Senin, 05 Oktober 2009

3 maha 7

“KALAU begitu padri tersebut mirip siapa?” tanya Tio Sam-koh, “masa dari atas langit tiba-tiba

terjatuh seorang padri macam begitu?”

Haputule jadi amat gelisah, paras mukanya berubah jadi merah padam bagaikan kepiting rebus,

sahutnya, “Darimana aku bisa tahu? tapi yang jelas hweesio itu adalah penduduk Tionggoan jelas

ia bukan orang yang datang dari wilayah See ih!”

“Diantara persoalan ini terdapat beberapa hal yang amat mencurigakan hati” kala Hoa Hujin,

“pertama dimanakah letak maksud dan tujuan hwessio itu menculik pergi gurumu?”

“Tentu saja dikarenakan urusan Malaikat pedang Gi Ko” sahut Hapatule dengan cepat, setiap

umat manusia di kolong langit ingin mengetahui rahasia mengenai pedang emas itu dan dimana

kitab pusaka Kiam keng disimpan dan diantara berapa juta manusia di kolong langit hanya

guruku seorang yang tahu.

Engkau memang amat cerdik, menurut ceritamu tadi hweesio itu berlalu dengan tergesa-gesa

dan rupanya tak berani diam terlalu lama dalam rumah penginapan itu, aku rasa dibalik kejadian

ini pasti ada sebab-sebab tertentu.

Haputule garuk-garuk kepalanya dengan kebingungan.

“Tentang soal ini aku sih belum sampai memikirkan” katanya, “lalu menurut pendapat hujin apa

sebabnya hweesio itu begitu gugup dan tergesa-gesa?”

Hoa Hujin termenung sebentar, lalu menjawab, “Mungkin ia takut bertemu dengan orang lain,

mungkin juga ada seseorang sedang mengejar di belakang tubuhnya, tapi semua itu cuma

menurut dugaanku belaka bagaimana kenyataan yang sesungguhnya sukar untuk di ketahui.”

“Saudaraku, kini dua orang suhengmu itu berada dimana?” tanya Hoa Thian-hong

“Mereka masih menginap dirumah penginapan kota Lok yang!”

“Bagaimana dengan keadaan lukanya? apakah jiwa mereka terancam bahaya?”

Haputule gelengkan kepalanya.

“Luka yang mereka derita sih tak terlalu parah, toa suheng dihajar oleh hweesio itu dengan ilmu

lutut saktinya hingga tulang ke tiaknya terluka, sedangkan ji suheng kena disikut oleh ilmu

sikutan raja lalim yang mengakibatkan isi perutnya terluka”

Hoa Hujin segera mengerutkan dahinya.

Jurus-jurus serangan yang sangat sederhana, hweosio itu dapat menggunakan jurus serangan

yang sederhana untuk melukai Toohan dan Temotay, dari sini bisa diketahui bahwa ilmu silat

yang dimilikinya pasti sudah mencapai tingkat yang tak terhingga tingginya, para jago-jago

seperti Pek Siau-thian dan malaikat kedua Sim Ciu pun belum tentu bisa menggunakan jurus

seperti itu hingga ketingkat yang demikian sempurnanya.

Toohan adalah murid tertua dari Siang Tang Lay, sedangkan Temotay adalah murid kedua, ilmu

silat yang mereka miliki pernah disaksikan kelihayannye oleh semua orang apalagi setelah

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

271

mendengar keterangan dari Hoa Hujin, rata-rata mereka merasa bahwa ucapan tersebut sangat

masuk diakal, untuk beberapa saat suasana jadi hening dan semua orang membungkam dalam

seribu bahasa.

Ditengah matanya yang terbelalak lebar, air mata jatuh bercucuran membasahi pipi Haputule,

sambil memandang ke arah Hoa Thian-hong serunya setengah memohon, “Hoa toako, hanya

engkau seorang yang dapat menolong suhuku…. selamatkan jiwanya….”

Hoa Thian-hong menepuk sepasang bahunya dengan lembut, kemudian berkata, “Saudaraku,

engkau tak usah gelisah atau pun cemas, bagaimanapun juga kami pasti akan berusaha untuk

selamatkan Siang Tang Lay looianpwee dari ancaman mara bahaya”

“Berbicara sampai disitu, sorot matanya tanpa terasa dialihkan keatas wajah ibunya.

Hoa Hujin termenung beberapa saat lamanya, lalu kapadi putranya ia berkata, “Siang

loocianpwee adalah kawan senasib sependeritaan dengan kita semua, apalagi budi kebaikan

yang pernah diberikan kepada mu luar biasa besarnya, bagaimanapun juga persoalan ini harus

diurus sampai beres tapi hweesio itu tidak diketahui nama maupun asal usulnya, tanpa tandatanda

yang bisa memberi petunjuk kepada kita, rasanya untuk mencari orang diantara lautan

manusia bukanlah suatu pekerjaan yang gampang….

“Bagaimanapun juga kita harus cari sampai ketemu!” sela Haputule dari samping, keempat

anggota badan suhu telah cacad, sedang ilmu pekikan maut Hua hiat hou adalah ilmu silat dari

partai Seng sut pay setelah berjanji untuk dipinjam pakai satu kali saja pastilah suhu tak akan

mengingkari janji sendiri, lagipula menggunakan ilmu kepan daian tersebut sangat merusak

kesehatan badan.

Hoa Hujin tertawa ramah, kepada Hoa Thian-hong serunya, “Segera berangkatlah menuju kota

Lok yang, coba lihat bagaimana keadaan luka yang diderita Toohan serta Temotay, apabila ada

petunjuk jalan yang menerangkan identitas hweesio asing itu, bertindaklah menurut kemauanmu

sendiri, pokoknya yang penting engkau harus cari jejak hweesio itu dan berusaha untuk

selamatkan jiwa Siang locianpwee dari mara bahaya….!”

Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan, “Dalam mengatasi persoalan yang sama sekali tak ada

tanda ataupun petunjuk ini, engkau harus bertindak dengan andalkan ke cerdasan otak serta

semangat bekerjamu yang besar, tapi engkau harus ingat menolong orang harus menolong

sampai pada akhirnya, setelah berhasil engkau tak boleh lepaskan utusan itu ditengah jalan,

sekali pun delapan tahun lamanya engkau harus menolong sampai berhasil”

“Bagaimana dengan ibu?”

“Kami akan langsung pulang keperkampungan Liok Soat Sanceng, sewaktu lewat dikota Lok yang

nanti jika dapat bertemu kita bertemu, kalau tidak maka aku akan lanjutkan perjalanan menuju

keutara, setelah berhasil menolong Siang locian pwee, engkau harus menghantarnya sampai ke

wilayah See ih, jika semua urusan sudah selesai baru engkau pulang kerumah! mengerti?”

Mendengar perintah itu, dalam hati kecilnya Hoa Thian-hong segera berpikir, “Waah….! kalau

begitu, waktu yang kubutuhkan untuk menyelesaikan persoalan ini panjang sekali….”

Pemuda itu adalah seorang anak yang sangat berbakti kepada orang tuanya, ia merasakan tak

tega hati karena ilmu silat yang dimiliki ibunya telah musnah dan tubuhnya lemah kembali, selain

itu diapun belum lama menikah, cinta kasih antara suami istri masih amat tebal melekat dalam

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

272

hatinya, untuk berpisah dalam jangka waktu yang cukup lama tentu saja amat memberatkan

hatinya.

Dari perubahan paras mukanya yang berat hati, Hoa Hujin dapat segera menebak suara hatinya,

dengan alis mata berkernyit ia segera menegur tajam

“Tugas berat ini tak dapat ditawar lagi, engkau tak boleh sangsi atau ragu-ragu untuk

menerimanya!”

Hoa Thian-hong merasa amat terperanjat, dengan cepat ia jatuhkan diri berlutut di atas tanah

sambil serunya, “Ibu, semoga engkau bisa baik-baik jaga diri”

“Aku sudah tahu!” sahut Hoa Hujin sambil ulapkan tangannya.

Kepada Tio Sam-koh si anak muda itupan jatuhkan diri berlutut, baru saja dia akan buka suara

untuk mohon bantuannya agar merawat ibunya, tiba-tiba Tio Sam-koh ulapkan tangannya sambil

berseru, “Ayoh enyah dari sini! semangat seorang pria berada ditempat samudra, apakah engkau

hendak menjaga bini mu sepanjang masa?”

Merah padam selembar wajah Hoa Thian-hong, ia segera bangkit berdiri dari atas tanah.

Buru-buru Chin Wan-hong membungkuskan beberapa setel pakaian dan diangsurkan ke depan.

Hoa Hujin dapat memaklumi kalau putranya belum lama menikah, iapun dapat menyadari kalau

pada saat itu rasa cinta di antara mereka berdua sedang berkobar mencapai puncaknya, maka ia

perintahkan Chin Wan-hong untuk menghantar Hoa Thian-hong dan Haputule sampai diluar

pintu.

Sementara Haputule sedang menerangkan tempat tinggalnya dikota Lok yang, Chin Wan-hong

lari kedapur dan buru-buru menyiapkan sebuah bungkusan besar.

Ketika tiba didepan pintu ia serahkan bungkusan tersebut kepada suaminya.

Hoa Thian-hong terima bungkusan tersebut sambil berpesan.

“Kesehatan ibu kurang baik setiap hari harus minum obat, engkau harus hati-hati melayaninya!”

Dengan air mata bercucuran Chin Wan-hong mengangguk.

“Dalam bungkusan terdapat dua tahil perak….” titik air mata jatuh berlinang memotong ucapan

selanjutnya.

Lama…. lama sekali suasana diliputi keheningan akhirnya Hoa Thian-hong berkata lagi dengan

suara lirih, “Mempelajari obat-obatan paling banyak menghisap perhatian dan tenaga, engkau

jangan mengesampingkau ilmu silatmu terutama ilmu mengatur pernapasan setiap hari engkau

harus berlatih dengan tekun dan jangan berhenti barang seharipun”

Dengan lembut Chio Wan Hong mengangguk.

“Ilmu silatmu terlalu tersohor di kolong langit, hati-hatilah menghadapi segala tipu daya yang

licik dan keji, terutama sekali dalam soal minuman dan makanan, kau harus lebih-lebih menaruh

perhatian”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

273

Haputule sangat gelisah dan ingin cepat-cepat berangkat, melihat kedua orang itu, tak tahan lagi

ia menyela dari samping, “Enso! engkau toh seorang ahli memunahkan racun, siapa berani main

setan dihadapan Hoa toako, itu berarti mencari penyakit buat diri sendiri”

Mendengar perkataan itu, Hoa Thian-hong tertawa tergelak.

“Ensomu belum lama angkat guru, ilmu kepandaian yang dipelajari pun belum banyak, untuk

mencapai tingkatan ahli pemunah racun masih terlampau jauh”

Tahun itu usia Haputule baru mencapai enam tujuh belas tahunan, ia belum mengerti apa artinya

cinta muda mudi. Hoa Thian-hong yang harus berpisah lama dengan istrinya merasa ada banyak

perkataan hendak disampaikan, tapi disaksikan dengan mata melotot oleh sang pemuda itu

tanpa berkedip barang sedikitpun, sedikit banyak ia merasa kaku juga akhirnya setelah berpesan

beberapa patah kata dan saling berpandangan dengan perasaan hati berat terpaksa mereka

harus saling berpisah.

Setelah keluar dari pintu barat, Hoa Thian-hong membuka makanan itu sambil meneruskan

perjalanan, kedua orang itu menyikat semua ransum yang tersedia hingga ludas dan sedikpun

tak ada sisanya.

Sambil meraba perutnya yang kenyang Haputule memuji tiada hentinya, “Aaah…. enso memang

sangat baik, sejak kecil sampai dewasa belum pernah kujumpai orang yang begitu baiknya

seperti enso ini Aaaai….! dia memang sangat baik!”

Hoa Thian-hong segera tersenyum.

“Baik! akan kuperhatikan persoalan ini, andaikata dikemudian hari aku temukan seorang gadis

semacam itu yang berusia hampir sebaya dengan engkau, aku harus jadi mak comblang

untukmu!”

“Kalau suhu tak dapat diselamatkan selamanya aku tak akan cari bini!”

“Betul!” puji Hoa Thian-hong, “kita memang harus cepat-cepat menyelamatkan Siang locianpwee

dari ancaman bahaya maut!”

Ia cengkeram pergelangan tangannya dan segera berlari ke arah depan dengan mengerahkan

ilmu meringankan tubuhnya yang lihay.

Ketika tempo hari Hoa Thian-hong masih lari racun setiap harinya ia berhasil melatih gerakan

tubuhnya hingga mencapai tingkat kecepatan yang sukar ditandingi setiap orang setelah makan

rumput mustika Leng-ci sian cho, maka ilmu meringankan tubuhnya jauh melebihi tingkatan yang

berhasil mencapai tempo dulu apalagi sekarang tenaga dalamnya setingkat jauh lebih sempurna,

bisa dibayangkan betapa sempurna dan luar biasanya gerakan tubuh pemuda itu boleh dibilang

ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya saat ini tiada tandingannya di kolong langit.

Haputute yang diseret oleh pemuda itu seketika merasakan sepasang kakinya sama sekali tidak

menempel tanah, deruan angin kencang menyambar lewat dari sisi telinganya, begitu tajam

hembusan angin dari arah depan membuat ia tak sanggup membuka matanya, diam-daim ia

merasa amat kagum dan tunduk seratus persen terhadap kelihayannya.

Ditengah jalan mereka hanya beristirahat sebentar, ketika fajar menyingsing keesokan harinya

mereka telah masuk kedalam kota Lok- yang.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

274

Haputule segera berlarian kecang membawa Hoa Thian-hong menuju kerumah penginapan

dimana kedua orang suhengnya sedang merawat luka yang mereka derita.

Pada waktu itu rumah penginapan tersebut baru saja buka pintu, ketika kedua orang itu masuk

kedalam ruangan mereka telah berpapasan dengan seorang pelayan.

Begitu mengetahui siapa yang sedang di hadapi, dengan gelisah bercampur cemas pelayan itu

segera berseru, “Siau ya…. aduuh kalau engkau tidak datang lagi, rumah penginapan kami pasti

akan diseret kepengadilan dengan tuduhan menghilangkan nyawa orang….”

“Apa yang telah terjadi?!” seru Haputule dengan hati terperanjat.

“Siau ya!” seru pelayan itu sambil menuding keruang belakang, “kemarin sore dua orang

rekanmu pergi dari sini, tapi entah bagaimana kemudian ternyata mereka telah dibunuh orang,

mayatnya menggeletak diluar tembok kota dan….

Mulai Haputule berdiri menjablak dengan mata terbelalak, kemudian sambil menangis

menggerung ia lari menuju keruang belakang rumah penginapan itu.

Buru-buru Hoa Thian-hong memburu dari belakang, ketika masuk kedalam sebuah ruang

terlihatlah dialas tikar terkapar dua sosok mayat manusia, mereka bukan lain adalah Toohan

serta Temotay.

Haputule segera menjerit sambil menangis tersedu-sedu, teriaknya dengan penuh kesedihan,

“Hoa toako! aku mau cari suhu…. aku mau membalas dendam…. aku mau membalas dendam!”

Paras muka Hoa Thian-hong telah berubah jadi hijau membesi, sambil menggigit bibir katanya,

“Aku pasti akan temukan kembali suhumu, aku pasti akan balaskan dendam bagimu!!”

Ia berjongkok membuka kain selimut yang menutupi tubuh mayat itu dan periksa keadaan

lukanya.

Apa yang dialami Tooban maupun Temotay ternyata sama sekali tak berbeda, kedua orang itu

tertusuk dadanya oleh senjata tajam pada ulu hati, masing-masing berbekaslah sebuah mulut

luka yang panjangnya beberapa senti dengan lebar dua tiga mili, noda darah membasahi seluruh

pakaian mereka tapi karena kejadian itu sudah berlangsung sehari semalam yang lalu noda

darah itu sudah kering dan membeku.

Sepasang mata Haputule berubah jadi merah berapi-api, giginya saling beradu gemerutukan,

tiba-tiba la cengkeram bahu Hoa Thian-hong sambil menjerit, “Hoa toako siapa yang melakukan

pembuhan ini? siapa yang turun tangan sekeji ini siapa…. siapa….?”

“Saudaraku, teguhkan imanmu dan hadapilah kenyataan dengan hati tabah” bisik Hoa Thianhong

sedih, “akan kupetaruhkan selembar jiwaku untuk menyelidiki siapakah pembunuh kejam

itu dan balaskan dendam bagi kematian dua orang suhengmu!”

“Mereka mati ditusuk oleh pisau belati?” tanya Haputule dengan wajah termangu-mangu.

Hoa Thian-hong mengangguk, ia lanjutkan pemeriksaannya dengan lebih teliti lagi.

Tapi kecuali mulut luka diatas dada serta luka lama yang ditinggalkan hweesio asing, diatas

tubuh kedua sosok mayat itu ti dak ditemukan bekas luka lainnya, melihat kenyataan tersebut

dalam hati kecilnya ia segera berpikir, “Letak luka yang diderita dua orang ini sama sekali tak

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

275

berbeda satu sama lainnya, andaikata sang pembunuh bukan turun tangan karena telah berhasil

menawan dua orang itu lebih dahulu, maka orang yang melakukan perbuatan ini pastilah

memiliki ilmu silat yang amat tinggi dan sangat lihay….”

Sementara itu Haputule sambil menggigit bibir, telah berseru, “Hoa toako, perbuatan ini

dilakukan oleh hweesio tersebut? ataukah orang lain?….

Diam-diam Hoa Thian-hong menghela napas panjang, pikirnya, “Rupanya bocah ini sudah

menganggap diriku sebagai seorang malaikat yang tahu akan segala-galanya dan bisa melakukan

perbuatan macam apapun. Aaai….! ia begitu percaya pada diriku seandainya aku tak berhasil

untuk menolong Siang loccianpwee serta balaskan dendam bagi kematian dua orang suhengnya

betapa kecewa dan putus asanya bocah ini….”

Berpikir sampai disitu, ia segera berkata, “Bekas luka yang ditinggalkan adalah bekas luka keras

dari sini sukarlah untuk meraba ilmu silat dari aliran manakah yang telah dipergunakan sang

pembunuh untuk melakukan perbuatan keji ini, untuk sementara waktu anggap saja pembunuh

itu adalah hweesio tersebut, kita harus berusaha untuk menemukan dulu orang itu dan

selamatkan Siang locianpwee dari mara bahaya kemudian setelah itu baru membicarakan soal

balas dendam.”

Dengan air mata bercucuran karena sedih, Haputule menganggukkankan kepalanya.

“Senjata tajam dari kedua orang suhengku sudah tidak berada dalam saku mereka!”

“Pedang perak milik kalian merupakan benda yang sangat berharga sekali, aku rasa senjata

tersebut tentu sudah diambil oleh sang pembunuh tersebut.”

Ketika dia angkat kepalanya memandang keluar, tampaklah sang pelayan berdiri di tepi pintu,

selain itu masih ada belasan orang berdesakan didepan pintu menonton keramaian.

Diantara manusia-manusia itu, terlibat pula dua orang pria kekar berusia setengah baya, ketika

menyaksikan sorot mata Hoa Thian-hong ditunjukkan ke arah mereka, dua orang itu buru-buru

menyembunyikan diri kebelakang kerumunan orang banyak.

Haputule kebetulan menyaksikan tingkah laku mereka, secepat sambaran kilat ia menerjang

kedepan dan sekaligus ia cengkeram bahu dua orang pria itu.

Menyaksikan datangnya tubrukan, dua orang pria setengah baya itu berusaha untuk

menghindarkan diri, namun usaha mereka gagal dan tahu-tahu lengan mereka terasa amat sakit

dan cengkeraman lawan telah bersarang disana.

Haputule mencengkeram bahu dua orang lawannya kencang-kencang, dengan suara berat

hardiknya, “Ayoh cepat jawab, apa yang sedang kalian lakukan?”

Saking sakitnya dua orang pria kekar itu menggigit bibir untuk menahan penderitaan, keringat

dingin telah membasahi seluruh tubuh mereka sementara sorot matanya ditujukan ke arah Hoa

Thian-hong penuh mohon belas kasihan.

Hoa Thian-hong maju kedepan dan berkata, “Saudaraku lepaskanlah cengkeraman mu itu biar

aku yang bertanya kepada mereka. Dengan penuh kebencian dan kebengisan Haputule melotot

sekejap ke arah dua orang itu kemudian kendorkan cengke-ramannya dan mundur kebelakang.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

276

Sambil memegang bahunya yang sakit dan linu, dua orang pria berusia setengah baya itu

berpaling ke arah Hoa Thian-hong paras muka mereka telah berubah jadi pucat pias bagaikan

mayat.

“Kalian berasal dari mana?” tegur Hoa Thian-hong dengan sepasang alis berkenyit

“Hamba sekalian sebetulnya berasal dari perkumpulan Hong-im-hwie….” jawab dua orang pria

setengah baya hampir berbareng, “tapi berhubung perkumpulan Hong-im-hwie sudah bubar

maka hamba….”

“Gerak-gerik kalian sangat mencurigakan, apakah kalian berdua telah melakukan pekerjaan yang

melanggar hukum?” tukas Hoa Thian-hong dengan cepat.

“Baru kemarin malam hamba berdua tiba dikota Lok yang” buru-buru dua orang pria itu

membantah, hamba bersumpah tak pernah melakukan perbuatan yang melanggar hukum, kalau

Hoa ya tak percaya silahkan ta nyakan sendiri kepada pemilik rumah penginapan”

Hoa Thian-hong awasi sekejap paras muka dua orang pria itu, kemudian tanyanya lagi, “Dahulu

apakah kalian pernah bertemu dengan aku?”

Dua orang itu gelengkan kepalanya berulang kali, pria yang ada disebelah kiri segera berseru,

“Kami belum pernah berjumpa dengan Hoa ya, tapi cuma pernah mendengar tentang potongan

badan serta raut wajah Hoa ya dari mulut orang lain, apalagi di pinggang Hoa ya tergantung

sebilah pedang baja maka sekali bertemu kami dapat segera mengenali kembali”

“Lalu apa sebabnya kalian bersembunyi dan menghindar dengan gerak-gerik yang

mencurigakan?” bentak Haputule dengan gusar.

Dua orang itu memandang sekejap ke arah Hoa Thian-hong, lalu dengan ketakutan sahutnya,

“Kami takut berjumpa dengan Hoa ya yang penuh berwibawa, karena itu….”

Hoa Thian-hong tahu bahwa kedua orang pria tersebut pastilah merupakan manusia yang tidak

penting dalam perkumpulan Hong-im-hwie, maka ia segera ulapkan tangannya memerintahkan

kedua orang itu segera tinggalkan tempat tersebut.

Bagaikan mendapat pengampunan, dua orang pria itu buru-buru memberi hormat kemudian

ngeloyor pergi dengan tergopoh-gopoh.

Sedangkan para penonton keramaian lainnya kebanyakan terdiri dari kaum pedagang dan

saudagar kelilingan, tapi rupanya mereka sudah kenal siapakah Hoa Thian-hong itu, paras muka

mereka rata-rata menunjukkan sikap yang sangat menghormat.

Haruslah diketahui keadaan dari Hoa Thian-hong pada saat itu ibarat sang surya yang berada

ditengah angkasa, nama besarnya amat tersohor dimana-mana dan menggemparkan seluruh

dunia persilatan, dari rakyat jelata sampai para pembesar, dari kuli kasar sampai saudagar kaya

hampir tak seorangpun yang tak kenal siapakah Hoa Thian-hong, hal ini disebabkan karena

pengaruh tiga bibit bencana dunia persilatan terlalu luas dan dalam membekas dihati setiap

orang maka ketika bibit bencana sumber kehancuran itu lenyap dari permukaan bumi, nama Hoa

Thian-hong segera membubung setinggi langit dan pemuda itu menjadi pujaan setiap keluarga

disegala penjuru dunia.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

277

Semula Hapntule mengira ia telah berhasil menemukan titik terang, siapa tahu kedua orang itu

tak ada sangkut pautnya dengan persoalan itu, tak disangka lagi ia jadi amat sedih hingga air

mata kembali jatuh bercucuran.

“Hoa loako bagaimana sekarang? apa yang harus kita lakukan….?” tanyanya dengan

kebingungan.

“Saudaraku, tak usah gelisah mari bereskan dulu jenasah dari kedua orang kakak

seperguruanmu itu kemudian barulah kita berangkat untuk mencari pembunuhnya”

Bicara sampai disitu, ia segera berpaling sambil menegur, “Siapakah pemilik rumah penginapan

ini?”

Sejak permulaan tadi sang pemilik rumah penginapan sudah menunggu disamping, mendengar

seruan tersebut buru-buru ia maju kede-pan sambil membungkuk-bungkuk memberi hormat.

“Hamba yang pemilik rumah penginapan ini, tuan ada perintah apa….?”

Hoa Thian-hong ambil sekeping uang perak dari sakunya, sambil diangsurkan kedepan, katanya,

“Ciang kwee, harap kirimlah orang untuk membeli peti mati serta tanah pekuburan, kami akan

segera mengembumikan jenasah dari dua orang rekan kami ini, kalau uang tersebut tidak cukup,

nanti akan kuberi lagi….!”

“Hamba akan segera melaksanakanaya….!” sahut pemilik rumah penginapan itu dengan gelisah,

“sedang uang itu tak berani terima, harap tuan simpan kembali…. harap tuan simpan kembali!”

Dengan badan berbungkuk-bungkuk, pemilik rumah penginapan itu mundur kebelakang.

Hoa Thian-hong mengerutkan dahinya, sambil memandang pelayan rumah penginapan, ujarnya,

“Siau jiko, siapa yang menghantar jenasah dari dua orang rekanku ini pulang kepenginapan?”

“Peronda kota berhasil mendapat tahu kalau mereka adalah tamu yang menginap dalam rumah

penginapan kami, berhubung mereka adalah tamu asing dan lagi salah seorang diantaranya

belum kembali, maka terpaksa…. terpaksa jenasah mereka dikirim kembali kerumah penginapan

kami”

“Dimanakah peristiwa berdarah ini terjadi? apakah ada orang yang menyaksikan jalannya

pertarungan itu?”

Pelayan itu gelengkan kepalanya berulang kali.

“Tak ada orang yang menyaksikan jalannya peristiwa itu, dan tak ada orang yang mengatakan

telah menyaksikan sesuatu, kejadian berdarah ini terjadi diluar kota sebelah utara, kurang lebih

lima enam puluh tombak dari pintu gerbang kota.”

Hoa Thian-hong berpikir sebentar, kemudian menyusupkan uang perak itu ketangan sang

pelayan, setelah itu sambil menarik tangan Haputule, mereka berlalu dari situ dengan langkah

lebar.

Setelah keluar dari rumah penginapan, kedua orang itu langsung berangkat menuju kepintu kota

sebelah utara.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

278

Sementara itu fajar baru menyingsing dan belum terlalu banyak orang yang berlalu lalang dijalan

raya, belum jauh kedua orang itu melakukan perjalanan, tiba-tiba dari arah belakang terdengar

ada orang yang menyusul mereka.

Dengan cepat Hoa Thian-hong berpaling kebelakang, ia lihat dua orang bocah cilik yang berusia

empat lima tahun dan seorang bocah berusia sepuluh tahun sedang membuntuti perjalanan

mereka dengan kencangnya.

Pakaian yang dikenakan mereka berdua telah compang camping dan dekil sekali, rambutnya

kusut dan mukanya penuh berminyak, rupanya dua orang bocah itu adalah pengemis-pengemis

cilik kota.

Yang berusia agak muda hanya berkaki lelanjang, sedang bocah yang agak besaran memakai

sepatu, tapi pada waktu itu bocah tersebut telah melepaskan sepatunya dan berlarian dengan

kencangnya.

Hanya sayang gerakan tubuh Hoa Thian-hong dan Haputule terlalu cepat, sehingga kendatipun

dua orang bocah itu lari dengan sepenuh tenaga namun kian lama mereka tertinggal semakin

jauh.

Hoa Thian-hong sendiri sama sekali tidak pikirkan kejadian itu dalam hatinya, sebab dua orang

bocah tersebut tidak lebih hanya dua orang bocah pengemis yang sama sekali tak kenal ilmu

silat.

Beberapa saat kemudian, mereka sudah tiba dipintu sebelah utara dan sampai ditempat peristiwa

berdarah itu terjadi.

Dialas permukaan tanah hanya tersisa dua gumpalan darah yang telah mengering, kecuali itu

tiada tanda-tanda lain yang berhasil di temukan lagi.

Hoa Thian-hong berdua tidak putus asa, mereka mencari lagi di sekitar tempat kejadian itu,

namun bagaimanapun juga mereka berusaha senjata tajam milik Toohan dan Temotay tak

berhasil ditemukan.

Akhirnya dengan wajah murung bercampur sedih Haputule mengeluh, “Ooh….! Hoa toako,

bagaimana sekarang? apa yang harus kita lakukan lagi?”

Hoa Thian-hong termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, setelah itu ujarnya, “Mari kita

periksa semua rumah penginapan yang ada dikota ini coba kita cari data, apakah dalam

beberapa hari berselang ada kaum padri yang menginap disini kemudian kita cari dan selidiki

pula setiap kuil yang ada disekitar kota ini. Cuma…. yaaah! perbuatan kita ini ibaratnya mencari

jarum dari dasar samudra”

Mendadak dari balik pintu gerbang kota muncul dua buah batok kepala manusia, setelah melirik

sekejap ke arah mereka, kepala kecil itu di tarik kembali dengan cepatnya.

Hoa Thian-hong adalah seorang jago persilatan yang memiliki ketajaman mata yang luar biasa,

sekilas menandang ia segera kenali kembali mereka berdua sebagai dua orang pengemis cilik

yang mengejar dibelakang tubuhnya tadi.

Sambil tersenyum ia segera menggapeh bocah itu seraya serunya, “Eeeei saudara cilik berdua,

kemarilah mari kita bercakap-cakap”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

279

Dua orang pengemis cilik maju beberapa langkah kedepan, tapi dengan cepat mereka berhenti

dengan wajah terperangah.

Beberapa detik kemudian mereka putar diri dan kabur ke arah kaki tembok kota sambil memberi

tanda kepada Hoa Thian-hong berdua.

Melihat tanda itu, si anak muda itu mengerutkan dahinya rapat-rapat, lalu bisiknya, “Ayoh ikuti

mereka, coba lihat apa yang hendak mereka lakukan, sambil berkata ia segera maju kedepan.

Buru-buru Haputule mengejar dari belakang, tanyanya dengan nada kebingungan, “Tahukah

engkau dua orang pengemis cilik itu berasal dari aliran mana?”

Hoa Thian-hong gelengkan kepalanya.

“Aku sendiripun kurang begitu jelas!” jawabnya.

“Bagaimana kalau kita kejar dua orang bocah itu kemudian menanyai mereka?”

“Aku rasa kalau sampai bertindak begitu, kurang baik, lebih baik ikuti saja mereka berdua dan

coba lihat mereka akan bawa kita pergi kemana?”

Dua orang bocah pengemis itu berlarian didepan, sedangkan Hoa Thian-hong dan Haputule

mengikuti dibelakang dengan langkah yang santai, kurang lebih setengah jam kemudian

sampailah mereka dibawah sebuah pagoda lama yang telah tak terpakai.

Pagoda itu terdiri dari tujuh tingkat dan berdiri disebuah tanah lapang yang luas serta terpencil

letaknya, berhubung dimakan usia bangunan tersebut sudah rusak dan hancur, setiap saat ada

kemungkinan untuk tumbang ketanah, sekitar bangunan telah dipagari dengan kayu siap untuk

dibongkar, tapi karena belum dikerjakan maka diatas pagar terpancanglah sebuah tulisan yang

berbunyi, “Dilarang masuk!”

Ketika empat orang itu sudah tiba disekitar bangunan, dari balik semak belukar tiba-tiba

berkumandang suara tepuk tangan yang amat nyaring, pengemis yang berusia empat lima belas

tahun ini segera balas menepuk tangan mengikuti irama tertentu.

Dari balik semak belukar muncullah seorang bocah pengemis berbadan hitam yang berusia

antara tujuh delapan tahun, dengan cepat ia lari menghampiri rekan-rekannya.

“Siau Ngo-ji, ada orang yang datang kemari?” tegur pengemis yang rada besaran itu.

Pengemis hitam itu gelengkan kepalanya sementara sepasang biji matanya yang melotot gede

memperhatikan Hoa Thian-hong dari atas sampai kebawah, tiba-tiba ia nampak terperanjat

hingga mulutnya ternganga dan tubuhnya berdiri menjublak.

Pengemis yang rada besaran itu segera menuding ke arah Hoa Thian-hong sambil berkata,

“Dialah Hoa thian….!”

“Ooooh! tak aneh, kalau sejak pandangan pertama aku sudah merasa kenal….” teriak Siau Ngoji.

Hoa Thian Hoag tersenyum.

“Saudara cilik, apa yang sedang kau kerjakan seorang diri berada disini?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

280

Sambil menuding ke arah puncak pagoda dihadapannya, Siau Ngo-ji menjawab, “Jenasah kakek

tua dari wilayah See ih berada diatas pagoda itu, aku sedang menjaga jenasahnya agar tidak

dicuri orang”

Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, Haputule nampak tergetar keras karena terperanjat

bagaikan angin puyuh dia langsung lari menuju ke arah pintu pagoda.

“Hey, berhenti!” teriak Siau Ngo-ji dengan suara lantang.

Haputule sama sekali tidak menggubris teriakan itu lagi, sekali hantam ia hajar pintu pagoda itu

sampai terbuka lalu dengan cepat menerjang masuk keruang pigoda.

Hoa Thian-hong sangat menguatirkan keselamatan jiwanya, sekali enjot badan bagaikan

sambaran kilat ia merebut lari dihadapan mukanya.

“Blaammm!” terdengar ledakan keras bergelegar diudara pintu pagoda yang kena diterjang

segera membentang lebar dan menumbuk diatas dinding kayu

Dalam sekejap mata debu dan pasir berterbangan memenuhi seluruh angkasa, empat belah

dinding bergetar keras seakan-akan sebentar lagi bakal roboh sama sekali.

Diam-diam Hoa Thian-hong merasa amat terperanjat, Haputule sama sekali tidak merasakan hal

itu.

Ketika ia menengok keatas, tampaklah enam tingkat dibagian bawah sudah roboh sama sekali,

hanya pada tingkat yang terakhir saja masih ada lantai papannya, tapi karena jaraknya dari

permukaan tanah terlalu tinggi, Haputule tak mampu untuk melayang naik keatns.

Saat itulah Siau Ngo-ji menengok dari luar pintu, sambil menggape serunya dengan suara

lantang, “Hoa toako, cepat keluar! hati-hati kalau sampai pagoda itu roboh dan mengubur kalian

berdua didalamnya!”

Hoa Thian Hoag segera menarik tangan Haputule sambil serunya, “Saudaraku, ayoh keluar dulu!

aku akan naik keatas puncak terakhir untuk memeriksa keadaan disana!”

“Toako!” teriak Haputule dengan sepasang mata berubah jadi merah berapi-api, “suhu pasti

sudah mendapat celaka…. suhu pasti sudah mendapat celaka….”

Hoa Thian-hong sundiripun dapat merasakan pula bahwa situasi tidak beres, ia bawa Haputule

sampai keluar dari pagar kayu ke mudian sambil mengepos tenaga tubuhnya segera melayang

naik keatas pagoda setinggi enam tujuh tombak, sekali ujung bajunya dikibaskan pemuda itu

sudah melayang masuk kedalam ruang pagoda.

Siau Ngo-ji membelalakkan matanya lebar-lebar, tiba-tiba sambil acungkan jempolnya ia berkata

kepada dua orang pengemis rekannya, “Hoa toako benar-benar hebat kalau dibandingkan

dengan hweesio itu…. huuh! kentutnya saja belum bisa mengejar”

Begitu mendengar tentang kehadiran seorang hweesio Haputule tak dapat menahan diri lagi,

sekuat tenaga ia loncat naik keatas pagoda tingkat keempat kemudian sekali enjot badannya

loncat naik lebih keatas.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

281

Braak….Bluummm! seketika itu juga dinding pagoda jadi retak dan roboh kebawah, Haputule

yang menginjak tempat kosong segera terjatuh kembali kebawah.

Dalam Waktu singkat batu bata dan pasir berguguran diatas tanah dengan hebatnya, bangunan

lama itu mulai retak-retak lebar dan agaknya sebentar lagi bangunan tersebut sama sekali akan

roboh.

Reaksi dari Siau Ngo-ji paling cepat, menyaksikan keadaan tersebut ia segera berteriak keras,

“Hoa toako cepat loncat keluar! pagoda itu bakal roboh keatas tanah!”

Sementara itu Hoa Thian Hoag sudah loncat masuk kedalam ruang pagoda tingkat terakhir,

begitu sorot matanya dialihkan keruangan itu, hatinya kontan tercekat, ternyata dalam ruangan

diatas sebuah tikar buntut berbaringlah sesosok mayat dan mayat itu bukan lain adalah tubuh

dari Siang Tang Lay.

Sebuah lobang besar yang penuh berpelepotan darah muncul pada ulu hati Siang Tang Lay,

dadanya penuh noda darah, kematiannya sama sekali tidak berbeda dengan kematian yang

dialami oleh Toohan maupun Temotay, hal ini membuktikan bahwa pembunuhnya adalah

seorang yang sama.

Belum sempat mayat itu diteliti, pagoda itu sudah roboh keatas tanah, tergopoh-gopoh Hoa

Thian-hong bopong mayat tersebut dan loncat keluar lewat jendela.

“Braakk! Braakk! Braaakk!!” pagoda kuno itu roboh sama sekali dan hancur Jadi berkepingkeping,

pasir dan debu segera beterbangan menyelimuti seluruh angkasa.

Haputule maupun ketiga orang bocah pengemis itu buru-buru loncat mundur kebelakang

sedangkan Hoa Thian-hong yang memiliki ilmu meringankan badan amat sempurna segera

berputar setengah lingkaran ditengah udara kemudian melayang turun keatas permukaan jauh

dari tempat kejadian.

Haputule masih diliputi rasa kaget yang luar biasa ketika Hoa Thian-hong melayang turun keatas

permukaan tanah, tapi begitu ia lihat si anak muda itu membopong jenasah dari gurunya,

bagaikan orang kalap ia segera menerjang maju kedepan, sambil mendekap mayat tersebut

menangislah bocah itu sejadi-jadinya.

Belasan tahun berselang Siang Ting Lay yang berilmu tinggi datang ke wilayah timur untuk

bertarung melawan jago persilatan dari daerah Tionggoan dengan andalkan sebilah pedang

emas, ia berhasil mengobrak abrik utara maupun selatan daratan Tionggoan tanpa menjumpai

seorang lawanpun yang bisa menandingi kehebatannya.

Tapi kemudian ia disergap oleh gabungan tenaga dari Pek Siau-thian, Jin Hian, Thian Ik-cu, Bu

Liang Sinkun serta Ciu It-bong sehingga tertuka parah, untung jiwanya diselamatkan oleh Hoa

Goan-siu.

Kendatipun begitu badannya sudah jadi cacad dan ilmu silatnya jauh mengalami kemunduran.

Dalam perjalanannya kedaratan Tionggoan kali ini sekaligus ia berhasil melukai Jin Hian dan

Thian Ik-cu boleh dibilang sakit hatinya berhasil dibalas sebagian tapi sayang mereka secara

beruntun telah mengalami musibah, dari tujuh orang ada enam orang sudah mati dan sekarang

tinggal muridnya yang terkecil Haputule seorang, kalau ditinjau kembali maka nasib yang mereka

alami benar-benar amat menyedihkan sekali.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

282

Haputule menangis tersedu-sedu, dengan sedihnya karena begitu berduka menyaksikan gurunya

dibunuh orang akhirnya pemuda itu jatuh tak sadarkan diri.

Hoa Thian-hong sendiripun melelehkan air mata karena sedih, tapi bagaimanapun juga dia

adalah seorang pemuda yang sudah banyak pengalaman meskipun rasa sedih yang dialaminya

sukar dilukiskan dengan kata-kata namun pikirannya tidak sampai kacau karenanya.

Dengan cekatan ia segera mengurut dada Haputule sehingga membuat pemuda itu sadar

kembali dari pingsannya.

Sambil membuka kembali matanya lebar-lebar, Haputule memeluk Hoa Thian-hong seraya

menangis tersedu-sedu, teriaknya, “Ooooh, toako aku ingin balaskan dendam untuk suhu dan

suheng-suhengku, engkau harus membantu aku!”

“Saudaraku engkau tak usah kuatir” jawab Hoa Thian-hong dengan air mata bercucuran”,

sekalipun barus pertaruhkan jiwa, aku pasti akan menangkap pembunuh kejam itu agar engkau

bisa membalas dendam sendiri atas sakit hati ini”

“Tapi siapakah pembunuhnya? uuuh…. uuuhh…. uuuhh…. kita harus pergi kemana untuk

mencari hweesio yang dilahirkan oleh anjing betina itu?”

“Saudaraku, engkau tak perlu gelisah! selama pembunuh itu belum mati, sekalipun dia sudah lari

keujung langit atau dasar samudra, kita pasti akan berhasil menangkapnya kembali!”

“Betul, engkau tak perlu kuatir” sambung Siau Ngo-ji terhadap diri Haputule, “selama janji yang

diucapkan Hoa toako kami ini selalu ditepati, apa yang lelah dia janjikan tentu akan dilaksanakan

sebagaimana mestinya”

Tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam benak Hoa Thian-hong, ia segera berseru, “Saudarasaudara

cilik sekalian, dari mana kalian bisa tahu akan peristiwa ini? bersediakah kalian ceritakan

kisah tersebut kepadaku?”

“Tentu saja bersedia!” jawab Siang ngo ji dengan cepat, ia ber batuk-batuk sebentar, lalu

melanjutkan, “Ceritanya begini….”

“Bagaimana jalan ceritanya?” seru Haputule dengan hati cemas.

“Dua hari berselang ketika malam telah menjelang tiba, aku sedang menangkap jangkerik

dibawah pagoda ini, tiba-tiba muncul seo rang hweesio sambil membopong seseorang, sekali

loncat hweesio itu terbang keudada dan mencapai tingkat keempat, kemudian dalam sekejap

mata ia sudah mencapai tingkat teratas!”

***

MENDENGAR sampai disitu, diam-diam Hoa Thian-hong berpikir dihatinya, “Hweesio itu sambil

membopong tubuh seseorang sanggup melayang naik keatas puncak pagoda dengan beberapa

enjotan badan, ilmu meringankan tubuh yang dimiliki tentu luar biasa sekali!”

Terdengar Siau Ngo-ji bercerita lebih jauh.

“Dari tingkah lakunya aku segera merasa bahwa asal usul dari hweesio itu agak kurang beres,

dalam hati aku mulai berpikir sekali lompat hweesio itu bisa mencapai ketinggian beberapa

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

283

tombak itu berarti ilmu silat yang dimilikinya pasti lihay sekali, karenanya terpaksa aku cuma

bertiarap dibawah pagoda tanpa berani bergerak barang sedikitpun juga”

“Kemudian bagaimana?” sela Haputule dengan hati amat gelisah, “ayoh cepatlah bercerita”

Siau Ngo-ji segera mengerutkan dahinya.

“Tenangkan hatimu, kenapa musti terburu nafsu?” katanya.

Bocah pengemis itu cuma berusia tujuh delapan tahun, tak bisa ilmu silat, badanpun kecil tapi

sikapnya luar biasa sekali gagahnya, terutama gerak-geriknya yang cerdik dan aneh, sangat

menarik perhatian orang.

Hoa Thian-hong dibikin serba salah, terpaksa dengan suara yang amit lirih ia berkata, “Saudara

cilik, cepatlah kalau bercerita, setelah ada petunjuk yang jelas kami akan segera menangkap

pembunuh kejam itu”

Siau Ngo-ji mengangguk.

“Aku yang bersembunyi dibawah pagoda sempat mendengar hweesio itu mengajukan beberapa

pertanyaan kepada suhu dari saudara ini dan mendesaknya untuk menjawab, hweesio itu antara

lain bertanya dimanakah kitab pusaka Kiam keng disembunyikan, tapi suhu dari saudara ini cuma

tertawa dingin tiada hentinya tanpa mengucapkan sepatah katapun, sikap yang ketus dan tidak

bersahabat dari suhunya saudara ini kontan menggusarkan hweesio tersebut, ia segera turun

tangan menyiksa suhu dari saudara ini.”

“Bagaimana selanjutnya?” seru Hoa Thian-hong dengan sepasang alis mata berkenyit.

“Kemudian…. mendadak hweesio itu bertanya, ‘Apakah kitab pusaka Kiam keng itu di simpan

dalam pedang bajanya Hoa toako?’”

Biji mata bocah itu segera berputar dan melirik sekejap ke arah pedang baja yang tergantung

dipinggang Hoa Thiao Hong.

Diam-diam si anak muda itu merasa amat terperanjat, tanyanya lagi, “Lalu apa yang dijawab

oleh Siang locianpwee itu?”

Siang locianpwee itu? sepatah katapun ia tidak berbicara, ia tetap membungkam dalam seribu

bahasa, mendadak hweesio tersebut tertawa terbahak-bahak dengan kerasnya begitu keras

suara tertawa itu sehingga hampir saja pagoda itu akan roboh, sesaat kemudian terdengarlah

Siang locianpwee itu menjerit kesakitan, rupanya hweesio tersebut telah turun tangan untuk

membunuh orang.

“Bagaimana selanjutnya?”

Pada saat itulah dari luar pagoda terdengar seorang perempuan berbicara, perempuan itu

berkata, “Hey Pia Leng-cu…. Pia Leng-cu, dengarkanlah anjuranku dan cepat-cepatlah takluk

kepadaku ber gabunglah dengan perkumpulan Kiu-im-kauw kami….”

“Oooh….! jadi mereka adalah Pia Leng-cu serta Kiu-im Kaucu!” seru Haputule dengan

terperanjat.

“Emmm! saudaraku, lanjutkan ceritamu, bagaimana selanjutnya?” sela Hoa Thian-hong.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

284

“Hweesio itu…. aah! bukan, Pia Leng-cu itu segera loncat turun dari atas pagoda, dengan sikap

yang garang ia berteriak, “Kiu-im Kaucu, engkau jangan terlalu mendesak orang sehingga

terpojok, ketahuilah kalau anjing sedang panik tembok pekarangan pun akan diloncati, kalau

engkau paksa aku Pia Leng-cu terus sampai tak ada jalan lagi, terpaksa aku akan serahkan

pedang emas ini kepada Hoa Thian-hong”

“Apa yang kemudian diucapkan oleh Kiu-im Kaucu?!” kembali Haputule bertanya dengan suara

gelisah.

“Apa yang dia katakan?!” Siau Ngo-ji sengaja berjual mahal, setelah berhenti beberapa saat ia

baru melanjutkan.

Kiu-im Kaucu tertawa terbahak-bahak, ujarnya, “Waah, kalau engkau berbuat demikian malah

jauh lebih bagus lagi, Hoa Thian-hong pernah berhutang budi kepada perkumpulan Kiu-im-kauw

kami, kalau engkau serahkan pedang emas itu kepadanya, maka aku akan mintanya kembali dari

tangannya, aku yakin ia pasti tak akan menampik”

“Hoa toako!” seru Haputule dengan wajah tercengang, “engkau pernah berhutang budi apa sih

dengan pihak perkumpulan Kiu-im-kauw?”

Hoa Thian-hong menghela napas panjang.

“Aaai….! nyonya hiolo kumala Ku Ing-ing pernah menghadiahkan sebatang Leng-ci mustika

berusia seribu tahun kepadaku untuk memunahkan racun teratai yang mengeram didalam

tubuhku, berkat Leng-ci tersebut beberapa orang toyu yang terlukapun berhasil diselamatkan

jiwanya, yang dimaksudkan Kuu im kaucu pastilah persoalan ini.”

“Betul!” seru Siau Ngo-ji membenarkan, “Kiu-im Kaucu juga berkata demikian, semula aku masih

mengira kalau dia lagi mengibul dan omong besar!”

“Bagaimana selanjutnya?” tanya Hoa Thian-hong.

“Kemudian….” Siau Ngo-ji berhenti sejenak, kemudian baru terusnya.

“Pia Leng-cu segera mendengus dingin, dengan sikap acuh tak acuh dia berkata, ‘Sekalipun ilmu

silat yang kau miliki masih setingkat lebih lihay daripada kepandaianku, namun untuk bereskan

nyawa aku Pia Leng-cu bukanlah suatu pekerjaan yang mudah, apalagi toh masih ada seorang to

yu yang pasti tak akan setuju dengan tindakanmu itu.’”

“To yu yang mana sih yang dia maksud kan?” tanya Hoa Thian-hong keheranan.

“Pada mulanya aku sendiripun keheranan dan tak habis mengerti, tapi setelah kutenggok ke arah

mana asalnya suara pembicaraan itu…. oohh hoohh…. rupanya dari arah lain telah berdiri

seorang makhluk yang sangat aneh.”

“Makhluk aneh macam apa?” tanya Haputule ikut tercengang bercampur keheranan.

“Keanehan yang terdapat pada diri orang itu sukar dilukiskan dengan kata-kata, pokoknya

barang siapapun bertemu dengan orang itu maka sekujur badannya akan merinding dan bulu

kuduknya pada bangun berdiri, lagi pula waktu itu udara gelap aku sendiripun tidak dapat

melihat jelas raut wajahnya.”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

285

“Apa yang diucapkan mauusia aneh itu?” kembali Haputule bertanya dengan cepat.

“Manusia aneh itu berkata, ‘Pia Leng-cu, darimana engkau bisa menebak kalau kitab Kiam keng

disimpan dalam pedang baja milik Hoa Thian-hong?’”

“Benar, dibalik peristiwa ini pasti ada hal yang diluar dugaan” batin Hoa Thian-hong dihati

kecilnya.

Terdengar Siau Ngo-ji melanjutkan kembali kata-katanya, “Pia Leng-cu segera menjawab,

‘Gampang sekali untuk menebak hal itu, coba bayangkan saja kitab pusaka Kiam keng tersebut

sudah pasti adalah suatu benda yang bisa dilihat tak dapat diambil.’ Siang Tang Lay pun tak

dapat mengambilnya, kalau tidak kenapa ia tidak tidak ambil kitab pusaka Kiam keng itu untuk

diwariskan kepada anak muridnya, atau dihadiahkan kepada Hoa Thian-hong”

“Pintar juga anjing bulukan ini!” seru Haputule dengan penuh rasa benci dan mendendam.

“Sementara itu Pia Leng-cu melanjutkan kembali kata-katanya!” sambung Siau Ngo-ji lebih jauh,

“dia bilang benda pusaka warisan dari Dewa pedang Gi Ko sudah pasti mempunyai sangkut

pautnya antara yang satu dengan yang lain, pedang baja yang berada ditangan Hoa Thian-hong

adalah sebilah senjata yang kuat dan keras sekali, sebalik nya pedang emas adalah pedang

paling tajam di kolong langit, dua bilah senjata yang saling berlawanan ini pasti bukan kebetulan

saja sebaliknya mengandung maksud-maksud tertentu. Mendengar perkataan itu manusia aneh

tersebut segera berseru, “Ucapanmu itu sangat masuk diakal dan….”

“Pia Leng-cu pun kembali berkata, ‘Keponakan muridnya menyembunyikan pedang emas itu

didalam pedang pusaka Boan liong poo-kiamnya, perbuatannya itu segera menggerakkan

kecerdasannya, kalau didalam pedang itu disimpan sejilid kitab pusaka Kiam keng, rasanya hal ini

besar sekali kemungkinannya, apalagi pedang baja itu kuat dan ampuh tak mempan dibacok

atau ditebas kutung oleh golok atau pedang mustika biasa, sebaliknya hanya bisa ditebas kutung

oleh pedang emas, ditinjau dari rentetan hubungan itu bukankah dapat ditarik kesimpulan kalau

pedang emas itu sebenarnya tak lain tak bukan adalah kunci untuk mendapatkan kitab pusaka

Kiam keng?’”

Mendengar kisah itu, tanpa terata sambil meraba gagang pedangnya Hoa Thian-hong tertawa

dingin.

“Hmmm! bagaimana selanjutnya?” ia bertanya.

Kemudian ketiga orang itu saling memaki dan saling membentak, lama kelamaan dari cekcok

mulut akhirnya Kiu-im Kaucu bertempur melawan Pia Leng-cu malah bertempur sengit melawan

manusia aneh itu sedangkan Pia Leng-cu mengundurkan diri dari gelanggang pertarungan dan

melarikan diri dari tempat kejadian, melihat Pia Leng-cu kabur maka Kiu-im Kaucu dan manusia

aneh itupun segera berhenti bertempur kedua orang itu dengan cepatnya mengejar Pia Leng-cu

yang sudah kabur lebih dahulu, dalam sekejap mata ketiga orang itu sudah lenyap dari

pandangan mata.

Diam-diam Hoa Thian-hong merasa amat terperanjat, ia tak dapat menebak siapakah manusia

aneh yang berani bertempur melawan Kiu-im Kaucu itu.

Haputule dengan sepasang mata berubah merah berapi-api segera bertanya, “Saudara cilik,

apakah engkau sempat melihat jelas ke arah mana ketiga orang itu berlalu?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

286

“Pada waktu itu aku tak sempat melihat jelas, tapi kedua orang kakak seperguruanmu kemarin

sore baru menemui ajalnya, oleh karena itu aku yakin sampai kemarin sore Pia Leng-cu masih

berada dikota Lok yang.”

“Pintar sekal bocah cilik ini” pikir Hoa Thian-hong dengan perasaan terperanjat.

Haputule segera berpaling ke arah Hoaa Thian-hong, kemudian ajaknya dengan suara lirih, “Hoa

toako, bagaimana kalau kita lakukan penggeledahan lebih dahulu disekitar kota Lok yang, coba

libat apakah kita masih dapat menemukan jejak dari bajingan anjing bulukan itu!”

Siau Ngo-ji segera goyangkan tangannya berulang kali sambil menyela dari samping.

“Tak usah dicari lagi, kami telah melakukan pencarian yang teliti diseluruh kota Lok yang, namun

tak berhasil menemukan jejak dari ketiga orang itu. Hoa toako lebih baik segera kembali untuk

menyambut kedatangan ibumu.”

“Kenapa?” tanya Hoa Thian-hong dengan sepasang dahi berkerut.

Pada waktu itu setelah aku kembali kedalam kota, dan menceriterakan kisah kejadian itu kepada

Ko toako….

“Ko toako? siapakah dia?” sela Haputule dengan wajah keheranan.

Oooh yaa! dia adalah toako kami! belum habis aku bercerita tiba-tiba saja toako berteriak. Aduh

celaka….! pada saat itu juga dia segera mencuri seekor kuda dan berangkat menuju ke kota Cho

Ciu….

“Mau apa Ko toako mau berangkat ke kota Cho ciu?”

Ko toako bilang begini: “ketiga orang gembong iblis itu ada maksud untuk mendapatkan kitab

Kiam keng, sedang kitab kiam keng didalam pedang baja milik Hoa toako, mereka bertiga pasti

akan menggunakan segala daya upaya untuk mendapatkannya. Mendengar perkataan itu aku

lantas membantah: ‘Aaahh! tak mungkin, ilmu silat yang dimiliki Hoa toako lihay sekali dan tiada

tandingannya di kolong langit, sudah pasti dia tak akan pikirkan ketiga orang itu dalam hatinya’,

namun Ko toako tidak sependapat dengan jalan pikiranku ini”

“Lalu apa yang dikatakan Ko toakomu?”

“Ko toako bilang begini: pertama, serangan yang datang secara menggelap sukar di duga, kedua

kemungkinan besar tiga orang gembong iblis itu bakal bersekongkol untuk bersama-sama

menghadapi Hoa toako seorang, selain itu kami dengar kabar yang mengatakan ilmu silat yang

dimiliki ibunya Hoa toako telah punah, seandainya tiga orang itu secara tiba- tiba turun tangan

dan menculik ibu Hoa toako bukankah dalam keadaan demikian Hoa toako serta-merta akan

serahkan pedang baja itu kepada mereka tanpa syarat? jika ke tiga orang itu sampai berhasil

mendapatkan kitab kiam keng, waaah…. ilmu silat mereka sudah pasti akan lihay sekali!”

Pucat pasi selembar wajah Hoa Thian-hong karena kaget dan terkesiapnya, sambil membelai

kepala Siau Ngo-ji ia segera berseru.

“Saudara cilik engkau memang luar biasa sekali! Ko toako mu juga hebat, kalau dibandingkan

dengan aku maka kecerdikan kalian jauh lebih hebat beberapa kali lipat”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

287

“Ko toako seperti juga dengan aku, diantara para jago dan orang gagah yang ada di kolong

langit kami cuma kagum terhadap Hoa toako seorang” tukas Siau Ngo-ji dengan cepat.

Jilid 15

HOA THIAN-HONG sangat terharu hingga air mata tanpa terasa jatuh berlinang membasahi

pipinya.

Sebelum bertemu, aku sama sekali tidak saling mengenal dengan kalian, tapi karena urusanku Ko

toako mu telah bersusah payah berangkat ke kota Cho ciu uatuk memberi kabar, bila bertemu

nanti aku pasti akan mengucapkan banyak terima kasih kepadanya.

Belum habis Hoa Thian-hong bicara kembali Siau Ngo-ji menukas, “Kami sudah lama bersahabat

dan berkenalan dengan Ko toako urusan ini toh kecil sekali, kenapa Hoa toako musti berterima

kasih”

Ia berhenti sebentar, kemudian sambil tertawa haha hihi sambungnya lebih jauh, “Hiiih…. hiiih….

hhiiih…. apakah Hoa toako segera akan berangkat ke kota Cho ciu

“Apa yang diucapkan Ko toako mu memang tak sala, ibuku dalam keadaan bahaya karenanya

aku harus segera berangkat kesana”

“Bagaimana kalau aku temani Hoa toako tanya Siau Ngo-ji sambil mengerdipkan matanya.

Hoa Thian-hong jadi serba salah, dalam hati ia merasa keberatan karenanya pemuda itupun

berkata, “Dunia persilatan sangat berbahaya dan banyak sekali tipu muslihat yang bisa

menjerumuskan orang kelembah kehancuran, saudara cilik engkau masih muda dan lagi orang

tuamu masih ada”

“Oooh! sudah tak ada lagi aku sudah tak punya orang tua” tukas Siau Ngo-ji sambil goyangkan

tangannya berulang kali, “aku hidup sebatang kara tak punya sanak tak punya keluarga, dunia

persilatan adalah rumahku dan aku hidup di antara siksaan serta penderitaan karena itu aku

tidak takut mara bahaya, kalau aku takut menghadapi kenyataan mungkin sejak dulu aku mati

kelaparan….!”

Hoa Thian-hong jadi amat terharu dan tak tega untuk menampik keinginannya dan lagi ia merasa

sayang kalau bocah cerdik itu harus hidup bergelandangan tanpa masa depan yang cerah.

Setelah berpikir sebentar, pemuda itupun mengangguk, kepada Haputule pesannya, “Saudaraku,

untuk sementara waktu tinggallah dulu dikota Lok yang untuk mengurusi layon dari suhu serta

kedua orang kakak seperguruanmu, aku akan menyambut kedatangan ibukmu, disamping

berusaha keras untuk menangkap Pia Leng-cu”

“Selesai mengebumikan jenasah dari suhu, aku akan segera menyusul Hoa toako ke kota Cho

ciu!” sahut Haputule dengan sedih.

“Baik! musuh amat licik dan kejam, saudaraku! engkau harap selalu waspada dan bertindak

seksama”

Setelah mengangguk kepada dua orang pengemis lainnya, sambil menggempit Siau Ngo-ji

dibawah ketiaknya berangkatlah pemuda itu menuju ke kota Cho ciu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

288

Hoa Thian-hong sangat menguatirkan keselamatan ibunya, perjalanan dilakukan cepat sekali

ibarataya sambaran petir yang membelah di angkasa, ketika senja menjelang tiba mereka telah

sampai diluar kota Tha sian shia….

Tiba-tiba Siau Ngo-ji berteriak keras, “Hoa toako, mari kita beristirahat sebentar, turunkan aku!”

Hoa Thian-hong berhenti berlari dan t runkan Siau Ngo-ji keatas tanah, tanyanya, “Saudara cilik,

engkau lelah?”

Siau Ngo-ji menghembuskan napas panjang-panjang.

“Lelah sih tidak, cuma aku tak dapat bernapas, dadaku lama kelamaan jadi sesak!”

Buru-buru Hoa Thian-hong atur pernapasan sebentar untuk pulih kembali tenaganya, kemudian

katanya, “Kalau dihitung menurut jadwal perjalanan, mungkin pada malam ini ibuku menginap

semalam dikota ini, bila sepanjang perjalanan tak ada halangan atau rintangan maka seharusnya

saat ini sudah berada dikota ini, ayoh kita masuk kedalam kota untuk mencari jejak mereka!”

“Toako tak usah terburu nafsu” hibur Siau Ngo-ji, “aku sudah mendapat kabar yang mengatakan

bahwa sepanjang perjalanan bibi tidak memperoleh rintangan apa-apa sekarang mungkin beliau

sudah tiba ditempat tujuan dengan selamat!”

“Aaaai….! dalam keadaan begini engkau masih bisa-bisanya bergurau”

Sambil menggandeng tangan kecilnya yang dekil dan kotor berangkatlah mereka masuk kedalam

kota.

Ketika lewat dibawah pintu gerbang kota, tiba-tiba Siau Ngo-ji berhenti, kemudian menunjukkan

kode tangan kepada seorang bocah ku disan yang sedang berjongkok dipinggir jalan.

Bocah kudisan itu melirik sekejap ke arah Hoa Thian-hong kemudian berbisik lirih, “Rumah

penginapan Beng ho dijalan raya sebelah barat!”

Siau Ngo-ji segera tarik tangan Hoa Thian-hong seraya berseru, “Aku tahu tetak itu toako! ayoh

ikuti lagi aku”

“Apakah Ko toako mu berdiam dirumah penginapan Beng ho?” tanya Hoa Thian-hong keheranan.

“Bukan, bibi yang tinggal disitu!”

“Eeei…. rupanya kalian juga punya Organisasi yang cukup besar….!” tegur sang pemuda

tercengang.

Siau Ngo-ji tertawa bangga.

“Perkumpulan Hong-im-hwie menguasai wilayah Kangpak, perkumpulan Sin-kie-pang menguasai

wilayah Kanglam dan perkumpulan Thong-thian-kauw menguasai wilayah Kangtang, sebaliknya

seluruh pengemis cilik yang ada di kolong langit berada dibawah kekuasaan Ko toako,

sebenarnya kami juga akan mendirikan sebuah perkumpulan, tapi ilmu silat yang dimiliki Ko

toako belum berhasil dikuesahi, ia tak mau jadi Loo toa dan suruh aku yang menjabat kedudukan

tersebut, namun aku sendiripun merasa terlalu pagi untuk berpikir sampai kesana”

“Berapa sih usia Ko toako mu itu? ilmu silat apakah yang dipelajari olehnya?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

289

Siau Ngo-ji berpikir sebentar, kemudian menjawab, “Lo toako kurang lebih lima belas tahun, ilmu

silat yang dipelajari nya adalah ilmu telapak Tiat sah ciang serta Tiat poh san aku sendiripun

berlatih ilmu pukulan Tiat sah Ciang, tapi baru mencapai taraf berlatih diatas pasir, itupun baru

berlangsung selama beberapa bulan”

“Coba aku periksa tangan kirimu!” kata Hoa Thian-hong dengan dahi berkerut.

Siau Ngo-ji perlihatkan lengan kirinya, ketika diperiksa ternyata telapak tersebut memang jauh

lebih kasar daripida tangan kanannya.

Bocah itu tersenyum, katanya, “Hoa toako, aku ingin melatih kedua belah telapakku, boleh toh?”

Hoa Thian-hong termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian ia manjawab, “Kalau

melatih ilmu keras seperti itu, kadangkala telapak tangannya bisa membengkak jika kedua

duanya dilatih maka pertama ku rang begitu leluasa dan kedua kurang sempurna sewaktu

latihan, tangan bisa jadi cacad, berlatih sepasang telapak secara bersama sama memang terlalu

bahaya.”

Ia berhenti sebentar, kemudian melanjutkan, “Apakah Ko toakomu punya suhu?”

Siau Ngo-ji gelengkan kepalanya.

“Kami semua berlatih sendiri-sendiri, tak ada guru yang memberi petunjuk kepada kami”

“Lalu siapa yang ajarkan cara berlatih ilmu keras itu kepada kalian semua?”

Dengan mata terbelalak lebar Siau Ngo-ji menjawab, “Kami dengar dari orang lain, katanya

banyak sekali orang yang mengetahui cara berlatih ilmu itu, cuma orang harus sabar dan tekun

berlatih, tidak takut sengsara dan tidak takut lelah, dengan begitu kepandaian tersebut baru bisa

tercapai hasilnya, sekali hantam Ko toako kami sanggup untuk mengbancurkan enam buah batu

bata yang disusun menjadi satu!”

“Aaai….! dua orang bocih yang cerdik, sayang mereka tidak bertemu dengan guru yang pandai”

Sementara masih termenung, tanpa sadar mereka telah sampai diluar rumah penginapan Beng

ho, baru saja naik ketangga batu seorang pelayan telah maju menyambut kedatangan mereka

sambil bertanya

“Kek koan, apakah kalian hendak mencari kamar?”

“Apakah ada tiga orang tamu perempuan menginap dirumah penginapan ini?”

“Oooh ada…. ada” sahut pelayan itu berulang kali.

Ia segera putar badan dan membawa dua orang itu menuju keruang belakang dan berhenti

didepan sebuah kamar yang tertutup rapat.

Belum sempat mereka bertiga mendekati kamar itu, dari balik ruangan berkumandang lah suara

bentakan dari Tio Sam-koh.

Dari sura bentakan itu Hoa Thiaa Hong tabu kalau ibunya selamat tanpa kekurangan sesuatu

apapun, ia jadi lega dan segera menjawab.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

290

“Nenek Sam poo, aku!”

“Tunggu sabentar!” seru Tio San koh.

Hoa Thian-hong segera ulapkan tangannya memerintahkan pelayan itu untuk berlalu, beberapa

saat kemudian pintu terbuka dan Chin Wan-hong muncul diambang pintu.

Hoa Hujin duduk bersila diatas pembaringan, sedang Tio Sam-koh dengan toya ditangan berdiri

disisinya dengan gagah perkasa.

Hoa Thian-hong segara maju kedepan memberi hormat kepada dua orang itu, kemudian sambil

berpaling kebelakang, serunya, “Siau Ngo-ji, orang tua ini adalah sam po po, ayoh maju kedepan

dan memberi hor at kepadanya!”

“Nenek sam popo!” sapa Siau Ngo-ji sambil menjura dalam-dalam.

Hoa Thian-hong segera menuding kembali ke arah ibunya sambil menambahkan, “Dan dia adalah

ibuku!”

Siau Ngo-ji segera jatuhkan diri berlutut diatas tanah, sambil menyembah, katanya, “Bibi, Siau

Ngo-ji menyembah untukmu!”

Tio Sam-koh jadi mendongkol sekali, sambil hentakkan toya bajanya keatas tanah ia berteriak

gusar, “Bocah kurangajar, engkau berani pandang rendah orang yaa? kenapa tidak berlutut dan

menyembah kepada aku nenek tua?”

Siau Ngo-ji balas mendelik, sahutnya, “Bibi Hoa secara beruntun telah membinasakan Lie

Buliang, Hian Leng cu serta Cing Leng cu, setiap orang di kolong langit mengetahui akan hal ini,

tentu saja aku harus berlutut dan menyembah kepadanya”

Tio Sam-koh semakin gusar, kembali ia berkata, “Aku nenek tua dengan andalkan toya bajaku

telah membinasakan Cing Si cu serta berpuluh-puluh orang lainnya, apakah engkau bocah

kurangajar tidak pernah dengar orang membicarakan soal itu?”

“Cing Si cu?!” seru Siau Ngo-ji, dia adalah koancu dari kuil It-goan-koan dikota Cho ciu, kalau

engkau tidak bilang darimana aku bisa tahu? baiklah, aku akan berlutut dan menyembah

kepadamu”

Sambil berkata ia segera putar badan dan menyembah kepada Tio Sam-koh.

Selesai memberi hormat, Hoa Thian-hong kembali menuding ke arah Chin Wan-hong sambil

memperkenalkan, “Dia adalah enso mu!”

Siau Ngo-ji kembali berlutut hendak menyembah, tapi Chin Wan-hong buru-buru mencegah

sambil berkata, “Saudaraku, tak usah memberi hormat secara kebesaran, silahkan duduk….”

Hoa Thian-hong tersenyum, ujarnya kemudian.

Enci Hong, kami harus buru-buru melakukan perjalanan sehingga tak sempat makan dan minum,

sekarang perutku lapar sekali! tolong sediakan makanan

“Baik! aku akan siapkan makanan didapur!” sahut Chin Wan-hong, iapun berlalu dari kamar.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

291

Sepeninggal gadis itu, Hoa Hujin berkata, “Bagaimana keadaan Siang locianpwee? kenapa

Haputule tak kelihatan?”

Hoa Thian-hong menghela nafas panjang ia segera menceritakan semua kejadian yang dialami

selama melakukan perjalanan ke kota Lok yang.

Setelah mengetahui akan nasib sial yang menimpa Siang Tang Lay beserta kedua orang

muridnya, Hoa Hujin tak tahan ikut bersedih hati, ia menghela nafas panjang tiada hentinya.

Tiba-tiba Tio Sam-koh mengelukan tongkat bajanya keatas tanah, kemudian serunya dengan

lantang, “Pia Leng-cu pasti berada dikota ini, bagaimanapun juga kita harus berusaha untuk

menangkap bajingan itu kemudian membacoknya hidup-hidup hingga mampus!”

Hoa Hujin menghela napas panjang, dari balik selimut dia ambil keluar dua carik kertas, sambil

dianggurkan kedepan, katanya, “Engkoh cilik she Ko ini adalah seorang pendekar sejati yang

berjiwa ksatria. Seng ji, engkau harus baik-baik ikat tali persahabatan dengan dirinya”

Hoa Thian-hong menyambut kertas itu dan membaca isinya, pada lembaran pertama tertulislah

kata-kata sebagai berikut,

Kiu-im Kaucu, Pia Leng-cu serta seorang manusia aneh tua dari perkumpulan Mo-kauw yang

bercokol dilaut Teng sut hay telah ber kumpul semua dikota ini, mereka bertujuan jahat terhadap

diri hujin, harap diperhatikan dan waspada selalu”

Sedang pada lembaran kedua tertulislah kata-kata berikut,

“Pia Leng-cu sangat pandai ilmu merubah wajah, saat ini paras muka serta dandanannya kembali

berubah, jejaknya hilang tak ketahuan, Kiu-im Kaucu berdiam dirumah penginapan Ko seng

dipintu kota sebelah utara, makhluk aneh dari perkumpulan Mo-kauw bercokol dikuil kota Shia

hong hio, perlu diketahui makhluk aneh itu pernah berkata demikian kepada Kiu-im Kaucu:

‘Engkau adalah kaucu, apa aku kaucu?’ Kalau dengar dari ucapan tersebut, kemungkinan besar

dia adalah pentolan dari perkumpulan Mo-kauw”

Di bawah surat itu tertulislah namanya sebagai berikut,

“Tertanda, aku yang rendah Ko Tay”

Hoa Thian-hong segera mengernyitkan sepasang alisnya yang tebal, ia bertanya, “Ibu, siapa

yang serahkan surat ini kepadamu?”

Ketika kereta kuda kami baru saja masuk kota, seorang bocah cilik angsurkan selembar kertas

kepadaku, kemudian sewaktu bersan tap malam tadi, dibawah mangkuk sayur kami temukan

pula lembaran surat yang kedua”

Ia berhenti sebentar, kemudian melanjutkan, “Makanan maupun minuman kami dikerjakan

sendiri oleh Hong ji, akupun tak habis mengerti darimana datangnya surat itu?”

Hoa Thian-hong termenung sejenak, lalu ujarnya lagi, “Ilmu silat yang dimiliki saudara Ko kurang

begitu baik, kalau dia harus adu kepandaian dengan tiga orang gembong iblis itu aku takut

kalau….”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

292

“Toako tak usah kuatir” tukas Siau Ngo-ji dengan cepat, “meskipun ilmu silat yang di miliki Ko

toako masih belum bisa menandingi kehebatanmu, tapi tiga sampai lima orang gembong iblispun

tak akan mampu berbuat sesuatu terhadap dirinya”

Hoa Hujin tersenyum, serunya, “Tiga lima orang gembong iblis bukan main kehebatannya lho….

jangan kau anggap sebagai suatu permainan!”

Hoa Thian-hong memandang sekejap ke arah ibunya, lalu berkata, “Saudara cilik she Ko itu baru

berusia empat lima belas tahunan, ilmu silat yang sedang dilatih adalah ilmu pukulan Tiat san

ciang atau pukulan pasir besi.”

Perkataan itu diucapkan sangat mendalam dan mempunyai dua arti rangkap, sudah tentu

sebagai seorang yang cerdas Hoa Hujin dapat memahami maksudnya.

Jangan dibilang Ko Tay masih sangat muda dan belum menginjak dewasa, sekalipun ia sudah

dewasa dan ilmu pukulan pasir besinya telah dilatih hingga mencapai puncak kesempurnaan,

dalam penglihatan Hoa Hujin dan putranya, kepandaian tersebut masih belum terhitung sebagai

Suatu ilmu silat yang bisa diandalkan, tentu saja mereka tak ingin menyaksikan seorang bocah

cilik yang belum dewasa harus jual nyawa bagi kepentingan mereka.

Hoa Hujin berpikir sebentar, lalu ujarnya, “Siau Ngo-ji, dapatkah kau temukan Ko toakomu itu?”

“Untuk menemukan Ko toako sih bisa saja, cuma ia tak dapat datang kemari, dan kitapun tak

dapat pergi kesana”

“Kenapa??”

“Kalau kedua belah pihak telah saling bertemu, bukankah rahasia Ko toako bakal ketahuan? jika

ketiga orang gembong iblis itu mengetahui kalau dia adalah sahabat Hoa toako…. waaah!

kemungkinan besar dia malah akan dicelakai”

“Hmm! jaman memang sudah berubah, pentunganpun bisa jadi siluman! betul-betul hebat!” ejek

Tio Sam-koh dengan suara tajam.

Mendengar sindiran itn, Siau Ngo-ji langsung mengenyitkan sepasang alis matanya.

“Nenek Sam popo! aku toh sudah berlutut dan menyembah kepadamu, kenapa sih engkau begitu

pandang rendah diriku?!” serunya penuh rasa penasaran.

Tio Sam-koh semakin melototkan matanya bulat-bulat.

“Huuh! orang sih kecil tapi nyali mu benar-benar sangat besar….”

“Baik! Baik! Baik!” seru Siau Ngo-ji sambil anggukan kepalanya berulang kali, suatu ketika aku

pasti akan melakukan suatu peker jaan besar untuk diperlihatkan kepadamu”

Hoa Hujin tersenyum simpul, ia saling berhadapan sekejap dengan Hoa Thian-hong lalu

anggukkan kepalanya.

Mereka merasa bahwa setiap perkataan dari Siau Ngo-ji sangat masuk diakal, dalam kenyataan

memang banyak kesulitan yang terdapat dalam peristiwa itu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

293

Beberapa saat kemudian, Chin Wan-hong muncul dalam ruangan menghidangkan sayur dan nasi,

Hoa Thian-hong serta Siau Ngo-ji segera duduk dan bersantap bersama-sama.

“Toa! tiba-tiba Siau Ngo-ji berbisik lirih, apakah makanpun ada peraturannya?”

Mendengar pertanyaan itu Hoa Thian-hong segera tertawa.

“Buat orang persilatan seperti kami, makan sih tak usah pakai aturan, bebas dan santai sajalah!”

Siau Ngo-ji mengangguk, tanpa sungkan-sungkan lagi ia segera ambil nasi dan bersantap dengan

lahapnya.

Melihat pakaian yang dikenakan Siau Ngo-ji sudah amat dekil dan banyak berlubang, celana

sampai sebatas lutut penuh dengan lumpur, sepasang tanganaya hitam, rambut kusut dan awutawutan

persis seperti seorang pengemis cilik. Hoa Hujin segera berpaling ke arah Chin Wan-hong

sambil berkata, “Hong ji, carilah satu stel pakaian baru untuknya, dan perintabkan pelayan untuk

siapkan air mandi!”

“Bibi Hoa, engkau tak usah repot-repot!” seru Siau Ngo-ji sambil berpaling, “aku tak tahan pakai

pakaian baru, tidak sampai beberapa hari toh akhirnya bakal rusak lagi!”

“Kalau sudah rusak kita bicarakan lagi, ayoh cepat bersantap lebih dulu!” kata Hoa Hujin sambil

tertawa.

Chin Wan Hoag sendiri segera berlalu dari ruangan untuk carikan pakaian buat Siau Ngo-ji.

Baru saja kedua orang itu selesai bersantap, pelayan telah menyiapkan air mandi.

Berhubung Siau Ngo-ji adalah seorang bocah cilik yang baru berusia tujuh delapan tahunan,

semua orangpun tidak terlalu memikirkan soal pantangan atau menyingkir dari sana, mereka

merintahkan pelayan untuk letakkan tong besar tempat mandi disudut ruangan, kemudian suruh

bocah itu lepaskan pakaian dan mandi.

Sebenarnya Siau Ngo-ji ada maksud untuk menghindar, tapi karena ia jeri terhadap Hoa Hujin

maka dengan rada jengah akhirnya bocah itu lepaskan pakaian juga untuk mandi.

Tiba-tiba Tio Sam-koh berkata, “Siau Ih, bagaimanapun juga pertarungan ini harus kita adakan,

sekarang Seng ji sudah kembali, aku nenek tua tak sudi menjadi cucu kura-kura terus-terusan!”

“Nenek Sam poo, apa yang kau katakan?!” sambung Hoa Thian-hong dengan cepat.

Dengan wajah uring-uringan Tio Sam-koh berseru, “Setelah membaca dua lembar tulisan itu,

Hong jin selain mengusulkan agar kita bertindak tenang dan memaksakan suatu tutup pintu tidak

keluar dari ruangan barang selangkahpun, dia selalu mengandalkan kelihayan dari kepandaian

perguruannya untuk mempertahankan diri….”

Mendadak Siau Ngo-ji berpaling sambil memperingatkan, “Nenek sam popo, dinding ada celah,

tembok ada telinga, kalau sedang membicarakan masalah yang penting, janganlah berteriakteriak

begitu dong!”

“Bocah busuk! siapa suruh eagkau cerewet dan banyak mulut?” bentak Tio Sam-koh penuh

kegusaran.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

294

“Pia Leng-cu telah lenyap tak ketahuan kemana perginya, siapa tahu kalau ia berdiam dikamar

sebelah, kalau engkau berteriak teriak begitu hingga rahasianya ketahuan, mana mungkin

bangsat itu mau masuk perangkap?”

“Monyet cilik, banyak amat akal busuk mu!” maki Tio Sam-koh, kemudian sambil tertawa

lanjutnya, “Seng ji coba periksalah keadaan disekeliling ruangan ini jangan sampai dugaan dari

monyet cilik ini benar-benar terjadi hingga ada orang yang berhasil mendekati tempat Tinggal

kita”

Hoa Thian-hong tersenyum, dia segera melayang keluar dari ruangan dan memeriksa keadaan

disekeliling tempat itu, kebetulan Chin Wan-hong telah pulang sambil membeli setumpuk

pakaian, dua orang itu segera bersama-sama kembali keruangan.

Semua orang sekali lagi merundingkan siasat untuk menghadapi musuh. Tio Sam-koh adalah

seorang jago tua yang bersifat seperti jahe, makin tua semakin pedas, kalau menurut

pedapatnya, sebelum musuh datang berkunjung, mereka terjang lawan-lawanya lebih dahulu

sehingga musuh jadi kocar kacir.

Tapi Hoa Thian-hong lebih mementingkan keselamatan ibunya, apabila keadaan tidak terlalu

mendesak, ia tak ingin terlalu jauh meninggalkan ibunya.

Chin Wan-hong adalah seorang gadis yang halus dan penurut, setelah kembali kedalam ruangan

dia selalu mengikuti perasaan dan maksud hati mertua serta suaminya, sekarang setelah

mendengar kalau usul dari suaminya persis seperti apa yang dia inginkan, gadis itupun segera

tutup mulut dalam seribu bahsaa tanpa mengajukkan suatu usul yang lain.

Hoa Hujin sendiri dalam keadaan demikian jadi bingung sendiri, untuk beberapa waktu

perundingan jadi macet dan mereka tak berhasil mengambil keputusan apapun juga

Tiba-tiba Siau Ngo-ji berbisik lirih, “Enso, kepandaian apakah yang merupakan kepandaian

terampuh dari perguruan mu?”

Sambil menyisir rambut Siau Ngo-ji dengan sisir, Chin Wan-hong tertawa.

“Ketika suhu menyaksikan ilmu silatku terlalu cetek, maka dia telah menghadiahkan sedikit kabut

sembilan bisa kepadaku, kabut beracun itu tidak berwarna tidak berbau, jika disebarkan diudara

maka kabut itu tetap menggumpal dan sama sekali tidak buyar, barang siapa tersentuh oleh

racun itu maka dia akan segera keracunan hebat dan jatuh tak sadarkan diri!”

“Ooh! kalau begitu kabut beracun itu pasti lihay sekali, tapi kalau dihembus angin bakal buyar

atau tidak?”

“Kalau anginnya terlalu besar tentu saja akan buyar, tapi kalau racun itu disebar dalam ruangan

kemudian pintu kamar dikunci rapat-rapat, sepuluh sampai setengah bulau pun tak bakal buyar!”

“Andaikata engkau sabarkan kabut beracun itu dibelakang pintu, kemudian ada musuh yang

menerjang pintu dan masuk kemari, bukankah ada hembusan angin yang bakal muncul

mengikuti hempasan pintu itu? bagaimana kalau racun itu sampai terhembus buyar dan malahan

meracuni orang yang ada didalam kamar?”

Semua orang merasa terperanjat sesudah mendengar perkataan itu, mereka sama sekali tak

menyangka kalau Siau Ngo-ji dengan usianya yang masih begitu muda ternyata mempunyai jalan

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

295

pikiran yang cermat dan teliti, semua orang merasa malu sendiri dan perhatian mereka terhadap

kecerdasan bocah itupun makin berlipat ganda.

Chin Wan-hong sangat berharap bisa menggerakkan hati Tio Sam-koh pergi menempuh bahaya,

melihat bocah itu menanyakan keampuhan kabut sembilan racun, dengan cepat sahutnya, “Aku

dapat sebarkan kabut beracun itu di….”

“Lain kali tak usah mengungkap soal kabut beracun lagi,” tukas Siau Ngo-ji dengan cepat, “hatihati

kalau sampai rahasia tersebut kedengaran orang lain”

Chin Wan Hoag menganggukan kepalanya berulang kali.

“Aku dapat meletakkan benda itu ditempat yang paling ideal, andaikata ada orang menerjang

pintu dan masuk kedalam ruangan, gulungan angin hempasan justru malah akan menyebar

benda itu untuk menyumbat pintu masuk.”

“Bagus sekali!” seru Siau Ngo-ji dengan sepasang alis mata berkenyit, “tapi manjur tidak kalah

digunakan untuk menghadapi orang-orang yang berilmu silat tinggi?”

“Menurut guruku, asal makhluk ini terdiri dari darah dan daging, sampai dimanapun

sempurnanya tenaga dalam yang dimiliki, tak mungkin akan mampu untuk menghadapi

kehebatan benda itu.”

Paras muka Siau Ngo-ji segera berseri-seri, sambil berpaling serunya, “Bibi Hoa, aku punya satu

ide bagus!”

“Coba katakan!”

“Meskipun ide ku ini tak terhitung sangat bagus, tapi….”

Mendadak Hoa Thiaa Hong melayang kesisi pintu dan sepasang lengannya bekerja cepat

membentangkan pintu ruangan mereka.

“Sreeeet….!” serentetan cahaya putih meluncur keluar dari arah pintu ruangan, dalam sekejap

mata bayangan tarsebut telah lenyap dari pandangan.

Hoa Thian-hong mengejar sampai diluar ruangan setengah baris ia mencari dan menggeledah

sekitar tempat itu namun tiada sesuatu jejak yang berhasil ditemukan.

Akhirnya dengan tangan hampa ia kembali kedalam ruangan, sesudah menutup pintu katanya,

“Bayangan putih tadi adalah rase salju milik Ku Ing-ing!”

“Makhluk aneh rase salju? bukankah binatang itu adalah binatang peliharaan Giok Teng Hujin

dari perkumpulan Thong-thian-kauw tempo dulu?” kata Siau Ngo-ji keheranan.

“Huuhh! rupanya segala apapun diketahui olehmu!” jengek Tio Sam-koh.

Siau Ngo-ji tersenyum, seakan-kan hendak memperkenalkan diri, ia berkata, “Mulai umur lima

tahun aku berkelana di dunia persilatan, kalau dihitung-hitung sekarang sudah hampir tiga tahun

lamanya, meskipun tidak banyak yang kulihat tapi banyak sekali yang kudengar.”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

296

“Masih kecil banyak pengalaman, aku lihat engkau sudah hampir tiba saatnya untuk cici tangan

dibaskom emas dan mengundurkan diri dari keramaian dunia persilatan!” ejek Tio Sam-koh lagi

sambil cibirkan bibirnya.

***

MENDENGAR sindiran itu, dengan mata melotor besar Siau Ngo-ji segera berteraik, “Nenek Sim

popo, aku toh…. sudah….”

“Oooh oooh…. yaa. aku Lupa! engkau toh sudah berlutut dan menyembah kepadaku!” sela Tio

Sam-koh kembali dengan cepat.

Hoa Thian-hong yang disamping gelanggang segera tertawa terbahak-bahak.

“Haahh…. haaahh…. hhaahh…. Siau Ngo-ji, nenek Sam popo punya reputasi membunuh

beberapa ratus orang persilatan, akupun pernah kena ditempeleng oleh dia orang tua, lain kali

engkau musti lebih berhati-hati lho!”

“Kenapa?” seru Tio Sam-koh ketus, “apa aku nenek tua tak boleh menggaplok dirimu?”

Hoa Thian-hong menjura berulang kali, “Boleh…. ooh boleh…. boleh, tentu saja boleh! kalau

Seng ji kurangajar, silahkan Sam popo menghajar sepuasnya”

Melihat keadaan dari Hoa toako nya, diam-diam Siau Ngo-ji berpikir dalam hati kecilnya, “Hoa

toaiko pun berani dihajar oleh nenek tua itu, waaah! dia musti galak sekali, aku harus lebih

berhati-hati lagi….”

Sementara itu, sambil tertawa Hoa Hujin telah berkata, “Siau Ngo-ji, Ku Ing Isg adalah nama asli

dari Giok Teng Hujin, tapi persoalan ini tidak terlalu penting, coba katakan dulu ba gaimanakah

idemu tadi? ‘

Tiba-tiba tetdengar suara langkah kaki manusia berkumandang datang, kemudian ada orang

mengetuk pintu.

Hoa Thian-hong segera membuka pintu kamar, seorang pelayan menyerahkan sepasang sepatu

kecil terbuat dari kulit menjangan sambil ujarnya, “Hoa ya, tadi siau hujin menitahkan hamba

untuk memberikan sepatu ini!”

“Oooh! terima kasih” sahut si anak muda itu sambil menerimanya.

Sepatu kecil itu dibeli untuk Siau Ngo-ji, dengan cepat bocah itu menerimanya sambil dipakai,

sambil tertawa cekikikan karena gembira ia mengomel.

Hiiihb…. hhiiih…. hiiihh…. bagus amat sepatu ini, waah! baru pertama kali ini aku pakai sepatu

baru…. oohh! enso, engkau memang baik sekali, ensoku memang cantik, manis dan lagi baik

deeh”

Tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang aneh, dengan cepat dirabanya dalam sepatu itu, sesaat

kemudian ia ambil keluar secarik kertas yang dilipat dalam sepatu itu.

Siau Ngo-ji segera membuka kertas itu dan dilihatnya beberapa saat, kemudian kepada Chin

Wan-hong dia berkata, “Enso, dua buah huruf ini adalah nama dari Ko toako, sedang ini adalah

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

297

tulisan ‘Pek’ dan tulisan ini adalah huruf ‘giok’ dan yang ini…. huruf yang lain pernah enso temui

tidak?”

Chin Wan tersenyum, ia ambil kertas itu kemudian diserahkan kepada Hoa Hujin.

Dengan cepat Hoa Hujin periksa isi surat tersebut yang kira-kira berbunyi demikian,

“Giok Teng Hujin dari perkumpulan Thong-thian-kauw sudah tiba dikota ini, sekarang dia tinggal

disebuah penginapan kecil dijalan yang terpencil dekat pintu kota sebelah selatan, ia belum

berjumpa muka dengan Kiu-im Kaucu, sedangkan Pek Kun-gie dari perkumpulan Sin kie ping

seorang diri baru saja masuk kedalam kota, sekarang dia sedang berkeliling kota dengan wajah

yang kusut, rupanya kejernihan otaknya agak terganggu sebab aku lihat ia agak tidak awas

pikirannya….!

Tertanda: aku yang muda Ko Tay”

Waktu itu Tio Sam-koh duduk disebelah kanan Hoa Hujin, sedang Hoa Thian-hong duduk

disamping pembaringan, mereka bertiga telah membaca isi surat itu bersama-sama.

Selesai membaca paras muka Hoa Hujin seketika nampak murung dan alis matanya berkenyit,

sedangkan Tio Sam-koh melototkan matanya mengerling sekejap ke arah Hoa Thian-hong

dengan pandangan dingin, seolah-olah sedang berkata demikian, *Hmm! kesemuanya ini adalah

gara-gara mu, coba aku mau lihat bagaimana caramu untuk mengatasi kesulitan ini?”

Hoa Thian-hong sendiripun gelagapan dibuatnya, buru-buru dia alihkan sorot matanya melirik

sekejap ke arah Chin Wan-hong.

Gadis she Chin itu sendiri sewaktu menyaksikan paras muka mertua nya menunjukkan

kerumungan, dengan perasaan gelisah dia segera bertanya, “Ibu, persoalan apa yang membuat

engkau jadi kesal dan murung….?”

Nada ucapannya penuh perasaan kuatir, dan perasaan itu dengan jelas tertera nyata di atas

wajahnya.

Hoa Hujin tertawa terpaksa, sahutnya, “Pek Kun-gie ikut mengejar kemari, menurut laporan Ko

Tay jalan pikiran gadis itu sedikit kurang waras”

“Ooh….! rupanya begitu!” sambung Siau Ngo-ji dengan cepat, “bibi tak usah gelisah, tentara

menyerbu kita halau, air bah datang kita bendung, sekalipun langit ambruk rasanya Hoa toako

masih mumpu untuk mengatasinya”

Chin Wan-hong tersenyum.

“Nona Pek sama sekali tidak mendatangkan beacaca bagi kita! ujarnya lembut, sedangkan Giok

Teng Hujin, adalah sahabat karib Hoa toako mu, diapun tak akan mempunyai maksud jelek

terhadap diri kita”

“Ooh! kalau memang begitu, urusankan lebih gampang untuk diselesaikan?”

Ia berhenti sebentar, kemudian melanjutkan, “Aku paling benci mengadakan hubungan dengan

kaum wanita, lebih baik kita tak usah gubris persoalan ini lagi, ayoh kita teruskan perundingan

untuk menangkap penjahat saja!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

298

Hoa Thian-hong sendiripun merasakan suatu perasaan yang amat tak sedap, waktu itu dia

memang bermaksud untuk alihkan pokok pembicaraan kesoal lain, mendengar ucapan itu

dengan gembira ia segera berseru, “Coba katakanlah, bagaimana caranya untuk merangkap

penjahat?”

Siau Ngo-ji mendehem ringan, dengan muka serius dia berkata, “Kalau kita musti tunggu sampai

penjahat datang mencari gara- gara, maka satu hari penjahat tak datang berarti kita musti

tunggu seharian penuh dengan sia-sia, setahun tidak datang kitapun musti siap siaga selama

setahun penuh, dari sini menuju ke San see masih amat jasuh dan makin banyak pula yang

musti kita hadapi, sekali pun sudah sampai di San see dengan selamat toh Hoa toako masih

tetap harus berjaga-jaga dirumah tanpa berani tinggalkan pintu gerbang barang satu langkahpun

jua.

“Eeei…. bocah cilik, ternyata engkau punya otak yang encer juga” seru Tío Sam-koh sambil

tertawa, “lebih baik setujui saja pendapat dari aku nenek tua, ayoh kita cari dulu jejak dari Pia

Leng-cu toosu bajingan itu, kalau Pia Leng-cu tidak ketemu maka kita cari gara-gara dengan Kiu

tm kaucu”

Bertempur sih harus bertempur, cuma kita harus mencari jalan yang paling tepat.

“Apa kamu bilang?” teriak Tio Sam-koh dengan mata melotot bulat-bulat.

Siau Ngo-ji tertawa cekikikan.

Hiiih…. hiihh…. hhiiih…. nenek Sam po po jangan gelisah dahulu, aku toh akan menyetujui

dengan pendapat dari kau orang tua”

“Hmm! bocah ingusan, pandai benar putar kemudi mengikuti hembusan angin….”

Siau Ngo-ji tertawa.

“Ooh yaaa? masa begitu? menurut aku, sewaktu aku dan Hoa toako pergi, kalau ada orang

bermaksud jabat dan hendak menyerang ruangan ini mumpung Hoa toako dan aku tak ada

disini, maka kita harus suruh orang itu bisa datang tak bisa pergi dan rasakan dulu kelihayan dari

enso”

Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan, “Sebaliknya kalau aku dan Hoa toako tetap berjaga

dirumah penginapan ini, kecuali kalau mereka bertiga bisa saling bertukar syarat dan menyerang

secara bersama, aku rasa tak mungkin mereka bersedia menempuh bahaya sendirian dan

biarkan orang lain pungut keuntungan dari samping….”

Hoa Hujin mengangguk setelah mendengar perkataan itu.

“Perkataan dari Siau Ngo-ji memang sangat masuk diakal, dan siasat ini memang dapat

dilaksanakan”

Siau Ngo-ji jadi kegirangan, serunya kemudian, “Kalau memang begitu, mari kita lakukan sesuai

dengan rencana tersebut.”

Kepada Chin Wan-hong ia menambahkan, “Enso, aku dengar orang bilang jalanan yang telah

dilalui oleh orang-orang dari lembah Hu-liang-kok tak dapat dilalui orang lain sebab kalau tidak

maka orang itu bakal sial.”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

299

“Kenapa?” tanya Chin Wan-hong tercengang.

“Sebab jalanan tersebut sudah mengandung racun keji, bukankah begitu?”

Chin Wan-hong segera tertawa lebar.

“Aaaah! tidak sampai selihay apa yang kau bayangkan, aku baru belajar sedikit tentu

kemampuanku jauh lebih terbatas.”

“Aaaai….!” seru Siau Ngo-ji gegetun, “kalau ada kesempatan kita musti lebih banyak mempelajari

beberapa macam kepandaian yang luar biasa itu, tapi bagaimanapun jua tempat yang telah kau

raba tentu bisa mengandung racun bukan?”

“Kalau dibalik telapak tangan kita sudah diisi dengan obat racun, tentu saja setiap benda yang

telah kuraba dapat mengandung racun yang jahat pula.”

“Kalau memang begitu bagus sekali!” seru Siau Ngo-ji, “cepat polesi pedang baja milik Hoa toako

itu dengan obat racun, tapi obat musti jenis obat yang tak bisa hilang dalam waktu lama dan

jangan lupa polesi pula tangan Hoa toako dengan obat pemunah.”

“Kenapa?” tanya Chm Wan Hong dengan wajah sangsi.

“Sampai detik ini sudah ada empat orang yang mengincar pedang baja tersebut, mereka sudah

pasti akan menggunakan kekerasan kalau dapat dan menggunakan cara mencuri kalau merasa

sulit, untuk menghindari segala kemungkinan yanr terjadi, dan siapa tahu kalau Hoa toako lagi

teledor sehingga ada orang berhasil merebutnya, maka biarlah orang pertama yang mencuri

lebih dulu harus merasakan bencana yang datang tidak terduga itu….”

“Ehmm! cerdas amat bocah ini, akalnya banyak dan jalan pikirannya jauh ke arah depan” pikir

Hoa Thian-hong didalam hati, “kalau usianya lebih meningkat dan ilmu silatnya lebih hebat,

kemungkinan besar dia bisa menjadi seorang jago yang sangat lihay!”

Tio Sam-koh sebagai seorang nenek tua yang sangat emosi dan benci terhadap segala

kejahatan, nomor satu yang menyatakan persetujuannya, ia segera berseru, “Hong ji, bukankah

sebelum tinggalkan dirimu beberapa orang sucimu itu sudah tinggalkan banyak sekali benda

wasiat untukmu? kalau obat-obatan itu bisa digabung jadi satu, cepatlah poleskan diatas tubuh

pedang baja itu”

Chin Wan-hong tidak segera menjawab, sorot matanya segera dialihkan keatas wajah Hoa Hujin

dan menantikan persetujuannya.

Hoa Thian-hong berpikir sebentar, diapun merasa apabila kitab pedang Kiam keng itu sampai

terjatuh ketangan kawanan iblis dari golongan sesat, maka ibarat harimau yang tumbuh sayap,

mereka pasti akan makin menjadi dan berbuat kejahatan serta keonaran dimana-mana, apalagi

kalau ilmu silatnya sudah mendapat kemajuan yang pesat, niscaya tak ada orang yang mampu

mengendalikan mereka lagi, untuk mencegah segala kemungkinan yang tak diinginkan dan

menghindari tumbuhnya bibit bencana bagi umat persilatan memang sepantasnya kalau sedia

payung sebelum hujan.

Maka diapun mengangguk tanda setuju.

Buru-buru Chin Wan-hong lari masuk kedapur dan mengambil tungku berisi api, kemudian

melepaskan buntalannya dan ambil keluar sebuah bungkusan obat.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

300

Siau Ngo-ji yang masih bocah dan besar sekali rasa ingin tahunya, dengan cepat mendekati Chin

Wan-hong, dia ikut menengok kedalam kantong kulit itu, ketika dilihatnya isi kantong terdiri dari

pelbagai macam botol kumala yang berbentuk aneh-aneh dan ada yang besar ada pula yang

kecil, dia segera berseru, “Enso, engkau harus pilihkan dari jenis yang paling lihay, kalau bisa

carikan yang amat hebat sehingga kalau tersentuh lantas tak bisa berkutik, dalam sekejap mata

putuslah nyawanya.”

Chin Wan-hong tertawa, dia ambil keluar dua macam botol porselen dan membuka salah satu

botol diantaranya, kemudian ia perintahkan kepada Hoa Thian-hong untuk merentangkan telapak

tangannya.

Si anak muda itu merentangkan telapak tangannya dan Chin Wan-hong menuang keluar

segumpal cairan putih dari dalam botol itu, dia suruh Hoa Thian-hong untuk mempolesi seluruh

telapak tangannya dengan ca iran tadi kemudian memanggangnya sebentar diatas tungku api itu

hingga jadi kering.

Hoa Thian-hong tak banyak bicara, dia keringkan telapak tangannya diatas tungku api, kemudian

setelah kering diciumnya dengan hidung, ternyata obat itu sama sekali tidak meninggalkan bau

apapun juga.

“Obat pemunah itu telah meresap masuk kedalam kulit tanganmu, selama tujuh puluh hari obat

itu masih bekerja, tapi jangan sampai terkena cuka karena obat itu segera akan buyar….” pesan

Chin Wan-hong.

Hoa Thian-hong tertawa.

“Kalau obat ini dipoleskan diatas telapak tangan, masa tak ada kejelekannya”

Tiba-tiba ia teringat kembali akan hubungan mesrahnya dengan sang istri, apabila merugikan

tentu saja istrinya tak akan berbuat demikian terhadap dirinya, oleh karena itu setelah bicara

sampai ditengah jalan ia membungkam kembali.

“Obat itu adalah obat pemunah, sekalipun termakan kedalam perut juga tidak menjadi soal….”

kata dara itu kembali, dia ambil botol yang lain dan segera membuka penutupnya.

“Apakah obat itu akan kau poleskan keatas pandangku?”

Chin Wan-hong mengangguk.

“Mulai sekarang, orang lain tak boleh menyentuh pedang bajamu ini dan engkau sendiripun

harus hati-hati, jangan sampai biarkan pedang baja itu menyentuh ditubuh bagian lain, kalau

sampai salah tersentuh cepatlah telan obat pemunah, walaupun cuma sedikit itu sudah lebih dari

cukup”

“Ooh…. benar-benar menarik hati!” seru Hoa Thian-hong sambil tertawa, dia segera cabut keluar

pedang bajanya dan diangsurkan kedepan.

Isi botol kumala itu adalah cairan obat berwarna kuning, Chin Wan-hong ambil kapas dan

menyuruh Hoa Thian-hong untuk mempoleskan obat racun itu keatas tubuh pedangnya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

301

Pedang baja itu bentuknya memang aneh, dari ujung sampai gagang pedangnya merupakan satu

bentuk yang sama, keadaannya mirip pedang tapi dalam kenyataan lebih mendekati sebagai

sebuah pentungan, baja.

Mula-mula Hoa Thian-hong mempolesi gagang pedangnya lebih dahulu, kemudian setelah

dipanaskan diatas tungku api sampai kering, dia baru mempolesi bagian lain dari senjata

tersebut.

Pedang baja itu panjang dan besar, obat racun dalam botol itu hampir habis sama sekali dipakai

untuk mempolesi pedang itu, walaupun disana sini terpaksa ada yang di polesi dengan begitu

saja.

Dalam pada itu, Siau Ngo-ji yang selama ini membungkam, tiba-tiba ulurkan telapak tangannya

kedepan sambil memohon, “Enso yang baik hati, tanganku belum kau polesi dengan obat

pemunah itu!”

“Buat apa?! tanya sang dara dengan wajah tercengang.

Dengan muka murung dan dahi berkerut Siau Ngo-ji menjawab, “Andaikata pedang baja milik

Hoa toako itu sampai menyentuh tanganku, kan aku bisa berabe….!”

Chin Wan-hong tersenyum, melihat paras mukanya yang patut dikasihani terpaksa dia ambil

keluar obat pemunahnya dan dilepaskan pula diatas tangannya.

Siau Ngo-ji dengan penuh semangat mempoleskan obat pemunah itu disekitar telapak tangan

sampai pergelangan tangannya, kemudian dikeringkan diatas tungku api, begitu seram wajahnya

sehingga nampaklah sikapnya yang bersungguh-sungguh.

Menanti obat itu sudah kering, dia baru tunjukkan tangannya kehadapan Chin Wan-hong sambil

berseru, “Eoso yang manis, coba lihatlah! apakah sudah beres?”

“Beres!” sahut Chin Wau Hong sambil tersenyum, “dalam tujuh puluh hari mendatang jangan

sampai menyentuh cuka!”

Siau Ngo-ji amat kegirangan, dengan muka berseri-seri ia segera berseru, “Hoa toako, sekarang

waktu menunjukkan kentongan ketiga, mari kita segera berangkat!”

Hoa Thian-hong tersenyum.

“Hari sudah malam, lebih baik engkau tetap tinggal dirumah penginapan saja.”

“Apa?” seru Siau Ngo-ji dengan wajah melongo.

Chin Wan-hong jadi geli melihat kekagetan bocah itu, ia tersenyum dan menjawab, “Ilmu silat

yang dimiliki toakomu sangat tinggi dan dia tak membutuhkan bantuan orang lain, kalau engkau

tidak tinggal disini untuk menjaga keamanan dirumah penginapan ini, kita bisa ketakutan

jadinya….! tinggal saja disini yaa?”

Siau Ngo-ji termenung dan berpikir keras dengan alis mata berkenyit.

“Hmmm….” untuk beberapa saat lamanya ia jadi serba salah dibuatnya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

302

Tio Sam-koh mencibirkan bibirnya, sambil ulapkan tangannya ke arah Hoa Thian-hong, dia

menghardik, “Ayoh cepat enyah dari sini!”

Hoa Thian-hong tetap berdiri ditempat semula, sorot matanya yang memancarkan cahaya

keraguan dialihkan keatas wajah ibunya.

Dengan suara lirih Hoa Hujin segera berkata, “Pergilah untuk mencoba kekuatan dari Kiu-im

Kaucu tersebut, disini toh ada Sam-koh dan Hong ji dua orang! kendatipun Pia Leng-cu datang

kemari, dia tak mungkin bisa mendapat keuntungan apa-apa.”

“Tapi disini sudah hadir seorang jago dari Mo-kauw, bagaimana sikap serta tujuannya sulit untuk

diraba ataupun diduga….”

“Kita sudah berani terjun ke dunia persilatan, harus berani pula menghadapi segala resikonya,

engkau tak usah banyak berpikir dan cepatlah pergi!” seru Hoa Hujin sambil ulapkan tangannya.

Dengan perasaan apa boleh buat, terpaksa Hoa Thian-hong menyelipkan pedang bajanya

dipinggang dan keluar dari ruangan tersebut.

Tiba-tiba Siau Ngo-ji mengejar sampai didepan pintu, sapanya, “Eeeeii…. toako!”

“Ada apa saudaraku?” tanya Hoa Thian-hong sambil berpaling.

Dengan suara berat Siau Ngo-ji berpesan, “Kalau tak bisa ungguli musuh cepatlah kabur, kalau

bisa robohkan lawan sakali bacok kutungi badannya jadi dua bagian, asal gembong iblis itu

sudah mampus maka bencana pun bisa kita hindari, engkau jangan sekali-kali berhati lemah

lembut!”

Terkesiap hati Hoa Thian-hong mendengar perkataan itu, dalam hati ia segera berpikir, “Tabiat

bocah ini rada mirip dengan watak dari ibu, sungguh tebal hawa nafsu membunuhnya!”

Dalam hati ia berpikir demikian, diluaran ia mengangguk dan segera berlalu dari sana.

Setelah keluar dari ruangan kembali pemuda itu awasi keadaan disekeliliagnya, setelah yakin tak

ada orang, dia enjotkan badan dan melayang naik keatas atap rumah.

Malam itu udara sangat gelap, langit tiada bintang ataupun rembulan, cuaca gelap gulita

sehingga membuat suasana jadi menyeramkan, kecuali kerlipan cahaya dari lampu jalan nun

diujung sana, tiada kedengaran suara yang mendesis, suasana amat hening dan sepi.

Dengan gerak rubuh yang enteng dan cekatan, Hoa Thian-hong bersembunyi dibelakang

wuwungan rumah, dengan sorot matanya yang tajam perlahan-lahan ia menyapu keadaan

disekitar tempat itu dan menjaga jangan sampai ada yang menyergap ibunya disaat ia sedang

pergi.

Walaupun langit sangat gelap dan tiada sinar yang menerangi tempat itu, namun dengan sorot

matanya yang tajam ia dapat melihat semua benda disekitarnya dengan jelas.

Mendadak…. ia temukan sesosok bayangan manusia berdiri diatas rumah tepat diseberangnya,

dan orang itu rupanya sedang mem perhatikan ke arahnya.

Dalam hati Hoa Thian-hong segera berpikir, “Sungguh besar nyali orang ini, ia berani betul

berdiri diatas atap rumah tanpa berusaha untuk menyembunyikan jejaknya”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

303

Berpikir sampai disitu, ia segera awasi keadaan disekitar tempat itu dan segera melayang turun

dari atas atap rumah, dengan menyelusup lewat wuwungan rumah dia berkelebat maju kedepan.

Setelah menyeberangi jalan raya, dia berpuiar satu lingkaran lebar dan diam-diam loncat naik

keatas atap rumah, sekarang posisi nya sudah dibelakang bayangan manusia itu.

Bayangan manusia tersebut masih tetap berdiri ditempat semula, walaupun sudah makan waktu

cukup lama namun ia masih tetap tak bergeser dari tempat semula. Hoa Thian-hong makin

mendekati orang itu tapi hatinya segera bedebar keras.

Ternyata orang yang berdiri diatas atap rumah itu bukan lain adalah putri kesayangan dari Pek

Siau-thian, ketua pekumpulan Sin-kie-pang yang selama ini mencintai dirinya…. Pek Kun-gie

adanya.

Dengan tenang Pek Kun-gie berdiri diatas atap rumah, biji matanya yang bening basah oleh air

mata, dengan pandangan sayu ia awasi rumah penginapan yang didiami oleh Hoa Thian-hong itu

tanpa berkedip, badannya kaku bagaikan patung namun alisnya berkeryit memancarkan

kepedihan hati yang amat tebal, membuat siapa pun yang memandang ikut beriba hati.

Hoa Thian-hong yang bersembunyi ditempat kegelapan sangat terharu melihat sikap gadis itu,

sambil memandang bayangan pung gungnya yang liuk-liuk indah, tanpa sadar air mata jatuh

berlinang membasahi pipinya, dalam hati ia bergumam, “Ooh…. Kun Gie! Kun Gie sayang! buat

apa kau menyiksa diri? aku sudah beristri dan berkeluarga, buat apa engkau masih mengerang

akan diriku?”

Angin malam berhembus lewat mengibarkan ujung baju Pek Kun-gie, namun dara itu masih tetap

tidak merasa, ia tetap berdiri tidak bergerak ditempat semula.

Lama sekali dilihatnya gadis itu tak berkutik terus dari tempat semula, hatinya jadi kecut,

pikirnya, “Ooh Kun Gi! engkau akan menanti sampai kapan? apakah engkau hendak berdiri disitu

semalam suntuk?”

Pek Kun-gie adalah seorang gadis yang sangat cantik, pria manapun yang berjumpa dengan

dirinya kebanyakan terpikat kepadanya, tapi rasa cinta gadis itu terhadap Hoa Thian-hong sudah

mencapai pada taraf yang sukar dilukiskan dengan kata-kata, si anak muda itu tentu saja dapat

merasakan pula pancaran cinta yang diperlihatkan dara itu kepadanya, tapi pemuda itu sadar

dengan keadaan nya pada saat ini, dia telah beristri sedang pihak lain adalah gadis perawan, dia

tak ingin merusak kehidupan dara itu karena dirinya.

Malam semakin kelam, baju yang mereka kenakan telah basah oleh embun tapi Hoa Thian-hong

tetap berdiri ditempat persembunyiannya, ia tak tega meninggalkan gadis itu, pemuda itu hendak

maju mendekati dan menghibur dirinya, tapi bayangan sekelompok perempuan segera muncul

dalam benaknyaa.

Bayangan itu terdiri dari raut wajah Chin Wan-hong, ibunya, Kiu-tok Sianci, Biau-nia Sam-sian

serta Tio Sam-koh. Pemuda itu merasa seolah-olah kaum perempuan itu melotot ke arahnya dan

mengawas gerak-geriknya terhadap Pek Kun-gie….

Tiba-tiba…. telinganya seakan-akan mendengar lagi suara peringatan dari Kiu-tok Sianci yang

dingin, “Seng ji”, engkau harus ingat! kalau engkau tidak setia dalam cinta dan mencari bini lain,

atau kau berani melakukan sesuatu perbuatan yang merugikan Hong ji, aku bersumpah akan

mencabut selembar jiwamu!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

304

Kemudian ia teringat kembali suara dari ibunya yang tegas dan berat, “Harap siau ci legakan

hati, kalau Seng ji berani mengkhianati cintanya, aku akan potong sendiri batok kepalanya untuk

dikirim ke lembah Hu-liang-kok dan minta maaf kepadamu!”

Teringat kembali akan perkataan dari dua orang itu, dia merasakan hatinya jadi kecut dan

seakan-akan kepalanya diguyur air dingin sebaskom, tanpa sadar peluh dingin mengucur keluar

membasahi seluruh tubuhnya.

Dalam hati ia segera berpikir, “Daripada bertemu lebih baik tak berjumpa, daripada

kesalahpahaman ini kian hari kian berlarut-larut….!”

Karena berpendapat demikian, ia segera ambil keputusan untuk tinggalkan tempat itu secara

diam-diam.

Tapi bagaimanapun juga manusia bukanlah pohon atau rumput yang tidak berperasaan,

siapakah yang tidak terharu kalau menyaksikan pemandangan seperti itu? siapa yang tidak

beriba melihat kesetiaan cintanya? apalagi makin gagah seorang pria semakin besar pula rasa

cintanya pada pihak yang lain.

Tanpa disadari oleh Hoa Thian-hong sendiri, benih cintanya terhadap Pek Kun-gie sudah

tertanam sejak banyak waktu, semakin tercekam oleh lingkungan yang serba terbatas, makin

berkobar cinta kasihnya terhadap gadis itu, hanya saja larangan dari angkatan tuanya membuat

pemuda itu tak berani mengutarakan perasaan hatinya itu.

Tapi benih cinta yang tersembunyi dalam lubuk hatinya kian hari kian tumbuh dengan suburnya,

dan rasa cintanya terhadap gadis itupun makin lama makin bertambah, apalagi sekarang

dilihatnya gadis itu berdiri termangu-mangu ditengah malam yang dingin sambil mengawasi

kamar tidurnya membuat Hoa Thian-hong merasakan hati nya jadi hancur berkeping-keping, dia

ingin pergi dengan keraskan hati, namun kakinya terasa tak mau diajak psrgi….

Entah berapa lama sudah lewat, tiba-tiba Pek Kun-gie bergumam seorang diri, “Apakah engkau

sudah tidur? aku….”

Walaupun bisikan itu amat lirih tapi bagi pendengaran Hoa Thian-hong cukup membuat hatinya

jadi remuk rendam, hampir saja ia tak mampu menguasai emosinya dan menerjang kedepan

serta memeluk gadis itu erat-erat.

Tapi ingatan lain dengan cepat berkelebat dalam benaknya, “Dia adalah seorang gadis perawan

yang masih suci, sedang aku telah beristri, kalau aku mempunyai bubungan gelap dengan dirinya

maka nama baiknya pasti akan ternoda, itu berarti aku telah menghancurkan kehidupannya,

aaai…. aku tak boleh mencelakai masa depannya!”

Terdengar Pek Kun-gie bergumam lagi dengan suara lirih”

“Oooh…. Thian-hong sayang, engkau telah tidur? aku akan menunggu sebentar lagi, setelah kau

tidur nyenyak aku baru akan berlalu dari sini….”

Bisikan lirih yang mirip igauan tersebut penuh dengan rasa cinta yang tebal, meski pun terselip

nada yang begitu memilukan hati….

Hoa Thian-hong yang jantan, pada saat ini tak dapat menahan pergolakan emosinya lagi, dia

ambil keputusan untuk munculkan diri dan berjumpa dengan gadis manis itu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

305

Tapi…. sebelum pemuda itu sempat melangkah maju, tiba-tiba ia saksikan sekujur badan Pek

Kun-gie gemetar keras kemudian menjerit kaget….

Hoa Thian-hong terkesiap, dia segera alihkan sorot matanya kedepan, sesosok bayangan

manusia tahu-tahu muncul diatas atap rumah penginapan itu dan sedang awasi ruang

penginapan sebelah belakang.

Jarak kedua belah pihak hanya terpaut satu tombak belaka, karena pendatang tak diinginkan itu

muncul dari arah utara sedang tubuh Pek Kun-gie kebetulan tertutup oleh bangunan loteng yang

tinggi, maka orang itu tidak menemukan jejaknya.

Sekilas pemandangan Hoa Thian-hong dapat kenali pendatang yang tak diundang itu sebagai

Kiu-im Kaucu, bawa amarahnya segera berkobar didalam dada, pikirnya, “Pia Leng-cu saja belum

datang, tak nyana dia sebagai seorang ketua dari suatu perkumpulan telah datang lebih dahulu

kesana, manusia ini benar-benar tak tahu diri!”

Tiba-tiba terdengar Pek Kun-gie membentak keras, “Hey Kiu-im Kaucu!”

Pada waktu itu Kiu-im Kaucu sedang mengawasi daerah di sekitarnya, ketika mendengar

bentakan itu dia segera berpaling, tapi setelah diketahuinya kalau orang jtu adalah Pek Kun-gie,

dengan gerak tubuh yang amat cepat ia menyeberangi jalan raya dan berdiri tepat dihadapan

dara tesebut.

Dengan pandangan yang tenang Pek Kun-gie melirik sekejap ke arah Kiu-im Kaucu, wajahnya

sama sekali tidak menunjukkan perasaan jeri ataupun takut, dengan suara ringan tegurnya, “Dia

sudah tidur pulas, janganlah mengganggu ketenangan tidurnya….!”

Mula-mula Kiu-im Kaucu agak tertegun, tapi dengan cepat ia dapat menangkap apa yang

dimaksudkan, dalam hati segera berpikir, “Karena sedihnya budak ini sudah kehilangan

kesadaran otaknya, bahkan mendekati orang yang tak waras otaknya.”

Sementara dalam hati berpikir demikian diluaran ia tertawa dan mengejek, “Tahukah engkau,

pada saat ini Hoa Thian-hong tidur sepembaringan dengan siapa?”

Rasa sedih yang tak terkirakan berkelebat diatas wajah Pek Kun-gie, dengan muka murung

jawabnya, “Tentu saja aku tahu, dia telah menikah dengan Chin Wan-hong dan tentunya tidur

dengan gadis itu.”

“Benar dan tepat sekali perkataanmu itu, mereka sudah menikah dan sekarang lagi bersenangsenang

didalam kamar, buat apa engkau berdiri termangu-mangu ditempat ini?”

“Anjing bedebah!” diam-diam Hoa Thian-hong menyumpah dalam hati kecilnya, “dalam keadaan

seperti inipun dia masih tega untuk menyakiti hatinya dengan kata-kata seperti itu”

Terdengar Pek Kun-gie dengan suara tawar menjawab, “Kiu-tok Sianci maupun Chin Pek-cuan

adalah tuan penolong dari keluarganya, sebagai seorang yang setia kawan dan berjiwa gagah

apalagi sebagai seorang bocah yang berbakti kepada orang tuanya, tentu saja ia tak mau

membangkang perintah ibunya, walaupun dia telah menikah dengan Chin Wan-hong, dalam

kenyataan dia sama sekali tak mencintai gadis itu.”

“Siapa yang bilang? apakah Hoa Thian-hong yang mengatakan sendiri kepadamu?” ejek Kiu-im

Kaucu sinis.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

306

“Tentu saja bukan dia yang mengatakan sendiri kepadaku, tapi aku tahu bahwa dugaanku itu

pasti tak akan keliru!”

Kiu-im Kaucu semakin sinis, kembali sindirnya dengan suara tajam dan tak sedap didengar,

“Kenapa? hati manusia toh tak sama, siapa tahu lain diluar lain didalam? dengan berdasarkan

bukti apa engkau bisa mengatakan kalau Hoa Thian-hong sebenarnya tidak mencintai Chin Wanhong?”

“Aku mengetahui perasaan hatinya!”

Jawaban yang amat singkat itu diutarakan dengan begitu meyakinkan, seakan-akan walaupun

samudra bisa mengering dan batu bisa membusuk, tapi keyakinannya itu sama sekali tak dapat

digoyahkan lagi.

Kiu-im Kaucu mendengus dingin, sebenarnya dia hendak mengatakan: ‘Itu toh menurut

perasaanmu, bagaimana dengan pemuda itu? engkau sendiri toh tak tahu….?’

Tapi ketika dilihatnya keyakinan yang begitu tebal memancar keluar dari wajah Pek Kun-gie,

ketika sorot mata mereka saling bertemu satu sama lainnya, ucapan yang sudah hampir

meluncur keluar itu akhirnya tertelan kembali.

Sikap Pek Kun-gie masih tetap tenang, seakan-akan dia tidak tahu kalau orang yang berdiri

dibadapannya itu bukan lain adalah ketua dari perkumpulan Kiu-im-kauw yang baru saja

munculkan diri kedalam dunia persilatan serta mengambil oper kekuasaan dari Tiga maha besar

yang telah musnah dari permukaan bumi itu.

Dengan pandangan yang jeli dia menatap wajah lawannya tajam-tajam, lalu serunya kembali

dengan suara berat, “Ditengah malam buta begini, mau apa engkau datang kemari?”

Kiu-im Kaucu mengerutkan dahinya.

“Hmm….! engkau sedang berbicara dengan aku?”

“Tentu saja berbicara deneaa engkau! mau apa kau datang kemari ditengah malam buta begini?

mau menyergap dirinya yaa?”

Kiu-im Kaucu tidak segera menjawab, dalam hati kembali pikirnya, “Rupanya budak ini sudah

dibikin sinting oleh rasa cintanya yang tidak kesampaian, kalau dilihat dari sikapnya yang

kebodoh-bodohan ini rupanya ia sudah tak tahu apa yang dinamakan lihay dan apa yang

dinamakan mati atau hidup.”

Berpikir sampai disitu, bukannya gusar ia malah tertawa terbahak-bahak, sahutnya, “Dalam dunia

persilatan dewasa ini hanya dua tiga orang saja yang mampu bertempur satu lawan satu dengan

diriku dan berbicara tentang kemampuan dalam ilmu silat, siasat, komplotan serta kekuasaan

maka hanya seorang saja yang sanggup menghadapi diriku, orang itu bukan lain adalah Hoa

Thian-hong….”

Rupanya Pek Kun-gie amat girang atas pujian itu, dengan muka berseri-seri ia tertawa dan

memotong.

“Kalau engkau sudah tahu, itu lebih baik lagi! sekarang cepatlah tinggalkan tempat ini, jangan

ganggu ketenangan tidurnya, dan mulai sekarang jangan musuhi dirinya lagi.”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

307

Kiu-im Kaucu dibikin serba salah oleh perkataan tersebut, mau tertawa ia tak bisa mau marahpun

tak dapat, akhirnya dengan wajah menyeringai dia berseru.

“Hey budak ingusan! aku mempunyai satu cara untuk membuktikan apakah Hoa Thian-hong

benar-benar cinta kepadamu atau tidak!”

Tapi dengan cepat Pek Kun-gie gelengkan kepalanya.

“Aku tak mau dengarkan caramu itu, aku tahu bahwa dia sangat mencintai diriku!”

“Ooooh…. jadi kau takut kalau rahasia kebohonganmu sampai terbongkar….?” ejek Kiu-im Kaucu

sinis, “engkau takut kalau kenyataan membuktikan bahwa dalam hati kecil Hoa Thian-hong

sebenarnya sama sekali tak ada pikiran tentang dirimu?”

Hawa amarah berkobar dalam hati Pek Kun-gie, dengan muka penuh kegusaran dia melototi

perempuan tua itu.

Sejenak Kemudian sambil menutupi telinganya dengan jari tangan, dia berseru, “Aku tak sudi

untuk mendengarkan omongan setanmu lagi, aku mau pergi….!”

Tanpa banyak bicara dia segera putar badan dan berlalu dari sana.

Kiu-im Kaucu segera tertawa dingin.

“Heeeeh…. heeeh…. heeehh kalau engkau berani tinggalkan tempat ini, aku akan segera

membinasakan Hoa Thian-hong!”

Mendengar ancaman tersebut sekujur badan Pek Kun-gie gemetar keras, ia segera berpaling

sambil berseru, “Kepandaian silatnya sangat lihay, siapa pun jangan harap bisa membinasakan

dirinya!”

Kembali Kiu-im Kaucu tertawa licik.

“Aku telah siapkan suatu tindakan yang hebat dan dahsyat untuk menghadapi Hoa Thian-hong,

kalau aku ingin membinasakan dirinya maka hal itu depat kulakukan dengan gampang sekali

bagaikan membalik telapak tangan sendiri. Heeeh heehh asal bibit bencana ini berhasil

kusingkirkan, maka perkumpulan Kiu-im-kauw secara resmi akan dibuka dan mulai menerima

anggota baru, pada waktu itu seluruh kekuasaan di permukaan bumi ada ditanganku!”

Pek Kun-gie makin terkesiap setelah mendengar ucapan itu, dia melayang kembali ke tempat

semula sambil berkata, “Coba terangkanlah cara lihay apakah yang telah kau siapkan itu, dan

bagaimana caramu untuk mencabut jiwanya?”

Kiu-im Kaucu tertawa dingin.

“Heeeh…. heeh…. heehh siasatku tidak akan kuperdengarkan pada telinga yang keenam,

kemarilah! akan Kubisikkan rencanaku ini kepadamu”

Agaknya Pek Kun-gie sama sekali tak mempunyai perasaan waswas, mendengar perkataan itu

dia segera loncat maju kedepan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

308

Hoa Thian-hong yang bersembunyi ditempat kegelapan jadi amat terperanjat setelah

menyaksikan kejadian itu, dia takut Kiu-im Kaucu menggunakan cara yang paling keji untuk

melukai Pek Kun-gie, badannya bergerak untuk menghalangi gerak maju dara itu tapi ingatan

lain dengan cepat berkelebat dalam benaknya, “Andaikata dia ada maksud hendak mencelakai

Kun Gie, maka hal itu bisa dia lakukan dengan gampang sekali tanpa menggunakan siasat licin

untuk membohongi dirinya, andaikata aku munculkan diri dalam keadaan begini, siapa tahu kalau

dia malah berubah ingatan dan menggunakan Pek Kun-gie sebagai sandera untuk memaksa

aku….”

Jilid 16

SEMENTARA dia masih termenung sambil memikirkan persoalan itu, Kiu-im Kaucu telah

membisikkan sesuatu ketelinga Pek Kun-gie.

Dengan paras muka pucat pias bagaikan mayat, gadis itu secara beruntun mundur beberapa

langkah kebelakang, sekujur badan-nya gemetar keras membuat atap rumah itu gemerisik

suaranya.

***

KIU-IM KAUCU menyeringai seram, sambil tertawa keras serunya lagi, “Bagaimana? sekarang

engkau pasti sudah percaya bukan, kalau aku hendak mencabut nyawa Hoa Thian-hong, maka

soal itu bisa kulakukan dengan gampang sekali!”

“Hmm! selamanya perhitungan manusia tak dapat menangkap garis yang ditetapkan oleh takdir,

selamanya dia akan lolos dari bahaya karena dilindungi oleh Thian!”

Hoa Thian-hong sendiripun berpikir dalam hatinya, “Kelicikan dan kekejaman Kiu-im Kaucu

benar-benar melebihi kejahatan dari kelompok musuh yang sudah lewat, entah dia mempunyai

siasat keji apa lagi sehingga begitu punya keyakinan untuk cabut nyawaku dengan mudah?”

Sementara ia masih termenung, Kiu-im Kaucu telah ulapkan tangannya sambil berkata, “Kalau

toh engkau percaya kalau dia selalu dilindungi oleh Thian, pergilah tinggalkan tempat ini!”

Tapi dengan cepat Pek Kun-gie gelengkan kepalanya.

“Aku tidak jadi pergi!” katanya.

Kiu-im Kaucu tertawa licik.

“Tidak pergi juga malah lebih baik, engkau cantik jelita dan belum pernah kujumpai ada seorang

nona yang mempunyai paras muka secantik dirimu. Aaai! sayang Hoa Thian-hong keparat cilik itu

punya mata tidak berbiji”

“Jangan maki dirinya!” bentak Pek Kun-gie dengan gusar.

Baiklah, kalau toh engkau masih tetap tidak sadar dari lamunanmu yang kosong, akan

kubuktikan kesemuanya dengan kenyataan, aku akan membuktikan sehingga engkau tahu kalan

Hoa Thian-hong sebenarnya sama sekali tidak cinta kepadamu.

Mendengar perkatan itu, Pek Kun-gie berdiri termangu-mangu, beberapa waktu kemudian dia

baru bertanya dengan suara gemetar, “Cara api yang hendak kau gunakan untuk membuktikan

bahwa dia…. dia tidak mencintai aku!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

309

Kiu-im Kaucu tertawa licik.

“Cara itu sebenarnya sederhana sekali, mulai sekarang masuklah jadi anggota perkumpulan Kiuim-

kauw kami, anggap saja engkau sudah kena kutawan, cara ini sebenarnya terpaksa sekali tapi

apa boleh buat lagi? toh kita hanya akan membuktikan apakah Hoa Thian-hong bakai muncul

untuk menolong dirimu atau tidak!”

“Kenapa?” seru Pek Kun-gie dengan paras muka tercengang dan tak habis mengerti.

“Coba jawablah, seandainya aku berhasil menawan Thian-hong dalam keadaan hidup-hidup,

bukankah engkau akan pertaruhkan jiwamu untuk menolong dia hingga lolos dari bahaya?”

“Hem! kepandaian silatnya jauh lebih hebat dari engkau, tak mungkin kau mampu untuk

menawan dirinya” seru Pek Kun-gie sambil mendengus dingin.

Kiu-im Kaucu tertawa kering.

“Jangan persoalkan kepandaian silat siapa yang lebih tinggi, jawab saja pertanyaanku ini!

andaikata aku berbasil menangkap dirinya, apakah engkau akan menyelamatkan jiwanya dari

ancaman maut?”

“Tentu saja! tentu saja aku akan menyelamatkan jiwanya….Hmm! andaikata engkau mencelakai

jiwanya, maka aku bersumpah tidak akan hidup berdampingan dengan dirimu, dan selama aku

masih hidup maka aku akan selalu musuhi dirimu sehingga akhirnya engkau berhasil kubasmi

dari muka bumi!”

“Tepat sekali perkataanmu itu!” seru Kiu-im Kaucu sambil menyeringai seram, “oleh karena kau

mencintai Hoa Thian-hong maka engkau larang orang lain melukai dirinya, sebaliknya kalau Hoa

Thian-hong benar-benar mencintai dirinya maka dengan sendirinya diapun melarang siapa pun

melukai engkau, setelah engkau masuk jadi anggota perkumpulan Kiu-im-kauw kami, apabila

Hoa Thian-hong menolong jiwamu itu berarti dia memang mencintai engkau, sebaliknya kalau

dia tidak ambil peduli tentang persoalan ini dan tak mau tahu tentang mati hidupmu, itu berarti

dalam hati kecilnya memang sama sekali tak pernah memikirkan tentang dirimu….!”

Hoa Thian-hong yang bersembnnyi ditempat kegelapan, diam-diam berpikir didalam hati.

“Perempuan itu sangat lihay dalam hal berbicara, entah apa tujuannya memancing Kun Gie untuk

masuk jadi anggota perguruannya, sungguh licik ketua ini!”

Tampaklah Pek Kun-gie gelengkan kepalanya dan menegaskan, “Aku tak mau mencoba hatinya!”

“Kenapa?” tanya Kiu-im Kaucu tercengang setelah terperangah beberapa waktu.

“Aku mengetahui tentang perasaan hatinya dan aku percaya kepadanya, kesemuanya itu sudah

lebih dari cukup bagiku. Hmm! cin ta berada dalam kepercayaan, tak boleh dicoba mengertikah

engkau akan teori ini?”

Kembali Kiu-im Kaucu tertawa licik.

“Aaaai, aku tak habis mengerti, kenapa di dunia terdapat seorang perempuan yang tergila-gila

oleh seorang pria hingga kesadaran otakpun sampai terganggu.”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

310

“Aku senang begini, kau mau apa?” potong Pek Kun-gie dengan penuh kegusaran, asal aku cinta

padanya, peduli amat dia cinta kepadaku atau tidak, itu urusan pribadiku dan kau tak usah

mencampuri urusanku itu”

Paras muka Kiu-im Kaucu yang pada dasarnya berwarna pucat, kini lerlintas oleh hawa nafsu

membunuh yang sangat tebal tapi hanya sebentar saja telah lenyap kembali, ia tertawa licik

sambil berseru, “Kalau begiti pergilah tinggalkan tempat ini, kalau tidak aku akan segera akan

mencabut jiwamu, akan kulihat Hoa Thian-hong akan membalaskan dendam bagimu atau tidak?”

Pek Kun-gie mendengus dingin.

“Hmm! engkau hendak mencelakai dirinya dengan menggunakan akal licik, aku sengaja tak mau

pergi, engkau mau apa?”

“Kalau begtiu, artinya engkau sudah bosan hidup didunia dan ingin mencari kematian buat diri

sendiri”

Sambil tertawa seram ketua dari perkum pulan Kiu-im-kauw itu segera menerjang kedepan dan

melancarkan sebuah cengkeraman maut.

Pek Kun-gie dengan cekatan loncat kesamping untuk menghindarkan diri, ia singkap gaunnya

dan cabut keluar sebilah pedang lemas yang memarcarkan cahaya tajam.

Pertama-tama Kiu-im Kaucu agak tertegun, tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam benaknya

dan segera berseru, “Oooh…. engkau juga menggunakan pedang lemas? apakah ibumu yang

ajarkan kepandaian itu kepadamu?”

“Engkau tak usah mencampuri urusanku!” tukas Pek Kun-gie dengan ketus.

Bukannya gusar, Kiu-im Kaucu malah tertawa tergelak.

“Haaaah…. haaahh…. haaahhh…. walaupuna ku sudah lama mengasingkan diri dari keramaian

dunia, tapi aku mengetahui dan memahami semua ilmu silat yang ada didunia serta asal usul dari

manusia-manusia kenamaan da am kolong langit.”

Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan, “Aku mengerti apa sebabnya secara tiba-tiba engkau

menggunakan pedang!”

Pek Kun-gie tertegun lalu tertawa dingin.

“Heehh…. heehh…. heehh…. aku menguasai beraneka ragam ilmu silat, aku senang memakai

senjata apa itu toh urusan pribadiku sendiri, kenapa engkau musti mencampuri urusanku?”

Kiu-im Kaucu tertawa licik.

“Memang betul perkataanmu itu, mau pakai senjata apa memang urusan pribadimu, tapi pedang

lemas adalah sejeais senjata yang paling sukar dipelajari, dari dulu engkau tidak memiliki dasar

yang cukup kuat, tak mungkin kalau tanpa sebab engkau ganti memakai senjata lain, mungkin

hal ini ada hubungannya dengan peristiwa yang terjadi baru-baru ini….”

“Peristiwa apa?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

311

Kiu-im Kaucu tertawa keras, “Haahh…. haahh…. haahh…. baru-baru ini ayah mu mendapat

kesempatan untuk membaca seluruh isi catataa Kiam keng Poh kui, mungkin ia telah ajarkan

seluruh isi catatan tersebut dan menyuruh engkau ganti belajar ilmu pedang….Hmm…. hmmmm.

tebakanku ini tidak keliru bukan?”

“Keliru besar!” teriak Pek Kun-gie dengan gusar.

Kiu-im Kaucu mengerutkan dahinya, dengan nada tak percaya dia balik bertanya, “Dimana letak

kesalahannya?”

Senyum manis tersungging diujung bibir Pek Kun-gie, dengan wajah berseri dia menjawab,

“Bukan ayahku yang ajarkan kepandaian tersebut kepadaku, tapi Thian-hong lah yang

mewariskan kepandaian sakti itu kepadaku!”

“Eeei, kapan sih aku lelah ajarkan catatan ilmu pedang Kiam keng Poh kui tersebut kepadanya?”

batin Hoa Thian-hong.

Sementara itu Kiu-im Kaucu telah tertawa seram.

“Haah…. haahh…. haahh…. perduli siapakah yang telah ajarkan kepandaian itu kepadamu,

pokoknya hari ini aku akan menawan dirimu, akan kulihat apakah ada orang yang akan

menolong engkau atau tidak?”

Laksana sambaran kilat, ia segera menerjang kedepan sambil melancirkan sebuah totokan….

Setelah perempuan tua itu ambil keputusan untuk menawan orang, tentu saja sulit bagi Pek Kungie

untuk melarikan diri.

Hoa Thian-hong yang bersembunyi ditempat kegelapan segera menyadari akan mara bahaya

yang mengancam Pek Kun-gie, ia tahu apabila dirinya tidak muncul tepat pada waktunya, gadis

itu niscaya akan terjatuh ketangan Kiu-im Kaucu.

Menyadari betapa kritisnya situasi pada waktu itu, tanpa banyak pikir lagi si anak muda itu

segera munculkan diri, dengan suara dalam serunya, “Kaucu, harap ampuni jiwanya…. sambutlah

penghormatan dari aku orang she Hoa”

Kiu-im Kaucu amat terperanjat, cepat-cepat ia melayang kembali ketempat semula.

Rasa malu bercampur gusar berkecamuk dalam dadanya, diatas paras mukanya yang pucat tiada

berdarah terlintas warna merah dadu karena jengah, katanya dengan dingin, “Hmm! aku

mengira untuk selamanya engkau akan menghindari diriku, tak tahunya ada juga waktunya

untuk terpaksa munculkan diri dari tempat persembunyiannya”

Mendengar perkataan itu, Hoa Thian-hong segera berpikir didalam hatinya, “Meskipun orang ini

amat licik dan berbahaya, tapi masih punya perasaan malu, ia tahu orang tua menganiaya kaum

muda adalah suatu perbuatan yang memalukan, kalau dibandingkan kawanan iblis dimasa lalu,

dia memang mempunyai moral yang jauh lebih tinggi….!”

Berpikir sampai disitu ia segera tertawa nyaring, setelah menjura ujarnya lagi, “Aku dengar kaucu

berdiam dirumah penginapan Tiang seng dipintu kota sebelah utara, sekarang aku memang

bermaksud untuk menyambangi dirimu disana!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

312

Diam-diam Kiu-im Kaucu merasa amat terperanjat, ia sama sekali tidak menyangka kalau Hoa

Thian-hong mengetahui tentang jejaknya, dengan cepat dia balas memberi hormat sambil

menyahut, “Kata menyambung kalau tak berani kuterima, sejak kau menikah sampai sekarang,

aku belum sempat memberi selamat kepadamu, harap suka dimaafkan….”

“Kalau terlalu sungkan!” kata Hoa Thian-hong sambil tertawa, sorot matanya segera dialihkan ke

arah Pek Kun-gie.

Sementara itu gadis she Pek itu berdiri dengan air mata bercucuran, sorot matanya yang sayu

memandang wajah Hoa Thian-hong tanpa berkedip, diatas wajahnya yang suram tersungging

satu senyuman manis, bibirnya bergetar seperti mau mengucapkan sesuatu namun tak sepatah

katapun yang kedengaran.

Selama beberapa hari gadis ini tak enak makan tak nyenyak tidur, dia hanya berharap bisa

bertemu dengan kekasih hatinya, dan sekarang setelah orang yang diimpi-impikan telah muncul

didepan mata, ia merasa hatina remuk rendam, sakit sekali bagaikan di sayat dengan pisau

tajam.

Banyak rintangan yang telah dihadapi, banyak kesedihan yang telah dialami dan sekarang

kekasih hatinya muncul didepannya, tapi ia tak dapat menubruk kedepan dan berbaring dalam

pelukannya, banyak kata mesrah ingin diutarakan tapi tak sepatah katapun dapat dilontarkan

keluar, yang ada hanya kesedihan, kesengsaraan serta siksaan batin yang tak terlukiskan

hebatnya.

Lama sekali ia termenung akhirnya tersungginglah satu senyuman diatas wajahnya yang murung

dan sayu, bibirnya bergetar keras dan muncullah serentetan suaara yang amat lirih, “Thian….

Hong….!”

Dua barisan air mata jatuh berlinang membasahai pipinya.

Hoa Thian-hong merasakan hatinya amat sakit, pikirnya, “Selama ini dia selalu mencintai aku,

kalau tak ada diriku maka sering kali dia menganggap aku telah sehari dengan dirinya, dia selalu

mengatakan kalau aku cinta kepadanya, bahkan sekarang dihadapan Kiu-im Kaucu pun bersikap

demikian, kalau aku bersikap agak dingin kepadanya maka dia pasti akan kehilangan muka,

betapa jengah dan malunya nanti….”

Sebagai seorang pria yang cukup romantis, dia tak tega membuat seorang gadis sengsara dan

malu karena urusan kecil, tanpa sadar dia ulurkan tangannya kedepan dan mengape ke arah

gadis itu.

Maksudnya dia suruh Pek Kun-gie mendekati ke arahnya dan berdiri diaampingnya, tapi ia sama

sekali tak tahu kalau gerakannya yang amat sederhana itu telah disalah artikan oleh dara tadi,

bagi sang gadis yang sedang dimabok cinta, ia telah mengartikan uluran tangan itu sebagai

suatu maksud yang amat mendalam….

Mula-mula Pek Kun-gie agak tertegun, kemudian dengan badan gemetar tiba-tiba ia menjerit

sambil menangis, “Oooh….Thian-hong.”

Dia segera menubruk kedepan dan menjatuhkan diri kedalam pelukan si anak muda itu.

Dalam kejut dan girangnya, dara itu telah melupakan segala-galanya, isak tangis tak dapat

dikendalikan lagi dan meluncurlah dari balik bibirnya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

313

Pada saat ini ia peluk tubuh Hoa Thian-hong erat-erat, jatuhkan diri kedalam rangkulannya dan

menangis tersedu-sedu, dalam sekejap mata pakaian si anak muda itu sudah basah oleh air

mata, sambil membelai rambat Kun Gie yang panjang, bisiknya dengan lembut, “Jangan

menangis, berdirilah kesamping…. aku akan beradu kepandaian lebih dahulu dengan Kiu-im

Kaucu….”

Belum habis dia berkata, mendadak dari dalam rumah penginapan berkumandang suara yang

amat gaduh, suara itu amat lirih dan tak begitu jelas tapi serentetan suitan panjang yang tinggi

melengking segera menyusul dibelakang dan menggema di angkasa.

Hoa Thian-hong amat terperanjat, ia segera menengadah dan menyaksikan sesosok bayangan

manusia sambil mengempit seseorang melayang kekar dari halaman belakang rumah penginapan

itu, sambil membawa suitan panjang yang melengking laksana sambaran kilat orang itu kabur

menuju ke arah selatan.

Gerak tubuh orang itu sangat cepat dan sama sakali tidak berada dibawah kepandaian Hoa

Thian-hong maupun Kiu-im Kaucu, pekikan nyaringnya membelah kesunyian ditengah malam

buta, hanya sebentar saja bayangan hitam tadi sudah lenyap dari pandangan mata.

Pada saat yang bersamaan, Kiu-im Kaucu pun berlalu dengan gerakan yang amat cepat, dalam

sekejap mata ia sudah mengejar jauh kedepan dan lenyap dibalik kegelapan.

Hoa Thian-hong amat terperanjat, kepada Pek Kun-gie segera serunya dengan hati cemas,

“Cepat pulang kerumah, dan jangan sembarangan pergi ke-mana-mana…. tahu?”

Tanpa menunggu jawaban ia segera loncat turus dari atas atap rumah dan didalam dua kali

loncatan ia sudah tiba dirumah penginapan, dengan gerak tubuh yang sangat cepat ia menerjang

masuk kedalam ruangan dimana ibunya berada.

Terlihatlah pintu kamar sudah diterjang orang sehingga hancur jadi berpuluh-puluh keping dan

tersebar dimana-mana, dinding ruang an ambruk selebar tiga empat depa, hancuran kayu dan

batu bata berterakan dimana-mana, bahkan pembaringanpun sampai penuh debu.

Ketika ia melayang turun didalam ruangan itu tampaklah Hoa Hujin, Tio Sam-koh, Chin Wanhong

dan Siau Ngo-ji berkumpul diluar kamar, kecuali Hoa Hujin masih bersikap tenang, paras

muka tiga orang lainnya boleh dibilang telah berubah hebat.

Setelah mengetahui kalau keempat orang itu berada dalam keadaan selamat, Hoa Thian-hong

merasa hatinya lega sekali, ia mendekati ibunya seraya berbisik, “Ibu, tentunya engkau sangat

terkejut?”

Hoa Hujin tersenyum.

“Engkau telah anggap aku sebagai nenek tua dari dusun yang sama sekali tak berguna?”

Tiba-tiba Chin Wan-hong berseru, “Engkoh Hong, kabut kiu tok ciang tidak mungkin bisa ditarik

kembali, kita harus cepat-cepat memusnahkannya daripada terhembus angin dan menyebar

kemana-mana sehingga meracuni mereka yang tak bersalah.”

“Lalu bagaimana caranya untuk memusnahkan kabut beracun itu?”

“Untuk memusnahkan pengaruh dari kabut racun itu sih mudah sekali, justru aku kuatir kalau

sampai membakar rumah ini sehingga menimbulkan kebakaran!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

314

“Tidak jadi soal, musnahkan kabut beracun itu dan aku akan berjaga-jaga terhadap segala

kemungkinan yang bakal terjadi.”

Sementara itu para tamu yang menginap dirumah penginapan tersebut telah terbangun dari

tidurnya karena terperanjat, mereka sama-sama bergerombol disekitar sana menonton

keramaian.

Chin Win Hoog segera meminjam lilin yang dibawa salah seorang tamu dan sekali sentil, cahaya

api dengan cepatnya meluncur kedepan menyambar ketengah ruangan yang penuh dengan debu

itu.

Ledakan keras terjadi, cahaya api menjilat keempat penjuru, tapi Hoa Thian-hong bertindak

cepat, telapak kirinya segera diayun kedepan melancarkan sebuah pukulan dahsyat.

Weeess….! desiran angin tajam menderu-deru, termakan oleh kekuatan yang terpancar dari

angin pukulan, bunga api itu menggumpal jadi satu membentur bulatan api yang menggelinding

diudara, hanya dalam sekejap mata cabaya api tadi sudah padam.

Menyaksikan kedahsyatan itu, Siau Ngo-ji segera berteriak keras, “Waaduuh…. ilmu silat apaan

itu?”

“Bocah ingusan, ilmu telapak tak bisa kau bandingkan deagan ilmu pedang!” seru Tio Sam-koh

sambil tertawa.

Hoa Thian-hong pun tersenyum, ujarnya, “Pukulan itu adalah jurus Kun siao ci tao dari Ciu Itbong,

aaai…. sayang orang berbeda jalan sehingga harus menerima akhir yang mengenaskan,

kalau dihitung-hitung aku masih berhutang budi kepada dirinya”

Tiba-tiba Siau Ngo-ji menuding keatas wajah Hoa Thian-hong dan berseru dengan nada

tercengang, “Eeei…. Hoa toako, engkau barusan menangis!”

“Aaah…. ngaco belo apa lagi yang hendak kau katakan?!” seru Hoa Thian-hong sambil tertawa

paksa.

Ia segera berpaling ke arah lain.

Sementara itu orang yang menonton keramaian berkumpul kurang lebih beberapa tombak

jauhnya, dari beberapa orang itu, setelah ditegur oleh Siau Ngo-ji sehingga Hoa Thian-hong

buru-buru harus berpaling ke arah lain untus menyembunyikan bekas air mata yang belum

Kering, secara tiba-tiba ia temukan ada sepasang biji mata yang jeli sedang awasi pula dirinya

dari balik kerumunan orang banyak, tapi sewaktu melihat pemuda itu berpaling ke arahnya,

orang itu buru-buru menyembunyikan diri.

Tak usah diawasi dengan lebih seksama lagi, si anak muda itu tahu kalau orang itu bukan lain

adalah Pek Kun-gie, diam-diam dia merasa amat murung bercampur kuatir, pikirnya, “Dia begitu

terpikat olehku, mungkin gadis itu bisa mengikuti aku sampai ke wilayah San see…. waahh….

bagaimana caranya aku selesaikan persoalan ini?”

Tiba-tiba pemilik rumah penginapan munculkan diri, setelah memberi hormat ia bertanya,

“Tuan…. see…. sebenarnya…. apa yang telah terjadi?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

315

Hoa Thian-hong segera tarik kembali lamunannya dan menyahut, “Oooh…. barusan ada pencuri

mau mengambil barang milik kami, kamar ini sudah tak dapat dipakai lagi, apakah masih ada

kamar yang lain?”

Chin Wan-hong yang berada disamping segera menyambung, “Semua kerugian yang terjadi

ditempat ini akan kami ganti, hitunglah semua kerusakan dan minta uang gantinya besok pagi!”

“Ooh…. tak usah diganti, tak usah diganti….!” seru pemilik rumah penginapan itu berulang kali.

Kemudian dengan cepat ia mendekati searang pedagang yang ikut tonton keramaian dan

membisikkan sesuatu dengan suara yang amat lirih.

Pedagang itu tampak agak terperanjat, dengan muka penuh rasa hormat ia segera berkata,

“Ooooh…. tentu harus mengalah! sudah sepantasnya mengalah…. aku segera akan

membereskan barang-barang milikku!”

Ia putar badan dan segera berlalu. Hoa Thian-hong yang mempunyai daya pendengaran yang

amat tajam, sempat menangkap pembicaraan tersebut, ia lihat ketika pemilik rumah penginapan

itu menyebut namanya dan minta pedagang itu pindah ke lain kamar, hatinya jadi merasa tak

enak di samping itu diapun tahu kalau Pek Kun-gie belum berlalu dari sana karena kuatir

ketahuan maka hatinya jedi kebat kebit tak karuan, peluh dingin tanpa terasa membasahi seluruh

tubuhnya.

Beberapa saat kemudian pemilik rumah penginapan itu telah muncul kembali dan

mempersilahkan mereka untuk masuk kedalam kamar.

Orang-orang yang menonton keramaianpun segera pada bubaran, diam-diam Hoa Thian-hong

melirik ke arah orang-orang yang bergerombol itu setelah dilihatnya Pek Kun-gie tidak berada

diantara mereka, tanpa terasa ia menghembuskan nafas panjang dan membimbing ibunya masuk

kedalam kamar.

Dalam kamar tersebut baik diluar maupun didalam ruangan terdapat tempat tidur, Hoa Thianhong

melirik kembali keluar pintu kemudian dalam hati kecilnya diam-diam berdoa

“Budak bodoh, cepat-cepatlah pulang kerumah dan tak usah berkeliaran lagi disekitar tempat

ini…. apalagi berdiri seperti orang bodoh didepan jalan….”

Habis berdoa ia segera menutup pintu kamarnya.

Dalam pada itu, Hoa Hujin telah bersandar diatas pembaringan, ujarnya dengan lirih, “Seng ji,

apakih engkau sudah berjumpa dengan musuh? kenapa begitu cepat telah kembali kemari?”

“Ananda berbicara dengan Kiu-im Kaucu diseberang jalan sana, pertarungan belum sampai

berlangsung, ketika mendengar suara gaduh Kiu-im Kaucu segera mengejar orang itu sedang

ananda segera kembali kemari….!”

Mendengar perkataan itu, sepasang biji mata Siau Ngo-ji yang jeli segera berputar kesana kemari

kemudian berhenti diatas dada Hoa Thian-hong yang basah, diam-diam dia menunjukkan muka

setannya.

Tanpa sadar Hoa Thian-hong ikut menundukkan kepalanya memandang keatas dada sendiri, ia

lihat pakaian bagian dadanya masih basah, dan tempat itu bukan lain adalah tempat yang basah

terkena air mata dan Pek Kuti Gie tadi.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

316

Kenyataan tersebut membuat hatinya jadi gugup dan kebat kebit tak karuan, cepat-cepat ia

geserkan badannya dan berdiri membelakangi cahaya lentera.

Ketika dia kembali kerumah penginapan tadi, air mata yang menodai pipinya belum kering dan

semua orang dapat melihat akan hal itu, tapi tak ada seorang pun yang meraruh curiga terhadap

kejadian tersebut, semua orang tahu pemuda itu gelisah karena memikirkan keselamatan dari

ibunya sehingga mengucurkan air mata, oleh sebab itu Tio Sam-koh yang biasanya cerewetpun

sama sekali tak mengajuhkan suatu pertanyaanpun.

Siau Ngo-ji adalah bocah nakal yang cerdik, diapun paling teliti memeriksa keadaan orang,

dengan kebiasaannya itulah bocah tadi berhasil temukan tanda yang sukar diduga orang.

Hoa Thian-hong yang telah berbuat sesuatu tanpa ingin diketahui orang lain jadi kuatir sekali

apabila Siau Ngo-ji berteriak, dengan muka penuh senyuman ia berkata, “Aku lihat orang yang

kabur itu mengempit seseorang, aku mengira salah seorang anggota keluarga kita ada yang kena

tangkap karena itu hatiku merasa amat gelisah. Siau Ngo-ji, tentunya engkau juga dibuat

terkejut bukan?”

Siiu ngo ji tertawa cekikikan.

“Hiiihh…. hiiihh…. hiiihhh enso sangat baik kepadaku, membelikan pakaian baru, celana baru,

sepatu baru untukku dan membantu pula menyisiri rambutku, hatiku akan selalu condong

kepadanya, karena perasaan istimewa ini aku selalu kuatir apabila toako sampai berjumpa

dengan seorang manusia yang lihay dan kena ditawan olehnya…. kalau sampai begitu kan

berabe….”

Hoa Thian-hong mengerti bahwa dibalik perkataannya masih terdapat perkataan lain, buru-buru

ia tertawa kering dan alihkan pokok pembicaraan kesoal lain.

“Sebenarnya siapa sih yang telah melakukan sergapan ketempat ini sehingga dinding tembokpun

jadi jebol? ibu cepatlah cerita kepadaku!”

Hoa Hujin tertawa.

“Kali ini jasa Siau Ngo-ji paling besar, biarlah dia saja yang bercerita!”

“Benar! Siau Ngo-ji memang paling pandai bicara” sokong Hoa Thian-hong.

Siau Ngo-ji cepat-cepat goyangkan tangannya berulang kali seraya berseru, “Eeeei eeeeeii kalau

ada persoalan dapat kita rundingkan secara baik-baik, toako! engkau tak usah menyanjungnyanjung

diriku”

Setelah berbatuk ringan, dia melanjutkan

“Kesuksesan yang berhasil kita capai hari ini tidak lain adalah berkat kelihayan dari enso, aku tak

berani rebut pahala ini ini, enso! lebih baik engkau saja yang berbicara kepada toako, agar rasa

kejutnya dapat segera hilang”

Chin Wan-hong adalah seorang perempuan yang jujur dan polos, tentu saja dia tak tahu kalau

kedua orang itu sedarg main setan, dia segera berpaling kepada mertuanya sambil berkata, “Ibu,

kalau engkau hendak beristirahat, biarlah kami bercakap-cakap ditempat luar saja!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

317

“Fajarpun sebentar lagi akan menyingsing, mari kita bercakap-cakap di sini saja kemudian segera

lanjutkan perjalanan, nanti aku akan tidur dalam kereta saja!”

Dengan lembut Chin Wan-hong menganguk, kepada suaminya dia segera berkata, “Setelah

engkau pergi maka akupun siapkian kabut beracun disekitar ruangan, Siau Ngo-ji bilang lebih

baik kita pasang jebakan disegala penjuru ruangan, agar orang yang berani menyergap kesitu

segera terjatuh kedalam perangkap dan tak bisa kabur lagi, aku turuti jalan pikirannya itu dan

segera mengatur dua tempat jebakan diluar pintu”

Sementara pembicaraan sedang berlangsung, diam-diam Hoa Thian-hong mengerahkan tenaga

dalamnya untuk mengeringkan pakaiannya yang basah oleh air mara, kemudian sambil

tersenyum dia bertanya, “Jebakan apakah yang telah kau siapkan?”

Kami minta ibu untuk memperhitungkan gerak langkah yang bakal dilakukan pihak musuh, sebab

andaikata orang yang melakukan sergapan itu adalah seorang jago lihay kelas satu, maka begitu

mendorong pintu kamar dan merasakan adanya racun disekitar tempat itu, dengan cepat dia

pasti akan mengundurkan diri, dalam keadaan demikian….

Ketika Siau Ngo-ji menyaksikan ensonya bicara ragu-ragu, tak tahan lagi dia segera

menyambung, “Kami telah letakkan sebaskom air bekas cuci kaki keatas tiang pengtari dan

mengikat baskom itu dengan seutas tali yang di hubungkan dengan pintu, apabila pintu terbuka

maka baskom berisi bekas air cuci kaki itu akan tumpah, dan apabila orang itu mundur kembali

air kotor itu dengan tepat akan menimpa batok kepalanya….”

“Kenapa musti pakai air bekas cuji kaki?” tanya Hoa Thian-hong sambil tertawa.

Menurut bibi, apabila yang datang adalah jago sebangsa Pia Leng-cu maka guyuran iir tersebut

tak mungkin bisa menimpa tubuhnya, kalau air itu diberi racun maka jika meleset dari sasaran

kan sayang sekali, oleh sebab itu kami putuskan untuk menggunakan air bekas cuci kaki, untuk

melengkapi kebutuhan kami ini, nenek Sam popo secara khusus telah cuci kakinya satu kali”

“Kentut busuk”, bentak Tio Sam-koh dengan gusar!, malam yang mana aku nenek tua tak

pernah cuci kaki? siapa bilang aku cuci kaki secara khusus?”

“Benar…. benar….!” seru Siau Ngo-ji dengan gelisah, nenek Sam popo setiap hari memang cuci

kaki….”

Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan, “Menurut bibi, apabila orang itu merasakan sesuatu

yang aneh muncul dari atas kepalanya, maka jikalau orang itu adalah Pia Leng-cu atau Kiu-im

Kaucu, mereka pasti akan menghindarkan diri ke arah samping kanan, sebaliknya kalau orang itu

adalah jago lihay dari Mo-kauw, mereka pasti akan menghindar sesamping kiri, karena pendapat

tersebut maka kami meletakkan sedikit obat racun yang setaraf lihaynya dengan kabut kiu tok

ciang disisi sebelah kanan, jika ada orang menghindar kesana dan bubuk racun terhembus angin

maka racun itu segera akan berterbangan keangkasa, dan apabila Pia Leng-cu atau Kiu-im Kaucu

yang datang, mereka pasti akan menggeletak keatas tanah.”

Hoa Thian-hong terpikir sebentar, kemudian berkata, “Ilmu langkah Huan im tun hoat atau

bayangan semua lolos di angkasa dari pihak Mo ku memang berputar menurut kebalikan dari

tangkah Tay kek, dan itu berarti mundurnya ke arah sebelah kiri, apa yang telah kalian siapkan

disana?”

“Hiihh…. hiihh…. hiihh…. air dewa!” jawab Siau Ngo-ji sambil tertawa cekikikan

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

318

“Air dewa?”

“Air kencing dari bocah keparat itu!” teriak Tie Sam-koh dengan suara keras.

Hoa Thian-hong tertawa terbahak-bahak.

“Haaah…. haaah…. haaahhh masa air kencingpun bisa dipakai untuk melawan musuh lalu apakah

alasannya sehingga jebakan yang dipasang dikedua belah pihik terbagi atas yang ringan dan

yang berat?”

Siau Ngo-ji tak menjawab pertanyaan itu sebaliknya sambil tertawa dia balik bertanya, “Ketika

toako baru saja kembali keruangan ini, apakah engkau tidak mencium bau pesing??”

“Kenapa? oooh…. jadi yang datang adalah orang-orang dari perkumpulan Mo-kauw?”

“Perkataanmu tepat sekali, anakan iblis cilik terkena kabut racun Kiu tok ciang dan roboh

seketika, dalam gugupnya gembong iblis tua menyepak pispot isi air kencingku hingga tumpah,

karena ketakutan ia segera melarikan diri terbirit-birit.”

“Kalau cerita yang agak jelas dong!” sela Hoa Thian-hong sambil tertawa.

Siau Ngo-ji ambil sebuah cawan air teh dan meneguk habis isinya, kemudian ujarnya lagi, “Enso

bilang kabut kiu tok ciang tidak tersedia dalam jumlah banyak, maka hanya bisa disebarkan

dibelakang pintu, sedang obat pemabok Mi hun san adalah bubuk obat yang mempunyai…. eeei

Enso, mempunyai apa….?”

“Mempunyai perbedaan dalam bentuk tapi persamaan dalam kasiat!”

“Aaah! benar, mempunyai perbedaan dalam bentuk tapi sama dalam kasiat sambung Siau Ngo-ji

sambil menepuk kepalanya, sayang jumlah yang tersediapun tidak banyak dan cuma bisa disebar

disuatu sudut yang sama!”

Setelah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh, “Menurut jalan pikiranku, andaikata kita

berhasil menangkap Pia Leng-cu maka hal ini jauh lebih baik lagi, bukan saja kita dapat

lenyapkan seorang musuh besar, bahkan dapat pula merampas kembali pedang emas yang

berada ditangannya, bukankah itu berarti sekali tepuk mendapat dua lalat? sebaliknya kalau

bangsat dari Mo-kauw adalah jago yang paling lihay dari perkumpulannya, kitapun bisa tangkap

iblis itu dan sekali bacok menghabisi nyawanya, sekalipun anak murid dan cucu muridnya

mencari balas buat kami juga tak mengapa…. sebaliknya kalau bajingan itu hanya jago kelas dua

belaka dari perkumpulan Mo-kauw maka kalau kita bunuh orang itu, maka segera akan

mengundang kembali kehadiran jago yang lebih lihay…. dalam keadaan seperti ini kita toh tidak

bakalan rugi”

“Sungguh hebat daya pikiranmu! puji Hoa Thian-hong sambil acungkan jempolnya.

Siau Ngo-ji melirik sekejap ke arah pakaian dada Hoa Thian-hong, ketika dilihatnya bagian yang

basah telah mengering, dia segera tertawa kembali sambil berseru

“Toako, sekarang engkau sudah boleh tak usah menyanjung diriku lagi!….”

“Jangan ngaco belo tak karuan, bicara lah yang serius!” tegur Hoa Thian-hong sambil tertawa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar