Senin, 05 Oktober 2009

bara 4

Tampaklah bayangan ungu memenuhi angkasa. Hong-po Seng mencengkeram tangan kiri gadis

She Poei itu dan segera diangkatnya ke atas, kemudian berada di tengah udara ia putar tangan

tersebut satu lingkaran.

Reaksi yang diberikan secara tiba-tiba ini sama sekali tidak memakai aturan tapi kelihaiannya

justru terletak pada kecepatan serta ketepatannya menggunakan tenaga.

Poei Che Giot segera merasakan tulang telapak kirinya jadi sakit bagaikan retak, ia menjerit keras

dan hawa murninya seketika lenyap tak berbekas.

Diikuti Hong-po Seng ayunkan tangannya ke depan dan melemparkan tubuh gadis itu ke muka,

serunya dingin, “Andaikata aku harus melukai dirimu dalam keadaan begini sebagai seorang

lelaki sejati aku merasa jadi amat malu, apalagi bukan menggunakan jurus silat yang sejati,

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

138

tetapi kalau kau terus menerus tak tahu diri dan menginginkan kedua belah pihak sama-sama

menderita luka, terpaksa kita harus melangsungkan pertarungan kembali!”

Sembari memegangi tangan kirinya yang sakit Poei Che Giok berseru dengan wajah gusar,

“Orang mati, aku ingin sekali melangsungkan pertarungan sengit melawan dirimu, tapi aku takut

para pengejaran dari perkumpulan Hong-im-hwie menyusul kemari”

Perempuan ini dasarnya memang berwajah cantik ditambah pula tingkah lakunya yang

mempesonakan, membuat Hong-po Seng kendati berjiwa besar dan tidak mempunyai ingatan

sesat, dipandang terus oleh biji matanya yang jeli lama kelamaan merasa malu juga ia tak tahu

apa yang narus dilakukan.

Setelah merandek sejenak, gadis she Poei itu maju selangkah ke depan, sambil ulurkan tangan

serunya:

“Orang tolol ayoh berangkat!”

Hong-po Seng mundur satu langkah ke belakang, dengan wajah membesi hardiknya, “Lebih baik

kau berjalan di depan sana! kau harus tahu bahwa aku tidak mengenal apa artinya kasihan

terhadap kaum wanita, bila kau berani menunjukkan maksud jelek lagi terhadap diriku, jangan

salahkan kalau telapakku tidak mengenal kasihan!”

“Huuh……….! orang laki hatinya paling palsu,” jengek Poei Che Giok sambil mencibirkan bibirnya.

“Semakin mengatakan tidak kenal kasihan, dia justru paling tahu kasihan……..”

Sembari berkata ia segera ulurkan tangannya untuk menarik pergelangan pemudi tersebut.

“Hmm! lihat saja aku benar-benar tahu kasihan atau tidak kenal kasihan!” dengus Hong-po Seng

sinis, telapaknya segera diayun dan sebuah pukulan yang maha dahsyat bagaikan gulungan

ombak di tengah samudra segera menghantam tubuh Poei Che Giok.

Setelah lama melatih kepandaiannya, jurus pukulan “Koen-Sioe Ci-Tauw” ini boleh dibilang telah

dapat dipergunakan sesuai dengan kehendak hati, bukan saja amat dahsyat serangannya bahkan

jauh lebih ampuh daripada sewaktu bertarung melawan Pek Kun-gie tempo dulu.

Diam-diam Poei Che Giok merasa terperanjat, ia sadar bahwa dirinya telah bertemu dengan

musuh tangguh, sang badan segera berkelebat mundur beberapa tombak ke belakang kemudian

setelah mengerling sekejap ke arah pemuda itu ia putar badan dan berlalu lebih dahulu.

Hong-po Seng sendiripun menyadari akan bahaya yang mengancam dirinya, ia tak berani berayal

dan segera enjotkan badannya menyusul di belakang gadis itu.

Tetapi setelah dilihatnya dara berbaju ungu itu berlari menuju ke selatan, dalam hati kecilnya

segera timbul perasaan curiga.

Beberapa puluh li kembali dilewati dengan cepat, lama kelamaan akhirnya Hong-po Seng tidak

kuat menahan diri, teriaknya, “Hey, Poei Che Giok! bukankah kau hendak kembali ke

perkumpulanmu Thong Thian Kauw? kenapa mengambil jalan ke arah Tenggara?”

“Ini namanya siasat untuk mengelabui mata musuh!” sahut Poei Che Giok sambil tertawa.

“Seandainya rahasia sampai konangan, maka biarlah pihak Hong-im-hwie mencari orang-orang

dari perkumpulan Sin-kie-pang untuk dimintai pertanggungan jawab.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

139

Mendengar jawaban tersebut, diam-diam Hong-po Seng mengerutkan dahinya.

“Eeei….., sekarang kita berada di mana?” kembali teriaknya, “Kenapa sepanjang perjalanan tidak

nampak seorang manusiapun yang berlalu lalang?”

“Sebelah kiri adalah gunung Thay beng san, jalan kuno ini sudah lama dilupakan orang, tentu

saja sulit untuk menjumpai ada orang yang mengambil jalan ini……”

Belum habis ia berkata, mendadak dari arah depan meluncur datang empat sosok bayangan

manusia, di antara keempat orang itu terdapat lelaki perempuan tua dan muda.

Merasakan dari depan ada orang yang muncul diri. Hong-po Seng segera pusatkan perhatiannya

untuk memandang, tapi dengan cepat ia telah berpikir dengan hati tertegun.

“Eeeei? kenapa mereka bisa berjalan satu rombongan?……….”

Kiranya keempat orang yang sedang berlarian mendatang itu bukan lain adalah Tiong-si San

Hauw tiga ekor harimau dari keluarga Tiong sedangkan si gadis berbaju abu-abu yang mengiringi

di belakang bukanl adalah Chin Wan Hong, putri dari Chin Pek Cuan.

Mendadak terdengar Poei Che Giok berseru, “Ong Khong! keempat orang itu harus dibasmi

semua, jangan dibiarkan seorangpun di antara mereka berbasil meloloskan diri!”

Sembari berkata ia segara meloloskan pedangnya dari sarung.

Sejak pertama kali tadi Hong-po Seng mengaku bernama Ong Khong, dan gadis itupun sudah

terbiasa menyebut nama tersebut, maka pemuda itupun selalu berlagak pilon.

Dalam pada itu Tiong-si San Hauw telah berajalan semakin dekat, berhubung kedua belah pihak

sama-sama melakukan perjalanan dengan cepat, sedangkan Hong-po Seng pun membuntuti di

belakang Poei Che Giok maka ketiga orang itu sama sekali tidak mengetahuinya.

“Perempuan yang menyebut dirinya bernama Poei Che Giok ini bukan saja cabul dan bermoral

rendah, hatinya sangat keji sekali,” pikir si anak muda itu di dalam hati “Daripada membiarkan

dirinya hidup jauh, lebih baik dibasmi saja dari muka bumi!”

Belum sempat ia mengambil sesuatu tindakan terlihatlah gadis itu sudah mempersiapkan

pedangnya untuk melancarkan serangan bokongan ke arah si harimau pelarian Tiong Liauw yang

berada di paling depan.

Ia jadi terperanjat bercampur gelisah segera bentaknya keras-keras, “Poei Che Giok, lihat

serangan!”

Gadis she-Poei itu terperanjat, buru-buru ia berkelit ke samping dan melayang lima depa ke

depan.

Dalam pada itu si harimau pelarian Tiong Liauw telah menghentikan larinya, ketika menjumpai

Hong-po Seng secara tiba-tiba munculkan diri di tempat itu ia jadi sangat kegirangan segera

teriaknya, “Hong-po Kongcu…….”

“Harap cuwi sekalian menanti sebentar di samping!” seru pemuda itu, ia segera maju ke depan

dan melancarkan sebuah pukulan lagi ke arah depan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

140

Poei Che Giok dari jengkelnya jadi tertawa ia putar pedangnya ke depan, bukannya mundur

sebaliknya malah maju ke depan. Sahutnya, “Keparat cilik, ternyata kau benar- benar tidak

bernama Ong Khong!!…”

Sementara pembicaraan masih berlangsung dengan cepatnya kedua orang itu telah saling

melancarkan tiga buah serangan.

“Poei Che Giok!” teriak Hong-po Seng lagi sambil mengirim pukulan-pukulan gencar. “Kau harus

mengaku terus terang Jien Bong dengan dirimu toh sepasang kekasih yang setimpal, mengapa

kau melancarkan serangan keji dengan membinasakan dirinya? sebetulnya apa tujuan mu?……”

Air muka Poei Che Giok seketika berubah hebat sambil menyeringai seram serunya, “Untuk

menyelamatkan jiwamu tahu bangsat!”

Pedangnya meluncur ke depan semakin cepat bagaikan biang lala yang membelah bumi ia

lepaskan serangan-serangan keji yang dahsyat dan mematikan.

Mendadak terdengar suara bentakan keras berkumandang memecahkan kesunyian, si Harimau

pelarian Tiong Liauw sambil menubruk ke depan telapaknya segera diayun menghajar punggung

Poei Che Giok.

Poei Che Giok putar pedang sambil menangkis, ia temukan ilmu pukulan yang digunakan orang

lain ternyata persis dengan ilmu pukulan yang digunakan Hong-po Seng hatinya kontan jadi

terkejut bercampur sangsi, dengan pandangan tercengang ditatapnya wajah lawan tanpa

berkedip.

Hong-po Seng sendiri diam-diam pun berpikir, “Ilmu pukulan ini meski digunakan dengan tenaga

yang jauh belum mencukupi tetapi gerakannya tepat dan sedikitpun tidak salah dengan bakatnya

yang amat bagus itu, asalkan di kemudian hari dia mau berlatih rajin dan tekun rasanya tidak

sulit untuk memperoleh kemajuan pesat!”

Berpikir demikian ia lantas berseru lantang, “Tiong loo enghiong, untuk sementara waktu harap

mundur dulu ke belakang! …”

Terdengar harimau pelarian Tioag Liauw dengan suara dingin berseru, “Tiong Liauw belum

pernah jadi seorang enghiong silahkan Kongcu yang menyingkir ke samping untuk beristirahat,

berilah kesempatan kepada kami tiga ekor harimau dari keluarga Tiong untuk menunjukkan

kebaktian kami…….”

Sedari tadi si harimau ompong Liong Soe Poocu sudah gatal-gatal tangan, begitu suaminya

berbicara ia segera enjotkan badannya melompat ke depan, dengan jurus Koen Sioe Ci Tiauw, ia

hantam tubuh Poei Che Giok keras-keras.

Tampaklah bayangan tubuh berkelebat lewat si harimau bisu Tiong Song tahu-tahu menyerang

datang dari sayap kiri. Orang ini bergelar harimau bisu karena sepanjang tahun jarang sekali

mendengar ia buka suara untuk berbicara.

Terlihatlah dengan perawakan tubuh yang gagah dan kuat karena usianya masih muda. Ia

mainkan jurus pukulan itu dengan sangat hebat, angin pukulan menderu-deru hawa serangan

dengan tajamnya meluncur ke depan mengurung sekujur tubuh lawan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

141

Poei Cbe Giok terkejut bercampur gusar menyaksikan tiga buah telapak kiri secara se-rentak

mengerubuti dirinya dengan lihay, memaksa tubuhnya cepat-cepat harus menyingkir ke samping

untuk meloloskan diri teriaknya dengan penuh kegusaran, “Hey manusia she Hong-po,

sebenarnya kalian berasal dan aliran sesat mana?” Hong-po Seng tertawa ringan, sambil

melayang mundur ke samping sahutnya, “Kami adalah sekelompok manusia-manusia

perkumpulan Sin-kie-pang yang bertugas di ruang Thian Kie Thong……….”

Berbicara sampai di situ mendadak ia merasa malu sendiri, pikirnya di dalam hati, “Aku mana

boleh menyamar jadi manusia-manusia serigala yang bergabung dalam organisasi kaum bajingan

perkumpulan Sin-kie-pang? meskipun asal-usul perempuan ini rada tidak beres, tetapi perbuatan

kami yang mengerubuti dirinya dengan andalkan jumlah besar sudah merupakan suatu tindakan

yang kurang terbuka dan jujur, tidak pantas sebagai tingkah laku seorang lelaki sejati”

Sementara ia masih membatin , tampaklah keempat orang itu sudah saling bergebrak beberapa

jurus banyaknya, menghadapi musuh yang demikian tangguhnya ini ternyata tiga ekor harimau

dari keluarga Tiong menunjukkan sikap yang gagah dan tidak jera menghadapi kematian,

sekeluarga tiga orang bersatu padu maju mundur dengan teratur bagaikan satu tubuh, kendati

gerakan ilmu pukulannya belum matang dan tenaga lwekang yang dimiliki masih amat cetek,

tetapi untuk beberapa saat Poei Che Giok tidak sanggup pula merebut kemenangan, apalagi

meneter ketiga orang itu. Maka ia segera membentak keras, “Cuwi sekalian harap segera

berhenti bertempur!”

Begitu mendengar suara bentakan dari Hong-po Seng, tiga ekor harimau dari keluarga Tiong

segera mengirim satu babatan secara berbareng dan meloncat mundur ke belakang, tetapi

mereka tidak pergi jauh, dengan berdiri di tiga penjuru mereka kepung Poei Che Giok di tengah

kalangan.

Terhadap kepungan tersebut Tosi Chee Tong pura-pura tidak melihat, sambil mencekal

pedangnya ja mengerling sekejap ke arah Hong-po Seng lalu ujarnya dengan nada menyindir,

“Sedari tadi aku telah menduga bahwa kedudukanmu di dalam perkumpulan Sin-kie-pang tidak

rendah, ayoh sebutkan namamu. Hong-po apa?”

Hong-po Seng tersenyum diikuti wajahnya berubah serius, katanya sungguh-sungguh, “Kami

berlima tidak termasuk perkumpulan atau perkumpulan agama apapun juga!…..” setelah menjura

tambahnya, “Tempat ini bukan merupakan suatu tempat yang aman, keadaan amat kritis dan

mara bahaya setiap saat bisa mengancam tiba, silahkan nona segera berlalu dari sini”

Dengan biji matanya yang jeli Poei Che Giok menatap wajah si anak muda itu tajam-tajam,

setelah mengetahui bahwa ucapannya bukan kata-kata yang bohong, dengan alis berkerut ia

segera berseru, “Sin-kie-pang, Hong-im-hwie serta Thong Thian Kauw merupakan tiga kekuatan

besar yang menguasai dunia persilatan dewasa ini bila kalian tidak termasuk di dalam salah satu

perkumpulan yang ada dewasa ini, kemanakah kamu semua hendak menyelamatkan diri?

Menurut pendapatku, alangkah baiknya kalian mengikuti aku menuju ke arah Tenggara saja, aku

tanggung kalian akan mendapat jaminan hidup yang baik serta punya nama serta kedudukan

yang terhormat”

“Terima kasih atas maksud baik dari nona,” sahut Hong-po Seng seraya menjura. “Sayang cayhe

masih ada tugas di badan hingga untuk saat ini tak bisa memenuhi harapanmu itu. Untuk waktu

di kemudian hari masih panjang bila kita sempat berjumpa muka lagi di kemudian hari tiada

halangan nona ajukan lagi tawaran tersebut”

“Justru aku takut waktu di kemudian hari tidak banyak, dan kita sukar untuk saling berjumpa

kembali,” kata Poei Che Giok setelah termenung sejenak.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

142

Setelah merandek mendadak ia tertawa nyaring dan berseru, “Semoga cuwi sekalian diberkahi

nasib yang baik, kita sampai jumpa lagi di lain kesempatan”

Habis berkata sepasang bahunya segera bergerak dan tubuhnya dengan enteng melayang ke

depan.

Menyaksikan air mukanya yang menunjukkan tanda-tanda tidak beres, satu ingatan segera

berkelebat di dalam benak Hong-po Seng, sedikitpun tidak salah ketika ia menyambar lewat di

sisi tubuh Chin Wan Hong mendadak tangannya menyambar ke depan, laksana kilat ia

mencengkeram tubuh gadis she Chin tersebut. Chin Wan Hong sebagai seorang gadis yang alim

dan lemah lembut sama sekali tidak pernah menyangka kalau dirinya bakal dibokong, menanti ia

menyadari akan mara bahaya yang mengancam dirinya sang hati baru merasa terkesiap,

seketika itu juga dara ayu ini dibikin gelagapan dan kalang kabut tidak karuan.

Terdengar Hong-po Seng mendengus dingin sambil miringkan tubuhnya satu pukulan dahsyat

segera dilontarkan ke depan.

Pukulan ini meluncur ke depan laksana kilat yang menyambar di tengah angkasa, dalam waktu

singkat telah mencapai pada sasarannya. Baru saja jari tangan Poei Che Giok hendak menyentuh

di atas urat nadi pergelangan tangan Chin Wan Hong, mendadak segulung tenaga tekanan yang

berat laksana sebuah tindihan bukit telah menerjang punggungnya.

Ia terkesiap dan buru-buru menyusut mundur beberapa langkah ke belakang, teriaknya, “Sebuah

pukulan yang sangat indah!”

Sambil tertawa terkekeh-kekeh badannya meluncur ke depan, dalam waktu singkat gelak

tertawanya telah berada kurang lebih ratusan tombak jauhnya dari tempat semula. Menyaksikan

gerakan tubuhnya yang begitu cepat dan sebat, semua orang jadi tertegun dan berdiri dengan

mulut melongo, air muka mereka berubah hebat dan siapapun tidak percaya kalau seorang gadis

yang demikian mudanya ternyata memiliki kepandaian sebebat itu.

“Hong-po Kongcu,” terdengar Chin Wan Hong buka suara memecahkan kesunyian yang

mencekam seluruh kalangan, “Siapakah gadis itu? mirip benar dengan Pek Kun-gie!”

“Dia bernama Poei Che Giok dan termasuk anggota dari sekte agama Thong Thian Kauw”

Setelah merandek sejenak, tambahnya lagi, “Sekarang kita berada di daerah yang sangat

berbahaya dan setiap saat kemungkinan besar jiwa kita terancam, bilamana tidak cepat-cepat

melarikan diri niscaya kita semua bakal mati di sini, ayoh kita segera berangkat!”

Dengan langkah lebar ia segera mendahului dan berjalan duluan di paling depan.

Tadi di antara dua orang ilmu meringankan tubuh dari Hong-po Seng tidak bisa melebihi

kelihayan Poei Che Giok tetapi sekarang di antara kelima orang ini boleh dibilang tenaga

lweekang Hong-po Senglah yang paling tinggi.

Setelah melakukan perjalanan beberapa saat lamanya, ia temukan Chin Wan Hong sudah mulai

kepayahan, keringat mulai mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, maka ia pun

mengulurkan tangannya untuk menggandeng tangan dara tadi, tanyanya, “Nona Chin, secara

bagaimana kaupun bisa datang ke Propinsi Sian-say……..?”

Chin Wan Hong tertawa jengah.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

143

“Selama ini aku selalu menguntil di belakang Kongcu, cuma disebabkan karena kereta itu berlari

terlalu cepat ditambah pula aku tidak kenal jalan, maka…….”

Diam-diam Heng-po Seng merasa terharu setelah mendengar ucapan itu, pikirnya di dalam hati,

“Dari kota Seng Chiu ia membuntuti aku sampai di sini, ooh……, aku telah menyulitkan nona

ini………”

Sebenarnya pemuda ini ada maksud hendak mengutarakan beberapa patah kata yang

menyatakan rasa terima kasihnya, tetapi ia merasakan tenggorokannya seakan-akan tersumbat,

tak sepatah katapun berhasil dilontarkan keluar.

Dari perubahan air mukanya Chin Wan Hong bisa memahami maksud hati si anak muda itu,

kepalanya segera tertunduk rendah-rendah dan bisiknya lirih, “Demi keluarga Chin, Kongcu harus

mengalami kejadian yang menyusahkan dirimu, membuat jiwamu selalu terancam bahaya dan

mengalami pelbagai siksaan yang membuat kau menderita, meskipun kami orang-orang dari

keluarga Chin harus mengorbankan jiwa dan tubuh bakal remuk redam, kami bersumpah akan

membalas budi kebaikanmu itu……”

“Nona kau keliru,” kata Hong-po Seng. “Cayhe berbuat demikianpun tidak lain karena ingin

membalas budi kebaikan yang pernah diberikan Chin Loo Enghiong kepada keluarga kami di

masa yang silam”

Sepanjang perjalanan menuju ke arah Selatan, kelima orang itu selalu berada dalam keadaan

aman tenteram tanpa mengalami cegatan atau halangan apapun juga, senja itu tibalah mereka

di tepi sebuah sungai, sungguh tak dinyana tepi pantai sungai Huang-hoo ternyata penuh

berjubel-jubel manusia yang sedang antri untuk menyeberang.

Semua perahu penyeberang berderet-deret merapat di tepi namun tak sebuah perahupun yang

berlayar menuju ke tepi seberang, sebaliknya dari pantai selatanpun tidak nampak ada perahu

yang berlayar datang.

Diam-diam Hong-po Seng terperanjat ia segera mengerlingkan matanya memerintahkan Chin

Wan Hong serta Tiong-si San Hauw mencampur baurkan diri dengan khalayak ramai, sedang ia

sendiri duduk di atas tanah sambil bertanya kepada seorang pedagang yang berada di sisinya,

“Paman, tolong tanya kenapa begitu banyak orang yang menunggu di tepi pantai tapi tak sebuah

perahupun yang menyeberang ke tepi selatan?”

Pedagang itu memperhatikan sekejap wajah Hong-po Seng, kemudian setelah menyapu sejenak

ke sekeliling tempat itu bisiknya, “Para yaya dari pihak perkumpulan telah menutup sungai ini

dari semua penyeberangan, mungkin di dalam tubuh perkumpulan mereka telah terjadi peristiwa

besar, kami sekalian sudah seharian penuh menanti di sini…. Aai! orang muda kalau bepergian

musti sabarkan diri dan jangan terburu nafsu. terutama mulut jangan banyak bicara sebab salahsalah

bisa mengundang datangnya mara bahaya bagi diri sendiri”

Hong-po Seng mengucapkan banyak terima kasihnya berulang kali kemudian baru alihkan sinar

matanya ke arah dermaga, tampaklah serombongan jago-jago bersenjata lengkap menyebarkan

diri di sekitar tepi sungai, wajah mereka semuanya menghadap ke arah sungai, seakan-akan

sedang mengawasi permukaan sungai itu untuk menghindari ada orang yang menyusup keluar.

Kurang lebih sepenanak nasi lamanya sudah lewat namun belum nampak suatu gerak gerik

apapun juga, ratusan orang banyaknya sama-sama menunggu giliran untuk menyeberang,

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

144

suasana hiruk-pikuk memenuhi angkasa namun tak seorangpun bisa meninggalkan tempat itu.

Sementara sang surya perlahan-lahan mulai condong ke arah barat, haripun mulai menjadi

gelap.

Dalam hati diam-diam Hong-po Seng berpikir, “Kalau ditinjau keadaan ini jelas peristiwa berdarah

yang terjadi di perkampungan Liok Soat Sanceng sudah diketahui oleh mereka, sedang Teratai

Racun Empedu Api saat ini berada di dalam sakuku, apa yang harus aku lakukan dalam keadaan

begini?………”

Si Harimau Pelarian Tiong Liauw tiba-tiba maju menghampiri sambil bisiknya lirih, “Kongcu-ya.

Kalau harus menunggu dan menunggu terus entah sampai kapan kita baru bisa menyeberang,

aku lihat lebih baik kita menyeberang dengan jalan berenang saja”

“Setelah tempat ini ditutup bagi penyeberangan aku pikir di tempat lain pun keadaannya tidak

akan jauh berbeda, daripada bergerak lebih baik bersikap tenang daripada memancing perhatian

orang terhadap kita”

Si Harimau Pelarian Tiong Liauw melirik sekejap ke arah sungai sebelah depan, kemudian ia

berbisik kembali, “Pantai seberang berada di bawah kekuasaan perkumpulan Sin-kie-pang, asal

kita bisa merampas perahu……..”

Mendadak terdengar suara derap kaki kuda yang gemuruh keras berkumandang datang, tiga

puluhan ekor kuda yang tinggi besar secara serentak munculkan diri di tepi sungai, debu

mengepul memenuhi angkasa… begitu tiba di situ dengan sigapnya ketiga puluh orang tadi

segera meloncat turun dari atas punggung tunggangannya.

Gerak-gerik serombongan orang ini cekatan dan gesit semua, gerakan tubuh mereka enteng dan

cepat. Sekilas memandang siapapun tahu kalau mereka memiliki ilmu silat yang sangat lihay.

Hong-po Seng yang dapat melihat pula kehadiran orang-orang itu, dalam hati segera merasa

amat kesal, pikirnya, “Aliran air sungai teramat deras, permukaan sungai ini pun sangat luas, aku

sama sekali buta di dalam kepandaian memegang kemudi perahu ditambah pula ilmu berenang

di air tak kupahami…. aaaai! kalau suruh aku merampas perahu untuk menyeberangi sungai ini,

jelas di dalam sepuluh ada sembilan bagian akan mengalami kegagalan total”

Berpikir demikian otaknya lantas berputar kencang untuk mencari akal yang lain, di samping itu

kepada si Harimau Pelarian Tiong Liauw bisiknya pula, “Mari kita jalan secara terpisah, perduli

peristiwa apa yang bakal terjadi dan menimpa diriku, kalian harus berlagak seolah-olah tidak

pernah kenal dengan diriku, janganlah sekali kali menyapa atau menunjukkan sikap ingin

menolong”

Si Harimau Pelarian Tiong Liauw merasa tertegun setelah mendengar ucapan itu, tapi ia tidak

membantah, perlahan-lahan badannya meninggalkan tempat itu dan mengabarkan kepada ketiga

orang lainnya.

Kembali beberapa saat telah lewat, dari ujung sungai mulai terjadi kegaduhan yang sangat

berisik, dalam suasana yang remang-remang karena senja telah menjelang tiba, berpuluh-puluh

batang obor dipasang di sekitar dermaga tersebut.

Hong-po Seng dengan cepat alihkan sinar matanya ke arah permukaan sungai, ia temukan

beberapa buah perahu sudah mulai bergerak meninggalkan dermaga rupanya orang-orang yang

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

145

baru datang dengan menunggang kuda tadi mulai melakukan pemeriksaan yang ketat terhadap

setiap penyeberang yang melewati tempat itu.

Dengan seksama si anak muda itu memeriksa lebih jauh, atau secara mendadak ia jadi amat

terperanjat sebab dilihatnya setiap orang yang mendapat pemeriksaan bukan saja harus

menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada mereka bahkan sekujur badannya harus

di geledah dan diraba dengan teliti prosedurnya amat rumit dan sulit untuk untuk ke atas perahu

penyeberang seseorang harus melewati pemeriksaan secara berulang kali dengan ketatnya.

Diam-diam ia jadi merasa amat gelisah pikirnya, “Teratai Racun Empedu Api berada di dalam

sakunya, seandainya sampai digeledah dan tertangkap sudah pasti aku tak bisa meloloskan diri

dari tempat ini dalam keadaan selamat, padahal teratai racun ini sangat mempengaruhi sembuh

atau sakitnya ibuku,” dengan susah payah aku berhasil mendapatkannya dan kini akupun tak

boleh membuang dengan begitu saja..!”

Sementara hatinya sedang gelisah dan berusaha karena mencari akal untuk meloloskan diri dari

tempat itu, mendadak dirasakannya si Harimau Pelarian Tiong Liauw telah berjalan menghampiri

dirinya lagi, tanpa terasa sepasang alisnya berkerut kencang, sembari berpaling serunya, “Jalan

mondar-mandir ke sana ke mari gampang memancing kecurigaan orang …”

“Keparat cilik, pentang matamu lebar-lebar dan lihatlah siapakah aku!….” serentetan tertawa

riang berkumandang dari sisi telinganya.

Ternyata orang yang menghampiri dirinya dari belakang itu bukanlah si Harimau Pelarian Tiong

Liauw seperti apa yang diduganya semula.

Hong-po Seng jadi amat terperanjat, ia merasa amat kenal dengan suara tersebut, ketika

kepalanya hendak berpaling ke belakang mendadak jalan darah “Leng Sioe hiat” di atas

pinggangnya jadi kaku, disusul urat nadi di atas pergelangan kirinya dicengkeram orang.

Perubahan yang terjadi secara mendadak ini sama sekali tidak memberi kesempatan bagi Hongpo

Seng untuk berkutik ataupun menunjukkan suatu reaksi, sebelum ia sempat berbuat sesuatu

mendadak di hadapan wajahnya telah muncul seraut wajah putih yang halus dan sangat dikenal

olehnya, sambil tertawa rendah terdengar ia menegur, “Hey, bangsat cilik! rupanya nasibmu

masih mujur dan umurmu masih panjang, masihkah kau kenali diri kongcu-ya mu?”

Hong-po Seng memperhatikan wajah orang itu lebih seksama, dan dengan cepat diapun kenali

orang itu sebagai Kok See-piauw anak murid dari Boe Liang Sinkun, mereka berdua pernah saling

berjumpa muka di rumah kediaman keluarga Chin Pek Cuan di kota Keng Chiu, bahkan pernah

melangsungkan pertempuran sengit pula di sana, setelah berpisah selama beberapa bulan

sungguh tak nyana mereka berjumpa muka lagi di sini.

Hong-po Seng pernah termakan pukulan maut Kioe Pit Sin Ciang-nya sehingga hampir saja

selembar jiwa melayang, kini setelah berjumpa muka lagi dengan musuh besarnya hawa amarah

kontan berkobar, sambil tertawa dingin jengeknya, “Membokong dari belakang, kau terhitung

enghiong hoohan macam apa? Hmm…..!”

Kok See Piaow tersenyum, mendadak dengan wajah membesi hardiknya lirih terhadap orang di

depan yang kebetulan sedang menoleh ke belakang, “Hey kalau kau ingin hidup, lebih baik

jangan mencampuri urusan orang lain!”

Hong-po Seng merasa amat gelisah, tiba-tiba ia teringat bahwa tangan lembut halus yang

mencengkram pergelangan kirinya saat ini bukanlah tangan dari Kok See-piauw, ingin sekali ia

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

146

menoleh untuk melihat lebih jelas tetapi apa daya Kok See-piauw telah menotok jalan darah

kakunya sehingga membuat batok kepalanya sama sekali tak mampu berputar.

Sebaliknya orang itu menyembunyikan diri di belakangnya, dengan demikian ia tak sanggup

untuk melihat jelas raut wajah orang tadi.

Diam-diam pikirnya di dalam hati, “Nona Chin serta tiga Orang harimau ganas dari keluarga

Tiong berada di sekitar sini dan hingga kini tidak nampak gerak-gerik mereka, jangan-jangan

keempat orang itupun sudah tertangkap oleh pihak lawan?…..”

Belum habis dia berpikir mendadak terasalah sebuah tangan yang kecil dan lembut menerobos

masuk ke dalam sakunya lewat bawah iganya, diikuti lubang hidungnya mencium bau harum

semerbak yang menyegarkan badan.

Hong-po Seng merasa makin gelisah, begitu dirasakannya sebuah tangan yang lembut halus

merogoh ke dalam sakunya dan meraba Teratai Racun Empedu Api yang disimpan di sana, ia jadi

kaget dan segera menegur dengan setengah merengek, “Siapa kau? apa gunanya kau ambil

teratai racun itu?”

0000O0000

11

TERDENGAR suara sahutan yang merdu dan enak didengar menggema masuk ke sisi telinganya,

“Aku! kalau tahu diri tenang dan janganlah banyak berkutik!”

Dari nada suara tersebut Hong-po Seng segera kenali sebagai nada suara Pek Kun-gie yang

ketus dan dingin, terpaksa ia memperendah nada suaranya seraya menjawab, “Teratai racun itu

tiada kegunaannya sama sekali bagimu, harap nona suka mengembalikannya kepadaku!”

“Hmm! kalau memang tiada kegunaannya sama sekali, buat apa kau menyimpannya di dalam

saku?”

Sembari berkata tangannya kembali menggeledah saku pemuda itu.

Selama ini Kok See-piauw selalu berada di sisi mereka, tatkala dilihatnya Pek Kun-gie dengan

tangan kiri mencengkeram pergelangan kiri Hong-po Seng, sedangkan tangan kanannya sedang

melewati di bawah iga pemuda itu sedang menggeledah saku Hong-po Seng sehingga tubuh

kedua orang itu hampir saja menempel antara yang satu dengan lainnya, timbul rasa cemburu iri

dan gusar dalam hati kecilnya.

Semenjak perkenalannya dengan diri Pek Kun-gie, anak murid dari Boe Liang Sinkun ini selalu

berusaha untuk mendekati dara tersebut, ia berdaya upaya untuk menarik perhatian gadis itu

serta suka membalas cintanya, apa lacur tabiat Pek Kun-gie memang sangat kukoay, terhadap

cinta kasih muda-mudi seakan-akan tidak menaruh minat sama sekali, oleh sebab itu hubungan

cinta di antara mereka selalu tidak memperoleh kemajuan seperti apa yang diinginkan, dan kini

setelah dilihatnya sang gadis idamannya saling berdempetan begitu rapatnya dengan lelaki lain,

sudah tentu hatinya jadi panas.

Tapi ia tidak berani terlalu memperlihatkan rasa cemburunya, sambil tersenyum katanya lirih.

“Hian moay, kau tak usah repot-repot musti turun tangan sendiri biarlah Siauw-heng yang

menggeledahkan saku keparat cilik ini!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

147

“Terima kasih atas perhatian kok heng kau tak usah turut campur dalam persoalan ini,” tukas Pek

Kun-gie ketus sambil berbicara tangan meneruskan penggeledahannya memeriksa seluruh isi

saku pemuda she Hong-po itu tapi dengan cepat ia jadi kecewa, sebab benda yang diharapkan

ternyata tidak berbasil ditemukan.

Hong Seng sendiri setelah dilihatnya gadis itu sesudah mengambil teratai racun Empedu Api

masih juga menggeledah sakunya, dalam hati segera memahami maksud hati lawannya, dalam

hati iapun berpikir,

“Pastilah ia sedang menggeledah sakuku untuk menemukan pedang Emas tersebut Kalau begitu

sudah jelas sekarang perbuatan Poei Che Giok dengan kecantikan wajahnya memikat hati Jien

Bong, delapan bagian ada sangkut pautnya dengan persoalan ini.

Mendadak terdengar Pek Kun-gie membentak dengan suara lirih, “Cepat mengaku sejujurnya

barang itu kau sembunyikan dimana?”

“Terus terang saja kukatakan, kedatangan cayhe ke perkampungan Liok Soat Sanceng adalah

bertujuan untuk mengambil Teratai Racun Empedu Api itu, aku sama sekali tiada bermaksud

hendak mencuri pedang!”

“Kurangajar!” maki Pek Kun-gie sambil tertawa dingin, “Kalau hanya mencuri sebatang Teratai

Racun Empedu Api saja, masa keadaan bisa berubah jadi begini tegang dan pihak mereka

sampai mengerahkan kekuatan intinya untuk melakukan penggeledahan? Perkumpulan Hong-imhwie

tak nanti unjukkan kerepotan dan kebingungan semacam ini”

“Oooh….. – kiranya kabar berita mengenai terbunuhnya Jien Bong belum sampai bocor di tempat

luaran….” pikir Hong-po Seng, mendadak suatu ingatan berkelebat di dalam benaknya. Diamdiam

ia berseru, “Aduuuh! Andaikata secara diam-diam ia menghancurkan Teratai Racun Empedu

Api itu, apa yang harus aku lakukan?”

Saking gelisah dan gugupnya, tanpa berpikir panjang lagi segera serunya, “Nona! Harap kau

buang teratai racun itu ke dalam sungai, sedang aku akan membantumu untuk menemukan

pedang emas itu kalau tidak, maafkanlah daku kalau tidak sudi memberitahukan kepadamu!”

Pek Kun-gie sendiripun telah menduga selain lenyapnya Teratai Racun Empedu Api ini pastilah

sudah terjadi peristiwa lain, karena takut jejaknya ketahuan sehingga rahasianya terbongkar dia

memang ada maksud hendak melenyapkan teratai racun empedu api itu dari muka bumi, tetapi

setelah saat ini Hong-po Seng terus terang mengancam bahkan menggunakan pedang emas itu

sebagai ancaman, ia jadi serba salah dan untuk beberapa saat lamanya tidak tahu musti

menjawab apa.

Hingga saat itu belum nampak sebuah perahupun yang membawa penumpang menyeberangi

sungai tersebut, berhubung pemeriksaan dan penggeledahan dilakukan sangat lambat,

sementara orang yang menunggu di tepi pantai amat banyak, terutama sekali para jago

perkumpulan Hong-im-hwie yang sebagian besar telah berkumpul semua di tepi dermaga,

membuat suasana di sekitar situ terasa bertambah tegang dan seram.

Di bawah sorot cahaya api, kilapan senjata bergemerlapan di tengah kegelapan, deru angin

kencang serta gulungan ombak yang menghantam tepian menambah seramnya suasana di situ.

Dalam ada itu ketika Kok See-piauw menyaksikan Pek Kun-gie termenung dan tidak

mengucapkan sepatah katapun, seakan-akan gadis itu merasa serba salah dibuatnya segera

bertindak cepat, jari tangannya berulang kali berkelebat melancarkan beberapa totokan yang

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

148

kesemuanya bersarang di bawah iga Hong-po Seng, kemudian jengeknya sambil tertawa,

“Barang itu kau sembunyikan di mana? bangsat cilik! Kau suka mengaku tidak?”

JILID 8

Siapa Pembunuh Jien Bong?

Ilmu totok memisah urat dan penembus ulu hati yang digunakan anak murid Boe Liang Sinkun ini

benar-benar merupakan suatu ilmu penyiksaan yang paling keji, siapapun yang termakan

serangan ini tidak akan kuat menahan diri. Dalam waktu singkat sekujur badan Hong-po Seng

serasa bagaikan digigit oleh berjuta-juta ekor semut, seluruh urat nadi dalam tubuhnya mengerut

kencang, jantungnya mengembang besar, darah mengalir ke atas semakin deras sementara

tubuh bagian bawahnya mengerut kecil, keringat dingin sebesar kacang kedelai mengucur keluar

tiada hentinya membasahi seluruh badan, sambil merintih tubuhnya bergulingan diatas tanah.

Sekali cengkeram Kok See-piauw menarik lengan Hong-po Seng sehingga tidak sampai roboh

diatas tanah, sedangkan tangan yang lain mendekap mulutnya agar suara rintihan tidak sampai

kedengaran oleh orang lain.

Sembari menyeringai seram bisiknya sinis, “Bangsat! ayoh cepat mengaku, barang itu kau

sembunyikan dimana?? kalau tidak mau mengaku lagi… Hmm! Hmm! kongcumu segera akan

memunahkan ilmu silat terlebih dahulu!”

Haruslah diketahui mereka bertiga berada diantara gerombolan manusia yang terletak di paling

belakang, jaraknya dari penyeberangan sungai masih terpaut dua puluh tombak lebih, kendati

orang-orang yang berjejeran dibelakang mereka dapat melihat tingkah laku ketiga orang itu,

tetapi sebagian besar yang terdiri dari kaum pedagang, kaum pekerja kasar yang sudah sering

kali menjumpai keonaran serta peristiwa2 aneh semacam itu pada berlagak pilon semua,

siapapun tidak berani mencampuri urusan tersebut sehingga mengakibatkan dirinyapun

terjerumus dalam peristiwa tadi.

Kalau Kok See-piauw masih bersikap tenang saja menyiksa diri Hong-po Seng, sebaliknya Pek

Kun-gie jadi gelisah dan tidak tenang. Dengan wajah memberat serunya, “Kok heng, cara ini tak

bisa digunakan”

Melihat gadis itu menunjukkan sikap gusar dan tidak senang hati, buru-buru Kok See-piauw

menjulurkan tangannya dan memijat beberapa kali dibawah iga Hong-po Seng untuk

membebaskan ilmu totokan pembuyar urat nadinya, kemudian setelah menotok jalan darah

kakunya ia berkata sambil tertawa.

“Hian-moay! harap kau suka menyerahkan Teratai Racun Empedu Api itu kepada siauw-heng,

sekalipun Jien Hian datang sendiripun, tanggung ia tak berani menggeledah saku siauw-heng.”

“Walaupun aku tidak takut kalau sampai ada anggota perkumpulan Hong-im-hwie yang

menggeledah tubuhku,” pikir Pek Kun-gie dalam hati. “Tapi terang-terangan bohong pun rasanya

bukan suatu keadaan yang sedap dinikmati.”

Karena berpikir demikian, ia lantas angsurkan Teratai Racun Empedu Api itu ke tangannya sambil

pesannya lirih, “Benda ini merupakan suatu benda yang sangat langka di dalam dunia persilatan,

harap Kok-heng suka menyimpannya secara baik-baik, setelah menyeberangi sungai nanti harap

segera serahkan kembali kepada siauw-moay!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

149

“Hian-moay, harap kau jangan kuatir,“ sahut Kok-See Piauw sambil tertawa, ia segera masukkan

Teratai Racun Empedu Api itu kedalam sakunya. “Paling banter aku bakal bentrok sama orangorang

dari perkumpulan Hong-im-hwie, tak usah bingung, tanggung aku tak akan membuat

kapiran urusan Hian moay!”

Pada saat itulah dari atas permukaan sungai berkumandang datang suara senandung panjang

yang amat nyaring, “Thong Thian It Coe Hiang.. Thong Thian It Coe Hiang…….”

“Aaah.. dari pihak sekte agama Thong Thian Kauw pun ada orang yang datang ke mari!” seru

Kok See-piauw tercengang.

Terdengar suara seseorang yang nyaring dan lantang segera menyahut, “Hong Im Kie Hwie,…

Hong Im Kie Hwie sahabat dari Thong Thian Kauw silahkan.”

Suaranya keras, nyaring dan lantang. lama sekali baru membuyar di angkasa.. dari permukaan

sungai terdengar suara dayung yang membentur air berkumandang datang.

Hong-po Seng yang baru saja mendapat siksaan, waktu itu pikirannya masih bergolak keras,

dengan mata melotot bulat awasi permukaan sungai.

Tampaklah sebuah perahu dengan tiga batang tiang layar yang terbentang lebar menerjang

ombak melaju datang. puluhan buah lampu 1entera tergantung di ujung perahu itu membuat

suasana di sekelilingnya jadi terang benderang.

“Hian-moay, siapakah orang itu?” mendadak terdengar Kok See-piauw bertanya.

“Hmmm! siluman rase dari sekte agama Thong Thian Kauw, orang kangouw menyebutnya

sebagai Giok-Theng Hujien nyonya hioolo kumala!”

Hong-po Seng yang ikut mendengar pembicaraan itu segera alihkan sinar matanya ke arah ujung

perahu, tampaklah diatas sebuah kursi kebesaran berlapis emas duduklah seorang perempuan

cantik berbaju hijau, bersanggul tinggi, bergaun panjang dan berwajah sangat agung.

Perempuan itu tampak sangat angker dan berwibawa, terlihatlah pada tangan kanannya

mencekal sebuah Hut-tim bergagang kumala, ditangan kirinya membopong seekor makhluk aneh

yang menyerupai rase, berbulu putih salju dan bermata merah tajam, kakinya menginjak sebuah

bangku berlapis kain sutra, disisi bangku terletak sebuah hioolo kumala yang tingginya mencapai

beberapa depa, asap hijau yang menyiarkan bau harum mengepul keluar dari hioolo tadi.

Disisi hioloo tadi berdiri seorang dara bergaun ungu, berwajah cantik dan berusia lima enam

belas tahun sedangkan dibelakangnya berdirilah sebaris toojien bejubah abu2 bersoren pedang

dan usianya diantara tiga puluhan tahunan.

Dalam pada itu perahu tadi sudah merapat ditepi pantai, mendadak tampaklah dari rombongan

perkumpulan Hong-im-hwie muncul seorang pria berwajah putih bersih berjenggot hijau maju

menyongsong kedatangan mereka, sembari menjura serunya, “Ooooh! kiranya Giok Theng

Hujien yang telah datang, apabila kami tidak sempat menyambut kedatangan hujien dari tempat

jauh, harap suka memberi maaf yang sebesar besarnya”

Perlahan-lahan Giok Thing Hujien turun dari tempat duduknya dan bergerak menuju ke ujung

perahu, sahutnya sambil tertawa.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

150

“Haaah…. haaah…… haaaah….. Sam Tang-kee baik-baikkah kau? Ooow…. sudah terjadi jual beli

apa sih sehingga kau harus turun tangan sendiri untuk mengatasinya?”

“Tidak aneh kalau Pek Kun-gie bersembunyi diantara gerombolan manusia banyak,” diam-diam

Hong-po Seng membatin, “dan tak berani sembarangan berkutik, kiranya Sam Tang-kee dari

perkumpulan Hong-im-hwie pun telah hadir disini.”

Pria berbaju perlente itu she-Cie bernama Kiam dengan julukan “Pat pit Sioe Loo” malaikat

berlengan delapan, dialah si majikan nomor tiga dari perkumpulan Hong-im-hwie, salah satu

diantara orang-orang kepercayaan Jien Hian.

Pada waktu itu, orang-orang yang hendak menyeberang sungai sama-sama mengundurkan diri

ke belakang, ada diantara yang jeri atau takut diam-diam telah ngeloyor pergi dari situ.

Pek Kun-gie mengerti bahwa Hong-po Seng mempunyai kemampuan untuk melepaskan diri dari

pengaruh totokan, oleh sebab itu cekalannya pada pergelangan orang sama sekali tidak

dikendorkan, melihat semua orang mundur ke belakang diapun sambil menarik tangan pemuda

itu ikut mundut ke belakang, meski demikian mereka tetap berada diantara gerombolan manusia.

Ditengah jalan mendadak Hong-po Seng menemukan Oh Sam serta seorang pria lainnya masingmasing

mencengkeram dua orang, mereka bukan lain adalah tiga ekor harimau dari keluarga

Tiong serta Chin Wan Hong tanpa terasa pemuda kita menghela napas panjang, dengan pikiran

yang kalut pandangan mata segera dialihkan kembali ke arah permukaan sungai.

Terdengar si malaikat berlengan delapan Cie Kim dengan suara dingin sedang berkata.

“Dalam tubuh perkumpulan kami sedang tertimpa suatu peristiwa maha besar, hingga kini duduk

perkara yang sebenarnya masih belum jelas. Hujien kalian toh selama ini berkeliaran di daerah

tenggara, kali ini berkunjung ke-Barat entah karena urusan apa?”

Dengan wajah berseri seri dan senyum di kulum Giok Theng hujien berdiri di ujung perahunya,

sehabis mendengar pembicaraan orang ia lantas menjawab, “Berhubung ada sedikit persoalan

yang harus diselesaikan dikota Thong Kwan, aku telah melakukan perjalanan datang kemari, dari

pada merepotkan sahabat-sahabat dari perkumpulan Hong-im-hwie, maafkan kalau aku tidak

turun ke darat”

Berbicara sampai disini, dengan sepasang biji matanya yang jeli ia menyapu sekejap ke arah

gerombolan manusia yang saling berdesak desakan di atas darat.

Jarak antara Hong-po Seng dengan perempuan itu masih terpaut sangat jauh, tetapi entah apa

sebabnya ketika menyaksikan sinar mata perempuan itu menyapu datang hatinya mendadak

terasa jadi bergidik. Terasalah lengannya jadi kencang dan ia sudah ditarik Pek Kun-gie

bersembunyi dibelakang punggung orang.

Mendadak dari tepi seberang berkumandang lagi suara dayung memecah ombak, disusul suara

manusia berteriak keras, “Sin Kie Hoei yang…. Sin Kie Hoei yang.”

“Hmm! orang-orang dari perkumpulan Sin-kie-pang pun turut berdatangan… “ batin Hong-po

Seng dengan alis berkerut. “Huuuh kawanan serigala dan harimau semuanya..: sedikitpun tak

berguna bagi aku orang she Hong-po…..”

Suatu perasaan bergidik secara mendadak muncul dari dasar lubuk hatinya ia merasa suatu

peristiwa tragis yang tidak menguntungkan bakal menimpa dirinya, pengalaman semacam ini

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

151

selamanya belum pernah dirasakan barang satu kalipun, untuk sesaat tangan dan kakinya jadi

dingin saking tegangnya, sekujur badan terasa seolah-olah gemetar keras.

Pek Kun-gie yang sedang mencengkram pergelangannya ketika secara tiba-tiba merasakan

tangan slanak muda itu berubah jadi dingin, ia nampak tertegun, kemudian bisiknya lirih.

“Hong-po Seng, katakanlah sipedang emas itu telah kau sembunyikan dimana! aku tanggung

jiwamu tidak akan mendapat rintangan ataupun terancam marabahaya, bahkan mulai detik ini

aku tidak akan memusuhi dirimu lagi”

Terhadap diri Hong-po Seng, perempuan ini boleh dibilang mempunyai suatu pandangan serta

perasaan yang aneh, ia merasa kagum juga merasa mendongkol dan mangkel.

Ia merasa si anak muda ini berbeda dengan pemuda lain, tetapi iapun merasa bahwa kegagahan

serta keangkeran pemuda ini jauh melebihi dirinya, setiap tingkah lakunya se-olah-olah

menyinggung gengsi serta martabat baiknya membuat timbulnya suatu pandangan yang aneh

dalam hati kecil gadis ini.

Dia ingin cepat-cepat menghukum mati Hong-po Seng, tetapi iapun merasa tidak rela kalau dia

mati ditangan orang lain.

Hong-po Seng sendiri tatkala mendengar gadis itu bersikeras menuduh dia telah mendapatkan

“Pedang Emas” sadarlah ia bahwa banyak bicara tiada berguna sinar matanya segera dialihkan

ke arah permukaan sungai.

Tampaklah tiga buah perahu besar meluncur datang dari tepi seberang, pada ujung perahu yang

ada diposisi tengah berdiri seorang lelaki berjubah lebar, dialah koensu perkumpulan Sin-kiepang

yang julukan Tok Cukat si Cukat beracun Yauw Sut.

“Huaaah…. hahh, bagus sekali!” mendadak terdengar Giok Theng Hujien berseru sambil tertawa

nyaring, ”Cukat Cay-siang si perdana menteri Cukat membawa tentara hendak menaklukkan

wilayah Tionggoan utara!”

“Haaah,haah..”Cukat beracun Yauw Sut takut mendongak dan tertawa terbahak-bahak, “Hujien!

selamat bertemu kembali, selamat bertemu kembali, ternyata kecantikanmu kian lama kian

bertambah segar, kiong hie…. kiong hie!”

Sinar mata perlahan-lahan dialihkan ke arah Malaikat berlengan delapan Cie Kim lalu

sambungnya sambil tertawa, “Sam Tang-kee, sejak berpisah apakah selama ini kau berada

dalam keadaan baik? Yauw Sut disini memberi hormat kepadamu.”

“Oooh.. Yauw heng, baik-baikah kau?” Pat Pit Sioe Loo Gie Kim mendongak dan menjura.

Setelah merandek sejenak, mendadak ia tertawa dingin dan melanjutkan, “Yauw heng! tiada

urusan kau tak akan mengunjungi istana Som Tian, kunjunganmu ke wilayah utara entah

disebabkan karena persoalan apa??….”

“Haah…haah… Sam Tang-kee! terus terang saja kukatakan bahwa putri kesayangan pangcu kami

nona Kun-gie karena sedang mengejar musuh besarnya kini telah memasuki wilayah kalian, oleh

sebab itulah aku buru-buru tinggalkan kota Lok yang untuk menyusul kemari. Berhubung aku

dengan di pantai utara suasana sedang tegang dan nampaknya ada tanda-tanda hendak

menggunakan kekerasan, maka sengaja aku menyeberang kemari untuk menyambut pulang

nona Kun-gie kami..”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

152

“Oooh…. kiranya begitu,” perlahan-lahan Pat Pit Sioe Loo Cie Kim mengangguk.

Ia berpaling ke belakang dan segera serunya lantang, “Diatas dermaga apakah terdapat nona

Pek Kun-gie dari perkumpulan Sin-kie-pang?”

Ketika Hong-po Seng menyaksikan sepasang matanya dengan langsung memandang ke arah

mereka, walaupun jaraknya jauh tetapi ketajaman matanya menggidikkan hati, diam-diam

merasa terkesiap pikirnya, “Orang ini sendiri tadi tak pernah munculkan diri, setelah tampil ke

depan tak pernah juga menoleh ke belakang, darimana ia bisa tahu kalau Pek Kun-gie berada

disini??”

Pek Kun-gie sendiripun merasa agak terkejut. kepada Kok See-piauw segera serunya, “Kok heng,

harap kau suka membawa orang ini!” sembari berkata ia segera turun ke arah tepi sungai.

Kok See-piauw tidak bicara, setelah mengempit tubuh si anak muda itu dibawah ketiaknya, ia

mengancam sambil tertawa;

“Hey bajingan she Hong-po, bila kau tidak ingin modar, aku harap kau bisa sedikit tahu diri dan

jangan banyak bertingkah.”

Orang-orang yang berkumpul ditepi pantai sama-sama menyingkir ke samping membuka jalan,

dengan dipimpin oleh Pek Kun-gie disusul oleh Kok See-piauw sambil mengepit Hong-po Seng

dan Oh Sam serta seorang pria berbaju hijau mengepit Tiong-si Sam Houww dan Chin Wan Hong

mereka berjalan menuju ke dermaga.

Cukat beracun Yauw Sut yang berdiri di ujung perahu segera menuding ke arah Cie Kim dan

ujarnya sambil tertawa, “Nona Kun-gie, dia adalah Cie Cienpwee majikan ketiga dari

perkumpulan Hong-im-hwie, dalam pertemuan Pak-Beng-Hwie tempo dulu dengan kedelapan

puluh satu jurus ilmu pukulan Koei-Goan-Cieng-hoat-nya ia berhasil membinasakan Huang-san

It-To, membelah Hoo-Pak It Sioe, sampai2 si Ciong Kian-Khek jagoan berambut gondrong yang

amat tersohor namanya dimasa itu pun harus mengorbankan lengannya ditangan Cie Tang-kee!”

Pek Kun-gie alihkan sinar matanya ke arah Pat-Pit Sioe-Loo Cie Kim, setelah memandang sekejap

ke arahnya ia segera menjura.

“Sudah lama aku mengagumi akan kehebatan serta nama besar dari Sam Tang-kee.”

Pat Pit Sioe-Loo Cie Kim mendengus dingin,dengan pandangan tajam ia awasi wajah Pek Kun-gie

tanpa berkedip, lalu katanya, “Aku telah memperoleh laporan yang mengatakan bahwa pagi tadi

nona Pek telah menyeberangi sungai memasuki wilayah kekuasaan kami, apakah musuh-musuh

yang sedang kau kejar telah berhasil ditangkap semua?.”

Berbicara sampai disitu ia melirik sekejap ke arah orang-orang yang berada dibelakang.

“Atas berkah dari Sam Tang-kee boanpwee telah berhasil menangkap semua kelima orang itu!”

Setelah merandek sejenak, tanyanya lagi, “Entah kejadian apakah yang menimpa dalam tubuh

perkumpulan kalian? sehingga Sam Tang-kee harus repot2 turun tangan sendiri datang kemari?”

Sepasang alis malaikat berlengan delapan Cie kim berkerut kencang, mendadak dengan sorot

mata yang tajam ia tatap wajah Pek Kun-gie tanpa berkedip kemudian serunya ketus, “Nona Pek,

peristiwa yang terjadi teramat besar sekali…..”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

153

Tatkala dilihatnya orang itu menatap wajahnya dengan tajam tanpa berkedip, air muka Pek Kungie

seketika berubah hebat, dengan penuh kegusaran tukasnya, “Kalau memang kejadian itu

teramat besar sekali, harap Sam Tang-kee segera menerangkan sejelas jelasnya, entah peristiwa

itu terjadi dimana dan pada saat kapan?”

“Hehh…helahl…hehhh…nona Pek, pintar amat otakmu, hanya di dalam sepatah dua patah kata

saja pertanyaanmu kau telah ajukan persis kedalam pokok persoalan”

“Ayah harimau mana mungkin melahirkan anak anjing?“ timbrung Giok Theng Hujien secara tibatiba

sambil tertawa, “Hey Sam Tang-kee, apakah kau sudah lupa akan kemampuan dari Pek

pangcu?”

Pat Pit Sioe Loo si malaikat berlengau delapan Cie Kim mendengus dingin, ia tidak menanggapi

ucapan tersebut.

Sebaliknya si Cukat beracun Yaw Soet segera tertawa dan berkata, “Hujien!. kau bukannya

menikmati Sorga hidup di dalam kamar pribadimu yang harum, jauh datang kemari mau apa

atau jangan-jangan kau memang tersangkut di dalam peristiwa besar yang terjadi di dalam

tubuh Hong-im-hwie ini?”

Giok Theng Hujien memutar biji matanya yang jeli lalu tersenyum.

“Cukat Cay siang! biasanya dugaan serta perhitungan sangat tepat tak pernah meleset, tapi kali

ini dugaanmu telah Salah besar, aku hanya secara kebetulan saja hadir di tempat ini bahkan

sampai sekarang aku masih belum tahu kejadian apakah yang telah menimpa perkumpulan

Hong-im-hwie!”

Pat Pit Sin Loo Cie Kim segera mendongak dan tertawa seram.

“Haaah…. haaah! kalau memang kalian berdua tidak tahu akan duduknya perkara, dus berarti

hanya aku orang she Cie seorang yang tahu akan peristiwa ini.”

Ia merandek sejenak, lalu dengan dua rentetan sorot mata yang tajam bagaikan pisau ia

menyapu sekejap wajah Pek Kun-gie serta Kok See-piauw sekalian, sambungnya, “Dari

perkampungan Liok Soat San Chung telah kehilangan dua macam benda mustika dan selembar

jiwa manusia melayang, saudara berdua harus tahu dunia persilatan yahg tenang selama sepuluh

tahun, mulai detik ini tidak bakal akan tenang kembali”

Hong-po Seng dikempit dibawah ketiak Kok See-piauw tak dapat melihat perubahan wajah

orang, tapi ketika mendengar bahwa ada dua macam benda mustika yang hilang suatu ingatan

dengan cepat berkelebat di dalam benaknya. pemuda itu segera berpikir, “Jangan jangan

persoalan itu tersangkut di dalam masalah “Pedang emas” andaikata demikian adanya, maka

pastilah perbuatan itu adalah hasil karya dad Poei Che Giok!”

Sehabis perkataan tadi diutarakan keluar Si Cukat beracun Yauw Sut sama sekali tidak

menunjukkan reaksi apapun, dengan sikap yang tenang ia mendengarkan perkataan Cie Kim

selanjutnya.

Sebaliknya Giok Theng Hujien segera berseru tercengang, katanya, “Sudah lama aku dengar

orang berkata bahwa perkampungan Liok Soat Sanceng. telah dijadikan Pesanggrahan oleh Jien

Tang-kee, entah jiwa siapa yang telah melayang dan dua macam benda mustika apakah yang

ikut lenyap?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

154

Air muka Pat Pit Sioe Loo Cie berubah jadi dingin membesi, dengan ketus sahutnya.

“Dua macam benda mustika itu sih bukan urusan besar, justru jiwa yang melayang itulah

merupakan peristiwa yang maha hebat”

“Aduuh celaka!” diam-diam Cukat beracun Yauw Sut berpikir dengan hati bergetar keras, “Hongpo

Seng betul2 bernyali besar dan tidak tahu lihay, mungkin orang yang telah dibunuh olehnya

adalah sanak keluarga dari Jien Loo jie!”

Dalam hati berpikir demikian, diluar ia segera menimbrung, “Sam Tang-kee, entah siapakah yang

telah jatuh korban?”

Pat Pit Sioe Loo si malaikat berlengan delapan Cie Kim tertawa dingin, dengan suara keras

teriaknya, “Kami sudah kehilangan jiwa putra tunggal kesayangan Jien Tang-kee kami, Siauw

Thian Seng Jien Bong adanya, coba cuwi sekalian pikir, apakah sejak kini dunia persilatan bisa

aman tenteram lagi”

Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, air muka semua orang yang hadir dikalangan samasama

berubah hebat, termasuk juga segenap anak buah yang tergabung didalam

perkumpulan Hong-im-hwie, rata-rata mereka menunjukkan rasa kaget dan tercengang yang tak

terhingga. Jelas sebelum ucapan barusan diutarakan, mereka sendiripun tidak tahu duduk

perkara yang sebetulnya…..

Diam-diam Pek Kun-gie merasa amat terperanjat, pikirnya, “Bangsat cilik ini kenapa bertindak

begitu goblok?? masa mau bikin onarpun sampai memancing meledaknya bencana begitu

besar?”

Makin dipikir ia semakin gemas sehingga akhirnya sepasang giginya bergemerutukan menahan

rasa mangkel yang tak terkirakan, ingin sekali satu kali tabok ia cabut jiwa pemuda she Hong-po

itu.

Dalam pada itu terdengarlah Cukat beracun Yauw Sut dengan wajah serius berkata, “Peristiwa ini

memang sangat menyedihkan sekali, setelah Jien Tang-kee mengalami musibah yang tak

terduga ini pasti ia rasa amat sedih hati”

Setelah merandek dan termenung beberapa saat lamanya., ia berkata kembali, “Sam Tang-kee,

perkampungan Liok Soat San Chung terletak ditengah bukit Im Tiong San yang jaraknya ada

ribuan li dari tempat ini, entah peristiwa tragis itu kapan terjadinya?”

“Kejadian ini berlangsung pada tiga hari berselang, Yauw-heng! kau tersohor sebagai seorang

Koen-su yang memiliki banyak akal cerdik, entah apa petunjukmu mengenai peristiwa ini?”

Diam-diam Si Cukat beracun Yauw Sut berpikir dalam hatinya “Andai kata Pedang Emas itu

belum terjatuh ketangan pihak kami, untuk lolos dari ternpat ini rasanya tidak terlalu sulit,

sebaliknya kalau pedang emas itu sudah berada di dalam saku Kun-gie, waaah! urusan jadi

radaan repot, entah benda apa yang di maksudkan sebagai mustika kedua itu?”

Berpikir sampai disitu, ia segera melayang turun ke atas daratan, kepada Cie Kim ajarnya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

155

“Kematian dari Jien kongcu pastilah ada hubungannya dengan kedua macam mustika itu, apabila

perkumpulan kalian ada maksud mencari tahu siapakah pembunuhnya, maka satu2nya jalan

adalah berusaha untuk menemukan kembali kedua macam benda tersebut.”

Berbicara demikian sinar matanya segera dialihkan ke arah Pek Koe Gie sebagai tanda

pertanyaan.

Pek Kun-gie adalah seorang gadis yang cerdik dan banyak akal, melihat urusan amat kritis dan

sangat tegang buru-buru ia memberi hormat kepada Cie Kim, katanya, “Kalau memang peristiwa

berdarah itu terjadi pada tiga hari berselang, itu berarti persoalan tersebut sama sekali tiada

sangkut pautnya dengan diriku sebab baru pagi tadi boanpwee menyeberangi sungai Huang-Hoo.

Cie Cienpwee! urusan ini mempunyai sangkut paut yang besar dengan ketenteraman Bulim, kami

dari pihak perkumpulan Sin-kie-pang tidak ingin melibatkan diri di dalam kancah air keruh itu,

maaf kalau boanpwee akan mohon diri terlebih dahulu!”

Habis berkata ia segera putar badan dan berjalan menuju ke arah perahu perkumpulannya.

“Tunggu sebentar!“ hardik Pat-Pit Sioe Loo Cie Kim dengan suara keras, tangannya bergerak dan

segera mengirim satu cengkeraman ke arah depan.

Sejak tadi si Cukat beracun Yauw Sut sudah bersiap siaga menghadapi serangan orang ini,

melihat dilancarkannya serangan sang badan segera meloncat ke depan menghadang jalannya

serangan tersebut.

Seraya menjura dan tertawa lantang, ”Sang Tang-kee, harap didengarkan dulu!”

Seraya berkata sepasang tangannya yang sedang menjura segera didorong kemuka

menghantam dada Cie Kim.

Dalam keadaan begini seandainya Pat Pit Soen Loo Cie Kim tidak menarik kembali tangannya

yang hendak mengancam tangan Pek Kun-gie, niscaya lengan kanannya bakal terhajar patah.

Malaikat berlengan delapan Cie Kim bukanlah lampu lantera yang kekurangan minyak, terdengar

ia mendengus dingin, tangan kanannya segera ditarik kembali kemudian dengan sikap menjura ia

tembus sepasang tangan Cukat beracun Yauw Sect yang sedang meluncur datang.

Diantara bergelombangnya ujung jubah yang lebar, segulung hawa pukulan berhawa lm yang

lunak tanpa menimbulkan sedikit suarapun segera menerjang ke arah tubuh Pek Kun-gie.

Diam-diam Cukat beracun Yauw Sut merasa terperanjat, tapi diluaran ia berlagak se-olah-olah

tak pernah terjadi sesuatu urusan apapun, dengan langkah yang enteng dan seenaknya ia

mundur setengah langkah kabelakang, sepasang lengan ditarik kembali dan menggunakan

kesempatan dikala segulung angin serangan menyapu tiba itulah ia segera menghadang

dibelakang tubuh Pek Kun-gie.

Sementara itu putri kesayangan dari Pek Siauw-thian pangcu perkumpulan Sin-kie-pang itu

sedang berjalan satu tindak ke depan, dua gulung tenaga pukulan yang maha dahsyat telah

saling bertumbukan dibelakang tubuhnya.

“Blaaaam!” ditengah ledakan keras, desiran angin tajam menyambar keempat penjuru membuat

tubuhnya bergetar keras dan maju dengan sempoyongan kemuka.

Dalam waktu singkat…. Sreeet! Sreeet!

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

156

Sreeeet! para anggota perkumpulan Sin-kie-pang yang berada diatas ketiga buah perahu itu

bagaikan jangkrik2 segera berloncatan naik ke atas darat, sekeliling tubuh Pek Kun-gie dengan

cepat telah terlindung dibawah kurungan jago-jago lihaynya.

“Haah…. haah . . haaah…. nama besar Cukat Cay-siang ternyata bukan nama kosong belaka,”

terdengar Giok Theng Hujien berseru sambil tertawa riang.

“Bukan saja ilmu silatnya sangat lihay, bahkan anak buahnyapun sama-sama cekatan semua.

inilah yang dikatakan orang kuno sebagai dibawah asuhan panglima kenamaan tiada prajurit

yang lemah, anggota sekte agama Thong Thian Kauw tak terdapat anak murid yang cekatan dan

gesit seperti kalian.”

Sementara itu kegusaran yang berkobar dalam dada Pat-Pit Sioe-Loo Cie Kim belum sirap,

sehabis mendengar ucapan itu bagaikan minyak yang kena api hawa amarahnya semakin

berkobar hebat. mendadak ia berpaling ke arah para anggota perkumpulan Hong-im-hwie yang

berkumpul disitu, lalu bentaknya, “Sebelum digeladah dengan teliti siapapun dilarang naik ke

atas perahu, barang siapa yang berani membangkang segera bunuh, kalau sampai ada satu

orang saja yang berhasil lolos, kalian semua harus bunuh diri untuk menebus dosa itu!”

Terdengar seluruh anak buah Hong-im-hwie berseru mengiakan, kemudian tampaklah bayangan

manusia saling berkelebat, dalam waktu singkat jalan mundur Pek Kun-gie telah terputus,

suasana jadi tegang dan kedua belah pihak sama-sama mempersiapkan diri untuk

melangsungkan suatu pertarungan sengit.

Cukat beracun Yauw Sut berotak tajam dan banyak akal. meski ia merasa suasana meruncing

dan setiap saat kemungkinan besar bisa terjadi pertempuran sengit, tetapi sikapnya masih tetap

tenang2 saja seakan2 tidak pernah terjadi suatu kejadian apapun, pikirnya.

“Siluman rise itu sengaja memancing kobarnya api pertempuran diantara dua perkumpulan.

Hmm! dia pingin perkumpulan Sin-kie-pang saling bertarung dengan perkumpulan Hong-im-hwie

bagaikan burung bangau yang berebut makanan, sedangkan sekte agama Thong Thian Kauw

hanya tinggal menanti hasilnya bagaikan nelayan mujur. dianggapnya urusan bisa berlangsung

begitu gampang?”

Berpikir demikian ia lantas berpaling ke arah Pek Kun-gie sambil tegurnya, “Tit li. apakah kau

terluka?”

Dari lirikan matanya yang tajam Pek Kun-gie dapat mengetahui bahwa sanya Si Cukat beracun

Yauw Sut sedang bertanya kepada dirinya apakah “Pedang emas” itu berhasil didapatkan, ia pun

segeta gelengkan kepalanya tanda belum mendapatkannya, tetapi berhubung “Teratai Racun

empedu Api” berada disaku Kok See-piauw maka sinar matanya melirik sekejap ke arah si anak

muda itu. Jawabnya.

“Terima kasih atas perhatian paman, untung Titli tidak sampai menderita!”

Si Cukat beracun Yauw Sut sendiri ketika melihat dara itu gelengkan kepalanya lalu melirik

sekejap ke arah Kok See-piauw, dalam hatinya segera timbul perasaan ragu dan sangsi, pikirnya.

“Apa artinya sikap itu?? apakah Pedang emas itu sudah didapatkan tapi telah diambil oleh Kok

See-piauw?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

157

Karena belum tahu duduk perkara yang sebetulnya, untuk beberapa saat lamanya ia tak berani

mengambil keputusan ataupun merencanakan siasat, maka dari itu sembari tertawa terbahakbahak

katanya, “Kok hian tit, mari aku perkenalkan dirimu kepada orang ini.”

Samil menuding ke arah Cie Kim sambungnya, “Saudara ini adalah Sam Tang-kee diapun

merupakan salah seorang sahabat karib suhumu. Hian tit, ayoh cepat maju mengunjuk hormat

kepada Sam Tang-kee”

Dengan tangan kiri mengempit tubuh Hong-po Seng, Kok See-piauw maju melangkah ke depan

lalu berkata, “Cayhe Kok See-piauw anak murid perguruan Boe Liang Bun, menghunjuk hormat

buat Sam Tang-kee”

Dengan pandangan mata yang tajam “Pat Pit Sioe Loo” malaikat berlengan delapan Cie Kim

menyapu seluruh tubuh Kok See-piauw dari atas hingga kebawah, lalu ejeknya, “Kok See heng,

rupanya kau sudah menggabungkan diri menjadi anggota perkumpulan Sin-kie-pang??”

“Hmm!”dari nada ucapan Cie Kim barusan, Kok See-piauw rupanya dapat menangkap arti

sindiran tersebut, hawa pitam kontan memuncak ke atas kepala, dengan dingin ia mendengus.

“Cayhe selamanya malang melintang seorang diri, belum pernah aku menjadi anggota sebuah

Kauw atau sebuah Pang.”’

Habis berkata ia putar badan dan berlalu dengan sikap angkuh.

Selama hidupnya ia selalu bersikap jumawa dan tinggi hati, kecuali terpikat oleh kecantikan Pek

Kun-gie sehingga rela takluk dibawah gaunnya dan mendengarkan perintahnya, terhadap orang

lain ia tak pernah bersikap ramah ataupun bersikap mengalah sepatah dua patah kata tidak

cocok pertempuran sengit segera akan terjadi.

Dengan pandangan tajam Pat Pit Sioe loo Cie Kim mengawasi bayangan punggung pemuda itu

sambil tertawa dingin, belum sampai satu tombak Kok See-piauw berlalu mendadak dari balik

semak meloncat keluar seseorang sambil membentak keras, “Kembali ketempat asalmu.”

Sambil membentak orang itu segera melancarkan sebuah babatan maut ke depan.

Kok See-piauw tentu saja tak mau mengalah dengan begitu saja, melihat datangnya ancaman ia

segera ayunkan tangannya pula menyambut datangnya serangan itu dengan keras lawan keras.

“Blamm…! terdengar suara bentrokan nyaring berkumandang diangkasa, ditengah ledakan keras

itu masing-masing pihak sama-sama tergetar mundur tiga langkah, hal ini menunjukkan bahwa

kekuatan mereka berdua adalah seimbang.

Terdengar Pat-Pit Sioe-Loo Cie Kim tertawa dingin

“Kok See-piauw,“ jengeknya. “Andaikata aku orang she-Cie harus turun tangan sendiri, maka

orang akan menganggap aku menganiaya orang muda. dan kini kau tentu bisa sedikit tenang

bukan!”

Kok See-piauw yang harus mengepit tubuh Hong-po Seng dibawah ketiak dan menyambut

serangan tadi dengan hanya menggunakan tangan sebelah saja tidak Sempat mengerahkan

segenap tenaga dalam yang dimiliki, setelah mendengar ucapan tersebut ia segera mendongak

dan memperhatikan orang yang turun tangan menghalangi dirinya barusan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

158

Segera terlihatlah orang itu adalah seorang pemuda berpakaian ringkas yang berusia dua puluh

tahunan. bisa dibayangkan betapa mangkel dan jengkelnya perasaan anak murid Boe Liang

Sinkun ini, tangannya

segera diayun melemparkan Hong-po Seng ke samping kemudian dengan langkah lebar berjalan

mendekati pemuda berpakaian ringkas.

Hong-po Seng yang dilemparkan ke sisi jalan segera bergelindingan kesamping, mendadak ia

menjejakkan kakinya ke atas tanah dan meloncat bangun.

Orang yang hadir ditengah kalangan dewasa ini sebagian besar adalah para jago lihay dari dunia

persilatan, mereka semua telah mengetahui bahwa jalan darah Hong-po Seng adalah tertotok

tetapi setelah menyaksikan si anak muda itu mendadak meloncat bangun, tanpa terasa semua

orang jadi tertegun dibuatnya.

Kok See-piauw sendiripun segera merasakan keadaan sedikit tidak beres, dengan cepat ia

menghentikan langkahnya dan berpaling.

Terdengar si Cukat beracun Yauw Sut tertawa enteng serunya.

“Bangsat keparat, ternyata kau memiliki banyak ragam ilmu setan!”

Tanpa diketahui segera tubuh apakah yang telah digunakan. tahu-tahu ia sudah menyusup ke

belakang punggung Hong-po Seng dan menempelkan telapak diatas punggungnya.

Deagan pandangan tajam bagaikan pisau Pat Pit Sioe Loo Cie Kim menyapu sekejap wajah Hongpo

Seng, mendadak kepada Kok See-piauw serunya, “Saudara-saudara dari Perkumpulan Hong

lm Hwie memang mempunyai hubungan persahabatan yang erat dengan Boe Liang Sinkun.

seandainya berada di-hari2 biasa aku orang she-Cie tidak nanti akan menyusahkan dirimu, tetapi

situasi pada hari ini jauh berbeda, berhubung kejadiannya luar biasa maka mau tak mau terpaksa

kita musti menyalahi gurumu”

“Enak betul ucapan dari Sam Tang-kee” jengek Kok See-piauw ketus. “ Pertama cayhe tidak

membunuh orang. kedua, akupun tidak mencuri barang mustika milik kalian; barang siapa berani

menahan ataupun menghalangi jatan pergiku, cayhe nomor satu yang merasa tidak puas dan tak

mau takluk”

Mendadak terdengar Giok Theng Hujien tertawa nyaring lalu timbrungnya dari samping.

“Anak murid perguruan dari Boe Liang Sinkun biasanya bilang satu tidak akan jadi dua, Sam

Tang-kee kau sebagai seorang Cian pwee lebih baik berilah satu jalan keluar baginya”

Entah sedari kapan ia telah kembali ke tempat duduk kebesarannya, sambil menonton

ketegangan yang mencekam ditepi pantai, senyum masih selalu menghiasi bibirnya. sikap yang

enteng dan ringan menunjukkan betapa senangnya hati perempuan itu.

Pada saat itulah seorang kakek berbaju hijau berjalan menghampiri Cie Kim lalu membisikkan

sesuatu ke sisi telinganya.

Selesai mendengar bisikan dengan sorot mata tajam Pat Pit Sioe Loo Cie Kim menatap wajah

Hong-po Seng tajam2 tegurnya, “Yauw hong, apakah pemuda itu adalah anak buah dari

perkumpulan Sin-kie-pang kalian??”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

159

“Haah…haah…orang ini meskipun usianya masih muda tetapi akal liciknya sangat banyak, ia

pernah masuk menjadi anggota perkumpulan kami kemudian berkhianat dan melarikan diri.

Kegagalan anak murid Boe Liang Sinkun di dalam melakukan tuntutan balasnya di kota Keng

Chiu pun sebagai besar disebabkan keparat cilik ini.”

“Hmm! beberapa hari berselang, ada orang pernah menjumpai pemuda itu melakukan perjalanan

disekitar Tay Goan, karena itu siauwte ada suatu pemintaan yang mungkin tidak pantas

diucapkan keluar.”

“Haaah… haaah… haaah… Sam Tang-kee, kalau ada perkataan, silahkan diutarakan keluar, masa

terhadap teman karib banyak tahunpun kau bersikap sungkan sungkan”

“Pat Pit Sioe Loo “Malaikat berlengan delapan Cie Kim tertawa dingin.

“Heeh.. heeeh kalau memang begitu, tolong Yauw heng suka serahkan orang itu kepada aku

orang she Cie, aku hendak menanyakan beberapa persoalan kepadanya”

“Rahasia yang diketahui keparat cilik ini terlalu banyak” diam-diam Cukat beracun Yauw Sut

berpikir, “Membiarkan ia tetap hidup di kolong langit bagaimanapun juga merupakan suatu bibit

bencana yang sangat berbahaya, lebih baik aku lenyapkan dirinya saja dari muka bumi, daripada

dikemudian hari merepotkan sendiri.”

Ia dijuluki “Si Cukat beracun”, kekejaman hatinya sudah amat tersohor di kolong langit, Kini

setelah menduga bahwa “Padang emas” telah terjatuh ke tangan Kok See-piauw maka timbullah

pikiran bahwa Hong-po Seng sudah tak berguna bagi mereka.

Karena telapak tangannya yang menempel diatas pinggang si anak muda itu perlahan lantas

didorong ke depan, ujarnya sambil tertawa, “Sam Tang-kee ada pertanyaan hendak diajukan

kepadamu kesanalah untuk menjawab! Tapi.. Sam Tang-kee! kau musti hati-hati, takutnya kalau

ia tak bisa menguasai diri sehingga sepatah2 katapun tak sanggup diutarakan keluar”

Hong-po Seng sama sekali tidak merasakan suatu perubahan yang dirasakan aneh, sambil

melangkah maju ke depan tindak depan katanya, “Cie Tang-kee, kau ada persoalan apa yang

hendak ditanyakan kepadaku, silahkan diutarakan keluar”

Pat Pit Sine Loe Cie Kim tidak langsung buka suara, dalam hati pikirnya, “Kalau dikatakan Jien

Bong menemui ajalnya ditangan keparat cilik yang hitam lagi kurus ini, aku merasa sedikitpun

rada kurang percaya, kalau memang perempuan yang jejaknya amat misterius itu bukanlah

budak sialan she Pek lalu siapakah dia?”

Berpikir demikian, ia lantas bertanya, “Apa she-mu? dan siapa namamu?? kau belajar kepandaian

dari siapa??”

“Cayhe bernama Hong-po…. Aduuh…..!”

Mendadak ia menjerit kesakitan lalu roboh terjengkang ke atas tanah.

Si malaikat berlengan delapan Cie Kim adalah seorang jago kawakan, menghadapi perubahan

secara mendadak ini reaksinya cukup cekatan. dengan cepat ia tangkap pergelangan tangan

Hong-po Seng kemudian salurkan hawa murninya menembusi urat diatas pergelangan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

160

Kejadian ini berlangsung diluar dugaan siapapun juga, semua orang yang hadir ditengah

kalangan dewasa itu sama-sama terperanjat dibuatnya.

Air muka Pek Kun-gie berubah hebat, kepada Cukat beracun Yauw Sut ia melirik sekejap ke

arahnya, diantara sorot matanya yang tajam secara lapat2 terkandung hawa amarah yang

bergelora.

Sebaliknya Kok See-piauw berdiri tertegun air mukaaya berubah tidak menentu. Sedang kan Giok

Theng Hujien yang duduk diatas perahu justru malah amat gembira setelah menyaksikan

kejadian itu sebab ia memang berkeinginan demikan, sambil membelai makhluk aneh berbulu

salju, ia tersenyum dan membungkamkan diri.

Pat Pit Sioe Loo Cie Kim dengan air muka berubah jadi hijau membesi menatap wajah Yauw Sut

tajam tajam.

“Hmmmmm, kalau kau sanggup menolong orang itu sehingga lolos dari kematin, aku Yauw Sut

tidak akan disebut Cukat beracun lagi…” pikir Si Cukat beracun Yauw Sut di dalam hati.

Ia segera tertawa lantang dan berkata, “Haah..haaah…haaah…. Sam Tang-kee. kau keliru, orang

itu sudah diberi hadiah jarum sakti Sun Hoen Sin Ciam oleh pangcu kami, besok pagi daya kerja

racun keji itu akan mulai bereaksi, entah apa sebabnya ternyata kerja racun itu mulai

menunjukkan tanda-tanda-nya mulai sekarang …haah…haaah…. aku orang She Yauw sih tidak

mempunyai kepandaian selihay itu”

Diam-diam si malaikat berlengan delapan Cie Kim dibuat terperanjat juga setelah mendengar

ucapan itu, pikirnya, “Kalau ia benar-benar terkena jarum beracun Soe Hoen Tok Ciam dari Pek

Loo jie, jelas selembar jiwanya sukar diselamatkan lagi!”

Berpikir sampai disitu dengan sorot mata yang tajam ia segera berpaling ke arah Pek Kun-gie,

“Aku tidak memiliki obat penawarnya,” jawab dara she Pek itu dengan wajah ketus dan suara

hambar.

Mendadak terdengar Giok Theng Hujien tertawa dan menimbrung kembali dari atas perahunya,

“Pek kongcu betul-betul orang yang lihay.. sampai waktunyapun bisa dihitung dengan demikian

tepatnya”

“Ha..hah…Hujien, bukankah kau sangat lihay dan memiliki kepandaian ampuh?” seru si Cukat

beracun Yauw Sut sambil tertawa nyaring.” Apa salahnya kalau kau unjukkan kesaktianmu untuk

menyelamatkan selembar jiwa dari Hong-po Seng?”

Giok Theng Hujien tersenyum.

“Aku sih memang memiliki sebatang Lengci berusia seribu tahun; tapi sayang benda mustika itu

tidak sempat kubawa dalam kunjunganku kali ini kalau tidak, untuk menolong selembar jiwanya

aku rasa bukan satu persoalan yang sulit”

Disaat semua orang sedang saling menimbrung itulah mendadak terdengar Hong-po Seng

merintih lalu berbisik lirih, “Hie Sim.. Hie Lek…… Hie Pi…”

Mendengar disebutkannya nama-nama jalan darah penting itu semua orang sama-sama dibikin

terkesiap.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

161

Si Malaikat berlengan delapan Cie Kim karena takut Yauw Sut turun tangan kembali untuk

melenyapkan si anak muda itu dari muka bumi, badannya segera bergerak cepat dan membawa

tubuh Hong-po Seng melayang mundur beberapa tombak jauhnya dari tempat semula, tangan

kanannya bergerak berulang kali. dalam sekejap mata seluruh jalan darah “Tok Meh” yang

disebutkan tadi sudah tertotok semua.

Segulung angin berbau harum menghembus lewat Giok Theng Hujien sambil membopong

makhluk aneh berbulu saljunya melayang naik ke atas daratan, kepada Cukat beracun Yauw Sut

ia tersenyum dan berseru, “Betulkah orang itu bernama Hong-Po Seng?? banyak amat

kepandaian aneh yang ia miliki!”

Kiranya Hoa Hujien terlalu sayang terhadap putranya ini, karena itu selama sepuluh tahun

menyembunyikan diri dari kejaran musuh-musuh besarnya ia telah wariskan segenap kepandaian

untuk menjaga serta melindungi dirinya kepada sang putra.

Tapi sayang jarum beracun Soh Hoen Tok Ciam terlalu lihay, ditambah pula serangan keji dari

Yauw Sut dilancarkan tanpa bekas dan tanpa terasa oleh karena ia itu meski Hong-po Seng

sudah kerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya ia hanya bisa memperlambat datangnya

kematian belaka, untuk melanjutkan hidup masih terlalu sulit baginya.

Dalam pada itu suasana ditengah kalangan telah berubah jadi sunyi senyap tak kedengaran

sedikit suarapun, semua pandangan mata sama-sama ditujukan ke atas tubuh Hong-po Seng.

Si Cukat beracun Yauw Sut sendiri walaupun ada maksud hendak mencabut jiwa Hong-po Seng,

tapi pada saat ini diapun berkeinginan agar pemuda itu bisa sadar kembali hingga dapat dilihat

apa yang akan dilakukannya.

Lama….lama sekali… ditengah kesunyian yang mencekam seluruh jagat perlahan lahan Hong-po

Seng membuka matanya kembali, lengannya ber-gerak-gerak seperti sedang berusaha untuk

melepaskan diri dari cekalan Cie Kim.

Terhadap pemuda kurus hitam yang berada dihadapannya ini si malaikat berlengan delapan Cie

Kim mempunyai pandangan yang aneh, ia segera mengendorkan cekalannya sambil bertanya,

“Hong-po Seng apakah kau masih sanggup untuk mempertahankan diri??”

Hong-po Seng mengangguk.

“Apakah kau ingin mengetahui jejak tentang “Pedang emas” dan menuntut balas bagi kematian

Jien Bong?”

Ucapan ini begitu diutarakah keluar, sekujur tubuh si malaikat berlengan delapan Cie Kim

bergetar keras, dengan cepat mengangguk.

“Tentu saja….“

“Baik! aku akan memberi petunjuk satu jalan terang bagimu,” ia merandek sejenak, setelah

mengatur napasnya yang tersengkal sambungnya kembali.

“Paling banter aku hanya bisa hidup setengah jam lagi, apa yang bisa kuucapkan tidak selalu

banyak tapi kau harus membinasakan aku maka dengan sendirinya, aku tidak ingin menemui

ajalku ditangan orang lain.”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

162

“Aku orang she Cie menyanggupi permintaanmu itu,” sahut malaikat berlengan delapan Cie Kim

dengan tegas.”Barang siapa berani turun tangan melukai dirimu, aku orang she Cie meskipun

harus berjuang hingga darah berceceran tidak nanti akan membiarkan orang itu tinggalkan

tempat ini dalam keadaan selamat”

“Jien Tang-kee dari perkumpulan kalian apakah malam ini bisa tiba disini?”

Pat Pit Sioe Loo Cie Kim tertegun.

“Lima propinsi yang terletak dalam wilayah Hoo pak sudah tertutup semua bagi lalu lintas, Tangkee

kami harus melakukan inspeksi disemua daerah, mungkin besok malam ia baru akan tiba di

tempat ini”

Hong-po Deng mengangguk, sambil menjura katanya, “Sam Tang-kee harap tunggu sejenak,

cayhe ada sedikit urusan yang hendak kuselesaikan dahulu”

Suasana ditengah kalangan kembali dicekam dalam kesunyian, segulung angin malam

berhembus lewat membuat para jago kalangan Hek to yang membunuh orang tanpa berkedip itu

secara tiba-tiba merasa hatinya jadi bergidik, banyak diantara mereka yang merinding dibuatnya.

00000000o

12

PERLAHAN-LAHAN Hong-po Seng memutar tubuhnya, mendadak kepada Pek Kun-gie ia berseru,

“Nona Pek diantara kita bukankah pernah membicarakan tentang sesuatu?”

“Membicatakan soal apa??” tanya Pek Kun-gie tertegun.

Hong-po Sang tertawa hambar.

“Aku berlutut dihadapanmu dan masuk menjadi anggota perkumpulan Sin-kie-pang kalian.

kemudian kau sekali tabok menggampar mulutku sehingga tiga buah gigiku copot. apakah kau

telah melupakannya?”

Air muka Pek Kun-gie kontan berubah jadi merah jengah, ia segera berpaling dan serunya

kepada Oh Sam

“Lepaskan beberapa orang itu.”

Oh Sam serta pria berbaju hitam itu segera mengiakan. buru-buru mereka melepaskan Tong si

Sam Hauw serta Chin Wan Hong dari cekalan dan membebaskan jalan darah mereka berempat.

Ketika jalan darahnya masih tertotok tadi, keempat orang itu merasa banyak persoalan hendak

diutarakan, tapi sekarang setelah berada di dekat pemuda itu mereka semua malah berdiri

menjublak tanpa sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Melihat wajah keempat orang itu Hong-po Seng menghela papas panjang, “Aaai..! kekuatan

kalian berempat terlalu lemah, lebih baik janganlah berkelana lagi di dalam dunia persilatan”

Setelah merandek sejenak untuk mengatur napas ujarnya kembali.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

163

“Setelah aku mati nanti, para enghiong dari Sin-kie-pang meski tidak punya malu

menyusahkan kalian lagi, lebih baik kalian pulanglah ke kampung desa kelahiran kalian masingmasing!”

“Kongcu…” terdengar Chin Wan Hong berseru sambil menahan isak tangis di tenggorokan.

Hong-po Seng tersenyum.

“Aku tidak lebih hanya berangkat satu langkah lebih duluan, tiada sesuatu yang terlalu luar biasa,

nona Chin- kau tak usah bersedih hati”

Bicara sampai disitu ia lantas berpaling dan menambahkan, “Sam Tang-kee. ilmu silat yang

dimiliki empat orang ini sangat cetek lagi pula mereka tidak tersangkut dalam peristiwa yang

terjadi dalam perkampungan Liok Soat Sanceng. cayhe berharap agar Sam Tang-kee bisa

berbuat bijaksana terhadap mereka berempat.“

Suasana yang penuh diliputi kesedihan serta kepedihan memenuhi seluruh kalangan saat itu,

semua orang ikut merasa beriba hati menyaksikan kejadian tersebut.

Si malaikat berlengan delapan Cie Kim segera anggukkan kepalanya.

“Baiklah!” dia menyanggupi. “Seandainya keempat orang itu ada maksud untuk berdiam disini,

maka orang-orang dari perkumpulan Hong-im-hwie tidak akan mengganggu atau mencelakai

mereka.”

“Semoga Sam Tang-kee bisa pegang janji, cayhe disini banyak ucapkan terima kasih terlebih

dulu,” kata Hong-po Seng, sambil segera menjura memberi hormat, sinar matanya perlahan

lahan dialihkan ke atas wajah Kok See-piauw, dan serunya, “Sahabat Kok, bawa kemari!”

Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, semua sinar mata segera dialihkan ke arah Kok Seepiauw.

Mendengar teguran itu anak murid dari Boe Liang Sinkun ini nampak terperanjat, sinar matanya

dengan cepat melirik sekejap ke arah Pek Kun-gie yang berada dihadapannya. Terdengar si

Cukat beracun Yauw Sut tertawa keras, lalu menegur, “Hey Hong-po Seng, apa yang kau

inginkan?”

Si Malaikat berlengan delapan Cie kim pun ikut maju ke depan, sambil melototi wajah Kok Seepiauw

dengan sorot mata tajam ia tertawa dingin tiada hentinya.

“Kenapa? apakah kau hendak paksa aku untuk turun tangan?”

“Sam Tang-kee, harap jangan gusar dulu, cayhe ada alasan untuk memaksanya agar

menyerahkan diri,” kata Hong-po Seng sambil ulapkan tangannya, sinar matapun segera

dialihkan ke arah Kok See-piauw ujarnya.

“Sahabat Kok, apabila kau tidak mau serahkan kembali Teratai Racun Empedu Api itu kepadaku,

maka Jien Sauw-ya akan kuanggap sebagai mati ditanganmu!”

Malaikat berlengan delapan Cie Kim adalah salah seorang anggota yang ikut mendirikan

perkumpulan Hong-im-hwie, separuh hidupnya boleh dibilang berkecimpungan di dalam dunia

persilatan, tetapi saat ini ia dibuat keder juga oleh kegagahan Hong-po Seng yang tidak jeri

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

164

menghadapi kematian, kebengisan serta kebuasannya di hari2 biasa saat ini tak sanggup

diperlihatkan.

Ia segera mundur satu langkah ke belakang dan dengan tenang menyaksikan Hong-po Seng

menyelesaikan masalah tersebut,

Sebaliknya si Cukat beracun Yauw Sut sendiri, sehabis mendengar bahwa benda yang digembol

Kok See-piauw bukanlah “Pedang Emas” dia pun tidak ikut banyak berbicara lagi.

Mendadak terdengar Pek Kun-gie berkata hambar.

“Kok heng, serahkan Teratai Racun kepadanya!”

Kok See-piauw tertawa kering, ia ambil keluar teratai racun empedu api itu dari sakunya dan

melemparkannya ke depan.

Setelah menerima kembali teratai racun itu. Hong-po Seng mengatur napasnya yang tersengalsengal

sedang dalam hati pikirnya, “Ibu memerintahkan aku bertukar nama untuk menghindari

marabahaya yang mungkin akan mengancam diriku setiap saat, siapa tahu Thian telah

berkehendak demikian Aaaai…! ini hari urusan telah berlangsung jadi begini dan aku telah berada

diambang kematian. kalau memang harus mati, aku harus mati dalam keadaan yang tenang dan

terbuka!”

Sesudah mengambil keputusan di dalam hati. ia segera angkat kepalanya. dengan sorot matanya

yang tajam ia sapu semua wajah orang dan akhirnya berhenti diatas wajah Cie Kim. ujarnya

dengan nada serius, “Sam Tang-kee, cayhe she Hoa bernama Hoa Thian-hong. aku tidak

bernama Hong-po Seng. Perkampungan Liok Soat Sanceng adalah harta peninggalan milik

keluargaku, sedang teratai racun empedu api merupakan mustika milik keluarga Hoa kami. dan

ini hari aku Hoa Thian-hong telah mengambil kembali barang milik keluargaku, rasanya orang

tidak akan menganggap bahwa aku telah melakukan pencurian di dalam perkampungan Liok

Soat San-cung bukan?”

Semua orang terkejut dan tercengang sehabis mendengar ucapan ini. Haruslah diketahui pada

sepuluh tahun berselang nama besar Hoa Goan Sioe amat tersohor di kolong langit, setiap jago

kalangan Pek-to sama-sama menaruh hormat kepadanya, jago-jago kalangan Hek-to tunduk

kepadanya. ia bagaikan sang surya ditengah hari.. Dan yang ia tinggalkan dalam dunia adalah

tegaknya kebenaran di dunia serta ilmu silat yang maha dahsyat.

Sepuluh tahun kemudian, ternyata keturunan dari Hoa Goan Sioe, telah muncul kembali di dalam

dunia persilatan, tentu saja semua orang jadi terkejut dan tercengang dibuatnya.

Keheningan mencekam seluruh kalangan untuk beberapa saat tamanya, tiba-tiba terdengar si

Harimau Pelarian Tiong Liauw berteriak keras.

“Kongcu-ya. kiranya kau adalah Sauw-ya dari Hoa tayhiap, dimanakah Hoa hujien?”

Dalam hati diam-diam Hoa Thian-hong merasa sedih, tapi diluaran ia paksakan diri untuk

tersenyum, sahutnya.

“Ibuku telah mengasingkan diri ditengah pegunungan yang sunyi, sedari dulu beliau sudah tak

berminat untuk mencampuri urusan keduniawian lagi..”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

165

Sedangkan Chin Wan Hong dengan air mata bercucuran segera berseru memanggil, “Hoa.

kongcu….”

Hoa Thian-hong tersenyum.

“Aaaaii nona. ayahku almarhum pun bisa mati, kenapa cayhe tak bisa mati pula??”

Si Cukat beracun Yauw Sut sendiri diam-diam merasa terperanjat, ia merasa perhitungannya

yang selalu jitu ternyata kali ini meleset sama sekali ia tak pernah berpikir sampai kesitu. hal ini

membuat hatinya jadi sangsi dan ragu, ia tak tahu tindakan yang telah dilakukan ini sebenarnya

benar atau tidak.

Sedangkan si malaikat berlengan delapan Cie Kim serta Giok Theng Hujien diam-diam merasa

girang hati, mereka menduga bahwa ibu Hoa Thian-hong pasti akan munculkan diri kembali di

dalam dunia persilatan untuk membalaskan dendam bagi kematian putranya, dus berarti

perkumpulan Sin-kie-pang telah mengundang satu bencana besar bagi mereka.

Pek Kun-gie dan Kok See-piauw sekalian kecuali merasa terkejut bercampur tercengang mereka

tidak sempat berpikir lebih jauh. Mendadak terdengar Hoa Thian-hong berkata kembali.

“Sam Tang-kee aku akan menceritakan kisah yang sebenarnya mengenai kematian dari Jien

Bong. cuma. saja dibalik kisah tersebut masih tercekam pula oleh beberapa teka teki. tetapi asal

kau sampaikan kepada Jien Tang-kee dan dipikirkan dengan seksama, rasanya tidak sulit untuk

menemukan jawabannya”

“Hoa kongcu, silahkan katakan saja. aku orang she Cie akan mendengarkannya dengan

seksama,” sahut malaikat berlengan delapan Cie Kim dengan wajah serius.

Persoalan ini mempunyai sangkut paut yang amat besar atas ketenteraman dunia persilatan,

penyelesaian yang tidak benar bisa mengakibatkan terjadinya pertarungan sengit antara

perkumpulan Sin-kie-pang, Hong-im-hwie serta perkumpulan Thong Thian Kauw. Mayat yang

sudah bergelimpangan dimana2, darah yang berceceran bagaikan air selokan sudah bisa

dibayangkan pasti akan terjadi.

Oleb sebab itu semua orang yang hadir di tengah kalangan sama-sama pasang telinga dan

pusatkan perhatiannya untuk mendengarkan perkataan pemuda itu.

Hoa Thian-hong sendiri diam-diam pun berpikir dalam hatinya.

“Seandainya aku menambah-nambahi kisah yang sebenarnya dengan cerita bohong mungkin

pernyataanku malah akan disangsikan orang dan memancing ditingkatkannya kewaspadaan

mereka terhadap masing-masing pihak. Bagaimanapun juga peristiwa berdarah ini kalau bukan

hasil karya dari Thong Thian Kauw pastilah perbuatan dari Sin-kie-pang, lebih baik aku

mengatakan seadanya saja agar mereka menyesali sendiri persoalan itu!”

Berpikir demikian, dengan wajah serius ia lantas berkata.

“Di dalam perjalananku pulang kedalam perkampungan untuk mengambil teratai racun Empedu

Api, secara kebetulan aku telah memergoki pertemuan rahasia yang dikakukan Jien Bong dengan

seorang perempuan berkerudung hitam, suatu ketika tempat persembunyian ketahuan maka

cayhe dipaksa untuk turun tangan bergebrak melawan Jien Bong: Tatkala cayhe sedang

bertarung mengadu tenaga lwekang dengan Jien Bong itulah gadis tadi bukannya membantu dia

sebaliknya malah mencabut pisau belatinya dan menusuk punggung Jien Bong.”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

166

“Setelah peristiwa itu cayhe sambil melarikan diri bertempur tiada hentinya dengan gadis tadi,

sampai keesokan harinya kita baru saling berpisah.

Sedangkan mengenai persoalan “Pedang emas” cayhe sama sekali tidak tahu menahu.”

Mendadak terdengar si Cukat Beracun Yauw Sut menimbrung, “Terang2an kau tahu kalau

“Pedang emas” itu sudah terjatuh ke tangan Jien Tang-kee, kenapa pada waktu itu…..”

Mertabat serta kedudukan Hoa Goan Sioe di dalam dunia persilatan sangat tinggi dan terhormat,

hal ini tak dapat memaksa dia untuk menaruh curiga kepada Hoa Thian-hong bahwa sanya ia

sedang berbohong, kata-kata yang sudah meluncur keluar dari tenggorokannya segera ditelan

kembali mentah2…. Hoa Thian-hong mengerti apa yang ingin ia katakan. sambil melirik sekejap

ke arah Cie Kim ujarnya hambar, “Cayhe belum pernah menyaksikan “ Pedang emas” tersebut,

percaya atau tidak terserah pada kebijaksanaan Sam Tang-kee!”

“Aku orang she Cie percaya akan perkataanmu ini,” ia merandek sejenak, lalu tanyanya lagi,

“Hoa Kongcu, dari mana kau tabu kalau “Pedang emas“ itu telah terjatuh ke tangan Jien Tangkee

dari perkumpulan kami??”

“Oooh, soal ini?? pemilik dari “Pedang emas” tersebut dewasa ini masih dipenjarakan di dalam

perkumpulan Sin-kie-pang, aku tahu akan persoalan ini karena dia yang mengatakannya sendiri

kepada cayhe!”

“Haaah…… haaah….. haaah.. bagus! bagus sekali,” timbrung Giok Theng Hujien secara tiba-tiba

sambil tertawa. “Pek Pang cu benar-benar lihay dan punya kepandaian luar biasa. aku masih

mengira Cioe It Bong telah berhasil memecahkan rahasia “Pedang emas’ itu dan bersembunyi

ditengah pegunungan yang sunyi untuk berlatih silat, rupanya ia sudah terjatuh ke tangan Pek

pangcu dan sampai sekarang masih menjadi tamu terhormat di dalam penjaranya!”

Gelak tertawa serta sindirannya benar-benar mempunyai ciri khas tertentu, begitu buka suara

cukup membuat orang dari perkumpulan Sin-kie-pang jadi jengah dan riku.

Sajak tadi Pek Kun-gie sudah mangkel dan mendongkol sekali, tetapi diapun tahu kalau

perempuan tersebut merupakan seorang manusia yang paling menakutkan, setelah sabar dia

harus sabar terus hingga akhirnya ia tak tahan dan melotot ke arahnya dengan sinar mata

berapi-api.

Si Cukat beracun Yauw Sut cepat mengikuti perubahan air muka Pek Kun-gie dengan sangat

jelas, melihat ia mulai gusar dan takut dara itu mengambil tindakan sembrono, buru-buru ia

tertawa panjang dan berkata, “Hujien, kau keliru besar, meskipun Cie It Bong berada di dalam

markas besar- perkumpulan kami, tetapi ia kami layani sebagai tamu agung dan bukannya

tawanan di dalam penjara. Ha..hah..kapan saja bila kita berhasil mengundang kehadiran Hujien,

kau akan tahu akan kelihayan dari pangcu kami”

“Aaahh….rupanya si kakek telaga dingin bernama Cie It Bong” batin Hoa Thian-hong di dalam

hati. “Cukat beracun Yauw Sut sungguh seorang manusia licik yang bermuka tebal, pandai amat

ia memutar balikkan keadaan tanpa merasa jengah, diapun termasuk manusia yang lihay”

Dalam lamunannya mendadak ia rasakan daya kerja racun keji yang bersarang di dalam nadi

“Tok-Meh“ nya perlahan-lahan merembes ke atas dan kian lama tekanan itu kian bertambah

kencang, agaknya dua buah jalan darah pentingnya telah tertembus.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

167

Secara lapat2 ia mulai merasa amat sakit dan sukar ditahan lebih lanjut.

Si Malaikat bertangan delapan Cie Kim yang menyaksikan air muka si anak muda itu sudah

berubah jadi pucat ke-abu2an, sikapnya lesu dan lemah. ia segera sadar bahwa kematian

pemuda itu sudah hampir tiba. Buru-buru tanyanya, “Hoa kongcu, siapakah nama dari

perempuan berkerudung hitam itu?”

“Ia mengaku dirinya she-Poei bernama Che Giok dan berasal dari Sekte Agama Thong Thian

Kauw, benar atau tidak cayhe tidak berani yakin seratus persen.“

Malaikat berlengan delapan Cie Kim segera berpaling hardiknya, “Hujien, apakah di dalam

perkumpulan agama kalian terdapat seorang gadis yang bernama Poei Che Giok?”

“Ada!” sahut Giok Theng Hujien sambil tertawa cekikikan. ia segera berpaling dan menggape ke

arah dalam ruang perahunya.

“Giok jie! ayoh cepat kemari!” teriaknya.” Bagus sekali. diluar sepengetahuanku kau telah

melakukan perbuatan bagus!”

Semua orang merasa terperanjat dan sama-sama berpaling ke arah perahu, terlihatlah sesosok

bayangan manusia berkelebat lewat. gadis yang sendiri tadi berdiri disisi kursi kebesaran Giok

Theng Hujien itu segera melompat ke tengah lapangan, serunya, “Aku tidak pernah

meninggalkan sisi tubuh hujien, apakah aku pernah membunuh orang dan mencuri benda

mustika?”

“Hong-po Seng…”seru Giok Theng Hujien dengan alis berkerut.” Ooh…. Hoa Thian-hong, dialah

Poei Che Giok, orang yang kenali dirinya di wilayah timur ataupun selatan tidak sedikit. coba

lihatlah apakah dia adalah gadis yang membunuh orang dan mencuri mustika itu??”

Meskipun gadis ini mempunyai kecantikan wajah yang menggiurkan dan pakaian yang dikenakan

juga berwarna ungu tetapi usianya cuma enam belas tahunan, raut wajahnya sama sekali tidak

mirip dengan gadis pembunuh serta pencuri benda mustika itu.

Setelah dipandangnya beberapa saat Hoa Thian-hong segera gelengkan kepalanya berulang kali.

“Bukan, bukan nona ini!”

Ia merandek sejenak, kemudian kepada Cie Kim sambungnya.

“Sedari permulaan tadi aku sudah menerangkan bahwa dibalik kejadian ini masih terdapat pula

teka teki yang belum terpecahkan, pergerakan ini jelas sudah diatur oleh suatu rencana yang

amat sempurna, lebih baik kau selidiki dan bicarakan lagi dengan Tang-kee kemudian baru

mengambil keputusan.”

Malaikat berlengan delapan Cie Kim mengerutkan alisnya rapat-rapat.

“Hoa kongcu, kenapa kau tidak sekalian tuliskan bagaimanakah potongan serta raut wajah dari

gadis yang mengaku bernama Poei Che Giok tersebut??”

Hoa Thian-hong mengangguk, ia menoleh ke samping dan katanya, “Nona Pek, setelah cayhe

mengatakannya nanti harap kau jangan marah ataupun salahkan diriku.”

Pek Kun-gie tertegun tapi ia segara mengangguk.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

168

“Katakanlah, salahkan dirimu pun tak berguna!”

Hoa Thian-hong tertawa hambar.

“Gadis yang membunuh orang dan mencuri benda mustika itu mempunyai raut wajah yang

hampir mirip dengan dirimu, ilmu silatnya tidak lemah dan ilmu meringankan tubuhnya jarang

sekali ditemui dalam dunia persilatan!”

“Hong-po Seng kau jangan memfitnah orang semaunya sendiri!” teriak Kok See-piauw dengan

gusar.

“Aku bernama Hoa Thian-hong dan bukan Hong-po Seng, apa yang telah aku orang she-Hoa

katakan mau tidak mau kau harus mempercayainya”

Tiba-tiba si anak muda itu merasakan ulu hatinya teramat sakit, tubuhnya sempoyongan ke

belakang dan hampir saja jatuh terjengkang ke atas permukaan tanah.

Chin Wan Hong serta si Harimau Pelarian Tiong Liauw buru-buru maju ke depan, satu dari kiri

yang lain dari kanan segera memayang tubuhnya hingga tak sampai terjatuh ke tanah.

Harimau ompong si nenek tua she-Tiong mendadak mendepakan kakinya ketanah sambil putar

badan ia menangis terisak.

“Hmmm….. apanya yang mirip?” sementara itu malaikat berlengan delapan Cie Kim berpikir di

dalam hatinya, “Mungkin saja Poei Che Giok adalah Pek Kun-gie, dan Pek Kun-gie adalah Poei

Che Giok!”

Tiba-tiba terdengar Giok Theng Hujien berkata, “Yauw heng, dalam kolong langit dewasa ini

hanya Hoa Thian-hong seorang yang pernah menjumpai gadis pembunuh dan pencuri benda

mustika itu, memandang diatas wajah Jien Tang-kee aku harap kau sukalah mempertahankan

selembar jiwanya”

“Siluman rase sialan,” diam-diam Cukat beracun Yauw Sut memaki di dalam hatinya, “Kau

berulang kali memojokkan posisi aku orang she Yauw. Hmm, kalau aku tidak membiarkan dirimu

untuk merasakan kelihayanku, percuma aku dijuluki orang sebagai si Cukat beracun”

Dengan langkah lebar si Malaikat lengan delapan Cie Kim maju menghampiri diri Yauw Sut,

seraya menjulurkan tangannya ke depan ia berkata dengan wajah menyeringai, “Yauw heng,

kalau kau punya obat penawar harap serahkan kepada diri siauwte”

“Haah….haah Sam Tang-kee, masa kau suka mempercayai perkataan dari Giok Theng Hujien??”

Terdengar Giok Theng Hujien tertawa terkekeh-kekeh sambil goyang pinggul menghampiri

kehadapan Yauw Sut katanya, “Yauw heng, dihadapanku kau berani menyumpahi diriku. jangan

salahkan kalau aku tidak akan bersikap hormat terhadap dirimu lagi.”

JILID 9

TATKALA dilihatnya perempuan itu berjalan menghampiri kehadapannya seakan-akan

berhadapan dengan musuh tangguh si Cukat beracun Yauw Sut segera mengerahkan tenaga

dalamnya ke dalam telapak untuk mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan,

sepasang matanya dengan tajam mengawasi perempuan itu tanpa berkedip.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

169

“Orang ini adalah lengan kanan dari Pek Siauw-thian,” pikir malaikat berlengan delapan Cia Kim

di dalam hati “Andaikata aku berhasil melenyapkan dirinya saat ini juga, itu berarti bahwa aku

berhasil menyingkirkan sabuah tiang tonggak penyanggah dari perkumpulan Sin-kie-pang,

kemudian bilamana perkumpulan Hong Im Hwat serta Thong Thian Kauw biasa bekerja sama,

rasanya tidak sulit untuk melenyapkan segenap kekuatan dari perkumpulan Sin-kie-pang dan

membagi rata ketujuh daerah propinsi di Selatan menjadi kekuasaan dua perkumpulan.”

Berpikir demikian, ia lantas berkata dengan nada ketus, “Yauw-heng andaikata kau tidak suka

menyerahkan obat penawar itu kepadaku untuk menyelamatkan selembar jiwa Hoa Thian-hong

sehingga pembunuh yang sebetulnya sukar ditemukan, maka itu berarti Thong Thian Kauw pun

tidak akan luput dari kecurigaan, sekalipun Giok Theng Hujien bisa mengampuni dirimu, belum

tentu siauwte bisa bersikap sungkan-sungkan terhadap dirimu!”

“Ucapan dari Sam Tang-kee Sedikitpun tidak meleset,” sambung Giok Theng Hujien sambil

tertawa merdu. “Yauw-heng! apabila kau tidak mau menyerahkan obat penawar itu lagi, kami

segera akan turun tangan!!….”

Perempuan inipun tahu bahwa Yauw Sut tidak bakal memiliki obat penawar tersebut separti apa

yang dikehendaki Cia Kim, di dalam hati kecil diapun berhasrat untuk mengajak pihak

perkumpulan Hong-im-hwie untuk bekerja sama melenyapkan si Cukat beracun Yauw Sut

terlebih dahulu.

************http://ecersildejavu.wordpress.com/***************

Si Harimau pelariain Tiong Liauw sedang merasa sedih karena keadaan dari Hoa Thian-hong, kini

setelah mendengar ada orang menantang Yauw Sut untuk menyerahkan obat penawarnya,

seketika itu juga dengan langkah lebar ia maju ke depan. Serunya, “Hey orang she-Yauw, apabila

hari ini kau tidak serahkan obat penawar itu, sekalipun aku Tiong Liauw tidak mampu menghajar

dirimu, paling sedikit aku akan menggigit badanmu.”

Si Harimau ompong nenek tua shek-Tiong serta putranya si Harimau Bisu Tiong Long yang

melihat kejadian itu segera ikut mengerubut ke depan, dalam keadaan gusar dan di liputi emosi

ketiga orang itu telah melupakan kelihayan dari Si Cukat beracun Yauw Sut.

Tiong Luo-tiang! Ayoh Segera kembali terdengar Hoa Thian-hong berseru. “Apakah kalian sudah

lupa akan perkataanku di saat mewariskan ilmu silat tersebut kepada kalian?”

Daya kerja racun keji yang bersarang di dalam badannya mungkin sudah bereaksi hingga sekujur

tubuhnya terasa amat sakit dan tersiksa, di dalam mengutarakan kata-katanya itu terdengar

suara Hoa Thian-hong sudah berubah jadi serak, lirih dan gemetar….

Cukat beracun Yauw Sut mendongak dan tertawa lantang, “Haaah…………… haaah…………..

haaa….kalian benar-benar tidak memahami keadaan yang benar. Hmm! Kamu anggap Hoa

Hujien adalah seorang manusia yang gampang dilayani? Seandainya ia munculkan diri lagi di

dalam dunia persilatan dan berseru kepada umat Bulim, maka komplotan-komplotannya di masa

silam pasti akan berduyun-duyun munculkan diri. Coba bayangkan apakah manusia-manusia

lihay itu bukan merupakan satu ancaman bahaya bagi kekuasaan kita semua? Kini kami dari

pihak perkumpulan Sin-kie-pang dengan pelbagai akal berusaha hendak menyingkirkan musuh

tangguh ini dari muka bumi, sebaliknya kalian malah memaksa aku orang she-Yauw untuk

menyerahkan obat penawar guna manyelamatkan jiwa putranya, bukankah tindakan kilian ini

justru malah terbalik dan tidak mempertimbangkan berat entengnya persoalan? Aku takut

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

170

apabila Thian Ie Kauwcu serta Jien Tang-kee mengetahui urusan ini, dalam hati kecil mereka

akan merasa tidak senang hati!”

Malaikat berlengan delapan Cia Kim terkesiap sehabis mendengar ucapan itu, pikir nya,

“Perkataan bangsat itu sedikitpun tidak salah, perduli dia mempunyai obat penawar atau tidak,

asal Hoa Thian-hong mati maka hal ini berarti akan mendapatkan ketidak beruntungan bagi

pihak Sin-kie-pang!”

Karena berpendapat demikian ia segera mengundurkan diri ke samping dan menanti tiga Hoa

Thian-hong mati karema keracunan.

Giok Theng Hujien memutar biji matanya mendadak ia tertawa mengejek.

“Tok Cukat benar-benar luar biasa, hanya mengucapkan dua tiga patah kata saja telah berhasil

melenyapkan ancaman kematian yang bakal menimpa dirinya. Aaaai ketajaman lidah ternyata

memang jauh lebih hebat daripada kekuatan sepuluh laksa prajurit bersenjata lengkap.”

Dalam hati Cukat beracun Yauw Sut menaruh kebencian yang amat sangat, tetapi tidak ia

perlihatkan di luaran, sinar matanya segera dialihkan ke arah Hoa Thian-hong.

“Sam Tang-kee” terdengar Hoa Thian-Hong berkata sambil mengangkat Teratai Racun Empedu

Api itu ke atas. “Teratai racun ini kecuali mengandung racun yang amat keji sama sekali tiada

kegunaan lain, aku akan memintanya kembali.”

“Hmmm! apakah kau hendak membawanya pulang ke akhirat?” pikir Cia Kim si malaikat

berlengan delapan dalam hati.

Hoa Thian-hong sendiripun tidak menantikan jawabannya, ia alihkan sinar matanya menyapu

sekejap ke sekeliling tempat itu, tatkala dilihatnya Tiong-si Sam Houww serta Chin Wan Hong

pada menangis terisak, ia segera menghela napas panjang.

“Aaaai….! cuwi sekalian……………”

Tiba-tiba ia merasa bahwa banyak bicara tiada kegunaannya, sebelum pemuda itu sempat

berbuat sesuatu badannya terasa tak kuat menahan diri, mulutnya segera ditutup dan hawa

murni diempos keluar dari pusar untuk melindungi denyutan jantung. Setelah menentukan arah

ia jatuhkan diri berlutut menghadap ke Barat-laut.

“Hoa kongcu……” terdengar Chin Wan Hong menjerit sambil menahan isak tangisnya.

“Kau………… apakah kau ada pesan-pesan terakhir yang hendak kau sampaikan?”

Hoa Thian-hong yang berlutut di atas tanah berpikir di dalam hati.

“Sebetulnya aku hendak titip kabar kepada seseorang untuk disampaikan kepada ibuku, tapi aku

takut memancing setan masuk pintu hingga rahasia tempat persembunyian ibuku ketahuan.

Aaaai….! setelah aku mati ibupun tak dapat hidup lebih jauh, lebih baik kita anak dan ibu

berjumpa di alam baka saja!”

Karena berpikir hegitu ia lantas gelengkan kepala dan mulai kemak-kemik mencoba doa.

Suasana di kalangan pada saat itu hening….. sunyi…… tak kedengaran seorang manusiapun yang

buka suara, Tiong-si Sam Houww serta Chin Wan Hong pun hanya menangis terisak, seakanakan

semua orang tidak ingin mengganggu doanya yang terakhir.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

171

Angin malam berhembus lewat menerbitkan bunyi lirih yang memilukan hati, perasaan sedih dan

iba hampir menyelimuti sebagian orang yang hadir di situ.

Beberapa saat kemudian Hoa Thian-hong telah selesai berdoa, tampak ia menjalankan

penghormatan beberapa kali kemudian memasukkan Teratai Racun Empedu api itu ke dalam

mulutnya, setelah dikunyah-kunyah segera di telan ke dalam perut.

Tampaklah si harimau ompong nenek tua she Tiong mendepak-depakan kakinya ke atas tanah,

jeritnya keras, “Yaaan ampuh.. Oooh Thian, habis sudah.”

Ia duduk mendeprok di atas tanah dan menangis tersedu-sedu.

Beberapa saat kemudian sekujur badan Hoa Thian-hong mengejang keras, sambil berbaring di

atas tanah ia berguling ke sana ke mari mulutnya merintih kesakitan dan beberapa gumpal darah

kental berwarna hitam muntah keluar dari mulutnya.

Dalam waktu singkat sernua orang yang hadir dibikin saling berpandangan dengan wajah

muram, si harimau pelarian Tiong Liauw, si harimau bisu Tiong Long serta Chin Wan Hong sama

sama jatuhkan diri berlutut di atas tanah dan menangis pilu.

Pemandangan itu benar benar menyedihkan hati setiap orang, kendati sekawanan orang orang

hek-to yang biasanya membunuh orang tanpa berkedip saat itu ikut merasa beriba hati.

Pek Kun-gie pertama-tama yang putar badan masuk ke dalam ruang perahunya dengan kepala

tertunduk, Giok Theng Hujien serta dara berbaju Ungu itu saling berpandangan sekejap lalu

meloncat kembali ke atas perahunya, sedangkan Cukat beracun Yauw Sut yang merasa uringin

segera menjura ke arah malaikat berlengan delapan Cia Kim lalu dengan membawa anak

buahnya kembali ke atas perahu.

Malaikat berlengan delapan Cia Kim tahu bahwa Hoa Thian-hong pasti akan menemui ajalnya,

melihat pemuda itu mengerang kesakitan di atas tanah sambil berguling-gulingan dalam hati

timbul perasaan tidak tega ia segera maju ke depan sambil mengirim satu pukulan.

Chin Wan Hong yang berlutut di sisinya jadi kaget dan berseru tertahan ketika menyaksikan

kejadian itu, ia menubruk ke depan menutupi badan Hoa Thian-hong dengan tubuhnya lalu

jeritnya keras-keras, “Jangan lukai dirinya!”

Si Malaikat berlengan delapan Cia Kim tertegun, setelah termangu-mangu beberapa saat

lamanya ia berkata, “Aku berbuat demikian karena bermaksud baik!”

Setelah merandek ia menghela napas panjang, tambahnya, “Sayang di sini bukanlah wilayah

Biauw, kalau tidak kita bisa mohon bantuan diri Kioe Tok Sian Cie ….”

Sikap serta keadaan diri Chin wan Hong sama sekali berubah, seakan-akan telah berubah jadi

seseorang yang lain, ia mendongak dan bertanya dengan wajah termangu-mangu.

“Kenapa kalau ada Mioe Tok Sian cie?”

Malaikat berlengan delapan Cia Kim tertawa kering.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

172

“Kioe Tok Sian Cie adalah seorang ahli di dalam menggunakan racun, tapi kalau ia harus

menjumpai korban karena makan Teratai Racun Empedu Api…. aku rasa walaupun dewa turun

dari kahyanganpun tidak nanti bisa menyelamatkan jiwanya.”

Lama sekali Chin Wan Hong berdiri termangu-mangu, mendadak selintas keteguhan hati

berkelebat di atas wajahnya.

“Aku akan coba pergi mencari dirinya!” ia berseru.

Dengan sepasang tangannya ia membopong tubuh Hoa Thian-hong kemudian berjalan menuju

tepi sungai.

Menyaksikan tingkah laku dara ayu itu, di dalam hati kecilnya si malaikat berlengan delapan

lantas berpikir, “Rupanya si gadis ini menaruh rasa cinta terhadap diri Hoa Thian-hong, cuma

saja merasa pemuda itu masih dalam keadaan sehat ia tidak sampai perlihatkan perasaannya

itu.”

Melihat sinar matanya kabur dan tidak tenang, dengan sikap yang limbung dara itu berjalan

menuju ketepi sungai, sepasang alisnya kontan berkerut, teriaknya, “Nona, jarak dari tempat ini

menuju ke wilayah Biauw amat jauh sekali, kalau aku ingin berjalan menuju ke situ sampai di

tengah hutanpun belum tentu tiba di tempat tujuan, lebih baik urungkan saja niatmu itu!”

“Aku akan pergi mencobanya!” jawab Chin Wan Hong singkat. Jelas kesadaran otaknya telah

kabur dan separuh hilang, tanpa memandang atau melirik ia langsung meloncat naik ke atas

perahu besar di mana si Cukat beracun Yauw Sut berada.

Tiong-si Sam Houww yang semalam ini selalu dirundung kesedihan dan menangis tiada hentinya

kini baru mendusin dari kepedihan hatinya, mereka terperanjat dan buru-buru mengejar ke

depan ikut meloncat naik ke atas perahu besar.

Tok-Cukat Yauw Sut serta Pek Kun-gie sekalian melirik sekejap ke arah Chin Wan Hong

kemudian memandang pula ke arah Hoa Thian-hong yang berada di dalam bopongannya.

Tampaklah si anak muda itu berada dalam keadaan meram dan tak berkutik, darah kental

berwarna hitam masih mengucur keluar tiada hentinya, sepintas lalu kelihatannya ia sudah putus

nyawa.

Karena itu setelah melirik sekejap ke arah mereka, orang-orang itu segera alihkan pandangannya

ke arah lain dan tidak memperdulikan keempat orang itu lagi.

Beberapa saat kemudian perahu mulai bergerak tinggalkan tepian, sementara perahu besar yang

ditumpangi Giok Theng Hujien berlayar menjauhi tempat kejadian, ketiga buah perahu dari

perkumpulan Sin-kie-pang bergerak menuju ke tepi seberang.

Si harimau pelarian Tiong Liauw yang menjumpai Chin Wan Hong sambil membopong tubuh Hoa

Thian-hong berdiri di ujung perahu, di mana tubuhnya bergoncang dan sempoyongan tiada

hentinya, seakan akan setiap saat kemungkinan besar bisa tercebur ke dalam sungai, hatinya jadi

tidak tega, ia segera maju menghampiri sambil katanya.

“Nona, biarlah aku yang membopong tubuh Hoa sauw ya!”

“Tidak usah!” sahut Chin Wan Hong sambil menggeserkan tubuhnya satu langkah ke samping.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

173

Si harimau pelarian Tiong Liauw terperanjat, karena takut gadis itu tercebur ke dalam sungai

terpaksa diam-diam ia memperhatikan dan mengawasi gerak-geriknya di samping dara tersebut,

mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Perahu dengan cepatnya merapat di tepi pantai, semua orang telah berloncatan naik ke darat

tapi Chin Wan Houg masih berdiri termangu-mangu di ujung perahu, menanti Tiong-si Sam

Houw menegur dirinya ia baru membopong tubuh Hoa Thian-hong dan melangkah turun dari

atas perahu tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Tiga ekor harimau dari keluarga Tiong jadi kelabakan dibuatnya, terpaksa mereka menguntil

terus di belakangnya.

Pemuda yang dahulu bernama Hong-po Seng dan kini bernama Hoan Thian-hong itu, setelah

menelan Teratai Racun Empedu Api seluruh darah segar di dalam tubuhnya telah berubah jadi

cairan beracun, daya kerja racun jarum sakti penembus tulang yang dihadiahkan Pek Siauw-thian

di atas bahunya sudah tidak menunjukkan arti yang dalam lagi, racun tersebut bagaikan tetesan

air di tengah samudra lenyap kegunaannya.

Meski demikian jantung Hoa Thian-hong masih berdetak dan badannya masih terasa hangat,

seakan-akan Thian tidak tega untuk mencabut kembali jiwanya dan memberi kesempatan kepada

si anak muda ini untuk meronta dan berjuang untuk menentang maut.

Meskipun Chin Wan Hong hanya sempat bertemu sebanyak tiga kali dengan si anak muda itu

dan saat berkumpul mereka hanya beberapa hari saja, tetapi berhubung watak yang sama dan di

antara mereka terasa ada kecocokan, maka dalam hati kecilnya yang ramah, halus dan penuh

welas itu telah tumbuh benih cinta yang mendalam, cuma saja ia tak herani mengutarakan rasa

cintanya itu di luaran.

Tetapi benih cinta yang telah tumbuh dalam hatinya kian lama kian bertambah besar, ia merasa

tak dapat membendung perasaan hatinya itu. Hingga akhirnya Hoa Thian-hong berada di

ambang maut, dalam keadaan begini semua halangan dan rintangan yang mengganjal hatinya

lenyap dan tersingkirkan dengan sendirinya, tanpa ia sadari rasa cinta yang terpendam selama

inipun terutarakan keluar.

Sepanjang pejalanan Chin Wan Hong serta Tiong-si Sam Houww berada di depan sedangkan

Cukat beracun Yauw Sut dengan memimpin anak buah perkumpulan Sin-kie-pangnya membuntut

di belakang, memandang bayangan punggung beberapa orang itu entah bagaimana secara tibatiba

Pek Kun-gie merasakan dirinya seolah-olah telah kehilangan sesuatu.

Sesudah termangu-mangu sesaat lamanya, mendadak Oh Sam yang mengikuti di belakangnya ia

berseru, “Bawa kereta dan hantar mereka menuju ke tempat tujuan, setelah mengubur Hongpo…………

Hoa Thian-hong nanti, coba kau bereskan dan aturlah diri mereka sehingga beberapa

orang itu terhindar dari pelbagai kesulitan!”

Oh Sam mengiakan, dengan cepat ia berlalu dari situ.

Tatkala Chin Wan Hong sekalian telah melakukan perjalanan sejauh beberapa li, Oh Sam dengan

keretanya telah menyusul tiba segera ujarnya, “Nona Chin! kalian mau pergi kemana? mari cayhe

hantar kalian sampai di tempat tujuan.”

Kegagahan serta kehebatan yang ditinggalkan Hoa Thian-hong telah membuat orang ini bersikap

sangat hormat terhadap diri Chin Wan Hong.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

174

Terdengar Chin Wan Hong menjawab dengan sikap bimbang, “Kami akan menuju ke wilayah

Biauw, perjalanan yang amat jauh sekali!”

“Aaaai…..nona ini tentu sudah gila karena rasa sedih yang kelewat batas” pikir Oh Sam dalam

hati Sesudah tertegun sejenak ia lantas berseru, “Naiklah dulu ke atas kereta, setibanya di kota

Keng-Chiu nanti boleh kau lanjutkan kembali perjalanan!”

Pikiran Chin Wan Hong pada saat ini telah kalut dan kacau balau, ia cuma tahu secepatnya pergi

ke wilayah Biauw, oleh sebab itu sehabis mendengar tawaran tadi tanpa berpikir panjang ia

segera menerobos masuk ke dalam ruang kereta.

Si Harimau pelarian Tiong Liauw yang menyaksikan kejadian itu, tanpa berpikir panjangpun ikut

meloncat masuk ke dalam ruang kereta. Si nenek tua she-Tiong serta putranya Tiong Long pun

terpaksa ikut masuk ke dalam kereta.

Perjalanan menuju ke arah Selatan dilakukan dengan sangat cepat, sepanjang perjalanan Oh

Sam selalu menyediakan makanan dan minuman yang cukup pelayanannya terhadap beberapa

orang ini ternyata baik dan sangat ramah.

Setelah lewat beberapa hari rasa sedih yang mencekam Tiong-si Sam Houww mulai berkurang,

kejernihan otak merekapun sudah pulih kembali seperti sedia kala, hanya Chin Wan Hong

seorang yang pikirannya tetap kabur dan tidak beres, setiap hari baik siang maupun malam ia

selalu mendampingi Hoa Thian-hong, tak sepatah katapun diucapkan dan sikapnya tetap

termangu-mangu terus.

Dalam pikiran Oh Sam semula, setelah ia menghantar mereka sampai di kota Keng-chiu maka

pikiran serta kejernihan otak Chin Wan Hong telah pulih kembali seperti sedia kala, sehabis

mengubur jenazah Hoa Thian-hong maka tugasnyapun akan selesai.

Siapa tahu setelah melakukan perjalanan selama beberapa hari, ia temukan bahwasanya Hoa

Thian-hong yang nampaknya sudah mati itu ternyata napasnya belum putus dan jantungnya

masih berdetak meski amat lemah sekali, ia jadi terkejut bercampur keheranan. Dalam keraguraguannya

kereta dilarikan semakin cepat lagi langsung menuju ke dalam wilayah Biauw.

Haruslah diketahui letak wilayah Biauw amat terpencil sekali dan berada di arah Barat daya,

jaraknya dari Tionggoan kira-kira ada satu dua laksa li, begitulah dengan tanpa banyak komentar

dan banyak bicara kelima orang itu sambil mengawal Hoa Thian-hong yang hampir sekarat

meneruskan perjalanan siang dan malam, kurang lebih satu bulan kemudian akhirnya sampailah

mereka di tempat tujuan.

Siang itu kereta memasuki wilayah Hek Hong Tong, Oh Sam pun segera menghentikan lari

kudanya dan membuka pintu kereta, kepada Chin Wan Hong ujarnya, “Nona, antara

perkumpulan Sin-kie-pang dengan Kioe Tok Sian Cie pernah mengadakan perjanjian bahwa

orang-orang dari perkumpulan kami tidak diperkenankan melewati wilayah Hek Hong Tong,

karena itu maafkanlah diri cayhe apabila tak bisa menghindar perjalanan kalian lebih lanjut!…..”

Mendengar perkataan itu Chin Wan Hong segera membopong tubuh Hoa Thian-hong dan

meloncat keluar dari dalam kereta.

“Terima kasih atas pertolonganmu!” serunya dengan sinar mata liar menyapu sekejap sekeliling

tempat itu, kemudian tambah nya, “Di manakah Kioe Tok Sian Cie itu?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

175

“Aaai….. penyakit yang diderita nona ini entah bisa sembuh atau tidak?” batin Oh Sam di dalam

hati.

Ia segera mjnuding ke arah gua-gua suku Siauw yang berada di bagian depan sahutnya,

“Setelah melewafi gua-gua itu berangkatlah menuju ke arah Selatan dan carilah letak sebuah

selat yang disebut selat Hoe-Hiang-Kok, di situlah Kioe-Tok Stan-Cie berdiam!”

“Terima kasih atas bantuanmu,” Chin Wan Hong mengangguk. “Setelah penyakit yang diderita

Hoa Kongcu sembuh, aku pasti akan suruh dia mengucapkan rasa terima kasihnya kepadamu.”

Rupanya gadis ini merasa amat gelisah dan tergesa-gesa, sehabis mengucapkan kata-kata itu ia

segera berjalan menuju ke daerah perumahan suku Biauw, kepala tidak di paling dan ia sama

sekali tidak memperdulikan apakah Tiong-si Sam Houww mengikuti dibelakangnya atau tidak.

Nenek tua she-Tiong merasa tidak tega, cepat-cepat ia memburu ke depan dan mengikuti di

belakangnya.

Oh Sam menghela napas panjang dan alihkan sinar mata ke arah si Harimau Pelarian Tiong

Liauw.

Seorang tua itu segera menjura dan mengucapkan rasa terima kasihnya atas jerih payah Oh Sam

dalam menghantar mereka selama ini, kemudian dengan membawa putranya mengejar sang istri

serta Chin Wan Hong yang telah menjauh,

Pergaulan yang lama di antara mereka berempat ditambah pula rasa terima kasih serta hutang

budi dari Tiong-si Sam Houw terhadap Hoa Thian-hong, membuat ketiga orang itu tanpa sudah

telah menganggap Chin Wan Hong sebagai majikan mereka, sepanjang perjalanan si harimau

ompong nenek tua she Tiong itu tak pernah berpisah sejengkalpun dari gadis tersebut,

pelayanannya amat baik dan teliti.

Setelah mencari keterangan mengenai letak selat Hoe Hiang Kok, berangkatlah ke-empat orang

itu menerobosi Hek Hong Tong dan menuju ke arah selatan…

Kiranya selat Hoe Hiang Kok letaknya berada di tengah-tengah wilayah Biauw, sesudah

melakukan perjalanan siang malam selama tiga hari, akhirnya tempat tujuanpun berada di depan

mata.

Tampaklah di hadapan mereka terbentang samudra bunga yang amat luas, bunga yang beraneka

warna menyiarkan bau harum yang semerbak, di tengah tumbuhan bunga tampak sebuah jalan

kecil menghubungkan tempat itu dengan selat Hoe Hiang Kok, selain itu tidak nampak jalan lain

lagi.

Tiong-si Sam Houw jadi sangat kegirangan, sebaliknya Chin Wan Hong tetap bersikap kaku dan

murung, perjalanan siang malam yang dilakukan dengan susah payah selama ini ditempuhnya

dengan gigih tanpa melepaskan tubuh Hoa Thian-hong barang sekejappun, ia tidak membiarkan

tubuh pemuda itu dibopong oleh siapapun.

Kini gadis itupun tidak berdiam terlalu lama di sana, setelah merandek sejenak ia segera

lanjutkan perjalanannya memasuki hutan bunga tersebut.

Siapa tahu belum sampai beberapa ratus tombak mereka berjalan, mendadak keempat orang itu

merasakan badannya jadi limbung dan tak terhindar lagi secara beruntun mereka roboh

terjengkang ke atas tanah dan jatuh tak sadarkan diri.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

176

Kiranya sepuluh li di sekitar samudra bunga ini disebut barisan Hoe-Hiang-Tin, semua jago lihay

yang bagaimana dahsyatpun ilmu silatnya setelah melewati daerah tersebut pasti akan

keracunan dan jatuh tidak sadarkan diri.

Chin Wan Hong sekalian berada dalam keadaan sedih dan punya pikiran yang mengganjal di

dalam hati, ditambah pula tenaga lwekangnya amat cetek, hal ini tentu saja semakin

memperlemah keadaan mereka, oleh sebab itu belum jauh mereka berjalan beberapa orang itu

sudah roboh tak sadarkan diri.

Kurang lebih setengah jam kemudian, dari balik pepohonan yang lebat muncul beberapa orang

gadis suku Biauw dengan gerakan cepat bagaikan kilat….

Sungguh cepat gerakan tubuh mereka, dalam sekejap mata mereka sudah berdiri di sisi Chin

Wan Hong. Terdengar ucapan Kukulala-kukulala yang tidak dimengerti bergema memecahkan

kesunyian, diikuti orang-orang itu membopong mereka berempat dan bergerak masuk ke dalam

selat.

Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki beberapa orang gadis muda itu sangat lihay, belum sampai

seperminum teh samudra bunga sudah dilewati dan mereka langsung menuju ke dalam selat

yang terkurung bukit.

Di dalam selat terdapat sebuah tanah lapang yang luas, bagian yang dekat dengan pintu luar

penuh ditanami bunga-bungaan yang aneh dan beraneka ragam, setelah memasuki sebuah

tebing terlihatlah sebuah lapangan berbentuk lingkaran bulan yang berdempetan dengan dinding

tebing yang terjal, di bawah dinding terdapat sebuah pintu gua berbentuk bulat, di sisi pintu

besar tadi terdapat pula empat buah gua bulat yang jauh lebih kecil dan teratur rapi.

Sementara itu sekelompok perempuan-perempuan berwajah cantik sedang berkumpul di tengah

lapangan, di tengah kebun terdapat pula sekelompok gadis sedang menyirami bunga, ketika

menyaksikan ada orang asing dibawa masuk mereka segera berseru nyaring dan sama-sama

meninggalkan pekerjaannya untuk berkerumun, beberapa saat kemudian mereka membawa Chin

Wan Hong sekalian yang tak sadarkan diri itu masuk ke dalam gua besar.

Ruangan di dalam gua itu tinggi dan luas, udara terasa amat dingin, tepat berhadapan dengan

pintu masuk terletak sebuah pembaringan terbuat dari batu pualam yang luas, di sisi

pembaringan batu itu berderet dua belas buah bantalan bulat yang terbuat dari batu pualam

juga.

Pada saat itu di atas pembaringan duduk seorang perempuan muda suku Biauw yang berwajah

amat cantik, bertangan telanjang, berdada terbuka sehingga nampak buah dadanya dan

berpakaian sangat minim, sedang di atas bantalan yang berjumlah dua betas buah itu duduk

beberapa orang gadis.

Begitu tubuh Chin Wan Hong sekalian dibaringkan ke atas tanah, perempuan muda suku Biauw

yang duduk di atas pembaringan itu segera membuka matanya dan menatap wajah Hoa Thianhong

tajam-tajam, kemudian ia loncat turun dari pembaringan dan mengucapkan sepatah kata

bahasa Biauw.

Setelah itu dengan tangannya yang putih mulus dan halus itu ia membuka kelopak mata Hoa

Thian-hong untuk diperiksa sejenak kemudian memegang pula denyutan nadi si anak muda itu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

177

Beberapa saat kemudian seorang gadis dengan membopong sebuah guci yang penuh berisikan

cairan air obat berwarna merah tawar berjalan masuk ke dalam gua, dengan menggunakan

sebuah cawan kecil dara tadi menyedu air obat kemudian diguyurkan ke dalam mulut Chin Wan

Hong serta Tiong-si Sam Houw.

Suasana di dalam gua berubah jadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, berpasangpasang

biji mata yang jeli sama-sama diarahkan ke atas wajah beberapa orang yang belum

sadarkan diri itu.

Di antara mereka hanya sepasang mata perempuan muda itu saja yang ditujukan ke atas wajah

Hoa Thian-hong, sambil memeriksa denyutan nadinya air muka perempuan itu tampak berubah

hebat dan menundukkan rasa terkejut bercampur tercengang.

Lewat seperminum kemudian secara beruntun Chin Wan Hong serta Tiong-si Sam Houw telah

siuman kembali, Seakan-akan otaknya secara mendadak berubah jadi tajam dan pandai, begitu

membuka matanya gadis she Chin itu segera menuju sekejap sekeliling tubuhnya kemudian

meloncat bangun dan jatuhnya diri berlutut di hadapan perempuan muda suku Biauw itu.

Tiong-si Sam Houw yang menyaksikan perbuatan dari iru tanpa mengucapkan sepatah katapun

mereka juga meloncat bangun dan jatuhnya dari berlutut di atas tanah.

Perempuan muda suku Biauw alihkan sinar matanya menyapu sekejap ke arah empat orang itu,

kemudian melepaskan cekalannya pada nadi Hoa Thian-hong dan kembali duduk di atas

pembaringannya.

Chin Wan Hong segera maju ke depan dan berlutut kembali di hadapan perempuan itu tak

sepatah katapun yang diucapkan keluar.

Mendadak tampaklah perempuan muda itu mengerutkan alisnya, lalu menegur, “Hey bocah

perempuan, kenapa kau berlutut dan angguk-anggukkan kepalamu tiada hentinya?”

Bahasa Han yang digunakan ternyata lancar dan amat jelas sekali untuk didengar.

Chin Wan Hong tertegun, diikuti dengan air mata bercucuran dan menahan isak tangis yang

makin menjadi sahutnya, “Siauw-li bernama Chin Wan Hong, kami datang untuk menyambangi

Kioe Tok Sian…… untuk menyambangi Kioe Tok Sian Nio!”

Perempuan muda suku Biauw itu tersenyum “Akulah Kioe-Tok Sian-Ci! kedatanganmu kemari

apakah disebabkan karena hendak menolong jiwa bocah itu?”

Sambil berkata ia tuding ke arah tubuh Hoa Thian-hong.

Begitu mendengar bahwasanya perempuan yang berada di hadapannya adalah Kioe-Tok Sian-

Cie, gadis she-Chin itu segera anggukkan kepalanya berulang kali.

“Sian-Nio! tolonglah selembar jiwanya, sekalipun siauw-li harus menyeberangi samudra api dan

mendaki gunung golok, aku pasti akan membalas budi kebaikan dari Sian-Nio!”

Tiong-si Sam Houww berlutut di sisinya, si harimau pelarian Tiong Liauw serta si harimau

ompong nenek tua she-Tiong mengucurkan air mata tiada hentinya, bibir mereka berkemakkemik

seperti mau ikut berbicara tapi tak sepatah katapun yang meluncur keluar kegelisahan

serta kecemasan yang tertera di atas wajah mereka sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

178

Air muka Kioe-Tok Stan-Ci berubah jadi amat murung dan membesi, seolah-olah dia pun telah

menjumpai suatu masalah yang amat menyulitkan dirinya, setelah tundukan kepala termenung

beberapa saat lamanya tiba-tiba ia gelengkan kepalanya berulang kali.

“Sian Niol” seru Chin Wan Hong dengan air mata bercucuran. “Ia sudah terkena ja

rum beracun pengunci sukma milik Sin-kie-pangcu, kemudian menelan pula Teratai Racun

Empedu Api. Tolonglah selembar jiwanya Sian-Nio! Berbuatlah welas dan usahakanlah

penyembuhan baginya.”

“Aaah! Ternyata benar, disebabkan karena benda itu,” bisik Kioe-Tok Sian-Cie sambil alihkan

sinar matanya dan melirik sekejap ke arah Hoa Thian-hong yang berbaring di atas tanah.

Bibirnya kembali bergerak seperti mau mengucapkan sesuatu, tapi setelah lama sekali termenung

akhirnya dengan wajah serius ia baru berkata, “Terus terang saja kukatakan kepadamu, dewasa

ini pemuda ini masih berada dalam keadaan hidup atau telah mati, aku sendiri pun tidak jelas.

Aku tak bisa menyelamatkan jiwanya, darimana bisa kukabulkan permintaanmu itu?”

“Sian-Nio! Kau pasti bisa menyelamatkan jiwanya, tolonglah……” seru Chin Wan Hong lagi

dengan air mata bercucuran.

Kioe-Tok Sian-Cie segera tersenyum.

“Kau si bocah perempuan benar-benar amat bodoh, andaikata suku bisa menyelamatkan jiwa

rekanmu itu, maka aku tak akan disebut Kioe Tok Sian Cie si Dewi cantik sembilan Bisa!”

“Kenapa?” dara she Chin itu dengan mata melotot bulat.

“Bukankah aku lebih baik disebut Sip Tok Sian Cie si dewi cantik sepuluh Basa?”

Para gadis muda yang duduk di atas bantalan batu pualam itu kesemuanya adalah anak murid

Kioe Tok Sian Cie, mereka semua mengerti akan bahasa Han karena itu sehabis mendengar

perkataan gurunya tak tertahan mereka semua tertawa geli.

Tiba-tiba terdengar gadis yang duduk di atas batu-batu bantalan batu pualam dekat dengan

pembaringan itu berseru, “Hay, Chin Wan Hong, apakah pemuda itu adalah kekasihmu?”

Gadis suku Biauw biasanya polos dan tidak pemandang terlalu ketat akan hubungan antara pria

dan wanita, pertanyaan ini musti diutarakan amat terbuka dan bukan dibuat tapi segera

membuat Chin Wan Hong jadi tersipu, wajahnya berubah jadi merah padam, kepalanya

tertunduk rendah-rendah dan tak sepatah katapun yang sanggup diutarakan keluar!”

“Lan Hoa! jangan banyak bicara,” tukas Kioe Tok Sian-Cie dengan cepat. “Aku tak sanggup

menyelamatkan orang, banyak bertanya malah terasa rada tidak enak!”

“Suhu, tecu amat senang dengan Chin Wan Hong ini!” seru gadis yang bernama Lan Hoa itu

sambil tertawa.

“Kita tak sanggup menyelamatkan jiwa orang, senangpun tak ada gunanya!”

Pembicaraan tersebut dilakukan dengan bahasa Han, dengan sendirinya Tiong-si Sam Houw

dapat menangkap artinya dengan jelas.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

179

Si nenek tua she Tiong yang berjulukan harimau ompong adalah seorang yang berjiwa terbuka,

apa yang ia pikirkan selalu diutarakan tanpa dipikir lagi. Kini ia tak kuasa menahan diri segera

serunya, “Sian-Nio! kau toh belum turun tangan untuk mencoba darimana bisa tahu kalau jiwa

Hoa sauw-ya tak bisa tertolong lagi? bilamana kau tak sudi untuk menolong jiwanya, kamipun

tak bisa banyak bicara, sebaliknya kalau kau mengatakan tak sanggup untuk menolong…. julukan

Sian-Nio sebagai Kioe Tok kenapa tidak dikurangi satu menjadi Pat-Tok Sian-cie saja?…..”

Pat-Tok Sian-Cie adalah dewi cantik delapan bisa.

Pada dasarnya nenek tua ini memang seorang yang berbuat mengikuti emosi belaka, otaknya

sama sekali tak pernah digunakan. Kini setelah hatinya jadi gelisah karena jiwa Hoa Thian-hong

tak tertolong, ucapan yang diutarakan keluarpun kedengarannya amat menusuk perasaan.

Chin Wan Hong jadi gelisah bercampur cemas, ia takut di dalam gusarnya Kioe-Tok Sian-Cie akan

mengusir mereka keluar dari wilayahnya, karena itu dengan air mata berlinang kembali

menganggukkan kepalanya berulang kali.

Sebetulnya Kioe-Tok Sian-Cie serta anak muridnya merasa amat terharu oleh kesedihan hati Chin

Wan Hong, apa daya racun Teratai Empeau Api itu memang sulit di tolong, maka dalam keadaan

serba salahnya iapun tak mengerti harus berbuat apa.

Mendadak terdengar si Harimau Pelarian Tiong Liauw berkata, “Sian Nio! kongcu ini bernama

Hoa Thian-hong, dia adalah putra tunggal dari Hoa Goan Sioe yang amat tersohor namanya di

masa lampau, memandang di atas keluhuran budi serta kegagahan perjuangan ayahnya

ulmarhun sudilah kiranya Sian Nio coba-coba menolong jiwanya. Andaikata jiwanya benar-benar

bisa dihidupkan, maka dalam Bulim entah ada berapa banyak orang yang akan berterima kasih

kepada Sian Nio!”

Dengan sepasang alis berkerut kencang sekali lagi Kioe Tok Sian Cie melirik sekejap ke arah Hoa

Thian-hong yang menggeletak di atas tanah.

“Hoa Goan Sioe orang ini aku sih tahu,” sahutnya. “Aku dengar dia adalah seorang enghiong

yang bijaksana dan pemberani!”

Gadis yang bernama Lan Hoa itu adalah murid pertama dari Kioe Sok Sian Cie pada saat itu ikut

menimbrung, katanya, “Suhu, mari kita coba-coba berusaha untuk menolong dirinya, sekalipun

usaha kita gagal juga bukan merupakan suatu kejadian yang memalukan!!…….”

“Suhu! aku juga merasa tidak puas” seorang gadis cantik yang lain ikut berseru. “Masa Teratai

Racun Empedu Api adalah benda yang begitu kukoay……….”

Dalam sekejap mata suara-suara timbrungan bersahut-sahutan memenuhi seluruh ruang gua,

bahasa Han bercampur-baur dengan bahasa Biauw membuat suasana jadi amat riuh.

Kiranya peraturan perguruan dari Kioe Tok Siin-Cie tidak terlalu ketat, hubungan di antara guru

dan murid tidak dibatasi oleh pelbagai peraturan yang memusingkan kepala karena itu dalam

pembicaraanpun anak muridnya sudah terbiasa ikut menimbrung.

Demikianlah di bawah desakan serta seruan anak muridnya, perempuan muda itu mulai tergerak

hatinya, tanpa sadar semangatnya pun ikut berkobar kembali.

Tiba-tiba terdengar Lan Hoa berseru dengan suara lantang, “Chin Wan Hong, bagaimana kalau

kau angkat suhu jadi gurumu dan masuk menjadi murid perguruan kami?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

180

Dalam keadaan seperti ini yang diharap kan oleh Chin Wan Hong hanyalah berusaha untuk

menolong jiwa Hoa Thian-hong, mengenai persoalan lain ia sama sekali tidak dipikirkannya di

dalam hati.

Mendengar ucapan itu, buru-buru ia jatuhkan diri berlutut di hadapan Kioe Tok Sian cie dan

menyebut dirinya sebagai Suhu.

Kioe Tok Sian cie tertegun, kemudian serunya, “Cara ini tak bisa dilaksanakan, aku dengan

orang-orang Bulim di daerah Tionggoan sama sekali tiada hubungan apapun juga, tiada dendam

juga tak pernah menanam budi menerima seorang murid sih bukan menjadi soal, yang kutakuti

justru terpancingnya banyak kesulitan dan kerepotan bagi diri kita!”

“Suhu, kau tak usah kuatir,” sela Lan-Hoa dengan cepat. “Ada baiknya kalau kita terima seorang

gadis bangsa Han sebagai murid dengan begitu kamipun ada teman untuk diajak bermain.

Andaikata dikemudian hari bakal terjadi kerepotan, biarlah aku yang menghadapi seorang diri.”

“Chin Wan Hong!” terdengar seorang gadis yang lain ikut menimbrung dari samping. “Setelah

kau masuk jadi anggota perguruan kami dan diangkat suhu kami sebagai gurumu, maka kau

harus berganti pakaian dengan dandanan suku Biauw kami.”

Buru-buru Chin Wan Hong anggukkan kepalanya.

“Siauw moay pasti akan berganti pakaian dengan dandanan suku Biauw, tapi mohonlah suhu

serta cici sekalian suka menyelamatkan selembar jiwa Hoa kongcu terlebih dulu!”

Menghadapi kejadian seperti ini Kioe Tok Sian Cie merasa sedih dan serba salah, pikirnya, “Bocah

perempuan ini sangat bagus dan berbakat baik, menerima dirinya sebagai anak murid memang

merupakan suatu kejadian yang sangat indah, tetapi Teratai Racun Empedu Api adalah racun keji

yang tak dapat dipunahkan, aku harus menyelamatkan jiwanya dengan cara apa?”

“Suhu! mari kita gunakan dulu Katak buduk kumala untuk dicobakan!” teriak Lan Hoa segera

tiba-tiba, sehabis berkata dengan gerakan cepat ia lari masuk ke dalam gua.

Diam-diam Kioe Tok Sian Cie gelengkan kepalanya berulang kali, ia belum sempat mengambil

sesuatu keputusan mengenai masalah ini, tetapi kepada seorang anak muridnya yang ada di

sana serunya juga, “Lie Hoa, keluarkan dahulu secawan darah segar dari bocah itu!”

Dara ayu yang bernama Lie Hoa itu tertawa cekikikan, setelah mengambil sebuah cawan ia

mengangkat tangan Hoa Thian-hong lalu dengan sebatang tusuk konde diguratnya urat nadi di

tangan si anak muda itu, segumpal darah kental yang berwarna hitam dan amat beracun segera

mengalir ke dalam cawan tersebut.

Menyaksikan darah kental itu Kioe-Tok Sian-Cie gelengkan kepalanya berulang kali sambil

menghela napas panjang.

“Aaaai….! sungguh keanehan alam yang sukar diduga dengan akal manusia….aku si ahli dalam

hal ilmu beracun pun rasanya harus mengundurkan diri………….”

Lan Hoa yang kebetulan berjalan menghampiri suhunya sambil membawa sebuah kotak

pualampun segera menjulurkan lidahnya setelah menyaksikan darah kental berwarna hitam yang

mengalir keluar dari tubuh Hoa Thian-hong itu, ujarnya, “Suhu, racun keji telah menyebar luas ke

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

181

seluruh tubuh orang ini, tetapi ia tidak sampai menemui ajalnya dan tetap hidup di dunia,

sebenarnya apa yang telah terjadi?”

“Aku sendiripun tidak mengerti, aaai! bagaimanapun juga mulai detik ini nada ucapan kalian

harus sedikit diperkecil dari semula.”

Lan Hoa tertawa cekikikan, ia segera membuka kotak pualam itu dan mengambil keluar sebuah

katak buduk yang terbuat dari batu pualam serta bercahaya terang.

Setelah menerima katak buduk pualam itu Kioe Tok Sian-Cie mencelupkannya ke dalam cawan

dimana terdapat darah beracun yang mengalir keluar dari tubuh Hoa Thian-hong kemudian

sambil berpaling ke arah Chin Wan Hong tanyanya, “Kapankah dia menelan Teratai racun

empedu api itu?”

“Empat lima puluh hari berselang, selama ini ia selalu berada dalam keadaan tidak sadar dan tak

pernah pula makan-makanan apapun juga, entah dia merasa lapar atau tidak?”

Sementara itu semua orang telah mengerubung di sekeliling tempat itu, bisikan-bisikan lirih dan

seruan keheranan berkumandang tiada hentinya di sekitar sana, hal ini membuat Chin Wan Hong

serta Tiong-si Sam Houww merasa hatinya amat tegang dan tidak tenteram.

Lewat beberapa saat kemudian, Kioe-tok Sian-Cie ambil keluar “Katak buduk pualam” nya dari

dalam cawan.

“Suhu, apakah bisa ditolong?” buru-buru Chin Wan Hong bertanya.

Kioe-Tok Sian Cie menggeleng.

“Katak buduk kumala ini adalah suatu benda mustika yang sangat langka dalam dunia, asal di

dalam darah mengandung racun maka ia dapat menghisapnya keluar, tetapi setelah berjumpa

dengan Teratai Racun Empedu Api ternyata binatang ini sudah kehilangan daya kemampuannya

yang hebat.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar