Selasa, 06 Oktober 2009

neraka 9

Walaupun begitu, bukan berarti para jago itu bisa mengikuti semua jalannya pertarungan dengan

amat jelasnya, diantara sekian banyak orang, boleh dibilang hanya Cho Thian hua dan Goan cing

taysu yang dapat mengikuti kejadian ini paling jelas.

Sambaran tangan Hoa In-liong yang berhasil mengesampingkan serangan dari Sim Ciu sekalian

itu ternyata tak lain adalah jurus Lui tiong ban wu (menggetarkan selaksa benda) dari ilmu

pukulan Su siu hua heng kang yang maha dahsyat itu.

Goan cing taysu yang menyaksikan kehebatan dari perubahan jurus itu kontan saja bersorak

memuji, meski dia adalah seorang pendeta yang beriman tebal, kenyataannya tak dapat

membendung juga luapan emosi dalam hatinya.

“Anak bagus, kau memang tidak menyia-nyiakan harapanku!” demikian gumamnya.

Tiba-tiba paras muka Cho Thian hua berubah hebat, sambil berpaling ia lantas berseru, “Hwesio

cilik, apakah bocah muda itu yang kau maksudkan sebagai orang yang sanggup menandingi

lohu?”

“Betul!” jawab Goan cing taysu sambil tersenyum, “bagaimana menurut pendapat lo sicu?”

Cho Thian hua segera mendengus dingin.

“Hmmm…..! Ilmu pedangnya memang lumayan, cuma ilmu pukulannya masih ketinggalan jauh”

Goan cing taysu hanya tertawa hambar, ia tahu dari jalannya pertarungan tersebut gembong iblis

itu telah berhasil mengetahui kalau ilmu pukulan yang digunakan Hoa In-liong adalah hasil

pelajar annya, sebab itu sengaja dia berkata demikian.

Sedikit banyak hati kecilnya merasa kagum juga oleh ketajaman pandangan matanya.

Sementara pembicaraan masih berlangsung, Hoa In-liong telah menyambar kembali pedangnya

sambil melayang turun kebawah, katanya dengan suara lantang;

“Saudara sekalian serahkan saja mereka semua kepadaku!”

Baru saja Thia Siok-bi hendak msnyerang dengan senjata kaitan kemalanya, tahu-tahu Gui Gi

hong telah terkurung oleh hawa pedang Hoa In-liong, yang lebih hebat lagi, ternyata dia yang

berada dihadapannya tidak merasa bagaimana caranya pemuda itu bertindak.

Kiong Hau serta Gui Gi hong lebih lebih kebingungan lagi, mereka hanya merasakan serangan

dari Hoa In-liong menyambar datang, tahu-tahu tubuh mereka berdua sudah terkurung oleh

lapisan pedang lawan.

Dengan demikian Hoa In-liong seorang diri harus bertempur melawan Sim Ciu sekalian delapan

orang jago, kenyataannya ia tak nampak ngotot ataupun tertekan, semua gerak-geriknya bisa

dilakukan dengan enteng, gesit dan cekatan.

Ketika harus bertarung melawan Gui Gi hong tadi, Thia Siok-bi telah merasakan tekanan yang

luar biasa hebatnya, ia cukup menyadari akan kehebatan musuhnya, maka tak heran kalau dia

menjadi terkejut sekali setelah dilihatnya Hoa In-liong harus bertarung melawan delapan orang

musuh dengan gerakan yang santai.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

344

Padahal dia tahu, jangankan Sim Ciu serta Kiong Hau yang berilmu dahsyat, keenam orang kakek

inipun memiliki kepandaian tidak berada dibawah Gui Gi hong, dari kesemuanya ini terbuktilah

sudah sampai dimanakah kelihaiyan Hoa In-liong yang sesungguhnya.

Tak kuasa lagi semua kegagahan dan semangat tempurnya hilang lenyap tak berbekas, pikirnya,

“Aaaai… mulai sekarang lebih baik aku Thia Siok-bi tidak membicarakan soal dunia persilatan

lagi…..”

Dari sekian banyak jago yang terkurung didasar lembah, pihak para pendekarlah yang paling

gembira menyaksikan adegan pertarungan itu.

Ciu Thian hau sekalian jago-jago tua merasa berlega hati karena keturunan keluarga Hoa terbukti

tangguh sekali, Hoa Ngo berdiri dengan wajah berseri, sedangkan Bong Pay dan Kho Thay saling

berpandangan sambil tersenyum, semuanya menyambut kehebatan pemuda itu dengan hati

riang……..

“Bocah ini…..”gumam Tiang heng Tokoh.

Tiba-tiba ia merasakan kesedihan yang meluap, titik-titik air mata segera jatuh bercucuran

membasahi pipinya.

Pui Che-giok maju menghampirinya sambil menggunakan saputangan untuk menyeka air

matanya, sedang tokoh tersebut hanya berdiri kaku tanpa bermaksud menghalanginya.

Jilid 17

Biau-nia Sam-sian paling tidak puas dengan keadaan itu, mereka berteriak keras bersama-sama,

“Anak Liong kenapa musti sungkan-sungkan? Sikat saja sampai ludes……”

Sementara itu, ketika Hoa In-liong menyaksikan Sim Ciu masih melakukan perlawanan dengan

ganas, diam-diam pikirnya dihati, “Tenaga dalam yang dimiliki orang ini sudah mencapai puncak

kesempurnaan, sekalipun bibi Jin berlatih sepuluh tahun lagi juga belum tentu bisa

menandinginya, apalagi di masa lampau ia telah mencelakai kakekku, lebih baik kubunuh saja

bangsat ini!”

Berpikir sampai disitu, pedangnya segera diputar dan…… “Sreet!” sebuah tusukan dengan telak

bersarang didada Sim Ciu.

Termakan oleh totokan tersebut, Sim Ciu mendengus tertahan, dalam keadaan terluka parah ini

sifat buasnya berkobar kembali, denpan sepuluh jari tangan terpentang lebar ia menubruk ke

depan sambil melepaskan cengkeraman dengan dua belas bagian tenaga serangan Tay im ain

jiau miliknya.

Hoa In-liong mendengus dingin, tubuhnya miring ke samping, kaki kanannya segera menyambar

ke muka.

Sreeet……! Sreeet…..! Steeet…….! Tay im sin jiau dari Sim Ciu tersebut menimbulkan sepuluh

buah lubang besar diatas tanah, tapi tubuhnya terlempar ke jurang dan terjatuh ke dalam lautan

api.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

345

Manusia kejam yang sudah banyak melakukan kejahatan ini, pada akhirnya tewas ditangan Hoa

In-liong, dendam sakit hati terbunuhnya sang kakek pun berhasil dituntut pula oleh pemuda

tersebut.

Coa Wi-wi paling bersemangat diantara sekian banyak orang, mulutnya bercuwit-cuwit tiada

hentinya menerangkan situasi pertarungan seakan-akan kuatir kalau orang lain tidak mengetahui

akan kelihayan dari Hoa In-liong.

Coa Cong gi sekalian anak-anak muda pun menuding kesana-kemari sambil berteriak-teriak

memberi semangat.

Keadaan para jago di tebing sebelah timur yang paling kocak, dasar bersifat perempuan, para

jago dari Cian li kau serta Kiong Gwat lan paling repot, sekali sebentar mereka mengejek Jin Hian

yang ada ditebing seberang, sebentar memperhatikan keadaan para jago didasar lembah,

sebentar kemudian mencaci maki Hoa In-liong yang dikatakan tolol sehingga salah memiliki

tempat yang mengakibatkan mereka tak dapat mengikuti jalannya pertarungan tersebut.

Mereka ingin pula menyusul ke medan pertarungan tapi kuatir dihadang oleh Jin Hian dan

komplotannya, sehingga untuk sesaat mereka menjadi serba salah dibuatnya.

Cia In berusaha menasehati mereka agar tetap tenang, ketika anjuran tersebut tidak digubris,

terpaksa diapun hanya tersenyum belaka sambil menyaksikan tingkah laku mereka.

Perasaan Bwe Su-yok paling serba salah, ketika menyaksikan kelihayan Hoa In-liong ia merasa

girang sekali, tapi bila terbayang kembali akan tugas yang dibebankan gurunya, dadanya kembali

bergolak, ini membuat paras mukanya berubah berulang kali.

Beribu-ribu orang jago persilatan mulai menari-nari dengan riang gembira sedangkan para jago

dari Kiu-im-kau, Hian-beng-kau dan Seng-sut-pay hanya berdiri dengan wajah terkejut.

Kok See-piau merasa dendam bercampur marah, diam-diam ia menyumpah dihati,

“Bocah busuk!”

Tapi ingatan lain segera melintas kembali dalam benaknya, dia berpikir lagi.

Kehebatan keluarga Hoa apakah benar benar melebihi aku Kok See-piau?

Thian sungguh tidak adil…….heee……heee…..heeehh tapi aku orang she Kok tak akan menyerah

sampai disini saja!”

Berpikir sampai disini ia menggertak giginya kencang-kencang untuk mengendalikan golakan

emosinya, rasa benci dan dendamnya ternyata jauh melebihi Jin Hian.

Satu-satunya orang yang tidak terpengaruh oleh kemunculan Hoa In-liong mungkin hanya Go

Tang cuan seorang, ketika dilihatnya Thia Siok-bi munculkan diri diatas tebing, ia merasa sedih

bercampur girang.

Ia gembira karena istrinya telah muncul kembali disitu, sedih karena terbayang kembali akan

musibah yang menimpa putrinya Wan Hong giok, dengan penuh kepedihan ia berpikir.

“Anak Giok…. aku telah berbuat salah kepadamu, aku telah membuat kau menderita.. ..

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

346

Makin dipikir ia merasa makin sedih, sehingga akhirnya ia menundukkan kepalanya rendahrendah.

Semua orang baik yang berada diatas tebing maupun mereka yang berada dibawah tebing

seakan akan lupa dengan kobaran api yang sedang membara dengan hebatnya itu.

Mendadak terdengar ledakan dahyat yang memekakkan telinga berkumandang memecahkan

kesunyian, lamat-lamat terdengar pula beberapa jeritan ngeri mengikuti ledakan tersebut.

Dalam keadaan seperti ini, siapapun tak ada yang memperhatikan suara jeritan tersebut hanya

Kok See-piau seorang yang segera menyumpah dihati, “Setan-setan sialan, mampus kau!”

Pada tebing sebelah tenggara tampak muncul sebuah celah sebesar puluhan kaki yang merekah

lebar, air telaga berikut batu kerikil segera mengalir ke bawah dengan derasnya menciptakan

sebuah air terjun yang sangat lebar.

Tonjolan tebing dimana Hoa In-liong sedang bertarung melawan Kiong Hau sekalian, tiba-tiba

retak dan gugur ke bawah akibat terkena getaran oleh gempa yang dihasilkan oleh ledakan

tersebut.

Dalam keadaan demikian, baik musuh mau pun teman sama-sama menjerit tertahan karena

kaget.

Jika orang biasa yang mengalami musibah semacam itu, tipis harapan mereka untuk meloloskan

diri, berbeda dengan kawanan jago yang berada di atas tebing sekarang, kecuali murid murid

Thian Ik-cu yang terhitung lemah, semuanya rata-rata terhitung jagoan kelas satu dalam dunia

persilatan.

Dalam keadaan kritis, serentak mereka berlompatan keudara dan mendaki keatas tebing baru

yang tidak ikut gugur…..

Bu tim tojin serta dua orang sutenya berdiri dipaling ujung di tebing tersebut, mereka agak

terlambat untuk bertindak, sekalipun sudah melonpat sejauh tiga empat kaki jauhnya, jarak

dengan tebing lain masih cukup jauh.

Melihat hal ini, mereka sama-sama menjerit kaget, sambil memejamkan matanya bisiknya

dihati!”

“Habis sudah riwayatku!”

Ketika itu Hoa In-liong sedang menghempit tubuh Thian Ik-cu yang berpelepotan darah dengan

napas yaug lemah, ketika menyaksikan kejadian itu, dia lantas berpikir, “Demi menyelamatkan

umat persilatan, Thian Ik-cu telah mengorbankan dirinya, aku harus melindungi keselamatan

anak muridnya.

Berpikir demikian, tiba- tiba ia melemparkan tubuh Thian Ik-cu ke atas tebing sambil berseru,

“Sambutlah ini!”

“Seorang murid Thian Ik-cu segera bertindak cepat dengan menerima tubuh gurunya.

Dengan suatu gerakan cepat Hoa In-liong segera memutar badan dan melayang ke arah tojin

lainnya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

347

Tindakannya yang menyerempet bahaya ini segera menimbulkan rasa gelisah dan cemas bagi

semua orang yang ada diatas tebing maupun dibawah lembah.

Murid-muridnya Thian Ik-cu yang selamat buru-buru berteriak, “Hoa kongcu, cepat naik keatas!”

Sekalipun mereka menyadari akan bahaya yang mengancam saudara seperguruannya, namun

mereka lebih rela mengorbankan rekan-rekannya daripada mengorbankan pemuda itu. Biau-nia

Sam-sian serta Hoa Ngo yang berada didasar lembahpun ikut berteriak, “Jangan urusi persoalan

orang lain!”

Sayangnya teriakan mereka tak ada yang terdengar oleh Hoa In lioag, sebab air telaga yang

mengalir kebawah itu menimbulkan suara gemuruh yang memekikkan telinga.

Dimana air itu melanda, kobaran api segera padam seluruhnya.

Kiu ci piat kiong, istana yang megah itu sudah terbakar hangus sebagian besar ketika terjadi

kebakaran tadi, sekarang setelah diterjang oleh air bah tak bisa dicegah lagi ambruklah

bangunan yang berjuta-juta tail perak harganya itu hingga hancur tak ber bekas.

Air bah turun dengan dahsyatnya, dalam waktu singkat tinggi air sudah makin meningkat keatas.

Dalam keadaan demikian para jago dari golongan Hek to maupun Pek to sama-sama bertahan

diri dari gempuran air, tapi sebagian besar masih mengikuti jalannya peristiwa diudara dengan

seksama, seakan-akan mereka tidak menyadari akan datangnya air bah tersebut.

Tampaklah tubuh Hoa In-liong bagaikan seekor burung raksasa menyambar ke belakang tubuh

tosu itu, dengan sebuah pukulan ia hantam kaki orang tersebut.

Ketika terdorong oleh segulung tenaga pukulan yang kuat, tojin itu segera terlempar lagi keudara

dan meluncur keatas tebing.

Hoa In-liong putar badannya mendekati orang kedua, ia sambar tumit orang itu dan

melemparkannya lagi keudara, dengan tenaga lemparan yang kuat iman itupun berhasil

mencapai daratan dengan selamat.

Kini Hoa In-liong menyambar bahu kanan Bu tim lojin sambil melemparkan pula tubuhnya ke

udara, ia membentak, “Naik!”

Tubuh Bu tim lojin yang tinggi besar itu bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya segera

meluncur ke depan yang mana segera ditolong oleh rekan- rekan seperguruan nya.

Hoa In-liong sendiri, akibat dari usahanya menolong ketiga orang itu, dengan sangat cepat

badannya meluncur kebawah.

Sementara itu tubuhnya sudah berada sepuluh kaki lebih dibawah permukaan tebing semua

orang tahu, dengan tenaga yang dimilikinya, tak mungkin pemuda itu akan menderita luka meski

terjatuh kebawah, tapi jika ia tidak berada diatas tebing, maka Jin Hian pasti akan

mempergunakan segala tipu dayanya untuk mencelakai mereka semua.

Itulah sebabnya dengan perasaan kuatir dan cemas, mereka sama-sama menantikan

perkembangan selanjutnya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

348

Tiba-tiba Hoa In-liong mambuang pedangnya kebawah, ujung kakinya dengan menutul diatas

tubuh pedang itu, sambil berpekik nyaring segera melambung kembali keudara.

Kejadian ini tidak seperti yang terdahulu setiap orang dapat menyaksikannya dengan amat jelas.

Mereka hanya menyaksikan sesosok bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu pemuda itu

sudah berada kembali diatas tebing.

Peristiwa ini hanya berlangsung dalam waktu singkat, setelah Hoa In-liong tiba diatas tebing,

semua orang baru menghembuskan napas lega.

Sementara itu air bah telah menggenangi seluruh lembah tersebut, banyak diantara mereka yang

hingga terseret jauh dari tempat semula, hanya mereka yang berilmu tinggi saja tetap berdiri

ditempat.

Untung lembah tersebut adalah lembah bebatu, sehingga meski terseret air hingga membentur

dinding, kecuali luka lecet mereka tak sampai menderita luka parah atau kematian, meski

keadaan boleh dibilang mengenaskan sekali.

Berada dalam keadaan begini, sudah barang tentu ada yang bersorak sorai, beberapa orang

yang ingin bersorak pun mengalami nasib yang mengenaskan, karena begitu mulut dibuka, air

segera masuk kemulut.

Dalam pada itu, Siu sim jiu (tangan sakti peng hancur hati) Gui Gi bong yang berada ditebing

telah bertindak nekad, ketika tubuh Hoa In-liong masih berada diudara, mendadak dia

mengayunkan telapak tangannya melancarkan sebuah pukulan.

“Bajingan laknat!” bentak Thia Siok-bi dengan gusar, Senjata kaitan kemalanya segera disambit

ke depan, dengan membawa kilatan cahaya hijau senjata tersebut kontan saja menyambar

punggung Gui Gi hong.

Siapa tahu Gui Gi hong sudah bertekad untuk beradu jiwa, ia sama sekali tidak ambil perduli

terhadap datangnya sergapan tersebut, sepasang telapak tangannya didorong kemuka, gulungan

angin pukulan berhawa dingin yang dahsyat dengan cepat menghantam tubuh Hoa In-liong.

Sesungguhnya, tanpa membuang senjata pun Hoa In-liong masih sanggup untuk naik keatas, ia

sengaja berbuat begitu karena memang berjaga-jaga atas terjadinya peristiwa ini.

Cepat sepasang telapak tangannya ditekan kemuka, tubuhnya kembali berjumpalitan dan

melayang turun setelah melewati kepala Gui Gi hong.

Jeritan ngeri yang memilukan hati segera berkumandang memecahkan keheningan, kaitan

kemala yang tajam itu tahu-tahu sudah menembusi punggungnya hingga tembus di ulu hatinya,

dengan darah bercucuran tubuhnya segera roboh terkapar ditanah.

Jin Hian yang berada ditebing seberang, segera menyadari bahwa kesempatan baik baginya

sudah hilang, dengan penuh kebencian ia mendepakkan kakinya ke tanah.

Batu cadas segera berhamburan kemana-mana, sebuah bekas telapak kaki sedalam empat lima

inci segera muncul disana dengan jelasnya.

Ia berpekik nyaring memanggil kembali semua anak buahnya, kemudian dengan penuh

kebencian berseru, “Orang she Hoa, ku anggap kau yang menang kali ini, tapi persoalan tak akan

selesai sampai di sini, kita lihat saja perkembangan selanjutnya….”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

349

Sambil mengulapkan tangannya dengan memimpin sisa anak buahnya buru- buru kabur

meninggalkan tempat itu.

Hoa In-liong menghela napas panjang, ketika ia berpaling kembali kesekeliling tempat itu

dilihatnya Kiong Hau sekalian sudah kabur tak berbekas.

Thian Ik-cu berbaring dibawah sebatang pohon, semua muridnya sedang berdiri disekelilingnya

sambil mengucurkan air mata, melihat itu Hoa In-liong segera menjura kepada Thia Siok-bi,

kemudian tanpa mengucapkan sepatuh katapun dia membangunkan Thian Ik-cu, menempelkan

telapak tangannya pada jalan darah Mia bun hiat serta me nyalurkan tenaga dalam ketubuhnya.

Dengan tenaga dalam yang dimilikinya sekarang Thian Ik-cu yang sesungguhnya sudah amat

lemah itu dapat bernapas kembali dengan lancar serta membuka kelopak matanya.

Bu tim totiang sekalian yang menyaksikan kejadian itu segera bersorak-sorai, mereka mengira

gurunya bakal tertolong.

Sebaliknya Hoa In-liong sadar kalau nadi Thian Ik-cu sudah putus, sekalipun ada Leng ci berusia

seribu tahun atau benda mestika lainnya, jangan harap jiwanya bisa tertolong, seandainya tiada

bantuan tenaga dalamnya, mungkin jiwanya tak dapat diperpanjang beberapa saat lagi.

Maka ketika dilihatnya Thian Ik-cu telah membuka matanya, dengan suara dalam ia lantas

oerkata, “Cianpwe, kau ada pesan apa?”

Wajah Thian lk cu ketika itu sudah berubah menjadi kuning kepucat-pucatan, matanya redup tak

bersinar, setelah memperhatikan keadaan disitu sekian lama, pelan-pelan dia baru dapat

mengenali kembali orang-orang disekitar sana.

“Hoa kongcu!” bisiknya parau.

Bu tim tootiang sekali yang menyaksikan suhunya menjadi begini lemah dan tak bertenaga,

padahal dulunya begitu hebat dan berilmu tinggi, tak bisa membendung air matanya lagi, titiktitik

air mata segera jatuh bercucuran membasahi pipinya.

Napas Thian Ik-cu kembali memburu, agaknya ia sedang menahan suatu penderitaan hebat, tapi

senyunan segera tersungging kembali dibibirnya, ia berkata, “Demi menolong umat manusia, aku

bersedia berkorban apapun, seharusnya kalian ikut bergembira atas keberhasilanku ini, apalagi

yang musti ditangisi?”

“Suhu………!” bisik Bu tim tojin dengan sedih.

Ia merasa tenggorokannya seperti tersumbat sehingga kata-kata selanjutnya tak sanggup

diutarakan lagi.

Ketika Thian Ik-cu menyaksikan muridnya menangis melulu, sambil menarik muka segera

berkata, “Apakah murid Thian Ik-cu begini tak berguna?”

Dia adalah bekas seorang ketua dari suatu perkumpulan besar, kewibawaannya memang

melebihi siapapun, sekalipun sudah terluka parah dan bicaranya lemah, namun dalam

menghadapi ajalnya tersebut ia masih mampu memperlihatkan ke wibawaannya hingga

membuat orang tak berani membangkangnya…..

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

350

Buru-buru semua anak muridnya menyeka air mata dan berusaha menahan isak tangisnya

namun kadangkala masih terdengar juga suara sesenggukan yang menambah harunya suasana.

Dengan perasaan apa boleh buat Thian Ik-cu menghela napas panjang, katanya sambil

berpaling, “Murid-murid pinto memang berjiwa perempuan, harap Hoa kongcu dan toyu ini

jangan mentertawakan-nya”

Thian Siok-bi yang menyaksikan adegan tersebut tak kuasa menahan rasa haru dihatinya, sambil

tertawa paksa, ia berkata, “Berpisah dikala masih hidup… . hal itu sudah lumrah!”

Sebetulnya ia hendak mengatakan kalau “perpisahan untuk selama lamanya memang suatu hal

yang berat”, ketika dirasakan perkataan itu kurang cocok, buru-buru ia menutup kembali

mulutnya.

Dengan air mata bercucuran Hoa In-liong berkata, Sebenarnya orang yang hendak dicelakai Kok

See-piau adalah boanpwe, tidak seharusnya boanpwe suruh cingpwe yang pergi menyulut sumbu

bahan peledak tersebut, Thian Ik-cu segara tertawa. Mati atau hidup sudah digariskan oleh

takdir, rejeki atau nasib semua ada ditangan Thi an, buat apa Hoa kongcu harus menyalahkan

diri sendiri?”

Setelah berhenti sejenak, dia lanjutkan, “Pinto dengan tubuh yang lemah ini dapat mewakili

konsen yang bermasa depan cemerlang dan berjuang demi kepentingan umat manusia untuk

menerima kesemuanya itu, pinto justru merasa amat bangga!”

Ketika mendengar perkataan itu, Hoa In-liong tak dapat membendung air matanya lagi, Bu tim

tojin sekalipun menangis tersedu-sedu dengan sedihnya.

Thia Siok-bi dengan air mata mengembang dalam kelopak matanya, diam-diam berpikir,

“Beginilah Thong tian kaucu yang pada dua puluh tahun berselang mempunyai nama paling

busuk dan jahat dalam dunia persilatan!”

Terdengar Thian Ik-cu telah berkata kembali. “Hoa kongcu ada suatu hal ingin memohon

bantuan mu”

“Katakan saja cianpwe, boanpwe pasti akan melaksanakannya dengan bersungguh hati” jawabpe

muda itu serius.

Mendengar perkataan itu, Thia Siok-bi kembali berpikir, “Aiaaah………..ternyata Thian Ik-cu

mengharapkan sesuatu, jiwa kaum sesatnya ternyata belum hilang seratus persen…..”

Sementara Thia Siok-bi masih termenung, Thian Ik-cu telah mendongakkan kepalanya

memandang langit nan biru sambil menghem buskan napas panjang, lama, lama sekali, ia baru

berkata, Kejadian masa lalu sudah lewat bagaikan asap, semuanya tak akan kembali lagi, meski

demikian pinto tak pernah tak dapat melupakannya, setiap kali teringat akan perbuatan keji vang

pernah dilakukan perkumpulan Tong thian kau, pinto merasa hatinya bagaikan dipagut oleh ular

berbisa, sungguh, tersiksa hatiku.

Perbuatan cianpwe pada hari ini telah melenyapkan semua kebusukan yang lama!” kata Hoa Inliong

Serius, “apalagi atas pertolonganmu, beribu-ribu lembar jiwa manusia dapat diselamatkan,

jasamu tak terlukiskan dengan kata hati.

Thian Ik-cu tertawa hambar, tukasnya, “Semuanya ini adalah Hoa kongcu seorang, pinto tak

lebih hanya melaksakan apa yang telah ada, siapa bilang aku yang berjasa”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

351

Ia berhenti sejenak dengan napas tersenggal.

Sebetulnya Hoa In-liong ingin mencegah tosu itu berbicara lebih banyak lagi, tapi bila teringat

kalau nyawanya sudah berada ditepi liang kubur, ia merasa tak tega untuk memotong pesanpesan

terakhirnya itu.

Ia hanya merasa gemas kenapa obat Yau ti wan yang mustajab itu tinggal sebutir belaka dan

itupun telah dipakai untuk mengobati para jago yang keracunan, kalau tidak, jiwa Thian Ik-cu

pasti akan tertolong.

Telapak tangannya segera ditempelkan kembali ke atas jalan darah Leng tay hiat ditubuh Thian

Ik-cu dan menyalurkan tenaga dalam ketubuhnya.

Setelah menerima tenaga dalam itu, Thian Ik-cu merasakan semangatnya berkobar kembali,

pelan-pelan ia berkata, “Hoa kongcu, ilmu silat ayahmu lihay sekali, nama besarnya bagaikan

matahari disiang hari, dialah tulang punggung dari dunia persilatan……..”

Bu Tim tojin tidak tega membiarkan gurunya berbicara terus, tak tahan ia lantas menukas,

“Setelah menyaksikan kehebatan kongcu hari ini, bisa dipastikan kaulah harapan dunia persilatan

yang akan menegakkan keadilan dan kebenaran di dunia ini”

“Aku tak bisa apa-apa, tootiang tak perlu membicarakan lagi” tukas Hoa In-liong.

Thian Ik-cu menggelengkan kepalanya berulang kali.

“Inilah permintaan pinto”, harap Hoa kongcu mendengarkan dengan bersungguh-sungguh!”

Setelah berhenti sejenak, ia melanjutkan, “Dalam mengadakan pertemuan kali ini rupanya Kok

See-piau berniat membasmi semua umat persilatan yang ada di dunia ini, siapa tahu hal tersebut

telah dimanfaatkan Jin Hian, sedangkan Jin Hian sendiri setelah kegagalan yang dihadapinya, ia

pasti akan kabur ke tempat terpencil untuk menyembunyikan diri, pihak Kiu-im-kau dan Mo kau

sukar melawan kekuatan para pendekar.

Hian-beng-kau meski tangguh, namun setelah kekalahan yang dideritanya hari ini tentu

mengalami pukulan berat yang mengakibatkan mereka bubar sendiri, mulai sekarang selama

ayahmu masih hidup, gembong iblis yang bagaimanapun lihaynya tak akan berani berkutik,

sehari keluarga Hoa bercokol dalam dunia persilatan, sehari pula dunia akan damai, anak cucu

keluarga Hoa pas ti dapat selalu memimpin dunia persilatan untuk selamanya”

Setelah mengucapkan sekian banyak kata-kata, meskipun ditunjang oleh hawa murni yang

disalurkan Hoa ln liong, lelah juga tosu tua itu hingga napasnya tersengkal.

Semua perkataannya yang panjang lebar, diutarakan secara beraturan, jelas sudah lama disusun

olehnya tapi orang yang mendengarkannya menjadi kurang begitu mengerti dengan maksud dan

tujuan yaag sebenarnya…….

Tapi Hoa In-liong memang cerdik, setelah berpikir sebentar, ia segera memahami apa pemintaan

Thian lk cu, dengan sikap yang hormat dia berkata, “Jangan kuatir cianpwe sejak kini asal

boanpwe bertemu dengan orang jahat, bila bukan orang yang betul-betul laknat, pasti akan

kuberi tiga kali kesempatan baginya untuk bertobat, ajaran tootiang tak akan kulupakan untuk

selamanya”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

352

Berbicara sampai disitu, dia lantas menyembah dengan penuh rasa hormat, katanya nyaring,

“Sejak kecil aku orang she Hoa memang binal dan berjiwa sempit, bila sejak kini ada kemajuan,

semuanya ini berkat pelajaran dari cianpwe, harap cianpwe bersedia menerima sebuah

hormatku”

“Seharusnya pinto yang musti berterima kasih kepadi kongcu atas kebijaksanaanmu” cepat-cepat

Thian Ik-cu menjawab.

Sayang tubuhnya terlampau parah, karena ingin meronta bangun, sekujur tubuhnya menjadi

sakit sekali.

Dalam keadaan begini, tepaksa dia harus berpaling kearah Bu tim tojin sambil berkata, “Cing lian,

wakililah gurumu untuk berterima kasih kepada Hoa kongcu……..!”

“Baik!” jawab Bu tim tojin dengan hormat, ia segera menjatuhkan diri berlutut keatas tanah.

Buru-buru Hoa In-liong membimbingnya bangun sambil berseru, “Tootiang, kau tak boleh

berbuat begini!”

Thia Siok-bi tidak menyangka kalau persoalan inilah yang diminta oleh Thian Ik-cu, diam-diam ia

lantas berpikir, “Tak kusangka aku Thia Siok-bi telah menilai kebajikan seorang kuncu dengan

jalan pikiran orang siaujin”

Karena merasa malu sendiri, tiba-tiba ia maju ke depan sambil memberi hormat kepada tosu itu,

katanya dengan serius, “Tootiang bisa meninggalkan kejahatan untuk kembali kejalan benar,

inilah keberuntungan buat kita umat persilatan, silahkan menerima pula sebuah hormatku!”

Karena tak bisa membalas hormat, buru-buru Thian Ik-cu berseru kembali, “Cing lian cepat wakili

gurumu untuk membalas hormat!”

Sekali lagi Bu tim tootiang memberi hormat ke pada Thia Siok-bi.

Dengan kening berkerut Hoa In-liong lantas berkata, “Tootiang dengan perbuatanmu ini

bukankah…” Belum habis dia berkata, tiba-tiba sambil berpaling bentaknya, “Siapa?”

Baru saja semua orang merasa terkejut, terdengar gelak tertawa berkumandang memecahkan

keheningan, lalu seorang berkata dengan suara parau tapi keras, “Liong ji, tenaga dalammu

benar-benar telah memperoleh kemajuan yang amat pesat, sehingga kedatanganku pun tak

berhasil mengelabuhi dirimu…….”

Ditengah pembicaraan tersebut seseorang munculkan diri dari balik sebatang pohon.

Orang itu adalah seorang kakek berjubah ungu dan berambut uban, tapi wajahnya segar dan

tampan dengan sepasang mata yang memancarkan sinar tajam, tidak dijumpai kerutan pada

wajahnya hingga sepintas lalu seperti seseorang yang baru berusia tiga puluh tahunan

Hoa In-liong segera berteriak kegirangan sambil menyembah, serunya keras-keras, “Gwakong!”

Sampai disini, meskipun orang yang belum pernah berjumpa dengan Sin-ki-pang kaucu dimasa

lalu pun akan segera mengetahui kalau pen datang tersebut adalah Pek si hujin, atau kakek luar

Hoa In-liong yang merupakan salah seorang tokoh termashur dalam dunia persilatan, Pek Siauthian

adanya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

353

Sambil tersenyum Pek Siau-thian munculkan dirinya sambil memayang bangun Hoa In-liong,

katanya, “Hayo bangun, bangun, kaupun terhitung juga jago kenamaan, kenapa masih bersifat

kekanak-kanakan?”

Sinar matanya pelan-pelan dialiakan kewajah Thian Ik-cu kemudian berjalan menghampirinya.

Thian Ik-cu segera merasakan semangatnya berkobar kembali, sambil tertawa katanya, “Saudara

Pek, selamat bertemu kembali!”

Ia lantas meronta dan berduduk dengan punggung menyandar pada batang pohon, muridnya

ingin membimbingnya bangun tapi mesti sudah kritis keadaannya, keangkuhan Thian Ik-cu masih

utuh, ia segera mendorong mereka ke samping.

Menyaksikan kejadian tersebut Pek Siau-thian tahu bahwa saat ajalnya sudah hampir tiba, diamdiam

ia berkerut kening lalu katanya sambil tertawa, Hidung kerbau, sebelum bicara sudah

tertawa duluan, tampang kelicikanmu masih tetap seperti sedia kala”

“Haaahhh…..haaa hhh…..hsaahhh……ucapan Pek heng selalu menyudutkan orang, kau memang

pantas menjadi pentolan bajingan” sahut Thian Ik-cu sambil tertawa terbahak-bahak.

Setelah saling mengejek dan mencemooh, kedua orang itu sama-sama bertepuk tangan sambil

tertawa tergelak.

Hoa In-liong yang menyaksikan kejadian itu diam-diam ikut tersenyum dihati, sedangkang Thia

Siok-bi dan Bu tim tojin sekalian malah dibikin tertegun kebingungan.

Selang sesaat kemudian Thian Ik-cu baru berkata lagi dengan wajah bersedih hati, “Bila dalam

hidupnya seorang manusia bisa mendapatkan seorang teman akrab, maka sekalipun mati juga

tak menyesal, sudah setengah abad kita saling bermusuhan, tak disangka Pek heng adalah

sahabat pinto, sayang disini tiada arak, kalau tidak tentu akan kuajak Pek heng untuk minum

sampai mabuk”

Pek Siau-thian ikut merasa sedih, tapi diluaran katanya sambil tertawa terbahak-bahak.

“Haaahh…….haaahh…….haaahh……….hidung kerbau, orang bilang tahu diri sendiri tahu orang

lain maka setiap pertarungan akan berhasil dimenangkan, aku orang she Pek kalau memang

menjadi musuh bebuyutanmu masa tidak mengetahui tentang dirimu?”

Setelah berhenti sejenak, lanjutnya, “Baru begitu kau sudah menantang aku untuk minum arak,

tampaknya sekalipun kau sudah bertapa menyucikan diri, kesucianmu masih belum bisa

dipertanggung jawabkan”

Thian Ik-cu tertawa geli oleh perkataan tersebut.

“Ucapan saudara Pek memang benar, sungguh mengagumkan, sungguh mengagumkan!” Tibatiba

diatas wajahnya terlintas rasa kesakitan hebat.

In liong segera mengerutkan dahinya dan buru-buru maju ke depan, telapak tangan nya dengan

cepat ditempelkan diatas jalan darah Hoa kay hiat ditubuh Thian Ik-cu sambil mengerahkan

kembali tenaga dalamnya.

Dengan suara lirih Thian Ik-cu segera berkata, “Pinto sudah pasti mati, Hoa kongcu tak perlu

menghamburkan tenaga dalam dengan percuma”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

354

“Tapi Hoa In-liong berlagak seakan-akan tidak mendengar, hawa murninya pelan-pelan

disalurkan kedalam tubun Thian Ik-cu tanpa berhenti….

Mengunakan tenaga dalam untuk menyambung usia orang sesungguhnya merupakan suatu

perbuatan yang sangat merugikan tenaga dalamnya, tapi dengan kemampuan yang dimilikinya

sekarang, ia tak perlu menguatirkan hal tersebut.

Tapi kenyataannya, sekalipun tenaga dalamnya sudah tersalur ke dalam tubuhnya, seakan-akan

batu yang tenggelam didasar samudra, kekuatan tersebut seolah-olah lenyap dengan begitu saja.

Sadarlah pemuda itu kalau Thian Ik-cu sudah tiada harapan untuk hidup lagi, atau dengan

perkataan lain, asal ia menghentikan penyaluran hawa murninya, nyawa tosu tua itu pasti akan

melayang meninggalkan raganya.

Tak terlukiskan rasa sedih yang mencekam perasaan Hoa In-liong ketika itu, sebab

bagaimanapun juga keadaan yang dialami Thian Ik-cu sekarang sebagian besar ada lah akibat

dari perintahnya.

Sementara itu terdengar Thian Ik-cu telah berkata kembali, “Cing Lian, kalian tak boleh

membalaskan dendam bagi kematianku. kaupun tak boleh pergi mencari Kok See-piau!”

Ucapan tersebut segera membuat para murid Thian Ik-cu sama-sama berdiri tertegun kemudian

saling berpandangan tanpa mengetahui bagaimana musti menjawab, malahan mereka menaruh

curiga kalau jalan pikiran suhunya sudah tidak terang karena hampir mendekati ajalnya.

“Sudah jelas?” tanya Thian Ik-cu kembali.

Seorang murid Thian Ik-cu yang bernama It Tin tojin dengan itu memberanikan diri segera

bertanya, “Suhu, tecu sekalian masih kurang begitu jelas!”

Thian Ik-cu menghela napas panjang, katanya, Sudah banyak tahun kita bertapa mengasingkan

diri rupanya kalian masih juga tak dapat memahami jalan pikiranku. Aaai……kematian gurumu

adalah karma, jika lantaran persoalan ini sampai kalian melakukan pembalasan dendam, coba

sayangkan sendiri berapa banyak pula korban yang telah mati dengan perkumpulan kita selama

ini? Dosaku ini tak bisa dibayar dengan apapun, meski tubuhku tercincang sampai hancur juga

belum bisa membayarnya…bila bunuh membunuh di langsungkan terus-menerus, sampai

kapankah hal ini baru berakhir?”

Setelah berhenti sejenak dan mengatur napas, ia menambahkan, “Tapi jika Kok See-piau masih

melakukan kejahatan terus, kalian boleh mendampingi Hoa kongcu untuk membasmi kaum

laknat, dari muka bumi, mengerti?”

“Tecu mengerti!” semua murid Thian Ik-cu segera menyahut, Thian Ik-cu manggut pelan, sambil

berpaling katanya kemudian kepada Hoa In-liong.

“Setelah pinco meninggal nanti, jika diantara anggota perguruanku ada yang berbuat kejahatan,

harap kongcu bersedia mewakiliku untuk menghukumnya”

“Locianpwe tak usah kuatir” jawab Hoa In-liong sedih, “urusan yang dihadapi muridmu sama

halnya dengan urusan boanpwe”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

355

Thian Ik-cu merasa lega sekali setelah mendengar janji itu. kekuatannya menjadi buyar dan

tubuhnya makin melemah, seketika itu juga daya tahannya menurun secara dratis, napasnya

kian melemah dan matanya mulai memejam.

Tapi secara tiba-tiba ia membuka matanya kembali, seakan-akan teringat kembali suatu hal,

serunya, “Hoa kongcu!”

“Boanpwe siap menerima petunjukmu”

Dengan kepayahan Thian Ik-cu berkata, “Pinto merasa berterima kasih sekali kepada ayahmu

yang mana telah……. telah memberi ke….. kesempatan bua….. buat pinto untuk ber….. bertobat,

pinto…. pinto merasa bersyukur sekali daaa…. dapat…. per….pergi den ….. dengan hati yang tee

…. tenang…..”

Tiba-tiba sepasang matanya terpejam, kepalanya terkulai dan berangkat meninggalkan alam

semesta dengan sekulum senyuman dibibir.

Suara pembicaraannya itu kian lama kian bertambah lirih apa lagi ucapan yang terakhir, boleh

dibilang bagaikan bisikan nyamuk, coba Hoa In-liong tidak memiliki ketajaman pendengaran yang

luar biasa, tak mungkin perkataan itu bisa didengar.

Air mata bercucuran membasahi pipi Hoa In-liong, dengan sangat berhati-hati ia membaringkan

jenasah Thian Ik-cu diatas sebuah batu hijau, lalu setelah memberi hormat ia mengundurkan diri

ke samping.

Bu tiam tojin sekalian tertegun untuk sesaat, setelah tersadar kembali dari lamunan, mereka

segera mendekam ditanah dan menangis tersedu-sedu, ada pula yang memukul dada dan

menyepak-nyepakkan kakinya ketanah, suasana penuh diliputi keharuan.

Pek Siau-thian berdiri dengan wajah murung, sedang Thia Siok-bi ikut melelehkan air mata

seketika itu juga suasana kesedihan menyelimuti hati setiap orang.

Tong thian kuncu, salah seorang dari tiga besar yarg banyak melakukan kejahatan pada dua

puluh tahun berselang, akhirnya ia bertobat pada akhir usianya, bagaimanapun juga akhirnya ia

berhasil menebus dosa-dosanya yang telah diperbuat pada dua puluh tahun yang lalu, boleh

dibilang kematiannya ini dilalui dengan perasaan yang tenang dan puas.

Setelah termenung sesaat lamanya, tiba-tiba Pek Siau-thian berkata, “Hey hidung kerbau,

melepaskan golok pembunuh kembali menjadi murid Buddha, kau betul-betul berhasil menebus

dosa-dosamu, hari ini aku orang she Pek berdua takluk kepadamu, kau pantas menerima

penghormatanku!”

Jago lihay dari Sin-ki-pang ini segera berlutut didepan jenasah Thian Ik-cu dan memberi

penghormatan besar.

“Semua murid Thian Ik-cu buru-buru balas memberi hormat.

Dengar, air mata bercucuran Bu tim tojin berkata.

“Pemberian dari locianpwe sungguh merupakan suatu kebanggaan buat perkumpulan kami.

Perlu diketahui, kedudukan Pek Siau-thian didalam dunia persilatan tinggi sekali, orangnya tinggi

hati dan tak pernah tunduk kepada siapa pun, hampir setengah abad lamanya ia bersama Thian

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

356

Ik-cu dan Jin Hian menguasahi dunia serta saling bermusuhan, kini se telah Thian Ik-cu wafat

ternyata ia mau berbuat demikian, meski dibilang yang mati adalah yang besar, namun peristiwa

semacam ini boleh dibilang merupakan suatu kejadian aneh yang diluar dugaan.

Thian Siok-bi maju memberi hormat pula, murid-murid Thian Ik-cu buru-buru balas memberi

hormat lagi, tiba-tiba ia mengebaskan hudtimnya dan membalikkan badan siap pergi dari situ.

Hoa In-liong segera berpikir

“Dengan kepergiannya, dikemudian hari pasti akan sulit untuk menemukan jejaknya kembali”

Berpikir demikian, ia lantas berseru, “Cianpwe, harap tunggu sebentar!”

Sambil menarik muka, dengan dingin Thia Siok-bi menegur, “Ada urusan apa?”

Hoa In-liong agak termenung sejenak, kemudian ujarnya, “Senjata kemala milik cianpwe telah

hilang, harap tunggu sejenak, boanpwe akan suruh orang untuk mencarikan kembali

“Tidak usah” tukas Thia Siok-bi, setelah kehilangan senjata hari ini, pinni ada niat untuk

meninggalkan dunia persilatan, disimpan juga tak berguna, lebih baik hilang saja”

Jawaban ini diluar dugaan Hoa In Iiong, ia menjadi tertegun ketika dilihat perempuan itu kembali

bersiap-siap akan pergi, segera serunya lagi dengan cemas, “Cianpwe, bagaimana keadaan Hong

giok sekarang?”

Thia Siok-bi tertawa dingin.

“Hmm! Kalian keluarga Hoa suka mempermainkan cinta dan perasaan orang, buat apa kau

menanyakan dirinya”

“Siapa bilang keluarga Hoa suka mempermainkan cinta dan perasaan orang…..?” tiba-tiba Pek

Siau-thian menegur.

Pelan-pelan Thia Siok-bi mengalihkan sinar matanya, lalu menjawab dengan dingin.”

“Aku yang berkata, Pek lo pangcu bermaksud hendak membuat apa?”

Sambil mengelus jenggotnya Pek Siau-thian tertawa tergelak.

“Haaahhh ….haaahhh …haaahh….tampaknya kau masih berangas sekali” katanya, aku lihat kau

dengan Thian kiam sin kau (pedang baja kaitan sakti) Thia Tay ci yang pernah menggetarkan

Tionggoan pada tiga puluh tahun berselang sama-sama dari satu aliran, tolong tanya apa

hubunganmu dengannya?”

Sebenarnya Thia Siok-bi bermaksud melayani perkataan itu, tiba-tiba satu ingatan melintas

dalam benaknya, dengan angkuh sahutnya, “Dia adalah mendiang ayahku!”

“Mendiang ayahmu?” Pek Siau-thian mengerutkan dahinya, apakah Thia toako sudah berpulang

kealam baka?”

Sesungguhnya Thia Siok-bi juga seorang perempuan yang tinggi hati dan berangasan, ia sudah

tak senang hati ketika Pek Siau-thian muncul tanpa memandang sekejap pun kepadanya,

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

357

seandainya tidak memandang diatas wajah Hoa In-liong dan kematian Thian Ik-cu, mungkin ia

sudah angkat kaki semenjak tadi.

Apalagi setelah mendengar perkataan Pek Siau-thian yang angkuh, hampir meledak hawa

amarah didalam dadanya.

Namun setelah mendengar ucapan yang terakhir, ia menjadi terperanjat, pikirnya dengan cepat,

“Apakah dia adalah sahabat karib dari ayah?” Dalam hati ia berpikir demikian, diluar ujarnya,

“Mendiang ayahku belum pernah menyinggungsoal Pek………cianpwe adakah sesuatu yang bisa

kau gunakan sebagai bukti?”

Nada ucapan dibalik perkataan itu dengan sendirinya telah berubah menjadi lebih lunak.

Pek Siau-thian segera tertawa tergelak.

“Haaahh………haaahh……..haaahh………tak kusangka suatu ketika aku orang she Pek dianggap

juga oleh orang lain sebagai seorang penipu…. “

Merah padam selembar wajah Thian Siok-bi karena jengah, padahal diapun tahu, dengan

kedudukan serta nama baik Pek Siau-thian, tak mungkin dia akan mengaku kenal kepada orang

lain apalagi tiada suatu kepentingan baginya untuk berbuat demikian, yang benar adalah untuk

sesaat ia merasa malu untuk mengakui orang itu sebagai sahabat ayahnya.

Terdengar Pek Siau-thian berkata kembali.

“Mungkin Thian heng terlalu dalam menyimpan rasa sesalnya kepadaku, maka sampai mati ia

tidak memberitahukan kepadamu bahwa ia masih mempunyai seorang sahabat semacam aku ini”

Setelah berhenti sejenak dan termenung, lanjutnya, “Sesungguhnya tiada benda berharga yang

tertinggal dari hubungan persahabatan kami dua keluarga, yang ada cuma sebuah giok bei

belaka yang diberikan ayahku kepadanya setelah ayahmu menolong jiwaku, aku pernah

berpesan kepadanya, bila dikemudian hari menjumpai kesulitan, asal mengutus orang dengan

membawa benda itu, sekalipun harus terjun kelautan api aku pasti akan menyusul kesana,

mungkin benda itu belum hilang…..?”

“Macam apakah bentuk giok bei tersebut?”

Pek Siau lhian mengernyitkan alis matanya, lalu jawabnya setelah tertawa, “Dipermukaan depan

berlukiskan burung hong dan kilin, sedangkan pada permukaan dibaliknya tertera delapan huruf

yang berbunyi Tong-sim ji lan, Ci lip toan kim. Kau masih ada pertanyaan lain?”

Thia Siok-bi tak berani kurang hormat lagi, buru-buru serunya sambil memberi hormat, “Tit li

tidak tahu, harap paman Pek bersedia memaafkan kesalahanku”

Selama ini Hoa In-liong hanya berdiri disamping tanpa ikut berbicara, setelah melibatnya

perempuan itu mengakui teman ayahnya, diam-diam ia merasa bergirang hati.

Tiba-tiba Pek Siau-thian mengulapkan tangannya sambil berseru.

“Liong ji, tak ada gunanya kau tetap bercokol disini, yang paling penting adalah selamatkan

orang-orang itu”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

358

Hoa In-liong tertegun, setelah memandang sekejap jenasah Thian Ik-cu serta murid-muridnya

yang sedang menangis kesedihan, dia berkata agak sangsi, “Gwakong, Thian Ik cianpwe……”

“Aku yang akan menyelesaikan persoalan disini, hayo cepat pergi! tukas Pek Siau-thian.

Hoa In-liong segera berpikir lagi.

“Dengan kehadiran gwakong disini, tak mungkin Thia Siok-bi akan pergi tanpa pamit

Maka cepat-cepat dia memberi hormat dan segera berlalu dari situ.

Dalam waktu singkat dia sudah tiba ditempat tujuan, tapi apa yang kemudian terlihat

membuatnya tertegun.

Sebenarnya dia mengira setelah lewat sekian lama, sebagian orang orang yang terkurung dalam

lembah sudah naik ke atas tebing, siapa tahu kecuali para anggota Cian li kau, dan bersaudara

Kiong dan huan Tong sekalian yang sudah berada dipuncak tersebut, tak seorang manusiapun

yang naik kesitu.

Hoa In-liong segera menyelinap kesamping Huan Tong seraya bertanya.

“Huan lo enghiong, apa yang terjadi?”

Huan Tong sekalian sedang memandang ke tengah lembah dengan perasaan apa boleh buat,

mendengar teguran itu ia berpaling, betapa girangnya setelah mengetahui kalau Hoa In-liong

yang muncul.

Kiong Gwat hui cepat cepat berseru lebih dulu, “Ketika kami lihat api telah padam, maka tali-tali

kami turunkan, siapa tahu mereka yang berkumpul dibawah tebing sama-sama ingin naik tapi tak

tega bila orang lain naik lebih dulu, akibatnya merekapun saling menunggu disitu”

“Pada mulanya masih ada bebera orang yang berbuat untuk naik ke atas… .” demikian Huan

Tong menyambung, tapi baru sampai di tengah jalan, mereka sudah ditimpuk dengan senjata

rahasia sehingga terjatuh dengan demikian, orang semakin takut untuk naik ke atas”

“Kami pun sudah menganjurkan, tapi orang tidak menggubris perkataan kami, tak seorangpun

yang menurut” ujar Cia Yu cong pula.

“Sungguh berbahaya!” pikir Hoa In-liong dalam hatinya, “seandainya Jin Hian memanfaatkan

kesempatan ini untuk melancarkan serangan, akibat dari keteledoranku niscaya akan banyak

korban yang kembali berjatuhan……..”

Salah seorang yang bernama Yu Cing san segera menyambung, “Kini Hoa kongcu telah datang,

hal ini jauh lebih baik lagi”

“Biar aku mencoba untuk membujuk mereka!” kata Hoa In-liong kemudian sambil tersenyum.

Ia berjalan ke tepi tebing dan berseru dengan lantang, “Saudara-saudara sekalian, marabahaya

hingga kini belum hilang, saat ini bukan waktu yang tepat untuk melangsungkan percekcokan,

persoalan terutama adalah cepat-cepat meninggalkan lembah ini, aku orang she Hoa menjamin,

sekalipun ada seorang manusia yang berhati busuk, atau mempunyai dendam sakit hati dengan

kami tak akan kami lancarkan sergapan untuk mencelakainya, menunggu semuanya sudah lolos

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

359

dari mara bahaya, saat itulah bila ada permusuhan bisa di selesaikan disini atau berjanji untuk

ketemu disaat lain, aku harap kalian suka berpikir dulu tiga kali sebelum bertindak”

Oleh karena luas lembah itu jaub melebihi luat telaga diatas tebing, maka sampai kering air

telaga tersebut, dalamnya permukaan air dalam lembah masih belum seberapa, apalagi daerah

sekitar dinding tebing cukup tinggi, air hanya merendam sedada mereka, dengan demikian meski

seseorang tak pandai ilmu berenang juga tak akan kuatir mati tenggelam.

Waktu itu beribu-ribu orang jago dari golongan hitam maupun putih yang bekumpul di bawah

tebing, suasana yang sebenarnya amat gaduh, seketika menjadi hening setelah mendengar

ucapan dari Hoa In-liong itu.

Bong Pay mengangkat tubuh Cu Tong yang terluka tinggi-tinggi ke atas sehingga tak sampai

terendam didalam air, diam-diam ia berpikir, “Luka yang diderita supek amat parah tak boleh

terlalu lama berada disini”

Berpikir demikian, dia lantas berseru, “Saudara sekalian, maaf aku orang she Hong tak bisa

menunggu terlalu lama, aku harus naik lebih dulu untuk menghantar yang terluka naik ke atas”

Sekali melompat tubuhnya sudah berada lima enam kaki tingginya ke udara, dengan cepat ia

menyambar tali yang tergantung ke bawah, mengempit tubuh Cu Tong dengan tangan kiri dan

mulai merambat naik ke atas.

Tanpa berpikir panjang lagi, Pek Soh gi segera menyusul dari belakangnya.

Ketika Biau-nia Sam-sian melihat ada orang sudah mulai naik, tanpa berpikir panjang lagi mereka

segera melompat ke atas, masing-masing dengan menyambar seutas tali mulai merambat pula

naik ke atas.

Orang orang Hian-beng-kau, Kiu-im-kau serta Mo kau mengetahui bahwa mereka adalah

keluarga dekat dari keluarga Hoa, apalagi Hoa In-liong berada diatas, tak seorangpun diantara

mereka yang berani turun tangan melakukan sergapan.

Dalam waktu singkat suasana disana menjadi amat ramai, orang pada berteriak dan saling

berebut untuk bisa naik ke atas.

Tiba-tiba Goan cing taysu berseru memuji keagungan sang Buddha, lalu serunya, “Saudara

sekalian, harap memberi jalan buat mereka yang terluka dan rendah ilmu silatnya untuk naik

keatas lebih dahulu”

“Betul, yang terluka harus didahulukan” sambung Cu Im taysu.

Dengan suara nyaring Bwe Su-yok segera berseru, “Semua murid Kiu-im-kau perhatikan baikbaik,

yang terluka boleh naik lebih dahulu, bila tak bertenaga boleh minta bantuan seorang

rekannya untuk menggendong ke atas, tak usah saling berebut, naik secara teratur pun-kaucu

dan para huhoat serta Tongcu akan naik belakangan, siapa berani melanggar akan dihukum

sebagai pembangkang!”

Setelah melirik sekejap sekeliling arena dengan biji matanya yang jeli, ia berkata lebih jauh.

“Tali-tali itu jumlah seluruhnya ada tiga puluh sembilan buah, pihak kami hanya ber jumlah

sedikit, akan kami gunakan lima buah tali dipaling kiri, ada usul lain dari k lian?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

360

Cara ini memang paling baik” seru Ciu Thian hau dengan lantang, jumlah kami banyak sekali

maaf kami butuh lima belas buah tali yang berada disebelah kanan”

Para pemimpin golongan berpikir sejenak ketika dirasakan kalau cara ini sangat baik, masingmasing

jago lantas setuju.

Seng-sut-pay mendapat bagian empat buah tali ditengah, sedangkan pihak Hian-beng-kau

mendapat lima belas buah tali disamping golongan para pendekar.

Setelah pembagian jatah dilakukan, orang-orang dari keempat pihakpun mulai mengirim

anggotanya yang terluka naik keatas tebing,

Tiba-tiba Ko Thay berseru, “Siapa tahu dalam lembah masih ada mereka yang terluka parah dan

belum mati, mungkin juga mereka tak mampu datang sendiri kemari, lebih baik kalian mengutus

orang untuk pergi mencarinya daripada mati penasaran disini”

Hong Liong mendengus dingin.

“Hmm, orang she Ko, ucapanmu itu seperti anak kecil saja, jangankan sudah diterjang air bah

sekalipun tidak mati juga telah mati, berbicara dari luasnya lembah ini kemana kita harus

mencari?”

Hoa Ngo tertawa dingin, serunya cepat. Ko toako, buat apa kau musti berbicara dengan kawanan

iblis? Pokoknya masing-masing pihak mencari rekannya sendirikan beres, mereka enggan

mencari biarkan saja rekan mereka mati penasaran”

Setelah berhenti sejenak, dengan suara lantang dia lantas berseru, “Siapa yang bersedia untuk

bersama-sama mencari?”‘

Yu Siau lam, Coa Cong gi dan Kongpeng sekalian segera menyahut bersama, Kami bersedia!”

Setelah muncul pemimpin, maka para jago dari golongan putih menyatakan bersedia, malah

jago-jago seperti Tam Si bin sekalian yang terluka parahpun bersedia turut serta.

Tapi hasil perundingan kemudian memutuskan bahwa mereka yang terluka dilarang turut,

mereka yang berilmu juga tak boleh turut semua, untuk mencegah pemainan buruk dari pihak

tiga perkumpulan.

Itupun sisanya tinggal dua ratus orang lebih, maka dipimpin oleh Cuin taysu, mereka

menetapkan setengah jam kemudian harus sudah kembali kesitu.

Dengan Suara lantang Kok See-piau berseru, “Anggota perkumpulan kami lebih hapal dengan

daerah disekitar sini, dari sini sampai ujung selatan lembah biar dicari oleh anggota perkumpulan

kami”

Ia berlagak sosial padahal sebetulnya mempunyai maksud pribadi, dengan menggeledah separuh

bagian lembah tersebut, berarti tempat itu mencakup pula tempat bekas istana Kiu ci piat kiong

berada.

Bwe Su-yok menanti sejenak, ketika dilihatnya pihak Seng-sut-pay tetap membungkam, sambil

tertawa dingin ia mengetuk tongkat kepala setannya, kemudian berseru kepada Kek Thian tok,

“Kek tengcu, kau pimpin anak murid kita menggeledah lembah sebelah utara, bagai manapun

hasilnya sepertanak nasi kemudian harus sudah kembali ke sini”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

361

Untuk sementara waktu pihak golongan putih dan golongan hitam menghilangkan rasa

permusuhan untuk menjadi sahabat dan bersama-sama bekerja keras, Hanya pihak Seng-sut-pay

tetap berada ditempat semula tanpa mengirim utusan untuk turut dalam operasi ini.

Sudah barang tentu tindakan mereka ini segera memancing caci makian banyak orang.

Kini suasana jauh lebih tertib dan teratur, suasana kalut dimasa yang lalupun bisa teratasi.

Para jago lihay bersama-sama berdiri dibarisan belakang, siapapun enggan untuk naik keatas

lebih duluan.

Ketika Biau-nia Sam-sian berhasl mencapai atas tebing, dilihatnya pek Soh gi sedang

mempergunakan jarum-jarum emasnya untuk mengeluarkan racun ditubuh Siau yau sian Cu

Tong sedangkan para gadis berkerumun disana sembari menonton sembari melakukan

pelindungan.

Sementara Hoa In-liong, Bong pay, Huan Tong dan Ciu Yu cong sekalian berjaga-jaga ditepi

tebing.

“Kokon bertiga baik-baikkah?” Hoa In-liong segera menyapa.

“Apanya yang baik?” seru Ci wi siancu dingin “hampir saja nyawa kami lenyap tak berbekas”

“Li hoa, Ci wi kalian berjaga-jaga diatas tebing” teriak Lan hoa siancu lantang, “gembong iblis

dari manapun yang berani naik keatas, kita beri hadiah kabut kiu tok ciang untuk mereka”

“Bagus sekali!” sahut Li hoa siancu “kita mampusi Cho Thian hua dan Kok See-piau, agar dunia

aman sentosa”

“Itu masih belum cukup” seru Ci wi siancu. “pokoknya semua anggota Hian-beng-kau, Kiu-im-kau

dan Mo kau tak boleh dibiarkan hidup, walau cuma seorangpun”

Lan hoa siancu segera tertawa terkekeh-kekeh

“Ucapan Ci wi memang tepat, bibit penyakit tersebut mesti dibasmi seakar akarnya, Li hoa! Kau

hadapi orang orang Kiu-im-kau, aku dan Ci wi akan melayani Hian-beng-kau serta Mo kau”

Hoa In-liong menjadi terkejut sekali setelah mendengar perkataan itu, segera teriaknya, “Kokoh

bertiga kalian tak boleh berbuat demikian!”

“Aah, kau tak usah banyak ributt” tukas Ci wi siancu “pokoknya kau membantu untuk menyikat

musuh!”

Kebetulan seorang anggota Hian-beng-kau telah mencapai atas tebing, sambil tertawa terkekehkekeh,

Bi hoa siancu segera berseru, “Ini dia orang pertama yang akan menghantar

kematiannya.

Jari tangannya segera menyentil ke depan melancarkan bubuk Mi hun san yang memabukkan.

Anggota Hian-beng-kau itu segera menjerit kaget, dalam keadaan tak sadar ia lepas tangan dan

terjatuh ke belakang.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

362

Untung saja pada saat yang amit kritis itu, Hoa In-liong melompat ke depan dan menyambar

tubuh orang itu sehingga tak sampai terjatuh kembali ke dalam jurang.

Kok See-piau yang mendengar suara itu segera mendongakkan kepalanya, kemudian teriaknya

dengan lantang, “Orang she Hoa, ucapanmu sebagai kentut busuk atau bukan?

“Kok See-piau, pokoknya aku orang she Hoa menjamin keselamatan kalian, tak usah kuatir.

Suara apa tadi?” bentak Kok See-piau.

“Seorang anggotamu terpeleset dan hampir jatuh, aku orang she Hosa telah menyelamatkan

jiwanya, apa keliru?”

Sekalipun Kok See-piau agak curiga, tapi keadaan yang dihadapinya membuat ia tak banyak

berkutik, maka setelah berpikir sejenak, katanya ssambil tertawa dingin, “Moga-moga saja kau

belum lupa bahwa kalianpun masih ada orang dibawah sini”

“Aku orang she Hoa juga berharap kalian bisa naik dengan hati-hati!” jawab Hoa In-liong di ngin.

Mendadak terdengar Li hoa siancu membentak keras, “Hey, mau apa kau? Mau mengacau

permainan kami?”

Sambil membaringkan anggota Hian-beng-kau yang semaput itu keatas tanah, Hoa In-liong

berkata sambil tertawa dingin, “Keponakan mana berani berbuat lancang, cuma keponakan

sudah terlanjur memberi jaminan kepada Kok See-piau untuk tidak melukai orang-orangnya, aku

mana boleh melanggar janji?”

“Yang memberi jaminan toh kau sendiri apa sangkut-pautnya dengan kami…..?” kata Ci wi

siancu.

Mendengar ucapan itu, para gadis dari Ciaw li kau segera tertawa cekikikan karena geli, sedang

yang lainpun ikut tersenyum.

Hoa In-liong betul-betul dibikin menangis tak bisa tertawa pun sungkan, pikirnya, “Kokoh bertiga

memang manusia yarg paling tak tahu aturan didunia ini …. payah untuk berdebat dengan

mereka. Berpikir demikian, dia lantas berkata:

“Kitapun masih ada orang yang tertinggal dibawah lembah, apakah kokoh bertiga menginginnkan

mereka beradu jiwa dengan lawan?”

“Ngaco belo, telur busuk!” damprat Lan hoa siancu.

Kepandaian beracun dari kokoh bertiga tiada tandingannya didunia ini, siapapun tak akan mampu

untuk menghindarkan diri”

“Tak usah mengumpak. Kenapa tidak bicara terus terang saja?” Hoa In-liong tersenyum,

katanya, “Coba kokoh bertiga pikirkan, jika pihak lawan mengetahui bahwa naik keataspun tiada

harapan untuk hidup apakah mereka bersedia untuk naik keatas dan mengantar kematian”

“Bukankah hal ini lebih baik, kita kurung mereka sampai mampus” kata Ci wi siancu.

Kembali Hoa In-liong tersenyum.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

363

“Tapi Kok See-piau, Seng To cu dan Bwe Su-yok sekalian tak mungkin mau mati dengan begitu

saja, mereka pasti akan menghalangi orang-orang kita untuk naik ke atas, merekapun akan

menghalangi bantuan dari atas, dengan demikian bukankah kita akan sama-sama menderita

kerugian besar?”

Biau-nia Sam-sian segera terbungkam dalam seribu bahasa, setelah termenung sekian lama,

tiba-tiba Ci wi siancu berkata, “Liong ji, ilmu meringankan tubuhmu masih terhitung lumayan,

lebih baik setiap kali kita meracuni seorang, kau menyeretnya naik ke tebing, asal orang dibawah

sana tidak merasa, bukankah hal ini bagus sekali?”

Hoa In-liong segera tertawa geli, sambil menggelengkan kepalanya dia berseru, “Cara ini tidak

baik. Kok See-piau sekalian bukan orang bodoh, cara ini tak mungkin bisa mengelabuhi mereka”

Li hoa siancu segera menggerutkan dahinya kencang-kencang, serunya kemudian, “Lantas

menurut anggapanmu, bagaimana baiknya?”

Hoa In-liong tersenyum dengan wajah serius dia berkata.

“Menurut pendapat keponakan, lebih baik biar kan saja mereka naik kemari dengan selamat jika

mereka masih mencoba untuk melakukan kejahatan, aku rasa mereka tak akan lolos dari tangan

kita, entah bagaimana menurut pendapat kokoh bertiga?”

Sementara pembicaraan berlangsung secara beruntun para jago sudah mulai melompat naik

keatas tebing.

Setelah dilihatnya tiada kemungkinan lagi bagi mereka untuk turun tangan, dengan uring-uringan

Lan hoa siancu lantas berkata.

“Baik, kami menuruti perkataanmu, tapi kalau sampai telur busuk itu mencelakai orang lagi

setelah lolos dari sini akan kulihat bagaimana pertanggungan jawabmu?”

Seraya berpaling serunya.

“Li hoa Ci wi mari kita pergi, lebih baik kita berpeluk tangan belaka!”

Buru-buru Hoa In-liong memberi hormat kepada ketiga orang itu, lalu sambil tertawa paksa,

ujarnya, “Kokoh bertiga harap beristirahat sebentar nanti keponakan tentu akan datang lagi

untuk memohon maaf”

Biau-nia Sam-sian tidak ambil peduli, dengan mendongkol mereka segera berjalan keluar dari

arena.

Dari beberapa rombongan itu pihak Seng-sut-pay paling sedikit jumlah anggotanya, tak lama

kemudian mereka telah berkumpul semua diatas tebing.

Seng To cu melompat naik paling belakangan setelah memandang sekejap sekeliling tempat itu,

tiba-tiba ia mendengus dan melancarkan sebuah sergapan kepunggung Hoa In-liong.

Semua orang yang berada diatas tebing serentak menjerit kaget.

Selama ini Hoa In-liong cuma berdiri terus ditepi tebing untuk melihat keadaan, mendengar

datangnya serangan tanpa berpaling telapak tanganya segera ditolak ke belakang.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

364

Serangan ini tampaknya enteng seperti sama sekali tak bertenaga, tapi serangan Seng To cu

yang begitu dahsyatnya seperti gulungan ombak ditengah samudra itu seakan-akan terhadang

oleh semacam kekuatan yang sangat aneh, yang membuat tenaga serangannya terhisap dan

terguling kesamping sehingga menerjang ke arah Lenghou ber saudara serta Hong Liong…..

Tiga orang jago itu segera membentak keras, enam buah telapak tangan diayunkan bersama

untuk menyambut datangnya serangan itu dengan keras lawan keras.

Ujung baju Hoa In-liong berkibar terhembus angin, seperti tak pernah terjadi sesuatu apapun.

Pelan-pelan ia membalikkan badan.

Mencorong sinar tajam dari balik mata Seng To cu, ditatapnya Hoa In-liong lekat-lekat, kemudian

selang sejenak kemudian katanya, ” Bocah muda apa nama ilmu pukulan yang kau pergunakan

itu?”

Sambil tersenyum Hoa In-liong menjawab.

“Jurus serangan ini sudah pernah kau saksikan di kota Kim leng, itulah jurus kedelapan dan ilmu

pukulan Su siu huang heng ci ang warisan Bu seng (malaikat ilmu silat) Im locianpwe, yang

dinamakan Ban wu kui kun (selaksa benda berasal dari bumi)……..”

“Tapi Goan cing tidak mempergunakannya dengan gerakan semacam ini!” seru Seng To cu agak

tertegun.

“Yaa, itulah dikarenakan aku telah melakukan perubahan dalam jurus serangan itu sahut Hoa Inliong

sambil tersenyum lagi.

Sinar mata Seng To cu segera menjadi redup, setelah termenung sekian lama, tiba-tiba ia

mendongakkan kepalanya dan menghela napas panjang.

“Aai…..sudahlah! Sudahlah!”

Secara tiba-tiba usianya bagaikan lebih tua sepuluh tahun, ia seperti merasa putus asa dan

lenyap semua kegembiraannya, sambil membalikkan badan ia memberi tanda kepada jago-jago

Seng-sut-pay seraya berkata, “Mari kita pergi!”

Walaupun Hong Liong dan dua bersaudara Lenghau masih tidak puas, tapi sebuas-buasnya

mereka masih bukan terhitung bodoh, mereka tahu bahwa tiada keuntungan yang bisa diraih

dalam keadaan seperti ini, maka setelah melotot sekejap kearah Hoa In-liong dengan gemas,

mereka berlalu dari sana mengikuti dibelakang Seng To Cu.

“Song To cu, harap tunggu sebentar” tiba-tiba Hoa In-liong berteriak keras,

Hong Liong membalikan badannya, kemudian berseru dengan gusar, “Orang she Hoa, kau

anggap Loya sekalian benar-benar jeri kepadamu…..”

Hoa In-liong tersenyum, jawabnya.

“Yang kucari bukan kau, buat apa musti gelisah?”

Pelan-pelan Seng To cu memutar badan lalu menegur dengan suara dingin, “Ada apa kau

mencari lohu?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

365

“Seng To cu, jumlah anggota Seng sat pay yang masuk kedaratan Tionggoan berjumlah ribuan

orang, tapi menghadiri pertemuan ini cuma seratus dua ratus orang belaka, aku tidak percaya

kalau kau tak ta hu kemana perginya Tang Kwik-siu dengan membawa jago-jago lainnya?”

“Kau bilang apa?” Seng To cu melototkan sepasang majanya bulat bulat.

Hoa In-liong agak tertegun, kemudian katanya lagi, Kalau benar-benar tak tahu, anggap saja

Hoa In-liong sudah salah berbicara, tanya sendiri kepada sutemu nanti!

Hong Liong yang mendengar perkataan itu menjadi terkejut, diam-diam pikirnya, “Anak jadah ini

betul- betul berpendengaran tajam, tampaknya persoalan itupun berhasil diselidiki olehnya, wah,

gelagatnya kurang baik…”

Tampaklah Seng To cu dengan sorot mata tajam berpaling ke arahnya, lalu dengan suara

lantang membentak, “Hong liong, apa yang dilakukan oleh gurumu?”

Hong Liong tak berani berbohong, setelah sangsi sejenak sahutnya, “Toa supek, sebentar tecu

akan melaporkan segala sesuatunya kepadamu, mari kita pergi dulu”

“Hoa In-liong tertawa dingin, segera ujarnya.

“Kau enggan bicara, biar aku orang she Hoa yang berkata, rupanya sudah semenjak lama sekali

kalian menyelidiki keadaan dalam dunia persilatan sejelas jelasnya, siapa-siapa yang berada

dalam tiap partai pun sekalian selidiki dengan jelas, menggunakan kesempatan dikala semua

enghiong dari kolong langit menghadiri pertemuan disini, Tang Kwik-siu telah memimpin anak

buahnya untuk menyergap partai-partai besar didunia, pertama bertujuan agar mereka yang

kembali dari pertemuan tiduk punya tempat tinggal lagi, kedua merekapun ingin menyandera

anggota keluarganya sebagai jaminan untuk memaksa mereka takluk.

Wahai orang she Hong, perkataanku tidak salah bukan?”

Begitu ucapan tersebut diutarakan, suasana segera menjadi gempar.

Jilid 18

Dengan suara lantang Lan hoa siancu segera berseru, “Bagus sekali Rupanya Tang Kwik-siu

mengandung maksud sekeji ini, sobat-sobat sekalian, hayo kita bereskan dulu nyawa bajinganbajingan

ini, kemudian menyerbu ke Cong hay dan membumi ratakan sarang Seng-sut-pay

dengan tanah, biar anak cucu iblis itu tersapu bersih dari muka bumi…..”

Seketika itu juga seruan itu mendapat tanggapan dari semua orang, caci maki dan dampratan

sinis berkumandang dari mana-mana, semua jago dari Seng-sut-pay dikepung rapat-rapat, suara

senjata yang beradu memecahkan keheningan, rupanya ada orang yang sudah mulai turun

tangan.

Tiba-tiba terdengar Bwe Su-yok berseru setelah tertawa dingin.

“Kiranya pihak Seng-sut-pay ada niat unuk menyapu rata daratan Tionggoan, kalau begitu maaf”

Sementara itu semua jago dari pihak Kiu-im-kau telah naik keatas tebing, mereka lantas

menyingkir ketepi arena dan bersikap masa bodoh…

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

366

Seng To cu yaa kaget yaa marah setelah mengetahui kejadian ini, ia melotot sekejap ke arah dua

bersaudara Lenghou serta Hong Liong kemudian serunya dengan gusar, “Kenapa tidak berunding

dulu dengan aku?”

Toa suheng suka ketenangan maka…maka….” Lenghou Ku menjadi gelagapan.

Semua usaha dan perjuangan perkumpulan kami hancur berantakan di tangan kalian semua

teriak Seng To cu dengan gemas.

Saking gemasnya sulit baginya untuk berbicara lebih lanjut, tapi dia tahu bahwa Seng-sut-pay

telah menjadi incaran setiap orang, sekali salah bertindak bisa jadi semua anggotanya akan

tertumpas, bahkan lebih payah cousu-nya di daerah Cing hay pun kemungkinan akan tersapu

lenyap.

Maka ia tak tempat untuk menegur dua bersaudara Lenghou serta Hong Liong lagi, sambil

berpaling katanya dengan suara dalam, “Hoa Yang, partai kami mengaku kalah, jika kau hendak

berduel, aku orang she Seng pasti akan memberi keputusan untuk kalian, Hoa In-liong tertawa,

dengan lantang ia berseru, “Sobat-sobat sekalian, harap jangan turun tangan lebih dulu,

dengarkanlah perkataanku”

Didalam menghadapi serangan api dari Jin Huan kali ini, seandainya tiada pertolongan dari Hoa

In-liong, mungkin tak seo rangpun diantara mereka yang bisa hidup sampai sekarang, maka

setelah ia membuka suara, serentak semua orang menghentikan gerakkannya, hanya tiga empat

orang pemuda diantaranya yang belum juga mau berhenti.

Seorang kakek segera menyambar pergelangan tangan salah seorang diantaranya, lalu berkata,

Hoa kongcu pasti dapat mencarikan keadilan untuk kita semua, kalian tak usah turun tangan”

Tiga orang lainnya yang menyaksikan kejadian itu terpaksa menghentikan pula tindakan mereka

sambil mengundurkan diri.

Setelah dilihatnya tiada orang yang bertarung lagi, dengan suara lantang Hoa In-liong berkata,

“Kalian semua tak usah kuatir, Tang Kwik-siu dengan anak buahnya yang melancarkan sergapan

telah dihadang oleh jago-jago lihay, mereka tak akan mampu melaksanakan niat busuknya lagi,

tiba-tiba terdengar seseorang berseru lantang”

“Hoa kongcu, tolong tanya apakah ayahmu telah turun gunung?”

Hoa In-liong berpaling, sewaktu dilihatnya orang itu adalah rekan sekampungnya Tio Ceng tang,

sambil menjuara dia lantas tertawa.

“Oooh…..rupanya Tio lo enghiong telah datang, selama banyak tahun belakangan ini kepandaian

silatmu tentu sudah mendapat banyak kemajuan bukan?”

Tio Ceng tang buru-buru membalas hormat dengan rasa kaget, Oh, rupanya Hoa kongcu masih

teringat dengan lohu, di masa lalu berkat kebaikan Hoa locianpwe aku berhasil memperoleh

resep rahasia dan memperoleh badan yang sehat serta kemajuan yang pesat, tetapi soal

anakku……..”

“Bila urusan telah selesai nanti pasti akan kusambangi kalian lagi” tukas Hoa In-liong sambil

tertawa, “sebagai seorang putra, sudah sepantasnya kalau membantu ayah untuk menyelesaikan

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

367

kesulitan, aku tak becus dan mendapat perintah untuk menyelesaikan persoalan ini, bagaimana

mungkin berani kuganggu ketenangan dia orang tua”

Tio Ceng tang segera mengiakan berulang kali. Terdengar seseorang yang lain berkata kembali,

“Aku rasa Hoa kongcu pasti mempunyai persiapan yang matang, dapatkah kau jelaskan jagojago

lihay siapa saja yang telah menghalangi perbuatan Tang Kwik-siu itu?”

Hoa In-liong tertawa.

“Mereka adalah keturunan dari Bu seng Coa tayhiap beserta sekawanan Bu lim cianpwe yang

sebenarnya sudah dikendalikan oleh racun jahat pihak Seng-sut-pay, diantaranya terdapat Giok

suan ni (singa kemala) Can Ki an long, ciangbunjin keluarga Wi dari Seng ciu, Chia san it siu dan

lain-lainnya, tentang soal ini kalian boleh berlega hati!”

“Hmm! Tok liong wan memabukkan perasaan Sin hui si sim (ular berbisa menggigit hati)

menguasahi badan, Kiu tok sian ci pun di bikin kelabakan, dengan kemampuan kau si bangsat

cilik mana dapat memusnahkan kedua macam racun jahat itu!” seru Hong Liong dengan nada

seram.

Lan hoa siancu yang berada ditempat ke jauhan segera tertawa dingin, serunya, “Orang she

Hong, dengan ketololanmu macam babi itu kauanggap kemampuan yang dimiliki orang-orang Hu

hiang kok bisa diduga dengan begitu saja? Huuh …kepandaian beracun dari pihak Mo kau tak

lebih cuma permainan kanak-kanak”

Lenghou Yu segera tertawa seram, katanya pula, “Sekalipun kau berhasil menyelamatkan setansetan

tua yang sudah macam mayat hidup itu bila ingin menghalangi kekuatan dari jaga-jago

partai kami ibaratnya walang hendak menahan pedati……hancur sendiri…..

“Bukan aku orang she Hoa terlalu pandang rendah ciangbunjin kalian, seandainya Coa tayhiap

tidak terlalu memegang teguh perintah leluhurnya sehingga tidak melakukan perlawanan, tak

mungkin ia bisa disekap oleh kalian bila sampai sungguh-sungguh terjadi pertarungan mungkin

hanya toa suhengmu seorang yang masih sanggup menghadapinya asal dia yang memimpin

jago-jago kelas satu itu, Tang Kwik-siu sudah pasti akan menderita kekalahan total”

“Kentut” dengus Hong liong amat gusar.

Sebelum hari ini, nama Coa Goan hau tak dikenal orang sebaliknya kelihaiyan Tang Kwik-siu

diketahui oleh setiap orang.

Sekalipun demikian, nama besar Bu seng tampil hari ini masih dikenal orang apalagi ditinjau dari

kepandaian silat yang dimiliki Coa hujin dan putrinya, bisa diketahui kalau kelihaiyan Coa Goan

hau tak boleh dipandang remeh.

Sedangkan Cian sat it siu, Giok suan ni, Cau kiau long sekalian adalah nama dari jago-jago yang

sudah tenar semenjak dulu, tentu orang kenal dengan mereka.

Disamping semuanya itu, Hoa In juga mustahil kalau berani bicara sembarangan dalam

menghadapi persoalan besar ini, maka setelah mendengar jaminan darinya, diam-diam mereka

menghembuskan napas lega.

Orang-orang Seng-sut-pay hanya mengatakan tak percaya dibibir, padahal hati kecil nya sudah

kemat-kemit tak karuan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

368

Sesungguhnya mereka beranggapan meski dalam pertemuan besar ini menderita kekalahan

total, asal Tang Kwik-siu berhasil dengan operasinya, mereka masih tetap bisa bercokol dalam

dunia persilatan beradu kekuatan dengan keluarga Hoa, tapi selalu urusan menjadi begini

mereka jadi putus asa dan murung sekali.

Dalam pada itu, dari pihak kaum pendekar telah tiba, pada giliran kaum muda untuk naik ke atas

tebing.

Secara lamat-lamat Coa Wi-wi ikut mendengar pembicaraan tersebut, ketika menyinggung soal

ayahnya ia menjadi berdebar, memanjat pun dipercepat, ketika masih berada enam tujuh kaki

dari puncak tebing, tak sabar lagi dia menarik tali dan melambung keudara, dari situ segera

serunya, “Jiko kau telah bertemu dengan ayahku?”

Bagaikan seekor burung walet dia melayang turun disisi tubuh Hoa In-liong.

Semua orang hanya merasakan pandangan matanya silau tahu-tahu seorang gadis cantik telah

muncul didepan mata.

Diam-diam semua orang membandingkannya dengan Bwe Su-yok segera terasa oleh semua

orang bahwa kecantikan mereka berdua seimbang meski yang satu lincah sedang yang lain

dingin.

Gadis itu sama sekali tidak menggubris hal-hal yang lain, dengan sepasang biji matanya yang jeli

dia perhatikan Hoa In-liong dari atas sampai kebawah, wajahnya menampilkan perasaan yang

kuatir sekali.

Hoa In-liong memutar biji matanya dan memandang gadis itu sekejap, lalu sambil tersenyum

berkata, “Adik Wi tak usah kuatir, empok dalam keadaan sehat wal’afiat, beberapa hari lagi

kalian tentu akan saling bersama kembali”

Mereka saling berpandangan dan tertawa, semua rasa rindu dan kangen yang tak akan habis

diutarakan dengan beribu kata-kata, ternyata telah tertebus dalam pandangan tertebut.

Tiba-tiba Bwe Su-yok mendengus, biji matanya yang jeli segera dialihkan ke arah lain.

Sementara itu, Coa Cong gi, Kongsun peng dan lain-lainnya secara beruntun telah naik ke atas

dan berkumpul semua disekeliling Hoa In-liong.

Kongsun peng sembari menyapa Hoa In-liong, tak tahan dia berpaling uatuk mencari Kiong Gwat

hui, kebetulan waktu itu Kiong Gwat hui juga sedang memandang kearahnya, pandangan mereka

segera saling gemetar.

Dengan girang Kongsun Peng berseru, “Nona Kiong…..”

Kiong Gwat hui mendengus dingin lalu melengos.

Merah padam selembar wajah Kongsun Peng lantaran jengah, dengan wajah tersipu-sipu dia

berjalan kembali ke sisi Hoa In-liong.

Hoa In-liong menyaksikan kejadian itu, hatinya lantas tergerak, segera pikirnya.

Saudara Kongsun memang merupakan pasangan yang ideal untuk Kiong ji moay, sekalipun di

wajahnya Kiong ji moay bersikap tak ambil perduli, jelas hatinya sudah setuju, bukan mustahil

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

369

gara-gara pertarungan di kota Si ciu, mereka mengikat diri menjadi suami istri, aku musti

mencari kesempatan untuk menjodohkan mereka, kalau tidak bukanlah terlalu sayang?”

Berpikir sampai disini, dia lantas berpaling ke arah Seng To cu seraya berkata, “Harap saudara

mau tunggu sebentar: Kemudian sambil memberi hormat kepada Bong pay yang berada

dibelakanugnya ia berkata, “Paman…….”

Aku tidak ada usul lain, terserah apa yang hendak kau lakukan!” tukas Bong Pay sambil tertawa.

“Keponakan bermaksud menunggu sampai semua cianpwe telah berkumpul semua, kemudian

baru minta usul mereka dalam tindakan selanjutnya”

Diam-diam Bong Pay berpikir, Bocah ini masih muda tapi berjiwa besar, kalau aku berdiam diri

saja mungkin dia akan menunjukkan sikap tinggi hati, tapi kalau aku turut campur dia akan raguragu

untuk bertindak……yaa, Thian hong bisa mempunyai seorang putra semacam dia,

sesungguhnya tak sia-sia belaka hidup didunia”

Berpikir demikian segera ujarnya. “Persoalan ini boleh kau putuskan sendiri, aku pikir para

cianpwe lainnya tak akan ada usul lain cuma memang ada baiknya kalau menunggu sampai

semua orang naik keatas.

“Baik!” jawab Hoa In-liong dengan wajah serius.

Dia lantas berpaling kearah Seng To cu seraya berkata, “Bagaimana pendapatmu?”

“Terserah keinginanmu!” jawab Seng To cu hambar.

Orang-orang Seng-sut-pay tahu bahwa usaha mereka untuk menyerang pelbagai partai

mengalami kegagalan total, dalam keadaan demikian, Kok Se piau serta Bwe Su-yok pasti akan

berpeluk tangan belaka membiarkan piaknya dibasmi oleh para pendekar.

Oleh sebab itu mereka bermaksud untuk menunggu saja sambil berharap bisa terjadi perubahan

situasi untuk mereka.

Dalam waktu singkat para jago dari pihak golongan putih maupun dari golongan Hian-beng-kau

telah tiba semua diatas tebing.

Pertemuan besar yang diadakan Hian-beng-kau kali ini berlangsung pada tengah hari Pek cun,

pertemuan itu diadakan setelah lewat tengah hari sampai malam, lalu dari pagi sampai senja,

maka saat ini waktu kembali menunjukan tanggal tujuh bulan lima, tengah malam buta.

Setelah mengalami pelbagai musibah, dari terserang oleh api sampai diserang air bah, pakaian

yang dipakai semua orang boleh dibilang telah basah kuyup, keadaannya mengenaskan sekali,

ada yang bajunya koyak, ada yang mukanya hitam kena hangus, jangan di bilang lagi mereka

yang terluka…..

Demikianlah setelah keluar dari lembah, pemandangan terasa lebih segar dan nyaman, timbul

kembali rasa gembira dalam hati masing- masing, napsu membunuh dalam hati mereka jauh

berkurang sekali.

Dibawah sinar rembulan, terlihatlah manusia yang berdesakan memenuhi puncak tebing.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

370

Para jago dari golongan putih telah mengepung rapat-rapat para jago dari pihak Seng-sut-pay,

sebelah timur penuh berkumpul para jago dari Hian-beng-kau, waktu itu Kok See-piau, Cho Thian

hua dan Co Tang cuan sekalian sedang berbisik-bisik merunding kan sesuatu, sebaliknya anak

murid Kiu-im-kau berada disebelah barat.

Banyak perubahan diluar dugaan yang terjadi dalam pertemuan kali ini, mula-mula Jin Hian

meledakkan bukit untuk menyumbat mulut lembah, lalu melepaskan panah Lui hwe Ciam untuk

mengurung para jago dengan api, setelah terjadi pertarungan sengit antara golongan putih

dengan golongan hitam yang mengakibatkan jatuh banyak korban, banyak pula diantara

kawanan jago yang tewas diserang oleh batu-batu karang dan api.

Dari sekian banyak jago, anak murid baju putih dari Hian-beng-kau serta para jago yang datang

menonton meramaikan terhitung paling lemah, korban diantara merekapun paling parah, setiap

orang boleh dibilang menaruh perasaan benci yang merasuk tulang terhadap diri Jin Hian.

Cian pek jin dari Tiam cong pay serta Im san ji koay dari pihak Hian-beng-kau telah tewas

bersama. Lau Ik liong dengan membopong jenasah sutenya berdiri dengan wajah sedih, Yau

Tiong in yang bertarung melawan Tang Bong liang, sebuah pukulan kipasnya telah ditukar

dengan sebuah pukulan tangan, tak enteng pula luka parah yang dideritanya, ditambah lagi

hampir separuh bagian anak muridnya mati atau terluka dalam pertarungan tersebut.

Sute dari Cia Bu liang yang bertarung bersama Coa hujin pada saat yang terakhir termakan

sebuah pukulan yarg cukup dahsyat, akibatnya sekalipun tak sampai mampus paling tidak dia

baru beristirahat selama tiga empat bulan lamanya, ia dibopong oleh Bu Beng san.

Para bekas anggota Sin-ki-pang rata-rata berilmu tinggi dan berpengalaman luas setelah terjadi

pertarungan sengit yang mati tak sampai sepuluh orang sedang yang terluka pun baru dua puluh

orang lebih.

Diri pihak Kim Leng ngo congcu, Si Siong-peng dan Li Po-seng paling parah menderita luka,

mereka ditolong oleh Coa Cong gi serta Yu Siau lam setelah membunuh belasan orang musuh,

mereka masih tetap tidur, hal mana benar-benar merupakan suata kemujuran.

Coa hujin dan Goan cing taysu telah naik pula ke atas tebing, Coa Wi-wi segera melaporkan

tentang ayahnya kepada mereka.

Sekalipun Goan cing taysu adalah seorang pendeta yang berilmu tebal, tak urung terpengaruh

juga oleh berita itu sehingga hatinya mengalami gejala keras.

Dengan air mata bercucuran. Coa hujin berkata, “Gwakong, anak Sian ingin segera membawa Gi

dan Wi untuk pergi berjumpa dengan Goan hau”

Goan cing taysu segera tersenyum, sahutnya, “Cepat atau lambat kalian pasti akan saling bersua,

buat apa dan musti gelisah?”

“Tapi anak Sian sudah tak kuasa untuk menahan diri, hatinya sama gelisah susah terkendali”

seru Coa Hujin sambil menangis sesenggukan.

“Anak Sian!” tukas Goan cing taysu, ajaran leluhur kita menganjurkan agar kita lebih

mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi, selesai persoalan di sini belum

terlambat bagi kita untuk ke sana.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

371

Dalam keadaan demikian, terpaksa Coa hujin harus mengendalikan perasaannya yang gelisah

untuk menunggu selesainya persoalan disini.

Sementara itu Hoa In-liong telah berpaling kepada Seng To cu setelah meninggalkan beberapa

pesan kepada para cianpwe, katanya, “Coa tayhiap adalah seorang ksatria yang berjiwa besar,

sekalipun hampir belasan tahun ia tersekap didalam perkumpulan kalian, dendam sakit hati ini

tak pernah dipikirkannya dalam hati, adapun maksudnya menghalangi Tang Kwik-siu dan muridmuridnya

tak lebih hanya ingin memberi peringatan agar mereka jangan meneruskan

perbuatannya itu, sudah barang tentu terhadap sampah masyarakat dari daratan Tionggoan,

mereka tak akan bertindak sungkan-sungkan”

Sementara itu Kok See-piau serta Bwe Su-yok dengan memimpin masing-masing anak buahnya

berkumpul disamping arena tanpa turut campur dalam persoalan itu, namun mereka tidak

bermaksud pergi meninggalkan tempat itu, agaknya mereka hanya ingin menyaksikan jalannya

pertarungan antara pihak pendekar dengan golongan Seng-sut-pay.

Ci wi siancu yang mendengar perkataan dari Hoa In-liong itu segera berpikir dalam hati, “Tidak

beres, kalau didengar dari pembicaraan tersebut, tampaknya dia bermaksud hendak melepaskan

kawanan iblis ini”

Berpikir demikian, dengan gusar dia lantas berseru, “Liong ji, bagaimana dengan janji kita tadi?”

“Janji apa?” tanya Hoa In-liong tertegun

“Kita harus membasmi mereka sampai seakar-akarnya, jangan menjadi bibit bencana lagi

dikemudian hari”

Mendengar itu Hoa In-liong mengerutkan dahinya lalu tertawa, jawabnya, “Kokoh bertiga buat

apa kita musti berbuat demikian, mengejar orang tak lebih hanya seratus langkah”

“Cis, kau suka mengampuni orang, apakah orang lain bersedia menggampuni dirimu” seru Ci Wi

siancu dengan gusar, “kalau perbuatan tolol semacam itu mah aku tak sudi untuk melakukannya”

Li hoa siancu segera menyambung.

Jika kau enggan untuk turun tangan, biar kami melakukannya bagimu!”

Dia lantas berjalan lebih dulu menghampiri para jago dari Seng-sut-pay.

Semuaa orang segera menyingkir ke samping memberi jalan lewat, tanpa terlibat apa yang di

lakukan olehnya, tahu-tahu dua orang anggota Mo kau yang mendengus tertahan, lalu roboh ke

tanah.

Menyaksikan kejadian itu paras muka Seng To cu sekalian berubah hebat, mereka mau menuruti

perkataan orang karena didesak oleh keadaan, tapi bukan berarti mereka sudah tiada kekuatan

lagi untuk memberi perlawanan desakan dari Biau-nia Sam-sian yang bertubi-tubi ini membuat

mereka menjadi nekad.

Para jago dari pihak Mo kau segera bersiap-siap untuk turun tangan agaknya mereka berniat

untuk beradu jiwa.

Gelisah sekali Hoa In-liong menyaksikan keadaan tersebut, segera pikirnya dalam hati,

“Sekalipun anggota Mo kau banyak melakukan kejahatan namun mereka bukan manusia

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

372

sembarangan jika dibasmi seluruhnya hal mana itu, memang harus dihadapkan pada seorang

yang tak tahu aturan pula.

Setelah Biau-nia Sam-sian diajak pergi, diam-diam ia menghembuskan napas lega, katanya

kemudian, “Seng To cu, apa yang hendak kau katakan? Apakah berharap Tang Kwik-siu bisa

merubah keadaan ini?”

Seng To cu berpaling dan memandang sekejap kearah dua bersaudara Lenghou serta Hong

Liong, lalu katanya, “Dalam urusan ini, ciang hujin yang berkuasa ataukah aku yang

memutuskan?”

Tentu saja toa suheng!” sahut Lenghou bersaudara dengan cepat dan lantang.

Hong Liong agak termenung sejenak, kemudian dengan perasaan apa boleh buat dia berkata,

Selama suhu tidak berada, memang seharusnya toa supek yang mengambil keputusan.

Dengan pandangan dingin Seng To ci memandang sekejap kearah Hong Liong, lalu katanya,

“Sekarang aku bisa saja mengambilkan keputusan, tapi setelah peristiwa ini apakah suhumu mau

mengikutinya?”

“Soal ini sulit, tak berani menjamin!”

“Kalau memang demikian, bukan semua perkataan itu hanya ucapan yang tak berguna” seru

Seng To cu dengan suara keras.

Hong Liong menundukkan kepalanya rendah-rendah dan tidak berbicara lagi.

Seng To cu mendengus dingin, dia lantas berpaling seraya katanya, “Sejak kini partai kami

mengundurkan diri dari dunia persilatan, mulai sekarang, selama keluarga Hoa masih berada

dalam dunia persilatan orang-orang Seng-sut-pay tak akan melangkah masuk ke daratan

Tionggoan, Hoa Yang, puaskah kau dengan janjiku ini?

Ucapan tersebut kontan saja membuat para jago Seng-sut-pay merasa terperanjat, dua

bersaudara Lenghou menggetarkan bibirnya seperti mau mengucapkan sesuatu tapi segera

dibatalkan kembali.

“Toa supek, hal ini terlampau berat buat kita!” teriak Hoa liong cepat dengan suara Keras.

Bersamaan itu pula, dari kawanan jago lainnya terdengar pula teriakan-teriakan yang amat

gaduh.

Terdengar Tio Ceng tang berseru, “Kalau berbuat demikian, hal mana terlalu keenakan buat

mereka, Hoa Kongcu, kau tak boleh menerimanya!”

Huan Tong berseru pula dengan lantang, “Apa yang diucapkan Seng To cu belum tentu akan

diakui oleh Tang Kwik-siu, Hoa kongcu harus meminta jaminan darinya!”

“Malah ada pula yang berteriak dengan lantang, “Orang-orang Mo kau paling tak pegang janji,

ucapan mereka ibaratnya kentut busuk lebih baik dibunuh saja sampai mampus!”

Menyaksikan kemarahan dari masa banyak, para jago dari Seng sit pay menjadi murung dengan

perasaan tak tenang, meski Hong Liong terkenal karena buasnya namun dalam keadaan

demikian diapun tak berani banyak berbicara.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

373

Seng To cu berusaha keras menenangkan hatinya, lalu berkata, “Orang she Hoa, apakah pihak

pendekar pun bisa melakukan perbuatan rendah dengan melakukan pembantaian secara besarbesaran?”

“Selamanya keluarga Hoa melakukan pekerjaan atas dasar kebaikan, kami tak akan

memperdulikan soal nama atau tidak!” jawab Hoa In-liong dengan nada hambar.

Perasaan Seng To cu menjadi berat sekali, serunya.

“Kalau begitu…..

“Harap Seng ciampwe memberi jaminan dulu” tukas Hoa In-liong, apakah janjimu” akan dituruti

pula oleh Tang Kwik-siu?”

Seng To cu termenung agak lama, setelah menghela napas, jawabnya, “Aaaai,.. . meskipun lohu

sebagai Suhengnya, tapi dia adalah seorang ciangbunjin, maaf kalau aku tak bisa

memutuskannya”

Hoa In-liong cuakup mengetahui akan keadaannya yang serba susah, dia tak ingin menyaksikan

kekuatan Seng-sut-pay tertumpas disini, tapi perbuatan dari Tang Kwik-siu juga tak bisa

dikekang olehnya, maka setelah berpikir beberara kali, dia mendongakkan kepalanya dan berkata

dengan wajah serius, Aku rasa dipihak sutemu itu juga tak mungkin bisa melakukan banyak

perbuatan lagi, memandang diatas wajah saudara, Hoa Yang bersedia menerima usulmu itu,

cuma terhadap para jago yang sudah lama kalian sekap, paling tidak partai kalian harus

memberikan pertanggungan jawab……”

Setelah ucapan tersebut diucapkan, baik golongan putih maupun golongan hitam sama-sama

dibuat tercengang, sebab keputusan tersebut jauh di luar dugaan mereka.

Seng To cu sendiripun agak tertegun lama lalu dia mengganguk.

“Kalau Hoa kongcu memang bersedia mengabulkan permohonanku itu, partai kami pasti akan

memberikan pertanggungan jawab yang secukupnya”

Dengan serius Hoa In-liong berkata lagi.

“Bila partai anda bersedia untuk melepaskan soal dendam dan sakit hati serta memikirkan soal

kepentingan umat banyak, aku rasa kalian pun tak perlu mengurung diri,…..”

“Terima kasih banyak atas maksud baikmu, tukas Seng To cu sambil menggoyangkan tangannya

berulang kali, sayang sekali anggota kami terlampau bodoh dan liar, sulit rasanya untuk

menerima maksud baikmu itu”

“Yaa, tiap manusia memang ada cita-cita sendiri, aku tak ingin terlalu memaksakan ke hendakku”

Setelah berhenti sejenak, katanya lebih jauh dengan suara dalam, “Bila partai kalian merasa tak

puas, setiap saat pintu gerbang keluarga Hoa di bukit In tiong san terbuka untuk kalian, silahkan

saja datang untuk mengadu kekuatan, baik menang atau kalah keluarga Hoa menjamin tak akan

mencelakai jiwanya, tetapi bila partai kalian sampai menimbulkan kembali badai darah yang

mengerikan, demi te tegaknya keadilan dan kebenaran dalam dunia persilatan, terpaksa keluarga

Hoa akan berkunjung langsung ke Seng-sut-pay untuk minta pertanggungan jawab”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

374

“Soal ini, Seng To cu tentu akan berusaha keras untuk memperingatkan anggota kami”

Hoa In-liong lalu memandang sekejap sekeliling arena, kemudian pelan-pelan berkata.

Hoa Yang telah memberi keputusan terhadap pihak Seng-sut-pay, harap para enghiong dan

cianpwe suka memaklumi, entah adakah diantara kalian yang merasa tidak puas?”

Sekalipun semua orang merasa bahwa tindakan itu terlalu menguntungkan orang-orang Mo kau,

tapi penampilan Hoa In-liong yang mencerminkan kegagahan serta kebijaksanaannya ini

membuat banyak orang merasa sungkan untuk mengajukan keberatannya.

Apalagi membasmi rumput seakarnya merupakan perbuatan yang bertentangan dengan

semangat seorang ksatria, maka oleh karena semua orang tiada cara lain yang lebih baik lagi, tak

seorangpun yang buka suara.

Untuk sesaat suasana menjadi hening dan tak terdengar sedikit suarapun.

Hoa In-liong dapat membaca suara hati semua orang, dia menghela napas panjang, lalu berkata,

“Para enghiong, cianpwe sekalian, aku rasa kalian pasti sudah menyaksikan sendiri bukan

bagaimanakah perbuatan ksatria dari Thian Ik locianpwe, bekas Tong thian kaucu yang baru saja

meninggal dunia itu? Siapa yang menduga kalau Thian Ik locianpwe bersedia me-ngorbankan

jiwanya demi menyelamatkan jiwa orang banyak? Sebelum ajalnya tiba, Thian Ik loci anpwe pun

masih tak lupanya berharap agar semua orang jahat didunia ini mau bertobat atas dosa-dosanya,

oleb sebab itu aku bertindak demikian kepada pihak Mo kau agar merekapun bisa mencontoh diri

Thian Ik locianpwe dengan bertobat dari semua kesalahannya. Aaai……! Tapi jika kalian belum

juga mau mengerti, akupun tak bisa berbuat apa-apa lagi”

Mendengar perkataan itu hati semua orang agak tergerak, bahkan tak sedikit anggota dari tiga

pekumpulan besar yang diam-diam merasa amat terharu.

Ayah Kongsun Peng, Kongsun Yong cu dengan suara gemetar segera berseru;

“Hoa kongcu kenapa berkata demikian? Yang ada dalam hati kami cuma perasaan kagum, mana

berani memperlihatkan perasaan tak puas atas keputusan kongcu itu?”

Setelah ia buka suara semua orangpun segera memberikan tanggapan pula sehingga suasana

menjadi amat ramai.

Hoa In-liong segera menjura ke empat penjuru, katanya dengan serius, “Terima kasih banyak

atas kasih sayang dari saudara sekalian, kalau memang kalian bersedia melepaskan pihak Sengsut-

pay maka bagaimana kalau kalian memberi jalan lewat agar mereka bisa meninggalkan

tempat ini?”

Mendengar perkataan itu semua orang yang mengepung disekeliling arena segera menyingkir ke

samping memberi jalan lewat.

Bagaikan memperoleh pengampunan besar semua anggota Seng-sut-pay segera angkat kaki dan

melarikan diri cepat-cepat, rupanya mereka kuatir kalau para jago berubah pikiran.

Sebelum pergi, dengan ganas Hong Liong melotot sekejap ke arah Hoa In-liong jelas terlihat

betapa dendam dan bencinya orang itu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

375

Seng To cu mendongakkan kepalanya lalu berkata, “Hoa Yang, selama hidupku persoalan yaag

paling menyesalkan hatiku adalah bermusuhan dengan keluarga Hoa kalian”

Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan. Tapi perisalan yang paling menggembirakan hatiku

juga bermusuhan dengan keluarga Hoa kalian.

Ucapan ini membuat semua orang tertegun, mereka merasa ucapannya yang pertama dengan

kedua saling bertentangan satu sama lainnya atau jangan-jangan pikirannya sudah menjadi

sinting atau kurang waras setelah menderita kekalahan total?

Hoa In-liong segera menjura, sahutnya sambil tertawa, “Akupun mempunyai perasaan yang

sama, baik-baik dijalan, maaf kalau aku tidak menghantarmu!”

Seng To cu memandang sekejap sekeliling tempat itu, setelah menghela napas panjang dia

mengebaskan ujung bajunya dan beranjak dari sana untuk menyusul Hong Liong sekalian.

Pada saat pihak Mo kau pergi meninggalkan tempat itu, Kok See-piau serta Bwe Su-yok masingmasing

memimpin pula anak buahnya meninggalkan tempat tersebut.

Dengan kecepatan gerak mereka, dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka sudah lenyap

dibalik kegelapan.

Oleh karena Hoi In liong telah menjamin keselamatan mereka semua, maka semua orang tidak

ada yang menghalangi kepergian mereka, apalagi kekuatan dari kedua perkumpulan itu masih

utuh dan tangguh, di tambah lagi hadirnya Cho Thian hua dipihak Hian-beng-kau, maka semakin

tak berani bertindak secara gegabah.

Pertemuan besar ini sudah mendekati akhir, semua orangpun merasa sudah tiba waktunya bagi

mereka untuk pulang ke rumah.

Tiba-tiba dari tebing seberang sana terdengar suara teriakan dari Kok See-piau, “Hey bocah

muda dari keluarga Hoa!”

Dengan alis mata berkenyit Hoa In-liong berseru lantang, “Mau apa Kau memanggil Hoa jiya

mu?” Sambil berdiri diatas tebing seberang, Kok See-piau berseru lagi, “Orang she Hoa,

meskipun kau yang menurunkan tali untuk menolong orang, dan meledakkan telaga untuk

memadamkan api tapi perbuatan itupun setengahnya demi selamatkan sanak keluargamu, coba

kalau pun sinkun tidak memberitahukan tempat disembunyikannya sumbu bahan peledak, belum

tentu kau bisa meledakkan telaga untuk memadamkan api, seharusnya pun sinkun tidak

berhutang apa-apa kepadamu bukan?”

“Kok See-piau kau betul-betul seorang manusia yang tak tahu malu!” teriak Hoa Ngo dengan

mendongkol.

Dengan suara lantang Hoa In-liong menjawab, “Yaa kau memang tak berhutang apa-apa ke

pada aku orang she Hoa, tapi ingat kau masih hu tang seorang dengan selembar nyawa”

Kok See-piau sepera tertawa. “Selama hidupku sudah terlalu banyak nyawa yang pun sinkun

hutangkan, tak menjadi soal untuk berhutang selembar nyawa lagi, tapi coba katakan dulu siapa

yang kau maksudkan?”

“Thian Ik-cu!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

376

Gelak tertawa Kok See-piau segera terhenti, sesudah termenung sejenak ia baru berkata,

“Dendam sakit hati pun sinkun dengan keluarga Hoa kalian lebih dalam dari samudra, sudah

sepantasnya kalau diatur jebakan untuk menggebuk dirimu, jika kau sampai mati maka hal ini

cuma bisa dibilang kau kurang waspada, Thian Ik-cu telah mewakilimu mati, hal ini tak bisa

menyalahkan orang lain, tapi kalau hendak mencatat dendam ini atas diriku juga tak apa!”

Ko Thay segera tertawa dingin tiada hentinya. “Heeehhh.. ..heehh…..heeehhh…. memutar

balikkan persoalan yang sebetulnya, mencari menangnya sendiri, apa-apaan itu?”

Kok See-piau berlagak tidak mendengar, dengan suara keras dia berseru, “Bocah cilik dari

keluarga Hoa, kalau kau beranggapan setelah markas besar perkumpulan kami musnah maka

pun sinkun ikut kehi langan pamornya, maka dugaanmu itu keliru besar.

“Kalau begitu, kau masih hendak menciptakan bencana buat umat persilatan dan melakukan

kejahatan lagi?” sambung Hoa In-liong dengan suara lantang.

“Heeehhh….heeehhh…..heeehhh…..itu kan ucapan dari kalian orang-orang keluarga Hoa dengan

komplotannya, Pun sinkun tak pernah merasa bersalah, sampai matipun aku tak akan menyesal”

Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan.

Terus terang kukatakan kantor kantor cabang perkumpulan kami telah tersebar di mana-mana

dan kini sudah didirikan semua asal pun sinkun menurunkan perintah, dari gelap-gelapan mereka

akan beralih menjadi terang terangan, dalam waku yang bersamaan mereka bisa membuat

keonaran dimana-mana, Hmmm! Sekalipun tak mampu melenyapkan manusia-manusia munafik

macam kalian, paling tidak dunia persilatan pasti akan kacau balau tak

karuan………heehh…….heeehh…… heeeh……. waktu itu kewibawaan bapakmu pasti akan sangat

merosot”

“Terkesiap juga Hoa In-liong setelah mendengar perkataan itu, pikirnya dengan cepat, “Sudah

hampir belasan tahun lamanya Kok See-piau menghimpun kekuatannya, jelas kekuatan yang

dimilikinya tidak cuma dihimpun dalam markas besarnya ditebing Ui gou peng ini, bisa jadi apa

yang dikatakan bukan cuma gertak sambal belaka”

Dalam hati ia berpikir demikian, di mulut sahutnya, “Aku orang she Hoa bisa mengundang rekanrekan

persilatan untuk serentak menghancurkan kantor-kantor cabangmu itu, akan kulihat

apakah kalian masih sanggup menerbitkan keonaran atau, tidak?”

“Haaahh. …haaahhh. …haaahhh….kalau ingin menumpas, silahkan saja menumpas” ejek Kok

See-piau sambil tertawa tergelak. “Kantor cabang Hian-beng-kau tidak terhitung jumlahnya, aku

yakin kalian tak akan bernasil menemukan jejak mereka dalam waktu singkat, tapi suatu ketika

mereka melakukan sergapan mendadak, tanggung kalian lah yang akan di buat kalang kabut

sendiri”

“Kok See-piau sesungguhnya apa maksudmu itu dengan mengucapkan kata-kata itu?”

Kok See-piau tertawa dingin. “Sama sekali tiada maksud apa-apa, aku cuma memberi tahu saja

kepada kalian. Kini Jin Hian sudah melarikan diri terbirit-birit setelah menghinah kami, barat

selatan luasnya mencapai puluhan laksa li dengan rakyat yang amat banyak, jejaknya sukar

ditemukan kembali. Sedang di San see ada keluargamu, di Cing hay ada Mo kau, di lain tempat

ada Hu hang kok dan Kiu-im-kau, ia sudah menerbitkan kemarahan orang.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

377

Mana berani mencari jalan kematian sendiri, menurut dugaan pun sinkun, hanya ada dua jalan

saja yang bisa dia tempuh”

“Dua jalan yang mana?” tanya Hoi In liong dengan kening berkerut.

“Yan im merupakan bekas markas besar Hong im hwee, Jin Hian pasti masih mempunyai

komplotan yang menetap disitu dan lagi bersembunyi disitu jauh lebih leluasa daripada ditempat

lain, apalagi dari sanapun bisa langsung kabur keluar perbatasan, sedang jalan kedua adalah

menuju ke Ci san, lantas kelaut bebas, jarak dari situ hanya dua ratus li, besar juga kemungkinan

nya dia lari ke tengah samudra.

“Bila Jin Hian memilih naik perahu menuju samudra bebas dan selamanya tak akan kembali lagi,

apakah kau juga akan mengikuti jejaknya?” tanya Hoa In-liong.

Kok See-piau kembali tertawa dingin.

“Pun-sinkun duga dia tak akan berbuat demikian, sudah pasti dengan melalui samudra, dia

menuju ke Liau tang”

“Kalau toh saudara begitu yakin dengan dugaanmu, mengapa tidak segara melakukan

pengejaran?”

Tiba-tiba bayangan tubuh Bwe Su-yok yang ramping muncul ditebing seberang sana, terdengar

ia berkata dengan suara sedingin es, “Perkumpulan kami akan segera melakukan pengejaran

bersama Kok sinkun, Hoa In-liong! Hu hoat perkumpulan kami telah menangkap Si Leng jin dan

pelayannya, bila kau masih mengharapkan kedua orang ini harap segera menyusul datang di

Teng cin, pun-kaucu akan meninggalkan sebuah perahu untukmu”

Mendengar seruan tersebut Hoa In-liong naik pitam, segera bentaknya keras-keras, “Bwe Su-yok,

apakah kau benar-benar hendak mencari gara-gara terus..?”

“Kalau benar mau apa kau?”

Kemarahan Hoa In-liong makin berkobar, tapi setelah berpikir sejenak kemarahan itu segera di

padamkan, dia segera mengangguk.

“Baiklah sampai waktunya aku orang she Hoa pasti datang!” “Akan kutunggu kedatanganmu!”

Kemudian sambil membalikkan badan bersama Kok See-piau lenyap dibalik tebing sana.

Tiba-tiba terdengar suara Cho Thian hua berkumandang datang, “Goan cing taysu, aku ingin

sekali beradu kekuatan denganmu, tak ada salahnya kalau kau juga ikut datang, sedang bocah

dari keluarga Hoa, kau cukup pantas untuk bertarung melawan lohu, tapi lebih baik lagi jika kau

datang bersama bapakmu”

Suara itu makin lama semakin jauh, dengan tenaga dalam yang dimilikinya sepanjang

mengucapkan beberapa patah kata itu, mungkin tubuhnya sudah berada beberapa li jauhnya,

“Pinto pasti akan memenuhi harapan mu!” sahut Goan cing taysu dengan ilmu menyampaikan

suara.

Waktu itu Hoa In-liong telah membalikkan badan, setelah menjura kepada semua orang,

katanya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

378

“Saudara sekalian, walaupun kita harus berjaga-jaga terhadap orang orang Mo kau yang

mungkin akan mengingkari janji, pasti kekua tan mereka sudah tak perlu dirisaukan, itu pun tak

lebih cuma gertak sambal, dia pasti akan membenahi tubuh organisasinya lebih dulu. Sedang

maksudnya untuk membunuh Jin Hian rasanya bukan omong kosong belaka, aku harus segera

menyusul kesana. Bila saudara kalian tiada urusan lain, silahkan untuk pulang ke rumah masingmasing,

mungkin juga perkataan Kok See-piau bukan gertak sambal, maka aku mohon saudara

sekalian dan Coa tahiap bisa saling membantu untuk mencari letak kantor-kantor cabang Hianbeng-

kau dipelbagai tempat”

Selesai berkata, dia lantas memberi hormat kepada semua jago.

Tak seorangpun diantara kawanan jago itu yang bersedia pergi, terdengar Tio Ceng tang berkata

dengan lantang.

“Setiap orang kewajiban untuk membasmi iblis melindungi kebenaran, jika Kok See-piau dan Bwe

Su-yok tak mau bertobat dan kem bali ke jalan yang benar, sepantasnya kalau kita kejar mereka

dan melenyapkannya dan muka bumi”

“Benar!” sambung Cia Yu cong keras, “bila pohon tumbang, kera pun bubar, asal Kok See-piau

kita bunuh, niscaya kantor-kantor cabangnya akan bubar dengan sendirinya”

Dalam waktu singkat pelbagai seruan berkumandang dalam arena, banyak orang yang setuju

untuk mengadakan pengejaran guna membasmi kedua perkempulan itu.

Akan tetapi Hoa In-liong tidak setuju dengan pendapat orang-orang itu, dengan perasaan

menyesal dia berkata.

“Aku rasa Kok See-piau dan Bwe Su-yok bisa bersikap demikian karena ingin mencari gara-gara

dengan keluarga Hoa kami, aku pikir sudah sepantasnya kalau persoalan ini pun diselesaikan

sendiri oleh keluarga Hoa, aku tak berani mengganggu kalian lagi”

Belum habis ia berkata, suasana kembali menjadi gaduh, semua orang menuduh Hoa In-liong

menganggap asing diri mereka, ada pula yang mengatakan bahwa persoalan dari keluarga Hoa

adalah persoalan dunia persilatan yang tak bisa dipisah-pisahkan.

Tapi Ko Thay, Bong Pay dan Pek Soh gi tidak setuju dengan pendapat tersebut, sebaliknya Tiang

heng Tokoh, Pui Che-giok, Cia giok bersama Cia lu, Hek Lotio dan anggota Cian li kau sekalian

menyingkir ke samping sambil berbisik- bisik sendiri, mereka tidak terlalu memperdulikan urusan

disana.

Dengan susah payah akhirnya Hoa In-liong berhasil juga untuk menenangkan suasana, kemudian

dia lantas berkata, “Kesedihan saudara sekalian untuk memberi bantuan sungguh membuat aku

orang she Hoa merasa amat berterima kasih, baiklah kita bagi saja menjadi dua rombongan yang

satu melalui Yae im sedang yang lain mengikuti samudra untuk akhirnya kita berkumpul kembali

di…..”

Tiba-tiba ia berhenti sejenak sambil melirik kearah Goan cing taysu yang berada disisinya.

Goan cing taysu merenung sebentar kemudian berkata, “Lolap pernah keluar perbatasan sekali,

kota yang paling besar diwilayah itu boleh dibilang adalah Teng liau dan Tiong wi”

Hoa In-liong segera berpaling kembali, katanya lantang, “Kalau begitu kita akan bersua kembali

dikota Teng liau, cuma aku minta untuk rombongan yang melalui samudra harus pandai

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

379

berenang atau paling tidak pandai berjalan diatas permukaan air sebab mara bahayanya jauh

lebih besar daripada melalui darat”

Mendengar perkataan itu, dari sekian ribu orang yang berkumpul disitu segera saIing

berpandangan. Mereka yang datang dari pesisir laut boleh dibilang sedikit sekali jumlahnya,

apalagi kalau disebut pandai didalam ilmu berenang, boleh dibilang sedikit sekali, sedangkan

orang yang bisa berjalan di airpun hanya jago-jago kelas satu, dari antara dua ratus orang

mungkin sulit ditemukan seorang.

Tiba-tiba Ko Thay berkata, “Liong ji, kau berani menjamin kalau Kok See-piau bukan sedang

melaksanakan siasat suara ditimur menyergap ke barat?”

Di hari-hari biasa dia jarang sekali berbicara tapi otaknya amat cerdas, setiap perkataannya pasti

amat mengena sasaran.

Maka dari itu Hoa In-liong segera memikirkan kembali semua persoalan yang dihadapinya setelah

mendengar perkataan itu, kemudian sambil mendongakkan kepalanya dia berkata, “Siautit pikir,

kebanyakan Kok See-piau tentu hendak menantang kita untuk berduel diatas lautan, bila dia

melakukan siasat suara ditimur menyerang ke barat, di daratan Tionggoan ada nenek serta

ayahku, jangan dilihat ayah cuma berdiam diri belaka, sesungguhnya dia orang tua sudah

melakukan persiapan yang seksama, aku pikir sulit buat Kok See-piau untuk bertingkah disitu,

bila kita urusi pihak itu, sudah pasti lebih banyak kecelenya daripada berhasil”

Ko Thay lantas manggut- manggut! “Kau hendak menghimpun segenap kekuatan di Liau tang,

itu berarti kau percaya penuh dengan perkataan dari Kok See-piau bahwa Jin Hiau berada

disana?”

“Soal ini siautit telah mempertimbangkannya berulang kali” jawab Hoa In-liong setelah

termenung sejenak, “aku rasa perkataan dari Kok See-piau ini bisa dipercaya”

“Dengan dasar apa kau berani mengatakan begitu?” tanya Ko Thay sambil mengernyitkan alis

matanya yang tebal.

“Pertama, Jin Hian bila ingin menyembunyikan diri hanya tersedia dua jalan saja, sedang jalan

manapun yang bakal dia pilih akhirnya pasti akan melalui Liau tang.

Seorang jago yang bernama Nyo Ki ho tiba-tiba menyela, “Pengetahuan Hoa kongcu amat luas,

sudah barang tentu kami tak bisa menyamainya, cuma dari Yan tio menuju keutara, kau bisa

sampai di Liau tang, bisa juga langsung menuju ke gurun pasir”

Hoa In-liong mengalihkan sorot matanya ke wajah orang itu, kemudian sambil mengulapkan

tangannya dia berkata, “Perkataan saudara Nyo memang ada betulnya, tapi bila Jin Hian kabur

melalui selatan, dalam tergesa gesanya sulit bagi mereka untuk mendapat perahu, sudah barang

tentu anak buahnya tak mungkin bisa kabur semua melalui laut, itu berarti mereka pasti berjanji

akan berkumpul di Liau tang, kemudian baru meneruskan perjalanan menuju keluar perbatasan

atau gurun pasir guna menyembunyikan diri, itu berarti bagaimanapun juga sudah pasti mereka

akan berkumpul juga diwilayah Liau tang”

“Terima kasih atas petunjuk kongcu! Nyo Ki ho buru-buru menjura.

“Hmm! Sok pintar, tukas Ko Thay tiba-tiba, “darimana kau bisa tahu kalau Jin Hian pasti melalui

lautan? Hong im hwee adalah kelompok jago yang berasal dari utara”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

380

“Siautit rasa Kok See-piau sudah pasti jauh lebih memahami kebiasaan Jin Hian daripada kita,

dugaannya kebanyakan tak bakal salah lagi, sedang Kok See-piau termaksud memancing kita

menuju ke samudra dan berencana hendak merebut kemenangan dari situ padahal diapun

enggan melepaskan Jin Hian, siapa tahu keputusan Jia Hian kabur melalui lautan karena diantara

anak buahnya terdapat jago lihay dari atas air?”

“Menebak secara sembarangan, sudah pasti akan menemui kegagalan total…..” kata Ko Thay.

Tiba-tiba terdengar seseorang menimbrung dengan suara nyaring, “Hoa kongcu, dari tujuh orang

kakek yang bertarung melawan kongcu diatas tebing tadi diantaranya terdapat manusia-manusia

yang menamakan dirinya Pak hay sam hioag (tiga oraag gagah dari lautan utara) ketiga orang ini

sudah puluhan tahun lamanya malang melintang diatas samudra sekitar wilayah Gi dan Liau”

Hoa In-liong segera berpaling, dia kenali orang yang berbicara itu adalah seorang jago dari

sungai Huang hoa yang bernama Huang ho ciau (ular sakti dari sungai huang ho) Cing Siau

siang.

Dulu sewaktu Hoa Thian bong mendapat perintah dari ibunya untuk turun gunung dan bertarung

melawan orang-orang Kiu-im-kau di sungai Huang ho, Cing Su siang pernah membantunya

dengan mati-matian, kemudian Hoa Thian-hong pun pernah memberi petunjuk ilmu silat

kepadanya sehingga kepandaiannya mendapat kemajuan pesat, semenjak itu hubungannya

dengan keluarga Hoa boleh dibilang cukup akrab.

Hoa In-liong segera menjura seraya berkata.

Terima kasih banyak atas petunjuk locianpwe.

“Aaaah ….mana mana……” buru-buru si ular sakti dari sungai Huang ho ini balas memberi

hormat.

“Baiklah, anggap saja jalan pemikiranmu itu benar” ujar Ko Thay lagi sambil tertawa, “tapi

menurut pendapatanmu tadi, semua jago lihay dari pihak kita akan melalui jalan air, beranikah

kau menjamin bahwa pihak lawan tiada jago tangguh yang melalui jalan darat?”

Hoa In-liong menjadi tertegun.

Siautit hanya menduga bahwa kekuatan inti lawan pasti akan melalui jalan air, bukan berarti aku

berani menjamin tiada jago lihay yang melalui jalan darat”

Ko Thay segeta menarik muka, katanya, “Nah, ini membuktikan kalau usiamu masih muda,

pengalamanmu cetek dan rencana mu kurang matang, kau masih belum mampu untuk

menanggung tanggung jawab sebesar ini, kini semua rekan persilatan percaya padamu, tapi bila

kau sampai salah mengatur hingga terjadi kesalahan besar, dapatkah hatimu menjadi tenteram?”

Semenjak dulu, Ko Thay gemar bersikap demikian, dalam menghadapi setiap masalah dia selalu

meneliti cara kerja Hoa In-liong sejelas jelasnya, tapi belum pernah menegur secara begini rupa,

apalagi dihadapan jago-jago dari seluruh dunia, tak bisa disangkal lagi dia memang bermaksud

untuk menegur pemuda itu agar lebih bersikap berhati-hati.

Hoa In-liong dapat memahami maksud pamannya, maka dia hanya manggut-manggut menerima

dampratan itu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

381

Dari sekian banyak jago yang hadir di arena, kecuali mereka mengagumi didikan keluarga dari

keluarga Hoa, tak seorang pun yang berbicara lagi.

Sejak awal sampai sekarang Coa hujin memperhatikan terus semua gerak-gerik dan tindak

tanduk Hoa In-liong, setelah melihat kesemuanya itu, diam-diam ia lantas berpikir, “Enci Chin

dan enci Pek semuanya mengatakan dia binal, tapi aku rasa ia tidak binal seperti apa yang

dikatakan……”

Dari kakek luarnya nyonya ini pernah mendengar puji-pujiannya atas kehebatan Hoa In-liong,

dengan keluarga Hoa pun dia mempunyai hubungan yang akrab, apalagi setelah menyaksikan

hubungan pemuda itu dengan putrinya, dalam hati kecilnya, nyonya Coa diam-diam sudah

menganggap Hoa In-liong sebagai bakal menantunya.

Tiba-tiba Yau Tiong in menjura kepada Hoa In-liong seraya berkata, “Mengejar musuh adalah

suatu tugas yang paling penting, Hoa kongcu aku orang she Yau hendak mohon diri lebih dulu,

kita sampai berjumpa lagi di Liau tang”

Bersama Liau Ik tiong dan sekalian murid Tiam cong pay berangkatlah mereka meninggalkan

tempat itu.

Kawanan jago yang hadir sekarang, sebagian besar adalah jago-jago yang suka berterus terang

maka mereka yang tak ingin melakukan perjalanan melalui samudra, berduyun-duyun mohon diri

untuk berangkat lebih dahulu.

Tiba-tiba Pek Soh gi berteriak, “Saudara sekalian, bila ada yang terluka harap tetap tinggal disini,

biar Pek Soh gi memberi perawatan seperlunya”

Sekalipun Pek Soh gi berkata demikian, akan tetapi kawanan jago itu kebanyakan adalah jagojago

yang perkasa, hanya sedikit luka yang diderita, sudah barang tentu mereka enggan

merepotkan orang, kecuali lukanya terlalu parah, kebanyakan sudah angkat kaki meninggalkan

tempat itu.

Dalam waktu singkat sudah sebagian besar jago yang telah berangkat meninggalkan tempat itu.

Pek Soh gi segera turun tangan merawat para jago yang terluka parah di bantu oleh Bong Pay

dan Biau-nia Sam-sian, sekalipun demikian mereka dibikin repot juga hingga tiada waktu untuk

beristirahat.

Tiba-tiba Ko Thay berpaling kearah Hoa Ngo, kemudian katanya.

“Ngo te, mari kita juga lewat jalan darat”

Sekalipun dihati kecilnya Hoa Ngo enggan, namun ia tak berani membantah, maka dia cuma

mendengus dan sama sekali tidak beranjak.

Sambil tersenyum Haputule lantas berkata, “Aku paling takut kalau melihat air, biar Ngo te

bersama mereka, sedang aku akan me nemanimu untuk melakukan perjalanan bersama”

Kedua orang itupun tidak banyak berbicara lagi, mereka lantas berlalu meninggalkan tempat itu.

Tiba-tiba Hoa In-liong menyaksikan Tiang heng Tokoh dan Pui Che-giok diiringi para jago dari

Cian Ii kau secara diam-diam meninggalkan tempat itu, Cia In liong mengikuti dibelakangnya tapi

secara diam-diam berpaling sambil mengerdipkan matanya berulang kali.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

382

Pemudi itu menjadi amat gelisah, dengan cepat ia menghadang dihadapan Tiang heng Tokoh

Kemudian katanya sambil tertawa paksa.

“Bibi ku, Liong ji sedang membutuhkan bantuanmu, kau tak boleh pergi dulu”

“Ilmu silat pinto sekalian amat cekak, tetapi tinggal disinipun tak ada gunanya” kata Thiang heng

Tokoh dingin.

Mendengar itu, Hoa In-liong lantas berpikir.

“Aku harus mencari suatu akal untuk menahan disini, paling tidak sampai kedatangan ayah dan

ibu”

Berpikir demikian, dengan cepat dia lantas berkata, “Bibi Ku, tolong tanya bagaimana dengan

kepandaian cici sekalian dalam air?”

“Bukannya kami sengaja menyombongkan diri” timbrung Cia In tiba- tiba, “kalau soal kepandaian

dalam air mah kami terhitung nomor satu, apalagi suhu dan supek, mereka tak usah dibicarakan

lagi”

“In ji, jangan banyak bicara” bentak Tiang heng Tokoh dengan nada tak senang.

Cia In tersenyum dan segera membungkam.

Seorang sumoaynya yang bernama Le ji segera mendekatinya sambil berbisik, “Suci, kenapa kau

membantunya? Bukankah suhu selalu berkata bahwa orang keluarga Hoa paling

menggemaskan?”

Cia In tertawa hambar, sahutnya lirih. “Aku sedang membantu supek, bukan membantunya”

“Aku tidak percaya!” seru Le ji sambil tertawa”

“Setan licik” tumpah Cia In dihati, “cerewet amat kau, kalau caramu bicara melulu, urusan bisa

bertambah berabe……..”

Dalam pada itu Tiong heng Tokoh telah berkata dengan dingin.

“Terus terang kukatakan kepadamu, pinto tak akan mengijinkan mereka untuk melibatkan

kembali diri mereka dalam masalah dunia persilatan”

Sesudah berhenti sejenak, tiba-tiba ia memperlunak nada suaranya dan berkata lebih jauh.

“Lioig ji, bila kau benar-benar menganggap diriku sebagai bibi Ku, sudah sepantasnya jika kau

pun dapat memahami kesulitan yang sedang dihadapi bibi Ku sekarang”

Hoa In-liong segera berlagak ikut sedih, katanya.

“Liong ji tidak berani, cuma…….”

“Cuma kenapa?” seru Tiang heng tokoh tanpa terasa.

Dangan dahi berkerut Hoa In-liong menghela napas panjang.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

383

“Aaaai. …. Liong ji sudah tahu kalau urusan belum selesai, tapi tidak kusangka kalau urusan nya

begini susah untuk di selesaikan”

Kebetulan Lan Hoa siancu sedang selesai mengobati seseorang, mendengar perkataan itu

dengan gemas dia berseru.

“Semuanya ini salahmu, kenapa tidak manfaatkan kesempatan itu untuk turun tangan? Kalau kau

menuruti anjuran kami, mana mungkin akan kau jumpai begini banyak kesulitan?”

Pek Soh gi yang sedang mengoleskan obat luka dilengan seorang yang kutung lengannya, segera

menimbrung, “Enci Lan, apa yang dilakukan Liong ji sesungguhnya tepat sekali, bagaimanapun

juga sudah sepantasnya kalau kita memberi kesempatan kepada orang lain untuk bertobat”

“Hmm…..memang tidak malu orang lain menyebut dirimu sebagai Cu sim siancu (si dewi yang

welas kasih)” dengus Lan Hoa siancu, kalau bersikap sungkan kepada musuh, sama artinya

dengan mencelakai diri sendiri, kau tahu apa akibatnya jika melepaskan harimau pulang ke

gunung? Akhirnya yang rugi juga kita sendiri”

“Omintohud!” sela Cu Im taysu, “Buddha adalah maha pengasih, sekalipun menghadapi seorang

yang jahatnya bukan kepalang asal dia mau bertobat kita wajib memberi kesempatan kepadanya

untuk memperbaiki diri, mengerti nona besar?”

“Biar Buddha maha pengasih, yang pasti aku tak akan berbelas kekasihan kepada siapapun, jerit

Lan Hoa siancu penasaran.

Cu Im taysu tergelak sehabis mendengar perkataan itu, semua orang juga tak tahan untuk

tertawa terbahak-bahak.

Setelah Pek Soh gi mengambil alih pembicaraan, Hoa In-liong menjadi gembira sekali karena tak

usah buka suara lagi, diam-diam dia mengatur siasat untuk menghadapi Tiang heng Tokoh.

Sementara itu, Tiang heng tokoh sudah berkata kembali sesudah termenung sebentar.

“Keadaannya tidak terlalu jelek, sekali pun bakal terdapat beberapa kesulitan, rasanya juga tidak

terlampau menyulitkan!” Hoa In-liong tertawa getir.

“Bibi Ku, mana kau tahu? Aaai, tapi bibi Ku memang sudah bertekad tidak mencampuri urusan ini

lagi, lebih baik tak usah ku bicarakan lagi”

Betul juga Tiang heng Tokoh segera tertipu oleh siasatnya itu, sambil tertawa dingin katanya,

“Kau tak usah tersendat-sendat kalau berbicara asal kau bisa mengemukakan alasan yang kuat,

pinto pasti akan menuruti per kataanmu’”

Diam-diam Hoa In-liong merasa girang setelah mendengar perkataan itu, buru-buru serunya.

“Bibi Ku, tentunya kau juga mengerti, setelah berada diatas air, itu berarti Kiu-im-kau yang

pegang kuasa, siapapun jangan harap bisa menandingi kehebatan mereka”

“Ciau li kau juga tak mampu menghadapi mereka!”

Hoa In-liong segera tertawa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar