Senin, 05 Oktober 2009

bara 11

Berpikir demikian, iapun lantas tertawa berhaha hihi sambil berseru, “Hiiih…. hiiih…. nenek, maaf

yaah, berhubung soal ini menyangkut masalah besar dalam dunia persilatan, maka terpaksa aku

tak dapat memberitahukan kepadamu”

“Kau sungguh-sungguh tak mau bicara?” hardik sang nenek baju abu-abu dengan suara dingin

matanya memancarkan cahaya tajam dan menatap wajah pemuda itu tak berkedip sementara

tangannya diayun siap menggaplok pipinya.

Hoa Thian-hong tersenyum.

“Nenek…. kalau mau pukul silahkan pukul, karena urusan ini menyangkut rahasia dunia

persilatan…. maka apa boleh buat, aku tak berani banyak bicara”

Baik sang nenek baju abu-abu maupun Pek Soh-gie jadi tertegun, kalau dilihat dari sikapnya

yang penurut terutama sewaktu diperintahkan untuk berlutut sambil memegang nampan, tak

sangka kalau pemuda itu jadi berandal dan keras kepala sesudah berhadapan dengan urusan

yang serius.

Setelah tertegun beberapa waktu, nenek baju abu-abu itu jadi marah, tegurnya, “Engkau tahu

siapa aku?”

“Sekalipun aku sudah tahu siapakah nenek dalam persoalan ini akupun tak berani bicara

sembarangan”

Rupanya hawa gusar yang berkobar dalam dada nenek tua itu sudah tak terbendung lagi, ia

berteriak kembali.

“Kurang ajar…. dihadapan siapapun engkau sama saja tak akan bicara….?”

“Benar, kecuali terhadap ibuku kepada si apapun aku tak akan menjawab….”

Dengan gusar nenek baju abu abu itu segera bangkit berdiri, ia mengetukkan toyanya ke tanah

dan membanting cawan sampai hancur kemudian gembornya, “Bun Sian Ih sekarang ada

dimana?”

Hoa Thian-hong jadi takut sekali, ia takut pipinya digaplok lagi oleh nenek itu, buru-buru

jawabnya, “Aku sudah lama berpisah dengan ibuku sekarang aku benar-benar tak tahu beliau

berada dimana?”

“Hmm! telur busuk kecil, aku akan pergi mencari ibumu, akan kulihat engkau mau bicara atau

tidak?”

Sekali enjotkan badan tubuhnya sudah berada puluhan tombak jauhnya dari tempat semula.

Hoa Thian-hong jadi amat gelisah, segera teriaknya, “Eeei…. orang tua, kitab catatan Ci yu jit

ciatku….”

“Nenekmu, apa itu Jit jiat pat ciat…. aku sama sekali tak tahu maki sang nenek.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

439

Dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.

Hoa Thian-hong jadi melongo dan tak tahu apa yang maa dilakukan, sambil memandang ke arah

tenggara pikirnya, “Kalau dia tak tahu dimanakah ibuku berada, kenapa larinya menuju ke arah

sana?”

Lewat beberapa saat kemudian, tiba-tiba terdengar Pek Soh-gie berbisik dengan suara lirih, “Hoa

toako, hari sudah hampir gelap, kau sudah makan belum?”

Hoa Thian-hong segera mendusin kembali dari lamunannya, ia lihat udara benar-benar sudah

gelap gulita dan malam telah menjelang tiba, sedang ia sendiri sambil memegang nampan masih

tetap berlutut di atas tanah, buru-buru si anak muda itu bangkit berdiri, katanya, “Nona, silahkan

duduk di atas batu!”

Pek Soh-gie menurut dan segera duduk, Hoa Thian-hong yang sudah lapar sekali tanpa sungkansungkan

segera menyambar semangkuk nasi dan menyikatnya dengan lahap.

Takaran perutnya tidak kecil lagi pula makannya cepat sekali, dalam waktu singkat ia sudah

menyikat habis semua makanan yang ada. Setelah kenyang ia baru letakkan nampan di samping

sambil ujarnya, “Nona, dewasa ini wilayah Kanglam sedang banyak persoalan, tempat itu tidak

aman dan berbahaya sekali, lebih baik kau tak usah pergi kesana….!”

“Tapi aku harus bertemu dengan ayahku untuk menyampaikan surat dari ibuku!”

“Aku pernah bertemu dan berkenalan dengan ayahmu, titipkan saja surat itu kepadaku agar aku

yang menyampaikan kepadanya, dengan begitu bukankah nona tak usah pergi kesitu sendiri!”

“Hoa toako, dibalik perkataanmu aku dengar ada maksud tertentu, bolehkah aku tahu lebih jelas

lagi?” tanya Pek Soh-gie tercengang.

Hoa Thian-hong menghela napas panjang, ia menjawab, Ketua dari perkumpulan Hong-im-hwie

bernama Jin Hian, dia mempunyai seorang putra yang bernama Jin Hiong mati di tangan seorang

perempuan, apakah nona tahu akan peristiwa ini?”

“Aku pernah dengar tentang peristiwa ini dari adikku, apakah teka teki yang menyelubungi

peristiwa pembunuhan itu sudah berhasil dipecahkan….?”

“Peiistiwa itu sampai sekarang masih tertangguh dan belum berhasil dipecahkan, Jin Hian

menaruh curiga bahwa pembunuhan itu dilakukan oleh nona, tetapi berhubung kekuatan dan

perkumpulan Sin-kie-pang dan Hong-im-hwie adalah seimbang ditambah pula masih ada

perkumpulan Thong-thian-kauw di samping maka pertarungan untuk sementara waktu masih

bisa dihindari. Kendati begitu situasi dalam dunia persilatan dewasa ini amat keritis dan

berbahaya sekali pertarungan setiap saat bisa berlangsung. Kepergian nona menuju ke wilayah

Kanglam boleh dibilang berbahaya sekali….”

JILID 30

AKU keluar rumah baru pertama kali ini, aku tak pernah melakukan kesalahan apa pun juga!”

seru Pek Soh-gie, “aku akan mengajak Jin Hian untuk membicarakan persoalan ini sebaik-baiknya

sehingga urusan jadi jernih dan duduk perkara pun bisa dibikin terang, aku tak ingin

kesalahpahaman ini berlarut-larut terus”

Hoa Thian-hong menengadah dan menghela napas panjang.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

440

“Aaaaai dalam menghadapi persoalan dalam dunia persilatan, siapa kuat dia menang, sepatah

dua patah kata tidak cocok, mayat akan bergelimpangan dimana-mana dan darah akan mengalir

memenuhi sungai, menanti ceng li bisa dibikin terang saat itu semuanya sudah terlambat”

“Perkataan dari Hoa toako memang tidak salah” ujar Pek Soh-gie kemudian setelah berpikir

sebentar. “Tetapi sebelum berjumpa dengan ayahku, aku tetap merasa tak lega hati, ditambah

pula aku sudah rirdu sekali dengan adikku, aku ingin sekali berjumpa muka dengan dirinya.

Mendengar ucapan itu, Hoa Thian-hong berpikir di dalam hatinya, “Nona ini cuma tahu soal

cengli dan peraturan, tidak tahu bagaimana licik dan berbahayanya manusia di kolong langit,

kalau ku biarkan ia berkelana seorang diri dalam dunia persilatan maka jiwanya setiap saat tentu

akan terancam oleh mara bahaya”

Tiba-tiba terdengar Pek Soh-gie berkata kembali.

“Apa rencana Hoa toako selanjutnya? Kau adalah keturunan dari keluarga pendekar, ilmu silat

yang dimiliki sangat tinggi dan aku rasa musuh besarmu tentu tidak sedikit bukan jumlahnya?”

“Benar, musuhku terbesar dimana-mana….” ia menghela napas panjang dan melanjutkan,” aku

bermaksud mengunjungi gunung Toa pa-san dan pergi ke markas besar perkumpulan Sin-kiepang!”

“Ayah dan adikku berada di wilayah Kanglam semua, ada urusan apa Hoa toako hendak

berkunjung ke gunung Toa pa san?” tanya Pek Soh-gie dengan mata terbelalak.

“Aku punya sebilah pedang baja yang tertinggal di dalam markas besar perkumpulan Sin-kiepang,

sekarang senjata itu hendak kugunakan karena itu terpaksa harus kucari kembali.”

“Perjalanan teramat jauh, menuju kesana pun membutuhkan banyak waktu, apakah tak bisa

carikan gantinya dengan senjata lain?”

Hoa Thian-hong menggeleng,

“Thong-thian Kaucu menggunakan sebilah pedang ‘Boan liong poo kiam’ yang teramat tajam,

aku harus menggunakan pedang baja yang berat untuk menandinginya, sebab kalau tidak maka

pedangku tentu akan tergetar patah oleh pedang mustikanya!”

“Aaaah….! Thong-thian Kaucu adalah seorang tokoh silat yang amat tersohor di kolong langit,

apakah Hoa toaku harus bertempur melawan dia….?”

“Ehmm, meskipun tenaga dalamnya sempurna dan ilmu silatnya tinggi, seandainya senjata

andalanku bisa kutemukan kembali, maka aku mampu untuk bertarung melawan dirinya”

Sambil loncat bangun sambungnya kembali, “Persoalan sudah ada di depan mata, aku tak berani

membuang waktu dengan percuma lagi…. Nah selamat tinggal….”

“Eeeei…. tunggu sebentar!” seru Pek Soh-gie setelah tertegun beberapa saat lamanya, gerakan

tubuh yang dimiliki nenek tadi cepat sekali, sayang toako telah menyalahi dirinya….”

“Percuma orang tua itu terlalu sombong dan tinggi hati, ia tak mampu membantu apa-apa

terhadap diriku, apakah nona sudah pasti akan berangkat ke Timur?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

441

“Benar, aku rasa tidak baik kalau urungkan maksud di tengah jalan,” setelah berpikir sebentar, ia

menambahkan, “Perjalananku lambat sekali, sekalipun ingin balik juga tak mungkin bisa

mendampingi Hoa toako…. bila urusan memang sudah kritis sekali, salahkan toako berangkat

lebih dahulu!”

“Keempat orang jago dari perkumpulan) Hong-im-hwie tadi tentu sudah menantikan

kedatanganmu disebe1ah depan sana, nona lebih baik menyingkir saja daripada harus berjumpa

dengan orang-orang itu”

“Siau li akan menuruti perkataan dari toako!”

Untuk sesaat dua pasang mata saling bertemu dan memancarkan rasa berat hati untuk berpisah

kemudian menunduk dan sama-sama membungkam.

Lama sekali suasana jadi hening, tiba-tiba Hoa Thian-hong menengadahkan dan berkata, “Nona,

baik-baiklah jaga diri, aku mohon diri lebih dahulu”

Dalam waktu singkat bayangan tubuhnya telah lenyap dibalik kegelapan malam yang mencekam

seluruh jagad, angin berhembus sepoi-sepoi mengibarkan ujung baju Pek Soh-gie yang berdiri

seorang diri…. ia begitu polos dan sama sekali tak nampak genit, begitu tenang dan kalem

seakan-akan tak tahu betapa licik dan berbahayanya kehidupan manusia di kolong langit….

Entah berapa saat sudah lewat, akhirnya ia putar badan dan berangkat menuju ke arah timur

laut meskipun perjalanan dilanjutkan dengan ilmu meringankan tubuh namun sikapnya masih

tetap tenang dan sama sekali tidak menunjukkan tergesa-gesa atau gelisah.

Tiba-tiba dari balik kegelapan malam yang mencekam seluruh jagad, muncul empat sosok

bayangan manusia yang menghadang jalan perginya.

Buru-buru Pek Soh-gie menghentikan langkahnya dan memandang ke depan, setelah

mengetahui bahwa keempat orang itu bukan lain adalah empat orang yang selama ini

membuntuti perjalanannya, ia segera memberi hormat dan menyapa, “Saudara-saudara sekalian

ada urusan apa menghalangi jalan pergiku? Kalau ada persoalan harap segera diutarakan keluar”

“Kami rasa nona sudah tahu tentang asal usul kami semua bukan?” ujar kakek baju hitam yang

ada disebelah kiri.

“Jika kutinjau dari pembicaraan kalian yang seringkali mengungkap tentang Tang-kee kalian, aku

juga saudara berempat tentulah para enghiong dari perkumpulan Hong-im-hwie, bukan begitu?”

Rupanya kakek baju hitam itu adalah pemimpin rombongan diantara keempat orang itu, ia

segera menjawab, “Tebakan nona sedikitpun tidak salah, kami berempat memang saudarasaudara

dari perkumpulan Hong-im-hwie, lalu tahukah nona apa maksud kami datang kemari?”

“Itulah yang tidak kuketahui! Sedari wilayah Kanglam sampai ke tempat ini, saudara berempat

selalu mengikuti di belakang siaute, bolehkah aku tahu apa maksud kalian semua?”

“Cong Tang-keeh kami ada sedikit urusan hendak ditanyakan Kepada nona, maka dari itu kami

berempat sengaja ditugaskan untuk datang mengundang kehadiran nona, tetapi berhubung nona

adalah kaum wanita yang patut dihormati maka selama ini kami tak berani mengganggu secara

gegabah!”

“Kalau begitu, siaute ucapkan banyak terima kasih atas kebaikan hati saudara berumpat”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

442

“Nona tak usah mengucapkan terima kasih kepadaku, kini situasinya agak berbeda dan terpaksa

kami harus menyalahi diri nona.

“Jadi apa maksud kalian semua?” seru Pek Soh-gie dengan mata terbelalak.

Kakek baju hitam itu tertawa kering.

“Haaah…. haaah…. haaah…. dari sini menuju ke timur kita akan bertemu dengan para enghiong

dari peibagai aliran, kami tahu bahwa kedudukan nona sangat terhormat, asal telah bertemu

dengan anak buah dari perkumpulan Sin-kie-pang, maka dengan andalkan muka , kami tak

mungkin undangan kami bisa dipenuhi oleb nona”

“Kalau tidak kupenuhi bagaimana?”

Kakek baju hitam itu tertawa terbahak-bahak.

“Haaah…. haaah…. haaaah…. kalau kami gagal untuk mengundang kehadiran nona, terpaksa kita

musti menanggung dosa dan harus menerima pancung kepala”

Tertegun hati Pek Soh-gie mendengar ucapan itu.

“Kalau memang begitu, aku akan mengikuti saudara sekalian untuk berjumpa dengan Jin Loo

enghiong!” katanya.

“Oooh…. nona sungguh berbesar hati, kami ucapkan banyak terima kasih lebih dahulu”

Bicara sampai disini kakek baju hitam itu segera berpaling, dan memberi tanda kepada salah

seorang pria berpakaian ringkas yang ada disisinya….

Pria baju ringkas itu Segera mengangguk dan menggerakkan tubuhnya, sekali lompat ia sudah

berada di samping tubuh Pek Soh-gie, jari tangannya bagaikan sebatang tombak langsung

menotok jalan darah cian ji hiat di tubuh gadis itu.

Pek Soh-gie terperanjat, tubuhnya laksana kilat menyingkir ke samping, lima jari di pentang dan

baru balas menyambar urat nadi dipergelangan pria baju ringkas tadi.

Kebutan lima jarinya ini sepintas lalu nampak enteng dan lambat, tetapi penggunaan waktu dan

ketelitian arahnya ternyata luar biasa sekali, andaikata pria baju ringkas itu tidak segera batalkan

ancaman-nya maka dia tentu akan tersambar oleh ujung jari Pek Soh-gie.

“Oooh…. kepandaian itu adalah ilmu andalan dari Kho Hong Kui tempo hari!” terdengar kakek

baju hitam yang lain berseru, “ilmu silat keluarga kenamaan memang luar biasa sekali!”

Sementara itu pertarungan di tengah kalangan sudah berlangsung lima jurus banyaknya,

seharusnya ilmu silat yang dimiliki pria baju ringkas itu masih bukan tandingan dari Pek Soh-gie,

sayang sekali dalam setiap serangannya gadis itu hanya berusaha untuk memunahkan ancaman

lawan sambil melakukan pertahnan diri belaka, tak satu jurus seranganpun yang ditujukan untuk

merobohkan musuh, dalam keadaan begini walaupun pria baju ringkas tadi tak mampu merebut

kemenangan namun keadaannya tetap seimbang dan siapapun tak bisa merubuhkan lawannya.

Setelah menyaksikan jalannya pertarungan beberapa saat, kakek baju hitam yang memegang

komando itu mengerutkan alisnya, ia memberi tanda kepada pria baju ringkas lainnya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

443

Pria tersebut tanpa mengucapkan sepatah katapun segera menerjang masuk ke dalam

gelanggang.

Dalam waktu singkat dua orang pria kekar itu segera mengerubuti seorang gadis yang cantik

jelita dengan ketat. Pek Soh-gie yang baru pertama kali bergebrak melawan orang melayani

serangan-serangan musuhnya dengan serius dan penuh ketegangan, semua serangan yang

dilancarkan hanya ditujukan untuk memunahkan ancaman serta melakukan pertahanan diri,

rupanya ia memang tak mampu melakukan serangan balasan.

Tiba-tiba terdengar kakek baju hitam yang lain berkata, “Ang Jit ko, tadi setelah bajingan cilik itu

meringkus tiga orang toojin dari perkumpulan Thong-thian-kauw, ketiga orang hidung kerbau itu

pasti tak mau sudahi persoalan itu sampai disitu saja, urusan dinas kita penting sekali, lebih baik

cepat-cepat kita ringkus orang itu dan melaporkan kepada Tang-kee kita!”

Benar, ayoh kita turun tangan!” jawab kakek baju hitam yang satu sambil mengangguk.

Tubuhnya segera menerjang ke depan, telapak tangannya menyambar dan membacok tubuh

gadis itu.

Pek Soh-gie yang sedang bertempur dengan serunya melawan dua orang musuh, jadi amat

terperanjat ketika munculnya segulung desiran angin tajam yang mengancam punggungnya.

Ia segera tekuk pinggang, bungkukkan badan lalu loncat maju ke depan, sepasang telapak

disilangkan ke samping membendung datangnya ancaman itu.

Kakek baju hitam kedua selama ini hanya berdiri di sisi lapangan segera ikut menerjang pula ke

depan setelah menyaksikan kelincahan dan kegesitan gerak tubuh musuhnya, telapak tangan

bagaikan golok langsung membacok kemuka.

Dalam waktu singkat empat orang pria kekar bersama-sama turun tangan mengerubuti seorang

gadis cantik, hal ini membuat dara ayu itu jadi kerepotan dan musti loncat ke kanan berkelit ke

kiri untuk meloloskan diri dari ancaman.

Diam-diam Pek Soh-gie jadi gelisah melihat keadaan itu, cepat teriaknya dengan suara lantang,

“Saudara-saudara Sekalian adalah orang gagah dari dunia persilatan, masa kalau ingin bertarung

musti main kerubut? Hey…. kalian tahu akan peraturan Bulim atau tidak?”

Kakek baju hitam yang memberi komando itu segera tertawa dingin.

“Ayahmu sendiri juga suka berbuat demikian, apa salahnya kalau kami pun meniru cara ayahmu

itu? Kalau nona ingin bicara tentang cengli, lebih baik bicarakan saja persoalan ini dengan

ayahmu di kemudian hari!”

“Hmm! Sedari tadi aku sudah tahu kalau kalian adalah manusia-manusia yang menggemaskan

dan tak tahu dirif” tiba-tiba terdengar seseorang membentak dengan penuh kegusaran.

Di tengah kegelapan meloncatlah keluar sesosok bayangan manusia, dia bukan lain adalah Hoa

Thian-hong, dengan serangan jari di tangan kanan serangan telapak di tangan kiri serentak dia

lancarkan serangan secara berbareng.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

444

Plooook….! telapak kirinya dengan telak bersarang di atas bahu pria baju ringkas yang berada di

hadapannya membuat tulang bahu pria itu terpukul hancur dan menjerit kesakitan, tubuhnya

terlempar sejauh beberapa tombak dari tempat semula.

Sebaliknya totokan tangan kanannya segera mengakibatkan jeritan ngeri yang menyayatkan hati

bergema di angkasa, kakek baju hitam yang turun tangan belakangan tiba-tiba mundur

sempoyongan ke belakang dengan tubuh gemetar keras, kemudian badannya roboh terjengkang

ke atas tanah dan binasalah seketika itu juga.

Hoa Thian-hong jadi sangat terperanjat, tiga jurus ilmu totokan ‘menyerang sampai mati’ yang

dipelajari dari kitab Ci yu jit ciat itu sebenarnya hendak diturunkan kepada Bong Pay tempo hari,

sewaktu bergebrak melawan Yan-san It-koay ia pernah menggunakannya satu kali, tapi karena

kepandaian silat yang dimiliki Yan-san It-koay jauh lebih tinggi daripada dirinya, maka

keampuhan dari tiga jurus totokan itu tidak terlihat.

Siapa tahu serangan yang dilancarkan saat ini tanpa maksud apa-apa telah mengakibatkan

kematian dari musuhnya, hal ini membuat dia jadi melongo dan berdiri tertegun.

Semua kejadian berlangsung dalam sekejap mata, ketika jeritan ngeri itu berkumandang di

angkasa kedua belah pihak sama-sama terperanjat dan pertempuranpun terhenti untuk

sementara waktu.

Dalam hati Hoa Thian-hong segera berpikir, “Jin Hian adalah seorang manusia yang licik dan

berbahaya, dengan pembunuhan yang kulakukan sekarang berarti antara kita berdua sudah

terikat oleh dendam, kenapa aku tidak bunuh sekalian keempat orang ini sehingga persoalan

untuk sementara waktu bisa ditutup….”

Setelah ambil keputusan di dalam hati, nafsu membunuh seketika menyelimuti seluruh wajahnya,

dengan ganas ia terjang kakek baju hitam yang memberi komando itu.

“Hoa toako, jangan turun tangan keji!” teriak Pek Soh-gie secara tiba-tiba.

“Eeei…. aneh benar nona ini,” batin pemuda itu dalam hati, “aku bantu dirinya untuk mengusir

musuh, dia malah mintakan ampun bagi musuh-musuhnya”

Tangan kanan bagaikan pagutan ular berbisa, laksana kilat segera menyeruduk ke depan.

Melihat datangnya ancaman totokan jari yang begitu aneh, kakek biju hitam itu jadi terkesiap

karena dia tak tahu bagaimana caranya untuk memunahkan ancaman tersebut, dalam gugupnya

pinggang segera dite-kuk dan ia jatuhkan diri berguling di atas tanah, dengan suatu gerakan

yang manis kakek itu melepaskan diri dari ancaman dan menggulung sampat sejauh satu dua

tombak dari tempat semula.

Tentu saja Hoa Thian-hong tidak mengijinkan lawannya kabur dengan begitu saja, kakinya

segera melangkah ke depan dan dalam waktu singkat ia sudah berada di depan tubuhnya, dua

jari ditekuk dan langsung menotok tubuh lawannya.

“Hoa toako….” tiba-tiba Pek Soh-gie berteriak.

Bentakan keras bergema di angkasa, pria baju ringkas yang masih segar tiba-tiba maju

menyerang dari belakang.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

445

Hoa Thian-hong sama sekali tak pandang sebelah matapun terhadap datangnya ancaman itu,

telapak kiri diayun kemuka dan dengan jurus Kun-siu-ci-tauw, ia sambut datangnya serangan itu.

Tenaga pukulan yang dipancarkan dari telapak kirinya jauh lebih sempurna jika dibandingkan

dengan kekuatan serangan ketiga jari tangan kanannya, serangan yang dilancarkan laksana kilat

itu dengan telak bersarang di atas tengkuk pria baju ringkas itu.

“Aduuuh….!” jerit kesakitan berkumandang di angkasa, tubuh pria itu terpental ke udara dan

segera roboh terjengkang di atas tanah,

Karena harus dibaginya kekuatan serangan ini, datangnya serangan jari di tangan kanannya jadi

lebih terlambat dari gerakan semula, menggunakan kesempatan itulah kakek baju hitam tersebut

mendorong telapak nya ke depan lalu mengundurkan diri dari sana.

“Hmmm…. mau lari kemana?” jengek Hoa Thian-hong sambil tertawa dingin, “kau tak bisa

diampuni….!”

Bagaikan bayangan tubuhnya segera mengejar ke depan.

Tenaga dalam yang dimiliki si anak muda ini telah mendapat kemajuan yang amat pesat,

serangan yang dilancarkan pada saat ini sukar ditandingi oleh manusia biasa.

Kakek baju hitam itu tahu bahwa dirinya bukan tandingan lawan, melihat pemuda itu mengejar

terus sadarlah dia bahwa sulit bagi dirinya untuk melepaskan diri.

Dalam nekadnya ia segera membentak keras, telapak tangan didorong berbareng dan sambil

mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya ia hajar si anak muda itu.

Hoa Thian-hong mendengus dingin, telapak kiranya diayun menerima datangnya serangan

tersebut dengan keras lawan keras. Blaam di tengah bentrokan nyaring kakek baju hitam itu

mundur dua langkah ke belakang dengan sempoyongan, sepasang kakinya jadi lemas dan

robohlah ia ke atas tanah.

Tenaga dalam yang dimiliki Hoa Thian-hong sekarang amat sempurna sekali, pukulan itu

menggetarkan sekujur tubuh kakek baju hitam tadi sehingga isi perutnya bergeser semua dari

tempat semula, pandangan matanya jadi gelap dan tak tahan lagi ia muntah segar, jelas luka

dalam yang dideritanya teramat parah.

Hoa Thian-hong maju ke depan sambil ayun tangannya, tapi tangan itu diturunkan lagi, pikirnya.

“Seharusnya aku tak boleh melepaskan mereka berempat barang seorangpun, tetap membunuh

orang yang sudah tak punya kekuatan untuk melawan adalah suatu perbuatan yang melanggar

semangat jantan seorang pendekar sejati….

“Hmm! apa yang musti kulakukan?”

Tiba-tiba terdengar Pek Soh-gie berkata dengan nada lembut, “Hoa toako, apakah beberapa

orang ini hendak kau bunuh?”

“Siaute masih muda dan tak tahu urusan harap nona tak usah sungkan-sungkan kalau ingin

bicara”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

446

Pek Soh-gie mengerutkan dahinya lalu maju selangkah ke depan, ujarnya, “Diantara keempat

orang itu ada satu sudah mati terbunuh sedang sisanya terluka parah, Hoa toako! bagaimana

kalau engkau bermurah hati serta mengampuni jiwa mereka untuk kali ini saja?”

“Mereka sudah kenal siapa aku, bila kulepaskan mereka pergi maka Jin Hian pasti tak akan

menyudahi persoalan ini….”

Pek Soh-gie tundukkan kepalanya setelah mendengar ucapan itu, kepada kakek baju hitam itu

segera tegurnya, “Kau kenal dengan kongcu ini?”

“Kakek baju hitam itu meronta bangun, sorot mata penuh kebencian memancar keluar dari balik

matanya, sambil menggigit bibir dia menjawab, “Hmm! telapak kiri Hoa Thian-hong…. sampai

matipun aku tetap ingat.”

Pek Soh Oie jadi tertegun mendengar perkataan itu, meskipun ia berhati Welas dan tak suka

membunuh orang, tetapi diapun merasa tak leluasa untuk memaksa Hoa Thian-hong melepaskan

harimau pulang gunung, apalagi kalau sampat menanam permusuhan dengan orang.

Tiba-tiba terdengar Hoa Thian-hong berkata dengan suara hambar, “Mengingat kau tidak takut

mati dari masih terhitung sebagai seorang pria sejati, ini hari aku orang she Hoa mengampuni

selembar jiwamu, setelah pulang katakan kepada Jin Hian bahwa dibalik peristiwa pembunuhan

itu masih terdapat hal-hal yang lain. pembunuhnya adalah orang lain yang jauh diluar

dugaannya, bila kami berjumpa lagi di kemudian hari akan kujelaskan sendiri persoalan itu

kepadanya”

Sementara itu dua pria baju ringkas yang terkejar oleh Hoa Thian-hong tadi, yang satu menderita

patah tulang kaki sedang yang lain menderita patah tulang tangan, berhubung pemimpin mereka

belum mati maka merekapun tak berani kabur lebih dahulu, kini setelah mendengar ucapan

tersebut, mereka baru maju ke depan membopong tubuh kakek tadi kemudian kabur dari situ.

Menanti ketiga orang itu sudah pergi jauh, Pek Soh-gie baru maju ke depan sambil berkata, “Hoa

toako, kenapa kau balik lagi setelah pergi?”

“Sejak tadi aku sudah melihat kalau keempat orang itu sedang berjaga-jaga di sekitar tempat ini,

karena itu aku tidak pergi terlalu jauh”

Perlahan-lahan mereka lanjutkan perjalanan ke depan, sambil tundukan kepalanya Pek Soh-gie

berkata, “Terima kasih atas pertolongan dari toako….”

Hoa Thian menghela napas panjang.

“Aaaai….! Urusan sepele kenapa musti dipikirkan terus?”

Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan, “Bertempur adalah suatu kejadian yang tak kenal

akan belas kasihan, dalam menghadapi serangan musuh kita harus berusaha membuat posisi di

atas angin, jangan hanya bertahan melulu tanpa melakukan serangan, sebab jika kau bertindak

begitu maka menang tak mungkin bisa diraih, bila kau kehabisan tenaga maka saat itulah

kematian akan membayangi dirimu.

“Aku hanya bisa bertahan, tak bisa melancarkan serangan balasan” sahut Pek Soh-gie dengan

kepala tertunduk,

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

447

“Ilmu silat macam apapun bisa digunakan untuk bertahan maupun menyerang, asal kau punya

niat untuk memukul orang maka serangan bisa kau lancarkan dengan segera”

“Tapi aku tak ingin pukul orang”

“Aaai….! Kau tak ingin pukul orang, sebaliknya orang lain ingin memukul dirimu, selama manusia

masih hidup di kolong langit maka dia harus berusaha untuk mempertahankan diri, manusia itu

berhati dengki dan penuh kebusukan, bila kau mudah dianiaya maka yang rugi akhirnya adalah

engkau, sendiri, apakah kau ingin mati dengan penasaran?”

“Aku bisa mempertahankan diri dengan sepenuh tenaga!” bisik gadis itu.

“Nona ini punya watak suka damai…. lumrahnya tabiat itu sukar dirubah….” pikir pemuda itu.

Dalam pada itu Pek Soh-gie sudah menengadah ke atas dan memandang wajah si anak muda itu

dengan sepasang biji matanya yang bening, kemudian ujarnya, “Hoa toako, ada permusuhan apa

antara engkau dengan Thong-thian Kaucu….?”

“Thian Ik-cu sitosu tua itu adalah salah satu diantara pembunuh ayahku….!”

Pek Soh-gie membungkam sejenak, selelah berpikir ia berkata kembali, “Daerah kekuasaan

perkumpulan Thong-thian-kauw amat luas dan pengikutnya banyak sekali, dengan kekuatan Hoa

toako seorang, mana kau mampu menandingi dirinya? Aku lihat lebih baik engkau cari ayahku

saja serta merundingkan suatu siasat yang bagus untuk menyelesaikan persoalan ini….”

Hoa Thian-hong tertawa nyaring dan segera gelengkan kepalanya.

“Persoalan yang terjadi dalam dunia persilatan seringkali didasarkan pada budi dan dendam,

bagaimanakah keadaannya sukar ditebak secara jitu, sekalipun memandang di atas wajah nona

mungkin ayahmu suka menolong aku, tapi aku rasa ayahmu tak akan sudi bentrok secara

langsung dengan orang-orang dari perkumpulan Thong-thian-kauw”

Merah padam selembar wajah Pek Soh-gie setelah mendengar perkataan itu, bisiknya kemudian,

“Adikku sangat mengagumi diri pribadi Hoa toako, dia pasti akan membantu diri toako untuk

mewujudkan cita-cita tersebut, aku rasa ayah yang amat mencintai adikku pasti akan

mengabulkan permintaannya…. tentang soal ini aku rasa toako tak perlu pusing kepala”

“Huuh…. mana kau tahu tentang peristiwa yang baru saja lewat, berhubung pinangan ayahmu

yang kutolak, mungkin karena cinta bisa berubah jadi dendam,” pikir Hoa Thian-hong, “hal ini

semakin tak mungkin terjadi lagi….”

Tiba-tiba terdengarlah suara irama musik dan tetabuhan berkumandang datang dari kejauhan,

dari ujung jalan raya sebelah tenggara muncullah beberapa titik cahaya lampu.

Pek Seh Gie angkat kepala memandang sekejap ke arah pemuda itu, lalu katanya, “Toako, kalau

kau ada urusan lebih baik berangkatlah lebih dahulu…. jangan karena aku urusanmu jadi

berabe….”

“Hehmm…. aku akan menghantar nona beberapa jauh lagi.

“Bagaimana kalau kita bersama menemui ayah? Aku akan suruh dia orang tua untuk mengutus

seseorang pulang ke markas besar serta ambilkan pedang baja milik toako?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

448

Hoa Thian-hong tertawa.

“Pedang baja itu terjatuh ke tangan seorang manusia aneh yang bernama Ciu It-bong, orang itu

ada permusuhan dengan ayahmu, aku rasa tidak gampang untuk merampas kembali pedang

bajaku itu….”

Mendadak dia angkat kepala dengan wajah tertegun, kiranya dari arah depan muncullah delapan

orang tosu cilik berusia dua belas tahunan yang memakai jubah warna putih, di tangan mereka

masing-masing memegang sebuah lampu lentera, dibelakangnya mengikuti pula delapan orang

tosu cilik berjubah kuning, di tangan mereka memegang alat musik dan sambil memainkan alat

tetabuhan itu selangkah demi selangkah mereka berjalan mendekat.

Di belakang keenam belas orang tosu cilik tadi mengikuti pula delapan orang tosu berjubah

merah yang pada bahunya tergantung sebilah pedang pendek, usia mereka rata-rata diantara

empat lima belas tahunan, dan pada barisan paling belakang mengikuti pada sebuah tandu kecil

yang digotong oleh empat orang tosu cilik berjubah kuning.

Di atas tandu duduklah seorang tosu tua yang rambutnya berwarna keperak-perakan, dua orang

tosu baju merah yang berusia tanggung mengikuti di kedua belah samping tandu tersebut, di

tangan mereka yang seorang memegang sebilah senjata Ji gi berwarna hijau kumala sedang

yang lain membawa sebilah pedang mustika.

Beberapa saat kemudian kedua bilah pihak sudah semakin mendekat, terlihatlah tosu tua yang

duduk di atas tandu kecil itu punya muka yang merah segar bagaikan bayi, sepasang alisnya

yang putih bergoyang dan matanya memandang ke depan dengan sorot cahaya tajam

Sekejap mata kedelapan buah lampu lentera itu telah menyebarkan diri ke kedua belah samping,

permainan musikpun tiba-tiba berhenti.

Pek Soh-gie segera menggeserkan badannya mendekati Hoa Thian-hong, bisiknya lirih, “Toako,

rupanya ada urusan lagi?”

“Benar!” jawab Hoa Thian-hong sambil tersenyum, “rupanya mereka sengaja datang untuk

mencari gara-gara dengan kita….”

Sementara itu tanda telah berhenti, tosu tua itu menekuk pinggangnya dan bangkit berdiri, tosu

cilik yang membawa senjata Ji gi serta Poo kiam tadi segera berdiri di kedua belah sisinya.

Tosu tua itu membuka matanya, sambil memandang ke arah Hoa Thian-hong dengan sorot mata

tajam ia menegur, “Ooh, jadi kau adalah Hoa Thian-hong putra dari Hoa Goan-siu? Kenapa

wajahmu kotor kakimu telanjang dan pakaianmu tidak genah?”

Hoa Thian-hong tersenyum.

“Dan kau sendiri? Apakah Thian Ik tosu tua dari perkumpulan Thong-thian-kauw? Kenapa

lagakmu seperti pembesar korup begitu?”

“Kurangajar!” bentak tosu cilik yang membawa senjata Ji gi di belakang tosu tua itu.

“Berhadapan dengan Kaucu, kau berani kurangajar…. ayoh berlutut!”

“Oooh…. rupanya benar-benar tosu Siluman ini,” pikir Hoa Thian-hong di dalam hati, “aku harus

tetap bersikap tenang dan jangan menyebut dulu soal dendam ayahku….”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

449

Berpikir sampai disitu dia pun tertawa, katanya, “Pangcu dari perkumpulan Sin-kie-pang serta

Cong Tang-kee dari perkumpulan Hong-im-hwie sudah kutemui beberapa kali, mereka semua tak

seorangpun yang bersikap lucu dan membadut seperti ketua dari perkumpulan Thong-thian-kauw

ini”

“Haaah…. haaaah…. haaaah….” kaucu dari perkumpulan Thong-thian-kauw itu segera tertawa

terbahak-bahak, tukasnya, “perkumpulan kami adalah perhimpunan suatu agama, jauh berbeda

kalau dibandingkan dengan Sin-kie-pang ataupun Hong-im-hwie, kami sengaja berbuat demikian

demi laki perempuan penganut agama kami, tiupan terompet dan pukulan genderang adalah

demi mengundang perhatian dari para penganut agama kami…. tentu saja keadaannya berbeda

jauh sekali”

“Oooh, kiranya begitu,” ujar Hoa Thian-hong sambil tersenyum. “Kaucu tidak bersemayan dalan

kuil It-goan-koan untuk menyucikan diri, mau apa engkau berkunjung kesini?”

Kaucu dari perkumpulan Thong-thian-kauw itu mengelus jenggotnya dan menjawab.

“Tempat bersemayanku tidak jauh letaknya dari tempat ini, kuil It-goan-koan hanya kugunakan

sebagai tempat penyebaran agama kami, tempat itu bukan tempat kediamanku….

“Kaucu,” tukas Hoa Thian-hong sebelum iman tua itu menyelesaikan kata-katanya. “pasukan

musuh telah masuk ke wilayah kekuasaanmu, engkau bukannya pusing kepala menyusun siasat

dan rencana untuk menghadapi serangan total itu, enaknya saja hidup senang di dalam rumah,

apakah kan hendak menunggu sampai pasukan musuh telah tiba diambang pintu, kau baru buka

pintu benteng untuk menyerah?”

Thong-thian Kaucu tertawa terbahak-bahak.

“Haaaah…. haaah. .haaaah…. bulan tujuh tanggal lima belas nanti, pinto akan membuka suatu

pertemuan besar Kian ciau tay bwee di See thian, pada waktu itu aku mengharapkan pelbagai

orang gagah dari segala lapisan masyarakat bisa ikut menghadiri pertemuan tersebut. Undangan

buat saudara kecil telah kami sampaikan dan sekarang disimpan oleh Ciong Lian-khek….!”

Ia berhenti sebentar, lalu sambil tertawa tergelak lanjutnya, “Saat ini pelbagai orang gagah di

kolong langit sedang siapkan kuda melatih tentara agar bisa memperlihatkan kelihaiannya dalam

pertemuan besar itu, saudara cilik, kenapa kau masih berlarian di tempat luaran? Kalau sampai

jiwamu melayang, pertemuan besar Kian ciau tay hwee pasti akan keku-rangan kau seorang….

waaah! Kalau sampai begitu suasana tentu kurang meriah”

“Bulan tujuh tanggal lima belas?” tanya Hoa Thian-hong dengan alis berkerut.” bukankah berarti

tinggal delapan hari lagi?”

Sambil tertawa Thong-thian Kaucu mengangguk.

“Betul, selama beberapa hari ini sebagai besar para orang gagah dari kolong langit telah

berdatangan semua kemari”

“Senja tadi, aku telah menyalahi tiga orang muridmu,” ujar sang pemuda sambil tersenyum.

“Aaai…. itu bukan soal besar” tukas sang kaucu sambil tertawa. “Mereka berani mencari garagara

dengan dirimu, itu berarti bahwa mereka tak tahu diri. Manusia yang tak tahu dari memang

sudah sepantasnya kalau diberi hukuman”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

450

Setelah tertawa tergelak, lanjutnya, “Kalau dibandingkan terhadap beberapa orang dari Hong-imhwie,

saudara cilik sudah bersiap lebih murah hati terhadap mereka, disini pinto ucapkan banyak

terima kasih terlebih dahulu”

Selesai berkata ia segera memberi hormat.

Hoa Thian-hong balas memberi hormat, mereka berdua bicara dan bergurau dengan bebasnya

seakan-akan dua sahabat lama yang saling bertemu lagi setelah lama berpisah.

Thong-thian Kaucu alihkan sorot matanya ke samping, sambil memandang wajah Pek Soh-gie

dengan muka berseri-seri serunya. “Siapa nona ini? wajahnya cantik jelita bagaikan bidadari

sedang pakaiannya sederhana sekali, sampai pinto sendiripun tak bisa menebak asal usulnya”

Menyaksikan tingkah laku iman tua itu sedikit kurang beres, Pek Soh-gie tak sudi menjawab. Ia

segera melengos dan memandang ke arah Hoa Thian-hong yang berada di sisinya.

Hoa Thian-hong dapat menangkap maksud hati gadis itu, dengan wajah dingin jawabnya, “Dia

adalah putri kesayangan dari Pek loo pangcu dari perkumpulan Sin-kie-pang, lebih baik pangcu

tak usah banyak bertanya”

Kaucu dari perkumpulan Thong-thian-kauw ini benar-benar bermuka tebal, bukan gusar malah

dia tertawa.

“Sudah lama aku dengar katanya Pek Siau-thian mempunyai sepasang putri kembar yang

memiliki raut wajah cantik jelita, raut wajah nona ini mirip sekali dengan wajah Pek Kun-gie yang

seringkali berkelana di dalam dunia persilatan, apakah dia adalah siputri sulung nona Soh-gie?”

“Hmmm…. sungguh banyak utusan yang diketahui kaucu, tidak salah nona ini memang nona Pek

Soh-gie”

“Kalau memang begitu sungguh aneh sekali,” kata Thong-thian Kaucu dengan alis berkerut,

“sudah lama aku dengar berita yang tersiar dalam Bulim mengatakan bahwa antara saudara cilik

dengan Pek Kun-gie dari bermusuhan akhirnya berubah jadi sahabat dan kemudian jadi sahabat

kental, kenapa sekarang malah melakukan perjalanan bersama dengan si sulung?”

Hawa amarah kontan membakar dalam dada Hoa Thian-hong sesudah mendengar perkataan itu,

pikirnya di dalam hati, “Thian Ik si hidung kerbau ini adalah salah seseorang diantara pembunuh

ayahku, cepat atau lambat aku akan mencabut pula selembar wajahnya, kenapa aku musti

memburu napas pada saat ini….?”

Ia tahu gelagat serta enteng beratnyan urusan, setelah berpikir begitu hawa amarah pun segera

ditekan kembali, ujarnya dengan suara ketus.

“Urusan pribadi dari aku orang she Hoa lebih baik tak usah dicampuri oleh Kaucu, saat

pertemuan pada bulan tujuh tanggal lima belas sebentar lagi sudah tiba, bila perkataan dari

kaucu belum selesai maka silahkan dilanjutkan pada pertemuan Kiam ciau tay hwee nanti!”

Kepada Pek Soh-gie serunya.

“Nona mari kita pergi”

Gadis itu mengangguk, mereka berdua segera putar badan dan berlalu dari situ.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

451

Tiba-tiba Thong-thian-kauw mengerdipkan matanya ke kiri dan kanan, seketika itu juga

terdengarlah desiran angin tajam menderu-deru, delapan orang tosu cilik berbaju merah segera

menyebarkan diri di tengah jalan dan menghadang jalan pergi kedua orang itu dengan pedang

pendek terhunus ditangan.

Di bawah sorot cahaya bintang tampaklah sinar tajam yang mengilaukan mata memancar

keudara, rupanya pedang pendek yang berada di dalam genggaman kedelapan orang tosu cilik

jubah merah itu merupakan senjata mustika yang tajam sekali.

0000O0000

JILID 31

TERDENGARLAH Thong-thian Kaucu angkat kepala dan tertawa terbahak-bahak, suaranya keras

hingga menggetarkan seluruh jagad, ia berkata, “Hoa Thian-hong, kau jangan gegabah dan

bertindak seenaknya sendiri, ketahuilah bahwa ilmu silat yang kau miliki sekarang masih belum

mampu digunakan untuk menerobos pertahanan ilmu barisan Kan lee kiam tin dari pun kaucu

ini!”

“Ilmu barisan Kan lee kiam-tin?” tanya sang pemuda dengan alis berkerut, “belum pernah

kudengar nama barisan itu!”

“Kalau engkau tak puas, silahkan untuk mencobanya sendiri!”

Hoa Thian-hong mendengus dingin, sorot matanya menyapu sekejap sekeliling tempat itu,

rupanya dalam waktu yang amat singkat itulah kedelapan orang tosu cilik berjubah merah itu

telah menyebarkan diri ke sekeliling kalangan, setiap orang menyilangkan pedangnya di depan

dada dan berdiri tegak bagaikan batu karang, dilihat dari wajah mereka yang begitu serius

tampaklah bahwa barisan itu benar-benar luar biasa sekali.

Setelah seringkali mengalami bencana, pengalaman yang dimiliki Hoa Thian-hong luas sekali.

Setelah mengamati sebentar situasi yang terbentang di depan mata saat ini, sadarlah pemudaitu

bahwa musuh tangguh sedang dirinya lemah, kalau pertarungan dilangsungkan maka dialah

yang bakal kalah atau bahkan terancam jiwanya.

Oleh sebab itu sambil menahan hawa amarah yang berkobar dalam dadanya, ia berkata kepada

Pek Soh-gie, “Aku masih ada urusan yang harus diselesaikan dengan kaucu ini, silahkan nona

berangkat lebih dahulu”

Melangak hati Pek Soh-gie mendengar perkataan itu, setelah termenung sebentar katanya lirih,

“Aku tidak terburu-buru ingin pergi, lebih baik kutunggu saja dirimu di tempat ini!”

Hoa Thian-hong segera mengerutkan dahinya, ia berpikir, “Aaaai….! Nona ini benar-benar terlalu

jujur, musuh berada di depan mata ia masih tak sadar, bukannya berusaha untuk mencari akal

guna meloloskan diri, ia malah bersikeras untuk tinggal disini…. aaai, apa dayaku sekarang?”

Sementara itu Thong-thian Kaucu dengan sorot mata yang tajam sedang mengawasi kedua

orang itu, dia merasa yang pria tinggi kekar dan berwajah tampan sedang perempuan lemah

lembut berwajah cantik, bila mereka berdua berdiri berdampingan nampaklah begitu serasi dan

mempersonakan hati orang.

Lama kelamaan hatinya jadi panas, dari rasa kagum ia jadi dengki dan iri, sambil mendengus

berat segera ujarnya, “Hoa Thian-hong, ayah dan ibumu adalah jago-jago lihay dari kalangan

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

452

lurus, sebaliknya kau rela menggabungkan diri ke dalam tubuh perkumpulan Sin-kie-pang,

apakah tindakanmu ini tidak takut memalukan nama keluarga serta menurunkan derajat nenek

moyangmu?”

“Hmm! Selamanya aku orang she Hoa berkelana kesana kemari seorang diri, perbuatan suci

bersih dan yakin tak pernah ternoda!, sampai sekarang aku sama sekali tidak bergabung dengan

pihak Sin-kie-pang maupun Hong-im-hwie….”

Tidak menanti sampai pemuda itu menyelesaikan kata-katanya, kaucu dari perkumpula Thongthian-

kauw itu sudah menukas, Pengaruh perkumpulan Sin-kie-pang meliputi tujuh propinsi, jago

lihay yang tergabung dalam perkumpulan itu banyak sekal sukar dihitung dengan jari, bilamana

engkau memang bukan anak buah dari perkumpula Sin-kie-pang, lebih baik janganlah

mencampuri urusan kami, tinggalkan Pek Soh Gi di tempat ini dan berlalulah seorang diri”

“Eeei…. ada apa? jadi engkau hendak menahan nona Pek Soh-gie di tempat ini?” seru Hoa Thianhong

dengan alis berkerut.

Dia adalah enghiong sejati, dalam pemikirannya Pek Soh-gie yang mulia dan halus berbudi tak

pernah bermusuhan dengan orang, tak pernah bermusuhan dengan umat Bulim, siapapun tak

punya alasan untuk bermusuhan dengan dirinya, tindakan Thong-thian Kaucu yang hendak

menahan dirinya benar-benar merupakan satu kejadian yang sama sekali berada diluar

dugaannya.

Terdengar kaucu dari perkumpulan Thong-thian-kauw itu tertawa dingin, lalu berkata, “Kau tak

mau banyak bicara lagi, sekarang pun kaucu akan membuka sebuah jalan hidup bagimu, asal

engkau suka berpeluk tangan dalam soal ini maka kau akan kubiarkan berlalu dari sini dalam

keadaan sela-mat, sebaliknya kalau engkau membangkang maka kemungkinan besar dalam

pertemuan Kiam ciau Tay hwee pada bulan tujuh tanggal lima belas nanti akan kekurangan

engkau seorang”

Hoa Thian benar-benar jadi naik pitam, bentaknya, “Sungguh memalukan sekali, tak kusangka

engkau sebagai ketua dari suatu perkumpulan besar ternyata bermoral sebejad itu, aku orang

she Hoa….”

Tiba-tiba ia marasa bahwa sikap Thong-thian Kaucu sama sekali berdiam.

ketika datang tadi ia bersikap bebas dan wajah penuh senyuman, sebaliknya sekarang nampak

begitu licik dan memuakkan sekali.

Tiba-tiba Pek Soh-gie berkata, “Kaucu! aku masih ada urusan dibadan sehingga tak dapat

berdiam terlalu lama di sini, bila kaucu ada urusan harap segera diutarakan sekarang juga!”

“Eeei…. bukankah barusan kau mengatakan sendiri bahwa kau tak ada urusan dan tidak ingin

cepat-cepat berlalu dari sini?” seru sang kaucu dengan mata berkilat.

Merah padam selembar wajah Pek Soh-gie karena jengah, bibirnya bergerak seperti mau

mengatakan sesuatu tapi akhirnya maksud itu dibatalkan, dengan wajah berubah ia bungkam

dalam seribu bahasa.

Thong-thian Kaucu tertawa dingin, sorot matanya dengan pandangan tengik menyapu terus raut

wajahnya yang cantik itu, ujarnya kembali, “Dewasa ini para jago sedang saling bermusuhan

satu sama lainnya, masing-masing pihak berusaha agar rencana besarnya bisa dicapai dengan

sukses, Jin Hian serta ayahmu juga sedang bentrok dan kini malah bermusuhan satu sama

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

453

lainnya, jika mereka tahu akan jejakmu dan engkau lanjutkan kembali perjalanannya ke depan,

maka orang-orang dari pihak Hong-im-hwie pasti akan berusaha menangkap dirimu”

“Terima kasih atas petunjuk dari kaucu, asal aku bersiap lebih hati-hati, rasanya itu sudah lebih

dari cukup”

“Pihak Hong-im-hwie sangat berhasrat menangkap dirimu, sekalipun engkau bersikap hati-hati

juga tak ada gunanya, apakah kau mampu menahan serangan mereka?”

Jilid 23

KINI aku sedang menjalankan titah dari ibuku untuk segera berangkat ke kota Ceng kang guna

menjumpai ayahku, sekalipun harus menempuh mara bahaya, tugas ini tak bisa kutunda dengan

begitu saja”

“Haaah…. haaaah…. haaaah….” Thong-thian Kaucu segera tertawa terbahak bahak” Meskipun

kau memiliki keberanian untuk melanjutkan perjalanan dengan menempuh bahaya, tetapi punkaucu

merasa tidak lega membiarkan engkau lanjutkan perjalanan seorang diri”

Dari pembicaraan yang selama ini berlang sung, Hoa Thian-hong dapat menarik kesimpulan

bahwa Thong-thian Kaucu mempunyai maksud jelek terhadap dara ayu itu, dengan gusar ia

mendengus lalu serunya, “Hmmm! Musuh tangguh sedang berada diambang pintu, kau sebagai

kaucu dari perkumpulan Thong-thian-kauw bukanya memikirkan perkumpulannya yang berada

dipintu gerbang kehancuran, sebaliknya malah mencampuri urusan orang lain…. apakah engkau

tak takut kalau perbuatanmu itu akan ditertawakan orang?”

Dengan wajah berubah dan mata melotot besar Thong-thian Kaucu berpaling, kemudian

serunya ketus, “Kau sibocah cilik, tahu apa? Saat ini situasi amat kritis dan masing-masing pihak

sekarang berusaha merebut posisi yang lebih menguntungkan dengan menggunakan kecerdikannya

masing-masing, andaikata Jin Hian berhasil menawan putri sulung dari Pek Siau-thian ini,

dengan adanya sandera di tangan maka apa yang dia minta pasti akan dikabulkan oleh orang

she Pek itu…. coba bayangkan apakah urusan ini tidak menyangkut soal keamanan dari pihak

Thong-thian-kauw? Apakah pun kaucu tidak pantas untuk mengurusinya?”

“Benar juga perkataan itu,” pikir Hoa Thian-hong di dalam hati, “Seandainya pihak Hong-im-hwie

berhasil menguasai Sin-kie-pang, maka dengan kekuatan gabungan dua perkumpulan yang maha

besar, pihak Thong-thian-kauw pasti akan mengalami kehancuran total.”

Sementara itu Pek Soh-gie telah berkata, “Kecerdasan kaucu benar-benar mengagumkan hati

siau li, tolong tanya apakah maksud kaucu dan apa pula yang musti siau li lakukan sekarang….”

“Turutilah anjuran dari kaucu dan jadilah tamu dari perkumpulan Thong-thian-kauw untuk

sementara waktu, dengan cepat aku akan mengirim orang untuk memberi kabar kepada ayahmu

agar dia datang menjemput sendiri dirimu….”

Setelah mendengar perkataan itu, adalah Hoa Thian-hong tentang apa yang sedang terjadi,

bukannya gusar dia malah tertawa, katanya, “Haaah…. haaah…. suatu rencana yang amat

bagus, suatu siasat yang benar-benar licik, rupanya bicara pulang pergi selama ini tujuannya

tidak lain adalah engkau sedang menjalankan rencana besarmu…. agaknya kau hendak

menganggap nona ini sebagai saudara agar pangcu dari Sin-kie-pang menuruti kemauanmu….”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

454

“Hmmm! bukan begitu, saja,” tukas kaucu dari perkumpulan Thong-thian-kauw dengan alis

berkerut, “engkaupun akan sekalian kuringkus, agar orang tuamu serta komplotanmu bisa

kupergunakan pula tenaganya”

“Seandainya Sin-kie-pangcu serta sahabat dan kerabat keluarga Hoa kami tak mau menuruti

kemauanmu, apa yang hendak kaulakukan?”

“Hmmm! gampang sekali, kalau memang demikian keadaannya maka jiwa kalian berdua tak bisa

diselamatkan lagi!”

Hoa Thian-hong segera tertawa terbahak-bahak.

“Haaah…. haaaah…. haaaaah…. cara kerjamu benar-benar terkutuk dan memalukan sekali, aku

rasa Jin Hian pribadi belum tentu mempunyai jalan pikiran serendah itu, ditinjau dari hal ini bisa

ditarik kesimpulan bahwa kaucu dari perkumpulan Thong-thian-kauw ada lah manusia yang

paling tak tahu malu diantara tiga kekuatan besar”

“Hmmm! Siapa yang berhasil dia jadi raja, siapa yang gagal dia jadi buronan, siapa tinggi siapa

rendah tak bisa ditetapkan dengan perkataan semacam itu!”

“Haah…. haah…. haaah…. pendapat yang tinggi, pendapat yang tinggi…. meskipun aku orang

she Hoa tidak becus, namun aku tak sudi menyerah kalah dengan begitu saja, silahkan kaucu

turun tangan, aku ingin sekali minta beberapa petunjuk darimu!”

“Hmm! aku sebagai ketua dari suatu kekuatan besar tak sudi turun tangan melayani kurcaci

macam engkau!”

Sambil berkata dia segera angkat senjata hudtimnya dan dikebutkan ke arah kawanan tosu cilik

berjubah merah itu.

Hoa Thian-hong mengerutkan alisnya.

“Kau anggap sebuah barisan pedang yang begini kecil benar-benar mampu mengurung kami….”

teriaknya.

Bentakan keras berkumandang di angkasa, cahaya tajam berkelebat menyilaukan mata, tiba-tiba

selapis hawa pedang yang amat tajam mengurung datang dengan hebatnya.

Hoa Thian-hong melototkan matanya, ia lihat kabut pedang yang menyelimuti tempat itu rapat

sekali seolah-olah dari enpat penjuru memancar masuk sinar perak yang amat tajam, begitu

cepat datangnya serangan itu hingga tahu-tahu sudah tiba di depan mata.

Dalam keadaan dan apa boleh buat, terpaksa dia enjotkan badan dan berkeling ke samping.

Belum sempat tubuhnya berdiri tegak, tiba-tiba terasa beberapa desiran angin tajam kembali

membokong tubuhnya dan mengancam jalan darah penting di belakang pinggang.

Buru-buru ia tekuk pinggang ke depan, menyalurkan hawa pukulan dan putar badan mengirim

satu serangan dengan jurus Kun Siu Ci sau untuk membendung datangnya ancaman angin dingin

dari belakang itu.

Sementara itu Pek Soh-gie yang masih tetap berdiri di sisi lapangan, tiba-tiba diserang oleh

seorang tosu cilik baju merah dengan sebuah totokan kilat, ia jadi kaget dan buru-buru loncat ke

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

455

belakang untuk menghindar, dalam waktu singkat kedua orang itu segera terjerumus di dalam

kepungan delapan orang tosu cilik dengan barisan pedangnya yang lihay itu.

Hoa Thian-hong yang harus menerima kekalahan dalam satu jurus belaka, diam-diam merasa

amat terkejut, ia segera pertingkat kewaspadaannya untuk menjaga segala kemungkinan yang

tidak diinginkan.

Dengan telapak kiri mainkan jurus Kun siu ci sau untuk melak ukan pertahanan, tangan

kanannya diam-diam disaluri dan siap melancarkan serangan dengan jurus ‘menyerang sampai

mati’ yang diketahui amat ampuh dan mengerikan itu.

Sebagai pemuda yang, berpengalaman dan tenaga dalamnya cukup sempurna, setelah

bertempur beberapa jurus dia mulai bisa menangkap gerak-gerik kedelapan orang tosu cilik baju

merah itu, ia tahu bahwa mereka memiliki serangkaian ilmu pedang yang amat sakti dengan

kematangan yang luar biasa, bila harus bertempur satu lawan satu mungkin mereka masih bukan

tandingannya, tetapi setelah bergabung di dalam barisan pedang Kan Lee kiam tin ini maka

kehebatan-nya sungguh luar biasa.

Di tengah pertempuran, bayangan tubuh kedelapan orang tosu cilik baju merah itu mendadak

lenyap tak berbekas, yang terrlihat hanyalah cahaya pedang yang berkelebat silih berganti, kian

lama pertempuran itu berlangsung barisan pedang itupun bergerak semakin cepat, dengan

sendirinya daya tekanan pun semakin hebat sehingga jauh diluar dugaan Hoa Thian-hong….

Hoa Thian-hong serta Pek Soh-gie yang terjebak dalam barisan itu lama kelamaan jadi gugup

dan gelagapan, mereka merasa keteter hebat dan tak mampu bergerak lebih banyak.

Untung tujuan lawan ingin menangkap mereka dalam keadaan hidup, sehingga setiap saat

terancam bahaya mereka selalu berhasil meloloskan diri dalam keadaan selamat kendati begitu

keadaan mereka cukup mengcemaskan.

Tiba-tiba terdengar Thong-thian Kaucu berteriak dengan suara keras, “Pek Soh-gie, pedang dan

golok tak bermata kalau kau mau menyerah dan mengaku kalah maka jiwamu bisa selamat,

tetapi kalau tetap membandel, jangan salahkan kalau sampai jiwamu terancam”

Pek Soh-gie tetap berlagak pilon dan seolah-olah tidak mendengar sesuatu di tengah

pertarungan ia tetap bekerja keras menangkis serta membendung datangnya ancaman ancaman

pedang yang muncul dari empat penjuru….

Pada dasarnya kepandaian silat yang dia kuasahi hanya ilmu mempertahankan diri, justru karena

itulah kepandaian tersebut se gera menunjukkan manfaatnya dalam kerubutan barisan pedang

itu.

Lain keadaannya dengan Hoa Thian-hong, ilmu pukulan tangan kirinya hanya khusus digunakan

untuk menyerang belaka, di bawah perubahan barisan Kan Lee Kiam tin yang serba rumit dan

membingungkan ia jadi kewalahan sendiri, sebaliknya ilmu totokan Ci yu jit ciat di tangan

kanannya tak mampu mengimbangi permainan telapak kirinya yang begitu cepat dan gencar

itu….

Dalam waktu singkat pertempuran sudah berlangsung ratusan jurus banyaknya, tampak cahaya

tajam memancar keempat penjuru, hawa pedang membumbung ke angkasa, cahaya tajam yang

menyilaukan mata memancar keluar dari barisan Kan Lee kiam tin itu dan menelan tubuh Hoa

Thian-hong berdua….

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

456

Kancu dari perkumpulan Thong-thian-kauw yang menonton jalan-nya pertempuran itu dari sisi

lapangan diam-diam merasa senang hati setelah menyaksikan kemenangan berada di pihaknya,

setelah menyaksikan pula kecantikan wajah Pek Soh-gie yang begitu menawan hati, tiba-tiba

satu ingatan berkelebat dalam benaknya.

“Gadis itu begitu cantik dan menawan hati, dalam seratus tahun sulit untuk menemui perempuan

semacam ini, sedang Hoa Thian-hong adalah pemuda berbakat yang bisa di pakai tenaganya,

aku tak boleh bertindak gegabah sehingga melukai kedua orang itu….”

Berpikir sampai disitu ia segera enjotkan bidan dan menerjang masuk ke dalam barisan, jari

tangannya bekerja cepat melancarkan sebuah totokan ke arah tubuh Pek Soh-gie.

Sementara itu putri sulung dari Pek Siau-thian ini sudah tak kuasa menahan diri, ketika Thongthian

Kaucu melancarkan serangannya ia tak mampu melakukan perlawanan lagi. Tampak

bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu jalan darah Gi sim nya jadi kaku dan sambil

menjerit tertahan robohlah tubuhnya terkulai ke atas tanah.

Thong-thian-kauw bekerja cepat, ia segera menyambar pinggangnya dan mengepit di bawah

ketiak, senjata hud-timnya berkelebat kemuka langsung menyapu tubuh Hoa Thian-hong.

Pemuda itu sangat gusar, tubuhnya dengan cepat menyingkir ke samping menghindarkan diri

dari kebutan tersebut, telapaknya lang sung membabat ke depan.

Serangan yang dilancarkan dalam keadaan marah ini sungguh luar biasa sekali, sulit bagi Thongthian

Kaucu untuk melayani dengan begitu saja, suara bentakan segera berkumandang

diangkat, cahaya pedang yang menyilaukan mata meluncur datang dari depan belakang kiri

maupun kanan, begitu gencar serangan itu memaksa Hoa Thian-hong harus menarik kembali

serangannya sambil loncat ke samping.

Thong-thian Kaucu tertawa terbahak-bahak, dia putar senjata hud-timnya, kemudian laksana

kilat berkelebat kemuka.

Sebelum Hoa Thian-hong sempat melakukan suatu tindakan, dua buah jalan darahnya tahu-tahu

sudah ditotok oleh kebutan tersebut, kakinya jadi lemas dan tak tahan lagi ia roboh terjengkang

ke atas tanah.

Semua kejadian itu berlangsung dalam sekejap mata, angin malam masih berhembus sepoisepoi.

cahaya bintang bertaburan di angkasa, fajar sama sekali belum menyingsing.

Air muka Thong-thian Kaucu berseri-seri, ia memandang sekejap ke arah Pek Soh-gie yang

berada dalam kepitannya, dari balik mata memancarkan sorot cahaya yang mengandung birahi.

Setelah jalan darah kakunya tertotok, Pek Soh-gie kehilangan semua tenaganya dan tak bisa

berkutik, ketika ia sadar dan menyaksi kan dirinya berada dalam pelukan orang, wajahnya

berubah jadi merah karena jengah, rasa malu dan marah bercampur aduk membuat gadis itu

hampir saja menangis.

Dalam keadaan begini ia tak bisa berbuat lain kecuali pejamkan mata rapat-rapat dengan wajah

hijau kepucat-pucatan, diam-diam ia merasa menyesal sekali….

Hoa Thian-hong sendiri berbaring di atas tanah dengan mata melotot bulat, ia memandang ke

arah Thong-thian Kaucu dengan sorot mata dingin penuh kegusaran, ingin sekali dia loncat

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

457

bangun dan melancarkan serangan dengan sepenuh tenaga, tapi sayang, jalan darahnya tertotok

dan ia tak mampu melakukan apa yang diinginkannya itu.

Dalam keadaan begini pemuda tersebut hanya bisa mengatur napas sambil berusaha untuk

membebaskan diri dari pengaruh totokan.

“Hoa Thian-hong!” terdengar kaucu dari perkumpulan Thong-thian-kauw itu berseru, “menurut

laporan anak buahku, katanya kau malang melintang di dalam dunia persilatan tanpa tandingan,

menurut penglihatanku berita yanug tersiar dalam dunia persilatan tak bisa dipercaya sama

sekali”

“Tak usah banyak bacot” tukas Hoa Thian-hong dengan mata melotot, “mati, cincang mau

bunuh, cepat lakukan!”

“Haah…. haaah…. haah….” Thong-thian Kaucu tertawa terbahak-bahak sambil mengelus

jenggotnya, “hanya beberapa orang bocah cilik saja tak mampu menangkan, buat apa engkau

melakukan penjalanan di dunia persilatan serta mencari nama di kolong langit?”

Hoa Thian-hong mengerutkan alisnya, dengan gusar ia berseru, “Seorang lelaki boleh dibunuh

tak sudi di hina, engkau sebagai ketua dari suatu perkumpulan besar apakah tidak malu

merosotkan derajat sendiri dengan sikap seperti itu?”

Thong-thian Kaucu tertawa terbahak-bahak, ia duduk kembali di atas tandunya dan meletakkan

tubuh Pek Soh-gie disampingnya, kemudian kepada tosu cilik yang membawa senjata Ji gi

titahnya, “Totok jalan darah Sam yang nya!”

Toosu cilik itu mengiakan dengan hormat lalu berjalan menghampiri si anak muda itu, dia ambil

keluar tiga batang jarum perak yang panjangnya dua cun kemudian di tancapkan di atas jalan

darah Gi cung, Gi ji serta Jit kan tiga buah jalan darah penting.

Setelah jarum itu ditusuk ke dalam tubuhnya, dengan gerakan yang cekatan sekali dia tepuk

bebas jalan darah sang pemuda yang tertotok.

Setelah tiga urat pentingnya terkunci maka hawa murni tak dapat disalurkan lagi, dalam keadaan

begini sekalipun seorang jago lihay yang memiliki tenaga dalam amat sempurnapun akan

berubah menjadi seorang manusia lemah yang sama sekali tidak bertenaga. Cara ini aneh sekali

dan hanya Thong-thian Kaucu seorang yang memahami.

Hoa Thian-hong berusaha mencoba beberapa kali tapi setiap kali hawa murninya tak mampu

dikerahkan keluar, akhirnya dia menghela napas panjang dan tanpa mengatakan sepatah

katapun menantikan hukuman yang akan dijatuhkan kepadanya.

Thong-thian Kaucu tertawa, dia ketuk gagang hud-timnya di atas tandu, empat tosu cilik baju

kuning itu segera menggotong tandu tadi dan diiringi bunyi musik aneh, berangkatlah

rombongan itu balik melalui jalan semula….

Hoa Thian-hong dengan digotong oleh dua orang tosu cilik baju merah berjalan di belakang

tandu itu, sepanjang perjalanan otaknya berputar terus memikirkan semua ke jadian yang

dialaminya selama sehari ini….

Pagi tadi ia masih menjadi tamu terhormat dari Giok Teng Hujin. waktu itu keadaannya begitu

agung dan penuh wibawa.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

458

Kemudian tengah hati…. terbayang kembali kejadian ditepi laut, dimana Giok Teng Hujin

munculkan diri di depannya dalam keadaan telanjang ia gelengkan kepala berulang kali, rasa

malu dan menyesal muncul dalam hati kecilnya.

Terbayang akan diri Giok Teng Hujin, tanpa terasa dia angkat kepala dan menengok ke arah Pek

Soh-gie yang berbaring di atas tandu, ia temukan ketika itu Thong-thian Kaucu yang berada

disisinya dengan mengamati tubuh gadis itu dengan sorot mata aneh, ia segera teringat akan

soal pedang emas, pikirnya, “Menurut petunjuk dari Giok Teng Hujin, katanya pedang itu

semuanya terdiri dari dua batang yakni pedang jantan dan pedang betina, menurut dia pedang

yang betina sekarang tersimpan di dalam pedang pusaka milik Thong-thian Kaucu….”

Berpikir sampai disini tanpa terasa sinar matanya segera dialihkan ke arah kanan di mana tosu

cilik baju merah itu memegang sebilah senjata pedang pusaka, ditinjau dari warna sarung

pedangnya yang coklat dan antik bisa dibayangkan bahwa pedang itu tentulah sebilah pedang

mustika….

Tapi…. benarkah pedang emas berada di dalam pedang pusaka itu? dan Thong-thian Kaucu

sendiri tahukah tentang persoalan ini?

Kemudian ia teringat kembali akan nenek baju abu-abu yang munculkan diri secara mendadak, ia

teringat kembali ketika pipinya di tampar dengan keras….

Pikirnya di dalam hati, “Aaaai….! Seharusnya dari dulu aku mesti tahu diri, berbicara tentang adat

istiadat aku tidak terlalu terikat oleh adat yang te tek bengek tak karuan itu, sebaliknya tentang

ilmu pedang aku hanya mengandalkan sejurus ilmu pukulan belaka, bukan saja ilmu pedang

sudah kulupakan, tiga jurus ilmu totokan dari Ci yu jit ciat pun tak berhasil kuyakini….”

Makin kupikir ia semakin menyesal hingga tanpa terasa keringat mengucur keluar membasahi

tubuhnya, kini ia sudah tertawan dan mati hidupnya sukar diramalkan, kemungkinan bagi dirinya

untuk merubah semua kesalahan itu kian menipis.

Sementara ia sedang menyesal dan kecewa sambil berusaha mencari akal untuk meloloskan diri,

tiba-tiba suara musik berhenti dan suasana berubah jadi sunyi senyap.

Ia segera menengadahkan ke atas, tampaklah sebuah kuil yang megah dengan atap hijau

tembok merah muncul di depan mata.

Beberapa saat kemudian rombongan imam itu sudah berada diruang dalam, sambil bangkit dari

tandunya Thong-thian Kaucu segera, memerintahkan, “Bawa nona itu masuk istana Yang sim

tian dan jebloskan Hoa Thian-hong ke dalam penjara bawah tanah!”

Mendengar perintah itu Hoa Thian-hong serta Pek Soh-gie tanpa sadar saling bertukar

pandangan, sorot mata mereka berdua sama-sama memancarkan kecemasan, bibir bergerak

seperti mau mengucapkan sesuatu namun tak sepatah katapun yang diutarakan keluar.

Tampaklah empat orang tosu cilik itu segera menggotong tandu itu dan membawa Pek Soh-gie

berlalu dari sana, sebaliknya dua orang tosu yang lain segera menggusur tubuh Hoa Thian-hong

menuju ke arah bela kang istana….

Di belakang bangunan kuil itu didirikan sebuah rumah yang terbuat dari batu, disanalah biasanya

Thong-thian Kaucu memenjarakan buronannya, setelah tiba disana kedua orang tosu baju

merah itu segera serahkan Hoa Thian-hong kepada petugas penjara, oleh sang petugas pemuda

itu dijebloskan ke dalam sebuah ruang batu yang kecil dan bertirai besi.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

459

Ruangan itu luasnya hanya delapan depa, ampat penjuru tiada jendela kecuali sebuah lubang

hawa sebesar mangkuk di atas pintu baja, karena itu meskipun di tengah hari namun suasana

dalam ruangan itu tetap gelap gulita dan terasa lembab sekali.

Terdengar bunyi suara gemerincingan yang menggema memecahkan kesunyian, pintu ruangan

ditutup dari depan. Hoa Thian-hong melihat ruangan itu kosong melompong, kecuali ia sendiri

tak nampak ada benda lain lagi yang berada disitu.

Diam-diam segera pikirnya, “Asal ketiga batang jarum perak yang menancap di atas dadaku bisa

kucabut keluar, niscaya penjara batu yang kecil ini tak mampu mengurung diriku, cuma….” dia

lepaskan pakaiannya dan meraba ketiga batang jarum perak itu, terasalah benda-benda itu

menancap ke dalam tubuhnya hingga lenyap, bila dihari biasa asal dia mengerah kan tenaga

dalam di atas jarinya maka jarum itu akan segera tercabut keluar, tapi sekarang hawa murninya

tak mampu disalurkan maka tindakan semaeam itupun tak mungkin bisa dilakukan.

Dengan putus asa pemuda itu hanya bergumam seorang diri, “Waaah…. kalau aku mati di

tempat ini, hal itu benar-benar tak ada harganya….”

Setelah termenung sebentar, ia berpikir lebih jauh, Bulan tujuh tanggal lima belas pihak

perkumpulan Thong-thian-kauw akan mengadakan pertemuan Kian ciau tay-hwee…. Hmmm!

pertemuan Kian ciau tay hwee…. hanya akan berlangsung tujuh delapan hari lagi, waktu itu

pelbagai aliran akan saling berjumpa, pelbagai keluarga yang bermusuhan akan bertemu satu

sama lainnya pada waktu itu pembicaraan yang tidak cocok akan mengakibatkan banjir darah….

mayat akan bertumpuk bagaikan bukit…. dalam menghadapi pertemuan yang begini pentingnya,

apa ibu akan hadir atau tidak….

Terbayang akan ibunya, ia merasa rindu bercampur sedih, rasa ingin hidup semakin menjadi….

dia ingin cepat-cepat lolos dari tempat itu dan bertemu kembali dengan ibunya.

Mendadak suara gemerincingan berkumandang dari luar ruangan.

Satu ingatan berkelebat dalam benaknya, seolah-olah dia melihat Giok Teng Hujin dengan

sanggulnya yang tinggi serta gaunnya yang panjang sedang munculkan diri diternpat itu.

Suara gemerincingan sekali demi sekali berkumandang terus tiada hentinya, jantung terasa

berdebar semakin keras, lama kelamaan ia mulai tak kuasa menahan diri….

Beberapa saat kemudian suara langkah kaki yang santai berhenti tepat di depan pintu

ruangannya, diikuti pintu besi itupun dibuka orang….

Hoa Thian-hong mengintip keluar lewat celah pintu yang terbuka, namun tidak nampak seorang

manusiapun berada disana, tanpa terasa ia bertanya dengan suara lirih, “Siapa?”

Gelak tertawa yang rendah dan berat bergema diseluruh ruangan, suara tertawa itu begitu dingin

dan menyeramkan seakan-akan muncul dari liang salju yang amat dalam, Hoa Thian-hong jadi

merinding dan bulu kuduknya tanpa terasa pada bangun berdiri.

Tiba-tiba pintu besi dibuka orang, seorang imam perawakan tinggi dengan sebilah pedang

tersoren pada punggungnya bagaikan sukma gentayangan murcul di depan pintu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

460

Hoa Thian-hong dengan tajam menatap imam itu beberapa saat lamanya, tiba-tiba ia teringat

kembali siapakah orang itu, tanpa te rasa sambil tertawa nyaring serunya, “Oooh…. aku kira

siapa yang datang, tak tahunya adalah Ang Yap tootiang…. selamat datang, selamat datang….”

Ang Yap toojin mendengus dingin, sambil menyeringai seram serunya, Hoa Thian-hong, kau tak

mengira bukan, bakal menjumpai hari seperti ini….?”

Hoa Thian-hong mengerutkan alisnya lalu tertawa, katanya, “Kenapa musti ini hari? Kalau

engkau hendak membalas dendam silahkan saja untuk turun tangan….”

“Huuuh….! dalam keadaan begini kau masih bisa bicara keras? Kalau sucoumu sudah turun

tangan…. Hmmm! Mungkin kau tak kuat menahan diri”

Sembari berkata perlahan-lahan imam itu maju ke depan.

Dari sikap lawannya dingin menyeramkan, diam-diam Hoa Thian-hong terkejut juga, pikirnya,

“Kedatangannya pasti mengandung maksud maksud tertentu, tosu tua ini tentu akan menyiksa

dan membunuh aku untuk melampiaskan rasa dendamnya….”

Setelah tiga buah jalan darahnya disumbat oleh tusukan jarum perak, segenap kepandaian

silatnya tak mampu digunakan lagi, sekalipun mara bahaya mengancam di depan mata namun ia

tak mempunyai kemampuan untuk melarikan diri.

Kiranya Ang Yap toojin secara diam-diam menaruh hati kepada Giok Teng Hujin, siapa tahu pihak

perempuan sama sekali tidak punya minat terhadap dirinya, membuat hasrat yang terbenam itu

selalu gagal un tuk mencapai apa yang dikehendakinya.

Setelah melihat kemesraan yang di perlihatkan Giok Teng Hujin terhadap Hoa Thian-hong, rasa

dengki dan cemburunya kontan berkobar dalam benak imam itu, rasa marah dan iri tadi

berkecambuk terus kian lama kian bertambah tebal sehingga akhirnya hawa amarahnya tadi

dilampiaskan pada si anak muda she Hoa.

Suatu ketika pukulan Sau yang ceng kie yang dilancarkan Hoa In telah mengakibatkan ia

menderita luka parah dan sampai saat itu belum juga sembuh, kejadian ini semakin membuat

imam itu mendendam Hoa Thian-hong hingga merasuk ketulang sumsum, ia bersumpah dalam

hatinya hendak membinasakan musuh cintanya itu dalam keadaan apapun jua.

Criiing….! Suara gemerincingan bergema memenuhi angkasa, perlahan-lahan Ang Yap Toojin

meloloskan pedangnya, dengan sorot mata memancarkan hawa nafsu membunuh dan muka

menyeringai menyeram-kan, serunya, “Manusia she Hoa, kau pingin mati atau pingin hidup?”

“Eeei…. aneh sekali pertanyaanmu itu!” kata sang pemuda dengan alis berkerut, “bukankah

engkau bermaksud menghabisi jiwaku? Apa gunanya mengajukan penawaran tersebut?”

Ang Yap Toojin tertawa dingin.

“Heeeh…. heeeh…. jika engkau ingin hidup, tentu saja Too-ya dapat memberikan sebuah jalan

kehidupan bagimu, cuma jalan itu sem pit dan kecil sekali, aku takut engkau tak punya

keberanian untuk melewatinya!”

“Aku orang she Hoa tidak memiliki kemampuan apa-apa, tapi aku rasa masih memiliki sedikit

keberangan untuk menghadapi segala kejadian yang bakal menimpa diriku, coba katakanlah

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

461

bagaimana sempit dan ke-cilnya jalan tersebut? Seandainya aku merasa sanggup untuk

melewatinya, aku orang she Hoa pasti akan mencobanya”

Ang Yap Toojin menggetarkan ujung pedangnya di atas raut wajah Hoa Thian-hong, ujarnya

sambil tertawa menyeringai.

“Jika dibicarakan sebenarnya tidak begitu menakutkan, bilamana engkau ingin hidup maka Tooya

akan merobek raut wajahmu yang tampan itu, agar Ciong Lian-khek mendapat kawan

berwajah busuk macam diri mu itu!”

mendengar perkataan tersebut, dalam benak Hoa Thian-hong segera terbayang kembali raut

wajah Ciong Lian-khek yang penuh bercodet dan bekas bacokan senjata itu, wajah yang

menyeramkan membuat hati pe muda itu jadi bergidik, pikirnya di dalam hati, “Sungguh aneh

sekali peristiwa ini, apa sih sangkut pautnya antara wajahku dengan rasa dendamnya?”

Tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam benaknya, tanpa sadar ia berteriak.

“Oooh….! Sekarang aku mengerti”

“Hmm! engkau belum tentu mengerti,” jengek Ang Yap toojin dengan suara dingin.

Hoa Thian-hong tersenyum.

“Kedatanganmu kesini adalah masuk secara pribadi dan tanpa sepengetahuan ataupun seijin

kaucu kalian, karena kau takut tidak mendapat persetujuan dari sang kaucu untuk mencabut

jiwaku, maka muncullah ingatan dalam benakmu untuk merusak raut wajahku ini agar rasa

dendam yang berkecamuk dalam dadamu bisa dilampiaskan, bukankah begitu?”

“Heeeeh…. heeeh…. heeeh…. tebakanmu memang sama sekali tidak salah,” jawab Ang Yap

Toojin sambil tertawa seram, ”tapi tahukah engkau bahwa Too-ya pun sudah mengambil

keputusan Untuk ber buat nekad? Asal engkau ingin mati maka Too-ya akan segera memenggal

batok kepala ku kemudian kabur jauh-jauh dari tempat ini, perduli amat dengan kaucu atau

bukan!”

“Oooh….! rupanya rasa benci orang ini terhadap diriku sudah terlalu mendalam” pikir Hoa Thianhong

di dalam hati, “waah…. berabe juga ini, apa yang musti kulakukan?”

Setelah berpikir sebentar, dia alihkan kembali sorot matanya menatap tajam raut wajah imam

tersebut, ia temukan bahwa ketika itu sepasang matanya telah berubah jadi merah membara,

bibirnya bergetar keras sekali dengan air mukanya berubah jadi begitu mengerikan macam

malaikat pembunuh dari neraka, sadarlah pemuda itu bahwa apa yang diucapkan lawannya

mungkin sekali dapat dilakukan benar-benar.

Maka diapun lantas mengangguk sambil ujarnya sungguh-sungguh, “Kalau begitu…. baiklah,

akan kupikirkan sebentar….”

“Too-ya malas untuk menunggu terlalu lama!” bentak Ang Yap Toojin sambil menggerakkan

senjata pedangnya.

Hoa Thian-hong berlagak pilon dan seolah-olah tidak mendengar perkataan itu pikirnya,

“Meskipun raut wajah Ciong Lian-khek cianpwee sudah rusak dan menjadi buruk, akan tetapi ia

tetap merupakan seorang lelaki sejati, ia tetap merupakan seorang pendekar besar yang berjiwa

pahlawan…. urusanku belum sempat kuselesaikan semua, aku tak boleh mati dengan begitu

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

462

saja…. aku harus berusaha untuk mempertahankan hidupku agar semua pekerjaan yang

tertunde bisa kuselesaikan….”

Berpikir sampai disitu, ia terbayang kembali akan pinangan dari Pek Siau-thian untuk putri

bungurnya, lalu teringat pula akan perbuatan Giok Teng Hujin dirinya…. setelah berpikir sebentar

akhirnya dia mengambil keputusan, dengan terus terang ujarnya.

“Ang Yap, akan menyerah kalah…. anggap saja ini hari engkau lebih lihay dariku, si1ahkan

merusak raut wajahku ini dengan ujung pedangmu itu…. aku orang she Hoa sudah ambil

keputusan untuk memilih jalan kehidupan saja….

Rupanya Ang Yap Toojin merasa tercengang dan diluar dugaan mendengar keputusan dari

lawannya, setelah tertegun sejenak ia segera menengadahkan ke atas dan tertawa seram.

“Haahh…. haahh…. bagus sekali! rupanya kau si bangsat cilikpun merupakan manusia kurcaci

yang takut mati!”

Tubuhnya menerjang maju ke depan, pedangnya dikebaskan dan…. Sreeet! langsung membacok

wajah pemuda itu.

Keputusan Hoa Thian-hong untuk mengorbankan raut wajahnya dan mempertahankan

kehidupan diambil karena keadaan yang terpaksa dan mendesak sekali, melihat datangnya

sambaran cahaya pedang yang menyilaukan mata, hati terasa tercekat, tak mungkin bagi dirinya

untuk menghindarkan diri lagi dari bacokan tersebut, terpaksa ia pejamkan matanya rapat-rapat.

Criiing….! terdengar bunyi gemerincingan yang amat nyaring berkumandang memenuhi seluruh

angkasa, pintu besi di depan penjara seolah-olah didorong oleh suatu kekuatan yang maha

besar, tiba-tiba terbentang lebar dengan sendirinya.

Begitu keras bunyi gemerincing tersebut sehingga membuat Ang Yap Toojin maupun Hoa Thianhong

merasakan telinganya jadi amat sakit sekali, imam setengah baya itu segera menghentikan

gerakan pedangnya di tengah udara sedang Hoa Thian-hong pun membuka matanya kembali,

tubuh mereka berdua sama-sama tergetar keras, pada saat yang ber samaan pula mereka sadar

bahva diluar pintu ada orang, hanya tak tahu jago lihay darimanakah yang telah muncul disitu?

Sementara itu pantulan suara yang amat nyaring tadi masih mendengung tiada hentinya

diseluruh penjuru ruang penjara itu, dari kedahsyatan suara pantulan tersebut Ang Yap Toojin

semakin yakin kalau orang yang bersembunyi di balik pintu adalah seorang jago lihay

berkepandaian tinggi, dalam kejutnya dan kedernya timbul pikiran dalam benak imam tersebut

untuk mengundurkan diri dari tempat itu.

Tetapi ia merasa amat membenci terhadap Hoa Thian-hong, rasa dendamnya sudah merasuk

ketulang sumsum, meskipun berada dalam keadaan gugup dan kacau pikiran, namun imam

tersebut tak rela melepaskan Hoa Thian-hong dengan begitu saja, pedangnya segera digetarkan

kembali dan langsung menusuk ke arah ulu hati si anak muda itu.

Hoa Thian-hong sangat terperanjat, dalam keadaan yang kritis dan sargat berbahaya itu dia

himpun sisa tenaga yang dimilikinya dan segera lompat ke arah samping.

“Binatang, sungguh besar nyalimu!” mendadak serentetan suara bentakan keras yang amat

nyaring berkumandang memenuhi angkasa.

Weeesss….! diiringi suara benturan keras, tiba-tiba pintu baja itu terpentang lebar.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

463

Semua peristiwa itu berlangsung hampir pada saat yang bersamaan, ketika mendengar suara

bentakan, Ang Yap Toojin merasa hatinya tercekat, tanpa sadar tangannya jadi lemas dan

tusukan pedangnya pun jadi miring ke samping hingga menyambar dada sebelah kiri lawannya.

Selesai melancarkan tusukan tersebut, tanpa memandang sekejappun ia segera putar badan dan

kabur keluar dari ruangan itu.

Mendadak…. dihadapannya muncul seorang manusia aneh berperawakan tinggi basar, berambut

panjang bagaikan akar dan berlengan tunggal menghadang tepat di depan pintu.

Keempat anggota badan manusia aneh itu! ada tiga yang cacad, tinggi badannya mencapai

empat depa dan persis menyumbat seluruh pintu masuk itu, mulutnya besar dengan sepasang

mata memancarkan Cahaya biru, satu-satunya anggota badan yang masih utuh hanyalah tangan

kirinya, waktu itu dalam genggaman tangan kirinya mencekal sebilah pedang baja yang besar

dan berat sekali.

Ang Yap Toojin amat terperanjat, tanpa berpikir panjang dia segera enjotkan badan dan

melayang ke tengah udara, laksana anak panah yang terlepas dari busnrnya ia menerjang keluar

dari ruangan itn lewat atas kepala manusia aneh tadi.

Terdengar manusia aneh itu tertawa seram.

“Heeeh…. heeeh…. kau anggap bisa berlalu dari sini dengan begitu saja?”

Pedang baja ditangannya disodok lalu di tebas ke bawah, di tengah jeritan kesakitan sepasang

kaki Ang Yap Toojin seketika kutung jadi dua, darah dan daging berhamburan ke atas tanah,

tubuh iman tersebut dengan sepasang kaki yang kutung langsung muluncur keluar dari ruangan

dan terhempas ke atas tanah.

Pada dasarnya luka dalam yang diderita iman tersebut belum sembuh, sekarang setelah

mendapat luka baru lagi, ia jatuh tak sadarkan diri.

Hoa Thian-hong sendiri merasa sangat terkejut setelah menyaksikan peristiwa itu, dia lupa akan

luka pedang yang dideritanya…. lewat beberapa saat kemudian pikirannya baru bisa

ditenangkan, sambil tertawa paksa serunya engkau, telah berhasil mengelesaikan masa

penderitaanmu selama sepuluh tahun”

Kiranya manusia aneh itu bukan lain adalah kakek telaga dingin Giu It Bong yang selama ini

dikurung dalam markas besar perkumpulan Sin-kie-pang, saat itu dia mengenakan sebuah jubah

pendek berwarna biru, pinggangnya terikat seuntai tali serat yang kecil sedang raut wajahnya

menunjukkan kegembiraan yang amat tebal.

Kakek telaga dingin Ciu It-bong mengerutkan alisnya lalu tertawa terbahak-bahak, tidak melihat

ia menggerakkan tubuhnya, tahu-tahu manusia aneh itu sudah berada dihadapan Hoa Thianhong,

sambil ayun pedang bajanya ia menegur dengan suara lantang, “Bocah keparat! Sekarang

kau masih bernama Hong-po Seng ataukah bernama Hoa Thian-hong?”

Pemuda itu tersenyum.

“Aku telah pulihkan kembali raut wajah asliku, tentu saja bernama Hoa Thian-hong”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

464

Setelah berhenti sebentar, dengan wajah serius ia melanjutkan, “Terima kasih atas bantuan dari

Loocianpwe, berkat pertolongan itu boanpwee telah telah berhasil menyelamatkan raut wajahku

ini!”

Kakek telaga dingin Ciu It-bong mendengus dingin.

“Hmmm….! Selamanya aku tak sudi menolong orang tanpa mengharapkan imbalan siapa tahu

kalau justru karena pertolonganku ini maka engkau akan ketimpa bencana?” Hoa Thian-hong

tertawa. “Sudah banyak gelombang dahsyat dan angin topan yang kuhadapi, terhadap

keselamatan pribadiku aku sudah memandang terlalu tawar…. kau tak usah menakut-nakuti

diriku lagi, aku bukan orang yang jeri menghadapi bencana….” serunya.

Tiba-tiba dadanya terasa sakit, ia segera tundukkan kepalanya, tampaklah luka bacokan

didadanya mencapai lima cun dalamnya, meskipun tidak sampai melukai tulang tetapi darah

segera mengalir keluar tiada hentinya, sebentar saja separuh bagian bajunya telah basah kuyup

dengan darah.

Dengan wajah mengejek kakek telaga dingin Ciu It-bong tertawa seram, akhirnya dia angkat jari

tangannya menotok beberapa buah jalan darah di atas dada pemuda itu, darah yang mengalir

keluar dari mulut lukapun segera jauh berkurang.

“Waah…. merepotkan loocianpwee….” seru Hoa Thian-hong sambil tertawa.

Kakek telaga dingin Ciu It-bong melototkan sepasang matanya bulat-bulat, dari sikapnya seakanakan

menunjukkan bahwa ia segan untuk turun tangan menolong pemuda itu, tapi sebentar

kemudian ia berubah pikiran, tidak menunggu pemuda itu menyelesaikan kata-katanya, ia telah

membuka pakaian pemuda tadi lalu mencabutkan pula jarum jarum perak yang mengunci jalan

darahnya.

Meskipun jarum itu menancap di dalam daging, tapi bagi Ciu It-bong seorang jago lihay yang

punya tenaga besar, tindakan itu dilakukan gampang sekali, dalam waktu singkat ketiga batang

jarum perak yang mengunci jalan darahnya itu sudah dicabut semua.

Buru-buru Hoa Thian-hong duduk bersila di atas tanah kemudian mengatur pernapasan dan

pulihkan kembali tenaga dalamnya.

“Bajingan cilik!” terdengar kakek telaga dingin Ciu It-bong menegur dengan suara kasar, “apakah

Pek Kun-gie sudah kau bunuh?”

“Loocianpwee, kau tidak merasa pertanyaanmu itu kau ajukan dengan percuma….”

Kakek telaga dingin Ciu It Beng mendengus dingin, ia ulurkan tangannya ke depan dan serunya

kembali, “Mana pedang emas itu? Berikan kepadaku!”

Hoa Thian-hong tertawa.

“Pedang emas itu belum berhasil kudapatkan, tapi sudah kudengar kabar berita mengenai

senjata mustika itu, kemungkinan besar pada bulan tujuh tanggal lima belas nanti dikala

pertemuan besar Kian ciau Tay hwee diselenggarakan, pedang emas itu akan muncul kembali di

depan umum!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

465

Kakek telaga dingin Ciu It-bong mendengus, dia cengkeram bahu si anak muda itu dan

bentaknya dengan suara dalam, “Ayoh mengaku terus terang! pedang emas itu sudah terjatuh di

tangan siapa?”

“Aku sendiripun tak tahu begitu pasti,” jawab Hoa Thian-hong sambil menggertak gigi menahan

rasa sakit dibahunya, “sebelum saatnya tiba, aku tak berani bicara secara Sembarangan”

“Kau berani mempermainkan aku?” teriak Ciu It-bong teramat gusar, kelima jarinya

mencengkeram semakin kencang.

Hoa Thian-hong yang tulang bahunya dicengkeram keras-keras-keras merasa sekujur badannya

jadi sakit hingga keringat dingin mengucur keluar tiada hentinya, darah segar yang menyembur

keluar dari mulut, luka didadapun memancar semakin deras. Buru-buru bentaknya keras, “Lepas

tangan.”

Kakek telaga dingin Ciu It-bong mengendorkan cengkeramannya, kemudian berseru, “Ayoh cepat

jawab, pedang emas itu terjatuh di tangan siapa?”

ooooOoooo

PEDANG emas itu berada di tangan Thian Ik tosu tua itu, kau punya kemampuan untuk

merampasnya kembali?” teriak Hoa Thian-hong dengan gusar.

“Dari mana kau bisa tahu?” seru Ciu It-bong dengan sepasang mata melotot bulat.

“Hmmm mau percaya atau tidak terserah kepadamu, kalau engkau merasa tidak percaya

pergilah menghadap Thian Ik tosu tua itu dan tanyakan sendiri kepadanya, coba lihat apa yang

dia jawab!”

Ciu It-bong tersenyum.

“Thian Ik sihidung kerbau itu sedang repot karena ingin mengawasi putri sulungnya Pek looji,

sekarang dia tak ada waktu luang, mau bertanya nanti saja kita baru menghadapi”

Air muka Hoa Thian-hong berubah hebat, dia loncat bangun dari atas tanah dan teriaknya .

“Loocianpwee, mari cepat kita kesana!”

“Hmmm! budi kebaikan apa sih yang telah diberikan Pek Siau-thian kepadamu?” jengek Ciu It

Boog dengan suara dingin, “toh yang ketimpa urusan adalah putrinya Pek Loji? Kenapa kau musti

gelisah macam begitu?”

“Pek Soh-gie adalah seorang gadis yang halus, berbudi dan baik hati, kita tak boleh berpeluk

tangan belaka membiarkan dia ketimpa malang….!”

Ciu It-bong kontan tertawa dingin sualah mendengar parkataan itu.

“Heehh…. heeehhh…. heehhh…. Pek Siau-thian tidak setia kawan, setelah melihat barang

pusaka, memenjarakan diriku selama se puluh tahun lamanya, untuk membalas dendampun tak

sempat, kenapa aku musti menolong putrinya? haaah…. haaaah…. haaah justru aku malah

gembira sekali melihat dia akan menerima pembalasan…. Hmm! aku bu kan anak jadah yang tak

punya otak, segan aku untuk menolong gadis itu!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

466

“Hmmm! akupun terlalu goblok” seru Hoa Thian-hong dengan gusar, “sepantasnya kalau aku

menyadari bahwa engkau bukan manusia budiman yang bisa diajak kompromi…. bicara dengan

engkau sama halnya memetik khiem di depan kerbau!”

Sebagai penutup kata, tangannya langsung menyambar pedang baja di tangan orang.

Ciu It-bong tarik kembali pedang bajanya ke belakang dan berseru, Eeei, perkataanmu tak bisa

dipercaya, enghiong hoohan macam apakah dirimu itu?”

“Sejak kapan aku mengingkari perkataan ku sendiri?” teriak Hoa Thian-hong dengan penuh

kegusaran, hatinya gelisah sekali karena ingin menolong kesucian dari Pek Soh-gie.

Rupanya Ciu It-bong sengaja henkak mengulur waktu, setelah tertawa mengejek, jawabnya

perlahan-lahan, “Bukankah kau telah menyanggupi untuk membunuh Pek Kun-gie….”

“Aku punya keinginan tapi tenaga tak memadahi, apa yang musti kulakukan?”

“Dan kaupun pernah berjanji akan carikan pedang emas untuk menolong aku lepas dari

kurungan….”

Hoa Thian-hong semakin gelisah, serunya, “Pedang emas itu belum berbasil kudapatkan!”

“Setahun demi setahun dilewatkan dengan begitu saja, seharusnya kau pergi kesitu dan

menjenguk mati hidupku!”

“Aku tidak sebebas seperti apa yang kau bayangkan!” bentak sang pemuda itu sambil meraung

gusar, habis berkata dia loncat ke depan siap menerjang keluar dari pintu.

Ciu It-bong putar pedang bajanya menciptakan sekilas cahaya tajam yang menyilaukan mata,

begitu dahsyat setangan itu memaksa Hoa Thian-hong harus membatalkan maksudnya dan

menghentikan gerakan tubuhnya secara paksa.

Kegusaran yang berkobar dalam dada Hoa Thian-hong sukar dibendung lagi, dengan wajah

mendongkol teriaknya, “Kalau engkau tak mau tolong orang, akupun tidak memaksa, tapi tidak

sepantasnya kalau engkau menghalangi jalan pergiku….”

“Haaah…. haaah….” Ciu It-bong tertawa terbahak-bahak, “inilah hukuman yang ditimpahkan

Thian kepada Pek Siau-thian, kau harus tahu bahwa ilmu silatmu masih terlalu cetek, kau masih

bukan tandingan dari Thian Ik si hidung kerbau itu…. percuma saja engkau pergi kesitu, sebab

paling banter jiwamu ikut melayang…. Hmmm….Hmmm…. apa kau anggap puterinya Pek Siauthian

bisa ditolong?”

Hoa Thian-hong merasa darah panas dalam rongga dadanya bergolak keras setelah

membayangkan bahwa Pek Soh-gie seorang gadis yang berhati mulia sebentar lagi bakal dinodai

oleh seorang tosu siluman secara brutal, ia tak dapat menahan diri lagi, sambil membentak keras

telapak kirinya diayun kemuka nelancarkan sebuah pukulan dengan jurus Kun-siu-ci-tauw.

Kakek telaga dingin Ciu It-bong jadi bergirang hati melihat pemuda lawannya menyerang dengan

menggunakan jurus ajarannya, ia berseru sambil tertawa, “Bagus sekali!”

Sambil melepaskan pedang bajanya, ia sambut datangnya serangan itu dengan jurus Kun-siu-citauw

pula.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

467

Sepasang telapak saling membentur satu sama lainnya menimbul-kan suatu ledakan yang amat

keras, Ciu It-bong segera mengepos tenaga dan hawa pukulannya yang sebesar tujuh bagian

kontan menggulung keluar dengan hebatnya.

Dalam keadaan begini Hoa Thian-hong tidak punya minat untuk bertarung melawan, dirinya,

ketika suasana jadi tegang mendadak ia menggetarkan pergelangannya dan memunahkan daya

tekanan seberat beberapa ribu kati itu hingga lenyap tak berbekas, meminjam kesempatan itu

tubuhnya melesat ke tengah udara membentuk gerakan busur kemudian meluncur keluar dari

balik ruangan itu.

“Keparat licik!” teriak kakek telaga dingin Ciu It-bong setengah menjerit, ia sambar pedang

bajanya lalu mengejar dari belakang.

Hoa Thian-hong mengenjotkan badannya di atas tanah, setelah melirik sekejap ke arah Ang Yap

Toojin yang kakinya telah kutung dan baru saja mendusin dari pingsannya itu, bagaikan anak

panah yang terlepas dari busurnya dia lari keluar dari tempat itu.

Para imam penjaga penjara telah roboh tertotok jalan darahnya oleh Ciu lt Bong, pintu terali besi

terbentang lebar dan seakan-akan sama sekali tak ada penjaganya, Hoa Thian-hong segan

memeriksa tempat itu dengan teliti, bagaikan hembusan angin dalam sekejap mata ia sudah

menerjang keluar dari rumah penjara.

Sementara itu fajar telah menyingsing dan seluruh jagad terang benderang oleh sinar sang surya

yang berwarna keemas-emasan, Hoa Thian-hong menghembuskan napas panjang lalu

menengadah dan bersuit nyaring, dengan tangan kanan ia tekan mulut luka didadanya,

kemudian setelah menentukan arah dia meluncur ke arah sebuah bangunan loteng yang megah.

Kakek telaga dingin Ciu It-bong menggunakan pedang baja itu sebagai pengganti tongkat,

tubuhnya bergerak bagaikan hembusan angin dan menguntit terus di belakang Hoa Thian-hong

dengan ketat.

Sewaktu mendengar suitan nyaring itu, ia tertawa dan segera menegur, “Hey bocah cilik, tenaga

dalammu telah mendapat kemajuan yang amat pesat, apakah hasil dari teratai beracun itu?”

“Benar! hasil dari teratai racun empedu, tapi….”

Ia berpaling sekejap ke belakang, lalu berpikir, “Rupanya pedang bajaku dipergunakan sebagai

pengganti tongkat, tidak aneh kalau ia tak mau mengembalikan kepadaku”

Sementara itu Ciu It-bong sudah berkata lagi sambil tertawa keras, “Hey bocah cilik, aku dengar

katanya Teng Hujtn telah berhasil kau gaet sehingga tergila-gila kepadamu, kenapa sekarang

menaruh perhatian pula terhadap Pek Soh-gie?”

Merah jengah selembar wajah Hoa Thian-hong, dengan gusar bentaknya, “Kentut busukmu!”

Meskipun sudah tua, Ciu It-bong selamanya tak tahu adat, maka ucapan yang diutarakan Hoa

Thian-hong terhadap dirinyapun kian lama kian bertambah kasar dan tak sopan.

“Hoa Thian-hong, berhenti!” tiba-tiba terdengar suara bentakan keras berkumandang.

Bersamaan dengan bentakan tersebut, dari arah depan muncullah seorang tosu cilik berbaju

merah, rupanya tosu cilik itu tahu akan kelihayan lawannya, sebelum tiba dihadapan pemuda itu

pedangnya telah dicabut keluar dari sarungnya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

468

Hoa Thian-hong menatap tajam raut wajah orang itu, dengan cepat dia dikenali kembal iimam

cilik itu sebagai salah satu diantara delapan imam cilik baju merah yang memainkan barisan Kan

Lee Kian tin.

Dalam hati segera pikirnya, “Thian Ik tosu tua itu merupakan salah satu diantara pembunuh

ayahku, cepat atau lambat aku pasti akan melangsungkan petarungan secara terbuka dengan

dirinya, barisan pedang Kan Lee Kian tin tersebut luar biasa hebatnya, aku harus mematahkan

lebih dahulu sebuah kaki dari barisan itu….”

Setelah ingatan tersebut berkelebat dalam benaknya, ia segera keraskan hati dan ayunkan

telapak kirinya siap melancarkan serangan.

Gerakan tubuh imam kecil baju merah itu cepat bagaikan hembusan angin, dalam sekejap mata

telah tiba di depan mata. ketika dilihatnya Hoa Thian-hong tidak menghentikan langkah kakinya,

ia segera membentak gusar, pedangnya laksana kilat ditusuk ke arah ulu hatinya.

Setelah kemarin malam jatuh kecundang di tangan orang, sampai ini hari rasa mendongkol

dalam hati Hoa Thian-hong masih belum tersalur keluar, ia segera mendengus dingin, sepasang

kakinya merendah ke bawah dan tubuhnya bergeser dua depa ke samping pinggang digoyangkan

dan telapaknya langsung menggaplok punggung lawan.

Baru saja imam cilik baju merah itu merasakan tusukan pedangnya mengenai sasaran kosong,

tiba-tiba ia merasa munculnya segulung daya tekanan yang maha berat menumbuk

punggungnya, hal ini membuat ia jadi terperanjat.

Dalam gugup dan gelisahnya, cepat-cepat ia gulingkan badannya ke atas tanah dan meloloskan

diri dari hantaman telapak pemuda itu.

Kakek telaga dingin Ciu It-bong tertawa dingin, ejeknya, “Huuh….! Kepandaian mu masih belum

sempurna.

Sambil berkata dengan seenaknya saja dia lancarkan sebuah pukulan menghantam punggung

imam cilik baju merah itu

Blaaam….! di tengah benturan keras, punggung si iman cilik baju merah itu terhajar telak oleh

serangan tersebut, seketika itu juga jantungnya tergetar putus dan berhenti berdetak, sambil

menjerit ngeri, binasalah iman itu seketika itu juga.

Kedua orang itu menggunakan gerakan serangan yang sama, bedanya bukan terletak pada

enteng atau beratnya tenaga pukulan juga bukan tercepat atau lambatnya serangan, melainkan

terletak pada kesempurnaan tenaga dalamnya serta ketepatan dalam melakukan serangan.

Ketika melancarkan pukulan tadi, bukan saja Ciu It-bong bisa mengatur waktunya dengan tepat

bahkan arah yang dituju serta saat mengirim pukulan bisa diatur sedemikian rupa sehingga

waktu serangan tersebut dilancarkan maka sulit bagi lawannya untuk menghindarkan diri atau

melarikan diri dari sana.

Hoa Thian-hong kagum sekali terhadap ilmu silat yang dimiliki Ciu It-bong, ketika menyaksikan

kakek itu melayang di udara dengan begitu enteng, segera serunya, “Heh, jangan keburu bangga

dulu, hati-hati kalau sampai ditertawakan orang….”

selesai berkata, ia lanjutkan kembali gerakan tubuhnya meluncur ke arah depan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

469

Beberapa saat kemudian sampailah pemuda itu di depan sebuah bangunan loteng yang tinggi, di

depan loteng itu terpancang sebuah papan nama yang bertulisan: Yang sim tiam, tiga huruf

besar terbuat dari emas, ke tempat inilah Pek Soh-gie dibawa oleh kawanan iman baju merah

kemarin malam.

Sementara ia masih celingukan, dari balik ruang loteng tiba-tiba muncul kembali serombongan

iman cilik baju merah, dengan senjata terhunus mereka lari keluar dari ruangan dan langsung

mengepung si anak muda itu….

Hoa Thian-hong tidak memberi waktu bagi iman-imam cilik tersebut untuk menyusun barisan

pedangnya lagi, dia ikut menerjang ke depan dan langsung melancarkan sebuah pukulan ke arah

seorang iman kecil yang berada dipaling depan, bentaknya, “Thian Ik-cu, cepat gelinding keluar

dari sarangmu! Ciu It-bong telah datang untuk menagih pedang emas!”

“Bajingan yang tak tahu diri!” bentak iman cilik baju merah yang lari mendekat lebih dahulu itu

dengan suara gusar, “tahukah engkau tempat apakah ini? Siapa suruhn kamu berteriak

seenaknya sendiri?”

Sementara pembicaraan masih berlangsung kedua belah pihak telah melakukan pertempuran

sebanyak dua puluh jurus lebih, Hoa Thian-hong menyumbat pintu keluar istana itu dan tidak

membiarkan pihak lawannya sempat mengatur barisan pedang.

Tujuh orang imam cilik baju merah itu segera mengepung Hoa Thian-hong rapat-rapat, namun

setelah kehilangan daya tekanan dari barisan Kan Lee Kiam tin maka untuk beberapa saat

lamanya mereka tak mampu berbuat apa-apa terhadap si anak muda itu.

Hoa Thian-hong yang harus bertempur melawan tujuh bilah pedang mustika, terpaksa musti

mengerahkan segenap tenaganya untuk mempertahankan diri, darah segar yang mengucur

keluar dari mulut luka didadanya menyembur semakin deras, dalam keadaan begitu ia harus

menutup mulut lukanya dengan tangan kanan, sedang telapak kiri diputar sedemikian rupa

menahan serangan dari musuhny.

Ciu It-bong yang menonton jalannya pertarungan itu dari sisi lapangan, segera berteriak keras

dengan wajah berseri-seri, “Hey, keparat cilik, bagaimana dengan ilmu silat hasil ciptaanku

ini….?”

Setelah bertempur beberapa saat lamanya hawa amarah yang berkobar dalam dada Hoa Thianhong

makin memuncak, mendengar ucapan itu dia segera meraung keras, “Huuuh…. . cuma

menghadapi beberapa orang imam cilikpun tak bisa digunakan dengan baik, kau masih bisa

merasa bangga…. tak tahu malu!”

Ciu It-bong jadi amat gusar, dia lemparkan pedang baja ditangannya ke arah pemuda itu dan

bentaknya, “Hmmm! aku ingin lihat ilmu pedang ajaran bapakmu mempunyai kelihayan sampai

di mana!….”

Pedang baja yang di sambit ke depan itu laksana anak panah yang terlepas dari busur, diiringi

sekilas cahaya hitam langsung meluncur ke arah Hoa Thian-hong.

Seorang imam cilik baju merah menghadang di tengah jalan, ketika mendengar datangnya

desiran tajam, buru-buru ia menyingkir ke samping, tatkala menyaksikan ada sebilah pedang

baja sedang meluncur dari sisi tubuhnya tanpa berpikir panjang dia segera lancarkan sebuah

babatan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

470

Traaaang….! di tengah suara bentrokan nyaring yang bergema di angkasa, imam cilik baju merah

itu merasa lenganya tergetar kaku, cekallan-nya jadi enteng dan tahu-tahu pedang pusaka dalam

genggamannya telah patah jadi beberapa bagian, kutungan pedang itu segera tersebar di atas

tanah….

Tenaga dalam yang dimiliki Ciu It-bong benar-benar luar biasa sekali, walaupun pedang itu

terkena sebuah tangkisan akan tetapi gerakannya sama sekali tidak berubah, seperti sedia kala

senjata itu langsung meluncur ke arah Hoa Thian-hong.

Dengan cekatan pemuda itu menyingkir ke samping lalu mencekal gagang pedangnya, mengikuti

gerakan tadi ia bacok batok kepala seorang imam cilik baju merah yang berada dihadapannya.

Serangan yang dilancarkan dengan meminjam sisa tenaga sambitan dari Ciu It-bong ini benarbenar

luar biasa sekali, serangan itu meluncur datang dengan kecepatan bagaikan sambaran

kilat.

Tak sempat lagi bagi imam cilik baju merah itu untuk menghindarkan diri, dalam keadaan begitu

terpaksa ia harus angkat pedangnya sambi1 balas membabat pergelangan tangan lawannya.

Walaupun Sin-kie-pang, Hong-im-hwie serta Thong-thian-kauw sama-sama merupakan

perkumpulan kalangan hitam dalam dunia persilatan namun berhubung anggota perkumpulan

Thong-thian-kauw seringkali mengganggu anak gadis orang dan melakukan perbuatan-perbuatan

yang amoral, maka rasa benci Hoa Thian-hong terhadap mereka jauh lebih tebal daripada

terhadap perkumpulan lain, sekarang melihat pihak lawannya balas melancarkan satu sabatan, ia

tidak berubah jurus malah mengerahkan tenaga dalamnya makin hebat, pergelangan tangannya

ditekan ke bawah dan langsung membacok tubuh iman-imam tersebut.

Satu pihak melancarkan satu bacokan ke arah batok kepala lawannya sedang dipihak lain

mengebaskan pedang mustikanya membabat pergelangan orang, nampaknya kedua belah pihak

akan sama-sama menderita luka, pada saat yang kritis itulah tiba-tiba Hoa Thian-hong menekan

pedang bajanya ke bawah dengan kecepatan yang luar biasa ia mendahu1ui musuhnya.

“Aduuuh….!” jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memenuhi angkasa, tubuh

imam cilik baju merah itu terbelah jadi dua bagian dan roboh binasa ke atas tanah, darah segar

berhamburan di lantai membuat pemandangan terasa memuaskan sekali.

Menerima pedang, membinasakan musuh semua gerakan dilakukan dalam sekejap mata dan

siapapun tak menyangka kalau dalam detik yang amat singkat pemuda itu mampu membereskan

jiwa seorang imam cilik yang lihay.

Pedang baja yang berat itu sudah dua tahun lamanya berada di tangan Ciu It-bong, setelah

pedang itu terjatuh kembali ke tangan nya tanpa sadar semangat bertempur dari pemuda itu

bangkit kembali.

Dengan langkah yang lebar ia segera menerjang maju ke depan, pedang baja berputar keempat

penjuru…. jurus demi jurus dilancarkan secara gencar mendesak lawan-nya, begitu bersemangat

pemuda itu melan-carkan serangan hingga tidak sadar kalau darah yang mengucur keluar dari

dadanya bertambah deras.

Dalam Waktu singkat keenam Orang iman cilik baju merah itu sudah didesak hingga kalang

kabut dan tak mampu mempertahankan diri lagi, jangan dibilang untuk mengatur barisan pedang

Kan Lee kiam tin, tena-ga untuk melancarkan serangan balasanpun sudah tak dipunyai lagi.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

471

Tiba-tiba terdengar Ciu It-bong tertawa dingin, lalu berkata, “Huuuuh….! aku mengira ilmu

pedang dari Hoa Goan-siu sampai dimana lihaynya…. ternyata cuma begitu saja!”

Sambil menggertak gigi Hoa Thian-hong membungkam dalam seribu bahasa, dengan penuh

semangat dia melayani serangan-serangan musuhnya.

Ketidak munculan Thong-thian Kaucu selama ini membuat Hoa Thian-hong semakin gelisah, dia

kuatir Pek Soh-gie sudah keburu diperkosa oleh iman tua cabul itu, dalam keadaan begini dia

cuma berharap bisa cepat-cepat bereskan beberapa orang iman cilik itu serta mener-jang masuk

ke dalam ruang istana.

Tetapi rombongan iman cilik baju merah itu merupakan anak murid yang dididik langsung oleh

Thong-thian Kaucu , ilmu silat mereka luar biasa sekali, walaupun dengan adanya pedang

ditangan, keadaan dirinya laksana harimau tumbuh sayap, namun untuk membereskan imaniman

cilik itu bukanlah suatu pekerjaan yang gampang.

Dalam pada itu empat penjuru disekeliling tempat itu telah dipenuhi dengan para iman yang

bersenjata lengkap, mereka bersiap sedia melakukan pertarungan, ada pula yang melihat gelagat

kurang baik segera masuk keruang istana untuk memberi laporan.

Mulut luka di atas dada Hoa Thian-hong merekah makin besar, darah mengalir terus tiada

hentinya, namun ia tetap tidak merasa, hal ini membuat Ciu It-bong yang menyaksikan jalannya

pertarungan dari sisi lapangan diam-diam mengerutkan dahinya.

Ketika itulah dari balik pintu istana Yau sim tian berjalan keluar seorang imam cilik baju merah,

sambil mengangkat tinggi-tinggi sebilah senjata Ji gi yang terbuat dari batu kumala hijau serunya

dengan suara lantang, “Atas titah dari kaucu, diperintahkan semua murid perkumpulan untuk

menghentikan pertempuran, dan mempersilahkan Ciu Loo-cianpwee masuk ke dalam ruangan

istana!”

Enam orang imam cilik baju merah yang sedang bertempur segera menghentikan serangannya

dan loncat mundur ke belakang.

Imam cilik yang memegang senjata Ji gi tadi perlahan-lahan turun dari undakan batu, setelah

memberi hormat kepada Ciu It-bong, ujarnya penuh kesopanan, “Tecu Cing Lian memberi

hormat untuk Ciu Locianpwee!”

“Kenapa?” teriak Ciu It-bong dengan mata melotot, “sepasang kakiku telah kutung apakah

sepasang kaki dari Thian Ik sihidung kerbau itupun juga ikut kutung?”

“Tiga orang cosu ya dari perkumpulan kami yang sudah lama mengasingkan diri baru saja

berkunjung tiba, saat ini kaucu sedang mendampingi beliau bertiga, karena itu ia tidak bisa

menyambut sendiri kedatangan locianpwee, atas kekurangan adat ini harap locianpwee suka

memberi maaf!”

Ciu It-bong tertawa seram.

“Heeehhh…. heeehhh…. heeehhh…. akupun sudah lama mengasingkan diri dan belum lama

berselang baru tinggalkan tempat pertapaan, ketiga orang cou su ya kalian itu tak akan membuat

diriku jadi gentar”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

472

Setelah berhenti sebentar, ia lantas menegur, “Apakah engkau adalah murid didikan langsung

dari Thian Ik-cu?”

Semua murid baju merah dalam perkumpulan kami adalah murid didikan langsung dari Kaucu”

“Hmm! bagus sekali!” seru Ciu It-bong ketus, “aku adalah kenalan lama dari suhu kalian, ayoh

cepat carikan sebuah kursi dan perintahkan empat orang imam cilik baju merah untuk

menggotong aku masuk ke dalam istana!”

Imam cilik yang bernama Cing Lian itu berpikir sebentar, kemudian kepada para imam cilik baju

merah yang berada di bawah tangga serunya, Ciu Loocianpwee adalah sahabat karib dari kaucu

kita, berhubung gerak-gerik dia orang tua leluasa…. harap kalian segera mencari sebuah kursi

dan menggotong Loocianpwee ini masuk istana!”

“Keparat cilik” teriak Ciu It-bong dengan mata melotot dan wajah menyeringai seram, tajam

amat selembar mulutmu itu…. Hmmm! Suatu ketika aku akan suruh engkau menyaksikan sendiri

apakah gerak-gerikku cukup leluasa atau tidak”

Cing Lian pura-pura tidak mendengar, beberapa saat kemudian sebuah kursi telah disiapkan dan

digotong oleh empat orang imam ci lik baju merah, serunya, “Ciu loocianpwee, silahkan duduk!”

Ciu It-bong mendengus, ia loncat keudara dan melayang di atas kursi lalu duduk tak berkutik

disana. Cing Lian buru-buru membawa jalan dan di bawah gotongan keempat orang imam cilik

tersebut berangkatlah mereka masuk keruang istana.

Istana Yang sim tian adalah tempat kediaman dari Thong-thian Kaucu , lotengnya bertingkat tiga

dan penuh dihiasi aneka lukisan yang indah, bangunan itu begitu megah dan mewah seakanakan

keraton tempat kediaman kaisar, pada setiap pintu masuk serta tikungan strategis, seorang

imam berbaju kuning dengan senjata tersoren melakukan penjagaan.

Hoa Thian-hong sambil mencekal pedang bajanya mengikuti di belakang orang-orang itu,

sebentar saja mereka sudah tiba diloteng tingkat ketiga dan mendekati sebuah ruangan dengan

sinar yang redup.

Dipintu depan berdirilah dua orang iman cilik baju kuning, ketika melihat munculnya orang-orang

itu mereka segera menyingkap horden dan membuka tabir di depan pintu.

Cing Lian melangkah masuk ke dalam ruangan, serunya sambil memberi hormat”

“Lapor kaucu, Ciu Locianpwee telah tiba!”

Thong-thian Kaucu segera munculkan diri di depan pintu, setelah memberi hormat, ujarnya

sambil tertawa, “Ciu heng, selama bertemu muka…. maapkanlah pinto kalau aku tak bisa

menyabut dirimu dari depan”

Ciu It-bong tertawa dingin.

Hidung kerbau tua, besar amat lagakmu!”

Thong-thian Kaucu tertawa terbahak-bahak, dengan sorot mata yang tajam ia menatap sekejap

wajah kakek telaga dingin, lalu sambil tertawa serunya, “Ciu neng, panjang amat usiamu….

sungguh mengagumkan! Sungguh mengagumkan!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

473

Ia menyingkir ke samping dan mempersilahkan tamunya masuk,

Ciu It-bong mendengus dingin, ujung bajunya berkibar terhembus angin, tubuhnya segera

meloncat turun dari atas kursi dan melayang masuk ke dalam ruangan.

Hoa Thian-hong diam-diam merasa kagum juga melihat kegesitan kakek aneh itu walaupun

anggota badannya tinggal satu yang utuh, tanpa terasa semargatnya berkobar kembali, dengan

langkah lebar dia ikut masuk ke dalam ruangan.

Jilid 24

KETIKA sorot matanya membentur dengan sorot mata Thong-thian Kaucu disisi pintu, senyuman

dingin segera tersungging di ujung bibir mereka.

Suasana dalam ruangan itu sunyi senyap, kecuali Thong-thian Kaucu serta Cing Lian, hanya

seorang tosu cilik pemegang pedang saja yang masih ada disana.

Ciu It-bong segera duduk di atas sebuah bantal semedi, sambil menatap tajam wajah kaucu itu

serunya, Thian Ik-cu, aku dengar di tempat ini sudah kedatangan beberapa orang tua bangka

dari Thong-thian-kauw, mengapa tidak kau undang mereka untuk unjukkan diri?”

“Hmm…. tidak ada manfaatnya bila kau berjumpa dengan mereka,” sahut Thong-thian Kaucu

sambil tersenyum.

“Hmm! aku si Ciu tua merasa berumur panjang…. kalau engkau tak tahu diri jangan salahkan

kalau sahabat lama tak kenal adat.

Thong-thian Kaucu tertawa, ia tidak menggubris ocehan manusia aneh itu, sambil berpaling tibatiba

tegurnya, “Hoa Thian-hong kau celingukan sedari tadi…. apa sih yang sedang kau cari?”

“Kau bawa kemana Pek Soh-gie?” bentak pemuda itu sambil melirik sekejap ke arah kedua belah

sisi pintu.

Thong-thian Kaucu mengerutkan dahinya.

“Huuu…. Pek Siau-thian memandang tinggi dirimu, tapi dalam pandangan pun-kaucu, engkau

bukanlah seorang manusia yang luar biasa,” jengeknya ketus.

“Kalau memang begitu, aku menantikan petunjuk darimu!”

“Oooh….! jadi kau belum takluk?”

“Tentu saja!”

Suatu perasaan memandang hina pada lawannya terlintas di atas wajah Thong-thian Kaucu ,ia

berkata, “Pek Soh-gie adalah putri sulung dari Pek Siau-thian, aku hendak membunuh atau

memperkosa dirinya itu bukan urusanmu dan sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan

dirimu, Pek Siau-thian bisa datang untuk bikin perhitungan sendiri dengan diriku. Perkumpulan

Sin-kie-pang toh tiada bubungan dengan engkau, sedang Pek Soh-gie pun bukan sanak

keluargamu…. kenapa kau musti mencampuri urusan ini?”

“Tepat sekali ucapan itu!” teriak Ciu It-bong dengan suara keras, Hoa Thian-hong, budi kebaikan

apa sih yang telah diberikan Pek Lo ji kepadamu? Kenapa kau musti kuatirkan bagi keselamatan

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

474

putrinya? Bila perkumpulan Sin-kie-pang sampai bentrok dengan Thong-thian-kauw bukanlah

yang bakal mengeruk keuntungan adalah dirimu sendiri?”

Air muka Hoa Thian-hong berubah jadi merah darah bagaikan babi panggang, pikirnya,

Mencampuri urusan orang serta memberantas ketidakadilan adalah tugas utama kaum pendekar,

meskipun Pek Soh-gie adalah orang gadis yang baik hati akan tetapi ayahnya Pek Siau-thian

adalah seorang gembong iblis dari kalangan hitam, tidak aneh kalau orang akan salah paham

terhadap tindak tandukku…. .apalagi kalau bisa memancing terjadinya bentrokan kekerasan

antara pihak Sin-kie-pang dengan Thong-thian-kauw, hal itu merupakan suatu perbuatan yang

luar biasa sekali…. jika kutolong putri dari Pek Siau-thian ini, bukankah berarti merusak suasana

yang menguntungkan bagi pihakku?”

Berpikir sampai disini ia jadi ragu-ragu dan untuk beberapa saat lamanya ia tak mampu

mengucapkan sepatah katapun.

Melihat keraguan pemuda itu, Thong-thian Kaucu jadi amat bangga, ia segera berpaling ke arah

Ciu It-bong dan berseru, “Ciu heng, kau telah melukai Ang Yap toojin dari perkumpulan kami

kemudian membinasakan pula seorang muridku, bagaimana pertanggungan jawabmu atas

hutang ini?”

Ciu It-bong menengadah memandang seangkasa, lalu dengan sombong menjawab, “Kapan sih

Thian Ik-cu pernah menangkan Ciu It-bong?”

“Diantara kita berdua belum pernah saling bertempur satu sama lainnya, sudah tentu menang

kalah sukar untuk dikatakan”

“Hmmm! aku rasa sekarang bertarungpun belum terlambat!” habis berkata dia ayun telapaknya

melancarkan sebuah pukulan dahsyat ke arah imam tua itu.

Hoa Thian-hong memahami sampai dimanakah kelihaiannya dari jurus pukulan Kun-siu-ci-tauw

tersebut, melihat Ciu It-bong telah turun tangan ia segera pusatkan perhatiannya untuk melihat

bagaimana caranya Thong-thian Kaucu menangis datangnya serangan tersebut.

Rupanya Thong-thian Kaucu tidak menyangka kalau Ciu It-bong segera melancarkan

serangannya setelah habis bicara, melihat datangnya ancaman tersebut buru-buru ia letakkan

senjata kebutannya ke atas tanah, lalu mendorong sepasang telapaknya ke depan untuk

membendung datangnya ancaman tersebut.

“Ciu Loji, jangan bertindak gegabah!” teriaknya.

Blaaaam….! di tengah benturan keras, sepasang telapak kedua orang itu telah bertemu satu

sama lainnya.

Dalam perkiraan Hoa Thian-hong kedua orang tokoh sakti itu tentu akan beradu tenaga dalam

setelah terjadi bentrokan kekerasan itu, dan akibatnya seluruh ruangan itu tentu akan

bergoncang keras atau bahkan roboh sama sekali.

Siapa tahu kecuali terjadi bentrokan yang begitu dahsyat, tidak nampak sesuatu yang luar biasa

lagi.

Terdengar Thong-thian Kaucu tertawa terbahak-bahak dan berseru, “Ciu heng, selama sepuluh

tahun terakhir ini ternyata engkau tidak buang waktu dengan percuma, sungguh luar biasa….

sungguh luar biasa….!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

475

“Hmm! engkau Thian Ik-cu pantas lebih hebat dari aku si Lo Ciu….” seru Ciu It-bong ketus.

Hoa Thian-hong menyaksikan jalannya bentrokan itu dari samping, diam-diam merasa

terperanjat, pikirnya, “Thian Ik-cu saja sudah begitu hebatnya apalagi ketiga orang cou sunya,

tentu semakin luar biasa. Aaaaai….! rupanya untuk menumpas kaum iblis dan manusia-manusia

laknat itu dari muka bumi, aku harus berusaha untuk memancing bentrokan serta pertikaian

diantara mereka sehingga saling bunuh membunuh”

Karena pikiran yang kusut tanpa terasa semangat bertempuran-nyapun semakin berkurang, dia

merasa kepalanya pusing tujuh keliling dan dadanya yang terluka terasa panas menyengat

badan, sakitnya bukan kepalang.

“Thian Ik-cu!” tiba-tiba terdengar Ciu It-bong membentak keras” ayoh cepat kembalikan pedang

emas itu kepadaku”

“Ciu-heng, engkau benar-benar tak tahu aturan!” tegur Thong-thian Kaucu dengan alis berkerut,

“hutang ada pemiliknya kalau mau tagih pergilah cari orangnya yang benar…. orang yang

merampas pedang emas itu toh Jin Hian, kenapa kau menagihnya kepada pinto? Apakah tidak

salah cari orang….?”

“Hmm….Hmm….!kau tahu bahwa pedang emas itu berada ditanganmu, maka aku datang

menagihnya kepadamu, ayoh cepat kembalikan pedang emas itu kepadaku dan akupun akan

memetikkan batok kepala Jin Hian untukmu, tukar menukar ini tidak merugikan kedua belah

pihak…. kau suka mengerjakannya atau tidak?”

“Apa gunanya batok kepala Jin Hian bagi ku?”

Ciu It-bong tertawa dingin.

“Heeeh…. heehh…. heehh…. hidung kerbau tua, buat apa engkau berlagak pilon? jengeknya,

sekarang Sin-kie-pang telah bekerja sama dengan Hong-im-hwie untuk menghantam

perkumpulanmu, sebentar lagi perkumpulan Thong-thian-kauw bakal mengalami kehancuran

total dan musnah dari muka bumi…. haaahh…. haaahh…. haaahh…. jangan dibilang ketiga orang

Cou su ya mu, sekalipun locou yang mendirikan perkumpulanmu diundang turun ke atas bumi

pun tak bisa kau selamat kan perkumpulanku ini dari lembah kehancuran.

“Setelah Jin Hian dibunuh, apakah situasinya bisa dirubah dan perkumpulanku tertolong?” tukas

Thong-thian Kaucu sambil tertawa.

Ciu It-bong melototkan sepasang matanya bulat-bulat.

“Apa yang musti dikatakan lagi?” sahutnya, setelah Jin Lo-ji mati konyol maka perkumpulan

Hong-im-hwie akan buyar bagaikan buyarnya mega terhembus angin, sekalipun Cong Tang-kee

lain bisa segera dipilih tapi apakah orang lain sudi menuruti perintahnya? dan anak buah dari Jin

Hian apakah mudah diperintah orang dengan begitu saja? Asal Hong-im-hwie batalkan

perjanjiannya untuk bersekutu dengan Sin-kie-pang, maka apa yang ditakuti lagi oleh

perkumpulan Thong-thian-kauw?”

“Ehmmm! pendapat yang tinggi…. pendapat yang tinggi….” puji Thong-thian Kaucu sambil

mengelus jenggotnya, “cuma…. ilmu silat yang dimiliki Jin Hian tidak berada di bawah kita

berdua, siasat bagus apa yang dimiliki Ciu beng untuk memenggal batok kepalanya?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

476

“Tentang soal itu kau tak usah tahu dan tak perlu kuatir. kembalikan pedang emas itu kepadaku

maka kutanggung batok kepalanya berhasil kupetik untukmu!”

Thong-thian Kaucu tersenyum.

“Kalau memang begitu, silahkan Ciu heng pergi memenggal batok kepalanya Jin Hian lebih

dahulu, setelah kau berhasil maka pinto akan kembalikan pedang emasmu itu kepadamu!”

Hoa Thian-hong yang mendengar perkataan itu, dalam hati jadi curiga bercampur ragu, pikirnya,

“Menurut Giok Teng Hujin, pedang emas itu semuanya terbagi jadi dua yakni pedang jantan dan

pedang betina, pedang jantan berada ditangannya sedang pedang betina tersimpan di dalam

pedang mustika milik Thong-thian Kaucu , menurut Thong-thian Kaucu sama sekali tidak tahu

akan persoalan ini”

Mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia berpikir lebih jauh, “Ia mengaku dirinya

bernama Siang Hoa apakah dia punya hubungan yang erat dengan pemilik pedang emas itu?

Aaah….! benar, jangan-jangan dia memang punya hubungan yang istimewa dengan ‘It kiam kaytionggoan’

pedang sakti penyapu daratan Tionggoan, Sang Tay Lay!”

Berpikir sampai disini jantungnya terasa berdebar keras ia ingin bertemu segera Giok Teng Hujin

serta menanyakan persoalan ini kepadanya.

Sementara itu Ciu It-bong telah berkata kembali.

“Sebenarnya boleh saja kalau suruh aku bunuh Jin Hian lebih dahulu baru minta kembali pedang

emas itu, tetapi bila aku kekurangan sebilah senjata tajam yang akan kugunakan untuk

memenggal batok kepala Jin Hian itu, keberhasilanku dalam usaha ini jadi agak meragukan!”

“Haaah-haaah…. siasat disusun oleh manusia dan keberhasilan ditentukan Thian, bila cara yang

satu tak bisa digunakan apa salah nya kalau mencoba dengan cara yang lain”

“Jin Hian bukan manusia sembarangan, bila seranganku gagal maka sulitlah bagiku untuk

mengulangi kembali pembunuhan itu”

“Jika sampai begitu keadaannya, maka Ciu heng harus menunggu sampai bulan tujuh tanggal

lima belas nanti, dalam pertemuan besar Kian ciau Tay hwee itu kau boleh berduel melawan Jin

Hian disaksikan oleh para enghiong dari seluruh kolong langit, asal Ciu heng berhasil

membinasakan Jin Hian maka pintopun akan serahkan kembali pedang emas itu kepadamu”

“Hidung kerbua tua, apakah kau bersikap keras tak akan serahkan pedang emas itu kepadaku

sebelum kubunuh Jin Hian?”

Thong-thian Kaucu tertawa.

“Kalau pedang emas itu kukembalikan ke padamu lebih dulu. kemudian Ciu heng tak mau

membunuh Jin Hian, apa yang bisa pinto lakukan?”

“Hihi! Sebaliknya kalau kubunuh Jin Hian lebih dahulu kemudian kau mengingkari janji dan tak

mau serahkan pedang emas itu ke padaku, apa yang bisa aku lakukan?”

“Haaaah…. haaaahh…. haah….” Thong-thian Kaucu tertawa terbahak bahak, bila pinto berani

mengingkari janji, maka dipersilahkan Ciu heng sekalian untuk memenggal batok kepalaku ini!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

477

“Hmm, kau anggap aku tak berani melakukannya?” teriak Ciu It-bong penuh kegusaran.

Tubuhnya mendadak mencelat keudara dan langsung menerjang ke arah Tnian Ik-cu.

Thong-thian Kaucu tak berani bertindak gegabah, sepasang kakinya menjejak tanah lalu loncat

bangun dari atas kasur, sepasang telapaknya disilangkan di depan dada siap menghadapi segala

kemungkinan,

Terdengar Ciu It-bong mendengus dingin dengan gunakan jurus Kun-siu-ci-tauw ia kirim satu

pukulan yang maha dahsyat bagaikan tindihan gunung Thay san ke atas batok kepala Thian Ikcu.

Serangan yang dilancarkan oleh Ciu It-bong sendiri ini benar-benar luar biasa sekali, melihat

datangnya ancaman itu Thong-thian Kaucu tahu bahwa tak mungkin bagi dirinya untuk

memunahkan serangan tadi, sepasang bahunya segera bergerak, tubuhnya merandek setengah

depa ke belakang dan dalam sekejap mata dia meloloskan diri dari kepungan angin pukulan

lawan.

Sreeet! Senjata hud-timnya yang langsung dibahat kemuka.

Ciu It-bong putar badannya di tengah udara untuk meloloskan diri dari babatan senjata hud-tim

tersebut, kemudian rentangkan lengannya dan melakukan terjangan untuk kedua kalinya.

Thong-thian Kaucu tertawa terbahak-bahak, tubuhnya melayang keudara dan hinggap di atas

tempat duduk dimana Ciu It-bong berada tadi, katanya sambil tertawa, “Tidak aneh kalau ketiga

orang Cousu perkumpulan kami selalu memuji akan kehebatan Ciu heng, jurus pukulanmu ini

memang betul-betul luar biasa dan cukup untuk menjagoi kolong langit”

Ciu It-bong yang bergebrak satu jurus melawan kaucu dari Thong-thian-kauw dengan hasil

kedua belah pihak saling bertukar tempat belaka kontan melototkan matanya sesudah

mendengar perkataan itu, serunya sambil tertawa dingin, “Heehhh…. heeehhh…. heeehhh dari

perkumpulan Thong-thian-kauw masih ada berapa orang tua bangka yang berani mengejek

kemampuan dari aku orang she Ciu? Kalau engkau tidak undang mereka untuk tampil ke depan

lagi, jangan salahkan kalau aku akan mulai memaki!”

“Dimaki juga tak ada gunanya,” jawab Thong-thian Kaucu sinis, ketika engkau berada di dalam

penjara batu tadi, ketiga orang Cou-su kami berada tepat di belakang tubuhmu, tapi sekarang

mereka telah berlalu semua dari tempat ini.”

Ciu It-bong berkaok-kaok aneh, mendadak ia tutup mulut dan gelengkan kepalanya berulang

kali.

“Hidung kerbau tua, kau ngaco belo dan bicara tak karuan, aku percaya di kolong langit belum

ada orang yang mampu mengutil di belakang punggungku tanpa diketahui!”

Thong-thian Kaucu tersenyum, dia alihkan pembicaraan ke soal lain dan bertanya, “Engkau

dengar dari siapa kalau pedang emas itu berada di tanganku….?”

“Bocah itu yang bilang!” jawab Ciu It-bong sambil menuding ke arah Hoa Thian-hong.

“Hey, bocah keparat, kau dengar dari siapa kalau pedang emas itu berada disini?” tegur kaucu

itu kemudian sambil berpaling.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

478

Sejak dadanya tertusuk oleh ujung pedang Ang Yap toojin, mulut luka didada Hoa Thian-hong

telah melebar sampai dua cun panjangnya, meskipun tidak sampai melukai otot dan tulangnya

namun karena tidak dibalut maka darah mengalir keluar tiada hentinya, hal ini sangat merugikan

kesehatan tubuhnya.

Ditambah lagi pikirannya sedang kusut dan hatinya terasa berat, maka wajah pemuda itu

kelihatan lesu dau kacau sekali.

Ketika Thong-thian Kaucu ajukan pertanyaan tadi, ia gerakan bibirnya hendak menjawab, tapi

secara tiba-tiba timbul keseganan untuk buka suara, maka akhirnya tetap ia membungkam dalam

seribu bahasa.

Melihat pemuda itu tetap membungkam dan tidak menggubris pertanyaan, air muka Thong-thian

Kaucu berubah hebat, sambil mengebaskan senjata Hudtimnya kemuiian dia membentak, Bocah

keparat. Engkau melongo dan duduk termangu-mangu seperti orang bodoh, apa sedang

bermimpi?”

Sejak ia bertukar tempat dengan Ciu It-bong, jaraknya dengan Hoa Thian-hong jadi lebih dekat

lagi, kebasan senjata hudtim nya itu kelihatan akan segera mengenai tubuhnya…. buru-buru ia

angkat pedang untuk menangkis.

Thong-thian Kaucu amat benci dan mendendam karena murid didikannya dibunuh orang, dia

ingin sekali membinasakan Ciu It-bong dan Hoa Thian-hong pada saat itu juga, namun karena

situasinya tidak mengijinkan maka niat tersebut untuk sementara tak dapat dilaksanakan.

Sekarang melihat pemuda itu menangkis serangannya dengan angkat pedang, pergelangan

segera digetarkan dan senjata Hudtim menggulung ke arah depan, tiba-tiba pedang lawan

dijangkau dan di tengah sentakan iman tua itu membentak keras.

“Enyah kau dari sini!”

Hoa Thian-hong merasa telapaknya jadi kaku, pedang bajanya seketika terlepas dari cekalan dan

meluncur ke arah Ciu It-bong.

Hoa Thian-hong menjadi gusar bercampur malu, ia takut Ciu It-bong tak mau mengembalikan

ketangannya, sambil menahan sakit tubuhnya segera meluncur keudara dan menubruk ke arah

pedang bajanya.

Thong-thian Kaucu menyeringai seram, hud tim nya kembali dikebut kemuka….Weess! dengan

telak bersarang di atas lutut pemuda itu.

Sambil menggertak gigi Hoa Thian-hong mendengus berat, celananya robek dan kakinya

berdarah, sementara tubuhnya segera terbanting jatuh di atas tanah.

Dua orang iman cilik baju merah yang berdiri disisi arena segera tertawa cekikikan karena geli

ketika melihat Hoa Thian-hong roboh dalam keadaan yang mengenaskan.

Si anak muda itu sendiri walaupun badannya terbanting ke tanah, namun pedang bajanya

berhasil dirampas kembali, dia loncat bangun ke atas dan menyilangkan pedangnya di depan

dada dengan mulut membungkam.

Sepasang matanya berubah jadi merah berdarah, rasa benci dan dendam berkecambuk dalam

dadanya, ia sadar bahwa kepandaian silatnya masih jauh ketinggalan kalau dibandingkan dengan

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

479

Thian Ik-cu, karena itu untuk beberapa saat lamanya ia tak berani bergerak secara

sembarangan.

Ciu It-bong jadi iba dan kasihan melihat pemuda itu terluka di ujung senjata Thong-thian Kaucu ,

apalagi setelah dilihatnya darah masih mengucur keluar dari dada dan kakinya, bagaimanapun ia

pernah mewaris-kan ilmu silatnya kepada pemuda itu, maka dengan suara dalam ia berseru,

“Hidung kerbau tua, kalau engkau teruskan perbuatanmu yang brutal dan tak tahu malu itu,

maka kesulitan akan kau hadapi dengan segera…. ayoh cepat ambil keluar obat luka luar

untukku, akan kubalutkan luka bocah itu. Apalagi sekarang tengah hari sudah lewat, perutku

sudah harus diisi….”

“Oohoo…. kau tak usah kuatir, selamanya keparat ini tak pernah mendendam kepada orang, aku

dengar orang berkata tempo hari Pek Siau-thian ayah dan anak pernah menghina dan menyiksa

dirinya habis-habisanan, ternyata di kemudian hari bukan saja ia tidak mendendam terhadap

mereka malah rela tenaga buat keluarga Pek, karena itulah walaupun sekarang pinto sudah kasih

pelajaran yang berat kepadanya, lewat beberapa waktu toh dia akan melupakannya kembali!”

Tertegun Hoa Thian-hong mendengar perkataan itu, kemudian pikirnya lebih jauh, “Aku mengira

jika menghadapi manusia dengan kebajikan maka dunia akan jadi aman, tak tahunya justru

perbuatanku ini maka sampai pihak musuh pun memandang rendah diriku!”

Berpikir sampai disitu ia jadi kecewa dara menyesal sekali…. tiba-tiba ia teringat akan sesuatu,

wajahnya seketika berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, sekujur tubuhnya gemetar keras.

Ciu It-bong yang melihat keadaanya itu segera mengira kalau pemuda itu telah naik pitam dan

siap beradu jiwa dengan Thian Ik-cu, buru-buru teriaknya dengan suara lantang, “Hoa Thianhong,

hidung kerbau itu ini sudah duapuluh tahun lamanya memegang pucuk pimpinan

perkumpulan Thong-thian-kauw, bapakmu sendiri pun tak berani pandang enteng dirinya, kalau

engkau tak tahu diri maka itu berarti mencari penyakit buat diri sendiri”

Hoa Thian-hong menggelengkan kepalanya, ia tetap membungkam.

“Ciu heng!” terdengar Thong-thian Kaucu mengejek.” rupanya kesanmu terhadap bocah keparat

itu tidak terlalu jelek!”

“Hmm! Kalau tidak terlalu jelek lantas kenapa?” teriak Ciu It Boug dengan nada ketus, “kalau

engkau tidak puas, silahkan cari aku orang she Ciu untuk bikin perhitungan”

00000O00000

33

Thong-thian Kaucu tertawa, katanya, “Kau repot benar untuk melakukan pembalasan dendam

sedang pinto repot untuk pukul mundur musuh tangguh, boleh dibilang kita punya persoalan

yang sama-sama re-potnya…. kalau ingin bertempur aku rasa lebih baik ditunda saja sampai

diselenggarakannya pertemuan besar Kian ciau Tay hwee!”

“Hmm! Siapa yang takut terhadap dirimu?”

“Locianpwee, aku ingin mohon diri terllebih dahulu,” tiba-tiba Hoa Thian-hong berseru sambil

memberi hormat, kemudian dengan langkah lebar ia berlalu dari sana.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

480

Cing Lian siauto jadi naik pitam menyaksikan pemuda itu hendak berlalu dengan seenaknya, ia

melesat ke depan dan menghadang di depan pintu, hardiknya, “Hoa Thian-hong, siapa yang

suruh engkau pergi?”

Dia adalah murid tertua dari Thong-thian Kaucu , sejak Hoa Thian-hong membinasakan seorang

imam cilik baju merah serta Ciu It-bong membunuh pula seorang imam cilik dan menguntungi

kaki Ang Yap toojin, ia catat semua hutang tersebut atas nama si anak muda itu, maka setelah

menyaksikan Hoa Thian-hong hendak berlalu, ia bersikeras menghalanginya.

Hoa Thian-hong segera membentuk keras, pedang bajanya diayun kemuka melancarkan sebuah

bacokan.

Sreeet. .! desiran angin tajam menyapu ke muka, sebelum pedang itu tiba, segulung hembusan

hawa pedang yang dahsyat telah mennyambar datang lebih dahulu.

Cing Lian siauto amat terperanjat, buru-buru ia jejak kakinya ke atas tanah dan menyingkir

kesamping

Thong-thian Kaucu merasa terkejut bercampur gusar, dia putar badan dan berseru sambil

menyeringai seram, “Keparat cilik, lihat dulu dimanakah saat ini engkau berada…. berani benar

main kasar disini…. Hmm….! Nyalimu benar-benar tidak kecil….!”

Senjata Hud-timnya diputar ke depan, tiba-tiba ia totok jalan darah Gi cung hiat di tubuh Hoa

Thian-hong.

Mendengar muncilnya desiran angin tajam dari arah belakang, pemuda itu segera putar badan,

tanpa memandang barang sekejappun pedangnya dibacok ke belakang.

Serangan itu tajam dan cepat sekali, kendati Thong-thian Kaucu mempunyai ilmu silat yang

maha tinggipun tak berani menangkis dengan keras lawan keras, buru-buru ia mengepos tenaga

dan tarik lambungnya ke belakang.

Weeees….! Ujung pedang itu diiringi desiran angin tajam menyambar lewat di atas dadanya dan

hampir saja merobek jubah pertapaan yang dia kenakan.

“Hidung kerbau tua!” teriak Ciu It-bong dengan cepat, dia hendak pergi ‘lari racun’ mau apa kau

tahan dirinya?”

“Keparat itu merupakan satu-satunya saksi hidup yang mengetahui peristiwa pembunuhan atas

diri Jin Bong aku ada persoalan yang hendak ditanyakan kepadanya”

Sambil menerjang kemuka, lengannya di rentangkan, dengan gagang Hudtimdnya sodok perut

pemuda itu.

Hoa Thian Hone membentak keras, pedang bajanya ditekan ke bawah dan langsung membacok

musuhnya.

Setelah hawa amarah menyelimuti wajahnya, keadaan pemuda itu boleh dibilang sudah berubah

sama sekali, matanya melotot alisnya berkerut seolah-olah malaikat bengis yang sedang mencari

mangsa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar