Selasa, 06 Oktober 2009

neraka 2

Jilid 3

Tapi ia tidak menjadi gelisah atau panik karenanya, sebab dengan dasar hiolo kumala yang

diperoleh disisi mayat Suma Tiang cing, ia bisa minta keterangan dari Giok teng hujin yang kini

sudah merubah nama menjadi Tiang heng Tokeh, sekalipun belum tentu pembunuhnya bisa

ditemukan, paling sedikit ia bisa mengorek keterangan tentang nyonya Yu dan Si Leng jin…..

Berpikir sampai disitu, sadarlah pemuda kita bahwa Kok See-piau memang sengaja berkata

demikian karena mengandung maksud-maksud tertentu, cuma apa maksudnya tidak berhasil

ditebak olehnya. Setelah termenung sebentar, katanya kemudian sambil tertawa, “Dalam dunia

persilatan dewasa ini hanya ada tiga perkumpulan besar yang menjadi motornya, bila ada orang

ingin beradu akal dengan Kui im kaucu, hakekatnya perbuatan orang itu adalah perbuatan dari

seorang manusia goblok”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

47

Lau san in siu Ui Shia leng yang selama ini cuma membungkam, tiba-tiba ikut menimbrung,

“Pada umumnya orang lebih suka mengbaikan fakta atau bukti yang telah berada di depan mata

dengan mencari fakta yang jauh darinya, mungkin orang itu memahami akan hal tersebut

sehingga secara berani melakukan tindakan diluar peri kemanusiaan itu.”

“Haaahh…haaah…haaahhh.. Kaucu kalian adalah seorang manusia berbakat yang sangat cerdik,

mana boleh menyamakan dia dengan orang-orang biasa.”

“Jadi Hoa kongcu menaruh kecurigaan dan sangsi terhadap apa yang diucapkan oleh Sinkun

barusan?” tanya Ci Siucu.

Hoa In-liong segera berpaling, kemudian katanya dengan wajah bersungguh sungguh, “Kaucu

kalian adalah seorang manusia yang jempolan, tokoh yang terhormat, mana mungkin orang

terhormat semacam dia sengaja menciptakan kabar bohong untuk menipu orang? Tentu saja aku

sangat mempercayai perkataannya itu dan sekarang justru aku sedang siap menantikan

penjelasan berikut-nya dari Sinkun.

Selama ini Kok See-piau hanya mengamati mimik wajah Hoa In-liong dari samping ternyata ia

gagal menemukan perubahan wajah anak muda itu, sehingga dia sendiripun tak tahu apa yang

sedang diper-timbangkannya sekarang, tak kuasa lagi dampratnya di dalam hati.

“Huuh….licik amat bajingan cilik ini!”

Sementara itu terdengar Hoa In-liong berkata kembali, “Ketika Suma siok-ya suami istri

terbunuh, mayat mereka telah kuperiksa dengan seksama, kalau ditinjau dari bekas gigitan yang

begitu rata pada tenggorokannya, jelas mereka tewas karena gigitan sejenis makhluk buas,

kemudian akupun telah berjumpa dengan seorang perempuan she-Yu yang membopong seekor

kucing hitam, orang itu jelas adalah anak buah dari Kiu-im kau….”

“Yu-si memang amat mencurigakan, cuma ia bukan pembunuh yang sesungguhnya,” kata Kok

See-piau.

“Aneh benar orang ini……” Hoa In-liong lantas berpikir, “kenapa ia berusaha keras membersihkan

Kiu im kau dari keterlibatan peristiwa ini? Entah apa maksud dan tujuannya?”

“Hoa kongcu!” Ci Soat-cu lantas berkata “sepanjang perjalanan pinto pulang kedaratan

Tionggoan dari luar samudra, telah kujumpai beberapa orang manusia baju hitam berkerudung

yang mencurigakan sekali gerak geriknya, ilmu silat mereka sangat tinggi, jelas merupakan jagojago

tangguh berilmu tangguh!”

“Ah….masa benar?” tegur Hoa In-liong.

“Benar, aku berbicara apa adanya!” Ci Soat-cu menegaskan kembali dengan wajah serius.

Dapatkah tootiang memberi penjelasan lebih lanjut?

Ci Soat cu termenung dan berpikir sebentar, kemudian katanya, “Tahun berselang ketika pinto

sedang berada di luar kota Ciok kun, tiba-tiba kusaksikan ada sesosok bayangan manusia

bergerak lewat, aku merasa tertarik sekali dan segera menyusulnya…….”

Tootiang, sebagai murid Sim-cing koang masih besar amat rasa ingin tahumu!” sindir Hoa Inliong

sambil tertawa.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

48

Hmm…! Keturunan orang kaya ternyata kebanyakan memang tak tahu sopan santun, damprat

Toa-koay dari Im-siang kay dengan nada ketus”.

Tapi Hoa In-liong pura pura berlagak tidak mendengar, sorot matanya masih tetap tertuju ke

arah toosu tadi.

Ci Soat-cu sendiri juga tidak terlalu memperhatikan sindiran tadi, sambil tertawa tergelak

katanya, “Bukan berarti pinto sangat besar rasa ingin tahunya, adalah karena Sinkun berpesan

agar sepanjang perjalanan bertindak lebih berhati-hati maka dari itu setelah menjumpai kejadian

tersebut, tentu saja pinto tak dapat melepaskannya dengan begitu saja.”

Setelah berhenti sebentar, kembali lanjutnya, “Setelah pengejaran dilakukan sekian lama

akhirnya sampailah di depan sebuah rumah gubuk di dalam hutan, bayangan hitam itu

berkelebat masuk ke dalam rumah dan pintopun segera menyusul ke situ, ternyata di dalam

rumah telah berkumpul lima orang manusia berbaju hitam, cuma kain cadar mereka telah

dilepaskan, sayang pinto terlalu jarang berkelana dalam dunia persilatan, jadi orang-orang itu

tidak kukenali pula siapa nama-nama mereka, meski demikian raut wajahnya sempat kuinngat

selalu, beberapa orang itu berusia sekitar lima puluh tahunan, mukanya sangat biasa cuma salah

seorang diantaranya bercodet pada pipi kirinya mungkin pernah tersambar tusukan pedang

hingga mata kiripun ikut lenyap, ia berjenggot dan ru panya merupakan pemimpin rombongan.”

Hoa In-liong sendiripun tidak dapat menduga, apakah jago persilatan dengan raut wajah

semacam itu, maka pikirnya, “Hmmm…….? Siapa tahu kalau kau cuma mengarang saja yang

bukan bukan…………?”

“Setelah berbicara beberapa patah kata masalah ringan, mereka mulai berunding.”

Ci Soat-ca melanjutkan, “Pinto yang berhasil menyadap pembicaran mereka merasa amat

terkejut, ternyata dalam pembicaraan itu mereka berencana hendak memusuhi tiga perkumpulan

besar serta keluarga Hoa kongcu, bahkan bila perlu mereka hendak mengajak beradu jiwa

sehingga musuh-musuhnya dapat dilenyapkan satu persatu……….”

“Dapatkah tootiang menjelaskan pembicaraan diantara kelima orang itu secara lebih terperinci?”

sela Hoa In-liong tiba-tiba.

CiSoat-cu tertegun, kemudian katanya, “Pinto sudah tidak terlalu ingat lagi!”

“Aaah……….! Masa terhadap masalah penting seperti itu, dengan kecerdasan totiang-pun bisa

terlupakan?”

Ci Soat-cu tahu kalau Hoa In-liong menaruh curiga terhadap pembicaraannya dan ingin

menemukan titik kelemahan dari balik perkataannya, maka ia cuma tersenyum dan tidak

menanggapi.

Ji-koay dari Im san siang-koay tidak terima dengan cepat katanya, “Lupa adalah suatu kejadian

yang umum dijumpai dalam kehidupan manusia, apa yang musti diherankan?”

Hoa In-liong segera tertawa nyaring.

“Haaahh…….haaahhh……….haaahh……..maklumlah, lantaran urusan ini sangat luar biasa, jadi

jangan salahkan kalau terpaksa aku orang She Hoa musti berhati-hati.”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

49

Setelah berhenti sebentar, katanya lagi dengan suara dalam.

“Dengan kepandaian silat yang dimiliki tootiang, kenapa tidak kau tangkap seorang diantara

mereka untuk diperiksa?”

Ci Soat cu tertawa getir.

“Apa yang musti kulakukan? Pinto merasa menyesal karena dihari-hari biasa telah melantarkan

pelajaran silatku, aaai…….! Ketika Pinto telah menginjak patah ranting pohon, dengan cepat

jejakku diketahui oleh kelima orang tersebut. Sungguh amat hebat ilmu silat mereka, dibawah

kerubutan mereka berlima, Pinto harus berjuang mati matian untuk menyelamatkan diri, bisa

kabur dari kepunganpun sudah termasuk untung, apa lagi berbicara soal menangkap salah

seorang diantara mereka untuk diperiksa?”

Hoa In-liong tertawa.

“Sejak rahasia mereka tertahan, orang-orang itu tentu semakin menghilangkan jejak mereka

dalam dunia persilatan,” katanya.

Lau-san in siu Ui Shia ling segera terbahak-bahak.

“Haa-h…..haah…..haaahh…..sejak dulu sampai sekarang orang-orang yang menganggap dirinya

cukup tangguh dan berilmu, selamanya tak suka mengasingkan diri hidup menyendiri, bagi

mereka berlaku prinsip lebih baik mampus daripada tidak melakukan sesuatu pekerjaan yang

besar dan cemerlang.”

Hoa In-liong manggut-manggut.

“Betul, kemungkinan besar mereka malah melaksanakan perbuatan tersebut secara terbuka!”

Tiba-tiba Kok See-piau menyesal dengan hambar. “Kalau toh Hoa kongcu tetap menaruh curiga,

banyak bicara juga tak ada gunanya, untung saja kata-kata tersebut bukan sengaja dibuat buat

dengan dasar kecerdasan Hoa kongcu asal mau menaruh perhatian secara khusus, rasanya tidak

sulit untuk menemukan gejala gejala tersebut.”

Ci Soat cu mengebalkan senjata Hud timnya dan menyahut.

“Ucapan Sinkun ada benarnya juga, baiklah pinto akan mengakhiri ceritaku sampai disini saja.”

Hoa In-liong yang menyaksikan kejadian tersebut, diam-diam berpikir dalam hati, “Kebanyakan

perbuatan mereka itu cuma sandiwara yang telah diatur terlebih dulu, hmm…….! Memang kalian

anggap aku orang she Hoa adalah orang bodoh yang gampang dikelabuhi? Jangan bermimpi

disiang hari bolong … ….!”

Berpikir sampai disitu, katanya sambil tersenyum, “Sesungguhnya aku ingin mohon petunjuk,

cuma tidak kuketahui bagaimana caranya untuk buka suara!”

Sambil mengelus jenggotnya Ci Soat cu tertawa.

“Waaah….pinto sama saja, dibuat harus mengingkari kata-kata sendiri, silahkan Hoa kongcu

bertanya,”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

50

Hoa In-liong berpikir sebentar, tiba-tiba katanya sambil tertawa, “Dari pembicaraan orang-orang

itu , tootiang berhasil menemukan soal apa yang dirasakan penting?”

Ci soat cu berpikir sebentar, kemudian sahutnya, “Sesungguhnya tidak terlalu banyak yang

berhasil pinto dengar, aku hanya sempat mendengar sebutan Cong tongkeh sebanyak beberapa

kali.”

Mendengar itu, Hoa In-liong manjadi sangat terkejut.

“Oooh…jadi Hong im hwe hendak munculkana diri kembali dalam dunia persilatan.”

“Pinto sendiripun pernah menduga sampai ke situ!”

Hoa In-liong kembali berpikir, “Kemungkinan besar Hong im hwa hendak munculkan diri kembali

ke dalam dunia persilatan dan mungkin saja Hian-beng-kau diminta untuk menyelidiki gejala

gejala dalam dunia persilatan pada umumnya…”

Berpikir sampai disini, dia lantas mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain, katanya, “Dalam

surat undangan sie-kun mengatakan hen dak Cu ciu lun kiam (minum arak sambil membicarakan

ilmu pedang), entah dengan cara apakah kalian hendak membicarakan soal ilmu pedang?”

“Ilmu silat Hoa kongcu sangat lihay, aku rasa pasti sudah memperoleh seluruh kepandaian

warisan ayahnya bukan?” kata Kok See-piau dengan kening berkerut.

Ilmu silat Sinkun merajai seluruh dunia, aku mengaku masih bukan tandingannmu, entah

pertandingan ini akan dilakukan secara lisan saja ataukah……..

“Sebenarnya hendak diselenggarakan secara lisan saja,” tukas Kok See-piau sambil tertawa,

“sayangnya ilmu silat aliran Kiu ci ki Ong sangat aneh dan asing bagi pendengaran orang, aku

kuatir sekalipun jurus-jurus serangan kusebutkan, belum tentu orang luar mengetahuinya.”

“Kalau begitu pertandingan akan diselenggarakan dimana? Silahkan Sinkun memberi petunjuk.”

Kok See-piau ikut bangkit lalu katanya sambil tertawa, “Umum kalau pemuda itu berdarah panas,

jadi kalau ingin cepat-cepat angkat nama bukan lagi suatu kejadian aneh.”

Sesudah ketuanya bangkit Ui-san-in-siu, Lau-san-siang-koay dan jago-jago lainnya ikut bangkit

berdiri, dipimpin oleh Kok See-piau yang jalan bersanding dengan Hoa In-liong, berangkatlah

mereka tinggalkan ruangan tersebut.

Turun dari ruang tengah mereka melalui sebuah jalan sempit dan tiba disebuah tanah datar yang

beralaskan batu-batu hijau, luasnya cuma sepuluh kaki, dan suasananya terang benderang

karena kawanan jago Hian-beng-kau telah mengelilingi sekitar sana sambil mengangkat tinggi

obor-obornya.

Jika Hoa In-liong ingin menjajal kepandaian Kok See-piau, maka Kok See-piau ingin mengetahui

taraf kepandaian silat Hoa Thian-hong dari kepandaian yang dimiliki Hoa In-liong sekarang,

dengan demikian kedua belah pihak sama-sama berhasrat untuk menyelidiki taraf kemampuan

masing-masing pihak.

Setelah berada di tengah lapangan batu, dua orang itu berdiri saling berhadapan, kemudian

berkatalah Hoa In-liong, “Apakah Sinkun sendiri yang hendak memberi petunjuk kepadaku??”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

51

Sebenarnya lohu ingin turun tangan sendiri tapi akupun kuatir kalau orang mengatakan aku situa

menganiayai si-muda. Sementara itu Go Tang cuan, Ci Soat cu, Ui Shia-ling dan sekalian jago

telah berdiri pula di sekitar gelanggang, tiba-tiba Ciu-hoa lompat tampil kedepan, setelah

memberi hormat kepada Kok See-piau katanya, “Suhu, kenapa kau musti turun tangan sendiri?

Tecu bersedia mewakili dirimu.”

“Tapi kau masih bukan tandingan Hoa kongcu…” kata Kok See-piau dengan kening berkerut.

Hoa In-liong putar otak dengan cepat, tiba-tiba ia menengadah dan tertawa terbahak-bahak.

“Haaahh……,haaahhh,….haaahhh……..maaf kalau aku orang she Hoa terpaksa omong besar,

pada hakekatnya ke delapan orang murid Sinkun tak akan mampu menahan tiga puluh gebrakan

seranganku, tapi jika kalian tidak percaya dengan pendapatku orang she Hoa, tentu saja tidak

ada halangannya jika muridmu dipersilahkan turun kearena.”

Ciu Hoa sekalian menjadi gusar sekali setelah mendengar perkataan itu, ditatapnya Hoa In-liong

dengan sepasang mata melo tot besar, kalau bisa mungkin mereka ingin menelan si anak

muda itu bulat-bulat.

Kok Shee piau juga bukan orang bodoh diam-diam ia lantas berpikir pula, “Aneh, kenapa secara

tiba-tiba bajingan cilik ini menjadi takabur? Sudah pasti ada sebab musababnya!”

Berpikir sampai disitu dia lantas siapkan tangannya sambil berkata, “Kalau begitu terimalah

ketiga puluh jarus serangannya, kalau sudah kalah cepat mundur, jangan dipaksakan terus”

Ciu Hoa lo pat memberi hormat sambil menerima perintah. kemudian ia memutar badan sambil

maju dua langkah katanya dengan suara menyeramkan, “Hoa kongcu, maaf!”

“Silahkan!” kata Hoa In-liong sambil megulapkan tangannya, sikapnya sangat santai seakan akan

musuhnya tak dipandang sebelah mata pun.

Semenjak tadi Ciu Hoa lo pat sudah menahan rasa cemburu dan irinya yang meluap-luap, tentu

saja ia tidak sungkan sungkan lagi, telapak tangannya segera dikepalkan dan langsung

menghantam ke dada lawan.

Hoa In-liong miringkan badannya ke samping menghindari ancaman itu, kemudian telapak

tangan kanannya disodok ke depan menangkis datangnya ancaman musuh itu.

Sejak gerakan yang pertama Kok See-piau sekalipun sudah mengetahui bahwa ilmu silat yang di

miliki Hoa In-liong jauh melebihi kepandaian Ciu Hoa lo pat, dalam tiga puluh gebrakan

kemungkinan Ciu Hoa lo pat memang bisa dikalahkan, bergetar juga perasaan batinya.

“Jika seorang bocah muda dari keluarga Hoa pun memiliki ilmu silat setangguh ini, apalagi Hoa

Thian bong pribadi?” demikian pikirnya.

Ciu Hoa lo-pat sendiripun merasakan juga betapa tangguhnya ilmu silat lawan, akan tetapi ia

enggan mengundurkan diri dengan begitu saja, sambil membentak keras ia keluarkan ilmu Kiu-cisin

ciang (pukulan sakti dari istana Kiu ci) yang maha sakti itu, jurus demi jurus semuanya

dilancarkan dengan gerakan aneh.

Hoa In-liong masih tetap bersikap santai dengan entengnya ia sambut semua serangan demi

serangan, pikirnya, “Kelihatanrya ilmu pedang mereka diciptakan berasal dari ilmu pukulan, wah,

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

52

kalau begitu ilmu kepandaian tersebut bisa juga di bandingkan dengan ilmu Su-siu-heng huan

ciang dari keluarga Coa.”

Tapi si anak muda itu sama sekali tidak mengeluarkan ilmu pukulan Su-siu-huan heng ciang, dia

hanya melayani serangan-serangan musuh dengan ilmu Sian kici lip dan Mie tiong toa jiueng

yang, tercatat dalam kitab Thian-bua-cha-ki, rupanya selama beberapa hari belakangan ini,

sebagai persiapan untuk menghadapi Mo Kau ia khusus melatih ilmu silat tersebut sebagai bekal.

Dalam waktu singkat dua puluh gerakan sudah lewat, Hoa In-liong yang teringat bahwa ia telah

sesumbar dengan mengatakan akan mengalahkan muridnya Kok See-piau dalam tiga puluh

gebrakan, segera membentak keras, ilmu pukulannya lantas berubah dengan jurus Kuo sia ci tau

(perlawanan binatang terkurung) ia menghantam tubuh lawan.

Dari deruan angin pukulan yang begitu dahsyat Ciu Hoa lo pat sudah tahu bahwa sulit baginya

untuk menahan ancaman tersebut, padahal kepandaian silatnya merupakan yang tertinggi

diantara ketujuh orang saudara seperguruannya, jelas bukan kepandaian sembarangan.

Maka dengan jurus Moay im kiu-huan (bayangan iblis berubah sembilan) telapak tangannya

menyambar dari samping mengancam iga kiri Hoa In-liong, sementara tubuhnya berkelabat

lewat meng-hindari serangan dahsyat musuh itu.

Secara beruntna Hoa In-liong menyerang musuhnya dengan tiga jurus Kun siu ci tau.

kemudian secara tiba-tiba gerakkannya berubah menjadi jurus It yong bu wi (satu kegunaan tak

berkedudukan), tubuhnya menerjang ke muka dan jari tangannya menekan di atas jalan darah

Hiat bun siang ki ditubuh Ciu Hoa Lo pat, setelah itu sambil tertawa ringan ia menarik kembali

serangannya sambil mundur ke belakang.

Jurus jurus serangan itu semuanya dilancarkan secara bersambungan antara yang satu dengan

lainnya, sedikitpun tidak ditemukan tanda-tanda yang bisa ditunggangi oleh lawan, sekalipun

Goau cing taysu yang menyaksikan sendiri, tak urung akan memuji juga, apalagi Kok See-piau

sekalian, mereka lebih lebih tertarik lagi.

“Apakah sudah melampaui jurus ketiga puluh?” tanya Hoa In-liong sambil putar badan dan

tertawa.

“Baru jurus yang ke dua puluh sembilan jawab Kok See-piau hambar.

Merah padam selembar wajah Ciu Hoa lo pat, tiba-tiba ia membentak keras lalu menerjang ke

depan, dengan sekuat tenaga ia lancarkan sebuah pukulan ke tubuh lawan dengan jurus Hun yukiu

yu (sukma bergentayangan ke neraka tingkat sembilan) sebuah jurus tangguh dari ilmu

pukulan Kiu ci sin ciang.

“Hmmm….. manusia yang tak tahu diri!” hardik Kok See-piau gusar.

Secepat sambaran kilat ia cengkeram bahu kiri Ciu Hoa lo pat, lalu….

“Plok! Plok!” ia tempeleng wajah muridnya keras-keras, lalu sambil melemparkun tubuhnya ke

luar gelanggang hardiknya, “Enyah kau dari sini!”

Ciu Hoi Lo pat terlempar jatuh diluar lapangan berbatu, secara beruntun ia harus mundur

beberapa langkah sebelum akhirnya berhasil berdiri tegak secara paksa, ia berpaling dan melotot

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

53

sekejap ke arah Hoa In-liong dengan penuh kebencian kemudian putar badan dan kabur ke

halaman belakang….

Air muka Kok See-piau tetap tenang dan tidak menunjukan perubahan apa apa katanya malah,

“Muridku tidak tahu kalau Hoa kongcu telah mengampuni selembar jiwanya, maka untuk

kelancangan serta ketidak tahuanya itu itu lohu mohon maaf pula untuk diri Hoa koagcu.”

“Apakah Siukun telah bersedia untuk memberi petunjuk sendiri kepadaku…..?

Kok See-piau tersenyum, dengan mata memancarkan sinar tajam jawabnya, “Lohu akan mohon

petunjuk lima puluh jurus dari kongcu.”

Arti dari kata-kata tersebut adalah dalam lima puluh jurus pasti ia akan berbasil mengalahkan

Hoa In-liong.

Terkesiap pula si anak itu, pikirnya!

Dalam pertempuran barusan, aku belum mempergunakan segenap kekuatanku, tapi Kok Seepiau

berani mengatakan bahwa dalam lima puluh gebrakan ia bisa mengalahkan diriku, bila tiada

kenyakinan sebesar tujuh delapan puluh persen tak nanti ia berani bicara sesumbar, apalagi

sebagai ketua dari suatu perguruan besar, tentu saja dia tak mau kalau perkataannya sampai

dibuat bahan tertawa orang lain…”

Karena berpikir, ia segera memusatkan segenap pikiranya untuk menghadapi lawan, katanya

sambil memberi hormat, “Silahkan.”

“Lohu sudah siap menantikan petunjukku?”

Kok See-piau memberi hormat pula.

Tiba-tiba Lau san in sin Ui Shia ling berteriak, “Hoa kongcu!! Siokun! Harap tunggu sebentar!”

Sambil berkata ia lantas memburu maju ke depan dan menghadang di tengah antara Kok Seepiau

dengan Hoa In-liong, kemudian sambil memberi hormat kepada ketuanya dia berkata,

“Tiba-tiba saja hamba merasa gatal tangan, bolehkah aku beradu kepandaian dengan Hoa

kongcu?”

Kok See-piau mengerutkan dahinya.

“Selayaknya Ui lo boleh saja melayani dia jika kalau benar merasa gatal tangan, akan tetapi

dengan demikian bukankah sama artinya bahwa pun sin-kuo telah melayani Hoa kongcu dengan

cara ber gilir?”

“menurut pendapat bodoh hamba, lebih baik pertarungan, antara Siakun melawan Hoa kongcu

ditunda sampai lain waktu saja.

Hoa In-liong yang menyaksikan kejadian tersebut, kembali berpikir dalam hatinya, “Agaknya Ui

Shia-ling dan Ci Soat-cu sekalipun tidak yakin jika Kok See-piau sanggup mengalahkan diriku

dalam lima puluh gebrakan, maka sengaja mereka tampilkan diri untuk menggantikan

kedudukkannya.”

Sorot matanya segera dialihkan kembali ke tengah gelanggang, dia ingin tahu apakah Kok Seepiau

mengijinkan permintaan tersebut atau tidak.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

54

Tampak Kok See-piau termenung dan berpikir sebentar, kemudian seraya berpaling katanya

sambil tertawa.

“Bagaimana pula dengan pendapat Hoa kongcu?”

Hoa In-liong tertawa, “Buat aku sih sama saja……”

Diluar berkata begitu, dalam hati pikirnya, “Sudah pasti Kok See-piau tidak mempunyai keyakinan

untuk menangkan aku dalam lima puluh gebrakan, sedang kata-kata sumbarnya hanya di pakai

untuk mencari kembali mukanya yang hilang, coba kalau berganti Ting Kwik siu dan Kiu im

kaucu, sekalipun bisa menangkap diriku juga bukan urusan gampang, masa dia sehebat itu?”

Berpikir sampai disitu, lagi ia merasa bahwa Kok See-piau yang dihadapinya sekarang

mempunyai jalan pikiran yang lebih dalam dari samudra, jelas manusia semacam ini tak boleh

dihadapi secara gegabah.

Sementara itu Ui Shia ling telah berkata lagi sambil memberi hormat, “Hoa kongcu dengan tak

tahu diri, lolap ingin memohon petunjuk ilmu silat dari Liok-soat sanceng, semoga kau bersedia

mengampuni selembar jiwa tuaku dalam setangan seranganmu nanti.”

“Aaah……kepandaian silatku amat terbatas, justru Ui locian pwelah yang harus mengampuni

jiwaku……………” kata Hoa In-liong dengan cepat sambil tertawa lebar.

Sesungguhnya ucapan ucapan dari Ui Shia ling tadi hanya merupakan kata-kata untuk sopan

san-tun, siapa tahu Hoa In-liong sebagai anak muda yang belum lama terjun ke dalam dunia

persilatan telah menganggapnya sungguhan, ini membuatnya menjadi tertegun.

“Lantas menurut anggapan Hoa kongcu…….” katanya.

Hoa In-liong tertawa nyaring.

“Haahhh…. haahhh… haahh… dalam suatu pertempuran sang anak tak akan mengenali sang

ayah, aku rasa segala macam kata-kata sopan santun lebih baik jangan dibicarakan.”

Sungguh amat gusar Ui Shia ling mendengar perkataan itu, makinya di dalam hati, “Sombong

amat bocah keparat ini!”

Tapi diluar wajahnya ia tetap tersenyum ramah, katanya kemudian sambil mengelus jenggotnya,

“Kalau begitu, biarlah kuturuti saja kehendak Hoa kongcu.”

Kok See-piau sendiri telah mengnndurkan! diri ketepi arena, pikirnya, “Konon meski bocah ini

binal dihari biasa, tak pernah sikapnya sombong atau tinggi hati sewaktu berhadap dengan

musuh, kenapa secara tiba-tiba sikapnya berubah sesombong itu? Dia maksudnya ingin

memancing amarah pun sinku agar kau mendapat kesempatan untuk mencuri lihat tinggi

rendahnya ilmu silatku, maka anggap saja keinginanmu itu cuma sia-sia belaka.”

Sementara ia berpikir sampai kesitu, Hoa In-liong sudah berkata, “maaf” lalu menyerbu kemuka

dan sebuah pukulan langsung di lontarkan ke depan tapi sebelum mencapai pada sasarannya

serangan itu telah berubah menjadi serangan jari.”

Hoa In-liong tahu bahwa Ui shia- ling pastilah salah seorang diantara lima orang jago paling

tangguh dalam perkumpulan Hian-beng-kau, ia tak berani bertindak gegabah, begitu maju

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

55

melancarkan serangan, ia langsung mempergunakan “Menyerang sampai mati bagian pertama”

dari ilmu Ci yu-jit-ciat (tujuh kupasan jari Ci yu)

Ui Shia ling adalah seorang jago tangguh yang bermata tajam, dalam sekilas pandangan saja ia

sudah tahu kalau serangan pertama adalah serangan kosong sedang ancaman yang mematikan

berada di belakang, maka ketika menyaksikan datangnya serangan jari yang begitu dahsyat, ia

segera membentak nyaring, “Bagus!”

Telapak tangan kirinya menyambar ke depan mengancam pergelangan tangan lawan, kelima jari

tangannya menyentil bersama dan desingan angin tajam pun menderu-deru menembusi angkasa

langsung menyambar ketubuh lawan, sedemikian hebatnya ancaman tersebut, sungguh tak malu

disebut sebagai seorang jago tangguh.

Jurus serangan Hoa In-liong kembali berubah, ibu jarinya direntangkan kaku, desingan angin

tajam langsung menerobos kedepan mengancam jalan darah Tay-ik-hiat di tubuh Ui Shia-ling.

Sebelum melepaskan serangan tadi, Ui Shia-ling telah menyiapkan jalan mundur bagi diri sendiri,

ia segera tertawa terbahak-bahak, disaat yang kritis tiba-tiba badannya bergeser setengah depa

ke samping menghindari ancaran desingan jari tangan musuh, kemudian pikirnya, “Rangkaian

ilmu jari ini benar-benar merupakan serangkaian ilmu silat yang amat hebat!”

Dalam waktu singkat kedua orang itu sudah terlibat dalam suatu pertarungan sengit yang betulbetul

amat seru.

Tenaga dalam yang dimiliki kedua orang itu boleh dibilang sudah mencapai puncak

kesempurnaan, Kok See-piau sebagai seorang tokoh persilatan yang maha sakti segera dapat

mengetahui bahwa pertarungan tersebut merupakan sebuah pertarungan menarik, seluruh

perhatiannya segera di tujukan untuk memperhatikan gerakan serangan dari Hoa In-liong.

Siapa tahu empat puluh gerakan kemudian Hoa In-liong masih tetap berada dibawah angin

meskipun dengan mengandalkan satu dua macam gerakan aneh ia berhasil mempertahankan

diri, namun wajahnya tampak begitu cemas dan gelisah.

Setelah mengikuti jalannya pertarungan sekian lama Go Tang cuan lantas berbisik kepada Kok

See-piau dengan ilmu menyampaikan suara, “Jelas si bocah cilik dari keluarga Hoa sengaja

sedang menyembunyikan ilmu silatnya.”

Kok See-piau manggut-manggut, lalu menggunakan ilmu menyampaikan suara katanya pula,

“Menurut pendapatmu, berapa hebatnya ilmu silat bocah itu?”

Go lang cuan mengalihkan kembali sinar matanya ke tengah gelanggang dan memperhatikan

sekejap gerakan tangan Hoa In-liong, lalu seraya berpaling sahutnya, “Aku rasa tidak berada

dibawah kepandaiaan Ui Kim.”

“Kalau begitu pandanganmu…….” Kok See-piau manggut-manggut.

Setelah berhenti sebentar, katanya lagi, “Kalau begitu, tenaga dalam yang dimiliki Hoa Thianhong

tentu berkembang jauh lebih hebat lagi.”

“Bagaimana kalau Siakun lukai secara diam-diam si bocah tersebut dengan ilmu Kiu ci im jiu

(Tangan pembunuh dari Kiu ci), dari pada meninggalkan bibit bencana dikemudian hari?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

56

“Kurang cocok!” Kok See-piau menggeleng “orang pandai dari keluarga Hoa sangat banyak,

bocah itu sendiri, juga bukan manusia sembarangan, sulit rasanya untuk bertindak tanpa

meninggalkan jejak, padahal persiapan kita sekarang belum sempurna, tidak baik jika

menimbulkan perpecahan dengan pihak keluarga Hoa terlalu awal”

“Lantas bagaimana dengan kejadian hari ini? Apakah hendak dilaksanakan seperti apa yang kita

rencanakan semula?”

Sementara Kok See-piau sedang termenung untuk mengambil keputusan, tiba-tiba muncul

seorang anggauta perkumpulan yang menghampiri Toan bok See-liang secara tergesa-gesa,

kemudian katanya, “Lapor kaucu, diluar perkampungan ditemukan segerombolan besar jago

persilatan yang menyembunyikan diri dibalik hutan, sudah enam tujuh buah pos penjagaan kita

yang kena dibereskan oleh mereka.”

“Kawanan manusia macam apakah yang telah datang?” tanya Toan-bok See-liang dengan kening

berkerut.

“Hamba belum melakukan pemeriksaan yang seksama!”

“Berapa besar jumlah kekuatan mereka?” sela Heng Wi-cian tiba-tiba.

“Paling sedikit juga mencapai dua sampai tiga puluh orang!”

Beng Wi-cian lantas berpaling ke arah Toan-bok See liang seraya berkata pula, “Kemungkinan

besar mereka adalah sahabat sahabat dari si bocah dari keluarga Hoa, padahal letak

perkampungan kita cukup rahasia, selama kita bawa bocah itu menuju kemari, sepanjang

perjalananpun su-dah dilakukan pengawasan serta pengamatan yang amat teliti serta rahasia,

kenapa begitu cepat pihak lawan bisa mengetahui tempat kita ini? Tong-boa Heng, lebih baik kita

laporkan saja kepada siakun…

Padahal Kok See-piau sudah mendengar pembicaraan mereka, seraya berpaling dan tertawa

tawa katanya, “Orang-orang pandai dipihak mereka sangat banyak, kejadian ini tak perlu

diherankan.”

“Berbicara atas dasar kekuatan kita sekarang, sesungguhnya tidak sulit untuk melenyapkan

semua musuh yang menyerang datang Sinkun….”

“Jika ingin menggunakan kekerasan, kenapa kita mesti menunggu sampai sekarang?” tukas Kok

See-piau, “sama sekali tak boleh kita lakukan segala tindakan secara gegabah.”

Setelah berhenti sejenak, kepada Tang Bong liang katanya pula, “Tang bong liang, cepat

turunkan perintah, jangan sampai bentrok secara langsung dengan para pendatang.”

Tang Bong liang membungkukkan badan menerima perintah, kemudian mengundurkan diri dari

situ.

Toan bok See liang dan Beng Wi cian meski merasa tindakan tersebut terlampau melemahkan

semangat sendiri, akan tetapi setelah Kok See-piau memutuskan demikian tentu saja mereka tak

berani banyak berbicara lagi.

Berbeda hanya dengan Lau san siang koay (sepasang manusia aneh dari Lui san) ini, sebagai

tamu agung dalam perkumpulan Hian-beng-kau, mereka lebih bebas bergerak dan tak perlu

menguatirkan apa apa, ketika menyaksikan kejadian itu langsung saja Toa koy berteriak,

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

57

“Sebagai orang utara aku adalah manusia yang punya sepatah kata mengucapkan sepatah kata

ha-rap Sinkun jangan menjadi gusar. Sesungguhnya sampai dimanakah kelihayan Hoa Thianhong?

Kenapa Sinkun musti jeri kepadanya?”

Kok See-piau segera tersenyum.

“Meskipun Hoa Thian-hong itu sangat lihay Pun Sinkun tak sampai jeri kepadanya. Cuma selama

dua puluh tahun terakhir ini daya pengaruh serta kekuasaan keluarga Hoa sudah mulai berakar

dalam du nia persilatan, segala yang telah berakar biasanya sukar dihilangkan, maka tanpa

rencana serta perhitungan yang matang lebih baik jangan bertindak sekehendak hati sendiri.”

Tiba-tiba dari tengah arena berkumandang suara bentakan Ui Shia ling yang amat nyaring, Lohu

tidak percaya kalau tak sanggup memaksamu untuk menggunakan segenap kekuatan tubuh

yang kau miliki.

Kata terakhir belum diucapkan, tiba-tiba ia mengeluarkan ilmu simpanan dari aliran Lau-san yang

disebut ilmu pukulan Hay-eng kun-hoat, setiap jurus pukulan yang dilancarkan selalu disertai

dengan tenaga dalam yang cukup sempurna, ibaratnya gulungan ombak di tengah samudra,

segulung demi segulung datang menerjang tiada hentinya.

Dalam waktu singkat, Hoa In-liong sudah terjebak dalam posisi yang sangat membahayakan

jiwanya, suasana menjadi gawat…

Hoa In-liong mengernyitkan sepasang alis matanya, tiba-tiba diapun mengembangkan ilmu

pukulan saktinya secara beruntun ia per gunakan jurus-jurus Pian-tong-put-ki (berubah tidak

menetap), Jit gwat-siang-tui (matahari dan saling mendorong) dan To-yau-siu jut (pompa angin

keluar masuk).

Dalam waktu singkat semua pukulan dari Ui Shia ling terbendung dan tidak mampu

dikembangkan kembali, dari posisi di atas angin seketika itu juga ia malah berbalik ada dibawah

angin.

Semenjak semula Kok See-piau sudah mendapat laporan dari Beng Wi cian tentang kehebatan

ilmu pukulan tersebut, maka ketika dilihatnya si anak muda itu mengembangkan permainannya

dengan mempergunakan kehebatan ilmu pukulan itu, dengan sinar mata yang tajam dan

perhatian yang terpusatkan menjadi satu, ia memperhatikan perubahan gerak dari kepandaian

tersebut maksudnya ia berusaha menemukan bagian-bagian dari ilmu pukulan tadi.

Hoa In-liong meski berada dalam keadaan yang gawat, akan tetapi setiap detik dan setiap saat ia

selalu memperhatikan gerak-gerik Kok See-piau, menyaksikan keadaan itu segera pikirnya,

“Hmm…..! Kau anggap ilmu silat maha sakti peninggalan dari malaikat ilmu silat bisa kau tebak

dengan begitu saja? Jangan bermimpi disiang hari bolong. Cuma……akupun tak boleh terlalu

menyolok!”

Berpikir sampai disini ia lantas menyerang dengan jurus kuo siu ci tau, kemudian dengan ilmu

langkah Gi beng huan wi (mengeser badan berganti tempat) dia berkelebat mundur beberapa

kaki jauhnya.

Aku orang she Hoa mengaku kalah!” serunya.

Ui Shi ling sebagai seorang jago lihay dari angkatan tua, hampir boleh dibilang telah

mempergunakan segenap kekuatan tubuhnya untuk menggencet lawan, tapi ia selalu gagal

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

58

untuk mengalahkan si anak muda itu, terutama setelah di desak mundur pada beberapa jurus

serangan yang terakhir, batinya semakin tak puas.

Mendengar perkataan itu ia lantas tertawa dingin, lalu katanya, Hoa kongkcu, membuat apa kau

menyindir diri ku? Sudah terang aku yang tak sanggup menandingimu, cuma… Ui Shi ling tak

tahu diri, aku ingin mohon beberapa petunjuk lagi.

Tiba-tiba Kok See-piau berteriak, “Kalau memang Hoa kongcu enggan memberi petunjuk lagi

kepadamu, Ui-lo! Silahkan kembali saja!”

Padahal Ui Shia-Iing sendiripun tahu bahwa kesempatannya untuk merebut kemenangan tipis

cuma dia tak mau mundur dengan begini saja karena kuatir kehilangan muka, dan kini setelah

memperoleh kesempatan baik, cepat katanya, “Setelah kaucu berkata demikian, baiklah akupun

mengaku kalah!”

***

Hoa In-liong tertawa ewa.

“Aaah………… mana mungkin aku bisa menandingi kelihayan Ui lo?” katanya merendah.

Sementara itu Kok See-piau telah berkata, “Diluar perkampungan telah kedatangan sejumlah

jago lihay tampaknya mereka adalah sahabat-sahabat Hoa kongcu, untuk menghindari segala

kesalahpahaman, bagaimana kalau Hoa kongcu mempersilahkan mereka masuk ke dalam

perkampungan?”

Hoa In-liong tahu bahwa gerombolan jago yang muncul diluar perkampungan itu sudah pasti

adalah Ho Kee siau, Coa Cong gi dan kawan-kawannya yang kuatir Hian-beng-kau bersikap tidak

menguntungkan baginya maka bersiap-siap diluar perkampungan untuk menghadapi segala

kemungkinan.

Lantaran diapun kuatir kalau mereka sampai menyerbu ke dalam perkampungan Karena lama

tidak melihatnya keluar dari perkampungan sehingga keadaan waktu itu tak terlainkan, segera

katanya pula, “Yaa, aku memang harus menjumpai mereka apakah Sinkun juga ingin bertemu

dengan kawan kawan persilatan?”

Kok See-piau termenung sejenak, lalu katanya sambil tertawa, “Salah satu tujuan dari

kemunculanku kembali di dalam dunia persilatan adalah menjumpai kawan kawan lama, tentu

saja setiap ke sempatan baik seperti ini tak akan kulepaskan dengan begitu saja.”

“Yaa, jejak dari empok Hoo sekalian sudah tentu tak bisa mengelabui Kok See-piau,” pikir Hoa

In-liong.

Dengan tenang diapun melangkah pergi dari tanah lapang tersebut.

Kok See-piau miringkan tubuhnya ke samping memberi jalan lewat, lalu dia ulapkan tangannya,

tiba-tiba saja Ci Sooat cu, Ui Shian ling dan Ciu Hoa sekalian membungkukan badannya memberi

hormat dan membubarkan diri ke serambi samping, para jago Hian-beng-kau yang membawa

obornya tanpa menimbulkan sedikit suarapun membubarkan diri.

Sejak awal sampai akhir kecuali Ciu Hoa lo pat seorang yang kena dampratan Kok See-piau

hampir boleh dikata sama sekali tidak menunjukkan perubahan aneh atau gerak-gerik yang

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

59

mencurigakan, jelas semua orang-orang itu sudah pernah memperoleh pendidikan disiplin yang

ketat.

Dalam sekejap mata lapangan berbatu itu sudah pulih kembali dalam kegelapan, hanya sebuah

lampu kecil dibawah serambi sana yang memancarkan sedikit sinar yang redup.

Hu kaucu dari Han beng kau, Go Tang cuan masih tetap berdiri kaku dibawah ruang tengah

sana.

Ketika kedua orang itu masuk ke dalam ruangan, Go Tang cuan baru mundur setengah langkah.

Kok See-piau melirik sekejap meja perjamuan dalam ruangan, lalu katanya sambil tertawa,

“Sebenarnya aku ingin mengaajak Hoa kongcu minum arak sambil

membicarakan soal para eng-hiong dalam dunia persilatan…..

Hoa In-liong tertawa nyaring.

“Haaahh……haaahh……haaahh……. entah manusia macam apakah yang dapat disebut sebagai

enghiong dalam hati Sinkun?”

Waktu itu dari bawah ruangan sampai ke-pintu gerbang gedung telah berjajar barisan laki-laki

berbaja ungu, di tangan kiri membawa obor di tangan kanan mereka membawa golok,

suasananya jauh berbeda dengan sewaktu masuk ke dalam gedung tadi, cahaya golok

menyiarkan suasana yang menggidikkan hati.

Menyaksikan adegan tersebut, diam-diam ia lantas berpikir, “Situasi yang diatur Kok See-piau

sekali ini sungguh menggelikan sekali.”

Terdengar Kok See-piau telah berkata, “Menurut pandanganku yang bodoh, yang di maksudkan

sebagai enghiong adalah orang yang berjiwa besar, berlapang dada, berotak cerdas berilmu silat

tinggi dan mempunyai bakat, kebijaksanaan serta pengetahuan yang amat luas.”

“Waah…..jika harus mengikuti apa yang diucapkan Sinkun, dewasa ini sulit sekali untuk

menemukan seorang enghiong semacam itu.”

Tiba-tiba Kok See-piau menghentikan langkahnya, Hoa In-liong tertegun dan segera ikut berhenti

pula, terlihatlah Kok See-piau dengan sinar mata yang amat tajam, sepatah demi sepatah sedang

berkata.

“Selama beratus tahun belakangan ini hanya ayahmu yang dapat disebut sebagai engbiong

sungguhan, seorang manusia yang jantan betul-betul hebat…..”

“Ayahku pernah berkata bahwa pujian orang luar terhadapnya pada hakekatnya terlalu

berlebihan kata Hoa In-liong dengan nada serius, “padahal beliau sendiri merasa bahwa ia tidak

memiliki ke ampuhan apa apa yang bisa disebut sebagai seorang enghiong oleh karena itulah

seringkali ia memberi nasehat agar anak cucunya bisa berbuat apa yang bisa dilakukan sebagai

manusia.”

Kok See-piau menarik kembali sinar matanya sambil melanjutkan perjalanan ke depan, katanya

sambil tertawa hambar.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

60

“Sifat ketidak puasan pada diri sendiri yang di miliki ayahmu juga sudah menjadi rahasia umum

dalam dunia persilatan.”

Hoa In-liong ikut beranjak mengikuti disampingnya, diam-iam ia berpikir, “Sekalipun ia membenci

ayahnya hingga merasuk ke tulang sumsum tapi dimulutnya selalu memuji ayah setinggi langit,

mungkin inilah yang disebut sebagai imbauan hati nurani, tapi jelas dia bukan termasuk seorang

manusia yang berjiwa besar…….”

Sekalipun dia mengikutii terus disisi tubuhnya kemanapun ia pergi, namun tubuhnya selalu

ketinggalan setengah langkah di belakang, hal ini sebagai persiapan untuk menghindari sergapan

maut dari Kok See-piau.

Kok See-piau sendiri berpura-pura tidak menyadari, kembali katanya, “Ayah harimau anaknya

tentu harimau juga, enghiong yang akan datang sudah pasti akan menjadi milik Hoa kongcu.”

“Sinkun terlalu memuji!” Kok See-piau tertawa berat katanya, “Apalagi berbicara dari ulah Hoa

kongcu sewaktu ada di kota Si-kiu, dari kegagahanmu itu terbuktilah sudah bahwa perkataanku

ada benarnya juga…….”

Tiba-tiba Hoa In-liong merasakan nada aneh dibalik perkataan Kok See-piau, terkesiap hatinya,

segera ia berpikir, “Rupa rupanya ia sudah berniat untuk membinasakan diriku.

Kok See-piau memang sudah dipengaruhi oleh hawa nafsu membunuh, cuma ia masih ragu

untuk mengambil keputusan, sekalipun tujuan dari kemunculannya kali ini adalah untuk mengadu

kepandaian dengan Hoa Thian-hong, tapi entah mengapa dari dasar hatinya tiba-tiba muncul

suatu perasaan takut yang sangat aneh, bukan lantaran kuatir akan kehebatan ilmu silat Hoa

Thian-hong saja, tapi termasuk juga oleh kegagahan Hoa Thian-hong.

Sebab itu, sekalipun berhadapan dengan Hoa In-liong ia merasa seakan-akan bertemu dengan

Hoa Thian-hong waktu itu, hingga hawa nafsu membunuhnya segera berkobar.

Seandainya bangsat ini benar-benar adalah seorang manusia hidung belang yang lebih suka

bermain perempuan daripada menghadapi masalah besar, apalagi malam ini kewaspadaannya

mengendor, jelas merupakan kesempatan baik bagiku untuk turun tangan cuma………

Baru berpikir sampai disjtu, mereka sudah tiba di depan pintu, maka iapun mengambil

keputusan, apabila Hoa In-liong secara kebe tulan berjalan lewat dari sebelah sisi tubuhnya

nanti, dia hendak melukai si anak muda itu dengan ilmu Kiu-ki-im-satnya yang maha sakti.

Kiu-ki-im-sat atau hawa pukulan dingin dari istana Kiu-ci termuat dalam kitab pusaka Kiu-ci-cinkeng,

pukulan itu bisa melukai isi perut orang tanpa disadari oleh sang korban sendiri, biasanya

kendatipun pihak musuh memiliki tenaga sim-hoat yang sangat sempurna, pukulan tersebut sulit

juga diatasi dan masa kerja dari luka itu biasanya menuruti kehendak hati si pelancar serangan,

bila belum bekerja keadaan masih biasa tapi begitu mulai bereaksi maka dahsyatlah akibatnya.

Sesungguhnya ilmu itu merupakan suatu llmu pukulan yang jahat sekali, apalagi setelah

dicampur dengan ilmu pukulan beracun yang memang dimiliki Kok See-piau sebelumnya, hal ini

semakin menambah ke dahsyatan pukulan itu.

Akan tetapi Hoa In-liong selalu dua langkah berada dibelakangnya, saat itu dia sedang bertanya,

“Sobat-sobatku kini berada dimana?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

61

Kok See-piau berpikir, “Seandainya bocah keparat ini benar-benar dapat menebak maksud hatiku

sehingga sedia payung sebelum hujan, ia lebih-lebih tidak boleh diampuni lagi.”

Dalam hati ia berpikir demikian, diluaran katanya, “Sahabatmu sudah banyak sekali menangkapi

anggota perkumpulan kami, mungkin mereka sedang bersembunyi dibalik hutan.”

Kemudian sambil memperkeras suaranya ia berkata lagi diiringi gelak tertawa nyaring,

“Haahh…..haahh……haahh……Hoa kongcu sudah keluar dari gedung dengan selamat, silahkan

kalianpun munculkan diri pula.”

Gelak tertawa nyaring menggema pula dari balik hutan sana, dipimpin oleh Ho Kee-si an serentak

kawanan jago itu munculkan diri dan berhenti kurang lebih lima kaki dihadapan kedua orang itu,

dengan sorot mata tajam ia menyapu sekejap ke arah Hoa In-liong ketika dilihatnya si anak

muda itu tetap sehat tidak kekurangan sesuatu apapun, legalah hatinya, menyusul kemudian

setelah memandang sekejap ke arah Kok See-piau ia menghela nafas panjang.

“Adik In-liong, kau tidak apa-apa bukan?”

“Hey, siapakah orang yang berada disampingmu itu?”

Sambil berkata ia melompat lebih maju ke depan disusul kemudian oleh Si Jin-kiu, Yu Siau-lam

dan lain lainnya, mereka berdiri dibelakang Ho Kee-sian sambil melotot ke-arah Kok See-piau.

Hoa In-liong tersenyum, katanya, “Dia bukan lain adalah Hian-beng-kaucu kiu ci Sinkun!”

Sebenarnya Kok See-piau dengan orang-orang penting dalam tubuh Sin-ki-pang adalah kenalan

lama, hubungan mereka tidak terlalu jelek, cuma kemudian hubungan itu kian lama kian

bertambah renggang dan asing hingga pada pertemuan dua puluh tahun kemudian mereka harus

berhadapan sebagai musuh bebuyutan.

Meskipun Kok See-piau berhati licik dan keji, tapi bayangan tubuh Pek Kun-gi dimasa muda dulu

masih terbayang selalu dalam benaknya, sedikit banyak tertegun, juga untuk sesaat lamanya

setelah bertemu dengan rekan-rekan lamanya ini.

Tapi hanya sejenak kemudian ia sudah sadar kembali dari lamunannya, ditatapnya sekejap

sekeliling hutan itu dengan tatapan tajam, kemudian katanya lantang.

“Kawan-kawan yang bersembunyi di dalam hutan, kenapa tidak sekalian munculkan diri?”

Gelak tertawa nyaring menggelegar memecahkan kesunyian, bayangan manusia berkelebat lewat

daun dan ranting bergoyangan, dalam sekejap mata Hoan TSong, Bu tim tootiang Cia Yu cong,

Kongsun peng dan sekalian jago bermunculan dari mana-mana dan segera memenuhi sekeliling

gedung tersebut, jumlah mereka diantara enam tujuh puluhan orang lebih.

Kiranya Hoo Kee sian dan Yu Siau-lam sekalian merasa tidak tega untuk membiarkan ia pergi

penuhi janji sendirian, maka bukan saja rekan-rekan bekas seperkumpulannya dikumpulkan

semua bahkan juga memberi kabar kepada Huan Thong Bu tim tootiang, Cia Yu cong dan

Kongsun Peng sekalian agar segera berkumpul, tanpa perundingan lebih jauh semua jago itu

diboyongnya menuju ke situ.

Diam-diam Hoa In-liong merasa amat berterima kasih atas kesetia kawanan rekan-rekan lainnya,

dengan suara lantang dia lantas berseru, “Urusan sekecil itupun harus merepotkan saudara

sekalian untuk memburu kemari, sungguh membuat hatiku tak enak”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

62

“Sebagai sesama umat persilatan sudah sepantasnya kalau saling bantu membantu, apa lagi

urusan Hoa kongcu ini menyangkut masalah yang amat penting sekali artinya!” Kongsun Peng

segera menanggapi dengan lantang.

Bagi Kok See-piau sendiri walaupun gerombolan manusia-manusia tersebut masih belum dipandang

sebelah mata pun olehnya, namun diam-diam ia merasa tercengang juga menyaksikan

kesemuanya itu.

Tiba-tiba Ci Soat cu, Im sansiang koay dan sekalian jago muncul kembali dibelakang Kok Seepiau,

menyusul kemudian kawanan jago dari Hian-beng-kau lainnya ikut pula muncul dibelakang

barisan Kok See-piau, seakan akan dua pasukan besar yang telah berhadapan muka siap

bertempur.

Hoa In-liong berpikir sebentar untuk menghadapi keadaan tersebut, ia merasa inilah kesempatan

yang terbaik baginya untuk meninggalkan tempat itu, maka sambil menjura kepada Kok See-piau

katanya, “Pertemuan pada hari ini biarlah kita akhiri sampai disini saja, aku tak mau mengganggu

lebih lanjut”

Kok See-piau termenung sejenak, akhirnya dia pun mengangguk.

“Baiklah kalau dilihat situasinya sekarang, jelas pertemuan memang tak dapat dilanjutkan.”

Sementara di hati kecilnya ia berpikir, “Sayang……..sayang,…………aku telah membuang suatu

kesempatan baik untuk turun tangan.”

Dalam penggalian harta karun di bukit Kiu-ci-san tempo hari, Huan Tong sempat turut serta

dalam peristiwa besar itu, ia pernah berjumpa dengan Kok See-piau dan mengetahui pula sampai

dimana dalamnya permusuhan antar Kok See-piau dengan keluarga Hoa, ketika dilihatnya jarak

antara Hoa In-liong dengan Kok See-piau cuma dua depa tak sampai, dia kuatir si anak muda itu

kena dilukai, maka segera teriaknya, “Hoa Kongcu, cepat kemari kau!”

Hoa In-liong tersenyum, pelan-pelan dia maju menghampiri ke arahnya.

Sorot mata semua orang segera ditujukan ke arah Kok See-piau, meskipun berulang kali Kok

See-piau hendak nekad untuk membinasakan Hoa In-liong, tapi akhirnya ia menghela napas dan

membuyarkan kembali hawa sakti Im-sat sin-kangnya.

Ketika semua orang menyaksikan Hoa In-liong telah kembali dengan selamat, merekapun dapat

menghembuskan napas lega.

Cia Cu cong segera tertawa terbahak-bahak.

“Haahh…hhaah…..hhhaaah….. rupanya saudara adalah Hian-beng-kaucu.

Kok See-piau hanya mendengus sinis, ia berlagak seolah-olah tidak mendengar teguran itu.

Toa koay dari Im san siang koay segera mendengus dingin, katanya

“Kau itu manusia apa? Belum berhak untuk berbicara dengan kaucu kami!”

Paras muka Cia Yu conG berubah hebat, lalu setelah tertawa dingin katanya, “Dalam dunia

persilatan dewasa ini belum ada seorang manusiapun yang bisa menandingi kemashuran Hoa tay

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

63

hiap, tapi belum pernah didengar bahwa Hoa tayhiap bersikap sesombong itu seperti lagakmu

ini.”

Selama hidup Kok See-piau paling benci kalau mendengar ada orang mengatakan bahwa ia tak

bisa menandingi Hoa Thian-hong mendengar ucapan tersebut, dengan sinar mata setajam

sembilu ditatapnya wajah Cia Yu cong lekat-lekat.

Terkesiap pula Ci Yu cOng melihat ketajaman mata orang, dengan perasaan tercekat dia mundur

selangkah.

Toa koay dari Im san siang koay menyeringai dan tertawa seram, kemudian katanya, “Bajingan

cilik, mulutmu kotor dan tak bisa diampuni, lebih baik lohu hantar kau pulang ke langit berat

untuk menjumpai Ji-lay hud saja….”

Seraya berkata selangkah demi selangkah ia maju menghampirinya.

Hoa In-liong cukup mengetahui bahwa kepandaian Ci Yu cong masih selisih jauh bila

dibandingkan dengan Im san siang koay, tentu saja ia tak akan membiarkan mereka sampai

terlibat dalam pertarungan, tiba-tiba serunya, “Sinkun, apakah kau menginginkan pertarungan

mati-matian antara pihakmu melawan pihakku agar orang lain yang mendapat keuntungan dalam

peristiwa ini?”

Kok See-piau mengernyitkan alis matanya, lalu memanggil, “Sim lo, kembali!”

Toa koay tak berani membantah, terpaksa dengan uring-uringan dia berjalan balik. Hoa In-liong

kembali berpikir, ““Jika keadaan semacam ini dibiarkan berlarut-larut terus, suatu pertarungan

massal sudah pasti akan berkobar, lebih baik cepat cepat pergi saja…

Berpikir demikian ia lantas berkata, “Terima kasih banyak atas petunjuk Sinkun tentang masalah

pembunuhan tersebut, bila duduknya persoalan telah beres, lain waktu aku pasti akan

berkunjung lagi kemari.”

Kok See-piau memang berharap demikian, maka diapun berkata, “Silahkan, silahkan!”

Dari pihak para pendekar, Hoa In-liong merupakan pemimpinnya karena dia hendak pergi maka

orang lainpun tidak memberi komentar apa apa, mereka menelusuri jalan kecil dan mundur dari

hutan tersebut.

Hoa In-liong kuatir Kok See-piau bertindak sesuatu yang tidak menguntungkan orang-orangnya

maka bersama Coa Cong gi, Ho Kee siao dan lain-lainnya mereka berjaga dibelakang..

Sepintas lalu pertemuan antara Hoa In-liong dan Kok See-piau cuma begitu saja padahal kedua

belah pihak sama-sama menggunakan akal dan tipu muslihat yang disusun melalui pemikiran

yang seksama, siapakah yang berhasil meraih keuntungan besar dari pertemuan itu, ini harus

dilihat dalam perkembangan dihari-hari kemudian.

Dengan gencar Coa Cong gi mendesak Hoa In-liong agar menceriterakan keadaan yang telah

terjadi, ini semua dijawab oleh si anak muda itu dengan senyuman dikulum.

Baru keluar dari hutan, tiba-tiba Hoa In-liong mendengar ada suara lembut seperti bisikan

nyamuk berkumandang disisi telinganya.

“Liong ji, setelah menghantar pergi semua, secepatnya datang menjumpai diriku.”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

64

Dari suara orang itu Hoa In-liong segera mengetahui siapa dia diam-diam pikirnya, “Paman dari

See-ih berbicara melalui ilmu menyampaikan suara, rupanya ia enggan bertemu dengan semua

orang, entah apa sebabnya?”

Ketika Coa Cong gi menyaksikan secara tiba-tiba pemuda itu menghentikan langkahnya dengan

keheranan dia lantas bertanya, “Ada urusan apa kau?”

Hoa In-liong tertawa.

“Ooh,… ada seorang cianpwe memanggilku harap kalian berangkat duluan……..

“Cianpwe dari manakah itu? Kenapa tidak munculkan diri untuk menjumpai kami?” tanya Coa

Cong gi keheranan.

Ho Kee sian juga kuatir kalau Hoa In-liong cuma menggunakan hal tersebut sebagai alasan agar

bisa meninggalkan rombongan serta menyusup kembali ke dalam gedung Kok See-piau, dengan

cepat selanya pula, “Liong saunya! kenapa tidak kau undang cianpwe itu untuk berjumpa

dirumah penginapan saja?”

Hoa In-liong tertawa lebar, cepat katanya, “Empek Ho tak usah kuatir, dewasa ini tiada

kepentingan bagiku untuk mencari kabar tentang Hian beng kau dengan menempuh bahaya,

sebenarnya benar-benar memang ada seorang cianpwe memanggilku kesana.”

“Kalau begitu aku ikut tetap tinggal disini,” kata Hoa Kee sian setelah merenung sejenak.

Ketika dilihatnya ia bersikeras ingin tetap tinggal disini, Hoa In-liong pun tidak banyak berbicara

lagi, buru-buru disusulnya Huan-Thong sekalian yang sudah beberapa kaki jauhnya itu

meninggalkan beberapa pesan.

Setelah itu bersama Ho Kee sian menembusi hutan dan menuju ke arah tenggara sejauh

beberapa puluh kaki.

Benar juga, disana duduk bersila seorang laki-laki setengah umur yang berwajah gagah, orang

itu bukan lain adalah pamannya dari wilayah See ih, siapa lagi kalau bukan Haputule.

Haputule adalah seorang jago yang berasal dari suku Fabuo diwilayah see ih, tiga puluh tahun

berselang ia merupakan murid ter kecil dari seorang pendekar aneh yang pernah mengobrakabrik

dunia persilatan lantaran sebilah pedang emas kecil, yakni It ki-Lim kay tionggoan (pedang

sakti yang meliputi daerah Tionggoan) Siang Tang lay.

Meskipun ilmu silat milik Siang Tang lay sangat tinggi, akan tetapi setelah dikeroyok dan disergap

oleh pek Siau thian, Jin-Hian, Thian Ik-cu, Bu liang Sinkun dan Ciu It beng mengakibatkan ia

menderita cacat seumur hidup, untung jiwanya ditolong oleh kakek Hoa In-liong yang bernama

Hoa Goan liu dan di bawa pulang ke See ih.

Belasan tahun kemudian, ia muncul kembali didaratan tionggoan, sekalipun sakit hatinya berhasil

dibalas, namun akhirnya ia sendiri tewas di tangan Pia Leng cu dari Thong thian-kau, keenam

orang muridnya secara beruntun juga tewas dibunuh orang hingga akhirnya tinggal Haputule

seorang yang masih hidup.

Semenjak itulah Haputule ikut Bun Tay-kun belajar silat selama lima tahun sebelum pulang ke

See-ih, karena itu hubungan keluarga mereka boleh dibilang intim sekali.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

65

Disamping Haputule duduk seorang kakek berjubah kuning, dalam sekilas pandangan saja Hoa

In-liong segera mengenalinya sebagai kakek yang telah bertarung melawannya dengan

mengandalkan senjata Jit-gwat-bu-hu an tersebut, tentu saja ia menjadi tertegun.

Sambil tersenyum Haputule segera menegur.

“Dia adalah Ting Ji-san cianpwe, Liong-ji! Cepat maju dan memberi hormat kepadanya.”

Hoa In-liong buru-buru maju kedepan dan memberi hormat, katanya, “Kenapa kau orang tua tak

mau menjelaskan asal usulmu? Kalau bukan demikian, tentu akupun tak sampai bersikap kurang

hormat kepadamu.”

“Oooh….rupanya kalian sudah pernah saling bertemu!” kata Haputule tercengang.

Hoa In-liong tertawa.

“Ting locianpwe malah sudah memberi pelajaran pula kepada keponakan!” katanya.

Ting Ji-san segera mendengus.

“Hmm! Aku segan memberi pelajaran kepadamu.”

Tiba-tiba ucapannya terhenti di tengah jalan dan tangannya diulapkan berulang kali.

“Liong-ji, kesalahan apa yang telah kau perbuat kepada cianpwee ini?” tegur Haputule.

Dengan cepat Ting in san gelengkan kepalanya berulang kali.

“Ia tidak berbuat salah apa-apa akulah yang telah menjajal kepandaian silatnya.”

“Yaa, mana Liong-ji berani melakukan perbuatan kurang-ajar kepada Ting locianpwe?” sambung

Hoa In-liong cepat-cepat.

Haputule kembali tersenyum, ia lantas berpaling ke arah Ho Kee-sian seraya berkata, “Ho

Thongcu, selama Liong ji berbuat onar di kota Si-ciu, terima kasih banyak atas bantuanmu.”

Buru-buru Ho Kee-sian goyangkan tangannya berulang kali, katanya sambil tertawa, “Ilmu silat

dan kecerdasan Liong sauya boleh dibilang amat luar biasa, bantuan apa lagi yang bisa kuberikan

kepadanya?”

Setelah berhenti sebentar, katanya lagi sambil tertawa, “Sejak dulu aku sudah bukan menjadi

Thian-leng thongcu dari perkumpulan Sin-ki-pang, panggilan semacam itu lebih baik dihapuskan

saja.”

“Ooohho…kalau begitu maafkanlah aku bila sudah salah, berbicara!” Haputule segera menjura

sambil tertawa.

Ting Ji san dulunya juga pernah berjumpa dengan Hoa Kee siao, sekali pun antara mereka

terlihat sedikit perselisihan karena urusan sudah lewat, maka merekapun tidak

mempersoalkannya kembali, sambil saling menjura mereka hanya tertawa.

Ada urusan apa paman mengundang keponakan kemari?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

66

“Soal ini nanti saja, sekarang ada baiknya kau jelaskan dulu apa arti dari ‘orang lain yang

mendapat keuntungan’!”

“Yang kau katakan kepada Kok See-piau si gembong iblis itu? Apakah dibalik tewasnya Suma

tayhap masih terdapat kejadian-kejadian lain yang mencurigakan?”

“Kejadian yang menyimpang sih tidak ada, cuma memang rada mencurigakan sekali.”

Setelah berpikir sebentar, si anak muda itupun menceritakan apa yang dituturkan Kok See-piau

dan Ci-soat cu tanpa mengurangi sepatah katapun.

Haputule naengangguk tidak hentinya, ia berkata, “Yaa, memang tak bisa dipercaya, memang

tak bisa dipercaya.”

Sedang Ting Ji-san tertawa dingin.

“Heehhh..heeehh….heeehh.. pada hakekatnya cuma memutar balikan duduknya persoalan, anak

kecilpun tak akan kena ditipu.”

Sementara Po Kee-sian berkata, “Ucapan tersebut jelas merupakan kata-kata yang sengaja

dicari cari, Kok See-piau kuatir ji kohnya turun tangan, maka diaturlah siasat tersebut…..

“Boanpwe mempunyai pendapat lain,” kata Hoa In-liong.

Dengan kening berkerut Haputule lantas berkata, “Sejak kecil kau memang banyak tipu

muslihatnya, dalam bidang ini rasanya sudah cukup berpengalaman, coba katakan bagaimana

menurut pendapatanmu?”

Hoa In-liong berpikir sebentar, lalu katanya, “Menurut pendapat keponakan, Kok See-piau yang

sekarang adalah seorang manusia dengan jalan pikiran yang lebih dalam dari samudra..”

Haputule mendengus dingin.

“Hmmm! Aku tidak percaya orang she Kok itu bisa memperoleh kemajuan sedemikian pesat,

huuuuh….. paling banter juga tak lebih dari pada seorang bajingan tengik”

“Paman, kau jangan menganggap enteng orang itu,” kata Hoa In-liong sambil tertawa, “cukup

ditinjau dari kemampuannya untuk mengum pulkan jago lihay sebanyak itu, bisa diketahui bahwa

orang itu bukan manusia sembarangan, semenjak tadi paman telah bersembunyi disamping

arena, tentunya semua kejadian sudah diikuti dengan jelas, entah bagaimana pendapat paman

tentang ilmu silat Kok See-piau?”

“Sebelum pertandingan dilakukan, dari mana aku bisa tahu?”

“Maaf kalau keponakan bicara kurangajar, tapi keponakan yakin bahwa paman masih bukan

tandinggannya Kok See-piau.”

Haputule mengerutkan dahinya seperti tidak puas dengan perbandingan itu, tapi ujarnya juga

sambil tertawa, “Lebih baik urusan ini ditunda untuk sementara waktu, coba akan kudengarkan

dulu pendapatmu.”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

67

Dengan otak Kok See-piau yang tajam, mana mungkin ia tidak tahu kalau dibalik kesemuanya itu

masih terdapat banyak titik kelemahan? Untuk menciptakan suatu pembicaraan yang sempurna

sesungguhnya bukan pekerjaan yang menyulitkan untuk mereka, maka menurut dugaanku

pastilah ucapan itu merupakan kenyataan, tentu saja ia selipkan juga rencana busuknya disana

sini secara lembut…………..”

Haputule tertawa terbahak-bahak memotong pembicaraannya yang belum selesai, katanya, “Aku

lihat kau adalah orang pinter yang menjadi keblinger, darimana datangnya tetek bengek

semacam itu? Hanya ada sepatah kata untukmu, kau sudah ditipu Kok See-piau.”

Hoa In-liong tertawa pula.

“Bagaimanapun juga tujuannya adalah menunda pertarungan yang bakal berlangsung, hal ini

jelas sangat cocok dengan jalan pikiranku, jadi siapa yang sesungguhnya tertipu, hanya thianlah

yang tahu.”

Haputule menjadi tertegun.

Baginya mungkin saja menunda pertarungan yang bakal terjadi, tapi bagaimana pula dengan

dirimu?

“Keengganan ayah turun gunung merupakan sebuah masalah bagiku dan mau tak mau memaksa

aku untuk melakukan perlawanan, keponakan percaya bahwa tenaga dalamku masih kalah

setingkat jika dibandingkan dengan milik Kok See-piau tapi kesempatan untuk maju jauh lebih

menguntungkan bagiku dan rugi bagi Kok See-piau, kalau memang begitu kenapa kita tidak

mengulur waktu terus terusan?”

Haputule gelengkan kepalanya berulang kali sambil mengeluh.

“Payah! Payah! Urusan sebesar inipun telah kau anggap sebagai permainan kawan kawan.”

Tiba-tiba ia mengulurkan tangannya sambil membentak, “Ulurkan tanganmu, aku ingin tahu

sampai dimanakah kemajuan yang berhasil kau capai sehingga berani bicara sesombong itu!”

Sambil tersenyum Hoa In-liong segera menjulurkan tangannya, dan kedua orang itupun saling

berjabatan tangan sebentar lalu masing masing menarik kembali tangannya.

“Aaah…….!” Haputule menjerit tertahan.

“Sungguh tak kusangka tenaga dalammu telah peroleh kemajuan sedemikian pesatnya sungguh

berada diluar dugaanku.”

Ternyata dari biji mata orang dia sudah tahu kalau tenaga dalam Hoa In-liong telah memperoleh

kemajuan, cuma ia tidak percaya kalau dalam waktu sesingkat itu ia bisa memperoleh kemajuan

sedemikian pesatnya.

Ting Ji-san segera tertawa terbahak-bahak.

“Haahh…….,.haahn………haahh………aku yang terlibat dalam pertarungan sengit pun tidak

berhasil mendapat keuntungan apa apa, lote, lebih baik jangan buang tenaga dengan percuma,

kini ilmu silatnya sudah cukup bisa diandalkan asal mau berhati-hati rasanya bukan persoalan

baginya untuk menembusi seluruh kolong langit.”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

68

Jilid 4

Tapi Haputule kembali mendengus. “Hmm ….! Kebanyakan orang muda menjadi sombong

karena menganggap ilmu silat kucing kaki tiganya sudah cukup untuk membuat keonaran dalam

dunia persilatan, Ting lo! Kau tak usah membesar kesombongannya!”

Setelah termenung sejenak, ia lantas berkata, “Sesungguhnya aku sangat tidak setuju dengan

perbuatanmu yang berani menantang tiga perkumpalan besar untuk berduel, adapun

kedatanganku kemari adalah untuk menghalangi niatmu itu, tapi sekarang, terserahlah apa yang

hendak kau lakukan!”

“Bagaimana dengan hasil latihan dari kedua orang sute? Kenapa paman tidak mengajaknya serta

untuk menambah pengalaman serta pengetahuan mereka?”

“Ilmu silat mereka masih terlampau rendah, aku kuatir mereka akan dibuat bingung oleh kemegahan

dan kemewahan dalam dunia persilatan, biarkan mereka berlatih tekun selama banyak

tahun lagi di atas bukit yang terpencil”

“Untuk kebijaksanaan paman yang suka memandang tinggi segala persoalan keponakan merasa

kagum sekali.”

Haputule mendengus dingin, kemudian dengan wajah serius katanya, “Aku ingin bertanya

kepadamu, sepanjang hari kau menerbitkan keonaran saja dalam dunia persilatan, sudah

lupakah kau dengan masalah pokok yang sebenarnya?”

Hoa In-liong agak tertegun, tanyanya dengan nada tercengang, “Bukankah sekarang keponakan

sedang menyelesaikan masalah pokok yang serius?”

“Hmm…….! Bagaimana penyelesaianmu tentang persoalan yang menyangkut Giok-teng Hujin?”

Hoa In-liong agak tertegun, lalu katanya sambil tertawa getir, “Keponakan telah bertemu dengan

bibi Ku, tapi…”

“Hmm………!” tukas Haputule sambil tertawa dingin, “dihari hari biasa aku pandai bermanis

mulut, tentunya Giok teng hujin telah berhasil kau nasehati sehingga berbalik hati bukan?”

Hoa In-liong segera tertawa lebar, “Paman, bukankah pertanyaanmu ini sama artinya sudah

tahu tapi pura-pura bertanya lagi!”

Ho Kee siao yang selama ini cuma membungkam, tiba-tiba menyela, “Bila seorang telah bertekad

dalam suatu persoalan selama puluhan tahun, maka mungkinkah sepatah kata saja sudah dapat

menggerakkan hatinya?

Dalam masalah ini Liong sauya tak dapat disalahkan.

Ting Jit san manggut-manggut.

“Betul sekali ucapan tersebut” katanya pula, “Lo te, kau jangan terlalu menyalahkan dia.”

Haputule menghela napas panjang.

“Aaiai…….. kalian berdua terlalu melidunginya, jika begini terus keadaannya, entah sampai

dimanakah sifat kebinalannya itu?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

69

Kemudian setelah mengawasi wajah Hoa In-liong dan termenung sebentar, ia bangkit seraya

berkata lagi.

“Tak ada gunanya membicarakan soal-soal seperti itu dalam keadaan sekarang, lebih baik kau

bicarakan dulu masalah Giok teng hujin itu denganku.

Lantaran masalahnya menyangkut masalah urusan pribadi keluarga Hoa, sebagai orang luar,

Ting Ji-san serta Ho Kee-sian merasa kurang enak untuk mencampurinya, maka merekapun

mohon diri lebih dulu.

Sedangkan Hoa In-liong mengikuti Haputule ke luar dari hutan berangkat menuju ke kota.

Di tengah jalan Hoa In-liong bertanya, “Apakah bibi Ku juga sudah tiba di kota di ciu?”

Haputule menggelengkan kepalanya berulang kali.

“Yang akan kita jumpai sekarang adalah Pui Che-giok, kaucu dari perkumupulan Cian li kau,

sampai kini aku belum pernah bertemu dengan Giok teng hujin.”

“Oooh…..rupanya dia! Aku sudah pernah bertemu dengan cianpwe itu,” kata sang pemuda

sambil tertawa.

Tiba-tiba Haputule berseru dengan nada mendongkol, “Semalam, ketika aku tiba di kota Si ciu

sesungguhnya akan segera menemuimu, tapi secara kebetulan aku telah berjumpa dengan Pui

Che-giok di tengah jalan. Waktu pertarungan di lembah cu bu kok, aku pernah bertemu sekali

dengannya, meski sudah lewat banyak tahun, ternyata raut wajannya tidak mengalami banyak

perubahan, maka sekilas pandangan saja aku dapat segera mengenalinya kembali, selesai

memberi hormat aku segera mohon kepadanya agar bisa berjumpa dengan Ku Ing-ing, siapa

tahu ia telah menampik permohonan ku itu, hmm…..hmm…..! Mungkin dia melihat aku adalah

orang dari suhu Fibulo, maka dianggapnya bisa di permainkan kehendak hatinya.”

Diam-diam Hoa In-liong tertawa geli, pikirnya, “Dihari-hari biasa paman selalu tinggi hati dan

permohonannya tak pernah ditampik orang, tak aneh kalau ia menjadi marah-marah, yaa, pasti

baru pertama kali ini ia ketanggor batunya.”

Cepat nian gerakan tubuh kedua orang itu, sementara pembicaraan masih berlangsung mereka

sudah masuk ke dalam kota.

Haputule tidak menghentikan gerakan tubuhnya, dia langsung lari menuju ke kota sebelah barat,

dalam waktu singkat sampailah mereka di depan sebuah gedung bangunan dengan loteng yang

bertingkat, bangunan tersebut indah, megah dan kokoh, dalam sekilas pandangan saja Hoa Inliong

segera mengenali sebagai bangunan yang dihuni oleh Cia Sau-yan.

Haputule tidak langsung menuju ke pintu gerbangnya untuk mengetuk pintu, melainkan

melompati pagar pekarangan dan langsung menuju ke depan sebuah ruangan mungil yang

terang benderang bermandikan cahaya lampu lentera.

Hoa In-liong segera mengikuti pula dari belakang.

“Sahabat dari manakah yang telah berkunjung kemari?” bentakan nyaring segera menggelegar

memecahkan kesunyian.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

70

“Haputule beserta keponakanku Hoa yang datang untuk menjumpai pui kaucu!” jawab Haputule

nyaring.

Dari dalam bangunan mungil itu kembali berkumandang suara tertawa yang amat merdu.

“Oooh…….” rupanya See-ih tayhiap, serta Hoa ji kongcu yang menggetarkan dunia persilatan

telah berkunjung kemari, sungguh kami memperoleh kunjungan tamu yang langka!”

Bersamaan dengan ucapan tersebut, dari balik pintu ruangan muncul seorang nyonya cantik

berbaju ungu yang bergaun panjang sekali, begitu munculkan dirinya lantas memberi hormat.

Haputule tertawa getir.

“Aku telah mengganggu ketenanganmu berulang kali, tidak pantas dikatakan sebagai tamu yang

langka,” katanya, “nona Pui…….”

“Terlepas apakah See ih Tayhiap menaruh perasaan tak puas terhadap diriku, silahkan masuk ke

dalam untuk minum teh lebih dulu sebelum melanjutkan pembicaraan ini,” tukas Pui Che giok

sambil tertawa.

Kemudian sepasang biji matanya yang jeli dialihkan kewajah Hoa In-liong yang berada

dihadapannya.

“Buru-buru Hoa In-liong maju memberi hormat seraya panggilnya dengan mesra, “Bibi Pui!”

Pui Che-giok segera menyingkir ke samping menghindari penghormatan tersebut.

“Aku tak berani menyambut penghormatan besarmu ini!” katanya.

“Aku rasa sambutan itupun tidak pantas untukku!”

Hoa In-liong berkerut kening, bibirnya segera bergerak seperti hendak mengucapkan sesuatu.

Tapi sebelum ia sempat mengutarakan sesuatu, dari dalam ruangan telah kedengaran suara dari

Cia sau-yan menyela, “Suhu, kau juga kebangatan, masa beginikah cara Cian-li-kau menyambut

tamu kehormatannya? Mana kita boleh membiarkan mereka berdiri diluar pintu sambil minum

angin.

Pui Che giok tertawa geli.

Oya, betul juga perkataan budak ini, saudara berdua silahkan masuk!” dengan wajah serius ia

lantas mempersilahkan tamunya untuk masuk ke dalam ruangan.

Hoa In Hong dan Haputule saling berpandangan sekejap sambil tertawa, lalu mereka bersamasama

melangkah masuk ke dalam ruangan.

Indah dan megah ruangan tersebut, semua peralatan dan perabot diatur sangat arsistik dengan

permadani berwarna merah menutupi lantai, tirai sutera melambai-lambai, semua alat perabot

terbuat dari kayu esadana nomor satu, selain dari pada itu benda antik pun bertengger disana

sini.

Belasan orang gadis sedang duduk dalam ruangan itu, ketika melihat kemunculan mereka

berdua, serentak gadis gadis itu bangkit berdiri sambil memberi hormat.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

71

Sambil tertawa Pui Che-giok lantas berkata, “Murid muridku tidak kenal adat kesopanan, harap

kalian berdua sudi memaafkan!”

Hipatule hidup membujang paling pusing kalau musti berhubungan dengan kaum perempuan,

ma-ka begitu dilihatnya begitu banyak gadis yang berada dalam ruangan itu, dengan kening

berkerut ia lantas berpaling ke arah Hoa In-liong, artinya ia minta si anak muda itu yang pegang

peranan sebagai juru bicara.

Diam-diam Hoa In-liong tertawa geli, katanya kemudian, “Paman dan keponakan bukan orang

luar, harap bibi pui tak usah menggunakan segala macam tata cara, kita bersikap bebas saja.”

Pui Che-giok manggut-manggut.

“Kalau memang ji-kongcu tidak keberatan, sudah barang tentu aku Pui Che-giok lebih senang

lagi,” katanya.

Lantaran Cia In tidak berada disitu, maka diantara murid-murid Pui-Che-giok boleh dibilang Cia

Sau-yan merupakan orang tertua, cepat cepat ia menitahkan adik adik seperguruannya agar

memindahkan bangku-bangku kecil, menghidangkan air teh, dan mempersilahkan tamunya untuk

duduk.

Setelah ketiga orang itu duduk, Cia Sau-yan sekalipun sama-sama berdiri di belakang Hui Che

giok.

Hoa In-liong memandang sekejap gadis-gadis itu, lalu ujarnya kepada Pui Che-giok,

Waaah………kalau musti membiarkan cici sekalian berdiri, siaw tit jadi tidak tenteram hatinya.”

Pui Che-giok tersenyum manis.

“Kalau begitu biar kuturuti kehendak-mu kongcu, hey budak sekalian, duduklah semua!”

Jelas hubungan diantara Hui Che-giok dengan murid-muridnya memang tidak dibatasi segala

macam peraturan, apalagi mereka memang tidak menganggap Hoa In-liong dan Haputule

sebagai orang luar, begi tu Pui Che giok mengutarakan maksudnya, serentak mereka mengiakan

dan mencari tempat duduk masing-masing.

Setelah suasana hening, Haputule baru menggerakan bibirnya seperti hendak mengucapkan

sesuatu, tapi niat tersebut akhirnya dibatalkan sambil menghela napas berpaling ke arah Hoa Inliong

seraya katanya, “Aaaai…. aku tidak tahu bagaimana musti mulai dengan pembicaraan ini,

lebih baik kau saja yang pegang peranan!”

Hoa In-liong tidak langsung menjawab, hanya pikirnya dalam hati, “Persoalan ini mana boleh

disampaikan secara terburu-buru. Demi…. paman memang….

Tiba-tiba Pui Che giok berkata, “Sebelum pembicaraan dimulai, terlebih dulu hendak ku

singgungkan bahwa masalah apapun yang hendak kalian bicarakan, pasti akan kulayani dengan

sebaik-baiknya, hanya soal yang menyangkut tentang nona kami, maaf kalau aku tak dapat

menurutinya.”

Cerdik amat perempuan itu untuk menjaga segala kemungkinan yang tidak diinginkan, ia telah

menutup mulut kedua orang itu lebih dahulu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

72

Haputule menjadi amat gelisah, ia hendak membuka suara untuk mengucapkan sesuatu, tapi

dengan cepat dicegah oleh Hoa In-liong dengan bisikan melalui ilmu menyampaikan suara,

“Harap paman legakan hati, biar keponakan yang hadapi mereka!”

“Apakah kau yakin pasti berhasil?” tanya Haputule cepat dengan ilmu menyampaikan suara pula.

“Persoalan ini harus dibicarakan pelan-pelan, keponakan percaya cepat atau lambat pasti akan

berhasil”

“Kalau terlambat jelas tak mungkin, kira kira beberapa lama yang kau butuhkan?”

Hoa In-liong berpikir sebentar, kemudian jawabnya, “Paman jangan gelisah, keponakan pasti

akan mengusahakan secepat mungkin……”

Sekalipun Pui Che giok tidak dapat mendengarkan pembicaraan mereka berdua yang dilakukan

dengan ilmu menyampaikan suara, tapi ia dapat menebak enam sampai tujuh bagian, segera

pikirnya, “Hmmm…. Asal kututup mulut rapat-rapat, akan kulihat dengan akal apa kalian hendak

memancingku untuk berbicara?”

Sementara itu Hoa In-liong telah berpaling ke arahnya sambil tersenyum, lalu katanya, “Bibi Pui,

kau selalu menyebut Siau tit sebagai ji-kongcu, apakah kau bermaksud memperolok-olok

keponakan?”

Haputule yang mendengar perkataan ini segera berpikir dalam hati kecilnya, “Aku suruh kau

menanyakan masalah tentang Giok teng hujin, kau malah mempersoalkan masalah

lain…bagaimana sih bocah ini?”

Ia menggerakkan bibirnya seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi niat tersebut akhirnya

dibatalkan.

Pai Che giok sendiri pun agak tertegun, lalu sambil tertawa, jawabnya, “Berbicara menurut

kedudukanku, sebutan ji-kongcu adalah sebutan paling tepat dan cocok”

Hoa In-liong segera berpura-pura tercengang.

“Eeh… bukankah bibi Pui adalah adik angkat bibi Ku, lagipula kau adalah Cian-li kauci, siau-tit

jadi merasa tak habis mengerti, dimanakah letak kecocokan tersebut?”

Pui Che-giok hendak menjawab, tapi niat itu segera di batalkan, setelah termenung dan berpikir

sebentar katanya dengan ketus, “Bibi Ku mu sesungguhnya adalah nona aku Pui Che Giok, mana

berani menyebutnya sebagai kakak angkatku? Dengan sendirinyaa akupun tidak pantas untuk

menerima sebutan “Bibi” dari ji-kongcu. Aku Pu Che-giok berasal dari tingkatan rendah aku tidak

berani melupakan asalku dan tak berani pula bersikap sok, sekarang tentunya ji-kongcu sudah

memahami bukan?”

Di balik ucapan tersebut jelas terkandung nada mendongkol dan marah, bahkan menyindir pula

ketidak bertanggung jawaban Hoa Thian-hong, sebagai orang-orang pintar, sudah barang tentu

Haputule serta Hoa In-liong dapat menangkap arti dari ucapan tersebut.

Tapi Hoa In-liong berlagak tidak mengerti, sambil mengernyitkan alis matanya dia berkata, “Bibi

Pui, kau demikian merendahkan dirimu, apakah sudah memikirkan juga bagi kepentingan para

cici sekalian?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

73

Pui Che-giok tidak menyangka kalau secara tiba-tiba dia mengajukan pertanyaan tersebut, sambil

berpaling diliriknya Cia Sau-yan sekalian sekejap kemudian katanya dengan hambar, “Tentu saja

akupun suruh mereka selalu teringat dengan tingkat kedudukan sendiri.”

Setelah berhenti sebentar, katanya lebih lanjut, “Sedangkan mengenai bagaimana sikap ji-kongcu

terhadap mereka, soal ini aku tak mau turut campur”

Ucapan itu diutarakan secara tegas dan tandas, sedikitpun tidak memberi kesempatan kepada

Hoa In-hong untuk bersilat lidah lebih lanjut, sementara dalam hatinya berpikir, “Nona

mengatakan kau cerdas dan berotak tajam, aku tidak percaya permainan busuk apa yang bisa

kau lakukan dihadapanku.”

Siapa tahu Hoa In-liong yang licik ternyata bertindak “mengembangkan layar mengikuti angin”,

katanya sambil tertawa, “Waah, tidak bisa jadi, siau tit membahasai anak muridmu sebagai kakak

atau adik, sudah sepantasnya kalau kusebut kau sebagai bibi sebab hal ini berturutan dan tak

bisa dibiarkan dengan begitu saja…..”

Pai Che giok tertegun, lalu gelengkan kepalanya berulang kali.

“Keinginan yang terlalu dipaksakan tanpa persetujuan kedua belah pihak dianggap tidak sah, aku

tak dapat menerima konsepmu itu!”

“Nah…..naah.. ..sekarang kata-katanya mulai terpojok dan posisinya mulai terdesak” pikir Hoa

In-liong, “aku tak boleh memaksanya keterlaluan bagaimanapun juga sekali gagal lain waktu

masih ada kesempatan, lama kelamaan pasti akan berhasil juga rencanaku ini.

Haputule sendiripun merasa, kecuali berbuat demikian rasanya tiada jalan lain yang lebih baik,

karena merasa kehadirannya disitu tak berguna maka ia memutuskan untuk berlalu lebih dulu.

Sambil bangkit katanya kemudian, “Anak Liong, kau tinggallah disini untuk berbicara pelan-pelan

aku akan pergi dahulu.”

Sekarang hari sudah larut malam, rasanya tidak baik kalau kita mengganggu Bibi Pui lebih jauh,

siau tit rasa lebih baik ikut pergi,” kata Hoa In-liong sambil iku bangkit berdiri.

Dengan paras muka membesi Haputula segera berkata, “Tinggallah disini dengan tenang, rekanrekan

sealiran situ biar kuwakilimu untuk memberitahu-kannya!”

“Jelas paman bermaksud agar aku bisa pusatkan segenap kemampuanku untuk menasehati bibi

Ku agar berubah pikiran,” pikir Hoa In-liong, tapi usaha untuk menumpas tiga perkumpulan besar

adalah suatu usaha yang maha penting……

Berpikir sampai disitu ia menjadi ragu ragu, katanya kemudian, “Sekarang Kiu im kau, Mo kau

dan Hian-beng-kau telah bersatu padu, jumlah kekuatan mereka bertambah besar..,…….

“Tak usah kuatir” tukas Haputule, “aku datang kemari karena mengikuti jejak dari si iblis tua

Seng sut hay, jadi duduknya persoalan lebih jelas dari padamu, dalam waktu singkat mereka

masih belum berani melakukan suatu tindakan yang tidak menguntungkan buat kita.”

Hoa In-liong kembali berpikir, “Kalau semua pihak memang telah berkumpul di kota Si-ciu, hal ini

jelas bukan suatu hadangan besar untuk pihak kita.”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

74

Karena berpikir demikian, diapun mengangguk, katanya, “Kalau begitu aku musti merepotkan

paman?”

Tiba-tiba Pui Che-giok menyela sambil tertawa, “Hey, kalian berdua masih belum bertanya

kepadaku, bersediakah menyambut kedatanganmu atau tidak!”

Haputule tertegun setelah mendengar perkataan itu, sedangkan Hoa In-liong segera tertawa.

“Haaahh…haahh…haaahh…..bibi Pui, bagaimanapun juga kau harus menahan aku si tamu yang

datang tanpa diundang!”

“Kalau aku menolak, mau apa kau?” katanya.

Kembali Hoa In-liong tersenyum.

“Keponakan akan bersikeras tetap mengendon disini, akan kulihat bagaimana caramu untuk

mengusir diriku. Tentunya kau tidak enak hati bukan untuk tidak menyiapkan hidangan bagi ku?”

Pui Che giok tertegun juga dibuatnya, dia sendiripun kuatir kalau Hoa In-liong menasehati dan

mendesaknya setiap hari. Tentu dia menginginkan si anak muda itu cepat-cepat pergi, siapa tahu

pemuda itu malah bersikeras untuk mengendon disitu, pusing juga jadinya.

Sebagai anak gadis, yang masih berusia sangat muda, geli juga Cia Sau-yan dan Cia Wan

sekalian setelah menyaksikan adegen ter sebut, kontak saja semua orang tertawa cekikikan.

Haputule sendiripun tersenyum, ia lantas memberi hormat kepada Pui Che giok untuk mohon diri,

Hoa In-liong menghantarnya sampai keluar rumah.

Ketika Haputule melihat Pui Che-giok tetap tinggal dalam ruangan, dia termenung sejenak,

kemudian katanya, “Persoalan mengenai Giok teng hujin adalah masalah penting, mungkin kau

masih kurang jelas”

Tiba-tiba ia menghela napas panjang, kemudian katanya lebih jauh, “Aku sendiripun agak segan

untuk membicarakan persoalan itu, pokoknya ringkasnya saja Giok teng hujin telah melepaskan

budi kebaikkan yang amat besar untuk keluarga Hoa, kalian kau jangan lupa untuk menyanyangi

Giok teng hujin berikut segenap anak buahnya, maka kau harus berusaha keras untuk mmbantu

perkumpulan Cian li kau dalam segala bidang….”

“Liong ji akan mengingatnya selalu dalam hati,” kata Hoa In-liong dengan wajah serius.

Haputule manggut-manggut, dia lantas menggerakkan sepasang bahunya untuk melompat

keudara, dalam beberapa kali lompatan saja tubuhnya sudah lenyap dibalik kegelapan malam.

Ketika Hoa In-liong balik ke dalam ruangan, ia temui Pui Che giok masih duduk termangu-mangu

disana, ia kuatir perempuan itu tak senang hati maka dengan suara lembut katanya

“Bibi Pui, apakah kau sedang mencari akal untuk mengusirku pergi?”

Pui Che giok tertawa geli, “Kau si bocah binal kalau bisa ingin kugebuk dirimu setengah mati,

tapi hatiku tak tega berbuat demikian.”

“Aku tahu bibi pui dan bibi Ku memang selamanya menyayangi aku,” kata Hoa In-liong sambil

tertawa.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

75

Tiba-tiba Pui Che giok waspada, kembali pikirnya, “Bocah ini terlalu licik dan cerdik kalau terlalu

banyak bicara, bisa jadi aku bakal tertipu.”

Berpikir sampai disitu dengan wajah serius ia lantas barkata, “Ji kongcu, meskipun kau berada

disini bukan berarti setiap kali bisa berjumpa denganku, makanya aku berkata duluan agar ji

kongcu jangan menuduh aku tidak menemani tamunya.”

Ketika dilihatnya perempuan itu kembali menyebut Ji kongcu kepadanya, Hoa In-liong lantas

berpikir, “Ulet juga perempuan ini, tampaknya aku musti menguji kesabaran serta

kecerdasanku!”

Sambil tertawa ia lantas berkata, “Bagus sekali! Berkumpul dengan para cianpwe memang

kurang leluasa, mana musti tunduk mana tak bisa berkutik, aku memang ingin bermain dengan

cici sekalian!”

Pui Che giok tersenyum, ia lantas berpaling ke arah Cia Sau-yan sembari katanya, “Perintahkan

orang untuk membereskan ruangan sebelah barat, siapkan kelambu dan selimut, sementara

waktu biar Hoa kongcu menginap di tempat itu……..”

Cia Sau-yan segera membungkukkan badannya sambil mengiakan, Hoa In-liong pun tidak

banyak bicara lagi, karena waktu sudah menunjukkan kentongan ke empat, mengikuti Cia Sauyan

ia melewati jalan beralas batu dihalaman tengah dan menuju ke halaman lain.

Tiba-tiba Hoa In-liong teringat dengan pesan Cia In yang hendak disampaikan oleh Cia Sau-yan

kepadanya, ia lantas bertanya, “Enci Yan, pesan apakah yang hendak kau sampaikan kepadaku

dari sucimu itu?”

Sambil tersenyum Cia Sau-yan melirik sekejap ke arahnya kemudian berkata dengan murung,

“Kemarin pagi kau masih memanggil kepada kami, dan sekarang panggilanmu sudah semesrah

itu, rupa rupanya kau hendak menggunakan kami untuk mencapai tujuanmu?”

“Waduuh…………..enci Yan memdang pandai membikin orang menjadi penasaran, masa kau

anggap siau-te adalah manusia semacam itu?” kata Hoa In-liong sambil tersenyum.

Cia Sau-yan ikut tertawa. “Sekalipun benar juga tidak mengapa, kenapa musti mungkir………”

katanya lembut.

Hoa In-liong cuma tertawa-tawa dan tidak berbicara lagi.

Waktu itu mereka sedang menyeberangi sebuah jembatan kecil, tiba-tiba Hoa In-liong berhenti

sambil mengawasi gardu di ujung jembatan sana dengan sinar mata tajam.

“Kenapa?” Cia Sau-yan segera menegur dengan kening berkerut, “masa cuma kata-kata gurauan

semacam itu juga membuatmu menjadi marah?”

Hoa In-liong gelengkan kepalanya berulang kali sambil menatap terus ke muka dengan wajah

serius tiba-tiba ia membentak dengan suara dalam dan berat, “Mau apa kau datang kemari?” Cia

Sau-yan sangat terkejut, dengan cepat dia mengalihkan sorot matanya kea-rah yang dituju,

ternyata dalam gardu tersebut entah sejak kapan telah duduk seorang kakek berlengan

sepanjang lutut, bermuka kering dan berwajah menyeramkan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

76

“Oooh…..!” dengaa terkesiap gadis itu menjerit kaget, tapi setelah menyaksikan ikat pinggangnya

yang bersimbol naga perak dan mengetahui bahwa orang itu adalah Seng To-cu, kakak

seperguruan dari Tang Kwik siu, barulah hatinya menjadi lega.

Sementara itu Seng To cu sambil membentangkan sepasang matanya yang kecil berkata dengan

suara menyeramkan, “Kau tak usah takut, lohu tak akan melancarkan serangan terhadap

seorang siau pwee (angkatan muda) seperti kau!”

“Aku orang she Hoa juga bukan manusia munafik yang jeri terhadap orang lain, silahkan turun

tangan kalau ingin turun tangan, orang lain tidak akan menuduhmu menganiaya kaum siau

pwe!”

Seng So-cu segera mendengus dingin.

“Hmm..! Kau masih belum pantas, dimana hwesio tua itu?” jengeknya sinis.

“Oooh.. rupanya ia sedang mencari Kongkong, jelas ingin menggunakan kesempatan dikala

orang sedang lemah untuk mencari keuntungan bagi diri sendiri,” pikir Hoa In-liong.

Agaknya Seng To cu dapat menebak suara hati Hoa In-liong, kembali katanya, “Hey Siau pwe!

Kau tak usah menduga yang bukan-bukan, toh tak nanti akan turun tangan terhadap seseorang

yang belum pulih kembali tenaga dalamnya.”

“Dia Orang tua tidak berada di kota Si-ciu tampaknya bakal membuat kekecewaanmu,” kata si

anak muda itu ketus.

“Aku tidak percaya, hwesio tua itu telah menganggapmu sebagai calon menantunya keluarga

Coa, masa ia tidak akan memperdulikan keselamatan jiwamu?”

Hoa In-liong segera tertawa.

“Lucu amat perkataanmu aku orang she Hoa juga bukan bocah yang berusia tiga tahun, masa

aku tak dapat mengurusi diriku sendiri.”

Setelah berhenti sejenak, katanya lagi sambil tertawa, “Ayahku berada diperkampungan Lioksoat

sanceng, bila kau ingin beradu kepandaian apa salahnya kalau langsung mencarinya dibukit

Im tiong san,……!”

Jelas dibalik ucapan tersebut dia maksudkan bahwa Seng To cu jeri terhadap Hoa-Thian-hong.

Di atas wajah Seng To cu yang kaku dan tanpa emosi itu terlintas sedikit perubahan, sepasang

matanya yang kecil segera dipentangkan lebar lebar, cahaya hijau yang menyeramkan segera

memancar keluar, jelas ia sudah dibuat naik darah.

Hoa In-liong segera mangerahkan tenaga dalamnya bersiap sedia, pikirnya dalam hati, “Sorot

matanya mencurigakan, entah kepandaian iblis apa yang dia yakinkan?”

Timbul kewaspadaan dalam hatinya, dengan pancaran sinar tajam ia balas menatap wajah Seng

To cu, sedikitpun tidak terlintas rasa takut dalam hatinya.

Beberapa kali Cia Sau-yan main memanggil rekan rekannya, tapi ia takut tindakan tersebut

menimbulkan nafsu membunuh dalam hati Seng To-ca, hatinya menjadi masgul dan tak tahu apa

yang musti dilakukan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

77

Setelah saling bertatapan sekian lama akhirnya Seng To cu menarik kembali sorot matanya,

wajahnya pulih kembali menjadi kaku, tanpa emosi setelah membebaskan ujung bajunya,

bayangan hitam berkelebat lewat dan tahu-tahu ia sudah lenyap tak berbekas.

Ia datang secara mendadak, pergi secara Tiba-tiba, pada hakekatnya para penjaga dari Cian li

kau tidak mengetahui atas kehadiran maupun kepergiannya.

Kesal juga perasaan Hoa In-liong pikirnya, “ilmu silat yang dimiliki gembong iblis ini sungguh

amat lihay, wah kalau Mo kau sam pai ditunjang oleh jago selihay ini, bahaya juga pihak mereka

itu!”

Cia Sau-yan menghembuskan napas lega, katanya, “Pergi datangnya gembong iblis ini sangat

tiba-tiba dan mengherankan,aaii……. perkumpulan kami benar-benar telah dipecundangi

olehnya………”

Hoa In-liong tersenyum.

“Berbicara dari tingkat kepandaian silat yang dimiliki gembong iblis itu, sudah barang tentu para

peronda biasa tak akan me-ngetahui jejaknya, untungnya para gembong gembong iblis tersebut

tidak suka menganiaya siaupwee.”

“Segera kulaporkan kejadian ini kepada suhu!”

Tidak usah, kini sudah kentongsn kelima lebih, besok saja baru dilaporkan.”

Cia Sau-yan berpikir sebentar kemudian mengangguk, dia pun mengajak Hoa In-liong menuju ke

ruangan sebelah barat, menanti para dayang selesai membereskan ruangan tersebut, hari pun

mulai terang tanah.

Ketika dilihatnya gadis itu tidak menyinggung kembali pesan dari Cia In, Hoa In-liong pun tidak

banyak bertanya lagi, meski diam-diam ia merasa agak keheranan.

Menunggu Cia Sau-yan telah mengundurkan diri, Hoa In-liong mendengar ayam jantan telah

berkokok pertanda fajar telah menyingsing, diapun tidak tidur melainkan hanya duduk bersemedi

sambil mengatur pernapasan. Tanpa terasa sang surya sudah jauh diawang-awang

Tiba-tiba dari jalan setapak terdengar suara langkah manusia, disusul suara dari Cia Lam ciau

sedang bertanya dengan suara keras, “Apakah siu sauya telah bangun?”

Hoa In-liong segera turun dari pembaringannya dan berjalan menuju ke pintu.

Di depan ruang kamar adalah sebuah kebun dengan aneka warna bunga yang amat indah,

dibawah terpaan cahaya sang surya, tampak segerom bolan gadis cantik dengan baju yang

beraneka ragam sedang memetik bunga dengan senyum manis dikulum, mereka muncul dari

jalan-jalan kecil menuju keruang tengah.

Menyaksikan pemandangan yang sangat indah itu, tanpa terasa Hoa In-liong bersorak sambil

bertepuk tangan.

Murid murid Pui Che giok yang menyaksikan sikap riang dari pemuda itu segera ikut tertawa

cekikikan hingga menambah semaraknya suara waktu itu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

78

“Sauya!” kata Cia Wan, “sarapan pagi telah disiapkan, cepat cuci muka dan cuci mulut, budak

sekalian siap menanti perintahmu!”

Tak terasa Hoa In-liong maju menghampiri mereka, katanya, “Enci Wan, sekalipun kau sedang

bergurau tapi siaute tak kuasa untuk menerimanya.”

Cia Wan tersenyum.

“Siapa yaag sedang bergurau? Semalam suhu minta kami semua agar ingat selalu dengan

kedudukan sendiri, bukankah sauya juga ikut mendengarkan….

Hoa In-liong segera tertawa terbahak-bahak.

“Haaah….haaahh…..haaah……sekarang bibi Pui berada dimana? Sudah sempatnya kalau kuberi

hormat dulu kepadanya.”

Cia Lam ciau tertawa cekikikan.

“Berhubung ada tamu jahat yang berkunjung tanpa permisi, terpaksa suhu harus menghindarkan

diri.”

“Enci Ciau, harap jangan bergurau…..” seru Hoa In-liong dengan alis mata berkenyit.

“Suhu benar-benar sedang pergi,” tukas Cia Lam ciau cepat, “sebelum berangkat ia pesan bahwa

pemilik rumah ini sekarang adalah ji-kongcu, beliau suruh kami baik baik melayani dirimu.”

Mendengar jawaban tersebut, diam-diam Hoa In-liong lantas berpikir, “Tampaknya bibi Pui

memang sengaja menghindar…..”

Sementara ia masih termenung, dua orang dayang yang melayaninya telah muncul sambil

membawa baskom untuk cuci muka, handuk, alat untuk membersihkan mulut dan lain

sebagainya, sementara murid-murid Pui Che giok telah masuk ke ruang depan.

Dalam ruangan tengah telah tersedia sarapan pagi, hidangannya amat mewah dan lezat.

Baru saja Hoa In-liong duduk, Cia Sau-yan telah mengambilkan semangkuk bubur sambil

menghidangkan dihadapannya.

“Silahkan sauya!” katanya.

Sambil tertawa Hoa In-liong gelengkan kepalanya berulang kali.

“Enci Yan, kenapa tidak menyuruh para dayang saja?”

Dengan cepat Cia Sau-yan tersenyum.

“Perintah dari suhu tak berani kuingkari sudah menjadi kewajibanku untuk melaksanakan apa

yang telah dipesan suhu.”

Secara lamat-lamat Hoa In-liong dapat merasakan meski mereka cuma main main tapi

sesungguhnya mengandung maksud tertentu, dan rupanya Pui Che-giok ingin benar-benar

membuktikan apa yang telah diucapkan semalam, kebulatan tekad mereka jelas susah dirubah

lagi.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

79

Diam-diam ia lantas berpikir, “Aku tidak percaya bibi Ku dan kau bisa bersembunyi sepanjang

masa, asal bertemu aku pasti punya akal untuk menaklukan kalian!”

Tiba-tiba ia teringat kembali akan diri Coa wiwi dan Wan Hong-giok, segera pikirnya, “Keadaan

adik Wi masih rada mendingan tapi Hong giok…….hidup sunyi seorang diri, kasihan benar

nasibnya…………”

Ia teringat betapa Wan Hong giok hanya mempunyai seorang guru, dengan punahnya tenaga

dalam yang dimiliki, penderitaan tersebut tentu akan luar biasa beratnya, lain dengan

keluarganya yang tiga generasi mengembara dalam dunia persilatan, dimana-mana selalu ada

teman akrab yang membantu…

Makin dipikir ia merasa hatinya semakin tidak tenteram.

Ketika Cia Sau-yan menyaksikan wajah anak muda itu diliputi kesedihan, dengan heran ia lantas

bertanya, “Ada apa? Apakah merasa pelayanan kami Kurang memuaskan?”

Hoa In-liong tertawa paksa.

“Aaah.. apa…? Siapa yang bilang? Siaute malah merasa telah menodai nama baik cici sekalian.”

“Oooh.. itu sih tidak terdengar,” seorang gadis yang berada di sisinya menyelah, “asal kau

bersedia tidak menyulitkan suhu dan su-pek kami, hal ini sudah lebih dari cukup untuk kami

semua.”

Hoa In-liong segera berpaling ke arah orang itu, ternyata dia adalah murid kesebelas dari Pui Che

giok, melihat itu sambil menghela napas ia lantas berkata, “Cici sekalian sudah sepantasnya

kalau membantu aku untuk menasehati bib ku serta gurumu.”

Tapi para gadis itu cuma menutup bibir sendiri sambil tertawa cekikikan, mereka tidak berbicara

apa-apa.

Sekalipun sarapan pagi itu dihidangkan makanan yang serba lezat, akan tetapi lantaran takaran

makan Hoa In-liong tidak terlalu besar, lagi pula ia hanya memikirkan bagaimana caranya untuk

menjumpai Tiong heng To koh, maka hanya sedikit yang dia habiskan hidangan-hidangan

tersebut.

Selesai bersantap, tiba-tiba muncul Ho lo cia yang pernah ditemui sebagai kusir keretanya Cia

Im, sambil memberi hormat, katanya, “Ruang depan dan ruang timur serta barat telah selesai

dibersihkan silahkan ji kongcu melakukan pemeriksaan.”

“Hei, mau membersihkan ruangan atau tidak toh urusan kalian, apa sangkut pautnya dengan

aku?!” seru Hoa In-liong keheranan.

“Maksud guru kami,” kata Cia Sau-yan, “untuk menyelenggarakan pertemuan besar para jago di

kota Si ciu ini, daripada menginap te rus dirumah penginapan lebih baik gunakan saja ruangan

depan dan ruang tenggara gedung ini untuk menampung mereka, sebab itulah gedung ini oleh

guruku telah dihadiahkan untukmu, bila mereka telah berkumpul semua disini untuk berunding

dan berkumpul pasti lebih leluasa, dan untuk itu kau harus pergi untuk memeriksanya sendiri,

Siau ongya, kau pahami sudah bukan….”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

80

Hoa In-liong yang mendengar perkataan itu segera berpikir, “Walaupun bibi Ku dan bibi Pui tidak

bersedia menjumpaiku, tapi mereka selalu memikirkan kepentingan, tentu saja kesemuanya ini

lantaran ayahku…….”

Berpikir sampai disini, ia segera meraba bahwa untuk menasehati Tiang beng To koh agar

berubah pikiran sesungguhnya tidak lebih sulit dari apa yang dihadapinya kini, tanpa terasa

semangatnya kembali berkobar diiringi para gadis merekapun berputar mengelilingi ruangan

untuk mengadakan kontrol.

Menurut anggapan Hoa In-liong, bangunan itu cukup kokoh dan megah, peralatannya komplit

dan sangat berlebihan untuk menampung para kawanan jago.

Akan tetapi anak muridnya Pui Che giok merasa sangat tidak puas, yang satu mengatakan

kurang ini, yang lain mengatakan kurang itu, bahkan ada pula yang mengatakan peralatan

semacam ini hanya akan ditertawakan orang persilatan saja.

Hoa In-liong pura-pura tidak mendengar, ia mengundang Cia Sau-yan menuju ketengah kebun

lalu ujarnya, “Enci Yan, sebenarnya apa yang hendak dikatakan oleh sucimu? Sekalipun bernada

mendamprat, tolong katakanlah sejujurnya.”

Cia Sau-yan tertegun, setelah termenung sejenak, katanya kemudian, “Toa suci telah berpesan,

katanya bila aku merasa tidak perlu untuk mengatakannya, maka aku tak usah mengatakannya.”

Hoa In-liong menjadi keheranan, pikirnya, “Kenapa ia ragu-ragu untuk berbicara denganku?

Aneh, pasti ada sesuatu yang tidak beres.”

Semakin perempuan itu tak mau berbicara ia semakin mendesak berulang kali.

Cia Sau-yan termenung sejenak, tiba-tiba ia memetik setangkai bunga anggrek merah lalu

dilumatnya dengan kedua belah tangan, setelah itu ditebarkan keudara, ada yang jatuh ditepi

kolam, ada yang jatuh dalam kolam….

Sambil menunjuk bunga-bunga lumatan yang tersebar keempat penjuru katanya, “Sudah

kaulihat?”

“Sudah!” jawab Hoa In-liong.

Cia Sau-yan menghela nafas sedih.

“Sudah tahu?” kembali ia berkata.

“Teka-teki ini tidak kupahami!”

Cia Sau-yan menghela nafas sedih, katanya, “Bunga yang jatuh dari tangkainya akan mengalir

mengikuti arus air, atau hancur menjadi tanah, kehidupan manusia tidak selalu kekal seperti

berakar!”

Lamat-lamat Hoa In-liong dapat merasakan maksud dari perkataan itu.

Terdengar Cia Sau-yan berkata lebih jauh, “Aku rasa apa yang kuterangkan sudah cukup jelas,

masakah kau tidak mengerti?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

81

Hoa In-liong semakin memahami lagi maksud ucapannya itu, sambil tertawa berat katanya,

“Bagaimanapun juga kehidupan manusia jauh berbeda dengan bunga sejak dulu sampai

sekarang, Thian menciptakan manusia bukan bernasib seperti sekuntum bunga, nasib manusia

tetap sebagai manusia.”

“Aaah……perkataanmu terlampau kosong dan hampa,” kata Cia Siau-yan sambil menggelengkan

kepalanya, mundur selangkah, seperti juga kalian jago-jago kenamaan, mana bila dibandingkan

dengan kami perempuan-perempuan lemah?”

Setelah berhenti sejenak katanya lebih jauh dengan sedih, “Coba bayangkan saja seperti adikmu,

seperti adik dari keluarga Coa, semenjak dilahirkan mereka sudah ditakdirkan bernama dan

terhormat, baik ilmu silat maupun ilmu sastra bisa diperoleh dengan gampang, mereka

merupakan gadis-gadis yang menjadi impian setiap pria di dunia ini, sebaliknya kami

bersaudara.,…aai untuk disebut sebagai keturunan perguruan kenamaan saja tidak pantas”

Hoa In-liong gelengkan kepalanya berulang kali.

“Enci Yan, perkataanmu keterlaluan, selama orang lain tidak membicarakan masalah itu,

keluarga Hoa kami tak sampai bisa me miliki jalan pemikiran seperti itu.”

“Aah……..kami ini betul-betul seorang teIur busuk cilik, berapa banyak keluarga Hoa yang ada di

dunia ini? Tahukah kau apakah orang lain suka berpikir demikian?” Hoa In-liong segera tertawa.

“Di dalam sepuluh langkah pasti ada rumput baru…..”

“Aku tidak ingin mendengarkan perkataan semacam itu” tukas Cia Siau yan dengan cepat, “aku

hanya ingin bertanya kepadamu, apakah kau bermaksud memungut bunga? Apakah kau tidak

keberatan untuk memungut bunga dalam jamban yang telah ternoda?”

Hoa In-liong menjadi tertegun, ia ragu-ragu untuk sesaat, lalu katanya, “Dunia bukan selebar

daun kelor, pasti akan ditemukan orang yang bersedia memungut bunga……..”

Cia yau yan tertawa dingin, ia putar badan dan tanpa mengucapkan sepatah katapun segera

berlalu dari situ.

“Enci Yan, harap tunggu sebentar!” buru-buru Hoa In-liong berseru dengan cemas.

Cia Sau-yan menjejakkan kakinya ditanah dan berlalu tanpa berpaling lagi, sambil berjalan pergi,

katanya, “Toa suci suruh aku memberi tahukan kepada mu bahwa dia adalah seorang banyi

buangan, shenya mengikuti gurunya she Pui dan bernama In-ang.”

Habis berkata ia lantas melangkah pergi dari situ. Dengan termangu-mangu Hoa In-liong

mengawasi bayangan punggungnya hingga lenyap dari pandangan, kemudian menghela napas

panjang.

Sekalipun perkataan dari Cia Sau-yan diutarakan secara lamat lamat, tapi sebagai orang yang

cerdik tentu saja ia memahami maksudnya, timbul perasaan sedih dihati kecilnya, sambil

berjongkok tangannya diceburkan ke dalam kolam dan membuyarkan rontokan bunga anggrek di

atas permukaan.

Lama lama sekali, ia baru menghela napas panjang, bangkit dan berlalu dari situ.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

82

Beberapa hari lewat dengan cepatnya, pihak-pihak Hian-beng-kau, Kiu im kau, Mo kau serta

kawanan jago yang berada di kota si-cin sama-sama tidak melakukan gerakan apa-apa, kedua

belah pihak sama-sa ma seperti lagi menantikan sesuatu, sehingga meski kendor suasana diluar,

padahal diam-diam amat tegang.

Terutama sekali kawanan jago dari Kiu-im-kau yang dipimpin oleh bwe Su-yok, sejak masuk kota

dan menetap dirumah keluarga Cho di selatan kota, hampir selama delapan-sembilan hari tak

pernah keluar rumah, pintu gerbang mereka selalu berada dalam keadaan tertutup.

Setiap kali bila Hoa In-liong ingin melakukan pengintaian terhadap gerak-gerik Kiu im kau, bila

terbayang kembali bagaimana jadinya bila bertemu dengan Bwe Su-yok nanti, akhirnya rencana

tersebut tentu dibatalkan di tengah jalan.

Diatara mereka, kelompok pemuda yang dipimpin Kongsun Peng paling tak betah, berulang kali

mereka mengusulkan agar me langsungkan pertarungan terbuka melawan Mo-kau tapi sambil

tersenyum Hoa In-liong selalu menghalangi niat tersebut.

Peristiwa ini merupakan peristiwa yang paling mengemparkan dalam dunia perilatan.

sejak suasana tenang dua puluh tahun belakangan, bukan saja semua kelompok manusia

berkumpul di kota Si ciu, malah para jago aneh yang sudah lama mengasingkan diri

dipegunungan terpencilpun berdatangan semua kesitu.

Yang paling tenang diantara mereka sudah tentu keluarga Hoa sendiri, jangankan kelompok

mereka melakukan sesuatu gerakan, berita mengenahi Hoa Thian-hong pun tidak kedengaran.

***

Diluar pintu selatan kota Si-ciu terdapat sebuah warung teh kecil.

Biasanya hanya para pedagang kecil, pekerja kasar dan kuli-kuli kasaran yang mampir di tempat

itu, biasanya setelah pagi sekali bekerja di kota maka tengah hari mereka beristirahat disitu

sekalian mengisi perut dengan beberapa biji bakpao.

Tengah hari itu, ada dua penunggang kuda sedang melakukan perjalanan menuju ke kota pintu

selatan.

Karena paginya telah turun hujan deras, air menggenangi jalan berbatu itu sehingga becek,

ketika kuda-kuda itu berlari lewat, air lumpur segera memancarkan ke-empat penjuru dan

mengenai tubuh beberapa orang lelaki yang kebetulan sedang berdiri di depan pintu warung.

Salah seorang diantara mereka malah tersiram wajahnya hingga kotor, ketika orang itu

mengetahui bahwa penumpang kuda tersebut berbadan kecil seperti seorang perempuan, kontan

saja ia mencaci maki, “Perempuan peliaran anjing lonte busuk…..

Tajam benar pendengaran perempuan di atas kuda itu, muski sudah berada beberapa kaki

jauhnya, ternyata makian itu masih sempat terdengar olehnya.

Mendadak tali les kuda ditarik, diiringi ringkikan panjang, kuda itu segera mengangkat sepasang

kakinya ke atas, sementara perempuan itu sendiri dengan enteng dan cekatan lompat turun dari

kudanya. Sekilas pandangan, dapat diketahui bahwa orang itu berilmu tinggi

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

83

Penunggang kuda di depannya yang menyaksikan kejadian itu segera memutar balik kudanya

sambil menghampirinya, dengan suara keras ia bertanya.

“Ji moay, kenapa, kau?”

Dua orang gadis itu berbaju ungu. kedua-duanya menggambol pedang dan berpakaian ringkas.

Usianya belum melewati angka dua puluh.

Gadis berbaju hijau yang dipanggil “ji moay” itu segera berkata, “Tunggu sebentar toaci!”

Lalu dengan wajah dingin membesi, ia menatap ke arah warung teh itu sambil menegur dengan

ke-tus, “Siapa yang barusan memaki? Hayo keluar!”

Tampaknya laki-laki yang memaki tadi masih belum merasa kalau gelagat tidak menguntungkan,

dengan angkuh dia menjawab, “Mau apa kalau toayamu…”

Belum habis ucapan tersebut…… “Plok!” sebuah tamparan keras telah bersarang di pipi kirinya,

lima buah bekas jari tangan membekas jelas di atas wajahnya.

Kontan saja para lelaki lainnya tertawa tergelak setelah menyaksikan kejadian tersebut.

Laki-laki merasa ya malu ya marah, setelah celingukan sekejap kembali makinya, “Lonte busuk,

toaya akan beradu jiwa denganmu!”

Mendengar perkataan itu, si nona berbaju hijau semakin naik pitam, dengan kening berkerut dan

wajah diliputi nafsu membunuh.

……… “Criing!” ia meloloskan pedangnya dari sarung kemudian diacungkan ke hadapan lelaki

tersebut.

Ketika laki-laki itu menyaksikan cahaya putih berkelebat dihadapan matanya, ia menjadi

ketakutan dan pecah nyali, hawa amarahnya seketika lenyap tak berbekas, dan ia mundur

berulang kali ke belakang.

Suasana dalam warung teh menjadi gempar, jeritan kaget berkumandang dari sana-sini.

Gadis berbaju ringkas warna ungu itu masih duduk di atas pelananya tanpa berkutik, agaknya ia

merasa kalau adiknya telah mem besarkan persoalan kecil, baru saja ia berseru dengan kening

berkerut, “Ji moay…..”

Tiba-tiba dari arah tembok kota sana berkumandang nyaring bentakan seseorang, “Sahabat dari

manakah yang hendak pamer kekuatan di kota Si-ciu? Aku Kong-sun Peng ingin menjumpainya.”

Seorang pemuda berbaju ringkas dengan menggembol pedang tiba-tiba melayang turun dari atas

dinding kota dengan kecepatan luar biasa.

Sebenarnya gadis berbaju hijau itu meloloskan pedangnya hanya bermaksud untuk menakut

nakuti orang, tidak terlintas sama sekali niat untuk menyusahkan orang itu, akan tetapi setelah

ada orang yang mencampuri urusan tersebut, ia menjadi naik darah, pedangnya malah sungguhsungguh

dibacokkan ketubuh orang itu.

“Ampuni selembar jiwanya nona!” bentakan serak basah kembali menggelegar.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

84

“Traaang………..!” bunyi benturan nyaring berkumandang memecahkan kesunyian, tahu-tahu

pedang di tangan gadis berbaju hijau itu terpukul miring ke samping.

Laki-laki yang diancam itu menjerit kaget kemudian roboh tak sadarkan diri.

Gadis berbaju hijau itu berpaling, ternyata pedangnya telah disampok miring oleh sebiji batu kecil

oleh seorang kakek berjenggot panjang dan bermata jeli kurang lebih empat kaki dihadapannya

sana, kenyataan ini membuat hatinya sangat terperanjat, segera pikirnya, “Orang bilang kota Si

ciu pada saat ini penuh tersembunyi orang pintar, dulu aku tidak percaya tapi sekarang……..yaa,

belum saja masuk kota, aku telah berjumpa dengan jago setangguh ini.”

Berpikir sampai disitu, ia mulai menyesal kenapa dirinya terlalu banyak urusan.

Kong-sun Peng sebenarnya sedang cemas karena tak sempat menghalangi bacokan si gadis

berbaju hijau itu, ia baru lega setelah kakek itu turun ringan mengatasi persoalan tersebut.

sambil memberi hormat kepada kakek itu segera ujarnya, “Terima kasih banyak atas bantuan Ho

cian-pwe!”

“Kongsun hiante tak usah banyak adat, sudah sepantasnya kalau kucampuri urusan ini, cegah

kakek tersebut.

Kongsun Peng lantas berpaling ke arah gadis berbaju hijau itu lalu ujarnya dengan marah,

“Sungguh keji hatimu budak, orang itu toh tidak lebih cuma seorang rakyat kecil, kendatipun

kurang sopan dalam pembicaraan tidak seharusnya kau turun tangan sekejam itu.”

Gadis berbaju hijau itu tertawa dingin, ia menggerakkan bibirnya seperti hendak mengucapkan

sesuatu, tapi sebelum ia sempat berbicara, kakek she Ho itu sudah berkata sambil tersenyum

“Kongsun hiante, kau telah salah menuduh nona itu, jurus Giok li si hian (gadis cantik memintal

sutera) yang digunakan nona itu meski tertuju kejalan darah To long hiat namun ia sudah

menghentikan gerakannya setengah mili dari sasaran, timpukan batu dari lolap tadipun

hakekatnya cuma suatu tindakan yang berlebihan.”

Lalu kepada gadis berbaju hijau itu katanya, “Jurus pedang yang nona pergunakan adalah jurus

tangguh dari aliran Hoa san, entah apa hubungan nona dengan Kiong tayhiap dari partai Hoa

san?”

Gadis berbaju hijau itu tidak menyangka kalau jurus serangannya berhasil diketahui orang

sebelum tusukan itu sendiri mengenai sasaran, iapun sadar bahwa kakek itu tentu seorang jago

lihay.

Ia tak berani berayal, setelah mamberi hormat katanya, “Dia adalah kakek kami!”

Dalam pada itu, nona berbaju ungu yang berada di atas kuda telah melompat turun sambil

memberi hormat, katanya, “Boanpwe bernama Kiong Gwat-hui, boleh aku tahu siapa nama besar

locianpwe?”

Kakek itu tertawa tergelak. “Haahh….haahh….haaahh…..aku adalah Ho Kee-sian, pernahkah

nona sekalian mendengar namaku?”

“Ooooh.,..rupanya Hoan-thian-jiu (telapak sakti pembalik langit) Ho locianpwe sudah lama

boanpwe mendengar nama besarmu,” sahut kedua orang gadis itu berbareng.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

85

Waktu itu Kiong Thian-yu dan Pek Siau-thian mempunyai hubungan yang erat, setelah Pek Siauthian

mendirikan sia-ci-pang hubungan itu putus untuk sementara waktu tapi sejak penggalian

harta di Kiu-ci-san, hubungan itu kembali berlangsung malah akhirnya semakin akrab. Sudah

barang tentu mereka pernah mendengar nama besar dari Ho Kee-sian.

Kembali Ho Kee-sian tertawa terbahak-bahak, katanya, “Nona adalah…..”

“Boanpwee bernama Kiong Gwat-lan!” sahut gadis berbaju hijau itu cepat-cepat.

Setelah mengetahui Kalau kedua orang gadis itu adalah kawan sendiri, Kongsun Peng mulai

merasa tidak tentram atas perbuatannya tadi, buru-buru ia menjura kepada Kiong Gwat-lan

sambil katanya, “Nona Kiong, bila barusan aku telah berbuat gegabah dan ceroboh, harap kau

sudi memaafkan.”

Kiong Gwat-lan segera tertawa dingin.

“Apa hubunganmu dengan Kongsun Kia locianpwee dari kota Kay-hong?”

“Dia adalah ayahku,” jawab Kongsun Peng sambil tertawa paksa, “aku…aku…”

“Bagus sekali,” tukas Kiong Gwat-lan, “Sudah lama sekali mendengar akan kehebatan dari It cihui-

kim (pedang mulia satu harum), sayang selama ini tidak tersedia kesempatan baik, nah

saudara ongsun, silahkan cabut keluar pedangmu!”

Kongcu Peng menjadi tertegun setelah mendengar perkataan itu, untuk sesaat dia tak tahu apa

yang meski dikatakan.

“Adikku, jangan ngaco belo!” seru Kiong Gwat hui tiba-tiba.

Kiong Gwat-lan segera tertawa dingin.

“Cici, kau bisa berkata begitu soalnya kau tidak melihat tampangnya yang sok tadi. Bagaimana

juga, hari ini aku pasti akan menjajal sampai dimanakah taraf kepandaian It ci hui-kiamnya

sehingga begitu berani berlagak sok dihadapan orang.

“Aaah…..aku masa berani bersikap sok kata Kongsun Peng terbata bata, “berhubung Hoa kongcu

kuatir banyak orang persilatan mencari gara-gara di kota Si-ciu ini berhubung pelbagai macam

manusia berkumpul semua disini, maka di minta kepada semua enghiong di pelbagai tempat

untuk ikut memperhatikan suasana di sekitar kota ini serta melerai segala kepincangan yang

bakal terjadi.”

Hmm, kau tak usah banyak bicara lagi.” kata Kiong Gwat-lan ketus, “aku adalah seorang

penganiaya rakyat kecil, kenapa Kongsun harap tidak cepat cepat turun tangan untuk

menghukum diriku?”

Kongsun Peng semakin tersipu-sipu dibuatnya ia tak tahu bagaimana menjawab.

Kiong Gwat bui yang menyaksikana adiknya mendesak orang lain terus menerus, padahal

keadaan sesungguhnya tidak serius itu, ia bermaksud maju melerainya.

Tapi sebelum ia tampil kedepan, tiba-tiba muncul seorang lelaki kekar yang segera menjura

seraya berkata, “Nona Kiong, bersediakah engkau mendengarkan beberapa patah kata ku…..?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

86

“Siapa namamu?” tanya Kiong Gwat-lan sambil menatap lelaki itu tajam tajam.

“Aku adalah Song Yan dari Huan yangi.”

Ooeh..,. rupanya Son tokeng, maaf kalau aku tidak dapat mengenali dirimu.

Merah jengah selembar Wajah Song Yan ketika mendengar di balik ucapan tersebut bernada

sindiran, katanya dengan gusar, “Nona kiong, sekalipun aku Song yan berasal dari kaum

perampok yang rendah kedudukannya, tapi aku percaya ucapanku masih bisa dipercaya, aku

masih dapat memegang peraturan kaum Liek lim dengan ketat, jangankan merugikan kaum

rakyat kecil, memeraspun tidak….”

“Aku toh tidak menuduh dirimu yang bukan-bukan, kenapa Song tangkeh musti merasa sampai

disitu?” tukas Kiong Hwat-lan lagi

Song yan benar-benar menjadi naik darah saking mendongkolnya untuk sesaat dia hampir tak

mampu berkata-kata.

Sebenarnya dia hendak melerai karena melihat ucapan Kiong Gwat-lan tidak pakai aturan, siapa

tahu belumm sampai kata-kata tersebut disampaikan, beberapa patah kata dari gadis she Kiong

itu sudah cukup membuat hatinya mendongkol setengah mati,

Akan tetapi bagaimanapun juga dia adalah seorang jagoan dari Liok Lim yang sudah

berpengalaman luas, dengan sekuat tenaga ia berusana mengendalikan hawa amarah yang

berkobar dalam hatinya, kemudian sambil menjura ia berseru, “Kalau begitu maaf jika aku orang

she-Song terlalu banyak urusan!”

Selesai berkata ia lantas putar badan dan berlalu dari situ.

Kiong Gwat-lan cuma tertawa dingin tanpa mengucapkan sepatah katapun Kiong Gwat hui

merasa tidak berkenan dengan kejadian tersebut, dengan cepat ia melompat kehadapan Song

Yan, kemudian setelah memberi hormat katanya, “Song tangke, adikku masih muda dan tak tahu

urusan seandainya ia telah menyinggung perasaanmu, bersama ini siauli minta maaf. Buru-buru

Song-Yan balas memberi hormat, “Kiong toa-kohnio tak usah sungkan-sungkan, memang akulah

yang terlalu lancang mencampuri urusan orang lain….”

Diluar ia berkata demikian, sementara dalam hatinya berpikir lain, “Heran, sama-sama dilahirkan

oleh seorang ibu, kenapa wataknya bisa jauh berbeda bagaikan langit dan bumi? Kalau sang enci

lembut dan tahu sopan, dan adiknya angkuh, binal dan susah diatur……”

Dipihak lain, Kongsun Peng juga sedang berkata, “Nona, masa terhadap urusan sekecil ini pun

kau mempersoalkan terus, tindakan nona sungguh membuat aku menjadi tidak habis

mengerti……”

Sambil tertawa dingin Kiong Gwat-lan segera menukas, “Aku adalah seorang nona yang

berpikiran picik dan berdada sempit, mengerti?”

“Kalau nona telah berkata demikian, aku-pun tak bisa berbuat apa apa lagi, entah apa yang

musti kulakukan sehingga dapat meredakan rasa marah nona?” tanya Kongsun Peng kemudian

dengan kening berkerut.

Kiong Gwat-lan menggetarkan pedangnya kedepan tiba-tiba ujarnya kepada Kongsun Peng.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

87

“Sejak tadi aku toh sudah berkata kepada mu, aku hendak minta petunjuk ilmu pedang mu!”

Tindakannya ini sangat menantang, sebagai anak muda yang berdarah panas tentu saja Kongsun

Peng tidak tahan, hawa amarahnya kontan meledak, pikirnya, “Budak ini benar-benar tidak tahu

aturan, kalau tidak kuberi sedikit pelajaran kepadanya, dia pasti akan mengira aku, orang she

Kongsun jeri kepadanya………”

Berpikir sampai disitu, dengan wajah serius, ia lantas berkata.

“Aku hanya tahu bahwa diriku bukan tandingan nona…..”

“Aaah.. tak usah banyak cerewet cabut pedangmu!” seru Kiong Gwat-lan tampaknya tidak sabar

lagi.

Ia sudah dipaksa terus menerus akhirnya tentu saja Kongsun Peng tidak tabu, pedangnya segera

diloloskan dari sarungnya,

Ho Kee sian hanya bisa gelengkan kepalanya berulang kali melihat mereka beribut bahkan

hendak beradu senjata Cuma disebabkan soal kecil, segera selanya, “Nona Kiong, dapatkah

memandang diriku…..

Kong Gwat-lan tahu bahwa ucapan selanjutnya pastilah: “Dapatkah memandang di atas wajah

saya untuk mengakhiri persoalan ini…?”

Andaikata Ho Kee sian biarkan menjatuhkan kata-katanya sudah pasti untuk menghormati atas

Ho Kee sian dengan kakeknya, mau tak mau harus mengakhiri rencananya.

Sebagai gadis yang cerdik dapat cepat ia menukas pembicaraan orang sebelum perkataan itu

berakhir, katanya, “Ho locianpwe, jika kauingin mempergunakan kedudukanmu sebagai cianpwe

untuk mencegah keinginan boanpwe, terpaksa boanpwe akan menuruti perintahmu itu.”

Ho Kee sian tertegun, akhirnya ia berkata, “Ooooh… aku hanya ingin bertindak sebagai penengah

saja!”

“Bagaimana cara cianpwe bertindak sebagai penengah?”

Ho Kee-jian berpikir sebentar, ialu katanya, “Sesungguhnya persoalan ini hanya suatu persoalan

kecil yang sama sekali tidak berarti, menurut pendapatku lebih baik kita singkap masalahnya

secara terbuka saja.”

Kiong Gwat-lan tertawa merdu.

“Aku rasa pendapat locianpwe pasti tak akan salah pada boanpwe, merasa bahwa apa yang telah

kulakukan tadi memang tidak pantas, sebagai seorang jago lihay sudah seharusnya Kongsun

sauhiap memberi pelajaran yang setimpal kepadaku.”

Diam-diam Kongsun Peng mendengus setelah mendengar perkataan itu, pikirnya,

“Hmm…..rupanya kau juga tahu diri.”

Terdengar Ho Kee-sian berkata, “Nona sama sekali tidak salah.”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

88

“Bila Boanpwe tidak bersalah, itu berarti Kongsun sauhiap yang bersalah, meskipun boanpwe

tahu bukan tandingan Kongsun sauhiap, tapi…….”

Berkobar hawa amarah dalam dada Kongsun Peng, ia segera tertawa terbahak-bahak.

“Haah…..haahh……haaahh….-ona tak usah banyak berbicara lagi, anggap saja akulah yang

bersalah, silahkan turun tangan!”

Sejak tadi Kiong Gwat-lan memang sedang menantikan perkataannya itu, sambil tertawa merdu

ia berseru, “Bagus sekali, sambutlah seranganku ini!”

Tidak menanti Ho Kee-sian berbicara lagi, pedangnya langsung disapu kedepan, cahaya tajam

berkilauan dan segera menyelimuti jalan darah penting didada Kongsun Peng.

“Sebuah jurus Hong-pa-jian-ho (angin semilir menggugurkan teratai) yang sangat bagus!” bentak

Kongsun Peng.

Badannya berputar kencang, dari posisi menyerang segera berubah menjadi posisi bertahan,

pedangnya dikembangkan dan digetarkan berulang kali melancarkan bacokan-bacokan maut.

Kiong Gwat-lan tidak mau tunjukkan kelemahan, iapun membentak dengan suara nyaring, “It

thio it si (sekali mengencang sekali mengendor) yang indah, ilmu pedang It ci-hui-kiam memang

bukan nama kosong belaka!”

Ia semakin tak berani berayal lagi, dengan cepat jurus jurus maut dalam ilmu pedang Giok li

kiam hoat dikembangkan sedemikian rupa.

Kendatipun tenaga dalamnya masih jauh dari ke sempurnaan, namun sungguh hebat ancaman

tersebut, titik cahaya tajam serasa menyelimuti seluruh angkasa, bayangan pedang berlapislapis,

keadaannya sungguh mengejutkan orang.

Kongsun Peng tidak menyangka kalau pihak lawan akan menyerang dengan sepenuh tenaga,

seketika itu juga ia terdesak hebat sehingga harus mundur berulang kali ke belakang, dalam

waktu singkat ia terdesak, berada dibawah angin.

Begitu berhasil dengan serangannya, Kiong Gwat-lan semakin bersemangat lagi, ia tak sudi

melepaskan musuhnya dengan begitu saja, sambil tertawa terkekeh ejeknya, “Hmm, locianpwe,

kau harus tahu bahwa bukan aku yang minta tapi Kongsun suahiap yang mengajak aku beradu

tenaga.

Ho Kee sian merasa kurang enak untuk mencegah pertarungan tersebut, mendengar perkataan

itu ia lantas bepikir, “Budak ingusan, kau benar-benar sangat binal, tapi lucu dan menjengkelkan,

baiklah akan kuperhatikan dirimu dari sisi gelanggang daripada pertarungan harus diakhirkan

dengan luka dikedua pihak”

Berpikir sampai disitu sambil tertawa katanya, “Kau jangan keburu bersenang hati lebih dulu,

jangan dianggap kepandaian orang berada di bawah mu.”

Kiong Gwat-lan tertawa merdu katanya, “Aku lihat Kongsun sauhiap sudah tidak berkekuatan

untuk melancarkan serangan balasan lagi, aku rasa kau telah salah berbicara!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

89

Pintu selatan merupakan tempat penting dari perhubungan lalu lintas, manusia melimpah

manusia dengan terjadinya peristiwa tersebut maka semakin melimpah manusia yang menonton

keramaian disi tu, tentua saja sebagian besar adalah kawanan jago yang menggembol senjata.

Kawanan manusia tersebut tidak ada yang mempersoalkan apa sebab pertarungan itu sampai

terjadi, mereka hanya ingin menonton keramaian, semakin besar keramaian tersebut semakin

baik apalagi Kiong Gwat-lan adalah seorang gadis cantik, sorak sorai ber kumandang dari manamana.

Kiong Gwat-lan merasa semakin bangga, sambil tertawa cekikikan ejeknya lebih jauh.

“Kongsun suhiap, masih ada kepandaian simpanan apa lagi? Hayo cepat dikeluarkan.”

Tiba-tiba Kongsun peng membentak keras pedangnya, langsung menusuk kedepan dengan

kecepatan luar biasa, begitu serangan pedang Kiong Gwat-lan tertangkis, tiba-tiba sepasang

kakinya menjejak tanah dan melompat beberapa kali jauhnya, begitu lolos dari kepungan Kioang

Gwat-lan, ia berdiri dengan wajah hijau membesi, pedangnya pelan-pelan diungkitkan ke atas.

“Kongsun sauhiap… buru-buru Ho Hee sian berseru.

“Harap Ho locianpwe jangan mencegah diriku lagi, tukas Kongsun Peng dengan suara dalam,

terpaksa …. dilain waktu boanpwe minta maaf kepada kongcu suami istri.”

Jelas perkataan itu dimaksudkan bahwa dia akan melancarkan serangan dengan sepenuh tenaga,

sebelum Kiong Gwat-lan berhasil dilukai maka dia tak akan berhenti sampai disana saja.

“Hmm……….pantaskah kau berbuat demikian?” kembali Kiong Gwat-lan mengejek dengan sinis.

“Pantas atau tidak, nona segera akan mengetahuinya, harap kau perhatikan baik-baik”

Sekalipun di atas wajahnya Kiong Gwat-lan bersikap seolah-olah tak pandang sebelah matapun

terhadap lawannya, padahal ia tahu bahwa Kongsun Peng telah diliputi hawa kegusaran, dan

serangan yang dilancarkan pasti pula luar biasa sekali.

Jilid 5

MAKA ia menarik kembali senyumannya dan pusatkan segenap perhatiannya untuk bersiap sedia

menghadapi segala Kemungkinan yang tidak diinginkan.

Ho Kee sian hanya bisa gelengkan kepalanya berulang kali, dia tahu Kongsun Peng sudah dibikin

marah oleh perbuatan gadis tersebut, pertarungan sudah pasti tak akan terhenti sampai disitu

saja, terpaksa diapun harus memperhatikan jalannya pertarungan dengan lebih berhati-hati,

sebab jika Kiong Gwat-lan sampai terluka maka akibatnya pasti akan memusingkan semua pihak.

Kiong Gwat hui juga berpikir dengan kening berkerut.

“Adik bukan seorang yang tak pakai aturan, sekalipun ia suka bergurau bukan berarti ia mau

mencari menangnya sendiri, tapi kenapa hari ini ia bersikap demikian?”

Tiba-tiba terdengar Kongsun Peng membentak keras, “Berhati-hatilah!”

Pedangnya segera diputar dan langsung menyerbu kedepan dengan cepat.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

90

Pertarungan itu tak bisa dibandingkan dengan pertarungan sebelumnya, barusan Kong sun Peng

masih mengalah tiga bagian kepada musuhnya, tapi setelah berulang kali disindir dan dicemooh,

ia tidak sungkan sungkan lagi, begitu tiga jurus yang pertama sudah lewat, pedangnya diputar

sedemikian rupa melancarkan serangkaian serangan maut yang benar-benar hebat.

Sekalipun Kiong Gwat-lan telah berusaha menangkis dengan sepenuh tenaga akan tetapi jelas

terlihat bahwa ia sudah dipaksa dalam posisi yang kalah.

Sementara itu kawanan jago lihay yang ikut menonton jalannya pertarungan antara kedua orang

itu, diam-diam manggutkan kepalanya, mereka merasa dengan usia mereka yang masih begitu

muda, dapat memiliki kepandaian selihay itu sudah bukan terhitung suatu yang gampang.

Ratusan gerakan kemudian, bagaimanapun juga tenaga dalam yang dimiliki Kongsun Peng jauh

lebih tinggi dari musuhnya, secara beruntun Kiong Gwat-lan sudah dua kali terancam bahaya

maut, cuma untungnya meskipun Kongsun peng sedang diliputi kemarahan yang meluap, tapi

perangainya makin lama semakin kendor, ia pun tidak menggunakan kesempatan yang ada

untuk melukai lawannya.

Sebagai jago yang lihay, tentu saja Ho Kee sian dapat mengetahui juga kejadian tersebut,

hatinya menjadi lega karena ia tahu bahwa tragedi tak akan sampai terjadi.

Tiba-tiba dari antara kerumunan manusia muncul empat orang pemuda yang ganteng dan gagah

perkasa, mereka adalah Tan Kiat san, li Po-seng, Oh Keng bun serta Oh Keng bu.

Dengan suara lantang Tan Kiat kan segera berteriak, “Saudara Kongsun, Hoa kongcu berpesan

kepada kita agar melerai semua pertikaian yang terjadi, mengapa kau malah bertarung sendiri

melawan seorang gadis?”

“Apa daya, siau-te-pun terpaksa harus berbuat demikian!”

Sementara berbicara demikian, permainan pedangnya juga ikut mengendor, rupanya dia

bermaksud mengakhiri pertikaian tersebut.

Siapa tahu justru Kiong Gwat-lan telah manfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya

……Sreet! Sreet! Sreet! secara beruntun ia melancarkan tiga buah serangan berantai.

Tindakannya itu sangat tidak menyenangkan Kongsun Peng, otomatis permainan pedangnya ikut

mengencang.

Mendadak terdengar gelak tertawa panjang bergema memecahkan kesunyian, sesosok bayangan

manusia dengan kecepatan tinggi ber kelebat menerjang lewat diantara kedua orang itu.

Para penonton hanya merasakan pandangan matanya menjadi kabur, dan tahu-tahu Kiong Gwatlan

serta Kongsun Peng sudah berpisah dan masing masing mundur ke elakang sedangkan

seorang pemuda tanpan berusia lima enam belas tahun telah berdiri diantara mereka.

Kemunculan pemuda tersebut sangat mengejutkan semua orang, siapapun tidak, kalau mengajak

pemuda sekecil itu sudah memiliki ilmu ulet yang amat lihay.

Pemuda itu segera menjura ke arah mereka berdua, katanya, “Ilmu silat yang kalian berdua

miliki sama-sama lihaynya, keadaanpun sama kuat, menurut pendapatku daripada pertarungan

dilanjutkan lebih baik diselesaikan secara damai saja sampai disini, mau bukan?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

91

Tentu saja Kongsun Peng ingin mengakhiri pertarungan sampai disitu saja…..

Berbeda dengan Kiong Gwat-lan, sambil mencibirkan bibirnya ia berseru, “Hey siapa yang suruh

kau campuri urusanku? Kau masih belum berhak untuk mencampuri persoalanku tahu?”

Sebenarnya pemuda itu mencampuri kejadian tersebut lantaran tidak tega membiarkan Kiong

Gwat-lan terdesak dibawah angin, siapa tahu Kiong Gwat-lan tak sudi menerima kebaikan

hatinya, ini membuat dia menjadi tertegun dan tak tahu musti maju atau mundur.

Tiba-tiba dari tepi gelanggang muncul seorang sastrawan berusia pertengahan yang berjubah

biru, sambil menggoyangkan kipasnya ia berkata dengan Santai, “Lo te, kau tak usah banyak

urusan lagi, kalau memang orang lain tidak suka kau mencampuri persoalannya lebih baik

kembali saja kemari.”

Pemuda itu tertawa jengah, ia lantas putar badan dan berjalan kembali keluar kerumunan orang.

Pemuda tersebut rupanya baru pertama kali terjun ke dalam dunia persilatan, sehingga tindak

tanduknya agak gegabah dan sama sekali tidak memakai perhitungan.

“Berhenti!” tiba-tiba Kiong Gwat-lan membentak.

Pemuda itu agak tertegun, lalu sambil memutar badannya ia bertanya, “Apakah dia adalah

sahabatmu?” tanya Kiong Gwat-lan dengan wajah sedingin es sambil menuding sastrawan

berusia setengah umur yang berdiri diluar arena.

“Betul!” pemuda itu manggut-manggut.

Kontan saja Kiong Gwat-lan tertawa dingin.

“Heeehhh…..heeehh….heeehh…… sahabatnya Si-lu-kim-nong (kumbang emas bermain di putik)

Ou See tiong sudah pasti bukan manusia baik-baik…… hei, rupanya kau juga merupakan

komplotnya.”

Paras muka si anak muda itu berubah menjadi hijau membesi, rupanya ia masih belum paham

apa yang dimaksukan.

Berbeda dengan sastrawan berusia setengah umur itu, paras mukanya agak berubah, lalu

sambil berusaha menenangkan hatinya, ia menggoyangkan kipasnya dan berkata sambil tertawa,

“Nona, jangan sembarangan memfitnah orang baik-baik, aku bukan manusia yang kau

maksudkan, aku she yang dan bukan Ou See-tiong seperti apa yang kau katakan tadi!”

Berbicara sampai disitu, biji matanya lantas berputar kian kemari, agaknya ia sedang mengatur

rencana untuk melarikan diri.

Tan Kiat kan, Li Po seng serta dua bersaudara On saling berpandangan sekejap, lalu mereka

melompat ke depan dan secara ti ba-tiba mengurung sastrawan berusia setengah umur.

Suasana menjadi gempar, semua orang sama-sama menyingkir ke samping untuk memberi

tempat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar