa mengucapkan sepatah katapun Yu Siau lam membalikkan badan dan kabur

meninggalkan tempat itu.

Ketika dilihatnya pemuda itu seperti terpengaruh oleh emosi, Hoa In-liong kuatir ia menjumpai

hal-hal yang diluar dugaan, dengan cepat tubuhnya berkelebat kemuka dan mencengkeram urat

nadi pada pergelangan tangan Yu Siau lam.

“Saudara Siau lam!” bentaknya, “harap tenangkan hatimu, pek bu dan pek bo berada dalam

keadaan sehat wal’afiat”

Sesungguhnya Yu Siau lam adalah seorang pemuda yang pandai menguasai diri, sekalipun

perasaannya agak tergolak sewaktu mendengar kabar tentang orang tuanya, tapi setelah

mendengar perkataan dari Hoa In-liong itu perasaannya seketika menjadi tenang kembali.

Kepada Hoa In-liong katanya sambil tertawa rikuh:

“Adik In liong, aku tidak apa-apa”

“Harap saudara Siau lam dapat mengendalikan diri, dengan begitu siaute pun bisa berlega hati”

kata Hoa In-liong seraya melepaskan cengkeramannya,

Yu siau lam tertawa getir, serunya kemudian, “Hayo berangkat!”

Tiba-tiba ia membalikkan badan dan beranjak pergi.

Tentu saja tindakannya itu membuat Hoa In-liong menjadi tertegun, dengan wajah melonggo dia

menegur, “Saudara Siau Lam, mau apa kau?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

387

Tanpa berpaling Ya Siau lam berkata dangan tenang.

“Dengan kepandaian berenangku, tanpa berhenti aku bisa berenang sejauh sepuluh li, tentu saja

aku harus menyumbangkan dulu tenagaku sebelum pergi menyambangi orang tua, kalau tidak

demikian dia orang tua pasti akan mendamprat diriku sebagai egois”

Tiba-tiba Coa hujin menghela napas panjang dan ikut berkata, “Yu hiantit bisa mendahulukan

kepentingan umum daripada kepentingan pribadi, hal mana sungguh membuat aku yang menjadi

pek bo nya merasa malu sendiri”

Ia lantas berpaling kearah Goan cing taysu sambil katanya, “Sian ji bertekad untuk turut serta

dalam rombongan menuju ke liau tang, nama cousu tak boleh ternoda oleh perbuatan Sian ji

yang egois ini, soal Goan han, biarlah agak lambat sedikit juga tidak mengapa”

Goan cing taysu segera manggut-manggut.

“Kalau kau bisa berbuat demikian, hal ini memang lebih baik…….” katanya.

Hoa In-liong yang menyaksikan kejadian itu segera tahu, bahwa dibujuk terus juga tak berguna,

maka ketika dilihatnya dua bersau dara Kiong masih berada disana, sambil menarik muka, dia

lantas menegur, “Kenapa kalian belum pulang ke gunung? Mau apa menunggu disini? Kalau

terjadi sesuatu atas diri kalian, kau suruh aku bagai mana caranya bertemu dengan kakek kalian”

“Ilmu berenang yang kami miliki secara dipaksakan masih bisa pula dipakai untuk menghadapi

lawan” kata Kiong Gwat hui.

“Tidak bisa!”

Kiong Gwat hui segera menuding kearah Kongsun Peng seraya berteriak manja, “Dia kan belum

tentu jauh lebih hebat dari pada diriku, kenapa ia boleh ikut? Hey, Kongsun sauhiap, bagaimana

dengan ilmu berenangmu?”

Hoa In-liong segera berpaling ke arah Kongsun Peng sambil mengerdipkan matanya maksudnya

dia minta Kongsun Peng sengaja menyombongkan ilmu berenangnya agar bisa menyumbat

mulut kakak beradik dari keluarga Kiong itu.

Siapa tahu Kongsun Peng merasa gugup sekali sudah mendengar perkataan dari Kiong Gwat hui,

hakekatnya ia sama sekali tidak memperhatikan kerdipan mata dari Hoa In-liong tersebut,

dengan wajah merah padam seperti babi panggang dan suara tergagap dia berseru, “Aku

sendiripun tak mampu, cuma…..

Tidak menanti ia menyelesailan kata-katanya, Kiong Gwat hui telah tertawa cekikikan karena geli.

Hoa jiko, sudah dengar belum kata katanya itu?” serunya.

Kalau budak ini ribut terus macam begini, entah sampai kapan selesainya……..?” pikir Hoa Inliong.

Maka diapun tidak memaksa mereka untuk pulang lagi.

Sementara itu Goan cing taysu telah berkata sambil tersenyum.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

388

“Baiklah! Siapa yang ingin ikut pergi, biarkan ikut perlu, Liong ji juga tak usah menghalangi niat

mereka lagi”

Kiong Gwat hui merasa bangga sekali dengan ucapan itu, katanya sambil tertawa.

“Nah, sekarang apa yang hendak Kau katakan lagi? Bagaimanapun juga Goan cing locianpwe

memang lebih adil, sedangkan Hoa jiko jahat dan kurang ajar, hmm! Jangan kau anggap ilmu

silatmu sudah melebihi orang lain, kalau ada waktu dilain saat, aku pasti akan menantangmu

uatuk berada kepandaian”

Hoa In-liong benar-benar dibuat amat rikuh, tapi Goan cing taysu telah berkata demikian, maka

diapun merasa tidak leluasa untuk banyak berbicara lagi.

Sementara itu dalam hati kecilnya dia mulai menyusun rencana, dia bermaksud hendak meminta

pertolongan Goan cing taysu untuk memberi petunjuk ilmu silat kepada Kongsun Peng sekalian,

selain itu diapun ingin minta bantuan dari orang-orang Cian li kau untuk mengawasi para jago

yang agak cetek ilmu silatnya.

Tiba-tiba terdengar Pek Soh gi berkata, “Liong ji, bukankah kau selalu memperhatikan Kok Gi

pek, apakah selama in ia tak pernah munculkan diri?”

Hoa In-liong termenung dan berpikir sejenak, kemudian sahutnya”

“Para Ciu Hoa juga tak seorang pun yang menampakkan diri. Aku pikir hal ini tak perlu

diherankan, sang kelinci pun mempunyai sarang paling tidak tiga buah, sudah pasti sarang Kok

See-piau juga bukan sebuah istana Kiu ci piat kiong di bukit Ci san ini saja, aku tahu kalau

ambisinya untuk menguasahi dunia persilatan amat besar, setelah menderita kekalahan jelas

mereka akan dibawa kabur ke suatu tempat rahasia untuk menghimpun kekuatan lagi seraya

menunggu saat yang baik guna muncul kembali didalam dunia persilatan”

“Aaai……! Tampaknya kecerdasan Kok See-piau satu tingkat jauh lebih dalam bila dibandingkan

dengan kawanan iblis lainnya” keluh Cu Im taysu sambil menghela napas.

“Kalau Thian hong mau menuruti perkataanku dan sadari dulu menjagal si bajingan tengik yang

cabul itu, sudah pasti dia tak akan berhasil seperti sekarang ini dan menjadi bibit penyakit untuk

kita semua” kata Ciu Thian hau dengan suara dingin.

“Tapi sekarang toh masih belum terlalu terlambat” kata Hoa In-liong sambil tertawa paksa.

Sementara pembicaraan masih berlangsung, tiba-tiba ada orang yang datang menyerahkan

pedang mestika milik Hoa In-liong yang terjatuh ke dalam lembah tadi beserta senjata kaitan Pek

giok kau milik Thia Siok-bi, buru-buru si anak muda itu mengucapkan terima kasih.

Hari itu udara dia atas lautan amat tenang, ombakpun tidak seberapa besar, sejauh pandangan

ke depan, laut dan langit seakan-akan berhubungan antara yang satu dengan lainnya.

Berapa titik perahu layar sedang pelan-pelan bergerak menuju ketengah samudra yang seolaholah

tak pertepian itu.

Setelah bersembahyang untuk arwah Thian Ik-cu yang telah tiada, Hoa In-liong sekalipun

berangkat menuju keutara dan menumpang

dalam sebuah perahu amat besar.

Pek Siau-thian dan Thia Siok-bi ternyata tidak turut didalam rombongan tersebut.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

389

Pada setiap tiang layar perahu-perahu pihak mereka, semuanya dikibarkan selembar panji hitam

yang melukiskan seekor nasa emas yang sedang memantangkan kelima Jari cakarnya, itulah

lambang perahu dari Mu Hay yu liang (naga sakti dari empat samudra).

Beng liong sin yang meraja lela sepanjang sungai Tiang sang ke utara, laut kuning laut utara dan

sekitarnya.

Berbicara yang sebetulnya, Su Hay yu liong Beng Tiong sin susungguhuya berstatus setengah

perampok, ia menarik pajak dari setiap perahu nelayan dan perahu saudagar yang melalui

perairannya, cuma andaikata para nelayan itu menghadapi persoalan, merekapun bersedia

memberi bantuan dengan melindungi nelayan-nelayan tersebut.

Adapun pajak yang harus dibayar adalah ditentukan oleh para nelayan itu sendiri, jumlahnya

tidak terhitung terlampau tinggi dan masih boleh dibilang adil.

Sebaliknya jika terjadi perampokkan didaerah perairannya, maka dia akan menggunakan hitam

makan hitam untuk menyikat barang rampasan perampok-perampok lain, sedang bila ada

pembesar korup atau saudagar curang yang melalui tempat itu, diapun membegal mereka.

Untung saja sifat orang ini cukup bijaksana, selamanya dia hanya merampas harta, tidak melukai

nyawa orang, dengan peraturan nya yang amat ketat, belum pernah anak buahnya melakukan

sesuatu perbuatan yang melanggar hukum langit.

Justru karena sifatnya itu, maka para jago dari golongan pendekar pun tiada yang meng gubris

perbuatannya itu.

Kali ini Hoa In-liong telah mendatangi mereka untuk memohon bantuannya, sebagaimana

diketahui, nama keluarga Hoa sudah amat tersohor dalam dunia persilatan waktu itu, apalagi

Beng Tiong sin memang sudah menguasai penuh daerah perairan disekitiarnya maka begitu

mendapat kunjungan Hoa jiya, buru-buru ia menyambut kedatangannya dengan segala

kehormatan.

Ketika maksudnya dikemukakan, sambil menepuk dada, Beng Tiong sin langsung saja

menyatakan kesanggupannya.

Bukan saja dia telah menyediakan lima buah perahu perang yang terbagus, bahkan turun tangan

sendiri untuk mengiringi keberang katan mereka.

Sesungguhnya Hoa In-liong tidak bermaksud demikian, dia hanya ingin meminjam perahu dan

seorang yang hapal dengan daerah pengairan dilaut utara saja hanya sebagai petunjuk jalan, dia

tak ingin memaksa orang itu harus bermusuhan secara terbuka dengan pihak Kok See-piau, Bwe

Su-yok serta Jin Hian sekalian.

Seng Tiong sio ternyata bersikeras untuk turut serta didalam pergerakan itu, sepintas lalu ia

membantu seperti karena didorong nalurinya untuk ikut menegakkan keadilan, padahal

sesungguhnya diapun memiliki suatu maksud pribadi.

Sebagaimana diketahui, Pek hay sam liong yang berpihak kepada Jin Hian juga malang melintang

dilautan utara selama ini, belum pernah mereka memberi muka kepadanya, setiap kali anak

buahnya ketanggor mereka, selalu dihajar sampai kocar kacir tak karuan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

390

Beng Tiong sin cukup menyadari akan keterbatasan ilmu silatnya, maka selama ini dia hanya bisa

menerima kenyataan tersebut deegan hati kecut.

Tapi skarang kesempatan baik untuk membalas dendam telah tiba, mungkinkah dia akan

melepaskan peluang tersebut dengan begitu saja……?

Apalagi bisa bergaul dengan orang-orang keluarga Hoa merupakan sesuatu kejadian yang pantas

dibanggakan dan bisa menambah pamornya di mata orang, sudah barang tentu dengan senang

hati permintaan itu segera dikabulkan……

Berlayar diatas lautan sebagian besar adalah tergantung pada hembusan angin, beberapa hari

belakangan ini ternyata angin ber- hembas sangat lemah sehingga perahupun berjalan sangat

lambat.

Diam-diam Hoa In-liong gelisah sekali menyaksikan kenyataan itu, dia mulai menyesal mengapa

harus melakukan pengejaran lewat lautan, coba kalau melalui daratan dengan mendahului

didepan musuh, siapa tahu mereka masih memiliki sisa waktu untuk mengadakan persiapan di

wilayah Liau tang.

Tapi berulang kali Beng Tiong sin menghibur hatinya, dia berkata bahwa rombongan Jin Hian dan

dua perkumpulan lainnya juga tiba disana belum lama, hal tersebut sesungguhnya tak perlu

dirisaukan.

Hoa In-liong juga tahu bahwa gelisahpun tak ada gunanya, maka ia pergunukan kesempitan

selama beberapa hari ini untuk memperdalam ilmu silat sendiri.

Sementara Kongsun Peng, Yu Siau lam sekalian juga memohon petunjuk ilmu silat dari Coan cing

taysu serta Ciu Thian hau sekalian.

Dengan senang hati para angkatan tua itu memberi petunjuk sejauh mana mereka butuhkan.

Menjumpai Kesempatan yang demikian baiknya ini, sudah barang tentu para jago muda itu

menjadi bersemangat untuk melatih diri, tiap hari mereka memohon petunjuk dan melatihnya

siaang malam dengan tekun, tak heran dalam beberapa hari yang amat singkat ini kepandaian

silat mereka telahh mendapatkan kemajuan yang amat pesat.

Dalam pada itu, Beng Tiong sin sedang menemani Hoa In-liong sekalian berdiri diujung geladak

sambil memandang jauh ke depan.

Tiba-tiba Hoa Ngo berkata, “Liong ji, yakinkah kau bahwa Kok See-piau benar-benar sedang

melakukan pengejaran terhadap Jin Hian dan rombongan?”

Mereka masuk kelautan lebih duluan, kita juga sudah mencari kabar sebelum, berangkat, apalagi

ada orang yang menyaksikan pihak Hian-beng-kau dan Kiu-im-kau telah berangkat berlayar

menyusul rombongan dari Hong im hwe, masakah hal ini bisa salah lagi?”

Hoa Ngo segera menggelengkan kepalanya berulang kali, dia berkata.

“Seberapa orang itu yang satu jauh lebih licik daripada yang lain tanpa suatu ke yakinan yang

kuat, tak mungkin mereka akan masuk kelautan, siapa tahu kalau mereka henya pura-pura

berlayar, lalu setelah sampai ditengah jalan secara diam-diam merapat kembali kedaratan……?”

Hoa In liang termenung sebentar lalu jawabnya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

391

“Jin Hian sudah tiada jalan lain yang bisa di tempuh lagi kecuali jalan ini, dia pasti tak akan

kembali kedaratan Tionggoan secara diam-diam, sebab hal itu justru akan membahayakan

jiwanya. Dalam pertemuan besar Toan wu hwee, seandainya Jin Hian tidak menjegal kaki Kok

See-piau dari belakang, usaha Hian-beng-kau untuk menjebak semua jago yang hadir dalam

pertemuan itu pasti telah berhasil dengan sukses, dunia persilatanpun mungkin sudah terjatuh

ketangannya. Tapi gara-gara Jin Hian semua harapannya buyar seperti terhembus angin,

dendam sakit hati sebesar ini tak mungkin bisa dilupakan oleh Kok See-piau, malah mungkin dia

belum akan puas sebelum mencincang dagingnya dan menghirup darahnya, coba di pikirlah

sendiri, masa dia akan melepaskan musuh besarnya itu dengan begitu saja?”

Setelah berhenti sejenak, dia menambahkan.

“Apalagi bertarung diatas lautan, pihak mereka jauh lebih beruntung posisinya daripada orang

lain”

“Kalau memang demikian, mengapa setelah kita kejar selama beberapa hari, masih belum

tampak juga jejak mereka?” seru Hoa Ngo dengan mata melotot.

Bong Pay segera tertawa, selanya, “Ngo te apakah kau tidak merasa terlalu terburu napsu?”

Mendadak Hoa In-liong berteriak keras, “Lihat! Didepan sana ada perahu!”

“Yaa, besar kemungkinan perahu itu adalah perahu orang-orang Hian-beng-kau serta Kiu-im-kau.

Beng Tiong sin setengah percaya setengah tidak ketika mendengar seruan itu sebab ia belum

mendapat laporan dari petugasnya yang berada diatas tiang, bisiknya kemudian”

“Aaai, benarkah itu?”

Cepat dia mengeluarkan sebuah teropong dan memeriksa keadaan didepan sana, “betul juga,

diujung laut sebelah depan sana kelihatan ada beberapa titik hitam yang bergerak-gerak seperti

perahu.

Hal mana segera mengejutkan hatinya, pikirnya kemudian, “Heran, padahal jarak dari sini sampai

ke situ masih jauh sekali, mengapa dengan mata telanjang mereka bisa menangkap titik se kecil

itu? Pada hal aku yang melihat dengan teropongpun memakan waktu yang cukup lama?”

Sifat kekanak-kanakan Coa Wi-wi belum hilang, ketika dilihatnya Beng Tiong sin menempelkan

matanya pada sebuah benda lonjong untuk memandang ke tempat kejauhan, tanpa terasa dia

bertanya”.

“Eeeh. ….benda apa sih itu? Bolehkah meminjamkannya kepadaku sebentar…..?”

Beng Tiong sin tentu saja tak berani menampik, sambil menyerahkan teropong itu sahutnya

sambil tertawa, “Benda ini bernama Cian li king (teropong seribu li) datang dari Persia,

kegunaannya bisa mendekatkan benda yang berada ditempat kejauhan, bila nona suka dengan

benda itu, ambil saja, aku masih memiliki beberapa buah lagi”

“Ooh…sesuatu yang luar biasa, coba aku lihat kata Coa Wi-wi tertawa.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

392

Dia lantas menempelkan matanya pada ujung teropong dan melongok ke depan, mendadak

jeritnya, “Enci In, Enci Lian, enci Hui, kalian cepat kemari, betul juga, kita bisa melihat benda

didepan sana dengan jelas.

Sesudah berhenti sejenak, katanya lagi.

“Haah, betul juga! Didepan situ ada perahunya, satu, dua, tiga…..semuanya berjumlah delapan,

diatas tiang bendera berkibar sebuah panji dengan sulaman……”

“Haahhh…..haaahhhh….haaahhh…..pasti sulaman kepala setan” sambung Hoa In-liong.

“Betul!” sahut Coa Wi-wi sambil manggut-manggut.

“enci In, aai….kheki betul aku, sudah dipanggil-panggil kenapa belum datang juga?”

Menyaksikan kepolosan dan kelincahan si nona yang cantik dan menarik itu, semua orang

merasa hatinya lega dan nyaman, tanpa terasa semua orang ikut tersenyum.

Beng Tiong sin diam-diam merasa keheranan lagi, dengan teropong tersebut dia cuma bisa

mengenali titik-titik hitam tersebut sebagai perahu, kenapa gadis itu bisa melihat lambang diatas

panji perahu depan?

Sesungguhnya ia sudah memandang Coa Wi-wi terlalu rendah, ia tidak percaya kalau gadis

secantik ini memiliki ilmu silat yang amat luar biasa, apalagi memiliki ketajaman mata yang

berlipat kali lebih tajam dari manusia biasa.

Tiba-tiba terdengar kelasi yang berada di atas tiang berteriak keras, “Sebelah utara condong

ketimur delapan derajat ada perahu, kurang lebih….. “

Ngo can, tak usah berbicara lagi!” bentak Beng liong sin keras-keras.

Orang yang berada diatas tiang itu segera tutup mulut dengan ketakutan bercampur keheranan,

ia tak habis mengerti kenapa Beng liong sin gusar kepadanya.

Terdengar Beng Tiong sin berguman lagi setengah menggerutu, “Goblok! Orang lain sudah

melihat dengan jelas, kau masih cerewet melulu. …”

Tiba-tiba Coa Wi-wi menyodorkan teropong Tian li cing tersebut kepada Hoa In-liong, kataanya,

“Jiko, kau juga lihatlah dengan benda ini”

“Haaahh…..haaahh……haahh……tidak usah” sahut Hoa In-liong sambil tertawa terbahak-bahak,

“ketika aku ulang tahun yang kesepuluh, ada orang menghadiahkan sebuah teropong cian li cing

tersebut untuk ku, waktu itu aku membawanya setiap hari untuk bermain, tapi akhirnya aku

menjadi jemu sendiri”

“Huuh, tidak mau melihat yaa sudah” seru Coa Wi-wi sambil mencibirkan bibirnya yang kecil.

Dia lantas berpaling, ketika dilihatnya Cia In sekalian sedang keluar dari ruang perahu, ia lantas

berteriak, “Enci In, cepat kau lihat!”

Cia In tak tega untuk menampik maksud hatinya, maka diapun menerima teropong itu dan

melihat sebentar, kemudian katanya hambar, “Ehmm, betul juga!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

393

Dia lantas sodorkan ke tangan Kiong Gwat hui, setelah melirik sekejap ke arah Hoa In-liong,

diapun berjalan menuju ke buritan kapal.

Sementara itu gadis lainnya sedang saling berebut untuk melihat sambil tertawa cekikikan, suara

pembicaraan mereka yang ribut membuat suasana bertambah ramai.

Coa Wi-wi malah sebaliknya, tidak tertarik lagi, dia mengejar ke mana Cia In pergi.

Hoa In-liong melirik sekejap ke arahnya dengan mulut membungkam, dihati kecilnya diam-diam

ia menghela napas.

Mendadak ia tidak menjumpai Kiong Gwat hui hadir disitu, segera pikirnya dalam hati,

“Keramaian apapun pasti diikuti budak ini, mengapa kali ini terkecuali?”

Sesudah termenung sejenak, ia lantas memburu ke sisi perahu untuk mencari jejaknya, disuau

tempat yang tertutup akhirnya ia menjumpai Kiong Gwat hui dan Kongsun Peng sedang duduk

berdampingan dan bercakap-cakap dengan suara lirih, sikap mereka kelihatan amat mesra.

Dia-diam ia merasa girang sekali setelah menyaksikan keadaan itu, ia tidak mengganggu mereka

berdua dan cepat kembali ke geladak, kepada Beng Tiong sin katanya, “Beng tangkah, tahukah

kau sampai kapan kita baru berhasil menyusul perahu dari pihak Kiu-im-kau itu?”

Beng Tiong sin berpaling dan memeriksa sejenak, kemudian sahutnya.

“Paling tidak juga satu hari lagi!”

Mendengar itu Hoa In-liong lantas berpikir.

“Cuma jarak perjalanan sedekat inipun membutuhkan waktu yang begini lama, betul-betul bikin

hati orang menjadi jemu rasanya

“Hoa Kongu!” terdengar Beng Tiong sin berkata lagi, “meskipun perahu musuh sudah kelihatan,

tapi jarak kita paling tidak juga masih lima enam puluh li, bila ada angin dalam tiga empat jam

kita sudah bisa menyusul mereka, tapi tanpa angin seperti sekarang ini, seharipun belum tentu

bisa menyusul mereka, itu menurut perhitungan dengan perahu milik aku orang she Beng, coba

kalau perahu biasa, hal ini tak mungkin bisa dilakukan”

“Aku juga tahu kalau perjalanan di laut tidak sama dengan perjalanan didarat” kata Hoa In-liong

sambil tertawa, “aku mah belum sampai sebodoh itu”

Tiba-tiba angin sejuk berhembus lewat, membuat orang merasa lega dan semua kemangkelan

serasa lenyap tak berbekas.

Beng Tiong sin menjadi kegirangan serunya cepat, “Bila hembusan angin ini tidak berhenti, tak

sampai setengah harian, kita sudah akan berhasil menyusul mereka”

Selama beberapa bari belakangan ini hanya saat sekarang merupakan saat yang paling

menggembirakan, Siau yau sian Cu Thong yang baru sembuh dari lukanya merasa kesal setelah

mengurung diri selama beberapa hari dalam ruangan, saat itu diapun sudah keluar dari ruangan

dan bercakap-cakap dengan Cia Thian hau serta Cu Im taysu sekalian diatas loteng perahu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

394

Sementara itu Coa Wi-wi yang menyusul Cia In berhasil menemukan gadis itu ada disisi kiri

perahu sambil bermuram durja, waktu itu ia sedang memandang hutan nan hijau dikejauhan

sana sambil termangu-mangu.

Dengan kening berkerut segera sapanya, “Enci In!

Cia In terkejut dan segera berpaling, “Adik wi, kau sedang memanggil aku?” tegurnya.

Aaaii ….! Coa Wi-wi menghela napas panjang sambil menghampirinya, kenapa sih enci In begitu

murung? Sungguh membuat aku ikut merasa sedih dan kesal!”

Cia In mersa amat terharu sekali, sambil membenahi rambutnya yang kacau terhembus angin, ia

menghela napas, katanya, “Perhatian adik Wi sangat mengharukan hatiku, cuma…..aaai!

Darimana kau bisa mengetahui isi hatiku”

“Tidak, aku tahu, enci In tentunya disebabkan…..

“Gadis ini terlalu pintar”

Cia In segera berpikir, lebih baik jangan kuucapkan kata-kata yang susah dihadap…..

Berpikir demikian, sambil tertawa dia lantas menukas, “Isi hatiku adalah ingin melihat kau dan

jiko kawin serta hidup secara berbahagia sepanjang waktu, dengan begitu aku pun bisa berlega

hati”

Merah padam selembar wajah Coa Wi-wi karena jengah, katanya, “Akupun tahu kalau enci In

sangat baik kepadaku, cuma isi hati enci In sudah jelas bukan…”

“Apa yang barusan kukatakan, sesungguhnya memang benar-benar merupakan isi hati enci In,

cuma,……..aku memang masih ada isi hati lain yang belum diucapkan”

“Lantas apakah isi hatimu itu?”

“Enci In sudah mulai jemu dan muak menghadapi dendam dan saling bunuh membunuh yang

terjadi didalam dunia ini, enci bertekad untuk cukur rambut menjadi pendeta, tapi budi kebaikan

guruku yang telah mendidik aku selama ini lebih tebal dari langit, bagaimanapun juga aku

merasa tak tega untuk mengutarakannya keluar”

Coa Wi-wi menjadi tertegun sehabis mendengar perkataan itu, tiba-tiba ia mendongakkan

kepalanya seraya berseru, “Bibi Ku, bibi Pui, ucapan enci In toh sudah kalian dengar, mengapa

kalian berdua tidak munculkan diri untuk membujuknya?”

Baru saja Cia In tertegun, tampak Tiang heng Tokoh dan Pui Che-giok telah melayang datang.

Pui Che-giok segera menghela napas panjang, katanya, “In ji, jadi kau tak mau meneruskan

warisan perguruan kita ini?”

Tiba-tiba Cia In menjatuhkan diri berlutut, dengan air mata bercucuran katanya.

“Harap suhu bersedia mengampuni dosa tecu, tecu benar-benar ingin mengikuti supek untuk

belajar agama”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

395

Dengan kening berkerut Tiang heng tokoh berkata, “Bertapa bukan sesuatu yang boleh dianggap

sebagai bahan permainan, belum tentu kau bisa tahan untuk hidup terpencil dan jauh dari

keramaian dunia, buat apa sih kau musti menyiksa diri?”

“In ji pasti bisa menerima semua penderitaan tersebut, harap supek mau mengabulkan

permintaanku ini” rengek Cia In sedih.

“Untuk dibicarakan memang gampang, tapi sukar untuk dilaksanakan. Kau bangunlah lebih dulu,

persoalan ini bisa kita rundingkan kembali dikemudian hari”

Tapi Cia In tetap berlutut diatas tanah. “Supek, kumohon kau orang tua bersedia memenuhi

keinginan In ji ini” pintanya. Tiang heng Tokoh mengerutkan dahinya, tapi setelah berpikir

sebentar, tiba-tiba ia tersenyum, sambil membangunkan gadis itu katanya, “Keinginanmu itu

supek tak mungkin bisa memenuhinya, tapi kalau keinginanmu yang lain, mungkin juga supek

bisa mengusahakan agar berhasil…….”

Mula-mula Cia In agak tertegun, kemudian merah padam selembar wajahnya karena jengah, dia

ingin membantah tapi kuatir semakin dibantah keadaannya semakin runyam, setelah gelagapan

sendiri, akhirnya sambil mendepakkan kaki ke lantai, dia menyelinap masuk kedalam ruangan.

Menyaksikan kesemuanya itu, Pui Che-giok gelengkan kepalanya berulang kali sambil bergumam

dengan suara lirih.

“Aaai…..!Siapa yang terlalu romantis, akhirnya pasti akan menanggung kekecewaan,

tapi…..berapa orang didunia ini yang bisa terlepas dari soal cinta?”

Tiba-tiba terdengar suara dari Goan cing taysu bergema datang.

“Buddna maha pengasih datang kedunia dengan membawa kasih dan cinta, tak mungkin dunia

ini kehilangan cinta, bila tak mampu dilakukan, janganlah terlalu memaksakan, sesuatu yang

terlalu dipaksakan akan berakibat kurang nenyenangkan, mengerti kah kalian Heng toyu, dan Pui

kaucu……?”

Dengan terkejut kedua orang itu berkerling, entah sedari kapan tahu-tahu Goan cing taysu telah

berdiri dibelakang mereka.

Tiang heng Tokoh menggerakkan bibirnya seperti hendak mengatakan sesuatu, tapi kemudian

niat tersebut diurungkan.

Sedangkan Pui Che-giok hanya berdiri tertegun seperti tak tahu apa yang mesti dikatakan.

Coa Wi-wi pun berdiri tertegun seperti mengerti seperti juga tidak, untuk sesaat suasana menjadi

amat hening., Setelah melakukan pengejaran hampir satu jam lamanya, Hoa In-liong sekalian

menjumpai lebih kurang dua tiga puluh li didepan barisan perahu-perahu Kiu im kiu terdapat

rombongan perahu lain, mungkin itulah perahu yang ditumpangi Jin Hian sekalian.

Menjelang tengah hari, perahu yang di tumpangi Hoa In-liong sudah berada hanya sebelas dua

belas li dari perahu-perahu Kiu-im-kau, sebaliknya perahu yang ditumpangi Jin Hian sekalian

tinggal sepuluh li dari perahu utama dari pihak Kiu-im-kau.

Jauh diujung depan sana, diwilayah sebelah utara tampak daratan nan hijau telah terbentang

didepan mata, ternyata kejar mengejar yang berlangsung selama beberapa hari ini telah

membawa ketiga pihak rombongan itu semakin mendekati wilayah Lian tang.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

396

Ditengah samudra yang luas, para jago dari ketiga belah pihak mulai dapat menyaksikan gerakgerik

musuh diatas perahu masing-masing.

“Diatas kelima buah perahu besar milik Beng Tiong sin dilengkapi pula dengan meriam-meriam

besar, empat diperahu utama dan dua diperahu lainya.

Pada waktu itu belasan lelaki kekar yang bertubuh tegap sedang menggosok meriam,

mengangkut musiu, mengisi meriam dan sibuk bekerja tampak peluh telah membasahi tubuh

orang-orang itu.

Tiba-tiba Hoa In-liong menjumpai pada setiap buritan perahu perahu Kiu-im-kau juga dilengkapi

dengan sebuah meriam, dua orang lelaki berbaju hitam yang membawa obor berdiri serius disisi

meriam tersebut.

Menyaksikan ketenangan orang-orang itu serta bentuk meriam yang jauh lebih besar dan

menyeramkan itu, satu ingatan segera melintas dalam benak anak muda itu, pikirnya, “Agaknya

gelagat tidak menguntungkan bila dilihat dari keadaan mereka, rupanya pihak Kiu-im-kau telah

mempunyai rencana yang cukup matang, jauh berbeda dari pihak kami yang menjadi repot

setelah persoalan menjelang didepan mata …”

Berpikir demikian, dia lantas bertanya kepada Beng Tiong sin, “Beng tangkeh, meriam-meriam

mu itu bisa mencapai jarak berapa jauh…..?

Tanpa berpikir panjang Beng Tiong sin segera menjawab, “Kurang lebih tiga li, paling jauh pun

bisa mencapai empat li”

“Lantas berapa jauh jarak yang bisa dicapai oleh meriam-meriam pihak Kiu-im-kau? Apakah Beng

tangkeh bisa memberi ancer-ancernya?” Beng Tiong sin segera mengeluarkan teropongnya dan

memeriksa sebentar, dia ia merasa amat terkejut tadi diluar, jawabnya, “Meriam diatas perahu

ku ini termasuk meriam kelas satu, aku pikir belum tentu meriam-meriam Kiu-im-kau bisa

menandingi kami”

Hoa In-liong segera tersenyum, ujarnya kemudian, “Aku lihat ada baiknya kita jangan beradu

meriam dengan mereka, cari saja akal lain untuk beradu kekuatan dengan mereka, entah

bagaimana menurut pendapat Beng tangkeh?”

“Tidak usah” jawab Beng Tiong sin dengan angkuh, “sekalipun harus berduel mati-matian, aku

percaya meriam kita tak akan kalah dari meriam-meriam lawan”

Sejak terjun ke dalam dunia persilatan, pengalaman yang dimiliki Hoa In-liong sudah

memperoleh kemajuan yang pesat, melihat keyakinan orang ini, dia lantas tahu jika pembicaraan

dilanjutkan, bisa jadi orang akan salah mengira dirinya memandang hina, oleh sebab itu dia

cuma tertawa hambar dan tidak berbicara lagi.

Sebenarnya perahu-perahu dari ketiga belah pihak berlayar dengan cara beriring, akan tetapi

setelah menemukan jejak musuh mereka segera memerintahkan perahu di belakang untuk

menyusul ke depan dan berganti formasi menjadi berlayar berjajar.

Hoa In-liong memperhatikan perahu-perahu di pihak Jin Hian sana, ia menyaksikan Jin Hian telah

muncul dari ruang perahunya untuk memeriksa keadaan, tapi tidak nampak Bwe Su-yok maupun

Kok See-piau muncul dari ruang perahunya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

397

Melihat itu, pemuda kita lantas berpikir.

“Berada dalam keadaan seperti ini, Kiu-im-kau terpaksa akan menghadapi dua arena pertarungan

sekaligus, kenapa Bwe Su-yok begitu gegabah tanpa munculkan diri untuk melakukan

pemeriksaan?” Bukankah tindakan ini kurang cerdas?”

Baru selesai berpikir, tiba-tiba dari buritan sebuah perahu Kiu-im-kau berjalan keluar seorang

gadis berwajah dingin yang membawa sebuah tongkat berkepala setan, orang itu tak lain adalah

Kiu in kaucu Bwe Su-yok.

Disampingnya mengikuti pula Un yong ciau, Kek tian tok sekalian. Menyusul kemudian dari

perahu sebelah kiri kanannya segera bermunculan pula Kok See-piau, Che Thian hua, Gi Tang

cuan sekalian jago-jago dari Hian-beng-kau.

Dengan sepasang biji matanya yang Jeli, Bwe Su-yok memperhatikan sekejap perahu yang

ditumpangi Hoa In-liong kemudian sambil tertawa dingin katanya, Hoa In-liong kenapa kau

bukan datang seorang diri, tapi mengajak begitu banyak orang untuk mengiringi kematianmu

bersama?

“Menang kalah belum ditentukan, lebih baik kau jangan keburu bersenang hati lebih dahulu”

sahut Hoa In-liong hambar.

Setelah berhenti Sejenak, tambahnya, “Bagaimana dengan Si Leng jin dan pelayannya?”

Tiba-tiba muncul perasaan dengki dalam hati Bwe Su-yok, dengan dingin, ia menjawab, “Budak

itu terlalu keras kepala, tak menuruti perkataanku, karena marah aku telah membuang mereka

ke dalam lautan sebagai umpan ikan”

Meskipun tidak percaya, agak tergetar juga perasaan Hoa In-liong setelah mendengar perkataan

itu, bentaknya segera, “Sungguhkah perkataanmu itu?”

“Tentu saja sungguh!”

Diam-diam Hoa In-liong segera berpikir kembali.

“Makin lama budak ini semakin sok lagaknya, aku harus memberi pelajaran yang setimpal

kepadanya, sialan!”

Tiba-tiba terdengar Kok See-piau terseru sambil tertawa, “Bwe kaucu buat apa kau musti banyak

bicara dengan kawanan manusia yang sudah hampir mampus itu? Lebih baik cepat-cepat

dihantar pulang ke langit barat saja kan beres”

“Hmm, tidak akan semudah itu kawan!” teriak Beng tiong Jin dengan suara lantang.

Dalam pada itu, perahu masing-masing sudah berada pada jarak lima enam li dari perahu lawan.

Buat jago-jago lihay seperti Hoa In-liong, Kok See-piau dan sekalian jago lainnya berbicara dalam

jarak sejauh ini masih bukan menjadi persoalan, tapi Beng Tiong sin harus mengerahkan tenaga

yang cukup besar untuk mengutarakan kata-kata tersebut, itupun sebagian besar diantaranya

buyar terhembus angin, sehingga apa yang dia ka takan hakekatnya tidak terlalu jelas.

Agaknya Bwe Su-yok maupun Kok See-piau berdua juga bisa menduga kedudukannya dalam

perahu, kedua orang itu hanya menjengek sinis dan sama sekali tidak menggubris.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

398

Tiba-tiba Lei Kiu-it dari Kiu-im-kau berseru lantang, “Seng Tiong sin, kau tak lebih cuma seorang

perampok, berani betul berlagak sok dengan mengandalkan keluarga Hoa, Hmm! Sebentar akan

kubekuk dirimu dan suruh kau merasakan bagaimana enaknya disiksa oleh pun thamcu, agar

kolong langit tahu bagaimana akibatnya jika ada orang berani bermusuhan dengan Kui im kaucu”

Setelah Beng Tiong sin mendengar ancaman lei Kiu-it yang menyeramkan itu, apalagi

membayangkan kalau musuhnya adalah seorang gembong iblis, andaikata pihak pendekar

membiarkan musuh terlepas seorang saja, itu berarti dirinya akan tewas tanpa tempat kubur,

tanpa sadar ia menjadi bersin berulang kali dan membungkam dalam seribu bahasa.

Ketika para gadis dari Cian li kau menyaksikan orang itu terbungkam setelah bersikap sok gagah

menjadi geli dan sama-sama tertawa.

Hoa In-liong segera melotot sekejap ke arah mereka, kemudian seraya berpaling katanya

lantang, “Beng Tongkeh bersedia meminjamkan perahunya lantaran atas permintaan dari aku

orang she Hoa, Kiu-im-kau dan Hian-beng-kau adalah kumpulan orang gagah, mereka pasti tak

akan membuat susahnya dirimu, selama keluarga Hoa masih utuh, pokoknya partai-partai

tersebut tak akan menganggu seujung rambut Beng tongkeh, bila Lei tiamcu ada persoalan,

silahkan diutarakan secara langsung kepadaku”

Mendengar ucapan tersebut, dengan perasaan berterima kasih, Beng Tiong sin melirik sekejap

kearah Hoa In-liong.

Kok See-piau segera tertawa dingin, ujarnya, “Orang she Hoa, kau ini ibaratnya patung dewa

terbuat dari lumpur yang ingin menyeberangi sungai, untuk melindungi diri sendiri saja sudah

sulit, apa gunanya kau musti cabangkan pikiran untuk menguasahi keselamatan orang lain”

Sementara pembicaraan berlangsung, selisih jarak kedua belah pihak lebih mendekati hampir

satu li lagi.

Tiba-tiba Bwe Su-yok tertawa dingin, tangannya lantas diulapkan memberi tanda.

Seorang lelaki kekar yang berada disisinya segera mengeluarkan terompet keong dan meniupnya

bertaut-taut.

Pekikan panjang yang berat dan kasar berkumandang membelah angkasa, suara tersebut begitu

keras hingga tersiar sampai ditempat kejauhan.

Belum lagi suara terompet itu selesai berbunyi, tiba-tiba dari atas perahu Kiu-im-kau melintas

cahaya api, menyusul kemudian terdengar bunyi menggelegar yang amat memekikkan telinga.

“Celaka…bunyi meriam!” pekik semua orang dihati.

Ketika ledakan dahsyat itu menggelegar, peluru meriam yang ditembakkan dari perahu lawan

segera meluncur ke depan dan meledak diatas air, suatu gelombang dahsyat segera terjadi,

butiran air memancar setinggi tiang dan menyebar sampai empat lima kaki jauhnya, banyak

orang yang basah kuyup bajunya akibat kejadian itu.

Perahu yang berada disebalah barat terkena tembakan yang mengakibatkan tiang layar mereka

terjilat api, penumpangnya menjadi panik dan bekerja keras untuk memadamkan kebakaran

yang lebih membesar, dengan susah payah api berhasil dipadamkan, tapi dengan patahya tiang

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

399

layang utama, perahu itu menjadi melambat, untung saja yang terkena bukan lambung perahu

sehingga keselamatannya tak sampai terancam.

Beng Tiong sin marah sekali setelah menyaksi kan kejadian itu dia segera turunkan perintah

untuk balas melancarkan serangan dengan meriamnya, sayang waktu itu jaraknya masih ada

empat li lebih, sehingga peluru-peluru yang ditembakkan segera terjatuh keair ketika tiba

beberapa kaki dibelakang sasaran, sekalipun gagal menghajar perahu musuh, tapi akibatnya

cukup membuat tim bulnya gelombang yang amat dahsyat.

Pihak Kiu-im-kau kembali melancarkan tembakan meriam, kali ini sasarannya adalah perahu di

sayap kiri Beng Tiong sin, perahu tersebut terkena tembakan dan meledak, tubuh perahu

merekah dan muncul sebuah lubang besar, air laut segera masuk kedasar ruangan, ini membuat

penumpangnya harus menolong segera tergesa-gesa, sayang lubang bekas tembakan itu terlalu

besar, sekalipun disumbat dengan kain selimut, toh akhirnya tertembus juga oleh arus air

Beng Tiong sin betul-betul merasa gusar, ia merampas sebatang obor dan menyulut sendiri api

meriamnya, kali ini tembakan tersebut menghajar di sisi perahu Kiu-im-kau yang mengakibatkan

tubuh perahu lawan retak, tapi lubang itu segera bisa disumbat untuk melanjutkan perjalanan.

Hoa ln liong yang menyaksikan kejadian ini segera berkerut kening, dia tahu jika pertempuran

diteruskan, kendatipun beberapa buah perahu lawan berhasil ditenggelamkan, paling tidak pihak

mereka akan tertumpas semua, yang berilmu tinggi mungkin saja masih bisa selamat, tapi

mereka yang rendah ilmu silatnya sudah pasti akan tenggelam berikut perahu yang mereka

tumpangi.

Maka buru-buru dia berseru, Turunkan layar utama, kurangi kecepatan!”

Beng Tiong sin segera memerintahkan anak buahnya untuk melaksanakan perintah itu, sebab

perkataan dari Hoa In-liong sama seperti perintah pribadinya, maka tak ada seorang kelasipun

yang berani membangkang, cepat-cepat mereka bekerja keras dan menurunkan layar utama.

Dengan diturunkannya layar layar utama tersebut, gerak laju ke empat perahu itupun semakin

berkurang.

Pihak Kiu-im-kau rupanya belum puas dengan hasil yang dicapai, tembakan-tembakan meriam

mereka masih berlangsung dengan gencar, bunyi menggelegar yang memekakkan telinga serta

muncratan air laut setinggi bukit membuat pemandangan disana bertambah menyeramkan.

Tiba-tiba sebuah tembakan meriam ditujukan ke arah ujung perahu yang ditumpangi oleh Hoa

In-liong sekalian.

Sambaran peluru meriam itu cepatnya sukar dilukisan dengan kata-kata, untung saja Hoa Inliong

memiliki tenaga dalam yang cukup sempurna, tangannya segera digetarkan, sekeping uang

perak segera disambit kearah depan dan tepat mengena diatas peluru meriam tersebut lebih

kurang tujuh kaki dari sasaran.

Suatu ledakan dahsyat yang amat memekikkan telinga menggelegar di udara, para kelasi

tersebut sama-sama roboh terjengkang keatas geladak, meskipun peluru meriam itu meledak

ditengah jalan, tapi ledakan tersebut cukup mengakibatkan timbulnya pecahan baja yang

menyebar ke empat penjuru dengan kekuatan dahsyat.

Goan cing taysu cepat bertindak dengan mergebaskan ujung bajunya, menyusul kemudian Ciu

Thian hua, Cu Im taysu dan Cu thong sama-sama membentak keras, enam buah telapak tangan

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

400

mereka bersama- sama diayunkan ke depan melepaskan sebuah pukulan dahsyat yang luar biasa

sekali.

Dalam waktu singkat pecahan baja akibat dari ledakan peluru meriam itu berhasil dihantam

sehingga terpental ke depan dan jatuh ke dalam lautan.

Anak buah Beng Tiong sin belum pernah menyaksikannya, sekarang dalam kejut dan

tertegunnya mereka semakin menaruh hormat ke pada Hoa In-liong sekalian yang kini

dipandangangnya melebihi malaikat.

Sementara itu, Kok See-piau yang menyaksikan kejadian itu diam-diam berpekik sayang

sedangkan Cho Thian hau segera bereru sambil tertawa terbahak-bahak,

“!Haaah….haaah……haaahh….bocah dari keluarga Hoa, Goan cing, untung saja lohu tak jadi

kehilangan dua orang lawan tangguh seperti kalian!”

Bwe Su-yok sendiripun diam-diam mengucurkan peluh dingin karena kaget, diam-diam ia merasa

gusar sekali, pikirnya, “Aku hanya menitahkan kepada mereka untuk menembaki ke empat

perahu yang berada di kiri kanannya, siapa yang begitu bernyali berani melanggar perintahku?”

Bibirnya baru saja bergetar hendak menegar, tiba-tiba satu ingatan lain melintas pula dalam

benaknya, “Melepaskan tembakan meriam dari atas perahu bukan sesuatu yang gampang, dan

lagi perahunya juga turut bergerak kian kemari, tak bisa disangkal kalau suatu kesalahan

mungkin bisa terjadi, lebih baik aku tak usah berkaok-kaok, kalau sampai semua orang tahu akan

hal ini, urusan malah bertambah runyam!”

Berpikir demikian dia lantas menahan diri untuk tidak berteriak lagi.

Dalam waktu singkat, selisih jarak perahu-perahu ke dua belah pihak telah terpisah sejauh lima

enam li, dalam keadaan begini peluru peluru meriam tak bisa menjangkau.

Dalam pada itu perahu yang terkena tembakan tadi sekarang sudah tenggelam separuh,

sekalipun belum tenggelam meluruhnya namun para penumpang perahu itu memandang perahu

mereka melebihi nyawa sendiri, sebelum mendapat perintah dari Beng Tiong sin untuk

meniggalkan perahu, mereka tidak berani bertindak ssembarangan, orang-orang diperahu itu

kelihatan masih sibuk berusaha menyelamakan perahunya.

Hoa In-liong yang menyaksikan kejadian segera berkata, “Beng tangkeh, turunkan perintah agar

orang-orang diperahu itu segera menyelamatkan diri!”

Agaknya Beng Tiong sin juga merasakan bshwa perahu tersebut tak bisa diselamatkan lagi,

terpaksa dia berteriak, “Semuanya, cepat tinggalkan perahu untuk mencari selamat, gunakan

perahu-perahu penyelamat untuk berpindah perahu, beritahu kepada Li Tiong, tak menjadi soal

biar perahu mereka untuk bergerak pelan-pelan di belakang sana.

Dari atas perahu itu kedengaran ada orang yang mengiakan, menyusul kemudian sampansampan

penyelamat diturunkan ke air, para penumpang perahu pun bersama-sama turun ke

sampan kecil itu untuk menyelamatkan diri.

Baru saja mereka selesai bekerja, perahu yang terkena tembakan itu sudah makin tenggelam,

kini tinggal tiga jengkal saja dari permukaan air.

Menanti sampai sampan kecil itu mulai mereka dayung pergi, perahu pertang yang besar itu tibatiba

tenggelam ke dasar laut dengan menimbulkan gelombang yang cukup besar, andaikata

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

401

terlambat satu detik saja niscaya sampan-sampan kecil itu berikut orangnya akan turut

tenggelam kedasar laut.

Begitu tegang dan berbahayanya suasana waktu itu, membuat para jago yang menyaksikan turut

mengucurkan peluh dingin.

Tiba-tiba bunyi tembakan meriam dari armada perahu lawan mulai berdentuman lagi, percikan

api dan muncratan air tampak berhamburan jauh di muka sana, rupanya dari pihak Kiu-im-kau

dengan pihak Hong im hwe telah terlibat dalam suatu duel meriam pula.

Sementara itu sampan-sampan penyelamat tadi secara terpisah bergerak menuju ketiga buah

perahu besar lainya, buru-buru Beng Tiong sin memerintahkan untuk menurunkan tangga tali

agar orang-orang didalam sampan kecil itu bisa naik keatas perahu.

Menyaksikan kejadian tersebut, semua orang hanya bisa mengeluh, dari lima buah perahu yang

berangkat, sebuah tertembak hingga tenggelam, yang sebuah terkocar-kacir sampai keadaannya

tertinggal jauh. Beng Tiong sin yang melihat hal ini amat gemas dan mendendam.

Hoa In-liong segera menghibur hatinya yang risau itu, “Beng tangkeh, buat apa kau musti

marah, biarpun dalam pertarungan babak pertama pihak mereka yang menang, toh akhirnya

siapa yang bakal menang siapa yang bakal kalah masih belum tahu, pokoknya kalau terjadi

kerugian aku semua yang mengganti”

Mendengar itu Beng Tiong sin segera tertawa terbahak-bahak.

“Haaahh…….haaahh……haaahh……Hoa kongcu terlalu pandang rendah diriku” serunya, “betu1

aku orang she Beng bukan orang kaya, tapi kalau cuma beberapa buah perahu sih belum ku

pandang sebelah mata pun, yang menjadi persoalan sekarang adalah rasa mangkelku yang tak

tertahan rasanya”

Bong Pay segera tertawa, katanya, “Kalah menang adalah suatu kejadian yang lumrah dalam

setiap pertempuran, apa lagi bukan kepandaian asli yang diadu, kenapa kau musti risaukan

ataupun murung, cuma kau memang bertindak terlalu gegabah sedikit, coba kalau kau turuti

perkataan Liong ji, mungkin tidak begini akibatnya”

Beng Tiong sin segera menghela napas panjang.

“Aaai ….! Betul juga perkataan itu, padahal Hoa kongcu telah memperingatkan aku, adalah aku

orang she Beng sendiri yang terlalu keras kepala sehinnga mengakibatkan terjadinya keadaan ini,

setelah Bong tayhiap menyinggungnya, aku menjadi bertambah malu rasanya”

Hoa Ngo memandang sekejap pertempuran meriam yang sedang berlangsung antara Kiu-im-kau

dengan Hong im hwe didepan sana, kemudian katanya dengan suara dalam, “Tampaknya Bwe

Su-yok hendak membereskan Jin Hian lebih dahulu kemudian baru menghadapi kita, masakah

kita hanya akan berpeluk tangan menonton keramaian belaka?”

“Sekalipun kita sudah terkena tembakan dari pihak Kiu-im-kau sehinga satu perahu kita

tenggelam dan sebuah perahu rusak berat, tapi tak seorang jago pun yang menderita luka,

kekuatan kita masih belum berkurang, hanya aku pikir bila mendekatkan perahu kita dengan

mereka, hal ini kurang menguntungkan”

“Aaahh…,omong kosong!” seru Hoa Ngo ketus.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

402

“Kita toh tak bisa menunggu sampai pihak Kiu-im-kau datang menyerang kita” seru Cu Thong

pula.

Hoa In-liong segera tersenyum katanya, “Tentu saja, maka dari itu kita harus mencari akal lain,

menurut pendapat boan pwe, harap cianpwe sekalian dengan menumpang sampan secara

terang-terangan menye rang musuh, sedangkan siautit dengan jalan berenang akan melakukan

sergapan, entah bagaimana menurut pendapat para cianpwe sekalian?”

“Jiko, apakah kali memiliki kemampuan untuk berenang sejauh itu?” seru Coa Wi-wi kuatir.

Hoa ln liong kembali tertawa. “Aku rasa tidak menjadi soal!” sahutnya. Dalam perundingan itu,

semua orang merasa rencana penyergapan tersebut terhitung juga sebagai suatu cara yang bisa

dilaksanakan, maka merekapun tidak sangsi lagi untuk segera melaksanakamya.

Dalam pada itu pertempuran diatas laut antara Kiu-im-kau melawan Hong im hwe telah diketahui

siapa pemenangnya dalam waktu singkat.

Bunyi tembakan meriam sudah kian bertambah jarang, tapi jilatan api yang membumbung tinggi

ke angkasa terjadi di depan sana, keenam buah perahu Hong im hwe yang terlibat dalam

pertempuran itu, ada ju ga diantaranya yang sudah terkena tembakan yang mengakibatkan

terjadinya kebakaran hebat.

Para penumpangnya menjadi panik dan sama-sama berebut naik ke atas sampan penyelamat

untuk menyelamatkan diri, bahkan ada pula yang saking gugupnya sampai tercebur ke laut, tapi

dalam suasana begini siapapu tak mau tahu urusan orang Lain.

Dari pihak Kiu-im-kau sendiri ada dua buah perahu yang terkena tembakan dan pelan-pelan

tenggelam, tapi anggota Kiu-im-kau sudah terbiasa dalam pertempuran laut, dengan teratur dan

sama sekali tidak kacau balau, mereka bersama menyelamatkan diri ke atas perahu lainnya.

Hasil dari perrempuran laut antara Hong im hwe melawan Kiu-im-kau ini adalah tiga perahu

ditukar dengan dua buah, cukup besar kerugian yang dideritanya, dibandingkan dengan pihak

pendekar, keadaan mereka jauh lebih parah, tapi Jin Hian kuatir musuhnya mengejar lebih ke

depan, dengan kepandaian dari Cho Thian hua jelas mereka akan kalah hebat, karenanya tanpa

memperdulikan keselamatan anak buahnya, dia berlayar terus untuk kabur ke depan.

Bwe Su-yok yang menyaksikan kejadian itu hanya tertawa sinis,ternyata ia tidak melakukan

pergejaran, tangan kanannya segera diulapkan. Bunyi terompet keong, tiga pendek dua panjang

segera berkumandang di udara.

Mendengar suara terompet tersebut, keenam buah perahu itu pelan-pelan memutar haluan dan

bergerak dengan membelah ombak, ternyata mereka membentuk formasi setengah busur diatas

permukaan laut.

Kok See-piau menjadi tertegun menyaksikan hal itu, serunya dengan lantang.

“Bwe kaucu, mengapa tidak kita basmi dulu Jin Hian dan rombongan kemudian baru menghadapi

keluarga Hoa?”

“Orang she Jin itu tak bakal lolos dari cengkeraman kita, harap sinkun legakan hati” jawab Bwe

Su-yok hambar.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

403

Kok See-piau adalah seorang yang teliti dan cerdik, terkesiap hatinya sesudah mendengar

perkataan itu, pikirnya, “Bwe Su-yok berani berkata demikian, itu berarti didepan sana masih ada

jebakan, siapa tahu pihak kamipun sudah termasuk dalam perhitungan mereka, hmm! Tiap hari

memburu burung manyar, masa aku akan membiarkan burung manyar mematuk-matukku?”

Tiba-tiba terdengar Go Tong cuan berbisik dengan ilmu menyampaikan suara.

Apakah sinkun menjumpai Bwe Su-yok seperti menyimpan suatu rencana besar?”

Kok See-piau mengangguk, sahutnya pula dengan ilmu menyampaikan suara.

“Tampaknya pendapat kita sama, jadi Go hu kaucu juga merasakannya? Andaikata diatas

daratan Kiu-im-kau jelas bukan tandingannya kita, tapi selama berada diatas lautan hal ini benarbenar

amat menjemukan”

Go Tang cuan melirik sekejap kearah para anggota Kiu-im-kau yang berada disekeliling tempat

itu kemudian katanya, “Begitu melihat gelagat tidak baik, kita segera turun tangan untuk

menguasahi Bwe Su-yok, dengan begitu maka kita pun tak usah kuatir orang-orang Kiu-im-kau

main gila lagi.

“Tepat sekali sahut Kok See-piau sambil mengangguk, “cuma jangan terlalu terburu napsu,

setelah kita bereskan keluarga Hoa, entah dia bermaksud jahat atau tidak, kita tetap turun

tangan antuk membekuknya”

Tiba-tiba terdengar bunyi tembakan meriam dari Kiu-im-kau kembali menggelegar diudara,

pembicaraan mereka segera terputus sampai ditengah jalan.

Ketika mereka alihkan pandangan matanya ketengah lautan, tampaklah peluru-peluru meriam

saling berledakan di atas air, sementara ada belasan buah sampan kecil bergerak mendekat

dengan kecepatan tinggi, ternyata sampan-sampan itu sama sekali tidak terpengaruh oleh

tembakan-tembakan meriam yang gencar itu.

Orang-orang Hian-beng-kau dan Kiu-im-kau menjadi amat terperanjat, ketika mereka amati

dengan lebih seksama, maka tampaklah diatas setiap sampan tersebut masing-masing duduk

dua orang, satu orang memegang kemudi satu orang memegang dayung, hanya sekali

mendayung sampan telah meluncur sejauh beberapa tombak, kece patannya bagaikan sambaran

anak panah.

Ternyata penumpang-penumpang sampan itu semuanya adalah jago-jago lihay kelas satu dari

dunia persilatan, bukan saja pengalamannya sangat luas, ketajaman mata merekapun luar biasa,

mereka cukup mengetahui akan kelihayan tembakan meriam orang-orang Kiu-im-kau, maka

sepanjang jalan mereka selalu memperhatikan arah dari moncong meriam itu.

Kebanyakan arah sasaran dari tembakan meriam itu bisa diduga sebe1umnya, ini disebabkan

gerakan meriam itu lamban sedang sampan- sampan tersebut bisa bergerak lebih lincah untuk

berkelit ke sana ke mari, akibatnya tembakan-tembakan meriam dari Kiu-im-kau sama sekali

tidak mendatangkan hasil apa-apa.

Sungguh amat cepat gerak laju sarapan-sampan tersebut, dalam waktu singkat, jarak mereka

sudah tinggal beberapa puluh kaki lagi.

Ketika Bwe Su-yok menyaksikan tembakan meriam sama sekali tidak mendatangkan hasil, dia

lantas berteriak dengan kening berkerut, “Lepaskan anak panah!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

404

Menyusul perintah itu, hujan panah berhamburan dari mana-mana, dengan amat dahsyatnya

panah-panah tersebut menyambar ke arah para jago yang berada diatas sampan kecil.

Pada hakekatnya ilmu silat yang dimiliki para jago diatas sampan itu luar biasa lihaynya, mereka

bisa memegang kemudi dengan kaki sementara sepasang tangannya diayunkan kesana kemari

merontokkan panah-panah yang tertuju ke arah mereka, sedangkan pendayungnya sama sekali

tidak ambil pusing, seakan akan mereka tidak menganggap serangan panah dari orang-orang

Kiu-im-kau itu sebagai suatu ancaman yang serius.

Cho Thian hua yang menyaksikan kejadian itu merasa tangannya menjadi gatal, kebetulan ia

menyaksikan disisinya ada sebuah sampan, maka ia sambar sampan itu kemudian diceburkan ke

dalam laut, sementara tubuhnya sendiri bagaikan sambaran kilat meluncur turun ke atas sampan

itu, sambil tertawa terbahak-bahak dia mengebaskan ujung bajunya dan menggerakkan

perahunya menyongsong sampan-sampan yang ditumpangi para pendekar.

Kebetulan sampan yang sedang ia terjang adalah sampan yang ditumpangi oleh Hoa Ngo serta

Tam Si bin, sambil tertawa tergelak Cho Thian hua melepaskan sebuah pukulan dahsyat ke

depan.

Hoa Ngo serta Tam Si bin cepat-cepat mengayunkan pula keempat buah telapak tangan mereka

dengan menggunakan tenaga sebesar dua belas bagian.

Kelihayan ilmu silat yang dimiliki Cho Thian hua telah diketahui oleh setiap orang, Hoa Ngo cukup

cerdik, dia enggan melakukan serangan beradu kekerasan, begitu serangan telah dilepaskan,

kakinya segera menekan ke belakang sehingga sampan tersebut secara tiba-tiba bergerak

muudur ke belakang.

Kendatipun begitu, ketika ke dua gulung tenaga pukulan itu saling membentur satu sama

lainnya, terjadilah suatu benturan keras yang mengakibatkan olengnya sampan, ombak

menggulung-gulung dahsyat, sampan kecil itupun oleng ke sebelah kiri terpukul oleh ombak,

sampan segera terbalik dan kedua orang perempuannya tercebur ke dalam air.

Goan cing taysu segera mendayung sampannya menyongsong ke arah Cho Thian hua.

Sambil tertawa terbahak-bahak Cho Thian hua mengebaskan ujung baju kanannya dan segera

menyongsong kedatangannya itu.

Sementara itu pihak Kiu-im-kau telah menghentikan hujan panah mereka setelah melihat cara itu

tidak mendatangkan hasil, jago-jago dari tingkat Tiamcu dan Tongcu serentak turun ke air

bersama jago- jago dari Hian-beng-kau, kemudian sampan mereka di gerakkan untuk

menyongsong perahu-perahu para pendekar.

Ketika perahu sudah hampir dekat, para jago dari Kiu-im-kau segera terjun kedalam air, jelas

mereka berniat untuk menghancurkan sampan musuh dari bawah air.

Dalam waktu singkat, suatu pertarungan sengit telah terjadi diatas permukaan laut, bunyi

bentakan dan bentrokan senjata berkumandang sampai ditempat kejahuan.

Goan cing taysu maupun Cho Thian hua yang sudah bertarung belasan jurus mulai merasakan

sulitnya untuk bertarung diatas air, sebab kekuatan mereka tak bisa digunakan sepenuhnya,

tanpa disadari perahu mereka telah bergerak maju meninggalkan rekan-rekan lainnya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

405

Mendadak Hua Ngo munculkan diri dari permukaan air, kemudian bentaknya keras-keras.

“Setan tua she Cho!”

Telapak tangan kanannya ditabok ke depan, segulung pancuran air menyambar kewajah Cho

Thian hau.

Cepat-cepat Cho Thian hua mengayunkan tangannya untuk menyampok semburan air itu,

dengan air memancar keempat penjuru dan membasahi seluruh pakaiannya, ini membuat naik

darah dan segera melancarkan sebuah serangan dahsyat.

Tapi dengan cepat Hoa Ngo telah menyelam kembali ke dalam air dan lenyap tak berbekas.

Dari pihak pendekar, meskipun jumlahnya lebih sedikit, ternyata kebanyakan adalah jago-jago

kelas satu, yang pandai pula ilmu dalam air, karena itu meski sudah bertarung sekian lama

mereka masih tetap mempertahankan posisi masing-masing.

Kiu-im-kau berusaha menenggelamkan sampan-sampan lawan, tapi begitu merasakan sesuatu

gerakan di air, para jago segera menyerang dengan senjata rahasia, ia membuat para jago dari

Kiu-im-kau tak berani banyak berkutik.

“Selain itu para jago dari pihak golongan putih juga mempunyai kerja sama yang cukup erat, bila

sampan mereka tengelam maka mereka lantas melompat ke atas sampan lain, dengan begitu

untuk sesaat usaha mereka tidak mendatangkan hasil apa-apa.

Bwe Su-yok dengan biji matanya yang jeli berusaha mencari Hoa In-liong di antara jago-jago

yang sedang bertarung, ketika ia tidak menemukan anak muda itu dan sedang tercengang, tibatiba

terdengar bunyi air yang memisah kesamping, menyusul munculnya sesosok bayangan

manusia secepat kilat.

Ia menjadi amat terkejut, belum sampai menghindarkan diri, tahu- tahu pergelangan tangannya

sudah dicengkeram oleh Hoa In-liong.

Padahal Kiu im su ciat berada disekeliling Bwe Su-yok, tapi serangan dari Hoa In-liong terlalu

cepat sehingga waktu mereka berempat hendak memberi pertolongan, keadaan sudah terlambat

dan Bwe Su-yok sudah terjatuh ketangan lawan.

Un Yong ciau berdiri paling dekat, ia lantas berpekik nyaring seraya menerjang ke depan, ruyung

lemas berserat emas ditangannya berputar kencang bagaikan seekor naga sakti, dengan

cepatnya sebuah sergapan dilancarkan.

Dengan cepat Hoa In-liong berputar ke samping sambil menarik tubuh Bwe Su-yok memutar

setengah lingkaran, dia biarkan ruyung lemas berserat emas itu menyambar lewat dari sisi

telinganya, kemudian tangan kanannya menyambar ke depan mencengkeram ujung ruyung

tersebut dan membetotnya keras-keras.

Un Yong ciau amat terkejut, sekuat tenaga dia berusaha untuk membetotnya kembali, tapi

segulung tenaga bentakan keras membuat ruyung lemas ini terlepas dari cengkeramannya,

bahkan tubuhnya ikut maju pula dengan sempoyongan.

Tiba-tiba desingan angin tajam menyambar lewat dari belakang, sik Ban-cian dengan ilmu

penotok jalan darahnya menyergap tiba dengan kecepatan luar biasa.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

406

Kiong lan tertawa seram pula, dengan jurus Ngo lui liat leng (panca geledek menyambar puncak)

dia menyerang punggung orang secepat kilat, sedangkan Tu Cu yu dengan pedang nya yang

menciptakan lima enam kuntum bunga pedang langsung menyerang jalan darah penting di

pinggang dan iga Hoa In-liong.

Sudah puluhan tahun lamanya Kiu im suciat turun tangan bersama, boleh, dibilang mereka sudah

mempunyai hubungan batin yang erat, begitu turun tangan kerja sama mereka amat rapat dan

sempurna, hampir tiada titik kelemahan yang bisa ditemukan.

Tapi ketiga orang itupun tahu akan kelihayan Hoa In-liong, mereka sadar serangan tersebut sulit

untuk melakukannya, tapi paling tidak mereka berusaha untuk memaksanya agar melepaskan

Bwe Su-yok dari cengkeraman lawan.

Hoa In-liong tertawa nyaring, “Sreeet!” tiba-tiba ruyungnya berputar menggulung senjata

penotok jalan darah dari Sik Ban-cian, sementara gagang ruyungnya lepas tangan dan ditimpuk

ke arah Tu Cu yu.

Menyaksikan datangnya serangan tersebut, Sik Ban cuan tahu kalau dia tak akan sanggup untuk

menahan serangan itu, buru-buru tubuhnya melompat lima depa kesamping untuk

menghindarkan diri.

Tu Cu yu mendengus dingin, pedangnya disambar ke atas ruyung lemas itu, siapa tahu dari atas

ruyung itu tiba-tiba memancar ke luar segulung tenaga yang berat bagaikan bukit karang,

“Cring!” pedangnya segera patah menjadi dua bagian, sementara ruyung le masnya itu dengan

membawa desingan angin tajam menyambar keatas tubuhnya.

Jilid 20

Tu Cu yu menjadi teramat kaget, serasa sukmanya melayang meninggalkan raganya, cepat-cepat

ia menjatuhkan diri kebelakang dengan gerak jembatan besi nyaris tubuhnya tertembus oleh

sambaran ruyung tersebut.

Akibat dari kelitannya itu, ruyung lemas tadi menghajar diatas pinggiran perahu yang

mengakibatkan terjadinya suatu retakan yang besar sekali. Sementara itu, ketiga ruyung lemah

tadi sudah diayunkan ke depan melancarkan serangan, sambil membalikkan badannya Hoa Inliong

kembali melancarkan sebuah pukulan dahsyat.

Pukulan itu dilancarkan amat sederhana, tapi sulit buat Khong im untuk menghindarinya,

terpaksa sambil mengertak gigi dia mengayunkan sepasang telapak tangannya berbareng.

“Blaam…..!” suatu benturan keras terjadi, hawa darah dalam dadanya bergolak keras dan

mundur empat lima langkah dengan sempoyongan dengan kakinya melangkah lewat papan

geladak tersebut segera hancur berantakan.

Bentrokan sebanyak beberapa gebrakan ini terjadi dalam waktu singkat, para jago Kiu-im-kau

yang berada disekitar tempat itu sudah mengetahui akan kelihayannya, tapi kaucu mereka

terjatuh ke tangan lawan, bagaimanapun juga mereka tak bisa berpeluk tangan belaka, bentakan

keras berkumandang tiada hentinya, serentak mereka siap maju ke depan melancarkan

serangan.

Hoa In-liong segera mengerutkan dahinya rapat-rapat, katanya, Bwe Su-yok cepat perintahkan

anak buahmu untuk berhenti menyerang…….!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

407

Sambil miring ke samping menghindari serangan dari Un Yong ciau, tangan kanannya

menyambar ke depan, mencengkeram tengkuk seorang ang gota Kiu-im-kau dan

melemparkannya ke laut.

Bwe Su-yok tetap berdiri tegang, ia berlagak seakan-akan tidak mendengar ucapan itu.

Hoa In-liong menjadi naik darah, cengkeraman pada tangan kirinya segera diperhebat, seketika

itu juga gadis itu merasakan tulang pergelangan tangannya sakit seperti tulangnya hancur, ia tak

mampu berkutik lagi, tapi sambil menggertak gigi gadis itu tetap membungkam dalam seribu

bahasa.

Tu Cu yu merampas sebilah pedang dari anak buahnya dan maju sambil melancarkan tusukan,

bentaknya, “Hoa Yang, kalau punya kepandaian hayo lepaskan kaucu kami, kita boleh berduel

secara jantan!”

Hoa In-liong tertawa dingin, tiba-tiba ia menggeserkan tubuh Bwe Su-yok ke hadapannya.

Tu Cu yu menjadi amat terperanjat, cepat-cepat pedangnya dimiringkan ke samping dan

menyambar lewat disisi tubuh Bwe Su-yok, kendatipun tak sampai melukainya tak urung peluh

dingin membasahi juga sekujur badannya.

Dengan gusar Hoa In-liong berseru, “Aku tak ingin melakukan pembunuhan yang terlalu banyak

maka aku bermaksud baik agar semua orang menghentikan pertarungan, bila kau tidak

menurunkan perintah lagi, jangan salahkan kalau aku bertindak kejam……”

Bwe Su-yok tetap menggigit bibir membungkam dalam seriba bahasa, Hoa In-liong dibuat apa

boleh buat sehingga terpaksa harus mengayunkan kembali telapak tangannya untuk melawan

musuh.

Dengan kepandaian silat yang dimiliki Hoa In-liong, sekalipun yang dihadapi adalah anak buah

Kiu-im-kau yang diantaranya terdapat pula Kiu im su ciat, tapi setiap serangan yang dilancarkan

kalau bukan jago-jago Kiu-im-kau itu jatuh terbanting, tentu terlempar kelaut atau tertotok jalan

darahnya, untung saja Hoa In-liong masih memandang wajah Bwe Su-yok sehingga tak ingin

melakukan pembunuhan terlalu banyak, kalau tidak sudah pasti akan lebih banyak anggota Kiuim-

kau yang akan menjadi korban.

Kok See-piau sekalian juga telah mengetahui akan kejadian tersebut, kalau bisa dia ingin

menyaksikan Hoa In-liong membunuh Bwe Su-yok, dengan alasan jaraknya terlalu jauh dan lagi

sampan-sampan mereka sudah turun ke laut semua, mereka tidak memberikan pertolongan

sebaliknya hanya menonton belaka dari kejauhan.

Dalam pada itu, para jago Kiu-im-kau yang sedang bertarung melawan para pendekar diatas

lautan telah merasakan juga akan terjadinya suatu perubahan diatas perahu, dengan perasaan

terkejut buru-buru mereka kembali ke perahu.

Lei Kiu-it melompat naik keatas perahu paling duluan, tangannya segera diayunkan ke depan

melancarkan sebatang jarum To kut teng untuk menyergap punggung Hoa In-liong.

Si anak muda itu segera menggerakkan tangan nya untuk menyambar ke belakang, setelah

menangkap jarum tersebut, dia lantas berpikir, “Sepanjang hidupnya entah berapa banyak

perbuatan keji yang telah dilakukan Lei Kiu-it? Dia termasuk juga salah seorang pembunuh Suma

siok ya, manusia macam ini tak boleh dibiarkan hidup lebih jauh…..”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

408

Hawa napsu membunuhnya segera berkobar di dalam dada, dia membalikkan tangannya dan

segera menimpuk balik jarum To kut ciam tersebut ketubuh Lei Kiu-it.

Sudah barang tentu Lei Kiu-it tak akan termakan senjata rahasia sendiri, dalam gugupnya ia

bekelit ke samping untuk menghindarkan diri.

Tiba-tiba Hoa In Hong membentak keras, tubuhnya meluncur ke depan dan melepaskan sebuah

pukulan dahsyat.

Terdengar Lei Kiu-it menjerit ngeri, tubuhnya terpental keluar dari perahu dan tercebur ke laut,

semenjak itu tubuhnya tak pernah muncul kembali ke dalam keadaan hidup. Para jago dari Kiuim-

kau semakin keder dan pecah nyali menyaksikan kelihyaan orang itu, namun mereka tak

dapat berpeluk tangan belaka, maka secara nekad serangan demi serangan dilancarkan secara

bertubi-tubi. Mendadak Hoa In-liong berpikir. “Bagaimanapun juga, Bwe Su-yok adalah seorang

ketua dari suatu perkumpulan besar, sudah barang tentu dia enggan memperlihatkan

kelemahannya didepan anak buah sendiri, aku tak boleh membuatnya kehilangan muka. Pada

dasarnya pemuda ini memang seorang yang romantis, bagaimanapun kondisinya dia tak pernah

lupa untuk memikirkan sesuatu yang baik untuk sang gadisnya, maka dia lepas tangan sambil

berkata, “Suruhlah mereka menghentikan pertarungan, mari kita bercakap-cakap dalam ruangan

Bwe Su-yok menguruti pergelangan tangan sendiri yang kaku, kemudian membentak nyaring,

“Kalian berhenti semua!”

Sejak tadi orang orang Kiu-im-kau sudah dibuat keder oleh kelihayan orang itu, maka begitu

perintah diturunkan, serentak mereka menghentikan serangan.

Kok See-piau yang menyaksikan kejadian itu segera berpikir.

“Sudah lama aku dengar Bwe Su-yok mempunyai hubungan yang tidak jelas dengan kokoh itu,

tampaknya mereka hendak menyingkirkan soal permusuhan untuk bersahabat…”

Hatinya sangat risau sekali, tapi ketika terbayang bahwa sebagian besar anak buahnya pasti

membangkang bila Bwe Su-yok be nar-benar sampai berbuat demikian, hatinya rada lega juga”.

Dengan mata yang jeli Bwe Su-yok melotot sekejap ke arah Hoa In-liong, kemudian sambil

mengulapkan tangannya dia membalikkan badan dan masuk ke dalam ruang perahu. Hoa Inliong

kembali berpikir, “Rupanya dia maksudkan untuk mengundang aku berbicara dalam ruang

perahu…..”

Kuatir kalau rasa harga dirinya sebagai seorang ketua tersinggung, pemuda itu merasa rada

menyesal dengan apa yang telah dilakukan barusan………

Kiu im suciat merasa tidak berlega hati, mereka siap mengikuti dari belakang, melihat itu sambil

berpaling Bwe Su-yok menegur dengan nada tak senang, “Kalian toh tak mampu melindung

diriku, tak usah ikut!”

Dengan wajah jengah kiu im suciat sama-sama menundukkan kepalanya dan berhenti.

Setelah masuk ke ruang perahu, Hoa In-liong mencoba untuk memperhatikan sekejap sekeliling

tempat itu, dilihatnya lukisan orang ternama banyak menghiasi dinding, ruangan itu bersih

dengan dekorasi yang indah, sama sekali tidak berbau orang persilatan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

409

Seorang dayang cilik menyongsong kedatangannya sambil memberi hormat, katanya, “Ya tay,

baik-baikkah kau? Kau tahu nona kami……

“Tak usah banyak bicara!” tiba-tiba Bwe Su-yok menukas, “keluar dari sini!”

Hoa In-liong Segera mengenali dayang cilik itu sebagai Siau kian, menyaksikan wajahnya yang

tertegun dan tidak habis mengerti, buru-buru dia mengulapkan tangan nya tanda tak usah

banyak adat, katanya sambil tertawa, “Nona mu sedang kurang enak badan, perasaannya juga

kurang baik, keluarlah lebih dulu”

Agaknya Siau kian juga tahu kalau gelagat tidak beres, dia tak berani banyak bicara lagi dan

segera mengundurkan diri.

Dengan wajah dingin dan kaku Bwe Su-yok duduk seorang diri disudut ruangan, sambil

tersenyum Hoa In-liong turut ambil tempat duduk, mereka berdua sama-sama tidak bersuara

sehingga suasana dalam ruangan itu terasa murung dan sesak.

Tak lama kemudian Siau kian muncul menghidangkan air teh kemudian mundur kembali, melihat

Bwe Su-yok belum juga bersuara, Hoa In-liong lantas berpikir, “Keadaan tak bisa dibiarkan begini

terus, baik buruk persoalan harus dibikin jelas lebih dulu”

Maka dia lantas berkata, “Dapatkah aku berjumpa dulu dengan Si Leng jin dan pelayannya”

Menyaksikan betapa kuatirnya pemuda itu atas keselamatan Si Leng jin, Bwe Su-yok merasa

hatinya menjadi kecut dan buru-buru ber paling untuk menahan melelehnya air mata, sementara

dimulut dia menjawab dengan dingin

“Aku toh sudah berkata sedari tadi, ia sudah mampus!”

Diam-diam Hoa In-liong merasa amat gusar, tapi setelah berpikir sebentar katanya lagi dengan

suara dalam, “Mengapa sampai kini kau belum juga mau sadar. Mengapa kau musti bergaul terus

dengan Hian-beng-kau. Jangan kau anggap Kok See-piau adalah seorang yang baik”

“Aku toh bukan anak berusia tiga tahun, tak usah kau campuri urusanku!” tukas Bwe Su-yok

ketus.

Hoa In Hong mengerutkan dahinya, kemudian ia berkata lagi.

“Apakah kau masih ingin terus menerus terkecoh oleh orang lain tak enggan mendengarkan

nasehat orang?”

“Kau itu apaku. Mengapa harus menasehati diriku?”

“Ini bukan nasehat, melainkan suatu peringatan bagimu” kata Hoa In-liong dengan wajah serius.

Tidak sampai pemuda itu menyelesaikan kata-katanya, Bwe Su-yok telah bangkit berdiri katanya

dengan dingin, “Mmm semua pembicaraan cuma kata-kata yang tak sedap didengar, maaf aku

hendak mohon diri”

Sambil beranjak dia lantas membalikkan badan dan pergi meninggalkan tempat itu.

Melibat kekerasan kepala orang itu, Hoa In-liong tak kuasa menahan amarahnya, dia lantas

menubruk kemuka sambil tertawa keras.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

410

“Nona Bwe harap berhenti”

Waktu itu Bwe Su-yok telah bersiap sedia, dia pun tidak puas karena kena dibekuk dalam satu

gebrakan tadi sambil membalikkan tangannya dia melepaskan sebuah totokan kemuka,

bersamaan itu pula kakinya melangkah dengan ilmu Loan ngo heng mi sian tun hoat.

Baru saja badannya bergerak, tiba-tiba pinggangnya terasa kencang dan tahu-tahu ia sadar

dipeluk oleh Hoa In liang.

Sebagai seorang gadis yang angkuh dan bersifat dingin, selama hidup boleh dibilang tak pernah

berbenturan badan dengan pria lain, bahkan bicara saling berhadapanpun jarang, bisa dibayang

kan bagaimana paniknya ketika pinggangnya dipeluk oleh Hoa In-liong, sekarang sehingga

tubuhnya boleh dibilang bersandar diatas dada pemuda itu, bau lelaki yang aneh membuat

jantungnya berdebar keras.

Tapi dengan cepat ia dapat menguasahi diri kembali, tiba-tiba timbul rasa malu dan gusar yang

bercampur aduk dalam benaknya, dia segera menjerit lengking, “Lepaskan aku!” Hoa In-liong

segera lepas tangan, katanya dengan suara dalam, “Aku bertekad akan mencampuri urusan ini!”

Sedih dan kesal bercampur aduk dalam benak Bwe Su-yok ketika itu, mendadak satu ingatan

muncul dalam benaknya, dengan ganas dia berkata, “Aku ingin melihat dengan cara apa kau

hendak mencampuri urusanku…..!”

Sambil membalikkan jari tangannya tiba-tiba ia menotok jalan darah Ciat ho niat sendiri.

Hoa In-liong merasa amat terperanjat, dengan cepat dia menangkap pergelangan tangan kanan

nya dan berkata sambil menghela napas panjang, “Su-yok mengapa kau harus menaruh salah

paham terhadap maksud baikku?”

Sekujur badan Bwe Su-yok gemetar keras, tiba-tiba air matanya jatuh bercucuran dengan deras,

sambil menubruk ke dalam pelukan Hoa In-liong katanya terbata-bata, “Aku benci

kepadamu………kau tak pernah menaruh perhatian kepadaku………aku………aku…….makanya

akupun tak berani mengutarakan rahasia hatiku…”

Kesedihan yang memuncak membuat gadis itu tak kuasa menahan diri, ia menangis tersedusedu.

Dengan penuh kasih sayang, Hoa In-liong membelai rambutnya, lalu berkata dengan lembut.

“Sekalipun demikian, kau juga tak usah berbuat demikian!”

“Aku ingin membuatmu sedih dan menderita, agar menyesal sepanjang masa”

Timbul perasaan kasihan dan sayang dalam hati Hoa In-liong terhadap dara itu sambil menghela

napas keluhnya, “Aaai….! Kau ini si budak dungu….. ” Tiba-tiba terdengar bunyi suara langkah

manusia berkumandang datang dari ruangan pe rahu, sambil mengerutkan dahinya Hoa In-liong

segera berpikir.

“Mungkin Un Yong ciau sekalian yang merasa tidak tenteram datang menjenguk!”

Berpikir demikian, dia lantas membimbing bangun Bwe Su-yok sambil berbisik, “Ada orang

datang!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

411

Buru-buru Bwe Si yok berdiri tegak dan menyeka air matanya, tapi sebelum kering tiba-tiba

seorang gadis cantik muncul di situ, ternyata dara itu tak lain adalah Si Leng jin.

Hoa In-liong menjadi tertegun menyaksikan ke munculan dara itu, serunya tanpa sadar:

“Kau tidak mengapa?”

Si Leng jin memutar biji matanya dan segera menangkap bekas air mata yang masih membasahi

pipi Bwe Su-yok, katanya kemudian dengan wajah tercengang:

“Enci Su-yok, kau menangis?”

“Huuss, jangan sembarangan bicara!” buru-buru Bwe Su-yok menukas dengan wajah berubah

menjadi merah jengah.

Si Leng jin segera berpaling kembali, omelnya, “Engkoh Liong, aku dengar dari Siau kian katanya

kalian sedang cekcok, maka aku buru-buru kemari, mengapa kau musti menganiaya enci Suyok……?”

Hoa In-liong tertawa getir dan tak bisa membantah, sementara dalam hatinya ia berpikir, “Aneh,

kalau didengar dari perkataan Leng jin ini, tampaknya ia condong kepadanya, agaknya hubungan

kedua orang ini sudah cukup akrab, heran, apa yang telah terjadi?”

Sementara ia masih berpikir, si Leng jin telah berkata kembali.

“Aku tahu, sudah pasti beberapa ucapan dari enci Yok telah menggusarkan hatimu, yaa bukan?”

Setelah berhenti sajenak, sambil tertawa dia melanjutkan.

“Enci Yok sangat baik kepadaku, kami sudah mengikat diri sebagai saudara angkat, soal lain tak

usah dibicarakan, namun dalam hati enci Su-yok hanya ada satu orang, cuma orang itu tidak

memahami tindak handuk serta segala perbuatannya, sebaliknya malah justru merata tidak

berkenan dengan segala perbuatannya, engkoh Liong coba menurut pendapatmu, manusia

semacam ini menggemaskan atau tidak?”

Mendengar ucapan itu, Bwe Su-yok merasakan hati kecilnya tersentuh, kembali ia mengucurkan

air mata dengan sedih.

“Adikku yang baik!” cepat-cepat katanya “buat apa dia musti tahu? Siapa suruh aku mencari

penyakit buat diriku sendiri?”

Perkataan dari Si Leng jin ini sama sekali diluar dugaan Hoa In-liong, rasa sesal segera muncul

dalam hatinya, ia menatap wajah Bwe Su-yok, bibirnya bergerak ingin mengucapkan beberapa

patah kata minta maaf, tapi dia tak tahu darimana harus mulai dengan perka taannya itu…..

Si Leng jin ikut terbungkam, matanya berkaca-kaca sehingga tiba- tiba suasana dalam ruangan

itu menjadi hening.

Tiba-tiba dari luar ruangan terdengar seseorang berseru dengan suara lantang.

“Lapor kaucu, Kaucu generasi yang lalu telah membawa orang datang kemari!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

412

Diam-diam Hoa In-liong merasa terkejut, segera pikirnya, “Kalau dilihat dari sini, jelaslah sudah

bahwa mundurnya Kiu-im-kaucu dengan memberikan kedudukannya kepada Bwe Su-yok tidak

lebih hanya suatu siasat licik.

Bwe Su-yok sendiripun kelihatan agak tertegun, menyusul kemudian dengan suara lirih

gumamnya, “Yang bakal datang tak akan bisa lolos, buat apa musti menghindarkan diri?

Setelah mantapkan hati dia lantas berseru kepada orang di luar.

“Aku segera akan menyambut kedatangan dia orang tua, harap kalian semua membuat

persiapan!”

Tak lama kemudian mereka bertiga sudah tiba diatas geladak.

Tampak matahari yang merah telah tenggelam dilangit barat, diantara awan berwarna putih

tampak pancaran sinar ke emas-emasan yang kelihatan sangat indah memancar ke empat

penjuru.

Dari sudut utara sana muncul serombongan ar mada kapal laut, sekilas pandangan saja dapat

diketahui bahwa armada itu terdiri dari suatu jumlah kekuatan yang besar sekali.

Dibawah sinar matahari, terlihat jelas panji kepala setan dari Kiu-im-kau berkibar terhembus

angin sementara tiga buah perahu dari Jin Hian sudah tak nampak bayangan lagi.

Terkesiap juga Hoa In-liong menyaksikan kesemuanya itu, diam-diam pikirnya, “Ternyata Kiu-imkau

selalu menyembunyikan kekuatan mereka yang sesungguhnya, ditinjau dari situasi saat ini,

mungkin saja kesemuanya ini adalah hasil rencana dari Kiu-im-kaucu yang memang berhasrat

menjumpai para jago ditengah lautan. aai… gembong-gembong iblis ini betul-betul licik dan

banyak tipu muslihatnya”

Berpikir sampai disitiu dia lantas mengamati perahu pertama yang makin mendekat itu, tapi

setelah menyaksikan beberapa orang yang berdiri di ujung geladak itu ia menjadi amat

tercengang, teriaknya kemudian dengan lantang, “Toako, mengapa kau juga datang?”

Terdengar Hao Si menjawab dengan suara keras, “Ayah dan ibu sebentar juga akan menyusul ke

mari dengan membawa serta nona Jin Jite, tahukah kau akan hal ini?”

Kejut dan gembira Hoa In-liong setelah mendengar perkataan itu, teriaknya lagi, “Kapan mereka

baru sampai disini?”

“Paling lambat juga satu hari lagi”

“Bagaimana dengan Jin Hian? Apakah sudah berhasil dihadang?”

“Jin Hian telah bersedia untuk mengasingkan diri ditempat terpencil dan selama hidup tidak

muncul kembali dalam dunia persilatan, maka kami biarkan mereka pergi. Diatas darat masih

terdapat banyak rekan persilatan dari pelbagai penjuru yang menantikan kedatangan kita, soal

lain nanti saja kita bicarakan lagi, jaraknya terlalu jauh tak enak untuk bercakap-cakap.

Sementara itu para jago pun ada separuh bagian sudah naik keatas perahu besar dan bertarung

disitu, tapi setelah dilihatnya orang-orang keluarga Hoa datang bersamaan Kiu-im-kau, dengan

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

413

perasaan tercengang, masing-masing pihak segera menghentikan pertarungan dan menengok ke

depan.

Tiba-tiba dari antara deretan orang yang berdiri diantara Kiu-im-kaucu itu, Coa hujin, Swan Bun

sian menemukan seorang lelaki gagah berbaju perlente, tanpa terasa dia landas berteriak keras.

“Goan hau!”

Dengan wajah berseri dan penuh pergolakan emosi, lelaki berbaju parlente itupun berteriak,

“Bun sian baik-baikkah kau? Apakah kakek dia orang tua juga baik? Bagaimana dengan anakanak?”

Menyinggung soal anak, Coa Wi-wi segera mengalihkan pandangan matanya kearah lelaki kekar

itu, ia merasa ada suatu hubungan batin yang erat muncul dalam hatinya, segera ditariknya

ujung baju ibunya sambil berbisik.

“Ibu apakah dia ayah?”

Setelah berjumpa muka dengan suaminya yang sudah banyak tahun tak pernah bersua, Coa

hujin merasakan suatu pergolakan perasaan yang amat hebat, mendengar perkataan itu dia

lantas mengangguk.

Sementara itu seorang kakek berwajah cerah yang berdiri disebelah kiri Kiu-im-kaucu sedang

mengamati ke sana kemari dengan pandangan tajam, kemudian dengan lantang dia berseru,

“Anak Jin, dimana kau?” Mendengar suara itu, bagaikan baru sadar dari impian setelah tertegun

sejenak Si Leng jin berteriak kegirangan, “Ayah, anak Jin berada disini!” Tiba-tiba terjadi

kegaduhan dalam tubuh orang-orang Hian-beng-kau.

Ketika Kok See-piau menyaksikan orang-orang Kiu-im-kau berubah haluan, apalagi menyaksikan

kemunculan Si Seng tek dan melihat ketidak siapan anak buahnya, tak terlukiskan rasa kaget

yang mencekam perasaannya, tanpa banyak berbicara lagi, tiba-tiba ia berpekik nyaring.

Mendengar tanda rahasia tersebut, orang-orang Hian-beng-kau segera bergerak menyergap

orang-orang Kiu-im-kau.

Dari delapan buah tersebut, selain perahu yang ditumpangi Bwe Su-yok, hampir sebagian besar

anggotanya adalah orang-orang Hian-beng-kau, rupanya Kok See-piau memang punya rencana

sampai kesitu, dengan mengatur jago-jagonya sedemikian rupa.

Kendatipun Kiu-im-kau sendiri juga mengadakan persiapan mana mungkin mereka bisa melawan

musuh sebayak itu, dalam waktu singkat ada yang mati tersergap adapula yang mencebur kelaut

dengau membawa luka, separuh bagian diantaranya tahu-tahu sudah meninggalkan perahu.

Cepat-cepat orang-orang Hian-beng-kau memutar haluan dan ingin membalikkan perahunya

untuk kabur dari situ.

Tiba-tiba Kiu-im-kaucu membentak keras, “Kok See-piau, kau benar-benar tak tahu diri, jika tidak

menghentikan perbuatanmu itu bila kubiarkan orang Hian-beng-kau bisa lolos seorangpun aku

segera akan bunuh diri. Lautan ini amat luas, tak mungkin kau bisa meloloskan diri”

Kok See-piau segera tertawa dingin.

“Heeeh……..heehh…..hhheeh…..bagaimanpun juga toh sama saja, mau beradu jiwa juga boleh”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

414

“Tidak demikian persoalannya kata Kiu-im-kaucu dengan suara dalam, aku tak ada minat untuk

membasmi kalian diatas lautan, telah tiba diatas daratan nanti Hoa kongcu sekalian yang akan

membereskan persoalan ini dengan kalian sendiri, pihak kami mengundurkan diri dari persoalan

ini”

Mula-mula Kok See-piau agak tertegun kemudian baru mengerti, dia tahu rupanya perempuan ini

membiarkan pihak pendekar bertarung dengan pihaknya lebih dulu, sebab bagaimanapun jua

bagi Kiu-im-kau hanya ada keuntungan tanpa kerugian.

Sebaiknya bila bertarung diatas lautan, Kiu-im-kau sudah pasti akan bekerja sama dengan pihak

pendekar, sudah pasti Hian-beng-kau akan punah sama sekali kekuatannya, kendatipun Cho

Thian hua menunjang dirinya”

Maka setelah berpikir sejenak, terpaksa ia berteriak keras.

“Semua anggota Hian-beng-kau segera menghentikan pertempuran!”

Mendengar teriakan itu, terpaksa para jago Hian-beng-kau menghentikan pertarungan dan

membiarkan orang-orang Kiu-im-kau untuk menjalankan perahunya untuk bergabung dengan

armada lainnya.

Dengan gerakan yang cepat, perahu dari kedua belah pihak saling mendekat, dalam waktu

singkat perahu-perahu itu sudah beradu muka, sekali pun cepat dalam waktu namun lama dalam

penantian bagi mereka yang berharap bisa cepat bertemu dengan rekan-rekan dekatnya.

Tiba-tiba terdangar Kok See-piau mengejek sambil tertawa dingin, “Kiu-im-kaucu, kalian

terhitung juga suatu perkumpulan besar, tapi kenyataannya membatalkau persekutuan ditengah

jalan, bila kabar ini sampai tersiar dalam dunia persilatan, apakah kalian tidak malu ditertawakan

orang?”

Kiu-im-kaucu mendengus dingin.

“Hmm! Kau berniat busuk dengan mengutus Huan Tong untuk mencari info dipihak kami, kau

anggap kami tidak tahu? Oleh karena dihari-hari biasa dia cukup tunduk dan patuh padaku maka

aku melepaskannya untuk pergi. Tang Kwik-siu berniat busuk menyergap partai-partai besar

akhirnya toh mereka juga kalah total. Sesungguhnya dihari ini aku telah menyusun suatu rencana

bagus untuk membasmi semua pendekar dari golongan putih termasuk pula dirimu, tak nyana

kalau Hoa tayhiap suami istri lebih lihay, sebelum rencanaku dilaksanakan dengan sepatah kata

mereka, aku bisa ditaklukan, maka rencana itu kubatalkan. Nah, sekarang rasanya kita juga tak

usah banyak bicara, dalam hati kita semua tentu lebih mengerti daripada orang lain mengapa

aku musti takut ditertawakan orang?”

Jawaban itu sama sekali diluar dugaan semua orang, tapi semakin jelas menunjuk kan betapa

tangguhnya kekuatan yang dimiliki tiga kekuatan besar dunia dan bagaimana cerdasnya otakotak

para pemimpinnya, andaikata sampai terjadi bentrokan kekerasan, sudah pasti darah akan

berceceran dan mayat akan menggunung, kepandaian orang-orang keluarga Hoa untuk menduga

sebelum terjadinya bencana juga mengagumkan, ini membuat mereka yang diam-diam

mengomel atas ketidak hadiran Hoa Thian-hong merasa malu sendiri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar