Senin, 05 Oktober 2009

pedang abadi 1

SERIAL 7 SENJATA
PEDANG ABADI - (Zhang Seng Jian)
By Khu Lung / Gu Long
Contributor: Ansari
Source: Indozone
Kota pualam putih di langit,
Punya lima menara dan duabelas benteng,
Di mana dewa berdiam di atas kepalaku,
Memelihara rambut yang panjang dan hidupku bersamanya.
~ Li Bai*
Bab 1: Losmen Angin Dan Awan
1.
Senja.
Di atas jalan berpelat batu itu, sembilan orang yang berpenampilan aneh muncul, semuanya memakai
baju tunik dari kain rami, sepatu rami, dan anting-anting emas sebesar mangkuk di daun telinga kiri
mereka. Semuanya berambut merah acak-acakan yang terurai di bahu mereka seperti bara api.
Di antara sembilan orang itu, ada yang bertubuh jangkung, pendek, tua, muda; masing-masing
dengan wajah yang berbeda, tapi semuanya sama-sama menampilkan ekspresi wajah seperti mayat.
Mereka berjalan tanpa menggerakkan bahu ataupun menekuk lutut, persis seperti mayat hidup.
Perlahan mereka melangkah dalam bentuk barisan menyusuri jalan yang panjang itu, membuat
hening setiap tempat yang mereka lewati. Bahkan anak-anak pun tiba-tiba berhenti menangis karena
ketakutan.
Di ujung jalan, empat buah lentera raksasa terpasang di puncak sebuah tiang bendera setinggi
sepuluh meter.
Lentera merah yang terang-benderang, tulisan yang hitam mengkilap!
Tertulis di situ: “Losmen Angin dan Awan”.
Sembilan manusia aneh berambut merah itu berjalan sampai di pintu losmen dan berhenti. Orang
pertama lalu melepaskan anting-anting emasnya dan mengayunkan tangannya. Duk! Anting-anting
besar itu menghantam dinding batu di samping pintu gerbang bercat hitam.
Percikan api tampak berlompatan ketika anting-anting itu menancap di batu. Orang kedua lalu
mengambil segumpal rambut merah dari pundaknya dan memotong rambut itu dengan tangan
kirinya, seakan-akan sedang memotong dengan sebilah pisau.
Kemudian orang kedua itu mengikatkan potongan rambut tadi pada anting-anting yang menancap di
dinding. Lalu kesembilan orang itu meneruskan langkah mereka.
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
2
Untaian rambut merah itu melambai-lambai dalam hembusan angin seperti bara api, tapi kesembilan
orang tadi telah menghilang dalam kegelapan yang tiada batas.
Tepat pada saat itulah delapan ekor kuda yang kekar berlari mendekat dari balik kegelapan. Bunyi
derap kaki kuda terdengar bergemuruh di atas jalan batu itu seperti hujan badai yang menghantam
daun jendela atau genderang yang dipukul bertalu-talu di medan perang.
Semua penunggangnya memakai baju hijau, kain putih melilit di kepala mereka, sepatu yang
berujung runcing dan kain pembalut yang melilit di betis mereka. Setiap orang dari mereka tampak
gagah dan tangkas.
Ketika delapan ekor kuda itu melesat melewati “Losmen Angin dan Awan”, kedelapan orang
penunggangnya semuanya mengayunkan tangan pada saat yang bersamaan.
Terlihat kilauan golok seperti petir dan terdengar bunyi “DUKK!”. Tiba-tiba, sekarang sudah ada
delapan buah golok baja yang berkilauan tertancap di tiang bendera yang tebal itu.
Gagang golok masih bergetar, pita sutera merah di gagangnya masih terayun kian ke mari.
Tapi kedelapan ekor kuda itu sudah menghilang.
***
Kegelapan semakin pekat. Bunyi derap kaki kuda tiba-tiba kembali bergema di jalan, agaknya
gemuruhnya bahkan lebih keras daripada yang ditimbulkan gerombolan yang baru lewat tadi.
Tapi ternyata hanya seekor kuda yang muncul.
Seekor kuda yang putih mulus tanpa cacat dari ujung kepala hingga ke ujung kaki, sudah tiba di
depan pintu. Bersamaan dengan suara ringkik kuda, penunggangnya pun segera menegakkan
badannya.
Sekarang kita bisa melihat dengan jelas bahwa penunggangnya adalah seorang lelaki kekar tak
berbaju dengan jenggot yang ikal. Otot-otot di tubuhnya yang hitam tampak seolah-olah terbuat dari
baja.
Orang itu menarik tali kekang dan melihat anting-anting emas dan rambut merah di dekat pintu serta
delapan buah golok yang menancap di atas tiang bendera. Sambil menyeringai, dia pun melompat
turun dari pelana dan tangan kanan-kirinya masing-masing mencengkeram sebelah kaki kudanya.
Dengan mengeluarkan suara raungan yang mengguntur, orang itu lalu mengangkat kudanya tinggitinggi
di udara dan meletakkannya di atas wuwungan pintu.
Kembali terdengar suara ringkikan kuda. Bulu surai kuda itu menari-nari di udara, tapi keempat
kakinya, tanpa bergerak sedikit pun, seperti sudah menancap di wuwungan itu.
Si brewok pun tertawa terbahak-bahak dengan kepala menengadah ke atas, kemudian dia melangkah
pergi. Dalam sekejap mata dia sudah menghilang, tapi kuda putih itu ditinggal sendirian, berdiri di
bawah awan gelap dan tiupan angin barat, menyebabkan timbulnya suasana seram di udara.
***
Jalan yang panjang itu sunyi senyap, karena semua orang sudah menutup pintu rumah mereka.
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
3
“Losmen Angin dan Awan” juga tidak berpenghuni. Bila pelanggan losmen melihat anting-anting emas
dan delapan bilah golok itu, diam-diam mereka tentu akan menyelinap keluar lewat pintu belakang.
Tapi kuda putih itu masih berdiri tanpa bergerak, seperti patung batu, menantang datangnya
hembusan angin barat.
Tiba-tiba seorang pelajar berwajah tirus, berusia setengah baya, berbaju biru dan berkaus kaki putih,
pelan-pelan berjalan mendekat dengan gaya yang sangat santai, tapi sepasang matanya tampak
berkilat-kilat dengan tajam.
Ia berjalan pelan-pelan ke arah losmen itu dengan bergendong tangan, mengangkat dagunya untuk
melihat dan menarik napas, “Kuda yang hebat! Benar-benar kuda yang hebat, tapi pemiliknya tidak
punya hati dan menyalahimu.”
Tiba-tiba ia mengibaskan sebelah tangannya dari balik punggungnya, lengan bajunya yang panjang
pun berkibar-kibar, membawa gelombang angin yang kuat.
Kuda putih itu ketakutan dan meringkik lagi, seolah dia hendak melompat turun dari wuwungan pintu.
Pelajar setengah baya itu menyangga perut kuda dengan kedua tangannya dan menurunkan hewan
itu ke atas tanah dengan perlahan. Lalu dia menepuk-nepuk pantatnya dan berkata, “Pulanglah dan
beritahu majikanmu untuk datang ke mari. Katakan saja ada seorang teman baik yang
menunggunya.”
Seolah-olah memahami maksud laki-laki itu, kuda putih itu segera berlari pergi dari tempat itu.
Si pelajar setengah baya lalu menurunkan anting-anting emas di pinggir pintu dan kemudian
melangkah masuk ke dalam losmen dan menepuk tiang bendera.
Delapan buah golok itu semuanya jatuh pada saat yang bersamaan.
Si pelajar mengibaskan lengan bajunya lagi dan mengepit kedelapan golok itu dalam lengan bajunya.
Lalu ia bertanya dengan nada serius, “Di mana benderanya?”
Sesosok bayangan yang kecil dan kurus tiba-tiba melesat keluar dari dalam losmen, memanjat tiang
bendera seperti seekor kera, dan dalam beberapa detik sudah tiba di puncak.
Sehelai bendera besar tiba-tiba bergulung keluar dari ujung tiang.
Di atas kain bendera itu terpampang gambar seekor naga hitam yang perkasa, tampak seolah-olah
akan melesat melewati awan dan terbang pergi setiap saat!
2.
Malam.
Tidak ada bintang ataupun rembulan, dengan awan yang gelap dan angin yang kencang.
Tapi di taman itu lampu-lampu tampak terang-benderang dan di atas meja pun sudah tersedia arak.
Si pelajar setengah baya tampak bergumam sendirian sambil minum arak. Tiba-tiba ia mengangkat
cawannya ke arah sebatang pohon beringin besar di luar taman dan tersenyum, “Kudengar
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
4
kemasyuran ketua Miao sudah tersebar melintasi sungai dan samudera. Karena kau sudah berada di
sini, mengapa tidak turun dan ikut minum bersamaku?”
Dari balik daun-daun pohon beringin yang lebat itu, terdengar suara tawa yang aneh seperti bunyi
kukuk-beluk (burung hantu). Sesosok bayangan melesat seperti anak panah dan mendarat di atas
tanah dengan ringan seperti sepotong kapas yang hanya berbobot empat ons.
Hidung orang ini seperti hidung anjing, mulutnya lebar, kepalanya berambut merah, dan memakai
tiga buah anting-anting emas di telinganya. Walau dia telah berada di atas tanah, anting-antingnya
masih bergemerincing. Dialah ketua dari Perkumpulan Rambut Merah, Miao Shao-tian.
Sepasang matanya, seperti bara api yang berkobar-kobar, menatap si pelajar setengah baya, dan
berkata dengan suara berat, “Apakah tuan adalah Tuan Gong-suen dari Perkumpulan Naga Hijau?”
Si pelajar bangkit berdiri dan membungkuk sambil bersoja dan menjawab, “Ya, itulah aku, Gong-suen
Jing.”
Tawa Miao Shao-tian yang seperti kukuk-beluk kembali terdengar menggelegar, “Benar-benar pantas
menjadi tokoh penting dalam Perkumpulan Naga Hijau, mata yang amat tajam.”
Tiba-tiba terdengar bunyi derap kaki kuda yang bergemuruh seperti bunyi hujan lebat, datang
mendekat ke arah mereka.
Sepasang alis Miao Shao-tian segera dikerutkan dan dia pun berkata, “Zhang kecil juga sudah tiba.
Sama sekali tidak lambat.”
Bunyi derap kaki kuda sekonyong-konyong berhenti; terdengar suara tawa yang jernih, “Hari penting
bagi Naga Hijau, di dunia ini siapa yang berani datang terlambat?”
Sementara suara tawa yang jernih itu masih berkumandang di udara, tahu-tahu seseorang sudah
melompati tembok masuk ke dalam. Orang itu berbaju ringkas, sengaja dibiarkan terbuka di bagian
dada untuk memperlihatkan dada berototnya yang bahkan lebih putih daripada bajunya.
Miao Shao-tian mengacungkan jempolnya dan mendengus, “Zhang San kecil si 'Kuda Putih' yang
hebat. Sudah bertahun-tahun tidak bertemu, tapi tampaknya kau malah semakin muda dan tampan?
Jika Miao tua ini punya seorang puteri, aku tentu akan mengambilmu sebagai menantu.”
“Walau kau punya seorang puteri, tak seorang pun yang akan berani meminangnya,” jawab Kuda
Putih Zhang San dengan ringan.
“Kenapa?” Miao Shao-tian menatapnya.
“Dilihat dari keangkeranmu, puterimu tentu tidak akan jauh beda.”
Miao Shao-tian menatapnya, menatapnya sekian lama sampai akhirnya ia menjawab, “Kita datang ke
mari hari ini untuk berdagang, dan jangan coba-coba untuk memulai perkelahian.”
“Bagaimana dengan minum arak?” tanya Kuda Putih Zhang San.
“Kalau itu, tak usah berlama-lama. Ayo, mari kita bersulang tiga cawan untuk Tuan Gong-suen dulu.”
Gong-suen Jing tertawa, “Kekuatan minum arakku cukup terbatas, bagaimana kalau aku dulu yang
bersulang untuk kalian sebanyak tiga cawan?”
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
5
Miao Shao-tian mengerutkan alisnya, “Tiga cawan?”
Terdengar suara tawa seseorang dari wuwungan atap bangunan sebelah, “Rambut Merah dari Sungai
Timur dan Kuda Putih dari Sungai Barat sudah tiba, betapa lancangnya diriku karena datang
terlambat.”
Miao Shao-tian bertanya, “Zhao Yi-dao dari Tai-xing?”
Tapi ia tidak perlu menunggu jawabannya.
Ia sudah melihat golok yang berkilauan itu, golok yang tajam!
Tidak ada sarungnya.
Golok yang berkilauan itu diselipkan langsung di ikat pinggangnya yang berwarna merah.
Baju hijau, ikat kepala putih, dan sabuk yang lebih merah daripada rambut Miao Shao-tian, amat
sesuai dengan pita yang terlilit di goloknya.
Sorot mata Gong-suen Jing tajam seperti golok, menusuk langsung ke wajah orang itu, “Perkumpulan
Naga Hijau menyebarkan duabelas surat undangan, tapi hanya kalian bertiga yang datang malam ini.
Apakah kesembilan orang lainnya tidak akan datang?”
“Bagus, pertanyaan yang amat langsung ke tujuan,” kata Zhao Yi-dao.
“Kalian bertiga datang dari tempat yang jauhnya ribuan mil, tentu kalian bukan datang untuk
mendengarkan omong kosong,” Gong-suen Jing berkata.
“Tentu saja tidak.”
Miao Shao-tian menyeringai seram, “Dari sisa sembilan orang tamu itu, setidaknya ada tiga orang
yang tak akan datang.”
Zhao Yi-dao meralat, “Enam orang.”
“Perkumpulan Daun Bambu, Sekte Cincin Baja, dan keluarga Li dari Tai-yuan adalah hasil
perbuatanku,” kata Miao Shao-tian.
Zhao Yi-dao menambahkan, “Ketiga teman kita dari Perserikatan Duabelas Ayam, dari Perairan
Yangtze, dan Tinju keluarga Yen dari Chen-zhou, tiba-tiba merasa sakit kepala ketika mereka berada
dalam perjalanan ke sini, maka.....”
“Maka... apa?”
“Sekarang, kepala mereka tidak sakit lagi,” Zhao Yi-dao menjawab.
“Siapa yang mengobati mereka?”
“Aku.”
“Bagaimana caranya?”
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
6
Zhao Yi-dao menjawab, “Aku menebas putus kepala mereka.”
Lalu ia menambahkan dengan lambat, “Siapa pun yang kepalanya ditebas putus, mereka tidak akan
pernah sakit kepala lagi.”
Miao Shao-tian tertawa, “Cara yang bagus, sangat mujarab.”
Kuda Putih Zhang San sekonyong-konyong berkata, “Aku khawatir dua tetua dari Perkampungan
Seribu Bambu dan Kuil Ikan Terbang juga tidak akan datang.”
“Oh?”
“Mereka sedang tidur, dan tidurnya amat lelap.”
“Di mana mereka tidur?”
“Di dasar Danau Dong-ting.”
Miao Shao-tian tertawa, “Cerdik sekali. Tempat itu bukan saja sejuk, tapi juga tak akan pernah
diganggu orang.”
Kuda Putih Zhang San menjawab dengan tenang, “Aku selalu sangat memperhatikan tetua-tetua dari
Wulin.”
Zhao Yi-dao berkata, “Orang-orang yang seharusnya berada di sini, seharusnya juga sudah tiba, tapi
di mana orang-orang Perkumpulan Naga Hijau?”
“Bagus, pertanyaan yang langsung ke tujuan,” jawab Gong-suen Jing.
“Tuan mengundang kami ke sini bukan untuk mendengarkan omong kosong belaka, kurasa.”
Gong-Suen Jing mengangguk, “Memang bukan."
Zhao Yi-dao bertanya, “Bersediakah kau dengar dulu berapa hargaku?”
“Jangan sekarang.”
“Apa lagi yang kita tunggu?” tanya Zhao Yi-dao.
“Barang itu tidak kami dapatkan dengan mudah; semakin banyak orang yang ikut dalam pelelangan
ini, akan lebih baik pula harganya.”
Miao Shao-tian menatap dengan tajam, “Kau masih menunggu seseorang?”
“Jangan lupa, aku mengundang sembilan orang tamu lagi ke sini, tapi kalian baru menghabisi delapan
orang di antaranya.”
“Siapa yang masih tersisa?”
“Orang yang tidak sakit kepala ataupun tertidur.”
“Sejujurnya, barang itu tentu akan jatuh ke tangan kami Perkumpulan Rambut Merah, jadi tidak usah
perdulikan apakah ada lagi orang yang akan datang,” seringai Miao Shao-tian.
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
7
Kuda Putih Zhang San mengejek dengan dingin, “Perkumpulan Naga Hijau selalu adil dalam
berdagang. Asal tawaran hargamu adalah yang tertinggi, barang itu tentu akan jatuh ke tangan
Perkumpulan Rambut Merah.”
Miao Shao-tian berkata dengan kasar, “Kalian ingin bersaing denganku?”
“Untuk apa lagi kami datang?”
Miao Shao-tian segera bangkit dan menatapnya dengan tajam. Anting-anting emas di telinganya
masih bergemerincing.
Tiba-tiba terdengar bunyi gemuruh dan ringkik kuda. Sebuah kereta yang indah, ditarik oleh enam
ekor kuda, berhenti di luar.
Empat orang laki-laki kekar berdada bidang yang berpegangan pada kereta itu, lalu melompat turun,
dan membungkuk untuk membukakan pintu.
Setelah sekian lama, seorang laki-laki bermuka pucat, tidak berjenggot dan amat gemuk, melangkah
keluar dari kereta dengan terengah-engah. Belum ada tiga langkah, dia sudah kelelahan dan megapmegap
mencari napas seperti seekor kerbau yang habis membajak sawah.
Di belakangnya, seorang laki-laki tinggi kurus berpakaian hitam, mengikutinya seperti bayangan.
Wajahnya berwarna coklat dan kedua matanya cekung, persis seperti roh halus yang sedang sakit.
Tapi langkah kakinya amat ringan dan dua buah benda yang berkilauan tampak tergantung di
pinggangnya. Bila dilihat lebih dekat, benda-benda itu adalah sepasang pedang yang berbentuk unik.
Senjata semacam itu bukan saja sulit dilatih, tapi juga sukar untuk dibuat. Orang-orang yang
menggunakan senjata seperti ini amatlah langka, tapi siapa pun yang memakai senjata ini, sembilan
dari sepuluh orang tentulah jago yang tangguh.
Miao Shao-tian, Zhao Yi-dao dan Kuda Putih Zhang San, tiga pasang mata, semuanya segera tertuju
pada sepasang pedang yang unik itu.
Kuda Putih Zhang San mengerutkan alis sambil bertanya dengan pelan, “Siapa dia?”
Gong-suen Jing menjawab, “Tuan Muda Zhu dari Gedung Sejuta Emas di Suzhou.”
“Dan pengawalnya?”
Gong-suen Jing tersenyum, “Aku khawatir dia cuma seorang pengawal.”
Kuda Putih Zhang San terdiam, tapi tiba-tiba dia berpaling kepada Zhao Yi-dao, “Bukankah dia datang
dari arahmu?”
“Kurasa begitu,” jawab Zhao Yi-dao.
“Kenapa dia tidak sakit kepala?”
“Walaupun dia sakit kepala, aku tidak bisa mengobatinya.”
“Kenapa?”
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
8
“Kepalanya terlalu besar,” kata Zhao Yi-dao dengan nada ringan.
***
Tuan Muda Zhu sudah duduk, tapi tak henti-hentinya dia menghapus peluhnya dan terengah-engah.
Dia cuma berjalan paling banyak duapuluh atau tigapuluh langkah, tapi kelihatannya seperti baru saja
mendaki tujuh atau delapan buah gunung.
Laki-laki baju hitam itu tetap menempel di belakangnya seperti bayangan, tidak pernah lebih dari satu
inci pun dari sisinya, sepasang tangannya yang kurus seperti cakar burung tak pernah meninggalkan
senjata unik yang tergantung di pinggangnya.
Matanya yang cekung itu seperti mengejek, seolah-olah menertawakan siapa pun yang berdiri di
depannya, seakan-akan bertanya mengapa mereka membuang-buang waktu mereka datang ke sini.
Lampu lentera Losmen Angin Dan Awan bergoyang-goyang tertiup angin; persis seperti anting-anting
emas Miao Shao-tian yang selalu bergemerincing itu.
Kuda Putih Zhang San merasa kedinginan, dan pelan-pelan menarik bajunya menutupi dadanya yang
telanjang, sehingga hanya sedikit bagian dadanya yang masih belum tertutupi.
Zhao Yi-dao seperti sedang termenung menatap cawan arak di atas meja, seolah-olah sedang
mengambil keputusan mengenai suatu masalah yang rumit.
Tidak seorang pun yang bicara karena hawa permusuhan terasa tebal di antara orang-orang yang
hadir.
Gong-suen Jing jelas sedang menikmati hawa permusuhan itu. Pelan-pelan ia menarik napas dan
tersenyum, “Kalian berempat tidak kenal satu sama lain, tapi tentu pernah mendengar nama masingmasing.
Karena itu, aku tidak perlu memperkenalkan kalian lagi.”
“Memang tidak,” kata Miao Shao-tian.
“Kami datang ke mari bukan untuk mencari teman,” tambah Kuda Putih Zhang San.
“Walaupun seandainya kami berteman, untuk benda itu kami tidak akan berteman lagi,” Miao Shaotian
memutar bola matanya ke samping untuk meliriknya.
Kuda Putih Zhang San mengejek, “Ucapan Ketua Miao memang selalu masuk di akal.”
Miao Shao-tian balas mencemooh, “Sekarang semua orang sudah ada di sini, di mana barangnya?”
“Tentu saja barangnya ada, tapi......” kata Gong-suen Jing.
“Tapi.... apa?”
“Perkumpulan Naga Hijau selalu mengikuti aturan ketika sedang berdagang. Kami selalu bersikap adil,
baik kepada pelanggan yang tua maupun muda, dan pertukaran uang hanya berlangsung di tempat.”
"Baik!" Miao Shao-Tian setuju.
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
9
Dia lalu bertepuk tangan, dan sembilan orang laki-laki aneh berbaju tunik tiba-tiba muncul dari balik
kegelapan. Setiap orang memegang sebuah tas dari kain tunik, jelas tidak ringan bobotnya.
Pada saat itulah kembali terdengar bunyi langkah kaki yang berat di pintu. Laki-laki berjenggot ikal itu
pun datang membawa sebuah peti besi berukuran besar di atas kepalanya, sambil melangkah masuk
dengan perlahan-lahan. Otot-ototnya yang hitam seperti besi tampak menonjol keluar. Setiap kali
melangkah, kakinya selalu meninggalkan jejak kaki yang dalam di permukaan tanah.
“Anting-anting emas mengelilingi delapan tembok, kuda putih meringkik dalam hembusan angin,
sekarang aku sudah melihat, aku lihat Sembilan Pendekar Rambut Merah dan Raksasa Besi pun telah
datang,” Gong-suen Jing tersenyum.
“Jangan lupakan pula Delapan Golok Pemusnah,” tambah Kuda Putih Zhang San.
Zhao Yi-dao akhirnya mengangkat kepalanya dan tertawa, “Rambut Merah dari Sungai Timur dan
Kuda Putih dari Sungai Barat, keduanya memiliki kekayaan dan kekuasaan yang besar. Bagaimana
mungkin Golok-golok Kilat dari Tai-xing bisa bersaing untuk menjadi yang terdepan? Untuk barang ini,
kami bersaudara akan mengundurkan diri dari persaingan.”
Miao Shao-tian tertawa terbahak-bahak, “Bagus, Ketua Zhao memang berakal sehat.”
Tawanya tiba-tiba berhenti, sorot matanya yang seperti api terpaku pada Tuan Muda Zhu,
“Bagaimana dengan tuan muda dari Gedung Sejuta Emas?”
Napas Tuan Muda Zhu yang berat itu akhirnya berhenti dan ia lalu menatap tangannya seperti
seorang pemuda yang sedang memandang kekasih pertamanya.
Tapi ia tetap menjawab pertanyaan Miao Shao-tian dengan pertanyaan pula, “Kau menanyakan
tawaranku?”
“Hmm!”
“Tidak ada, aku biasanya terlalu malas untuk berpikir.”
Wajah Miao Shao-tian sekarang memperlihatkan kemarahannya, “Tidak ada tawaran? Tidak ada
emas?”
“Ada.”
“Berapa banyak yang kau bawa?”
“Kau ingin melihatnya?”
“Di sini, mereka amat menekankan pada pertukaran uang tunai di tempat.”
“Kau sudah melihatnya.”
“Di mana?”
“Kata-kataku adalah emas.”
Wajah Miao Shao-tian menjadi serius, “Jadi berapa banyak pun yang kau katakan, jumlahnya pasti
tersedia?”
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
10
“Benar.”
“Maksudmu, jika aku menawar seratus ribu, kau akan menawar seratus ribu satu?”
“Kau memang orang yang bijak.”
Tatapan mata Miao Shao-tian tiba-tiba bergeser ke arah sepasang pedang berbentuk unik itu.
Sembilan manusia aneh berambut merah dan berbaju tunik diam-diam telah bergerak mengepung
Tuan Muda Zhu. Tapi Tuan Muda Zhu tetap menatap sepasang tangannya. Seolah, selain kedua
tangannya itu, tidak ada lagi yang berharga untuk dipandang.
Dengan bunyi “tring!”, seperti dua buah cawan emas yang berbenturan, tangan Miao Shao-tian telah
mencakar ke arah sepasang pedang yang unik itu.
Gerak-geriknya tangkas dan akurat.
Dia tidak pernah mengira kalau sepasang tangan lain ternyata bergerak lebih cepat daripada
sepasang tangannya yang gemuk dan terperlihara dengan baik.
Tangannya belum sempat menjangkau sepasang pedang unik itu, tapi sepasang tangan lain itu tahutahu
sudah merenggut anting-anting emas dari telinganya.
Anting-anting emas itu berbenturan satu sama lain, dan terdengar bunyi “tring” lagi.
Miao Shao-tian berjumpalitan tinggi-tinggi di udara dan mundur sejauh enam meter.
Laki-laki baju hitam itu tetap menempel di belakang Tuan Muda Zhu seperti bayangan, sama sekali
tidak bergerak.
Tuan Muda Zhu masih menatap sepasang tangannya, cuma kali ini, anehnya, tangan itu sudah
menggenggam sepasang anting-anting yang terbuat dari emas.
***
Ekspresi wajah Kuda Putih Zhang San pun berubah.
Zhao Yi-dao menatap cawan arak di hadapannya dan tiba-tiba menghela napas, “Sekarang kalian
sudah paham apa maksudku?”
“Artinya?”
“Walaupun dia punya sakit kepala, aku tidak bisa mengobatinya.”
Kuda Putih Zhang San tak kuasa untuk tidak menghela napas juga, “Ya, kepala ini memang terlalu
besar.”
***
Gong-suen Jing tersenyum tipis, lalu berkata dengan perlahan-lahan, “Karena semua orang sudah
membawa uangnya, kita akan pergi melihat barang itu.”
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
11
“Benar, sebaiknya kita lihat dulu barang itu. Mungkin saja aku nanti tidak jadi mengajukan
penawaran,” kata Tuan Muda Zhu dengan santai.
Dia meletakkan anting-anting emas di tangannya ke atas meja, mengeluarkan sehelai kain sutera
seputih salju untuk menghapus keringatnya dengan hati-hati, dan akhirnya bangkit berdiri, “Silakan,
silakan tunjukkan jalannya.”
***
“Silakan, silakan ikuti aku,” kata Gong-suen Jing.
Dia yang lebih dulu berjalan memasuki losmen itu, diikuti dari belakang oleh Tuan Muda Zhu dengan
perlahan-lahan, sepertinya dia sudah akan terengah-engah lagi.
Laki-laki baju hitam tetap mengikuti, tidak lebih dari selangkah jauhnya dari Tuan Muda Zhu.
Sekarang Kuda Putih Zhang San pun paham kenapa mata orang ini menyimpan sorot mata yang
mencemooh.
Dia bukan memandang rendah orang-orang di sekitarnya, tapi malahan memandang remeh dirinya
sendiri.
Karena hanya dia yang paham bahwa orang yang dia lindungi sebenarnya tidak membutuhkan
perlindungannya sama sekali.
3.
Miao Shao-tian berjalan di urutan terakhir, sambil mencengkeram sepasang anting emasnya erat-erat,
sehingga urat-urat biru di punggung tangannya menonjol keluar.
Dia seharusnya tidak ikut, tapi dia harus ikut.
Benda itu seperti memiliki daya tarik yang aneh, menarik dirinya ke arahnya selangkah demi
selangkah.
Sampai saat terakhir pun dia tidak akan melepaskan kesempatan itu.
Tangga batu itu mula-mula menuju ke atas, tapi sekarang tiba-tiba menurun ke bawah,
memperlihatkan sebuah lorong yang gelap.
Di pintu lorong, berdiri dua orang manusia yang mirip patung. Setiap sepuluh langkah setelah itu juga
berdiri dua orang laki-laki, seperti dua orang pertama. Wajah mereka kelam seperti dinding batu
hijau.
Di dinding batu itu terukir seekor naga hijau perkasa.
Menurut kabar angin, Perkumpulan Naga Hijau mempunyai tiga ratus enampuluh lima cabang.
Tempat ini tentu salah satunya.
Di ujung lorong, ada sepasang jeruji besi yang amat tebal.
Gong-suen Jing mengeluarkan serenteng besar kunci dari sabuknya dan menggunakan tiga buah dari
kunci-kunci itu untuk membuka tiga buah gembok. Baru kemudian dua orang penjaga di balik jeruji
itu mendorong pintu hingga terbuka.
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
12
Tapi ini bukanlah pintu terakhir.
Gong-suen Jing tersenyum lembut, “Aku tahu banyak orang yang mampu untuk datang ke mari;
keamanan di tempat ini bukanlah yang paling sulit ditembus. Tetapi bergerak maju mulai dari sini
adalah tugas yang berat.”
“Mengapa?” tanya Tuan Muda Zhu.
“Di antara titik ini dan pintu batu di sana itu, total ada tigapuluh macam perangkap tersembunyi. Bisa
kujamin bahwa cuma tujuh orang di dunia ini yang bisa melewati semuanya.”
Tuan Muda Zhu menghela napas, “Untunglah, tentu aku bukan salah satu dari ketujuh orang itu.”
“Mengapa kau tidak mencoba?” kata Gong-suen Jing dengan sikap yang makin ramah.
“Mungkin aku akan mencobanya lain kali, tapi tidak sekarang.”
“Mengapa tidak?”
“Karena aku masih amat senang dengan hidupku sekarang ini.”
***
Jarak dari jeruji besi ke pintu batu itu tidak terlalu jauh, tapi setelah mendengar kata-kata Gong-suen
Jing, pintu batu itu seperti menjadi sepuluh kali lebih jauh.
Pintu batu itu tidak berat.
Kembali Gong-suen Jing menggunakan tiga buah kunci untuk membuka gembok-gembok di pintu itu.
Di balik pintu setebal dua kaki itu terdapat sebuah sel batu selebar sembilan kaki.
Ruangan itu terasa menyeramkan dan dingin, seolah-olah sedang berada di tengah kuburan kaisar
jaman kuno.
Di mana seharusnya peti mati berada, malah ada sebuah peti besi yang amat besar.
Untuk membuka peti ini, dibutuhkan paling sedikit tiga buah kunci lagi.
Tapi ketiga kunci ini bukanlah yang terakhir, karena di dalam peti itu ada lagi sebuah peti besi yang
lebih kecil.
Tuan Muda Zhu kembali menghela napas, “Menilik keamanan yang amat ketat ini, seharusnya kita
mengajukan penawaran yang lebih tinggi.”
“Tuan Muda Zhu memang orang yang bijak,” seringai Gong-suen Jing.
Ia mengeluarkan peti kecil itu dan membukanya.
Senyumnya yang ramah tiba-tiba lenyap, ekspresi wajahnya seperti orang yang disumpal mulutnya
dengan sebutir buah kesemek busuk.
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
13
***
Peti besi kecil itu kosong melompong, hanya ada sehelai kertas di dalamnya.
Di atas kertas tertulis, “Terima kasih, kau memang orang yang baik.”
4.
Kamar batu itu seram dan dingin, tapi Gong-suen Jing malah mengucurkan keringat. Butir-butir
keringat sebesar kacang kedelai pun mengucur di wajahnya yang pucat.
Tuan Muda Zhu memandangnya, sorot matanya lembut seperti ketika dia sedang menatap tangannya
sendiri, dan katanya dengan lembut, “Kau tentu tahu.”
“Tahu.... tahu apa?”
“Tahu siapa yang berterima-kasih padamu.”
Gong-suen Jing mengepalkan tinjunya dan tiba-tiba membalikkan badan dan berlari keluar.
Tuan Muda Zhu menarik napas dan bergumam, “Agaknya dia benar-benar orang yang baik.
Sayangnya, mereka bilang orang yang baik tidak akan berumur panjang......”
***
“Misalkan benar-benar cuma tujuh orang yang bisa melewati ketigapuluh perangkap tadi, siapa saja
ketujuh orang itu?”
“Ada satu orang yang jelas tidak akan menemui hambatan sama sekali. Tak perduli bagaimanapun
caramu menentukan ketujuh orang itu, dia tetap harus menjadi salah satu dari ketujuh orang itu.”
“Siapa dia?”
“Bai Yu-jing!”
Bab 2: Bai Yu-Jing
Bai Yu-jing tidak berada di khayangan, tapi di atas punggung kuda.
[Catatan: Bai Yu-jing berarti Kota Pualam Putih, yang muncul pada bait syair terkenal di atas,
digunakan oleh Gu Long sebagai nama tokoh utama dalam cerita ini.]
Pelananya sudah usang, sepatu kulit dan sarung pedangnya pun sama tuanya, tapi bajunya masih
baru.
Sarung pedang itu terayun-ayun di pelananya; angin musim semi berhembus lembut di wajahnya.
Ia merasa amat senang, amat gembira.
Pelana tua terasa lebih empuk untuk diduduki; sepatu kulit usang terasa lebih nyaman di kaki; sarung
bekas tidak akan merusak ujung pedangnya yang tajam; pakaian baru selalu membuatnya merasa
waspada dan tenang, penuh tenaga.
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
14
Yang paling membuatnya gembira, tapinya, bukanlah benda-benda itu, tapi sepasang mata.
Di dalam kereta besar di depannya, sepasang mata yang indah menawan sedang mengintip ke
arahnya dengan sembunyi-sembunyi. Ini bukanlah pertama kalinya ia melihat mata itu. Ia ingat
bahwa saat pertama kali ia melihatnya adalah ketika berada di sebuah losmen di sebuah kota kecil.
Dia baru saja memasuki losmen itu, gadis itu kebetulan sedang melangkah keluar.
Gadis itu pun bertubrukan dengannya.
Senyum minta maafnya tampak malu-malu, wajahnya merah padam seperti matahari yang dibasahi
oleh air hujan.
Melihat tingkahnya yang malu-malu, dia pun berharap gadis itu akan bertubrukan lagi dengannya,
karena walaupun perempuan itu seorang wanita yang amat menarik, dia sendiri bukanlah seorang
lelaki sejati yang sempurna.
Kali kedua ia melihatnya di sebuah rumah makan. Ia baru saja hendak meneguk cawan minumannya
yang kedua ketika gadis itu masuk, dan memberikannya senyuman yang sama, sambil menundukkan
kepalanya dengan malu-malu kucing.
Senyuman gadis itu tetap malu-malu. Kali ini Bai Yu-jing juga tersenyum.
Ini dilakukannya karena dia tahu, seandainya gadis ini berjumpa dengan orang lain, dia tentu tak
akan tersenyum seperti itu.
Dia juga tahu bahwa dirinya bukanlah laki-laki yang tidak menarik, sesuatu yang amat dia yakini
penuh.
Itulah sebabnya ia pergi lebih dulu, tapi tidak tergesa-gesa melanjutkan perjalanannya.
Seperti yang diperkirakan, kereta gadis itu sekarang telah menyusulnya – apakah ini terjadi dengan
sengaja? Atau murni kebetulan saja? Dia memandang dirinya sendiri sebagai seorang petualang,
terlahir untuk mengembara, dan telah bertemu segala jenis manusia di sepanjang perjalanannya.
Ada orang-orang liar berjenggot merah yang berkeliaran di luar dinding peradaban, dan para ksatria
berbaju besi yang memacu kudanya melintasi gurun pasir besar; ada pula penjahat-penjahat kejam
yang membunuh orang tanpa berkedip matanya, serta orang-orang muda yang idealis.
Tapi hidupnya selalu segar dan berwarna.
Ia tidak pernah bisa meramal – peristiwa apa yang akan terjadi pada tahap berikutnya dari
perjalanannya? Orang-orang macam apa pula yang akan ia temui?
Angin berhembus semakin dingin.
Hujan musim semi yang membawa kabut tiba-tiba turun dari awan, membasahi baju barunya.
Kereta di depannya tiba-tiba berhenti. Ia lalu mendekatinya dan melihat bahwa tirainya telah
tersingkap, dan mata yang memikat itu sedang menatapnya dengan tajam.
Sorot mata yang memikat, senyum malu-malu, bentuk wajah yang seperti biji kuaci, tanpa sentuhan
alat rias, tetapi mengenakan baju berwarna cerah seperti matahari terbenam di balik awan.
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
15
Gadis itu menunjuk pada kakinya yang indah, lalu pada baju Bai Yu-jing yang basah.
Tangannya tampak halus dan jari-jarinya lentik seperti daun bawang di musim semi.
Bai Yu-jing menunjuk dirinya sendiri, kemudian menunjuk bagian dalam kereta.
Gadis itu mengangguk, dan dengan senyum memikat, membukakan pintu.
Bagian dalam kereta itu tampak nyaman dan kering, alas tempat duduk yang terbuat dari sutera
tampak halus seperti kulit gadis itu.
Ia turun dari kuda dan melangkah masuk ke dalam kereta.
Hujan masih turun bersama kabut; hujan ini turun pada saat yang tepat.
Di musim semi, agaknya alam sering sekali memanjakan manusia dengan mengatur perjumpaanperjumpaan
tak disengaja, membuat orang-orang yang menawan hati bertemu di tempat-tempat tak
terduga.
Tidak ada kecanggungan, juga tiada kata-kata yang tidak perlu.
Seolah-olah Bai Yu-jing sudah mengenalnya sejak dia lahir. Seakan-akan di sepanjang hidupnya dia
sudah terbiasa duduk di dalam kereta ini.
Ini perjalanan yang sunyi, penuh kepedihan bagi orang-orang yang melakukannya – tapi siapa yang
bisa mengatakan bahwa mereka seharusnya tidak bertemu secara kebetulan?
Ketika dia bermaksud hendak mengusap wajahnya yang basah dengan lengan bajunya, gadis itu
memberikan sehelai saputangan sutera merah yang lembut.
Dia menatap gadis itu, tapi si nona menundukkan kepalanya dan bermain-main dengan ujung
bajunya.
“Terima kasih kembali.”
“Margaku Bai, namaku Bai Yu-jing.”
Si nona tersenyum menawan dan berkata, “Kota pualam putih di langit? Punya lima menara dan
duabelas benteng, di mana seorang dewa berdiam di atas kepalaku, memelihara rambut yang
panjang dan hidupku bersamanya.”
Bai Yu-jing pun tersenyum. “Kau juga menyukai Li Bai?”
Si nona memegang ujung bajunya dengan jari-jarinya yang lentik, dan mulai bersyair dengan suara
yang sungguh-sungguh, “Saat melakukan perjalanan di Laut Timur, aku melihat keajaiban gunung
Lao. Di atas gunung aku bertemu dengan Tuan An yang legendaris, yang memberiku buah plum
sebesar melon, sehingga aku berangkat tua tanpa teringat pada kampung halamanku. Rona muka
seorang pemuda telah lenyap dari wajahku, dan rambutku pun memutih yang menandakan akhir
kehidupanku. Aku dahaga akan obat awet muda, dan melangkah ke atas kereta awan. Aku ingin ikut
tuanku ke negeri khayangan di seberang sana, dan menghabiskan waktuku dengan membersihkan
bunga-bunga yang berguguran, ditemani oleh para bidadari.”
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
16
Di bagian yang menyebutkan 'gunung Lao', suaranya agak berhenti sejenak.
Bai Yu-jing memberanikan diri, “Nona Lao?”
Sambil menundukkan kepala semakin rendah, si nona menjawab dengan lembut, “Yuan Zi-xia.”
Tiba-tiba terdengar bunyi derap kaki kuda, tiga ekor kuda lalu melintas, dan tiga pasang mata yang
tajam menyapu ke bagian dalam kereta.
Saat kuda-kuda itu lewat dengan kecepatan tinggi, penunggang kuda yang paling belakang mendadak
melompat dari pelananya, melayang ke belakang sejauh dua zhang dan mendarat di atas pelana kuda
Bai Yu-jing, dan dengan ujung kakinya menggaet sarung pedang yang tergantung di pelana.
Ketiga ekor kuda tadi kembali berbalik ke arah kereta.
Sambil memutar tubuhnya, penunggang kuda tadi lalu berpindah dengan cekatan ke atas kudanya
sendiri.
Dalam sekejap mata ketiga ekor kuda itu sudah menghilang dalam kabut yang samar-samar, tidak
terlihat lagi.
Mata indah Yuan Zi-xia terbelalak dan ia pun berseru, “Mereka mencuri pedangmu!”
Bai Yu-jing menyeringai tipis.
Yuan Zi-xia berkata, “Kau melihat mereka mengambil barangmu, dan kau tidak mau berbuat apaapa?”
Bai Yu-jing tetap menyeringai.
Sambil menggigit bibirnya, Yuan Zi-xia berkata, “Menurut cerita, ada orang-orang di dunia persilatan
yang memandang pedang mereka sebagai nyawa mereka sendiri.”
“Aku bukan orang seperti itu,” kata Bai Yu-jing.
Yuan Zi-xia menghela napas dengan lembut, tampaknya dia kecewa.
Apakah ada gadis yang tidak mengagumi pahlawan-pahlawan yang tampan? Jika kau berkelahi hingga
mati demi sebilah pedang, mereka mungkin akan menganggapmu sebagai orang tolol, atau mungkin
mereka akan menumpahkan air mata untukmu.
Tapi jika kau cuma duduk mengawasi orang lain mengambil pedangmu dan tak berbuat apa-apa,
mereka tentu akan merasa kecewa.
Bai Yu-jing menatapnya, lalu menyeringai sekali lagi dan berkata, “Agaknya kau tahu banyak tentang
dunia persilatan.”
Yuan Zi-xia menjawab, “Tidak banyak, tapi aku suka mendengarkan dan menonton.”
“Itukah sebabnya kau pergi dari rumah untuk melakukan perjalanan seorang diri?” tanya Bai Yu-jing.
Yuan Zi-xia mengangguk, dan memain-mainkan ujung bajunya lagi.
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
17
Bai Yu-jing lalu berkata, “Untunglah belum banyak yang kau lihat; bila telah banyak yang kau lihat,
kau tentu akan kecewa.”
“Mengapa?” Yuan Zi-xia bertanya.
“Hal-hal yang akan kau lihat tidak seromantis cerita-cerita yang pernah kau dengar,” Bai Yu-jing
menjawab.
Yuan Zi-xia agaknya ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi tidak jadi.
Tepat saat itulah bunyi derap kaki kembali berkumandang, tiga ekor kuda yang baru lewat tadi
ternyata kembali lagi.
Penunggang satunya mencondongkan badan ke belakang seperti bendera yang tertiup angin, dan
dengan tangan terjulur, mengembalikan sarung tadi ke tempatnya semula di samping pelana.
Pada saat yang sama, kedua temannya menjura bersamaan dan membungkukkan badan ke depan
dari pelana mereka, sebelum kembali menghilang dalam kabut.
Mata Yuan Zi-xia pun terbelalak, tampaknya ia merasa bingung dan bersemangat, “Mereka
mengembalikan pedangmu!”
Bai Yu-jing hanya menyeringai.
Yuan Zi-xia mengedip-ngedipkan matanya, lalu berkata, “Kau tahu mereka akan mengembalikannya?”
Bai Yu-jing menyeringai lagi.
Yuan Zi-xia menatapnya, matanya bersinar terang. “Agaknya mereka takut padamu.”
“Takut padaku?” Bai Yu-jing mengulang.
“Kau.... kau tentu telah banyak membunuh orang dengan pedang itu!” suara Yuan Zi-xia bergetar
karena terlalu bersemangat.
“Apakah aku kelihatan seperti seorang pembunuh?” Bai Yu-jing mengulang.
“Tidak,” Yuan Zi-xia mengakui.
“Kurasa juga tidak,” kata Bai Yu-jing.
“Tapi, kalau begitu, kenapa mereka takut padamu?” Yuan Zi-xia bertanya dengan ragu-ragu.
“Mungkin mereka takut padamu, bukan padaku,” Bai Yu-jing berkata.
Yuan Zi-xia tersenyum. “Aku? Mengapa mereka takut padaku?”
Bai Yu-jing berkata sambil menghela napas, “'Satu senyuman bisa menaklukkan sebuah kota, satu
senyuman lagi bisa meratakan sebuah negara'. Tak perduli betapa pun tajamnya sebuah pedang,
tetap saja tidak bisa dibandingkan dengan senyuman seorang perempuan cantik.”
Kali ini senyuman Yuan Zi-xia semakin menawan. Dengan mata berkedip-kedip, ia pun bertanya,
“Kau.... kau takut padaku tidak?”
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
18
Seperti ada kekuatan yang tak tertahankan di dalam sorot matanya, sesuatu yang seperti menantang
Bai Yu-jing.
Sambil menarik napas, Bai Yu-jing berkata, “Walaupun aku tidak ingin takut padamu, tapi aku tak bisa
mencegahnya.”
Yuan Zi-xia menggigit bibirnya, lalu berkata, “Jika kau takut padaku, sebaiknya kau lakukan apa yang
kukatakan, benar?”
“Tentu saja,” Bai Yu-jing menjawab.
“Bagus,” Yuan Zi-xia tampak puas. “Aku ingin kau minum bersamaku.”
Bai Yu-jing tampak heran. “Kau bisa minum?”
“Aku kan tidak kelihatan seperti orang yang tak kuat minum?”
“Memang,” Bai Yu-jing menjawab sambil menghela napas lagi.
Ia tidak punya pilihan kecuali harus mengakuinya.
Karena ia tahu, minum itu seperti membunuh orang, kau tidak bisa tahu siapa yang hebat dalam hal
itu hanya dari tampangnya saja.
Bai Yu-jing pernah mabuk sebelumnya, cukup sering malah, tapi tidak pernah semabuk ini.
Ketika dia masih amat muda, dia telah mendapatkan sebuah pelajaran.
Di dunia persilatan, ada tiga jenis manusia yang paling sukar dihadapi – pengemis, pendeta dan
perempuan.
Jika kau ingin melewati hari-harimu dengan tenang, sebaiknya jangan ganggu mereka, baik itu
dengan berkelahi atau dengan adu minum.
Sayangnya lama-kelamaan dia telah melupakan pelajaran ini, mungkin karena dia tidak ingin hariharinya
lewat begitu tenang.
Inilah sebabnya kenapa dia akhirnya tersadar dengan kepala yang rasanya seperti akan pecah.
Dia hanya teringat bahwa akhirnya dia beruntun kalah tiga babak dalam adu minum mereka, dan
dihukum harus menenggak tiga cawan besar arak dengan amat cepat.
Sesudah itu benaknya seperti mendadak kosong, dan jika bukan karena sesuatu yang dingin seperti
es menyentuh wajahnya, dia mungkin tidak akan terbangun.
Sesuatu yang dingin seperti ini tentulah tangan Xiao Fang.
Tidak ada orang yang memiliki tangan sedingin ini, kecuali karena Xiao Fang tidak punya tangan
kanan.
Di tempat di mana seharusnya tangan kanannya berada, terdapat sebuah gaetan besi.
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
19
Xiao Fang bernama Fang Long Xiang, walaupun dia tidak kecil lagi.
Jika kau dengar nama ini, dan mengira dia seorang wanita, maka kau keliru besar, karena
kemungkinan besar amat sedikit laki-laki yang lebih jantan daripada dirinya.
Walaupun sudut matanya sudah ada kerutan, matanya masih tajam dan cemerlang, dan bisa melihat
apa saja yang mungkin tidak kau lihat.
Sekarang dia sedang menatap Bai Yu-jing.
Bai Yu-jing mengangkat kepala dan, sambil mendekap kepalanya, berkata, “Ya Tuhan, kau. Mengapa
kau datang?”
“Aku ada di sini karena nenek-moyangmu sudah cukup mendapatkan ganjarannya,” Fang Long Xiang
menjawab.
Dengan gaetan besinya dia membelai pelan leher Bai Yu-jing, dan berkata dengan nada acuh tak
acuh, “Jika aku adalah Gaetan Kembar Wei Chang, aku khawatir kepalamu mungkin sudah berada di
tempat lain.”
Bai Yu-jing menghela napas sambil bergumam, “Kematian yang amat cepat seperti itu mungkin tidak
begitu menyenangkan.”
Fang Long Xiang juga menghela napas, “Itulah salah satu masalahmu, hidupmu selama ini terlalu
menyenangkan.”
“Bagaimana kau tahu aku berada di sini?” Bai Yu-jing bertanya.
“Kau tahu bagaimana kau bisa berada di sini?” Fang Long Xiang balas bertanya.
Mereka berada di sebuah kamar yang tampaknya amat bersih, dengan sebuah jendela yang
memperlihatkan kerimbunan sebatang pohon pakis besar di luar sana.
Bai Yu-jing memandang ke sekelilingnya, menyeringai tak berdaya dan berkata, “Benarkah kau yang
membawaku ke mari?”
Fang Long Xiang berkata, “Lalu menurutmu siapa lagi?”
Bai Yu-jing berkata, “Di mana Nona Yuan?”
“Dia mabuk sepertimu,” Fang Long Xiang menjawab.
Bai Yu-jing tersenyum. “Aku tahu dari awal, tidak mungkin dia bisa minum lebih banyak dariku.”
“Dia tidak bisa minum lebih banyak darimu? Lalu bagaimana kau bisa mabuk lebih dulu?” Fang Long
Xiang bertanya.
“Aku minum lebih banyak.”
“Oh.”
“Sebagai seorang lelaki, aku tidak mendesak agar dia minum sebanyak diriku, dan sementara kami
adu minum, aku tidak memintanya untuk berpegang teguh pada aturan, jadi bagaimana mungkin aku
tidak bisa minum lebih banyak dari dia?” Bai Yu-jing memberikan alasan.
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
20
“Jika kalian berdua berkelahi, sebagai seorang laki-laki, kau juga tentu tidak akan menanggapinya
dengan serius,” kata Fang Long Xiang.
“Tentu saja.”
Fang Long Xiang menghela napas. “Ujar-ujar orang tua dulu di dunia persilatan memang tidak pernah
keliru.”
“Ujar-ujar yang mana?”
“Karena sebagian besar laki-laki punya masalah yang sama denganmu, jadi orang-orang tua dulu
sudah paham, baik berkelahi atau minum, jangan pernah bertanding dengan seorang wanita.”
“Kau sekarang sudah jadi orang tua?” Bai Yu-jing menyeringai.
Fang Long Xiang melanjutkan, “Tapi, ada satu hal yang tidak terpikirkan olehku, yaitu betapa
besarnya perkembangan egomu.”
“Ego yang mana?”
“Sementara kau enak-enakan tidur di sini, sedikitnya ada sepuluh orang yang berdiri menjaga di luar.”
Tampak terperanjat, Bai Yu-jing segera bertanya, “Orang-orang macam apa?”
“Orang-orang yang biasanya dikirim oleh musuh yang tangguh.”
“Siapa saja mereka?”
“Jika kau bisa bangkit, lebih baik kau lihat sendiri.”
Kamar itu adalah kamar terakhir di lantai atas sebuah bangunan kecil. Di kamar itu terdapat sebuah
jendela belakang yang menghadap ke sebuah gang sempit.
Seorang laki-laki bungkuk memakai topi sobek dan mantel hujan yang compang-camping duduk
terkantuk-kantuk di bawah terik matahari musim semi.
Fang Long Xiang mendorong daun jendela hingga terbuka dengan gaetannya. “Tahukah kau siapa si
bungkuk itu?”
“Aku hanya bisa melihat bahwa dia bungkuk,” Bai Yu-jing berkata dengan nada getas.
“Kau akan tahu siapa dia jika dia melepaskan topinya.”
“Bagaimana aku bisa tahu?”
“Karena warna rambutnya berbeda dengan orang lain.”
Sambil mengerutkan alisnya, Bai Yu-jing berkata, “Perkumpulan Rambut Merah dari Sungai Timur?”
Fang Long Xiang mengangguk. “Dilihat dari tampangnya, jika bukan orang kedua dari Sembilan
Sekawan Berambut Merah, dia tentu yang nomor tujuh.”
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
21
Bai Yu-jing tidak bertanya lagi, karena dia selalu percaya pada mata Fang Long Xiang yang tajam.
Fang Long Xiang berkata, “Kau lihat lagi orang yang berada di bawah pohon di pintu masuk sana.”
Di pintu masuk ke gang sempit itu berdiri sebatang pohon buah yang besar, di bawahnya terdapat
sebuah gerobak penjual sup akar teratai. Pemilik gerobak itu sedang menuangkan seperiuk air
mendidih ke dalam semangkok tepung.
“Kekuatan pergelangan tangannya lumayan,” Bai Yu-jing berkata.
“Tentu saja lumayan,” Fang Long Xiang menjawab. “Kalau tidak, dia tak akan mampu menggunakan
golok seberat duapuluh tujuh pon.”
“Golok seberat duapuluh tujuh pon? Dia dari Gunung Tai-hang?”
“Akhirnya kali ini kau benar. Goloknya disembunyikan di dalam gerobaknya.”
“Bagaimana dengan orang yang sedang makan sup itu?” Bai Yu-jing menunjuk.
Berjongkok di bawah pohon itu ada seorang laki-laki yang menggenggam mangkuk berisi sup akar
teratai. Dia menghirupnya lambat-lambat, tapi matanya selalu terpaku ke arah kamar mereka.
Fang Long Xiang berkata, “Di gerobak itu terdapat dua bilah golok.”
Bai Yu-jing bertanya, “Mereka berdua adalah kakak-beradik di bawah pimpinan Zhao Yi-dao?”
“Dialah Zhao Yi-dao,” Fang Long Xiang menjawab. Dia menepuk bahu Bai Yu-jing. “Mendapatkan
Zhao Yi-dao sebagai penjagamu, kau tak bisa mengatakan kalau egomu kecil.”
Bai Yu-jing tersenyum. “Egoku memang tidak kecil.”
Tepat saat itulah, seorang detektif pemerintah, memakai topi berujung bundar dan berseragam warna
pucat, datang mengendap-endap dari ujung lain gang itu. Ketika tiba di bawah pohon, dia juga
membeli semangkuk sup.
“Tampaknya Zhao Yi-dao seharusnya berganti profesi menjadi penjual sup akar teratai saja,” Bai Yujing
berkata sambil menyeringai. “Berdagang sup ini hasilnya lumayan, dan agaknya tidak ada
resikonya.”
“Tidak beresiko?” tanya Fang Long Xiang.
“Resiko apa yang ada di sana?” Bai Yu-jing balas bertanya.
“Laki-laki bertopi merah berujung bundar itu, siapa yang tahu kapan dia akan menusuk
punggungnya.”
“Sejak kapan detektif pemerintah membunuh orang semaunya sendiri di sebuah gang sempit?”
“Dia sekarang sedang memakai topi detektif, tapi dia datang ke sini dengan seekor kuda putih.”
“Kuda Putih Zhang San?” kata Bai Yu-jing.
“Kau tidak yakin?”
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
22
“Kuda Putih Zhang San selalu bekerja seorang diri. Bagaimana dia bisa bergabung dengan orangorang
ini?”
Fang Long Xiang berkata dengan nada kering. “Itulah pertanyaan yang ingin kuajukan padamu.”
“Mungkinkah ini kebetulan saja?”
“Sedikit sekali kejadian yang serba kebetulan di dunia ini.”
Bai Yu-jing menuangkan secawan teh dingin untuk dirinya sendiri, menenggaknya dalam satu
tegukan, lalu bertanya, “Selain keempat orang itu, siapa lagi yang ada di sana?”
“Kau tidak ingin melihat keluar?” kata Fang Long Xiang.
“Orang-orang ini saja sudah cukup untuk kulihat.”
“Cobalah perhatikan lebih jauh, kujamin orang-orang lainnya tidak kalah menarik.”
“Bagaimana kau tahu semua orang ini akan datang ke sini?” Bai Yu-jing bertanya.
“Jangan lupakan tempat siapa ini,” Fang Long Xiang menjawab sambil menyeringai.
Bai Yu-jing pun menyengir. “Jika aku lupa, aku tidak akan pingsan dalam keadaan mabuk.”
Fang Long Xiang mengawasinya dengan kesal. “Jadi semua ini sudah direncanakan olehmu. Kau
sudah memperhitungkan kalau aku akan menjagamu.”
“Kau adalah penjagaku, dan kau pun tentu bersedia memberi piutang padaku,” Bai Yu-jing berkata
sambil tersenyum. “Karena aku tamu di sini, aku akan menyerahkan segalanya ke tanganmu.”
“Kau akan berhutang apa saja?”
“Aku berhutang makan dan minum, sampai kau menjerit meminta bantuanku.”
Fang Long Xiang menarik napas dan tersenyum letih. “Orang sepertimu memang tidak pernah mabuk
di tempat yang salah.”
Di bawah jendela depan kamar itu terdapat sebuah halaman yang tidak besar dan juga tidak kecil.
Sebatang pohon ungu tumbuh di halaman itu, di bawahnya terdapat sebuah gentong besar berisi ikan
mas.
Seorang pemuda gemuk, dengan menggendong tangan, sedang mengawasi ikan mas itu. Sesosok
tubuh jangkung dan kurus berbaju hitam berada di belakangnya bagaikan sebuah bayangan.
Seorang wanita tua yang seluruh rambutnya sudah memutih, membimbing seorang bocah berusia
tigabelas atau empatbelas tahun menyeberangi halaman itu dengan langkah-langkah yang lambat.
Tiga orang laki-laki kekar berbaju warna terang dan ringkas berdiri dalam sebuah barisan di depan
kamar-kamar di sebelah barat halaman itu, menatap lurus ke pintu gerbang seakan-akan sedang
menantikan seseorang.
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
23
“Aku melihat tiga orang itu kemarin,” Bai Yu-jing berkata.
“Di mana?” kata Fang Long Xiang.
“Di jalan raya.”
“Mereka sedang mencarimu?”
“Mereka hanya ingin meminjam pedangku untuk dilihat.”
“Lalu?”
“Lalu mereka mengembalikannya,” Bai Yu-jing menjawab dengan tenang. “Seandainya ketua
Perkumpulan Naga Hijau sendiri yang meminjam pedangku, dia pun tentu akan mengembalikannya
juga.”
Fang Long Xiang mengerutkan kening dan berkata, “Kau tahu mereka berasal dari Perkumpulan Naga
Hijau?”
“Jika bukan dari Naga Hijau, aku ragu kalau yang lainnya punya nyali sebesar ini.”
Fang Long Xiang meliriknya dari sudut matanya, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata,
“Memangnya kau pikir siapa dirimu?”
“Aku adalah Bai Yu-jing.”
Fang Long Xiang mengedip-ngedipkan matanya. “Lalu orang macam apakah Bai Yu-jing itu?”
Bai Yu-jing menjawab sambil menyeringai, “Orang yang tidak gampang dibunuh.”
Tiba-tiba, dengan bunyi gemeretak yang nyaring, gentong berisi ikan mas tadi pecah, ditimpuk oleh
sebuah benda tak dikenal. Air di dalamnya tumpah, dan nyaris membasahi pemuda gemuk tadi.
Tidak ada yang menyangka kejadian itu, tapi tubuh pemuda gemuk yang berbobot beberapa ratus
pon itu tiba-tiba melayang ke atas. Dengan sebuah jari ia menggaet sebuah ranting pohon dan
bergantungan di udara, seolah-olah tubuhnya terbuat dari kertas.
Yang mengejutkan, ternyata celana laki-laki baju hitam di belakangnya yang menjadi basah kuyup.
“Siapa yang menyangka, ilmu ginkangnya ternyata lumayan,” kata Bai Yu-jing.
“Kau tidak tahu siapa dia?” Fang Long Xiang bertanya.
“Dilihat dari gerakannya, tampaknya dia dari Sekte E'Mei, tapi sejak tigapuluh tahun yang lalu di sekte
itu cuma ada pendeta-pendeta wanita, semuanya juga cuma makan sayuran. Mereka tidak mungkin
mempunyai anggota gemuk seperti dia.”
“Kau lupa dengan ketua sekte E'Mei,” Fang Long Xiang memotong. “Dari keluarga mana dia berasal,
sebelum dia menjadi seorang pendeta?”
“Keluarga Zhu, dari propinsi Su.”
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
24
“Benar,” Fang Long Xiang membenarkan. “Orang gemuk ini adalah putera sulung keluarganya, sang
tuan muda.”
“Bagaimana dengan pengawalnya?”
“Aku tidak yakin,” kata Fang Long Xiang. “Tapi dinilai dari kungfunya, paling-paling hanya seorang
jagoan kelas tiga.”
“Dia jelas-jelas punya kungfu kelas satu, jadi mengapa membawa seorang pengawal kelas tiga?”
“Karena hal itu menyenangkan dirinya?” Fang Long Xiang mengangkat bahu.
Ikan mas dalam gentong tadi ikut keluar bersama air. Mereka bergelimpangan tak keruan di atas
tanah.
Tapi laki-laki baju hitam itu tetap berdiri tak bergerak dengan kaki terendam dalam air. Matanya yang
cekung tujuh bagian memperlihatkan perasaan muram, dan tiga bagian perasaan duka.
Fang Long Xiang tiba-tiba menghela napas panjang dan berkata, “Itulah orang yang patut dikasihani.”
“Kau kasihan padanya?” Bai Yu-jing bertanya.
“Jika bukan terbentur tembok hingga tak bisa lari ke mana-mana, siapa yang mau menerima
pekerjaan seperti ini? Juga, dilihat dari senjatanya, dahulu dia mungkin memiliki sedikit ketenaran di
dunia persilatan, tapi sekarang.....” Fang Long Xiang sekonyong-konyong merubah pokok
pembicaraan dan malah bertanya, “Tahukah kau siapa yang memecahkan gentong tadi?”
"Si-Ma Guong?" Bai Yu Jing menerka-nerka.
* [Si-Ma Guong, seorang pelajar dan pejabat ternama di masa dinasti Song Utara, yang dalam sebuah
dongeng terkenal memecahkan sebuah gentong dengan batu-bata untuk menolong seorang
sahabatnya.]
Fang Long Xiang menatapnya dengan kesal. “Lucu, lucu sekali.”
Bai Yu-jing menyeringai dan berkata, “Jika bukan Si-Ma Guong yang memecahkan gentong itu, tentu
seseorang yang bersembunyi di kamar ketiga di sisi timur sana.”
Setelah menjatuhkan diri dari ranting pohon tadi, Tuan Muda Zhu pun mendengus ke arah kamar
sana.
Perempuan tua berambut putih tadi lalu muncul dengan sebuah baskom cucian, jelas dia ingin
memasukkan ikan-ikan mas tadi ke dalamnya. Langkah kakinya limbung, tiba-tiba dia tersandung, dan
air di dalam baskom pun tumpah ke atas tanah.
“Menurutmu, siapa perempuan itu?” Bai Yu-jing bertanya.
“Seorang wanita tua,” Fang Long Xiang menjawab.
“Mengapa seorang wanita tua datang ke sini?”
“Ini adalah losmen, siapa pun boleh datang ke tempat ini.”
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
25
“Setidaknya, dia bukan ke mari karena aku?”
“Kau belum cukup tua.”
“Naga Hijau, Golok Kilat, Rambut Merah dan Kuda Putih, semua orang ini datang ke sini hanya
untukku?” Bai Yu-jing terdengar ragu-ragu.
“Bagaimana menurutmu?”
“Aku tidak tahu.”
“Kau pernah bersalah pada mereka sebelumnya?”
“Tidak,” Bai Yu-jing menggelengkan kepalanya.
“Tidak pernah mengambil barang milik mereka?”
“Apakah aku seorang perampok?”
“Meskipun tidak, kau kan tidak jauh dari itu.”
Bai Yu-jing tertawa, lalu berkata dengan santai, “Jika mereka benar-benar datang ke sini untukku,
mengapa mereka tidak mencariku?”
“Mungkin mereka takut padamu, atau mungkin mereka sedang menunggu seseorang,” Fang Long
Xiang menjawab.
“Menunggu siapa?”
“Perkumpulan Naga Hijau mempunyai tiga ratus enam puluh lima cabang, masing-masing dipimpin
oleh seorang kepala cabang. Tidak seorang pun dari mereka bisa diatasi dengan mudah.”
“Aku pun agaknya tidak bisa diatasi dengan mudah,” Bai Yu-jing berkata sambil tersenyum.
“Bagaimana dengan dia?” Fang Long Xiang bertanya.
“Dia?”
“Pendekar wanitamu yang sedang mabuk itu.”
“Kenapa dengan dia?”
“Karena dia datang bersamamu, kau tidak akan meninggalkannya begitu saja, kan?” Fang Long Xiang
bertanya. “Mereka sudah tahu kalau dia bersamamu, jadi menurutmu mereka akan melepaskan dia
begitu saja?”
Sambil mengerutkan keningnya, Bai Yu-jing pun terdiam.
Fang Long Xiang menghela napas. “Hidupmu sudah cukup menyenangkan. Mengapa membuang
semua itu dan datang ke sini untuk mengalami penderitaan?”
Bai Yu-jing tersenyum tenang. “Aku toh belum menderita.”
Grafity, http://mygrafity.wordpress.com
26
“Walaupun belum dimulai, masalah itu tentu hanya tinggal menunggu waktu,” Fang Long Xiang
berkata sambil menyeringai.
Baru saja habis kata-katanya, terdengar seseorang mengetuk dinding kamar sebelah.
“Itukah dia?” Bai Yu-jing bertanya.
Fang Long Xiang mengangguk dan menepuk bahunya. “Aku khawatir penderitaanmu baru saja
dimulai.”
“Penderitaan apa?”
“Terkadang penderitaan adalah kesenangan, dan kesenangan adalah penderitaan,” Fang Long Xiang
bertutur dengan bijaksana.
Yuan Zi-xia berbaring di bantal dengan rambut yang kusut, wajahnya pucat pasi seperti baru saja
menderita sakit yang parah.
Pintu kamarnya tertutup tapi tidak dikunci. Tak diketahui apakah ia baru saja membuka kunci pintu itu
atau memang tidak pernah menguncinya.
Dia menggenggam sebuah sepatu di tangannya, jejak sepatu tampak membekas di atas dinding
kamar.
Bai Yu-jing memasuki kamar itu dengan perlahan dan memandang si nona.
Tiba-tiba saja dia menyadari bahwa seorang wanita yang baru saja mabuk malam sebelumnya seperti
memperlihatkan daya tarik baru yang tak dapat diuraikan dengan kata-kata di pagi harinya.
Denyut jantungnya pun seperti berpacu.
Jika seorang laki-laki, yang mabuk malam sebelumnya, melihat seorang perempuan cantik di pagi
harinya, jantungnya tentu akan berdebar lebih kencang.
Yuan Zi-xia juga sedang menatapnya. Sambil menggigit bibirnya kuat-kuat, ia berkata, “Kepalaku
rasanya seperti akan pecah, dan kau masih bisa tertawa.”
“Aku tidak tertawa,” kata Bai Yu-jing.
“Wajahmu tidak tertawa, tapi hatimu yang sedang tertawa.”
Bai Yu-jing menyengir. “Kau bisa melihat ke dalam hatiku?”
"Emm," Yuan Zi-xia mengiyakan dengan suara tak jelas.
Suara itu seperti berasal dari hidungnya.
Suara yang keluar dari hidung seorang wanita, sering jauh lebih merangsang daripada suara yang
keluar dari mulutnya.
Bai Yu-jing tak tahan lagi dan bertanya, “Kau tahu apa yang ada dalam hatiku?”
“Emm.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar