Selasa, 06 Oktober 2009

rahasia 17

“Hmmm! Memutar balikkan fakta, rupanya engkau memang mempunyai maksud-maksud

tertentu” batin Hoa In-liong.

Setelah berpikir sebentar dia lantas tertawa dingin.

“Heeehhh…. heeehh…. heeehh…. apa gerangan maksud kaucu? Aku merasa tak habis

mengerti?” Tang kwik Siu tertawa berat.

“Benarkah ji-kongcu tidak tahu?”

“Tolong jelaskan!”

Tiba-tiba sikap Tang-kwik Siu berubah santai sambil mengelus jenggotnya yang keperak perakan

dia tertawa.

“Ji-kougcu bukannya tidak tahu, ayahmu Hoa tayhiap adalah seorang manusia yang gemar nama

besar, sudah tentu kongcu juga menyadari bukan kedudukan keluarga Hoa dalam dunia

persilatan dewasa ini, nah, dengan ilmu silat ayahmu yang begitu tinggi dan sekarang ditambah

pula bantuan dari keturunan malaikat silat….!”

Tiba-tiba ia terhenti berbicara dan tersenyum.

Hoa In-liong dapat menangkap hawa napsu membunuh dibalik perkataannya itu, segera pikirnya,

“Oooh jadi lantaran keluarha Coa berdiri di pihak keluarga Hoa, maka ia kerahkan segenap

kekuatan yang dimilikinya untuk bertindak lebih dulu, jadi kalau begitu kehadiran orang-orang

Mo kau di wilayah Kanglam sekarang memang bertujuan untuk menghadapi keluarga Coa”

Tiba-tiba saja ia merasakan betapa gawatnya situasi pada saat itu, setelah hawa napsu

membunuh dihati Tang kwik Siu berkobar, sudah tentu mereka akan berdaya upaya untuk

melenyapkan dirinya.

Padahal pihaknya cuma terdiri dari tiga orang, sekalipun mendapat bantuan dari orang orang

Cian li kau, tak lebih keadaan mereka ibaratnya telur hendak diadu dengan batu.

Kalau cuma dia seorang yang mampus masih mendingan, bagaimana dengan Coa Wi wi, Thia

Siok bi serta Cia In dan belasan orang nona itu? Terutama Goan cing taysu yang masih

bersemedi dalam gua.

Ia tak ingin paderi sakti itu ikut berkorban lantaran dia, sebab dengan susah payah paderi itu

telah mendesak keluar hawa racun dari tubuhnya dengan tenga dalamnya yang sakti, masa dia

harus membayar air susu dengan air tuba?

Hoa In-liong memang cerdik, tapi menghadapi kenyataan tersebut tak urung kebingungan juga

dibuatnya.

Setelah termenung sebentar, dia lantas berkata, “Jadi kaucu memang berhasrat untuk beradu

kekuatan dengan keluarga Hoa kami?”

“Soal itu hanya tinggal soal menunggu waktu saja, cepat atau lambat pertarungan memang tak

dapat dihindari!” kata Tang kwik Siu dengan sorot matanya yang tajam.

Setelah lawan berkata demikian, jalan menuju perdamaianpun jadi buntu, karena tiada

kesempatan untuk mengulur waktu lagi Hoa In-liong menghela napas panjang, dia siap

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

673

menantang untuk berduel sambil berusaha mencari akal guna mengikat Tang kwik Siu dalam

pertarungan satu lawan satu dengan dirinya. Sebab bila sampai begini, paling sedikit dia dapat

mengulur waktu selama beberapa jam lagi.

Tiba-tiba dari balik gua berkumandang suara pujian yang serak tua tapi amat nyaring,

“0….min….to…. hud….”

Pujian kepada sang Buddba itu kedengaran sangat aneh, semua orang merasakan suara itu

seakan-akan muncul dari sisi telinga mereka, dan lagi suara itu dapat menimbulkan ketenangan

bagi sia papun yang mendengar.

Serentak kawanan jago dari Hian-beng-kauw dan Seng sut pay yang sedang memegang pedang

menurunkan senjata masing-masing, bahkan mereka yang memiliki tenaga dalam agak cetek

melepaskan pedangnya hingga berjatuhan ke tanah.

Suheng Tang kwik Siu yang bernama Seng To cu itu tiba-tiba merubah sikap kakunya yang

menyerupai mayat hidup itu, matanya yang kecil terbelalak lebar dan memancarkan sinar tajam

bagaikan sang surya ditengah hari, begitu tajamnya sorot mata orang itu membuat orang jadi

bergidik rasanya….

Hoa In-liong, Coa Wi-wi dan Thia Siok bi kebetulan berdiri dihadapannya, mereka sangat

terperanjat menyaksikan sinar mata tersebut, mereka tahu tenaga dalam yang dimiliki orang itu

memang lihay sekali, jelas berada diatas Tang kwik Siu.

“Hmm, suatu kepandaian Kou sim ciong (lonceng pengetuk hati) yang amat lihay” ujar Tang kwik

Siu dengan dahi berkerut, “tokoh sakti dari manakah yang berada disitu? Tang kwik Siu ingin

menjumpainya….”

Dari balik gua berkumandang suara dari Goan cing taysu, “Tidak berani, lolap Goan cing

menjumpai Tang kwik kaucu”

Berbareng dengan selesainya perkataan itu, tanpa hembusan angin rotan-rotan yang menutupi

mulut gua membuka dengan sendirinya, menyusul kemudian murculnya seorang paderi tua yang

kurus kering, berwajah penuh keriput dan berjubah abu-abu.

Sesaat suasana diseluruh gelanggang jadi hening, tapi tak kedengaran sedikit suarapun.

Tang kwik Siu, gembong iblis yang termashur namanya dalam dunia persilatan, dua bersaudara

Leng hou yang terkenal karena buas, Toan bok See Iiang serta Beng Wi-cian sekalian yang licik

semuanya berdiri terbelalak dengan mulut melongo.

Hanya Seng To ku yang berwajah kaku saja tetap berdiri ditempat semula, meski mukanya agak

mengejang sebentar namun dengan cepat telah pulih kembali seperti sedia kala.

Kiranya Goan cing taysu bukan muncul dari gua itu dengan berjalan kaki, tapi tetap duduk

bersilah. Tubuhnya seakan-akan duduk diatas sebuah mimbar berbentuk teratai yang melayang

diudara, dengan selisih tiga depa dari permukaan tanah pelan-pelan dia melayang keluar.

Hoa In-liong pertama-tama yang sadar dari kejadian itu, dengan cepat dia mundur tiga langkah

ke samping.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

674

Goan cing taysu melayang turun tepat tiga kaki didepan Tang kwik Siu, setelah memuji

keagungan Buddha, pelan-pelan ia melayang turun keatas tanah, begitu agung dan

berwibawanya pendeta itu seakan-akan benar-benar baru turun dari kahyangan….

Dengan air mata bercucuran tiba tiba Cia In berbisik, “Sumoay sekalian, bubarkan barisan!”

Mendengar perintah itu, serentak kawanan gadis dari Cian li kau melepaskan tangan mereka

yang saling bergandengan tangan itu. Kemudian dengan langkah yang lembut Cia In maju

sendirian kehadapan Goan cing taysu dan jatuhkan diri berlutut.

Menyaksikan perbuatan dari pemimpin mereka, kawan gadis lainnya jadi melongo, mereka hanya

bisa saling berpandangan dengan perasaan tidak habis mengerti.

Sejak munculkan diri ditengah gelanggan, Goan cing taysu hanya duduk bersila dengan kepala

tertunduk dan mata terpejam, ia sama sekali tidak menggubris jago-jago dari dua perguruan

besar itu.

Tapi setelah Cia In berlutut dihadapanya, ia membuka matanya yang lembut sambil

mengebutkan ujung bajunya.

“Silahkan bangun nona, lolap tak berani menerima penghormatan sebesar ini”

Cia In merasakan datangnya hembusan angin lembut yang menekan tubuhnya, mau tak mau dia

terpaksa baru bangkit berdiri.

Tahukah nona itu bahwa Goan cing taysu tak suka dengan segala macam tata cara, maka dia

berdiri disamping tanpa berkata-kata.

Goan cing taysu, menghela napas panjang pelan-pelan dia alihkan sinar matanya ke wajah Tang

kwik Siu.

Waktu itu Tang kwik Siu sudah tahu manusia macam apakah Goan cing taysu itu, tapi dia tak

menyangka kalau tenaga dalamnya sudah mencapai tingkatan setinggi itu, meski tertegun

bagaimanapun juga dia adalah seorang ketua dari suatu perguruan besar.

Sambil tertawa seram katanya kemudian, “Lian sik siu tok (menyeberang melayang dengan

teratai batu), maupun Kou sim ciong (lonceng pengetuk hati) adalah dua macam ilmu sakti yang

jarang dijumpai dalam dunia, hari ini aku Tang kwik Siu betul-betul sudah membuka mata”

Berbicara sampai disitu, dia lantas berpaling kearah Seng To cu dan memberi tanda.

Tiba-tiba Seng To cu maju selangkah ke depan tanpa mengucapkan sepatah katapun dia

menjulurkan lengan kanannya ke depan, kelima jari tangannya direntangkan lalu dari jarak

sejauh dua kaki dia melancarkan sebuah cengkeraman udara kosong ketubuh Goan cing taysu.

Cengkeraman itu tidak membawa desingan angin serangan, macam anak-anak yang sedang

bergurau saja.

Dengan wajah serius Goan cing taycu merentangkan sepasang tangannya yang semula

dirangkap didepan dadanya, kecuali beberapa orang jago yang benar-benar lihay, hampir boleh

dibilang yang lain tak tahu apa gerangan yang sebenarnya telah terjadi.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

675

Sementara semua orang masih tercengang dibuatnya, tiba-tiba ujung baju yang dikenakan

kawanan manusia yang berdiri disekitar Goan cing taysu dan Seng To cu berkibar sendiri tanpa

angin, rupnnya dalam gerakan yang menyerupai permainan itu, kedua belah pihak telah saling

bertukar satu serangan maut.

Akibat dari serangan itu tubuh bagian dari Goan cing taysu sampai berputar arah, tapi tetap

kokoh seperti batu karang.

Sebaliknya Seng To cu dengan wajah agak berubah terhuyung maju setengah langkah kedepan.

Berseri wajah Hoa In-liong menyaksikan kejadian itu, segera pikirnya dihati, “Kalau kulihat dari

keadaan ini, sudah terang Seng To cu makhluk tua itu yang keok, kenapa tak mau koit sekalian?”

Meskipun kalah, Seng To cu tidak kelihatan marah atau terpengaruh oleh emosi, sambil putar

badan hanya ujarnya dengan suara yang dingin dan kaku, “Hayo pergi!”

Tang kwik Siu tertegun, menyusul kemudian ia berpikir lebih lanjut.

“Yaa betul! Toh pihak kami mempunyai Coa Goan hau sebagai sandera, sekalipun hwesio itu

lihay dan berilmu tinggi, kenapa musti dilawan dengan kekerasan?”

Karena berpendapat demikian, segera timbullah niatnya untuk mengundurkan diri.

“Baiklah!” dia berkata kemudian sambil memberi hormat, “memandang diatas wajah taysu, aku

tersedia menyelesaikan persoalan hari ini sampai disini saja, semoga dilain waktu kita masih

diberi kesempatan untuk bertemu kembali, waktu itu aku pasti akan mencoba-coba sampai

dimanakah taraf kepandaian yang dimiliki taysu”

Kemudian sambil tertawa terbahak-bahak, ia memimpin kawanan jago Mo kau nya siap

meninggalkan tempat itu.

Coa Wi-wi amat kuatir akan nasib ayahnya terus atas perkataan dua bersaudara Leng hou, tentu

saja dia tak ingin membiarkan musuh musuhnya berlalu dengan begitu saja.

“Kongkong!” teriaknya dengan gelisah, “hilangnya ayah ada sangkut pautnya dengan pihak Mo

kau, kita tak boleh membiarkan mereka kabur dengan begitu saja”

Sebetulnya Goan cing taysu tidak ingin mencari banyak urusan, mundurnya pihak Seng sut pay

justru ibaratnya pucuk dicinta ulam tiba baginya, akan tetapi setelah mendengar seruan dari cucu

perempuannya itu, mata yang ramah dan penuh welas kasih itu mendadak memancar serentetan

sinar tajam yang menggidikkan.

“Tang kwik kaucu!” tegurnya dengan nada keras, “benarkah perkataan cucu perempuanku itu?”

Tang kwik Siu mengulapkan tangannya mencegah Leng hou Yu mengumbar emosinya, lalu

tertawa dalam.

“Heeeh…. heeehhh…. heeehh….belasan tahun berselang ada seorang jago yang bernama Coa

tayhiap telah menjadi tamu terhormat dari Seng sut pay kami, waktu itu dia sedang berada

disekitar bukit Kun kun, mungkin orang itu adalah orang tua nona tersebut….”

Tiba-tiba Seng To cu yang seram dan kaku itu menimbrung, “Jika manusia minum air, panas

atau dingin tentu akan diketahui dengan sendirinya!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

676

Sehabis berkata sambil mengebaskan ujung bajunya dia berlalu lebih dahulu, bukan saja tidak

menyapa Tang kwik Siu lagi, memandang sekejap pun tidak.

Tang-kwik Siu segera berkata pula, “Aku Tang-kwik Siu merasa kagum sekali oleh kebaktian

nona Coa terhadap orang tuamu, bila kau memang berniat mencari ayahmu di wilayah Se ih,

dengan senang hati Seng sut pay kami bersedia untuk membantu usahamu itu!”

“Hmm….! Membantu atau berusaha mencegah dengan sekuat tenaga….?” ejek Coa Wi-wi sambil

mendengus.

“Omintohud!” tiba-tiba Gaok cing taysu berseru memuji keagungan sang Buddha, lalu dengan

suara yang amat tenang dan lembut katanya lebih jauh, “Anak Wi, jangan berbuat kurangajar!”

Dia angkat kepalanya memandang sekejap wajah Tang kwik Siu, lalu tegurnya dengan wajah

serius, “Tang kwik kaucu, sebenarnya apa maksud tujuanmu?”

Tang kwik Siu tertawa tergelak.

“Haaahhh…. haaahhh…. haaahhh…. taysu memang cerdik sekali, sungguh membuat aku Tang

kwik Siu merasa amat kagum!”

Hoa In-liong tahu bahwa Tang kwik Siu hendak membuka kartu, maka setelah menimbang

sebentar keadaan di sekitar tempat itu, akhir nya dengan ilmu menyampaikan suara dia berbisik

kepada Coa Wi-wi, “Adik Wi, kau tak perlu ikut serta dalam adu kecerdasan ini, biar kongkong

seorang yang menghadapinya!”

Sementara itu sambil mengalus jenggotnya Tang kwik Siu telah berkata lebih lanjut, “Menurut

penglihatanku, pembantaian secara besar-besaran telah berlangsung dalam dunia persilatan,

amisnya darah telah menodai seluruh permukaan tanah, bukan cuma sehari saja rekan-rekan se

aliranku menderita penindasan dan penjajahan dari keluarga Hoa, penindasan demi penindasan

yang harus kami terima selama ini sudah tak bisa tertahan lagi, ketahuilah taysu, pelbagai jago

persilatan dari empat samudra kini telah bersatu padu siap menumbangkan kelaliman serta

kekuasaan keluarga Hoa, soal kehancuran sudah tinggal menunggu saatnya saja dan

pertumpahan darah ini tidak mung kin bisa dihindari lagi. Taysu, kau sebagai seorang pendeta

yang beribadah sudah sepantasnya kalau mengundurkan diri dan hidup mengasingkan diri, apa

gunanya kalian musti ikut campur didalam air keruh?”

Ditinjau dari pembicaraan tersebut, sudah terang dia sedang menganjurkan kepada Goan cing

taysu agar membawa keluarga Coa mengundurkan diri dari keramaian dunia persilatan.

Selama pembicaraan tersebut berlangsung, Hoa In-liong cuma membungkam diri dalam seribu

bahasa, kendatipun pihak lawan menuding menjangan sebagai kuda, tapi lantaran urusannya

menyangkut tentang mati hidup Goa Goan hau, pemuda itu merasa kurang baik untuk ikut

memberi komentar.

Goan cing taysu sama sekali tidak tergerak hatinya oleh perkataan tersebut, dengan tenang ia

mendengarkan ucapan itu hingga selesai, kemudian baru ujarnya dengan nada hambar, “Maksud

baik kaucu haaya dapat lolap terima dalam hati saja, sayang sang Buddha pernah bersabda

demikian.

“Kalau bukan aku yang masuk neraka, siapa lagi yang akan masuk neraka? Kalau toh dunia

persilatan sudah mengalami kekalutan, mana boleh lotap menyingkirkan diri untuk mencari

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

677

selamat? Ketahuilah, membela keadilan menyingkirkan kejahatan adalah tugas serta tanggung

jawab setiap insan manusia”

“Keras kepala amat hwesio tua ini” pikir Tang kwik Siu kemudian, “yaa, agar terhindar dari segala

yang tidak diinginkan, aku tak boleh bertindak terlampau gegabah”

Untung saja kedua belah pihak memang berniat untuk berpisah selekasnya, cepat dia menjura

dan memberi hormat.

“Kalau toh begitu, aku rasa tiada persoalan lain yarg bisa dibicarakan lagi, maaf aku mohon diri

terlebih dahulu”

Goan cing taysu juga tidak berkata apa-apa, dia menghantar kepergian orang itu sambil memberi

hormat pula.

Toan bok See liang dan Beng Wi cian sebenarnya merasa berat hati untuk mengundurkau diri

dengan begitu saja, akan tetapi lantaran ilmu silat yang dimiliki Goan cing taysu terlampau lihay

mau tak mau terpaksa mereka harus menggulung layar mengikuti hembusan angin.

“Hayo kita pergi!” bentak Beng Wi cian kemudian.

Tanpa membuang tempo, dia pimpin segenap anggota Hian-beng-kauw dan berangkat

meninggalkan tempat itu.

Setelah semua orang sudah lenyap dari pandangan mata, Coa Wi-wi baru mendepak depakan

kakinya keatas tanah sambil mengomel tiada henti-hentinya, “Kongkong ini bagaimana sih?

Kenapa kau lepaskan Tang kwik Siu sekalian dengan begitu saja!”

Goan cing taysu menghela napas panjang, ia tidak menjawab pertanyaan itu.

Sebaliknya kepada Cia In ujarnya dengan lembut, “Lolap tidak mempuryai kemampuan apa-apa,

apa alasan nona sehingga musti memberi hormat kepadaku?”

Cia In menggetarkan bibirnya seperti hendak mengucapkan sesuatu, namun tak sepatah katapun

yang mampu diutarakan keluar. Goan cing taysu tertawa lembut.

“Harap tunggu sebentar nona” katanya. Dia lantas berpaling kearah Thia Siok bi, lalu sapanya,

“To yo….”

Thia Siok bi membungkukkan badannya memberi hormat, sahutnya, “Taysu adalah seorang

pendeta beribadah yang berhati mulia, Thia Siok bi tak berani menerima hormat tersebut”

Kemudian setelah berhenti sebentar katanya lebih jauh, “Maaf kalau aku tak bisa mendampingi

terlampau lama lantaran masih ada urusan penting lainnya terpaksa boanpwe harus minta diri

lebih dahulu”

“Cianpwe….”seru Hoa In-liong dengan cemas.

“Kutunggu sepertanak nasi lamanya dikaki gunung sana” tukas Thia Siok bi dengan suara yang

ketus, “bila kau masih mempunyai perasaan cinta cepatlah datang temui diriku”

Kemudian sambil mengebaskan hud timnya, dia berlalu lebih dulu dari tempat itu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

678

“Cianpwe” teriak Coa Wi-wi gelisah, “kini enci Wan berada dimana….?”

Thia Siok bi tidak menggubris teriakan itu, dengan kecepatan tinggi ia berlalu dari situ dan

lenyap dibalik bukit sana.

Sepeninggal To koh itu, Hoa In-liong baru berpaling kearah Goan cing taysu, bibirnya bergetar

seperti hendak mengucapkan sesuatu,

“Tunggu sebentar!” Goan cing taysu segera mengidapkan tangannya.

Kemudian dengan dahi berkerut dia berpaling kearah hutan bambu dan berseru, “Sicu berdua

yang ada dalam hutan, apa salah nya kalau segera menampilkan diri?”

Dari balik hutan segera berkumandang suara jawaban dari seorang perempuan, “Sebenarnya

perintah taysu harus boanpwe taati sayang pada saat ini boanpwe masih ada urusan lain yang

harus segera diselesaikan, maaf kalau aku tak dapat menurut perintah”

Mendengar suara itu, Cia In beserta belasan orang gadis muda itu segera berseru, “Suhu….!”

Hoa In-liong kenali juga suara itu sebagai suaranya Pui Che-giok, dia lantas berpikir,

“Berdasarkan daya pendengaran kongkong, didalam hutan terdapat dua orang tak mungkin

kongkong salah mendengar, lantas siapakah orang yang satunya lagi?”

Berpikir sampai disitu, tiba-tiba ia teringat diri Tiang heng To koh, tanpa sadar segera teriaknya,

“Bibi Ku….!”

Sementara itu Pui Che-giok sedang berkata, “Taysu, bila engkau bersedia mengasihani

perempuan itu, tolong berilah pelajaran kepadanya sedang yang lain biar dipimpin anak Ay

pulang ke markas”

Salah seorang nona berbaju hijau yang berada dalam rombongan itu tak lain adalah murid kedua

dari Pui Che-giok, dia bernama Cia Sau ay, mendengar ucapan guruaya buru-buru dia memberi

hormat.

“Tecu menerima perintah!” katanya.

Dilain pihak Tiang heng To koh sedang berkata pula, “Liong-ji, sebetulnya bibi Ku tak ingin kalau

kedatanganku kau ketahui, tak disangka kembali kau berhasil menebaknya secara jitu, aaai….bibi

Ku tidak tega untuk membungkam diri terus serta tidak memperdulikan dirimu, cuma kali ini kau

juga tak perlu bersilat lidah, sebab bibi Ku tak mungkin akan mendengarkan perkataanku itu”

“Bibi Ku apakah kau sudah tak sayang kepadaku lagi?” teriak Coa-Wi-wi pula dengan cemas,

“kenapa kau tidak memperdulikan aku? Menyapa saja tidak?”

Jilid 34

TIANG HENG TO KOH tertawa dingin.

“Aaah…. kamu si setan cilik, terlalu banyak akal busukmu, kali ini bibi Ku kuatir terperangkap

lagi, maka lebih baik tidak kusapa dirimu….

Suara pembicaraan tersebui makin lama berkumandang semakin lirih, dan akhirnya tak

kedengaran lagi, jelas Tiang heng To koh sudah berlalu dari sana.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

679

Setelah kepergian dua orang perempuan itu, Goan cing taysu kembali berpaling kearah Cia In,

lalu ujarnya, “Nona Cia, kalau toh gurumu sudah berkata begitu, apakah kau bersedia mengikuti

lolap selama beberapa hari?”

“Bila cianpwe bersedia mtnampung diriku, hal ini merupakan suatu keuntungan besar buat siauli”

jawab Cia In sambil bungkukkan badan meranti hormat.

Tiba-tiba Coa Wi-wi mengomel lagi, “Kongkong, kenapa kau biarkan orang-orang Mo kau itu

pergi dengan begitu saja?”

Goan cing taysu menghela napas, bukannya menjawab dia malahan balik bertanya, “Anak Wi,

kau yakin dengan ilmu kepandaianmu, berapa orang ysng bisa kau hadapi?”

“Untuk menghadapi dua orang setan tua she Leng hou itu, anak Wi yakin masih bisa

mengatasinya jawab Coa Wi-wi setelah termenung dan berpikir sebentar.

Hoa In-liong gelisah sekali, dia tidak berminat mengikuti pembicaraan itu, kembali pikirnya,

“Waaah…. kenapa pembicaraan ini belum berakhir juga?” Tampaknya To koh tadi atau gurunya

Wan Hong giok menaruh perasaan kurang senang terhadap diriku, kalau terlambat kesana bisa

jadi kemarahannya akan semakin memuncak tapi….”

Tiba-tiba Goan cing taysu memotong lamunannya, “Anak Liong, yakinkah kau untuk menghadapi

Tang kwik Siu?”

“Meskipun anak Liong sudah memperoleh bimbingan serta bantuan kongkong, tapi aku yakin

kepandaianku setingkat masih berada dibawahnya”

Goan cing taysu alihkan kembali perhatiannya ke wajah Cia In dan Cia Sau-ay sekalian belasan

orang nona.

“Dan sekalian nona….” lanjutnya.

“Harap cianpwe jangan menyertakan siau-li sekalian” tukas Cia In sambil gelengkan kepalanya

berulang kali, “kami tidak mempunya kepandaian apa-apa, paling banter juga cuma bisa

membantu berteriak sambil memberi semangat, atau kalau terpaksapun hanya dapat menahan

kaum keroco dari Mo kau”

“Ah, nona sekalian terlalu sungkan” kata Goan cing taysu sambil tersenyum.

Setelah berhenti sebentar, dia berkata legi

“Berbicara sesungguhnya, bukan lolap sengaja memandang hina orang lain, tapi yang jelas To yu

tadi juga bukan tandingan dari Tang kwik Siu, kalau sampai terjadi pertarungan massal, bukan

saja sisa anggota Mo kau akan turun tangan semua, pihak Hian-beng-kauw juga tak mungkin

hanya berpeluk tangan belaka”

“Tapi…. kenapa kongkong melupakan dirimu sendiri?” seru Coa Wi-wi tercengang.

Mendengar pertanyaan ini, Goan cing taysu tertawa getir.

“Lolap sudah tak punya kekuatan lagi, pada hakekatnya keadanku sekarang jauh lebih lemah dari

seorang manusia biasa!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

680

Kontun saja ucapan tersebut seruan tertahan dan keluan heran dari Coa Wi-wi serta sekalian

nona nona dari Cian li kau.

Hoa In-liong juga tercengang, dengan kaget serunya agak terbata-bata, “Tentu….tentunya….

anak Lionglah penyebabnya, anak Liong lah yang telah mencelakai kongkong…. “

“Pada hakekaknya apa yang ada sebetulnya tak ada, apa yang ada sebetulnya ada, siapa bilang

engkau yang mencelakai diriku?” jawab Goan cing taysu dengan lembut, anak Liong, aku cuma

bisa berharap kau melatih diri lebih tekun, sehingga tidak menyia-nyiakan pertemuan kita kali ini”

Hoa In-liong cuma bisa mengiakan berulang kali.

“Kongkong, sebetulnya apa yang telah terjadi dengan dirimu?” seru Coa Wi-wi lagi dengar

cemas.

“Tidak apa-apa, asal beritirahat sebentar niscaya tenagaku akan pulih kembali”

Berbicara sampai disitu, Goan cing taysu segera mengulapkan tangannya.

“Anak Liong, kau boleh pergi lebih dulu, bukankah To yu itu menunggu kedatangan di kaki

bukit?”

“Betul kongkong!” jawab Hoa In-liong tergagap, tapi keadaan kongkong sekarang….”

Goan cing taysu tertawa.

“Lolap baik sekali!” tukasnya.

Hoa In-liong kembali ragu-ragu sebentar, dia berpaling memandang ke arah Coa Wi-wi, bibirnya

bergetar seperti hendak mengucapkan sesuatu tapi niat itu kemudian dibatalkan.

Sesudah sangsi sejenak, akhirnya dia menjadi nekad, tiba-tiba serunya, “Adik Wi, baik-baiklah

menjaga diri!”

Kemudian sambil memberi hormat kepada Cia In sekalian, ujarnya pula lebih lanjut, “Cici

sekalian, terima kasih banyak atas bantuan kalian! Sebagai orang sekeluarga rasanya siau te pun

tak usah banyak berbicara bukan?”

“Jiko, tunggu sebentar!” tiba-tiba Coa Wi wi berteriak keras, Lalu dia berpaling dan katanya

kepada Goan cing taysu, “Kongkong, bagaimana kalau kutemani jiko lebih dahulu?”

Goan cing taysu tertawa ringan.

“Masa kau tidak dapat menangkap maksud sebenarnya dari To yu itu? Dia hanya berharap jiko

mu bisa menjumpainya seorang diri, kalau kaupun turut serta, belum tentu kehadiranmu akan

disambut dengan senang hati….!”

Lalu dia ilapkan tangannya kepada Hoa In-liong sambil serunya kembali, “Nah, cepatlah pergi!”

Sekiali lagi Hoa In-liong melirik sekejap kearah Coa Wi wi, kemudian dia putar badan dan cepatcepat

berlalu dari situ, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

681

Coa Wi-wi menncibirkan bibirnya yang kecil mungil, jelas nona itu lagi tak senang hati.

Cia Sau ay mendepak-depakkan pula kakinya dengan gemas, sambil melirik sekejap ke arah Cia

lIn, bisiknya jengkel”

“Huuuh….! Betul-betul hatinya sudah busuk!”

Cia In cuma tertawa mendengar omelan saudara seperguruannya itu, katanya kemudian, “Ji

sumoay, sekarang kaupun harus memimpin sumoay-sumoay sekalian pulang ke rumah!”

Sementara itu Hoa In-liong sudah tiba di kaki bukit, dari tempat kejauhan dia sudah menyaksikan

Thia Siok bi berdiri dibawah sebatang pohon kui.

Sebenarnya dia hendak menyapa To koh itu, tapi ketika dilihatnya Thia Siok bi hanya melirik

sekejap kearahnya dengan dingin, lalu tanpa mengucapkan sepatah katapun meninggalkan

tempat itu, terpaksa ia telan kembali kata-katanya dan mengikuti dengan mulut membungkam.

Suasana tetap hening dan diliputi kebungkaman meski sudah menyeberangi sungai Tiang-kang

dan meneruskan perjalanan melalui jalau raya menuju ke Hway-im.

Lama kelamaan habis sudah kesabaran Hoa In-liong, akhirnya dia menegur, “Cianpwe,

bagaimanakah keadaan nona Wan?”

Thia Siok bi pura-pura tidak mendengar, setelah hening kembali sesaat dia baru menjawab

dengan serius, “Pokoknya dia masih dapat bernapas!”

“Waduh, alot benar perkataan ciaapwe ini” pikir Hoa In-liong, “rupanya dia sudah menaruh kesan

yang kurang baik kepadaku, atau memang wataknya yang begitu….”

Dia tertawa paksa, lalu bertanya lagi, “Cianpwe, boleh aku tahu kini nona Wan berada dimana?”

Thia Siok bi hanya mendengus, tiada jawaban yang terdengar.

Setelah ketanggor batunya, Hoa In-liong tidak banyak bertanya lagi, dengan kepala tertunduk dia

melanjutkan berjalan.

Begitulah, yang satu berjalan didepan sedang yang lain mengikuti dibelakang bagaikan gulung

asap ringan mereka berlarian dijalan raya tersebut.

Dengan kepandaian silat yang mereka berdua miliki tentu saja kecepatan gerak mereka sangat

luar biasa, bagi orang awam biasa, mereka hanya merasakan berhembusnya angin dingin, ketika

mereka mengadah, tahu-tahu dua orang itu sudah berada puluhan kaki jauhnya dari tempat

mereka berada.

Waktu itu tengah hari baru menjelang, terik panasnya matahari terasa menyengat badan.

Tiba-tiba Thia Siok bi memperlambat gerakan tubuhnya, lalu birkata dengan suara dingin, “Pinto

masih ingat didepan sana terdapat sebuah warung makan, kita bersantap dulu sebelum

melanjutkan perjalanan!”

“Tapi boanpwe belum lapar” sahut Hoa In-liong sambil memperlambat pula langkah kakinya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

682

Padahal semenjak kemarin malam dia belum mengisi perut, apalagi setelah berlangsungnya

pertarungan sengit, perutnya semenjak tadi sudah gemerutukan minta diisi.

“Kau tidak lapar, aku toh lapari” kata Thia Siok bi tiba-tiba dengan nada yang ketus.

Hoa In-liong tertegun, menyusul kemudian sekulum senyuman menghiasi ujung bibirnya.

Meskipun cianpwe ini mempunyai watak yang dingin dan tak sedap, rupanya dia cukup

memahami perasaan orang….” demikian pikirnya.

Tak lama kemudian, dari tempat kejauhan muncul tanah hijau yang amat rindang, banyak

warung makan berjajar ditepi jalan.

Kedua orang itu semakin memperlambat langkah kakinya, mengikuti orang-orang yang lain

mereka masuk kewarung dan mencari tempat duduk.

Warung warung darurat yang didirikau disepanjang jalan itu meski terbuat dari bambu alat-alat

makan yang dipakaikan sudah kelewat jaman, tapi suasananya amat nyaman, udarapun terasa

segar, suatu tempat beristirahat yang amat serasi.

Hoa In-liong mencoba untuk memeriksa keadaan disekeliling tempat itu, ia lihat sebagian besar

tamu dalam warung itu adalah kaum pedagang serta kaum pelancong, tidak kelihatan seorang

jago persilatan pun.

Ketika orang-orang dalam warung itu menjumpai munculnya seorang pemuda tampan bersama

seorang To koh setengah umur, mereka hanya memandang sekejap lalu melanjutkan daharan

masing-masing, tak seorang pun berani memperhatikan lebih lama.

Rupanya sang pelayan juga mengetahui kalau kedua orang tamunya adalah jago-jago persilatan,

tergopoh-gopoh ia menyiapkan hidangan untuk tamu istimewanya itu.

Sambil hersantap, Hoa In-liong bertanya, “Cianpwe, selama ini kau berdiam dimana? Kalau tak

ada urusan lain, bersediakan main selama beberapa hari dirumahku?”

Thia Siok bi meletakkan sumpitnya dan menjawab dingin, “Aku akan tinggal diluar perbatasan!”

Hoa In-liong tertegun, sampai sumpit dan mangkuknya diletakkan kembali kemeja.

“Bukankah cianpwe telah bentrok dengan pihak Hian-beng-kauw? Aku lihat Toan bok See liang

dan Beng Wi cian menaruh perasaan benci dan mendendam terhadap diri cianpwe?”

“Tak usah kuatir, meskipun pinto berada dimulut harimau, tapi kedudukanku sekokoh bukit Thaysan”

Menyaksikan To koh tersebut, kembali Hoa In-liong berpikir didalam hatinya, “Dia begitu tenang,

sedikit pun tidak gugup atau panik meski mara bahaya telah berada didepan mata, janganjangan

hubungannya dengan Hian-beng-kauw memang mendalam sekali?”

Maka sesudah termenung sejenak, dia bertanya lagi, “Apakah cianpwe kenal dengan salah

seorang dari anggota Hian-beng-kauw….?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

683

Sebetulnya Thia Siok bi tidak ingin menjawab, tapi diapun merasa tak tega untuk mendiamkan

pemuda itu, akhirnya setelah termenung jawabnya secara diplomatis, “Yaa, pinto memang

mempunyai hubungan dengan seseorang dari perkumpulan tersebut!”

Dengan kaucu nya?”

Thia Siok bi segera menggeleng.

“Tapi orang itu pasti mempunyai kedudukan jauh diatas Toan bok See liang dan Beng Wi cian

bukan?” desak Hoa In-liong lebih jauh.

“Kau tak perlu memancing-mancing dengan cara itu, percuma usahamu itu bakal sia-sia belaka

sebab pinto tak mungkin akan buka suara, mengenai keadaan dalam perkumpulan Hian-bengkauw….”

Tiba-tiba ia menghela napas panjang, “Nak, tentunya kau tidak membiarkan pinto menjadi

seorang kurcaci penjual teman kan?”

SETELAH To koh itu mengutarakan alasannya, tentu saja Hoa In-liong tak dapat mendesak lebih

jauh, sebab bila ia sampai berbuat demikian sama artinya dengan ia memaksa To koh itu

menjadi seorang penjahat penjual teman. Hoa In-liong tersenyum.

“Perkataan cianpwe terlampau serius, sekalipun boanpwe mempunyai nyali sebesar gajah, tak

nanti aku berani berbuat demikian” katanya.

“Kalau begitu janganlah bertanya”

“Baik!” jawab Hoa In-liong sambil tertawa lirih.

“Hei, apa yang kau tertawakan?” kembali Thia Siok bi menegur dengan wajah membesi, “tak

usah menggunakan akal setan untuk menjebak aku, sebab kalau ingin memancing sepotong kata

dari mulut pinto adalah percuma, lebih baik kau tak usah bermimpi disiang hari bolong”

“Aku kuatir cianpwe marah, tak berani ku utarakan!” kata Hoa-In-liong kemudian.

Thia Siok bi berpikir sebentar, lantas pikirnya, “Aku jadi ingin tahu soal apakah yang membuat ia

tertawa kegelian….”

Karena ingin tahu, dengan kening berkerut dia pun berkata, “Coba katakanlah secara terus

terang, pinto berjanji tidak akan marah….!”

Diam-diam Hoa-In-liong tertawa geli, tapi diluaran dia berpura-pura apa boleh buat, katanya

setengah terpaksa, “Cianpwe, bukan aku yaog ingin bicara tapi cianpwe yang memaksa aku

untuk mengutarakan lho.”

“Sudah tak usah main akal-akalan lagi hayo cepat katakan!” tukas Thia Siok bi setengah

memaksa.

Dengan senyum dikulum ujar Hoa In-liong, “Boanpwe sedang berpikir, mungkinkah sahabat

cianpwe yang berada dalam perkumpulan Hian-beng-kauw itu adalah seorang manusia dari

marga Go….”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

684

Begitu kata Go disinggung, paras muka Thia Siok bi kontan berubah hebat. Melihat gelagat itu

buru-buru Hoa In-liong tutup mulut.

Setelah hening sesaat, paras muka Thia Siok bi pelan-pelan menjadi lembut kembali, katanya,

“Sejak semula pinto sudah banyak mendengar otang berkata bahwa engkau itu licik dan banyak

tipu muslihatnya, pada hakekatnya kau adalah seekor kancil yang sukar dilawan. Pada mulanya

aku masih belum percaya, tapi sekarang aku baru tahu bahwa berita itu bukan cuma kabar berita

kosong belaka”

“Agaknya dugaanku memang tak salah!” pikir Hoa In-liong, “jelas orang yang dimaksudkan

sebagai sahabatnya dalam Hian-beng-kauw pada hakekatnya tak lain adalah bekas suaminya”

Meski dia berpikir demikian dihati kecilnya, tapi diluaran pemuda itu berkata lain, “Cianpwe, aku

cuma mendengar kabar itu dari orang lain, tentu saja belum tentu benar.

Jelek-jelek begini boanpwe toh seorang pemuda yang gagah dan berterus terang….”

“Gagah dan terus terang?” Thia Siok bi tertawa kegelian, “bocah wahai bocah, kau memang tak

tahu malu, masa ada orang memuji diri sendiri? Baru kali ini kutemui orang bermuka tebal

seperti kau”

Hoa In-liong semakin gembira lagi karena To koh itu tak menunjukkan rasa gusar, sambil tertawa

cekikikan katanya.

“Cianpwe kau telah berjanji tak akan marah, kenapa kau telah menjadi cemburu? Wah, saking

tak tenangnya hampir saja jantung boanpwe ikut copot, untungnya….”

Thia Siok-bi tak dapat menahan rasa gelinya lagi, dia tertawa terkekeh-kekeh, hardiknya, “Masa

orang seperti kau bisa merasa tak tenang? Huuh, kalau matahari bisa terbit dari langit barat, aku

baru akan percaya”

Lantaran tujuannya sudah tercapai, Hoa In-liong tidak mendesak lebih lanjut, sambil tersenyum

ia melanjutkan kembali santapannya.

Thia Siak bi tidak berbicara pula, ia meneruskan santapannya dengan kepala tertunduk.

Meskipun tidak mempunyai gelar kependetaan, Thia Siok bi termasuk seorang pengikut agama

To yang saleh, dia pantang minum arak, takaran perutnya juga kecil hanya semangkuk nasi

sudah cukup mengenyangkan perutnya.

Hoa In-liong sendiri, walaupun besar takaran makannya tapi dia bersantap dengan cepat, sejak

tadi dia sudah berhenti makan karena kenyang.

Diatas meja tersedia juga sepoci arak, padahal pemuda itu gemar minum, tapi lantaran berada

dihadapan Thia Siok bi, sebelum To koh itu memberi ijin dia tidak menyentuh barang secawanpun

melainkan sambil menggoyang goyangkan kipasnya dia sabar menanti.

Thia Siok bi melirik sekejap kearahnya, kemudian berpikir, “Bocah ini terlampau cerdik, dan lagi

mempunyai waktu yang cukup ulet, tampaknya sebelum kusinggung sedikit rahasia yang dia

inginkan, tak mungkin bocah ini akan berdiam diri”

Karena berpikir demikian diapun berkata.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

685

“Tampaknya pinto memang tak bisa menangkan dirimu, apa yang ingin kau ketahui? Nah

katakanlah!”

Sambil menyimpan kembali kipasnya jawab Hoa In-liong, “Kalau dibicarakan sesungguhnya

memalukan sekali, meskipun boanpwe dan pihak Hian-beng-kauw sudah berulang kali terjadi adu

kekuatan, tapi hingga kini aku masih belum mengetahui siapakah kaucu mereka….”

“Maaf, maaf!” tukas Thia Siok bi sambil goyangkan tangannya berulang kali, “aku sudah terlanjur

punya janji, sehingga rahasia ini tak mungkin kubongkar. Buat apa buru-buru ingin tahu? Cepat

atau lambat kan kau bakal tahu?”

Sesudah berhenti sebentar, dia menambahkan, “Pinto hanya bisa memberitabukan kepadamu

kalau orang ini mempunyai dendam sakit hati sedalam lautan dengan keluargamu”

“Aaah….omongan semacam ini bukankah sama artinya dengan perkataan yang tak ada

gunanya?” pikir Hoa In-liong, “tidak sedikit gembong iblis yang mampus ditangan nenek dan

ayahku dimasa lalu, siapa tahu Hian-beng Kaucu itu murid siapa?”

Karena ia tak bisa menebak siapa gerangan Hian-beng Kaucu itu, lagipula Thia Siok bi juga tidak

bersedia memberitahukan rahasia ini, terpaksa ia bertanya lagi, “Betulkah markas besar

perkumpulan Hian-beng-kauw terletak di bukit Gi hong san?”

“Darimana kau dapatkan berita? tanya Thia Siok bi tercengang.

“Oooh…. aku tidak memperolehnya dari siapapun, seorang sahabat boanpwe lah yang berhasil

menyelidikinya sendiri, hanya saja betul atau tidak, harap cianpws beri petunjuk kepadaku”

Thia Siok bi termenung sebentar, lalu dengan nada minta maaf katanya lirih, “Aaai….mengenai

soal itu, pinto hanya bisa minta maaf, sebab aku benar-benar tak dapat memberi pertanda atau

ketegasan apa-apa, maafkanlah daku!”

Sepintas lalu meskipun ucapan itu kedengaranoya tidak memberi petunjuk apa-apa, padahal

kalau dicamkan lebih dalam dapat diartikan pula sebagai satu pengakuan yang mengatakan

bahwa dugaan pemuda itu memang benar, Hoa In-liong berpikir sebentar, lalu ujarnya sambil

tertawa, “Waaah…. kalau begitu banyak masalah yang cianpwe, kuatirkan aku jadi bingung

sendiri persolan yang manakah yang harus kutanyakan….”.

Thia Siok bi kembali termenung beberapa saat lamanya.

“Pinto hanya dapat memberitahukan satu hal kepadamu katanya kemudian.

“Silahkan diucapkan cianpwe!” ujar Hoa In-liong dengan wajah serius.

“Rasa benci Hian-beng Kaucu terhadap keluargamu boleh dibilang lebih dalam dari samudra,

entah darimana kemampuan yang dimiliki, ternyata dia dapat mengundang munculnya beberapa

orang gembong iblis sakti untuk membantu pihaknya.

“Sekalipun dia mempunyai jago-jago iblis sakti, memangnya keluarga Hoa dari Im-tiong-san tak

anggup uutuk mengatasinya?” pikir Hoa In-liong didalam hati.

Ketika Thia Siok bi menyaksikan sikap acuh tak acuh dari anak muda itu, dengan suara dalam dia

lantas menegur, “Hoa Yang, apakah kau lupa dengan ajaran ku to yang mengatakan bahwa

orang yang tekebur selamanya pasti kalah?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

686

Hoa In-Iiong terperanjat, wajahnya berubah menjadi serius kembali.

“Aku yang muda mohon petunjuk!”

“Kau jangan terlampau pandang remeh manusia-manusia itu, sebab kendatipun ayahmu sendiri,

bila sudah mengetahui kekuatan yang dimiliki Hian-beng-kauw dewasa ini, belum tentu dia

sanggup untuk mengatasinya….!”

Rupanya To koh setengah umur ini tak berani terlalu banyak berbicara, sampai diseparuh jalan,

tiba-tiba saja perkataannya terhenti.

Melihat itu, kembali Hoa In-liong berpikir, “Kau dilihat dari sikapnya itu, jelas janjinya antara dia

dengan Hian-beng-kauw mencakup pula janji dari Hian-beng-kauw yang tak akan menganggu

dirinya, sebaliknya diapun tak boleh membocorkan rahasia dari Hian-beng-kauw. Aaa…. kalau

begini ketat dia pegang rahasia, jangan harap aku akan berhasil untuk mendapatkan berita

penting”

Tiba-tiba Thia Siok bi berkata lagi, “Tampaknya orang tua dari nona Coa itu sudah terjatuh

ketangan orang-orang Mo kau, cuma anehnya, meski suhengnya Tang kwik Siu adalah seorang

jago yang hebat, Goan cing taysu bukannya tak mampu mengatasinya, tapi kenapa Goan cing

taysu justru membiarkan mereka pergi dengan begitu saja? Apakah engkau tahu apa sebabnya?”

“Kalau dugaanku tak salah, hal ini sebagian besar dikarenakan beliau sudah kehilangan hampir

sebagian besar tenaganya karena harus membantu aku untuk mendesak keluar daya kerjanya

racun keji dari dalam tubuh, oleh karena beliau merasa bahwa tenaga dalam yang dimilikinya

sudah tak cukup untuk merobohkan orang-orang Mo kau, terpaksa mereka dibiarkan pergi

dengan begitu saja. Aaai…. seandainya empek Coa sampai terjadi apa-apa, akulah penyebab

yang mengakibatkan dia menderita”

“Ibaratnya nasi sudah menjadi bubur, toh urusannya telah berkembang menjadi begini,

menyesali diri sendiri juga tak ada gunanya” hibur Thia Siok bi.

Setelah berhenti sebentar dia bertanya lagi, “Jikalau tenaga dalamnya memang sebagian besar

telah lenyap, kenapa dia masih sanggup untuk mendemontrasikan ilmu Lian tay siu- tok

(menyeberang lintas mimbar teratai) dan Kou sim ciong (genta pengetuk hati) dua macam ilmu

maha sakti itu?”

Hoa In-liong berpikir sebentar, lalu jawabnya, “Rupanya dia orang tua telah menggunakan sisa

tenaga dalam yang berhasil dihimpunnya dari sela-sela tubuhnya, cuma keadaan tersebut

rupanya berhasil diketahui oleh Seng To cu, karena itulah dia baru mengucapkan kata-kata sepeti

bagaikan sedang minum air panas atau dingin, yang minumlah yang tahu”

Diam-diam Thia Siok bi manggut-manggut, dia merasa bagaimanapun juga orang asal Liok soat

Ban ceng memang merupakan kawanan manusia yang luar biasa. Dia menghela napas berat.

“Aaai….Seng To cu itu terhitung pula seorang manusia yang hebat, kalau sampai membiarkan Mo

kau dan Hian-beng-kauw bekerja-sama, bukankah kedudukanmu menjadi berbahaya sekali?”

Tiba-tiba dia tertawa dan menambahkan, “Aaah….belum tentu benar pembicaraan kita ini,

jangankan Seng To cu belum tentu mengetahui rahasia tersebut, sekalipun mengetahui dengan

yakin toh dia tetap kuatir untuk bertarung melawan Goan cing taysu, bukankah demikian?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

687

“Persoalan ini sangat rahasia dan besar sekali artinya, harap cianpwe, jangan membocorkan

kepada siapapun” tiba-tiba Hoa In-liong meminta dengan sangat.

“Aaah….!Kamu ini menganggap pinto itu manusia macam apa?” Thia Siok bi rada uring-uringan.

Hoa In-liong menjadi tersipu-sipu sendiri, terpaksa dia tertawa.

“Bila dilihat dari cara cianpwe ini menutup rahasia Hian-beng-kauw, jelas dia adalah seorang

manusia yang dapat dipercaya” demikian ia berpikir dihati, “yaa, perkataanku barusan memang

berlebihan, bukan kebaikan yang diperoleh aku justru malah menimbulkan ketidak senangan

dalam hatinya”

Baru saja dia hendak mengucapkan sesuatu, tiba-tiba berkumandang suara derap kaki kuda yang

ramai diselingi bunyi keleningan, mula mula suara itu kedengaran masih jauh, tapi dalam waktu

singkat sudah makin mendekat, suaranya memekikkan telinga malah dilihat dari gerakan

tersebut, jelas kuda-kuda itu merupakan kuda jempolan yang bisa menempuh seribu li dalam

sehari.

Sebagai orang persilatan, tidak terkecuali Hoa In-liong maupun Thia Siok bi kebanyakan memang

menyukai kuda jempolan dan pedang mustika tanpa terasa mereka berpaling keluar warung.

Diantara debu yang beterbangan di angkasa tampak seekor kuda jempolan berlari mendekat

dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Sedemikian cepatnya kuda itu lari, sampai dengan ketajaman mata Hoa In-liong pun dia hanya

sempat menyaksikan kalau kuda itu berbulu hitam dan penunggangnya bertubuh ramping, jelas

potongan badan seorang nona muda.

Sayangnya ia tak sempat menyaksikan raut wajah sinona itu sebab larinya kuda itu terlalu cepat,

lagi pula ia memandang dari samping, hingga apa yang dilihat kurang begitu jelas.

Ketika mendengar derap kaki kuda yang ramai tadi, para tamu dalam warung bersama-sama

melongok keluar pula, tapi namun mungkin mereka bisa menyaksikan sesuatu kecuali bayangan

kuda, mereka cuma tahu kalau sesosok bayangan manusia duduk diatas pelana.

Setelah kuda hitam itu lewat, suasana menjidi gaduh, semua orang bersama sama

mbiubicarakan kehebatan kuda tadi.

Hoa In-liong sendiri juga teringat kembali akan kuda liong ji nya, setelah ditangkap Cia In dikota

Keng-bun tempo hari, kuda itu tak diketahui lagi jejaknya, tapi dia tidak terlalu menguatirkan, se

bab dia percaya bahwa liong ji sudah mengerti perasaan manusia, orang awam biasa tak

mungkin bisa menungganginya, sedang jago silat tak akan lega untuk melukainya, kalau bertemu

dengan rekan-rekan ayahnya, mereka pasti akan kenali pemilik kuda itu, atau kemungkinan juga

kuda tersebut sudah pulang lebih dulu ke perkampungan Liok-Soat san ceng.

Sementara dia masih melamun, tiba-tiba terdengar Thia Siok bi berseru tertahan, “Hei, aneh

benar! Kenapa budak, itu ikut datang?”

Telapak tangan kanannya segera menekan sisi meja, lalu bagaikan seekor burung raksasa dia

melayang keluar dari warung makan itu.

“Cianpwe….” seru Hoa In-liong gelisah.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

688

“Tunggu saja disitu sebentar!” tukas Siok bi dari kejauhan.

Sebetulnya Hoa In-liong sedang bangkit berdiri, tapi sesudah mendengar perkataan itu dia duduk

kerrbali, pikirnya, “Aku saja tak dapat melihat jelas raut wajah nona itu, masa dengan tenaga

dalam yang lebih rendah dari aku dia bisa melihat jelas siapakah orang itu? Ahh….betul orang itu

pasti orang yang sangat dikenalnya, sebab itu meski sepintas lalu saja dia segera kenali

orangnya”

Dalam pada itu, para tamu lainnya dalam warung itu hanya duduk terbelalak dengan mulut

melongo, satu dua diantaranya sempat pula menarik Hoa In-liong, tampaknya mereka kuatir

kalau pemuda itupun berubah menjidi burung dan ikut terbang, hingga untuk sesaat suasana jadi

hening tak kedengaran sedikit suarapun.

Terhadap lirikan-lirikan dari para pelancong dan para pedagang, Hoa In-liong bersikap pura-pura

tidak melihat, ia menunggu beberapa saat lagi, ketika Thia Siok bi yang ditunggu-tunggu belum

datang juga, akhirnya ia putuskan untuk minum arak sambil membuang kekesalan.

Isi poci arak itu tidak terlalu banyak, tak lama kemudian sudah habis termiaum, maka diapun

berseru, “Hei pelayan, minta satu poci arak lagi!”

Pelayan sudah bersiap siap disana sejak tadi, mendengar panggilan itu dia mengiakan dengan

nada takut, sepoci arak baru dengan cepat sudah dihantarkan, sedang poci kosong diambil pergi.

Tergelak Hoa In-iioug melihat takut-takut dari pelayan itu, tegurnya, “Eeeh….memangnya aku ini

malaikat jahat? Kenapa musti takut terhadapku?”

“Yaa….yaa….yaya memang malaikan bengis….! Sebenarnya pelayan itu hendak mengatakan

kalau dia bukan malaikat bengis, siapa tahu saking gugupnya ia sampai salah berbicara punya

mengatakan tidak, dia malah membenarkan karuan saja kontan mukanya jadi pucat pias seperti

mayat.

Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak, dia mengeluarkan sekeping uang perak dan dilemparkan

ke meja lalu berkata lagi, “Itu, boleb kauambil! Daripada kau tuduh aku ingin makan gratis”

Pelayan tersebut bungkukan badannya berulang kali.

“Yaya, tak usah banyak-banyak, tak usah banyak-banyak” katanya lagi dengan gugup.

Padahal sejak tadi matanya, mengincar terus kepingan uang perak itu, kalau bisa sekali comot

uang itu masuk ke saku sendiri.

Tentu saja Hoa In-liong dapat merasakan isi hati orang, kembali dia tertawa katanya sambil

mengulapkan tangannya berulang kali, “Sana, bawa semua, sisanya untukmu!”

Buru-buru pelayan itu mencomot uang perak tadi kemudian mengucapkan terima kasih berulang

kali, setelah itu buru-buru dia kabur kewarung belakang, seakan akan kuatir kalau Hoa In-liong

menjadi menyesal.

Hoa In-liong tersenyum, dia berpiling lagi keluar warung. Tiba tiba ia menangkap berkelebatnya

sesosok bayangan manusia, bayangan tersebut buru-buru kabur kesemak belukar dan

menyembunyikan diri.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

689

Meski hanya sekilas pandangan, ia kenali orang itu sebagai majikan kecilnya Si Nio atau nona

berbaju ungu itu.

Semula pemuda itu bermaksud untuk menyusulnya, tapi kemudian berpikir, “Ketika melihat aku

disini, dia lantas menyembunyikan diri, sudah jelas nona itu enggan untuk bertemu dengan aku,

kalau sampai ku susul kesana, dia pasti akan menemui aku secara terpaksa, dalam keadaan yang

serba kaku tiada manfaat apa-apa yang bakal kudapatkan, malah kalau sampai Thia cianpwe

kembali kesini dan tidak menemui diriku, urusan akan semakin runyam”

Karena berpendapat demikian, maka ia duduk kembali ditempatnya semula….

Sementara itu para tamu dalam warung sedang berbisik-bisik entah apa yang mereka bicarakan,

suaranya lembut sukar didengar, tapi ada kemungkinan menyangkut tingkah laku Hoa In-liong

yang seenaknya sendiri tanpa memperdulikan apakah disekitarnya, ada orang atau tidak itu….

Kembali setengah jam sudah lewat, akhirnya penasaran Hoa In-liong, dia berpikir.

“Tak mungkin suhunya nona Wan akan beradu kecepatan dengan kuda jempolan tersebut,

tentunya dia akan memanggil namanya, tapi kenapa begini lama? Masa kalau bercakap-cakap

juga membutuhkan waktu selama ini….”

Ingatan tersebut baru saja melintas dalam benaknya, tiba-tiba terdengar teriakan Thia Siok bi

bergema dari depan warung, “Hoa Yang, hayo kita lanjutkan perjalanan!”

Hoa In-liong tidak membuang waktu lagi, diaa bangkit dan melayang keluar dari warung itu.

Baru saja dia berada diluar pintu, Thia Siok bi te1ah menge-rahkan ilmu meringankan tubuhnya

untuk melanjutkan perjalanan.

Buru-buru dia menyusul kemuka, teriaknya, “Hei cianpwe, siapa gerangan nona tadi?”

“Hmni….! Kamu hanya pandainya menanyakan soal nona….!” dengus Thia Siok bi tanpa

menghentikan gerakan tubuhnya.

Jawaban itu cukup membuat pemuda kita meringis serba salah.

“Cianpwe, buat apa kita musti terburu-buru?” kembali serunya.

“Ya, kita musti terburu-buru karena harus menempuh perjalanan sejauh lima ratus li”

Hoa In-Iiong mempercepat langkahnya dan menerjang maju ke depan, kembali dia berseru, “Kita

akan kemana?”

“Ke Hway-im!”

Setelah melirik sekejap, dengan dahi berkerut dia berkata kembali, “Hematlah tenagamu,

perjalanan yang akan kita tempuh bukan suatu perjalanan dekat”

“Oooh….tak menjadi soal, aku yang muda masih sanggup untuk menahan diri” sahut Hoa Inliong

sambil tertawa.

Thia Siok bi mendengus dan tidak berbicara lagi, tiba-tiba ia mempercepat larinya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

690

Hoa In-liong tarik napas dalam-dalam, hawa murninya dihimpun kembali dan terpaksa dia harus

menyusul dibelakang To koh tersebut.

Demikianlah, dua orang itu melakukan perjalanan amat cepat, dari tengah hari sampai magrib

mereka tak pernah berhenti, akhirnya napaspun mulai ngos-ngosan dan ketika itulah mereka

mengurangi kecepatan masing masing….

“Hoa Yang, perlu beristirahat tidak?” tiba-tiba Thia Siok bi menegur.

“Tidak usah, boanpwe masih sanggup untuk bertahan sampai kota Hway-im….”sahut pemuda

itu.

“Baik, kita lanjutkan perjalanan!”

Tiba tiba To koh setengah umur itu mempercepat langkahnya kabur kedepan.

Sambil menyusul dibelakangnya, Hoa In-liong berpikir, “Oooh….tampaknya dia belum

mengerahkan segenap tenaga dalamnya, kalau begitu penilaianku tempo hari salah besar, sebab

meski tenaga dalam yang dimiliki cianpwe ini masih bukan tandingan Tang kwik Siu, akan tetapi

ilmu meringankan tubuhnya lihay banget”

Kurang lebih jam satu tengah malam, akhirnya muncul juga sebuah benteng kota yang amat

besar ditengah kegelapan sana, kota tersebut bukan lain adalah kota Hway-im pusat lalu lintas

antara wilayah utara dan selatan terutama bagi propinsi Kang ci.

Dengan bermandikan keringat tiba-tiba Thia Siok bi menghentikan perjalanannya, dengan napas

tersengkal dia berseru, “Hoa Yang, mari kita atur pernapasan dulu, bila tenaga kita sudah pulih

kembali baru masuk kota”

Hoa In-liong ingin cepat-cepat bertemu dengan Wan Hong giok, segera sahutnya, “Boanpwe

tidak lelah, bagaimaua kalau cianpwe memberitahukan kepadaku dimana muridmu berada, aku

ingin segera menjumpai nona Wan”

Thia Siok bi berpaling, ditemuinya meski peluh membasahi seluruh badan Hoa In-liong dan

napasnya agak tersengkal, tapi yang aneh wajahnya tetap kelihatan segar, kesegaran itu tak

jauh berbeda dengan keadaan disiang hari tadi.

Bila kesegaran pemuda itu dibandingkan dengan wajah layu dirinya yang kecapaian, sudah tentu

tampak perbedaan yang menyolok.

“Aneh betul” demikian pikirnya dengan tercengang, “sekalipun Hian-beng Kaucu atau Seng To cu

tak mungkin kesegaran mereka akan semakin bertambah setelah menempuh perjalanan sejauh

lima ratus li”

Tentu saja To koh setengah umur itu tak pernah menduga kalau Goan cing taysu telah

menambah tenaga dalam Hoa In-liong dengan ilmu Wan kong lip teng (Cahaya Bulan Mencapai

Puncak), suatu kepandaian maha sakti dari kalangan agama Buddha.

Setelah melakukan perjalanan jauh tanpa berhenti, bukan kelelahan yang didapatkan pemuda

itu, justru tenaga murni yang diperolehnya dari Goan cing taysu semakin membaur dengan

tenaga dalam milik sendiri. Otomatis air mukanya kelihatan makin segar.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

691

Hoa In-liong pribadi meskipun tahu akan proses tersebut, diapun tidak menduga kalau hasilnya

luar biasa, diam-diam dia semakin berterima kasih atas kebaikan taysu tersebut.

Thia Siok bi tampak termenung sebentar, kemudian ujarnya, “Kalau toh engkau belum lelah, mari

sekarang juga kita masuk ke dalam kota”

“Cianpwe….”

“Tak usah banyak bicara” tukas Thia Siok bi, toh kita sudah ada perjanjian dimuka, bila ketemu

musuh maka kaulah yang musti maju untuk beradu jiwa”

Sekali melompat dia sudah naik lebih dulu keatas dinding kota.

Buru-buru Hoa In-liong mengikuti dibelakangnya.

Bangunan rumah berderet-deret bagaikan sisik ikan dalam kota itu, dibawah cahaya rembulan

suasana diliputi keheningan, kecuali gonggongan anjing diujung gang sana tak kedengaran

sedikit su arapun.

Sesudah mengatur pernapasan kata Thia Siok bi, “Anak Giok berdiam didalam kuil Hian biau

koan di utara kota, ketua kuil tersebut Keng it To koh adalah sahabat karib pinto”

“Koancu tersebut tentunya seorang jago lihay bukan?” sela anak muda kita.

“Dugaanku keliru besar, dia justru tak pandai bersilat”

Sementara pembicaraan berlangsung, perjalanan sama sekali tidak berhenti, mereka berlarian

melewati atap rumah yang berjejer-jejer. Akhirnya sampailah dimuka sebuah To koan yang

berdinding merah dan dikelilingi pohon bambu.

Meskipun bangunan kuil itu megah dan tanahnya luas, tapi suasananya hening dan nyaman,

suatu tempat pertapaan yang amat serasi.

Thia Siok bi membawa pemuda itu menuju kehalaman belakang, lalu bisiknya, “Keheningan

malam telah mencekam seluruh jagad, kalau kita masuk sambil mengetuk pintu, maka

kedatangan kita ini pasti akan mengganggu nyenyaknya orang tidur, mari kita masuk sendiriseodiri

saja”

Hoa In-liong mengangguk, dia melompati dinding pekarangan dan hinggap di atas gununggunungan,

ditepi kolam dikelilingi kebun bunga yang indah tampaklah sebuah bangunan kecil

yang mungil.

Ketika pemuda tersebut memandang ke arah bangunan itu, hampir saja air matanya bercucuran

saking terharunya.

Cahaya lampu menerangi ruangan itu terang benderang, jendela terpentang lebar dan Wan

Hong-giok sambil bertopang dagu duduk ditepi jendela sambil memandang rembulan di angkasa

dengan termangu, badannya kurus kering mukanya pucat, air mata membasahi pipi dan kelopak

matanya, betapa kusut dan layunya gadis itu!”

“Ooooh….dia begitu kurus” pekik Hoa In-liong, didalam hati. “karena akulah dia ternoda dan ilmu

silatnya punah, dia…. dia….sedang aku ketika berada dibuka Yan-san….”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

692

Tiba-tiba Wan Hong-giok bergumam dengan suara yang memedihkan hati, “Malam ini adalah

malam keberapa? In liong….ooohh In-liong…. kau berada dimuna? Tidak rindukah kau

kepadaku?”

Ia menggelengkan kepalanya berulang kali, kembali gumamnya, “Tidak! Aku tidak minta kau

rindu kepadaku, sebab kalau begini maka kau tak akan senang hati, aku hanya ingin

menyaksikan kau dapat hidup penuh kegembiraan, aku…. sekalipun melupakan diriku juga tidak,

mengapa….”

Selanjutnya gadis itu menggumankan pula kata-kata cinta yang tak terhitung banyaknya, dalam

pelampiasan kata-kata cintanya itu dia hampir saja melupakan diri, dia tidak mengharapkan

balasan dari lawannya, dia hanya ingin menunjukkan kalau cintanya kepada Hoa In-liong lebih

dalam dari samudra, lebih tinggi dari langit….

Hoa In-liong tak dapat menahan diri lagi, air matanya jatuh bercucuran karena terharu, setengah

berbisik dia memanggil.

“Hoag giok….”

Betapa terperanjatnya Wan Hong giok mendengar panggilan itu, tiba-tiba ia berpaling.

Sayang tenaga dalamnya waktu itu sudah buyar, jangan dibilang Hoa In-liong berdiri ditengah

kerumungan bunga, sekalipun berdiri ditengah tanah lapang, belum tentu ia dapat melihatnya

dengan jelas.

Nona itu berusaha mencari sumber datangnya suara itu tapi tidak berhasil, akhirnya dengan

sedih dia menghela napas.

“Yaaa….! Aku terlalu terkenang kepadanya, sampai suaranya pun ikut terkenang.”

Tiba-tiba ia tundukkan kepalanya, lalu dengan sedih bersenandung lirih,

“Air jernih siang malam mengalir di loteng merah.

Sukma yang lemah bergentayangan mengitari nirwana yang indah.

Kapan impian indahku akan menjadi kenyataan?

Mengapa kau tak datang? Mengapa kau tak datang?

Mungkinkah takut menderita kemurungan….?”

Bait-bait tersebut merupakan bait dari syair cinta yang sudah berusia lama, bukan saja penuh

mengandung nada cinta, terutama peng harapannya yang luar biasa, membuat siapapun tahu

kalau gadis malang itu sedang merindukan kekasihnya mengharapkan kunjungan idaman

hatinya.

Air mata bercucuran membasahi seluruh wajahnya Hoa In-liong, diam-diam dia melompat

jendela dan berdiri di belakang Wan Hong-giok, kemudian sambil membelai rambutnya yang

hitam mulus bisiknya lembut, “Hong giok!”

Kasihan sekali Wan Hong-giok, sejak ilmu silatnya punah, hampir boleh dibilang ia seperti orang

awam biasa, sekalipun Hoa In-liong sudah berdiri dibelakangnya ia belum merasa.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

693

Akhirnya setelah pemuda itu membelai rambutnya, gadis itu baru sadar dan berpaling.

Ditatapnya Hoa In-liong dengan termangu-mangu lama….lama sekali, dia baru berbisik lirih,

“Kemarin kau sudah datang, mengapa hari ini kembali? Kalau terlalu sering kau datang kemari

adik Wi bakal tak senang hati”

Tiba-tiba Hoa In-liong merasa hatinya sakit sekali, pikirnya.

“Oooh…. dia masih mengira pertemuan ini adalah bertemuan dalam alam impian, dia…. aku

memang seorang pemuda yang kejam, aku orang yang tak tahu cinta….”

Sebagai diketahui, Hoa In-liong adalah seorang pemuda romantis yang gemar berpacaran,

setelah di pengaruhi oleh emosi nyaris dia muntahkan darah segar.

Buru-buru pemuda itu mengerahkan tenaga dalamnya dan mengatur napas, darah yang bergolak

keras itu berusaha ditekan kembali.

Selesai mengatur pernapasan, dia baru berkata dengan lembut.

“Adik Wi tidak akan tak senang hati atas kedatanganku ini!”

Wan Hong giok mengagangguk dan tertawa bodoh.

“Yaa, aku tahu adik Wi memang gadis yang polos dan baik hati!”

Hoa In-liong makin berduka oleh sikap gadis itu, cepat serunya, Hong giok, pertemuan ini bukan

dalam impian, camkan! Semuanya adalah kenyataan, bukan cuma impian belaka!”

Mula-mula Wan Hong giok agak tertegun, kemudian bisiknya seperti orang bodoh, “Kenyataan?

Kenyataan?”

Biji matanya yang jeli mengerling kesana kemari tangannya diulurkan kedepan seakan-akan

hendak menyentuh tubuh Hoa In-liong serta membuktikan babwa kejadian itu memang suutu

kejadian yang sungguhan.

Tapi….secara tiba-tiba ia menarik kembali tangannya seperti mendadak kena dipagut ular,

rupanya dia kuatir bila sentuhan tersebut kosong ma a impian indahnya akan tercabik-cabik dan

idaman hatinya yang berada dihadapannya akan lenyap dengan begitu saja.

Sambil menahan lelehan air matanya Hoa In-liong maju kemuka dan memeluk tubun Wan Hong

giok dengan psauh kemesrahan, bisiknya dengan lembut, “Sekarang kau sudah percaya bukan?”

“Sekujur badan Wan Hong giok gemetar keras, tiba-tiba meledak isak tangisnya.

“Oooh In liong….”

Dia menyusupkan kepalanya kedalam pelukan pemuda itu dan balas memeluknya dengan penuh

kemesrahan.

Dalam kejut dan girangnya, gadis itu merasakan pula kesedihan yang luar biasa, sambil memeluk

erat-erat tubuh Hoa In-liong, dia menangis sejadinya, hingga dalam waktu singkat, sebagai besar

pakaian yang dikenakan Hoa In-liong sudah basah kuyup.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

694

“Jangan menangis! Jangan menangis….” bisik Hoa In-liong sambil membelai rambutnya yang

mulus.

Untuk sesaat pemuda itupun hampir melupakan segala-galanya termasuk keadaan

disekelilingnya.

Beberapa saat kemudian, Wan Hong giok baru pelan-pelan menjadi tenang kembali, sambil

menyembunyikan kepalanya dipelukan orang, dia berbisik lirik, “Baik-baikkah engkau selama ini?”

“Aku baik sekali, justru kaulah yang harus baik-baik menjaga diri!”

ketika dilihatnya gadis itu masih memeluknya erat-erat, seolah olah takut kalau sampai lepas

tangan, maka pemuda idamannya akan lenyap dengan begitu saja, tersenyumlah Hoa In-liong.

“Bagaimana kalau kita duduk dulu baru berbicara lagi?” bisiknya kemudian.

Wan Hong giok yang berada dalam pelukan itu mengangguk, dia melepaskan pula rangkulannya.

Setelah duduk Hoa In-liong baru memeriksa sekejap suasana dalam ruangan itu, dia lihat kamar

itu bersih sekali, kecuali pembaringan yang di atur dengan rapi, hanya terdapat sebuah meja

dengan empat buah kursi, sebuah lilin kecil menerangi ruangan tersebut.

Pedih rasanya pemuda itu, pikirnya, “Gadis secantik dia tidak sepantasnya kalau berdiam

ditempat seperti ini”

Rupanya Wan Hong giok merasakan apa yang dipikirkan pemuda itu, sambil tersenyum tiba-tiba

ujarnya, “Aku senang sekali dengan tempat seperti ini, mana bersih mana sunyi lagi!”

Hoa In-liong tertawa paksa.

“Malam semakin larut, kenapa kau belum tidur?” bisiknya, “tahukah kau bahwa caramu ini hanya

akan merusak kesehatan saja?”

Wan Hong giok tertawa.

“Aku belum ingin tidur!” jawabnya singkat.

Tapi satelah berhenti sebentar, dia berkata lagi, “Padahal tidak tidur juga tak menjadi soal, coba

lihat! Bukankah aku tetap sehat wal’afiat?”

Dengan perasaan sedih, kasihan dan lara, Hoa In-liong mengawasi raut wajahnya yang cantik

tapi kurus dan sayu itu, kemudian setelah tertegun sesaat bisiknya lagi, “Kau…. kau kelihatan

lebih kurus”

Sambil tertawa Wan Hong giok gelengkan kepalanya berulang kali, dia tidak berkata apa-apa.

Hoa In-liong tidak tahu yang diartikan gadis itu tidak bertambah kurus ataukah menjadi soal,

pemuda itu berdiri tertegun.

“Kau…. kau….” Tiba-tiba Wan Hong giok mengalikan pokok pembicaraan ke soal lain, tanyanya,

“Bagaimana kau bisa tahu kalau aku berada di sini?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

695

Hoa In-liong tahu kalau gadis tersebut tak ingin terlalu banyak membicarakan soal itu, maka

segera jawabnya, “Suhumu yang mengajak aku kemari!”

Padahal Wan Hong-giok sudah tahu kalau pasti gurunya yang memimpin pemuda itu ke situ,

pertanyaan itu memang sengaja diajukan untuk mengalihkan pokok pembicaraan saja.

Maka sambil manggut-manggut dia bertanya lagi.

“Sekarang, dia orang tua berada dimana?”

Hoa In-liong tidak menjawab, dia cuma berpikir didalam hati, “Sejak masuk kedalam kamar ini,

aku tidak terlalu memperhatikan dirinya lagi, tapi jelas cianpwe yang sangat menguatirkan keselamatan

muridnya itu pasti bersembunyi disekitar tempat ini”

Baru saja dia akan menjawab, ketika secara tiba-tiba berhembus lewat angin tajam, diantara

cahaya lilin yang bergoncang-goncang, Thia Siok bi sudah muncul didalam ruangan.

“Suhu….” pekik Wan Hong giok dengan sedih.

Dia melompat kedepan dan menubruk kedalam rangkulan Thia Siok-bi, kemudian melelehkan

isak tangisnya.

Air mata meleleh keluar dan membasahi pula pipi Thia Siok bi, dengan mulut membungkam dia

cuma bisa membelai rambut muridnya.

Akhirnya setelah hening beberapa saat lamanya Thia Siok-bi memanggil dengan suara lirih,

“Anak Giok!”

“Ada apa suhu?” dengan muka yang basah oleh air mata Wan Hong giok menengadah.

Makin sedih perasaan Thia Siok-bi menyaksikan betapa layu dan kurusnya wajah gadis itu, tapi

dia paksakan juga sebuah senyuman.

“Masuklah dulu ke dalam, suhu ingin bercakap-cakap dengan Hoa kongcu” katanya.

Hoa In-liong terkesiap, dengan cepat dia berpikir, “Rupanya din hendak membicarakan nasib

Wan Hong giok dengan diriku, wah…. apa dayaku?”

“Rupanya Wan Hong giok juga menduga sampai kesitu, dengan cepat dia menggelengkan

kepalanya berulang kali.

“Tidak! Aku tidak mau!”

Mula-mula Thia Siok-bi agak tertegun, lalu sambil berpura-pura marah serunya lagi, “Masa

perkataan suhupun tidak kau turuti?”

“Oooh suhu! keluh Wan Hong-giok dengan sedih, mari kita pulang keluar perbatasan saja, tecu

sudah bosan dengan daratan Tionggoan”

Thia Siok bi tertawa getir.

“Anak bodoh masa selama hidup kau hendak mengikuti suhumu? Sebagai anak perempuan,

akhirnya toh kau harus….

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

696

Sebelum kata menikah sempat meluncur keluar, tiba-tiba Thia Siok bi menghentikan ucapannya,

dia kuatir Wan Hong giok akan menjadi sedih setelah mendengar perkataan itu, apalagi sejak

kesucian tubuhnya ternoda.

Siapa taha justru sikap gurunya ini semakin menambah kepedihan hati Wan Hong giok, isak

tangisnya makin menjadi.

“Oooh…. suhu, tecu tak mau menikah, teca rela mendampingi suhu sepanjang masa”

“Aaai…. tapi suhu tak perlu kau dampingi terus” keluh Thia Siok bi sambil menghela napas.

Sambil menahan isak tangisnya yaug keras kata, Wan Hong giok lagi, “Suhu kalau kau sudah tak

maui aku lagi, biarlah tecu mencari sebuah biara dan cukur rambut menjadi pendeta disitu”

“Anak Giok….”

“Atau kalau tidak, di To koan inipun boleh juga”

Hoa In-liong hanya bisa berdiri membungkam menyaksikan adegan tersebut, tanpa disadari air

matanya ikut meleleh keluar membasahi pipinya.

Thia Siok bi tampak agak tertegun, tiba-tiba dia mengalihkan sorot matanya, dengan sinar mata

setajam sembilu bentaknya, “Hoa Yang!”

Hoa In-liong terkesiap, dengan cepat dia menyahut, “Hoa Yang!”

Kembali Thia Siok bi berkata dengan suara dingin, “Tahukah engkau apa yang menyebabkan

muridku menjadi begini?”

“Yaa, dosa boanpwe memang tak terampuni!” bisik Hoa In-liong dengan air mata berlinang.

“Kalau memang begitu, kau harus memberi pertanggungan jawab kepada muridku”

Hoa In-liong tertegun, dengan penuh kesangsian ia menatap kedua orang perempuan itu

bergantian, tak sepatah katapun sanggup diucapkan.

Sekalipun pemuda itu suka bermain cinta, tapi dia sangat memandang tinggi apa artinya cinta

itu, ternodanya Wan Hong giok dalam pandangannya merupakan suatu peristiwa yang patut

disesalkan, cuma bila dia musti mengikat janji dengan begitu, lantas bagaimana penyelesaiannya

dengan Coa Wi wi?

Sekalipun belum terlalu lama pergaulannya dengan Coa Wi wi, tapi secara diam-diam kedua

belah pihak sudah saling mengikat janji, boleh dibilang cinta mereka dimulai sejak pandangan

pertama.

Maka kalau berbicara soal istri, Coa wi-wi adalah orang yang paling pantas untuk kedudukan itu.

Apalagi meski dia binal tapi peraturan rumah tangganya sangat ketat, soal perkawinanpun

merupakan masalah besar, tak mungkin baginya untuk menyanggupi tanpa berunding dulu

dengan orang tuanya. Yaa sekarang dia setuju, bila lain waktu ayahnya menyatakan keberatan,

lantas bagaimana….?

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

697

Hoa In-liong tidak ingin menjadi seorang pemuda yang mencla mencle, terutama mengingkari

ucapannya sendiri. Sebagai seorang pemuda yang bijaksana, sebagai seorang laki-laki sejati

terutama sebagai keturunan orang ternama, pemuda itu tak mau berbuat gegabah sebelum

memutuskan sesuatunya dia ingin renungkan dan pertimbangkan dulu masalahnya masakmasak.

Sebab itu, sekian lamanya pemuda itu tetap membungkam, dia tak tahu bagaimana musti

memberikan jawabannya.

Tiba-tiba Wan Hong giok mengeluh sambil menangis tersedu-sedu, “Oooh….suhu, kau tak usah

memaksanya, tecu rela menjadi pendeta dan hidup mengasingkan diri….”

“Kau tak usah banyak bicara” bentak Thia Siok bi, “akulah yang berhak mengaturkan segala

sesuatunya untukmu!”

“Tapi kalau suhu hendak memaksa tecu untuk kawin, lebih baik tecu mati saja!”

Thia Siok bi, tidak menggubris muridnya lagi, dia berpaling ke arah Hoa In-liong dan bentaknya

kembali, “Ayoh, cepat beri keputusan yang tegas….”

Hoa In-liong tertegun.

“Boanpwe…. “

Terbayang kembali raut wajah ayahnya yang keren dan suara neneknya yang penuh wibawa,

pemuda itu menjadi gelagapan dan tak mampu melanjutkan kembali kata-katanya.

Tiba-tiba Wan Hong giok berpekik sedih.

“Oooh suhu….maafkanlah ketidak berbaktinya muridmu ini….!”

Sambil meronta dari rangkulan Thia Siok bi, dia lari kedepan dan menumbukkan kepalanya di

atas dinding ruangan.

Sejak berangkat meninggalkan bukit Yan san tempo dulu, sebetulnya Wan Hong giok sedang

melanjutkan perjalanannya menuju ke utara didampingi Ki ji, kebetulan Thia Siok bi yang kangen

dengan muridnya juga dalam perjalanan menuju ke Tionggoan, akhirnya mereka berpapasan dan

saling berjumpa di tengah jalan.

Kejut dan marah Tbia Siok bi menyaksikan keadaan muridnya yang mengenaskan itu, dia

mendesak muridnya agar menceriterakan musibah apa yang telah menimpa dirinya, tapi Wan

Hong giok bersikeras tetap membungkam, akhirnya dari Ki ji lah To koh itu berhasil mengetahui

duduknya persoalan….

To koh itupun mendapat tahu kalau muridnya bisa menjadi begini karena demi keselamatan

seorang keturunan keluarga Hoa Yang bernama Hoa Yang alias Hoa In-liong. Maka setelah pikir

punya pikir dia merasa hanya ada satu jalan untuk membuat muridnya gembira lagi, yaitu

mengawinkan muridnya itu dengan Hoa In-liong.

Begitulah sesudah menyusun rencana, akhirnya Thia Siok bi meninggalkan kedua orang itu di

kota Hway-im, sementara dia sendiri segera berangkat ke kota Kim leng.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

698

Padahal Thia Siok-bi juga tahu akan urusannya lebih sulit daripada naik kelangit, tapi apa boleh

buat, demi kebahagian muridnya dia harus berusaha dengan segala kemampuan yang

dimilikinya, kalau terpaksa diapun akan memaksa Hoa In-liong untuk mengawini muridnya.

Wan Hong giok sendiri sebetulnya amat mencintai Hoa In-liong boleh dibilang setiap waktu

setiap saat selalu merindukan pemuda itu, tapi sejak ternoda ia merasa tubuhnya sudah kotor

dan tidak pantas untuk mendampingi Hoa In-liong lagi, sudah menjadi tekadnya semenjak dulu

bahwa ia lebih suka menghabisi nyawa sendiri daripada harus kawin dengan pemuda pujaannya.

Sebab itulah ketika Thia Siok bi memaksa pemuda itu untuk menerima lamaran, dengan

perasaan yang hancur luluh gadis itu menjadi nekad dan ingin menghabisi nyawa sendiri.

Tentu dua orang jago silat yang hadir dalam ruangan itu tak akan membiarkan dia mati

penasaran….„

Sebelum kepalanya sempat membentur diatap dinding, Hoa In-liong sudah menyusup

kehadapannya serta merangkul gadis itu kedalam pelukannya….

Sejak ilmu silatnya musnah, kesehatan badan Wan Hong giok lebih rapuh dari orang lain, apalagi

setelah mengalami pukulan batin yang cukup berat, sejak tadi dia sebetulnya sudah tak tahan,

maka begitu dirangkul oleh Hoa In-liong, pingsanlah gadis itu.

Thia Siok bi putus asa bercampur kecewa, menyaksikan tekad muridnya yang lebih baik mati

daripada kawin, teringat pula kedudukan keluarga Hoa Yang begitu tinggi dalam dunia persilatan

ser ta ternodanya Wan Hong giok, dia betul-betul merasa tak ada harapan untuk melangsungkan

apa yang diharapkan.

Sambil mendepak-depakkan kakinya ketanah, serunya dengan penuh kebencian, “Sudahlah,

sudahlah….percuma!”

Tiba-tiba ia merampas tubuh Wan Hong giok dari dukungan Hoa In-liong, kemudian melompat

keluar dari jendela.

Mula-mula Hoa In-liong tertegun, menyusul kemudian sambil mengejar keluar teriaknya dengan

gemetar, “Cianpwe, nona Wan….”

Sambil berpaling tiba-tiba Thia Siok-bi mengancam, “Kalau engkau berani menyusul kami, jangan

salahkan kalau pinto tak akan sungkan-sungkan lagi”

Sementara Hoa In-liong masih tertegun, sambil mendengus dingin Thia Siok bi sudah berangkat

menuju ke utara.

Hoa In-liong cuma bisa berdiri termangu-mangu sambil melamun, “Ibuku dan mama (Chin Wan

hong) paling menyayangi diriku, mereka pasti berdiri dipihakku, sedang nenek dan ayah meski

keras dan keren, rasanya setelah kuterangkan mereka akan menjadi tahu, berarti kesulitan

pertama bisa kuatasi. Adik Wi baik hati dan suka memaafkan kesalahanku, rasanya diapun bisa

memahami posisiku saat ini….”

Berpikir simpai disitu, pemuda itu segera memutuskan untuk menyusul Wan Hong giok berdua,

dengan suara lantang dia berteriak, “Cianpwe, harap berhenti.”

Teriakan itu cukup keras, apalagi ditengah keheningan malam yang mnyelimuti seluruh jagad,

teriakan tersebut hampir terdengar diseparuh bagian kota Hway-im.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

699

Pemuda itu sudah mengambil keputusan, apapun yang terjadi, dia akan menikahi Wan Hong giok

Ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya tidak berada dibawah kepandaian Thia Siok bi, apalagi

To koh setengah umur itu harus membawa seorang yang lain, ketika berada dikaki dinding kota

mereka berhasil disusul oleh pemuda itu.

Dengusan dingin bergema memecahkan kesunyian, melihat pemuda itu menyusul datang Thia

Siok bi segera memutar tubuhnya, lalu senjata Hud tim nya disapu kedepau menghantam batok

kepala lawan.

Hoa In-liong sedikitpun tidak bergerak, sekalipun serangan sudah berada di depan mata, ia tidak

berniat untuk menghindarkan diri.

Bayangkan saja betapa dahsyatnya serangan itu kalau sampai kena sasaran niscaya pemuda itu

akan mampus.

Thia Siok bi, amat bersedih hati atas tragedi yahg menimpa murid kesayangannya, karenanya

dalam melancarkan sapuan tersebut diam-diam ia sertakan pula tenaga serangan sebssar dua

belas bagian.

Seandainya serangan itu sampai menghajar telak ditubuh Hoa In-liong, kalau tidak matipun

paling sedikit akan terluka parah.

Tapi setelah ia saksikan betapa murung dan sedihnya anak muda itu, terutama sikap pasrahnya

terhadap nasib, secara tiba-tiba saja melunakkan hatinya.

“Aaai…. Sudahlah.” begitu dia berpikir, “toh dalam kejadian ini dia memang tak bisa disalahkan!”

Disaat yang terakhir dia menarik kembali sebagian besar tenaga dalamnya, seranganpun

dimiringkan kesamping, dengan begitu senjata Had tim tersebut hanya mengejar bahu kiri Hoa

In-liong.

Sianak muda itu mendengus tertahan, bahu kirinya robek dan tubuhnya ikut roboh terjungkal

dari atas dinding pekarangan.

Thia Siok bi menghela napas sedih, sambil membopong tubuh Wan Hong giok dia berlarian

menuju keutara.

Sambil menahan rasa sakit Hoa In-liong melompat kembali keatas dinding pekarangan, kemudian

teriaknya keras-keras, “Cianpwe, harap tunggu dulu, aku yang muda bersedia menerima

perintahmu!!”

Malam yang sepi keheningan yang merccekam, hanya suara teriakannya yang berkumandang

sampai nun jauh disana, namun tiada jawaban dari Thia Siok bi.

“Ji-kongcu!” tiba-tiba seseorang mamanggil dengan suara yang lembut merayu.

Hoa In-liong segera berpaling, ternyata Ki ji yang datang, maka serunya dengan gelisah,

“Nonamu sudah kembali kekota King-leng, lebih baik kau cepat cepat pulang!”

Kemudian tidak menunggu jawaban lagi dia melompat turun dari dinding pekarangan itu dan

kabur ke utara.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

700

“Eehh…. ji-kongcu! Bagaimana dengan kau sendiri?” teriakan Ki ji masih sempat berkumandang

dari belakang sana.

“Aku masih ada urusan!” pemuda itu menjawab tanpa berpaling lagi.

Sesudah menitahkan Ki ji agar segera pulang kerumah, pemuda itu tak ada minat untuk

menggubrisnya lebih jauh, dengan kecepatan paling tinggi dia bergerak keutara, kearah mana

Thia Siok bi melenyapkan dirinya tadi….

Berapa waktu sudah lewat pengejaran masih berlangsung terus, namun orang yang disusul tidak

tampak juga batang hidungnya.

“Rupanya To koh itu memang tidak bermaksud menjumpai aku” akhirnya dia berpikir, “yaa, kalau

memang begitu, dikejar terus juga tak ada gunanya….”

Menurut perhitungannya Thia Siok bi tak mungkin bisa pergi terlampau jauh, meskipun ilmu

meringankan tubuhnya sempurna, toh dia musti membopong Wan Hong giok sebagai suatu

beban, sepantasnya kalau dia tak bisa lari cepat.

Tapi sudah sekian lama dia melakukan pengejaran, pemuda itu percaya kecepatan larinya tidak

berada dibawah To koh tersebut tapi kenyataannya sudah semakin lama dia mengejarnya, tapi

orang yang di cari-cari belum ketemu juga, ini membuktikan kalau mereka memang sengaja

menghindari pertemuannya.

Karena berpendapat demikian, pemuda itu menghentikan kembali pengejarannya, lalu bergumam

seorang diri, “Lebih baik aku berjalan selangkah lebih duluan, kemudian kujaga jalanan menuju

ke utara ini, dengan demikian, mereka berdua pasti tak akan menyangka, dan kesempatan untuk

menemukan jejak merekapun akan semakin bertambah besar”

Dari kota Hway-im menuju ke utara memang tersedia beberapa buah jalan, tapi jalan pemerintah

cuma ada satu. Sekarang yang paling dikuatirkan anak muda itu adalah bila berdua memilih jalan

kecil, bahkan memilih jalan bukit yang lebih sukar untuk menghindari pertemuan dengannya.

Maka sesudah mempertimbangkannya sekian waktu, akhirnya dia memutuskan untuk mencegat

dikota Si ciu saja.

Setelah mengambil keputusan, dia menentukan arah dan berangkat menuju ke arah barat laut.

Perjalanannya kali ini dilakukan dengan mengerahkan segegap ilmu meringankan tubuh yang

dikuasahinya, seperti hembusan angin puyuh saja badannya berkelebat maju ke depan….

Jarak antara kota Hway im sampai di kota Si ciu memang tidak terlampau jauh, tapi

bagaimanapun juga orang harus beristirahat sebelum meneruskan perjalanannya, apalagi belum

lama berselang pemuda itu sudah melakukan perjalanan sejauh lima ratus li tanpa berhenti

dengan begitu maka tenaga dalam yang terbuangpun tidak akan terlampau banyak.

Hoa In-liong yang berpengalaman tidak tahu namun setiap menit setiap detik dia selalu

membabayangkan wajah Wan Hong giok yang layu, membayangkan tragedi yang menghancur

lumatkan perasaan gadis itu, dia merasa sakit hati, dia ingin menggunakan segenap kekuatan

yaug dimilikinya untuk melampiaskan semua kekesalan, membuang semua kemurungan yang

mengganjal hatinya sebab itu dia melakukan perjalanan tanpa hentinya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

701

Apa yang terjadi kemudian? Tenaga dalamnya bukan saja tidak menjadi habis lantaran tindakan

tersebut, malah sebaliknya hawa murni itu mengalir semakin lancar, kian ngotot dia berlari kian

segar badannya dan kian bertambah cepat pula larinya.

Lama kelaman sadarlah pemuda tersebut atas keajaiban itu, dia tahu kesemuanya ini adalah

berkat pemberian dari Goan cing taysu,

“Demi aku, entah berapa banyak yang dikorbankan dia orang tua?” demikian ia berpikir, “bila aku

tahu diri, dan menghambur-hamburkan tenaga pemberiannya, bukankah perbuatan ini sama

halnya dengan menyia-nyiakau pengorbanan dia orang tua?”

Karena berpikir demikian, maka pemuda itu segera merubah rencananya semula, setelah tiba di

kota Siciu, sambil mencari jejak Wan Hong-giok dan gurunya, diam-diam diapun melatih ilmu

silatnya dengan lebih tekun.

Keesokan harinya ketika sore menjelang tiba, Hoa In-liong telah tiba di kota Si ciu dan masuk

lewat pintu sebelah timur.

Sebagaimana diketahui, Hoa In-liong itu orangnya tampan, dandanannya perlente dan gerakgeriknya

mencerminkan seorang anak hartawan yang gagah perkasa, tapi bahu kirinya basah

oleh noda darah, keistimewaan tersebut dengan cepat menarik perhatian orang banyak.

Terhadap sikap keheranan orang banyak itu Hoa In-liong berpura-pura tidak melihat, dia menuju

ke rumah penginapan Tay hok yang merupakan rumah penginapan terbesar di kota Si ciu dan

memesan sebuah ruangan yang tersendiri, lalu selelah mencuci badan dan bersantap, dia

memanggil seorang pelayan, memberinya sekeping uang perak seraya berpesan, “Belikan kain

putih sekodi dan bahan baju yang persis dengan pakaianku ini, cepatan sedikit!”

Pelayan itu menerima uang tersebut dan ber-bongkok-bongkok sambil mengiakan, padahal dihati

dia menggerutu, “Aneh betul orang ini, buat apa kain putih sebanyak itu? Masa mau berkabung?”

Baru saja dia memutar badannya, tiba-tiba Hoa In-liong memanggil lagi, “Hei pelayan!”

“Tuan masih ada perintah apa lagi?” buru-buru pelayan itu memutar badannya.

“Tolong pinjamkan juga alat menulis dari kasir!”

Jilid 35

KEMBALI pelayan itu membungkukkan badan sambil mengundurkan diri dari sana. Tak lama

kemudian, kain putih yang dipesan, bahan pakaian serta alat menulis sudah dihantar masuk ke

dalam kamar.

Hoa In-liong merobek kain putih itu menjadi ukuran dua kaki lebih tujuh delapan depa sebanyak

empat lembar, lalu diletakkan dimeja dan dia mulai menulis.

Beberapa saat kemudian, keempat lembar kain putih itu sudah selesai di tulis, sambil meletakkan

penanya ke meja, dia menghela napas panjang, gumamnya, “Aaai….jika cara iinipun tidak

mendatangkan hasil, untuk menemukan Wan Hong giok berdua rasanya akan sulit kembali….”

Setelah berganti pakaian dan tulisan diatas kain putih itu sudah kering, dia menggulung kain tadi

menjadi satu dan meninggalkan rumah penginapan, meski bahunya pernah terluka, sekarang

telah sembuh kembali jadi tidak terlalu mengganggu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

702

Waktu itu magrib sudah menjelang tiba, lampu sudah memancar dimana-mana, banyak orang

berlalu lalang dijalanan, pasar malam baru dimulai dan suasananya amat ramai.

Hoa In-liong mendatangi keempat buah pintu kota, dibawah tontonan banyak orang, dia

mengeluarkan ilmu meringankan tubuhnya dan menggantungkan kain putih berisi tulisan

tersebut diatas loteng kota, terhadap perhatian banyak orang, ia sama sekali tak ambil perduli.

Begitu kain digantung, orangpun berkerumun di sekitarnya untuk membaca isi tulisan tersebut.

Pada kain putih tadi, tertera beberapa huruf besar yang menyolok, tulisan itu berbunyi, “HOA

YANG DARI IM TIONG SAN SEDANG MENCARI ORANG”.

Disini tulisan itu tertera lukisan wajah dari dua orang perempuan, lalu disertai pula nama serta

senjata yang mereka gunakan. Diterangkan juga barang siapa menemukan kedua orang itu

harap memberi kabar ke rumah penginapan Thian hok dan diberi hadiah yang sepantasnya.

Setelah kain itu tergantung disetiap pelosok pintu kota, seluruh kota Si Ciu menjadi gempar,

mereka bukan gempar karena akan diberi hadiah besar melainkan Hoa In-liong adalah keturunan

Im tiong san.

Sebagaimana diketahui, nama Hoa Thian-hong sudah tersohor sampai dimana-mana, ibaratnya

sang surya ditengah hari, bukan jago persilatan saja yang mengenalnya, bahkan rakyat kecilpun

mengagumi nama besar pendekar tersebut.

Dan sekarang, keturunan keluarga Hoa hendak mencari orang, setiap orang segera menaruh

perhatian, setiap orang berusaha untuk membantunya kegemparan yang menyelimuti kota Si Ciu

boleh di bilang belum pernah terjadi sebelumnya.

Sementara itu Hoa In-liong kembali ke rumah penginapan setelah menggantungkan kain putih

itu, betapa bangganya dia ketika dilihatnya perbuatan tersebut mendatangkan hasil.

“Sekarang aku tinggal duduk sambil menanti berita” demikian pikirnya, “beginikan lebih enak,

aku tak usah bersusah payah tapi hasil yang mungkin dicapai malah justru jauh lebih besar….”

Sejak itu hari, dia menutup diri dalam kamar, semua pengagum yang berkunjung datang

ditampik secara halus.

Tiga hari sudah lawat, tapi belum juga ada kabar beritanya, seakan-akan Thia Siok bi tak pernah

melewati kota Si ciu, melainnya hanya melintas dari sekitarnya.

Hari keempat pagi, diatas pintu kota tiba-tiba muncul kembali selembar kain besar.

Diatas kain putih itu tertera pula bsberapi huruf besar, tulisan itu berbunyi demikian,

“HOA IN-LIONG MENANTANG PERANG KEPADA HIAN-BENG-KAUW, MO KAU SERTA KIU IM

KAU”.

Munculnya kembali Kiu im kau dan Mo kau dalam dunia persilatan tidak diketahui banyak orang,

apalagi pertikaian antara Hian-beng-kauw dengan Hoa In-liong, kecuali orang yaag berurusan

langsung, boleh dibilang orang lain tak ada yang tahu, bahkan nama perkumpulan itupun belum

pernah mereka dengar.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

703

Maka setelah kain putih yang berisi tantangan itu muncul didepan umum, semua orang mulai

berbisik-bisik membicarakan persoalan itu, mereka mulai bertanya: ‘Hian-beng-kauw adalah

suatu perkumpulan macam apa?’

Diantara mereka, ada pula yang mengusulkan agar mendatangi Hoa In-liong serta menanyakan

sendiri tentang persoalan itu.

Tentu saja mereka hanya berani berbicara dibibir dan tak berani melakukan secara sungguhsungguh.

Berapa bulan sudah lewat tanpa terasa, suasana dalam dunia persilatan mengalami pergolakan

yang sangat hebat.

Kawanan jago persilatan dari pelbagai penjuru negara berdatangan kekota Si ciu, diantara

mereka ada yang ingin memberi bantuan, ada pula yang ingin menonton keramaian saja, perduli

apapun tujuan mereka, pokoknya dalam kota Si ciu telah di penuhi oleh manusia manusia

berpakaian ringkas ynng membawa senjata lengkap.

Rumah-rumah makan, warung arak, rumah penginapan telah dipenuhi oleh tamu-tamu tersebut,

mereka amat berterima kasih kepada Hoa-jiya, sebab kehadiran Hoa In-liong telah mendapatkan

banyak rejeki serta keuntungan bagi usaha mereka.

Apalagi tamu tamunya itu kebanyakan royal. Setiap hari kerja mereka hanya makan minum dan

keluyuran, sudah barang tentu keuntungan yang di berikan makan minum mereka juga ikut

berlimpah ruah.

Tapi ada satu hal yang merisaukan mereka, yaitu sikap mereka yang kasar dan berangasan,

sedikit salah berbicara bisa menga-kibatkan terjadinya pertumpahan darah yang mengerikan.

Pokoknya, akibat dari ulah Hoa In-liong itu, banyak pengusaha yang berhasil memetik hasil

keuntungan, tapi ada pula yang ketimpa malang. Kota Si ciu terasa bertambah semarak dan

ramai.

KALAU ditempat luar mengalami kesibukan yang luar biasa, lain halnya dengan Hoa In tiong, dia

menutup diri didalam kamar dan menggunakan keheningan yang mencekam sekelilingnya

pemuda itu melatih diri dengan tekun.

Makanan dan minuman telah tersedia karena setiap hari, pelayan menghantar langsung ke

kamarnya, meski begitu, kadangkala makanan itu sama sekali tak disentuh, dari sini dapat

diketahui betapa rajinnya pemuda tersebut melatih diri.

Dengan munculnya kembali hawa siluman menyelimuti dunia persilatan, secara lamat-lamat hu

an badai segera akan berlangsung. Hingga kini kontak senjata secara langsung memang belum

pernah terjadi, tapi bahaya besar kian hari kian mengancam kesejahteraan hidup manusia dalam

dunia persilatan.

Ditinjau dari pembicaraan nenek dan ayahnya, tampak kalau mereka mempunyai sesuatu

kesulitan sehingga tak mungkin untuk terjun kembali ke dalam dunia persilatan, itu berarti beban

berat tersebut telah terjatuh diatas bahunya.

Bayangkan saja, dengan beban dan tanggung jawab sebesar ini, darimana mungkin ia bisa

berbuat seenaknya sendiri?

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

704

Pagi itu Hoa In-liong sedang berlatih ilmu pedang ditengah halaman depan.

Pada mulanya setiap gerakan pedang yang dilakukan tentu menimbulkan deruan angin tajam

yang memekikkan telinga, banyak gunung-gunungan, pepohonan dan bebuahan yang rusak dan

porak-poranda termakan hawa pedang itu, untunglah sebelum kejadian ia telah mengatakan

kepada pemilik rumah penginapan itu bahwa dia bersedia membayar semua kerugian yang

terjadi, jadi terhadap kerusakan yang kemudian timbul, pemilik penginapan tidak ambil perduli.

Belakangan ini pemuda tersebut dapat menggunakan hawa murninya jauh lebih sempurna,

setiap gerakan pedangnya tidak menimbulkan suara tapi hasilnya luar biasa, sedemikian

pesatnya kemajuan yang berhasil dicapai sehingga dia sendiripun merasa rada diluar dugaan.

Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk orang, disusul kemudian suara teriakan dari sang

pelayan, “Tuan Hoa, Tuan Hoa….!”

Hoa In-liong menarik kembali gerak jurusnya sambil menegur dengan nada tak senang hati, “Hei

pelayan, bagaimana kupesan kepadamu? Ada urusan apa….”

“Tuan Hoa!” pelayan itu berkata lagi, “kain-kain yang kau gantung diloteng pintu gerbang telah

hilang semua!”

Hoa In-liong terkejut, segera pikirnya, “Waah….rupanya sudah datang!”

Maka sambil membuka pintu dia bertanya lebih jauh, “Kapan terjadinya peristiwa itu? Dan siapa

yang melakukan?”

Pelayan tersebut menjadi gugup dan gelagapan.

“Tentang soal ini….”

Padahal Hoa In-liong sudah menduga bahwa manusia semacam ini tidak mungkin bisa memberi

jawaban yang memuaskan. Apa yang ditanyakan pun tak lebih hanya pertanyaan sambil lalu,

maka ketika pelayan itu gelagapan, dia melemparkan sekeping remukan perak seraya berkata

lagi, “Ini hadiah untuk laporanmu!”

Kedatangan pelayan itu memang sengaja mencari persen, cepat cepat dia pungut uang itu dan

mengundurkan diri dengan wajah berseri.

Sepeninggal pelayan itu, Hoa In-liong lantas berpikir, “Kalau perbuatan ini dilakukan oleh pihak

Hian-beng-kauw atau Tang kwik Siu, jelas mereka akan secara langsung mencari aku, tak

mungkin tanpa melakukan reaksi apa-apa, hanya kain itu saja yang dibawa pergi. Yaa, kalau

begitu pastilah Bwe Su yok yang melakukan perbuatan ini”

Berbicara sampai disitu, dia merasa tak bisa berdiam diri lagi sesudah orang lain merima

tantangannya. Maka dia keluar dari halaman tersebut dan menuju kepintu rumah penginapan.

Depan penginapan adalah warung makan, semua tamu yang bersantap sebagian besar

mengetahui kalau dia adalah ji-kongcu dari perkampungan Liok soat san ceng, maka semua

perhatian orang ditujukan kepadanya.

Tiba-tiba terdengar sang pemilik penginapan berseru, “Tuan Hoa!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

705

“Ada apa?” tanya Hoa In-liong sambil berhenti, Dari dalam lacinya, pemilik penginapan itu

mengeluarkan setumpuk kartu nama, lalu katanya, “Selama satu bulan ini, entah berapa ratus

tamu yang telah datang untuk menyampaikan Hoa-ya, tapi lantaran Hoa-ya sudah berpesan

maka semua tamu kami tampik secara halus, pula pertama memang tak mengapa, tapi lama

kelamaan kurang enak juga jadinya, malah ada tamu yang berangasan menjadi marah-marah,

nyaris rumah pe nginapan ini akan dibongkar olehnya”

Hoa In-liong segera tertawa dingin.

“Heeehhh…. heeehh…. heeehhh….penginapanmu merupakan sumber perhatian orang banyak

masa keuntungan yang kau peroleh masih terasa kurang….?”

“Aaah, mana ada kejadian seperti itu?” pemilik penginapan itu menjadi semakin riku.

Kiranya selama sebulan ini, banyak sudah tamu yang berkunjung kesitu, tapi karena mereka tak

dapat berjumpa dengan Hoa In-liong, dan lagi merekapun tak berani mengawasi gerak geriknya

sehingga nantinya disangka musuh, banyak diantara mereka yang mengeluarkan uang sambil

berpesan kepada palayan rumah penginapan agar ikut mem perhatikannya.

Dalam persoalan ini bukan saja tak dapat mengelabuhi Hoa In-liong yang binal dai aneh,

berbicara soal tenaga dalam yang dimilikinya, tak sulit baginya untuk mengawasi setiap gerak

gerik yang terjadi diluar penginapan tersebut.

Pemilik penginapan itu tak tahu darimana tamunya bisa mendapat tahu tentang persoalan ini, dia

menjadi ketakutan, dia takut Hoa In- liong menjadi marah karena persoalan ini.

Hoa In-liong menerima tumpukan kartu nama itu dan memeriksanya, pada lembaran yang

pertama terbaca olehnya akan nama “Cia Yu cong dari Wi lam”, dia berpikir sebentar, nama itu

rasanya memang pernah terdengar, katanya merupakan seorang pentolan Bu lim bagi wilayah

sekitar Wi lam, tentu saja lain pula menurut pandangan orang-orang keluarga Hoa.

Dari lembaran kedua, terbaca nama dari “Tu Cing san dari See siok”. Dia berpikir kembali,

“Oooh….rupanya wilayah Cuan tiong pun sudah digemparkan oleh peristiwa ini, sungguh cepat

tersiarnya berita dalam dunia persilatan!”

Kemudian dari lembaran-lembaran berikutnya, terbaca juga nama-nama dari pelbagai jago

lainnya yang meliputi daerah Soat say, Hok-kian dan lain-lainnya.

“Ooooh….jadi perbuatanku ini sudah menggemparkan seluruh kolong langit!” pekiknya di hati.

Kartu nama itu seluruhnya berjumlah seratus dua tiga puluh lembar, maka sambil tersenyum ia

tidak meneruskan pemeriksaannya, sambil diletakkan kembali dihadapan pemilik penginapan itu

dia berseru, “Hei, ciang-kwee!”

Pemilik penginapan itu mengira kesalahannya hendak disinggung, saking takutnya paras

mukanya sampai berubah jadi pucat pias, bisiknya gelagapan, “Tuan Hoa….”

Hoa In-liong tersenyum, katanya dengan cepat, “Wakililah aku untuk membalaskan setiap kartu

nama itu dengan sebuah undangan, tulis dalam undangan itu, besok tengah hari aku hendak

menjamu mereka diloteng Kwong koan lo di sebelah barat kota, dan mohon kehadiran mereka

semua”

“Baik! Baik!” sahut pemilik penginapan dengan perasaan cemas.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

706

“Masih sempat?”

“Masih sempat! Masih sempat!” jawab pemilik penginapan lagi dengan perasaan semakin kalut,

Hoa In-liong segera mengangguk.

“Baik! Kalau sampai kurang satu saja, aku akan menanyakan kepadamu….”katanya.

Lalu dengan langkah lebar dia keluar dari penginapan itu.

Hoa In-liong dengan santainya berjalan jalan mengelilingi kota Si ciu, disepanjang jalan dia temui

banyak jago persilatan yang bersenjata lengkap mondar-mandir kian kemari, rata-rata mereka

memandang kearahnya dengan pandangan keheranan.

Menyaksikan kesemuanya itu, diam-diam dia lantas berpikir, “Rupanya semua orang sudah tahu

kalau ada orang datang menyatroni diriku, maka sekarang tinggal menunggu tanggal mainnya

saja”

Padahal, dalam kota Si ciu tersebut, mungkin Hoa In-liong sendirilah yang mengetahui kejadian

tersebut paling akhir.

Sepanjang perjalanan mengitari kota, rata-rata yang dijumpai hanya manusia manusia kelas duatiga

saja, tak seorang jago lihaypun yang dia temui, otomatis orang yang ingin dijumpaipun tak

ada yang tampak pula….

“Kalau orang-orang dari ketiga perkumpulan besar itu tidak mencari aku, hal ini sudah lumrah

dan tak ada yang perlu diherankan, dari pihak keluargaku tak ada yang turut campur atau

munculkan diri, kejadian inipun berada dalam dugaanku tapi yang mengherankan adalah

gwakong, adik Wi mereka semua, kenapa tak seorangpun yang datang? Jangan-jangan sudah

terjadi suatu peristiwa?”

Mendadak dari depan saja muncul seorang lelaki setengah umur yang bermuka kuning, sambil

memberi hormat dia lantas menyapa, “Tolong tanya, apakah saudara adalah Hoa kongcu?”

“Yaa betul” jawab Hoa In-liong sambil balas memberi bormat, “dan saudara sendiri….”

“Siaute bernama Tu Cing san!” cepat-cepat lelaki setengah umur itu memperkenalkan diri.

Hoa In-liong masih ingat, orang ini adalah salah seorang diantara pengirim kartu nama yang

pernah dilihatnya, maka katanya, “Oooh….! Rupanya saudara Tu, jauh-jauh dari wilayah Cuan

tiong datang kemari, siaute tak sempat menyambutnya, harap kau bersedia memberi maaf!”

Betapa girangnya Tu Cing san ketika dilihatnya Hoa In-liong kenal dengannya, cepat-cepat dia

berseru, “Aaaah, mana! Mana!”

Setelah berhenti sebentar, lalu dia, menambahkan, “Ini hari aku dapat bertemu dengan Hoa

kongcu, hal ini merupakan suatu peristiwa….”

Tampaknya dia hendak mengucapkan beberapa patah kata umpakan, tapi apa boleh buat

lidahnya terasa kaku, dia menjadi galagapan dan tak tahu apa yang musti dikatakan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

707

Ketika dilihatnya kawanan jago persilatan mulai mengerubungi dirinya, Hoa In-liong segera

berpikir, “Waaah….celaka, kalau setiap orang mengajak aku berbicara, tak ada habis-habisnya

pertemukan hari ini!”

Berpikir demikian, diapun cepat menukas, “Besok tengah hari, siaute hendak mengadakan

perjamuan di loteng Kwang koan lo, apakah saudara Tu bersedia memberi muka kepadaku?”

“Siaute pasti datang, siaute pasti datang!” jawab Tu cing san berulang kali.

Hoa In-liong tersenyum dia menjura kesekeliling tempat itu dan ujarnya kembali.

“Para cianpwe, enghiong sekalian, bila ada waktu harap besok siang ikut hadir di rumah makan

Kwang koan lo!”

Semua orang yang berada disekeliling tempat itu mengiakan. Jawaban dari beratus ratus orang

yang diucapkan bersama waktunya itu sungguh luar biasa sekali, ibaratnya guntur yang

membelah bumi ditengah hari bolong….

“Kalau begitu kunantikan kedatangan saudara sekalian!” seru Hoa In-lioag lagi sambil menjura

keempat penjuru.

Kemudian cepat-cepat dia berlalu dari sana.

Pemuda itu langsung menuju loteng Kwang koan lo yang berada disebelah barat kota, dengan

empat butir mutiara loteng itu dipesan olehnya untuk menjamu sekitar seratus meja, setelah itu

dia baru pulang kepenginapan.

Kembali kekamar bacanya di penginapan, tampak setumpuk gulungan kain putih tergeletak

diatas meja, dibawah kain tumpukan itu tampak secarik kertas, tanpa terssa pemuda kita

mengerutkan dahinya sambil tertawa dingin.

Kain putih itu tak diperiksa lagi, sebab sekilas pandangan saja dia sudah tahu kalau kain itu

adalah ke delapan kain putih yang digantungkan diloteng gerbang kota.

Surat itu diambil, ternyata tulisannya masih basah, hurufnya indah dan cuma bertuliskan, “Berita

yang tersiar ditempat luaran ternyata bohong semua, kenyataannya cuma begitu saja”

Dibawah kertas tak kelihatan tanda tangan penulisnya.

Selesai membaca tulisan itu, semua kemarahan yang semula menyelimuti Hoa In-liong, kini

malah sama sekali lenyap tak berbekas.

“Kalau perbuatan ini dilakukan Bwe Su-yok, setelah melarikan kain-kain tersebut, tak mungkin

dia akan berbuat begini lagi” demikian pikirnya dihati, “ehm….mungkinkah kecuali pihak Hianbeng-

kauw, Mo kau dan Kiu im kau, masih ada musuh lain?”

Surat itu sekali lagi diperiksa dengan teliti, meskipun tulisannya bagus dan bertenaga tapi toh

masih membawa kelembutan dan kehalusan, jelas ditulis seorang perempuan.

Ia menjadi termenung sambil berpikir keras, ia tak dapat menebak siapa gerangan perempuan

tersebut….

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

708

Coa Wi-wi? Jelas dia tak akan berbuat demikian. Cian li kau? Perkumpulan ini tak akan menodai

kewibawaannya. Kemudian dia berpikir pula tentang nona berbaju ungu? Tapi dia juga tak

mungkin, sebab dari nada tulisannya, jelas dia baru pertama kali bertemu dengannya.

Pikir punya pikir, akhirnya dia tertawa sendiri, gumamnya, “Buat apa aku musti putar otak

memikirkan persoalan ini. Akhirnya toh pasti akan ketahuan dengan sendirinya?”

Surat itu akan dirobek-robek, tapi situ ingatan tiba-tiba melintas dalam benaknya. Surat itu

didekatkan pada hidungnya dan dicium, ternyata ada bau harum yang ketinggalan pada kertas

itu, ma ka surat tersebutpun disampaikan kembali kedalam sakunya.

“Kurangajar, entah budak darimana yang begitu bernyali sehingga berani memandang hina Hoajiya,

demikian dia berpikir, “kalau sampai berjumpa lagi lain waktu, aku pasti akan membuat kau

menangis tak bisa tertawapun tak dapat, akan kusuruh kau rasakan bahwa Jiya dari keluarga

Hoa….”

Setelah termenung sebentar, gulungan kain putih itu dibakar sampai habis, lalu seluruh

kamarnya diperiksa dengan seksama, setelah yakin kalau tiada bareng lain yang digeledah

musuh, ia duduk sambil bertopang dagu, otaknya berputar keras merencanakan langkah-langkah

selanjutnya….

Tengah hari keesokannya, rumah makan Kwang koan lo yang mentereng dan megah di sebelah

barat kota itu sudah penuh dibanjiri tamu dari pelbagai tempat, bukan saja ruangan atas penuh

berjejal, ruang bawahpun sudah tak ada tempat kosong, entah berapa ratus orang yang hadir

dalam perjamuan bersejarah ini.

Bahkan diantara mereka yang datang agak terlambat, hanya kebagian kursi dipinggir jalan diluar

gedung rumah makan, dari situ bisa dibayangkan betapa banyaknya tamu yang hadir.

Sebagian besar tamu-tamu yang hadir waktu itu adalah mereka yang pernah mengirim kartu

nama.

Hoa In-liong melayani tamu-tamunya dengan ramah. Oleh karena keadaan bisa berkembang

dengan lancar, maka setiap langkah setiap tindakannya menjadi jauh lebih tenang dan mantap,

seakan-akan dialah orang yang bakal menyelamatkan daratan Tionggoan dari ancaman bahaya

maut.

Tiba-tiba seorang kakek tinggi kekar berjenggot sepanjang dada yang berada dimeja utama

bangkit berdiri, sambil mengangkat cawannya dia berkata, “Hoa kongcu, lohu sudah lama

berdiam dikota Si ciu, kalau dipaksakan maka aku terhitung pula sebagai separuh tuan rumah.

Seharusnya akulah yang menyelenggarakan perjamuan ini untuk menyambut kedatangan kongcu

serta para enghiong sekalian, tapi sekarang Hoa kongcu lah yang musti merogoh saku sendiri”

Orang ini bukan lain adalah pentolan dari Wi lam, Cia Yu cong!

Dalam perjamuan yang diselenggarakan hari ini, sebenarnya dia belum pantas untuk menempati

kursi utama. Tapi karena kesatu dia adalah pentolan untuk wilayah sekitar sana dan kedua bagi

para enghiong tak berlaku istilah tunduk kepada orang lain, maka secara otomatis kursi tersebut

dialah yang menempati.

Mendengar perkataan itu, Hoa In-liong segera bangkit berdiri seraya menjawab, “Hanya jumlah

yang kecil bukan suatu masalah yang perlu dipersoalkan, Cia lo enghiong! Kalau engkau bersedia

memandang wajahku, harap persoalan ini jangan dibicarakan lagi”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

709

Beberapa patah katanya itu diucapkan tidak dengan suara yang keras, tapi semua tamu yang

berada diatas loteng maupun dibawah loteng, bahkan mereka yang berada diluar jalan pun bisa

men dengarnya dengan jelas, seakan akan Hoa In-liong sedang berbicara dari sisi mereka.

Diantara sekian banyak orang, terdapat pula jago-jago kelas satu yang berilmu tinggi, setelah

menyaksikan kehebatannya, mereka tak berani lagi memandang pemuda itu sebagai seorang

anak muda yang menyombongkan diri karena mengandalkan pamor orang tuanya.

Bagi jago-jago kelas dua apalagi kelas tiga, sekalipun mereka juga merasakan sesuatu yang aneh

tapi tidak sampai kaget, alasannya mereka memang selalu menganggap orang orang dari

keluarga Hoa adalah jago-jago lihay yang tak terkalahkan

Sambil mengelus jenggotnya Cia Yu cong tertawa.

“Ayah naga putranya selalu memang naga” katanya, “beberapa patah kata Hoa kongcu benar

benar gagah perkasa, tak malu menjadi keturunan dari Hoa tayhiap, lohu tak berani untuk

membangkang”

Setelah memandang sekejap sekeliling tempat itu, kembali ujarnya lebih jauh, “Sudah lama

keluarga Hoa dari Im tiong san merupakan tulang punggung bagi dunia persilatan, ayahmu Hoa

tayhiap juga merupakan ja rum penenang samudra bagi dunia kangou bukannya lohu

mengumpak, ketenangan serta kedamaian yang melanda dunia persilatan kita selama dua puluh

tahun belakangan ini tak lebih adalah pemberian dari Hoa tayhiap. Aku rasa kawan-kawan

sekalian tentu setuju bukan dengan ucapan ini?”

Mendengar perkataan itu, semua orang segera mengiakan berbareng, malah mereka yang tak

jelas mendengar perkataan itu bertepuk tangan juga, suasana menjadi gaduh dan memekikkan

telinga.

Tiba-tiba terdengar serentetan suara yang merdu merayu menukas dari samping, “Mengangkat

bahu sambil berpura-pura tertawa, huuuh! Sekawanan manusia penjilat!”

Sekalipun ucapan itn merdu dan lembut, namun suara gaduh dari ratusan orang itu tak dapat

mengatasinya, bisa dilihat kalau orang itu mempunyai tenaga dalam yang amat sempurna.

Serentak puluhan orang melompat bangun sambil memandang sekeliling tempat itu dengan

wajah gusar, tapi suara tadi telah sirap dan lenyap kembali, karena siapapun tidak

memperhatikan maka sulitlah untuk menentukan siapa orangnya yang telah mengucapkan kata

kata tersebut.

Sejak awal sampai akhir paras muka Hoa In-liong tetap tenang, dia tidak menunjukkan perasaan

sombong atau bangga, setelah mendengar ejekan itu diapun tidak menunjukkan perasaan

marah, tak sedikit diantara para jago yang diam-diam anggukkan kepalanya.

Tiba-tiba seorang lelaki setengah berteriak dengan suara dingin, “Hoa kongcu, para cianpwe dan

enghiong, ditinjau dari cara sobat itu mengucapkan kata-katanya tapi tak berani munculkan diri,

sudah jelas orang itu adalah seorang manusia yang rendah martabatnya, kenapa kita semua

harus bersikap sungkan-sungkan kepadanya?”

Hoa In-liong sendiri sebenarnya juga tak tahu darimana suara tadi berasal, tapi setelah laki-laki

setengah umur itu berkata demikian, sebagai seorang pemuda yang berotak cerdas, segenap

tenaga dalamnya dikerahkan kedalam telinga.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

710

Betul juga, ia segera mendengar suara tertawa dingin berkumandang datang dari rumah makan

seberang jalan sana, suara tertawa dingin itu sangat lembut dan halus, kalau berganti orang

biasa tak mungkin suara sepelan itu dapat didengar.

Sebenarnya dia sudah akan menggerakkan tubuhnya untuk menyeberangi jalan serta

menangkap orang itu, tiba-tiba ingatan lain melintas dalam benaknya, dia segera berpikir, “Kalau

didengar dari suaranya, jelas dia adalah seorang nona muda. Yaa, jika seorang perempuan

sampai ketangkap dihadapan umum, dia pasti akan malu sekali. Apa gunanya lantaran urusan

sekecil ini aku harus membuat dia menjadi malu?”

Berpikir sampai disini, dia lantas menduga bahwa perempuan yang barusan berbicara itu adalah

orang yang sama dengan orang yang meninggalkan surat kepadanya, kembali ia berpikir, “Dia

selalu berusaha untuk menghasut serta memanaskan suasana, berarti pula sebelum perjamuan

disini bubar, dia tak akan meninggalkan tempatnya, kenapa tidak kubereskan perempuan itu

setelah perjamuan disini selesai?”

Berpikir sampai disitu diapun tertawa nyaring, “Haaahhh…. haaahhh…. haaahhh…. Para Cianpwe,

para enghiong, apa yang dikatakan saudara ini memang benar, aku rasa si pengacau itu tak lebih

cuma seorang siaujin yang berani berbuat tak berani bertanggung jawab, paling-paling cuma

seorang budak ingusan yang menyisir rambut sendiripun tak mampu, buat apa kita musti

membesarkan persoalan kecil ini? Apakah kita senang kalau dia menjadi bangga karena ulahnya

kita tanggapi secara serius?”

Karena dia telah berkata demikian, maka kawanan jago yang telah bangkit itu duduk kembali.

Tiba tiba Hoa In-liong berkata lagi, “Cia lo enghiong, aku lihat rupanya kau masih ada perkataan

yang belum selesai diutarakan, silahkan kau utarakan”

Sementara waktu itu Cia Yu cong sedang membatin, “Ketika aku tahu bahwa dia hendak

membuat kekalutan dikota Si-ciu, mulanya kukira dia hanya ingin mencari nama karena

menganggap dirinya keturunan orang ternama, tapi setelah melihat kenyataannya sekarang,

tampiknya dugaanku itu keliru!”

Maka dia lantas terbahak bahak, “Haaahhh….haaahhh…. haaahhh…. kebesaran jiwa Hoa kongcu,

sungguh membuat lohu merasa kagum!”

Hoa In-liong sendiri juga sedang membatin, “Memangnya kalian anggap aku tidak tahu kalau

kamu semua menganggap aku sedang mengandalkan nama ayahku untuk mencari nama?”

Sambil tersenyum sahutnya, “Aku tahu bahwa aku masih muda dan berangasan, soal kebesaran

jiwa…. wah, masih ketinggalan jauh.

“Hoa kongcu!” kata Cia Yu cong dengan wajah serius, “dengan membonceng pada kedudukanku

sebagai tuan rumah kota ini, atas desakan kawan-kawan persilatan aku telah ditunjuk menjadi

wakil mereka semua untuk menyampaikan doa se ta harapan agar kesehatan Lo Tay kun, ayah

dan ibumu selalu baik”

Kembali Hoa In-liong berpikir, “Jika dilihat dari sikap hormat mereka yang bersungguh-sungguh,

rupanya kebajikan dari ayah benar-benar sudah tertanam dihati mereka!”

Cepat-cepat dia menjawab dengan serius.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

711

“Berkat doa restu dari para cianpwe para enghiong, nenek, ayah dan ibuku sekalian selalu

berada dalam sehat walafiat tanpa kekurangan sesuatu apapun”

“Yaa, setelah mengetahui keadaan keluargamu, seluruh enghiong didunia pun dapat merasa lega

hati”

Setelah berhenti sebentar, dia angkat cawan arak nya dan berkata lebih juh, “Untuk selanjutnya,

demi kegagahan dan kehebatan Hoa kongcu mendampingi tantangan berat yang mengancam

dunia persilatan, atas nama semua cianpwe semua enghiong yang hadir disini, kami hormati Hoa

kongcu dengan secawan arak!”

“Tidak berani, tidak berani” kata Hoa In-liong sambil tertawa, “aku masih muda, kepandaian

silatku amat cetek dan pengalamanku amat dangkal, tak berani kuterima penghormatan sebesar

ini, sepantasnya Hoa Yang lah yang harus menghormati cianpwe dan enghiong sekalian dengan

secawan arak”

“Dia meneguk isi cawannya sampai habis, lalu disodorkan ke empat penjuru sebagai tanda

bahwa dia minum arak itu untuk menghormati semua orang yang hadir.

Serentak semua jago bangkit berdiri, dan meneguk habis isi cawannya sendiri.

Setelah itu, Cia Yu cong kembali berkata, “Hoa kongcu telah memasang kain untuk menantang

perang kepada tiga perkumpulan besar, tindakan ini sangat gagah dan berani, semua enghiong

merasa kagum deagan kehebatanmu itu….”

Mendengar perkataanmu itu, Hoa In-liong segera berpikir, “Rupanya dia mau mengumpak aku,

coba akan kudengar, umpakan apa lagi yang bakal dia lontarkan kepadaku”

Sambil tersenyum dia menantikan perkataan orang lebih lanjut.

Terdengarlah Cia Yu cong kembali berkata, “Tentang kemunculan kembali Mo kau dan Kiu im kau

yang akan meracuni dunia persilatan, semua orang rasanya sudah cukup memaklumi perbuatan

mereka itu, tapi mengenai Hian-beng-kauw, kami benar-benar merasa tidak paham, perguruan

macam apakah itu? Sudikah kiranya Hoa kongcu untuK menerangkau kepada kami? Semua

enghiong hohan yang ada di kolong langit siap menunggu perintah untuk mengusir kaum iblis

dari daratan kita, tapi jika musuh yang kita hadapi masih belum jelas, rasanya sulitlah bagi kami

semua untuk ikut membantu”

Hoa In-liong berpikir kembali sesudah mendengar perkataan itu, “Tampaknya mereka terlalu

memandang enteng kekuatan tiga perkumpulan tersebut, mereka rupanya tidak menyangka

meski nama dari tiga perkumpulan sekarang jauh kalau dibandingkan kemashursn Tiga maha

besar tempo dulu, namun kekuatan yang mereka miliki justru tidak selisih terlalu jauh”

Berpikir demikian, dia lantas tersenyum sambi1 berkata, “Aku merasa sangat terharu atas

kesediaan saudara sekalian untuk mengembangkan jiwa pendekarnya untuk menumpas

kejahatan dan menegakkan keadilan di bumi ini, cuma…. aku tidak lebih hanya seorang anak

muda yang baru terjun kedunia persilatan, sepantasnya kalau pucuk pimpinan dipegang oleh

seorang cianpwe yang berkedudukan tinggi dalam mata masyarakat, bagaimanapun juga, tak

pantas kalau akulah yang menempatinya….”

Seorang pemuda berpakaian ringkas yang duduk dimeja bawah, tiba tiba bangkit berdiri seraya

berseru, “Hoa kongcu, kenapa kau musti menampik lagi? Ketika Hoa tayhiap memimpin para

jago dari seluruh kolong langit tempo dulu, usianya juga sebaya dengan usia Hoa kongcu

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

712

sekarang, jika Hoa kongcu tak mau menduduki pucuk pimpinan, lalu siapakah yang pantas untuk

menempati kedudukan itu?”

Orang muda biasanya memang berdarah panas, demikian pula dengan pemuda pemuda lain

yang kebetulan berada disitu, ucapan tadi segera disambut dengan tempik sorak yang gegap

gempita, suasana menjadi agak gaduh, sementara mereka yang telah berusia lanjut cuma duduk

dengan mulut membungkam.

Diam-diam Hoa In-liong mengerutkan dahinya, dia lantas berpikir, “Orang-orang ini hanya

mempunyai emosi yang me1uap-luap, tiada rencana yang tersusun, tiada pula ilmu silat yang

tinggi, kalau begini caranya sistim kerja mereka, hanya kekalahan saja yang bakal diraih oleh

pihak kita….”

Sorot matanya segera dialihkan ke samping dan melirik sekejap ke arah Cia Yu cong.

Buru-buru Cia Yu cong menuding pemuda berpakaian ringkas itu, lalu memperkenalkan,

“Saudara ini adalah keturunan dari It ci hui kiam (pedang satu huruf) yang tersohor di kota Koy

hong, dia bernama Kongsun Peng, keponakan Kongsun!”

Hoa In-liong menjura ke arahnya.

“Atas kasih sayang saudara Kongsun, siaute merasa amat berterima kasih sekali” katanya, “soal

itu lebih baik tak usah kita bicarakan, justru siaute mempunyai beberapa persoalan tentang

ketiga perkumpulan besar itu untuk dijelaskan kepada saudara sekalian, apakah saudara

Kongsun bersedia menunggu sebentar lagi?”

Mendengar ucapan tersebut, dengan perasaan yang berat terpaksa Kongsun Peng kembali ke

tempat duduknya.

Hoa In-liong termenung sejenak, lalu setelah menyapu sekejap sekeliling tempat itu dia berkata,

“Aku rasa kalian pasti sudah tahu bukan, Suma Siok-ya ku yang lebih dikenal dengan sebutan Kiu

mia kiam khek (jago pedang bernyawa sembilan) telah mati dibunuh orang?”

Sambil menghela napas sedih Cia Yu cong manggut-manggut.

“Yaa, semua orang ikut berduka cita atas wafatnya Suma tayhiap dibunuh orang!”

“Nah, perbuatan keji ini dilakukan oleh orang-orang Hian-beng-kauw, mereka lah dalangnya!”

Suasana dalam ruang rumah makan kembali menjadi gempar, Kongsun-Perg nyelutuk, “Hoa

kongcu, bagaimana ceritanya? Harap dikisahkan dengan lebih jelas lagi!”

Hoa In-liong kembali berpikir, “Dalam peristiwa ini, pihak Kiu Im kau juga terlihat secara

langsung, aku rasa lebih baik jangan terlalu mengeluarkan kisah ini secara terang-terangan

sebelum pembunuh yang sebenarnya berhasil dilacaki. Untunglah setelah kuterangkan kejadian

tersebut, mereka telah menarik kembali sikap pandang entengnya terhadap lawan”

Berpikir sampai disitu, kembali dia berkata, “Peristiwa terbunuhnya Suma-siok ya tak lama lagi

akan terbongkar, sampai waktunya aku pasti akan memberi keterangan lagi kepada rekan-rekan

semua. Kini terlampau pagi kalau ku katakan lebih dulu, harap saudara Kongsun bersedia

memakluminya”

Tanpa menunggu orang lain berbicara, setelah berhenti sebentar dia berkata lagi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar