Senin, 05 Oktober 2009

3 maha 12

Ketika secara tiba-tiba Tio Ceng tang menyaksikan air muka si anak muda itu berubah jadi pucat

piat bagaikan mayat, dia jadi sa ngat kuatir dengan penuh perhatian ujarnya, “Hoa kongcu,

kau….”

Setelah berbasil menguasai diri, cepat-cepat Hoa Thian-hong berkata lagi.

“Lo piau tau, harap terangkan dengan cepat, aku harus segera selamatkan jiwanya, karena itu

perjalanan pun harus kulakukan sekarang juga”

“Terima perintah!” Tio Ceng tang.

Sesudah termenung sebentar, dia berkata, kembali.

“Kemarin malam kami menginap didalam sebuah rumah penginapan yang memakai merek Kho

ke ci, ketika baru saja bangun tidur secara lapat-lapat kudengar ada suara gaduh diluar halaman,

mana secara iseng aku membuka jendela menengok keluar, kutemukan empat laki-laki dan

seorang perempuan itu lagi bersiap-siap hendak berangkat, tapi perempuan itu ribut terus dan

tak mau pergi, katanya kalau tidak naik kuda maka dia tak mau berangkat, waktu itu aku tidak

terlalu menaruh perhatian, siapa tahu tiba-tiba gadis cantik itu berseru keras….”

Berbicara sampai disini, tiba-tiba ia membungkam dan tidak melanjutkan kembali kata-katanya.

Hoa Thian-hong jadi sangat gelisah, cepat dia berseru, “Apa yang dikatakan nona itu?”

Tio Ceng tang tidak langsunng menjawab, dengan sorot mata yang tajam dia menyapu sekejap

sekeliling tempat itu, kemudian dengan suata yang lirih sahutnya, “Nona itu berteriak demikian:

‘Dari sini menuju ke Kiu ci masih ada lima enam ribu li jauhnya, aku tak kuat jalan lagi, kalau

kalian mau menggali harta silahkan gali sendiri, aku tidak ingin kaya, aku tidak ingin….’”

“Dia tak ingin apa lagi?” sela Hoa Thian-hong.

Sayang ketika berbicara sampai disitu, kakek yang tampaknya pemimpin rombongan itu sudah

menghampirinya, sambil tertawa kakek itu segera memaki, “Kamu si bocah perempuan edan,

kami toh mau pergi ke kota Cho ciu, siapa bilang mau ke Kiu ci atau sip ci, tapi nona itu segera

berteriak lagi: ‘Kalau pergi ke kota Cho ciu, maka kalian semua pasti akan mampus semua! Baru

saja berbicara sarpai disitu, nona itu sudah diseret pergi oleh kakek tua tersebut.”

Hoa Thian-hong semakin murung, dengan dahi berkerut dia cuma bisa berguman seorang diri,

“Kiu ci…. menggali harta….Cho Ciu….”

Terdengar Tio Ceng tang berkata kembali, “Menurut penilaianku, apa yang dikatakan nona itu

sebagai Kiu ci pastilah tujuan mereka yang sebenarnya, sedang kakek itu sengaja mengucapkan

kota Cho ciu untuk melamurkan perhatian orang, sayangnya beberapa orang itu terlalu cepat

perginya, ketika kami berangkat ternyata jejak mereka sudah tidak tampak lagi”

“Lo piau tau, seingatmu nona itu berbicara dengan logat darimana? Selain Lo piau tau apakah

ada orang lain yang pernah menyaksikan raut wajah nona itu?”

“Logat suara itu campuran, tapi sebagian besar sepertinya logat dari orang-orang Ho lim, ketika

itu fajar baru menyingsing kebetulan aku bangun lebih pagi, maka ketika semua orang bangun

sesudah mendengar suara ribut-ribut dari nona itu, mereka telah berlalu dari rumah penginapan

tersebut”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

504

Kalau begitu dia pastilah Kun gie ada nya, batin Hoa Thian-hong didalam hati.

Tiba-tiba terdengar suara jeritan kaget menggema memecahkan kesunyian disusul seorang dara

berbaju hijau lari masuk kedalam kedai dan berlutut dihadapan Hoa Thitan Hong sambil

menangis tersedu-sedu.

“Kongcu ya!” serunya dengan lirih, “jiwa siocia tak bisa dilindungi lagi, berusahalah cepat untuk

menyelamatkan jiwanya….”

Secara mendadak Hoa Thian-hong merasakan dadanya amat sakit, cepat ia menarik napas

panjang dan melancarkan kembali udara yang tersumbat didalam dadanya, kemudian ucapnya,

“Che giok, bangunlah! Aku sudah mengetahui akan persoalan ini, dan sekarang juga aku sedang

berangkat menuju kesitu!”

Kiranya dara berbaju hijau itu bukan lain adalah dayang kepercaysaa dari Giok Teng Hujin yakni

Pui Che-giok adanya, setelah melakukan perjalanan siang malam tanpa berhenti, mukanya

tampak kusut rambutnya awut-awutan tak karuan, sekujur badan basah dan bau keringat,

keadaannya benar-benar sangat mengenaskan.

Delam bopongannya tampak Soat-ji makhluk rase itu, tampaknya Soat-ji menderita luka yang

cukup parah mukanya layu dan lesu, tubuhnya sama sekali tak mampu bergerak.

Tampaknya makhluk cerdik inipun menyadari bahwa majikannya sedang kesusahan dan rupanya

diapun tahu kalau Hoa Thian-hong adalah orang yang paling akrab hubungannya dengan

majikannya, sepasang ma ta yang merah dan pudar menatap anak muda itu dengan sorot belas

kasihan sementara mulutnya memperdengarkan suara keluhan lirih.

Pui Che-giok bangkit berdiri dengan isak tangis yang menjadi, ujarnya lirih.

“Kongcu ya, cepatlah berangkat! Siocia sedang menderita karena menjalani siksaan api dingin

melelehkan sukma, siksian itu terlalu sadis dan kejam…. oooh, kengcu ya cepatlah selamatkan

jiwanya!”

“Sekarang dia berada dimana?” tanya Hoa Thian-hong dengan darah panas bergolak dalam

dadanya.

“Dia ada di Cho ciu,” sahut gadis itu dengan air mata bercucuran membasahi wajahnya.

Hoa Thian-hong meaggertak gigi menahan emosi, katanya kemudian, “Perjalanan amat jauh, tak

mungkin bisa kita capai tempat itu dalam waktu singkat, bersantaplah lebih dahulu!”

Seraya berkata ia lantas membopong Soat-ji, rase putih salju itu.

Pui Che-giok duduk di kursi dan berusaha untuk mengisi perutnya, tapi air mata jatuh bercucuran

dengan derasnya membuat ia tak mampu menelan nasi dalam mulutnya itu, akhirnya ia

menggeleng sembari berkata, “Budak tak tega untuk makan!”

“Paksalah untuk makan sedikit aku akan berangkat duluan, dan engkau boleh menyusul

belakangan”

Diangkatnya cawan arak itu lalu melolob Soat-ji untuk minum.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

505

Sambil melelehkan air matanya Pui Che-giok paksakan diri untuk makan, katanya lagi, “Soat-ji

kena dihajar oleh kaucu dengan ilmu pukulan Yu seng ciang hingga isi perutnya terluka, aku lihat

dia sudah tiada harapan untuk hidup lagi.”

Paras muka Hoa Thian-hong berubah jadi hijau membesi, sahutnya dengan suara dalam, “Tak

usah kuatir, aku pasti berhasil enteng hidupkan kembali dirinya!”

Memang parah sekali luka dalam yang diderita Soat-ji, begitu parahnya sampai nafsu untuk

minum arakpun ikut hilang.

Hoa Thian-hong segera mengambil uang sekeping sebagai pembayaran uang arak, tapi Tio Ceng

tang buru-buru membayarnya.

Dalam keadaan begini, Hoa Thian-hong tidak berminat untuk banyak bicara lagi, setelah saling

memberi hormat, serunya kepada Tio Ceng-tang, “Sampai jumpa lagi dikota Cho cia!”

Sekali berkelebat, sambil membopong Soat-ji berlalulah si anak mada itu dari sana.

Ia mulai sadar tahwa Pek Kun-gie telah terjatuh pula ketangan musuh, bahkan keadaannya

gawat sekali, sedikitpun tidak berada dibawah keadaan Giok Teng Hujin, walaupun demikian

gadis itu masih lebih mujur, kenapa, ia masih mempunyai orang tua, punya saudara dan lagi

sebagai seorang putri ketua Sin-kie-pang.

Berbeda jauh dengan Giok Teng Hujin yang hidup menderita tanpa sanak tanpa saudara, kecuali

orang dayang dan seekor rase salju, boleh dibilang tiada sanak lain, maka setelah

mempertimbangkan sebentar pemuda ini mengambil keputusan untuk tinggalkan dahulu urusan

Pek Kun-gie dan berusaha untuk selamatkan dahulu jiwa Giok Teng Hujin.

Rase salju itu dapat memahami perkataan manusia, dan lagi pandai pula bertempur, sambil

melanjutkan perjalanan pemuda itu lantas salurkan hawa murninya untuk menyembuhkan luka

yang diderita makhluk tersebut.

Begitula, sembari melanjutkan perjalsaan ia salurkan terus hawa murninya ke tubuh Soat-ji, dua

tiga jam kemudian luka yang diderita rase salju itu ada enam tujuh bagian telah sembuh, waktu

itulah makhluk tadi meronta bangun dan melanjutkan perjalanan sendiri dengan berlarian

disamping pemuda itu.

Mereka melakukan perjalanan siang malam tanpa berhenti, ketika kentongan kedua baru

menjelang, anak muda itu sudah tiba di kota Cho ciu.

Baru saja masuk kedalam kota, ia berjumpa dengan Oh Sam yang muncul dari hadapannya, si

anak muda itu segera menegur, “Pek hujin berada dimana?”

“Cu to baru tiba siang tadi, sekarang ia dikantor cabang, Cu amat mengguatirkan keselamatan

kongcu maka beliau perintahkan hamba untuk menunggu kedatangan kongcu di sini!”

Sesudah melirik sekejap kepada Soat-ji makhluk rase itu, dia melanjutkan lebih jauh, “Apakah

nona kedua tidak melakukan perjalanan bersama-sama kongcu….?”

“Mungkin sudah terjadi kejadian yang tak terduga!” sahut Hoa Thian-hong dengan suara

mendalam, “aku sama sekali tak bertemu dengannya, cepat bawa aku menghadap cu bo mu!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

506

Oh Sam amat terperanjat, tanpa mengucapkan sepatah katapun ia segera putar badan dan lari

kedepan.

Selang sesaat tibalah mereka berdua dikantor cabang perkumpulan Sin-kie-pang, Oh Sam

langsung membawa Hoa Thian-hong menaju keruang dalam.

Ketika mendengar suara langkah manusia, Kho Hong-bwee segera menyambut seraya menegur,

“Thian-hong, dimana Kun gie?”

Hoa Thian-hong maju kedepan sambil memberi hormat, lalu sahutnya dengan kepala tertunduk.

“Kemungkinan besar kun gie telah bertemu dengan Tang Kwik-siu dan kena ditawan oleh

mereka, semestinya boanpwee akan mengejar ke arah Ou kwang….”

Mula-mula Kho Hong-bwee tampak agak terkejut, tapi sejenak kemudian ia sudah tenang

kembali, sambil bangunkan Hoa Thian-hong dia berkata.

“Berbicara menurut cengli, memang sepantasnya engkau datang ke Cho ciu lebih dulu engkau

sama sekali tidak berbuat salah!”

Perempuan ini segera perintahkan pelayan untuk siapkan hidangan dan arak wangi.

Hoa Thian-hong tahu bahwa perempuan ini terkenal karena bijaksana, akan tetapi berhubung ia

merasa tak punya kata-kata yang bisa diutarakan, maka sebagai gantinya ditatapnya sekejap

perempuan itu dengan pandangan penuh berterima kasih.

Setelah memberi hormat pula kepada Pek Soh-gie, iapun menegur, “Cici, Bong toako ada

dimana?”

“Dia ada didalam ruang tengah” jawab Pek Soh gi, “beristirahatlah lebih dulu, tentunya engkau

merasa lelah bukan?”

Ketika mereka bertiga masuk keruang tengah, tampaklah Bong pay dengan badan dibalut sedang

duduk bertopang dagu, mukanya murung bercampur kesal, sekalipun tahu ada orang yang

masuki ruangan itu dia sama sekali tidak menegur ataupun angkat kepalanya.

Hoa Thian-hong segera maju menghampirinya, lalu menegur, “Toako, bagaimana keadaan

lukamu?”

Bong pay gelengkan kepalanya dan tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Kho Hong-bwee yang ada disampingnya segera tersenyum, ujarnya.

“Bocah ini bersikeras akan menantang Kiu-im Kaucu untuk berduel, tapi aku justru telah

melarang dia pergi kesana!”

Diam-diam Hoa Thian-hong menghela napas panjang, dia tahu walaupun paras muka perempuan

itu tampaknya tenang dan tidak menunjukkan sikap gugup ataupun gelisah, sebenarnya rasa

kuatirnya terhadap keselamatan putrinya sukar dilukiskan dengan kata-kata, ia lantas mencari

tempat duduk dan bermaksud mengisahkan pengalamannya sepanjang perjalanan menuju

kesana.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

507

Pada saat itulah dua orang dayang masuk kedalam ruangan sambil membawa nampan dan air

teh.

Kho Hong-bwee segera ulapkan tangannya sembari berkata, “Cucilah dulu mukamu, kemudian

bersantap, setelah itu barulah bercerita….”

Tanpa banyak berbicara Hoa Thian-hong cuci muka dan makan hidangan ringan yang telah

tersedia, ketika perjamuan telah siap. Kho Hong-bwee segera mempersilahkan tamu nya untuk

duduk sementara ia bersama Bong Pay dan Pek Soh-gie mengiringi disampingnya.

Sudah belasan tahun lamanya Kho Hong-bwee bertapa ditempat yang terpencil, kepandaiannya

untuk menguasai diri memang melebihi siapapun, sekalipun ia tahu bahwa keselamatan putrinya

terancam, namun sepanjang perjamuan berlangsung, tak separah katapun yang dia ucapkan

menyinggung soal keselamatan putrinya itu.

Menanti sampai telah selesai, Hoa Thian-hong barulah mence-ritakan apa yang telah didengarnya

dari mulut Tio Ceng tang.

Mendengar keterangan tersebut, dengan dahi berkerut Kho Hong-bwee termenung beberapa

saat lamanya, kemudian ia baru berkata, “Kalau memang rombongan itu benar-benar terdiri dari

empat pria dan seorang wanita, mereka yang pria pastilah Tang Kwik-siu, Kok See-piauw beserta

murid-muridnya, sedang yang perempuan tak usah diragukan lagi tentulah Pek Kun-gie budak

binal Itu!”

“Bibi, aku sangat mengharapkan agar malam ini juga bibi sekalian melakukan perjalanan untuk

menghadang jalan pergi mereka! ujar Hoa Thian-hong dengan wajah murung, apabila berhasil

menyusul Tang Kwik-siu, maka berusahalah untuk mengadakan hubungan kontak dengan kantor

cabang kota Cho ciu, begitu urusan disini selesai, boanpwe segera akan menyusul kalian

kesana!”

“Ibu, beberapa orahg bajingan itu bukan manusia baik-baik” ujar Pek Soh-gie pula, keadaan adik

memang terlalu bahaya, aku rasa asul Hoa toako memang sangat bagus, lebih baik sekarang

juga kita lanjutkan perjalanan!”

Kho Hong-bwee tertawa.

“Untuk mengejar orang kita harus mempunyai arah tertentu, kalau arahnya saja tidak tahu,

bagaimana mungkin pengejaran bisa di lakukan?” katanya cepat.

Menurut dugaanku, Kun gie memang sengaja berkaok-kaok untuk menarik perhatian orang

banyak, dia mengatakan bahwa mereka akan berangkat ke Kiu ci untuk mencari harta, ruparupanya

rahasia itu memang sengaja dibocorkan olehnya dengan harapan berita tersebut bisa

terdengar oleh kita orang.

“Benar!” ujar Bong Pay pula, “kejadian yang sebenarnya pastilah demikian. Hemm hemm hemm

dia memang cerdik dan punya banyak akal setannya, kalau yang dikatakan urusan lain, belum

tentu orang akan menaruh perhatian, tapi kata-kata mencari harta cukup menghebohkan

siapapun yang mendengar, sudah tentu berita itu dengan cepat akan tersiar keseluruh dunia

persilatan”

“Ibu, Kiu ci yang dia maksudkan mungkinkah bukit Kiu ci san yang letaknya di wilayah Yong

kang?” tanya Pek Soh-gie dengan wajah amat murung karena gelisah.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

508

Kho Hong-bwee mengangguk tanda membenarkan.

“Benar, didaratan Tiooggoan memang terdapat beberapa tempat yang bernama Kiu ci, tapi kalau

dia katakan jaraknya masih lima enam ribu li, maka tak bisa salah lagi yang dia maksudkan

tentulah bukit Kiu ci san yang terletak di wilayah Yong kang!”

“Bibi, apakah selama ini engkau dan toa ci berdiam diri dibukit Huan keng san?” tanya Hoa Thiao

Hong dengan dahi berkerut.

Kho Hong-bwee menghela napas panjang, ia mengangguk dan menyahut, “Kedua tempat itu

sama-sama nama dari gunung dan sama-sama pula letaknya di barat daya”

Setelah berhenti sebentar, lanjutnya, “Aku jadi agak curiga, wilayah utara maupun selatan

wilayah keng ou merupakan daerah kekuasaan Sin-kie-pang, dengan dandanan mereka yang

begitu menyolok, entah dengan cara apa mereka lanjutkan perjalanannya?”

***

SEMUA orang tertegun sebab ucapan itu memang masuk diakal, sementara suasana jadi bening

dan tak seorangpun yang mampu menjawab, tiba-tiba terdengar Pek Soh-gie berseru, “Aah, aku

punya akal!” Dia lantas bangkit berdiri dan buru-buru lari masuk kedalam ruangan.

Selang sesaat gadis itu telah muncul kembali membawa sebuah nampan beralasan kain kuning,

dalam kain kuning itu tersedialah seperangkat alat untuk meramal nasib.

Menyaksikan itu, Bong Pay langsung berteriak, “Aah, benar, bibi adalah seorang pertapa, soal

lihat nasib, meramal nasib sudah menjadi ilmu pegangan yang paling diandalkan”

Cepat Pek Soh-gie menyingkirkan cawan dan sumpit dari meja, kemudian sambil letakkan

nampan itu dihadapan ia berkata.

“Ibu, silahkan engkau buatkan satu ramalan untuk melihat nasib adik dewasa ini”

Kho Hong-bwee tertawa.

“Banyak orang mengatakan bahwa gadis cantik umurnya pendek sekalipun dalam kenyataan Kun

gie terhitung seorang gadis yang ayu tapi ia masih belum terhitung seorang gadis rupawan,

diapun tidak termasuk seorang manusia yang berumur pendek, aku rasa nasibnya tak perlu

diramalkan lagi!”

Dengan muka murung dan gelisah Pek Soh-gie memohon lebih jauh.

“Mencari rejeki menghindari bencana merupakan perbuatan yang jamak bagi manusia, ibu

haraplah engkau engkau suka menghitungkan nasib adik!”

Sekali lagi Kho Hong-bwee tersenyum.

“Rahasia langit tak boleh dibocokan, daripada mengundang kemarahan para malaikat, begini saja

akan kubatasi dengan sebuah ramalan saja dan aku lihat urusan Kun gie untuk sementara waktu

kita kesampingkan lebih dahulu akan kucoba untuk hitungkan nasib bagi Giok Teng Hujin saja!”

Mendengar perkataan itu, dalam hati kecilnya Hoa Thian-hong menghela napas panjang,

pikirnya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

509

“Satu gelombang belum tenang, gelombang lain telah datang…. aai, akulah yang menjadi biang

keladi hingga terjadinya semua peristiwa ini!”

Berpikir sampai disitu, diapun lantas bertanya.

“Bibi, tahukah engkau Kiu-im Kaucu pada saat ini berada dimana?”

“Semua kuil bekas milik Thong-thian-kauw telah dirampas orang-orang Kiu-im-kauw, menurut

laporan dari bawahanku, Kiu-im Kaucu beserta kawanan jago lihaynya berkumpul semua dalam

kuil It goan koan sebelah timur kota, Giok Teng Hujin sendiripun terkurung pula dalam kuil itu!”

Hoa Thian-hong menghela napas berat.

“Aaai….! Meskipun Kiu-im Kaucu menyatakan bahwa ia sedang menghukum Ku Ing-ing lantaran

penghianatannya, pada hakekatnya ia justru sedang mencari gara-gara dengan boanpwee!”

“Kalau memang begitu tujuannya, itu berarti keselamatan Ku Ing-ing untuk sementara waktu

tidak terancam bahaya, beristirahatlah semalam bila kekuatanmu sudah pulih kembali barulah

usahakan pertolongan….!”

“Boanpwe memang sudah menyiapkan suatu rencana matang dalam soal ini,” sahut Hoa Thian

bong sambil mengangguk, “oleh sebab itulah kukatakan bahwa keselamatan Kun gielah justru

yang bahaya, bibi! Lebih baik ramalkan jejaknya dengan begitu kita pun bisa siapkan pertolongan

baginya”

Kho Hong-bwee berpikir sebentar, akhirnya dia mengangguk.

“Kalau memang begitu, baiklah!”

Sesudah cuci tangan dia lantas mengambil balok kura-kura itu dan mulai membuat ramalannya

Ilmu silat yang dimiliki Hoa Thian-hong memang terhitung tinggi, akan tetapi dalam ilmu ramal

meramal ia sama sekali tidak paham begitu pula dengan Bong pay, maka kedua orang ini hanya

duduk membungkam di samping meja sambil menyaksikan Kho Hong-bwee membuat

ramalannya.

Setelah melakukan ramalan dan memperhitungkan dalam hati kecilnya, tiba-tiba dengan paras

muka berubah hebat ia berseru, “Aia….! kok aneh benar….”

“Bagaimina menurut isi ramalan? Apakah adik menemui mara bahaya?” tanya Pek Soh-gie

dengan terperanjat.

“Benar-benar sangat aneh!” ujar Kho Hong-bwee, “menurut perhitungan ramalan, semestinya

Kun gie masih berada dalam kota ini!”

Sesudah berhenti sebentar ia tertawa dan gelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya,

“Sepandai-pandainya tupai melompat toh pernah terjatuh juga, siapa tahu kalau ramalanku ini

meleset?”

Hoa Thian-hong segera bangkit berdiri seraya berseru, “Cuaca kadang kala cerah kadang kala

mendung, nasib manusia kadangkala mujur kadangkala sial, aku rasa persoalan ini tak dapat

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

510

dibiarkan berlalu dengan begitu saja, harap bibi beristirahat lebih bulu, biarlah boanpwe lakukan

penggeledahan diseluruh kota

Setelah memberi hormat, dia siap berlalu dari situ.

Secara diam-diam Kho Hong-bwee mengawasi terus perubahan mimik wajah si anak muda itu,

melihat betapa panik dan cemasnya Hoa Thian-hong, dalam hati dia lantas berpikir, Kalau

ditinjau dari kemurungan dan kegelisahan yang mencekam hatinya, sudah jelas kalau ia menaruh

rasa cinta yang tebal terhadap diri Kun gie.

Sementara dia masih melamun, Bong Pay telah berteriak keras, “Biarlah aku dan adik Soh-gie

melakukan perjalanan bersama, akan kami periksa setiap rumah penginapan yang ada dalam

kota ini!”

Tiba-tiba Kho Hong-bwee bangkit berdiri lalu berkata, “Kalian tak usah memisahkan diri, kita

laksanakan pencarian bersama-sama, Soh-gie! Undang kemari Oh Sam!”

Oh Sam segere menyahut dan masuk kedalam ruangan, sahutnya, “Hamba ada disini!”

“Perintahkan semua pelindung hukum agar siap diruang tengah untuk menerima instruksi!”

Dengan hormat Oh Sam menyahut dan berlalu dari situ.

Sepeninggalnya Oh Sam, barulah Kho Hong-bwee memandang sekejap ke arah pinggang Hoa

Thian-hong, kemudian tegurnya, “Kemana kaburnya pedang bajamu?!”

“Pedang baja telah patah, kitab Kiam keng berada dalam sakuku!”

“Ooh, kiong hi, kiong hi atas keberhasilanmu itu!” seru Kho Hong-bwee kemudian.

Setelah berhenti sebentar, dengan wajah serius dia melanjutkan, “Andaikata Kiu-im Kaucu

memaksa engkau untuk menukar nyawa Ku Ing-ing dengan kitab Kiam keng tersebut, apa yang

hendak engkau lakukan?!”

Mula-mula Hoa Thian-hong agak tertegun, menyusul sahutnya, “Kalau itulah syaratnya, maka

boanpwe harus pertimbangkan peraoalaa ini sebaik-baiknya!”

“Ah, dalam masalah ini tak mungkin bisa dipertimbangkan lagi!” teriak Bong Pay dengan gusar,

“sebagai seorang pria sejati, tidaklah pantas kalau engkau tunduk pada perintah dan tekanan

musuh, sekalipun Ku Ing-ing akhirnya toh mati, setelah engkau berhasil pelajari isi kitab Kiam

keng bukankah engkau dapat membunuh Kiu-im Kaucu untuk membalaskan dendam sakit

hatinya? Aku lebih rela berhutang budi dan gorok leher bunuh diri daripada membiarkan kitab

Kiam keng itu terjatuh ketangan Kiu-im Kaucu….!”

“Setiap urusan ada sumbernya,” kata Hoa Thian-hong, “meskipun toako telah diselematkan

jiwanya oleh sebatang Leng-ci, akan tetapi dahun Leng-ci tersebut kau peroleh dari tangan

siaute, dalam hal ini sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan Ku lng ing, dengan sendirinya

engkaupun tak usah berterima kasih dengan mengorbankan jiwamu!”

“Menurut Kun gie!” kata Kho Hong-bwee pula, “dikala ia ditangkap Pia Leng-cu, engkau pernah

menembusnya dengan menggunakan pedang bajamu itu, yaa urusan itu sudah lewat, rasanya

akupun tak ingin banyak berbicara lagi, tapi engkau musti ingat, kitab Kiam keng adalah

gudangnya ilmu silat, sejilid kitab pusaka yang diincar banyak orang, benda itu menyangkut pula

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

511

mati hidupnya dunia persilatan, oleh sebab itu aku harap engkau suka mempertimbangkan

sebaik-baiknya sebelum bertindak!”

“Terima kasih atas petunjuk dari bibi!”

“Hoa toako!” ujar Pek Soh-gie kemudian, “pedang bajamu sudah patah, apakah engkau

membutuhkan senjata lain?”

“Bila ada sebilah pedang panjang, tolong berilah sebilah untuk Sian te….”

Pek Soh-gie segera masuk kedalam ruangan, selang sesaat ia telah muncul kembali

menyerahkan sebilah pedang panjang kepada pemuda itu.

Hoa Thian-hong segera menggembolnya dipinggang, setelah membopong Soat-ji bersama-sama

jago yang lain mereka menuju keruang tengah.

Disana telah menanti beberapa puluh orang pelindung hukum, hiangcu dan tongcu, Kho Hongbwee

segera menghitung jumlahnya kemudian berangkatlah melakukan pencarian.

Setelah keluar dari kantor cabang kota Cho ciu, Kho Hong-bwee memimpin rombongan itu

menuju kepintu kota sebelah selatan.

Waktu itu fajar belum menyingsing, jalan raya sepi dan tak tampak seorang manusia pun yang

berlalu lalang.

Tampaknya Kho Hong-bwee telah mempunyai keyakinan, dia memimpin rombongan itu bergerak

maju kedepan, sedikitpun tidak tampak ragu-ragu.

Selang sesaat sampailah mereka kepintu selatan, karena pintu kota masih tertutup maka mereka

masing-masing loncat naik keatas tembok kota,

Tiba-tiba Hoa Thian-hong merasakan hatinya tergerak, pikirnya.

“Kalau dilihat keyakinannya yang begitu tebal, mungkinkah ramalannya memang tepat sekali?”

Sementara ingatan itu masih melintas dalam benaknya, semua orang sudah melompat keatas

tembok kota, dari situ tampaklah Kho Hong-bwee dengan sorot mata yang tajam bagaikan kilat

sedang mengawasi ke arah tenggara tanpa berkedip.

Hoa Thian-hong ikut memandang ke arah situ, apa yang dilihat hanyalah kegelapan ditengah

keheningan, tak sesuatu apapun yang terlibat olehnya.

Oh Sam menyusul tiba kesana setelab menengok sekejap kedepan, tiba-tiba katanya.

“Lapor cubo, tempat itu masih memancarkan cahaya merah, agaknya baru saja dilanda

kebakaran”

Kho Hong-bwee mengangguk, sambil ulapkan tangannya ia lantas berseru.

“Hayo berangkat!”

Ia lompat turun lebih dahulu dan bergerak menuju ke arah mana munculnya cahaya merah tadi.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

512

Kawanan jago lainnya membungkam dalam seribu bahasa, melihat pemimpinnya sudah

berangkat semua orangpun ikut menyusul dari belakang, semangat mereka tinggi dan

keberaniannya mengagumkan.

Rupanya cahaya merah itu berasal dari sebuah dusun yang jaraknya kurang lebih lima enam li

dari kota, tentu saja jarak sedekat itu tidak dipandang sebelah mata oleh orang-orang itu, tak

selang beberapa saat kemudian sampailah mereka didepan dusun itu.

Dalam dusun tadi hanya terdapat tiga pulubhan keluarga petani, rumah mereka terbuat dari batu

bata, rupanya kebakaran hanya terjadi disebuah gedung belaka, waktu itu api masih belum

padam, sementara para penduduk desa yang menonton apipun masih berkerumun disitu sambil

saling mem bicarakan peristiwa itu.

Tiba-tiba suasana yang semula gaduh menjadi hening dan sepi kiranya kedatangan segerombolan

jago silat ini cukup mengejutkan orang-orang itu.

Dengan sorot mata yang tajam, Kho Hong-bwee menyapu sekejap sekitar tempat itu, kemudien

sambil menatap seorang laki-laki berusia lima puluh tahunan yang berdandan sebagai seorang

hartawan, tegurnya.

“Maaf kalau mengganggu sebentar lo wangwe, terimalah hormat dari pinto Kho Hong-bwee”

Ketika orang itu melihat bahwa pemimpin dari rombongan orang persilatan itu adalah seorang to

koh berusia pertengahan, rasa kaget yang semula menghiasi wajahnya kian bertambah

menyurut, akan tetapi setelah mendengar nama Kho Hong-bwee, tiba-tiba paras mukanya

kembali berubah, untuk sesaat lamanya ia tak mengucapkan sepatah katapun.

Kho Hong-bwee tidak menggubris sikap orangitu, sambil tertawa ia menegur lagi, “Lo wangwe,

boleh aku tahu siapa namamu?”

Buru-buru orang itu maju beberapa langkah kedepan, seraya menjura sahutnya, “Aku seorang

rakyat kecil yang bernama Lau Cu cing!”

“Oooh Rupanya Lau wangwe, apakah rumah gedung wangwe yang ketimpa bencana

kebakaran?”

“Benar…. benar….” jawab Lau Cu cing sambil beberapa kali mengangguk.

Dibelakang hartawan itu berkumpul pula sekawanan orang perempuan, pelbagai macam barang

peti dan bungkusan tersebar di tanah, sekilas pandangan siapapun akan tahu bahwa merekalah

yang telah ketimpa bencana kebakaran itu.

“Setelah Lau wangwe ketimpa bencana, sebetulnya tidaklah pantas bagi kami untuk

mengganggu kesedihan yang kalian alami, tapi berhubung ada sedikit persoalan yang mau tak

mau harus diperiksa, maka terpaksa kami harus mengganggu sebentar ketenangan wangwe!”

“Aaah…. mana…. mana…. kalau tootiang ada persoalan silahkan saja diajukan!”

“Boleh aku tahu lo wangwe, kebakaran ini disebabkan karena kurang hati-hati ataukah

dikarenakan perbuatan dari musuh kalian?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

513

“Ooh…. kejadian ini karena kurang hati-hati orang kami sendiri, aku cuma seorang rakyat kecil

yang tidak mempunyai musuh besar, meskipun kebakaran ini telah menghancurkan rumah

leluhur, untung saja tidak sampai melukai orang!”

Dari ucapan tersebut dapatlah diketahui bahwa hartawan ini, masih merasa beruntung meskipun

di tengah kesedihan.

Dalam anggapan orang lain, setelah hartawan ini menerangkan bahwa kebakaran disebabkan

ketidak sengajaan dan sama sekali tiada hubungannya dengan musuh besar yang mencari balas,

Kho Hong-bwee pasti akan membawa anak buahnya berlalu dari sana.

Apa yang terjadi?

Ternyata Kho Hong-bwee malahan ulapkan tangannya ke arah Oh Sam sekalian sambil

memerintahkan, “Periksalah disekitar tempat ini, coba lihat apakah ada sesuatu tanda yang

mencurigakan?”

Oh Sam sekalian segera mengiakan dan menyebarkan diri untuk melakukan pemeriksaan, ada

yang masuk kedalam dusun, ada pula yang keluar dari dusun itu, semua gerak-gerik mereka

dilakukan dengan teratur dan tenang, sedikitpun tidak tampak berisik.

Setelah anak buahnya menyebarkan diri Kho Hong-bwee bertanya lagi, “Lau wangwe, badanmu

tetap semangatmu berkobar, aku rasa tentunya engkau adalah seorang jago persilatan bukan?”

“Waktu masih muda siau bin (rakyat kecil) pernah belajar ilmu bela diri kampungan, tujuanku tak

lebih hanya untuk menyehatkan badan, tak berani Siau bin anggap diriku sebagai seorang jago

persilatan!”

“Apakah Lau wangwe kenal dengan asal usul kami?” tanya Kho Hong-bwee sambil tersenyum.

“Bila dugaan Siau bin tidak keliru, semestinya tootiang sekalian adaleh para enghiong dari

perkumpulan Sin-kie-pang!” jawab Lau Cu cing setelah ragu sejenak.

Setelah berhenti untuk tukar napas, dia melanjutkan kembali lebih jauh, “Setiap penduduk Cho

ciu sebagian besar mengetahui urusan tentang dunia persilatan sekalipun Siau bin jarang sekali

melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, tetapi seringkali kudengar orang

membicarakannya, maka dari itu Siau bin dapat menebak asal usul dari tootiang serta para

enghiong sekalian”

Kho Hong-bwee mengerutkan dahinya, lantas berpaling dan bisiknya kepada Hoa Thian-hong

dengan nada lirih.

“Rupanya nama jelek kami telah membangkitkan rasa was was dalam hati wangwe ini, sekalipun

ia tahu duduknya perkara belum tentu bersedia untuk menerangkapnya kepada kita, bagaimana

sekarang baiknya?!”

“Pengalaman boanpwe dalam dunia persilatan terlalu cetek, aku tidak berhasil menebak apa

alasannnya sehingga wangwe itu berbuat demikian?” sahut Hoa Thian-hong dengan muka kesal.

Bong Pay yang selama ini membungkam, tiba-tiba menyela dari samping.

“Aku lihat toa moay sangat lembut dan halus budinya, bagaimana kilau kita suruh dia saja yang

menanyakan?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

514

Pek Soh-gie memandang sekejip ke arah ibunya, kemudian dengan langkah yang lemah gemulai

menghampiri Lau Cu cing, sehabis memberi hormat katanya dengan lembut, “Lo wangwe, siau li

mempunyai seorang adik kembar yang terjatuh kelansan musuh, jiwanya terancam bahaya dan

kami sedang mencari jejaknya, apabila lo wangwe mengetahui jejaknya, sudilah kiranya

memberikan petunjuk untuk kami, atas bantuan dari lo wangwe itu kami pastilah akan merasa

amat berterima kasih!”

Sementara itu fajar telah menyingsing, ketika mendengar perka-taan tersebut, Lau Cu cing

segera alihkan perhatiannya ke atas wajah Pek Soh-gie ketika menyaksikan raut wajahnya tibatiba

ia terperanjat dan mundur selangkah kebelakang sambil goyangkan tangannya berulang kali.

“Nona, aku harap engkau jangan banyak menaruh curiga!” serunya dengan cepat, “aku bukan

seorang jago persilatan, dan aku pun tidak tahu dimanakah adikmu berada, aku harap engkau

janganlah mendesak diri ku sehingga aku tak mampi berbuat apa-apa”

Mendengar perkataan itu Pok Soh-gie lantas alihkan soror matanya ke arah ibuaya, dengan

perasaan apa boleh buat dia gelengkan kepalanya berulang kali.

Jangankan Pek Hujin, Hoa Thian-hong sendiripun dapat mengetahui bahwa sebab musabab

terjadinya kebakaran digedung keluarga Lau tersebut sudah pasti bukan belatar belakang karena

ketidak sengajaan, akan tetapi setelah dilihatnya hartawan itu bersikeras untuk membungkam

dalam seribu bahasa, tentu saja Kho Hong-bwee maupun Hoa Thian-hong tidak ingin memaksa

dengan memakai kekerasan.

Selang sesaat, para jago yang dikirim untuk melakukan pencarian di empat penjuru telah kembali

kesitu, ternyata mereka tidak berhasil menemukan sesuatu apapun yang mencurigakan.

Waktu itu Oh Sam juga sedang kembali kepasukannya, ketika ia lewat disamping sebuah pohon

yang besar, tiba-tiba wajahnya agak tertegun kemudian secepat kilat menghampiri pohon itu dan

memeriksanya dengan seksama.

Kemudian dengan suara keras dia berseru, “Hoa kongcu, cepat kemari!”

Hoa Thian-hong sangat terperanjat, cepat dia maju ke depan diikuti kawanan jago lainnya,

bahkan Lau Cu cing ikut pula di paling belakang.

Pohon Waru itu sangat besar, daunnya rimbun dan tumbuh tepat didepan gedung keluarga Lau

yang terbakar, jaraknya hanya empat lima kaki saja.

Pada bagian belakang dahan pohon itu tampaklah kulitnya telah disayat orang bagian, sementara

diatas dahan yang tersayat itu diukir beberapa buah tulisan dengan ilmu sebangsa tim kongci

yang sangat kuat hingga membekaslah seringkaian tulisan yang nyata.

Adapun tulisan itu, kira-kira berbunyi demikian,

“Ditujukan Hoa Thian-hong,

Berangkat ke Kiu ci secepat mungkin, segera!”

Tulisan Segera itu tulisan dengan sangat cepat, dibawahnya tercantumlah sebuah tanda bulatan

yang diberi ekor, sekilas pandangan orang akan mengira gambaran itu sebagai gambaran

kecubong (anakan katak).

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

515

Orang lain tidak kenal tanda tersebut lain halnya dengan Bong Pay, begitu mengetahui lambang

tadi kontan dia berseru, “Lhoo…. ini kan lambang kipas dari Cu supek?”

Hoa Thian-hong mengawasinya dengan lebih seksama sesudah mendengar seruan itu, memang

ucapan itu tak salah, lukisan tersebut memang mirip sekali dengan gambar sebuah kipas, maka

kepada Kho Hong-bwee dia lantas berkata, “Bibi, tulisan ini rupanya sengaja ditinggalkan Dewa

yang suka pelancongan Cu lo cianpwe, kalau dugaanku tak keliru, tulisan ini pastilah ada

hubungannya dengan masalah Kun gie!”

Pek Soh-gie maju menghampiri tulisan itu setelah diraba sebentar diapun berkata pula, “Tulisan

ini masih basah, tampaknya di buat belum lama berselang!”

Sampai disitu Kho Hong-bwee pun berpaling lagi ke arah Lau Cu ci ng seraya berkata, “Lau

wangwe, kami sama sekali tidak mempunyai maksud jahat terhadap dirimu, bila engkau tahu

tentang jejak putriku itu, mohon sudilah kiranya memberitahukan kepada kami, pinto pasti akan

membalas budi kebaikan itu!”

“Siau bin benar-benar tak tahu urusan, tiada sesuatu yang mampu kuucapkan!” sahut Lau Cu

cing sambil berbungkok-bungkok.

Mendengar perkataan itu, para jago dari Sin-kie-pang rata-rata menunjukkan wajah kegusaran,

walau begitu mereka tak berani mengutarakan kebuasan mereka itu dihadapaa umum, sebab

semua orang tahu nyonya ketua yang memimpin mereka sekarang terhitung seorang pemimpin

yang jujur.

Dalam keadaan begini, apa lagi yang bisa mereka lakukan kecuali secara diam-diam melotot ke

arah Lau Cu cing dengan muka buas.

Dipelototi banyak orang, Lau Cu cing jadi serba salah dan merasa amat tidak tenteram, sorot

malanya berulang kali melirik ke arah Hoa Thian-hong dengan maksud mohon pertolongannya.

Kendatipun merasa curiga, Hoa Thian-hong tidak sampai bersikap lain, ia menjura dan berkata.

“Aku adalah Hoa Thian-hong, apakah lo wangwe akan memberikan sesuatu petunjuk?”

Buru-buru Lau Cu cing balas memberi hormat, sahutnya.

“Sudah lama aku dangar orang berkata bahwa Hoa tayhiap mempunyai sebilah pedang baja yang

berwarna hitam dan selalu tergantung di pin gang, kenapa….”

Belum habis orang itu berkata, Hoa Thian-hong telah menukas sambil tertawa tergelak.

“Haahh…. haahhh…. haahhh…. pedang baja itu sudah patah jadi dua, maka sebagai gantinya

aku telah menggembol sebilah pedang yang lain!”

Lau Cu cing mengangguk tiada hentinya dan berseru, “Aku memang benar-benar tiada sesuatu

yang dapat dikatakan!”

Setelah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh, “Hoa tayhiap adalah enghiong yang dipuji

dan dihormati oleh setiap umat persilatan apabila ada hal-hal yang perlu kuberitahukan sudah

pasti akan kuutarakan secara blak-blakan”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

516

“Aaah, aku masih muda, aku tak berani menerima kebaikan dari Lo wangwee!” kata pemuda itu

lagi sambil tertawa.

Sementara itu Kho Hong-bwee yang mengamati terus dari samping, diam-diam berpikir dalam

hati, “Licik amat kakek tua ini, tampaknya dia termasuk pula seorang lakon tersembunyi!”

Sesudah termenung sebentar, dia lantas bertanya, “Thian bong, apa rencanamu selanjutnya?”

“Aaaai….! Sekarang boanpwe toh sudah berada dikota Cho ciu, bila kukesampingkaa urusan Ku

Ing-ing dengan begitu saja, terus terang saja dalam hati kecilku aku merasa tak tega….”

“Baik!” tukas Kho Hong-bwee kemudian, aku dan mereka semua akan melakukan pengejaran

lebih dahulu, bila urusanmu disini sudah selesai segeralah menyusul kami!”

“Boanpwe terima perintah” sahut Hoa Thian-hong sambil memberi hormat.

Kho Hong-bwee tampak menggetarkan bibirnya seperti mau mengatakan sesuatu lagi tapi

maksud itu akhirnya dibatalkan, sambil memimpin anak buahnya berangkatlah mereka menuju

keselatan.

Menanti rombongan itu sudah lenyap dari pandangan, Hoa Thian-hong baru menghela napas

panjang, ia merasakan kesepian.

Selang sesaat kemudian, dia baru menghapus tulisan Cu Thong itu dan manjura ke arah Lau Cu

cing, tanpa mengucapkan kata-kata lagi dia membawa Soat-ji rase salju itu kembali ke kota.

Setelah kembali kedalam kota, dia ambil keputusan untuk menyusup kedalam kuil It goan koan

malam itu juga, kalau bisa Ku Ing-ing akan sekalian diselamatkan jiwanya, maka begitu tiba

dirumah penginapan dia lantas tidur nyenyak.

Ketika bangun tengah hari itu, dia lantas menyembuhkan kembali luka yang diderita Soat-ji

dengan tenaga dalamnya yang sempurna, selesai bersantap siang, Soat-ji tidur diatas

pembaringan sedangkan Hoa Thian-hong ambil keluar kitab kiam keng itu dan mempelajarinya

didepan meja.

Pada halaman pertama, tercantumlah masalah tentang pedang sebagai suatu benda, ternyata

apa yang dibicarakan sama sekali berbeda dengan kitab pedang manapun juga.

Kalau didalam kitab pedang biasa maka yang dititik beratkan adalah jurus serangannya yang

khusus, maka dalam kitab kiam keng ini yang dibicarakan adalah soal ilmu pedang itu sendiri,

sekalipun disertai juga hampir seratus macam lukisan yang berbeda-beda akan tetapi isinya

berlainan dan terselip perubahan yang begitu banyak nya sehingga tak mungkin bisa

dipercayakan dalam waktu singkat.

Dalam waktu singkat Hoa Thian-hong telah terjerumus kedalam isi kitab itu, seluruh

perhatiannya dikonsentrasikan menjadi satu, tanpa terasa malam pun menjalang tiba, selama ini

meskipun ada sebagian kecil dari isi kitab itu dapat dipahami olehnya, tapi dapatkah ilmu itu

dimanfaatkan bila terjadi pertarungan, masih merupakan sebuah tanda tanya besar.

Setelah menyimpan kembali kitab Kiam keng, pelayan datang membawa lampu lentera den

siapkan makanan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

517

Soat-ji masih berbaring diatas pembaringan, sepasang matanya memancarkan sinar tajam,

rupanya kesehatannya telah pulih kembali seperti sedia kala….

Hoa Thian-hong memandang sekejap, ke arah binatang itu, lalu tertawa pikirnya di hati, “Soat-ji

memang hebat dan berbahaya, kalau tenang ia lebih tenang dari perawan kalau sudah bergerak

lebih cepat dari loncatan kelinci…. tidak aneh kalau waktu turun tangan kelihayannya luar

biasa….”

Sepasang telapak tangannya segera diluruskan kedepan dan bersiul nyaring.

Secepat sambaran kilat Soat-ji makhluk aneh itu melompat ketanggan Hoa Thian-hong deagan

seksama pemuda itu memeriksa seku jur tubuhnya, setelah mengetahui bahwa lukanya telah

sembuh, ia merasa amat gembira maka ditaruhnya binatang itu diatas meja untuk bersantap

bersama-sama.

Hubungan manusia dengan binatang ini berlangsung makin akrab, diam-diam pemuda ini

menjadi terkenang kembali akan diri Giok Teng Hujin, tiada hentinya ia menghela napas panjang.

Tiba-tiba terdengar suara langkah manusia berkumandang memecahkan kesunyian, menyusul

pintu kamar sebelah dibuka orang, kalau didengar dari pembicaraan tersebut, rupanya ada dua

orang yang menginap dalam sebuah kamar.

Suara pembicaraan kedua orang itu amat nyaring dan bertenaga, seriagkali kata-katanya disertai

pula dengan kata sandi yang sering dipakai orang persilatan.

Dari pembicaraan tersebut Hoa Thian-hong segera mengetahui bahwa kedua orang itu adalah

jago dari kalangan hitam, maka diapun tidak menaruh perhatian khusus.

Jilid 26

SELANG sesaat kemudian, kedua orang itupun bersantap didalam kamar, tiba-tiba terdengar

seorang diantaranya yang lebih muda berkata, “Ang kiu ko, sebenarnya siapa yang telah

membocorkan rahasia itu hingga urusan jadi heboh?”

Suara dari orang she Ang itu kedengaran lebih serak dan bertenaga, terdengar dia segera

menyahut, “Perduli amat berita itu berasal dari siapa, pokoknya urusan kita adalah melaksanakan

tugas tersebut!”

Orang yang pertama tadi rupanya meneguk dulu araknya, kemudian dengan suara berat katanya

lagi, “Aaaai….! Siaute kuatir kalau perjalanan kita cuma sia-sia belaka, sekali lagi kita ke tanggor

batunya….”

“Ingat saudara, tembok bertelinga, lebih baik tak usah kau ungkap lagi masalah itu, Hmm! Kalau

engkau tidak ingin mencari nama dan kedudukan silahkan saja pulang ke rumah membopong

anak meniduri istri dan hidup riang gembira, siapa yang akan mengurusi dirimu lagi!”

Orang itu segera tertawa dingin dan berseru dengan nada mendongkol, “Heehh…. heeeh….

heehh…. omong kosong, aku Ciang Kin bukan seorang manusia yang takut mati, aku cuma

merasa bahwa ilmu silat yang dimiliki lawan kita terlampau tinggi padahal Hong-im-hwie sudah

hancur berantakan dan tercerai berai, dengan andalkan kita beberapa orang prajurit yang kalah

perang rasanya masih bisa untuk mencari posisi yang menguntungkan, kalau cuma jiwa yang

melayang sih urusan kecil, bagaimana kalau sampai ditertawakan orang?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

518

Hoa Thian-hong yang mencari dengar pembicaraan itu, dalam hatinya segera berpikir.

“Aaah….! rupanya sisa-sisa komplotan dari Hong-im-hwie, entah urusan penting apakah yang

sedang mereka kerjakan?”

Terdengar orang she Ang itu berkata lagi dengan suara lirih, “Inilah kesempatan bagi kita untuk

membalikan diri dan mencari kedudukan, sekalipun harus korbankan jiwa tua kita juga harus

melaksanakannya dengan mati-matian!”

Ciang Kin lantas berbisik pula dengan suara lembut.

“Menurut berita yang kudengar, katanya musuh besar kita mendapat perintah ibunya untuk

pulang kedesa, ketika tiba dikota Lok yang tiba-tiba ia berputar arah, menurut berita kemarin

hari dia telah munculkan diri di Hoo lam….”

Pembicaraan kedua orang itu makin lama semakin lirih, buru-buru Hoa Thian-hong pusatkan

seluruh perhatiannya untuk mendengarkan pembicaraan tersebut dengan seksama.

Terdengarlah orang she Ang itu sedang berbisik dengan suara yang sangat lirih, “Pendapatmu itu

keliru besar, meskipun ilmu silat yang dimiliki musuh besar kita sangat lihay, tapi dia bukan

seorang manusia yang serakah, bahkan dia anggap dirinya sebagai seorang pendekar, maka

setiap perbuatannya dilakukan menurut cengli, maka dalam masalah ini bukan dia yang musti

kita kuatirkan, tapi nenek sialan dari Kiu-im-kauw dan Pek loji dari Sin-kie-pang!”

“Cong tang kee memerintahkan kita semua agar berkumpul di kota Kim leng, apakah kita harus

berjalan mengitari dulu propinsi Hok kian langsung menuju Bu gi?”

“Tentu saja bukan begitu maksudnya,” jawab orang she Ang dengan suara dingin, “cong tangkee

memerintahkan semua teman agar berputar melewati arah tenggara, maksudnya hanya untuk

menghindari bentrokan dengan pihak Sin-kie-pang, padahal kota Kiu ci bila dimaksudkan sebagai

arti suatu tempat maka letak yang sebenarnya adalah dikaresidenan Pa kay di Ghong see, kalau

diartikan sebagai nama sungai maka letaknya dekat Tan yang di propinsi Kang siok, bila diartikan

sebagai nama telaga letaknya ada di sebelah timur laut karesidenan Kang ling, telaga itu dibuat

oleh Beng taysu pada jaman Liang dengan tenaga manusia, tapi kalau dimaksudkan sebagai

bukit Kiu ci…. waah banyak sekali jumlahnya!”

“Pengetahuan siaute amat cetek, aku hanya tahu di karesidenan Huan sui sian pada propinsi Hoo

tam terdapatt sebuah bukit Kiu ci san, Kiu ko!”

“Coba terangkanlah ditempat mana lagi terdapat bukit yang bernama bukit Kiu ci san!”

“Disebelah barat keresidenan Ciau hua sian pada propinsi Su chian terdapat sebuah bukit yang

bernama Kiu ci san, disebelah utara karesidenan Sam kang sian dipropinsi Kwang see terdapat

pula sebuah bukit kiu ci san, bukit itu bentuknya sembilan buah patahan dan terdiri dari batu

karang yang tajam, ditengahnya terdapat sebuah air terjun yang amat besar, inilah bukit Kiu ci

san yang sebenarnya, sedang bukit Bu gi san di propinsi Hok kian terdapat pula sembilan buah

tekukan, pemandangan disitu sangat indah, namun dalam kenyataan bukit itu bukanlah bernama

bukit Kiu ci!”

“Jadi kalau begitu tempat yang kita tuju adalah bukit kiu ci san yang letaknya ada di See lam?”

Orang she Ang itu tidak menjawab, rupanya ia lagi mengangguk.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

519

Terdengar Ciang Kin berkata lagi, “Oooh….! Rupanya Kiu ko sudah pernah menjajahi seluruh

kolong langit sehingga pengetahuannya begitu luas, sudah banyak tahun siaute bergaul dengan

dirimu, sungguh tak nyana engkau adalah manusia selihay itu!”

“Aah. aku sih cuma mendengarnya dari Cong tangkee kita!”

“Sekalipun begitu, toh pengetahuanmu jauh lebih luas daripada aku sendiri!”

Diam-diam Hoa Thian-hong tertawa geli setelah mendengar perkataan itu, ketika ia merasa

bahwa pembicaraan selanjutnya adalah kata-kata yang tidak penting, dia lantas menggembol

pedangnya, membopong Soat-ji dan diam-diam tinggalkan rumah penginapan itu.

Waktu itu senja telah menjelang tiba, jalan raya ramai sekali, dengan langkah yang santai Hoa

Thian-hong menyelusuri jalan menuju selatan pintu kota.

Selang sesaat kemudian sampailah anak muda itu disekitar kuil It goan koan, dari kejauhan

tampaklah pintu gerbang kuil itu tertutup rapat, sepintas lalu bangunan itu sudah tidak mirip

sebuah kuil lagi, cahaya lampu menerangi seleruh penjuru, dari situ dapatlah diketahui bahwa

jumlah penghuni yang bberada disitu amat banyak.

Setelah memandang sekejap dari kejauhan, anak muda itu segera menyusup masuk kedalam

sebuah lorong dan menyelinap kebelakang bangunan kuil tadi.

Dibelakang halaman kuil terdapat sebuah loteng yang terdiri dari empat tingkat, bangunannya

amat megah dan mentereng, dahulunya merupakan tempat penting dari It goan koan, bahkan

ketika Giok Teng Hujin menjamu Hoa Thian-hong tempo hari, perjamuan itupun diadakan pada

tingkat paling tinggi dari bangunan tersebut.

Dalam hati Hoa Thian-hong lantas berpikir, “Bila Kiu-im Kaucu berada didalam kuil dia sudah

pasti berada dalam bangunan itu, tapi dimanakah Giok Teng Hujin disekap?”

Tiba-tiba ia saksikan dua sosok bayangan manusia berkelebat lewat didepan sana, ilmu

meringankan tubuh yang dimiliki kedua orang itu sudah mencapai puncak kesempurnaan hingga

gerak-geriknya begitu enteng bagaikan segulung asap ringan saja.

Mula-mula Hoa Thian-hong merasa terperanjat tapi setelah mengetahui siapakah kedua orang itu

ia jadi sangat kegirangan buru-buru serunya dengan ilmu menyampaikan suara, “Paman

Suma….”

Kiranya salah seorang diantara dua orang yang memakai baju hijau dan menyoren pedang itu

tak lain adalah Kiu mio kiam kek (jago pedang berjiwa rangkap sembilan) bermuka putih,

berambut panjang dan berjubah pendeta warna abu-abu, senjatanya adalah sebuah sekop perak,

siapa lagi kalau bukan Cu Im taysu….

Pada saat itu Suma Tiang-cing sudah siap melompat kedalam pekarangan kuil, ketika mendengar

pangilan tersebut ia batalkan niatnya dan malahan menghampiri si anak muda itu.

Hoa Thiian hong segera menyambut kedatangan kedua orang itu, baru saja ia hendak memberi

hormat, Cu Im taysu telah memburu datang sambil membangunkan anak muda itu.

“Nak, sudah lama engkau tiba di sini?” tegurnya sambil tertawa ramah.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

520

“Tengah malam kemarin boanpwe baru sampai disini, ada urusan apa taysu dan paman Suma

datang kesini?”

Kiu mio kiam kek, Suma Tiang-cing segera menjawab, “Aku dan taysu baru saja pulang setelah

berpesiar kebukit Tay san, sepanjang jalan aku dengar orang berkata bahwa Kiu-im Kaucu telah

menuju ke kota Lok yang bahkan berhasil menangkap Giok Teng Hujin yang mengkhianati

dirinya. Mendengar berita tersebut aku segera memburu datang kemari dengan harapan bisa

selamatkan jiwanya, sebab ketika jiwaku terancam tempo hari, berkat beberapa tetes Leng-ci

mustika pemberian Ku Ing-ing lah jiwaku selamat, aku tak bisa melupakan budi kebaikannya

ini….!”

Hoa Thian-hong sama sekali tidak menyangka kalau sebatang Leng-ci pemberian Ku Ing-ing

telah mengundang bantuan yang begitu banyak dari kawan-kawan persilatan, pada hal dua

pertiga diantaranya sudah dia makan sendiri, sedangkan sisanya sepertiga pun harus dibagi

untuk Suma Tiang-cing, Chin Giok long dan Bong Pay.

Berbicara menurut perbuatan yang telah dilakukan Ku Ing-ing selama ini, semestinya Suma

Tiang-cing yang benci akan kejahatan tak mungkin akan singsingkan lengan baju untuk

membantu dirinya, tapi kenyataannya jago berangasan itu telah datang kemari untuk

memberikan pertolongan, kejadian ini boleh dibilang sama sekali diluar dugaan siapapun.

Melihat wajah Hoa Thian-hong yang diliputi kesedihan dan kemurungan, Cu Im taysu merasa tak

tega, segera sahutnya, “Nak, janganlah murung! Sebenarnya aku dan paman Samu mu sudah

kelabakan setengah mati, sekarang setelah bertambah dengan kau seorang maka berarti

kesempatan kita untuk menolong orang semakin besar, mari kita rundingkan sampai masak,

kemudian segera turun tangan!”

Haruslah diketahui, meskipun Hoa Thian-hong tersohor didunia persilatan, perawakannya tinggi

kekar, orangnya jujur dan wataknya tegas, akan tetapi pada hakekatnya dia baru berusia

sembilan belas tahun, di riridingkan Chin Wan-hong dan Pek Kun Ci pun masih jauh lebih muda,

ia termasuk seorang pemuda yang cerdik tanpa menghi langkan sifat kejujurannya, sederhana,

polos tapi tidak bodoh, terhadap kaum yang lebih tuapun sangat menaruh hormat….

Oleh sebab itulah kebanyakan orang persilatan dari golongan lurus sama-sama menyayangi

dirinya, menganggap dia sebagai seorang rekan yang baik, hanya saja ada sebagian orang

mengutarakan perasaannya itu secara terus terang, ada pula yang cuma menyimpannya didalam

hati.

Sementara itu Suma Tiang-cing telah menuding ke arah loteng tinggi didalam kompleks kuil It

goan koan seraya berkata, “Ketika senja menjelang tiba tadi, aku telah menyusup kedalam kuil

dan berhasil menangkap seorang imam cilik dari Thong-thian-kauw, imam cilik itu bertugas

sebagai pelayan yang melayani orang-orang Kiu-im-kauw, menurut pengakuannya, Kiu-im Kaucu

berdiam ditingkat ketiga bangunan loteng itu, sedangkan Ku Ing-ing disekap pada loteng tingkat

paling atas dan sedang menjalankan siksaan Api dingin melelehkan sukma yang amat keji,

bagaimanakah cara menjalankan siksaan tersebut dia tak menyaksikan sendiri, maka tak dapat

dikatakan secara jelas, tapi dia tahu babwa Ku Ing-ing jelas belum mati!”

***

HOA THIAN-HONG menghela nafas panjang.

Aaai….! Jika Kiu-im Kaucu punya keinginan untuk membunuh Ku Ing- ing, maka perbuatan itu

bisa dilakukan dengan gampang sekali bagaikan membalik telapak tangan sendiri, tapi

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

521

kenyataannya ia tidak mau turun tangan untuk bereskan jiwanya, itu berarti dia sengaja hendak

menyiksa mangsanya dan menggunakan dia sebagai umpan untuk memancing boanpwee masuk

jebakan.

“Kenapa begitu?” tanya Suma Tiang-cing dengan sepasang alis matanya berkenyit.

Kiu-im-kauweu memandang keponakan sebagai paku dalam mata, dia menganggap aku sebagai

penghalang yang menghalangi niatnya untuk merajai seluruh kolong langit maka kalau bisa

secepatnya berusaha untuk lenyapkan aku, sudah dua kali keponakan bentrok dengan diri nya,

tapi setiap kali menang kalah sukar ditentukan, oleh karena itu rasa bencinya terhadap diriku

semakin menebal.

Iapun lantas menceritakan peristiwa yang telah dialaminya selama ini, ketika Cu Im taysu dan

Suma Tiang-cing mendengar kalau ia telah berhasil mendapatkan kitab kiam keng, kedua-duanya

merasa gembira tapi sewaktu mendengar Tang Kwik-siu tiba masuk kedaratan Tionggoan untuk

mencari harta di bukit Kiu ci san, kembali mereka tertegun.

Cu Im taysu menghela napas panjang, ujarnya, “Meskipun aku sudah menduga bahwa pertikaian

dalam dunia persilatan belum selesai, namun tak kusangka kalau perubahan yang berlangsung

sedemikian cepatnya, kalau ditinjau dari sini dapatlah diketahui babwa Kiu-im Kaucu mempunyai

ambisi yang sangat besar, Tang Kwik-siu mempunyai rencana busuk yang sukar diraba arah

tujuannya sedang sisa-sisa laskar dari Hong-im-hwie dan Thong-thian-kauw masih belum mau

menyerah dengan begitu saja, aku rasa hawa nafsu membunuh yang menyelimuti dunia

persilatan dewasa ini jauh lebih tebal daripada pertemuan di Pek-beng-hwie mau pun dalam

pertemuan Kian ciau tay hwe!”

Suma Tian cing tertawa dingin.

“Heh…. heehh…. heeh…. Sebagian besar masyarakat didunia ini kebanyakan menganggap bahwa

yang berhasil jadi raja, yang kalah jadi penyamun karena ketidakpuasan manusialah menjadikan

sebab musabab hingga terjadinya pertikaian ini, apabila situasi dalam dunia persilatan dapat

dibalikkan seperti keadaan pada lima puluh tahun berselang dimana orang yang belajar silat suka

akan gengsi, membicarakan soal kedudukan lebih mementingkan pertarungan satu lawan satu,

semua orang menganggap yang menang kuat yang kalah harus mengaku kalah dan malu untuk

main kerubut, maka dunia persilatan akan menjadi aman. Bila kita menghendaki keadaan

tersebut maka hanya ada satu cara saja yang bisa kita lakukan!”

“Apakah caramu itu paman?” tanya Hoa Thian-hong dengan dahi berkerut kencang.

“Hmm! Apalagi? Kita bantai dan bunuh semua kawanan manusia durjana itu dari muka bumi,

asal kaum gembong iblis itu sudah tersapu lenyap, dunia pasti akan aman.”

“Omintohud!” seru Cu in taysu, selama dunia masih dihuni oleh makhluk yang bernama manusia,

maka kejahatan tak mungkin bisa musnah dari hati umatnya, sekali pun kau basmi kawanan

manusia durjana ge nerasi ini toh dari generasi yang akan datang akan muncul pula manusiamanusia

durjana lainnya. Suma lote! Ucapan yeng disertai emosi seperti apa yang kau katakan

itu bukanlah suatu cara yang jitu, Thian-hong! Jangan kau anggap perkataannya itu sebagai

sungguhan!”

Suma Tiang-cing tertawa dingin.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

522

“Taysu engkau keliru besar!” serunya kembali. “Jikalau kita bunuh habis manusia-manusia

durjana dari generasi sekarang sekalipun pada generasi yang akan datang muncul pula manusia

durjana lain, aku rasa sifat kejahatannya tentu jauh lebih ringan”

“Thian memberikan pelajaran kepada umatnya agar saling mengasihi sesamanya, bila kita

gunakan membunuh untuk mencegah membunuh, maka ajaran ini terlalu tidak masuk di akal

dan tak pantas dituruti, Thian-hong! Jangan kau gubris ajaran semacam itu.”

Hoa Thian-hong segera menghela nafas panjang, ia tahu Suma Tiang-cing masih belum puas,

apabila perdebatan in berlangsung terus sampai beberapa haripun tak ada habisnya, buru-buru

ia menyela dari samping.

“Pendapat dari taysu didasarkan pada pelajaran agama, sedang pendapat paman Suma

didasarkan pada kenyataan, aku rasa kedua duanya masuk diakal.”

Berbicara sampai disini, tiba-tiba dia membungkam dan tidak mengatakan apa-apa lagi.

Cu Im taysu segera menyambung.

“Memang benar, urusan paling penting yang harus kita pikirkan sekarang adalah bagaimana

caranya untuk menolong orang, menurut pendapatmu bagaimana kita musti turun tangan?”

Hoa Thian-hong termenung dan berpikir sebentar, lalu menjawab.

“Ku Ing-ing disekap pada loteng tingkat keempat, sedangkan Kiu-im Kaucu menjaga pada tingkat

ketiga, bila boanpwe ingin menye-lamatkan Ku Ing-ing tanpa diketahui olehnya, sudah jelas hal

ini tak mungkin bisa kulakukan!”

Sekalipun begitu, kita masa harus merampasnya secara terang-terangan….?!” tanya Cu Im taysu

dengan cepat.

“Boanpwe yakin, dengan kekuatan kita bertiga sekalipun harus berhadapan muka dengan

kawanan jago Kiu-im-kauw yang berkumpul seruangan, kita masih mampu menerjang masuk

dan mampu juga untuk menerjang keluar, akan tetapi kalau dikatakan kita harus menembusi

kepungan mereka sambil membawa Ku Ing-ing, jelas pekerjaan ini sulit sekali untuk

dilaksanakan”

“Perkataanmu memang benar, dalam kea aan kepepet bisa saja Kiu-im Kaucu turun tangan

membereskan dulu nyawa Ku Ing-ing. Aaaai….! Aku rasa persoalan ini merupakan suatu

persoalan yang amat sulit, pa dahal perempuan itu harus diselamatkan jiwanya, apa daya kita

sekarang?”

Hoa Thian-hong menghela napas panjang, dia lantas berpaling dan memandang ke arah Suma

Tiang-cing.

Melihat sinar mata kedua orang itu ditujukan ke arahnya, dengan cepat Suma Tiang-cing

gelengkan kepalanya sambil berkata, “Sudah setengah harian aku peras otak berusaha mencari

akal yang bagus, tapi usahaku ini selalu gagal, kalau bisa malah aku akan mengambil keputusau

untuk menyerbu pakai kekerasan, kalau perempuan itu berhasil diselamatkan yaa syukur, kalau

tak bisa akan kulakukan pembantaian secara besar-besaran agar Kiu-im Kaucu mengetahui

sampai dimanakah kelihayanku, cuma begitu jika aku gagal selamatkan jiwa orang, maka

kemungkinan besar jiwa Cu Im taysu akan ikut jadi korban”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

523

Cu Im taysu tersenyum.

“Meskipun aku tidak suka melakukan pemubunahan, akan tetapi aku tak takut menghadapi

bacokan golok, apalagi disuruh bertempur boleh dibilang merupakan suatu kegembiraan!”

Hoa Thian-hong termenung sebentar, tiba-tiba katanya, “Boanpwe telah menemukan suatu cara

yang amat sederhana, bagaimana kalau kita bertiga turun tangan bersama? Kita serbu secara

menggelap maupun secara terang-terangan, lihat saja bagaimana hasilnya nanti!”

“Baik! Suma Tiang-cing menanggapi dengan suara berat, aku rasa inilah satu-satunya cara yang

paling ada harapan, biarlah aku dan Cu Im Taysu menyerbu secara terang-terangkan, kalau bisa

akan kami belenggu musuh tangguh itu sebisa mungkin, sedangkan engkau segera menyusup

kepuncak loteng untuk menolong orang”

“Benar, bila kau berbasil selamatkan perempuan itu maka berusahalah untuk menerjang keluar,

jangan kau gubris diriku dan paman Suma lagi!” kata Cu Imn taysu sambil tertawa.

Suma Tiang-cing mempunyai julukan sebagai Kiu mio kiam kek, jago pedang berjiwa rangkap

sembilan, bukan saja beraninya luar biasa diapun seorang pemberang, sekali pun dihadapannya

terhalang hutan golok atau bukit pedang ia tak akan memandang sebelah matapun.

Maka begitu melihat keputusan telah di ambil, ia lantas loncat masuk kebalik dinding pekarangan

kedalam kuil It goan koan.

Menyaksikan hal itu, buru-buru Cu Im taysu berseru kepada anak muda itu, “Engkau harus

berhati-hati….!”

Dengan cekatan tubuhnya ikut loncat masuk kedalam pekarangan kompleks kuil itu.

Hoa Thian-hong tak berani berayal, cepat diapun melesat kedepan dan menyusup masuk

kedalam kompleks kuil It goan koan tersebut.

Sebagai orang yang bertanggung jawab untuk menyelamatkan jiwa Ku Ing-ing, pemuda itu tak

berani bertindak secara gegabah, dengan sangat hati-hati dan hampir boleh dibilang menempel

pada dinding bangunan, dari satu bangunan berpindah kebangunan yang lain tanpa

menimbulkan sedikit suara pun, dengan gerak-geriknya ini kendatipun ada orang disekitar sana,

belum tentu bisa ditemukan dengan gampang.

Belakang dinding pekarangan adalah sebuah kebun bunga, disitu pohon dan rumput tumbuh

dengan suburnya, ada gunung-gunungan, ada kolam dan ada pula pintu berbentuk bulat.

Dibelakang pintu itu berdirilah sebuah bangunan loteng yang megah, ketika Hoa Thian-hong

melompat masuk lewat dinding pekarangan, Suma Tiang-cing dan Cu Im taysu sudah menyusup

masuk lewat pintu bulat tadi, cepat si anak muda itu bersembunyi dibelakang pintu bulat itu

sambil mengawasi gerak-gerik dari dua orang rekannya.

Rembulan bersinar dengan terangnya diawang-awang, cahaya lampu memancar dari bawah,

dalam suasana terang benderang tentu saja jejak Suma Tiang-cing dan Cu Im taysu tak bisa

disembunyikan lagi, segera mereka berhasil ditemukan oleh penjaga loteng itu.

“Siapa disitu?” terdengar seseorang membentak kasar.

Aku Suma Tiang-cing dan Cu Im taysu sengaja datang kemari untuk menyambangi kaucu mu!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

524

Bersamaan dengan selesainya ucapan tersebut, tubuhnya langsung meluncur keudara dan

menerjang keloteng tingkat ketiga.

Loteng tingkat ketiga jaraknya ada belasan keki, dalam dunia persilatan dewasa ini jarang sekali

ada orang yang mampu melakukan hal itu, dengan sendirinya para penjaga loteng itu segera

sadar bahwa mereka telah kedatangan musuh tangguh.

Dengan hati tercekat, kedua orang penjaga itu segera membentak keras, secepat sambaran kilat

mereka menerjang maju kedepan.

Dengan gaya burung bangau menerjang ke angkasa, laksana anak panah yang terlepas dari

busurnya, Suma Tiang-cing membumbung keangkasa, belum habis ia berseru sepasang kakinya

sudah menempel diatas tiang dan pedang mustikanya diloloskan pula dari sarungnya.

Dengan suatu gerakan yang amat cepat, kedua orang itu menerjang tiba, terdengarlah suara

desingan tajam menderu-deru, sebuah tombak pendek dan sebuah senjata pit baja penotok jalan

darah dengan gerakan yang amat cepat telah meluncur tiba.

Sama Tiang cing segera membentak nyaring, “Siapa berani menghalangi aku, mampus!”

Pedangnya secepat sambaran kitat segera melancarkan serangan kilat ke arah depan.

Dua orang jago yang bertugas menjaga loteng itu merupakan dua orang jago lihay dari istana

neraka, bukan saja bentuk senjata yang digunakan sangat aneh, jurus serangan yang digunakan

cukup mengge-tarkan hati siapapun yang memandang, bila orang lain yang dihadapi nisca

nyalinya akan dibuat tercekat.

Sayang musuh yang dihadapinya justru adalah Kiu mio Kiam kek yang pemberang, jago muda ini

tak pernah mempersoalkan apakah musuh yang dihadapinya adalah musuh tangguh atau kaum

keroco, begitu menyerang ia segera melancarkan serangan dengan jurus yang ganas dan tenaga

yang mengerikan, membuat siapapun jadi keder rasanya.

Setelah melepaskan serangannya tadi, kemudian menyaksikan Suma Tiang-cing melancarkan

sergapan dengan pedang bajanya, dua orang jago dari istana neraka itu segera menyangka

kalau musuhnya akan menangkis ancaman tersebut deagan mengandalkan ketajaman

senjatanya.

Siapa tahu, bukan saja ancaman itu tidak ditangkis, ternyata pihak lawan malahan melepaskan

pula ancaman maut ke arah mereka dengan sistim adu jiwa.

Tentu saja kedua orang jago itu tak ingin mati konyol, sebelum serangannya dilancarkan sampai

habis, cepat-cepat kedua orang itu membatalkan kembali ancamannya seraya melepaskan jurus

serangan untuk menyelamatkan diri.

Sayang serbu kali sayang, Suma Tiang-cing bukan manusia sembarangan, dan lagi dalam

melepaskan ancamannya itu ia telah menghimpun segenap kekuatan yang dimilikinya, boleh

dibilang sergapannya tanpa memperhitungkan mana lebih duluan dan mana belakangan.

Baru saja jago yang bersenjata tombak itu berusaha untuk menghindarkan diri kesamping, tahutahu….”

Krakk!” ditengah benturan nyaring, senjata tombaknya itu sudah terpapas kutung jadi

dua bagian.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

525

Jago yang bersenjata poan koan pit itu cepat memburu kedepan. senjatanya diputar menusuk

kaki Suma Tiang-cing, maksudnya dengan serangan tersebut maka ia dapat selamatkan jiwa

rekannya.

Siapa tahu Suma Tiang-cing bertindak cekatan, sekali angkat kakinya tahu-tahu ia sudah

menginjak senjata lawan, menyusul mana sebuah tendangan dahsyat melemparkan tubuhnya

sehingga mencelat sejauh satu kaki lebih dari tempat semula.

Pada hakekatnya anak buah Kiu-im-kauw yang diatur disekitar bangunan loteng itu khusus

disediakan untuk menghadapi Hoa Thian-hong, apa lacur sekarang yang baru dihadapi adalah

Suma Tiang-cing seorang jago yang nekad dan pemberang, kontan saja pertahanan mereka

dijebolkan hanya cukup dalam sekali gebrakan.

Baru saja musuhnya terdesak mundur ke belakang, Suma Tiang-cing sudah memberatkan

tubuhnya dan melayang keatas serambi.

“Manusia kasar, mau kabur kemana? tiba-tiba seorang perempuan dengan suara yang dingin

menyeramkan menegur dari samping.

Berbareng dengan seruan tersebut, sepulung desingan hawa pedang yang tajam menyergap

kedepan dan langsung menghajar jalan darah Ki bun hiat ditubuh Suma Tiang-cing.

Betapa terperanjatnya jago muda itu menghadapi serangan yang sama sekali tak terduga ini,

peluh dingin sampai mengucur keluar membasahi sekujur mbuhnya.

Cepat pedang mustikanya dikibaskan kedepan dengan jurus bwe bong wu liu (Pusaran angin

mainkan pohon Liu), bukan saja ia tidak memperduiikan keselamatan jiwa sendiri, malahan

sambil bergerak kedepan ia melancarkan serangan balasan.

Sreeet….! Senjata sekop dari Cu Im taysu meluncur tiba dari samping gelanggang.

Dengan berkobarnya pertarungan itu maka dalam sekejap mata, api obor sudah bermunculan di

empat penjuru dan menyoroti daerah sekitar gelanggang hingga terang benderang bagaikan

disiang hari, berbareng itu pula dari kedua belah sisi serambi bermunculan puluhan orang lakilaki

maupun perempuan.

Dalam keadaan demikianlah pintu loteng terbuka, Kiu-im Kaucu dengan senjata toya kepala

setannya munculkan diri didepan muka.

Sementara itu Suma Tiang-cing telah melihat jelas bahwa tandingannya ketika itu adalah seorang

gadis berambut panjang yang berpotongan badan ramping, dia kenali gadis itu sebagai Tiamcu

istana neraka dibawah pimpinan Kiu-im Kaucu, bahkan mengenali juga bahwa senjata mustika

yang dipergunakannya adalah pedang mustika Bian liong poo kiam bekas milik Thong-thiankauw.

Dalam waktu singkat dua puluh gebrakan sudah lewat dengan cepatnya, pertarungan

berlangsung makin sengit dan seru.

Waktu itu usia Suma Tiang-cing baru mencapai tiga puluh tahunan, sedangkan Tiamcu istana

neraka berusia diantara tiga puluh tahunan juga, bukan saja wajah mereka cakep dan cantik,

senjata yang digunakan juga adalah senjata mustika, berbicara yang sesungguhnya pertarungan

semacam itu pastilah berlangsung dengan halus dan lembut.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

526

Apa lacur watak Suma Tiang-cing seorang pemberang dan ganas, setiap serangan yang

dilancarkannya selalu bermaksud untuk melukai orang, hal ini memaksa Tiamcu dari istana

neraka terpaksa harus mengeluarkan pula jurus-jurus ampuhnya untuk melayani kehendak

lawan.

Kiu-im Kaucu hanya menonton jalannya penarungan itu dari sisi kalangan, sepasang alis matanya

berkenyit hingga menjadi satu garis, dengan suara lantang ia berseru, “Suma Tiang-cing sudah

tersohor sebagai seorang jagoan yang pemberang dan besar sekali jiwa nekadnya, ia sudah

terbiasa melakukan serangan-serangan kasar macam itu….”

“Anjing betina tak usah banyak bacot, kalau berani hayo turun kemari.! tukas Suma Tiang-cing

sambil membentak gusar.

Kiu-im Kaucu sama sekali tidak melayani makian tersebut, malahan sambil tertawa ujarnya,

“Engkau bukan tandinganku maka lebih baik tak usahlah menantang aku untuk bertarung, saat

ini Hoa Thian bong telah menyusup naik keatas loteng aku harus berjaga-jaga disana menunggu

kedatangannya!”

Betapa terkejutnya Suma Tiang-cing sesudah mendengar perkataan itu, dia lantas menduga

bahwa dialas loteng telah disiapkan jebakan yang lihay sehingga gembong iblis ini membiarkan

musuhnya berhasil menyusup naik ke atas.

“Kalau memang terjadi begini, bukankah itu berarti bahwa selembar jiwa Hoa Thian-hong sedang

terancam bahaya maut?”

Karena memikirkan persoalan itu pikiran dan perhatiannya jadi bercabang, Tiamcu istana neraka

tidak menyia-nyiakan kesempatan baik itu dengan begitu saja, dia lantas membentak keras,

pedang mustika boan liong kiam hoatnya dengan memancarkan cahaya bianglala yang amat

menyilaukan mata segera memancar memenuhi seluruh angkasa, dalam waktu singkat dia telah

melancarkan serangkaian serangan balasan yang amat gencar.

Sesudah kehilangan posisinya yang baik, dengan cepat pula Suma Thiang cing terdesak hebat

sehingga kedudukannya berada di bawah angin.

Dalam waktu singkat secara beruntun dia telah menemui ancaman mara bahaya, untungnya dia

memiliki jurus untuk adu jiwa yang mengerikan, maka setiap saat dia masih mampu untuk

menyelamatkan jiwanya dari ancaman itu.

Sementara itu dipihak lain, Hoa Thian-hong telah manfaatkan kesempatan berkobarnya

pertarungan itu secara baik-baik, sesudah berputar kesamping, sambil membopong Soat-ji dia

lantas melompat naik ke loteng tingkat keempat.

Dalam prasangkanya disekitar loteng itu sudah pasti telah disiapkan jebakan maupun penjagaan

yang sangat ketat, tapi apa yang dilihatnya waktu itu?

Ternyata suasana diatas loteng tingkat keempat itu sunyi senyap tak kedengaran sedikit

suarapun, bukan saja tak nampak adanya bayangan manusia, alat jebakan atau senjata

rahasiapun tak nampak satupun.

Diatas serambi loteng tergantung sebuah lampu lentera yang anti hembusan angin, cahaya yang

redup menyinari sebuah pintu ruangan yang berukir naga dan burung hong.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

527

Dengan cekatan Hoa Thian-hong melayang kedepan dan mendorong pintu tersebut, ternyata

pintu tidak terkunci, ketika didorong segera terpentang lebar.

Ruangan itu kosong melomgpong, tak kelihatan sesosok bayangan manusia pun yang berada

disitu.

Ruangan itu luasnya sekitar tiga kaki persegi, sepuluh buah lentera keraton yang indah

tergantung didalam ruangan itu. Hoa Thian-hong masih ingat ketika ia dijamu Giok Teng Hujin

tempo hari, dalam ruangan inilah perjamuan tersebut diselenggarakan.

Sayang suasana dalam ruangan itu remang-remang, diantara sepuluh buah lampu lertara yang

tersedia dalam ruangan itu, hanya dua buah diantaranya yang dipasang, ditengah suasana yang

remang-remang itulah Hoa Thian-hong merasakan suatu perasaan yang sangat aneh.

Didekat ruangan itu terdapat tiga buah pintu, didepan pintu tergantung horden yang cukup tebal,

sekilas pandangan dapatlah di ketahui bahwa dalam ruangan itu tersedia tiga buah kamar tidur.

Setelah menutup kembali pintu ruangan, Hoa Thian-hong bergerak masuk kedalam untuk

melakukan pemeriksaan, waktu itulah Soat-ji yang berada dalam bopongannya mendesis lalu

melompat turun dan secepat kilat menyusup masuk kedalam ruang tidur sebelah tengah.

Tanpa sadar perasaan hati Hoa Thian-hong berubah jadi amat tenang, cepat dia menyelinap

kedepan pintu dan menyingkap horden yang menutupinya. Apa yang kemudian terlihat

dihadapannya membuat darahnya tersirap, dengan mata melotot karena menahan gusar dia

menyerbu masuk kedalam ruang itu, serunya setengah mendesis, “Cici….!”

Semula ruangan tersebut adalah sebuah kamar rahasia, tapi sekarang perabot yang ada dalam

ruangan itu sudah dipindahkan semua sehingga tinggal sebuah ruangan yang kosong

melompong.

Ditengah ruangan terdapatlah sebuah meja sembahyangan yang tampak masih baru, diatas meja

sembahyangan terdapatlah empat buah patung arca setinggi beberapa depa yang tersebut dari

kayu wangi, patung itu ada yang duduk ada pula yang berdiri, bentuknya satu sama yang lain

jauh berbeda.

Cuma saja keempat-empatnya adalah patung perempuan dan berambut parjang sampai

sepundak.

Meskipun raut wajah yang digambarkan pada keempat patung itu tidak jelek, tapi seperti halnya

dengan Kiu-im Kaucu, paras muka mereka, membawa selapis kemisteriusan yang sukar

dilukiskan dengan kata-kata.

Didepan sebuah patung arca itu terletak sebuah hiolo, diatas hiolo itu tertancap hio yang

mengeluarkan bau dupa wangi, cuma tidak kelihatan ada lilin.

Kurang lebih empat lima depa didepan meja sembahyangan itu terdapat kasur bulat untuk

semedi, waktu itu Giok Teng Hujin duduk diatas kasur tadi sambil menghadap ke arah patung

arca, tubuh bagian atasnya berada dalam keadaan bugil, rambut nya yang panjang terurai

menutupi punggungnya yang telanjang itu.

Didepan kasur bulat itu tergantung sebuah lampu lentera terbuat dari tembaga yang aneh sekali

bentuknya, diatas lampu itu terdapat tutupnya, diatas penutupaya terdapat tujuh buah lubang

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

528

kecil, asap hijau dan percikan api kecil manancar keluar dari ketujuh lubang itu menciptakan

tujuh buah asap hijau setinggi delapan sembilan cun.

Ketika asap itu menggumpal keatas segera bergabung menjadi satu dan berbelok menuju ke

arah dada Giok Teng Hujin, kobaran api itu segera membakar dadanya dengan ganas.

Tepat pada lekukan payudara Giok Teng Hujin tergantung sebuah bulatan sebesar mulut cawan

arak yang berwarna keperak-perakan, kebakaran api yang bergabung setelah keluar dari ketujuh

lubang kecil itu langsung memancar keatas bulatan perak itu dan memanggangnya hingga

memperdengarkan bunyi gemericik yang amat nyaring.

Sekujur tubuh Giok Teng Hujin kelihatan gemetar keras, badannya telah basah kuyup

bermandikan peluh.

Rupanya kesadaran Giok Teng Hujin waktu itu belum lenyap sama sekali, ketika mendengar

panggilan dari Hoa Thian-hong dengan cepat dia berpaling ke arah samping dan mengguraikan

rambutnya yang panjang untuk menutupi seluruh bagian raut wajahnya.

“Jangan sentuh aku!” terdengar gadis itu berseru dengan nada gelisah, “jangan kau sentuh

lampu lentera itu!”

Suara itu kering, serak dan tak enak didengar, seakan-akan bukan berasal dari mulut perempuan

itu.

Hoa Thian-hong segera menerjang kehadapanya dan berlutut disamping tubuh Giok Teng Hujin,

sekujur badannya gemetar keras sepasang matanya berubah jadi merah membara sementara air

mata jatuh bercucuran membasahi seluruh wajahnya.

“Cici…. kau….!” akhirnya ia terisak dan tidak sanggup melanjutkan kembali kata-katanya.

Beberapa titik air mata jatuh bercucuran membasahi wajah Giok-teng hujin ketika ia tundukkan

kepalanya, air mara itu menetes diatas lampu lentera itu dan seketika muncullah asap warna

hijau yang sangat mengerikan.

Pemandangan ketika itu benar-benar mengenaskan, baru pertama kali ini Hoa Thian-hong

menyaksikan jalannya siksaan yang amat keji ini, tentu saja hatinya terasa jadi remuk redam,

darah panas dalam rongga dadanya ikut bergelora dengan hebatnya, dia ingin turun tangan

namun tak tahu apa yang musti dilakukan pada saat ini

Rupanya Soat-ji rase salju stupun tahu bahwa majikannya sedang menjalankan siksaan yang

kejam, dikala itu makhluk tersebut ber sandar disisi majikannya sambil merintih tiada hentinya,

tampaknya binatang itu sedang beriba hati.

Hoa Thian-hong merasa dendam bercampur benci, tiba-tiba serunya dengan nyaring, “Cici, apa

yang harus kulakukan!”

Saking jengkelnya, dengan sekuat tenaga dia hajar permukaan lantai itu keras-keras.

“Lampu itu!” bisik Giok Teng Hujin dengan lirih.

Mendengar seruan tersebut, buru-buru Hoa Thian-hong menarik kembali tenaga pukulannya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

529

“Blaang! sebuah bekas telapak tangan yang dalam sempat membekas diatas permuaan lantai,

untungnya lampu siksaan tersebut tidak sampai tergetar oleh pukulan tadi.

Giok Teng Hujin benar-benar tersiksa lahir batinnya menghadapi siksaan api dingin melehkan

sukma yang dialaminya sekarang, akan tetapi dengan tabah dihadapinya secara jantan.

Tatkala ia saksikan kedatangan Hoa Thian-hong untuk pertama kalinya tadi, dua titik air mata

memang sempat meleleh keluar, akan tetapi dengan cepat semua penderitaan dan siksaan yang

dialaminya ditahan didalam hati, sesudah berhenti beberapa saat lamanya segera ujarnya.

“Aaai.! Bagaimanapun aku toh tak bisa hidup lebih lama lagi, daripada aku hidup menanggung

derita, lebih baik totoklah jalan darah kematianku, agar aku bisa lebih cepat melepaskan diri dari

siksaan hidup ini!”

“Tidak!” jerit Hoa Thian-hong sambil menggigit bibir menahan air matanya yang meleleh keluar.

Giok Teng Hujin menghela nafas panjang.

“Aaii! Setiap manusia tak luput dari kematian, aku merasa amat puas apabila bila mati disisimul”

Engkau tak boleh mempunyai ingatan semacam itu, hayo keluar kanlah semangat dan

keberanianmu untuk melanjutkan hidup, sekalipun harus pertaruhkan selembar jiwaku akan

kutolong juga engkau hingga lolos dari mara bahaya.

Seekor semutpun menginginkan hidup, apa lagi aku adalah seorang manusia, mengapa aku tidak

ingin hidup? Bukan begitu saja dan lagi, aai! aku benar-benar merasa berat untuk meninggalkan

engkau.

Sekalipun ucapan tersebut sangat pendek dan singkat, akan tetapi luapan cinta yang

diperlihatkan dalam perkataan itu benar-benar sanggup melelehkan besi baja.

Hoa Thian-hong merasa hatinya amat sakit bagaikan ditusuk dengan pisau tajam, air matanya

jatuh bercucuran membasahi wajahnya.

Ketika dilihatnya sekujur badan Giok Teng Hujin gemetar keras, seolah-olah sedang menahan

suatu penderitaan yang hebat, buru-buru ia menyeka air matanya sambil berseru lagi,

“Beritahukanlah kepadaku, sebenarnya macam apakah lampu setan itu, aku hendak mencarikan

akal untuk menyelamatkan jiwa mu!”

Giok Teng Hujin gelengkan kepalanya dengan sedih, sambil terisak menahan tangisnya ia

menjawab, “Berilah jawaban dulu kepadaku, engkau harus berjanji tak akan menerima paksaan

dari kaucu walau berada dalam keadaan apapun, engkau tak boleh mudah menyerah dengan

begitu saja.”

Hoa Thian-hong merasa hatinya semakin perih apalagi setelah mendengar betapa perhatiannya

Giok Teng Hujin terhadap dirinya walau berada dalam keadaan begitu.

Akhirnya Hoa Thian-hong berjanji tak akan menerima paksaan dari Kaucu jika ini yang

dikehendaki oleh Giok Teng Hujin.

Kemudian diterangkanlah oleh Giok Teng Hujin dengan nada sedih kepada Hoa Thian-hong.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

530

“Dadaku telah dilapisi oleh serbuk perak yang dinamakan Miat ciat in leng (serbuk dingin

pelenyap keturunan) bubuk itu dibuat menurut resep rahasia yang hanya dimiliki oleh Kiu-imkauw,

yakni terbuat dari campuran kotoran ulat sutera, empedu burung-burung yang bisa

berbunyi, air liur katak buduk, butiran putih telur dari ubur-ubur, kulit ari dari cacing dicampur

pula dengan bubuk phospor yang mengandung racun jahat, bila serbuk perak Miat ciat in leng ini

dipoleskan diatas dada seseorang, racun itu akan segera meresap ke tubuh ma-nusia bila

dibiarkann terus maka racun itu akan menyerang kejantung yang mengakibatkan kematian dari

korbannya!”

Perempuan itu berhenti sebentar, kemudian meneruskan lagi kata katanya lebih jauh, “Lentera

yang bisa melelehkan sukma ini pun bukan benda sembarangan, didalam lentera itu di isi dengan

hawa racun dari katak puru (sejenis katak yang kasar kulitnya dan berbintik-bintik), karena

mendapat pembakaran dari cahaya api lentera ini, maka hawa racun Miat ciat in leng yang

dipoleskan kedadaku jadi terhisap, karenanya jiwaku bisa selamat sampai kini, tapi jika

kutinggalkan cahaya api ini, racun tersebut segera akan menyerang kejantungku yang akan

mengakibatkan aku jadi tewas!”

“Tapi…. tapi…. betapa sengsara dan tersiksanya tubuhmu karena selalu dibakar oleh api yang

menyala-nyala ini?” seru Hoa Thian-hong sambil menggigit bibirnya kencang.

“Aaai….! Sebagaimana kau ketahui: ‘Api dingin melelehkan sukma’ adalah siksaan yang paling

keji dan paling berat dari Kiu-im-kauw kami, masih mendingan kalau siksaan itu hanya Ngo kiam

hun si (lima pedang memisahkan mayat)….”

“Apakah ada pemunahnya atau tidak?” tanya pemuda itu kemudian dengan penuh rasa dendam.

Giok Teng Hujin manggut-manggut.

“Ada sih ada, cuma obat pemunahnya hanya dimiliki oleh kaucu seorang….!”

“Aku akan mencari dia sekarang juga!” seru Hoa Thian-hong sebelum perempuan itu

menyelesaikan kata-katanya, cepat dia bangkit berdiri dan siap berlalu dari situ.

“Eeh…. tunggu sebentar!” seru Giok Teng Hujin gelisah.

Hoa Thian-hong berpaling sambil menyeka air mata yang meleleh keluar bercampur dengan

keringat.

“Apa yang hendak kau tanyakan lagi?” tanyanya.

“Dimanakah pedang bajamu?”

“Sudah lenyap, kitab kiam keng ada disakuku!”

“Adik Hong, ingat baik-baik perkataanku!” kata Giok Teng Hujin mendadak dengan wajah seiius

“bila kau serahkan kitab kiam keng sebagai pertukaran syarat, kendatipun aku bisa kau

selamatkan, akhir nya aku tetap akan bunuh diri!”

Tertegun Hoa Thian-hong setelah mendengar ancaman itu, air mata yang baru dihapus kembali

meleleh keluar dengan derasnya

Giok Teng Hujin berkata lagi, “Pada umumnya siksaan api dingin melelehkan sukma akan

berlangsung selama tujuh hari tujuh malam, aku masih ada kesempatan hidup selama lima hari,

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

531

usahakanlah pertolongan untukku, tapi jangan kau terima semua paksaan dari orang lain,

engkaupun tak boleh menyiksa diri sendiri, usahakan pertolongan sewajarnya mengerti?”

“Ooh…. cici, bolehkah kusentuh badanmu? Walau hanya sebentar saja….” pinta Hoa Thian-hong

mendadak dengan air mata bercucuran.

Agak tertegun Giok Teng Hujin mendengar perkataan itu, tapi akhirnya dia mengangguk.

“Sentuhlah, tapi jangan sampai menggoncangkan tubuhku!”

Cepat Hoa Thian-hong lepaskan jubah luarnya, sambil berjongkok dia seka keringat yang

membasahi punggung Giok Teng Hujin ketika jari tangannya menyentuh tubuh sang dara yang

bergetar keras, tanpa sadar tubuhnya ikut gemetar karas.

“Kenakan pakaian itu ditubuhku!” bisik Giok Teng Hujin dengan suara yang lirih.

Hoa Thian-hong kenakan bajunya dipunggung perempuan itu, kemudian berkata lagi, “Wajahmu

berkeringat, pipimu berminyak, ijinkanlah kuseka keringat dan minyak itu, lihatlah, rambutmu

kusut dan awut-awutan biarlah kubereskan semuanya untukmu!”

“Jangan!” seru Giok Teng Hujin ambil buru-buru berpaling.

Kiranya setelah mengalami siksaan selama sehari dua malam, kulit dan pori-poro wajah dara itu

banyak berkerut akibat kepanasan, kelembutan dan kehalusan telah banyak yang hilang, dengan

begitu mukanya tampak jauh lebih tua daripada keadaan di hari-hari biasa.

Sebagai anggota Kiu-im-kauw, tentu saja dara itupun tahu akan akibat yang bakal diterima

sesudah menjalankan siksaaan tersebut maka ia tak ingin Hoa Thian-hong melihat wajahnya dan

mengetahui pula akan kerutanya.

Tertegun si anak muda itu ketika permintaannya ditolak, ia berdiri termangu, sementara dalam

hati timbullah perasaan heran dan tak habis mengerti, ia tak tahu betapa perempuan itu

merahasiakan raut wajahnya, mungkinkah terjadi suatu perubahan?

Namun ia tidak berpikir panjang, setelah termangu sebentar akhirnya pemuda itu berkata, “Cici

bersabarlah disini, segera kucari Kiu-im Kaucu! Aku akan membikin perhitungan dengannya!”

“Bawalah serta Soat-ji!” Giok Teng Hujin menambahkan.

“Biarkan disini dulu, sebentar aku akan kemari lagi….”

“Jangan! Sebelum kau dapatkan obat pemunah, tak usah kau tengok diriku lagi, hindarilah segala

resiko yang tak diinginkan, daripada kau celaka disergap orang”

Sedih dan pilu perasaan hati Thian-hong, ia merasa hatinya bagaikan disayat-sayat pisau, tak

tega rasanya pemuda itu untuk menampik permintaannya, maka dengan membopong Soat-ji dia

lantas mengundurkan diri dari ruangan itu.

Setelah keluar dari ruangan, ia dengar pertempuran yang sedang berlangsung dibawah loteng

makin bertambah seru. Mendadak…. segulung hawa nafsu membunuh yang luar biasa tebalnya

menerjang kedalam benak, ia merasa darah panas ditubuhnya jadi mendidih, hanya satu ingatan

yang terlintas dalam benaknya, ingatan itu adalah membunuh orang, makin banyak orang yang

dibunuh makin baik.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

532

Dipihak lain, Suma Tiang-cing dan Yu beng tiamcu sudah bertarung sebanyak tiga ratus

gebrakan, dada kiri Suma Tiang-cing telah bertambah dengan sebuah mulut luka sepanjang tiga

cun, sedangkan lengan kiri tiamcu istana Neraka juga bertambah dengan sejalur luka, darah

bercampur keringat membasahi tubuh mereka membuat mereka tampak lebih seram dan

mengerikan.

Cahaya kilat dan hawa pedang menyelimuti sekeliling ruangan tersebut, dua orang jago lihay itu

saling bergerak diantara lapisan cahaya pedang, mereka saing menerkam dan saling menerjang

ganas dan mengerikan sekali pertarungan yang sedang berlangsung.

Rapanya kelihayan ilmu siiat mereka seimbang, maka sekalipun sudah bertarung lama, keadaan

tetap seimbang alias sema kuat.

Akhirnya mungkin karena penasaran, makin menyerang mereka makin kalap dan masing-masing

mengeluarkan segenap kepandaian tangguh yang dimilikinya.

Sepasang pedang saling membentur satu sama lainnya menimbulkan dentingan nyaring yang

memekikan telinga.

Pedang pek le kiam milik Suma Tiang-cing memang sebilah pedang yang tajam dan luar biasa,

tapi dibandingkan dengan Boan liong poo kiam dari Thong-thian-kauw yang kini berada ditangan

tiamcu istana neraka, toh masih kalah tajamnya, karena itu tiap kali terjadi benturan, diatas

pedangnya segera tertinggal sebuah gumpilan sebesar biji beras.

Hingga detik ini, sudah tiga gumpilan yana menghiasi pedang Pek lee kiam tersebut, betapa sakit

hati dan sayangnya Suma Tiang-cing melihat pedangnya rusak, ia menyerang makin ganas dan

makin kalap, hampir semua ilmu kepandaian yang dimilikinya dikeluarkan, seumpama musuhnya

kurang teguh imamnya niscaya sedari tadi tadi sudah dibuat ketakutan oleh tindakan musuhnya

yang mirip kerbau gila ini.

Diam-diam Cu Im taysu merasa kuatir, ia tahu bila pertarungan itu dibiarkan terus berlangsung,

maka akhirnya salah satu diantara mereka tentu akan mati, beberapa kali ia membentak agar

rekannya menghentikan pertarungan itu, sayang bentakannya telah mendapatkan tanggapan,

pertarungan masih berlangsung terus dengan serunya.

Kiu-im Kaucu tidak menunjukkan perubahan sikap, mukanya tetap dingin dan kaku sedangkan

mulutnya membungkam dalam seribu bahasa.

Disaat pertarungan kedua orang itu sudah mencapai pada puncak ketegangan, Hoa Thian-hong

menerkam dari atas loteng, semua orang jadi panik dan sama-sama menbentak keras.

Namun si anak muda itu sudah keburu kalap, ia tak ambil peduli kegusaran orang lain, diiringi

gulungan angin pukulan yang amat dahsyat, sebuah pukulan maut telah di lontarkan ke tubuh

tiamcu istana neraka.

Semua orang menjerit kaget, hati mereka berdebar keras bahkan ada pula yang sampai mundur

sempoyongan, memang semua orang sudah menduga kalau cepat atau lambat Hoa Thian-hong

pasti akan muncul di sana, tapi mereka tak menyangka kalau pemuda yang biasanya kalem dan

tidak menyerang orang secara sembarangan, tiba-tiba saja menyergap seseorang yang sedang

terlibat dalam pertempuran.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

533

Dalam gugupnya, pertama-tama Kiu-im Kaucu yang membentak gusar lebih dahulu, untuk

mencegah jelas tak mungkin lagi, maka dia lantas mencaci maki kalang kabut.

Suma Tiang-cing sendiri tak ingin mencari kemenangan dengan cara meagerubut, apalagi

terhadap seorang perempuan, seraya membentak diapun tarik kembali serangannya sambil

mundur kebelakang.

Tiamcu istana neraka yang terserang tak banyak berkutik, tahu-tahu dia merasakan lengan nya

bergetar keras, dan pedang Boan liong poo kiam tersebut sudah dirampas oleh Hoa Thian-hong.

Ia tak tahan didorong oleh tenaga pukulan yang maha dahsyat, begitu pedang mustika tersebut

terampas oleh lawan, kuda-kudanya gempur dan tak bisa dicegah lagi dengan sempoyongan ia

mundur beberapa langkah kebelakang.

Dengan wajah hijau membesi dan memukul-mukulkan tongkat kepala setannya keatas tanah,

Kiu-im Kaucu memaki kalang kabut, “Anjing Hoa Thian-hong, begitukah perbuatanmu? Begitukah

perbuatan dari seorang manusia yang menganggap dirinya sebagai seorang enghiong…. seorang

pahlawan?”

Merah membara sepasang mata Hoa Thian-hong, wajahnya menyeringai seram, dengan sorot

mata berapi-api, ia lepaskan Soat-ji ketanah, kemudian membuang pula pedang yang digembol

ketanah, dengan suara yang dingin menyeramkan ia berseru, “Tak ada gunanya kita banyak

bicara, lebih baik ambillah suatu keputusan untuk menyelesaikan masalah ini!”

Sekuat tenaga Kiu-im Kaucu berusaha untuk menenangkan hatinya, lalu sambil tertawa tergelak

katanya, “Haaahh…. haaahhh…. haaahhh…. engkau rampas pedang Boan liong poo kiam dari

tangan anggotaku, apakah kau hendak berduel lawan aku dengan mengandalkan senjata itu?”

Hawa nafsu membunuh telah menyelimuti wajah Hoa Thian-hong, ia tahu dalam masalah Giok

Teng Hujin, ia tak mungkin memohon kepada kaucu ini dengan kata yang lembut, bertukar

syarat jelas tak mungkin, sedangkan dengan jalan kekerasanpun belum tentu bisa berhasil

karena sekalipun ia bisa menangkan Kiu-im Kaucu toh belum tentu orang itu bersedia

melepaskan tawanannya.

Jelaslah sudah bagi pemuda itu bahwa masalah yang dihadapi adalah sebuah masalah pelik

bagaikan sebuah simpul mati, kecuali ia bersedia menuruti semua kemauan dan keinginan lawan,

tak mungkin Giok Teng Hujin dapat ditolong.

Tiba-tiba terbayang kembali olehnya betapa tersiksa dan menderitanya Giok teng hujn tersiksa

oleh api dingin melelehkan sukma, api amarah bergelora dalam dadanya kembali memuncak,

kebencian dan rasa dendam kembali muncul dihati.

Dalam keadaan demikian, ia jadi kalap, kemarahannya susah dikendalikaa lagi, dengan mata

melotot besar tiba-tiba ia putar badan dan menerkam ke arah kawanan jago dari Kiu-im-kauw.

Hebat sekali perubahan wajah Kiu-im Kaucu menyaksikan perbuatan sang pemuda, ia lantas

membentak nyaring, “Hoa Thian-hong, engkau berani bertindak keji?”

Hoa Thian-hong menjengek sinis, dia putar pedang mustika itu dan sahutnya dengan nada

seram, “Kau anggap aku Hoa Thian-hong tak berani bertindak kejam? Hmm, kalau mau salahkan

maka sekarang juga salahkan, akan kubasmi dulu semua begundalmu, kemudian akan kulihat

mampukah engkau menghalangi niatku ini!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

534

Selesai berkata, kembali ia siap menerkam kedepan.

Cu Im taysu bertindak cepat, rupanya dia tahu kegusaran dan kenekadan pemuda itu, sambil

menghadang jalan perginya dia berseru, “Omintohud. berbuatlah belas kasihan, jangan karena

emosi melakukan pembantaian keji yang sama sekali tak ada manfaatnya!”

Merah padam selembar wajah Hoa Thian-hong, sinar matanya berapi api, dengan penuh emosi

teriaknya, “Taysu, berbuatlah kebaikan untukku, boanpwae benar-benar amat benci dan

dendam!”

Ucapan tersebut diutarakan dengan suara yang berat dan mantap, membuat setiap pendengar

perkaraan itu merasakan telinganya mendengung keras, ibarat guntur yang membelah bumi

disiang hari bolong, paras muka mereka rata-rata berubah hebat.

Suma Tiang-cing ikut menghela nafas panjang, katanya pula dari sisi gelanggang, “Thian-hong,

tadi aku memang pernab mengatakan akan membantai sampai habis setiap orang jahat, manusia

jahanam yang ada didunia ini, janganlah kau anggap serius perkataanku itu, sebab ucapan yang

dikatakan dalam keadaan emosi adalah kata-kata kasar belaka, kau tak boleh menganggap

ucapan itu sebagai kata yang sungguh-sungguh”

Dengan pedang terhunus dan mata melotot besar karena gusar beberapa kali Hoa Thian-hong

hendak menerjang lewati Cu Im taysu dan menerkam orang-orang dari Kiu-im-kauw.

Tapi ketika menyaksikan keagungan serta kekerenan wajah Cu Im taysu yang menghadang

dihadapannya, ia tak berani menerjang secara gegabah, apalagi sesudah mendengar nasehat

dari Suma Tiang-cing, pemuda itu makin termangu dan tak tahu apa yang musti dilakukan.

Perlu diketahui watak mulia, welasasih dan bijaksana yang dimiliki Hoa Thian-hong sekarang, tak

lain adalah warisan dari ayah nya sedangkan Hoa Hujin termasuk seorang pendekar perempuan

berhati sekeras baja, membenci kejahatan hingga merasuk ketulang, dalam pandangannya

membasmi kejahatan sama halnya dengan berbuat kemuliaan, membunuh seorang manusia

berhati keji sama artinya menyelamatkan beberapa orang baik dari kematian, baginya daripada

satu kota menangis lebih baik satu keluarga saja yang menangis.

Sejak suaminya mati dan rumahnya dirampas musuh, rasa dendam dan ingin membalas dendam

berkobar-kobar dalam benaknya, dia bercita-cita untuk membasmi tumpas iblis dari muka bumi

dan membantai setiap manusia jahanam yang ditemuinya, dia tidak membenci satu dua orang

iblis belaka melainkan seluruh manusia iblis dari golongan hitam.

Oleh karena itulah meskipun sangat ketat pendidikan yang dia berikan kepada putranya, namun

tak pernah ia menyinggung soal kebajikan dan welas kasih.

Dengan dasar pendidikan yang telah diperoleh semenjak kecil, Hoa Thian-hong pun tanpa

disadari ketularan pula watak keras dari ibunya ini, maka ketika Suma Tiang-cing mengucapkan

kata-kata emosi tadi, suatu bayangan gelap sudah menyelimuti hati si anak muda itu, apalagi

setelah persoalan yang menyangkut tentang diri Giok Teng Hujin mengalami kesulitan, bahkan

mendekati jalan buntu, hawa nafsu membunuh yang sejak permulaan sudah mengkilik isi hatinya

seketika tak terkendalikan lagi dan memancarlah keluar bagaikan air bah yang menjebolkan

tanggul.

Rasa benci dan dendam masih menyelimuti seluruh benak Hoa Thian-hong, nasehat dari Cu Im

taysu maupun Suma Tiang-cing memang sempat meredakan darahnya yang mendidih, tapi

bukan berarti dapat melenyapkan keseluruhannya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

535

Sekujur tubuhnya masih gemetar keras menahan emosi, pedang mustika boan liong po kiam

berkilauan memancarkan setentetan cahaya yang amat tajam, sinar tersebut mencorong keluar

dan amat menyilaukan mata tiap pendekar, begitu dahsyatnya pancaran hawa lwekang yang

tersalur didalam pedangnya itu sampai lantai loteng bergetar dan berkenyit keras, udara disekitar

gelanggang terasa membeku dan kaku memaksa setiap orang merasa susah untuk bernapas.

Dengan wajah sedih tapi serius kembali Cu Im taysu berkata, “Nak, masih hidupkah nona itu?”

Titik air mata tak kuasa lagi meleleh keluar membasahi pipi anak muda itu, dengan wajah yang

kaku Hoa Thian-hong mengangguk.

“Ia masih hidup, sekarang sedang menjalankan siksaan diatas loteng, suatu siksaan yang tidak

berperikemanusiaan, siksaan yang hanya bisa dilakukan oleh binatang bukan perbuatan seorang

manusia normal!”

Berkernyitlah dahi Cu Im taysu sehabis mendengar jawaban itu, dia lantas berpaling ke arah Kiu

im kancu dan berkata, “Kaucu, dengan memberanikan diri pinceng sekalian ingin memohon

sesuatu kepadamu, apakah engkau bersedia membebaskan nona itu dari segala siksaannya?”

Diam-diam Kiu-im Kaucu menghembuskan nafas lega, ia tahu sesudah jago berbaju pendeta ini

memohon kepadanya, tanpa disadari suasana kaku dan sesak yang semula menyelimuti

gelanggangpun kini sudah melumer kembali, ia tertawa dan menjawab, “Ku Ing-ing merupakan

anak murid Kiu-im-kauw kami, mau kusiksa dia atau mau kubunuh dirinya persoalan ini adalah

persoalan pribadi perkumpulanku, apa sangkut pautnya dengan kalian semua?”

Kelihayan ilmu silat yang dimiliki Hoa Thian-hong sudah diketahui oleh banyak orang, apalagi

sesudah pedang mustika Boan liong po kiam yang tajamnya luar biasa itu berhasil dirampas

olehnya, keadaan si anak muda itu boleh dibilang ibarat harimau yang tumbuh sayapnya.

Andaikata pemuda itu tetap nekad dan melanjutkan niatnya untuk membantai setiap anggota

Kiu-im-kauw yang ditemuinya, Kiu-im Kaucu percaya bahwa dia tak mampu untuk melindungi

keselamatan anak buahnya, malahan mencegahpun belum tentu mampu.

Oleh sebab itulah, setelah Cu Im taysu dan Suma Tiang-cing berhasil membatalkan niat si anak

muda itu untuk melakukan pembantaian, serta-merta nada ucapannya pun ikut mengalami

perubahan besar, pembicaraannya tidak seketus tadi lagi, malahan jauh lebih lembut dan

kendor….

Cu Im taysu menundukkan kepalanya dan menghela napas panjang, kemudian ujarnya, “Tak

usah kaucu terangkan, pinceng sendiripun mengetahui bahwa persoalan ini sebenarnya adalah

masalah pribadi perkumpulanmu sendiri, karenanya kami hanya memohon kerelaanmu, kami

bukanlah manu sia-manusia yang tidak mengutamakan soal cengli….!”

“Aku tahu setiap persoalan yang terjadi didunia ini memang tak bisa terlepas dan soal cengli,

sebagai pendekar-pendekar besar yang berjiwa ksatria tentu saja taysu sekalian harus

mengutamakan soal cengli, bukan begitu?”

Kembali Cu Im taysu menghela napas panjang, selang sesaat kemudian dia baru bertanya lagi,

“Kaucu, bila diijinkan ingin sekali pinceng menanyakan satu persoalan lagi….”

“Apa yang hendak kau tanyakan lagi?” sela Kiu-im Kaucu dengan suara lantang.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

536

“Sebetulnya kesalahan serta dosa apakah yang telah dilanggar nona Ku, sehingga dia harus

disiksa secara keji?”

Kiu-im Kaucu tersenyum.

“Kusiksa dirinya lantaran dia berani membangkang perintahku serta berkhianat terhadap

perkumpulannya, apakah taysu merasa tidak terima dengan tuduhanku ini?”

***

“OH…. tidak berani, menurut apa yang pinceng ketahui, sudah amat lama nona Ku tersiksa dan

menderita selama dia menyusup ke tubuh perkumpulan Thong-thian-kauw, berbicara

sesungguhnya sudah banyak sekali pahala yang telah dia lakukan demi perkumpulanmu!”

“Siapa berjasa dia mendapat pahala, siapa bersalah dia harus menerima pula hukumannya” tukas

Kiu-im Kaucu sambil tertawa, “Sekalipun keputusan dan tindak tandukku kurang bijaksana atau

kurang adil, aku rasa orang lain tidak berhak untuk mencampurinya, ketahuilah persoalan ini

adalah urusan pribadiku sendiri!”

Sekali lagi Cu Im taysu menghela napas panjang.

“Aaai…. kami semua berhutang budi kepada nona Ku, sekarang setelah jiwanya terancam

bahaya, tentu saja kami semua tak dapat berpeluk tangan balaka menyaksikan ia mati tersiksa,

makanya kami semua mohon kebijaksanaan dari kaucu untuk melepaskan nona Ku dari siksaan

dan memberi sebuah jalan kehidupan baginya!”

“Haahh…. haaahh…. haaah…. meskipun Ku Ing-ing pernah melepaskan budi kepada kalian

semua, toh kalian semua tak pernah melepaskan budi apa-apa kepada perkumpulan Kiu-im-kauw

kami, dan berarti boleh saja aku memberi muka kepadamu, tapi dapat pula kami tak akan

memberi muka kepadamu….!” seru Kiu-im Kaucu sambil tertawa tergelak.

Merah padam selembar wajah Cu Im taysu sesudah mendengar perkataan itu, untuk sesaat

lamanya dia tak tahu apa yang musti dijawab.

Suma Tiang-cing yang mengikuti jalannya perundingan itu, dalam hati kecilnya lantas berpikir,

“Taysu ini terlalu polos dan tak memahami kelicikan serta kebusukan hati orang, kalau dia yang

memimpin perundingan ini sekalipun sepuluh tahun lagi juga tak akan berhasil, tampaknya aku

harus turun tangan sendiri”

Berpikir sampai disitu, dia lantas maju kedepan dan ujarnya kepada Kiu-im Kaucu dengan mata

melotot, “Aku sudah pernah menerima kebaikan dan budi pertolongan dari Ku Ingg ing, itu

berarti bagaimanapun juga aku harus menolong dirinya sampai terlepas dari siksaanmu, kalau

mau melepaskan cepatlah kau sanggupi kalau tidak setuju hayo kita selesaikan saja persoalan ini

diujung senjata!”

“Suma Tiang-cing!” seru tiamcu istana neraka dari samping dengan suara yang ketus, “untuk

menangkan akupun tidak mampu mau apa engkau berlagak sok didepan kaucu kami?”

“Apa susahnya menangkan dirimu?” teriak Suma Tiang-cing dengan gusarnya, “suatu hari aku

pasti akan mencari engkau dan menantang engkau untuk berduel hingga salah satu diantara kita

mampus!”

Tiamcu istana neraka tertawa dingin.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

537

“Heeeh…. heeeh…. heeeh…. sayang pedang mustikaku telah dirampas orang dengan cara yang

memalukan, sedangkan kaucu kamipun tidak sampai merampas pula pedang mustikamu, kalau

bertemu lagi dikemudian hari sudah tentu aku tak bisa menangkan dirimu….”

Pancingan yang dilontarkan Tiamcu dan istana neraka ini segera termakan oleh lawannya, benar

juga Suma Tiang-cing segera berseru sesudah mendengus dingin, “Hmmm! Engkau tak usah

kuatir apa bila kita berjumpa lagi dikemudian hari, Suma Tiang-cing tak akan melayani dirimu

dengan pedang mustika. Hmmm…. hmmm…. jangan kau anggap setelah kugunakan pedang

biasa maka aku tak mampu untuk bereskan jiwa anjing mu!”

Sementara kedua orang itu sedang saling mencaci maki dan ribut, tiba-tiba dari bawah loteng

melayang turun seseorang, dia tak lain adalah Pui Che-giok, sambil memburu ke gelanggang

serunya dengan penuh kegelisahan, “Hoa kongcu!”

“Bagus!” seru Hoa Thian-hong dengan mata melotot, engkau punya keberanian untuk datang

kemari, tak malu nonamu menyayangi engkau selama ini!”

Pui Che-giok melirik sekejap ke arah Kiu-im Kaucu dengan wajah pucat pias seperti mayat,

tampaknya dia merasa jeri dan takut sekali sementara diluar dia menjawab, “Budak diambil nona

setelah nona masak kedalam perkumpulan Thong-thian-kauw, dan berarti budak bukan terhitung

anggota Kiu-im-kauw!”

“Baiklah, engkau berdirilah disamping, bila aku gagal untuk menyelamatkan nonamu, aku

bersumpah pasti akan membalaskan dendam baginya, aku tak akan membiarkan orang-orang

dikolong langit mentertawakan diriku dan menuduh Hoa Thian-hong tak punya rasa tanggung

jawab, tak punya rasa setia kawan, sehingga seorang dayangpun tak bisa menandingi….”

Mendengar ucapan tersebut Pui Che-giok benar-benar mengundurkan diri kesamping

gelanggang, sementara bibirnya bergerak seperti mau mengucapkan sesuatu, tapi akhirnya niat

itu dibatalkan.

Jilid 27

Dari gerak-gerik serta sikap cemas dayang tersebut, Hoa Thian-hong dapat menduga pula kalau

dara tersebut hendak melaporkan sesuatu, sesudah tertegun sebentar, akhirnya dia bertanya,

“Ada persoalan apa lagi yang hendak kau sampaikan kepada diriku? Cepatlah katakan!”

“Barusan budak pergi ke kantor cabangnya perkumpulan Sin-kie-pang untuk mencari tahu jejak

kongcu, ada seorang kakek yang bernama Lau Cu cing dengan membawa empat orang kakek tua

yang rata-rata berumur seratus tahun keatas sedang mencari berita kongcu pula ketempat itu,

budak lantas bertanya kepada orang she Lau itu ada urusan apa hendak mencari kongcu, dia

menjawab katanya ada persoalan maha penting yang hendak di bicarakan dengan kongcu, maka

budak lantas membawa mereka semua datang kemari sekarang mereka sedang menanti

kehadiran kongcu diluar kuil!”

Betapa terperanjatnya Hoa Thian-hong sesudah mendengar laporan itu, serunya, “Empat orang

kakek tua berusia seratus tahun keatas datang mencari aku?”

“Emmmm!” Pui Che-giok mengangguk, “rambut mereka telah beruban semua, tapi badannya

masih tegap dan langkahnya masih mantap, rupa-rupanya mereka berilmu semua!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

538

Kiu-im Kaucu yang ikut mendengarkan laporan tersebut ikut merasakan jantungnya berdebar

keras, pikirnya dihati, “Untuk mencari seorang manusia yang berusia delapan puluh tahun saja

sudah sukarnya bukan kepalang, apalagi keempat orang itu bisa hidup mencapai seratus tahun,

malahan kumpul pula menjadi satu, apabila bukan tokoh-tokoh silat yang berilmu tinggi, tak

,ungkin mereka bisa mencapai usia setinggi itu. Heeehh…. heeehh…. setelah anak jadah ini

memperoleh bantuan empat jago lihay, aku kan semakin tak bisa mengganggu dirinya lagi?

Sialan!”

Perlu diketahui, bila seseorang yang berusia seratus tahun keatas berlatih terus ilmu silatnya

dengan tekun dan rajin, maka kelihayan ilmu silat yang dimilikinya boleh dibilang sudah

mencapai tingkat kesempurnaan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata, apalagi sekaligus

muncul empat orang bersamaan waktunya, tidaklah heran kalau Ku im kaucu dibikin bergidik

hatinya selelah mendengar berita tersebut.

Dengan dahi berkerut Hoa Thian-hong termenung sebentar, kemudian gumannya seorang diri.

“Entah siapakah keempat orang ini? Tang Kwik-siu telah membakar gedung tempat tinggal Lau

Cu cing dan kini keempat orang kakek tua itu datang mencari aku, dus berarti persoalan yarg

hendak mereka bicarakan dengan diriku juga pasti menyangkut masalah percarian harta karun

dibukit Kiu ci san!”

Ketika Kiu-im Kaucu mendengar soal menggali harta dibukit Kiu ci san, jantungnya ikut berdebar

keras sehingga hampir saja ia menjerit kaget saking emosinya, segera ia berpikir dihati.

Masalah sebesar ini kenapa tidak kuketahui barang sedikitpun juga! Aaah…. benar, Tang Kwik-siu

bagaimanapun juga adalah seorang ketua suatu perkumpulan besar, kedudukannya sangat tinggi

dan dia adalah seorang yang menjaga gengsi berbeda dengan Siang Tang Lay yang pergi datang

ibaratnya sukma gentayangan, andaikata tiada suatu persoalan yang penting dan serius, tak

mungkin manusia semacam dia bersedia datang kedaratan Tionggoan!”

Sementara dia masih termenung, Hoa Thian-hong telah berpaling ke arah Cu Im taysu seraya

bertanya.

“Sebagai orang yang lebih muda sudah sepantasnya kalau memberi hormat kepada kaum

angkatan tua, taysu, tolong pergilah ke luar sebentar dan wakililah boanpwe untuk menyambut

kedatangan kakek kakek tua itu!”

Cu Im taysu kelihatan ragu mukanya murung dan keberatan untuk tinggalkan tempat itu, sinar

matanya malahan dialihkan ke wajah Kiu-im Kaucu.

Rupanya ia kuatir sepeninggalnya dari situ, kedua belah pihak terjadi bentrokan lagi sehingga

pertarungan kembali berlangsung bila sampai demikian kejadiannya, tanpa kehadirannya disitu

berarti hanya akan melemahkan posisi pihaknya belaka.

Sebagai seorang jago yang berpengalaman luas, tentu saja Kiu-im Kaucu juga bisa menebak isi

hati orang, tiba-tiba ia menengadah sambil tertawa terbahak-bahak.

“Haaahhh…. haaahhhh…. haaahhh…. Hoa Thian-hong, benarkah engkau akan beradu jiwa

denganku?”

“Keadaanku sekarang ibaratnya anak panah diatas busur, bagaimanapun juga panah ini harus

dilepaskan!” sahut sang pemuda sambil menarik mukanya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

539

“Haaahhh…. haaahh…. haaahhh…. kembali Kiu-im Kaucu tertawa terbahak bahak, kalau kulihat

dari pedang bajamu yang sudah tiada, tentunya kitab Kiam keng telah berhasil kau dapatkan

bukan?”

Hoa Thian-hong tertawa dingin.

“Heehhh…. heeehh…. heeehhh…. kitab Kiam keng berada disakuku, cuma sayang tak mungkin

akan kugunakan benda tersebut untuk di tukarkan dengan engkau!”

Kiu-im Kaucu tertawa, “Tentu saja, tentu saja…. tak usah kau katakan, aku juga sudah dapat

menebak suara hatiku….Hmm! Sekalipun ilmu silat yang kau miliki setingkat lebih tinggipun, aku

tak nanti akan jeri apalagi takut kepadamu!”

Setelah berhenti sebentar, dia ulapkan tangannya seraya berkata lebih jauh, “Pergilah dari sini!

Kujamin tak akan mencelakai nyawa Ku Ing-ing, bila isi Kiam keng sudah kau pelajari, maka aku

akan menantang engkau untuk berduel lagi dihadapan para orang gagah dari seluruh kolong

langit, bila dalam pertarungan itu engkau berhasil mengung-guli diriku, Ku Ing-ing akan segera

kuserahkan kembali kepadamu!”

Betapa girangnya Cu Im taysu setelah mendengar perkataan itu, cepat dia menyambung, “Kalau

memang kaucu sudah berjanji begini, itulah lebih bagus lagi, aku percaya sebagai seorang ketua

dari suatu perkumpulan besar, apa yang telah kaucu katakan tak akan disesali kembali, Thianhong!

Hayo kita pergi!”

Hoa Thian-hong sendiri dalam hati kecilnya sedang berpikir, “Kiu-im Kaucu adalah seorang

manusia yang licik dan banyak akalnya, mana ia sudi memberi keuntungan bagiku? Aaai….! Cu

Im taysu memang kelewat jujur orangnya, masa ia belum tahu betapa lihaynya orang ini….?”

Walaupun dia bisa berpikir sampai disitu namun gagal untuk mencari tahu dimanakah letak

maksud dan tujuan Kiu-im Kaucu dengan tindakannya itu, untuk sementara waktu si anak muda

ini jadi serba salah dibuatnya, mau pergi tapi bagaimana? kalau tidak pergi, lantas bagaimana?

Terdengar Pui Che-giok berkata lagi dari sisi gelanggang, “Menerima siksaan api dingin

melelehkan sukma, ibaratnya melubangi batok kepala sambil menyulut lampu langit, bila dileleh

kan selama tujuh hari tujuh malam lamanya korban akan kehabisan tenaga ibaratnya lentera

yang kehabisan minyak, hawa murninya akan banyak terkuras, dan sekalipun bisa hidup diapun

tak ubahnya seperti seorang manusia cacad lainnya!”

Ucapan itu entah ditujukan kepada siapa tapi semua orang bisa menduga bahwa perkataan

tersebut sengaja ditujukan kepada Hoa Thian-hong.

Tiba-tiba Kiu-im Kaucu tertawa nyaring, kemudian ujarnya, “Engkau toh bukan anggota Kiu-imkauw

kami, darimana engkau bisa tahu seluk beluk siksaan ini sedemikian jelasnya?”

Dengan memberanikan diri Pui Che-giok menatap tajam lawannya, lalu menjawab, “Nona yang

memberitahukan kepadaku!”

Kiu-im Kaucu segera tertawa.

“Haaah…. haaahh…. bagus, bagus sekali. Kiranya sedari dulu ia sudah mengetahui betapa

lihaynya siksaan api dingin melelehkan sukma, jadi kalau begitu ia sudah tahu kelihayannya tapi

sengaja melanggar perataran untuk mencobanya sendiri? Bagus, kalau begitu biarlah dia tahu

rasa sekarang.”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

540

Mendengar kata-kata sudah tahu tapi sengaja melanggar sendiri sakit rasanya hati Hoa Thianhong,

ia tahu kesemuanya ini adalah lantaran dia, karena mesalah dirinya membuat Giok Teng

Hujin harus menerima siksaan lahir maupun batin…. begitu sakit hatinya serasa bagaikan diirisiris

dengan pisau.

“Bebaskan dia dari siksaan tersebut!” teriak pemuda itu dengan penuh kebencian “bila engkau

bersedia membebaskan dia, aku pun tak akan melatih ilmu dalam kitab Kiam keng, setiap saat

akan kunantikan tantanganmu untuk melangsungkan duel satu lawan satu, bila engkau berhasil

menangkan diriku, kitab Kiam keng akan kuserahkan kepadamu sebaliknya kalau engkau kalah

maka nona Giok Teng Hujin harus engkau lepaskan!”

“Perkataan seorang kuncu berat bagaikan bukit, sampai waktunya aku pasti akan menantikan

kedatanganmu untuk melangsungkan duel tersebut, sekarang juga akan kubebaskan dirinya dari

siksaan tersebut.”

Jawaban ini terlalu cepat dan sama sekali diluar dugaan, untuk sesaat lamanya Hoa Thian-hong

dibikin tertegun dan tak mampu berkata-kata.

Dia cukup mengetahui sampai dimanakah kekuatan ilmu silat yang dimilikinya sekarang, pada

hakekatnya ia tiada keyakinan untuk menangkan lawannya, dan sekarang ternyata pihak lawan

menyanggupi tantangannya dengan begitu jelas, itu berarti bila ia tiada memiliki suatu

kepandaian yang bisa diandalkan keampuhannya, tak mungkin perempuan itu begitu cepat

memberikan keputusannya.

Sementara itu Cu Im taysu kembali sudah berkata, “Empat orang kakek tua itu sedang menanti

kedatangan kita diluar kuil, mari kita sambut kedatangannya!”

Sebenarnya Hoa Thian-hong ingin membuktikan dengan mata kepala sendiri bagai mana Kiu-im

Kaucu membatalkan siksaan yang menimpa Ku Ing-ing alias Giok Teng Hujin, akan tetapi setelah

diajak pergi oleh Cu Im taystu terpaksa ia manggut dan siap berlalu dari situ.

Tiba-tiba Pui Che-giok maju kedepan, dengan muka rada takut-takut ia berkata, “Kongcu, aku….

aku ingin tetap tinggal di sini untuk melayani nona”

Hoa Thian-hong memang merasa ada baiknya kalau dayang itu tetap tinggal disana untuk

melayani nonanya, tapi diapun kuatir kalau Kiu-im Kaucu berbuat tidak senonoh atas diri dayang

ini, mengingat Pui Che-giok secara terangkan berani melawan ketua tersebut, mendengar

permintaan itu, bukannya menjawab sorot mata yang setajam sembilu malahan dialihkan ke arah

ketua perkumpulan Kiu-im-kauw.

Sebagai seorang jago kawakan yang berpengalaman luas, tentu saja Kiu-im-kauwcu dapat

menangkap maksud hati lawannya, dia segera tertawa tergelak dengan nyaring

Haaah…. haaaah…. haaahh…. majikan susah anjing ikut susah, majikan gembira anjingpun ikut

gembira, jangan kau anggap aku adalah seorang manusia yang jiwanya picik, tak mungkin

kususahkan seorang dayang yang sama sekali tak ada artinya bagi pandanganku, biarkan saja ia

tinggal disini untuk menemani majikannya….”

Begitu Kiu-im Kaucu telah memberikan persetujuannya, Pui Che-giok sambil membopong Soat-ji

lantas mengundurkan diri ke samping dengan mulut membungkam, ini bukan dikarenakan Kiu-im

Kaucu menunjukkan sikapnya yang terbuka maka ia berterima kasih kepadanya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

541

Cu Im taysu dan Suma Tiang-cing yang mengikuti pula kejadian tersebut, dalam hati kecilnya

ikut membatin, “Bila Ku Ing-ing tidak mempunyai kelebihan sebagai seorang majikan yang baik,

tidak mungkin dayangnya menunjukkan kesetiaan yang luar biasa, aaai! Memang tak bisa

disalahkan kalau budak ini bersedia mengorbankan nyawanya untuk merawat majikannya, bila

dihari biasapun majikannya bersikap luar biasa puka kepada dayangnya”

Dalam pada itu, Hoa Thian-hong sedang mengamati pedang mustika Boan liong po kiam yang

berada ditangannya, tiba-tiba ia melemparkan senjata itu ke arah Tiamcu istana neraka,

kemudian memungut kembali pedang sendiri, setelah itu tanpa mengucapkan sepatah katapun

dia berlalu dari sana,

Co Im taysu dan Suma Tiang-cing sendiri pun tidak banyak bicara, mereka segera berlalu pula

mengikuti dibelakang si anak muda itu.

Sungguh cepat gerakan tubuh tiga orang jago tersebut, selang sesaat kemudian mereka sudah

tiba diluar kuil.

Benar juga diseberang jalan dekat kuil It goan koan berdirilah empat orang kakek tua berambut

putih. Lao Cu cing berdiri di samping dan sedang bercakap-cakap dengan badan setengah

dibungkukan tanda menghormat.

Walaupun tetap utuh dan putih mulus, badannya gagah dan langkahnya tegap, sedikitpun tidak

kelihatan ketuaannya ataupun loyo karena dimakan usia.

Jenggot mereka rata-rata sepanjang dada, yang terpendek pun sadah mencapai dua depa,

membuat siapa pun yang memandang keempat orang itu, segera timbullah perasaan

menghormat.

Demikian pula keadaannya dengan Hoa Thian-hong, Cu Im taysu serta Suma Tiang-cing, tanpa

disadari timbul rasa menghormat dalam hati kecil mereka, dengan langkah yang menghormat

mereka maju menghampirinya.

Hoa Thian-hong berjalan dipaling depan, lantaran dialah yang dicari oleh keempat orang kakek

tua itu, dari kejauhan ia telah menjura kepada Lau Cu cing seraya berkata, “Berhubung ada

urusan penting, boanpwee telah datang terlambat, mohon para lojin dan wangwe sekalian sudi

memberi maaf yang sebesar besarnya.”

Lau Cu cing segara balas memberi hormat.

“Kongcu tak perlu sungkan-sungkan!” sahutnya.

Kemudian dia memperkenalkan kakek-kakek tua itu urut dengan tempat mereka berdiri, sambil

menunjuk ke arah samping kiri dia berkata, Kakek tua yang ini adalah kong co (ayahnya kakek)

ku, sedang orang tua ini dari marga Gan, orang tua ini dari marga Li, sedang orang tua ini dari

marga Po yang.

Buru-buru Hoa Thian-hong maju kedepan sambil memberi hormat dalam-dalam, katanya, “Aku

yang muda Hoa Thian-hong, menjumpai para orang tua sekalian!”

“Pinceng Cu Im, menjumpai orang tua berempat kata Cu Im taysu pula seraya memberi hormat”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

542

Sedang Suma Tiang-cing sambil maju memberi hormat katanya, “Aku yang muda Suma Tiangcing

menjumpai cianpwe berempat!”

Setelah berhadapan muka dengan keempat orang kakek tua itu sekaligus, beberapa orang jago

ini membahasakan dirinya dengan kedudukan yang rendah, sebab bicara soal tingkat mereka

kalah tingkat sampai empat generasi.

Lau Cu cing sendiri lantas memperkenalkan pula dua orang jago itu kepada keempat kakek tua

tadi, “Taysu ini adalah seorang hiap kek (jago tua) dari golongan kaum beragama, sedang Suma

tayhiap juga merupakan enghiong diantara sekalian pendekar, mereka adalah pendekarpendekar

sejati yang disanjung dan dihormati umat persilatan.”

Buru-buru Cu Im taysu serta Suma Tiang-cing mengucapkan beberapa patah kata merendah.

Senyum ramah selalu menghiasi wajah ke empat orang kakek tua itu, selesai berkenalan, Kong

co dari Lau Cu cing itu lantas tertawa tergelak seraya berkata, “Kalian semua tak usah sungkansungkan,

Haah…. haaah…. haaahh bila ada tempat untuk berbicara, kami berempat ada urusan

penting hendak dibicarakan dengan diri Hoa kongcu!”

Sebelum Hoa Thian-hong sempat menjawab, Cu Im taysu telah berseru lebih dahulu,

“Tempatnya ada dan tak jauh dari tempat ini, biarlah siau ceng yang membawa jalan.”

Habis berkata dia lantas berjalan lebih dahulu meninggalkan tempat tersebut.

Jarak antara kuil It goan koan dengan pintu kota timur memang sangat dekat, Cu Im taysu

segera membawa beberapa orang itu menuju keluar kota.

Walaupun usianya sudah menanjak lebih dari satu abad, ternyata gerak-gerik keempat orang

kakek tua itu masih lincah dan enteng, Lau Cu cing sendiripun pernah berlatih ilmu silat maka

gerak langkahnya tegap lagi cepat, dengan begitu perjalanan pun bisa dilakukan dengan sangat

cepat.

Selang sesaat kemudian, sampailah mereka disebuah kuil kecil.

Kuil kecil itu letaknya sendirian diluar kota, penghuni kuil itu cuma seorang pendeta tua yang

bergelar It piau, dia adalah seorang sahabat karib Cu Im taysu selama banyak tahun.

Setiap kali Cu Im taysu berkunjung ke kota Cho ciu, dia selalu menginap dalam kuil ini, maka

setibanya didepan pintu kuil, ia lantas membuka pintu depan dan mempersilahkan semua orang

untuk masuk keruang tengah.

Ketika fajar baru saja menyingsing, It piau taysu baru saja menyelesaikan doa paginya, ketika

mendengar suara langkah manusia dia lantas bangkit berdiri dari kursi bantalnya.

Cepat Cu Im taysu menjura seraya berkata, “Maaf, kembali Cu Im akan mengganggu ketenangan

suheng untuk beberapa waktu.”

IT piau hweesio balas memberi hormat, bibirnya bergerak sedikit tapi tak sepatah katapun yang

diucapkan, ia lantas mengundurkan diri dari ruangan tersebut.

Di belakang ruang kuil tersebut merupakan dua buah kamar kecil, yang satu dipakai untuk

tempat tinggal It piau hweesio, sedangkan yang lain biasanya ditempati Cu Im taysu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

543

Ketika tiba didepan pintu, It piau hwesio memberi hormat kepada sekalian tamunya, ketika

semua orang sudah masuk kedalam ruangan, hwesio itu membawa sebuah kasur duduknya dan

masuk kedalam.

Menunggu para tamunya telah duduk semua, Cu Im taysu baru berkata sambil tertawa, “It piau

suheng adalah seorang padri yang tuli lagipula bisu, dia bukan orang persilatan, maka bila kalian

ada urusan yang hendak dibicarakan, utarakan saja dengan blak-biakan, sebab sekalipun kita

undang kedatangannya kemari, belum tentu ia bersedia untuk mendengarkan!”

Hoa Thian-hong alihkan sinar matanya keatas wajah Lan Cu cing serta keempat orang kakek tua

itu, kemudian dengan serius ia bertanya, “Entah ada persoalan apakah cianpwe berempat datang

mencari diriku yang muda ini?”

Kakek Po yang memandang sekejap ke arah Liu Cu cing, ruparya kekek ini menyuruh dia untuk

berbicara lebih dahulu.

Lau Cu cing mengangguk, maka diapun berkata, “Baiklah, ceritaku kumulai dari peristiwa yang

terjadi kemarin malam!”

Dari mulut Hoa Thian-hong, baik Cu Im taysu maupun Suma Tiang-cing telah mengetahui kalau

rumah kediaman Lau Cu sing telah terbakar, sedang dewa yang suka pelancongan Cu Thong

meninggalkan surat yang memerintahkan Hoa Thian-hong agar segera berangkat menuju kebukit

Kiu ci san.

Semenjak menghadapi peristiwa yang serba membingungkan ini, mereka bertiga sama-sama

ingin mengetahui duduk perkara yang sebenarnya, malahan beberapa kali mereka hendak

bertanya langsung kepada Lau Cu cing, tapi setiap kali diurungkan niatnya itu maka ketika Lau

Cu cing akan menceritakan sendiri peristiwa yang telah terjadi, mereka segera pasang telinga

baik-baik.

Dengan suara perlahan Lau Cu cing mulai bercerita, “Tengah malam kemarin, lima orang jago

silat berbaju kuning tiba-tiba menyerbu masuk kedalam rumahku, mereka berkata akan

menjumpai kongco ku yang masih hidup. Ayahku dan kakekku sudah lama meninggal dunia,

sedangkan kongco ku masih sehat wal’afiat dan hidup digunung Huang-san, sudah enam puluh

tahun lamanya tak pernah pulang rumah barang sekali pun, sedangkan kami dari buyut buyutnya

secara teratur datang berkunjung kebukit Huang-san untuk membayanginya, oleh sebab Kong cu

berpesan agar kejadian ini selalu dira-hasiakan maka tetangga tetangga kami tak seorangpun

yang mengetahui akan kejadian ini”

Ia berhenti sebentar, kemudian sambungnya lebih jauh, “Kelima orang manusia berbaju kuning

itu terdiri dari empat laki laki dan seorang perempuan, tiga orang diantaranya bermuka jelek

sekali, sedangkan pria yang masih muda dan gadis yang masih kecil itu berwajah bagus dan

menarik, terutama yang perempuan cantiknya bak bidadari dari kahyangan akhirnya aku tahu

kalau dia Pek Kun-gie putri ketua dari Sin-kie-pang. Kedatangan mereka amat garang dan kasar,

katanya jejak kongcu kami akan dicari sampai ketemu terutama Pek Kun-gie, ia selalu

menyinggung soal harta karun, katanya kalau aku tidak memberikan pengakuannya maka

seluruh keluarga kami akan dibantai sampai habis. Rupanya kakek tua yang menjadi pemimpin

rombongan itu kuatir bila rahasianya terbongkar semua, jalan darahnya segera ditotok, ketika

itulah Pek Kun-gie tak dapat berbicara lagi”

“Jelas dia mempunyai maksud dan tujuan lain, tak mungkin dara itu benar-benar akan

melakukan kejahatan” sela Hoa Thian-hong dengan cepat.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

544

Lau Cu cing tidak memberikan tanggapannya, kembali dia melanjutkan penuturannya.

“Sepanjang hidup cayhe hanya tahu ber kat makan buah dewa yang tak ternilai harganya, maka

Kongco kami bisa hidup sampai lebih dari saiu abad, aku sama sekali tidak tahu menahu tentang

soal harta karun, apa lagi setelah kulihat kedatangan kelima orang itu tidak mengandung maksud

baik, lebih lebih tak berani kukatakan kalau Kong co kami hidup dibukit Huang-san. Ketika itulah

tiba-tiba Pek Kun-gie berkata “Aku lihat keempat orang itu sudah….”

Kata-kata berikutnya tidak dilanjutkan, tiba-tiba saja orang she Lau itu membungkam.

Tentu saja Hoa Thian-hong sekalian tahu bahwa kata selanjutnya tentulah kata mati, Lau Cu cing

tak berani melanjutkan kata- katanya oleh karena menyangkut kong co serta teman-temannya.

Selang sesaat kemudian, ia baru meneruskan kata-katanya lebih jauh, “Betapa gusar dan

mendongkolnya hatiku setelah mendengar gadis itu menyumpahi kongco ku, rasa marah dan tak

senang hati ku ini segera terpancar diatas wajahku, ternyata kakek yang menjadi pemimpin

rombongan itu cukup cerdas dan cekatan, dari perubahan wajahku dia lantas tertawa terbahakbahak,

kemudian katanya kepada empat orang lainnya, ‘Cousu ya sangat cerdas dan

perhitungannya tak pernah meleset, kalau tidak lantaran kecerdikannya ini tak mungkin beliau

berhasil mendapatkan sebutir mutiara Lip cu dan sejilid kitab pusaka Thian hua ca ki diantara

beribu-ribu orang pencari harta.’ Heemmm…. heeehmmm…. ia telah memperhitungkan bahwa

keempat orang laki laki itu akan hidup selama seratus lima puluh tahun lamanya, tak mungkin

keempat orang itu bisa cepat mati!”

Terlanjur mengatakan kata mati, air muka Lau Cu cing segera berubah hebat dan menunjukkan

sikap gugup dan perasaan tak tenang.

Hoa Thian-hong bertiga cuma bisa saling berpandangan dengan mulut melongo, beribu-ribu

orang datang mencari harta karun, peristiwa itu pastilah suatu peristiwa besar yang pernah

menggemparkan seluruh kolong langit, bila cuma berita kosong belaka mereka belum tentu akan

percaya, tapi sekarang empat kakek tua berusia seabad lebih yang pernah mengalami sendiri

peristiwa tersebut duduk dihadapan mereka, mau tak mau terpaksa ketiga orang itu harus

mempercayainya juga.

Membayangkan kembali peristiwa yang terjadi dimasa lampau, tak kuasa lagi Cu Im taysu

bertanya, “Apakah kitab pusaka Thian hua Ci ki termasuk sebagai suatu kitab pusaka ilmu silat?”

Tapi setelah perkataan itu dilontarkan ke luar, padri ini baru merasa bahwa ia sudah terlanjur

bicara yang tidak senonoh, buru-buru sambungnya lagi.

“Pinceng tidak berniat serakah atau ingin mendapatkannya, pertanyaanku hanya lantaran rasa

ingin tahu belaka!”

Tiba-tiba ia merasa tidak tenang hatinya, cepat tambahnya lagi, “Omintohud, rasa ingin tahu

adalah perbuatan bodoh dan omong kosong, dosa…. dosa….”

Semua orang merasa geli menyaksikan tingkah laku padri ini, tapi teringat betapa serius dan

berusahanya padri itu untuk mengekang diri, timbul pula rasa hormat dihati mereka, maka tak

seorangpun berani tertawa.

Tiba-tiba Po-yang Lojin berkata, Thian hua adalah nama manusia, dia merupakan murid paling

kecil dari Kiu-ci Sinkun, orang ini she Cho dan waktu mati baru berusia dua puluh tahunan, tapi

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

545

ilmu silatnya sangat tinggi, ilmu kepandaiannya yang dipelajarinya adalah jurus-jurus paling

ampuh dari pelbagai perguruan dan partai besar yang ada didunia.

“Dari pelbagai perguruan dan partai besar? sela Suma Tiang-cing dengan hati terperanjat.

“Betul, ilmu silatnya meliputi pelbagai perguruan dan partai besar” sahut Po-yang Lojin, “Cho

Thian-hua berbakat bagus dan berotak cerdik, tapi lantaran ilmu silat yang dipelajarinya terlalu

banyak, terlalu ruwet dan tak mungkin baginya untuk mengingat semua intisari serta

kelihayannya selain itu diapun mempunyai tujuan tertentu, maka setiap kali setelah mempelajari

sejenis ilmu silat, diam-diam ia membuat catatan sendiri dalam sejilid kitab, lama kelamaan

terjadilah sebuah catatan Ilmu silat yang kemudian diberi nama Thian hua ca ki!”

Sekarang Hoa Thian-hong baru paham dengan duduknya persoalan, ia lantas berseru, “Tak

beran kalau ilmu silat yang dimiliki Tang Kwik-siu amat banyak ragamnya, macam gado-gado,

tapi semuanya tidak sempurna dan tidak matang, rupanya ia belajar menurut catatan kitab Thian

hua ca ki tersebut….! sekarang aku baru mengerti rahasia ini!”

“Sampai dimanakah macam ragamnya kepandaian silat orang itu?” tanya Suma Tiang-cing.

Ia pandai ilmu pukulan Tong pit sin kin ilmu iblis hua kut mo ciang, ilmu sakti kim kong ciat eng.

ilmu jari Yu seng sin ci dan aneka ragam lagi banyaknya.

Sepasang mata Sama Tiang cing melotot besar karena tertegun, serunya kemudian, Waah….

waah…. gado-gado, benar-benar ilmu gado-gado. Lo wangwe! Silaukan kau lanjut kan

penuturanmu.

Lau Cu cing mengangguk.

Setelah kupikir-pikir, segeralah kurasakan bahwa duduk persoalan nya amat rumit.

“Cu Im suheng!” tiba-tiba terdengar It piau hwesio memanggil dari arah dapur.

Cu Im taysu ingin mendengarkan cerita dari Lau Cau cing, maka dia hanya mengiakan belaka,

apa mau dikata It piau hwesio kembali memanggil lagi dengan lantang, terpaksa Cu Im taysu

bertanya dengan suara setengah berteriak, “Suheng, ada urusan apa engkan panggil diriku?”

“Kalian sedang membicarakan soal harta karun, aku tak berani pergi kesitu!” seru It piau hwesio.

Tertegun Hoa Tbian hong setelah mendengar ucapan tersebut, segera katanya, “Biar aku yang

muda pergi kesana!”

Dia lantas masuk kedapur, selang sesaat kemudian pemuda itu sudah muncul kembali sambil

membawa senampan nasi dan sayur mayur yang tidak berjiwa, katanya, “Lo suhu itu menutupi

telinganya sendiri dengan kain, tak heran kalau pembicaraan kita tak terdengar olehnya”

“Omintohud!” seru Cu Im taysu sambil tertawa, “It piau suheng baru benar-benar terhitung

sebagai seorang padri yang saleh, kalau aku, haaah…. hahh…. haahh…. aku pantas disebut

bwesio sontoloyo, haha haha.”

Hoa Thian-hong ikut tertawa, dia lantas menghidangkan nasi dengan sayur mayur itu kedepan

semua orang.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

546

Begitulah, sambil bersantap semua orang mendengarkan Lau Cu cing melanjutkan kembali

penuturannya, “Aku tak berani memberitahukan tempat tinggal engkong co ku kepada mereka

namun tak mungkin aku membungkam dalam seribu bahasa, sesudah putar otak akhirnya

kujawab bahwa engkong co ku beserta ketiga orang rekannya suka berpesiar ketempat-tempat

kenamaan, susah untuk menemukan jejak mereka, tapi aku bersedia untuk menemukan kembali

jejaknya. Rupanya….Tang Kwik-siu tahu bahwa tiada gunanya menggunakan kekerasan atas

diriku dan lagi merekapun tidak punya waktu untuk menungga terlalu lama, akhirnya dia panggil

muridnya yang membawa sebuah hiolo warna merah darah untuk maju kedepan, dari dalam

hiolo tersebut Tang Kwik-siu menangkap seekor kelabang aneh yang tubuhnya berbintik-bintik

hitam, bajuku dising-singkan lalu kelabang itu dibiarkan menggigit pergelangan tangan kiriku.

Dalam keadaan demikian, sekalipun kegusaran memuncak dalam benakku, pada hakekatnya aku

tak punya kemampuan untuk memberi perlawanan apa-apa”

“Sungguh tak ku nyana Tang Kwik-siu begitu keji dan bejat moralnya, bila sampai bertemu lagi

lain waktu, pasti akan kusuruh ia rasakan kelihayanku!” kata Hoa Thian-hong dengan gusar.

Lau Cu cing melirik sekejap ke arah si anak muda itu, kemudian ujarnya lebih jauh.

“Setelah Tang Kwik-siu membiarkan kelabangnya menggigit perge-langan tanganku, sambil

menyingsingkan bajunya Pek Kun-gie mendadak berkata sambil tertawa, “Hahaha Lau Cu cing,

akupun pernah merasakan bagaimana enaknya dipagut kelabang, tampaknya kita memang

senasib sependeritaan, ba gaimana kalau kita angkat saudara saja, engkau jadi kakak dan aku

jadi adik!” pada mulanya aku mengira dara itu cuma berolok-olok, tapi setelah pergelangan

tangan kirinya diperlihatkan kepadaku, barulah kuketahui bahwa dia memang mengalami nasib

yang sama seperti akui”

Bicara sampai disitu, dia lantas menyingsingkan ujung bajunya dan memperlihatkan bekas

gigitan kelabang itu kepada Hoa Thian-hong.

Pada pergelangan tangan kirinya terdapat dua titik merah sebesar kacang hijau yang menongol

keluar, sedang disisi bengkak itu terdapat bekas gigitan binatang yang melekuk kedalam, ia tahu

bahwa ucapan orang itu tak salah.

Terbayang kembali bagaikan ngerinya Pek Kun-gie bila digigit kelabang, ia merasa tak tega

bercampur menguatirkan keselamatan gadis itu.

Setelah menurunkan kembali ujung bajunya, Lau Cu cing melan-jutkan kembali kata-katanya,

“Tang Kwik-siu berkata kepadaku bahwa racun keji kelabang itu sudah menyusup ke dalam

darahku, empat puluh sembilan hari kemudian racun itu baru mulai bekerja, dan bila tidak diobati

maka aku akan tewas dalam keadaan mengerikan, katanya kecuali obat pemunahnya didunia ini

tiada obat lain yang bisa mengobati racun tersebut!”

Ia berhenti sebentar untuk tukar napas, setelah itu sambungnya lebih jauh, “Ia memerintahkan

cayhe untuk menemukan jejak engkong co ku atau salah seorang diantara empat kakek tua yang

dimaksudkan, kemudian empat puluh hari kemudian berangkat ke kota karesidenan Sam kang di

propinsi Kwang-se untuk bertemu dengannya, bila aku tidak datang maka jiwaku akan melayang,

bahkan bila urusannya telah selesai maka dia akan membantai pula keluargaku!”

“Bagaimana jawaban lo wangwe?” tanya Suma Tiang-cing.

“Aku hanya mengiakan belaka, tidak ku berikan jawaban yang tegas dan memastikan!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

547

“Kalau memang begitu, tidak pantas kalau mereka lepaskan api dan membakar rumah tinggal lo

wangwe!” kata Hoa Thian-hong.

“Api itu bukan dilepaskan mereka, tapi Pek Kun-gie yang membakar rumahku malahan diapun

hendak mencelakai pula jiwa anak istriku!” Liu Cu cing menerangkan dengan tertawa.

“Kurang ajar, keji amat perbuatannya!” bentak Hoa Thian-hong dengan penuh kegusaran.

Tampaknya Lau Cu cing sudah mengetahui kalau Hoa Thian-hong mempunyai hubungan

istimewa dengan Pek Kun-gie, ia lantas tersenyum dan berkata lagi, “Nona Pek berkata begini

kepadaku, “Lau Cu cing, kita toh sudah angkat saudara sepantasnya kalau kuberi tanda mata

atas peristiwa ini….!”

Memang lihay sekali cara nona itu melepaskan api, belum sempat kutangkap maksud katakatanya,

dia sudah melepaskan segulung bubuk obat keatas lampu lentera, diiringi suara ledakan

besar api segera menjilat ruangan.

Tampaknya Tang Kwik-siu ada maksud untuk memadamkan api tersebut, tapi tak sempat, ia

hanya berdiri termangu.

Berbeda dengan Pek Kun-gie, ia kelihatan bangga sekali, sambil menuding kepadaku, katanya

lagi, “Engkau tak usah sakit hati bagaimanapun juga engkau toh tak akan bisa temukan jejak

engkong co mu, sekalipun engkau berhasil temukan orangnya, cepat atau lambat toh tetap mati,

kelabang itu merupakan binatang paling keji dikolong langit, sekalipun orang yang digigit diberi

obat pemunah, diapun cuma bisa bertahan hidup selama setengah tahun belaka!”

Mendengar ucapan tersebut, Tang Kwik-siu jadi marah dan mencaci maki tapi Pek Kun-gie juga

berteriak-teriak keras.

“Apa yang dia jeritkan?” tanya Hoa Thian-hong dengan kemarahan masih berkobar dalam

benaknya.

Nona Pek berteriak begini, “Kita sudah berjanji bahwa aku tak akan melarikan diri, tak akan

membocorkan rahasia indentitasku, tak akan membongkar rahasia, toh tak pernah dalam

perjanjian itu melarang aku bunuh orang dan lepaskan api? Engkau mengaku sebagai seorang

cikal bakal suatu perguruan besar, kenapa ucapanmu tidak bisa dipercaya, kenapa perbuatanmu

tak pegang janji?”

Berbicara sampai disitu, tiba-tiba nona Pek ayun telapak tangannya hendak menghajar anakku

paling kecil, serangannya bukan ma in-main tapi suatu serangan yang amat ganas, untungnya

Tang Kwik-siu bertindak cukup cekatan, ia berbasil menangkap nona Pek sehingga terhindarlah

anakku dari kematian!”

Mendengar sampai disitu, dengan dahi berkerut Suma Tiang-cing segera berkata, “Rupanya

semua kelembutan dan kehalusan Pek Kun-gie cuma pura-pura belaka…. Hmmm! Kalau memang

begitu, mulai hari ini Thian-hong tak boleh memperdulikan dirinya lagi”

Suma Tiang-cing adalah saudara angkat dari Hoa Goan-siu, berbicara soal hubungan maka

kecuali ibunya boleh dibilang enciknya ini merupakan orang yang paling dekat hubungannya

dengan pemuda itu.

Justru oleh karena adanya hubungan yang sangat erat, Suma Tiang-cing berani mengutarakan

perintahnya yang amat tegas.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

548

Hoa Thian-hong sebagai angkatan yang lebih rendah, tentu saja tak berani membangkang

perintahnya itu, Tercekat hati Thian-hong setelah mendengar perkataan itu, tapi iapun tidak

berhasil menemukan alasan yang tepat untuk menangkis perintah tadi, terpaksa dengan kepala

tertunduk dia mengiakan barulang tali.

Sekalipun begitu, rasa sedih dan murung sempat juga meliatas diatas wajahnya.

Lau Cu cing sendiri, diam-diampun berpikir, Nama besar Hoa Thian-hong telah menggetarkan

seluruh kolong langit, dan lagi dia masih muda, sepantasnya kalau anak muda berjiwa panas dan

mudah jadi sombong atau jumawa, tapi kenyataannya dia tetap sederhana dan penurut, kejadian

ini benar-benar luar biasa sekali.

Perlu diketahui, walaupun ilmu silat dan kesuksesan berusaha dapat membuat orang menaruh

hormat, tapi masih ada bagian lain yang tidak menghormati ataupun mengaguminnya, tapi ada

sebagian orang lantaran wataknya mulia dan berbudi luhur maka bukan saja orang banyak yang

mengaguminya, malahan jumlah orang yang menaruh rasa kagum kadangkala jauh lebih besar

dan banyak.

Begitu pula halnya dengan Lau Cu cing kalau Hoa Thian-hong hanya hebat dalam ilmu silat dan

tinggi kedudukannya dalam dunia persilatan, belum tentu dia akan mengaguminya, tapi justru

karena wataknya yang halus budi dan jujur ia jadi amat kagum.

Tiba-tiba dia menengadah dan tertawa terbahak-bahak, kemudian katanya pula.

Hoa kongcu, bicara sejujurnya, ketika kemarin malam aku lihat engkau berada serombongan

dengan orang-orang Sin-kie-pang, timbul perasaan tak senang dihatiku, karenanya meskipun aku

mempunyai kesulitan, rahasia tersebut tidak sampai kubocorkan dihadapanmu apalagi setelah

kuketahui bahwa hubunganmu dengan nona Pek sangat akrab, semakin besar rasa antipatiku

yang muncul dalam hatiku.

***

MERAH padam selembar wajah Hoa Thian-hong karena jengah, buru-buru katanya.

Lo wangwe, boanpwe bukanlah manusia yang tak tahu bagaimana menyayangi diri sendiri, akan

tetapi pada hakekatnya banyak kejadian yang berada dalam dunia ini yang memaksa orang tak

mampu mengendalikan diri, kendatipun harus disertai dengan pengorbanan yang besar, tapi mau

tak mau perbuatan itu harua dilakukan juga, boanpwee sudah berusaha untuk bergerak terus

lebih keatas, apa daya kemampuanku memang terbatas, akhirnya toh tetap terjerumus kembali

menurut aliran perubahan.

Cepat Lau Cu cing ulapkan tangannya.

“Kongcu tak usah terlalu merasa rendah diri, aku sudah memahami watak serta perangai kongcu,

akupun bisa memahami setiap perbuatan yang kau lakukan pasti didasari oleh alasan yang kuat,

tak heran ka lau aku jadi salah paham karena tak tahu duduk persoalan yang sebenarnya”

Tiba-tiba Suma Tiang-cing ikut menghela napas panjang dan berkata dengan lirih, “Aaai….

namaku Kiu mia kiam kek (jago pedang sembilan jiwa) kudapatkan dengan lumuran darah, siapa

yang tidak tahu kalau aku Suma Tiang-cing adalah laki-laki berhati keras, tapi toh hari ini aku

harus mengadu jiwa lantaran ingin menolong jiwa seorang gadis, aaai….! Mungkin inilah yang

dinamakan apa boleh buat bila keadaan sudah begitu…. heeh heehh heehh mendingan kalau

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

549

orang lain tahu akan duduk persoalannya kenapa aku sampai adu jiwa ka-rena seorang gadis,

bila orang itu tak tahu duduknya perkara bukankah mereka juga akan menaruh perasaan salah

paham kepadaku?”

Berbicara sampai disini, ia lantas berpaling kembali ke arah Hoa Thian-hong seraya berkata lebih

jauh, “Aku segan untuk mencampuri urusanmu dengan budak dari keluarga Pek, mau bagai

mana terserah pada kemauanmu sendiri….!”

Tertegun Hoa Thian-hong sesudah mendengar perkataan itu, tapi diam-diam diapun bersyukur

karena ia bebas dari ikatan yang memberatkan pikirannya, walaupun begitu pemuda itu tak

dapat menunjukkan rasa girangnya, karena tanpa sadar soal Pek Kun-gie dan Giok Teng Hujin

berbarengan berkecamuk dalam benaknya.

Tiba-tiba terdengar Lau Ca cing tertawa nyaring, lalu berkata, “Hoa kongcu, sekarang apakah

engkau sudah dapat menduga apa sebabnya Pek Kun-gie membakar rumahku dan melukai

cucuku?”

“Oou….! Kenapa?” seru Hoa Thian-hong dengan muka tertegun.

Cu Im taysu adalah seorang padri yang berbudi luhur, dia ingin sekali membuat semua orang

yang ada didunia ini jadi orang baik semua, dari pembicaraan tersebut segera diketahui olehnya

bahwa dibalik pertanyaan itu tentu ada penjelasan lebih jauh, segera selanya, “Sekalipun Pek

Kun-gie adalah putri Pek Siau-thian, tapi ia pribadi sebenarnya tidak bernama jelek, apalagi

setelah menjadi sahabat Thian-hong, wataknya pasti banyak mengalami perubahan, Kalau toh

dia bisa melakukan perbuatan seperti membakar rumah, membunuh orang, sudah pasti dibalik

kesemuanya itu dia mempunyai maksud serta tujuan tertentu…. bukan begitu?”

Lau Cu cing tersenyum.

“Tadi aku masih belum bisa memecahkan persoalan ini tapi barusan tiba-tiba dapat kupahami

mengapa nona Pek sampai berbuat demikian, sudah pasti ia sengaja membakar rumahku dan

ingin membunuh cucuku dengan tujuan untuk merangsang aku mengharapkan aku sangat

membenci kepada mereka, asalkan aku telah menaruh rasa benci kepada mereka, sudah tentu

akupun tak akan tunduk oleh ancaman Tang Kwik-siu atau dengan perkataan lain dia bermaksud

untuk menggagalkan rencana Tang Kwik-siu untuk mencari harta karun”

Cu Im taysu segera bertepuk tangan sambil tertawa.

“Haaah…. haaah…. haaahh…. benar, perkataan ini memang cocok sekali, tak nyana nona Pek

sangat cerdik cuma…. perbuatannya membakar rumah kelewat ganas, apalagi ingin melukai jiwa

orang lain, tindakan semacam ini tidak dibetulkan, untung saja tak ada yang sampai korban jiwa,

Thian-hong kalau lain kali bertemu kembali, engkau harus baik baik memperingatkan dirinya!”

Merah padam wajah Thian-hong karena malu, dengan perasaan kikuk dia lantas mengangguk.

Setelah itu baru ujarnya lagi kepada Lau Cu cing, “Pek hujin dari perkumpulan Sin-kie-pang

adalah seorang pemimpin yang bijaksana, bila bertemu nanti boanpwe akan minta kepadanya

untuk mengganti kerugian yang telah wangwe derita, boanpwe tanggung Pek hujin tak akan

menolak!”

“Haaahhh…. haaahhh…. haaahhh…. meskipun aku bukan seorang milyuner, tapi kalau cuma

sebuah rumah gedung masih tak menjadi beban pemikiranku, biarlah maksud baik Hoa kongcu

kuterima didalam hati saja!”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar