Selasa, 06 Oktober 2009

rahasia 16

“Huuuh….Mo-kauw itu perkumpulan apa? Kalau cuma mengandalkan sedikit kepandaian yang

kalian miliki, masih terlampau jauh bila dibandingkan dengan kepandaian ayahku!”

Dengan tanpa sadar, ucapan tersebut sama artinya telah mengakui bahwa Coa Goan hon adalah

ayahnya.

Lenghou Ki tertawa seram.

“Heehhh…. heehh…. heehhh…. akupun tak akan menyangkal” katanya, “ilmu silat yang dimiliki

Coa Goan hou memang benar-benar terhitung suatu kepandaian yang luar biasa”

“Masa dia benar adalah ayah?” pikir Coa Wi-wi.

“Panik, gelisah dan tak tenang bercampur aduk dalam perasaan gadis itu, kalau bisa dia ingin

sekali kembali ke dalam gua dan mengajak Goan cing taysu serta Hoa In-liong untuk bersamasama

memperbincangkan persoalan itu.

Meskipun gelisah, toh sikapnya diluaran tetap tenang.

“Hmm….! Bukan sama seorang didunia ini yang bernama Coa Goan-hou, siapa tahu kalau orang

yang kalian tangkap adalah orang lain?”

“Heeehh…. heeeh…. heeehh….baik itu bapakmu atau bukan, ada satu hal akan kuberitahukan

kepadamu” ujar Leng hou Yu dengan nada yang menyeramkan.

Telapak tangan dan jari tangan berputar demi kian rupa melepaskan delapan buah serangan

berantai yang amat gencar.

Dalam kejutnya seketika itu juga Coa Wi-wi terdesak mundur lima enam langkah kebelakang,

ditambah pula waktu itu Leng hou Ki ikut menyerang dengan sepenuh tenaga, sekejap mata Coa

Wi-wi sudah terdesak dibawah angin.

Sekalipun keadaannya sudah terancam bahaya, gadis itu masih tidak melupakan untuk

mengetahui keadaan ayahnya, dengan suara lantang serunya, “Apa yang hendak kau katakan?”

Betapa bangganya Leng hou Ki setelah menyaksikan siasatnya mendatangkan hasil, dia tertawa

terbahak-bahak.

“Haaahh…. haaahh…. haaahh…. kalau engkau ingin tahu, akupun akan memberitahukan

kepadamu. Setelah Coa Goan hou berhasil ditangkap, tubuhnya telah kami cincang menjadi

berkeping-keping lalu dibuang ke laut Seng sut hay sebagai um an ikan hiu!”

Tentu saja Coa Wi-wi tidak percaya dengan perkataan itu, toh pikirannya sempat dikacaukan

hingga posisinya semakin terdesak dan jiwaaya terancam mara bahaya.

To koh berjubah abu-abu itu jadi kaget sekali menjumpai keadaan itu, dengan gusar dia

membentak, “Budak tolol, masa kau percaya dengan begitu saja obrolan dari dua orang bajingan

tua itu?”

Karena ditegur, Coa Wi-wi segera sadar kembali kalau dirinya sedang ditipu, pikirnya dalam hati,

“Kenapa kau harus mengurusi persoalan yang belum jelas? Sekalipun dua orang bajingan tua ini

kubunuh” juga tak ada salahnya”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

633

Setelah berpikir demikian, tanpa terasa hawa napsu membunuh yang belum pernah terlintas

diwajahnya kini menyelimuti seluruh benaknya, dengan wajah sedingin salju dan sepasang alis

bekernyit, secara beruntun ia lancarkan belasan buah serangan berantai untuk meneter

musuhnya habis-habisan.

Kesepuluh jurus serangan itu, semuanya merupakan jurus terampuh dari ilmu pukulan Su siu hua

heng ciang, dan tiap serangan yang dilancarkan semuanya mengandung tenaga pukulan sebesar

dua belas bagian, begitu dahsyat serangan itu ibaratnya ombak dahsyat yang mengamuk

ditengah samudra, ibaratnya juga bukit Thay san yang menindih diatas kepala. Hebat, dahsyat

dan sangat menggetarkan sukma.

Paras muka bersaudara Leng hou berubah hebat, mereka berkelit kesamping lalu berdiri berjajar,

empat buah telapak tangan dilancarkan berbareng, dengan susah payah mereka bendung

tibanya ancaman itu sepenuh tenaga, meski demikian toh semua pukulan itu susah dibendung,

mereka didesak hingga musti mundur berulang kali.

Ditengah belasan jurus serangan terantai itu, dua bersaudara Leng hou berhasil didesak mundur

sejauh delapan-sembilan langkah, bukan begitu saja, malah sebanyak tiga kali jiwa mereka

terancam bahaya hingga nyaris terbunuh, keadaan mereka benar-benar mengenaskan.

Kejadian ini segera menggemparkan seluruh gelanggang, semua orang tahu bahwa dua

bersaudara Leng hou masing-masing memiliki tenaga dalam sebesar enam puluh tahun hasil

latihan, apalagi jika mereka turun tangan bersama, pada hakekatnya cuma Hoa Thian-hong

seorang didunia ini yang sanggup menghadapinya.

Tapi nyatanya sekarang, dua orang jago tangguh itu berhasil didesak Coa Wi-wi hingga

mengenaskan keadaannya, tidak heran kalau semua orang jadi terkesiap dibuatnya.

Sementara pertempuran masih berkorbar dengan serunya, suara langkah manusia

berkumandang dari balik hutan bambu, disusul munculnya anggota Hian-beng-kauw yang

jumlahnya mencapai enam tujuh puluh orang lebih, dengan cepat mereka menyumbat mulut gua

dia membendung hutan bambu.

Dari lereng bukit masih juga kelihatan munculnya bayangan manusia, diantara mereka yang

datang agak akhir, terdapat juga tujuh-delapan orang jago dari Mo-kauw, meski mereka

mendekati sisi ge lenggang dan bersiap sedia untuk ikut pula dalam pertarungan itu, tapi

pertempuran yang selang berlangsung terlampau dahsyat, apalagi melibatkan jago-jago kelas

wahid, ini menyebabkan mereka tak mampu untuk mengambil bagian, apa yang bisa dilakukan

tak lebih hanya berdiri, terbelalak dengan mata melotot.

Waktu itu baik Toan bok See liang maupun Beng Wi-cian sama-ssma telah dibuat terkesiap oleh

kelihayan musuhnya, dalam keadaan begini mereka mulai berpikir untuk bekerja sama dengan

pihak Mo-kauw untuk menyingkirkan musuh tangguh tersebut.

Maka setelah melirik sekejap ke arah medan petarungan, berkatalah Toan bok See liang,

“Saudara Beng, luka yang kuderita cukup parah, semua kekuasaan pada malam ini kulimpahkan

kepadamu, pimpinlah saudara-saudara kita dan jangan biarkan budak ingusan itu tetap hidup.

“Kalau begitu siau-te akan melancangi kekuasanmu” jawab Beng Wi-cian, setelah memandang

sekejap sekeliling tempat itu, ujarnya lebih lanjut, “Segenap jago lihay kita telah berkumpul

disini. Hmm sekalipun budak itu memiliki kepandaian silat yang sangat tinggi, tak mungkin dia

akan mampu untuk menghadapi serangan kita apalagi dia harus melindungi pula mulut gua itu”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

634

Dia lantas memberi tanda kepada anak buahnya, anggota Hian-beng-kauw yang sudah terlatih

itu segera bertindak cepat, dalam waktu singkat mereka telah menyebarkan diri dan membentuk

kepungan setengah lingkaran dengan mulut gua batu itu sebagai pusat sasaran. Kemudian

senjata tajam pun diloloskan.

Dibawah pantulan sinar rembulan yang berwarna keperak-perakan kilapan cahaya senjata

mereka menambah hawa pembunuhan yang semakin menggidikkan disekitar tempat itu.

Sebagaimana diketahui gua batu itu berada dibawah sebuah tebing yang curam, dengan

dilakukannya pengepungan tersebut, maka seluruh jalan mundur boleh dibilang teiah

terbendung.

Rupanya Beng Wi-cian masih tak lega hatinya dengan tindakan itu, dipanggilnya sepuluh orang

jago lagi dan kepada mereka dibisikkan sesuatu.

Belasan jago itu segera menerima perintah dan berlalu dari sana, rupanya mereka mendapat

tugas untuk berputar kepuncak bukit sebelah belakang dan memeriksa apakah disitu ada jalan

tembusnya atau tidak.

Thia Siok bi atau To koh berjubah abu-abu itu sebenarnya sedang mengikuti jalannya

pertarungan antara Coa Wi-wi dengan dua bersaudara Leng hou, tapi setelah menyaksikan

kejadian itu, hatinya tercekat, dan dia segera berpikir, “Kalau begitu keadaannya, kemungkinan

besar jiwaku bakal ikut melayang di tempat ini, aaai….”

Kendatipun To koh itu mempunyai watak yang sangat aneh, namun jiwa ksatrianya tetap

terpelihara. Walaupun dia tahu bahwa situasinya pada saat itu sangat berbahaya, tak pernah

terlintas dalam benaknya untuk melarikan diri dari sana. Ia malah menghela napas dan

meneruskan perhatiannya mengawasi jalannya pertarungan itu meski dengan perasaan yang

kesal.

Sejelek-jeleknya, dua bersaudara Leng-bou mempunyai hasil latihan selama puluhan tahun,

tenaga dalam yang mereka miliki cukup sempurna, dalam posisi yang amat kritis dan tidak

menguntungkan itu, mereka masih berusaha dengan sekuat tenaga untuk membendung

datangnya semua serangan dari Coa Wi-wi itu.

Sebaliknya Coa Wi-wi sendiri, sudah enam kali dia ulangi ke depan jurus serangan berantai dari

ilmu pukulan Su siu hua heng ciang tersebut namun semua serangannya itu tidak menghasilkan

apa-apa, kenyataan ini membuat dia merasa kagum sekali, pikirnya, “Tenaga dalam yang dimiliki

kedua orang ini betul-betul luar biasa hebatnya, padahal mereka adalah adik seperguruan dari

Tang-kwik Siu aaai…. entah bagaimanakah kepandaian Tang Kwik-siu Sendiri sebagai ciang

bunjin dari Mo-kauw?”

Aku jadi menguatirkan masa depan jiko….”

Tiba-tiba Leng hou Ki membentak keras, “Toan bok See liang!”

Berbareng dengan seruan itu, sebuah pukulan dahsyat dilontarkan ke depan.

Diam-diam Toan bok See liang tertawa dingin, pikirnya, “Rasain kamu sekarang setan tua Leng

hou, enak bukan kalau dibuat kerepotan oleh budak tersebut? Hmmm!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

635

Karena ditegur, sudah barang tentu dia tak bisa berdiam diri saja, maka sesudah berpikir

sebentar sabutnya, “Ada apa?”

Meskipun gusar dihati kecilnya, sebisa mungkin Leng hou Ki mengendalikan perasaannya itu,

sepasang telapak tangannya diayun bersama untuk membendung serangan Kong loan tiat ing

(keras dan lunak mengalir secara bergilir) dari Coa Wi-wi, kemudian serunya dengan lantang,

“Cepat serang ke dalam gua….”

Tapi hanya sampai ditengah jalan saja seruan itu tiba-tiba ia membungkam kembali.

Kiranya karena cemas secara tiba-tiba Coa Wi-wi telah menyerang dengan jurus Ban wu kui kun

(Segala benda bersumber dan tanah), suatu jurus serangan yang paling dahsyat daya

pengaruhnya dalam ilmu pukulan Su siu bua heng ciang, karena keteter hebat maka dia tak

punya kesempatan untuk melanjutkan kembali kata-katanya.

Sekalipun begitu, Toan bok See liang maupun Beng Wi-cian sudah memahami teriakan tadi,

secara tiba-tiba mereka menyadari bahwa menghadapi musuh secara bersama jauh lebih penting

dari pada hal-hal lainnya….

Karena itu setelah berunding sebentar, tiba-tiba Beng Wi-cian membentak keras, “Delapan tua

melindungi markas! Kalian ikut aku menyerbu ke dalam gua….!”

Dengan langkah lebar dia mengitari gelanggang pertempuran dan menghampiri mulut gua itu.

Dengan wajah yang kaku tanpa emosi, delapan orang kakek berbaju hitam mengikuti

dibelakangnya.

Coa Wi-wi yan g sedang bertempur sempat melirik sekejap kearah gerak gerik mereka,

kewaspadaannya segera meningkat, mendadak ia membentak nyaring, “Manusia she Beng, kau

sudah bosan hidup?”

Sebenarnya nona itu bermaksud menghalangi jalan pergi mereka, tapi Leng hou Ki yang licik

sudah tertawa terbahak-bahak.

“Haaahh…. haaahh…. haaahh…. dayang busuk, mau kemana kau? Pertarungan diantara kita toh

belum selesai!”

“Criiiit….!”dengan jari tengah dan jari telunjuk tangan kanannya dia melepaskan sebuah sodokan.

Segulung desingan angin tajam segera menyambar ke arah jalan darah Hong wi hiat ditubuh Coa

Wi-wi.

Dua bersaudara Leng hou memang bukan manusia sembarangan, dengan andalkan pengalaman

mereka dalam menghadapi pertarungan, tentu saja bukan pekerjaan yang gampang bagi Coa

Wi-wi untuk mengundurkan diri dari gelanggang pertarungan.

Dikala Coa Wi-wi putar badan sambil melancarkan serangan, Leng hoau Yu telah menerjang pula

dengari garangnya, mau tak mau terpaksa gadis itu harus melayani serangan-serangan itu, dan

pertarungan sengitpun kembali berkobar.

Beng Wi-cian tidak buang peluang tersebut dengan begitu saja, cepat-cepat dia melewati disisi

pertarungan dan menyerbu ke mulut gua.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

636

Sementara itu Thia Siok bi sudah mempersiapkan senjata kaitan kemalanya, begitu musuh

mendekat diapun membentak, “Beng Wi-cian, berhenti kamu!”

Beng Wi-cian baru berhenti setelah berada tiga kaki dari mulut gua, ia merangkap tangannya lalu

menjura.

“Go hujin, maafkanlah kami, aku harap hujin bersedia menyingkir dari situ dan memberi

kesempatan kepada kami untuk memasuki gua itu!”

Jilid 32

THIA SIOK BI menengadah dan memandang cuaca sejenak, dia lihat sisa rembulan sudah hampir

lenyap, sebentar lagi fajarpun akan menyingsing, kenyataan ini membuat hatinya rada lega, dia

tahu asal waktu bisa diulur sebentar lagi maka mara bahaya bisa dihindari.

Maka dengan suara dingin ia berkata, “Aku dengar perkumpulanmu sudah membentuk

perserikatan dengan pihak Mo-kauw, benarkah kejadian ini?”

Beng Wi-cian bukan bodoh, kecerdasan otaknya melebihi orang lain, ketika ia saksikan To koh

tersebut memeriksa keadaan cuaca lalu wajahnya menunjukkan senyum berseri, dalam hati

kecilnya diapun berpikir, “Aaaah….jangan-jangan didalam gua ada seorang jago lihay yang

sedang bersemedi?”

Dia segera merasa bahwa waktu tak boleh ditunda-tunda lagi, sebab itu sambil mengelus

jenggotnya dia tertawa tergelak.

“Haaahhh…. haaahhh…. haaahhh….benar sekali, memang apa yang hujin dengar tidak keliru,

kalau toh sudah tahu, bagaimana kalau hujin menyingkir dulu kesamping? Aku pasti akan

memberi keterangan sejelas-jelasnya….”

Sementara pembicaraan masih berlangsung, diam-diam ia memberi tanda kepada anak buahnya

segera keempat orang kakek berbaju hitam itu berjalan menuju ke mulut gua.

“Berhenti!” bentak Thia Siok bi sambil mempersiapkan senjata kaitan kemalanya.

Empat ora ng kakek berbaju hitam itu tidak berhenti, salah seorang diantaranya, seorang kakek

yang kurus kering segera berkata, “Go hujin, biasanya kau hidup sebagai burung bangau liar,

kenapa musti bersikeras untuk melibatkan diri dalam air keruh ini?”

THIA SIOK BI tidak berbicara apa-apa, dia malah berpikir, “Siapa yang turun tandan lebih dulu

biasanya dia akan menang posisi, siapa turun tangan belakangan dia akan ketimpa bencana,

bagaimanapun juga hubungan toh sudah retak….”

Karena berpendapat demikian, ia tidak ragu-ragu lagi, sambil menggigit bibir, senjata Hud tim

nya disapu ke muka, sementara senjata kaitannya mengurung tubuh keempat orang itu dengan

jurus Yu ta lei hoa (hujan deras menerpa bunga li).

“Go hujin!” seru kakek knrus itu lagi, “jadi kau tetap pada pendirianmu yang keras kepala?”

Dengan jurus sin liong cia ka (naga sakti melepaskan sisik), ia sambut datangnya ancaman

tersebut.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

637

Serentak dua orang kakek berbaju hitam yang ada disebelah kanan menganyunkan pula keempat

buah telapak tangan mereka, hembusan angin puyuh segera menggulung kemuka dengan

hebatnya.

Menggunakan kesempatan yang sangat baik itu, kakek berwajah kaku yang ada disebelah kiri

segera menyingkir kesamping begitu terhindar dari ancaman musuh, dengan suatu gerakan

cepat ia menyelinap masuk kedalam gua.

Dari sini dapatlah ditarik kesimpulan bahwa empat orang kakek itu sudah mengambil persetujuan

secara diam-diam bahwa tiga orang diantara mereka akan membendung serangan Thia Siok bi,

sedang seorang diantaranya menyelinap ke dalam gua dengan menggunakan peluang itu.

Thia Siok bi juga bukan orang bodoh, sudah barang tentu tak sudi ia memberi kesempatan

kepada musuhnya untuk menyusup masuk ke dalam gua, ia tertawa dingin.

“Hmmm….! Bangsat, rupanya kau pingin mampus!”

Dengan jurus serangan yang tak berubah, ia putar senjatanya lalu dengan gagah Hud tim dia

sodok jalan darah Jit kan hiat diwajah kakek bermuka kaku itu.

Tercekat orang itu menghadapi ancaman maut tersebut, dalam keadaan kaget ia lepaskan

sebuah pukulan lalu melompat mundur ke belakang.

Dalam waktu singkat Thia Siok bi sudah melancarkan belasan buah serangan berantai.

Sudah dua tiga kali keempat orang kakek berbaju hitam itu mencoba untuk menyerbu kedalam

gua, namun setiap kali usaha mereka selalu berhasil digagalkan, hal ini membuat mereka jadi

mendongkol dan gusar sekali.

Dalam keadaan demikian, cepat diputuskan untuk meringkus Thian Siok bi lebih dahulu sebelum

menyerbu ke dalam gua, maka taktik merekapun berubah, sekarang mereka tidak berusaha

masuk ke gua lagi, tapi menyerang Thia Siok bi dengan sekuat tenaga.

Dalam sekejap mata angin, pukulan menderu-deru, cahaya tajam menyilaukan mata, suatu

pertarungan berdarah yang benar-benar amat sengit segera berlangsung dimulut gua.

Berbicara soal ilmu silat, andaikata keempat orang kakek baju hitam itu harus menghadapi Thia

Siok bi satu demi satu, maka tak seorangpun diantara mereka yang akan sanggup menerima

seratus serangannya, tapi sekarang setelah mereka turun tangan bersama, Thia siok bi lah yang

merasakan tekanan tekanan berat.

Sekalipun begitu, To koh berbaju abu-abu itu tetap bertahan dengan punggung menghadap ke

gua, senjata kaitan maupun senjata hud timnya diputar sedemikian rupa untuk mempertahankan

diri dengan ketat.

Ditinjau dari keadaan itu, rasanya sulit dan tak mungkin bagi keempat orang kakek itu untuk

menyingkirkan lawannya dalam beberapa ratus gebrakan mendatang.

Mengikuti jalannya pertarungan itu, Beng Wi-cian berkerut kening. Oleh karena mulut gua

terlampau sempit, dan lagi kelima orang itu turun tangan bersama, hampir boleh dibilang seluruh

mulut gua telah tersumbat penuh, dalam keadaan begini, tak mungkin baginya untuk mengirim

orang lagi guna melibatkan diri dalam pertarungan tersebut.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

638

Ketika perhatiannya dialihkan ke arah yang lain, terlihatlah pertarungan antara Coa Wi-wi

melawan dua bersaudara Leng hou makin lama bergeser semakin dekat dengan mulut gua,

jaraknya tingal lima kaki saja. Ini membuat angin pukulan yang dihasilkan dari pertarungan

mereka menyebabkan berkibarnya ujung baju beberapa orang.

Kiranya pada waktu itu Coa Wi-wi ingin mendekati gua tersebut agar setiap saat bisa memberi

bantuan kepada Hoa In-liong serta Goan cing taysu, kebetulan dua bersaudara Leng hou juga

punya keinginan untuk mencari peluang untuk menyusup ke dalam gua. Karena itu, meski

berbeda dalam tujuan, mereka mempunyai niat yang sama itulah sebabnya langkah mereka

makin lama semakin bergeser mendekati gua itu.

Sebagai seorang jago kawakan yang pandai, tentu saja Beng Wi-cian memahami akan jalan

pikiran mereka, segera pikirnya, “Budak busuk, kalau engkau berani mendekat aku pasti akan

menghajar dirimu sampai kalang kabut”

Dia lantas memberi tanda kepada empat orang kakek berbaju hitam yang ada disampingnya

untuk bersiap siaga melancarkan serangan, sedang ia sendiri diam-diam menghimpun tenaga

dalamnya, dengan begitu perhatiannya terhadap jalannya pertarungan antara Thia Siok bi

melawan keempat kakek baju hitam pun terkesampingkan.

Dikala semua pihak berpikir dengan rencananya masing-masing mendadak cuaca menjadi gelap

ternyata saat menjelang fajar telah tiba….

Memang kawanan jago yang sedang bertempur waktu itu rata-rata adalah kawanan jago kelas

satu dalam dunia persilatan, akan tetapi dalam suasana yang amat gelap itu, ketajaman mata

mereka menjadi jauh berkurang….

Tiba-tiba Thia Siok bi mendengus dingin, ujung bajunya dikebaskan berulang kali, berpuluhpuluh

batang jarum emas yang beracun bagaikan hujan gerimis berhamburan ke empat penjuru.

Dalam keadaan yang sama sekali diluar dugaan ini, dua orang kakek baju hitam diantaranya

serentak menggerakkan sepasang telapak tangannya untuk melancarkan serangan.

Hembusan angin tajam memekikkan telinga, maksud mereka dengan mengandalkan tenaga

pukulan yang amat dahsyat itu niscaya ancaman dapat di halau….

Sayang perhitungan mereka meleset sama sekali, bukan saja jarum beracun itu lembut

bentuknya lagipula dilepaskan Thia Siok bi dengan cara yang unik, maka tak ampuh lagi kedua

orang itu segera merasakan kaki kiri dan bahu kanannnva menja di kaku, tahu-tahu mereka

sudah mendapat persen sebatang jarum.

Kakek baju hitam yang berada di sebelah kanan mencoba meloloskan diri dengan cara melompat

mundur, sayang tindaknya itupun terlambat satu langkah, dada kirinya mendapat persen

sebatang jarum.

Hanya kakek baju hitam yang berwajah kaku saja yang berhasil meloloskan diri dari ancaman itu,

sepasang telapak tangannya didorong kemuka melepaskan sebuah pukulan sementara badannya

cepat cepat melompat mundur kebelakang, kendatipun demikian, jarum emas itu sempat

menyambar disisi telinganya, membuat ia mengucurkan peluh dingin saking kagetnya.

Empat orang kakek berbaju hitam itu dinamakan delapan sesudah pelindung markas, bukan saja

ilmu silat mereka lihay, ketajaman matanya juga luar biasa hebatnya. Andaikata Thia Siok bi

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

639

ingin mencari kemenangan hanya dengan mengandalkan permainan senjata kaitannya saja, hal

ini belum tentu akan mendatangkan hasil.

Tapi kini Thia Siok bi berkuat cerdik, bukan saja ia manfaatkan cuaca yang sedang gelap untuk

melepaskan senjata rahasianya, perbuatan itu terlindung pula oleh putaran senjata Hud tim serta

bayangan senjata kaitannya, dalam keadaan demikian terkecohlah musuh-musuhnya itu.

Luka jarum itu tidak sakit, hanya terasa sedikit kaku dan kesemutan, tapi beberapa orang kakek

berbaju hitam itu tahu bahwa mereka telah keracunan hebat.

Dengan suatu lompatan tergesa-gesa mereka mundur dua kaki ke belakang, kemudian secara

beruntun menotok beberapa buah jalan darah mereka untuk menutup aliran darah yang

bercampur racun menyerang ke jantung.

Dengan demikian, walaupun jiwa mereka untuk sementara waktu tidak terancam tapi dengan

begitu mereka jadi tak mampu untuk turun tangan lagi….

Kakek baju hitam yang terluka kaki kirinya tertawa seram tiba-tiba ia membentak, “Bukan

ingusan, aku akan beradu jiwa denganmu”

Tanpa menghiraukan luka beracun yang dideritanya, bagaikan harimau kelaparan ia menerkam

ke muka.

Tercekat juga perasaan Thia Siok bi menyaksikan orang itu melancarkan serangan sambil

menggigit bibir, ejeknya dengan dingin, “Huuuh….belum pantas kau berbuat demikian”

Sreeet….! Sreeet….! Secara beruntun senjata Hud-timnya melancarkan dua buah serangan kilat

ke dada kakek baju hitam itu maksudnya hendak memaksanya mau tak mau harus mundur ke

belakang.

Siapa tahu kakek berbaju hitam itu sudah berniat untuk beradu jiwa, tanpa mengindahkan

sapuan senjata Hud tim yang mengancam dadanya sambil meraung keras sepasang telapak

tangannya melancarkan serangan dengan sepenuh tenaga.

Agak tercengang Thia Siok bi menghadapi ancaman yang mengajak saling beradu jiwa itu, cepat

ia bergeser tiga depa ke samping untuk menghindarkan diri dari ancaman tersebut.

Hawa amarah yang berkobar dalam dadanya ikut memuncak, dengan senjata hud tim ia bendung

serangan dari kakek berwajah kaku yang tidak terkena jarum emas itu, sementara kaitan

kemalanya membacok ke bawah sekeras-kerasnya dengan maksud membinasakan kakek baju

hitam itu.

Tapi sebelum serangannya mencapai sasarar, tiba-tiba tampak kakek berbaju hitam itu mundur

dengan sempoyongan, bahkan nyaris terjatuh ketanah, wajahnya menunjukkan penderitaan

yang luar biasa.

Menghadapi kenyataan tersebut, ia segera berubah rencana, dengan ujung jarinya ia totok jalan

darah Cian keng hiat ditubuh orang itu.

Rupanya racun yang mengeram dalam tubuh kakek itu sudah mulai bekerja, sekalipun dia masih

sanggup mempertahankan diri dengan andalkan tenaga dalamnya yang sempurna, toh ancaman

itu gagal dihindari, jalan darahnya segera tertotok dan tubuhnya langsung terjungkal ke tanah.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

640

Sejak Thia Siok bi melepaskan senjata rahasia sampai kakek baju hitam itu roboh tertotok, waktu

yang dibutuhkan cuma setarikan napas belaka, mimpipun Bwe Wi cian tidak menduga kalau

situasi bakal berubah secepat ini, dalam cemas dan gusarnya tiba-tiba ia membentak keras, “Tio

Hu tham (Fio pelindung markas), harap segera mundur!”

Kakek bermuka kaku itu segera melepaskan sebuah serangan tipuan, lalu mengundurkan diri.

“Wahai budak busuk!” tiba-tiba kedengaran Leng hou Ki berseru pula, “beranikah engkau sudah

ogah dengan jiwa anjingmu.

“Silahkan saja maju!” jawab Coa Wi-wi setengah mengejek.

Leng hou Ki marah sekali, sambil membentak keras dia lancarkan sebuah pukulan dahsyat.

“Aku tak percaya kalau pukulanmu sangat dahsyat” pikir Coa Wi-wi dalam hati, “akan kugunakan

tenaga sebesar dua belas bagian, paling sedikit aku harus bikin isi perutmu jadi terluka….”

Ketika telapak tangannya diayun ke muka, maka segulung tenaga pukulan ibaratnya tindihan

bukit karang menggulung ke muka.

Gadis itu terlalu cepat memperhitungkan keuntungan bagi diri sendiri, dianggapnya setelah Leng

hou Ki berhasil dibinasakan, niscaya sisanya Leng hou Yu lebih mudah dibereskan, dan asal

kedua orang musuhnya telah disingkirkan, kemenangan sudah pasti diraih olehnya.

Tapi dia lupa akan sesuatu, dia lupa bahwa dua bersaudara Leng hou adalah manusia-manusia

yang licik, mungkinkah mereka membiarkan gadis itu mengambil keuntungan bagi diri sendiri?

Padahal kedua orang itu tahu bahwa tenaga dalamnya kalah bila dibandingkan lawan, dengan

kelemahan semacam ini, menerima serangan musuh dengan keras lawan keras bukankah

merupakan suatu perbuatan bodoh?

Tiba-tiba Leng hou Ki tertawa nyaring, tubuhnya menyusup ke belakang, lalu dengan meminjam

tenaga pukulan dari Coa Wi-wi, secepat sambaran kilat dia menerobos masuk ke dalam gua.

Ternyata secara diam-diam orang itu sudab menghitung dengan tetap bahwa jaraknya dengan

mulut gua tinggal lima-enam kaki, setelah merebut kemenangan, menurut perhitungannya

penjaga serta kewaspadaan Thia Siok bi pasti akan mengendor padahal kakek baju hitam yang

kena dirobohkan tergeletak tetap ditengah gua, bila ia tetap berjaga ditengah niscaya kakinya

akan menginjak di tubuh kakek baju hitam itu. Maka dengan bergesernya perempuan itu ke tepi

gua, sama artinya pula dengan memberi peluang baginya untak menerobos masuk ke gua.

Thia Siok bi kaget sekali, buru-buru ia membacok dengan senjata kaitan kemalanya.

Sebelum bertindak, Leng bou Ki telah memperhitungkan semua kemungkinan dengan tepat,

sebab itu ketika bacokan tiba, dengan jurus Hok lei cing ming (pekikkan bangau menembusi

awan) ia paksa Thia Siok bi bergeser tiga langkah ke samping, sementara tangan kirinya

dikebaskan untuk menyingkap tumbuan rotan yang menutupi mulut gua.

Thia Siok bi tahu bahwa ia bukan tandingan dari Leng hou Ki, tapi andai kata ia biarkan Leng hou

Ki menerjang masuk ke gua, bukan saja selembar nyawa jago muda akan dikorbankan, mungkin

seorang gadis cantik jelitapun ikut berkorban, terutama kematian dari Hoa In-liong, peristiwa itu

akan mengakibatkan Wan Hong giok kesedihan hingga akhirnya mati secara menggemaskan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

641

Jika hal ini sampai terjadi, kecuali menggorok leher untuk bunuh diri, rasanya tiada jalan kedua

yang bisa ia tempuh lagi.

Atas dasar pertimbangan tersebut, To koh berjubah abu-abu itu jadi nekad, dengan senjata hud

timnya ia serang punggung Leng hou Ki, sementara senjata kaitan kemalanya dengan jurus Gwat

in see shia (bayangan rembulan condong ke barat) membacok ubun-ubun lawan.

Serangan semacam itu pada hakekatnya hanya membuka penjagaan atas tubuh sendiri, bila

Leng hou Ki balik badan sambil melancarkan serangan dengan sepenuh tenaga, niscaya dia akan

mampus secara mengerikan, tapi sudah barang tentu Leng hou Ki harus mengorbankan pula

jiwanya.

Leng hou Ki sama sekali tak semepat untuk melirik keadaan gua itu walau hanya sekejap saja,

tahu-tahu desingan tajam sudah menyergap batok kepalanya.

Gembong iblis yang maha lihay macam dia, tentu saja tak akan terkecoh oleh serangan tersebut

dari angin serangan yang dihasilkan dia sudah tahu bahwa ancaman dari Thia Siok bi itu tak

boleh dianggap enteng.

Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa dia urungkan niatnya untuk masuk ke dalam gua,

tubuhnya berputar seperti gasingan, satu tangan membabat secara datar telapak tangan yang

lain dipakai untuk membendung ancaman, kemudian ejeknya dengan wajah menyeringai, “To

koh busuk, rupanya kau memang sudah bosan biiup!”

“Hmm….! Siapa yang bosan hidup masih belum tahu, buat apa engkau banyak bicara?” jawab

Thia Siok bi hambar.

Dimulut ia berbicara demikian, sementara serangannya sama sekali tidak mengendor, seluruh

jurus serangan yang digunakan adalah jurus-jurus paling ganas dan ampuh.

Tenaga dalam yang dimiliki Leng hou Ki memang jauh lebih tinggi, tapi dia kewalahan juga

setelah harus menghadapi serangan semalam itu, seketika ia terdesak hebat, jangan toh

melanjutkan terobosannya masuk ke dalam gua, untuk mengundurkan diripun sukar.

Pengalaman Coa Wi-wi dalam menghadapi musuh terlampau cetek, dia tidak menyangka kalau

Leng hou Ki bakal menggunakan cara itu untuk mengibuli dirinya, ketika gembong iblis itu

menerjang ke mulut gua, ia jadi panik bercampur marah, tanpa memperdulikan Leng hou Yu lagi,

dengan kecepatan tinggi gadis itu berusaha menyusul di belakangnya.

Tentu saja Leng hou Yu tak akan membiarkan gadis tersebut berlalu dengan begitu saja, dari

tempat kejauhan dia lepaskan sebuah pukulan ke punggungnya, kemudian tertawa terbahakbahak.

“Haaahhh…. haaahhh…. haaahhh….budak busuk, tidak segampang itu untuk meloloskan diri dari

cengkeramanku!”

Ketika Coa Wi-wi merasakan tibanya deruan angin tajam dari belakang, dengan cepat dia

berpikir, “Bila aku musti putar badan untuk menyambut serangannya itu, niscaya aku bakal

terbelenggu kembali dalam pertarungan, jika sampai demikian, bukankah Leng hou Ki akan

manfaatkan kesempatan itu untuk menerobos masuk ke dalam gua?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

642

Sambil menggigit bibir dia lantas menghimpun segenap kekuatan yang dimilikinya keatas

punggung, rupanya gadis itu bermaksud menerima serangan tersebut dengan kekerasan agar

tepat pada waktunya ia dapat mencegah Leng hou Ki masuk ke gua.

“Duuk….” dengan telak serangan tersebut bersarang dipunggung Coa Wi-wi, sambil mendengus

tertahan gadis itu malah mempercepat gerakan tubuhnya menerobos ke muka.

Mimpipun Leng hou Yu tak mengira kalau gadis tersebut berani menyambut serangannya dengan

kekerasan, ia jadi menyesal setengah mati.

“Aaai….sayang, benar-benar sayang!” demikian pikirnya.” asal kulancarkan serangan tadi dengan

sepenuh tenaga, niscaya budak itu akan mampus atau paling sedikit terluka parah”

Tiba-tiba terdengar Beng wi-cian membentak keras, “Cepat menyerang!”

Tampaklah dia bersama keempat orang kakek baju hitam membentak keras, lalu sambil

mengayunkan telapak tangan, mereka lepaskan serangan maut ketubuh Coa Wi-wi.

Walaupun Coa Wi-wi merasa gelisah bercampur marah, tapi ia tak berani gegabah, sebab dia

tahu bahwa tenaga dalam yang dimiliki Beng Wi-cian sekalipun amat tinggi, serangan gabungan

yang mereka lancarkan tentu jauh lebih mengerikan.

Padahal baru saja ia menyambut sebuah serangan dari Leng hou Yu dengan kekerasan,

meskipun tak sampai terhajar telak, dan ia manfaatkan tenaga pukulan itu untuk mempercepat

gerakan tubuhnya, baryak tenaga yang telah hilang akibat perbuatannya itu, dalam keadaan

hawa darah didadanya tergolak keras, gadis itu tak berani menyambut lagi serangan tersebut

dingin kekerasan.

Dalam situasi yang amat gawat toh gadis itu masih menyempatkan diri untuk melirik sekejap ke

adaan Thia Siok bi. Ia jadi lega setelah menyaksikan musuh terbendung untuk sementara waktu.

Cepat-cepat hawa murninya ditarik panjang-panjang, tubuhnya yang sedang meluncur ke

bawahpun tiba-tiba meluncur jauh lebih cepat dari keadaan pada umumnya. Baru saja kakinya

menempel tanah, angin pukulan dari Beng Wi-cian sekalian yang maha dahsyat itu sudah

menyambar lewat dari atas kepalanya, untung tak sampai melukai.

Setelah lolos dari ancaman, Coa Wi-wi tak dapat langsung melancarkan serangan, dia musti

mengumpulkan dulu hawa murninya untuk mengendalikan golakan hawa darah didalam dada.

Leng hou Yu paling gembira dengan kejadian itu, dia menyusul kedepan seraya melancarkan

serangan.

“Haaahh…. haaahh….haaahh…. budak ingusan” katanya sambil tertawa tergelak, “aku ingin

berduel seorang lawan seorang dengan dirimu, beranikah engkau menyambut sebuah pukulan

lagi?”

Waktu itu pergolakan hawa darah didada Coa Wi-wi belum mereda, ia tak berani menerima

datangnya ancaman dengan keras lawan keras, dengan suatu gerakan tubuh yang lindah dia

mengegos kesamping, kemudian jari tangannya membalik menotok jalan darah siau tay hiat

ditubuh lawan.

“Nona Coa!” tiba-tiba Beng wi-cian membentak lagi, “bolehkah lohu ikut ambil bagian dalam

pertarungan itu?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

643

Sekalipun dibibir dia mengajukan permintaan, tubuhnya telah beranjak dari tempat semula dan

terjun ke gelanggang, bahkan sebuah serangan dilancarkan pula ke tubuh gadis itu.

Mendengar akan tibanya gulungan angin pukulan yang dahysat, Coa Wi-wi menggeserkan

tubuhnya kesamping, menggunakan kesempatan itu tangan kirirya menyambar iga lawan.

“Kalau aku tidak setuju, bagaimana?” sahutnya dingin.

Beng Wi-cian tertawa terbahak-bahak.

“Haaahhh…. haaahhh…. haaahhh…. kalau nona tak setuju, terpaksa aku harus tebalkan muka!”

sahutnya.

Kembali sebuah pukulan dilancarkan.

Gusar dan mendongkol Coa Wi-wi menghadapi kelicikan musuh-musuhnya, dia lantas berteriak,

“Leng hou Yu, inikah yang kau maksudkan dengan berduel satu lawan satu….? Memalukan!”

Kagum juga Leng hou Yu atas ketangguhan musuhnya, apalagi dalam keadaan terluka gadis itu

masih mampu bertahan sambil menyerang tanpa menunjukkan gejala akan menderita kalah, dia

mulai berpikir, “Tenaga dalam yang dimiliki dayang ini sangat hebat, kalau cuma mengandalkan

tenagaku seorang, sudah pasti aku tak akan mampu membereskan nyawanya!”

Karena berpikir demikian, dia lantas tertawa seram.

“Heehhh…. heeehh…. heeehhh….maaf, gerak-gerik Beng thamcu adalah merupakan hak

pribadinya sendiri, aku tak dapat ikut campur dalam urusan pribadinya”

Kemarahan Coa Wi-wi semakin memuncak, ia berpikir pula, “Percuma rasanya mengajak

kawanan iblis dari golongan sesat ini, untuk membicarakan soal cengli….”

Dia lantas mendengus, lalu dengan jurus Ji yong bu wi (dua kegunaan tiada tempat) telapak

tangan kanannya membentuk gerakan satu lingkaran busur didepan dada, kemudian secara tibatiba

dihantamkan ke pinggang Leng hou Yu.

Toan bok See liang mengikuti jalannya pertarungan dari tempat kejauhan, ketika menyaksikan

Coa Wi-wi menggunakan kembali jurus serangan yang pernah membuat dirinya jadi keok dia

lantas pasang mata dan memperhatikannya secara istimewa.

Setelah itu pikirnya dihati, “Jurus serangan itu mengambang tak menentu, seolah-olah serangan

tipuan seolah-olah juga serangan sungguhan, betul-betul merupakan suatu jurus serangan yang

hebat. Bila ilmu pedang keluarga Hoa disebut ilmu pedang nomor satu dalam dunia persilatan,

maka ilmu pukulan yang digunakan dayang she Coa ini pantas disebut ilmu puku lan yang tiada

keduanya di dunia”

Dia berpikir keras serta mencoba untuk memecahkan serangan itu, namun setelah pikir punya

pikir, ia merasa kecuali menghindarkan diri rasanya tiada cara lain yang bisa dipakai lagi untuk

memecahkan serangan tersebut, andaikata cara itu membutuhkan dasar tenaga dalam yang

mengungguli tenaga dalam Coa Wi-wi, sebab satu satunya cara adalah membalas serangan

dengan serangan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

644

Ketika ia menengadah kembali, betul juga Leng hou Yu berkelit ke samping untuk

menghindarkan diri.

Dalam serangannya itu, meski tenaga dalam dari Beng Wi-cian jauh lebih lemah bila

dibandingkan dengan Leng hou Yu, lagipula kerja sama itu kalah jauh bila dibandingkan dengan

kerja sama antara dua bersaudara Leng hou, tapi lantaran Coa Wi-wi sudah terlanjur terluka,

lagipula dia sangat menguatirkan hasil pertarungan dari Thia Siok bi melawan Leng hou Ki, maka

sekalipun tak sampai kalah, susah juga baginya untuk merebut kedudukan diatas angin.

Demikianlah, dua kelompok manusia saling bertarung dengan sengitnya, andaikata Coa Wi-wi

berani mengorbankan isi perutnya terluka parah, sebetulnya ia masih mampu untuk mengobrakabrik

kerja sama dari Leng hou Yu dengan Beng Wi-cian, tapi ia tak berani berbuat demikan,

maka untuk sementara waktu keadaan tetap seimbang.

Pertarungan antara Thia Siok bi melawan Leng hou Ki berlangsung paling sengit, pertempuran itu

telah berlangsung hingga mencapai puncaknya, setiap saat jiwa mereka bisa terancam.

Fajar mulai menyingsing, sinar matahari yang berwarna keemas emasan mulai memancar dari

balik bukit.

Kabut tipis pelan-pelan melayang datang dan menyelubungi permukaan tanah, mendatangkan

kesuraman ditengah fajar itu, ibaratnya pula suasana dunia persilatan waktu itu, kabut kesesatan

menyelubungi terbitnya keadilan dan kebenaran.

Hanya saja, semua orang yang hadir dalam gelanggang waktu itu hanya pusatkan seluruh

perhatian mereka pada jalannya pertarungan, siapa pua tidak menaruh perhatian bahwa malam

yang panjang sudah lewat dan fajar telah menyingsing.

Tiba-tiba kakek baju hitam berwajah kaku itu berkata, “Thia Siok bi, engkau benar-benar seorang

manusia yang tak tahu diri, berapa banyak sudah jago Hian-beng-kauw yang roboh

ditanganmu…. hmm…. Mulai hari ini kau sudah menjidi musuh bebuyutan kami, jangan salahkan

kalau aku akan bertindak kurang sopan”

Sambil menyerbu ke muka, jari tangannya yang kaku seperti tombak menyodok jalan darah Leng

tay hiat di tubuh Thia Siok bi.

Sebenarnya Thia siok bi berjaga-jaga dimulutgua, tapi sekarang ia sudah dihadang oleh Leng

hou Ki diluar gua, dengan begitu dia musti bertarung melawan Leng hou Ki dengan punggung

menghadap luar.

Sebagai jago yang berpengalaman, To koh itu juga tahu bahwa posisi semacam itu sangat tidak

menguntungkan, sebab setiap waktu setiap saat ia bisa disergap lawannya.

Tapi keadaan amat kritis, mau tak mau dia musti menggunakan cara semacam ini untuk menjaga

diri, otomatis diapun tak sempat berpikir lebih jauh lagi.

Dan kini dia hsrus menghadapi serangan dahsyat dari kakek she Tio itu, dengan cepat To koh

tersebut berpikir, “Jika aku berkelit dari serangannya niscaya Leng hou Ki akan menggunakan

kesempatan ini untuk masuk ke gua….”

Berpikir sampai di sini, dia jadi nekad. To koh berbaju abu-abu itu mengambil keputusan untuk

beradu jiwa.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

645

Dengan cekatan badannya miring ke samping begitu jalan darah Leng tay hiatnya lolos dari

ancaman, senjata kaitan kemalanya bagaikan sambaran petir menyambar dada dan lambung

Leng hou Ki, kemudian tanpa dilihat bagaimana hasilnya, senjata Hud timnya kembali

melepaskan sebuah sapuan cepat.

Kedua gerakan itu semuanya merupakan jurus-jurus beradu jiwa, sebab baik dihajar punggungnya

atau dihajar iganya, sudah pasti Thia Siok bi bakal menemui ajalnya.

Tapi sayang dia terlalu memandang rendah diri Leng hou Ki, baru saja serangan itu dilancarkan,

Leng hou Ki sudah tertawa terbahak-bahak. Mendadak ia menarik kembali serangannya,

sepasang kaki menjejak tanah keras keras lalu dengan kecepatan luar biasa ia menyusup masuk

ke dalam gua.

Menyaksikan tindakan tersebut, kakek she Tio itu menyumpah dalam hatinya;

“To koh busuk, aku tak sudi beradu jiwa dengan dirimu….”

Badannya berputar cepat, dari serangan totokan jari dia lantas merubahnya menjadi serangan

telapak tangan, dihajarnya bahu kanan Thia Siok bi keras-keras.

Mendadak terdengar Beng Wi-cian membentak keras, “Tio hu tham, cepat menyingkir!”

Tapi belum habis perkataan itu, secepat anak panah yang terlepas dari musuhnya, Coa Wi-wi

sudah menyusup ke belakang kakek she Tio itu, kemudian tanpa menimbulkan sedikit suarapun

dia lancarkan sebuah pukulan dahsyat ke punggung kakek itu.

Gelisah dan gusar Coa Wi-wi ketika menyaksikan Leng hou Ki berhasil menyelundup masuk ke

dalam gua, rasa kagetnya sukar dilukiskan dengan kata-kata. Secara spontan hawa napsu

membunuh nya ikut membara, ia tak dapat mengendalikan emosinya lagi, dan tanpa sadar jurus

serangan paling ganas segera digunakan.

Sudah dua tiga kali usaha Coa Wi-wi untuk mendekati mulut gua digagalkan lawan, maka untuk

tindakannya kali ini dia sudah mengaturkan masak-masak, begitu meluncurkan ke mulut gua,

segenap kekuatannya dihimpun menjadi satu untuk bersiap siaga menghadapi segala

kemungkinan.

Benar juga, begitu dia melayang ke bawah, Leng hou Yu berserta sisa empat orang kakek baju

hitam itu segera maju menghadang.

Menunggu peringatan dari Beng Wi-cian diucapkan, serangan dari Coa Wi-wi sudah dilepaskan.

Tak sempat lagi kakek she Tio itu menghindarkan diri, ia mendengus tertahan, tubuhnya

mencelat sejauh beberapa kaki dari tempat semula, kemudian setelah menggelinding beberapa

kali, badannya membujur tak berkutik lagi.

Berbareng dengan peristiwa itu, tiba-tiba dari balik gua berkumandang suara lirih seperti suara

nyamuk tapi tajam menggidikkan hati, sekalipun lembut, namun bagi pendengaran siapapun

suara tadi tak enak didengar, seperti ada beratus-ratus batang jarum yang menusuk telinga

mereka.

Coa Wi-wi sekalian segera mengenali suara aneh itu sebagai hawa pedang tingkat tinggi, kontan

saja semua orang tertegun.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

646

Ditengah keheningan yang mencekam seluruh angkasa, tiba-tiba kedengaran Leng hou Ki

berpekik kaget dari balik gua, “Haaaah….! Bocah cilik dari keluarga Hoa….!”

Nada dari ucapan itu sedemikian paniknya hingga siapapun tahu bahwa orang itu telah

menemukan sesuatu yang hebat di sana.

Bayangan kuning tiba-tiba berkelebat lewat, dan tahu-tahu sudah menerobos keluar dari balik

gua

Padahal Coa Wi-wi maupun Thia siok bi berdiri ditepi gua, sayang mereka dibuat tertegun oleh

kejadian tersebut hingga tak sempat untuk turun tangan.

“Aduuuh sayang….!” pekik Thia Siok bi sangat menyesal.

Tampak Leng hou Ki telah muncul kembali dengan wajah hijau membesi, ujung bajunya sebatas

siku sudah terpapas kutung hingga keadaannya tampak sangat mengenaskan.

Dari keadaan itu, semua orang segera tahu bahwa jago yang tersohor karena kegarangannya itu

sudah menderita kerugian besar, kenyataan tersebut kontan disambut dengan perasaan tercekat

oleh ka wanan jago baik dari golongan Mo-kauw maupun dari rombongan Hian-beng-kauw.

Gelak tertawa nyaring menggelegar dari dalam gua, disusul kemudian Hoa In-liong sambil

membawa pedang antiknya yang terhunus melangkah keluar dari balik gua, tampaknya yang

ganteng dan gagah perkasa justru memberikan gambaran yang bertolak belakang dengan

keadaan Leng hou Ki.

Kejut dan girang Coa Wi-wi menyaksikan kemunculan anak muda itu.

“Jiko, engkau sudah selesai dengan semadimu?” serunya tak tahan.

Hoa In-liong melirik sekejap ke arahnya, dengan sinar mata penuh kemesraan, kehangatan serta

kasih sayang.

Dia masukkan pedangnya ke dalam sarung, kemudian sambii menjura kepada Thia Siok bi

katanya, “Bantuan yang telah cianpwe berikan kepada kami, sungguh membuat boanpwe

merasa….”

“Tak usah membicarakan kata-kata yang tak berguna” tukas Thia siok bi sambil mengulapkan

senjata Hud timnya, “engkau tahu, siapakah pinto ini?”

Hca In liong melirik sekejap senjata kaitan kemalanya yang bersinar hijau itu, kemudian

jawabnya dengan serius, “Bila dugaan boanpwe tidak keliru, tentu cianpwe adalah gurunya Wan

Hong giok, bukankah begitu?”

Thia Siok bi mendengus dingin.

“Cerdik benar engkau ini, tapi….engkau tahu kenapa pinto datang mencarimu?”

Dari kerutan dahi To koh tersebut, secara lapat-lapat Hoa In-liong dapat menangkap perasaan

tak senang hatinya, dia lantas menduga kalau hal tersebut disebabkan musibah yang menimpa

diri Wan Hong-giok. Maka pikirnya dihati, “Berbicara sesungguhnya, aku ikut bertanggung jawab

atas musibah yang menimpa diri Wan Hong giok, kalau dilihat dari cara cianpwe ini mengajukan

pertanyaannya, mungkin ia datang untuk mintai pertanggungan jawabku….”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

647

Untuk sesaat lamanya pelbagai pikiran berkecamuk dalam benaknya, ia jadi kebingungan dan tak

tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan tersebut.

Tiba tiba Leng hou Ki berseru dengan wajah menyeringai seram, “Bocah keparat dari keluarga

Hoa, beranikah engkau bertarung melawan lohu?”

Cepat Hoa In-liong merangkap tangannya didepan dada dan memberi hormat kepada Thia Siok

bi, lalu ujarnya, “Mengenai persoalan Hong giok, ijinkanlah kepada boanpwe menerima semua

teguran itu nanti setelah urusan disini terselesaikan!”

Thia Siok bi kembali berpikir setelah ia dengar anak muda itu menyebut langsung nama Wan

Hong giok, “Tampaknya ia memang menaruh benih cinta terhadap anak Giok, ya….moga-moga

saja demikian, sehingga urusan pun lebih mudah diselesaikan”

Dia tidak banyak berbicara lagi, tubuhpun lantas mundur selangkah.

Setelah mengundurkan To koh berjubah abu-abu itu, Hoa In-liong baru berpaling dan sahutnya

kepada Leng hou Ki, “Baiklah, jika engkau masih kurang puas mencicipi kelihayan ilmu pedang

dari keluarga Hoa, aku Hoa loji pun tak akan menjadi orang kikir, mari akan kuberikan kepadamu

sampai puas”

Lengan kanannya kembali bergerak pedang antik yang panjangnya mencapai empat depa itu

segera diloloskan kembali.

“Jiko!” tiba-tiba Coa Wi-wi berseru kuatir, Hoa In-liong berpaling, dari sinar mata sang gadis yang

jeli, dia sempat menangkap kegelisahan dan kekuatirannya, pemuda itu tahu bahwa gadis

tersebut kuatir bila dia bukan tandingan dari Leng hou Ki. Maka diapun tertawa nyaring.

“Haaa…. haaahh…. haaahh…. adik Wi tak perlu kuatir, lihat saja kuringkus iblis tua dari Seng sut

hay ini dengan pedang antikku….!”

Sampai disitu, mendadak ia berkata kembali, cuma kali ini kata katanya disampaikan dengan ilmu

menyampaikan suara, “Berjaga-jagalah dimulut gua, Kongkong sudah banyak kehilangan tenaga

murninya, sekarang beliau sedang bersemedi!”

Coa Wi-wi terkesiap mendengar keterangan itu, sebenarnya dia ingin menengok keadaan

kongkong-nya, tapi niat tersebut segera diurungkan, pikirnya dalam hati, “Orang-orang Hianbeng-

kauw dan Mo-kauw tentu mengira isi gua tersebut hanya Hoa jiko seorang, bila aku masuk

kedalam sekarang, perbuatanku ini pasti akan mengundang kecurigaan orang”

Berpikir sampai disitu, dengan biji matanya yang jeli dia mulai memeriksa keadaan disekitar sana,

tampak dua bersaudara Leng hou berdiri berjajar kurang lebih dua kaki dihadapannya, beberapa

lang kah kemudian berdiri Beng Wi-cian beserta keempat orang kakek berbaju hitam.

Kurang lebih sepuluh kaki dari mereka adalah Toan bok See liang, ke empat orang Ciu Hoa serta

tujuh puluh orang anggota Hian-beng-kauw, selain itu masih terdapat juga belasan orang jago

Mo-kauw yang mengurung tempat itu rapat-rapat.

Beratus-ratus pasangan mata tersebut, semuanya tertuju keatas tubuh Hoa In-liong, ternyata tak

seorangpun diantara mereka yang menengok ke arah gua.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

648

Tiba-tiba empat orang Ciu Hoa saling bsrpandangan sekejap, kemudian serentak tampil ke

depan,

Toan bok See liang agak mengerutkan dahinya melihat kejadian itu namun ia tidak berusaha

untuk menghalangi kepergian mereka.

“Bocah keparat!” terdengar Leng hou Ki berseru dengan wajah menyeringai seram, “karena

terlalu gegabah, hampir saja aku jatuh kecundang ditanganmu. Hmm! Cuma…. kau tak usah

tekebur dulu, lihat saja hasilnya nanti, siapa yang lebih jagoan diantara kita”

Hoa In-liong tertawa nyaring, tiba-tiba dia melancarkan sebuah tendangan ke arah kakek baju

hitam yan tergeletak dimulut gua tanpa dihetahui mati hidupnya itu.

“Beng thamcu, sambutlah orangmu ini!” serunya.

Si kakek baju hitam yang berat badannya mencapai seratus kaki lebih itu seperti anak panah

yang terlepas dari busurnya, segera meluncur kehadapan Beng Wi-cian.

Diam-diam Beng Wi-cian mengerahkan tenaga dalamnya, ia putar lengan kanannya lalu

menyambut tiba tubuh tersebut.

Apa yang dijumpai? Tubuh itu meluncur datang tanpa membawa daya tekanan apapun jua

sekarang dia baru tahu jika tendangan yang dilancarkan Hoa In-liong barusan, pada hakekatnya

hanya sebuah tendangan kosong belaka.

Tentu saja, kalau tendangan tersebut disertai tenaga yang amat besar, paling sedikit si kakek

baju hitam yang terkena tendangan tadi bakal terluka parah atau paling sedikit tulang iganya

akan patah dua tiga biji.

“Hebat benar tenaga dalam si bocah keparat ini pikirnya kemudian dengan hati terkejut, “wah,

kalau lwekangnya terus mendapat kemajuan sepesat ini, lama kelamaan dia pasti akan

merupakan bibit bencana bagi kita semua”

Buru-buru dia periksa keadaan luka yang diderita kakek berbaju hitam tadi. Ketika itu seluruh

wajahnya sudah dilapisi hawa hitam yang tebal, napasnya amat lemah, untung tenada dalamya

cukup sempurna hingga masih tersisa sedikit hawa mumi yang melindungi denyutan jantungnya.

Kenyataan itu segera membuat paras muka Beng W i cian berubah jadi hijau membesi, dengan

penuh kebencian diliriknya sekejap Thia Siok bi, namun tak sepatah katapun diucapkan.

Secara beruntun ia menotok jalan darah Gi bu Sin hong serta beberapa buah jalan darah penting

lainnya didada kakek baju hitam itu, kemudian ia serahkan tubuh anak buahnya itu kepada

seorang kakek yang ada disampingnya.

“Salurkan hawa murnimu ke tubuhnya, kita harus menunggu sampai diperolehnya obat penawar

untuk menawarkan racun itu” demikian pesannya.

Kakek berbaju hitam itu mengiakan, lalu menyambut tubuh rekannya.

Dengan demikian dari pihak Hian-beng-kauw telah jatuh korban satu tewas tiga terluka parah, di

tambah pula cemoohan serta ejekan dari Thia siok bi, kesemuanya itu membuat Beng Wi-cian

merasa benci bercampur dendam, cuma sebagai seorang yang licik, panjang akalnya dan pandai

menyembunyikan perasaan, semua perasaaa tersebut hanya disimpan dalam hati kecilnya saja.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

649

Dengan langkah lebar Hoa In-liong maju ke depan, ia baru berhenti kurang lebih beberapa

tombak dihadapan dua bersaudara Leng-hou, setelah menyapu sekejap wajah kedua orang itu,

katanya, “Kalian berdua akan maju bersama atau seorang demi seorang?”

“Bajingan cilik yang tak tahu diri….” maki Beng Wi-cian dalam hatinya, Tapi diluar ia tertawa

tergelak, “Haaahh…. haaahhh…. haaahhh…. Hoa yang, ketahuilah ilmu silat yang dimiliki dua

bersaudara Leng hou sudah mencapai tingkatan yang luar biasa, tak mungkin kau bisa

menandinginya. Tidakkah kau merasa bahwa caramu yang sok dan mengibul hanya akan

menurunkan derajat serta martabat keluarga Hoa?”

Ucapan itu mengandung hasutan dan berharap bisa mengadu domba musuhnya, sebagai jago

yang berpengalaman tentu saja dua bersaudara Leng hou dapat merasakan hal itu, tapi mereka

tidak menggubris….

Tiba-tiba Leng hou Ki berbisik kepada saudaranya dengan ilmu menyampaikan suara, “Loji,

berjaga-jagalah terhadap ikut campurnya budak busuk she-Coa tersebut, aku hendak

menggunakan kesempatan ini untuk membinasakan bangsat cilik she Hoa ini untuk

melampiaskan rasa den dam yang sudah tak terbundung”

“Lotoa, apakah dalam gua masih ada orang lain?” tanya Leng hou Yu kemudian dengan ilmu

menyampaikan suara pula.

Sambil berkata matanya seperti sengaja tak sengaja melirik sekejap kearah mulut gua yang

tertutup oleh tumbuhan rotan.

Leng hou Ki termenung sebentar, kemudian menjawab

“Ketika aku masuk kedalam gua tadi, sibangsat cilik dari keluarga Hoa segera menghadiahkan

sebuah bacokan ketubuhku, hingga waktu itu aku tak sempat memperhatikan dengan lebih jelas

lagi, ta pi aku rasa didalam gua masih ada seorang lagi, tapi kau tak usah kuatir, kecuali Hoa

Thian-hong, siapa lagi yang perlu kita kuatirkan?”

Yaa, bagaimanapun pongah dan tinggi hatinya dua bersaudara Leng-hou, mereka tetap menaruh

tiga bagian rasa segannya terhadap Hoa Thian-hong, terutama sejak pertarungan dipuncak Kiu ci

san untuk memperebutkan harta karun, kelihayan kungfu yang dimiliki Hoa Thian-hong telah

memecahkan nyali semua orang dari Seng sut pay.

Hoa In-liong yang cerdik sempat menyaksikan pula gerakan bibir kedua orang itu, dia tahu kedua

orang manusia durjana tersebut sedang bercakap-cakap dengan ilmu menyampaikan suara, apa

lagi setelah menyaksikan sorot mata mereka melirik sekejap ke mulut gua, kontan saja sianak

muda itu tertawa tergelak.

“Haaahh…. haaahhh…. haaahh…. kalian tak usah melirik-lirik lagi didalam gua memang masih

terdapat seorang tokoh persilatan yang maha lihay. Cuma jago silat itu enggan untuk turun

tangan terhadap kamu berdua jadi kalianpun tak perlu kuatir

Sejak dulu Ciu Hoa lotoa paling benci menyaksikan sikap santai dari Hoa In-liong, rasa dendam

dan sakit hatinya terhadap anak muda itu selalu menjadi ganjalan hatinya selama ini maka

sehabis mendengar ucapan tersebut, ia tertawa dingin tiada hentinya.

“Heeehhh…. heeehhh…. heeehhh….tokoh persilatan macam apakah itu?” ejeknya, “kongcu ya

mu tidak percaya kalau dia begitu hebat!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

650

Sambil meloloskan pedang, selangkah demi selangkah dia maju menuju ke mulut gua.

Paras muka Hoa In-liong segera berubah membesi, dengan sekali lompatan tahu-tahu dia sudah

menghadang dihadapan Ciu hoa lotoa.

“Ciu toa kongcu!” tegurnya, “disini masih hadir sekian banyak jago persilatan yang jauh lebih

lihay daripadamu darimu!”

Ucapan tersebut ditanggapi sebagai suatu penghinaan oleh Ciu Hoa lotoa, kemarahannya kontan

saja memuncak, sambil bersuit nyaring tiba-tiba ia lancarkan bacokan maut ke depan.

Sedetik miringkan tubuhnya, Hoa In-liong berhasil memunahkan datangnya ancaman tersebut,

kembali dia mengejek, “Kalau cuma seorang diri, sudah jelas kau bukan tandinganku, lebih baik

suruh saja saudara-saudara seperguruanmu untuk maju bersama-sama!”

Kalau cuma diejek saja masih mendingan, Ciu Hoa Lotoa merasa lebih sakit hati lagi karena sikap

anak muda itu yang santai dan sedikitpun tidak pandang sebelah mata kepadanya.

Namun diapun sadar bahwa kepandaian silat yang dimilikinya memang bukan tandingan lawan,

sebab itu ucapan tersebut segera ditanggapi dengan cepat.

“Lo sam, hayo kalian maju bersama!” teriaknya.

Semenjak tadi ketiga orang Ciu Hoa yang lain memang telah bersiap sedia untuk turun tangan,

mendengar panggilan itu serentak mereka loloskan pedang sambil maju ke muka.

Beng wi-cian menggetarkan bibirnya seperti hendak menghalangi perbuatan mereka, tapi niat

tersebut tiba-tiba diurungkan kembali.

Tiba-tiba Leng hou Yu berteriak dengan nada dingin, “Kurangajar, kalian bocah bocah yang tak

tahu diri berani benar mencampuri urusan dari kami berdua!”

Dengan marah dia kebaskan lengan kanannya, pukulan itu dimaksudkan untuk melemparkan Ciu

Hoa berempat dari gelanggang pertarungan.

Leng hou Ki yang jauh lebih licik segera berpikir, “Bila ditinjau dari tenaga dalam yang dimiliki

bangsat cilik dari keluarga Hoa ini, agaknya jaub berbeda sekali dengan apa yang tersiar dalam

dunia persilatan, Ong sute mengatakan bahwa dia sudah terkena racun ular keji, kenapa paras

mukanya tampak segar bugar? Jangan-jangan ada sesuatu yang tidak beres?”

Berpikir sampai disitu, timbullah niatnya untuk menyelidiki lebih dulu sampai dimanakah taraf

kepandaian silat yang dimiliki Hoa In-liong. Maka diapun berseru, “Loji jangan terburu napsu!

Biarkan saja mereka menjajaki lebih dulu kepandaian silat yang di miliki bocah keparat dari

keluarga Hoa itu, kemudian kita baru membereskan dirinya”

Sementara pembicaraan itu berlangsung, keempat orang Ciu Hoa telah mengepung Hoa In-liong

rapat-rapat.

Tanpa banyak berbicara Ciu Hoa lotoa menggetarkan pedang mustikanya lalu ditusukkan

langsung ke dada Hoa In-liong, bentaknya, “Hoa loji, serahkan nyawa anjingmu!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

651

Dengan suatu tangkisan seenaknya, Hoa In-liong mematahkan serangan tersebut, kemudian

tertawa nyaring.

“Haah…. haahh…. haahh…. jangan tekabur kawan, nyawa milik Hoa loji tidak gampang kau

renggut dengan begitu saja!”

“Siapa bilang sukar? Lihat saja serangan ini!” bentak Ciu Hoa kelima sambil membacok punggung

anak muda itu.

Hoa In-liong mengtgos kesamping kemudian memutar badannya melepaskan diri dari ancaman.

“Masa gampang?” kembali dia mengejek,” aku lihat kepandaian yang kalian miliki masih

tertinggal jauh”

Begitu Ciu Hoa lotoa dan Coa Hoa longo turun tangan, Lo sam serta Lolak ikut menggerakkan

pula senjatanya untuk melancarkan serangan.

Pada hakekatnya, tenaga dalam yang dimiliki empat orang Ciu Hoa itu cukup sempurna,

terutama kerja sama mereka dalam melakukan pengepungan, maju mundur menghindar maupun

menyerang semua dilakukan dengan sangat beraturan, atau dengan perkataan lain mereka

sudah terbiasa melatih kerja sama tersebut tiap harinya. Cahaya pedang hawa serangan yang

dihasilkan kelihatan amat mengerikan.

Seluruh senyuman manis tetap menghiasi ujung bibir Hoa In-liong, sekalipun dia harus

menghadapi tekanan dari empat bilah pedang mustika, tapi tubuhnya masih tetap berkelebat

kesana kemari dengan entengnya, jangankan melukainya, untuk menjawil ujung bajunya saja

sudah sukarnya bukan kepalang.

Berkenyit sepasang alis mata Beng Wi-cian, segera pikirnya, “Walaupun dihari-hari biasa

beberapa orang bocah keparat itu sombong dan tinggi hati, ternyata ilmu silat mereka memang

cukup tangguh, terutama kerja sama mereka berempat, aku sendiripua belum tentu bisa

menghadapi secara gampang tapi bocah keparat dari keluarga Hoa itu….”

Berpikir sampai disitu, tanpa terasa hatinya jadi tercekat.

Lain halnya dengan Coa Wi-wi, dia sangat gembira dengan kejadian tersebut, pikirnya, “Tak

kusangka tenaga dalam jiko telah mendapat kemajuan sepesat ini, entah dengan cara apa

kongkong membantu dirinya….?”

Setengah harian masalah itu ia lamunkan, akhirnya gadis itu berkesimpulan kecuali minum obat

Yau ti wan rasanya tiada cara lain yaug bisa menghasilkan manfaat sebesar ini.

Lama kelamaan dia enggan untuk berpikir lebih lanjut, pokoknya semakin tinggi ilmu silat yang di

miliki Hoa In-liong semakin senang pula dirinya.

Pelan-pelan dia alihkan kembali perhatiannya ketengah gelangang, mengawasi ujung baju Hoa

In-liong yang berkibar terhembus angin dan tubuhnya yang bergerak maju mundur tak menentu.

Ditengah keheningan yang mencekam seluruh jagad, tiba-tiba berkumandang suara merdu yang

empuk dan penuh daya pikat, “Toako ini, bersedia memberi jalan lewat untuk ku bukan?”

Kecuali lima orang yang sedang terlibat dalam pertarungan, hampir semua yang lain paling

kepalanya kearah mana berasalnya suara itu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

652

Entah sendiri kapan, diluar kepungan orang orang Hian-beng-kauw dan Mo-kauw telah

kedatangan serombongan anak dara yang rata-rata berparas cantik jelita.

Ada yang berbaju kuning telor, ada yang memakai baju merah membara, ada juga yang

memakai baju warna hijau pupus, pakaian yang berwarna warni serta paras muka yang cantik

jelita menambah semaraknya suasana disekitar tempat itu.

Rombongan anak anak dara itu dipimpin oleh seorang gadis berbaju ungu, dia mempunyai mata

yang memikat, hidung yang mancung dan bibir yang kecil mungil, meski cantik, sayang dara itu

genit. Dialah yang buka suara barusan.

Sebetulnya kawanan jago Hian-beng-kauw yang berada disekitar sana hendak menghalangi jalan

pergi mereka, tapi setelah dikerling sekejap oleh nona berbaju ungu itu, entah apa sebabnya

perasaan mereka jadi kebat kebit tak karuan, dan tanpa disadari pula serentak mereka

mengundurkan diri serta memberi jalan lewat bagi rombongan gadis-gadis itu.

Bau harum semerbak serasa menusuk hidung, di antara gaun-gaun yang bergesek badan,

serombongan gadis gadis cantik itu sudah melewati mereka.

Setengah jalan sudah dilewati ketika seorang anggota Hian-beng-kauw tiba-tiba menjadi sadar

kembali dari lamunan, dia membentak keras lalu melarcarkan sebuah pukulan ke tubuh seorang

dara berbaju kuning.

Dengan gesit nona berbaju kuning itu berkelit kesamping, lalu tertawa cekikikan.

“Hiiihh…. hiiihh…. hiiih…. jahat betul toako ini, jadi seorang semestinya berjiwa besar, masa

rumpang lewat saja tak boleh?”

Saputangan berwarna kuaing telor yang ada ditangannya itu segera diayun kemuka….

“Aaaah….” jago Hian-beng-kauw itu mengeluh, tahu-tahu tubuhnya sudah roboh terkulai ditanah,

terkulai lemas.

Peristiwa ini mendatangkan kebebohan ditempat itu, kawanan jago Hian-beng-kauw lainnya

sama-sama membentak marah, dilihat gelagatnya mereka hendak turun tangan bersama.

“Biarkan mereka masuk!” tiba tiba Toan bok See liang membentak.

Dengan genit nona cantik berbaju ungu yang merupakan kepala rombongan itu mengerling

sekejap kearah Toan bok See liang, kemudian tertawa merdu.

“Ehmm….! Toan bok cianpwe memang tak malu menjadi Thamcu markas besar Hian-beng-kauw,

baik kebesaran jiwanya maupun ketegasannya memang cukup mengagumkan hati orang”

“Hmmm….!” Toan bok See liang mendengus, hawa murninya dikerahkan untuk bersiap sedia

melancarkan serangan, “nona tak usah memuji, aku tidak berjiwa besar, justru engkaulah terlalu

keji, nah nona, hati-hatilah!”

“Aduuh mak….” nona berbaju ungu itu cekikikan, “garang amat ucapan Toan bok thamcu,

sampai siau-li jadi ketakutan setengah mati, untung nyawaku tak sampai rontok, coba tidak….

aku bisa ambil langkah seribu….”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

653

“Hmm….! Mau mengambil langkah seribu? Terlambat!” tukas Toan bok See liang ketus, “ku

anjurkan kepada nona, lebih baik menunggu saja disini dengan tenang!”

Setelah berhenti sebentar ia bertanya lagi, “Engkau berasal dari perguruan mana? Siapa

namamu? Hayo cepat akui terus terang, kalau tidak…. awas kamu!”

Nona berbaju ungu itu memutar sepasang biji matanya, tiba-tiba sambil menutupi mulut sendiri

dia cekikikan.

“Hiiihh…. hiiihh…. hiiih…. aku tak punya perguruan juga tak punya partai, soal nama….”

Kata itu sengaja ditarik panjang, kemudian tertawa cekikikan lagi, “Hiihhh…. hiiihhh….

hiiihh….soal nama sih ada dua. Entah Toan bok toa thamcu ingiu mengetahui yang mana?”

“Siapa gerangan perempuan-perempuan itu?…. Toan bok See liang mulai berpikir, tampaknya

sesat amat…. Hmm! Aku tak percaya kalau beberapa orang dayang cilik itu bisa menimbulkan

obat tanpa berhembusnya angin….”

Berpikir sampai disitu, dia lantas mendengus dingin dan tidak berbicara lagi.

Sementara itu kawanan nona-nona tadi sudah memasuki gelanggang, sedangkan para jago dari

Hian-beng-kauw dengan cepat menutup kembali pergepungan mereka yang terbuka itu.

Terhadap gerakan orang-orang Hian-beng-kauw, nona berbaju ungu itu tidak ambil perduli,

malah melirikpun tidak, dengan langkah yang santai dia mendekati Beng Wi-cian berlima dan

berhenti dua kali dihapannya….

Beng Wi-cian tak berani memandang enteng mereka, dengan cepat ia mempersiapkan diri untuk

menghadapi segala kemungkinan yang tak inginkan kemudian ujarnya dengan ketus, “Nona,

sebetulnya engkau adalah sahabat atau musuh kami? Tolong berilah penjelasan, daripada lohu

sampai menyalahi orang sendiri, akhirnya kan sama-sama tak enaknya”

Nona berbaju ungu itu tertawa.

“Terus terang kami katakan, sebenarnya siau-li ingin menyanjung kelompok yang dipimpin

keluarga Hoa, sayang manusia semacam kami ini tak pantas untuk bergabung dengan mereka!”

“Hmm, kata-kata ini ada benarnya juga” pikir Beng wician, “diantara kelompok kaum pendekar

yang menganggap dirinya adalah golongan lurus, tentu saja tak mungkin ada manusia manusia

genit yang jalang seperti mereka….”

Karena berpendapat demikian, tanpa terasa ia bertanya lagi, “Jadi, kalau begitu nona sekalian

adalah sahabat-sahabat perkumpulan kami?”

Nona berbaju ungu itu tertawa cekikikan.

“Sayang, kamipun tak sudi bergerombol dengan manusia-manusia macam setan seperti kalian”

“Budak keparat!” kontan saja Beng Wi-cian membentak marah.

Telapak tangannya segera diayun siap melancarkan serangan, tapi ingatan lain dengan cepat

mengurungkan niatnya itu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

654

“Beberapa orang dayang itu tak perlu terlampau dikuatirkan” demikian pikirnya,” yang

mengherankan justru munculnya perkumpulan mereka itu, kenapa kami tak tahu menahu

tentang organisasi tersebut? Seperti juga keluarga Coa, suatu keluarga yang tak kedengaran

namanya tapi berpihak kepada lawan, aku musti waspada…. “

Sementara itu, Coa Wi-wi sudah menaruh perhatian juga kepada beberapa orang gadis itu, dia

lihat diantara mereka terdapat pula ketiga orang nona yang pernah dijumpai dirumah makan

Cwan seng lo tempo hari, waktu itu mereka tersenyum kearahnya tapi tidak menyapa.

Mengertilah Coa Wi-wi bahwa orang-orang Cian Li kau memang sengaja munculkan diri dengan

membawa maksud-maksud tertentu, maka dia sendiripun berpura-pura tidak kenal, tapi kepada

Thia Siok bi nona itu berbisik lirih, “Cianpwe, mereka adalah orang orang Cian li kau, sahabat

kami bukan musuh!”

“Thia Siok bi melirik sekejap kearah rombongan gadis-gadis itu, lalu menjawab, “Aku lihat gadisgadis

itu semuanya bertampang genit dan jalang, sudah pasti bukan berasal dari golongan lurus,

mana bisa menjadi sahabat kita?”

“Apa salahnya?” seru Coa Wi-wi dengan gelisah, kaucu mereka adalah seorang perempuan yang

berwatak baik hati dan setia dalam cinta”

Pada dasarnya gadis itu memang cantik bak bidadari dari kahyangan, waktu bicara membawa

kemanjaan yang membuat orang jadi gemas, sekalipun Thia Siok bi menaruh maksud tertentu

kepadanya, tak urung juga semua ketidak kesenangan hatinya tersapu lenyap, ia tersenyum lirih.

“Nak, jalan pikiranmu terlalu sederhana, jangan toh seorang guru yang budiman sukar mencegah

munculnya murid yang jahat, sekalipun seorang yang setia pada cintanya, belum tentu

mewakilkan kesetiaannya kepada orang lain….”

Tiba-tiba ia menghela napas dan membungkam.

“Jadi tidak baikkah orang yang berwatak terbuka dan setia pada cintanya?” tanya Coa Wi-wi

sambil membelalakan sepasang matanya.

“Aaai….bocah ini terlampau polos?” pikir Thia Siok bi didalam hati, aku tak boleh mempengaruhi

hatinya yang suci dan bersih itu….”

Maka sambil tersenyum katanya”

“Pinto kan tidak bilang tak baik!”

Setelah berhenti sebentar, ketika dilihatnya Coa Wi-wi masih berniat untuk bertanya lebih lanjut,

maka ia berkata kembali, “Coba lihatlah, jikomu sebenarnya masih mempunyai tenaga lebih,

entah mengapa ternyata ia tak mau cepat-cepat meringkus keempat orang bocah keparat itu”

“Yaa, siapa yang tahu?” sahut Coa Wi-wi seraya berpaling sekejap kearah anak muda itu.

Dalam pada itu, si nona baju ungu yang berada dikejauhan sedang mengawasi Coa Wi-wi dari

atas kepala sampai ke kakinya dengan pandangan mata yang jeli, kemudian gumamnya dengan

suara lirih, “Yaa…. dia betul-betul seorang gadis yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan,

aku si kuntum bunga yang sudah ternoda ketinggalan sangat jauh bila dibandingkan dirinya”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

655

Kegenitan dan kejalangannya hampir tersapu lenyap, malah matanya berkaca-kaca seperti mau

menangis, tampaknya ia merasa amat menyesal dengan keadaan pribadinya.

Si nona baju hijau yang ada disisinya ikut menghela napas.

“Toa cici!” bisiknya, “kau….”

“Ji sumoay tak usah banyak bicara, aku mempunyai perhitungan sendiri” jawab nona baju ungu

itu tiba-tiba.

Ucapan tersebut menyebabkan si nona baju hijau menjadi tertegun, tapi dia tak berani berbicara

lagi dan segera membungkam diri.

Nona baju ungu itu menghela napas ringan, mendadak keseriusan wajahnya lenyap dan

kebinalan serta kejaiangannya muncul kembali.

“Hoa kongcu….” panggilnya dengan lirih.

Waktu itu Hoa In-liong sedang bertarung melawan kerubutan empat bilah pedang antik,

walaupun dikerubuti banyak orang, ia masih bisa bergerak kesana kemari dengan tenangnya.

Sejak munculnya rombongan anak-anak dara itu, dia sudah mengetahui kalau si nona berbaju

ungu adalah Cian In, murid pertama dari Pui Che-giok.

Tersenyumlah dia setelah mendengar panggilan tadi.

“Baik-baiklah engkau nona Cia!” sapanya pula.

Pedang antiknya dibabat kedepan, bentrokan nyaring berkumandang memecahkan kesunyian,

secara beruntun ia telah singkirkan pedang dari Ciu Hoa lo sam dan Ciu Hoa Lo liok.

Setelah itu ujarnya lagi, “Nona Cia, panggilan itu rasanya kurang mesra, bagaimana kalau kita

kembali saja pada panggilan pertama ketika baru berkenalan dulu?”

Cia In tertawa cekikikan, tiba-tiba panggilnya, “Engkoh Khi!”

“Yaa, enci In!” sahut pemuda itu.

Setelah berhenti dia berkata lagi, “Kau toh sudah tahu jika aku tidak bernama Pek Khi, kenapa

nama itu juga yang kau pakai?”

Pembicaraan berlangsung santai diiringi gelak tertawa yang riang, keadaan semacam ini mana

mirip suatu keadaan pertarungan yang sengit? Merasa dianggap enteng oleh musuhnya, keempat

orang Ciu Hoa itu naik darah dan marah-marah besar, tapi percuma saja kemarahan itu karena

tidak membantu keadaan.

Cia In tertawa cekikikan.

“Anggap saja sebagai suatu kenangan!” sahutnya.

Beng wi-cian yang mengikuti berlangsungnya adegan itu diam-diam mulai berpikir, “Dua orang

muda mudi itu, yang satu adalah jago perempuan yang berpengalaman luas sedang yang lain

adalah perempuan jalang dari golongan rendah…. heeeh…. heehh…. heeehh…. dilihat dari cara

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

656

mereka bergaul, tampaknya sebelum ini sudah terjalin suatu hubungan yang cukup hangat.

Kendatipun demikian, berbicara dari kedudukan serta nama baik keluarga Hoa adalah dunia

persilatan, tak mungkin mereka bersedia menerima perempuan macam begitu sebagai menantu

nya…. akhirnya lantaran cinta tentu akan menimbulkan dendam, haaahh…. haahh….

haaahh….peristiwa tersebut tentu akan merup-akan suatu tontonan yang amat menarik!”

Rupanya Thia Siok bi juga mempunyai pandangan yang jelek atas diri Cia In, alis matanya

tampak berkenyit setelah menyaksikan adegan mesra itu diam-diam ia menyumpah dihati, “Telur

busuk, bocah keparat dimana-mana main perempuan bikin tak sedap pandangan saja….”

Kepada Coa Wi-wi yang berada disisinya ia lantas berkata, “Bukan ingusan, mengapa tidak kau

urus si bocah keparat telur busuk itu?”

“Siapa?” seru Coa Wi-wi setelah tertegun sejenak.

Tapi ucapan itu segera dipahami, katanya pula.

Cianpwe maksudmu jiko ku? Kenapa aku musti urusi jiko? Apa yang jiko suka akupun ikut

menyukai, apa yang dia senangi aku ikut pula senang, aku tahu jiko amat cerdik, tindakan secara

perbuatannya pasti tak akau keliru”

“Bodoh amat engkau si budak ingusan!” pikir Thia Siok bi.

Tapi ia merasa kagum dan tertarik juga oleh ketulusan cinta serta kejujuran dan kepolosan waktu

dara itu, ini membuat rasa sayangnya terhadap gadis itu makin bertambah. Terbayang kembali

keadaan muridnya, satu ingatan tiba-tiba melintas dalam benaknya.

“Andaikata pinto berharap agar muridku bisa hidup bersama dengan kalian, apakah kau dapat

menerimanya dengan senang hati?”

“Cianpwe maksudkan enci Wan?” sorak Coa Wi-wi kegirangan, “sejak semula aku sudah

memaksa enci Wan agar tetap tinggal bersama kami, tapi dia tak mau. Tentu saja gembira hatiku

bila enci Wan mau berkumpul bersama kami”

Diam-diam Thia Siok bi merasa girang setelah mendengar perkataan itu, harapannya timbul

kembali, tapi terbayang kembali keadaan Wan Hong giok sekarang, dia berpikir lagi, “Hati

manusia gampang berubah, siapa tahu pikirannya dikemudian hari akan berubah, aaai…. sudah

pasti anak Giok yang berada di pihak yang kalah. Hmm! Jika sampai begitu, bukankah dia akan

bertambah tersiksa….?”

Untuk sesaat dia gembira karena muridnya masih ada harapan, tapi terbayang kembali betapa

Wan Hong giok telah ternoda, ia merasa murung, kesal dan bersedih hati.

Tiba-tiba keheningan dipecahkan oleh teriakan Leng hou Yu yang tak sabar lagi, “Hei empat

bocah keparat dari Hian-beng-kauw, kepandaian silat kalian sangat terbatas, apa gunanya musti

bersusah payah memaksakan diri? Hayo cepat mundur, daripada menjual malu saja disitu!”

Malu dan gusar bercampur aduk dalam perasaan keempat orang Ciu Hoa itu, Ciu Hoa lotoa

segera membentak keras, “Lo sam, Lo ngo, kita tak usah sungkan-sungkan lagi, bunuh saja

keparat itu!”

Tubuhnya segera berputar kencang, permainan pedangnya ikut berubah juga, tampaklah cahaya

tajam berkilauan memenuhi seluruh angkasa sebentar muncul disebelah kiri sebentar lagi muncul

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

657

disebelah kanan, ibaratnya ular yang sedang berjalan berliuk-liuk, sungguh hebat dan

membingungkan hati.

Menyaksikan kelihayan tersebut, semua penonton mulai tertarik dan wajah mereka rata-rata

berubah hebat, demikian pula keadaannya dengan Coa Wi-wi serta Thia Siok bi, jantung mereka

terasa berdebar keras saking kagetnya.

Hoa In-liong yang harus menghadapi serangan sedahsyat itu, dalam hati segera berpikir, “Ilmu

pedang yang mereka gunakan amat ganas tajam dan luar biasa, berbeda sekali dengan

permainan ilmu pedang pada umumnya, masih untung tenaga dalam mereka amat lemah hingga

kepandaian yang maha dahsyat itu masih belum bisa mengapa-apakan diriku, tapi kalau sampai

bertemu sendiri dengan Hian-beng Kaucu…. waaah, tentu berbahaya sekali!”

Berpikir sampai disitu, timbullah niatnya untuk memperhatikan sumber aliran dari permainan ilmu

pedang itu, agar sedikit banyak dalam hatinya sudah mempunyai gambaran tentang permainan

ilmu pedang tadi. Asal sudah ada gambarannya, bila sampai bertemu lagi dikemudian hari,

diapun tak usah kuatir terjerumus ke dalam jebakan musuh….

Jilid 33

BEGITU niatnya diputuskan, dia menarik kembali senyuman yang menghiasi bibirnya itu, seluruh

perhatian ditujukan ke tengah gelanggang dan permainan pedangnya ikut menjadi serius pula.

Hawa pedang memenuhi angkasa, desingan angin tajam memekikkan telinga, terutama dibawah

terpaan cahaya sang surya, terhiaslah beratus-ratus buah jalur pedang yang menyilaukan mata.

Kedua belah pihak sama-sama memusatkan segenap tenaga dan perhatiannya pada permainan

ilmu pedang masing-masing, keseriusan ketegangan mencekam seluruh angkasa, bentrokanbentrokan

nyaring ikut menyemarakkan suasana, bikin jantung mau copot rasanya.

Diantara bayangan manusia yang saling menyambar itu, secara lapat-lapat terselip hawa napsu

membunuh yang mengerikan, demikian seramnya waktu itu membuat para penontonpun ikut

merasa tegang.

Selangkah sesaat kemudian, para penonton mulai menyaksikan kemantapan serta keteguan Hoa

In-liong dalam menghadapi pertarungan, sebaliknya keempat orang Coa Hoa itu menunjukan

kegelisahan, siapa menang siapa kalah rasanya dari perubahan sikap itupun mudah ditebak.

Dua bersaudara Leng hou memang sombong dan tinggi hati, namun pengetahuan maupun

pengalamannya dalam soal ilmu silat memang tak bisa disangkal setelah mengikuti jalannya

pertarungan itu beberapa saat, Leng hou Yu lantas berbisik dengan ilmu menyampaikan

suaranya, “Pada mulanya aku masih menaruh curiga kenapa bocah keparat itu dapat menjadi

ketua dari suatu perkumpulan besar, bila ditinjau dari kepandaian silat yang dimiliki muridmuridnya

ini, dia memang amat Iihay!”

“Aaah…. kamu ini terlalu memandang enteng bocah keparat itu” sahut Leng hou Ki dingin, jika

dia tak punya kepandaian yang mengagumkan masa ji-suheng mau bersabar sampai sekarang?”

“Hmmm….! Bangsat itu lupa budi dan lupa kebaikan orang, setiap kali teringat tenaga dia,

amarah serasa mau meledak dan sukar dikendalikan” kata Leng-heu Yu lagi sambil menggigit

bibir.

Leng hou Ki tertawa dingin.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

658

“Sekalipun tak terkendalikan juga harus dikendalikan. Heehh…. heehh…. heeehh…. jika keluarga

Hoa telah dimusnahkan, Hmm! Memangnya kau anggap Hian-beng-kauw masih bisa bercokol

terus dipemukaan bumi….”

Leng hou Yu melirik sekejap ke arah Hoa In-liong yang berada ditengah arena, kemudian berkata

lagi, “Ilmu silat yang dimiliki bocah keparat itu sangat tinggi, kemajuan yang berhasil dicapai

teramat pesat, sampai aku sendiripun ikut merasa terperanjat. Manusia semacam ini tak boleh

dibiarkan hidup terus didunia!”

Beberapa patah katanya yang terakhir ini diucapkan tanpa menggunakan ilmu menyampaikan

suara, hingga nadanya yang tinggi rendah tak menentu itu dapat didengar oleh setiap orang.

Coa Wi wi merasa terperanjat, hawa murninya segera dihimpun menjadi satu, perhatiannya

tertuju seratus persen kearena pertarungan, dia telah bersiap sedia memberikan pertolongan

bilamana perlu.

Hoa In-liong pribadi, walaupun sedang terlibat dalam pertarungan yang seru, namun setiap

patah kata tadi dapat didengar olehnya dengan jelas, pikirnya dihati, “Hmmm….! Manusiamanusia

sesat dari luar perbatasan memang selalu buas dan tak tahu aturan, perbuatan macam

apapun sanggup mereka lakukan meski bertentangan dengan suara hati mereka….”

Dia lantas memutuskan untuk menyelesaikan pertarungan itu secepat mungkin, bentaknya

dengan suara dingin, “Jika kalian berempat tak mau mundur lagi, jangan salahkan kalan aku Hoa

loji terpaksa akan menyusahkan kamu sekalian!”

“Hoa loji, tak ada gunanya banyak ngebacot, kita tentukan saja menang kalahnya diujung

senjata” teriak Ciu Hoa loji sambil menyerang dengan pedangnya.

“Haaahhh…. haaahhh…. haaahh….betul juga perkataan itu” kata Hoa In-liong sambil tertawa

tergelak, “nah, lihatlah serangan pedangku ini!”

Permainan pedangnya segera berubah, dia menyerang secara bertubi tubi dengan tenaga

serangan yang maha dahsyat.

Ibaratnya terjadi angin ribut, deruan angin sedang memekikkan telinga, seluruh permukaan dan

udara diselimuti desingan tajam yang memekikkan telinga itu.

Ilmu pedang yang dimainkan sekalian Ciu Hoa memang terhitung tangguh, akan tetapi jika

dibandingkan dengan permainan pedang anak muda itu, tampaklah mutu permainan dari

masing-masing pihak.

Sekarang mata semua orang baru terbuka, mereka baru kagum dan memuji tiada hentinya,

terutama dua bersaudara Leng hou, sikap memandang rendahnya cepat ditarik kembali.

Diantara kilatan cahaya pedang yang menyilaukan mata, tiba-tiba terdengar Hoa In-liong

berseru, “Ciu kongcu berempat, pegang pedang masing-masing yang erat, jangan sampai

terlepas lho!”

Berbareng dengan selesainya perkataan itu, terjadilah suatu benturan nyaring yang memekikkan

telinga….

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

659

“Traaang! Traaang! Traaang! Traaang!” empat kilatan cahaya putih membumbung tinggi keudara

lalu tersebar keempat penjuru.

Dua diantaranya membentur dinding karang dan rontok ketanah dengan menimbulkan suara

nyaring, satu menyambar lewat dari atas kepala Beng Wi cian dan kena ditangkap olehnya,

sedang satu yang terakhir menyambar diatas kepala Leng hou Yu, tapi terkena sapuanya

sehingga pedang itu bagaikan anak panah yang terlepas dari busur nya meluncur masuk kedalam

hutan bambu kurang lebih sepuluh kaki ditepi gelanggang.

Tiga orang anggota Hian-beng-kauw cepat-cepat mengejar jatuhnya pedang itu dibalik hutan

serta dipungutnya kembali.

Hoa In-liong sendiri dengan pedang disilangkan didepan dada, berdiri sambil tersenyum.

Keempat orang Ciu hoa itu berdiri terbelalak dengan tangan hampa, mulut mereka melongo

saking kagetnya, napas yang tersengkal sengkal dan dada yang berombak menunjukan kalau

mereka sudah kehabisan tenaga.

Dengan perasaan malu, gusar kaget dan mendongkol mereka berdiri membungkam dalam seribu

bahasa.

“Beng Wi cian kuatir mereka tak dapat mengendalikan emosinya, cepat-cepat dia berseru,

“Kongcu sekalian harap segera mengundurkan diri, apa gunanya memperebutkan soal menang

kalah dengan bocah keparat dari keluarga Hoa itu….!”

Kendatipun keempat orang Cia Hoa itu adalah manusia-manusia kasar yang sudah dikendalikan

namun mereka cukup memahami bahwa ilmu silat yang dimilikinya bukan tandingan Hoa Inliong,

setelah menemukan kesempatan untuk mengundurkan diri tanpa harus kehilangan muka,

merekapun mundur dari gelanggang.

Rupanya Cia Hoa lotoa masih belum puas dengan hasil pertarungan itu, kembali hardiknya

dengan suara nyaring, “Ingatlah engkau wahai Hoa loji, sementara waktu kutitipkan nyawamu

ditubuhmu, tapi suatu ketika nanti, pasti akan kurenggut kembali….!”

Hoa In-liong tersenyum.

“Kurang baik bila aku cuma membungkam katanya, biarlah pernyataan itu kusanggupi dibibir

saja.

Setelah berhenti sebentar ujarnya lebih jauh, “Namun aku Hoa loji cukup memahami

bagaimanakah perasaan seseorang yang menderita kekalahan, maka akupun tidak akan banyak

ribut lagi”

Ciu Hoa lotoa mangkelnya luar biasa, tapi ia cuma bisa mendengus saja tanpa sanggup banyak

berbicara lagi.

Cia In yang selama ini cuma membungkam, tiba-tiba berseru sambil tertawa cekikikan, “Engkoh

Khi, engkau betul-betul memiliki hati seluas Buddha, sampai terhadap musuh busukpun bersedia

untuk mengampuni”

Ucapan itu segera disambut dengan gelak tertawa cekikikkan dari hawa gadis lainnya, suasana

yang tegang jadi santai kembali, ibaratnya kicauan burung nuri dipagi hari, suasana terasa lebih

nyaman dan menyegarkan….

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

660

Diantara sekian banyak orang, keempat orang Ciu Hoa lo sam yang paling berangasan segera

kenali kembali Cia In sebagai pelacur yang telah permainkan dirinya tempo hari, dia menjadi

berang.

Dengan langkah lebar dihampirinya Cian In lalu dengan wajah menyeringai seram katanya, “Hei

engkau lonte busuk dari Gi sim wan, mau apa datang kemari?”

“Ingin menjajakan dirimu atau ingin mencari kematian buat dirimu….?”

“Sekalipun ingin menjajakan diri, tak nanti aku akan menjajakan diri kepada Cia In dengan dahi

berkerut, apa gunanya Ciu sam-kongcu musti bersikap garang kepadaku?”

Ciu Hoa lo sam tertawa seram.

“Bagus! Bagus sekali! Rupanya engkau sudah tidak maui sarang lontemu itu?”

Kembali Cia In tertawa terbahak-bahak.

“Semenjak dulu Gi sim wan siapa menunggu kedatangan kongcu! Cuma lain kali kongcu musti

lebih hati-hati sebab tidak akan semudah tempo dulu untuk keluar dalam keadaan selamat”

Hoa In-liong sangat memperhatikan ucapan tersebut, sehabis mendengar perkataan itu, dia

lantas berpikir, “Tempo hari Cui Hoa lo-sam dan Ciu Hoa Lo-ngo telah menyatroni Gi sim wan

tanpa kuketahui bagaimana akhir urusan itu, tapi kalau didengar dari perkataannya Cia In,

rupanya mereka telah mendapat kerugian besar. Ehmm….! Secara terang-terangan dia berani

memusuhi Hian-beng-kauw, mungkinkah perkumpulan Cian li kau hendak dibuka secara resmi?”

Sementara itu Ciu Hoa lo sam telah membentak keras, “Lonte busuk! Lihatlah sam ya mu akan

mencekik engkau sampai modar….!”

Sebuah pukulan dahsyat dilontarkan ke depan.

Ciu In terkejut, serunya, “Sam kongcu. Kau anggap perempuan lemah itu gampang dipermainkan

orang….?”

Telapak tangannya yang lembut diayun kemuka untuk menyambut datangnya serangan tersebut.

Beng wi cian sempat menyaksikan sesuatu yang aneh pada serangan tersebut, kiranya dikala Cia

In melepaskan pukulan tadi, beberapa orang gadis yang berada dibelakangnya serentak

menjulurkan pula telapak tangan sambil ditempelkan pada punggung rekan didepannya.

Dia tahu gelagat tidak menguntungkan, segera bentaknya cepat, “Sam kongcu, cepat mundur!”

Sambil berteriak sepasang telapak tangannya segera didorong kemuka melancarkan sebuah

pukulan.

Berkilat sepasang mata tiga orang Ciu Hoa lainnya setelah menyaksikan kejadian itu, serentak

mereka melancarkan pula sebuah pukulan kemuka.

Dengan demikian sekaligus ada empat gulung tenaga pukulan bersama sama membendung

datangnya ancaman dari Cia In itu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

661

Beberapa gerakan itu dilakukan dengan kecepatan luar biasa….” Blaang!” suatu benturan keras

menggelegar memecahkan kesunyian.

Oleh tenaga pantulan yang dihasilkan dalam serangan tersebut, Beng wi cian serta tiga orang Ciu

Hoa terdorong mundur sampai beberapa langkah, sebaliknya Cia In berikut tujuh delapan orang

ga dis yang berada dibelakangnya ikut mundur juga sejauh dua langkah.

Paling parah keadaannya adalah Ciu Hoa lo sam, bagaikan layang layang putus benang,

tubuhnya mencelat jauh ke belakang. Ketika terjatuh ke tanah tampaklah darah kental meleleh

keluar dari panca inderanya.

Hebat sekali akibat dari benturan itu, Beng wi cian berempat menderita luka dalam yang cukup

parah, bawa darah dalam dada mereka bergolak keras, cepat seluruh perhatian mereka

dipusatkan untuk mengatur napas dan bersamadi.

Empat orang kakek baju hitam yang berada dibelakangnya memburu ke depan, mereka segera

menggotong tubuh Ciu Hoa lo-sam yang tergelatak tak sadarkan diri itu.

WAKTU itu keadaan Ciu Hoa lo sam sangat gawat, mukanya sepucat mayat, noda darah

membasahi lubang inderanya, dia berada dalam keadaan tak sadar.

Bagaimana dengan Cia In sekalian? Ternyata mereka tidak kekurangan sesuatu apapun.

Serangan yang dilancarkan Cia In itu memang sangat hebat, tapi setiap jago yang hadir dalam

gelanggang dapat menyaksikan bagaimana kekuatan yang dihasilkan oleh Cia In itu berasal dari

tenaga gabungan tujuh delapan orang gadis dibelakangnya, atau dengan perkataan lain tenaga

serangan itu berasal dari gabungan tenaga dalam beberapa orang itu yang disalurkan dengan

ilmu menyampaikan tenaga meminjam badan. Meskipun hebat, kejadian itu bukan suatu

peristiwa yang patut diherankan.

Setiap jago dalam dunia persilatan rata-rata mampu menggunakan cara penyaluran tenaga

semacam itu tapi kepandaian seperti apa yang dilakukan Cia In sekalian itu luar biasa, sudah

tentu mempunyai kepandaian khusus yang harus dipelajari lebih dulu.

Berbicara menurut kepandaian silat sesungguhnya, ilmu silat yang dimiliki Cian In paling banyak

hanya sanggup menandingi seorang Ciu Hoa, bila dibandingkan Beng Wi cian tentu saja masih

ketinggalan jauh. Tapi kenyataan yang terjadi kemudian benar-benar jauh diluar dugaan setiap

orang….

Toan bok See liang berpikir juga.

“Beng tua biasanya selalu gagah perkasa, terutama dengan perhitungannya dalam menghadapi

pelbagai masalah, tapi akhirnya dia terkecoh juga di tangan orang, apalagi kalau ditangan

beberapa o-rang gadis yang belum diketahui asal usulnya, sungguh merupakan suatu peristiwa

yang tragis! Aii….! Dalam bentrokan ini, dari pihak yang menang perkumpulan Hian-beng-kauw

jadi pihak yang kalah, masih mendingan kalau cuma kehilangan beberapa orang jago, yang lebih

tragis lagi nama besar serta wibawanya ikut ternoda….”

Setelah berpikir sebentar, dengan wajah sedingin es dia membi sikkan sesuatu kepada orang di

sampingnya, lalu dia maju menghampiri rombongan Cian li kau itu diikuti dua orang kakek

berbaju hijau.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

662

Sekalipun mengetahui kalau musuhnya terluka, Cia In tak berani gegabah, sepisang biji matanya

berputar kemudian diapun membisikkan sesuatu kepada rekan disampingnya.

Bayangan manusia berkelebat lewat, tiba-tiba kawanan gadis itu merubah posisi masing-masing

dengan Cia In sebagai titik pusat mereka bentuk suatu lingkaran, tangan masing-masing saling

bergandengan sementara punggung mereka menghadap keluar, diantara bayangan tubuh yang

bergerak kesana-kemari tampak warna merah kuning hijau memenuhi angkasa, suatu

pemandangan yang sangat indah

“Oooh….rupanya mereka sedang membentuk suatu barisan untuk membendung serangan

musuh!” pikir Hoa In-liong.

Sebenarnya dua bersaudara Leng hou tidak pandang sebelah matapun terhadap Cia In sekalian,

karena itu selama ini mereka cuma membungkam diri belaka.

Tapi sekarang, sesudah menyaksikan kesemuanya itu, timbul juga rasa ingin tahu dihati mereka.

“Hei, kalian budak-budak ingusan, permainan setan apalagi yang sedang kalian lakukan?” bentak

Leng hou Yu.

Cia In tertawa.

“Oleh sebab kami menyadari bahwa tenaga dalam yang kami miliki terlampau cetek, maka

sengaja diciptakan suatu permainan guna menyelamatkan keselamatan sendiri. Demi menjaga

rahasianya permainan ini, maaf kalau kami tak dapat memberi penjelasan”

Leng hou Yu mendengus congkak.

“Hmmm….! Permainan apa? Cukup dengan sebuah pukulan, pasti permainan kalian akan buyar

dan kamu-kamu semua mampus secara mengerikan!”

“Apa satahnya kalau dicoba?” tantang Cia In. Mendengar tantangan tersebut, diam-diam Hoa Inliong

berpikir didalam hati, “Tenaga pukulan yang dihasilkan dari Ciat ti coan kang (meminjam

tubuh menyalurkan tenaga) meski lihay tapi tidak sempurna, menghadapi jagoan biasa mungkin

menghasilkan, tapi untuk menghadapi Leng hou siluman tua yang berilmu tinggi, tindakan

semacam itu justru sangat berbahaya…. aai, kalau sampai diobrak-abrik oleh siluman tersebut,

bukankah sama artinya dengan kalian mencari kematian buat diri sendiri?”

Benar juga, Leng hou Yu sangat marah menerima tantangan itu, sambil tertawa seram katanya,

“Heehh…. heehh…. heehh…. aku jadi ingin tahu selain ilmu sesat pembius sukma dan ilmu Ciat ti

coan kang, masih ada kepandaian apa lagi yang kalian miliki?”

Selangkah demi selangkah dia maju ke depan menghampiri Cia In dan rombongan.

Hoa In-liong cukup yakin akan kemampuan orang-orang Cian li kau, diapun percaya kecuali

beberapa macam kepandaian itu, mereka masih memiliki ilmu simpanan lainnya.

Kendatipun demikian, anak muda itu masih tetap kuatir, dia kuatir beberapa orang gadis itu tak

sanggup menggadapi Leng hou Yu yang tangguh, terutama dalam soal tenaga dalam, maka

pikirnya, “Bagaimanapun jua aku musti lindungi anggota Cian li kau ini, sebab bila sampai terjadi

hal-hal yang tak inginkan atas diri mereka bagaimana pertanggungan jawabku dihadapan bibi

Ku?….

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

663

Berpikir sampai disitu, sinar matanya dialihkan sekejap ke arah Coa Wi-wi sambil memberi tanda,

kemudian kepala Leng hou Yu dia berkata, “Cukup pantaskah seorang muda dari Im tiong san

seperti aku ingin mohon petunjuk ilmu silat dari seorang jagoan Seng sut pay?”

Melihat lirikan anak muda itu, Coa Wiwi segera memahami artinya, dia tahu anak muda mohon

kepadanya untuk mewakili Cian li kau menghadapi musuh tangguh.

Tanpa berpikir panjang, dia menjajakkan sepasang kakinya ke tanah lalu melayang turun

dihadapan Leng hou Yu seraya membentak, “Manusia Leng hou pertarungan kita tadi belum

diselesaikan, sebelum mencari gara-gara dengan orang lain, alangkah baiknya jika pertarungan

kita diteruskan lebih dulu!”

Terhadap gadis tangguh ini rupanya Leng hou Yu sudah menaruh rasa segan, tanpa terasa dia

berhenti sambil berpikir, “Lotoa harus menghadapi bocah dari keluarga Hoa itu, jika aku musti

menghadapi dayang ini sendirian…. lebih banyak keoknya daripada berhasil….”

Sebelum dia mengambil keputusan, leng hou Ki dilain pihak telah menyahut, “Yaa meskipun

selisih dikit, tapi tak apalah….”

Sambil mengangkat tangan kanannya, dia melangkah maju ke depan.

“Silahkan!” ujar Hoa In-liong sambil tertawa, pedang bajanya direntangkan dan dia tutup rapat

seluruh tubuhnya.

Seketika itu juga keheningan mencekam seluruh gelanggang.

Pertatungan yang bakal berlangsung ini bukan suatu pertarungan biasa, disatu pihak adalah

seorang gembong iblis dari Mo kau yang sudah tersohor karena keganasannya, dilain pihak

adalah seorang jago muda keturunan tokoh persilatan yang belum lama munculkan diri.

Sebenarnya semua orang beranggapan bahwa Hoa In-liong bukan tandingan Leng hou Ki tapi

setelah berlangsungnya pertarungan tadi, dimana secara gemilang anak muda itu berhasil

mengalahkan empat orang Ciu Hoa, pandangan semua orang mulai berubah, dan atas dasar itu

pula mereka tak berani memastikan siapa yang bakal menangkan pertarungan itu.

Bila Leng hou Ki yang kalah, sudah tentu tak ada perkataan lain. Sebaliknya kalau Hoa In-liong

yang kalah, maka akibat sampingannya tentu luar biasa sekali.

“Pertama, semua orang sudah tahu kalau jago-jago Seng sut pay rata-rata buas, kejam dan

melebihi ular berbisa, apalagi mereka mempunyai dendam sedalam lautan dengan pihak keluarga

Hoa, kalau anak muda itu sampai kalah, pihak Mo kau tak segan-segannya pasti akan

membinasakan dirinya, atas pembunuhan itu Hoa Thian-hong tentu tidak terima, akibatnya

pertarungan terbuka pasti akan berlangsung.

Kedua, akibatnya dalam dunia persilatan pasti akan berlangsung badai pembunuhan yang paling

mengerikan, malah kehebatannya akan melebihi pertarungan di bukit Kiu ci san tempo dulu.

Sementara itu Leng hou Yu mendengus dingin, ia putar badan sambil mengawasi dua orang itu,

dia tahu Coa-Wi-wi tak mungkin akan menyergap orang dari belakang, sedangkan tentang Cia In

sekalian, pada hakekatnya ia tak pandang sebelah mata pun terhadap mereka.

Coa Wi-wi juga tidak memperdulikan Leng hou Yu lagi, sebab semua perhatiannya telah tertuju

ke tengah gelanggang di mana kekasihnya sedang bersiap-siap melakukan pertarungan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

664

Toan bok See Liang yang sebenarnya hendak menantang Cia In untuk bertarung, sekarang

kehilangan pula gairahnya untuk melanjutkan niat tersebut, sorot matanya dialihkan pula ke

tengah arena dimana Hoa-ln liong dan Leng hou Ki sedang saling berhadapan.

Hoa In-liong berdiri dengan sikap yang tenang dan mantap, pedangnya terlintang didepan dada,

begitu kokoh dan gagahnya ibarat sebuah bukit karang, membuat siapapun juga merasa kagum

dan segan kepadanya.

Leng hou Ki selangkah demi selangkah maju menghampiri Hoa In-liong diiringi senyum

menyedikan yang mengerikan jaraknya dengan pemuda itu tinggal dua kaki, sebenarnya sekali

hajar saja se rangannya pasti akan mencapai sasaran, tapi ia tidak berbuat demikian, malahan

setelah melampaui jarak tersebut, langkahnya kian lama kian lambat seperti rangkakan seekor

siput.

Semakin dia berbuat demikian, semakin gawat pula situasinya, sebab setiap serangan yang dia

lancarkan pasti merupakan suatu serangan maut yang menggentarkan sukma, mungkin juga

dalam serangan itu mati hidup seseorang akan ditentukan

Padahal, Leng hou Ki sendiripun tak yakin dengan serangannya itu dia tak yakin kalau

kemenangan pasti berada dipihaknya. Seandainya simpai kalah, niscaya nama baiknya akan

ternoda dalam muka umat persilatan, dan dia tak merasa punya muka lagi untuk tancapkan kaki

dalam dunia persilatan.

Sebaiknya membinasakan pemuda itu, diapun merasa belum tiba waktunya. Ia tak ingin bentrok

secara terbuka dengan pihak keluarga Hoa hingga mengakibatkan posisi perkumpulannya sulit.

Dengan pelbagai keadaan yang terbentang dideppan mata, pada hakekatnya keadaan gembong

iblis itu ibaratnya menunggang dipung gung ,merasa segan.

Tapi akhirnya dia nekad juga, sambil menggigit bibir dia menerjang maju terus kedepan.

Situasi bertambah tegang, setiap saat suatu pertarungan sengit bakal berlangsung….

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar seseorang berteriak dengan suara lantang, “Leng hou hiante,

tunggu sebentar!”

Serentak semua orang alihkan perhatiaannya kearah mana berasalnya suara itu, tampak dua

sosok bayangan manusia ibaratnya kabut tipis yang melayang diudara, secepat sambaran kilat

meluncur datang.

Leng hou Ki segera menghentikan gerakan tubuhnya, lalu berkata, “Kaucu kami telah datang,

terpaksa pertarungan ini harus ditunda untuk sementara waktu”

Terkesiap Hoa In-liong setelah mengetahui kalau Tang kwik Siu telah datang, tapi rasa cemasnya

itu tak sampai diperlihatkan di atas wajahnya.

“Terserah” ia menyahut, kalau mau ditunda, marilah kita tunda!”

Dua orang yang baru datang itu adalah kakek-kakek berjubah kuning dengan rambut serta

jenggot yang telah beruban semua, sungguh cepat gerakan tubuh mereka, tak sampai sekejap

mata mereka sudah tiba ditengah gelanggang.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

665

Serentak para jago dari Hian-beng-kauw menyingkir ke samping memberi jalan, sementara jagojago

dari Mo kau bungkukkan badan memberi hormat….

Orang yang berjalan paling depan adalah seorang kakek bermuka merah padam, berjenggot

perak dan memakai sebuah sabuk berukiran naga yang terbuat dari emas.

Naga emas itu panjangnya sembilan depa kepalanya sebesar cawan arak dan tubuhnya hidup

dan indah sekali, sisik-sisiknya memantulkan sinar gemerlapan kuku, dan cakarnya merentang,

boleh dibilang ukiran tersebut merupakan ciri khas dari ketua Mo kau.

Sedang kakek berjubah kuning lainnya mempunyai dandanan yang tak jauh berbeda dengan dua

bersaudara Leng hou maupun Hu yan kiong sebu ah ikat pinggang naga perak menghiasi

pinggangnya, dia mempunyai lengan yang panjangnya mencapai lutut, mukanya kurus kering,

sepasang matanya seakan-akan setengah terpejam, dandanannya yang seram macam setan

ditambah jubahnya yang penuh dengan lumpur, mengingatkan orang akan mayat hidup yang

baru bangkit dari liang lahatnya.

Ketika kedua orang itu masuk ke dalam gelanggang, dua bersaudara Leng hou segera maju

sambil siap melaporkan sesuatu, tapi Tang kwik Siu segera ulapkan tangannya.

“Hiante berdua harap tunggu sebentar!”

Buru-buru dua bersaudara Leng hou memberi hormat, kemudian putar badan dan berdiri

dibelakang Tang kwik Siu serta kakek macam mayat hidup itu.

Hoa In-liong yang mengikuti perkembangan tersebut dari samping dapat menebak kalau

kedudukan si kakek macam mayat itu jauh lebih tinggi dari pada dua bersaudara Leng hou,

malah kemungkinan besar tenaga dalamnya tidak berada di bawah Tang kwik Siu.

“Tang kwik kaucu baik-baikkah engkau?” sapa Toan bok See liang, “maafkanlah aku orang she

Toan bok, lantaran ada luka dibadan tak bisa memberi hormat kepadamu”

“Saudara Toan-bok tak usah sungkan-sungkan” sahut Tang kwik Siu sambil tertawa.

Beng wi cian yang sebenarnya sedang mengatur pernapasan, tiba tiba membuka matanya dan

ikut memberi hormat.

“Sudah lama kukagumi nama kaucu, beruntung sekali kita bisa saling bertemu muka. Maaf bila

aku terlambat menyambut kedatanganmu”

“Selamat berjumpa saudara Beng!” Tang kwik Siu balas memberi hormat.

Sampai disitu, pelan-pelan sinar matanya beralih ke sekeliling tempat itu dan mengawasi semua

orang satu demi satu, ketika memandang wajah Coa Wiwi dia hanya melirik sepintas lalu saja,

akhir nva sorot mata itu berhenti diatas wajah Hoa In-liong.

Seketika itu juga, sorot mata semua orang ikut beralih ke wajah Hoa In-liong, mereka ingin tahu

bagaimana cara anak muda ini menghadapi gembong iblis yang lihay itu.

Situasi dunia persilatan waktu itu dengan Hoa Thian-hong sebagai tokoh persilatan nomor satu,

otomatis anak keturunan keluarga Hoa menjadi pusat perhatian pula dalam keadaan macam

apapun. Tentu saja dengan dasar pendidikan maupun peraturan keluarga Hoa, anak

keturunannya mempunyai wibawa dan cara bertindak yang sesuai pula dengan kedudukannya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

666

Hal ini masih ditambah lagi dengan bekal ilmu silat yang tinggi, kesemuanya itu membuat setiap

jago persilatan, setiap iblis dari golongan sesat menaruh hormat dan segan pula terhadap

mereka.

Waktu itu, Hoa In-liong telah masukkan pedangnya kedalam sarung, lalu dengan sikap yang

tenang dia memberi hormat.

“Hoa yang dari San see, menghunjuk hormat untuk Tang kwik kaucu!” katanya.

Tang kwik Siu tidak membalas hormat itu, diperhatikannya pemuda itu dari atas sampai ke

bawah dengan sorot mata yang tajam, tiba-tiba ia berkata dengan suara dingin, “Jikongcu, lebih

baik kau simpan saja semua tata cara adatmu yang kosong…. kau rasa kau pasti mengetahui

dengan jelas bukan akan peristiwa yang terjadi banyak tahun berselang ketika ayahmu dengan

mengandalkan ilmu silat yang tinggi menindas Seng sut -pay kami?”

Ucapan itu kian lama diucapkan makin dingin, hawa panas membunuh secara lapat-lapat

menyelimuti pula diatas wajahnya.

Coa Wi-wi menguatirkan keselamatan Hoa In-liong ketika perkataan lawan didengar

mengandung nada tak baik, diam-diam ia menggeserkan tubuhnya sambil bersiap siaga.

Berbeda Beng Wi cian, ia gembira sekali melihat kejadian tersebut, pikirnya, “Lebih baik kalian

bertarung lebih dulu, dengan begitu kami tinggal memungut hasilnya tanpa bersusah payah!”

Karena berpendapat demikian, dia lantas memberi tanda dan memimpin kawanan jagonya

mundur ke sebelah kiri Tang kwik Siu, sementara Ciu Hoa lo-sam dan kakek berbaju hitam yang

terluka itu diserahkan kepada anak buahnya.

Thia Siok bi yang menyaksikan para jago sudah mundur sejauh enam tujuh kaki dari mulut gua,

dan lagi perhatian mereka sekarang tertuju pada Hoa In-liong, dia merasa tak ada gunanya

menjaga gua itu lebih jauh.

Sambil mengebaskan senjata Hud timnya, To koh berjubah abu-abu itu ikut mundur kesamping

Hoa In-liong.

Belasan gadis dari Cian li kau masih tetap berada ditempat semula, mereka hanya berdiri dengan

senyum dikulum dari sikap mereka yang begitu santai, seakan-akan menunjukkan bahwa

rombongan mereka hanya merupakan pihak ketiga yang bermaksud menonton keramaian

belaka.

Jumlah kawanan jago dari Hian-beng-kauw ditambah Mo kau hampir mencapai sembilan puluh

orang banyaknya, sedangkan pihak Hoa In-liong hanya berjumlah tiga orang, suatu

perbandingan kekuatan yang sangat tak seimbang….

Hoa In-liong berpikir didalam hati, “Tak nyana macam beginilah Tang kwik Siu sang kaucu dari

Mo kau, dia cuma bisa memutar balikkan. Siapapun tahu kalau dimasa lampau pihak Seng sut

pay hendak menguasahi seluruh kolong langit dan mengangkangi harta karun di bukit Kiu ci san,

lantaran itu mereka dihukum oleh ayah sekarang mereka malahan menuduh ayahku yang

menindas mereka dengan mengandalkan ilmu silat suatu fitnahan yang sangat keterlaluan….

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

667

Setelah berpikir sejenak, dia berhasil menenangkan pikirannya, lalu berkata, “Engkau tak usah

memutar balikkan kenyataan, bagaimanakah duduknya persoalan di masa lalu telah diketahui

oleh setiap orang gagah didunia ini”

“Setiap orang gagah didunia ini?” tukas Leng hou Yu sambil mendengus.

“Sin ki pang, Thian Ik cu maupun Jin Hian adalah jago-jago dari golongan hitam, sisanya juga

merupakan antek antek dari keluarga Hoa, apakah mereka adalah orang-orang gagah?”

Hoa In-liong tidak menggubris ocehan tersebut, lanjutnya, “Sayang aku dilahirkan terlalu lambat,

hingga kejadian tersebut tidak kualami sendiri, karenanya aku tak berani memberi pertimbangan

apa-apa secara gegabah”

Setelah berhenti sebentar, dia menjura lalu menambahkan dengan suara lantang, “Dalam

kejadian hari ini, apakah mau bertempur atau akan damai, harap Tang kwik kaucu memberi

penjelasan. Sekalipun aku cuma seorang bocah kemarin sore yang masih cetek ilmu silatnya

dengan memberanikan diri akan kupikul semua resiko yang bakal terjadi. Seorang laki laki

berbuat dia akan bertanggung jawab sendiri, maka aku minta mereka yang tidak tersangkut

dalam peristiwa ini sudi dibiarkan berlalu tanpa diganggu….sebagai ketua suatu perguruan,

tentunya kaucu tidak keberatan bukan….?”

Perkataan itu tidak terlalu meninggikan diripun tidak terlalu merendahkan derajat sendiri,

meskipun penuh bernada patriot bukan berarti sombong, kesemuanya ini menciptakan suatu

kewibawaan yang besar bagi anak muda itu.

“Bocah keparat, rupanya kau memang hebat!” puji Tang kwik Siu didalam hati.

Leng hou Ki segera berteriak, “Bocah kunyuk, besar amat bacotmu, tapi pantaskah engkau

berkata demikian?”

“Tang kwik Siu ulapkan tangannya mencegah orang itu berbicara lebih lanjut, tapi sebelum dia

sempat mengucapkan sesuatu sambil tertawa merdu Cia In telah mendahului, “Tang kwik kaucu

adalah seorang tokoh persilatan yang sangat tersohor, masa dia mau menurunkan derajat sendiri

untuk melayani seorang boanpwe macam kau, Hoa kongcu! Tidakkah kau rasakan bahwa

perkataanmu itu kelewatan sombong?”

Hoa In-liong mengernyitkan sepasang alis matanya lalu berpikir, “Walaupun maksudmu baik,

sayang kau lupa siapakah Tang kwik Siu itu, dengan perkataanmu itu bukankah sama artinya

dengan mencari penyakit buat diri sendiri?”

Betul juga, Tang kwik Siu melirik sekejap ke arah Cia In dengan pandangan hambar, tapi dengan

cepat dia menoleh kembali kewajah Hoa In-liong rupanya dia segan untuk berurusan dengan

kaum wanita.

Sekalipun hanya kerlingan sekejap saja, namun Cia In dapat merasakan betapa tajamnya sorot

mata itu. Kendatipun dia tak takut langit dan tak takut bumi, tercekat juga perasaannya.

“Nona cilik!” kata Tang kwik Siu aku lihat ilmu yang kau yakini adalah ilmu Cha Ii sim hoat

sepengetahuanku kitab Cha li sim keng yang disimpan dalam istana Kiu ci kiong telah didapatkan

Ku Ing ing, apakah engkau adalah anak murid dari Ku Ing ing?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

668

Kagum juga Hoa In-liong atas ketajaman matanya, dia tersenyum hambar seraya menukas,

“Kaucu, yang kau cari kan orang-orang dari keluarga Hoa, buat apa musti banyak bertanya

tentang rahasia orang lain?”

Tang kwik Siu tertawa dingin.

“Heeehh…. heeehh…. heehh…. kau memang tak malu menjadi keturuanan keluarga Hoa,

kegagahan dan kebesaran jiwamu sungguh membuat lohu merasa kagum”

Tiba-tiba dengan sikap yang jauh lebih santai, dia berkata lebih jauh, “Ji kongcu, maaf kalau

terpaksa aku hendak mengucapkan sepatah dua patah kata yang kurang sedap didengar.

Walaupun tenaga dalam yang dimiliki ayahmu sangat lihay, tapi toh tetap berasal dari tingkatan

yang lebih muda, apa yang dikatakan nona cilik itu memang benar, sekalipun lohu marah juga

tak nanti akan menurunkan derajat untuk turun tangan sendiri”

Tiba-tiba Cia In tertawa merdu.

“Aku she Cia bernama In, siapa yaag kesudian dipanggil nona cilik?”

“Tutup mulutmu budak ingusan….” bentak Leng hou Yu dengan gusarnya.

Tang kwik Siu tertawa terbahak-bahak.

“Haaahhh…. haaahh…. haaahh….sute, kau tak usah banyak berbicara lagi”

Sambil mengelus jenggotnya yang keperak-perakan, kembali ujarnya kepada Cia In, “Aku ingin

sekali mengetahui nama dari nona-nona sekalian, apakah kalian bersedia memberitahu?”

Cia In tertawa cekikikan.

“Nah, begitulah baru mirip gaya seorang kaucu dari suatu perkumpulan besar, kalau cuma main

gertak sambil jual tampang wah gayanya tukang pukul kasaran….”

Diiringi gelak tertawa cekikikan, gadis itu memotong pembicaraannya sampai ditengah jalan.

Orang-orang Seng sut pay bukan manusia berotak kerbau, sudah tentu sindiran tersebut

termakan oleh mereka, kontan saja semua orang menunjukkan wajah gusar.

Tang kwik Siu tidak menjadi marah karena sindiran itu, malah ujarnya sambil tertawa, “Katakan

saja nona!”

Dari gerak-gerik lawannya itu, Hoa In-liong mengambil suatu analisa dihati kecilnya, “Dia begitu

tenang, tidak gugup dan gerak-geriknya wajar dan dibuat-buat, rupanya sudah ada suatu

rencana yang masak dalam hatinya…. aku musti berhati-hati….”

Sementara dia masih termenung, Cia In dengan suaranya yang merdu merayu telah

memperkenalkan nama-nama dari belasan orang gadis itu, bukan saja mereka semua dari marga

Cia, namapun hampir mirip antara yang satu dengan lainnya.

Tanpa terasa dia berpikir lagi, “Tadi ia mengatakan kalau punya dua nama tentu saja seperti

halnya dengan Cia In nama yang disebutkan pasti nama samaran belaka”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

669

Tergelaknya dia karena geli, serunya, “Semua nona-nona ini berasal dari marga Cia, tentunya

nama mereka juga nama palsu semua bukan?”

Cia In ikut tertawa merdu.

“Apa yang ada didunia ini semuanya adalah palsu, apalagi tugas kami semua adalah

berhubungan dan melayani orang dengan cinta palsu, tentu saja segala sesuatunya adalah palsu”

“Enci In!” tiba tiba Coa Wi-wi bertanya, apa sih pekerjaanmu? Kenapa musti berhubungan dan

melayani orang dengan cinta yang palsu?”

Dengan mengandung maksud yang mendalam Cia In mengerling sekejap ke arah Hoa In-liong,

lalu tertawa.

“Aku tak berani mengatakannya, sebab kuatir dimarahi jiko mu itu!” jawabnya.

Sambil mencibirkan bibirnya Coa Wi-wi menengok kearah Hoa In-liong, rupanya pemuda itu

memang tak ingin hal tersebut diketahui sang nona, dengan cepat dia berkata sambil tertawa,

“Jangan percaya dengan perkataannya, enci In mu ini adalah seorang petualang, tentu saja

semua hal harus ditanggapi dengan hal hal yang palsu dan benar-benar!”

Lalu sambil memandang kearah Tang kwik Siu ujarnya lagi dengan nada hambar, “Jika Tang kwik

kaucu engkau turun tangan terhadap boanpwe, lantas bagaimanakah penyelesaiannya atas

kejadian ini?”

Sambil mengelus jenggotnya Tang kwik Siu tertawa.

“Jangankan engkau, lohu sendiripun rada kebingungan!”

Hoa In-liong melirik sekejap kakek bertampang mayat hidup yang berada di belakangnya, lalu

berkata lagi, “Ataukah engkau hendak memerintahkan orang yang berada dibelakangmu itu

untuk melayani aku?”

Sejak munculkan diri kakek bertampang mayat hidup itu hanya berdiri disamping Tang kwik Siu

tanpa mengucapkan sepatah katapun, meski apa yang dikatakan Hoa In-liong barusan terdengar

juga olehnya, toh dia tetap membungkam dalam seribu bahasa, melirikpun tidak.

Mendengar perkataan itu, mendadak Tang kwik Siu menengadah dan tertawa terbahak-bahak,

lama sekali baru berhenti, Hoa In-liong tidak menunjukkan reaksi apa-apa menanti suara

tertawanya sudah berhenti dia baru berkata, Persoalan apakah yang membuat Tang kwik kaucu

kegelian?”

Sambil mengelus jenggotnya, Tang kwik Siu tertawa tergelak, sahutnya, “Lohu saja enggan

untuk turun tangan menghadapi dirimu, apa1agi dia! Engkau tahu, dia adalah kakak

seperguruanku Seng To cu. Ilmu silatnya beratus-ratus kali lebih hebat daripada ilmu silatku,

bayangkan sendiri masa dia mau menghadapi seorang bocah keroco seperti kamu?”

“Hmm….! Terang perkataan itu sengaja dibesar-besarkan” batin Hoa In-liong,” tapi kalau toh

Tang kwik Siu berani berkata begini, berarti ilmu silat yang dimiliki Seng To cu itu memang jauh

diatas kepandaiannya…. Aku tak boleh terlalu gegabah!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

670

Ia coba menengok wajah Seng To cu, tampaknya mukanya selalu kaku tanpa emosi, tapi

pemuda itu tahu makin serius orangnya makin sukar di ramalkan sampai dimana kemampuan

yang dimilikinya.

Coa Wi-wi sendiri ikut merasa terperanjat, tapi ia tak suka dengan sikap Tang kwik Siu yang sok

ketua-ketuaan itu, maka dia lantas menyela dengan bibir yang dicibirkan, “Huuuh….tiga diantara

saudara seperguruan kaucu telah kami jumpai, rasanya mereka juga tiada sesuatu kemampuan

yang pantas dibanggakan!”

Dua bersaudara Leng hou marah sekali mendengar perkataan itu, terutama Leng hou Yu yang

berangasan, sambil menahan geramnya dia membentak keras, “Budak busuk, kau ingin

mampus….”

“Oooh….! beginikah kata-kata mutiara dari seorang Bu lim cianpw e?” tukas Coa Wi wi.

Tang kwik Siu terbahak-bahak.

“Haaahhh…. haaahh…. haaahhh….sute, watak berangasanmu memang sudah waktunya untuk

ditekan!”

Kemudian sambil tersenyum, ujarnya pula kepada diri Coa Wi-wi, “Nona adalah….”

“Nona ini mempunyai asal usul yang besar sekali” tiba-tiba Cia In menukas, “jangan

membicarakan soal yang lain, cukup dalam hal ilmu silat belum tentu kaucu sanggup untuk

mengalahkan….”

Dengan sorot mata yang tajam Tang-kwik Siu mengawasi Coa Wi-wi dari atas kepala sampai

ujung kakinya, kemudian ujarnya pula, “Sepasang mataku belum melamur, aku memang tahu

kalau tenaga dalamnya luar biasa sekali”

Cia In tertawa, serunya lagi, “Berbicara soal kecantikan muka, dia ibaratnya dewi rembulan yang

turun dari kahyangan, ibaratnya dewi-dewi yang bermukim di nirwana, jika di bandingkan

dengan perempuan seperti kami, ooh…. kami tak lebih cuma sekuntum bunga yang telah layu”

Sambil tertawa tiba-tiba ia tutup mulut, meski pun sudah berbicara setengah harian, namun

nama Coa Wi wi belum juga disebutkan, orang yang tak tahu tentu mengira perempuan tersebut

sengaja jual mahal.

Lain halnya dengan Hoa In-liong yang cerdik, tiba-tiba hatinya bergetar keras, segera pikirnya,

“Kalau tak ada urusan besar, mungkin Seng sut pay akan membawa rombongan sebesar ini

mendatangi wilayah Kang lam, jangan jangan….yaa, jangan-jangan kedatangan mereka memang

khusus ka rena persoalan keluarga Coa?”

“Aku jelek, aku tak cantik” terdengar Coa Wi wi berkata sambil tertawa, cici sekalian baru benarbenar

cantik!” Leng hou Ki yang cuma berdiam diri selama ini tiba-tiba menyelinap maju ke

depan, lalu membisikkan sesuatu ketelinga Tang kwik Siu.

Paras muka Tang kwik Siu berubah hebat, sambil menengok Coa Wi-wi lagi dia lantas berseru,

“Bila dugaan lohu tak keliru, nona Coa tentunya adalah keturunan dari malaikat ilmu silat

bukan?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

671

Coa Wi wi yang mendengar pertanyaan itu segera berpikir pula dalam hatinya, “Baru saja dua

bersaudara Leng hou membicarakan soal ayahku, bagaimanapun juga Tang kwik Siu pasti

mengetahui jejak ayahku”

Sekalipun gadis itu tidak mengetahui kelicikannya dunia persilatan, tapi ia tahu ditanyakan secara

langsung juga tak ada gunanya, untuk sesaat ia jadi bingung dan tak tahu apa yang musti dila

kukan.

Akhirnya ia tidak mempeidulikan Tang kwik Siu, dengan ilmu menyampaikan suara ujarnya

kepada Hoa In-liong, “Jiko, belum lama berselang Leng hou Ki telah mengatakan bahwa pihak

Seng sut pay telah berhasil menangkap ayahku!”

Setelah berhenti sebentar, kembali ia berkata, “Bahkan dia bilang ayahku…. ayahku telah….cuma

aku tidak percaya”

Kendatipun begitu, suaranya sudah nada sesungguhnya menahan isak tangisnya yang hampir

meledak.

Tersiap Hoa In-liong mendengar perkataan itu dia tahu Coa Goan-hou tak mungkin sudah

terbunuh, tapi yang pasti ia telah terjatuh ke tangan orang-orang Mo kau, maka hiburnya,

“Jangan kau percayai perkataan mereka, sebab kata-kata dari manusia semacam mereka paling

tak bisa dipercaya, dengan andalkan tenaga dalam yang dimiliki empek, masa Seng sut pay bisa

berbuat apa-apa terhadap dirinya, tak mungkin bukan?”

Ketika lama sekali gadis itu belum juga menjawab, Tang kwik Siu tertawa kering.

“Oooh….dayang cilik yang manja!” keluhnya.

Hoa In-liong mengernyitkan alis matanya baru saja dia hendak mengucapkan sesuatu, Cia In

sudah keburu tertawa terkekeh-kekeh.

“Kaucu!” serunya, “kenapa engkau melupakan si To koh ini? Masa semua orang sudah ditegur,

hanya dia sendiri yang tak digubris?”

Sambil berkata dia lantas menuding kearah Thia Siok bi.

Tang kwik Siu memandang sekejap kearah Thia Siok bi, lalu menjawab dengan tertawa, “Aaa….

jago lihay dari luar perbatasan, kami sudah lama kenal satu sama lainnya”

Thia Siok bi mendengus dingin, ia tidak mengucapkan sesuatu.

Hoa In-liong yang mempunyai maksud-maksud tertentu, dengan cepat berseru lagi, “Kalau toh

kaucu dansuhengmu enggan untuk menghadapi diriku, apakah persoalan pada hari ini kita

sudahi sampai disini saja?”

Tang kwik Siu segera tersenyum.

“Hari ini pihak Hian-beng-kauw dan perguruan kami telah datang dengan mengerahkan

kekuatannya yang besar, tapi kenyataannya tak lebih cuma berkepala harimau berekor ular,

sama sekali tak mendatangkan hasil apa-apa. Coba katakanlah sendiri ji kongcu, bila kejadian ini

sampai tersiar dalam dunia persilatan, bagaimana kata orang nanti?”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar