Selasa, 06 Oktober 2009

rahasia 10

Hoa In-liong tertegun. “Saudaraku dengarkan dulu perkataanku” katanya kemudian, “Cinta

adalah ciita, setia kawan adalah setia kawan. Aku menyanggupi dirimu adalah karena cinta.

Sedang kupenuhi janjiku dibukit Yan-san adalah setia kawan. Sebagai manusia yang hidup

diantara masyarakat, kita harus dapat membedakan antara cinta dan setia kawan dengan jelas.

Sekarang aku ingin bertanya kepadamu, apakah engkau masih hendak memohon kepadaku agar

membatalkan janjiku dibukit Yan-san?”

Sekali lagi Cwan Wi tersudut hingga tak mampu memberikan jawaban yang tepat, ia semakin

gelisah. “Bukan demikian…. Hal ini adalah maksud hati dari Toako. Toako berkata begini….”

“Siau…. sauya!” Tiba-tiba Leng-ji berteriak lengking.

Cwan Wi segera menyadari kembali kesilapannya sehingga hampir saja bicara telanjur, cepatcepat

ia menutup mulutnya kembali membatalkan niatnya untuk berbicara lebih jauh.

Betapa heran dan tercengangnya Hoa In-liong melihat sikap rekannya. Sebentar ia memandang

kearah Leng-ji, sebentar lagi memandang kearah Cwan Wi, kemudian bertanya, “Sebetulnya apa

yang telah terjadi, apa yang sebenarnya telah dikatakan oleh Toako?”

“Toako…. Toako….” Cwan Wi semakin tergagap sampai tak mampu melanjutkan kata katanya.

Leng-ji yang berada disamping dengan cepat menyambung kata-kata tersebut, “Toa kongcu

bilang, jikalau Ji-koancu tetap bersikeras dengan pendiriannya, tak dapat diajak berbicara yang

benar, maka kami diperintahkan sagera kembali kekota Kim-leng dan jang….”

“Leng-ji….!” bentak Cwan Wi dengan suara yang nyaring.

Leng ji berpaling serta melemparkan sebuah kerlingan yang penuh mengandung arti, lalu

melanjutkan kembali kata katanya, “Apa yang Leng-ji ucapkan adalah kata-kata yang sejujurnya!

Sauya, lebih baik kita kembali dulu ke kota Kim-leng!”

Hoa In-liong tidak sempat memperhatikan kerlingan mata dari kacung buku itu. Ketika didengar

Leng-ji membantu dia menganjurkan Cwan Wi agar pulang dulu ke kota Kim-leng, cepat-cepat

dia menambahkan pula, “Betul! Lebih baik kita ikuti saja rencana semula. Kalian berangkat lebih

duluan dan aku akan menyusul dari belakang”

Leng-ji lah pertama-tama yaog bangkit berdiri lebih dahulu, katanya kembali, “Sauya, mari kita

berangkat! Banyak bicara juga tak ada gunanya, buat apa kita musti bercokol terus tanpa hasil

disini?”

Cwan Wi merenung sebentar, sepertinya ia merasa bahwa perkataan Leng-ji memang masuk di

akal, akhirnya diapun ikut bangkit berdiri. “Baiklah, mari kita berangkat lebih duluan!” ka tanya.

Ia berpaling ke arah Hoa In-liong. Sambil menatap wajahnya kembali ia berkata dengan nyaring,

“Jiko, aku akan berangkat lebih duluan. Aku harap engkau suka berhati-hati dalam perjalananmu

memenuhi janji di bukit Yan-san”

Sewaktu mengucapkan kata-kata tersebut, sikap jengah dan rikuhnya sudah tersapu lenyap tak

membekas, sebagaimana semula sikapnya kembali supel, gagah dan menawan.

Hoa In-liong jadi rada lega setelah mengetahui tak ada orang menghalangi niatnya lagi. Ia

bangkit berdiri derigan wajah berseri, katanya sewaktu menghantar kepergian orang, “Saudara

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

380

Cwan memang tak malu disebut seorang manusia yang tahu diri. Siau heng merasa sangat

beruntung dapat berkenalan dengan dirimu! Bicara terus terangnya saja, andaikata perjumpaan

kita tidak berada dalam suasana yang kurang menguntungkan, siau heng benar-benar merasa

sedikit berat hati untuk berpisah dengan dirimu”

Paras muka Cwan Wi secara aneh terhias kembali oleh warna semu merah. Cuma waktu itu dia

sudah memutar tubuhnya sambil beranjak pergi. Dengan demikian Hoa In-liong tak sempat

menyaksikan perubahan wajahnya itu.

Terdengar ia berkata dengan suara yang merdu dan nada yang nyaring, “Kita bukan putra-putri

masyarakat biasa. Aku rasa kata-kata sungkan juga tak perlu diutarakan lagi. Terus terangnya

saja kukatakan, aku selalu mengkuatirkan kelicikan, kebuasan serta kebuasan orang-orang Mokauw.

Sedang Jiko adalah seorang kuncu, seorang lelaki sejati yang jujur dan polos. Kuatirnya

jika kau bertindak sedikit gegabah, yaa…. akibatnya kau akan menyesal sepanjang jaman!”

Hoa In-liong tertawa tergelak. “Haa…. haa…. Selama hidup siau-heng belum pernah menjumpai

kejadian yang membuat hatiku menyesal harap saudara Cwan bersedia melegakan hatimu”

“Tapi lebih berhati-hati toh ada baiknya juga?”

“Terima kasih banyak atas perhatian saudara Cwan. Siau-heng akan mengingat pesanmu itu”

Sahut Hoa In-liong sambil mengangguk berulang kali.

Begitulah, mereka berdua sambil berjalan sambil berbicara, siapapun tidak menyinggung katakata

“selamat tinggal” atau “tak usah dihantar lebih jauh”. Meski hanya berpisah untuk

sementara waktu, namun perasaan berat hati yang terpancar diwajah kedua belah pihak terlihat

amat tebal, cuma rasa berat hatinya itu tidak sampai diutarakan keluar lewat kata-kata.

Sesaat kemudian mereka sudah tiba diluar pintu gerbang rumah makan Cwan-seng-lo, Leng-ji

rada tidak sabaran lagi, tiba-tiba selanya, “Ji-kongcu, harap kau kembali! Daripada menghantar

terus menerus, kenapa tidak melakukan perjalanan bersama-sama saja?”

Dengan wajah tertegun Hoa In-liong menghentikan langkahnya, kemudian tertawa terbahakbahak.

“Haa. Haa…. haa…. Baik…. Baik…. Tidak akan menghantar lagi…. Tidak akan menghantar

lagi. Baik-baik dijalan saudara Cwan, jaga diri baik-baik!”

Dengan agak tersipu Cwan Wi melambaikan tangannya sambil berbisik, “Selamat tinggal!”

Kemudian dengan langkah lebar ia berlalu dari kota Ci-tin tersebut.

Sepeninggal Cwan Wi berdua, Hoa In-liong menengadah memandang cuaca. Ia lihat sang surya

sudah tenggelam dibalik bukit, senjapun telah menjelang tiba, maka ia naik kembali keloteng dan

buru buru bersantap untuk mengisi perut. Selesai membereskan rekening pemuda inipun

berangkat meninggalkan kota Ci-tin.

Disuatu tempat yang sepi dihukit utara gunung Yan-san, anak muda itu duduk bersemedi untuk

menyusun kembali kekuatannya. Tatkala hari sudah gelap, ia baru melakukan perjalanan cepat

mendaki bukit Yan-san….

Bekas markas Tong thian-kau tempo dulu letaknya berdekatan dengan puncak bukit. Hoa Inliong

membutuhkan waktu selama satu setengah jam untuk mencapai tempat tersebut.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

381

Markas itu boleh disebut luas dan lebar. Tapi lantaran sudah banyak tahun tidak dihuni manusia,

sebagian besar bangunan itu sudah roboh dan berubah jadi puing-puing yang berserakan.

Apalagi bila malam menjelang tiba, tikus berlarian ke sana kemari mencari makanan. Suasana

yang sepi, dan gelap itu mendatangkan perasaan yang seram bagi siapapun yang melihatnya,

bahkan bulu romapun tanpa terasa ikut berdiri tegak.

Semula Hoa In-liong menduga Hong Seng sekalian pasti bercokol dibekas markas itu untuk

melepaskan lelahnya. Siapa tahu meski puing-puing bekas gedung itu sudah diperiksa beberapa

kali dengan hati-hati, tak sesuatu apapun berhasil ditemukan. Bahkan bekas pernah disinggahi

orang pun tidak nampak.

Oleh sebab itu, ia mulai sangsi dan ragu-ragu….

Waktu itu, ia berdiri ditengah sebuah ruangan kuil yang atapnya telah ambruk. Sambil

memandang puncak bukit yang gelap nun jauh diujung sana, diam-diam anak muda itu berpikir,

“Masa mereka tidak datang kemari? Atau mungkin akulah yang salah datang….? Kalau tidak,

tentulah Wan Hong-giok bertindak sangat cermat dan rahasia, karena itu dia sudah mengatur

segala sesuatunya hinga tempat ini sunyi senyap….?”

Pelbagai kecurigaan dan rasa sangsi berkecamuk dalam benaknya, ia kuatir kalau salah tempat.

Sebentar dia berharap Hong Seng sekalian tidak mengetahui kejadian ini, sehingga Wan Hong

giok dengan leluasa dapat meloloskan diri dari pengawasan mereka dan seorang diri datang

memenuhi janjinya dengan dia.

Bahkan dia pun menaruh curiga bahwa Wan Hong-giok sudah tertimpa nasib malang hingga tak

dapat memenuhi janjinya lagi.

Puncak bukit yang gelap di ujung depan sana seakan akan berubah jadi sebuah pintu besi dari

sebuah kurungan yang siap menanti kedatangannya untuk masuk jebakan.

Berpikir sejenak kemudian, tiba-tiba ia bergumam seorang diri, “Aaaai….perduli amat! Kalau itu

rejeki sudah pasti bukan bencana, kalau itu bencana dihindar, juga tak mungkin bisa….”

Gumamnya terpotong setengah jalan, secepat sambaran petir ia meluncur maju ke depan.

Bagaimanapun juga Hoa In-liong adalah seorang keturunan pendekar besar. Seorang laki laki

yang tidak mengenal arti takut. Seorang pemuda yang tidak mengenal jiwa pengecut. Akhirnya

dengan suatu kecepatan yang luar biasa ia meluncur ke arah puncak bukit.

Meski demikian, pemuda itu tidak bertindak gegabah. Ia sama sekali tidak mengurangi rasa waswasnya

meski benaknya dipenuhi oleh keraguan dan kecurigaan.

Waktu itu tengah malam baru saja lewat, ia manfaatkan sisa waktu yang masih tersedia untuk

melakukan pemeriksaan yang seksama dengan menelusuri sekitar tanah perbukitan tersebut.

Makin lama puncak bukit itu semakin dekat, akkhirnya sampailah pemuda itu di puncak tersebut,

Tempat itu adalah sebuah tanah berumput yang datar, rumputnya amat jarang sehingga susah

bagi seseorang untuk menyembunyikan diri dibalik semak belukar tersebut. Meski begitu

bayangan tubuh dari Hong Seng sekalian masih belum juga kelihatan, apalagi bayangan tubuh

dari Wan Hong-giok.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

382

Kembali pemuda itu menelusuri tanah lapang itu dengan penuh kesabaran sambil melakukan

pemeriksaan pikirnya, “Tiada kesempatan untuk melepaskan diri ataukah ia sudah ketahuan

jejaknya sehingga ditahan mereka? Kalau tidak begitu kenapa belum tampak juga bayangan

tubuhnya disekitar sini?”

Pikir punya dikir, tiba-tiba satu ingatan yang sangat menakutkan melintas dalam benaknya, tak

kuasa lagi dia menjerit kaget, “Aduuh celaka!”

Dengan suatu gerakan tuhan yang cekatan ia memutar tubuhnya ke belakang dan siap melayang

pergi dari situ.

Sayang seribu kali sayang, meskipun Hoa In-liong cekatan dan pintar, tindaknya ini dilakukan

selangkah lebih terlambat.

Terdengarlah suara tertawa seram yang mengerikan berkumandang silih berganti dari sekeliling

tempat itu. Suara tersebut keras dan memekakkan telinga ini membuat Hoa In-liong berpaling ke

empat penjuru dengan hati yang bergetar keras.

Delapan-sembilan sosok bayangan manusia pelan-pelan munculkan diri dari tepi tanah lapang

berumput itu.

Kebetulan pula waktu itu tengah malam baru menjelang, lagipula tanggal sembilan belas,

rembulan yang purnama baru saja muncul dari arah timur dan menerangi seluruh jagad, ia

terjebak….

Diantara delapan-sembilan orang itu, tiga orang diantaranya adalah orang tionggoan. Siau Khi-gi

adalah salah satu diantara ketiga orang itu.

Sisanya adalah laki-laki yang berdandan pendeta bukan pendeta, imam bukan imam dengan

jubah lebar warna kuning. Mereka semua adalah orang-orang Mo-kauw. Hong Seng berada

disudut paling barat.

Siang tadi Hoa In-liong pernah berkata, “Selama hidup tak pernah merasakan menyesal”. Meski

sekarang dia rada kaget dengan kejadian yang dihadapinya, tidak berarti dia menyesal. Diapun

tidak menunjukkan rasa gugup atau kelabakan.

Setelah mengamati keadaan yang sebenarnya, diam-diam ia mempertimbangkan situasi dan

mengambil keputusan. Ia tahu saat itu Hoa Seng sudah bukan menjadi pemimpin dari

rombongan itu. Pemimpin rombongan yang sekarang adalah kakek jangkung, kurus dan bermuka

menyeramkan itu, sebab ikat pinggang yang dikenakan kakek itu paling istimewa. Bentuknya

berbeda sekali jika dibandingkan ikat pinggang orang lain. Ia memakai sebuah ikat pinggang

perak yang berukiran seekor naga perkasa.

Bukan panik atau bingung, pemuda itu merasakan suatu ketenangan yang luar biasa, pikirnya

dalam hati, “Ya, sekarang aku tahu, semula mereka terdiri dari tiga rombongan. Tapi untuk

menghadapi diriku, disaat terakhir telah bergabung jadi satu dengan kakek berwajah seram ini

memang pucuk pimpinan. Kalau begitu ilmu silat yang dimiliki kakek itu pasti jauh lebih lihay jika

di bandingkan Hong Seng sekalian. Kali ini aku tak boleh bertindak gegabah sehingga kena

dipecundangi mereka!”

Berpikir sampai disitu, rombongan musuh sudah makin dekat menghampiri dirinya. Mereka

membentuk posisi mengurung dan ia sebagai sasaran pengepungan tersebut.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

383

Hong Seng tertawa seram, tampak sambil menyeringai dia mengejsk sinis, “Hee…. hee…. hee….

Hoa kongcu konon aku dengar engkau adalah seorang pemuda yang romantis, dimana saja

menaburkan bibit cinta. Setelah kubuktikan sendiri, ternyata memang kuakui bahwa kabar

tersebut bukan kabar kosong belaka”

Laki-laki berjubah kuning yang pernah dikutungi pergelangan tangannya berseru pula dengan

penuh kebencian, “Hmm….! Sayang datangnya gampang perginya susah. Sekalipun mempunyai

birahi cinta setinggi bukit juga tak ada gunanya, buat apa musti diributkan lagi?”

Siau Khi-gi memutar biji matanya yang licik dan ikut menimbrung dari samping, “Itulah yang

disebut orang mampus dibawah bunga Botan, jadi setanpun setan romantis. Sepanjang hidup

bermain cinta terus, jadi setanpun watak itu tak akan berubah”

Ejekan demi ejekan yang dilontarkan tiga orang musuhnya itu sama sekali tak digubris Hoa Inliong.

Ia malah berpaling kearah kakek bermuka seram itu dan memberi hormat kepadanya.

“Boleh aku tahu siapakah nama saudara?” sapanya.

“Aku adalah Hu-yan Kiong!”

Hoa In-liong manggut-manggut. “Tolong tanya, Wan Hong-giok sekarang berada dimana?”

Seperti juga tampang wajahnya yang sinis, jawaban Hu-yan Kiong tak sedap didengar, “Untuk

sementara waktu, jiwanya tak sampai kabur ke akhirat!”

Diam-diam tercekat juga hati Hoa In-liong sehabis mendengar jawaban tersebut, segera pikirnya,

“Orang ini betul-betul seorang musuh yang hebat dan lihay. Yaa, tampaknya pertempuran sengit

tak dapat kuhindari lagi”

Dalam hatu berpikir demikian, diluar katanya “Dapatkah aku berjumpa, muka dengan dirinya?

Hu-yan Kiong tidak menjawab, ia cuma bertepuk tangan tiga kali. Tiba-tiba dari balik tanah

lapang muncul dua orang manusia. Kedua orang itu menggotong sebuah tandu. Diatas tandu

berbaringlah seseorang yang tubuhnya ditutupi secarik kain hitam segingga kelihatanlah

rambutnya yang awut-awutan. Ketika diamati lebih seksama, ternyata orang itu adalah Wanggiok.

“Letakkan keatas tanah dan singkirkan kain hitam yang menutupi badannya” Perintah Hu-yan

Kiong tengah membentak.

Dua orang itu segera membaringkan tandu itu ke tanah dan menyingkap kain hitam yang

menutupi diatasnya.

Begitu kain hitam tersingkap. Hoa In-liong amat terkejut sehingga hampir saja menjerit kaget

Ternyata Wan Hong-giok berbaring diatas tandu dengar mata terpejam rapat, muka pucat pias.

Tubuhnya hanya mengerakan kutang merah dan cawat kecil menutupi bagian kewanitaannya.

Tubuh yang dulunya begitu putih, begitu montok sekarang tinggal kulit pembungkus tulang.

Bahkan diatas dada dan pahanya ditempeli makhluk-makhluk beracun seperti ular, kalajengking,

kelabang, laba-laba dan aneka macam makhluk lain yang bentuknya aneh dan tak diketahui apa

namanya. Yang pasti semuanya berbentuk aneh, berbentuk seram dan bikin bulu roma pada

bangun berdiri.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

384

Hal ini benar-benar suatu kejadian yang mengerikan, suatu siksaan kejam yang tak mengenal

peri kemanusiaan.

Merah berapi-api sepasang mata Hoa In-liong menyaksikan kejadian itu. Darah panas serasa

mendidih dalam tubuhnya. Begitu gusarnya pemuda itu sehingga dia menengadah dan tertawa

seram. Suaranya bergetar sampai ke ujung langit, tapi suara itu lebih mirip kalau dikatakan

sebagai suara tangisan yang memilukan hati.

Hu-yan Kiong segera mendengus dingin. “Hmmmm! Engkau tak usah jual lagak lagi

dihadapanku, mau apa tertawa terus macam orang edan?”

“Sungguh keji hati kalian semua! Sungguh buas dan busuk hati kamu semua! Siksaan semacam

ini suatu ketika pasti akan kalian alami sendiri” teriak Hoa In-liong dengan nada yang memilukan

hati. “Wan Hong-giok sudah kenyang disiksa dan dihina, masih belum cukupkah penderitaan

yang harus dia alami? Kenapa kalian tidak mengenal peri kemanusiaan? Kenapa kalian hukum

dirinya dengan cara yang begitu kejam?”

Hu-yan Kiong mengejek dingin. “Hmmm…. Perempuan ini pura-pura takluk kepada kami, tapi

nyatanya ia jadi mata-mata. Ia menyelidiki rahasia perkumpulan kami jangan kau anggap “Pekseng-

siau-goan” (seratus malaikat menyembah yang mulia) adalah siksaan kejam. Perkumpulan

kami, masih mempunyai siksaan lain yang jauh lebih keji dari itu. Lebih baik engkau sedikit tahu

diri dan segera menyerahkan diri. Ikutilah lohu berkunjung ke Seng-sut-hay…. Ketahuilah jika

engkau tak tahu diri, maka siksaan kejam yang kau saksikan itu akan segera menimpa dirimu”

Setajam sembilu Hoa In-liong menatap wajah lawannya, kembali ia menjerit, “Ayohlah, lakukan

padaku! Kau anggap aku orang she Hoa takut? Sudah lama aku orang she Hoa mendengar

tentang ilmu Hiat-teng-toh-hoat mu itu, ayohlah! Lakukan kepadaku”

Hu-yan Kiong tertawa angkuh. “Yaa memang hiat-teng-toh-hun adalah ilmu maha sakti dari

perkumpulan kami. Tapi dengan kepandaian yang kau miliki, rasanya kepandaian tersebut tak

perlu kulakukan atas dirimu”

Sementara itu Hoa In-liong telah sadar. Setelah ia terjatuh ke dalam perangkap lawan, untuk

suatu penyelesaian secara damai jelas tak mungkin. Dalam keadaan demikian, satu-satunya jalan

yang dapat ditempuhnya adalah mengandalkan ilmu silat masing masing untuk menentukan

siapa lebih tangguh.

Sebagaimana lazimnya, dengan cepat pemuda itu mengambil keputusan, katanya dengan suara

berat, “Bila aku orang she Hoa suruh kalian menarik kembali makhluk-makhluk beracun dan

lepaskan Wan Hong-giok, keadaan tersebut ibaratnya aku sedang berbicara dengan kerbau,

sama sekali tak ada gunanya. lebih baik turun tangan saja cepat-cepat!”

Tak dapat diragukan lagi Hu-yan Kiong adalah seorang manusia yang angkuh dan tinggi hati.

Mendengar jawaban tersebut, dia lantas berpaling dan ulapkan tangannya kepada Hoag Seng

seraya berseru, “Tangkap dia!”

Hong Seng mengiakan, ia lantas melepaskan ikat pinggangnya dan maju kedepan dengan

langkah lebar, katanya, “Tempo hari kau berhasil kabur lantaran Wan Hong-giok telah membantu

dirimu. Tapi kali ini kau tidak akan memperoleh kesempatan macam seperti itu lagi. Berhatihatilah,

daripada lengan dan tulang kakimu jadi luka”

Dalam pada itu Hoa In-liong sendiri telah mengambil keputusan untuk menyelesaikan persoalan

itu dengan suatu pertempuran kilat. Ia sendiripun segan banyak bicara. Pedang yang tersoren

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

385

dipinggang segera dicabut keluar. Kemudian sambil melangkah maju, pedangnya berputar

kesamping kiri dan menusuk ke depan.

Serangan tersebut mantap dan berat. Jurus yang digunakan adalah salah satu dari Hoa-si ciongkiam-

cap-lak-sin-cau (enam belas jurus sakti pedang berat keluarga Hoa). Desingan angin

serangannya tajam, kuat dan menggetarkan sukma.

Hong Seng tak berani berayal, seketika itu juga dia membalas membentak. Ikat pinggangnya

digetlarkan sekeras tongkat, kemudian membacok ke muka melepaskan serangkaian serangan

balasan.

Hong Seng adalah saudara kandung dari Hong Liong, murid tertua dari Tang Kwik-siu itu cikal

bakal dari Mo-kauw. Meski demikian, ilmu silatnya juga hasil didikan langsung dari Tang Kwik-siu

pribadi.

Sejak pertarungannya dikuil Cing-siu-koan tempo hari itu, dimana nyaris dia dikalahkan oleh Hoa

In-liong, sampai sekarang rasa dendam dan gusarnya masih belum lenyap.

Maka ketika mendapat perintah untuk melenyapkan Hoa In-liong dalam pertarungan saat ini,

selain melaksanakan tugasnya, diapun hendak membentak musuhnya untuk dibikin perhitungan.

Tak heran kalau begitu terjun kedalam gelanggang dia lantas melakukan serangan dengan jurus

serangan terampuh dan terdahsyat.

Pertarungan antara jago-jago tangguh biasanya berlangsung dengan kecepatan luar biasa.

Dalam waktu singkat kedua belah pihak telah saling bergebrak sebanyak belasan jurus.

Sekalipun baru belasan gebrakan, tapi menang kalah dengan cepat dapat terlihat dengan jelas.

Haruslah diketahui, ilmu Hoa-si-ciong-kiam-cap lak-sin-cau tersebut merupakan seatu hasil

ciptaan ilmu pedang tinggi dari Hoa Thian-hong setelah ia berhasil melebur isi dari kiam keng

suatu kitab pedang yang luar biasa saktinya dengan rumus kiam-keng-bu-kui.

Hoa In-liong berniat melangsungkan pertarungan cepat, maka begitu turun tangan ia gunakan

ilmu pedang yang paling sakti dan paling ampuh untuk meneter musuhnya.

Hong Seng sendiri, walaupun dia adalah murid Tang Kwik-siu. Walaupun ia berjuang dengan

segala kemampuan yang dimilikinya, tapi waktu itu tampaklah jelas betapa terdesaknya dia di

bawah serangan musuh. Dia kelihatan keteter hebat dan repot untuk menangkisi setiap serangan

yang ditujukan kearahnya….

Hu-yan Kiong berdiri di tepi gelanggang sambil mengikuti jalannya pertarungan itu, ketika

disaksikan bagaimana lihaynya Hoa In-liong melancarkan serangannya dengan tenaga dalam

yang sempurna, hingga membuat mata serasa berkunang-kunang, hatinya jadi tercekat dan

bergidik keras….

Lain halnya dengan jalan pikiran Hoa In-liong ketika itu. Sembari melepaskan serangkaian

serangan yang gennesr, dia mulai berpikir dalam hati, “Mereka berjumlah banyak, jika aku harus

melayani belasan jurus untuk setiap orangnya, sampai kapan pertempuran ini baru selesai?”

Berpikir demikian, serangan pedangnya tiba-tiba dikendorkan, sengaja ia tunjukkan titik

kelemahannya dan membiarkan musuh manfaatkan kesempatan tersebut.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

386

Waktu itu Hong Seng sedang terdesak hebat dan cuma bisa bergerak kekiri dan kanan untuk

menghindarkan diri. Menyaksikan kejadian tersebut ia jadi terkejut bercampur gembira, segera

bentaknya, “Kena!”

Ikat pinggangnya diputar kencang lalu menyapu ke depan, langsung membacok dada Hoa Inliong.

Hu-yan Kiong yang menjumpai keadaan tersebut jadi tercekat hatinya, ia menjerit kaget, lalu

secepat sambaran petir menerjang masuk kedalam arena.

Maksudnya dia mau menyelamatkan jiwa Hong Seng. Apa mau dibilang perubahan itu terjadinya

sangat mendadak, apalagi gerakan pedang dari Hoa In-liong melintas dengan kecepatan luar

biasa, jelas usahanya itu tak sempat lagi.

Terdengar Hong Seng menjerit ngeri, darah segar berhamburan memenuhi seluruh udara. Tahutahu

batok kepalanya sudah berpisah dari tengkuknya dan menggelinding jauh sekali dari arena.

Diiringi semburan darah segar tewaslah iblis tersebut.

Sebetulnya Hoa In-liong tidak berniat membunuh orang, ia kuatir perbuatannya akan merupakan

“memukul rumput mengejutkan ular” dan membangkitkan sifat buas dari orang-orang Mo-kauw

akan mengakibatkan terciptanya badai pembunuhan yang jauh lebih keji.

Tapi setelah kenyataan berada didepan mata, ia tak dapat mengendalikan perasaannya lagi.

Akhirnya ia bunuh juga tokoh sakit dari perkumpulan Mo-kauw itu,

Baru pertama kali ini dia membunuh orang sejak dilahirkan didunia. Jeritan lengking yang

menyayatkan hati itu seketika membuat dia jadi tertegun dan berdiri melongo. Pada hakekatnya

siksaan keji yang dialami Wan Hong-giok lah yang membangkitkan rasa dendamnya itu. Coba

sekujur badan gadis itu tidak dirambati oleh pelbagai jenis makhluk bercampur hingga membuat

keadaannya betul-betul mengerikan, mungkin ia tak sampai metigambil tindakan tersebut.

Waktu itu kebetulan Hu-yan Kiong yang sedang berusaha menyelamatkan jiwa rekannya

menerkam datang. Menyaksikan kejadian itu darah panas, kembali bergolak dalam benak anak

muda kita. Pedangnya segera diayun ke atas menyongsong datangnya serudukan tersebut.

Semenjak dilarikan didunia, belum pernah Hoa In-liong menjadi gusar dan kalap seperti apa yang

dialaminya sekarang. Waktu itu dia hanya merasa hawa amarah bergolak dalam benaknya.

Darah dalam tubuhnya serasa mendidih, sambil putar pedangnya ia membentak lagi, “Mampus

kau manusia terkutuk!”

Bacokan tersebut menggunakan jurus Lek-pit-hoa-san (membacok gugur bukit Hoa-san). Walau

hanya satu jurus serangan biasa, tapi hawa pedang yang terpancar keluar ibaratnya cahaya kilat

yang menyambar-nyambar, begitu cepat, begitu berat bikin hati orang mengkirik.

Hu-yan Kiong cukup mengetahui bahwa tenaga dalam yang dimiliki musuhnya amat lihay,

apalagi setelah menyaksikan bacokan pedangnya yang begitu bertenaga, ia semakin sadar

bahwa kepandaian yang dimiliki anak muda itu tak boleh dianggap enteng.

Dalam gugupnya, ikat pinggang berwarna perak itu dilontarkan kemuka untuk menghalau

datangnya ancaman tersebut.

“Criiing….!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

387

Ditengah dentingan nyaring yang memekakkan telinga, pedang dan ikat pinggang itu saling

membentur satu sama lainnya hingga menimbulkan percikan bunga api. Kedua orang itu samasama

bergetar keras dan masing-masing mundur satu langkah lebar ke belakang.

Dalam gusar dan mendongkolnya, kecerdikan otak Hoa In-liong tidak menjadi berkurang. Ia

sudah berpikir, kematian Hong Seng berarti membuat ikatan dendam diantara mereka semakin

dalam atau mungkin keadaannya sudah mencapai ibaratnya api dan air yang tak mungkin bisa

akur

Maka setelah berpikir sebentar, ia merasa keadaan tersebut harus diatasi dengan siasat

“membasmi bajingan, bekuk pemimpinnya lebih dulu.” Bukannya mundur ke belakang, dia malah

menerjang maju lebih ke depan, sekali lagi ia lancarkan sebuah bacokan maut.

“Mampus kau! Mampus kau! Mampus kau!”

“Criing! Criiing! Criiing!”

Secara beruntun benturan demi benturan nyaring berkumandang memekakkan telinga. Suatu

benturan itu bergabung dengan suara bentakan demi bentakan macam orang kalap itu

mencabik-cabik keheningan malam yang mencekam bukit itu. Suaranya betul-betul mengerikan

hati, membuat perasaan orang bergetar keras.

Serangkaian serangan berantai yang mendesak secara beruntun ini seketika itu juga mendesak

Hu-yan Kiong sampai mundur berulang kali dengan bulu kuduk pada bangun berdiri.

Berbicara soal tenaga dalam, mungkin Hoa In-liong masih bukan tandingannya. Tapi bacokan

demi bacokan pedangnya yang dilancarkan secara beruntun membuat dia kehilangan posisi yang

baik. Ini menyebabkan ia kehilangan sama sekali daya kemampuannya untuk melancarkan

serangan balasan.

Tiba-tiba kakinya tergaet oleh sepotong batu gunung yang mengakibatkan tubuhnya terjengkang

dan robob terlentang diatas tanah.

Hoa In-liong maju kemuka seraya melepaskan sebuah bacokan lagi. Ini membuat hatinya jadi

ketakutan setengah mati, cepat-cepat ia menggelinding kesamping untuk menghindarkan diri.

“Tahan!” bentaknya keras-keras.

Bentakan tersebut diutarakan dengan suara yang nyaring bagaikan guntur membelah bumi

disiang hari bolong. Seketika itu juga Hoa In-liong dibikin tertegun dan menarik kembali pedang

antiknya.

Keadaan Hu-yan Kiong betul-betul mengenaskan sekali. Mukanya menyeringai seram, matanya

melotot sebesar gundu dengan sinar buas yang bikin orang berkidik, kembali bentaknya, “Lohu

toh tidak bermaksud membunuh engkau kenapa kau begitu nekad untuk bikin susah diriku?

Memangnya kau sudah bosan hidup di dunia ini?”.

Hoa In-liong sudah bermandi peluh, tapi sahutnya juga dengan nada berat, “Mati atau bidup

manusia berada ditangan Thian, kenapa aku musti takut mati? Tarik kembali semua makhlukmakhluk

beracunmu, lepaskan Wan Hong-giok, akupun akan biarkan kau pergi dari sini. Tapi

kalau kau menampik, terpaksa aku orang she Hoa harus pertaruhkan selembar nyawaku untuk

mencabut jiwa anjingmu”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

388

Hu-yan Kiong menyeringai makin seram bentaknya, “Engkau sendiri yang mencari penyakit,

jangan salahkan lohu bertindak keji, lihat serangan!”

Telapak tangan kanannya segera di ayun ke muka, seakan-akan ada senjata rahasia sedang

ditimpuk ke arahnya.

Hoa In-liong terkesiap, diamatinya serangan musuh dengan seksama, namun tak sesuatu apapun

yang tampak.

Mula-mula dia agak tertegun, menyusul kemudian sambil tertawa tergelak dia berkata, “Haa….

haa…. haa…. Tampangnya saja sudah tua, tak tahunya berhati kekanak kanakan, main tipu juga

seperti bocah”

Tapi sebelum kata-kata itu sempat di utarakan sampai selesai, ia sudah menguap beberapa kali.

Ketika dilihatnya pemuda itu menguap beberapa kali, Hu-yan Kiong menyeringai makin seram,

pelan-pelan dia menuju ke depan sambil katanya kembali, “Bocah muda, kau terlampau binal dan

sukar diatur. Lohu segan untuk bertarung melawan dirimu, ayoh ikuti lohu dengan tenang!”

Hoa In-liong kembali menguap beberapa kali, tiba-tiba ia merasa dadanyaamat sakit, menyusul

kemudian kepalanya pusing tujuh keliling, hampir saja roboh terjengkang.

Keyataan ini membuat anak muda tersebut merasa amat terperanjat, dengan gusar teriaknya,

“Kau…. kau…. Permainan gila apa yang telah kau lakukan terhadap diriku?”

Hu-yan kiong tertawa dingin. “Itulah siksaan Sin-hui-sim (ular sakti menggigit) perkumpulan

kami. Jika engkau tak mau ikuti lohu dengan rela, maka kau akan merasakan suatu penderitaan

yang luar biasa hebatnya”

Hoa In-liong betul-betul naik darah. Pedangnya langsung diayunkan kemuka melancarkan

sebuah bacokan maut.

Siapa tahu sebelum serangan tersebut mencapai pada sasarannya, ia merasakan datangnya

teramat sakit sehingga badannya jadi sempoyongan. Akhirnya ia tak kuasa menahan diri lagi dan

roboh tak sadarkan diri diatas tanah.

Hu-yan Kiong tertawa seram, ia maju ke muka, lengan kanannya digetarkan ke depan

mencengkeram pada anak muda itu.

Tampaknya anak muda tersebut segera akan terjatuh ke tangan musuh….

Tiba-tiba terdengar suara bentakan nyaring yang penuh dengan kegusaran berkumandang

datang dari tengah udara, “Tahan!”

Bersamaan dengan menggelegarnya bentakan itu, seorang sastrawan muda berbaju putih

melayang turun di atas puncak itu dengan kecepatan luar biasa, ia langsung menerjang diri Huyan

Kiong.

Sastrawan muda berbaju putih itu bukan lain adalah Cwan Wi yang telah berpisah di rumah

makan dalam kota Kim-leng siang tadi.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

389

Bukankah Cwan Wi telah berpamitan akan pulang ke kota Kim-leng? Mengapa dia bisa muncul

kembali dipuncak bukit Yan-san?

Duri sini dapatlah kita ketahui bahwa kepergiannya tadi hanya sebagai alasan belaka. Nyatanya

secara diam-diam ia telah menguntil terus dibelakang pemuda kita.

Kemunculannya benar-benar dilakukan dengan kecepatan yang luar biasa. Kecepatan tersebut

jarang dijumpai dalam dunia persilatan dewasa ini. Ketika Hu-yan Kiong menyadari akan

datangnya sergapan tersebut, tahu-tahu segulung angin pukulan yang maha dahsyat telah tiba

dibelakang punggungnya.

oooOOOooo

HU-YAN KIONG betul-betul terperanjat oleh datangnya ancaman tersebut. Tak sempat berpaling

lagi, cepat-cepat ia menutul permukaan tanah dan kabur ke muka untuk menghindarkan diri dari

serangan tersebut, kemudian bentaknya, “Siapa disitu?”

Cwan Wi tidak menggubris teguran tadi, diapun tidak menyusul musuhnya, tapi segera menubruk

diri Hoa In-liong sambil panggilnya dengan nada kuatir, “Ji-ko”

Mendengar panggilan itu, diam-diam Hu-yan Kiong merasa terperanjat, cepat pikirnya, “Masa

ilmu silat dari putra putri keluarga Hoa rata rata sudah mencapai taraf yang demikian tingginya?”

Berpikir sampai disitu, dia lantas putar badan sambil menyeringai seram. “Hee…. he…. hee….

Lohu masih mengira jago lihay dari manakah yang telah berkunjung kemari. Huuuh….! Tak

tahunya engkau juga kurcaci dari keluarga Hoa. Bagus sekali! Apakah engkau juga hendak ikut

lohu pulang?”

Baru saja kata-kata tersebut selesai diutarakan tiba-tiba suara seorang bocah berkumandang

kembali dari belakang setelah mendengus dingin. “Hmmmm….! Makhluk tua, angin gunung

berhembus kencang sekali, kau tidak takut lidahmu kena tersambar sampai putus?”

Sekali lagi Hu-yan Kiong merasa hatinya terperanjat, untuk kesekian kalinya dia menghindar

sejauh delapan depa dari tempat semula, kemudian baru putar badan sambil memandang kearah

mana berasalnya suara itu dengan pandangan seram.

Namun apa yang kemudian terlihat, seketika membuat paras mukanya berubah jadi merah

padam seperti babi panggang. Ia betul-betul ketenggor batunya sampai-sampai mau menangis

sungkan mau tertawapun susah.

Kiranya kecepatan langkah Leng-ji masih kalah jauh dari Cwan Wi, maka ia sampai ditempat

tujuan selangkah lebih terlambat. Sekalipun suaranya nyaring, tapi mukanya masih kekanakkanakan,

apalagi waktu itu dia berdiri beberapa kaki jauhnya dari kalangan dengan mata melotot

besar, hal ini semakin menunjukkan betapa masih kecilnya dia.

Perlu diterangkan disini, Leng-ji adalah seorang bocah yang masih ingusan, sedang Hu-yan Kiong

merupakan seorang jago tua yang sudah kawakan. Tapi kenyataannya ia sudah dibuat gugup

dan buru buru menghindarkan diri dengan gelagapan, tentu saja hal ini sangat menurunkan

gengsi sebagai seorang pemimpin.

Tak heran kalau wajahnya kontan berubah jadi merah padam, sikapnya juga ikut tersipu-sipu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

390

Sementara itu Cwan Wi telah berteriak lagi dengan cemas, “Leng-ji, cepat tanya kepadanya,

dimana obat pemunah tersebut!”

Dengan dahi berkerut Leng-ji segera berpaling ke arah Hu-yan Kiong, dan bentaknya kembali,

“Sudah mendengar belum? Ayoh keluarkan obat pemunahnya dan serahkan kepadaku!”

Perkataan kacung buku itu sungguh takabur dan besar nadanya. Sebagai seorang jago tua yang

mempunyai kedudukan terhormat tentu saja Hu-yan Kiong tersinggung oleh ucapan tersebut.

Ia tertawa dingin tiada hentinya. “Mau obat pemunah? Obat itu berada dalam sakuku, apa

salahnya jika engkoh cilik mengambilnya sendiri?”

“Huuh….! Memangnya kau anggap aku takut untuk mengambilnya sendiri?” jengek Leng-ji ketus.

Jilid 20

SAMBIL berseru, bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya ia menerjang maju ke muka,

telapak tangan kanannya langsung mencengkeram dada Hu-yan Kiong.

“Bangsat yang tak tahu diri, rupanya kau ingin mampus!” bentak Hu-yan Kiong sangat gusar.

Telapak tangan kanannya segera diputar, kemudian membacok urat nadi diatas pergelangan

tangan Leng-ji dengan serangan dahsyat.

Ternyata gerakan tubuh Leng-ji cukup lincah, ketika serangan tersebut hampir mengena di atas

pergelangan tangannya, dengan cekatan dia berputar ke belakang punggung Hu-yan Kiong,

kemudian teriaknya dengan nada lengking, “Bagus…. Bagus sekali! Engkau berani membokongi

aku….? Kurang ajar!”

Gerak serangannya segera dirubah, kali ini ia menonjok iga kiri musuhnya.

Jelas dalam serangannya kali ini, Leng- ji sudah berniat melukai musuhnya di bawah serangan

tersebut. Begitu serangan dilancarkan, terasalah desingan tajam sebagai ujung tombak

menerjang ke luar dan langsung menusuk jalan darah Ki bun hiat di tubuh Hu-yan Kiong. Cepat

dan tajam serangan itu, tampaknya segera akan bersarang di tubuh lawan.

Para anak buah Hu yan Kiong yang menyaksikan kejadian itu sama sama berteriak kaget, mereka

masing-masing pada menyerbu ke muka siap memberikan pertolongan.

Padahal orang-orang itu bersikap terlalu berlebihan. Sikap tegang merekapun sebetulnya tak

berarti apa-apa. Sebab bila Hu-yan Kiong tidak memiliki serangkaian ilmu silat yang maha

dahsyat, apakah Mo-kauw kaucu tega melimpahkan tugas berat ini di atas pundaknya? Apakah ia

legakan

hati membiarkan dia yang memimpin “rombongan penyelidik” itu menuju daratan Tionggoan?

Sementara kawanan jago itu siap menubruk kedepan untuk memberikan pertolongannya,

serangan yang dilancarkan Leng-ji sudah bersarang telak pada sasarannya.

Akan tetapi, meskipun pukulan itu bersarang telak, Hu-yan Kiong sedikitpun tidik menderita

cedera barang sedikitpun jua. Sebaliknya Leng-ji yang menjerit kesakitan, menyusul kemudian

secara beruntun dia mundur tujuh delapan langkah dengan sempoyongan. Akhirnya bocah itu tak

sanggup berdiri tegak, ia jatuh terduduk diatas tanah tak mampu bergerak lagi.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

391

Ternyata Hu-yan Kiong pernah mendapat warisan ilmu silat yang sangat lihay dari seorang tokoh

silat maha sakti dan ilmu tersebut khusus digunakan untuk melindungi keselamatan jiwa dari

ancaman musuh yang datang secara tiba-tiba.

Ilmu melindungi badan itu disebut Gi hiat ki-khi-ceng-han (menggeser kedudukan jalan darah,

menghimpun kekuatan menggetarkan ancaman). Bukan saja dalam waktu singkat ia dapat

menggeser kedudukan jalan darahnya yang terancam, secara otomatis hawa murninya dapat

dihimpun pula untuk menggetarkan serangan musuh.

Atau dengan perkataan lain semakin besar tenaga serangan yang dilancarkan musuh, semakin

besar pula tenaga pantulan yang dihasilkan oleh serangan tersebut. Sebaliknya makin lambat

pukulan yang menyerang makin enteng pula tenaga pantulan yang dihasilkan.

Untunglah Leng-ji yang masih kecil memiliki tenaga pukulan yang tidak terlampau berat. Kalau

tidak, penderitaan yang diperoleh dari serangan tersebut mungkin bukan hanya tergetar mundur

belaka.

Sementara itu Cwan Wi sedang berusaha dengan sepenuh tenaga untuk menguruti jalan darah di

tubuh Hoa In-liong, saking gelisahnya peluh sebesar kacang kedelai telah membasahi sekujur

tubuhnya.

Ketika secara tiba-tiba mendengar jeritan ngeri dari Leng-ji, ia tampak terkejut dan cepat cepat

berpaling.

Tampaknya waktu itu Hu-yan Kiong sedang memandang kearahnya sambil tertawa dingin.

Tangannya diulapkan memberi Komando seraya serunya dengan nyaring, “Tawan sekalian orang

itu dan kita gusur mereka semua dari sini!”.

Perkataan itu sombong lagi pula dingin, seakan akan Cwan Wi sekalian sudah mencari burung

dalam sangkar, kura-kura dalam tempurung. Seolah-olah mereka tidak memiliki kekuatan lagi

untuk melawan dan bakal menjadi tawanan mereka.

Leng-ji adalah kacung Cwan Wi yang bergaul akrab semenjak kecil. Hubungan mereka boleh

dibilang lebih akrab dari saudara kandung sendiri. Tak terkirakan gusar Cwan Wi ketika dilihatnya

kacung bukunya terluka ditangan orang.

Tapi lantaran Hoa In-liong masih tak sadarkan diri lagi pula bantuan yang diberikan sedang

mencapai puncak yang paling penting, untuk sesaat dia tak dapat berbuat apa-apa.

Dan sekarang, setelah ia dengar kata-kata Hu-yan Kiong yang begitu tak sedap didengar,

amarah yang ditahan-tahannya selama ini tak terkendali. Pada saat yang bersamaan dikala ia

bangkit secara di luar dugaan Hoa In-liong telah sadar pula dari pingsannya, hanya Cwan Wi

sama sekali tidak merasakan hal itu.

Cwan Wi telah berpikir keras dalam benaknya. Ia merasa daripada mencurahkan segenap

perhatian dan tenaganya untuk menolong Hoa In-liong, lebih baik menguasai Hu-yan Kiong lebih

dulu kemudian baru menyelesaikan soal-soal lain.

Pertama dengan perbuatannya ini dia dapat membebaskan Leng-ji dari ancaman bahaya maut.

Kedua diapun dapat memaksa Hu-yan Kiong untuk menyerahkan obat penawar racun

kepadanya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

392

Ia merasa mempunyai kepercayaan penuh untuk menaklukkan Hu-yan Kiong. Jika pemimpinnya

gampang ditaklukkan, otomatis anak buahnya tidak terlampau merisaukan hatinya lagi, dia yakin

sekali diserang mereka pasti akan kocar-kacir.

Demikianlah, dengan suatu gerakan yang lebih cepat dari sambaran angin puyuh ia menerkam

ke muka dengan hebatnya. Kemarahan dan rasa dendam telah menyelimuti benaknya. Ini

membuat wajahnya yang tampan segera dilapisi hawa pembunuh yang betul-betul mengerikan.

Waktu itu, anak buah Hu-yan Kiong sedang bergerak maju ke depan menghampiri Leng-ji yang

masih tertuduk di tanah.

Tiba-tiba….salah seorang diantara rombongan kaum iblis itu…. Laki-laki berjubah kuning yang

memelihara jenggot pendek telah menjumpai kehadiran Cwan Wi telah menggetarkan hatinya.

Tak kuasa lagi dia menjerit kaget dan segera menghentikan langkah kakinya.

Jeritan kagetnya itu segera menggetarkan hati rekan-rekan lainnya, juga mengejutkan Hu-yan

Kiong pribadi.

Dengan gerakan tubuh yang enteng Cwan Wi melayang turun di samping Leng-ji, lalu dengan

gerakan yang tenang dan kalem dia membantu Leng ji untuk menyambung kembali tulang

persendian tangan kanannya yang terlepas. Setelah itu baru berpaling ke arah Hu-yan Kiong.

“Kau munafik!. Kau manusia rendah yang tak tahu malu. Bukan cari kemenangan dengan

mengandalkan ilmu silat, khusus melukai orang dengan siasat busuk. Hmmm! Jika tahu diri,

cepat persembahkan obat penawar kepadaku, mungkin aku bisa mengampuni jiwa kalian dan

membiarkan engkau pergi bersama anak buahmu, tapi kalau menampik…. Hmmm….!”

Setelah mendengus dingin ia hentikan kata-katanya. Sekalipun tidak diberi penjelasan lebih jauh,

namun siapapun tahu apa yang dimaksudkan. Apalagi setelah menyaksikan sepasang sinar

matanya yang lebih tajam dari sembilu itu menatap wajah musuhnya tanpa berkedip.

Orang lain tidak butuh penjelasan, cukup memandang tatapan matanya yang menggidikkan hati

segera akan memahami makna yang sebenarnya dari musuhnya itu.

Pada hakekatnya kawanan jago dari Mo-kauw itu sudah dibuat keder oleh kelihayan serta

ketenangan sikap Cwan Wi. Setelah menyaksikan sikapnya yang menggidikkan hati itu, mereka

hanya bisa saling berpandangan dengan perasaan tercekat

Bagaimanapun juga, jelek-jelek Hu-yan Kiong adalah seorang pemimpin rombongan. Sekalipun ia

rada keder oleh kegagahan musuhnya, perasaan keder itu tidak sampai diperlihatkan dihadapan

anak buahnya.

Setelah merenung sebentar, akhirnya ia tertawa seram sambil menegur kembali, “Dalam urusan

nomor berapa engkau dalam keluarga Hoa? Siapa namamu….?”

Cwan Wi menjengek dingin, dengan suara sekeras geledek ia membentaknya nyaring, “Kau tak

usah banyak omong! Mau bertempur atau berdamai, ayoh cepat mengambil keputusan!”

Keadaan semacam ini membuat Hu-Yan Kiong ibaratnya duduk dipunggung harimau, mau turun

sungkan tidak turun takut, tapi untuk menjaga gengsi ia lantas mendengus. “Huh….! Jika

bertarung lantas bagaimana?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

393

Cwan Wi kontan maju selangkah kedepan, ia maju lima depa lebih dekat dengan lawannya, lalu

membentak dengan suara dalam, “Rupanya sebelum sampai disungai Huang-ho engkau tak akan

matikan perasaanmu. Jika tidak kuberi sedikit pelajaran yang setimpal, engkau tak akan

memparsembahkan obat penawarnya dengan suka rela Hmm…. Baiklah!”

Ia berhenti sebentar untuk mendengus dingin, kemudian bentaknya kembali, “Cabut senjatamu!

Akan kubikin engkau takluk dengan hati yang rela dan puas!”

Ucapan tersebut diutarakan secara langsung dan tanpa tedeng aling aling sedikitpun tiada tanda

untuk memberi muka kepada musuhnya untuk membela diri.

Dari mendongkol bercampur malu Hu yan Ki-ong jadi naik pitam, tiba-tiba ia tertawa seram.

“Haa…. haa…. haa…. Baik…. Baik! Akan lohu saksikan sampai dimanakah kelihayan ilmu silat

keluarga Hoa kalian!”

“Weesss!”

Sabuk naga perak putihnya dengan membawa tenaga serangan yang maha dahsyat segera

menyambar ke muka dengan jurus It-cu-keng-thian (sebuah tongkat menyungging langit).

“Tunggu sebentar!” tiba-tiba suara bentakan dari Hoa In-liong berkumandang kembali ke udara.

Baik Hu-yan Kiong maupun Cwan Wi sama-sama tertegun dan alihkan pandangan matanya

kearah mana berasalnya suara itu.

Hoa In-liong dengan pedang terhunus sedang berjalan menghampiri mereka dengan langkah

tegap.

Cwan Wi rada tertegun sebentar, kemudian sambil menubruk maju ke depan teriaknya penuh

kegembiraan, “Jiko…. Oooh Jiko….! Kau…. Kau…. tidak apa-apa bukan?”

Hoa In-liong mengulurkan tangan kirinya untuk menyambut tubrukan Cwan Wi, pelan-pelan ia

mengangguk. “Aku tidak apa-apa. Terima kasih banyak atas kedatanganmu yang begitu tepat

pada saatnya. Kalau tidak, waah…. Mungkin aku yang bodoh sudah menjadi tawanan orang”

Walaupun mulutnya berbicara terus, tidak berarti kakinya berhenti berjalan, terpaksa Cwan Wi

harus mengikuti dibelakangnya untuk maju bersama.

Sambil berjalan kembali ujarnya, “Tak usah bicarakan tentang soal ini, kalau toh engkau tidak

mengapa, lebih baik kita segera berlalu dari sini!”

“Tidak! kita tak dapat tinggalkan sempat ini dengan begitu saja. Bukankah kau dengar sendiri

kakek itu mengatakan bahwa dia sangat ingin merasakan sampai dimanakah kelihayan ilmu silat

keluarga Hoa? Apakah kita musti membiarkan dia merasa kecewa? Tidak bukan? Nah! Keinginan

orang musti kita penuhi sebagaimana mestinya”

Mendengar perkataan itu Cwan Wi tertegun. “Tapi apakah Jiko sudah dapat turun tangan?”

tanyanya.

Hoa In-liong tersenyum. “Sekalipun orang lain telah menggunakan siasat busuk dan akal keji

untuk mengecundangi diri kita. Sebagai anggota keluarga Hoa, kita harus tunjukkan contoh yang

baik kepada mereka, bukankah demikian saudara Cwan?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

394

Anak muda ini tidak langsung menanggapi pertanyaan orang, sebaliknya membicarakan soal lain.

Dari sini dapat diketahui bahwa racun yang bersarang dalam tubuhnya belum terpunahkan dari

tubuhnya.

Atau dengan perkataan lain, seandainya ia dapat turun tangan, itupun dilakukan dalam keadaan

terpaksa.

Walaupun demikian, oleh karena alasan yang diajukan pemuda itu masuk di akal sekalipun Cwan

Wi merasa sangat gelisah, dia juga tak mampu mengatakan apa-apa.

Hu-yan Kiong sendiri rada terperanjat ketika dilihatnya Hoa In-liong secara tiba tiba menghampiri

dirinya dengan langkah yang tegap dan gagah. Dia malah mengira siksaaan “ular kecil menggigit

hati” nya sudah tidak mempan lagi terhadap anak muda itu.

Akan tetapi setelah ia mendengar tanya jawab dari kedua orang lawannya, perasaan kuatirnya

segera tersapu lenyap dari hatinya. Ia jadi sangat lega. “Bagus sekali! Bagus sekali!” katanya

kemudian “Bila engkau dapat mengandalkan ilmu silat yang kau katakan sangat lihay itu untuk

mengalahkan aku walau cuma satu jurus saja, lohu segera akan angkat kaki dari sini!”

Hoa In-liong tertawa ewa. “Mengundurkan diri dari sini sudah pasti akan kau lakukan, tapi kau

musti berjanji bahwa Wan Hong-giok akan kau lepaskan dan makhluk-makhluk racun yang

berpesta pora diatas tubuhnya kau tarik kembali”

Sebelum Hu-yan Kiong memberikan jawabannya, Cwan Wi telah menukas dengan suara yang

amat gelisah:…. “Tidak boleh begitu saja, diapun harus meninggalkan obat penawar untukmu!”

Hoa In-liong tersenyum, ia berpaling dan ditatapnya wajah rekannya lekat-lekat. “Adik Wi kau tak

usah terlampau kuatir! Jangan bingung, siksaan yang dikatakannya sebagai ular sakti menggigit

hati itu tak nanti bisa merenggut jiwaku. Jika aku tak berkemampuan untuk memunahkan

kepandaiannya itu, lain kali dia pasti akan mengandalkan kepandaian tadi untuk malang

melintang dalam dunia persilatan dan berbuat kejahatan dimana-mana. Hmmmm! Waktu itu

dunia persilatan pasti akan dibikin kuatir olehnya. Kalau sampai begitu, akan ditaruh dimanakah

wajah kita-kita ini….?”

Belum habis pemuda itu menyelesaikan kata-katanya, ketika Hu-yan Kiong terbahak-bahak.

“Haa…. haa…. haa…. Aku lihat rasa ingin menangmu benar-benar besar sekali. Tapi jalan

pikiranmu yang terlampau kanak-kanakan bikin orang merasa kasihan. Hmmm….! Jika ular

saktipun dapat kau punahkan, tak nanti lohu akan menggunakan senjata ampuh tersebut khusus

untuk menghadapi dirimu”

“Dapat atau tidak kupunahkan pengaruh racun tersebut adalah urusan pribadiku sendiri, lebih

baik engkau tak usah menguatirkan bagi keselamatan jiwaku”

Cwan Wi sendiri ketika itu merasa setengah percaya setengah tidak, ia ikut menimbrung, “Jiko,

benarkah engkau punya keyakinan untuk memunahkan pengaruh racun itu? Menurut Toako, sinhui

atau ular sakti adalah sejenis racun yang mirip dengan Ku-tok racun ganas yang bisa

menyusup sendiri kedalam tubuh manusia melalui ilmu macam hypnotis, bahkan aku dengan bibi

sendiripun tak mampu untuk memunahkan pengaruh racun yang amat jahat itu!”

Diam-diam Hoa In-liong merasa terkejut sehabis mendengar ucapan itu, sampai-sampai paras

mukanya juga ikut berubah.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

395

Ternyata ia merasa yakin kalau Toanio-nya yakni Chin Wan-hong mampu untuk mengobati

pengaruh racun ganas dari jenis apapun jua. Maka dari itu dalam pikirannya, racun yang

diidapnya sekarang tak perlu terlampau dikuatirkan, toh akhirnya ia bisa minta pertolongan

Toanio-nya untuk punahkan pengaruh racun itu.

Tapi sekarang, setelah Cwan Wi menyatakan bahwa ibunya pun tidak memiliki kemampuan untuk

memunahkan racun tersebut, dia baru mulai kuatir bercampur gelisah. Selain cemas diapun

mulai memahami apa sebabnya Toako mengutus orang untuk mencegah dirinya pergi ke bukit

Yan-san untuk memenuhi janji.

Tapi….perkataan sudah terlanjur diutarakan keluar, apakah dia harus menyesali ucapan tersebut?

Tidak! Tentu saja tidak! Dia adalah pemuda yang angkuh dan keras kepala. Dia ingin menjadi

contoh yang bisa ditiru oleh segenap umat persilatan didunia. Diapun tak ingin tunduk di bawah

perintah orang. Karena itu setelah berpikir sebentar, akhirnya dia memutuskan untuk pasrahkan

mati hidupnya pada nasib.

Sekalipun akhirnya racun Sin-hui yang diidapnya tak berhasil di punahkan, dia juga tak menjilat

kembali kata-kata yang telah diutarakan keluar itu sehingga nantinya dibuat bahan godaan oleh

musuhnya.

Disamping itu,setelah anak muda itupun merasa bahwa tugasnya yang terpenting pada saat ini

adalah mengusir orang-orang Mo-kauw dari daratan Tionggoan. Soal menolong diri sendiri, lebih

baik dipikirkan nanti saja.

Demikianlah, mengambil keputusan, ia pun tertawa ewa. “Adik Wi tak perlu kuatir” katanya

kemudian, “Sejak kecil aku sudah kebal terhadap segala jenis racun. Aku rasa kalau cuma ular

kecil saja masih belum cukup untuk merenggut nyawaku. Sekarang berdirilah disamping

gelanggang dan lindungilah aku dari situ. Sebab aku hendak memberi suatu pelajaran bagaimana

caranya menjadi seorang manusia yang berbudaya halus kepada suku-suku asing yang masih

biadab ini. Biar mereka tahu bahwa ilmu silat daratan Tionggoan bukan ilmu silat sembarangan!”

Setelah berhenti sebentar, pelan-pelan sinar matanya dialihkan kewajah kawanan jago Mo-kauw

itu dan ujarnya kembali dengan wajah amat serius. “Sekarang, engkau boleh segera melancarkan

serangan!”

Waktu itu paras muka Hoa In-liong telah mengalami perubahan, ini dapat terlihat oleh Cwan Wi

dengan jelasnya.

Sebagai orang manusia cerdas, seketika itu juga ia mengerti bahwa racun yang mengeram

ditubuh Hoa In-liong benar-benar sudah terlalu dalam. Jika ia harus bertempur dengan

memaksakan dirinya, maka keselamatan jiwanya akan terancam bahaya maut.

Rupanya rasa simpatiknya terhadap Hoa In-liong sudah menjurus pada suatu perasaan simpatik

yang khusus. Begitu kuatirnya ia atas keselamatan Hoa In-liong jelas tercermin di wajahnya.

“Tidak! Tidak boleh!” Demikianlah ia berteriak dengan suara yang amat gelisah, “Jiko, engkau

saja yang melindungi aku dari sisi gelanggang. Biar aku saja yang hajar bandot tua yang tak tahu

diri itu”

Hu-yan Kiong yang selama ini hanya membungkam, tiba-tiba tertawa dingin dengan nada yang

sinis. “Hee…. hee…. he…. Sauya, menurut pendapatku, lebih baik engkau jangan mencampuri

urusan yang bukan merupakan urusan pribadimu.”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

396

Cwan Wi bukannya mundur sebaliknya malah maju ke muka dan menghadang dihadapan Hoa

In-liong, dengan mata melotot besar teriaknya lantang, “Kau berani bertempur melawan aku?

Hmm….! Jika tidak berani, cepat tinggalkan obat penawar racun, tarik kembali semua makhluk

makhluk jelekmu yang beracun dan enyah dari sini, menggelinding pulang ke Seng-sut-hay”

“Haa…. haa…. haa…. Bocah muda, rupanya sebelum dikasi pelajaran yang setimpal, kau

pandainya cuma ngebacot melulu dengan kata-kata yang tak sedap di dengar. Hmm…. Tahukah

engkau apa maksud kedatanganku kemari? Apa yang kau andalkan sehingga begitu berani

mengusir….”

“Tutup bacot anjingmu!” Tukas Cwan Wi dengan wajah membenci, “Ayoh cepat turun tangan!

Bukankah engkau hendak menangkap kami semua? Kenapa tidak juga turun tangan?”

“Kenapa lohu musti bertempur melawan dirimu?” Hu-yan Kiong balik bertanya dengan dahi

berkerut.

“Kurang ajar! Orang ini betul betul membingungkan” Teriak Cwan Wi makin marah, “Bukankah

barusan kau telah bersiap sedia untuk turun tangan….?”

Dengan wajah serius Hu-yan Kiong manggut-manggut. “Yaa, betul! Barusan aku memang ada

maksud untuk sekalian membekuk dirimu, sebab waktu itu aku menyangka bahwa engkau juga

berasal dari keluarga Hoa. Tapi sekarang, setelah kuketahui bahwa kau sibocah cilik bukan

keturunan dari keluarga Hoa, maka niatku yang pertama tadi terpaksa kubatalkan. Lohu tidak

ingin menanam bibit permusuhan lagi dengan pihak lain. Oleh sebab itulah kuanjurkan kepadamu

agar jangan mencampuri urusan yang bukan menjadi urusanmu”.

Tanpa berpikir panjang Cwan Wi langsung berteriak, “Siapa bilang kalau aku bukan….”

Tiba-tiba perkataannya berhenti sampai ditengah jalan, paras mukapun tanpa sadar berubah jadi

semu merah.

Terdengar Hu-yan Kiong tertawa terbahak-bahak. “Haa…. haa…. haaa…. Engkau tak usah

berdebat lagi. Keturunan dari Hoa Thian-hong sudah dikenal oleh setiap umat persilatan di dunia

ini. Padahal engkau sebut istri Hoa Thian-hong sebagai bibi, ini sudah jelas membuktikan kalau

engkau bukan anaknya. Ketahuilah wahai anak muda, kedatangan lohu kali ini kedaratan

Tionggoan adalah untuk menjumpai keluarga Hoa. Urusan ini tak ada sangkut pautnya dengan

dirimu. Sekalipun selama pembicaraan tadi kau kurang senonoh kepadaku, tapi aku tak ingin

mencari urusan dengan dirimu. Karenanya lebih baik kau tak usah mencampuri urusan kami lagi,

mengerti….?”

Orang ini betul-betul seorang manusia yang licik sekali, sudah jelas ia takut terhadap kelihayan

Cwan Wi. Sudah jelas dia ingin mencari keuntungan dari keadaan Hoa In-liong yang lemah.

Karena ia tidak berharap Cwan Wi ikut serta dalam pertarungan itu, maka dengan kelihayannya

bersilat lidah, ia beralih seakan-akan sedang melaksanakan perintah atasan saja dan sikapnya tak

berani membantah perintah atasan, maksudnya agar musuh yang disegani itu tidak turut campur

dalam pertikaian mereka.

Bagaimanapun juga, Cwan Wi masih terlampau muda untuk dibandingkan dengan Hu-yan Kiong

yang tua bangkotan, tentu saja ia tak sampai menduga akan kelicikan orang. Untuk sesaat ia jadi

gelagapan dan tak mampu menanggapi ucapan lawan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

397

Ho In-liong merupakan seorang pemuda yang keras kepala, meski dia adalah seorang Kuncu,

seorang laki-laki sejati. Sejak pertama kali tadi ia memang sudah berencana untuk mengadakan

duel satu lawan satu dengan Hu-yan Kiong untuk menguji kepandaian masing-masing.

Karena itu, setelah dilihatnya Cwan Wi terpojok oleh kata-kata lawan sehingga tak mampu

menjawab, cepat ia menarik tangannya sambil berkata lembut, “Adik Wi, beristirahatlah dulu

disitu! Jika akhirnya aku tak sanggup menandingi kelihayan musuh, kau boleh turun tangan

menggantikan kedudukanku. Waktu itu baik engkau berdalih ingin menolong aku atau ingin

balaskan dendam bagiku, dengan sangat mudahnya semua itu bisa kau pakai sebagai alasan.

lagipula, bagaimanapun juga nama baik ayahku tak dapat hancur ditanganku. Mengertikah

engkau dengan kata-kataku ini?”.

Setelah menyinggung tentang nama baik Hoa Thian-hong, Cwan Wi benar-benar tak berani

mencegah lagi.

Dengan perasaan berat hati ia menengadah dan mengawasi wajah pemuda itu lekat-lekat,

kemudian mengangguk lirih. “Aku mengerti” sahutnya, “Jiko, kau harus hati-hati lho!”

Tersenyum Hoa In-liong melihat kekuatiran orang, ditepuknya bahu anak muda itu pelan

kemudian menengadah kedepan memandang Hu-yan Kiong seraya berkata, “Aku orang she-Hoa

tidak biasa berbuat pura-pura. Terus terang kuakui bahwa hingga sekarang Sin-hui atau racun

ular kecil yang mengeram ditubuhku belum punah, tentu saja tenaga dalamku setingkat lebih

rendah dari biasanya. Tapi jika engkau ingin mencari kemenangan dengan memanfaatkan

keadaanku ini, maka perhitunganmu itu meleset sama sekali. Tidak segampang itu kau akan

peroleh kemenanganmu. Malah kuanjurkan kepadamu, lebih baik bertindaklah lebih berhati hati

agar nyawamu tidak ikut kabur”

“Huuuh! Lagakmu soknya bukan kepalang” ejek Hu-yan Kiong dengan sombongnya, “Jangan

nasehati aku untuk berhati hati, karena engkau sendirilah yang harus berhati hati menghadapi

diriku. Tapi Hee…. hee…. hee…. Engkaupun tak perlu kuatir, sebab aku pasti akan mengampuni

jiwamu”

“Kau tak usah mengampuni jiwaku. Aku hanya berharap bila engkau menderita kekalahan nanti,

simpanlah kembali semua makhluk jelekmu itu dari tubuh sang dara dan lepaskan Wan Honggiok

dari tahananmu!”

Hu yan Kiong segera mencibirkan bibirnya dan tertawa licik dengan sinisnya. “Memangnya kau

sendiri tidak menginginkan obat penawar untuk racun yang mengeram dalam tubuhmu?”

“Aku orang she Hoa yakin masih sanggup untuk melebur sari racun yang bersarang ditubuhku

hingga lenyap sama sekali. Kau tak usah menguatirkan keselamatan jiwaku”

Sembari berkata, dia masukkan kembali pedang antiknya kedalam sarungnya….

“Eeeeh. Kenapa kau? Kenapa tidak menggunakan pedang?” tegur Hu-yan Kiong dengan dahi

berkerut.

“Aku rasa ilmu pedang dari aku orang she Hoa tentunya sudah kau saksikan bukan? Padahal

diantara kita tidak terikat dendam sakit hati atau permusuhan apapun jua. Aku tidak punya

rencana untuk membinasakan dirimu!”

“Waaah….Tidak boleh begitu! Tidak boleh begitu!” Tiba-tiba Leng-ji berteriak lengking, “Orang

itu mempunyai ilmu silat istimewa, tenaga pukulan tak sanggup melukai dirinya….”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

398

Kalau Leng-ji cemas, maka Cwan Wi lebih-lebih gelisah lagi, dia ikut berteriak, “Jiko, bila engkau

tak mau menggunakan pedang, biarlah aku saja yang maju menggantikan dirimu”

Sambil berteriak ia maju ke depan dan siap menerjang diri Hu-yan Kiong yang berada

dihadapannya.

Dengan cepat Hoa In-liong menggerakkan lengan kirinya untuk menarik lengan pemuda itu,

katanya sambil tersenyum, “Adik Wi, dengarkan dulu perkataanku. Pedang itu tajam dan tidak

bermata. Setiap kali digunakan tentu akan mengakibatkan bercucurannya darah kental. Padahal

tujuan kita kali ini adalah untuk menolong orang, kita harus belajar berbuat kebajikan. Selain

daripada itu, akupun telah menggunakan pedang untuk membunuh salah seorang diantara

mereka, maka aku pikir semestinya merekapun harus diberi kesempatan untuk merasakan pula

kelihayanku dalam bidang ilmu lainnya”

“Aaah….Kamu ini sok pintar, sok berlagak bijaksana. Kalau kau tidak bunuh bandot tua itu, dialah

yang akan membinasakan dirimu”, teriak Leng-ji dengan cemas.

“Tidak mungkin!” ujar Hoa In-liong sambil menggelengkan kepalanya berulang kali, “Tujuannya

adalah menangkap aku hidup hidup, agar dia bisa membawa aku pulang ke Seng-sut-hay dan

ditukar dengan pahala besar baginya”

Hu-yan Kiong terbahak-bahak dengan kerasnya. “Haa…. haa…. haa…. Bagus sekali! Anggaplah

engkau memang cerdik dan pandai menebak jalan pikiran orang. Nah, untuk kecerdasanmu itu,

akupun akan memberi keringanan-keringanan untukmu pribadi. Mari kita beri batas pertarungan

sampai seratus gebrakan belaka. Jikalau dalam seratus gebrakan engkau dapat mempertahankan

diri tidak kalah juga tidak menang, maka anggap saja aku yang kalah dan segala sesuatunya

terserah pada keputusanmu”

Orang ini menyangka bahwa ilmu silat yang di milikinya sudah mencapai puncak kesempurnaan.

Apalagi tenaga pukulan macam ilmu telapak tangan maupun ilmu jari sama sekali tidak berguna

terhadapnya. Ditambah pula Hoa In-liong sudah terkena racun jahat dari ular kecil, sudah pasti

tenaga dalamnya akan mengalami penurunan secara drastis, delapan puluh persen kemenangan

berada dipihaknya.

Oleh karena ia yakin kalau kemenangan pasti berada dipihaknya, maka sambil berbicara sabuk

naga peraknya diikatkan kembali diatas pinggangnya.

Sesudah pihak musuhpun mengikat kembali senjata ikat pinggangnya, Cwan Wi agak sedikit

berlega hati, namun ia toh berkata kembali memperingatkan iblis tua itu, “Kuperingatkan

kepadamu, jangan bertempur dengan gunakan akal busuk. Sebab jika kau pakai siasat licik,

maka akupun tak akan memperdulikan apakah kalian bertarung dengan janji atau tidak, aku bisa

main kerubut untuk membinasakan dirimu!”

Hu-yan Kiong tertawa sombong, dia segera menjura. “Hoa loji, sekarang engkau boleh

melancarkan serangan terlebih dahulu.!”

“Hati-hatilah!” kata Hoa In-liong,

Dia maju kedepan dan sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan kedepan.

Dalam serangan tersebut terseliplah inti sari dari suatu kepandaian yang luar biasa. Tenaga

serangan tidak terpancar keluar sekaligus, sedang arah serangan meliputi batok kepala, wajah

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

399

serta dada Hu-yan Kiong. Itu berarti serangan tersebut bisa berupa serangan sungguhan, bisa

pula berupa serangan tipuan.

Dalam keadaan demikian, bilamana Hu-yan Kiong tidak dapat menghadapi secara tetap, dia

terluka parah seketika itu juga.

Menyaksikan gerak serangan musuhnya, dimana-dimana Hu-yan Kiong merasa terperanjat, cepat

pikirnya, “Huuuh….! Tak kunyana kalau bocah keparat ini memiliki ilmu silat yang benar-benar

luar biasa lihainya. Aku tak boleh menghadapinya secara gegabah”

Ia tidak berani berayal lagi, kepalannya segera dirangkap menjadi satu sambil berebut maju ke

depan. Dengan sistim pertarungan keras lawan keras dia sambut datangnya ancaman tersebut.

“Bagus….!” bentak Hoa In-liong keras-keras.

Lengan kirinya lantas diangkat mengimbangi gerakan tubuhnya yang berputar kencang. Dengan

jurus oh-hau-po-yo (hariman lapar menerkam kambing) suatu gerakan membacok yang tajam

dia babat bahu dan punggung lawan….

Sebelum mendapat tugas untuk berkunjung ke daratan Tionggoan, Hu-yan Kiong telah diberi

kesempatan oleh Tang-kwik Siu, itu cikal bakal Mo-kauw untuk menyelidiki pelbagai kepandaian

silat yang diandalkan Hoa Thian-hong tempo dulu.

Maka begitu melihat datangnya serangan tersebut, ia lantas mengerti bahwa serangan ini

diciptakan berdasarkan gerak jurus “Kun siu ci tau” (perlawanan binatang yang terkurung) yang

amat tersohor itu, maka dia mengambil keputusan untuk tidak melayaninya secara keras lawan

keras.

Pengalamannya menghadapi serangan musuh sudah amat matang dan pengalamannya cukup

kawakan. Setelah ia dapat menebak aliran gerak jurus yang dipergunakan musuhnya, tentu saja

ia telah mempersiapkan pula jurus pemecahannya.

Tampak sepasang kakinya menjejak permukaan tanah, kemudian badannya menjauhkan diri ke

sisi kiri. Berbareng dengan gerakan itu tiba-tiba terdengar suara jari-jari tangan serta persendian

tulang yang bergemerutukan nyaring.

Hoa In-liong tertegun. Cepat iblis tua melompat ke udara, telapak tangan kanannya direntangkan

seperti cakar kuku garuda. Diiringi bentakan nyaring yang menggelegar dia hantam dada Hoa-In

liong.

Itulah ilmu pukulan Siu-gong-kun, sebuah ilmu pukulan udara kosong yang maha dahsyat.

Siu-gong-kun atau ilmu pukulan udara kosong merupakan sejenis ilmu silat yang jarang dijumpai

dalam dunia persilatan. Tapi dalam kitab pusaka Thian-hua Cha-ki, hal tersebut tercatat dengan

jelasnya.

Sebagaimana diketahui, kitab catatan Thian-hua cha-ki yang sangat luar biasa itu dulu

diserahkan kepada Tiangsunpoh untuk disimpan secara baik-baik. Sedang Tiangsunpoh

mempunyai hubungan persahabatan yang begitu akrab dengan Pek Siau-thian. Oleh sebab itu

dia seringkali berkunjung ke perkampungan Liok soat-san-ceng.

Hoa In-liong amat disayang oleh gwa-konya, diapun disayang oleh Tiangsunpoh. Karena itu anak

muda tersebut pernah juga menyaksikan kitab pusaka Thian-hua Cha-ki.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

400

Tidaklah aneh kalau dia segera mengenali ilmu pukulan yang dipergunakan Hu-yan Kiong

sekarang adalah ilmu pukulan udara kosong. Bayangkan sendiri, mungkinkah Hu-yan Kiong dapat

melukai pemuda tersebut dengan gampang setelah lawannya juga memahami gerak pukulan

yang dia pergunakan?

Sekalipun demikian, Hoa In-liong hanya tahu bahwa ilmu tersebut adalah ilmu gerakan Siu-gongkun.

Soal dimanakah letak inti kekuatan dan inti kelihayan dari ilmu pukulan tersebut, ia kurang

begitu tahu.

Untuk menghadapi ancaman semacam itu, jari tangannya segera ditegangkan sekeras tembak,

kemudian disodok keatas udara dimana telapak tangan musuh sedang mengancam tiba.

Hu-yan Kiong tertawa terbahak-bahak. Dari pukulan kepalan ia cepat merubah serangannya

menjadi pukulan telapak tangan. Begitu desingan angin serangan musuh terhindar, ia balas

menyodok pusar dari Hoa In-liong.

Hoa In-liong sendiripun diam-diam merasa terkejut, kecepatan musuhnya dalam berganti jurus,

pikirnya, “Tampaknya orang ini hapal sekali dengan gerakan jurus serangan dari keluarga Hoa.

Bukan saja ia dapat menghindari setiap serangan tipuan dengan serangan tipuan. Melepaskan

serangan balasan tepat pada waktunya. Bahkan kecepatan gerak serangannya melebihi

sambaran petir, ini berarti mereka memang sudah memikirkan gerakan pemecahan terhadap

ilmu silat kami. Aku tak boleh menggunakan aturan pada umumnya untuk melayani dia, apalagi

hanya menyerang dengan jurus-jurus serangan dari ilmu Ci-yu-jit-ciat serta Hu-in-ciang-hoat”

Rupanya serangan totokon jari tangan yang dipergunakan barusan tak lain adalah perubahan

dari lmu sakti Ci-yu-jit-ciat.

Untuk melancarkan serangan dengan ilmu Ci-yu-jit-ciat tersebut, orang bisa menyerang baik

dengan ilmu telapak tangan maupun dengan ilmu totokan jari. Yang sama adalah semua

serangan tertuju untuk mendobrak pertahanan lawan. Sulit bagi orang yang tidak mengetahui

gerak pukulan tersebut untuk memecahkannya.

Oleh sebab itu, dikala Hoa In-liong saksikan pukulan musuh tiba-tiba dirubah menjadi ilmu

telapak tangan dan pusarnya yang terancam oleh serangan tersebut, tahulah dia bahwa Hu-yan

Kiong telah berhasil menyelidiki inti kekuatan dari kepandaiannya dan telah mempersiapkan pula

ilmu pemecahannya.

Tak sempat ia berpikir terlampaulama dalam keadaan seperti ini, sebuah tendangan kilat segera

dilancarkan kedepan. Menyusul kemudian telapak tangannya dibalik segera membabat keluar,

menyapu jalan darah Oh-keng-hiat disisi telinga Hu-yan Kiong.

Baik pukulan telapak tangan maupun tendangan kilat tersebut, semuanya dilancarkan dikala ia

memutar badannya sambil menghindari serangan musuh. Sekalipun demikian, tenaga

serangannya sangat kuat sehingga menimbulkan desingan angin tajam yang memekakkan

telinga.

Hu-yan Kiong tidak menyangka sampai kesitu. Setelah serangan tajam musuhnya tiba didepan

mata, ia baru terperanjat. Cepat tubuhnya melambung ke udara sambil mundur tiga langkah ke

belakang.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

401

Bagaimanapun juga Hu-yan Kiong bukan termasuk manusia sembarangan, jelek-jelek dia juga

merupakan seorang jago kawanan yang berpengalaman luas. Begitu mundur ia segera mendesak

maju lagi ke depan.

Tiba-tiba ia membentak keras, lengan kanannya berbunyi gemerutukan nyaring. Rupanya ia telah

mengeluarkan ilmu pukulan Lei sim toh sin siang (pukulan pemisah hati pem betot sukma) yang

paling diandalkan perkumpulan Mo-kauw.

Sungguh dahsyat dan cepat ancaman tersebut. Dalam waktu singkat tahu-tahu kepalan musuh

sudah muncul didepan anak muda itu.

Padahal pada waktu Hoa In-liong sedang mempersiapkan sebuah serangan kilat untuk meneter

lawannya. Ketika bayangan telapak tangan tiba-tiba muncul di depan mata dan langsung

mengancam kepalanya, tidak ragu-ragu lagi lengan kirinya di kebutkan ke muka. Sekali lagi dia

gunakan ilmu pukulan Hu in ciang hoat untuk menyongsong datangnya ancaman tersebut….

“Ploook!”

Suatu benturan nyaring segera terjadi dengan dahsyatnya ketika sepasang telapak tangan saling

beradu. Kedua belah pihak sama-sama bergetar keras oleh tenaga pantulan yang dihasilkan dari

benturan itu.

Secepat kilat mereka memutar badannya untuk membuang sisa tenaga yang masih mendesak

tubuh mereka, kemudian secepat kilat mereka saling menyodok saling menyerang lagi dengan

serunya.

Baik Hoa ln-liong maupun Hu-yan Kiong sama-sama merupakan jago silat kelas satu dalam dunia

persilatan. Dalam benturan yang barusan terjadi, mereka lantas tahu bahwa kekuatan yang

dimiliki lawannya seimbang dengan kekuatan yang mereka miliki. Merekapun paham, tak

mungkin mereka bisa cari kemenangan dengan mengandalkan tenaga dalam yang sempurna,

sebab siapapun tak bisa mengalahkan lawannya.

Ini berarti menang kalahnya pertarungan harus dicari dengan mengandalkan sempurnanya jurus

serangan serta luasnya pengalaman mereka dalam menghadapi pertempuran.

Dalam waktu singkat, kedua orang itu sudah saling menyerang, saling menerjang dengan

serunya. Dibalik serangan gencar terselip suatu pertahanan yang tangguh, sebentar saja tiga

buah gebrakan sudah lewat tanpa terasa.

Serangkaian pertarungan sengit itu ibaratnya hembusan angin puyuh dan hujan badai, begitu

gencar. Begitu ganasnya membuat para penonton yang mengikuti jalannya pertarungan dari tepi

gelanggang harus menahan nafas dan menekan rasa tegangnya.

Ilmu silat yang dipelajari Hoa In-liong sebetulnya sangat luas dan terdiri dari inti-inti kepandaian

yang tak terkirakan dahsyatnya. Setiap pukulan, setiap totokan yang dia lancarkan semuanya

tertuju pada bagian-bagian mematikan di tubuh musuhnya.

Sayang racun Sin-hui (ular kecil sakti) yang mengeram dalam tubuhnya belum punah. Kehadiran

racun itu otomatis mempengaruhi juga daya konsentrasinya. Setiap kali dia kuatir kalau racun

dalam tubuhnya tiba-tiba kambuh dan mempengaruhi badannya. Sebab itu sepanjang

pertarungan berlangsung, ia tak berani menggunakan tenaga terlampau besar.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

402

Dia selalu kuatir, jika seandainya serangan yang dilancarkan dengan sepenuh tenaga tidak

mencapai pada sasarannya, kesempatan tersebut segera akan dimanfaatkan lawan untuk balas

mendesaknya. Karena itu setiap kali ada kesempatan baik untuk merebut kemenangan,

kesempatan itu selalu dibuang dengan begitu saja. Tentu saja kejadian ini membuat Cwan Wi

yang mengikuti jalannya pertarungan dari tepi gelanggang jadi cemas bercampur gegetun.

Tak bisa dibantah lagi kalau Hu-yan Kiong adalah seorang tokoh sakti perkumpulan Mo-kauw

yang sangat diandalkan perkumpulannya. Ilmu silat yang dia pelajari terdiri dari aneka ragam

yang tak terhitung jumlahnya, bahkan boleh dibilang kepandaiannya tidak berada dibawah

kepandaian Tang-kwik Siau dimasa jayanya.

Tetapi, lantaran Hoa In-liong selalu bersikap waspada dan hati-hati. Selalu melayani musuhnya

dengan jurus serangan yang tangguh dan serangan yang dipakaipun memiliki perubahan yang

tak terduga, maka dia jadi ragu-ragu untuk melepaskan serangan yang mematikan. Dia kuatir

masuk perangkap dan terjebak oleh akal licik lawannya.

Demikianlah, sekejap mata kemudian lima enam puluh tujuh jurus kembali sudah lewat.

Tampaknya walaupun batas seratus jurus sudah dilampaui menang kalah belum tentu dapat

ditetapkan dengan pasti.

Sementara itu Leng-ji sudah beranjak dan duduk disamping Cwan Wi. Ketika dilihatnya

pertarungan berlangsung makin lama serrakin hebat, akhirnya ia jadi habis sabarnya, diam-dian

bisiknya dengan suara yang lirih, “Siau….Sauya, sudah kau hitung jumlah jurusnya?”

“Ssst….! Jangan berisik” omel Cwan Wi dengan suara kesal.

“Tidak bisa….! Tidak bisa begitu….” teriak Leng-ji lagi dengan cemas. “Sekarang sudah mencapai

sembilan puluh tiga jurus. Jika Ji kongcu tidak melancarkan lagi serangan serangan yang

mematikan bagaimana mungkin pertarungan ini bisa diakhiri secara menguntungkan….?”

Waktu itu seluruh perhatian dan konsentrasi Cwan Wi tertuju pada jalannya pertarungan.

Mendengar pertanyaan itu dengan rada mendongkol ia lantas berseru, “Lalu bagaimana caranya,

untuk mengakhiri pertarungan secara menguntungkan?”

“Makhluk sialan itu tidak mempan dibabat atau ditotok. Bila Ji kongcu tidak menggunakan

pedang, itu berarti pertarungan yang lebih lamapun hanya suatu pertarungan yang

menghamburkan tenaga dengan percuma. Aku lihat lebih baik engkau turun tangan sendiri saja!”

Tampaknya Cwan-Wi jengkel sekali dengan kecerewetan kacungnya, sambil berpaling dengan

muka marah, ia berseru, “Kamu ini cerewetnya bukan main. Hati-hati kamu kalau sampai

ocehanmu membuyarkan konsentrasi dari Ji kongcu. Lihat saja nanti, akan kuhajar mulutmu atau

tidak”

Kontan Leng-ji mencibirkan bibirnya. “Hemmmm…. Memangnya Leng-ji cuma asal ngomong?

Semua perkataanku kan kata-kata yang sejujurnya!”

Selama pembicaraan itu berlangsung, setiap patah kata mereka diutarakan dengan suara yang

nyaring. Tentu saja Hoa In-liong serta Hu-yan Kiong yang berada ditengah gelanggang dapat

mendengar semua pembicaraan tersebut dengan amat jelas.

Diam-diam Hoa In-liong mulai menyesal, dia berpikir, “Yaa…. kalau begitu memang akulah yang

salah perhitungan. Jika sejak pertama kali tadi kugunakan pedang, tak nanti pertarungan ini

kulangsungkan dengan begitu ngotot dan bersusah payah”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

403

Lain halnya Hu-yan Kiong, dia jadi sangat gembira sesudah mendengar perkataan itu, gerutunya

di hati, “Aku memang betul-betul tolol! Yaa, betul juga perkataan kacung sialan itu. Apa yang

musti ku kuatirkan? Baik tenaga pukulan maupun tenaga totokan kan sama sekali tidak mempan

terhadap diriku. Kenapa tidak kugunakan kelebihanku ini untuk memusatkan semua perhatian

dan kekuatanku untuk melancarkan serangan? Haa…. haa…. haa…. untunglah kedua orang

bocah cilik itu memperingatkan diriku. Kalau tidak, mungkin dalam seratus gebrakan

mendatangpun pertarungan ini tak bisa dimenangkan olehku. Kalau sampai demikian adanya,

akan ditaruh dimanakah wajahku ini?”

Berpikir sampai disitu, seketika itu juga semangat tempurnya berkobar kembali. Dia segera

membuka serangannya dengan serangkaian pukulan bertubi-tubi yang amat tangguh.

Dalam waktu singkat, permainan serangannya juga ikut berubah. Dari ilmu pukulan Thian-mociang,

Hu-kut-sin-kun sampai Tay-jiu-eng dari kalangan Buddha, Sian ki-ci-lek, Tong-pit-mo-ciang

dan Ngo kui-im-hong-jiau semuanya dikeluarkan secara berantai.

Bayangkan saja bagaimana dahsyatnya serangan maut yang rata-rata menggunakan jurus aneh

yang belum pernah dijumpai dikolong langit ini? Dalam waktu singkat dari atas kepala sampai

lambung, dada dan kaki Hoa In-liong berada dibawah kurungan angin pukulannya.

Dengan adanya perubahan tersebut, keadaan Hoa In-liong lah yang semakin parah, ia terdesak

hebat.

Sejak mendengar seruan dari Leng-ji yang membuat hatinya menyesal, konsentrasinya sudah tak

dapat pulih kembali seperti sedia kala. Apalagi setelah diserang secara gencar oleh Hu-yan Kiong,

seketika itu juga dia kehilangan posisinya yang menguntungkan. Selangkah demi selangkah ia

mundur terus kebelakang. Dalam keadaan begini ia sudah tidak memiliki kemampuan lagi untuk

melancarkan serangan balasan.

Dalam waktu singkat, sekujur badan Hoa In-liong mandi keringat. Nafasnya yang tersengkalsengkal

secara lapat-lapat dapat kedengaran jelas. Dia masih memiliki ilmu meringankan tubuh

yang bisa diandalkan sehingga setiap saat dia bisa berkelebat kekiri atau berkelit ke kanan.

Setiap terancam bahaya, ancaman itu dapat dipunahkan dengan begitu saja.

Kini serangan lawan sudah mencapai jurusan yang ke sembilan puluh sembilan. Satu jurus lagi

berarti batas seratus jurus sudah akan terpenuhi, asal Hoa In-liong dapat mempertahankan diri

terhadap serangan musuhnya yang terakhir ini, maka berarti pula kemenangan berada

dipihaknya.

Serta merta suasana berubah jadi amat tegang. Setiap orang yang berada ditepi gelanggang

melototkan sepasang matanya bulat-bulat, terutama sekali siau Leng-ji.

Kacung buku ini tak kuasa mengendalikan emosinya. Tanpa sadar ia bersorak gembira, “Tinuggal

satu jurus! Tinggal satu jurus! Ji kongcu, kau musti lebih berhati-hati lagi!”

Tiba-tiba Hoa In-liong berpekik nyaring. Tubuhnya secepat kilat melambung ke udara, menyusul

kemudian ia berjumpalitan beberapa kali diangkasa. Setelah itu dengan kaki di atas, kepala

dibawah dia membuat gerakan setengah busur dengan jurus Ciong-eng-tian-ci (burung elang

membentangkan sayap), langsung dengan membawa desingan angin tajam menyambar batok

kepala Hu-yan Kiong.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

404

Kiranya sejak kehilangan posisi yang menguntungkan, keadaan Hoa In-liong sudah keteter hebat

sehingga terdesak dibawah angin. Menghadapi ancaman yang datangnya bertubi-tubi itu, saking

lelahnya dia sudah mandi keringat.

Betapa murung dan kesalnya anak muda itu menghadapi keadaan yang sangat tidak

menguntungkan tersebut, sementara tekanan musuh dirasakan makin lama semakin kuat. Tibatiba

ia mendengar teriakan gembira dari Leng-ji yang mengatakan tinggal satu jurus lagi. Rasa

gelisah yang kemudian muncul seakan-akan merubah kekuatan dalam tubuhnya menjadi satu

kali lipat lebih dahsyat dari keadaan semula.

Harus diterangkan disini, ketika itu Hoa In-liong sedang mencapai pada usia yaug muda dan

kuat-kuatnya tenaga manusia. Ditambah lagi wataknya yang tinggi hati dan tak sudi menyerah

pada kekuatan lawan. Dalam keadaan semacam ini ia tak sudi mencari kemenangan dengan

membonceng kesempatan baik yang tersedia baginya. Namun diapun tak ingin dikalahkan

lawannya sehingga mempengaruhi nama baik keluarga Hoa, di samping ambisinya untuk

menegakkan nama besar untuk dirinya sendiri.

Karena itu begitu mendengar suara teriakan dari Leng-ji, seketika itu juga sifat angkuh dan tinggi

hatinya terangsang kembali. Ia tidak memperdulikan lagi apakah racun Sin-hui yang bersarang

dalam tubuhnya telah kambuh atau tidak, segenap tenaga murni yang dimilikinya langsung

dikerahkan keluar. Setelah melambung ke udara dan terlepas dari lingkaran pengaruh angin

serangan Hu-yan Kiong, dia melayang kesamping untuk melepaskan diri dari cengkeraman

lawan.

Begitulah, setelah dia berhasil melayang di udara, tubuhnya segera berjumpalitan beberapa kali

dan menerjang kembali ke bawah. Lengan kirinya langsung diayun kedepan melepaskan

segulung angin pukulan yang sangat kuat. Sementara jari tengah tangan kanannya dengan jurus

“menyerang sampai mati” menyodok jalan darah Hoa kay hiat di tubuh Hu-yan Kiong.

Perubahan yang terjadi secara tiba-tiba ini berlangsung dalam sekejap mata.

Dalam pada itu, Hu-yan-Kiong baru saja menyerang jalan darah Cian-keng-hiat dibahu Hoa Inliong

dengan jurus Sin liong tam jiau (naga sakti unjukkan cakar).

Ketika itu jalan pemikirannya amat sederdana. Dianggapnya meskipun Hoa In-liong berhasil

menghindarkan diri dari serangannya, tapi dalam mundurnya yang dilakukan secara gugup. Asal

dia mengejar lagi dengan gerakan jurus yang tak berubah, pastilah pihak musuh akan dibuat

kelabakan setengah mati.

Asal musuh telah dibikin kelabakan, maka dia tak akan memperdulikan apakah serangannya

sudah melewati jurus yang keseratus atau tidak. Dengan suatu ancaman maut akan disusulnya

pemuda itu dan bila perlu menghajarnya lebih dulu sampai terluka parah.

Siapa tahu apa yang kemudian terjadi sama sekali berada diluar dugaannya. Menanti ia temukan

bahwa bayangan tubuh dari Hoa In-liong secara tiba-tiba sudah lenyap tak berbekas. Angin

pukulan yang maha dahsyat serta totokan jari tangan yang tajam tiba-tiba sudah menyelinap di

atas badannya.

Kejadian ini sangat mengejutkan dari Hu-yan Kiong, juga mengejutkan diri Cwan Wi.

Rupanya Cwan Wi kuatir Hu-yan Kiong betul-betul kebal terhadap serangan pukulan dan

serangan jari lawan yang mengakibatkan Hoa In-liong mengalami nasib seperti apa yang dialami

Leng-ji yakni terhantam balik oleh tenaga sin-kang pelindung tubuhnya, maka ditengah jeritan

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

405

kagetnya cepat ia memburu kedalam gelanggang untuk menghadapi segala kemungkinan yang

tak diinginkan.

Padahal Hu-yan Kiong sendiripun dibuat gugup dan kelabakan setengah mati oleh datangnya

ancaman yang muncul secara diluar dugaan. Dalam keadaan begini, dia kehilangan daya

kemampuannya untuk menguasai diri, sehingga jeritan kagetnya hampir berkumandang

bersamaan waktunya dengan jeritan Cwan Wi.

Disaat Cwan Wi melayang keudara dan menerjang masuk kedalam gelanggang, serangan

dahsyat dari Hoa In-liong sudah bersarang telak diatas bahu Hu-yan Kiong, sedang totokan jari

tangan kanannya menyodok telak dada iblis tua itu.

Hu-yan Kiong segera mendengus tertahan. Sepasang tangannya memegang dada dengan muka

berkerut keras. Dengan sempoyongan dia mundur ke belakang sambil menahan rasa sakit.

“Kau…. Kau….” teriaknya dengan suara terperanjat.

Akhir dari pertarungan ini betul-betul berada diluar dugaan siapapun jua, sampai Cwan Wi

sendiripun kebingungang tak berketentuan. Untuk sesaat dia cuma berdiri melongo-longo.

Pucat pias paras muka Hoi In-liong, tapi ia berdiri tegak bagaikan malaikat, dengan suara yang

amat serius katanya, “Aku telah menangkan pertarungan ini, sekarang engkaupun harus

mewujudkan janjimu. Setelah melepaskan nona Wan, harap segera angkat kaki dari sini!”

Hu-yan Kiong muntah-muntah darah segar. Bibirnya bergetar seperti ingin mengucapkan

sesuatu, tapi setelah merenung sejenak maksud itu dibatalkan.

Ia memutar badannya menghadap anak buah Ia irinya ditepi gelanggang, dan ujarnya, “Tarik

kembali semua alat persembahan, tinggalkan korban disitu dan kita segera pergi dari sini”

Kemudian sambil menghadap kembali kearah Hoa In-liong, ia berkata lebih jauh, “Hoa loji, aku

lihat engkau adalah seorang enghiong yang gagah perkasa. Aku tak tega membiarkan engkau

mati tersiksa. Maka secara terus terang kuakan beri tahu kepadamu racun sakti San-hui-si-sim

(ular sakti menggigit hati) dari perkumpulan kami tak dapat dipunahkan oleh siapapun jua. Maka

kuanjurkan kepadamu bila engkau mulai merasa tak tahan, cepat-cepatlah datang ke

perkumpulan kami untuk minta obat penawarnya!”

Hoa-In-liong tersenyum. “Mati hidup manusia ditentukan oleh Yang Kuasa. Lebih baik engkau tak

usah menguatirkan keselamatanku, Nah! Silahkan pergi dari tempat ini!”

Sementara itu, anak murid kau telah melaksanakan perintah pemimpinnya untuk menarik

kembali semua makhluk beracun yang berada diatas tubuh Wan Hong-giok.

Hu-yan Kiong segera tertawa dingin, diapun tidak banyak berbicara lagi. Dibawah bimbingan

seorang laki-laki berjubah kuning, mereka berlalu dari bukit Yan-san.

Angin gunung berhembus sepoi-sepoi, suasana diatas puncak Yan-san kembali diliputi

keheningan.

Suasana di sekitar bukit itu tidak menjadi cerah karena kepergian orang-orang dari Mo-kauw itu.

Wan Hong-giok masih berbaring diatas tandunya dengan badan setengah telanjang. Sementara

paras muka Hoa In-liong makin lama berubah semakin pucat kelabu, hampir-hampir tak tampak

warna merah darah.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

406

Cwan Wi dan Leng-ji juga masih berdiri tertegun ditempat semula. Tampaknya kedua orang itu

masih tidak percaya dengan kenyataan yang berlangsung didepan mata mereka.

Akhirnya…. Akhirnya Hoa In-liong berdiri dengan tubuh gemetar keras, tiba-tiba ia berteriak.

“Adik Wi….”

Mendengar panggilan itu Cwan Wi berpaling dengan hati terperanjat. Cepat-cepat dia memburu

maju ke depan, serunya dengan nada yang cemas bercampur kaget, “Jiko…. Jiko! Kau…. kenapa

kau?”

Gemetar yang mengguncangkan tubuh Hoa In-liong makin lama semakin keras. Nada suaranya

juga ikut berubah, ia hanya bisa berbicara dengan suara tersendat-sendat, “Aku…. Aku….

Meskipun menang sebenarnya akulah yang kalah….”

Sebelum kata-kata itu sempat diakhiri, sekujur badannya telah goncang semakin keras, akhirnya

ia tak kuasa menahan diri lagi….

Cepat Cwan Wi memburu maju ke depan dan memayang tubuhnya. “Keee…. kenapa kau?

Kenapa kau…. ? Jiko! Jiko…. Kenapa kau….?” Teriaknya dengan cemas. “Apakah kau terluka oleh

pukulan bandot tua itu?”

Hoa In-liong menggeleng. “Tidak, aku tidak dilukainya, hanya…. hanya…. Racun…. racun ular

sakti itu….”

“Apa….?” Jerit Cwan Wi dengan jantung yang berdebar keras, “Kau maksudkan racun ular sakti

itu mulai kambuh?”

Hoa In-liong menganguk. Dia seperti hendak mengucapkan sesuatu karena bibirnya bergerakgerak.

Namun anak muda itu sudah tidak bertenaga lagi untuk mengutarakan isi hatinya.

Waktu itu Hoa In-liong sedang merasakan suatu penderitaan yang luar biasa hebatnya. Keringat

sebesar kacang kedelai membasahi seluruh jidatnya. Sinar matanya yang jeli kini sudah pudar.

Gemetar yang mengguncangkan tubuhnya semakin bertambah keras. Keadaan semacam itu

mirip sekali dengan seseorang yang mendekati sekaratnya.

Cwan Wi menyadari gawatnya keadaan anak muda itu, tapi ia tak dapat berbuat apa-apa. Dia

seperti orang yang kebingungan, kehilangan akal sehat. Anak muda itu hanya bisa berdiri dengan

kelabakan bagaikan anak ayam kehilangan induknya.

Leng-ji yang berada disampingnya cepat berseru. “Siau sauya, cepat baringkan Ji kongcu ke

tanah! Jika Ji kongcu dibiarkan berdiri terus, kesehatannya pasti akan semakin terganggu. Coba

lihat! Racun ular jahat itu mulai kambuh. Pastilah hal ini terjadi karena ji-kongcu menggunakan

tenaga yang berlebihan sewaktu bertempur tadi”

Cepat cepat Cwan Wi membaringkan Hoa In-liong ke tanah. Ia membiarkan tubuh anak muda itu

bertindih diatas pahanya. Kemudian telapak tangan kanannya ditempelkan diatas pusar dan

hawa murnipun disalurkan masuk kedalam tubuhnya.

“Jiko!” Ia berkata dengan lembut, “Berbaring saja ditumpuan badanku. Biar kucoba untuk

menyalurkan hawa murni. Siapa tahu kalau hawa murniku itu berhasil mendesak keluar racun

ular jahat yang mengeram dalam tubuhmu”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

407

Lembut dan halus sekali ucapan tersebut, seakan-akan kata-katanya itu memang betul betul

muncul dari sanubarinya.

Setetes air mata terasa jatuh berlinang membasahi pipinya dan membasahi wajah Hoa In-liong.

Merasakan itu Hoa In-liong tertawa getir. “Aaaai…. Adik Wi, aku merasa amat cocok sekali

dengan dirimu. Aku pun merasa gembira sekali dapat berkumpul dengan dirimu. Sebagai seorang

pria kau jangan berhati lemah. Kau musti tabah dan berjiwa keras, jangan gampang

mengucurkan air mata. Lapi pala, andaikata aku sampai tertimpa sesuatu musibah, engkau juga

yang harus membalaskan dendam bagi diriku, kenapa….? kenapa….?”

Mendadak alis matanya berkerut, nafasnya juga ikut memburu, sehingga kata kata yang belum

selesai itu tak sempat dilanjutkan sampai habis….

Ketika Hoa In-liong mengatakan bahwa dia menyukai dirinya, serta merta paras muka Cwan Wi

berubah jadi semu merah.

Siapa tahu kata-kata itu tak berakhir, karena ia segera menyaksikan Hoa In-liong mengerutkan

dahinya dengan nafas memburu. Wajahnya kelihatan sekali betapa menderitanya dia.

Betapa terkejutnya Cwan Wi menyaksikan kejadian itu, dia segera berteriak keras, “Jiko….! Jiko!”

Dengan lemah Hoa In-liong mengulapkan tangannya. “Adik Wi, Aku…. Aku tak tahan lagi.

Tolong…. Tolong tariklah kembali tenagamu….”

Cwan Wi menurut, ia tarik kembali telapak tangan kanannya, kemudian dengan penuh rasa

kuatir tanyanya kembali, “Jiko, bagaimana rasanya badanmu sekarang?”

Dengan nafas tersengkal-seng Hoa In-liong menengadah. “Saat ini isi perutku terasa sakitnya

bukan kepalang. Tentulah apa yang dinamakan ular sakti menggigit hati sedang mewujudkan

kenyataannya!”

“Engkau terlalu keras kepala, tak mau mendengarkan perkataanku” omel Cwan Wi sambil

berkerut kening, “Coba kalau kau turuti perkataanku memaksa bandot tua itu menyerahkan obat

penawarnya, tentu kau tidak akan merasakan penderitaan seperti ini”

Ketika berbicara sampai disitu, matanya kembali jadi merah dan air matapun jatuh bercucuran.

Sekali lagi Hoa In-liong ulapkan tangannya. “Jangan menangis! Jangan menangis! Adik Wi, aku

tidak percaya kalau apa yang dikatakan sebagai siksaan “ular sakti menggigit hati” itu mampu

merenggut nyawaku. Aku hanya percaya bahwa yang lurus pasti dapat menangkan yang sesat.

Aku akan berusaha dengan segala kemampuan yang kumiliki untuk memusnahkan pergaruh

racun itu dari dalam tubuhku!”

“Jiko! Apakah tidak kau dengar perkataan dari tua bangka itu?” keluh Cwan-Wi dengan sedih.

“Dia bilang racun ular sakti menggigit hati tak dapat dipunahkan oleh siapapun. Racun itu adalah

racun ganas hasil ciptaannya. Jika ia sudah berkata demikian, sudah pasti ucapannya bukan

gertak sambal belaka!”

“Setiap benda yang berasal dari alam semesta, sadah pasti ada lawan tandingannya” kata Hoa

In-liong dengan suara hambar. “Terus terang kuberitahukan kepadamu, aku pernah mendapat

warisan ilmu sakti dari seorang tokoh silat. Ilmu semedi tersebut berbeda jauh dengan ilmu

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

408

semedi yang sering sekali kita lihat. Siapa tahu kalau kepandaian tersebut akan bermanfaat

sekali bagiku”.

Leng-ji memang belum mengenal arti kesal atau murung, tapi ia lebih gelisah dari siapapun jua.

Ketika mendengar perkataan itu, segera teriaknya dengan cepat, “Kalau memang begitu, ayoh

cepatlah dicoba….”

Dengan perasaan apa daya Hoa In-liong menggelengkan kepalanya. Pelan-pelan dia alihkan sinar

matanya keatas tubuh Wan Hong-giok yang setengah telanjang itu. “Adik Wi!” katanya lagi,

“Apakah nona Wan masih belum juga sadar dari pingsannya?”

Cwan Wi ikut berpaling kearah Wan Hong-giok, kemudian sambil berkerut kening omelnya,

“Kamu ini memang keterlaluan. Masa dalam keadaan seperti inipun engkau masih mempunyai

kegembiraan untuk mengurusi orang lain!”

Hoa In-liong tertawa getir. “Adik Wi” katanya kemudian, “Apakah engkau sudah lupa akan

maksud tujuanku datang kemari? Keadaan nona Wan sangat mengenaskan dan patut dikasihani,

lihatlah tubuhnya….”

Belum sampai pemuda itu menyelesaikan kata-katanya, Cwan Wi telah menyela dari samping,

“Yaa, aku tahu, dia mempunyai rahasia besar yang hendak disampaikan kepadamu!”

Sampai disitu, dia lantas berpaling kepada Leng-ji, sambil katanya, “Engkau saja yang pergi

kesitu, coba tengok bagaimana keadaan nona Wan!”

Tampaknya Leng-ji juga tak puas dengan sikap Hoa In-liong yang suka mencampuri urusan

orang lain. Tapi lantaran Cwan Wi yang memerintahkan tentu saja ia tak berani membantah.

Maka setelah ragu-ragu sejenak akhirnya selangkah demi selangkah ia maju kedepan.

Melihat Leng-ji maju dengan langkah yang sangat lambat, dalam hati Hoa In-liong menghela

napas panjang, pikirnya, “Yaa…. Bagaimanapun juga, adik Wi memang masih terlalu muda.

Perasaan hatinya hanya tahu tertuju pada seseorang belaka. Aaaaii….! Dia begitu

memperhatikan diriku. Aku yang menjadi Jiko-nya benar-benar tak kuasa menanggung beban

untuk membuka pikirannya serta memberi pelajaran bagaimana caranya melimpahkan kasih

sayang kepada segenap umat manusia”

Jika Hoa In-liong berpikir demikian, maka berbeda dengan kemurungan yang mencekam

perasaan Cwan Wi ketika itu.

Tatkala dilihatnya seluruh perhatian dan seluruh rasa kuatir Hoa In-liong hanya tertuju pada diri

Wan Hong-giok seorang, tanpa terasa lagi dengan kening berkerut dia mengomel, “Jiko,

bagaimana sih kamu ini? Leng-ji toh sudah menghampirinya. Bagaimana keadaan Wan Honggiok

pun sebentar lagi bakal ketahuan, buat apa kau demikian menguatirkan keselamatan

jiwanya? Oya, bukankah tadi kau berkata bahwa kau memiliki sejenis ilmu semedi yang bisa

digunakan untuk memunahkan racun ular sakti yang mengeram dalam tubuhmu? Kenapa kau

tidak….?”

“Tak usah terlalu buru-buru….” Tukas anak muda itu.

Cwan Wi jadi kurang senang hati, dia pun kembali menyela, “Kau tidak cemas maka akulah yang

sangat cemas! Kenapa tidak bercermin dulu untuk memeriksa tampang wajahmu? Tahukah

engkau betapa mengerikannya raut wajahmu pada saat ini?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

409

Perkataan itu bukan suatu olok-olokan tapi memang begitulah kenyataan. Raut wajah Hoa lnliong

ketika itu memang benar-benar menakutkan sekali. Diantara warna kelabu yang menghiasi

wajahnya tampak warna hitam melapisi mukanya di sana-sini. Otot-ototnya pada menonjol

keluar. Ditambah pula kulitnya pada berkerut menahan penderitaan. Dari sini dapat diketahui

bahwa siksaan yang dirasakan dalam perutnya bukannya berkurang sebaliknya justru makin

bertambah.

Sampai di manakah penderitaan yang dialami dalam tubuhnya, tentu saja Hoa In-liong jauh lebih

jelas dari siapapun. Maka dari itu ia sama sekali tidak gusar oleh makian Cwan wi, bahkan rasa

terima kasihnya malahan semakin berlipat ganda

Iapun tertawa getir, lalu katanya dengan lembut, “Adik Wi, bukan berarti aku tak tahu sayang

pada kesehatanku sendiri. Tapi justru lantaran ilmu semedi tersebut berbeda sekali dengan ilmu

semedi pada umumnya. Lagipula akupun baru belajar belum lama, maka sampai sekarang aku

belum berani melakukannya secara sembarangan….”

Pertama karena rasa ingin tahu dan kedua karena gelisah. Sebelum pemuda itu menyelesaikan

kata-katanya Cwan Wi telah menukas kembali, “Kalau memang begitu, lantas apa yang musti

dilakukan?”

“Pikiran dan perasaan hatiku musti tenang lebih dulu, tenaga dalam arti leluasa tanpa ikatan.

Padahal keadaan nona Wan hingga sekarang masih belum kuketahui. Hal ini masih merupakan

beban dalam pikiranku. Bayangkan sendiri, jika pikiran dan perasaan belum mencapai

ketenangan total, betapa berbahayanya bila semedi itu kulakukan secara dipaksakan. Bahaya

yang mengancam jiwaku pasti akan berlipat ganda lebih besar lagi”

Sesudah mendengar penjelasan tersebut, Cwan Wi jadi tertegun. Ia merasa heran juga curiga,

namun tidak berkata apa-apa.

Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar Leng-ji menjerit kaget, menyusul kemudian ia berteriakteriak

keras, “Kurangajar, mampus sialan! Nona…. Oooh bukan….bukan….bukan…. Ji kongcu,

cepatlah kemari!”

Hoa In-liong merasa amat terkejut, ia segera meronta dan bangun terduduk. Oleh karena

mendengar jeritan kaget yang muncul secara tiba-tiba itu, perasaan hatinya bergolak keras.

Karena pergolakan itu isi perutnya jadi teramat sakit….

Tak tahan lagi ia mendengus tertahan, kemudian tak bisa dicegah lagi anak muda itu roboh

terjengkang ke atas tanah.

Cepat Cwan Wi menguruti dadanya dengan tangan kanan. Kembali omelnya dengan wajah

murung, “Coba lihat tampangmu itu! Sekalipun nona Wan mengalami kejadian diluar dugaan,

gelisahpun apa gunanya?”

Sambil merasa sakit yang luar biasa, Hoa In-liong berbisik dengan napas tersengal, “Adik Wi….

To…. Tolong pergilah kesitu…. Coba tengoklah keadaannya”

Dengan dahi berkerut Cwan Wi menghela nafas panjang, ia segera berteriak, “Leng-ji,

sebenarnya apa yang telah terjadi? Kenapa kau berlagak sok bingung macam monyet kena

terasi?”

Paras muka Leng-ji diliputi kegusaran dan rasa mendongkol, ia menjawab dengan suara lantang,

“Bajingan-bajingan Mo-kauw adalah manusia yang berhati busuk. Coba lihatlah, meskipun

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

410

mereka mengatakan akan lepaskan nona ini, nyatanya sebelum pergi mereka telah menancapkan

sebatang jarum beracun di atas dada nona Wan. Kemudian bermain gila pula disekitar pusar dan

perut bawah nona ini”.

Jilid 21

CWAN WI bukan seorang manusia yang berhati sekeras baja. Ketika mendengar keterangan itu,

paras mukanya ikut berubah hebat. “Lantas bagaimana keadaannya? Apakah dia masih hidup?”

tanyanya dengan cemas.

“Aku kuatir…. aku kuatir kalau jiwanya tidak ketolongan lagi!” sahut Leng-ji terbata-bata.

Cwan Wi terkesiap. “Cepat bawa dia kemari! Cepat….!”

Baru saja ia berseru sampai disitu, tiba-tiba ia merasa berat badan yang menindih diatas kakinya

terasa sangat berat sekali.

Ketika diperiksa lagi, ternyata Hoa In-liong berbaring diatas pahanya dengan mata terpejam

rapat. Rupanya anak muda itu kembali jatuh tak sadarkan diri.

Kejadian seperti inilah yang paling dikuatirkan dan ditakuti Cwan Wi. Mula-mula dia tertegun,

menyusul kemudian sambil mendekati tubuh In-liong teriaknya dengan suara gemetar. “Jiko….!”

Menyusul suara teriakan itu, air matanya tidak terbendung lagi. Akhirnya Cwan Wi menangis

tersedu-sedu….

Masih mendingan kalau tidak menangis, begitu tangisannya meledak maka segala rahasianya

pun ikut terbongkar.

Ternyata ia bukan bernama Cwan Wi, nama yang sebenarnya adalah Coa Wi-wi.

Dia adalah seorang gadis remaja, Coa Wi-wi! Adik kandung dari Coa Cong-gi.

Sebagai perempuan, sifat gampang menangis memang merupakan sifat yang lumrah. Ia

menangis karena yang dikasihi tak mau mendengarkan nasehatnya, tak mau menjaga kesehatan

sendiri sehingga akibat jatuh tak sadarkan diri.

Untuk sesaat rasa sedih, kesal dan murung yang berkecamuk dalam benaknya sepuluh kali lihat

lebih dahsyat dari keadaan dihari-hari biasa. Rasa sedih yang tak terbendung itu akhirnya

meledak sebagai suatu isak tangis yang memilukan hati.

Leng-ji cepat-cepat memburu datang sambil membopong tubuh Wan Hong-giok. “Siocia….!

Nona…. bagaimana keadaan Ji ko….?”

oooOOOooo

LENG-JI aslinya bukan bernama Leng-ji, tapi bernama Ki-ji. Dia adalah dayang kepercayaan dari

Wi-wi.

Ketika tiba didepan majikannya dan menyaksikan keadaan anak muda itu, dengan perasaan

terkejut cepat ia baringkan Wan Hong-giok keatas tanah, kemudian teriaknya, “Aduuh

mak….tidak benar keadaannya…. keadaan ini tidak benar….”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

411

Sambil berlutut dia menggoncang-goncangkan bahu Coa Wi-wi sambil serunya kembali, “Nona,

keadaan macam begini tak boleh berlarut-larut. Kau jangan urusi tangisanmu belaka. Coba

periksalah dulu keadaan Jikongcu kemudian baru dirundingkan kembali. Memangnya setelah kau

peluk tubuhnya sambil menangis, maka penyakitnya bakal sembuh dengan sendirinya? Jangan

menangis terus!”

Coa Wi-wi tidak sampai keblinger, meskipun ia sedang menangis dengan sedihnya, kesadaran

otaknya masih utuh. Maka setelah mendengar perkataan itu, diapun menengadah. Pada saat

itulah terdengar desingan angin tajam berkumandang dari arah belakang, menyusul kemudian

sesosok bayangan manusia melayang turun dibelakang punggungnya.

Coa Wi-wi kaget, cepat ia menyambar tubuh Hoa In-liong dan meloncat maju kedepan untuk

menghindari segala kemungkinan yang tidak diinginkan….

“Adik Wi, tak usak kaget! Aku yang datang” kata orang itu cemas, “Bagaimana keadaan Jite?”

Begitu mendengar suara panggilan tersebut, Coa Wi-wi segera mengetahui siapakah yang

datang, cepat dia menjejak permukaan tanah dan menyusul kembali ketempat semula, sahutnya,

“Toako! Jiko….”

Tiba-tiba ia merasa amat bersedih hati sehingga dadanya terasa jadi sesak, isak tangisnya

semakin menjadi.

Orang yang baru muncul mengenakan jubah biru dengan sebuah pedang tergantung

dipinggangnya. Dia bukan lain adalah Toako dari Hoa In-liong, Hoa Si adanya.

Hoa Si adalah seorang pemuda berwajah gagah dan bersikap serius. Ketika itu dia berdiri

dihadapan Coa Wi-wi sambil mengawasi keadaan adiknya.

Ketika menyaksikan keadaan adiknya yang tidak sadarkan diri, hatinya betul-betul merasa amat

terperanjat. Meski demikian sikapnya sama sekali tidak nampak gugup atau gelisah, lagaknya

tetap tenang dan gagah perkasa. Keadaan semacam ini persis seperti kegagahan Hoa Thianhong

dimasa lalu.

Dengan sorot mata yang tajam dia mengawasi wajah Hoa In-liong dengan seksama, kemudian

baru menengadah mengawasi Coa Wi-wi yang masih menangis tersedu.

“Adik Wi, janganlah menangis!” katanya kemudian dengan lembut. “Sekalipun Jite kena

dipecundangi orang, tapi menurut pengamatanku, keadaan tersebut tak mungkin akan

memburuk dalam waktu singkat. Mari serahkan dia kepadaku, kita cari dulu suatu tempat yang

bisa digunakan untuk beristirahat, kemudian baru dirundingkan lebih jauh”

Sembari berkata, sepasang tangannya bergerak cepat untuk membopong adiknya.

Sebelum Coa Wi-wi sempat mengucapkan sesuatu, Hoa In-liong telah dibopongnya dan bergerak

menuruni bukit tersebut.

Mula-mula Coa Wi-wi agak tertegun oleh kejadian tersebut. Tapi sejenak kemudian, sambil

menahan isak tangisnya dan membesut air mata yang membasahi pipinya dia mengikuti

dibelakang pemuda itu tanpa berbicara.

Ki-ji yang menjumpai hal itu, cepat-cepat membopong Wan Hong-giok dan menyusul pula di

paling belakang.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

412

Setelah berjalan beberapa saat, akhirnya sampailah mereka di bekas markas Tong Thian-kau di

punggung bukit. Hoa Si memeriksa sebentar keadaan bangunan itu, kemudian menghampiri

sudut ruangan bekas ruang tengah dan duduk bersila disitu.

Gerak gerik Hoa Si selalu serius, mantap dan gagah. Raut wajahnya juga serius dan keren. Ini

membuat orang lain jadi keder dan tak berani membangkang setiap perkataannya. Karena

kewibawaan yang terpancar keluar dari sikap anak muda itu mengederkan hati siapapun jua.

Sebenarnya Coa Wi-wi mempunyai banyak keluhan serta kesedihan yang hendak disampaikan

kepada pemuda itu. Akan tetapi lantaran Hoa Si hanya membungkam terus, terpaksa diapun

harus mengendalikan perasaannya dan ikut duduk membungkam disitu.

Pada ujung ruangan tersebut penuh berserakan bekas atap dan batu bata yang kotor dan tak

sedap dilihat. Hoa Si segera mengebaskan tangannya untuk menyapu sebagian puing-puing itu

hingga tersingkir kesamping. Setelah itu dia menggape ke arah Ki-ji sambil perintahnya kembali,

“Ki-ji, kemarilah! Tolong baringkan nona Wan di atas lantai….!”

Setelah itu, dia baru barpaling kearah Coa Wi-wi sambil berkata kembali, “Adik Wi, tolonglah

tengok sejenak keadaan nona Wan, apakah dia masih tertolong atau tidak?”

Mendengar perkataan itu, cepat cepat Ki-ji membaringkan tubuh Wan Hong-giok ke lantai,

kemudian mengundurkan diri ke samping.

Melihat Coa Wi-wi tidak segera beranjak, dengan alis berkerut ia berkata penuh rasa kuatir,

“Bagaimana keadaan Jite sedikit rada kacau. Sekarang aku sedang melakukan pemeriksaan

untuk mengetahui bagaimana keadaan yang sebenarnya. Nona Wan adalah seorang gadis, aku

merasa kurang leluasa untuk memeriksa sendiri keadaannya maka aku minta tolong kepada adik

Wi untuk mewakili diriku!”

Setelah Hoa-Si berkata demikian, tentu saja Coa Wi-wi tak dapat membantah lagi. Dengan

perasaan apa boleh buat dia mengangguk, kemudian bangkit dan menghampiri Wan Hong-giok

untuk memeriksa keadaan luka dibadannya.

Selang sesaat kemudian, dengan wajah sedih dia menengadah, katanya dengan lirih, “Toako,

sekujur badan Nona Wan sudah berubah jadi merah gosong. Jalan darah Tiong-kek-hiatnya

terluka oleh totokan jari yang menggunakan tenaga dingin, sedang jalan darah Ki-ciat-hiatnya

tertusuk sebatang jarum beracun. Aku lihat harapannya untuk hidup tipis sekali, mungkin jiwanya

sudah tidak tertolong lagi”

Hoa Si mengerdipkan matanya beberapa kali lalu merenung. “Aku lihat nona Wan tak sampai

menemui ajalnya, dia pasti bisa disembuhkan kembali…. Cuma adik Wi! Apakah engkau bersedia

untuk mengorbankan sedikit tenaga dalammu untuk mengobati luka dalam yang dideritanya itu?”

“Tapi….denyutan nadinya sudah amat lirih, detak jantungpun sudah sering kali berhenti. Lagipula

sekujur badannya sudah merah membengkak, jelas darahnya sudah ternoda racun jahat yang

menyusup keseluruh nadi pentingnya. Berada dalam seperti ini, apa gunanya kita obati luka

dalamnya dengan tenaga dalam?”

Dari nada perkataan tersebut dan dari sikap Coa Wi-wi sewaktu mengucapkan kata-katanya,

dapat diketahui bahwa ia sedikit merasa keberatan untuk melaksanakan tugas tersebut.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

413

“Soal keracunan bukanlah merupakan soal yang serius”, ujar Hoa Si dengan gelisah, “Dalam

sakuku tersedia obat-obatan mustika untuk memunah kau pengaruh racun itu. Justru yang

kukuatirkan adalah jalan daerah Tiong kek-hiatnya yang terluka parah itu. Sekalipun selembar

jiwanya dapat diselamatkan, tapi serangkaian ilmu silat yang dimilikinya mungkin akan musnah

dengan begitu saja”

Coa Wi-wi merenung sejenak, lalu katanya, “Tapi yang paling penting jiwanya tertolong lebih

dulu. Sekalipun ilmu silatnya harus punah juga tak menjadi soal, lain kali kan masih ada

kesempatan untuk mempelajarinya kembali”

Dengan cepat Hoa Si menggeleng. “Jika jalan darah Tiong-kek-hiatnya sudah terluka, itu berarti

urat-urat sam-im-meh nya sudah kehilangan daya kemampuan untuk menggunakan tenaga lagi.

Hawa murni yang terhimpun dalam Tam-thian tak mampu bergerak ke bawah lagi. Sekalipun

mengulang kembali pelajaran silatnya juga percuma”

Tiba-tiba ia menghela napas panjang, tambahnya, “Keadaan yang kita hadapi sekarang tidak

memberi kesempatan kepada kita untuk berpikir lebih jauh. Yang penting kini adalah

menyelamatkan jiwa manusia. Adik Wi! Cepatlah bertindak!”

Tangan kanannya segera diayun ke depan, sebutir obat pun meluncur ke arahnya.

Dengan cekatan Coa Wi-wi menyambut obat itu serunya dengan gelisah, “Tidak bisa begitu saja!

Toako. Jika kau suruh aku memunahkan racun yang mengeram ditubuhnya, kau harus

memberitahukan juga bagaimana caranya. Aku sama sekali tidak paham bagaimana caranya

memunahkan racun”

Hoa-Si mengangguk dan bibirnya pun mulai berkemak-kemik menurunkan pelajaran Khi-bun-imyang

(memisahkan hawa panas dan dingin) tersebut kepada Coa Wi-wi dengan ilmu

menyampaikan suara.

Coa Wi-wi tidak berani berayal lagi cepat dia jejalkan pil tersebut ke dalam mulut Wan Honggiok,

kemudian duduk bersila disampingnya. Sepasang tangan direntangkan, tangan kanan

menempel jalan darah Tiong-kek-hiat, tangan kiri menempel diatas dada. Dengan tekunnya dia

salurkan hawa murni untuk mengobati luka dalam tubuh Wan Hong-giok.

Bila diikuti satu demi satu maka semua kejadian itu serasa sudah berlangsung sangat lama,

padahal dalam kenyataannya waktu baru berlalu beberapa menit. Sampai waktu itulah Hoa Si

baru mendapat kesempatan untuk menundukkan kepalanya mengawasi wajah adiknya serta

memeriksa keadaan luka yang diderita.

Dari semua sikap maupun gerak-gerik yang dilakukan Hoa Si selama ini, dapat kita rasakan

betapa agungnya sistim pertolongan mereka yang mengutamakan orang lain lebih dulu sebelum

menolong diri sendiri. Dan semangat semacan ini merupakan didikan langsung dari Bun Tay-kun

serta Hoa Thian-hong suami istri kepada putra putrinya.

Dalam pandangan keluarga Hoa, mungkin tindakan mereka ini merupakan suatu kejadian yang

wajar. Tapi bagi pandangan orang lain justru mendatangkan perasaan lain. Sikap semacam itu

justru mendatangkan perasaan terharu dan kagum.

Pada waktu itu diluar puing-puing gedung yang berserakan, kebetulan ada sesosok bayangan

manusia sedang mengintip gerak-gerik dari beberapa orang anak muda itu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

414

Tapi oleh karena mereka bersembunyi dengan sangat parahnya, dan lagi seluruh perhatian Hoa

Si maupun Coa Wi-wi hanya tercurahkan untuk mengobati luka orang, mereka tidak menyadari

sampai kesitu.

Mereka yang mengintip gerak-gerik berapa orang muda mudi itu adalah seorang gadis muda

yang membawa tongkat baja serta seorang laki-laki bermata tajam yang mengenakan kain

kerudung hitam diatas wajahnya.

Laki-laki itu mempunyai perawakan badan yang tinggi besar dan tegap. Tapi karena wajahnya

tertutup oleh kain kerudung hitam, maka tidak diketahui berapa besar usia yang sebenarnya.

Tapi sang gadis mengenakan baju berwarna putih, mukanya dingin dan hambar. Diujung toya

besi yang dipegangnya terukir sembilan buah kepala setan perempuan. Itulah lambang dari Kiuim

kau dan gadis itu tak lain adalah Bwee Su-yok, kaucu baru dari perkumpulan Kiu-im kau.

Bwee Su-yok bersembunyi dibalik puing-puing gedung yang berserakan. Itu berarti

kedatangannya adalah menguntit dibelakang Hoa Si secara diam-diam.

Tapi yang aneh, sinar matanya ketika itu kelihatan agak ragu-ragu, seakan-akan ada sesuatu

masalah yang besar dan berat belum dapat diputuskan olehnya.

Pada hakekatnya yang diartikan sebagai masalah besar pada saat itu, adalah rasa haru dan

kagumnya terhadap sikap Hoa Si yang lebih mengutamakan keselamatan orang lain daripada

keselamatan sendiri. Hati kecilnya betul-betul tersentuh oleh kejadian itu, maka untuk sesaat ia

kehilangan pegangan.

Haruslah diketahui, kebaikan dan kejahatan merupakan watak alam yang dimiliki setiap manusia.

Meskipun semenjak kecil Bwee Su-yok dibesarkan dalam lingkungan pendidikan yang angkuh,

dingin dan tidak berperasaan. Meskipun ia mempunyai watak yang aneh, dingin dan kaku,

namun sifat alamnya sebagai manusia bukan berarti sama sekali lenyap tak berbekas atau

dengan perkataan lain sifat baiknya tetap bertahan pula dalam hatinya disamping sifat jahat dan

buruknya.

Dalam suasana seperti itulah, tiba-tiba ia dengar laki-laki berkerudung yang berada

dibelakangnya sedang berbisik, “Lapor kaucu, waktunya telah tiba!”

Bwee Su-yok tidak menjawab juga tidak bereaksi, seakan-akan ia tidak mendengar perkataan itu.

Sinar matanya kosong…. Hampa…. seolah-olah sedang melacaki sesuatu yang tiada….

Melihat kaucunya tidak menunjukkan reaksi apa-apa, laki-laki berkerubung itu mengulangi

kembali kata-katanya. Tapi bagaimana sikap Bwee Su-yok? Ia tampak seperti tak sabaran,

dengan pandangan yang menggidikkan hati di tatapnya laki-laki itu dengan sinar mata dingin,

kemudian ia bangkit dan tinggalkan tempat tersebut.

Tindakan tersebut sama sekali diluar dugaan laki-laki berkerudung itu, cepat ia menyusul

dibelakangnya sambil berbisik kembali, “Kesempatan baik segera akan berlalu. Harap kaucu

berpikir tiga kali sebelum bertindak!”

Bwee Su-yok menghentikan langkahnya, ia berpaling dan menghardik ketus, “Cerewet! Kau

suruh kaucu-mu memikirkan soal apa sampai tiga kali? Hmmm…. Kedudukanmu hanya sebagai

tamu pembantu, berani betul kau ucapkan kata kata yang membatasi kebebasan gerakan

kaucu….?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

415

Mula-mula laki-laki berkerudung itu agak tertegun, kemudian cepat cepat ia memberi hormat dan

tidak berani banyak bicara lagi.

Bwee Su-yok semakin tidak sabar lagi, ia menekan toya bajanya ketanah dan segera melayang

pergi dari situ.

Terlihatlah ujung bajunya yang berwarna putih berkibar terhembus angin, dengan gerakan cepat

ia bergerak menuruni bukit itu.

Tindakan dari Kiu-im kaucu ini semakin membuat laki-laki berkerudung itu heran bercampur

termangu. Sepasang matanya jelas memancarkan rasa kaget dan tercengangnya, tapi diapun tak

berani mengucapkan sepatah katapun.

Pada saat itulah terdengar ujung baju tersampok angin menyambar datang, Hoa Si dengan suara

yang nyaring menegur, “Nona, harap tunggu sebentar!”

Ternyata karena terdorong oleh emosi, Bwee Su-yok telah membentak terlalu keras sehingga

suaranya yang berisik itu menyadarkan Hoa Si bahwasanya disitu hadir orang lain.

Bwee Su-yok berhenti, lalu putar badan dengan angkuhnya. “Ada urusan apa engkau memanggil

aku?” tegurnya pula.

Ketika menyusul ke arah mana berasalnya suara tadi, Hoa Si hanya sempat menyaksikan

berkelebatnva sesosok bayangan putih dibawah sorotan sinar rembulan. Ia tidak melihat

kehadiran laki-laki berkerudung itu. Maka setelah yakin kalau lawannya seorang nona, diapun

menegur.

Siapa tahu sikap Bwee Su-yok amat sombong dan tinggi hati. Keangkuhan semacam itu seketika

juga membuat dia jadi tertegun dan tak mampu berkata-kata.

Meskipun tercengang, tapi sebagai seorang laki laki yang gagah, ia tidak masukkan persoalan itu

dihati. Maka setibanya diatas permukaan tanah dia lantas menjura dan memberi hormat kepada

Bwee Su-yok. “Nona, boleh aku tahu siapa namamu?” sapanya. “Tengah malam buta begini,

angin bukit sangat dingin, bolehkah aku tahu karena urusan apa kau berkunjung kemari?”

Bwee Su-yok mendengus dingin. “Hmmm….! Lebih baik urusi saja Jite mu! Sedang soal-soal yang

lain lebih baik dikesampingkan dulu untuk sementara waktu”

Jawaban tersebut tidak menunjukkan apakah dia bersikap sahabat atau musuh dengannya, ini

membuat Hoa Si semakin tertegun. “Keadaan adikku tidak terlampau serius. Justru kedatangan

nona ditengah malam buta begini sangat mencurigakan hatiku….”

Tapi sebelum ia sempat menyelesaikan kata-katanya, kembali Bwee Su-yok telah menukas

secara tiba tiba, “Kalau begitu bagus sekali. Tengah hari besok engkau boleh mengajak adikmu

untuk datang ke kota Ci-tin dan berjumpa dengan aku disitu….!”

Habis berkata dia lantas putar badan dan siap melanjutkan perjalanannya menuruni bukit.

Hoa Si semakin curiga, diam diam pikirnya dalam hati. “Kemungkinan perempuan ini mempunyai

ikatan dendam dengan adik Jite, aku harus selidiki sampai jelas!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

416

Berpikir demikian, diapun melambung ke udara dan menghadang jalan perginya. “Tunggu

sebentar nona!” serunya sambil menjura. “Tengah hari besok, adikku belum tentu dapat datang

memenuhi janji. Karena itu harap nona bersedia meninggalkan nama, sehingga apabila ia tak

dapat memenuhi janji, akupun dapat menyampaikan hal ini kepadanya”

Sikap Hoa Si yang intelek gagah dan ucapannya yang bernada memohon membuat Bwee Su-yok

merasa rikuh untuk berlalu dengan begitu saja sebelum menjawab. Ia merasa pertanyaan

lawannya bagaimanapun juga harus diberi jawaban yang memuaskan hati.

Tapi sebelum ia menjawab pertanyaan itu, laki-laki berkerudung hitam yang selama ini berada

disamping telah menyelinap keluar, jengeknya sambil tertawa seram, “Hee…. hee…. hee…. Betulbetul

mengecewakan sekali kau sebagai putra sulung dari keluarga Hoa. Ternyata

pengetahuanmu begitu picik dan terbatas. Memangnya belum pernah kau saksikan tongkat

kekuasaan dari Kiu-Im kau yang mempunyai ciri khusus itu?”

Sikap Bwee Su-yok semakin dingin dan kaku bahkan kali ini dengan tatapan matanya yang dingin

menyeramkan dia melotot sekejap kearah laki-laki berkerudung itu.

Namun laki-laki berkerudung itu berlagak bodoh, ia berlagak seakan akan tidak melihat tatapan

mata orang, bahkan berpaling ke sampingpun tidak.

Hoa Si baru terperanjat setelah mendengar perkataan itu. Tanpa sadar ia berpaling dan

mengamati tongkat baja ditangan Bwee Su-yok tersebut.

Tongkat itu adalah sebuah tongkat baja yang ber warna hitam gelap. Pada ujung senjata terukir

sembilan buah batok kepala setan perempuan yang menunjukkan gigi taringnya dengan rambut

awut-awutan. Ukiran itu hidup dan mendatangkan perasaan ngeri bagi siapapun yang melihat.

Meskipun Hoa Si belum pernah menyaksikan tongkat baja tersebut, tapi dari angkatan yang lebih

tua, seringkali ia mendengar kisah cerita tentang tongkat itu.

Maka begitu menjumpai bentuk toya yang di maksudkan, ia jadi setengah percaya setengah

tidak. Sinar matapun kembali dialihkan ke wajah Bwee Su-yok.

Saat ini Bwee Su-yok telah menjadi seorang kaucu dari suatu perkumpulan besar, tentu saja ia

tak dapat membungkam diri terus menerus.

Gadis itu mengangguk tanda membenarkan, ujarnya dengan suara yang dingin, “Yaa benar, aku

adalah Kiu-im kaucu!”

Mendengar pengakuan tersebut, kembali Hoa Si berpikir dalam hati kecilnya, “Kalau toh dia

adalah Kiu-im kaucu, setelah datang kemari kenapa harus berlalu lagi sambil menetapkan saat

pertemuan besok siang? Hal ini rasanya jauh berbeda dengan tindakan-tindakan yang diambil

Kiu-im kaucu seperti apa yang sering kudengar!”

Berpikir demikian, sekali lagi dia memberi hormat, ujarnya dengan suara nyaring, “Oooh….

kiranya kaucu telah berkunjung kemari. Pengetahuanku memang terlalu picik, harap engkau

jangan terlalu mentertawakan kepicikanku ini”

Hoa Si memang jauh berbeda bila dibandingkan dengan adiknya. Sekalipun ada bagian-bagian

persoalan yang belum dipahami olehnya, namun ia tak sudi menghilangkan tata kesopanan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

417

Dengan ketus Bwee Su-yok ulapkan tangannya. “Engkau tak usah menunjukkan sikap tengik

yang menjemukan. Jawab saja pertanyaanku, besok siang kalian bakal datang memenuhi janji

atau tidak?”

Hoa Si tersenyum. “Aku Hoa Si tak berani membuat janji kosong. Apa yang sudah kusanggupi

pasti akan kutepati. Besok siang apabila adikku tak dapat menghadiri pertemuan itu, aku pasti

akan tiba tepat pada saatnya, harap kaucu berlega hati”

“Bagus sekali, kalau begitu aku akan menantikan kehadiranmu besok tengah hari di tenggara

kota Ci-tin”

Selesai berkata, dia lantas mengebaskan ujung bajunya dan melayang turun dari bukit itu.

Dengan cepat manusia berkerudung itu menyusul di belakangnya, tapi beberapa langkah

kemudian tiba-tiba ia berpaling sambil bertanya, “Hoa lotoa, apakah engkau tidak menanyakan

pula siapa namaku serta dari mana asal usulku?”

“Berbicara dari tindak tanduk saudara, sudah pasti engkau bukan anak buah dari perkumpulan

Kiu-im kau. Memang aku menaruh curiga pada asal-usulmu. Tapi lantaran engkau menutupi

wajahmu dengan kain kerudung hitam, jelas tindakan semacam ini menunjukkan betapa tidak

terbukanya hatimu. Akupun jadi segan untuk banyak bertanya”

Mendengar jawaban itu, darah yang mengalir dalam tubuh laki-laki berkerudung itu serasa

mendidih. Ia ada maksud untuk turun tangan melancarkan serangan, tapi entah apa sebabnya,

kemarahan yang telah memuncak itu dikendalikan kembali sebisanya.

Setelah mendengus khekhi, ia melotot sekejap ke arah Hoa Si dan menjejakkan kakinya ke tanah

untuk menyusul Bwee Su-yok yang sementara itu sudah lenyap dari pandangan mata.

Hoa Si memang seorang lelaki jantan yang berjiwa terbuka dan gagah perkasa. Meskipun tindaktanduk

Bwee Su-yok jauh berbeda dengan apa yang didengar ditempat luaran. Meski ia tahu

manusia berkerudung itu adalah seorang manusia yang licik dan busuk hatinya, asal usulnya

sangat mencurigakan. Namun ia tak sudi membuang banyak pikiran dan tenaga untuk merenungi

persoalan tersebut.

Setelah bayangan tubuh kedua orang itu lenyap dari pandangan, diapun segera putar badan dan

berjalan kembali kedalam ruangan gedung diantara puing-puing yang berserakan.

Waktu itu fajar baru saja menyingsing, sang surya mulai menampakkan cahayanya diufuk

sebelah timur. Sebaliknya rembulan yang tenggelam disebelah barat sudah makin pudar

cahayanya, ikut lenyap pula kecemerlangannya dikala hari masih gelap.

Hoa Si yang berada dalam perjalanan kembali mempunyai perasaan yang kusut seperti cahaya

rembulan itu, makin lama semakin kalut, makin lama semakin kusut….

Hal ini bisa dimaklumi, bagaimana pun juga Hoa In-liong adalah saudara kandungnya.

Setelah terganggu oleh peristiwa barusan, ia benar-benar tak tahu bagaimanakah keadaan

lukanya ketika itu. Diapun tak tahu apakah kejadian ini bakal mempengaruhi keselamatan

jiwanya serta mengakibatkan terjadinya peristiwa diluar dugaan….

Dengan pelbagai pikiran yang menekan perasaannya, pemuda itu mempercepat langkahnya

menuju ke ruang gedung dan akhirnya sampai juga dia ditempat tujuan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

418

Diluar dugaan kenyataan yang berlangsung di depan matanya saat itu ternyata jauh diluar

perhitungan rasa tegangnya selama inipun sebetulnya tak berguna.

Sebab bukan saja Hoa In-liong telah menyadarkan diri, bahkan Wan Hong-giok yang sudah tipis

harapannya untuk hidup pun sekarang sudah jauh lebih baik keadaannya.

Segagahnya Hoa Si, dia baru menginjak dewasa belum lama. Kegembiraan yang datangnya dari

luar dugaan itu seketika melenyapkan ketenangan dan kekalemannya dihari-hari biasa.

Dengan suatu lompatan lebar dia menerjang maju kedepan, lalu teriaknya dengan wajah berseri,

“Jite, apakah engkau telah sembuh?”

Tiba-tiba ia saksikan Hoa In-liong masih tetap berbaring, sedangkan Coa Wi-wi berlutut

disampingnya. Ini membuat dia jadi tertegun, cepat tubuhnya berhenti melompat dan untuk

sesaat berdiri termangu-mangu….

Kiranya Hoa In-liong sadar belum lama, hawa murninya juga belum seberapa putih seperti biasa.

Walaupun begitu, ketika mendengar suara dari Hoa Si, dia lantas meronta bangun, serunya pula

dengan nada gembira, “Toako, kau….kau…. juga telah datang?”

Coa Wi-wi sangat menguatirkan keadaannya. Dia segera membimbing bangun anak muda itu

sambil menyela, “Toako sudah datang semenjak tadi. Lebih baik engkau berbaring saja. Racun

ular sakti yang mengeram dalam tubuhmu belum punah sama sekali….”

“Aaaah…. tidak apa-apa”. Hoa In-liong tetap ngotot, “Aku ingin bercakap-cakap dengan Toako”

Sementara itu Hoa Si juga melihat betapa pucatnya raut wajah adiknya ini, dia ikut berjongkok

disampingnya sambal menghibur, “Jite, kau jangan terlalu keras kepala. Racun ular sakti bukan

sembarangan racun biasa. Konon ibupun tidak mempunyai keyakinan untuk memunahkannya.

Sekarang beristirahatlah dulu, beritahu kepadaku, bagaimana rasanya sewaktu racun itu

kambuh?”

Hoa In-liong tidak berani membantah perintah Toakonya, terpaksa dibawah bimbingan Coa Wi-wi

dia berbaring kembali ketanah.

Setelah mengatur nafas sebentar, pemuda itu baru berkata, “Berita yang tersiar diluaran tak

boleh kita percayai dengan begitu saja, Toako….”

Tiba-tiba Hoa-Si bangkit berdiri. Mukanya berubah menjadi keren, tukasnya dengan nada

bersungguh-sungguh, “Ngaco belo!. Ayah sendiri yang memberitahukan hal ini kepadaku,

memangnya aku harus tidak mempercayainya?”

Hoa In-liong ikut terperanjat, tapi dengan cepat ia tenangkan hatinya sambil menyahut, “Jika

ayah yang mengatakan hal itu, tentu saja kita harus mempercayainya. Toako, sebenarnya

peristiwa besar apakah yang telah terjadi sehingga ayah pun ikut terbawa sampai ke selatan?

Apakah kau mengetahui tentang rahasia ini?”

Ketika dilihatnya pemuda itu jadi sangat penurut. Hoa-Si merasa sedikit tidak tega maka

sahutnya, “Yaaa, hal ini disebabkan….”

Mendadak satu ingatan melintasi dalam benaknya, ia teringat bahwa Hoa In-liong adalah seorang

bocah yang ingin menang, seringkali bersikap pura-pura untuk membohongi orang. Rasa

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

419

waspadanya segera timbul dan ucapan yang baru dimulaipun segera ditelan kembali, dia awasi

wajah pemuda itu tajam-tajam.

Hoa In-liong sangat ingin mengetahui sebab musabab kehadiran ayahnya di wilayah Kang-lam,

melihat kakaknya berhenti berbicara, dia jadi sangat gelisah, tanpa sadar serunya, “Toako,

mengapa tidak kau lanjutkan kembali kata-katamu?”

Ditatapnya wajah In-liong dengan tajam, kemudian setelah menghela napas panjang Hoa Si baru

menjawab, “Engkau selalu gemar menempuh jalan bahaya untuk mencari keuntungan. Sampai

sekarang watak semacam itu belum juga berubah. Aku…. Aku…. yang menjadi Toako mu merasa

kewalahan untuk memusuhi engkau. Daripada tertipu mentah-mentah, lebih baik kuputuskan

untuk membungkam dalam seribu basa saja”

Menyaksikan siasat liciknya ketahuan kakaknya, Hoa In-liong jadi tersipu-sipu. “Toa…. Toako”

katanya malu. “Aku betul-betul amat cemas, katakanlah kepadaku….”

“Kau merengek seribu kali juga percuma” tukas Hoa Si tegas, “Ketahuilah setelah engkau

menjadi begini rupa, aku yang menjadi Toako-mu juga ikut susah. Bila engkau tak mau menuruti

perkataanku lagi, bagaimanakah pertanggungan jawabku terhadap ayah dan ibu nanti? Satusatunya

persoalan yang paling penting saat ini adalah menyehatkan dulu badanmu, soal lain

untuk sementara waktu kita kesampingkan lebih dulu”

Dia adalah seorang pamuda yang tegas, setelah mengatakan satu selamanya tak pernah berubah

jadi dua. Tentu saja Hoa In-liong mengetahui jelas akan wataknya ini.

Maka setelah siasatnya menghasilkan senjata makan tuan, dan diapun menyadari bahwa

memohon secara halus tak akan mendatangkan hasil apa-apa. Sambil bernapas menekan

perasannya anak muda itu berkata lagi, “Yaaa…. Padahal tiada sesuatu yang terlalu luar biasa.

Ketika racun ular sakti itu mulai kambuh aku merasa dalam isi perutku seakan-akan terdapat

semut yang sedang berjalan kesana kemari. Rasanya kaku dan gatal sekali hingga sukar ditahan,

tapi sekarang aku sudah dapat mengendalikan siksaan itu”

Coa Wi-wi segera menyambung dengan cemas, “Tidak, tidak mungkin begitu, ketika racun yang

mengeram dalam tubuhmu kambuh, engkau segera jatuh tak sadarkan diri. Darimana engkau

bisa merasa kalau rasanya gatal sekali? Engkau terlalu sekali, memangnya dianggap kami semua

adalah orang goblok yang dapat ditipu mentah-mentah….?”

Menyaksikan kegelisaan orang, kembali Hoa In-liong berkata, “Yaaa, apa yang diucapkan adik Wi

memang benar. Rasa gatal dan kaku memang apa yang kurasakan sekarang. Pada mulanya

ketika racun itu mulai kambuh, isi perutku terasa sakitnya bukan kepalang. Seakan-akan ada ular

yang banyak sekali jumlahnya menggigiti seluruh isi perutku dan gigitan itu sepertinya tak

dilepaskan terus. Cuma aku tidak membohongi dirimu, rasa gatal dan kaku itu sampai sekarang

masih terasa. Coba lihatlah, bukankah aku masih dapat merasakannya dengan hati yang

tenang?”

Setelah mendengar penjelasan itu, Hoa Si dengan perasaan yang tercekat segera bergumam,

“Gejala yang kau ucapkan persis seperti apa yang diterangkan ayah kepadaku. Aaai…. Akulah

yang salah. Coba kalau aku tidak datang terlambat, mungkin….mungkin….”

Bergumam sampai disitu, saking gelisahnya dia berjalan mondar mandir kesana-kemari, ia

kelihatan resah sekali.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

420

Tiba-tiba terdengar Coa Wi-wi menangis tersedu-sedu. “Huuh…. huu…. Akulah yang salah”

keluhnya, “Akulah yang salah. Coba aku tidak mendengarkan kata-kata Ki-ji dan menghalangi

Jiko pergi memenuhi undangan, tentu tak akan terjadi peristiwa ini”

Hoa In-liong belum tahu kalau Coa Wi-wi sebetulnya bukan seorang “cowok” melainkan adalah

seorang “cewek. Maka ketika mendengar dia menangis, pemuda itupun berkerut kening.

“Aduuh….! Adik Wi, kenapa kau menangis lagi?” keluhnya sambil menghela nafas, “Kau tidak

salah, sebab kau telah berusaha dengan segala ke raampuan untuk menghalangi niatku. Akulah

yang keliru karena aku tak mau menuruti peringatanmu. Karena aku yang ngotot datang kesitu

untuk memenuhi janji, maka jika mau mencari siapa kambing hitamnya, maka akulah yang salah.

Aku yang keliru. Siapa suruh aku terlalu gagah dan tolol. Siapa suruh aku bodoh sampai terjebak

ke dalam perangkat mereka…. Sudahlah adik Wi, ayoh jangan menangis lagi”

Begitulah, selama ribut-ribut dan perselisian itu berlangsung dengan serunya, Wan Hong-giok

yang bersandar disudut tembok hanya mengikutinya dengan membungkam.

Sekalipun demikian, diapun tahu bahwa Hoa In-liong bisa terkena racun Sin-hui-si-sim (ular sakti

menggigit hati) adalah lantaran disergap secara cilik oleh orang orang Mo-kauw, atau dengan

perkataan lain lantaran gara-gara janjinya itulah mengakibatkan si anak muda itu terluka parah.

Makin dikenang ia semakin sedih, sehingga akhirnya air matapun tak terbendung, sambil

menangis terisak keluhnya, “Akulah…. Akulah yang menjadi gara-gara…. akulah yang menjadi

gara-gara. Tidak seharusnya kuajak Hoa kongcu untuk berjumpa dibukit Yan-san…. Sekarang….

oooh, ia terluka karena aku…. huu….huu….”

Ketika Hoa In-liong mendengar bahwa Wan Hong-giok bisa berbicara lagi, legalah hatinya. “Nona

Wan kah itu?” serunya cepat, “Bagaimana dengan lukamu? Tidak apa-apa toh?”

Sebelum roboh tadi, pemuda itu sempat, menyaksikan bagaimana mengenaskannya keadaan

Wan Hong-giok, terutama binatang- binatang beracun yang begitu banyaknya bermangkal

disekujur tubuh si gadis yang telanjang.

Dan sekarang, dia harus berbaring. Ia tak dapat menyaksikan keadaan nona tersebut. Yang bisa

didengar hanya suaranya yang tersendat-sendat dengan nada yang lirih dan lemah. Sebagai

orang persilatan ia tahu gejala semacam itu menunjukkan bahwa hawa murninya sudah

mengalami kerusakan hebat atau dengan perkataan lain, luka dalam yang dideritanya cukup

parah.

Betapa sedihnya Wan-Hong-giok mendengar pertanyaan Hoa In-liong yang begitu hangat dan

sangat memperhatikan keadaannya itu. Apalagi bila teringat akan musibah yang telah menimpa

dirinya, bagaikan disayat-sayat hatinya.

Makin dipikir ia merasa makin sedih, makin menangis suara tangisnya makin keras, akhirnya

sambil memukul-mukul dada sendiri keluhnya dengan suara yang mengibakan hati, “Aku….

Aku…. hanya seorang cacad. Akulah yang mencelakai dirimu. Oooh…. baik-baiklah kau jaga diri”

Tiba-tiba dengan menghimpun sisa kekuatan yang dimilikinya ia menumbukkan kepalanya di atas

dinding tembok disisinya.

Hoa In-liong bukan orang bodoh, tatkala mendengar keluhan sang dara yang terakhir tadi, ia

segera tahu bahwa Wan Hong-giok mempunyai maksud untuk bunuh diri.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

421

Sementara hatinya amat terperanjat, Ki-ji yang berada disampingnya sudah menjerit kaget,

“Jangan nekad!”

Menyusul kemudian Hoa Si mendepak-depakkan kakinya ditanah seraya menghela nafas panjang

berulang kali.

“Aaai….! Tolol!. Semuanya tolol! Semut saja ingin hidup seribu tahun. Apalagi kamu semua ada

manusia memangnya kalian anggap nyawa manusia itu boleh dianggap mainan? Aaai…. Cuma

urusan sepele saja sudah berani bermain diujung tanduk. Goblok! Semuanya goblok! Ki-ji….cepat

bangunkan nona Wan”

Yaa, pada hakekatnya peristiwa itu sama sekali diluar dugaan, bukan saja mengejutkan semua

orang, sampai-sampai pemuda yang jarang bicara dan selalu serius inipun ikut-ikutan memaki.

Baru pertama kali ini Hoa In-liong merasakan ketegangan yang luar biasa. Ia baru bisa

menghembuskan nafas lega setelah Toakonya menegur serta memerintahkan Ki-ji untuk

membangunkan Wan Hong-giok. Sebab dari perkataan itu dia yakin bahwa si nona selamat dari

cengkeraman elmaut.

Diapun berusaha meronta bangun dan duduk.

Sekarang perhatian semua orang ditujukan kesatu arah yang sama. Tampaklah Wan Hong-giok

sedang berjalan mendekati mereka dibawah bimbingan Ki-ji. Mukanya tampak layu, rambutnya

terurai awut awutan. Sepasang bahunya bergoncang keras menahan isak tangis. Bagaikan air

bah, air matanya meleleh keluar membasahi semua wajahnya.

Setibanya dibadapan semua orang, kontan Coa Wi-wi mengomel dengan kening berkerut, “Enci

Wan, bagaimana sih kamu ini? Kenapa

tidak kau buka jalan pikiranmu? Kenapa kau nekad untuk melakukan perbuatan tolol seperti itu?

Jika kau pandang begitu rendah soal kehidupanmu, bukankah berarti sudah kau sia-siakan

bantuan tenagaku selama ini bagimu? Apalagi Toako sudah….”

Tentu saja bila ucapan itu dilanjutkan, maka akan terdengarlah kata-kata sebangsa “sia-sialah

pemberian obat penawar racun dan obat mustika untukmu” dan sebagainya…. dan sebagainya….

Untunglah Hoa Si bertindak cekatan, sebelum kata-kata semacam itu sempat memberondong

keluar ibaratnya tembakan senjata otomatis, si anak muda itu sudah ulapkan tangannya sambil

menukas, “Jangan terlalu menyalahkan dia. Maklumlah, kadang kala pikiran orang memang bisa

menjadi cupat lalu mata gelap. Untung Ki-ji cukup cekatan sehingga tak sampai terjadi tragedi

yang tidak diharapkan. Tapi aku percaya kejadian semacan ini tak akan terulang untuk kedua

kalinya”

Diapun berpaling kearah Wan Hong-giok dan menambahkan, “Duduk dan istirahatlah dulu nona

Wan. Sebentar aku hendak bercakap-cakap denganmu”

Air mata jatuh berlinang dengan derasnya membasahi wajah Wan Hong giok. Dengan masih

membungkam dia manggut-manggut lalu duduk kembali ke lantai.

Sementara itu Hoa In-liong menatap diri Wan Hong-giok dengan sepasang mata yang terbelalak

lebar. Mukanya kaget, tercengang dan sangsi seakan-akan Wan Hong-giok sudah berubah jadi

orang lain yang tidak dikenalinya lagi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar