Senin, 05 Oktober 2009

3 maha 3

Walaupun kejadian ini sudah berada dalam dugaan para jago, akan tetapi setelah perkataan itu

diutarakan dari mulut Pek Siau-thian sendiri, tak urung membuat Hoa Thian-hong terkesiap juga

hingga air mukanya berubah sangat hebat.

Terdengar Pek Siau-thian menghela napas panjang, kemudian menyambung lebih jauh, “Siapa

tahu putriku yang tak berbakti itu mencari kematian buat diri sendiri, matanya sudah buta dan

menganggap engkau seorang pria yang suka memandang tinggi soal cinta, ia berharap bisa

mendampingi dirimu sepanjang hidup setelah dia mengetahui akan rahasia ini dan menyaksikan

kalian terancam kepunahan, maka dengan menempuh bahaya ia memohon kepadaku agar

memberi petunjuk untuk menghindarkan kalian dari bencana maut, ia telah berlutut satu hari

satu malam lamanya. Aaaai…. sungguh menyesal kukabulkan permintaannya”

Berbicara sampai disini seluruh kulit tubuhnya berkerut kencang sambil memandang keangkasa,

ia membungkam dalam seribu bahasa, dalam waktu singkat itulah belbagai macam kesedihan

berkecamuk dalam benak Pek Siau-thian membuat ia berdiri termangu-mangu.

Hoa Thian-hong tak dapat menahan diri, dua titik air mata jatuh membasahi pipinya diam-diam is

berpikir, “Sungguh tak kusangka, tanpa kusadari aku telah berhutang budi yang demikian

besarnya terhadap dia. Aaaai….! takdir telah menentukan segala-galanya apa yang dapat

kulakukan lagi?”

Tiba-tiba Pek Siau-thian berkata lagi dengan suara keras, “Hoa Thian-hong tahukah engkau tibatiba

hatiku berubah jadi lunak dan aku bersedia mengkhianati persekutuan dengan pihak lain

sebaliknya malah membantu musuh dengan mengabulkan permintaan putriku itu?”

Hoa Thian-hong tertegun kemudian jawabnya, “Sadar akan kesalahan yang dilakukan selama ini

dan engkau bermaksud meninggalkan yang sesat kembali kejalan yang benar”

“Kentut!!” bentak Pek Siau-thian dengan penuh kegusaran.

Dalam hati Hoa Thian Hoag segera berpikir.

“Rupanya Pek Siau-thian sudah terlanjur tersesat sehingga meskipun sang Budha turun keatas

bumi sendiripun belum tentu membu at ia bertobat diri segala dosanya.

Sesudah berpikir sebentar, diapun berkata, “Sejak kecil Kun Gie dibesarkan dibawah

perawatanmu, kalian berdua sudah hidup berdampingan selama banyak tahun membuat cinta

kasihmu terhadap dirinya dalam bagaikan samudra….”

Makin mendengar, Pek Siau-thian merasa semakin kesal, ia segera ulapkan tangannya

memotong perkataannya yang belum selesai itu, serunya, “Engkau jangan menyamkan diri orang

lain bagaikan dirimu, engkau adalah seorang anak yang berbakti apa yang diucapkan ibumu

selalu kau turuti, engkau tak pernah membangkang perkataan ibumu, sebaliknya putriku itu

bukanlah seorang putri yang berbakti, aku melarang dia untuk mencintai dirimu sebaliknya dia

malah justru tak mau dengarkan perkataanku, mencari penyakit buat diri sendiri sehingga

membuat akupun harus menanggung rasa malu karena ditertawakan oleh setiap orang di kolong

langit!”

Hoa Thian-hong merasa tak tega membiarkan Pek Kun-gie yang sudah meninggal dunia dicaci

maki oleh ayahnya, tanpa terasa ia segera menimbrung dari samping, “Ucapanmu itu terlalu

serius, andaikata keadaan tidak melarang aku untuk membatasi diri dalam pergaulan, siapa tahu

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

85

kalau aku dapat berhubungan lebih mendalam lagi dengan putrimu hingga membawanya

kejenjang perkawinan? siapa yang akan mentertawakan kami?”

Pek Siau-thian tertawa dingin.

“Engkau tak usah mengatakan persoalan itu meskipun engkau berbakti pada orang tuamu belum

tentu ibumu bertindak bijaksana, aku bukanlah manusia sembarangan, sekalipun putriku yang

tak berbakti itu kupelihara sendiri sampai dewasa akan tetapi aku tak akan mengorbankan

keselamatan anggota Sin Kie Hong yang mencapai jumlah seratus laksa orang itu hanya

dikerahkan ingin mewujudkan hubungan kalian berdua.

“Seratus laksa orang?” seru Hoa Thian-hong dengan hati terperanjat, hampir saja tak percaya

dengan pendengaran sendiri.

“Hmm! mimpi pun engkau tak pernah menyangka bukan?” sahut Pek Siau-thian dengan wajah

penuh ejekan.

“Aaah….! mungkin ia memperhitungkan pula keluarga mereka semua…. pikir Hoa Thian-hong

didalam hati, akan tetapi kalau satu keluarga terdiri dari sepuluh orang itu berati anggota

perkumpulan Sin-kie-pang semuanya berjumlah sepuluh laska orang, kemampuan Pek Siau-thian

untuk memimpin anggota sebanyak itu memang benar-benar luar biasa serta mengagumkan

sekali….

Berpikir Sampai disini, ia lantas berkata, “Caramu bertindak memang amat sukar diduga,

sebenarnya apa sih alasanmu sehingga membuat hatimu jadi lemah serta mengabulkan

permintaan diri Kun Gie? aku tak dapat menduganya….”

“Aiaai….!” Pek Siau-thian menghela napas panjang, “aku teringat akan keretakan keluarga kami

berhubung dengan hidup berpisahnya dengan istriku, sejak kecil Kun Gie sudah kehilangan kasih

sayang ibunya, ia dibesarkan dibawah lingkungan para jago yang beraneka ragam watak serta

perbuatannya, aku tak tega menyaksikan ia menjadi sedih karena pengaruh cinta, akupan tak

ingin membiarkan dia mati karena kesedihan karena itu ditengah jalan aku telah berubah pikiran

dan mengijinkan dirinya untuk pergi memberi kabar kepada kalian serta menunjukkan pula satu

jalan keluar bagi kamu semua, tapi…. siapa tahu….”

Ia berhenti sebentar, dari balik matanya tiba-tiba memancarkan cahaya berapi-api, sambungnya

lebih jauh, “Siapa tahu kalian manusia-manusia yang mengaku sebagai kaum pendekar dari

kolong langit ternyata tidak lebih hanya sekawanan manusia yang tak tahu diri manusia yang tak

mengenal budi…. bukannya berterima kasih atas jerih payahnya, kalian malah mencelakai jiwa

putriku yang tolol itu…. kau…. Hoa Thian-hong, apakah masih punya muka untuk berjumpa

dengan para enghiong di kolong langit? kenapa engkau tidak bunuh diri saja untuk menebus

dosa-dosamu itu? apakah engkau hendak menunggu sampai aku turun tangan sendiri?”

Air muka Hoa Thian-hong pucat pias bagaikan mayat, ia berdiri kaku dan membungkam seribu

bahasa lama…. lama sekali baru jawabnya, “Latar belakang yang sebenarnya aku tak usah

terangkan lagi, pokoknya hutangku terhadap Kun Gie dikemudian hari pasti akan kubayar!”

“Tapi dia sudah mati!” bentak Pek Siau-thian dengan mata melotot.

“Apa aku bisa menggunakan kematianku untuk membalas budinya itu? atau juga dalam penitisan

yang akan datang aku toh dapat pula membalas budi kebaikannya itu!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

86

“Perkataan tentang Penitisan yang akan datang terlalu khayal dan kosong, menurut

penglihatanku lebih baik engkau balaa saja kebaikan budi Kun Gie dengan satu kematian!”

Hoa Thian-hong agak tertegun, lalu jawabnya dengan sedih, “Sekalipun aku tersedia namun

harus menunggu sampai pekerjaanku telah selesai lebih dahulu!”

“Heeeehhh…. heeehhh…. heeehhb engkau bersedia menunggu tapi aku tak bersedia untuk

menunggu lebih jauh!” sahut Pei Siau Thiang sambil tertawa dingin.

Tubuhnya segera menerjang maju kedepan telapak tangannya lak sana kilat melancarkan sebuah

serangan dahsyat kedepan.

Hoa Thian-hong segera putar pedang bajanya untuk mengunci datangnya ancaman tersebut

namun Pek Siau-thian adalah seorang manusia yang amat lihay, setelah berhasil menduduki

posisi diatas angin sepasang telapaknya segera melancarkan serangan-serangan berantai secepat

kilat sampai si anak muda itu sama sekali tak mempunyai kesempatan untuk melakukan

pembalasan.

Dengan waktu singkat segulung angin pukulan bagaikan gulungan ombak ditengah samudra

membungkus Hoa Thian-hong dalam kepungan, Pek Siau-thian senderi seakan-akan telah

berubah jadi gulungan angin pukulan yang maha dahsyat, jejaknya tiba-tiba lenyap tak berbekas.

Hoa Thian-hong dengan sepenuh tenaga memutar pedang bajanya untuk menahan gempurangempuran

dari lawannya, cahaya hitam tampak meronta diantara angin pukulan sebentar cahaya

hitam itu muncul sebentar lagi lenyap seakan-akan permainkan pedangnya sudah terbungkus

ditengah gulungan pukulan angin pukulan lawan.

Perkataan yang diucapkan Pek Tiau Thian barusan telah menggetarkan hati Hoa Thian-hong

membuat pemuda itu merasa menyesal hingga permainan pedangpun menjadi lunak.

Setelah kehilangan posisi yang menguntungkan, dalam sekejap mata tubuhnya sudah tertelan

ditengah gelombang angin pukulan yang dahsyat bagaikan hembusan angin puyuh itu,

kendatipun ia telah berusaha untuk meronta dan melakukan perlawanan akan tetapi selalu gagal

untuk menemukan kesempatan guna membenahi diri sendiri, ia sadar jika keadaannya begini

terus menerus maka pada akhirnya dia bakal menemui ajalnya ditangan lawan.

Pek Siau-thian sendiri berhasrat untuk membinasakan Hoa Thian-hong dalam sebuah se-rangan

mautnya, siapa tabu kendatipun sudah melancarkan ratusan jurus serangan dan me-maksa Hoa

Thian-hong berada dalam posisi yang sangat berbahaya dan kritis bahkan sering kali jiwanya

nyaris melayang namun maksud tujuannya belum pernah bisa tercapai.

Pertempuran ini benar-benar merupakan suatu pertempuran yang sengit dan jarang terjadi di

kolong langit.

Makin bertempur Pek Siau-thian merasa makin terperanjat ia tak pernah menyangka kalau di

kolong langit masih terdapat seorang jago yang mampu bertahan sebanyak ratusan jurus tanpa

menderita kalah dibawah kurungan ilmu pukulan Ceng boan ngo heng sian ong toan hun ciang

nya itu.

Sudah terlalu banyak jago lihay di kolong langit yang penrah dihadapi olehnya manusia lihay

sebangsa Ciu It-bong dan lain-lainnya asal sudah terjebak dibawah serangan rangkaian ilmu

telapak yang jarang sekali dipergunakan olehnya ini, maka dalam seratus jurus pasti akan keok

dan menderita kekalahan ditangannya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

87

Siapa tahu ketika ilmu telapaknya yang ampuh itu dipergunakan untuk menghadapi Hoa Thianhong,

walaupun sudah bertahan sampai ratusan jurus akan tetapi pemuda itu masih belum juga

mampu dikalahkan.

Tak tertahan lagi, ia berpikir dalam hati kecilnya, “Kun ji, engkau memang tak punya rejeki dan

keluarga Pek kitapun tak punya rejeki andaikata bocah ini dapat menjadi pasanganmu dan aku

bisa mendapat bantuannya maka para jago persilatan baik dari go longan putih maupun dari

golongan hitam yang ada dilima telaga empat samudra bukankah akan tunduk dan berada

dibawah kekuasaan per kumpulan Sin-kie-pang kita.”

Karena terpengaruh emosi, serangan yang dilancarkan semakin dahsyat dan daya tekanan yang

terpancar keluar dari ilmu telapak Ceng hoan sian hong toan hun ciang itupun makin

menggetarkan seluruh permukaan bumi.

Hoa Thian-hong mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya untuk melindungi keselamatan

sendiri, dalam keadaan begini otaknya tak sempat untuk dipakai lagi terpaksa ia harus punahkan

jurus bila bertemu jurus, punahkan gerakan bila bertemu gerakan pertarungan diteruskan

dengan mengikuti semua gerakan lawan.

Adaikata Pek Siau-thian tidak menghentikan serangannya maka diapun terpaksa harus bertahan

terus dengan cara demikian sekalianpun tidak sampai menderita kekalahan diapun tak memiliki

kekuatan untuk merebut kemenangan.

Dalam waktu singkat Pek Siau-thian telah melancarkan empat lima puluh jurus serangan lagi,

ketika dilihatnya tenaga dalam yang terpancar keluar dari ujung pedang Hoa Thian-hong sama

sekali tidak menunjukkan kelemahan, diam-diam ia merasa amat gelisah pikirnya, “Kalau

penarungan berlangsung dalam keadaan begini terus, sekalipun bergebrak tiga sampai lima ratus

jurus lagipun belum tentu aku mampu untuk melukai bocah keparat ini, apalagi kalau sampai

membiarkan dia hapal dengan gerakan ilmu telapakku ini bisa-bisa akan muncul suatu kejadian

yang sama sekali tak terduga….”’

Berhubung besok adalah hari pembukaan pertemuan besar Kian ciau tayhwee atau dengan

perkataan lain saat terakhir bagi kaum jago untuk menentukan siapa tangguh dan siapa lemah,

siapa berkuasa siapa tidak lagi pula mempengaruhi mati hidup perkumpulan Sin-kie-pang maka

Pek Siau-thian tidak ingin menggunakan hasil latihannya selama puluhan tahun ini sebelum tiba

pada saatnya yang tepat, sebelum pertarungan massal berlangsung ia tak ingin mengorbankan

tenaganya dengan percuma hingga mempengaruhi kelangsungan pertemuan besok pagi.

Disamping itu, diapun mengerti setelah Hon Thian-hong dibunuh maka Hoa Hujin pasti bersiap

sedia untuk membalaskan dendam bagi kematian putranya, iapun harus bersiap sedia untuk

menghadapi pertentangan yang paling berat itu.

Berpikir sampai disana, diapun segera mengambil keputusan untuk merubah siasat, ia berusaha

mencari kemenangan dengan andalkan kepandaian yang dimilikinya selama ini.

Terdengar orang she Pek itu mendengus dingin, gerakan telapaknya tiba-tiba berubah, telapak

kiri menyapu keatas pinggang musuh sementara kepalan kanannya langsung menghantam dada

Hoa Thian-hong.

Perubahan yang sama sekali tak terduga itu membuat jago muda she Hoa itu jadi amat

terperanjat, disaat yang kritis pedang bajanya buru-buru berputar dengan gerakan Po goan siu it

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

88

atau berjaga-jaga dalam satu titik, badannya secepat kilat berputar kencang.

Menghadapi serangan musuh dengan badan berputar, pedang disilangkan didepan dada

merupakan jurus pertama dari antara enam belas jurus pedang yang dipelajari oleh Hoa Thianhong,

gerakan itu mengandung unsur Pat kwa serta Tay kek membuat pihak lawan susah untuk

menduga arah manakah yang bakal diancam….

Pek Siau-thian merasa amat kagum sekali ketika menyaksikan kepalannya ketiga menyapu

kedepan, tiba-tiba berkelebat cahaya hitam dan tahu-tahu sepasang pergelangannya hampir

membentur diatas pedang lawan, ia memuji kelihayan ilmu pedang yang diciptakan oleh Hoa

Goan-siu tersebut serta kesempurnaan Hoa Thian-hong didalam permainan pedangnya.

Tetapi setelah berhasil merebut kedudukan diatas angin, ia tak mau membuang kesempatan itu

dengan begitu saja, telapak kirinya dengan suatu gerakan yang sangat aneh tiba-tiba menotok

jalan darah Ki huo hiat diatas badan Hoa Thian-hong sedangkan tangan kanannya yang

mengandung kekuatan inti mendadak diluncurkan kedepan.

Hoa Thian-hong tak sempat berpikir panjang lagi, pedang bajanya dikembangkan dengan jurus

Hok lay cing beng atau pekikan bangau membumbung keangkasa, ia balik membabat lengan kiri

Pek Siau-thian sedangkan telapak kirinya dengan jurus Kun ciu ci tau menyambut datangnya

serangan lawan.

Siau tahu serangan tangan kiri Pek Siau-thian adalah gerak tipu belaka, sedang serangan telapak

kanan adalah serangan yang sesungguhnya, terutama sekali gerakan ini merupakan hasil

ciptaannya setelah belasan tahun lamanya bertempur melawan Ciu It-bong, bisa dibayangkan

betapa jitu dan hebatnya serangan tersebut.

“Ploook….!” sepasang telapak saling membentur satu sama lainnya menimbulkan suara benturan

keras, tubuh kedua orang itu sama sama bergetar keras dan seranganpun terhenti untuk

beberapa saat.

Terdengar Pek Siau-thian tertawa terbahak-bahak, lengannya berkelebat kedepan melancarkan

satu pukulan.

Ketika terjadi bentrokan tersebut kedua duanya berada dalam posisi serangan yang mencapai

setengah jalan, dengan begitu serangan susulan yang dilancarkan oleh Pek Siau-thian ini boleh

dibilang jauh menyimpang dari kebiasaan dunia persilatan dan siapapun tak akan menduganya.

Hoa Thian-hong merasa amat terperanjat melihat gelagat tidak menguntungkan itu, keputusan

diambil dalam benaknya dia mengepos tenaga kemudian menghimpun segenap kekuatannya

diatas bahu dan tubuhnya dengan cepat miring kesamping.

Semua peritiwa itu berjalan dalam sekejap mata ketika serangan dari Pek Siau-thian meluncur

datang tiba-tiba, Hoa Thian-hong miringkan badannya kesamping tak sempat untuk mengganti

jurus lagi…. Kraaak! telapak tangannya sudah mampir diatas bahu Hoa Thian-hong membuat

tubuhnya terpental sejauh dua tombak lebih dari tempat semula.

Pek Siau-thian sendiri ketika telapak tangannya dengan telak bersarang diatas bahu lawan ia

merasakan timbulnya tenaga tolakan yang amat besar menggetarkan tangannya hal itu membuat

dirinya amat terperanjat.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

89

Ia tak menyangka kalau serangannya yang dilancarkan dengan melanggar kebiasaan Bu Lim itu

ternyata sudah disambut oleh Hoa Thian-hong dengan persiapan yang penuh, hal ini membuat

luka yang diderita oleh lawan boleh dibilang enteng sekali.

Jago tua she Pek itu jadi penasaran, ia segera berkelebat maju kedepan siap melancarkan

serangan berikutnya yang mematikan.

Terlihatlah Hoa Thian-hong berdiri angkernya didepan dengan pedang disilangkan didepan dada,

sorot matanya memancarkan cahaya kilat dengan tajam, ia awasi gerak-gerik Pek Siau-thian

dengan kesiap siagaan penuh, dari sikapnya seakan-akan ia telah bersiap sedia untuk

menghadapi serangan musuh sampai dimanapun juga.

Tercekat hati Pek Siau-thian menyaksikan hal itu, ia hentikan gerakan tubuhnya sambil berpikir.

“Aku harus bersikap lebih tenang gerakan yang ngawur dan gegabah tak mungkin berhasil

membinasakan bocah itu….”

Dalam pada itu, Hoa Thian-hong telah berkata dengan nada dingin, “Engkau telah tunjukan

kegagahanmu selama beberapa waktu, sayang sekali tujuanmu tak dapat tercapai, sekarang

tibalah giliranku untuk menunjukkan kelihayan”

Pek Siau-thian tertawa dingin, “Heeehh…. heehhh…. heehh dengan andalkan sedikit

kepandaianmu itu masih belum cukup untuk membinasakan diriku”

“Hmm! kalau bukan engkau yang mati akulah yang binasa, aku akan berusaha sekuat teraga….”

Sambil menerjang maju kedepan, pedangnya segera melancarkan satu babatan.

Pek Siau-thian mengerutkan dahinya, baru saja bisa memunahkan serangan tersebut, Hoa Thianhong

telah tertawa dingin tiada hentinya, pedang bajanya berputar melancarkan serangan

berantai bagaikan gulungan ombak sungai Tiang kang ia mengirim serangan-serangan yang

mematikan.

Setelah permainan pedang bajanya dikembangkan, sekali pun Cui Im taysu bekerja sama dengan

Ciong Lian-khek pun merasakan tekanan yang maha berat dan dalam seratus jurus belum tentu

bisa merobah posisinya jadi seimbang, apa lagi Pek Sau Thian hanya seorang diri, dalam waktu

singkat ia sudah dipaksa dalam situasi yang serba menyulitkan

Makin bertempur makin bersemangat, Hoa Thian-hong membentak berulang kali pedang bajanya

disertai deruan angin tajam menggulung diseluruh angkasa, sekalipun Pek Siau-thian sudah

berusaha keras untuk mengarahkan pelbagai macam jurus aneh namun ia tak mau membendung

rangkaian serangan yang bertubi-tubi itu untuk merebut po sisi yang lebih menguntungkan,

sekalipun begitu bukanlah suatu pekerjaan gampang bagi Hoa Thian-hong untuk mengalahkan

dirinya.

Ditengah berlangsungnya pertempuran sengit, diam-diam Pek Siau-thian berpikir dalam hatinya,

“Perpisahan yang sangat singkat, diri mana bocah ini berhasil melompat jadi jago lihay yang

mampu menandingi kepandaian silatku? benar-benar mengherankan….”

Tiba-tiba ia membentak keras, “Tahan!!”

Hoa Thian-hong sendiripun menyadari bahwa sulit baginya untuk merebut kemenangan,

mendengar ia berseru keras, terpaksa sambil menghela napas mengundurkan diri kebelakang.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

90

Pek Siau-thian menengadah memandang cuaca, kemudian ujarnya dingin, “Tengah hari sudah

hampir tiba kalau racun teratai empedu api yang mengeram di dalam tubuhmu sudah mulai

kambuh kita boleh beristirahat lebih dahulu kemudian baru bergebrak kembali”

Mendengar perkataan itu Hoa Thian-hong jadi amat terperanjat, ia tak menyangka kalau

pertarungan iiu sudah berlangsung setengah harian lamanya dalam hati segera pikirnya, “Ketika

aku menuruni jurang ini ibu menunjukkan perasaan kuatir Pek Siau-thian dapat menemukan

tempat ini, berarti ibukupun bisa juga berbuat demikian dibalik peristiwa tersebut tentu ada

sebab sebabnya….”

Pek Siau-thian jadi girang ketika dilihatnya pemuda itu murung dan sedih, sambil tertawa dingin

katanya, “Engkau tak usah bermuram durja, aku akan memberi kesempatan kepadamu untuk

beristirahat dahulu kemudian baru melanjutkan kembali pertarungan ini, bagaimanapun toh bala

bantuanmu tak mungkin bisa tiba disini, aku dapat suruh engkau mati dengan mata meram.”

Mendengar perkataan itu Hoa Thian-hong merasa semakin gelisah ia mengambil keputusan

untuk menyelesaikan pertarungan ini dengan secepatnya hingga diapun bisa cepat-cepat

melepaskan diri dari cengkeraman jago tua itu, sambil ayun pedang bajanya ia berseru, “Dalam

tubuhku sudah tidak terdapat racun teratai lagi engkau tak usah pura-pura berlagak alim dan

baik hati kalau engkau tak mau bertempur lagi maaf kalau aku tak bisa melayani dirimu lebih

jauh”

“Jadi kalau begitu racun teratai yang mengeram didalam tubuhmu sudah punah?”

“Engkau kecewa?” jengek Hoa Thian-hong sambil tertawa dingin.

Pek Siau-thian tertawa seram.

“Heeehh…. heehh…. heeeh…. tempo hari aku penuju kepadamu dan ajukan pinangan kepadamu

untuk mengawinkan engkau dengan putriku, pada waktu itu engkau mengatakan tubuhmu masih

mergeram racun dan tak dapat beristri, kini racun yang mengeram dalam tubuhmu telah punah,

rupanya untuk menjaga kemungkinan engkau telah turun keji dahulu dengan membinasakan

putriku….”

Hoa Thian-hong jadi amat gusar sehingga sekujur badannya gemetar keras, sehabis mendengar

perkataan itu teringat cinta kasih yang ditujukan Pek Kun-gie terhadap dirinya, saking sedihnya

dia mencucurkan air mata serunya dengan gemas.

“Pek Siau, putri kandungmu sudah tiada lagi di kolong langit, kenapa engkau memandang begitu

rendah akan dirinya?”

“Oooh….! engkau merasa tak tega? aku mengira engkau benar-benar adalah seorang lelaki

berhati baik!”

“Sebenarnya apa maksudmu mengucapkan kata-kata yang sama sekali tak ada gunanya itu?”

Senyuman licik yang menyeramkan melintas diujung bibir Pek Siau-thian, pikirnya, “Aku akan

membuat pikiranmu jadi kalut dan bingung tak karuan, akan kulenyapkan semangat

bertempurmu hingga sebelum ajalnya engkau rasakan lebih dahulu bagaimana rasanya jadi

orang gila….”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

91

Sinar matanya berkelebat memandang sekejap ke arah Kuburan pemendam pedang yang telah

dihancurkan oleh angin pukulannya itu, tiba-tiba berkelebat lewat satu akal licik, sambil tertawa

tergelak segera serunya, “Hoa Thian-hong, tahukah engkau dirimu adalah anak murid siapa?”

Meskipun Hoa Thian-hong cerdik namun ia masih bukan tandingan dari Pek Siau-thian yang licik,

mendengar pertanyaan tersebut segera jawabnya, “Siapapun mengetahui kalau ilmu silat aku

orang she Hoa adalah kepandaian keluarga buat apa engkau banyak bertanya lagi?”

“Lupa pada soal perguruannya engkau memang seorang manusia lupa budi!”

Tiba-tiba Hoa Thian-hong teringat akan sesuatu tanpa sadar ia berseru, “Katakanlah semestinya

aku orang she Hoa adalah anggota perguruan mana….?”

“Kiam seng malaikat pedang Gi Ko!”

Hoa Thian-hong berpaling dan memandang sekejap ke arah kuburan pemendam pedang

kemudian pikirnya, “Cianpwee ini selama hidupnya banyak berbuat kebaikan, ilmu pedangnya

tiada tandingannya di kolong langit dia memang pantas disebut malaikat pedang sayang aku

hanya mendapatkan pedangnya dan gagal menemukan Kiam keng tersebut”

Teringat kalau catatan Kiam keng tersebut telah dihancurkan oleh tenaga pukulan Pek Siau-thian

sehingga pusaka yang tak ternilai harganya lenyap tak berbekas, tanpa terasa ia menaruh benci

terhadap jago tua itu, sambil menggertak giginya serunya, “Sebenarnya aku tidak berhasrat

untuk membinasakan dirimu akan tetapi setelah engkau mengungkap persoalan ini, andaikata

aku tidak mencabut selembar jiwamu rasanya sulit untuk melampiskan rasa dendam didalam

hatiku….”

Sambil putar senjata, ia segera menerjang maju kedepan.

Tampak Pek Siau-thian mengelus jenggotnya sambil tertawa terbahak-bahak, diantara gelak

tertawanya penuh mengandung perasaan bang ga.

Bagaimanapun juga Hoa Thian-hong adalah seorang pendekar sejati melihat pihak lawan tiada

bermaksud untuk melakukan perlawananan terpaksa ia tarik kembali serangannya sambil berseru

dengan nada gemas.

“Pek Siau-thian tingkah lakumu yang licik serta gelak tertawamu yang seram bagaikan setan

membuat aku teringat pada seseorang”

“Siapa?” tanya Pek Siau-thian sambil tertawa.

“Co Cho!!”

“Haahhh…. haaahhh…. haaahhh…. terima kasih atas sanjunganmu itu aku orang she Pek tak

berani menerimanya!”

Haruslah diketahui, dalam pandangan Hoa Thian-hong, manusia yang paling licik dan berbahaya

dalam sejarah adalah Co Cho, sebaliknya dalam pandangan Pek Siau-thian maka Co Cho

dianggap sebagai seorang pahlawan yang luar biasa, dan dia menganggap orang itu sebagai

pahlawan yang paling dikagumi olehnya, karena itu makian Hoa Thian Hoag telah disalah

tafsirkan olehnya….

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

92

Dengan wajah serius dan penuh penghinaan, Pek Siau-thian berseru membaca isi dari Kiam keng

yang telah dihancurkan olehnya itu,

“Peraturan menurut langit, kerugian pasti tersisa, tenaga masih kurang, kekerasan bukanlah

kekerasan, keras tapi lincah, lunak bu kanlah lemah….”

Membaca sampai disini mendadak ia membungkam.

Hoa Thian-hong mendengarkan dengan seksama, tetapi ketika ditunggunya sangat lama namun

ia tidak meneruskan pembacaannya pemuda itu jadi mendongkol bercampur gusar tentu saja ia

tak dapat mengajukan permintaan kepada lawannya untuk meneruskan pembacaan tersebut,

dengan hati terbakar oleh hawa amarah ingin sekali ia bacok lawannya sampai mati.

“Bagaimana?” terdengar Pek Siau-thian mengejek sambil tertawa, “meskipun aku tak mampu

membaca sepuluh kata dalam sekali pandangan namun tulisan diatas lapisan batu cadas itu telab

kubaca sampai selesai, engkau berbakat bagus dan lagi masih muda masa tulisan itr« belum

sempat kau baca sampai habis?”

Diam-diam Hoa Thian-hong merasa menyesal, menyesal karena sudah terpikat oleh masa hidup

Gi ko yang tertera diatas lapisan batu itu hingga ketajaman telinganya berkurang dan memberi

kesempatan kepada Pek Siau-thian untuk menghapalkan isi dari Kiam Keng sebelum

menghancurnya hingga jadi abu.

Haruslah diketahui bagi orang yang belajar ilmu silat, catatan ilmu yang sangat mendalam itu

kadangkala dipandang jauh lebih berharga daripada jiwa sendiri apalagi sejak kecil Hoa Thianhong

sudah mempelajari ilmu pedang dengan pedang baja tersebut boleh dibi lang dengan

malaikat pedang, Gi Ko mempunyai jodoh karena itu bagi pandangan nya Kiam Keng tersebut

jauh lebih berharga daripada apapun juga.

Mula-mula ia tidak berpikir sampai kesitu, semakin setelah dipikir lebih jauh makin lama hatinya

semakin mendongkol sehingga akhirnya amarahnya berkobar dalam dadanya, sambil

menyeringai seram, segera serunya, “Pek Siau-thian, ini hari kalau bukan engkau yang mati

akulah yang binasa kalau aku Hoa Thian-hong yang mati maka pembaca Kiam keng atau tidak

bagiku sama saja sebaliknya kalau engkau yang mati….”

“Aku akan membawa pergi catatan itu kealam baka,” sahut Pek Siau-thian sambil tertawa

terbahak-bahak, “dan sejak kini di kolong langit tiada orang lain mengetahui apa isi dari catatan

Kiam keng tersebut….”

Tiba-tiba ia menghela napas panjang, sambungnya lebih jauh, “Sungguh kasihan Malaikat

pedang Gi Ko, dengan usianya sebesar seratus tahun dia harus semedi selama sembilan belas

tahun lamanya sebelum berbasil menemukan rahasia ilmu pedaag itu serta menciptakan Kiam

keng sayang usahanya itu hanya sia-sia belaka dan akhirnya harus musnah dan muka bumi….”

“Engkau jangan keburu merasa bangga lebih dahulu!” bentak Hoa Thian-hong dengan gusar,

“lihat aku akan segera membacok tubuhmu hingga hancur berkeping-keping!”

Sambil menerjang maju kedepan, pedagnya segera dibabat secara gencar.

Menyaksikan pemuda itu mulai dibakar oleh hawa amarah sehingga konsentrasinya buyar, diamdiam

Pek Siau-thian merasa bangga, dengan cepat ia bergeser kesamping, lalu sambil tertawa

ujarnya, “Hoa Thian-hong malaikat pedang Gi Ko membutuhkan waktu selama sembilan belas

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

93

tahun untuk menciptakan kelima puluh delapan kata catatan Kiam keng tersebut, coba

pikirkanlah sendiri dia membutuhkan waktu berapa lama untuk mendapatkan satu patah kata?”

Mendengar perkataan itu, diam-diam Hoa Thian-hong menghitung, ia merasa malaikat pedang

tersebut membutuhkan waktu selama empat lima bulan untuk mendapatkan setiap patah kata

tersebut, hal ini membuat hatinya semakin mendongkol, serunya dengan gemas, “Semoga saja

engkau jangan sampai terjatuh ditanganku, kalau aku orang she Hoa berhasil menangkap dirimu,

aku akan menusukkan pedangku kedalam tubuhmu untuk memperoleh setiap patah kata, suatu

ketika aku pasti akan berbasil memaksa engkau untuk mengucapkan kelima puluh delapan patah

kata tadi”

Dengan cepat Pek Siau-thian berkelebat delapan depa kesampinag, sesudah berhasil meloloskan

diri dari serangan tersebut, katanya sambil tertawa, “Seandainya engkau telah selesai membaca

kelima puluh delapan patah kata yang tercantum dalam catatan Kiam Keng tersebut, suatu ketika

engkau memang besar kemungkinan bisa menangkap diriku, tapi sayang engkau tidak berhasil

menyelesaikan bacaan itu maka sepanjang hiduppun jangan harap akan berhasil untuk menawan

aku!”

Hoa Thian-hong merasa amat gusar….

Sreet! Sreet! Sreet! secara beruntun ia lancarkan tiga buah serangan berantai, namun dengan

ilmu meringankan tubuh yang sempurna Pek Siau-thian berhasil mundur tiga langkah

kebelakang, biji matanya berputar dan secara tiba-tiba ia sengaja memperlihatkan satu titik

kelemahan.

Hoa Thian-hong pada saat ini sudah termasuk diantara deretan kaum jago lihay di kolong langit,

memperlihatkan titik kelemahan secara sengaja merupakan suatu tindakan yang berbahaya

sekali.

Pek Siau-thian mengeluarkan ilmu telapak Im yang ciang untuk memancing musuhnya tujuan

yang lebih utama tidak lebih hanyalah untuk mengejek pemuda itu bahkan Hoa Thian-hong jadi

amat kegirangan, pedangnya laksana sambaran kilat segera membabat keatas pinggang jago tua

itu.

Ketika ujung pedangnya menyentuh lawan tiba-tiba dalam benak Hoa Thian-hong terlintas

catatan Kiam keng, pedangnya dibabat sejajar dada lalu menabok keatas sedangkan tangan

kirinya dengan suatu gerakan secepat kilat melancarkan sebuah totokan.

Pek Siau-thian tertawa ringan, tubuhnya berkelebat delapan depa dari tempat semula, sengaja ia

mengambil bahaya ini untuk menilai perasaan hati Hoa Thian-hong, karena ada persiapan lebih

dahulu maka ia tidak merasa selalu jeri.

Siapa tau setelah tubuhnya berkelebat kesamping, ia baru merasa terjelos hatinya sehingga air

mukanya jadi pucat pias bagaikan mayat.

Kiranya padi saat terakhir ujung pedang si anak muda itu masih berhasil juga menempel diatas

pinggangnya, kendatipun sentuhan tersebut enteng sekali akan tetapi cukup mengejutkan

hatinya sehingga keringat dingin menguncur keluar membasahi seluruh tubuhnya.

Suatu ingatan berkelebat dalam benak Hoa Thian-hong sekarang ia baru mengerti kalau Pek

Siau-thian sengaja memperlihatkan titik kelemahan tersebut kepadanya, hal ini membuat

pemuda itu jadi mendongkol dan menyesal, menyesal karena ia tak dapat memanfaatkan

kesempatan baik yang sukar ditemukan selama hidupnya itu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

94

Sambil menjejakan kakinya keatas tanah, karena gemas teriaknya, “Aaaai….! sialan….!”

Sambil putar pedang ia lancarkan kembali satu serangan kilat.

Kali ini Pek Siau-thian tidak berani bertindak gegabah lagi, sambil berkeliaran kesana kemari

menghindari ancaman musuh otaknya berputar cepat untuk menyusun siasat guna mencari

kemenangan….

Bila pertarungan ini sampai diketahui orang dan tersiar luas dalam dunia persilatan maka seluruh

sungai telaga pasti akan jadi gempar.

Kedua orang itu sama-sama saling mengadu tenaga serta kecerdikan, kedua belah pihak samasama

lihaynya, siapapun tidak ingin melepaskan lawannya dengan begitu saja, siapa pun tak

bersedia menghentikan pertarungan sampai di situ saja.

Setelah bertempur beberapa saat lagi, tiba-tiba Pek Siau-thian berseru dengan nada dingin, “Hoa

Thian-hong catatan Kiam keng semuanya terdiri dari lima puluh delapan kata, pernahkah engkau

pikirkan arti dari setiap patah kata itu….? ketahuilah bahwa dalam tiap kata itu terkandung suatu

arti yang sangat bermanfaat bagi ilmu silat asal engkau dapat memahaminya maka sepanjang

hidup engkau akan menikmati hasilnya….”

“Pikirkan saja dialam baka nanti!” tungkas Hoa Thian-hong dengan penuh kebercian.

Pek Siau Thim mengirimkan satu pukulan keudara kosong lalu melayang mundur kebelakang,

serunya, “Pertarungan menurut langit kerugian pasti tersisa…. pernahkah kau bayangkan apa arti

yang sebenarnya?”

Satu ingatan berkelebar dalam benak Hoa Thian-hong, segera pikirnya, “Peraturan menurut

langit kerugian pasti tersisa….”

***

Dia adalah seorang jago lihay yang sudah memiliki ilmu silat yang sangat mendalam, hanya saja

selama ini tak ada kesempatan untuk menyelaminya, kini setelah dipikir lebih jauh segera

terasalah olehnya meskipun beberapa patah kata itu amat sederhana sekali namun arti yang

sebenarnya sangat dalam sekali.

Dengan cepat tubuhnya melayang beberapa tombak kebelakang, sambil menatap tajam wajah

Pek Siau-thian mulutnya membungkam dalam seribu bahasa.

Pek Siau-thian sendiri diam-diam merasa amat girang tatkala dilihatnya si anak muda itu mulai

terjebak dalam siasatnya, sambil mengelus jenggot ia berkata lebih jauh.

“Tidak salah bukan? daya tekanan yang terpancar dari pedangmu berlebihan, kesalahannya

justru terletak pada kekasaran, andai kata engkau dapat menyelami kekerasan tapi lincah maka

aku bukan tandinganmu lagi.

Hoa Thian-hong merasa perkataan itu masuk diakal juga, diam-diam ia lantas mengulangi

kembali rahasia Kiam keng itu didalam hati.

“Peraturan menurut langit, kerugian pasti tersisa, tenaga masih kurang kekerasan bukanlah

kekerasan, keras tapi lincah, lunak bukanlah lemah….”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

95

Sambil berpikir tanpa disadari pedang bajanya segera dibabat ke arah depan dengan hebatnya.

Pek Siau-thian tertawa sambil menganguk, sahutnya, “Tepat sekali, serangan pedang bajamu ini

kalau tidak disertai suara itu berani bahwa tenaga seranganya sepuluh Kali lipat dari ke adaan

biasa dan akupun tak mampu menandingi dirimu lagi….”

Hoa Thian-hong melototkan matanya bulat-bulat sambil menatap tajam wajah Pek Siau-thian,

tiba-tiba pedang bajanya melancarkan babatan demi babatan lagi.

Hawa murninya diam-diam dikendalikan, pedang bajanya berputar kencang semakin kecil bawa

murninya desingan udarapun Semakin kecil, tiba-tiba ia lancarkan satu babatan keatas tanah.

Traaang….! percikan bunga api menyebar keempat penjuru sebuah, batu cadas yang keras telah

terbacok hingga muncul sebuah liang besar, setelah berhenti sebentar, tiba-tiba ia lancarkan

sebuah bacokan kembali, kali ini tenaga yang dipergunakan jauh lebih kecil hingga tak dapat

kecil lagi ketika pedang baja itu menusuk diatas batu segera muncullah sebuah celah diatas batu

gunung itu hingga mencapai dua depa dalamnya.

Sambil tersenyum Pek Siau-thian menyaksikan kesemuanya itu dengan penuh kegembiraan tibatiba

ia temukan dari balik mata Hoa Thian-hong memancarkan cahaya aneh, sepasang pipinya

berubah jadi merah dan rupanya ia terpengaruh oleh emosi, hal ini membuat hatinya jadi

terperanjat hingga tanpa terasa pikirnya, “Aku tak boleh berbuat bodoh sehingga menggali liang

kubur untuk mengubur tubuhku sendiri….!”

Berpikir sampai disini ia segera membentak keras, “Lunak bukanlah lemah, rendah diri harus

mundur, mundur karena rendah diri, diri untuk diri sendiri!”

Hoa Thian-hong merasakan hatinya bergetar keras….

Sreeet!! ia putar pedang melancarkan satu babatan kembali.

“Seranganmu itu menggunakan tenaga terlalu besar!” bentak Pek Siau-thian, sembari berkata

sepasang tangannya laksana sambaran petir melancarkan tiga buah serangan gencar.

Hoa Thian-hong tahu bahwa keadaan yang sedang dihadapinya sangat gawat dan bahaya, dalam

keadaan begini pikirannya tak boleh bercabang akan tetapi beberapa patah kata yang tercatat

dalam Catatan Kiam keng bu kui terlalu menarik hatinya, setiap kata yang tercantum dalam

caatan tersebut seakan-akan sebatang jarum yang menusuk perasaan hatinya semuanya tepat

menunjukkan penyakit yang dideritanya dalam permainan pedang itu ia tak tahan untuk

memecahkan rahsia itu serta menutupi kekurangan yang dideritanya dalam permainan pedang

tersebut.

Terdengar Pek Siau-thian membentak nyaring, telapak tangannya melancarkan serangan

hebatnya luar biasa.

Hoa Thian-hong terdesak hebat dan mundur kebelakang terus tiada hentinya, dengan jurus Su

ku ciong hong atau bunyi senyap diempat penjuru ia lancarkan serangan balasan, pedangnya

sebentar menyapu kekiri sebentar menyapu kekanan, semuanya mengancam untuk membabat

telapak musuh.

Desingan angin serangan sebentar ringan sebentar berat dan sangat tidak beraturan kekuatan

yang terpancar dari senjata itupun seketika berkurang dan sama sekali tak mampu mencapai

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

96

puncak kehebatannya, hal ini memberi peluang bagi Pek Siau-thian untuk menerjang masuk

kedalam lingkaran pertahanannya, jurus demi jurus dilancarkan dengan mantap dan leluasa

sedang tenaga pukulanpun berhasil ditingkatkan menjadi dua belas bagian.

Kendatipun begitu, diam-diam Pek Siau-thian merasa terperanjat juga sebab didalam pertarungan

singkat yang sedang berlangsung ke lika itu, rupanya Hoa Thian-hong lelah berhasil

mendapatkan sedikit pemecahan rahasia ilmu pedangnya, walaupun jurus permainan pedangnya

sudah berubah menjadi tak karuan, tetapi terpancar pula sejenis kekuatan yang luar biasa.

Dendam kematian putrinya membara bagaikan api, rasa iri dan dengki bagaikan minyak, api

bercampur minyak mengakibatkan darah panas dalam rongga dada Pek Siau-thian mendidih,

watak jahatnya muncul dan menyelimuti seluruh benaknya, dia ingin sekali satu kali menghajar

berhasil membinasakan si anak muda itu.

Apa daya, dasar ilmu silat yang dimiliki Hoa Thian-hong terlalu kokoh dan daya tenaganya luar

biasa sekali, serutama ilmu silat yang dimilikinya sekarang bagian besar didapatkan dari hasil

latihannya yang tekun dalam menghadapi pertarungan-pertarungan sengit, oleh sebab itulah

walaupun kesadaran otaknya sudah mulai samar, namun dengan andalkan kemampuan yang

dimilikinya ia masih mampu untuk bergebrak melawan musuh selama setengah harian lamanya.

Pertempuran ini benar-benar merupakan suatu pertarungan yang sengit dan mendebarkan hati,

tanpa terasa sang surya sudah condong ke arah barat dan senjapun menjelang tiba, dari arah

sebelah Timur muncullah rembulan dengan cahayanya yang samar menyinari kabut yang

menyelimuti puncak bukit yang berjejer, suatu pemandangan yang indah sekali.

Pada saat itu yang terdengar hanyalah suara tertawa menyeringai dari Pek Siau-thian serta

raungan gusar dari Hoa Thian-hong, pukulan demi pukulan dilancarkan tiada hentinya,

sementara cahaya hitam menggulung kian kemari melakukan terjangan-terjangan maut.

Tiba tiba…. Pek Siau-thian membentak keras, “Hoa Thian-hong, tempat ini adalah puncak Ciat in

hong, besok adalah hari Tionggoan, ingat baik-baik….”

“Aku bersumpah akan membinasakan dirimu!” teriak Hoa Thian-hong setengah mendesis.

Pek Siau-thian tertawa keras, ditengah gelak tertawanya sepasang tangan secara beruntun

melancarkan serangan mematikan, sebentar menghantam sebentar menyodok, jurus-jurus

serangan berantai yang dilepaskan memaksa Hoa Thian-hong harus memutar senjatanya sambil

mundur terus tujuh delapan belas langkah kebelakang.

“Keras tapi lincah!” tiba-tiba Hoa Thian-hong membentak keras.

Tanpa memperdulikan serangan musuh yang sedang meluncur datang, tiba-tiba ia lancarkan

sebuah babatan.

Serangan pedang itu dilancarkan tanpa mengeluarkan sedikit suarapun ketika mencapai ditengah

jalan, tiba-tiba dari balik tubuh pedang itu memperdengarkan suara desingan yang amat tajam,

gerakannya miring kesamping dan langsung membabat sisi tubuh lawan,

Pek Siau-thian yang menyaksikan kejadian itu jadi sangat kegirangan sambil putar telapak

bentaknya, “Kun ji sedang menantikan kedatanganmu, pergilah!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

97

Bersamaan dengan selesainya perkataan itu…. Blaaam! sebuah pukulan dengan telapak

bersarang diatas punggung Hoa Thian-hong.

Terdengar pemuda itu melengking panjang, darah segar muncrat keluar dari mulutnya, tubuhnya

terjungkal kebawah puncak dan dalam waktu singkat bersama dengan pedang bajanya lenyap

dibalik awan tebal yang menyelimuti punggung bukit.

Suasana diatas bukit pulih kembali dalam kesunyian, sinar mata Pek Siau-thian liar dan kacau,

mukanya pucat pias sementara tubuhnya yang tinggi kekar berdiri ditepi tebing dan

sempoyongan tiada hentinya, seakan-akan sebatang pohon yang kosong dimakan ulat.

Sebentar kemudian kegelapan telah menyelimuti jagad, udara bersih tak berawan sang rembulan

bersinar dengan terangnya membuat suasana jadi terang benderang.

Angin malam menghembus lewat membuat Pek Siau-thian bersin tiada hentinya, sekujur badan

bergentar keras dengan ujung bajunya ia menyeka keringat yang membasahi pipinya.

Tiba-tiba berguman seorang diri, “Kalau rejeki bukan bencana, kalau bencana tak akan bisa

dihindari, keadaan sudah berlangsung demikian, apa yang musti kuta kuti lagi?”

Ia putar badan dan berjalan menuruni bukit tersebut.

Dalam pada itu, Hoa Hujin masih tetap duduk diatas bukit tersebut, sepanjang hari ia tak pernah

bergeser barang setengah langkah pun dari tempat semula.

Cu Im taysu, Ciong Lian-khek, Chin Pek-cuan, Biau-nia Sam-sian serta jago-jago lainnya hampir

semua duduk disekitar sana, cuma sa ja air muka Hoa Hujin serius dan keren sedikitpun tidak

menunjukkan wajah murung sebaliknya mereka yang lain gelisah dan merasa tidak tenang.

Dipihak lain pada, seberang jembatan batu berdiri lautan manusia yang bersenjata lengkap,

sekilas memandang cahaya tajam memenuhi seluruh angkasa suasana sunyi sepi menegangkan

kecuali ringkikan kuda tiada suara lain yang kedengaran.

Rupanya seluruh pasukan dari perkumpulan Sin-kie-pang telah membuat barisan ditepi seberang

jembatan batu walau pun saling berhadapan dengan golongan Hoa Hujin akan tetapi kedua

belah pihak belum sampai melakukan bentrokan langsung.

Disamping itu, pada bukit sebelah utara merupakan pasukan besar dari perkumpulan Hon im

hwee dibukit sebelah selatan ada para iman dari sekte agama Thong-thian-kauw, rupanya ketiga

kekuatan besar dalam dunia persilatan sudah bersatu padu dan siap menghadapi orang-orang

dari golongan pendekar.

Waktu berlalu dengan cepat suasana tetap tenang diliputi keheningan yang mencekam hingga

mencapai tengah malam dari balik pa sukan besar perkumpulan Sin kie psng tiba-tiba

kedengaran demtuman yang amat keras, ditengah-ditengah udara muncullah sebuah bunga api

berbentuk sebuah panji yang amat besar.

Mengikuti suara dentuman tadi diri arah bukit sebelah utara terdengar suara peluit yang

dibunyikan memekakkan telinga.

Ci-wi Siancu yang mendengar suara itu segera menengadah dan bertanya keheranan, “Hujin

apakah yang terjadi?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

98

Hoa Hujin tersenyum.

“Berangkat! jarak tempat ini dengan tempat diselenggarakannya pertemuan besar Kian ciau

tayhwee toh tidak dekat!”

Kemudian sambil menyapu sekejap ke arah jago, ujarnya lagi sambil tertawa, “Kitapun harus

segera mempersiapkan diri untuk berangkat pula”

“Bagaimana dengan Seng ji?” Sam-koh mendadak berkata dengan penuh kegusaran

Senyuman yang semula menghiasi ujung bibir Hoa Hujin seketika lenyap tak berbekas, jawabnya,

“Kalau ia tidak cedera maka besok pasti akan datang sendiri dibukit Thian bok sebelah barat

kalau tidak beruntung dan mendapat celaka itulah takdirnya sudah tiba!”

Mendengar perkataan ini, Tio Sam-koh jadi gusar sekali hingga tubuhnya gemetar keras,

serunya, “Engkau keja, engkau kejam, akan kulihat engkau bakal mampus ditangan siapa? akan

kulihat bagaimana tenangnya engkau menerima kematianmu itu!”

Cu Im taysu menghela napas panjang, hiburnya, “Tio lo tay, urusan toh sudah jadi begini,

mengapa engkau harus mengumbar hawa amarah?”

Tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda berkumandang dari tepi seberang, rupanya orangorang

dari perkumpulan Sin-kie-pang sudah mulai berangkat tinggalkan tempat itu.

Tio Sam-koh masih belum dapat menekam hawa amarah yang berkobar dalam dadanya, dengan

gemas kembali dia berseru, “Kalau engkau mencegah dia untuk menuruni jurang ini, tak mungkin

ia tinggalkan kita semua, kalau engkau tidak bersikeras untuk melakukan perundingan, kita

semua telah berhasil mengurung dirinya dan tidak akan sampai terjadi hal seperti ini….”

Makin berbicara ia semakin mendongkol, ketika sampai ditengah jalan mendadak mulutnya

tergagap dan tak mampu melanjutkan kembali kata-katanya.

“Kami semualah yang salah!” tiba tiba Lan-hoa Siancu berkata dengan sedih, “kalau bukan kami

yang mencelakai jiwa Pek Kun-gie lebih dahulu, tak mungkin pula bakal terjadi peristiwa tragis

seperti ini.”

Hoa Hujin tersenyum.

“Nona tak usah menyalahkan diri sendiri,” katanya, “kehidupan manusia di kolong langit telah

ditentukan oleh takdir, siapa yang bisa mempertahankan kehidupannya sampai beberapa ratus

tahun? apalagi dewasa ini kaum lurus tak dapat hidup bersama kaum sesat. Siapa tahu kalau

sekarang kita masih hidup dan besok malam sudah tinggalkan dunia yang fana ini….?”

“Kalau kita bisa mempertahankan diri sampai diselenggaranya pertemuan besar Kian ciau

tayhwee, bagaimanapun juga saat yang dipilih untuk mengorbankan diri jauh lebih tepat,

membunuh beberapa orang banditpun sudah dapat menarik kembabli modal sendiri!” seru Tio

Sam-koh dengan penuh kemarahan.

Kembali Hoa Hujin tersenyum.

“Oleh sebab itulah aku tidak setuju untuk bentrok secara kekerasan pada kesempatan yang tidak

benar, dan aku tidak bersedia mengorbankan diri tanpa sebab musabab yang nyata dalam

pertarungan massal.”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

99

“Aku maksudkan Seng ji kita!“ tukas Tio Sam-koh marah-marah.

“Darimana engkau tahu kalau Seng ji pasti mati? dan darimana engkau bisa tahu kalau dia mati

secara konyol!”

Bicara sampai disitu perempuan she Hoa itu bangkit berdiri dan melanjutkan sambil tertawa,

“Mari kitapun berangkat, bagaimanapun juga pertarungan bakal kita temui, lebih cepat tiba

ditempat tujuan rasanya jauh lebih baik.”

Semua orang memang sudah merasa tak sabar, mendengar perkataan itu para jago pun segera

bangkit berdiri dan melakukan perjalanan.

Gerakan orang-orang dari perkumpulan Sin-kie-pang sewaktu datang tadi cepat bagaikan

hembusan angin, tapi dalam waktu singkat pula sudah berlalu tanpa bekas, maka dibawah

pimpinan Biau-nia Sam-sian yang menyapu bersih racun keji diatas jembatan batu lebih dahulu,

berangkatlah para jago untuk menghadiri pertemuan besar yang mempengaruhi mati hidup

mereka itu….

Sekte agama Thong-thian-kauw mendirikan pertemuan besar Kian ciau Tayhwee dibukit See

thian bok dengan tujuan untuk mendoakan arwah-arwah yang telah tiada serta sukma-sukma

gentayangan, meja sembahyang didirikan didalam lembah Cu-bu-kok dan dipimpin langsung oleh

kaucu nya yakni Thian Ik-cu sedang ratusan anggota perkumpulannya ikut hadir untuk

memeriahkan upacara besar tadi.

Sejak pagi hari bulan tujuh tanggal lima belas, lembah Cu-bu-kok telah diterangi oleh cahaya

lilin, asap dupa mengepul keudara ba gaikan kabut putih, bunyi alat sembahyangan bertalu-talu

memekakan telinga, pada meja altar yang dibangun tiga tingkat dengan bersandar pada sebuah

dinding bukit teraturlah berpuluh-puluh buah meja abu kecil yang bertuliskan nama-nama para

pahlawan yang telah gugur, sedang tepat ditengah altar berdirilah sebuah meja abu yang luar

biasa besarnya sehingga dapat dilihat sejak dari mulut selat.

Pada meja abu itu terpancang papan nama yang lebarnya dua depa dengan tinggi mencapai satu

tombak, diluarnya terselubung kain warna kuning, diatas kain kuning terpancang beberapa hurup

besar yang berbunyi demikian, “Meja abu para jago yang gugur di medan perang pertempuran

Pak beng hwee”

Dibawah meja abu bertumpuklah buah sajian dan bunga, Thong-thian Kaucu sendiri dengan

memakai kopiah kebesaran dengan jubah imam berwarna merah bersulam pat kwa dan benang

emas dan mantel warna ku ning sedang memimpin anak muridnya membaca doa di meja abu

tersebut suasana ramai sekali.

Disamping itu, sepanjang kedua belah dinding bukit telah didirikan tempat berteduh yang

berdempet empat, dalam barak tersebut tempat meja dan bangku, air teh, teko, tunggu dan alat

untuk memasak semuanya sudah tersedia lengkap.

Perlu diketahui lembab Cu-bu-kok adalah sebuah lembah buntu yang berbentuk gentong dan

dalam mulut lembah hanya terdapat sebuah jalan keluar saja yang berhubungan dengan luar,

berhubung tempat itu lembah dan kalau siang tidak melihat sang surya kalau malam sunyi

menyeramkan karena itu selat tadi disebut orang sebagai lembah Cu-bu-kok.

Kurang lebih antara jam tiga sore, orang-orang dari perkumpulan Hong im bwee masuk ke dalam

selat lebih dahulu, Jin Hian dengan sorot matanya yang tajam segera mengawasi kedalam

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

100

lembah tersebut, ketika melihatnya barak yang didirikan dikedua belah sisi dinding dibagi jadi

empat bagian dan pihak sekte agama Thong-thian-kauw sendiri sudah menempati barak sebelah

kiri dekat meja sembahyangan, maka dia segera memilih barak sebelah kiri yang dekat mulut

lembah walaupun jumlah anak buahnya ada sembilan puluh orang namun setelah masuk

kedalamm barak yang lebar itu kelihatannya sedikit dan sepi.

Sebentar kemudian pasukan induk dari perkumpulan Sin-kie-pang pun telah tiba dan bergerak

masuk kedalam lembah, mereka segera menempati barak sebelah kanan dekat mulut lembah.

Pek Siau-thian benar-benar seorang ahli setrategi perang, ia tidak memimpin seluruh pasukannya

masuk kedalam lembah, melainkan hanya kurang lebih lima ratus orang jago saja yang dipimpin

masuk kedalam barak tempat beristirahat, sedangkan sebagian besar lainnya tetap tinggal diluar

lembah tersebut, ada yang berjaga-jaga di mulut lembah dan ada pula yang meronda disekitar

bukit, tidak selang beberapa saat kemudian diatas purcak bukit yang mengitari selat Cu-bu-kok

telah mucul para peronda dari perkumpulan Sin kei pang.

Kurang lebih pukul lima sore, rombongan yang dipimpin Hoa Hujin muucul dimulut lembah, tetapi

sebelum mereka memasuki selat tersebut tiba-tiba dari balik tikungan bukit muncul dua belas

orang, orang pertama bukan lain adalah Siau yau sian dewa yang suka pelancongan Cu Tong,

sambil menggoyangkan kipasnya dan tertawa terbahak-bahak, ia maju menghampiri rombongan

yang dipimpin Hoa Hujin kemudian memberi hormat.

Buru-buru Hoa Hujin menyongsong kedepan, sekilas memandang terlihat olehnya bahwa hampir

semuanya adalah sahabat-sahabat lama, dengan cepat ia menyapa dan melepaskan rindu

diantara mereka, suasana diliputi keharuan dan kegembiraan

Dengan air mata meleleh keluar karena terharu, dewa yang suka pelancongan Cu Tong berkata,

“Mungkin semua orang yang masih hidup di kolong langit ini hari telah berdatangan”, semua

disini banyak perkataan yang hendak kita bicarakan bagaimana kalau kita masuk dulu kedalam

lembah kemudian baru dibicarakan secara perlahan-lahan”

“Cu toako, dandanan maupun potongan wajahmu sama sekali telah berubah….” kata Hoa Hujin

sambil tertawa paksa, “andaikata aku tidak mendengar penuturan orang lebih dahulu mungkin

aku tak dapat mengenali dirimu kembali, sedang dua orang lainnya aku tak bisa ingat kembali

siapakah mereka gerangan?”

Dewa yang suka melancong Cu Tong segera menuding ke arah manusia jelek bertubuh seperti

beruk itu, ia memperkenalkan, “Dia adalah Ciu tayhiap dari gunung Huang-san berhubung

hatinya selalu gelisah ketika berlatih ilmu, mengakibatkan dia mengalami jalan api menuju

neraka dan berubah potongan tubuhnya jadi begini rupa”

“Cui heng….? “seru Hoa Hujin dengan terperanjat “aku masih amat jelas ketika itu engkau….”

Ciu Thian-hau dari gunung Huang-san segera tertawa.

“Ketika itu tubuhku memang sudah termakan oleh enam buah tusukan pedang dan satu buah

pukulan berat yang bersarang didada ku membuat aku roboh terkapar diatas genangan darah

dan kemudian tertindih pula oleh dua sosok mayat sampai aku sendiripun telah mengira bahwa

diriku telah mati, siapa tahu nyawaku ternyata belum putus, lewat dua hari kemudian aku telah

hidup kembali di kolong langit”

Mendengar ucapan tersebut Hoa Hujin segera menghela napas panjang.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

101

“Aaaai….!Cui heng tidak mati itu berarti bahwa beberapa orang gembong iblis tersebut sudah

tiba pada waktunya untuk mampus”

Sorot matanya segera dialihkan keatas wajah seorang padri berusia empat puluh tahunan.

Padri itu segera merangkap kedua tangannya didepan dada untuk memberi hormat sambil

tersenyum katanya, “Ti Kiam Hui yang hujin kenal tempo dahulu, sekarang telah berubah

menjadi It sim hweesio!”

“Kiam Hui hen? bagaimana caranya engkau merawat diri hingga awet muda? rupanya semakin

latihan muka mu berubah semakin muda dan semakin bercahaya?”

It sim hweesio menghela napas, kemudian ujarnya, “Pahit getir yang kualami selama ini sukar

dilukiskan dengan kata-kata, aku harus cukur rambut menjadi pendeta karena itu kuguna kan

gelar It sim sebagai pengganti namaku yaitu agar aku selalu ingat untuk membalas dendam

selalu ingat pada dendam kesumat yang tertanam dalam hatiku, aku tak bisa bertemu dengan

leluhurku tak apa, tak bisa bertemu dengan orang suci juga tak apa, sekalipun harus masuk

neraka asal sakit hati ku bisa terbalas hal itu sudah cukup menggirangkan hatiku….!”

Hoa Hujin diam-diam berpikir dalam hatinya, “Walaupun setiap orang mempunyai kesedihannya

sendiri-sendiri, tetapi kesediaan yang dialami Ti Kiam hui rupanya jauh lebih dalam daripada

siapa pun juga….!”

Tiba-tiba Dewa yang suka melancong Cu Tong tidak menemukan Hoa Thian-hong ada dalam

rombongan, dengan dahi berkerut, segera tegur nya, “Hoa Hujin, di manakah putramu?”

“Pek Kun-gie putri Pek Siau-thian dari perkumpulan Sin-kie-pang telah mati, putra itu telah

meloncat kedalam jurang untuk menolong tapi akhirnya hingga kini tiada kabar beritanya lagi,

aku sendiri pun tak tahu bagaimanakah nasibnya kini….” ujar Hoa Hujin dengan wajah sedih.

Menyengat berita tersebut, air muka Cu Tong sekalian dua belas orang seketika itu juga berubah

hebat, Ciu Thian-hau dari gunung Huang-san dengan cepat bertanya, “Kapan terjadinya peristiwa

ini?”

“Tengah malam tanggal tiga belas jadi sudah tiga hari lamanya….!”

“Waktu itu apakah hujin tidak hadir disana” timbrung It sim hweesio dari samping.

Beberapa pertanyaan yang dilontarkan beberapa orang jago itu penuh mengandung nada cemas

dan kuatir, hal ini membuat Hoa Hujin terpaksa harus menghela napas berulang kali, jawabnya,

“Pada waktu itu aku hadir ditempat kejadian tetapi berhubung jurang tersebut tegak lurus dan

dalamnya mencapai ratusan tombak diantara kami hanya ilmu meringankan tubuhnya saja yang

secara paksakan diri bisa dipergunakan, karena itu aku biarkan dia untuk menuruni jurang tadi

guna memberikan pertolongan. Kemudian para jago dari perkumpulan Sin-kie-pang menyusul

disitu, Pek Siau-thian dengan mempergunakan seutas tali menuruni pula jurang tersebut, karena

aku kuatir Seng ji menemui bahaya, buru-buru aku menuruni jurang itu dari sisi kiri bukit tadi,

tapi semalam suntuk sudah berlalu, didasar jurang tidak nampak sesosok bayangan manusiapun,

bahkan jejak Pek Siau-thian pun tidak kelihatan lagi”

Ciu Thian-hau dari gunung Huang-san mengerutkan dahinya rapat-rapat, dengan nada me-negur

katanya, “Manusia terdiri dari darah dan daging, tidak mungkin tubuh mereka bisa lenyap

dengan begitu saja, menurut dugaanku dibawah jurang pasti ada jalan tembus lainnya, dengan

kepandaian yang hujin miliki seharusnya engkau dapat menyusul mereka”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

102

Tio Sam-koh yang selama ini memang merasa mendongkol terus, tiba-tiba mendengus dingin

dan menyindir, “Hmmm! orang lain toh punya semangat gagah yang membubung tinggi kelangit

seorang putra apa harganya? mau kejar atau tidak siapa yang dapat mengurusi?”

Hoa Hujin menghela napas panjang.

“Aaaai…. bukannya aku tidak menaruh perhatian atas nasib putraku, tapi dalam kenyataan

situasi yang sedang kita hadapi pada saat itu genting sekali setiap saat suatu pertarungan

terbuka bakal terjadi menurut pendapatku Pek Siau-thian toh hanya seorang diri sekalipun dapat

menyusul Seng ji belum tentu ia dapat melukai jiwanya.”

“Dengan kepandaian silat yang dimiliki Pek Siau-thian, ia belum mampu untuk melukai jiwa Seng

ji….?” seru It sim Hweesio dengan perasaan hati sangsi.

Hoa Hujin mengangguk.

“Kepandaian silat yang dimiliki Seng ji tidak lemah, bilamana ia ada maksud untuk melarikan diri

maka Pek Siau-thian tak mungkin bisa mengapa-apakan dirinya.”

“Orang muda selamanya berdarah panas” sela Ciu Thian-hau dari gunung Huang-san dengan

nada tak senang hati, seandainya ia tak sudi untuk melarikan diri, bukankah selembar jiwa

dikorbankan dengan percuma….??”

“Dalam pertemuan besar Pak beng hwee tempo hari, kita semua bilamana tidak melarikan diri,

siapakah yang mampu hidup hingga ini hari? walaupun Seng ji masih muda belia, tapi aku sudah

belasan tahun mempelajari dirinya untuk menahan emosi dan tebalkan iman, andaikata ia masih

juga tak tahu diri dan tidak bisa mengambil keputusan yang bijaksana maka keadaannya

bagaikan seorang manusia tolol yang tak bisa dibimbing, ini hari kita berhasil melindungi

keselamatan jiwanya toh dilain hari kita belum tentu dapat menolong jiwanya!?”

Pandangan perempuan ini terhadap kehidupan manusia boleh dibilang melewati jangkauan daya

pikir orang biasa, jalan pikiran semacam itu bukan bisa diterima oleh sekawanan manusia biasa,

apalagi diantara Ciu Thian-hau sekalian ada yang didasarkan karena persahabatan, ada yang

pada perasaan, dan ada pula yang karena pernah bertemu atau mendengar, semuanya menaruh

perasaan sayang dan kagum terhadap diri Hoa Thian-hong, oleh karena itu sehabis mendengar

perkataan dari Hoa Hujin, rata-rata mereka menunjukkan wajah tidak puas.

Kawanan jago tersebut adalah para pendekar yang berjiwa lurus serta terus terang, dalam hati

merasa tak senang perasaan tersebut segera terpancar diatas wajahnya, kalau dilihat gelagatnya

nampak jelas bahwa semua orang akan menunjukkan protesnya.

Cu Im Taysu segera memuji keagungan sang Buddba dan berkata setelah menghela napas

panjang, “Aaai….! sesungguhnya persoalan ini amat sulit untuk diatasi, hati siapa tidak lara

melihat darah daging sendiri terancam bahaya? perasaan hati hujin sudah cukup tersiksa, aku

harap saudara sekalian dapatlah bersabar sedikit!”

Hoa Hujin tertawa paksa, sambil membeli hormat dia berkata, “Kejadian telah berlangsung jadi

begini, merasa murung juga tak ada gunanya, lebih baik kita segera masuk kelembah Cu-bu-kok

untuk menyelesaikan masalah besar yang menyangkut kepentingan dunia persilatan saja!”

Semua orang membungkam dalam seribu bahasa, setelah hening beberapa waktu lamanya,

berangkatlah mereka mengikuti Hoa Hujin ma suk kedalam lembah tersebut.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

103

Seorang pemuda baju hijau yang menyoren pedang di pinggangnya tiba-tiba munculkan diri dari

rombongan para jago, tegurnya dengan suara dingin, “Enso, kejadian itu berlangsung dimana?

siaute bermaksud melakukan pemeriksaan disana”

Hoa Hujin berpaling ketika diketahui bahwa orang itu bukan lain adalah adik angkat mendiang

suaminya yang bernama Suma Tiang-cing, ia segera termenung sebentar lalu menjawab.

Pulang pergi ada empat ratus li jauhnya, daripada buang waktu dalam perjalanan, lebih baik

himpun saja tenagamu untuk membunuh musuh.

Jilid 6

Air muka Suma Tiang Ciang berubah jadi hijau membesi, katanya, “Pek Siau-thian telah

memasuki selat ini, apa bila Seng ji tidak menemui musibah, sepantasnya kalau iapun sudah

sampai disini.

“Apakah engkau punya rencana untuk keluar dari lembah Cu-bu-kok ini dalam keadaan hidup?”

seru Hoa Hujin secara tiba-tiba dengan wajah yang berat.

“Selama hidup siaute tak pernah melarikan diri untuk kedua kalinya….!”

“Kalau memang begitu apa yang hendak kukatakan lagi?” kata Hoa Hujin dengan sepasang

matanya memancarkan cahaya berkilat, “sekalipun engkau berhasil menemukan Seng ji belum

tentu ia dapat lolos dari lembah Co bu kok dalam keadaan hidup, kalau memang di mana-mana

pun jiwanya terancam bahaya kematian apa gunanya engkau cari dirinya?”

Suma Tiang Cin adalah saudara angkat dari Hoa Goan-siu, dia merupakan satu-satunya orang

yang berusia paling muda diantara angkatan yang setaraf dengan Hoa Hujin, wataknya

berangasan dan kasar dalam menghadapi musuh, tindakannya selalu keji dan telengas karena

kekejamannya dan sikapnya yang sama sekali tidak kenal ampun di tambah pula kepandaian silat

yang dimiliki sangat lihay maka beberapa gembong iblis tidak bersedia untuk melakukan

pertempuran melawan dirinya oleh sebab itulah dalam beberapa kali pertarungan sengit jiwanya

selalu selamat dari kematian.

Karena keistimewaannya itu, orang-orang kangcu memberi julukan Kiu mia kiam kek atau jago

pedang bernyawa rangkap sembilan kepada orang ini, selama melakukan perjalanan dalam dunia

persilatan dia merupakan momok yang paling memusingkan kepala bagi orang-orang kalangan

hitam dan oleh karena wataknya yang sukar diatur itulah Hoa Hujin dengan kedudukannya

sebagai kakak ipar selalu bersikap tegas dan keras terhadap dirinya.

Sementara pembicaraan masih berlangsung, semua orang telah memasuk kedalam lembah

tersebut.

Suma Tiang Ting merasa sangat tidak puas, belum sempat ia berbicara tiba-tiba sorot matanya

yang tajam telah menangkap tulisan besar yang terpancang diatas meja abu pada panggung

persembahan, air matanya kontan berubah hebat dan darahnya mendidih.

Sesaat kemudian semuajagopun dapat melihat tulisan tadi, air muka mereka semua kontan

berubah sangat hebat.

Terdengar Chin Pek-cuan sambil menggertak gigi berseru, “Anjing bangsat…. manusia

laknat….!Rupanya tujuan mereka menyelenggarakan pertemuan besar Kian ciau tayhwee adalah

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

104

untuk mendoakan arwah-arwah yang telah berpulang dalam pertemuan Pak beng Tay bwee

tempo hari….”

Baru saja perkataan itu selesai diutarakan keluar, Thong-thian Kaucu dengan memimpin anak

muridnya telah turun dari panggung persembahan dan menyambut kedatangan mereka.

Ketika Hoa Hujin menyaksikan Suma Tiangg Cing telah meraba gagang pedangnya siap

menerjang kedepan, ia segera menyapu sekejap wajah para jago dan menegur dengan suara

berat, “Siapa yang akan munculkan diri untuk berbicara?”

“Berada dihadapan musuh tangguh, hujin jangan mengacaukan barisan sendiri, engkau saja

yang buka suara” kata Cu Tong dewa yang suka pelancongan dengan gelisah.

It Sim hweesio yang berada disisinya segera menimbung pula, “Pinceng tidak ada komentar apaapa,

aku bersedia menerima perintah….” seraya berkata ia menggeserkan badannya mundur

selang-kah ke arah belakang.

Cu Im taysu yang melihat sikap rekannya segera ikut pula mundur kebelakang sedang Ciu Thian

Huu dari gunung Huang-san bergeser tiga depa kebelakang.

Suma Thian Cing amat membenci terhadap diri Thian Ik-cu, dia ingin sesaki membinasakan imam

tua tersebut dalam satu tusukan kilat akan tetapi setalah dilihatnya para jago yang berjalan

disamping Hoa Hujin telah mengundurkan diri semua kebelakang terpaksa diapun ikut melangka

mundur setindak kebelakang, sepasang matanya yang tajam dengan memancarkan cahaya

penuh nafsuh membunuh menatap wajah Thong-thian Kaucu tanpa berkedip.

Thong-thian Kaucu buru-buru maju kedepan, sesudah memberi hormat serunya dengan lantang,

“Kehadiran Hujin dan para tayhiap lainnya sungguh merupakan suatu kehormatan bagi

perkumpulan Tiong Thian Kau kami dan merupakan kebanggaan pula bagi umat persilatan di

kolong langit….”

Sementara itu suasana dalam lembah Cu-bu-kok diliputi keheningan dan kesunyian, suara bunyibunyian

alat sembahyang telah berhenti berdenting dan suara pembicaraan manusiapun telah

sirap dalam lembah seluas itu, hanya kedengaran suara lantang dari Thian Ik-cu seorang….

Dari balik mata Hoa Hujin memancar keluar cahaya kilat yang menggidikkan hati, membuat

wajahnya yang keren dan penuh berwibawa kelihatan semakin gagah dan menyeramkan

membuat siapapun tak berani memandang enteng perempuan ini.

Ia balas memberi hormat kemudian menjawab dengan suara yang keras dan tegas, “Tujuan dari

pertemuan besar Kian ciau tayhwee adalah untuk mengenang kembali arwah-arwah para jago

persilatan yang sudah tiada, aku orang she Bun sekalian termasuk anggota persilatan, sudah

sepantasnya kalau kami semua ikut menghadiri upacara besar seperti ini.”

Sesudah berhenti sebentar, sorot matanya dialihkan sekejap ke arah meja abu yang berjajar

diatas panggung persembahan, setelah itu sambungnya lebih jauh, “Mendiang suamiku dan

rekan-rekan kami lainnya telah mati binasa dalam pertemuan besar Pak beng tayhwee tempo

dulu, atas kebaikan ha ti kaucu untuk mendoakan arwah-arwah mereka yang sudah tiada, aku

orang she Bun sekalian mengucapkan banyak terima kasih lebih dahulu”

Perkumpulan Thong-thian-kauw adalah sekte agama yang didirikan diatas kehendak Thian,

tujuan kami adalah mendoakan arwah-arwah yang telah tiada agar segera masuk ke nirwana dan

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

105

mendapat ketenangan untuk selamanya, tugas berdoa adalah pekerjaan kami, buat apa engkau

musti berterima kasih kepada kami? sahut Thong-thian Kaucu dengan wajah serius.

Kegagahan Hoa Hujin membuat Thong-thian Kaucu diam-diam merasa kecil hati dan malu,

karena itu setelah mengucapkan kata-kata yang merendah dan saling memberi hormat, ia segera

mengiringi Hoa Hujin memasuki lembah dan ambil tempat dibarak sebelah kanan.

Setelah masuk kedalam barak, Hoa Hujin pun lantas bertanya, “Pertemuan besar Kian ciau

tayhwee akan diselenggarakan mulai kapan….? dapatkah kaucu memberi keterangan?”

“Jam sebelas malam upacara dimulai dan jam dua belas tengah malam pintu akhirat akan

terbuka, pada saat itulah upacara penghormatan untuk arwah-arwah yang telah tiada dalam

pertemuan Pak beng hwee akan diselenggarakan!”

Hoa Hujin mengangguk.

Upacara sudah akan diselenggarakan, dalam keadaan demikian kaucu pasti repot sekali, silahkan

engkau menyelesaikan pekerjaanmu, tolong saja apabila waktunya sudah tiba engkau bersedia

memberi kabar agar aku orang she Bun sekalian dapat memberi hormat untuk arwah rekanrekan

kami”

“Tak usah kuatir….!” setelah memberi hormat kaucu dari Thong-thian-kauw itu segera

mengundurkan diri.

Beberapa saat kemudian alat tetabuhan berkumandang kembali dan pembacaan doa pun dimulai

lagi, dari balik barak-barak disisi kanan dan kiri ramai pula oleh suara pembicaraan manusia.

Pertemuan ini adalah suatu pertemuan besar yang jarang terjatdi di kolong langit, suatu saat

sebelum datangnya hujan badai.

Sebentar lagi pembunuhan besar-besaran akan dimulai namun pada saat ini suasana sama sekali

tidak diliputi oleh bentrokan, tidak tercium pula nafsu membunuh yang menyelimuti angkasa….

Perkumpulan Sin-kie-pang, Hong-im-hwie, Thong-thian-kauw dan para pendekar dari golOngan

lurus salingmenempati suatu barak yang berbeda, walaupun tiada hubungan namun suasana

tetap tenang dan damai, bahkan sorot mata yang memancarkan sinar bengis pun tertutup untuk

sementara, yang ada hanya sikap yang dingin serta dugaan-dugaan yang tersembunyi untuk

menilai kekuatan pihak lawan.

Waktu berlalu dengan cepatnya, tanpa terasa senja telah menjelang tiba, sang surya telah

lenyap dibalik bukit dan kegelapan mulai menyelimuti seluruh jagad.

Pada saat itulah, tiba-tiba dari luar lembah Cu-bu-kok berkumandang datang suara tangisan

setan yang mendirikan bulu roma, pekikan dan jeritan yang memilukan hati itu bergema tidak

menentu, sebentar ke kiri sebenar kekanan seakan-akan diluar lembah telah berkumpul

berpuluh-puluh sosok arwah gertayangan yang sedang menangis dan menjerit….

Begitu suara tangisan setan itu berkumandang, suara tetabuhan dan pembacaan doa seketika

tertumpuk lenyap, suara pembicaraan dalam barak-barak pun tak kedengaran lagi.

Dalam lembah Cu-bu-kok, semua bagian telah ditutup oleh kain putih sebagai tanda berkabung,

rumah-rumahan dari kertas, kuda-kudaan dari kertas telah bersusun dibawah meja sembahyang,

ditambah pula dengan meja abu yang berpuluh-puluh banyaknya menambah seram nya suasana

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

106

disitu, kini ditambah pula dengan suara jeritan dan tangisan setan yang menggidikkan hati

membuat suasana bertambah seram, hawa setan menyelimuti seluruh lembah membuat bulu

kuduk orang pada bangun berdiri.

Tiba-tiba segulung angin dingin menghembus lewat, membuat udara jadi dingin dan menusuk

tulang, bunyi desiran tajam menambah seramnya isak tangis sukma gentayangan tersebut.

Ci-wi Siancu paling takut dengan setan, ia jadi ketakutan setengah mati hingga keringat dingin

mengucur tiada hentinya, tanpa terasa ia menggenggam tangan Hoa Hujin sambil bisiknya

dengan suara gemetar.

“Hujin….! buu…. bukankah pintu gerbang akhirat baa…. baru dibuka selewatnya jam dua belas

tengah malam….??”

Melihat gadis itu ketakutan setengah mati sehingga air mukanya pucat pias dan bibirnya

membiru, buru-buru Hoa Hujin menghibur sambil berkata, “Engkau tak usah takut…. pastilah hal

ini merupakan permainan setan dari pihak Thong-thian-kauw, di kolong langit tidak mungkin ada

setan benar-benar….”

“Tidak, setan itu pasti ada!” seru Ci-wi Siancu dengan hati amat gelisah.

Hoa Hujin tersenyum.

“Kalau begitu duduklah disisiku!”

Dalam pada itu…. tiba-tiba terdengar Dewa yang suka melancong Cu Tong berseru tertahan.

“Aaah! sungguh aneh, kenapa siluman-siluman tosu itu pada gugup semua….??”

Hoa Hujin segera menengok ke arah depan, sedikitpun tidak salah tampaklah Thian Ik-cu dengan

wajah gusar sedang membisikkan sesuatu kesisi telinga dua orang muridnya, dua orang imam

tersebut buru-buru lari keluar lembah dengan wajah aagk gugup.

Pada saat itulah orang-orang perkumpulan Sin-kie-pang dan Hong-im-hwie yang berada dimulut

lembah tiba-tiba memperdengarkan seruan kaget dan sama-sama bangkit berdiri untuk

menengok ke arah luar lembah tersebut….

***

DALAM sekejap mata, dari mulut lembah Cu-bu-kok muncul segerombolan setan berwajah

menyeringai seram dengan rambut yang awut-awutan terurai kebawah.

Setan-setan bermuka seram itu ada yang tua ada yang muda ada yang wanita ada pula yang

pria, dandanan seta pakaian yang mereka pakai berbeda-beda satu sama lainnya ada yang

memakai baju model sekarang ada yang berdandan seperti orang pada masa Tong tiau atau pula

yang mamakai baju model Han semuanya menjerit-jerit dan menangis menggerung dengan

suara yang keras mereka saling dorong mendorong membuat suasana jadi ribut….

Dua orang imam dari perkumpulan Thong-thian-kauw yang mendapat perintah untuk melakukan

pemeriksaan Keluar lembah telah berpapasan dengan rombongan setan penasaran itu, untuk

sesaat mereka jadi gugup…. pedangnya buru-buru dicabut keluar.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

107

Terdengar diantara rombongan setan-setan penasaran itu, tiba-tiba terdengar keluhan seram

yang menggidikkan hati, “Oooh…. anakku!”

Seorang setan perempuan yang bermuka seram dan berlidah menjulur keluar melewati

rombongannya dan langsung menubruk ke arah tosu tersebut.

Pada waktu itu kegelapan telah mencekam seluruh jagad, dibawah remang-remangnya cuaca

sulit bagi para jago untuk memeriksa apakah setan-setan itu adalah setan asli atau gadungan,

keadaan mereka benar-benar mengerikan sekali.

Dua orang imam tersebut ketakutan setengah mati, dengan jantung berdebar keras mereka

membentak keras kemudian melancarkan sebuah serangan dahsyat kedepan.

Tetapi…. sebelum serangan itu mencapai sasarannya, mendadak mereka rasakan genggamannya

jadi enteng dan tahu-tahu kedua batang pedang tersebut telah lenyap tak berbekas.

Setan perempuan yang lidahnya menjulur keluar bagaikan setan gantung itu segera berpekik

nyaring, “Ooooh…. anakku!” sambil rentangkan sepasang tangannya, ia segera memeluk salah

satu diantara dua orang imam itu.

Dua orang tosu tersebut semakin ketakutan hingga serasa sukma melayang tinggalkan raganya,

mereka sipat telinga dan melarikan diri terbirit-birit.

“Criing….! tiba-tiba kaki mereka disapu oleh seorang setan pria dengan rantai yang

membelenggu tangannya hingga jatuh tersungkur diatas tanah, sedang seorang lainnya yang

melarikan diri agak lambat kena dipeluk oleh setan tua berambut putih.

Dalam waktu singkat imam tersebut dibikin bulanbulanan oleh rombongan setan penasaran

tersebut, kau rebut aku rampas jeritan isak tangis menggema memenuhi angkasa, seluruh jubah

yang dikenakan tosu itu jadi koyak tak ada juntrungnya karena ketakutan akhirnya imam tadi

jatuh tak sadarkan diri.

Semua peristiwa tersebut berlangsung dalam sekejap mata, para jago yang hadir dalam lembah

Cu-bu-kok dan rata-rata merupakan jago kangou berkepandaian lihay dan membunuh orang tak

berkedip itu seketika dibuat berubah wajahnya dan merasa amat terperanjat.

Thong-thian Kaucu yang berada diatas panggung persembahan dapat menyaksikan jalannya

peristiwa tersebut dengan amat jelas, mulutnya yang membaca doa segera diperkeras, tangan

kiri berputar-putar diudara sedang pedang ditangan kanannya menepuk meja keras-keras.

Anak murid diatas pangguug sama-sama jadi gugup dan gelagapan, suara pembacaan doa

semakin nyaring dan tetabuhan alat sembah yang pun semakin memekikkan telinga.

Thian Seng cu dengan wajah penuh kegusaran segera loncat keluar dari dari dalam barak,

hardiknya keras-keras, “Hian cing, tenangkan hatimu!”

Imam yang bergelar Hian cing itu sambil mengguling dan merangkak sedang melarikan diri dari

kejaran setan-setan penasaran itu, mendengar bentakan dan Thian Seng cu, ia jadi semakin

gugup sehingga sepasang kakinya jadi lemas. Terdengarlah jeritan dan tangisan setan makin

memekikkan telinga, orang itu kena ditumbuk oleh rombongan setan tadi hingga jatuh terjungkal

keatas tahan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

108

Rombongan setan penasaran itu bergerak bagaikan hembusan angin, diiringi jeritan dan pekikan

ngeri mereka lari menuju kebawah panggung persembahan, kemudian sambil depak kaki

memukul dada menangis mengerang-erang….

Air muka Thian Seng cu berubah jadi hijau membesi, dia ulapkan tangannya, dari balik barak

segera berlompatan puluhan orang jago berbaju merah, dengan senjata terhunus mereka

mengurung rombongan setan penasaran itu rapat-rapat.

Rombongan setan penasaran itu tetap tidak menggubris atas kepungan tersebut, mereka samasama

menengadah memandang Thong-thian Kaucu yang berada diatas panggung, isak tangis

bergema tiada hentinya membuat hati orang semakin kalut.

Ci-wi Siancu paling ketakutan, sekujur badannya gemetar keras dan giginya saling beradu keras,

lengannya memeluk tubuh Hoa Hujin kencang-kencang.

Hoa Hujin merasa tak tega, bisiknya dengan suara lirih, “Jangan takut, mereka adalah menusia

dan jumlahnya tujuh puluh dua orang….”

Sementara itu Thian Seng cu telah membentak dengan suara keras, “Kalian kawanan setan

darimana? siapa pemimpin kalian? ayoh jawab!”

Kawanan setan penasaran itu tetap melompat dan menangis tersedu-sedu tiada hentinya.

Li-hoa Siancu segera mendekati tubuh Hoa Hujin dan berbisik dengan gemetar, “Hujin

rombongan itu benar-benar adalah setan asli, kalau manusia yang menyaru jadi setan kenapa

tujuh delapan puluh orang loncat bersama sedikitpun tidak menimbulkan suara.

“Aduuuh…. sungguh tak enak didengar suara tangisan mereka seru Ci-wi Siancu pula, suara

mereka sedikitpun tidak mirip suara manusia….”

Tiba-tiba Thong-thian Kaucu yang berada diatas panggung menepukkan pedangnya keras-keras

dan membentak keras, “Pertemuan Kian ciau tayhwee adalah untuk mendoakan arwah-arwah

yang telah tiada, kawanan setan penasaran tiada tempat disini enyah kalian dari tempat ini”

Bersamaan dengan selesainya perkataan itu mendadak kawanan setan penasaran itu

menengadah dan mengeluh, dalam waktu singkat dari tujuh lobang indera mereka mengucur

keluar darah segar dan setan-setan itupun roboh terkapar diatas tanah tak berkutik lagi.

Suasana dalam lembah Cu-bu-kok segera diselimuti oleh suasana yang menyeramkan.

Pembacaan doa, suara tetabuhan berhenti berdentang, suasana diliputi keheningan dan

kesunyian….

Pemandangan yang terpapar didepan mata pada saat itu benar-benar mengerikan dan

mendebarkah hati, diatas tanah penuh berserakan tubuh makhluk-makhluk setan berambut

panjang dan menyeringai seram, darah yang mengalir ke luar dari tujuh lobang indera mereka

membuat wajah setan-setan itu bertambah mengerikan, jangan dikata setan, sekalipun manusia

pun cukup mendirikan bulu roma dan menggidikkan hati orang.

Perubahan yang terjadi sangat tiba-tiba ini jauh diluar dugaan semua orang dan cukup

mengejutkan hati para jago, Thong-thian Kaucu yang berada diatas mimbar pun berdiri kaku

bagaikan patung, karena terperanjat air mukanya berubah jadi amat jelek.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

109

Tetapi, bagaimanapun juga dia adalah seorang ketua dari suatu perkumpulan besar, sesudah

tertegun beberapa saat lamanya, ia segera tersadar kembali dari lamunannya.

“Ploook….”pedang mustikanya dipukulkan keatas meja keras-keras kemudian lanjutkan

pembacaan doanya dengan suara lantang.

Para anak murid perkumpulan Thong-thian-kauw yang berada di mimbar nampak tertegun,

diikuti suara tetabuhan dan pembacaan doapun dilanjutkan lebih jauh, mula-mula suaranya

masih lirih dan terpotong-potong, tapi sebentar kemudian suasana berubah jadi ramai kembali.

Thian Seng cu mendekati makhluk-makhluk aneh yang tidak mirip manusia dan setan itu, setelah

mengetahui bahwa tubuh mereka telah mendingin dan napasnya telah putus, buru-buru ia

perintahkan anak muridnya untuk menggotong mayat tadi keluar dari lembah, noda darah diatus

tanahpun segera dibersihkan.

Thong-thian Kaucu yang berdasarkan ajaran agamanya pada soal kebatinan seringkali menyaru

jadi setan atau malaikat untuk menakut nakuti kaum rakyat kecil yang bodoh, sekarang setelah

benar-benar menghadapi kejadian semacam itu, walaupun sudah tahu bahwa setan itu adalah

setan gadungan semua namun ia tidak membongkar rahasia tersebut.

Sekalipun demikian, kedatangan makhluk aneh yang tiba-tiba dan kematiannya secara

mengerikan menimbulkan kecurigaan dalam hati semua orang, tak seorangpun yang berani

unjukkan sikap mengejek atau mentertawakan atas terjadinya peristiwa itu.

Setelah kejadian yang menegangkan telah lewat, suara hiruk pikuk manusia berbicara pun mulai

muncul dari barak-barak dikiri maupun kanan, rata-rata mereka semua membicarakan peristiwa

aneh yang barusan berlangsung itu.

Siau yau siau Cu Tong dengan penuh semangat berkata, “Kalau dilihat dari sikap Thian Ik-cu

yang jengah dan tersipu-sipu, rupanya apa yang terjadi tadi bukanlah permainan setan dari pihak

perkumpulan Thong-thian-kauw sendiri, ditinjau dari hal ini dapat diketahui bahwa diantara tiga

bibit bencana dunia persilatan masih terdapat perselisihan yang belum dapat diselesaikan, itu

berarti belum tentu mereka benar-benar bisa bekerja sama untuk meghadapi kita!”

Hoa Hujin mengerutkan dahinya rapat-rapat.

“Aku rasa perbuatan semacam ini tidak mirip perbuatan dari Sin-kie-pang ataupun Hong-imhwie!”

katanya.

“Perkataan hujin sedikitpun tidak salah” Ciu Thian-hau dari gunung Huang-san mengangguk

tanda membenarkan, “kawanan makhluk aneh itu sudah jelas bukan berasal dari orang-orang

gabungan tiga kekuatan besar tersebut, kalau dilihat dari ilmu meringankan tubuh mereka yang

aneh dan ampuh, sudah jelas orang-orang tadi berasal dari satu golongan yang sama, tidak

mungkin perkumpulan Sin-kie-pang dan Hong im bwee mampu melatih manusia aneh sebanyak

itu!”

“Kecuali tiga bibit, bencana dari dunia persilatan dan golongan kita, masa dalam dunia persilatan

masih terdapat kelompok kelima?” seru Im sim hweesio dengan wajah tercengang.

Beberapa orang ini semuanya merupakan jago-jago persilatan yang berkelana dalam Bu lim sejak

muda sampai tua, boleh dibilang situasi persilatan sepanjang puluhan tahun diketahui mereka

dengan jelas sekali, bahkan merekapun sempat mengalaminya sendiri, kalau dibilang diluar

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

110

empat kelompok besar dalam dunia kangkou masih ada kekuatan lainnya lagi, siapapun merasa

tidak percaya akan kenyataan tersebut.

Terdengar Cu Im taysu menghela napas panjang dan berkata, “Yang paling aneh lagi, ternyata

kawanan manusia aneh itu pada saat bersamaan sama-sama menemui ajalnya dengan darah

mengalir keluar dari ketujuh lubang indera mereka, bagaimana penjelasannya tentang peristiwa

ini?”

“Kalau dilihat keadaan mereka, semestinya mati lantaran keracunan hebat….!” sambung Li-hoa

Siancu dari samping, “cuma tidak diketahui siapakah yang melepaskan racun keji tersebut?”

Cu Im taysu segera berpaling ke arah Ci-wi Siancu dan bertanya, “Nona ketiga racun itu

semestinya bukan engkau yang melepaskan bukan….?”

Ci-wi Siancu terttegun lalu menggeleng.

“Bukan aku yang melepaskan!!” jawabnya.

Tiba-tiba ia menggertak gigi dan berseru dengan gemas, “Tadi aku sudah lupa kalau aku

membawa racun. Hmm! kalau makhluk-makhluk aneh semacam itu berani munculkan diri lagi,

perduli dia adalah manusia atau setan akan kusuruh mereka merasakan lebih dulu kelihayan dari

kabut sembilan bisa!”

Tiba-tiba dari mulut lembah muncul cahaya lampu, dua orang dayang berdandan rapi dengan

membawa lampu lentera berjalan, dipa ling depan seorang gadis baju putih yang berdandan

agung bagaikan gadis keraton, berjalan dibelakangnya seorang gadis baju hijau mengikuti

dibelakang gadis agung tadi dan bersama-sama masuk kedalam lembah tadi.

“Siapakah dia?” tanya Ci-wi Siancu dengan alis mata berkernyit.

“Perempuan yang agung dan berdandan keraton itu bukan lain adalah Giok Teng Hujin dari

perkumpulan Thong-thian-kauw, gadis yang mengikuti dibelakangnya itu bernama Pui Che-giok,

dia adalah dayang kepercayaan dari perempuan tersebut,” Cu Tong menerangkan.

Berhubung semua jago telah mengetahui bahwa Giok Teng Hujin bernama Siang Hoa dan

merupakan putri dari It Kiam kay Tionggoan ‘pedang sakti yang menyapu Tionggon’ Siang Tang

Lay, maka ketika mendengar akan kehadirannya, semua orang segera alihkan sorot matanya ke

arah tengah gelanggang.

Dengan wajah yang agung, Giok Teng Hujin masuk gelanggang, biji matanya yang jeli ketika itu

mengawasi barak yang dihuni para pendekar dengan tajam, ketika tidak menjumpai Hoa Thianhong

hadir disitu, air mukanya tampak berubah hebat.

Ci-wi Siancu segera mendengus dingin, sambil menarik ujung baju Hoa Hujin, katanya, “Hujin,

usia Giok Teng Hujin paling sedikit sudah mencapai dua puluh tahunan, sedang siau long baru

berumur sembilan belas tahun, kedua orang itu sama sekali cocok satu sama lainnya!”

Mendengar perkataan itu diam-diam Hoa Hujin berpikir, “Aaai….!sampai sekarang jejak Seng ji

masih belum ketahuan, mati atau hidup sukar diramalkan, nona ini masih memikirkan tentang

soal perkawinannya, benar-benar tak tahu keadaan….”

Ia segera tertawa paksa dan menjawab, “Malam ini seluruh pikiran dan perhatian kita diputuskan

untuk membunuh musuh, persoalan yang lain dibicarakan dilain waktu saja”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

111

Tiba-tiba Cu Tong dengan wajah murung berkata, “Hujin, aku hendak mencari Pek Siau-thian

untuk menanyakan jejak dari Seng ji, entah bagaimanakah pendapat hujin itu.

“Biar aku saja yang pergi!” seru Ci-wi Siancu sambil bangkit berdiri dan siap berlalu.

Hoa Hujin segera menarik pergelangan tangannya sambil berseru, “Tunggu sebentar, biar aku

yang menanyakan sendiri!”

Tiba-tiba suara genta yang ada diatas mimbar berdentang nyaring, diikuti suara tetabuhan dan

pembacaan doa berhenti sama sekali, ha nya Thong-thian Kaucu seorang yang masih membaca

doa tiada hentinya sambil membakar Lenghu, satu demi satu hingga akhirnya setelah membakar

tiga belas lembar Lenghu ia baru berhenti. Kemudian memerintahkan anak muridnya untuk

pasang hio ganti lilin dan membakar uang kertas perak dan kertas emas.

Pada waktu itulah, puluhan orang imam berjubah kuning dengan lukisan pat kwa dam menyoren

pedang dipunggung berjalan masuk kedalam lembah, usia para imam tersebut rata-rata empat

puluh tahun keatas, tiga orang membentuk satu barisan berjalan masuk dengan teratur sekali,

paling belakang berjalanlah tiga orang imam tua yang usianya sudah mencapai delapan puluh

tahunan dengan rambut yang berwarna keperak-perakan, Cin Leng-cinjin berada dtantara ketiga

orang itu.

Thong-thian Kaucu segera loncat turun dari atas mimbar dan lari menuju kemulut lembah untuk

menyambut kedatangan ketiga orang imam tua tersebut dengan sikap sangat menghormat, ia

mempersilahkan orang-orang tua tadi masuk kebarak untuk beristirahat.

Hoa Hujin takut orang-orang dipihaknya tidak mengenal akan kelihayan dari ketiga orang imam

tua tersebut sehingga dalam pertarungan massal nanti salah mencari sasaran, maka segera

ujarnya, “Imam tua yang ada ditengah adalah Hian Leng, yang ada disebelah kiri bernama Pia

Leng, sedang imam yang kecil dan kurus itu bernama Cin Leng-cinjin, ketiga orang itu

merupakan paman guru dari Thian Ik-cu dan sudah puluhan tahun lamanya tak pernah

munculkan diri didalam dania persilatan!”

Mendengar penjelasan itu, wajah para jago agak berubah, mereka tahu ketiga orang imam tua

yang sudah lama mengasingkan diri dari keramaian dunia, ini pasti memiliki ilmu silat yang

sangat mengerikan, tapi mereka sama sekali tidak merasa gentar atau takut, sebab mereka

sudan menyadari bahwa keadaan pada saat itu pihak lawan jauh lebih tangguh kekuatannya

daripada pihak sendiri, kecuali Biau-nia Sam-sian, rata-rata para pendekar yang lain sudah ambil

keputusan untuk berjuang sampai titik darah penghabisan.

Tiba-tiba suasana dibarak bagian depan berubah jadi hening dan sepi, hal ini segera memancing

perhatian orang-orang dari golongan pendekar dan perkumpulan Thong-thian-kauw untuk

bersama-sama menengok kedepan.

Terdengar Cu Tong berkata dengan suara berat, “Bu liang loo ji telah datang!”

Tampaklah seorang kakek tua berperawakan kekar, berikat kepala warna tua dan berjenggot

perak sepanjang dada berjalan masuk kedalam lembah tersebut….

Bu Liang Sinkun dari gunung Buliang san sejak belasan tahun berselang telah dianggap umum

sebegai jago lihay nomor satu dalam kalangan hek to tetapi sejak ia dikalahkan oleh Hoa Goansiu

ketika diselenggaranya pertemuan Pak beng hwee, dengan menahan rasa malu ia segera

mengundurkan diri dan sepuluh tahun lamanya mengasingkan diri. Ini hari telah muncul kembali

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

112

dalam pertemuan besar Kian ciau tayhwee orang itu masih tetap dianggap sebagai seorang

tokoh sakti dalam dunia persilatan.

Kok See-piauw murid ahli warisnya dengan kencang mengikuti disamping gurunya.

Thong-thian Kaucu dengan memimpin para anak muridnya buru-buru menyambut

kedatangannya, sambil tertawa katanya, “Kunjungan sinkun benar-benar merupakan suatu

kehormatan bagi kami, apabila sambutan kami kurang memuaskan, harap siokun suka memberi

maaf yang sebesar-besarnya”

Dengan sorot matanya yang tajam bagaikan kilat, Bu Liang Sinkun menyapu sekejap seluruh

lembah lalu sambil tertawa, jawabnya, “Aku bisa ikut menghadiri pertemuan ini sudah

merupakan suatu kebanggaan, kaucu tak usah sungkan-sungkan!”

Kemudian tertawa tergelak dengan suara nyaring, suaranya keras bagaikan genta hingga

mendengung dalam lembah tersebut.

Yan-san It-koay dan Liong bun siang san dari perkumpulan Hong-im-hwie segera menyapa

sambil tersenyum dari tempat duduknya hanya Jin Hian seorang yang munculkan diri dari barak,

sambil memberi hormat.

“Sinkun selamat berjumpa kembali!” sapanya.

“Jin heng, baik-baik kah selama ini?”, kemudian kakek tua itupun menjura ke arah Yan-san Itkoay

sekalian.

Thong-thian Kaucu tertawa nyaring, serunya, “Kunjungan Sinkun kedalam pertemuan ini boleh

dibilang merupakan seorang tamu terhormat, bagaimana kalau pinto khusus si apkan meja

perjamuan untuk menghormati dirimu?”

“Tujuan diselenggarakannya pertemuan Kian ciau tayhwee adalah untuk menghormati arwah

yang telah tiada, lebih baik orang yang hadir dalam pertemuan ini tak usah dilayani secara

istimewa….!”

Kedua orang itu saling pandangan dan tertawa, Bu Liang Sinkun segera memberi hormat oan

meneruskan perjalanannya menuju kebarak dari perkumpulan Sin-kie-pang.

Sedari permulaan tadi, Pek Siau-thian telah keluar dari baraknya untuk menyambut

kedatangannya orang itu, setelah saling me-ngucapkan kata-kata merendah, merekapun segera

masuk kedalam barak untuk ambil tempat duduk.

Kok See-piauw maju memberi hormat, sapanya, “Paman Pek!”

Sorot matanya dengan tajam menyapu sekeliling tempat itu untuk mencari Pek Kun-gie, ketika

sinar matanya membentur wajah Pek Soh-gie pemuda itu agak tertegun.

Satu ingatan berkelebat dalam benak Bu lian sinkun, tegurnya, “Eeei…. kenapa keponakan Kun

Gie tidak nampak?”

Dengan sedih Pek Siau-thian menghela papas panjang.

“Aaai…. bocah itu berumur pendek, ia sudah tiada lagi di kolong langit….!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

113

Mendengar berita itu sekujur badan Kok See-piauw gemetar keras, dengan wajah berubah hebat,

serunya, “Kenapa dia bisa mati?”

Diam-diam Pek Siau-thian berpikir dalam hatinya, “Walaupun orang ini kalah jauh kalau

dibandingkan dengan binatang cilik dari keluarga Hoa, namun rasa cintanya terhadap Kun Gie

sudah mendalam sekali, aaai! sayang keadaan tidak mengijinkan….!!”

Dalam hati ia berpikir dsmikian, diluar jawabnya dengan hambar.

“Ia mati ditangan Hoa Thian-hong, bagaimanakah duduknya perkara yang sebenarnya aku

sendipun kurang begitu jelas….”

“Hoa Thian-hong, putra Hoa Goan-siu?!” seru Bu Liang Sinkun dengan sepasang alis mata

berkenyit, dengan sorot mata tajam ia segera mengawasi para jago dibarak sebelah depan.

“Bajingan cilik itu sudah kuhajar masuk kedalam jurang setinggi sepuluh ribu tombak hingga kini

masih belum ada kabar beritanya, aku rasa dia pasti sudah mampus!”

“Bagus! ini hari kita harus babat rumput sampai seakar-akarnya, kalau berkerja harus sempurna

daripada dalam dunia persilatan selalu terbagi antara golongan hitam dan putih.”

Pek Siau-thian tersenyum, ia berpaling ke arah Pek Soh-gie yang berada disisinya dan berkata,

“Soh-gie, kemarilah! cepat memberi hormat untuk empek Lie dan Kok toako!”

Sepasang mata Pek Soh-gie masih merah membengkak dan basah oleh air mata, mendengar

perkataan itu ia segera menghampiri kedua orang itu dan memberi hormat.

Bu Liang Sinkun segera berpaling ke arah Pek Siau-thian dan berseru dengan wajah tercengang,

“Dia adalah putri sulungmu?”

Pek Siau-thian menganguk.

“Ia bernama Soh-gie, jauh lebih jujur, dia polos daripada Kun Gie, budak liar yang sukar

dikendalikan itu….”

Dengan pandangan tajam Bu Liang Sinkun memperhatikan sekejap wajah Pak Soh-gie, kemudian

pikirnya, “Ditengah kecantikan wajah gadis ini terpancar suatu daya tarik yang memikat hati,

keayuannya tidak berada dibawah adiknya….”

Berbicara sampai disitu, sambil tersenyum segera ujarnya, “Gadis yang mengutamakan

kehalusan dan kelembutan memang sukar ditemukan di kolong langit, apalagi berwajah begini

cantik….”

Ia menghela napas panjang, setelah berhenti sebentar sambungnya lebih jauh, “Kita adalah

sahabat lama, sedangkan See Piau dan keponakan Kun Gie juga boleh dibilang mempunyai

hubungan yang erat antara yang satu dengan yang lain, sayang takdir menghendaki lain

sehingga terjadi perubahan seperti ini. Aaai….! seandainya keponakan Kun Gie masih hidup di

kolong langit dan kita bisa menjodohkan mereka berdua hingga kita saling berbesar, bukankah

hal ini bagus sekali….??”

Mendengar perkataan ini, satu ingatan segera berkelebat dalam benak Pek Siau-thian, pikirnya,

“Ucapannya ini bukankah berarti bahwa ia sedang mengajukan pinangan kepadaku dan

mengharapkan aku menjodohkan Soh-gie kepada muridnya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

114

Sesudah berhenti sebentar, ia berpikir lebih jauh, “Dalam pertempuran yang bakal langsung kali

ini, melenyapkan kawanan pendekar dari golongan putih merupakan suatu pekerjaan gampang,

tetapi kalau hendak menggunakan kesempatan ini untuk menumpas kekuatan golongan Hongim-

hwie dan Thong-thian-kauw bukanlah suatu pekerjaan yang gampang, tapi seandainya aku

bisa mendapat bantuan dari Bu Liang Sinkun, maka harapannya untuk mendapat kemenangan

bukankah jauh lebih besar?”

Berpikir sampai disini, pikirannya segera bekerja, diam-diam ia memperhatikan sekejap diri Kok

See-piauw, kemulian pikirnya, “Paras muka orang ini tidak jelek, ilmu silat yang dimilikipun

sangat bagus, memang tak ada salahnya kalau dijodohkan kepada Soh-gie. Dalam koiong langit

dewasa ini tiada ada seberapa orang yang pantas mempersunting putri keluarga Pek, biar

kuterima saja pinangannya ini….”

3

Setelah mengambil keputusan, ia segera tersenyum dan berkata, “Keponakan See Piau memang

tampan dan manusia hebat yang sukar didapati dalam kolong langit dewasa ini, sayang Kun Gie

budak itu tidak punya rejeki baik. Aaai….!”

Dia menghela napas panjang dan tiba-tiba membungkam.

Ketika Bu Liang Sinkun mendengar Pek Siau-thian memuji anak muridnya, ia tahu bahwa urusan

berjalan lancar, sambil mengelus jenggot dan tertawa segera ujarnya lagi, “Pek Loo te, apakah

Soh-gie bocah ini sudah dijodohkan kepada orang lain?”

Kembali Pek Siau-thian menghela napas panjang.

“Aaaiii….! sebenarnyaa ia selalu mendampingi ibunya hidup menyendiri sedangkan akupun sibuk

dengan urusan perkumpulanku, sampai sekarang masih belum ada kesempatan untuk

memikirkan soal jodoh mereka!”

Bu Liang Sinkun jadi sangat kegirangan.

“Kalau memang begitu, siau Leng ingin sekali mempererat hubunganku dengan diri Lo te, cuma

sayang muridku See Piau mungkin terlalu jelek dan bodoh sehingga tidak dapat menerimanya?”

“Kita toh sahabat lama kenapa harus sungkan-sungkan” jawab Pek Siau-thian sambil tertawa,

“mungkin putriku yang tidak memadahi untuk mendampingi keponakan See Piau.

“Haahh…. haahh…. haaahhh” Bu Liang Sinkun tertawa terbahak-bahak, “ayoh cepat cepat

memberi hormat kepada ayah mertuamu!” Kok See Pitu jadi amat terperanjat.

“Suhu….” teriaknya.

Bu Liang Sinkun jadi gusar, dengan ilmu menyampaikan suara buru-buru bisiknya, “Goblok!

budak ini sepuluh kali lipat lebih hebat daripada Pek Kun-gie, kalau engkau mengawini dirinya

sebagai istrimu maka per kumpulan Sin-kie-pang merupakan hadiah bagi perkawinan itu, cepat

atau lambat Pek loo ji akan mengundurkan diri dan ketika itu dunia persilatan akan menjadi

kekuasaanmu”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

115

Mula-mula Kok See-piauw merasa terperanjat kemudian tertegun dan akhirnya kegirangan, buruburu

ia bangkit berdiri dan berjalan kehadapan Pek Siau-thian lalu menjalankah penghoramatan

besar.

“Ayah….” tiba-tiba terdengar Pek Soh-gie berseru sambil menangis.

Pek Siau-thian merasakan hatinya bergetar keras, dengan rasa kejut bercampur gusar, serunya,

“Ada apa?”

Dengan air mata bercucuran, Pek Soh Gei berkata, “Siau li telah bersumpah antuk menemani ibu

sepanjang hidup, selamanya aku tak akan membicarakan tentang….”

Pek Siau-thian semakin gusar bentaknya, “Kurang ajar, aku….”

Dengan sorot matanya yang tajam Bu Liang Sinkun segera mengamati wajah Pek Soh-gie, ia

lihat wajahnya bersungguh-sungguh dan sedikit pun tidak nampak berpura-pura, karena takut

urusan jadi berabe dan malahan tidak karuan, buru-buru ia menukas sambil tertawa, “Loo te tak

usah marah, bocah ini meskipun bodoh tapi rasa baktinya kepada orang tua amat besar, engkau

tak usah menegur di rinya lebih jauh….”

Sesudah berhenti sebentar, dengan ilmu menyampaikan suara segera ujarnya lagi, “Hati kaum

muda paling gampang berubah, paling bander sikapnya itu hanya berlangsung untuk sementara

waktu belaka, biarlah mereka berdua bergaul lebih lama sehingga timbul perasaan yang

mendalam da lam hati mereka masing-masing, setelah selesai menghadiri pertemuan besar Kian

ciau tayhwee ini, aku dengan mengajak muridku akan berkunjung sendiri kegunung Hoan keng

san, asalkan Hong hwee menyatakan persetujuannya dalam soal perkawinan ini, bukanlah

urusan besar?”

Pek Siau-thian menghela napas panjang, ia segera teringat kembali akan keadaan dirinya yang

telah berpisah deagan istrinya, putri bungsu Kun Gie yatg berada dibawah bimbingannya

ternyata mendapat bencana dimasa muda, terhadap putri sulungnya yang jauh lebih luhur ia

merasa tak tega untuk menggunakan cara yang keras.

Setelah termenung beberapa saat lamanya ia segera membangunkan Kok See-piauw yang

sedang berlutut dihadapannya dengan muka merah padam, katanya, “Ini hari seluruh orang

gagah dari penjuru dunia berkumpul disini, inilah kesempatan ynng paling baik buat setiap pria

sejati untuk unjukkan kehebatan, Hian tit! duduklah disisiku dan soal perkawinan kita bicarakan

lagi di kemudian hari”

“Terima kasih atas perhatian dari paman!” jawab Kok See-piauw sambil memberi hormat.

Ia segera maju kedepan dan duduk disamping Pek Soh-gie.

Tiba-tiba…. dari mulut lembah muncullah empat orang pemuda berbaju ringsas yang

menggotong sebuah tandu berwarna hitam.

Paras muka keempat orang pemuda itu bersih dan tampan, usianya diantara lima enam belas

tahunan, gerak-geriknya enteng dan cepat, sesudah memasuki mulut lembah tersebut tandu tadi

langsung menuju kebawah persembahan.

Seorang murid perkumpulan Thong-thian-kauw segera maju menyongsong sambil bertanya,

“Yang datang adalah orang gagah dari mana?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

116

Empat orang pemuda berpakaian ringkas itu menurunkan tandunya keatas tanah, kemudian

salah seorang yang berada dipaling depan menjawab dengan suara lantang, “Siang Tang Lay

dari wilayah See ih!”

Jawaban tersebut laksana guntur yang membelah bumi disiang hari bolong, menggetarkan hati

semua jago yang hadir dalam lembah Cu bu-kok tersebut, seketika itu juga suasana jadi sunyi

senyap tak kedengaran sedikit suarapun.

Thong-thian Kaucu , Pek Siau-thian, Jin Hian, Bu Liang Sinkun dan para jago lainnya sama-sama

merasa terperanjat, mereka semua segera bangkit berdiri tinggalkan tempat duduk.

Pedang sakti yang menyapa daratan Tionggoan, Siang Tang Lay adalah seorang tokoh sakti yang

sudah tersohor namanya sejak dua puluh tahun berselang kemunculannya yang secara tiba-tiba

sebelum pertemuan besar Kian ciau tayhwee diselenggarakan benar-benar sa ngat

menggetarkan hati setiap orang.

Seorang pemuda berpakaian ringkas maju kedepan menyingkap horden yang menutupi tandu

tersebut, dua orang lainnya segera maju kedepan dan mendorong keluar sebuah kursi beroda

dari dalam tandu tadi, diatas kursi beroda duduk seorang pria bangsa Han yang memakai jubah

putih, sepatu tebal dan kaos putih yang tinggi, sedikitpun tidak nampak dandanannya sebagai

seorang suku Oh.

Rambut putih orang itu panjang terurai kepundak, jenggot peraknya sepanjang dada, menurut

keadaan semestinya orang itu adalah seorang kakek tua, terapi mukanya ternyata masih

kencang dan sedikitpun tidak nampak kerutan-kerutan, sekilas pandangan bahwa menyerupai

seorang lelaki yang baru berusia tiga puluh tahunan.

Thong-thian Kaucu berada paling dekat dengan orang itu, ketika wajah orang itu diamatinya

dengan lebih seksama maka kecuali rambut putih serta Jenggot putih yang telah tumpuh subur

diwajah orang itu, paras mukanya sama sekali tidak berbeda, dia bukan lain adalah manusia

aneh yang pernah mengobrak abrik dunia persilatan dengan an dalkan sebilah pedang emas

kecil.

Untuk beberapa saat lamanya jantung terasa berdebar keras, ia tak dapat mengutarakan hatinya

merasa terkejut atau takut, murung atau gembira.

Dalam sekejap mata dari dalam barak muncullah Pek Siau-thian, Bu Liang Sinkun, Jin Hian dan

lainnya, melihat hal itu Thong-thian Kaucu buru-buru maju pula kedepan.

Pedang sakti yang menyapu daratan Tionggoan Siang Tang Lay masih tetap duduk diatas kursi,

sepasang tangannya diletakan di atas lutut dan membawa sebuah kotak kecil setengah depa

lebarnya yang memancarkan sinar keemas-emassan ketika itu dengan sorot matanya yang

tajam, ia sedang menyapu empat orang jago yang sedang mendekati dirinya kemudian tegurnya

dengan suara lantang, “Dimanakah Ciu It-bong?”

Thong-thian-kauwca segera tertawa terbahak-babak.

“Haaahh…. haaahbh…. haaahhh…. kepergian Siang sicu telah meninggalkan bencana karena

sebilah pedang emas itu, Ciu It-bong telah berangkat menuju neraka!”

“Hidung kerbau bau, engkau berani menyumpai diriku?” mendadak diri mulut lembah

berkumandang teriakan seseorang.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

117

Diiringi suara ketakutan yang nyaring tahu-tahu ditengah gelanggang telah bertambah dengan

seorang marusia.

Ketika semua orang alihkan sorot matanya, maka tampaklah Ciu It-bong dengan andalkan

sebuah lengan kirinya sambil membawa sebuah tongkat besi sepanjang lima depa sedang

meluncur datang dari tengah udara, walaupun badannya sudah cacad namun semangat orang itu

masih tinggi, hal ini membuat semua orang diam-diam merasa kagum.

Siang Tang Lay segera tersenyum, tanyanya, “Ciu It-bong, senjata e«masku itu apakah masih

berada ditanganmu?”

“Haaahh…. hahhh…. haaahhh…. tentang soal ini tanyakan saja kepada Jin Hian tua bangka

tersebut karena sudah diambil olehnya,” jawab Ciu It-bong sambil tertawa tergelak, dengan alis

berkenyit ia melirik sekejap ke arah pemimpin perkumpulan Hong-im-hwie tersebut.

Siang Tang Lay alihkan pandangnya ke arah Jin Hian dan ia bertanya kembali.

“Apakah pedang emas itu berada ditanganmu?”

Dalam hati Jin Hian segera berpikir, “Tempo dulu kami semua telah memotong kutung seluruh

otot dan sendi penting dari Siang Tang Lay, kalau dilihat dari kursi roda yang digunakan untuk

mengganti kakinya, hal ini jelas menunjukkan bahwa badannya memang telah cacad, dengan

badan yang cacad ia masih punya kemampuan apalagi yang bisa diandalkan?”

Berpikir sampai disitu ia segera mendengus dingin dan menjawab.

“Pedang emas memang berada ditangan aku orang she Jin, engkau mau apa?”

“Bagus sekali” teriak Cui It Bong dengan cepat “Jin loo ji dicuri orang, ternyata engkau sengaja

melepaskan asap untuk membo hongi orang?”

“Heeehhh…. heeehhh…. heehhh…. kalau benar engkau mau apa?” jawab Jin Hian sambil tertawa

dingin.

Haruslah diketahui, lantaran pedang emas tersebut putra tunggal Jin Hian telah dibunuh orang

bahkan hingga saat ini pembunuhnya masih belum ketahuan, karena itulah kendatipun dalam

kenyataan pedang emas tersebut telah dicuri orang tetapi ia mengakui masih berada disakunya

untuk memanaskan hati orang.

Tetapi rahasia tentang Pedang emas adalah rahasia besar yang tak dapat dipecahkan oleh semua

orang dalam persilatan, pedang emas justru merupakan titik perhatian semua orang, pada

dasarnya para jago memang sudah menaruh curiga akan persoalan itu, setelah Jin Hian berkata

demikian maka situasi pun seketika berubah.

Pek Siau-thian dengan sepasang matanya memancarkan cahaya tajam segera berseru, “Jin heng,

kalau memang pedang emas itu masih berada ditanganmu kenapa tidak engkau ambil keluar?

mumpung sahabat Siang masih berada disini, kita bisa minta bantuanny untuk memecahkan teka

teki mengenai pedang emas ini, agar dunia persilatanpun tak usah selalu diliputi pertikaian

karena masalah tersebut!”

“Benar!” teriak Ciu It-bong, “kalau rahasia pedang emas belum terbongkar aku tak alan mati

dangan mata terpejam”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

118

Thong-thian Kaucu tertawa terbahak-bahak.

“Haahh…. haah…. haahh…. Siang Sicu, engkau bersusah payah melakukan perjalanan sejauh

sepuluh laksa li datang kemari, apakah tujuanmu adalah untuk melagukan duel sengit lagi

dengan para orang gagah dari daratan Tioaggoan?” tegurnya.

Siang Tang Lay berpaling dan memandang sekejap meja abu para orang gagah yang telah gugur

dalam pertemuan Pak beng bwee diatas panggung persembahan, lalu menghela napas panjang,

sahutnya, “Dari mulut seseorang, aku pernah mendengar bahwa para orang gagah dari daratan

Tionggoan kebanyakan sudan menemui ajalnya dalam pertemuan besar Pak beng hwee,

kedatanganku ke Timur kali ini sama sekali bukan bermaksud untuk melakukan pertarungan

melawan orang-orang persilatan daratan Tionggoan….!”

“Maksud dari perkataan itu sudah jelas sekali, yakni dalam pandangannya kelima orang jago lihay

yang berada dihadapan mukanya sekarang ini sama sekali tidak terhitung sebagai manusia gagah

dari daratan Tionggoan.”

Mendengar sindiran tersebut, merah jengah selembar wajah Thong-thian Kaucu berlima.

“Haruslah diketahui sewaktu tempo hari, Siang Tang Lay mengacau daratan Tionggoan akhirnya

ia telah menderita kekalahan ditangan tenaga gabungan dari kelima orang ini bahkan kelima

orang tersebut telah menggunakan siasat licin, oleh sebab itulah sesudah mendengar sindiran

yang amat pedas itu mereka semua merasa tersipu dan malu!”

Bu Liang Sinkun dari malu menjadi gusar dengan suara berat ia segera menukas, “Walaupun

semua orang gagah didaratan Tionggoan telah mampus, manusia-manusia bodoh yang masih

hidup masih ada banyak sekali, akulah yang pertama-tama akan minta petunjuk darimu”

Sambil ayun telapaknya dari kejauhan dia lancarkan satu pukulan gencar ke arah depan.

Gulungan angin puyuh menderu-deru menembusi angkasa, begitu hebat serangan yang

dilepaskan membuat orang-orang yang ada dibarak-barak kiri dan kanan merasakan telinganya

mendengung keras.

Kekuatan tenaga pukulan yang dipancarkan Bu Liang Sinkun betul-betul luar biasa sekali,

meskipun semua orang terperanjat namun mereka tidak merasa keheranan sebab dibawah nama

besar tak mungkin ada manusia yang tak becus, semua orang hanya ingin tahu Siang Tang Lay

yang sudah cacad akan menghadapi serangan tersebut dengan cara apa.

Terdengar bentakan keras menggeletar di angkasa, empat orang pemuda berpakaian ringkas

yang berdiri dikedua belah sisi kursi roda tiba-tiba ayunkan tangannya, serentetan cahaya perak

laksana sambaran petir berkelebat ke arah depan, seketika itu juga angin pukulan Bu liang

Sinkun yang maha dahsyat itu terbagi menjadi dua dan menggulung lewat dari kedua belah sisi

kursi roda itu….

Dengan ketajaman mata Bu Liang Sinkun, walaupun cahaya perak hanya berkelebat dalam waktu

singkat, namun ia sempat melihat bahwa ditangan keempat orang pemuda itu masing-masing

membawa sebilah pedang kecl berwarna perak, pedang kecil itu panjangnya lima cun dan tiada

berbeda jauh antara yang satu dengan lainnya, hanya warnanya berbeda dan cahaya yang

memancar keluar nampak aneh sekali.

Keempat orang pemuda berpakaian ringkas itu setelah menahan ancaman yang meluncur tadi

segera turunkan kembali tangannya kebawah, pedang kecil yang berada digenggamannyapun

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

119

seketika lenyap tak berbekas, sikap mereka tenang seolah-olah tak terjadi sesuatu apa pun,

untuk beberapa saat lamanya keadaan iu menegunkan hati beberapa orang gembong iblis

tersebnut.

Thong-thian Kaucu yang bisa membawa diri, setelah tertegun beberapa saat lamanya ia segera

tergelak, serunya, “Kiong hi…. kiong ni….!ilmu silat ampuh yang dimiliki Siang sincu telah

mendapatkan ahli waris, sekarang sahabat-sahabat persilatan dapat membuka matanya

kembali!”

Siang Tang Lay tersenyum dan gelengkan kepalanya, ia berkata, “Dengan andalkan ilmu silat

mereka yang tidak seberapa itu masih selisih jauh kalau ingin adu kekuatan dengan para jago

lihay dan daratan Tionggoan”

Hmm! engkau berani datang kembali ke wilayah Timur sudah tentu tiada sesuatu yang kau

segani bukan? apa yang kau andalkan lagi? ayoh cepat perlihatkan keluar!” seru Bu Liang Sinkun

dengan suara dingin.

Bukannya gusar, Siang Tang Lay malah tertawa, jawabnya, “Aku tidak lebih hanya seorang

manusia cacad yang sudah tak berguna lagi, ambisiku sudah lenyap tak berbekas sejak dahulu

kala, kedatanganku ke wilayah timur kali ini tidak lebih hanyalah hendak menyelesaikan

beberapa macamm persoalan kecil, soal arti nama dan kedudukan sudah tidak masuk dalam

pikiranku lagi”

Mula-mula Bu Liang Sinkun nampak tertegun, kemudian pikirnya lebih lanjut.

“Meskipun beberapa orang bocah cilikmu tidak terlalu menarik perhatian, nampaknya kepandaian

silat mereka cukup tangguh dan sulit dihadapi, sekalipun aku berhasil menang juga tidak gagah,

aku harus baik-baik menjaga diri agar nama besarku yang dipupuk secara susah payah selama

ini tidak hancur berantakan dengan begitu saja”

Karena berpikir demikian, diapun membungkam dan segera meagundurkan diri dari situ.

Terdengar Thong-thian Kaucu berkata lagi, “Siang sicu kalau memang engkau tidak berhasrat

untuk cari nama dan kedudukan dalam dunia persilatan, itu berarti bahwa engkau adalah tamu

terhormat dari perkumpulan kami, entah persoalan apakah yang hendak kau selesaikan? apabila

membutuhkan bantuan, pinto bersedia untuk menyumbangkan tenagaku, Siang Tang Lay

tertawa, sahutnya dengan suara lantang, “Pertama aku hendak membongkar rahasia yang

menyangkut tentang soal pedang emas, daripada kepandaian silat yang maha sakti itu ikut

lenyap kedalam perut bumi bersama aku manusia cacad ini….”

“Mengutamakan kependekaran daripada keuntungan pribadi tindakanmu ini memang patut dipuji

oleh setiap manusia di kolong langit, apakah persoalan kedua yang akan Siang sicu lakukan?”

seru Thong-thian Kaucu dengan suara lantang. “Dalam peti yang kubawa ini tersimpan suatu

benda mustika yang tak ternilai harganya dan merupakan benda langka yang diimpikan oleh

setiap umat persilatan dalam kolong langit, aku hendak mencari seseorang yang berjodoh serta

menghadiahkan benda ini kepadanya”

Makin bicara orang itu semakin aneh membuat orang yang hadir dalam lembah itu merasakan

jantungnya berdebar keras dan wajahnya berubah jadi merah padam, mereka menjadi tak sabar

dan ingin cepat-cepat mengetahui rahasia yang menyulubunni pedang emas itu disamping juga

ingin mengetahui benda apakah yang berada dalam peti itu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

120

Terdengar Jin Hiag menjengek dingin dan berkata, “Sebuah pedang emas sudah cukup termasuk

aneh dan luar biasa, aku tidak percaya kalau di kolong langit masih terdapat benda mustika

lainnya yang jauh lebih aneh dan luar biasa”

Siang Tang Lay tersenyum.

“Kolong langit selebar ini siapa bilang tiada keanehan yang terdapat didalamnya? asal orang ada

rejeki maka ia dapat merasa kannya dengan gembira”

“Siang Tang Lay,” seru Ciu It-bong pula, “kita semua boleh dibilang bersikap kurang begitu baik

terhadap dirimu, kenapa benda mustika yang begitu berharga engkau berikan kepada orang

lain?”

“Dari mana engkau tahu benda mustika itu akan kuhadiahkan kepada siapa….? siapa tahu aku

hendak menghadiahkan kepada seorang sahabat karibku atau keturunannya sebagai tanda

penghargaan atas budi yang pernah diberikan kepadaku dimasa lampau”

Setelah perkataan itu diutarakan keluar, mau tak mau semua orang jadi mempercayainya, dalam

sekejap mata meluruh pandangan mata yang tajam bersama-sama dialihkan ke arah kotak emas

yang berada ditangan orang she Siang itu, seakan-akan hendak mengetahui apa isi kotak yang

sebenarnya….

Thong-thian Kaucu diam-diam berpikir, “Hoa Goan-siu pernah melepaskan budi kepadanya,

dimana selembar jiwanya telah diselamatkan dari kematian, apabila dia memiliki benda mustika

yang tak ternilai harganya, benda itu tentu akan dihadiahkan kepada keluarga Hoa, aaai! sayang

peristiwa ini terjadi didepan umum, tak mungkin aku bisa merampas benda tersebut dengan keke

rasan….”

Jin Hian telah kehilangan nyawa putra tunggalnya lantaran ia menyimpan benda mustika, atas

terjadinya peristiwa tersebut ia merasa amat membenci terhadap pedang emasnya Siang Tang

Lay, sekarang mendengar ada benda mustika yang akan dihadiahkan kepada orang lagi,

timbullah rasa benci dalam hatinya.

Dengan penuh kegusaran ia membentak keras, “Siang Tong Lay, engkau tak usah bermain licik,

andaika masih ada persoalan yang ketiga, ayoh cepat diutarakan keluar kalau tidak perkumpulan

Hong-im-hwie akan segera mengirim engkau untuk pulang keakhirat.

“Tentu saja masih ada masalah yang ketiga,” jawab Siang Tang Lay perlahan-lahan.

“Apakah persoalan itu?” bentak Jin Hian dengan kasar.

Air muka Siang Tang Lay berubah jadi serius, dengan nada ber suagguh-sungguh ia berkata,

“Persoalanku yang ketiga adalah hendak menyambangi arwah-arwah yang telah tiada dalam

pertemuan besar Kian ciau tayhwee ini, disamping itu aku akan berusaha dengan sekuat tenaga

untuk balaskan dendam bagi sababat-sahabat lamaku yang telah meninggal!”

Mendengar sampai disitu, Bu Liang Sinkun segera menengadah kea tas dan tertawa terbahakbahak,

sejenak kemudian dengan wajah menyeringai ia berkata, “Haahh…. haahh…. haahh….

jadi kalau begitu bicara pulang pergi, kedatanganmu adalah mengandung maksud-maksud

tertentu?”

Sorot matanya segera dialihkan keatas wajah Thong-thian Kaucu dan melanjutkan, “Too teng,

apakah upacara dalam pertemuan Kian ciau tayhwee ini telah selesai atau belum? jikalau tiada

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

121

upacara lainnya lagi maka kami semua akan segera menyelesaikan perselisihan tentang urusan

dunia persilatan”

***

MENDENGAR ucapan tersebut, Thong-thian Kaucu jadi amat terperanjat, buru-buru katanya,

“Pinto beran-benar pikun, tengah malam sudah lewat tapi upacara resmi masih belum juga

dimulai….”

Setelah memberi hormat, buru-buru ia balik lagi kedalam barak, setelah mengenakan pakaian

upacara ia segera loncat naik keatas mimbar.

Terdengar suara genta kembali bergema nyaring, suara pembacaan doa berkumandang kembali

memecahkan kesunyian.

Dengan kerdipan mata, Siang Tang Lay memberi tanda kepada keempat orang muridnya,

mereka segera mendorong kursi beroda itu masuk Kedalam tandu lalu berjalan menuju kebarak

yang dihuni para pendekar dari kalangan lurus.

Pek Siau-thian, Bu Liang Sinkun dan Jin Hiang kembali kebaraknya masing-masing, hanya Ciu Itbong

seorang yang loncat keangkasa dan seorang diri duduk diatap barak.

Setelah semua orang mungundurkan diri, segerombolan imam dengan membawa orang-orangan

kertas, kuda-kudaan kertas berjalan masuk ke dalam gelanggang, sambil berputar mengelilingi

arena, mereka membaca doa tiada hentinya.

Tiba-tiba muncul kembali tiga orang imam cilik baju merah, ditangan mereka masing-masing

membawa sebuah Leng pay berwarna putih dan naik keatas panggung persembahan, kemudian

ketiga leng pay berwarna putih tadi di letakkan dibawah meja abu yang sangat be-sar ditengah

panggung tersebut.

Dalam sekejap mata suasana dalam lembah jadi sangat gaduh, suara bisikan bergema jadi

pembicaraan yang ramai, suasana benar-benar amat ramai dan ribut.

Ternyata ketiga buah leng pay warna putih yang terpancang diatas panggung itu yang tengah

bertuliskan,

“Tempat abu dari Hoa Thian-hong kepala kampung muda perkampungan Liok Soat Sanceng”

Yang kiri bertuliskan,

“Tempat abu Jin Bong pimpinan muda perkumpulan Hong-im-hwie”

Sedangkan yang ada disebelah kanan bertuliskan,

“Tempat abu dari Pek Kun-gie ketua muda perkumpulan Sin-kie-pang.”

Siang Tang Lay setelah masuk kedalam barak baru saja sempat ber cakap-cakap beberapa patah

kata dengan Hoa Hujin ketika menyaksikan munculnya tempat abu dari Hoa Thian-hong sekujur

badannya bergetar keras, ia segera menegur, “Hoa Hujin, sebenarnya apa yang telah terjadi?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

122

Hoa Hujin sendiri pun terbelalak matanya dengan mulut melongo, bagaikan disambar petir

disiang hari bolong ia berdiri mendelong, beberapa saat kemudian ia mendusin dari lamunannya

dan menggerakkan bibir seperti sedang mengucapkan sesuatu.

Tiba-tiba tampaklah bayangan manusia berkelebat lewat, Tio Sam-koh, Hoa In, Biau-nia Samsian

dan tiga harimau dari keluarga Tiong bersama-sama loncat keluar dari dalam barak

Menyaksikan kejadian itu, Hoa Hujin merasa amat terperanjat, dengan cepat tangannya bekerja

menyambar lengan Tio Sam-koh, hardiknya dengan suara keras, “Semuanya berhenti!”

Semua orang merasa terkesiap dan segera menghentikan langkah kakinya dan berdiri tertegun.

Sepasang mata Tio Sam-koh berubah jadi merah membara, sambil mengetukkan toyanya diatas

tanah, teriaknya dengan suara lantang, “Pek Siua Thian! apakah Hoa Thian-hong mati karena

kau bunuh?”

“Kecuali aku yang lakukan, siapa lagi yang mampu membinasakan dirinya….?” jawab Pek Siauthian

dengan suara dingin.

“Bluuk….!” tiba-tiba Chin Wan-hong yang duduk dikursi roboh keatas tanah dan jatuh tak

sadarkan diri.

Hoa Hujin merasakan hatinya amat sakit bagaikan diiris dengan pisau, tetapi ia masih tetap

menaban diri, sepatah demi sepatah katanya dengan suara tegas, “Manusia yang mana tidak

dikandung selama sembilan bulan sepuluh hari sebelum dilahirkan? manusia semuanya dipelihara

oleh ayah dan ibu, Seng ji tak akan mati dengan siasia, tetapi untuk membalas dendam kita

harus menilai dahulu kekuatan kita masing-masing.”

Tio Sam-koh berusaha meronta dengan sekuat tenaga tetapi ia tak behasil melepaskan diri dari

cekalan lawan akhirnya dengan suara gamas serunya, “Engkau mau menilai, nilailah tenagamu

sendiri dan aku akan melakukan pekerjaan sendiri, masing-masing melakukan tugasnya sendiri

dan tidak saling bersangkutan”

“Hmmm! Hoa Goan-siu adalah ayah dan Hoa Thian-hong adalan putra, sebelum dendam sakit

angkatan sebelumnya dibalas, dendam angkatan yang lebih muda tak dapat dilakukan lebih

dahulu!” seru Hoa Hujin dengan suara tegas.

“Tio lo thay!” Ciu Thian-hau dari gunung Huang-san segera menimbrung dengan suara serak,

“seribu hutang piutang jadi satu per hitungan, belasan tahunpun kita dapat menunggu mengapa

untuk sesaat saja engkau tak mampu?”

Dari atas panggung persembahan tiba-tiba berkumandang suara seruan seseorang dengan suara

lantang.

“Thong-thian Kaucu telah resmikan pembukaan upacara pertemuan Kian ciau tayhwee, para

enghiong dan orang gagah yang akan menghormati arwah-arwah dari perkampungan Liok Soat

Sanceng dipersilahkan maju kedepan….”

Buru-buru Hoa Hujin menentramkan hatinya dan maju kedepan lebih dahulu, semua orang yang

menyaksikan kejadian itu segera menyusul dari belakang dan bersama-sama menuju kebawah

panggung persembahan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

123

Terdengar panitia yang ada diatas panggung kembali berseru lantang, “Persembahan untuk Hoa

Goan-siu lo cung cu dari perkampungan Liok Soat Sanceng”

Hoa Hujin menahan air mata yang hampir meleleh keluar dan buru-buru jatuhkan diri berlutut

didepan meja abu, Chin Wan-hong yang baru saja mendusin dari pingsannya dibawah bimbingan

Tiong Lo poo cu ikut maju kedepan panggung.

Gadis itu sudah menganggap dirinya sebagai menantu keluarga Hoa, dalam sedihnya diapun tak

kenal arti malu lagi, melihat Hoa Hujin berlutut keatas tanah diapun ikut berlutut memberi

hormat, Hoa In sebagai pelayan keluarga Hoa, segera mengikuti majikannya belutut pula keatas

tanah.

Selesai menjalankan penghormatan, ketiga orang itu menyingkir kesamping, para jagopun maju

memberi hormat sedang ketiga orang tadi berlutut membalas hormat.

Ditengah dentingan alat tetabuhan, panitia kembaii berseru lantang, “Persembahan untuk Oh

Thian Siau ketua angkatan ketujuh perguruan keluarga Wi dari kota Wanciu….”

“Persembahan untuk In beng sam hiap Giu Huan Tiat Sio dan Ko Sau Po….”

“Persembahan untuk Dewa geledek Chin Goan Tay….”

Pek lek sian dewa geledak adalah guru dari Bong Pay, sebagai seorang lelaki berjiwa polos ketika

mendengar nama guruaya disebut ia tak dapat menahan kesedihan hatinya lagi dan meledaklah

isak tangis yang ramai.

Jilid 7

SETELAH pria itu menangis, maka Chin Wan-hong, Biau-nia Sam-sian, tiga harimau dari keluarga

Tiong yang teringat akan kematian Hoa Thian-hong sama-sama tak dapat menahan diri dan ikut

menangis pula.

Dewa yang suka pelancongan Cu Tong adalah salah seorang diantara sepasang dewa bersamasama

dengan Dewa geledek, sedang Suma Tiang-cing adalah saudara angkat diri Hoa Goan-siu,

walaupun sanak namun mereka adalah sahabat karib, semua orang segera diliputi oleh

kesedihan membuat suasana penuh diliputi kedukaan.

Dengan susah payah, akhirnya terdengar panitia berseru kembali, “Dipersilahkan para orang

gagah yang tergabung dalam kelompok perkampungan Liok Soat Sanceng mengundurkan diri….”

Semua orang dengan menahan sedih dan air mata, mengundurkan diri kembali kedalam barak,

panitia segera mempersilahkan orang-orang dari perkumpulan Sin-kie-pang maju memberi

hormat.

Dengan dipimpin oleh Pek Siau-thian, ratusan orang anggota perkumpulan Sin-kie-pang samasama

maju kedepan untut memberi hormat kepada arwah-arwah anggota perkumpulan Sin-kiepang

yang gugur dalam pertemuan besar Pek beng hwee.

Haruslah diketahui, upacara penghormatan untuk arwah yang telah tiada merupakan adat yang

dipegang teguh setiap orang pada masa itu, arwah yang telah tiada dianggap sebagai orang

besar. Karena itu meskipun Pek Siau-thian adaloh seorang ketua perkumpulan namun sikapnya

selama upacara selalu serius dan bersungguh-sungguh, hal ini dimaksudkan asar menarik simpati

dari anak buahnya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

124

Setelah perkumpulan mereka, maka giliran Hong-im-hwie maju memberi hormat.

Baru Saja pihak Perkumpulan Hong-im-hwie selesai melakukan penghormatan, tiba-tiba dari luar

lembah Cu-bu-kok secara lapat-lapat dengaran tangisan setan.

Setelah itu, tampaklah para jago perkumpulan Sin-kie-pang, Hong-im-hwie serta Thong-thiankauw

yang bertugas diluar lembah sama-sama lari terbirit-birit masuk kedalam lembah, dua

orang imam dari Thong-thian-kauw dengann wajah pucat pias lari menuju kehadapan Thian

Sengji, tangannya menuding keluar lembah dengan gemetar, beberapa saat kemudian mereka

baru mampu bersuara.

“Lapor Tamcu, setan-setan penasaran yang telah mati dengan darah mengalir dari ketujuh

lobang inderanya itu, te…. telah…. telah hidup kembali!”

Mendengar laporan itu, Thian Sengcu merasa terkejut bercampur gusar, bentaknya, “Omong

kosong!, dengan mata kepalaku sendiri telah kuperiksa bahwa mereka telah mampus semua,

mana mungkin bisa hidup kembali?”

“Makhluk-makhluk aneh itu telah dibuang kedalam sebuah jurang di bukit sebelah kiri dan

dikubur dalam satu liang, tapi…. tapi….”

“Tapi kenapa?” bentak Thian Sengcu dengan gusar.

“Mereka semua telah hidup kembali, sambil ribut dan menangis mereka menuju kemari dan

agaknya segera akan tiba disini, aduh mak! itu mereka telah datang!”

Ditengah pembicaraan, suara isak tangis dan jeritan setan telah bergema memenuhi seluruh

lembah, makhluk setan berwajah seram dan berambut awut-awutan itu sambil berdesak-desakan

muncul kembali didalam lembah.

Setan-setan itu pada dasarnya berwajah menyeramkan, ditambah darah mengalir keluar dari

tujuh lubang inderanya membuat wajah makhluk-makhluk itu nampak lebih seram.

Dalam waktu singkat, makhluk setan yang memakai belenggu kehilangan kaki tangan atau

lidahnya menjulur keluar itu sudah ber kumpul semua dibawah panggung persembahan, mereka

semua pada menjerit dan menangis hingga suasana jadi amat ribut.

Ci-wi Siancu jadi ketakutan setengah mati, dengan badan gemetar dan gigi saling beradu ia

mendekati Hoa Hujin dan berbisik lirih, “Hujin, suhu telah menghadiahkan sedikit kabut sembilan

bisa ke padaku dengan pesan agar racun itu jangan digunakan sembarangan, bagaimana kalau

sekarang kulepaskan racun itu agar makhluk-makhluk setan itu….”

Agaknya takut ia kalau perkataannya kedengaran oleh makhluk setan tersebut, perkataannya

makin lama semakin lirih, Hoa Hujin termenung sebentar, kemudian menjawab, “Engkau tak

usah terburu nafsu lebih dahulu, selama mereka tidak mengganggu kita lebih baik kitapun tak

usah mengganggu mereka”

Sementara pembicaraan masih berlangsung, Thong-thian Kaucu serta Thian Seng cu dengan

memimpin sekelompok anak muridnya telah mengepung rapat-rapat ketujuh puluh dua orang

makhluk setan itu, tetapi makhluk-makhluk aneh itu masih tetap menjerit dan menangis,

terhadap pengepungan tersebut mereka sama sekali tidak ambil perduli.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

125

Dengan muka penuh kegusaran Thian Seng cu segera menghardik, “Pertemuan besar Kian cian

tayhwee diadakan untuk mengenang arwah-arwah orang gagah yang semasa dalam dunia

merupakan orang kenamaan, perduli kalian semua adalah setan atau manusia, ayoh cepat

mengirim seorang pemimpin untuk berbicara, apabila kalian mengharapkan sesuatu maka

perkumpulan Thong-thian-kauw kami pasti akan berusaha memenuhinya….”

Baru saja ucapan terebut diutarakan keluar, dari luar lembah Cu bo kok tiba-tiba berkumandang

datang suara jeritan lengking yang amat menusuk pendengaran, diikuti suara gembrengan dan

tambur bergema tiada hentinya.

Beberapa saat kemudian pekikkan lengking dan suara tetabuhan gembrengan dan tambur itu

sudah tiba dimilut selat, tujuh puluh dua orang makhluk setan yang sedang menangis dan

menjerit itu segera membungkam dalam seribu bahasa, semua berdiri kaku ditempat semula

tanpa berkutik barang sedikitpun juga.

Bayangan hitam berkelebat memasuki lembah tersebut, sekelompok setan dan makhluk aneh

dibawah iringan suara gembrengan dan tambur memosuki gelanggang dengan teratur.

Barisan tersebut adalah suatu barisan aneh yang tidak pernah nampak di kolong langit, berjalan

dipaling depan adalah dua orang prajurit setan berbaju hitam yang membawa sebuah

gembrengan sebesar lima depa, seorang setan berbaju merah dengan membawa sebuah alat

pemukul gembrengan tersebut mengikuti irama langkah kaki.

Dibelakang gembrengan berjalanlah empat orang prajurit setan pembuka jalan yang memakai

baju warna-warni, berwajah pucat pias, menyoren senjata garpu pada pundaknya dan

menunggang kuda jempolan yang tinggi besar.

Yang paling mengerikan, ternyata keempat ekor kuda itu sama sekali tidak menimbulkan sedikit

suarapun ketika berjalan, seakan-akan kuda itu adalah sukma-sukma Kuda yang tidak bernyawa

lagi.

Dibelakang prajatit pembuka jalan adalah tiga puluh enam sosok arwah penasaran, diantaranya

terdapat setan gantung, setan mati tenggelam, setan mati terbakar serta setan lainnya.

Ada setan yang mati secara mengerikan terlindas roda kereta, tubunnya penuh berlumuran darah

dan isi perutnya bergelantungan diluar, ada pula setan yang mati karena dipenggal, batok

kepalanya dipegang ditangan.

Yang lebih seram lagi adalah setan perempuan yang membopong bayi berusia satu dua tahunan,

separuh bagian batok kepala bayi itu sudah hancur tidak karuan, otaknya pada mengalir keluar,

namun matanya ma sih berputar tiada hentinya membuat orang yang menyaksikan kejadian itu

merasa ngeri dan bulu kuduknya pada bangun berdiri.

Dibelakarg ketiga puluh enam sosok setan itu adalah lima orang setan pria yang sudah lanjut

usia, didepannya berjalan seso-sok setan yang tinggi dan kurus, rambut dan janggutnya awutawutan

tidak karuan, matanya melotot keluar, sepasang lengannya mengenakan borgol sedang

tengkuknya membawa rantai, rupanya setan tersebut adalah setan penasaran yang mati dalam

penjara.

Dibelakang kelima sosok setan tua itu, mengikuti sekawanan prajurit setan yang menggotong

delapan buah tandu berwarna hitam, empat buah tandu yang ada didepan duduklah empat setan

pria yang kekar, sedangkan empat tandu yang ada dibelakang tertutup rapat, mungkin isinya

adalah setan perempuan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

126

Dibelakarg kedelapan bush tandu tadi, mengikuti sebuah tandu besar yang megah, indah dan

berukirkan burung hong dan naga, tandu tersebut digotong oleh delapan sosok prajurit setan,

seorang bocah perempuan berusia sebelas dua belas tahunan dengan baju warna merah dan

rambut dikepang mengikuti disisi tandu tersebut.

Sembilan buah tandu itu berjalan menuju kebawah mimbar, empat pria setan yang duduk

ditandu loncat lebih dahulu diikuti dengan horden pada empat tandu lainnya terbuka dan

perlahan-lahan melayang turun empat setan perempuan, hanya tandu indah yang nampak

megah dan besar itu saja tiaak menunjukkan suatu gerakan apapun.

Jumlah rombongan setan itu seluruhnya melampaui seratus orang lebih, barisan sebesar ini

benar-benar luar biasa, para jago dari Sin-kie-pang, Hong lm Hwee, Thong-thian-kauw dan

pendekar dari golongan lurus tak berani memandang enteng lagi, untuk beb rapa saat lamanya

suasana jadi hening dan diliputi keseriusan.

Thong-thian Kaucu yang berada diatas mimbar dan menunggu beberapa saat lamanya, namun

dari balik tandu besar yang megah itu sama sekali tidak ada gerak-gerik apapun, hal ini

menggusarkan hatinya, imam tua tersebut segera membentak.

“Pinto Thian Ik-cu mohon tanya, diantara rombongan para malaikat ini apakah ada seorang wakil

untuk berbicara?”

Dari balik tandu yang terakhir melayang keluar sesosok setan perempuan, sambil maju kedepan

jawabnya, “Aku adalah Tiam cu dari istana neraka terimalah hormat dari kami….!”

Tiam cu dari istana neraka ini mengenakan jubah hitam yang lebar, rambutnya terurai sepanjang

pinggang dengan sebuah bunga kertas sebesar mangkuk menghiasi kepalanya, diatas dada

terukirlah sebuah uang kertas yang memancarkan cahaya keperak-perakan, mukanya pucat dan

gerak-geriknya enteng sekali, nada suara ketus dan adem membawa hawa setan yang sangat

tebal.

Dengan pandangan yang tajam, Thong-thian Kaucu mengamati Tiam cu dari istana neraka itu

beberapa saat lamanya, kemudian dengan alis mata berkenyit, pikirnya, “Ooooh…. aku benarbenar

sudah bertemu dengan setan hidup!”

Imam tua itu segera mendongak dan tertawa terbahak-bahak.

“Haaah…. haaah…. haaah…. rupanya Tiam cu yang telah tiba, maafkanlah kalau pinto tidak

melakukan penyambutan”

“Tidak berani” jawab Tiam cu istana neraka, “bila kedatangan kami terlalu gegabah harap

engkau juga bersedia memaafkan”

Thong-thian Kaucu tersenyum, ia segera menuding ke arah makhluk- makhluk setan yang

berada disekitarnya kemudian bertanya, “Setan-setan penasaran itu apakah merupakan anak

buah Tiam cu semua….?”

Tiam cu istana neraka adalah seorang gadis yang berparas cantik dan berpotongan badan

menawan, usianya baru dua puluh tahunan, andaikata dia adalah seorang manusia maka

sepantasnya kalau merupakan seorang gadis yang sangat menawan hati, sayang mukanya pucat,

ucapannya kaku dan dingin serta dari tubuhnya memancarkan hawa setan yang tebal, membuat

siapapun yang memandang merasakan hatinya bergidik.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

127

Thong-thian Kaucu memandang sekejap ke arah tandu besar yang indah dan megah itu,

kemudian bertanya lagi, “Tandu tersebut berukirkan naga dan burung hong, bentuknya megah

din indah, entah Tiam cu manakah yang berada dalam tandu tersebut?”

“Tandu itu berisikan kaucu kami!”

Semua pertanyaan yang diajukan segera dijawab, tapi jawabanya selalu singkat dan sederhana,

seakan-akan perempuan itu segan untuk banyak berbicara.

Mendengar perkataan itu Thong-thian Kaucu segera tertawa terbahak-bahak, serunya,

“Haahh…. haahh…. hahhh…. sungguh tak kusangka kecuali kaucu dari sekte agama Thong-thiankauw

masih ada kaucu lainnya lagi, kalian Tong kaucu kalian berasal dari perkumpulan mana?

dan siapa pula sebutan dari kaucu kalian itu?”

“Maaf, tak dapat diberitahukan!”

Tong Thian Kaacu mengerutkan dahinya.

“Mengapa kaucu kalian tidak turun dari tandu? apakah harus menunggu sampai aku turun

tangan sendiri untuk membukakan tandu baginya?” ia menegur.

Diatas wajah Tiam cu istana mereka yang dingin dan pucat, tiba-tiba melintas nafsu membunuh

yang tebal, engkau harus membukakan tandu dan mempersilahkan kaucu kKami untuk turun dari

tandu!”

Thong-thian Kaucu merasa amat gusar sekali, sambil berpaling bentaknya

“Pek Lian, maju dan bukalah tabir tandu tersebut!”

Seorang imam cilik berbaju merah mengiakan dan maju kedepan dengan langkah lebar.

Cing lian, Pek lian adalah dua orang murid kesayangan Thian Ik-cu, ilmu silat yang dimiliki kedua

orang ini jauh melampaui kakak seperguruan lainnya, bukan saja kelicinan bahkan akalpun

banyak sekali dan melebihi siapapun.

Sementara itu, Pek Lian dengan langkah lebar berjalan melewati kawanan makhluk setan itu dan

mendekati tandu besar, meskipun wajahnya saram sekali tidak menampilkan perasaan takut,

akan tetapi secara diam-diam ia telah melakukan siap siaga dan sedikit pun tidak berani

bertindak secara gegabah.

Tong Taian Kaucu pun berjaga-jaga bila pihak lawan melakukan penyergapansecara tiba-tiba,

sepasang matanya yang tajam mengawasi gerak-gerik Pek Lian tanpa berkedip.

Tampak Pek Lian berjalan menuju kedepan tandu besar itu kemudian menyingkap tabir yang

menutupi tandu tersebut, siapa tahu sorot matanya menemui tandu yang kosong melompong,

tidak ada manusia disitu pun tak ada bayangan barang sedikit pun jua.

Menyaksikan akan hal itu, Pek lian nampak tertegun, pada saat itukah seorang setan pria yang

memakai kopiah kebesaran, berbaju orang pangkat dan bermuka warna hijau memetangkan

mulutnya melakukan penyerbuan, segulung hawa dingin langsung meluncur ke arah tenggorokan

Pek lian.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

128

Sementara itu Pek lian sedang putar badan siap berlalu dari sana, ketika merasakan segulung

hawa dingin secara tiba-tiba menyerang tengkuknya kemudian mengikuti bagian belakang

menyerang tulang punggungnya, ia jadi amat terperanjat hingga tanpa terasa sekujur badannya

gemetar keras.

Thong-thian Kaucu yang menyaksikan kejadian itu merasa terkejut bercampur gusar,

sebenarnya ia hendak menghardik tetapi ingatan lain segera berkelebat dalam benaknya, ia

merasa pihak lawan sama sekali tidak turun tangan kecuali meniup belaka, dalam anggapannya

tiupan tersebut tidak mungkin akan melukai muridnya, apalagi kalau per soalan itu dibongkar

malah tidak menguntungkan pihaknya, maka sambil menahan diri ia pura-pura tidak tahu.

Pek lian segera putar badan dan melotot sekejap ke arah setan berpakaian pembesar itu dengan

penuh kegusaran, kemudian dengan langkah lebar ia berjalan balik ke arah mimbar.

Siapa tahu baru saja badannya maju selangkah, tubuhnya terasa makin dingin dan kian lama

kian bertambah kaku, belum mencapai sepuluh langkah rasa dingin telah merasuk ketulang

sumsumnya membuat giginya saling beradu dan badan menjadi kaku.

Pek lian tahu bahwa gelagat tidak menguntungkan pihaknya, buru-buru ia tarik napas dan

bermaksud untuk mengatur perasaan, siapa lahu keadaan sudah terlambat, sebelum hawa murni

sempat disalurkan, sekujur badannya sudah gemetar keras kemudian roboh terjengkang keatas

tanah.

Thong-thian Kaucu yang menyaksikan kejadian itu merasa amat terperanjat, segera bentaknya,

“Thian seng….”

Sebelum mendapat perintah, Thian Sengcu laksana kilat telah malompat kedepan dan memayang

tubuh Pek lian yang sedang roboh ketanah, ia rasakan tangan dan tubuh bocah itu sudah

berubah jadi dingin bagaikan es, hawa dingin yang sangat aneh serasa menyusupi setiap tubuh

imam cilik tersebut, dalam bingung dan tidak habis mengertinya buru-buru ia loncat kembali

kesisi tubuh Thian Ik-cu.

Thong-thian Kaucu segera mengamati pula imam cilik itu sekejap, ia lihat sepasang mata Pek

Lian terpejam rapat-rapat, giginya menga tup kencang sementara bibirnya telah berubah jadi

biru, mukanya pucat ke hijau-hijauan dan keadaan tersebut tidak jauh berbeda dengan orang

yang mati karena kedinginan.

Maka nadi dan jantung Pek lian diperiksa dengan seksama, ia temukan bahwa denyutan nadi

imam cilik itu sudah tiada dan jan tungnya telah berhenti berdetak, hal itu menunjukkan bahwa

jiwanya sudah melayang dan tak tertolong lagi.

Peristiwa ini benar-benar suatu kejadian yang sangat mengerikan, sebuah tiupan mampu

membinasakan jiwa manusia andaikata tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, siapapun

tak akan percaya atas kejadian tersebut, tapi sekarang kenyataan sudah ada di depan mata

membuat semua orang mau tak mau terpaksa harus mempercayai.

Thong-thian Kaucu merasa amat gusar sekali hingga seluruh wajahnya berubah jadi hijau

membesi sambil ulapkan tangannya ia berseru, “Hantar dia kepada tiga orang susiok untuk

diteliti, coba diperiksa dimanakah letak mulut lukanya?”

Mendengar perkataan itu, Thian Seng cu segera membopong mayat Pek Lian dan balik kedalam

barak.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

129

Dengan sorot mata yang tajam bagaikan sambaran kilat sekali lagi, Thong-thian Kaucu menyapu

sekejap kawanan manusia aneh dan makhluk- makhluk setan itu kemudian prkirnya, “Diatas

langit masib ada langit, diatas manusia masih ada manusia nampaknya kemunculan kelompok

baru ini bukan suatu kelompok yang biasa….”

Berpikir demikian, ia berusaha keras untuk menekan hawa amarah yang bergolak dalam dadanya

sambil memandang setan berdandan pembesar itu, tegurnya, “Dan engkau…. Tiam cu apa lagi?”

“Aku adalah Tiam cu ruang penyiksaan” jawab setan berdandan pembesar itu dengan suara

menyeramkan, bilamana kaucu ingin memberi petunjuk dengan senang hati akan kulayani

keinginanmu itu.

Thong-thian Kaucu mendengus dingin, ia berpaling dan memandang sekejap ke arah Tiam cu

istana neraka, lalu tegurnya, “Kenapa kaucu kalian belum juga datang kemari?”

“Kaucu kami sudah lama sekali hadir di tempat ini, setiap orang yang punya mata dapat melihat

dengan amat jelas”

Tang Thian Kaucu menjadi terkejut, sorot matanya segera berputar menyapu sekeliling tempat

itu.

Pada waktu itu, bukan saja Thong-thian Kaucu merasa terperanjat, bahkan semua orang yang

ada didalam gelanggangpun sama-sama merasa terkejut dan curiga, untuk beberapa saat

lamanya sorot mata semua orang berputar kian kemari untuk mencari jejak pemimpin kelompok

setan tersebut.

Tiba-tiba…. sorot mata Thong-thian Kaucu berhenti pada tandu kecil yang ditumpangi Siang

Tang Lay, satu ingatan segera berkelebat dalam benaknya membuat ia seperti menyadari akan

sesuatu, tak tahan lagi imam tua itu tertawa terbahak-bahak.

“Haaah…. haahh…. haaah…. Siang Tang Lay, rupanya kesemuanya ini adalah hasil permainan

setanmu. Haahh…. haah…. haahh…. sudah sepantasnya sedari permulaan tadi pinto harus dapat

berpikir sampai kesitu, badanmu cacad dan gerak-gerikmu tidak leluasa mana engkau berani

andalkan kekuatan empat orang muridmu untuk berkunjung kedaratan Tionggoan guna

mulakukan pembalasan dendam….”

Tetapi dengan cepat Siang Tang Lay gelengkan kepalanya berulang kali, sembari tertawa

nyaring, jawabnya, “Dugaan Kaucu keliru besar, dengan kemampuan yang kumiliki rasanya

masih belum mampu menciptakan hasil karya sebesar itu haaa…. haaah…. haaaah.”

Tertegun hati Thong-thian Kaucu , kembali ia berpikir, “Kalau ditinjau dari gerak-gerik kedelapan

orang makhluk aneh bertandu itu jelas mereka semua adalah jago-jago lihay yang berke

pandaian amat tinggi, kecuali kakek tua ini siapa lagi yang bisa mendidik mereka jadi demikian

lihay?”

Hoa Hujin serdiripun dibuat kebingungan dan tidak habis mengerti, dengan ilmu me-nyampaikan

suara ia lantas berbisik, “Siang heng.! sebenarnya manusia-manusia itu berasal dari mana?”

“Apakah engkau tahu?”

Siang Tang Lay mengerutkan dahinya, dengan ilmu menyampaikan suara pula dia menjawab,

“Sepanjang perjalananku menuju ketimur kali ini meskipun membawa pula sedikit anak buah,

tetapi aku tidak mengetahui tentang asal usul dan kelompok manusia-manusia aneh tersebut”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar