Senin, 05 Oktober 2009

bara 10

Sambil berpikir tangan kanannya segera diayun ke depan menghajar iga Hoa In, sementara

kakinya melancarkan sebuah tendangan kilat menghantam pusar Hoa Thian-hong.

Hoa In mengetahui dengan jelas akan kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki majikan

mudanya, semakin bertempur tiga empat ratus jurus lagi dengan pedang baja itupun dia masih

sanggup mempertahankan diri sekarang melihat dia membuang pedangnya, pelayan tua ini jadi

tak habis mengerti, namun dalam menghadapi pertarungan sengit diapun merasa tak leluasa

untuk buka mulut, terpaksa kecurigaan tadi hanya ditelan di dalam hati saja.

Sementara itu Hoa Thian-hong sudah mengigos ke samping setelah menyaksikan datangnya

tendangan kilat dari Yan-san It-koay telapak kirinya segera diputar dan langsung menghajar

telapak kakinya.

Jurus ‘Kun-siu-ci-tay’ dari tangan kirinya ini sudah menjadi bahan pembicaraan dalam dunia

persilatan, sejak semula Yan-san It-koay sudah memperhitungkan datangnya serangan tersebut.

Dengan cepat dia geser pinggangnya ke samping untuk melepaskan diri dari ancaman Hoa In,

tiba? dia berkelebat ke sisi kanannya dan mengirim satu totokan kilat ke arah jalan darah Ki bun

hiat.

Criiit…….! desiran angin totokan yang tajam meluncur keluar dan menggetarkan pendengaran

setiap orang yang hadir di tempat itu.

Hoa Thian-hong terkejut, di tengah keadaan yang kritis pinggangnya ditarik ke belakang sambil

melompat ke depan, dia melayang sejauh delapan depa dari tempat semula.

Hoa In meskipun melihat keadaan tidak beres, namun tak sempat baginya untuk menyusul

kemuka, sambil membentak keras telapaknya segera didorong ke depan melancarkan sebuah

pukulan.

Yan-san It-koay begitu merasakan totokan jarinya mengenai sasaran kosong dengan cepat dia

merasakan segulungan hawa tekanan tak berwujud yang sangat berat bagaikan tindihan bukit

menerjang ke sisi tubuhnya, dalam hati ia merasa terperanjat, pikirnya, “Budak tua itu rupanya

benar-benar telah berhasil meyakinkan ilmu silatnya….!”

Dengan cepat dia mengigos ke samping dan melayang lima depa dari sisi kalangan.

Tubuh ketiga orang itu kembali saling berpisah, untuk kemudian bertempur kembali menjadi

satu, saat ini pertarungan dilangsungkan dengan beradu ilmu telapak, angin pukulan yang

menderu deru tajam berseliweran silih berganti, pasir dan batu beterbangan desiran angin tajam

memekikkan telinga begitu hebat jalannya pertarungan saat ini ibaratnya bumi akan kiamat dan

permukaan tanah dilanda gempa dahsyat.

Di tengah berlangsungnya pertarungan itu meskipun beberapa kali Hoa Thian-hong menghadapi

serangan maut, namun setiap kali ia selalu menggunakan jurus ‘Kun-siu-ci-tauw’ dari tangan

kirinya untuk menolong diri, sedang tangan kanannya boleh dibilang lumpuh sama sekali sebab

tak sanggup menggunakan sebuah jurus seranganpun.

Setelah bertempur sampai empat jurus lebih, hawa murni yang terpancar keluar dari telapak Hoa

Thian-hong kian lama kian bertambah lemah, pemuda itu mulai kelihatan lemah dan kehabisan

tenaga sehingga bisa diduga kalau dia tidak mampu mempertahankan diri lebih lama lagi, Yansan

It-koay sendiri meskipun licik dan banyak akal, dalam menghadapi pertarungan yang begitu

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

396

seru tak pernah dia sangka kalau Hoa Thian-hong jauh lebih cerdas darinya dan secara diamdiam

telah menyusun suatu rencana baik.

Begitu menyaksikan tekanan angin pukulannya makin lama semakin lemah, tanpa terasa dia

mulai alihkan sasarannya ke arah pemuda itu. diam? dia bersiap sedia untuk melancarkan sebuah

serangan bokongan.

Tiba-tiba Hoa In menyusup ke arah sisi tubuhnya, sang telapak dibabat ke depan dan langsung

mengancam dua buah jalan darah penting di atas dada serta lambung Yan-san It-koay.

Kebetulan sekali pada waktu itu Hoa Thian-hong berada di sisi kiri manusia aneh dari gunung

Yan-san itu, melihat keadaan tersebut diam-diam ia merasa bergirang hati. ia mengetahui bahwa

lawannya pasti akan berputar ke samping kanan tubuhnya maka sambil membentak keras

tubuhnya segera menerjang ke depan.

Ketika Yan-san It-koay menyaksikan Hoa In melancarkan serangan dengan pukulan langit bumi

yang begitu dahsyat, ia benar-benar menyingkir ke samping kanan si anak muda itu, tangan

kirinya menggetar ke atas menyerang bawah iga Hoa In sedang tangan kanannya laksana kilat

menghantam tubuh pemuda she Hoa itu.

Hoa Thian-hong sudah menyusun rencana baiknya sejak semula sedang Yan-san It-koay merasa

kesempatan baik tak boleh dibuang dengan percuma, kedua belah pihak sama-sama merasa

bergirang hati menjumpai keadaan tersebut.

Dengan kecepatan tubuh yang sukar diikuti dengan pandangan kedua orang itu bersama-sama

menerjang maju ke depan dan terjadilah suatu bentrokan yang cakup keras.

Dalam dugaan Yan-san It-koay, pemuda lawannya ini kecuali hanya bisa menyerang dengan

sebuah jurus serangan memakai tangan kirinya belaka sama sekali tidak mempunyai ilmu silat

lain yang mampu melukai tubuhnya.

Dia tunggu sampai serangan lawan telah dilancarkan keluar, sepasang bahu segera bergerak dan

tiba-tiba menyusup ke samping badan sambil tertawa terbahak bahak telapak tangannya laksana

kilat dilancarkan ke arah muka.

Hoa In yang berada di belakang tubuh Yan-san It-koay jadi amat terkesiap menyaksikan

peristiwa itu, keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, sambil membentak

keras sepasang telapak bekerja secara berbareng, dengan menggunakan ilmu Sau-yang-ceng-kie

dengan dua belas bagian tenaga dalam dia kirim satu pukulan maut ke depan.

Bayangan manusia berkelebat lewat, tiba-tiba pria kurus kecil menyerupai beruk itu menyusup ke

depan, telapaknya membokong pinggang Yan-san It-koay sedang mulutnya menyumpah,

“Keturunan iblis….!”

Semua kejadian itu berlangsung hampir bersamaan waktunya, Yan-san It-koay sebagai gembong

iblis kenamaan dalam dunia persilatan sedan permulaan telah memperhitungkan kesemuanya itu,

dia tahu asal Hoa Thian-hong terjerumus dalam posisi yang sangat berbahaya niscaya Hoa In

akan berusaha menolong dengan sepenuh tenaga, hanya dia tidak mengira kalau pria kurus kecil

tersebut bisa ikut campur pula dalam tindakan itu.

Meskipun demikian sama sekali tidak jeri sebab posisinya berada di atas angin, asal dia sanggup

menghajar tubuh Hoa Thian-hong masih cukup banyak waktu baginya untuk berkelit ke samping

dan menghindarkan diri dari serangan gabungan Hoa In serta pria kurus kecil itu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

397

Siapa tahu Hoa Thian-hong sendiripun sudah mempunyai perhitungan yang masak, ia berani

bertindak demikian karena yakin bahwa rencananya pasti berhasil.

Meskipun mara bahaya telah berada di depan mata. pemuda itu tetap berdiri tegak bagaikan

gunung Tay-san, wajahnya tidak kaget ataupun menunjukkan sikap yang gugup.

Ketika serangan lawan sudah hampir mengenai tubuhnya, tiba-tiba dia tekuk pinggangnya ke

samping, sepasang lengan bagaikan kera bekerja cepat, jari tengah tangan kanannya meluncur

ke depan dan melancarkan sebuah totokan aneh ke arah telapak tangan manusia aneh dari

gunung Yan-san itu.

Totokan ini muncul dengan suatu gerakan yang aneh, tertegun hati Yan-san It-koay setelah

melihat totokan jari tengah lawannya yang kaku dan berbentuk aneh itu. apa lagi setelah melihat

lengannya ikut bergerak pula dengan gerakan yang menyerupai jurus ‘Tok-liong-jut-tong’ atau

naga racun keluar dari gua, bergoyang dan bergeser tiada hentinya ke kiri ke kanan dengan

sasaran yang tidak menentu hati terasa makin terperanjat.

Jurus serangan ilmu totokan itu bukan lain adalah jurus pertama dari ilmu ‘Ci yu-jit-ciat’ atau

tujuh kapusan dari Ci-ya yang disebut menyerang sampai mati bagian pertama.

Ilmu kepandaian ini merupakan ilmu silat aliran hitam yang sudah ratusan tahun lamanya lenyap

dari peredaran Bu-lim, jarang sekali jago kangouw jaman itu yang mengenali kembali akan

keanehan dari jurus perubahan tersebut serta sampai dimanakah kedahsyatan dari totokan tadi.

Bagaimana juga Yan-san It-koay adalah seorang jago kosen dari dunia persilatan, dalam keadaan

terkejut bercampur curiga gerakannya sama sekali tidak kalut. Setelah mengetahui bahwa

serangan telapaknya bila tidak ditarik maka ujung jari Hoa Thian-hong pasti akan bersarang di

atas urat nadinya buru-buru ia tarik napas dan merubah gerakannya dari serangan telapak

menjadi serangan mencengkeram.

Dengan cepat ia cekal pergelangan si anak muda itu sementara tubuhnya meneruskan

terjangannya ke depan memaksa Hoa Thian-hong untuk memberi jalan lewat kepadanya.

Perubahan yang terjadi diluar dugaan ini berlangsung secepat kilat. para jago yang menonton

jalannya pertarungan dari samping kalanganpun hanya Thian Seng-cu serta tangan sakti

pembalik langit Ho Kee-sian dua orang yang melihat dengan jelas. mereka tahu bahwa dibalik

tangan kanan Hoa Thian-hong tersembunyi suatu serangan ilmu silat yang maha sakti, hal itu

membuat mereka jadi amat terperanjat.

Sementara itu pria kurus kecil menyerupai beruk itupun sudah menyadari bahwa pemuda itu

telah mempunyai rencana yang matang setelah melihat Hoa Thian-hong secara tiba-tiba

menggunakan ilmu saktinya. dengan cepat ia melayang satu lingkaran busur di udara dan balik

kembali ke tempat semula.

Lain halnya dengan Hoa In, walaupun dia tahu bahwa Hoa Thian-hong memiliki ilmu ‘Ci yu-jit

ciat’ tujuh kupasan dari Ci-yu tetapi karena pertama kitab catatan itu tidak lengkap dan kedua

masih terlalu sedikit yang berhasil dikuasai pemuda itu maka ia tak begitu yakin terhadap

kemampuan majikan mudanya itu.

Melibat dia terjerumus dalam posisi yang berbahaya. sepasang telapaknya dengan cepat

melancarkan serangan dahsyat„

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

398

Ilmu Sau-yang-ceng-kie adalah atas gubahan dari ilmu Tay-ceng-kie kalangan beragama, besar

sekali daya tekanannya dan jauh berbeda dengan kepandaian lain.

Ketika Yan-san It-koay merubah jurus serangannya sehingga gerakan tubuh terlambat beberapa

kosen, angin pukulan Sau-yang-ceng-kie yang dilancarkan Hoa In bagaikan gulungan ombak

samudra telah menerjang tiba.

Yan-san It-koay jadi terkesiap, sepasang kakinya segera menjejak tanah dan buru-buru

mengigos ke samping.

Terdengar Hoa Thian-hong membentak keras tubuhnya bagaikan bayangan setan mengejar ke

depan, lengan kanannya disodok ke muka, sementara jari tengahnya tegang bagaikan pit, hawa

murni meluncur keluar dan secara tiba-tiba menotok jalan darah Cian-hun-hiat di tubuh Yan-san

It-koay.

Ilmu Silatnya dimiliki Hoa Thian-hong jika dibandingkan dengan kepandaian dari Yan-san It-koay

boleh dibilang ketinggalan jauh, ketika semua orang melihat pemuda itu mencari hasil dengan

menempuh bahaya jadi terkesiap, terutama sekali pria kurus kecil menyerupai beruk itu, rupanya

dia menaruh perhatian yang cukup besar terhadap diri pemuda itu.

Tanpa mengucapkan sepatah katapun dia menyusup ke depan dan siap menghadapi segala

kemungkinan yang tidak diijinkan.

Kegelisahan dari Hoa In tak usah dikatakan lagi, melihat Hoa Thian-hong menempeli terus diri

Yan-san It-koay, tanpa memperdulikan keselamatan sendiri lagi dia segera menerjang ke muka.

Yan-san It-koay jadi terkejut bercampur gusar waktu melihat Hoa Thian-hong menyusul dari

belakang dengan cepat dia ayun telapak tangannya melancarkan sebuah pukulan yang dahsyat

ke atas batok kepala lawannya.

Dalam hati Hoa Thian-hong telah mengambil keputusan untuk mencari kemenangan dengan

menempuh bahaya, melihat dia lancarkan pukulan dengan cepat telapak kirinya diayun ke depan,

menggunakan gerakan ‘Kun su ci-tau’ dia sambut datangnya ancaman tadi sementara tangan

kanannya dengan gerakan secepat kilat melancarkan sebuah totokan ke atas jalan darah Kie-hay

di tubuh manusia aneh dari gunung Yan-san.

Tiga jurus permulaan dari tujuh kupasan Ci-yu merupakan gerakan-gerakan menyerang sampai

mati bagian kesatu, kedua dan ketiga, kehebatannya bisa dibayangkan dari namanya itu.

Hoa Thian-hong berbakat baik dan bertenaga dalam sempurna, walaupun kepandaian itu belum

lama dilatih olehnya tetapi sewaktu dilancarkan kehebatannya betul-betul luar biasa.

Plooook….! telapak kanan Yan-san It-koay saling membentur dengan telapak kiri Hoa Thianhong,

begitu keras bentrokan tadi membuat si anak muda itu berseru tertahan dan tubuhnya

mencelat ke arah belakang.

Tetapi manusia aneh dari gunung Yan-san pun tak dapat menghindarkan diri dari totokan

musuhnya, ia merasa dua tiga cun di samping jalan darah Kie-nay-hiatnya tertotok telak, isi

perutnya kontan terasa bergolak dan sakitnya bukan kepalang, buru-buru dia berjumpalitan dan

mengundurkan diri dari gelanggang.

Jeritan kaget berkumandang dari antara para jago di samping kalangan, semua orang

membelalakkan matanya lebar-lebar dan menyaksikan perubahan tersebut dengan hati tercekat.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

399

Hoa In dengan cepat meloncat ke muka menyambar pinggang dari Thian Hong, sedangkan Yansan

It-koay sendiri setelah melayang ke atas pemukaan bumi segera berdiri kaku dengan mata

terpejam, badannya tak berkutik bagaikan sebuah arca batu

Untuk beberapa saat lamanya suasana di tengah kalangan jadi sunyi senyap tak kedengaran

sedikit suarapun, begitu hening sehingga napas setiap orang dapat kedengaran dengan nyata.

Terlihatlah pria kurus kecil menyerupai beruk itu meloncat ke depan dan berdiri kurang lebih

enam tujuh depa dihadapan Yan-san It-koay, sepasang matanya yang tajam bagaikan pisau

belati menatap wajah manusia aneh itu tanpa berkedip, jelas andai kata Hoa Thian-hong

menemui celaka maka diapun tak akan melepaskan orang itu.

Chin Pek-cuan dengan wajah berkerudung kain hitam sebenarnya tidak saling menyapa dengan

Hoa Thian-hong, tetapi ketika itu dia berjaga-jaga di samping tubuh Hoa In, sepasang matanya

menatap wajah Hoa Thian-hong yang sedang bersemedi dengan sorot mata penuh rasa kuatir.

Keempat orang itu bukan musuh melainkan sahabat, hal ini sudah terlihat jelas sekali dari

keadaan tersebut Yan-san It-koay adalah termasuk jago dari Hong-im-hwie sedang sisanya

termasuk jago dari Sin-kie-pang serta Thong-thian-kauw. Dengan begitu golongan Hoa Thianhong

sekalian segera terkepung oleh musuh-musuh yang tangguh di empat penjuru.

Thian Seng-cu sendiri segera timbul rasa curiganya setelah menyaksikan Chin Pek-cuan berdiri di

pihak Hoa Thian-hong berdua, pikirnya di dalam hati, “Biasanya Cukat racun Yau Sut, bekerja

dengan amat cermat dan teliti sekali, tapi kenapa ia utus manusia yang berpihak kepada keparat

cilik she Hoa untuk melaksanakan tugas rahasia yang amat besar ini?? jangan-jangan dibalik

kesemuanya ini ada hal-hal yang kurang beres??”

Sedang Tangan sakti pembalik langit Ho Kee-sian berpikir pula di dalam hati, “Hoa Thian-hong

mempunyai hubungan cinta dengan Pek Kun-gie. Kedua orang ini yang pria tampan, yang

perempuan cantik, cepat atau lambat akhirnya pasti akan bersatu. Andaikata aku sampai melukai

dirinya, dihadapan pangcu tiada kebaikan yang bakal kuperoleh ditinjau dari keadaan Yan-san Itkoay

rupanya tidak enteng luka dalam yang dia derita, seandainya hari ini aku sanggup

melenyapkan orang ini, suatu pahala besar tentu akan kuperoleh”

Apa yang dipikirkan kedua orang ini sama-sama jalan pikiran untuk menyerang orang dikala

pihak lain sedang menderita, sorot mata mereka berputar dan membentuk satu sama lainnya,

terlihatlah jelas bahwa kedua orang itu sama-sama ada niat untuk turun tangan.

Pada saat itulah tiba-tiba Hoa Thian-hong membuka mata dan meronta dari cekalan Hoa In,

sambil cabut pedang bajanya dari atas tanah dia menghampiri manusia aneh dari gunung Yansan

itu.

Hoa In yang menyaksikan kejadian itu buru-buru meloncat ke depan, serunya dengan nada

cemas, “Siau Koan-jin!”

“Aku tidak apa-apa” jawab Hoa Thian-hong dengan suara berat, dengan alis berkerut dan nada

serius, lanjutnya, “Yan-san It-koay, dalam pertarungan yang berlangsung hari ini bagaimana

pendapatmu mengenai siapa yang bakal menang siapa yang bakal kalah??”

Perlahan-lahan Yan-san It-koay membuka matanya dan menjawab dengan suara dingin,

“Bukankah sudah kukatakan bahwa dalam pertarungan ini aku tidak mempunyai keyakinan untuk

menang!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

400

Ia berhenti sebentar, kemudian sambil tertawa lanjutnya, “Nama besar Hoa Goan-siu

menggetarkan seluruh dunia persilatan tetapi aku tidak puas terhadap dirinya, sedang kau masih

muda namun memiliki kecerdasan yang tinggi serta keberanian yang luar biasa, tidak malu kau

jadi keturunan orang terkemuka, aku bukan manusia sembarangan, bila kau ada perkataan

ucapkanlah tanpa ragu-ragu”

“Bukankah kau berkata bila menang akan mendesak terus, bila kalah akan kabur?? Sekarang kau

belum juga meninggalkan tempat ini. Apakah masih ada kepandaian sakti yang belum sempat

kau keluarkan?? rupanya kau ingin melangsungkan pertarungan kembali!”

Sorot mata Yan-san It-koay berkilat tajam, dia melirik sekejap ke arah pria kurus kecil

menyerupai beruk itu lalu tertawa dingin.

“Jika kau punya minat untuk menambah pengetahuanmu, tak ada halangannya bagiku untuk

melayani kembali beberapa jurus serangan dari kamu berdua!”

“Siau Koan-jin, apa gunanya kau ribut-ribut dengan makhluk tua itu??” seru Hoa In tiba-tiba,

“Dendam sakit hati atas kematian dari majikan tua harus dibalas, mari kita langsungkan

pertarungan mati-matian melayan dirinya!”

Diam-diam Hoa Thian-hong menghela napas panjang, pikirnya, “Urusan tak akan berlangsung

begitu gampang, kalau Yan-san It-koay yang mati masih mendingan. jika aku yang berumur

pendek bagaimana dengan ibu…?? Kalau aku membiarkan kaum iblis dan manusia laknat tetap

berkeliaran di muka Bu-lim tanpa sanggup untuk menghalanginya, sia-sia belaka hidupku di alam

ini. Hmm… Hmm… kemajuan ilmu silat yang mereka miliki berkembang lambat sekali asal aku

mampu memajukan kepandaianku maka suatu ketika hutang ini pasti akan berhasil kutagih”

Berpikir sampai disitu, segera ujarnya kepada Yan-san It-koay, “Di kolong langit tidak dendam

yang tak bisa diakhiri, memandang di atas wajah mendiang ayahku yang berjuang demi

kebenaran kali ini aku akan memberi sebuah jalan hidup bagimu”

“Hmm!” Yan-san It-koay mendengus dengan mata melotot” kau anggap aku adalah manusia

apa?? Kenapa musti menantikan balas kasihan darimu??”

Hoa Thian-hong tertawa hambar. “Meskipun ilmu silatmu luar biasa namun masih terlalu sulit

bagimu untuk mengalahkan kami berdua, apalagi hari ini kau berada dalam keadaan sebatang

kara jika pertarungan dilanjutkan, sekalipun kau berhasil menangpun belum tentu bisa tinggalkan

tempat ini dalam keadaan hidup. Menurut pendapatku lebih baik mengundurkan dirilah sekarang

juga dan sejak kini tak usah mencampuri urusan dunia persilatan lagi, asal kau suka cuci tangan

serta melanjutkan sisa hidupmu secara bebas maka keturunan keluarga Hoa kami tak akan

mencari dirimu lagi untuk membuat perhitungan.”

Tiba-tiba Thian Seng-cu angkat kepala dan tertawa terbahak-bahak. “Haaa… haaah… Hoa Thianhong

kau terlalu congkak dan menyombongkan diri!”

Hoa Thian-hong alihkan sorot matanya dan menjawab dengan suara berat. “Aku orang she-Hoa

belum pernah bertemu dengan kaucu dari perkumpulan kalian, andaikata semua tootiang yang

tergabung di dalam perkumpulan Thong-thian-kauw adalah manusia-manusia bernyali tikus dan

berhati cabang seperti dirimu itu, aku orang she Hoa berani jamin diantara tiga kekuatan besar

dalam dunia persilatan, perkumpulan Thong-thian-kauw-lah yang akan musnah lebih dahulu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

401

Sambil mengelus jenggotnya Thian Seng-cu segera tertawa terbahak-bahak, “Haaah… haaah…

kehendak Thian sukar diduga siapa tahu justru kenyataan merupakan kebalikan dari apa yang

kau katakan barusan perkumpulan Thong-thian-kauw berhasil meluaskan pengaruhnya diseluruh

kolong langit dan turun-temurun sampai beratus2 tahun, bukankah semua peristiwa masih

diiringi oleh kata mungkin??”

Hoa Thian-hong mendengus dingin, dia malas untuk banyak bicara dengan toosu tua itu, sorot

matanya segera dialihkan kembali ke arah Yan-san It-koay.

Sejak termakan oleh totokan aneh dari musuhnya, walaupun tidak sampai terkena jalan

darahnya namun luka yang diderita manusia aneh dari gunung Yan-san tidak ringan, dia tahu

bahwa pertarungan pada malam ini jika dilanjutkan maka lebih banyak bahayanya daripada

keuntungan hanya saja ia merasa segan untuk mengaku kalah dengan begitu saja kendati

diantara kedua orang lawannya ilmu silat Hoa In yang lebih hebat sebab sasaran yang

sebenarnya bukan lain justru adalah Hoa Thian-hong seorang jago angkatan muda, ia merasa

jika berita ini sampai tersiar di dalam dunia persilatan maka dia pasti akan kehilangan muka dan

malu untuk menancapkan kaki kembali dalam Bu-lim.

Di samping itu semua diapun merasa malu untuk mengaku kalah dihadapan mata banyak orang

karenanya keadaan diri Yan-san It-koay ketika itu ibaratnya anak panah di atas gendewa

bagaimanapun akhirnya harus dilepaskan juga.

Demikianlah dia lantas merogoh ke dalam sakunya untuk ambil keluar sebuah senjata aneh

berbentuk tangan yang berwarna hitam pekat dan memancarkan cahaya tajam sambil

menimang2 senjata itu di tangan ujarnya sambil tertawa, “Sejak berlangsungnya pertemuan

besar Pek beng hwee, belum pernah aku pergunakan senjataku lagi”

“Ketika itu kalian andalkan jumlah banyak untuk mengerubuti satu orang, sedang kini dengan

seorang diri ingin mengalahkan jumlah yang lebih banyak, sekalipun pergunakan senjata tajam

juga masuk diakal dan merupakan suatu kejadian biasa” tukas Hoa Thian-hong cepat.

Yan-san It-koay tersenyum. “Sudah Tiga puluh tahun lamanya aku tak pernah menggunakan

senjata tajam, rasanya permainanku jadi kaku dan asing, lebih baik kau turun tangan lebih

dahulu” katanya

Pemuda itu sempat melihat keempat jari tangan kirinya dikaitkan semua di atas senjata tangan

yang hitam pekat itu, dengan tangan menggenggam serta melintang di depan dada dia bersiap

siaga. sedang tangan kanannya yang kosong melakukan pula gerakan yang sama, mungkin dia

pergunakan untuk melancarkan serangan telapak, hal ini membuat pemuda she Hoa itu jadi

tercengang bercampur keheranan, pikirnya, “Sudah sering kudengar akan bentuk senjata tajam

yang aneh, tetapi belum pernah kudengar tentang senjata tangan yang digunakan untuk

menghadapi musuh apalagi seorang jago lihay yang mempergunakannya”

Otaknya segera berputar dan dia ambil keputusan untuk tetap bersikap tenang walaupun

menjumpai hal yang aneh, setelah memberi tanda kepada Hoa In mereka berdua segera

menerjang ke muka. Dalam sekejap mata pertarungan sengit kembali berkobar.

Pertarungan kali ini jauh berbeda dari pertempuran sebelumnya, Hoa Thian Hong tahu bahwa

tenaga dalam yang dimilikinya belum cukup dan ilmu Ci-yu tak mungkin bisa dipergunakan lagi.

Pemuda itu segera pusatkan seluruh perhatiannya untuk mainkan ilmu pedang dengan sehebathebatnya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

402

Senjata tangan berwarna hitam milik Yan-san It-koay benar-benar memiliki kegunaan yang luar

biasa, di tengah ayunan senjata tadi cahaya hitam berkilauan membentuk selapis daya

pertahanan yang kuat, jika ditinjau dari jurus serangannya mirip dengan gerakan dari ilmu

gelang baja mirip pula dengan jurus gelang pelindung tangan, ada kalanya kepalan disodok ke

depan seolah-olah ditangannya tiada benda apapun, tetapi setelah pedang baja Hoa Thian-hong

menyerang ke depan, Yan-san It-koay segera ayun pula kepalannya untuk menumbuk pedang

yang berat dan kasar itu seakan-akan menyedot udara kosong.

Dalam hati ketiga orang itu mengerti semua bahwa pertempuran yang berlangsung saat ini

kemungkinan besar sulit untuk diselesaikan secara damai, karena itu semua pihak mengerahkan

segenap kemampuan yang dimilikinya untuk berusaha mencari kemenangan.

Traaang….! terdengar suara benturan nyaring berkumandang di angkasa, pedang baja Hoa

Thian-hong saling membentur dengan senjata tangan yang hitam pekat dari Yan-san It-koay

sehingga menimbulkan suara benturan nyaring yang amat memekikkan telinga.

Tidak sedikit keistimewaan dari senjata aneh itu. ketika terbentur dengan senjata tajam macam

apa pun senjata lawan pasti akan terpeleset ke arah samping, kedua belah pihak sama-sama

tidak merasakan getaran apapun kecuali senjata yang sudah terpeleset ke samping sulit untuk

melancarkan jurus serangan kembali.

Biasanya menggunakan kesempatan yang sangat baik inilah dia segera melancarkan serangan

kilat ke arah musuhnya hingga mengakibatkan pihak lawan sering kali terluka atau binasa.

Begitu merasa pegangnya tergelincir ke samping Hoa Thian-hong segera menyadari bahwa

keadaan tidak beres sebelum ingatan kedua berkelebat dalam benaknya selapis cahaya hitam

sudah meluncur ke arah pangkuannya.

Dia tahu senjata aneh lawan terbuat dari bahan emas, jika membentur telapak tangannya

niscaya akan meninggalkan bekas luka, dalam gugup dan gelisahnya sepasang kaki segera

menjejak tanah dan mengigos ke arah sisi tubuh Hoa In.

Budak tua itu tak berani gegabah, sejak mendengar suara benturan nyaring tubuhnya sudah

menerjang ke arah depan, dia paksa Yan-san It-koay harus membuyarkan ancamannya untuk

putar badan melindungi keselamatan sendiri.

Dalam waktu singkat pertarungan yang berlangsung diantara ketiga orang itu sudah berlangsung

ratusan jurus banyaknya, setiap setangan kedua belah pihak sama-sama mengerahkan segenap

kekuatannya untuk mengirim serangan mematikan.

Ketika itu fajar telah menyingsing hembusan angin di pagi hari menimbulkan hawa dingin bagi

beberapa orang itu.

Trang…..! Kembali terjadi benturan nyaring yang memekikkan telinga, diantara kilatan cahaya

hitam tampaklah percikan bunga api berhamburan di empat penjuru.

Hoa Thian-hong yang menyaksikan keanehan serta keampuhan jurus serangan senjata lawan

membuat dia tak mampu mempertahankan diri, diam-diam hatinya terasa jadi amat risau,

pikirnya, “Aku dengar pihak perkumpulan Hong-im-hwie mempunyai tulang punggung yang

sangat kuat sekali yakni Yan-san It-koay, Liong-bun Siang-sat serta seorang nenek bermata buta

kalau Yan-san It-koay seorangpun sudah demikian lihaynya apalagi kalau keempat orang itu

bersatu padu, apa yang bisa dilakukan lagi oleh umat Bu-lim??”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

403

Kalau dia murung bercampur kesal, sebaliknya Yan-san It-koay diam-diam merasa bergirang hati,

telapak kanan berputar cepat membendung setiap serangan dari Hoa In sebaliknya telapak kiri

menerjang hebat mengirim pukulan-pukulan yang berat bagaikan bukit mengancam keselamatan

Hoa Thian-hong,

Melihat dirinya terus menerus diteter lama kelamaan pemuda itu jadi naik pitam pedang bajanya

berputar dan segera menyapu ke depan, secara beruntun dia kirim beberapa buah babatan

mengancam pergelangan tangan Yan-san It-koay.

Dalam sekejap mata cahaya hitam berkilauan memenuhi angkasa, angin desiran tajam menderu

deru memekikkan telinga, suasana berubah jadi tegang dan penuh diliputi hawa membunuh.

Criiing! Untuk ketiga kalinya pedang dan senjata aneh itu saling membentur satu sama lainnya,

pedang baja yang kasar dan besar itu seketika tergetar kutung jadi berpuluh puluh buah

kutungan kecil dan tersebar di seluruh permukaan tanah.

Yan-san It-koay bersorak gembira, ia segera membentak keras dan telapaknya diayun kemuka

menghantam tubuh Hoa Thian-hong.

Pukulan itu datangnya cepat dengan gerakkan yang aneh, Hoa Thian-hong kehilangan pedang

bajanya seketika merasa hatinya terkesiap, menanti dia menyadari akan mara bahaya yang

mengancam, senjata aneh Yan-san It-koay tahu-tahu sudah meluncur datang.

Selama ini pria kurus kecil menyerupai beruk itu selalu berjaga jaga di tepi kalangan, setelah dua

kali yang pertama tidak sempat menolong pemuda itu, kali ini dia telah bersiap sedia.

Begitu menyaksikan pemuda itu terancam jiwanya, ia segera meloncat ke sisi tubuh Hoa Thianhong,

jari tangan kanannya bagaikan golok membacok pergelangan tangan Yan-san It-koay

sementara sikut kirinya disodok ke belakang mementalkan tubuh Hoa Thian-hong hingga mundur

lima depa dari tempat semula.

Rupanya pria kurus kecil menyerupai beruk itu juga seorang jago lihay yang sangat kosen,

setelah dia turun tangan tentu saja Yan-san It-koay tak mampu melukai musuhnya lagi.

Hoa In sendiri setelah melihat majikan mudanya terancam bahaya, hawa amarah seketika

berkobar memenuhi benaknya, serangan yang dilancarkan seketika meluncur ke muka dengan

hebatnya.

Kebetulan sekali waktu itu Yan-san It-koay sudah terhadang oleh pria kurus kecil itu, dengan

datangnya serangan ini maka berarti pula iblis tua itu sekaligus harus menghadapi dua serangan

dahsyat.

Keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuh manusia aneh dari gunung Yan-san,

melihat datangnya ancaman itu ia merasa tak ada jalan lagi baginya untuk mengundurkan diri,

Dalam suasana yang amat kritis itulah tiba-tiba pria kurus kecil itu enjotkan badannya dan

melayang ke samping dengan gerakan yang sangat enteng

Gerakan tubuh manusia ini cepat bagaikan sukma gentayangan, maju maupun mundur dilakukan

dengan enteng bagaikan asap yang melayang di angkasa, Yan-san It-koay sangat kegirangan,

cepat-cepat dia menyusup keluar dan loncat sejauh dua tombak dari tempat semula, di saat yang

terakhir dia berhasil meloloskan diri dari mara bahaya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

404

Suasana untuk beberapa saat lamanya jadi tenang, berpuluh puluh buah mata sama-sama

dialihkan ke atas wajah Hoa Thian-hong serta Yan-san It-koay, mereka ingin tahu bagaimanakah

kesudahan dari pertarungan itu.

Terdengar Yan-san It-koay dengan suara dingin berkata, “Hoa Thian-hong, apa yang hendak kau

lakukan??”

“Kita masing-masing telah menangkan satu jurus, bila pertarungan dilanjutkan kembali maka

menang kalah sulit untuk ditentukan, aku lihat terpaksa permusuhan diantara kita harus ditunda

untuk sementara waktu”

Mendengar perkataan itu Yan-san It-koay segera tertawa seram. “Heeh… heeeh… heee, bila aku

hendak mendesak terus mumpung posisi ku berada di atas angin, apa yang hendak kau

lakukan?”

Thian Seng-cu takut pertarungan disudahi sampai disitu saja, mendengar perkataan itu ia segera

menyambung sambil tertawa, “Bagus sekali! lebih baik ditetapkan tiga babak lagi untuk

menentukan siapa menang siapa kalah, ini hari aku ingin membuka sepasang mataku lebarlebar”

Dengan pandangan dingin Hoa Thian-hong melirik sekejap ke arahnya. kemudian ulapkan

tangannya ke arah Yan-san It-koay, dia berkata, “Pertarungan yang berlangsung pada hari ini

lebih baik kita sudahi sampai disini saja, kalau pertarungan ingin dilanjutkan terpaksa aku orang

she Hoa harus minta batuan dari sesama umat Bu-lim untuk melenyapkan bibit bencana bagi

dunia persilatan”

“Bocah cilik yang tak tahu diri!” maki Yan-san It-koay penuh kegusaran.

Terdengar pria kurus kecil menyerupa, beruk itu mendengus dingin, tukasnya, “Makhluk tua, kau

betul-betul tak tahu diri!”

“Hmm! Menyembunyikan kepala memamerkan ekor, kau termasuk manusia macam apa??”

bentak Yan-san It-koay pula dengan nada penuh kemarahan.

“Bila kau mengetahui raut wajahku mungkin selembar jiwamu tak dapat dipertahankan lagi….”

Sementara itu Hoa Thian-hong lihat Hoa In telah selesai memunguti kutungan pedangnya dari

atas tanah, dia tahu bertempur lebih jauh di tempat itu sama sekali tak ada manfaatnya, segera

kepada Chin Pek-cuan serta pria kurus kecil itu dia memberi hormat katanya, “Locianpwee

berdua, fajar telah menyingsing, aku rasa kita musti berlalu dari tempat ini”

Chin Pek-cuan serta pria kurus kecil itu saling bertukar pandangan sekejap. mereka berdua tetap

membungkam dalam seribu bahasa.

Melihat itu pemuda tersebut segera memberi hormat kepada semua orang yang hadir disisi

kalangan kemudian putar badan dan berlalu.

Chin Pek-cuan serta pria kurus kecil itupun dengan mulut membungkam segera ikut berlalu

mengikuti di belakang si anak muda itu.

Menyaksikan kepergian keempat orang itu Yan-san It-koay mengetahui bahwa kekuatannya tak

mampu menandingi kepergian beberapa orang itu, diapun tak jadi bertempur melawan Thian

Seng-cu serta Ho Kee-sian sekalian, tanpa banyak bicara diapun putar badan dan berlalu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

405

Thian Seng-cu serta Ho Kee-sian sendiri walaupun merasa amat kecewa. tetapi merekapun tak

berani unjukkan diri untuk menghadang kepergian beberapa orang itu maka orang-orang itupun

hanya tetap tiaggal dengan mulut tertutup.

Sepeninggalnya dari tempat kejadian Hoa Thian-hong segera melakukan perjalanan beberapa

waktu lamanya, suatu ketika pemuda itu berpaling dan ujarnya kepada Chin Pek-cuan sambil

tertawa, “Empek Chin, sebetulnya permainan apa yang sedang orang tua lakukan, mengapa kau

malah jadi utusan dari si Cukat racun Yau Sut…..”

Agak tertegun Chin Pek-cuan mendengar perkataan itu, segera serunya, “Engkoh cilik, dari mana

kau bisa mengetahui akan persoalan ini?? Siapa yang memberitahukan hal ini kepadamu??”

Hoa Thian-hong tertawa. “Kemarin malam kami telah menyusup masuk ke dalam kuil It-goankoan,

sewaktu Thian Seng-cu serahkan surat tersebut kepada empek. secara diam-diam

keponakan sempat mengetahuinya”

“Aaaai….! engkoh cilik, kau memang betul-betul hebat” seru Chin Pek-cuan dengan nada

kegirangan, “kalau kau memang keturunan dari Hoa Tayhiap. sepantasnya kalau hal ini kau

jelaskan sejak tahun berselang aku mengira kau benar-benar bernama Hong-po Seng, sudah

kucari jejakmu di seluruh dunia persilatan tetapi tak berhasil kutemukan, akhirnya setelah aku

berhasil mengetahui jelas asal usulmu, kudengar pula kabar berita tentang kematianmu….”

Dari nada suaranya yang gemetar Hoa Thian-hong tahu bahwa jago tua ini adalah seorang

manusia yang penuh emosi, terharu sekali hatinya setelah mendengar perkataan itu, buru-buru

dia alihkan pembicaraan ke soal lain katanya, “Enci Wan-hong, saat ini sedang belajar ilmu di

wilayah Biau. Giok Liong toako sebetulnya berada bersama-sama siautit, tapi sekarang dia

mengikuti Ciong Lian-khek menantikan diriku di dalam kota”

Chin Pek-cuan jadi terkejut bercampur girang.

“Aaah …” serunya tertahan.

Hoa Thian-hong tersenyum ujarnya kembali, “Tentang semua persoalan itu kita bicarakan nanti

saja, sekarang seharusnya sempat perkenalkan dahulu cianpwee ini kepadaku, apa yang musti

kusebut terhadap dia orang tua??”

“Panggil saja sesuka hatimu” sahut pria kurus kecil tua dengan cepat, “Baik-baik berbuat dan

berjuang, balaskanlah sakit hati kami sekalian mayat2 hidup yang bisa berjalan!”

“Cianpwee ini pasti pernah putus asa dan kecewa hatinya” batin Hoa Thian-hong dalam hati.

Setelah bergaul agak lama dengan Ciong Lian-khek, dia tahu bagaimanakah tabiat manusia yang

putus asa. maka ia tidak bertanya lebih jauh dan cuma mengangguk tanda mengerti, kepada

Chin Pek-cuan katanya, “Empek, bagaimana sih kau bisa berhubungan dengan Yau Sut manusia

licik itu??”

Chin Pek-cuan segera tertawa setelah mendengar perkataan itu, serunya dengan suara lantang,

“Aku adalah manusia macam apa? Mana aku sudi berhubungan dengan manusia-manusia rendah

yang bejat, tak bermoral serta memalukan itu?? persoalan ini panjang sekali ceritanya dan tak

akan habis dalam sepatah dua patah kata saja”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

406

Ia berhenti sebentar, sambil melepaskan kain kerudung hitamnya la melanjutkan sambil tertawa,

“Aku sudah mencari dirimu di empat penjuru dunia, bagaimana kau bisa bertemu dengan Giok

Liong?? dan dari mana pula bisa tahu kalau Hong-ji sedang belajar ilmu di wilayah Biau?”

Kedua orang ini yang satu memikirkan keselamatan putra putrinya sedang yang lain memikirkan

masalah besar dunia persilatan, pertanyaan yang saling dilontarkan ini membuat kedua orang itu

untuk beberapa saat lamanya tak mampu membicarakan sesuatu.

Tiba-tiba dari balik semak belukar di sisi jalan berkelebat lewat sesosok bayangan putih, seekor

rase salju yang berbadan putih mulus dengan sepasang mata memancarkan cahaya merah

melompat keluar.

Mencapai rase salju itu Hoa Thian-hong jadi kegirangan, ia bongkokkan tubuhnya sambil

berteriak, “Soat-jie!”

Rase salju itu menyusup kehadapan Hoa Thian-hong, mengelilinginya satu lingkaran kemudian

secara tiba-tiba la menuju ke alam terbuka.

Hoa Thian-hong jadi amat gelisah menyaksikan hal itu, baru saja dia hendak berteriak tiba-tiba

rase salju itu berhenti dan menoleh ke belakang, seolah olah dia sedang menantikan kedatangan

pemuda itu.

“Hiantit!”dengan sepasang alis berkerut Chin Pek-cuan segera berteriak. “Aku dengan Giok Teng

Hujien dari perkumpulan Thong-thian-kauw memelihara seekor makhluk aneh, jangan2 makhluk

ini adalah binatang peliharaannya??”

Hoa Thian-hong mengangguk. “Sedikitpun tidak salah, memang rase salju ini!” dia tertawa dan

menambahkan, “Kedatangan siautit ke kota Leng An maksudnya bukan lain adalah untuk

mengunjungi Giok Teng Hujien, dimanakah kau orang tua beristirahat?? Siautit sebentar lagi

akan menyusul kesana”.

“Giok Teng Hujien adalah seorang perempuan beracun yang tak boleh diajak bergaul, mau apa

kau berkunjung kesitu?” kembali Chin Pek-cuan menegur dengan alis berkerut.

“Siautit hendak menyelidiki duduknya perkara tentang kematian Jin Bong, di dalam persoalan ini

Hoa In sudah mengetahui jelas sekali, biarlah dia yang memberitahukan hal ini kepada kau orang

tua”

“Aku akan pergi ikut Siau Koan-jin” tukas Hoa In dengan cepat, “biarlah persoalan itu

kubicarakan kembali dengan Chin tayhiap sekembalinya nanti”

“Tempat ini merupakan daerah kekuasaan dari perkumpulan Thong-thian-kauw, memang ada

baiknya kalau Lo-koan-kee menemani disisi hiantit untuk menghadapi segala kemungkinan yang

tidak diinginkan”

“Setelah siautit menyelesaikan urusanku kemana harus pergi untuk menjumpai empek??”

Chin Pek-cuan serta pria kurus kecil menyerupai beruk itu saling bertukar pandangan sekejap,

setelah termenung beberapa saat kakek she-Chin itu menjawab, “Sebenarnya kami tiada suatu

tempat tertentu yang digunakan untuk beristirahat, begini saja! disebelah barat daya situ

terdapat sebuah dusun kecil setelah urusanmu selesai berangkatlah kesitu untuk bertemu

dengan kami!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

407

Hoa Thian-hong mengangguk tiada hentinya, dengan membawa serta Hoa In mereka segera

berangkat membuntuti di belakang rase salju itu.

Setelah berlarian beberapa saat lamanya dan melihat rase salju itu masih juga berlarian tiada

hentinya entah menuju kemana buru-buru Hoa Thian-hong menyusul ke depan sambil berteriak

“Soat-jie, dimanakah majikanmu??” Hoa In tersenyum. “Masa makhluk itupun mengerti akan

ucapan manusia??” serunya.

Rase salju itu berpaling memandang sekejap ke arah Hoa In, setelah berteriak dua kali dia

lanjutkan kembali perjalanannya lari menuju ke arah depan.

Sesudah berlarian beberapa saat lamanya, tiba-tiba rase salju itu berhenti dibawah sebuah pohon

kuai yang tua, buru-buru Hoa Thian-hong menyusul ke depan, tegurnya, “Soat-jie, Giok Teng

hujien berdiam dimana??”

Dari balik pohon berkumandang datang suara tertawa cekikikan, mengikuti lengking suara

tertawa itu muncullah seorang dara baju hijau yang memakai gaun panjang.

Begitu berjumpa dengan dara itu, Hoa Thian-hong segera mengenali sebagai dayang

kepercayaan dari Giok Teng Hujien yang bernama Pui Che-giok, dalam hati ia merasa kegirangan

pikirnya, “Pisau belati yang dipergunakan untuk membunuh Jin Bong berada di dalam sakunya

benda itu merupakan kunci utama untuk memecahkan teka teki sekitar peristiwa pembunuhan

ini, baiklah aku pura2 bertanya kepadanya agar dia masuk jebakan”

Sementara itu Pui Che-giok sambil tertawa telah memberi hormat, ujarnya dengan suara halus,

“Hoa kongcu, kedatanganmu ke kota Leng An kali ini apakah hendak berjumpa dengan hujien

kami?”

00000O00000

SINAR mata Hoa Thian-hong dengan tajam menyapu sekejap sekeliling tempat itu, ketika

dilihatnya sekitar sana tiada orang lain, air mukanya segera diubah jadi masam sekali, sabutnya

dengan suara ketus, “Hujien mu akan kutemui, kaupun akan kutemui juga!”

Tertegun hati Pui Che-giok mendengar jawaban tersebut. menyaksikan air mukanya rada kurang

beres dengan perasaan sangsi kembali dia bertanya, “Ada urusan apa kongcu-ya hendak mencari

diri hamba??”

Hoa Thian-hong tertawa dingin. “Hmmm! Sewaktu masih berada di kota Cho ciu tempo dulu, kau

telah meracuni arakku dan ingin mencelakai selembar jiwaku…”

“Bukan…. itu bukan racun!” sahut Pui Che-giok dengan hati amat gelisah.

“Kalau bukan racun, lalu apa yang telah kau campurkan ke dalam arakku? Bentak si anak muda

itu.

Merah padam selembar wajah dayang she Pui itu setelah sangsi beberapa saat lamanya dia

menjawab, “Obat… obat itu adalah obat perangsang aku… aku hanya bermaksud gurau saja”

“Konyol!” hardik Hoa Thian-hong dengan gusarnya, “ini hari kita bisa saling berjumpa kembali.

ayoh! Serahkan selembar jiwamu” Sebagai penutup kata telapak tangannya segera diayun ke

depan segera melancarkan satu pukulan gencar.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

408

Pucat pias selembar wajah Pui Che-giok menyaksikan datangnya ancaman itu, tubuhnya buruburu

bergerak dan mengigos ke samping teriaknya, “Sau-ya tunggu sebentar. budak ada

perkataan yang hendak disampaikan terlebih dahulu”

“Apa yang hendak kau katakan lagi??”

Pui Che-giok ketakutan setengah mati, biji matanya yang jeli berputar dan memandang sekejap

ke arah Hoa In, lalu serunya, “Lo Koan-kee, aku mohon sudilah kiranya kau memohon ampun

bagiku, tolonglah jiwaku”.

Hoa In baru untuk pertama kali ini berjumpa dengan Pui Che-giok, terhadap dirinya boleh

dibilang ia sama sekali tiada pikiran apapun, dan dia sendiripun tak tahu apa sebabnya Hoa

Thian-hong hendak menyusahkan dirinya., setelah tertegun beberapa saat lamanya dia berkata.

“Urusan dari Siau Koan-jin siapa yang mampu menghalanginya?? Aku sama sekali tak berdaya

untuk mohonkan ampun bagimu lebih baik carilah jalan lain”

Dalam keadaan apa boleh buat terpaksa Pui Che-giok berpaling kembali ke arah pemuda she Hoa

itu sambil katanya, “Siau Koan-jin, ini hari bukannya waktunya bagimu untuk turun tangan,

ketika budak menjumpai kehadiran Siau Koan-jin di sekitar tempat ini, sengaja kulepaskan Soatjie

untuk memimpin jalan bagi dirimu”.

Hoa Thian-hong tidak gubris perkataan orang, telapak kakinya diangkat dan siap melancarkan

sebuah pukulan lagi, serunya, “Lebih baik kau tak usah banyak bicara, sebetulnya kau ingin mati

atau ingin hidup?”

“Kalau budak ingin hidup?”

“Kalau ingin hidup boleh juga. tetapi setiap pertanyaan yang kuajukan harus kau jawab dengan

sejujurnya!”

Pui Che-giok mengangguk tiada hentinya. “Budak pasti akan menjawab dengan sejujurnya!” dia

menyahut.

Tiba-tiba sambil menutupi mulutnya sendiri dengan ujung pakaian. dia tertawa cekikikan.

“Apa yang kau tertawakan??” bentak Hoa Thian-hong dengan suara gusar.

Buru-buru Pui Che-giok mendekam mulutnya sendiri, sesaat kemudian dengan suara genit dia

menjawab, “Budak sedari tadi sudah tahu kalau Siau Koan-jin adalah seorang enghiong yang

berbudi luhur dan penuh kebijaksanaan, tidak mungkin kau benar-benar mencelakai jiwa budak”

“Tentang soai itu sulit untuk dikatakan” setelah berhenti sebentar tanyanya lagi, “Nyonya mu

sebenarnya she apa??”

Pui Che-giok tertegun mendapat pertanyaan itu, dia gelagapan untuk beberapa saat lamanya.

“Budak tidak berani menjawab!” akhirnya dia berseru, “lebih baik Siau Koan-jin tanyakan sendiri

pertanyaan ini kepada hujien, budak rasa hujien pasti akan mengatakannya secara terus terang”’

Hoa Thian-hong tertawa dingin. “Heee… heee… heee… siapa yang mengajari ilmu silat

kepadamu? Sudah berapa lama mengikuti hujienmu itu??”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

409

“Sedari masih kecil budak sudah mengikuti hujien, seluruh ilmu silat yang kumiliki adalah

pelajaran dari hujien sendiri, sayang sekali bakatku terlalu jelek. walaupun mendapat didikan dari

guru pandai namun kemajuan ilmu silat yang berhasil kucapai terbatas sekali”

“Senjata tajam apa yang biasa kau pakai?”

Rupanya Pui Che-giok tak pernah menyangka kalau pemuda itu bakal mengajukan pertanyaan

seperti ini, setelah tertegun beberapa saat ia tertawa genit. “Selama hidup budak belum pernah

menggunakan senjata tajam, sebab sejak dulu sampai sekarang budak belum pernah melakukan

pertarungan sengit dengan mempertaruhkan jiwaku!”

“Budak ini benar-benar licik sekali” batin Hoa Thian-hong di dalam hati kecilnya, “Rupanya dia

sudah menduga kalau aku tak bakal mencelakai jiwanya kalau dia tak mau mengaku terus

terang, meskipun pisau belati itu adalah benda yang dipergunakan untuk melakukan

pembunuhan, tanpa bukti yang kuat tak mungkin dia bisa mengakuinya dengan begitu saja”

Setelah termenung beberapa saat lamanya, pemuda itu segera merasa bahwa lebih baik untuk

sementara waktu tetap menyabarkan diri daripada memukul rumput mengejutkan ular.

Dengan wajah serius segera serunya, “Ayo cepat membawa jalan, aku ada urusan hendak

bertemu dengan hujienmu itu.”

Pui Che-giok tertawa. dia lantas berteriak, “Soat-jie, ayoh cepat lari!”

Sambil berseru diapun ikut putar badan dan berlalu dari sana.

Hoa Thian-hong serta Hoa In segera menyusul dari belakang. tiga orang manusia seekor

binatang dengan cepatnya bergerak menuju ke arah timur.

Hoa In belum pernah berjumpa dengan Giok Teng Hujien, ketika itu hatinya terasa bergerak

segera bisiknya dengan suara lirih, “Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki budak ini telah

mencapai kesempurnaan, aku rasa ilmu silat yang dimiliki tentu tidak jelek juga, Budaknya saja

sudah begini hebat bisa dibayangkan kepandaian silat yang dimiliki majikannya tentu luar biasa

sekali, Siau Koan-jin adalah tubuh emas yang tak bernilai harganya, kenapa kau musti masuk ke

dalam sarang harimau”

Hoa Thian-hong menghela napas panjang setelah mendengar perkataan itu sahutnya, “Untuk

mendirikan sebuah gedung besar, tak cukup kalau disanggah dengan sebatang golok saja,

dewasa ini adalah masa yang bagus bagi manusia-manusia lurus dan budiman untuk melakukan

perjuangan, setiap orang harus berusaha dengan segala pikiran serta kemampuan yang

dimilikinya, siapapun bukan tubuh emas dan semua orang berhak untuk mempertaruhkan jiwa

raganya demi tercapainya cita cita yang diharapkan”

“Hati manusia sukar diduga, andaikata Giok Teng Hujien ada maksud hendak mencelakai Siau

Koan-jin, bukankah kedatangan kita kali ini hanya akan menghantarkan kematian sendiri dengan

sia-sia belaka?? Kau tidak merasa terlalu penasaran?”

“Giok Teng Hujien tak mungkin bakal mencelakai jiwaku!”

“Kenapa??” tanya Hoa In dengan pikiran tak habis mengerti.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

410

Tertegun hati si anak muda itu, setelah termenung beberapa saat lamanya ia menjawab, “Aku

sendiripun tak bisa mengatakan apa sebabnya hanya aku merasa yakin bahwa Giok Teng Hujien

tak mungkin akan mencelakai jiwaku”

Hoa In adalah seorang pelayan tua yang amat setia terhadap majikannya, dia pandang

keselamatan pemuda itu jauh lebih penting daripada keselamatan diri sendiri, Sedangkan Giok

Teng Hujien adalah seorang perempuan yang sudah tersohor namanya dalam dunia persilatan

dia merupakan pula seorang perempuan misterius yang tidak diketahui asal usulnya oleh

siapapun, Setelah Hoa Thian-hong tak sanggup menemukan asalnya, tentu saja pelayan tua itu

merasa semakin kuatir.

Tetapi waktu Hoa Thian-hong yang gagah, bersemangat tidak jeri menghadapi ancaman bahaya

membuat dia tak sanggup untuk memberi nasehat lagi, terpaksa dengan hati penuh curiga dia

tetap membungkam da1am seribu bahasa.

Kurang lebih setelah melakukan perjalanan satu jam lamanya, sampailah mereka ditepi samudra

bebas. ombak besar yang menggulung di tengah lautan memecah ditepian

Hoa Thian-hong alihkan sorot matanya menyapu sekejap ke sekeliling tempat itu, dia lihat di atas

sebuah bukit kecil berdirilah sebuah gedung megah yang terbuat dari batu putih. tembok

pekarangan terbuat dari batu putih pula dengan pintu besar berwarna merah, dibalik tembok

taman bunga terbentang luas dengan bunga yang beraneka ragam membuat pemandangan di

sekitar situ nampak indah dan serasi.

Tiba-tiba Pui Che-giok bersuit nyaring, Soat-jie rase salju itu segera berteriak kegirangan

bagaikan segulung asap dia melayang ke arah depan dan dalam sekejap mata lenyap di balik

gedung megah tersebut.

“Sungguh cepat larinya makhluk itu!” puji Hoa In dengan sepasang alis berkerut.

Hoa Thian-hong tertawa, “Kau belum pernah menjumpai kepandaiannya dalam bertempur

melawan jago lihay asal ilmu silatnya rada cetek niscaya orang orang itu tak mampu bisa

menandingi dirinya”

JILID 21

AKU dengar makhluk aneh ini berasal dari wilayah See Ih, entah bagaimana caranya dia

menyesuaikan diri dengan iklim di wilayah Kanglam yang hangat ini?”

“Di wilayah See Ih toh terdapat pula musim semi dan musim panas, disitu kan bukan sepanjang

tahun tertutup salju melulu….”

Sementara pembicaraan masih berlangsung Pui Che-giok telah membawa kedua orang itu

mendaki ke atas bukit dan tiba di depan gedung megah terbuat dari batu putih itu.

Tampaklah dua orang dayang kecil membuka pintu segera muncullah Giok Teng Hujien yang

nampak agung dan cantik di balik dandanannya yang mewah.

Pui Che-giok lari masuk lebih dahulu, serunya dengan suara riang, “Hujien, Siau-ong-ya telah

tiba!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

411

Giok Teng Hujien berdiri disisi pintu, biji matanya yang jeli berputar dan menatap wajah Hoa

Thian-hong dengan penuh senyuman.

Hoa Thian-hong segera melangkah masuk ke dalam ruangan, serunya kembali memberi hormat,

“Kedatangan siaute gegabah dan kasar sekali, bila mengganggu ketenangan cici harap suka

dimaafkan!”

Giok Teng Hujien tertawa, dia pandang sekejap wajah orang dari atas sampai ke bawah,

kemudian tegurnya, “Kau telah bertempur dengan siapa?”

Sebelum Hoa Thian-hong sempat menjawab, Pui Che-giok telah berseru lebih dahulu, “Dengan

Yan-san It-koay dari perkumpulan Hong-im-hwie, dia telah bertempur semalamam suntuk,

hampir saja selembar jiwanya ikut melayang.

Giok Teng Hujien tertunduk sedih, bagaikan sedang menegur pemuda itu dia berkata.

“Apa gunanya sih bertarung melawan orang dengan taruhan nyawa….”

“Makhluk tua itu adalah pembunuh yang telah mencabut jiwa ayahku!, aku harus membinasakan

dirinya untuk membalaskan dendam ayahku”

Ia menuding ke arah Hoa In dan memperkenalkan.

“Dia adalah pembantu yang mendampingi mendiang ayahku, dan bernama Hoa In.

“Oooh…! Kiranya Lo Koan-kee, maaf… maaf…” sambung Giok Teng Hujien dengan cepat.

Dari sikap mesranya terhadap sang majikan muda, diam-diam Hoa In menggerutu di dalam hati.

Tetapi menghadapi sapaan yang begitu hangat, dia merasa tidak sepantasnya kalau dia tunjukan

sikap kurang sedap apalagi dari nada suaranya sama sekali tidak memandang dirinya sebagai

orang bawahan.

Sambil memberi hormat sahutnya, “Tidak berani….. maaf bila aku telah mengganggu ketenangan

Hujien”

Giok Teng Hujien tersenyum, dia gandeng tangan Hoa Thian-hong dan segera diajak masuk ke

dalam, ujarnya, “Bukankah pasukan besar dari pihak Hong-im-hwie serta Sin-kie-pang belum

tinggalkan kota Ceng kang? Apakah kau menyusul kemari secara diam-diam…..?” Hoa Thianhong

mengangguk.

“Aku sengaja datang kemari untuk menjumpai diri cici!” sahutnya.

“Apakah ada urusan penting?”

Hoa Thian-hong tidak langsung menjawab, dia merasa tidak leluasa untuk bicara terus terang

karena dalam ruangan itu di samping terdapat Pui Che-giok serta dua orang dayang kecil tadi,

dari dalam ruangan muncul pula dua orang gadis muda berusia tujuh enam belas tahunan.

“Tiga kekuatan besar dalam dunia persilatan sedang terjadi pertikaian dan tanpa sadar sian te

ikut terseret di dalam kancah kekalutan ini,” katanya cepat, “karena itu aku merasa kesal sekali,

sengaja aku datang kemari untuk mengunjungi cici sampai menghilangkan semua kemurungan

yang memenuhi dalam benak “

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

412

Giok Teug Hujien tertawa, sinar matanya berkilat dan mengerling sekejap ke arah pemuda itu

dengan pandangan mesrah.

“Dimanakah Pek Kun-gie? Bagaimana tanggung jawabmu terhadap Pek Siau-thian?” ia

menggoda.

Merah jengah selembar wajah Hoa Thian-hong.

“Apa yang musti aku pertanggungjawabkan?” sahutnya sambil tertawa.

“Apa yang menjadi kesulitan siaute rasanya cici tentu memahami juga bukan?”

“Cisss…….! Kau ini makin berbicara semakin tidak genah, kenapa ngomongnya tidak karuan?”

Sementara itu semua orang sudah memasuki sebuah ruangan besar yang sama sekali tertutup,

setelah menghidangkan air teh Giok Teng Hujien segera memerintahkan dayangnya untuk

menyiapkan hidangan.

Beberapa saat kemudian meja perjamuan telah diatur, Hoa Thian-hong duduk di kursi utama

didampingi oleh Giok Teng Hujien di sisinya, sedang Hoa In duduk di kursi sebelah bawah.

Sepanjang perjamuan berlangsung, Giok Teng Hujien turun tangan sendiri melayani kedua orang

itu bersantap dan minum arak, sikap yang begitu hangat membuat suasana berjalan dengan

meriah.

Setelah meneguk secawan arak, Hoa Thian-hong berkata sambil tertawa, “Gedung ini sungguh

megah dan indah sekali, kecuali cici dan beberapa orang nona, apakah masih ada orang lainnya

lagi?”

“Masih ada beberapa orang nenek tua!” Ia berhenti sebentar, sambil tertawa tambahnya, “Tua

muda yang tinggal dalam gedung ini semuanya terdiri dari kaum wanita, tak seorangpun pria

yang tinggal disini”

“Tempat ini jauh letaknya dari markas besar, apakah kau tidak merasa kerepotan kalau musti

pergi datang melakukan perjalanan sejauh ini?…..”

Giok Teng Hujien tertawa.

“Meskipun aku tergabung di dalam perkumpulan Thong-thian-kauw, namun gerak-gerikku sama

sekali tidak terikat oleh siapapun juga, mau dinas atau tidak siapapun tidak pernah mencampuri

urusanku, kecuali menghadapi urusan yang maha penting aku baru pergi ke markas besar”

“Apakah kaucu dari perkumpulan Thong-thian-kauw juga berdiam di dalam kuil It-goan-koan?”

“Apakah kedatanganmu ke selatan kali ini tujuannya adalah mencari Thong-thian-kauwcu?” tegur

Giok Teng Hujien dengan alis berkerut.

Sambil tertawa Hoa Thian-hong menggeleng.

“Aku sama sekali tidak kenal dengan dirinya, buat apa musti pergi mencari dirinya?”

Rupanya Giok Teng Hujien tidak ingin menyaksikan pemuda itu bentrok langsung dengan ketua

dari perkumpulan Thong-thian-kauw itu, mendengar ucapan tersebut dengan wajahnya serius dia

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

413

menjawab, “Kalau memang tujuanmu bukan mencari kaucu dari perkumpulan Thong-thian-kauw,

buat apa kau musti urusi dimanakah ia berdiam”

Setelah termenung kembali beberapa saat lamanya, dia berkata lagi, “Namun besar Yan-san Itkoay

telah menggetarkan seluruh dunia persilatan, darimana mungkin kau bisa menandinginya?”

“Kita telah maju bersama!” sahut Hoa Thian-hong sambil, menuding ke arah Hoa In.

Pui Che-giok yang ketika itu berdiri di samping meja perjamuan segera menyela pula sambil

tertawa, “Kongcu-ya galak sekali, barusan dia hendak mencabut selembar jiwaku….”

Giok Teng Hujien tertawa, dan tidak menggubris ucapan pelayannya itu, sambi1 memenuhi

cawan emas Hoa Thian-hong dengan arak wangi katanya lagi, “Sudah hampir mendekati tengah

hari, minumlah secawan arak lagi dan segera bersantap.

Selesai bersantap pelayan muncul menghidangkan teh wangi. Hoa Thian-hong yang melihat di

sekitar sana terdapat banyak orang, mulutnya selalu bungkam terhadap tujuan yang sebenarnya,

sedang Giok Teng Hujien pun tidak bertanya lagi tentang persoalan itu.

Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan tengah hari lewat.

“Adik Hong!”

Giok Teng Hujien segera bangkit berdiri sambil berseru, “Mari kutemani dirimu berlarian sebentar

ditepi pantai, pemandangan disana indah sekali.”

Diri sikap perempuan itu, Hoa Thian-hong tahu bahwa dia tidak ingin Hoa In ikut serta dalam

perjalanan itu, maka kepada pelayan tua itu segera pesannya, “Aku akan pergi sebentar ditemani

oleh Hujien, kau tak usah menemani aku lagi…..setelah melakukan perjalanan selama beberapa

hari, ini hari kau boleh beristirahat.”

Meskipun Hoa In tak mau tapi ia tak berani membantah perintah majikan mudanya, bibirnya

bergetar seperti mau bicara namun tak sepatah katapun yang meluncur keluar.

“Che-giok, siapkan tempat tinggal!” perintah Giok Teng Hujien pula, “baik-baiklah layani

pengurus tua, jangan sampai bertindak ayal hingga kurang pelayanan!

“Budak terima perintah!”

Dengan membawa serta makhluk anehnya Soat-jie, berangkatlah Giok Teng Hujien serta Hoa

Thian-hong tinggalkan gedung megah itu dan turun dari bukit, sambil bergandengan tangan

mereka lari menuju ke tepi laut.

Beberapa saat kemudian racun teratai yang mengeram di dalam tubuh Hoa Thian-hong mulai

bekerja, semakin lari semakin kencang, Giok Teng Hujien segera mengerahkan ilmu meringankan

tubuhnya untuk mengiringi disisinya, sedang Soat-jie sambil menjerit kegirangan menyusul dari

belakang, rupanya dia ikut bergirang hati atas kesenangan majikannya.

Setelah berlarian beberapa waktu, ditepi pantai laut muncullah pantai berpasir yang amat luas,

dua manusia, seekor binatang segera berlari kencang di atas pantai berpasir itu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

414

Ketika Hoa Thian-hong menyaksikan di atas jidat Giok Teng Hujien telah basah bermandikan

keringat, ia jadi tak tega buru-buru serunya, “Cici, beristirahatlah lebih dulu, biar siaute berlarian

seorang diri!…..”

“Aaah! tak apa, merasa senang sekali untuk berlari-lari disisimu, dengan begini otot-otot tubuhku

ikut jadi lemas” jawab Giok Teng Hujien sambil tertawa keras.

Karena perempuan itu tetap ngotot untuk ikut lari, terpaksa Hoa Thian-hong membiarkan dia

untuk tetap berlari di sisinya.

Tengah hari di musim panas yang menyengat badan, benar-benar merupakan penderitaan yang

berat untuk berlari di udara terbuka, Hoa Thian-hong yang bertujuan untuk menyebarkan kadar

racun di badan dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya.

Belum jauh dia berlari sekujur badannya sudah basah kuyup oleh keringat. Giok Teng Hujien

sendiri sekalipun telah lari dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh, namun satu jam

kemudian seluruh tubuhnya telah basah pula oleh air keringat.

Beberapa Waktu kemudian kadar racun di tubuh Hoa Thian-hong telah tenggelam kembali ke

dasar Tam thian (Pusar), setelah rasa sakit di tubuh berkurang, iapun menghentikan larinya

sembari berkata, “Aaaah…….! Sekarang sudah baikan, ayoh kita beristirahat!”

Sambil mengerut dada, Giok Teng Hujien menghembuskan napas panjang, tiba-tiba serunya

sambil tertawa, “Ayoh kita terjun kelaut dan mandi!” Ia tarik tangan pemuda itu dan lari menuju

kelautan.

“Eei…..jangan……” teriak Hoa Thian-hong sambil menghentikan langkah kakinya.

“Jangan kuatir, toh di sisi ada aku, kau tak bakal mati tenggelam……. ayolah……”

“Bukan begitu, dalam sakuku terdapat beberapa lembar kertas yang berisi catatan ilmu silat,

kalau kena air kertas itu bisa hancur”

Giok Teng Hujien tertawa, ia berjongkok melepaskan sepatu dan kaos kaki pemuda itu kemudian

melepaskan pula ikat pinggang serta jubah luarnya……

Merah jengah selembar wajah Hoa Thian-hong, dia ambil keluar catatan ilmu Ci yu ciat tersebut,

ketika melihat catatan itu tidak rusak, segera dimasukkan kembali ke dalam sakunya.

“Adik Hong, aku punya kaki yang besar, engkau tak jemu bukan?” seru Giok Teng Hujien tibatiba

sambil tertawa ringan.

Perlu diketahui pada jaman dahulu kala, di daratan Tionggoan berlaku kebiasaan dimana kaum

waniia sejak kecil kakinya diikat dengan kain sehingga sewaktu menginjak dewasa, kaki mereka

rata-rata kecil dan tidak normal. Air muka Hoa Thian-hong berubah semakin merah padam.

“Cici, kau pandai sekali bergurau, siaute tidak kuat menahan diri………” serunya.

Giok Teng Hujien tertawa terbahak-bahak, ia lepaskan ikat pinggangnya dan mencopot gaun

panjang, Hoa Thian-hong tersipu-sipu, dengan cepat ia loncat kemuka dan terjun ke dalam air.

“Adik Hong…..” tiba-tiba Giok Teng Hujien berseru dengan suara manja. Hoa Thian-hong segera

berpaling, ia lihat sesosok tubuh yang putih bersih meluncur dari tengah udara dan menerjang ke

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

415

arahnya, dalam gugup dan gelagapannya ia rentangkan tangan dan memeluk bayangan itu eraterat.

Terasalah segumpal tubuh yang lunak dan halus menempel di tubuhnya, ia semakin gugup,

buru-buru tubuh perempuan itu dipeluk dan dilepaskan di dalam air.

Sebagai pemuda yang dibesarkan di atas gunung, ia tak tahu ilmu dalam air, berada di air yang

dangkal si anak muda itu tak tahu menyembunyikan Giok Teng Hujien disana.

Perempuan itu tertawa cekikikan, sepasang lengannya yang putih halus dan telanjang memeluk

tubuh pemuda itu erat-erat, sampai matipun tak dilepaskan, memaksa Hoa Thian-hong terpaksa

pejamkan mata dan buru-buru maju ke depan hingga ke dalam air yang lebih tinggi.

Ketika sampai di dasar laut yang tingginya mencapai seleher, ia baru berani membuka matanya

kembali.

“Ayoh maju lagi ke depan!” seru Giok Teng Hujien sambil tertawa cekikikan, “terus maju sampai

di istana Liong kiong….”

“Cici, berdirilah yang tegak, hati-hati kalau sampai digulung ombak dan tenggelam ke dasar

laut!”

Giok Teng Hujien tertawa semakin keras, dia gesekkan pipinya di atas wajah pemuda itu dan

serunya, “Biarlah kita mati bersama agar pada penitisan yang akan datang dapat hidup sebagai

suami istri, bukankah keadaan itu lebih baik?”

Hoa Thian-hong gelengkan kepalanya berulang kali.

“Banyak urusan yang belum siaute selesaikan, aku tak ingin putus nyawa diusia muda!”

“Seandainya persoalanmu telah beres semua?” Giok Teng Hujien balik bertanya sambil menatap

wajahnya tajam-tajam.

Hoa Thian-hong menghela napas panjang.

“Cici, engkau pasti tahu bukan penyakit dari siaute……!” serunya.

Tidak menunggu pemuda itu menyelesaikan kata-katanya, Giok Teng Hujien segera menukas,

“Aku tahu darahmu mengandung racun, selama hidup tak bisa punya bini…… bukankah begitu?”

Dia menghela napas panjang, setelah berhenti sebentar terusnya, “Aku tahu tak punya rejeki

sebesar itu untuk menjadi binimu, yang kuharapkan hanya hatimu bukan badanmu!”

“Hati siaute telah kupersembahkan bagi kesejahteraan umat Bulim” bisik sang pemuda dengan

kepala tertunduk.

“Itu tak jadi soal” desak Giok Teng Hujien lebih jauh, “hati pendekar sudah sewajarnya

dipersembahkan untuk kesejahteraan umat persilatan, yang kutanya adalah hatimu dalam soal

cinta, hendak kau persembahkan kepada siapa? Chin Wan-hong? Atau Pek Kun-gie?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

416

Tertegun hati Hoa Thian-hong mendengar teguran itu, pikirnya di dalam hati, “Seandainya

ditanya cintaku yang sejati, maka harus kujawab hatiku telah kupersembahkan untuk enci Wanhong……”

Sudah tentu perkataan semacam ini tidak sampai ia utarakan keluar.

Berbicara tentang kecantikan, raut wajah Chin Wan-hong kalah jika dibandingkan dengan Pek

Kun-gie apalagi kalau dibandingkan dengan Giok Teng Hujien, dalam hal hubungan sehari-hari,

daya tarik dan keluwesan, di dalam hubungan baik Chin Wan-hong mau pun Pek Kun-gie kalah

kalau dibandingkan dengan Giok Teng Hujien.

Kadangkala soal cinta muda-mudi memang aneh sekali, seperti Hoa Thian-hong yang dikerumuni

gadis-gadis cantik, ternyata ia lebih memandang berat diri Chin Wan-hong dari pada perempuan

yang lain kendati gadis yang lain jauh lebih cantik dan menarik.

Begitulah, ketika Giok Teng Hujien melihat pemuda itu termenung dan lama sekali tidak bicara, ia

segera mengguncangkan tubuhnya sambil berseru manja, “Cepat katakan, hatimu akan kau

berikan kepada siapa? Kenapa sih membungkam? Apa susahnya untuk menjawab?”

Hoa Thian-hong dibikin apa boleh buat, terpaksa sambil tertawa jawabnya, “Hatiku tak akan

diberikan kepada siapa pun, biar kutahan untuk diriku sendiri!”

“Ciiss……”

Segulung ombak menggulung datang menenggelamkan kedua orang itu ke dasar lautan, tubuh

Hoa Thian-hong keterjang hebat sampai terseret mundur beberapa tombak jauhnya dari tempat

semula, buru-buru ia keluarkan ilmu bobot seribu untuk menahan badannya.

Giok Teng Hujien amat bangga dan senang melihat pemuda itu gugup dan gelagapan sendiri,

teriaknya.

“Ayoh cepatlah mundur kalau tidak kau akan benar-benar tenggelam di laut dan mati!”

Walaupun Hoa Thian-hong memiliki serangkai ilmu silat yang mengejutkan, namun saat itu

hatinya dibikin jeri juga oleh air laut yang menggulung hebat, terutama sekali karena ia tak kenal

ilmu berenang dan baru pertama kali terjun ke laut, tanpa memperdulikan tubuh telanjang yang

berada di dalam pelukannya lagi ia berseru keras dan buru-buru mengundurkan diri ke atas

daratan.

Setelah tiba di pantai berpasir, dengan setengah merengek Hoa Thian-hong memohon.

“Oooh…! cici yang baik, cepatlah berpakaian, kalau sampai terlihat orang kita bakal malu”

“Haaah…haaah…” Giok Teng Hujien tertawa cekikikan, ”Soat-jie berjaga-jaga di sekitar tempat

ini, siapa yang mampu menerobos kemari…?”

Sepasang kakinya mengait, bersama tubuh Hoa Thian-hong mereka roboh terjengkang ke atas

tanah.

Mereka bertindihan satu sama lainnya dan berbaring di atas pantai berpasir, ketika Hoa Thianhong

menjumpai perempuan itu tidak menunjukkan gejala untuk maju setindak lebih maju,

diapun lantas membungkam dan membiarkan lawannya bertingkah sesuka hatinya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

417

Giok Teng Hujien memeluk tubuh Hoa Thian-hong kencang-kencang, tubuhnya yang putih,

montok dan padat berisi menindih di atas tubuhnya, pipi bergeser pipi dada bergeser dada, kaki

bergesek kaki menimbulkan suatu perasaan yang aneh sekali……

Lama kelamaan Hoa Thian-hong terpengaruh juga oleh nafsu birahi, jantungnya berdebar keras

tapi kesadaran masih ada, cepat-cepat ia pusatkan pikiran dan membentak dengan suara lirih,

“Cici, apakah kau sudah bosan hidup? ingat racun dalam tubuhku……”

“Huuh…….. siapa yang sungguhan? Aku toh cuma main-main saja!” seru Giok Teng Hujien sambil

meliukkan pinggangnya makin menjadi.

“Cici……aku tidak tahan……..kalau aku sampai berbuat nekad….kau jangan salahkan aku loo……

apalagi kalau jiwamu sampai melayang……..”

“Mati yaah biar… daripada musti menderita akibat patah cinta, hidup di kolong langit malah

sengsara,” bisik Geok Teng Hujien sambil membenamkan kepalanya dalam pelukan pemuda itu.

“Bodoh…bila kau mati dalam keadaan seperti itu, orang pasti akan mentertawakan dirimu”

Setelah berhenti sebentar dia belai rambut Giok Teng Hujien yang basah kuyup lalu berbisik lagi

dengan suara lirih, “Cici, kau she apa? Bolehkah aku tahu si apakah namamu?”

“Aku she Siang bernama Hoa,” jawab perempuan itu sambil tertawa cekikikan.

“Cici suka amat bergurau, atau engkau memang tak suka nama aslimu diketahui orang?”

“Kau apa tidak percaya?” seru Giok Teng Hujien sambil angkat kepala, “itulah nama asliku, Siang

Hoa artinya hatiku tertuju kepadamu (Hoa atau Hoa Thian-hong)….!”

Hoa Thian-hong tahu kalau perempuan itu sengaja bergurau dan menciptakan nama palsu untuk

membohongi dirinya, melihat ia bersandar di tubuhnya dengan begitu mesra dan nikmat, ia jadi

serba salah.

“Baik…..baiklah….kalau memang bernama Siang Hoa kuakan sebut dirimu sebagai Siang Hoa,

pokoknya hatimu senang itu sudah cukup!”

“Kalau begitu panggillah aku enci Siang Hoa……” pinta perempuan itu manja.

Hoa Thian-hong tersenyum.

“Enci Siang Hoa, berapa usiamu tahun ini?” tanyanya.

“Lebih besar satu tahun darimu!”

“Lebih baik kita jangan membicarakan soal tetek bengek lagi, siaute ada satu urusan penting

hendak dibicarakan dengan cici, apabila cici tahu maukah engkau memberi tahu dengan jujur?”

Giok Teng Hujien mengangguk.

“Nyawapun aku rela berikan kepadamu, masa menjawab saja tak mau……. cepat utarakan

pertanyaanmu itu”

Jawaban itu diutarakan dengan bebas dan leluasa, membuat orang sama sekali tidak curiga.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

418

Dengan terus terang Hoa Thian-hong berkata, “Siaute ingin mencari tahu duduk perkara yang

sebenarnya tentang latar belakang pembunuh terhadap Jin Bong, siapakah pembunuhnya? Apa

tujuannya? Apakah pedang emas milik Jin Hian telah hilang dan siapakah otak yang

merencanakan pembunuhan tersebut?”

Sepasang alis Giok Teng Hujien kontan berkerut, serunya, “Mau apa kau tanyakan masalah

tentang peristiwa itu? Ketahuilah semakin banyak yang kau tahu semakin bahaya jiwamu!”

“Perkumpulan Sin-kie-pang, Hong-im-hwie dan Teng Thian Kau tak mengijinkan siaute hidup di

kolong langit, siaute sendiripun tak senang mereka tetap berdiri tegak di dalam Bulim, suatu hari

mereka pasti akan bekerja sama untuk menghadapi sekelompok kekuatan pihak kami, karena itu

siaute ingin menyelidiki latar belakang dari peristiwa pembunuhan itu, serta berusaha untuk

mencari apakah ada kesempatan baik yang dapat kupergunakan!….”

Giok Teng Hujien segera gelengkan kepalanya, dengan suara lembut dia berkata, Lebih baik

jangan mencari kerepotan buat diri sendiri, semua persoalan serahkan saja pada cici, kau hidup

cicipun hidup, kau mati …”

“Cici tak akan mampu melindungi siaute” tukas Hoa Thian-hong sambil gelengkan kepalanya.

Giok Teng Hujien tertegun, lama sekali ia baru berkata dengan suara lirih, “Kejadian itu

merupakan peristiwa yang paling membuat hatiku menyesal, karena persoalan itu kendati

sekarang kucongkel keluar hatiku dan mempersembahkannya kepadamu, belum tentu engkau

akan mengampuni jiwaku, belum tentu aku bisa menggembirakan hatimu.”

“Cici, apa yang kau bicarakan? Siaute sama sekali tidak mengerti …” seru sang pemuda

kebingungan.

“Aaaai……aku maksudkan peristiwa yang terjadi sewaktu di dermaga penyeberangan sungai

Huang-ho, tidak sepantasnya kalau aku berpeluk tangan belaka melihat kau bunuh diri!”

Wajahnya kelihatan berubah jadi amat sedih dan murung sehingga membikin hati orang yang

melihat jadi iba dan kasihan.

“Aaaai……lain dulu lain sekarang” ujar Hoa Thian-hong sambil menghela napas, “tempo dulu kita

baru bertemu untuk pertama kalinya, kita berdua belum pernah kenal dan punya hubungan

persahabatan, lagipula disitu hadir pula Cukat racun Yau Sut serta malaikat berlengan delapan

Cia Kim, sekali pun cici bermaksud menolong aku, belum tentu situasi mengijinkan engkau

berbuat begitu”

Giok Teng Hujien gelengkan kepalanya berulang kali.

“Aaai…….! tidak benar……aku bernama Siang Hoa, sudah sepantasnya kalau kutolong dirimu

kendati harus korban selembar jiwaku, bukankah aku bernama Siang Hoa (condong ke Hoa)?

Aaai….! waktu itu aku telah salah berpikir, kini mau menyesalpun sudah terlambat …”

Perkataannya begitu menarik dan menawan hati seakan-akan perempuan itu benar-benar

menyesal sekali, membuat Hoa Thian-hong jadi melongo dan termangu-mangu.

“Kau marah kepadaku?” bisik Giok Teng Hujien lagi.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

419

“Sejak pertama kali sampai sekarang aku tak pernah marah kepadamu, kenapa aku harus

marah?”

Giok Teng Hujien tertegun, kemudian serunya kembali, “Hmm! Kau tentu marah… kau bilang

sejak pertama kali itu berarti kau pernah marah kepadaku.”

“Biar orang menganiaya diriku, aku tak akan menganiaya orang lain, cici! jangan kau ucapkan

kata-kata yang tak ada artinya lagi, cepat ceritakan latar belakang dari peristiwa tersebut, seru

Hoa Thian-hong dengan alis berkerut, “Kau ingin tahu?”

“Tentu saja, sedari dulu aku sudah tahu kau tentu terlihat dalam peristiwa ini.

Giok Teng Hujien tertawa cekikikan.

“Boleh saja kalau suruh aku bicara, tapi kita musti bermesraan dulu kalau tidak jangan harap aku

mau bicara”

Hoa Thian-hong merasa amat jengah, tapi apa boleh buat? terpaksa ia peluk tubuh perempuan

itu kencang-kencang kemudian mencium dan menggerayangi tubuhnya, beberapa saat kemudian

pemuda baru bicara sambil tertawa, “Cici, kau terlalu romantis, sekarang tak boleh bercanda

lagi…. cepat ceritakan latar belakang dari peristiwa berdarah itu”

“Peristiwa berdarah apa sih? Aku sama sekali tidak mengerti!”

“Sebenarnya kau ingin bicara tidak?”

“Bicara soal apa?” bisik Giok Teng Hujien tertawa cekikikan, perempuan itu tetap tak bicara.

“Siapakah yang membinasakan Jin Bong tersebut?”

Giok Teng Hujien yang selamanya binal dan tak dapat disuruh tenang, saat ini berubah jadi jinak

dan halus sekali, sambil bersandar di tubuh Hoa Thian-hong jawabnya dengan suara lembut, “Pui

Che-giok yang melakukan pembunuhan itu!”

“Pui Che-giok yang mana?”

“Itu tuh….. budak yang ada di rumah!”

“Kau ngaco elo!” teriak Hoa Thian-hong dengan suara terperanjat.

Hubungan muda-mudi kadang kala memang aneh sekali, tiba-tiba Hoa Thian-hong bersikap

seolah-olah dialah sang tuan rumah, sedang Giok Teng Hujien lebih rendah dari seorang dayang,

setelah gugup sebentar ujarnya kembali dengan suara lirih, “Aku bicara sungguhan kau tidak

percaya, siapa sih yang berani membohongi dirimu?”

“Ketika itu aku hadir pula di tempat tujuan, aku lihat raut wajah sang pembunuh mirip sekali

dengan Pek Kun-gie kalau dibandingkan dayangmu itu wajahnya jauh lebih cantik”

“Aku toh bisa merubah-rubah wajahnya menurut kehendak hatimu, kalau tidak percaya entar

malam akan kusuruh dia merubah wajah!”

Jadi orang yang mengatur semua rencana besar ini kecuali engkau apakah masih ada orang

lain?” tanya sang pemuda dengan pikiran bingung bercampur ragu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

420

“Oooh…. kalau soal ini sih rahasia yang amat besar, tak boleh membiarkan pihak ke tiga ikut

mengetahui”

“Oooh…jadi engkau seoranglah yang merencanakan permainan setan ini? Apa tujuanmu?”

Giok Teng Hujien tertawa bangga, sahutnya, “Tujuanku tentu saja pedang emas! Jin Hian telah

menyembunyikan pedang emasnya di dalam perkampungan Liok Soat Sanceng dan

menyimpannya di bawah tempat pembaringan dari putranya, perbuatannya itu begitu rahasia

sekali sehingga Jin Bong si setan yang sudah modar itupun tak tahu”

Hoa Thian-hong gelengkan kepalanya berulang kali.

“Sebenarnya apa sih kegunaan dari pedang emas itu? Sampai dimana toh nilainya sehingga perlu

engkau susun rencana besar untuk merampasnya dari tangan orang lain?”

Mendengar pertanyaan tersebut Giok Teng Hujien segera tersenyum, jawabnya lembut, “Aku

sendiripun tak tahu apa kegunaan dari pedang emas itu, tetapi aku memang punya kegunaannya

yang lain”

“Apakah kegunaan itu?” tanya Hoa Thian-hong pura-pura gusar, hatinya agak tercelos.

“Hiiiih…. hiiih… hiiih…” kembali perempuan itu tertawa cekikikan, “Aaah, sekarang aku tak akan

memberitahukan kepadamu, lain kali saja….. kalau waktunya sudah tiba baru kuberitahukan

kepadamu!”

“Huuu….! cengar-cengir terus… ketahuilah urusan itu mempunyai hubungan yang erat sekali

dengan situasi dalam dunia persilatan, ayoh cepat beritahu kepadaku dengan sejelas jelasnya!”

“Ayo kita bermesraan lagi toh, nanti kuberitahukan kepadamu!”

“Huuuh….kamu ini… benar-benar masih seperti anak kecil….”

Karena terpaksa maka pemuda itupun mulai bercanda dan bergurau kembali dengan perempuan

tersebut, sesaat kemudian Giok Teng Hujien menengadah ke atas dan berbisik .

“Aku memerintahkan Che-giok mencuri pedang emas tersebut, tujuannya tentu saja untuk

meretakkan hubungan antara perkumpulan Hong-im-hwie dengan pihak Sin-kie-pang, tetapi

kalau berbicara tentang tujuan ku yang sebenarnya maka tindakanku ini bukanlah demi kebaikan

serta keberuntungan bagi pihak Thong-thian-kauw!”

“Lalu demi apa kau berbuat demikian itut” tanya Hoa Thian-hong dengan alis berkerut.

“Tentu saja demi engkau!”

“Sungguh membingungkan ceritamu itu,” omel sang pemuda sambil tertawa keras, “waktu itu

kita toh belum pernah kenal, darimana kau bisa tahu akan diriku?”

Giok Teng Hujien tertawa cekikikan.

“Siapa yang bohong tentu dibasmi oleh Thian!……” bisiknya.

“Sudahlah, jangan bergurau terus, sekarang dimanakah pedang emas itu…..”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

421

“Di rumah, entar kutunjukkan kepadamu sahut Giok Teng Hujien serius, setelah tertawa

misterius lanjutnya, “benda itu berada pula di dalam pedang mustika milik Thong-thian-kauwcu,

jika kau dapat menggetar putus pedang mustika pelindung badan milik Thong-thian-kauwcu

dihadapan Jin Hian, maka pedang emas yang tersembunyi di dalam pedang itu segera akan

terjatuh dan ketahuan rahasianya, waktu itu Jin Hian tentu akan mata gelap dan menyerang

Thian Ik Loo-to dengan nekad!”

Hoa Thian-hong semakin kebingungan dibikinnya, kembali ia bertanya, “Apa sih artinya? Masa

sebilah pedang emas dapat disimpan di dua tempat yang berbeda? Kau tentu ngaco belo tak

keruan…..cepat katakan yang sebenarnya atau aku tak akan berlaku sungkan-sungkan lagi

terhadap dirimu!”

“Hiiih…hiiih…siapa yang suruh kau berlaku sungkan-sungkan? Mau pukul mau maki itu hak dari

sang suami, aku sang istri sih tak bisa berbuat apa-apa selain menerima….”

Ia berhenti sebentar, kemudian dengan suara lembut katanya, “Pedang emas semuanya terdiri

dari dua bilah, satu pedang jantan dan yang lain pedang betina, pedang jantan terjatuh ke dalam

dunia persilatan dan baru saja terjatuh kembali ke tanganku, sedang pedang betina di

sembunyikan di dalam pedang mustika pelindung badan milik Thong-thian-kauwcu, persoalan ini

rahasia sekali, sampai Thian Ik Lo-too sendiripun tak tahu akan rahasia ini.

“Pedang emas toh berada di dalam pedang mustika milik Thian Ik-cu, masa dia sendiri pun tak

tahu?”

0000O0000

29

GIOk Teng Hujien tertawa bangga, ujarnya, “Delapan tahun berselang, ketika secara kebetulan

Thian Ik-cu menemukan sebilah pedang yang bernama Boan liong Poo kiam, pedang emas yang

kecil itu sudah berada di dalamnya, oleh karena sejak permulaan dia sudah tak tahu, darimana ia

bisa menduga kalau dibalik pedang terdapat pula pedang lain?”

“Delapan tahun berselang?” tanya Hoa Thian-hong dengan hati agak bergerak.

“Benar peristiwa ini terjadi pada delapan tahun berselang” jawab Giok Teng Hujien sambil

tertawa manis.

“Aaai . .! Ketika itu aku masih muda sekali, usiaku waktu itu mungkin sebaya dengan Chin Wanhong

serta Pek Kun-gie pada saat ini”

“Apakah engkau yang menghadiahkan pedang Boan liong Poo kiam tersebut kepada Thian Ikcu?”

sela sang pemuda.

Giok Teng Hujien menggelengkan kepalanya berulang kali.

“Siapa yang kesudian untuk menghadiahkan sendiri benda itu kepadanya, aku sih suruh orang

lain menyampaikannya kepada dia, waktu itu dunia persilatan masih tenang dan pelbagai partai

sering kali mengirim upeti baginya, maka Thian Ik-cu tak pernah memikirkan hal-hal yang

jelek….”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

422

Hoa Thian-hong putar badannya dan membalik ke atas, sekarang dia menindih tubuh Giok Teng

Hujien yang putih halus dan telanjang bulat itu di bawah tubuhnya, dengan suara halus

gertaknya.

“Ayo jawab dengan jujur, siapakah engkau? Apa menyusup ke dalam tubuh partai Thong-thiankauw?”

“Aku benar-benar bernama Siang Hoa. siapa sih yang membohongi dirimu?” omel perempuan itu

sambil memeluk leher Hoa Thian-hong kencang-kencang.

“Aku tidak percaya! Siapa orang tuamu? dan siapa pula suhumu!”

“Kecuali kau memang bersungguh hati kepadaku, kalau tidak jangan harap bisa kau selidiki asal

usulku!”

“Aku memang bersungguh hati kepadamu kalau aku punya sedikit rasa cinta yang palsu maka

aku akan….”

Belum habis ia berkata pemuda itu membungkam dan tidak meneruskan kata-katanya lagi.

Giok Teng Hujien mengempit sepasang kaki Hoa Thian-hong erat-erat, serunya manja, “Kau akan

kenapa? Kenapa tidak kau teruskan sumpahmu?”

“Aku bersungguh hati kepadamu, apakah kau tak tahu apa yang hendak kulakukan jika aku

bersungguh hati kepadamu?”

“Kalau kau bersungguh hati kepadaku, maka selama hidup kita harus seia sekata, sampai rambut

putih tak akan berpisah lagi..”

Tertegun hati Hoa Thian-hong mendengar perkataan itu, dengan gelagapan serunya, “Tetapi

diriku sudah bukan menjadi milikku sendiri…..

Tiba-tiba terdengar seseorang mendengus dingin, disusul suara teriakan gusar dari Soat-jie si

rase salju itu berkumandang di angkasa.

“Giok Teng Hujien berdua amat terperanjat mereka angkat kepala dan memandang ke arah

mana berasalnya suara dengusan tadi, tampaklah sesosok bayangan tubuh dengan kecepatan

bagaikan kilat meluncur datang dan segera menyambar pakaian milik Hoa Thian-hong.

Soat-jie si rase Salju dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat menerjang datang, namun

tubrukannya mengenai sasaran kosong.

Hoa Thian-hong jadi gelisah bercampur malu, bukan saja malu karena perbuatannya yang tak

senonoh ketahuan orang, yang paling menggelisahkan adalah kitab catatan Ci yu jit kiat tersebut

berada di dalam saku bajunya yang disambar orang.

Dalam gugup dan cemasnya ia membentak keras, tubuhnya meloncat empat tombak ke depan

dan segera menerjang ke arah bayangan manusia itu.

“Binatang…. sungguh besar nyalimu!” maki seorang perempuan tua yang serak dengan suara

lantang.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

423

Ploook….! Sebuah gaplokan nyaring bersarang telak di atas pipi Hoa Thian-hong, membuat

tubuhnya terlempar sejauh delapan depa ke belakang dan jatuh berguling di atas pantai berpasir,

pipi kirinya terasa panas gatal dan sakitnya bukan kepalang.

“Adik Hong…..” seru Giok Teng Hujien dengan nada kuatir.

“Cici, cepat berpakaian!” teriak Hoa Thian-hong,

Ketika ia berpaling lagi, tampaklah bayangan manusia di depan, Soat-jie di belakang dua sosok

bayangan sudah berlari sejauh puluhan tombak dari tempat semula, di bawah sorot cahaya sang

surya tampaklah dua sosok bayangan saling berkejaran dengan kecepatan bagaikan sambaran

kilat.

Dalam pada itu Hoa Thian-hong sempat melihat orang yang memberi pesan sebuah gaplokan

kepadanya adalah seorang nenek tua berbaju abu-abu yang membawa sebuah tongkat di tangan

dan rambutnya telah beruban semua, tanpa berpikir panjang dia kenakan sepatunya dan segera

mengejar dari belakang.

“Adik Hong, tunggu sebentar!” teriak Giok Teng Hujien.

“Aku hendak menangkap penjahat itu…..” jawab Hoa Thian-hong keras-keras.

Walaupun Giok Teng Hujien tidak ingin nenek tua itu berhasil meloloskan diri, namun diapun

merasa tak leluasa untuk mengejar musuhnya dalam keadaan telanjang bulat, setelah pakaian

dikenakan bayangan tubuh dua orang manusia dan seekor binatang itu sudah berada jauh sekali.

Dengan sekuat tenaga Hoa Thian-hong mengejar dari belakang, akan tetapi bukan saja ia gagal

untuk menyusul orang itu bahkan jaraknya kian lama kian tertinggal makin jauh, ia jadi malu

bercampur gusar dengan sekuat tenaga tubuhnya berlari makin kencang.

Pantai di sekitar propinsi Ci-tang lebih banyak pantai berkarang dari pada pantai berpasir, setelah

berlarian beberapa saat lamanya tiba-tiba mereka berlari menuju ke balik punggung bukit yang

ada di dekat pantai, pada saat itulah nenek tua itu telah menghentikan larinya dan sedang

melangsungkan pertarungan sengit melawan rase salju tersebut.

“Aaah… Soat-jie benar-benar luar biasa,” pikir Hoa Thian-hong di dalam hati.

Laksana kilat tubuhnya segera menerjang ke depan, teriaknya, “Soat-jie, perketat seranganmu!”

“Huuuh……. sana, perketat seranganmu di dalam laut!” bentak nenek tua itu dengan nyaring.

“Bersamaan dengan selesainya ucapan itu terdengar Soat-jie menjerit kesakitan, tubuhnya

berjumpalitan di udara dan badannya segera terlempar dari atas tebing langsung tercebur ke

dalam laut.

Saking terperanjat, Hoa Thian-hong sampai menjerit kaget, dengan cepat dia mengerem

tubuhnya dan menghentikan gerakan badannya.

Dia tahu sampai dimanakah lihainya Soat-jie makhluk aneh tersebut, kecuali menghadapi ilmu

silat seperti yang dimiliki Yan-san It-koay, terhadap orang-orang yang punya kepandaian lebih

cetek tentu tak akan berhasil merubuhkan binatang itu dengan gampang.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

424

Sorot matanya segera dialihkan ke arah depan, kurang lebih dua tombak dihadapannya berdirilah

satu orang, dia bukan lain adalah seorang nenek tua berambut putih dan memegang tongkat

berkepala hong di tangannya.

Sambil mengetuk toyanya ke atas tanah, nenek tua berbaju abu-abu itu membentak gusar,

“Telur busuk cilik, ayoh cepat menggelinding kemari!”

“Mau apa menggelinding disitu?” Hoa Thian-hong balik bertanya dengan hati mendongkol.

Sambil menjawab biji matanya berputar terus memandang sekeliling tempat itu, dia lihat Soat-jie

telah berenang ke pantai dan ketika itu sedang mencari jalan untuk mendaki tebing tersebut.

Tampaklah sang nenek tua sambil mengibarkan pakaian dari Hoa Thian-hong berseru kembali,

“Kenapa? Kalau tak bisa kalahkah aku, pakaian ini jangan harap bisa kau minta kembali!”

Hoa Thian-hong merasa amat jengah sekali, dia sadar bahwa ilmu silatnya masih bukan

tandingan lawan, pikirnya di dalam hati, “Lebih baik aku mengulur waktui beberapa saat lagi,

asal cici dan Soat-jie sudah tiba semua disini rasanya waktu itu kekuatan kami cukup untuk

merampas kembali pakaian tersebut, cuma…entah kitab catatan Ci yu jit ciat masih utuh atau

tidak?”

Dalam hati ia berpikir, sedang diluaran pemuda itu sengaja berjongkok dan pura-pura

membetulkan sepatunya, menggunakan kesempatan itu dia melirik ke belakang, serunya

lantang, “Usiamu sudah amat besar, aku tak sudi berkelahi dengan dirimu”

Wajah nenek tua berbaju abu-abu itu sudah penuh berkerut, giginya telah ompong dan usianya

sekitar sembilan puluh tahun lebih, namun semangatnya masih menyala dan sifat berangasannya

masih berkobar.

Ia segera mendengus dingin, sambil mengetuk toyanya ke atas tanah bentaknya, “Hmm! Kalau

begitu, Nih, ambillah pakaianmu di dalam lautan…” tangannya diayun dan jubah luar tersebut

segera dilempar ke bawah tebing karang.

Hoa Thian-hong terkejut, dia takut kitab catatan Ci Yu jiat yang berada di sakunya basah dan

hancur, tidak perduli diri lagi ia ikut meloncat dan berusaha menghalangi perbuatan nenek tua

itu, teriaknya keras-keras, “Di dalam saku ada…”’

“Heeeh….heeeh…telur busuk ci1ik, aku harus baik-baik mendidik dirimu!” seru nenek baju abuabu

sambil tertawa seram.

Tanpa kelihatan gerakan apakah yang telah dipergunakan, sekali sambar ia sudah tangkap

pinggang Hoa Thian-hong Kemudian sambil mengempit di bawah ketiak ia kabur dari situ.

Hoa Thian-hong yang gagal menyambar pakaiannya seketika merasakan pinggangnya jadi kaku

dan seluruh tenaganya musnah dan tak mampu dipergunakan lagi, dari tempat kejauhan ia

masih sempat mendengar teriakan dari Giok Teng Hujien, namun pemandangan di sekelilingnya

sudah tidak nampak jelas lagi sebab gerakan tubuh nenek itu cepatnya bukan kepalang.

Pemuda itu bermaksud mengerahkan hawa murninya dan coba membebaskan jalan darah yang

tertotok, akan tetapi setiap saat hawa murninya gagal untuk dihimpun kembali.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

425

Sungguh cepat perakan tubuh nenek tua itu, dia lari menuju ke arah Barat dengan kecepatan

bagaikan kilat, ada jalan atau tidak, tanah berbukit atau mendatar ia melakukan perjalanannya

tanpa berhenti atau lambat barang sedikitpun jua.

Kurang lebih dua jam kemudian nenek tua baju abu-abu itu baru menghentikan langkah kakinya,

ia lempar tubuh Hoa Thian-hong ke atas sudut batu besar dan ia sendiripun duduk disisinya.

Hoa Thian-hong merasakan kepalanya pusing tujuh keliling, matanya berkunang-kunang dan

dadanya sesak sekali. Setelah beristirahat sebentar ia baru mampu menenangkan diri.

Ketika tangan dan kakinya digerakkan, ternyata jalan darah yang tertotok telah bebas dengan

cepat pemuda itu loncat bangun dan memandang keadaan di sekeliling tempat itu.

“Ayoh berlutut!” bentak si nenek tua dengan suara keras, kau pingin digebuk?”

Hoa Thian-hong gugup sekali, lututnya jadi lemas dan hampir saja ia jatuhkan diri berlutut, tapi

semangat dan keberaniannya muncul kembali, sambil busungkan dada ia menjura, katanya

sambil tertawa paksa, “Siapakah nenek? Selamanya aku tak pernah berlutut dihadapan orang

jahat!”

“Setan bangor cilik!” bentak nenek tua itu dengan mata melotot dan mengetukkan tongkatnya ke

atas tanah, “kau bukan orang baik-baik, kalau kau tak mau berlutut lagi jangan salahkan kalau

akan kuberi persen sebuah tempelengan lagi!”

“Sekalipun Yan-san It-koay, dia tak akan memukul diriku dengan begitu saja, sungguh kukoay

nenek tua itu,” batin Hoa Thian-hong di dalam hati kecilnya.

Karena keder tanpa terasa pemuda itu jatuhkan diri berlutut, serunya, “Nenek sudah lanjut usia,

asal engkau bukan orang jahat hamba suka berlutut dihadapanmu!”

“Huuuh…..! bermulut manis dan pandai cari muka….. kau memang hidung bangor cilik!”

Nenek itu melengos dan segera berpaling ke arah lain.

Ketika menyaksikan nenek tua itu seakan-akan sedang memikirkan sesuatu, diam-diam Hoa

Thian-hong merangkak bangun, tapi belum sempat pemuda itu berdiri tegak, nenek tua itu

sudah berpaling sambil membentak gusar, “Hidung bangor, kau benar-benar ingin digebuk?”

“Heeh….heeeh…heeeh …orang tua….”

Bayangan manusia berkelebat lewat, nenek tua itu sudah menyambar datang sambil

menghadiahkan pula sebuah tempelengan.

Buru-buru Hoa Thian-hong tarik pinggang mengegos ke samping, dengan suatu gerakan yang

manis ia meloloskan diri dari ancaman tersebut.

Rupanya si nenek tua itu telah memperhitungkan jalan mundur Hoa Thian-hong, telapak

tangannya kembali bergerak dan tepat persis bersarang di atas pipi kanan si anak muda itu!

Ploook…..! Hoa Thian-hong merasa pandangan matanya berkunang-kunang, kepalanya pusing

tujuh keliling dan mundur empat langkah ke belakang dengan sempoyongan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

426

Sungguh cepat gerakan tubuh nenek tua itu, setelah menggaplok pemuda itu dengan cepatnya

pula ia telah duduk kembali di tempat semula, sambil tertawa dingin serunya, “Telur busuk cilik,

bapakmu pun akan tunduk kepala seratus persen kalau bertemu dengan aku, seberapa besar sih

usiamu? Berani benar berlagak sok dihadapanku…. Hmm hayo cepat berlutut, kalau tidak jangan

salahkan kalau kugebuk dirimu sampai modar”

Hoa Thian-hong tertegun, kemudian jatuhkan diri berlutut ke atas tanah, dengan wajah

merengek serunya, “Sejak tadi aku sudah tahu kalau nenek adalah seorang angkatan tua yang

terhormat kalau tidak jiwamu tentu sudah melayang sejak tadi!”

Dia meraba pipinya yang kena digaplok, terasa panas menyengat badan tapi untung tidak sampai

membengkak.

Nenek tua baju abu-abu itu mendengus dingin.

“Hmmmmm..! Hidung bangor kecil…” makinya, setelah berhenti sebentar dengan mata melotot

kembali ia berseru, “ayoh, mengaku sendiri, lain kali berani tidak main perempuan dan mencari

iseng di tempat luaran lagi….?”

“Aku penasaran…..teriak Hoa Thian-hong dengan wajah merah padam karena jengah.

“Kurang ajar!” bentak nenek baju abu-abu sambil mengetukkan toyanya ke tanah, “tanpa angin

tak akan timbul gelombang, kalau engkau bersikap jujur dan gagah, mana orang lain akan

tebalkan muka untuk menggoda dirimu lebih dulu?”

Mendengar perkataan itu Hoa Thian-hong tertegun, lalu pikirnya, “Masuk diakal juga perkataan

itu, benda pasti akan membusuk lebih dulu sebelum keluar ulatnya, jika aku sopan dan pakai

aturan maka sekalipun orang lain ada maksud juga tak akan berani diutarakan keluar……”

Berpikir demikian ia jadi terkesiap, dengan wajah serius ujarnya, “Hamba tahu salah, lain kali aku

tidak berani bermain kotor lagi dengan kaum wanita….”

“Tahu salah harus dirubah, dengan begitu kebenaran baru bisa dicapai, untuk kali ini aku ampuni

kesalahanmu itu!” seru sang nenek dengan air muka yang jauh lebih lunak. “lain kali kalau kau

berani melanggar lagi akan kusuruh ibumu untuk mendidik sendiri, akan kulihat apa yang akan

dilakukan olehnya terhadap dirimu?”

“Oooooh……! Nenek kenal dengan ibuku? Seru Hoa Thian-hong dengan mata melotot.

“Hmmm! omong kosong….”

Ketika pertama kali kebentur batunya Hoa Thian-hong merasa mendongkol dan jengkel seka1i,

tetapi sekarang setelah dia tahu kalau nenek itu adalah sahabat ibunya, ia langsung tersudut dan

tak berani berkutik lagi, terpaksa dengan wajah cengar-cengir ia maju beberapa langkah ke

depan berkata sambil tertawa, “Orang tua bagaimanakah sebutanmu? Beberapa waktu

mendekati ini apakah engkau telah berjumpa dengan ibuku?”

Rupanya nenek tua ini lunak tak doyan keraspun tak suka, mendengar perkataan itu dengan

gusar segera bentaknya, “Kau tak usah banyak cerewet, otakmu penuh dengan permainan busuk

dan pikiran yang nyeleweng, kapan kau pernah ingat ibumu lagi?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

427

Dia angkat kepala memandang sang surya yang telah condong ke barat, tambahnya, “Ayoh

cepat mencari makanan, kalau sampai terlambat hati-hati dengan kakimu, kugebuk sampai

kutung!”

Sejak terjun ke dalam dunia persilatan Hoa Thian-hong selalu punya hubungan luas dengan para

jago Bulim terutama beberapa saat belakangan dia selalu dianggap sebagai pemimpin dari

golongan kekuatan baru, ini hari setelah digampar orang tanpa sebab hatinya panas dan

mendongkol sekali, tapi pemuda itu cerdik dan tahu gelagat, dia sadar bahwa nenek tua ini

punya asal usul yang besar, meskipun lagaknya sok sekali akan tetapi sama sekali tiada maksud

jahat terhadap dirinya.

Karena itu setelah termenung sebentar akhirnya ia menahan sabar dan segera berlalu dari situ.

Diarah sebelah Barat laut terdapat serentetan rumah penduduk, rupanya seperti sebuah dusun

kecil, cepat Hoa Thian-hong lari menuju ke dusun tersebut, belum jauh dia lari tiba-tiba pemuda

itu merasa dandanan sendiri lucu sekali, bukan saja pakaian luarnya tak ada sepatu yang dipakai

cuma sebelah, maka dilepaskan sepatu yang tinggal satu satunya itu kemudian meneruskan

perjalanan dengan kaki telanjang.

Setelah hampir masuk dusun, Hoa Thian-hong baru teringat kalau dalam sakunya tak ada uang

sebab bajunya telah dibuang ke laut, pikirnya, “Sekarang aku tak punya uang untuk membeli

makanan, apa daya? Apakah aku musti mencuri? Atau menodong?”

Sambil berkata tanpa terasa ia telah mengelilingi dusun itu satu kali, dusun yang terdiri dari

sebuah jalan raya belaka itu hanya mempunyai sebuah rumah makan saja di ujung jalan,

pemuda itu segera berpikir, “Para hweesio saja dapat mencari makan dimana-mana, kenapa aku

tidak berusaha mencobanya? Bagaimanapun toh aku tak boleh mati kelaparan, Yaah…….

rupanya aku terpaksa tebalkan muka untuk makan gratis….”

Setelah ambil keputusan, ia segera melangkah masuk ke rumah makan itu.

Pelayan di pintu nampak tertegun dan berdiri melongo ketika menyaksikan Hoa Thian-hong

dengan dandanan seperti pengemis masuk ke dalam rumah makannya, dengan suara ragu-ragu

ia berseru, “Saudara adalah…….”

Orang-orang dusun seperti itu adalah orang yang menghargai pakaian tidak menghargai

orangnya, melihat dandanan Hoa Thian-hong yang tidak karuan itu timbullah rasa sangsi dan

curiga di dalam hatinya.

“Bocah bagus… rupanya kau barusan mencari perempuan dan pulang kesiangan… haaah

haaah…lain kali kau musti tahu diri,” tiba-tiba terdengar seseorang berteriak dengan suara

lantang.

Bersamaan dengan selesainya ucapan itu, gelak tertawa segera meledak memenuhi seluruh

ruangan.

Hoa Thian-hong sangat gusar, dia berpaling ke arah mana berasalnya suara tertawa itu,

tampaklah pada meja makan sebelah kanan duduk tiga orang toojin berusia pertengahan yang

menyoren pedang di punggung, orang yang barusan bicara adalah toojin yang duduk ditengah,

gelak tertawa mereka bertiga pula yang kedengaran paling keras.

Terdengar toojin yang berada di sebelah kirinya ikut menimbrung sambil tertawa.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

428

“Ngo Seng memang hebat sekali, rupanya tebakanmu tepat, coba lihat di atas pipinya terdapat

lima buah bekas cakar yang nampak jelas sekali!….”

Gelak tertawa yang amat nyaring kembali berkumandang memecahkan kesunyian.

Hoa Thian-hong merasa gelak tertawa yang muncul dari samping kiri nyaring dan amat

memekikkan telinga, jelas suara tertawa itu dipancarkan oleh seseorang yang memiliki tenaga

dalam sangat lihay, tampak di meja makan sebelah kiri dekat pintu, duduklah empat orang pria,

dua orang kakek berjubah warna hitam dan dua orang lainnya pria kekar berpakaian ketat,

keempat orang itu sama-sama menggembol senjata.

Ketika itu Sang surya telah condong ke barat dan merupakan waktu orang mencari penginapan,

ruangan rumah makan boleh dibilang penuh dan sebagian besar telah terisi oleh tamu.

Kecuali dua rombongan tersebut, para tamu lainnya rata-rata berdandan pedagang atau pekerja

kasar, Hoa Thian-hong dengan sorot mata yang tajam segera menyapu sekejap seluruh ruangan

itu, mendadak ia tertegun dan hampir saja berseru tertahan.

Kiranya di sudut ruangan duduklah seorang dara baju kasar yang memiliki kecantikan wajah

yang luar biasa, Hoa Thian-hong bukan hidung bangor tapi setelah menemui gadis cantik itu dia

nampak begitu terkejut dan kaget hal ini menunjukkan bahwa gadis itu luar biasa sekali.

Tidak Salah, dari raut wajah dan potongan badannya gadis itu ternyata mirip sekali dengan Pek

Kun-gie, hanya saja gadis ini jauh lebih tenang kalem, halus dan sederhana.

Waktu itu dengan kepala tertunduk dara itu sedang menikmati bakmi dihadapannya, terhadap

gelak tertawa yang memenuhi seluruh ruangan bukan saja tidak ambil perduli bahkan bersikap

seolah-olah tidak melihatnya.

Mula-mula Hoa Thian-hong tertegun, kemudian satu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia

segera dapat menduga siapakah dara itu.

Entah apa sebabnya tiba-tiba pemuda itu merasa tersipu-sipu dan menyesal sekali mengapa

masuk ke rumah makan dengan potongan badan yang tidak karuan.

Tiba-tiba terdengar toojin berusia pertengahan yang duduk di tengah itu berseru kembali,

“Keparat, melihat Wanita cantik sepasang matanya langsung terbelalak lebar, rupanya dia

memang benar-benar seorang manusia hidung bangor!”

Hoa Thian-hong teramat gusar sekali ketika dilihatnya orang-orang itu sebentar memandang ke

arahnya sebentar lagi melirik ke arah dara cantik itu dengan wajah penuh ejekan, diam-diam dia

menyumpah, “Tosu bajingan, kalian memang punya mata tak berbiji……”

Teringat akan gamparan yang diterimanya hari ini, rasa mendongkol yang selama itu masih

berkecamuk di dadanya segera disalurkan ke arah toojin berusia pertengahan itu, dalam hati

timbullah rencana untuk memberi ganjaran kepada tosu tadi.

Tepat di depan pintu masih ada meja kosong, setelah melirik sebentar pemuda itu segera maju

ke depan dan duduk dengan membelakangi pintu.

Rupanya sang pelayan juga tak tahu diri, dengan wajah cengar-cengir penuh ejekan dia

menghampiri pemuda itu sambil bertanya, Tuan, apakah engkau juga akan minum arak?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

429

“Bawa dulu secawan air teh!” jawab Hoa Thian-hong sambil menahan hawa marahnya.

Melihat si anak muda itu adalah sasaran bahan tertawa bagi semua orang, mendengar pula

logatnya berasal dari luar daerah, timbul pula niat pelayan itu untuk menggoda, dengan suara

keras sengaja ia berteriak, “Ambilkan secawan air teh, air teh itu untuk kongcu yang sedang

ketimpa kesusahan, kalau bisa cari yang dingin….”

“Budak tak tahu diri!” sumpah Hoa Thian-hong di dalam hati, “kau juga berani menggoda diriku,

Hmmm….tunggu saja nanti, akan kubereskan pula dirimu!”

Beberapa saat kemudian pelayan telah muncul dengan membawa sepoci air teh dingin, sambil

siapkan cawan dan sumpit sambil tertawa cengar-cengir ujarnya lagi, “Kongcu ya, rupanya kau

baru saja mengalami perampokan, kau hendak pesan apa?”

Sambil berkata, biji matanya dengan tajam menyapu seluruh tubuh Hoa Thian-hong, rupanya dia

sedang memperingatkan kepada pemuda itu kalau di sakunya tak ada uang.

Hoa Thian-hong mendengus dingin, ia letakkan poci air teh itu di tengah meja, cawan didekatkan

dengan mulut poci lalu mengambil sebatang sumpit dan ditancapkan di dalam cawan tersebut.

Sungguh aneh sekali, sumpit itu seakan-akan menancap di dalam hiolo saja ternyata berdiri

tegak dan sama sekali tidak goyang.

Dalam sekejap mata ketiga orang toojin berusia pertengahan maupun dua orang kakek baju

hitam dan dua orang pria berpakaian ketat itu berubah air muka, suasana jadi hening dan sunyi

hingga tak kedengaran sedikit suarapun.

Haruslah diketahui demonstrasi mengerahkan tenaga dalam ke tubuh sumpit itu sehingga dapat

berdiri tegak di dasar cawan tak bisa dilakukan oleh setiap orang dengan mudah, namun Hoa

Thian-hong bisa melakukannya dengan gampang dan tak berbekas, kejadian ini benar-benar luar

biasa sekali.

Tetapi yang terutama adalah kode rahasia yang diperlihatkan si anak muda itu, membuat orang

merasa tercengang dan sama sekali diluar dugaan.

Para pelancong dan pedagang yang hadir pula dalam rumah makan itu meskipun bingung dan

tak habis mengerti, tetapi merekapun tahu kalau Hoa Thian-hong adalah se orang jago kangouw,

untuk sesaat suasana ia di hening tak kedengaran sedikit suarapun, berpuluh-puluh pasang mata

sama-sama dicurahkan ke arah pemuda itu.

Tampak Hoa Thian-hong membuka penutup poci air teh tadi kemudian mengetuk tubuh poci itu

perlahan.

Traaang…traang…traaang…! bunyi nyaring yang bening dan merdu berkumandang keluar dari

balik poci porslen yang kecil, ketika tersebar di udara suara tersebut kedengaran bagaikan bunyi

lonceng kuil tosu yang berdentang nyaring.

Semua hadirin terkesiap dan duduk dengan mata terbelalak mulut melongo, perhatian mereka

semua terhisap oleh demonstrasi permainan yang aneh itu, bahkan dara cantik itupun

menghentikan sumpitnya dan alihkan sepasang matanya yang bulat besar ke arah poci air teh

tadi.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

430

Hoa Thian-hong berlagak bodoh, seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu apapun, ia berpaling ke

arah sang pelayan yang telah pucat pias bagaikan mayat itu sambil berseru, “Tong thian It

cuhiang, kau mengerti?”

“Hamba mengerti…. hamba mengerti… Kongcu ya mau apa?” tanya pelayan dengan gemetar.

“Hmm! Siapkan empat macam sayur yang paling lezat, nasi, arak wangi dan siapkan di atas

nampan”

Pelayan itu mengiyakan berulang kali, dengan badan masih gemetar buru-buru dia ngeloyor ke

dapur.

Tiba-tiba ketiga orang toojin berusia pertengahan itu saling bertukar pandangan sekejap

kemudian bangkit berdiri dan maju menghampiri Hoa Thian-hong.

Setelah tiba dihadapan pemuda itu, mereka berdiri berjejer dengan toojin yang disebut Ngo

suheng berada ditengah, sambil silangkan telapak di dada memberi kode rahasia ia berkata,

“Siapakah nama sahabat? Apakah baru saja masuk menjadi anggota perkumpulan?”

“Aku tak boleh berbuat bodoh, kalau tidak tingkah lakuku pasti akan jadi bahan tertawaan di

dalam Bulim” pikir Hoa Thian-hong di dalam hati.

Bukan menjawab dia segera balik bertanya, “Bagaimana sebutan kalian dengan Thian Seng

Tootiang?”

“Dia adalah susiok pinto bertiga!”

Dengan wajah serius Hoa Thian-hong mengangguk.

“Ehmm……. jadi kalian adalah anak murid dari kaucu?”

Toojin itu membenarkan, ia menyahut, “Pinto bertiga adalah anak murid dari kaucu, sahabat,

engkau mendapat penghormatan di sektor mana?”

“Tak usah banyak bertanya,” tukas pemuda itu sambil goyangkan tangannya, “Thian Seng

tootiang menyebut saudara dengan aku, bila kalian tahu salah, ayoh cepat bayar rekening kalian

dan cepat pergi!”

“Ngo suheng, dia tentu orang gadungan yang mengaku-ngaku saja!” teriak Toojin di sebelah kiri

mendadak.

Toojin yang ada di tengah mendengus dingin, ia memandang sekejap ke arah Hoa Thian-hong

lalu berkata, “Sahabat, kalau engkau tak mau menerangkan asal usulmu lagi, jangan salahkan

kalau pinto akan kurang sopan terhadap dirimu!”

“Huuuuh,..! Sejak tadi kau sudah tak tahu sopan, dosa kalian musti dihukum….. ayoh jalankan

hukuman sendiri daripada aku musti repot!”

Criiiiing….! Ketiga orang toojin itu mencabut keluar pedangnya dan segera menyebarkan diri,

dengan membentuk posisi segitiga mereka tutup jalan mundur si anak muda itu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

431

Suara hiruk-pikuk memecahkan kesunyian, para tamu yang sekeliling tempat itu sama-sama

bangkit dari tempat duduknya dan mundur ke belakang, hanya empat pria baju hitam serta gadis

cantik itu saja yang masih tetap duduk tak berkutik di tempat semula.

Sikap Hoa Thian-hong tenang sekali, ia duduk tak berkutik di tempat semula dan sama sekali

tidak berpaling ke sekeliling tempat itu, ujarnya, “Aku pernah menyaksikan suatu barisan yang

disebut Sam Seng Bu-kek-tin, apakah kalian juga bisa menggunakannya?”

Barisan Sam Seng Bu-kek-tin adalah barisan yang diwariskan Kiu-tok Sianci kepada tiga harimau

dari keluarga Tiong, ilmu simpanan dari wilayah Biau itu jarang ditemui dalam Bulim, tiga orang

toojin tersebut segera mengira kalau mereka sedang diejek, hawa amarah kontan berkobar dan

nafsu membunuh tak terkendalikan lagi,

Toojin yang berdiri di depan pintu tiba-tiba membentak keras, pedangnya digetarkan ke udara

menciptakan berpuluh-puluh buah titik cahaya bintang yang mana langsung menusuk tulang

punggung si anak muda itu.

Hoa Thian-hong menjengek sinis, tubuhnya sama sekali tidak goyah dari tempat semula, menanti

ujung pedang hampir menyentuh tulang punggungnya ia gerakkan lengan dan tiba-tiba mengirim

satu pukulan ke belakang.

Selama setahun dua tahun ke belakangan ini, dia selalu tekun memperdalam jurus pukulan ‘Kunsiu-

ci-tauw’ nya, terhadap penggunaan jurus pukulan tersebut boleh dibilang sudah hapal dan

matang sekali, serangan yang dilancarkan barusan bukan saja hebat bahkan tepat mengarah

kedada musuh.

Tatkala Toojin itu menyaksikan ujung pedangnya sudah hampir menyentuh tubuh lawan namun

pihak musuh tidak menunjukkan reaksi apapun, ia merasa terkejut bercampur girang, hawa

murninya segera disalurkan keluar dan sekuat tenaga dia dorong pedangnya menusuk ke depan.

Tiba-tiba segulung angin pukulan yang maha dahsyat bagaikan gulungan ombak disamudra

meluncur ke muka, pedang dalam genggamannya segera bergetar keras, bukan saja tusukannya

menceng setengah depa ke samping bahkan kuda-kudanya gempur dan badan Toya terjerumus

ke depan langsung menumbuk bahu kanan pemuda lawannya.

Ketika pertama kali Hoa Thian-hong berjumpa dengan Ciu It-bong, kakek telaga dingin pernah

menyapu salju membentuk tiang salju yang berpusing di udara sehingga mengejutkan hatinya,

jurus yang pernah dipergunakan oleh Ciu It-bong itu sekarang dipergunakan olehnya, semua inti

kebagusan dan kehebatan dikeluarkan membuat pukulan itu bukan saja nampak aneh dan

membingungkan bahkan bila seseorang tak punya kepandaian yang lihay, tentu tak akan tahu

dimana letak kelihayan dari serangan tersebut.

Bentakan keras bergema memecahkan kesunyian, cahaya kilat menyambar lewat, dua bilah

pedang bersama-sama meluncur datang, satu dari kiri yang lain dari kanan.

Semangat Hoa Thian-hong berkobar, tangannya berputar mencengkeram pergelangan tangan

toojin yang ada di belakang tubuhnya, sekali ayun pedang tersebut segera menangkis ancaman

dari sebelah kanan, tangan kiri diayun mengirim pula satu pukulan ke depan.

Traaang…! bentrokan keras terjadi menimbulkan suara dentingan yang nyaring, percikan bunga

api muncrat keempat penjuru dan kedua bilah pedang itu sama-sama tergetar patah.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

432

Semua peristiwa terjadi dalam sekejap mata, serangan Hoa Thian-hong mencekal pergelangan

musuh, dengan pedang lawan memukul kutung pedang lawan semuanya dilakukan dalam sekali

gerakan, dibalik serangan membawa pula pertahanan yang kuat dan rapat, tahu-tahu telapak

kirinya telah menyampok miring pedang toojin yang lain kemudian merampas gagang pedangnya

dengan jitu.

Bagaikan sukmanya melayang tinggalkan, segera dengan ketakutan ketiga orang toojin itu loncat

mundur ke belakang, andaikata di belakang bukan membentur dinding tembok mungkin mereka

akan mundur lebih jauh lagi ke belakang….

Hoa Thian-hong tertawa dingin, cengkeramannya pada seorang toojin yang kena ditangkap

makin dipererat, telapak kirinya diayun siap menampeleng orang itu, tapi ingatan lain segera

berkelebat dalam benaknya, ia berpikir, “Ketiga orang ini tidak lebih cuma anak murid dari Thian

Ik si tosu tua itu. ilmu silat mereka tak bisa menangkan diriku, kenapa aku musti gaplok

mereka?”

Sambil lepaskan celananya dia lantas membentak, “Bayar rekening kalian dan cepat enyah dari

sini, lain kali kalau berani bicara sembarangan lagi…. Hmmm! lihat saja, akan kucabut jiwa kalian

semua!”

Dengan wajah pucat pias bagaikan mayat, ketiga orang toojin itu saling berpandangan sekejap,

tiba-tiba tooin di tengah melemparkan sekeping uang perak ke atas meja kemudian putar badan

dan kabur dari situ.

“Hay, masih ada uang arakku!” bentak Hoa Thian-hong.

Toojin yang mencekal pedang itu berjalan paling belakang, belum sempat tubuhnya melangkah

keluar dari pintu telinganya terasa mendengung keras, dengan ketakutan dia melemparkan

sekeping uang kemeja dan buru-buru ikut kabur dari situ.

Jilid 22

Hoa Thian-hong memandang hingga bayangan tubuh ketiga orang toojin itu lenyap dari

pandangan, ketika menjumpai para tetamu tak berani kembali ke tempat duduknya masingmasing,

ia tertawa geli dan segera serunya, “Mau apa kalian berdiri saja disitu? Masing-masing

makan punya sendiri, apa yang musti ditakuti?”

Mendengar perkataan itu para tamupun segera duduk kembali ke tempat semula, suara ramai

dan hiruk pikuk semua orang berebut untuk duduk lebih dahulu ditempatnya semula, seolah-olah

mereka takut kalau sampai terlambat sehingga menggusarkan Hoa Thian-hong.

Pada saat itulah dua orang kakek baju hitam serta dua orang pria berbaju ringkas itu membuang

sekeping perak kemeja, kemudian diam-diam berjalan keluar dari pintu.

Dalam hati Hoa Thian-hong berpikir, “Pek Soh-gie benar-benar seorang nona yang lembut, dan

kalem sekali, aku dengar ia tak pernah melakukan perjalanan di dalam dunia persilatan, kenapa

bisa sampai disini?”

Berpikir sampai disitu timbullah rasa pendekar dalam hatinya, kepada seorang kakek baju hitam

yang kebetulan lewat disisinya dia menegur, “Eeei…. .apakah kalian berempat anggota

perkumpulan Sin-kie-pang?”

“Benar,” kakek baju hitam itu mengangguk dan memberi hormat, “kongcu ada urusan apa?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

433

“Jin Hian ada maksud mencelakai jiwa kalian, berangkatlah dari sini ke arah timur dan lebih baik

jangan sampai berjumpa dengan orang-orang dari pihak Hong-im-hwie”

Air muka kakek baju hitam itu berubah hebat setelah mendengar perkataan itu, tetapi dalam

sekejap mata telah pulih kembali seperti sedia kala, segera sahutnya, “Terima kasih atas

petunjukmu…. setelah memberi hormat iapun berlalu dari situ.

Dalam sekejap mata keempat orang tadi sudah keluar dari pintu dan lenyap dari pandangan,

sebaliknya dara ayu tadi masih tetap duduk di tempat semula sambil menikmati bakmi di

mangkoknya.

“Kenapa Pek Soh-gie kalau makan begitu lambat?” pikir Hoa Thian-hong di dalam hati, “rupanya

dia sengaja hendak mengulur waktu, entah apa maksudnya?”

Dengan pakaiannya yang tidak genah, pemuda itu merasa rendah diri, tanpa terasa ia putar

badan dan menanti sayur dan arak sendiri.

Beberapa saat kemudian pelayan telah muncul dengan membawa sebuah nampan, di atas

nampan terdapat empat macam sayur, sepoci arak wangi, satu tong kecil nasi putih dan empat

perangkat cawan serta sumpit.

Pemilik rumah makan berjalan mengikuti di belakang pelayannya, setelah memberi hormat

katanya tergagap, “Dua macam sayur ini merupakan makanan paling baik dari rumah makan

kami, kami tak sanggup membuatkan yang lebih bagus lagi…. dan arak…. araknya adalah….”

Hoa Thian-hong geli melihat sikap orang itu, wajahnya berubah jadi hijau pucat, rupanya ia

sudah ketakutan setengah mati sehingga berbicarapun terlalu dipaksakan, ia segera goyangkan

tangannya sambil berseru, “Cukup…. cukup…. bukankah uangnya sudah dibayar?”

“Oh…. sudah…. sudah…. masih ada sisa!” buru-buru pemilik rumah makan itu lari ke lacinya.

Hoa Thian-hong tersenyum, sambil membawa nampan itu dia berjalan keluar dari pintu ruangan,

dengan pandangan yang sengaja dia melirik sekejap ke arah gadis itu.

Ketika tiba di jalanan ia tak bisa menahan diri lagi dan segera berpaling kembali ke arah rumah

makan tadi.

Sesosok bayangan manusia nampak berjalan pada jarak tiga empat tombak di belakang

tubuhnya, orang itu bukan lain adalah gadis ayu tadi. sikap maupun langkahnya tenang seolaholah

seorang gadis yang mengerti ilmu silat, siapapun tak menyangka kalau dia adalah putri

sulung dari ketua perkumpulan Sin-kie-pang.

Ketika gadis ayu itu melihat Hoa Thian-hong berhasil menemukan jejaknya, pipi yang putih

segera bersemu merah, biji matanya yang jeli berputar disekeliling tempat itu seakan-akan

sedang mencari tempat persembunyian.

Hoa Thian-hong sendiripun merasa pipinya jadi panas dan jengah sekali, setelah tertegun

beberapa saat dia lantas bertanya, “Nona Pek apakah engkau ada urusan yang hendak

disampaikan kepadaku….?”

Perlahan-lahan dara ayu itu maju ke depan, lalu menjawab dengan suara ringan, “Koko, keempat

orang yang kau jumpai tadi bukan anggota perkumpulan Sin-kie-pang”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

434

“Oooh…. jadi mereka orang-orang dari perkumpulan Hong-im-hwie” tanya sang pemuda setelah

tertegun sebentar.

Gadis itu mengangguk.

“Mereka sudah sembilan hari lamanya membuntuti diriku, dari Keng oh sampai tempat ini, orangorang

tersebut selalu mengun til di belakang atau denganku”

“Sudah terjadi bentrokan?” tanya Hoa Thin Hong dengan alis berkerut.

Gadis ayu itu menggeleng.

“Belum!”

Hoa Thian-hong termenung dan berpikir sebentar, tiba-tiba sambil tertawa ujarnya, “Aku dan

seorang angkatan tua yang sedang menantikan arak dan sayur, bagaimana kalau nona juga ikut

kesitu?”

Gadis cantik itu mengangguk, sambil mengikuti di belakang Hoa Thian-hong, berangkatlah

mereka tinggalkan dusun tersebut menuju ke tempat dimana nenek baju abu-abu menunggu.

Nenek itu masih tetap menanti di tempat semula, tongkat di tangannya masih tergenggam tapi ia

sedang mengantuk, dalam hati. Hoa Thian-hong segera berpikir, “Waah…. untung dia tertidur,

kalau tidak aku tentu dimarahi lagi….”

Rupanya nenek tua itu mendengar suara langkah manusia, mendadak sambil menengadah dia

membuka matanya.

Buru-buru Hoa Thian-hong maju ke depan, serunya sambil tertawa paksa, “Nenek, arak dan

sayur telah datang!”

Dengan mata melotot nenek tua itu menyapu sekejap sayur dan arak di atas nampan, la lu

tegurnya, “Huuh…. hasil mencuri?”

“Oooh…. tidak, tidak…. toojin dari Thong-thian-kauw yang telah membayarkan rekeningku, lain

kali kalau bertemu lagi pas ti akan kubayar hutang tersebut”

Nenek tua itu mencibirkan bibirnya, sorot mata segera dialihkan ke arah gadis cantik yang berada

di belakang pemuda itu.

“Nona ini bernama Pek Soh-gie” buru-buru Hoa Thian-hong memperkenalkan, “dia ada lah putri

sulung dari ketua perkumpulan Sin-kie-pang!”

Mendengar ucapan itu dari, balik mata nenek tua itu segera memancarkan cahaya yang amat

tajam, dengan cepat dia menyapu sekejap wajah gadis she Pek itu.

Pek Soh-gie buru-buru maju ke depan dan memberi hormat, katanya, “Soh-gie menyampaikan

salam buat nenek”

Kalau gadis itu bersikap wajar maka Hoa Thian-hong gelisah sekali, pikirnya dengan hati cemas,

“Nona ini adalah seorang gadis baik, wah…. berabe kalau nenek ini naik pitam dan mengumbar

nafsunya….”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

435

“Nona tak usah banyak adat!” terdengar nenek itu menyahut.

Pek Soh-gie mengucapkan terima kasih sambil berpaling segera tanyanya, “Toako ini siapa

namanya? Siaute baru pertama kali melakukan perjalanan, darimana toako bisa tahu asal

usulku?”

“Aku bernama Hoa Thian-hong….” pemuda itu memperkenalkan diri sambil tertawa.

“Telur busuk cilik!” tiba-tiba suara nenek tua itu berkumandang disisi telinganya bagaikan bisikan

nyamuk, baru saja aku peringatkan dirimu, Huuh…. baru berapa menit kau sudah mencari

perempuan lagi!”

Merah padam selembar wajah Hoa Thian-hong, dia tahu nenek tua itu memberi peringatan

dengan ilmu menyampaikan suara, dengan wajah serius buru-buru sambungnya kembali, “Aku

pernah mendengar nama nona dari ayahmu, maka setelah berjumpa aku segera mengenali

kembali.”

Pek Soh-gie mengangguk, biji matanya yang jeli melirik sekejap ke arah nampan di tangan Hoa

Thian-hong lalu melirik pula ke arah nenek tua itu, mulutnya membungkam sedang otaknya

berputar mencari penyakit diantara sikap yang tak wajar dari kedua orang itu.

Hoa Thian-hong maju kembali ke depan, sambil tertawa paksa ujarnya kepada nenek tua itu,

“Nenek kau tentu lapar bukan? tempat ini tak ada meja, bagaimana?”

“Hmm! Kau tanya aku, lalu aku harus tanya siapa?” bentak sang nenek dengan mata melotot.

Hoa Thian-hong jadi gelagapan, melihat dia tak mau duduk di lantai terpaksa sambil berlutut dia

angkat nampan itu ke atas, katanya lagi, “Nenek, silahkan minum arak. kalau sayurnya sudah

dingin tentu tidak enak.”

Rupanya Pek Soh-gie tidak tega, ia maju ke depan dan segera siapkan cawan dan sumpit untuk

nenek tua itu bahkan penuhi pula cawannya dengan arak wangi.

Melihat ada arak wajah nenek itu menunjukkan rasa girang yang tak terhingga, dia angkat cawan

dan menghabiskan arak terse but beberapa kali.

Pek Soh-gie penuhi kembali cawan itu de ngan arak, sang nenek segera menggerakkan sumpit

menikmati sayur dimangkok, Hoa Thian-hong yang menyungging nampan seketika merasa

perutnya jadi keroncongan setelah mencium bau harum yang membuat perut jadi lapar itu.

“Nona, kau sudah bersantap?” terdengar nenek tua itu menegur.

Terima kasih nenek, Pek Soh-gie baru saja bersantap!”

“Mau makan sedikit lagi?”

“Soh-gie ikut ibuku bermakah pantang, aku tak berani mendekati barang-barang berjiwa!”

Sekali teguk nenek tua itu menghabiskan isi cawannya, tiba-tiba ia menghela napas panjang dan

berkata, “Kho Hong-bwee kawin dengan Pek Siau-thian, kejadian itu benar-benar patut

disesalkan. kasihan Kho Hong-bwee yang matanya buta tak bisa milih suami yang genah, Bun

Siau-ih kawin dengan Hoa Goan-siu, orang bilang mereka adalah pasangan yang setimpal dan

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

436

bahagia, siapa tahu burung terbang berpisah toh hidup mereka lebih banyak sengsaranya

daripada bahagia, aaai…. gadis cantik kebanyakan bernasib jelek!”

“Nenek kenal dengan ibuku?” tanya Pek Soh-gie dengan wajah sedih.

“Aku si nenek tua telah seratus tahun hidup di kolong langit, sudah banyak kejadian tragis yang

kusaksikan, siapa bilang tidak kenal dengan dua wanita tercantik di dalam dunia persilatan?”

“Siapa nenek?” tiba-tiba Hos Thian-hong bertanya.

“Aku adalah aku, apa itu siapa-siapa?” bentak sang nenek dengan mata melotot.

Hoa Thian-hong yang kebentur pada batunya cuma bisa meringis tersipu-sipu, pikirnya,

“Waaah…. rupanya nenek tua ini lebih suka anak perempuan daripada anak laki, tiap kali aku

yang tanya tentu disemprot dengan kata tajam…. Huuh…. Sialan benar….”

Rupanya Pek Soh-gie tak menyangka kalau pemuda itupun tak kenal dengan asal usul nenek tua

ini, seielab tertegun sebentar katanya, “Hoa toako, apakah kau adalah keturunan dari Hoa

Tayhiap dari perkampungan Liok Soat Sanceng?”

Hoa Thian-hong mengangguk, teringat akan ayahnya yang sudah meninggal dan jejak ibunya

yang tak menentu, hatinya jadi sedih dan sikappun menjadi uring-uringan.

Melihat pemuda itu murung, setelah termenung sebentar Pek Soh-gie berkata lagi, “Seringkali ibu

membicarakan tentang ibu mu, katanya selama hidup dialah yang paling dikagumi, apakah dia

orang tua terada dalam keadaan sehat walafiat?”

Pemuda itu menggeleng.

“Kesehatan ibuku buruk sekali, karena hendak mencari, aku sekarang telah berkelana di dalam

Bulim, entah kini ia berada di mana? dan bagaimana Dasibnya?”

Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba ujarnya kembali, “Urusan ini rahasia sekali, harap nona

jangan membocorkan di tempat luaran….”

Soh-gie mengerti, tak usah toako peringatkan lagi”gadis itu menghela napas pan jang,

sambungnya, akhir tahun berselang adikku telah datang dan berkumpu1 dengan kami, dia bilang

sewaktu berada di tepi sungai Huang-ho telah memaksa Hoa toako sampai mati, setelah

mendengar berita itu ibu amat sedih hingga muntah darah tak hen tinya, sejak itu hari kesehatan

ibuku jadi melorot sampai akhirnya adikku mengirim surat lagi yang mengabarkan Hoa toako

muncul kembali di kota Cho ciu, saat itulah hati ibuku jadi lega dan sakitpun berangsur-angsur

pulih kembali seperti sedia kala”

“Ibumu terhitung ibu yang bijaksana, sungguh membuat aku kagum, bila di kemudian hari ada

jodoh tentu akan kusambangi sendiri dia orang tua,” kata sang pemuda lirih. “Pek Soh-gie segera

menyatakan rasa terima kasih.

“Setelah adikku mendapat peringatan dan teguran dari ibuku, dia mulai menyesal terhadap

perbuatan yang pernah dilakukan dan bersumpah akan merubah sikapnya yang jelek, dalam

surat berikutnya dia telah memuji-muji sikap Hoa toako yang gagah dan berjiwa ksatria,

tulisannya penuh mengandung pujian dan rasa hormat….”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

437

“Budak yang masih muda harus berwatak pendiam” sela nenek baju abu-abu itu dari samping”

kalau binal memang sudah sewajarnya mendapat pendidikan yang ketat!”

Ucapan nenek memang benar!” kepada Hoa Thian-hong ia melanjutkan.” adikku adalah

sebangsa kaum wanita, sedang Hoa toako adalah seorang lelaki sejati yang berjiwa besar, kau

pasti tak akan mendendam terhadap dirinya bukan?”

“Kejadian toh sudah lewat, kenapa aku musti mendendam?”

Nenek tua baju abu-abu itu menghabiskan kembali isi cawannya, tiba-tiba ia bertanya, “Pek Sohgie,

seorang diri engkau datang ke Timur, entah ada urusan apa?”

“Ibu mengetahui bahwa badai pembunuhan bakal melanda dunia persilatan, karena kejadian itu

hati beliau merasa murung dan sela lu tak tenang, beliau telah menulis sepucuk surat untuk

ayahku dengan harapan ayah bisa menyadari usia tuanya serta mengundurkan diri dari masalah

dunia, Soh-gie mendapat perintah untuk menyampaikannya”

Nenek tua itu segera tertawa dingin.

“Heeh…. heeh…. kau anggap Pek Siau-thian mau mendengarkan nasehat orang? ibumu memang

berhati mulia, sayang dia te lah salah mencari orang!”

“Menurut apa yang kuketahui,” ujar Hoa Thian-hong pula, “Pek lo pangcu amat sayang dan

menghormati istrinya, bahkan sayang sekali terhadap nona Soh-gie, cuma….”

“Cuma kenapa?” bentak nenek itu.

“Aaai….! Situasi dalam dunia persilatan dewasa ini amat kalut dan rumit sekali, sekalipun Pek Lo

pangcu tidak ingin mencampuri urusan dunia persilatan pun tindakannya tak akan bisa

menyelamatkan badai pembunuhan ini….”

Ia berhenti sebentar kemudian dengan wajah serius terusnya, “Walaupun urusan sudah tak bisa

ditolong lagi, tapi cita-cita dan tujuan Pek Hujien serta nona Soh-gie memang patut dihormati

dan dipuji setinggi langit”

“Hmm….! rupanya tidak sedikit rahasia yang kau ketahui!” seru nenek tua baju abu-abu itu

dengan suara dingin, “siang tadi aku lihat kau bicara lama sekali dengan Giok Teng Hujin,

ditinjau dari sikapmu yang serius dan sungguh-sungguh rupanya banyak urusan penting yang

telah kalian bicarakan?”

Teringat pemandangan ketika ia sedang bercakap-cakap dengan Giok Teng Hujin di tepi pantai

ombak menggulung kencang, angin berhembus menderu-deru, lagipula ada Soat-jie berjaga di

pantai, sekalipun nenek tua itu punya ketajaman telinga yang luar biasa rasanya juga tak

mungkin bisa mendengar pembicaraannya, maka sambil tersenyum ia berkata, “Giok Teng Hujin

membicarakan tentang asal usulnya. Aaai…. perempuan berwajah cantik seringkali bernasib

jelek!”

Dari sikap pemuda itu, sang nenek tahu bahwa ia tidak bicara jujur, dengan wajah gusar segera

hardiknya, “Kau berani bicara bohong?”

Hoa Thian-hong tidak langsung menjawab, pikirnya di dalam hati, “Teka teki yang menyelimuti

asal usul Giok Teng Hujin, persoalan mengenai pedang emas jantan dan betina serta Pui Chegiok

asli dan gadungan semuanya merupakan persoalan yang menyangkut masalah besar dalam

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

438

dunia persi1atan, lagi pula diba1ik persoalan itu terdapat hal-hal yang bisa dipsrcaya dan hal-hal

yang pasti dicurigai, perduli siapakah nenek tua ini rahasia besar tersebut tak boleh kubocorkan

dengan begitu saja.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar