Senin, 05 Oktober 2009

bara 9

Hoa Thian-hong termenung sejenak, lalu menggeleng. “Aku pikir lebih aman bagi kita untuk

tetap menggabungkan diri dengan rombongan mereka, sebab dengan begitu kita hanya perlu

berjaga jaga terhadap serangan bokongannya dia seorang, sebaliknya kalau perjalanan kita

lakukan secara berpisah maka bukan saja kita musti waspada terhadap mereka, kitapun harus

was-was terhadap bokongan dari orang-orang Thong-thian-kauw

“Ucapan dari Hoa kongcu sedikitpun tidak salah,” sahut Bong Pay dengan alis berkerut, “Aku

orang she-Bong akan menuntun kuda bagimu. mari kita genjot Hian Loo-ji sampai keok.”

Begitu nyaring dan keras ucapan itu sehingga hampir semua tamu yang menginap dalam rumah

penginapan itu dapat mendengar ucapannya, “Bong toako kalau kau tidak merasa direndahkan,

itulah bagus sekali,” ujar Hoa Thian-hong sambil tertawa, “hanya sikapmu terlalu sungkan justru

membuat hubungan kita serasa lebih renggang.”

Sembari berkata ia hancurkan dua buah cawan yang beracun itu dan dihuang keluar jendela.

Hingga saat itu di atas leher Bong Pay masih terborgol sebuah rantai besi panjang tujuh depa,

Hoa Thian-hong serta Hoa In harus bekerja keras beberapa waktu lamanya sebelum rantai

tersebut berhasil dicopot dan dilepaskan dari leher orang.

Bertiga mereka bersantap di dalam kamar kemudian Boan Pay pindah ke kamar sebelah untuk

mandi dan tidur. sedang Hoa In sambil membawa rantai itu berkata, “Siau Koan-jin,

beristirahatlah dulu aku ingin jalan2 sebentar diluaran”

“Tengah malam buta begini, mau apa kau keluar kamar?”

“Aku lihat rantai ini kuat dari aneh, aku ingin mencari tukang besi untuk menempa rantai ini jadi

sebilah pedang”

Hoa Thian-hong pikir benar juga ucapan itu, maka ia mengangguk. Sepeninggalnya Hoa In ia

tutup pintu dan ambil keluar bungkusan kertas minyak untuk yang diserahkan Cu Tong

kepadanya itu.

Ketika dibuka ternyata isinya berupa setengah jilid kitab yang isinya cuma lima enam lembar,

kertasnya warnanya kuning dan agak kumala, sepintas dilihat sudah bisa diketahui bahwa buku

itu sudah berusia lama sekali.

Pada halaman pertama buku itu terlihatlah empat huruf kuno yang berbunyi, “Ci-Yu-Jit-Ciat” atau

Tujuh kupasan dari Ci-Yu.

Hoa Thian-hong merasa semangatnya bangkit, ia duduk di dekat meja memasang lampu lentera

dan membuka halaman berikutnya.

Pada ujung halaman tertera tulisan “Bab pertama menyerang menyebabkan mati”, di bawah

judul itu tertulis tulisan kecil yang rapat dan penuh semuanya membicarakan tentang bagaimana

cara-cara mengendalikan serangan secara jitu dan tepat.

Halaman berikutnya merupakan gambar-gambar manusia yang disertai dengan keterangan

lengkap

Hoa Thian-hong yang memeriksa sepintas lalu segera menemukan bahwa isi kitab itu hanya

terdiri dari tiga jurus serangan belaka, semuanya merupakan jurus-jurus serangan yang

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

351

dilakukan baik ada kesempatan maupun tidak ada kesempatan, baik menyerang secara halus

maupun kekerasan, tetapi yang diarah semuanya merupakan tempat-tempat penting di tubuh

manusia, serangan tidak terbatas pada kepalan belaka, tapi mencakup pula menyerang dengan

telapak, dengan bacokan maupun dengan totokan jari.

JILID 18

SEMAKIN memperhatikan isi kitab itu Hoa Thian-hong semakin kesemsem hingga akhirnya ia

mengulangi lagi dari permulaan, sambil mempelajari diam-diam diapun mulai meraba inti sari

dari pelajaran tersebut.

Entah lewat berapa saat lamanya, Hoa In muncul kembali di dalam kamar itu, ketika melihat

pemuda tersebut belum tidur ia lantas menegur, “Hari sudah pagi waktu menunjukkan

kentongan kelima, apakah Siau Koan-jin belum tidur??”

“Ehmmm, ayam toh belum berkokok”

“Ayam telah berkokok sejak tadi…”

Hoa In dekati meja dan bertanya kembali, “Ilmu silat apakah itu? Berguna tidak bagi Siau Koanjin….??”

“Oooh…. suatu ilmu aliran silat yang luar biasa hebatnya….“

Melihat pemuda itu sedang kesemsem Hoa In-pun tidak berani mengganggu kembali, ia sediakan

air teh lalu menyingkir ke samping untuk bersemedhi.

Ketika fajar telah menyingsing, pelayan muncul menghidangkan air teh. Tetapi perhatian Hoa

Thian-hong masih tetap terjerumus di dalam ilmu silat, hingga akhirnya kepada Bong Pay ia

berkata. “Bong toako, bukankah gurumu telah meninggal dunia hingga toako tiada orang yang

memberi petunjuk? ilmu silat yang di miliki pengurus perkampunganku ini didapati dari leluhurku,

bila kau punya kegembiraan tak ada salahnya bila minta petunjuk darinya.”

“Bakatku tidak bagus, watakku berangasan. dan tidak sabaran, aku takut pengurus tua merasa

tidak sabar untuk memberi petunjuk kepadaku.”

“Bocah ini jujur dan gagah,” pikir Hoa In dalam hati,” bila aku bisa mendidiknya secara baik-baik.

akhirnya ia akan menjadi seorang pembantu yang baik buat Siau Koan-jin.”

Agaknya semua persoalan yang ia pikirkan hanya ditujukan demi kebaikan majikan mudanya.

berpikir sampai disana dengan senang hati ia lantas berkata, “Engkoh cilik. asal kau mau belajar

akupun dengan senang hati akan menurunkan kepandaian silatku padamu.”

Hoa Thian-hong jadi sangat girang mendengar perkataan itu, ujarnya, “Selama berkelana di

dalam dunia persilatan, ilmu silat adalah merupakan senjata yang paling ampuh, setiap saat

kemungkinan besar kita bisa dikerubuti oleh musuh dalam jumlah yang lebih banyak, mari kita

mulai berlatih sekarang juga, jangan sampai membuang waktu dengan percuma”

Itu hari kecuali di tengah hari pergi ‘lari racun’, sepanjang waktu Hoa Thian-hong mengurung diri

di dalam kamar sambil mempelajari ketiga jurus serangan, ampuh itu, setelah dipertimbangkan

berulang kali akhirnya ia ambil keputusan, ilmu tadi baru akan diwariskan kepada Bong Pay

setelah ia dapat menguasai kepandaian tersebut.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

352

Malam harinya rombongan melanjutkan perjalanan tinggalkan kota Wi-Im menuju ke selatan,

seperti semula keempat puluh orang pengawal golok emas berangkat lebih duluan dan menanti

di kota paling depan, sedang Jin Hian serta Hoa Thian-hong sekalian enam orang menyusul dari

belakang.

Rantai besi yang didapatkan dari leher Bong Pay itu oleh Hoa In telah dibikinkan sebilah pedang

raksasa yang amat besar, ketika Hoa Thian-hong menjajal senjata tersebut terasalah olehnya

meski tidak seberat pedang baja miliknya yang hilang di markas besar perkumpulan Sin-kie-pang,

tetapi benda itu secara paksa masih dapat menahan getaran tenaga dalamnya hingga tidak

sampai patah.

Hari itu tibalah mereka di kota Ko-Yu dan bermalam disitu. Bong Pay dengan berlagak hendak

membeli barang di kedai, seorang diri ternyata telah menyusup ke dalam kuil ‘Tiong-goan-koan’

milik perkumpulan Thong-thian-kauw, karena para jago lihaynya telah ditarik pulang semua ke

kota Lang-An ditambah pula rasa dendamnya yang berkobar-kobar, setelah melepaskan semua

perempuan yang disekap di dalam kuil itu, di tengah hari bolong ia segera melepaskan api dan

membakar pula kuil itu hingga hancur sama sekali.

Menanti Hoa Thian-hong mengetahui kejadian ini, sudah tak sempat lagi baginya untuk

mencegah perbuatan itu. Melihat kenyataan bahwa dendamnya dengan pihak Thong-thian-kauw

kian hari kian bertambah dalam hati pemuda itu hanya bisa mengeluh sambil tertawa getir.

Suatu senja rombongan Jin Hian sekalian telah menyeberangi sungai Tiangkang dan

menginjakkan kakinya di wilayah Kanglam suasanapun seketika berubah sama sekali.

Tampak Cu Goan-khek, Seng Sam Hau. Siang Kiat serta seluruh jago yang terpandang dalam

perkumpulan Hong-im-hwie hadir semua jadi satu rombongan, di samping itu terdapat pula lima

puluh orang jago lainnya termasuk keempat puluh pengawal golok emas maka rombongan Hongim-

hwie yang berkumpul ditepi sungai meningkat jumlahnya jadi beberapa ratus orang.

Setelah mendarat barisan berangkat memasuki kota Ceng-kang-shia, suara derap kaki kuda yang

ramai bergema bagaikan guntur di tengah hari, pasir dan debu beterbangan memenuhi angkasa

seolah-olah medan pertempuran yang sedang melangsungkan pertumpahan darah. Hoa Thianhong

bertiga yang berada diantara rombongan besar itu merasakan dirinya bagaikan sebuah

sampan kecil di tengah amukan ombak, sekalipun nyali pemuda itu amat besar tak urung gelisah

juga dibuatnya.

Setelah masuk ke dalam kota, pasukan besar perkumpulan Hong-im-hwie itu behenti di depan

sebuah bangunan rumah yang besar dan megah, semua orang loncat turun dari kuda dan

mengiringi Jin Hian masuk ke dalam rumah.

Tiba-tiba Jin Hian menghentikan langkahnya, kepada para pengiring disisinya ia berseru, “Hoa

kongcu akan ditempatkan dimana?”

“Lapor toako” sahut seorang pria setengah baya, “siauwte mengosongkan ruang barat tempat itu

sengaja kami sediakan untuk Hoa Kongcu..”

Jin Hian mengangguk, sambil berpaling ke arah Hoa Thian-hong ujarnya, “Loo-te, bila pelayanan

kurang memadai harap kau suka secara langsung mencari aku.”

“Terima kasih atas perintahmu!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

353

Seorang pria baju hijau segera maju dan memberi hormat ujarnya, “Hoa kongcu, silahkan ikut

diriku menuju ke ruang barat untuk beristirahat….!”

Hoa Thian-hong memberi hormat kepada Jin Hian lalu mengikuti di belakang pria tadi menuju ke

ruang barat, disana empat orang pelayan perempuan telah siap menyambut kedatangannya.

“Aku bernama Lie Sim” ujar pria baju itu memperkenalkan diri, “aku mendapat tugas untuk

melayani kongcu. bila kau ada permintaan harap kongcu-ya suka sampaikan kepadaku”

“Terima kasih!”

Lie Sim memberi hormat dan mengundurkan diri dari ruang barat.

Ruangan itu merupakan sebuah bangunan yang tersendiri, bangunannya luas dengan suasana

yang tenang, setelah memandang sebentar sekitar tempat itu Hoa In berkata, “Rupanya Jin Hian

akan berdiam agak lama ditempat ini, kalau ditinjau dari sikapnya mungkin ia tiada maksud

untuk meneruskan perjalanannya menuju ke selatan”

Melihat kakek itu murung bercampur kesal, Hoa Thian-hong segera menghibur. katanya,

“Persoalan ini merupakan suatu masalah besar yang akan merubah situasi di dalam dunia

persilatan, banyak sekali masalah yang pelik tercakup dalam soal itu dan tidak dipahami oleh

kita, tetapi toh kita sudah sampai disini, marilah kita hadapi setiap perubahan dengan sikap

tenang tak perlu kita terlalu merisaukan akan soal ini”

“Aku amat merisaukan keselamatan dari Siau Koan-jin,” Hoa Thian-hong tersenyum. “Berjuang

demi menegakkan keadilan ibaratnya bekerja sebagai pengawal barang kiriman. setiap hari harus

bergelimpangan di ujung senjata dan adu kepalan, soal bahaya sudah bukan kejadian yang asing

lagi bagi manusia macam kita ini”

Ia berhenti sebentar untuk tukar napas, lalu berpaling tampaknya, “Bong toako, siaute

mempunyai tiga jurus ilmu totokan, bagaimana kalau kita pelajari secara bersama?”

Dengan cepat Bong Pay menggeleng. “Sebelum pertemuan besar Pek Beng Hwee, suhu secara

terburu-buru telah turunkan ilmu kepandaian andalannya ‘Pek Lek-ciang’ kepadaku itu waktu

usiaku masih terlalu kecil dan dasarku amat cetek ditambah pulu otakku bebal, sekalipun secara

dipaksakan aku masih ingat permainan ilmu telapak itu namun belum pernah kepandaian tadi

kupelajari secara baik. setelah mendapat petunjuk dari pengurus tua beberapa hari belakangan

ini pikiranku terasa bertambah terbuka, aku ingin melatih dulu ilmu telapak milik suhuku

sehingga matang, kemudian baru mempelajari ilmu silat yang lain.”

“Rangkaian ilmu telapak itu merupakan kepandaian ampuh dari Pek-lek-sian, sewaktu dia

berkelana dan angkat nama di dalam dunia persilatan” sambung Hoa In cepat, “bila ilmu tersebut

bisa dilatih hingga mencapai puncak kesempurnaan, sama saja kau bisa menjagoi kolong langit

tanpa tandingan menurut penilaianku memang sudah sepantasnya kalau ilmu silat dari perguruan

sendiri dilatih dulu sampai matang.”

Hoa Thian-hong mengangguk, ujarnya kemudian, “Mara bahaya setiap kali akan muncul dijalan

sebelah muka, kita harus berusaha sekuat tenaga untuk mencegah jangan sampai peristiwa

dalam pertemuan Pek Beng Hwe terulang kembali, mari kita gunakan waktu sebaik-baiknya

untuk menggembleng diri!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

354

“Tapi dengan andalkan kita beberapa orang…..” tetapi setelah dilihatnya raut wajah majikan

kecilnya menunjukkan kebulatan tekadnya, ucapan yang telah meluncur keluar segera ditelan

kembali.

Dalam ruang barat tersedia empat orang pelayan perempuan yang khusus untuk melayani

kebutuhan beberapa orang itu, Hoa In memandang majikannya bagaikan barang mustika, semua

keperluannya masih tetap dilayani sendiri olehnya, selesai bersantap Hoa Thian-hong mengunci

diri kembali di dalam kamar untuk mendalami ilmu ‘Ci Yu Jit Ciat’ sedang Bong Pay di bawah

mengawasi Hoa In berlatih ilmu telapak diluar halaman.

Meskipun pelayan tua itu tidak mengerti akan jurus silat dari ilmu telapak Pek-Lek-ciang, namun

dengan pengetahuannya yang luas setiap kali Bong Pay mengalami kesulitan ia dapat

memecahkannya secara jitu.

Ketika senja telah menjelang dan ketiga orang itu sedang bersantap, tiba-tiba Lie Sim datang

melapor katanya ada orang mohon bertemu.

Setelah menanyakan raut wajah tamunya, Hoa Thian-hong buru-buru munculkan diri di depan

pintu untuk menyambut kedatangan tamunya. Yang datang berkunjung semuanya terdiri dari

tiga orang- mereka adalah Ciong Lian-khek, Chin Giok-liong serta seorang tauto jubah putih

berikat kepala perak.

Ciong Lian-khek dengan pedang tersoren di punggung ujung baju sebelah kosong kegagahannya

masih nampak seperti sedia kala, Cuma sorot matanya memancarkan cahaya berapi api, seakanakan

ia sedang merasa amat gusar.

Hoa Thian-hong segera memburu maju ke depan dan memberi hormat kepada Ciong Lian-khek.

Jago buntung itu menahan badannya sambil berseru, “Mari kita berbicara di dalam kamar saja”

Hoa Thian-hong mengangguk dan menoleh ke arah tauto tua berambut putih itu, sambil

memberi hormat katanya, “Toa suhu, baik-baikkah kau? boanpwee mengira kau si orang tua

telah meninggalkan diriku”

Tauto berambut putih itu tertawa ramah. “Akupun merupakan salah seorang rekan dari

mendiang ayahmu, setelah kau punya keberanian untuk menghadapi kekacauan di depan mata,

kenapa aku musti sayang dengan rongga badanku yang kosong ini??”

Hoa Thian-hong tersenyum, ia gandeng tangan Chin Giok-liong dan naik ke atas undak-undakan,

mereka berpandangan sambil tersenyum, semua rasa kangen seketika lenyap dalam senyuman

itu.

Setelah semua orang ambil tempat duduk Hoa In mengamat amati tauto berambut putih itu

beberapa kejap, tiba-tiba teriaknya dengan suara keras, “Eeei….toa suhu, bukankah kau adalah

Cu In Taysu??”

“Sedikitpun tidak salah. aku adalah Cu In” sahut Tauto tua itu sambil tertawa, “Loo Koan-kee

(pengurus tua) ilmu sakti Sau-yang-ceng-kiemu sudah hampir memadahi kehebatan dari Hoa

Tayhiap tempo dulu, hal ini patut dibanggakan dan dipujikan.”

“Aaaat, hamba telah tua,” sambil berkata pengurus she-Hoa itu melirik sekejap ke arah Hoa

Thian-hong, secara lapat-lapat, wajahnya terlintas rasa murung yang mendalam.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

355

Cu In Taysu termenung beberapa saat lamanya. Tiba-tiba ia menghela napas dan berkata pula,

“Melihat kau berdiri di belakang keponakan Hoa tanpa terasa terbayang kembali olehku akan Hoa

Taybiap dimasa yang silam, waktu itu dimana kalian berdua muncul Hoa Tayhiap bagaikan

rembulan di langit, memberikan suasana tenang dan damai bagi setiap orang, kau yang berdiri di

belakangnya menunjukkan sikap yang gagah dan berwibawa. Kini justru keadaan itu malah

sebaliknya, majikan mudamu ini kokoh dan kebal laksana sebuah bukit. sebaliknya kau berwajah

murung, kesal dan tidak tenteram. Aaaai…”

Helaan napas itu mengandung arti yang sangat mendalam, tiba-tiba ia membungkam.

Teringat akan majikannya, Hoa In tertunduk dengan wajah sedih. sambil menghela napas

katanya, “Kejadian yang telah lampau tak akan kembali lagi, meskipun Siau Koan-jin memiliki

kecerdasan yang luar biasa, lapi betapa hebatnya musuh yang harus dihadapi, mungkinkah

dengan tenaga kita beberapa orang keadilan bila ditegakkan kembali? dan dia,.„ ternyata tak

mau mendengarkan nasehatku..”

Diam-diam Hoa Thian-hong mengamati raut wajah semua jago. Ia lihat Cu In Taysu

menunjukkan raut wajah yang sedih, Ciong Lian-khek tenang bagaikan air telaga, sedikitpun

tidak menunjukkan perubahan apapun. Chin Giok-liong juga tenang dan alim bahkan Bong Pay

yang biasanya binalpun saat itu bungkam dalam seribu bahasa.

Tanpa terasa ia lantas berpikir di dalam hati, “Masa depan amat suram. mereka semua tidak

mempunyai rasa percaya pada diri sendiri, tapi karena aku seorang meski tahu bukan tandingan

mereka paksakan diri untuk muncul pula di gelanggang, sikap ini walaupun patut dihargai tetapi

berjuang tanpa semangat darimana bisa menyelesaikan persoalan??”

Kendati dalam hati merasa kesal tapi perasaan itu tidak sampai diperlihatkan ditempat luaran,

sambil tertawa nyaring ujarnya, “Hoa In, bukankah tempo dulu kau adalah sahabat karib dari

Toa suhu ini,kenapa sewakiu berjumpa muka di tengah jalan tempo hari, kalian telah saling

bertempur??”

“Dahulu kepala taysu gundul kelimis dan kini memelihara rambut, dulu senjata yang

dipergunakan adalah toya Pat-Poo sian-ciang sedang kini yang dipakai adalah senjata sekop

bergigi. dulu sekarang bagaikan dua orang yang berbedi, dari mana aku bisa ingat??”

Cu In Taysu tertawa sedih. “Sejak bertempur di Pak Beng, sahabat karib dan rekan2

seperjuangan banyak yang mati binasa, aku yang berhasil melepaskan diri dari maut sungguh

merasa tak punya muka untuk hidup sebagai manusia”

Mendengar pembicaraan yang berlangsung selalu gagal untuk membangkitkan semangat orang,

Hoa Thian-hong segera tertawa lantang dan berkata, “Locianpwee, meskipun aku tidak becus

tetapi aku rela memberikan sebutir batok kepalaku kepada kawanan manusia laknat itu bila

cianpwee sekalian pada mengundurkan diri dari dunia persilatan semua hingga aku jadi sebatang

kara, bukankah kawanan durjana itu akan mentertawakan kita sebagai orang-orang pengecut??”

Tertegun hati Cu In taysu mendengar perkataan ini, sambil tertawa ia lantas berkata, “Ucapan

Hoa Si-heng sedikitpun tidak salah, bagaimanapun juga aku harus berbuat sesuatu hingga bisa

melegakan hati para jago yang telah berpulang”

Hoa Thian-hong tersenyum, sambil menuding ke arah Bong Pay dia memperkenalkan, “Bong

toako ini adalah anak murid dari Pek-lek Sian cianpwee, semoga taysu serta Cing-lian cianpwee

suka menyayangi dirinya dan sering memberi petunjuk yang berguna.”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

356

“Menunggu bimbingan dari cianpwee berdua!” seru Bong Pay sambil bangkit berdiri.

Cu In taysu menghela napas panjang. “Aaai….! Sepasang dewa dari dunia persilatan adalah

orang-orang yang penuh emosionil harap hiantit jangan memandang kami sebagai orang luar”

Ketika itulah Lie Sim muncul kembali di dalam ruangan sambil membawa sepucuk surat, sambil

bongkokkan badan memberi hormat katanya, “Lapor Hoa kongcu, dari pihak perkumpulan Sinkie-

pang ada sepucuk surat yang disampaikan kepadamu!”

“Oooh….perkumpulan Sin-kie-pang pun sudah kirim orang kesini??” pikir pemuda itu dengan alis

berkerut.

Ketika surat itu dibuka dan dibaca isinya dengan cepat hatinya terasa tercekat, ternyata isi surat

itu amat singkat sekali, yakni berbunyi demikian,

“Ditujukan kepada Hoa Kongcu pribadi Mengharapkan kedatangan saudara untuk menghadiri

perjamuan kecil, sangat menantikan kedatangan saudara.

Tertanda,

Pek Siau-thian”

Hoa Thian-hong serahkan itu ke tangan Cu In taysu sekalian, kemudian kepada Lie Sim ujarnya,

“Beritahu kepada pengantar surat itu, aku akan tiba pada saatnya!”

Lie Sim mengiakan dan mengundurkan diri.

“Aaaah, aneh sekali! Kenapa Pek Siau-thian bisa sampai pula di tempat ini??” seru Hoa In dengan

nada tercengang.

“Perkumpulan Sin-kie-pang, Hong-im-hwie serta Thong-thian-kauw adalah tiga kekuatan besar

yang menguasai wilayah Tionggoan dewasa ini, bila Hong-im-hwie terbentur sengketa dengan

pihak Thong-thian-kauw, tentu saja Pek Siau-thian juga hadir di tempat kejadian, hanya

kedatangannya yang begini pagi membuat orang lantas bisa menduga bahwa latar belakangnya

tidaklah sederhana”

“Bila Jin Hian tidak bersekongkol dengan Pek Siau-thian, tak mungkin ia berani membawa

pasukan besarnya menyerang ke selatan” terdengar Ciong Lian-khek berseru, “Siapa tahu kalau

mereka berdua telah berkomplot dan sama-sama kirim jago untuk menyapu pihak Thong-thiankauw”

“Akupun berpendapat demikian” sambung Cu In taysu.

Hoa Thian-hong segera bangkit berdiri dan memberi hormat ujarnya, “Cianpwee berdua, engkoh

berdua. harap kalian suka menunggu sebentar disini dan aku akan pergi sebentar”

“Siau Koan-jin, kau benar-benar akan penuhi janji??” seru Hoa ln

“Aku bahkan ingin bertemu dengan Thian Ik-cu, sayang Ia tak mungkin akan mengundang

diriku”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

357

“Kalau mau pergi marilah kita pergi bersama-sama, daripada seandainya pembicaraan tidak

cocok dan terjadi pertarungan, kita harus menelan kekalahan yang mengenaskan”

“Tak usah! Kenyataan telah menunjukkan bahwa pihak lawan lebih kuat daripada kita,

seandainya benar terjadi pertarungan kita sudah pasti akan menderita kerugian, bila terlalu

banyak orang yang pergi malahan suasana terasa kikuk”

Cu In taysu serta Ciong Lian-khek cuma bisa saling berpandangan dengan mulut membungkam,

dalam keadaan begini mereka sendiripun tak tahu apa yang musti dilakukan.

Tiba-tiba Bong Pay mendeprak meja sambil berseru dengan nada gegetun, “Aaai! ilmu silat kita

tak becus. keadaan begini jauh lebih enak mati dari pada hidup”

“Aku toh pergi memenuhi janji dan bukan pergi berkelahi,” hibur Hoa Thian-hong dengan suara

lembut, ..Bagaimana kalau Bong toako ikut siauwte pergi menjumpai orang itu??”

“Tidak. aku tak mau pergi. daripada nantinya cuman bikin malu dirimu saja!”

Diam-diam Hoa Thian-hong menghela napas panjang setelah berpamitan dengan semua Hoa In

ambil pedang bajanya di dalam kamar lalu mengikuti dari belakang.

Sekeluarnya dari pintu besar, tiba-tiba seseorang menyongsong ke depan sambil memberi

hormat, ketika Hoa Thian-hong mengenali Orang itu sebagai Oh Sam ia segera berdiri tertegun,

tegurnya, “Apakah nona kalian juga telah tiba di wilayah Kanglam??”’

Oh Sam mengangguk tidak menjawab Dari pihak perkumpulan Hong-im-hwie segera muncul

orang yang menyediakan kuda Hoa Thian-hong loncat naik ke atas punggung kuda dan bersama

Oh Sam berlalu disitu.

Tiga ekor kuda dengan cepatnya lari menuju keluar kota dan tiba ditepi sungai, setelah berlarian

beberapa saat ditepi sungai sampailah mereka di depan rombongan perahu yang berjajar2

sepanjang pantai sejauh setengah lie lebih, pada ujung seratus buah perahu itu berkibar sebuah

panji kuning yang bersulamkan huruf ‘Pek’ yang amat besar.

Diam-diam Hoa Thian-hong merasa terperanjat. pikirnya, “Oooh … rupanya baik perkumpulan

Sin-kie-pang maupun pihak Hong-im-hwie telah mengerahkan seluruh pasukannya datang

kemari, ditinjau dari keadaan tersebut jelaslah sudah bahwa kedua buah perkumpulan itu telah

bersatu padu untuk bekerja sama membasmi Thong-thian-kauw, tidak aneh kalau Jin Hian

melakukan perjalanan tanpa menyembunyikan jejaknya, dan diapun tiada rencana untuk

melakukan sergapan…”

Oh Sam membawa kedua orang itu menuju ke pantai dan naik ke atas sebuah perahu. “Hoa

kongcu telah tiba!” dari ujung geladak seseorang berseru nyaring.

Suara itu dengan cepat disampaikan pula secara berantai hingga kedatangan Hoa Thian-hong

telah diketahui oleh semua orang dalam waktu yang amat singkat.

“Organisasi perkumpulan Sin-kie-pang paling ketat dan peraturannya paling sempurna,” pikir Hoa

Thian-hong dalam hati. “Kekuatan mereka luar biasa sekali dan tak boleh dipandang enteng”

Dalam pada itu Oh Sam telah membawa kedua orang itu melewati beberapa buah perahu perang

dan naik ke atas sebuah perahu besar yang berlabuh di tengah sungai, ketika pemuda itu baru

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

358

saja tiba di atas geladak tampaklah horden pintu perahu itu tersingkap dan sesosok bayangan

manusia langsung menubruk ke arah Hoa Thian-hong.

Dengan ketajaman matanya pemuda itu dapat mengenali bayangan tadi sebagai Pek Kun-gie,

sebelum ingatan kedua berkelebat dalam benaknya, tahu-tahu sepasang telapaknya sudah kena

ditangkap oleh gadis itu.

Dengan wajah bersemu merah dan memancarkan cahaya berseri-seri Pek Kun-gie berseru sambil

tertawa, “Aku melihat dirimu sewaktu kau masuk ke dalam kota, tapi waktu itu aku tidak

memanggil dirimu.”

Merah jengah selembar wajah Hoa Thian-hong, dari balik tubuh gadis itu ia lihat seorang kakek

tua berjubah ungu sambil bergendong tangan dan wajah dihiasi senyuman melangkah keluar dari

ruangan.

Buru-buru ia tarik kembali tangannya sambil menjura, katanya, “Loo pengcu, sejak berpisah baikbaikkah

kau?? Aku orang she Hoa menghunjuk hormat bagimu”’

Kakek tua itu bukan lain adalah Pek Siau-thian, ketua dari perkumpulan Sin-kie-pang yang nama

serta pengaruhnya secara lapat-lapat jauh di atas kehebatan dari Jin Hian maupun Thian Ik-cu.

Dahulu ia pernah berjumpa dengan si anak muda itu, sekarang setelah dilihatnya Hoa Thianhong

yang berdiri di hadapannya jauh berbeda dengan keadaan Hong-po Seng dahulu, bukan

saja orangnya bertambah tinggi kekar terutama sekali gerak-geriknya yang begitu gagah dan

mencerminkan kewibawaannya yang amat besar membuat jago tua she-Pek ini diam-diam

bergetar hati kecilnya.

Dengan sorot mata yang tajam Pek Siau-thian mengamati pemuda itu dari ujung kepala hingga

ujung kaki, kemudian sambil tersenyum ujarnya, “Tidak leluasa bagi kita untuk bercakap-cakap

disini. Hati-hati! Silahkan masuk ke dalam ruangan untuk minum air teh”.

Hoa Thian-hong adalah seorang pemuda yang berjiwa besar, walaupun mereka baru berpisah

dua tahun namun terhadap peristiwa ditancapkannya jarum racun Suo-hun-tok ciam, di atas

bahunya telah dilupakan sama sekali olehnya. habis memberi hormat ia segera melangkah masuk

ke dalam ruang perahu.

Pek Kun-gie dengan gerak-gerik yang manja membuntuti terus di sisi tubuhnya, senyuman

menghiasi wejahnya yang cantik membuat Hoa In diam-diam menggerutu terus.

Ruang perahu itu amat lebar dan luas, perabot dan perawatan yang diatur dalam ruangan itu

nampak indah dan megah. sebuah meja perjamuan dengan sepoci arak dan empat lima macam

sayuran telah tersedia disana, sepintas memandang keadaan mirip sekali dengan keadaan dalam

rumah tangga biasa. sedikitpun tidak. menunjukkan sikap seorang tamu terhadap sesama orang

kangouw.

“Yaya… baik-baikkah kau?” seorang dayang kecil yang cantik muncul dari balik ruangan dan

memberi hormat.

Melihat dayang itu adalah Siauw Leng, Hoa Thian-hong segera ulapkan tangannya sambil

tertawa.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

359

“Budak nakal, tak usah banyak adat,” Siauw Leng bangkit dan buru-buru tarikkan kursi bagi

tamunya.

Setelah semua orang ambil tempat duduk Pek Kun-gie baru melirik sekejap ke arah pedang baja

yang tersoren di pinggang Hoa In, dengan mata terbelalak serunya, “Eeei……. kapan sih secara

diam-diam kau telah menyusup ke markas besar lagi??”

Hoa Thian-hong tersenyum. “Dia bernama Hoa In,” katanya, dahulu ikut kakekku dan sekarang

merupakan satu-satunya sanak yang sangat menyayangi siaute, pedang baja itu adalah

pemberian darinya”

“Aku ingin lihat” seru Pek Kun-gie manja.

“Siau Koan-jin benar-benar kehangatan,” pikir Hoa In di dalam hati, “katanya ia punya hubungan

yang sangat akrab dengan nona Chin Wan-hong, diapun main kasak-kusuk dengan Giok Teng

Hujien, sekarang kenapa diapun punya hubungan yang begitu akrab dengan puteri Pek Siauthian??

Sungguh membingungkan sekali…….”

Dalam hati berpikir demikian, tapi diluaran ia cabut keluar pedang baja itu dan diangsurkan ke

depan.

Sebetulnya ia kenal baik dengan Pek Siau-thian yang hadir disitu lagipula tingkat kedudukan

mereka berbeda, maka sekalipun sudah bertemu mereka sama-sama berlagak tidak kenal,

bahkan melirik sekejappun tidak..

Sementara itu Pek Kun-gie telah menerima pedang baja tadi, sesudah ditimang2 sebentar

ujarnya sambil tertawa, “Oooh….. kiranya pedang ini cuma enam puluh dua kati, kalau begitu

beratnya lebih ringan enam kati setengah”

“Pedang baja yang kumiliki tempo dulu terbuat dari besi murni yang tak mempan dibacok golok

mustika maupun pedang mustika,” ujar Hoa Thian-hong menjelaskan, “sedang pedang ini

mengandung tiga bagian besi campuran, tentu saja jauh berbeda satu sama lainnya”

“Lain hari bila aku telah kembali ke markas besar, pedang bajamu itu pasti akan kuusahakan

untuk merebutnya kembali”

“Ciu It-bong pikirannya terlalu picik, dia ingin mencabut jiwamu. maka lebih baik janganlah kau

usik dirinya…”

“Huuuh…. akan kubikin dia mati kelaparan terlebih dulu!” seru Pek Kun-gie sambil mencibirkan

bibirnya, selesai berkata ia tertawa cekikikan dan tunduk tersipu sipu.

Pek Siau-thian yang selama Ini hanya duduk membungkam di sisi meja, setelah menyaksikan

keadaan putrinya itu tanpa terasa ia lantas berpikir, “Pedang besi macam itupun dipermainkan

dengan begitu sayang….. rupanya budak ini sudah terpikat hatinya kepada Hoa Thian-hong”

Apa yang dipikirkan jago tua ini sedikitpun tidak salah, memang begitu hubungan cinta antara

muda-mudi. Bila tidak ada rasa cinta maka sekalipun intan permata di depan mata belum tentu ia

sudi memandang sekejappun, sebaliknya sudah jatuh cinta maka meskipun hanya sebiji kancing

di atas bajupun akan berubah jadi amat berharga.

Pek Kun-gie adalah seorang gadis yang tinggi hati, setelah mengalami pelbagai liku liku secara

mendadak ia jatuh cinta terhadap diri Hoa Thian-hong, sebagai gadis yang belum pengalaman

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

360

sama sekali dalam hal bercinta ia tak pernah berpikir lebih jauh lagi tentang kesulitan2 seseorang

bercinta, dia anggap Hoa Thian-hong yang tidak menunjukkan sikap menampik tentulah berarti

bahwa diapun sudah jatuh cinta pula terhadap dirinya urusan selanjutnya berarti tiada persoalan

lagi

Karena pikiran semacam inilah membuat hubungan mereka berdua kian lama kian bertambah

rapat, sikapnya terhadap Hoa Thian-hong pun semakin bebas dan terbuka, ia anggap pemuda itu

sebagai sahabat kentalnya yang paling rapat.

Pek Siau-thian adalah seorang lelaki yang pernah terjungkal di dalam lautan cinta, melihat

putrinya menanam bibit cinta pada pemuda tersebut hatinya jadi terkesiap, sambil tertawa paksa

segera ujarnya, “Anak Gie, hormatilah secawan arak kepadanya lalu pergilah mengontrol daerah

sekitar tempat ini.”

Merah jengah selembar wajah Pek Kun-gie, dia angkat cawan araknya sambil tersenyum ke arah

si anak muda itu, Hoa Thian-hong buru-buru angkat cawan dan meneguk habis isinya.

Angin berrbau harum berkelebat lewat bagaikan burung walet Pek Kun-gie mengundurkan diri

dan ruangan itu. Pek Siau-thian segera ulapkan tangannya ke arah Siauw Leng. dayang cilik

itupun segera undurkan diri.

“Rahasia besar apa sih yang hendak ia bicarakan dengan diriku?” pikir Hoa Thian-hong di dalam

hati kenapa Pek Kun-gie serta Siauw Leng harus menyingkir dari sini?”

Melihat Pek Siau-thian tetap membungkam dalam seribu bahasa, terpaksa kepada Hoa In

katanya. “Pergilah keujuag perahu dan berjaga disitu, sebelum mendapat ijin dari Pek pangcu

siapapun dilarang masuk ke dalam ruangan”.

“Penjagaan yang diatur di tempat ini toh amat ketat, siapa yang sanggup menerjang masuk

kemari?” bantah Hoa In dengan rasa tidak senang hati.

Hoa Thian-hong jadi serba salah, dalam keadaan apa boleh buat terpaksa dengan wajah

membesi serunya. “Kenapa sih kau tak mau menuruti perkataanku? Apakah aku harus

mengundang ayah dan kakekku lebih dahulu?

Hoa In tertegun, dengan sorot mata dingin ia menatap sekejap ke arah Pek Siau-thian kemudian

baru selangkah demi selangkah mengundurkan diri dari ruangan itu.

Sepeninggalnya Hoa In, Pek Siau-thian baru tersenyum dan berkata, “Menurut apa yang

kuketahui, ayahmu maupun kakekmu belum pernah bersikap sedemikian kasarnya terhadap

pelayan tua itu.”

Hoa Thian-hong menghela napas panjang. “Kecuali ibuku dia adalah satu-satunya orang yang

paling erat hubungannya dengan boanpwee, rasa setianya kepadaku luar biasa dan memandang

diri boanpwee lebih berharga dari jiwanya sendiri, cuma Sayang ia tak mau mendengarkan

perkataanku membuat boanpwee terpaksa harus bersikap marah lebih dulu….“ Ia tertawa getir

dan geleng kepala.

“Waktu selalu berubah, keadaan sekarang jauh berbeda dengan keadaan tempo dulu, hal ini

membuat boanpwee merasa bersedih hati”

Pek Siau-thian angkat cawan araknya dan berkata, “Hiantit adalah seorang pemuda berbakat

yang sukar dibandingkan dengan manusia biasa, persoalan yang pernah terjadi dimasa yang

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

361

silam lebih baik tak usah kita ungkap kembali. Marilah aku hormati secawan arak untukmu,

kemudian aku masih ada satu urusan hendak dibicarakan dengan dirimu”

“Hoa Thian-hong angkat cawannya dan menghirup habis isinya, kemudian ia menyahut,

“Silahkan pangcu utarakan persoalanmu itu!”

Pek Siau-thian tarik napas panjang-panjang, dengan suara dalam ia berkata, “Isteriku adalah

seorang perempuan dari keluarga Thia, baik bakat maupun budinya sangat mengagumkan. Dua

puluh tahun berselang ia mempunyai nama besar yang sejajar dengan nama ibumu. orang

kangouw sebut mereka berdua sebagai Bulim Ji-bi atau dua orang cantik dari dunia persilatan”

“Kalau ibunya tidak cantik dari mana bisa lahir seorang putri macam Pek Kun-gie yang begitu

jelita??” pikir Hoa Thian-hong dalam hati, “sekalipun tak usah dikatakan hal ini sudah bisa

diduga”

Pek Siau-thian merandek sebentar. lalu sambungnya, “Keindahan dari isteriku terletak pada budi

pekertinya, tentang raut wajahnya tak usah dibicarakan lagi”

“Bila ada kesempatan dan ada jodoh, boanpwee pasti akan menyambangi bibi serta mohon

petunjuk darinya,” kata Hoa Thian-hong dengan sikap yang hormat.

Pek Siau-thian menghela napas panjang. “Kami suami isteri berdua mempunyai dua orang puteri,

yang sulung bernama Soh-gie dan yang bungsu bernama Kun-gie, mereka berdua adalah

saudara kembar yang mempunyai wajah bagaikan pinang dibelah dua, satu sama lain sedikitpun

tak ada bedanya”

“Boanpwee pernah mendengar tentang persoalan ini dari mulut Jin Hian” sela si anak muda itu.

Sepasang mata Pek Siau-thian segera memancarkan cahaya tajam. “Apakah Jin loo-ji menaruh

curiga bahwa puteranya yang tolol itu mati ditangan puteri sulungku Soh-gie?”

Hoa Thian-hong mengangguk. “la memang mencurigai puteri sulungmu itu,” jawabnya terus

terang.

Sepasang gigi Pek Siau-thian seketika bergemerutukan keras, matanya melotot dan wajahnya

berubah jadi merah padam. Lama sekali rasa gusar itu baru reda kembali.

“Kalau ditinjau dari sikapnya yang begitu gusar, bukankah urusan ini nampak semakin rumit??”

pikir Hoa Thian-hong dengan hati terkesiap.

Terdengar Pek Siau-thian dengan suara dingin berkata kembali, “Hoa hiantit, lima belas tahun

berselang istriku merasa tidak puas dengan perbuatanku, dalam keadaan sedih bercampur marah

dia telah cukur rambut jadi pendeta, kedua orang putriku pun dibagi jadi dua, putri sulung, Sohgie

ikut ibunya masuk ke dalam kuil, selama lima belas tahun terakhir belum pernah ia tinggalkan

pintu rumah barang selangkahpun jua.”

“Ooooh… sungguh tak nyana toa siocia begitu berbakti pada orang tua, sungguh mengagumkan”

puji Hoa Thian-hong dengan hati bergetar keras.

“Aaaai…. putriku yang bungsu Kun-gie karena sedari kecil sudah terbiasa manja, sikapnya

memang rada ugal2an, tapi putri sulungku Soh-gie amat alim dan soleh, tak mungkin ia bisa

melakukan perbuatan tercela semacam ini”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

362

Dengan dada berombak menahan emosi. air muka Pek Siau-thian berubah jadi dingin dan

menyeramkan, sepatah demi sepatah serunya, “Hiantit, putri sulungku telah difitnah

Orang secara keji hingga nama baiknya ternoda, peristiwa ini. merupakan suatu kejadian yang

amat besar, mungkin saja Jin Hian sanggup membunuh diriku, tetapi akupun percaya masih

memiliki kemampuan untuk membunuh dirinya. namun perduli siapapun yang bakal hidup,

fitnahan ini harus diselesaikan dulu dan noda yang telah melekat pada nama baik putriku harus

dicuci bersih lebih dahulu! “

Suasana seram dan penuh nafsu membunuh segera menyelimuti seluruh ruang perahu itu

membuat Hoa Thian-hong merasa bergidik dan bulu romanya pada bangun berdiri.

“Seandainya nama baik putri bungsuku Kun-gie yang ternoda, aku tak akan merasa terlalu sedih”

ujar Pek Siau-thian lagi dengan suara seram, “Putri sulungku Soh-gie adalah seorang gadis yang

suci dan belum pernah terjun ke dalam dunia persilatan, karena kesalahanku dia sudah harus

ikut menderita”

Ia tarik napas panjang-panjang lalu melanjutkan, “Sekalipun aku harus mengikat permusuhan

dengan banyak orang, meskipun aku harus bunuh mati semua orang yang ada di kolong langit,

aku tak rela putri sulungku itu ternoda oleh sebutir debupun”.

Pikir Hoa Thian-hong jadi goyah, pikirnya, “Ia merasa berdosa terhadap isterinya maka seluruh

rasa kasih sayangnya dicurahkan kepada putri sulungnya yang mendampingi sang istri selama

ini, bila persoalan tersebut tidak dibikin jelas sehingga duduknya perkara jadi terang. dalam

dunia persilatan entah bakal berubah jadi bagaimana?”

Berpikir sampai disatu, dengan wajah serius ia lantas berkata, “Persoalan tentang miripnya raut

wajah pembunuh itu dengan wajah nona Kun-gie adalah berasal dari mulut boanpwee atas

terjadinya persoalan ini boanpwee merasa amat menyesal”.

Pek Siau-thian ulapkan tangannya memotong ucapan tersebut. katanya. “Kalau kau mengatakan

mirip, sudah pasti wajah pembunuh itu mirip sekali dengan putriku ucapan yang diutarakan anak

keturunan keluarga Hoa tak mungkin salah, tentang soal itu aku sama sekali tidak menaruh

curiga”

Ia berhenti sejenak, lalu dengan suara yang tenang sambungnya, “Hiantit, seluruh peristiwa itu

sudah pasti diatur oleh seorang yang sangat cerdik, sekalipun Thian Ik-cu si toosu tua itupun

belum tentu mempunyai kecerdikan sampai begitu tinggi. apa tujuan orang itu sukar untuk

diketahui oleh siapapun. Selama ini kau toh hanya menceritakan apa yang telah kau lihat, aku

sama sekali tidak mengalihkan rasa gusarku ke atas tubuhmu”

Hoa Thian-hong merasa Pek Siau-thian yang berada di hadapannya ini tiba-tiba berubah jadi

amat tua, kakek itu kelihatan amat kesal dan mendongkol tapi semua perasaan itu tak

tersalurkan keluar, membuat ia sedih dan amat menderita.

Dengan pihak Sin-kie-pang boleh dibilang Hoa Thian-hong mempunyai dendam dan sengketa,

hubungannya dengan Pek Kun-gie pun amat kabur sebentar seperti kawan sebentar seperti

lawan. Sekalipun demikian ia merasa penasaran bila melihat ada orang dibuat penasaran tanpa

bisa berkutik.

Pikirannya dengan cepat berputar, “ia segera teringat kembali akan Pui Che-giok dayang

kepercayaan dari Giok Teng Hujien itu, dayang tersebut memiliki sebilah pisau belati yang persis

seperti alat yang digunakan untuk membunuh Jin Bong, Benarkah dayang itu yang melakukan

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

363

pembunuhan?? Kalau bukan lalu siapakah pembunuhnya?? Kecuali saudara kembar, siapa pula

yang memiliki raut wajah mirip Pek Kun-gie??”

Tiba-tiba terdengar Pek Siau-thian berkata dengan suara tegas, “Hoa-hiantit, pembunuh itu

pastilah berasal dari kalangan kaum lurus dan jelas bukan hasil perbuatan dari anak murid

perkumpulan Thong-thian-kauw!!….“

Mula mula Hoa Thian-hong agak tertegun kemudian dengan pikiran yang tidak tenang dan

perasaan penuh curiga ia berkata, “Siapakah diantara kalangan lurus yang dapat menggunakan

siasat semacam ini?? Pembunuh itu pernah mengadakan hubungan kelamin dengan Jin Bong, itu

berarti urusan menyangkut nama baik seorang gadis, siapa yang kesudian melakukan perbuatan

hina semacam ini??”

000O000

Pek Siau-thian mendengus dingin. “Bagi seseorang yang punya tujuan membalas dendam,

sekalipun harus korbankan jiwapun rela apalagi hanya melakukan perbuatan semacam itu?? Aku

rasa siapapun dapat melakukan tindakan seperti ini”

Ia berhenti sebentar, lalu sambil tertawa panjang lanjutnya, “Dalam dunia persilatan pada

dasarnya memang tiada perbedaan antara yang putih dengan yang hitam, yang kumaksudkan

sebagai orang dari kalangan lurus adalah orang dibalik layar yang mendalangi terjadinya

peristiwa berdarah ini bukanlah seseorang yang tergabung dalam tiga besar dunia persilatan”

“Lo-pangcu, atas dasar apa kau bisa mengatakan bahwa pembunuh itu bukan berasal dari pihak

Thong-thian-kauw??” seru Hoa Thian-hong dengan alis berkerut.

Pek Siau-thian tertawa seram, “Aku telah mengadakan janji persahabatan dengan Jin Hian,

karena persoalan itu maka perkumpulan Sin-kie-pang serta Hong-im-hwie yang keadaannya

ibarat api dan air bisa bekerja sama untuk melenyapkan Thong-thian-kauw lebih dulu, kemudian

baru menentukan nasib sendiri. aku rasa tentang hal ini Thian Ik-cu pasti memahami sejelas

jelasnya, sekalian dia punya ambisi untuk merajai kolong langit tapi belum memiliki kekuatan

untuk melawan Sin-kie-pang dan Hong Im Hwte. maka dari itu pastilah sudah dalang di belakang

layar dalam peristiwa berdarah ini bukanlah dirinya!….“

“Oooh….! Kiranya di antara tiga partai besar dalam dunia persilatan terdapat hubungan yang

sensitif, lalu siapakah pembunuh itu? Kenapa alat untuk melakukan pembunuhan itu bisa berada

di tangan Pui Che-giok itu mempunyai raut wajah yang mirip sekali dengan dua bersaudara she-

Pek?? Sungguh aneh” pikir Hoa Thian-hong dalam hati.

Setelah berpikir pulang pergi ia tetap merasa bahwa Pui Che-giok dayang kepercayaan dari Giok

Teng Hujien adalah satu-satunya yang akan ia selidiki. Maka diapun alihkan pokok pembicaraan

ke soal lain, katanya.

“Kedatangan loo-pangcu ke wilayah Kanglam kali ini apakah sedang bekerja sama dengan Jin

Hian untuk melenyapkan pihak Thong-thian-kauw??”

Pek Siau-thian mengangguk. “Inilah pekerjaan pertama yang dilakukan kami sejak perkumpulan

Sin-kie-pang bekerja sama dengan Hong-im-hwie”.

“Tahu diri tahu keadaan musuh, setiap bertempur pasti menang, aku rasa apa tindakan Thongthian-

kauw ternyata pangcu sudah mengetahui bukan??….”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

364

“Andaikata Hiantit adalah Thian Ik toosu tua itu, apa yang hendak kau lakukan untuk

menghadapi situasi semacam ini?”

Hoa Thian-hong tersenyum. “Siautit tak tahu bagaimana kekuatan yang sebenarnya dari pihak

Thong-thian-kauw, sulit bagiku untuk menjawab pertanyaan ini”.

“Kekuatan dari Sin-kie-pang, Hong-im-hwie serta Thong-thian-kauw adalah seimbang satu sama

lain, sekalipun berbeda juga sedikit sekali”.

Hoa Thian-hong termenung sebentar lalu menjawab, “Kalau Thong-thian-kauw harus satu lawan

dua sudah pasti mereka tak akan tahan, bila siautit yang jadi mereka maka akan kugunakan

siasat menggeser pantai melompati perahu. sebelum Lo-pangcu serta Jin Hian sempat mendekati

kota Leng An. di tengah jalan akan kuserang lebih dulu salah satu pihak yang terlemah agar

kalang kabut dan pusing kepala..,”

Sambil tersenyum Pek Siau-thian segera gelengkan kepalanya. “Persoalan mengenai Tiga besar

dunia persilatan selamanya memang tak bisa diraba oleh orang luar, tindakan yang dilakukan

baik oleh Thian Ik-cu, Jin Hian maupun diriku sendiri sering kali jauh diluar dugaan orang lain!…”

“Lo-pangcu, bagaimana kalau kau terangkan cara kerja kalian hingga membuka pikiran

boanpwee yang bebal” seru Hoa Thian-hong dengan sepasang alis berkerut.

Pek Siau-thian tertawa. “Tiga golongan besar berdiri saling bermusuhan, siapa yang turun tangan

lebih dulu dialah yang bakal rugi, siapapun tidak ingin menguntungkan pihak yang lain sebelum

tiba pada waktunya untuk adu senjata siapa yang mencari gara-gara lebih dulu dialah yang akan

bertindak sebagai pelopor, keadaan ini selalu tetap dan tak akan berubah untuk selamanya”

“Bila Thian Ik-cu tidak mencari siasat bagus untuk menghadapi situasi semacam ini, dan

andaikata pasukan musuh sudah berada di depan mata, bukankah waktu itu keadaan sudah

terlambat??”

“Pertarungan antar perkumpulan jauh berbeda dengan pertempuran antar dua negara, sekalipun

pasukan sudah berada di depan mata itu bukan berarti pertempuran segera akan berlangsung,

mungkin saja ketika tiba pada waktunya keadaan sama sekali berubah karena mungkin aku akan

bekerja sama dengan Thian Ik-cu untuk melenyapkan perkumpulan Hong-im-hwie, mungkin juga

Jin Hian bekerja sama dengan Thian Ik si toosu tua itu untuk merontokkan perkumpulan Sin-kiepang”

“Jika demikian keadaannya, bukankah itu berarti bahwa mereka sudah mempermainkan

kesetiaan kawan serta janji yang telah diucapkan” pikir Hoa Thian-hong dalam hati. “Rupanya

mereka lebih mementingkan keuntungan pribadi dari pada hubungan persahabatan!”

Terdengar Pek Siau-thian tertawa keras dan berkata lebih lanjut, “Urusan yang ada di dunia

bagaikan orang bermain catur, perubahan yang kemudian terjadi sukar diduga sejak semula.

mungkin saja setelah pasukan dari tiga golongan bertemu satu sama lainnya tiba-tiba tujuan

berubah dan ditujukan untuk menghadapi Hiantit, siapa tahu bukan??”

Hoa Thian-hong merasa terkejut, tapi diluaran sambil tertawa paksa katanya, “Loo pangcu,

kenapa kau musti menakut-nakuti diri boanpwee dengan ucapan semacam itu?? Boanpwee toh

tidak lebih hanya seorang pemuda yang baru saja terjun ke dalam dunia persilatan, mana begitu

tinggikah perhatian kalian pada diriku??”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

365

“Pendapat hiantit keliru besar” kata Pek Siau-thian sambil tertawa ewa, “Ibumu masih hidup di

kolong langit sedang hiantit merupakan mustika dalam kolam. cukup berbicara dari keadaan

sekarang sudah jelas menunjukkan bahwa pengaruhmu amat besar tiap hari pengaruhmu itu

berkembang semakin luas, bila dibiarkan berlarut larut maka keadaanmu akan jadi amat

berbahaya”

Peluh membasahi seluruh tubuh Hoa Thian-hong, selanya, “Ibuku tawar terhadap perebutan

nama dan kedudukan, sedangkan boanpwee masih muda dan tiada berpengalaman hanya

dibantu oleh seorang pelayan tua masa dikatakan pengaruhnya berkembang, pengaruh apa yang

berkembang??”

Ucapan Pek Siau-thian tiba-tiba berubah jadi amat santai, ia tertawa dan berkata, “Mega

membuntuti naga angin membuntuti harimau, betulkah hian-tii seorang diri??”

Dia angkat cawan araknya dan berkata lebih lanjut sambil tertawa, “Hiantit, bila tiga golongan

besar mengurung kau ditempat ini maka tidak sampai tiga bulan seluruh jago lihay dari kalangan

lurus baik itu kenal atau tidak mereka akan berduyun-duyun datang kemari. waktu itu tiga

golongan akan bekerja sama dan membasmi mereka semua dari muka bumi, bukankah hal ini

bagus sekali??”

Makin didengar Hoa Thian-hong merasa hatinya semakin terkejut, pikirnya di dalam hati,

“Ucapannya memang sangat masuk diakal, Cu Tong locianpwee serta Ciong Lian-khek beberapa

orang jago bukankah menguatirkan keselamatanku karena mengingat di atas nama baik

ayahku?? Seandainya aku benar-benar terjatuh ke tangan pihak musuh, Para jago dari kalangan

lurus sudah pasti tak akan berdiam diri belaka, bila mereka munculkan diri untuk menolong aku

niscaya perbuatan mereka itu sama artinya terjerumus dalam siasat lawan, bahkan kemungkinan

besar jiwa ibukupun akan terancam.”

Ia adalah seorang pemuda yang cerdas, setelah berpikir sebentar ia segera menyadari akan

lihaynya kejadian itu, iapun tahu Pek Siau-thian sengaja menakut-nakuti dirinya tentulah didasari

tujuan tertentu, maka sambil menenangkan hatinya ia berkata, “Terima kasih atas petunjuk yang

diberikan oleh Lo-pangcu, bila aku boleh bertanya bagaimanakah pendapatmu mengenai cara

untuk menghindarkan diri dari bencana ini??”

Pek Siau-thian angkat kepala dan tertawa terbahak bahak. “Haaaah….. haaaaah….. haaaah…….

kalau memang hiantit bertanya secara terus terang, akupun akan beberkan pendapatku

sebagaimana yang kupikirkan, satu-satunya jalan yang terbaik bagimu adalah pergi sejauhjauhnya

dari sini dan jangan mencampuri lagi urusan pertikaian ini”

“Bila perahu berada di tengah sungai, maju atau mundur adalah sama-sama jauhnya, boanpwee

tak mungkin bisa lolos dari sini lagi”

“Kalau memang demikian adanya maka lebih baik hiantit secepatnya menyatakan sikap dan

secara resmi mengumumkan bahwa kau telah bergabung dengan salah satu kelompok diantara

tiga golongan besar. Hanya berbuat demikian saja kau baru dapat menghindari gencetan dari

tiga pihak”

“Kalau didengar dari pembicaraan tersebut, rupanya ia suruh aku bergabung dengan pihak Sinkie-

pang…” pikir pemuda itu.

Dalam hati berpikir demikian, diluaran ia berkata, “Dari pihak Thong-thian-kauw aku cuma kenal

Giok Teng Hujien seorang, hanya perkenalan itu mendalam maka tak mungkin bagiku bergabung

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

366

dengan dirinya, apa lagi Ang Yap Toojin punya permusuhan dengan diriku, bergabung dengan

pihak Thong-thian-kauw sudah tak mungkin lagi bagi diriku”

Pek Siau-thian tertawa, selanya, “Hiantit telah melakukan perjalanan jauh bersama-sama Jin

Hian, aku Iihat hubungan kalian bagaikan sahabat yang intim”

“Kematian Jin Bong sedikit banyak melibatkan pula diri boanpwee,” kata Hoa Thian-hong sambil

tertawa ewa, “Jin Hian bukanlah seorang manusia yang berjiwa besar, dendam sakit hatinya itu

suatu saat pasti akan dibalas, sekarang boanpwee sudah sadar. ia menahan diriku selama ini

bukan lain adalah menggunakan aku sebagai umpan untuk memancing kedatangan para jago

dari kalangan lurus hingga bisa berhubungan dengan dirinya, dan dapat dipergunakan

tenaganya.”

Pek Siau-thian mengangguk, ujarnya sambil tersenyum. “Termasuk aku sendiri, pemimpin dari

tiga golongan besar bukanlah manusia baik-baik….”

Hoa Thian-hong tertegun, pikirnya, “Kau berkata demikian. bukankah itu berarti bahwa

pembicaraan yang berlangsung selama ini hanya omong kosong belaka…..”

Sementara kedua orang itu masih berbincang hal yang tak berguna, tiba-tiba horden tersingkap

dan muncullah Pek Kun-gie serta Hoa In.

Air muka Pek Siau-thian seketika berubah bebat, tegurnya, “Gie-ji, kenapa kau tak mau

dengarkan perkataanku??”

Dengan kepala tertunduk dan nada sedih Pek Kun-gie menjawab, “Ayah, kukatakan secara terus

terang kepadanya, dia bukanlah manusia yang gampang dipaksa oleh ancaman”

Hoa Thian-hong jadi sangat terkejut setelah mendengar perkataan itu, secara tiba-tiba ia merasa

bahwa urusan yang dihadapinya saat ini jauh lebih serius daripada apa yang diduganya semula,

rasa curiga segera muncul membuat hatinya jadi tak tenteram.

Rupanya Pek Siau-thian sedang mengalami kesulitan besar, air mukanya berubah beberapa kali,

sambil mencekal cawan lama sekali dia membungkam dalam seribu bahasa.

Setelah tertegun sesaat tiba-tiba Pek Kun-gie berjalan ke depan dan duduk disisi Hoa Thianhong,

tanyanya dengan suara lirih, “Apakah kau telah mempunyai ikatan perkawinan dengan

Chin Wan-hong?”

Perkataan itu diucapkan amat lirih bagaikan bisikan-bisikan nyamuk dan dengan kepala tertunduk

rendah-rendah, tapi bagi Hoa Thian-hong bagaikan guntur membelah bumi di siang hari bolong

sekujur tubuhnya bergetar keras.

Pada saat itulah Pek Siau-thian berbatuk ringan lalu berkata, “Hiat-tit, marilah kita buka kartu

dan berbicara sekarang terang-terangan”

“Boanpwee akan turut perintah!”

“Perpisahanku dengan istriku sudah merupakan suatu kejadian yang tak beruntung bagi

keluargaku, putri sulungku Soh-gie difitnah orang dan sekarang putriku yang bungsu Kun-gie pun

menemui persoalan, aku tidak ingin terjadi sesuatu lagi atas keluargaku.”

“Aku dapat memahami kesulitan yang sedang dialami oleh lo-pangcu!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

367

“Tapi sayang putriku Kun-gie tak tahu diri, dan ia ingin menggunakan kedudukannya, muda dan

mudi memang sukar untuk dihindari hal ini harus disalahkan kepada kami yang jadi orang tuanya

tak bisa mendidik secara baik-baik dimasa yang lalu hingga sekarang jadi kelabakan sendiri.

Sekarang urusan sudah jadi begini, aku tak bisa menghalangi pun tak bisa memenuhi

harapannya coba hiantit berpikir bila aku tak bisa selesaikan persoalan ini bukankah orang

kangouw akan mentertawakan ketidakbecusanku??”

Hoa Thian-hong merasa amat terperanjat, ia tak tahu apa yang musti dikatakan pada waktu itu.

Urusan ini menyangkut nama baik Pek Siau-thian. menyangkut pula nama baik Pek Kun-gie, bila

sepatah kata saja Hoa Thian-hong salah berbicara maka dalam malunya Pek Siau-thian berdua

tentu akan berubah jadi gusar dan mendendam terhadap dirinya.

Untuk beberapa saat lamanya suasana dalam ruangan itu jadi sunyi senyap tak kedengaran

sedikit suarapun, Hoa Thian-hong jadi serba salah dan tak tahu apa yang musti dikatakan,

sedang Pek Kun-gie dengan sepasang matanya yang jeli menatap terus wajahnya tanpa berkedip

tubuhnya nampak agak gemetar.

Tiba-tiba terdengar Pek Siau-thian berkata kembali, “Hiantit, urusan sudah jadi begini, bila kau

tidak menampik tawaranku ini dan tidak kecewa dengan putriku yang jelek aku ingin

menjodohkan dirinya kepadamu”

Agaknya untuk mengucapkan beberapa patah kata itu dia harus mengerahkan seluruh tenaga

yang dimilikinya, habis berkata ia menghembuskan napas panjang dan menyambung lebih jauh

dengan suara lemah, “Semula akupun seorang manusia yang kasar. atas jerih payahku yang tak

kenal lelah akhirnya aku berhasil juga membangun suatu usaha yang besar seperti hari ini.

Sekarang aku merasa usiaku telah tua sedang keturunan belum ada, bila hiantit tidak menampik

maka aku akan gunakan perkumpulan Sin-kie-pang ini sebagai mas kawin dari putriku. asal

putriku telah kawin maka akupun akan berlega hati. Bukankah dengan demikian Hiantit pun

dapat melanjutkan pula keturunan dari keluarga Hoa??”

Soal perkawinan ini kecuali didasari oleh kecantikan wajah Pek Kun-gie yang luar biasa serta rasa

sayangnya terhadap putri sendiri, di samping itu disertakan pula suatu gertakan yang amat

besar.

Hoa Thian-hong yang berada dalam posisi terjepit. terutama sekali menghadapi keributan dari

kelompok tiga besar, sepantasnya kalau ia terima tawaran itu dengan serang hati.

Hoa In adalah pelayan tua dari tiga keturunan keluarga Hoa dia sayang majikan mudanya

melebihi sayang pada jiwanya sendiri, ketika mendengar Pek Siau-thian ajukan pinangan

jantungnya segera berdebar keras.

Ia merasa dengan asal usul majikan mudanya yang cemerlang, tidak pantas kalau ia kawin

dengan putri seorang manusia kasar tapi iapun merasa sulit untuk menganjurkan majikannya

menampik mengingat situasi yang sedang mereka hadapi berbahaya sekali.

Sebaliknya bila dia anjurkan majikannya untuk menerima pinangan itu, berarti sebuah

perkumpulan besar ada harapan jatuh ke tangan majikannya, dengan kemampuan dari

majikannya itu ia merasa kemungkinan besar di kemudian hari seluruh kolong langit akan

menjadi milik keluarga Hoa.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

368

Pikir bolak-balik merasa serba salah, untuk beberapa saat pelayan tua inipun tak tahu apa yang

musti dilakukan.

Tiba-tiba Pek Kun-gie menggenggam tangan Hoa Thian-hong, dengan suara gemetar tanyanya,

“Thian Hong, apakah kau telah mempunyai janji dengan Chin Wan-hong untuk sehidup semati??”

“Sama sekali tidak……” ia berhenti sejenak, tiba-tiba sambil berpaling ke arah Pek Siau-thian

lanjutnya lebih jauh, “Aku merasa amat terharu dan berterima kasih sekali atas perhatian serta

kasih sayang dari lo-pangcu……”

“Sebagai seorang pria sejati hidup sebagai pendekar mati sebagai pahlawan tiada persoalan yang

perlu dikuatirkan. Hiantit! Kau sebagai seorang jago yang luar biasa sepantasnya kalau

menjawab secara tegas, menerima atau menampik harap dikatakan secara terus terang”

“Ketika boanpwee hendak meninggalkan rumah tempo dulu,” ujar Hoa Thian-hong dengan

tenang, “ibuku telah menyampaikan beberapa buah urusan kepadaku, diantaranya adalah

melarang aku kawin lebih dulu”

“Kenapa?” sela Pek Kun-gie sambil membelalakkan matanya dari pihak keluarga Hoa, toh tinggal

kau seorang….”

Hoa Thian-hong tersenyum. “Ibu takut akan tenggelam dalam kesenangan keduniawian hingga

membuka masa mudaku dengan begitu saja.”

“Aku tak pernah terikat dendam permusuhan dengan keluarga Hoa kalian,” terdengar Pek Siauthian

berkata pula, “sedang ibumu adalah seorang pendekar wanita aku percaya ibumu tak akan

menampik perkawinanmu dengan putriku.

Hoa Thian-hong adalah seorang pemuda yang amat berbakti kepada orang tuanya, kata2 dari

ibunya itu sudah melekat dalam2 di hati sanubarinya, sejak terjun ke dalam dunia persilatan

belum pernah ia pikirkan masalah perkawinannya. Walaupun begitu diapun takut ucapannya

menyakiti Pek Siau-thian berdua, maka dengan wajah tenang ia melanjutkan, “Soal perkawinan

adalah urusan yang diatur oleh orang tua, biar ibuku sudah menyanggupi perkawinan ini, tentu

saja boanpwee tak akan menampik!”

“Jadi kalau begitu, hiantit pribadi telah menyetujui perkawinan ini??” sambung Pek Siau-thian

dengan cepat.

Melengak Hoa Thian-hong setelah mendengar perkataan itu, ia segera menggeleng dan

menjawab, “Boanpwee sejak terkena racun keji Teratai empedu api, selama hidup tak bisa

beristri dan beranak lagi, dalam keadaan begini boanpwee tak pernah memikirkan tentang soal

pernikahan, sebab aku tidak ingin merusak kehidupan gadis manapun akibat dari keadaanku ini”

Apa yang diucapkan olehnya merupakan kenyataan sekalipun Pek Siau-thian cerdas dan banyak

akal tak urung dibikin gelagapan juga, ia tak tahu apa yang musti dikatakan dalam keadaan

begini.

Pek Kun-gie yang duduk disisi ayahnya jadi teramat gelisah menyaksikan hal itu, setelah

ditunggunya sebentar namun tidak kedengaran ayahnya buka suara untuk menanggapi

perkataan tadi, ia semakin cemas lagi sehingga tanpa sadar ia berseru, “Thian Hong, aku juga

bukan seorang perempuan yang terlalu mementingkan soal-soal sepele, apalagi kita semua

merupakan jago-jago yang pernah belajar silat, asal kau tidak menampik diriku serta

memandang rendah aku orang she-Pek, sekali pun telah menikah suami istri, tetap masih bisa

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

369

hidup rukun dan penuh kedamaian, apa sangkut pautnya keadaan itu dengan racun teratai

empedu api yang mengeram dalam tubuhmu itu??”

Sebagai gadis muda sama sekali belum punya pengalaman, terhadap arti perkawinan dan

hubungan kelamin pandangannya sangat jauh dan hambar apalagi api cinta yang berkobar dalam

hatinya terhadap diri Hoa Thian-hong telah merasuk ke tulang sumsum, ucapan yang dia

utarakan keluar semuanya muncul dari hati sanubari yang murni dan tiada maksud paksaan.

Hoa Thian-hong sendiri masih kabur pandangannya terhadap persoalan itu, bagi dirinya

perkataan yang diucapkan gadis itu juga dianggap sebagai sesuatu hal yang biasa dan sama

sekali tidak janggal.

Lain halnya dengan Pek Siau-thian yang sudah banyak pengalaman serta mengerti mendalam

akan arti cinta yang sebenarnya antara lelaki dari wanita, meskipun cintanya murni namun

hubungan badaniahlah yang mempererat serta memperdalam cinta itu, tanpa berbuat demikian

lama kelamaan cinta itu bakal luntur dan akhirnya patah. Tentu saja sebagai orang tua dia

merasa agak canggung untuk menjelaskan soal hubungan pribadi lelaki dan wanita itu kepada

putrinya.

Bagaimanapun juga dia adalah seorang jago kawakan yang banyak pengalaman, setelah berpikir

sebentar dia lantas berkata, “Hiantit, putri dari Pek Siau-thian bukanlah gadis yang tidak laku

untuk dikawinkan dengan orang lain, jawablah secara terus terang dan terbuka, andaikata kadar

racun Teratai empedu api yang mengeram di dalam tubuhmu dapat dipunahkan, apa yang

hendak kau lakukan?”

Ragu ragu hati Hoa Thian-hong mendapat pertanyaan itu, pikirnya di dalam hati, “Enci Wan-hong

pernah melepaskan budi pertolongan terhadap diriku, walaupun diantara kami tak pernah terikat

oleh suatu hubungan apapun, namun boleh dibilang hati kami sudah bersatu, andaikata aku

punya kesempatan untuk mencari istri dan menikah sepantasnya kalau kupilih dirinya sebagai

istriku, tapi bagaimana pula dengan tawaran Pek Siau-thian ini? Apa yang musti kau lakukan?”

“Sebagai pria yang amat kuat rasa kesetiakawanannya, sulit bagi pemuda ini untuk melupakan

setiap kebaikan yang pernah di berikan Chin Wan-hong terhadap dirinya, tetapi diapun

mengetahui mara bahaya yang setiap saat mengancam jiwanya pada saat ini, bila jawabannya

tepat maka kemungkinan besar keluarga Hoa akan mengikat hubungan famili dengan keluarga

Pek, sebaliknya kalau dia salah bertindak maka pertumpahan darah pasti tak akan terhindar, Pek

Siau-thian tentu akan memandang dirinya sebagai musuh besar yang paling dibenci, sedang

kehidupan Pek Kun-gie pun akan ikut hancur di tangannya,”

Berpikir akan seriusnya masalah ini, ia segera bangkit dan memberi hormat, ujarnya dengan

wajah serius, “Racun keji Teratai empedu api adalah racun yang tak mungkin bisa dipunahkan.

tiada kemungkinan bagiku untuk terbebas dari pengaruh racun ini, karenanya terhadap masalah

perkawinan yang merupakan masalah besar boanpwee harap kita bisa berbicara sesuai dengan

kenyataan, omong kosong hanya akan mencelakai orang lain serta mencelakai diri sendiri. Aku

harap Lo-pangcu suka mempertimbangkan masak-masak tentang persoalan ini, janganlah

disebabkan salah bertindak mengakibatkan semua orang ikut menderita.”

Pek Siau-thian tidak berputra dan belum pernah menerima murid, terhadap diri Hoa Thian-hong

boleh dibilang dia memandang tinggi dan serius, apa daya persoalan ini menyangkut

kebahagiaan hidup putrinya sepanjang masa karena itu dalam keadaan begini terpaksa ia musti

lakukan segala sesuatu apapun dengan harapan bisa memaksa pemuda itu menuruti

keinginannya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

370

“Ayah!” terdengar Pek Kun-gie berseru, “kau orang tua jangan terlalu memaksa dirinya, akupun

tidak terburu nafsu untuk menikah. biarlah aku menunggu tiga sampai lima tahun lagi ….“

“Seandainya ada orang hendak mencelakai jiwanya, apakah kau dapat berpeluk tangan belaka

membiarkan dia mati terbunuh??” seru Pek Siau-thian dengan suara dingin.

“Tentang soal itu aku harap Lo-pangcu tak usah merisaukan diri,” tukas Hoa Thian-hong dengan

cepat, “boanpwee telah menyerahkan nasibku atas pengaturan takdir, aku tidak akan

menyusahkan diri kesayanganmu”.

“Itu toh menurut jalan pemikiranmu, kalau dia akan mencampuri urusanmu itu apakah kau

mampu untuk menghalangi atau mencegahnya??”

“Sekalipun putri bakal mati, tak nanti aku menyusahkan ayah!” ujar Pek Kun-gie.

Pek Siau-thian mendengus dingin.

“Hmm! pendapat seorang bocah cilik seandainya ada orang hendak membinasakan dirimu, kau

anggap aku bisa berpeluk tangan belaka menyaksikan kau dijagal orang?”

Dalam hati Pek Kun-gie merasa amat sedih, namun sambil menekan perasaan pedih itu di dalam

hati katanya terhadap diri pemuda itu, “Thian Hong, kau harus ingat bahwa Jin Hian adalah

manusia licik yang sangat berbahaya, melakukan perjalanan bersama dia cepat atau lambat pasti

akan terbokong olehnya, lebih baik kau tak usah kembali kesana berdiamlah saja di tempat ini”.

“Dlsitu masih ada dua orang cianpwee yang sedang beristirahat, jika aku tidak kembali, rasanya

aku akan kehilangan rasa hormatku sebagai angkatan yang lebih muda……”

Habis berkata ia putar badan dan segera mohon diri kepada diri Pek Siau-thian.

Ketua dan perkumpulan Sin-kie-pang itu sama sekali tidak menahan dirinya, ia segera mengantar

tamunya keluar dari ruang perahu.

Pek Kun-gie bagaikan burung kecil yang jinak menempel terus disisi badan Hoa Thian hingga

sampai ke atas daratan mereka hanya saling berpandangan belaka dengan mulut membungkam,

banyak persoalan yang hendak

mereka bicarakan namun siapapun tak tahu musti berbicara dari mana lebih dahulu

Hoa Thian-hong terburu-buru hendak tinggalkan tempat itu, setelah termenung sebentar

akhirnya ia berseru, “Nona Pek….“

“Apakah kau musti memanggil diriku dengan sebutan nona Pek??” sela Pek Kun-gie dengan nada

yang murung bercampur sedih.

Hoa Thian-hong menghela napas panjang, bisiknya lirih, “Sejak jaman dahulu orang yang terlalu

romantis akan berakhir dengan rasa kebencian kau adalah manusia cerdik, janganlah di

sebabkan soal sepele menyebabkan masa mudamu hilang dengan begitu saja, di kemudian hari

kau akan merasa menyesal karena sikapmu itu”

Pek Kun-gie menggeleng. “Aku telah membuat jaring untuk membelenggu diriku apa daya?? Aku

tidak bisa berbuat apa-apa lagi”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

371

Dengan murung bercampur sedih Hoa Thian-hong menghela napas panjang ia termenung

beberapa saat lamanya, akhirnya sambil mengempos semangatnya berkata, “Dewasa ini banyak

masalah dunia persilatan yang sedang terjadi tiada waktu bagiku untuk mengurusi soal cinta

serta hubungan pribadi antara muda dan mudi, ambillah keputusan buat dirimu sendiri!

andaikata aku sampai mengecewakan dirimu janganlah salahkan kalau aku tak kenal budi…”

Bicara sampai disitu ia segera putar badan dan berlalu dari situ.

Rasa cinta yang bersemi dalam tubuh Pek Kun-gie telah berkembang biak, ia tak mungkin bisa

disadarkan hanya dengan sepatah dua patah kata belaka, dengan termangu-mangu ia berdiri

menjublek di tempat semula, sorot matanya memancarkan kebingungan serta kebodohan………

Oh Sam sejak semula telah menunggu disitu, ia segera menuntun kuda bagi pemuda itu Hoa

Thian-hong berdua dengan cepat loncat naik ke atas punggung kuda dan melarikannya menuju

ke arah kota.

Ketika hampir tiba di pintu kota, tiba-tiba tampaklah Ciong Lian-khek sambil membawa Chin

Giok-liong serta Bong Pay menyongsong kedatangannya dari arah depan, Hoa Thian-hong segera

meloncat turun dari kudanya sambil berkata, “Cianpwee, sungguh kebetulan sekali

kedatanganmu, boanpwee punya rencana untuk berangkat lebih dahulu ke kota Leng An, aku

ingin pulang ke rumah untuk menyampaikan hal ini kepada cianpwee sekalian”

JILID 19

“EEI…… situasi pada saat ini sangat tegang dan kritis sekali, mau apa kau berangkat lebih dahulu

ke kota Leng An?” tegur Ciong Lian-khek dengan nada tercengang.

“Sikap perkumpulan Hong-im-hwie serta Sin-kie-pang misterius dan tidak terbuka pihak Thongthian-

kauw tetap tenang dan tidak menggerakkan tentaranya, hal ini merupakan suatu keadaan

yang tidak umum dan luar biasa sekali, boanpwee punya rencana untuk berangkat lebih dahulu

ke kota Leng An guna melihat keadaan, di samping berusaha pula untuk menemukan pembunuh

dari Jin Bong, dari pada andaikata terjadi perubahan yang tak terduga kita semua jadi kelabakan

dibuatnya.”

“Apa yang kau maksudkan sebagai perubahan yang tak terduga?” tanya Ciong Lian-khek dengan

alis berkerut, tindakanmu yang lupa akan tugas dan memikirkan masalah lain yang sama sekali

tak ada gunanya untuk menyelidiki sang pembunuh, apakah bertujuan untuk mendapatkan

pedang mas itu?”

“Dalam pembicaraan yang berlangsung barusan, Pek Siau-thian telah memberi bisikan kepadaku,

katanya kemungkinan besar perkumpulan Sin-kie-pang, Hong-im-hwie serta Thong-thian-kauw

akan bersatu padu kembali untuk bersama-sama menghadapi kekuatan kaum pendekar kalangan

lurus yang mulai menghimpun kembali itu. Jika peristiwa ini sampai terjadi maka kita semua

bakal mati konyol dan bercerai berai, Oleh sebab itulah boanpwee ingin melakukan penyelidikan

lebih dahulu untuk mengetahui siapakah pembunuh dari Jin Bong serta membongkar persoalan

ini, sekalipun Jin Hiat punya watak seperti kura-kura dalam keadaan begini dia tentu akan

berusaha untuk membalaskan dendam bagi kematian puteranya, asal kekuatan tiga partai telah

terpecahkan itu berarti pihak kita akan memperoleh jalan kehidupan!”

Sebenarnya bagaimana hubunganmu dengan pihak perkumpulan Sin-kie-pang?” tegur Ciong

Lian-khek dengan wajah murung.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

372

Pek Siau-thian mengajukan tawaran kepadaku untuk menikah dengan putrinya, tetapi telah

boanpwee tolak dengan menemukan kesulitan sesungguhnya yang sedang kuhadapi.

“Aaai… kalau bukan berbesan tentu bermusuhan apakah kalian telah bentrok satu sama lainnya?”

Hoa Thian-hong menggeleng.

“Rasa cinta Pek Kun-gie yang berakar sukar dilenyapkan dalam waktu singkat, Pek Siau-thian

sendiri sebenarnya ingin menarik diriku berpihak kepadanya, tetapi berhubung dalam tubuh

boanpwee masih mengandung racun jahat ia merasa tidak lega untuk benar-benar mengawinkan

putrinya kepada boanpwee, karena rumitnya persoalan inilah membuat ia tak sanggup

mengambil keputusan… dan boanpwee pun segera mohon pamit dalam keadaan begitu.

“Cukat racun Yau Sut adalah manusia yang paling lihay, apakah bangsat cilik itu ikut berbicara?”

“Sewaktu berada ditepi sungai Hoang-hoo tahun berselang, ia pernah turun tangan keji terhadap

boanpwee sehingga memaksa aku harus menelan Teratai Racun Empedu api untuk bunuh diri

dalam pertemuan tadi Pek Siau-thian tidak mempertemukan diriku dengan manusia she-Yau itu!”

Ciong Lian-khek mengangguk, setelah termenung beberapa saat lamanya dia berkata kembali.

“Kota Leng-An merupakan basis pertahanan yang paling kuat dari pihak perkumpulan Thing

Thian Kauw, terutama sekali dalam keadaan begini seluruh jago lihay dari perkumpulan itu sudah

berkumpul disana, andaikata kau ingin pergi ke situ lebih dahulu aku rasa lebih baik kita

berangkat bersama-sama”

Hoa Thian-hong segera tertawa. “Boanpwee ada maksud menghubungi Giok Teng Hujien lebih

dahulu jika terlalu bayak yang pergi bukan saja kurang leluasa bahkan tindakan kita ini mungkin

akan mencurigakan hati Jin Hian”

Walaupun pemuda ini hanya seorang angkatan muda belaka tetapi justru dialah pemimpin dari

himpunan kekuatan diluar tiga kekuatan besar dalam dunia persilatan kendati Ciong Lian-khek

sekalian adalah para orang gagah yang sudah lanjut usia namun semangat jantan mereka

dimasa lampau telah hilang lenyap sama sekali, kemunculan mereka pada saat inipun tidak lain

karena merasa tak tega membiarkan pemuda itu melakukan perjuangan seorang diri.

Karena itulah tanpa sadar Hoa Thian-hong telah dipandang sebagai otak serta pemimpin mereka,

dalam menghadapi masalah besar ataupun kecil kebanyakan mereka tidak kukuh dalam

pendirian dan lebih banyak menuruti rencananya,

Terdengar Bong Pay berseru, “Dalam perkumpulan Thong-thian-kauw tak terdapat seorang

manusia baikpun, tindak tanduk Giok Teng Hujien tidak beres dan namapun tidak punya, dia

merupakan manusia yang paling berbahaya Hiat-te, yang paling keji di kolong langit adalah hal

perempuan, kau musti selalu waspada untuk menghadapi segala kemungkinan yang tidak

diinginkan!”

“Terima kasih atas petunjuk dari toako”

“Aku sedang memperingatkan kepadamu siapa. yang memberi petunjuk?” sela Bong Pay dengan

mata melotot Hoa Thian-hong tersenyum, dia menjura ke arah tiga orang itu, sambit tinggalkan

kudanya dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki pemuda itu lari menuju ke dalam

kota.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

373

Hoa In telah berhasil merubah tabiat dari majikan mudanya ini, dia tahu setelah pemuda itu

mengambil keputusan sulitlah baginya untuk merubah keputusannya itu, maka diapun tidak

banyak bicara dengan cepat pelayan tua ini menyusul di belakangnya.

Malam itu juga Hoa Thian-hong berdua melanjutkan perjalanannya menuju ke selatan, tidak

sampai satu hari mereka telah tiba diluar kota Leng An.

Hoa In adalah jago kawakan, dia tahu markas besar dari perkumpulan Thong-thian-kauw

bernama ‘It-goan-koan’ dan letaknya berada di keresidenan Chee-Thong, kuil It-goan-koan

dalam kota Leng-An tidak lain adalah markas dari sektor atas.

Maka dia lantas mengajak Hoa Thian-hong masuk ke dalam kota lebih dahulu untuk mencari

penginapan dan beristirahat. Kuil It-goan-koan markas besar perkumpulan Thong-thian-kauw

terletak di atas sebidang tanah yang luasnya mencapai ribuan bau, bukan saja luas sekali

bangunan lotengpun bersusun2 dengan rapatnya, bangunan itu bukan saja kokoh bahkan

nampak begitu megah dan melebihi keraton kaisar di ibu kota.

Kentongan kedua baru saja lewat, dua sosok bayangan manusia nampak berkelebat ke tempat

kegelapan dibawah tembok pekarangan, kedua orang itu bukan lain adalah Hoa Thian-hong serta

Hoa In.

Hoa In mencabut keluar pedang baja yang terselip di pinggangnya, lalu berbisik lirih, “Ilmu

meringankan tubuh yang dimiliki Siau Koan-jin belum mencapai taraf kesempurnaan, andaikata

jejakmu ketahuan oleh pihak lawan berusahalah sedapat mungkin cepat-cepat mengundurkan

diri dari bangunan kuil ini, daripada kita harus bertempur di dalam kuil dan terjebak dalam

kepungan yang terlalu tangguh”

Hoa Thian-hong mengangguk, setelah menyelipkan pedang baja itu di pinggangnya ia segera

meloncat masuk kebalik tembok pekarangan.

Hoa In berebut berjalan di depan, ia berkelit ke kiri mengigos ke kanan, akhirnya sampailah

ditengah-tengah sebuah ruang istana yang besar, ketika memasuki ratusan tombak jauhnya

kemudian dengan cepat mereka temukan disetiap sudut bangunan itu terpencar penjagaan yang

sangat ketat, toojin bersoren pedang melakukan perondaan di sekitar sana dan cahaya lampu

menyinari setiap sudut ruangan membuat tempat menjadi terang benderang.

Walaupun ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Hoa Thian-hong berdua cukup lumayan,tak

urung dibikin kesulitan juga oleh situasi tersebut, setiap saat kemungkinan besar jejaknya

ketahuan.

Dengan enteng kedua orang itu menyusup ke balik sebuah hioloo besar yang tingginya melebihi

manusia, dari situ sorot mata mereka dengan tajam mengawasi keadaan di sekelilingnya untuk

menantikan kesempatan baik guna maju lebih ke depan.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki manusia berkumandang datang, lima orang toosu cilik

berjubah merah yang menyoren pedang pendek di punggungnya dan berusia antara empat lima

belas tahun munculkan diri dari sudut tikungan sebelah kanan.

Dari langkah kaki serta sorot mata yang tajam dari kelima orang toosu cilik itu bisa ditarik

kesimpulan bahwa ilmu silat mereka lihay sekali sementara Hoa Thian-hong masih tertegun

menyaksikan keadaan tersebut, disisi telinganya terdengar suara Hoa In yang lembut bagaikan

suara nyamuk berkumandang datang, “Kekuatan yang dimiliki lima orang bocah cilik itu luar

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

374

biasa sekali. mereka mampu menandingi empat orang pengawal pribadi golok emas dari Jin

Hian!”

Kembali terdengar suara langkah manusia yang lirih berkumandang datang, dari arah lain muncul

pula lima orang toosu cilik dan berbelok ke arah samping kiri.

“Bocah-bocah cilik itu bertugas melakukan patroli di sekitar ruang kuil ini” bisik Hoa In kembali,

“hanya tidak kuketahui berapa banyak jumlah mereka!”

Tenaga dalam yang dimiliki Hoa Thian-hong belum berhasil mencapai pada puncak ia tak berani

buka suara dan terpaksa hanya mengangguk belaka, pikirnya, “Giok Teng Hujien menyebut

kedudukannya sebagai pengontrol pusat dari kesepuluh sektor, kedudukannya pasti tidak

rendah. Entah dia memiliki tempat kediaman yang pasti atau tidak?”

Tiba-tiba Hoa In ulapkan tangannya sambil enjotkan badan dan melayang sejauh puluhan

tombak dari tempat semula, Hoa Thian-hong segera mengepos tenaga dan buru-buru mengejar

dari belakang mereka berdua dengan andalkan nyali yang besar serta kepandaian yang tinggi

kembali menyusup masuk ke dalam ruang tengah melewati penjagaan yang amat ketat itu.

Kurang lebih sepertanak nasi kemudian, kedua orang itu berhasil melewati ruang tengah dengan

penjagaan yang amat ketat tadi tampak diluar ruangan sunyi senyap tak nampak sesosok

bayangan manusiapun, dengan perasaan kecewa mereka segera berkelebat menuju ke belakang

kuil disisi halaman.

Suara langkah kaki manusia kembali berkumandang datang, buru-buru kedua orang itu

menyembunyikan diri ke tempat kegelapan, tampak dua orang toosu cilik berjalan di depan, di

belakangnya mengikuti seorang kakek berkerudung hitam dengan langkah kaki yang enteng.

Di belakang tubuh kakek berkerudung tadi mengikuti pula seorang manusia orang itu

berperawakan kurus kecil dan bentuknya mirip beruk, seperti halnya dengan sang kakek di

depan, diapun mengenakan kain kerudung hitam di atas wajahnya. Biji mata yang nampak dari

luar memancarkan cahaya tajam yang menggidikkan hati.

Keempat orang itu berjalan masuk dari kuil depan, dengan mengikuti lorong kecil langsung

menuju ke arah kuil belakang. Ketika lewat di depan Hoa Thian-hong berdua, pemuda itu

mengamati beberapa saat tubuh kakek berkerudung yang ada di paling depan itu, dia merasa

sikapnya yang gagah serta bentuk tubuhnya yang kekar seolah-olah pernah dikenal olehnya

hanya untuk beberapa saat tak teringat olehnya siapakah orang itu.

Setelah keempat orang itu lewat. Hoa In segera memberi tanda bersama-sama Hoa Thian-hong

mereka menguntit dari tempat kejauhan, setelah melewati sebuah ruang besar lagi sampailah

mereka dihadapan sebuah ruang tamu yang lebar cahaya lampu menyinari seluruh ruang tadi

hingga nampak terang benderang, dibawah pohon diluar ruangan berdiri sejajar sepuluh orang

toojin berusia pertengahan yang menyoren pedang di punggungnya

Di dalam ruang tamu itu pada dinding sebelah belakang tersedia meja sembahyang. Di atas meja

sembahyangan berdiri sebuah arca berbaju emas yang tingginya mencapai beberapa tombak,

semuanya merupakan toosu-toosu yang berwajah agung.

Dibawah meja sembahyang terdapat sederetan kasur untuk semedi, di atas kasur semedi tadi

duduklah tiga orang toosu tua, mereka semua memakai kopiah kebesaran dengan jubah

berlambangkan Pat kwa emas, jenggot panjang terurai sepanjang dada dengan di tangannya

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

375

memegang sebuah senjata kebutan di belakang mereka masing-masing berdiri seorang toosu

cilik yang memegang sebilah pedang pusaka.

Berhubung jaraknya amat jauh Hoa Thian-hong tidak sempat menangkap suara pembicaraan di

dalam ruang itu, baru saja ia hendak menyusup maju lebih ke depan tiba-tiba Hoa In menarik

tangannya sambil berbisik, “Toosu tua yang duduk di tengah ruangan itu bernama Thian Sengcu,

dia adalah seorang jago lihay yang berasal satu perguruan dengan Thian Ik-cu ketua

perkumpulan Thong-thian-kauw, lebih baik kita jangan bergeser terlalu dekat, hati-hati kalau

jejak kita sampai ketahuan”

“Apakah kau dapat menangkap suara pembicaraan mereka?”

“Siau Koan-jin tak perlu gelisah, biarlah kuheningkan cipta dan pusatkan pikiran mungkin saja

pembicaraan mereka bisa kutangkap!”

Sementara pembicaraan masih berlangsung kakek berkerudung itu sudah dipersilahkan masuk ke

dalam ruangan, setelah memberi hormat dengan Thian Seng-cu sekalian dia pun duduk di atas

kasur untuk semedi, sedangkan pria kurus kecil yang mirip beruk tadi hanya berdiri saja

dibelakang kakek itu, rupanya dia adalah pembantu orang tadi.

Setelah masing-masing pihak saling mengucapkan beberapa patah kata rendah, mendadak Thian

Seng-cu merogoh ke dalam sakunya dan mengambil keluar sepucuk surat yang mana segera

diterima oleh kakek berkerudung tadi.

Kakek itu segera menyimpan surat tersebut ke dalam saku. setelah berbicara beberapa patah

kata dengan Thian Seng-cu tiba-tiba dia angkat kepala dan melepaskan kain kerudung hitam

yang menutupi wajahnya.

Hoa Thian-hong yang dapat melihat pula raut wajah orang itu segera merasa terkejut, hampir

saja ia menjerit saking kagetnya.

Ternyata kakek berkerudung hitam itu bukan lain adalah ayah dari Chin Giok-liong serta Chin

Wan-hong Telapak pasir emas Chin Pek-cuan dari kota Kengciu.

Hoa Thian-hong merasa terkejut bercampur curiga, otaknya berputar keras berusaha untuk

memecahkan kecurigaannya itu, tetapi ia tak berhasil mendapat jawabannya, ia tak tahu apa

sebabnya Chin Pek-cuan bisa tiba di tempat itu, bahkan wajahnya berkerudung dan tingkah

lakunya misterius sekali, kalau ditinjau keadaannya jelas ia sedang melakukan suatu tugas yang

dibebankan kepadanya.

0000O0000

Hoa Thian-hong hanya dapat melihat orangnya tak dapat mendengar suaranya, ia merasa

gelisah sekali dan berulang kali menoleh ke arah Hoa In dengan harapan pelayan tuanya bisa.

memberi keterangan.

Tetapi Ketika itu Hoa In sendiripun picingkan matanya dengan alis berkerut, kalau ditinjau

keadaannya nampak diapun dibikin bingung oleh keadaan di depan mata.

Lama kelamaan Hoa Thian-hong tak kuat menahan diri, segera bisiknya dengan suara lirih, “Looting

itu adalah Chin Pek-cuan dari kota Keng-ciu kau kenal tidak dengan dirinya?”

Hoa Ia mengangguk tanda kenal.”Apa yang mereka bicarakan?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

376

“Rupanya Chin Lo-ji telah menggabungkan diri dengan pihak perkumpulan Sin-kie-pang, dia

mendapat tugas dari Cukat racun Yau Sut datang kemari. Rupanya orang she-Yau itu telah

berkhianat dan mencari persekongkolan dengan pihak luar, mereka sering kali mengucapkan

kata-kata “menyerang diluar dugaan” hasil dibagi sama rata, hanya tidak kuketahui dia mengajak

pihak Thong-thian-kauw untuk bersama-sama menyerang Hong-im-hwie, ataukah bekerja sama

untuk memberontak di dalam tubuh perkumpulan Sin-kie-pang sendiri….”

“Situasi dalam dunia persilatan dewasa ini benar-benar luar biasa berbahayanya” pikir Hoa Thianhong

di dalam hati” Entah apa sebabnya Chin Pek-cuan bisa bergabung dengan Yau Sut? pihak

Hong-im-hwie telah bersepakat dengan perkumpulan Sin-kie-pang untuk bekerja sama

melenyapkan Thong-thian-kauw, namun secara diam-diam mereka sendiripun berusaha main

setan, keadaan begini justru malah menguntungkan pihak Thong-thian-kauw yang mengadu

domba dari tengah dan menjadi nelayan beruntung yang menunggu hasil”

Tiba-tiba tampak Chin Pek-cuan mengenakan kembali kain kerudung hitamnya, setelah

mengucapkan beberapa patah kata dengan Thian Seng-cu ia segera bangkit berdiri dan

mengundurkan diri dari situ.

Pria kurus kecil yang menyerupai beruk itu masih tetap mengikuti dibelakang tubuhnya, sedang

dua orang toosu cilik berbaju merah tadi berjalan dipaling depan.

Hoa In jago pengalaman yang teliti dalam setiap gerakan, dia tidak ingin menyaksikan majikan

mudanya menempuh bahaya, maka ditunggunya sampai Chin Pek-cuan sekalian lewat lebih

dahulu kemudian baru berbisik, “Siau Koan-jin, jago lihay di dalam kuil ini banyak tak terhitung

jumlahnya, tujuan dari kedatangan kita kali ini adalah mencari Giok Teng Hujien, aku rasa lebih

baik kita tak usah berkeliaran secara membabi buta sehingga kemungkinan besar kita akan

menemui bahaya ditangkap atau terkepung….”

Hoa Thian-hong sendiripun merasa pula tegang serta seriusnya keadaan ketika itu, dia

mengangguk. “Baiklah, kita selidiki dahulu persoalan dari Chin Pek-cuan. Besok baru kita selidiki

lagi tempat tinggal dari Giok Teng Hujien”

Hoa In jadi amat kegirangan. dengan melalui jalan semula mereka segera mengundurkan diri

keluar dari kuil tersebut.

Mereka berdua ngeloyor keluar lewat sisi ruangan kemudian lari ke pintu kuil dan dari sana

menyembunyikan diri ke sudut gelap dekat dinding perkampungan, dari sana mereka lihat Chin

Pek-cuan serta pria kurus kecil seperti beruk itu sudah naik ke atas kuda dan lari menuju ke arah

kota Leng An.

“Bila aku lakukan pengejaran pada saat ini, jejak kami pasti ketahuan” pikir Hoa Thian-hong

dalam hati, “baiklah biar kutunggu sebentar lagi”

Rupanya Hoa In sendiripun berpendapat demikian pula, mereka berdua segera berdiam diri

beberapa saat lamanya.

Menanti derap kaki kuda sudah menjauh dan kedua orang toosu cilik berbaju merah itu sudah

masuk kembali ke dalam kuil mereka baru berangkat melakukan pengejaran.

Dengan kecepatan gerak mereka berdua, sekalipun kuda jempolan dalam waktu singkat berhasil

pula disusul oleh mereka.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

377

Setelah mengejar beberapa saat lamanya telinga mereka dapat menangkap suara derap kuda

jauh disebelah depan sana, Hoa Thian-hong merasa semangatnya berkobar. Ia segera

mengerahkan tenaganya lebih besar dan mengejar lebih cepat lagi.

“Kita hanya berusaha merampas surat ataukah menangkap sekalian dengan orangnya?” tiba-tiba

Hoa In bertanya.

Hoa Thian-hong termenung sejenak, kemudian jawabnya, “Biarlah kujajaki dahulu jalan pikiran

mereka, kemudian kita baru bertindak!”

“Bukankah hubungan Siau Koan-jin dengan putrinya erat sekali?” tanya Hoa In sambil

tersenyum.

Merah jengah selembar wajah Hoa Thian-hong. “Enci Wan-hong sangat baik terhadap diriku,

Chin toako-pun orang baik. sedang Chin Pek-cuan dahulu merupakan seorang ksatria yang gagah

perkasa, entah apa sebabnya sekarang malah berkomplot dengan Yau Sut manusia licik itu?”

“Lain dulu lain sekarang dewasa ini dunia adalah milik kaum laknat dari golongan hitam, mencari

perlindungan terhadap keselamatan sendiri pada pihak yang kuat sudah menjadi kebiasaan

setiap orang”

“Aaah.. duduk perkara yang sebenarnya toh belum kita ketahui, janganlah kita menuduh orang

secara sempurna,” kata Hoa Thian-hong.

Mendengar perkataan itu Hoa In segera berpikir, “Pastilah Siau Koan-jin amat mencintai nona itu,

maka ia selalu berusaha untuk melindungi bapaknya”

Berpikir demikian, dengan wajah serius ia lantas berkata, “Seandainya Chin-lo-ji benar-benar

sudah berubah perangainya, lebih baik Siau Koan-jin jangan berhubungan dengan putrinya, dan

jangan Kau gubris pula putri dari Pek Siau-thian”

Hoa Thian-hong tersenyum, tiba-tiba ia temukan bahwa tembok kota sudah berada diambang

pintu, dengan cepat ia hentikan langkah kakinya sambil berkata, “Tunggu sebentar, coba kita

lihat apakah mereka masuk ke dalam kota atau tidak?’,

Terlihatlah Chin Pek-cuan serta pria berbadan kurus kecil yang menyerupai beruk itu memutar

haluan, mereka melarikan kuda tunggangannya menuju ke arah utara.

Hoa Thian-hong siap melakukan pengejaran, tetapi sebelum ia sempat bergerak tiba-tiba dari

atas tembok kota melayang turun tiga sosok bayangan manusia. dan segera mengejar

dibelakang orang she Chin itu.

Setelah menanti sejenak kemudian. Hoa Thian-hong hendak melakukan pengejaran tetapi dari

sudut tembok kota kembali menyusup keluar sesosok bayangan manusia. bagaikan segulung

asap ringan orang itu segera menyusul dari belakang mereka bertiga.

Hoa Thian-hong gelengkan kepalanya. ia menunggu sampai orang terakhir itu sudah mencapai

kejauhan ratusan tombak baru mulai mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan tanpa

mengeluarkan sedikit suarapun mengejar dari belakang.

“Aaai… jaman sekarang benar-benar sudah mendekati jaman edan” gumam Hoa In dengan suara

lirih, ”di mana-mana yang dijumpai hanya persoalan yang membingungkan dan tidak diketahui

ujung pangkalnya”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

378

“Manusia dari kalangan hitam telah terbagi jadi tiga kekuatan besar ditambah. pula kita manusia

gentayangan yang tercerai berai membuat suasana bertambah kacau, banyak orang melakukan

tindakan pagar memakan tanaman tentu saja jamannya semakin berubah mendekati jaman edan

“Seandainya kita berhasil menemukan rahasia pribadi dari Yau Sut, perlukah kita bongkar rahasia

itu?”

Hoa Thian-hong berpikir sebentar, kemudian jawabnya sambil tertawa, “Seandainya kita benarbenar

berhasil menangkap basah rahasia pribadinya, maka Yau Sut tidak akan disebut sebagai

Cukat racun lagi”

Dia menghela napas panjang, setelah termenung sebentar terusnya, “Kau tidak punya kesabaran

sedang pikiranku kurang cermat, semua perbuatan kita dimasa lampau harus dirubah kalau tidak

maka urusan besar tak mungkin bisa kita selesaikan!”

Tiba-tiba suara derap kaki kuda disebelah depan kedengaran amat kacau, disusul ringkikan kuda

serta bentakan gusar berkumandang datang.

Diam-diam Hoa Thian-hong merasa terkejut, ia segera menatap tajam ke arah depan, tampaklah

bayangan manusia disebelah depan itu laksana kilat berkelebat beberapa kali ke muka dan

seketika itu juga jejaknya lenyap tak berbekas.

“Kita telah berjumpa dengan jago lihay kelas satu!” bisik Hoa In dengan wajah agak berubah,

“Mari kita tengok dulu kemudian baru mengambil keputusan!”

Kedua orang itu berputar ke sisi kiri dan diam-diam menyusup ke depan, setelah bersembunyi

dibelakang sebatang pohon pendek terlihatlah ketika itu Chin Pek-cuan serta pria seperti beruk

itu telah loncat turun dari kudanya, dihadapan mereka berdiri tiga orang kakek baju hitam,

pakaian mereka merupakan pakaian ringkas dan di pinggang tersoren senjata tajam.

Sinar mata Hoa Thian-hong dengan tajam menyapu sekejap sekeliling tempat itu, ia berusaha

mencari tempat persembunyian dari orang lihay tadi, namun walaupun sudah dicari setengah

harian belum ditemukan juga.

Terdengarlah Chin Pek-cuan dengan suara gusar membentak keras, “Apa maksud kalian

mengejar diriku? dalam biji mata yang bersih tak ada pasirnya, kalau ada urusan katakanlah

sejujurnya”

Kakek baju hitam yang berada di tengah mendengus dingin. “Hmm! Melakukan perjalanan

dengan wajah berkerudung merupakan pantangan terbesar dalam dunia persilatan, lo-yamu

ingin melihat raut wajahmu yang sebenarnya agar bisa menambah pengetahuan!”

“Haaah….baaah….. haaah….. kau menyebut diri sebagai Lo-ya, rupanya bajingan-bajingan dari

perkumpulan Sin-kie-pang!”

Kakek baju hitam itu tertawa dingin. “Heeh… heeh… heeh… heeeh … tua bangka sialan! rupanya

kau seorang jago kawakan juga. Tidak salah! Kami tiga orang lo-ya adalah pelindung hukum dari

perkumpulan Sin-kie-pang, kau hendak turun tangan sendiri ataukah lo-ya mu yang harus

mewakili dirimu?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

379

“Hmmm, sudah banyak tahun aku tak pernah menjagal anjing” ejek Chin Pek-cuan dengan nada

menghina, “Bila kau merasa usiamu terlalu panjang, maju sajalah! akan kulayani keinginanmu

itu.”

Bentakan keras berkumandang memecahkan kesunyian, kakek baju hitam yang ada disebelah

kiri menerjang maju ke depan, lengannya berkelebat dan mencakar wajah orang she Chin itu.

Chin Pek-cuan mendengus dingin. kaki kirinya mundur setengah langkah ke belakang diikuti

telapaknya diayun dan langsung menghantam kemuka.

“Ooooh…. kiranya berlatih ilmu Kim-see-ciang. luar biasa juga tenaga dalamnya!” seru kakek

yang pertama tadi.

Sementara perkataan itu diucapkan, dua orang dalam gelanggang telah saling bertempur empat

jurus lebih, angin pukulan menderu-deru dan pertarungan berlangsung dengan serunya.

“Chin Pek-cuan melakukan pekerjaan atas dasar perintah rahasia dari Cukat beracun Yau Sut.

tetapi sekarang ia bergebrak pula dengan para jago dari Sin-kie-pang, itu berarti yang dilakukan

olehnya adalah urusan pribadi Yau Sut sendiri!” pikir Hoa Thian-hong.

Terdengar Hoa In berbisik dengan suara lirih, “Rupanya ilmu silat yang dimiliki Chin Pek-cuan

telah memperoleh kemajuan yang pesat!”

Hoa Thian-hong tersenyum. “Makin tingkat usianya, makin cekatan hidup seorang manusia, hal

itu sudah jamak!”

Sementara itu Chin Pek-cuan telah menerjang maju ke depan. secara beruntun dia lancarkan

delapan sembilan jurus serangan, kakek baju hitam tadi terdesak hebat dan tak mampu

mempertahankan diri, membuat dia harus kirim satu pukulan untuk menyambut serangan

tersebut dengan keras lawan keras

Ploook….pukulan Kim-see-ciang yang dilatih Chin Pek-cuan dengan sempurnanya itu berhasil

menghajar telak tubuh lawan.

Dalam keadaan begini tentu saja kakek baju hitam itu tak mampu pertahankan diri, ia

mendengus berat dan tubuhnya terpental sejauh satu tombak dari tempat semula persendian

tulang kanannya terlepas dan separuh tubuhnya kontan jadi kaku.

Menyaksikan rekannya terluka kakek baju hitam yang buka suara tadi jadi amat gusar. ia

membentak sambil ayunkan tangan kirinya ke depan. Sekilas cahaya keemas-emasan berputar

bagaikan roda dan meluncur ke arah batok kepala Chin Pek-cuan dengan kecepatan bagaikan

kilat.

Chie Pek Cuan adalah jago kawakan yang berpengalaman luas, mendengar deruan angin tajam

yang meluncur datang ia segera mengetahui bahwa serangan tak boleh disambut dengan

kekerasan, ia merandek dan menyusup ke arah samping.

Cahaya emas yang menyilaukan mata….memenuhi seluruh angkasa, dari samping….kiri kanan

depan maupun belakang serentak meluncur datang roda2 emas yang tajam.

Chin Pek-cuan mendengus dingin, sepasang bahunya bergeser dan menggunakan suatu gerakan

yang manis ia berhasil melepaskan diri dari serangan gabungan keempat buah roda emas itu,

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

380

telapaknya diayun dan secepat kilat ia balas mengirim satu pukulan gencar ke arah kakek yang

menyerang dengan roda emas tadi.

Diam-diam Hoa Thian-hong bersorak memuji. pikirnya, “Sejak meninggalkan kota Keng-ciu.

rupanya ia telah mendapat pendidikan ilmu dari orang lihay!”

Terdengar Hoa In berbisik lirih, “Chin Pek-cuan kekurangan serangkaian ilmu pukulan yang

dahsyat, kalau tidak niscaya ia sudah berhasil angkat nama dan menjadi jago Bu-lim yang

disegani orang”

Dalam hati Hoa Thian-hong juga berpendirian demikian. ia mengangguk tanda membenarkan.

Sementara itu tampak kakek beroda Ngo-heng-lun itu ayunkan kembali tangan kanannya,

mendadak dalam telapak telah bertambah dengan sebilah pedang emas yang memancarkan

cahaya tajam, dua tangan menggunakan enam macam senjata tajam, dengan gencar dan

hebatnya ia layani setiap pukulan Kim-see-ciang yang dilancarkan Chin Pek-cuan.

“Kakek tua itu bernama Ciong Tiau-gak, dia merupakan seorang jago kosen dalam dunia

persilatan” bisik Hoa In, “katanya permainan roda ditangan kirinya merupakan hasil ciptaan

sendiri yang ditekuni serta dilatih sendiri tanpa bimbingan guru pandai”

Hoa Thian-hong mengerutkan sepasang alisnya, “Sewaktu ada di kota Cho-ciu, pernah

kusaksikan dia bertempur melawan rase salju milik Giok Teng Hujien, ilmu silatnya memang luar

biasa, tanpa mendapat bimbingan guru dia berhasil melatih ilmu silatnya mencapai taraf begitu

tinggi. hal ini benar-benar bukan suatu pekerjaan yang gampang”

“Chin Pek-cuan”

“Ketika berlangsungnya pertemuan Pak Beng Hwee, dialah orang yang membawa keluar jenazah

ayah, dia adalah tuan penolong dari keluarga Hoa kita, aku berharap kau jangan bertindak

kurang adat terhadap dirinya……”

Mendengar perkataan itu Hoa In nampak tertegun, lalu jawabnya, “Aku benci kepadanya karena

perbuatannya yang tidak benar”

“Bagaimana duduk perkara toh belum jelas sepatah dua patah kata tak bisa menyimpulkan

keseluruhan dari masalah itu, kau jangan menuduh orang dengan hal yang bukan-bukan”

Tiba terdengar Ciong Tiau-gak membentak keras, tangan kirinya menyerang secepat kilat, lima

buah roda emas dengan cepat berputar ke depan membokong dari depan dada belakang

punggung lawan, sedangkan pedang lemas ditangan kanannya mengirim satu tusukan kilat ke

arah lambung kakek she- Chin tersebut.

Lima buah roda emas mengepung secara berbareng, cahaya tajam ketika menyilaukan mata dan

desiran tajam memekikkan telinga, tusukan pedang lemas yang dilancarkan belakangan tiba lebih

duluan keganasan serta ketajamannya mengerikan sekali, sekilas memandang siapapun tahu

bahwa serangan itu amat luas luar biasa.

Menghadapi mara bahaya langkah kaki Chin Pek-cuan sama sekali tidak kalut, melihat cahaya

tajam mengurung disekeliling tubuhnya, sepasang bahu segera bergerak dan menyusup keluar

dari lingkaran cahaya dalam repotnya telapak diayun ke depan menghantam punggung Ciong

Tiau-gak.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

381

Hoa Thian-hong yang menyaksikan dua kali kakek she-Chin itu berhasil lolos dari ancaman

dengan mempergunakan gerakan yang sama, dalam hati segera mengerti pikirnya

“Tidak aneh kalau ilmu silatnya mendapat kemajuan yang pesat, rupanya ia sudah memperoleh

penemuan aneh dan mendapat didikan ilmu dari orang pandai.”

Berpikir demikian, dia lantas berbisik kepada Hoa In, “Gerakan tubuhnya sangat aneh dan lihay

sekali, tahukah kau asal usulnya?”

Hoa In menggeleng.

“Diantara gerakan langkah yang tersohor di kolong langit, belum pernah kujumpai gerakan

semacam ini”

Hoa Thian-hong segera alihkan sorot matanya ke arah pria berbentuk seperti beruk itu, ujarnya

kembali, “Bentuk tubuh manusia berkerudung yang kecil kurus itu aneh sekali.”

Belum habis bicara, tampaklah olehnya kakek baju hitam lainnya dari perkumpulan Sin-kie-pang

telah merogoh sakunya dan ambil keluar sebatang garpu pendek yang sangat beracun setelah

menyaksikan rekannya tidak berhasil menangkan pihak lawan, tanpa mengucapkan sepatah

katapun dia langsung menerjang ke belakang tubuh Chin Pek-cuan.

Traaang! baru saja kakek baju hitam itu mendekati belakang punggung kakek she Chin itu,

mendadak tubuhnya terhenti dan garpu pendek beracun yang dicekalnya itu terjatuh ke atas

tanah.

Chin Pek-cuan segera memutar tubuhnya sambil membentak keras, telapaknya langsung

dihantam ke arah dada musuh.

Semua peristiwa itu berlangsung dalam sekejap mata. Ciong Tiau-gak tidak sempat berpikir

panjang lagi, tangan kirinya laksana kilat melancarkan serangan, roda Ngo-heng-kim lun

langsung dihantamkan ke tubuh musuh.

Gerakan senjata aneh ini jauh lebih cepat dari pada desiran senjata rahasia. sebelum pukulan

Chin Pek-cuan bersarang di tubuh lawan, cahaya tajam yang disertai dengungan nyaring sudah

berada di depan mata, terpaksa ia batalkan pukulannya sambil mengigos kesamping.

Dalam sekejap mata Chin Pek-cuan telah terlibat kembali dalam pertempuran sengit melawan

Ciong Tiau-gak, kakek baju hitam tadipun segera memungut garpu racunnya yang terjatuh

ketanah. sinar matanya dengan sangsi memandang sekejap ke arah pria seperti beruk tadi

kemudian celingukan kakiri dan kanan.

Hoa Thian-hong serta Hoa In saling bertukar pandangan sekejap, dengan ketajaman mata

mereka berduapun tak mampu menyaksikan pria itu melakukan gerakan apapun tetapi empat

tombak sekeliling sana tak ada orang, maka bisa ditarik kesimpulan bahwa pria seperti beruk

itulah yang telah main gila dengan menimpuk jatuh senjata tajam milik kakek baju hitam tadi,

hanya saja tidak terlihat gerakan apakah yang dia pergunakan.

Ciong Tiau-gak adalah seorang jago kawakan yang berpengalaman melihat keadaan tidak beres

segera timbul niat untuk mengundurkan diri, pedang lemasnya segera diputar melindungi tempat

penting di tubuhnya, ia berkata, “Sahabat karib ini hari aku orang she-Ciong merasa telah

berjumpa dengan musuh tangguh, gunung nan hijau tidak berubah air yang biru tetap mengalir,

lain kali kita lanjutkan kembali pertarungan ini”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

382

Serangan dari kelima buah roda emasnya segera diperketat, ia siap mendesak musuhnya untuk

mencari pulang guna mengundurkan diri.

Chin Pek-cuan segera mendongak dan tertawa terbahak-bahak. “Haaah…. haaah…. haaah….

kawan, bila berjodoh walaupun berpisah ribuan li akhirnya bertemu juga, aku harap kau tak usah

pergi lagi!”

Sembari berkata gerakan tubuhnya tiba-tiba berubah, tampak ia melayang dengan kecepatan

bagaikan kilat, tubuhnya menerobos kesana kemari diantara kelima buah roda emas tersebut,

dua buah telapak bajanya dengan gencar bagaikan hujan badai menyerang musuhnya

habis2an…..

Dalam sekejap mata Ciong Tiau-gak terdesak dibawah angin, kelima buah roda emasnya tak

mampu dipergunakan lagi, bukan menolong benda itu malahan menjadi beban baginya. Semua

serangan lawan terpaksa harus ditangkis dan dibendung dengan mempergunakan pedang lemas

di tangan kanannya.

Melihat Ciong Tiau-gak menderita kekalahan, kakek baju hitam yang lain tidak berpikir panjang

lagi, garpu pendeknya segera diputar dan untuk kedua kalinya menerjang kembali ke depan.

Kakek yang terluka tadipun segera ayun pula tameng bajanya dan ikut menerjang ke depan.

Terdengar pria berbadan seperti beruk itu memaki dengan suara yang tinggi melengking, “Anak

iblis yang tak tahu malu!”

Sambil berseru tubuhnya segera maju dan menerjang ke depan. Dalam sekejap mata bentakan

serta teriakan berkumandang memecahkan kesunyian, sebuah pukulan keras yang dilancarkan

Chin Pek-cuan bersarang telak di atas bahu kiri Ciong Tiau-gak, membuat kakek itu bersamasama

dengan senjatanya terlempar sejauh satu tombak lebih dari tempat semula.

Ilmu pukulan Kim-see-ciang yang dia yakini sanggup digunakan untuk menghancurkan batu

nisan, Ciong Tiau-gak yang termakan oleh pukulan itu tulang bahunya seketika hancur

berantakan.

Keadaan dari dua orang kakek baju hitam yang lain jauh lebih aneh lagi, dengan senjata yang

masih terhunus mereka menggeletak ditanah tanpa bisa berkutik, peluh membasahi tubuhnya

dan suara rintihan bergema memecahkan kesunyian.

Sikap Ciong Tiau-gak jauh lebih gagah, ia bangkit berdiri dengan susah payah kemudian sambil

menahan sakit disimpannya kembali pedang lemas itu, tanpa memunguti kembali senjata roda

emasnya yang tersebar ditanah dia berjalan menghampiri dua orang rekannya yang menggeletak

tak bisa bangun itu, setelah memeriksa sebentar keadaan mereka berdua ia segera bangkit

berdiri.

Terhadap Chin Pek-cuan serta pria kurus kecil yang ada disana ia berlagak bodoh dan sama

sekali tidak menengok barang sekejappun.

Chin Pek-cuan mendengus dingin, sinar matanya berputar memandang sekejap ke arah pria

berbadan seperti beruk itu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

383

Pria itu membisikkan sesuatu kesisi telinganya, Chin Pek-cuan segera kelihatan agak tertegun

dan putar badan kemudian teriaknya, “Sahabat-sahabat darimanakah yang telah datang bila

tidak munculkan diri lagi jangan salahkan kalau aku tak akan menemani lebih jauh”

“Sungguh lihay orang ini” pikir Hoa Thian-hong di dalam hati” tanpa berpaling dia sudah tahu

kalau dibelakang tubuhnya ada orang yang menguntil.

Tampaklah dari balik sebuah pohon besar kurang lebih beberapa puluh tombak dihadapannya

meloncat keluar seseorang, setelah berjalan beberapa langkah kemuka tiba-tiba dia alihkan sorot

matanya ke arah tempat persembunyian dari Hoa Thian-hong berdua,

Melihat hal itu Hoa In segera menyumpah dengan hati mendongkol, “Nenek anjing sialan

rupanya dia lebih cerdik dari kita berdua!!”

Hoa Thian-hong tersenyum, dia tahu tempat persembunyiannya sudah ketahuan, maka dia lantas

bangkit dan berjalan keluar dari balik pohon.

Tiba-tiba Hoa In menyusul maju ke depan, bisiknya dengan suara lirih, “Siau Koan-jin harap

waspada, bajingan tua itu bernama Yan-san It-koay dia adalah salah satu tulang punggung dari

perkumpulan Hong-im-hwie!!”

Hoa Thian-hong mengerutkan sepasang alisnya yang tebal, ia menoleh dan menatap wajah

manusia aneh dari gunung Yan-san itu, tampaklah sepasang matanya cekung ke dalam dengan

hidungnya menghadap atas, raut wajah berwarna kuning hangus dan jeleknya luar biasa.

Ketika itu sampai melototkan matanya Yan-san It-koay pun sedang mengawasi Hoa Thian-hong

berdua dengan pandangan tajam. pada saat yang hampir bersamaan ketiga orang itu samasama

muncul di tengah kalangan Chin Pek-cuan serta pria seperti beruk itu melirik sekejap ke

arah pedang baja yang tersoren di pinggang, wajah mereka segera menunjukkan suatu sikap

yang aneh.

Ciong Tiau-gak sendiripun nampak agak tertegun ketika menjumpai kemunculan Hoa Thian-hong

secara mendadak disitu, untuk beberapa saat lamanya sorot mata semua orang sama-sama

ditujukan ke arah pemuda itu.

Tiba-tiba terdengar kembali suara ujung baju tersampok angin secara lapat-lapat berkumandang

datang. semua orang merasa terkejut dan sama-sama berpaling.

Bayangan manusia berkelebat lewat dan sama-sama munculkan diri di tengah kalangan, orang

yang barusan datang berjumlah dua belas orang, sebagian besar diantaranya mengembol

pedang dipunggung

Orang pertama yang munculkan diri terlebih dahulu bukan lain Thian Seng-cu dari perkumpulan

Thong-thian-kauw, sedang separuh lainnya berdandan seperti manusia biasa, usianya di atas

empat puluh tahunan

Setibanya di tengah kalangan kedua golongan manusia yang berbeda itu masing memencarkan

diri dan berdiri pada kelompok yang berbeda.

Menyaksikan siapa yang telah datang, Ciong Tiau-gak seketika merasa semangatnya berkobar,

dengan cepat ia maju menghampiri kakek baju kuning dan memberi hormat.

“Tongcu, kebetulau sekali kedatanganmu itu…!” serunya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

384

“Aku sudah tahu” jawab kakek baju kuning sambil ulapkan tangannya.

Dia memberi tanda dan dua orang segera munculkan diri, kakek baju hitam yang menggeletak di

atas tanah dan tak bisa berkutik itu dengan cepat dibopong keluar dari gelanggang.

Hoa In yang mengenali siapakah kakek baju kuning itu, dengan ilmu menyampaikan. suara

segera berbisik kepada Hoa Thian-hong, “Tua bangka itu she-Ho bernama Kee Sian, orang-orang

menyebutnya sebagai Poan Thian jiu si tangan sakti pembalik langit, dia merupakan Tongcu

ruang Thian Leng Tong dari perkumpulan Sin-kie-pang, nama besarnya dikenal oleh setiap orang

dan tidak berada dibawah nama besar Cukat racun Yau Sut….”

Hoa Thian-hong alihkan sorot matanya ke arah orang itu dia lihat dada tangan sakti pembalik

langit Ho Kee-sian amat bidang dengan perut buncit, alisnya tebal dan matanya besar, sinar

mata tajam memancar keluar dari balik kelopak matanya dan kelihatan mengerikan sekali. Dalam

hati segera pikirnya, “Kegagahan orang ini mengerikan sekali, dia bisa menduduki jabatan

sebagai Tongcu ruang Thian Leng Tong, ilmu silat yang dimilikinya pasti lihay sekali”

Dalam pada itu si tangan sakti pembalik langit Ho Kee-sian telah menyapu sekejap wajah seluruh

jago yang hadir ditempat itu, sambil melangkah maju dua tindak ke depan tegurnya dengan

suara dingin, “Saudara yang mana telah memberi pelajaran kepada saudara saudaraku? disini

aku orang she Ho mengucapkan banyak terima kasih lebih dahulu”

Chin Pek-cuan tertawa keras, “Haaaah…. haaaah…. haaaah….. akulah yang telah melukai

beberapa orang loo-ya itu karena pengaruh oleh emosi, harap Ho Tongcu suka memberi maaf!”

Dengan sorot mata yang dingin tangan sakti pemba1ik langit Ho Kee-sian mengawasi wajah Chin

Pek-cuan dari atas hingga ke bawah, lalu mendengus dingin. “Hmmm! Kau mempunyai orang

dengan wajah berkerudung, aku rasa aku orang she Ho tak usah mengajukan pertanyaan atas

namamu lagi.”

“Aku cuma seorang prajurit kecil yang tak bernama, sekalipun kau ingin tahu nama ku juga tak

ada gunanya.”

“Tua bangka itu pandai mempergunakan ilmu telapak Kim-see-ciang!” teriak Ciong Tiau-gak

dengan gusar, “rupanya dia adalah manusia she-Chin dari kota Keng-ciu!”

Ho Kee-sian telapak sakti pembalik langit mengerutkan sepasang alisnya yang tebal. “Berapa

hebatnya sih Chin Pek-cuan itu? Masa kalian bertiga bukan tandingannya?” ia berseru.

Haruslah diketahui Chin Pek-cuan adalah seorang jago dari kalangan lurus yang sangat luas

pergaulannya, ia merupakan seorang manusia kenamaan yang diketahui setiap orang, tetapi ilmu

silat yang dimilikinya cuma biasa2 saja dan orang mengetahui akan hal ini.

Hoa Thian-hong yang mengikuti jalannya peristiwa itu dari sisi kalangan makin memandang ia

semakin kebingungan.

Thian Seng-cu baru saja bertemu muka dengan Chin Pek-cuan bahkan menyerahkan pula

sepucuk surat kepadanya, tetapi kini ia datang bersama-sama Ho Kee-sian sekalian dan sikapnya

ternyata pura2 tidak kenal dengan orang she Chin tersebut.

Sedang Yan-san It-koay adalah seorang jago lihay kelas satu di dalam dunia persilatan

sepantasnya ilmu silat yang dia miliki jauh di atas Ho Kee-sian maupun Thian Seng-cu dan

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

385

semestinya mereka bertiga kenal satu sama lainnya, tetapi sekarang mereka tidak saling

menyapa sedang Yan-san It-koay pun tiada maksud mengumbar hawa amarah. kejadian ini

benar-benar merupakan suatu peristiwa yang aneh sekali. Terdengar Ciong Tiau-gak berkata

kembali, “Lapor Tongcu, jago lihay yang sebenarnya adalah manusia kurus yang bongkok itu

sedang si tua bangka ini cuma bonekanya belaka”

Mendengar perkataan itu tangan sakti pembalik langit Ho Kee-sian segera berpaling, dengan

sorot mata yang tajam ia menatap pria kurus kecil yang menyerupai beruk tadi jengeknya sambil

tertawa dingin.

“Heeeh…. heeeh… ternyata kau berulah manusia lihay yang tak mau unjukkan diri tak nyana

kalau aku orang she-Ho sudah salah melihat.”

“Hmm! omong kosong” dengan pria kurus kecil seperti beruk itu dengan nada sinis.

Mendengar ucapan itu tangan sakti pembalik langit Ho Kee-sian jadi teramat gusar, sambil

menerjang ke depan dia kirim satu pukulan dahsyat, serunya, “Aku orang she-Ho ingin mencoba

dahulu sampai dimanakah kelihayan yang kau miliki….”

Pria kurus kecil menyerupai beruk itu sama sekali tidak gentar, dengan langkah yang seenaknya

dia maju ke depan, telapak kanan didorong kemuka dan menyongsong datangnya serangan

tersebut dengan keras lawan keras.

Blaaam….! di tengah getaran keras tubuh mereka berdua sama-sama tergetar keras, jubah

panjang seolah olah bergelombang seketika menggelembung besar.

“Ho tua!” Thian Seng-cu yang selama ini selalu membungkam tiba-tiba buka suara, “ini hari kau

telah bertemu dengan lawan tangguh, ingin kulihat sampai dimanakah keampuhan dari tangan

sakti pembalik langitmu itu”

Tangan sakti pembalik langit Ho Kee-sian tertawa dingin. “Hmmm! aku si Ho tua bukan seorang

anak muda yang baru muncul dalam dunia persilatan, kau tak usah pakai akal untuk memanasi

hatiku!”

“Haah…. haaah…. haaah sungguh tebal iman kau Ho tua, harap kesanalah sedikit!”

Tangan sakti pembatik langit Ho Kee-sian mendengus dingin, kepada pria kurus kecil yang

menyerupai beruk itu serunya dengan nada dingin, “Rupanya kekalahan saudara-saudaraku

bukanlah kekalahan secara penasaran, hutang ini baiklah kita bereskan nanti saja!”

Dia mundur dua langkah ke belakang, sepasang mata memandang ke langit dan mulutnya

membungkam dalam seribu bahasa.

Tampak Thian Seng-cu putar badan sambil memberi hormat, katanya, “Lo-sicu, kau bukannya

hidup secara bebas digunung Yan-san, ada urusan apa jauh-jauh berkunjung kewilayah

Kanglam?”

Yan-san It-koay melototkan sepasang matanya bulat-bulat dan menjawab sambil tertawa, “Tua

bangka hidung kerbau, rupanya kau sudah bosan hidup? wilayah Kanglam toh bukan wilayah

pribadi dari perkumpulan Thong-thian-kauw aku mau datang atau mau pergi apa urusannya

dengan dirimu? Mau apa kau urusi persoalanku?”’

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

386

Thian-Seng-cu tertawa hambar. “Dewasa ini dunia persilatan sedang dilanda kerusuhan dan

banyak persoalan telah bermunculan, Tiga besar dari dunia persilatan belum sampai menentukan

siapa kawan siapa lawan, ini hari losicu telah berlagak sok dihadapan kami dengan ucapan yang

sombong, Hmmn.! hati hatilah, bila sampai salah. berbicara maka…”

“Kau berani berbuat apa terhadap diriku!” tukas Yan-san It-koay dengan mata melotot.

“Haaah….haah….haaaah…. soal itu….bila sampai kau salah bicara maka aku akan mengajak Lohooo

untuk bekerja sama dan menahan lo-sicu di tempat ini. Hmm…, Hmm…. jika perkumpulan

Hong-im-hwie sampai kekurangan seorang jago macam Lo-sicu, maka urusan semakin gampang

untuk diselesaikan”

Yan-san It-koay angkat kcpala dan tertawa terbahak-bahak. “Haaah….. haaah….. haaah…..

hidung kerbau yang tak tahu diri, aku malas untuk cekcok serta ribut dengan manusia semacam

kau, ayoh cepat enyah kesamping, aku hendak berbicara dengan puteranya Hoa Goan-siu!”

Setelah mengetahui bahwa kedatangan gembong iblis itu adalah untuk menjumpai Hoa Thianhong,

dengan cepat Thian Seng-cu mundur setengah langkah ke belakang dan tidak berbicara

lagi.

“Licik amat siluman tua ini!” sumpah Hoa Thian-hong dalam hati, “Rupanya dia takut juga

menghadapi kerubutan orang banyak. Hmm! Sungguh tidak mirip seorang jago yang berlatih

silat”

Haruslah diketahui hubungan diantara perkumpulan Sin-kie-pang, Hong-im-hwie serta Thongthian-

kauw boleh dibilang kawan boleh dibilang juga lawan sedikitpun tiada perasaan setia

kawan diantara mereka, asal bisa melenyapkan kekuatan dari golongan lain dengan cara serta

tindakan apapun akan mereka lakukan, oleh sebab itu tidak sampai keadaan yang terlalu

terdesak siapapun tidak ingin turun tangan lebih dahulu.

Hoa Thian-hong adalah seorang jago muda yang berjiwa ksatria, tentu saja ia tidak terbiasa

melihat keadaan semacam itu,

“Hoa Thian-hong!” terdengar Yan-san It-koay berseru dengan suara lantang. “kenal tidak dengan

diriku?”

“Aku rasa kau pastilah Yan-san It-koay” jawab pemuda itu dengan suara hambar. “Bagaimana

dengan cara menyebut dirimu, aku rasa lebih baik kau memberi petunjuk”.

“Haaah…. haaah, sebut saja Yan-san It-koay, aku tiada sebutan ia bepaling ke samping dan

melanjutkan, “Apakah kau bernama Hoa In?”

“Hmm! tidak nyana kau masih kenal dengan diriku” sahut Hoa In dengan mata mendelik.

“Tua bangka sialan, besar amat lagakmu” kembali iblis tua itu berpaling ke arah Hoa Thian-hong,

“situasi yang terbentang di depan mata dewasa ini amat kritis, nafsu membunuh telah

menyelimuti setiap sudut tempat. ketika Jin Hian melihat kau pergi tanpa pamit ia segera merasa

tidak tenteram, maka aku diutus datang kemari untuk mengajak kau kembali”

“Terima kasih, setelah menyaksikan keramaian aku segera berangkat”

Yan-san It-koay tidak menduga jawaban pemuda itu begitu cepat, ia segera tertawa terbahakbahak.

“Haaah…. haaaah…. haaah….. bocah pintar memang gampang dididik” ia berpaling dan

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

387

segera teriaknya, “Siapa yang merasa gatal tangan silahkan turun ke gelanggang, selesai

menonton keramaian akupun akan segera berlalu”

Tangan sakti pembalik langit Ho Kee-sian menyapu sekejap wajah semua jago, kemudian sambil

menuding ke depan bentaknya, “Tangkap!”

Bentakan keras bergema di angkasa, desiran angin tajam menderu-deru, dari belakang tubuh

manusia she Ho itu segera meloncat keluar delapan orang jago lihay yang bersama-sama

menerjang ke arah Chin Pek-cuan serta pria kurus kecil menyerupai beruk itu.

Dalam waktu singkat. dalam kalangan segera berkobarlah suatu pertempuran yang amat sengit.

Pertempuran yang berkobar pada saat ini jauh lebih seru daripada pertarungan semula delapan

orang jago dari perkumpulan Sin-kie-pang yang turun ke dalam gelanggang pada saat. ini

semuanya merupakan pelindung hukum dari ruang Thian Kee Tong, ilmu silat mereka semua

jauh di atas kepandaian Ciong Tiau-gak, meskipun senjata tajam yang dipergunakan berbeda

satu sama lainnya tetapi maju mundur menyerang serta bertahan diantara mereka dilakukan

dengan sangat teratur sekali yang satu membantu yang lain yang kuat mengisi yang lemah,

sekilas memandang siapapun bisa melihat bahwa kerja sama dari kedelapan orang itu amat

sempurna dan sudah berpengalaman sekali.

Pria kurus kecil menyerupai beruk itu segera tunjukkan kelihayannya, sepasang telapak berputar

bagaikan titiran angin puyuh, dengan tangguh dan kosen ia hadapi semua serangan yang muncul

dari empat arah delapan penjuru.

Angin pukulan menderu deru, meskipun berada di tengah dentingan suara yang beraneka ragam

namun suara deruan angin pukulannya tetap nyaring dan tidak kacau, sejurus demi sejurus

dilancarkan dengan mantap dan hebat.

Semua jago yang menyaksikan jalannya pertarungan dari sisi kalangan diam-diam merasa kagum

juga melihat keampuhan orang itu, merekapun dapat melihat jelas, meskipun Chin Pek-cuan ikut

terjun ke dalam kalangan namun hampir boleh dikata tiada kesempatan baginya untuk ikut

melancarkan serangan.

Setelah memandang beberapa saat lamanya, dengan cepat Hoa Thian-hong telah memahami

akan sesuatu, pikirnya, “Aaah..! rupanya ilmu silat yang dimiliki Chin Pek-cuan itu adalah hasil

pelajaran dari orang ini….”

Situasi dalam kalangan ketika itu benar-benar luar biasa sekali, para jago dari perkumpulan Sinkie-

pang turun tangan lebih dahulu. Tangan sakti pembalik langit Ho Kee-sian mengawasi

jalannya pertarungan dari sisi kalangan sedang Yan-san It-koay serta para toojin dari Thongthian-

kauw tak bisa ditebak isi hati mereka. sekalipun pria kurus kecil itu kosen dan punya

harapan untuk melarikan diri, namun pertarungan yang berlangsung lebih jauh hanya merugikan

dirinya belaka, apalagi masih ada Chin Pek-cuan sebagai beban, bila pertarungan diteruskan

akhirnya dia bakal kehabisan tenaga dan menunggu saat kematiannya belaka.

Chin Pek-cuan adalah tuan penolong keluarga Hoa dia merupakan ayah dari Chin Wan-hong

pula, meskipun perbuatannya di kuil It-goan-koan mencurigakan sekali, namun Hoa Thian-hong

tak dapat membiarkan kakek itu terjerumus dalam posisi yang berbahaya.

Tetapi diapun tahu jika dirinya tak berhasil mendapatkan kesempatan baik, dan turun tangan

secara gegabah maka tindakan yang sembrono itu justru akan merupakan ancaman bagi

keselamatannya, bahkan mungkin akan terkepung oleh tiga golongan tersebut.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

388

Berpikir demikian. tiba-tiba ia putar kepala dan berteriak keras, “Thian Seng Tootiang,

seandainya barang itu sampai terjatuh ke tangan Ho Tongcu maka semua rencana besarmu akan

punah dan lenyap tak berbekas!”

Tertegun hati Thian Seng-cu mendengar ucapan itu, tetapi dia tetap membungkam.

Yan-san It-koay yang ikut mendengar pula pembicaraan tadi. dengan alis berserut segera

berseru, “Hoa Thian-hong, barang apakah itu? Apakah benda itu mempunyai pengaruh yang

besar?”

“Aku tidak berani bicara secara sembarangan” sahut Hoa Thian-hong berlagak sok rahasia, “Aku

takut ucapanmu yang keliru akan mendatangkan bencana kematian bagi diriku sendiri, lebih baik

tanyakan sendin kepada Thian Seng Tootiang”

“Hidung kerbau sialan!” Yan-san It. koay segera berteriak keras, “cepat katakan pusaka apakah

itu?”

“Bangsat cilik, pikir Thian Seng-cu dalam hati, masa dia mengetahui akan rahasia besar ini?”

Berpikir demikian ia lantas tertawa terbahak bahak, serunya, “Hoa Thian-hong, kau bocah cilik

yang belum hilang bau teteknya, berani benar omong yang tidak genah dan membuat ombak

tanpa angin apa kau anggap di kolong langit sudah tak ada manusia lagi?”

Hoa Thian-hong tersenyum. “Pihak Thong-thian-kauw lah yang sudah pada buta semua dan

menganggap di kolong langit sudah tak ada orang lain lagi, kau anggap Jin Hian serta Pek Siauthian

adalah manusia tolol semua?”

Sepasang mata Yan-san It-koay melotot makin bulat, teriaknya, “Tua bangka hidung kerbau.

tunggu sebentar, hutang ini akan kubereskan sejenak lagi.”

Tubuhnya segera berkelebat ke depan dan menerjang ke arah tubuh Chin Pek-cuan teriaknya,

“Tua bangka, andaikata benda itu adalah Pedang emas, ayoh, cepat serahkan kepadaku!”

Sembari berseru, jari tangannya laksana kilat mencengkeram tubuh kakek tua she-Chin tadi.

Terdengar pria kurus kecil yang menyerupai beruk itu mendengus dingin, telapak tangannya

dengan gencar melancarkan satu pukulan hebat mengancam bawah iga Yan-san It koay.

Pukulan ini dilancarkan dengan suatu gerakan yang aneh dan ampuh, begitu dikirim keluar angin

pukulan yang tajam segera berhembus lewat.

Yan-san It-koay segera miring ke samping dan meloncat beberapa depa ke sisi kalangan, kelima

jari tangannya bagaikan cakar kuku garuda tiba-tiba mengancam tubuh Chin Pek-cuan.

Makhluk tua yang banyak berpengalaman ini memang cerdik sekali, meskipun dia tahu kalau ilmu

silat yang dimiliki pria kurus kecil itu sangat lihay namun ia tetap bersikeras hendak merampas

barang ‘pusaka’ itu dari saku Chin Pek-cuan, dalam perkiraannya cengkeramannya itu pasti akan

mengenai sasarannya.

Tiba-tiba terdengar suara desiran tajam yang amat memekikkan telinga berkumandang datang,

segulung angin pukulan yang maha dahsyat meluncur datang dan mengancam tubuhnya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

389

Dari desiran angin pukulan yang menyerupai ilmu totokan tetapi bukan ilmu totokan. menyerupai

ilmu pukulan tetapi bukan pukulan itu, Yan-san It-koay segera mengetahui bahwa orang yang

melancarkan serangan bokongan barusan bukan lain adalah Tangan Sakti pembalik langit Ho

Kee-sian.

Dengan cepat ia miringkan tubuhnya ke samping lalu maju selangkah ke depan, sambit putar

badan sebuah pukulan kilat dilancarkan, Tanpa mengucapkan sepatah katapun Tangan sakti

pembalik langit Ho Kee-sian merubah gerakan dan berganti jurus, dengan gerakan ‘Sian-toh-poh

Liong’ atau tadi dewa pembelenggu naga, dia menerjang maju kemuka.

Setelah dia lancarkan serangan ke arah Yan-san It-koay, para jago perkumpulan Sin-kie-pang

yang semula mengerubuti Chin Pek-cuan serta pria kurus kecil itu segera meloncat keluar tiga

orang, mereka putar badan dan berbalik menerjang ke arah manusia aneh dari gunung Yan-san

itu.

Dengan peristiwa ini maka daya tekanan pada pihak Chin Pek-cuan jadi jauh berkurang, dalam

sekejap mata menyerang serta bertahan bisa dilakukan dengan leluasa, bagaikan harimau gila

yang terlepas dari sangkar Chin Pek-cuan membentak berulang kali, dengan gencar dia lancarkan

serangan secara bertubi-tubi.

“Pertarungan massal semacam ini sukar diramalkan bagaimana akhirnya, tetapi seandainya Yansan

It-koay bisa dilenyapkan lebih dahulu maka pihak kami maju bisa bertempur, mundur bisa

bertahan…” pikir Hoa Thian-hong dalam hati.

Berpikir demikian tanpa terasa sorot matanya dialihkan ke arah Thian Seng-cu, empat mata

beradu satu sama lainnya membuat kedua orang itu tanpa terasa tersenyum, rupanya ada yang

dipikirkan kedua orang itu tidak jauh berbeda.

Thian Seng-cu lebih berpengalaman dan perkirannya lebih licik, biji matanya segera berputar,

sambil tertawa katanya, “Hoa Thian-hong, kau benar-benar tidak punya semangat jantan

seorang lelaki. masa berhadapan muka dengan musuh besar pembunuh ayahmu kau masih tetap

berdiri termenung tak berkutik, bila sukma Hoa Goan-siu di alam baka mengetahui akan hal itu,

dia pasti akan memaki dirimu sebagai bocah tak berbakti yang lemah dan pengecut!”

Tergetar hati Hoa Thian-hong setelah mendengar perkataan itu, meskipun dia tahu perkataan

dari Thian Seng-cu itu bermaksud untuk mengadu domba, tetapi ia merasa tak bisa membiarkan

musuh besar pembunuh ayahnya berlalu dengan begitu saja.

Ia segera cabut keluar pedang bajanya dan membentak dengan suara keras, “Yan-san It-koay!

Sudah kau dengar perkataan dari Thian Seng-cu?”

Diam-diam Yan-san It-koay merasa terperanjat, meskipun dia tidak jeri terhadap Hoa Thianhong,

tetapi dia sadar bahwa ilmu silat yang dimiliki Hoa In tidak berada dibawah dirinya, tentu

saja ia tak berani mungkir dihadapan banyak orang, sambil putar otak cari jalan keluar sepasang

telapaknya dilancarkan semakin gencar, dalam sekejap mata dia sudah mengirim enam buah

pukulan berantai

Gembong iblis ini benar-benar memiliki ilmu silat yang luar biasa, setelah beberapa buah

serangan itu dilancarkan seketika itu juga Tangan sakti pembalik langit Ho Kee-sian sekalian tak

sanggup mempertahankan diri, mereka semua tergetar mundur dan mencelat sejauh satu

tombak lebih dari kalangan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

390

Hoa Thian-hong lintangkan pedang bajanya di depan dada berdiri dengan sikap angker, ujarnya,

“Kau tak usah gugup atau gelisah, aku berdua tak mampu membinasakan dirimu pada saat tni,

dendam terbunuhnya ayahku untuk sementara waktu akan kubiarkan dahulu”

Sementara pembicaraan masih berlangsung, pertarungan telah terhenti dan Chin Pek-cuan

sekalian telah mengundurkan diri ke belakang, sedang para jago dari perkumpulan Sin-kie-pang

sama-sama mundur ke belakang Ho Kee-sian, sinar mata mereka semua dialihkan ke arah Hoa

Thian-hong serta Yan-san It-koay.

Terdengar jago aneh dari gunung Yan-san itu tertawa keras, ujarnya, “Ketika diadakannya

pertemuan besar Pak Beng Hwee, enam jago lihay bersama-sama mengerubuti Hoa Goan-siu

seorang, aku adalah salah satu diantaranya majulah kalian berdua berbareng! perbuatanmu itu

akan dianggap adil dan siapapun tak akan mengatakan apa-apa”

“Siau Koan-jin” teriak Hoa Ia dengan suara keras, “budak akan membunuh dirinya dengan

kekuatanku seorang!”

“Tujuan kita adalah membalas dendam bukan adu kepandaian untuk mencari nama” seru Hoa

Thian-hong dengan wajah serius dan suara dingin, “Aku harap kau bisa menahan diri dan jangan

terbaru nafsu!”

Meskipun usianya masih muda tetapi wibawanya besar sekali, setelah air mukanya berubah Hoa

In tak berani banyak bicara lagi, dia mengepas napas dan melayang ke depan, sambil berdiri

pada jarak enam tujuh depa dih adapan Yan-san It-koay hawa murninya disalurkan keluar siap

menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.

Perlahan2 Hoa Thian-hong maju beberapa langkah ke depan. tangan kanan memegang gagang

pedang tangan kiri dengan ketiga jarinya menjepit ujung senjata sambil berdiri kokoh bagaikan

batu karang ujarnya dengan suara tenang, “Yan-san It-koay, di dalam pertarungan yang akan

berlangsung hari ini, bagaimana pendapatmu mengenai siapa yang menang siapa yang bakal

kalah…..?”

Ketika itu malam tak berbintang dan tak berbulan yang gelap sekali. angin malam berhembus

kencang mengibarkan ujung baju setiap orang, di tengah tanah liar jauh dari kota hawa

membunuh menyelimuti seluruh angkasa.

Semua jago baik dari pihak Thong-thian-kauw maupun Sin-kie-pang semuanya merupakan jagojago

pengalaman yang sudah seringkali menghadapi pertarungan besar, walaupun begitu tak

urung mereka dibikin terkesiap juga menyaksikan sikap Hoa Thian-hong yang begitu serius,

keren dan penuh kewibawaan.

Yan-san It-koay sebagai jago tangguh yang seringkali memandang rendah umat Bu-lim tak urung

sekarang merasa goncang pula hati kecilnya, tetapi setelah mendengar perkataan dari Hoa

Thian-hong tadi dengan cepat ia tenangkan pikirannya sambil berpikir sebentar. kemudian dia

menggeleng dan menjawab sambil tertawa.

“Aku belum pernah menyaksikan ilmu silat yang dimiliki kalian berdua, menurut perkiraan Jin

Hian katanya ilmu silat yang dimiliki Hoa In telah memperoleh kemajuan pesat dan rupanya

sudah menguasai ilmu Sau-yang-ceng-kie kepandaian sakti dari perkumpulan Liok Soat Sanceng,

aku dengar ilmu silat yang kau milikipun tidak jelek, cuma usianya terlalu muda dan pelajaran

yang berhasil dikuasai belum banyak”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

391

Dia berhenti sebentar dan tertawa terbahak bahak, lanjutnya, “Haah…. haaah….. haaaah…. aku

sih hanya seorang manusia yang diberkahi usia panjang, aku bukanlah manusia tanpa tandingan

di kolong langit, banyak pertarungan berdarah yang telah kualami selama hidup. bagiku sih kalau

menang mendesak terus sedang kalau kalah cepat-cepat kabur, mengenai pertarungan yang

akan berlangsung hari ini … terus terang saja kukatakan bahwa aku tidak mempunyai keyakinan

untuk menang”

Dengan wajah serius Hoa Thian-hong mengangguk, “Jadi kalau begitu, kaupun belum bisa

dikatakan seorang jago yang tak terkalahkan di kolong langit”

Yan-san It-koay tidak tahu apa maksud yang sebenarnya dari pemuda itu mengucapkan katakata

semacam itu, sepasang alisnya segera berkerut.

“Kalau berbicara tentang nama besar yang disegani setiap orang, maka dalam ratusan tahun

belakangan ini hanya bapakmu Hoa Goan-siu seorang yang pantas untuk menerimanya, sayang

sekali dia meninggal dikala usia muda. Akhir hidupnya tidak tenteram dan bahagia, siapa pun

yang memberi nama besar tersebut kepadaku, aku segan untuk menerimanya”

“Oooh…! jadi kalau begitu kau adalah seorang manusia yang sayang akan jiwa dan berusaha

hidup sepanjang masa?”

“Hmmm! Semutpun menginginkan hidup, siapa yang sudi mengorbankan jiwa sendiri dengan

percuma?” dengus Yan-san It-koay dengan suara dingin.

JILID 20

Hoa Thian-hong tertawa dingin. “Heeeh… heheh, baiklah, memandang di atas ucapanmu

barusan kau boleh segera melancarkan serangan, bila jiwamu sudah terancam mara bahaya

nanti. aku orang she-Hoa bisa melaksanakan kebijaksanaan mendiang ayahku untuk memberi

satu jalan kehidupan bagimu.”

Yan-san It-koay seketika itu juga naik pitam, satelah mendengar perkataan itu dia tertawa

seram, dia menerjang maju kemuka, telapaknya diayun mengirim satu pukulan dahsyat ke

depan.

Terdengar Hoa In membentak keras, tubuhnya bergerak maju ke depan, telapaknya berputar

dan mencegah datangnya ancaman tersebut.

Gerakan tubuh kedua orang itu sama-sama enteng dan cepat laksana sambaran petir, sebaliknya

gerakan dari Hoa Thian-hong tetap tenang dan mantap, tampak kaki kirinya melangkah ke

samping dan bergeser ke sisi sebelah kiri manusia aneh dari gunung Yan-san itu, pedang bajanya

membabat datar dan……

Sreeet! dia bacok pinggang tawan.

Terkesiap hati Yan-san It-koay menyaksikan kejadian itu, dia bukan kaget karena ilmu silat yang

dimiliki Hoa Thian-hong amat lihay, juga bukan karena tenaga dalamnya yang menggetarkan hati

di ujung pedang itu, melainkan caranya dia membacok yang memakai gerakan begitu sederhana

serta lama sekali terbuka itu.

Haruslah diketahui enam belas jurus ilmu pedang yang diwariskan kepada si anak muda itu

merupakan hasil ciptaan dari Hoa Goan-siu dengan dasar seluruh kepandaian silat yang pernah

dipelajarinya sepanjang hidup perubahan yang terselip dibalik gerakan-gerakan sederhana itu

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

392

demikian sulit dan kaburnya, Sehingga Hoa Thian-hong sendiripun tak mampu mengartikannya

keluar.

Tetapi berhubung ilmu pedang itu dilatih setiap hari dan bertahun-tahun lamanya, maka

mengikuti perkembangan tenaga dalam yang berhasil dia yakin, inti sari dari ilmu pedang itupun

terbentuk dengan sendirinya mengikuti semakin sempurna dia mainkan jurus-jurus tersebut,

sepintas lalu kelihatan jurus serangan itu sama sekali tak berubah namun perubahan sakti yang

menyertainya ternyata jauh berbeda.

Yan-san It-koay adalah seorang jago kawakan yang sangat berpengalaman, dari gerakan jurus

pedang baja itu dia sadar bahwa serangan itu sulit dipunahkan dengan mudah. Sebetulnya dia

hendak menggunakan cara keras lawan keras untuk memaksa Hoa Thian-hong tarik kembali

serangannya guna melindungi keselamatan sendiri, tetapi Hoa In adalah musuh tangguh yang

membutuhkan delapan bagian tenaga dalamnya untuk dihadapi, kalau tidak dia akan didahului

oleh lawannya dan terdesak dibawah angin.

Dalam keadaan apa boleh buat terpaksa dia gunakan serakan tubuh yang cepat hingga sukar

diikuti dengan pandangan mata untuk bergeser keluar dan gencatan serangan gabungan kedua

orang itu, dalam gugupnya jari tangan laksana tombak langsung menyodok iga kiri si anak muda

itu.

Sejak meninggalkan markas besar perkumpulan Sin-kie-pang, Hoa Thian-hong selalu melayani

musuh-musuhnya dengan serangan tangan kiri, latihannya yang tekun selama dua tahun

membuat jurus ‘Kun-siu-ci-tauw’ tersebut berhasil dilatih hingga matang benar-benar, bukan saja

gerakannya semakin leluasa bahkan tekanan yang dilancarkanpun jauh lebih hebat. Setiap kali

ada musuh menyerang dari sebelah kiri, secara otomatis telapak kirinya bergerak untuk

menyambut datangnya ancaman itu.

Baru saja totokan jari Yan-san It-koay meluncur ke depan, tiba-tiba Hoa Thian-hong

mengayunkan telapaknya pula untuk membendung datangnya ancaman itu.

Serangan yang dilancarkan pada saat yang bersama ini nampaknya akan mengakibatkan kedua

belah pihak sama-sama menderita luka parah. pada saat yang kritis itulah buru-buru manusia

aneh dari gunung Yan-san itu tarik mundur tubuhnya ke belakang sambil menarik dada

kesamping, pikirnya dalam hati, “Keparat cilik! Kau benar-benar merupakan suatu ancaman yang

amat berbahaya”

Dalam hati berpikir demikian, diluar segera teriaknya, “Bocah cilik, kau memang cerdik!”

Semua peristiwa itu berlangsung dalam sekejap mata, baru saja tubuh mereka bertiga

mengumpul jadi satu segera berpisah kembali ke arah belakang, deru angin pukulan yang santar

menderu-deru dan memenuhi seluruh angkasa.

Pertempuran yang berlangsung saat ini jauh berbeda dengan pertarungan masalah belum lama

berselang tampak tiga sosok bayangan manusia berkelebat bagaikan kilat, mereka saling sambar

menyambar tiada hentinya, sebentar berkumpul dan sebentar terpisah kembali…hawa

membunuh tersebar diseluruh angkasa. siapapun kurang waspada niscaya tubuhnya akan

menggeletak di atas tanah dengan berlumuran darah.

Pada permulaan berlangsungnya pertarungan itu Hoa In masih menguatirkan keselamatan dari

majikan mudanya. tetapi setelah bertempur beberapa saat lamanya dan melihat Hoa Thian-hong

tetap tenang bagaikan bergerak laksana gulungan ombak di tengah samudra, bahkan kegagahan

serta keangkerannya jauh melebihi dirinya, tanpa sadar rasa percayanya pada kekuatan pemuda

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

393

itu semakin bertambah tebal, tanpa dibebani rasa kuatir atau sangsi lagi dia bisa melancarkan

serangan dengan sepenuh tenaga dan bebas leluasa.

Pertarungan ini benar-benar merupakan suatu pertarungan yang mendebarkan hati, semua

penonton disisi gelanggang tanpa terasa pada menahan napas, Thian Seng-cu serta Ho Kee-sian

sekalian yang merupakan jago kawakan dengan pengalaman yang luas setelah menyaksikan

beraneka ragamnya ilmu silat yang dimiliki Yan-san It-koay serta Hoa In dan menjumpai pula

kemantapan serta keampuhan ilmu pedang yang dimiliki Hoa Thian-hong, diam-diam merasa

terkesiap dan menghela napas tiada hentinya.

Sementara itu ketika Hoa In menyaksikan pertarungan itu makin lama berlangsung, menang

kalah semakin sulit ditentukan batinya mulai jadi gelisah, ia segera teringat kembali akan

kegagahan majikan tuanya dimasa lampau, darah panas segera bergolak di dalam dada

menimbulkan rasa sedih, gusar serta kesal yang sudah berkecamuk sejak tadi. jurus serangan

yang dilancarkan makin lama semakin ganas dan telengas dia mulai banyak menyerang dari pada

melakukan pertahanan.

Yang paling penting dalam ilmu silat tingkat tinggi adalah ketenangan jiwa yang mantap. setelah

pikiran Hoa In terpengaruh oleh angkara murka walaupun Yan-san It-koay seketika terjerumus

dalam posisi yang kritis dan berbahaya namun dalam hati kecilnya diam-diam ia malah jadi

girang, dia beranggapan justru keadaan inilah akan memberi peluang yang lebih banyak baginya

untuk merebut kemenangan.

“Hoa In!” tiba-tiba Hoa Thian-hong membentak keras, “musuh besar kita bukan hanya Yan-san

It-koay seorang, kau ingin beradu jiwa dengan dirinya??”

Teguran itu bagaikan pentungan yang mendarat di atas kepala segera membuat Hoa In terkesiap

hatinya, segera pikirnya, “Aku betul-betul amat tolol, sejak kematian majikan tua semua

pengharapan keluarga Hoa telah terjatuh ke atas pundak Siau Koan-jin, aku mana boleh

bertindak secara gegabah dengan meninggalkan dia seorang di kolong langit….”

Begitu ingatan tersebut berkelebat di dalam benaknya, dia segera mengekang nafsu angkara

murkanya di dalam hati dan situasi pertempuranpun segera berubah kembali jadi mantap dan

semakin kokoh.

Yan-san It-koay tertawa dingin, serunya, “Hoa Thian-hong, Hoa Goan-siu bisa mempunyai

seorang putera macam dirimu sekalipun mati dia bisa mati dengan mata meram!”

Pemuda itu mendengus dingin, sambil pusatkan perhatiannya dia layani serangan-serangan

musuh sedang otaknya berputar mencari akal untuk merebut kemenangan. pikirnya dalam hati,

“Ilmu Sau-yang-ceng-kie yang diyakini Hoa In sudah mencapai delapan bagian kesempurnaan,

aku harus berusaha untuk menyuruh dia bermain petak dengan lawan untuk kemudian memaksa

Yan-san It-koay beradu kekerasan dengan dirinya, menggunakan kesempatan yang sangat baik

ini aku bisa menghadiahkan pula sebuah tusukan dari arah belakang”

Pertarungan antara jago lihay yang terpenting adalah pusatkan pikirannya menghadapi serangan,

setelah pikiran pemuda itu bercabang dalam waktu singkat berulang kali dia menghadapi mara

bahaya seandainya Hoa In tidak menolong pada saat yang tepat niscaya dia sudah terluka di

ujung telapak manusia aneh dari gunung Yan-san.

Dalam pada itu semangat Yan-san It-koay segera berkobar setelah menyaksikan tenaga tekanan

dari pemuda itu kian lama kian merosot dan beberapa kali memperlihatkan lubang kelemahan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

394

sambil memperketat serangan telapaknya dia berseru, “Hoa Thian-hong, benarlah kau hendak

beradu tenaga sehingga salah seorang diantara kita menggeletak mati??”

Hoa Thian-hong mendengus dingin, tiba-tiba bentaknya keras-keras, “Perketat posisi pertahanan,

bendung empat puluh jurus serangannya!”

Sresst! Sreeet! Ia kirim dua babatan kencang dan tiba-tiba loncat keluar dari gelanggang

pertarungan Yan-san It-koay jadi tertegun melihat, perbuatan lawannya itu, dia tak tahu apa

sebabnya pemuda itu secara tiba-tiba meloncat keluar dari gelanggang dikala pertarungan masih

berlangsung dengan serunya.

Meskipun dalam hati kecilnya timbul kecurigaan namun gerakan serangannya sama sekali tidak

mengendor, sepasang telapak bagaikan gulungan ombak di tengah samudra menerjang Hoa In

tiada hentinya.

Dengan mundurnya Hoa Thian-hong dari gelanggang, justru cocok dengan apa yang diharapkan

oleh Hoa In, semangatnya segera berkobar dan bersama Yan-san It-koay dia berebut menyerang

untuk mencari posisi yang lebih menguntungkan.

00000O00000

KEDUA orang itu sama-sama mempunyai pendapat yang berbeda yakni menggunakan

kesempatan dikala Hoa Thian-hong tak ada dikalangan secepatnya membinasakan pihak musuh

di ujung telapaknya, dalam waktu singkat situasi dalam kalangan pertempuran berubah makin

seru dan mendebarkan hati.

Hoa Thian-hong yang menyaksikan Hoa In tak berhasil menyelami perasaan hatinya dalam,

malahan menyerang dengan gencar dan begitu bernafsunya, dalam hati ia merasa gelisah sekali.

Sepasang matanya dengan tajam mengikuti terus perubahan sepasang telapak dari Yan-san Itkoay,

di tengah gelagapan tampaklah sepasang matanya memancarkan cahaya tajam. Dalam

waktu singkat empat puluh jurus telah berlalu, pemuda itu segera berpikir di dalam hati, “Sulit

rasanya untuk mencari lubang kelemahan diantara jurus serangan yang dipergunakan Yan-san

It-koay jago lihay yang amat tersohor namanya di kolong langit ini, apalagi pengalaman serta

kepandaian silatku masih jauh ketinggalan juga dibandingkan dengan dirinya, akupan tidak hapal

dengan permainan jurusnya, untuk memancing dia masuk jebakan rasanya bukan suatu

pekerjaan yang gampang”

Otaknya berputar kencang dan berusaha untuk mencari akal bagus, apa lacur tiada suatu akal

baguspun berhasil didapatkan. diapun kuatir Hoa In terluka di ujung telapak musuh, akhirnya dia

bernekad untuk melubangi sampan menenggelamkan perahu sambil menancapkan pedang

bajanya ditanah ia maju menyerang dengan tangan kosong.

Meskipun ilmu silat yang dimiliki Yan-san It-koay amat lihay dan jauh melebihi kepandaian silat

pemuda itu, namun menghadapi serangan pedang bajanya yang begitu ampuh dan luar biasa itu

tak urung dirasakan payah sekali.

Kini melihat pemuda itu secara tiba-tiba membuang senjata pedangnya dan menyerang dengan

tangan kosong, diam-diam dalam hati merasa girang. pikirnya, “Jurus pemuda itu semuanya

mengandalkan tenaga dalam yang besar, rupanya bocah itu sudah tak mampu untuk

memainkannya”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar