Selasa, 06 Oktober 2009

rahasia 2

“Apakah kongcu juga mengetahui tentang perkumpulan Kiu-im-kau?” bukan menjawab gadis itu

malahan bertanya lagi.

“Aku memang pernah mendengar orang menyinggung soal perkumpulan itu. cuma kemudian aku

dengar perkumpulan itu sudah bubar dan tercerai berai setelah berulang kali mengalami

kekalahan.”

Dara berbaju hitam itu mendengus dingin.

“Hmm….. Baru-baru ini dalam dunia persilatan telah muncul pula sebuah perkumpulan baru yang

bernama Hian-beng-kau pernah kongcu dengar tentang perkumpulan ini?”

“Perkumpulan Hian-beng-kau? Belum pernah kudengar tentang nama perkumpulan ini……“ sahut

Hoa In-liong dengan hati terperanjat.

“Aku sendiripun baru-baru ini mendengar dari mulut orang lain,” kata gadis itu dengan hambar.

“Apakah nona bersedia menerangkan kepadaku…” pinta sang dara seraya menjura.

“Suatu hari, tanpa sengaja aku telah menemukan satu rombongan manusia yang sangat

mencurigakan, oleh karena terdorong rasa ingin tahu, diam-diam kuintil kelompok manusiamanusia

tersebut dari belakang.”

Hoa In-liong pusatkan semua perhatiannya untuk mendengarkan penuturan dari gadis itu, tibatiba

dari dalam hati kecilnya muncul perasaan was-was, cepat la berpaling ke belakang, entah

sedari kapan Si Nio yang berwajah penuh codet itu telah berdiri di belakangnya dengan

membawa sebuah baki, di atas baki itu terletak dua buah cawan berisi air teh.

Ketika Si Nio melihat si anak muda itu berpaling, Ia lantas meneruskan langkahnya dan

meletakkan kedua cawan air teh itu ke atas meja.

Diam-diam Hoa In-liong merasa amat gusar dia angkat tangan kanannya hendak mencengkeram

pergelangan tangan Si Nio, tapi ingatan lain lantas melintas dalam benaknya ia berpikir,

“Bagaimanapun juga aku adalah tamu dan dia adalah tuan rumah, jika aku bertindak lebih

dahulu maka tindakanku ini terasa kasar dan kurang sopan.”

Karena berpikir begitu, diapun membatalkan niatnya dan tetap tak berkutik ditempat semula.

Dengan tatapan dingin dara baju hitam itu melirik sekejap ke arah Si Nio, kemudian seraya

ulapkan tangannya dia berseru, “Mundurlah dari sini!”

Wajah Si Nio yang mengerikan itu berkerut kencang bahkan agak gemetar, tiba-tiba ia berkata,

“Hoa kongcu, silahkan minum teh”

“Cerewet amat kamu ini, hayo cepat mundur dari sini!” bentak gadis itu dengan marah.

Hoa In-liong yang mengikuti perkembangan ditempat itu, dalam hati kecilnya lantas membatin.

“Rumah gubuk ini benar-benar penuh diliputi hawa setan, kalau tidak kutunjukkan sedikit

kelihaian, rupanya susah untuk memaksa mereka masuk ke dalam kekuasaanku…”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

41

Berpikir sampai di situ, tiba-tiba ia menengadah dan tertawa keras, lalu sambil angkat cawan

katanya, “Silahkan nona melanjutkan kisah penuturanmu akan kudengarkan semuanya dengan

penuh perhatian.”

Ia tempelkan cawan itu di bibir dan menghirup teh panas itu satu tegukan.

Kebetulan lampu lentera yang menerangi ruangan tersebut berada di sampingnya, ketika

mengambil cawan, sengaja ujung bajunya dikebaskan agak kencang, dikala api lampu lentera itu

bergoncang terhembus angin, pemuda itu segera manfaatkan kesempatan yang ada untuk

bermain gila.

Sedikit jari kelingkingnya menyentil ke depan, sebutir pil yang amat kecil telah dimasukan ke

dalam cawan teh yang lain, gerakan itu dilakukan dengan cepat dan tidak menyolok. ternyata

baik Si Nio maupun dara baju hitam itu sama-sama tidak merasa.

Semua kejadian ini berlangsung dalam sekejap mata, sementara itu dara baju hitam itu sudah

mengalihkan kembali sorot matanya ke arah cawan teh yang berada di hadapan pemuda itu,

kemudian melanjutkan kembali kata-katanya, “Diam-diam aku kuntit perjalanan rombongan itu,

ketika kulihat mereka memasuki gedung kediaman Suma-tayhiap, akupun menyusup masuk ke

dalam ruangan. Di sana kulihat mereka membuka tutup peti mati dan menyebarkan sejenis

bubuk putih ke dalam peti mati itu, kemudian menutup kembali tutup peti mati itu, aku lihat

dengan wajah berseri mereka lantas menyembunyikan diri dan siap menangkap mangsanya.”

Sementara dara itu bercerita, Hoa In-liong telah mencoba air teh itu, dia ia telah membuktikan

bahwa dalam air yang bersih itu benar-benar telah dicampuri dengan obat bius.

Sekalipun begitu, paras mukanya sama sekali tidak berubah, dia mengangkat kembali cawan air

teh itu dan meneguk lagi satu tegukan, katanya sambil tersenyum, “Apakah perempuan yang

menyebut dirinya she Yu itu juga merupakan anggota perkumpulan Hian-beng-kau?”

Dara baju hitam itu mengangguk.

“Akupun tahu dari mulut beberapa orang itu,” katanya.

“Apakah nyonya Yu adalah ketuanya?” kembali si anak muda itu tersenyum, dia angkat cawan

dan meneguk kembali air teh itu dengan nikmat.

“Hmm Mimpi….” sahut nona itu dengan dingin, “nyonya she Yu itu tak lebih cuma seorang

prajurit yang menurut urutan menempati posisi paling buncit, rombongan itu semuanya

berjumlah belasan orang, sekalipun ketua rombonganpun tidak lebih cuma seorang kepala regu

yang rendah sekali kedudukannya dalam perkumpulan Hian-beng-kau.”

Hoa In-liong pura-pura terperanjat setelah mendengar perkataan itu, serunya, “Aaah….

pernahkah nona berjumpa dengan pemimpin rombongan itu? Berapa usia orang itu? Dia seorang

laki-laki ataukah seorang perempuan?”

Kembali ia meneguk isi cawan itu hingga habis.

“Sudah beberapa kali kulakukan penyelidikan, namun selalu gagal untuk bertemu dengan

pemimpin rombongan tapi menurut apa yang berhasil kudengar, orang itu katanya she-Ciu (

dendam ) dan mereka memanggil Ciu kongcu kepadanya.”

“Kalau toh orang itu disebut kongcu, aku pikir tentu usianya tidak seberapa besar”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

42

“Kalau kutinjau dari ciri mereka berbicara serta apa yang mereka bicarakan, aku dapat menarik

kesimpulan kalau Ciu kongcu itu bukan saja pemimpin rombongan, bahkan dia pula otak dari

pembunuhan atas diri Suma Tiang-cing. Kini orang tersebut masih berada di kota Lan- yang, aku

rasa sampai sekarangpun belum pergi.”

Tiba-tiba Hoa In-liong menengadah dan tertawa terbahak bahak.

“Haaah haaaahh haaaahh sungguh menarik. sungguh menarik Hoa loji bakal bertempur sengit

melawan Ciu kongcu.”

“Huuh, apanya yang perlu kau banggakan?” ejek dara baju hitam itu dengan sinis, “toh Ciu

kongcu hanya seorang anggota perkumpulan Hian beng-kau yang berkedudukan rendah,

mendingan kalau dia adalah ketuanya perkumpulan itu.”

Hoa In-liong tak menggubris ucapan dara itu dia masih mengoceh terus dengan wajah berseriseri,

“Haaah haaaahh haaaaahh, Hoa loji bakal menghancur lumatkan perkumpulan Hian-bengkau,

itulah baru mengagumkan, namaku pasti akan tersohor dan dikenal oleh setiap orang!”

Dara baju hitam itu tertawa dingin, bibirnya bergetar seperti mau mengucapkan sesuatu, namun

niat itu kemudian dibatalkan.

Selama ini Si Nio selalu berdiri di belakang Hoa In-liong, ia tidak pergi tinggalkan tempat itu

seperti apa yang diperintahkan kepadanya, ketika dengar ocehan si anak muda itu, tiba-tiba dia

angkat sepasang telapak tangannya, dengan sepuluh jari yang dipentangkan lebar-lebar

perempuan itu siap melakukan tubrukan.

Belum sempat serangan itu dilancarkan tiba-tiba Hoa In-liong berputar badan seraya berteriak,

“Si Nio!”

Si Nio terperanjat dan menarik diri ke belakang sementara dara baju hitam itupun menunjukkan

perubahan wajah yang sangat hebat.

Hoa In-liong tertawa tergelak. sambil mengangkat cawan air tehnya ia berkata. “Si Nio, aku

dahaga sekali, tolong ambilkan secawan air teh lagi…..!”

Si Nio tertegun, dengan ragu-ragu dia menerima cawan itu, kemudian mengundurkan diri dari

sana, “Si Nio,” tiba-tiba Hoa In-liong memanggil lagi.

Sekujur badan Si Nio gemetar keras, tapi ia berhenti juga seraya berpaling. sambil tersenyum

anak muda itu menambahkan, “Daun teh kalian memang terlalu bagus dan enak diminum, tolong

berilah yang agak kental sedikit”

Wajah Si Nio yang jelek dan tak sedap dilihat itu agak gemetar, tapi ia mengangguk juga dan

buru-buru menuju ke dapur.

Kiranya Si Nio telah mencampurkan sejenis bahan obat dalam air teh yang disuguhkan kepada

tamunya itu, obat tersebut sangat lihay, kendatipun seseorang memiliki ilmu silat yang sangat

lihay, setelah minum air teh itu niscaya akan roboh tak sadarkan diri, siapa sangka, ketika air teh

berobat itu masuk ke dalam perut Hoa In-liong, bukan saja sama sekali tidak menunjukkan reaksi

apa-apa, bahkan seakan-akan bagaikan tenggelam di dasar samudra yang dalam, bukan begitu

saja malahan setelah habis secawan dia minta secawan lagi dan memuji daun tehnya yang wangi

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

43

dan minta diberi lebih banyak. tidaklah heran kalau perempuan jelek itu jadi tercengang, dia

hampir saja tidak percaya dengan apa yang terpapar di depan mata.

Dara berbaju hitampun diam-diam murung bercampur gelisah pikirnya di dalam hati, “Hoa Inliong

terlalu licik dan banyak tipu daya, setelah obat pemabok gagal untuk merobohkan dia,

tampaknya aku harus pertaruhkan nyawa untuk bertarung melawannya.”

Sementara dia masih termenung, Si Nio sudah muncul kembali sambil membawa secawan teh

panas dengan sorot mata memandang tanah, ia letakkan cawan itu dihadapan tamunya dan

membungkam dalam seribu bahasa.

Tampaknya Hoa In-liong memang haus sekali sehingga sukar ditahan, cepat dia angkat

cawannya dan menghirup satu tegukan, kemudian sambil tertawa baru berkata, “Jika kudengar

dari nada pembicaraan nona, agaknya perkumpulan Hian-bEng kau adalah suatu organisasi yang

sangat rahasia sekali, banyak jumlah anggotanya dan keji dalam perbuatan serta tindak

tanduknya, benarkah perkumpulan ini adalah suatu perkumpulan sesat?”

“Aku rasa begitulah keadaannya,” sahut dara itu ketus. Hoa In-liong tertawa, kembali ia berkata,

“Kalau memang begitu, bukanlah dunia persilatan yang sudah menjadi tenang selama dua puluh

tahun, sekarang mulai bergerak lagi memasuki masa kekalutan?”

Seperti menyesali keadaan yang sedang dipikir, kembali pemuda itu angkat cawan dan

menghirup air teh.

Betapa kesal dan mendongkolnya gadis berbaju hitam itu, apa lagi terhadap sikap sang tamu

yang begitu santai seolah-olah acuh terhadap obat pemabuk yang dicampurkan dalam air teh itu.

Karena murung, tanpa terasa gadis itu mengangkat pula cawan air teh yang berada

dihadapannya dan siap untuk diteguk, katanya dengan dingin, “Siau-li tetap beranggapan bahwa

dunia persilatan sedang mengalami suatu masa pancaroba, suatu masa perubahan dari keadaan

yang tenang menjadi keadaan yang kacau, kematian dari Suma Tiang-cing tidak lebih hanya

suatu tanda permulaan dari kekalutan itu, dan kematiannya boleh juga dikatakan sebagai

korban demi kepentingan orang lain.”

“Kenapa?” Hoa In-liong pura-pura tercengang bercampur tidak mengerti.

Jilid 03

DARA baju hitam itu tertawa dingin. “Heehhh….heeehhh….heeehhh… meskipun abahmu

bernama besar, menjagoi seluruh kolong langit, memimpin umat persilatan dan ibaratnya sang

surya ditengah awang-awang, akan tetapi pada hakekatnya banyak musuh dan jago persilatan

yang memusuhinya, walaupun secara tersembunyi.”

Tampaknya gadis itu tak ingin berbicara, tiba-tiba ia merandek dan menghentikan kata-katanya,

cawan yang sudah diangkatpun lantas didekatkan kebibir siap-siap dihirup air tehnya.

Hoa In-liong sengaja mengajak dara itu berbicara macam-macam, tujuannya hanya satu yakni

memancingnya hingga minum air teh dengan sendirinya, maka ketika dilihatnya begitu siap

menghirup air teh itu, tak tahan lagi ia tertawa geli dan buru-buru berpaling ke arah lain.

“Hey, apa yang kau tertawakan?” tegur dara baju hitam itu dengan wajah tertegun. sambil

mencibirkan bibir menahan rasa gelinya, Hoa In-liong menjawab, “Air teh dalam cawan itu

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

44

kurang bersih, lebih baik nona jangan meneguknya daripada sakit perut jadinya “

Ucapan tersebut penuh mengandung nada ejekan, tapi juga merupakan suatu peringatan, meski

hanya sepatah kata namun pada hakekatnya mempunyai arti ganda.

Tentu saja dara baju hitam itu tahu kalau Si Nio telah mencampuri air teh di cawan tamunya

dengan obat racun, tapi ia tak menyangka kalau Hoa In-liong juga bermain gila kepadanya,

mendengar ucapan tersebut, dia lantas tertawa dingin, kembali cawan itu ditempelkan pada

bibirnya siap diteguk,

Hoa In-liong benar-benar tak dapat menahan rasa gelinya lagi, ia ingin tertawa sekeraskerasnya.

Bagaimanapun juga, pemuda itu adalah keturunan dari keluarga Hoa, sudah terbiasa baginya

untuk menerima pelajaran-pelajaran yang baik serta kewajiban untuk berbuat mulia, dalam

darah yang beredar dalam tubuhnya tetap mengalir kejujuran serta kegagahan orang-orang

keluarga Hoa, meskipun wataknya agak binal, namun tabiatnya toh tetap jujur, mulia dan

bijaksana.

Satu ingatan lantas melintas dalam benaknya, di detik yang terakhir, ia berpikir dihati,

“Bagaimanapun juga dia toh seorang anak perempuan, kalau ingin kuhajar dirinya kenapa tidak

dihajar secara terang-terangan? Kalau ingin dibunuh kenapa tidak kubunuh dengan terus terang

Apa toh gunanya mempermainkan seorang anak dara seperti dia?”

Ketika ingatan tersebut melintas dalam benaknya, pemuda itu tidak ragu-ragu lagi, dia lantas

melakukan penyambaran kilat ke depan.

Dara baju hitam itu hanya merasa pandangan matanya menjadi kabur dan tahu-tahu cawan yang

berada ditangannya sudah berpindah tangan, bukan saja cawan tersebut tidak rusak atau pecah.

isi cawan itupunsama sekali tidak tumpah barang sedikitpun jua..”

Hoa In-liong tertawa tawa, sambil meletakkan cawan itu ke atas meja, ujarnya dengan wajah

bersungguh-sungguh, “Nona, engkau bukan tandinganku, lebih baik urusan yang terjadi pada

hari ini kita selesaikan secara baik-baik saja. Harap nona sebutkan siapa namamu, andaikata

engkau benar-benar tidak tersangkut dengan peristiwa berdarah yang menimpa keluarga Suma,

sekarang juga aku akan mohon diri dari sini, sebaliknya kalau engkau menolak maka terpaksa

kita harus selesaikan persoalan ini di atas senjata, akupun tak akan berlaku sungkan-sungkan

lagi kepadamu… mengenai cawan teh ini, lebih baik isinya jangan kau minum.”

Ucapan tersebut kontan membuat nona baju hitam itu jadi tertegun, dia tahu air teh dalam

cawan tersebut tentu ada hal-hal yang tak beres walaupun hampir saja dia akan dikecundangi,

tapi gadis ini merasa kagum pula oleh kecerdikan dan kehebatan Hoa In-liong.

Berbicara dari kemampuan yang dimiliki pihak lawan, sudah pasti mereka berdua tak mungkin

bisa melakukan sesuatu yang akan merugikan bagi lawannya.

Berpikir sampai disini, si dara baju hitam itu jadi pedih dan sedih tapi teringat kembali akan

kejujuran dan kegagahan lawannya, diapun merasa kagum, lalu sesaat dia tak tahu apa yang

musti dilakukan, sambil berdiri termangu-mangu ditatapnya pemuda itu tak berkedip.

Tiba-tiba Si Nio berseru dengan gusar, “Huuh, menggunakan permainan busuk untuk mencari

kemenangan, pendekar sejati macam apaan itu??”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

45

Dengan langkah lebar dia menghampiri meja, mengambil cawan teh itu dan sekali hirup dia

teguk habis isinya.

Menyaksikan tingkah laku perempuan bercodet itu Hoa In-liong langsung saja tertawa dingin.

“Heeeehh heeeehh heeeeh kalau toh engkau hendak mencari penyakit bagi diri sendiri, jangan

salahkan kalau aku bermain curang kepadamu.”

Si Nio tertawa seram, suaranya lengking bagaikan lolongan serigala ditengah malam, buas sekali

kedengarannya.

Sambil membanting cawan teh itu hingga hancur, dia pantang kesepuluh jari tangannya,

bagaikan garuda kalap diterkamnya si anak muda itu dengan ganas.

Pada dasarnya perempuan itu memang berwajah seram, apalagi sekarang setelah menyeringai

menyeramkan, tampangnya itu semakin menjijikkan dan bikin hati orang bergetar keras.

Segenap bawa murni yang dimilikinya telah dihimpun menjadi satu, semua tulang persendian

dalam tubuhnya berbunyi gemerutukan nyaring, lengan yang semula putih mulus sekarang telah

berubah jadi hitam pekat bagaikan arang, sepuluh jari tangannya yang panjang dan runcing

tampak lebih panjang beberapa cun.

Waktu itu tampangnya seram dan sikapnya mengerikan, bila ada orang yang tak tahu duduknya

perkara, niscaya akan beranggapan bahwa ia sedang berhadapan dengan kuntilanak kesiangan.

Hoa In-liong sendiripun agak marah oleh sikap kasar lawannya, dia melejit dan melayang dua

depa dari tempat semula, kemudian dengan dingin ujarnya, “ Kalau kutinjau dari ilmu silatmu

yang begitu keji dan tak kenal ampun, jelaslah sudah bahwa engkau bukan manusia baikbaik…

Hmm Perempuan iblis seperti engkau, nomor satu paling tak boleh diampuni.”

Dengan menghimpun tenaga, dia melepaskan sebuah serangan balasan dengan telapak tangan

kanannya.

Terdengar desingan angin pukulan menderu-deru, hebat sekali serangan dari si anak muda ini.

Gadis baju hitam yang berada disisi kalangan tidak mengucapkan sepatah katapun, tiba-tiba ia

cabut pedang pendeknya, kemudian secepat sambaran petir lepaskan sebuah tusukan ke muka.

Cepat sekali datangnya tusukan tersebut, bukan saja membawa desingan angin tajam,

kecepatannya sukar dilukiskan dengan kata-kata, Hoa In-liong terdesak hebat, terpaksa dia

melompat mundur tiga depa ke belakang.

Si Nio yang gagal dengan serangan pertamanya segera tertawa keras seperti iblis, suara itu serak

tapi melengking sehingga lebih tak sedap didengar daripada lolongan srigala, berada dalam

rumah gubuk yang dikelilingi semak belukar semacam itu, tertawa seramnya itu cukup

menggetarkan hati siapapun, membuat orang jadi bergidik dan bulu kuduknya pada bangun

berdiri.

Hoa In-liong mengerutkan kening, tangan kanannya meraba gagang pedang dan siap untuk

mencabutnya, tapi ingatan lain melintas dalam benaknya, ia merasa sebagai seorang lelaki sejati

tidaklah pantas melayani dua orang perempuan dengan memakai senjata.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

46

Sementara pemuda itu masih sangsi, pedang pendek dari nona baju hitam itu sudah melepaskan

tusukan demi tusukan, semuanya merupakan serangan-serangan yang mematikan.

Suatu ketika tiba-tiba Si Nio melengkungkan tubuhnya seperti gendewa, kemudian diiringi suara

bentakan nyaring, dia melancarkan sebuah terkaman maut ke depan.

Hebat sekali kerja sama dari dua orang majikan dan pelayan ini, setiap jurus ancaman dilakukan

dengan ketat dan rapat, terutama sekali Si Nio, dengan tak gentar barang sedikitpun dia

menerkam, menerjang dan menghantam secara kalap.

Makin memuncak kemarahan yang berkobar dalam hati Hoa In-liong, ia maju ke depan secepat

kilat, tangan kanannya mencengkeram pedang pendek sang dara, sementara telapak tangan

kirinya menghantam jidat perempuan bercodet she Si.

Serangan tersebut dilancarkan secepat petir, sekalipun dilepaskan agak belakangan tapi tiba

lebih duluan dari ancaman lawan, tampaknya sebentar lagi akan bersarang di jidat perempuan

jelek itu.

Setajam sembilu pancaran mata dari Si Nio, ia melotot besar, matanya merah berapi-api,

tampangnya kelihatan lebih mengerikan dari semula.

Kendatipun pukulan dari Hoa In-liong yang mengancam jidatnya sudah tiba di depan mata,

ternyata perempuan itu tidak berusaha untuk mengigos atau menangkisnya, ia miringkan

kepalanya untuk melindungi bagian yang mematikan kemudian sambil memutar pinggang ia

malahan menubruk kemuka, sepasang tangannya dipentangkan lebar-lebar dan siap merangkul

pinggang anak muda itu.

Kejut dan gusar Hoa In-liong menghadapi ancaman tersebut, untungnya dalam gugup ia tak

bingung cepat badannya direndahkan kebawah, lalu melejit ke samping.

Dengan begitu maka Si Nio jadi menubruk tempat kosong, cepat perempuan itu mengerem gerak

laju tubuhnya dan berputar kencang, seperti bayangan menempel badan ia kejar terus kemana

pemuda itu pergi, sementara di pihak lain nona baju hitam itupun melepaskan sebuah bacokan

kilat menyergap si anak muda itu.

Tiga jurus gebrakan ini berlangsung sepanas bara dan secepat kilat, meskipun sengit dan selalu

salah bisa mengakibatkan jiwa, namun hanya sekejap mata telah lewat.

Tiba-tiba Si Nio menjerit lengking, sepasang tangannya mendekap lambung sendiri, walaupun

langkahnya sudah gontai dan tak menentu, namun perempuan itu masih juga berusaha untuk

menerkam Hoa In-liong.

Dengan gesit pemuda Hoa menyingkir ke samping, dengan kaki kirinya dia menendang Si Nio

sampai terguling dan terguling di tanah, sementara jari tangan kanannya sekaku tombak

menotok pergelangan tangan si dara baju hitam itu

Tak berani gadis itu menyambut totokan maut tersebut, pedangnya diputar untuk melindungi

badan, dengan mundur satu langkah terhindarlah nona itu dari totokan tersebut.

Dalam pada itu Si Nio masih merintih dan meraung kesakitan, sepasang tangannya mendekap

perut sendiri, tubuhnya berguling guling kesana kemari menahan sakitnya yang tak terkirakan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

47

Sewaktu Si Nio mencampuri air minum Hoa In-liong dengan obat pemabuk. Si anak muda itupun

mencampuri cawan dara baju hitam dengan obat juga, tapi kenyataannya sekarang Hoa In-liong

tetap segar tidak kekurangan sesuatu apapun.

Sebaliknya Si Nio mendekap perutnya yang kesakitan seperti disayat-sayat itu sambil mengerang

penderitaan yang diterimanya saat ini boleh dibilang hebat sekali.

Hoa In-liong memang binal dan aneh wataknya tapi baru pertama kali ini dia menghukum orang

dengan cara seperti ini, betapapun hatinya tidak tenteram setelah menyaksikan penderitaan Si

Nio yang mengerang kesakitan itu, ia melayang ke depan dan melepaskan totokan, maksudnya

hendak menotok dulu jalan darah Si Nio kemudian baru berbicara tentang soal lain.

Siapa tahu Si Nio telah berteriak dengan lantang, “Nona adu jiwa dengan keparat ini, bunuh saja

bangsat ini maka jiwa loya bisa kita selamatkan!”

Sambil menjerit-jerit seperti perempuan histeris Si Nio bergulingan di tanah dan menerkam lagi

sepasang kaki Hoa In-liong.

Bergetar keras sekujur badan Hoa In-liong dengan penuh kemarahan dia berteriak, “Mati hidup

aku orang she Hoa, apa sangkut pautnya dengan keselamatan loyamu?”

Kembali dia lancarkan sebuah tendangan kilat yang membuat tubuh Si Nio terpental sejauh

beberapa kaki, malahan berguling sampai menerjang dapur.

Dara baju hitam itu membentak nyaring ia maju sambil menyerang, pedangnya berputar kencang

lalu melepaskan sebuah tusukan ke lambung lawan.

Kemarahan Hoa In-liong tak terkendalikan lagi dengan tangan kiri dia rampas pedang pendek itu,

tangan kanan melancarkan totokan.

“Hayo cepat terangkan siapa namamu?” bentaknya, “ engkau putri siapa? ada kesulitan apa dan

mengapa hendak mencabut nyawaku orang she Hoa.”

Sementara mulutnya masih menegur sepasang telapak tangannya diputar sedemikian rupa

mendesak nona itu habis-habisan.

Saking paniknya air mata telah bercucuran membasahi pipi nona baju hitam itu meski demikian

pedang pendeknya diputar kencang, tubuhnya selangkah demi selangkah mundur terus ke

belakang namun ia menggertak gigi dan membungkam dalam seribu bahasa.

Mendadak… asap tebal mengepul keluar dari ruangan rumah gubuk itu menyusul jilatan api yang

sangat besar berkobar di seluruh penjuru ruangan.

Bila ditinjau dari ilmu silat yang dimiliki Hoa In-liong, maka untuk membereskan si nona berbaju

hitam itu bukanlah suatu pekerjaan yang sulit, tapi dasar dia memang romantis dan suka

menggoda kaum wanita, maka setiap mendapat kesempatan untuk bertempur melawan nona

cantik yang masih muda belia, serta-merta ia melayani pertarungan itu dengan serangan yang

terlemah. Tujuannya tak lain ialah hanya merampas senjata nona itu dan menggodanya habishabisan,

tentu saja dalam keadaan serba panik dan gelisah ini bukan perbuatan gampang

baginya.

Dalam sekejap mata, kobaran api telah menelan setiap benda yang berada dalam ruangan gubug

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

48

Tiba-tiba Si Nio dengan rambut yang riap-riapan menjerit lengking seperti lolongan serigala

sepasang tangannya sambil mengangkat tinggi-tinggi dua buah obor api menerjang keluar dari

dapur gerak-gerik seperti orang gila.

Kejut dan cemas Hao In-liong menghadapi kejadian seperti ini, sekarang dia tak bisa bermainmain

lagi sebab keadaan makin serius secara beruntun jari tangannya melepaskan beberapa

totokan kilat yang menghajar jalan darah Ciang-keng-hiat di bahu nona baju hitam itu,

sementara tangan kirinya membalik ke atas merampas pedang pendeknya.

Si Nio meraung keras, obornya dikebut ke muka dengan ganas, lalu menyapu wajah si anak

muda itu.

Hoa In-liong tak mau kalah, dengan pedang pendek hasil rampasannya ia balas membacok tubuh

lawan.

Dalam pada itu nona baju hitam itu sudah tertotok jalan darahnya oleh serangan jari Hoa Inliong,

sepasang lengannya jadi lumpuh dan terkulai lemah ke bawah, meski begitu sepasang

kakinya masih bisa bergerak dengan leluasa, mendadak ia menerkam ke muka dan

menyongsong tibanya bacokan pedang pendek itu dengan badannya.

Hoa In-liong sangat terkejut, ia tak menyangka kalau nona itu akan mengambil keputusan nekat

dengan mengakhiri hidupnya di ujung pedang.

Padahal waktu itu asap tebal telah menyelimuti seluruh rumah gubuk itu, kobaran api menjilat

semua benda yang ditemukan, sedangkan Si Nio seperti orang kalap menerjang datang tiada

hentinya.

Keadaan begini di samping Hoa In-liong harus menjaga kaburnya si nona baju hitam, diapun

harus pula melayani serangan-serangan gencar dari nenek bermuka jelek. maka tindak nekat dari

nona tersebut amat mencekatkan hatinya.

Dalam gugup dan gelagapannya, ia memutar pinggangnya ke samping, setelah lolos dari

sambaran obor yang dilancarkan Si Nio, pedang pendek itu segera disingkirkan pula ke samping.

Kendatipun cukup cepat gerakan Hoa In-liong untuk menyingkirkan pedang pendeknya, namun

gerakan si nona baju hitam untuk menyongsong datangnya tusukan pedangpun tak kalah

cepatnya.

Maka sekalipun tempat yang mematikan berhasil dihindari, tak urung bahu sang nona tersambar

juga oleh pedang tajam itu hingga darah bercucuran dengan sangat derasnya, parah juga luka

yang dideritanya itu..

Kebakaran yang berkobar dalam rumah gubuk itu sudah menyelimuti hampir di tiap bangunan di

situ, dalam sekejap mata jilatan api sudah membumbung tinggi ke angkasa, suhu udara jadi

panas sekali hingga serasa menyengat badan.

Menghadapi kejadian seperti ini, Hoa In-liong dibikin kehabisan akal pula, ia lantas berpikir,

“Waaah… kalau aku harus menghadapi dua orang yang begini nekad, bisa-bisa jiwaku ikut kabur

ke akhirat, baiknya kugunakan sedikit akal saja untuk meringkus mereka.”

Namun secara lapat-lapat iapun mulai merasa bahwa dua orang itu bukanlah anak buah dari

perkumpulan Hian-beng-kau, dari gerak-gerik mereka tampaknya kedua orang itu justru berasal

dari suatu keluarga yang ketimpa kemalangan dan kehidupan mereka sangat menderita.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

49

Karenanya ketika ia lihat api sudah berkobar di empat penjuru, dengan suatu gerakan cepat di

sambarnya si nona baju hitam itu lalu kabur keluar ruangan.

Si Nio tertawa seram, sudah tentu ia tak sudi membiarkan musuhnya kabur dari sana, obornya

diputar semakin kencang dan semua jalan pergi pemuda itu dihadangnya dengan serangan

mematikan.

Menghadapi kejadian seperti ini, Hoa In-liong marah sekali, akhirnya ia membentak, “orang

sinting, rupanya kau sudah bosan hidup,”

Pedang pendeknya digetarkan ke muka, lalu menusuk ke dada lawan dengan jurus Leng-coa tosim

(ular ganas menjulurkan lidahnya).

Waktu itu rasa sakit yang melilit perut Si Nio sudah mencapai pada puncaknya, perempuan itu

tak sampai roboh karena dia andalkan kekuatan dengan kalapnya untuk mengamuk. dalam

keadaan begitu darimana ia sanggup menahan tusukan pedang yang dilancarkan dengan

gerakan cepat dan aneh itu?

Tapi…. sebelum tusukan itu dilanjutkan, mendadak sinar mata Hoa In-liong terbentur dengan

wajahnya yang bercodet dan penuh dengan luka itu, di bawah sinar obor tampaklah wajahnya

yang penuh “bunga” itu basah oleh keringat, kulit mukanya berkerut kencang dan gemetar tiada

hentinya, kulit wajah yang pucat pias ditambah bekas luka yang berwarna merah darah

memberikan warna yang sangat kontras, ditambah pula sinar api yang sudah jelek tampak lebih

mengerikan lagi.

“Sungguh keji orang yang merusak wajah perempuan ini,” pemuda tersebut lantas berpikir,

“hatinya pasti busuk sekali, kalau tidak tak akan tega ia lukai seorang perempuan hingga

tampangnya menjadi seseram ini…”

Ketika ingatan tersebut melintas dalam benaknya, dan terbayang pula keganasan serta kekejian

orang yang melukai Si Nio sampai mukanya bercodet pedang yang sudah menempel di atas dada

lawan tak tega dilanjutkan lebih jauh, maka dia tarik kembali senjata tersebut, kemudian tangan

kirinya dikebutkan kemuka dan mendorong nona baju hitam itu ke muka.

Si Nio miringkan tubuhnya ke samping memberi jalan lewat bagi nona baju hitam itu, kemudian

teriaknya keras, “Nona, kau mundurlah lebih dulu.”

Tampaknya perempuan bercodet ini sudah bertekat untuk membakar mati Hoa In-liong dalam

rumah gubuk itu, obor di kedua belah tangannya diputar dan diayun ke muka tiada hentinya,

semua jalan pergi si anak muda itu dihadang olehnya.

Lolos dari cengkeraman lawan, nona baju hitam itu kabur menuju ke depan pintu yang tertutup

itu keras-keras.

“Blaaang …” pintu besar itu ditendang sampai roboh, dengan langkah lebar nona baju hitam itu

sebera kabur keluar dari rumah gubuk itu.

Kebetulan Hoa In-liong berdiri menghadap ke pintu luar, tiba-tiba ia temukan bahwa pintu

luarpun sudah menjadi lautan api, bahkan kobaran api yang menjilat-jilat diluar sana jauh lebih

besar daripada jilatan api dalam rumah gubuk itu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

50

Kobaran api sudah membakar semua benda begitu besarnya kebakaran yang melanda tempat,

itu membuat udara terasa panas sekali, namun Si Nio seperti tidak merasakan apa-apa, ia

tertawa seram.

obornya dimainkan sedemikian rupa sehingga semua jalan keluar bagi Hoa In-liong untuk lolos

dari ruangan itu tertutup.

Sekarang Hoa In-liong sudah merasa terkejut bercampur gusar, ia tidak ragu- raga lagi, pedang

pendeknya dibabat kemuka menghajar obor ditangan Si Nio, sementara tubuhnya mendadak

berkelebat melejit diudara kemudian meluncur keluar dari ruangan itu.

Karena cepat dan tepat serangan tersebut, dan lagi gerak tubuh si anak muda itu sangat aneh,

kali ini Si Nio tak berhasil membendung jalan perginya lagi, dengan gampang Hoa In-liong

berhasil kabur keluar diri ancaman bahaya.

Luar rumah gubuk itu merupakan sebuah tanah bersemak yang masih liar dan tak terawat,

waktu itu sentua ladang ilalang tersebut sudah berubah menjadi lautan api, boleh dibilang semua

jalan menjadi buntu.

Kaget sekali Hoa In-liong menghadapi kejadian ini sementara ia sedang berusaha keras untuk

mencari jalan keluar dari tempat jebakan itu, tiba-tiba…

“Sreet” sebatang anak panah meluncur datang dari arah depan dengan tenaga yang sangat

besar.

Hoa In-liong segera putar pedang pendeknya untuk menghajar rontok anak panah yang

menyambar tiba itu

Baru saja panah itu berhasil dihajar rontok mendadak desingan angin tajam menyambar lagi dari

belakang, serta-merta Hoa In-liong memutar badannya ke belakang, ia lihat Si Nio dengan

kesepuluh jari tangan yang dipentangkan lebar-lebar sedang menyerang punggungnya .

Hoa In-liong benar-benar naik darah, tangannya segera menyapu ke belakang mengikuti gerak

perputaran itu, dia cengkeram tengkuk Si Nio dengan suatu puntiran keras.

Pada saat itulah, kembali sebatang anak panah menyambar datang dengan kekuatan besar, Hoa

In-liong yang sudah mendongkol cepat mengangkat tubuh Si Nio yang tercengkeram itu dan

diayun kemuka untuk menangkis datangnya ancaman itu…

“Criiit!”

Tak ampun lagi panah tersebut menembusi tumit Si Nio hingga tembus, karena kesakitan

perempuan bercodek itu, segera menjerit lengking dengan suaranya yang mengerikan.

“Sreeet….. sresst.” hujan panah berhamburan dari arah depan, berpuluh-puluh batang anak

panah menyambar lewat silih berganti membuat seluruh angkasa penuh dengan hujan panah itu.

Dengan dahi berkerut Hoa In-liong yang terkapar di tanah dan menghindarkan diri dari ancaman

hujan panah itu.

Ia mencoba untuk berputar ke bangunan sebelah belakang, dari situ ia saksikan ada tiga puluh

orang lebih laki-laki kekar yang bersembunyi di dalam semak belukar dan melepaskan anak

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

51

panah ke arah bangunan rumah itu, sementara bayangan tubuh dari nona baju hitam itu sudah

lenyap tak berbekas.

Saat itu, Hoa In-liong tidak panik lagi, dia malahan merasa hatinya jauh lebih tenang,

Kiranya kobaran api yang berada di empat penjuru meski tampaknya sangat hebat tapi rumput

ilalang adalah jenis tetumbuhan yang tidak tahan terbakar, dalam waktu singkat tumbuhan

tersebut sudah terbakar punah, sementara si anak muda itu dapat menggunakan tanah lapang

diluar rumah gubuk itu untuk menghindari serangan hujan panah? sekalipun tak sampai

membahayakan jiwanya, tapi ditengah kepungan api yang membara terasa juga hawa panas

yang menyengat badan hingga membuat keringat bercucuran dan membasahi seluruh tubuhnya.

“Bruuukk….!” tiba-tiba terdengar suara benturan keras, kiranya rumah gubuk itu roboh ke tanah.

Dengan pedang ditangan kanannya untuk memukul rontok hujan panah itu, tangan kiri

mencengkeram tubuh Si Nio, Hoa In-liong bergerak kesana kemari menghindarkan diri dari

ancaman anak panah.

Untunglah tak lama kemudian dari kejauhan terdengar suara suitan nyaring, menyusul kemudian

hujan panah itupun berhenti.

Sementara itu kobaran api yang membakar rumput ilalang belum padam, padahal Hoa In-liong

tahu bahwa musuh sedang mengundurkan diri, ia mau mengedar orang-orang itu, apa mau

dikata kobaran api telah menghalangi jalan perginya.

Terpaksa ia harus bersabar hati menunggu sampai kobaran api itu mengecil, kemudian baru

melakukan pengejaran sambil menenteng tubuh Si Nio. suitan nyaring tadi berasal dari sebuah

tanah perbukitan, maka sambil membawa Si Nio, si anak muda itu, menerjang kesana dengan

langkah lebar.

Dibawah sinar fajar yang remang-remang suasana di sekitar tanah perbukitan itu masih

diselimuti kabut yang tebal, setibanya di atas tanah bukit Hoa In-liong coba memeriksa di

sekitarnya dengan tatapan matanya.

Tiba-tiba ia menemukan sesuatu….. nun jauh di ujung bukit situ, berdirilah seekor kuda berwarna

merah darah di atas pelana kuda itu duduk seorang manusia berbaju merah darah.

Kuda itu tinggi besar dan merupakan seekor kuda jempolan, sedang manusia berbaju merah itu

adalah seorang nona cantik rupawan yang berperawakan tinggi semampai dan menarik hati.

Waktu itu fajar baru menyingsing dari ufuk sebelah timur, bola merah yang mengabarkan sinar

keemasan mulai memancar keempat penjuru, dalam waktu singkat telah menyelimuti seluruh

angkasa menyorot dara itu.

Warna merah darah yang ketimpa sinar matahari itu membalaskan suatu sinar yang indah,

membuat suasana disana terasa lebih hangat dan nyaman….

Suara derap kuda memecahkan kesunyian yang mencekam pagi hari itu, perlahan-lahan kuda

merah itu maju menghampiri mereka, tanpa terasa Hoa In-liong sambil menenteng tubuh Si Nio

ikut maju pula menyambut kedatangan si nona.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

52

Akhirnya kedua belah pihak telah saling berhadapan, merekapun sama-sama berhenti, ketika

empat mata bertemu menjadi satu, dua orang itu sama-sama tersenyum manis, cerah sekali

wajah mereka.

Setelah hening sejenak, Hoa In-liong lantas menjura dan sapanya sambil tertawa, “Selamat pagi

nona manis”

“Selamat pagi,” sahut nona baju merah itu sambil tersenyum manis. “Boleh aku tahu siapa

namamu??”

Nona baju merah itu mencibirkan bibirnya, kemudian dengan tangan yang putih halus mencabut

keluar sebilah senjata kaitan yang berwarna hijau muda.

Hoa In-liong cukup mengenal kelihayan dari senjata aneh itu, tapi sebagai pemuda yang belum

lama terjun dalam dunia persilatan dia tidak mengenal siapa gerangan nona itu.

Ketika dilihatnya anak muda itu masih melongo, maka nona baju merah itupun memperkenalkan

diri.

“Aku bernama Wan Hong-giok. siapa namamu…”

Dasar binal Hoa In-liong lantas berpikir dalam hatinya, “Kau bernama Hong- giok. maka biar aku

mengaku bernama Pek Khi saja.”

Maka sambil tertawa sahutnya, “Aku bernama Pek Khi.”

Air muka Wan Hong-giok tampak agak bergerak. biji matanya yang jeli kembali dialihkan ke

wajah Hoa In-liong dan menatapnya lekat-lekat.

Hoa In-liong berparas tampan, diapun seorang pemuda yang romantis, sebaliknya Wan Honggiok

cantik jelita dan agak genit, tak heran kalau setelah berjumpa muka, mereka lirik-lirikan

pandang memandang sambil tersenyum penuh arti.

Si Nio yang berada dalam cengkeraman Hoa In-liong tak bisa berkutik karena jalan darahnya

tertotok. meski sakit perutnya sudah mereda, namun panah yang menembusi tumitnya

mendatangkan rasa sakit yang bukan kepalang, kendatipun ia tak dapat melihat diri kedua orang

itu tapi ia tahu kalau muda-mudi itu sedang bermain mata sambil tersenyum penuh arti. Hal ini

kontan saja mengobarkan hawa amarahnya, tiba-tiba ia buka suara dan berteriak sekeraskerasnya.

Teriaknya itu ibaratnya auman singa dari kalangan Buddha, bukan saja suaranya seperti guntur

yang membelah bumi di siang hari bolong, bahkan memekikkan telinga, membuat kuda merah

yang ditumpangi nona itu meringkik sambil mengangkat tinggi kaki depannya.

Tindakan kuda merah itu sangat tiba-tiba dan diluar dugaan, hampir saja membuat Wan Honggiok

terlempar dari atas pelana.

Hoa In-liong pun terperanjat ia lantas melemparkan tubuh Si Nio ke atas tanah.

Menggunakan kesempatan itu Si Nio menggelinding ke samping lalu duduk, teriaknya setengah

menjerit, “Pedang pendek itu milik nona kami, hayo cepat kembalikan kepadaku!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

53

Hoa In-liong tersenyum katanya, “Sungguh tak kunyana, engkau masih mempunyai semangat

seorang ksatria sejati….Hmm siapa yang kemaruk pada pedangmu itu? Nih, ambillah kembali.”

Sambil berkata pedang pendek yang berada di tangan kanannya itu segera dilemparkan ke

muka.

Si Nio cepat menyambutnya, lalu menggunakan senjata itu untuk merobek daging kaki yang

terluka dan sambil mencengkeram gagang panah itu ia cabut keluar panah tersebut, kemudian

tanpa dibalut lagi, ia segera melompat bangun dari atas tanah.

Berkernyit sepasang alis mata Wan Hong-giok memandang wajah Si Nio yang penuh dengan

codet bekas luka itu, cepat-cepat ia melengos ke-arah lain dan tak berang memandang lebih

lama.

“Tindakan tersebut dipandang sebagai suatu penghinaan bagi Si Nio, dengan gusar ia lantas

membentak-bentak, “Perempuan rendah, kau memang anjing betina tak tahu malu..”

Sambil mencaci maki, panah yang baru dicabut keluar dari tumitnya itu segera diayun ke muka

mengancam wajah Wan Hong-giok.

Tak terkirakan gusarnya si nona baju merah itu menghadapi serangan lawan yang begini kasar,

kaitan kemalanya lantas dikebas ke muka merontokkan anak panah itu, menyusul kemudian dia

cambuk kudanya siap menerjang ke depan, tapi ingatan lain segera melintas dalam benaknya

dan maksud itupun lantas diurungkan, hanya tegurnya dengan ketus. “Apa hubunganmu dengan

nona berbaju hitam tadi?”

Sebelum perempuan bercodet itu menjawab Hoa In-liong telah menyahut lebih dahulu, “Ooooh

nona itu adalah majikannya Si Nio…”

Ditatapnya perempuan bercodet itu dengan tatapan sinis dan penuh penghinaan kemudian

berkata lagi.

“ Kalau kubunuh manusia macam dirimu maka perbuatanku ini tak lebih hanya akan menodai

senjata nonamu saja.”

Kemudian sambil menuding ke arah semak belukar di seberang sana dengan senjata kaitannya,

ia melanjutkan, “Majikanmu bersembunyi di belakang semak belukar sana, undanglah dia agar

menjumpai aku.”

Si Nio alihkan sinar matanya dan memandang semak belukar yang ditunjukkan itu, kemudian

memandang pula wajah Hoa In-liong tanpa berkata-kata, sedangkan wajahnya yang jelek dan

penuh bercodet itu terlintas perasaan murung dan kesal yang sangat tebal.

Dari sikap murung itu, Hoa In-liong lantas dapat menebak isi hati orang, diapun tertawa tawa

seraya berkata, “Aku tahu, engkau sangat menguatirkan keselamatan majikanmu. Nah Pergilah

kesana, hutang piutang di antara kita berdua boleh diperhitungkan lagi di lain waktu.”

Sambil berkata dia ulapkan tangannya berulang kali.

Si Nio agak termangu, tapi sejenak kemudian ia lantas mendengus dingin.

“Hmm sekalipun engkau lepaskan aku pergi, tapi terus terang kukatakan dulu kepadamu jika kita

bertemu lagi dilain waktu, aku masih tetap mengincar selembar jiwamu itu,” katanya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

54

Hoa In-liong tertawa-tawa, sahutnya, “Boleh-boleh saja, tapi kaupun harus berhati-hati, kalau

sampai terjatuh ke tanganku lagi dilain saat, akupun tak akan mengampuni nyawamu.”

Si Nio mendengus dingin, ia melirik sekejap ke arah Wan Hong-giok kemudian meludah ke tanah

dengan sikap menghina, setelah itu barulah ia menuju ke arah semak belukar yang dimaksud

dengan menenteng pedang pendeknya itu.

Gusar sekali Wan Hong-giok menghadapi kejadian tersebut, hawa nafsu membunuhnya seketika

menyelimuti seluruh wajah, tiba-tiba tangan kirinya diayun ke depan, sebercak sinar hitam

secepat sambaran kilat segera meluncur ke depan dan menyergap punggung Si Nio.

Sambaran cahaya hitam itu meluncur ke muka dengan kecepatan yang luar biasa dan sama

sekali tidak menimbulkan sedikit suarapun Si Nio tak menduga kalau ia bakal diserang,

tampaknya sesaat kemudian punggungnya akan terhajar oleh senjata rahasia itu.

Hoa In-liong tak tega melihat perempuan bercodet itu terjungkal secara penasaran pada detik

terakhir mendadak ia memperingatkan, “Awas Hati-hati ada senjata rahasia.”

Si Nio memang cukup cekatan, begitu menangkap kata “Senjata rahasia.” serta-merta dia

menjatuhkan diri ke samping dan berguling ke tanah, kendatipun begitu sebatang jarum emas

yang berwarna biru karena mengandung racun sempat juga menembusi sanggulnya.

Melihat serangannya gagal gara-gara dikacaukan, Hoa In-liong agak mendongkol, juga nona baju

merah itu, dia lantas berpaling dan omelnya dengan mata mendelik, “Huuuh Kau ini munafik,

bukan sobat juga bukan lawan, kalau macam begitu watakmu, apa gunanya melakukan

perjalanan dalam dunia persilatan?”

“Haaahhh… haaahhh… haaahh…” Hoa In-liong terbahak-bahak, “menyergap orang dengan

senjata rahasia, bukanlah suatu perbuatan yang patut dibanggakan, apalagi sebagai seorang

pendekar sejati…harap nona jangan salah sangka, aku bertindak begini toh demi nama baik dan

kedudukanmu di dunia persilatan, masa maksud baikku kau artikan lain?”

“Hmm Memangnya aku tak dapat menebak maksud busukmu?” ejek Wan Hong-giok, “tentu saja

kau selamatkan jiwanya, karena kau telah tertarik oleh majikannya, bukankah begitu?”

“Ehmm, memang diakui majikan Si Nio adalah seorang nona yang suci bersih, menarik, agung

dan bikin orang jadi terpesona.”

Waktu itu Si Nio sudah berada dua-tiga kaki jauhnya dari tempat semula, tiba-tiba ia berjalan

balik, sambil memungut kembali anak panah yang tergeletak di tanah, ujarnya kepada Hoa Inliong,

“Mengingat kau adalah seorang ksatria sejati, aku ingin mengucapkan beberapa patah kata

kepadamu, mau mendengar atau tidak terserah padamu sendiri..”

“Traaak!” anak panah yang berada dalam genggamannya itu mendadak ditekuk hingga patah

jadi dua.

Hoa In-liong segera merangkap tangannya dan memberi hormat, ujarnya dengan wajah serius,

“Dengan senang hati akan kudengar nasehatmu itu.”

Sambil menghentakkan anak panah yang dipatahkan itu ke atas tanah, ujarnya dengan dingin,

“Anggota perkumpulan Hian-beng-kau sudah tersebar luas dimana-mana, kekuatan mereka besar

sekali dan jauh lebih hebat daripada apa yang kau bayangkan, bila kau tahu gelagat maka lebih

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

55

baik cepat- cepatlah pulang ke rumah, nasehati orangtuamu agar segera mengasingkan diri dan

hindarilah bencana besar tersebut”

Hoa In-liong mengangguk beberapa kali tanda mengerti, setelah itu ia bertanya lagi, “Apakah

engkau dan majikanmu juga terhitung anak buah dari perkumpulan Hian-beng-kau?”

“Jago-jago silat yang dijaring perkumpulan Hian beng-kau kebanyakan adalah jago-jago kelas

satu dalam dunia persilatan sedang kami berdua hanya berkepandaian cetek. sekalipun ingin

menjadi anggota Hian-beng-kau, belum tentu mereka bersedia menerimanya.”

“Kalau toh kalian berdua bukan anggota dari perkumpulan Hiang-beng-kau lantas perselisihan

serta dendam sakit hati apakah yang terdapat diantara kita berdua, sehingga begitu bernafsu

ingin mencabut selembar nyawaku?”

“Tentang soal ini, maafkanlah daku sebab tak bisa kujelaskan bagaimanapun juga toh kungfumu

jauh lebih hebat daripada kami berdua, rasanya asal kau bisa bertindak lebih hati-hati dan

waspada selalu, niscaya jiwamu dapat selamat.”

“Andaikata aku kurang hati-hati?” tanya Hoa In-liong lagi.

“Maka anggaplah bahwa nasibmu memang jelek. dan kau memang sudah ditakdirkan untuk

mampus ditangan kami.”

Mendengar jawaban itu Hoa In-liong tertawa serak. katanya lagi, “Baiklah, bagaimanapun juga

aku harus mengucapkan banyak terima kasih atas petunjukmu ini, jikalau aku memang tak

sampai mampus, tentu akan kuingat selalu budi kebaikan ini.”

Si Nio mendengus dingin, tiba-tiba ia menuding ke arah Wan Hong-giok dan berkata lagi,

“Perempuan itu berjulukan Giok-kou-Niocu (perempuan cantik kaitan kemala ), dia adalah

seorang perempuan jalang yang sangat tersohor dalam dunia persilatan… sekalipun aku ingin

membinasakan dirimu, tapi aku tak menyaksikan kau hancur ditangan perempuan rendah itu, bila

percaya pada perkataanku maka janganlah berhubungan dengannya lebih baik lagi kalau sekali

tusuk kau bereskan nyawanya.”

Baru saja perempuan bercodet ini menyelesaikan kata-katanya, mendadak tampaklah sesosok

bayangan hitam berkelebat lewat menyusul kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun Wan

Hong-giok menerjang tiba, kaitan kemalanya yang berwarna hijau dengan membiarkan

serentetan cahaya yang menyilaukan mata langsung mengurung sekujur badan musuhnya.

Menghadapi datangnya serangan yang amat gencar itu, Si Nio tertawa seram bentaknya,

“Perempuan anjing yang tak tahu malu, sekalipun ilmu silat lo-nio cuma biasa-biasa saja, tapi

untuk menghadapi manusia macam dirimu, masih belum terpandang sebelah matapun bagiku!”

Seraya membentak, pedang pendeknya diayun ke depan dan menyongsong tibanya serangan

kaitan kemala itu dengan jurus Ki-hweliau-thian (mengangkat obor membakar langit).

“Traaang… Traaaag “ bentrokan demi bentrokan berkumandang tiada hentinya, diantara

deringan nyaring danpercikan bunga api, kedua belah pihak sama-sama telah melancarkan tiga

buah serangan berantai.

Setelah lewat tiga gebrakan kedua belah pihak mulai sadar bahwa mereka telah bertemu dengan

musuh tangguh, maka merekapun lantas mengerahkan semua ilmu simpanan yang dimilikinya

untuk saling merebut posisinya yang lebih menguntungkan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

56

Selama dua orang perempuan itu bertarung sendiri, Hoa In-liong hanya bergendong tangan

sambil menonton dengan senyuman dikulum, ia tidak mencegah, pun tidak ikut campur.

Tiba-tiba terdengar Si Nio membentak keras, pedang pendeknya dibabat kemuka untuk

mengunci serangan kaitan kemala musuh. menyusul kemudian ia maju sambil melepaskan

cengkeraman maut dengan tangan kirinya.

Desingan jari tangan memekikkan telinga, hebat dan ganas serangan mendadak itu.

Wan Hong-giok tidak menyangka kalau pihak musuh telah melancarkan serangan dengan jurus

sehebat itu, ketika dilihatnya cakar setan yang hitam pekat, panjang dan runcing itu tahu-tahu

sudah mengancam di atas pinggangnya, ia jadi terkejut, untuk sementara waktu posisinya jadi

terdesak. ketenangan hatinya jadi buyar dan ia kelab akan setengah mati.

Menyaksikan kejadian tersebut, Hoa In-liong segera berseru dengan suara lantang, “Hembusan

angin menggoyangkan pohon liu, bulan purnama ada di angkasa..”

Begitu mendengar kata “hembusan angin”, serentak Wan Hong-giok menggoyangkan

pinggangnya, senjata kaitan kemala yang mengayun ke atas persis bergerak dengan gaya “Bulan

purnama ada di angkasa”, dengan begitu serangan maut yang dilancarkan Si Nio itupun dapat

dihindari dengan sangat gampang.

Sudah tentu Si Nio jadi marah sekali karena serangannya gagal, ia membentak keras, “Bajingan

cilik, kau punya rasa malu tidak?”

“HHaaah….haaahh….haaahhh..,.sayangkan rasanya kalau nona secantik ini harus mati dalam

usia, muda?” sahut Hoa In-liong sambil tertawa terbahak-bahak.

Mendengar jawaban itu, Si Nio mulai mempertimbangkan keadaan dihadapannya, ia berpikir,

“Jika bocah ini membantunya, sudah pasti aku tak akan berhasil untuk singkirkan budak anjing

itu dari muka bumi….”

Terbayang akan kelihayan musuhnya, semangat tempur perempuan bercodet ini jadi kendor, dia

pun lantas bermaksud untuk mengundurkan diri.

Berbeda dengan Wan Hong-giok, ia tampak merasa sangat bangga, senjata kaitan kemalanya

diayun berulang kali melancarkan serangkaian serangan berantai, ini memaksa Si Nio harus

mundur berulang kali ke belakang..

Dalam waktu singkat Wan Hong-giok sudah berada di atas angin, dengan jurus Gwat-im-si-shia

(bayangan bulan bergeser kebarat), cu-lian-to-cian (Menggulung naik kerai mutiara) dan IHoaim-

hud kiam (bayangan bunga menyapu pedang) senjata kaitan kemalanya seperti gulungan

ombak disungai Tiang kang menggulung dan melanda keluar tiada hentinya.

Serangan-serangan gencar itu kontan saja mengurung Si Nio dalam kepungan, saat itu dia hanya

mampu bertahan tanpa berkekuatan untuk melancarkan balasan, lama-kelamaan perempuan

bercodet itu jadi naik darah, ia meraung, berteriak dan marah-marah besar.

Mendadak Wan Hong-giok membentak nyaring ia mengayunkan tangan kirinya ke depan,

sebatang jarum emas beracun secepat kilat menyambar ke muka dan mengancam tubuh

perempuan bercodet itu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

57

Si Nio berpekik nyaring, dia sampok rontok. jarum emas itu dengan pedang pendeknya menyusul

gerakan itu membabat ke depan membacok pergelangan tangan kiri sang nona.

“Traaang….” Wan Hong-giok segera menangkis bacokan pedang itu dengan kaitan kemalanya,

kemudian tangan kirinya kembali diayun ke depan.

Si Nio kuatir disergap dengan jarum beracun lagi, buru-buru dia bersih ke samping untuk

menghindarkan diri, siapa tahu kali ini Wan Hong-giok cuma menipu belaka, tiada jarum beracun

yang disambit keluar dengan gerakan itu.

Diam-diam Si Nio jadi mendendam karena tertipu, baru saja dia akan menyerang lagi dengan

pedangnya, tiba-tiba kilatan cahaya emas menyambar datang dari depan.

Sekarang tak sempat lagi bagi Si Nio untuk menangkis serangan kilat itu, apa boleh buat

terpaksa ia harus menjatuhkan diri ke atas tanah dan bergelinding ke samping.

Wan Hong-giok tertawa terkekeh, senjata kaitan kemalanya tiba-tiba disapu ke udara dan

menciptakan lapisan cahaya hijau yang tebal untuk mengurung sekujur badan lawan.

Paras muka Hoa In-liong berubah hebat, ia tak sangka kalau Wan Hong-giok memiliki andalan

lainnya kecuali ilmu kaitan Ciang cang-kau hoat-yang lihay itu.

Ketika dilihatnya posisi Si Nio sangat berbahaya dan jiwanya terancam, dengan cemas dia lantas

berkata, “Mengikat kaki sukma gentayangan, lima setan.”

Dengan luka panah di atas tumitnya, gerak-gerik Si Nio ketika itu kurang leluasa ketika

menyaksikan bayangan kaitan menyelimuti angkasa dan ia tak mampu untuk menangkis lagi,

perempuan bercodet itu lantas mengira bahwa jiwanya bakal melayang. Maka sungguh girang

hatinya ketika secara tiba-tiba ia mendengar seruan, “Mengikat kaki sukma gentayangan” itu,

serta-merta pedang pendeknya dibabat ke muka membacok sepasang kaki Wan Hong-giok

sementara tangan kirinya seperti cakar setan mencengkeram pinggang nona itu.

Bacokan maupun cengkeraman itu semuanya cuma menggunakan jurus serangan yang amat

sederhana, tapi lihay setelah digunakan berbareng bukan saja dapat selamatkan diri dari bahaya

maut, dapat pula menyerang musuhnya, boleh dibilang serangan itu tepat dan manis sekali

untuk mematahkan ancaman dari sang nona baju merah.

Wan Hong-giok naik darah, ia merasa yaa mendongkol yaa gemas, segera teriaknya keras,

“Kunyuk sialan sebenarnya siapa yang kau bantu??”

“Haaah haaah haaah maaf nona, aku tidak bernama kunyuk sialan, namaku adalah Pek-khi “

cepat Hoa In-liong membenarkan sambil tertawa. Wan Hoig-giok semakin marah, teriaknya lagi,

“Dari pada kau bantu perempuan jelek itu, mengapa tidak terjun sendiri kedalam gelanggang?”

“Nona manis, aku tak berpihak kepada siapa-siapa, tidak membantu satu pihak. aku hanya

bertindak untuk keadilan belaka,” kata Hoa In-liong seraya tertawa.

“Traang… Traaang…” bentrokan- bentrokan nyaring kembali berkumandang memenuhi angkasa,

dalam bentrokan antara pedang dan senjata kaitan kali ini, tubuh kedua orang itu sama-sama

tergetar keras lalu mundur selangkah ke belakang, dengan begitu pertarunganpun segera

terhenti.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

58

Wan Hong-giok lantas berpaling dan memandang sekejap si anak muda itu, kemudian dia

mengomel.

“Hey orang she-Pek. apakah engkau tidak merasa sedikit kebingungan dengan kejadian ini??”

Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak. la tidak menjawab malahan pikirnya dalam hati, “Ehmm

memang kuakui Wan Hong-giok berparas cantik jelita, berperawakan padat dan langsing, dia tak

malu disebut perempuan cantik dengan daya tarik yang besar, tak aneh kalau orang memberi

julukan Giok-kou Niocu kepadanya….”

Berpikir sampai disini, tanpa terasa lagi dia mengerling penuh arti ke arah nona itu dan

mengamati potongan tubuhnya yang padat, ramping dan mempesonakan hati itu tanpa berkedip.

Kebetulan segulung hembusan angin harum berhembus lewat dan tercium oleh pemuda itu.

seperti orang yang mabok. Hoa In-liong kontan memuji, “Ehmmn….harum menyegarkan……”

Kembali ia mencium udara di sekitar tempat itu beberapa kali, kemudian gumamnya, “Baju

dalam, baju luar… pupur… gincu bunga… eehmm inilah bau bunga.”

Sedikitpun tak salah, dibalik baju dalam Wan Hong-giok memang terdapat sekuntum bunga,

maka ketika nona itu melihat tebakannya tepat, dia lantas tertawa cekikikan, kemudian sambil

mengerling genit katanya, “Tajam benar penciumanmu, tak kusangka kau bisa membedakan bau

harum itu dengan tepat”

Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak. tangan kirinya membenarkan letak pedang, tangan kanan

membetulkan bajunya lalu menjawab, “Haaahhh haaahhh… haaahhh… kalau kau menanyakan

tentang lain, aku pasti menyerah Tapi kalau soal perempuan… aku memang memiliki kepandaian

khusus”

“Oooh… kiranya seorang ahli perempuan yang berpengalaman maaf, maaf.”

Dalam hati Si Nio menyumpah setelah dilihatnya laki perempuan itu kembali main mata sambil

bercakap-cakap. mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya. ia lantas berpikir, “Aduh

celaka, kedua orang ini yang seorang adalah perempuan jalang yang cabul, sedangkan yang lain

adalah seorang jago bermain perempuan jikalau mereka sampai bekerja sama, bukankah

selembar jiwaku bakal melayang?”

Berpikir sampai disini hatinya jadi amat terperanjat maka tanpa memperdulikan rasa sakit pada

tumitnya lagi, dia segera melarikan diri terbirit-birit dari sana.

Menyaksikan perbuatan perempuan bercodet itu baik Hoa In-liong maupun Wan Hong-giok saling

berpandangan dan tertawa tergelak. saat itu juga sikap permusuhan diantara mereka berduapun

tersapu lenyap hingga tak berbekas.

Dalam pada itu sinar sang surya telah memancar di empat penjuru, suasana disana sepi hening

dan tak nampak sesosok bayangan manusia.

Setelah memandang sekejap sekeliling tempat itu Hoa In-liong lantas tertawa dan berkata, “Kini

tinggal kita berduaan.”

“Kalau berduaan lantas mau apa?” sahut Wan Hong-giok dengan lirih, meski wajahnya telah

berubah jadi merah jengah.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

59

“Mau apa? Tentu saja berbicara dari hati ke hati,” sahut si anak muda itu cepat.

Wan Hong-giok tertawa manis, berhadapan dengan Hoa In-liong yang gagah dan romantis ini,

entah apa sebabnya jantung terasa berdebar keras suatu perasaan jengah yang belum pernah

muncul dari hatinya mendadak menyelimuti diri nona itu.

Ia agak tertegun, tapi akhirnya dengan muka termangu dia meloncat naik ke atas punggung

kudanya.

“ Engkau akan pergi nona?” tegur Hoa In-liong dengan alis mata berkenyit suaranya tajam.

Wan Hong-giok tertawa dan mengangguk namun ia tetap membungkam tanpa menjawab. Hoa

In-liong segera memutar sepasang biji matanya sambil tertawa merdu katanya lagi, “Nona, aku

lihat kudamu ini adalah seekor kuda jempolan, bila kau larikannya kencang-kencang niscaya aku

tak akan mampu menyusulmu lagi..”

Wan Hong-giok tertawa, dengan penuh kasih sayang ia membelai bulu surai kuda merahnya itujalu

menjawab, “Kuda ini memang termasuk sejenis kuda jempolan dari jenis yang istimewa,

meski banyak kuda jempolan dalam dunia persilatan, tapi tiada seekor pun diantaranya yang

sanggup menandingi kehebatan kuda merahku ini….” Hoa In-liong tersenyum.

“Nona kau bernama Hong-giok. gemar memakai busana merah, gemar pula menunggang kuda

jempolan, suatu perpaduan yang amat serasi, kecantikan kegagahan nona pasti akan menjadi

berita hangat dalam dunia persilatan…”

Perempuan mana yang tak suka dipuji? Wan Hong-giok merasakan hatinya jadi manis dan

gembira, meski tidak berbicara apa-apa namun senyumnya cukup mempesonakan hati.

Serta-merta tempat duduknya bergeser ke depan dan menyisihkan separuh bagian pelananya

menjadi kosong, tampaknya ia memang sengaja memberikan tempat itu untuk Hoa In-liong.

Dengan langkah lebar Hoa In-liong menghampiri si nona cantik itu, lalu bertanya sambil tertawa,

“Nona, siapa nama kuda jempolanmu ini?”

“Dia bernama Hong-ji,” sahut Wan Hong-giok sambil memandang awan merah diangkasa, lirih

sekali suaranya

SUATU senyum misterius tiba-tiba menghiasi wajah Hoa In-liong, seperti orang baru mengerti ia

berkata, “Oooh….. Jadi nona memanggil kuda itu sebagai Hong-ji? Tapi kalau menurut perasaan

saya kuda jempolan berbulu merah darah semacam ini lebih pantas kalau dinamakan Liong-ji.”

Menyinggung soal “Liong-ji” tiba-tiba kuda merah itu mendepak-depakkan kaki sebelah depannya

ke atas tanah dan meringkik panjang seperti kegirangan, hampir saja gerakan tersebut

mementalkan tubuh Wan Hong-giok jatuh dari atas pelana kuda.

Wan Hong-giok berteriak kaget, dalam gugupnya cepat dia goyangkan pinggul dan bersalto

beberapa kali sehingga kakinya berhasil mencapai permukaan tanah dengan selamat, untung

tidak sampai terbanting keras.

Terdengar seorang tertawa terbahak-bahak menyusul kuda itu meringkik panjang, diantara derak

kaki kuda dan suara keleningan yang tajam sesosok bayangan merah bagaikan gulungan puyuh

telah meluncur ke depan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

60

Pada mulanya Wan Hong-giok agak tertegun menyusul kemudian la jadi malu bercampur gusar,

air mata sampai bercucuran membasahi pipinya sambil mendepak-depak kakinya ke atas tanah

teriaknya dengan lantang, “Manusia she-Pek, kau seorang laki-laki tulen atau bukan?”

Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak, kuda merah itu lari bagaikan terbang, dalam sekejap mata

mereka sudah mengitari tanah perbukitan itu satu kali dan berlari ke tempat semula.

“Nona manis, kau tak boleh menyalahkan aku,” demikianlah pemuda itu seru sambil tertawa.

“Kalau ingin menyalahkan, maka salahkanlah saja Hong-ji mu itu.”

Kembali dia membelokan kudanya itu untuk berlarian menuju ke arah sebelah timur.

Air mata yang bercucuran membasahi wajah Wan Hong-giok seperti hujan gerimis ia berteriak

serak, “Bocah keparat, walaupun ini hari aku harus mengorbankan selembar jiwaku, tak nanti

akan kubiarkan kau si keparat busuk berhasil melarikan diri dari sini!”

Dia melompat ke depan, kemudian menerkam si anak muda itu dengan garangnya.

Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak, gelaknya, “Haaah….haaaah….haaaah nona manis, galak

amat kamu ini Kalau begini galak. siapa yang berani mempersunting dirimu??”

Tangan kirinya dikebaskan ke muka, dan tahu-tahu ia sudah cengkeram pergelangan tangan

Wan Hong-giok.

Merasakan tangannya dicengkeram, nona baju merah itu menggertak giginya, kaitan kemalanya

ditekan ke bawah dan langsung membacok batok kepala lawannya.

Apa mau dikata cengkeraman Hoa In-liong amat kencang, mendadak terasalah segulung tenaga

besar mengalir masuk lewat lengan kirinya dan sekejap mata menyebar ke seluruh penjuru

tubuhnya seketika itu juga Wan Hong-giok merasakan sekujur badannya jadi lemas tak

bertenaga, dan tahu-tahu senjata kaitan kemala yang berada di tangan kanannya sudah kena

dirampas pula oleh pemuda tersebut.

Dalam pada itu kuda jempolan berbulu merah itu masih berlarian dengan cepatnya, Hoa In-liong

duduk mantap di atas pelananya sambil tertawa tergelak tiada hentinya, dengan demikian tubuh

Wan Hong-giok yang kena dicengkeram pun ikut terseret oleh larinya kuda itu hingga terbawa

jauh ke depan.

Mendadak si anak muda itu menyentak tubuh nona baju merah itu ke udara, setelah diputar satu

dua kali di angkasa siap melemparkan tubuhnya ke depan.

Sejak dilahirkan sampai saat itu, belum pernah Wan Hong-giok mendapat penghinaan dan

perlakuan kasar seperti saat ini, ia jadi malu, sedih bercampur marah, air mata yang bercucuran

semakin deras lagi.

Berada dalam keadaan seperti ini, hanya ada satu ingatan saja dalam benaknya, yakni bunuh diri

dan cepat-cepat melepaskan diri dari cengkeraman musuh, lebih baik lagi kalau bisa mampus

dihadapan “ keparat- busuk” yang mengaku she-Pek ini.

Sebelum tubuh si nona baju merah itu terlempar ke depan, mendadak satu ingatan terlintas

dalam benak pemuda itu, ia segera membatalkan niatnya itu, mendadak lengannya disentakkan

ke bawah dan melemparkan tubuhnya ke atas pelana tepat di belakangnya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

61

Menghadapi kejadian seperti ini, Wang Hong-giok kelihatan agak tertegun, tiba-tiba sambil

menggertak gigi ia totok jalan darah Leng-thay-niat di tubuh Hoa In-liong dengan jari tangannya

yang kaku bagaikan sebatang tombak.

Jalan darah Leng-thay-hiat letaknya berada di atas punggung, padahal waktu itu mereka

menunggang satu kuda dan duduk di atas satu pelana, bukan pekerjaan yang susah bagi si nona

itu untuk menotok jalan darah di punggung orang.

Apa mau dikata seolah-olah Hoa In-liong mempunyai mata dibelakang kepalanya, baru saja ia

menotok jalan darah tersebut, sikut kanannya sudah menyodok ke belakang dan menumbuk di

atas pinggang Wan Hong-giok.

Dan satu hal yang lebih hebat lagi, ternyata sodokan tersebut dengan telah menghajar jalan

darah tertawa siiu-yau-hiat dari nona itu,

Sekujur badan Wan Hong-giok gemetar keras, kontan badannya jadi lemas tak bertenaga, tak

kuasa lagi ia tertawa tergelak dengan kerasnya…

Hoa In-liong yang binal tidak berhenti sampai disitu saja, dasar ia paling suka menggoda kaum

wanita, begitu sang nona tertawa tak hentinya, ia lantas menarik tubuhnya ke depan dan

mendudukkannya di depannya, kemudian ditaboknya pantat si nona keras-keras.

Diperlakukan seperti ini, Wan Hong-giok hanya bisa menangis sambil tertawa, teriaknya dengan

parau, “Orang she-Pek. hati-hati saja kau, bila terjatuh ketanganku, nonamu akan membeset

kulit badanmu daa membetot keluar otot-otot badanmu agar kau menderita lebih hebat”

“Haaaah….haaaahh,…haaaahh..,.” Hoa In-liong tertawa tergelak, keras dan nyaring suaranya,

“mau beset kulit membetoti otot terserah padamu, dan urusan itu kan urusan dikemudian hari,

yang pasti pada saat ini kau adalah seorang begal kuda. maka saya harus baik-baik menabok

pantatmu yang bulat ini.”

Benar juga, pemuda itu lantas menghajar pantat Wan Hong-giok tiada hentinya.

Oleh sebab jalan darah siau-yan-hiatnya tertotok. Wan Hong-giok tertawa terus tanpa bisa

berhenti, ia jadi malu bercampur marah, apalagi setelah mendengar tuduhan sang pemuda yang

mengatakan dia sebagai seorang “Begal kuda” kemarahan langsung berkobar, teriaknya dengan

nada marah, “Bocah busuk! Siapakah yang menjadi begal kuda? Hayo cepat turunkan aku, nona

hendak menuntut suatu keadilan darimu!”

Sewaktu mengucapkan kata-kata itu, Wan- Hong giok menggigit bibirnya kencang-kencang,

seakan akan ia merasa sangat penasaran dengan tuduhan tersebut. Hoa In-liong jadi terperanjat

diapun lantas berpihir, “Aneh benar liong-be milikku ini sangat pintar dan mengerti percakapan

manusia, sampai sekarangpun masih kutinggal dalam rumah penginapan, kalau bukan dicuri

olehnya, dari mana bisa sampai disini?”

Haruslah diketahui, meskipun Hoa In-liong itu binal dan tak pakai aturan, namun kecerdikan

otaknya setingkat lebih hebat daripada orang lain, kalau bukan lantaran begitu tak nanti Bun

Thay kun akan membebankan tugas yang sangat berat ini kepadanya.

Ketika bertemu dengan “Liong-ji” miliknya tadi, bukan saja ia sudah mengenali kembali bahwa

kuda merah itu adalah kuda miliknya, bahkan diapun menaruh curiga bahwa Wan Hong-giok

adalah sekomplotan dengan musuh-musuhnya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

62

Sebab kemunculan nona baju merah itu bertetapan waktunya ketika ia terkurung dan pemanahpemanah

gelap baru saja melarikan diri dari sana, ia lantas curiga kalau jejaknya sudah ketahuan

orang dan rumah penginapannya telah diserbu musuh.

Sebab itulah kemunculan Wan Hong-giok dengan menunggang kuda Liong-jinya sebera dianggap

sebagai musuh, kalau tidak demikian, tentu saja nona itu tak akan melepaskan Si Nio dan

majikannya dengan begitu saja.

Tapi sekarang, Wan Hong-giok menunjukkan sikap yang seakan-akan merasa sangat penasaran,

sikap semacam itu dengan cepatnya menyapu kembali semua pendapatnya semula, karena tak

dapat memecahkan masalah tersebut maka untuk sesaat dia malahan tertegun dibuatnya.

Terdengar Wan Hong-giok berteriak kembali dengan suara serak, “Keparat busuk. kau bernyali

tidak? Kalau bernyali hayo cepat bebaskan jalan darah nonamu yang tertotok”

Hoa In-liong tidak segera menjawab kembali dia berpikir, “Kalau toh Liong-ji bukan dicuri

olehnya, tentu dia tahu apa sebabnya Liong-ji bisa kabur keluar dari rumah penginapan, atau

mungkin juga ia berhasil mendapatkannya dari tangan orang lain? Kenapa tidak kulepaskan saja

nona ini agar bisa dimintai keterangan yang lebih mendalam lagi??”

Berpikir sampai disitu, cepat dia menepuk jalan darah ditubuh Wan Hong-glok dan membebaskan

dirinya dari pengaruh totokan tersebut.

Begitu terbebas jalan darahnya yang tertotok Wan Hong-giok segera meloncat bangun,

kemudian sambil menuding anak muda itu teriaknya, “Hayo bicara, siapakah yang kau tuduh

sebagai begal kuda? Beri keterangan yang sejelas-jelasnya kepadaku.”

Air matanya belum mengering, tapi matanya sudah melotot besar, bibirnya mencibir, sikapnya

yang lagi kheki dan mendongkol itu mendatangkan suatu daya pesona yang lain daripada yang

lain, membuat nona itu kelihatan lebih menawan dan lebih segar rasanya.

Hoa In-liong gembira sekali sambil memicingkan matanya dan memperhatikan nona itu tanpa

berkedip sahutnya sambil tertawa. “Masa engkau bukan begal kuda?”

Kontan Wan Hong-giok menyeka air matanya dan langsung berteriak marah.

“Bagus, Bagus sekali Kau berani menuduh orang baik-baik sebagai begal kuda? Nona akan

beradu jiwa denganmu.”

Telapak tangannya disertai desingan angin pukulan yang amat kencang langsung diayun ke

depan dan menghajar dada Hoa In-liong.

Si anak muda itu menyentak tali les kudanya dengan cekatan, berhasil melepaskan diri dari

ancaman tersebut, sambil tertawa ia lantas berkata lagi, “ Wajahnya memang cantik, perawakan

tubuhnya memang menarik sayang nona secantik itu nyatanya seorang pencuri? Ooooh sayang,

sayang Meski sauya mempunyai perasaan kasihan terhadap kaum lemah, apa daya kalau nona

yang lemah adalah seorang begal? Kalau tidak diberi hukuman, apa jadinya di akhir masa…?”

Wan Hong-giok semakin naik pitam, bukan saja lantaran serangannya mengenai sasaran kosong

terutama setelah mendengar tuduhan dari sang pemuda yang bersikeras mengatakan dia

sebagai “begal”, serangannya makin bertubi tubi, seperti hujan deras dia lepaskan berpuluhpuluh

buah pukulan berantai yang semuanya ditujukan pada jalan darah penting di sekujur

badan pemuda itu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

63

“Bocah binal, sekalipun harus mempertaruhkan selembar jiwaku hari ini nonamu akan merobek

dan mengoyak mulut busukmu yang berbau gombal itu….!” sumpahnya dengan gemas.

Meski di bibir Hoa In-liong selalu berkata akan “memberi hukuman yang setimpal”, namun

kenyataannya dia hanya berkelit dan menghindar terus tanpa membalas.

Akhirnya timbul juga sifat binalnya, ia tidak lagi berusaha untuk menanyakan dari mana nona itu

dapatkan kuda “Liong ji” nya malahan sambil berkelit godanya seraya tertawa, “Hoore…. betul,

ucapanmu memang tepat, sudah lama bibirku ini tak pernah mencium bau gincu dan pupur, lebih

baik kau koyak-koyak saja sehingga tak sampai mengilar dan kehausan sampai tak bisa ditahan

lagi….”

Merah padam wajah Wan Hong-giok setelah mendengar perkataan itu, ia membentak lalu

menerjang ke muka bagaikan burung walet, sambil menerkam ke tubuh Hoa In-liong makinya,

“Jangan mengaco belo terus, Nih Coba rasain dulu kelihayan dari jari tanganku.”

Lengan kirinya berputar setengah lingkaran, lengan kanan tiba-tiba menerobos keluar dari balik

lingkaran bayangan itu dan menyodok ke muka langsung mengancam wajah sang pemuda.

Hoa In-liong terbahak-bahak. la miring ke samping untuk meloloskan diri dari ancaman tersebut,

menyusul mana lengan kirinya digaet ke depan dan merangkul tubuh Wan Hong-giok sehingga

terjatuh kedalam pelukannya.

“Haaahhh haaahhhh….haaahhh…. meski jari tanganmu lentik dan menarik hati, aku rasa lebih

sedap mencium bau harumnya gincu,” katanya dengan cepat, “ biarlah kucicipi saja harumnya

gincu itu.”

Pelukannya segera diperkencang, disusul dia tundukan kepalanya dan mencium bibir Wan Honggiok.

Sungguh terkejut tak terkirakan nona baju merah itu menghadapi sergapan yang tak terduga itu,

bibirnya terbuka hendak menjerit, apa mau dikata sebelum jeritannya berkumandang, bibir Hoa

In-liong bagaikan harimau kelaparan sudah menempel di atas bibirnya.

Sebagaimana diketahui semenjak kecil Hoa In-liong sudah terbiasa hidup diantara kerumunan

kaum nona, soal peluk memeluk dan cium mencium siiih, merupakan keahlian khusus baginya,

tak heran kalau semua gerak-geriknya di saat ini begitu luwes dan terlatihnya hingga tak nampak

kegugupan maupun kepanikan.

Baru saja Wan Hong-giok tertegun, tiba-tiba ia merasakan munculnya lidah lawan seperti seekor

ular lintah menggelitiki masuk ke dalam bibirnya, kenyataan ini membuat darahnya mengalir

makin kencang dan jantungnya berdebar keras, dia ingin menampik, apa daya lemas tak

bertenaga, seakan-akan dara itu kehabisan tenaga saja maka akhirnya diapun pasrah.

Meski Wan Hong-giok tersohor sebagai Giok-kou-Niocu, hakekatnya dia masih seorang

perempuan tulen, jangan dilihat tingkah lakunya agak genit dan tak menurut adat namun soal

peluk memeluk apalagi dalam hal cium mencium boleh dibilang belum pernah dilakukan olehnya.

Tidaklah heran kalau ia jadi gugup dan kelabakan setelah menghadapi kejadian yang

mengejutkan hatinya ini.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

64

Bibir seorang dara dikatakan paling sensitif itu memang benar sebab dari sanalah birahi seorang

dara gampang ditimbulkan apalagi bila tersentuh oleh bibir lawan jenisnya.

Masih mendingan bila Wan Hong-glok hanya bertemu dengan laki-laki biasa apa lacur Hoa Inliong

adalah seorang ahli perempuan yang berpengalaman ujung lidahnya yang menggelitik,

gelitik bibir nona itu seketika mendatangkan suatu perasaan yang aneh sekali bagi Hong-giok.

Serta-merta timbul pula suatu perasaan aneh yang belum pernah dijumpai sebelumnya, maka

tak kuasa lagi ia balas menjulurkan lidahnya dan saling menggelitiki dengan lidah lawan lama

kelamaan timbullah suatu perasaan yang kian lama kian bertambah nyaman.

Mendadak……dikala Wan Hong-giok sudah benar-benar kesemsem dan dibuat lupa daratan oleh

permainan “unik” tersebut, Hoa In-liong menarik kembali lidahnya sambil mendorong nona itu

ke-belakang, sesudah itu ujarnya sambil tertawa, “Ehmm,,.nona Wan, gincumu memang berbau

harum, aku betul-betul merasa amat beruntung bisa mendapat kesempatan untuk menikmati

keharuman lidah nona.”

Mula-mula Wan Hong-giok agak tertegun, menyusul kemudian ia merasa gemas bercampur

kheki, langsung dia ayun kepalannya untuk memukul. “Kau…kau…” serunya gemas.

Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak. dengan mudah dia tangkap sepasang kepalan nona itu,

kemudian katanya lagi, “Nona tak usah marah, baik luar maupun dalam aku betul-betul seorang

keparat busuk yang tulen, sekarang semestinya nona terangkan padaku dari mana kau dapatkan

Hong-ji ini??”

Diperlakukan seperti ini oleh seorang pemuda asing, Wan Hong-giok merasa yaa marah ya kheki

juga, kalau bisa dia ingin menjotos pemuda itu sehingga gepeng seperti kueh apem, tapi sayang

kungfunya tak mampu menangkan lawannya, maka ia cuma bisa menahan hawa amarahnya

belaka.

“ Keparat busuk” makinya marah-marah, “Sekali keparat busuk. selamanya kau memang keparat

busuk. mau apa kamu?” Hoa In-liong tersenyum.

“Nona mempunyai sepasang mata yang jeli, dan lagi memperlakukan istimewa terhadap seorang

keparat busuk macam aku, sekalipun aku kasar dan tak becus, perlakuan apa yang bisa

kulakukan terhadap nona? Aku tidak meminta yang berlebihan, hanya sudilah kiranya nona

bersedia untuk menerangkan kepadaku, darimana kau dapatkan Hong-ji ini, maka

pemberitahuan nona itu akan membuat aku melasa amat berterima kasih”

Wan Hong-giok yang sudah mendongkol semenjak tadi, tiba-tiba melejit kemudian menumbuk ke

dada Hoa In-liong.

Jilid 04

ANAK muda itu tak menyangka kalau nona tersebut bakal melakukan gerakan senekad ini cepat

ia jatuhkan diri ke belakang, menggunakan kesempatan itulah Wan Hong-giok lantas menyambar

senjata kaitan kemala yang bergantung di atas pelana, sambil melompat turun dari punggung

kudanya ia berteriak, “Orang she-Pek, engkau terlalu menghina orang, jangan dianggap nonamu

bisa dipermainkan dengan seenaknya Hmm Memangnya kau anggap karena ilmu silatku tak

menangkan kau, maka kau lantas dapat mempermainkan diriku, dengan seenaknya? Sampai

matipun aku tak akan melepaskan kau dengan begitu saja.”

Senjata kaitannya segera diayun sambil menubruk ke depan, cahaya hijau bayangan merah

secepat sambaran kilat menerkam ke depan dan langsung menusuk lambung Hoa In-liong.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

65

Berbicara yang sesungguhnya, betapa tinggi nilai bibir dari seorang nona, tapi sekarang bibir

yang berharga itu telah dicium Hoa In-liong sepuas-puasnya, kesemua itu boleh dibilang muncul

karena kerelaan hatinya, kendati begitu kejadian tersebut cukup membuat sang nona jadi merah

jengah dan berdebar hatinya.

Tapi sekarang, setelah Hoa In-liong puas menciumi bibirnya, dia malahan menuntut terus

kepadanya untuk menerangkan asal-usul Hong-ji, hal ini sama artinya seakan-akan ia menuduh

bahwa asal-usul Hong-ji sangat mencurigakan dan ada kemungkinan adalah barang curian,

dalam malu dan marahnya tak heran kalau Wan Hong-giok jadi nekat dan ingin beradu jiwa.

Hoa In-liong sendiri terlalu yakin akan ilmu silatnya sendiri yang dianggapnya lebih hebat dari

kungfu Wan Hong-giok. ditambah pula wataknya yang binal, maka ketika Wan Hong-giok

berhasil merampas senjata kaitannya dan melompat turun dari pelana, ia tak terlalu

memperhatikan, menanti nona itu menerjang datang sambil menyerang secara kalap. ia baru

merasa amat terperanjat.

Garang dan nekat sekali serangan-serangan dari Wan Hong-giok, bayangan senjata menyelimuti

angkasa sampai berlapis-lapis banyaknya, sementara Hoa In-liong- masih terkejut, tahu-tahu

desingan angin tajam telah tiba di depan mata.

Dalam keadaan begini, ia tak berani gegabah lagi, sekali menjejak permukaan tanah, tubuhnya

lantas melejit dan bersalto beberapa kali di udara, kemudian melayang turun beberapa kaki

jauhnya dari tempat semula.

Kendatipun cukup cepat ia menghindar, namun terlambat juga gerakan itu “Breet!” tahu-tahu

baju bagian dadanya tersambar hingga robek sebagian, untung tak sampai melukai badannya.

Wan Hong-giok tidak puas dengan hasil serangannya itu, ia melayang ke muka, kemudian

membacok lagi batok kepala Hoa In-liong dengan jurus Ciong-eng-po-toh (burung elang

menubruk kelinci).

Desingan angin tajam menderu- deru dan memekikkan telinga, hebat dan ganas ancaman

tersebut.

Waktu itu Hoa In-liong baru saja berdiri tegak, tatkala menyaksikan tibanya serangan dengan

cahaya hijau yang tajam dari atas udara, cepat-cepat dia menyingkir selangkah ke samping

untuk menghindarkan diri.

Sekarang anak muda itu pun sudah tahu kalau Wan Hong-giok benar-benar telah gusar,

berbicara soal ilmu silat kendatipun dia harus bertarung dengan tangan kosong belaka, pemuda

itu tak akan jeri menghadapi Wan Hong-giok yang bersenjata kaitan, dasar mata keranjang dan

suka perempuan Hoa In-liong tak ingin sungguh-sungguh bermusuhan dengan nona itu.

Maka ketika serangan menggulung tiba lagi, ia tidak menghindarkan diri malahan sambil

membenarkan bajunya menjura dari kejauhan.

“Nona, jangan marah dulu Dengarkanlah perkataanku.” pintanya setengah memohon.

“Tidak Aku tak sudi mendengarkan perkataanmu!” teriak Wan Hong-giok sambil marah-marah.

Kembali kaitan kemalanya dibabat ke depan seperti jaring langit dengan jurus Giok-cong-seng-cui

(tenda kemala menyelimuti jagad). Cepat Hoa In-liong berkelit ke samping, kembali dia menjura

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

66

sambil memohon, “Nona, anggap aku yang telah berlaku kasar terhadap nona cantik, terimalah

permintaan maafku ini.”

Padahal berbicara sesungguhnya, diapun tahu bahwa ilmu silat dari Hoa In-liong berlipat kali

lebih tinggi dari kepandaiannya, jika ia ingin merobohkan musuhnya maka perbuatan itu boleh di

bilang sukar sekali.

Ditambah pula Hoa In-liong berparas tampan diam-diam ia sudah terpesona oleh kegagahan

lawannya, maka andaikata ia disuruh membacok pemuda itu secara sungguh-sungguh, belum

tentu ia tega untuk melukainya.

Maka setelah dilihatnya Hoa In-liong beberapa kali menjura sambil meminta maaf, hawa

amarahnya sudah berkurang beberapa bagian, ia tidak menyerang lagi, sebaliknya sambil

bertolak pinggang membentak, “Hmm Kau anggap urusan ini dapat diselesaikan dengan begini

saja? Hayo cabut keluar pedang mustikamu, dan tentukan siapa yang lebih tangguh nonamu.”

Wan Hong-giok merasa agak jengkel juga setelah beberapa kali serangannya tidak mencapai

sasaran.

Yang benar, ia jadi nekad dan menyerang secara membabi buta lantaran rasa mangkel dan

penasarannya tak tersalur keluar, selain itu diapun mendapat perlakuan kasar dari sang pemuda,

maka dalam malu dan jengkelnya ia jadi marah.

Hoa In-liong cukup berpengalaman dalam menghadapi kaum nona, dan diapun cukup memahami

watak-watak dari kaum hawa, perkataan tersebut diapun segera tahu bahwa kegusaran dalam

hati Wan Hong-giok sudah berkurang sebagian. Cepat-cepat dia menjura lagi sambil berkata,

“Ilmu silat milik nona sangat lihay, aku tahu bahwa kepandaianku bukan tandingan nona, apa

gunanya kita bertarung lagi untuk menentukan siapa yang lebih unggul?”

“Hmm Kau anggap aku rela membiarkan diriku dianiaya seenaknya olehmu…?” teriak Wan Honggiok

sambil mendengus.

Dalam hati Hoa In-liong merasa geli, tapi di luaran ia menjura lagi dengan wajah bersungguhsungguh

sambil berkata, “Manusia kan bukan rumput atau kayu yang tak berperasaan, masakah

aku bisa melupakan cinta kasih nona? Paras nona cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, bisa

mencium nonapun sudah merupakan suatu keuntungan yang tak terkirakan bagiku, masa

pembuatan ini dianggap sebagai suatu penganiayaan?”

Merah padam wajah Wan Hong-giok setelah mendengar perkataan itu, serunya dengan manja.

“Hmm Enak benar kalau bicara, coba jawab kenapa kau menuduh aku telah mencuri kudamu.”

Hoa In-liong segera berpura-pura gugup, sahutnya, “Harap nona jangan menganggap

sungguhan ucapanku itu, kau toh tahu bahwa aku suka bergurau? Jangan nona anggap

ucapanku tadi serius”

Menyaksikan sikapnya yang gugup dan serba tak menentu itu, Wan Hong-giok segera berpikir

pula dalam hati, “Aaaai, orang ini benar-benar aneh dan binal, tentunya ia sudah terbiasa dengan

wataknya sedari kecil, bila aku mesti bersungguh-sungguh terhadap dirinya, nihil juga akhirnya.”

Berpikir demikian lenyaplah sudah semua amarahnya, tapi untuk menjaga gengsi ia tak sudi

menunjukkan perubahan sikap secepat itu, sambil mencibirkan bibirnya kembali ia mendengus.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

67

“Hmm Kau anggap nonamu bisa dipermainkan seenaknya? Hari ini kau harus memberikan

keadilan kepadaku.”

Sikap Hoa In-liong yang sebentar bersungguh-sungguh sebentar tidak ini sebenarnya terselip

tujuan tertentu, sungguh girang hatinya ketika ia lihat siasatnya termakan, maka sambil maju ke

depan ujarnya, “Nona, simpan dulu kaitan kemalamu itu, bagaimana kalau kita bicarakan

persoalan ini secara perlahan-lahan?”

Setibanya di hadapan Wan Hong-giok. dia ambil oper senjata kaitan itu dan menggantungkan di

atas pelana, semua gerak-geriknya lembut tapi cekatan seperti orang yang ketakutan, seperti

juga orang yang bersungguh-sungguh, tapi sikapnya itu justru mendatangkan suatu daya pikat

yang istimewa dalam pandangan nona baju merah itu.

Benar juga, Wan Hong-giok segera merasakan jantungnya berdebar keras, ia merasa pemuda

itu makin menarik dan mempesonakan hatinya, sehingga tanpa terasa lagi dia mengerling

sekejap ke arah pemuda itu.

Indah sekali kerlingan mata nona tersebut, apalagi oleh seorang dara cantik jelita yang

berperawakan menawan hati, melihat itu Hoa In-liong merasa kegirangan, serta-merta gerakgeriknya

lebih lembut dan lebih bersungguh-sungguh.

Menggunakan kesempatan itu dia maju menghampiri sang nona dan merangkul pinggang yang

lembut, kemudian bisiknya lirih, “Nona, mari kita duduk disana, kita berbicara lagi di tempat yang

rindang itu.”

Wan Hong-giok yang pinggangnya dirangkul seketika merasa adanya aliran listrik yang

menembusi semua organ tubuhnya, nona itu berdebar keras dan tak tahu musti gugup atau

bergirang hati.

Dengan wajah tersipu ia coba menggeliat, tentu saja menggeliat secara pura-pura, lalu sambil

mengerling genit omelnya, “Aaah, bagaimana sih kamu ini? Bersikaplah sok sopan, aku toh

bukan kekasihmu, kenapa kau rangkul aku sekencang ini?”

Dalam hati Hoa In-liong merasa geli, namun ia tidak mengucapkan sepatah katapun, dengan

masih merangkul nona itu mereka berjalan menuju ketepi sebuah batu gunung.

Hawa khas dari seorang laki-laki membuat Wan Hong-giok serasa mabuk. la merasa tubuhnya

jadi hangat dan nyaman, enggan rasanya untuk menampik rangkulan tersebut, ta sadar dia

mengikuti juga kepergian pemuda itu untuk duduk di tepi batu cadas.

Sekalipun sudah duduk Hoa In-liong masih juga merangkul pinggangnya namun ia tidak

melakukan tindakan selanjutnya, kecuali memandang wajah nona itu sambil tersenyum.

Ditatap lekat-lekat oleh pemuda setampan itu merah juga selembar wajah Wan Hong-giok

serunya dengan suara tersipu-sipu, “Eeeh, kamu ini benar-benar tak sopan, kenapa merangkul

melulu tanpa berbicara?”

“Nona terlampau cantik, aku jadi terkesima rasanya,” sahut sang pemuda sambil tertawa.

Tidak menunggu Wan Hong-giok melanjutkan kata-katanya sudah menghela napas panja sambil

berkata lagi, “Nona, tahukah engkau bahwa aku sedang berada dalam keadaan bahaya?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

68

“Apa sangkut pautnya urusanmu dengan aku? Kenapa engkau menuduhku sebagai begal kuda?”

tukas sang nona dengan dahi berkerut.

Hoa In-liong gelengkan kepalanya berulang kali.

“Jangan nona anggap serius perkataanku itu,” katanya, “aku hanya bergurau saja denganmu.”

“Hmm Dan kau ingin minta maaf kepadaku agar aku bisa mengampuni dirimu??” Hoa In-liong

tertawa getir.

“Bergembiralah hatiku bila nona bersedia mengampuni aku, tapi kalau nona tidak sudi memberi

ampun, terpaksa aku harus menantikan hukumannya,” ia menjawab.

Wan Hong-giok betul-betul dibuat kehabisan akal menghadapi pemuda itu, akhirnya setelah

termenung sebentar sahutnya, “Baiklah Coba kau terangkan dulu kesulitan dan mara bahaya

apakah yang sedang kau hadapi?”

“Aku sedang melaksanakan suatu tugas yang sangat berat, setiap saat aku harus berjaga-jaga

terhadap sergapan musuh yang ingin mencelakai jiwaku.”

“Aku lihat usiamu sebaya dengan aku, tugas berat apa yang sedang kau lakukan? Harus berjaga

jaga pula terhadap sergapan dari siapa??” Hoa In-liong menghela nafas panjang, ia menjawab,

“Tiap orang mempunyai keadaan lingkungan yang berbeda, sejak kecil nasibku jelek, sekarang

aku punya rumah tapi tak bisa kembali, akupun tak tahu pula siapa musuh besarku, setiap hari

harus luntang-lantung tanpa tujuan sambil berjaga-jaga atas sergapan musuh yang akan

mencelakai jiwaku betapa menderitanya aku ini.”

Pemuda itu tak tahu siapa gerangan Wan- Hong giok ini, dan diapun kuatir kalau nona baju

merah ini adalah satu komplotan dengan musuhnya maka ia berusaha untuk merahasiakan asalusul

dengan mengarang suatu cerita bohong yang melukiskan betapa sengsara dan

menderitanya kehidupannya selama ini.

Wan Hong-giok merasa simpatik dan ikut beriba hati oleh nasib jelek pemuda itu, tanpa terasa ia

bergumam seorang diri, “Musuh dalam kegelapan dan kita ada ditempat terang, untuk menjaga

diri memang susah rasanya.”

“Benar” sambung Hoa In-liong, “coba bayangkanlah nona, kemarin malahan kudaku ini masin

berada dirumah penginapan, tapi sekarang tiba-tiba nona memakainya untuk datang kemari,

setelah menyaksikan kesemuanya ini, bagaimana aku tidak kuatir kalau rahasiaku sudah bocor

dan ketahuan musuh….”

“Jadi kalau begitu, kau telah menganggap aku sebagai musuhmu?” seru Wan Hong-giok

tertegun.

“Waktu berjumpa untuk pertama kalinya tadi aku memang curiga,” sahut pemuda itu berterus

terang, “tapi sekarang aku sudah mengerti.”

Wan Hong-giok tak dapat memberi penjelasan maka ia segera membantah dengan lantang. “Aku

tak mungkin adalah musuhmu, kuda ini kudapatkan karena hadiah dari orang lain.”

“Aku mengerti,” sahut Hoa In-liong sambil mengangguk, “dan aku curiga kalau orang yang

menghadiahkan kuda ini kepadamu itulah musuhku.”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

69

Wan Hong-giok tertegun, lama sekali ia baru berseru, “Aaah, tak mungkin sebab orang itu adalah

suhengku sendiri.”

Hoa In-liong pun tersenyum.

“Kalau begitu kakak seperguruanmu itulah si begal kuda yang kumaksudkan…”

Baru saja ucapan tersebut diutarakan, tiba-tiba terdengar seseorang membentak dengan penuh

kegusaran, “Bocah keparat, jangan sembarangan menuduh, bicaralah yang agak tahu sopan.”

Suara itu muncul dari belakang mereka, meski demikian Hoa In-liong tidak nampak gugup atau

terkejut, ia malahan berkata dengan tawa, “Saudara, semestinya kau harus sudah munculkan diri

semenjak tadi.”

Ketika orang itu munculkan dirinya dari tempat persembunyian, dengan alis mata berkenyit Wan

Hong-giok sebera menegur ketus, “Ooooh rupanya kau sudah datang kemari sejak tadi, kenapa

tidak segera munculkan diri melainkan hanya bersembunyi melulu?”

orang itu adalah seorang pemuda tampan yang berdandan sebagai seorang pelajar, dibawah

pinggangnya tersoren sebilah pedang antik yang berwarna coklat, pada mulanya dia muncul

dengan wajah penuh kegusaran, tapi setelah ditegur oleh Wan Hong-giok sambil tertawa cengarcengir

jawabnya tergagap, “Aku…..aku Gi-heng….”

“Hmm sekalipun tidak kau katakan aku juga tahu!” seru Wan Hong-giok sambil mendengus,

“terus terang kuberitahukan kepadamu lebih baik kau tak usah mengurusi semua tindak

tandukku karena kau tidak berhak untuk mencampurinya.”

Seraya berkata nona itu sengaja menggeserkan badannya sehingga duduk makin rapat disisi Hoa

In-liong.

Perbuatannya itu kontan saja menggusarkan hati pemuda sastrawan tersebut, api cemburu

membakar hatinya, namun ia tidak sampai mengumbar hawa amarahnya.

“Sumoay!“ serunya setelah termenung sebentar “tahukah kau, siapi gerangan bocah keparat

itu?”

“Hmm Perduli amat siapakah dia, mau apa kau turut campur? Lebih baik janganlah merecoki aku

terus.”

Hoa In-liong sendiripun tetap duduk tenang tanpa bergerai katanya pala dengan nada datar,

“Aku bernama Pek Khi, tolong tanya siapa namamu??”

Terhadap Wan Hong-giok. pemuda sastrawan itu memang munduk-munduk ketakutan, tapi

terhadap orang lain dia bersikap angkuh dan tinggi hati, sepasang matanya langsung melotot

ketika mendengar ucapan itu, bentaknya, “Benarkah engkau bernama Pek Khi??”

Hoa In-liong tersenyum, “Kalau bukan bernama Pek-Khi, lantas menurut pendapat saudara

siapakah namaku?” ia balik bertanya.

Pemuda itu mendengus dingin, sambil berpaling kepada Wan Hong-giok serunya, “Sumoay,

bocah keparat ini sengaja sedang membohongimu, dia adalah teji dari keluarga Hoa di bukit Imtiong-

san, bernama Hoa Yang.”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

70

Agak tertegun Wan Hong-giok mendengar perkataan itu, sepasang matanya terbelalak semakin

besar dan menatap wajah Hoa In-liong tak berkedip. agaknya ia merasa kaget bercampur curiga

nampak pula mendongkol dan gusar, pokoknya perasaan hatinya waktu itu bercampur aduk dan

sukar dilukiskan dengan kata-kata. Hoa In-liong tertawa, katanya lagi, “Aku tidak merasa pernah

berkenalan dengan saudara, tapi engkau dapat menyebutkan namaku secara jelas, ini berarti

bahwa engkau menaruh maksud tertentu padaku pula, sekarang aku Hoa teji justru ingin minta

petunjuk darimu.”

Memang inilah yang diharapkan pemuda tersebut, maka ia langsung mencabut keluar pedangnya

dan berkata dengan dingin.

“Hayo majulah sauyamu bernama Siau Ciu, aku memang ingin menjajal kepandaian silatmu.”

Tiba-tiba Wan Hong-giok bangkit berdiri seraya membentak, “Tunggu sebentar, aku hendak

menanyai dirinya lebih dulu.”

Sambil putar badannya menghadap ke arah Hoa In-liong. ujarnya lebih lanjut, “ Hayo jawab

mengapa kau bohongi aku? mengapa tidak menyebutkan nama aslimu? apakah Wan Hong-giok

tidak pantas untuk barkenalan dengan Hoa Yang….”

Hoa In-liong bersikap serius dan tersenyum sahutnya, “Nona bernama Hong-giok, karena itu

akupun menyebut diriku sebagai Pek Khi, sebab hakekatnya Pek Khi maupun Hong-giok adalah

benda-benda mustika yang berharga, orang bilang bunga meski tidak indah namun ia akan lebih

indah bila berdaun hijau, dan Hong-giok akan bertambah mahal bila diimbangi dengan Pek Khi,

nona masakah kau belum memahami perasaan hatiku? Jika nona menegur aku karena soal itu,

maka engkau salah menegur diriku ini.”

Meski diluaran ia berbicara demikian, otaknya berputar keras memikirkan masalah yang

dihadapinya ia berpikir, “Bocah keparat ini bernama Siau Ciu, dan membegal pula kudaku dari

rumah penginapan, kemungkinan besar dialah yang disebut Ciu-kongcu oleh nona berbaju hitam

itu…. aaah, susah payah kucari jejak mereka tak tahunya bisa ditemukan secara kebetulan, apa

salahnya kalau kugunakan sedikit akal muslihat untuk menyelidiki siapa gerangan yang berada

dibalik layar dalam peristiwa ini?”

Sementara Hoa In-liong masih berpikir sampai disitu, tiba-tiba terdengar Siau Ciu berkata sambil

tertawa terbahak-bahak, “Haaahhh….haaahhh….Hoa teji, apa gunanya kau ngaco belo sambil

merayu dengan kata-kata yang manis? Apakah kau hendak menipu perasaan cinta dari

sumoayku?”

Baru ia selesai berbicara, Wan Hong-giok telah membentak nyaring, “Hey, siapa yang suruh kau

campuri urusanku? Sana, berdiri agak kejauhan!” sambil berkata ia lantas mendorong Siau Ciu

agar mundur ke belakang.

Menggunakan kesempatan itu, Hoa In-liong lantas menyindir sambil tertawa tergelak,

“Haaahhh…. haaahhh…. haaahhh anjing menggigit tikus, Itulah akibatnya kalau suka

mencampuri urusan orang lain, akhirnya siu-heng sendiri yang terbentur pada batunya.”

Tampaknya cinta kasih Siau Ciu terhadap Wan Hong-giok sudah mendalam sekali, sehingga

meski dibentak-bentak dan dicaci maki dihadapan orang, ia tidak merasa gusar

Tapi begitu Hoa In-liong menyindir dengan kata-kata yang pedas, Ia tak kuat untuk menguasai

lagi.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

71

Secepat kilat tubuhnya berkelebat ke depan begitu terhindar dari penghadangan telapak tangan

Wan Hong-giok. serta-merta pedangnya dicabut keluar dan langsung menusuk ke dada lawan.

“Keluarga Hoa tak ada manusia cerewet macam kau!” bentaknya, “Sambutlah sebuah tusukan

maut dari sauyamu!”

Hoa In-liong tertawa nyaring, ia berkelit ke samping lalu menjawab, “Jika siau-heng ingin

bertempur, aku dapat melayani dirimu dengan senang hati, tapi jawab dulu mengapa kau curi

kudaku ini? Bagaimanapun kau toh musti memberi keadilan dulu kepadaku.”

“Telur busuk. siapa yang telah mencuri kudamu?” teriak Siau Ciu dengan gusar.

Pedangnya langsung dibabat ke depan dengan jurus giok-tay-wi-yau (ikat pinggang kemala

mengelilingi bidadari) hebat sekali serangan tersebut dan penuh disertai tenaga dalam yang

hebat.

Hoa In-liong adalah keturunan seorang pendekar besar, ilmu silat yang dimilikinya belajar

langsung dari Hoa Thian-hong, padahal Hoa Thian-hong adalah seorang pendekar tanpa

tandingan yang lihay dalam ilmu pedang, tentu saja secara otomatis Hoa Loji lihay juga dalam

ilmu pedang.

Maka dari itu ketika Siau Ciu menyerang untuk kedua kalinya dengan babatan mendatar, ia

lantas mengetahui bahwa jurus serangan yang akan digunakan lawannya adalah jurus Giok tay

wi yau sebab itulah tanpa berpikir panjang lagi, ia mengigos ke samping kiri, siapa tahu, baru

saja badannya bergerak meninggalkan posisi semula mendadak ia merasa gerak pedang musuh

sangat aneh dan mencurigakan, bukannya terlepas dari ancaman tersebut, tubuhnya malahan

menyongsong tibanya ujung pedang Siau Ciu.

Kejadian ini sangat mengejutkan hatinya dalam, kagetnya peluh dingin sempat membasahi

tubuhnya, buru-buru ia putar pinggang sambil melejit dengan gerakan ikan leihi meletik secara

beruntun ia berjumpalitan beberapa kali di angkasa dan melayang turun satu kaki jauhnya dari

tempat semula, nyaris tubuhnya termakan oleh babatan pedang lawannya itu.

Apa yang sebenarnya telah terjadi? Rupanya Siau Ciu bertangan kidal, ia menyerang dengan

menggunakan tangan kiri, dengan sendirinya ilmu pedang yang digunakan pun merupakan ilmu

pedang tangan kiri.

Sewaktu membacok atau menusuk ke depan, baik tangan kiri maupun tangan kanan tak jauh

berbeda, tapi untuk membacok ke samping kiri atau ke kanan maka jurus pedangnya justru

berlawanan dengan pedang biasa, Hoa In-liong tidak menduga sampai ke situ, maka karena

teledornya hampir saja ia terjebak oleh tipu muslihatnya musuhnya.

Setelah melayang turun ke atas tanah dan berhasil menenangkan hatinya, Hoa In-liong baru

merasa curiga, pikirnya dalam hati, “Aneh, benar-benar sangat aneh, ayah telah memberi

penjelasan yang amat seksama terhadap tiap ilmu pedang yang berada di kolong langit, apa

sebabnya ia tak pernah membicarakan tentang ilmu pedang tangan kiri? Darimana orang she

Siau ini mempelajarinya? “

Sementara ia masih termenung, cahaya pedang tiba-tiba menyambar lagi dengan dahsyatnya,

ternyata Siau Ciu telah memburu datang sambil melancarkan bacokan kilat.

“Hoa teji, lihat serangan!” demikianlah ia membentak.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

72

“Sungguh cepat dan lihay ilmu pedangnya “ puji Hoa In-liong dalam hati, kali ini ia tak berani

berayal lagi, cepat tubuhnya melejit dan menyelinap ke belakang tubuh Siau Ciu, setelah itu

sambil tertawa nyaring katanya, “Haaahh haaahh haaaahh main golok main pedang hanya akan

mengakibatkan retaknya hubungan persaudaraan, memandang di atas wajah nona Wan, asal

Siau-heng bersedia untuk menerangkan mengapa kau curi kudaku itu, kita boleh berjabatan

tangan sambil berdamai.”

“Keparat siapa yang kesudian berjabatan tangan sambil berdamai dengan engkau?” teriak Siau

Ciu marah.

Pedangnya dicutar mengikuti gerakan tubuhnya sekali lagi dia menyerang dengan gencar.

“Sekalipun kau tak berani mencabut pedangmu aku sama juga bisa membinasakan dirimu,

sampai waktunya jangan kausalahkan kalau aku bertindak keji lagi!” kembali dia berseru.

Serangan demi serangan dilancarkan makin gencar dan kuat, semuanya mendepak Hoa In-liong

habis-habisan, tampaknya sebelum pemuda lawannya itu berhasil dibasmi, ia tidak merasa puas.

Hoa In-liong sendiri sambil berkelit kesana ke mari, pikirnya dalam hati, “ orang ini berulang kali

tak mau mengakui bahwa dialah yang mencuri kudaku, sebaliknya selalu berusaha untuk

membereskan nyawaku, tampaknya orang inilah ketua regu dari perkumpulan Hian-beng-kau

yang sedang melaksanakan tugas perintah padahal sekarang aku butuh untuk menyelidiki duduk

perkara yang sebenarnya serta mencari tahu siapa pembunuh sebenarnya, bila tidak ku

demontrasikan kelihayanku, niscaya usahaku ini akan sia-sia belaka.”

Karena berpikir demikian, ia lantas mengambil keputusan dalam hati, lengan kanannya diterobos

keluar untuk mencabut keluar pedangnya, kemudian, sreet sreet seret! secara beruntun dia

lepaskan tiga buah serangan berantai untuk membendung ancaman Siau Ciu.

“Saudara!“ bentaknya ketus, “kalau engkau masih saja tidak tahu diri jangan salahkan kalau aku

Hoa-loji akan suruh kau merasakan kelihayanku kemudian baru akan kulihat apa yang bisa kau

katakan lagi.”

Gaya serangan itu demikian rapat dan penuhnya seakan-akan hendak menyelimuti seluruh jagad

yang ada dihadapannya, begitu dimainkan terasalah angin pedang mendesis, suara guntur dan

hembusan angin puyuh menyertai setiap gerakan anak muda itu.

Ilmu pedang dari Siau Ciu aneh, sakti dan luar biasa, tapi setelah berhadapan dengan jurus

serangan yang begitu dahsyat dari musuhnya, seketika terasalah suatu perbedaan yang

menyolok.

Tiga jurus kemudian, Hoa In-liong menghentikan gerak tubuhnya lalu membentak nyaring, “Hayo

bicara Kau mendapat perintah dari siapa untuk membunuh Suma siokya ku?”

Tatkala serangan mendadak terbendung semua, dalam sangkaan siu Ciu hal ini disebabkan ia

kurang waspada. malu dan gusar langsung berkecamuk dalam dadanya, dia putar senjatanya

dan melepaskan sebuah tusukan lagi ke ulu hati lawannya dengan jurus hek hong-tou-sin

(harimau hitam mencuri hati).

“Apa itu perintah tidak perintah, yang diketahui sauyamu hanyalah bagaimana caranya untuk

mencabut jiwamu!” bentaknya.

“Traang!“

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

73

Hoa In-liong menangkis dengan pedangnya sehingga berbunyi nyaring, begitu ia punahkan

datangnya ancaman tersebut, segera ujarnya sambil mendengus, “Hmm Tampaknya sebelum

kuberi sedikit pelajaran kepadamu, kau tak akan mengakuinya dengan terus terang.”

Dalam bentrokan itu, Siau Ciu merasakan pergelangan tangannya bergetar keras dan hampir saja

pedangnya tak sanggup digenggam. Meski hatinya terkejut tapi api cemburu yang berkobar

dalam hatinya mengalahkan segala-galanya, tanpa berpikir panjang hawa murninya kembali

disalurkan ke dalam senjatanya.

“Tak ada gunanya bersilat lidah, kalau memang ampuh, sambut dulu tiga buah seranganku ini.”

bentaknya.

Tapi sebelum ucapannya selesai diutarakan keluar Hoa In-liong telah menyambung dengan suara

dalam, “Baik Dalam tiga gebrakan, aku akan memaksa kau untuk melepaskan pedangmu itu.”

Berbareng dengan selesainya ucapan tersebut, tubuh berikut pedangnya menerjang ke muka dan

sekejap kemudian sudah terjerumus dalam lingkaran cahaya pedang Siau Ciu.

Dalam permainan silat orang memang tak bisa berpura pura, maka berbareng dengan selesainya

ucapan itu, terjadilah tiga kali benturan pedang yang amat nyaring, disusul kemudian serentetan

cahaya putih meluncur ke angkasa kemudian meluncur ke arah sebatang pohon besar enam

tujuh kaki dari arena pertarungan, ketika menancap di atas dahan, gagang pedangnya masih

bergetar keras tiada hentinya.

Selesai memukul rontok senjata musuh, Hoa In-liong masukkan kembali pedangnya ke dalam

sarung kemudian sambil memandang Siau Ciu yang mundur dengan ketakutan, ujarnya tawa,

“Bagaimana? Apakah engkau masih ingin berkeras kepala terus??”

Siau Ciu terbelalak dengan mata lebar, dadanya turun naik dengan tiada beraturan, dapat

diketahui bahwa ia merasa kaget bercampur gusar, sukar dilukiskan perasaan hatinya waktu itu.

Hoa In-liong mendengus dingin, kembali ujarnya, “Terus terang kukatakan kepada diri Siau-heng

bahwa aku Hoa-loji telah mendapat perintah dari ayahku untuk menyelidiki peristiwa yang

menimpa keluarga Suma hingga jadi terang, dan sampai sekarang engkaulah titik terang yang

berhasil kutemukan, mustahil aku Hoa teji bersedia untuk melepaskan engkau dengan begitu

saja, maka jika engkau cerdik dan pandai melihat gelagat, lebih baik berbicaralah terus terang,

kalau tidak. ..Hmm Hm Kendatipun aku berhati welas, akupun mempunyai kemampuan untuk

melakukan penyiksaan dengan ilmu Ngo-im-soh-hun (panca hawa dingin pembetot sukma) serta

Ban-gi-coan.sim (selaksa semut menerobos Hati) yang akhirnya toh bisa memaksa kau untuk

menjawab sejujurnya…. bagaimana? Kau lebih mendengarkan anjuranku ataukah tetap

bersikeras?” Siau Ciu memutar sepasang biji matanya, kemudian menjengek dengan nada dingin.

“Heeehh…heeehhh heeehh…. sudah lama kudengar keluarga Hoa dari bukit Im-tiong-san berbudi

luhur, berjiwa besar dan berpribadi seorang ksatria, tapi setelah bertemu hari ini, aku jadi ketawa

dan benar-benar kectawa sekali….”

“Eeeh, hati-hati kalau berbicara!” tukas Hoa In-liong memperingatkan, “jangan sembarangan

ngomong sehingga tidak akan sampai tersambar petir, Kalau sampai terjadi begitu, itu namanya

mencari penyakit buat diri sendiri..”

Siau Ciu mendengus dingin.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

74

“Hoa jiya, apakah kau hendak mengandalkan ilmu silatmu yang tinggi untuk memaksa orang

agar menuruti nasehatmu itu?”

Mula-mula Hoa In-liong agak tertegun, menyusul kemudian ia tertawa terbahak-bahak.

“Haaaahhh haaaahh…..haaaahh…. benar-benar selembar mulut yang tajam!” serunya, “tapi

sayang Siau-heng telah salah menilai atas diriku. Ketahuilah bahwa Hoa teji berbeda dengan

orang lain, menghadapi urusan apapun aku lebih menitik beratkan pada suksesnya tujuan yang

harus dicapai daripada segala persoalan yang tetek bengek. Mau menilai aku jujur boleh saja,

mau menilai aku tak tahu diri juga silahkan, aku tak akan ambil peduli apalagi memikirkan dihati,

mengerti saudara Siau?”

Tercekat juga perasaan hati Siau Ciu setelah mendengar perkataan itu, tapi dia terhitung seorang

pemuda yang berjiwa panas juga, tentu saja tak sudi menyerah begitu saja, maka setelah

berhenti sebentar sahutnya ketus, “Aku sudah mengerti, dan soal membegal kuda maupun

membunuh orang sauya sama sekali tidak tahu.”

“Benar?” teriak Hoa In-liong terperanjat, sinar tajam memancar keluar dari matanya.

Tiba-tiba Siau Ciu menengadah lalu mendengus.

“Hmm Akupun ingin memberitahukan kepada Hoa-heng, meski aku orang she-Siau tidak

mempunyai asal usul yang tersohor, tidak memiliki ilmu silat yang menggetarkan sukma, tapi aku

mempunyai sifat yang angkuh, apa yang kuucapkan tak pernah diputar balikkan dari kenyataan.”

“Haaaah haaaah haaaah……bagus, bagus sekali,” Hoa In-liong terbahak-bahak, “lunak tidak

diterima, keras tak ditakuti, kau memang laki-laki sejati. Nah, berhati-hatilah……”

Sebagai keturunan manusia, dalam darah yang mengalir dalam tubuh Hoa In-liong terdapat

kejujuran dan kepolosan Hoa-Thian-hong, namun terdapat pula kekejaman serta kecerdikan Pek

Kun-gi, seringkali perbuatan yang akan dilakukan olehnya menyimpang dari keadaan yang

berlaku pada umumnya.

Pada saat itu lengan kanannya sudah diangkat,juri tangannya seperti tombak yang keras

ditunjukkan ke depan sementara tubuhnya selangkah demi selangkah maju mendekati tubuh

Siau Ciu.

Gaya serangan dari jari tangannya yang kaku seperti tombak itu aneh dan tidak umum, jari

telunjuknya diluruskan ke depan sementara jari tengahnya ditekuk keadaan ini aneh sekali.

Pada hakekatnya inilah jurus pembukaan dari ilmu Ci yu-jit-ciat (tujuh kupasan dari Ci-yu), ketika

Hoa-Thian-hong baru mempelajarinya belum lama tempo- hari, dengan kepandaian tersebut ia

bisa membuat Yan-san-it-koay dari perkumpulan Hong-im-hwee yang amat tangguh itu pontangpanting

tak karuan (untuk mengetahui cerita ini silahkan membaca: Bara-Maharani) .

Maka ketika dipraktekkan oleh Hoa In-liong sekarang, segera terlihatlah betapa kacau dan

banyak raganya tipu muslihat dibalik serangan tersebut. Tampaknya Siau Ciu tak akan lolos dari

serangan maut tersebut.

Tiba-tiba terdengar Wan Hong-giok berteriak dengan suara gemetar.

“Pek-Khi, Pek hey, tahan Tahan Jangan kau lancarkan serangan itu.”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

75

Sesosok bayangan merah dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat telah menerjang maju ke

depan

Hoa In-liong sebera menarik kembali serangannya, dan sekali sambar ia telah merangkul

bayangan merah itu ke dalam pelukannya. “Ada apa?” tegurnya, “perkataan apalagi yang hendak

kau ucapkan keluar?”

Wai- Hong- giok tidak menjawab pertanyaan itu sambil meronta untuk melepaskan diri dari

rangkulan orang, ia berpaling dan serunya dengan gelisah.

“Siau suheng, katakanlah terus terang, apa gunanya kau pikul dosa bagi kepentingan orang lain.”

Penonton biasanya lebih jelas daripada pelakunya, demikian pula halnya dengan Wan Hong-giok

oleh karena pertama ia terdesak oleh hubungannya sesama perguruan, ketika menyaksikan sikap

Hoa In-liong yang aneh dan ilmu silatnya yang tinggi itu, jika serangan tersebut dilancarkan Siau

Ciu benar-benar akan menderita siksaan besar. Kedua mungkin juga nona ini mengetahui lebih

jelas duduknya persoalan, dan ia merasa tak ada gunanya “memikul dosa demi kepentingan

orang lain”, ini berarti pula bahwa dibalik ke semuanya itu masih terdapat hal-hal yang tidak

beres.

Ketika mendengar ucapan itu, Hoa In-liong segera jadi curiga, dengan tatapan mata setajam

sembilu dia mengawasi Siau Ciu tanpa berkedip. ia sedang menantikan jawabannya.

Apa mau dikata Siau Ciu mempunyai rasa cemburu yang sangat besar, kunci terpenting dalam

masalah ini terletak pada Wan Hong-giok seorang. Andaikata nona itu tidak buru-buru menubruk

ke depan sehingga dirangkul Hoa In-liong ke dalam pelukannya, mungkin perubahan yang terjadi

agak lebih sederhana.

Tapi sekarang, setelah Wan- Hong giok terjatuh dalam pelukan mesra laki-laki lain, hawa

cemburu yang terkobar dihati Siau Ciu semakin menebal, dan sikapnya pun jauh diluar dugaan

pula.

Siau Ciu berparas tampan dan menarik. diapun berpandangan picik, terlampau menuruti emosi.

Meski asal usul dari ilmu pedang tangan kirinya merupakan suatu teka-teki, namun yang pasti

ilmu silatnya terhitung kelas satu dalam dunia persilatan.

Dia adalah saudara seperguruan dengan Wan Hong-giok dan boleh dibilang sepasang sejoli yang

amat cocok. sayang Wan Hong-giok tidak tertarik oleh suhengnya ini dan setiap kali justru

berusaha untuk menghindari kejaran dari kakak seperguruannya ini.

Untuk kegiatannya itu, Siau Ciu merasa sangat penasaran, apalagi sekarang setelah dilihatnya

Hoa In-liong berparas tampan, asal usulnya populer dan ilmu silatnya lebih tinggi ditambah pula

sumoaynya tidak menolak waktu dirangkul, sebagai seorang pemuda yang berpandangan picik,

tentu saja keadaan ini tak dapat diterima dengan begitu saja olehnya.

Meski demikian sebagai orang yang berpikiran panjang dan mempunyai banyak tipu muslihat, tak

sudi ia utarakan ketidaksenanganya itu dengan jelas, otaknya berputar kemudian ujarnya dengan

dingini “Sumoay, ku suruh aku mengatakan apa?”

“Supek telah berusia lanjut, di hari-hari biasa beliau selalu melarang suheng untuk jauh

meninggalkannya, tapi kali ini demi siaumoay kau telah melanggar perintah guru dan mengejar

ke daratan Tionggoan, aku tahu bahwa engkau tidak mempunyai sangkut pautnya dengan

peristiwa berdarah yang menimpa keluarga Suma….”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

76

“Jadi sumoay sudah tahu perasaan hatiku?” seru Siau Ciu dengan suara hambar.

“Tentu saja su-moay tahu,” sahut Wan Hong-giok dengan kening dikerutkan, “tapi….tapi….”

“Hmm…… Kalau sumoay sudah tahu itu lebih baik lagi, mari kita pulang ke rumah.”

Wan Hong-giok tidak segera menjawab, dia melirik sekejap ke arah Hoa In-liong, ketika

dilihatnya pemuda itu sedang mengawasi Siau Ciu tanpa berkedip, ia lantas mengira bahwa

pemuda itu sedang mengawasi gerak-gerik kakak seperguruannya.

Dengan hati yang amat gelisah segera katanya, “Tidak bisa Kita tak boleh pulang dengan begitu

saja, Hoa kongcu menaruh kesalahan paham terhadap suheng, ia mengira kau mencuri kudanya

dan membinasakan pula Suma siok-nya, maka sudah sepantasnya jika suheng memberi

penjelasan, kepadanya agar perselisihan dapat dihindari, selain menghilangkan kesalahan paham

tersebut kitapun tak akan mengganggu usaha Hoa kongcu untuk menyelidiki pembunuh yang

sebenarnya.”

Maksud nona itu dengan perkataannya ini antara lain kesatu, ia memberi kisikan kepada Hoa Inliong

bahwa apa yang telah terjadi hanya suatu kesalahpahaman, kedua diapun hendak

menghilangkan bibit bencana bagi Siau Ciu.

Bagi Hoa In-liong yang berpikiran lebih luas, tentu saja maksud tersebut dapat diterima olehnya

berbeda dengan Siau Ciu, ia sudah terpengaruh oleh nafsu cemburu, arti diri kata-kata itu justru

di maksudkan sebaliknya.

Diam-diam ia mendengus dingin, pikirnya, “Bagus! Rupanya kalian sudah seia sekata, sampai

dalam pembicaraanpun saling membela. Hmmm sekalipun aku Siau Ciu tak berhasil

mendapatkan kau, jangan harap kaupun bisa mendapatkan bocah keparat she-Hoa itu, tunggu

saja tanggal mainnya.”

Meski dalam hati kecilnya sudah timbul niat jahat, perasaan tersebut tidak dicerminkan di atas

wajahnya, malahan sambil berlagak apa boleh buat ia berkata, “Aaaah baiklah, mari kita

berjabatan tangan dan damai saja.”

Sambil merangkap tangannya, dia lalu menjura ke arah Hoa In-liong dari tempat kejauhan.

Hoa In-liong sendiripun dari pembicaraan tersebut dapat menarik kesimpulan bahwa Siau Ciu

baru datang ke daratan Tionggoan, itu berarti bahwa ia tak mungkin ada sangkut pautnya

dengan peristiwa berdarah yang menimpa keluarga Suma, ia pun lantas menduga bahwa dirinya

memang sudah menaruh rasa salah paham, siapa tahu kalau kuda Liong-jinya bisa terjatuh ke

tangannya lantaran sebab-sebab lain??

Kendatipun dia binal dan tak tingkah lakunya, tapi kegagahan serta kebesaran jiwa keluarga Hoa

menurun pula dalam darahnya.

Karena berpendapat demikian, dan lagi Siau Ciu sudah memberi hormat dan bersedia berjabatan

tangan untuk damai, dengan langkah lebar dia lantas menyongsong pemuda tersebut.

“Haah….haaaaah haaaahhh….. bagus…. bagus….. bagus….. Mari kita berjabatan tangan untuk

damai,” katanya sambil tertawa tergelak, “asal Siau-heng bersedia untuk menuturkan hal ikhwal

waktu mendapatkan kuda ini, siaute segera akan mengakhiri persoalan hampai disini saja,

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

77

apalagi kalau aku bisa menemukan jejak musuhku dari pembicaraan tersebut, siaute akan lebihlebih

merasa berterima kasih lagi.”

Seraya berkata ia lantas mengulur tangan kanannya dan siap menggenggam tangan Siau Ciu.

Sekilas senyum licik menghiasi ujung bibir Siau Ciu, katanya pula dengan berlagak pilon,

“Benarkah engkau akan menyudahi persoalan ini sampai disini saja, bila kuterangkan kisah yang

sebenarnya?”

Diapun menjulurkan tangannya untuk menyambut telapak tangan lawannya. Ketika dua tangan

saling bertemu, Hoa In-liong manggut-manggut berulang kali.

“Tentu saja, tentu saja siau-te sudah salah menuduh, harap Siau-heng bersedia memaafkan “

Belum habis ucapan tersebut diutarakan, tiba-tiba terdengar Wan Hong-giok menjerit lengking.

“Hei…hati-hati…”

Menyusul teriakan tersebut, bayangan saling menggumul dan salah seorang diantaranya

melancarkan sebuah tendangan yang mengakibatkan orang yang lain mencelat jauh ke belakang.

“Sungguh keji perbuatanmu.” teriakan keras- menggema di angkasa.

Wan Hong-giok sangat terkejut, sambil menjerit buru-buru dia lari maju ke depan.

“Siau Ciu memang berhati busuk. rupanya pada jari tengah tangan kanannya mengenakan

sebuah cincin yang besar, ruang tengah dari cincinnya itu kosong dan bersembunyi jarum

beracun.

Ketika saling berjabatan tangan tadi, diam-diam ia telah memencet tombol rahasianya siap

membidikkan jarum-jarum mautnya.

Hoa In-liong sama sekali tak menduga sampai kesitu, maka ketika tangan mereka saling

berjabatan tangan mendadak tangan kirinya diangkat menyodok iga kanan musuhnya sementara

jarum maut itu dibidikkan keluar.

Sebenarnya menurut keadaan pada waktu itu, semestinya tiada kesempatan bagi Hoa In-liong

untuk meloloskan diri, apa mau dikata perhitungan manusia tak menangkan perhitungan langit,

Wan Hong-giok segera menyadari kelicikan suhengnya dan Hoa In-liong pun cekatan dan amat

cerdik sekali.

Begitu mendengar jeritan, cepat ia memburu maju ke depan, tubuhnya membungkuk dan

telapak tangan kanannya ditekan ke bawah, sementara kaki kanannya tiba-tiba diangkat ke atas

dan menendang tubuh Siau Ciu keras-keras.

Dldalam serangannya itu, ia lancarkan dalam keadaan gusar dan bertenaga besar, Iagipula tepat

menghajar iga sebelah kirinya, seketika itu juga tubuh Siau Ciu mencelat ke tengah udara tulang

iganya patah dua biji, isi perutnya menderita luka parah dan tak bisa dicegah lagi sambil muntah

darah tubuhnya roboh terjengkang di atas tanah dan tak mampu bangkit berdiri lagi.

Hoa In-liong masih penasaran, begitu berhasil menendang musuhnya sampai mencelat dia

segera melompat ke depan, dia siap memburu maju lebih jauh…

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

78

Untunglah Wan Hong-giok segera memburu ke depan, dia menangkap lengannya, ia berteriak

dengan perasaan ngeri, “Hoa kongcu, tunggu sebentar”

“ orang ini terlalu keji dan licik sekali hatinya Hoa teji tak dapat mengampuni jiwanya!” teriak

Hoa In-liong dengan amarah yang meluap-luap.

“Tapi yang penting periksa dulu apakah engkau sudah terkena jarum beracunnya?” kata Wan

Hong-giok dengan gelisah, “ ketahuilah bahwa racun yang terdapat di ujung jarum itu sangat

jahat dan tak ada obat penawarnya, bila sampai bertemu dengan darah maka jiwamu akan

terancam mara bahaya.” Hoa In-liong mendengus dingin.

“Hmmm Aku Hoa teji tidak mempan diracuni, apalagi jarum beracun macam itu, tak mungkin

bisa mengapa-apakan diriku….”

Lengan kanannya segera digetarkan siap melepaskan diri dari cengkeraman Wan Hong-giok, apa

mau dikata baru saja lengan kanannya digerakkan, ia segera merasakan sikutnya sudah

kesemutan dan kaku, lengan itu tak kuat rasanya untuk digerakkan kembali.

Waktu melancarkan sergapan tadi, Siau Ciu menyerang dari jarak yang sangat dekat, kendatipun

Hoa In-liong cukup cekatan dan tubuhnya terlindung oleh kaus kutang pelindung badan, namun

jarum lembut seperti bulu kerbau yang jumlahnya mencapai dua tiga puluh biting itu sukar di

hindari keseluruhannya, tanpa dirasakan olehnya bahwa ada empat- lima batang diantaranya

sudah menancap dibagian sikutnya.

Wan Hong-giok cukup memahami kelihayan dari racun jarum itu, ketika dilihatnya paras muka

Hoa In-liong agak berubah, ia jadi terperanjat dan buru-buru serunya.

“Bagaimana? Apakah lengan kananmu sudah tak dapat digerakkan lagi?”

Tiba-tiba Siau Ciu tertawa seram, lalu ujarnya pula dengan suara yang mengerikan, “Sumoay,

racun jarum perguruan kita amat lihay dan siapa yang terkena tak mungkin bisa ditolong lagi,

tunggu saja disitu untuk mengurusi layon Hoa loji.”

Dengan sempoyongan dia bangkit berdiri lalu kabur dari situ menuju ke arah utara.

Ketika mendengar seruan tersebut, Wan Hong-giok berpaling, ia saksikan paras muka Siau Ciu

pucat pias seperti mayat, noda darah membasahi dadanya, tak kuasa lagi ia bangkit dan

menyusul dari belakangnya.

“Suheng….Siau suheng… tunggulah aku!” teriaknya keras-keras.

Tapi baru lari sejauh dua kaki, tiba-tiba ia berhenti dan berpaling, teriaknya pula, “Hoa kongcu,

lenganmu….”

Sebelum kata-katanya sempit diutarakan keluar air mata bagaikan layang-layang putus

benangnya sudah mengucur ia menangis terisak.

Kasihan memang Wan Hong-giok. posisinya saat itu boleh dibilang serba salah, disatu pihak Siau

Ciu adalah kakak seperguruannya, dilain pihak Hoa In-liong adalah pemuda idaman hatinya, dan

sekarang kedua belah pihak sama-sama terluka, ia jadi bingung dan apa yang harus dilakukan,

menolong kakak seperguruannya ataukah menolong pemuda pujaan hatinya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

79

Hoa In-liong segera menghela napas panjang setelah melihat nona itu menangis terisak. katanya

sambil mengulapkan tangan, “Pergilah suhengmu menderita luka parah yang cukup parah, pergi

dan rawatlah dia.”

“Dan kau….” bisik Wan Hong-giok sambil menahan isak tangisnya. Hoa In-liong tertawa tawa.

“Aaah… racun jarum itu tak seberapa hebat, tak nanti bisa mencelakai jiwaku,” katanya.

Tapi Wan Hong-giok masih juga menangis tersedu.

“Jarum beracun itu terbuat dari sembilan buah racun lebah ditambah tujuh jenis tumbuhtumbuhan

berbisa, bila terkena darah maka tubuh manusia yang terkena akan segera mencair”

“Haaahh…,haaahhh,….haaahh…. kalau bisa mencair tubuhku telah mencair sedari tadi. Pergilah

Kalau tidak berangkat mulai sekarang, kau akan gagal untuk menyusul dia lagi.”

Wan Hong-giok kembali tertegun, dia menatap wajah anak muda itu tajam-tajam, ditemuinya

senyum manis masih menghiasi wajah, kecuali lengan kanannya agak lumpuh, di atas paras

mukanya tidak ditemukan gejala lain yang mencurigakan.

Menyaksikan kesemuanya itu ia jadi setengah percaya setengah tidak. akhirnya rasa kuatirnya

terhadap Siau Ciu mengalahkan segala galanya, maka bisiknya dengan lirih, “Kalau begitu, baikbaiklah

menjaga diri……”

Hoa In-liong ulapkan tangannya berulang kali.

“Aku bisa menjaga diriku sendiri, justru kaulah yang harus bersikap mesra terhadap suhengmu,“

katanya sambil tertawa.

Rasa murung dan sedih terpancar keluar dari balik tatapan mata Wan Hong-giok, bibirnya

bergetar seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi akhirnya maksud itu dibatalkan, mendadak

ia putar badan dan berlalu dari tempat.

“Nona Wan,” tiba-tiba Hoa In-liong memanggil lagi.

Wan Hong-giok segera berhenti dan berpaling.

“Ada apa?” tanyanya lirih.

“Suhengmu telah lupa membawa pergi pedang pusakanya, bawakan pedang itu untuknya.

Wan Hong-giok menghela nafas sedih, ia berjalan ke bawah pohon besar itu dan mencabut

pedang mustika tersebut, setelah memandang sekejap kea-rah Hoa In-liong dengan tatapan

mesra, dia baru melanjutkan pengejarannya menuju ke arah mana Siau Ciu melenyapkan diri.

Saat itu tengah hari telah menjelang tiba, sang surya memancarkan sinarnya dari tengah-tengah

awang-awang.

Memandang bayangan punggung Wan- Hong giok yang lenyap di tempat kejauhan, Hoa In-liong

merasakan hatinya sedih dan murung, tak kuasa lagi dia bersenandung:

“Yang laki cinta apa daya yang perempuan tak tertawa:

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

80

sedih dan murung hatiku menyaksikan kesemuanya ini….

Bila hati telah bersatu padu,

biar mati-mati dengan hati yang tenang”

Akhirnya ia menghela napas panjang, setelah gelengkan kepalanya, memeriksa lengan kanannya,

perlahan-lahan anak muda itu naik ke punggung kuda Liong-ji dan kembali ke kota Lok yang.

KETIKA tiba kembali di kota Lok-yang, tengah hari sudah menjelang tiba, saat itu adalah waktu

orang bersantap siang, banyak sekali orang yang berlalu lalang masuk keluar dari dari rumah

makan, suasana ramai sekali.

Ketika sang pelayan menyaksikan Hoa In-liong telah kembali, buru-buru maju menyongsongnya,

sambil menerima tali les kuda ia berkata.

“Kongcu, kapan kau meninggalkan rumah penginapan? Ketika tidak melihat kongcuya bangun

kami tak berani mengganggunya, kemudian ketika menemukan kudanya sudah tiada, kami

membuka kamar tidur kongcu-ya, semua orang merasa lebih tercengang lagi setelah dilihatnya

tempat tidur masih teratur rapi dan buntalan masih ada disana.”

Hoa In-liong sedang murung dan kesal, ia tidak berniat untuk menjawab, setelah mendengus la

turun dari kudanya dan langsung masuk ke dalam rumah penginapan.

Pelayan itu menyerahkan kuda yang diterimanya itu kepada orang lain, kemudian mengejar ke

depan, katanya lagi, “Dikota ini banyak terdapat gadis-gadis cantik jelita yang menjual diri untuk

mencari sesuap nasi, meski paras mereka cantik jelita tapi selalu menganggap tingkatannya

rendah, kalau aku tahu bila kongcu-ya suka dengan hal ini, cukup kau memberitahukan

kepadaku, aku cu siau-cit pasti….”

Rupanya pelayan itu mengira kalau Hoa In-liong semalam tidak pulang ke rumah penginapan

karena sedang menghibur diri di rumah pelacuran, maka ia hendak menggunakan kesempatan

tersebut untuk mencari keuntungan pribadi. Apa mau di kata baru saja berbicara sampai ke situ,

mendadak dia temukan pakaian yang dikenakan tamunya tidak teratur dan lagi bagian dada

serta punggungnya telah robek. Ini menyebabkan dia jadi tertegun.

Segera tanyanya lagi dengan wajah keheranan, “Eeeh….Kongcu-ya, kenapa keadaanmu sangat

mengenaskan? Apa yang telah terjadi??”

Hoa In-liong jadi amat jemu dengan sikap pelayan ini, dengan agak mendongkol bentaknya,

“Aaah, kamu cerewet amat…..”

Kemudian setelah berhenti sebentar, tanyanya pula, “Apakah kemarin malam ada orang mencari

aku?”

Mula-mula pelayan itu agak tertegun karena di bentak, menyusul kemudian sambil

membungkukkan badannya ia menyahut, “Oooh… tidak ada, tidak ada….”

“Kalau begitu, kau tak usah cerewet lagi, sana siapkan santapan bagiku dan antar ke dalam

kamar”

Pelayan itu tak berani banyak bicara lagi, dia mengiakan berulang kali lalu mengundurkan diri

dari sana.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

81

Setelah membersihkan badan, seorang diri Hoa In-liong bersantap dalam kamarnya, sambil

bersantap tanpa terasa dia membayangkan kembali pengalaman yang ditemuinya semalam.

Pertama-tama ia membayangkan kembali diri nyonya Yu, paras muka nyonya tersebut memang

cantik dan ilmu silatnya biasa-biasa saja, ia menyebut dirinya sebagai gundik Suma Tian-cing,

ditinjau dari pengetahuannya tentang gerak-gerik tingkah laku serta kebiasaan Suma Jin, rasanya

soal ini tak perlu dicurigakan lagi.

Tapi secara diam-diam ia telah menyergap dirinya, kemudian menyediakan pula obat racun yang

disembunyikan di dalam peti mati, dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa nyonya itu memang

sengaja telah disusupkan oleh pembunuhnya untuk melaksanakan tugas tersebut.

Suma Tiang-cing bergelar Kiu-mia-kiam-khek (jago pedang berjiwa sembilan), bukan saja ilmu

silatnya lihay, pengetahuan maupun pengalamannya luar biasa luasnya, tipu muslihatnya macam

apapun sulit untuk mengelabui ketajaman matanya, tapi nyonya Yu sudah bertahun-tahun

lamanya menyelinap dalam keluarganya, namun ia tak berhasil mengetahui rahasia tersebut, dari

sini dapat diketahui pula bahwa semua rencana itu disusun oleh sang pembunuh dengan

sempurna sekali.

“Nyonya Yu ku memang menakutkan sekali, agaknya sudah lama sekali Si pembunuh itu

menentukan dan memerintahkan untuk menyusup ke dalam keluarga Suma-siok-ya, kalau bukan

seorang manusia yang berhati teguh dan berwatak jahat, tak mungkin pembunuh itu dapat

menyusun rencana jangka panjangnya sesempurna ini.”

Berpikir sampai disitu, tanpa terasa lagi keringat dingin membasahi seluruh badan Hoa In-liong,

ia merasa jantungnya berdebar keras, dan pemuda ini semakin sadar bahwa rintangan-rintangan

yang bakal ditemuinya akan semakin banyak. bukan suatu pekerjaan yang gampang baginya

untuk menyelesaikan tugas tersebut.

Sekalipun tidak gampang untuk diselesaikan lantas bagaimana? Suma Tiang-cing adalah saudara

angkat dari kakeknya Hoa-Goan-siu, hubungan mereka lebih akrab dari pada saudara kandung

sekali, sebagai keturunan dari keluarga kenamaan sekalipun tak ada perintah dari ayah atau

neneknya Hoa-loji harus menyelesaikan juga tugas itu sebisa mungkin.

Dia angkat cawan dan menghabiskan isinya, kemudian berpikir lebih jauh, kali ini ia terbayang

kembali akan diri nona baju hitam beserta pembantunya yang misterius.

Menurut pengakuan nona berbaju hitam, orang yang membunuh Suma siok-yanya adalah

seorang pemuda dari marga Ciu, orang itu hanya seorang kepala regu perkumpulan Hian-bengkau

yang tak ada artinya, sedangkan nyonya Yu dikatakan sebagai anak buah Ciu kongcu itu,

setelah dipikir beberapa saat anak muda ini pun merasa bahwa kejadian ini janggal dan tak

masuk di akal.

Pertama: orang she Ciu itu disebut kongcu, itu berarti bahwa usianya tidak terlampau besar,

kalau dibilang jauh beberapa tahun berselang Ciu kongcu telah mengutus nyonya Yu untuk

menyusup ke samping Suma Tiang-cing, maka hal ini rasanya tak mungkin terjadi.

Kedua: Ketika akan meninggalkan rumah, ayah dan neneknya telah menyatakan rasa curiganya

terhadap Giok-teng hujin yang ada kemungkinan merupakan otak dari pembunuhan berdarah itu.

Berdasarkan beberapa alasan tersebut, diapun lantas berpikir, Jangan-jangan pemimpin

perkumpulan Hian-beng-kau adalah Giok-teng hujin dan nyonya Yu diutus Giok-teng hujin untuk

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

82

melaksanakan pembunuhan tersebut dan Ciu kongcu paling banter hanya bertugas untuk

mengawasi pelaksanaan dari pembunuhan itu, siapa tahu memang begitulah jalannya peristiwa?

Ia dapat menduga sampai kesitu karena tiba-tiba pemuda itu teringat kembali akan Hek-ji si

kucing hitam yang dipelihara nyonya Yu.

Menurut apa yang diketahui olehnya, Suma siok-yanya suami istrinya terbunuh ketika tertidur

nyenyak. pada tenggorokan mereka terdapat bekas luka seperti digigit oleh sejenis binatang.

Meskipun Hek-ji cuma seekor kucing hitam, tapi cakar dan giginya runcing dan tajam, gerakgeriknya

secepat angin dan pandai sekali bertempur, ditinjau dari majikannya yakni nyonya Yu

adalah mata-mata yang diutus sang pembunuh untuk menyusup ke dalam keluarga Suma, maka

dapatlah diduga bahwa Hek-ji itulah pelaksana pembunuhan, sedangkan nyonya Yu adalah

pemilik dari binatang pelaksana pembunuhan tersebut.

Sekarang diapun sudah tahu kalau Ciu kongcu masih di kota Lok-yang, maka setelah berpikir

beberapa waktu ia merasa bahwa tindakan yang harus dilaksanakan sekarang adalah mencari

Ciu kongcu seru menyelidiki siapa gerangan “otak” dari pembunuhan itu

Kendati begitu, ia tidak segera melaksanakannya, malahan sambil bertopang dagu anak muda itu

melamun lebih jauh.

Sebagai keturunan keluarga Hoa, Hoa In-liong memang gagah dan berjiwa ksatria, tapi sifatnya

yang romantis membuat pemuda ini tak boleh bertemu dengan perempuan cantik.

Tiba-tiba ia teringat kembali akan sikap si nona baju hitam yang bersembunyi dalam ruang

sembahyangan, dari gerak-geriknya nona itu tampaknya sedang menyelidiki rahasia perkumpulan

Hian-beng-kau, dan ia merasa orang itu mempunyai hubungan yang erat dengan dirinya, ia

masih ingat pula dengan perkataan dari Si Nio: Jika kita bunuh bocah keparat ini, maka

keselamatan loya akan tertolong.”

Ditinjau dari sini maka dapat ditarik kesimpulan bahwa keselamatan ayah dari nona baju hitam

itu terancam bahaya, dan nasibnya cukup memilukan hati.

Sebagai seorang pemuda yang cerdik, hanya menganalisa sebentar saja dia lantas mengetahui

bahwa nona baju hitam itu bukannya tanpa alasan tertentu ketika memberi keterangan

kepadanya.

Nona baju hitam itu pernah berkata begini. “Menurut perasaan siau-li, dunia persilatan sedang

menuju perubahan yang amat besar, kematian Suma Tiang-cing tak lebih hanya korban

penasaran pertama yang harus ditanggung demi kepentingan orang lain.”

Sekarang kalau dicocokkan kembali dengan pesan dari ibunya, maka rasanya persoalan ini ada

kemiripannya meskipun berlawanan waktunya.

Diapun teringat kembali dengan perbuatan Si Nio yang akan meracuni dirinya serta mencabut

jiwanya, dari masalah ini dapat ditarik kesimpulan bahwa nona baju hitam dan pembantunya di

tekan oleh seseorang untuk melakukan pembunuhan tersebut, dan korbannya bukan dia seorang

melainkan setiap anggota keluarga Hoa.

Atau tegasnya ayah dari nona baju hitam ini di sekap orang, bahkan kemungkinan besar jiwanya

terancam, dan mereka berdua dipaksa untuk memusuhi dan membunuh anggota keluarga Hoa

demi menyelamatkan jiwa ayahnya itu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar