Senin, 05 Oktober 2009

bara 12

Ruangan itu merupakan tempat Thian Ik-cu berlatih tenaga dalam, setelah Hoa Thian-hong

menghadang di depan pintu sambil mengirim bacokan-bacokan mautnya, sulit bagi imam tua itu

untuk menerjang ke depan, beberapa kali ia terdesak mundur kembali ke belakang.

Melihat serangannya berulang kali digagalkan oleh pemuda itu, Thong-thian Kaucu jad i gusar

dan marah sekali, senjata hud-timnya dipindahkan ke tangan kiri lalu dengan telapak disilangkan

di depan dada perlahan-lahan ia maju ke depan.

Ciu It-bong takut si anak muda itu tak tahu lihay, buru-buru bentaknya keras, Hoa Thian-hong,

cepat mundur ke belakang!”

Bersama itu pula terdengar teriakan seoang perempuan dengan suara yang gelisah, “Kaucu….

jangan turun tangan keji!”

Bersamaan dengan selesainya ucapan itu, Giok Teng Hujin diiringi Hoa In telah muncul di atas

loteng.

Semua peristiwa itu berlangsung pada waktu yang hampir bersamaan begitu menyaksikan

keadaan dari majikan kecilnya, Hoa In jadi amat terperanjat, bagaikan hembusan angin puyuh

dia meloncat ke muka dan membentak keras, “Siau Koan-jin, cepat menyingkir!”

Setelah dada dan kakinya terluka sehingga darah banyak yang hilang, Hoa Thian-hong sadar

bahwa ia tak mampu membendung datangnya angin pukulan dari Thong-thian Kaucu ,

mendengar Hoa In sudah datang cepat-cepat ia menyingkir ke samping.

Thong-thian Kaucu bermata tajam, sekilas memandang dia sudah mengenali orang itu sebagai

Hoa In, ditambah pula dari laporan Ang Yap toojin ia sudih tahu kalau ilmu pukulan Sau yang

ceng ki nya lihay sekali, maka dalam keadaan itu terpaksa ia manambahi tenaganya menjadi

sepuluh bagian dan mengirim satu pukulan gencar.

Setelah mengetahui majikan mudanya terluka parah, Hoa In sudah diliputi oleh hawa gusar yang

memuncak, ketika menerjang ke depan pintu hawa sakti Sau yang ceng ki nya telah dihimpun

sampai sepuluh bagian, dengan cepat dia lancarkan satu pukulan untuk menyambut datangnya

ancaman tersebut.

Blaaam….! Ketika sepasang telapak saling beradu satu sama lainnya, terjadilah ledakkan dahsyat

yang menggetarkan seluruh ru angan, gulungan angin tajam memancar keempat penjuru, pintu

depan ruangan itu seketika ambruk dari tempatnya, lukisan di atas dinding terlempar jauh ke

belakang dan separuh bagian diantaranya tersayat robek.

Tong Thiao Kaucu berdiri saling berhadapan dengan Hoa In pada jarak kurang dari lima langkah,

dada mereka bergelombang dan empat mata bertemu jadi satu memandangkan rasa gusar,

kaget dan tercengang.

“Loo koankee, harap tahan dulu….” teriak Giok Teng Hujin dengan alis berkerut.

Sejak lenyap Hoa Thian-hong ketika keluar rumah bersama perempuan itu, Hoa In sudah merasa

amat tidak puas terhadap Giok Teng Hujin, bila ia tidak membuka suara mungkin masih

mendingan, ucapan itu seolah-olah api bertemu dengan bensin, kegusaran Hoa In semakin

memuncak.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

482

Dengan mata melotot besar, Hoa In berteriak keras, “Thian Ik-cu, dengarkan baik-baik…. barang

siapa berani melukai majikan muda dari perkumpulan Liok Soat Sanceng, maka Hoa In akan

mempertaruhkan selembar jiwanya untuk melukukan membalasan!”

Bersamaan dengan selesainya ucapan itu, sepasang telapak diayun berbareng ke depan dengan

gunakan tenaga sebesar duabelas bagian.

Thong Thian Kjucu merasa terkejut bercampur gusar, makinya, “Tua hangka sialan….!”

Kakinya melangkah ikuti gerak pat kwi, sepasang telapak didorong kemuka dan menyambut

datangnya ancaman itu dengan keras lawan keras.

Blaaam….! Suara yang menggelegar kembali bergema di angkasa, kali ini masing-masing pihak

mundur beberapa langkah ke belakang dengan sempoyong, di atas lantai lonteng tertera bekasbekas

telapak kaki yang dalam.

Adu kekuatan yang berlangsung saat itu betul-betul mengerikan sekali, seluruh ruangan dalam

bangunan loteng itu bergoncang keras, keadaan mengerikan sekali.

Sau yang ceng ki adalah kepandaian ampuh yang diandalkan Hoa Goan-siu sewaktu berkelana di

dalam dunia persilatan tempo dulu, meskipun Thong-thian Kaucu memiliki tenaga dalam sebesar

enam puluh tahun hasil latihan, akan tetapi setelah bertanding dengan Hoa In keadaan ternyata

seimbang.

Setelah dua kali bentrokan kekerasan itu lewat, diam-diam Thong-thian Kaucu merasakan isi

perutnya tergoncang dan darah dalam tubuhnya tergolak keras, hal itu menunjukkan hawa isi

perutnya sudah terluka, sebaliknya Hoa In sendiri walaupun merasakan pula golakan darah

dalam tubuhnya, namun isi perutnya tidak sampai terluka.

Suasana hening untuk beberapa saat lama nya, tiba-tiba Giok Teng Hujin menggoyang bahu Hoa

Thian-hong sambil serunya, “Adik Hong kalau ada persoalan kita bicarakan secara baik-baik,

cepat perintahkan pengurus tuamu untuk mengundurkan diri”

“Thian Ik-cu adalah salah seorang pembunuh ayahku,” pikir Hoa Thian-hong di dalam hati,

“sudah sepantasnya kalau kubereskan jiwanya, apalagi ia mentertawakan aku lupa akan

dendam….Hmm! Sekarang juga aku akan menuntut balas….”

Berpikir demikian selangkah demi selangkah ia segera maju menuju ke tengah gelanggang.

Hoa In yang menyaksikan tingkah laku majikannya jadi gelisah, buru-buru teriaknya, “Siau Koanjin,

jangan ikut campur! engkau berdiri disisi arena saja….”

Ia takut kalau Hoa Thian-hong turut campur dalam pertarungan itu, belum habis perkataannya

diucapkan ia sudah menghimpun segenap kekuatan yung dimilikinya dan langsung disodokan ke

tubuh Thian Ik-cu.

Thong-thian Kaucu jadi terkejut bercampur gusar, bentaknya dengan hati mendongkol, “Tua

bangka sialan, kau benar-benar cari mati?”

Dari perubahan wajah iman tua itu, rupanya Ciu It-bong sudah tahu kalau ia tak mampu

melanjutkan pertarungan itu dengan adu kekerasan, tanpa terasa sambil tertawa terbahak-bahak

jengeknya, “Haaah…. haaah…. haaah…. hidung kerbau tua gunakan pedangmu, kalau tidak

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

483

maka pertemuan Kiau ciau tay hwee yang akan diseleng garakan pada bulan tujuh tanggal lima

belas bakal gagal dilang-sungkan!”

Iman cilik pembawa pedang yang berdiri disisi kalangan buru-buru loncat maju ke depan setelah

mendengar perkataan itu, pedang pusaka digenggamannya langsung diangsurkan ke depan.

Thong-thian Kaucu jadi bergirang hati, dia pegang gagang pedangnya dan pencet tombol

disana….Crriing….! cahaya tajam berkilauan di angkasa dan muncullah sebilah pedang pusaka di

depan mata.

“Pedang bagus!” puji Ciu It-bong dengan suara keras.

Thong-thian Kaucu tidak mengubris seruan orang, dengan wajah hambar katanya, “Hoa In,

tempat ini tidak cocok untuk digunakan sebagai gelanggang pertempuran, ayoh kita cari tempat

yang lebih lebar untuk menentukan siapa menang siapa kalah diantara kita berdua!”

Sebelum Hoa In sempat menjawab, Ciu It-bong telah berteriak kembali, “Hidung kerbau sialan,

kalau kau pingin mati, serahkan dulu pedang emas itu kepada ku”

Hoa Thian-hong yang melihat hal itu segera berpikir di dalam hati, “Ciu It-bong gembar gembor

sedari tadi, rupanya ia memang sengaja mengacau terus agar pertarungan tak bisa

dilangsungkan. Aa ai….! bagaimana baiknya….”

Sementara itu Giok Teng Hujin sudah maju ke depan, katanya, “Pengurus tua, racun teratai

dalam tubuh majikan mudaku sebentar lagi bakal kambuh, sekalipun kau tangguh dan hebat

tidak seharusnya kalau berkeras kepala terus…. aaah!”

Mendadak dengan air muka berubah, teriaknya, “Adik Hong cepat balut mulut lukamu itu! jangan

biarkan darah mengalir tiada hentinya!”

Teringat akan luka yang diderita majikan mudanya, Hoa In jadi amat terperanjat, buru-buru ia

dekati Hoa Thian-hong sambil tegurnya, “Siau Koan-jin, apakah racun teratai yang mengeram

dalam tubuhmu sudah mulai bekerja?”

Hoa Thian-hong sudah tahu bahwa racun teratai itu bila kambuh maka darah yang mengalir

dalam tubuhnya akan bergolak keras, mulut luka akan merekah semakin besar mengakibatkan

darah mengalir makin deras.

Dengan mempertahankan ketegangannya ia menjawab sambil tertawa, “Racun teratai baru saja

kambuh, untuk beberapa waktu sih tak menjadi soal, perhatikan sekeliling tempat ini baik-baik,

hati-hati terhadap serangan bokongan orang!”

Hoa In mengangguk tanda mengerti, setelah menyambut pedang baja itu dia belalakan matanya

bulat-bulat, sambil melotot ke arah Thong-thian Kaucu tanpa berkedip ia berjaga-jaga atas

serangan yang mungkin dilakukan oleh lawan.

Dari dalam sakunya Giok Teng Hujin ambil keluar sebuah botol porselen, setelah membubuhkan

obat luka luar dimulut luka Hoa Thian-hong, dirobeknya pakaian sendiri untuk membungkus dada

orang, sikapnya yang gugup dan cemas menunjukkan betapa kuatirnya hati perempuan ini.

Thong-thian Kaucu jadi sangsi dan ragu-ragu melihat tingkah laku perempuan itu, beberapa kali

dia hendak bicara namun niat itu selalu dibatalkan, sepasang alisnya berkerut kencang…. kalau

ditinjau dari keadaan itu, jelas sekali menunjukkan bahwa ia sangat gusar.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

484

Setelah merawat mulut luka Hoa Thian-hong di atas dada, Giok Teng Hujin berjongkok kembali

untuk merawat luka disepasang kakinya, waktu itu tengah hari sudah tiba, kadar racun teratai

dalam tubuh si anak muda itu mulai membubung naik dari atas pusar dan bercampur dengan

darah dalam nadinya, dalam waktu singkat darah yang mengucur keluar dari mulut lukanya

berubah jadi hitam pekat bagaikan tinta.

Terdengar Ciu It Boag menghela napas panjang dan berkata, “Aaai….! Keajaiban alam, sungguh

tak nyana luar biasa sekali….” setelah berhenti sebentar, teriaknya kembali, “Hoa Thian-hong,

totoklah jalan darah pingsanmu…. bagaimana kalau beristirahat sejenak?”

Hoa Thian-hong segera menggeleng.

“Setelah racun teratai itu kambuh, cara apapun tak bisa menolong diriku, apa lagi menotok jalan

darah….”

Mendadak pemuda itu merasa bahwa banyak bicara akan merugikan diri sendri, buru-buru ia

tutup mulut dan tidak membocorkan rahasia itu lagi….

Tindak tanduk Giok Teng Hujin sungguh cekatan, dalam waktu singkat ia telah membalut luka

yang diderita pemuda itu pada sepasang kakinya, hanya darah masih belum berhenti maka

sebentar saja kain pembungkus luka itu telah berubah jadi hitam karena darah mengandung

racun, terutama sekali luka didadanya membuat orang yang memandang jadi ngeri dan bergidik

sekali.

Hoa Thian-hong merasakan sekujur badannya gatal seperti dirambat oleh berjuta-juta ekor

semut, rasanya amat tersiksa, menanti lukanya telah dibalut ia segera berkata, “Terima kasih

atas bantuan dari cici, siaute ingin mohon diri terlebih dahulu”

“Kau hendak pergi kemana?” tanya perempuan itu sedih.

“Aku sudah tidak tahu dan ingin berlari-lari sebentar….”

Sambil berpaling teriaknya, “Ciu Locianpwse….! Thian Ik su….! Sampai jumpa lain waktu….”

tanpa menanti jawaban dia lari lebih dahulu tinggalkan tempat tersebut.

Giok Teng Hujin segera menyusul dari belakangnya, ia berteriak, “Adik Hong, jangan terlalu

cepat…. tunggu aku sebentar, ada urusan penting hendak kusampaikan kepadamu!”

Thong-thian Kaucu amat gusar melihat perbuatan perempuan itu, bentaknya nyaring, “Hujien….

berhenti!”

Tapi Giok Teng Hujin tidak menggubris teriakan tersebut, sambil mendampingi Hoa Thian-hong

dia lari turun dari loteng, Hoa In berjalan dipaling belakang dan bersama-sama tinggalkan istana

Yang sim tian.

Sepanjang jalan walaupun ada orang yang melakukan penjagaan, tapi berhubung Giok Teng

Hujin berada bersama mereka, maka siapapun tak berani menghalangi kepergian beberapa

orang itu.

Dalam waktu singkat mereka bertiga sudah berada diluar kuil.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

485

Setelah racun teratainya kambuh, rasa sakit didada dan kaki pemuda itu sudah tidak terasa lagi,

tetapi setelah menyaksikan darah yang mengucur keluar dari dadanya tidak berhenti, ia jadi

gugup sekali.

Sambil lari ia tutup mulut lukanya dengan sepasang tangan, teriaknya, “Cici…. benarkah engkau

she Siang?”

Giok Teng Hujin tertegun lalu mengangguk, “Benar aku bernama Siang Hoa, tetapi kecuali

engkau seorang tak ada yang tahu tentang namaku ini”

“Apa hubunganmu dengan Pedang sakti yang menyapu daratan Tionggoan, Siang Tang Lay?”

Air muka Giok Teng Hujin berubah hebat setelah memandang sekejap sekeliling tempat itu ia

menjawab sambil tertawa….

“Si Tolol…. akhirnya engkau berhasil menebaknya juga dengan jitu,” setelah berhenti sebentar,

dengan wajah sedih lanjutnya, “Pedang sakti yang menyapu daratan Tiong goan Siang Tang Lay

bukan lain adalah ayah enci, sekarang kau tentu sudah mengerti bukan?”

Meskipun Hoa Thian-hong telah menebaknya sejak semula, namun setelah mendengar

pengakuan dari perempuan itu tak urung hatinya merasa terperanjat juga, teringat bahwa dia

adalah putri dari Siang Tang Lay maka bisa diduga maksudnya perempuan itu jadi anggota

perkumpulan Thong-thian-kauw tentu mengandung rencana tertentu.

Terdengar Giok Teng Hujin berkata lagi, “Adik Hong, persoalan yang paling menyedihkan hati cici

selama ini adalah peristiwa ditepi sungai Huang-ho tempo hari, aku menyesal mengapa tidak

tampilkan diri untuk menyelamatkan jiwamu….”

“Ketika itu kita tak pernah saling kenal mengenal, mau menolong atau tidak bukanlah suatu

masalah yang penting, toh sekarang aku masih hidup segar bugar? Buat apa kau ungkap kembali

peristiwa yang sudah lewat itu….?”

Giok Teng Hujin meagbela napas panjang.

“Engkau adalah pendekar sejati yang berhati bajik, kau hanyalah tahu menyalahkan diri sendiri

tak tahu menyalahkan orang. Aaaaai….! ayahmu pernah melepaskan budi pertolongan kepada

ayahku, aku hanya ingin membalas dendam dan tak tahu membalas budi…. sekarang keadaan

berubah jadi begini inilah dosa yang harus kupikul”

“Bagaimana sih keadaan cici pada saat ini?” tanya Hoa Thian-hong tidak habis mengerti, “apakah

Thian Ik-cu sudah menaruh curiga terhadap dirimu?”

“Huuuh….! Siapa sih yang ajak engkau bicarakan tentang persoalan itu?” tukas Giok Teng Hujin

sambil tertawa, “Coba pikir lah, seandainya pada tempo hari akulah yang menolong dirimu, maka

sekarang orang yang selalu kau ingat dan kau bayangkan adalah diriku, dan bukan Chin Wanhong”

Hoa Thian Hang tersenyum mendengar perkataan itu.

“Cici, pikiranmu terlalu picik” serunya, tiba-tiba ia menghela napas dan melanjutkan, “Pek Sohgie

yang melakukan perjalanan bersama aku kini ditawan oleh Thian Ik-cu, bagaimanakah

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

486

nasibnya hingga kini belum diketahui, bila berbicara tentang soal setia kawan, sudah

sepantasnya kalau aku harus berusaha menolong dirinya lebih dahulu, tetapi….”

Mula-mula Giok Teng Hujin tertegun, kemudian serunya dengan nada agak mendongkol, “Pek

Siau-thian adalah pangcu dari perkumpulan Sin-kie-pang, siapa suruh engkau mencampuri

urusannya?”

“Kita sebagai manusia harus berbuat kebajikan dan kebaikan tanpa memandang bulu dan

memilih orang. Aaai….! Mungkin saja aku adalah orang yang terlalu memandang penting

persoalan yang remeh….”

Buru-buru Giok Teng Hujin tertawa ketika melihat pemuda itu mengeluh dan tiba-tiba tidak

senang hati, ujarnya, “Kau tak usah berpikir yang bukan-bukan…. ketahuilah jago lihay yang

dimiliki perkumpulan Thong-thian-kauw banyak sekali, sekali pun engkau pertaruhkan selembar

jiwamu belum tentu gadis itu berhasil kau selamatkan”

Bicara sampai disitu kembali ia berpaling memandang sekejap sekeliling tempat itu, melihat disitu

tak ada orang, lanjutnya, “Adik Hong, bersabarlah sedikit…. coba berhentilah sebentar, akan

kuperiksakan lukamu itu”

Hoa Thian-hong berhenti berlari, ketika melihat darah racun telah membasahi seluruh dadanya,

ia menghela napas panjang.

“Waaah…. kalau begitu terus keadaannya darahku akan mengalir sampai habis dan akhirnya aku

tentu akan mati kekeringan,” keluhnya.

Hoa In sudah cemas sekali sedari tadi, keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh

tubuhnya, mendengar perkataan itu ia berseru, “Siau Koan-jin, mari kita menuju keutara kita

coba minta pertolongan dari Dewa suka pelancongan Cu tayhiap”

Namun Hoa Thian-hong segera gelengkan kepalanya.

“Cu locianpwee suka berpesiar kemana-mana, sekarang dia entah berada dimana? Sekalipun kita

berhasil temukan dirinya juga belum tertu ada gunanya”

“Kalau begitu kita cari Cu Im taysu saja.”

“Penyakitku adalah penyakit yang sangat aneh, percuma…. mereka tak mungkin bisa

mengobatinya,” jawab pemuda itu sambil tertawa.

Sementara pembicaraan itu masih berlangsung, Giok Teng Hujin telah putar badan melepaskan

jubah luarnya, dari saku dia ambil keluar sebuah kotak kumala yang panjangnya empit cun

dengan tebal delapan dim, ujarnya sambil tertawa, “Adik Hong, coba tebak api isi kotak ini.

“Coba kulihat dulu….!” seru Hoa Thian-hong dengan wajah tercengang.

Giok Teng Hujin tertawa, dengan sangat hati-hati ia membuka kotak kumala itu, sambil

diangsurkan kehadapan pemuda itu serunya manja, “Coba lihatlah….Leng-ci berusia seribu tahun

ini sudah disimpan ayahku selama sebelas tahun lamanya, kemudian aku pun menyimpan

kembali selama belasan tahun…. obat ini merupakan obat mujarab yang bisa digunakan untuk

menolong orang yang hampir mati, perduli obat ini bisa memunahkan racun dari Teratai empedu

api atau tidak, makanlah lebih dahulu!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

487

Hoa Thian-hong jadi sangat kegirangan, ketika ia periksa isi kotak itu maka tampaklah dalam

kotak berisikan sebatang rumput aneh yang bentuknya luar biasa, separuh bagian kotak itu

berisikan tanah berwarna hitam, rumput mujarab itu tertanam di atas tanah yang lembab dan

seolah-olah baru saja digali dari atas tanah, bau harum semerbak yang menyegarkan badan

segera tersiar ke luar. Hoa Thian-hong yang mencium bau harum itu merasakan badannya

nyaman dan segar sekali.

Melihat pemuda itu menunjukkan rasa kejut bercampur girang, Giok Teng Hujin jadi amat

senang, katanya, “Aku sendiripun tak tahu bagaimanakah cara menggunakan obat Leng-ci ini,

telan saja seakar-akarnya…. aku rasa tak mungkin bisa terlalu salah….!”

Melihat perempuan itu hendak mencabut obat, buru-buru Hoa Thian-hong mencegahnya, sambil

berseru, “Cici…. jaa…. jangan kau sentuh….”

“Kenapa? tumbuhan yang ada di kolong langit adalah diberikan kepada umat manusia kalau

manusia tak mau memakainya maka semuanya akan jadi barang yang tak berguna”

“Siaute hendak….”

“Kau hendak berbuat apa?” tanya Giok Teng Hujin dengan halus bercampur sayang, “berada

dihadapan cici, utarakan saja semua perkataanmu itu….!”

Titik air mata tiba-tiba jatuh berlinang di atas wajah Hoa Thian-hong, ujarnya, Sejak termakan

oleh sebuah pukulan dahsyat waktu menghadiri perempuan besar Pek Beng Tay hwee, ibuku

menderita luka dalam yang amat parah…. hingga kini keadaannya belum sembuh benar….

selama belasan tahun selalu menderita dan tersiksa….!”

pemuda itu berhenti sebentar, dengan wajah menyesal, serunya, “Bila cici suka menghadiahkan

Leng-ci ini kepadaku maka penyakit yang diderita ibuku tentu akan sembuh…. budi dari cici ini.”

“Apa itu budi?” tukas Giok Teng Hujin cepat, “Lengci berusia seribu tahun ini toh sudah

kuhadiahkan kepadamu, benda itu hendak kau pergunakan untuk apa adalah urusanmu

sendiri….”

Berbicara sampai akhirnya, suara perempuan itu berubah jadi ketus dan keras.

“Persoalan ini menyangkut tentang kesehatan ibuku, terpaksa aku harus tebalkan muka.” pikir

Hoa Thian-hong di dalam hati.

Berpikir demikan ia segera menerima kotak kumala itu dari tangan Giok Teng Hujin kemudian

dengan sangat hati-hati menyimpannya ke dalam saku.

“Terima kasih cici!” serunya dengan hati kegirangan.

Giok Teng Hujin jadi serba salah dan tak bisa berbuat apa-apa kecuali berdiri melongo, walaupun

hatinya merasa kecewa namun perasaan tersebut tak berani diutarakan ke luar.

Hoa In tak bisa menahan diri, ia segera melangkah maju ke depan dan berseru, “Siau Koan-jin,

Teratai racun empedu api adalah racun yang tak bisa dipunahkan…. sedangkan Leng-ci berusia

seribu tahun merupakan obat mujarab di kolong langit, inilah berkat perlindungan dari sukma toa

ya serta, cinta kasih nona Siang, engkau harus….”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

488

Hoa Thian-hong amat cemas, tidak menunggu perkataannya selesai diucapkan, dengan lagak

tuan mudanya ia membentak dengan suara gusar, “Teratai racun empedu api tak akan meracuni

diriku sampai mati. kau tak usah berpikir yang bukan-bukan lagi, kalau berani mem-bangkang

maka aku tak sudi melakukan perjalanan bersama dirimu!”

Tertegun hati Hoa In mendengar perkataan itu, tanpa terasa air matanya jatuh berlinang

membasahi pipinya, ia mengeluh, “Siau Koan-jin, dari keluarga Hoa tinggal sau ya seorang yang

masih hidup….”

“Apa ibuku bukan orang? Apa engkau bukan orang? Bentak Hoa Thian-hong dengan gusar,

sehabis berkata ia putar badan dan segera berlalu dari sana.

Tertegun hati Giok Teng Hujin menyaksikan kesemuanya itu, setelah berpikir sebentar, tiba-tiba

ia tertawa lalu membisikan sesuatu kesisi telinga Hoa In.

Pelayan tua itu segera mengangguk berulang kali dan buru-buru menyusul majikan mudanya.

Setelah berlarian beberapa saat lamanya Hoa Thian-hong berpaling, ketika dilihatnya hanya Hoa

In seorang yang menyusul dirinya ia jadi tak tenang, segera tegurnya, “Dimanakah enci Siang?”

“Nona Siang telah kembali ke kuil It-goan-koan!”

“Thian Ik-cu adalah seorang manusia yang cabul dan berhati kejam” pikir Hoa Thian-hong di

dalam hati, “lain kali kalau bertemu lagi, aku akan menasehati dirinya untuk cepat-cepat

lepaskan diri dari perkumpulan Thong-thian-kauw!”

Tiba-tiba terdengar Hoa In berseru, “Siau Koan-jin, darah di atas dadamu masih mengalir terus,

bagaimana baiknya?”

“Tidak menjadi soal, perlahan-lahan toh akan sembuh dengan sendirinya….!”

“Sekarang kita akan pergi kemana?”

Hoa Thian-hong berpikir sebentar, lalu menjawab, “Aku hendak mencari sesuatu tempat yang

tersembunyi letaknya di sekitar sini, di samping merawat luka aku hendak berlatih ilmu pedang,

sedang engkau boleh berangkat ke kota Ceng kang dan beri tahu kepada Pek Siau-thian kalau

putri sulungnya Pek Soh-gie telah diculik oleh Thian Ik-cu, setelah itu pergilah mencari Cu Im

taysu serta Ciong Lian-khek cianpwee, kalau bisa berangkatlah secara berombongan menuju ke

gunung See thian pada tanggal limabelas nanti, aku sendiri akan langsung pergi menghadiri

pertemuan Kian ciau Tay hwee tersebut!”

Dengan tenang Hoa In mendengarkan perkataannya itu hingga selesai, kemudian menggeleng

dan menjawab, “Siau Koan-jin boleh menyusun rencana lain, sekalipun budak akan dibunuh tak

nanti akan kutinggalkan diri Siau Koan-jin lagi”

Perkataannya begitu tegas dan keras membuat Hoa Thian-hong jadi tertegun.

“Tapi urusan ini penting sekali….” serunya.

“Perduli urusan ini penting atau tidak, sekalipun budak dibunuh juga tak akan kutinggalkan Siau

Koan-jin barang selangkah pun”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

489

Hoa Thian-hong jadi amat terharu mendengar keputusan pelayan tuanya, ia tidak ingin

mengecewakan hati orang itu lagi, setelah tertegun sebentar, katanya, “Kalau begitu mari kita

pergi mencari Chin Locianpwee lebih dahulu, ooh yaa…. masih ada si pahlawan tua berkerudung

itu, kitapun harus saling berkenalan”

Yang dipikirkan Hoa In adalah jangan sampai berpisah dari sisi majikan mudanya, tentang soal

lain dia tidak menaruh perhatian.

Begitulah setelah mengambil keputusan maka berangkatlah kedua orang itu dengan kecepatan

bagaikan hembusan angin, ketika tengah hari sudah lewat racun teratai dalam tubuh Hoa Thianhong

pun tenggelam kembali ke dasar pusar, tetapi karena terlalu banyak darah yang mengalir

keluar, wajahnya kelihatan lesu dan layu.

Beberapa waktu kemudian, sampailah kedua orang itu diluar sebuah kota.

Hoa Thian-hong menghentikan langkah kakinya, sambil menghembuskan napas panjang

katanya, “Aku sudah lelah sekali, mari kita bersantap sambil beristirahat sebentar!”

“Leng-ci berusia seribu tahun itu adalah satu benda yang mujarab sekali, cuma dicium saja sudah

mendatangkan manfaat yang besar…. Siau Koan-jin! Kalau badanmu merasa kurang enak,

ciumlah beberapa kali agar kesehatanmu segar kembali!!”

Hoa Thian-hong menggeleng.

“Benda mustika akan memancing keserakahan orang, benda itu mempunyai hubungan yang erat

sekali dengan diriku, mulai hari iui janganlah sekali-kali kau sebut lagi tentang obat itu, kalau

sampai kabar ini bocor di tempat luaran…. waah! bakal banyak kerepotan yang akan kita jumpai”

Hoa In menyanggupinya tanpa membantah maka masuklah kedua orang itu ke dalam sebuah

rumah makan dan bersantap sampai kenyang.

Baru saja mereka selesai bersantap, tiba-tiba dari luar rumah makan berkumandang datang

suara seseorang yang serak dan tak aneh didengar sedang berkata, “Seng sam ko, kita harus

mencari satu akal untuk menyingkirkan nenek tua itu, kita musti lihat macam apa sih goa

malaikat yang dia katakan hebat itu….”

Hoa Thian-hong merasa suara itu sangat dikenal olehnya, ia segera menengadah ke atas dan

memandang ke depan…. tapi sebentar saja ia telah berdiri tertegun.

Rupanya dari luar rumah makan telah muncul tiga orang jago. ketika mereka bertiga menjumpai

Hoa Thian-hong pun berada disitu orang-orang itu nampak melengak dan ragu-ragu untuk

masuk ke dalam ruangan.

Kiranya tiga orang yang baru saja munculkan diri itu bukan lain adalah jago-jago lihay dari

perkumpulan Hongg In Hwee, salah satu diantaranya berpotongan hwesio dengan badan yang

gemuk bulat, dia bukan lain adalah Seng Sam Hau, orang yang barusan bicara adalah seorang

pria berbadan pendek, sedang orang ketiga berbadan tinggi kurus dengan muka hijau

menyeramkan, dia bukan lain adalah Siang Kiat.

Orang ini mempunyai saudara bernama Siang Hau, ketika melancarkan serangan bokongan

dengan ilmu cakar walangnya sewaktu berada di rumah makan Kie ing loo di kota Cho ciu tempo

hari, telah menemui ajal nya di tangan Hoa Thian-hong.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

490

Dalam pada itu si anak muda tersebut pun diam-diam berpikir setelah menyaksikan kehadiran

ketiga orang itu, “Ketiga orang itu masih bukan tandingan dari Hoa In, aku benar- benar sudah

teramat payah…. aaai….! Segala macam kurcaci macam dia, lebih baik dilepaskan saja!”

Berpikir demikian ia segera memberi tanda kepada Hoa In kemudian bangkit tinggalkan tempat

duduknya.

Pemuda itu segan mencari gara-gara, pada dasarnya ia sudah bersantap kenyang dan hendak

berlalu maka tanpa banyak bicara pemuda itu berjalan menuju keluar.

Hoa In tak tahu maksud hati majikannya melihat ia bangkit dan berlalu pelayan tua ini segera

menyambar pedang bajanya dan mengikuti dengan langkah lebar.

Waktu itu Seng Sam Hau bertiga masih berdiri di depan pintu, ketika menyaksikan kemunculan

Hoa In mereka jadi terperanjat tanpa banyak bicara ketiga orang itu segera loncat mundur ke

belakang dan berdiri di tengah jalan raya.

Hoa In tertegun, dengan langkah lebar ia berjalan keluar dari ruang rumah makan, setelah

menyorenkan pedang bajanya di atas punggung, ia menegur dengan suara dingin, “Hmm! Mau

turun tangan? Majulah bertiga…. daripada aku musti buang waktu dan tenaga dengan percuma”

Dengan Cepat ketiga orang itu saling bertukar pandangan sekejap, tiba-tiba Seng Sam Hau

tertawa terbahak-bahak.

“Haaah haaah….Hoa In, kau benar-benar ingin bertarung….?” serunya.

Hoa In tidak menjawab, sebaliknya malah bertanya, “Ciong Lian-khek toako apakah masih

berada di dalam perkumpulanmu?”

“Ciong Lian-khek telah dibunuh oleh sam ko kami,” jawab Seng Sam H&u, ketika dilihatnya dada

dan kaki si anak muda itu penuh dengan darah berwarna hijau, ia jadi curiga, tegurnya lebih

jauh, “Hoa Thian-hong, siapa yang melukai dirimu hingga menjadi begitu rupa….?”

Hoa Thian-hong mendengus dingin pikirnya, “Perkataan orang ini ngawur dan tidak katuan, kalau

dilihat keadaannya yang tidak tenang rupanya ada satu kejadian sedang ber langsung….”

Dalam hati ia herpikir demikian, sedang diluaran ia segera bertanya, “Dimana Cia Kim? dan Jien

Tang-kee kalian kini berada dimana?”

Jejak dari Cong-Tang-kee kami tidak jelas sebaliknya Cia Samko berada di sekitar tempat ini,

kalau kau punya nyali, ayoh ikut kami pergi kesitu….” teriak Seng Sam Hau dengan mata

melotot.

Hoa Thian-hong tertawa, ia ulapkano tangannya dan berseru, “Bawa jalan, kalau Cia Kim tidak

berhasil ditemukan….Hmm! akan kusuruh engkau rasakan kelihayanku!”

Seng Sam Hau mendengus dingin, dia ulapkan tangannya dan segera berangkat lebih dahulu.

Siang Kiat serta pria pendek itu buru-buru menyusul di belakang rekannya, Hoa Thian-hong pun

menggape ke arah Hoa In kemudian mengikuti di belakang ketiga orang itu.

Sebentar saja mereka sudah keluar dari kota itu dan berlarian menuju ke arah selatan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

491

“Siau Koan-jin, permainan setan apa yang sedang dilakukan bajingan itu….?” tanya Hoa In

dengan wajah bingung.

Hoa Thian-hong tertawa.

“Seng Sam Hau adalah seorang hweesio yang tidak pantaDg arak dan daging, sudah terlalu

banyak perbuatan jahat yang dia lakukan, tadi ia ketakutan karena mengira kau hendak turun

tangan…. dalam keadaan begini tak mungkin dia bisa bermain setan….”

“Tadi mereka membicarakan tentang gua malaikat dan nenek tua…. permainan apa pula yang

sedang berlangsung?”

“Ikuti saja jejak mereka! Sekarang adalah saatnya banyak urusan, mereka bisa berkeliaran di

tempat luaran itu berarti bahwa orang-orang itu sedang melakukan tugas!”

Sementara itu Seng San Hau sekalian yang menyaksikan Hoa Thian-hong berdua menguntil terus

di belakang mereka, buru-buru mem percepat larinya dan berbelok ke tempat yang terpencil

kemudian menuju kederetan bukit disebelah Barat daya.

Setengah jam sudah lewat, namun mereka masih juga berlarian di tempat yang sunyi itu…. lama

sekali belum sampai juga di tempat tujuan, baru saja Hoa Thian-hong merasa curiga, tiba-tiba

Hoa In menuding ke depan sambil berteriak, “Siau Koan-jin, coba lihat! disana ada orang sedang

bertempur….!”

Hoa Thian-hong segera alihkan sorot matanya kemuka, tampaklah dihadapan mereka terbentang

dua buah bukit yang dipisahkan oleh sebuah jurang, di atas jurang terbentang sebuah jembatan

batu yang luasnya beberapa depa tapi terpatah-patah, dua orang nenek tua berambut putih

duduk berhadapan muka di tengah jembatan batu itu. pukulan demi pukulan dilancarkan tiada

hentinya satu sama lain…. pertarungan sedang mencapai pada keadaan yang amat seru.

Sementara itu Seng Sam Hau bertiga telah tiba di ujung jalan, dikedua belah sisi jurang,

tampaklah serombongan jago sedang menyaksikan jalannya pertarungan itu.

Orang pertama yang kelihatan paling menonjol adalah seorang kakek tua berwajah persegi

dengah mata yang gede dan alis yang tebal, dia adalah Tang-kee kedua dari perkumpulan Hongim-

hwie yakni Cu Goan-khek, di samping itu nampak delapan sembilan orang jago mengerubungi

di sekitarnya, kebanyakan terdiri, dari jago-jago lihay perkumpulan Hong In Im Hwee.

Diantara mereka bukan saja tidak nampak Jin Hian, bahkan malaikat berlengan delapan Cia Kim

pun tidak kelihatan batang hi dungnya.

Setibanya ditepi jurang, Hoa Thian-hong saling menyapa sekejap dengan Cu Goan-khek

kemudian seluruh perhatiannya terhisap oleh jalannya pertarungan yang sedang berlangsung di

atas jembatan batu itu.

Kiranya telapak kiri kedua orang nenek tua itu telah saling menempel satu sama lainnya beradu

tenaga dalam, sementara tangan kanannya yang bebas secara beruntun melancarkan seranganserangan

dahsyat dengan tujuan untuk merobohkan, pelbagai jurus ampuh yang lihay dan aneh

dilancairkan tiada hentinya kedua belah pihak berusaha untuk merebut posisi yang lebih

menguntungkan.

“Nenek tua yang duduk disebelah sana adalah seorang nenek buta, “tiba-tiba Hoa In berbisik

dengan suara lirih,” semua orang menyebut dirinya sebagai nenek dewa bermata buta, ia

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

492

merupakan salah seorang tulang punggung dari perkumpulan Hong-im-hwie, bukan saja nenek

ini berhati kejam dan telengas sekali bahkan hatinya sangat licik dan banyak akal, bila Siau Koanjin

bertemu dengan orang itu di kemudian hari, engkau harus berhati-hati sekali”

Hoa Thian-hong mengangguk.

“Nenek tua baju abu-abu yang duduk dihadapannya pernah kutemui,” katanya, separuh bagian

kitab catatan Ci yu jit ciat milIk-cu locianpwee telah dirampas olehnya.

“Oooh….! dia bernama Tio Tiang Geng” ujar Hoa In dengan nada tercengang hubungannya

dengan ibu majikan tidak jelek, sepantasnya ia tidak mungkin akan merampas kitab pusaka ilmu

silat milikku!”

Teringat akan gaplokan yang pernah diterima olehnya, Hoa Thian-hong berseru gelagapan,

“Oooh…. mungkin saja ia hanya bergurau!”

Tiba-tiba dari dinding bukit sebelah depan berkumandang datang suara rentakan seorang

perempuan dengan nada yang rendah tapi berat, “Tio Sam kau, tak usah bertempur lagi, biarkan

dia datang kemari!”

Perkataan itu seolah mendengung keluar dari balik awan membuat orang tak bisa menebak

dengan tepat berasal dari manakah suara tadi, Hoa Thian-hong jadi tercengang dan keheranan,

sepasang matanya dipentang lebar-lebar dan mengawasi dinding tebing disebelah depan sana

tanpa berkedip.

Terdengar nenek baju abu-abu Tio Tiang Geng berseru, “Nenek buta sudah dengar belum?”

Sambil berkata tangan kanannya melancarkan beberapa serangan, telapak kirinya tiba-tiba

digetarkan dan tubuhnya laksana kilat meloncat pergi dari atas jembatan batu itu.

Nenek dewa bermata buta ikut bangkit berdiri, sambil memegang sebuah bambu ramping

berwarna hijau yang panjangnya empat depa dengan besar sepertiga jari kelingking, perlahanlahan

ia maju ke depan, katanya, “Tio Tiang Geng sekalipun ada malaikat yang bertindak sebagai

tulang punggungmu, ini kali aku si nenek buta tetap akan mencabut selembar jiwamu.”

“llmu silat yang dimiliki kedua orang ini boleh dibilang sudah mencapai taraf yang luar biasa

sekali pikir Hoa Thian-hong di dalam hati, sekalipun ada orang yang memiiiki kepandaian silat

lebih lihaypun aku rasa tak akan lebih lihay berapa banyak!”

Sementara ia masih termenung, nenek buta itu sudah melewati jembatan batu dan tiba ditepi

seberang saja, Cu Goan-khek sekalian buru-buru loncat naik pula ke atas jembatan batu itu.

“Cepat ikut menyeberang kesitu!” serunya kemudian kepada Hoa In, “ayoh kita tengok apa yang

telah terjadi di tempat itu!”

Sambil berkata ia loncat lebih dahulu ke atas jembatan dan buru-buru lari ke depan.

Dengan perasaan ingin tahu, Hoa Thian-hong bagaikan sambaran kilat cepatnya menerjang lebih

dahulu ke atas jembatan batu itu.

Hoa In dengan kencang menyusul di belakang majikan mudanya, dengan demikian maka Seng

Sam Hau sekalian yang menyeberang lebih dahulu telah tiba ditepi seberang jauh lebih lambat

daripada pemuda itu berdua.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

493

Sementara itu dengan bambu kecil ditangannya sebagai pencari jalan, dengan gerakan yang

amat gesit nenek buta itu sudah berada dua tiga tombak tingginya dari permukaan tanah,

tubuhnya bergerak terus naik ke atas puncak bukit itu tanpa berhenti barang sekejappun.

0000O0000

34

Hoa Thian-hong amat terperanjat melihat kegesitan orang itu, pikirnya dalam hati, Nenek buta

itu bisa mendaki ke atas gunung yang licin bagaikan berjalan ditanah datar belaka, ia betul-betul

luar biasa sekali, ka lau orang tidak tahu tentu tak akan percaya kalau dia adalah seorang nenek

buta….”

Bukit itu tingginya mencapai seratus tombak, kurang lebih belasan tombak dari puncak bukit

tersebut terdapat sebuah gua karang, perkataan yang berkumandang di angkasa barusan bukan

lain berasal dari balik gua itu, rupanya nenek buta itu mengandalkan ketajaman pendengarannya

untuk menentukan arah yang benar.

Jilid 25

TAMPAKLAH bambu kecil ditangan-nya bergetar tiada hentinya, dalam waktu singkat ia sudah

berada di depan mulut gua.

“Nenek tua!” tiba-tiba Tio Sam-koh membentak keras, “cepat hentikan langkahmu, daripada

mencari penyakit buat diri sendiri!”

Agaknya ilmu meringankan tubuh yang di miliki nenek baju abu-abu ini jauh di atas nenek buta,

sebelum orang lain menyadari apa yang telah terjadi tahu-tahu ia sudah berada di hadapan

lawannya.

Nenek buta itu tidak menggubris bentakan orang, sambil bersuit nyaring, ia jejakkan kakinya ke

atas tanah dan menerjang masuk ke dalam gua karang itu….

Tio Sam-koh sendiri meskipun buka suara memberi peringatan, akan tetapi tubuhnya tetap

berdiri ditepi gua dan sama sekali tidak menghalangi perbuatan orang itu.

Hoa Thian-hong yang berdiri kurang lebih puluhan tombak dari mulut gua itu segera pusatkan

perhatian ke arah depan setelah melihat kejadian itu, dia ingin tahu manusia macam apakah

yang bersembunyi di dalam gua itu.

Baru saja nenek dewa bermata buta menerjang masuk kemulut gua, mendadak suitan tajamnya

itu terhenti sampai di tengah jalan, te lapak kirinya diayun dan mengirim satu pukulan ke arah

dalam gua.

Jeritan kesakitan berkumandang memecahkan kesunyian, tiba-tiba bambu kecil yang dipegang di

tangan kanannya terlepas dari cekalan, sementara tubuhnya terlempar ke belakang dan jatuh

terguling dari atas bukit curam itu.

Peristiwa tersebut benar-benar merupakan suatu kejadian aneh yang sukar dipercayai orang,

dengan tenaga lweekang yang dimiliki nenek dewa bermata buta dari peikumpulan Hong-im-hwie

ternyata tak sanggup mempertahankan diri terhadap sebuah pukulan dahsyat dari orang lain,

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

494

dari sini bisa ditarik kesimpulan bahwa jago lihay yang berada di dalam gua merupakan seorang

tokoh silat yang maha dahsyat.

Semua orang saling pandang dengan mata terbelalak, sementara nenek buta itu dengan baju

yang koyak dan kulit robek tersayat batu tajam, menggelinding terus sampai di bawah bukit,

keadaannya mengenaskan sekali dan nenek itu ketika jatuh tak sadarkan diri.

Hoa Thian-hong berdiri dipaling depan, sebagai seorang jago Bulim yang berhati mulia, meskipun

tahu bahwa nenek buta adalah musuh tadi ia merasa tak tega membiarkan badannya tersayat

hancur, buru-buru telapaknya diayun ke depan melancarkan sebuah pukulan angin lunak,

dengan demikian tertahanlah tubuh nenek buta itu sehingga tidak sampai terbanting di bawah

jurang.

Sreeet….!sreeet….! Cu Goan-khek serta seorang kakek baju hijau bersama-sama loncat maju ke

depan, mereka segera membangunkan tubuh nenek buta itu dari atas tanah.

Kakek baju hijau itu memeriksa sebentar denyutan nada si nenek buta, lalu ujarnya, “Jiko, Sian

poo terpukul oleh segulung hawa pukulan yang maha dahsyat sehingga napasnya tersumbat….”

Dengan air muka hijau membesi, Cu Goan-khek mengangguk, buru-buru ia gerakkan tangannya

menguruti seluruh jalan darah dan nadi penting di tubuh nenek buta itu.

Tio Sam-koh yang selama ini hanya berdiri saja di depan gua, tiba-tiba menyambar bambu kecil

berwarna hijau milik nenek buta itu, sambil diayun kemuka, bentaknya, “Cu Goan-khek! ayoh

cepat enyah dari tempat ini…. kalau sampai menggunakan hati aku si nenek tua….Hmm! akan

kuusir kalian kawanan bajingan tengiK dari tempat ini!”

Cu Goan-khek menengadah ke atas dan memandang sekejap ke arah Tio Sam-koh dengan

pandangan dingin, sementara dalam hati sumpahnya, “Setan tua…. Hmmm! Sekarang engkau

bisa berlagak, suatu hari kalau terjatuh ketanganku…. Heeeh heeeh heeeh…. lihatlah sampai di

manakah kelihaian ji-ya mu….”

Walaupun makian itu cukup tajam dan pedas namun tak sampai diutarakan keluar.

Lain halnya dengan Seng Sam Hau yang berwatak berangasan, dengan mata melotot dan wajah

penuh hawa pembunuhan teriaknya, “Nenek edan, kau musti tahu bahwa saudara dari Hong-imhwie

bukanlah manusia yang gampang dihina, Hmm…. hati-hati dengan mulutmu itu, kalau

sampai nanti salah bicara.

Tio Sam Kau adalah jago tua yang berwatak berangasan pula, ibaratnya jahe, semakin tua

semakin pedas, mendengar ucapan itu ia naik pitam, teriaknya pula, “Bajingan tengik kenapa

kalau sampai salah bicara?”

Bambu hijau dalam genggaman tangannya langsung dibabat ke arah depan.

Bambu kecil itu tersohor sebagai bambu mustika dari negeri Thiam tok (India), dan merupakan

senjata andalan dari nenek dewa bermata buta selama berkelana dalam dunia persilatan,

walaupun sepintas lalu kelihatannya kecil dan lunak namun dalam kenyataannya kuat dan keras

sekali, bambu itu merupakan sejenis senjata yang sangat lihay.

Babatan yang dilancarkan Tio Sam-koh ini membawa desiran angin tajam yang amat

membisingkan pendengaran, bayangan hijau berlapis-lapis dan dengan cepat menyelimuti daerah

seluas beberapa depa disekeling tempat itu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

495

Seng Sam Hau tidak menyangka kalau dirinya bakal diserang secara begitu hebat, menyaksikan

datangnya ancaman yang begitu dahsyat ia menjadi keder dan buru-buru melompat mundur ke

belakang.

Bluuuk….! dengan telak bambu mustika dari negeri Thiam tok itu bersarang di atas punggUng

Seng Sam Hau yang lebar, hwesio gede itu menjerit kesakitan dan segera roboh terjengkang ke

atas tanah.

Untung Thio Sam-koh tidak menguasai sifat-sifat dari bambu mustika itu, sehingga tenaganya

tidak sampai dipergunakan tepat pada waktunya, kalau tidak tulang punggung hwesio, gede she

Seng ini tentu akan patah jadi beberapa bagian.

Para jago dari perkumpulan Hong-im-hwie jadi amat gusar menyaksikan peristiwa itu, bentakan

keras berkumandang memecahkan kesunyian, masing-masing orang mencabut senjatanya dan

terjun ke dalam gelanggang pertarungan,

Dalam sekejap mata lima orang pria telah mengepung Tio Sam-koh rapat-rapat, pertempuran

sengitpun dengan cepat berlangsung di atas bukit yang tidak rata itu, deruan angin tajam

bentakan nyaring berkumandang silih berganti.

Hoa Thian-hong mengikuti jalannya pertarungan itu, diam-diam merasa kagum, ia tak

menyangka kalau Tio Sam-koh begitu ampuh meskipun harus menghadapi kerubutan lima orang

jago lihay, pikirnya, “Nenek tua ini benar-benar merupakan seorang panglima angkatan perang

yang tangguh, seandainya ilmu silat yang dimiliki dewa pelancongan Cu Tong serta Cu Im taysu

sekalian serta beberapa orang sederajat dengan ilmu silatnya, maka pihak kami tak usah jeri

untuk menghadapi tiga besar dari dunia persilatan….”

Berpikir sampai disitu, tanpa terasa timbullah kesan yang baik dan mendalam terhadap nenek

baju abu-abu yang pernah menghadiahkan sebuah gaplokan kepadanya itu, kepada Hoa In

segera pesannya, “Berjaga-jagalah di samping arena dengan waspada, andaikata nenek tua itu

menunjukkan tanda kewalahan, segera terjun ke dalam gelangang dan bantulah dirinya”

“Siau Koan-jin akan pergi kemana?”

“Aku hendak menengok sebentar ke atas” sambil berjalan ia menuju ke arah gua.

“Hoa Thian-hong!” tiba-tiba Tio Sam-koh membentak dengan suara keras, “kau sudah bosan

hidup?”

Pemuda itu tersenyum.

“Nenek gagah dan tangguh sekali, boanpwee merasa amat kagum!” serunya.

Tio Sam-koh semakin naik pitam, teriaknya, “Siapa suruh kau sanjung diriku? Bila kau berani

masuk ke dalam gua itu, maka nenek buta adalah contoh yang paling tepat!”

Rupanya nenek itu gelisah sekali, karena harus pecahkan perhatian untuk berbicara maka

seketika itu juga ia terjepit dan menjumpai bahaya

Hoa In sendiripun tahu bahwa dalam goa tersebut bersemayam seorang tokoh sakti yang

berkepandaian tinggi, sebelum teman atau musuh bisa ditetapkan, ia tak ingin membiarkan Hoa

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

496

Thian-hong menempuh bahaya, buru-buru serunya, “Tio Lo thay adalah angkatan tua yang harus

kita hormati, Siau Koan-jin kau harus turuti perkataannya”

Hoa Thian-hong tertawa.

“Hati-hatilah berjaga-jaga disitu, tak usah banyak urusi persoalanku….”

Ia loncat kemuka dan melayang turun di luar gua.

Walaupun nyalinya besar, tetapi setelah menyaksikan keadaan dari nenek buta yang terlempar

keluar dari gua dalam keadaan luka parah sebelum melangkah masuk ke tempat itu, Hoa Thianhong

sadar bahwa orang di dalam goa itu lihay sekali.

Dengan pandangan tajam ditatapnya lebih dahulu suasana dalam gua karang itu.

Mulut gua luasnya hanya enam depa, suasana gelap gulita ibaratnya sumur yang tak nampak

dasarnya, lama sekali pemuda itu melongok ke dalam namun tak suatu apapun yang terlihat.

Dalam keadaan begini timbullah rasa ingin tahu dalam hatinya, ia semakin bernafsu untuk

menyelidikinya.

“Hoa Thian-hong!” kembali Thio Sam-koh membentak dengan keras, “cepat mundur ke belakang,

kalau tidak akan kuberitahukan kepada ibumu kalau engkau tak mau dengarkan nasehat

angkatan yang lebih tua…. Hmm! waktu itu sepasang kakimu tentu akan digebuk sampai

kutung!”

Diam-diam Hoa Thian-hong merasa geli, pikirnya, “Asal aku bisa bertemu dengan ibu, sekalipun

bakal digebuk juga tak menjadi soal”

Berpikir demikian dengan wajah serius ia segera memberi hormat ke arah gua yang gelap gulita

itu, serunya dengan lantang, “Cianpwee darimanakah yang berada di dalam gua? Aku yang

rendah Hoa Thian-hong mohon bertemu”

Ditunggunya beberapa saat tapi suasana dalam gua tetap sunyi senyap tak kedengaran sedikit

suarapun.

Hoa Thian-hong jadi sangsi, pikirnya, “Kalau dilihat dari keadaan ini, semestinya berarti orang itu

tak mau berjumpa dengan aku!”

Kendati ia berpengalaman namun usianya yang masih muda membuat pemuda itu tak terima

kalau sudah persoalan itu sampai di situ saja, dengan memberanikan diri ia maju beberapa

langkah lagi ke depan, lalu menjura dan berseru, “Cianpwee yang berada dalam gua, maafkanlah

diriku bila hamba terpaksa harus masuk sendiri kedalam”

Selesai berkata ia langsung berjalan menuju ke dalam gua.

Tiba-tiba terdengar Tio Sam-koh membentak gusar, begitu keras suaranya sampai mengejutkan

hati Hoa Thian-hong, ia menghentikan langkahnya dan segera berpaling ke belakang.

Tampaklah Tio Sam-koh sambil meraung gusar, bambu mustika dari negeri Thiam tok itu diputar

dan dibabat secara ngawur, serangan yang dilancarkan tanpa memakai aturan ini seketika

menggusarkan jago Hong-im-hwie yang berada disekeliling itu, mereka sama-sama mencabut

senjata dan segera meluruk ke depan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

497

Hoa In jadi gelisah menyaksikan permainan bambu dari nenek tua itu bertambah kalut,

teriaknya, “Tio Loo thay, tenangkan hatimu dan bertempurlah dengan pikiran yang mantap….”

Simbil tertawa telapaknya segera disodok kemuka melancarkan satu pukulan dahsyat.

“Tua bangka!” tiba-tiba Tio Sam-koh berteriak, “selama aku hidup si nenek tua paling segan

bertempur secara tenang, bajingan-bajingan tengik ini kuserahkan semua kepadamu!”

Bambu mustikanya digetarkan kemuka menangkis beberapa buah senjata yang mengancam

tubuhnya, kemudian ia enjotkan badan ke angkasa dan meluncur ke arah mulut gua.

Hoa Thian-hong jadi tertegun, pikirnya, “Oooh….!rupanya nenek ini menggunakan akal licik….”

Belum habis ingatan tersebut berkelebat dalam benaknya, Tio Sam-koh sudah menyambar lewat

dari atas kepalanya…. Sreeet! Sebuah babatan bambu mengencam ke arahnya.

Hoa Thian-hong tahu bahwa nenek tua ini tidak pakai aturan, serangan yang dilancarkan pasti

berat sekali, buru-buru badannya loncat ke samping dan berkelit dari ancaman tersebut.

Tio Sam-koh segera melayang ke atas tanah dan menghadang dimulut gua, sambil mengawasi

tubuh Hoa Thian-hong dengan pandangan tajam, tegurnya cepat, “Telur busuk cilik, siapa yang

telah turun tangan melukai dirimu hingga separah ini?”

Tiba-tiba seperti teringat akan sesuatu, ia melirik sekejap ke arah balik gua dan segera

membungkam kembali.

Hoa Thian-hong ikut melirik ke arah gua, tetapi ketika dilihatnya suasana disitu gelap gulita tak

nampak sesuatu apapun, tanpa terasa sambil tertawa nyaring tegurnya, “Hey orang tua, kenapa

kalau bicara tersendat-sendat?”

Tio Sam-koh mendelik besar, makinya, “Bocah keparat, kau tak tahu sopan!”

Sambil ayun bambu mustika itu bentaknya keras-keras.

“Ayoh cepat enyah yang jauh dari sini!”

“Hiiih…. hiiih…. orang tua, katanya kau hendak mencari ibuku, apakah sudah ketemu?”

“Hmm, ibumu benci karena kau tidak berbakti, ia sudah mati menggantung diri”

“Hey orang tua, kalau kau berani menyumpahi ibuku, jangan salahkan kalau aku akan kurang

adat pula kepadamu!” teriak Hoa Thian-hong pura-pura gusar.

“Heeeh-heeeh-heeeh…. kau mau apa?” jengek Tio Sam-koh sambil tertawa dingin, “akan

kugaplok dirimu dua kali lagi, ingin ku lihat kau berani memberontak atau tidak?”

Mendengar ancaman itu Hoa Thian-hong jadi terkesiap, ia takut dirinya benar-benar digaplok

orang, buru-buru telapak tangannya disilangkan di depan dada siap menghadapi segala

kemungkinan yang tidak diinginkan.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

498

Tiba-tiba terdengar nenek dewa bermata buta membentak dengan suara berat, “Tio Sam-koh,

ayoh cepat menggelinding turun ke bawah, apakah engkau hendak menunggu sampai aku naik

ke atas untuk menangkap dirimu?”

Ketika Hoa Thian-hong berpaling ke bawah, terlihatlah Cu Goan-khek dengan tubuh basah kuyup

oleh keringat sedang duduk beristirahat disamping, sedangkan nenek dewa bermata buta sudah

bangkit berdiri, telinganya dipasang baik-baik dan rupanya sedang mencari letak berdiri dari

nenek baju abu-abu itu.

Tio Sam-koh segera mendengus dingin, dia meloncat turun ke bawah sambil serunya, “Nenek

buta, Tio Sam-koh berada disini, apa yang hendak kau ucapkan kepadaku?”

Sebetulnya ketika itu Hoa In sedang bertempur sengit, ketika melihat si nenek buta sudah sadar

pingsannya, ia segera menghentikan pertarungan dan mengundurkan diri ke samping, sedang

Hoa Thian-hong pun batalkan niatnya untuk masuk ke dalam goa.

Sungguh lihay pendengaran nenek buta itu, ia segera alihkan pandangannya ke arah Hoa In

sambil tegurnya, “Orang ini memiliki ilmu silat yang sangat bagus, jago lihay dari manakah dia?”

“Aku Hoa In dari perkampungan Liok Soat Sanceng!”

Nenek dewa bermata buta agak tertegun, setelah hening beberapa saat lamanya dia

mengangguk.

“Oooooooh….! Kiranya Loo koankee dari perkampungan Liok Soat Sanceng!”

Setelah berhenti sebentar, ia berpaling ke arah Hoa Thian-hong lalu bertanya, “Dan siapakah

dia?”

“Aku bernama Hoa Thian-hong!”

Cu Goan-khek maju selangkah ke depan sambil menambahkan, “Dia adalah putra tunggal dari

Hoa Goan-siu, merupakan orang penting dalam pergolakan kali ini”

Air muka nenek dewa bermata buta agak berubah lalu mengangguk, tiba-tiba sambil berpaling ke

arah gua bentaknya sambl menyeringai seram.

“Tio Sam-koh, sebenarnya jago dari manakah yang ada di dalam gua? Selamanya aku si nenek

buta tak akan membiarkan orang lain mengambil keuntungan dariku, benarkah engkau hendak

menanggung hutang ini?”

Tio Sam-koh tertawa dingin.

“Oooh…. jadi kau sibuta ingin membatas dendam atas kekalahanmu barusan? Huuh…. terus

terang kuberitahukan kepadamu, bahwa orang yang ada dalam gua itu adalah seorang jago yang

maha besar, kau tak mungkin bisa menuntut balas terhadap dirinya, lebih baik catat saja hutang

hari ini atas namaku!”

“Oooh…. kiranya dia sendiripun tak tahu siapakah jago yang berada di dalam gua itu,” pikir Hoa

Thian-hong dengan hati tercengang, “orang itupun aneh sekali, kepandaian silatnya begitu lihay

tapi apa sebab-nya ia tak mau unjukkan diri untuk bertemu dengan orang?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

499

Dalam pada itu, secara diam-diam Cu Goan-khek telah menilai situasi yang sedang dihadapinya

waktu itu, dia merasa ilmu silat yang dimiliki nenek buta seimbang dengan ilmu silat dari Tio

Sam-koh, sedang kekuatan Hoa Thian-hong berdua tidak berada di bawah kepandaian para jagojagonya,

andaikata terjadi pertarungan maka kedua belah pihak tentu akan sama-sama

menderita kerugian.

Berpikir sampai disana, tanpa terasa alisnya berkerut kencang, pikirnya lebih jauh, “Bangsat cilik

she Hoa itu terluka dan keadaannya payah, sebetulnya suatu kesempatan yang bagus bagi kami

untuk menghajar harimau sakit itu…. sayang di dalam gua masih ada penyakit lain, lagipula Hoa

In kalau sampai nekad tentu sukar dihadapi….”

Sebagai orang yang licik, setelah mengetahui bahwa tiada keuntungan bagi pihaknya segera

timbullah niat untuk mengundurkan diri dari tempat itu.

Dalam pada itu, nenek dewa bermata buta sudah berpekik keras, tubuhnya laksana kilat

menerjang ke arah Tio Sam-koh.

Rupanya nenek baju abu-abu itu sudah mengenali watak nenek buta yang selamanya menyerang

tanpa memberi tahu lebih dahulu itu, bambu mustikanya digetarkan lalu menyongsong ditangnya

terjangan itu, sambil tertawa terbahak-bahak, serunya, “Hey nenek buta, asal engkau bersedia

angkat sumpah berat dan berjanji mulai hari ini tak akan melakukan pembunuhan lagi

memandang di atas wajah itu aku suka mengembalikan bambu ini kepadamu”

Dalam waktu singkat kedua belah pihak telah melangsungkan pertarungan sebanyak dua puluh

jurus lebih, dalam keadaan nekad nenek buta itu menyerang sekenanya, baik serangan telapak,

serangan jari, rendangan maupun kepalan dipergunakan semua secara kombinasi, nekad

bagaikan harimau gila yang sudah teluka hal ini membuat keadaannya benar-benar mengerikan

sekali.

Tio Sam-koh sendiri berhubungan harus menggunakan senjata milik musuh yang enteng dan

lunak, di mana senjata itu tidak sesuai dengan gerak ilmu silatnya, baru bertarung dua puluh

jurus ia sudah keteter hebat dan beberapa kali terancam jiwanya….

Pertarungan tersebut benar-benar suatu pertarungan yang mencengangkan hati, para hadirin

cuma bisa saling berpandangan sambil berdiri melongo.

Hoa Thian-hong mengerutkan alisnya melihat keadaan itu, diam-diam pikirnya.

“Kenapa sih sifat kekanak-kanakan pada nenek tua itu belum juga hilang….? Urusan menyangkut

tentang mati hidupnya, kenapa dia malahan memandangnya sebagai permainan anak-anak?”

Seringkali dia merasa bahwa akhir dari pertemuan besar Pok beng Tay hwee merupakan

pelajaran berdarah yang ditinggalkan generasi yang lalu kepada mereka semua, ia merasa

seandainya suatu saat antara golongan hitam dan golongan putih terjadi kembali pertarungan

yang menentukan, maka bila golongan putih menderita kekalahan total maka semua jago dalam

dunia persilatan akan musnah dengan begitu saja.

Maka dari itu dia mempunyai suatu perasaan sayang terhadap setiap umat Bulim yang berpihak

kepadanya, ketika menyaksikan Tio Sam-koh memandang keselamatan jiwanya seperti barang

mainan, timbul rasa gelisah dan kuatir dalam hati pemuda itu.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

500

Sedikitpun tidak salah, belum sampai empat puluh jurus, tiba-tiba nenek buta itu mengumbar

hawa amarahnya, ia berpekik nyaring tangan kirinya menggaet menyambar bambu mustika di

tangan Tio Sam-koh sedang tangan kanannya mendadak kirim satu pukulan dahsyat ke depan.

Keadaan nenek buta itu benar-benar mengerikan sekali, wajahnya menyeringai seram sedang

giginya terkatup kencang, pukulan yang dilancarkan itu benar-benar mengerikan sekali.

Melihat keadaan tidak menguntungkan bagi dirinya, Tio Sam-koh segera melepaskan bambu

mustika itu dan buru-buru loncat mundur ke belakang.

Setelah berhasil merampas kembali senjatanya, keadaan nenek buta itu bagaikan harimau

tumbuh sayap, ia tertawa seram dan berseru, “Tio Sam-koh, saat kematianmu sudah tiba, “

Bambu mustika dari negeri Thiam tok itu menyerang bagaikan kitiran hujan badai, sekujur badan

Thio Sam-koh terbungkus dalam kepungan musuh.

Satu kali salah bertindak, posisi baik kena direbut orang dan nenek baju abu-abu itupun terdesak

di bawah angin, hal ini membuat ia jadi gelagapan dan tak berdaya mempertahankan diri.

Dalam Waktu singkat, selapis bayangan cahaya warna hijau mendesak Tio Sam-koh ha us

mundur ke belakang berulang kali, gelak tertawa nyaring, raung gusar serta teriakan keras

bercampur aduk menjadi satu.

Para kerabat dari kedua belah pihak sama-sama gerakkan tubuhnya mendekat ke depan, Cu

Goan-khek yang menyaksikan kemenangan berada dipihaknya jadi girang sekali, semangatnya

berkobar-kobar kembali dan wajahnya berseri-seri.

Sebaliknya Hoa Thian-hong serta Hoa In jadi gelisah bercampur gelagapan, melihat jiwa Tio

Sam-koh terancam, mereka ingin maju membantu, tetapi kedua orang itu merasa sungkan untuk

main kerubut berhubung ke dua belah pihak yang bertempur sama-sama udah tua.

Walaupun sepasang mata nenek buta itu tak bisa melihat apa-apa, namun perasaannya tajam

sekali, baru saja mendekati gua itu seketika ia sudah merasa, Sambil menggertak gigi dan

menyeringai seram, bentaknya, “Tio Sam-koh, kalau bukan engkau tentulah aku yang mati!”

Tubuhnya menerjang ke angkasa, bambu mustika menciptakan selapis bayangan hijau seluas

beberapa tombak, diiringi suara desiran tajam memekikkan telinga langsung menerjang kemuka.

Jurus awan hitam menutupi sang surya ini merupakan salah satu jurus membunuh yang

diandalkan nenek buta, Tio Sam-koh yang sudah memahami keadaan lawannya bukan cuma

sehari saja itu segera mengetahui akan bahaya, melihat datangnya tekanan bayangan hijau dari

atas kepala, buru-buru ia tekuk pinggangnya dan menyusup ke samping.

Siapa tahu baru saja Tio Sam-koh menekuk pinggangnya sampai separuh jalan, nenek buta itu

sudah merasakan akan gerakan tersebut, ia mendengus dingin, bambu mustikanya menyapu

keluar dan tibatiba membabat ke arah punggungnya.

Tio Sam-koh terkesiap dalam bahaya, ia buang tubuhnya sekeras- kerasnya ke samping ketika

ujung bambu hampir mengenai tubuhnya ia sudah keburu berguling ke tanah dan melarikan diri

ke samping.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

501

Semua kejadian ini berlangsung dalam sekejap mata, setelah bergelinding ke samping Tio Samkoh

segera loncat bangun dan tanpa mengucapkan sepatah katapun mendadak menyusup

masuk ke dalam gua.

Nenek dewa bermata buta pasang telinga lalu siapkan tubrukan, tetapi setelah teringat akan

kelihayan orang yang berada dalam gua itu, dengan cepat dia urungkan kembali niatnya itu.

Pertarungan sengit yang berlangsung selama ini mendebarkan jantung setiap jago yang

mengikuti jalannya pertarungan itu, se telah pertempuran mereda merekapun diam-diam

hembuskan napas panjang.

Setelah menenangkan diri, Cu Goan-khek segera berkata, “Sian poo, musuh yang kabur tak usah

di kejar…. mari kita beristirahat ditepi seberang sana!”

Nenek dewa bermata buta tertegun, tiba-tiba teriaknya dengan gusar.

“Tio Sam-koh, benarkah engkau tak berani munculkan diri serta menjadi kura-kura yang

ketakutan?”

Baru saja perkataan itu selesai diteriakan tiba-tiba Tio Sam-koh munculkan diri kembali dari balik

gua yang gelap itu sambil membawa sebuah toya berkepala naga.

Dari ketukan tongkat di atas tanah nenek buta itu tahu kalau Tio Sam-koh telah munculkan diri,

ia mendengus lalu tarik napas dan mundur beberapa tombak ke belakang.

Setelah keluar dari gua, Tio Sam-koh tancapkan toyanya ke atas tanah, sambil menatap wajah

nenek buta itu tegurnya dingin, “Nenek buta, akupun akan gunakan senjata! Kau adalah seorang

perempuan yang cacad, kalau kau merasa aku mencari untung dari kecacadanmu itu, lebih baik

pertarungan ini tak jadi dilanjutkan”

Nenek buta paling benci kalau ada orang menyinggung tentang cacadnya itu, meledaklah hawa

amarah dalam dadanya sesudah mendengar ejekan tersebut, giginya saling beradu hingga

menimbulkan gemertakan nyaring.

Lama sekali…. ia baru bicara dengan suara dingin, “Anjing tua, ada keuntungan boleh kau cicipi

sendiri, bila aku gagal menghancur lumatkan tubuh bangkotanmu itu, biarlah dalam penitisan

yang akan datang aku tetap hidup sebagai orang cacad”

“Hmmmm! Kalau begitu cicipi1ah bagaimana rasanya kemplangan toya bajaku ini.”

Weeessss….! dengan penuh kegusaran Tio Sam-koh mengirim satu sapuan tajam ke depan.

Nenek buta tertawa dingin, ia menyingkir ke samping untuk lepaskan diri dari ancaman, bambu

mustika digetarkan dan langsung membabat pergelangan musuh.

Dalam sekejap mata pertempuran sengit berkobar kembali di tengah gelanggang, kedua belah

pihak saling menyerang dengan kerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya.

Pertempuran yang berlangsung pada saat ini jauh berbeda dengan keadaan semula, setelah

menderita kekalahan rasa gusar dan mendongkol dalam dada Tio Sam-koh belum reda, saat itu

toyanya diputar sedemikan rupa melancarkan serangan berantai dengan ilmu toya Ciat cing ci

ang hoatnya.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

502

Jurus bertemu jurus gerakan bertemu gerakan, satu gebrakan demi gebrakan berlangsung

dengan teratur dan pakai aturan, kedua belah pihak sama-sama menyerang sambil bertahan,

siapapun tak mau kasih peluang bagi musuhnya untuk rebut posisi baik.

Di tengah pertarungan sengit, tiba-tiba Tio Sam-koh berteriak dengan nada dingin, “Nenek buta,

tiga jurus lama akan kuperkenalkan kembali padamu, aku harap engkau suka memberi petunjuk”

Toya bajanya diputar kencang, diiringi suara dengungan nyaring segera mengirim serangan

tajam ke arah depan.

Mendengar desiran tajam yang menderu-deru itu, nenek dewa bermata buta merasa hatinya

tercekat, pikirnya, “Ilmu toya yang dimiliki anjing tua ini benar-benar jauh berbeda dari keadaan

dulu, rupanya waktu selama sepuluh tahun tidak dibuang dengan percuma….”

Bambu mustika Thiam toknya segera diputar dan menyongsong datangnya ancaman tersebut.

Toya baja berat dan bambu mustika enteng, seharusnya benda itu tak bisa digunakan untuk

menangkis secara keras lawan keras, tetapi dibalik jurus serangan yang digunakan pada senjata

bambu itu mengandung inti sari dari ilmu toya, ilmu pedang serta ilmu Golok, seandainya toya

baja Tio Sam-koh benar-benar sampai terbentur dengan senjatanya, itu berarti nenek baju abuabu

mencari penyakit bagi diri sendiri, asal bambu itu disayat ke bawah maka jika Tio Sam-koh

tidak lepas tangan, telapaknya pasti tersayat robek.

“Bagus!” bentak Tio Sam-koh,

Dikala toya bajanya hampir membentur dengan bambu lawan, mendadak ujung toya berputar

membentuk gerakan setengah lingkar busur lalu diiringi desiran angin tajam tiba-tiba menyapu

ke arah pinggang musuh.

Nenek buta mengerutkan dahinya, tidak sempat lagi baginya untuk putar badan melakukan

tangkisan, pada saat yang sangat kritis ia keluarkan simpanan tenaganya yang dilatih selama

puluhan tahun lamanya tanpa menggerakkan anggota badan tiba-tiba tubuhnya mundur dua

depa ke belakang.

Serangan dari Tio Sam-koh itu justru bertujuan untuk memaksa mundur musuhnya ke belakang,

melihat nenek buta mundur, ia segera menerjang kemuka sambil membentak, “Kena!”

Ujung toyanya tiba-tiba meluncur ke depan dan membacok batok kepala lawannya.

Tiga jurus ilmu toya berantai itu merupakan suatu serangan yang maha dahsyat pada saat pihak

musuh memperlihatkan titik kelemahan karena desakan dua jurus yang pertama itulah, jurus

ketiga air Huang-ho turun dari langit segera meluncur kemuka.

Bagi Tio Sam-koh, gerakan tersebut merupakan suatu gerakan lanjutan yang enak dan leluasa

sekali, sebaliknya bagi musuh hal itu merupakan suatu ledakan yang diluar dugaan, sekalipun

musuh lihay di bawah ancaman serangan berantai ini niscaya akan roboh atau terluka.

Nenek dewa bermata buta yang diteter terus secara hebat, baru saja berhasil meloloskan diri dari

serangan kedua musuhnya, tiba-tiba ia merasa munculnya segulung desiran angin tajam

menghajar batok kepalanya, hal ini membuat ia jadi terperanjat, buru-buru kakinya menjejak

tanah loncat mundur ke belakang, sedang senjatanya sebisa mungkin melancarkan satu pukulan

untuk membendung datangnya ancaman tersebut.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

503

Keadaannya ketika itu sangat berbahaya, toya baja dari Tio Som koh bagaikan kilatan petir

segera meluncur ke depan mendesak disisi tubuh nenek buta, asal miring beberapa dim lagi

kesebelah kiri niscaya nenek tersebut akan menemui ajalnya atau paling sedikit terluka parah

oleh hantaman toya lawan.

Air muka para hadirin yang mengikuti jalannya pertempuran itu dari sisi arena berubah hebat,

kemudian meledaklah tempik sorak yang gegap gempita memenuhi seluruh angkasa….

Tapi kesemuanya itu hanya berlangsung sebentar saja, sebab suasana tiba-tiba berubah sunyi

kembali….

Rupanya Tio Sam-koh sendiripun tak mengira kalau nenek buta sanggup meloloskan diri dari

serangan mautnya, dalam kejut dan gusarnya tiba-tiba ia melihat bambu pusaka lawan bagaikan

ular berbisa sedang menyerang lambungnya.

Dari gusar ia jadi gembira, toya bajanya digetarkan lalu menyapu ke atas senjata lawan.

“Aduuuuh….!”

Di tengah dengusan berat, bambu mustika tergesek oleh toya bambu itu sehingga membuat

pergelangan sang nenek buta jadi tergetar keras, senjatanya hampir saja terlepas dari cekalan.

Dalam gugup dan gelagapanya buru-buru ia perkencang cekatannya, sementara sang badan

termakan oleh tenaga dorongan lawan seketika terpelanting dan roboh terjengkang ke atas

tanah.

Tio Sam-koh cepat memburu ke depan, tapi para jago dari perkumpulan Hong-im-hwie keburu

bertindak, di tengah bentakan keras masing-masing orang mendorong telapaknya ke depan

melancarkan satu pukulan dahsyat.

Pada dasarnya tenaga dalam yang dimiliki Cu Coan Kek cukup ampuh, ditambah pula bantuan

dari jago-jago lainnya, angin pukulan yang maha dahsyat segera menyapu ke depan

menerbangkan batu dan pasir.

Tio Sam-koh tak berani pandang enteng kelihayan lawannya, buru-buru ia loncat ke belakang

dan mundur sejauh beberapa tombak dari tempat semula….

Menggunakan kesempatan itu nenek buta segera meloncat bangun, kepada Tio Sam-koh serunya

ketus, “Ayo maju! Kita tak usah menunggu pertemuan Kian ciau tay hwee lagi…. ini hari juga

harus kita tentukan siapa yang lebih tangguh diantara kita berdua, kalau bukan kau yang mati

akulah yang modar!”

Tio Sam-koh tertawa terbahak-bahak.

“Haaah…. haaah…. haaah…. sungguh beruntung sekali, ini hari aku harus kalah dalam keadaan

keledai malas berguling, dan kau pun harus menelan kekalahan dalam keadaan anjing rakus

menyikat kotoran, keadaan kita setali tiga uang…. rupanya kita memang berdua punya jodoh!”

Toyanya diputar dan sekali lagi menerjang ke depan, tapi…. mendadak ia hentikan gerakan

tubuhnya dan berpaling ke arah seberang.

Melihat kejadian itu semua orang ikut berpaling, terlihatlah belasan sosok bayangan manusia

dengan cepatnya sedang bergerak menuju ke tempat kejadian.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

504

Nenek buta tak tahu duduk perkara yang sebenarnya, melihat musuhnya tidak jadi menyerang,

dengan gusar ia berteriak, “Nenek she Tio, kalau engkau segan untuk mulai, akulah yang akan

turun tangan lebih dahulu!”

“Sian poo tunggu sebentar” terdengar Cu Goan-khek berteriak dengan nada kegirangan. “Cong-

Tang-kee kita telah datang”

Dalam pada itu belasan sosok bayangan manusia tadi telah loncat naik di atas jembatan batu

dan meluncur datang.

Hoa Thian-hong sekalian segera dapat melihat bahwa orang yang berjalan dipaling depan bukan

lain adalah Jin Hian ketua dari perkumpulan Hong-im-hwie, dibelakangnya mengikuti Co Ban Kui

serta sepuluh orang pengawal golok emas.

Sungguh cepat gerakan tubuh Jin Hian, setelah tiba digelanggang ia sapu sekejap sekeliling

tempat itu dengan pandangan tajam lalu setelah melirik pula ke arah gua karang, ujarnya kepada

nenek dewa bermata buta sambil tertawa, “Sian poo, sejak kapan engkau datang? terimalah

salam dari aku orang she Jin!”

Nenek buta membalas hormat dan menjawab, “Pagi tadi aku baru tiba, sudah lama pertarungan

berlangsung namun tiada hasil apa pun…. aaai! hanya merusak pamor Hong-im-hwie saja”

“Haaah…. haaah…. haaah….” Jin Hian tertawa nyaring, “Tio Lo thay terkenal sebagai jago lihay

dalam dunia peralatan yang sudah tersohor sejak enam pulun tahun berselang, bila Sian poo

ingin rebut kemenangan tentu saja harus bertempur tiga sampai lima ratus jurus banyaknya”

Tio Sam-koh mendengar perkataan itu, dengan alis berkerut segera menyindir, “Haah…. haah….

haaah….Jin Hian, aku lihat engkau baru termasuk manusia tak berguna, sungguh tak nyana

seorang ketua dari perkumpulan Hong-im-hwie pandainya cuma jilat pantat orang belaka….

Huuuuh! rupanya aku sudah salah melihat”

Air muka Jin Hian berubah hebat, tapi sebentar kemudian telah pulih seperti sedia kala, katanya

sambil tertawa hambar, “Tio Lo thay, engkau terlalu tinggi memandang diriku”

“Siapa yang memandang tinggi dirimu? Hmm! engkau berkata bahwa namaku sudah tersohor di

kolong langit sejak enam puluh tahun berselang, bukankah itu berarti bahwa kau sedang menjilat

pantatku? Kemudian kau mengatakan kepada nenek buta itu bahwa untuk mengalahkan aku

maka paling sedikit harus bergebrak tiga sampai lima ratus jurus, lalu bagaimana kalau tujuh

sampai sembilan ratus jurus? Cukup bukan? Haaah…. haaah…. bukankah engkau sedang

menjilat pantatnya si nenek buta?”

Jin Hian sama sekali tidak memberi komentar, dengan tenang ia dengarkan perkataan orang

hingga selesai, kemudian sambil tersenyum memberi hormat kepada Hoa Thian-hong sambil

tegurnya, “Hoa Loo te, kau terluka di tangan siapa?”

Hoa Thian-hong balas memberi hormat dan menjawab, “Oooob…. aku terluka di tangan iman tua

dari Thong-thian-kauw, hanya luka luar saja dan kau tak usah kuatir”

Jin Hian tertawa, setelah menyapu sekejap sekeliling tempat itu ujarnya, “Loo-ji, di tempat ini

kecuali hadir beberapa orang sahabat, apakah masih ada orang lain?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

505

“Tuuh…. dalam gua masih ada seorang jago lihay” jawab Cu Goan-khek sambil menuding ke

arah gua karang di atas bukit, “siapakah jago lihay itu, siaute sendiripun kurang tahu”

Jin Hian mengerutkan dahinya, dengan sorot mata yang tajam bagaikan pisau belati ia tatap

wajah Hoa Thian-hong, lalu tegurnya dengan suara berat, “Hoa loo tee, ada satu pertanyaan

hendak kuajukan kepadamu, apakah putri Pek Siau-thian yaitu Pek Soh-gie bersembunyi di

dalam gua karang itu….?”

Hoa Thian-hong tertegun, pikirnya, “Pek Soh-gie terperangkap dalam istananya Thong-thiankauw,

aku harus tutup rahasia ini ataukah menyiarkannya secara luas?”

Sebelum dia sempat menjawab, dengan nada dingin Jin Hian telah berkata kembali, Hoa loo tee,

putraku Jin Bong mati secara mengenaskan di tangan Pek Soh-gie, budak terkutuk itu, orang lain

tak tahu, engkau toh menyaksikan dengan mata kepala sendiri!”

“Jien Tang-kee, jangan berkata begitu!” teriak sang pemuda dengan alis berkerut, meskipun aku

saksikan dengan mata kepala sendiri, tetapi setelah aku berjumpa dengan Pek Soh-gie maka

terasalah olehku, bahwa raut wajah mereka meskipun mirip akan tetapi sifatnya jauh berbeda,

kita tak boleh mencampur baurkan antara soal yang satu dengan soal yang lain”

Jin Hian tertawa dingin.

“Hmmm…. rupanya Hoa loote memang membela Pek Soh-gie mati matian tidak aneh kalau loote

begitu tega menggunakan cara yang keji untuk menghukum mati beberapa orang saudara kami”

“Aku bukan seorang manusia yang suka pipi licin, semua perkataan dan perbuatan berani dibuka

secara umum, sedang mengenai ketiga orang saudara itu….”

Ia berhenti sebentar lalu menghela napas panjang, sambungnya, “Mereka memang musnah di

tanganku, bila Cong Tang-kee tak rela aku pun tak dapat berbuat apa-apa”

“Hmm!” Jin Hian tertawa dingin, “bagaimanapun Hoa loote toh pernah bergaul selama beberapa

hari dengan para saudara dari Hong-im-hwie, sekalipun tidak memandang muka Buddha

seharumnya kalau Loo te memberi muka kepadaku”

Hoa In jadi jengkel ketika dilihatnya orang itu menegur majikan mudanya terus menerus, dengan

hati gusar selanya, “Bertempur digelanggang tak bisa dihindari terluka atau mati….”

Buru-buru Hoa Thian-hong ulapkan tangannya mencegah Hoa In bicara lebih jauh, katanya

sambil tertawa, “Cong Tang-kee, engkau tahu bukan bahwa aku bukan seorang manusia yang

suka membunuh, tetapi bila anak panah sudah di atas busur, bagaimanapun juga terpaksa harus

dilepaskan, karena itu harap Tang-kee suka memakluminya!”

“Hmmm….Pek Soh-gie saat ini berada dimana? Apakah Hoa loote suka memberitahukan

kepadaku?”

oooooOooooo

35

PEK SOH-GIE hanya seorang gadis mada yang tak tahu urusan, sedang Tang-kee bermaksud

jelek terhadapnya, kalau kuberitahukan jejaknya kepadamu bukankah kawan Bulim akan

mentertawakan diriku?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

506

Setelah berhenti sebentar, tambahnya dengan lantang, “Cuma aku berani menegaskan bahwa

pembunuh putramu bukanlah Pek Soh-gie, karena itu aku setuju untuk mempertemukan cong

Tang-kee dengan gadis itu”

Tertegun hati Jin Hian mendengar perkataan itu, serunya, “Aku orang she Jin merasa kagum

dengan pendapatmu yang tinggi, tolong tanya sekarang Pek Soh-gie ada dimana?”

“Pek Soh-gie telah ditawan Thian Ik-cu dan sekarang dikurung dalam istana Yang sim tian, bila

Cong Tang-kee ingin menjumpai dirinya aku rasa lebih baik rundingkan saja dengan Thian Ik-cu”

“Hoa loote, aku tidak percaya dengan perkataanmu itu!” seru Jin Hian sambil menggeleng.

“Semua perkataanku diucapkan sejujurnya kalau Cong Tang-kee tidak percaya akupun tak bisa

berbuat apa-apa”

Jin Hian tertawa seram.

“Hoa loote, sewaktu pihak Hong-im-hwie hendak menangkap Pek Soh-gie kau selalu

menghalangi bahkan membunuh orang, sebaliknya waktu Thong-thian-kauw menangkap gadis

itu, mengapa kau lepas tangan?”

Pertanyaan ini seketika membungkam Hoa Thian-hong, matanya terbelalak dan mulutnya

melongo, untuk beberapa saat lamanya ia tak tahu apa yang musti dijawab.

Melihat majikan mudanya malu, Hoa In tidak terima, dengan gusar serunya, “Kami memang suka

mencampuri urusan orang, kalau siapa merasa tidak puas boleh cari aku orang she Hoa untuk

bikin perhitungan”

Jin Hian mendengus dingin, ia tidak perduli ucapan orang, sorot matanya yang tajam tetap

menatap wajah Hoa Thian-hong tanpa berkedip.

Tiba-tiba Hoa Thian-hong tertawa nyaring, ujarnya, “Ketua Jin, engkau tak usah terlalu

mendesak orang, sewaktu Thian Ik-cu menangkap Pek Soh Gi, aku telah berusaha sekuat tenaga

untuk melindungi dirinya, sayang kepandaian silatku tak becus sehingga aku sendiripun malah

kena tangkap”

Sebagai orang yang jujur, ia tak Ingin membohongi musuhnya, dan untuk memberikan

keterangan yang sebenarnya, kejadian yang memalukan tentang diripun diucapkan keluar.

Sorot mata Jin Hian berkilat, ia melirik sekejap luka pada dada dan kakinya, lalu berpikir,

“Ditinjau dari badannya yang berpelepotan darah serta mukanya yang lesu, jelas baru saja ia

langsungkan pertarungan berdarah rupanya apa yang dia katakan bukan kata-kata yang

bohong….!”

Ia jadi setengah percaya setengah tidak, dengan nada dingin ujarnya kembali, “Kalau benar Hoa

lote ditangkap bersama-sama Pek Soh-gie, dan sekarang Loote berhasil lolos dari bahaya sedang

Pek Soh-gie masih berada di dalam sarang harimau, apakah engkau tidak merasa kuatir?”

“Kami toh berkenalan hanya secara tidak disengaja dan menolong karena kebetulan kutemui

kejadian tersebut, sekarang dalam ke nyataan kau tak mampu memberi penolongan kalau tidak

ditinggal masa disuruh urus terus, perduli amat aku kuatir atau tidak”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

507

Jin Hian tertawa hambar, tiba-tiba sambil melirik ke arah goa karang ujarnya kembali, “Loote

menurut anggapanmu mungkinkah Pek Soh-gie mendapat pertolongan dari seseorang seperti

halnya dengan loote dan kemudian disembunyikan di dalam gua karang ini?”

Mula mula Hoa Thian-hong tertegun, kemudian pikirnya lebih jauh, “Tua bangka ini memang

banyak menaruh curiga….!”

Berpikir demikian lantas tertawa, jawabnya, “Akupun mempunyai kecurigaan tersebut, sayang

tak mampu memasuki gua tersebut untuk melakukan pemeriksaan”

“Hmmm! bangsat cilik…. terdengar Tio Sam-koh memaki dengan nada ketus”

Jin Hian angkat kepala dan laksana kilat memandang sekejap ke arahnya, kemudian berjalan

menuju ke mulut gua.

Melihat ketuanya mendekati mulut gua tersebut, dengan cepat Cu Goan-khek loncat maju ke

depan menghalangi jalan perginya, peristiwa pingsannya nenek bermata buta terhantam oleh

pukulan dari gua pun segera di laporkan kepada ketuanya.

Air muka Jin Hian berubah hebat setelah mendengar laporan itu, serunya, “Oooh…. ternyata

disini ada seorang jago lihay sedang bersembunyi…. kita tak boleh bertindak kurangajar!”

Biji matanya berputar menyapu sekejap para jago yang hadir di tempat itu, kemudian kepada Co

Bun Kui yang berada disampingnya ia berkata, Engkau pergilah kesana dan mohonlah bertamu,

coba kita lihat jago lihay dari manakah yang berdiam disini, kalau dia adalah seorang Bu Iim

cianpwee maka katakanlah nenek dewa bermata buta serta Jin Him dari perkumpulan Hong-imhwie

mohon bertemu.

Co Bun Kui memberi hormat, setelah memberi tanda kepada pengawal pribadi, golok emas yang

berada disisnya, dua orang segera tampil ke depan, mereka bertigapun segera berjalan

mendekati gua karang tersebut,

Bayangan manusia berkelebat lewat, tiba-tiba Tio Sam-koh menghadang di depan mulut gua

tongkat disiapkan di tangan sedang mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Sepasang alis Ca Bun Kui langsung berkerut, sambil memberi hormat, tegurnya, “Tio lo thay,

mohon tanya engkau ada petunjuk apa?”

“Gua ini jauh lebih seram dari pada sarang naga harimau, apakah engkan tidak takut mati?”

teguf Tio Sam-koh dengan dingin.

“Terima kasih atas petunjukmu, atas perintah atasanku, aku disuruh datang kemari untuk mohon

bertemu dengan cianpwee dalam gua, sekalipun badan harus hancur aku tak akan ambil

perduli….!”

Habis berkata segera ia melanjutkan, kembali langkahnya menuju ke depan.

“Kembali! tiba-tiba Tio Sam-koh membentak keras sambi1 ayunkan telapak tangannya.

Segulung angin pukulan yang maha dahsyat segera memancar keluar diiringi deruan angin yang

tajam dan dahsyat.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

508

Co Bun Kui serta dua orang pengawal pribadi golok emas yang berada di belakang segera

mundur sejauh tujuh delapan depa dari tempat semula, senjata tajam segera diloloskan keluar

dan untuk kedua kalinya mereka menerjang maju ke depan.

“Hey, sebenarnya apa yang hendak kalian lakukan? Bentak Tio Sam-koh dengan gusar.

Co Bun Kui tertegun dan segera menghentikan langkahnya kurang lebih empat lima depa

dihadapan perempuan itu, ia menjawab, “Aku mendapat perintah dari atasanku untuk mohon

bertemu dengan pemilik gua itu, jika Tio lo thay tidak menyingkir lagi, jangan salahkan kalau aku

tidak akan berlaku sungkan-sungkan lagi”

Tio Sam-koh melotot besar, sambil anggurkan tangannya ia berseru, “Kalau memang kalian

bendak berkunjung secara hormat, bawa kemari kartu nama kalian!”

Co Bun Kui tahu bahwa ia hanya mempersulit dirinya, tapi diapun tabu bahwa nenek itu tidak

mudah dilayani, maka sambil tetap menyabarkan diri jawabnya, “Karena di dalam melakukan

perjalanan maka kami tidak membawa serta kartu nama setelah bertemu dengan pemilik gua ini,

aku pasti mohon maaf….”

Haaah…. haaahh…. itu sih tak perlu aku, si nenek tua adalah pemilik gua ini, ada urusan apa

engkau mencari aku?”

Diam-diam Co Bun Kui merasa amat gusar, sumpahnya di dalam hati, “Nenek busuk…. modarlah

secepatnya, berani benar engkau permainkan diriku!”

Pergelangan digetarkan, dari punggung golok segera memancar keluar suara dentingan yang

amat nyaring,

Inilah kode rahasia dari para pengawa1 pribadi golok emas, perbedaan suaranya amat banyak

dan masing-masing mengandung maksud yang saling berbeda, orang lain tidak merasa tapi para

pengawal pribadi golok emas hapal diluar kepala, maju mundurnya semua mengikuti tanda

tersebut.

Tampaklah dua orang pengawal yang berada di belakang segera maju ke depan dan berdiri

sejajar dengan Co Bun Kui, tiga golok besar bersama-sama digetarkan dan membacok kemuka.

Angin desiran tajam menderu deru, dalam waktu singkat tubuh mereka dilindungi oleh cahaya

golok langsung menerjang masuk ke dalam gua.

Tio Sam-koh sebagai seorang jago yang sangat lihay, tentu saja tidak pandang sebelah matapun

terhadap ketiga orang itu, menanti golok emas sudah hampir mendekati tubuhnya dia baru

mendengus dingin, toyanya diputar dan menyongsong datangnya ancaman tersebut.

Traaaaaang….!traaaang….!di tengah dentingan nyaring, ketiga bacokan golok emas itu bersarang

di atas toya baja semua, begitu kerasnya bentrokan tersebut membuat lengan Co Buo Kui bertiga

jadi sakit, linu dan kaku sekali, himpir saja goloknya terlepas dari tangan.

Dengan tak bisa dibendung lagi, dua orang pengawal itu tergetar mundur beberapa langkah ke

belakang, sedangkan Co Bun Kui yang tenaga dalamnya jauh lebih sempurna dari dua orang

anak buahnya hanya merasakan tubuhnya bergetar keras, di atas permukaan tanah di mana ia

terpijak muncullah sebuah telapak kaki yang tajam dan nyata sekali.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

509

Co Bun Km adalah pemimpin dari empat puluh pengawal pribadi golok emas, sebagai seorang

jago yang berpengalaman dan bertanggung jawab atas keselamatan segenap anak buahnya

tentu saja bukan manusia sembarangan, setelah berhasil menegakkan tubuhnya sambil putar

golok, ia menerjang kembali ke arah depan.

Dentingan nyaring menggema di angkasa, delapan orang pengawal pribadi golok emas yang

selama ini berdiri di belakang Jin Hian mendadak menerjang ke arah Tio Sam-koh dengan

gencarnya.

Tio Sam-koh teramat gusar, sebenarnya ia tak sudi bertempur melawan beberapa orang itu,

tetapi setelah dilihatnya empat bilah golok besar dengan memancarkan cahaya yang

menyilaukan mata menerjang datang terpaksa dia angkat toyanya untuk menangkis.

Sreeet….! Sreeet….! Sreet….! empat bilah golok memisahkan diri, dua orang loncat ke samping

kiri dua lainnya ke kanan, sementara empat orang yang menerjang datang dari belakang dengan

cepat mengisi kekosongan tersebut, cahaya golok berkilauan dan mereka menyerang pinggang

perempuan tersebut.

Kegusaran Tio Sam ko memuncak, toya bajanya ditekan ke bawah lalu menyapu ke belakang.

Kawanan pengawal pribadi golok emas adalah jago-jago yang terlatih, bukan saja ilmu golok

mereka amat sempurna, kepandaian dalam bekerja samapun amat tinggi.

Baru saja Tio Sam-koh putar toyanya menyapu ke belakang, empat orang yang menyerang dari

belakang telah mengundurkan diri kembali ke arah belakang, sementara empat orang dikiri

kanannya bersama-sama membentak keras, cahaya golok memancar keempat penjuru dan

laksana Kilat mereka menerjang kembali ke depan.

Kali ini tempat yang diarah keempat bilah golok emas itu berbeda satu sama lainnya, andaikata

Tio Sam-koh tidak berusaha mundur ke belakang maka satu-satunya jalan adalah maju ke depan

sambil balas melancarkan serangan atau dengan keras lawan keras ia tangkis semua serangan

tadi.

Tio Sam-koh adalah seorang jago kawakan, ibaratnya jauh makin tua makin pedas, berada di

depan mata prajurit-prajurit tak bernama tentu saja ia tak sudi mengundurkan diri ke dalam gua,

ia mendengus dingin. Toya bajanya bagaikan amukan ombak dahsyat segera berputar kencang.

Dalam sekejap mata tujuh delapan jurus sudah lewat, kedelapan orang pengawal pribadi golok

emas itu maju mundur melancarkan serangan secara bergilir, sedang Tio Sam-koh dengan gagah

beraninya memutar toya kesana kemari disertai deruan angin yang tajam, tanpa sadar ia

semakin jauh tinggalkan mulut gua dan terjerumus ke dalam kepungan delapan orang jago.

Walaupun Tio Sam-koh adalah salah seorang jago lihay dalam dunia persilatan, tetapi kawanan

pengawal pribadi golok emas itupun merupakan jago-jago lihay apalagi kerja sama mereka boleh

dibilang luar biasa sekali, jika dia ingin menumpas mereka dalam tiga empat jurus tentu saja

merupakan suatu hal yang sulit.

Dengan tenang Co Bun Kui berdiri di samping arena, menanti Tio Sam-koh sudah jauh tinggalkan

gua dan tak mungkin balik lagi dalam waktu singkat, ia segera memanggil dua orang anak

buahnya dan bersama-sama masuk ke dalam gua karang.

Walaupun Tio Sam-koh tak mampu menangkan musuh-musuhnya, tapi ia masih punya sisa

tenaga untuk memperhatikan situasi di sekeliling tempat itu, tatkala dilihatnya Co Bun Kui akan

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

510

masuk ke dalam gua, dengan penuh kegusaran ia segera membentak, “Budak cilik, jaga mulut

gua itu baik-baik!”

“Dia sedang panggil aku?” pikir Hoa Thian-hong tertegun, tanpa pikir panjang segera ia

menghadang dimulut gua.

Co Bun Kui jadi amat gusar, bentaknya, “Hoa kongcu, apakah engkau sudah ambil keputusan

untuk bentrok dengan perkumpulan Hong-im-hwie kami?”

Sebelum pemuda itu sempat menjawab, Tio Sam-koh telah berteriak kembali dengan suara

lantang.

“Budak cilik kalau mereka sampai berhasil masuk ke dalam gua, lebih baik engkau gorok leher

bunuh diri di depan mulut gua”

Hoa Thian-hong tak perrah menyangka kalau urusan begitu serius, tetapi setelah teringat bahwa

orang yang memberi perintah adalah angkatan yang lebih tua dari pada dirinya, ia tak berani

menampik.

Dalam pada itu terdengar Co Bun Kui sambil tertawa telah berkata lagi, “Hoa kongcu, bagaimana

keputusanmu? Mau menyingkirkan dari sini atau tidak….?”

“Antara aku dengan ketua kalian pernah terjalin hubungan sahabat, pernah terjadi pula suatu

kesalahan pahaman, mau bentrok atau tidak terserah pada penilaihan ketua Jin sendiri, bila Bo

heng masih teringat dengan hubungan kita maka aku harap kau tak usah masuk ke dalam gua

ini lagi”

“Perintah atasan tak dapat dibantah, terpaksa aku harus nenyalahi dirimu….” seru Co Bun Kui

kemudian, goloknya diputar dan segera membacok ke depan.

Saat ini Hoa Thian-hong hanya memakai pakaian dalam, dadanya sudah dibalut oleh kain, darah

yang merah dan racun yang hitam ditambah keringat yang kuning menodai seluruh badan, air

mukanya pucat karena kehabisan darah dan kehabisan tenaga, rambutnya kusut hingga

keadaannya nampak mengenaskan sekali.

Meskipun Co Bun Kui tahu bahwa Hoa Thian-hong sangat lihay, tetapi setelah menyaksikan

keadaannya yang begitu mengenaskan dan kegagahannya tempo hari sudah tak terlihat lagi,

timbullah perasaan pandang rendah musuhnya.

Begitu turun tangan, goloknya segera diputar melancarkan serangan berantai yang bertubi-tubi,

hawa pembunuhan menyelimuti seluruh angkasa, sedang dua orang rekannya pun segera

mengikuti jejak pemimpinnya dan menyerang pula dengan sepenuh tenaga.

Menyaksikan datangnya serangan yang begitu dahsyat, diam-diam Hoa Thian-hong merasa amat

terperanjat, buru-buru ia mengeigos ke-samping dan mundur setengah langkah ke dalam gua,

tangan kirinya diputar melancarkan sebuah serangan dahsyat ke depan.

serangan ini ditujukan ke arah jago yang ada disebelah kanan, maksudnya adalah untuk

melindungi diri di samping menghalangi musuhnya menerjang masuk ke dalam gua, tapi sayang

tenaga dalamnya sudah lemah dan serangan Kun-siu-ci-tauw tersebut tak dapat mewujudkan

kehebatan seperti dahulu lagi,

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

511

Co Bun Kui yang melihat keadaannya, jadi sangat girang, dia menerjang maju ke depan goloknya

dipatahkan di tengah jalan dan segera berganti jurus, secara tiba-tiba ia menyerang kembali ke

depan.

“Hati-hati dibelakang, tiba-tiba Jin Hian membentak keras.

Belum habis ia berkata, Hoa In bagaikan sukma gentayangan telah menerjang ke depan, tanpa

mengucapkan sepatah katapun sepasang telapaknya diputar berbareng menyerang Co Bun Kui

serta orang yang berada disebelah kiri itu.

Sejak Hoa Thian-hong menderita luka parah, Hoa In selalu uring-uringan dan merasa tak senang

hati, ketika melihat Co Bun Kui berniat membinasakan majikan mudanya, nafsu membunuh

dalam hati Hoa In pun ikut bergelora, serangan yang kemudian dilancarkan bukan saja cepat

bahkan dahsyat sekali, boleh dibilang baru pertama kali ini dia melancarkan serangan dengan

nafsu membunuh yang amat hebat”

Pada saat yang bersamaan Jin Hian siap memberi pertolongan, tapi nenek dewa bermata buta

sudah meluncur ke depan sambil membentak gusar, Serahkan orang ini kepadaku!”

Semua peristiwa itu berlangsung pada saat yang bersamaan, hanya saja Hoa In bertindak lebih

dahulu, sedang nenek buta berhadang jalan perginya oleh Tio Sam-koh sekalian, maka ketika ia

tiba digelanggang keadaan sudah terlambat.

Dengan serangan dahsyat yang dilancarkan Hoa In dalam keadaan gusar bisa dibayangkan

sampai dimanakah kehebatannya, apalagi yang diserang adalah manusia sebangsa Co Bun Kui

sekalian….

Dengusan berat bergema memecahkan kesunyian, Co Bun Kui serta orang yang ada di sebelah

kiri segera terpukul mental sejauh beberapa tombak dari tempat semula, ketika jatuh ke tanah

mereka tak berkutik lagi.

Pria yang ada disebelah kanan jadi bergidik hatinya ketika merasa datangnya desiran tajam dari

arah belakang, karena terperanjat gerakan serangan yang dilancarkan pun agak terlambat.

Dengan jitu sekali pukulan telapak kiri dari Hoa Thian-hong segera bersarang di atas bahunya

membuat ia jatuh terjengkang di atas tanah.

Menunggu suasana disini telah tenang kembali, nenek dewa mata buta baru tiba di tempat

tujuan, bambu mustikanya langsung berkelebat memancarkan bayangan hijau dan langsung

mengurung tubuh Hoa In.

“Siau Koan-jin mundur….!” seru Hoa In dengan gelisah.

Setelah mendesak mundur Hoa Thian-hong ke dalam gua, pelayan tua itu baru mendorong

telapaknya ke depan mengirim sebuah pukulan dengan ilmu Sau yang ceng ki.

Blaaam….! ledakan dahsyat bergeletar di angkasa, ketika bawa pukulan Sau yang ceng ki

bentrok dengan hawa pukulan yang dipan carkan lewat bambu mustika nenek buta, tubuh Hoa

In segera terdorong mundur ke belakang dengan badan tergoncang keras, sedangkan nenek

buta itu sendiripun terhajar rontok ke atas tanah.

Suasana hening untuk beberapa saat lama nya, tiba-tiba nenek buta menengadah ke atas dan

tertawa terbahak-bahak, suaranya melengking bagaikan jeritan kuntilanak, teriaknya, “Oooh….

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

512

hoohooh…. rupanya Sau yang ceng ki! Kepandaian andalan dari Hoa Goan-siu pun masih

tertinggal di kolong langit….”

“Kalau engkau kenal Sau yang ceng ki, tentu tahu bukan sampai dimanakah kelihayan dari toayamu!”

“Hmmm! Kepandaian silat dari Hoa Goan-siu segera akan lenyap dari atas permukaan bumi!”

Sambil putar bambu pusaka dari negeri Thian tok-nya, ia menerjang kembali ke depan.

Hoa In menjengek sinis, sepasang telapaknya berputar menyongsong kedatangan lawan dalam

waktu singkat suatu pertarungan sengitpun segera berlangsung.

Tio Sam-koh yang melihat rekannya sudah terlibat dalam pertarungan yang amat sengit, tanpa

terasa semangat tempurnya berkobar, daya tekanan yang dipancarkan dari toya baja pun

berlipat ganda, memaksa delapan orang pengawal pribadi golok emas yang mengepung dirinya

jadi kacau balau dan terdesak hebat.

Diam-diam Jin Hian meninjau sebentar pertarungan yang berlangsung didua sektor, mendadak ia

membisikan sesuatu kepada Cu Goan-khek disusul orang she Cu itu dengan membawa belasan

orang segera berjaga-jaga diluar kepungan terhadap Tio Sam-koh, sementara Jin Hian sendiri

melayang kesisi gua dan dari situ dia membayangi nenek buta yang sedang bertempur.

Hoa In berdiri gagah di depan gua, sepasang telapaknya menarik kesana kemari melayani

serangan serangan gencar dari bambu mustika milik nenek buta, ketika dilihatnya Jin Hian

membayangi disana, penjagaan semakin ketat dan ia sama sekali tak bergeser dari tempat

semula.

Tindakannya membuat mulut gua ini benar-benar hebat sekali akibatnya, bukan saja nenek buta

tak mampu mendesak mundur dirinya, Jin Hian tak dapat turut campur bahwa Hoa Thian-hong

pun tak mampu keluar dari gua itu.

Beberapa saat kemudian pertarungan yang berlangsung dikedua sektor itu berubah makin sengit

dan bahaya. Tio Sam-koh bertambah gusar ketika dilihatnya ada serombongan musuh

membayangi pula dirinya dari luar kepungan, serangan yang dilancarkan semakin gencar dan

ancaman ancamanpun makin berbahaya….Hoa Thin Hong yang menonton jalannya pertarungan

itu dari dalam gua, diam-diam merasakan pula situasi yang makin berbahaya, pikirnya, “Pihak

lawan berjumlah banyak sedang pihak kami hanya ada dua orang yang mampu melangsungkan

pertarungan, jika pertempuran ini dilanjutkan lebih jauh maka keadaan tidak menguntungkan

pasti akan terjatuh pada pihakku, jika Hoa In sampai kalah maka Jin Hian pasti akan menerjang

masuk ke dalam gua ini…. bukankah dalam gua ada jago lihay? Kenapa ia tak mau unjukkan diri

sebaliknya malah takut ada musuh masuk ke dalam gua? Sungguh aneh….”

Ingin sekali pemuda itu masuk ke dalam gua untuk melakukan penyelidikan, tapi dia takut Hoa In

tak mampu mempertahankan diri, untuk beberapa saat lamanya ia jadi bingung dan tak tahu apa

yang musti dilakukan olehnya….

Hoa In adalah seorang jago kawakan yang banyak pengalaman, ia tahu situasi tidak

menguntungkan bagi pihaknya, setelah berpikir sebentar ujarnya dengan nada serius, “Siau

Koan-jin, masuklah ke dalam dan lihatlah keadaan dalam gua itu, tapi kau harus berhati-hati dan

jangan terlalu memaksa diri”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

513

Hoa Thian-hong termenung dan berpikir sebentar, ia merasa bahwa pertarungan ini jelas tidak

menguntungkan bagi pihaknya, kalau tidak melihat lihat dalam gua memang tiada jalan lain,

maka ia segera ambil keputusan dan putar badan masuk ke dalam gua.

Suasana dalam gua itu gelap sekali, Hoa Thian-hong yang sedang bingung sama sekali tidak

berniat memikirkan persoalan ini, dengan mata melotot besar ia masuk kedalam.

Beberapa saat kemudian ia merasa suasana gelap menyelimuti tempat itu bertambah tebal

sehingga lima jari sendiripun tak dapat dilihat, bahkan secara lapat-lapat hidungnya mencium

bau belerang dan gas yang amat menusuk penciuman.

Pada saat itulah, mendadak dari dalam ruangan gua berkumandang datang suara pembicaraan

dari seorang perempuan.

“Seng ji, majulah empat lima langkah lagi kemudian loncatlah ke depan, tapi kau harus

melompat sejauh dua tombak….”

Seng ji adalah nama kecil Hoa Thian-hong, hanya ibunya yang manggil dia dengan sebutan

tersebut, maka setelah mendengar panggilan itu dia berdiri tertegun, saat itulah bau gas yang

tebal menyerang ke dalam hidung membuat dadanya sesak dan hampir saja ia jatuh tak

sadarkan diri.

Buru-buru ia tutup semua pernapasan dan menenangkan hatinya lalu maju lima langkah ke

depan, ia merasa jalan yang dilalui semakin menjorok ke bawah, maka sambil menutup mulut

luka didadanya dengan tangan ia melompat ke arah depan.

Menanti ia menginjak kembali di atas permukaan tanah, terasa olehnya suasana di tempat itu

meskipin masih gelap tapi jauh lebih terang dari keadaan semula, menanti ia menengok ke

belakang maka tampaklah segumpal asap hitam mengepul dari atas tanah dan membubung

kelangit langit gua, suara pertarungan diluar gua masih kedengaran jelas, pemuda itu pusatkan

semua perhatian-nya dan meneruskan perjalanan ke depan.

Kurang lebih dua puluh tombak kemudian, terlihatlah seseorang sedang duduk bersila disebelah

depan.

Ia berdiri terbelalak dengan mulut melongo sekuat tenaga ia berusaha memandang kedalam, tapi

karena suasana yang gelap maka tak ada yang terlihat olehnya.

Sesaat kemudian ia maju kembali ke depan tegurnya, “Siapakah engkau? Apakah engkau masih

duduk bersemedi?”

Orang itu tetap duduk bersila di atas tanah tanpa bergerak barang sedikit pun, juga tidak

menjawab pertanyaannya.

Hoa Thian-hong berjalan maju makin ke depan, tiba-tiba dia merasa potongan badan orang itu

seperti dikenal olehnya, ketika diperhatikan lebih seksama mendadak hatinya bergetar keras dan

hampir saja jatuhnya terlepas dari tempatnya.

“Siapakah Kau? Apakah ibu?”

Orang itu tetap duduk tak berkutik, di tempat semula, mulutnya tetap membungkam dan

keadaannya tidak jauh berbeda dengan patung arca.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

514

Pemuda itu membelalakkan matanya dan memperhatikan orang itu dengan lebih seksama lagi, ia

melihat orang itu mempunyai rambut yang panjang dan digulung menjadi sanggul, mukanya

persegi dan raut wajahnya mirip sekali dengan muka ibunya.

Tiba-tiba perempuan itu membuka matanya dan memandang ke arah pemuda itu dengan mata

melotot, kemudian berkata, “Aku adalah ibumu, aku tak bisa banyak bicara dan jangan ribut!”

Hoa Thian-hong seketika merasakan darah panah dalam dadanya bergolak keras, dengan

gelagapan ia berseru.

“Ibu, apa yang sedang kan lakukan? Sedang melatih ilmu? Kenapa suaramu berubah….?”

Kiranya perempuan ini adalah ibu kandung Hoa Thian-hong, isteri dari Hoa Goan-siu yang

tersohor sebagai Hoa Hujien, sekarang ia sedang duduk bersila di atas tanah dengan tubuh sama

sekali tak berkutik, Setelah membuka matanya tadi sekarang ia meram kembali.

Jilid 26

HOA THIAN-HONG jadi keheranan dan tak habis mengerti, setelah berdiri tertegun beberapa saat

lamanya ia lantas meraba tubuh ibunya, terasa badan ibunya panas menyengat badan membuat

rabaannya terpental kembali.

Ia jadi terkejut bercampur girang, guman-nya seorang diri, “Tenaga dalam yang dimiliki ibu telah

pulih kembali, apakah luka dalam yang ia derita telah sembuh?”

Buru-buru dari sakunya dia ambil keluar sebuah kotak kumala, selelah membuka kotak kumala

itu lantas diangsurkan kehadapan ibunya sambil berkata.

“Ibu, aku mempunyai sebatang Leng-ci berusia seribu tahun, cepatlah kau makan!”

Hoa Hujien membuka matanya kembali, dari bau harum yang tersiar keluar dari dalam kotak

tersebut membuktikan bahwa benda itu adalah Leng-ci yang sangat berharga, buru-buru serunya

kembali, “Aku tidak mau, aku dengar engkau terkena racun teratai!”

“Teratai racun empedu api telah kutelan, tapi keadaanku sudah tidak menguatirkan lagi!”

Tiba-tiba dari luar ruangan secara lapat-lapat berkumandang datang suara bentakan nyaring

diikuti keadaan jadi sunyi dan hening.

Dalam hati Hoa Thian-hong segera berpikir, “Ibuku pasti sedang melatih sejenak ilmu silat yang

sangat aneh dan pada saat ini tak boleh mendapat gangguan, kalau latihannya dihentikan di

tengah jalan niscaya usahanya selama ini akan menemui kegagalan total, bahkan jiwanya akan

terancam bahaya, oleh karena itulah Tio Sam-koh segera berjaga-jaga di depan gua dan

mencegah pihak musuh masuk kedalam”

Berpikir sampai disini, hatinya jadi kuatir dan tidak tenang. Setelah meletakkan kotak kumala itu

di atas tanah ujarnya, “Diluar gua masih ada musuh tangguh, aku akan keluar dan menengok

keadaan disitu”

Selesai berkata buru-buru ia berlalu dari sana.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

515

Dia merasakan hawa murni di tubuhnya bergolak kencang dan ingin sekali mengerahkan tangan

serta kakinya, setelah tiba di depan kabut hitam ia meloncat ke depan dan berjalan keluar

dengan langkah lebar.

Menanti ia tiba diluar gua maka terlihatlah Hoa In serta nenek buta sedang duduk bersila saling

berhadapan, sepasang telapak kanan mereka saling menempel satu sama lainnya, rupanya

dengan andalkan tenaga dalam hasil latihan selama puluhan tahun mereka sedang

melangsungkan pertarungan adu tenaga yang menentukan mati hidup mereka.

Keadaan dipihak lain jauh lebih mengerikan lagi, para jago perkumpulan Hong-im-hwie mulai dari

Cu Goan-khek ke bawah telah maju mengerubut Tio Sam toh seorang, ancaman-ancaman maut

saling dilancarkan dengan harapan bisa merobohkan musuhnya secepat mungkin.

Ilmu silat yang dimiliki kelima orang jago lihay itu semuanya berada di atas kepandaian Seng

Sam Hau serta Siang Kiat, Tio Sam-koh yang harus bertarung melawan nenek buta lebih dahulu

kemudian harus menghadapi delapan orang pengawal pribadi golok emas, saat ini tenaga

dalamnya sudah hilang separuh bagian, dalam keadaan begini harus bertarung lagi melawan lima

orang jago lihay, tentu saja keadaannya payah sekali.

Terlihatlah serangan yang dilancarkan sudah mulai mengendor dan posisinya terdesak hebat,

dalam keadaan begini jika dia ingin menerjang dari kepungan dan kabur dari situ mungkin masih

bisa dilakukan, tetapi nenek tua itu tentu saja tidak mau berbuat begitu, ia melakukan

perlawanan dengan gigihnya kendatipun jiwanya kian lama kian terancam.

Sementara itu Jin Hian dengan memmipin delapan orang pengawal pribadi golok emas sedang

melewati nenek buta serta Hoa In sedang beradu tenaga dalam dan siap menerjang masuk ke

dalam gua.

Pada saat itulah tiba-tiba mereka saksikan Hoa Thian-hong muncul kembali dari dalam gua, hal

ini membuat orang-orang itu segera menghentikan langkahnya.

Setelah mengetahui situasi yang terbentang di depan mata, Hoa Thian-hong merasakan darah

panas dalam dadanya bergolak keras, hampir saja dari sepasang matanya memancarkan sinar

berapi-api, tiba-tiba ia melihat pedang bajanya yang tersoren di pinggang Hoa In, sambil

mencabut keluar bentaknya dengan gusar.

“Tahan!”

Dalam pada itu pertarungan tenaga dalam antara nenek buta dengan Hoa In sedang mencapai

puncak ketegangan, tak mungkin mereka sudahi pertarungan tersebut sampai disitu saja,

sedangkan Cu Goan-khek sekalian yang mengururg Tio Sam-koh sudah merasakan bahwa

kemenangan hampir berhasil diraih oleh mereka, seorang musuh besar mereka yang amat

tangguh sudah hampir berhasil dilenyapkan, tentu saja tak seorangpun yang sudi menuruti

perkataan Hoa Thian-hong kendatipun suara bentakannya dapat didengar dengan jelas, bukan

saja tidak menggubris bahkan serangannya dilancarkan semakin gencar.

Hoa Thian-hong semakin naik pitam, tiba-tiba bentaknya keras.

“Jin Hian! apakah engkau sudah tak ingin membalas dendam bagi kematian puteramu lagi?”

Mendengar seman itu Jin Hian tertegun, setelah merandek sejenak akhirnya ia membentak,

“Tahan!”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

516

Meskipun bentakan itu tiada yang aneh namun Cu Goan-khek sekalian tak bisa tidak terpaksa

harus menuruti, dengan cepat serangan ditarik kembali dan meloncat mundur ke belakang.

Tio Sam-koh sendiri, walaupun dia gagah dan pemberani tetapi setelah bertarung sampai

keadaan begitu segenap tenaganya boleh dibilang terkuras habis.

Keadaan pada saat itu payah sekali, semua orang sudah merasakan kehabisan tenaga dan lelah

sekali, napas terasa tersengal-sengal sedang keringat telah membasahi sesuruh tubuhnya, begitu

pertarungan berhenti masing-masing orang segera mengatur pernapasan dan beristirahat.

Lain halnya dengan nenek buta serta Hoa In yang sedang beradu tenaga, dalam keadaan begitu

kedua belah pihak tak dapat menyudahi pertarungan tersebut, mereka masih tetap menyalurkan

hawa murninya untuk berusaha merobohkan lawannya.

Hoa Thian-hong merasa amat gelisah, pikirnya, “Ibuku tak boleh dapat gangguan macam apapun

juga, dipihakku hanya ada dua orang jago yang bisa bertarung sedang pertarungan beradu

tenaga paling merugikan kekuatan tubuh, jika Hoa In sampai terluka bukankah keadaanku

semakin terjepit?”

Ketika dilihatnya Jin Hian maju menghampiri dirinya, dengan cepat ia membentak keras, “Cong

Tang-kee, harap berhenti!”

“Ada apa?” tanya Jin Hian sambil berhenti,”apakah Loote takut aku membokong Hoa In?”

Hoa Thian-hong tertawa dingin.

“Cong Tang-kee kau seorang ketua dari suatu perkumpulan besar, tentu saja aku tak berani

menaruh banyak curiga,” jawabnya.

Jin Hian tertawa hambar, pikirnya di dalam hati.

“Tenaga Sau yang ceng ki yang dimiliki tua bangka ini sudah berhasil mencapai tujuh bagian

kesempurnaan, jika pertarungan dilanjutkan maka nenek dewa tentu akan menderita kalah….”

Berpikir demikian sambil tersenyum ia la tas berkata, “Seandainya aku hendak mencelakai Hoa

In, sejak tadi kesempatan baik sudah kudapatkan, Loo te tak usah kuatir…. aku tak mungkin

mencelakai dirimu, sekarang lebih baik kita pisahkan dahulu mereka berdua”

Sambil berkata ia melangkah maju kembali ke depan.

“Lain dulu lain sekarang, siapa yang tak tahu apa yang sedang kau pikirkan di dalam hati?” pikir

Hoa Thian-hong di dalam hati.

Pedang bajanya segera diayun kemuka dan ditempelkan di atas batok kepala nenek buta,

ancamannya dengan suara dingin, “Cong Tang-kee, kalau engkau berani maju selangkah lagi,

maka pedangku ini segera akan kubacok ke bawah!”

Jin Hian kaget dan segera menghentikan langkahnya, dengan alis berkerut dia menegur.

“Hoa loo te, tadi engkau suruh semua orang menghentikan pertarungan, sebenarnya apa

maksudmu?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

517

“Hmmm! tentu saja aku ada persoalan penting yang hendak disampaikan kepada kalian, cuma

cara perkumpulan kalian melakukan pertarungan secara mengerubut benar-benar merupakan

suatu tindakan yang terkutuk”

“Jamannya bertanding ilmu dan satu lawan satu sudah lewat, sekarang sudah tidak ada lagi cara

semacam itu,” sahut Jin Hian tetap tenang.

Setelah berhenti sebentar, ia melirik sekejap ke arah nenek buta serta Hoa In yang sedang

beradu tenaga kemudian melanjutkan, “Menurut Hoa loo te, apakah kedua orang itu harus

bertarung sampai salah seorang di antaranya menderita kalah?”

“Aku tak mampu memisahkan mereka, apa kata Cong Tang-kee mempunyai cara untuk

memisahkan kedua orang itu?”

Jin Hian segera terbungkam, tenaga dalam yang dimiliki kedua orang ini jauh berada diatasnya,

jika dia harus memisahkan mereka berdua secara adil dan tidak berat sebelah tentu saja hal itu

tidak mungkin bisa ia lakukan.

Tiba-tiba Tio Sam-koh sambil memegang toya bajanya maju mendekat, dengan alis berkerut Jin

Hian segera menegur, “Bagaimanakah? Apakah Tio Lo thay mempunyai kemampuan untuk

memisahkan mereka berdua?”

“Sekalipun aku si nenek tua tidak mempunyai kemampuan tersebut, rasanya hal ini pun bukan

merupakan suatu kejadian yang memalukan”

Jin Hian segera menghadang di tengah jalan.

“Kalau memang engkau tak punya kemampuan itu, harap Tio Lo-thay hentikan langkahmu disana

saja, untuk sementara waktu engkau tak usah mendekat kemari!”

“Hmmm! aku si nenek tua manusia macam apa? Masa aku bisa kau bandingkan dengan manusia

sebangsa kalian yang semuanya tak tahu malu?”

Meskipun berkata begitu, tapi ia hentikan juga langkahnya.

Pertarungan antara nenek buta dengan Hoa In telah mencapai pada puncaknya, keringat telah

membasahi seluruh tubuh mereka, rambutnya pada berdiri bagaikan landak sedang otot hijau di

atas wajahnya pada menonjol keluar, asap putih mengepul keluar dari atas ubun- ubun, agaknya

pertarungan ini sudah mencapai pada puncaknya yang menentukan mati hidup mereka berdua.

Dalam pertarungan adu tenaga ini siapapun tak bisa mencuri dengan gunakan kelicikan, apabila

salah seorang menderita kalah maka keadaannya pasti akan runyam.

Dihari hari biasa Hoa Thian-hong selalu mengumbar menurut kemauannya sendiri dan jarang

sekali menuruti perkataan Hoa In, na mun dalam hati kecilnya ia amat menyayangi dan

menghormati pelayan tuanya ini, ia merasa tak tega membiarkan pelayan tuanya itu menderita

karena pertarungan adu tenaga yang melelahkan itu.

Makin dipikir Hoa Thian-hong merasa hatinya semakin murung, dalam gugupnya tak tahan lagi ia

berseru, “Cong Tang-kee, apa salahnya kalau engkau serta Tio lo thay bekerja sama Untuk

melerai mereka berdua, kalau tidak maka jiwa nenek dewa pasti akan terancam mara bahaya!”

Jin Hian berpikir sebentar, lalu menjawab, “Tentang soal ini, hmm! tak ada salahnya….”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

518

Pada saat itulah tiba-tiba dari tempat kejauhan muncul tiga sosok bayangan manusia, gerak

tubuh ketiga orang itu cepat sekali dan di dalam sekejap mata sudah menyeberangi jembatan

batu itu.

Hoa Thiau Hong segera berpaling, ia temukan salah seorang diantara ketiga orang pendatang itu

ternyata bukan lain adalah Pek Siau-thian, kedua dari perkumpulan Sin-kie-pang.

Dalam waktu singkat ketiga orang itu sudah tiba dihadapan mereka, Pek Siau-thian menyapu

sekejap sekeliling tempat itu, sete lah memberi hormat kepada Jin Hian, ia berpaling ke arah Hoa

Thian-hong dan bertanya, “Putri sulungku telah tiba di wilayah Kanglam, tapi sampai sekarang

jejaknya tidak terang, apakah Hoa Loo-tee tahu kemana perginya?”

“Putri kesayanganmu sudah ditangkap oleh Thian Ik-cu, pagi tadi masih disekap di dalam kuil Itgoan-

koan tempat kediaman tosu tua itu”

Air muka Pek Siau-thian berubah bebat, sesudah tertegun sebentar sahutnya, “Terima kasih atas

petunjukmu!” Kepada rekannya ia membentak, “Ayoh berangkat!”

Dalam sekejap mata ketiga orang itu sudah menerobos lewat jembatan batu dan lenyap di

tempat kejauhan.

Kedatangan ketiga orang itu cepat sekali pergipun cepat pula, tiba-tiba sikap Jin Hian berubah

hebat, sorot matanya segera dialihkan ke arah mulut gua.

Dari tingkah lakunyva itu Hoa Thian-hong tahu bahwa ia sudah mempunyai niat jahat, buru-buru

sambil menyilangkan pedang bajanya ia membentak, “Jien Tang-kee, jangan bertindak

gegabah!”

Rupanya Tio Sam-koh pun mengetahui bahwa Jin Hian ada maksud mencelakai Hoa In serta

menolong nenek buta, dalam kejut dan gusarnya ia segera membentak keras, toyanya langsung

diputar dan menghantam punggungnya.

Jaraknya antara dia dengan Jin Hian tidak begitu jauh, sedang panjang toya mencapai tujuh

depa, dalam sekali ayunan ujung senjata tersebut sudah mengancam punggung orang she Jin

itu.

Dari desiran angin tajam yang mengancam tubuhnya, Jin Hian sadar bahwa serangan ini bukan

kepalang lihaynya, terpaksa ia putar badan menghindarkan diri dari babatan toya tersebut,

kemudian sambil putar telapak balas melancarkan sebuah serangan.

Mendadak…. dari dalam goa berkumandang keluar suara seruan dari Hoa Hujien.

“Seng ji, secepatnya membacok nenek buta sampai mati!”

Mendengar perintah itu Hoa Thian-hong tertegun, ia rasa tindakan tersebut melanggar azas

kependekaran, tetapi diapun merasa bahwa ibunya bisa memberi perintah demikian oleh alasanalasan

tertentu, maka tanpa berpikir panjang pedangnya diputar dan disertai desiran angin tajam

langsung dibacokkan di atas batok kepala nenek buta.

Ketiga orang itu sama-sama menggerakkan tubuhnya pada saat yang hampir bersamaan, baru

saja sekalian Cu Goan-khek merasa terkejut, pedang baja Hoa Thian-hong laksana kilat telah

membacok ke atas kepala nenek buta tersebut.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

519

Tetapi pada saat itu juga, nenek buta telah mengerahkan segenap kekuatan tubuhnya untuk

menggetarkan telapak Hoa In, sedang tubuhnya dengan meminjam kesempatan itu pun segera

mencelat mundur ke arah belakang.

Bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya, nenek buta itu mencepat sejauh tiga tombak

dari tempat semula, kemudian menutul sepasang kakinya di atas tanah dan badannya berputar

kembali beberapa lingkaran di angkasa, darah tak bisa dibendung lagi dan muntah dari mulutnya

membentuk garis lingkaran di atas tanah.

Perubahan ini terjadi sangat mendadak sekali membuat semua orang berdiri tertegun, Jin Hian

bagaimanapun merupakan seorang ketua suatu perkumpulan yang tangguh, melihat kejadian itu

ia segera tinggalkan Tio Sam-koh dan dengan cepat menyongsong tubuh nenek buta serta

memayang badan-nya sehingga tidak sampai roboh ke atas tanah.

Saat ini isi perut nenek buta sudah terluka parah, kepalanya terkulai daa mukanya pucat pias

bagaikan mayat, tapi pikirannya masih sadar sebali, tangannya segera memberi tanda kepada Jin

Hian agar mereka segera tinggalkaa tempat itu.

Ketua dari perkumpulan Hian Im hwee ini dengan cepat ulapkan tangannya, Cu Goan-khek

sekalian memburu maju ke depan, satu dikiri yang lain dikanan dengan cepat melayang tubuh

nenek buta dan segera tinggalkan tempat kejadian.

Dalam Waktu singkat, Semua jago dari perkumpulan Hong-im-hwie telah berlalu semua dari

sana, bahkan mayat dari salah seorang pengawal pribadi golok emas yang terkapar ditanahpun

mereka bawa kabur.

Sang surya condong disebelah barat, senja pun menjelang tiba…. ketika Hoa Thian-hong

berpaling sekeliling tempat itu ia temukan bukit yang terjal bersusun menjulang ke angkasa,

sekarang dia baru sadar bahwa mereka berada dibalik lingkaran bukit.

Beberapa waktu kemudian ia menggeleng dan berbisik kepada Hoa In yang masih duduk bersila

di atas tanah.

“Ibu ada disini!”

Setelah itu dia lari masuk ke dalam gua.

Setibanya disisi Hoa Hujien, ia ikut duduk bersila di sampingnya sambil berkala dangan jengah,

“Ibu, nenek buta itu berhasil kabur….

Hoa Hujien tetap membungkam, beberapa-waktu kemudian dia baru buka matanya dan tarik

napas tiga kali, setelah itu berkata, “Perempuan tua itu gemar sekali membunuh manusia dia

harus secepatnya dilenyapkan dari permukaan bumi, karena pertama dia adalah salah seorang

musuh besar pembunuh ayahmu, kedua bulan tujuh tanggal lima belas sebentar lagi akan tiba,

musuh berkekuatan besar sedang kekuatan dipihak kita lemah sekali, daripada lebih banyak se

orang toh lebih baik kita kurangi seorang musuh yang harus dihadapi. Memang benar

tindakanmu membokong dikala orang sedang tidak siap merupakan perbuatan yang kurang

cemerlang, tapi justru karena perbuatan mu itulah jiwa seorang pendekar dari kalangan lurus

berhasil kau selamatkan, sekalipun tidak cemerlang toh tindakanmu bukan tindakan yang

terkutuk. Lain kali kalau bekerja engkau harus tegas dan cepat ambil tindakan, sebagai seorang

lelaki sejati jangan sangsi berpikir dan ambil keputusan, karena sedikit lambat saja keadaan akan

segera berubah”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

520

Dengan wajahb merah padam karena jengah, Hoa Thian-hong mengangguk tiada hentinya, ia

berkata, “Luka dalam yang ia derita tidak ringan, mungkin bulan tujuh tanggal lima belas nanti

dia masih belum mampu untuk turun tangan”

“Bagaimana dengan keadaan luk√§mu sendiri? tempo hari aku dengar tindak tandukmu masih

rada mendingan, kenapa sekarang jadi begitu tak becus….?”

“Luka didadaku adalah hadiah dari seorang toojin perkumpulan Thong-thian-kauw, sebenarnya

tidak mengapa tapi terhubung setiap tengah hari racun teratai dalam tubuhku pasti kambuh

maka mulut luka ini mungkin sukar untuk merapat kembali”

Setelah berhenti sebentar, sambil tertawa sambungnya kembali.

“Dua hari belakangan ini aku selalu tertimpa sial dan malang terus menerus, setelah ananda

pikir…. andaikata keadaan berlangsung begitu terus maka lama kelamaan titik kelemahanku

bakal ketahuan semua”

“Yang dibutuhkan seorang lelaki sejati adalah keselamatan jiwa, sekalipun kepandaian tak becus

asal tidak kehilangan jiwa jantan nya itu sudah lebih dari cukup”

“Perkataan ibu memang benar, anandapun sudah menemukan banyak penyakit pada diriku”

Hoa Hujien mengangguk, sambil melirik sekejap ke arah kotak kumala yang berada di atas

tanah, ujarnya kembali, “Aku mengetahui dengan jelas sifat-sifat dari racun teratai tersebut,

sebenarnya racun itu tak dapat diobati dengan obat mujarab apa pun, tapi lain halnya dengan

Leng-ci berusia seribu tahun ini, aku rasa lebih baik cepatlah kau makan obat mujarab itu!”

“Apakah luka dalam yang ibu derita sudah sembuh?”

“Aku sama sekali tidak membutuhkan Leng-ci berusia seribu tahun ini”

“Luka dalam yang ibu derita belum tentu sudah sembuh seratus persen,” pikir Hoa Thian-hong di

dalam hati, “apalagi obat mujarab ini sudah didapat, lebih baik aku simpan saja lebih dahulu”

Berpikir demikian, iapun berkata, “Leng-ci berusia seribu tahun adalah obat yang bisa

membangkitkan kembali mereka yang hampir mati, sekarang ananda be lum terancam jiwanya,

untuk sementata lebih baik disimpan dulu, siapa tahu dalam pertarungan yang menentukan

antara mati dan hidup, ada orang-orang kita yang terluka parah dan membutuhkan benda ini

untuk menyelamatkan jiwanya”

Perkataan ini benar dan menitik besarkan kepentingan umum, Hoa Hujien sebagai seorang

pendekar wanita tentu saja tak dapat memaksa lebih jauh, sekalipun dalam hati kecilnya ia

merasa sedih.

Suasana hening untuK beberapa saat lamanya, tiba-tiba Hoa Hujien berkata kembali, “Sam-koh

bilang engkau cabul dan romantis sekali, engkau suka mengganggu dan menggaet perempuan

orang lain, benarkah perkataan ini?”

Merah jengah selembar wajah Hoa Thian-hong, sambil tertawa dia bertanya, “Yang disebut Samkoh

apakah Tio Lothay?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

521

“Aku menghormati dia sebagai seorang angkatan yang lebih tua, engkau harus panggil Sam poo

(nenek ketiga) kepadanya”

Hoa Thian-hong mengangguk, lalu menggeleng pula, ujarnya, “Ananda tidak pernah menggaet

atau mempermainkan perempuan, Sam poo yang sengaja mempermainkan diriku”

“Hmmm! tiada angin tak akan ada ombak berapa banyak perempuan yang kau kenali selama

ini?”

“Chin Wan-hong, Pek Kun-gie, Giok Teng Hujin, Pek Soh-gie, Biau-nia Sam-sian serta….”

Ketajaman Hoa Hujien melebihi puteranya, kalau pemuda itu tak dapat melihat jelas wajah

ibunya maka Hoa Hujien dapat melihat jelas gerak bibirnya itu.

Dengan alis berkerut ia segera menegur, “Engkau turun gunung belum lama, kenapa jumlah

perempuan yang kau kenal begitu banyak sehingga tak terhitung?”

Hoa Thian-hong tertegun, dengan kikuk sahutnya, “Di wilayah Biau terdapat seorang jago yang

bernama Kiu toksian-cui, dia mempunyai tiga belas orang murid dan ananda kenal semua….”

“Apa-apaan kau ini?” seru Hoa Hujien ambil geleng kepala, sekarang mumpung aku masih dapat

bercakap-cakap, coba kau katakanlah pengalamanmu selama dua tahun belakangan ini….”

Hoa Thian-hong mengangguk, tiba-tiba ia lihat sepasang telapak ibunya menekan terus di atas

tanahnya dan tak pernah diangkat kembali, hal ini membuat hatinya tercengang dan tidak habis

mengerti, tanyanya, “Ibu,kenapa sepasang telapakmu menekan terus di atas tanah? Apakah

engkau sedang melatih suatu ilmu?”

“Di atas tanah terdapat sebuah lobang dan lubang itu menembus sampai dasar tanah, dari dalam

bumi mengumpul keluar asap beracun yang amat dahsyat, asal telapak ku diangkat maka gua ini

segera akan tertutup oleh hawa racun!”

“Kepandaian apa sih yang sedang ibu latih?” tanya Hoa Thian-hong keheranan.

“Aku sedang melatih sejenis ilmu yang bernama Hek sat ciang, pada saat ini aku harus

menggunakan kekuatan telapakku untuk menyumbat lubang gua agar hawa racun dari dasar

tanah tak dapat mengepul keluar, di samping itu beberapa jam kemudian akupun harus

mengerahkan tenaga dalam untuk memaksa hawa racun tersebut memancar keluar lewat lubang

gua yang ada disebelah depan sana.

“Berapa lama yang dibutuhkan untuk melatih kepandaian ini? Masa ibu harus duduk terus dan

selamanya tak boleh bangkit berdiri?”

“Bangun sih tak bisa, tetapi dengan telapak sebelahpun aku masih bisa berlatih ilmu

“Bagaimana dengan makan dan minum? Berapa lama ibu harus berlatih lagi disini?”

“Makan minumku disiapkan oleh Tio Sam-koh sehingga di tempat ini aku tak perlu kuatir

kelaparan ataupun kehausan, paling sedikit aku harus berlatih empat lima hari lagi baru bisa

dianggap kepandaianku berhasil”

“Ibu sudah hampir setengah tahun lamanya turun gunung apakah selama ini engkau berlatih

ilmu terus di tempat ini?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

522

Hoa Hujien tersenyum.

“Boleh dibilang begitulah”

Setelah berhenti sebentar, sambil tertawa tambahnya, “Nah, sekarang engkau boleh berbicara!”

Pengalaman yang didapat Hoa Thian-hong selama dua tahun ini boleh dibilang rumit sekali, dari

seorang pemuda yang sama sekali tak berpengalaman berubah jadi seorang jago lihay yang

menjadi incaran orang banyak, seluruh pengalamannya tak dapat diucapkan hanya sepatah dua

patah kata belaka, tanpa terasa ia menghela napas panjang.

Dari gua yang sunyipun segera terdengar suara pembicaraannya seorang, sejak bertarung

dengan Kok See-piauw di kota Keng ciu sampai mendapat penghinaan dari Pek Kun-gie, belajar

silat dari kakek telaga dingin, menerima Tiong-sisam hau, mencuri teratai di perkampungan Liok

Soat Sanceng, menyaksikan pembunuhan atas diri Jin Bong, menelan racun ditepi sungai Huangho,

mendapat pertolongan di tebing Biau-nia, lari racun di kota Cha ciu, sampai terlibat dalam

pertikaian tiga besar dan Pek Siau-thian menga-jukan pinangan….

Semua pengalamannya diutarakan dengan cermat dan tak ada yang ketinggalan termasuK pula

pengalamannya di kuil It-goan-koan serta hadiah Leng-ci berusia seribu tahun dari Giok Teng

Hujin.

Menanti ia menyelesaikan ceritanya, entah berapa lama sudah dihabiskan tanpa terasa.

Tiba-tiba terdengar Tio Sam-koh menimbrung dari samping, “Oooh….! Kiranya dayang itu adalah

puterinya pedang sakti yang menggetarkan daratan Tionggoan, Siang Tang Lay, kalau begitu

tujuannya menyusup ke tubuh perkumpulan Thong-thian-kauw adalah ingin membalaskan bagi

ayahnya”

“Sam poo, sejak kapan kau masuk kedalam? Kenapa aku sama sekali tidak merasa?” seru Hoa

Thian-hong tercengang.

Diam-diam Tio Sam-koh menyeka air mata yang membasahi pipinya, kemudian menjawab,

“Budak sialan, sebenarnya hubunganmu dengan yang mana yang boleh dibilang paling akrab?”

“Hubungan apa?”

“Kurang ajar! engkau tak usah berlagak pilon!” bentak Tio Sam-koh dengan gusar.

“Apakah engkau ada maksud mempunyai tiga orang bini empat orang selir?”

Tiba-tiba Hoa Hujien menghela napas panjang.

“Aaaai…. nona she Siang itu adalah seorang gadis yang berwatak terbuka, sedang Seng ji sama

sekali tidak mengindahkan adat istiadat, setelah ia mendapat budi dari orang, rasanya persoalan

ini sulit untuk diselesaikan….” katanya.

000000000

36

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

523

IBU, harap perkataanmu itu dijelaskan lebih jauh, ananda kurang begitu mengerti,” kata Hoa

Thian-hong.

“Engkau bukannya tidak mengerti, hanya jalan pikiranmu keliru. Bukankah menurut

pandanganmu nona Siang adalah seorang gadis yang liar dan cinta kasihnya belum tentu

bersungguh-sungguh hati?”

Hoa Thian-hong mengangguk.

“Ananda lihat orang itu tidak serius dan bukan tipe orang yang akan sengsara oleh putus cinta,

maka akupun malas untuk menguatirkan persoalan tersebut”

“Padahal bukan begitu kenyataannya, justeru karena nona ini pandai membawa diri maka hal ini

menunjukkah bahwa sebenarnya cinta kasihnya adalah bersungguh-sungguh dan sangat

berkobar dalam hatinya”

Tertegun hati Hoa Thian-hong mendengar ucapan itu, gumamnya, “Waaah….! Kalau memang

begitu, dugaanku sama sekali meleset….”

Setelah berhenti sebentar, ia menambahkan, “Thian Ik-cu pernah mengatakan bahwa anda

bukan seorang manusia yang terlalu mengingat akan dendam, apakah akupun tidak terlalu

mengingat tentang cinta?”

Hoa Hujien tersenyum, “Bukan…. bukan begitu artinya, Buddha pernah nasehati umat manusia

untuk berbuat kebaikan dan welas asih terhadap orang lain, itu artinya janganlah terlalu

mengingat tentang soal dendam. Tetapi toh tak ada orang yang menganjurkan orang untuk lupa

budi dan tidak mengingat tentang cinta….

“Telur busuk cilik!” terdengar Tio Sam-koh berseru, “kalau ingin membenci maka rasa bencinya

harus meresap sampai dihati, dengan begitu dendam sakit hati baru dapat dibalas, kalau mau,

maka harus cinta yang sungguh-sungguh dan tulus hati, dengan begitu cinta itu baru akan

terwujud menjadi kebahagiaan, Chin Wan-hong adalah seorang nona baik yang tak ada cacadnya

lagi, diantara kedua orang ini sebenarnya kau hendak memilih yang mana?”

Hoa Thian-hong tertawa getir, sahutnya, “Ibu, seandainya engkau akan mencarikan bini untukku,

maka yang mana akan kau pilih?”

“Kedua duanya tak akan kupilih!” jawab Hoa Hujien setelah termenung sebentar.

Mendengar jawaban tersebut, Hoa Thian-hong jadi amat terperanjat dan buru-buru berseru,

“Hong ji pernah melepaskan budi pertolongan kepada ananda, dia jujur sekali….”

Mendadak pemuda itu merasa ia telah salah bicara, dengan muka merah jengah karena malu,

buru-buru ia tutup mulut kembali.

“Haaah…. haaa…. haaa…. bagus, bagus sekali!” seru Tio Sam-koh sambil tertawa tergelak,

akhirnya monyet cilik mengaku juga rupanya kau lebih suka terhadap Hong ji!”

Hoa Thian-hong tertawa kikuk.

“Aku…. aku cuma merasa bahwa seorang manusia sudah sepantasnya kalau menyukai orang

yang dikenalnya paling dulu”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

524

“Benar!” seru Tio Sam-koh kembali sambil bertepuk tangan, “siapa datang lebih dahulu dia

adalah raja, siapa datang belakangan dia adalah patih. Menyukai yang baru bosan terhadap yang

lama adalah penyakit paling parah bagi umat manusia”

Tiba-tiba dari luar gua berkumandang datang suara seruan dari Hoa In, “Lapor Cu bo, makanan

dan minuman sudah disiapkan, apakah Siau Koan-jin sudah lapar?”

“Aaai….! Selama ini engkau tentu sudah cukup sengsara, mulai hari ini urusan tetek bengek tak

usah kau urusi lagi!”

Tidak menanti perintah dari ibunya, Hoa Thian-hong telah lari keluar dari gua, kemudian sambil

membawa sekeranjang makanan dan minuman serta sebungkus pakaian dia muncul kembali

didalam.

“Hoa In!” kembali Hoa Hujien berkata, “engkau jangan terlalu jauh tinggalkan mulut gua, tempat

ini sudah diketahui musuh dan mungkin kesulitan lain akan segera menyusul datang”

“Hamba mengerti!”

Hoa Thian-hong menyiapkan makanan di atas tanah, kemudian ujarnya, “Ibu, engkau akan

bersantap sendiri atau ananda yang menyuapi dirimu….?”

“Aku dapat menggunakan sebuah tanganku untuk bersantap, lebih baik aku turun tangan

sendiri!”

Persiapan yang dilakukan Hoa In benar-benar komplit sekali, bukan saja ada nasi ada sayur

bahkan disiapkan pula sepoci arak wa ngi.

Tapi berhubung Hoa Hujien Sedang berlatih ilmu, sedang Hoa Thian-hong sedang terluka maka

hanya Tio Sam-koh seorang yang meneguk arak.

Hoa Hujien yang sudah lama berpisah dengan putranya ingin sekali cepat dapat berbicara lagi,

maka santapan itu dilakukan dengan cepat dan terburu-buru….

Setelah menangsal perut dengar, muka yang ditebalkan Hoa Thian-hong berkata kembali, “Ibu,

kenapa engkau tidak setuju dengan nona Siang yang tak suka pada Hong ji?”

Hoa Hujien tertawa.

“Persoalan di dalam dunia persilatan toh belum selesai, apakah engkau sudah lupa dengan pesan

ibu sebelum engkau turun gunung?”

“Ananda tak berani melupakannya, sekarang memang saatnya bagi kita untuk menyapu kaum

iblis dari muka bumi, memang tidak sepantasnya kalau sekarang kita bicarakan soal perkawinan”

Setelah berhenti sebentar, ia berkata kembali, “Ananda cuma bermain-main saja, toh racun

teratai masih mengeram di dalam tubuhku, aku memang tak dapat mempunyai bini!”

Hoa Hujien menghela napas panjang.

“Aaaai…. di dalam pertemuan besar Kian siau Tay hwee yang akan diselenggarakan pada bulan

tujuh tanggal enam belas nanti, andaikata pihak Sin-kie-pang, Heng Im Hwe serta Thong-thiankauw

bekerja sama untuk kedua kalinya, maka pihak kita tak akan mampu meenahan seranganGrafity,

http://mygrafity.wordpress.com

525

serangan gabungan dari mereka, untuk menghindarkan diri dari bencana kematianpun masih

merupakan suatu tanda tanya besar, apalagi untukmembicarakan tentang soal lain….”

“Engkau tak boleh putus asa lebih dahulu, kalau tidak demikian lebih baik kita semua tak usah

menghadiri pertemuan digunung Thian bok san lagi,” sela Tio Sam-koh.

Hoa Hujien tersenyum.

“Sudah tahu kalau tak dapat dilakukan tapi dilakukan juga, tak bisa dibilang kita putus asa atau

tidak….

Tio Sam-koh membungkam dalam seribu bahasa…. tiba-tiba ia tertawa dan berkata kembali,

“Aku rasa bagaimana kalau engkau bersedia mengorbankan diri? Andaikata Seng ji kita kawinkan

dengan Pek Kun-gie sehingga keluarga Hoa berbesan dengan keluarga Pek, aku rasa posisi yang

kita hadapi dalam pertemuan besar ini tentu akan berubah, sebab pihak Sin-kie-pang tak

mungkin akan memusuhi keluarga menantunya sendiri!”

Mendengar perkataan itu Hoa Hujien segera tersenyum.

“Benar-benar membingungkan!” serunya, Pek Siau-thian berbuat demikian toh karena ia

pertimbangkan Seng ji akan membantu pihaknya, engkau anggap dia bersungguh-sungguh akan

mengawinkan puterinya?”

Sambil berpaling ke arah Hoa Thian-hong, ia menambahkan, “Diantara sepuluh orang perempuan

ada sembilan orang adalah bodoh, mengingat Pek Kun-gie adalah seorang gadis perawan maka

kita harus menggunakan kebesaran jiwa kita sebagai keluarga Hoa untuk tidak mempersoalkan

dendam atau permusuhan pribadi lagi, tetapi engkaupun tak usah berhubungan terlalu dekat lagi

dengan dirinya, dari pada tenagamu dipakai orang untuk maksud-maksud pribadi”

Hoa Thian-hong mengangguk.

“Sejak dahulu aku memang selalu berusaha untuk menghindarkan diri dari dirinya,” ia menyahut.

“Sekalipun dengan Pek Soh Gi, engkaupun harus bersikap sama. Sebab kalaupun dia adalah

seorang gadis yang berbudi luhur dan ibunya patut kita hormati, namun terlalu rapat

berhubungan dengan mereka tetap tidak menguntungkan bagi kita semua, oleh karena itu lebih

baik kita jangan berhubungan terlalu dekat”

“tentang persoalan ini, ananda sudah mengetahui jelas, bila kami bertemu lagi dilain waktu, aku

pasti dapat menyadari keadaan diriku dan tidak bertindak secara gegabah lagi….”

Hoa Hujien mengangguk

“Malam segera akan tiba dan aku harus berlatih ilmuku kembali, sebelum pertempuran sengit

berlangsung, lebih baik engkaupun pergi beristirahat lebih dahulu”

Hoa Thian-hong mengiakan berulang kali, lewat beberapa saat kemudian Hoa Hujien serta Tio

Sam-koh telah pejamkan mata duduk bersemedi, Hoa Thian-hong segera mengambil pakaian

yang dibeli oleh Hoa In dan tukar pakaian di sudut gua, kemudian kembali lagi kesisi ibunya dan

duduk bersemedi disitu.

Ketika kentongan keempat, kelima menjelang datang, mendadak di dalam gua berkumandang

datang suara bisikan Hoa In yang amat lirih.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

526

“Lapor Cu bo, ada jago lihay mendekati tempat ini, maksud kedatangannya belum diketahui!”

Tio Sam-koh membuka matanya, melihat Hoa Hujien sedang bersemedi mencapai puncak yang

paling penting, buru-buru dengan ilmu menyampaikan suara ia memerintahkan, “Sembunyi lebih

dahulu, bila keadaan tidak terlalu paksa, jangan munculkan diri!”

Baru saja perkataan itu selesai diucapkan, dari luar gua tiba-tiba berkumandang datang suara

gelak tertawa yang amat nyaring.

Mendengar gelak tertawa itu Hoa Thian-hong tertegun, lalu bisiknya, “Ooooooh….! rupanya yang

datang adalah Ciu It-bong!”

Terdengar Ciu It-bong setelah tertawa tergelak beberapa saat lamanya, tiba-tiba berkata, “Pek

Soh Gi, kenalkah engkau dengan diriku?”

Beberapa saat kemudian, dari luar gua berkumandang suara sahutan dari Pek Soh Gi.

“Siapakah locianpwee? Siautit baru pertama kali melakukan perjalanan di tempat luaran sehingga

tak ada jago lihay yang kukenal, harap locianpwee memaafkan”

“Haaah…. haaah….! haaaah…. aku adalah Ciu It-bong!”

“Ooh! Kiranya Ciu locianpwee, aku mengunjuk hormat bagimu!”

“Tak usah memberi hormat….! tak usah memberi hormat aku mencari engkau datang kemari,

tujuannya bukan lain adalah ingin membinasakan dirimu, apa gunanya engkau memberi hormat

kepadaku?”

Rupanya Pek Soh-gie dibikin tertegun oleh perkataan itu, lewat beberapa saat kemudian ia baru

berkata, “Thong-thian-kauweu memang bermaksud membinasakan diriku, apa sebab locianpwee

bersusah payah membawa aku datang kemari? toh kalau aku tetap ditinggal di sana akhirnya

jiwakupun akan melayang?”

Secara diam-diam Hoa Hujien pun mengikuti jalannya pembicaraan itu, hatinya jadi kagum

selelah didengarnya nada suara Pek Soh Gi tetap tenang seperti sedia kala walaupun

membicarakan tentang keselamatan jiwanya, tanpa terasa ia berpikir, “Pek Soh Gi benar-benar

seorang nona yang suci polos dan jujur…. . ia mengagumkan”

Terdengar Ciu It-bong berkata kembali, “Hidung kerbau tua itu belum tentu membunuh diriku,

tetapi aku sudah memastikan diri untuk mencabut nyawamu, sekarang kau mengerti bukan?”

“Kalau memang hendak bunuh aku, sewaktu masih ada di dalam kuil bukankah engkau dapat

mengirim satu pukulan ke tubuhku? Kenapa musti membawa aku datang kemari?”

“Haaah…. haaah…. haaah…. setelah membunuh orang dan mayatnya tidak dimusnahkan maka

dari luka yang tertera di atas jenazah orang akan tahu siapakah pembunuhnya, mengertikah

kau?” seru Ciu It-bong sambil tertawa terbahak-bahak, “sekarang aku akan turun tangan, karena

aku harus cepat pergi dari sini!”

“Jadi lociampwee hendak melenyapkan mayat untuk menghilangkan jejak….?” tanya Pek Soh-gie

kembali.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

527

“Tentu saja, dengan demikian maka bapakmu pasti akan minta orang dengan para tosu hidung

kerbau itu dan satu pertarungan tentu tak akan terhindar, dalam keadaan demikian asal aku

tambahi dengan satu dua pukulan maka urusan akan berubah semakin besar.

Mengertikah kau?”

“Aku mengerti”

“Kalau mengerti itu lebih baik lagi, Nah sekarang aku akan turun tangan!”

Tiba-tiba terdengar Pek Soh Gi berseru kembali, “Locianpwce, mengapa tidak kau gunakan

telapakmu melainkan malah mencengkeram tubuhmu? Apa yang hendak kau lakukan?”

“Tiba-tiba aku melihat bahwa di dalam gua terdapat sebuah liang besar yang dalamnya tak

terlihat dasarnya, sepanjang tahun dari dalam liang tersebut mengepul keluar hawa beracun

yang menyebar kelangit-langit gua dan menyusup keempat penjuru, jika kubuang tu buhmu ke

dalam liang tersebut maka sekalipun bapakmu membalik seluruh jagadpun tak nanti akan

temukan mayatmu lagi!”

Hoa Thian-hong merasakan badannya jadi merinding dan bulu kuduknya pada bangun berdiri

setelah mendengar perkataan itu, pikirnya, “Benar-benar keji pikiran orang ini, rupanya rasa

benci Ciu It-bong terhadap Pek Siau-thian telah merasuk ketulang sumsum!”

Sementara itu Pek Soh-gie telah menjawab, “Aku sudah mengerti, silahkan locianpwee

melemparkan tubuhku ke dalam liang tersebut!”

“Baik!” bentak Ciu It-bong, tiba-tiba ia bertanya lagi.

“Apakah engkau tak punya inginan untuk melanjutkan hidupmu?”

“Kedatanganku kedunia toh bukan saja permintaan dari diriku sendiri, kenapa sewaktu mati

harus ajukan permohonan?”

Rupanya Ciu It-bong dibikin tertegun oleh ucapan tersebut, sesudah hening sesaat ia baru

berkata lagi, Caramu berpikir benar-benar aneh dan istimewa sekali, tahukah engkau apa

sebabnya aku hendak membunuh dirimu? dan tahukah kau permusuhan apakah yang terkait

antara aku dengan ayahmu?”

“Sudah belasan tahun lamanya aku tinggalkan bukit Ton pa san, dan sudah puluhan tahun

lamanya belum pernah kutemui ayahku, sudah tentu persoalannya tak ada yang kuketahui”

“Kalau begitu aku akan memberitahukan kepadamu!” teriak Ciu It-bong dengan suara keras,

“Bapakmu hendak mendapatkan sebuah barang mustika milikku, dengan segala daya-upaya ia

menipu diriku, sehingga akhirnya aku dijebak di dalam sebuah telaga yang sangat dingin, setiap

hari kedinginan terhembus angin, basah kuyup tertimpa air hujan. Selama sebelas tahun aku

harus hidup bagaikan binatang, akhirnya aku berhasil mendapatkan sebilah pedang baja dengan

senjata itulah aku kutungi le-ngan kananku sendiri dan berhasil meloloskan diri dari kepungan,

coba katakan pantaskah aku membalas dendam….?”

“Sudah sepantasnya kalau locianpwee melakukan pembalasan!” jawab Pek Soh Gi dengan suara

serak.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

528

“Engkau adalah korban yang harus menebus dosa-dosa itu!” teriak Ciu It-bong dengan suara

keras, “bila engkau penasaran maka tuntutlah kepada bapakmu sendiri”

“Aku sama sekali penasaran, ibuku selalu berharap bisa mengorbankan diri untuk meringankan

dosa yang pernah dilakukan ayah ku, akupun bersedia menebus dosa-dosa yang pernah

dilakukan ayahku”

“Aaaai….!” diam-diam Hoa Thian-hong menghela napas panjang dalam hati kecilnya berbuat

kejahatan di kolong langit hanya akan mendatangkan bencana bagi anak keturunannya…. gadis

itu benar-benar patut dikasihani!”

Tiba-tiba terdengar Ciu It-bong menengadah dan tertawa keras, lalu berteriak, “Pek loji, lihatlah

aku akan melemparkan putrimu ke dalam neraka!”

Jetitan itu tinggi melengking bagaikan teriakan setan, membuat Hoa Thian-hong bergidik dan

ngeri sekali, gumamnya di dalam hati, “Kenapa sih dengan Hoa In? Kenapa ia tidak turun tangan

menolong jiwa gadis itu?”

Baru saja ingatan tersebut berkelebat lewat dalam benaknya, terdengar kembali seseorang

membentak nyaring, “Setan tua yang tak tahu malu, cepat lepaskan gadis itu!”

Tertegun hati Hoa Thian-hong mendengar suara itu, pikirnya di dalam hati, “Siapakah orang ini?

Kenapa suaranya begitu kukenal?”

Sementara itu Ciu It-bong telah tertawa keras dengan nada yang sangat aneh.

“Ha ha ha ha ha…. bocah cilik, siapa namamu?”

“Siau yamu she Bong bernama Pay, apa yang hendak kau lakukan?”

Begitu mengetahui bahwa orang itu adalah Bong Pay, Hoa Thian-hong jadi amat terperanjat

sehingga loncat bangun dari atas tanah kemudian menerjang keluar dari gua.

Tetapi sewaktu ia mencapai diluar liang dalam yang mengepulkan asap hitam itu, tiba-tiba Hoa

In unjukkan diri dari samping dan menarik lengannya.

Sementara itu Ciu It-bong sudah berseru kembali sambil tertawa seram, Bangsat cilik yang tak

tahu diri, apakah engkau berasal dari perkumpulan Sin-kie-pang?”

“Hmm! Bong Pay mendengus gusar, Siau ya mu suci bersih, dari mana kau bisa mencium bau

bajingan di atas tubuhku?”

“Eeei…. kalau begitu sungguh aneh sekali, kau si bajingan cilik toh sudah sedari tadi

bersembunyi di dalam gua, sepantasnya engkau tahu apa sebabnya aku hendak membinasakan

puteri Pek Siau-thian, kenapa? Apakah aku tidak pantas membalas dendam?”

“Membalas dendam sih harus membalas, cuma sayang caramu membalas dendam benar-benar

amat rendah dan memalukan. Seseorang berani berbuat berani tangung jawab kalau punya

kepandaian kenapa tidak langsung mencari Pek Siau-thian untuk bikin perhitungan? Menganiaya

kaum gadis yang lemah….”

“Huuu! Siau ya merasa paling muak melihat perbuatan semacam ini”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

529

Ciu It-bong kembali tertawa seram.

“Setan cilik, sampai di mana sih kemampuan yang kau miliki? perduli amat dengan urusanku,

siapa suruh engkau turut campur? Rupanya kau sudah bosan hidup dan pingin modar?”

Sementara pembicaraan masih berlangsung, tiba-tiba ia mendengar Bong Pay mendengus berat.

Hoa Thian-hong tahu bahwa Ciu It-bong adalah seorang manusia yang berhati ganas dan keji, ia

takut jiwa Bong Pay terancam ditangannya, mendengar dengusan berat itu dia segera

menjejakkan kakinya di atas tanah siap menerjang ke depan.

Tapi lengannya kembali tergenggam orang kali ini yang mencekal lengannya adalah Hoa In serta

Tio Sam-koh.

Tiba-tiba terdengar Pek Soh-gie berkata, “Ciu Locianpwee, engkau toh seorang Bulim cianpwee

yang punya nama besar dalam dunia persilatan, kenapa engkau layani seorang pemuda yang tak

bernama?”

“Hmm! Siapa suruh dia berani mengganggu aku? Akan kusuruh dia rasakan sampai di manakah

kelihayanku, perduli amat dia masih bayi, masih muda atau sudah tua bangkotan.

Dengusan napas Bong Pay yang keras dan terengah-engah kedengaran amat nyata, diikuti ia

menggembor penuh kegusaran.

“Setan tua! Pek Siau-thian tak berani kau usik, Jin Hian tak berani kau ganggu, kecuali mencari

gara-gara dengan kaum perempuan apapun tak berani kau lakukan…. Huuh! Manusia terkutuk

macam apakah dirimu itu?”

“Bajingan yang tak tahu diri, aku lempar dirimu ke dalam neraka!”

“Locianpwee…. terdengar Pek Soh Gi menjerit dengan hati gelisah.

Hoa Thian-hong sekalian bertiga mengetahui bahwa Ciu It-bong hendak melemparkan tubuh

Bong Pay ke dalam liang berhawa racun, mereka jadi tegang dan gelisah sekali, perhatiannya

segera dipusatkan diluar dan semua orang bersiap-siap melakukan perto longan.

Mendadak dari luar gua berkumandang kembali suara seseorang yang tinggi, lengking dan serak

sekali.

“Ciu tua, jangan lemparkan kedalam…. lemparkan saja kemari, kami membutuhkan bocah itu!”

Mendengar seruan tersebut Hoa Thian-hong kembali berdiri tertegun, pikirnya”

“Sungguh aneh, kenapa bari ini di tempat yang terpencil dan gersang seperti ini secara beruntun

telah kedatangan banyak orang”

“Bagus sekali!” terdengar Ciu It-bong berteriak sambil tertawa tergelak.” rupanya Liong bun

siang satpun sudah ikut datang kemari, ada apa? Mau laki mau perempuan semuanya tersedia,

kalau kalian butuh silahkan datang sendiri kemari!”

Suara yang tinggi melengking dan serak tadi kembali berkata sambit tertawa keras, “Ciu tua,

tabiatmu yang dulu ternyata sampai sekarang belum berubah juga, rupanya ilmu silatmu sudah

bertambah maju dan pen deritaan belum cukup kau rasakan”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

530

“Hmm! ilmu silat sih masih seperti sediakala, cuma…. aku memang ingin mencicipi penderitaan

lagi!”

Suara ujung baju tersampok angin bergema memecahkan kesunyian disusul desiran angin

pukulan meledak di angkasa….

Dengan andalkan ketajaman pendengarannya, Hoa Thian-hong dapat membedakan desiran

angin manakah yang merupakan serangan dari Ciu It-bong, bahkan diapun tahu gerakan

manakah dari jurus Kun-siu-ci-tauw yang sedang dipergunakan olehnya, timbul keinginan di

dalam hati pemuda itu untuk mengintip keluar.

Ketika orang itu hanya bertarung beberapa jurus saja untuk kemudian saling menarik kembali

serangannya.

Tiba-tiba terdengar Ciu It-bong tertawa dingin dan berkata, “Aku mengira kepandaian silat yang

dimiliki dua bersaudara dari keluarga Sim sudah mendapat kemajuan pesat…. Hmmm! tak

tahunya cuma begitu saja…. sungguh mengecewakan”

Sang loo-toa, Sim Kian tertawa seram.

“Heeehh…. heeehh…. heehh…. sedari dulu kami dua bersaudara she Sim memang begini-begini

saja, tentu saja jauh berbeda dengan Ciu heng, meskipun lengan tinggal satu tapi masih bisa

malang melintang dalam dunia persilatan tanpa seorangpun bisa menandinginya”

Ciu It-bong jadi teramat gusar, ia dapat menangkap maksud rangkap dari ucapan tersebut,

sindiran yang tajam tadi dengan cepat mengobarkan nafsu ganasnya.

Ia tertawa seram dan segera berteriak, “Sim Loo-toa, pertemuan besar Kian ciau tay hwee yang

akan diselenggarakan pihak perkumpulan Thong-thian-kauw akan dilang sungkan tujuh hari

kemudian…. kalian berdua bukannya memperdalam latihanmu sebaliknya di tengah malam buta

datang kemari, apa yang hendak kalian lakukan?”

Sembari berkata hawa murninya diam-diam di himpun ke dalam telapak kiri dan siap

melancarkan serangan.

Sim Kiam menengadah dan tertawa terbahak-bahak.

“Haaah…. haaah…. aku dengar di dalam gua sini ada tersembunyi seorang jago yang amat lihay,

kami berdua merasa tidak puas dan sengaja datang kemari untuk minta petunjuk”

Mula-mula Ciu It-bong tertegun kemudian tertawa keras.

“Kalian…. berdua belum bisa terhitung sebagai seorang jago lihay…. haaaah…. haaaah…. kalau

dibilang ingin mohon petunjuk, lebih baik tak usah saja”

Sim Kian tertawa terbahak-bahak.

“Haaa…. haaah…. Ciu heng terlalu memandang rendah kami…. bagaimana? Kami hendak minta

kembali dua orang bocah itu, apakah engkau bersedia berikan kepadaku?”

“Kalian minta yang hidup ataukah yang mati?”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

531

Tabiat Liong bun siang sat sungguh sabar, bukan gusar mereka malah tertawa.

“Kalau mati apa gunanya? tentu saja kami butuh yang hidup”

“Kalau tidak kuberi?”

“Kalau memang begitu, kami dua bersaudara terpaksa harus minta kepada Ciu heng secara

kekerasan!”

“Coba saja kalau mampu!”

Blaaam….! ledakan dahsyat bergeletar di udara, rupanya kedua belah pihak telah saling beradu

tenaga satu kali.

Setelah saling berpisah suasana di tengah kalangan berubah jadi hening dan sepi sekali,rupanya

kedua belah pihak sedang mengatur pernapasan untuk mempersiapkan serangan berikutnya.

Pada saat itulah dari tempat kejauhan tiba-tiba berkumandang datang suara panggilan yang

amat nyaring, “Hoa kongcu…. Hoa sauya…. Hoa kongcu….

Agaknya orang itu sambil berlari sambil berteriak sehingga suaranya terpatah-patah.

Mendengar suara itu berkumandang dari satu tempat tidak jauh dari tempat itu, Ciu It-bong

serta Liong bun siang sat yang telah bersiap-siap melancarkan serangan kembali itu segera

membatalkan niatnya.

Hoa Thian-hong yang berada di dalam gua pun pasang telinga baik-baik, akhirnya ia kenali suara

orang itu sebagai suara dari salah seoang dari tiga harimau keluarga Tiong yakni si Harimau bisu

Tiong Long.

Cepat sekati gerakan tubuh Tiong Long, talam waktu singkat ia telah tiba di depan mulut gua.

Gua karang itu terletak di atas jembatan batu dan gampang sekali di temukan, tetapi berhubung

suasana di dalam gua yang luar biasa gelapnya maka apa bila seseorang tidak memiliki

ketajaman mata yang luar-biasa, sulit untuk melihat sesuatu di dalam gua itu.

Sambil berdiri dimulut gua, Harimau bisu Tiong Long segera berteriak lantang, “Adakah

seseorang di dalam gua?”

“Siapakah saudara? tiba-tiba Bong Pay menegur, ada urusan apa mencari Hoa kongcu?”

Begitu mendengar Bong Pay bisa bicara, legalah hati Hoa Thian-hong, dia tahu kendatipun ia

sudah terhajar oleh Ciu It-bong namun keselamatan jiwanya tidak sampat terancam, diam-diam

ia menghembuskan napas panjang.

“Aku bernama Tiong Long, siapakah kau? terdengar harimau bisu menjawab.

“Aku adalah Bong Pay, dan merupakan sahabat karib dari Hoa kongcu”

“Oooh…. rupanya Bong ya, tolong tanya apakah Bong ya mengetahui tentang jejak dari Hoa

kongcu?”

“Aku sendiripun sedang mencari Hoa kongcu….” jawab Bong Pay.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

532

Karena ia memandang dari dalam ke arah luar maka apa yang terlihat jauh lebih jelas daripada

Harimau bisu Tiong Long yang memandang dari arah luar ke arah dalam, maka sewaktu melihat

orang itu hendak berjalan masuk ke dalam gua, buru-buru ia berseru, “Gua ini berbau busuk

sekali, Tiong heng tak usah masuk kedalam!”

Tiong Long tak tahu kalau ia sedang memaki Ciu It-bong sekalian, mendengar perkataan itu ia

segera ikut mencium keras, ketika dirasakan gua itu memang berbau agak busuk, ia segera

memberi hormat sambil berseru, “Maaf kalau aku telah mengganggu Bong ya, aku harus pergi

mencari jejak Hoa kongcu, maaf kalau tak bisa berdiam terlalu lama.”

Habis berkata ia putar badan dan siap berlalu dari sana.

Tiba-tiba Pek Soh-gie berkata, “Saudara, aku tahu jejak dari Hoa kongcu!”

Mendengar perkataan itu Harimau bisu Tiong Long segera putar badan dan bertanya, “Tolong

tanya nona, sekarang Hoa kongcu berada di mana?”

“Hoa kongcu telah ditangkap oleh Thong-thian Kaucu , sekarang ia disegap di dalam penjara

batu dalam kuil It-goan-koan”

“Siapa yang mengatakannya kepadamu?” teriak Bong Pay, “apakah engkau menyaksikan dengan

mata kepala sendiri?”

Karena cemas dan gelisahnya kelima jari tangannya bagaikan kuku garuda mencengkeram

lengan gadis itu kencang-kencang membuat Pek Soh Gi jadi kesakitan dan hampir saja

mengucurkan air mata.

Ketika Harimau bisu Tiong Long tidak mendengar jawaban, dengan cepat serunya kembali,

“Nona, tentang berita tertangkapnya Hoa kongcu oleh Thong-thian Kaucu , kau berhasil

mendengarnya dari seseorang? Ataukah menyaksikan dengan mata kepala sendiri?”

“Aku serta Hoa kongcu ditangkap bersama-sama, peristiwa ini terjadi pagi tadi, setelah berada di

kuil It-goan-koan aku disekap di dalam ruangan loteng sedangkan Hoa kongCukatanya dijeblos

ke dalam penjara batu”

Harimau bisu Tiong Long jadi amat gelisah, setelah mengucapkan terima kasih, ia putar badan

dan berlalu dari situ, tetapi sampai di tengah jalan ia berpaling kembali sambil bertanya,

“Bolehkah aku tahu siapakah nama nona?”

“Aku bernama Pek Soh-gie!”

“Dia adalah putri kesayangan dari Pek Siau-thian, pangcu perkumpulan Sin-kie-pang” sambung

Bong Pay dengan cepat.

“Oooh….! Kalau begitu perkataannya tak bisa dipercaya,” guman Tiong Long dengan cepat.

Hoa Thian-hong yang saat ini sedang berada di dalam gua jadi geli sekali dibuatnya oleh tingkah

laku orang-orang itu, teringat betapa kasarnya Bong Pay, betapa polosnya Tiong Long serta

betapa jujurnya Pek Soh-gie, ternyata setelah terlibat dalam pembicaraan sampai-sampai tiga

orang gembong iblis yang berada disisi merekapun dilupakan sama sekali.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

533

Ingin sekali pemuda itu loncat keluar, apa daya keselamatan ibunya merupakan ancaman yang

sangat berat baginya, maka ia tak berani bertindak secara gegabah.

Tiba-tiba terdengar Harimau bisu Tiong Long berseru lagi, “Selamat tinggal saudara berdua, aku

harus segera melaporkan kejadian ini kepada nona”

Ia putar badan dan lari dari situ…. Kembali!” bentak Ciu It-bong dengan suara keras.

Ketika didengar di dalam gua masih ada orang lain, Harimau bisu Tiong Long kelihatan agak

tercengang, lalu sambil berpaling segera tegurnya dengan lantang, “Saipakah engkau?”

“Perduli amat siapakah aku, aku ingin tahu siapakah nona kalian?”

“Perduli amat siapakah nona kami?”

Ciu It-bong mendengus gusar, ingin sekali telapaknya melancarkan sebuah pukulan, tetapi ia

merasa malu untuk berbuat demikian dihadapan umum karena tindakan tersebut akan

menurunkan derajatnya, maka ia hanya berkata.

“Heehh…. heehh…. laporkan kepada nona kalian, suruh dia pergi mencari Thian Ik-cu untuk

minta orang, akan kulihat apa yang akan dia berikan kepada kalian”

“Ada apa?”

“Hoa Thian-hong sudah tidak berada di kuil It-goan-koan lagi, engkau suruh Thian Ik-cu

memberikan apa kepadamu?”

“Hoa kongcu berada dimana?”

“Dia sudah modar!” teriak Ciu It-bong dengan keras.

“Kentut busuk!” teriak Tiong Long dengan cepat.

“Kentut busuk!” teriak Bong Pay pula dengan segera.

Ciu It-bong sangat murka, sorot matanya menyapu sekejap ke arah dua orang itu dengan tajam,

akhirnya dia ambil keputusan untuk menghukum harimau bisu Tiong Long lebih dahulu.

Ilmu silat yang dimilikinya sangat lihay, lengannya digetarkan ke depan, tahu-tahu separuh

badannya sudah muncul dari mulut gua, ia segera mencengkeram ke tubuh orang she Tiong itu.

Ketika Harimau bisu Tiong Long merasa ada seseorang melancarkan serangan ke arah tubuhnya,

tanpa berpikir panjang lagi tangan kirinya segera berputar setengah lingkaran dan melancarkan

sebuah pukulan dahsyat ke depan.

“Eeei….” Ciu It-bong berseru tertahan, dengan cepat ia cengkeram urat nadi dipergelangan Tiong

Long dan menyeretnya kehada pan tubuhnya, kemudian dengan suara keras tegurnya.

“Ayoh jawab, mengapa Hoa Thian-hong mewariskan ilmu pukulan ini kepadamu….?”

Harimau bisu Tiong Long merasa tulang pergelangannya sakit sekali seperti mau retak, keringat

sebesar kacang kedelai mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya dan hawa murni sama

sekali tak dapat dikerahkan kembali, siksaan seperti ini benar-benar luar biasa sekali.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

534

Tetapi nenek moyang Tiong Long pada dasarnya adalah manusia-manusia berwatak keras

kepala, semakin ganas siksa Ciu It-bong semakin nekad ia mempertahankan diri, sambil

menggertak gigi tak sepatah katapun yang diucapkan olehnya.

Meminjam sorot cahaya yang lemah diluar gua, Bong Pay dapat menyaksikan semua kejadian itu

dengan amat nyata, sebagai seorang pemuda berdarah panas yang paling benci dengan

kejahatan, setelah menyaksikan harimau bisu terjatuh ke tangan Ciu It-bong, tanpa berpikir

panjang lagi menerjang maju ke depan, sepasang telapaknya serentak didorong ke depan

melancarkan sebuah serangan yang dahsyat.

Ciu It-bong sangat gusar, hardiknya.

“Bajingan rupanya engkau sudah bosan hidup!”

Dengan tubuh yang gemilang ia bersiap sedia menyambut datangnya ancaman tersebut dengan

keras lawan keras, ia bermaksud menghantam mati Bong Pay dalam serangan itu.

Terdengar Sim Kian Loe toa dari Liong bun siang sat berseru sambil tertawa keras, “Bocah,

engkau memang cerdik!”

Tubuhnya berkelebat ke depan, lengan kiri digetarkan dan segera melemparkan tubuh Bong ya

keluar gua, telapak kanan diayun menghantam tubuh Orang she Ciu itu.

“Sim to ji, engkaupun harus diberi giliran!” bentak Ciu It-bong pula dengan suara keras,

Setelah melepaskan Tiong Long, ia putar telapak melancarkan pula sebuah pukulan ke arah

depan.

Bong Pay Serta harimau bisu Tiong Long secara beruntun terlempar dari mulut gua, mereka

saling berpandangan tanpa mengucapkan sepatah katapun, rupanya kejadian yang berlangsung

barusan telah membuat hati mereka jadi dingin separuh.

Beberapa saat kemudian Harimau bisu Tiong Long berkata, “Bong ya, aku harus mohon pamit

lebih tiahulu”

“Mari kita melakukan perjalanan bersama-sama, mencari jejak Hoa kongcu adalah urusan yang

sangat penting, pertarungan antara setan-setan ganas ini tak perlu kita lihat lagi.”

Diam-diam dua orang itu mengeloyor pergi dari situ sementara pertarungan yang berlangsung di

dalam gua sudah mencapai puncak yang amat seru, kiranya setelah Ciu It-bong melangsungkan

pertarungan dengan Sim Kian, loji dari Liong bun siang sat segera melancarkan sebuah totokan

yang merobohkan Pek Soh Gi dan melemparkan tubuhnya kesudut gua, kemudian sambil putar

telapak dia ikut terjun pula ke dalam gelanggang pertarungan mengerubut Ciu It-bong seorang.

Anggota badan Ciu It-bong sudah ada yang cacad, tubuhnya tidak mencapai empat depa dengan

potongan badan yang sangat aneh, kendatipun begitu ilmu silat yang dia miliki luar biasa sekali,

di tengah pertarungan sengit nafsu membunuh menyelimuti seluruh ruangan.

Sepasang malaikat dari perguruan naga adalah manusia-manusia pelindung perkumpulan Hongim-

hwie, kedua orang ini kecuali mempunyai ilmu silat yang tinggi, hati mereka pun keji dan

telengas sekali maka orang sebut mereka sebagai sepasang malikat.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

535

Tiga orang jago lihay harus bertempur di dalam ruang gua yang sempit, bisa dibayangkan betapa

serunya pertarungan tersebut.

Di tengah pertarungan, tiba-tiba terdengar malaikat tua Sim Kian berseru lantang, “Ciu It-bong,

pedang emas milik Siang Tay Lay toh sudah tidak berada ditanganmu lagi, apa salahnya kalau

engkau mengaku terus terang benda itu sekarang berada dimana?”

Haaah…. haaah…. haaah…. aku bilang ada ya ada, bilang tak ada ya tak ada, kenapa musti ribut

terus?”

Haruslah diketahui bahwa gua itu telah terbagi menjadi dua oleh lapisan lapisan kabut hitam

yang mengepul keluar dari bawah tanah, Hoa Thian-hong yang bersembunyi di dalam gua dapat

melihat jelas jalannya pertarungan diluar gua, sebaliknya orang diluar tak dapat melihat kedalam.

Ciu It-bong sendiri sejak terkurung didasar telaga dingin, sudah puluhan tahun lamanya ia

bertarung melawan Pek Siau-thian, pada waktu itu lengan kanannya diikat di atas dinding karang

dengan serat liur naga yang membuat badannya sama sekali tak dapat bergerak dan ilmu silat

lama tak dapat digunakan lagi, dalam keadaan begitu terciptalah jurus Kun-siu-ci-tauw yang

sangat lihay.

Kini setelah ia bebas, meskipun anggota badannya kurang tiga namun ilmu silat lama masih

dapat digunakan kembali, bisa di bayangkan menggunakan jurus Kun-siu-ci-tauw tersebut tentu

saja bertambah ampuh.

Liong bun siang sat adalah saudara sekandung, dan keluaran dari satu perguruan yang sama,

dengan begitu permainan ilmu silat merekapun berasal dari satu aliran yang sama dalam

melakukan pertarungan ini sekalipun mereka berdua melancarkan serangan dengan gencar

namun ilmu Tay im sin jiau andalan mereka tidak dikeluarkan, karena itulah meskipun Ciu Itbong

harus satu lawan dua namun ia masih tetap sanggup mempertahankan diri.

Di tengah pertempuran, tiba-tiba terdengar Sim Kian berseru dengan suara dingin, “Loo ji, bocah

she Bong itu sudah kabur”

“Tak mungkin lolos dari sini,” jawab Sim Cin loo-ji dari Liong bun siang sat sambil tertawa,

setelah menganggur belasan tahun baru kali ini kita temukan musuh tandingan semacam Loo

Ciu, hari ini kita harus baik-baik melepaskan otot kita yang telah kaku”

“Cari makmu saja kalau ingin melepaskah otot!” maki Ciu It-bong dengan marah.

Jilid 27

TUBUHNYA meluncur ke depan dan telapaknya segera diayun melancarkan sebuah pukulan.

Malaikat kedua Sim Ciu mengegos ke samping, telapaknya membacok pergelangan mu suh,

kemudian mengirim satu tendangan kilat ke arah depan, Ciu It-bong berjungkir balik di udara

melepaskan diri dari ancaman itu, telapaknya diayun dan manghantam ke arah malaikat

pertama.

Suasana dalam gua gelap gulita, ketiga orang itu bertarung dengan andalkan desiran angin

tajam, serangan telapak yang aneh da ri Ciu It-bong ini meluncur datang dengan kecepatan satu

kali lipat dari keadaan biasa, merasa dirinya tak mampu untuk memunahkan datangnya ancaman

tersebut, buru-buru malaikat pertama menjejakkan kakinya ke atas tanah dan meloncat mundur

ke belakang.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

536

Rupanya Ciu It-bong sudah tahu kalau serangan ini tak akan mampu melalui musuhnya, dan

diapun telah menduga bahwa musuhnya pasti akan melompat mundur ke belakang menuju ke

arah dalam gua, maka tubuhnya segera meluncur ke depan menghindari serangan dari malaikat

kedua, dan untuk kedua kalinya dia menghantam malaikat pertama, Ketika malaikat pertama Sim

Kim melihat bahwa Ciu It-bong hendak mendesak dirinya terjebur ke dalam liang beracun, diamdiam

ia tertawa dingin, tubuhnya miring ke samping kemudian melancarkan sebuah pukulan

dahsyat ke arah depan.

Ploook….! Sepasang telapak saling membentur satu sama lainnya, kedua orang itu sama-sama

terdesak mundur ke belakang.

Malaikat pertama Sim Kian yang melancarkan serangan secara tergesa-gesa segera terlempar ke

belakang oleh bentrokan tersebut hingga punggungnya menumbuk di atas dinding gua,

sedangkan Ciu It-bong sendiri pun terdesak sampai membentur dinding gua namun benturan itu

sama sekali tidak menimbulkan suara, hal ini menunjukkan bahwa ia sudah bikin persiapan dan

Sim Kian telah terpancing oleh siasatnya.

Semua peristiwa ini berlangsung dalam sekejap mata, tahu-tahu angin pukulan yang dilancarkan

malaikat kedua Sim Ciu sudah mener jang datang dari sayap kiri.

Pada waktu itu punggung Ciu It-bong telah menempel di atas dinding gua, dalam keadaan begitu

ia segera mengeluarkan kebiasa annya seperti waktu berada ditelaga dingin tempo hari,

tangannya diputar dan segera menerjang dengan jurus Kun-siu-ci-tauw.

Menyaksikan datangnya serangan yang sangat aneh dan tak tahu bagaimana dari tubuhnya yang

bakal diserang, buru-buru malaikat kedua Sim Ciu tarik kembali serangannya dan loncat mundur

ke belakang.

Sim Ciu malaikat kedua dari Liong-bun Siang-sat ini berwatak berangasan sekali, melihat Ciu Itbong

berhasil menduduki posisi di atas angin, dari malu dia jadi gusar, segera bentaknya.

“Lo toa, urusan dinas lebih penting, lebih baik kita cepat-cepat lenyapkan manusia cacad ini dari

muka bumi!”

Sim Kiam jauh lebih licik dari saudaranya, mendengar ucapan tersebut ia segera menggeleng dan

menyabut dengan suara dingin, “Engkau tak usah keburu nafsu….”

Demikianlah, masing-masing pihak segera menghimpun tenaga dalamnya dengan maksud

semakin mempertajam penglihatannya untuk mengawasi gerak-gerik pihak lawan. Tiba-tiba

malaikat pertama Sim Kiaa sambil menyeringai seram berseru, “Ciu tua, masih ingat bukan

dirimu dengan ilmu cakar Tay im sin jiau dari kami berdua?”

Ciu It Hong tertawa dingin.

“Sudah terlalu banyak ilmu silat yang kuingat, ilmu Tay im sin jiaumu itu cuma terhitung sebagai

suatu ilmu cakar anjing bela ka….”

Sim Kian bukannya gusar malah tertawa, kembali dia berkata, “Ciu loji, ini hari engkau sedang

bernasib sial, sehingga tak kau sadari harus berjumpa dengan kami Liong bun siang sat, bila

engkau tahu diri ayoh cepat serahkan pedang emas dari Siang Tang Lay itu kepadaku, kami dua

bersaudara berjanji akan melepaskan dirimu dalam keadaan hidup dan ikatan persahabatan

diantara kitapun tak usah terancam punah”

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

537

“Heeehhh…. heeh…. heeehh…. pedang emas pedang perak semuanya berada dalam sakuku

kalau engkau punya keberanian silahkan mengambil sendiri!”

Sim Ciu tidak sabaran lagi ia berseru keras.

“Lo-toa apa sih gunanya membuang banyak waktu? Bukankah pedang emas sudah beberapa kali

berpindah tangan, engkau suruh manusia cacad ini bagai mana caranya untuk menyerahkan

kepadamu?”

Mendengar dirinya berulang kali dipanggil sebagai manusia cacad, Ciu It-bong jad1 amat gusar

dan mendendam malaikat kedua itu hingga merasuk ke dalam tulang sumsumnya, meskipun

perasaan tersebut tidak sampai diperlihatkan di atas wajahnya, tapi diam-diam ia telah

bersumpah untuk membasmi manusia usil tersebut dari muka bumi.

Sebenarnya tujuan Sim Kian mengungkap kembali persoalan pedang emas, tujuannya bukan lain

adalah membuktikan apakah benda mustika itu masih berada disakunya atau tidak, sekarang

setelah penyelidikannya tidak mendatangkan hasil ia segera mendengus, mereka berdua

selangkah demi selangkah berjalan maju ke depan mendekati musuhnya.

Ilmu cakar maut Tay im sin jiau atau kepandaian yang paling diandalkan Liong bun siang sat

selama ini, setelah menghimpun segenap kekuatan yang dimilikinya dan sang badan baru saja

maju dua langkah ke depan, jari tangan mereka berdua tiba-tiba memanjang beberapa cun dari

keadaan semula dan besarnyapun berlipat ganda, warnanya berubah jadi putih pusat sedikitpun

tidak berwarna darah.

Sudah lama Ciu It-bong tahu akan kelihayan musuhnya, karena jiwanya terancam bahaya maka

segenap tenaga dalam yang dimilikinya segera dihimpun di dalam telapak tunggalnya dan

memandang gerak-gerik kedua orang itu dengan sorot mata berwarna biru.

Hoa Thian-hong yang bersembunyi di dalam gua, walau tak mampu menyaksikan sesuatu

apapun, tapi ia dapat menduga bahwa situasi yang terbentang pada saat itu pasti tegang sekali,

teringat akan hubungannya dengan Ciu It-bong dimasa silam, tanpa sadar jantungnya berdebar

keras dan ia merasa kuatir bagi keselamatan kakak cacad tersebut.

0000O0000

37

MENDADAK Ciu It-bong bersuit nyaring, sebelum Liong bun siang sat sempat mendekati

tubuhnya ia telah melancarkan serangan lebih dahulu, tubuhnya dengan ganas menerjang ke

arah malaikat kedua Sim Ciu.

Orang itu jadi amat terperanjat, sebelum serangan Tay im sin jiau nya sempat di lancarkan,

segulung angin pukulan yang maha dahsyat ibaratnya gulungan ombak di tengah amukan badai

dengan cepat menyelimuti tubuhnya dan menyeret badannya ke dalam amukan angin tajam itu.

“Loo-ji! cepat menyingkir kesamping!” teriak Sim Kian malaikat pertama keras-keras.

Sepasang telapaknya didorong ke depan, dengan menggunakan kekuatan sebesar duabelas

bagian dia cengkeram punggung Ciu It-bong.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

538

Begitu melihat serangan yang dilancarkan pihak musuh amat dahsyat, Sim Ciu tak berani

menghadapi secara sembarangan, terpaksa ia menyingkir ke arah samping, kesepuluh jarinya

dipentang dan menyergap bagian bawah iga Ciu It-bong.

Sementara itu desiran angin tajam yang memekikkan telinga memancar keluar dari ujung jari

Liong bun siang sat, Hoa Thian-hong yang bersembunyi di dalam gua segera merasakan dadanya

gemetar dan jantungnya berdebar keras karena ikut merasa tegang.

Dengan berat Ciu It-bong dengan cepat menggema memecahkan kesunyian, suara bentakan

gusar dari Sim Ciu bergabung dalam benturan angin pukulan yang amat dahsyat menggeletar di

dalam gua kuno yang gelap gulita.

Lewat beberapa saat kemudian, suasana di dalam gua perlahan-lahan pulih kembali dalam

ketenangan, bayangan tubuh Ciu It-bong sudah lenyap entah kemana perginya, malaikat kedua

Sim Ciu duduk bersila di atas tanah dengan mata terpejam dan dada berombak, sorot matanya

memandang ke tempat ke jauhan.

Lama…. lama sekali, malaikat kedua Sim Ciu baru membuka matanya kembali sambil

menghembuskan napas panjang, serunya dengan nada benci.

“Terlalu enak kita lepaskan manusia cacad itu, bila kita sampai bertemu lagi dilain waktu paling

sedikit jiwa anjingnya musti kita cabut….!”

“Hmm! engkau terlalu pandang enteng Ciu loo ji,” sahut Sim Kian dengan suara dingin, dengan

andalkan sebuah lenganpun dia bisa hidup sampai ini hari, hal tersebut membuktikan bukan

manusia sembarangan”

Malaikat kedua Sim Ciu mendengus, ia segera mendekati Pek Soh Gi dan ayunkan telapaknya

untuk membebaskan jalan darahnya yang tertotok.

“Tunggu sebentar!” tiba-tiba Sim Kian berseru, “Malam yang panjang akan mendatangkan impian

yang banyak, apa yang musti kita tunggu lagi?”

“Apa yang telah dikatakan Jin Hian?” seru Sim Kian sambil tertawa dingin….

Mula mula Sim Ciu tertegun, kemudian sambil berpaling ke dalam gua teriaknya keras-keras.

“Tio Sam-koh, ayoh keluar memberi jawaban!”

Hoa Thian-hong yang bersembunyi dibalik kabut hitam merasa tertegun sesudah mendengar

bentakan itu, ia merasa jarak antara mereka berdua dengan dirinya bertiga terpaut sejauh

beberapa tombak, tak mungkin mereka bisa tahu dengusan napas mereka apalagi kabut hitam

itu tebal sekali dan amat beracun sehingga sejak tadi mereka semua telah menutup pernapasan,

tentu saja dalam keadaan begini tak mungkin mereka bisa tahu jejak mereka yang ada di dalam

gua lewat pernapasan.

Begitulah, seruan dari Sim Ciu dengan cepat membuat semua orang tertegun dan merasa sedikit

diluar dugaan.

Tio Sam-koh tertegun lalu menyinggung lengan Hoa Thian-hong memberi tanda kepadanya agar

tidak menggubris.

Tiba-tiba terdengar Sim Kian berkata pula dengan nada dingin.

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

539

“Tio Sam-koh, kalau engkau tak mau unjukkan diri lagi, jangan salahkan kalau aku orang she Sim

akan segera memasang api”

Terkejut hati Hoa Thian-hong mendengar ancaman tersebut, pikirnya, “Aku rasa sepasang

malaikat itupun tahu kalau gua ini tak boleh bertemu dengan api apa daya sekarang?”

Sementara itu Sim Ciu telah berkala pula.

“Loo-toa, perduli amat di dalam gua ada manusia atau setan, kita lepaskan api saja untuk

membakarnya, bukankah dengan cepat kita akan tahu disana ada setannya atau tidak”

Mendengar sampai disitu, Tio Sam-koh segera menarik tangan Hoa Thian-hong serta Hoa In dan

meloncat mundur ke belakang. Hoa Thian-hong merasa terkejut bercampur curiga, buru-buru ia

berkelebat kesisi ibunya.

Sepasang telapak Hoa Hujien masih menempel di atas tanah dan tubuhpun masih tetap duduk

tak berkutik di tempat semula, pada saat itu ia membuka matanya dan berbisik.

“Kalian semua mundur ke belakang punggungku begitu melihat cahaya api segera lancarkan

angin pukulan ke arah luar”

Gua tersebut gelap gulita sulit melihat kelima jari tangan sendiri ketika Hoa Hujien membuka

sepasang matanya maka terlihatlah cahaya tajam yang amat menyilaukan mata seakan-akan

bintang yang gemerlapan di udara gelap memancar keluar dari balik matanya.

Hoa Thian-hong amat terperanjas, ia tak mengira kalau tenaga dalam yang dimiliki ibunya telah

mencapai taraf yang begitu sempurnanya, untuk beberapa saat lamanya kerena pengaruh emosi

ia tak mampu mengucapkan separah katapun.

Hoa In sendiri, dia diam-diam merasa terperanjat, mereka bertiga segera berdiri di belakang Hoa

Hujien, hawa murni disalurkan ke dalam telapak dan setiap saat menantikan perubahan.

Jarak antara gua bagian dalam dan gua bagian luar terpaut belasan tombak jauhnya bila

melancarkan serangan dari dasar gua maka tenaga pukulannya sukar untuk mencapai mulut gua,

keistimewaan di dalam hal ini tidak diketahui oleh Hoa Thian-hong serta Hoa In, merekapun tak

berani banyak bertanya karena musuh tangguh sedang berada di depan mata, terpaksa sambil

salurkan hawa murni dengan tenang mereka nantikan munculnya cahaya api dari luar gua.

Rupanya Jin Hian telah menduga bahwa orang yang bersembunyi di dalam gua itu pastilah Hoa

Hujien, hanya saja karena ia gentar atas kecemerlangan nama besar Hoa Hujien di masa lampau,

ditambah pula nenek buta sudah menderita kekalahan maka akhirnya dia ambil keputusan untuk

menyelesaikan semua persengketaan ini dalam pertemuan besar Kian ciau tay hwee.

Sungguh kebetulan ketika mereka kembali ke markas, Liong bun Siang sat baru tiba, mendengar

kisah tersebut mereka merasa tidak puas dan bersikeras akan datang menyelidiki duduk perkara

yang sebenarnya, walau pun begitu merekapun mengetahui akan kelihayan dari Hoa Hujien,

maka kewaspadaan merekapun dipertingkat.

Sebagian besar orang persilatan mengetahui bahwa dalam gua kuno itu mengandung udara gas

yang amat beracun dan tak bisa didiami oleh manusia, kini dengan suatu gerakan yang manis

Hoa Hujien berhasil memaksa pancaran gas beracun itu langsung membumbung kedinding bukit

Grafity, http://mygrafity.wordpress.com

540

sehingga membuat gua kuno itu terbagi jadi dua bagian kejadian tersebut boleh dibilang

merupakan suatu hal yang sama sekali tak terduga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar