Senin, 05 Oktober 2009

pedang abadi 2

“Katakan.”
“Aku tak bisa,” Yuan Zi-xia menggelengkan kepalanya.
“Kenapa?”
“Karena....karena.....” Wajahnya tiba-tiba memerah, ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, lalu
tersenyum dan berkata dengan malu, “Karena di hatimu ada pikiran-pikiran yang tidak bersih.”
Jantung Bai Yu-jing berdebar makin kencang.
Memang di benaknya sedang muncul pikiran-pikiran kotor.
Seorang laki-laki yang mabuk malam sebelumnya biasanya menjadi lebih rapuh di pagi harinya, dan
kurang mampu untuk bertahan terhadap godaan.
Bagaimana dengan seorang perempuan yang mabuk malam sebelumnya? Bai Yu-jing hampir tak bisa
menahan keinginan untuk melangkah menghampirinya.
Mata Yuan Zi-xia mengintipnya dari balik selimut. Sepertinya dia juga berharap agar Bai Yu-jing mau
mendekat.
Dia bukan seorang laki-laki sejati, tapi bila teringat pada “penjaga-penjaga yang berdiri di luar”
untuknya, hatinya pun serasa karam.
Dengan wajah memerah seperti matahari terbenam, Yuan Zi-xia menggigit bibirnya dan berkata,
“Saat aku melihatmu terus berusaha membuatku mabuk tadi malam, aku pun tahu kau bukan orang
baik-baik.”
Bai Yu-jing menghela napas dan berkata dengan senyum dikulum, “Aku yang berusaha membuatmu
mabuk?”
“Bukannya memang begitu?” Yuan Zi-xia menatapnya dengan kesal. “Lalu kenapa kita minum dengan
cawan-cawan besar? Sejak kapan kau lihat seorang gadis minum dengan cawan besar?”
Bai Yu-jing tidak bisa berkata apa-apa.
Bila seorang wanita mengajakmu berdebat, walaupun ada sesuatu yang hendak kau katakan,
sebaiknya kau tutup saja mulutmu.
Ini adalah prinsip yang dia pahami benar-benar.
Sayangnya Yuan Zi-xia tidak mau melepaskannya dengan mudah. “Sekarang kepalaku sangat sakit,
bagaimana tanggung-jawabmu?” ia berkata lagi.
“Kau saja yang mengatakannya.” Bai Yu-jing menyeringai sedih.
Si nona memandangnya dengan termangu. “Kau... kau setidaknya harus meredakan sakit kepalaku.”
Sebuah suara tiba-tiba saja berteriak, “Itu gampang, tebas saja batok kepalanya.”
Suara itu berasal dari lorong di luar kamar.
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
28
Sebelum suara itu hilang, Bai Yu-jing sudah melompat ke luar pintu.
Lorong itu amat sempit. Daun-daun pohon pakis bergoyang-goyang dalam hembusan angin sepoisepoi.
Tidak seorang pun yang terlihat, bahkan bayangan pun tidak ada, Fang Long Xiang sudah pergi
beberapa saat yang lalu.
Dia tidak mau berada di tengah-tengah dua pihak yang bertikai.
Jika bukan Fang Long Xiang, lalu suara siapa itu? Halaman itu kembali sunyi senyap.
Seseorang sudah membersihkan ikan mas dari atas tanah. Tuan Muda Zhu dan pengawalnya agaknya
juga sudah kembali ke kamar mereka.
Cuma tiga orang laki-laki kekar dari Perkumpulan Naga Hijau yang masih ada, masih berdiri di sana
sambil mengawasi pintu gerbang, menunggu seseorang yang tidak diketahui identitasnya.
Bai Yu-jing hanya bisa kembali ke dalam kamar.
Yuan Zi-xia sudah duduk di ranjang. Wajahnya kembali tampak pucat, dia bertanya, “Siapa di luar?”
“Tidak ada siapa-siapa,” Bai Yu-jing menjawab.
Mata si nona pun terbelalak. “Tidak ada orang? Lalu siapa yang bicara tadi?”
Bai Yu-jing cuma tersenyum, itulah satu-satunya jawaban yang terpikir olehnya.
Mata Yuan Zi-xia seperti disaput awan karena ketakutan dan dia pun berkata dengan bimbang, “Dia...
dia menyuruhmu untuk menebas batok kepalaku... Kau tidak akan melakukannya, kan?”
Bai Yu-jing hanya bisa menghela napas.
Tiba-tiba Yuan Zi-xia melompat bangkit dari atas ranjang dan menghambur ke dalam pelukannya,
suaranya terdengar bergetar, “Aku takut. Tempat ini menyeramkan, kau tidak boleh meninggalkanku
sendirian di sini.”
Tangan gadis itu memeluk lehernya erat-erat. Lengan bajunya pun tersingkap, memperlihatkan
lengannya yang mulus seperti pualam.
Yang dia kenakan adalah sehelai gaun tipis. Dadanya terasa hangat dan kencang. Bai Yu-jing bukan
terbuat dari kayu, dia juga bukan seorang malaikat yang luput dari nafsu.
Yuan Zi-xia berbisik, “Aku ingin kau tinggal di sini bersamaku. Kau... kenapa kau tidak menutup
pintu?”
Bibirnya yang lembut dan merangsang itu berbisik di dekat telinganya, sangat dekat malah.
Tepat saat itu tiba-tiba terdengar suara tangisan yang memilukan hati dari halaman sana.
Siapa yang menangis itu? Siapa pun dia, tangisannya itu telah dikeluarkan pada saat yang tidak tepat.
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
29
Tangan Yuan Zi-xia pun terlepas. Tidak perduli siapa pun yang mendengar suara tangisan seperti itu,
jantung mereka tentu terasa karam.
Gadis itu berdiri di lantai dengan kaki telanjang, sorot matanya tampak seperti orang bingung, seperti
seorang bocah yang tersesat arah.
Tangisan itu pun agaknya berasal dari seorang bocah.
Bai Yu-jing berjalan ke arah jendela dan melihat sebuah peti. Perempuan tua berambut putih dan
bocah kecil tadi tampak bersandar di peti mati itu sambil menangis tersedu-sedu, suara mereka sudah
hampir hilang.
Tidak jelas siapa yang membawa peti itu ke sana, tapi mereka telah meletakkan peti mati itu di
tempat gentong ikan mas tadi berada.
Sudah cukup orang hidup yang datang ke tempat ini, dan sekarang, entah dari mana asalnya, satu
orang mati pun sudah datang.
Bai Yu-jing menghela napas sambil bergumam, “Setidaknya orang mati tak mungkin datang karena
aku......”
Yuan Zi-xia menutup pintu, menarik sebuah kursi dan duduk di pinggir jendela.
Di halaman, tampak dua orang biksu yang sedang membacakan doa. Menyaksikan upacara ini dari
bangunan sebelah atas, kepala biksu-biksu yang berkilauan itu mungkin tampak amat lucu, tapi suara
mereka saat membacakan doa terdengar khusyuk dan memilukan.
Di samping suara yang monoton dan memilukan itu, juga terdengar suara isak tangis perempuan tua
dan bocah itu. Hal ini membuat orang-orang yang mendengarnya akan teringat kembali pada
kesedihan dan kerisauan di hati mereka.
Yuan Zi-xia menarik napas dan mengangkat muka untuk melihat cuaca. Dia tidak tahu pukul berapa
dia bangun tadi, tapi sekarang jelas sudah senja.
Langit tampak mendung, seolah akan turun hujan. Tiga orang lelaki dari Perkumpulan Naga Hijau
juga sudah memindahkan kursi mereka dan duduk di bawah wuwungan. Mereka melihat ke sekeliling
mereka sambil menanti dengan wajah gelisah.
Bai Yu-jing dan Fang Long Xiang sedang berjalan, melangkah dengan perlahan ke arah pintu gerbang.
Mereka tentu saja tidak memandang pada orang lain, tetapi mereka dapat merasakan banyaknya
mata yang menatap mereka di balik punggung mereka. Jika secara kebetulan mereka berpaling ke
arah sana, pandangan mata orang-orang itu tentu akan segera beralih dari mereka.
Yuan Zi-xia tentu saja merupakan pengecualian. Di matanya terlihat kehangatan yang tak dapat
diuraikan dengan kata-kata, terulur seperti benang sutera yang terikat di tumit kaki Bai Yu-jing.
Di luar pintu, pemandangan tampak indah seperti lukisan. Jalan yang terlihat coklat gelap, berkelokkelok
mulai dari tempat itu seperti seekor cacing, menembus hutan yang hijau, menelusuri danau
berair biru yang dalam, lalu tiba di jalan raya yang ramai.
Gunung di kejauhan tampak berawan, seperti dalam kabut, terlihat indah sekaligus penuh hawa gaib.
Kota kecil itu tentu saja tidak jauh dari sini, tapi ada danau biru dan hutan hijau yang memisahkan
tempat ini dengan keramaian di bawah gunung sana.
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
30
Bai Yu-jing menarik napas dalam-dalam untuk menghirup udara segar dan merasa sedih. Tak tahan ia
menghela napas dan berkata: “Aku suka tempat ini.”
Fang Long Xiang berkata: “Banyak orang yang menyukai tempat ini.”
Bai Yu-jing berkata: “Ada orang hidup dan ada juga orang mati.”
Fang Long Xiang berkata: “Biasanya orang mati tidak diterima di sini.”
Bai Yu-jing berkata: “Hari ini adalah kekecualian.”
Fang Long Xiang berkata: “Tamu mana pun yang tinggal di tempat ini, tak perduli siapa pun dia,
harus patuh pada aturan dan tidak boleh melanggarnya.”
Bai Yu-jing berkata: “Jika dia membunuh orang?”
Fang Long Xiang tersenyum dan berkata: “Hal itu tergantung pada siapa yang membunuh dan siapa
yang dibunuh.”
Bai Yu-jing berkata dengan dingin: “Omonganmu itu jelas cuma basa-basi seorang pedagang.”
Fang Long Xiang berkata: “Aku memang seorang pedagang.”
Bai Yu-jing berjalan maju beberapa langkah dan berkata: “Kukira mereka tidak akan membiarkanku
pergi, tapi waktu aku keluar, tidak seorang pun yang menghalangiku.”
Fang Long Xiang berkata: “Emm.”
Bai Yu-jing berkata pula: “Mungkin mereka bukan datang untukku.”
Fang Long Xiang berkata: “Mungkin.”
Bai Yu-jing tiba-tiba menepuk pundaknya dan berkata sambil tersenyum: “Kali ini nasibmu memang
bagus.”
Fang Long Xiang berkata: “Nasib apa?”
Bai Yu-jing berkata: “Kau tidak perlu takut kalau aku menyalah-gunakan kebaikanmu. Aku akan pergi
besok pagi-pagi sekali.”
Fang Long Xiang berkata: “Malam ini kau.....”
Bai Yu-jing berkata: “Malam ini aku ingin minum, jangan biarkan lemarimu tertutup rapat.”
Mimik wajah Fang Long Xiang mendadak berubah sendu, dan sambil menatap gunung berawan di
kejauhan sana, perlahan-lahan ia berkata: “Malam ini pasti amat panjang.”
Bai Yu-jing berkata: “Oh.”
Fang Long Xiang berkata: “Malam yang begini panjang, tentu akan ada banyak urusan.”
Bai Yu-jing berkata: “Oh.”
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
31
Fang Long Xiang berujar: “Juga cukup panjang untuk membunuh orang.”
Bai Yu-jing berkata: “Oh.”
Fang Long Xiang tiba-tiba berpaling dan menatapnya. Lalu ia berkata: “Kau tentu menunggu
kedatangan orang itu, dan kemudian barulah kau mau pergi?”
Bai Yu-jing berkata: “Siapa orang itu?”
Fang Long Xiang berkata: “Orang yang sedang ditunggu oleh orang-orang Naga Hijau.”
Bai Yu-jing tersenyum, di matanya terlihat ekspresi yang amat luar biasa. Setelah sekian lama,
barulah kemudian ia berkata dengan perlahan: “Sejujurnya, lambat laun aku merasa orang ini sangat
menarik.”
Fang Long Xiang berkata: “Kau tidak tahu apa-apa tentang dia.”
Bai Yu-jing berkata: “Karena aku tidak tahu, maka aku menganggap dia menarik.”
Fang Long Xiang berkata: “Asalkan ada urusan yang menarik, kau tak akan pergi?”
Bai Yu-jing berkata: “Biasanya ya.”
Fang Long Xiang berkata: “Adakah orang yang bisa membuatmu berubah pikiran?”
Bai Yu-jing berkata: “Tidak ada.”
Fang Long Xiang menghela napas dan berkata: “Bagus, akan kuambilkan arak dan biar kau loloh
pendekar wanitamu itu sampai mabuk.”
Bai Yu-jing berkata: “Aku juga harus pergi berganti pakaian.”
Fang Long Xiang berkata: “Sekarang?”
Bai Yu-jing berkata: “Bila tiba waktu minum arak, aku selalu mengenakan baju baru.”
Sorot mata Fang Long Xiang tampak berkilat-kilat, katanya: “Bila tiba waktu untuk membunuh, kau
juga selalu berganti pakaian baru?”
Bai Yu-jing tersenyum dan berkata dengan nada ringan: “Itu tergantung siapa orang yang akan
kubunuh.”
Yuan Zi-xia duduk di atas ranjang, memegang selimut yang terlipat dan berkata: “Mengapa kita tidak
membawa arak itu ke sini dan minum di kamar ini.”
Bai Yu-jing tersenyum dan berkata: “Untuk minum arak, kita butuh tempat yang tepat, kalau tidak
arak yang enak pun akan terasa getir.”
Yuan Zi-xia berkata: “Mengapa tempat ini tidak tepat?”
Bai Yu-jing berkata: “Tempat ini gunanya untuk tidur.”
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
32
Yuan Zi-xia berkata: “Tapi... di bawah ada banyak orang, aku tidak punya pakaian baru untuk
dikenakan, bagaimana aku bisa turun ke bawah?”
Bai Yu-jing berkata: “Akulah pakaian barumu.”
Yuan Zi-xia berkata: “Kau?”
Bai Yu-jing berkata: “Dengan aku berada bersamamu, kau tidak perlu berganti baju, orang lain
mungkin tidak akan memandangmu.”
Yuan Zi-xia tersenyum menawan dan berkata: “Kau selalu mengira dirimu ini amat hebat?”
Bai Yu-jing berkata: “Biasanya ya.”
Yuan Zi-xia berkata: “Mukamu tidak pernah memerah?”
Bai Yu-jing berkata: “Tidak.”
Tiba-tiba ia membalikkan badan dan berkata: “Tapi di sini aku takluk padamu.”
Yuan Zi-xia berkata: “Kenapa?”
Bai Yu-jing berkata: “Karena wajahku sekarang sedang memerah. Bila aku malu, aku tak mau orang
lain melihatnya.”
Yuan Zi-xia mengambil sebuah kotak dan mengeluarkan seperangkat pakaian. Walaupun ini bukan
pakaian baru, tapi tampak indah seperti awan ungu. Dia menyukai pakaian berwarna cerah dan
menyukai orang-orang 'berwarna cerah'.
Bai Yu-jing agaknya adalah orang seperti ini. Dia angkuh, melakukan apa pun yang dia sukai, kadangkadang
suka meledak-ledak seperti anak kecil, terkadang tenang tapi menghanyutkan seperti rubah
yang licik. Dia tahu laki-laki seperti ini tidak mudah untuk dihadapi. Bila seorang wanita ingin
memikatnya, itu bukan hal yang gampang. Tapi dia memutuskan untuk berusaha.
Rumah makan itu tentu saja tidak besar, tapi sangat baik. Mejanya terbuat dari kayu padat, lantainya
dilapisi oleh batu-batu yang indah. Di atas dinding juga terpajang kaligrafi dan lukisan yang sesuai,
dan beberapa macam tanaman dengan bunga yang mekar digantung di dekat pintu. Bila seseorang
memasuki ruangan itu, ia bisa melihat bahwa mencicipi makanan di tempat itu akan membuat orang
merasa terhormat. Karena itu harganya pun lebih mahal daripada di tempat lain, tapi tidak ada yang
keberatan.
Tiga orang laki-laki dari Perkumpulan Naga Hijau duduk di sebuah meja di dekat pintu, mata mereka
menatap keluar pintu. Mereka jelas sedang menunggu seseorang. Meja Tuan Muda Zhu berada di
dekat jendela. Dia pun sudah mulai makan dan minum dengan enaknya, sementara si baju hitam
berdiri seperti bayangan di belakangnya.
“Apakah pelanggan ini juga ikut makan?”
“Dia akan menungguku selesai makan, baru dia akan makan.”
Membiarkan orang lebih dulu dan menunggu orang selesai makan sebelum bisa makan. Itulah takdir
yang dipilih oleh beberapa orang.
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
33
Upacara Buddha tadi sudah selesai, secara tak disangka-sangka kedua biksu tadi juga makan di sini.
Kepala mereka yang berkilauan tampak gemerlap seperti pantat botol. Agaknya kepala mereka baru
saja dicukur.
Dalam hembusan angin, suara isak tangis perempuan tua itu bisa terdengar samar-samar.
Sebenarnya siapa yang mati?
Mengapa dia menangis begitu sedih?
Apakah orang yang memecahkan gentong ikan mas itu pernah muncul?
Mengapa dia bersembunyi di dalam kamar seperti tidak berani bertemu siapa pun?
Teh itu rasanya enak, araknya juga arak yang baik.
Bai Yu-jing sudah berganti pakaian dengan baju baru berwarna biru. Dia sudah minum beberapa gelas
arak, seakan-akan tidak ada urusan yang perlu dirisaukan olehnya. Fang Long Xiang tampak
termangu, dia hanya minum sedikit dan juga tidak banyak makan sayuran.
Yuan Zi-xia berkata dengan menawan: “Kau makan lebih sedikit daripada seorang gadis muda.”
Fang Long Xiang berkata sambil tersenyum: “Karena aku bayar sendiri, aku selalu tidak mau
menghambur-hamburkan uang.”
Bai Yu-jing berkata: “Aku juga tidak.”
Tiba-tiba ia bertepuk tangan memanggil pelayan dan berkata: “Bawakan beberapa macam makanan
dan arak terbaik untuk orang di belakang sana.”
Fang Long Xiang berkata dengan dingin: “Juga untuk si pemakai topi sobek?”
Bai Yu-jing berkata: “Pepatah mengatakan, mereka yang tidak mengikuti musim, mungkin tak akan
berhasil mendapatkan makanan untuk dimakan.”
Tiba-tiba Yuan Zi-xia menyeletuk: “Makanan di sini enak. Kira-kira bahannya apa ya?”
Fang Long Xiang berkata: “Kelabang, kadal, ular kecil.”
Wajah Yuan Zi-xia mendadak pucat pasi, dia tak tahan lagi dan muntah-muntah.
Di ruangan itu semua orang diam-diam memandangnya, bahkan kedua biksu tadi pun tidak terkecuali.
Mulut mereka memang pantang makan daging, tapi mata mereka tentu tidak pantang apa-apa.
Tiba-tiba terdengar bunyi derap kaki kuda. Seekor kuda yang besar berhenti di luar pintu. Ketiga
orang laki-laki dari Perkumpulan Naga Hijau pun mendadak bangkit. Segera muncul mimik muka yang
gembira di wajah mereka. Orang yang mereka tunggu-tunggu akhirnya tiba.
Fang Long Xiang memandang Bai Yu-jing, mengangkat cawan arak dan berkata: “Kusulang kau
secawan arak.”
Bai Yu-jing berkata: “Mengapa kau tiba-tiba bersulang untukku?”
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
34
Fang Long Xiang menarik napas dan berkata: “Aku hanya khawatir aku tak akan punya kesempatan
lagi untuk bersulang.”
Bai Yu-jing tersenyum dan berkata: “Kita lihat dulu orang ini, baru kemudian bersulang untukku, tentu
masih belum terlambat.”
Ketika dia bicara begitu, mata semua orang sedang menatap ke arah pintu masuk. Kuda besar tadi
berdiri di luar, seseorang lalu masuk dengan tergesa-gesa. Seorang laki-laki kekar berbaju hitam
melangkah masuk dengan keringat bercucuran.
Ketiga orang dari Perkumpulan Naga Hijau melihatnya, di wajah mereka segera timbul kekecewaan,
dan dua orang di antaranya kemudian duduk. Orang yang datang itu jelas bukan orang yang dinantinantikan.
Yang seorang lagi menyambut kedatangan teman mereka itu, mengerutkan kening dan bertanya:
“Kenapa.....”
Orang lain mendengar ucapannya itu, tapi suaranya tiba-tiba berubah menjadi rendah seperti berbisik.
Orang yang baru masuk itu pun berbicara dengan nada yang lebih rendah. Dia hanya mengucapkan
beberapa patah kata sebelum pergi lagi dengan terburu-buru.
Ketiga orang laki-laki dari Perkumpulan Naga Hijau itu saling berpandangan. Mereka lalu duduk dan
minum. Raut muka yang gelisah tadi tidak terlihat lagi di wajah mereka. Walaupun orang yang
mereka tunggu belum datang, jelas mereka sudah mendapatkan berita. Tapi berita apa?
Tuan Muda Zhu mengerutkan alisnya dengan gelisah, raut muka tak sabaran yang tadi terlihat di
wajah orang sekarang pun muncul di wajahnya.
Kedua biksu tadi tiba-tiba bangkit, merapikan pakaian mereka dan berkata: “Tagihan biksu-biksu
miskin ini, harap dicatatkan atas nama Nyonya Guo.” Biksu-biksu itu makan di sini karena keadaan
istimewa, tentu saja mereka tidak membayar.
Tapi entah karena alasan apa, Bai Yu-jing selalu merasa bahwa kedua orang biksu itu tidak terlihat
seperti biksu. Sorot matanya pun tampak seperti orang yang sedang merenung. Ketika mereka sudah
keluar, tiba-tiba dia berkata sambil tersenyum: “Kudengar kau punya sepasang mata yang tajam
seperti rubah sejak lahir. Aku ingin mengujimu.”
Fang Long Xiang berkata: “Ujian macam apa?”
Bai Yu-jing berkata: “Ada dua macam ujian.”
Fang Long Xiang menghela napas dan berkata: “Ujilah aku.”
Bai Yu-jing berkata: “Kau lihat kedua biksu tadi, bagian tubuh mana yang tadi tidak ada?”
Yuan Zi-xia merasa bingung. Kelima panca indera dua orang biksu tadi seluruhnya lengkap, dan
mereka bukan orang-orang cacat. Kenapa ada bagian tubuh yang hilang?
Fang Long Xiang memikirkan pertanyaan yang sulit itu dan tiba-tiba menjawab: “Luka bekas bakaran
dupa.”
Yuan Zi-xia hanya bisa menghela napas. “Mata kalian benar-benar tajam, agaknya mereka memang
tidak punya luka bekas bakaran dupa.”
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
35
Bai Yu-jing berkata: “Kedua orang itu memang tidak punya.”
Yuan Zi-xia berkata: “Mereka.... mereka bukan biksu sungguhan?”
Bai Yu-jing tersenyum dan berkata: “Kenyataan adalah ilusi, ilusi adalah nyata, asli dan palsu, kenapa
kita begitu serius memikirkannya?”
Yuan Zi-xia tersenyum dan berkata: “Kapan kau juga berubah menjadi biksu? Kenapa kau bicara
begitu bijak?”
Fang Long Xiang berkata: “Dia bukan hanya bisa bicara bijak seperti seorang biksu, dia juga bisa
makan tanpa membayar.” Dia tidak membiarkan Bai Yu-jing buka mulut dan berkata lagi: “Kau telah
menguji sekali, lalu apa lagi?”
Bai Yu-jing merendahkan suaranya dan berkata: “Kau tahu siapa orang yang sedang ditunggu oleh
orang-orang Naga Hijau itu?”
Fang Long Xiang menggelengkan kepalanya.
Bai Yu-jing berkata: “Mereka sedang menunggu Wei Tian-ying!”
Fang Long Xiang segera mengerutkan keningnya dan berkata: “Wei Tian-ying? Si 'Pisau Iblis' Wei
Tian-ying?”
Bai Yu-jing mengangguk.
Mimik wajah Fang Long Xiang pun berubah dan ia berkata: “Bukankah orang itu sudah diusir oleh
musuh bebuyutannya ke timur sana, ke Pulau Fu Sang?”
Bai Yu-jing berkata: “Fu Sang bukanlah neraka. Walaupun dia pergi ke sana, tidak mustahil baginya
untuk kembali.”
Fang Long Xiang mengerutkan alisnya dan berkata: “Menurut cerita, bukan ilmu pisaunya saja yang
menakutkan, tapi ia juga telah mempelajari ilmu 'tahan derita' ala Fu Sang. Dalam Perkumpulan Naga
Hijau, dia dianggap sebagai salah seorang dari 'Dua belas hantu Naga Hijau'.”
Bai Yu-jing berkata dengan nada ringan: “Kurasa juga begitu.”
Yuan Zi-xia menatapnya dan berkata: “Apa itu ilmu 'tahan derita'?”
Bai Yu-jing berkata: “Ilmu 'tahan derita' adalah kungfu istimewa yang mengajarkan cara melukai
orang secara diam-diam, jadi lebih baik kau tidak mendengarnya.”
Yuan Zi-xia berkata: “Tapi aku ingin dengar.”
Bai Yu-jing berkata: “Walau kau ingin mendengarnya, aku tak dapat mengatakannya.”
Yuan Zi-xia berkata: “Kenapa?”
Bai Yu-jing berkata: “Karena aku pun tidak tahu.”
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
36
Sebenarnya dia tahu sedikit tentang ilmu ini. Menurut dongeng, ilmu 'tahan derita' diwariskan dari Jiu
Mixian (Dewa Jarak Jauh), di jaman Istana Kebajikan, lalu diteruskan oleh 'perkumpulan kera terbang'
dan anggota-anggota 'ruang kabut rahasia', serta jago-jago beladiri dari pulau Fu Sang.
Walaupun seperti ilmu gaib, kungfu ini sebenarnya dilandasi oleh ilmu meringankan tubuh, ilmu
menyaru, tenaga dalam dan kepandaian menyelam. Keistimewaan dari ilmu ini adalah bahwa mereka
bisa menggunakan hewan-hewan yang biasa hidup di bawah tanah sebagai alat untuk menghindari
pengejaran musuhnya. Ilmu ini dibagi dalam tujuh bagian.
Walaupun Bai Yu-jing memahami semua itu, tapi dia tak mau menyebutnya karena hal itu terlalu
rumit. Jika kau ingin menerangkan sebuah urusan yang rumit pada seorang wanita, maka hanya akan
muncul kecanggungan saja.
Fang Long Xiang dari tadi cuma merenung saja, tiba-tiba sekarang dia bertanya: “Bagaimana kau
tahu kalau mereka sedang menunggu Wei Tian-ying?”
Bai Yu-jing berkata: “Mereka tadi baru saja mengatakannya.”
Fang Long Xiang berkata: “Kau bisa mendengar percakapan mereka?”
Bai Yu-jing berkata: “Aku tidak bisa mendengar, tapi aku bisa melihat.”
Yuan Zi-xia tidak faham dan tak tahan lagi ia pun bertanya: “Mereka bercakap-cakap dan kau bisa
melihat? Bagaimana kau bisa melihatnya?”
Bai Yu-jing berkata: “Dengan memperhatikan bibir mereka.”
Yuan Zi-xia menghela napas dan berkata: “Kau benar-benar orang yang menakutkan. Agaknya tidak
ada urusan yang bisa disembunyikan darimu.”
Bai Yu-jing berkata: “Apa kau takut padaku?”
Yuan Zi-xia berkata: “Mmm.”
Bai Yu-jing berkata: “Jika kau takut padaku, seharusnya kau dengarkan kata-kataku.”
Yuan Zi-xia tersenyum. Dia pernah mengucapkan kata-kata yang sama pada Bai Yu-jing. Dia
tersenyum lembut dan berkata: “Kau memang bukan orang baik-baik.”
Tuan Muda Zhu berjalan keluar dengan lagak yang angkuh. “Kau makanlah. Setelah selesai makan,
segera kembali.”
Si baju hitam segera menyantap makanan di dalam mangkuk dengan tergesa-gesa. Lalu dia
melangkah pergi dengan terburu-buru.
Bai Yu-jing tiba-tiba berkata, “Sobat, tunggu, tunggu dulu!”
Si baju hitam menghentikan langkahnya, tapi tidak berpaling.
Bai Yu-jing berkata sambil tersenyum: “Di sini ada arak yang enak, mengapa kau tidak tinggal di sini
dulu dan minum tiga cawan?”
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
37
Si baju hitam akhirnya membalikkan badannya. Wajahnya tidak menampilkan ekspresi apa-apa, tapi
gerak-geriknya memperlihatkan perasaan duka yang makin mendalam. Dia menjura sambil berkata:
“Aku juga ingin minum banyak-banyak, tapi sayangnya ada delapan orang lagi dalam keluargaku yang
butuh makan.”
Walaupun perkataannya itu amat sederhana, tapi membayangkan kepedihan hati yang teramat
sangat.
Bai Yu-jing berkata: “Tuan Muda Zhu sudah memanggilmu?”
Jawaban si baju hitam sederhana saja: “Aku rasa begitu.”
Bai Yu-jing berkata: “Kau tidak ingin melakukan pekerjaan lain?”
Si baju hitam: “Aku cuma tahu kungfu. Walaupun dulu aku juga terjun ke dunia Kang-ouw, tapi
sekarang.... “ Ia menundukkan kepalanya dan berkata dengan lesu: “Walau aku sudah tua, aku tidak
mau mati dan juga tidak boleh mati.”
Bai Yu-jing berkata: “Karena itu kau hanya bisa tinggal bersama Tuan Muda Zhu?”
Si baju hitam: “Ya.”
Bai Yu-jing berkata: “Kau bersamanya, tentunya bukan untuk melindunginya, tapi karena kau ingin
dia melindungimu!” Dia mengucapkan kalimat ini dengan tajam, dengan tatapan mata yang menusuk.
Si baju hitam seperti ditampar oleh sebuah telapak tangan terbuka, mundur terhuyung-huyung
beberapa langkah sebelum kemudian membalikkan badan dan berlari keluar.
Yuan Zi-xia menggigit bibirnya dan berkata: “Kau..... mengapa kau melukai hati orang seperti itu?”
Wajah Bai Yu-jing juga menampilkan ekspresi yang sedih.
Setelah sekian lama, dia lalu menarik napas panjang dan berkata: “Karena aku bukan orang baikbaik.....”
Tapi tidak ada yang mendengar kata-katanya, karena tepat pada saat itu tiba-tiba terdengar jeritan
yang memilukan dalam keheningan malam. Suara jeritan yang membuat beku darah orang. Jeritan itu
seperti berasal dari luar pintu depan. Fang Long Xiang melesat seperti anak panah yang lepas dari
busurnya, dia mengayunkan gaetan besinya. Dengan menimbulkan bunyi “brak!” yang keras, dia telah
menghancurkan daun jendela.
Diterangi oleh cahaya yang keluar dari pintu depan, halaman yang luas itu tampak sunyi senyap. Peti
mati tadi telah dibawa masuk. Di tengah halaman tidak ada siapa-siapa. Tapi sekarang, tiba-tiba
muncul seseorang yang berlari masuk lewat gerbang depan seperti orang gila.
Seorang biksu.
Cahaya lampu yang samar-samar memperlihatkan tidak adanya bekas luka bakaran dupa di kepalanya
yang gundul. Tidak ada bekas luka, tapi ada darah! Darah yang tidak berhenti mengalir dan
membasahi wajahnya. Masuk ke matanya, masuk ke dalam kerutan-kerutan di sudut matanya. Di
bawah sinar rembulan yang remang-remang, wajah itu tampak sangat menakutkan. Dia berlari masuk
ke halaman dan melihat jendela yang hancur berantakan itu.
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
38
Fang Long Xiang berlari keluar lewat jendela. Sorot mata biksu tadi memperlihatkan perasaan
terkejut, takut, duka dan gusar.
Sudut mulutnya berkerut-kerut tiada henti. Mungkin dia berusaha membersihkan wajahnya dengan
tangannya tapi malah melukai sudut mulutnya.
Setelah keluar lewat jendela, Fang Long Xiang merendahkan suaranya: “Siapa dia? Siapa yang
melakukan perbuatan yang keji ini?”
Biksu itu mengeluarkan suara melengking tinggi dan mendesis: “Hijau... Hijau.. Hijau..”
Fang Long Xiang berkata: “Hijau apa?”
Biksu itu belum sempat mengucapkan kata kedua ketika kaki dan tangannya tiba-tiba berkelojotan.
Dia pun melompat di atas satu kaki dan terjungkal roboh!
Fang Long Xiang mengerutkan alisnya dan bergumam: “Hijau apa? Naga hijau?”
Pelan-pelan dia pun berpaling. Tiga orang dari Perkumpulan Naga Hijau berbaris di bawah wuwungan
atap. Tampaknya mereka pun sangat terkejut.
Darah pelan-pelan mengalir menuruni kepala biksu tadi dan akhirnya mengental. Hal itu membuat
sebuah kilauan emas terlihat sehingga Fang Long Xiang segera berjongkok dan memutar kepala itu ke
arah sinar lampu untuk melihat sumber kilauan tadi. Dia segera melihat sebuah logam keemasan
berbentuk seperti mata rantai. Mata rantai berdiameter tujuh inci itu menancap di kepala tersebut,
hanya sebagian saja yang terlihat.
Fang Long Xiang akhirnya paham kenapa biksu ini tadi bertingkah seperti orang gila dan tampak amat
menyeramkan. Sebuah mata rantai emas berdiameter tujuh inci, jika menancap di kepala orang,
orang itu tentu akan segera menjadi gila.
Bai Yu-jing mengerutkan keningnya dan berkata: “Rantai emas Perkumpulan Rambut Merah?”
Fang Long Xiang mengangguk, bangkit berdiri, matanya menatap pintu kamar ketiga sana dan
bergumam: “Mengapa dia harus membunuh biksu ini?”
“Mengapa kau tidak pergi dan bertanya padanya?” Orang yang bicara ini adalah Tuan Muda Zhu.
Jelas dia tadi mendengar suara jeritan yang memilukan itu, keluar dengan tergesa-gesa, dan sekarang
sedang berlipat tangan, berdiri di bawah lampu. Si baju hitam membayanginya dalam jarak dekat.
Fang Long Xiang memandangnya dan berkata: “Sejak kapan Gedung Sejuta Emas dan Perkumpulan
Rambut Merah bermusuhan?”
Tuan Muda Zhu berkata: “Bermusuhan? Siapa bilang Gedung Sejuta Emas mempunyai sengketa
dengan monster-monster rambut merah itu?”
Fang Long Xiang berkata: “Bagaimana gentong ikan mas tadi bisa pecah?”
Tuan Muda Zhu tersenyum dan berkata: “Mungkin mereka bersengketa mengenai ikan mas itu....
Mengapa kau tidak bertanya padanya saja?”
Fang Long Xiang berkata: “Kau ingin aku bertanya padanya?”
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
39
Tuan Muda Zhu berkata: “Hal itu terserah padamu.”
Fang Long Xiang menyeringai, tiba-tiba tubuhnya melesat pergi. Pintu kamar ketiga biasanya selalu
tertutup, tapi sekarang terlihat sinar lampu keluar darinya.
Fang Long Xiang tidak mengetuk pintu, pintu memang terbuka. Seseorang berdiri di ambang pintu, di
telinganya terpasang dua buah anting-anting emas berbentuk mata rantai yang berbunyi “ting-tang”,
matanya tampak berapi-api.
Fang Long Xiang memandang anting-anting emas di telinganya: “Ketua Miao?”
Miao Shaotian berkata dengan wajah tenang: “Tuan Fang benar-benar memiliki mata yang tajam.”
Fang Long Xiang berkata: “Tadi.....”
Miao Shaotian: “Tadi aku sedang makan. Bila sedang makan, aku tidak pernah membunuh orang.”
Di atas meja memang ada baki berwarna kuning keemasan, di atas baki terdapat seekor ular yang
kulitnya sudah separuh terkelupas. Di sudut mulut Miao Shaotian terdapat darah.
Perut Fang Long Xiang tiba-tiba terasa memberontak, agaknya orang ini sedang memakan seekor ular
berbisa.
Miao Shaotian melirik Tuan Muda Zhu di halaman sana. Dengan dingin dia berkata: “Jangan lupa,
siapa saja yang punya rantai emas, dia bisa melemparkan mata rantai emas itu. Asal orang itu punya
tangan, dia bisa menggunakan mata rantai emas itu untuk membunuh orang.”
Fang Long Xiang mengangguk, dia tidak bisa membuka mulutnya karena khawatir kalau dia akan
muntah.
Di kamar sebelah, suara isak tangis yang amat memilukan sayup-sayup masih terdengar.
Miao Shaotian membanting pintunya hingga tertutup. Dia meneruskan makannya lagi.
Tiga orang dari Perkumpulan Naga Hijau pun telah menarik diri.
Yuan Zi-xia memegang tangan Bai Yu-jing erat-erat. Dia takut kalau pemuda itu menyelinap pergi
dengan tiba-tiba. Mayat biksu tadi telah menjadi kaku.
Fang Long Xiang mengerutkan keningnya dan berkata: “Siapa yang membunuhnya? Mengapa dia
dibunuh?”
Bai Yu-jing berkata: “Karena dia biksu palsu.”
Fang Long Xiang berkata: “Biksu palsu? ...... Mengapa ada orang yang membunuh biksu palsu?”
Tidak seorang pun yang bisa menjawab pertanyaan ini.
Fang Long Xiang menghela napas, lalu berkata sambil tersenyum pahit: “Jika tidak keliru, di luar juga
tentu ada mayat seorang biksu palsu lagi.”
Bai Yu-jing berkata: “Mayat biksu palsu lagi?”
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
40
Yuan Zi-xia berpegangan pada tangan Bai Yu-jing, dan berjalan masuk ke dalam paviliun mungil itu.
Tangannya terasa dingin seperti es.
Bai Yu-jing berkata: “Kau kedinginan?”
Yuan Zi-xia berkata: “Aku bukan kedinginan, tapi ketakutan. Mengapa begitu banyak orang
menyeramkan yang datang ke mari?”
Bai Yu-jing tersenyum dan berkata: “Mungkin mereka semua datang untukmu.”
Wajah Yuan Zi-xia makin pucat pasi dan ia berkata: “Untukku?”
Bai Yu-jing berkata: “Semakin menakutkan seseorang itu, semakin menarik pula wanita yang dia
sukai.”
Yuan Zi-xia tersenyum dan berkata: “Bagaimana denganmu? Bukankah kau juga orang yang amat
menakutkan?”
Bai Yu-jing berkata: “Aku.....”
Tiba-tiba ia melihat pintu kamar Yuan Zi-xia telah terbuka. Ia ingat, ketika mereka turun tadi, mereka
telah menutup pintu dan membiarkan lampu kamar tetap menyala.
Yuan Zi-xia membawa enam atau tujuh buah kotak. Ada perempuan yang tidak mau membiarkan lakilaki
melihat barang-barang miliknya berserakan di mana-mana. Yuan Zi-xia merasa malu, sekaligus
gelisah, dia pun berseru: “Ada... ada pencuri.”
Tangan Bai Yu-jing mendorong pintu kamar itu hingga terbuka. Sebenarnya kamarnya masih lebih
berantakan daripada kamar ini. Tapi Yuan Zi-xia tidak membiarkan dia melihat-lihat lagi, dan telah
menariknya keluar. Dia tak mau membiarkan barang-barang miliknya dilihat oleh orang laki-laki,
wajahnya sudah memerah hingga ke telinga.
Bai Yu-jing berkata: “Barang apa yang tidak boleh kulihat?”
Wajah Yuan Zi-xia makin memerah, ia pun berkata: “Aku.... tidak... tidak ada barang berharga milikku
yang dicuri orang.”
Bai Yu-jing menyeringai dan berkata: “Mungkin memang tidak ada pencurinya.”
Yuan Zi-xia berkata: “Mengapa pencuri itu tidak datang ke kamar yang lain dan mengacak-acak di
sana?”
Bai Yu-jing berkata: “Agaknya mereka memang sedang mencariku.”
Yuan Zi-xia berkata: “Mencarimu? Siapa? Mengapa mereka mencarimu?”
Bai Yu-jing tidak menjawab, dia melangkah dan membuka daun jendela sebelah belakang.
Di lorong sempit berkabut itu tidak terlihat siapa-siapa.
Pengemis yang meminta makanan, pedagang kaki lima, si bungkuk bertopi sobek, semuanya entah ke
mana.
Bai Yu-jing berkata: “Aku akan pergi untuk melihat-lihat keadaan.”
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
41
Dia baru saja membalikkan badan, tapi Yuan Zi-xia segera memburu dan memegang tangannya. Dia
berkata: “Kau... jangan pergi, aku... aku... aku bisa mati ketakutan jika tidak ada orang lain yang
berada di kamar ini.”
Bai Yu-jing menghela napas dan berkata: “Tapi aku.....”
Yuan Zi-xia berkata: “Kumohon, kumohon padamu, sekarang aku benar-benar sangat ketakutan.”
Wajahnya pucat seperti kertas, dadanya yang montok tampak kembang-kempis.
Bai Yu-jing memandangnya, sorot matanya melembut dan ia pun berkata: “Kau benar-benar
ketakutan sekarang ini?”
Yuan Zi-xia berkata: “Mmm.”
Bai Yu-jing berkata: “Kalau tadi?”
Yuan Zi-xia menundukkan kepalanya dan berkata: “Tadi... tadi aku berdusta padamu.”
Bai Yu-jing berkata: “Mengapa harus berdusta?”
Yuan Zi-xia berkata: “Karena aku....”
Wajahnya yang pucat juga sudah memerah, tiba-tiba ia memukuli dada Bai Yu-jing dan berkata:
“Kenapa kau harus memaksa orang lain untuk mengatakannya? Kau memang bukan orang baik-baik.”
Bai Yu-jing berkata: “Karena aku bukan orang baik-baik, kau juga berani membiarkan aku tinggal di
kamarmu ini?”
Wajah Yuan Zi-xia semakin memerah, ia pun berkata: “Aku akan menyerahkan tempat tidur ini
untukmu. Aku akan beristirahat di lantai.”
Bai Yu-jing berkata: “Apakah aku tega membiarkanmu tidur di lantai?”
Yuan Zi-xia menggigit bibirnya dan berkata: “Tidak apa-apa, asal kau mau tinggal di sini, tidak usah
perdulikan hal lainnya lagi.”
Bai Yu-jing berkata: “Naik ke ranjang!”
Yuan Zi-xia berkata: “Tidak....”
Yuan Zi-xia berbaring di atas ranjang.
Bai Yu-jing juga berbaring di atas ranjang.
Mereka sudah melepaskan sepatu mereka sebelum berbaring di atas tempat tidur itu. Tanpa sepatu,
tapi pakaian masih dikenakan lengkap.
Setelah sekian lama, barulah Yuan Zi-xia menghela napas dan berkata: “Aku tidak mengira kalau kau
orang seperti ini.”
Bai Yu-jing berkata: “Aku juga tidak.”
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
42
Yuan Zi-xia berkata: “Kau... kau tidak khawatir kalau ada orang yang masuk?”
Bai Yu-jing berkata: “Sama sekali tidak.”
Yuan Zi-xia berkata: “Sama sekali tidak?”
Bai Yu-jing berkata: “Walaupun aku bukan seorang laki-laki sejati, aku juga bukan seorang bajingan
yang akan mengambil keuntungan dari keadaan seseorang yang sedang tidak menentu.”
Ia mengulurkan tangannya dan membelai tangan si nona dengan lembut. Lalu ia berkata dengan
suara yang lemah-lembut: “Mungkin karena aku menyukaimu, karena itu aku tidak mau menakutnakutimu,
apalagi dalam situasi yang kuciptakan sendiri.”
Yuan Zi-xia membelalakkan matanya dan berkata: “Kau sengaja memanggil orang-orang ini untuk
menakut-nakutiku?”
Bai Yu-jing berkata sambil tersenyum getir: “Mungkin, tapi sebenarnya mereka sedang mencariku.”
Yuan Zi-xia berkata: “Mengapa mereka mencarimu?”
Bai Yu-jing berkata: “Karena ada sebuah benda yang sangat mereka inginkan berada di tubuhku.”
Yuan Zi-xia berkata dengan mata berkedip-kedip: “Apakah kau kira aku menginginkan benda itu, dan
karena itu aku pun mencarimu?”
Bai Yu-jing berkata: “Aku tidak pernah punya pikiran seperti itu.”
Yuan Zi-xia berkata: “Jika aku memintanya darimu?”
Bai Yu-jing berkata: “Maka aku akan memberikannya.”
Yuan Zi-xia berkata: “Memberikan benda itu kepadaku?”
Bai Yu-jing berkata: “Mmm.”
Yuan Zi-xia berkata: “Benda itu begitu berharga, mengapa kau begitu mudah memberikannya
padaku?”
Bai Yu-jing berkata: “Benda apa pun, asal kau membuka mulutmu, akan kuberikan padamu dengan
segera.”
Yuan Zi-xia berkata: “Benarkah?”
Bai Yu-jing berkata: “Sekarang juga kuberikan padamu.”
Dia benar-benar memasukkan tangannya ke dalam bajunya.
Yuan Zi-xia tiba-tiba memeluknya erat-erat. Seluruh tubuhnya seperti dipenuhi perasaan yang hangat
dan ia berkata dengan lembut: “Aku tidak ingin apa-apa, asal kau mau menemaniku....” Suaranya
bercampur dengan isak tangis, air mata tiba-tiba telah mengalir turun.
Bai Yu-jing berkata: “Kau menangis?”
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
43
Yuan Zi-xia mengangguk dan berkata: “Karena aku terlalu bahagia.”
Ia menghapus air mata di wajahnya yang jatuh ke wajah Bai Yu-jing. Lalu ia berkata, “Lebih dulu ada
yang hendak kukatakan padamu.”
Bai Yu-jing berkata: “Katakanlah, aku akan mendengarkan.”
Yuan Zi-xia berkata: “Aku diam-diam minggat dari rumah, karena ibuku memaksaku untuk menikah
dengan seorang laki-laki tua yang kaya.” Ini cerita yang amat biasa, yang juga merupakan cerita yang
amat kasar. Tapi dalam cerita semacam ini, entah berapa banyak air mata yang tumpah. Asal ada ibu
yang serakah akan uang, dan ada laki-laki tua bernafsu besar di dunia ini, cerita seperti ini selamanya
akan terus terjadi.
Yuan Zi-xia berkata: “Ketika aku minggat, aku hanya membawa sebuah perhiasan kecil bersamaku.
Sekarang semuanya sudah terjual.”
Bai Yu-jing mendengarkan.
Yuan Zi-xia berkata: “Aku belum pernah bekerja mencari nafkah, karena itu... karena itu aku ingin
mencari seorang pria.” Perempuan memang tidak bisa hidup sendirian, biasanya mereka akan mencari
seorang pria dambaan. Urusan seperti ini juga tidak akan pernah berubah.
Yuan Zi-xia berkata pula: “Saat itulah aku menemukanmu, tentu saja bukan karena aku menyukaimu,
tapi cuma karena aku merasa kau amat meyakinkan, kau tentu bisa memberiku nafkah.”
Bai Yu-jing hanya tersenyum dipaksa.
Yuan Zi-xia menghela napas dengan lembut dan berkata: “Tapi sekarang, segalanya terasa berbeda.”
Bai Yu-jing berkata: “Apa perbedaannya?”
Suaranya seperti menyimpan rasa sakit.
Yuan Zi-xia berkata dengan suara yang lembut: “Sekarang aku tahu bahwa aku tidak akan bisa
menemukan laki-laki yang lebih baik darimu. Aku bisa menemukanmu, itulah nasib baikku, aku... aku
benar-benar bahagia.”
Air matanya mengalir turun membasahi pipinya, ia memeluk Bai Yu-jing erat-erat. Lalu ia berkata:
“Asal kau mau, aku akan memberikan segalanya kepadamu, aku tidak akan meninggalkanmu seumur
hidupku.....”
Bai Yu-jing tak tahan lagi dan balas memeluknya erat-erat, lalu katanya dengan suara yang lembut:
“Apakah aku menginginkan dirimu? Bagaimana mungkin aku tidak menginginkanmu?”
Yuan Zi-xia tersenyum sambil menangis dan berkata: “Kau mau membawaku pergi?”
Bai Yu-jing berkata: “Sejak saat ini, tak perduli apa pun yang aku lakukan, aku tentu akan
membawamu.”
Yuan Zi-xia berkata: “Benarkah?”
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
44
Dia tidak membiarkan Bai Yu-jing membuka mulutnya dan menutup mulut laki-laki itu dengan
mulutnya sendiri. Dia lalu berkata: “Aku tahu kau mungkin mulai jengkel, tapi aku hanya memintamu
untuk tidak pergi dengan orang-orang itu. Kita tidak usah memperdulikan mereka dan pergi saja
diam-diam dari tempat ini.”
Bai Yu-jing mengecup air mata yang membasahi wajahnya dan berkata: “Aku berjanji, aku akan
berusaha sekuatnya untuk tidak pergi bersama mereka.”
Yuan Zi-xia berkata: “Sekarang juga kita pergi?”
Bai Yu-jing menghela napas: “Sekarang aku hanya khawatir kalau mereka yang tidak akan
membiarkan kita pergi. Tapi jika kita menunggu sampai besok pagi, aku tentu akan punya cara untuk
membawamu pergi, maka nantinya tidak ada lagi orang yang akan bisa mengganggu kita.”
Yuan Zi-xia tersenyum, sorot matanya memancarkan kegembiraan dan juga harapan akan
kebahagiaan di masa depan. Akhirnya dia memperoleh apa yang dia inginkan. Seorang wanita cantik
dengan sifatnya yang baik, mengapa hal ini tidak lebih sering terjadi sehingga mereka bisa
memperoleh apa yang mereka dambakan?
Bab 3: Malam Yang Tiada Akhir
Ketika bintang-bintang mulai naik, tak lama kemudian mereka pun akan menghilang. Bumi sunyi
senyap, bahkan dalam ketenangan itu bunyi riak air di danau sana pun bisa terdengar.
Lentera di pintu depan berayun-ayun lembut ditiup angin, sementara sinarnya berkerlap-kerlip dalam
hembusan angin.
Yuan Zi-xia meringkuk dalam pelukan Bai Yu-jing. Perlahan-lahan dia sudah tertidur lelap. Dia benarbenar
kelelahan, lelah seperti seekor merpati yang tersesat, yang akhirnya menemukan tempat
bertengger yang aman.
Mungkin semula dia tidak mengantuk, tapi daya pandangnya pelan-pelan lenyap, kegelapan yang
lembut dan hangat akhirnya merengkuh dirinya.
Bai Yu-jing memandangnya, menatap hidungnya yang mancung dan bulu matanya yang panjang.
Tangannya lalu mengelus pinggangnya dengan lembut.
Lalu tangannya tiba-tiba berhenti di atas perutnya.
Dia tidak bergerak, dibiarkannya gadis itu tertidur lelap sampai pagi menjelang.
Setelah itu diam-diam dia turun dari tempat tidur, memakai sepatu kulitnya dan diam-diam melangkah
pergi.
Kenapa dia tega meninggalkan gadis itu di kamar, apakah dia tidak khawatir orang-orang itu
melukainya? Tapi dia memang tidak merasa khawatir.
Karena dia telah memutuskan bahwa dialah yang harus lebih dulu mencari orang-orang ini, dia
memutuskan untuk menyelesaikan urusan ini sebelum pagi tiba.
Setelah itu dia akan membawanya pergi.
Dia telah berjanji padanya.
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
45
Dia bukan seekor merpati, tapi seekor elang. Tapi dia juga sudah terlalu letih untuk terus terbang,
dan dia juga menginginkan tempat yang aman untuk bertengger.
Sinar lampu tampak suram. Bunga fuji di halaman sudah berwarna-warni, tapi pucuk bunganya juga
sudah merunduk dalam hembusan angin.
Bai Yu-jing memakai sepatu kulitnya, sepatu kulit tua yang nyaman.
Hatinya terasa damai, karena dia tahu bahwa dia telah membuat keputusan yang paling sulit.
Hidupnya setelah ini tentu akan berubah.
Anehnya, bila seseorang membuat perubahan yang amat penting dalam hidupnya, biasanya
perubahan itu hanya diputuskan dalam sekejap mata.
Hal ini terjadi karena emosi yang teramat tebal, karena itu keputusan pun datang begitu cepat! Cinta
sering timbul secara tiba-tiba, tapi hanya dengan persahabatan cinta itu akan berkembang dan
bertambah dalam.
Fang Long Xiang berada di paviliun mungil.
Bai Yu-jing baru saja melewati pintu yang sengaja dibuka oleh Fang Long Xiang. Dia berdiri
menatapnya dari ambang pintu.
Jelas dia juga tidak bisa beristirahat dengan baik.
Bai Yu-jing berkata: “Apa ada seorang perempuan di kamarmu?”
Fang Long Xiang berkata: “Hari ini bukan hari baik. Karena itu, walaupun di tempat ini biasanya selalu
ada perempuan, tiba-tiba tempat ini kekurangan perempuan yang baik-baik.”
Bai Yu-jing berkata: “Mengapa kau tidak mencari isteri saja, sehingga tidak akan mengalami nasib sial
seperti hari ini?”
Fang Long Xiang berkata: “Aku tidak gila.”
Bai Yu-jing berkata: “Memang aku yang gila.”
Fang Long Xiang berkata: “Setiap laki-laki tentu sekali-sekali akan bertindak gila. Asal kau bisa segera
sadar, itulah yang terbaik.”
Bai Yu-jing tersenyum, dia hanya tersenyum.
Dia tahu keadaannya sekarang yang sedang peka. Bukan cuma Xiao Fang yang bisa memahaminya.
Fang Long Xiang juga tersenyum dan berkata: “Tapi aku tidak mengira kalau malam ini kau masih
membutuhkan seorang teman, tak disangka-sangka kau masih mencariku ke sini.”
Bai Yu-jing berkata: “Aku bukan sedang mencarimu, aku ingin kau mencari seseorang.”
Fang Long Xiang berkata: “Siapa?”
Bai Yu-jing berkata: “Kau tahu ke mana si bungkuk bertopi sobek dan pedagang kaki lima itu pergi?”
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
46
Fang Long Xiang mengerutkan keningnya: “Mereka tidak mencarimu, sebaliknya malah kau yang
harus mencari mereka sekarang?”
Bai Yu-jing berkata: “Apa kau tidak paham, siapa yang bergerak lebih dulu akan mengendalikan
situasi?”
Fang Long Xiang berpikir, lalu berkata: “Mungkin aku bisa menemukan mereka.”
Bai Yu-jing berkata: “Bagus, suruh mereka datang ke sini, sementara itu aku akan makan di aula dan
menunggu.”
Fang Long Xiang memandangnya, agaknya dia merasa bimbang sekaligus curiga. Tak tahan lagi dia
pun bertanya: “Apa yang hendak kau lakukan?”
Bai Yu-jing berkata: “Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu pada mereka.”
Fang Long Xiang berkata: “Apa itu?”
Bai Yu-jing berkata: “Apa pun yang mereka inginkan, akan kuberikan pada mereka.”
Fang Long Xiang menghela napas dan berkata: “Baik, akan kucari mereka. Aku hanya berharap kau
tidak membunuh, atau terbunuh di sini, sehingga aku masih bisa mencari makan.”
Tuan Muda Zhu juga sedang beristirahat.
Tiba-tiba daun jendela terguncang dengan keras dan seseorang sudah berdiri di ambang jendela.
Dalam sekejap mata orang itu sudah tiba di depan ranjangnya, sarung pisau di tangannya sudah
menyentuh tenggorokannya.
“Ikut denganku.”
Tuan Muda Zhu pun hanya bisa mengikutinya.
Dia tidak pernah menyangka ada kungfu seperti ini di dunia ini. Ketika dia berjalan keluar dari pintu, si
baju hitam sudah mengikuti di belakangnya. Dia berada di sana bukan untuk melindunginya, dia cuma
ingin dilindungi.
Ia melangkah keluar dari pintu, dan melihat Miao Shaotian dan tiga orang anggota Perkumpulan Naga
Hijau juga sudah berdiri di halaman. Mimik muka mereka terlihat jauh lebih kesal daripada dirinya.
Lampu sudah dinyalakan. Sepuluh buah lampu.
Walaupun lampu itu terang benderang, tapi mimik wajah setiap orang tampak amat jelek.
Bai Yu-jing adalah kekecualian.
Di wajahnya bahkan tersungging senyuman.
Sayangnya tidak ada orang yang memandang wajahnya, tiap orang sedang menatap pedangnya.
Sarung pedang yang usang, dan gagang pedang yang sama tuanya berbalut kain satin. Tidak ada
yang bisa mengenali warna aslinya.
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
47
“Ini tentu pedang yang sudah banyak membunuh orang itu.”
Di dalam sarung yang usang itu ada sebilah pedang yang tentunya jauh lebih tajam. Karena pedang
inilah senjata yang paling menakutkan di dunia Kang-ouw.
Pedang Abadi!
Dia cuma membunuh, tidak seorang pun yang bisa merintangi bila dia membunuh orang!
Tuan Muda Zhu tiba-tiba menyesali tindakannya yang mengusik Miao Shaotian dulu, kalau tidak, jika
mereka bekerjasama, mungkin ada harapan, tapi sekarang.....
Sekarang tiba-tiba dia melihat Kuda Putih Zhang San dan Zhao Yi-dao pun berjalan mendatangi,
kedua orang ini tentu saja merupakan jago-jago kelas satu di dunia persilatan.
Sorot mata Tuan Muda Zhu segera dipenuhi dengan harapan.
Semua orang tahu, cuma ada dua pilihan yang tersedia.
Membunuh! Atau dibunuh!
Tapi mereka semua keliru.
Bai Yu-jing juga tahu bahwa mereka keliru. Dia sengaja menundukkan mukanya dan berkata: “Aku
tahu sebab apa kalian semua datang ke sini.”
Tidak ada yang menjawab.
Mereka adalah orang-orang yang bijak. Jika tidak perlu, mereka tidak akan membuka mulutnya untuk
bicara.
Setelah mengucapkan kata-kata ini, Bai Yu-jing lalu berhenti. Kemudian dia menatap Tuan Muda Zhu,
lalu melirik setiap orang. Terakhir dia menatap Zhao Yi-dao secara langsung. Lalu pelan-pelan dia
berkata: “Siapa aku, semua orang tentu tahu?”
Mereka mengangguk. Tapi mata mereka terus-menerus melirik ke arah gagang pedang itu.
Bai Yu-jing tiba-tiba tersenyum dan berkata: “Semua orang menginginkan sesuatu yang ada padaku.”
Bola mata semua orang semakin membesar. Di mata itu terlihat harapan, nafsu dan keserakahan.
Kuda Putih Zhang San sebenarnya merupakan orang yang berbakat amat luar biasa, tapi saat ini dia
tiba-tiba tidak bisa mengatakan apa-apa.
Cuma si orang baju hitam yang tidak mempunyai ekspresi apa-apa di wajahnya, karena di hatinya
tidak ada nafsu. Sebenarnya dia merupakan orang yang amat buruk rupa, tapi di dalam kelompok
orang ini, tiba-tiba dia tampak lebih menyenangkan.
Bai Yu-jing berkata: “Jika semuanya menginginkan benda itu, urusan menjadi sangat sederhana, asal
setiap orang menyetujui permintaanku.”
Tuan Muda Zhu tak tahan dan berkata: “Permintaan apa?”
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
48
Bai Yu-jing berkata: “Setelah mendapatkan benda itu, kalian semua harus segera pergi. Sejak saat ini,
tidak boleh ada orang yang mencariku lagi.”
Bola mata setiap orang makin membesar karena heran dan tertarik.
Siapa yang mengira kalau urusan akan menjadi begitu sederhana dan mudah?
Tuan Muda Zhu terbatuk dua kali. Dengan berat hati dia pun tersenyum: "Kami dan Pendekar Muda
Bai tidak punya ikatan tali persahabatan. Tapi, Pendekar Bai, asal kami bisa mendapatkan benda itu,
kami akan segera pergi, dan tidak akan berani mengganggu Pendekar Bai lagi.”
Zhao Yi-dao segera mengangguk untuk menyatakan persetujuannya.
Kuda Putih Zhang San dan tiga orang anggota Perkumpulan Naga Hijau tentu tidak bisa berkata apaapa
lagi.
Tapi Miao Shaotian hendak mengatakan sesuatu.
Tiba-tiba dia bertanya: “Tapi kami tidak tahu kepada siapa Pendekar Bai akan memberikan benda
itu?”
Bai Yu-jing berkata: “Itu urusan kalian. Sebaiknya kalian bicarakan lebih dulu.”
Kuda Putih Zhang San memandang pada Miao Shaotian, dan juga pada Tuan Muda Zhu tanpa berkata
apa-apa.
Tiga orang anggota Perkumpulan Naga Hijau agaknya ingin mengatakan sesuatu, tapi mereka hanya
memutar-mutar bola mata mereka dan menunggu.
Tuan Muda Zhu tiba-tiba berkata, “Benda itu berasal dari Perkumpulan Naga Hijau, seharusnya kita
memberikannya kepada saudara-saudara dari Perkumpulan Naga Hijau.”
Zhao Yi-dao bertepuk tangan dan berkata: “Bagus. Itu masuk di akal.”
Tiga orang anggota Perkumpulan Naga Hijau segera bangkit berdiri dan memberi hormat.
Salah seorang di antara mereka lalu berkata: “Apa yang Tuan berdua katakan, sudah sesuai dengan
prinsip-prinsip keadilan. Perkumpulan Naga Hijau tidak akan melupakan kebaikan Tuan berdua.”
Zhao Yi-dao mengangkat tangannya dan berkata: “Tidak apa-apa.”
Tuan Muda Zhu tersenyum dan berkata: “Gedung Sejuta Emas akan membutuhkan bantuan
Perkumpulan Naga Hijau di masa yang akan datang, ketiga saudara tua tidak usah begitu sungkan.”
Walaupun tuan muda ini agaknya cuma tahu makan sepanjang harinya, tetapi bila dia bicara, dia
selalu memperlihatkan sikap yang cerdik dan menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang saudagar
yang amat cakap.
Dia tahu kapan harus mengikuti arah angin, tapi tanpa harus kehilangan kesempatan. Dia seperti
sudah tahu urusan sejak dilahirkan ke dunia ini.
Miao Shaotian menatapnya dengan perasaan dendam. Walaupun di dalam hatinya dia keberatan, tapi
dia tidak punya pilihan lain.
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
49
Bai Yu-jing berkata: “Jadi urusan ini sudah diputuskan?”
Miao Shaotian: “Hmm.”
Setelah menarik napas panjang, Bai Yu-jing lalu mengeluarkan sebuah buntalan bersulam emas dari
dalam bajunya, dan melemparkannya ke atas meja dengan sikap acuh tak acuh.
Tak perduli seperti apa pun bentuk kantung itu, nilai benda di dalam kantung bersulam itu tampaknya
tidak kecil.
Meskipun begitu, dia melemparkannya begitu saja seperti sedang membuang sampah.
Mata setiap orang segera tertuju ke kantung bersulam itu, wajah mereka tampak tegang. Tidak
seorang pun mampu berkata-kata.
Bai Yu-jing berkata dengan dingin: “Benda itu sudah ada di atas meja, mengapa kalian tidak
mengambilnya?”
Ketiga anggota Perkumpulan Naga Hijau saling berpandangan, salah satu dari mereka lalu mendekat
dan membuka ikatan kantung bersulam itu dengan tangan gemetar.
Puluhan macam benda beraneka warna lalu bergulir di atas meja. Ada batu mata kucing dari Persia,
permata dari India, batu giok yang indah, dan batu-batu mutiara berukuran besar.
Semuanya berkilauan terang seperti sinar lampu.
Bai Yu-jing bersandar dengan santai di atas kursi. Ia memandang tumpukan permata itu dengan sorot
mata yang amat aneh.
Benda-benda itu tidak didapatkannya dengan mudah, tapi dia bersedia memberikannya semua.
Dia mengerti dengan amat baik apa yang bisa didapatkannya dengan batu permata ini – arak yang
enak, baju yang bagus, tempat tidur yang bersih dan nyaman, perempuan cantik yang lemah lembut,
dan rasa hormat yang berasal dari perasaan iri orang lain.
Itulah semua yang menjadi kebutuhan dasar setiap laki-laki. Tapi sekarang, dia telah
mencampakkannya. Sedikit pun tidak ada rasa penyesalan di hatinya.
Karena dia tahu yang dia peroleh jauh lebih baik.
Karena seluruh harta di dunia ini tetap tidak bisa mengisi hati yang kesepian.
Dan sekarang dia tidak lagi kesepian dan 'kosong'.
Harta itu 'bergulir' di atas meja. Anehnya, tidak seorang pun yang hadir mengulurkan tangan untuk
mengambilnya.
Yang lebih aneh lagi, mata setiap orang tampak suram saat memandang batu-batu permata itu,
mereka malah terlihat amat kecewa.
Bai Yu-jing mencondongkan tubuhnya ke depan dan memandang mereka. Ia mengerutkan keningnya:
“Apa lagi yang kalian inginkan?”
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
50
Tuan Muda Zhu menggelengkan kepalanya.
Ketiga anggota Perkumpulan Naga Hijau juga menggelengkan kepala mereka.
Tuan Muda Zhu tiba-tiba berkata: “Pendekar Bai tunggu di sini dulu. Kami akan pergi dan segera
kembali lagi ke sini.”
Bai Yu-jing berkata: “Apa lagi yang hendak kalian rundingkan?”
Tuan Muda Zhu berkata sambil tersenyum getir: “Hanya sebuah urusan kecil.”
Bai Yu-jing memandang mereka dengan bimbang. Akhirnya dia membiarkan mereka pergi.
Semua orang sudah pergi.
Bai Yu-jing menyeringai ke arah tempat orang-orang itu menuju. Dia tidak takut sama sekali dan dia
tidak khawatir mereka mempunyai rencana licik apa pun.
Dia bersedia menyerahkan benda itu dengan senang hati, cuma karena dia ingin membawa si 'dia'
pergi dari tempat itu. Karena dia tidak ingin membuat si 'dia' ketakutan atau terluka.
Jadi sama sekali bukan karena dia tidak mau terluka, jika hal itu harus terjadi. Kalau dipikir-pikir,
urusan ini benar-benar bodoh.
Apa lagi yang mereka inginkan sekarang? Tapi dugaannya juga tidak sepenuhnya benar.
Jendela itu terbuka.
Dia bisa melihat gerak-gerik mereka. Tidak seorang pun yang pergi ke paviliun mungil. Paviliun mungil
itu sangat tenang.
Si 'dia' tentu sedang beristirahat dengan amat pulas.
Bila si 'dia' sedang beristirahat, dia tampak seperti seorang bayi yang mungil. Suci dan bahagia.
Sudut mulut Bai Yu-jing memperlihatkan ekspresi yang bahagia – tapi tiba-tiba semua orang tadi
sudah kembali lagi secara mendadak. Masing-masing membawa sebuah kantung kain yang kemudian
mereka letakkan di atas meja. Mereka lalu membuka ikatannya.
Kuda Putih Zhang San membawa sebongkah mutiara.
Miao Shaotian membawa sebungkus daun emas.
Orang Naga Hijau membawa sebuah kotak perak.
Tuan Muda Zhu membawa lembaran-lembaran cek yang masih baru.
Benda-benda ini, tak perduli yang mana pun di antaranya, semuanya mewakili nilai harta yang besar.
Nilainya sama sekali tidak berada di bawah nilai batu-batu permata Bai Yu-jing.
Bai Yu-jing tak tahan dan bertanya: “Apa artinya ini?”
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
51
Tuan Muda Zhu bangkit dan berkata: “Ini semua untuk menunjukkan rasa hormat kami, silakan
Pendekar Bai menerimanya.”
Bai Yu-jing bukan orang yang gampang memperlihatkan perasaannya, tapi sekarang dia benar-benar
tak dapat mengendalikan perasaan herannya.
Mereka tidak menginginkan permatanya, tapi mereka malah memberikan semua harta ini kepadanya.
Ini semua untuk apa? Dia juga tidak bisa mencari jawabannya.
Tuan Muda Zhu terbatuk pelan dan berkata: “Kami... kami juga ingin memohon sesuatu dari Pendekar
Bai.”
Bai Yu-jing berkata: “Apa itu?”
Tuan Muda Zhu berkata, “Berapa lama Pendekar Bai berencana untuk tinggal di sini?”
Bai Yu-jing berkata: “Aku harus pergi saat fajar tiba.”
Wajah Tuan Muda Zhu menjadi terang dan dia berkata sambil tersenyum: “Bagus sekali.”
Bai Yu-jing berkata: “Katamu tadi hendak meminta sesuatu padaku?”
Tuan Muda Zhu berkata sambil tersenyum: “Jika Pendekar Bai sudah ingin pergi, maka tidak ada
urusan lagi.”
Bai Yu-jing tercengang.
Dia semula mengira mereka tidak ingin dia pergi, siapa tahu mereka malah berharap dia cepat-cepat
pergi. Malah mereka juga bersedia memberikan harta ini kepadanya.
Apa sebab semua ini? Dia tidak berhasil mencari jawabannya.
Tuan Muda Zhu tampak bimbang. Dia berkata: “Tapi, kami tidak tahu apakah Pendekar Bai akan pergi
dengan orang lain?”
Bai Yu-jing tiba-tiba paham.
Mereka bukan sedang mencarinya, tapi Yuan Zi-xia. Cuma, karena mereka memiliki masalah dengan
pedang panjangnya, mereka tidak berani memulai gerakan mereka sampai saat ini.
Mereka tidak ragu untuk memberikan harta yang begini besar untuk mendapatkan gadis itu, apa
maksud mereka yang sebenarnya terhadapnya?
Jika dia cuma seorang gadis yang minggat dari pernikahannya dan pergi dengan tergesa-gesa,
kenapa dia bisa bertemu dengan begini banyak jago-jago kungfu yang berpengaruh? Apakah yang dia
ucapkan sebelumnya semua cuma dusta? Apakah perkataannya tadi cuma untuk menggugah hatinya,
agar dia mau melindunginya? Apakah ini alasannya kenapa gadis itu memintanya untuk mengabaikan
orang-orang ini dan pergi bersamanya dengan diam-diam? Hati Bai Yu-jing serasa karam.
Semua orang sedang memandangnya, menunggu jawabannya.
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
52
Di atas meja berserakan batu permata dan emas yang berkilauan gemerlap di bawah sinar lampu.
Tapi tidak seorang pun yang memandangnya.
Yang mereka inginkan adalah sesuatu yang jauh lebih bernilai.
Apakah itu? Apakah Yuan Zi-xia sendiri, atau sesuatu yang dia miliki?
Tuan Muda Zhu melihat ekspresi di wajahnya dan berkata, “Pendekar Bai dan gadis Yuan itu hanya
bertemu secara kebetulan. Pendekar Bai tentu tak akan menyinggung perasaan seorang teman demi
dia.”
Bai Yu-jing berkata dengan dingin, “Kau bukan temanku.”
Tuan Muda Zhu berkata sambil tersenyum: “Kami tidak berani bersahabat dengan orang yang berasal
dari tingkat sosial yang lebih tinggi. Tapi seorang perempuan seperti gadis Yuan itu, Pendekar Bai
tentu akan banyak menemuinya nanti, kenapa....”
Bai Yu-jing memotong ucapannya dan berkata: “Yang kalian inginkan bukan dia?”
Tuan Muda Zhu tersenyum.
Bai Yu-jing berkata: “Aku tidak yakin apa yang sebenarnya kalian inginkan?”
Mata Tuan Muda Zhu tampak berkilauan, “Pendekar Bai tidak tahu?”
Bai Yu-jing menggelengkan kepalanya.
Wajah Tuan Muda Zhu memperlihatkan sebuah senyuman licik. Dia berkata sepatah demi sepatah
yang menunjukkan rasa jerihnya terhadap Bai Yu-jing, “Mungkin Pendekar Bai akan tergiur setelah
tahu segalanya.” Karena itu, dia tidak mau mengatakan apa-apa.
Nilai benda itu pasti lebih besar dari seluruh emas dan harta lainnya yang ada di sini.
Bai Yu-jing benar-benar tak mampu menemukan jawabannya.
Benda apakah yang begitu berharga di tubuh Yuan Zi-xia? Seluruh isi kamarnya tadi telah diobrakabrik
oleh mereka.
Tuan Muda Zhu berkata pula, “Menurut pendapatku, Pendekar Bai tidak usah mempertimbangkan hal
ini lagi. Jika kau punya uang dan permata sebanyak ini, kau tidak akan menemui kesulitan untuk
mencari perempuan secantik bidadari lainnya.”
Bai Yu-jing pelan-pelan memungut kantung permata miliknya, dan mengembalikannya ke dalam
sakunya. Lalu dia melangkah pergi.
Dia tidak perlu lagi berkata apa-apa, cuma pergi begitu saja.
Mata setiap orang tertuju padanya. Walaupun mereka merasa benci padanya, tidak seorang pun yang
berani bergerak.
Karena mereka juga harus menunggu seseorang yang bisa menghadapi Pedang Abadi itu. Mereka
merasa yakin pada orang ini.
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
53
Malam yang panjang sebentar lagi akan berakhir.
Itulah saat tergelap sebelum fajar tiba, tapi udara sudah terasa dingin dan segar.
Bai Yu-jing berjalan di atas tanah dan menarik napas panjang. Tiba-tiba ia menyadari bahwa cahaya
lampu di jendela paviliun mungil itu telah tertutup oleh dua sosok bayangan.
Bayangan satunya ramping dan indah dipandang, Yuan Zi-xia.
Tapi yang seorang lagi? Bayangan kedua orang itu cukup jauh, tapi tampaknya begitu dekat.
Apakah mereka sedang membicarakan sesuatu?
Tuan Muda Zhu, Zhao Yi-dao, Miao Shao-tian, Kuda Putih Zhang San, dan ketiga orang anggota
Perkumpulan Naga Hijau semuanya berada di lantai pertama dalam bangunan itu.
Lalu siapa yang berada di paviliun? Bai Yu-jing menggenggam pedangnya erat-erat, tangannya terasa
lebih dingin daripada gagang pedang itu.
Dia benar-benar tidak tahu apakah dia harus naik ke atas atau tidak.
Bab 4: Mayat Yang Kaku
Malam itu bukanlah malam yang tidak pernah berakhir.
Angin membawa berita bahwa fajar telah menjelang. Udara pun terasa lebih menyegarkan dan dingin.
Bai Yu-jing berdiri dengan tenang dalam tiupan angin dingin.
Dia berharap, semakin dingin hembusan angin itu, semakin jernih pula pikirannya.
Ketika berusia 13 tahun, dia sudah mulai mengembara di dunia Kang-ouw. Kejadian itu sudah berlalu
14 tahun.
Selama 14 tahun ini, dia selalu berpikiran jernih, karena itu dia tetap bisa hidup sampai sekarang.
Mengingat pengalaman, serangan dan bahaya apa saja yang pernah dia alami dulu, jika dia ingin
tetap hidup, hal itu tidak akan gampang.
“Sang dewa membawaku terbang tinggi, hingga mencapai keabadian.”
Di dalam hatinya, dia sedang menyeringai.
Dia telah mendengar cerita tentang dirinya di dunia persilatan. Dia merasa saat ini persis seperti
dalam cerita itu. Dia membutuhkan otaknya tetap bekerja, sambil terus menjaga ketenangan dirinya.
Sekarang dia harus tenang.
Di jendela, salah satu bayangan itu tampak berjalan mendekat.
Dia tidak mau menduga-duga siapa orang ini, karena dia tidak ingin mencurigai temannya sendiri.
Xiao Fang adalah temannya.
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
54
Karena orang-orang lainnya semua berada di lantai satu, siapa lagi yang berada di dalam paviliun itu
selain Fang Long-xiang?
Xiao Fang juga seorang laki-laki yang menarik. Mungkin dia memiliki kekuatan yang lebih besar untuk
melindunginya dibandingkan dengan dirinya.
Jika si dia pergi ke pelukan Xiao Fang, dia juga tidak perlu sedih. Karena di antara mereka memang
tidak ada kontrak tertulis.
“Jika keadaan berbalik arah, walau cuma sedikit, tidaklah perlu terlalu dikhawatirkan.”
Bai Yu-jing menghembuskan napas panjang dan memaksakan dirinya untuk tidak lagi memikirkan
urusan ini. Tapi hatinya seperti tertusuk jarum, tertusuk amat dalam. Dia memutuskan untuk
melangkah pergi. Memang, pergi jauh adalah tindakan yang bagus, karena tidak ada hal di dunia ini
yang perlu dipikirkan begitu bersungguh-sungguh.
Dia pelan-pelan membalikkan badannya.
Tapi saat itulah tiba-tiba ia mendengar suara jeritan kaget Yuan Zi-xia. Terkandung perasaan terkejut
dan takut dalam jeritan itu, seperti suara seseorang yang melihat ular berbisa.
Bai Yu-jing segera melesat seperti anak panah ke paviliun itu, dan “brak!”, ia telah mendobrak daun
jendela. Di dalam kamar memang ada dua orang manusia.
Wajah Yuan Zi-xia benar-benar pucat, bahkan tampak lebih ketakutan daripada cuma melihat ular
berbisa.
Dia sedang memandang orang di seberangnya. Orang ini memang lebih menakutkan daripada ular
berbisa.
Rambutnya panjang menyeramkan, tubuhnya kaku kejang, wajahnya bersimbah darah; dia amat
mirip dengan sesosok mayat hidup.
Orang ini bukan Xiao Fang.
Untuk sesaat Bai Yu-jing benar-benar merasa menyesal di dalam hatinya. Seharusnya dia tidak
mencurigai sahabatnya itu.
Tapi sekarang bukanlah waktunya untuk merasa kesal terhadap dirinya sendiri.
Dia baru saja menerobos masuk lewat jendela ketika mayat itu mengayunkan sebuah cambuk ke
arahnya. Ujung cambuk itu seperti ular yang bernyawa. Bergerak dengan amat cepat.
Kungfu 'mayat' ini ternyata tidak kalah dibandingkan dengan jago-jago ternama di dunia Kang-ouw.
Tubuh Bai Yu-jing melayang tinggi, tapi dia juga tidak bisa mundur. Agaknya dia tak akan mampu
mengelakkan serangan itu, cambuk itu sudah hampir membelit tenggorokannya.
Tapi tidak seorang pun di dunia ini yang mampu melilitkan cambuk di tenggorokannya.
Ketika tangannya diangkat, segera sarung pedangnya terbelit erat-erat oleh cambuk yang panjang itu.
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
55
Tangannya yang lain telah menghunus pedang itu dengan kecepatan seperti kilat.
Sinar pedang berwarna perak, berkilauan begitu terangnya sehingga orang hampir tidak bisa
membuka matanya.
Dengan jari kaki menotol di ambang jendela, sinar pedang yang berwarna keperak-perakan itu telah
menusuk ke arah 'mayat' tersebut.
Cambuk 'mayat' itu telah melepaskan belitannya dan ditarik kembali karena tidak berhasil dalam
serangannya.
Tapi hawa dingin terasa menggigit ketika bintik-bintik bintang yang dingin memenuhi angkasa, seperti
hujan badai yang menerjang ke arah Bai Yu-jing.
Sinar pedang Bai Yu-jing bergerak ke sana ke mari, bintik-bintik bintang yang dingin itu tiba-tiba
lenyap dari angkasa.
Tapi saat itu 'mayat' tadi telah bergerak cepat ke arah jendela.
Bagaimana mungkin Bai Yu-jing melepaskannya pergi?
Ia melirik ke sekelilingnya, sudut matanya menangkap sosok tubuh Yuan Zi-xia yang sudah pingsan
karena ketakutan.
Mengingat orang-orang yang berada di lantai bawah, dia tidak boleh membiarkan gadis itu sendirian
di sini.
Apakah dia harus mengejar? Atau tidak?
Sejenak dia merasa sulit untuk memutuskan. Untunglah tiba-tiba dia mendengar suara Xiao Fang:
“Apa yang terjadi?”
“Kuserahkan dia......”
Ucapannya belum selesai tapi orangnya telah melesat keluar lewat jendela seperti anak panah yang
lepas dari busurnya. Siapa sangka, walaupun tubuh 'mayat' tadi kaku seperti kayu, gerakannya
ternyata cepat seperti meteor.
Ketika Bai Yu-jing menjawab pertanyaan Xiao Fang tadi, tubuhnya telah melesat keluar sejauh 70-80
kaki. Tapi bayangan 'mayat' tadi pun sudah melayang pergi secepat kilat.
Bai Yu-jing mengejarnya, tapi dia telah menghilang.
Suara kokok ayam jantan terdengar bergema di kejauhan.
Apakah dia benar-benar sesosok mayat hidup? Saat ayam jantan berkokok, maka dia pun menghilang
secara gaib?
Di timur mulai muncul warna langit yang kebiru-biruan, cakrawala pandangan pun mulai tampak.
Di sekeliling halaman yang luas itu terdapat hutan yang jauhnya kira-kira 300 kaki. Tidak mungkin ada
yang mampu menempuh jarak 300-400 kaki dalam sekejap mata. Bahkan orang nomor satu dalam
ilmu ginkang di jaman dulu, Chu Xiang-shi, tidak mempunyai kemampuan seperti ini!
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
56
Angin berhembus semakin dingin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar