Selasa, 06 Oktober 2009

neraka 3

Dengan berlangsungnya peristiwa tersebut, maka perhatian semua orang lantas di alihkan ke

wajah sastrawan setengah umur berbaju biru itu. Secara otomatis pertarungan antara Kiong

Gwat-lan melawan Kong sun ikut pula terhenti.

Perlu diterangkan disini, bahwa Siau-lui-kim-hong (kumbang emas bermain di putik) Ou Seetiong

adalah seorang penjahat cabul yang ulung dan dikutuk semua orang.

Orang ini bukan cuma jay-hoa (pemetik bunga artinya pemerkosa) saja, seringkali setelah

korbannya digagahi dan dibunuh barangnya ikut dirampok habis-habisan, sedikitpun tidak

memperdulikan peraturan yang berlaku dalam dunia persilatan.

Orang ini bukan cuma dibenci oleh setiap orang, bahkan orang-orang dari kalangan Liok-lim

sendiripun mengincar jiwanya.

Akan tetapi ilmu silat yang dimiliki Orang ini cukup lihay, ilmu meringankan tubuhnya tinggi,

selama melakukan perbuatan terkutuknya ia selalu mengerjakan dengan rapi, dan jejak yang

amat rahasia, ditambah lagi orangnya pandai menyaru, hal ini membuat jarang sekali ada orang

yang mengenali dirinya.

Itulah sebabnya dengan begitu berani dia telah munculkan diri di kota Si ciu. Sayang akhirnya

toh kedok tersebut berhasil dibongkar oleh Kiong Gwat-lan.

Ho Kee-sian sudah lama mengasingkan diri, ia kurang begitu tahu tentang manusia tersebut tapi

ditinjau dari julukannya bisa diduga manusia macam apakah orang itu.

Song Yan segera melompat kemuka, lalu bentaknya, “Sobat, lebih baik terangkan asal-usulmu

kalau tidak jika sampai mati penasaran jangan menyalahkan kami semua!”

“Song tangkeh buat apa membentak-bentak aku dengan nada kasar dan keras seperti itu? Siapa

tahu kalau nnona Kiong lagi-lagi sedang mengajak kalian untuk bergurau

Song Yan agak tertegun, dia lantas mengalihkan perhatiannya ke wajah Kiong Gwat hui, jelas

meski tiada rasa marah atau tersinggung atas diri Kiong Gwat-lan, tak urung dia merasa ragu

juga atas ulah si nona yang gemar mengacau itu.

Oleh sebab itu sorot matanya lantas dialihkan ke wajah Kiong Gwat hui, sebab ia merasa bahwa

nona ini jauh lebih dapat dipercaya,

Kiong Gwat hui termenung sebentar, kemudian katanya, “Aku sendiripun kurang begitu jelas!”

Setelah berhenti sejenak, dengan nada minta maaf ia melanjutkan, “Adikku seringkah keluar

rumah, banyak diantara persoalannya yang tidak kuketahui, agaknya aku akan membuat

kecewanya Song tangkeh”

“Aaah…….! Nona terlalu sungkan,” kata Song Yan sambil tertawa.

Diam-diam ia berpikir dihati, “Agaknya Kiong Gwat-lan lagi-lagi sedang mengumbar ulahnya yang

tidak karuan!”

Tiba-tiba kedengaran pemuda tadi berkata pula, “Sudah lima hari aku melakukan perjalanan

bersamanya, belum pernah selama ini kusaksikan ia melakukan perbuatan yang tidak genah,

mungkin nona itu sudah salah menuduh orang.”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

93

Mendengar perkataan itu, para jago yang hadir di sekitar situ makin mengira kalau Kiong Gwatlan

lagi-lagi sedang bergurau.

Lega juga hati Ou See-tiong setelah menyaksikan keadaan tersebut, pikirnya cepat cepat,

“Sekarang kalau tidak kabur, mau menunggu sampai kapan lagi?”

Maka sambil tertawa terbahak-bahak ia menutup kembali kipasnya dan memberi hormat,

katanya, “Meskipun nona Kiong hanya salah menuduh, siaute merasa tak punya muka lagi untuk

berdiam lebih lama disini.”

Selesai berkata ia lantas putar badan siap menanggalkan tempat itu.

Tiba-tiba bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu dengan pedang terhunus Kiong Gwatlan

telah menghadang jalan perginya.

“Hei, mau kabur dari sini?” ejeknya.

“Sialan betul budak busuk ini,” pikir Ou See tiong, “baik, ingat saja kau!

“Sekarang kau boleh mempermainkan aku tapi suatu saat Ou-ya mu pasti akan menikmati pula

kehangatan tubuhmu………”

Dengan sikap sesopan mungkin ia lantas berkata, “Nona, tidak cukupkah gurauanmu itu?”

Sekalipun Kiong Gwat-lan pernah bertemu dengan Ou See tiong, tapi karena soal ini, orang

tersebut telah bersalin rupa, sulit baginya untuk membongkar kedok orang secara terang

terangan, meski begitu, dia yakin kalau penglihatannya tidak keliru.

Pikirnya kemudian, “Jika aku mengaku terus terang atas alasan tuduhanku, orang lain pasti tidak

akan percaya.”

Setelah berpikir sebentar, ia lantas berseru dengan ketus, “Beranikah kau membiarkan orang

menggeledah sakumu? Aku tahu dalam sakumu saat ini pasti membawa alat-alat pemabuk yang

biasanya kau bawa dalam melakukan setiap operasimu.”

Ou See tiong memang benar menggembol alat peraganya dalam saku, sudah barang tentu ia tak

berani membiarkan orang lain menggeledah sakunya, dalam kejut dan paniknya ia pura-pura jadi

marah.

“Aku orang she Kang adalah seorang lelaki setia, aku tidak akan menerima penghinaanmu ini

dengan begini saja “ demikian teriakannya.

Semua orang merasa sependapat dengan alasan tersebut, suara bisik-bisik dan pembicaraan pun

berkumandang memenuhi udara.

Kiong Gwat-lan menjadi Kehabisan daya pikirnya, “Jika aku turun tangan secara paksa, jelas tak

ada orang yang akan membantuku, jika sergapanku meleset sehingga membiarkan ia kabur dari

sini…..Wah! Bahaya…….”

Makin berpikir ia merasa hatinya makin bingung.

Mendadak kedengaran seseorang berseru dengan suara yang lembut dan bernada kekanakkanakkan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

94

“Aku bisa membuktikan kalau dia adalah Ou See tiong.”

Bersama dengan berkumandangnya ucapan itu, tampak seorang bocah cilik yang berbaju bersih

tapi bertangan kotor berlepotan lumpur menerobos keluar dari kerumunan orang banyak.

Tercekat perasaan Ou See tiong, tapi begitu mengetahui kalau orang itu adalah seorang bocah

cilik, lega juga hatinya.

“Haahh…… haahh…….. haah….. bocah cilik, siapa yang memerintahkan kau mengaco-belo tidak

karuan disini?” tegurnya sambil tertawa terbahak-bahak.

Satu ingatan segera melintas dalam benak Kiong Gwat-lan, sambil menggapai bocah itu katanya,

“Saudara cilik, kemarilah! Darimana kau tahu kalau dia she Ou?”

Sambil tertawa cekikikan bocah itu menghampiri Kiong Gwat-lan lalu sambil menepuk dada

sendiri ia berkata, “Sebab Si lui kim hong tersebut berada dalam sakuku, mana mungkin aku

tidak tahu? ‘

Mendengar perkataan itu tergelaklah semua orang karena geli, mereka semua mengira bocah itu

lagi ngaco-belo pula.

Kiong Gwat-lan sendiripun merasa agak kecewa, pikirnya, “Waah……gelagat tidak

menguntungkan bagiku, agaknya hari ini si bajingan terkutuk itu kembali berhasil kabur dari

cengkeramanku.”

Tampak bocoh cilik itu mengeluarkan secarik handuk kecil berwarna putih dari sakunya, lalu

direntangkan lebar-lebar.

Sebagaian besar jago yang hadir di sekitar arena waktu itu adalah jago-jago berkepandaian

tinggi, ketajaman mata mereka rata-rata cukup mengagumkan, begitu sapu tangan tadi

dibentangkan maka tampaklah pada sudut kanannya tersulam sekuntum bunga botan, dimana

pada putiknya terbang seekor kumbang emas.

Sulaman itu sangat indah dan hidup, bukan saja diberi warna yang indah bahkan amat menyolok,

pada sisi sulaman tadi terukirlah tiga huruf kecil yang mencantumkan kata-kata, “Ou See-tiong.”

Itulah lambang dari Ou See-tiong dalam melakukan operasinya, dan julukannya Si-lui kim-hong

(kumbang emas bermain di putik) justru diperoleh dari lambangnya itu.

Sambil menuding ke arah Ou Soe-tiong, bocah itu berkata lagi, “Aku melihat sapu tangan itu

jatuh dari sakunya, tulisan di atas sapu tangan tidak aku Siau-gou-ji pahami, tapi mendengar

julukannya sebagai Si lui kim hong lalu dihubungkan dengan kuntum bunga serta kumbangnya,

aku rasa ada hubungan juga dengan segala yang berbau roman………..

Karena perkataan bernada kocak, kembali memancing gelak tertawa geli dari orang banyak.

Paras maka Ou See-tiong berubah hebat tapi ia masih berusaha keras untuk mengendalikan

perasaan tenangnya, katanya kemudian, “Hmm…! Rupanya ada orang sedang memfitnah diriku,

cara yang dipergunakan ini sungguh licik, rendah dan tak tahu malu. …

Hmm…..mana ada orang yang akan mempercayainya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

95

Dalam kaget dan gugupnya Ou See tiong mencoba untuk berkelit kesamping, sayang keadaan

sudah terlambat.

“Breet …!” tahu-tahu sakunya sudah tersambar hingga robek amat besar, benda-benda berupa

emas perak serta lainnya segera jatuh dan berhamburan dimana-mana.

Diantara sekian banyak barang yang berserakan ditanah, tampak sebuah benda tersebut dari

perak yang berbentuk burung bangau sedang mementangkan sayapnya. Itulah alat khusus yang

biasanya dipergunakan untuk menghembuskan obat pemabuk bila hendak melakukan suatu

operasi.

Kontan saja semua orang menjadi gempar.

Rupanya dengan suatu gerakan Giok Ii to sob (gadis suci memasukkan jarum) Kiong Gwat-lan

melepaskan sebuah babatan pedang ke siku lawan, begitu serangannya berhasil dan, kedok Ou

See tiong terbongkar, dengan perasaan lega dan senang ia lantas tertawa mengejek.

“Hei orang she Ou, demi menyelamatkan diri, she dari nenek moyangmu pun sampai kau

tinggalkan, nah apa lagi yang bisa kau katakan sekarang?”

Setelah barang bukti tertera di depan mata, Ou See tiong tak bisa membantah lagi, pucat pias

wajahnya, peluh dingin membasahi sekujur badannya sambil memegang kipasnya erat-erat dia

mulai celingukan kesana-kemari berusaha mencari jalan keluar, sayang jalan untuk kabur telah

tersumbat semua.

Kini semua orang sudah tidak ragu lagi, serentak mereka membentak keras dan maju kembali

untuk melakukan pengepungan.

Rupanya Ou See tiong sadar bahwa ia tak akan sanggup melarikan diri dari kepungan, dalam keadaan

demikian sebagai seorang penjahat ulung yang sudah kerap kali melakukan kejahatan

bukan rasa menyesal yang timbul dalam putus asanya niat jahat malah timbul dalam hatinya.

“Maknya…….“ demikian ia berpikir, “sekalipun aku bakat mampus, paling tidak modalku muski

kuraih kembali, yang paling menjengkelkan terutama perempuan anjing she Kiong serta anak

jadah kecil itu. Hmma….. Aku harus menyeret, mereka untuk berangkat bersama menghadap

raja akhirat.”

Berpikir sampai disitu, tanpa mengucapkan sepatah-kata, tiba-tiba kipasnya disodokkan ke arah

Kiong Gwat-lan dan Siau Gou ji.

Segenggam jarum-jarum lembut yang beracun bagaikan hujan gerimis segera menyambar ke

muka membawa kilatan cahaya biru ketika bertimpa sinar mentari, dalam dekejap mata jerit

kesakitan berkumandang dari sana-sini, ada tujuh delapan orang segera roboh sebagai korban.

Rupanya di balik senjata kipasnya itu telah disiapkan lima sampai enam puluh batang jarum

jarum beracun yang lembutnya seperti bulu kerbau, bila jarum jarum itu dibidikkan dengan

mengenakan semacam alat pegait maka wilayah seputar dua kaki persegi akan tercakup dibawah

ancaman senjata rahasia itu.

Bukan cuma ganas dan mematikan, bahkan boleh dikata sama sekali diluar dugaan orang.

Akan tetapi, baik Kiong Gwat-lan maupun Si Gou-ji yang merupakan sasaran incarannya sama

sekali tidak roboh terluka seperti apa yang diduganya semula.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

96

Kiong Gwat-lan memang seorang gadis yang cerdik dengan otak yang encer, jauh sebelum

serangan tu dilancarkan ia telah menduga kalau musuhnya bakal melancarkan serangan yang

mematikan kepadanya.

Oleh sebab itu begitu dilihatnya kipas tersebut disodokan ke arahnya, serta merta disambarnya

tubuh Siau Gou ji dan diajak kabur sejauh beberapa kaki dari tempat semula.

Tapi dengan begitu, kasihan orang-orang yang berdiri dibelakang mereka, dalam suasana saling

desak mendesak begini Sulit bagi orang-orang itu untuk menghindarkan diri, banyak diantara

mereka yang terluka oleh serangan tersebut.

Bentakan bentakan nyaring menggelegar memecahkan kesunyian, Song Yang, Oh Keng bun, Oh

Keng bu, Kongsun Peng serta Li Peng seng sekalian berlima serentak menubruk maju sambil

melancarkan serangan.

Dengan geramnya, Song Yan melepaskan sebuah pukulan berat ke punggung Ou See tiong,

sementara Kongsun Peng melancarkan sebuah tusukan kilat ke dada penjahat pemetik bunga ini.

Perasaan takut, ngeri dan gugup segera menyelimuti wajah Ou See tiong, ia merasa sukmanya

bagaikan sudah melayang tinggalkan raganya, sudah barang tentu ancaman-ancaman itu tak

sanggup ditangkis olehnya, kelihatannya ia bakal mampus di ujung pedang lawan…………

Sesosok bayangan manusia tiba-tiba berkelebat masuk ke dalam gelanggang, dengan jurus Kim

si cian wan (serat emas membelenggu tangan) telapak tangan kanannya digunakan untuk

mencengkeram pergelangan tangan kanan Kongsun Peng, sementara telapak tangan kirinya

dilontarkan kemuka menyambut serangan yang dilepaskan Song Yan.

Song Yan merasakan telapak tangan kanan-nya bergetar keras, tanpa disadari tubuhnya sudah

mundur selangkah.

Kongsun Peng mengernyitkan alis matanya merasa datangnya ancaman, gerakan pedang itu

lantas dirubah dengan jurus It sia cian Ji (sekali meleset seribu li) dibabatnya lengan kanan

penyerang itu.

Orang itu tertawa angkuh, sepasang telapak tangan-nya di bacok ke muka secara beruntun,

dengan pukulan demi pukulannya yang aneh tapi tangguh, seketika itu juga Kongsun Peng

terdesak mundur ke belakang.

Siapa pun tidak menduga kalau ada orang akan menolong Ou See tiong, sebab penjahat pemetik

bunga macam Ou See tiong adalah bajingan terkutuk yang dibenci oleh orang-orang golongan

putih maupun orang-orang golongan hitam.

Setelah pertarungan berakhir, semua orang baru sempat mengamati raut wajah orang itu dia

adalah seorang pemuda berbaju hijau yang mempunyai wajah tampan tapi diantara kerutan

dahinya terpancar sinar sesat yang amat tebal.

Song Yan agak tertegun sejenak kemudian dengan gusar tegurnya, “Siapa kau? Tidakkah kau

ketahui bahwa orang she Ou itu adalah seorang penjabat cabul yang dosanya dikutuk oleh

semua orang?”

Pemuda berbaju hijau itu berdiri membelakangi Song Yan tanpa berpaling, sambutnya, “Kongcu

mu bernama Ciu Hoa dae berurutan nomor delapan!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

97

Sesudah berhenti sejenak, dengan angkuh ia melanjutkan, “Soal turut campur? Hmm…..aku

merasa tidak leluasa menyaksikan kalian manusia-manusia yang menganggap dirinya sebagai

kaum ksatria melakukan pengeroyokan dengan mengandalkan jumlah banyak”

“Hmm! Rupanya bajingan dari Hian-beng-kau, tak heran kalau tingkah lakunya sangat

memuakkan!” teriak Kongsun Peng marah.

Sementara itu, Ou See-tiong yang nyaris terbunuh sekarang bisa berdiri sambil menghembuskan

napas lega, manusia semacam ini selalu pandai mengikuti arah hembusan angin sambil memutar

biji matanya dia lantas berpikir, “Waah, rupanya asal kudapat menggaet orang she Ciu itu agar

berpihak kepadaku, niscaya jiwaku bisa selamat pada hari ini.”

Berpikir sampai kesitu, dia lantas memberi hormat kepada Ciu Hoa Lo-pat seraya ujarnya.

“Betapa terima kasihku atas budi pertolongan yang telah Ciu kongcu berikan kepadaku, selama

hidup…,…….

Ciu Hoa lo-pat melirik sekejap ke arahnya dengan dingin, kemudian tukasnya, “Kau tak perlu

berterima kasih kepadaku, akupun bukan bermaksud menolong jiwamu.”

Ou See-tiong tertegun, kemudian sahutnya, “Yaa, nyawa siaujin memang nyawa semut sudah

barang tentu sama sekali tak ada harganya, sebaliknya kepandaian silat Ciu kong cu sangat lihay

dan tiada tandingannya dikolong langit.”

“Cukup, cukup, sungguh menjijikkan!” tukas Kiong Gwat-lan dengan sinis dan muak setelah

mendengar kata-kata umpakan tersebut, “huuuh! Betul-betul seekor anjing yang pandai menjilat

pantat, nama keluarga Ou-pun kena kau cemarkan!”

Setebal-tebalnya wajah Ou See-tiong, merah padam juga saat itu karena malu, tapi ia berpurapura

tidak mendengar.

Berbeda dengan Ciu Hoa lo-pat, dengan kurang sabar dia ulapkan tangannya berulang kali.

“Pergi, pergi! Pergi diri sini, kongcumu masih harus menjumpai manusia manusia tersebut”

Ou See tiong mengiakan dengan hormat buru-buru ia mundur tiga langkah dari gelanggang.

Sementara itu, Ho Kee sian telah tampil pula kedepan, tegurnya dengan suara menggeledek,

“Ciu kongcu, apakah Hian-beng-kau berniat melindungi nyawa seorang penjahat cabul?”

Barang siapa berani melindungi bajingan cabul macam Ou See-tiong, namanya pasti akan ikut

tercemar dan dikutuk setiap orang. Tentu saja menghadapi resiko yang begitu besar, sekalipun

Ciu-Hoa Lo pat angkuh dan jumawa, mau tak mau dia musti berpikir dulu tiga kali sebelum

menjawab.

Sesudah sangsi sejenak, akhirnya secara diplomatis ia menjawab, “Kongcu mu turun tangan

lantaran merasa tak leluasa menyaksikan kalian mengandalkan jumlah yang banyak mengerubuti

seorang manusia soal lain aku tak mau turut campur”

“Tepat sekali ucapan Pat te!” mendadak seseorang menyambung dari luar arena dengan suara

yang dingin menyeramkan, “barang siapa merasa tidak puas, silahknn mencari persoalan dengan

kita bersaudara.”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

98

Tampaklah serombongan pemuda dengan dandanan yang mirip Ciu Hoa lo pat serta seorang

kakek berwajah merah melangkah masuk ke dalam arena.

Tidak diragukan lagi, rombongan pemuda itu tak lain adalah Ciu Hoa sekalian, sedangkan kakek

itu adalah Thamcu dari ruang Tee-ham, Tang Bong liang.

***

Tak terpikirkan rasa girang Ciu Hoa lo pat sesudah mendengar perkataan itu, senyumnya,

“Kebetulan sekali kedatangan para suheng, kita bersaudara sudah sepantasnya memberi sedikit

pelajaran kepada manusia-manusia itu agar mereka tahu sampai dimanakah lihaynya ilmu silat

Kiu ci kiong kita.”

“Huuuh…… menyombongkan diri dengan kata-kata yang kosong, sungguh menggelikan ejek

Kiong Gwat-lan.

Mendadak seseorang berseru pula dengan suaranya yang merdu bagaikan burung nuri sedang

berkicau, Ciu Hoa, menurut pendapatku, lebih baik tak usahlah kalian mencampuri persoalan ini.”

Mendengar perkataan tersebut, tanpa terasa semua orang lantas berpaling ke arah mana berasal

suara tadi.

Di atas dahan sebuah pohon waru berdiri seorang gadis cantik yang berwajah sedingin es, ia

membawa sebuah tongkat berwarna hitam yang pada ujung toyanya berukirkan sembilan buah

kepala setan.

Gadis itu mengenakan baju berwarna putih salju, berdiri dibawah hembusan sepoi-sepoi

membuat ia tampak seperti bidadari yang turun dari kahyangan.

Dibelakang gadis itu berdiri pula dua orang kakek berbaju hitam yang berwajah menyeramkan.

Mendadak sontak suasana di sekitar gelanggang menjadi sepi, semua orang dibikin kaget oleh

kecantikan wajahnya.

Tapi setelah menyaksikan toya berkepala sembilan setan itu, mereka semua pun lantas mengerti

siapa gerangan yang telah datang, karena dia tak laim adalah Bwe Su-Yok, kaucu baru dari

perkumpulan Kui im kau.

Ho Kee sian cukup mengetahui bobot toya berkepala sembilan setan itu, apalagi setelah

menyaksikan cara berdirinya di atas dahan pohon itu, ia semakin menyadari sampai dimanakah

taraf tenaga dalam yang dimiliki gadis itu, segera pikirnya, “Tak heran kalau Liong sauya selalu

memperingatkan agar jangan memandang enteng perempuan ini, ehmmm! Dia memang

berwajah amat

cantik……”

Dihari hari biasa Kiong Gwat-lan selalu membanggakan kecantikan wajah sendiri, akan tetapi

sekarang mau tak mau ia merasa rendah diri juga, entah mengapa tiba-tiba timbul rasa dengki

dalam hatinya.

Berbeda dengan Kiong Gwat hui, ia hanya merasa sayang kenapa gadis secantik itu menjadi

kaucu dari Kau im kau.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

99

Dalam pada itu Bwe Su yok telah memandang sekejap sekeliling area, tiba-tiba tegurnya dengan

suara dingin, “Entah bagaimanakah pendapat hian te sekalian?”

Seperti baru sadar dari lamunan, Ciu Hoa lo pat segera tertawa terbahak-bahak.

“Haaahhh……..hhaahh……haaahhh……..aku tidak mengerti akan maksud kata kaucu!”

Berkibat tajam sepasang mata Bwe Su yok, di tatapnya orang itu dengan pandangan dingin,

namun ia tidak berkata apa apa.

Kembali Ciau Hoa lo pat berkata, “Bukankah Kiu im kau telah bersekutu dengan perkumpulan

kami? Kini Bwe kaucu bukannya datang membantu, sebaliknya malah menentang usaha kami,

entah apa maksudmu yang sebenarnya?”

Dihadapan umum bukan saja ia bicara tanpa tedeng aling-aling bahkan menyinggung pula soal

persekutuan, kendatipun semua orang sudah mengetahui hal ini dari Hoa In-liong, tak urung toh

kembali merasa terkejut.

Bwe Su yok hanya mendengus dan tidak menjawab, sorot matanya lantas dialihkan ke wajah

Tong Bong liang, katanya, “Tang thamcu, anak murid Sinkun masih muda dan tak tahu urusan,

kau sebagai seorang thamcu kenapa hanya berpeluk tangan belaka?”

Jangan melihat usianya masih muda, namun setiap perkataan yang diucapkan sangat berwibawa

dan bernada teguran seorang kaucu terhadap anak buahnya.

Dalam keadaan demikian, walaupun Ciu Hoa sekalian merasa tidak puas, mereka toh tak berani

juga membantah.

Buru-buru Tang Bong-liong memberi hormat, katanya, “Apa yang diucapkan kaucu memang

benar, apa mau dikata, persoalan telah terjadi, aku rasa tak mungkin bisa diselesaikan dengan

begitu saja……”

Suasana menjadi hening, semua orang ingin tahu dengan cara apakah Bwee Su yok akan

menyelesaikan masalah itu, sebab sebagai seorang kaucu dari suatu perkumpulan besar, apa

yang diucapkan Bwe Su yok tentu akan di laksanakan.

Sebaliknya Tang Bong liang sekalian, jelas mempunyai maksud memandang enteng gadis itu

sean-dainya kejadian ini sampai menggusarkan Bwe Su yok, sudah pasti persekutuan antara Kiu

im kau dan Hian-beng-kau akan berantakan di tengah jalan, padahal memang itulah yang

mereka harapkan selama ini.

Sekilas hawa nafsu membunuh sempat memancar keluar dari balik mata Bwe Su yok yang jeli,

katanya dengan hambar, “Kalau toh kalian berani berpendapat demikian Hmm! Akupun tak akan

ribut dengan kalian, urusan ini akan kubiarkan sendiri dengan Siakun kalian.”

Berbicara sampai disitu, sepasang matanya yang jeli dan tajam itu tiba-tiba dialihkan kewajah Ou

See tiong.

Si lui kim hong (kumbang emas bermain di putik) Ou See tiong merasakan sepasang matanya itu

tajam melebihi anak panah yang menembusi ulu hatinya, ia tercekat dan buru-buru

menundukkan kepalanya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

100

“Tampaknya terpaksa aku musti turun tangan sendiri untuk mencabut nyawamu!” katanya.

Ou See tiong menjadi ketakutan, teriaknya “Kaucu…”

Dua orang kakek berbaju hitam yang berdiri dibelakang Bwe Su-yok itu tak lain adalah Lei Kiu it

serta Ke Thian tok.

Saat itu Lei Kiu it tiba-tiba berkata, “Untuk membereskan manusia bangsa celurut kenapa musti

kaucu turun tangan sendiri, biar hamba yang melaksanakan tugas ini.

Bwe Su yok manggut-manggut, baru saja dia akan menitahkan anak buahnya untuk turun

tangan.

“Hoa kongcu telah datang!” tiba-tiba dari kejauhan sana berkumandang teriakan keras.

Bwe Su yok merasa jantungnya berdenyut lebih cepat, tanpa terasa dia alihkan pandangan

matanya mengikuti para jago lainnya berpaling ke arah pintu kota.

Sesosok bayangan manusia sedang bergerak menuju ketempat itu, gerakan tubuhnya amat

cepat, baru saja ia berada dimulut kota, tahu-tahu dalam waktu singkat sudah berada di depan

mata.

Sungguh mengagumkan sekali ilmu meringankan tubuh yang dimiliki pemuda itu, mungkin

saking cepatnya dia bergerak, sampai ada sebagaian manusia yang cetek tenaga dalamnya tak

sempat melihat jelas raut wajahnya……….

Mereka hanya merasakan bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu seorang pemuda

tampan yang membawa kipas emas telah melayang turun dihadapan mereka.

Sebelum berjumpa dengan Hoa In-liong tadi, Bwe Su yok telah mengambil keputusan untuk

memandangnya sebagai musuh besar, setelah saling berjumpa, kembali ia merasakan pikirannya

amat kalut.

Begitu munculkan diri, dengan nada gembira Kiong Cian lan segera menyapa, “Hoa jiko!”

Hoa In-liong berpaling kearannya sambil tertawa.

“Kiong ji-moay, rupanya kau sudah datang, oya, Kiong toa-moay juga datang, harap kalian

tunggu sebentar, akan kuselesaikau dulu masalah disini.”

Tiba-tiba Bwe Su yok merasa hatinya sakit, hawa murninya buyar dan nyaris ia terjatuh dari atas

dahan, buru-buru hawa murninya dihimpun kembali dan sekuat tenaga berusaha

mempertahankan ke-seimbangan tubuhnya.

“Kenapa? Kenapa ia tidak memperdulikan aku?” demikian pikirnya.

Lei Kiu it maupun Ke Thian tot kedua-duanya berdiri dibelakang kaucunya, tentu saja mereka

pun dapat menyaksikan perubahan yang sedang dialami gadis itu, meski demikian mereka hanya

bisa saling berpandangan sekejap tanpa bisa berbuat apa apa.

Padahal begitu masuk ke dalam arena tadi, pertama-tama Hoa In-liong sudah melirik ke arahnya,

kendatipun matanya tidak tertuju kepada Bwe Su yok, sekarang perhatiannya masih tertuju ke

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

101

arahnya, maka waktu hawa murnii Bwe Su yok membuyar dan nyaris terjatuh dari atas dahan,

iapun dapat mengetahui dengan jelasnya.

“Aaaai… .kau jangan menyalahkan aku,” pikirnya dihati, “setelah kau menerima jabatan Ku im

kaucu, kedudukan kita ibaratnya musuh yang saling berhadapan tak urung kau musti teringat

juga akan budi kebaikan gurumu bila bertemu entah bagaimana jadinya…….

Berpikir sampai disitu, dia lantas tertawa nyaring serta berkata, “Para enghiong yang terhormat,

apa yang telah terjadi disini? Perlukah bantuan dari aku orang she Hoa?”

“Soal lain tak perlu dibicarakan yang penting Si kui-kian hong Ou See liong musti dibunuh lebih

dulu!”

Sambil berkata gadis itu lantas menuding ke arah penjahat cabul itu.

Song Yan ikut berseru pula dengan lantang, “Yaa, harap Hoa kongcu menegakkan keahlian dan

kebenaran untuk kita semua. Pihak Hian-beng-kau telah berusaha melindungi nyawa sampah tua

penyakit itu!”

Sebetulnya Li Po seng hendak menuturkan kejadian yang sesungguhnya, tapi cukup dalam sekali

pandang, Hoa In-liong telah memahami duduknya persoalan, iapun tidak menggubris Ciu Hoa

dan rombongan-nya lagi.

Dengan kening berkerut katanya kepada Ou See liong, “Rupanya kau yang bernama Kumbang

emas bermain diputik Ou See tiong? Kalau begitu sembilan kasus perkosaan dan pembunuhan

yang terjadi di Yan im tahun berselang juga merupakan hasil karyamu?”

“Soal ini…….” Ou See tiong menjadi gelagapan, peluh dingin membasahi sekujur tubuhnya.

“Aku lihat ada baiknya kau bunuh diri saja,” sela Hoa In-liong lebih lanjut, “tunjukkan

kejantananmu sekarang, mati nanti mati sekarang juga sama saja, aku orang she Hoa pasti akan

mengu-burkan jenasahmu secara baik baik dan akan ku cegah pula orang-orang yang menjadi

korbanmu menggali kembali kuburanmu.”

“Hoa-ya,……” keluh Ou See tiong dengan suara gemetar.

Ciu Hoa lo pat tidak tahan lagi, dengan gusar, segera bentaknya, “Hei manusia yang bernama

Hoa Yang, jangan mentang-mentang ilmu silatmu lihay lantas hendak paksa orang untuk bunuh

diri, ksatria macam apakah kau ini?”

Hoa ln-liong berlagak tidak mendengar perkataan itu, kembali ujarnya dengan suara tajam, “Bila

kau enggan turun tangan sendiri, jangan salahkan jika aku orang she Hoa terpaksa akan turun

tangan untuk melenyapkan bibit bencana bagi umat dunia.”

Betapa gusarnya Ciu Hoa Lo pat karena ucapannya tidak digubris, tiba-tiba ia menyerbu ke

depan sambil melancarkan sebuah sergapan, disusul Ciu Hoa lo sam ikut terjun pula ke arena

untuk melakukan pukulan.

Hampir bersamaan waktunya, On See liong putar badan dan mengambil langkah seribu.

Hoa In-liong berpekik nyaring, suaranya keras bagaikan lengkingan naga, tubuhnya melijit ke

udara dan secepat kilat mener jang ke arah penjahat cabul itu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

102

Dengan melejit perginya sasaran, maka serangan dari Ciu Hoa Lo-pat dan Ciu Hoa lo-sam pun

mengenahi tempat kosong.

Kebetulan Tang Bong liang dan Ciu Hoa lotoa berada disamping Ou See tiong, meski mereka

tiada maksud untuk menolong penjahat cabul itu, niat untuk melukai Hoa In-liong justru

berkobar-kobar.

Ketika menyaksikan Hoa In-liong menerjang ke arah mereka, tanpa mengucapkan sepatah

katapun Tan Bong liang menyiapkan jari tangannya dan Ciu Hoa lotoa mempergunakan sepasang

telapak tangannya untuk menyerang ke arah pemuda itu dengan sepenuh tenaga.

Serangan itu dilancarkan bukan saja dengan cara yang licik, lagipula dari jarak yang amat dekat.

Menyaksikan itu Lo Kee sian maupun Li Po seng sekalian membentak gusar, tapi untuk

menghalangi jelas tak sempat lagi.

Sementara itu Hoa In-liong telah berada dua depa dibelakang Ou See liong, telapak tangannya

segera didorong ke muka menghantam punggung penjahat cabul itu.

Ou See tiong menjerit kesakitan, darah kental muncrat keluar dari mulutnya, bersama dengan

terlemparnya kipas keudara, tubuhnya segera roboh tak berkutik di tanah.

Semua orang tahu, pukulan tadi telah meremukkan isi perutnya, jelas jiwa bajingan itu tak

ketolongan lagi.

Dalam pada itu serangan -erangan maut dari Tang Bong liang dan Ciu Hoa lotoa sudah

mendapat punggung Hoa In-liong, tampaknya sulit buat anak muda itu untuk menghindarkan

diri…..

Paras muka Bwe Su yok berubah hebat, hampir saja ia tahan dan ingin melancarkan serangan.

Tang Bong liang maupun Ciu Hoa lotoa tak dapat menyembunyikan rasa girangnya lagi-dalam

perkiraan mereka Hoa In-liong pasti akan mampus di tangan mereka.

Siapa tahu…..pada detik terakhir yang amat kritis, mendadak Hoa In-liong menjejak-kan kaki

kirinya ke tanah lalu putar badan secepat gasingan, tangan kanannya selincah ular berbisa

langsung menerobos kedepan….

Dalam detik yang teramat singkat inilah, ketujuh gerakan dari ilmu Ci yu jit ciat (tujuh kupasan

dari Ci yu) telah ia gunakan secara beruntun….

Sebagai mana diketahui, Ci yu jit ciat merupakan ilmu Sakti yang oleh Siau-yau sian (dewa yang

suka kelayapan) Cu Thong diwariskan kepada Hoa Thian-hong.

waktu itu kepandaian tersebut sudah tidak seutuh sekarang, apa yang di wariskan pun tak lebih

hanya “menyerang sampai mati” yang terdiri dari tiga jurus.

Akan tetapi oleh karena serangan tersebut terlampau ganas dan keji, maka selama pindah di

tangan Hoa Thian-hong belum pernah kepadaian itu dipakai secara sempurna.

Kemudian setelah penggalian harta karun dibukit Kiu ci sau, dimana Bong Pay berhasil

mendapatkan separuh bagian “Ci-yu-jit-ciat” yang hilang, kepandaian sakti itupun nenjadi utuh

dan komplit kembali tentu saja ilmu sakti itupun selanjutnya diwariskan kepada Hoa In-liong.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

103

Seperti diketahui, sejak penggalian harta dibukit liu ci san, suasana dalam dunia persilatan

menjadi aman kembali, maka selama ini juga baik Hoa Thian-hong maupun Bong Pay tidak

mendapat kesempatan untuk mencoba kehebatannya.

Tak tahunya ilmu sakti yang sudah lama lenyap itu akhirnya hari ini muncul kembali di depan

umum.

Ketujuh jurus ilmu jari itu memiliki perubahan gerakan yang aneh tapi sakti dengan daya

kekuatan yang luar biasa, kepandaian tersebut merupakan kepandaian yang sukar dicarikan

tandingannya, apalagi kalau dipergunakan untuk melangsungkan pertarungan jarak dekat.

Tang Bong liang maupun Ciu Hoa tidak menyangka akan menghadapi ilmu silat yang maha sakti

tersebut, dalam kejut dan paniknya mereka mencoba untuk berkelit, sayang tak sempat lagi,

terpaksa mereka bulatkan tekadnya dan meneruskan serangan itu dengan jurus yang tak

berubah, dengan harapan bisa sama-sama terluka.

Tiba-tiba Tang Bong liang mendengus tertahan, jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya

tahu-tahu sudah patah menjadi dua bagian, sementara sepasang pergelangan tangan Ciu Hoa

lotoa masing masing termakan sebuah totokan, di tengah jeritan kesakitan yang memilukan hati,

ia mundur sambil menggigit bibir, sepasang lengannya terkulai lemas kebawah, jelas sudah

cacad oleh pukulan itu.

Tdak sedikit jago berkepandaian tinggi yang menyaksikan jalannya pertarungan, mereka semua

merasakan pula betapa gawatnya situasi ketika itu, akan tetapi setelah menyaksikan hasil dari

pertarungan tersebut, tak urung mereka menghela napas juga karena kaget.

“Bocah keparat!” gumam Lei Kiu it, “tak disangka ilmu silatnya secepat itu bisa memperoleh

kemajuan, coba tahu begini, sungguh menyesal nyawanya tak jadi direnggut sewaktu terjatuh ke

tangan kauucu tempo hari…….”

Mendengar perkataan itu Bwe Su yok melirik sekejap ke arahnya dengan biji matanya yang jeli,

tampaknya ia bermaksud hendak menegur.

Sesungguunya perasaan sang gadis waktu itu sungguh amat susah dilukiskan dengan kata-kata,

jalan pikirannya hampir boleh dibilang saling bertentangan.

Padahal semakin tinggi ilmu silat Hoa In-liong seharusnya semakin besar niatnya untuk

melenyapkan orang itu, tapi kenyataannya sekarang ia malah agak sukar untuk mengendalikan

rasa gembiranya.

Sebagian besar jago yang hadir di kota Si ciu waktu itu rata-rata tahu kalau Hoa In-liong adalah

putranya Thian-cu-kiam merekapun tahu kalau ilmu silatnya sangat tinggi, tapi siapapun tidak

mengira kalau kesempurnaan ilmu silatnya Sudah mencapai taraf demikian tingginya.

Dengan hambar Hoa In-liong memandang sekejap ke arah Ciu Hoa sekalian, lalu kepada Li Poseng

katanya, “Saudara Po-seng, tolong belikan sebuah peti mati dan kawallah jenazah Ou See

ti ong untuk dikubur di tempat kuburan, jangan sampai mengganggu ketenteraman rakyat di

sekitar sini.

Li Po-seng mengiakan, dia lantas berlalu dari situ.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

104

Kiong Gwat-lan tampak kurang senang hati, sambil mencibirkan bibirnya ia berseru, “Kenapa

musti repot repot? Beli saja sebuah tikar bobrok untuk membuang bangkai anjing itu, aku rasa

tikar pun sudah lebih dari cukup baginya!

Dipihak lain, Tang Beng liong sedang berdiri dengan wajah hijau membesi, diam-diam pikirnya.

“Pesat benar kemajuan yang dicapai bangsat ini dalam hal ilmu silat, kalau dibiarkan hidup terus

menerus, sepuluh tahun lagi pasti akan sulit ditemukan orang yang bisa menaklukannya, aku

musti akan melaporkan kejadian ini kepada Sinkun agar ia cepat-cepat disingkir kan dari muka

bumi….,”

Berpikir sampai disitu dengan suara keras ia lantas membentak.

“Hoa Yang, meskipun aku tidak puas, lain kali aku pasti akan minta petunjuk lagi. Sekarang kalau

tak ada urusan lain, aku hendak pergi duluan.”

Hoa In-liong mendengus dingin.

“Berbicara dari tenaga dalam, sesungguhnya dalam seratus jurus belum tentu aku bisa

melukaimu maka jika kau tidak puas akupun telah menduganya, cuma kaupun musti tahu setiap

serangan yang dilancarkan dengan Ci yu jit ciat akan menyebabkan korbannya pasti mati, oleh

sebab ayahku menganggap ilmu itu terlalu keji, disana-sini telah mengalami perubahan, coba

kalau kugunakan jurus aslinya…..Hmm, aku pikir kau tak dapat pergi dari sini dengan selamat”

“Baik! aku telah mengetahuinya, masih ada pesan lain?” seru Tang Bong-liang sambilt mengigit

bibir.

Dengar serius Hoa In-liong berkata, “Tolong sampaikan kepada sindun, jika dia masih tak ingin

melangsungkan pertarungan terbuka, tolong awasi baik-baik anak buahnya.”

“Aku akan mengingatnya, sahut Tang Bang Iiang. Kemudian ia memberi tanda dan bersama Ciu

Hoi sekalian berlalu meninggalkan tempat itu.

Sebenarnya semua orang Bong liang serta Ciu Hoa sekalian disana, tapi ketika Hoa In-liong

membiarkan mereka pergi dengan begitu saja, maka merekapun tidak banyak berbicara lagi.

Setelah Tang Bong liang dan Ciu Hoa sekalian pergi, sinar mata semua orangpun kini sama-sama

dialihkan ke arah Bwe Su yok yang berada di atas dahan pohon waru.

Pelan-pelan Kiong Gwat-lan mendekati Hoa In-liong, kemudian bisiknya lirih, “Hei jiko, coba

lihatlah budak she Bwe itu, sungguh cantik menawan, apakah kau pernah bermesraan

dengannya?”

“Ala…..kau cuma pura-pura sok serius!” katanya.

Hoa In-liong tersenyum, dia lantas memberi hormat kepada Bwe Su yok sambil menyapa, “Bwe

kaucu, baik-baikkah kau?” Bwe Su yok menundukkan kepalanya, kembali ia berpikir, “Gadis itu

begitu akrab dengannya, jangan jangan dia adalah gadis simpanannya.”

Setelah membungkam sesaat, Bwe Su yok kembal mendongakan kepalanya memandang sekejap

ke arah Hoa In-liong.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

105

Waktu itu semua perhatian para jago tertuju kepadanya seorang, semua orang segera dapat

merasakan bahwa dibalik tatapan matanya yang jeli sama sekali tidak terpancar lagi sinar

keketusan, sebaliknya malah lamat-lamat menunjukkan sikap sedih dan murung, hal ini membuat

semua orang menjadi tercengang.

Tiba-tiba Bwe Su yok menghela nafas panjang, tanpa mengucapkan sepatah-katapun ia berlalu

dari situ.

Ke Thian-tok maupun Lei ciu it sama-sama tertegun, kemudian setelah melotot sekejap ke arah

Hoa In-liong dengan gemas, mereka pun memutar badannya dan berlalu dari situ.

Sekali lagi semua orang dibuat tertegun oleh kejadian tersebut, siapapun tidak menyangka kalau

Kiu im kaucu bakal berlalu dari situ tanpa meninggalkan pesan sepatah kata pun.

Kecuali termenung, ada pula diantara mereka yang diam-diam merasa kecewa karena Kiu im

kaucu yang dikatakan berwajah dingin dan tidak berperasaan itu ternyata malah berbuat

sebaliknya.

Tentu saja Hoa In-liong dapat meresapi maksud hatinya, diam-diam ia menghela napas, kepada

dua bersaudara Kiong segera katanya, “Adik berdua baru saja tiba di kota Si ciu, tentunya kalian

belum ada tempat untuk menginap bukan? Bagaimana kalau untuk sementara waktu tinggal

digedung kami?”

“Tentunya akan mengganggu Hoa jiko,” kata Kiong Gwat-lan Sambil tertawa dan manggutmanggut.

Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak. “Haaahh………… aaahh………haaahh……… padahal aku

sendiripun meminjam gedung itu dari orang lain, mengangkangkan yang sewenang-wenang atas

rumah itu, membuat akupun secara terpaksa menjadi pula tuan rumah disitu.”

Tiba-tiba pemuda yang pernah melerai pertarungan antara Kiong Gwat-lan melawan Kongsun

Peng tadi maju menghampiri Hoa In-liong, lalu sapanya dengan suara lirih, “Hoa jiko!”

Hoa In-liong berpaling kemudian serunya dengan tercengang, “Hei saudaraku, kaupun datang

kemari? Dimana sutemu?”

“Semalam kami sudah datang, kini sute masih menunggu di rumah penginapan…………..”

Tiba-tiba Kiong Gwat-lan menyela sambil tertawa dingin, “Hoa jiko, siapakah orang ini? Dia pasti

bukan manusia baik-baik, kau tahu, dia berjalan bersama Ou See tiong.”

Merah padam selembar wajah pemuda itu saking cemasnya, buru-buru dia membantah, “Aku

bernama Demor, datang dari See-ih, ………aku………..aku bukan orang jahat……….”

Dengan bahasa yang kurang lancar, dihari-hari bisa ia masih dapat menggunakan secara baik,

tetapi sekarang lantaran cemas dan panik,ia menjadi gelagapan dan tak mampu berbicara.

Hoa In-liong segera tertawa. “Kiong ji moay, kau jangan salah paham,” katanya, “dia adalah

muridnya suhuku yang ada di wilayah see ih, adik seperguruannya bernama Tehan, mungkin

lantaran masih muda dan tak ada pengalaman, mereka kena dibohongi orang.”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

106

“Betul, cepat-cepat Demor menerangkan, “kami bertemu dengan orang she Ou itu di kota koyhong,

karena sama-sama mau ke si ciu maka kami melakukan perjalanan bersama, siapa tahu

kalau dia adalah seorang penjahat cabul”

Hoa In-liong termenung sebentar, kemudian tanyanya lagi, “Jika kalian semua pergi, siapa, yang

menjaga rumah?”

Dirumah masih ada beberapa orang pelayan, mereka pernah dididik suhu dengan ilmu silat,

kemampuan mereka tidak selisih banyak dari aku serta sute, aku rasa mereka masih sanggup

untuk menjaga rumah baik-baik!”

Hoa In-liong lantas mendengus.

Setelah sampai di Si-ciu, kenapa kalian belum mencari aku malah keluyuran sendiri? Kau anggap

aku tak tahu maksud kalian? Baiklah, akupun segan banyak bicara, nanti akan kuselesaikan

sendiri dengan paman.

Haputule amat ketat mengajari muridnya, kedatangan Demor dan Tehan kedaratan Tionggoan

kali inipun diluar pengetahuan gurunya, tentu saja mereka tak berani menjumpainya.

Sesudah tergagap sekian lama, akhirnya Demor berkata, “Jiko, kau berangkatlah duluan, aku dan

sute segera akan menyusul kesitu!”

Paman memberitahukan kepadamu bahwa kalian ditinggal dirumah agar berlatih silat lebih

tekun,” kata Hoa In-liong dengan wajah membesi, tak bisa diragukan lagi, kedatangan kalian

berdua ke kota Si ciu adalah diluar pengetahuan gurumu.

“Kami cuma keluar untuk bermain-main sebentar, lalu segera kembali ke See-ih” ujar Demor

ketakutan.

Secara diam-diam bermain ke Tionggoan memang bukan urusan besar, tapi berkumpul dengan

manusia Ou See tiong adalah suatu kejadian yang tak boleh diampuni, untung ketahuan lebih

awal, coba kalau sampai tercebur kelembah kenistaan, mungkin waktu itu kalianpun masih

berada dalam impian. Hmm Kini kau berani pula menghindari perjumpaan dengan gurumu,

jangan harap kalian bisa kabur lagi, hayo cepat ikut aku menghadap paman agar diberi hukuman

yang setimpal”

Dulu pernah Demor menyaksikan Hoa In-liong menegurnya dengan wajah sekeren sekarang,

sedikit banyak ia sudah rada takut apalagi sekarang setelah mengetahui bahwa Hoa In-liong

akan mengajaknya menjumupai gurunya, ia menjadi ketakutan setengah mati.

Dalam pada itu para penontonpun sudah mulai bubaran karena melihat Hoa In-liong sedang

bercakap-cakap dengan Demor serta dua bersaudara dari keluarga Kiong.

Dengan demikian, disitu hanya tinggal Tim kiat kian, Ho See sian, dua bersaudara Oh dan

Kongsun Peng, sedang Siau Gou ji seorang berjongkok sambil bermain burung bangau perak

peninggalan Ou See tiong.

Mayat Ou Soe tiong tergeletak dipinggir jalan dalam keadaan yang mengerikan, darah masih

bercucuran dengan derasnya, tapi setiap orang yang lewat disampingnya dengan penuh rasa

benci dan menghina sama-sama melukahi tubuhnya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

107

Tiba-tiba kedengaran Kiong Gwat-lan berseru, “Jalan raya bukan tempat untuk memberi

pelajaran kepada seseorang, lagi pula dengan kedudu-kanmu masih belum pantas menasehati

saudara cilik ini, hayo kita pergi saja!”

Gadis itu baru berusia tujuh delapan belas tahun usianya dengan Demor pun cuma selisih sedikit

tapi dengan gayanya dia telah membasahi orang dengan saudara cilik, ini membuat Lim kiat kau

se kalian diam-diam merasa geli.

Demor tidak merasakan hal itu, karena kelihatannya Kiong Gwat-lan membantunya berbicara,

dengan penuh rasa terima kasih ia melirik sekejap ke arahnya.

Kiong Gwat-lan merasa lebih bahagia lagi sambil tertawa merdu ujarnya lebih jauh, “Saudara

cilik, kau jangan gelisah, meskipun aku belum berhak untuk ikut ambil bicara dihadapan gurumu,

tapi aku rasa beberapa orang cianpwe pasti bersedia membantumu, tak pasti mereka akan

membiarkan kau didamprat gurumu.”

Kemudian sambil melirik ke arah Ho Kee sian dia berkata, “Ho locianpwe, bersediakah kau?”

Ho Kee sian agak tertegun, lalu jawabnya, “Aku kuatir tak punya muka sebesar itu!”

“Aku lihat kau orang tua sudah berusia setengah abad lebih, masa tidak punya?” kata Kiong

Gwat-lan sambil cemberut, “yaa, aku tahu, kau pasti enggan memberi bantu-an makanya berkata

demikian, pokoknya bagaimanapuu juga kau musti mengabulkan permintaanku ini!”

Kiong Gwat hui yang menyaksikan kejadian itu segera menarik ujung baju adiknya sambil

berbisik, “Adiku, jangan kelewat berandal”

Tapi Kiong Gwat-lan sama sekali tidak menggubris, malah matanya memperhatikan Ho Kee sian

tanpa berkedip.

Melihat itu Ho Kee sian lantas berpikir, “Agaknya dalam menghadapi persoalan apapun nona ini

merasa tak enak jika belum ikut ambil bagian, bila aku menyanggupinya mungkin dia akan

mendesakku terus menerus…”

Berpikir demikian, sambil tertawa diapun berkata, “Kalau cuma mengucapkan beberapa patah

kata sih gampang, aku cuma kuatir tak ada gunanya.”

Sementara itu Hoa In-liong juga sedang berpikir, “Menghadapi setiap persoalan tampaknya

budak ini cuma tahu mengumbar nafsu, melihat aku mendamprat Demor lantas dianggapnya hal

ini tak adil, mana dia tahu kalau aku berbuat demikian lantaran mempunyai maksud tertentu.”

Setelah berpikir sejenak, sambil tertawa nyaring segera ujarnya, “Gara gara kau seorang nona

binal, kota Si cui sudah menjadi ramai setengah harian, Kiong ji moy! Dalam perjalananmu

masuk ke kota nanti jangan menimbulkan gara-gara lagi lho!

Merah jengah selembar wajah Kiong Giok lan.

“Kau dibilang membuat gara-gara, perbuatanmu di kota Si ciu ini baru cocok disebut suatu

pengacauan secara besar-besaran, membuat seluruh dunia persilatan menjadi kalut tak karuan,

hmm! Aku sih masih ketinggalan jauh”

Berbicara sampai di situ, sorot matanya lantas dialihkan ke wajah Hoa In-liong yang cerdik

segera dapat menduga beberapa bagian atas duduknya persoalan, ia lantas tertawa tergelak.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

108

“Haaahhh…………haaahhh……haahhh……

Kiong ji-moay kau toh sudah menyalahi saudara Kongsun, hayo cepat minta maaf!”

“Hoa kongcu, akulah yang telah mencari gara-gara dengan nona Kiong!” cepat cepat kongsun

Peng berbisik dengan nada tersipu.

Hoa In-liong gelengkan kepalanya sambil tertawa, “Saudara Kongsun tak usah banyak bicara

lagi,” katanya, “sampai di manakah tabiatnya sudah siau-te pahami benar-benar, bagaimapun

juga hari ini dia musti minta maaf kepada saudara Kongsun.”

“Jangan mimpi!” sela Kiong Gwat-lan sambil berkerut kening.

Hoa In-liong tersenyum kembali katanya, “Kalau sudah menyalahi orang, punya kepandaian lagi,

tidak minta maaf bukan persoalan, tapi kalau sudah tak punya kepandaian lagi, tidak minta maaf

lagi, itu baru tak boleh”

“Lantas apa yang musti kulakukan baru bisa di katakan punya kepandaian….?”

Hoi In-liong menutar biji matanya, lalu sahutnya sambil tertawa, “Akan kubuat sebuah lingkaran

di dalam dan sebuah lingkaran di luar, lingkaran dalam luasnya dua depa lingkaran luar luasnya

empat kaki, aku akan berdiri dalam lingkaran dalam dan kau boleh berkelit dilingkaran luar, jika

dalam seperempat jam kau bisa menghindari tangkapanku, maka kau akan kuanggap punya

kepandaian.”

Kongsun peng menggerakkan bibirnya seperti hendak mengucapkan sesuatu tapi niat itu

kemudian dibatalkan, pikirnya, “Tampaknya kedua orang itu sudah terbiasa bergurau, buat apa

aku musti banyak bicara?”

Karena berpikir demikian, maka diapun membungkam dalam seribu bahasa.

“Yaa, aku tahu ilmu meringankan tubuh dari keluarga Hoa memang sangat lihay dan diketahui

semua orang di dunia, dengan mengandalkan tenaga dalam yang kau miliki tidak sulit untuk

berganti, tiga empat gerakan di tengah udara, aku tahu bukan tandinganmu, aku tak sudi kau

tipu kecuali kalau kau tak boleh melewati garis lingkaran.”

Waktu itu Kongsun Peng, Ho Kee sian dan lainya berpendapat demikian pula, sebab menurut

jalan pemikiran mereka kecuali berbuat demikian, tak mungkin Hoa In-liong bisa menangkap

Kiong Gwat-lan dari dalam lingkaran.

Lain halnya dengan Hoa In-liong, dia lantas berpikir.

“Nah, bagaimanapun juga kau memang sudah terjebak dalam siasatku…….. tinggal sekarang

pelaksanaannya!

Meskipun demikian, dia pura-pura menunjukkan wajah keberatan, serunya, “Aku toh bukan

dewa, kalau ilmu meringankan tubuh pun tak boleh dipergunakan, jangankan menangkapmu,

untuk menjawil ujung bajumu pun bukan suatu pekerjaan yang gampang.”

Dengan bangga Kiong Gwat-lan tertawa cekikikan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

109

“Huuuh…….begitupun masih mengakunya seorang enghiong, heran kau pingin ribut dengan aku

seorang gadis, lebih baik lain kali tak usah berlagak sok”

Hoa In-liong segera tertawa terbahak-bahak.

“Haaahh….haaahh…haaahh……baiklah, akan kuturuti perkata-anmu itu, mari kita buat garis

lingkarannya.”

“Biar aku saja yang membuatnya!” cepat Kiong Gwat-lan menyela.

Tanpa menanti persetujuan orang, dia lantas bungkukkan badan dan membuat dua buah

lingkaran dengan pedang.

Bagi para jago yang terbiasa belajar silat pada umumnya bisa mengukur jarak dengan pas,

siapapun mengetahui bahwa secara curang gadis itu telah menambah luas lingkaran luar dengan

dua tiga depa, sebaliknya lingkaran dalam hanya satu depa lebih lima enam.

Cuma saja lantaran Hoa In-liong tidak berbicara apa-apa, maka semua orang pun tidak berbicara

apa-apa.

Untung daerah di sekitar situ memang merupakan tempat yang sepi dan jarang dilewati orang,

kendatipun demikian berkenyit juga sepasang alis mata Kiong Gwat hui, ia merasa adiknya

sebagai seorang gadis perawan tidak sepantasnya melakukan perbuatan semacam itu, tapi

karena dilihatnya gadis itu amat gembira, ia merasa kurang enak untuk mencegahnya, maka

dengan sorot mata mengandung teguran ia melirik sekejap ke arah Hoa In-liong.

Setelan berdiri tegap dalam lingkarannya yang kecil, sambil putar badan Hoa In-liong berkata,

“Kiong ji moay, ayo cepetan dikit!”

Ketika dilihatnya pemuda itu begitu mantap dan menyakinkan, Kiong Gwat-lan sedikit banyak

merasa agak ragu juga, pikirnya, “Jangan-jangan aku sudah terperangkap dalam siasatnya? Aku

musti lebih berhati-hati….”

Tapi pikiran lain segera melintas dalam benaknya, ia merasa selihay-lihaynya pemuda itu, tak

nanti ia bisa ditangkap dengan mudah.

“Hati-hati kata Hoa In-liong kemudian sambil tertawa, “aku hendak mempergunakan tiga macam

kepandaianku untuk menangkapmu dalam keadaann hidup-hidup”

Kipasnya lantas dialihkan ketangan lain, kemudian telapak tangan kanannya diayun kedepan dan

dua titik hitam segera meluncur ke arah tubuh gadis tersebut.

Daya luncur kedua titik hitam itu tidak begitu cepat, Kiong Gwat-lan dapat memperhatikan arah

datangnya ancaman dan berkelit secara jitu, serunya, “Satu macam kepandaian!”

Tapi baru selesai perkataan itu, mendadak desingan angin tajam menyambar lewat dari

belakang, tanpa berpikir panjang lagi ia ber kelit tiga depa kesamping, meski demikian jaraknya

dengan Hoa In Hong masih cukup jauh.

Tapi belum lagi kakinya berdiri tegak, kembali terasa ada semacam benda menyergap tubuhnya,

dengan perasaan apa boleh buat terpaksa ia melompat maju delapan depa lagi, pikirnya,

“Jarakku denganmu masih terpaut satu kaki sampai dimanapun lihaynya ilmu Hwee hong jiu-hoat

(cengkeraman angin berpusing), sia-sialah akhirnya jerih payahmu.”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

110

Tapi pikiran itu baru habis melintas lewat, Hoa In-liong telah tertawa terbahak-bahak.

Seketika itu juga Kiong Gwat-lan merasa munculnya segulung tenaga hisapan yang menyedot

tubuhnya ke belakang.

Berada di tengah udara, gadis itu masih berusaha menahan badannya dengan ilmu bobot seribu,

sayang tersambit, di tengah jeritan lengkingannya tahu-tahu ia sudah terhisap kekuatan itu dan

melayang ke arah Hoa ln Hong berdiri.

Pukulan itu bernama Hu Im sin ciang, dulu nama aslinya adalah Kun siu-ci-tau (perlawanan binatang

terkurung) yang merupakan ciptaan dari Ciu it bong.

Kemudian setelah kepandaian tersebut terjatuh ke tangan Hoa Thian-hong, apalagi setelah ia

berhasil mempelajari ilmu Kiam keng boh kui yang merupakan peninggalan dari Kiam seng

(malaikat pedang) Gi Ko, semua sifat asli ilmu pukulan tersebut baik dalam hal keras lembutnya,

cepat lambatnya dan tipuan atau aslinya telah mengalami perubahan besar.

Jangankan Kiong Gwat-lan sekarang yang bertenaga masih lemah, kendatipun Pia Leng cu, seorang

tokoh Thong thian kau yang pernah tersohor dimasa lalupun tak sanggnp berkutik apa-apa

di tangan Hoa Thian-hong waktu terjadi peristiwa di sungai Huang ho dulu.

Padahal tenaga dalam yang dimiliki Hoa In-liong sekarang belum tentu dibawah tenaga dalam

ayahnya di waktu itu namun semenjak ia berhasil memperoleh warisan Khi khek teng heng sim

boat dari Goa cing taysu yang kemudian digabungkan dengan sim boat keluarga Hoa-nya, hawa

murni ditubuhnya malah mengalir lurus dan terbalik secara tidak beraturan, ini menyebabkan

tenaga pukulan yang dilancarkan pun bisa dilontarkan bisa pula dihisap kembali.

Padahal waktu itu dia hanya bermaksud mencoba-coba, tapi hasil yang kemudian tercapai

ternyata diluar dugaannya, sudah barang tentu orang lain lebih terperanjat lagi dibuatnya.

Hoa In-liong menjulurkan tangan kanannya dan segera merangkul pinggang Kiong Gwot lan,

katanya sambil tertawa terbahak-bahak, “Haaahh….haaah…….haaah…..bagaimana?

Kau cuma menggunakan dua macam kepandaian!”

Dirangkul oleh seorang pemuda dihadapan orang banyak, sedikit banyak malu juga Kiong Gwatlan

dibuatnya, pipinya kontan saja menjadi merah padam, sambil meronta serunya manja,

“Lepaskan aku!”

Sambil tersenyum Hoa In-liong melepaskan gadis itu, katanya kemudian, “Sekalipun permainan

ini cuma termasuk guruan belaka, toh bagaimanapun jua kau sudah kalah, hayo cepat minta

maaf kepada saudara Kongsun!”

Tiba-tiba Kiong Gwat-lan melompat ke Luar dari lingkaran tersebut. Seraya serunya sambil

tertawa, “Sekarang aku masih berada dilingkaran luar, kau kan tidak berhasil menangkapku?”

Hoa In-liong tersenyum.

“Kalau kau tetap mungkir, yaa, apa boleh buat lagi?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

111

Dalam hati ia berpikir lagi, “Dengan tenaga dalamnya sekarang, meskipun ia berada di atas

permukaan dan jaraknya mencapai satu kaki lebih lima depa, seandainya kucoba kepandaianku

lagi, rasanya dia tak akan mampu mempertahankan diri

Tiba-tiba terdengar Kongsun Peng berseru,

Jilid 6

“Hoa Kong Cu, aku hanya mohon maaf kepada nona Kiong atas gegabahanku tadi, dengan

perbuatan Hoa kongcu, bukankah hal ini akan membuatku semakin tak punya muka?”

Sebenarnya Hoa In-liong sudah bersiap sedia untuk melakukan serangan kembali, tapi sesudah

mendengar perkataan itu, diapun mem batalkan niatnya.

Bunyi roda kereta yang berputar berkumandang dari pintu kota, Li Po seng dengan membawa

dua orang pegawai toko penjual peti mati telah datang menghantarkan peti mati, diapun lantas

memerintahkan orang untuk membereskan jenasah tersebut,

Setelah mayat Ou See tiong dimasukkan ke dalam peti, Hoa In-liong menyerahkan uang kepada

pegawai tersebut dan menitahkannya untuk mengubur peti mati di luar kota.

Ia tahu kalau tidak memerintahkan orang untuk melaksanakan tugas tersebut, sudah pasti tak

ada orang lain yang sudi mengurusi mayat Ou See tiong, akibatnya rakyat di sekitar situlah yang

menjadi korban……

Kurang lebih dua puluh kaki baru kereta itu berjalan, tiba-tiba muncul beberapa orang jago persilatan

yang mengikuti dibelakangnya.

Menyaksikan kejadian tersebut, Hoa In-liong lantas berpikir, “Selama hidupnya mungkin

terlampau banyak kejahatan yang dilakukan Ou See tiong, sehingga setelah mati pun begitu

banyak orang yang tak terima dan ikut kekuburan untuk membongkar peti matinya……”

Berpikir sampai disitu, diapun berseru dengan suara lantang, “Saudara sekalian, setelah

orangnya mati dendam pun ikut berakhir, sekalipun ada sakit hati yang bagaimanapun besarnya,

lebih baik disudahi sampai disini saja, apa gunanya kalian mengikuti peti mati itu serta

melakukan perbuatan tercela?”

Setelah mendengar itu, beberapa orang tersebut segera berhenti, mereka ragu-ragu sejenak,

kemudian tiga orang diantaranya pergi meninggalkan tempat itu, sedangkan empat orang lainnya

setelah menjura kepada Hoa In-liong mereka lanjutkan pengejarannya ke arah kereta pembawa

peti mati tadi.

Sekali lagi Hoa In-liong berpikir, “Kejahatan yang dilakukan orang she Ou selama hidupnya

memang kelewatan, rasanya sebelum jenasah itu dicincang menjadi berkeping keping, tak lega

perasaan beberapa orang itu, beginilah akhir dari seorang penjahat kalau melakukan perbuatan

yang kelewat batas.”

Sebagaimana diketahui, Kumbang emas bermain diputik Ou See tiong bukan hanya memperkosa

anak gagis dan istri orang saja, biasanya setelah menikmati kehangatan tubuh perempuanperempuan

itu, korbannya lantas dibunuh dan harta kekayaannya dirampok habis habisan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

112

Tidak heran kalau keluarga korban menjadi dendam bukan kepalang terhadapnya, itulah

sebabnya meski sudah mati orang-orang itu masih tak rela melepaskan musuhnya dengan begitu

saja.

Semula Hoa In-liong mencegah perbuatan orang-orang itu atas dasar kasihan dan welasnya, tapi

melihat ketenangan orang-orang itu diapun merasa tak enak untuk mencegah perbuatannya.

Begitulah, sambil menghela napas diapun mengajak dua bersaudara Kiong dan Demor kembali

ke gedung hadiah Pui Che-giok, sedangkan Coa Cong gi, Kongsun Peng, sebagai besar bekas

anggota Sin ci ping telah menetap semua disitu.

Walaupun dengan perasaan yang kurang tenteram terpaksa Demor mengikuti pula dibelakang.

Sebelum masuk ke dalam ruangan, Hoa In-liong berpaling sambil berkata, “Paman sudah

tinggalkan tempat ini, dalam tiga hari tak mungkin dia akan kembali disini, untuk sementara

waktu kau boleh tinggal disini dengan tenteram.”

Mendengar perkataan itu Demor benar-benar merasa hatinya lega, diam-diam ia

menghembuskan napas panjang.

Terdengar Hoa In-liong berkata lagi dengan serius, “Undanglah Tehan untuk tinggal pula disini,

kalau tidak bila ia sampai bergaul dengan orang jahat, bukan namanya saja yang hancur nama

perguruan ikut ternoda, padahal perguruan pedang pendek kalian sejak Sucoumu sampai kini

sudah memupuk nama besar, kalau sampai ternoda bukankah arwah Siang locianpwe di alam

baka akan menjadi tidak tenang……?”

Diantara tingkatan yang sederajat, Demor paling mengagumi Hoa In-liong, maka ia mengiakan

berulang kali. Menunggu pemuda itu telah selesai berkata dengan tergagap ia baru berseru,

“Suhu sana…..”

Hoa In-liong segera tertawa.

“Soal paman, akan kubicarakan sedapat mungkin tapi selama disini kalian musti mendengarkan

semua perkataanku, sebab kalau tidak paman pasti akan menegur kalian.”

Setelah berhenti sebentar sambil melirik ke arah Kiong Gwat-lan katanya, “Bukankah kau sudah

berkenalan dengan seorang enci? Dia bisa membantumu dengan sepenuh tenaga bila yang

menjadi enci enggan membantu sekecil ampun, lebih baik kau tak usah mengakuinya lagi.

Demor tertegun, lalu sambil menjura kepada KiOng Gwat-lan katanya, “Harap Kiong……cici

banyak memberi petunjuk”

“Oooh…..hal ini tentu saja akan kubantu, tapi kau jangan bingung dulu dengan soal itu, aku

adalah ji-ci disitu masih ada toaci, hayo beri hormat dulu,” kata Kiong Gwat-lan sambil tertawa.

Demor benar-benar maju ke depan dan memberi hormat kepada Kiong Gwat hui, katanya, “Siau

te menjumpai toaci!”

Kiong Gwat hui segera balas memberi hormat, ia seperti adiknya yang binal, dia suka bergurau,

bagaimanapun juga sifatnya yang pendiam dan halus membuatnya bertindak menurut aturan.

Setelah itu Demor baru berkata, “Sekarang juga aku hendak membatalkan kamar dan mengajak

sute datang ke mari….”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

113

Ia putar badan dan berlalu dari situ.

Hoa In-liong hanya tersenyum, bersama rekan lainnya mereka masuk ke dalam gedung.

Sesudah berada di ruang tengah, Li Po seng, dua bersaudara Oh sekalian bertanya, “Apa masih

ada ruangan kosong?”

Dua orang pelayan itu berpikir sebentar kemudian bayangan yang ada di sebelah kiri berkata,

“Disisi sebelah barat masih ada sebuah gedung kecil, bunga Botan sedang mekar-mekarnya

disana, budak pikir nona berdua pasti akan senang dengan suasana disini.”

Hoa In-liong manggut-manggut sambil berpaling dia lantas berkata, “Adik berdua, coba lihat dulu

kamar tersebut, puas atau tidak? Kalau dirasakan kurang cocok katakan saja kepadaku, nanti

kupikirkan tempat yang lain!”

Kiong Gwat hui cukup tahu kalau pemuda tersebut amat sibuk, katanya dengan suara minta

maaf, “Kami tentu sudah mengganggu banyak diri ji-ko!”

Hoa In-liong segera tertawa, katanya.

“Memang lebih baik kalau Kioang toa moay kerasan tinggal disini, sebagai sesama persaudaraan,

lebih baik kata-kata sungkan tak usah dibicarakan lagi.”

“Kiu mengatakan gedung ini sebagai sumbangan dari orang lain, siapakah yang begitu baik hati

dengan berbuat demikian kepadamu?” tiba-tiba Kiong Gwat-lan bertanya.

Hoa In-liong termenung dan berpikir sejenak, lalu jawabnya, “Pernahkah kau dengar tentang

Cian li kaucu?”

Kiong Gwat-lan segera mencibirkan bibirnya sambil tertawa.

“Huuh…….! Untuk memberi jawaban atas pertanyaan itupun musti melewati dulu suatu

pemikiran yang serius” katanya, “jangan Kuatir aku pasti tak akan mengemukakan perasaanku.”

Ucapan itu jelas bernada lain, dan kesannya terhadap perkumpulan Cian li kau juga kurang

begitu bagus.

Perkataan itu diutarakan dengan cepat, Hoa In-liong mau mencegah tapi tidak sempat lagi,

dengan kening berkerut ia lantas berpikir, “Waaah….. payah ini, kesulitan telah tiba!”

Betul juga, tiba-tiba kedengaran suara tertawa merdu berkumandang dari belakang ruangan,

me-nyusul munculnya Cia Sau-yan, sambil mengawasi Kiong Gwat-lan dari atas sampai ke

bawah, kemudian dengan senyum tak senyum ia berkata, “Entah bagaimanakah pandangan

nona ini terhadap perkumpulan Cian li kau?”

“Aaah…. cuma urusan kecil kenapa musti di tanyakan lebih lanjut……?” tukas Hoa In-liong.

Dengan kening berkerut Cia Sau-yan segera berkata, “Semenjak didirikan dalam dunia persilatan,

perkumpulan kami selalu mempunyai pandangan yang luas serta jiwa yang besar untuk menilai

seseorang, siau sauya tak usah kuatir, memangnya orang-orang Cian li kau pikir sepicik dan

sesempit itu jalan pemikirannya?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

114

Dibalik ucapan tersebut lamat-lamat diapun menuduh Kiong Gwat-lan sebagai seorang gadis

berjiwa sempit.

Sebagai seorang gadis pintar, sudah barang tentu Kiong Gwat-lan dapat menangkap arti dari

ucapan tadi, segera ia tertawa angkuh.

“Huuuh….. apa salahnya kalau kuucapkan keluar?”

Sesudah berhenti sebentar, ia melanjutkan, “Seluruh anggota perkumpulan kalian sejak dari

nona sekalian sampai para dayangnya semua berparas cantik jelita, lagipula berdaya tarik yang

merangsang orang, Kiong Gwat-lan hanya kagum akan kehebatan kalian itu, lain tidak”

Nada dibalik perkataan itu jelas mengatakan bahwa orang-orang Cian li-kau semuanya genit dan

sesat, pandai merayu orang lelaki dan terdiri dari perempuan-perempuan tidak baik.

Diam-diam Kiong Gwat hui mendepakkan kakinya berulang kali ke atas tanah, tapi sebagai

seorang gadis yang lemah lembut, ia merasa kurang pantas untuk turut serta dalam pembicaraan

itu.

Betul juga, paras muka dua orang dayang yang berada disisi ruangan segera berubah hebat,

mereka segera menunjukkan wajah gu sar dan tak senang hati.

Sedang Cia Sau-yan sedikitpun tidak marah, malahan sambil tertawa manis katanya,

“Perkumpulan Cian li-kau memang khusus memikat orang dengan kecantikan anggotanya, jual

senyum menarik simpatik, padahal hal tersebut tak perlu terlalu diherankan.”

Kiong Gwat-lan malah tertegun dibuatnya, diam-diam ia berpikir, “Sikapnya begitu biasa dan

seolah olah tak pernah terjadi suatu kejadian apapun, tampaknya memang jiwanya yang terlalu

sempit dan tak bisa menahan diri…..”

Timbul rasa sesalnya di dalam hati, cuma dengan wataknya yang keras kepala, ia merasa apa

yang telah diucapkan tak mungkin bisa dirubah kembali.

Tiba-tiba muncul He lotia dari luar dengan langkah tergesa-gesa, kepada Hoa In-liong lapornya,

“Ji kongcu, diluar pintu datang seorang imam yang mengatakan hendak mencari derma!”

“Langsung layani saja orang itu,” sela Cia Sau-yan,! “saat ini Hoa kongcu sedang sibuk, mana ia

punya waktu untuk mengurusi segala urusan tetek bengek?”

Ho lotia segera gelengkan kepalanya berulang kali.

“Tidak akan segampang itu!” serunya, “sebab si imam mengatakan hanya akan mencari derma

dari ji kongcu seorang…..”

Mendengar itu Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak.

“Haaahh….haaahhh……haaahhh… tidak kusangka ada orang yang tertarik untuk menderma

diriku, sungguh suatu kejadian yang sulit ditemui, siapa tahu setelah mendengar aku dia betulbetul

akan pergi? Mari kita tengok keluar!”

lapun lantas beranjak dan keluar dari ruangan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

115

Dengan kejadian ini, tanpa terasa telah memecahkan pula situasi kaku antara dua bersaudara

Kiong dengan Cia Sau-yan.

Dengan perasaan ingin tahu, tiga orang gadis itu pun mengikuti di belakang Hoa In-liong menuju

keluar pintu.

seorang tosu tua berwajah merah bercahaya sedang berdiri di depan pintu gerbang, wajah tosu

itu amat istimewa, selain wajahnya seperti bayi, rambutnya putih sepanjang pinggang, alis

matanya yang putih mencapai tiga inci panjangnya, ia mengenakan sebuah jubah imam yang

banyak tambalannya, sebuah senjata hud-tim ada di tangan kanan, sedang sebilah pedang antik,

tersoren dipunggung.

Ketika Hoa In-liong munculkan diri, dengan sinar mata tajam tosu itu memperhatikan si anak

muda itu tajam-tajam, tampaknya ia sangat menaruh perhatian kepadanya.

Hoa In-liong segera tersekut sambil menjula, sapanya, “Bolehkah aku tahu nama tootiang?”

Bukan menjawab, tosu tua itu malah balik bertanya, “Apakah kau adalah Hoa In-liong, putra dari

Shian cu kiam Hoa Thian-hong?”

“Betul, ada urusan apa tootiang datang ke mari?”

Diluar ia menjawab demikian, sementara dihati kecilnya diam-diam pemuda itu berpikir, “Sudah

jelas imam tua ini memiliki serangkai ilmu silat yang sangat lihay, padahal kudengar orang bilang

banyak kaum iblis yang bermunculan kembali belakangan ini, bagaimanapun jua aku musti lebih

waspada dan berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan yang tidak diinginkan,…………”

Sementara itu tosu tua tadi telah berkata “Adapun maksud kedatangan pinto adalah untuk

menyelesaikan suatu pekerjaan mulia.”

“Oooh……..! Pekerjaau mulia ini pastilah suatu usaha untuk kesejahteraan umat manusia, aku

bersedia untuk mendengarkan penje lasannya lebih jauh” kata Hoa In-liong tertawa.

“Huuh…. berlagak main kuasa, bergaya sebagai harimau, padahal tak lebih hanya seperti

sekumpulan lalat atau sekumpulan semut yang berebut makanan, apakah masih belum juga

mau sadar?” tegur imam beralis putih itu mendadak.

“Aku tidak mengerti apa yang di maksudkan dengan tootiang?” tanyanya.

Imam itu semakin mengerutkan dahinya, mencorong sinar tajam dari balik matanya, lalu berkata

dengan suara keras, “Pinto hanya ingin tahu, karena persoalan apa kau menimbulkan gelombang

besar di-kota Si ciu ini? Apakah perbuatanmu itu tidak lebih hanya ingin menciptakan banjir saja

dalam dunia persilatan?”

Hoa In-liong tertawa tawa.

Sepantasnya jika perkataan tootiang ini di tujukan kepada pihak Hian-beng-kau, Mo kau atau Kiu

lin kau, seandainya mereka bersedia melepaskan ambisinya untuk merajai dunia persilatan,

secara otomatis akupun akan lepas tangan.

Setiap persoalan pasti akan menjadi pertikaian seandainya ada lawan yang sama tangguhnya,

coba kalau keluarga Hoa mengundurkan diri dari dunia persilatan, bukankah pertarungan ini bisa

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

116

terhindari? Setiap kejadian pasti ada sebabnya, lagipula keluarga Hoa toh sudah hampir dua

puluh tahunan memimpin dunia persilatan?

Hoa In-liong tertawa terkekeh.

“Heeehh… .heeehh…..heeeehh…..perkataan totiang memang ada benarnya, sayang aku hanya

manusia yang tak punya nama serta kedudukan, mungkin hanya akan menyia-nyiakan pula

pembicaraan dari tootiang.”

Tampaknya imam beralis putih itu dibuat gusar oleh ucapan tersebut, tiba-tiba ujarnya dengan

suara dalam.”

“Kalau kau terus menerus tak tahu diri, pinto pun tak ingin banyak berbicara lagi, bagaimana

kalau dengan pertarungan, kita ten tukan menang kalahnya?”

Hoa In-liong kembali berpikir, “Sudah jelas maksud kedatangan dari tosu tua ini adalah mencari

gara-gara, memang ada baiknya kalau kucoba dulu sampai dimanakah taraf kepandaian silat

yang dimilikinya.”

berpikir demikian, selangkah demi selangkah ia berjalan menuju kepelataran rumah.

“Bocah muda sambutlah seranganku ini!” imam beralis patih itu segera membentak nyaring,

senjata hud-timnya dikebut ke muka menyongsong datangnya tubuh Hoa In-liong.

“Tosu ini benar-benar tak tahu adat!” batin Hoa In-liong.

Tanpa meloloskan senjatanya lagi dia berkelit ke samping, begitu lolos dari babatan hud-timnya

itu, telapak tangannya kembali dibacokkan kedepan………

Tosu beralis putih itu mendengus dingin, tiba-tiba hud-timnya diputar balik menyerang jalan

darah penting dibawah ketiak si pemuda itu, sementara jari tangan kirinya seperti tombak

langsung menyodok ke lengan musuh, satu jurus dengan dua serangan, suatu gerakan

kombinasi yang amat lihay.

Hoa In-liong sekali lagi miringkan dadanya kemudian menerjang kemuka, dengan jurus Ji yongbu-

wi (dua kegunaan tanpa kedudukan) ia lepaskan sebuah serangan balasan.

Karena tak sempat untuk menghindarkan diri dari ancaman tersebut, terpaksa secara beruntun

tosu beralis putih itu merebah dan jurus serangannya untuk membendung tibanya ancaman.

“Hmm…… memang tak malu menjadi putra Thian cu kiam!” pujinya dengan suara lantang.

Tiba-tiba ia mundur delapan sembilan depa dari posisi semula, hud-timnya dibuang ke tanah, sementara

Hoa In-liong telah menghentikan serangannya, imam beralis putih itu telah melololoskan

pedangnya sambil berkata dengan tertawa, “Ilmu pedang keluarga Hoa tiada tandingannya

dikolong langit, pinto dengan tak tahu diri ingin mencoba beberapa jurus!” Hoa In-liong kembali

berpikir “Tampaknya ia lebih mengandalkan ilmu pedangnya, aku musti berhati-hati…..”

Pelan-pelan pedangnya pun diloloskan keluar.

“Silahkan tootiang!” serunya kemudian.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

117

Tosu beralis putih itu tidak sungkan-sungkan lagi, ia segera menerjang maju ke depan, terasa

serentetan cahaya tajam berkelebat lewat dan tahu-tahu ia sudah menyerang tubuh Hoa Inliong.

Si anak muda itu mengeryitkan alis matanya lalu membentak, “Ilmu pedang bagus!”

Pedangnya diputar sedemikian rupa, lalu melepaskan serangan balasan ke depan.

“Traaang! Traaang! Traaang!” secara beruntun kedua orang itu saling beradu senjata sampai tiga

kali, sedemikian kerasnya benturan itu menyebabkan timbulnya serangkaian suara dentingan

yang disertai dengan percikan bunga api.

Dalam waktu singkat, kedua orang itu sudah terlibat dalam suatu pertarungan sengit, lima enam

puluh jurus lewat tanpa terasa.

Ilmu silat kedua orang itu sama-sama telah mencapai puncak kesempurnaan, dibandingkan dua

bersaudara Kiong dan Cia Sau-yan sekalian boleh dibilang mereka masih terpaut jauh sekali.

Terlihat dua orang itu bertarung dengan kecepatan luar biasa, cahaya pedang yang menyilaukan

mata, membuat mata terasa amat ter tusuk, ini semua membuat para penonton jalannya

pertarungan menjadi kuatir dan merasakan hatinya berdebar keras.

Pertarungan semacam ini boleh dibilang merupakan suatu pertarungan yang luar biasa, dengan

ce-pat kejadian ini menarik perhatian orang banyak…

Sekarang Hoa In-liong telah mengetahui bahwa ilmu silat yang dipergunakan imam beralis putih

itu adalah kepandaian silat aliran Tong thiao kau, satu ingatan lantas melintas dalam benaknya.

“Waah……..jangan jangan dia?” pikirnya.

Berpikir sampai disitu, tenaga dalamnya semakin dihimpun lagi terutama pada ketajaman pendengarannya,

ia dapat mendengar suara langkah kaki dari tosu tersebut, sekalipun langkahnya

enteng dan pelan seperti langkah dari seorang lihay, tapi diantara benturan pedang yang

memekikkan telinga, ia toh sempat menangkap juga suara benturan kayu dengan batu diantara

langkah kakinya.

Hoa In-liong semakin yakin bahwa dugaannya tidak meleset, tiba-tiba ia membentak keras,

“Apakah tootiang adalah Tong-thian kaucu?”

Mendengar teguran itu, tosu beralis putih itu segera melepaskan sebuah serangan gencar lalu

melompat mundur ke belakang, gumamnya dengan amat sedih, “Aaai……sudah tua, sudah tua,

aku memang sudah tak berguna lagi……”

Kepalanya didongakkan, kemudian memberi hormat kepada Hoa In-liong, katanya lebih jauh,

“Enghiong memang selalu muncul dikala masih muda, dengan usia Hoa kongcu sekarang

ternyata sanggup menandingi pinto dengan posisi seimbang, pinto merasa bersyukur sekali atas

keberhasilan Hoa tayhiap mempunyai keturunan yang bisa diandalkan!”

Tiba-tiba Bu tim tojin melompat keluar dari kerumunan orang banyak, lalu teriaknya keras-keras,

“Suhu!”

la Segera menjatuhkan diri berlutut di depan tosu beralis putih itu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

118

Menyusul kemudian muncul kembali dua orang imam setengah umur yang menggembol pedang,

kedua orang itupun menjatuhkan diri berlutut di depan imam beralis putih itu.

Menyaksikan kesemuanya itu, imam beralis putih itu menghela napas panjang, sambil ulapkan

tangannya, ia berkata, “Bagaimana kalian semua?”

Setelah memberi hormat Bu-tim totiang sekalian bangkit berdiri.

Sekarang Hoa In-liong sudah tidak sangsi lagi, dia tahu imam beralis putih yang berada

dihadapannya sekarang tidak lain adalah salah satu diantara tiga besar yang pernah

menggetarkan dunia persilatan pada dua puluh tahun berselang, yakti Thian Ik-cu, ketua dari

perkumpulan Tong thian-kau.

“Kemungkinan besar kedatangannya kali ini adalah bersahabat bukan bermusuhan…. pikirnya.

Maka sambil menyarungkan kembali pedangnya, ia lantas menjura seraya berkata, “Jalan raya

tidak pantas sebagai tempat bercakap-cakap, silahkan masuk totiang, ijinkanlah boanpwe

memberi hormat kepadamu!”

Thian Ik-cu manggut-manggut, bersama Hoa In-liong lantas masuk keruang dalam, sementara

Bu-tim tootiang suheng-te beserta dua bersaudara kiong, He lotia dan Cia Sau-yan sekalian

mengikuti dibelakangnya.

Setelah masuk ke dalam ruangan dan mengambil tempat duduk, Thian Ik-cu ternyata menolak

untuk menempati kursinya sebagai seorang angkatan tua, dalam keadaan demikian terpaksa Hoa

In-liong harus menerimanya dengan pembagian atas tuan rumah dan tamu.

Bu-tim tojin suheng-te berdiri mengikuti dibelakang Thian Ik-cu.

Sesudah duduk, Thian Ik-cu mulai berkata, “Pinto pernah berpesan kepada muridku bahwa aku

tiada bermaksud untuk turun gunung lagi, tapi sekarang aku melakukan apa yang bertentangan

dengan ucapanku itu, mungkin Hoa kongcu akan menganggap pinto berbuat demikian karena

ada rencana untuk menerbitkan kembali keonaran dalam dunia persilatan??”

Hoa In-liong segera tersenyum.

“Boanpwe tidak berani menggunakan hati seorang siaujin untuk menuduh orang yang bukanbukan!”

Mendadak terdengar seseorang tertawa tergelak sambil berseru, “ Haaahh…..haaahh…..haaahh…

hidung kerbau tua itu berbicara lain diluar lain dihati, lohu tidak percaya kalau kau betul-betul

sudah bertobat dan tak ingin melanjutkan kembali ambisimu untuk merajai dunia persilatan.”

Diantara berkumandangnya perkataan itu, dari balik ruangan muncullah Ting Ji-san serta Ho-

Keh-sian.

Thian Ik-cu segera bangkit sambil memberi hormat, kemudian katanya sambit tertawa.

“Haaahhh….haahh.. .haaahh…. setelah berjumpa dengan kenalan lama, sekalipun pinto

bermaksud jahat, rasanya juga sulit untuk dilaksanakan lagi.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

119

Sebagaimana diketahui, Ting Ji sao serta Ho-Kee sian adalah musuh bebuyutan dari Tong thian

kau dimasa lampau, kedua orang itu memang tidak percaya dengan niat Thian lk cu, sebab itu

buru-buru mereka menyusul datang setelah mendapat laporan.

Menanti kedua orang itupun sudah ambil tempat duduk, Thian Ik-cu baru berkata, “Dengan ular

sakti menggigit hati, pihak Mo kau berhasil menguasai sejumlah jago lihay, apakah Hoa kongcu

telah mengetahui persoalan ini?”

Hoa In-liong segera tersenyum. “Hoanpwe sendiri pun pernah merasakan akibat dari ilmu ular

sakti menggigit hati itu katanya.

Mendengar jawaban tersebut, Thian Ik-cu agak tertegun, dengan sepasang matanya yang tajam,

diawasinya raut wajah anak muda itu tajam-tajam, kemudian katanya lagi, “Hoa kongcu sama

sekali tidak menunjukkan gejala keracunan ular beracun itu, apatah ibumu telah berhasil

memunahkan pengaruh racun ular sakti menggigit hati?”

“Ibuku sendiri juga kurang begitu yakin dengan kemampuannya untuk memunahkan pengaruh

racun itu,” jawab Hoa In-liong secara gamblang dan terus terang, “adapun boanpwe bisa

memunahkannya lantaran secara tidak sengaja aku berhasil mendesak racun itu ke dalam jalan

darah Keng gwa-khi-hiat, kemudian dari situ racun tadi pelan-pelan di tempa sampai lenyap”

Ihian lk cu segera menunjukkan perasaan kecewa, katanya, “Aaai… .padahal ibumu sudah

menjadi ahli waris dari Kiu tok-sian ci, kalau dia-pun tidak sanggup, rasanya di dunia ini tak ada

orang lain lagi yang sanggup memunahkan pengaruh racun itu.”

“Tapi kejadian ini berlangsung kurang lebih tujuh delapan bulan berselang,” sela Hoa In-liong

cepat, “sedangkan ibuku selalu ber usaha untuk menemukan obat untuk memusnahkan

pengaruh racun tadi, siapa tahu kalau sekarang ia telah berhasil dengan usahanya? Boanpwe

mempunyai obat mustika yang bisa memunahkan pengaruh racun ular -sakti tersebut,”

“Kalau sudah tersedia obat mujarabnya, pinto pun tak usah kuatir lagi…..”seru Thian Ik-cu

kemudian dengan kegirangan.

Diam-diam Hoa In-liong berpikir, “Dengan hasil latihan selama ini, sepantasnya kalau luapan

emosi dapat dikendalikan, tapi terhadap masalah ini ia tak bisa menyembunyikan rasa murung

dan gembiranya, ia menunjukan betapa seriusnya masalah tersebut, jangan jangan dikarenakan

adanya sekelompok jago lihay yang keracunan itu?”

***

Sementara itu Thian Ik-cu telah termenung beberapa saat lamanya tiba-tiba ia berkata, “Hoa

kongcu, apakah kau bersedia mempercayai pinto?”

“Maksud tootiang?” Hoa In-liong balik bertanya sesudah tertegun sejenak lamanya.

Dengan wajah serius Thian Ik-cu berkata, “Berbicara sesungguhnya semua perbuatan dan tindak

tanduk Tong hian kau dimasa lalu adalah perbuatan yang menimbulkan kebencian dan kutukan

orang banyak, tiga puluh tahun berselang dalam pertemuan Pak beng hwe pun pinto pernah

mengerubuti dan melukai leluhur Hoa kongcu, sekalipun atas keberesan jiwa ayahmu ia memberi

sebuah jalan kehidupan untukku, aai….! Siang maupun malam pinto selalu merasa bahwa

perbuatanku ini sangat berdosa…..”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

120

Perkataan itu diucapkan pelan-elan dan penuh dengan perasaan menyesal, bahkan sama sekali

tidak menunjukan kalau ucapan itu hanya pura-pura atau alasan saja.

Andaikata tidak disaksikan dengan mata kepala sendiri, siapa yang menduga kalau seorang gembong

iblis yang pernah di benci orang dulu, sekarang benar-benar telah bertobat dan menyesali

semua perbuatannya?

“Urusan yang sudah lewat biarkan lewat, kenapa tootiang mesti mengungkapnya kembali?”

Sesudah berhenti sebentar, dengan nada seperti baru memahami, ia berkata lebih jauh, “Oooh.

..tampaknya karena boanpwe tidak menjawab langsung pertanyaan tootiang maka kau berkata

begitu, padahal siapa bilang kalau boanpwe tidak mempercayai dirimu?”

“Kalau begitu, pinto lah yang sudah terlalu banyak curiga,” kata Thiao Ik-cu tertawa lirih.

Kemudian dengan wajah serius katanya lebih lanjut, “Kalau toh Hoa kongcu mempercayai pinto,

baiklah pinto berbicara secara terus terang, dapatkah Hoa kongcu membawa obat obat mustika

itu dan mengikuti pinto untuk menyelamatkan kawan jago lihay yang keracunan itu…..?”

Ketika ucapan tersebut diutarakan keluar, dua bersaudara Kiong dan Cia Sau-yan masih tidak

merasa seberapa mereka mengira kebusukan hati Tang thian kaucu sesungguhnya tidak seperti

apa yang disiarkan dalam dunia persilatan selama ini.

Berbeda dengan Ting Ji san dan Hoa Kee si-an yang termasuk orang “Lama” mereka tertegun

dan saling berpandangan sekejap dengan wajah ragu-ragu.

Dalam anggapan mereka tak nanti, Thian Ik-cu akan mempunyai pikiran untuk menolong orang,

kedua orang itu justru kuatir kalau tosu tua itu hanya mempergunakan kata-kata manis untuk

membohongi Hoa In-liong, kemudian di tengah jalan membunuhnya serta merampas obat

mustika miliknya.

Tiba-tiba Tiang Ji san berkata, “Diantara kawanan jago lihay kena dikendalikan musuh itu,

sesungguhnya terdapat jagoan macam apa saja, sehingga tootiang begitu memandang serius

pada urusan ini?”

Thian Ik-cu bukan orang kemarin sore, sudah barang tentu diapun mengetahui akan kecurigaan

Ho Kee sian serta Ting Ji san, iapun tertawa hambar.

“Menurut apa yang pinto ketahui, diantaranya terdapat ciangbunjin dari keluarga Wi di kota Wan

ciu……. sam suan ni (tiga singa sakti) Can Kian-liong dan sebagainya, sekalipun secara

dipaksakan masih bisa terhitung jagoan kelas satu, pinto masih belum tergerak hatinya tapi pinto

justru menemukan bahwa salah seorang diantaranya justru memiliki ilmu silat jauh di atas

kepandaian pinto sendiri.”

Agak tergerak perasaan semua orang setelah mendengar perkataan itu, sebagaimana diketahui

kedudukan Thian Ik-cu Pek Siau thian dari perkumpulan Sin-ki-pang, Jin Hian dari Hong im hwee

disebut tiga kekuatan besar dalam dunia persilatan tempo dulu, ilmu silat mereka boleh dibilang

sudah mencapai tingkatan yang amat tinggi.

Dalam pemunculan untuk kedua kalinya muski kepandaian mereka masih belum sanggup menandingi

kehebatan dari Tang Kwik siu maupun ketua dari Hian-beng-kau, namun boleh dibilang

juga cukup hebat.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

121

Tapi kenyataanya sekarang, pihak Mo kau berhasil menguasai begitu banyak jago lihay dari dunia

pesilatan, boleh dibilang kejadian ini sangat mengejutkan siapa pun.

Diam-diam Hoa In-liong berpikir.

“Jangan-jangan yang dimaksudkan adalah Coa? Hanya dia seorang yang memiliki kepandaian sedahsyat

itu, apalagi sebagai keturunan dari Bu seng (malaikat ilmu silat)……”

Berpikir sampai disitu, diapun lantas bertanya, “Tootiang, macam apakah raut muka orang itu?”

Ketika kesana, pinto saksikan orang itu penuh bercambang lebat, jelas tampaknya sudah

terkurung lama sekali mukanya kurang begitu jelas, tapi kalau dilihat dari rambutnya hitam pekat

serta nada suaranya, ia jelas ia masih muda.”

“Kalau dilihat dari usianya, memang rada mirip dengan empek Cou…” pikir Hoa In-liong.

Sekalipun ia tidak tahu berapakah usia Coa Go-an hau tahun ini, tapi atas dasar usia Kwan bun

sian, ia tahu kalau umurnya kira kira setengah baya……

Ketika Thian Ik-cu menyaksikan pemuda itu lama sekali membungkam, sambil menghela napas

lantas katanya, “Apakah Hoa kongcu merasa penjelasan pinto kurang lengkap…..”

“Oooh tidak, harap tootiang jangan salah paham,” buru-buru Hoa In-liong menukas, “sebenarnya

Boanpwe bermaksud menitipkan obat mustika itu kepada tootiang, tapi setelah mendengar

uraian tadi terpaksa aku harus mengunjunginya sendiri, entah lang Kwik siu menyekap kawanan

jago lihay itu dimana?”

“Tempat itu terletak di sebelah kiri kota Thong-shia, letaknya termasuk diwilayah Ci.

“Tidak heran kalau beberapa kali kuselidiki kebun keluarga Can yang dihuni Tang Kwik-siu sama

sekali tidak menempatkan hasil apapun, rupanya Tang Kwik-siu telah menyembunyikan kawanan

jago itu di atas bukit Cian sani…….”

“Lohu juga ingin ikut!” tiba-tiba Ho Kee-sian menimbrung.

Dengan kening berkerut Hoa In-liong berpaling ke arahnya, lalu berkata, “Empek Ho, bekas anak

buah Sin ki-pang berada dibawah pimpinanmu, dalam menghadapi perserikatan tiga

perkumpulan aku sangat mengandalkan kekuatan kalian semua, mana boleh bertindak secara

sembarangan dan gegabah?”

“Lohu seorang diri tanpa sanak tanpa keluarga, apapun urusannya bukan menjadi

tannggunganku, biar aku saja yang menemanimu,” sela Ting Ji san pula dengan suara dingin.

Kembali Hoa In-liong gelengkan kepalanya berulang kali.

“Aku sangat membutuhkan bantuan cian-pwe untuk mengadakan kontak dengan kawanan agar

locianpwe tak boleh sembarangan bertindak,” katanya dengan cepat.

Ting Ji san segera mendengus dingin.

“Kau…..! Kau sebagai komandan yang memegang tampuk pimpinan, kenapa pula boleh

sembarangan bertindak?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

122

Perlu diterangkan di sini, sekalipun Hoa In-liong adalah seorang pemuda yang binal dan nampak

aneh, kendatipun para cian-pwe menatap keren dan tegas kepadanya, padahal mereka semua

amat menyayanginya, hakekatnya pemuda itu merupakan naga diantara manusia, sudah barang

tentu mereka tak akan tega membiarkan, ia pergi seorang diri mendampingi seorang jago lihay

yang sudah tersohor karena kelicikan serta kekejiannya.

Hoa In-liong tertawa, katanya, “Tiang locianpwe terlalu menyanjung diriku, padahal sekalipun

kehilangan boanpwe seorang tapi begitu banyak jago lihay berhasil dilepaskan, bukankah hal ini

justru lebih menguntungkan?”

Diluar ia berkata begitu, sementara dengan ilmu menyampaikan suara ia berbisik, “Thian Ik-cu

benar-benar ada maksud untuk bertobat, tidak seharusnya kita selalu mencurigainya sehingga

menggusarkan hatinya dan malah membuatnya berpikiran jauh, kalau sampai begitu jadinya kita

menyesal sepanjang masa. Lagipula locianwee juga tak akan bertindak sembarangan, bukan

suatu pekerjaan, yang gampang bagi Thian Ik-cu jika ingin mencelakai aku!”

Thiang jisan dan Ho Kee sian lalu terbungkam dalam seribu basa, sebabnya mereka masih kuatir

kalau Thian Ik-cu menaruh maksud jahat terhadap pemuda itu, tapi bila teringat akan

kecerdasan serta, kemampuan ilmu silatnya, hati merekapun menjadi lega.

Hoa In-liong segera bangkit berdiri, katanya, “Persoalan ini tak bisa ditunda-tunda lagi, harap

tootiang beristirahat sejenak, bila hari sudah gelap nanti kita baru berangkat”

Lain kepada Cia Sau-yan dan dua bersaudara Kiong, katanya pula, “Kepergianku ini harus

dilakukan diluar dugaan, jejakpun musti dirahasiakan, makin sedikit orang tahu semakin baik,

dengan de mikian dalam lima sampai tujuh hari, belum tentu Tang Kwik-siau akan tahu

kemanakah aku telah pergi.”

Cia Sau-yan berpikir sebentar, lalu ujarnya, “Kalau memang begitu, lebih baik aku berangkat

lebih dulu dan membawa kuda tersebut keluar kota, kau boleh berganti kuda di kota Siok sian,

Luciu serta Hway-wan, di mana berada kantor-kantor cabang kami. Sekalipun menunggang kuda

agak pelan sedikit, jika dibedal secepat-cepatnya pun tidak akan sampai lambat sekali, apalagi

sepanjang jalan pasti ada orang yang coba menyergapmu, menjaga keselamatan diri adalah

penting sekali.”

Hoa In-liong diam-diam merasa kagum sekali dengan kecermatan jalan pemikirannya, ia

manggut-manggut.

“Kalau begitu laksanakanlah!”

Thian ik cu melirik sekejap wajah Cia Sau-yan, tiba-tiba dengan paras muka berubah, katanya

dengan suara dalam, “Nona cilik, apa hubunganmu dengan Ku Ing ing?”

Cia Sau-yan amat terkejut, pikirnya, “Tajam benar sepasang mata orang ini, tidak malu ia

disebut, salah seorang pimpinan jago persilatan.”

Karena sadar bahwa tak mungkin persoalan itu dirahasiakan lagi, dengan ketenangan hati ia

memberi hormat lalu jawabnya, “Guruku adalah Pui Che giok, boanpwe Cia Sau-yan menjumpai

cianpwe!”

“Kini Ku Ing ing ada dimana? Tentunya kau tahu bukan?” kembali Thian Ik-cu bertanya.

Cia Sau-yan tertawa genit.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

123

Dengan memberanikan diri boanpwe ingin berkata, bahwa cianpwe meski sudah lama hidup

mengasingkan diri, ternyata jiwa keduni awianmu belum juga hilang, kalau memang begitu, tak

ada salahnya kalau kau membalas sakit hati itu di atas diri cianpwe.

Tiba-tiba Thian Ik-cu menghela nafas panjang, kepada Hoa In-liong, Ting Ji-san dan Ho Kee sian

ia memberi hormat, lalu katanya

“Bila pinto sudah bertindak kasar, harap saudara sekalian jangan mentertawakannya.”

Aaah…… sudah sewajarnya kalau manusia bersikap demikian,” kata Hoa In-liong sambil tertawa.

Thian Ik-cu gelengkan kepalanya berulang kali, ia lantas berpaling ke arah Cia sau-yan sambil

katanya, “Nona ciiik, tajamm amat selembar mulutmu yaa, pinto memang masih sangat

terpengaruh oleh keduniawian tapi tak nanti aku akan me nyulitkan seorang cianpwe seperti kau.

Lagi pula Hoa tay hiap telah memberi sebuah jalan hidup baru kepadaku, bila pinto masih ingat

terus dengan sakit hati lama, bukankah aku betul-betul tak pantas menjadi manusia?”

Sesudah berhenti sejenak, ia menambahkan lebih jauh, “Tolong sampaikan kepada Giok teng hu

Jin, semua hutang piutang dimasa lampau ku hapuskan sampai disini saja.”

Berbicara sampai disini, ia pun tidak berkata-kata lagi dan duduk dikursi sambil memejamkan

mata.

Ketika Ling Ji san dan Hoo kee sian mendengar ketulusan hatinya dalam pembicaraan tersebut,

kecurigaan mereka pun jauh berkurang banyak.

Tempo dulu, Giok teng hujin Ku Ing ing mendapat perintah dari Kiu im kaucu untuk menyusup ke

dalam perkumpulan Thong thian kau sebagai mata mata, kemudian ia pun merintahkan Pui Che

giok dengan jalan menyaru membunuh putra Jin Hian serta mencuri pedang emas yang

mengakibatkan per-pecahan diantara tiga perkumpulan besar.

Kemudian dalam pertemuan, thian ciau tay hwee, Thian Ik-cu menanam obat peledak dalam

lembah Cu bu kok dengan maksud jika kemenangan gagal diraih, dia akan menyulut sumbu

bahan peledak dan meledakkan seluruh anggota persilatan yang berkumpul disana.

Tapi kemudian, rencana besarnya itu berhasil digagalkan oleh Giok teng hujin, sudah barang

tentu dendam sakit hati ini luar bi asa besarnya, jadi seandainya Thian Ik-cu dapat melepaskan

niatnya untuk membalas sakit hati ini, berarti pula hatinya benar-benar sudah bertobat.

Menjelang malam, Hoa In-liong dan Thi an Ik-cu segera menggunakan ilmu meringan kan

tubuhnya berangkat ke kota sebelah selatan dimana He lotia dan Cia Sau-yan telah menyiapkan

kuda, air minum serta rangsum kering…….

Setelah mengucapkan terima kasih, berangkatlah kedua orang itu melakukan perjalanannya.

Sepanjang jalan menuju keselatan, mereka selain memilih jalanan yang sepi dan terpencil, yang

mereka lewati sebagian besar adalah dusun kecil, tak seorang jago persilatan pun yang dijumpai.

Malam ketiga, mereka telah tiba diluar kota Lu-ciu, setelah berganti kuda di kantor cabang Ci li

kau, mereka tidak masuk kota melainkan menginap di sebuah rumah penginapan diluar kota.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

124

Penginapan itu mencakup pula rumah makan kecil, ruangannya tidak terlampau luas dan terdiri

dari empat lima buah meja, dua orang itu memilih tempat yang jauh dari keramaian dan memilih

hidangan.

Sementara sedang bersantap, tiba-tiba Hoa In-liong mendengar Thian Ik-cu sedang berbisik

dengan ilmu menyampaikan suara.

“Hoa tiongcu, sudah kau perhatikan dua orang yang baru masuk ke warung itu?”

Hoa In-liong segera memperhatikan secara diam-diam, ia dengar langkah kaki dua orang itu

amat lirih jelas merupakan seorang persilatan yang berilmu tinggi

karena ia duduk membelakangi pintu, maka pemuda itu lantas berpalingg sekejap ke belakang,

terlihat dua orang kakek sedang melangkah masuk ke dalam warung.

Orang di sebelah kanan adalah seorang kakek bermuka merah dengan jidat yang menonjol

tinggi, pipinya sempit dan rambutnya digulung menjadi satu di atas kepala, jubahnya berwarna

abu abu.

Sedang orang di sebelah kiri adalah seorang yang bercodet dipipi kirinya, jidat maupun dagunya

melengkung ke dalan, matanya hitam kosong sehingga wajahinya tampak mengerikan.

Setelah menyaksikan orang yang berada di sebelah kiri itu, Hoa In-liong merasakan hatinya

bergetar keras, pikirnya, “Menurut cerita Ci Soat cu dari Hian-beng-kau dikatakan bahwa salah

satu jago yang ikut serta dalam pembunuhan atas diri Suma siok ya terdapat manusia dengan

bentuk wajah semacam ini, jangan-jangan memang dialah orangnya,…..?”

Karena ingin tahu, tak tahan lagi ia bertanya dengan ilmu menyampaikan suara, “Apakah kau

tahu asal usul diri kedua orang ini?”

Sambil tundukkan kepala pura-pura bersantap, jawab Thian Ik-cu dengan ilmu menyampaikan

suaranya, “Kalau dibicarakan sebenarnya, kedua orang ini mempunyai hubungan permusuhan

yang sangat mendalam dengan ayahmu, orang yang ada di sebelah kiri itu bernama Sui sim jin

(tangan sakti penghancur hati) Gui-Gi-hong, codet pada pipi kirinya diperoleh dari bacokan

pedang kakekmu ketika berlangsungnya pertemuan Pak-beng-hwee.

kemudian setelah berhenti sejenak, terusnya, Walaupun pukulan penghancur hati dari Gui Gi

hong sangat lihay, pinto masih sanggup menangkan dia, tapi orang yang ada di sebelah kanan

itu memiliki ilmu silat yang jauh berada di atas kepandaian pinto.

Hoa In-liong merasa terkejut sekali, pikirnya, “Waah……kalau gembong-gembong iblis itu sudah

bermunculan semua, bahaya sekali posisiku kini.”

“Orang itu bernama Kiong Hau, lantaran masa kemunculannya dalam dunia persilatan amat

singkat, maka sekalipun ilmu silatnya sangat lihay, tidak banyak yang mengetahuinya sejak tiga

kali pertarungannya dengan kakekmu, dengan kesudahan tiga kali menderita kekalahan total, ia

mengasingkan diri dari keramaian dunia persilatan dan tidak diketahui jejaknya lagi.”

Sementara pembicaraan berlangsung, Kiong bun dan Sui sim jiu (tangan sakti penghancur hati)

Gui Gi Hong telah duduk disamping sebuah meja dan memesan sebuah hidangan.

Oleh karena Hoa In-liong dan Thiao Ik-cu duduk di tempat kegelapan, lagi pula mereka

bersantap dengan tertunduk, senjata yang digembolkan tersembunyi dibalik pakaian, serta susah

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

125

ditemukan, maka Kiong Hao maupun Tangan sakti penghancur hati Gui Gi bongg tidak

menyangka kalau di dalam warung yang, terpencil ini bakal menjumpai jago-jago lihay.

Sejak masuk ke dalam warung sampai ambil tempat duduk, kedua orang itu sama sekali tidak

memperhatikan keadaan di sekelilingnya.

Ketika sang pelayan menyaksikan raut wajah Gui Gi bong menyeramkan, ia meresa agak takut,

tapi tak berani pula bertindak lancang, terpaksa sambil tertawa paksa katanya, “Yaya berdua,

entah kalian ingin pesan apa?”

Kiong Hou dan tangan sakti penghancur hati Gui Gi-hong adalah dua orang gembong iblis yang

berilmu tinggi, tapi terhadap rakyat kecil mereka tidak menunjukkan kebengisanya.

Dengan hambar Gui Gi hong berkata, “Ada apa saja hidangkan keluar tak usah banyak cerewet

lagi!”

Pelayan itu menghembuskan napas lega, buru-buru memberi hormat dan mengundurkan diri

untuk menyiapkan hidangan.

Lewat beberapa Saat kemudian tiba-tiba kedengaran Tangan sakti penghancur hati Gui Gi hong

berkata, “Menurut pendapat saudara Kiong bagaimana anggapanmu dengan apa yang dikatakan

Jin Huan?”

“Rasa takut Jin loji terhadap Hoa Thian-hong sudah terlampau mendalam, sikapnya yang raguragu

tak menentu dan tiada tujuan, jelas bukan suatu tindakan yang tetap, jawab Kiong Hou

hambar.

Diam-diam Thian Ik-cu berbisik dengan ilmu menyampaikan suaranya, “Ambisi Jin loji untuk

merajai kolong langit belum padam, tampaknya ia bermaksud membangun kekuatan kembali

untuk melanjutkan cita-citanya yang tempo hari terbengkalailai di tengah jalan!!”

Hoa In-liong hanya teersenyum dan tidak menjawab.

Terdengar Gui Gi-hong berkata lebih jauh, “Jin Hian memang sudah lemah dan tak bersemangat

lagi, tapi kekuasaan keluarga Hoa justru kian lama kian meluas kendatipun Hian Kiu im kau dan

Seng sut pay bekerja samapun belum tentu sanggup menumbangkan kekuasaannya, menurut

penilaianku lebih baik biarkan saja mereka saling bertarung sampai sama-sama terluka kemudian

kita baru mendobrak diri tengah, ini baru suatu tindakan yang sangat bagus”

“Aaahh….aku rasa belum tentu demikian,” kata kiong Hau dengan suara hambar, “tempo hari

bukankah Kiu im kau juga munculkan diri dari isolasi disaat kaum pendekar dengan Tong-thiankau

Sio ki pang dan Hong im hwee sudah menjadi lemah karena saling bertemu, kejadian ini

sudah pernah berlangsung satu kali tak boleh sampai berlangsung untuk kedua kalinya, tidak

mungkin mereka tanpa persiapan apalagi bagaimanapun juga Kiu-im kau toh akhirnya kalah juga

di tangan Hoa Thian-hong.”

“Kalau memang begitu, lebih baik kita tak usah munculkan diri kembali dalam dunia persilatan

kata Sui im sim jiu Giu Gi hong.

“Itupun tidak perlu,” jawab Kiong Hau dengan suara ketus, “siasat adalah hasil pemikiran

manusia, semua makhluk adalah sama semua, kenapa kitapun tidak manfaatkan kelebihan kita

masing masing?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

126

“Hmm..tampaknya mereka adalah sekelompok manusia yang enggan hidup tenang….” pikir Hoa

In-liong.

Terdengar Tangan sakti penghancur hati Gui Gi hong telah berkata kembali, “Aku rasa saudara

Kiong tentu mempunyai siasat bagus, dapatkah kudengarkan rencaramu itu?”

Tanpa terasa Thian Ik-cu dan Hoa In-liong sama-sama pasang telinga untuk menyadap

pembicaraan tersebut, sebab jika rencana mereka sampai diketahui, maka sewaktu melakukan

pembersihan nanti merekapun tak usah membuang tenaga terlalu banyak.

“Saudara Gui, kenapa kau demikian tololnya?” kata Kiong Hiu segera, “Tempat apakah ini?

Dinding bertelinga, kau kira tempat semacam ini cocok untuk dipakai membicarakan semacam

itu?”

Di tengah pembicaraan tersebut, sinar matanya yang biru dan tajam mendadak memandang

sekejap ke arah Hoa In-liong serta Thian ik cu.

Hoa In-liong tahu bahwa musuhnya sudah mulai waspada, ia tersenyum sambil menahan

pinggiran meja dan bangkit berdiri, bisiknya kepada Thian Ik-cu, “Dalam berapa gebrakan

tootiang bisa membentak manusia she Gui itu?”

Mendengar perkataan itu, Thian Ik-cu segera tahu bahwa Hoa In-liong ada niat untuk bertarung

melawan Kiong Hiu, sahut-nya, “Bukan pinto tiada keyakinan untuk membekuk orang itu, tapi

menolong orang lebih penting, lebih baik kau berangkat duluan, biar pinto yang menghadang

mereka sebentar, segera kususul dirimu nanti.”

Ia mengibaskan ujung bajunya, lalu bangkit berdiri.

Agaknya Tangan sakti penghancur hati Gui Gi-hong merasakan juga bahwa ke dua orang itu

berilmu tinggi, ia tertawa seram lalu mengangkat lengan kanannya.

Kiong Hou sendiri sama sekali tidak menunjukkan reaksi apa-apa, seakan-akan tak pernah terjadi

suatu kejadian apapun, ditekannya lengan kanan Gui Gi hong, kemudian ujarnya kepada Thian ik

cu dan Hoa In-liong, “Sahabat berdua, mengulur waktu tiada kegunaan untuk kalian berdua, apa

salahnya kalau berbicara secara terus terang saja? Hey sobat yang memukai jubah pendeta,

mengapa tidak kau perlihatkan tam- pangmu?”

Buru-buru Thian Ik ci berseru dengan ilmu menyampaikan suara, “Hoa kongcu harap

merahasiakan dulu asal usulmu, pinto akan mencoba untuk mengatasi masalah ini, seandainya

tidak dapat di rahasiakan lagi, belum terlambat rasanya untuk bertarung lebih jauh”

Hoa In-liong pun diam-diam berpikir, “Kedua orang itu bukan lawan enteng, bila sampai bentrok

tak mungkin pertarungan itu bisa

diakhiri dalam waktu singkat, kalau sampai kejadian ini meng-akibatkan rencana ku untuk

menolong orang menjadi gagal, wah sudah pasti tindakanku ini bukaan suatu tindakan yang

cerdik”

Ia bukan termasuk seseorang yang terlampau keras mempertahankan pendapatnya maka setelah

berpikir sebentar dia pun mengangguk. Thian ik cu tidak banyak berbicara lagi sambil memutar

tubuhnya ia tertawa terbahak-bahak.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

127

“Haaahhh……..haaahh………haaahhh……. saudara Kiong, saudara Gui, sudah lama kita tak

berjumpa, masih ingat dengan pinto?”

Sui sim jiu Gui Gi-hong melototkan sepasang matanya lebar-lebar, lalu serunya,

“Oooh……….rupanya kau adalah Tong-thian kaucu, sungguh tak disangka kita dapat berjumpa

kembali di kedai ini. Haaahhh….. haaahhh………. haahhh, selama dua puluh tahun terakhir ini toheng

telah tersembunyi di mana……?’“

Diam-diam Thian Ik-cu agak girang, sahutnya, “Kejadian yang sudah lewat tak akan berulang

lagi, lebih baik tak usah kau singgung kembali. Justru dari pembicaraan saudara Gui dan saudara

Kiong dapat kudengar bahwa kau ada niat untuk membangun kembali kejayaan tempo hari,

teringat sampai kepersoalan tersebut hatiku gatal, aku jadi ingin pula mengikuti jejak kalian.

Cuma……….aku pikir tenaga yang diandalkan saudara Kiong dan saudara Gui masih terlampau

minim.”

Kalau masa jayanya tiga perkumpulan bessar dulu, sekalipun pekerja kasar juga mengetahui

nama mereka tapi setelah mengalami masa damai selama dua puluh tahunan, nama besar

mereka hampir boleh dibilang sudah dilupakan orang, maka pembicaraan antara kedua orang itu

sama sekali tidak menarik perhatian para tamu lain-nya dalam warung.

“Bila to-heng bersedia membantu, masalah besar ini pasti tak sulit untuk diselesaikan!”

Setelah berhenti sebentar, katanya lagi sambil tertawa, “Terus terangnya saja to-heng, aku dan

Kiong heng telah bersekutu.”

“Tunggu sebentar saudara Gui!” tiba-tiba Kiong Hui menukas.

Dengan wajah tertegun Gui Gi-hong menatap wajah rekannya.

Sementara itu Kiong Hau telah alihkan sinar matanya kewajah Hoa In-liong, lalu tegurnya dingin,

“Siapakah orang yang berjalan bersama-sama to-heng itu??”

Agak tercekat juga perasaan Hoa In-liong ketika dilihatnya sampai saat itu Kiong Hau masih

tetap duduk tak berkutik dengan wajah tanpa emosi, pikirnya, “Orang ini benar-benar luar

biasa……”

Setelah berpikir sebentar, ia merasa jika dirinya membungkam terus hal ini malah akan

menimbulkan kecurigaan orang, diapun tak ingin Thian Ik-cu mencari nama palsu baginya maka

sambil tertawa ujarnya, “Bila kau ingin mengetahui siapakah aku, apa salahnya kalau dicari dari

kepandaian silat yang dimiliki?”

Maksud lain dari ucapan itu jelas adalah menantang Kiong Hau untuk berduel.

Menyaksikan ulah pemuda itu, Thian Ik-cu lantas mengerutkan dahinya dan berpikir, “Dasar anak

muda, kau anggap Kiong Hau adalah seorang manusia yang gampang dilayani?”

Mencorong sinar tajam dari balik mata Ki ong Hau, katanya, “Anak muda, semangatmu memang

cukup boleh dipuji, tapi biar lohu periksa dulu apakah kau pantas untuk berduel denganku aku

tidak?”

“Silahkan!” kata Hoa In-liong sambi! tersenyum.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

128

Sepasang alis mata Kiong Hau yang tebal berkerut kencang lalu sambil tertawa dingin sepasang

tangannya disodok kedepan.

Dua buah cawan arak dengan cepat melayang ke arah Hoa In-liong seakan akan ada orang yang

membawanya.

Ketika menyaksikan adegan tersebut, semua tamu dalam warung hampir seluruhnya menjerit

kaget kemudian suasana menjadi hening dan sepi, sinar mata semua orang tertuju pada dua

buah cawan tadi bahkan ada pula yang berdiri dengan mata terbelalak dan mulut melongo

sehingga keadaan-nya lucu sekali.

Sesaat kemudian kedua buah cawan arak itu sudah melewati dua buah meja ketika tiba pada

jarak lima enam depa dari Hoa In-liong, mendadak cawan yang ada di sebelah belakang

mempercepat gerakannya meluncur ke depan dan menyusul cawan yang berada di depan.

Seandainya kedua cawan arak itu sampai dibiarkan saling membentur antara yang satu dengan

lainnya, niscaya cawan itu akan pecah dan akibatnya arak akan berhamburan membasahi tubuh

Hoa In-liong.

Sejak awal tadi Hoa In-liong sudah tahu kalau kepandaian yang dipergunakan Kiong Hau adalah

Yen yang siang bui (sepasang burung meliwis terbang bersama) pada dasarnya dia memang ada

minat untuk unjukkan kehebatannya, maka hawa murninya dihembuskan lewat tiupan……..

Cawan arak yang sedang melayang dibelakang itu segera tersambar bagaikan termakan oleh

segulung tenaga pukulan yang dahsyat, mendadak berubah menjadi serentetan cahaya putih dan

meluncur keluar dari pintu kedai lalu lenyap tak berbekas.

Sementara sisa cawan yang terakhir dikebut dengan ujung bajunya, dengan suatu gerakan yang

pelan dan tenang, tahu-tahu sudah melayang turun di atas meja tanpa tumpah barang

setetespun.

Gui Gi hong menjerit kaget, sementara sinar mata Kiong Hau semakin tajam, bahkan Thian Ik-cu

sendiripun tidak menyangka kalau Hoa In-liong memiliki tenaga dalam sedemikian sempurnanya.

Terdengar Hoa In-liong berkata dengan wajah serius, “Kalau toh engkau telah unjukkan

kepandaian, dengan menggunakan kesempatan ini aku yang tak becuspun ingin pula menjajal

kepandaian sakti saudara……”

Tidak menanti jawaban dari Kiong Hau, lagi ia menjepit sebuah piring kosong lalu di lemparkan

ke arah orang itu.

Dibalik piring kosong tersebut tersembunyilah tenaga murni yang sangat kuat, secepat kilat

dengan gerakan berputar meluncur ke muka.

Menyaksikan hal tersebut, Kiong Hau segera menyentilkan segulung desingan angin tatam ke

depan, dengan cepat angin tajam itu menghantam bagian tengah piring.

Karena penggunaan tenaganya dilakukan sangat cepat, maka ia bermaksud mementalkan

kembali piring tersebut, kemudian sekalian diberi sedikit permainan busuk agar pemuda tersebut

kehilangan muka.

Siapa tahu, justru Hoa In-liong telah melakukan pula sedikit permainan busuk pada piring

tersebut, begitu termakan angin pukulan dari luar …..

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

129

“Praaak…..!hancurlah piring itu menjadi hancur berkeping keping, lalu seperti hujan gerimis

langsung mengurung sekujur badan kiong Hua malah Gui Gi hong yang berada di sampingnya

ikut pula terkena hancuran piring itu.

Tampaknya Kiong Hua sulit menghindarkan diri lagi, tiba-tiba ia menggulung ujung bajunya ke

depan, hancuran piring itu menjadi berubah arah, seperti ikan paus menghisapp air, selaksa

kambing kembali kesarang, serentak semua hancuran piring itu terhisap kebalik ujung baju kiri

Kiong Hau.

Padahal d antara hancuran piring tersebut Hoa In-liong telah menyertakan tenaga dalamnya

yang amat sempurna, tentu saja dalam keadaan tergesa-gesa tak mungkin bagi kiong Hau untuk

menghisap seluruh pecahan piring itu, salah satu diantaranya dengan telak menghantam di atas

bahu kanannya.

Tenaga dalamnya cukup sempurna, sekali pun pecahan piring itu menembusi jubahnya tapi tidak

sampai menimbulkan luka, tapi dengan kedudukannya yang tinggi ternyata kena dipecundangi

oleh seorang angkatan muda, sedikit banyak hal ini sangat menurunkan martabatnya.

Tampak Kiong Hau bangkit berdiri, ujung bajunya dikebaskan kemeja dan hancuran piringpun

segera berhamburan kemeja, matanya memancarkan sinar merah, hawa nafsu membunuh

menyelimuti wajahnya.

Thian Ik-cu dan Hoa In-liong kuatir dalam malunya ia menjadi gusar dan melancarkan serangan

mematikan, serentak tenaga dalam yang mereka miliki di himpun menjadi satu untuk bersiap

sedia menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.

Sementara itu Sui sim jiu Gui Gi hong berbuat pula menghindarkan diri dari pecahan piring,

serunya, “Toheng, sungguh lihay ke pandaian silat yang kau miliki, aku orang she Gui dengan tak

tahu diri ingin memohon beberapa petunjuk darimu.

Saudara Gui akulah yang telah salah tangan, sudah sepantasnya aku pula yang menghadapi

mereka harap saudara Gui jangan mencampuri urusan ini, tiba-tiba Kiong Hau berka.

Gui Gi hong tertegun, terpaksa ia menghentikkan langkah kakinya sambil menjawab, “Kalau

memang begitu, siau te akan menjadi penonton yang baik saja…”

Sementara itu, para tamu yang ada dalam warung telah merasakan pula hawa pembunuhan

yang menyelimuti sekeliling tempat itu, tapi karena Kiong Hui dan Gui Gi hong duduk dekat pintu

kedai, maka tak seorangpun diantara mereka yang berani melewati dari sampingnya, terpaksa

sambil mengeluh mereka semua berkumpul disudut ruangan.

Hoa In-liong mengerling Ik-cu, kemudian sambil perpaling katanya, “Kiong Hau, jika kau ingin

beradu kepandaian denganku lebih baik kita langsungkan pertarungan diluar dusun, jangan

karena ulah kita mengakibatkan orang lain yang terluka.”

Jubah yang dikenakan Kiong Hau bergoncang keras meski tidak berhembus angin, jelas Kemarahannya

sudah memuncak tapi sejenak kemudian wajahnya telah putih kembali menjadi tenang,

ia berkata, “Hari ini lohu mengaku kalah lain kali dimana kita berjumpa, distu kita bikin

perhitungan, nama saudara, kita persoalkan lain kali saja.”

Lalu sambil berpaling ia berseru, “Saudara Gui, hayo berang kat!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

130

Ujung bajunya dikebaskan iapun putar badan dan berjalan keluar dari ruangan kedai.

Menyaksikan sikap rekannya itu Sui sim jiu Gui Gi hong agak tertegun kemudian setelah melirik

sekejap ke arah In-liong dan Thian Ik-cu, ia tertawa dingin, setelah melemparkan sekeping uang

perak ke atas meja dan menekannya pada permukaan, iapun putar badan dan menyusul

rekannya.

Sesungguhnya suatu pertarungan sengit tak akan terhindarkan, tapi secara aneh telah batal

dengan begitu saja, sekarang para tamu dalam warung, baru bisa menghembuskan napas lega.

Sebaliknya Hoa In-liong pun merasa amat kagum dengan cara Kiong Hau yang berani mengaku

kalah secara terus terang tanpa berusaha bermain curang.

Cuma dengan terjadinya peristiwa ini, mereka berdua pun tak berani menginap disitu lagi, selesai

membereskan rekening kedua orang itu segera menitahkan pelayan untuk menyiapkan kuda.

Tampak ciangkwe kedai itu dengan wajah bermandi peluh sedang berusaha mengorek keluar

uang perak yang ditekan masuk ke dalam permukaan meja oleh Gui Gi hong itu, tapi sudah

mengorek setengah harian pun tidak ada hasilnya.

Melihat itu Hoa In-liong segera tersenyum, di hampirinya orang itu, kemudian tangannya

menekan pinggiran meja dan hawa murni disalurkan keluar, secara tiba-tiba saja uang perak itu

melompat keluar dengan sendirinya……

Kejadian ini malah mengakibatkan ciangkwe ketakutan setengah mati, dengan sempoyongan dia

mundur tiga langkah dari posisi semula.

Keluar dari kedai, dua orang itu melompat naik ke atas kuda dan membedalnya meninggal

tempat itu.

Sesudah keluar dari wilayah kota Lu ciu, Thian Ik-cu baru berkata sambil tertawa terbahakbahak,

“Haaah…..haaahh…..haaahh….selama hidupnya Kiong loji selalu latah dan tinggi hati tapi

berulang kali pula dia musti jatuh pecundang di tangan orang-orang keluarga Hoa, dulu kakeknya

kini cu cunya, kalau dia sampai mengetahui tentang persoalan ini, entah bagaimanakah jalan

pemikirannya waktu itu?”

Hoa In-liong gelengkan kepalanya berulangkali.

“Kekalahan yang dialami Kiong Han barusan adalah akibat dari kegegabahannya sendiri, coba

kalau kita bicarakan dari caranya melepaskan senjata rahasia tadi, bisa diketahui bahwa ilmu

silatnya betul-betul sudah mencapai setingkatan yang luar biasa, andaikata sampai betul-betul

terjadi pertarungan mungkin bonnpwe masih bukan tandingan-nya.

Thian Ik-cu termenung sebentar, kemudian ujarnya, “Kalau begitu sewaktu bertarung melawan

pinto tempo hari, Hoa kongcu belum menggunakan segenap kekuatan yang kau miliki?”

Hoa In-liong tersenyum.

“Dan tootiang sendiri? Masa kau telah menggunakan seluruh kekuatanmu…..?” ia balik bertanya.

Setelah berhenti sejenak, katanya lebih lanjut, “Kalau diperhatikan paras muka Kiong Hau dan

Gui-Gi hong ketika pergi tadi, tampaknya bahkan tootiang pun ikut dibenci, bila tootiong sampai

berjumpa lagi dengan mereka dikemudian hari, harap kau bersikap lebih hati-hati.”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

131

“Aaah….. pinto tak akan sampai jeri kepada mereka,” jawab Khian Ik-cu angkuh, “Untuk satu

lawan satu, Kiong Hau tidak berani kukatakan, tapi kalau orang she Gui sudah jelas tak akan

mampu menahan seratus jurus seranganku, sekalipun mereka turun tangan bersama, pinto juga

masih sanggup untuk angkat kaki dari situ.”

“Tootiang, tahukah kau semasa masih hidupnya dulu apakah Suma siok ya pernah terlibat dalam

suatu pertikaian atau hubungan dendam sakit hati dengan Kiong Hau atau Gui Gi hong?” tibatiba

Hoa In-liong bertanya secara serius.

Thian Ik-cu termenung sejenak, kemudian sambutnya, “Sudah terlalu banyak jago kalangan

hitam yang dibunuh Suma tayhiap semasa masih hidupnya, ia boleh dibilang merupakan sumber

pembunuh nomor satu dari golongan para hiap khek, sudah barang tentu permusuhan tak bisa

dihindari, mungkin saja mereka pernah terikat oleh suatu dendam…”

Setelah berhenti sebentar, terusnya, “Apakah Hoa kongcu menaruh curiga bahwa Suma tayhap

tewas di tangan Kiong Hau dan Gui Gi hong sekalian?” Hoa In-liong mengangguk.

“Kok See-piau telah cuci tangan bersih-bersih dari keterlibatannya dalam peristiwa pembunuhan

Suma siok-ya, sekalipun boanpwe tidak mempercayainya seratus persen, persoalan inipun musti

di selidiki sampai jelas, agar putri Suma siok ya dapat secara langsung membalas sendiri sakit

hatinya.

“Sebagai seorang anak yang berbakti, nona Suma memang sepantasnya berbuat demikian, kalau

tidak bagaimana mungkin sukma Suma tayhiap suami-istri yang ada dialam baka bisa beristirahat

dengan tenang?”

“Yaa……tampaknya bila ada kesempatan berjumpa lagi dengan Kiong Hau, aku musti

menanyakan persoalan ini secara langsung ke padanya, aku rasa mereka sebagai seorang jago

kelas satu dalam dunia persilatan pasti tidak akan bohong, sebaliknya kalau menyangkal, salah

seorang diantara mereka tentu adalah pembunuhnya, asal diselidiki secara seksama, rasanya

tidak sulit untuk menemukannya.”

“Pada akhirnya persoalan ini, pasti akan menjadi beres dengan sendirinya, waktu itu mungkin

saja pinto masih hidup mungkin juga telah berpulang ke alam baka, aku tak lain hanya bisa

mengucapkan sela-mat kepada nona Suma, semoga saja ia berhasil menuntut balas bagi sakit

hatinya….”

“Boanpwe mewakili Jin Kokoh mengucapkan banyak terima kasih!”

Setelah memeriksa cuaca sejenak, ia lebih jauh, “Kiong Hau dan Gui Gi-hong tampaknya tak ada

hubungan dengan ketiga buah perkumpulan besar, sekalipun belum mengenali asal usul

boanpwe, tapi kitapun harus sedia payung sebelum hujan, lebih baik menggunakan keadaan

gelap untuk melanjutkan perjalanan, menolong orang lebih penting dari segala galanya, entah

bagaimana menurut pendapat tootiang?”

“Segala sesuatunya terserah pada keputusan Hoa kongcu, pinto tidak mempunyai usul lain.”

Hoa In-liong tahu bahwa tosu tua ini selalu teringat dengan budi kebaikan yang pernah diterima

dari ayahnya, maka ia selalu berusaha membalas budi kebaikan itu.

Maka tanpa banyak berbicara lagi dia mengempit perut kuda dan melarikan binatang

tunggangnya cepat-cepat ke depan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar