Selasa, 06 Oktober 2009

3 maha 14

Begitulah, tatkala mendengar pertanyaan dari ibunya, Pek Kun-gie segera memahami arti yang

dimaksudkan, cepat ia menggeleng.

“Aku belum dirugikan!” sahutnya hambar.

Setelah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh, “Ibu tak usah kuatir, putri dari ketua Sin-kiepang

tidak mungkin akan melakukan perbuatan yang memalukan ayah ibunya!”

“Bagus! Punya semangat” tiba-tiba seseorang memuji dengan suara yang lantang.

Mendengar seruan tersebut, orang-orang dari perkumpulan Sin-kie-pang pada terperanjat dan

serentak mereka berpaling ke arah mana berasalnya suara itu.

Hong Liong waktu itu berada didepan rumah, dia mengira Hoa Thian-hong telah datang, segera

tubuhnya berkelebat kedepan dan menghalangi jalan lewat tempat itu seraya membentak,

“Bocah keparat she Hoa, temui dahulu taoya mu!”

Bong Pay ikut naik darat ia membentak, “Bangsat, kawanan tikus darimana berani bertingkah

disini, aku Bong Pay akan menemui dirimu lebih dulu!”

Begitu selesai berkata, ia lantas menerjang kedepan tapi ia keburu ditangkap oleh Kho Hongbwee

sehingga tak bisa berkutik.

Tampaklah tiga orang laki-laki munculkan diri dari balik hutan siong kurang lebih seratus kaki

didepan sana, orang pertama adalah, seorang laki-laki besar dan jangkung dengan bau warna

merah wajahnya gagah dan jenggotnya panjang, siapa lagi orang itu kalau bukan Pek Siau-thian

ketua dari perkumpulan Sin-kie-pang.

Melihat siapa yang muncul, Pek Kun-gie segera memburu kedepan sambil menerjang kedalam

pelukan kakek itu sambil serunya, “Ayah!”

Air mata tak bisa dibendung lagi segera bercucuran dengan derasnya.

Perlu untuk diketahui, Pek Soh-gie dibesarkan oleh ibunya sedangkan Pek Kun-gie dibesarkan

oleh ayahnya jadi hubungan maupun wataknya lebih mirip ayahnya dari pada ibunya.

Oleh sebab itu ketika Kho Hong-bwee yang datang, Pek Kun-gie masih dapat menahan diri tapi

begitu Pek Siau-thian yang tiba, rasa sedih yang ditahan-tahan selama ini tak mampu kendalikan

lagi semuanya segera meluncur keluar.

Dengan halus dan penuh kasih sayang, Pek Siau-thian membelai rambut putrinya, ia berkata

dengan halus, “Anak baik kejadian yang sudah lewat biarkanlah lewat, kenapa musti kau

bersedih, makanya mulai hari ini janganlah kau tinggalkan ayah ibumu lagi”

Pek Kun-gie menganggguk berulang kali.

“Sekarang putrimu baru tahu bahwa hanya ayah dan ibu saja yang benar-benar menyayangi

diriku sedang lainnya hanya cinta palsu…. sayang palsu”

“Benar untuknya, sadar saat inipun belum terlambat!”

Kho Hong-bwee maju kedepan, ujarnya pula kepada suaminya itu, “Cepat amat kedatanganmu,

siapakah kedua orang itu?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

592

Pek Siau-thian tertawa paksa, “Hujin, kau pasti lelah sekali katanya”

Kemudian sambil menuding ke arah dua orang yang berada dibelakangnya ia melanjutkan.

“Kedua orang ini semuanya adalah toko-tokoh lihay dari dunia persilatan dewasa ini, mereka

terhitung pula sebagai sahabat-sahabat karibku.”

Dua orang laki-laki itu telah berusia empat puluh tahunan, sebelum Pek Siau-thian

menyeselesaikan kata-katanya, laki-laki yang menyoren pedang dipunggung itu segera menjura

sambil memperkenalkan diri.

“Aku adalah Kiong Thian yu!”

Sedangkan laki-laki berdandan sebagai sastrawan itu menyambung, “Aku adalah Thian sun pou,

sudah lama mengagumi budi kebaikan dari hujin….”

Kho Hong-bwee mengangguk sebagai tanda menghormat, oleh sebab mereka adalah sahabat

dari suaminya maka ia perintahkan Kun gie serta Soh-gie untuk maju memberi hormat.

Baik Kiong Thian yu maupun Tiang sun Pou dalam hati merasa keheranan, mereka lihat paras

kedua kakak beradik itu mirip satu sama lainnya, tapi sang kakak memancarkan kehalusan serta

kesederhanaan, sebaliknya sang adik lebih lincah dan genit, timbullah kesan serta perasaan yang

berbeda pada kedua orang itu.

Sementara itu Pek Siau-thian sendiripun sedang mengamati wajah Bong Pay dengan sinar mata

tajam.

Beberapa bulan berselang, wilayah disebelah selatan sungai kuning berada dibawah pengaruh

perkumpulan Sin-kie-pang, dan kini diantara tiga musuh besar ada dua sudah runtuh, sedangkan

Sin-kie-pang tetap berdiri dengan kokoh, dengan sendirinya sikap maupun gerak-gerik sang

ketuanya ini tetap gagah dan cukup menggidikkan hati.

Apa mau dikata yang dihadapi adalah Bong Pay yang tak takut langit tak takut bumi, ketika Pek

Siau-thian mengawasinya diapun balas mengawasi orang itu dengan sorot mata yang tak kalah

tajamnya.

Kho Hong-bwee segera menemukan gelagat yang kurang serasi itu, ia tahu jika saling melotot ini

dibiarkan berlangsung terus niscaya akhirnya akan terjadi hal yang kurang beres.

Buru-buru serunya.

“Anak Pay, hayo cepat memberi hormat kepada empekmu!”

Agak tertegun Pek Siau-thian setelah menyaksikan hubungan yang begitu akrab antara Bong Pay

dengan Kho Hong-bwee namun diapun bukan orang bodoh hanya berpikir sebentar saja dia

lantas mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya sudah pasti persoalan ini ada hubungan

dengan putri sulungnya.

Dalam keadaan seperti ini, kendatipun dia adalah seorang jago yang gagah perkasa toh tak

urung dapat termangu-mangu pula.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

593

Sementara itu Bong Pay sudah maju kedepan seraya memberi hormat, katanya, “Aku Bong Pay

memberi hormat untuk empek!”

Suara lantang dan amat nyaring sekali ibarat guntur yang membelah bumi di siang hari bolong.

Diam-diam Pek Siau-thian tertawa getir, ia tak menyangka kalau kedua orang putrinya sama

sama jatuh cinta kepada pemuda dari golongan kaum pendekar, seraya ulapkan tangannya ia

menyahut kaku.

“Tak usah banyak adat!”

Mendengar ucapan itu, Bong pay segera putar badan dan mengundurkan diri kesamping Kho

Hong-bwee.

Dari tingkah laku pemuda itu, Pek Siau-thian dapat melihat pula suatu keanehan yakni sepanjang

masa itu tak pernah Bong pay melirik ke arah putri sulangnya, suatu perasaan heran dan tak

habis mengerti segera menyelimuti wajahnya.

Rupanya dalam pergaulannya yang berlangsung selama berhari-hari, tanpa disadari kedua orang

itu sudah saling jatuh cinta, kendatipun demikian sebagai orang yang sederhana den jujur

mereka tetap berhubu ngan secara wajar tanpa suatu penonjolan hubungan yang luar biasa.

Bong Pay dapat tunduk seratus persen kepada Kho bong bwe adalah dikarenakan alasan lain,

sedari kecil ia hidup sebatang kara dan belum pernah merasakan cinta kasih seorang ibu, kasih

sayang dilimpahkan Kho Hong-bwee kepadanya membuat ia tunduk kepada perempuan itu.

Memang disinilah letak kelemahan orang yang berhati keras, bila orang kasar kepadanya maka

dia bisa berbuat lebih kasar kepada orang itu, sebaliknya kalau orang lembut Kepadanya maka

diapun akan lembut kepada orang itu.

Begitulah, setelah semua orang saling memberi hormat, Pek Siau-thian alihkan sorot matanya ke

arah Hong Liong yang berada dikejauhan, kemudian serunya, “Beritahu kepada suhumu, besok

pagi aku hendak mengajak dia untuk bertemu serta merundingkan soal penggalian harta karun!”

Hong Liong tahun ini berusia empat puluh tahunan, ia sudah belajar ilmu selama tiga puluh

tahun lebih, tak heran kalau dia percaya dengan kemampuan ilmu silat yang dimilikinya.

Ketika ia saksikan Pek Siau-thian bersikap jumawa dalam hatinya, kontan hatinya jadi murka dan

tak senang hati dalam pandangannya toh ilmu silat orang itu belum tentu bisa lebih tinggi dari

kepandaiannya.

Tanpa ia sadari pula, perasaan tak senang itu segera tertera diatas wajahnya.

Pek Siau-thian adalah seorang manusia ysng berotak brillian, sudah tentu perubahan sikap

lawannya tak lolos dari pandangan matanya, cepat ia dapat menangkap maksud hati orang itu,

katanya dengan dingin, “Hmm! Kalau urusan ini bisa kau putusi tak mungkin gurumu akan

bersusah payah jauh jaub datang serdiri kedaratan Tionggoan, huh bobotku bukanlah bobot

yang bisa kau tandingi”

Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan, “Kenyataan toh menunjukkan bahwa kalian guru dan

mnrid tidak sempai merugikan putriku, aku sendiripun ogah untuk mencari perkara dengan

kalian, bila kau tak puas, nantikan saja kedatangan bocah she Hoa dan tantanglah dia untuk

berduel”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

594

Habis berkata sambil ulapkan tangannya, ia lantas berlalu dari tempat itu.

Sudah puluhan tahun Pek Siau-thian meminpin dunia persilatan tentu saja sikap maupun daya

pengaruhnya berbeda jauh dengan orang biasa apalagi Hong Liong hidup diluar daratan

Tionggoan, penga-lamannya juga amat cetek, sekalipun ilmu silatnya lihay, ia masih kalah jauh

bila dibandingkan dengan Pek Siau-thian.

Dalam pada itu, ketua dari Sin-kie-pang telah membawa orang-orangnys untuk berlalu dari situ,

setelah mencari daratan yang agak tinggi letaknya, ia perintahkan orang untuk beristirahat dan

besok pagi baru mencari bahan kayu untuk membangun rumah buat persiapan untuk berdiam

agak lama disitu.

Dengan dahi berkerut, Kho Hong-bwee berpaling kepada suaminya, lalu tanyanya, “Engkau

punya rencana untuk tinggal berapa lama disini?”

“Paling capat dua bulan paling lama setengah tahun, aku akan berdiam terus disini sampai istana

Kiu ci kiong tergali dan harta karunnya ditemukan kita!”

Tiba-tiba Pek Kun-gie menyela diri samping, katanya, “Ayah, Tang Kwik-siu memiliki sejilid kitab

yang isinya berupa catatan rahasia ilmu silat, pada halaman yang terakhir dari buku itu aku lihat

seolah-olah tercantum sebuah peta bumi, seringkali bila tak ada orang, diam-diam Tang Kwik-siu

ambil keluar peta tersebut dan memandangnya dengan wajah mendelong”

“Ooh….! iya?” seru Pek Siau-thian dengan wajah rada berubah, “telah kuduga kalau Tang Kwiksiu

mengandaikan sesuatu dalam usaha pencarian harta karun ini, tak kunyana kalau benda yang

sangat diandalkan olehnya adalah sebuah peta bumi!”

Ia lantas berpaling ke arah Kiong Thian yu serta Thian sun pou, kemudian sambungnya lebih

jauh, “Kiong jiko, Thian sun Lote, menurut dugaan kalian berasal darimanakah kitab serta peta

bumi yang dimiliki Tang Kwik-siu itu?”

Kiong Thian yu termenung sebentar, kemudian sahutnya, “Mungkin juga kitab itu adalah benda

yang berasal dari istana Kiu ci kiong, tentang apa isi dari peta itu…. waah! Rada sulit untuk

menduganya.”

“Tang Kwik-siu memahami aneka ragam ilmu silat dari pelbagai partai persilatan yang ada

didunia ini” tukas Pek Kun-gie lagi, jangan-jangan kitab tersebut adalah sumber dari segala

cabang ilmu silat yang berhasil dikuasainya itu?”

Tiangsun Pou yang selalu membungkam tiba-tiba berkata, “Ada kemungkinan besar kalau isi peta

bumi itu merupakan petunjuk ke arah lorong rahasia yang menghubungkan tempat penyim

panan harta, tapi asal dapat kulihat sebentar saja aku yakin letak tempat itu pasti akan segera

kukenali”

Pek Kun-gie memutar sepasang biji matanya yang jeli, kemudian ujarnya pula, “Empek Kiong,

paman Tiangsun, rupa-rupanya sudah lama kalian mengetahui rahasia tentang harta karun ini?”

Tiangsun Pou menghela napas panjang.

“Aaai….! seratus tahun berselang berita soal harta karun sudah bukan rahasia lagi, hampir setiap

manusia yang ada didunia ini mengetahui akan berita tersebut tapi oleh karena sering kali

mengalami kegagalan maka banyak orang jadi kecewa putus asa dan akhirnya masalah yang

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

595

sangat hangat ini menjadi dingin dengan sendirinya meskipun begitu bukan berarti persoalan ini

sudah dilupakan orang, tiap orang seakan-akan hanya menunda pelaksanaan pencarian itu untuk

sementara waktu, menanti kesempatan yang sangat baik telah tiba, barulah mereka kerjakan

kembali. Leluhurku mempunyai hubungan yang erat sekali dengan masalah harta karun ini,

setiap kali mereka akan menghembuskan nafas yang terakhir, rahasia ini selalu diwariskan turun

temurun kepada generasi-generasi yang akan datang, kami selalu menganggap permasalahan ini

sebagai masalah besar, tapi oleh karena besarnya hubungan soal ini dengan keluarga kami maka

soal inipun semakin kami rahasiakan. Dengan dasar itulah maka kecuali mereka-mereka yang

mempunyai hubungan erat dengan persoalan ini, tak mungkin mereka akan mengetahui duduk

persoalan yang sebenarnya.

Jilid 30

PEK SIAU-THIAN yang berada di sampingnya lantas menambahkan pula dengan lantang, “Empek

Kiong mu ini adalah ahli waris dari partai persilatan Hoa san pay, kitab ilmu pukulan dan ilmu

pedangnya sudah terampas dan tersimpan dalam istana Kiu ci kiong”

Kiong Thian yu ikut menghela napas panjang.

“Yaaah….! leluhur paman Tiangsun mu adalah seorang tokoh yarg amat tersohor pada waktu itu,

orang sebut dirinya sebaai Seng jin lu pan (Lu pan bertangan sakti) istana Kiu ci kiong ini adalah

hasil karyanya yang paling cemerlang, tapi setelah ia selesai membangun istana Kiu ci kiong ini,

sampai tua ia disekap oleh Kiu-ci Sinkun dalam penjara hingga akhir hayatnya, banyak sekali

kitab-kitab bangunan yang penting artinya terpendam didalam istana tersebut!”

Perlu diketahui Lu pan adalah seorang ahli dalam bidang pembangunan yang amat tersohor

sekali pada dynasti Ciu, ia berasal dari negeri Lu, oleh karena lihaynya dalam konstruksi

bangunan maka namanya selain dipakai untuk julukan mereka yang memiliki kemampuan setaraf

dengan ahli bangunan kuno itu.

Tiangsun pou menghela napas panjang, kemudian dia berkata pula, “Leluhur paman Kiong mu

juga seorang jago yang sangat lihay, beli au dapat melukis dua ekor naga dengan dua belah

tangannya secara bersamaan, begitu lihaynya lukisan itu sehingga meskipun berbareng namun

kemiripannya tak jauh berbeda, aaai! Bila aku mempunyai kemampuan setinggi itu maka

menggali istana Kiu ci kiong bukan pekerjaan yang sulit lagi bagiku.”

“Paman tak usah murung ataupun kesal” hibur Pek Kun-gie, menurut penilaian keponakanmu,

usaha kita dalam menggali harta karun kali ini seratus persen pasti akan berhasil.

Ia lantas membeberkan bagaimana Tang Kwik-siu mempunyai rencana untuk bekerja sama

dengan para jago dari daratan Tionggoan serta siasat-siasat apa yang akan dilakukan iblis tua

itu.

Selesai mendengar penjelasan tersebut Pek Siau-thian tersenyum, lalu ujarnya, “Haahh….

haahhh…. haahhh…. keadaan ini ibaratnya tiga ekor binatang buas yang menyeberangi sungai

bersama, masing-masing pihak hanya bisa menggantungkan pada nasib serta rejeki sendirisendiri,

siapapun bisa berhasil asal kan dia mempunyai rejeki yeng baik tapi bagaimana hasilnya?

untuk sementara waktu lebih baik jangan dibicarakan lebih dulu”

Setelah berhenti, sebentar dia melanjutkan.

“Ana Kun, baju kuning itu kurang sedap dipandang mata, cepatlah berganti pakaian!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

596

Pek Kun-gie mengangguk, ia lantas menghampiri encinya unuk pinjam pakaian.

Buru-buru Pek Soh-gie membuka buntalan dan mengambil keluar pakaian sendiri lalu menemui

adiknya masuk kehutan untuk tukar pakaian.

Orang-orang dari pihak Sin-kie-pang membawa rangsum kering, setelah bersantap mereka

duduk sambil kongkouw, waktu itu Tang Kwik-siu telah kembali pula dari rondanya, dengan

membawa sekelompok anak muridnya mereka duduk didepan rumah.

Jarak antara kedua belah pihak hanya terpaut satu panahan belaka, dari kejauhan mereka dapat

saling berpandangan.

Selama ini Pek Kun-gie selalu tutup mulut dan merahasiakan masalah dipagutnya pergelangan

tangan kirinya itu oleh kelabang langit, sebab itu hubungan antara pihak Sin-kie-pang dengan

Seng sut pay bisa berlangsung dengan tenang tanpa urusan, malahan mereka telah bersiap sedia

untuk bekerja sama dan saling memanfaatkan keuntungan serta kelebihan yang dimiliki oleh

pihak lawannya.

Rembulan telah memancarkan sinarnya dari tengah awang-awang, malam itu sunyi sepi dan tak

kedengaran sedikit suarapun, angin yang dingin berhembus sepoi-sepoi menyejukkan badan.

***

DALAM keadaan sesejuk ini, mereka yang memiliki tenaga dalam agak sempurna masih duduk

bersemedi sambil menggatur napas, sedangkan mereka yang bertenaga dalam cetek sudah

tertidur pulas.

Pek Soh-gie duduk didepan sebuah batu cadas, punggungnya bersandar diatas batu itu sambil

mengantuk, sedangkan Pek Kun-gie berbaring diatas tanah dengan menggunakan kaki kakaknya

sebagai bantal, ditengah keheningan suasana, diapun mulai terkantuk-kantuk.

Mendadak dari tempat kejauhan muncul belahan sosok bayangan manusia, dengan cepatnya

mereka berlari mendekat dan menuju menuju ke arah mereka berada.

Pek Siau-thian yang bermata tajam, segera dapat mengenali orang-orang itu sebagai anak

buahnya, cepat ia memburu kedepan dan menyambut kedatangan mereka.

Perkumpulan Sin-kie-pang tak malu disebut sebagai suatu perkumpulan dengan organisasi yang

bagus serta peraturan perkumpu lan yang ketat, sekalipun para pelindung hukum maupun

tongcunya kebanyakan adalah jago-jago persilatan namun selelah bergabung dengan

perkumpulan itu gerak-gerik mereka jadi disiplin dan mentaati peraturan, berbeda jauh dengan

perbuatan kasar serta berangasan yang sering kali diperlihatkan para jago dari rimba hijau.

Rupanya kedatangan rombongan inipun karena mendapat perintah dari Pek Siau-thian, setelah

tiba dan memberi hormat serentak mereka membubarkan diri untuk mencari tempat beristirahat,

selang sesaat kemudian suasana diatas puncak kembali pulih dalam keheningan.

Kurang lebih setengah jam kemudian anak buah perkumpulan Sin-kie-pang rombongan yang

kedua telah tiba pula disana, menyusul beberapa jam kemudian rombongan yang ketigapun tiba

juga disitu, dalam semalaman saja sudah lima puluh orang lebih jago-jago inti dari perkumpulan

Sin-kie-pang yang telah berkumpul dibukit Kiu ci san.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

597

Menjelang fajar tiba-tiba diatas bukit itu kedatangan kembali segeromboagao jago persilatan

rombongan itu dipimpin oleh seorang perempuan berambut panjang dan membawa tongkat

hitam berkepala setan siapa lagi orang itu kalau bukan Kiu-im Kaucu serta para anggota

perkumpulan Kiu-im-kauw nya.

Pek Siau-thian paling benci dan mendendam terhadap pihak Kiu-im-kauw, sebenarnya dia

berambisi besar dan cita-citanya adalah merajai seluruh kolong langit tapi setelah pertarungan

berdarah dilembah Cu-bu-kok hampir boleh dikata semua impian indahnya telah hancur lembur

hingga lenyap tak berbekas.

Kekalahan pahitnya itu sekalipun berhubungan pula dengan dahsyatnya pedang baja milik Hoa

Thian-hong namun ia faktor terpen ting yang mempengaruhi kesalahannya ini adalah terlalu

banyak mata-mata Kiu-im-kauw yang menyusup kedalam perkumpulannya, jumlah yang sangat

banyak itu sangat mempengaruhi kekuatan serta daya tempur pihak Sin-kie-pang.

Sepanjang hidup, hanya kali itu saja Pek Siau-thian mengalami kekalahan besar, tak heran kalau

ia memandang peristiwa tersebut sebagai suatu penghinaan, suatu peristiwa yang paling

memalukan sepanjang sejarahnya, ia telah bertekad untuk membalas dendam hanya karena

otaknya memang cerdik, sebelum kesempatan baik tiba dia tak akan melaksanakan niatnya itu

secara gegabah.

Kendatipun demikian, ketika musuh besar saling berhadapan muka, tak urung merah juga

matanya karena marah, ia mendengus dingin dan tertawa dingin tiada hentinya.

Mendadak Tang Kwik-siu tertawa tergelak, kemudian ia berseru, “Pek lo pangcu, bersediakah

engkau menerima undangan Tang Kwik-siu untuk merundingkan sesuatu?”

Pek Siau-thian berpaling, ia lihat Tang Kwik-siu dengan jubah kuningnya yang berkibar

terhembus angin sedang berjalan mendekat dengan santai.

Ia lantas maju menyongsong kedatangannya, sesudah balas memberi hormat, sahutnya, “Tang

Kwik heng, dari puluhan laksa li kau bersusah payah datang kebukit Kiu ci san untuk mencari

harta karun, tampaknya semua persiapan rencanamu sudah masak sekali!”

“Haahh…. haaahh…. haahh….” Tang kwik Sin tertawa terbahak-bahak, “saudara Pek mengapa

tidak kau katakan saja bahwa aku datang kedaratan Tionggoan untuk mencari harta karun

daratan Tionggoan kenapa engkau ganti dengan bukit Kia ci san?”

“Dunia persilatan meliputi seluruh wilayah didaratan ini, apa bedanya antara daratan Tionggoan

dengan tepi perbatasan? Saudara Tang kwik engkau terlalu memandang asing diri kami.”

“Haahh…. haaahhh…. haaahh…. jadi kalau begitu maksud saudara Pek bahwa kamipun berhak

untuk menggali harta karun itu?”

“Setiap benda yang ada didunia ini adalah milik tiap manusia yang hidup dibumi ini kalau toh aku

berhak menggali mengapa saudara Tang kwik tidak berhak untuk menggalinya pula?”

Sekali lagi Tang kwik Sin tertawa terbahak-bahak.

“Sudah lama aku dengar orang berkata bahwa Pek heng adalah seorang tokoh persilatan yang

sejati, setelah bertemu hari ini dapat kubuktikan bahwa berita itu memang bukan nama kosong

belaka”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

598

“Terlalu memuji…. terlalu memuji….” sahut Pek Siau-thian dengan cepat.

Berbicara sampai disini dua orang jago silat itu saling berpandangan kemudian kembali tertawa

terbakak-bahak.

Belum habis tertawa mereka, dari bawah bukit sebelah utara kembali muncul serombongan

manusia, orang pertama adalah seorang pemuda berwajah tampan dengan sebilah pedang

tersoren dipinggang, siapa lagi pemuda itu kalau bukan Hoa Thian-hong….

Dibelakangnya mengikuti empat datuk dari bukit Huang-san, Cu Im taysu, Suma Tiang-cing. Ciu

Thian hay yang khusus diundang dari telaga Tay ou dan paling terakhir adalah Giok Teng Hujin

yang berkain cadar hitam serta dayangnya Pui Che-giok.

Begitu menyaksikan hadirnya empat datuk dari bukit Huang-san bersama dengan rombongan

Hoa Thian-hong, kontan sepasang alis mata Tang Kwik-siu berkeryit, ia lantas berpaling ke arah

Pek Siau-thian seraya berkata, “Saudara Pek, merekalah yang merupakan rombongan penggali

harta karun yang sebenarnya, aaai…. memang kita hanya kebagian tempat untuk menguntit

dibelakang orang ini saja!”

Begitu dilihatnya Hoa Thian-hong munculkan diri, Pek Siau-thian sudah merasa kheki apa lagi

setelah mendengar perkataan dari Tang Kwik-siu kontan ia mendengus dingin.

Melihat siasatnya termakan, Tang Kwik-siu tertawa dalam hati, selain itu diapun merasa lega dan

menghembuskan napas panjang lan-taran diketahuinya bahwa hubungan kedua orang itu

memang tak akur.

Setelah mendaki keatas bukit, ketika melewari disamping Khe Hong bwe pemuda Hoa Thianhong

segera memberi hormat sambil berkata, “Maaf bibi karena ada masalah lain aku yang muda

datang terlambat….”

Kho Hong-bwee yang cerdik tentu saja tahu bahwa perkataan itu sengaja ditujukan kepda

putrinya, ia tersenyum.

“Aku sendiri pun kemarin malam baru tiba, sepanjang jalan tentunya kau merasa lelah bukan?

Beristirahatlah dulu disana!”

Hoa Thian-hong mengiayakan berulang kali, kemudian ia berpaling ke arah Pek Kun-gie, ketika

dilihatnya gadis itu bersikap diam dan hambar, seolah-olah sama sekali terasa asing terhadap

dirinya, kembali ia tertegun.

“Apakah racun keji yang bersarang ditubuhmu telah punah?” tegurnya lirih.

“Racun keji apa?” seru Kho Hong-bwee dengan nada terperanjat.

“Dahulu aku sudah tergigit makhluk beracun tapi sekarang sudah sembuh” sahut Pek Kua gie

dingin.

Ketika dilihatnya sikap serta paras maka dara itu kurang baik, Hoa Thian-hong segera maju

kedepan dan menggenggam tangan kirinya, kemudian ia singkap ujung bajunya.

Diatas pergelanggan tangannya yang putih dan halus tampak dua bekas gigitan merah masih

membekas disitu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

599

Sekuat tenaga Pek Kun-gie meronta dan melepaskan diri dari cekalan si anak muda itu kemudian

teriaknya dengan mendongkol, “Kau tak usah mencapai urusanku, urusi persoalanmu sendiri,

soal mati hidupku tak usah kau kuatirkan!”

Hoa Thian-hong tertegun, paras mukanya berubah jadi pucat kehi jau-hijauan, selang sesaat

kemudian dengan langkah lebar ia berjalan menuju kehadapan Tang Kwik-siu sambil

menyalurkan tangannya kedepan, serunya lantang, “Ciangbunjin kalau engkau mempunyai obat

pemunahnya, harap segera diserahkan kepadaku!”

Paras muka Pek Siau-thian berubah hebat, ditatapnya wajah Tang Kwik-siu tajam-tajam

kemudian ia mendengus dingin.

Menyaksikan perubahan wajahnya itu, Tang Kwik-siu segera tertawa terbahak-bahak.

“Haah…. haahh…. haahh…. obat pemunah tentu saja ada, apalagi hubunganku dengan saudara

Pek sudah menjadi erat, sekalipun saudara Pek tidak mengatakannya keluar siaute pun akan

mempersembabkan obat pemunah itu kepadamu”

Kiu-im Kaucu yang berada dipihak lain, tiba-tiba menyindir sambil tertawa tergelak.

“Haaahh…. haaahhh…. haahh….Hoa Thian-hong rupanya tak berguna, engkau repot-repot begitu

toh mereka adalah sobat lama!”

Mendadak Hong Liong menyelinap dibelakang tubuh Hoa Thian-hong, kemudian sambil tertawa

dingin, katanya, “Bocah keparat, obat pemunahnya berada disaku toaya mu, kalau engkau

menginginkan obat pemunah itu, menangkan dulu toayamu!”

Tang Kwik-siu berkata sambil berkata tergelak, “Hoa kongcu, dia adalah muridku Hong Liong,

sudah lama ia mengagumi nama besarmu dalam dunia persilatan dan sekarang ingin minta

beberapa petunjuk ilmu silat darimu, harap engkau suka memberi pelajaran, obat pemunahnya

pasti akan diserahkan kepadamu.”

Berbicara sampat disini, ia lantas berpaling ke arah Hong Liong dan berkata pula, “Hoa Kongcu

adalah seorang pendekar sejati dari daratan Tionggoan, ia bersedia melayani dirimu berarti pula

ia menaruh rasa hormat kepadamu, bertempurlah dengan batas dua ratus gebrakan kalau kalah

mengaku saja kalah jangan sekali-kali main sabun!”

Hong Liong bertepuk tangannya sekali, lalu serunya, “Hey bocah cilik, hayo majulah!”

Betapa gusar dan mendongkolnya Hoa Thian-hong melihat kesombongan musuhnya, ia lantas

berpikir, “Bila ingin menaklukkan hati orang maka aku harus mendemon-trasikan pula

kemampuan yang kumiliki, tampaknya sukar bagiku untuk menyelesaikan masalah harta karun

dengan jalan damai, aneka ragam manusia telah berkumpul disini, siapa yang sudi memberi

muka padaku?”

Berpikir sampai disitu ia lantas mengambil keputusan untuk memamerkan kekuatannya

dihadapan musuh.

Tanpa banyak bicara lagi telapak tangan kirinya segera diayun kedepan melepaskan sebuah

pukulan udara kosong.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

600

Hong Liong tak berani bertindak gegabah, iapun tak sudi bertindak sungkan-sungkan, melihat

musuhnya sudah turun tangan diapun membentak keras dan melepaskan pula serentetan

pukulan balasan.

Sejak terjun kedalam dunia persilatan hampir boleh dibilang setiap hari Hoa Thian-hong

berkecimpungan dalam pertarungan-pertarungan seru, pengalamannya dalam menghadapi

pertempuran boleh dibilang sangat luas dan banyak.

Dengan dasar pengalamannya ini maka sekali bentrok dia lantas tahu kalau Hong Liong benarbenar

telah mendapatkan warisan lang sung dari Tang Kwik-siu, berbicara dalam soal ilmu

pukulan, belum tentu dirinya bisa menangkan lawan.

Sementara dua orang jago silat itu baru saja bertempur, dari bawah bukit kembali muncul

serombongan manusia yang dipimpin oleh seorang kakek tua berlengan tunggal, dia adalah Jin

Hian bekas ketua Hong-im-hwie yang telah buyar,

Dibelakang mengikuti pula seorang imam tua yang tak berkaki lagi, imam itu berjalan dengan

menopang dua batang toya baja, orang itu tak lain adalah Thian Ik-cu bekas ketua Thong-thiankauw.

Sedang jago-jago lainnya yang berjumlah hampir tujuh puluh orang itu antara lain adalah

Malaikat kedua Sim Ki an serta bekas anggota Hong-im-hwie serta Thong-thian-kauw.

Kedua kelompok kekuatan itu terhitung kelompok yang paling lemah, sewaktu melewati kota

Sam kang sian, Hoa Thian-hong telah bertemu dengan mereka, tapi toh kedatangan mereka

masih tetap tertinggal selangkah dibelakang.

Sementara itu pertarungan yang sedang berlangsung antara Hoa Thian-hong melawan Hong

Liong masih berjalan dengan serunya, sekejap mata mereka telah bergebrak sebanyak enam

puluh jurus, menanti Jin Hian serta Tbian Ik cu sudah tiba ditepi gelanggang, kedua orang itu

sudah bertempur hingga mencapai ratusan gebrakan.

Sepanjang pertarungan itu berlangsung, Hoa Thian-hong selalu merasa gelisah dan tak tenang,

pikirnya dihati, “Sejak pihak Seng sut pay mendapat bantuan dari kitab Thian hua ca ki,

kemajuan ilmu silat yang mereka miliki telah peroleh kemajuan yang pesat sekali, buktinya Hong

Liong pun memiliki tenaga dalam yang amat sempurna tak mungkin aku bisa menangkan dirinya

secara gam pang, padahal dia tak lebih cuma seorang muridnya Tang Kwik-siu kalau iapun tak

dapat kumenangkan bagaimana caranya aku bisa menaklukan para jago lainnya serta meminpin

operasi pencarian harta karun?”

Berpikir sampai disini tanpa terasa ia lantas menggigit bibirnya kencang-kencang, sengaja ia

membuka pertahanan, dia memancing mu suhnya agar masuk jebakan.

Benar juga, ketika Hong Liong menemukan titik kelemahan tersebut betapa kejut dan girang

hatinya cepat ia membentak, “Kena!”

Sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan kedepan.

Semua peristiwa ini berlangsung dengan kecepatanb sambaran kilat, sebelum semua orang

sempat menjerit kaget tiba-tiba Hoa Thian-hong mendengus dingin, telapak tangan kirinya

segera diayun kemuka dan mengirim pula sebuah pukulan gencar.

“Plaak!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

601

Ketika sepasang telapak tangan itu saling beradu satu sama lainnya, posisi Hoa Thian-hong tetap

sekokoh bukit karang sebaliknya tubuh Hong Liong bergetar keras

Tampaklah Hoa Thian-hong menggertak gigi dengan wajah yang dingin menyeramkan, kaki

kanannya melangkah maju setindak, telapak tangan kirinya segera diayun kedepan melepaskan

sebuah pukulan kilat.

Serangan tersebut dilancarkan mengarah dada Hong Liong kecepatan bagaikan sambaran petir

dan lagi diluar dugaan, dalam keadaan begini tak sempat lagi bagi Hong Liong untuk

mematahkannya, cepat-cepat ia tangkis keatas dan menyambut kembali serangan tersebut

dengan kekerasan.

“Plook….!” sekali lagi terjadi bentrokan dahsyat.

Sekujur badan Hong Liong gemetar keras, sambil mendengus dingin ia muudur selangkah

kebelakang, diatas permukaan tanah jelas terteralah sebuah bekas telapak kaki yang amat

tajam.

Dalam hal jurus serangan, Hoa Thian-hong memang tak dapat merebut kemenangan maka ia

pertaruhkan tenaga dalamnya untuk menggertak tubuh sang lawan.

Maka begitu serangannya telah dilancarkan, ia melangkah maju kemuka, pergelangan tangannya

kembali diputar dan melancarkan sebuah pukulan dahsyat kedepan.

Hong Liong betul-betul terdesak hebat, tiada jalan lain baginya didalam keadaan seperti itu

kecuali menangkis ancaman tersebut den gan keras lawan keras.

“Ploook! Ploook! Ploook!” secara beruntun Hong Liong harus menerima enam buah pukulan

berantai yang memaksa tubuhnya mundur pula enam tangkah kebelakang.

Bekas telapak kaki yang tertera diatas permukaan batupun kian kebelakang kian nyata dan

dalam sepasang mata Hong Liong melotot besar mukanya merah padam.

Sedangkan Hoa Thian hon bersikap dingin menyeramkan, hawa nafsu membunuh menyelimuti

seluruh wajahnya.

Sungguh gelisah dan cemas perasaan hati Tang Kwik-siu menghadapi kejadian itu, dia masih

ingat ketika terjadi pertarungan dikota Lok yang tempo hari, Hoa Thian-hong bisa mengimbangi

permainan silatnya setelah mendapat petunjuk dari Hoa Hujin, oleh sebab itu diapun ingin

memberi petunjuk pula kepada Hong Liong, agar ia bisa melepaskan diri dari pertarungan sistim

bayangan menempel dengan bayangan dari pemuda she Hoa.

Apa mau dikata ia merasakan pula tenaga dalam yang begitu sempurna dari Hoa Thian-hong,

setiap pukulan-pukulan yang dilancar kan selalu merupakan pukulan yang kuat dan sederhana.

Walaupun tidak banyak tipu muslihat yang terselip dibalik pukulan-pukulan itu, namun jelas

tenaga dalam Hong Liong belum bisa memahami musuhnya, itu berarti kendati pun ia

memberikan petunjuknya, belum tentu Hong liong dapat meloloskan diri dari kepungan lawan.

Bisa dibayangkan betapa gelisahnya iblis Tua dari Seng Sut pay ini, dia ingin mencari jalan lain

tapi selalu gagal, untuk sesaat lamanya ia tak tahu apa yang musti di lakukan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

602

Perlu diketahui, seluruh inti ilmu silat yang dimiliki Hoa Thian-hong hanya terhimpun dalam satu

jurus pukulan serta enam belas ilmu pedang ilmu, silat tersebut tiada tipu muslihat yang jitu,

semuanya datar dan sederhana, justru keampuhannya terletak pada kehebatan srrta

kecepatannya dalam mengerahkan tenaga dalam.

Contohnya adalah pertarungan antars Hoa Thian-hong dengan Kiu-im Kaucu tempo hari, dengan

padang bajanya secara beruntun dia lepaskan berpuluh-puluh buah bacokan keatas toya kepala

setannya Kiu in kaucu padahal ilmu silat perempuan Kiu-im-kauw ini luar biasa lihaynya toh ia tak

mampu melepaskan diri dari kejaran pedang lawan, dari sini dapat ditarik kesimpulan betapa

dahsyat dan sempurnanya kepandaian silat si anak muda itu….

Sementara itu Hoa Thian-hong sendiripun meresa kaget bercampur tercekat ketika ia saksikan

enam buah pukulan berantainya belum berhasil merobohkan Hong Liong, tentu saja diapun tahu

jika Hong Liong sampai dibikin mampus urusan tak akan selesai sampai disitu saja sebaliknya

kalau ia disuruh melepaskan musuhnya dengan begitu ssja ia pun tak sudi.

Akhirnya setelah putar otak dan berpikir beberapa saat lamanya, tiba-tiba ia membentak keras,

“Perduli amat, rasakan pukulanku ini!”

Sebuah pukulan gencar segera dilepaskan kedepan mengarah dada lawannya.

Pukulan itu sangat dahsyat dan menggunakan tenaga sebesar dua belas bagian, lagi pula

kecepatannya mengerikan sekali.

Kaget dan panik Hong Liong menghadapi kejadian tersebut, mukanya yang semula berwarna

merah padam, seketika berubah jadi pucat keabu-abuan.

“Hoa kongcu, kau yang menang dalam pertarungan ini!” tiba-tiba Tang Kwik-siu berseru sambil

tertawa terbahak-bahak.

Sambil berseru ia maju kedepan dan menempelkan telapak tangannya diatas punggung Hong

Liong, kemudiaa menyeret muridnya untuk mundur sejauh beberapa kaki ke belakang.

Darah panas yang bergolak dalam dada Hong Liong bergelora makin keras, bahkan meluap naik

keatas tenggorokan, untungnya Tang Kwik-siu bertindak cepat, sehingga darah yang hampir

dimuntahkan keluar dalam dicegah kembali.

Padahal Hoa Thian-hong sendiripun hanya menyiapkan pukulan itu sebagai suatu gertak sambal

belaka, setelah pihak musuh menyerah kalah, iapun segera membuyarkan seluruh tenaga

pukulannya.

Kendatipun kemenangan berhasil diraih, ia sendiri merasakan suatu perasaan yeng kosong dan

hambar….

Dari sakunya Tang Kwik-siu mengambil keluar sebiji obat berwarna merah, seraya diberikan

ketangan pemuda, itu katanya sambil tertawa, “Telah lama aku dengar orang berkata bahwa

kongcu telah makan teratai racun empedu api serta Leng-ci berusia seribu tahun sehingga

tenaga dalammu makin sempurna dan tiada tandingannya dikolong langit, ternyata memang

begitulah keadaannya!”

Apa yang dimaksudkan dalam kata-katanya itu sudah cukup jelas, yaitu ia memujih kemenangan

yang berhasil diraih Hoa Thian-hong tidak lebih hanya lantaran bantuan serta kasiat dari dua

macam obat mustika itu belaka.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

603

Tiba-tiba Ciu Thian bau menyindir dengan ketus, “Hmm! Katanya saja yang kalah harns mengaku

kalah, yang menang harus mengaku menang, sekalipun kalah tak boleh main sabun. Huuh….!

Kenapa mesti menggunakan kata-kata yang tak berguna itu?”

Tang Kwik-siu segera berpaling, lalu menegur, “Jago lihay dari manakah engkau? Maaf aku tidak

mengetahuinya!”

“Hmm! Aku she Ciu bernama Thian hau.”

Dalam pada itu, Hoa Thian-hong telah menerima obat berwarna merah itu sambil menyela,

“Tang kwik sianseng, kedatanganmu kedataran Tionggoan kali ini bertujuaa menggali harta

ataukah ingin menjumpai orang gagah yang ada didaratan Tionggoan?”

“Bagaimana kalau tujuanku menggali harta? Dan bagaimana pula kalau tujuanku adalah ingin

bertemu dengan orang gagah didaratan Tionggoan….?”

“Bila tujuanmu hendak menggali harta maka kita tak perlu saling cekcok dan bertengkar, kita

harus bersatu padu uutuk bersama-sama menyelesaikan pekerjaan besar ini, siapa yang lebih

banyak menge-luarkan tenaga dia berhak mendapatkan jumlah yang banyak sebaliknya siapa

yang mengeluarkan tenaga sedikit, dia hanya mendapatkan jumlah yang lebih sedikit, keadilan

akan tetap dijaga dan semuanya akan diselesaikan sebijaksana-bijaksananya!”

Meskipun sudah kalah rupanya Hong Liong belum puas, kembali hardiknya dengan suara keras,

“Bagaimana kalau tujuan kami adalah untuk menemui para orang gagah didaratan Tionggoan?”

Hoa Thian-hong tertawa.

“Sebagian besar harta karun yang berada didalam istana Kiu ci kiong ini adalah kitab pusaka ilmu

silat, bila Seng sut pay kalian merasa berilmu tinggi dan merasa yakin kalau dapat menangkan

orang gagah yang ada didaratan Tioaggoan, lantas apa gunanya kalian mendapatkan kitab-kitab

pusaka itu? Bukankah kehadiran kalian hanya akan mengurangi jatah kami orang Tionggoan

dalam pembagian nanti? Kalau memang begini, apa salahnya kalau kami orang Tionggoan

beradu kepandaian dulu dengan kalian, Jika orang Seng sut pay berhasil dikalahkan dan kembali

kesarangnya, kami baru menggali harta karun ini dan menikmati kitab-kitab tersebut bagi

kepentingan kami orang Tionggaan!”

Pek Siau-thian yang mengikuti jalannya pembicaraan tersebut, dalem hati kecilnya lantas

berpikir, “Hebat amat binatang kecil ini! Bukan saja ilmu silatnya peroleh kemajuan yang pesat,

cara berbicaranya pun jauh lebih lihay dari siapapun juga, ia tak boleh dipandang enteng….!”

Tiba-tiba Kiu-im Kaucu tertawa tergelak, kemudian katanya, “Kedua cara itu memang bagus

sekali, kami Kiu-im-kauw bersiap sedia menempuh dengan cara apapun, baik urusan main

senjata, adu kekerasan maupun dalam urusan menggali bumi mencari harta, kami orang-orang

Kiu-im-kauw memutuskan diri untuk berdiri dibelakang Hoa kongcu!”

Berbicara soal adu mulut, Hong Liong lebih-lebih kalah jauh dari orang lain, dan lagi Tang Kwiksiu

juga mengetahui sampai dimanakah kelilayan dari Kiu-im Kaucu, karena kuatir muridnya

mencari gara-gara lagi, cepat katanya sambil tertawa, “Kita semua adalah orang-orang

persilakan, tentu saja setiap orang berharap dapat mengukur ilmu dengan orang lain, sayangnya

Seng sut pay kami pun mempunya sejenis benda mustika yang tersimpan pula dalam istana Kiu

ci kiong, kami perlu menggali dulu istana ini dan mengambil kembali benda tersebut, aku lihat

lebih baik hubungan kerja kita memang jangan sampai diganggu lebih dulu oleh urusan sepele!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

604

Pek Siau-thian juga berpikir, “Nenek setan itu sudah mengutarakan sikapnya berdiri dibelakang

binatang cilik itu, entah apa maksud tujuannya dibalik kesemuanya itu?”

Berpikir sampai disini, segera ujarnya, “Kunci yang paling utama dalam penggalian harta karun

ini adalah bagaimana cara menggalinya sehingga tidak sampai menyentuh nadi bumi yang bisa

mengakibatkan terjadinya tanah longsor, gempa bumi, banjir serta tanah merekah. Untungnya

keturunan dari Seng jiu lu pan ahli bangunan yang mendirikan istana Kiu ci kiong di masa lampau

telah hadir pula disini saat ini!”

Semua orang sama-sama merasa terperanjat, beratus-ratus pasang mata serentak dialihkan ke

arah rombongsn Sin-kie-pang.

Tiangsun Pou maju selangkah kedepan, sesudah memberi hormat kepada semua jago ia

memperkenalkan diri, “Aku yang tak becus adalah Tiangsun Pou masih cetek dan serba terbatas

ilmu bangunan yang aku kuasahi.

Pek Siau-thian segera menyambung, “Tentang asal usul dari Tiangsun lote rasanya tiada sesuatu

yang perlu dibicarakan lagi dan sekarang ia bersedia untuk turut campur dalam pencarian harta

karun ini, entah bagaimana dengan saudara yang lain? Apakah kalian ada pendapat tentang soal

ini?”

Maksud ucapan itu cukup jelas, dia sedang bertanya kepada orang lain dengan mengandalkan

apakah mereka akan mencari harta.

Tang Kwik-siu yang pertama-tama menjawab, “Seng sut pay kami memegang selembar peta

rahasia, tanpa peta rahasia itu sekalipun orang yang pernah memasuki Kiu ci kiong dimasa lalu

belum tentu bisa mendekati tempat penyimpanan harta”

Berbicara sampai disini, dia lantas tertawa terbahak-bahak.

Tiba-tiba Kiu im kancu berkata.

“Empat datuk dari gunung Huang-san pernah menyaksikan sendiri istana Kiu ci kiong, merekapun

pernah ikut dalam usaha pencarian harta karun, dalam pekerjaan ini tak bisa ketinggalan tenaga

mereka berempat, dan kini mereka hadir dipihak Hoa kongcu itu berarti Hoa kongcu berhak pula

untuk ikut serta dalam usaha pencarian harta karun ini”

Tampaknya Pek Siau-thian memang bermaksud untuk menyingkirkan pihak Kiu-im-kauw dari

pekerjaan itu, cepat ia berseru dengan dingin.

“Lalu apa yang diandalkan Kiu-im-kauw?”

“Perkumpulan kami datang kesini hanya untuk membantu usaha Hoa kongcu, waktu penggalian

kami maju, waktu pembagian harta kami mundur, harap para orang gagah tak usah memikirkan

persoalan ini”

Mendengar perkataannya yang begitu manis, Hoa Thian-hong dibuat serba salah, mau menangis

tak bisa mau tertawa pun tak dapat.

Baik Pek Siau-thian maupun Tang Kwik-siu sama-sama mempunyai dugaan kalau antara Kiu-im

Kaucu dengan Hoa Thian-hong telah mengadakan kontak secara rahasia maka dari itu pihak Kiuim-

kauw selalu membantu Hoa Thian-hong dan berdiri dibelakangnya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

605

Ini bisa dibuktikan oleh mereka dari ke munculan Giok Teng Hujin yang selalu berada dibelakang

pemuda itu dan tak pernah memisahkan diri padahal mereka tahu bahwa Giok Teng Hujin adalah

tenaga yang sa ngat berkuasa dalam perkumpulan Kiu-im-kauw, tak mungkin perempuan itu

berada dipihak Hoa Thian-hong bila antara dua kelompok kekuatan itu tidak pernah mengadakan

kontak apa-apa.

Lebih-lebih Tang Kwik-siu yang kurang begitu paham akan seluk beluknya dunia persilatan

didaratan Tionggoan ini lebih percaya lagi dengan ucapan Kiu-im Kaucu tadi

Maka sorot matanya lantas dialihkan ke arah Jin Hian serta Thong-thian-kauwcu, tegurnya,

“Bagaimana dengan sahabat-sahabat dari kelompok ini? Tujuan kalian hanya ingin mera-maikan

suasana ataukah bertujuan untuk turut serta dalam pencarian harta karun?”

“Kami datang kemari untuk adu nasib” sahut Jin Hian dengan suara yang berat dan dalam, “bisa

menggali kami akan menggali, ada harta kami akan mengambil harta benda dalam perut bumi

yang tiada pemiliknya, aku rasa setiap orang berhak untuk mendapatkannya dan siapapun tak

usah memperdulikan tindakan kami”

Sepasang alis mata Tang Kwik-siu kontan berkeryit, ia berpaling ke arah Pek Siau-thian minta

penjelasan.

Dengan suara hambar Pek Siau-thian menerangkan, “Mereka adalah bekas jago-jago lihay dari

perkumpuiau Hong-im-hwie serta Thong-thian-kauw!”

Sementara pembicaraan berlangsung, mereka saling berpandangan dengan penuh arti, dalam

waktu singkat inilah kedua belah pihak telah mengadakan kontak perjanjian secara diam-diam

untuk menyingkirkan rombongan terakhir ini dari percarian harta karun, hanya mereka belum

memastikan bagaimana caranya turun tangan.

Sementara itu Hoa Thian-hong yang berdiri didekat mereka berdua sempat mengikuti jalannya

lirikan dari kedua belah pihak, makin meningkat usianya makin banyak pengetahuan yang

dimilikinya, betapa terperanjatnya dis setelah menyaksikan perilaku dua pemimpin golongsn

besar ini….

Ia tahu Sin Ki Pong telah bersekongkol dengan pihak Seng sut pay didalam masalah percarian

harta karun ini, bila kerja sama ini dibiarkan berlangsung terus niscaya pihaknya yang bakal

terjepit.

Tiba-tiba terdengar Tang Kwik-siu berkata sambil tertawa, “Hoa Kongcu, didalam masalah

pencarian harta karun ini, empat datuk dari gunung Huang-san, Tiangsun sianseng serta peta

rahasia milikku merupakan tiga faktor terpening yang tak bisa dipisahkan antara yang satu

dengan yang lain, karenanya kami ingin bertanya kepadamu, bagaimanakah usul atau saranmu

dalam pekerjaan ini?”

Hoa Thian-hong tidak langsung menjawab, dalam hati kecilnya dia berpikir, “Ditinjau dan situasi

yang terpentang didepan mata saat ini, permulaan dari penggalian harta karun ini pasti akan

diakhiri dengan derah manusia yang mengalir dimana-mana, suatu hasil yang baik su dah pasti

tak mungkin terjadi, bila aku tak mampu mengendalikan tingkah laku beberapa orang gembong

iblis ini dengan kata-kata, bagaimana caranya aku bisa mengatur serta menguasai keadaan?”

Untuk sesaat ia tak tahu apa yang mesti dilakukan, akhirnya ia menjawab juga, “Menurut apa

yang kuketahui, masih banyak sekali jago persilatan yang belum hadir disini dan beberapa hari

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

606

mendatang mereka tentu akan berkumpul semua ketempat ini, aku rasa bila kita bersatu padu

maka persoalan gampang diselesaikan, tapi bila kita tercerai berai niscaya usaha ini akan

mengalami kegagalan, apa salahnya kalau kita undurkan sampai tengah hari besok berkumpul

kembali serta merunding-kan lagi masalah ini….?”

Tang Kwik-siu tertawa.

“Betul….! Betul….! Persoalan yang sangat penting artinya ini memang tak perlu dirundingkan

dalam waktu singkat, bagaimana pendapat saudara Pek?”

“Kalau akuu sih tak ada perkataan lain” jawab Pek Siau-thian hambar, dia lantas memberi hormat

dan mengundurkan diri dari situ.

Hoa Thian-hong pun memberi hormat kepada Tang Kwik-siu lalu ikut berlalu dari situ.

Perasaan hatinya pada saat ini terasa amat berat sekali, ia tak akur dengan Pek Siau-thian,

walaupun dengan Pek Kun-gie dia ada hubungan yang luar biasa namun pada Waktu itu sikap

dara itupun kurang begitu menyenangkan, maka setelah mempertimbangkan keadaannya

beberapa saat, akhirnya ia serahkan obat penawar itu kepada Kho Hong-bwee, dan iapun

kembali pada rombongannya.

Setelah berkumpul dengan kawanan jago kaum lurus, tiba-tiba terdengar Ciu Thian bau berkata

sambil menunjuk ke arah puncak bukit sebelah kiri.

Tempat itu paling tinggi letaknya, lebih baik kita membuat tenda disitu saja, selain letaknya

terpencil, dan lagi kitapun dapat mengawasi gerak-gerik kawanan bajingan itu.

Setelah semua orang setuju, maka berangkatlah kawanan jago itu untuk bertenda di kaki bukit,

sementara orang-orang dari Kiu-im-kauw bertenda dipuncak bukit itu.

Jarak antara kedua belah pihak hanya beberapa puluh tombak meski pun suara pembicaraan

tidak kedengaran tapi gerak-gerik mereka dapat saling terlihat.

Sementara Jin Hian dan Thian Ik-cu beristirahat ditempat yang lebih kebelakang, merekapun

memisahkan diri jadi dua kelompok.

Setelah melakukan perjalanan semalaman suntuk, semua orang merasa amat lelah, setelah

bersantap mereka duduk bersemedi untuk mengatur pernapasan.

Hanya Hoa Thian-hong seorang yang kelihatan tidak tenang, ia merasa banyak urusan yang

memenuhi benaknya semakin dipikir ia merasa semakin kalut, akhirnya dengan wajah yang

murung bercampur kesal ia duduk sambil bertopang dagu.

Cu Im taysu merasa tak tega, ia menghampiri si anak muda itu dan bertanya, “Thian-hong

marilah kita bicarakan persoalaan yang sedangkan kau hadapi, siapa tahu kalau dengan

perundingan tersebut dapat mengu rangi kemurunganmu?”

Hoa Thian-hong segera menggeleng.

“Kekuatan pihak kita berlalu minim dan kecil, sekalipun harta karun dapat tergali, itupun tak

dapat kita milik sebab mereka pasti akan saling merampas dan saling membunuh”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

607

“Kalau ingin main rampas silahkan suruh mereka rampas!” teriak Suma Tiang-cing dengan

gemas, sampai waktunya pilihkan buku-buku yang bagus-bagus dan rampaslah lebih dulu

kemudian lindungi empat datuk untuk mundur dari sini, kami akan menghadang para pengejar

dan menghancurkan kawanan bajingan itu”

Dengan cepat Hoa Thian-hong menggeleng.

“Tujuan kita datang kesini bukanlah untuk merebut benda mustika, kalau kita sampai terlibat

pula dalam soal rampas merampas maka tujuan kita yang sebenarnya akan menjadi kabur

artinya!”

“Bagaimanapun juga kita harus mencari akal untuk membantai lebih dulu kawanan iblis dan

bajingan dan Cui Thian hau mengusulkan dengan suaranya yang dingin, “biln bajingan itu sudah

terastasi urusan selanjutnya gampang untuk diselesaikan”

Hoa Thian-hong tertawa getir dan menggelengkan kepalanya berulang kali.

Kemenangan boanpwe atas diri Hong liong tadi sudah tidak cemerlang, apalagi jumlah anggota

mereka sangat banyak, main kekerasan sudah pasti tak akan berhasil.

Siapa suruh kau tidak menggunakan pedang!” omel Suma Tiang-cing dengan mendongkol, buat

apa kita musti sungkan-sungkan terhadap kawanan manusia yang memalukan itu!”

Kembali Hoa Thian-hong tertawa getir.

Bila aku musti bertempur memakai senjata, mungkin Pek Siau-thian dapat kukalahkan, Kiu-im

Kaucu dapat kutandingi dan bila ditanding-kan deegan Tang Kwik-siu sedikitnya juga selisih tak

seberapa tapi kendatipun kita bisa menangkan mereka toh belum sampai menaklukan mereka?

apalagi menggantungkan kepandaian pada sebilah pedang bukan lah suatu kemampuaan yang

cemerlang.

Lalu bagaimana dengan ilmu yang kau pelajari dari kitab Kiam keng?, tanya Cu Im taysu.

Aku selalu sibuk menyelesaikan pelbagai persoalan, boleh di bilang tak ada waktu luang barang

sedikitpun untuk mempelajarinya, paling banter aku baru sempat membacanya sekali”

“Kalau begitu berlatihlah dengan tekun” seru Ciu Thian-hau dengan suara dalam, “bila berbasil,

jagal dulu Tang Kwik-siu!”

Hoa Thian-hong mengangguk, setelah termenung sebentar akhirnya ia agak tenang dan

memandang puncak dibelakangnya, kemudian baru katanya lagi.

“Boanpwe hendak duduk semedi diatas puncak itu sambil mengingat-ingat jurus pedangku,

harap cianpwe semua menunggu disini saja.”

Semua orang mengangguk dan memandang bayangan punggung si anak muda itu hingga lenyap

dari pandangan mata.

Puncak bukit itu tingginya mencipai enam tujuh kaki, luas dataran dipuncak itu paling cuma lima

depa tapi datar dan merata.

Dudak seorang diri diatas puncak bukit itu, tanpa terasa Hoa Thian-hong teringat kembali akan

ibunya, duduk menghadap ke utara benaknya segera dipenuhi oleh kenangan sewaktu ibunya

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

608

memberi petunjuk kepadanya waktu ia berterangan melawan Tang Kwik-siu dikota Lok yang

tempo hari.

Diam-diam pikirnya dihati, “Sumber dari ilmu silat sebenarnya hanya satu yang kemudian ber

ubah-ubah menurut situasi serta keadaan yang sedang dihadapi, mi salnya saja kitab Kiam keng,

sekalipun yang dimuat adalah ilmu pedang toh tiada tercantum jurus-jurus pedang yang pasti, itu

ber arti ilmu silat dapat dipakai untuk melawan musnh hanya disebabkan orang itu pandai

melihat gelagat serta tahu bagaimana cara menghindari sergapan musuh serta melepaskan

serangan balasan dengan gerakan tercepat dan terganas…. berarti pula teori ini tak akan

berbeda pula kalau diterapkan pada ilmu pukulan maupun ilmu totokan.”

Kemudian ia berpikir lebih jauh, “Teori ilmn silat mengatakan pula, untuk menghindari serangan

musuh, maka alangkah baiknya kalau kita gunakan serangan untuk memunahkan serangan

musuh, kalau toh teori ini sudah kupahani, apa salahnya kalau kuleburkan teori ilmu pedang

yang kudapat kedalam permainan tangan kosong? Bagaimanapun juga, daripada memakai

pedang akan lebih enak bertangan kosong belaka!”

Berpikir sampai disitu ia lantas mengambil keluar kitab Kiam keng san dan sekali lagi membaca

dari awal hingga akhir.

Sementara itu tulisan serta lukisan yang tercantum dalam kitab Kiam keng telah dipahami

olehnya, maka setelah membacanya sekali lagi, ia simpan kitab tersebut dan mulai mengupas

serta membahas setiap teori serta rahasia yang didapatkan dari kitab tadi.

Semakin dipikir ia merasa semakin tertarik dan akhirnya semua perhatian ingatan serta pikiran

terpadu menjadi satu untuk meeesapi makna dari teori-teori tersebut, dan tanpa disadari pula

pemuda itupun melupakan hal-hal lain.

Tengah hari Cu Im taysu diam-diam naik ke atas bukit, ketika menyaksikan keadaan tersebut, ia

tahu bahwa pemuda itu sedang konsentrasi mempelajari ilmunya, maka setelah meninggalkan

rangsum dan air, padri inipun mengundur diri dari sana.

Senja itu, Cu Im taysu berkunjung lagi ke atas puncak bukit, tapi ketika dilihatnya pemuda itu

tetap duduk tanpa bergerak ma lahan ransum serta air yang disediakan tak disentuhnya terpaksa

ia turun lagi dari bukit itu.

Tengeh malam tiba-tiba Kiu-tok Sianci dari wilayah Biau dengan membawa kedua belas orang

muridnya tiba disana, setelah di tanya oleh Cu Im taysu sekalian barulah diketahui bahwa kitab

pusaka Pek tok keng dari perguruan Kiu-tok Sianci telah terjatuh pula didalam istana Kiu ci kiong,

benda tersebut merupakan kitab pusaka dari per-guruannya karena itu mereka pandang tinggi

peristiwa tersebut.

Sejak kitab itu lenyap, ilmu racun yang di miliki perguruannya diwariskan berdasarkan ajaran

mulut kemulut tanpa dasar kitab bimbingan, lagi pula mereka kuatir kalau kitab Pek tok teng tadi

terjatuh ketangan orang lain, maka begitu kabar tentang pencarian harta karun tersiar, buruburu

berangkatlah mereka tinggalkab wilayah Biau menuju kedaratan tionggoan,

Chin Wan-hong adalah murid terakhir dari Kiu tok sian ki sedangkan Hoa Thian-hong dianggap

menantu perguruan mereka yang paling baik, apalagi usia kedua belas orang muridnya hampir

sebaya dengan Hoa Thian-hong dimana hampir setengah tahun lamanya mereka pernah hidup

bersama dikala pemuda itu merawat luka racunnya dilembah Hu-liang-kok, dalam pandangan

mereka Siau long adalah pujaan semua orang.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

609

Oleh karena itu, dikala mereka saksikan pemuda itu cuma duduk tak berkutik diatas puncak,

semua orang lantas ribut hendak menengok keatas puncak.

Kiu-tok Sianci kuatir muridnya membuat ribut, setelah mencegah semua orang untuk ikut,

seorang diri ia menengok keatas bukit, setelah itu dia membakar dupa wangi disebuah biolo dan

memerintahkan muridnya yang paling besar Lau hoa siaancu untuk mengangkutnya keatas bukit

dan diletakkan disamping Hoa Thian-hong.

Dupa wangi itu bukan sembarangan dupa, bila asap yang berbau harum tersiar keluar, maka

mereka yang mencium bau dupa itu akan merasakan pikirannya jadi tenang dan segar kembali.

Sehari telah lewat dengan cepatnnya, tengah hari berikutnya Pek Siau-thian, Tang Kwik-siu, Kiuim

Kaucu beserta Jin Hian serta Thian Ik-cu telah berkumpul dibukit untuk merundingkan soal

penca rian harta karun, waktu itu Hoa Thian-hong masih duduk tak berkutik diatas puncak sambil

mendalami ilmu silatnya.

Dalam keadaan seperti ini, semua orang jadi geiisah, baik Kiu-tok Sianci dan Cu Im taysu

sekalian maupun Giok Teng Hujin dan Pek Kun-gie semua orang merasa cemas, mereka kuatir si

anak muda itu terserang jalan api menuju neraka, karena suasana yang kacau dan hangat,

sekalipun demikian merekapun tak berani menyadarkan pemula itu.

Akhirnya Kiu-tok Sianci dan Ciu Thian-hau mengadakan rapat kilat, mereka menyadari betapa

pentingnya keselamatan Hoa Thian-hong pada saat ini, maka diputuskan untuk mengutus Kiu-tok

Sianci yang mewakili kawanan jago dari kaum lurus untuk hadir dalam perundingan tersebut.

Kiu-tok Sianci maju menghampiri kawanan jago lainya, kepada mereka ia menerangkan, Pada

saat ini Hoa Thian-hong sedang melatih diri ia tak dapat menghadiri perundingan tersebut, muka

aku akan mewakili dirinya didalam perundingan ini.

Setelah berhenti sebentar, lanjutnya kembali, “Orang Biau mempunyai sebuah mustika yang

tersimpan pula di dalam istana Kiu ci kiong, aku rasa kamipun berhak untuk mengambil kembali

benda milik kami itu, Hoa Thian-hong bukan manusia yang ber ambisi uniuk merampas barang

milik orang lain, kalian tak usah menguatirkan dirinya, semua persoalan akan diselesaikan seadiladilnya!”

Tang Kwik-siu tahu bahwa Pek Siau-thian tak sudi berbicara dengan Kiu-im Kaucu, sambil

tertawa ia lantas berkata.

“Bagus sekali kalau memang begitu, lalu entah bagaimanakah pendapat dari Kiu-im Kaucu?”

Kiu-im Kaucu tidak lengsung menjawab, dalam hati pikirnya, “Hmm! aku justru akan menanti

sampai tibanya kesempatan yang baik, akan kutunggu sampai benda-benda mustika itu muncul

lebih dulu sebelum mengambil tindakan selanjunya”

Tentu saja jalan pikiran ini tak diutarakan keluar, sambil tertawa jawabnya.

“Kedatangan kami orang-orang dari Kiu-im-kauw adalah demi membantu usaha Hoa kongcu

untuk mencari harta kalau toh bukan Hoa kongcu yang memimpin usaha pencarian ini, lebih baik

kamipun mengundurkan diri dari pekerjaan besar ini!”

Selesai berkata, dia lantas putar badan dan menyingkir dari tempat tersebut.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

610

Baik Tang Kwik-siu maupun Pek Siau-thian bukan manusia-manusia bodoh, tentu saja

merekapun tahu apa yang sedang dipersiapkan Kiu-im Kaucu, namun sebagai jago yang

berpengalaman dalam dunia persilatan, mereka tak ingin membongkar rahasia tersebut sebelum

tiba waktunya, maka sambil menahan diri, Tang Kwik-siu berpaling ke arah Jin Hian seraya

bertanya, “Bagaimanakah rencana saudara Jin serta Thian Ik totiang?”

Rupanya antara Jin Hian dan Thian Ik-cu telah terjalin perse-kongkolan yang erat, ketika

mendengar pertanyaan itu, Jin Hian segera menjawab, Sudah lama kami dengar orang berkata

bahwa istana Kiu ci kiong didirikan pada wilayah seluas puluhan li yang luar biasa lebarnya, kami

tak sudi tunduk kepada orang lain dan kami berdiri sendiri tanpa mengikuti siapapun, kalau

orang lain menggali pintu depan, kami akan menggali pintu belakang, kalau orang lain masuk

dari kiri maka kami akan masuk lewat pintu kanan, pokoknya aku tak sudi melewati pintu yang

digali orang lain.

Tang Kwik-siu tersenyum setelah mendengar perkataan itu.

“Bagaimana andaikata kalian menggali sehingga menyentuh nadi bumi yang dapat

mengakibatkan gempa bumi, tanah longsor, serta air bah?” tanyanya.

Tiba-tiba Pek Siau-thian menyela, “Saudara Tang kwik, tanah dan hutan tiada pemiliknya, kita

bisa menggali orang lainpun berhak menggali, biarlah mereka bekerja sambil mengadu nasib toh

bukan manusia yang berkuasa melainkan Thian lah yang punya kuasa”

Mula-mula Tang Kwik-siu agak tertegun tetapi setelah menyaksikan hawa nafsu membunuh yang

menyelimuti wajah Pek Siau-thian ia lantas dapat memahami maksud hatinya, sambil tertawa

terbahak sahutnya, “Perkataan dari saudara Pek memang tak salah, agaknya dalam urusan

menggali harta karun ini hanya kita berdua saja yang harus mengeluarkan tenaga!”

Pek Siau-thian tersenyum kepada Kiu-tok Sianci, ia memberi hormat dan katanya, “Didalam

urusan pencarian harta karun ini biarlah aku bekerja sama dengan Kiu-tok Sianci, tapi berhubung

sian ci serta anak muridnya kaum wanita semua maka tak perlu kalian turun tangan sendiri,

silahkan empat datuk dari bukit Huang-san saja yang tampil kedepan untuk memberikan

petunjuknya!”

“Empat datuk dari bukit Huang-san telah menyatakan kesanggupannya untuk membantu usaha

pencarian ini, bahkan telah menyatakan pula bahwa mereka tidak berani mengambil satu

bendapun yang berada didalam istana Kiu ci kiong!”

“Harta karun yang berada dalam istana Kiu ci kiong tak terhingga banyaknya, sekalipun kami

kemaruk juga tak mungkin bisa memiliki semua kalau toh empat datuk itu tak mau mengambil

benda apapun biar kita beri pahala lain kepada mereka sebagai tanda mata.”

Begitulah keputusanpun segera diambil dan sejak itu Tiangsun Pou serta empat datuk dari bukit

Huang-san berkumpul jadi satu untuk mempelajari situasi letak dari istana Kiu ci kiong dimasa

lalu, kemudian meneliti pula keadaan medan yang terbentang didepan mata saat ini.

Dalam pada itu, Tang Kwik-siu telah mempelajari pula situasi dari air terjun di sebelah atas,

dengan membawa anak muridnya serta sebagaian anggota Sin-kie-pang mereka berangkat

keatas untuk membendung selokan dan mengalihkan aliran air terjun ketempat lain.

Selain itu diapun mengutus orang untuk turun gunung dan membeli alat perlengkapan serta

bahan rangsum.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

611

Hampir semua pekerja yang berkumpul diatas bukit Kiu ci san adalah jago-jago persilatan

berilmu tinggi, oleh karenanya tenaga mereka sepuluh kali lipat lebih dahsyat dari orang biasa,

selain itu gerak-gerik merekapun jauh lebih gesit.

Dengan kelebihan itulah hasil kerja mereka sangat mengejutkan sekali, ketika malam menjelang

tiba, aliran air terjun tersebut sudah terbendung, dengan begitu telaga dengan airnya mulai surut

dan akhirnya mengering.

Empat datuk dari bukit Huang-san dan Tiangsun Pou bekerja lembur, mereka berkumpnl diam

sebuah rumah kayu sambil mempelajari terus situasi istana.

Hoa Thian-hong sendiri masih tetap melatih ilmunya diatas bukit, beberapa kali Pek Kun-gie dan

Giok Teng Hujin hendak naik ke bukit untuk menengok si anak muda itu, tapi oleh karena

mengetahui kelihayan dari Kiu-tok Sianci, mereka tak berani mendekat.

Tengah malam, Chin Pek-cuan dengan membawa putranya Chin Giok Linng telah tiba pula dari

kota Keng ciu, menjelang fajar secara beruntun tiba pula berpuluh-puluh orang penggali harta

dari pelbagai pelosok dunia persilatan, kebanyekan mereka adalah jago-jago yang ada

hubungannya dengan harta karun diistana Kiu ci kiong.

Tapi setelah tiba disana, dan mereka saksikan hampir semua jago kenamaan daru dunia

persilatan baik dari golongan putih maupun dari golongan hitam berkumpul semua disitu,

malahan ketua Siu ki pang dan kaucu dari Mo-kauw berada pula disana, terpaksa mereka hanya

berdiri termangu dengan mata mendelong, siapapun tak berani turun tangan secara gegabah.

Sampai menjelang tengah hari, telah seratus orang lebih jago jago tanpa kelompok yang tiba

dibukit itu, diantara mereka terdapat pula keturunan dari pukulan sakti Huan Teng dan pedang

satu huruf Kongsun Tong, tentu saja diantara mereka terdapat pula jago-jago yang datang untuk

mencari keuntungan diair keruh, malahan Tio Ceng tang yang berasal satu desa dengan Hoa

Thian-hong membatalkan niat nya untuk menerima penyerahan kembali perusahaan piau kioknya

dikota Cho ciu dan buru-buru berkunjung pula ke bukit itu

Keika senja menjelang tiba, secara kasar Tiangsun Pou telah berhasil membuat sebuah peta

medan yang meliputi lingkaran sekitar tempat itu.

Para jago dari Seng sut pay dan Sin-kie-pang mulai bekerja mengangkuti batu dan membereskan

keadaan medan dari semua halangan, meskipun mereka terdiri dari kawanan jago lihay, toh

keadaanya tetap mengenaskan sekali.

Sebelum permukaan tanah disebelah kiri sempat dibersihkan, Jin Hian dan Thian Ik-cu telah

memerintahkan anak buahnya untuk mulai menggali tanah disebehah lain.

Jarak antara kedua belah pihak sangat luas, tempat yang rombongan dari Jin Hian dan Thian Ikcu

gali adalah sebidang tanah dalam radius lima puluh kaki dari tempat yang dikerjakand Pek

Siau-thian, selain itu tanah yang mereka galipun diluar daerah yang merupakan bekas selokan

yang dibendung pihak Sin-kie-pang.

Karenanya sepintas lalu orang akan mengatakan bahwa pekerjaan mereka bebas, sedikitpun

tadik menarik keuntungan dari pihak lain, malahan boleh dibilang bagaikan air sungai tak

melanggar air sumur.

Ketika malam menjelang tiba, mereka berhati-hati menggali tanah selebar dua kaki dengan

dalam lima depa.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

612

Berdiri di tempat kejauhan, Pek Siau-thian mengamati pekerjaan yang dilakukan orang-orang itu,

kemudian dia berpaling ke arah Tang Kwik-siu dan tanyanya sambil tertawa, “Saudara Tang

kwik, coba lihatlah liang besar itu, apakah terasa terlalu kecil kalau dibuat untuk mengubur

kurang lebih tujuh puluh orang?”

Dengan wajah serius Tang kwik Sio mengamati sekejap tempat itu, kemudian sahutnya, “Aku

rasa rada terlalu kecil, kalau mereka mereka dibiarkan menggali satu hari lagi, tentunya sudah

cukup!”

“Kalau memang begitu, biarlah mereka menggali sehari lagi!” kata Pek Siau-thian kemudian

sambil mengangguk.

Selama dua orang tokoh silat itu melakukan perundingan, Jin Hian maupun Thian Ik-cu sama

sekali tak merasa kalau ada orang yang sedang mengincar nyawa mereka apalagi para jago yang

datang tanpa kelompok semakin tak tahu akan kejadian ini, malahan mereka telah bersatu untuk

merundingkan cara lain yang dirasakan dapat pula mendatangkan hasil yang memuaskan.

***

SAMPAI keesokan harinya, ketika rombongan dari Pek Siau-thian mulai menggali tanah, para

jago yang tidak berkelompok juga mulai bekerja sama dan melakukan penggalian kurang lebih

empat lima puluh kaki jauhnya dari liang kecil yeng dibuat rombongan Jin Hian.

Terhadap perbuatan orang-orang itu, baik Pek Siau-thian maupun Tang Kwik-siu pura-pura tidak

melihat, merekapun tidak melarang o rang-orang itu untuk bekerja.

Suatu hari, diatas bukit tiba-tiba bermunculan tenda dan rumah gubuk yang dibuat berjualan

oleh rakyat disekitar bukit itu, ada yang menjual teh, menjual arak, menjual barang kebutuhan

sehari-hari, menjual penggali tanah malahan ada seorang nyonya setengah tua dengan

membawa seorang dara berusia lima enam belas tahanan menjual nyanyi di sana, suasana jadi

saut ramai sekali.

Malam ini adalah malam yang keempat, Hoa Thian-hong belum juga turun dari puncak bukit,

meskipun kebanyakan orang tahu bahwa empat lima hari tidak tidur bukan suatu pekerjaan yang

luat biasa bagi seseorang yang telah memiliki tenaga dalam amat sempurna, namun mereka

kuatir apabila pemuda itu menggunakan tenaga yang berlebihan dalam pikiran maupun

latihannya sehingga mengalami jalan api menuju nereka

Maka keesokan harinya pagi-pagi sekali, Kiu-tok Sianci serta Ciu Thian-hau beberapa orang

secara bergilir naik kebukit dan duduk disamping Hoa Thian-hong sembari berjaga-jaga atas

segala kemung-kinan yang tidak diinginkan.

Malam itu sudah tanggal dua puluh, rembulan yang sudah agak lonjong mulai mencorong

ditengah awang, ketika kentongan ke empat hampir tiba, mendadak Pek Siau-thian serta anak

buahnya meninggalkan tempat tidur dan serentak bermunculan dari rumah rumah kayu.

Malam itu Pek Kun-gie tak dapat tidur, ia sedang berdiri dibalik jendela sambil memandang Hoa

Thian-hong yang berada diatas puncak dengan termangu-mangu, maka menyaksikan kejadian

tersebut cepat ia memburu keluar rumah dari sambil menarik ujung baju Pek Siau-thian teriaknya

dengan kaget, “Ayah!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

613

Kho Hong-bwee pun sudah berkelebat keluar dari rumah, ia langsung menegur

“Sau hat apa yang hendak kau lakukan?”

Pek Siau-thian rada menaruh rasa was-was dan jeri terhadap istrinya ini, mendengar teguran

tersebut sambil tersenyum ia lantas menjawab, “Jin loji serta Ik cu masih mendendam kepada

kita lantaran kekalahan yang dialaminya ketika ada dilembah Cu-bu-kok, sekarang mereka

berencana untuk menimbulkan tanah longsor dan hendak membasmi kita semua dari muka bumi,

oleh karena itu sebelum mereka bertindak kita musti berusaha mendahului dan mencegah

perbuatannya itu.

Sesudah berhenti sebentar ia melanjutkan .

“Kau toh mengetahui sendiri bahwa mereka adalah manusia-manusia yang paling kejam dan

bengis dikolong langit dewasa ini, perbuatan jahat yang dilakukan selama ini jaun lebih banyak

daripadaku, aku kuatir menambah keresahan serta kemurungan hatimu, maka keputusan untuk

bertindak sendiri tanpa berunding lebih dahulu dengan dirimu”

Setelah mengetahui bahwa kejadian itu sama sekali tak ada hubungannya dengan Hoa Thianhong,

legalah perasaan hati Pek Kun-gie, cepat ia melepaskan cekalannya pada ujung baju

ayahnya.

Sementara Ko Hong bwe sendiri dengan dahi berkerut segera menegur, “Sebagai umat manusia

sayangilah sesamanya dengan penuh cinta kasih, apa gunanya melakukan dosa dengan

membunuh orang? Bagai-manapun juga engkau harus memikirkan pula bagi keturunanmu,

janganlah oleh karena perbuatanmu, anakmu yang harus merasakan hukum karmanya!

Pek Siau-thian tersenyum.

“Aku bersusah payah memeras keringat dan tenaga berusaha untuk menemukan harta karun itu,

kalau bukan disebabkan karena kau dan ke dua anakku, memangnya aku suka mencari peti mati

buat diri sendiri!”

Ia menuding kedepan dan melanjutkan, “Coba lihat! orang-orang dari pihak Seng sut pay telah

bergerak, hal ini menunjukkan bahwa persoalan ini menyangkut keselamatan jiwa orang banyak,

jadi bukan aku seorang yang berpikiran sempit”

Kho Hong-bwee berpaling kesamping, benar juga Tang Kwik-siu dengan membawa anak

muridnya telah bermunculan dari rumah-rumah kayu mereka rupanya mereka sedang

menantikan gerak-gerik dari pihak sini.

Tak tahan lagi perempuan itu menghela napas panjang katanya dengan hambar, “Bila aku

berusaha keras untuk menghalangi perbuatanmu itu niscaya orang lain akan menuduh engkau

takut bini dan tak berani berkutik terhadap istri sendiri, baiklah, lakukanlah perbuatan ini

menurut perasaan hatimu, hanya ingatlah selalu bila engkau terlalu banyak membantai orang

maka sama artinya engkau telah melukai perasaan hatiku!”

Tertegun Pek Siau-thian sesudah mendengar perkataan ini, selang sesaat dia baru menjawab.

“Jikalau mereka tahu diri dan segera mengundurkan diri dari pertikaian ini tidak mungkin

melakukan pembantaian secara besar- besaran!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

614

Sehabis berkata ia lantas menjura ke arah Tang Kwik-siu dan memberi tanda agar ia yang turun

tangan lebih dulu.

Melihat kode rahasia tersebut, Tang Kwik-siu balas memberi hormat dari kejauhan pula.

Pada hakekatnya dua orang sakti ini telah mengadakan kontak rahasia satu sama lainnya, maka

selesai memberi hormat, masing-masing pihak lantas memimpin anak buahnya dan serentak

menerjang ke arah tenda yang dihuni romboogan Jin Hian.

Posisi antara kedua belah pihak tidak terlampau jauh, selang sesaat kemudian jago-jago lihay

dari pihak Teng sut pay dan Sin-kie-pang yang berjumlah tujuh delapan puluh orang bagaikan

gulungan air bah telah menerjang ke depan.

Terlihatlah Jin Hian dengan sebilah golok emas yang memancarkan sinar kebiru-biruan karena

mengandung racun, melompat keluar dari tendanya dengan garang kemudian menghardik keraskeras.

“Pek Loji, apa yang hendak kau lakukan?”

Rupanya pihak Hong-im-hwiee serta Thong-thian-kauw menyadari bahwa kekuatan mereka

paling lemah diantara jago-jago yang hadir dibukit Kiu ci san dewasa itu, terutama sekali untuk

berjaga-jaga atas serangan maut dari Pek Siau-thian, maka tiap malam peronda selalu diperketat

dan sekalipun tak berani bertindak secara gegabah.

Kerena itu, ketika Pek Siau-thian munculkan diri dari rumah kayunya, pihak Hong im bwe telah

mengetahui akan gerakan tersebut.

Begitu Jin Hian menegur secara langsung, serentak pasukannya dengan senjata terhumus telah

melesat keluar dari tenda-tenda mereka dan siap menghadapi segala kemungkinan.

Pek Siau-thian memang seorang jago yang berhati keji, tapi diapun tak berani melanggar

permintaan istrinya, dalam susana kalut, ia lantas berseru keras, Siapa yang tak ingin mampus,

cepat enyah dari sini!”

Berbareag dengan selesainya ucapan tersebut, sebuah serangan gencar telah dilepaskan kedada

Jin Hian.

Tang Kwik-siu jauh lebih keji daripada orang-orang lain, kalau dihari-hari biasa setiap pembukaan

katanya selalu diiringi senyuman, maka saat ini tanpa mengucapkan sepatah katapun ia

menerjang kedepan dan langsung menyergap tubuh Thian Ik-cu.

Sejak sepasang kakinya kutung, Thian Ik-cu telah melatih ilmunya dengan sepasang toya baja,

tatkala ia saksikan tibanya serangan yang amat dahsyat dari Tang Kwik-siu ,terpaksa senjatanya

diputar untuk menyambut datangnya ancaman tersebut.

Dalam waktu singkat berkobarlah suatu pertempuran yang amat seru ditengah gelanggang.

Hong-im-hwie serta Thong-thian-kauw memang sudah rontok namanya dari muka bumi, akan

tetapi banyak anggotnya yang masih hidup, dan mereka bukanlah manusia-manusia yeng mudah

dihancurkan dengan begitu saja, terutama sekali Malaikat kedua Sim Kian anggota tubuhnya

tetap utuh dan ilmu silatnya masih tetap hebat, apalagi rasa dendam telah berkecamuk dalam

benaknya, membuat ia jadi paling ganas dan paling buas dalam pertarungan itu, setiap musuh

yang dijumpainya segera diterjang dan diterkam dengan jurus serangan terkeji.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

615

Suasana jadi gaduh dan ramai sekali, suara benturan senjata dan bentakan-bentakan kegusaran

bergema memenuhi seluruh angkasa, kutungan badan, lelehan darah menggenangi seluruh

permukaan tanah, membuat pemandangan ditempat itu tampak mengerikan sekali.

Sengit dan mengerikan sesasana pertarungan itu, semua jago dibuat terkejut dan sadar dari

tidurnya, selain itu Hoa Thian-hong yang sudah empat hari empat malam terlelap dalam

latihannya, ikut sadar pula dari konsentrasinya.

Selama Hoa Thian-hong mendalami ilmu silatnya, suara lain sama sekali tidak mempengaruhi

dirinya, akan tetapi suara pertarungan dan jerit kesakitan seketika menyadarkan kembali anak

muda itu dari semedinya.

Jilid 31

KIU-TOK SIANCI kebetulan bertugas sebagai pelindungnya, ketika dia saksikan sekujur badan

pemuda itu gemetar keras dan sepasang matanya melotot besar, cepat serunya dengan suara

dalam, “Sian long, aku berada disini!”

Cepat Hoa Thian-hong berpaling, setelah mengetahui orang itu adalah Kiu-tok Sianci, wajahnya

berseri karena gembira, seakan-akan ia telah berjumpa dengan ibu sendiri.

Sian long, sadarkan pikiranmu dan minumlah sedikit air bersih!” kembali Kiu-tok Sianci berbisik.

Hoa Thian-hong berpaling, melihat disampingnya ada air teko, ia mengambilnya dan meneguk

habis isi teko tersebut, lalu bertanya, “Sian nio, siapakah yang sedang terlibat dalam pertarungan

sengit itu?”

“Pek Siau-thian serta Tang Kwik-siu dengan membawa jago-jago silatnya sedang mengerubuti

Jin Hian serta Thian Ik-cu!”

Sepasang alis mata Hoa Thian-hong kontan berkerut kencang.

“Lantaran harta karun mereka saling membunuh, perbuatan semacam ini tak dapat dibiarkan

berlangsung terus. Sang ji harus mencampuri urusan ini.”

“Biarkanlah mereka saling bunuh membunuh!” kata Kiu-tok Sianci dengan wajah tercengang,

“toh kejadian ini lebih banyak menguntungkan bagi kita dari pada ruginya? Buat apa kau musti

mencampuri urusan ini?”

Jin Hian serta Thian Ik-cu sudah terdesak sekali, kekuatan mereka bukan terhitung sebagai suatu

ancaman yang dapat mencelakai umat manusia lagi, kita wajib memberi kesempatan hidup

mereka, agar mereka dapat bertobat dari perbuatan jahatnya serta banyak melakukan kebajikan!

ujar Hoa Thian-hong dengan cemas, sebaliknya Pek Siau-thian serta Tang Kwik-siu adalah dua

kekuatan besar yang masih merupakan ancaman besar bagi umat Bu lim, kita tak boleh

membiarkan mereka bertindak sewenang-wenang….”

Setelah berhenti sebentar, tambahnya, “Apalagi Seng ji telah menyanggupi permintaan dari

empat datuk bukit Huang-san untuk memimpin usaha penggalian harta karun ini secara adil dan

bijaksana, oleh sebab itu bagaimanapun juga Pek Siau-thian dan Tang Kwik-siu musti

ditundukkan lebih dahulu!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

616

“Anakku yang baik,” sahut Kiu-tok Sianci, “bagiku, orang baik musti disayang dan orang jahat

musti dibunuh, aku sama selali tidak mengerti dengan kata-kata yang telah kau ucapkan itu”

Rupanya ketekadan Hoa Thian-hong sudah bulat, ia berkata lagi dengan lembut, “Siau nio, Seng

ji sudah ambil keputusan untuk mencampuri urusan ini!”

“Aaaai….! Dengan kekuatan seorang, berapa orang musuh yang bisa kau hadapi? Dan

bagaimana pula caranya engkau mencampuri urusan mereka?”

Dengan gagah Hoa Thian-hong menjawab.

“Masalah ini sudah berkembang jadi amat kritis, bagaimanapun juga aku akan berusaha dengan

sekuat tenaga untuk mengatasi persoalan ini, sambil berjalan kita lihat saja perkembangannya

nanti!”

Berbicara sampai disitu, dia lantas bangkit berdiri dan berpekik panjang.

“Anak manis, engkau sudah empat hari empat malam tidak makan, bersantaplah lebih dulu” kata

Kiu-tok Sianci.

Tiba-tiba ia temukan Hoa Thian-hong telah meluncur kebawah bukit, meskipun suara pekikan

serasa masih berkumandang dari sisi telinganya, namun bayangan tubuh pemuda itu sudah

lenyap tak berbekas.

Menyaksikan keadaan tersebut, perempuan Biau ini jadi tertegun lalu buru-buru memburu

kebawah.

Sementara itu pertempuran berdarah masih berlangsung dengan serunya, dikala pekikan nyaring

yang membelah angkasa tiba-tiba berkumandang memenuhi angkasa, semua orang merasa

terperanjat, dalam gugupnya beberapa orang diantara mereka segera kenali suara itu sebagai

pekikan dari Hoa Thian-hong.

“Semuanya berhenti!” terdengar Hoa Thian membentak dengan penuh kegusaran.

Bersamaan dengan seruan tersebut, sesosok bayangan manusia dengan kecepatan yang luar

biasa meluncur kebawah dan langsung menerkam tubuh Tang Kwik-siu.

Pada Waktu itu Tang Kwik-siu sedang bertempur melawan malaikat kedua Sim kiam beberapa

gebrakan kemudian ia menemukan bahwa ilmu silat yang dimiliki musuhnya ini ternyata lebih

lihay daripada kepandaian silat dari Jin Hian maupun Thian Ik-cu, setelah mengetahui bahwa ia

tak mungkin bisa rebut kemenangan dengan tangan kosong, dia memutuskan untuk melepaskan

ikat pinggang emas yang terikat dipinggangnya itu untuk bertempur melawan Sim Kian….

Apa mau dikata baru saja ia bersiap sedia merebut kemenangan tiba-tiba Hoa Thian-hong

menerkam dari tengah udara.

Kejadian ini segera menggusarkan hatinya, ikat pinggang naga emasnya segera digerakkan

keudara kemudian secepat sambaran kilat mengejar tubuh lawan.

Hoa Thian-hong pada dasarnya mempunyai niat untuk mendemonstrasikan kelihaiannya agar

semua orang tunduk dibawah perintahnya, bilamana ia memimpin gerakan pencarian harta nanti,

maka dipilihnya Tang kwik Sin sebagai korban percobaan karena bagaimanapun juga ia tak enak

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

617

hati untuk menyerang Pek Siau-thian menginggat Kho Hong-bwee serta putrinya mempunyai

hubungan yang cukup erat dengan dirinya.

Begitu menukik kebawah ia menyergap musuhnya dengan gencar, ketika ia rasakan datangnya

ancaman ikat pinggang naga emas yang mengarah dadanya, cepat tangan kanan bergetar keras

kemudian dengan suatu gerakan yang luar biasa cepatnya ia tangkap kepala naga pada ujung

sabuk tersebut erat-erat.

Betapa terperanjatnya Tang Kwik-siu menghadapi ancaman tersebut seakan-akan baru sadar dari

impian ia lantas membentak keras, “Hoa Thian-hong!”

Ia sendiripun tak tahu apa arti dari bentakan itu, sementara telapak tangan kirinya dengan suatu

gerakan yang sangat cepat melepaskan sebuah totokan kemuka.

Totokan jari yang luar biasa dahsyatnya itu menimbulkan suara getaran yang memekikkan

telinga kawanan jago yang kebetulan berada ditempat itu sama-sama merasakan telinganya

menjadi sakit.

Hoa Thian-hong sama sekali tidak terpengaruh oleh desingan tajam yang memekikan telinga itu,

malahan semakin bertempur ia tampak semakin bersemangat, tangan kanannya dibolak-balikkan

beberapa kali melingkarkan ikat pinggang naga emas itu di atas telapak tangannya, kemudian

dengan tangan kirinya ia lancarkan sebuah cengkeraman keatas pergelangan tangan Tang Kwiksiu.

Berbicara soal kelincahan menggunakan tangan kiri, dikolong langit dewasa ini boleh dibilang tak

seorangpun dapat menandingi kegesitan Hoa Thian-hong.

Baru saja serangan yang dilepaskan Tang Kwik-siu mencapai separuh jalan, serangan yang

dilepaskan Hoa Thian-hong tahu-tahu sudah mencapai sasaran lebih dahulu, ketika jari

tangannya menyentuh pergelangan tangan Tang Kwik-siu, bagaikan dipagut ular berbisa cepat

gembong iblis itu menarik kembali tangannya kebelakang.

Pada saat ini, dalam benak Hoa Thian-hong hanya mempunyai satu ingatan, yakni ia lebih suka

mengorbankan selembar jiwanya daripada melepaskan cekatannya pada ikat pinggang berkepala

naga emas itu….Ketika telapak tangan kirinya gagal mencengkeram pergelangan tangan Tang

Kwik-siu, ia lantas membentak kerat dan menyusulkan dengan sebuah pukulan lagi.

Apabila dihari-hari biasa, niscaya Hoa Thian-hong akan menyerang dengan jurus Kun-siu-ci-tauw,

akan tetapi saat ini yang terpikir diotaknya adalah soal kecepatan maka gerakan permulaan dari

Kun-siu-ci-tauw yang seharusnya melakukan gerakan perputaran setengah lingkaran lebih dahulu

didepan dada, telah dibuang dengan begitu saja, secara langsung dia dorong telapak tangannya

mengancam dada musuh.

Keringat telah membasahi sekujur badan Tang Kwik-siu, dalam keadaan terancam bahaya, ia tak

sempat berpikir panjang lagi, dalam gugupnya buru-buru ia angkat telapak tangannya dan

langsung menebas pergelangan tangan si anak muda itu.

Hoa Thian-hong mendengus dingin, sekuat tenaga ia tarik ikat pinggang naga emas itu

sementara telapak tangan kirinya yang tajam bagaikan golok menebas kebawah.

Posisi Tang Kwik-siu pada saat ini ibaratnya orang yang tertinggal disebuah batu karang ditengah

samudra, mau menceburkan diri takut, mau tetap berdiam diri juga tak mungkin, keadaannya

serba salah.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

618

Telapak tangan kesannya sudah terasa panas dan kaku, nyaris ikat pinggang naga emasnya

terampas lawan.

Ikat pinggang naga emas adalah benda mustika dari perguruan Seng sut pay, benda itu

merupakan benda kehormatan dan keagungan dari seorang ciangbunjin, jangankan benda itu

tahan dibacok oleh senjata mustika, cukup memandang dari ukirannya yang hiduppun sudah

cukup membuat hati orang terkesima.

Pek Kun-gie sendiri pernah mengagumi keindahan sabuk naga emas tersebut dan ingin sekali

memperolehnya, tentu saja sebagai ketua Seng sut pay, Tang Kwik-siu lebih rela hancur lebur

tubuhnya daripada benda mustika keluarganya kena dirampas orang .

“Breeett!” karena mati-matian mempertahankan sabuk naga emasnya itu ujung baju targan kiri

Tang Kwik-siu kena tertebas oleh bacokan telapak tangan Hoa Thian-hong sehingga kutung

separuh, bekas kutungannya rata sekali bagaikan disayat dengan pisau.

Sementara itu kawanan jago yang berada ditempat kejahuan telah meluruk datang semua,

pertarungan massal telah terhenti dan sebagian besar jago persilatan telah mengerubungi

sekeliling gelanggang.

Pek Siau-thian yang berdiri disamping arena melotot besar dengan muka tajam membesi,

kesengsaraan yang diderita Tang Kwikk Siu dapat dirasakan pula oleh dia sendiri, sementara

kawanan jago lainpun rata- rata dibikin terkejut dan tercengang oleh kejadian yang sama sekali

berada diluar dugaan ini, mereka cuma bisa berdiri dengan wajah kebingungan dan tak habis

mengerti.

Sampai detik itu, baik Hoa Thian-hong maupun Tang Kwik-siu masih saling mencengkeram ikat

pinggang naga emas itu dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya dipergunakan untuk

melangsungkan pertarungan.

Bagi Hoa Thian-hong, pertarungan ini sama artinya dengan menggunakan kelebihan yang dimiliki

untuk menyerang kelemahan dari lawan, posisinya tentu saja jauh lebih menguntungkan dirinya,

karena posisinya yang baik maka sejurus demi sejurus ia meneter terus musuhnya habis-habisan,

jurus pukulan yang dipakaipun makin lama semakin dahsyat dan mematikan.

Sekuat tenaga Tang Kwik-siu melakukan perlawanan, makin bertempur hatinya semakin bergidik,

makin lama ia merasa dirinya makin terjerumus kedalam lumpur yang tak terkirakan dalamnya

dan kini ia betul-betul sudah terperosok kedalamnya.

Hong Liong jadi cemas bercampur kuatir, ia takut nama baik gurunya akan musnah dengan

begitu saja ditangan lawan, tak kuasa lagi dia meraung keras, sambil putar sepasang telapak

tangannya sekuat tenaga orang itu melepaskan beberapa puluh buah pukulan dahsyat.

Perubahan ini terjadi sangat mendadak, siapapun tak sempat untuk menghalanginya,

terdengarlah serentetan bentakan nyaring bagaikan guntur membelah bumi menggema di

angkasa.

Waktu itu tangan Hoa Thian-hong masih mencengkeram sabuk naga, sedangkan tangan kirinya

melakukan serangan maut, bila diwaktu lampau si anak muda itu pasti akan kebingungan

setengah mati.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

619

Untungnya Hoa Thian-hong yang sekarang adalah Hoa Thian-hong berilmu tirggi sekilas

pandangan ia lantas temukan titik kelemahan Hong Liong pada lambung serta dadanya yang

terbuka.

Ia tak menyia-nyiakan kesempatan itu, sementara telapak tangannya masih menahan serangan

musuh, tiba-tiba tubuhnya miring kesamping dan kaki kanannya melepaskan sebuah tendangan

kilat kedepan!

“Enyah kau dari sini!” bentaknya.

Hong Liong menjerit kesakitan sambil memegang lambungnya ia melompat mundur sejauh

beberapa kaki kebelakang, ketika terjatuh ketanah ia masih mengerang karena kesakitan.

Para penonton buru-buru menyingkir ke belakang oleh karena semua orang berada dalam

keadaan kaget maka meskipun keadaan Hong Liong mengenaskan sekali, tak seorangpun yang

mampu bersuara.

Kiu-tok Sianci sendiripun merasa amat terperanjat, serunya kemudian dengan lantang, “Barang

siapa berani menyergap lagi secara licik, jangan salahkan kalau kami akan suruh kamu semua

rasakan lihaynya racun cuka Biau kami!”

Semua orang membungkam dalam seribu bahasa, sekarang setiap orang sudah mengetahui akan

kelihayan Hoa Thian-hong, jangan toh orang lain anak murid Seng sut pay sendiripun tak ada

yang berani maju kemuka untuk membantu gurunya.

Tapi justru karena terjadinya peristiwa itu, maka pertarungan antara Thian-hong melawan Tang

Kwik-siu juga berubah jadi seimbang, ini disebabkan oleh karena Tang Kwik-siu yang merupakan

cikal bakal suatu perguruan besar berhasil memanfaatkan peluang yang sangat baik.

Ketika Hong Liong melancarkan sergapan tadi, Hoa Thian-hong terpaksa harus memecahkan

perhatiannya untuk menghadapi ancaman itu, dengan sendirinya gerakan tangannya jadi lebih

lambat.

Sekalipun kelambatan tersebut hanya kecil sekali, tapi bagi pandangan mata jago lihay macam

Tang Kwik-siu yang telah memiliki tenaga dalam sebesar enam puluh tahun hasil latihan

merupakan peluang yang sangat besar.

Detik itulah tangan kanannya juga berputar dan melipatkan sabuk naga emasnya hingga melilit

pada telapak tangannya dalam keadaan seperti ini kecuali isi perutnya terluka boleh dibilang ia

tak usah kuntit kalau senjatanya sampai terlepas lagi dari genggamannya.

Selain itu menggunakan peluang yang sangat baik itu, tangan kirinya telah melancarkan

serangan mematikan serta berusaha untuk memperbaiki posisinya yang terdesak, maka setelah

bersusah payah berhasil pula ia mengimbangi permainan lawannya.

Dalam sekejap mata, telapak tangan kiri masing-masing pihak telah melepaskan empat puluh

buah pukulan berantai sedangkan sabuk naga yang berada ditangan kanannya saling dibetot dan

ditarik, untungnya sabuk itu adalah sebuah benda mustika yang luar biasa, berganti barang lain

niscaya sejak ta di benda itu sudah putus jadi dua bagian oleh betotan tenaga sakti kedua orang

itu.

Pertarungan sengit ini benar-benar merupakan suatu pertarungan seru yang mendebarkan hati,

baik dalam menghimpun tenaga, melakukan serangan, menggunakan tipu muslihat, kesemuanya

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

620

mempengaruhi kesuksessn dari serangan tersebut, kebanyakan penonton yang mengikuti

jalannya pertarungan itu jadi tertegun dan bergidik rasanya.

Tiba-tiba terdengar seorang nyonya tua membentak dengan suara lantang, “Minggir!”

Mendengar bentakan itu, Thian Ik-cu segera berpaling, ia saksikan ada tiga orang pria dan dua

orang wanita munculkan diri dari arah belakang, perempuan tua itu adalah Tio Sam-koh,

sedangkan dua orang kakek tua itu adalah Hoa In dan Harimau pelarian liong Liau, Lau Cu cing,

kakek ketiga tak dikenal olehnya, sementara nyonya muda yang bergaun hitam dengan wajah

yang agung tak lain adalah Chin Wan-hong, nyonya muda dari perkampungan Liok Soat

Sanceng.

Pepatah kuno mengatakan: Posisi seorang istri terpengaruh oleh kedudukan sang suami. Nama

besar Hoa Thian-hong pada waktu itu kian hari kian membumbung tinggi, hal ini orang lain

memandang tinggi pula terhadap istrinya, maka sewaktu Chin Wan-hong munculkan diri, Thian

Ik-cu beserta anak buahnya tanpa sadar bersama-sama menyingkir kesamping jalan

Dengan langkah yang lemah gemulai, Chin Wan-hong berjalan masuk kedalam ruangan, ia

menyapu sekejap sekeliling gelanggang pertarungan, kemudian maju menghampiri gurunya.

“Tak usah banyak adat!” seru Kiu-tok Sianci dengan suara dalam.

Sementara mulutnya berbicara, sepasang mata yang tajam tak pernah beralih dari gelanggang

pertarungan.

Chin Wan-hong memandang sekejap ke arah Cu Im Taysu kemudian sapanya dengan lembut,

“Lo siansu, para empek dan paman sekalian, apakah semuanya berada dalam keadaan baikbaik?”

“Tak usah banyak adat!” sahut Ciu Thian-hau dengan nada rendah.

Mendengar jawaban tersebut, Chin Wan-hong alihkan kembali sorot matanya ke arah gelanggang

pertarungan, ia saksikan pertarungan itu meskipun masih berlangsung dengan seru namun siapa

menang siapa kalah masih belum ditentukan, maka dia maju kedapan dan serunya dengan suara

lantang, “Harap saudara berdua hentikan dulu pertarungan itu, aku hendak menyampaikan

beberapa patah kata lebih dahulu kepada semua jago.

Hoa Thian-hong cukup mengenali tabiat dari istrinya, dalam keadaan seperti ini tak mungkin dia

akan tampilkan diri untuk ber bicara seandainya ia tidak mendapat perintah dari ibunya.

Maka setelah mendengar perkataan itu, timbullah niatnya untuk menghentikan pertarungan itu.

Tang Kwik-siu sendiri sedari tadi sudah berniat untuk meng-hentikan pertarungan, maka ketika

sorot mata mereka berdua saling terbentur satu sana lainnya serentak serangannya pun

dihentikan

Hoa Thian-hong melepaskan cekalannya pada sabuk naga emas itu dan mereka berdua dengan

napas tersengkal mengundurkan diri kebelakang.

Chin Wan-hong mendekati suaminya dengan wajah serius ia lantas berkata, “Ibu memerintahkan

kepadaku untuk menyampaikan beberapa patah kata kepada khalayak ramai, katanya harta

karun yang tersimpan dalam istana Kiu ciu kiong merupakan hasil jerih payah dari leluhur kita

semua, sepantasnya kalau benda-benda itu diselesaikan oleh khalayak ramai secara bersamaGrafity,

http://mygrafity.wordpress.com

621

sama, siapa yang berhak mendapatkan benda itu dia harus diberi benda yang menja-di hak

miliknya sedangkan benda yang tak ada pemiliknya akan menjadi milik setiap orang yang ikut

dalam pekerjaan penggalian ini. Sudah terlalu lama benda-benda mustika tersebut terkubur

didalam perut bumi, terlalu sayang rasanya kalau benda-benda itu dibiarkan terkubur untuk

selamanya, maka menjadi kewajiban kitalah untuk bersama-sama menggali tanah dan

menemukan kembali istana yang terpendam ini, kami akan berusaha dengan sejujur-jujurnya

dan sebijaksana mungkin, bila ada diantara kami yang bertindak tak jujur ataupun

mementingkan kebutuhan sendiri, kami bersedia menerima ganjaran dan hukuman dari setiap

orang, demikian pula dengan saudara sekalian, bila diantara kalian ada yang tamak dan berusaha

mencari keuntungan bagi diri sendiri tak segan-segan kami akan mengambil tindakan tegas

untuk menjatuhkan hukuman yang setimpal kepadanya, harap saudara semua suka mencamkan

kata-kata kami ini!”

Fajar baru saja menyingsing diufuk sebelah timur, sinar sang surya yang berwarna keemasemasan

memancar diatas wajahnya yang jeli dan agung.

Beratus-ratus pasang mata ditujukan keatas wajah dara itu, mendengarkan tiap patah kata yang

merupakan suara hati dari Hoa Hujin, hampir tiap jago yang ada disana telah memusatkan

perhatian serta mendengar kata-katanya dengan bersungguh-sungguh hati.

Tiba-tiba Tio Sam-koh berseru kembali dengan suara lantang, “Sekali lagi aku harap saudara

sekalian dengar baik-baik kata-kata kami ini, pertama kami sudah bertekad untuk turut serta

dalam usaha penggalian harta ini, bila harta karun itu sudah ditemukan, kami akan mendapatkan

benda-benda yang tak dimaui orang lain. Kedua setiap benda yang ada pemiliknya baik orang itu

adalah orang baik mau pun orang jahat Sekalipun dia adalah manusia yang jahatnya bukan

kepalang atau mempunyai dendam sakit hati dengan kami, benda yang menjadi hak miliknya

tetap akan kami serahkan kepadanya!”

Setelah beberapa kata itu diutarakan keluar, para penggali harta yang terdiri dari aneka ragam

manusia, diam-diam merasa ke-girangan, bahkan para jago dari golongan Hong-im-hwie serta

Thong-thian-kauw juga ikut merasakan jantungnya berdebar keras, mereka merasa ada harapan

untuk ikut memperoleh harrta karun itu jika para jago dari golongan lurus yang memimpin usaha

penggalian ini, apalagi setelah Hoa Thian-hong menghajar Tang Kwik-siu tadi berarti pula telah

selamatkan puluhan lembar jiwa, seketika itu juga semua orang merasa tertarik sekali oleh usul

ini….

Tiba-tiba Thian Ik-cu angkat muka dan berkata, “Jika pekerjaan besar ini benar-benar

dilaksanakan sesuai dengan dua cara tersebut, kami semua bersedia untuk menunggu perintah!”

Perkataan itu diutarakan tanpa ujung atau pun pangkalnya, apalagi berbicara sambil menghadap

langit, orang tak tahu kata-kata itu sebenarnya ditujukan kepada siapa, tapi sementara jago

dapat meraba pula kalau kata-kata itu sedang ditujukan kepada Hoa Thian-hong.

Bagi Hoa Thian-hong sendiri, ia lebih mengutamakan suksesnya pekerjaan itu dari pada mencari

keuntungan bagi diri sendiri, cepat dia menjura kemudian sahutnya, “Pekerjaan ini adalah

pekerjaan besar dari kita umat manusia, kata perintah tak berani kuterima, kalau toh totiang

sekalian be sedia turut serta dengan pekerjaan besar ini, hal tersebut tentu saja jauh lebih baik

lagi….”

Tiba-tiba terdengar seseorang berseru dengan suara yang amat nyaring dan lantang, “Apabila

Hoa kongcu bersedia memimpin pekerjaan besar ini, kami semua bersedia untuk meleksanakan

tugas yang dibebankan kepada kami, tak sepatah katapun kami berani membantah”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

622

Hoa Thian-hong berpaling, ia lihat orang yang berbicara adalah seorang laki-laki kekar yang

berwajah asing baginya, sebelum ini belum pernah ia temui orang tersebut.

Tio Ceng tang yang berada di sisinya segera memperkenalkan lelaki itu kepada Hoa Thian-hong,

“Orang ini she Huan bernama Thong, leluhurnya pukulan sakti Huan Teng adalah orang pertama

yang kecurian kitab pusakanya oleh Kiu-ci Sinkun….”

“Oooh rupanya saudara Huan” sapa Hoa Thian-hong sambil menjura, “kitab pusaka Po kia kun

boh adalah benda pusaka milik keluarga Huan, bila benda-benda itu dapat ditemukan, sudah

pasti akan kami serahkan kepada saudara Huan.”

Berbicara sampai disitu, dengan sinar mata yang luar biasa tajamnya, ia menyapu sekejap wajah

Kiu-im Kaucu, Tang Kwik-siu serta Pek Siau-thian, kemudian katanya lagi, “Saudara sekalian,

menurut pendapatku, mulai hari ini pekerjaan penggalian lebih baik dibagi jadi dua bagian, yaitu

kerja pagi dan kerja malam, tiap bagian dikerjakan oleh dua kelompok manusia secara bergilir,

biarlah aku dan saudara Huan Thong sekalian terhitung sebagai satu kelompok dan Jin lo

enghiong serta Thian Ik totiang jadi kelompok kedua, kami akan kerjakan pada giliran yang

partama ini….”

“Memang bagus sekali cara itu!” seru Kho Hong-bwee dengan lantang, “orang-orang Sin-kiepang

merupakan satu kelompok tersendiri dan akan bekerja pada malam harinya”

Mendengar ucapan itu Hoa Thian-hong sejera berpikir dihati, “Pada saat ini hati orang mulai

goyah dan inilah kesempatan yang paling baik untuk mempengaruhi hati orang, setelah bibi

memberikan persetujuannya, lebih baik aku tak usah mengurusi bagaimanakah sikap dari Pek

Siau-thian lagi….”

Berpikir sampai disini, dia lantas berseru, “Tang Kwik siangbunjin, partaimu bersedia bekerja

disiang hari ataukah bekerja di malam hari?”

Sejak berakhirnya pertarungan tadi, Tang Kwik-siu merasa hatinya kalut dan uring-uringan,

sekarang melihat ada kesempatan untuk mele-paskan diri dari keadaan yang serba kikuk ini,

cepat sahutnya, Biarlah kami dan rombongan Sin-kie-pang beristirahat disiang hari, giliran kerja

kami malam nanti!”

Hoa Thian-hong berpaling ke arah Kiu-im Kaucu, lalu tanyanya dengan suara dalam, “Kaucu

berulangkali mengatakan bahwa kekuatan kalian selalu mendukung setiap usulku, untuk

kesediaan tersebut aku merasa amat berterima kasih sekali, dikemadian hari budi kebaikan ini

tentu akan kami balas, entah apakah kaucu bersedia kerja?”

Diam-diam Kiu-im Kaucu menghela napas panjang, pikirnya, “Aaai….! Bocah ini bisa tampilkan

diri dari sekian banyak jago yang ada, jelas kejadian ini bukan suatu kejadian secara kebetulan

saja”

Selama ini ia selalu menggembor-gemborkan bahwa kedatangannya ketempat ini adalah untuk

membantu Hoa Thian-hong, setelah ucapan itu diutarakan keluar tentu saja ia tak dapat menarik

kembali kata katanya itu, apalagi tiap kelompok kekuatan sudah sanggup melakukan

kewajibannya.

Kiu-im Kaucu tahu bila ia menampik pekerjaan tersebut, maka dia akan menjadi sasaran orang

banyak, terutama posisi Hoa Thian-hong yang begitu baik disaat itu, asal ia beri komando

niscaya setiap orang yang hadir disitu dengan senang hati akan bantu mengerubuti mereka,

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

623

sebab bagaimana pun punahnya kelompok mereka berarti mengurangi satu saingan untuk

mendapatkan harta karun.

Apalagi Hoa Thian-hong adalah pemimpin mereka yang tertinggi, perempuan itu sadar bahwa

kepandaian silatnya masih bukan tandingan lawan.

Pelbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya, ia merasa dirinya harus pandai memutar kemudi

dalam situasi seperti ini, karena itu sebelum Hoa Thian-hong menyelesaikan kata-katanya, sambil

tertawa dia telah menukas, “Jumlah anggota kelompok Kiu-im-kauw sangat banyak, begini saja,

biarlah aku berbuat kebaikan sampai pada dasarnya, kami orang-orang dari Kiu-im-kauw akan

terbagi jadi dua kelompok yang akan bekerja secara bergilir baik siang maupun malam,

bukankah hasilnya akan jauh lebih memuaskan?”

“Banyak bekerja malah mengundang kegagalan, lebih baik aku tak banyak bicara!” pikir Hoa

Thian-hong dalam hati.

Ia lantas memberi hormat dan berkata, “Kami siap menerima pernyataan dari kaucu, kalau

memang begitu sekarang juga pekerjaan ini akan kita mulai!”

Habis berkata ia memberi tanda kepada kawanan penggali harta yang aneka ragam itu,

kemudian dengan langkah lebar menuju ke medan penggalian itu.

Diiringi tempik sorak dan suara teriakan yang gegap gempita, berangkatlah kawanan jago

persilatan itu menuju kelokasi penggalian.

Orang-orang dari Hong-im-hwie serta Thong-thian-kauw adalah jago jago yang kalah perang

sekalipun mereka dimusuhi oleh kaum lurus maupun dari kalangan rimba hijau, namun kekuatan

mereka terhitung cukup lumayan untuk mempertahankan diri.

Justru kelompok aneka ragam manusia inilah merupakan jago-jago dari kalangan paling lemah,

untuk menentang Sin-kie-pang atau Kiu-im-kauw jelas bukan tandingan, meskipun mereka hadir

disitu, toh yang bi sa dilakukan hanya melotot belaka, sedikit salah bertindak niscaya bencana

akan menimpa diri mereka.

Sekarang Hoa Thian-hong telah memimpin mereka untuk bekerja, bisa dibayangkan betapa

gembiranya semua orang atas kejadian ini.

Selama beberapa hari terakhir, orang orang orang Sin-kie-pang dan Seng sut pay sudah

membuat sebuah liang besar selebar sepuluh kaki lebih menuruti peta biru yang dilukis Tiangsun

Pou, liang besar itu lebar di atas dan sempit dibawah, tangga dibuat disana sini, karena besarnya

tempat yang harus digarap maka walaupun sudah empat hari bekerja, luas liang itu baru dua

kaki.

Tiangsun Pou membagi rombongan pekerja itu menjadi dua bagian, orang-orang dari Hong im

bwe dan Thong-thian-kauw bekerja disebelah kiri, sedangkan para jago dari aneka ragam

manusia itu bekerja dikanan.

Hoa Thian-hong telah melepaskan jubahnya siap untuk bekerja, tapi ditolak oleh para jago

lainnya.

Dengan suara lantang Tio Ceng tang berteriak, Hoa kongcu, engkau adalah pemimpin kita yang

memikul tanggung jawab besar ini, tak pantas kalau engkau turun tangan sendiiri.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

624

“Benar!” sambung yang lain, “bagaimana pun juga Hoa kongcu harus simpan tenaga untuk

bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan!”

“Waah kalau begitukan kasarannya aku sudah dijadikan tukang pukul oleh mereka” batin Hoa

Thian-hong dihati.

Sebelum dia sempat mengucapkan sesuatu, terdegar seseorang ber seru lagi dengan lantang,

“Lebih baik Hoa kongcu kita jadikan mandor saja!”

“Betul!” sambung yang lain, “Hoa kongcu adalah mandor kita!”

Suara hiruk pikuk dan seruan para jago berkumandang dari sana sini mendukung usul tersebut.

Akhirnya setelah didesak pula oleh Tiang sun Pou dan empat datuk dari bukit Huang-san, mau

tak mau Hoa Thian-hong menerima juga tawaraanya ini, bahkan memerintahkan Hoa In dan

Harimau pelarian Tiong Lian untuk bekerja lebih keras agar menutupi pekerjaan dari bagiannya.

Cu Im taysu, Ciu Thian-hau serta Suma Tiang cing tiga orang telah mengambil keputusan pula

untuk tidak mengambil benda mustika apapun juga, karenanya mereka malas untuk bekerja.

Chin Pek-cuan yang sudah tua berhasrat untuk memberi sanjungan kepada menantunya, ia

memaksa untuk turun tangan sendiri, ditemani Chin Giok-liong dan Bong pay merekapun ikut

terjun ke tempat kaum penggali harta itu.

Sementara semua orang masih ribut-ribut, tiba-tiba Chin Wan-hong memanggil Bong Pay, lalu

ujarnya, “Bong toako, siau moay ada beberapa patah kata hendak dibicarakan dengan diri toako,

bersediakah engkau untuk mendengar-kan perkataanku ini?”

Ada arusan apa?”

Chin Wan-hong memandang sekejap sekeliling tempat itum ketika dilihatnya sekitar tempat itu

banyak orang, bibirnya yang sudah bergerak segera dibatalkan kembali.

Bong pay adalah seorang jago muda yang berjiwa terbuka, menyak-sikan hal tersebut cepat

serunya, “Ditempat ini tak ada orang luar, mau bicara katakan saja secara blak-biakan!”

Chin Wan-hong tersenyum.

“Ketika siau moy lewat di wilayah Tian Cu, secara kebetulan telah berjumpa dengan Cu

locianpwe!”

“Betul! Kami sedang kebingungan, padahal Cu locianpwe toh sudah berangkat keselatan kenapa

sampai sekarang ia belum juga tiba ditempat ini?” sela Hoa Thian-hong.

“Cu locianpwe mengatakan akan pergi ke kota Teng yang untuk mengundang kehadiran seorang

sahahat karibnya, katanya orang itu mempunyai sangkut paut yang sangat besar dengan

pekerjaan penggalian harta karun ini!”

“Apakah Cu supek ada pesan yang akan disampaikan kepadaku?” tanya Bong Pay.

Sambil tersenyum Chin Wan-hong mengangguk.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

625

“Cu locianpwe berpesan kepadaku katanya usia toako sudah meningkat dewasa sepantasnya

kalau dengan usia sedewasa itu toako harus mencari seorang istri untuk menyambung

keturunan, katanya nona Pek dari Sin-kie-pang adalah pasangan yang ideal bagimu, maka beliau

memerintahkan siau moay untuk menjodohkan kalian berdua!”

“Aaah! aku tak mau tahu tentang urusan ini!” seru Bong Pay dengan wajah merah padam, habis

berkata ia lantas putar badan dan berlalu dari situ .

“Eeeh…. eeeh…. toako, tunggu sebentar!” seru Chin Wan-hong lagi dengan gelisah.

Terpaksa Bong Pay berhenti katanya dengan gelisah.

Aku tak mau turut campur, bagaimana Cu supek memerintahkan dirimu, lebih baik engkau saja

yang mengerjakan perintah itu.

Tiangsun Pou yang berdiri disambing tiba-tiba menyela, “Eeh…. bukannya aku membantu

sahabat lamaku untuk berbicara, hakekatnya keponakan perempuanku Soh-gie adalah seorang

dara yang cantik jelita dan halus berbudi, dia merupakan calon istri yang paling bagus, siapa bisa

memperistri dirinya yang banyak hok ki dan banyak rejeki bakalnya.”

Hoa Thian-hong sendiripun berkata dengan wajah serius.

“Enci Soh-gie adalah pilihan yang paling tepat bagi saudara Bong, enci Hong! Bagaimanapun

juga engkau harus mensukseskan perjodohan ini!”

Chin Wan-hong termenung dan berpikir sebentar, kemudian berkata, “Aku cuma menguatirkan

tentang satu urusan!”

“Apa yang kau kuatirkan? Bong toako dan enci Soh-gie adalah pasangan yang paling ideal, kedua

belah pihak toh sudah menyetujui akan hubungan mereka itu!”

“Pek pangcu tidak berputra dan lagi tak pernah menerima murid, seandainya ia minta Bong toako

untuk masuk kerumah pihak perempuan setelah menikah nanti, bagaimana jadinya?”

Berbicara sampai disini, sorot matanya lantas dialihkan keatas wajah Bong Pay.

Sekali lagi merah padam selembar wajah Bong Pay lantaran jengah.

“Aku tak mau!” serunya lagi.

Ia putar badan dan berlalu dengan langkah lebar.

Tiba-tiba satu ingatan terlintas dalam benaknya, dia lantas berpikir dihati, “Betul juga

perkataannya, andaikata setelah kawin nanti aku di minta untuk masuk kerumah pihak

perempuan, apa yang musti kulakukan untuk mengatasi persoalan ini?”

Berpikir sampai disitu, tanpa sadar dia lantas berhenti dan berdiri termangu-mangu….

Betapa susah dan sedihnya Chin Wan-hong karena tidak memperoleh jawaban yang memuaskan

hati, ia lantas berpaling ke arah suaminya seraya bertanya, “Engkoh Hong, menurut pendapatmu

apa yang harus kita lakukan?”

“Aku juga tak turut campur!” sahut Hoa Thian-hong sambil tertawa.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

626

Selesai berkata dia lantas berjalan menuju ke arah kaum pekerja yang sudah mulai melakukan

penggalian.

“Eeeh…. eeeh…. engkoh Hong tunggu sebentar!” buru-buru Chin Wan-hong berseru.

Ia memburu maju kedepan kemudian bisiknya dengan lirih, “Ibu memerintahkan aku untuk

menyampaikan beberapa patah kata ke padamu, pada bagian yang terpenting aku belum sampai

mengutarakannya dihadapan umum!”

“Apa petunjuk ibu yang lain?” tanya sang pemoda dengan wajah serius.

Dengan suara rendah jawab Chin Wan-hong, “Menurut ibu, bila ilmu silatmu tak bisa menandingi

mereka maka berusahalah dengan sepenuh tenaga, asal engkau sudah berusaha dengan

semampu mungkin, hal itu sudah lebih dari cukup, sebaliknya kalau ilmu silatmu dapat

menangkan orang lain maka engkau musti menaklukan hati orang dengan budi kebaikan serta

tindakan yang bijaksana!”

Agak tertegun Hoa Thian-hong setelah mendengar perkataan itu, serunya kemudian, “Belum

pernah ibu mengajarkan aku untuk menaklukan hati orang dengan budi kebaikan serta tindakan

yang bijaksana!”

“Bila kekuatanmu sudah melampaui orang lain, saat itulah dengan budi kebaikan engkau baru

bisa menaklukan hati orang, dulu ibu tidak pernah mengajarkan teori ini kepadamu, hal ini

disebabkan ilmu silatmu belum berhasil mencapai pada puncaknya!”

***

HOA THIAN-HONG berpikir sebentar lalu bertanya lagi, “Apakah ibu tak akan datang kemari?”

Chin Wan-hong manggut tanda membenarkan.

“Pada waktu ini, ibu, Siau Ngo-ji serta Haputule sedang berlatih ilmu silat, bila datang kemari

maka latihan mereka akan terganggu, dan lagi mereka kuatir orang muda gampang terpikat oleh

harta karun, maka lebih baik sama sekali tidak muncul saja!”

Hoa Thian-hong menghela nafas panjang.

“Aaai….! Pengetahuan serta pengalaman ibu memang jauh lebih luas daripada aku, rupanya dia

orang tua sudah tak mau mencampuri urusanku lagi, maka sengaja suruh aku merasakan pahit

getirnya manusia.”

“Tapi keadaan situasi pada saat ini toh tidak terlalu jelek!” seru Chin Wan-hong.

Hoa Thian-hong tidak langsung menjawab, ia melirik sekejap sekeliling tempat itu, setelah

melihat tak seorangpun berada disitu, barulah pemuda itu berkata lagi, “Suasana tenang dan

damai yang kau lihat pada saat ini hanya bersifat sementara, akhirnya toh persoalan ini harus

diselesaikan diujung senjata, harta karun itu pasti akan dirampok mereka dengan menggunakan

ilmu silat!”

“Aku dengar jumlah harta karun yang tersimpan dalam istana ini tak terhingga banyaknya!” bisik

Chin wang hong.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

627

Hoa Thian-hong tertawa getir.

“Sampai dimanapun banyaknya benda tersebut, toh tetap tak akan lebih banyak dari kawanan

jago yang berkumpul disini, sekalipun setiap orang bisa dibagi dengan satu macam barang, tapi

nilai dari benda berharga itu kan tak sama, benda yang benar-benar bagus jumlahnya tentu

sedikit sekali.”

“Asalkan kita tak ambil satu macam bendapun dan membagi ke semuanya itu buat orang lain toh

sama saja artinya!”

Hoa Thian-hong tertawa, “Cara ini tidak akan dapat menyelesaikan persoalan tersebut, misalnya

saja ada sebiji buah Cu ko, dimana barang siapa memakannya maka dia akan ewet muda dan

panjang usia, kemudian Pek Siau-thian menginginkannya, Tang kwit Siu juga menginginkannya

sedang Kiu-im Kaucu juga berharap bisa mendapatkannya, kalau tidak di selesaikan secara

bertarung bagaimana persoalan ini bisa diatasi?”

Chin Wan-hong tersenyum

“Asal benda itu bisa dibagi menjadi tiga bagian hingga semua orang dapat merasakannya

bukankah urusan akan beres?”

Tersenyum getir Hoa Thian-hong setelah mendengar perkataan itu.

“Aaai! Kamu ini masa dalam keadan seperti inipun, masih punya kegembiraan untuk menggoda

aku, andaikata benda itu adalah suatu benda yang tak bisa dibagi lantas bagimana caranya uatuk

mengatasi persoalan itu?”

“Pokoknya kita akan berjuang demi kepentingan umum dan berbuat menurut kemampuan yang

kita miliki”

Hoa Thian-hong menghela nafas panjang.

Yaa, setelah persoalan ini diurus kita, maka aku harap persoalan ini bisa diselesaikan dengan

cara yang sebaik-baiknya, kalau toh masalah ini berakhir dengan bencana, dan keadaan yang

kurang memuaskan, bukan saja kita akan sia-sia berjuang, malahan perasaan hati kita jadi sedih

dan menyesal untuk selamanya.

Cbin Wan bong mengangguk, dengan wajah serius ia berkata, Kalau begitu biarlah kuikat dulu

tali perkawinan antara Bong tosko dengan Pek toa sinciu, asalkan kita sudah punya hubungan

famili dengan pihak Sin-kie-pang, maka andaikata terjadi suatu keributan niscaya Pek lo pangcu

akan menjual muka kepadamu, bila tindakan ini kurang cukup maka engkau pun boleh mengikuti

jejak Bong toako dengan mengikat tali hubungan dengan pihak Sin-kie-pang.

“Huuuss jangan sambarangan bicara” sela Hoa Thian-hong sambil tertawa, “Pemuka dunia

persilatan tak mungkin bersedia tundukkan kepala dihadapan Pek Siau-thian, mengenai

perkawinan dari Bong Toa ko dan enci Soh-gie lebih baik engkau saja yang menjadi mak

comblangnya, tak usah kau menanyakan soal pendapat dari jago-jago lain, dari pada terjadi halhal

yang tak diinginkan yang akan mengakibatkan gagalnya persoalan ini!”

Chin Wan-hong menganggut seraya mengiakan maka Hoa Thian-hong kembali ke arena

penggalian untuk menjadi mandor, sedangkan Chin Wan-hong kembali keatas bukit untuk

memberi hormat kepada gurunya dan Cu Im taysu sekalian, setelah itu berbicara pula dengan

saudara-saudara seperguruannya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

628

Dalam kerepotan akhirnya ia berhasil pula menyingkirkan sedikit waktu untuk berkunjung

kerumah kayu yang dibuat orang-orang dari perkumpulan Kiu-im-kauw.

Ketika Kiu-im Kaucu melihat kedatangannya, ia segera menyambut kedatangan perempuan itu

diluar pintu rumah, sapanya sambil tertawa, “Sau hujin apakah kedatanganmu kemari adalah

untuk menengok Ku Ing-ing?”

Cepat Chin Wan-hong memberi hormat dan menyahut, “Selain menengok enci Ing ing,

kedatanganku juga memberi hormat kepada kaucu!”

“Haahh…. haaahh…. haaahh, sau hujin tak usah sungkan-sungkan!” seru Kiu-im Kaucu sambil

tertawa terbabak-bahak, “aku tak berani menerima penghormatanmu itu, maaf! Tempat ini tak

sesuai untuk menerima tamu”

Ia lantas berpaling ke arah Giok Teng Hujin dan melanjutkan, “Sau hujin baru kali ini datang

kemari, temanilah dia untuk berjalan-jalan keempat penjuru sembari menikmati keindahan alam.”

“Ing ing terima perintah!” sahut Giok Teng Hujin sambil memberi hormat.

Chin Wan-hong sendiri memang kuatir kalau disitu terlalu banyak orang hingga ia tak leluasa

untuk berbicara, mendangar perkataan itu dia lantas mohon diri dan mengajak Giok Teng Hujin

berlalu dari sana.

Sejak dulu sampai sekarang antara kedua orang ini boleh dibilang sama sekali tak ada ganjalan

hati, sekalipun Giok Teng Hujin mencintai diri Hoa Thian-hong, akan tetapi Chin Wan-hong sama

sekali tidak menaruh rasa cemburu, maka setelah berjalan agak jauh, Chin Wan-hong buka suara

sambil berkata, “Enci, wajahmu!”

Giok Teng Hujin masih mengenakan kain cadar hitam diatas wajahnya, mendengar perkataan itu

dia lantas tertawa.

“Wajahku telah berkeriput dan menjadi tua karena siksaan yang kuderita, apakah Thian-hong

belum menceritakan kejadian ini kepadamu?” sahutnya lembut.

Chin Wan-hong menggeleng.

“Mungkin karena banyak orang dan lagi Thian-hong sedang sibuk mengurusi soal penggalian

harta, maka ia belum menceritakan sesuatu tentang diri enci”

Tiba-tiba dia menghela napas panjang, lanjutnya lebih jauh, “Aku jadi teringat dengan Leng-ci

berusia seribu tahun itu, bila benda mustika itu masih berada disakumu maka sekarang cici tak

perlu menguatirkan soal keriput diatas wajah lagi”

Mendengar perkataan itu, Giok Teng Hujin tertawa.

“Benar, mustika yang berada didunia ini hunya bisa dinikmati oleh mereka yang punnya rejeki

besar, encimu tak lebih cuma seorang perempuan buangan tak berguna, tidak terjerumus

kedalam neraka sudah merupakan suatu keberuntungan, sekalipun Leng-ci itu masih ada, belum

tentu aku bisa menikmatinya.

“Aaah…. enci pandai bergurau!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

629

Setelah berhenti sebentar, lanjutnya, “Thian-hong sudah terlalu banyak memerima budi kebaikan

dari cici, hutang kami kepadamu sudah tak terhitung jumlahnya, dan lagi kakakku Giok liong juga

tertolong jiwanya lantaran Leng-ci mustika itu, boleh dibilang kami keluarga Hoa dan Chin

merasa amat berterima kasih sekali atas budi dan pertolongan dari cici itu!”

Giok Teng Hujin tertawa.

Suma tayhiap juga bentrok dengan Kiu-im Kaucu lantaran Leng-ci berusia seribu tahun itu,

sungguh tak kusangka demikian banyak orang yang berterima kasih kepadaku karena persoalan

itu.

Chin Wan-hong tersenyum, dengan wajah serius ia berkata lagi, “Mertuaku adalah seorang

manusia yang luar biasa, dia orang tua sangat memikirkan tentang kehidupan cici, apa lagi

setelah baru-baru ini memperbincangkan tentang diri cici, maka setelah dipikir pulang pergi

beliau merasa bahwa daripada cici sekalian bercokol di perkumpulan Kiu-im-kauw serta

berkeliaran dalam dunia persilatan alangkah baiknya kalau cici datang saja keperkampungan Liok

Soat Sanceng dan berdiam disitu bersama kami, tentunya cici bersedia untuk memenuhi harapan

kami ini bukan?”

Tertegun Giok Teng Hujin setelah mendengar perkataan itu, lama sekali dia tertegun dan untuk

sesaat tak tahu apa yang musti diucapkan.

Ia tahu Chin Wan-hong sebagai seorang yang jujur tidak mungkin akan membohongi dirinya,

padahal ucapan dari Hoa Hujin selalu sekokoh batu karang, apa yang telah diutarakan keluar

berarti pula persoalan itu telah diputuskan olehnya, tak mungkin masalah itu hanya diutarakan

karena basa basi belaka.

Tapi ingatan lain lantas terlintas dalam benaknya, yang di masudkan untuk berdiam di

perkampungan Liok soat san ceng berarti pula pengakuan langsung dari Hoa Hujin atas

hubungannya dengan Hoa Thian-hong, hal ini berarti pula kalau dia telah menyetujui hubungan

perkawinan mereka berdua.

Kejadian semacam ini hampir boleh dikata sama sekali tak terduga, tentu saja untuk sesaat

lamanya ia jadi kelabakan sendiri.

Namun bagaimanapun juga dia adalah jago silat kawakan yang sudah kenyang makan asam

garam, setelah tertegun beberapa saat lamanya diapun menggeleng.

“Budi kebaikan dia orang tua tak akan kulupakan selamanya”, ia berkata dengan suara berat,

“tapi aku hanya bisa menerima maksud baiknya itu didalam hati saja tak mungkin bisa kupenuhi

harapan dari dia orang tua”

Setelah berhenti sebentar sambungnya lagi, “Hian moay adalah seorang perempuan yang

bijaksana, terus terang kukatakan bahwa akan tidak menolak maksud tersebut hanya aku malu

dengan diriku sendiri, persoalanku ini jangan kau anggap sebagai suatu tindakan pura-pura, aku

telah mengambil keputusan ini dengan bersungguh hati!”

Chin Wan-hong merasa sedih dan serba salah, setelah termenung sebentar iapun berkata, “Kalau

toh enci tidak memandang asing diriku, Siau moay juga tak akan menganggap kau sebagai orang

luar, biarlah kujelaskan lebih dahulu duduknya persoalan ini sehingga engkau tahu dimanakah

letak sumber dari keputusan ini.”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

630

Setelah berpikir sebentar, ia melanjutkan, “Sejak dulu sampai sekarang keluarga Hoa adalah

keluarga besar dunia persilatan, nama besar ini bukan direnggut lantaran mengandalkan ilmu

silat belaka, ambillah contoh diri mertuaku, dia orang tua boleh dibilang merupakan pendekar

besar diantara kaum wanita, perbuatan dan tindakannya lebih mengutamakan keadilan serta

kejujuran, ia rela kehilangan rumah dan hidup sengsara daripada melakukan perbuatanperbuatan

yang bertentangan dengan jiwa ksatria nya dan kini enci menaruh budi kebaikan

kepada Thian-hong!”

Giok Teng Hujin menggerakkan bibirnya seperti mengucapkan sesuatu tapi sebelum kata-kata

tersebut sempat diutarakan keluar, rupanya Chin Wan-hong sudah dapat menebak suara hatinya,

cepat ia melanjutkan lebih jauh, “Yang dimaksudkan sebagai budi disini bukanlah budi dari Lengci

berusia seribu tahun itu, melainkan budi yang diterima Thian-hong sejak berkenalan dengan

cici, soal Leng-ci mungkin saja bisa diganti dengan benda yang sama, tapi budi yang diterima

karena bantuan dan cinta kasih cici, kalau tidak dibalas dengan cinta kasih pula, masakah bisa

diganti dengan benda lain?”

“Tapi cinta kasih yang kuberikan kepada Thian-hong toh muncul karena kemauanku sendiri, aku

sama sekali tidak mengharapkan balas jasa dari dirinya!”

“Mengharapkan pembalasan atau tidak adalah urusan cici sendiri” kata Chin Wan-hong dengan

serius, “tapi yang pasti orang persilatan memandang soal budi sebagai persoalan yang paling

penting, mertuaku tak ingin Thian-hong menjadi orang yang lupa budi, tak mau melihat didunia

ini ada kejadian yang tak adil, selain itu aku sendiripun berharap semua kekasih yang ada didunia

ini bisa dilanjutkan ke jenjang perkawinan, aku tak ingin melihat didunia ini adalah laki-laki yang

putus cinta, ada gadis yang merana…. maka aku harap engkau bersedia menerima tawaran kami

ini!”

Giok Teng Hujin tertawa, katanya, “Hatimu terlalu welas kasih dan halus bagaikan Pousat,

apakah engkau tidak merasa bahwa perbuatanmu ini sedikit kelewat batas?”

Chin Wan-hong tersenyum.

“Soal itu lebih baik tak usah dibicarakan katanya, marilah kita bicarkan lagi soal tentang keluarga

Hoa, sebagaimana engkau tahu meskipun keluarga Hoa adalah keluarga yang dihormati orang

banyak…. toh keluarga ini hidup dari ilmu silat, berbeda jauh dengan kalangan keluarga

hartawan atau pejabat yang turun temurun karena pangkat, kami menuruti peraturan persilatan

yang di bicarakan adalah aoal cengli dan kami tak terikat oleh adat ataupun tata cara lain. Bagi

pandangan kami asal hal itu terasa pantas dan tidak jelek maka sekalipun Thian-hong punya dua

istri atau tambah lagi dengan tiga empat orang istri juga tak menjadi soal, lagi pula barang siapa

yang sudah dinikahi olehnya kami anggap sebagai istri yang sah tak akan kami bedakan apakah

dia adalah istri yang sah atau gurdik!”

Giok Teng Hujin tertawa.

“Sudahlah!” ia berseru, “dahulu aku tidak kenal dengan kau tapi belakangan ini sering kudengar

watak serta tabiatmu dari mulut Thian-hong dan akupun semakin memahami dirimu, aku dapat

mengerti betapa besar jiwamu, coba bayangkan seandainya perempuan yang pertama kali

dikawini Thian-hong bukan kau melainkan Pek Kun-gie, mungkin rumah tangganya akan

bertambah rumit dan penuh dengan persoalan yang memusingkan kepala, Thian-hong tak akan

punya niat untuk berlatih si at lagi apalagi menyelenggarakan usaha penggalian harta karun?”

Chin Wan-hong tersenyum.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

631

“Sejak dilahirkan aku memang memiliki lidah yang kaku, bagaimanapun juga lidah yang kaku ini

sudah mati rasa sehingga tak bisa kurasakan bagaimana rasanya orang cemburu atau iri….!”

“Betul, orang lain mungkin saja dapat membagi cinta kasih dari Thian-hong” ujar Giok Teng Hujin

sambil tertawa, “tapi siapa pun tak dapat membelah hatinya, sebab dia telah persembahkan

hatinya hanya bagimu seorang.”

Chin Wan-hong tertawa.

Kalau orang makan buah Tho maka yang dimakan adalah dagingnya, siapa yang suka makan

bijinya? Begitu pula dengan kaum perempuan, yang mereka butuhkan hanya cinta kasih, siapa

yang memperdulikan hatinya bagaimana? Sejak dilahirkan aku memang punya takaran yang

kelewat kecil, kalau makan kebanyakan malahan tak bisa di cernakan”

Setelah berhenti sebentar lanjutnya lebih jauh, Lebih baik kita tak usah banyak membicarakan

masalah yang tak berguna, biarlah siau moay bicarakan masalah yang lebih penting saja.

Oooh…. kiranya engkau sedang melaksanakan perintah, anggaplah enci sedih merasakan

kelihayanmu hari ini” seru Giok Teng Hujin sambil meleletkan lidahnya.

Chin Wan-hong ikut tersenyum, katanya dengan serius, “Cici, kalau menyuruh Thian-hong

memutuskan hubungan dengan engkau, maka kejadian ini kurang begitu bijaksana, tapi kalau

membiarkan kalian berhubungan terus, padahal engkau masih keluyuran didepan, sudah pasti

Thian-hong akan dicemooh dan ditertawakan orang. Engkau toh tahu betapa ketat dan kerasnya

pendidikan mertua ku terhadap putranya? Bukan saja beliau akan dimaki orang karena tak becus,

siau moay sendiripun akan diejek orang sebagai nyonya yang suka cemburuan…. waah, kalau

sampai semua keluarga kena dicemooh orang, kan urusannya jadi berabe? Makanya hanya ada

satu cara untuk mengatasi persoalan ini, yakni memboyong cici pularg kerumah, setelah upacara

resmi diadakan, maka kita semua akan hidup dengan penuh kegembiraan.”

Giok Teng Hujin tertawa.

“Waah! Engkau memang sangat lihay, berbicara pulang pergi akhirnya toh demi kepentingan

dirimu sendiri.”

Setelah berhenti sebentar, dengan serius dia melanjutkan, “Aaaiii! Bila Thian-hong lanjutkan

hubungannya dengan aku, lantas bagaimana dirimu? Tentang soal ini aku sudah memikirnya

sedari dulu, cuma dahulu kita tak kenal maka tak bisa dikatakan lagi dan sekarang setelah kita

berkenalan bagaimanapun Juga aku ikut memikirkan keadaanmu, biarlah maksud baikmu itu

akan kubalas dike mudian hari!”

Cepat Chin Wan-hong geleng kepala.

“Cici,” katanya dengan serius, “Thian-hong adalah seorang anak yang amat berbakti, bila ibunda

telah melarang Thian-hong untuk berhubungan dengan engkau maka bubungan cici dengan

Thian-hong tak akan berlangsung sampai hari ini, dia orang tua bukan seorang manusia yang

gampang mengambil keputusan akan tetapi bila ia sudah mengambil keputusan maka yang

diharapkan adalah kesuksesan, bila cici bersungguh hati mencintai Thian-hong seharusnya

dengan ke dudukanmu sebagai seorang angkatan muda keluarga Hoa engkau taati perkataan

dari beliau, apa gunanya engkau melukai perasaan serta hubunganmu dengan dia orang tua?”

Ketika mendengar perkataan itu, Giok Teng Hujin berdiri tertegun sementara air matanya jatuh

bercucuran.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

632

“Cici merasa tak punya keberanian antuk melangkah masuk kepintu gerbang keluarga Hoa….”

Chin Wan-hong termenung sebentar, kemudian sambil menggenggam tangannya ia berkata

dengan nada dalam, “Cici, sau moay punya rencana bagus untuk mengatasi persoalan ini, tapi

kalau cici menampik lagi, itu berarti engkau tak sudi berkelompok dengan siau moay”

“Katakanlah apa rencanamu itu!” bisik Giok Teng Hujin dengan sedih.

“Kurang lebih tiga ratus dua puluh li di sebelah timur laut pulau Tiang le to di samudra Tang bay,

terdapat sebuab pulau ko song yang bernama In soat to, keluarga Hoa mempunyai sebuah

pesanggrahan diatas pulau tersebut, dan sampai sekarang masin ada pelayan keluarga Hoa yang

berdiam di situ, setelah urutan harta karun ini selesai, silahkan cici berdiam dipulau It soat to

tersebut, urusan selanjutnya siau moay akan aturkan buat cici!”

Berbicara sampai disitu tanpa menunggu jawaban lagi, ia lantas memberi hormat dan berlalu dari

situ.

Giok Teng Hujin cuma bisa berdiri termangu dengan air mata bercucuran, ia tak tahu apa yang

musti dilakukan pada saat ini.

Dengan lemah gemulai Chin Wan-hong bergerak menuju perkemahan orang orang Sin-kie-pang,

waktu itu keluarga Pek Siau-thian yang terdiri dari empat jiwa sedang berkumpul disebuah rumah

kayu.

Ketika Kho Hong-bwee dan Pek Soh-gie melihat kedatangan perempuan itu, mereka cepat

memburu kedepan dan menyambut kedatangan diluar pintu, sementara Pek Siau-thian pura-pura

tidak melihat dan Pek Kun-gie tetap duduk ditempat semula.

Selesai memberi hormat kepada Kho Hong-bwee berdua, Chin Wan-hong masuk kedalam

ruangan dan memberi hormat kepada Pek Siau-thian seraya berkata, “Wan hong menghaturkan

hormat buat empek Pek!”

“Tak usah banyak adat!” sela Pek Siau-thian ketus.

Sau hujin, sHahkaa duduk! cepat Kho Hong-bwee berseru sambil tertawa, Kun gie hidangkan air

teh”

Dalam rumah itu tak ada pelayan maka menurut peraturan, orang yang paling mudalah bertindak

sebagai pengganti pelayan.

Dengan perasaan apa boleh buat Pek Kun-gie segera bangkit dan menuang secawan air teh,

sebab ia anggota termuda maka dialah yang berkewajiban untuk menghilangkan air teh bagi

tamunya.

Chin Wan-hong menerima cawan air teh itu dan ditetakkan di meja, tiba-tiba ia tangkap tangan

kiri dara itu kemudian menyingsingkan bajunya dan periksa pergelangan tangan tadi….

Melihat itu Kho Hong-bwee lantas berkata sambil tertawa, “Tempo hari ia dipagut kelabang langit

yang ganas, tapi setelah Thian-hong memberi pelajaran adat kepada murid tertuanya Tang Kwiksiu,

beberapa hari berselang obat pemusnahnya telah ia minum, cuma tak tahu bagaimanakah

perkembangan lukanya itu?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

633

Chin Wan-hong tertawa.

“Walaupun bekas gigitannya masih utuh, warna sembab sudah lenyap, itu tandanya ia sudah

bebas dari pengaruh racun. Bibi tak usah kuatir, dengan ilmu tusuk jarum keponakan pernah

memunahkan pula racun kelabang yang mengeram ditubuh Lau Cau cing, bila adik Kun gie masih

kurang enak badan, tit li bersedia untuk memberikan pertolongan.”

Tiba-tiba Pek Kun-gie meronta dan melepaskan diri dari cekalan, kemudian ujarnya dengan

ketus, “Hmmm! Sebelum datang kemari, engkau telah berkunjung dulu kepihak Kiu-im-kauw,

sekarang dengan mulut manis mencari muka kepada kami, sebenarnya apa maksud tujuanmu?

Kalau ingin mengangkangi sendiri harta karun itu, boleh saja kita rundingkan secara blak blakan!”

Mendengar soal harta karun, tanpa sadar Chin Wan heng teringat kembali akan suaminya, ia

lantas tersenyum dan menjawab, “Meskipun harta karun memang suatu hal yang menawan hati,

aku tiada bermaksud untuk mengangkanginya, lagipula waktunya belum tiba, sekalipun saatnya

sudah sampai engkau belum berhak mendapat bagian!”

Mula-mula Pek Kun-gie agak tertegun, tapi setelah memahami maksud dari kata-kata itu, ia jadi

malu bercampur mendongkol.

Akan tetapi sebelum ia sempat mengumbar amarahnya, sambil tersenyum Chin Wan-hong telah

menarik Kun pie agar duduk di-sampingnya, kemudian kepada Kho Hong-bwee, ujarnya lagi,

“Bibi, tit li mendapat titipan dari dewa yang suka pelancongan Cu locianpwe untuk datang

menyambangi, sekalian hendak membicarakan pula tentang satu urusan!”

“Cu tayhiap saat ini ada dimana? Urusan apa yang hendak dibicarakan dengan kami?” tanya Kho

Hong-bwee dengan wajah tertarik.

Dengan wajah serius dan nada keren jawab Chin Wan-hong.

“Oleh karena ada urusan penting dikota Teng yang, Cu locianpwe tak dapat datang kemari!

Hanya pesannya, mengingat Bong toako adalah seorang pemuda sebatang kara, sedangkan enci

Soh-gie cantik dan berhalus budi, maka Cu locianpwe ingin mengikat tali hubungan dengan

keluarga bibi dan tit li diperintahkan datang kemari serta ber tindak sebagai mak comblangnya!”

Kho Hong-bwee tertawa lebar, sesudah mendengar perkataan itu katanya dengan tenang, “Bong

Pay adalah seorang pendekar sejati, seorang lelaki berhati keras dan lagi punya bakat yang

bagus, aku suka sekali dengan bocah lelaki ini!”

Watak paling bagus dari Bong toako adalah sifatnya yang terbuka dan jiwanya yang jantan,

pendapat tit li yang bodoh, enci Soh-gie yang polos dan sederhana memang paling pantas kalau

didampingi oleh seorang yang kasar seperti dia.

“Aaai….!” Kho Hong-bwee menghela napas panjang, “Soh-gie amat tawar dalam soal pahala dan

kedudukan, manusia macam begini hanya akan menderita dan tersiksa bila bertemu dengan

orang yang tidak berbudi baik.”

Bicara sampai disini ia lantas berpaling ke arah suaminya dan menambahkan, “Sau that

bagaimana pendapatmu?”

Semenjak semula Pek Siau-thian telah merundingkan persoalan ini dengan istrinya, oleh karena

putrinya sangat jujur dia memang pantas menjadi istri laki-laki kasar yang berhati keras seperti

Bong Pay.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

634

Walaupun begitu, ia mempunyai kesan yang berbeda dengan orang orang dari grupnya Hoa

Thian-hong, kalau menurut suara hatinya ingin sekali ia bikin jengkel orang-orang itu, tapi diapun

kuatir kalau perbuatanya ini akan melukai perasaan hati putrinya.

Dengan perasaan apa boleh buat, terpaksa ia harus menuruti rencana semua, sahutnya dengan

sederhana, “Besok suruh dia masuk kepihak perempuan, sekembalinya keatas gunung

perkawinan baru diselenggarakan, nama sih boleh tetap dipakai cuma ajarannya musti menuruti

perkataanku dan ia dilarang membang-kang semua ajaranku itu!”

Kho Hong-bwee lantas berpaling ke arah Chin Wan-hong, lalu tanyanya dengan lirih, “Hian tit li

bagaimana pendapatmu?”

Cepat Chin Wan-hong memberi hormat.

“Semua perkataan empek memang masuk diakal dan sudah umum, lagi pula tak meleset dari

dugaan Cu locianpwe, menurut pendapat tit li, Bong toako masih muda dan lagi tiada bimbingan

angkatan yang lebih tua, bila sekarang Bong toako bisa memperoleh kasih sayang dari bibi dan

enci Soh-gie, memang sepantasnya kalau dia menerima prasyarat tersebut!”

“Kalau toh persoalan ini tidak meleset dari dugaan Cu tayhiap, maka berarti persoalan ini lebih

gampang untuk diselesaikan, sekembalinya dari sini boleh kau tanyakan kepada Bong Pay,

apakah ia bersedia untuk menerima syarat itu, kalau bersedia maka besok boleh datang

ketempat kami.”

Chin Wan-hong mengiakan berulang kali, maka diapun bangkit untuk mohon diri, ketika keluar

dari ruangan ia gandeng tangan Pek Kun-gie dan diajaknya keluar bersama.

Sejak Chin Wan-hong menikah, pertama karena ia terpengaruh oleh kedudukan Hoa Hujin dan

kedua diapun sudah punya kedudukan dimata masyarakat, tanpa sadar timbullah sikap yang

agung dan berwibawa diatas wajahnya.

Sebaliknya Giok Teng Hujin serta Pek Kun-gie tidak lebih cuma burung-burung liar yang belum

masuk sangkar semakin lama mereka bergaul dengan Chin Wan-hong, mereka merasakan dirinya

semakin kecil dan tak ada artinya, tanpa mereka sadari perasaan tersebut segera mencekam

seluruh benaknya.

Ketika Pek Kun-gie digandeng keluar oleh Chin Wan-hong, rasa sedih yang timbul dari lubuk

hatinya sukar dilukiskan dengan kata kata, ia bermaksud untuk meronta lepas dari cekalannya

namun ragu, dibiarkan begitu saja hati terasa tak puas, apalagi diapun tak berani menyalahi

orang dihadapannya ini, maka setelah ditarik keluar agak jauh. ia baru berani menegur sambil

mencibirkan bibirnya, “Eeeh…. aku kan bukan dayangmu, kau bawa aku pergi kemana?”

Chin Wan-hong tertawa, setelah berhenti sebentar bisiknya, “Dapat kulihat bahwa engkau

sedang cek cok dengan Thian-hong, bukankah begitu?”

“Huuh! Hubunganku dengannya sudah buyar, antara kami berdua sudah tiada ikatan apa-apa

lagi!” seru Pok Kun gie dengan nada ketus.

Chin Wan-hong tersenyum.

“Ada permulaan tentu ada akhir, apakah engkau tidak takut ditertawakan orang? Ceritakanlah

kepadaku persoalan sedih apakah yang telah kau alami selama ini?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

635

Mendengar pertanyaan itu, merahlah sepasang mata Pek Kun-gie, dengan sedih jawabnya,

“Setelah aku terjatuh ketangan Tang Kwik-siu, hidupku tiap hari bagaikan menemani gerombolan

harimau dan serigala, tiap detik kuharapkan kedatangannya, tiap menit kuharapkan

pertolongannya, tapi ia tetap berada di kota Cho ciu, bahkan sama sekali tak menganggap suatu

persoalan atas peristiwa yang menimpa aku, mimpipun aku tak pernah mengira kalau

kedudukanku jauh lebih rendah dari pada kedudukan Ing ing”

Sampai akhirnya karena sedihnya bukan kepalang, tak tahan lagi dia melelehkan air mata.

“Apakah Thian-hong tahu juga tentang persoalan ini?” tanya Chin Wan-hong dengan lembut.

“Perduli amat dia tahu atau tidak?” jawab Pek Kun-gie dengan penuh rasa mendongkol.

Chin Wan-hong tertawa, ujarnya lagi, “Ooooh! Rupanya engkau jengkel sendirian, tahukah kau

bahwa benaknya cuma dipenuhi oleh masalah besar dunia persilatan? mungkin pikiranya tak

pernah sampai memikirkan keadaanmu ini.”

Dengan sehelai sapu tangan, ia menyeka air mata yang membasahi wajahnya, setelah itu

sambungnya lebih jauh, “Barusan akupun pergi menengok enci Ing ing lebih dahulu sebelum

datang menengok dirimu, urutan ini musti diatur menurut enteng beratnya, dan bukan dibedakan

karena hubungan yang lebih erat, tentang soal ini engkau bisa memahami tidak?”

“Aku ingin tahu, dalam hal apa Ku Ing-ing lebih berat dan Pek Kun-gie lebih enteng”

Jilid 32

“ENCI Ku Ing hidup sebatang kara dalam dunia persilatan, ia tak punya sanak tak punya

keluarga, didunia pada saat ini cuma Thian-hong satu-satunya sanak bagi nya” kata Chin Wanhong

sambil tertawa “sedangkan, engkau adalah mutiara dari perkumpulan Sin-kie-pang

kekuasaan serta kekuatan kalian amat besar sekali, bila Tang Kwik-siu hendak mencelakai dirimu

maka dia harus berpikir akan diri Hoa Thian-hong, iapun musti memperhitungkan pula kekuatan

yang dipunyai perkumpnlan Sin-kie-pang, mampukah untuk dilawan atau tidak karenanya

walaupun engkau berada dalam keadaan bahaya pada hakekatnya keadaan belum mencapai

pada puncak kekritisan yang memerlukan bantuan, berbeda dengan enci Ing ing, waktu itu dia

sedang melakukan siksaan api dingin yang malelehkan sukma”

Pek Kun-gie termenung beberapa saat lamanya, tiba-tiba ia bertanya lagi, “Kenapa siluman rase

itu menutupi wajahnya dengan kain hitam?”

“Setelah mengalami siksaan berat, enci Ing ing menderita tekanan jiwa yang amat berat,

wajahnya ikut berkeriput hingga mengalami perubahan besar, oleh sebab itu sampai sekarang ia

menderita cacad muka. Aii! Kedatangan Thian-hong waktu itu memang tepat sekali, bila dia

datang setengah hari lebih lambat entah siksaan apa lagi yang akan diderita oleh enci Ing ing,

dia adalah seorang manusia yang bernasib jelek, janganlah kau pandang dirinya sebagai seorang

musuh!”

“Hmmm! Rejekimu besar nasibmu, sangat baik tentu saja sikapmu lebih terbuka dari pada orang

lain?” seru Pek Kun-gie dengan mata amat dingin.

Mendengar perkataan itu, Chin Wan-hong tertawa geli.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

636

“Rejeki ada yang besar ada yang kecil, ada pula yang datangnya agak cepat dan ada pula yang

agak lambat, belum tentu nasib mu jelek, cuma datangnya jauh lebih lambat daripada, sekalipun

begitu janganlah menggeruti atau merasa terhadap Thian, daripada sikapmu iri akan menyalahi

Pousat sehingga Pousat tak mau melindungi dirimu!”

“Aku tak sudi dilindungi oleh siapapun!” teriak dara she Pek dengan manja.

Chin Wan-hong tersenyum manis, hiburnya dengan suara lembut, Thian-hong sudah amat lelah

karena tugasnya yang amat berat selama inii, janganlah membuat sedih hatinya lagi, besok kami

akan menemani Bong toako datang kerumah, aku harap engkau jangan mengumbar hawa nafsu

lagi.

Selesai berkata, ia lantas lepaskan tangannya dan turun dari bukit tersebut.

Li-hoa Siancu sedang mananti kedatangannya bagaikan semut diatas wajah yang panas, ketika

perempuan itu munculkan diri ia langsung berseru lantang, “Hong ji, permainan setan apa yang

sedang kau lakukan? Ketahuilah dua orang perempuan itu sama-sama adalah siluman rase, buat

apa engkau ribut-ribut dengan mereka?”

“Aaah! Kami adalah kenalan lama, berbicara soal kehidupan sehari hari memang menarik hati!”

Waktu itu Ciu Thian-hau sedang bermain catur dengan Suma Tiang cing, sedang Cu Im taysu

duduk disampingnya, ia lantas berpaling seraya bertanya, “Hong ji, bagaimana dengan tugasmu

sebagai mak comblang?”

Chin Wan-hong menghampiri padri itu, kemudian menuturkan apa yang telah diucapkan oleh Pek

Siau-thian.

Setelah mendengar penuturan tersebut, Ciu Thian-hau segera tertawa dingin, katanya,

“Heeehh…. heeehh…. heeehh…. omong kosong! Pek Siau-thian itu manusia macam apa? Kog

Bong pay harus menuruti ajarannya, bukankah dia akan ikut menjadi seorang bajingan cilik? Aku

rasa jangan kita penuhi permintaan itu, bila perlu batalkan soal perkawinan ini dan kita carikan

perempuan lain bagi pasangan Bong pay”

“Empek yang baik” ujar Chin Wan-hong sambil tertawa, “emas murni tak takut dibakar dengan

api, Boag Toako adalah seorang laki-laki sejati yang berjiwa kesatria, sewajarnya kalau ia bisa

membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, kalau toh Pek pangcu bisa mempengaruhi

Bong toako, memangnya Bong toako tak dapat mempengaruhi Pek pangcu. Lagi pula bibi dari

keluarga Pek adalah seorang perempuan yang bijaksana, selama Bong toako didampinginya aku

rasa tak akan banyak halangan yang bakal ia temui.”

Berbicara sampai disini, dia lantas berpaling ke arah Cu Im taysu dan diam-diam mohon

bantuannya.

Cu Im taysu adalah padri, seorang yang saleh dan mengutamakan kasih sayang kalau mengikuti

jalan pikirannya maka ia sangat berharap bisa membawa orang jahat untuk kembali kejalan yang

benar.

Maka ketika ia mendengar ucapan terakhir dimana dikatakan kemungkinan juga Bong Pay bisa

mempengaruhi Pek Siau-thian, satu ingatan segera terlintas dalam benaknya, buru-buru serunya,

“Perkataan dari Hong ji memang tak keliru, Bong Pay paling benci kejahatan, diapun bisa

membedakan mana yang baik dan mana yang jahat, kakerasan hatinya melampaui siapapun dan

ilmu silat yang dia miliki juga tak rendah, siapa tahu setelah Pek Siau-thian mempunyai menantu

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

637

seperti Bong Pay dia lantas lepaskan golok pembunuh dan kembali kejalan yang benar? Inilah

kesempatan yang terbaik untuk membawa iblis itu menuju jalan kebenaran, menurut pendapatku

perkawinan ini jangan dilewatkan dengan begitu saja.

Suma Tiang cing yang selama ini membungkam, tiba-tiba berkata, “Kalau toh Cu toako

sendiripnn tidak kuatir, kenapa kita musti menguatirkan dirinya? Apa lagi suatu hari Bong Pay

jadi jahat, kita kan masih punya kesempatan untuk lenyapkan Pek Lo ji dan akar akarnya dari

muka bumi.

Ciu Thian-hau termenung dan berpikir sebentar, lalu sahutnya, “Bagus juga cara ini, tapi kita

bertiga musti menaruh perhatian khusus, sekali Bong Pay salah bertindak maka kita musti turun

tangan dengan tegas.

Perkawinan dari Bong Pay dan Pek Soh-gie pun ditetapkan, begitu malam harinya pihak Sin-kiepang

dan Seng sut pay mendapat giliran kerja, sedang keesokan harinya pekerjaan dilakukan

oleh orang-orang dari Kiu-im-kauw.

Siangnya Hoa Thian-hong suami istri di tambah deagan Chin Giok-liong dengan menemani Bong

Pay menuju perkemahan dari orang-orang Sin-kie-pang.

Oleh karena pihak laki masuk pihak perempuan, mereka tak perlu membawa mas kawin.

Pek Siau-thian sebagai seorang ketua dari suatu perkumpulan besar tidak berdiam diri belaka,

sekalipun berada diluar rumah namun ia tidak bertindak seenaknya.

Kecuali arak dan daging dihidangkan untuk menjamu tamu-tamunya, iapun memberi persenan

yang cukup besar buat anak buahnya, suasana riang gembira segera menyelimuti suasana di

bukit Kiu ci san.

Malam itu, Hoa Thian-hong memimpin jago-jago aneka ragamnya meneruskan penggalian, ketika

kentongan keempat baru lewat dan karena suatu urusan, Hoa Thian-hong sedang keluar dari

liang penggalian, tiba-tiba dari arah dasar liang terdengar seseorang berteriak keras.

Hoa kongcu…. istana Kiu ci kiong telah munculkan diri…. istana Kiu ci kiong telah munculkan diri.

Dengan hati terperanjat, Hoa Thian-hong berpaling ke arah mana berasalnya suara teriakan itu.

Beberapa orang yang berada didalam liang penggalian sambil bersorak sorai dan menari dan

teriaknya berulang kali.

“Istana Kiu ci kiong telah munculkan diri! Sobat-sobat semua dan lihatlah…. istana Kiu ci kiong

telah muncul dari dasar per-mukaan tanah”

Teriakan-teriakan keras itu membelah kesunyian yang mencekam di malam buta itu, semua jago

dibuat terkejut dan sadar dari tidurnya, dalam waktu singkat jago-jago lihay dari pelbagai

pelosok tempat baik dari golongan putih maupun dari golongan hitam serentak ber larian masuk

kedalam liang tersebut.

Luas liang yang sedang digali itu mencapai sepanjang dua puluh kaki dengan lebar empat puluh

kaki, tiap lima depa digantung sebuah tangga dan dalamnya sudah mencapai sembilan puluh

kaki.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar